P. 1
Isi Perkotaan OK

Isi Perkotaan OK

|Views: 449|Likes:

More info:

Published by: Kardo Centrino Zasitosralo on Jun 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2014

pdf

text

original

Koperasi

PERKOTAAN

1

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

2

DKI JAKARTA

Koperasi Keluarga Guru Jakarta

BERKOPERASI

PENDIDIK
3
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

KETIKA

Slamet AW

R

eformasi sejatinya digelindingkan dengan tujuan terpenting memandirikan bangsa. Mandiri dalam arti yang sesungguhnya. Kemandirian berarti suatu keadaan tanpa, atau dengan sesedikit mungkin, ketergantungan pada pihak lain. Sayangnya, makna kemandirian selalu lebih mudah diucapkan ketimbang diwujudkan. Kesulitan seperti itu dapat dilihat misalnya di dalam lembaga perkoperasian. Mereka yang pernah dinobatkan sebagai koperasi berprestasi nyatanya tidak cukup tahan banting melewati tantangan. Celakanya, penyebab utama kegagalan itu tidak melulu lantaran lemah menghadapi persaingan pasar, tetapi juga kondisi internal, baik karena faktor lemahnya sumber daya manusia (SDM), manajemen maupun permodalan. Di sisi lain, acap kali kita lihat kehebatan koperasi karena ditopang oleh faktor figur (patron). Dan ketika figur atau pimpinan tersebut berhenti menjabat, koperasinya pun perlahan redup. Kecenderungan bahwa sukses koperasi adalah sukses figur pimpinannya seolah menjadi keniscayaan sejarah. Di masa pemerintahan Orde Baru, koperasi tumbuh di tengah prakarsa dan insiatif penguasa. Figur pimpinan Koperasi Unit Desa (KUD) misalnya, identik dengan mantan pejabat desa, seperti mantan lurah, mantan polisi, guru maupun pejabat pemerintah lainnya yang purna tugas.

Suasana RAK KKGJ Jakarta, 2006

Slamet AW

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

4

Dengan kepemimpinan yang menyusup dari atas itu (top-down), memang sulit bagi koperasi untuk menjejakkan kaki di pelataran bisnis murni. Apalagi kapasitas para ‘mantan’ pejabat yang umumnya awam dengan kavling bisnis. Maka yang terjadi adalah tingginya ketergantungan koperasi terhadap bantuan pemerintah. Itu sebabnya mengapa kebanyakan koperasi begitu sulit berkembang. Jagad perkoperasian kita memang penuh warna. Ada koperasi yang berdiri lantaran menunggu program bantuan atau kredit murah pemerintah. Tapi banyak juga koperasi yang mampu menunjukkan tajinya sebagai badan usaha ekonomi rakyat yang tangguh. Contoh cukup fenomenal

Tabel Kinerja KKGJ, 2004-2005
Uraian 1. Total Aktiva 2. Piutang 3. Hutang Simpanan 4. Modal 5. SHU 2005 (Rp) 127.750.407.085 92.790.335.023 30.858.181.683 34.062.903.344 6.014.346.527 2004 (Rp) 107.217.429.990 76.968.532.358 24.345.234.422 30.828.456.679 5.637.960.445 % 19 21 27 10 7

adalah Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) yang mampu melewati perjalanan lebih setengah abad. Beroperasi di lingkungan terbatas, yaitu hanya melajani para tenaga pendidik di level sekolah dasar, tak membuat pamor KKGJ hanya beredar di lingkungan sekolahan saja. Dengan terus mengembangkan kualitas pelayanan anggotanya secara mantap dan profesional, koperasi para guru ini membuktikan kelasnya sebagai koperasi yang layak jadi contoh. Ketika negeri ini memasuki masa sulit (krisis moneter 1997), KKGJ justru menunjukkan eksistensinya sebagai penyelamat ekonomi anggota (guru). Bahkan masih di tengah masa sulit itu, KKGJ pada 1998 mampu meyakinkan perbankan mengucurkan kredit untuk para guru senilai Rp 3,5 miliar. Jaminannya, aset berupa sebidang tanah seluas delapan hektar di bilangan Bogor. Besaran aset yang jadi jaminan itu sangat tidak memadai jika dibanding dengan jumlah modal yang dikucurkan, namun perbankan melihat prospek pasar yang cukup besar di KKGJ yaitu sebaran anggota sebanyak 23.000 orang para guru SD di Provinsi DKI Jakarta. Mengapa solusi pengembangan usaha KKGJ harus bermitra dengan perbankan? Pertanyaan ini menarik mengingat selama ini begitu sulitnya koperasi merajut mitra dengan perbankan. Bagi pengurus KKGJ dunia perbankan menjadi salah satu instrumen untuk mempertegas fungsi pelayanan terhadap anggota. Dengan sebaran anggota yang begitu besar dan tingkat kebutuhan yang nyaris seragam, yaitu peminjaman dana, maka unit simpan pinjam merupakan alternatif bisnis paling potensial. Masalahnya dari mana harus mendapatkan dana guna membiayai kebutuhan dana anggota yang begitu besar. Itu sebabnya perbankan menjadi solusi. “Jika ingin untung besar harus berbisnis secara besar, dan untuk itu diperlukan modal besar.” Begitu tekad yang pernah ditegaskan oleh pengurus KKGJ dalam upaya menyiasati pengembangan usaha. Ketika memperoleh dana perbankan sebesar Rp 3,5 miliar itu, seutuhnya dimanfaatkan bagi kelangsungan usaha, antara lain dibelikan aset baru berupa tanah sawah, pabrik penggilingan padi (rice milling unitRMU) dan SPBU. Dengan aset tersebut, pihak bank dengan ringan mengalirkan pinjaman dalam jumlah tiga kali lipat. KKGJ pada akhirnya mampu merebut simpati bank. Dalam tempo relatif singkat, KKGJ menjelma menjadi koperasi sehat dengan total aset sebesar Rp 157 miliar per 31 Desember 2005. Pada tahun buku 2005 saja, KKGJ tercatat menggulirkan modal dari sebuah bank sebesar Rp 65 miliar. Pada periode 2006, sesuai dengan komitmen

5

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

pengurus dan pihak bank, dana yang dialokasikan meningkat menjadi Rp 70 miliar. Menyadari porsi terbesar modal yang berputar adalah modal bank, pengurus mengajak anggota agar mau menambah modal sendiri. Sejauh ini, pendapatan koperasi yang disetorkan kepada pemilik modal (bank) setiap tahun sekitar Rp 3 miliar. Maka, dengan langkah mengurangi pinjaman modal dari bank, pendapatan yang akan dinikmati oleh anggota dengan sendirinya menjadi lebih besar. Ajakan dan upaya pengurus kepada anggota membawa hasil. Melalui perdebatan dan pembahasan yang seru, anggota setuju menaikkan simpanan wajib sebesar dua kali lipat, dari Rp 50.000 menjadi Rp 100.000 per bulan. Dengan jumlah anggota KKGJ yang mencapai 23 ribu orang, tambahan dana simpanan wajib Rp 50 ribu per bulan berarti terkumpul modal tanpa bunga sebesar Rp 1,150 miliar. Dalam tempo setahun, modal KKGJ bertambah sebesar Rp 13,8 miliar. Uniknya, keputusan kenaikan tersebut hanya memerlukan waktu sekitar lima menit. Kesepakatan itu dihasilkan anggota secara aklamasi dalam sebuah rapat perencanaan khusus. Hal ini tak terlepas kaitannya dengan sosialisasi yang digiatkan pengurus dan pengawas melalui kegiatan pra Rapat Anggota Tahunan (RAT) di setiap kecamatan (komisariat) di wilayah DKI Jakarta.

SEMPAT MINUS DAN MEREDUP
Sebelum menorehkan prestasi, KKGJ sempat mengalami masa-masa pahit. Koperasi yang berdiri pada 14 September 1952 ini pernah kolaps. Periode 1977–1983 KKGJ bisa dikatakan berada di titik nadir. Berawal dari kekeliruan menerapkan sistem manajemen serta minimnya SDM yang cakap. Pengurus bahkan diklaim telah memberangus cita-cita luhur para penggagasnya. Koperasi hanya menjadi ajang manipulasi para oknum pengurus. Organisasi, usaha dan mentalitas pengurus dan karyawan yang amburadul mengakibatkan anggota frustasi bahkan kehilangan kepercayaan kepada koperasi. Lahir dengan nama Koperasi Kredit Guru-guru Djakarta Raya (KKGD), dengan badan hukum (BH) No. 815 pada 18 April 1953, merugi Rp 38 juta. Pengurus juga mempunyai tunggakan sebesar Rp 728 ribu. Penyebab kerugian, antara lain, koperasi menanggung beban bunga tinggi, 5% per bulan kepada investor yang notabene oknum anggota KKGJ. Berkat beberapa anggota yang benar-benar memahami koperasi, sebuah jalan keluar ditemukan. Mereka tampil dan membenahi kekacauan di dalam tubuh KKGJ. Mandat untuk pengurus baru ini dihasilkan melalui Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) pada 28 Januari 1984. Pada 11 Maret 1984, pengurus hasil RALB dilantik tetapi mereka baru benar-benar aktif pada Juni 1984. Diketuai H. Saprawi, kinerja pengurus mulai memperlihatkan hasil positif. Babak baru kebangkitan pun dimulai. Pada tahun pertama, iklim perubahan itu mulai terasa. Secara psikologis, kepercayaan para guru SD di Jakarta pulih perlahan-lahan. Jumlah anggota pun terus meningkat dari waktu ke waktu. Dalam rentang 10 tahun (1984-1994), jumlah anggota naik drastis dari 4.817 orang menjadi 23.728 orang, sebuah peningkatan

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

6

rata-rata 39,25% per tahun. Jumlah tersebut sudah mencapai sekitar 80% dari potensi guru SD yang ada. Dana permodalan yang dihimpun KKGJ pun berlipat ganda, dari Rp 6,3 juta pada 1984 menjadi Rp 3,478 miliar pada 1994, atau tumbuh dengan angka rata-rata Rp 347,173 juta per tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun berikutnya kinerja mereka melambung. Tahun buku 2004 KKGJ membuktikan sebagai koperasi primer yang tumbuh sangat sehat. Total aktiva melesat hingga menembus angka Rp 107,127 miliar. Keberhasilan itu adalah buah keseriusan dalam pengelolaan koperasi. Prinsip “sedikit bicara banyak berkarya” atau “boleh berbicara tetapi tetap berkarya” menjadi moto pengurus periode 19982002 itu ternyata mempengaruhi perkembangan KKGJ. Tokoh yang mewarnai perkembangan itu adalah Agustitin Setyobudi, Ketua I KKGJ saat itu. Menurut Agustitin Setyobudi, ia bersama pengurus lain selalu berusaha merealisasikan apa yang telah diprogramkan dengan satu tujuan yaitu mencapai kesejahteraan anggota.

Gambar Histogram Rasio Likuiditas
106.797.833.471 331,87

32.180.920.591

Aktiva Lancar

Simpanan Anggota

Rasio (%)

USAHA TERKAIT ANGGOTA
Koperasi guru yang berlokasi di Jalan Poris Raya, Pisangan Baru, Jakarta Timur, itu telah terbukti berkinerja mengagumkan. Dari gedung berlantai dua yang menjadi pusat operasi itu, KKGJ mengendalikan sejumlah unit usaha yang mencakup agribisnis (kebun belimbing), sawah, penggilingan padi (RMU), SPBU, unit simpan pinjam (USP), perdagangan umum, wartel, depot air isi ulang, tabungan haji, tabungan pensiun, Pusat Pelatihan dan Pendidikan Guru-guru SD (P3GSD) dan kolam renang. Unit-unit usaha KKGJ sebagian besar melibatkan aktivitas anggota, kecuali SPBU, unit-unit lain masih terkait anggota. Sebelum tahun buku 2000, pusat kendali operasional KKGJ masih menyewa bangunan di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Untuk mengoptimalkan kegiatan usahanya, KKGJ mempekerjakan lebih dari 100 orang. Semua unit usaha pendapatannya selalu naik setiap tahun. Termasuk P3GSD yang baru satu tahun berjalan sudah mampu berkontribusi. Kecuali kolam renang yang baru dioperasikan pada awal 2006. Khusus P3GSD yang dioperasikan sejak 2004 telah digunakan untuk pelatihan komputer multimedia. Seluruh peserta berasal dari 1.920 SD di DKI Jakarta. Kiat keberhasilan KKGJ terlihat dari konsistensi pelayanan dan kegiatan usaha yang terkait pada kepentingan anggota. Konsistensi pelayanan dan keseriusan menggarap usaha, kendati hanya bernama koperasi guru, pada gilirannya membuahkan hasil menggembirakan. Kinerja usaha yang baik itu terlihat dari perkembangan jumlah modal yang berhasil dihimpun. Total aktiva sebesar Rp 107,2 miliar pada tahun buku 2004 meningkat menjadi Rp 127,7 miliar tahun buku 2005. Jumlah piutang yang Rp 76.9 miliar tahun sebelumnya meningkat Rp 92,7 miliar pada 2005. Jumlah simpanan anggota juga ikut naik, dari Rp 24,3 miliar menjadi Rp 30,8 miliar. Jumlah modal dari Rp 30,8 miliar meningkat menjadi Rp 34 miliar. Unit USP pada tahun buku 2005 membukukan pendapatan sebesar Rp 20,2 miliar, meningkat 31% dari tahun buku sebelumnya yang Rp 15,4

Gambar Histogram Rasio Solvabilitas Jangka Pendek
127.750.407.085 396,98

32.180.920.591

Aktiva

Simpanan Anggota

Rasio (%)

Gambar Histogram Rasio Rentabilitas
22.512.338.385 6.014.346.527 26,27

SHU

Simpanan Anggota

Rasio (%)

7

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

miliar. Jumlah piutang yang diserap anggota sebesar Rp 72,5 miliar, atau naik sebesar 17% dari tahun buku 2004 sebesar Rp 62 miliar. Pada tahun buku 2005 portofolio pinjaman didominasi pinjaman komersial sebesar Rp 40,7 miliar, atau naik 56% dari total pinjaman yang diberikan kepada anggota. Tepatnya, pengguna pinjaman komersial sebanyak 2.884 orang dengan rata-rata pinjaman Rp 16,4 juta. Dari unit perdagangan umum— yang meliputi penjualan dan kredit sepeda motor, barang elektronik, optik, alat kesehatan, daging dan hati—jumlah pendapatan tercatat sebesar Rp 1,7 miliar. Penyumbang pendapatan terbesar adalah penjualan sepeda motor, sebesar Rp 386 juta. Unit SPBU menyumbang pendapatan sebesar Rp 672 juta atau meningkat lima persen dari tahun buku sebelumnya sebesar Rp 642 juta dari total penjualan sebesar Rp 21,3 miliar. Unit wartel dan depot air isi ulang memberikan kontribusi sebesar Rp 347,4 juta. Unit agribisnis meliputi sawah dan kebun. Di Karawang, untuk sawah dilengkapi dengan sarana RMU, dan kebun belimbing di Citayam, Bogor. Dari kedua jenis usaha itu KKGJ memperoleh pendapatan sebesar Rp 231,3 juta atau naik dua persen dibanding tahun buku 2004 yang sebesar Rp 227 juta. Sedangkan untuk tabungan pensiun dan tabungan haji terkumpul sebesar Rp 11,1 miliar, terdiri dari Rp 9,9 miliar tabungan pensiun dengan jumlah penabung 4.879 orang dan Rp 1,2 miliar untuk tabungan haji dengan jumlah penyimpan sebanyak 148 orang.
Gedung P3GSD salah satu aset KKGJ di Citayam, Bogor
Dokumentasi

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

8

Untuk unit usaha yang baru tiga tahun (tahun buku 2005) yaitu sarana P3GSD, kontribusinya terhadap pendapatan cukup signifikan. Dengan dukungan sub unit penerbitan dan wisma diklat, unit ini membukukan pendapatan sebesar Rp 555 juta atau naik satu persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp 552 juta. Pendapatan tersebut sebenarnya bisa lebih besar. Menurut Agustitin, sub unit penerbitan malah dapat berkontribusi lebih besar terhadap unit PGSD. Sayangnya, piutang di sekolah-sekolah senilai Rp 5,15 miliar per Desember 2004 tidak tertagih. Paket diklat yang diselenggarakan P3GSD mencakup latihan dasar kepemimpinan siswa, outbound, pesantren lintas-agama dan pesantren Ramadhan. Untuk pengembangan pembelajaran, P3GSD menjaring siswa

tingkat TK dua kelas, SD dua kelas keduanya adalah mengikuti program pembelajaran TK-SD laboratorium sebagai sekolah unggulan. Sedang pengembangan sekolah lanjutan telah dibuka Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP). Dengan berbagai jenis usahanya, pada 2005 KKGJ 2005 membukukan SHU sebesar Rp 6,014 miliar; meningkat sekitar Rp 376 juta dari tahun buku 2004 yang berjumlah Rp 5,638 miliar.

PENDIDIKAN DAN REGENERASI
Senapas dengan profesi pengurus dan para anggotanya, KKGJ sangat peduli pada misi pendidikan. Pengurus pun senantiasa menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi yang benar kepada seluruh anggota. Wisma P3GSD merupakan sarana untuk itu. Faktor lainnya kepengurusan yang solid, mumpuni dan jujur menjadi magnet anggota mempercayai koperasi. Untuk mewujudkan cita-cita itu pengurus harus lebih memahami. Tanpa menguasai ilmu, menurut Yitno Suyoko, Ketua Umum, sulit mengakomodasi keinginan anggota yang sedemikian beragam secara memadai. Eksistensi pengurus dipertaruhkan untuk melayani sekitar 23.000 anggota KKGJ. Jika diurus oleh orang yang tidak cakap, abai pada pendidikan dan pelatihan, kelangsungan hidup sebuah koperasi amat riskan. Selain tidak terjadi regenerasi, pemahaman wawasan perkoperasian di kalangan anggota pun minim. DKI Jakarta, misalnya, sebagaimana data Dinas Koperasi dan UKM, dari sekitar 6 ribu unit koperasi yang aktif hanya sekitar 30%. Itu pun, didominasi koperasi fungsional, seperti koperasi pegawai/BUMN, TNI/Polri dan kopkar yang relatif aktif mendapat pembinaan secara kontinyu. Selebihnya KSP dan beberapa unit KSU. Secara kontinyu KKGJ menggembleng para anggotanya di Wisma P3GSD di Citayam, Bogor. Selain diikuti oleh para guru SD di DKI Jakarta, penggemblengan itu juga mengikutsertakan guru-guru dari daerah lain. Semua biaya ditanggung koperasi, peserta pun mendapat uang saku. Biaya yang dialokasikan untuk pembinaan sebesar Rp 26,6 juta per angkatan atau jumlah totalnya sekitar Rp 425,6 juta untuk 16 angkatan. Materi pelatihanan ‘Menjadi Guru Profesional’ tersebut antara lain, UU No 14/2005 tentang Sisdiknas, reaktualisasi profesionalisme guru dan kewirakoperasian, kurikulum baru dan aplikasinya serta KKGJ dalam berbagai tinjauan. Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pengetahuan anggota yang berprofesi guru sebagai kader koperasi.

Dokumentasi

Wartel dan Depot Air Minum isi ulang KKGJ.

PINJAMAN TANPA BUNGA
Saking konsennya terhadap pendidikan, KKGJ memberikan pinjaman pendidikan tanpa bunga. Koperasi guru-guru SD Jakarta ini termasuk sedikit jumlah koperasi yang sudah eksis mengakses permodalan kepada lembaga perbankan. Di saat masih banyak koperasi yang mengharapkan bantuan permodalan berbunga lunak dari pemerintah. Koperasi para guru SD se-DKI Jakarta ini sudah leluasa mengakses permodalan dari lembaga keuangan dengan bunga komersial. Hasilnya, berapa pun anggota perlu

9

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

dana, bank setiap saat siap melayani. Artinya, sudah melewati fase fleksibel dan dinamis sebagai lembaga usaha. Sehingga misi ingin melayani anggota secara maksimal dapat diwujudkan. Tahun buku 2006 KKGJ kembali membuat komitmen dengan Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI) senilai Rp 70 miliar, lebih banyak sebesar Rp 5 milir dibanding tahun buku sebelumnya. Selain untuk membantu permodalan usaha, dana tersebut juga dialokasikan untuk membiayai kepentingan anggota. Pasalnya, dengan berlakunya Undang-Undang Pendidikan, para guru SD yang belum menamatkan pendidikan S1 wajib menyelesaikan jenjang tersebut. KKGJ menjalin kerja sama dengan Universitas Hamka (Uhamka) Jakarta. Sebelumnya, kerja sama ini telah dilakukan untuk anggota yang ingin menempuh jenjang pascasarjana (magister). Biaya untuk anggota yang mengikuti program tersebut ditalangi oleh koperasi sampai lulus S2, dan mereka mengembalikan dana dengan cara mengangsur. Khusus bagi anggota yang berminat kuliah di Uhamka, KKGJ membuka pendaftaran di tingkat komisariat (perwakilan KKGJ di setiap kecamatan di DKI Jakarta). Anggota yang tidak belajar di Uhamka harus menanggung sendiri pembiayaannya. Kecuali yang melalui program KKGJ, administrasi pembayaran ditanggung koperasi. Tahun buku 2006, menargetkan sekitar 2.000 anggotanya dapat menempuh jenjang S1 yang dibiayai koperasi. Bagi guru SD yang baru diploma II (DII) dapat ditempuh dua setengah sampai tiga tahun.

KEJUJURAN DAN KEPEDULIAN
Pengurus KKGJ berkeyakinan, hal terpenting tentang pengurus adalah kejujuran dan kecakapan. Pengurus yang jujur melahirkan kepercayaan anggota, sehingga anggota tidak berkeberatan memodali koperasi. Sedang kecakapan membuat modal yang ditanamkan mampu dilipatgandakan melalui keuntungan yang diperoleh. Kecakapan dipetik melalui adopsi adopsi ilmu-ilmu ekonomi yang mengajarkan tata cara berusaha, yang selanjutnya dipadukan dengan ilmu-ilmu koperasi dengan ciri watak sosial yang kental. Kedua unsur tersebut dapat menghasilkan sinergi berkat adanya niat nan tulus. Dikombinasikan dengan bergabungnya para wirausahawan, sumberdaya manusia yang mempunyai wawasan entrepreneur, dinamika dan kemajuan sebuah koperasi semakin terkondisi untuk bertumbuh di ranah yang subur. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

10

JAWA TIMUR

Kopwan Setia Bhakti Wanita (SBW) Surabaya

SEPEREMPAT ABAD

PENERUS ‘KARTINI’
11
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

Satya lencana Pembangunan bidang Koperasi diberikan pada Ibu Ketum SBW tahun 1998

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

12

ika ingin melihat usaha koperasi maju, lihatlah pada koperasi yang dikelola oleh kaum wanita. Statemen itu agak berlebihan memang bahkan bernuansa jender. Namun fakta di lapangan acap kali membuktikan bahwa sulit mencari koperasi yang hancur lantaran dikelola oleh kaum wanita. Olehnya sangat beralasan jika kita coba tengok kiprah Koperasi Wanita Setya Bhakti (Kopwan SBW) Surabaya yang dalam dua dekade terakhir ini masih mempunyai nama mencorong. Dalam perjalanannya selama 25 tahun, memang telah banyak capaian maupun prestasi yang telah diraih kopwan Jawa Timur ini. Ke dalam, SBW telah mampu meningkatkan omset, aset dan jumlah anggota. Sementara ke luar berbagai pengakuan juga telah didapat. Cerita suksesnya sering mengundang kagum. Tidak ada teori ekonomi maupun manajemen modern yang ikut membidani kebesaran SBW, tidak juga program atau kredit murah dari pemerintah. Semua bermula dari kumpulan arisan 35 orang ibu-ibu rumah tangga. Mereka adalah orangorang yang punya komitmen dan idealisme. Setiap bulan berkumpul dari rumah anggota yang satu ke rumah anggota yang lain secara bergiliran. Nilai arisannya hanya sebesar Rp 2.000 per orang. Dari hasil perkumpulan arisan itu, kelompok ibu-ibu ini menggalang inisiatif pendirian usaha simpan pinjam pada 1975. Waktu itu anggota bisa pinjam Rp 5 ribu yang dicicil 5 kali, kemudian terus berkembang dan pinjaman bisa meningkat hingga Rp 10 ribu. Seiring waktu, modalpun bertambah, pinjaman bisa ditingkatkan menjadi Rp 50 ribu. Dan biasanya pinjaman oleh anggota digunakan untuk membuka usaha walaupun sifatnya temporer. Seperti misalnya membuat kue yang dijual tatkala lebaran. Sementara ditempat lain, tepatnya di Malang telah berkembang pula Kopwan Setia Budi Wanita. Dan kebetulan Ibu Syafril salah satu tokohnya dekat dengan anggota kelompok arisan ini. Sejak 1977 Ibu Syafril mulai datang ke pertemuan arisan untuk memperkenalkan tentang koperasi. Bahkan para kandidat pengurus Kopwan Setia Budi Wanita juga diajak. Memang ketika pertama kali diperkenalkan tentang koperasi, anggota kelompok arisan ini kurang begitu tertarik. Tapi rupanya Ibu Syafril tidak putus asa, pada setiap pertemuan selalu datang untuk memotivasi agar membentuk koperasi. Karena dari jumlah anggota, memang sudah memenuhi persyaratan. Setelah empat hingga lima kali pertemuan dengan Ibu Syafril, munculah keinginan untuk mencoba membentuk koperasi. Pada awalnya dipilihlah rumah Ibu Tatik Yudara sebagai kantor, dan kegiatan dilakukan di garasi. Tapi lama kelamaan garasipun tidak memadai sehingga harus masuk keruang tamu. Sementara ruang makan dijadikan tempat untuk ruang rapat pengurus. Dari anggota 35 orang kemudian beberapa orang mencoba membentuk kelompok baru hingga terbentuk 4 kelompok. Karena anggota sudah banyak, akhirnya Departemen Koperasi waktu itu diminta untuk melakukan pembinaan. Kemudian disarankan untuk mengajukan permohonan badan hukum (BH). Peranan Ibu Syafril tidak hanya berhenti sampai disitu, ia pun memperkenalkan keponakannya yang akan siap membantu dalam pem-

J

Dokumentasi

bentukan koperasi. Keponakan itu yang kemudian dalam perjalanan telah berhasil membawa Kopwan SBW seperti saat ini. Dialah Ibu Yoos Lutfi. Kemudian pada tanggal 30 Mei 1978, Kopwan SBW diresmikan oleh Departemen Koperasi Kodya Surabaya dengan wilayah kerja Kecamatan Gubeng. Dua tahun kemudian tepatnya 15 Januari 1980 mendapat BH Depkop Kodya Surabaya, dengan nomor : 4362/BH/II/80. Seiring dengan perkembangan anggota, kantor pun berpindah dari sebuah garasi ke sebuah kantor di Jl Panglima Soedirman. Kantor tersebut milik Puskowanjati (Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur) yang direlakan untuk ditempati dengan sewa relatif murah. Perjalanan terus berlanjut, dari tahun ke tahun jumlah anggota terus bertambah, dari 35 orang, menjadi 2.913 orang di tahun 1984. Perkembangan yang pesat itulah yang kemudian menuntut adanya perubahan anggaran dasar. Jangkauan kerja diperluas mencakup wilayah kerja Surabaya Timur. Seiring dengan bertambahnya anggota, tak pelak perubahan anggaran dasar, dilakukan lagi di tahun 1988. Saat itu anggota sudah mencapai 3.431 orang yang terbagi dalam 270 kelompok. Jangkauan tidak lagi sebatas Surabaya Timur tapi diperluas. Dari 19 kecamatan yang ada di Kodya Surabaya, 11 di antaranya masuk dalam wilayah kerja Kopwan SBW. Sampai dengan Desember 2001 anggota telah mencapai 9.832 orang yang dibagi dalam 348 kelompok. Sementara permodalan telah berkembang hingga mencapai Rp 33,775 miliar. Ketika kinerja Kopwan SBW dirasakan semakin mantap ada keinginan untuk memperluas wilayah kerja hingga seluruh Nusantara. Sayangnya keinginan anggota tidak bisa terwujud karena alasan legalitas.
Dokumentasi

Pengurus Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Surabaya

TANGGUNG RENTENG
Sistem arisan inilah yang dikembangkan menjadi sistem kelompok tanggung renteng. Jadi dalam kelompok tanggung renteng juga harus ada penanggung jawabnya atau disingkat PJ. Dia inilah yang mengkoordinir dan sebagai fasilitator terselenggaranya pertemuan kelompok. Dia pula yang harus bertanggung jawab lengkap tidaknya jumlah angsuran yang disetorkan ke Kopwan SBW. Kalau memang angsuran kurang, PJ juga harus bisa menggerakkan anggotannya untuk melakukan tanggung renteng (bermusyawarah untuk membagi tanggung jawab bersama-sama dengan seluruh anggotanya). Hanya bedanya bila dalam kelompok arisan, pertemuan kelompok bukanlah suatu kewajiban karena yang lebih diutamakan adalah membayar

13

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

tanggungan arisan. Sedangkan dalam kelompok tanggung renteng, pertemuan menjadi hal yang wajib. Karena bagaimana bisa muncul jiwa kebersamaan bila di antara anggota tidak terjadi interaksi. Dan kalau tidak ada jiwa kebersamaan bagaimana mungkin diantara mereka mau saling menanggung. Jiwa individu yang justru akan menonjol. Kalau sudah demikian yang terjadi utangmu adalah tanggung jawabmu dan tidak akan mau tahu bila kamu mengalami kesulitan. Hal-hal seperti itulah yang membedakan antara koperasi simpan pinjam dengan sistem tanggung renteng dan koperasi simpan pinjam lainnya. Tak mengherankan bila koperasi simpan pinjam dengan sistem tanggung renteng seperti yang diterapkan Kopwan SBW dan primer lain di Puskowanjati mampu menekan tunggakan. Sukses dengan tanggung renteng adalah trade mark Kopwan SBW. Koperasi yang nyaris kurang diperhitungkan ini, lantaran cuma dikelola para ibu-ibu dari sebuah garasi, kini telah memiliki gedung dua lantai di atas tanah seluas 1.400 m2. Memang semuanya tidak begitu saja terjadi melainkan melalui proses perjalanan panjang selama 25 tahun. Untuk memiliki gedung yang penggunaannya diresmikan oleh Bustanil Arifin (Menteri Koperasi waktu itu) pada 1988, anggota sepakat untuk tidak membagi SHU selama lima tahun. Kebutuhan terus bertambah, luas gedung serasa sesak ketika anggota telah mencapai 6000 orang. Kembali anggota urunan sebesar Rp 16 ribu yang diangsur selama 5 bulan. Hasilnya sebuah gedung lantai 2 diatas tanah seluas 400 m2. Dan 13 Januari 1996 diresmikan pemakaiannya oleh Subiakto Tjakrawardaya, Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil waktu itu. Waktu terus berjalan, anggota pun terus bertambah hingga 10 ribu lebih dan kegiatan semakin meningkat. Tak ayal gedung yang ada serasa sesak. Kembali Kopwan SBW membeli sebidang tanah untuk memperluas gedung lama tanpa harus minta sumbangan anggota seperti sebelumnya. Dengan adanya gedung baru ini unit toko bisa dikembangkan menjadi swalayan. Tradisi peresmian gedung baru oleh pejabat menteri terkait tetap

Tabel 1. Perkembangan Modal Sendiri dan Luar
Tahun 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 Modal Sendiri 3.027 11.784 48.001 96402 189.961 238.064 236.448 280.045 347.093 486.317 668.912 826.707 1.093.268 Modal Luar 7.950 316.078 118.101 222.673 346.708 284.542 203.160 227.281 265.772 270.212 393.189 458.232 648.404 Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Modal Sendiri 1.298.885 1.682.723 2.761.724 3.568.581 4.441.366 5.631.689 6.858.674 8.598.183 8.950.090 12.308.469 12.308.469 20.186.078 Modal Luar 640.889 834.528 1.145.523 1.818.410 1.718.412 2.270.562 2.423.438 1.827.169 7.086.942 9.147.490 9.147.490 25.172.017

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

14

1989 1990

berlanjut yang saat itu peresmiannya dibuka oleh Ali Marwan Hanan sebagai Menegkop & UKM pada 22 April 2003. Sementara aset juga terus berkembang, sampai akhir tahun 2002 telah mencapai Rp 42 miliar. Sedang volume usaha mencapai Rp 59 miliar yang berarti omset rata-rata Rp 4,9 miliar per bulan. Untuk komposisi permodalan saat ini, 45 % modal sendiri dan 55 % modal pinjaman pada pihak luar. Adanya pinjaman pada pihak luar ini berkaitan dengan sistem plafon yang diterapkan untuk anggota yang pinjam. Artinya anggota mempunyai hak pinjam sebesar empat kali simpanan wajibnya. Untuk memproses semua kebutuhan pinjaman anggota, Kopwan SBW mengoperasikan unit simpan pinjam (USP). Setiap usai pertemuan kelompok paling lambat satu hari, PJ dan anggota yang mengajukan pinjaman datang ke bagian ini untuk setor angsuran dan realisasi pinjaman. Kemudian setiap bulan, bagian simpan pinjam mengirimkan tagihan pada anggota melalui PPL di pertemuan kelompok.

UTAMAKAN PELAYANAN PRIMA
Tahunpun terus berlalu, jumlah anggota terus meningkat, keberadaan toko atau waserda sudah dianggap tidak memungkinkan lagi. Kemudian anggota kembali menuntut pada RAT agar unit toko atau waserda dikembangkan menjadi swalayan. Dan pada usia yang ke 25 tahun, Kopwan SBW berhasil merealisasi tuntutan anggota tersebut. Kini anggota bebas berbelanja dengan mengambil barang sendiri layaknya di swalayan. Dan ternyata dari perubahan ini juga berpengaruh pada meningkatnya omzet rata-rata per bulan. Sebelumnya rata-rata omzet Rp 588 juta per bulan, kini setelah menjadi swalayan menjadi Rp 665 juta per bulan. Di swalayan ini anggota bisa berbelanja secara tunai maupun kredit. Untuk yang menggunakan fasilitas kredit, setiap anggota diberi plafon Rp 300 ribu per bulan. Sedang untuk anggota yang punya toko mendapat fasilitas pinjaman sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta. Selain anggota, unit swalayan juga melayani non anggota. Bila ternyata anggota membutuhkan dana untuk usahanya, bisa mengajukan pinjaman di Unit Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Unit ini selain untuk anggota juga untuk masyarakat umum. Tapi perlakuan pinjaman di unit ini berbeda dengan di unit simpan pinjam. Di sini disyaratkan harus punya usaha yang sudah berjalan dan memakai agunan. Sedangkan suku bunganya 2 % flat per bulan. Dan pinjaman ini tidak terikat dengan kelompok karena sifatnya lebih individu. Saat ini dana yang dikucurkan sudah sebesar Rp 1,6 miliar untuk pembiayaan 338 UKM.

Dokumentasi

Swalayan, melayani anggota dan non anggota. Untuk anggota mendapat fasilitas pembelian secara kredit.

15

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

KEANGGOTAAN
Dari cikal bakal pendiri sebanyak 35 orang wanita itu, anggota Kopwan SBW kini telah berkembang menjadi 10 ribu orang lebih. Bermula dari 2 kelompok dalam satu kecamatan, kini berkembang menjadi 358 kelompok. Bukan lagi di satu kecamatan tapi tersebar di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Perkembangan anggota yang ribuan kali lipat itu, tidak mengurangi rasa kebersamaan. Melalui pertemuan kelompok setiap bulan, dan temu wicara setiap 6 bulan dan RAT membuat rasa kebersamaan selalu terasah. Bagaimana cara menjadi anggota? Tentu saja tidak sulit, apalagi bagi mereka yang memang senang menggalang usaha bersama. Ketentuan teknis yang ditetapkan Kopwan SBW untuk menjadi anggota adalah harus melalui kelompok-kelompok yang sudah ada. Diterima atau tidaknya seseorang menjadi anggota, Tabel 2. Perkembangan Kelompok Pengusaha Pedagang Kecil (KPPK) tergantung dari hasil kesepakatan anggota kelompok yang akan dimasuki. Namun Tahun Organisasi KPPK Tahun Organisasi KPPK masyarakat juga bisa berga1978 75 0 1991 4.942 223 bung menjadi anggota Kop1979 778 0 1992 5.255 101 wan SBW dengan membentuk 1980 1.525 0 1993 6.029 85 kelompok baru. Sedang per1981 2.347 0 1994 6.414 137 syaratannya, minimal sudah 1982 3.496 298 1995 6.232 93 tergabung 15 orang wanita dan 1983 3.618 327 1996 6.678 87 di antara mereka saling me1984 2.913 447 1997 7.055 123 ngenal. Selain itu seluruh ang1985 2.933 365 1998 7.318 172 gota harus bersepakat mene1986 3.161 793 1999 7.639 313 rima dan menjalankan sistem 1987 3.147 493 2000 8.812 365 tanggung renteng beserta kon1988 3.431 396 2001 9.631 1989 4.029 497 2002 9.871 sekuensinya. Tentunya bebe1990 4.884 307 rapa persyaratan administrasi juga harus dipenuhi. Ke depan, memang masih banyak tantangan ekonomi yang harus dihadapi oleh Kopwan SBW. Terlebih dengan semakin tajamnya persaingan di tengah pasar global yang mau tidak mau berimbas pada upaya kopwan ini mempertahankan kinerja. Dalam konteks ini kopwan mempersiapkan diri dengan menggalang berbagai aspek usaha berbasis partisipasi ekonomi wanita. Pola tanggung renteng masih akan dikedepankan sebagai nilai jual (selling point) dan sekaligus tipikal ekonomi yang beebasis pada aspek kultural bangsa Indonesia. Guna mengantisipasi berbagai tantangan global dan dinamika internal organisasi, Kopwan tentu saja dituntut proaktif dengan senantiasa meningkatkan capacity building sesuai prinsip prinsip pembangunan koperasi berkelanjutan.***
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

16

DKI JAKARTA

KSU Tunas Jaya

SERBUAN MINIMARKET

DITENGAH
17
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

I

Sugiharto Ketua KSU Tunas Jaya

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

18

ronis memang. Di era reformasi saat ini Koperasi Serba Usaha (KSU) atau KUD bagai mengalami nasib yang sama. Yakni sama-sama terpuruk. Jika KUD yang banyak berdomisili di pedesaan, mulai rontok karena tidak lagi dipercaya pemerintah untuk menjalankan program, maka nasib KSU tak jauh beda, kehilangan pasar akibat merebaknya pasar swalayan modern ke tengah kampung. Lain halnya ketika perekonomian negeri ini tengah subur, tepatnya di era Orde Baru. KUD dan KSU boleh dibilang mendapat perhatian istimewa dari pemerintah. Tetapi kenangan indah itu pudar seiring dengan krisis ekonomi yang disertai runtuhnya kepemimpinan Orde Baru. KUD dan KSU pun rontok, karena tiang sandarannya, yakni pemerintah mengalami chaos dan tidak bisa lagi menyuntikkan subsidi ke koperasi. Tentu saja tidak semua KUD atau KSU yang mengalami kolaps, setidaknya masih banyak KUD atau KSU yang boleh dibanggakan. Salah satunya adalah KSU Tunas Jaya (Tunas Jaya) yang berlokasi di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Di tengah serbuan pasar modern yang marak ke perkotaan, sosok KSU seolah tak goyah. Padahal ratusan unit KSU lainnya di DKI Jakarta mulai lesu dan tidak sedikit yang tutup pintu. KSU tersebut kalah aksi dengan minimarket moderen, seperti Alfa Mart atau Indo Mart, yang kini leluasa beroperasi di tengah kampung di wilayah DKI Jakarta. Benarkah Tunas Jaya tak goyah oleh serbuan minimarket berpendingin sejuk itu? Sepintas lalu koperasi ini memang masih tampak kokoh melayani anggota dan pelanggan. Tetapi walau tak sampai kolaps Tunas Jaya sempat limbung. Faktanya, dari lima waserda milik koperasi ini tiga unit waserda kondisinya tak berdaya melawan ketangguhan peritel besar yang menyerbu kampung itu. Beruntung, Tunas Jaya memiliki ketangguhan karena soliditas anggotanya. Seandainya Tunas Jaya ikut tumbang, maka warga DKI Jakarta bakal sulit menemukan sosok koperasi berkinerja baik. Sampai batas tertentu, Tunas Jaya masih pantas mendapat acungan jempol. Mengapa demikian? Sebab, sejauh ini pengelolaan koperasi tersebut menerapkan kaidah-kaidah koperasi yang benar. Misalnya, sisi pengkaderan juga berjalan. Sehingga mempunyai SDM terampil dan profesional yang mampu mengangkat citra koperasi tersebut. Faktor penting lain, pelaksanaan pendidikan untuk anggota, menjadikan koperasi tetap mendapatkan kepercayaan dari para anggota. Tak lain, lantaran mereka telah mengerti hak dan kewajiban terhadap koperasi. Dulu, sebelum era reformasi bergulir nama Tunas Jaya cemerlang di percaturan perkoperasian Tanah Betawi. Maksudnya, untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya, keberadaan Tunas Jaya cukup dikenal.

Slamet AW

Kemampuan Tunas Jaya melewati tantangan demi tantangan dan tetap eksis, sebenarnya berkat jajaran pengurus yang kenyang makan asam garam berkoperasi. Sehingga jurus-jurus jitu untuk mengembangkan koperasi terus diperagakan. Salah satu kelihaian mereka adalah cara mengakses permodalan. Ketua KSU Tunas Jaya Sugiharto menyatakan, kalangan pengurus juga memiliki jam terbang cukup untuk meyakinkan pemilik barang. Terutama untuk kebutuhan sembilan bahan pangan pokok (sembako). Buktinya, koperasi ini tetap bisa berperan dan dipercaya sebagai distributor. Namun, terhitung setelah krisis melanda, lembaga usaha yang identik dengan ekonomi kerakyatan ini agak kewalahan menghadapi ’improvisasi’ pemilik modal besar yang juga menggarap sektor ritel. Sampai di situ, hukum dagang atau pasar yang berbicara. Maksudnya, pelan dan pasti produsen barang-barang sembako lebih memilih pemodal besar yang mampu membeli kontan untuk menjadi distributor atau agen. Lagi-lagi, berkat kepiawaian dan keuletan pengurus, Tunas Jaya tetap mampu melewati masa-masa amat sulit itu. Dari segi volume usaha, kinerja koperasi memang sedikit mengalami penurunan. Namun faktor semangat untuk tetap bangkit terus berkobar. Dan semangat yang tangguh lagi gigih itu merupakan kiat pengurus dalam membangun koperasi. Kegigihan yang mengantarkan Tunas Jaya mendapat sejumlah penghargaan dari pihak berkompeten.
Slamet AW

Kegiatan pelayanan terhadap anggota di kantor KSU Tunas Jaya.

19

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

APRESIASI DAN KONSISTENSI
Pujian prestasi memang bukan sasaran hendak dicapai Tunas Jaya, sebab para pengurus tahu persis bahwa menjalankan roda usaha KSU di tengah belantara metropolitan Jakarta sungguh tidak mudah. Itu sebabnya, Sugiharto mencanangkan kerja keras dan cerdas dalam merebut hati anggota dan pelanggan. Hasilnya memang di luar dugaan. Pada 2005, Tunas Jaya menggoreskan satu catatan sejarah. Sugiharto, sang nahkoda koperasi ini menunjukan prestasi yang bagus dengan memperoleh anugerah Bintang Jasa Satyalancana Wira Karya dari pemerintah. Penghargaan itu disematkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Koperasi 2005 di Bandung. Meskipun bangga, Sugiharto tidak lupa diri. Dia menyadari, sesungguhnya penghargaan itu bukan untuk dirinya sendiri. Bintang jasa itu juga untuk semua keluarga besar Tunas Jaya. Tanpa peran serta pengurus, pengawas, anggota, manajer, serta segenap karyawan, mustahil prestasi itu bisa dicapai. Apalagi, penghargaan itu bukanlah yang pertama kali diterima. Pemerintah beberapa kali menganugerahi penghargaan atas kesuksesan yang telah ditunjukkan Tunas Jaya. Sebelumnya, ketua KSU yang berkantor di pinggir kali Bendungan Hilir itu pernah dinobatkan sebagai Tokoh Koperasi Terbaik DKI Jakarta tahun 1995. Kemudian pada 1999 mendapat Piagam Bhakti Koperasi dari Menteri Koperasi-UKM. Agak susah memisahkan Tunas Jaya dengan sentuhan tangan dingin Sugiharto. Sosok yang terbilang sukses memimpin koperasi ini juga dikenal konsisten memilih atau menjalani karir di koperasi. Melalui kepemimpinannya, Tunas Jaya tumbuh berkembang, kemudian mendapat predikat sebagai koperasi terbaik, koperasi teladan nasional, dan koperasi berprestasi. Itu sebabnya sejak terpilih menjadi ketua yang pertama tahun 1977, hingga sekarang ia dipercaya menjadi orang nomor satu di koperasi ini. Tidak lain, dia telah diakui sebagai pekerja yang ulet dan gigih. Ayah tiga anak itu saat menangani koperasi memang tidak setengah-setengah. Lebih separoh usianya seperti dihabiskan di Tunas Jaya. Solidnya kerja sama antara pengawas, pengurus dan anggota melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing, menjadi kunci Tunas Jaya tak mudah patah oleh arus jaman. Termasuk gelombang resesi ekonomi. Mereka saling bekerja keras memajukan koperasi. Tak terkecuali sang ketua, ia juga bekerja secara penuh waktu alias full time. Secara historis, Tunas Jaya yang berlokasi bukan di kawasan elit ini awalnya adalah sebuah kelompok arisan. Seiring waktu, statusnya meningkat menjadi badan hukum koperasi. Kendati sudah menjadi koperasi, arisan dari warga RW 07 Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat ini terus berlanjut hingga sekarang.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

20

Dokumentasi

Proses demokratisasi di KSU Tunas Jaya melalui forum RAT.

AKTIVITAS USAHA
Tunas Jaya, adalah potret koperasi yang berhasil meraih prestasi ganda. Maksudnya, sukses berbisnis dan melayani anggota. Hingga psosisi Oktober 2006, koperasi ini terhitung sebagai yang terbaik di antara 178 KSU di Jakarta. Ada lima unit usaha yang dikelola KSU, dengan unit simpan pinjam (USP) sebagai andalan. Tahun 2004, unit USP mencatat omset Rp 14,4 miliar. Unit pertokoan (eceran dan grosir) beromset Rp 2,9 miliar. Unit pembayaran rekening listrik, PAM, dan telepon serta penjualan benda pos masing-masing beromset Rp 370,2 juta dan Rp 36 juta. Sedangkan unit angkutan (4 unit taksi), tahun 2004 membukukan omset Rp 10,450 juta. Akhir 2004, KSU Tunas Jaya mengoleksi SHU sekitar Rp 610 juta. KSU ini juga berhasil menggalang dana masyarakat, melalui sejumlah produk tabungan. Sebut saja produk Taroh (Tabungan Giro Harian), Tangga (Tabungan Rumah Tangga), Tamu (Tabungan Mitra Usaha), Taqurban (Tabungan Qurban), Tahar (Tabungan Hari Raya), Takesi (Tabungan Kesejahteraan Profesi), dan SWK (Simpanan Wajib Khusus). Melalui produk-produk jasa keuangan dengan tawaran suku bunga bersaing dengan bank ini, Tunas Jaya pada tahun 2004 mampu menghimpun dana publik sebesar Rp 6,2 miliar. Sebuah fakta yang membuktikan bahwa KSU ini sangat dipercaya masyarakat. Seperti tersaji pada Tabel 1, berdasarkan dokumen RAT tahun buku 2005 aset Tunas Jaya menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Misalnya pada tahun 2004 aset koperasi senilai Rp Rp 9,8 miliar dan pencapaiannya meningkat menjadi Rp 10,7 miliar tahun 2005. Pertumbuhan SHU koperasi juga memperlihatkan angka menggembirakan. Menurut Sugiharto, prestasi tersebut bisa diraih berkat dukungan dan partisipasi dari anggotanya. Di sisi lain, misalnya nyaris sepanjang 2006 pihak koperasi terus memperjuangkan sejumlah anggota yang

21

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Kinerja KSU Tunas Jaya, 2000-2005 (ribuan Rp)

Omset Aset SHU Anggota

17.224.696
○ ○ ○ ○

15.218.900
○ ○ ○ ○

4.961.945
○ ○ ○ ○

544.283
○ ○ ○ ○

263.728
○ ○ ○ ○

268.374
○ ○ ○ ○

361.493
○ ○ ○ ○

1.351
○ ○ ○ ○

1.347
○ ○ ○ ○

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Tabel Kinerja KSU Tunas Jaya, 2000-2005
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Anggota
(orang)

Aset
(Ribuan Rp)

Omset
(Ribuan Rp)

SHU
(Ribuan Rp)

1.351 1.347 1.371 1.435 1.473 1.594

4.961.945 6.992.822 6.462.718 8.401.729 9.808.813 10.739.000

12.745.491 14.160.697 15.218.900 17.224.696 17.742.782 -

263.728 268.374 361.493 544.283 609.155 -

Catatan: Di luar anggota penuh, tahun 2004 masih ada 1.594 orang calon anggota.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

22

1.371

1.435

1.473

1.594
○ ○

609.155

6.992.822

6.462.718

8.401.729
○ ○

9.808.813 10.739.000
○ ○ ○ ○ ○ ○

12.745.491

14.160.697

17.742.782

berprofesi sebagai pedagang kaki lima (PKL) di beberapa lokasi di Jakarta. Harapannya, bisa mendapatkan tempat usaha tanpa harus merusak keindahan kota. Ternyata apa yang diinginkan tidak bertepuk sebelah tangan. Gayung itu pun bersambut. Mengapa? Sebab, sampai awal Oktober 2006 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah merencanakan pembangunan lokasi pasar yang bisa menampung para pelaku usaha di sektor informal berjualan. Persisnya, di area Proyek Senen, Jakarta Pusat. Daya tampungnya diperkirakan mencapai 1.500 pedagang dan dibagi menjadi tiga shift yaitu pagi, siang dan malam hari. Namun demikian, penerapan sistem penggunaan lahan seperti itu, agaknya belum tentu membuat para PKL dapat menjual dagangannya secara maksimal. Antara lain karena waktu berjualan mereka yang dibatasi. Melihat kenyataan ini, jajaran pengurus Tunas Jaya terus berusaha melobi pemerintah provinsi. Intinya, menyarankan Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan agar pemilik toko atau mal memberikan sedikit ruang bagi pedagang kaki lima.***

DKI JAKARTA

KSP Wirakarya Jaya

EKSIS MELAYANI

PEDAGANG
23
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

I

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

24

nginkah koperasi Anda cepat berkembang? Resepnya, bentuklah koperasi yang tidak mempaktikkan banyak jenis usaha. Tujuannya, kinerja koperasi bisa lebih fokus. Bila Anda masih belum meyakininya, tampaknya kita perlu berkunjung ke Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Wirakarya Jaya disingkat Kowika Jaya di Provinsi DKI Jakarta. Pengalaman mengajarkan, koperasi yang menjalankan multiusaha, cenderung menuai ketimpangan pemasukan. Hal itu karena tingkat keuntungan antar-unit usaha tidak sama. Akibatnya, terjadi praktik subsidi silang, yakni unit usaha yang untung ‘menyusui’ unit usaha lain yang tidak beruntung. Jika itu terjadi, dipastikan pendapatan koperasi tak bisa optimal. Kowika Jaya sudah membuktikan pengalaman tersebut. Itu sebabnya, koperasi ini sekarang menjalankan usaha yang berkonsentrasi di koperasi simpan pinjam (KSP). Dengan begitu, sistem kontrolnya dapat berjalan secara maksimal. Selain itu, pengaturan maupun pengelolaan menajemen koperasi lebih mudah dibanding jika menjalankan multi usaha. Akhirnya keuntungan yang diperoleh pun akan lebih besar. Koperasi yang berkantor pusat di Cakung, Jakarta Timur ini semula berbentuk koperasi serba usaha. Namun, berkat kecermatan para pengurus, perlahan-lahan koperasi beralih haluan. Kenyataanya, unit usaha simpan pinjam (USP) yang dioperasionalkan hasilnya lebih baik dari unit usaha yang lain. Makanya, USP lebih dioptimalkan, dan selanjutnya diputuskan dalam RAT agar koperasi itu menjadi KSP. Ternyata, analisis dan perhitungan pengurus koperasi itu tepat. Kendati belum genap berusia 10 tahun, aset yang dimilikinya cukup menggiurkan. Kinerja KSP hasil perombakan KSU ini melejit. Koperasi yang berdiri pada 1997 ini, terhitung per 31 Desember 2005 membukukan aset sebesar Rp 10,3 miliar. Artinya, setiap tahun hampir menghimpun aset sekitar Rp 1 miliar. Perkembangan itu juga terbukti dengan dimilikinya empat kantor cabang. Yakni di Ciracas (Jakarta Timur), Tangerang, Cibitung, dan Gunung Putri (Bogor). Faktor lain pemicu perkembangan koperasi, di antaranya tepat dalam merekrut anggota. Maksudnya, baik anggota maupun calon anggota yang dilayani jasa pembiayaanya, semua digunakan untuk usaha produktif. Tak heran kalau anggotanya banyak berprofesi sebagai pedagang di pasar-pasar tradisional serta warung. Menurut responden yang Ketua KSP Kowika Jaya, Sadari, faktor penunjang kemajuan koperasi, juga karena cepatnya perputaran modal. Sebab, peminjam akan ditagih harian dan mingguan. Ada pun peminjam bulanan jumlahnya tidak signifikan, atau hanya orang-orang tertentu. Di sisi lain, mengandalkan pelayanan berupa proses cepat dan persyaratan yang mudah, menjadikan koperasi ini tetap memiliki banyak anggota. Setelah meninjau kondisi usaha pemohon pinjaman, maka dalam waktu 3–5 hari pengajuan peminjaman yang diinginkan anggota maupun calon anggota sudah ada jawaban, baik disetujui maupun tidak. Untuk itu, koperasi juga tidak khawatir dengan banyaknya pedagang uang yang mengatasnamakan koperasi. Pasalnya, dibandingkan jasa yang

ditawarkan mereka, menurut salah satu anggota, bunga pinjaman yang dibebankan koperasi kepada anggota relatif rendah, yakni untuk anggota 3% dan nonanggota (calon anggota) 4% flat per bulan. Terpenting lagi, keberadaan koperasi juga ikut membantu pemerintah mengatasi persoalan pengangguran. Sebab, untuk melayani anggota 359 orang dan calon anggota 463 orang, koperasi membutuhkan tenaga operasional sebanyak 118 orang. Dari jumlah tersebut hanya 3 orang yang masih honorer. KSP Kowika Jaya juga memperlakukan seluruh karyawan dengan cukup layak. Selain upah di atas upah minimum regional (UMR), juga ada tunjangan prestasi. Dalam menjalankan tugasnya, para petugas tagih itu mendapat jatah bensin 3 liter per hari. Selain itu, mereka selalu diberikan motivasi. Setiap bulan dilakukan pertemuan. Tujuannya, selain evaluasi juga mendengarkan masukanma-sukan yang mereka temui dalam bertugas. Selanjutnya, input dari karyawan itu ditindaklanjuti oleh pengurus. Demi menjaga keamanan dana anggota—maklum, bisnis uang yang sangat riskan—maka sistem kontrol juga diberlakukan dengan amat ketat. Setiap lima orang diawasi oleh satu orang pengawas. Para pengawas itu bertanggungjawab kepada pimpinan unit. Hasilnya, tingkat kemacetan tagihan koperasi ini masih dianggap wajar. Untuk meningkatkan kualitas anggota dan kesetiaan kepada koperasi, bagi calon anggota koperasi harus lolos saringan, yakni selain dilihat kesetiaan juga kondite pengembalian pinjaman. Bagi mereka yang konditenya bagus, dalam 3–4 kali masa kredit, mereka ditawari apakah mau menjadi anggota atau hanya sebagai pengguna modal dari koperasi. Penawaran itu sesuai dengan prinsip berkoperasi, yakni terbuka dan suka rela Menurut responden, faktanya tidak semua calon nasabah tertarik menjadi anggota koperasi. Alasannya, karena pasang surut usaha yang dijalankan nasabah. Sementara kalau menjadi anggota, ia harus dituntut memenuhi beberapa kewajiban. Misalnya, membayar simpanan pokok Rp 500 ribu dan simpanan wajib Rp 50 ribu per bulan. Kebanyakan yang ingin menjadi anggota koperasi adalah mereka yang usahanya sudah stabil.

Slamet AW

Sadari Ketua KSP Kowika Jaya

PRESTASI MEMBANGGAKAN
Orang bijak bilang, kalau mau mensyukuri keberhasilan lihatlah ke bawah. Sebab, kalau sering melihat ke atas kekurangpuasan selalu menggelayuti hati. Begitu pula dengan Kowika Jaya. Jika melihat koperasi sejenis yang telah maju dan pesat di DKI Jakarta, seolah hasil kerjanya masih belum apa-apa. Tetapi kalau mengingat bagaimana jatuh bangun membangun koperasi, pencapaian prestasi koperasi yang baru berumur sewindu ini mungkin cukup membanggakan. Omset yang berhasil dibukukan per 31 Desember 2005 sebesar Rp 31,6 miliar. Saldo yang diberikan mencapai Rp 8,6 miliar. SHU pun dari tahun ke tahun terus naik. Jika tahun buku 2004 membukukan SHU sebesar Rp 736 juta, tahun 2005 meningkat menjadi Rp 902 juta. Sedangkan tahun 2006 SHU ditargetkan sebesar Rp 1 miliar.

25

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Namun, usaha KSP Kowika Jaya tak selalu lancar seperti berkendara di jalan tol. Para pengurus mengakui adanya sejumlah kendala, terutama saat kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005. Dampak kenaikan harga BBM ini telah menurunkan omset anggota koperasi yang sebagian besar adalah pedagang dan pengusaha kecil. Akibatnya pula, tingkat pemenuhan kewajiban anggota kepada koperasi turun 20–30%. Biaya operasional karyawan koperasi turut membengkak. Terlepas dari masalah itu, KSP ini tetap dapat memenuhi target peningkatan pendapatan dari Tabel Kinerja Kowika Jaya, 2004-2005 tahun ke tahun. Pendapatan tahun buku 2004 sebesar Rp Uraian 2004 2005 % 23,6 miliar sesuai dengan 1. Keanggotaan 728 Orang 822 Orang 12,9 target, pun tahun 2005 juga 2. Kekayaan/ Aset 8.694.580.057 10.398.082.811 19,6 mencapai target sebesar Rp 3. Simpanan Anggota 349.610.000 556.135.000 59,1 31,6 miliar. 4. Pinjaman yg diberikan 7.033.284.450 8.644.389.450 22,9 Sedangkan modal yang 5. Pendapatan Usaha 3.503.311.250 4.658.596.500 33,0 dihimpun koperasi, selain 6. SHU sebelum pajak 736.709.970 902.667.769 22,5 dari anggota terdiri atas simpanan wajib sebesar Rp 721 juta, simpanan Rp 3,3 miliar, dan tabungan berjangka Rp 3,4 miliar, juga dari pihak ketiga. Dana pihak ketiga pada 2004 berupa dana bergulir kompensasi kenaikan harga BBM Rp 100 juta, dana dari IKSP dan Bank Bukopin Rp 1 miliar melalui penjaminan dari Kementerian Koperasi dan UKM. Ada juga dana dari PKPS BBM 2005 sebesar Rp 500 juta. Untuk dana PKPS BBM, hingga penelitian ini dilakukan ternyata belum dapat dicairkan.

ANGGOTA PERCAYA
Tidak berlebihan, jika dikatakan kinerja Kowika Jaya bisa menambah daftar koperasi berprestasi di Jakarta. Tanggapan ini dilontarkan pihak Dinas Koperasi dan UKM Jakarta Timur. Pertimbangannya, koperasi ini berkontribusi menyerap tenaga kerja 118 orang dari keempat cabangnya. KSP ini juga telah melaksanakan kaidah koperasi yang benar. Yang jelas, secara obyektif klasifikasi koperasi ini terhitung A dengan skor 88-100 sebagai koperasi sehat. Selain itu, KSP ini mampu mengelola keuangan dengan baik. Buktinya, beberapa kali menerima modal bergulir, seperti dana PKPS-BBM tahun anggaran 2005 sebesar Rp 500 juta. Kepercayaan anggota terhadap pengurus juga sangat tinggi. Hal itu bisa dibuktikan saat melangsungkan RAT tahun buku 2005. Pertanggungjawaban pengurus diterima secara aklamasi oleh peserta rapat. Penilaian anggota sederhana saja. Barometernya, setiap tahun SHU terus meningkat. Selain tu, pengurus selalu dapat mewujudkan apa yang ditargetkan. Target SHU Rp 900 juta pada 2005 misalnya, dapat tercapai. Persisnya terealisasi Rp 902 juta, atau naik sekitar Rp 160 juta dari tahun sebelumnya yang mecapai Rp 736 juta. Karena itu, anggota meyakini target SHU pada 2006 sebesar Rp 1 miliar, bakal tercapai. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

26

DKI JAKARTA

Kopkar PT Sinar Sosro

DAN MITRA PERUSAHAAN
27
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

BANGUN PRESTASI

Slamet AW

M

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

28

asih ingat iklan sebuah produk minuman ringan asli Indonesia yang berbunyi: ‘Apa pun makanannya, minumnya Teh Totol Sosro’. Iklan populer itu kini diadaptasi oleh koperasi karyawan (kopkar) perusahaan PT Sinar Sosro Jakarta yang juga bermotto. ‘Apa pun kebutuhan anggota, kopkarlah tempatnya’. Entah betul entah tidak, kenyataannya, eksistensi kopkar tersebut terus menanjak dari tahun ke tahun. Motto tersebut tampaknya terbukti. Sebab, kopkar yang memiliki sekitar 3800 anggota itu mampu menjalankan berbagai ragam usaha yang menguntungkan anggota. Selain mampu bermitra dengan perusahaan, kopkar juga mengembangkan berbagai usaha antara lain USP, waserda, jasa kantin, foto copy, pengadaan alat tulis kantor (ATK), cleaning service, pemeliharaan kendaraan, dan perumahan. Yang lebih membanggakan, setidaknya bagi jajaran pengurus dan anggota, kopkar ini tidak sekadar berhasil memenuhi kebutuhan para anggota dan karyawan pabrik secara umum. Melainkan keberadaannya telah menjadi semacam ‘instrumen’ yang turut menyuarakan serta memperjuangkan kesejahteraan karyawan. Sukses lainnya, yakni para pengurus bisa menyadarkan anggota untuk memanfaatkan koperasi. Ini penting, mengingat banyak koperasi yang memble karena anggota tidak konsisten mencintai koperasi. Padahal koperasi itu bisa tumbuh dan berkembang kalau anggotanya setia. Nah, untuk membuat anggota cinta pada koperasi, mereka harus disadarkan dengan diberi pengertian bagaimana cara berkoperasi yang baik. Untuk itu, pengurus koperasi mesti berperan menyampaikan pendidikan perkoperasian kepada anggotanya. Misalnya, memberi pengertian bahwa koperasi itu modalnya dari anggota, sehingga anggota pula yang menjadi pelanggan. Singkatnya, koperasi adalah milik bersama. Sayangnya, untuk mencapai itu tak mudah. Apalagi jumlah anggota Kopkar Sinar Sosro mencapai ribuan orang, di mana masing-masing terikat dengan bidang tugasnya di perusahaan. Beruntung jajaran pengurus sudah memahami cara-cara berkoperasi yang baik dan benar, sehingga program sosialisasi tak banyak terkendala. Artinya, penyadaran anggota tetap berjalan tanpa harus mengganggu produktivitas kerja di perusahaan induk. Bahkan, cara yang dilakukan justru memacu produktivitas mereka. Kuncinya, menurut Mustafa Suradilaga, ketua Kopkar Sosro, harus ada pendekatan dari hati ke hati. Yakni, pengurus melakukan penyadaran mengenai arti penting berkoperasi dengan cara pendekatan langsung dan ‘curhat’ alias curahan hati. Hemat dia, kalau pengurus yang tidak mendekati mereka, anggota pasti minder mengingat para pengurus itu rata-rata sudah mempunyai jabatan. Peran pengurus kopkar menyadarkan para anggota agar mampu berkoperasi secara baik dan benar, sungguh tidak mudah.

Slamet AW

Pengurus dan karyawan Kopkar Sosro.

Persoalan lain, waktu mereka dimanfaatkan untuk bekerja. Sedangkan waktu istirahat dipakai melepas lelah. Jadi, tak mungkin memikirkan apa itu koperasi. Yang mereka tahu kalau tidak punya uang ya pinjam. Dan kalau tidak bisa segera terpenuhi marah. Perjuangan Musthapa bersama kawan-kawan membangun koperasi bukannya mudah. Sebelum ia memimpin kopkar, kondisi koperasi itu sangat memprihatinkan. Jangankan berpikir memperoleh SHU, untuk memenuhi kebutuhan sembako saja tak sanggup. Sudah begitu, pemahaman anggotanya mengenai koperasi benar-benar nol. Padahal, kopkar yang didirikan perusahaan pada 17 Desember 1984 ini mengusung cita-cita mulia, yakni memberi pelayanan kepada karyawan agar merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Bentuknya, bisa layanan jangka pendek berupa pengadaan kebutuhan sehari-hari, hingga layanan jangka panjang berwujud program pensiun. Cita-cita mulia kopkar rupanya sebangun dengan cita-cita keluarga Sosrodjojo, pendiri dan pemilik PT Sinar Sosro. Yakni ingin agar keberadaan perusahaan yang berdiri tahun 1974 ini bermanfaat bagi sesama manusia.

PASANG SURUT
Perjalanan Kopkar Sinar Sosro sempat mengalami pasang surut. Setelah ada karyawan yang terpanggil untuk membenahi, barulah kopkar berkembang seperti sekarang. Prinsipnya, pengurus ingin total melayani kebutuhan anggota. Pengurus juga mengajak jajaran serikat pekerja bersama-sama membantu mengatasi kesulitan karyawan, agar keluhan mereka bisa diminimalisasi. Dengan begitu tak ada alasan lagi untuk kegiatan seperti demonstrasi memprotes kebijakan perusahaan. Kiprah Kopkar Sinar Sosro dimulai 1988, tepatnya pasca pemogokan karyawan yang cukup berlarut-larut pada tahun 1987. Momentum itu segera saja disambar dan dijadikan era baru oleh aktifis kopkar. Mengawali kepemimpinannya, lelaki yang memiliki darah koperasi dari ayahnya H Abdul Munir, aktivis KUD di daerah Margasari Tegal, perlahan-lahan

29

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

membenahi kondisi kopkar. Ia mengakui, ibarat bangunan, kondisi lembaga usaha ini di sana sini sudah rapuh dan perlu perbaikan total. Selama periode kepengurusan pertama (1988-1990), memang belum terlihat hasilnya. Maklum, waktu itu ia mengaku masih belum memahami benar cara-cara berkoperasi. Tetapi niat untuk membangun koperasi tetap menyala. Perlahan tapi pasti, kinerja koperasi mulai membuahkan hasil. Tahun 1994 membukukan SHU Rp 5 juta. Setahun kemudian naik menjadi Rp 27 juta, namun turun menjadi Rp 11 juta pada 1996. Tahun 1997 SHU melonjak menjadi Rp 33 juta, dan minus Rp 15 juta saat krismon. Terkait fluktuasi perolehan SHU tersebut pengurus menyatakan, SHU bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur keberhasilan koperasi. Tetapi pelayanan terbaik kepada anggota adalah indikasi utamanya kemajuan koperasi. Buktinya, saat SHU minus, koperasi tetap eksis melayani keperluan anggota tanpa menaikkan suku bunga pinjaman. Padahal bunga pinjaman koperasi ke pihak ketiga saat krisis moneter mengalami kenaikan.
Keberadaan waserda sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan anggota.

Slamet AW

JALIN PARTNERSHIP
Setelah dianggap stabil, maka genderang cita-cita untuk memposisikan koperasi sebagai patnership perusahaan lalu ditabuh. Pengurus terus mengadakan berbagai lobi dan bernegosiasi dengan perusahaan. Misi pengurus waktu itu, jika antara koperasi dan perusahaan bersinergi, maka upaya menyejahterakan karyawan bisa diwujudkan melalui koperasi. Perusahaan pun akhirnya setuju. Koperasi lalu dicoba menggarap ‘proyek’ pembuangan limbah, seperti pecahan botol (beling), sedotan (straw), dan limbah teh dari pabrik ke TPA. Kegiatan ini berlangsung setiap hari dengan menggunakan mobil milik koperasi. Pengurus berprinsip, kalau karyawan sejahtera pasti tidak terjadi demo atau pemogokan kerja. Sebab, kebanyakan tindakan mogok hanya karena karyawan menuntut kesejahteraan. Cuma sayangnya, untuk mewujudkan kesejahteraan karyawan perusahaan kadang tidak mampu. Menyadari dirinya besar

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

30

karena jasa perusahaan, maka manajer keuangan PT Sinar Sosro yang meniti karir dari bawah ini tergerak hatinya untuk turut membantu mensejahterakan karyawan melalui koperasi. Setelah koperasi memiliki tempat yang representatif plus fasilitas AC, listrik, telepon, dan PAM hasil pemberian perusahaan, segenap jajaran pengurus segera mengatur strategi guna memajukan koperasi. Sebelum koperasi dalam kepemimpinannya, boleh dikatakan koperasi ini amburadul. Contohnya, setiap belanja barang langsung habis, tetapi tidak dibeli oleh banyak anggota, hanya orang tertentu. Selidik punya selidik ternyata barang tersebut dijual lagi di luar pabrik. Berkat sentuhan pengurus, anggota pun makin menyadari arti penting koperasi. Karyawan juga merasa lebih tenang dalam menjalankan tugasnya. Apalagi, koperasi bisa diandalkan untuk menutupi kebutuhan anggota. Termasuk yang bersifat darurat, terutama dana tunai. Kendati posisi anggota masih menanggung utang, koperasi tetap sigap mengulurkan tangan. Sehingga keberadaan koperasi sering tampil sebagai dewa penolong. Maksudnya, karena terbiasa secara sungguh-sungguh, maka koperasi cepat menalangi kebutuhan keuangan anggota yang sifatnya mendadak. Misalnya untuk biaya berobat, melahirkan, dan biaya sekolah.

BANKABLE

Tabel Kinerja Keuangan Kopkar Sinar Sosro, 2004-2005
% 29 23 33 31 98

Koperasi Karyawan PT Sinar Sosro Jakarta Uraian 2005 (Rp) 2004 (Rp) mempunyai kegiatan usaha. Masing-masing Total Aktiva 28.954.708.612 22.437.810.546 meliputi simpan pinjam, waserda, jasa kantin, Piutang 26.471.372.021 21.577.246.510 foto copy, pengadaan ATK, cleaning service, Hutang Simpanan 2.842.533.533 2.129.986.903 pemeliharaan kendaraan, dan perumahan. Jenis Modal 1.744.561.723 1.327.100.297 unit usaha yang terbesar menyumbang pendaSHU 275.528.229 138.743.384 patan tahun 2003 adalah simpan pinjam, sebesar Rp 2,970 miliar, meningkat hampir 100% dibanding tahun buku 2002 sebesar Rp 1,485 miliar. Pendapatan toko juga meningkat dari Rp 1,557 miliar tahun 202 menjadi Rp 1,758 miliar per 31 Desember 2003. Pendapatan usaha lain-lain Rp 267,616 juta, dan pembelian diskon Rp 39,072 juta. Pada tahun buku 2003, SHU yang dibagi mencapai Rp 196,245 juta, naik dibanding tahun buku 2002 sebesar Rp 150,844 juta. Aset koperasi pun meningkat signifikan dari tahun 2002 Rp 11,286 miliar menjadi Rp 20,448 miliar. Sedangkan piutang anggota tercatat sebesar Rp 18,634 miliar. Untuk menambah permodalan, demi tercapainya pelayanan kepada anggota, koperasi ini memperoleh kepercayaan dari sejumlah bank. Tercatat Bank Bukopin mengucurkan pinjaman sebesar Rp 3 miliar, Bank DKI Rp 5 miliar, Bank Muamalat Rp 10 juta, juga Bank BRI dan BPR Beringin. Pengurus tetap memberlakukan suku bunga normatif kepada anggota Kopkar Sinar Sosro. Disebutkan, pinjaman sebesar Rp 5 juta, Koperasi di Tengah 31 Lingkungan yang Berubah bunganya 2% per bulan. Pinjaman hingga Rp 25 juta, bunganya seperti

yang dipatok bank. Simpanan anggota per 31 Desember 2003 mencapai Rp 1,667 miliar. Per 31 Desember 2003, koperasi ini telah melepas sebanyak 434 motor berbagai merek, 232 unit rumah, dan 307 kavling tanah.

MENUAI PRESTASI
Tak dimungkiri, Kopkar Sosro dari hari ke hari kian menunjukan perkembangan mengesankan. Salah satu satu pangkalnya, omset lembaga bisnis ini terus mengalami peningkatan signifikan. Tahun buku 2004, perputaran bisnis koperasi terpatok di angka Rp 22,6 miliar. Yang jelas, omset kopkar perusahaan ahlinya teh ini pada 2005 lalu meningkat menjadi Rp 28,9 miliar. Dampak positif perolehan tersebut, ternyata juga ada. Persisnya, pencapaian itu berpengaruh terhadap urutan peringkat koperasi. Secara kronologis, kinerja dari kopkar perusahaan minuman teh dalam kemasan ini sudah menggeliat sejak 2003. Saat itu, posisinya masih berada di urutan 17 untuk kategori koperasi sehat di Jakarta Timur. Kemudian pada 2004, keberadaan koperasi merangkak ke peringkat 12. Di Tahun Ayam atau 2005, posisi kopkar sebuah perusahaan yang memimpin di pasar minuman teh kemasan ini bertengger di urutan 6. Harap dicatat, saat itu jumlah koperasi di Jakarta Timur mencapai sekitar 1.500 unit. Sebagai koperasi yang berada di bawah naungan perusahaan, Kopkar Sosro berhasil mencapai prestasi membanggakan yaitu mampu menjalin kemitraan perusahaan. Kemampuan ini sekaligus salah satu kiat mengapa Kopkar Sosro sukses. Kiat yang juga menjadi prestasi koperasi ini adalah dukungan anggota yang solid di samping peran perusahaan yang sangat mendukung. Pada tahun 2005 Dinas Koperasi dan UKM Jakarta Timur mencatatkan posisi sempurna untuk Kopkar Sosro, yaitu klasifikasi A dengan indeks nilai 88–100.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

32

DKI JAKARTA

Primkopau Mabes TNI-AU

SUKSES DENGAN

ANEKA USAHA
33
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Yannes

S

iapa bilang koperasi di kalangan angakatan (TNI/Polri) tidak berkembang dan menutup diri. Buktinya, koperasi di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang satu ini terbilang sukses. Primer Koperasi Angkatan Udara (Primkopau) Mabes TNI-AU ini telah membukukan aset yang lumayan dan mudah memberikan informasi perihal perkembangannya. Memang, lokasinya berada di Markas Besar (Mabes) TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Anggotanya terdiri atas prajurit TNI-AU dan pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di Mabes TNI. Kebetulan, jika kita bertandang ke Mabes TNI di Cilangkap, memang tidak bisa langsung melihat kantor koperasi itu. Maklum, selain tidak tampak dari luar kompleks, koperasi ini berada di kawasan tertutup, yang tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana. Bahkan, letak kantornya cukup jauh dari permukiman, sehingga sulit diketahui keberadaannya. Namun, koperasi ini justru mampu berkembang, tak kalah dengan koperasi yang berada di luar Mabes TNI.

Pengurus Promkopau Mabesau menyampaikan laporan pertanggungjawaban.

Yannes

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

34

Kegiatan usaha koperasi yang beranggotakan 2.955 orang ini juga tidak hanya berbisnis melayani anggota dari kalangan TNI-AU saja. Melainkan para prajurit dan PNS dari semua angkatan yang berada di Mabes TNI. Sebenarnya, Primkopau bukan satu-satunya koperasi di komplek tersebut, ada juga primer koperasi milik TNI-AD dan TNI-AL. Entah kenapa, tidak sedikit mereka yang membutuhkan pelayanan Primkopau. Walau, di luar anggota TNI-AU, mereka statusnya menjadi anggota luar biasa. Setidaknya, Primkopau dianggap mempunyai keunggulan dibandingkan yang lain. Menurut Letkol TNI-AU A Fathoni, ketua Primkopau Mabes TNI-AU, mungkin karena koperasi yang dipimpinnya mampu mengucurkan pinjaman hingga Rp 10 juta per anggota. Bahkan, pinjaman khusus bisa mencapai Rp 25 juta. Pinjaman yang diberikan Primkopau tidak semata-mata berorientasi mencari keuntungan, tetapi ada nilai sosial membantu sesama anggota yang membutuhkan pertolongan dana. Semisal, bunga yang dikenakan tidak terlalu memberatkan. Pinjaman untuk biaya pendidikan, malah tidak dikenakan bunga alias 0%, sedang pinjaman untuk biaya sekolah bunganya juga hanya 0,5 % per bulan. Baru, pinjaman reguler dipungut bunga variatif, bagi pangkat tamtama dipatok 1%, bintara dan perwira 1,25%, dengan plafon pinjaman maksimal Rp 8 juta. Selain Unit Simpan Pinjam (USP), Primkopau juga mengoperasikan

tiga unit minimarket—dua unit berada di lingkungan Mabes TNI dan satu unit di Ruko Mall Pondok Gede, Jakarta Timur—yang siap melayani berbagai kebutuhan anggota. Barangkali, inilah antara lain kelebihan Primkopau yang tidak dimiliki primer koperasi lain di lingkungan TNI. Termasuk kemampuan dalam menggaet prajurit non-TNI-AU untuk menjadi anggota Primkopau. Kesempatan untuk merekrut anggota, baik anggota biasa maupun luar biasa masih memungkinkan terbuka. Mengingat, jumlah personel di Mabes TNI mencapai 12.000 orang. Boleh jadi, kondisi tersebut yang membuat Primkopau tidak kekurangan konsumen, kendati berada di kawasan tertutup. Malah, salah satu unit usahanya yaitu mi-nimarket, selalu ramai tak ubahnya seperti arena bazaar. Terbukti, sesuai catatan di buku RAT tahun buku 2004 omset per hari mencapai Rp 40 juta. Barangkali yang menjadi magnetnya karena kemudahan dalam pembayaran. Sebab, selain tunai juga boleh mengutang dengan potong gaji. Untuk mengantisipasi terjadinya kredit macet, Primkopau pun telah menyiasatinya. Selain menjalin kerja sama dengan bendaharawan di tiga angkatan (TNI AU, TNI AD, dan TNI AL) juga karena tingginya kesadaran anggota untuk berkoperasi. Hasilnya, koperasi nyaris tidak pernah mengalami tagihan macet. Aturan yang telah disepakati dengan para bendaharawan di masing-masing unit, tidak hanya berbelanja yang dipotong tetapi juga dalam urusan pinjam-meminjam uang. Di usianya yang ke-28 tahun (2004), Primkopau Mabes TNI-AU tidak semata berbisnis di bidang ritel dan USP. Masih ada usaha lain yang juga berkembang. Semisal, stasiun pengisian bensin umum (SPBU) yang berlokasi di Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan. SPBU ini mampu menjual BBM sebanyak 72 kilo liter per hari. Untuk ukuran SPBU di wilayah DKI Jakarta, volume itu termasuk besar dibandingkan penjualan di SPBU lain yang hanya berkisar 30-40 kilo liter per hari. Selain itu, masih ada unit usaha perumahan, wartel, foto copy, kantin, travel biro, konveksi, salon, arena pemancingan, pijat refleksi, dan unit niaga. Bahkan, unit yang terakhir disebut, telah berkembang menjadi semacam distibutor/grosir dengan memasok barang ke toko-toko koperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Khusus unit usaha tersebut, pada thun buku 2004, mampu berkontribusi perolehan SHU Primkopau sebesar Rp 472,5 juta. Yang menarik dari unit niaga, baik barang-barang pabrikan maupun sembako, berupa beras, kopi, gula, terigu dan minyak goreng yang tersedia di gudang, siap diantar ketempat pemesan dengan mobil boks milik Primkopau. Soal harga, untuk sesama koperasi ada toleransi dan dijamin pasti lebih murah. Dari seluruh unit usaha tersebut, Primkopau Mabes TNI-AU tahun buku 2004 membukukan total SHU sebesar Rp 929,5 juta.

KESEJAHTERAAN PRAJURIT
Tanpa mengurangi peran vital dari jajaran pengurus serta karyawan yang ada, sukses Primkopau Mabes TNI-AU tidak terlepas dari peran sang ketua yang mempunyai minat sebagai wirausahawan. Terbukti, kinerja koperasi ini dapat berkembang pesat. Dalam tahun buku 2004
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

35

modal kerja yang diputar mencapai sekitar Rp 30 miliar. Jelasnya, sejak diangkat menjadi ketua Primkopau Mabes TNI-AU tahun 2001, Fathoni yang kelahiran Gresik, Jawa Timur tahun 1964 ini langsung melakukan sejumlah terobosan. Unit-unit usaha yang semula stagnan, dapat dipacu hingga meraih keuntungan. Sehingga seluruh unit usaha yang berjumlah 16 unit telah mampu berkontribusi terhadap perolehan SHU. Jika sebelumnya SHU tak pernah melebihi angka Rp 100 juta, setelah kepemimpinannya, jumlahnya setiap tahun terus naik. Bahkan pada tahun buku 2004 sudah mendekati angka Rp 1 miliar. Dari SHU itu sekitar 40% langsung dibagikan kepada anggota sesuai porsi masing-masing. SHU yang diraih koperasi memang menjadi hak prajurit untuk turut membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Bukan cuma cakap mengelola unit-unit usaha, urusan menaikan simpanan sukarela, ayah empat putra-putri ini juga jagonya. Entah bagaimana kiatnya, yang pasti simpanan sukarela yang di bukukan Primkopau per 31 Desember 2004 mencapai Rp 7,1 miliar. Sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Prestasi makin diperlihatkan pada publik, khusus pada anggotanya dengan menyelenggarakan RAT lebih awal dari biasanya. Kendati sudah menjadi kewajiban, tapi tidak semua koperasi dapat melaksanakan RAT secara tepat waktu. Banyak pula yang melakukannya molor dari yang direncanakan. Sesuai ketentuan yang berlaku, RAT tingkat primer paling lambat hingga akhir Maret, tingkat pusat koperasi (sekunder provinsi) hingga akhir Mei. Sedang untuk tingkat induk koperasi/sekunder nasional, selambat-lambatnya akhir Juli. Kemas H. Ahmad ketua Dekopinwil DKI Jakarta yang menghadiri RAT tersebut, mengakui koperasi pertama yang menyelenggarakan RAT di Jakarta pada 2006. Bahkan menurutnya, tidak hanya di Jakarta, tapi kemungkinan juga di Tanah Air. Koperasi yang bisa menggelar RAT tepat waktu, apalagi di awal Januari mencermikan koperasi dimaksud sehat. Paling tidak, mencerminkan sistim manajemen koperasi tersebut sudah tertata rapi. Tidak berlebihan nampaknya, Primkopau mendapat sanjungan demikian. Kenyataannya dalam laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas memaparkan fakta, bukan saja sehat tapi juga termasuk koperasi yang sukses. Misalnya dari 16 unit usaha yang dilakukan semua mampu memberi kontribusi pendapatan.

TEMPAT BELAJAR
Keberhasilan Primkopau ternyata tidak cuma dikenal oleh anggota. Tetapi jauh di luar kantor menyakini gaung kesuksesan tersebut. Dampaknya, mengundang pihak-pihak untuk mempelajari kiat keberhasilan yang telah diterapkannya. Salah satu pihak yang kepincut ingin menimba ilmu di ‘kampus’ Primkopau adalah sekelompok mahasiswa Universitas Ibnu Kaldun (UIK) Bogor. Jika biasanya mahasiswa di kampus hanya memperoleh teori koperasi semata, di sana mereka bisa mempraktikkannya. Paling tidak, bisa menyaksikan di manapun berada jika koperasi dikelola secara sungguh-sungguh hasilnya tidak kalah dengan bisnis konvensional lain. Kekaguman mereka terutama saat melihat aktivitas di minimarket milik Primkopau yang tertata moderen dan ramai pengunjung. Sedikitnya

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

36

ada 3.000 item barang di jajakan di sana. Tidak hanya minimarket, Fathoni juga mengajak mereka melihat unitunit usaha lain seperti kantin, unit persediaan sembako, SPBU, unit niaga dan USP. Kehadiran para mahasiswa selain ingin belajar juga memenuhi undangan Ketua Primkopau yang juga Dosen Ekonomi Syariah di UIK itu. Sekali lagi, Fathoni ingin memberi pelajaran berharga bahwa koperasi bisa besar sepanjang dikelola dengan benar. Jika tahun buku 2005 membukukan SHU Rp 1,3 miliar, pada thun buku 2006 optimis akan naik. Terbukti per 30 April 2006 telah menyisihkan SHU sebesar Rp 685,7 juta.

AKTIF DAN PRESTASI
Selain mengembangkan usaha, Primkopau Mabes TNI-AU juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Seperti pada peringatan Hari Koperasi (Harkop) ke 59 (2006), Primkopau mengadakan kegiatan lomba menembak dan olah raga lainnya, seperti bola volly, sepak bola, tenis meja dan lari estafet. Namun, yang terpenting dari rangakaian kegiatan tersebut, ketua koperasi di lingkungan Mabesau mendapat anugerah Bakti Koperasi berkat prestasinya mengembangkan koperasi. Atas ungkapan rasa syukur tersebut, dalam suatu apel besar yang sekaligus dijadikan sebagai puncak acara Harkop di lingkungan Mabes TNI-AU. Dengan melibatkan sekitar 3.000 personil dipimpin langsung, Wakil Kepala Staf TNI-AU (Wakasau) Marsekal Madya Wresniwiro. Dalam amanatnya, perwira tinggi bintang tiga ini menyatakan kekagumannya. Menurutnya, pada Harkop kali itu Mabes TNI-AU memiliki keistimewaan tersendiri. Pasalnya, salah seorang di antara personilnya, Letkol A. Fathoni mendapat penghargaan dari pemerintah. Apa lagi piagam itu lanjut Wresniwiro, diserahkan Menteri Suryadharma Ali di puncak Harkop 2006 di Pekalongan, Jateng dengan disaksikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun seberapa pun hebatnya Fathoni, jika tidak mendapat dukungan dari para petinggi Mabes TNI-AU tidak akan bisa berbuat banyak. Koperasi tidak bisa berkembang, maka prestasi pun urung datang. Sehingga wajar, penghargaan tersebut adalah penghargaan untuk keluarga besar TNI-AU. Hanya, kelebihan Fathoni mampu menerjemahkan keinginan petinggi lembaga (komando) untuk ikut membantu menyejahterakan prajurit melalui lembaga bisnis bernama koperasi kesampaian.

Yannes

Para pemenang doorprize, usai penarikan undian.

MENGGENJOT OMSET
Bumbu hadiah untuk meningkatkan oplah atau omset dalam sebuah bisnis jelas sangat lumrah. Apalagi untuk peritel besar perang diskon besarbesaran bukan sesuatu yag baru. Tapi jika hal tersebut dipraktekan oleh koperasi, apalagi hadiah yang dijanjikan cukup menarik, yakni sepeda motor dan uang jutaan rupiah, bisa jadi menjadi sangat langka. Jumlah hadiah barang yang diundi, terdiri dari 100 item. Berupa sepeda, kulkas hingga sepeda motor. Penarikan undian, khusus bagi pelanggan di kalangan prajurut TNI AU ini, disaksikan Aspres Kasau Marsekal Muda Agus Mudigdo. Kali itu yang beruntung mendapat sepeda motor, adalah Dewi Susilowati, PNS yang bertugas dibagian operasi. Bagi Primkopau, menurut Fathoni pemberikan hadiah kepada

37

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

pelanggan, bukan kali pertama (2006) tetapi sudah yang keenam kali sejak dua tahun silam. Pemberian hadiah itu merupakan strategi untuk menyedot pelanggan berbelanja di koperasi. Setiap belanja di mini market minimal Rp 100 ribu mendapat satu kupon dan berlaku kelipatannya. Kupon hadiah kemudian diundi setiap enam bulan sekali. Ternyata, trik yang diterapkan kepengurusan Fathoni dkk sangat mujarab. Sebelumnya omzet per hari yang berkisar Rp 7 hingga 8 juta, meningkat hingga Rp 30 sampai 40 juta per hari. Pernah juga mendekati Rp 50 juta.

MENCARI PELUANG
Bisnis paling anyar yang dicoba Primkopau adalah unit Syariah. Melalui Unit Koperasi Syariah (UKS) memiliki usaha jual beli dinar dengan label Primkopau. Berbentuk bulat sebesar uang recehan (logam) seratus rupiah telah diluncurkan. Berbeda dengan dinar yang diterbitkan oleh perusahaan lain, misalnya Indonesia Mint Nusantara, BMM/ Baitulmaal Muamalat, atau Wakala Adina, yang mempunyai spesifikasi 4,25 gr 22 K. Dinar Primkopau berspesifiksi 4,25 gram, tapi dari emas 24 karat, 9999 Fine Gold. Spesifikasi ini telah sesuai dengan standard World Islamic Trade Organization (WITO). Namun, meski berbeda spesifikasi bukan berarti dinar Primkopau lebih hebat. Semata-mata masalah tehnis, dengan spesifikasi demikian, perhitungannya menjadi lebih mudah, karena didasari oleh harga emas dunia 24 K,9999 FG. Tahap pertama dinar yang telah diterbitkan sebanyak 117 keping. Jika nantinya banyak permintaan tinggal memesan kepada pabrik logam mulia milik PT Aneka Tambang. Fathoni optimistis dinar yang di launching akan laris manis. Mengingat, dinar memiliki kelebihan, setidaknya bagi mereka yang punya aset dalam bentuk dinar akan terlindungi dari gejolak kurs. Keunggulan dinar, kata dia terletak pada nilai intrinsiksinya yang tetap stabil dan tidak lekang oleh waktu. Bahkan secara nominal harga emas akan terus naik mengikuti harga emas dunia. Dinar dengan harga Rp 1 juta perkeping ini mempunyai tiga produk layanan. Pertama. Investasi Dinar, kedua Murabaha Dinar dan Gadai Dinar. Investasi dinar adalah salah satu portofolio keuangan berbasis harga emas dunia dalam bentuk dinar. Produk ini cocok untuk para investor yang memiliki investasi jangka panjang. Dinar dibeli di UKS, dan kemudian menyimpan dalam jangka waktu tertentu, lalu dijual kembali ke UKS setelah harga dinar naik. Produk Murabaha dinar adalah pembiayaan murabaha (jual beli) biasa, tetapi obyeknya diganti dengan dinar. UKS menetapkan marjin, dan kemudian pokok dinar plus marjinnya dapat dibayar secara angsur dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan gadai dinar, manakala nasabah membutuhkan kas mendadak, dapat menggadaikan dinarnya ke UKS. Tidak perlu jaminan, karena dinar itu menjadi jaminannya. Mereka boleh mengangsur, dan setelah lunas dinarnya akan dikembalikan. Menurut Manager UKS Primkopau, Adhitia Ginanjar, selain bisa didapat di kantor UKS, juga bisa dibeli di USP Primkopau di Jl Squadron Halim Perdanakusumah. Kemudian juga di Mabes TNI Cilangkap, tempat Primkopau berkantor pusat.***
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

38

DKI JAKARTA

Kopdit Sehati

MERAJUT KEPERCAYAAN
39
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

O

rang kadang bertanya apa beda koperasi kredit (Kopdit) dengan koperasi simpan pinjam (KSP). Dalam praktik sehari-hari sungguh tidak ada bedanya. Keduanya bergerak dalam usaha simpan maupun meminjamkan uang, dengan jasa/bunga sesuai kesepakatan/ketetapan RAT. Mungkin yang membedakan adalah prinsip, teknis dan mekanisme internal saja. Maksudnya, bukan prinsip-prinsip koperasi. Soalnya, menjalankan prinsip-prinsip koperasi bagi koperasi di seluruh dunia hukumnya wajib (keputusan sidang ICA, Manchester, Inggris 1995). Jika dalam praktik ternyata mengabaikannya, bukan salah koperasi tetapi pengelola atau cara pengelolaanya. Kopdit lebih mengutamakan pendidikan baik anggota maupun calon angota. Calon anggota hanya akan diterima menjadi anggota penuh jika telah mengikuti serangkaian pendidikan koperasi, minimal tingkat pemula atau pengenalan tentang apa dan siapa koperasi. Kopdit hanya melayani anggota.

Pengurus Kopdit Sehati periode 2006-2009.

Slamet AW

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

40

Praktik tersebut juga berlaku di kopdit Sehati. Siapa pun ingin menjadi anggota harus mengikuti pendidikan standar perkoperasian. Tujuanya, setelah menjadi anggota akan mudah mengikuti program yang digariskan koperasi karena pemahamannya. Hasilnya, koperasi yang bermula dari kegiatan sosial kemasyarakatan warga sekitar Jalan Attahiriyah II, Pejaten, Pasar Minggu, Jaksel berupa Arisan Paguyuban Manunggal menuai kesuksesan. Sementara, makna nama Sehati adalah asimilasi keinginan yang sama mendirikan koperasi antara warga sebelah barat dengan sebelah timur jalan Attahiriyah atau yang dikenal dengan nama paguyuban Ikatan Keluarga Kerobokan (IKK). Kegiatan paguyuban itu hanya membahas masalah-masalah sosial, seperti memperbaiki gang becek, got mampet, membantu hajatan, kematian dan kegiatan-kegiatan lainnya. Tepat pada 22 Agustus 1987 ketika pertemuan IKK di rumah ibu Hj Irmawati Aswir, menyepakati pembentukan Koperasi Kredit (Credit

Union) Sehati. Walau saat itu sebagian masyarakat mendengar nama koperasi mulai alergi. Mengingat sudah berulang kali berdiri koperasi, baik simpan-pinjam maupun konsumsi selalu berakhir tanpa kesan. Namun, mereka tetap menaruh harapan, dengan berkoperasi akan dapat mengankat derajat ekonomi khususnya anggota. Sejak pertemuan tersebut, sampai akhir September 1987 terhimpun 29 orang anggota dan ditetapkan sebagai pendiri. Selanjutnya per 31 Desember 1987 anggota mencapai 37 orang. Walau anggota telah melakukan kewajiban menyetorkan simpanan pokok dan simpanan wajib, namun belum memulai kegiatan memutar /meminjamkan dana kepada anggota. Sebab, waktu yang disepakati adalah awal 1988 dengan prioritas untuk modal usaha produktif. Hingga 2006, Kopdit Sehati telah melewati lima periode kepengurusan dan memasuki periode yang keenam (2003). Keenam periode tersebut dapat diilustrasikan sebagai langkah-langkah pengembangan (lihat tabel 1).
TAHUN 1. Th 1987 – 1990 2. Th 1991 – 1993 3. Th 1994 – 1996 4. Th 1997 – 1999 5. Th 2000 – 2002 6. Th 2003 – 2005 PERIODE

➟ ➟ ➟ ➟ ➟ ➟

Periode Perintisan (Sosialisasi) Periode Eksistensi (HIDUP atau MATI) Periode Penguatan Lembaga (Legalitas Formal / BH) Periode Uji Ketahanan (Surviving) Periode Profesionalisasi (Manajemen Profesional) Periode Penguatan Manajemen

Tabel 1. Periode Kepengurusan

PERIODE PERINTISAN
Untuk mengantisipasi kegagalan yang bisa saja menghadang Kopdit Sehati, seperti banyak koperasi yang berakhir layu karena kebodohan. Maka, Pengurus, Pengawas dan sebagian anggota mengikuti pendidikan manajemen perkoperasian. Selama delapan hari mereka digembleng dalam ilmu Manajemen Dasar Koperasi Kredit yang dilaksanakan di Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Jakarta. Semua biaya pendidikan ditanggung anggota dan keringanan dari sekunder tersebut. Pada periode ini (1987-1990), Kopdit Sehati beroperasi tanpa Badan Hukum (BH), tanpa Anggaran Dasar (AD), tanpa Anggaran Rumah Tangga (ART). Pijakan operasional mereka hanya memakai dasar Pola Kebijakan Umum yang diyakini tidak bertentangan dengan perundangundangan yang berlaku. Konsisten dengan 7 (tujuh) prinsip Koperasi universal (ICA Statement) dan 3 (tiga) pilar kopdit (trilogi credit union internasional), swadaya dari, oleh dan untuk Anggota; Solidaritas tolong menolong, dan menolong diri sendiri (self-help), serta pendidikan anggota secara berkesinambungan. Dengan komitmen dan tekad berkoperasi secara bulat, akhirnya kopdit

41

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Kegiatan RAT Kopdit Sehati ke XVIII.

Slamet AW

mampu melewati periode perintisan (sosialisasi). Kopdit Sehati mulai menunjukkan tanda-tanda eksistensinya. Walau belum berbadan hukum, pada 8 Juni 1988 telah resmi menjadi Anggota Silang Pinjam (Interlending) Daerah yang dikoordinir oleh Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Jakarta atau yang sekarang bernama Puskopdit Jakarta, sekaligus juga menjadi anggota Dana Perlindungan Bersama (Daperma) atau loans and savings protection yang dikoordinir oleh Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) atau Inkopdit.

PERIODE EKSISTENSI
Memasuki periode ini yang merupakan periode ujian bagi sebuah organisasi untuk menetukan eksistensinya, hidup atau akan mati. Ternyata, kopdit ini menunjukan perkembangan yang berarti, sekalipun badan hukum juga belum diberikan oleh pemerintah (Departemen Koperasi). Pada tahun buku 1993 kopdit ini menorehkan kinerja yang bagus sesuai, data yang di bukukan. Jumlah anggota sebanyak 161 orang dengan angka pertumbuhan mencapai 45% dalam tiga tahun terakhir. Jumlah simpanan sebesar Rp 48,4 juta, meningkat 225% (3 tahun terakhir), total aset Rp 70, 5 juta atau naik 260% selama tiga tahun terakhir, dan pinjaman yang digulirkan (outstanding) mencapai Rp 58,8 juta atau meningkat 228% dari masa tiga tahun terakhir. Sedangkan omset yang mencapai Rp 112,4 juta (184%) dan membukukan pendapatan kotor sekitar Rp 16 juta atau naik 235% dari tiga tahun terakhir. Pelayanan saat itu masih ditangani pengurus secara proporsional saat berlangsungnya arisan tengahan bulan, yakni minggu I Manunggal dan Minggu II IKK.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

42

PERIODE PENGUATAN LEMBAGA
Akhirnya legalitas yang diidam-idamkan kesampaian juga, tepat 17 Mei 1994, Kopdit Sehati memperoleh badan hukum bernomor, 3351/ BH/I, walau harus dengan ‘terpaksa’ menerima Anggaran Dasar ‘terima jadi’ dari Pemerintah. Perihal ini, menurut M Guntur Manajer, memang ada sedikit ketidakcocokan isi dengan prinsip operasional Kopdit Sehati namun tidak terlalu signifikan. Dampak atas mengantongi BH, Kopdit Sehati mendapat kesempatan boleh berkantor, walau masih numpang di rumah Setiyadi, Ketua dengan sewa ala kadarnya. Dengan mempekerjakan seorang karyawan paruh waktu dapat meningkatkan frekuensi pelayanan dari dua kali sebulan menjadi dua kali seminggu, yakni Sabtu malam dan Rabu malam. Berkat BH pula, mampu meningkatan frekuensi pelayanan serta tersedianya kantor pelayanan. Hasilnya, membuahkan grafik pertumbuhan yang cukup signifikan di tahun 1994. Aset meningkat 75,56%, omset 59,16%, simpanan anggota 81,5%, pendapatan 67,95%. Hanya pertumbuhan anggota yang naik 7,45%. Mungkin karena masyarakat belum begitu percaya dengan koperasi. Namun demikian, perlahan tapi pasti tahun buku 1995 dan 1996 Kopdit Sehati semakin tumbuh (lihat tabel 2). Pada periode ini terjadi sedikit kegoncangan dikarenakan penyelewengan yang dilakukan oleh karyawan. Untuk itu dilakukan perbaikan mekanisme pelayanan dan pendidikan kepada anggota agar kejadian tersebut tidak terulang di masa mendatang.
Aspek 1. Keanggotaan 2. Total Simpanan Anggota 3. Total Kekayaan / Asset 4. Pinjaman diberikan / Outstanding 5. Pinjaman dicairkan / Omzet 6. Pendapatan Kotor Usaha Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Jumlah 237 Orang 178.335.900 231.022.602 178.952.000 241.885.000 55.530.180 Pertumbuhan dalam 3Th 47% 268% 228% 204% 115% 247%

Tabel 2. Aspek Keuangan 31 Desember 1996

PERIODE UJI KETAHANAN
Di awal periode ini (1997), Kopdit Sehati bertekad ingin memmiliki kantor pelayanan yang lebih representatif. Kebetulan ada anggota yang ingin menjual rumah dan tanah. Dengan dana yang dimilki sebesar Rp 48 juta tercapailah citi-cita melayani anggota di atas kantor seluas 50 meter persegi. Sayang, sedang semangat melayani di kantor yang dibeli dengan jerih payah anggota ini, kondisi perekonomian Indonesia memasuki babak ‘goro-goro’ alias gonjang-ganjing dilanda krisis moneter (krismon) dan ekonomi. Beruntung tradisi baru krismon, lebih banyak melumat para

43

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 3. Aspek Keuangan 31 Desember 1999

Aspek 1. Keanggotaan 2. Total Simpanan Anggota 3. Total Kekayaan / Asset 4. Pinjaman diberikan / Outstanding 5. Pinjaman dicairkan / Omzet 6. Pendapatan Kotor Usaha Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

Jumlah 345 Orang 406.473.050 475.016.477 326.995.000 471.800.000 102.666.380

Pertumbuhan dalam 3Th 46% 128% 106% 83% 95% 85%

pengusaha besar dan konglomerat ketimbang usaha kecil. Di tengah goncangan ekonomi itu, Kopdit Sehati tetap bertahan (survive) dan terus tumbuh. Sesuai anjuran pemerintah, Kopdit Sehati terus memperbarui Badan Hukumnya sesuai tuntutan PP No.9/1995 pada 22 Juli 1998, mengangkat seorang manajer dan seorang karyawan. Berikut ini data-data kinerja Kopdit Sehati pada akhir periode 1999. (lihat tabel 3) Pada periode ini walaupun sudah memiliki kantor sendiri namun frekuensi pelayanan anggota masih sama dengan periode sebelumnya yaitu 2 kali seminggu dan pengelolaan masih dominan ditangani oleh Pengurus.

PERIODE PROFESIONALISASI
Setelah melakukan studi-banding ke kopdit-kopdit yang relatif lebih maju, Pengurus menyadari, bahwa Kopdit Sehati tidak lagi dapat dikelola secara amatiran alias sambilan. Namun, harus profesional bila ingin tetap survive dan menuai hasil yang gemilang. Persisnya di penghujung 1999, Pengurus mengangkat seorang manajer untuk mengelola usaha secara profesional per 1 Januari 2000, yang diumumkan dan disahkan pada RATXII/1999, tanggal 20 Pebruari 2000. Berkat kekompakan dari segenap komponen memenuhi kewajibannya, mulai pengurus, pengawas, manajer, karyawan dan anggota, Kopdit Sehati kian memperoleh tempat di hati masyarakat. Seperti sering menjadi rujukan atau tujuan bagi kopdit-kopdit dan koperasi lain yang melakukan studi-banding, baik dari sekitar Jakarta maupun dari luar daerah. Di tahun ke dua pada periode profesionalisasi ini, tepatnya pada Juli 2001 kantor pelayanan Kopdit Sehati terpaksa harus mengontrak di tempat lain selama enam bulan, karena kantor yang ada diratakan dan di bangun kembali yang lebih permanen dan representatif. Dana yang dianggarkan untuk membangun gedung setinggi dua setengah lantai ini sebesar Rp 128.740.000. Seluruhnya murni dari swadaya organisasi tanpa bantuan sepeserpun dari pihak luar. Bersamaan penyelenggaraan RAT-XIV/2001 pada 13 Januari 2002 kantor Kopdit Sehati diresmikan pemakaiannya oleh Pengurus Inkopdit yang juga Ketua Pengurus Puskopdit Jakarta Dr HM Soedarmono, SKM, disaksikan segenap anggota yang menghadiri RAT.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

44

Pertumbuhan disegala aspek pada 2001 cukup fantastis, hampir semua aspek kecuali keanggotaan meningkat lebih dari 100%. Artinya, aset yang terhimpun selama satu tahun (2001) melebihi aset yang dihimpun selama 13 (tiga belas) tahun lebih (1987 s/d 2000). Jumlah anggota “hanya’ meningkat 41,16%. Prosentase pertumbuhan pada 2001 tersebut merupakan puncak pertumbuhan Kopdit Sehati yang sulit untuk diulang. Pada 2002, pertumbuhan masih cukup signifikan (di atas 60%) walaupun tidak sefantastis pertumbuhan tahun 2001. (lihat tabel 4) Pada periode ini, frekuensi pelayanan dan jumlah personil mengalami peningkatan. Pada tahun buku 2000, pelayanan seminggu empat kali, tiga kali dilakukan pada malam hari dan satu kali di siang hari. Jumlah karyawan tiga orang, dua tenaga administrasi dan manajer. Pada 2001 pelayanan ditingkatkan menjadi seminggu lima kali, tiga kali dilakukan pada malam hari dan dua kali di siang hari dengan karyawan lima orang termasuk manajer. Sedangkan pelayanan pada tahun buku 2002 sama dengan tahun 2001, hanya ada penambahan jumlah karyawan menjadi enam orang termasuk manajer.
Aspek 1. Keanggotaan 2. Total Simpanan Anggota 3. Total Kekayaan / Asset 4. Pinjaman diberikan / Outstanding 5. Pinjaman dicairkan / Omzet 6. Pendapatan Kotor Usaha Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Jumlah 776 Orang 2.482.104.000 2.957.373.630 2.275.950.200 3.101.615.000 702.036.371 Pertumbuhan dalam 3Th 125 % 511 % 523 % 596 % 557 % 584 %

Tabel 4. Aspek Keuangan 31 Desember 2002

PERIODE PENGUATAN MANAJEMEN
Mengapa periode ini diberi nama penguatan manajemen? Memenej anggota yang mendekati jumlah 1000 (seribu) orang dan aset diprediksikan di atas miliaran, bukanlah pekerjaan mudah. Memerlukan tim manajemen, SDM pengelola yang qualified dan sistem informasi manajemen yang up to date, yang semua bertujuan untuk memuaskan anggota yang sebagai pelanggan sekaligus pemilik usaha (customer dan owner satisfaction). Pada periode ini baru berlangsung sekitar sembilan bulan, gejala yang ada mengindikasikan, tingkat kepercayaan anggota semakin tinggi. Anggota semakin “berani” mempercayakan uangnya disimpan di Kopdit, sehingga semua kebutuhan anggota peminjam dapat terpenuhi dari tabungan anggota sendiri. Sepanjang tahun ini belum memanfaatkan fasilitas pinjaman dari Puskopdit, bahkan ada kecenderungan penumpukan dana (idle-funds),

45

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 5. Kinerja Kopdit Sehati 31 Desember 2005

Aspek 1. Keanggotaan 2. Kekayaan/ Aset 3. Simpanan Anggota 4. Pencairan Pinjaman 5. Pinjaman beredar 6. Pendapatan Usaha 7. SHU sebelum pajak

2004 1.202 Orang 9.280.381.853 7.740.617.600 8.790.340.000 6.459.070.900 2.103.107.627 166.983.479

2005 1.404 Orang 12.760.205.270 10.839245.700 10.550.000.000 8.551.392.900 2.600.022.514 174.422.814

% 18,81 37,50 40,03 20,02 32,39 23,63 4,46

namun masih dalam batas yang wajar. Rasio Pinjaman terhadap Total Aset (Loans to Total Assets) masih di atas 70%. Kopdit sehati terus berkarya demi mewujudkan kesejahteraan anggotanya. Pelayanan murni hanya untuk anggota, kecuali calon anggota tidak melayani. Artinya, berapapun jumlah yang memerlukan dana dan penabung adalah anggota. Wajar jika koperasi ini setiap tahun mengalami perkembangan yang berarti. Semua aspek mengalami peningkatan. Sisten organisasi yang kuat serta manajemen solid adalah kiat mengapa koperasi ini kuat. Pada tahun buku 2005 jumlah anggota menjadi 1.404 orang dari 1.202 pada periode sebelumnya, alias naik 16,81%. Aset dari Rp 9,280 miliar pada tahun buku 2004 menjadi Rp 12,760 miliar atau naik 37,50%, simpanan anggota menjadi Rp 10,839 miliar per 31 Desember 2005 sebelumnya adalah Rp 7,740 miliar (40,03%). Pencairan pinjaman dari Rp 8,790 miliar menjadi Rp 10,551 miliar (20,02%). Pinjaman yang beredar menjadi Rp 8,551 miliar dari Rp 6,459 miliar (32,39%), pendapatan usaha meningkat 23,63% yakni dari Rp 2,103 miliar menjadi 2,600 miliar. Total SHU sebelum pajak sebesar Rp 174, 4 juta atau hanya naik 4,46% dari tahun buku 2004 sebesar Rp 167 juta.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

46

JAWA TENGAH

KSP Nasari Semarang

KLEP PENGAMAN
KAUM PENSIUNAN
47
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

K

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

48

operasi itu familier. Siapa mendekat bakal terpikat, siapa serius ditanggung ber fulus. Salah satu insan yang kepincut dan kebacut menggandrungi koperasi adalah Sahala Panggabean. Ia memang tidak setengah hati menggeluti koperasi. Itu dibuktikannya dengan melepas pekerjaan sebagai bankir, dan mendirikan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari di Semarang, pada 31 Agustus 1998. Kini, setelah sewindu membangun membangun koperasi, lelaki kelahiran Tarutung Sumatera Utara, 3 April 1950 ini membuktikan analisisnya. Bahwa usaha berbendera koperasi juga mampu mendulang sukses jika dimenej dengan sumber daya manusia berkualitas. Berbekal pengalamannya yang panjang di dunia perbankan, ekonom jebolan Universitas Trisakti 1974 ini berhasil mengangkat citra Nasari sebagai lembaga keuangan mikro tingkat nasional yang pantas diperhitungkan. Rentang usaha Nasari hingga Juli 2006 tercatat melayani sekitar 82 ribu anggota dan nasabah. Menampung sekitar 600 karyawan tersebar di enam cabang dan 150 pos pelayanan di 150 kabupaten. Sedangkan aset sebesar Rp 52,9 miliar. Namun demikian, perjalanan sukses Nasari agaknya belum selesai. Sahala berharap KSP nya berperan sebagai lembaga keuangan mikro (LKM) bagi lapis grass root dan punya posisi terhormat di pentas perekonomian nasional. Kendati berusia muda, koperasi ini sudah menorehkan prestasi membanggakan. Kiprah dan prestasi yang ditorehkan Nasari bisa disejajarkan dengan koperasi berprestasi lainnya di Indonesia, yang usianya relatif tua. Di balik sukses itu, Nasari beruntung memiliki sejumlah tenaga profesional, serta strategi membidik pasar khusus, yaitu kalangan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) dan purnawirawan. Tokoh profesional di balik keberhasilan itu, Sahala, adalah mantan bankir di Bank Tabungan Pensiunan Indonesia (BTPN). Nasari mulia berkembang ketika kondisi bangsa ini tengah dililit krisis multi dimensi. Tentu saja ini sebuah pilihan berani di tengah waktu yang salah. Tetapi para pioneer Nasari meyakini bahwa koperasi masih memberi harapan sepanjang dikelola dengan manajemen yang baik dan kejelian mengintip peluang pasar. Dengan demikian adalah salah jika ada orang mendirikan koperasi karena sekadar ingin mendapat fasilitas negara. Kalangan seperti inilah yang menurut Sahala merusak citra koperasi. Akibat lebih buruk, generasi muda ogah berkarir di koperasi. Selain tidak bergengsi penghasilannya juga minim. Beruntung pengamatan tersebut dianggapnya keliru. Kenyataanya, koperasi adalah juga lembaga bisnis atau usaha yang jika ditekuni dengan kaidah bisnis akan mendatangkan keuntungan. Terbukti, saat zaman serba sulit ia dapat menerjemahkan, bahwa koperasi bukan saja bisa menyejahterakan anggota tetapi juga mengangkat derajad koperasi dari ketidakberdayaannya. Dalam tempo sewindu koperasi yang dikelolanya telah banyak mengukir prestasi. Aset besar dan banyak menyerap tenaga kerja serta sistem kerja yang mengesankan. Pengalamannya sebagai bankir banyak mempengaruhi Sahala dalam mengelola bisnis keuangan berbadan

hukum koperasi. Sebelum memasuki jagat koperasi diam-diam Sahala mengkaji kritis ’paham’ koperasi. Kendati masih terpampang peluang, namun juga banyak anggapan negatif tentang koperasi. Menurut pengamatan dia, hal itu karena minimnya pemahaman tentang koperasi. Intinya, bukan prinsip atau kaidah koperasi yang keliru, namun oknum lah yang merusak koperasi. Faktor lain yang membuat kelabu dunia perkoperasian, tak lain kebijakan pemerintah yang belum memihak kepada koperasi. Apalagi, di masa lalu koperasi diplot dari atas (top down), dan bukan atas dasar kemauan masyarakat (bottom-up). Berangkat dengan tekad kuat, Sahala bersama beberapa rekan pada 31 Agustus 1998 mendirikan KSP Nasari. Nasari dipetik dari Bahasa Batak, yang berarti peduli. Koperasi yang berkantor pusat di Semarang,
Pengurus, pengawas dan karyawan KSP Nasari berpose usai RAT.

Jawa Tengah ini memang wujud sebuah kepedulian. Kehadirannya diharapkan menjadi solusi mengatasi kesulitan ekonomi anggota. Misalnya, pengadaan sembako—yang langka saat krisis moneter— dan pinjaman (kredit) uang. Pertimbangan lainnya, karena koperasi memiliki kelebihan dan ciri khas. Contoh, sebagai lembaga usaha, koperasi tak harus lahir dengan modal besar. Sedangkan ciri khasnya, koperasi berazas kekeluargaan dan gotong royong. Artinya, tidak semata mencari keuntungan, tetapi berwatak sosial. Hebatnya lagi, dengan modal terbatas, koperasi bisa beroperasi dengan jangkauan wilayah kerja yang luas. Beda dengan bank, misalnya BPR, yang ketentuan permodalan mencapai miliaran rupiah namun wilayah kerjanya dibatasi. Bahkan, koperasi bisa menjelma menjadi koperasi primer nasional.

Dokumentasi

49

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

KIAT DAN STRATEGI
Koperasi yang berkantor pusat di Kota Atlas ini cepat berkembang, karena para pendirinya memiliki kejelian membidik pasar. Captive market koperasi primer nasional ini adalah para pensiunan yang mengambil gajinya lewat kantor pos. Sesuai dengan visinya yang ingin mengembangkan potensi ekonomi rakyat dengan mengelola koperasi terbaik. Khususnya pelayanan kepada masyarakat dan pensiunan sebagai anggota dan calon anggota, sehingga terwujudnya kesejahteraan. Dengan motto Kita Sejahtera Bersama menjadi komitmen pengurus untuk mewujudkan harapan para anggota. Untuk itu sejak berdiri telah menerapkan sistem manajemen yang modern. Rapat anggota (RA) sebagai kekuasaan tertinggi selalu memilih pengurus dan pengawas dari anggota untuk masa jabatan lima tahun. Pengurus bertindak sebagai pengambil kebijakan (policy maker) dan pengawas operasional, serta hal lainnya yang berhubungan dengan organisasi koperasi. Sedangkan dalam operasional sehari-hari dikuasakan kepada direksi yang dibantu oleh staf kantor pusat dan manajer kantor cabang. Kiat sukses koperasi yang kini memiliki anggota sebanyak 52 ribu orang ini adalah karena ia mampu mengintip ceruk pasar yang sulit dideteksi oleh pelaku koperasi lainnya, yakni membidik para pensiunan pegawai negeri. Mereka adalah orang-orang yang jelas dengan penghasilan tetap sehingga tidak ada kekhawatiran terjadinya penyimpangan dana. Disadari citra KSP juga tidak terlalu menggembirakan, terutama dengan banyaknya muncul KSP yang menerapkan bunga gila-gilaan. Adapula kasus KSP yang berhasil menghimpun dana masyarakat lalu pengurusnya kabur dan sulit tersentuh hukum. Akibatnya, selain merusak citra koperasi, masyarakat pun antipati. Untuk mengantisipasi itu, Nasari mempunyai cita-cita menjadikan koperasi yang mampu bertahan hidup dalam tempo lama (survive). Caranya, dengan pendekatan teori bisnis seperti dianut perbankan. Mendirikan koperasi jangan hanya modal dengkul tetapi harus dimodali (kapital). Selain itu, tetap ada jaminan (kolateral),
‘Kredit Sembako’, salah satu program KSP Nasari dalam menyediakan kemudahan bagi anggota mendapatkan sembako.
Dokumentasi

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

50

REALISASI KINERJA KSP NASARI 2004 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Asset Kas dan Bank Pinjaman Yang Diberikan Aktlva Tetap & Inventaris Dana Pihak Ketiga Modal &SHU Jumlah Karyawan Jumlah Anggota / CaIon Jumlah Tagihan Via PT Posindo/Bulan Kontribusi Kepada Pt Posindo 25.206.157 3.284.961 20.105.488 1.81 5.708 16.094.641 9.111.516 460 Orang 52.001 Orang 4.208.707 1.515.134 2005 34.800.700 2.101.838 29.694.100 3.004.762 22.732.827 12.067.873 532 Orang 72.649 Orang 6.402.539 2.304.914 2006 68.495.700 5.898.397 55.945.686 6.651.397 45.980.730 22.514.750 750 Orang 95.000 Orang 13.014.141 4.294.666

PROYEKSI 2007 125.000.000 10.107.777 102.932.630 11.959.593 90.729.221 34.270.779 1.000 Orang 150.000 Orang 21.386.526 7.699.149 2008 250.000.000 21.500.736 203.871.991 19.327.267 177.166.753 12.833.247 1.300 Orang 250.000 Orang 38.602.679 13.896.964

serta mewaspadai berbagai risiko (risk), seperti risiko operasional, risiko manajemen, risiko pemasaran, risiko likuiditas, dan risiko keuangan. Kepiawaian pengurus dalam mengelola koperasi cukup teruji. Buktinya, dalam rentang waktu yang relatif singkat berhasil menghimpun 72 ribu (2005) anggota, tersebar di enam cabang, yakni Semarang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Medan. Sepuluh cabang pembantu serta 150 loket layanan. Koperasi ini pun turut menciptakan lapangan kerja, dengan menampung 532 orang karyawan. Per 31 Agustus 2006, KSP Nasari memiliki total aset sekitar 60 miliar. Sedangkan prestasi yang diraih, di antaranya sebagai Koperasi Klasifikasi A dengan peringkat sangat baik dari Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Jawa Tengah (2004), dan predikat Sehat dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Semarang (2005). Memperoleh penghargaan sebagai Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional dari Kementerian Koperasi dan UKM (2006). Keberhasilan KSP Nasari, tak lepas pula dari kejelian sang ketuanya, Sahala Panggabean membidik ’pasar khusus’, yang tak lain adalah para pensiunan PNS, TNI/Polri, dan Wredatama yang mengambil uang pensiun melalui PT Pos Indonesia. Termasuk dalam pasar khusus ini adalah yayasan yatim piatu. Maka itu, jalinan kerja sama dengan PT Pos Indonesia sangat menguntungkan Nasari. Nasari mempunyai produk unggulan, seperti Simpanan Nacerdik yang khusus untuk pelajar, dan Simpanan Sukarela berupa tabungan dengan target pasar masyarakat umum dan pensiunan. Simpanan Sukarela adalah tabungan berjangka (3,6, dan 12 bulan) dengan tingkat suku bunga 12% per tahun. Untuk produk pinjaman, yaitu Kredit Sembako (kredit untuk kebutuhan primer) dengan plafon Rp 100 ribu-Rp 1 juta dengan dan masa pengembalian 6-8 bulan, Kredit Pendidikan (plafon Rp 1 juta-Rp 2,5 juta) dengan masa pengembalian 6-12 bulan, Kredit Multiguna (kredit untuk perumahan atau modal usaha mikro) plafon Rp 2,5 juta- Rp 5 juta dan jangka pelunasan 12-24 bulan. Pinjaman Jelita (jual-beli sementara), yaitu kredit untuk masyarakat umum dengan jaminan barang bergerak. Untuk kenyamanan antara anggota dengan koperasi, semua kredit dari KSP Nasari diasuransikan sebagai bentuk proteksi. Bila anggota yang meninggal dunia, kredit dianggap lunas, serta mendapatkan dana sosial kematian.

51

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Kantor Pos Besar Johar Semarang sebagai mitra KSP Nasari, sibuk melayani anggota.

Dokumentasi

JALIN SINERGI
Keberhasilan Nasari berimbas positif bagi mitranya. Kemitraan dengan PT Pos Indonesia bersifat saling menguntungkan. Koperasi sangat terbantu dengan pemotongan gaji pensiun, sehingga tidak ada kredit yang macet. Sedang Pos Indonesia mendapat kontribusi yang lumayan, dengan jumlah terus meningkat setiap tahun. Pada 2002, Pos Indonesia menerima fee sebesar Rp 365,577 juta, pada 2003 menjadi Rp 921,016 juta, dan tutup buku 2004 meningkat menjadi Rp 1,457 miliar. Fee tersebut diperoleh dari jumlah tagihan, Rp 1,614 miliar per bulan pada 2002, meningkat jadi Rp 2,785 miliar per bulan tahun buku 2003, dan 2004 sebesar Rp 4,208 miliar. Hingga periode 2007, KSP Nasari memproyeksikan dapat menggaet pensiunan sebagai anggota koperasi sebanyak 389.879 orang atau 30% dari jumlah pensiunan yang tercatat di PT Pos Indonesia. Dari target tersebut, KSP ini diharapkan dapat menghimpun dana hingga mencapai Rp 584,818 miliar. Itu dengan asumsi setiap anggota atau pensiunan akan memanfaatkan kredit sebesar Rp 1,5 juta. Dalam program kerja 2005-2007, KSP Nasari menargetkan jumlah anggota mencapai 160 ribu orang. Meningkat dibanding tahun 2006 yang menargetkan anggota sebanyak 130 ribu orang. Akhir tahun 2006, total aset ditargetkan menjadi Rp 53 miliar dari tahun sebelumnya Rp 34,800 miliar. Sedangkan aset di akhir tahun 2007 ditargetkan mencapai Rp 125 miliar dan akhir 2008 sebesar Rp 250 miliar. Kontribusi yang masuk ke PT Pos Indonesia ditargetkan sebesar Rp 3,181 miliar dengan tagihan sebesar Rp 8,838 miliar per bulan di akhir 2005. Atau Rp 5,880 miliar dengan jumlah tagih Rp 16,335 miliar per bulan pada medio 2006, dan Rp 10,130 miliar dengan total tagihan sekitar Rp 28,141 miliar per bulan pada tahun buku 2007. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

52

JAWA TIMUR

Koperasi Intako Sidoarjo

PROMOSI DAN DESAIN

MEREBUT PASAR
53
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

ika kita berkunjung ke Surabaya, rasanya tidak puas sebelum mampir ke kota udang Sidoarjo. Kota ini telah berkembang menjadi kawasan industri dan kerajinan dan telah dicanangkan sebagai kota Pariwisata. Dan salah satu obyek industri dan wisata yang menarik adalah Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako). Koperasi Intako, adalah saksi sejarah Proklamasi RI. Koperasi ini telah berdiri sejak tahun 1945, dan terus berkembang sampai saat ini.

J

BERDENYUT SEUSIA REPUBLIK
Tahun 1945-1950, lima pemuda tidak hanya puas dengan bekerja sebagai petani di desanya dan mencari pekerjaan sebagai buruh pabrik koper. Tahun 1950-1960, mereka dibantu oleh segenap anggota keluarga, kerabat dan tetangganya pekerjaan perajin tas dan koper memiliki masa depan yang menjanjika. Tahun 1960-1970, perjalanan perajin koper berjalan dengan cukup baik. Tahun 1970-1980, dibentuknya sebuah wadah yang menampung para perajin dan pada 7 April 1976, berdirilah
Dokumentasi

Selain koper dan tas Intako juga memproduksi dompet, sepatu dan sandal.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

54

Koperasi dengan nama INTAKO (Industri Tas dan Koper). Sekarang kantor Intako sudah berdiri megah di jalan Utama 27 Kedensari Tanggulangin Sidoarjo. Kabupaten Sidoarjo terletak antara 112 5’ dan 112 9’ Bujur Timur dan antara 7 3’ dan 7 5’ Lintang Selatan. Batas sebelah utara adalah Kotamadya Surabaya dan Kabupaten Gresik, sebelah selatan adalah Kabupaten Pasuruan, sebelah timur adalah Selat Madura dan sebelah barat adalah Kabupaten Mojokerto. Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu penyangga Ibukota Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat. Keberhasilan ini dicapai karena dekat daerah pemasaran yaitu kotamadya Surabaya sehingga berbagai potensi industri dan perdagangan, pariwisata, serta usaha kecil dan menengah dapat berkembang pesat. Kabupaten Sidoarjo menjadi penyangga Surabaya baik produk pertanian, usaha kecil dan menengah. Salah satu potensi Sidoarjo yang memenuhi kebutuhan konsumen Surabaya dan sekitarnya adalah kerajinan dan industri perlengkapan busana berbasis kulit seperti tas, dompet, ikat pinggang. Permintaan perlengkapan busana meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi di daerah Surabaya, Jawa Timur,

Indonesia. Konsumen membutuhkan perlengkapan pribadi, kantor dan perjalanan seperti sepatu, tas, ikat pinggang untuk menunjukkan status sosial. Kulit binatang dan imitasi menjadi bahan baku pilihan perlengkapan yang sangat dibutuhkan untuk proses produksi. Peluang permintaan barang barang tersebut ditangkap sebagai peluang usaha yang menguntungkan dengan mendirikan usaha kecil dan menengah di kabupaten Sidoarjo. Koperasi produksi barang barang kulit seperti tas untuk memenuhi permintaan pasar dengan menyatukan kepentingan pengusaha kecil yaitu ketersediaan bahan baku dan pemasaran yang kuat. Koperasi dapat menciptakan keunggulan komparatif (comparative advantages) dengan mengusai pengrajin sampai ke gerai yang terjangkau oleh konsumen. Penguasaan produksi sampai pemasaran memperkuat daya saing dengan produk lain sehingga usaha riil pengrajin dapat berjalan baik. Akibat pemasaran yang baik membuat produksi dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Tenaga kerja yang berasal dari daerah sekitar Sidoarjo terlibat untuk pembuatan tas dan sejenisnya seperti sepatu. Transfer ketrampilan pengrajin sehingga menimbulkan persaingan yang sehat dan menguntungkan konsumen.

Dokumentasi

Koper produk Intako di salah satu outlet swalayan.

JELI MENANGKAP KONSUMEN
Koperasi Intako merupakan kumpulan usaha kecil yang bergerak di bidang perkulitan. Usaha kecil yang memproduksi barang berbasis kulit membutuhkan bahan baku yang konsisten dan harga terjangkau agar ongkos produksi barang tidak tinggi. Barang-barang dari kulit di Indonesia terutama di kalangan dewasa merupakan kebutuhan untuk menunjukkan status sosial dan pekerjaan. Konsumen barang kulit imitasi muncul akibat segregasi segmen konsumen. Pengurus Koperasi selalu memperhatikan fenomena tersebut dan akan mengevaluasi perubahan pola pembelian konsumen sehingga sekarang produk Intako sudah dapat dibeli di gerai dunia maya. Memang itu adalah peran Intako untuk menjawab keterbatasan pengrajin kulit pada awal berdirinya Intako. Pada awalnya sebelum muncul Intako, usaha kecil merasa sulit menjaga ketersediaan bahan baku dan pemasaran. Pengusaha Kecil merespon negatif Intako pada awalnya karena menyangsikan fungsi dan peran bagi anggota. Tapi seiring dengan waktu dan kesolidan Pengurus dan anggota hal tersebut dapat ditepis. Bukti penerimaan Pengusaha Kecil adalah jumlah anggota semenjak Intako muncul tahun 1976, jumlah keanggotaan Intako yang semula 27 orang bertambah menjadi 349 orang pada tahun 2004. Pertumbuhan aset Intako yang semula hanya berupa modal disetor sebesar Rp 135.000,00 bertambah menjadi 7,8 miliar. Anggota merasakan peran koperasi Intako untuk memenuhi kebutuhan pemasaran, bahan baku dan perbaikan produk anggota. Kumpulan usaha kecil dalam Koperasi Intako mengutamakan

55

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

konsumen yang mewakili institusi dibanding pasar eceran. Permintaan jumlah besar dengan standar yang diminta konsumen dengan logo konsumen menjadi titik kemajuan Koperasi Intako. Proses untuk memperkuat internal koperasi ditandai pada tahun 1985. Ketika itu Intako melakukan pembelian tanah guna membangun gerai untuk segenap produknya. Disinilah Intako mulai dikenal oleh masyarakat luas. Bersamaan dengan itu Intako mengikat kerja sama dengan PT Garuda Indonesia dalam pengadaan Tas Jama’ah Haji seluruh lndonesia, dan berlangsung hingga 1990. Kerja sama lain adalah pada tahun 1997, Intako dipercaya untuk memproduksi case (wadah) untuk alat musik YAMAHA, dari perusahaan Internasional dari Jepang.

Dokumentasi

GERAI PROMOSI
Gerai koperasi Intako sebagai salah satu ujung tombak memberikan gambaran produk koperasi pada konsumen. Pembelian eceran dilakukan sebagai bentuk transaksi yang berkaitan dengan penyediaan gerai dan promosi. Pengurus mengusahakan gerai sebagai ujung tombak selain bahan baku. Kekuatan Koperasi Intako pada penyediaan bahan baku murah dan terjamin ketersediaan sehingga dapat menekan biaya produksi. Usaha kecil pengrajin kulit dapat belajar desain dan pameran yang dapat diorganisir dalam program koperasi. Desain baru dan diterima pasar menjadi tekanan usaha kecil di Koperasi Intako agar tetap dapat hidup dalam kondisi dimana impor barang kulit asing membanjiri pasar Indonesia. Persaingan barang impor dengan merek dan kualitas tertentu menyebabkan merek lokal kurang dapat bersaing di tingkat eceran. Usaha kecil di Intako tidak mempunyai peralatan yang menunjang mutu yang relatif stabil. Koperasi Intako dapat memfasilitasi peralatan usaha kecil agar dapat

Produk Intako telah mendapat tempat di hati konsumen.

Gambar 1. Histogram Perbandingan Modal
8.000.000.000 7.000.000.000 6.000.000.000 5.000.000.000 4.000.000.000 3.000.000.000 2.000.000.000 1.000.000.000

2001
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

2002

2003

2004

2005

Modal Dalam

Modal Luar

56

Grafik 1. Komposisi Simpanan
2.500.000.000 2.000.000.000 1.500.000.000 1.000.000.000 500.000.000 0 2001
Simpanan

2002

2003
Simpanan Wajib

2004

2005
Simpanan Pokok
Dokumentasi

Grafik 2. Perkembangan Aset Intako 2001-2005
3.000.000.000 2.500.000.000 2.000.000.000 1.500.000.000 1.000.000.000 500.000.000 2001 2002 2003 2004 2005

memenuhi standar dengan biaya relatif ringan. Hal itu sudah disadari oleh Intako sehingga tahun 2000 mulai melakukan perubahan baru dengan menerapkan manajemen moderen, di antaranya: pengelolaan administrasi organisasi dan usaha dengan menggunakan sistem komputerisasi, menata Struktur Organisasi Usaha, memperluas gerai dan bangunan, menggelar promosi rutin berupa Pameran INTAKO FAIR (Gelar Produk khusus Intako) dan TANGGULANGIN FAIR dengan mengikut sertakan semua komponen perajin dan pengusaha se-Tanggulangin, Sidoarjo.

Berbagai produk Intako yang sedang dipajang.

KINERJA
Jumlah keanggotaan Koperasi Intako yang semula 27 orang di tahun 1976 bertambah menjadi 349 orang pada tahun 2004. Pertumbuhan aset yang semula hanya berupa modal disetor sebesar Rp. 135.000,- bertambah

57

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

menjadi Rp 7,8 miliar pada akhir tahun 2005. Perbandingan modal luar dan dalam menunjukkan modal dalam tetap lebih banyak dibanding modal luar terlihat pada Gambar 1. Komposisi simpanan anggota Koperasi Intako memperlihatkan partisipasi yang baik dari anggota. Simpanan sukarela selalu berjumlah lebih banyak dibanding simpanan pokok dan wajib terlihat pada Grafik 1. Perkembangan Aset Intako mengalami peningkatan drastis pada tahun 2003 tapi mengalami penurunan meskipun tidak besar pada tahun berikutnya terlihat pada Grafik 2. Sebagai koperasi yang merupakan kumpulan usaha kulit Intako telah memperlihatkan perjuangan yang gigih dalam membantu anggotanya mencapai kesejahteraan. Daya juang itu antara lain dengan pemasaran luas dan ketersediaan bahan baku sehingga kepercayaan anggota terhadap koperasi sangat tinggi. Manajemen modern yang menerapkan keunggulan kompetitif dengan produk lain dituntut selalu menyesuaikan dengan permintaan konsumen. Tetapi kiat sukses Intako bukan hanya kepiawaian membangun produk maupun promosi yang membuat koperasi ini unggul dan bertahan. Kepiawaian pengurus membangun loby juga membuahkan proses kemitraan dengan berbagai pihak lain. Sehingga peluang Intako untuk bermain di pasar ekspor terbuka lebar. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

58

BALI

Koppas Kumbasari Denpasar

HAPUS RENTENIR DENGAN

KARYA NYATA
59
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Burhanuddin R

S

emula koperasi ini diberi nama Koperasi Pasar (Koppas) berdasarkan kesepakatan pada saat pendiriannya 25 tahun yang lalu, tepatnya pada 31 Januari 1981 atas prakarsa I.G.N. Ketut Suardika, BSc. Misi awalnya sangat sederhana namun mulia yaitu melepaskan para pedagang pasar dari jeratan rentenir yang hanya berorientasi kepada laba. Pada masa menyuburnya rentenir, pedagang pasar di lingkungan Pasar Kumbasari, Badung, Bali yang membutuhkan modal dapat meminjam dengan mudah. Tidak perlu jaminan, karena umumnya sudah saling kenal dan lokasi usahanya sudah diketahui. Sayangnya, beban yang harus ditanggung para pedagang sangat berat namun tidak ada pilihan lain. Pinjaman yang wajib diangsur setiap hari oleh para pedagang pasar berbunga mencapai 50% per bulan. Saat itu pedagang tidak memiliki alternatif lain. Pemberlakuan pembayaran sistem harian ini jelas memberi keuntungan besar bagi rentenir walau berbunga tinggi tetapi nampak ringan. Kenyataannya, para pedagang merasa tertolong dengan pola pinjaman yang cepat, mudah, tidak berbelit-belit dan boleh mencicil setiap hari. Namun lama-kelamaan pedagang merasakan pendapatan mereka tidak mengalami perubahan keuntungan walau secara omset meningkat. Alhasil, mereka seringkali ingkar membayar kewajiban-kewajiban yang lain, seperti membayar retribusi pasar, hutang barang kepada pemasok kecil dan besar. Akibatnya, hutang terus bertambah dan pemasok pun enggan mensuplai barang-barang. Nah, melihat beban yang terus menumpuk dipundak para pedagang pasar ini, menggugah hati Ketut Suardika untuk mencari solusi dengan mendirikan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Menurutnya, dengan berkoperasi misi yang telah diterapkan para rentenir seperti pemberian pinjaman dengan cara cepat, mudah dan tanpa jaminan yang memberatkan juga bisa diwujudkan malah bunga bisa lebih ringan. Maka, bersama 28 orang yang memiliki tekad kepedulian yang sama mendirikan Koppas Kumbasari. Awalnya tidak mudah, sebab saat itu Pak Ketut ini masih menjabat sebagai Kepala Pasar Kumbasari. Kemudian dalam kapasitasnya sebagai Kepala Pasar Kumbasari Ketut Suardika ini memberikan bantuan modal awal sebesar Rp 200 ribu. Nilai tersebut cukup besar ketika itu sebab jika dikurs sekarang nilainya kemungkinan setara dengan Rp 20 juta. Jadilah koperasi pasar dengan modal awal sebesar Rp 400 ribu. Terdiri atas Rp 200 ribu bantuan dari Kepala Pasar Kumbasari, Rp 140 ribu simpanan pokok dan Rp 60 ribu berasal dari simpanan Ketua Koppas Kumbasari Ketut Suardika.

MENGATASI TANTANGAN
Tantangan pasti ada mengingat para lintah darat setiap hari terus keluyuran merambah seluruh sudut pasar. Namun, langkah mereka perlahan terhambat, mengingat pesaingnya adalah koperasi yang operasionalnya telah legal. Kendala selanjutnya, buat para riba itu, penguasa pasar tersebut telah menjadi ketua koperasi dengan jiwa yang penuh kepedulian pada sesama. Maka, dengan jiwa yang telah berseberangan dengan para rentenir itu, jika

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

60

Burhanuddin R

Berbagai piagam penghargaan telah diperoleh Koppas Kumbasari.

terus berseliweran di pasar tersebut akan beresiko. Lambat laun mereka pun menghindar mencari ladang lain. Keuntungan ganda bagi para anggota koperasi pun didapatkan. Mereka tidak lagi menjadi sasaran empuk rentenir, kemampuan bersaing makin meningkat, pemasok barang kembali mempercayai mereka. Dampaknya kemampuan meningkatkan pendapatan tercapai. Masa subur rentenir pun padam, mulailah koperasi berperan nyata membantu pengusaha mikro dan kecil anggota koperasi untuk menyediakan modal kerja. Kewajiban anggota membayar retribusi kepada Pasar Kumbasari tidak lagi menunggak, kenaikan omset penjualan benar-benar terasakan. Keuntungan juga meningkat dan kesejahteraan ekonomi mereka grafiknya perlahan naik. Sisi lain yang menarik untuk disimak, Koppas Kumbasari ini sebagian besar anggota atau hampir 65% didominasi kaum hawa. Per 31 Desember 2005 jumlah anggota tercatat sebanyak 6.385 orang sebanyak 4.769 orang adalah wanita dan 1.616 orang adalah pria. Hal ini sangat menarik, ternyata kaum perempuan Bali juga banyak yang menjadi entrepreneur yang fanatik dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Bagi daerah lain pun layak menduplikasikan kiprahnya. Fenomena tersebut nampaknya juga belum mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat. Kecuali bantuan perkuatan berupa Dana Bergulir Kelompok Wanita (Proyek Gender) sebesar Rp 7,5 juta pada 2004. Secara nominal tentu masih kurang berarti dibandingkan dengan populasi anggota perempuan yang ada. Sesuai dengan hasil konperensi Millenium Development Goals (MDGs) yang diantaranya bertujuan membentuk sekitar enam juta wirausaha baru di Indonesia pada 2010, fakta ini layak mendapatkan atensi lebih lanjut.

61

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Secara formal Koperasi Pasar Kumbasari berdiri tanggal 18 Maret 1981 dengan adanya pengakuan dan pemberian Badan Hukum (BH) No 901/BH/VII/1981. Dalam perjalanan yang telah mencapai 25 tahun per 31 Desember 2005, Koppas Kumbasari selalu menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Koperasi pasar yang kegiatannya nyaris serba usaha kembali diarahkan menjadi koperasi yang fokus dengan kegiatan pokok pada simpan pinjam meskipun masih memiliki unit-unit toko. Namun, dinamika yang terjadi ternyata menghendaki ke jenis Koperasi Serba Usaha (KSU). Nama Koperasi Pasar pun dirubah menjadi Koperasi Pedagang Pasar Kumbasari (Koppas Kumbasari) dengan nomor BH baru (06/BH/PAD/Diskop/VII/2002).

SARAT PRESTASI
Secara harfiah nama Koppas Kumbasari bukan lagi mewakili Pasar Kumbasari saja tetapi sudah menjadi ‘milik’ para pedagang yang menjadi anggotanya. Penekanan kepada kata ‘pedagang’ sesudah kata koperasi akan lebih menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) para anggota terhadap organisasi koperasinya. Hal ini tercermin pada tradisi yang sudah berlangsung dalam berbagai bentuk seperti pengembalian sebagian keuntungan koperasi kepada 20 orang anggota terbaik berupa hadiah sepeda motor, televisi, kulkas, atau biaya keikutsertaan dalam upacara keagamaan di luar Pulau Bali untuk suami-istri. Pemberian hadiah kepada 20 orang anggota yang menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) di samping penyediaan door prize dan pembagian jasa berupa kain kebaya kepada ibu-ibu pedagang. Tradisi tersebut tidak hanya tercermin pada pembagian hadiah kepada anggota tetapi dapat disimak dari kebiasaan menerima berbagai penghargan mulai dari tingkat Kabupaten Badung, provinsi dan nasional. Beberapa prestasi yang pernah diraih semasa masih di bawah panji Koperasi Pasar Kumbasari, adalah pada 1982-1983 Juara I dan II seKabupaten Badung, tahun 1984 – 1987 sebagai Juara I dan II tingkat Provinsi Bali, tahun 1985 - 1987 menjadi Juara Harapan dan Juara Terbaik V tingkat nasional. Selanjutnya selama lima tahun berturut-turut dari 1988 - 1992 menggondol Juara Teladan Tingkat Nasional. Prestasi ini terus dipertahankan sehingga pada 1993 - 1994 terpilih sebagai Juara Teladan Utama Tingkat Nasional. Bukan berarti perubahan status koperasi dari KSP menjadi KSU dengan nama Koppas Kumbasari akan menyurutkan langkah, tidak, prestasi terus terajut. Malah bukan cuma lembaga yang berpredikat terbaik, pengelola sekaligus orang yang berjasa yakni (alm) IGN Ketut Suardika pada 2001 dan 2003 yang menjabat sebagai manajer utama memperoleh penghargaan masing-masing Bakti Koperasi dari Menteri Koperasi dan Satya Lencana Wirya Karya dari Presiden RI. Pada 2003 dalam Kelompok Koperasi NIVO, Provinsi Bali meraih peringkat pertama dan pada 2003-2005 juga meraih predikat sebagai Koperasi Berprestasi Tingkat Provinsi Bali. Gelar juara dan penghargaan baru sejak berubah nama dan status

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

62

tahun 2002 sebagai koperasi simpan pinjam belum sebanyak sebelumnya. Hal ini tidak berarti menurunnya prestasi karena aktivitas Koppas Kumbasari tetap mengalami eskalasi positif dikala dunia usaha secara umum mengalami degradasi. Keramaian kunjungan wisatawan manca negara dan domestik memang menurun drastis dan mempengaruhi omset perdagangan di Pasar Kumbasari secara umum. Seiring sepeninggal IGN Ketut Suardika, Ketua Koppas situasi di Provinsi Bali mengalami perubahan signifikan yang berdampak juga kepada perkembangan internal Koppas Kumbasari. Beberapa peristiwa berskala nasional dan internasional menimpa masyarakat Bali, misalnya, musibah kebakaran Pasar Kumbasari yang terjadi pada 2001, tragedi Bom Bali I dan II (12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005), isyu SARS, kasus flu burung dan isyu penggunaan formalin pada bahan pangan serta adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Burhanuddin R

Koppas Kumbasari juga menerima para siswa SMK untuk magang.

Meski perkembangannya tidak sepesat 10 tahun yang lalu, tidak dapat disangkal bahwa trauma peristiwa Bom Bali I dan II masih membekas. Peristiwa tersebut mengakibatkan terpuruknya kondisi perekonomian Provinsi Bali yang mengandalkan kepada pemasukan dari sektor pariwisata. Oleh karena itu, pengurus Koppas Kumbasari tidak menetapkan target program dan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang bombastis. Praktek ini dimaksudkan agar perkembangan Koppas Kumbasari tetap melaju dalam kapasitas optimal. Fokus pengembangan dan pembinaan (oleh pemerintah) sebaiknya tidak sebatas kepada Koppas Kumbasari sebagai organisasi tetapi kepada pemberdayaan anggota koperasi.

MINIM BANTUAN DAN EKSPANSI
Selama ini bantuan perkuatan pemerintah kepada Koppas Kumbasari masih terbatas dalam bentuk penghargaan atas prestasi yang dicapai. Dari

63

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

sejumlah bantuan yang pernah diterima dapat diamati sebagai berikut, dari Dinas Koperasi Provinsi, berupa dana KCK (2000) sebesar Rp 2,5 juta, Modal Usaha Unit Pertokoan Rp 10 juta dan hadiah sebagai juara I dari Pemerintah Provinsi Bali sebesar Rp 10 juta. Sedang bantuan dari Kementerian Koperasi dan UKM yaitu Dana Bergulir PKPS-BBM Rp 100 juta dan Dana Bergilir Kelompok Wanita (program gender) Rp 7,5juta. Sementara dari Pemerintah Kabupaten Badung belum pernah. Perkembangan Koppas Kumbasari sebenarnya sangat didukung oleh sejumlah kantor unit pelayanan yang tersebar di 11 lokasi pasar tradisional dan pasar moderen, baik yang berlokasi di kabupaten Badung, Gianyar maupun di sekitar Kota Denpasar. Lokasi unit-unit pelayanan berada di beberapa pasar seperti, di Kabupaten Badung yaitu di Pasar Badung, Sembung, Kapal (2 unit), Latu Sari, Satrya dan pasar Mambal. Di Kabupaten Gianyar berada di pasar Sukowati.Sedang di Kota Denpasar berada di pasar Kereneng, pasar Anyarsari, pasar Sanglah dan pasar Abiantimbul, Kuta. Keberadaan kantor operasional sebagai kepanjangan tangan Koppas Kumbasari ini sangat membantu ekspansi usaha dan pelayanan kepada anggotanya yang tersebar di beberapa pasar tersebut. Sebab, komoditi yang diperdagangkan tidak terbatas pada kerajinan tangan dan produk tekstil. Pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjalanan Koppas Kumbasari adalah bahwa pertumbuhan suatu lembaga termasuk koperasi, memerlukan sosok kepemimpinan yang kokoh, penuh kepedulian dan committed (amanah). Dalam hal Koppas Kumbasari, kepercayaan anggota terhadap model kepemimpinan alm IGN Ketut Suardika, BSc. terbukti telah memperkuat koperasinya selama lebih dari 20 tahun.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

64

SUMATERA UTARA

Kopdit Mandiri Tebing Tinggi

MENUJU LEMBAGA KEUANGAN

MANDIRI
65
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

S

Tabel 1. Perkembangan Kopdit Mandiri
Anggota Tahun Jml. (Org) 2164

logan “perjuangan panjang yang tiada henti-hentinya untuk membesarkan koperasi” bagi mereka bukanlah sekedar bunyi kosong. Prinsip ini secara konsisten dibumikan oleh para pengurus dan anggota Kopdit Mandiri Tebing Tinggi. Dua dasawarsa silam, tercatat 16 tokoh menyangga di belakang koperasi ini. Di antaranya, M. Thomas Saragih, H. Simanjuntak, Karel Sitohang, Marsinus Sinaga, Jaholing Sinaga, S.D. Sinaga, C. Situmorang, K. Sinaga, O.F. Nainggolan, B. Manulang, L. Harianja dan D.R. Nainggolan. Wilayah kerja koperasi ini mencakup wilayah Kota Tebing Tinggi dan sekitarnya. Termasuk di 50 komisariat berikut lima kantor cabangnya. Dibentuk pada tahun 1987 dengan nama “Credit Union Mandiri”. Tanggal 3 September 1999, status badan hukumnya dikukuhkan: No. 51/BH/KDK 2.12/IX/1999, dengan nama Kopdit Mandiri. Tujuannya, agar masyarakat luas dan sekitarnya dapat terbebaskan dari jeratan para rentenir. Visi dan misinya sebagai berikut. Koperasi ini bervisi menjadi suatu lembaga usaha pelayanan keuangan yang terbesar, khususnya di wilayah Sumatera Utara; dikelola secara profesional, berpedoman pada prinsip-prinsip koperasi—termasuk menerapkan asas swadaya, setia kawan dan kualitas anggota melalui pendidikan berdasarkan Pancasila.
Simpanan Jml. (Rp) 528.477 654.602 850.636.999 1.314.587.699 1.844.851.001 2.578.057.850 3.811.947.487 5.436.428.431 7.459.359.189 10.012.848.967 13.946.965.947 Pertumb. (%) 23,87 29,95 54,54 40,34 39,74 47,86 42,62 37,21 34,25 39,29 38,97 Pinjaman Jml. (Rp) 641.711 773.699 1.141.619.325 1.424.667.825 2.324.074.950 3.542.804.450 4.957.494.050 6.664.746.365 9.914.043.665 12.444.317.765 17.777.270.865 Pertumb. (%) 20,57 47,55 24,79 63,13 52,44 39,93 34,44 48,75 25,52 42,85 39,94 Kekayaan Jml. (Rp) 742.490 936.574 1.242.286.172 1.744.634.251 2.542.730.771 3.832.862.529 5.547.560.259 7.638.240.689 11.193.941.258 14.664.355.291 21.640.871.439 Pertumb. (%) 26,14 32,64 40,44 45,75 50,74 42,74 37,69 41,55 31 42,57 39,83

Pertumb. (%) 1,30 2,55 16,68 9,49 12,88 17,40 14,87 9,88 9,81 21,86 11,67

1995

1996 2192 1997 2248 1998 2623 1999 2872 2000 3242 2001 3806 2002 4372 2003 4803 2004 5274 2005 6427 Pertumbuhan Rata-rata (%)

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

66

Misi yang digariskan adalah mengembangkan kualitas sumberdaya manusia (SDM), pengurus, manajemen dan anggota. Caranya, dengan memberikan pelayanan prima kepada anggota dan masyarakat di bidang keuangan, pendidikan, pelatihan dan pembinaan. Selain itu, menjalin hubungan kerja sama dengan lembaga lain dan instansi pemerintah guna memperkuat sistem pelayanan keuangan gerakan kopdit yang efisien, sehat, kuat dan mandiri. Secara operasional, koperasi ini berupaya menerapkan sistem manajemen usaha yang profesional, sistem monitoring, auditing internal dan eksternal. Juga mengembangkan dan peningkatan usaha pelayanan keuangan yang mandiri, sehat, kokoh dan kuat dengan berbagai jenis produk pinjaman dan simpanan. Koperasi juga melakukan pengembangan dan pelaksanaan pelayanan pendidikan dan pelatihan secara berkesinambungan dalam rangka peningkatan kemampuan manajemen pengurus, pelaksana dan anggota pada khususnya, masyarakat luas pada umumnya. Pihak

koperasi juga berusaha menciptakan usaha pendukung lain dan melengkapi usaha pelayanan keuangan yang telah ada. Secara bersamaan, dibina pula hubungan baik dengan berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam rangka memperkuat kelembagaan dan mempertahankan eksistensi serta pengembangan koperasi, juga terus dilakukan. Dinamika perkembangan koperasi dapat terlihat dari jumlah anggota. Pada tahun 1995 tercatat 2.164 anggota, 10 tahun kemudian (2005) berkembang menjadi 6.427 orang Kebijakan koperasi melayani sepenuhnya bagi anggota koperasi, dengan moto: dari anggota untuk anggota. Rincian perkembangan simpanan dan pinjaman koperasi bisa dicermati pada Tabel 1. Menyimak pertumbuhan dan perkembangan koperasi dari aspek keanggotaan, simpanan pinjaman, maupun dari aspek kekayaan, Kopdit Mandiri bertumbuh cukup tinggi dalam level yang relatif stabil. Pertumbuhan yang tinggi tersebut secara rata-rata terjadi pada anggota (11,67%), simpanan (38,97%), pinjaman (39,94%) dan kekayaan (39,83%). Pertumbuhan semacam ini dipertahankan melalui peningkatan berkelanjutan terhadap profesionalisme SDM koperasi, tanpa meninggalkan prinsipprinsip dan nilai-nilai koperasi.

KELEMBAGAAN
Jajaran pengurus Kopdit Mandiri periode 2004-2009 diketuai D.R. Nainggolan, dengan A. Sinaga sebagai sekretaris dan posisi bendahara ditangani B.J. Butarbutar. Pada jajaran pengawas, koperasi ini diketuai V. Aritonang, sekretaris dipegang oleh P Nainggolan, dengan anggota pengawas B. Rajagukguk. Koperasi memiliki manajer yang dipercayakan kepada A.P. Nababan. Ia dibantu puluhan staf yang antara lain meliputi bidang tata usaha, kasir, diklat serta 51 komisaris yang tersebar di wilayah Kota Tebing Tinggi. Kinerja kopdit tahun 2003, 2004, 2005 seperti tersaji Tabel 2, hasil analisis rasio keuangan secara keseluruhan cukup memuaskan. Namun pada rasio distribusi pinjaman perlu ditingkatkan, sehingga manfaat berkoperasi bisa lebih dirasakan oleh anggotanya. Khusus kinerja rentabilitas (ROA) terlihat sangat rendah, karena koperasi memang lebih berorientasi kepada pemenuhan pelayanan dan kebutuhan anggota. Mulai dari penKeterangan 2003 didikan berkelanjutan, asuransi, 1. Ratio modal produktif (%) 88,03 program pensiun, gaji yang layak, bonus sampai bentuk2. Ratio effisiensi (%) BOPO (Beban Op Terhadap Pendapatan Op) 20,46 bentuk penghargaan anggota 3. Ratio Kelalaian Pinjaman (%) 3,5 yang lain. Tegasnya, koperasi bukan hanya mengejar profit 4. Ratio Perputaran Modal (kali) 1,25 (SHU) yang sebesar-besarnya. 5. Ratio Solvabilitas (%) 109,58 Patut dicatat pula, pendidikan 6. Ratio Distribusi Pinjaman (%) 55,67 calon anggota, anggota, pe7. Ratio Pinjaman Terhadap Kekayaan 88,4 ngurus, manajer dan karyawan 8. Rentabilitas/ROA (%) 0,4 dan pengawas pada tahun 2003 berlangsung sebanyak 27 kali. Pada tahun 2004 sebanyak 21 kali; dan tahun 2005 sebanyak 64 kali. Rapat pengurus pada tahun 2003 berlangsung 13 kali, tahun 2004 sebanyak 14 kali dan tahun 2005 sebanyak 15 kali.

Tabel 2. Rasio Keuangan Kopdit Mandiri, 2003-2005
2004 86,46 20,94 3 1,04 105,88 49 88,74 0,31 2005 83,24 24,16 3 1,07 103,85 54,02 82,15 0,23 Standar Ideal 85% < 40% < 3% > 1 kali > 100% > 60% > 85% > 1,5 %

67

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

PEDOMAN PENGURUS
Sejauh ini, koperasi selalu berupaya menerapkan siasat dan strategi manajemen mutakhir. Baik di tingkat pengurus, ‘perusahaan’ maupun di tingkat fungsional. Para pengurus memegang teguh prinsip, “pengurus harus dapat mengurusi anggota dengan baik dan bukan sebaliknya anggota yang mengurusi pengurus”. Ini diwujudkan melalui team work yang melibatkan pengurus dan pelaksana. Partisipasi anggota dalam RAT dan rapatrapat merupakan prasyarat dan pertimbangan pemberian pinjaman. Pelayanan dilakukan secara lebih cepat (faster), lebih baik (better), lebih mengenal dan tanggap terhadap kebutuhan konsumen (closer), tepat, murah dan mudah. Caranya, dengan memadukan manajemen akal sehat dan hati atau perasaan dalam mengelola organisasi. Moto yang dipakai adalah ”melalui layanan terbaik, akan didapat hasil yang baik”. Polanya, dengan memfungsikan reward and punishment system yang adil dan seimbang. Di bidang keuangan, koperasi berusaha mengurangi risiko pinjaman. Caranya, koperasi menerapkan prinsip 5-C, yaitu Character, Capacity, Capital, Condition dan Collateral. Untuk mengukur kinerja keuangan, koperasi menerapkan metode CAMEL (Capital, Asset, Management, Earning dan Liquiditas). Juga pola PEARLS (Protection, Equity, Assets, Rate of Return dan Cost, Liability and Sign of Growth). Sistem standar khusus akuntansi koperasi kredit yang mengacu pada SAI dan memanfaatkan software akuntansi. Guna mendukung semua sistem tersebut, koperasi menitikberatkan pengembangan modal melalui modal swadaya.

Dokumentasi

SIASAT PEMASARAN DAN SDM
Dalam memperkenalkan kopdit dan produkproduk jasanya, diupayakan melalui media (promotion mix): brochure, LCD (media fair), mulut ke mulut dan publisitas serta sejenis multi level (setiap anggota baru diharapkan dapat memperoleh dua calon anggota baru). Koperasi juga berusaha memperluas jaringan melalui kemitraan dengan PNM, Dinas Koperasi dan UKM, koperasi lainnya (Inkopdit, Puskopdit, koperasi-koperasi primer), dan paroki Tebing Tinggi melalui pendidikan rohani. Selain itu, koperasi melaksanakan survai tentang kebutuhan konsumen. Secara keseharian, koperasi menciptakan image yang baik. Antara lain melalui tampilan pegawai dengan pakaian yang rapi, pelayanan dan disiplin tinggi serta tampilan fisik gedung yang teratur dan bersih. Dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan SDM, koperasi berorientasi terhadap pentingnya pendidikan dengan moto ”Long Education”. Baik bagi calon anggota, anggota, maupun pengurus/ karyawan. Kepada calon anggota dan anggota diberikan pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan. Calon anggota akan dilayani penuh setelah 6 bulan menjadi anggota dan lulus pendidikan. Kepada para pengurus diberikan pendidikan pengurus; para karyawan diberikan pendidikan dan pelatihan keterampilan. Untuk memotivasi SDM diperkenalkan sistem penghargaan atau reward. Antara lain berupa gaji yang layak, program Jamsostek, bonus, dana pensiun, pemilihan penabung, peminjam dan komisaris atau

Pengurus dan pengawas selalu terbuka menerima masukan dan saran.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

68

petugas lapangan terbaik. Juga penerapan sistem punishment, bisa berbentuk teguran lisan dan tertulis sampai dengan pemecatan.

PRODUK-PRODUK MENARIK
Dalam upaya pengembangan usaha koperasi dan peningkatan pelayanan kepada anggota, pihak manajemen memperkenalkan berbagai jenis produk (product line) baik berupa simpanan maupun pinjaman. Jenis produk simpanan terbagi atas dua jenis. Pertama, simpanan saham yang mencakup simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Simpanan saham tidak dapat ditarik karena dananya diasuransikan atau disebut Dana Perlindungan Bersama (Daperma). Dana ini membuahkan deviden 15% per tahun atau lebih tinggi dari bunga simpanan bank. Kedua, simpanan non-saham. Jenis simpanan ini terbagi menjadi beberapa produk. Masing-masing: Sibuhar (Simpanan Bunga Harian) yang bisa disimpan atau ditarik setiap hari dengan perolehan bunga sebesar 0,95% per bulan. Sisuka (Simpanan Sukarela Berjangka), simpanan yang hanya bisa ditarik 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun kemudian dengan perolehan bunga 1,05% per bulan. Di samping itu diperkenalkan pula Tabema (Tabungan Beasiswa Mandiri), produk ini berorientasi kepada anak s/d usia 12 tahun untuk mem-back up pendidikan mereka dengan perolehan bunga 15% per tahun dan dapat ditarik setelah 15 tahun. Produk lainnya adalah Tahta (Tabungan Hari Tua), yang khusus untuk orang dewasa di atas 18 tahun untuk dapat menikmati hari tuanya seperti layaknya para pensiunan PNS dengan perolehan bunga 15% per tahun dan dapat ditarik setelah 15 tahun.

ATURAN KHUSUS KREDIT
Secara umum, pinjaman terdiri dari pinjaman produktif dan pinjaman providen (kesejahteraan), dengan titik berat pelayanan pinjaman produktif. Besarnya pinjaman anggota rata-rata lima kali simpanan saham. Pinjaman produktif biasanya dimanfaatkan untuk modal usaha, peternakan, pembelian tanah, pengolahan tanah, pembelian kendaraan bermotor. Sedangkan jenis pinjaman providen ditujukan antara lain untuk pembiayaan pendidikan, rehabilitasi rumah, sepeda motor, usaha kerja, sosial atau adat. Secara khusus, koperasi menetapkan sistem penarikan bunga menurun. Bunga pinjaman antara 2,5% - 3% per bulan. Ambil contoh, bila saldo pinjaman lebih kecil atau sama dengan saldo simpanan, otomatis dikenakan bunga 2,5% per bulan. Yang jelas, dibanding dengan bunga bank sistem flat, di sini masih lebih murah. Selain itu, koperasi memberikan jasa kepada anggota 10% dari bunga pinjaman yang dimasukkan pada tahun itu dengan ketentuan besarnya lima kali simpanan saham. Lebih spesifik, peminjam harus memenuhi persyaratan yang dikenal dengan akronim TUKKEPAR. Rinciannya, TU= Tujuan pinjaman; untuk apa, mendesak atau tidak, produktif atau providen. K= Kerajinan menabung; anggota rajin atau tidak? KE= Kemampuan mengembalikan pinjaman; berapa pendapatan rata-rata/bulan. P= Pengembalian pinjaman masa lalu; lancar atau tidak, tepat waktu atau tidak, sesuai dengan perjanjian atau tidak. PAR= Partisipasi anggota; aktif atau tidak, mengikuti segala aktivitas Kopdit, selalu hadir pada saat pra-RAT atau tidak.

69

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Kemudian terkait aturan atau regulasi mengenai tenggang waktu pinjaman, digariskan sebagai berikut. Pinjaman s/d Rp 20 juta, tenggang waktu maksimal 24 bulan. Pinjaman Rp 20 s/d 40 juta, tenggang waktu maksimal 30 bulan. Pinjaman Rp 40 s/d 70 juta, tenggang waktu maksimal 36 bulan. Dan pinjaman di atas Rp 70 juta, tenggang waktu maksimal 48 bulan. Menyangkut bidang teknologi dan informasi, koperasi senantiasa melaksanakan pelatihan-pelatihan keterampilan. Termasuk menerapkan sistem komputerisasi dengan mengirimkan flash disk ke kantor-kantor cabang. Tujuannya, untuk dikoreksi di mana pinjaman sampai atau melebihi Rp 10 juta bisa diputuskan oleh kepala cabang. Pada gilirannya, secara periodik, koperasi melaksanakan penelitian dan pengembangan. Jerih payah dan kerja keras yang ditunjukkan Kopdit Mandiri sejak berdiri sampai Desember 2006, membuahkan hasil berbagai predikat penghargaan. Di antaranya, Koperasi Berprestasi tahun 2001 tingkat Kota Tebing Tinggi dan Koperasi Berprestasi tahun 2004 tingkat nasional.

PROSPEK
Dari pengalaman masa lalu, baik pada strata global maupun di strata lokal, koperasi-koperasi yang meraih sukses sebenarnya tidak susah. Yakni, mereka mau mengerti, memahami dan menerapkan ”nilai-nilai dan prinsipprinsip koperasi” sebagai landasan pijak untuk mengorganisir dan mengembangkan usaha. Sehingga mereka dapat menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan baik. Berdasar pengalaman obyektif juga terlihat, masih banyak koperasi belum memahami dan menerapkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi sebagai landasan pijak untuk berorganisasi dan berusaha. Bahkan kadang mudah ditemui, koperasi dijadikan alat pemenuhan kepentingan pengurus, vested interest golongan-gologan atau kelompok-kelompok tertentu. Sebaliknya banyak anggota yang tidak merasa memiliki (sense of belonging) koperasi. Pada gilirannya koperasi-koperasi tersebut menghilang begitu saja alias tinggal papan nama. Dengan demikian, kunci sukses koperasi adalah pemahaman dan penerapan tujuh prinsip koperasi secara konsisten dan berkelanjutan. Melihat perkembangan, sepak terjang dan telaah koperasi ini dikaitkan dengan prinsip-prinsip koperasi dimaksud, Kopdit Mandiri sudah menerapkan tujuh prinsip koperasi dengan cukup baik dengan berbagai kinerjanya. Pada dasarnya penerapan tujuh prinsip koperasi ini merupakan kekuatan internal (strength) Kopdit Mandiri yang dapat dipertahankan bahkan dikembangkan ke depan. Namun bila regenerasi kepengurusan tidak dipersiapkan secara matang dan citra eksklusivitas dihilangkan, hal tersebut mempunyai potensi menjadi kelemahan (weakness). Opini publik tentang sulitnya UKM mengakses perbankan untuk pengembangan usaha, adanya kepercayaan masyarakat terhadap Kopdit Mandiri dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah (pusat dan daerah) untuk mendorong pertumbuhan KUKM adalah faktor-faktor variabel yang merupakan peluang (opportunity) bagi Kopdit Mandiri. Sementara itu tantangan (threat) ke depan bagi Kopdit Mandiri yang harus diantisipasi antara lain persaingan dengan lembaga dan non-lembaga keuangan yang semakin terbuka, staffing aparat pembina koperasi yang kurang pas dan kesan hubungan perbankan yang kurang kondusif terhadap koperasi.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

70

DI YOGYAKARTA

KSP Kartini Kaliurang

MEMBELA
NASIB WONG CILIK
71
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

B

ila Anda berwisata ke Yogyakarta, jangan lupa singgah ke Kaliurang. Daerah ini berhawa sejuk dan suasana masih sangat terasa segar. Seperti umumnya tempat wisata, di situ juga banyak para penjual buah-buahan khas setempat seperti salak. Juga pada pedagang minuman dan makanan kecil. Antara lain, bakul jadah tempe, bakul buah, warung, dan sebagainya banyak diusahakan oleh mereka. Mayoritas pedagang kecil ini terdiri dari kaum ibu. Sayangnya, faktor permodalan menjadi hambatan bagi usaha mereka. Akhirnya, banyak muncul pelepas uang alias rentenir yang menebarkan jeratnya. Para rentenir sangat tega mengambil keuntungan sampai 20% per bulan. Akibatnya kerja keras ibu-ibu menjadi percuma, karena keuntungan yang didapat akan jatuh pada para rentenir. Ternyata kenyataan ekonomi yang memprihatinkan tersebut, mendorong pengurus perkumpulan wanita khususnya ibu-ibu anggota

Pengurus KSP Kartini sedang memaparkan program kerja.

Dokumentasi

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

72

PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Ibu CR Sujinah adalah salah seorang yang tidak mengenal lelah dan konsisten membantu para ibu pedagang kecil tersebut. Akhirnya disepakati membentuk wadah perekonomian yang disebut Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kartini. Yang jelas, proses lahirnya KSP Kartini pada tahun 1982 tidak terlepas dari peranan Foster Parent Plan. Yakni sebuah kegiatan di Kecamatan Pakem yang antara lain memberikan pendidikan dasar koperasi kepada ibu-ibu PKK. Menindaklanjuti kegiatan tersebut, disepakati semua anggota PKK yang terdiri dari 115 orang ibu diketuai oleh CR Sujinah untuk membentuk satu wadah koperasi yang diberi nama koperasi kredit yang akhirnya menjadi KSP Kartini. Nama Kartini dipilih, karena nama ini tidak asing lagi bagi wanita Indonesia. Tokoh Kartini sebagai pembela emansipasi kaum perempuan, diharapkan menjelma di koperasi yang pengurusnya semuanya wanita ini. Harapannya, kaum perempuan mampu mengambil peranan aktif dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Tujuan pembentukan KSP ini, tak lain memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat, mengentaskan

kemiskinan sertas mewujudkan kesejahteraan lahir batin. Modal pertama operasional koperasi sebesar Rp 225 ribu. Kala itu dengan anggota 115 orang dan 8 orang pengurus, semuanya wanita. Simpanan pokok ditetapkan Rp 1.000 dan simpanan wajib Rp 200 per bulan. Angka tersebut memang kecil. Tetapi itulah kemampuan sebagian besar anggota pada waktu itu. Namun, sejalan dengan meningkatnya ekonomi masyarakat, simpanan wajib dan simpanan pokok sudah disesuaikan dengan kemampuan anggota. Daerah pelayanan, waktu itu melingkupi daerah Kaliurang Selatan, Timur, dan Barat. Setelah berumur 4 tahun, tahun 1986 KSP Kartini mulai membuat kantor sederhana di atas tanah milik pemerintah desa. Kini, kantor tersebut sudah dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang cukup representatif dan nyaman. Sarana perkantoran meliputi bangunan kantor yang terletak di atas tanah seluas 400 m2

PENGELOMPOKAN ANGGOTA
Keberhasilan KSP Kartini terletak pada kemampuan pengurus membuat perencanaan, melaksanakan dan mengendalikan usaha secara jujur, konsisten dan loyal. Pengurus membuat Panduan Kerja sebagai pedoman bagi pengurus. Dalam pedoman perencanaan telah diatur fungsi dan tugas masing-masing, Pelaksanaan perencanaan disusun mengarah kepada tujuan. Semua karyawan yang terdiri dari manajer dan staf diarahkan bekerja mencapai tujuan organisasi. Jumlah kepengurusan sebanyak empat orang (ketua, wakil, sekretaris dan bendahara) dan unsur pengawas berjumlah tiga orang terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota. Pembinaan anggota dilakukan secara individu dan kelompok di pedusunan, RT dan RW. Jumlah kelompok ini, sampai saat penelitian sebanyak 13 kelompok, Meliputi kelompok bakul, jasa, kerajinan, pelajar, pensiunan, petani, peternak, PNS, pondok wisata, rumah makan, swasta, usaha lain dan warung. Materi pembinaan anggota meliputi: perkoperasian, hak dan kewajiban anggota, kebijakan pelayanan dan materi sesuai dengan masalah yang dihadapi anggota. Kekhususan di KSP Kartini: pembinaan anggota selalu mengikuti perkembangan usaha dan mengikuti kebutuhan anggota. Kegiatan RAT, diselenggarakan setiap tahun sebagai pertanggungjawaban pengurus dan pengawas atas hasil kinerjanya kepada seluruh anggota. Penyelenggaraan RAT selalu dilaksanakan tepat waktu dan berjalan lancar. Sedangkan pengambilan keputusan, selalu berpedoman pada anggaran dasar atau anggaran rumah tangga dan peraturan-peraturan yang berlaku pada KSP Kartini. Semua ini dilakukan dengan tetap menjaga semangat kebersamaan daan azas musyawarah mufakat. Anggota KSP Kartini sampai Oktober 2006, tercatat sebanyak 1.090 orang. Terdiri dari perempuan sebanyak 686 orang dan laki-laki sebanyak 404 orang. Ditambah anggota penabung sebanyak 525 orang. Seluruh anggota ini aktif mengikuti RAT setiap tahun. Kinerja keberhasilan KSP Kartini, terutama dapat dilihat dari penilaian

73

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

tingkat kesehatan koperasi oleh Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman. Setiap tahun dinyatakan sehat,. Demikian juga hasil audit finansial oleh akuntan publik, pada setiap tahun dengan opini unqualified opinion alias wajar tanpa catatan.

KINERJA
Usaha utama KSP Kartini adalah simpan pinjam. Sumber permodalan koperasi berasal dari tiga jenis simpanan. Pertama, Simpanan Saham. Yaitu simpanan pokok dan simpanan wajib yang akan mendapat deviden pada akhir tutup buku. Kedua, Simpanan non Saham yang terdiri dari Sisuka, Sibuhar dan Sijaka. Artinya, simpanan ini mendapat jasa simpanan setiap akhir bulan. Ketiga, Simuda (Simpanan Pemupukan modal) adalah simpanan yang berasal dari 3-5% dari pinjaman khusus yang dicairkan, akan mendapat bunga pada akhir tahun. Kemudian simpanan tersebut dipinjamkan kepada anggota dengan persyaratan yang telah ditentukan. Seperti apa gerak pertumbuhan koperasi? Pertumbuhan usaha selama tiga tahun (2002-2004) KSP Kartini dapat dicermati dari tabel 1 di bawah ini. Rata-rata di setiap indikator boleh dikata mengalami peningkatan. Ambil contoh (1) aset rata-rata 25,7 % , (2) Simpanan Saham rata-rata 27 %, (3) Simpanan Non Saham 18,57 %, (4) Pinjaman beredar 27 %, (5) Pendapatan rata-rata 23,20 %, (6) SHU rata-rata 31,70 %, (7) Cadangan rata-rata 22,40 % dan pertumbuhan anggota rata-rata 21,73 %.

Tabel 1. Pertumbuhan KSP Kartini
Uraian 1. Aset 2. Simpanan Saham 3. Simpanan Non Saham 4. Pinjaman Beredar 5. Pendapatan 6. Biaya 7. SHU 8. Cadangan 9. Keanggotaan

2002 988,581,570 61,840,650 626,756,700 778,818,000 172,711,099 152,262,341 20,448,758 89,415,572 734

2003 1,182,992,680 116,010,050 774,787,875 981,213,503 192,702,823 162,705,170 29,997,653 107,975,248 736

Pertumbuhan (%) 16.43 46.69 19.11 20.63 10.37 6.42 31.83 17.19 0.27

2004 3,005,795,181 176,399,100 1,222,109,475 2,495,408,500 472,806,449 391,145,871 81,660,578 216,074,686 1,090

Pertumbuhan (%) 60.64 34.23 36.60 60.68 59.24 58.40 63.27 50.03 32.48

SUASANA KONDUSIF
Faktor dominan yang mendukung keberhasilan operasional koperasi, terutama kepercayaan anggota kepada pengurus. Maksudnya, pengurus selalu bekerja dengan tekun, gigih, jujur mengembangkan koperasi. Sehingga masyarakat sekitar tertarik menjadi anggota koperasi. Di sisi lain, keberadaan koperasi melalui pelayanannya telah memberikan manfaat kepada kemajuan dan perkembangan usaha anggota. Khususnya melalui usaha koperasi dalam memberikan pinjaman modal. Selain itu, selama ini juga telah tercipta iklim yang kondusif bagi usaha pengelolaan koperasi. Hal ini tercipta melalui team work pengelola, baik

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

74

Pengurus dan pengawas berpose di depan kantor.

pengurus dan pelaksana, yang senantiasa memiliki hubungan yang serasi, profesional, dan menekankan kejujuran. Sementara terkait memperkuat permodalan dan kelembagaan, KSP Kartini mengadakan kerja sama dengan anggota sendiri. Juga dengan pihak ketiga yaitu lembaga keuangan perbankan dan non perbankan, di antaranya Bank BPD, BRI, Bukopin dan PNM. Khusus kerja sama dengan sesama anggota, sudah lama dilaksanakan. Misalnya, ketika terjadi musibah gempa dan Gunung Merapi ‘batuk-batuk’ KSP Kartini kehabisan modal untuk dipinjamkan kepada anggota dan masyarakat. Syukurlah, ketika KSP Kartini menghubungi anggota yang memiliki dana lebih agar menyimpan di KSP Kartini, ternyata ada beberapa anggota yang rela menyimpan uang ke koperasi. Padahal bunga simpanan hanya 1 persen setiap bulan.

FASILITAS
Meskipun tidak pernah meminta, boleh jadi karena kinerja yang baik, banyak anggota merasakan manfaat kehadiran koperasi dan pengurus juga bertanggungjawab mengelola keuangan anggota, lebih sepuluh tahun terakhir ini KSP Kartini pernah diberi fasilitas perkreditan dari pemerintah. Fasilitas yang diterima KSP Kartini untuk mendukung usaha koperasi, hingga Oktober 2006 sebanyak tiga kali. Pertama, dana hibah dari Menteri Negara Perumahan Rakyat sebesar Rp 1. 500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) pada tahun 1985. Kedua, dana bergulir BBM sebesar Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) pada akhir Desember tahun 2000. Ketiga, dana bergulir Agribisnis dari Kantor Menteri Negara Koperasi dan UKM Jakarta sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) pada akhir Desember 2003. Sekadar membandingkan kinerja keuangan profesional KSP Kartini dengan katakanlah lembaga perbankan, maka uraiannya lebih kurang seperti tertuang pada Tabel 2.

Dokumentasi

75

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 2. Kinerja KSP Kartini

No 1.

Uraian Permodalan a. Capital Asset Rasio = = b. Capital to Loans Rasio = = modal sendiri/total asset x 100% 334.191.960 / 2.352.086.187 x 100% modal sendiri/total pinjaman x 100% 334.191.960 / 2.069.613.500 x 100% total kas/dana diterima x 100% 38.967.328 / 1.733.797.750 x 100% total pinjaman/total simpanan x 100% 2.069.613.500 / 1.733.797.750 total pinjaman/total asset x 100% 2.069.613.500 / 2.352.086.187 x 100%

Persentase

14,2 16,1

2.

Likuiditas a. Quick Cash Rasio

= = b. Loans to Deposit Rasio = = c. Loans to Asset Rasio = = 3. 4 5 Solvabilitas Current Rasio Rentabilitas a. Return on asset b. Return on equity c. Effektibility rasio d. Rate of return loans 6 Turn Over of Loans

2,2 119,4 88 116,6 110,5

= total aktiva/total kewajiban x 100% = 2.352.086.187 / 2.017.894.227 x 100% = aktiva lancar/kewajiban lancar x 100% = 2.229.026.849 / 2.017.894.227 x 100% = = = = = = = = SHU/total asset x 100% 28.484.550 / 2.352.086.187 x 100% SHU/modal sendiri x 100% 28.484.550 / 334.191.960 x 100% total biaya/total pendapatan x 100% 334.048.450 / 362.533.000 x 100% total bunga/rata-rata pinjaman x 100% 343.550.300 / 1.738.494 x 100%

1,2 8,59 2,11 9,8 116,6

= pinjaman cair tahun ini/total pinjaman x100% = 2.412.500.000 / 2.069.613.500 x 100%

1. 2.

3. 4.

5. 6.

Hasil dari perbandingan sementara ini adalah sebagai berikut. Kecukupan modal (CAR) untuk membiayai harta masih kurang signifikan. Perbandingan modal sendiri dengan total pinjaman menunjukkan, bahwa pemupukan modal sendiri masih kurang efektif. Misalkan terjadi rush (penarikan dana secara serentak dan bersamaan), tampaknya jumlah modal sendiri masih jauh kemampuannya untuk menutup rush yang dimaksud. Total cash minimum yang tersedia juga sangat minim (2,2%), terutama untuk membayar hutang sangat segera dan mendesak. Solvabilitas menunjukkan rasio yang kurang menggembirakan. Karena sebagian besar usaha koperasi dibiayai oleh modal luar dibanding yang dibiayai modal sendiri. Curent Rasio sebesar 110,50 % masih jauh dari rasio standar sebesar 200 %. Retun on asset sebesar 1,2 % masih bisa ditoleransi. Karena badan hukum koperasi tidak mengejar keuntungan semata, melainkan melaksanakan pelayanan prima pada anggota.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

76

SUMATERA BARAT

Koperasi Guru-Guru Payakumbuh

PILAR KESEJAHTERAAN

DI LAJUR GURU
77
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

P

ada momen peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1974, PGRI Cabang Payakumbuh, Sumatera Barat, membentuk empat cabang PGRI yaitu Anak Cabang Payakumbuh Utara, Selatan, Barat dan Timur. Kepala Cabang PGRI Payakumbuh, Choedri St. Maradjo, yang juga kepala SMEP Negeri Payakumbuh, menawarkan ide membentuk koperasi. Dalam rapat Kepala Sekolah SD, SMEP dan SMEA, 12 Juni 1974, dijelaskan maksud pembentukan koperasi itu sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Koperasi ini bergerak di bidang pengadaan perumahan, usaha peternakan dan usaha warung untuk membantu biaya pendidikan putraputri anggota. Persetujuan para kepala sekolah itu, yang mewakili 89 orang guru dengan 12 unit kerja, berlanjut dengan didirikannya sebuah Koperasi Negeri Guru-Guru Payakumbuh Utara. Simpanan pokok ditetapkan sebesar Rp 250,00 dan simpanan wajib sebesar Rp 100,00. Koperasi ini pun dikukuhkan dengan badan hukum No. 976/BH/XVII tanggal 12 Desember 1974.

KETOKOHAN DAN DEDIKASI
Tiga dasawarsa adalah usia yang cukup panjang. Berangkat dari kondisi awal yang boleh dibilang nol, 32 tahun silam, dimotori oleh sang ketuanya, tim pengurus koperasi berupaya mengefektifkan waktu dan perhatian antara melaksanakan pekerjaan rutin mereka sebagai pengajar dan menggiatkan koperasi. Etos yang mencakup kerja keras, disiplin dan loyalitas terhadap pekerjaan menjadi komitmen para pengurus. Melewati berbagai tantangan dan belajar dari pengalaman, koperasi ini mampu memelihara energi internalnya untuk tetap eksis. Di antara kiat mereka adalah menegakkan kaidah-kaidah koperasi secara benar; pembinaan berjalan, sehingga mempunyai SDM yang terampil dan profesional; dan kepedulian terhadap pendidikan anggota. Sikap tegas koperasi ini ditunjukkan ketika mereka menolak tawaran dana KUT 1988 yang dinilai tidak jelas.

MENOREH PRESTASI
Sungguh tidak sia-sia dedikasi pengurus sepanjang 32 tahun itu. Buah keuletan, kesabaran dan kerja keras di dalam mengelola koperasi terasa manis. Sampai akhir 2005, total aset koperasi beranggotakan 2.254 orang ini berjumlah Rp 13. 875.900.000 dan kekayaan bersih sebanyak Rp 9.626.800.000. Saat ini Koperasi Guru-Guru Payakumbuh tumbuh menjadi salah satu koperasi unggulan untuk Provinsi Sumatera Barat dengan berbagai prestasi yang telah dicapainya. Pada tahun 2000, oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM, koperasi ini dinyatakan sebagai Koperasi Berprestasi. Pada tahun 2003, sesuai dengan Surat Keputusan Pengurus Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia, mereka menyandang gelar sebagai juara I KPRI Berprestasi Tingkat Sumatera Barat. Prestasi lain datang dari Kantor Menteri Negara

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

78

Koperasi dan UKM berupa penganugerahan gelar Tokoh Koperasi Tahun 2004 kepada H. Choedri S.M. dan gelar Tokoh Koperasi Provinsi Sumatera Barat kepada Gubernur Provinsi Sumatera Barat.

DIVERSIFIKASI USAHA
Untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota dan masyarakat, Koperasi Guru-Guru Payakumbuh membangun beberapa unit usaha. Di antaranya, USP, Unit Waserda, Unit Penagihan Rekening PLN dan PDAM dan unit fotokopi & stationery. Unit Simpan Pinjam. Dari segi usaha, koperasi ini memiliki nilai tambah berupa kepercayaan pihak lain menyimpan dana secara sukarela dan mampu menarik dana anggota dalam bentuk simpanan khusus dan tabungan dengan nilai berkisar lima miliar rupiah. Kegiatan USP ini memang kegiatan unggulan koperasi. Pengurus terus berupaya meningDokumentasi

katkan pelayanan USP, mengingat unit ini paling banyak bersinggungan dengan kebutuhan sebagian besar anggota. Pada tahun ini, USP telah menghasilkan SHU Rp 112.162.485 atau meningkat 15% dibanding SHU tahun sebelumnya. Koperasi juga mampu menghimpun tabungan anggota sebesar Rp 1.559.512.956. Dari dana ini dikeluarkan sebagai pembayaran Tunjangan Hari Raya sebesar Rp 375.941.500 sehingga penerimaan tabungan 2006 menjadi Rp 1.183.571.456 atau meningkat 13,7 % dari tahun lalu. Unit Waserda. Jumlah anggota sebanyak 2.254 orang dari sisi market merupakan peluang pasar yang layak digarap. Pembukaan unit ini didahului sebuah survai singkat untuk mengetahui jenis barang apa saja yang dibutuhkan anggota. Transaksi di waserda dapat dilakukan secara kontan ataupun kredit. Untuk memotivasi anggota berbelanja di waserda, koperasi

Unit Simpan Pinjam salah satu unit usaha yang berkontribusi besar.

79

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Unit waserda menjadi bagian pemenuhan kebutuhan anggota.

Dokumentasi

memberlakukan harga yang lebih murah dibanding harga toko di samping memberikan insentif. Insentif diperhitungan dalam pembagian SHU. Modal usaha untuk mengelola unit waserda masih bersumber dari pinjaman USP. Sepanjang 2005, unit waserda telah menyalurkan 12 unit roda dua dan 4 unit roda empat. Pada akhir 2005, laba waserda Rp 207.800.500 dikurangi biaya bunga tabungan keluarga yang dibayarkan kepada USP. Unit Penagihan Rekening PLN dan PDAM. Dari kegiatan unit ini, kepada peserta yang berjumlah sekitar 450 orang itu dipungut penggantian ongkos transpor sebesar Rp 1.000 per rekening ditambah dengan fee dari PLN Rp 350 per rekening. Kepada peserta pembayaran rekening kolektif PDAM sebanyak sekitar 300 itu juga dipungut penggantian ongkos transpor sebesar Rp 1.000 per rekening tanpa fee dari PDAM Unit Fotokopi & Stationery. Jasa pengelolaan unit fotokopi dan stationery belum berjalan secara optimal. Jika unit ini dapat dipadukan dengan kebutuhan ATK lembaga pendidikan yang terkait dengan koperasi, ini pun merupakan potensi pasar yang dapat dikembangkan.

KIAT MEMPERBESAR ANGGOTA
Di balik perjalanan membangun koperasi selama 32 tahun, tidak dapat dipungkiri peranan dan keterlibatan Choedri St. Maradjo sepenuh hati. Figur ini jujur dan amanah terhadap tugas/pekerjaan dan memiliki ide-ide kreatif menangkap peluang pasar untuk pengembangan usaha koperasi. Di antara kiat dan strategi yang dijalankan selama ini: pengembangan anggota, pemberian pinjaman dengan bunga rendah, insentif bagi penabung dan pembelanja di waserda, peningkatan kesejahteraan anggota. Pengembangan Anggota. Menyadari bahwa menggantungkan anggota yang berasal guru-guru/PNS sangat terbatas, sementara di sisi lain banyak pihak yang berminat menjadi anggota, pengurus melakukan perubahan Anggaran Dasar. Revisi itu memungkinkan masuknya anggota

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

80

Tabel 1. Perkembangan Anggota
Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Jumlah Unit 96 96 120 130 139 Jumlah Anggota 1.031 1.325 1.887 2.148 2.254 Jumlah Kenaikan 251 294 562 261 106 % 32 29 42 14 5

luar biasa melalui kelompok. Perubahan AD ini spontan memicu peningkatan jumlah anggota. (lihat Tabel 1) Pemberian Pinjaman Bunga Rendah. Pertama, berdasarkan pinjaman dan diberikan 3 x jumlah seluruh simpanan anggota dengan jasa 12% per tahun atau 1% per bulan; Kedua, berdasarkan kelayakan usaha dan pakai agunan dengan nilai 70 % dari harga agunan dengan jasa bunga 15,6% setahun. Memberikan Insentif bagi Penabung dan Pembelanja di Waserda. Guna memberikan pelayanan kepada anggota dan peningkatan modal sendiri, USP meningkatkan pemberian insentif bagi penabung dan para anggota yang berbelanja di waserda, yang nominalnya diperhitungkan pada saat pembagian SHU. Meningkatkan Kesejahteraan Anggota. Untuk lebih menumbuhkan motivasi rasa memiliki anggota terhadap koperasi, kesejahteraan anggota yang menjadi kepedulian koperasi diwujudkan berupa pemberian uang THR, biaya duka dan bantuan beasiswa kepada putra-putri anggota.

KERAGAAN KOPERASI 3 TAHUN TERAKHIR
Dengan usia perjalanan koperasi yang sudah mencapai umur 32 tahun, telah dilakukan tujuh kali pemilihan pengurus dan untuk pertama kalinya dilakukan pemilihan langsung secara demokrasi terhadap pengurus dan pengawas untuk masa jabatan 2003 s/d 2006. Dengan melalui proses pelaksanaaanya hampir sama dengan Pilkada maka untuk kesekian kalinya Bp. H. Choedri SM, BA terpilih kembali sebagai ketua koperasi. Secara umum koperasi dikelola oleh pengurus koperasi lima orang (ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris dan bendahara, tiga orang pengawas koperasi, satu orang manajer dan 16 orang karyawan. Pengelolaan administrasi keuangan meliputi pembukuan, kas, tabungan anggota, rekap pinjaman, tabungan keluarga, yang dikelola dengan rapi dan transparan. Setiap hari baik pengurus, pengawas ataupun anggota dapat melihat di papan pengumuman keuangan. Pembukuan tahun 2005 diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Armanda & Enita. Kinerja koperasi dan prestasinya dapat dilihat pada Tabel 2. Jumlah simpanan (pokok, wajib, wajib khusus) dan tabungan anggota meningkat setelah keberadaan anggota luar biasa dan beberapa insentif yang diberikan kepada anggota. Secara keseluruhan, performace

81

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 2. Kekayaan Bersih
URAIAN 1. Simpanan Pokok 2. Simpanan Wajib 3. Simpanan Wajib Khusus 4. Tabungan Anggota 5. Cadangan 6. SHU Jumlah 2003 28.305.000 1.657.291.700 2.195.291.135 806.329.744 520.654.699 154.404.749 5.362.655.027 2004 32.220.000 2.251.505.250 3.168.848.475 1.041.371.364 783.931.405 187.073.166 7.464.949.660 2005 33.810.000 3.033.084.300 4.059.715.153 1.183.571.456 1.095.670.941 220.966.142 9.626.812.992

Tabel 3. Total Asset
Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Asset (Rp) 3.593.602.112 5.810.987.269 9.272.570.188 12.902.733.873 13.875.901.877 Kenaikan (Rp) 1.421.278.197 2.217.385.157 3.461.582.919 3.360.163.690 973.167.999 % 65 62 60 30 8

tahun 2005 menunjukan peningkatan kekayaan bersih koperasi sekitar 80% dibanding tahun 2003. Peningkatan aset koperasi merupakan indikator tingkat partisipasi yang tinggi oleh anggota, baik pada kegiatan USP maupun

pada unit waserda dan unit lainnya. Sukses Koperasi Guru-Guru Payakumbuh tentu tak boleh berhenti sampai di sini. Di depan sana terbentang tantangan yang lebih besar, jika apa yang diyakini bersama tentang langit-langit kesejahteraan itu ditarik ke batas yang lebih tinggi. Hal yang kini mendesak menjadi bahan pemikiran pengurus sekarang yaitu pengkaderan/regenerasi, mengingat usia ketua yang makin uzur (70 tahun). Dengan ‘warisan’ sejarah dan hasil-hasil yang dibukukannya selama 32 tahun berdiri, tanggung jawab generasi berikut mempertahankan dan bahkan melipatgandakan kebesaran koperasi ini.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

82

DI YOGYAKARTA

Kosudgama Bulak Sumur

MANAJEMEN MODEREN

KOPERASI KAMPUS
83
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

M

ana koperasi sejati yang konsisten mengamalkan prinsip atau jati diri koperasi? Jika jawabnya ya, ada, salah satunya adalah Koperasi Serba Usaha Dosen Universitas Gajah Mada (Kosudgama), Yogyakarta, rasanya tidak salah. Keanggotaan koperasi di sini dikelompokkan menjadi anggota aktif dan anggota pasif. Anggota aktif, yaitu anggota yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan usaha. Baik sebagai pengurus, pengawas, karyawan, pelanggan, pemasok, penyimpan dana dan peminjam dana. Koperasi yakin, makin banyak anggota terlibat di dalam kelompok ini, semakin besar kemajuan suatu koperasi. Anggota pasif adalah anggota yang tidak pernah ikut berpartisipasi dalam kegiatan usaha selama enam bulan terakhir. Anggota pasif tidak memperoleh pembagian SHU tahun yang berjalan. Bila sampai dua tahun tidak membayar simpanan wajib, statusnya gugur sebagai anggota. Jumlah anggota koperasi sampai akhir Desember 2005 (lihat Tabel 1), yang mencapai 8.622 orang itu terdiri dari 1.554 (18%) anggota biasa dan 7.068 (82%) anggota luar biasa.

Tabel 1. Perkembangan Anggota Kosudgama
Anggota Biasa Luar Biasa Jumlah 2005 1.554 7.068 8.622 2004 1.497 6.267 7.764 2003 1.426 5.047 6.473 2002 1.371 3.961 5.332 2001 1.285 2.778 4.063

BATANG TUBUH ORGANISASI
Organisasi pengurus koperasi tersusun dan diputuskan pada setiap RAT. Komposisi pengurus terdiri dari seorang ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan wakil bendahara. Kelima pengurus setiap minggu diwajibkan hadir piket di koperasi sedikitnya enam jam per minggu, yang dalam kenyataannya sering lebih dari itu. Itu mencerminkan kebersamaan dalam manajemen Kosudgama. Pengurus berfungsi

Tabel 2. Unit Kerja dan Penanggung Jawab
Unit Kerja Seluruh unit (umum) Umum dan personalia Akutansi dan keuangan Simpan pinjam Jasa travel dan dokumen Niaga Apotek Penanggung Jawab Ketua Wakil ketua Bendahara Sekretaris Bendahara Wakil ketua Wakil bendahara Susi Iravati Nur Alifiah Djoko Sartono Sri Subekti Sugiyanti Pranamawati Kepala Unit/Bagian Sifat Fungsional dan operasional Fungsional Fungsional Operasional Operasional Operasional Operasional

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

84

juga sebagai pengelola karena mereka juga penanggung jawab unit kerja atau manajer. Ambillah contoh pada posisi Oktober 2006, setiap unit kerja dipimpin oleh seorang kepala unit/bagian sebagaimana keragaan pada Tabel 2.

Tabel 3. Persebaran Karyawan Kosudgama per Unit Kerja
Unit Kerja Umum dan Personalia Akutansi dan Keuangan Simpan Pinjam Jasa Niaga Apotek Jumlah Jumlah Karyawan 8 5 9 8 7 9 46 Tingkat Pendidikan S3 1 1 S2 0 2 1 10 S1 3 4 7 1 1 10 DIII 1 DII 1 1 DI 1 1 2 5 5 6 20 SLTA 2 SLTP 1 1 2 SD 1 1

Secara rutin, setiap Selasa pengurus koperasi yang mengelola enam unit kerja (Tabel 3) dan mempekerjakan 46 karyawan itu mengadakan rapat. Rapat koordinasi dengan para kepala unit/bagian berlangsung setiap Jumat. Rapat khusus dengan pengawas diadakan dua minggu sekali. Ini bertujuan agar berbagai kebijakan pengurus sesuai dengan amanat keputusan RAT. Pada tahun buku 2005, pengawas Kosudgama Sutrilah Djatmiko dengan dua orang anggota pengawas, Sunarto Goenadi dan Bugi Rustamadji. Sedangkan penasihat koperasi dijabat Prof. Dr. Syafri Sairin, MA. Untuk menumbuhkan kerja sama dan keselarasan kerja antar-karyawan, koperasi menjalin bekerja sama pelatihan outbond dengan Fakultas Psikologi UGM. Khusus untuk membina mental karyawan, koperasi sering menggelar pengajian rutin di lingkungan tempat tinggal pengurus, pengawas atau karyawan. Dalam beberapa hal, pengurus melimpahkan sebagian wewenang manajerial kepada kepala unit atau bagian. Perbaikan kesejahteraan karyawan, sejak November 2005, dilakukan dengan menaikkan tunjangan transpor dan tunjangan makan. Tunjangan hari tua karyawan, yang semula dikelola koperasi, sejak Juli 2005 dialihkan ke PT Asuransi Jiwa Sraya. Perubahan ini semata-mata demi penyesuaian dengan peraturan kekaryawanan Kosudgama yang berpedoman pada UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Untuk memacu prestasi dan semangat kerja, sejak Juni 2005, diberikan penghargaan kepada karyawan berprestasi yang dinilai setiap tiga bulan. Kompetensi karyawan ditingkatkan melalui pelatihan dan mengirim ke seminar atau lokakarya. Kompensasi yang diberikan kepada karyawan selalu pula di atas nominal UMP yang berlaku.

POTRET DETAIL
Secara ringkas kinerja keuangan Kosudgama dapat dilihat pada Tabel 4. Kinerja koperasi kerap diperbandingkan dengan perilaku usaha lembaga seperti perusahaan. Likuiditas, misalnya, biasanya diukur dengan perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar (current ratio). Cara yang lebih baik adalah menyimak arus kas bulanan. Bila hasilnya selalu positif, likuiditas berarti baik. Angka baik untuk perusahaan manufaktur sekitar 200%, untuk perusahaan di bidang keuangan (seperti

85

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 4. Perkembangan Usaha, Aktiva dan Rasio Keuangan Kosudgama
Uraian Laba Usaha Kotor SHU (Sebelum biaya SHU) Total Aktiva Total Ekuitas Total Hutang Pendapatan yang ditangguhkan Aktiva Lancar Simpanan Sukarela Hutang Lancar Likuiditas Solvabilitas Return on Assets Return on Equity SHU Per Anggota Jumlah Anggota 2005 9,731,629,179 3,368,144,589 68,800,731,361 6,897,391,151 47,357,466,221 14,545,873,988 67,489,515,970 42,525,486,848 44,461,490,221 151.18% 145.15% 4.89% 48.83% 390.645 8.622 2004 8,359,908,384 2,628,435,508 57,340,806,508 4,632,356,475 41,212,324,246 11,496,125,787 55,460,424,050 36,406,735,186 39,434,176,529 141% 138% 4.56% 56.42% 338.541 7.764 2003 7,025,941,813 2,126,333,729 31,911,715,541 2,946,444,028 32,170,058,936 9,611,312,024 43,449,512,632 30,779,210,897 32,122,820,225 133.88% 138.88% 4.44% 71.73% 322.704 6.473 2002 5,287,804,106 1,480,102,683 31,911,715,541 1,203,998,786 23,012,269,210 7,695,455,545 31,209,849,754 18,804,099,983 19,470,275,229 160.18% 138.60% 4.20% 123% 277.588 5.332 2001 5,271,833,258 3,043,545,033 22,025,145,679 5,824,708,400 16,200,437,279 0 21,310,067,039 11,650,725,359 12,898,876,361 173% 141% 13.80% 33% 749088 4063

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

86

perbankan, simpan pinjam) di atas 100%. Di Kosudgama, pada akhir tahun 2005 nisbah tersebut adalah 152%. Ini meningkat sekitar 9% dari 141% pada tahun 2004. Artinya, likuiditas Kosudgama lebih baik daripada tahun sebelumnya. Arus kas bulanan yang selalu positif dari waktu ke waktu pun menguatkan kesimpulan itu. Di sisi solvabilitas, instrumen pengukur kemampuan badan usaha melunasi seluruh kewajibannya, posisi Kosudgama pada akhir 2005 sebesar 145%, meningkat 6% dari 139% pada 2004. Solvabilitas ini akan turun kalau badan usaha mengalami kerugian atau membagikan deviden lebih besar dari laba. Adanya ketentuan sebagian dari laba harus dimasukkan sebagai cadangan akan cenderung meningkatkan solvabilitas koperasi. Dari sisi profitabilitas, instrumen pengukur efektivitas dan efisiensi suatu badan usaha, bisa diukur dengan beberapa cara. Pertama, dengan rasio return on assets ( ROA) yaitu mengukur laba yang diperoleh dengan menggunakan seluruh aktiva yang ada, juga menunjukkan produktivitas penggunaan aktiva dalam menghasilkan laba. Kedua, dengan return on equity (ROE) yaitu mengukur laba yang diperoleh dari modal sendiri di luar modal pinjaman atau hutang. Ketiga, dengan SHU per anggota mengukur laba rata-rata untuk setiap anggota. ROA koperasi tahun 2006 dibanding tahun sebelumnya naik 0,33% dari 4,56% di tahun 2004 menjadi 4,89% di tahun 2005. Sedangkan ROE Kosudgama menurun sebesar 7,94% dari 56,42% di tahun 2004 menjadi 48,48% di tahun 2005. Ini berarti sebagian pendapatan koperasi lebih banyak yang digunakan untuk membayar jasa kreditur. Hutang Kosudgama meningkat Rp 6.145 juta (14,9%), yaitu dari Rp 41.212 juta menjadi Rp 47.357 juta, yang menyebabkan peningkatan biaya moneter. Selain itu penurunan disebabkan adanya kenaikan ekuitas yang relatif lebih besar dibandingkan dengan kenaikan SHU. Ekuitas naik

Rp 2.265 juta (48,9%) dari Rp 4.632 juta tahun 2004 menjadi Rp 6.897 juta pada 2005. Kenaikan ekuitas ini lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan SHU yang 28,16%. Seperti tahun-tahun sebelumnya, SHU dibagi berdasarkan AD dan ART koperasi. Khusus untuk SHU anggota (50% dari total) dibagi berdasarkan dua kategori, yaitu SHU aktif dan SHU pasif. Kategori SHU aktif ditetapkan sebesar SHU anggota dikurangi SHU pasif yang dibagi secara proporsional berdasarkan aktivitas transaksi anggota. Sedangkan SHU pasif ditetapkan sebesar 15% (1,5 kali jasa simpanan berjangka tahunan di koperasi) dari total simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. Sejak pembagian SHU tahun 2001 ada ketentuan nilai aktivitas transaksi anggota ditetapkan berdasarkan kontribusi jasa pada Kosudgama dan bukan berdasarkan omset transaksi. Mengapa? Sebab, transaksi yang nilainya dirasa tinggi tetapi jasanya rendah, semisal pengurusan STNK dan tiket. Sisa hasil usaha bagi anggota pada tahun 2005 meningkat 15,39% dibanding tahun sebelumnya. Pada 2005, seorang anggota rata-rata memperoleh SHU Rp 390.465 dibandingkan tahun 2004 sebesar Rp 338.541. Ini tidak berarti anggota akan memperoleh SHU sebesar itu, karena yang dibagikan hanya 50 persen berdasarkan keaktifan mereka bertransaksi di koperasi. Disimak per unit kegiatan, terjadi pergeseran jumlah SHU. Sisa hasil usaha dari USP dan unit apotek meningkat sedangkan unit niaga menurun karena beban hadiah-hadiah pada RAT tahun 2004. Perkembangan SHU per unit usaha dapat dilihat dalam Tabel 5.

Dokumentasi

Anggota berpartisi aktif menunaikan kewajiban.

Tabel 5. SHU Per Unit Usaha
Sisa Hasil Usaha Unit Simpan Pinjam, Jasa, dll Unit Niaga Unit Apotek Total SHU 2005 3,123,515,240 102,116,196 142,513,153 3,368,144,589 2004 2,415,334,317 114,472,604 98,628,586 2,628,435,507 2003 1,954,776,848 84,394,843 87,162,037 2,126,333,728 2002 499,101,460 903,666,667 77,334,557 1,480,102,684 2001 1,402,054,533 1,641,490,000 185,420,540 3,228,965,073

SALING MENGGALI ILMU
Pada tahun 2005, tercatat sedikitnya tiga kegiatan penting yang diikuti dan melibatkan Kosudgama. Pertama, menjadi narasumber pada lokakarya “Revitalisasi Koperasi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Karyawan“ di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta (Juni 2005). Kedua, sebagai panitia sekaligus narasumber seminar “Cooperative: Post, Present and Future” memperingati Hari Koperasi ke-58 juga di Hotel Inna Garuda (Juli 2005). Ketiga, menjadi narasumber pada lokakarya Pengembangan Jiwa Kewirausahaan se-DIY di Hotel Ruba Graha. Selain itu, sampai sekarang koperasi ini masih dijadikan sasaran studi banding/kunjungan lapangan beberapa instansi untuk mengetahui kiat-kiat mengelola koperasi, terutama tentang faktor

87

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 6. Kegiatan Studi Banding di Kosudgama 2005
Tgl. Pelaksanaan 04 Januari 2005 Instansi Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS) Fakultas Ilmu Budaya UGM Keterangan Kunjungan lapangan 6 orang mahasiswa Monash University Australia dalam rangka mempelajari ragam bahasa ekonomi/ bisnis Studi banding peserta lokakarya “Revitalisasi Koperasi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Karyawan” Studi banding Studi banding Studi banding Studi lapangan pelatihan koperasi yang diadakan KPRI Sehat bagi anggota KPRI Sehat Studi banding Studi banding

01 Juni 2005

Small and Medium Enterprises Development Centre (SMEDC) UGM

05 Juli 2005 12 Agustus 2005 19 Agustus 2005 27 Agustus 2005 01 September 2005 29 September 2005

Koperasi VISIANA BHAKTI TVRI Yogyakarta Koperasi Kab Sanggau Kalimantan Barat Koperasi Mandiri Sukses Universitas Muhammadiyah Surakarta Kab Sukoharjo KPRI Sehat Dinas Kesehatan Kab Gunung Kidul Pemda Kodya Jakarta Timur dan Pembina Koperasi dan UKM Pengelola dan pengurus koperasi di lingkungan Perguruan Tinggi dan Pembina Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Kalimantan Selatan KOPMA UGM KPRI Agung cabang Dinas Pendidikan Kec. Kokap Kab Kulon Progo

06 Oktober 2005 05 Desember 2005

Studi banding Studi banding

Tabel 7. Data Praktek Kerja Lapangan dan Survei Penelitian di Kosudgama 2005
Waktu Pelaksanaan 03 Januari s/d 30 April Februari Mei 02 Mei s/d 31 Agustus 14 Mei 04 Juli s/d 4 September 04 Juli s/d 4 September Agustus 26 Sept s/d 30 Desember Oktober November Des 2005 s/d Februari 2006 Maret – Juli Maret Maret Maret 07 Maret s/d 7 April Mei Mei Juni Oktober Oktober Desember Asal Sekolah / PT SMK YPKK Sleman Fak Farmasi UGM Fak Farmasi UGM SMK Negeri 1 Tempel Prog DIV Fak Kehutanan UGM SMK Negeri 1 Depok SMKN 1 Wonosari Fak Farmasi UGM SMK Negeri 1 Yogyakarta Fak Farmasi UGM Fak Farmasi UGM Prog D III FE UII Survei Penelitian FE Universitas Sanata Dharma Fak Ilmu Sosial UNY Institut Sains & Teknologi AKRPIND CITS UGM AMIK WISMAYO Jurusan IESP FE UGM Program Swadaya FE UGM FE UAD FE Universitas Janabadra FE UPN Veteran Fak Ilmu Sosial UNY Jumlah Peserta 4 orang 4 orang 5 orang 4 orang 54 orang 3 orang 4 2 2 3 2 1 7 1 2 1 1 7 1 1 1 1 orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

88

pengembangan SDM dan sumber keuangan. Adapun kegiatan studi banding/kunjungan lapangan yang tercatat pernah dilaksanakan di Kosudgama dapat dilihat dalam Tabel 6. Selain menjadi tempat studi banding, Kosudgama juga merupakan tempat praktek kerja lapangan dan survei penelitian bagi siswa SMK dan mahasiswa di lingkungan Provinsi DIY. Adapun pelaksanaan praktek kerja lapangan dan survei penelitian di Kosudgama dapat dilihat dalam Tabel 7. Mengapresiasi kiprah koperasi ini, Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Penanaman Modal (Dinas P2KPM) Kabupaten Sleman memberikan penilaian klasifikasi Koperasi B (baik). Ini tertuang dalam sertifikat hasil penilaian klasifikasi koperasi Nomor 02/Kelas B/VII/ 2005. Koperasi ini juga mendapat predikat Cukup Sehat untuk tingkat kesehatan USP, menurut Sertifikat Tingkat Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam Nomor 103/Kes/VII/2005. Segenap pengurus, pengawas dan karyawan menyadari, Kosudgama masih memiliki kekurangan dan kelemahan. Lima masalah sejauh ini diidentifikasi. Pertama, masih dijumpai anggota yang tidak disiplin melaksanakan kewajibannya sebagai anggota koperasi, misalnya tidak rutin membayar simpanan wajib. Kedua, masih ada anggota yang mengangsur kredit tidak sesuai dengan jadwal. Ketiga, tidak banyak anggota yang memanfaatkan belanja di toko koperasi. Keempat, masih banyak anggota yang tidak mengikuti perkembangan Kosudgama. Kelima, iuran simpanan wajib yang dibayar tiap bulan ternyata merepotkan administrasi. Adapun penghargaan berupa penilaian dari instansi berwenang, bukan menjadi alasan untuk berpuas diri. Malahan jadi pemacu semangat bekerja dan berkarya nyata secara lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

KIPRAH BISNIS
Kegiatan bidang usaha koperasi hingga tahun 2005 terdiri atas beberapa jenis. Pertama, aktivitas simpan pinjam, yang jumlahnya meningkat tajam selama 2005. Jumlah pinjaman yang diberikan tahun 2005 sebesar Rp 36 miliar, dengan pendapatan jasa pinjaman netto sebesar Rp 10 miliar; meski masih terdapat permintaan pinjaman yang sudah disetujui, tetapi belum diambil sebesar Rp 325 juta. Perkembangan

Tabel 8. Perkembangan Piutang dan Beban Jasa Hutang
(dalam ribuan rupiah)
Jenis Piutang anggota Piutang jasa pinjaman Biaya jasa hutang SHU Kotor SP 2005 49,319,314 14,458,918 5,909,939 8,999,724 2004 38,658,526 13,336,151 5,232,425 8,103,726 2003 27,863,000 12,695,890 5,345,000 7,350,890 2002 14,846,542 7,618,479 2,311,678 5,306,801 2001 9,799,559 5,385,683 1,729,371 3,656,312

89

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 9. Realisasi Pemberian Pinjaman Uang dan Jasa Pinjaman (dalam ribuan rupiah)
Uraian Pemberian pinjaman Jasa pinjaman % Jasa Pinjaman Jumlah Anggota Jml. Peminjam (Orang) % Jumlah Peminjam Rerata Besar Pinjaman 2005 33,522,619 9,952,988 29 8,622 2,242 26 149,952 2004 25,780,532 9,183,706 36 7,764 2,418 31 10,661 2003 16,968,401 7,170,451 42 6,473 2,050 32 8,278 2002 11,569,252 3,541,490 31 5,332 1,936 36 5,976 2001 7,311,884 3,159,962 48 4,063 1,478 36 4,947

jumlah piutang pinjaman, piutang jasa pinjaman dan beban bunga per 31 Desember selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 8. Pemberian pinjaman mengandung risiko tidak tertagihnya pinjaman karena alasan-alasan tertentu, seperti anggota meninggal dunia, PHK, pensiun. Selama tahun 2005, pengurus menginventarisasi pinjaman yang bermasalah sebesar Rp 830 juta atau 1,68% dari total pinjaman. Penagihannya tetap diusahakan, meski dalam pembukuan dianggap sebagai biaya dan status keanggotaan mereka oleh pengurus dibekukan. Dalam arti hak dia di koperasi antara lain dana simpati, SHU, voucher, mengikuti RAT dan sebagainya tidak diberikan sampai dengan mereka menyelesaikan kewajiban. Simpanan berjangka merupakan produk koperasi yang amat disenangi anggota, sehingga perkembangannya cukup meningkat. Untuk simpanan berjangka diberi jasa 10% per tahun dan khusus untuk simpanan tahunan selain jasa juga diikutkan dalam pembagian SHU. Untuk pencairan simpanan berjangka di atas Rp 50 juta, anggota disarankan memberi tahu USP tujuh hari sebelumnya. Setiap bulan dalam

Tabel 10. Realisasi Pemberian Pinjaman Barang dan Jasa Pinjaman (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian Pemberian pinjaman Jasa pinjaman % Jasa Pinjaman Jumlah Anggota Jml. Peminjam (Orang) % Jumlah Peminjam 2005 3,254,813 755,679 23 8,622 390 4 8,345 2004 3,477,493 1,218,245 35 7,764 827 11 4,204 2003 3,177,401 1,285,872 40 6,473 1,249 19 2,544 2002 3,342,302 1,107,725 33 5,332 1,342 25 2,491 2001 3,286,371 1,452,959 44 4,063 1,314 32 2,501

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

90

Rerata Besar Pinjaman

Tabel 11. Data Simpanan Berjangka
Uraian
Jangka waktu 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan Jumlah Pertumbuhan Jumlah Penyimpan (Sertifikat) Rerata Simpanan Berjangka/Sertifikat 3,330,000 5,232,100 843,000 18,947,050 28,352,150 122% 927 30,585 4,331,050 3,045,600 1,214,000 14,426,050 23,075,450 116% 870 26,523 4,331,050 2,285,100 1,624,000 11,551,000 19,791,150 349% 820 24,136 6,309,720 989,500 212,500 10,223,810 10,223,810 180% 540 18,932 3,765,720 605,500 25,300 5,672,360 5,672,360 100% 342 16,585

2005

2004

2003

2002

2001

tahun 2005, rata-rata koperasi memberikan jasa simpanan berjangka Rp 193 juta. Jajaran pengurus berharap, mulai 2006 semakin banyak anggota yang mau memindahkan depositonya di bank ke simpanan berjangka Kosudgama. Sebagaimana koperasi layaknya, komposisi jenis ‘simpanan konvensional’ seperti simpanan wajib, pokok dan sukarela juga menunjukkan kinerja mengesankan. Tak terkecuali simpanan sukarela. Simpanan sukarela anggota (Simanis dan Simpanan Berjangka) pada tahun 2005 naik sebesar 1,17 kali dibandingkan dengan tahun lalu (dari Rp 36,406 miliar menjadi Rp 42,7 miliar). Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan anggota kepada Kosudgama. Namun, kenaikan ini membawa konsekuensi kenaikan biaya moneter yang juga lebih dari dua kali lipat. Lebih jelas jelas fakta ini tersaji pada Tabel 12.

Tabel 12. Simpanan Sukarela Anggota Lima Tahun Terakhir
(dalam ribuan rupiah)
Jenis SIMANIS Simpanan berjangka Jumlah Pertumbuhan 31-12-2005 28,352,150 14,348,509 42,700,659 117% 31-12-2004 13,331,285 23,075,450 36,406,735 118% 31-12-2003 10,988,060 19,791,150 30,779,210 163% 31-12-2002 8,580,290 10,223,810 18,804,100 161% 31-12-2001 5,978,365 5,672,360 11,650,725 695%

Kedua, Unit Usaha Apotek. Saham apotek Kosudgama sebagai bukti penyertaan modal sesuai dengan Anggaran Dasar, maka pemilik sertifikat menyerahkan pengelolaan apotek kepada apoteker pengelola apotek dan pengurus. Bukti kepemilikan sertifikat hanya dapat dijual kepada Kosudgama. Selama tahun 2005, apotek Kosudgama memperoleh laba sebesar 44,5% (lihat Tabel 5 ). Ketiga, Unit Jasa. Data hingga 2005 menunjukkan, unit jasa masih membawahi dua bidang yaitu tiketing pesawat dan kereta api,

91

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

pengurusan SIM-STNK, paspor, rental mobil dan paket dokumen. Sedangkan jasa yang lain, diantaranya masalah tanah dan proteksi (asuransi kredit, asuransi agunan, dana simpati dan fee asuransi). Sebagai contoh, tanah di Sukoharjo milik Kosudgama yang dahulu bermasalah, kecuali tiga kapling, kini telah diselesaikan dengan baik dan hingga akhir 2005. Di sektor asuransi, Kosudgama menawarkan asuransi kredit dan asuransi kendaraan bermotor yang dibeli di koperasi. Besarnya angsuran kredit 1,5% dari jumlah kredit dan dipotong sekali selama jangka waktu kredit. Bila peminjam meninggal dunia, kredit dianggap lunas (paling tinggi yang ditanggung Rp 100 juta). Asuransi agunan sebesar 1,3% langsung dipotongkan dari jumlah pinjaman. Kosudgama juga melayani asuransi kendaraan bermotor yang menjamin total loss only, yang bekerja sama dengan mitra perusahaan asuransi. Keempat, Unit Niaga. Untuk menaikkan omset toko dan jumlah konsumen, pengurus menyelenggarakan belanja berhadiah dengan menukarkan satu kupon belanja senilai Rp 20 ribu. Hadiah diundi saat RAT berlangsung. Anggota pemegang kupon yang keluar berhak sebagai pemenang meskipun dia tidak hadir mengikuti RAT.***
Dokumentasi

Waserda Kosudgama menyediakan berbagai barang kebutuhan anggota.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

92

DI YOGYAKARTA

KSP Setia Kawan Prambanan

KERJA KERAS MENUJU

KOPERASI SEJATI
93
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

L

okasi koperasi ini sebetulnya terletak di Kabupaten Sleman. Namun sebagian anggotanya berdomisili di perbatasan wilayah Kabupaten Bantul. Itu sebabnya sebagian anggota koperasi juga terkena musibah ketika wilayah DI Yogyakarta terjadi gempa beberapa waktu yang lalu. Syukurlah, secara keseluruhan kegiatan koperasi yang bergerak di sektor simpan pinjam ini berjalan normal. Terimbas korban gempa, tunggakan pengembalian yang biasanya kurang dari lima persen meningkat menjadi sekitar 10 persen pasca gempa tersebut. Pemerintah Kabupaten Sleman serta Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sejauh ini mengklasifikasikan koperasi simpan pinjam ini cukup baik. Juga banyak mendapat penghargaan. Diantaranya sebagai Koperasi Berprestasi tahun 2005 versi Pemprov DI Yogyakarta. Yang jelas, memang anggota masyarakat yang memanfaatkan jasa keuangan koperasi ini. Selain itu, volume usaha KSP ini juga cukup besar.

PERKEMBANGAN KELEMBAGAAN
Koperasi Simpan Pinjam “Setia Kawan” Prambanan ini didirikan pada 17 Januari 1993. Sekitar setahun kemudian atau pada 8 Mei 1994 koperasi mendapat status badan hukum No 04/BH/KWK-12/IX/199. Setelah tiga tahun beroperasi, yaitu pertengahan 1997 koperasi yang beralamat di Ledoksari, Bokoharjo, Prambanan ini badan hukumnya berubah menjadi No: 255/BH/PAD/KWK-12/VI/1997. Susunan pengurus koperasi, saat ini diketuai oleh H Kom Amir, lalu sekretaris oleh Sofyan H.M dan H Mujiyono, BA sebagai bendahara. Tabel 1. Perkembangan Anggota Sejalan dengan perkembangan usaha yang terus meningkat, sejak tahun 2003 Uraian 1996-1999 2000-2002 2003 2004 2005 sampai dengan saat ini jumlah karyawanAnggota 768 757 592 1079 874 nya mencapai 30 orang (lihat tabel 2). Calon Anggota 1.730 4.190 5.649 7.568 7.861 Bagi koperasi ini, anggota merupakan kekuatan koperasi, karena tanpa anggota Tabel 2. Perkembangan Pengurus, Pengawas dan Karyawan tidak ada koperasi. Kecenderungan jumlah anggota yang dilayani terus meningUraian 1996-1999 2000-2002 2003 2004 2005 kat. Sehingga pada 2005 jumlah anggota Pengurus 6 3 3 3 3 telah mencapai lebih dari 8.500 orang. Pengawas 3 3 Namun sebetulnya anggota tetapnya haKaryawan Tetap 14 20 30 30 30 nya 10 persen. Selebihnya atau 90 persen K. Tidak Tetap masih calon anggota. Uniknya, sebagian besar calon anggota ini telah lebih dari satu sampai dua tahun memanfaatkan koperasi simpan pinjam ini. Dilihat dari sisi perkembangan keanggotaan, koperasi ini cukup menarik. Mengapa? Karena selama empat tahun terakhir atau 2002-2005 (lihat tabel 1), posisi keluar masuk anggota cukup tajam. Dilihat dari kebebasan posisi ini, masuk dan keluar untuk menjadi anggota koperasi kondisi mungkin hal yang wajar. Namun demikian mengingat koperasi ini berkembang cukup baik dan kegiatan Koperasi di Tengah 94 Lingkungan yang Berubah usahanya juga cukup prospektif, persoalan cukup sulitnya menjadi

Tabel 3. Perkembangan Usaha
Uraian Jumlah Usaha (unit) Modal Sendiri (jt) Modal Luar (jt) Volume Usaha (Jt) SHU (Jt) 1996-1999 1 757 3.850 23 2000-2002 1 2.128 120 10.049 62 2003 1 3.568 157 14.427 72 2004 1 4.898 438 21.412 121 2005 1 4.482 375 25.251 127

anggota seharusnya menjadi pertanyaaan besar bagi para pembina dan pengamat koperasi. Mengamati secara cermat, interaksi antara peminjam atau nasabah (anggota atau calon anggota) dengan pengurus dan pengelola, sejauh ini terbatas urusan bagaimana mendapat pinjaman dan pengembaliannya. Hampir tidak pernah ada penyuluhan atau pertemuan atau diskusi antara anggota dengan pengurus dan pengelola mengenai kelembagaan koperasi.

KINERJA USAHA
Kegiatan usaha koperasi simpan pinjam ini, dilihat dari sisi bisnis keuangan sebagai lembaga pembiayaan skala usaha mikro dan kecil, dapat dikatakan sangat baik. Ini dapat dilihat dari perputaran modal koperasi yang berkisar rata-rata lima kali dalam satu tahun. Sebagai koperasi yang genuine, koperasi ini jauh panggang dari api. Tetapi sebagai lembaga bisnis keuangan mikro dan kecil dan melepaskan ketergantungan masyarakat pada rentenir yang sering memberatkan peminjam, koperasi ini dapat dikatakan cukup berhasil. Anggota yang dilayani oleh koperasi ini berasal dari berbagai kalangan. Diantaranya, pedagang kecil dan bakulan yang paling banyak jumlahnya. Menyusul dari kalangan petani, guru, pegawai negeri, dan masyarakat lain yang memerlukan. Koperasi simpan pinjam ini memberikan pinjaman minimum Rp 100 ribu dan terbesar Rp 300 juta. Jasa pinjaman atau bunga yang ditetapkan adalah 1,5 persen untuk anggota dan 2,0 persen per bulan untuk calon anggota atau masyarakat lainnya. Pembayaran angsuran sangat bervariasi. Mulai dari harian, mingguan, pasaran, dan bulanan. Yang jelas, sangat bergantung pada kesanggupan dan jenis usaha para peminjam. Seperti sudah disinggung di depan, cukup sulit bagi calon anggota atau masyarakat untuk menjadi anggota. Mengapa? Karena mereka harus menunjukkan track record yang baik sebagai nasabah selama dua tahun. Bagi nasabah kecil, walaupun sudah menunjukkan kinerja yang baik tampaknya masih ‘diganjal’ dengan berbagai persyaratan lainnya. Ironisnya, hampir tidak adanya informasi yang valid mengenai bagaimana menjadi anggota koperasi termasuk hak dan kewajibannya. Menyangkut kegiatan bisnis koperasi, ternyata peran pengurus jauh lebih besar dibandingkan dengan pengelola (manajer dan karyawan). Sehingga penghargaan dalam bentuk gaji/upah dan tunjangan pengurus juga lebih besar dari manajer. Manajer yang ada saat ini adalah mantan

95

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 4. Aktiva dan Passiva Tahun 2004 dan 2005 (ribuan)
Uraian Aktiva 1. Aktiva lancar 2. Aktiva Tetap 3. Aktiva lain-lain Passiva 1. Kewajiban Lancar 2. Kewajiban Jangka Panjang 3. Kewajiban Bersih Total Aktiva-Passiva 2004 2005

9.999,211 165,613 37,500

10.927,553 165,288 50,000

4.904,506 4.642,245 655,573 10.202,324

4.664,393 5.720,502 757,947 11.142,842

Tabel 5. Rugi-Laba Tahun 2004 dan 2005 (ribuan)
Uraian Pendapatan Pengeluaran 1. Beban Adm Umum 2. Beban Operasional 3. Beban Organisasi Sisa Hasil Usaha Jumlah Total 563,168 1.294,634 462,052 120,669 2.440,524 653,207 1.430,710 369,172 126,686 2.579,775 2004 2.440,524 2005 2.579,775

camat. Dan lebih banyak berperan sebagai figur saja serta tidak profesional. Sejalan berkembangnya usaha simpan pinjam, kondisi keuangan koperasi ini sebetulnya cukup baik. Salah satu indikatornya, dapat ditunjukkan dari meningkatnya total aktivapasivanya. Termasuk posisi aktiva lancar meningkat dan kewajiban bersihnya juga meningkat (lihat tabel 4). Apabila mengamati peningkatan volume usaha dan sisa hasil usaha koperasi selama dua tahun terakhir ini, dapat dikatakan berubahnya pendapatan diikuti dengan perubahan yang sama pada biaya, yaitu sebesar 5,7 persen. Ini artinya bahwa elastisitasnya sekitar satu (uniter), sehingga peningkatan volume bisnis saat ini cukup menguntungkan (lihat tabel 5).

KEKUATAN DAN KELEMAHAN
Kekuatan koperasi simpan pinjam ini, sebenarnya adalah sebagai berikut. Pertama, anggota yang dilayani sangat banyak sehingga volume usaha menjadi berpeluang untuk meningkat. Kedua, elastisitas pendapatan bersifat uniter. Ini cukup baik dan menguntungkan dari sisi bisnis. Ketiga, kebersamaan dan kekompakan serta latar belakang aktivitas pengurus yang guru dan pengurus masjid serta track record mereka cukup dipercaya oleh anggota. Keempat, kemampuan pengurus membuat jaringan dengan pemilik uang dan sumber modal serta pembina cukup baik. Sebaliknya, koperasi ini juga memiliki sejumlah kelemahan juga. Yang pasti beberapa kelemahan yang ini ada harus diperbaiki. Terutama bila koperasi ingin terus bertahan dan berkembang menjadi koperasi yang sejati. Berikut beberapa kelemahan koperasi yang harus dibenahi. Pertama, mempercepat calon anggota menjadi anggota dengan persyaratan yang wajar dan tidak memberatkan. Kedua, mengadakan penyuluhan dan memberikan informasi yang penting mengenai kelembagan koperasi, khususnya mengenai peran penting anggota dalam pengembangan koperasi. Dan ketiga, mempercayakan pengelolaan koperasi kepada manajer profesional. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

96

SULAWESI UTARA

Kopwan Putri Lestari Talawaan

KIPRAH WANITA
DI BUMI TINUTUAN
97
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Zaenal Wafa

“Halo...Haloo...Selamat sore ibu-ibu di jaga lingkungan satu sampai lima Desa Talawaan. Jangan lupa ibu-ibu, hari ini adalah Sabtu. Atau saatnya ibu-ibu menyetor angsuran. Datanglah berbondong-bondong ke kantor kita. Terimakasih atas perhatiannya”.

I

Kegiatan rutin menyetor angsuran pinjaman di Kopwan Putri Lestari,Talawaan.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

98

tulah ajakan Ketua Koperasi Wanita ‘Putri Lestari’ Leentje Sumampouw, Spd. Suaranya mendayu ditingkah angin sore Bumi Tinutuan atau Manado. Ia memegang mike, lengkap dengan kabel terhubung ke alat pengeras suara yang diikatkan di sela dahan pohon rambutan depan kantor koperasi. Perilaku ketua koperasi yang juga guru sebuah SD, terlihat spontan saja. Sebab di ‘kantor’ koperasi yang sebetulnya menyewa rumah dia, sudah ada sekitar sepuluh wanita yang melakukan kegiatan menyetor angsuran pinjaman masing-masing. Mungkin merasa memiliki tanggung jawab besar, ia sesekali harus mengingatkan anggota koperasi yang didirikan sejak 1 April 1999. Bukan hanya sang ketua yang hadir. Tak kalah sibuk adalah bendahara koperasi yaitu Anna Mandagi, Spd yang terus mencatat uang angsuran para anggota, seraya sesekali memberikan pendapat. Begitu juga Estefien Katuuk yang sekretaris koperasi selalu siap memberikan advice (pendapat), mengingatkan atau menjawab pertanyaan para anggota yang sore itu bergantian merubungnya. Menurut penjelasan ketiga pengurus koperasi tersebut, sebelum berdiri pada 1999 sebenarnya sudah ada ancangancang kegiatan. Maksudnya, dimulai dari jaga lingkungan 1 (setingkat RT di Jakarta) sekitar 20 orang perempuan mendorong terus perlunya mereka berkoperasi. Ketika sudah sekitar 35 persen warga perempuan jaga lingkungan 1 bergabung, saat itu akhir September 1998 tak terduga sebagian perempuan di lingkungan jaga dua hingga lima juga banyak yang tertarik. Komposisi profesi anggota koperasi yang hingga Oktober 2006 berjumlah 151 orang, sangat variatif. Dari buruh kebun, menjahit, pemilik warung kecil serta para tibo-tibo alias pedagang kecil yang beroperasi di pasar tradisional setempat. Namun ada juga pengecualian. Sebab di tengah suasana para anggota koperasi menyetor angsuran, terlihat sebuah mobil jenis MPV merek Chevrolet warna metalic nomor polisi DB 2990 AJ yang dikendarai seorang ibu, berhenti di depan kantor koperasi. Ternyata si pemilik mobil langsung masuk ke kantor koperasi dan menunaikan kewajiban sebagai anggota koperasi. Yang pasti, keanggotaan penuh koperasi ini sebenarnya berjumlah 131. Selebihnya atau sekitar 20 orang merupakan calon anggota koperasi yang terutama mempunyai kewajiban menyimpan dana. Setelah melalui persyaratan tertentu, ia baru menjadi anggota penuh dan boleh meminjam. Untuk memudahkan koordinasi dan mengefektifkan penyadaran para anggota, koperasi merencanakan pembagian anggota menjadi kelompokkelompok. Hal ini dilakukan menyusul para pengurus koperasi mengikuti Diklat Penyelenggaraan KSP/USP Pola Tanggung Renteng Pemberdayaan Wanita Usaha Mandiri, di Surabaya pada awal September 2006.
Zaenal Wafa

Antusiasme tinggi para anggota koperasi ini, jelas sangat terlihat. Mengapa? Karena sebagian dari mereka, selama ini hanya bisa mengadu ke rentenir manakala membutuhkan dana modal buat usaha kecil-kecilan mereka. Tapi begitu koperasi lahir, tak ayal dari sekitar delapan orang rentenir yang dulu suka beraksi saat ini tinggal lima orang rentenir yang masih berani berkeliaran. Selain itu, sekuat-kuatnya dana rentenir mereka tetap juga beroperasi secara perorangan. Maksudnya, dulu orang memerlukan dana cukup hanya sekitar Rp 500 ribu. Namun akhir-akhir ini, kisaran dana yang dibutuhkan para tibo-tibo atau nou-nou di pasar setempat sudah mencapai Rp 1 hingga Rp 3 jutaan per orang. Artinya, kemampuan memenuhi kebutuhan dana yang bersifat sistematis akhirnya memang hanya bisa dilakukan oleh lembaga keuangan profesional.

KEPERCAYAAN ANGGOTA
Secara terus terang pengurus koperasi mengakui, selama tiga tahun pertama pihaknya belum melakukan pembukuan profesional. Dalam arti secara ketat mengikuti tuntutan manajemen usaha atau akuntasi secara ketat. Namun demikian kerapian dan ketelitian pengurus koperasi mencatat halhal penting menyangkut keanggotaan, aktivitas sampai keuangan dilakukan sangat akurat. Ambil contoh pengakuan seorang responden anggota koperasi bernama Julita L Kaunang (27). Ia menyatakan koperasinya memudahkan dia di saat membutuhkan modal untuk setiap usaha atau kebutuhan rumah tangganya. Secara tegas ia mengatakan dengan adanya koperasi, dirinya tidak lagi mau meminjam uang kepada rentenir. Responden lain yang juga anggota Koperasi Wanita Putri Lestari bernama Laura Tawaliyan (23) berpendapat, dia mempercayai koperasi karena lembaga usaha milik anggota ini memudahkan dia untuk menabung. Selain itu ia menambahkan, usaha kecil-kecilan berupa warung sembako di rumahnya yang dibantu koperasi juga menjadi semakin maju. Yang juga menggembirakannya, ia masih mendapat pembagian SHU tiap tahun di acara RAT. Lain lagi kesaksian yang disampaikan oleh responden anggota koperasi Sofintje Makalew (36). Ibu muda ini menyatakan, percaya dengan kegiatan simpan pinjam koperasinya karena ia bisa mendapatkan modal untuk usahanya dengan bunga yang kecil. Bukan hanya itu, karena berkat pinjaman yang diberikan oleh koperasi, ia bisa membiayai anak-anaknya melanjutkan sekolah.

RESEP KEBERHASILAN
Para anggota koperasi yang ditemui secara acak, ternyata tidak hanya mempercayai atau terbantu dengan keberadaan koperasi. Namun mereka juga memberikan berbagai masukan bersifat kesaksian, kritikan maupun saran konstruktif. Seorang responden anggota koperasi menyatakan, sejauh ini antara jajaran pengurus dan para anggota sudah memiliki kerja sama yang baik. Jajaran pengurus sepengamatan dia, mau menerima kritikan dan saran dari anggota. Faktor positif lainnya, ada pula sikap keterbukaan di antara para pimpinan koperasi dan anggota. Ia juga menambahkan, para pengurus atau pun pengelola koperasi sangat ramah bila melayani kebutuhan anggota. Anggota koperasi yang merupakan responden penelitian, tinggal di Jl Bawah, Jaga lingkungan 1, Desa Talawaan berpendapat syarat utama

99

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Pengurus selalu memperhatikan tertib administrasi.

menjadi pengelola koperasi harus memiliki kejujuran. Bersamaan dengan ini, para pengurus koperasi juga harus siap menerima berbagai kritikan dari anggota koperasi. Yang jelas para pengurus harus seringkali mengadakan rapat bulanan maupun tahunan demi kemajuan koperasi. Sebaliknya para anggota juga dihimbau memberikan saran yang membangun demi memajukan koperasi. Terkait dengan kewajiban anggota ini, ia mengingatkan agar para anggota koperasi harus menjaga agar beberapa kegiatan bertransaksi baik tabungan, pinjaman dan angsuran tetap lancar. Sedangkan anggota koperasi yang juga responden menggarisbawahi keharusan pengelola koperasi dilakukan oleh orangorang yang jujur. Tegasnya, tidak boleh melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Penting juga diperhatikan, antara anggota koperasi dan Pengelola harus memiliki hubungan yang baik. Akhirnya pengelolaan koperasi tidak bisa tidak juga harus melakukan praktik administrasi atau manajemen keuangan yang baik. Termasuk memberikan serta meningkatkan berbagai jenis pelayanan yang terbaik kepada seluruh anggota.

LONJAKAN ASET
Seperti sudah disinggung, koperasi ini tiga tahun pertama sejak berdiri belum mempunyai pembukuan keuangan yang profesional. Namun demikian dari sejumlah dokumen yang tersimpan rapi oleh pengelola, sejumlah kinerja keuangan sudah diverifikasi melalui RAT yang selalu digelar pada bulan Maret tahun bersangkutan. Tiga tahun terakhir atau 2003-2005 tingkat pendapatan koperasi terlihat meningkat pesat. Buktinya, pada 2003 tercatat pendapatan koperasi Rp 12,5 juta. Lalu pada tahun berikutnya atau 2004 pendapatan koperasi senilai Rp 42,3 juta. Sedangkan pada posisi akhir 2005, pendapatan koperasi mencapai Rp 60,1 juta. Terkait dengan tingkat pendapatan tersebut, tingkat pengeluaran koperasi ternyata tetap dalam pengendalian koperasi. Maksudnya, meski nominalnya naik dari tahun ke tahun tapi masih jauh di bawah pendapatan koperasi. Tahun 2003 pengeluaran koperasi tercatat Rp 11 juta, pada 2004 pengeluaran sekitar Rp 30 juta serta sampai akhir 2005 pengeluaran koperasi mencapai Rp 48 juta. Karena itu tidak mengherankan, jika tingkat likuiditas koperasi hingga posisi akhir 2005 juga baik yaitu 134,44 persen. Tahun-tahun sebelumnya, likuiditas koperasi bahkan mencapai di atas 200 persen dan pernah di atas 300 persen pada 2003. Mengapa demikian? Salah satunya, boleh jadi karena koperasi juga dapat menjaga keseimbangan komposisi permodalan yang dimilikinya. Modal dari luar koperasi hingga akhir 2005 tercatat senilai Rp 50 juta. Bandingkan dengan modal sendiri koperasi pada posisi waktu yang sama mencapai Rp 54,4 juta. Pada gilirannya juga wajar, kalau aset Koperasi Wanita Putri Lestari ternyata menujukkan perkembangan mengesankan. Di akhir tahun 2003, aset koperasi senilai Rp 35,7 juta. Kemudian pada 2004 pertumbuhan kekayaan nominal koperasi menjadi Rp 71 juta. Sementara hingga akhir 2005 lembaga usaha yang memiliki motto:” Mengembangkan Kehidupan Berkoperasi” ini membukukan angka aset senilai Rp 153,7 juta.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

100

Zaenal Wafa

JAWA BARAT

KSP Syariah BMT Barrah Bandung

MENERAPKAN PENGELOLAAN

PROFESIONAL
101
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

ekitar satu dekade terakhir, di Tanah Air berkembang lembaga jasa keuangan berdasar Syariah Islam. Hal ini tidak lepas dari ijtihad para intelektual Islam, yang menggali terus upaya pengembangan perekonomian sebagaimana dituntunkan Nabi Muhammad SAW. Salah satu ujud pengembangan lembaga jasa keuangan syariah, ditunjukkan oleh sosok Koperasi Simpan Pinjam Syariah BMT Barrah (KSP Syariah Barrah) yang beralamat di Kiara Sari Asri No 10 Kota Bandung. Koperasi ini memiliki visi: Meningkatkan pemberdayaan ekonomi tingkat bawah (grass root). Harapannya, taraf hidup mereka menjadi lebih baik. Sehingga tercapai kemandirian di bidang usaha mereka. Dari visi yang sangat jelas ini, koperasi menjabarkannya menjadi enam misi. Pertama, mengembangkan potensi umat agar mampu berperan memberikan manfaat membangun perekenomian ummat. Kedua, menjadi salah satu alternatif mengatasi keraguan atas bunga bank konvensional. Ketiga, membantu program pengentasan kemiskinan khususnya di kalangan umat Islam. Keempat, mensejahterakan kehidupan masyarakat melalui upaya peningkatan ekonomi umat. Kelima, menciptakan sumber pembiayaan dan penyediaan modal bagi usaha kecil/bawah. Keenam, mengembangkan sikap hidup hemat melalui kegiatan menabung. Adanya kesamaan memahami visi dan misi ini, merupakan salah satu kekuatan koperasi menjadi sosok seperti sekarang : KSP yang secara operasional dilandasi nafas-nafas ajaran Islam. Di saat yang sama, Koperasi Syariah Barrah juga merupakan katup pengaman masalah sosial. Mengapa? Karena kehadirannya menjadi solusi atas sulitnya masyarakat kecil mengakses lembaga perbankan. Di sisi lain, berdalih mengikuti globalisasi, pemerintah memberlakukan Undang–undang Perbankan yang dalam kenyataannya semakin menjauhkan masyarakat kalangan bawah mengakses kebutuhan permodalan ke lembaga bank. Buktinya, masyarakat harus memenuhi persyaratan sangat rumit dan prosedur berbelit.

S

KONDISI MUTAKHIR
Dana yang Disalurkan, 2003-2004
miliar 8 6
○ ○ ○ ○ ○

4
○ ○

2

2003

2004

2005

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

102

Sebagai Koperasi Simpan Pinjam, salah satu indikator kinerjanya adalah dana yang telah disalurkan kepada anggota ataupun nasabah (biasa disebut sebagai anggota dan calon anggota). Dengan ketentuan pinjaman maksimum yang dapat diberikan sebesar Rp10 juta per peminjam, selama 2005 telah disalurkan dana pinjaman sejumlah Rp 8, 313 miliar. Jumlah ini meningkat pesat, dibanding tahun 2004 yang sebesar Rp 5, 643 miliar. Sedangkan pada 2003 jumlah pembiayaan masih senilai Rp 3, 433 miliar. Peningkatan jumlah yang sangat signifikan ini merupakan bukti bahwa KSP Syariah Barrah telah dan terus berkembang. Demikian pula perkembangan jumlah anggota ataupun masyarakat yang dilayani (yang dikategorikan sebagai non anggota) selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2003, jumlah anggota 1.000 orang dan non anggota 3.720 orang. Tahun 2004 terjadi peningkatan, anggota menjadi 1.250 orang dan non anggota turun menjadi 3.500 orang. Pada 2005 lalu, jumlah anggota meningkat lagi menjadi 1.575 orang dan non anggota yang dilayani menjadi 4.000 orang. Perkembangan kenaikan jumlah anggota ataupun non anggota ini, dapat dikatakan kemajuan yang cukup pesat. Wajar bila pengakuan atas keberhasilan koperasi ini mulai datang.

2003

2004
Anggota

2005
Non Anggota

SEKILAS KELAHIRAN
Sukses yang diraih KSP Syariah Barrah sampai saat ini merupakan hasil perjalanan yang cukup panjang. Pada tahun 1993, tumbuh semangat kuat dari beberapa orang untuk memberdayakan masyarakat ekonomi kecil dan menengah dari unsur riba. Persisnya, Juli 1993 didirikan Kelompok Simpan Pinjam Barrah dengan dana awal yang terkumpul sebesar Rp 2,5 juta dengan jumlah anggota yang terbatas. Pengelolaan awal belum lancar, karena ditangani oleh orang-orang kurang profesional dalam pengelolaan lembaga keuangan mikro ini. Mereka ini aktivis masjid dari berbagai disiplin ilmu. Pengetahuan yang kurang tentang perkoperasian dan manajemen serta belum memiliki kantor tetap, memaksa cikal bakal koperasi harus berpindah-pindah. Terdorong keinginan membentuk lembaga keuangan berbasis syariah, maka pada tahun 1996 Kelompok Simpan Pinjam mengubah nama menjadi Baitul Maal wat Tamwil Barrah (BMT Barrah) di bawah binaan PINBUK Jawa Barat. Selanjutnya mengikuti anjuran pemerintah, pada 1998 BMT Barrah didaftarkan ke Kantor Departemen Koperasi Kabupaten Bandung. Dan pada 30 Oktober 1998 mendapat SK Badan Hukum Koperasi dengan nomor 249/BH/KDK-10.21/X/98. Pada tahun 2003, bentuk Koperasi BMT Barrah berubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam BMT Barrah berdasar SK Perubahan Anggaran Dasar pada tanggal 25 April 2003.

MOTIVASI MORAL
Sejak masih berbentuk Kelompok Simpan Pinjam, secara kelembagaan ia berupaya menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam memberdayakan pengusaha mikro. Juga membina kepedulian kelompok orang mampu (aghniya) kepada sekelompok orang kurang beruntung (dhuafa/ mustadh’afin) secara terpola dan berkesinambungan. Kegiatan awal lembaga ini, sempat berbentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Status kelembagaan lalu berubah menjadi Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). Yakni setelah Bank Indonesia melakukan kerja sama dengan PINBUK. Dalam konteks ini, PINBUK diberi wewenang membina KSM menjadi lembaga keuangan mikro baik konvensional ataupun syariah. Dari segi kelembagaan, LKMS inilah yang akhirnya dikenal dengan BMT (Baitul Maal wa Tamwil). Dalam perjalanannya, praktik kegiatan

103

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

1.000

2.000

3.000

Antara lain pada 2005 ditetapkan sebagai Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional. Perhargaan ini diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Koperasi 12 Juli 2005 di Bandung. Penghargaan lain yang pernah diterima, sebagai KSP Syariah Pertama di Kota Bandung (2004 ), KSP Syariah terbaik di kota Bandung (2003). Pada tahun 2004 penghargaan sebagai KSP Syariah Terbaik se Provinsi Jawa Barat. Saat ini koperasi memiliki gedung sendiri untuk melakukan kegiatan dan penggunaannnya diresmikan oleh Walikota Bandung saat itu H Dada Rosada, SH, M.Si.

Perkembangan Jumlah Anggota dan non anggota, 2003-2004
4.000

Perkembangan Jumlah Simpanan Berjangka dan Simpanan Barrah, 2003-2004
Juta

BMT ini terdapat hal-hal yang menguatkan lembaga BMT sebagai gerakan koperasi. Utamanya semangat kekeluargaan untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Yang lebih mendasar, BMT Barrah didirikan dengan motivasi moral keagamaan dan mendorong komitmen moral para pendirinya. Adanya semangat kemandirian serta kerja sama dengan berbagai lembaga lain, jelas merupakan unsur-unsur yang memperkuat sebagai gerakan koperasi. Berdasarkan hal di atas dan selaras dengan perkembangan, BMT Barrah menetapkan diri menggunakan aspek legal keberadaannya sebagai badan hukum lembaga koperasi. Lebih spesifik sebagai Badan Hukum Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Terkait aspek kelembagaan, Anggaran Dasar KSP Syariah Barrah menetapkan status pengkategorian anggota sebagai berikut : Pertama, Anggota Pendiri. Yang masuk kategori ini adalah mereka yang ikut serta mendirikan KSP Syariah BMT Barrah dan terdiri dari 25 orang. Kepada mereka diberikan hak dipilih dan memilih sebagai Pengurus dan mendapatkan sisa hasil usaha sesuai proporsi masing-masing. Kedua, Anggota Biasa, yaitu orang-orang yang memanfaatkan jasa KSP Syariah BMT Barrah dan sudah melunasi simpanan pokok dan simpanan wajib. Kepada anggota biasa ini diwajibkan menjadi anggota aktif sehingga mempunyai hak mengikuti RAT dan mendapatkan SHU sesuai dengan proporsinya. Ketiga, Anggota Luar Biasa. Yang masuk katagori ini adalah orang yang memanfaatkan jasa KSP Barrah, telah melunasi simpanan pokok, dan bersedia membayar simpanan wajib. Anggota ini harus menyatakan kesanggupan persyaratan tidak dapat mengikuti RAT tetapi dapat memperoleh SHU sesuai proporsinya. Keempat, Calon Anggota. Mereka yang masuk katagori ini yaitu masyarakat yang memanfaatkan jasa KSP Syariah BMT Barrah namun belum melunasi Simpanan Pokok ataupun Simpanan Wajib. Mereka tidak berhak mengikuti RAT ataupun memperoleh SHU. Calon Anggota diberi kesempatan 3 (tiga) bulan melunasi simpanan pokok ataupun simpanan wajib. Apabila tidak dapat memenuhi syarat tersebut, maka ia kehilangan hak menjadi anggota dan hanya berperan sebagai nasabah.

2003
Simpanan Sukarela

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

104

400

800

1200

Dari sisi aspek usaha, salah satu kelebihan KSP Syariah Barrah tak lain adanya kepercayaan pihak lain menyimpan dana secara sukarela. Berikut perkembangan dana masyarakat yang dipercayakan ke KSP Barrah. Pada kapasitas sebagai Anggota ataupun Calon Anggota misalnya, mereka melakukan simpanan sukarela. 2005 2004 Pada tahun 2003, besarnya simpanan sukarela berjangka Rp 675 juta dan Simpanan Barrah simpanan Barrah sekitar Rp 964 juta. Lalu pada tahun 2004, simpanan berjangka meningkat sedikit menjadi Rp 683,3 juta sedangkan simpanan Barrah meningkat menjadi Rp 1,239 miliar. Kemudian tahun 2005 terjadi kenaikan

1600

MEMBANGUN KEPERCAYAAN

signifikan, baik untuk simpanan berjangka ataupun simpanan Barrah yakni masing-masing Rp 1,039 miliar dan Rp 1,664 miliar. Bagaimana dari sisi aset? Juga terdapat kenaikan yang berarti. Pada tahun 2003 nilai aset tercatat Rp 2,221 miliar. Selanjutnya nilai aset meningkat pada tahun-tahun berikutnya, menjadi Rp 3,139 miliar di tahun 2004 serta senilai Rp 3,892 miliar pada tahun 2005. Kepercayaan yang besar kepada koperasi ini, wajar saja mampu menarik pihak lain bekerjasama. Beberapa pihak yang telah bekerjasama sampai saat ini, yakni Bank Jabar Syariah, PNM BMT, PUKK, PNM, dan dukungan perkuatan dari Kantor Meneg Koperasi. Total dana kerjasama dan pinjaman tersebut sekitar Rp 1,170 miliar. Dana yang dipercayakan dari lembaga ataupun dari masyarakat, telah dimanfaatkan untuk kegiatan usaha. Utamanya pembiayaan untuk pengusaha mikro dengan maksimum pembiayaan Rp 10 juta dan prioritasnya untuk pembiayan modal kerja (mudharabah). Secara garis besar, produk jasa KSP Syariah Barrah dalam fungsi tamwil-nya adalah menghimpuan dana dari pihak ketiga dan menyalurkan dana untuk pembiayaan. Sementara itu, jenis simpanan yang ada di koperasi syariah ini terdiri dari lima macam simpanan. Pertama, Simpanan Tabungan Barrah yang merupakan simpanan sukarela yang dapat diambil kapan saja dengan prinsip wadi’ah. Kedua, Simpanan Berjangka di mana hanya dapat diambil apabila telah jatuh tempo dengan prinsip mudharabah. Ketiga, Simpanan Qurban. Simpanan ini digunakan untuk membeli hewan qurban dan dapat diambil pada saat akan berqurban, dan menggunakan prinsip wadi’ah. Keempat, Simpanan Pendidikan, yakni simpanan khusus untuk biaya pendidikan dan hanya dapat diambil untuk keperluan sekolah satu tahun sekali dengan prinsip wadi’ah. Kelima, Simpanan Masa Tua yang digunakan sebagai dana masa tua. Dapat diambil pada saat usia seperti yang telah disepakati bersama dengan prinsip wadi’ah. Sedangkan untuk pembiayaan, KSP Syariah BMT Barrah menyediakan lima pilihan. Pertama, Bai Bithaman Ajil, yakni menyewakan barang kebutuhan dengan cara pembayaran angsuran atau tangguh. Setelah proses pembayaran selesai, barang menjadi milik nasabah. Kedua, Murabahah. Jasa pembiayaan ini dengan menyediakan barang kebutuhan cara pembayaran tangguh atau jatuh tempo (jual beli). Ketiga, Musyarakah yaitu bantuan tambahan modal untuk usaha dan pengembalian dengan cara angsuran atau tangguh. Konsep bagi hasil berdasarkan komposisi modal dan kesepakatan bersama. Keempat, Mudharabah. Dalam cara ini diberikan bantuan modal usaha sepenuhnya untuk berusaha dan konsep bagi hasil berdasarkan kesepakatan bersama. Kelima, Qordul Hasan. Dalam cara ini KSP memberikan pembiayaan khusus yang bersifat sosial kepada kaum dhuafa untuk usaha. Dari kelima model pembiayaan tersebut, yang terbesar adalah menggunakan cara Mudharabah.

Perkembangan Jumlah Asset, 2003-2004
3,892 M 2,221 M

3,892 M 2003 2004 2005

TENAGA PROFESIONAL
Menengok perjalanan sejak 1993 sebagai Kelompok Simpan Pinjam dan berstatus Kelompok Swadaya Masyarakat, memberikan indikasi

105

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

koperasi ini layak menyandang salah satu koperasi yang sukses. Apa saja kiat-kiatnya? Pertama, visi dan misi yang jelas menjadi pegangan semua komponen koperasi (Pengurus, Pengawas, dan Pengelola). Kedua faktor filosofi ini, terinternalisasi secara efektif pada manajemen dan seluruh jajaran pengelola. Bahkan menjadi modal yang tidak kecil artinya, karena akan menjadi pendorong yang jelas ke mana dan apa yang harus dilakukan. Kedua: Adanya sejumlah tenaga profesional di jajaran Pengurus dan Pengelola. Peran ketua koperasi sekaligus sebagai direktur yang memiliki profesionalitaas yang memadai, sangat menentukan. Ketua KSP Syariah BMT Barrah saat itu Muhamad Mustofa SE, memberi warna dalam perjalanan organisasi koperasi ini. Ditambah dengan dukungan tenaga pelaksana yang loyal dan menghayati visi dan misi organisasi, secara keseluruhan menyumbang menjadi faktor sukses. Ketiga: kemampuan membangun kepercayaan publik. Dari banyaknya lembaga baik pemerintah maupun masyarakat yang mempercayakan dana mereka untuk dikelola oleh KSP Syariah BMT Barrah, membuktikan lembaga ini memang mampu membangun kepercayaan (trust). Kepercayaan pihak ketiga ini, akan semakin menentukan sukses ke depan. Termasuk menciptakan rasa tenteram, bahwa kegiatan yang dilakukan dipastikan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Keempat : Kebijakan jemput bola secara intensif. Dalam rangka memberikan pelayanan kepada para anggota ataupun nasabah, pengelola koperasi mengaplikasikan kegiatan jemput bola secara aktif dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik (excellent service). Satuan petugas lapangan secara aktif mendekat kepada para nasabah/calon anggota, baik dalam proses memperoleh pinjaman ataupun mengembalikan pinjaman. Bentuk pelayanan ini sangat efektif, karena para nasabah tidak kehilangan waktu dan tenaga untuk ke kantor koperasi. Kelima : segmen pengguna jasa pada sektor pergangan dan jasa. Dengan tetap mengacu pada misi dan visi, sasaran atau segmen yang didayagunakan adalah usaha kecil dan mikro yang bergerak di perdagangan, terutama di pasar-pasar tradisionil di Kabupaten Bandung. Selain terdapat banyak sekali pelaku ekonomi yang membutuhkan uluran bantuan permodalan dalam skala kecil. Selain itu, putaran uang di pasar sangat cepat dan dalam volume yang cukup besar. Keenam : kegiatan penunjang yang bersifat sosial. Selain menjalankan fungsi pembiayan, KSP Syariah Barrah melakukan kegiatan menghimpun zakat, infaq, dan shadaqah dari para aghniya. Dana terkumpul dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Antara lain santunan bea siswa, santunan para korban bencana alam/musibah, bantuan sarana ibadah, dan bantuan untuk berdakwah. Anggota ataupun calon anggota yang memperoleh bantuan pembiayaan apabila mengalami musibah (dapat karena bencana atau ada penggusuran oleh pemerintah daerah) akan dibantu dan diringankan dengan dana tawa’un atau dana ZIS (Zakat, Infaq dan Shadaqah) yang dilakukan oleh BMT Barrah.***
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

106

JAWA BARAT

Koperasi Wanita Mekar Saluyu Subang

MEMBANGUN
MARTABAT WANITA
107
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Agus Sunyoto

Pengurus, pengawas dan anggota siap memajukan usaha koperasi .

Agus Sunyoto

S

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

108

ejumlah daerah di Tanah Air tercinta ini, memiliki banyak pejuang perempuan yang harus dibanggakan. Di Aceh orang mengenal kegigihan semangat Tjut Nya’ Dhien. Sedangkan di Jawa Tengah dikenal RA Kartini sang pejuang emansipasi wanita. Lalu di Jawa Barat orang mengenal pula Dewi Sartika yang juga memperjuangkan martabat kaum perempuan. Puluhan tahun kemudian atau sekitar 1986, sekelompok perempuan di Kampung Cihuni, Desa Jambelaer, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat juga tak mau ketinggalan menjaga kehidupan mereka di lingkungan sosialnya. Bentuknya, menyelenggarakan pengajian ibuibu di kampung tersebut. Pelopornya bernama Hj Een Kurniati. Anggotanya sebanyak 20 orang dan masing-masing menyetor iuran seribu rupiah. Pada 1988 kelompok ini diberi nama ‘Perini’ atau singkatan dari Persatuan Ibu-Ibu Cihuni. Muncul kesadaran kelompok harus meningkatkan pengalaman dan keterampilan di bidang organisasi, usaha, manajemen dan administrasi keuangan. Sehingga anggota Perini sepakat menjalin kerja sama dengan KUD Wahana Mukti, Kecamatan Kalijati. Setelah menjadi ‘mitra binaan’ KUD Wahana Mukti, pada tahun 1989 kelompok Perini mengubah nama dirinya menjadi Kelompok Wanita Mekar Saluyu. Tanggapan dari warga masyarakat kaum perempuan sangat antusias. Buktinya, kelompok baru ini sampai beranggotakan 400 orang. Mereka juga bersepakat menentukan setoran simpanan pokok tiap anggota Rp 3.000 dan simpanan wajib Rp 6.000, per tahun. Singkat cerita, kiprah kegiatan, kekompakan dan keseriusan kelompok ini dalam mengorganiasasi diri sangat terasa bagi seluruh anggota. Tak heran kalau kemudian sepak terjangnya ini menarik perhatian Organisasi Buruh Dunia (ILO). Bentuknya, pada tahun 1992 – 1993 badan internasional di bawah PBB ini melakukan pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan kepada para pengelola Kelompok Wanita Mekar Saluyu. Yang jelas di tahun-tahun berikutnya, perkembangan kelompok ini juga relatif pesat untuk organisasi setingkat desa. Konsekuensi berikutnya,

terhitung sejak 3 September 1998, organisasi kecil perempuan ini sepakat untuk mendirikan koperasi. Seiring dengan itu, mereka juga mendapatkan status badan hukum No 10/BH/KDK/10.11/1998 dengan nama Koperasi Wanita Mekar Saluyu. Pencapaian berikutnya dan tentu saja berkat kinerja obyektif mereka, pada tahun 2000 koperasi ini mendapat dukungan dari pemerintah. Konkritnya, melalui penguatan Program Subsidi BBM sebesar Rp 100 juta. Koperasi memperlakukan bantuan ini sebagai modal awal. Syukurlah hingga saat ini mereka tampak mampu mengelola dana tersebut dengan baik, seperti tertuang pada laporan tahunan koperasi ini hingga 2005.

SUB KELOMPOK
Pada dasarnya Koperasi Wanita Mekar Saluyu mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan keluarga para wanita yang menjadi anggotanya. Selain itu, berupaya meningkatkan kesejahteraan mereka dari sisi Tabel 1. kebutuhan dasar ekonomi, kesehatan, serta pendidikan keluarga mereka. Posisi Permodalan Sampai Oktober 2006, kepengurusan koperasi ini diketuai oleh Hj. Tahun 2005 Een Kurniati. Sedangkan jajaran Pengawas diketuai oleh Iis Saswati. Koperasi wanita ini memiliki anggota sebanyak 1.200 orang. Sedangkan wilayah kerjanya meli- No. Uraian Jumlah (Rp.) puti empat desa di Kecamatan Kalijati, Kabupaten 1. Modal Sendiri Subang. Sementara menyangkut pembinaan - Simpanan Pokok 7.760.000,- Simpanan Wajib 102.372.000,anggota, koperasi ini mengelompokkan diri men- Simpanan Khusus 202.535.500,jadi 9 Sub Kelompok yang tersebar di delapan - Cadangan 1.899.328.258,- Donasi KUD Wahana Mukti 1.149.305,kampung di wilayah kecamatan yang sama. - Donasi Diskop & UKM Jabar 5.000.000,Kinerja keuangan koperasi ini harus dika- Donasi Pemda Subang 5.000.000,takan sehat. Yang menarik, selain simpanan kon- SHU 66.716.382,Total Modal Sendiri 2.295.861.382,vensional koperasi seperti simpanan pokok, wajib dan khusus, koperasi juga memiliki dana cadang2. Modal Luar - Subsidi BBM 100.000.000,an dengan jumlah nominal yang tidak kecil. - Dana-dana dan Simpanan Sukarela 173.377.160,Seperti ditunjukkan pada tabel 1 di samping, jumlah cadangan modal koperasi ini mencapai Rp 3. Total Asset 2.569.238.605,1,899 miliar hingga posisi Oktober 2006. 4. Volume Usaha 5.996.485.000,5. Pendapatan 640.111.000,Sejauh ini, untuk melayani kebutuhan ang6. Sisa Hasil Usaha 66.716.000,gota, koperasi mempunyai sejumlah kegiatan. Masing-masing adalah Unit Simpan Pinjam; Unit Usaha Penjualan Pupuk; Unit Usaha Sembako (Beras); Unit Usaha Peralatan Hajatan dan Unit Usaha Angkutan.
No 1. 2. 3. 4. 5. Uraian Jumlah anggota Simpanan Volume Pendapatan Sisa Hasil Usaha 2003 (Rp.000) 1.100 orang 345.677 3.886.554 492.964 54.133 2004 (Rp.000) 1.200 orang 388.338 4.771.169 597.156 63.183 2005 (Rp.000) 1.300 orang 318.668 5.996.485 640.111 66.716

Tabel 2. Perkembangan 2003-2005

109

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 3. Neraca Koperasi Wanita Mekar Saluyu per 31 Desember 2004
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Aktiva Kas Simpanan Bank Piutang Anggota Tanah Bangunan Investasi Jumlah Aktiva 2005 (Rp.000) 1.384.772 34.780.381 335.357.000 16.500.000 109.356.450 3.100.000 500.478.603 2004 (Rp.000) 463.830 22.780.381 239.142.023 16.500.000 109.356.450 3.100.000 391.324.331 Pasiva Subsidi BBM Cadangan Pemumodal SHU Jum.Kew. & Ekuitas 2005 (Rp.000) 100.000.000 386.829.000 13.649.603 500.478.603 2004 (Rp.000) 100.000.000 277.832.112 13.492.219 391.324.331

Perkembangan keragaman kondisi keanggotaan, besarnya simpanan anggota, volume usaha hingga sisa hasil usaha Koperasi Wanita Mekar Saluyu dapat dicermati pada tabel 2. Sedangkan posisi neraca koperasi hingga Desember 2004, tersaji pada tabel 3.

KOMPAK DAN PROAKTIF
Boleh jadi salah satu faktor pemicu suksesnya koperasi ini, tidak terlepas dari tokoh yang difigurkan yaitu Hj Een Kurniati. Buktinya, saat ini ia masih mendapat kepercayaan menjadi Ketua Umum. Kecenderungan seperti ini, harus diakui alamiah terjadi di sejumlah koperasi lain juga. Selanjutnya keberhasilan koperasi ini juga tidak terlepas dengan adanya pendekatan kekompakan di antara anggota. Siapa tahu ini terilhami dari nama koperasi ‘Mekar Saluyu’, yang bermakna mekar bersama secara kompak. Fakta lain, ini terbukti dengan aktifnya sembilan kelompok di empat desa yang menjadi wilayah kerja koperasi. Tabel 4. Penghargaan Pendekatan pengurus yang proaktif terhadap anggota dan calon anggota, keterbukaan dan demokratis dalam pengambilan keputusan, juga Kopwan Mekar Saluyu menjadi kunci keberhasilan koperasi. Indikasi terkait faktor ini, sampai perwaNo. Tanggal Jenis Penghargaan kilan organisasi kesehatan dunia atau 1. 15 Agustus 2001 Bupati Subang sebagai Koperasi terbaik WHO tertarik memberikan bantuan per2. 1 April 2003 Bupati Subang sebagai koperasi terbaik kuatan untuk pelatihan. Selain itu, kope3. 10 Juni 2003 Gubernur Jawa Barat sebagai koperasi terbaik rasi ini dipercaya untuk mengelola bantuan kompensasi dana BBM sebesar Rp 4. 12 Juni 2003 Menegkop & UKM sebagai koperasi terbaik 100 juta yang terus berputar mendorong 5. 13 Juni 2004 Menegkop & UKM sebagai koperasi terbaik beberapa unit usaha koperasi ini. Mungkin tidak berlebihan, jika dikatakan Koperasi Wanita Mekar Saluyu merupakan salah satu koperasi yang sukses dari bawah. Mengapa demikian? Sebab keberadaannya didukung dari partisipasi anggota sebanyak 1.300 orang. Wajar pula kalau koperasi ini cukup sering mendapatkan serangkaian penghargaan (lihat tabel 4 ). Terlepas dari semua itu, pantas rasanya kita mengharapkan koperasi ini dapat menjembatani demi membangkitkan semangat kesetaraan gender di wilayahnya. Termasuk memperjuangkan hak, kepentingan serta Koperasi di Tengah 110 Lingkungan yang Berubah kesejahteraan para perempuan di kawasan setempat.***

JAWA BARAT

Koperasi Sasakadana Garut

SEINDAH RANAH PASUNDAN
111
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

MEKAR

Agus Sunyoto

A
Wisma merupakan aset kebanggaan KPRI.
Agus Sunyoto

Anggota sedang bertransaksi di unit usaha waserda.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

112

dalah keliru menganggap Kota Garut hanya terkenal gara-gara makanan kecil bernama dodol. Apalagi banyak kota di daerah lain belakangan ini juga memproduksi jenis makanan serupa, dengan berbagai jenis bahan baku dan bermacam rasa. Garut yang sering disebut Tanah Pasundan ini memiliki keindahan alam yang mempesona. Pegunungan menghijau dan sejumlah air situ atau danau yang jernih ditemukan di berbagai tempat. Tentang keindahan panorama bumi Priyangan itu sampai-sampai seorang kolomnis menyebut, “Tuhan menciptakan Tanah Pasundan ketika sedang tersenyum”. Selain dikenal dengan dodol dan pemandangan alam, sebetulnya sisi sejarah kelahiran lembaga ekonomi kerakyatan daerah Garut menarik dicermati. Betapa tidak, pada 15 Oktober 1953, dipelopori Bupati Garut R. Sabri Kartosomantri bersama dua rekannya R. Prawirasasmita dan R. Ramdanuwiraputra, telah didirikan Koperasi Serikat Kerja Departemen Dalam Negeri (Koperasi SKKDN). Di masa awal terbentuknya Koperasi SKKDN, 26 orang mencatatkan diri sebagai anggota pertama. Para pengurus SKKDN terdiri dari para pegawai di lingkungan kesekretariatan pemerintah Kabupaten Garut. Sebagai modal kerja awal, koperasi menyepakati sejumlah simpanan dari para anggota. Besarnya simpanan pokok adalah Rp 25 dan simpanan wajib sebesar Rp 10. Selain itu, berlaku pula semacam ketentuan tak tertulis bahwa masing-masing anggota diimbau menabung pada unit simpan pinjam (USP) dan berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari di warung koperasi. Dua tahun berselang, 1 Februari 1955, Koperasi SSKDN melaksanakan rapat anggota pengurus lengkap. Termasuk mengesahkan susunan baru Pengurus Koperasi dengan susunan: R. Ramdanuwiraputra sebagai Ketua, R. Muchsin Nataprawira sebagai Wakil Ketua dan R. Tatang sebagai Sekretaris. Kesepakatan lainnya, demi pengembangan usaha koperasi, pihak pemerintah kabupaten mengimbau kepada para pegawai di 8 kantor kawedanan dan 23 kantor kecamatan di bawah Kabupaten Garut masuk menjadi anggota Koperasi SSKDN. Bulan Juli 1958, Koperasi SSKDN untuk pertama kali melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT). Sejumlah agenda penting dibicarakan dan diputuskan dalam kesempatan ini. Antara lain, mengubah nama koperasi, mengembangkan permodalan dan mengubah susunan pengurus. Nama lembaga yang semula Koperasi SSKDN diganti menjadi Sasakadana. Nama ini merupakan gabungan kata sasaka (Sunda) yang berarti pusaka dengan kata dana (uang). Yang terekam dari file koperasi ini, hingga akhir 1950-an, Koperasi Sasakadana mampu menghimpun dana sebesar Rp 50 ribu. Koperasi juga sangat terpukul oleh kebijakan saneering atau pemotongan nilai uang oleh Bank Indonesia dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Alhasil, akumulasi dana Sakadana yang tersisa menjadi tidak lebih dari Rp 50.
Agus Sunyoto

PERKEMBANGAN USAHA
Ibarat orang membangun rumah tangga atau lembaga baru, wajar saja jika saat itu mereka belum memiliki kantor tetap. Sampai April 1968 kantor koperasi berada di lokasi paviliun Pemerintah Daerah Kabupaten Garut. Dari tempat ini sekretariat berpindah ke sebuah bangunan milik Pemerintah Daerah di Jalan Pramuka. Pada Juli 1969, Sasakadana menduduki kantor Tabel 1. Permodalan bangunan baru di atas tanah milik Pemerintah Daerah di Jalan Guntur. Sejak Koperasi Sasakadana Januari 1984, seizin Bupati Taufik Hidayat, koperasi membangun kantor per 31 Mei 2005 baru di Jalan Patriot. Sejak Agustus 2002, Koperasi Sasakadana secara resmi menempati kantor di bangunan ini. No. Uraian Jumlah (Rp.) Sepanjang perjalanannya, koperasi ini terus berjuang MODAL SENDIRI mengumpulkan dana dari anggota sedikit demi sedikit. 1. - Simpanan Pokok 54.566.800,00 Kepengurusan koperasi pun silih berganti sejak 1958 hingga - Simpanan Wajib 3.303.380.547,00 - Simpanan Khusus Bangunan 772.839.000,00 2005. Tanpa terasa, hingga posisi Oktober 2006, dana yang - Donasi 6.910.000,00 terkumpul sudah mencapai senilai Rp 6, 308 miliar. Rincian - Cadangan 119.205.879.87 - Simpanan 12 Juli 32.763.500,00 garis besarnya, modal sendiri mencapai Rp 4, 535 miliar. - Simpanan di PKP-RI Garut 206.750.000,00 Sedangkan modal dari luar sebesar Rp 1,782 miliar. Rincian - Simpanan di BKE Jakarta 39.352.235,00 Jumlah Modal Sendiri 4.535.767.961,87 lengkap masing-masing faktor kontribusi terhadap kedua 2. MODAL LUAR macam dana ini, bisa dilihat pada tabel 1. - Dari Bank Kesejahteraan Ekonomi 452.618.758,00 Sejauh ini, usaha koperasi terfokus pada usaha simpan - Dari PT Permodalan Nasional Madani 1.166.666.664,00 pinjam, waserda dan jasa lainnya. Jumlah anggota per 31 - Dari PKP-RI Kabupaten Garut 163.000.000,00 Jumlah Modal Luar 1.782.285.422,00 Desember 2004 sebanyak 2.163 orang (1.547 orang lelaki TOTAL 6.308.053.383,27 dan 569 orang perempuan), terdiri dari pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap sebanyak 2.116. Sedangkan jajaran pensiunan sebanyak 47 orang (37 orang laki-laki dan 10 orang perempuan).

PELAYANAN DAN SISTEM INSENTIF
Dalam mengelola usaha, Koperasi Sasakadana mencoba melakukan terobosan. Bentuknya antara lain, melayani jenis simpanan khusus bangunan. Simpanan ini dimaksudkan menggerakkan sistem menabung untuk penyediaan barang-barang bangunan bagi anggota yang akan mendirikan rumah atau merenovasi bangunan. Karena bergerak di lingkungan organisasi PNS, pihak koperasi merasa sangat perlu menerapkan sistem sosial. Jajaran pengurus mewujudkan aspirasi para anggota dengan memberikan bermacam-macam insentif. Antaranya, pemberian sejumlah pesangon anggota menjelang pensiun, tunjangan hari lebaran (THR), bantuan bencana alam, biaya perawatan, biaya pendidikan dan tunjangan kematian (bantuan dana perlaya). Walaupun jumlahnya tidak besar, manfaat penerapan sistem sosial ini sangat dirasakan anggota dan keluarganya. Sejak 1983, misalnya, koperasi membantu anggotanya yang sangat membutuhkan rumah tempat tinggal. Caranya, koperasi menyalurkan fasilitas kredit khusus yang dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama diberikan kredit sebidang tanah lahan perumahan siap bangun sebanyak 188 kavling, yang pembayarannya diangsur selama sepuluh kali. Dana untuk itu diperoleh berkat kerja sama Koperasi Sasakadana dengan Bank Jawa Barat. Tahap kedua, pembangunan rumah tinggal dilaksanakan bekerjasama dengan Bank Tabungan Nasional (BTN) Cabang Jawa Barat Bandung. Jangka waktu dan besarnya angsuran bervariasi dari 15 sampai 20 tahun. Bantuan Dana Perlaya. Jenis bantuan ini diberikan kepada anggota

113

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Karyawan sigap dan ramah melayani anggota.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

114

koperasi dan keluarganya yang meninggal. Besarnya diatur sebagai berikut. Bagi anggota koperasi yang meninggal dunia, koperasi menyediakan dana sebesar Rp 400 ribu. Bila istri dari anggota meninggal dunia, dananya sebesar Rp 200 ribu. Sedangkan untuk putra atau putri anggota meninggal dunia, disediakan dana sebesar Rp 150 ribu. Biaya Melahirkan. Bantuan biaya perawatan hanya diberikan kepada anak pertama dan anak kedua sebesar 30% dari total biaya melahirkan dengan batas maksimum sebesar Rp 100 ribu. Dana Perawatan. Bantuan biaya perawatan hanya diberikan kepada anggota. Besarnya 30 persen dari jumlah biaya perawatan dengan batas maksimum sebesar Rp 300 ribu. Biaya Pendidikan. Bantuan biaya pendidikan atau beasiswa diberikan kepada putra-putri anggota yang berprestasi juara umum, untuk tingkat SD, SLTP dan SLTA. Pada Tingkat SD, anak anggota koperasi yang berprestasi di kelas V, beasiswa sebesar Rp 100 ribu diberikan pada waktu akan naik ke kelas VI. Pada tingkat pendidikan lanjutan (SLTP dan SLTA), mereka yang berprestasi di kelas II diberikan beasiswa pada waktu kenaikan ke kelas III. Biaya pendidikan untuk tingkat SLTP sebesar Rp 150 ribu dan tingkat SLTA sebesar Rp 200 ribu. Tanda Mata. Tanda mata diberikan kepada para anggota koperasi yang pensiun PNS. Tanda mata untuk masa keanggotaan 1-5 tahun sebesar Rp 200 ribu, untuk masa 5-10 tahun memperoleh Rp 250 ribu, untuk masa 10-15 tahun mendapatkan Rp 300 ribu, untuk masa 1520 tahun memperoleh Rp 350 ribu, untuk masa 20-25 tahun menerima Rp 400 ribu, dan untuk masa keanggotaan 25 tahun ke atas berhak mengantongi uang Rp 500 ribu. Kepada anggota non-PNS, mereka yang berstatus pegawai tidak tetap atau pegawai harian, diberikan pada saat mereka berhenti karena permohonan sendiri atau keluar dari keanggotaan karena meninggal dunia, dengan ketentuan aturan yang sama. Ketupat Lebaran. Ketupat lebaran alias tunjangan hari raya (THR) diberikan kepada anggota setiap tahun menjelang Idul Fitri. Pemberian ketupat lebaran untuk masa keanggotaan 3-9 bulan sebesar Rp 28 ribu, untuk masa 9 bulan-9 tahun sebesar Rp 36 ribu, untuk masa 2-3 tahun sebesar Rp 44 ribu, untuk masa 3-5 tahun sebesar Rp 46 ribu, untuk masa 5-7 tahun sebesar Rp 48 ribu, untuk masa 7-9 tahun sebesar Rp 50 ribu, untuk masa 9-11 tahun sebesar Rp 52 ribu, untuk masa 11-13 tahun sebesar Rp 54 ribu, untuk masa 13-15 tahun sebesar Rp 56 ribu, untuk masa 15-17 tahun sebesar Rp 58 ribu, untuk masa 17-19 tahun sebesar Rp 60 ribu, untuk masa 19-21 tahun sebesar Rp 62 ribu, untuk masa 21-23 tahun sebesar Rp 64 ribu, untuk masa 23-25 tahun sebesar Rp 66 ribu, untuk masa 25-27 tahun sebesar Rp 68 ribu, dan untuk masa keanggotaan 27 tahun ke atas sebesar Rp 70 ribu. Khusus untuk bantuan bencana alam, Koperasi Sasakadana mengaturnya berdasarkan kebijakan rapat pengurus. Besarnya disesuaikan dengan kemampuan koperasi. Di luar program insentif, Koperasi Sasakadana bertekad melanjutkan pembangunan Gedung Koperasi. Di dalam bangunan itu dirancang fasilitas penginapan, pertokoan, ruang rapat dan perkantoran.***
Agus Sunyoto

JAWA BARAT

Koperasi Wanita Permata Kuningan

BERJUANG
115
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

MERUBAH POLA PIKIR

Agus Sunyoto

yahdan, didorong keinginan mempersatukan serta memperbaiki taraf hidup di kalangan para istri guru dan istri pegawai pada Dinas Pendidikan & Kebudayaan, Kabupaten Kuningan. Persisnya sekitar awal tahun 1970, Ny Hj Kartinah Susangka (Alm) mempelopori pembentukan suatu perkumpulan. Namanya, organisasi Rukun Istri Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan. Waktu itu yang menjadi Kepala Kantor Dinas tersebut adalah A Suryadi (Alm). Para pelopor lain yang tidak sedikit andilnya mendirikan cikal bakal Koperasi Permata ini yaitu Ibu Suryadi dan kawan-kawan. Tekanan ekonomi saat itu, semakin menggugah organisasi untuk dapat mengatasi persoalan ekonomi para anggota. Caranya, melatih dan membiasakan para anggota mengatur pendapatan keluarga. Motto yang diusung sederhana, yaitu Saeutik Mahi Loba Nyesa alias sedikit cukup mensyukuri yang berlebih. Seiring dengan kecerdasan lokal ini, mereka juga bertekad mengubah pola pikir para anggota. Maksudnya, dari pola konsumtif ke pola pikir produktif. Upayanya? Lagi-lagi, memakai prinsip lokal yang dikenal dengan 3 L. Masing-masing: Leukeun Neundeun, Leukeun Nginjeum dan Leukeun Mulangkeun (Rajin Menyimpan, Rajin Meminjam dan Rajin Mengembalikan). Demi mencapai tujuan tersebut, lalu pada tahun 1972 para anggota organisasi menggariskan aturan. Kala itu para anggota wajib menabung secara teratur, besarnya disepakati Rp 10. Simpanan wajib setiap bulan dan simpanan pokok Rp 100 (seratus Rupiah). Untuk simpanan pokok ini bisa di cicil 5 kali angsuran. Jumlah anggota saat itu baru mencapai
Waserda Permata siap menyongsong anggota berbelanja.

S

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

116

Agus Sunyoto

Kinerja Koperasi Permata (dalam Rupiah)
NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. URAIAN Simpanan Pokok Simpanan Wajib Donasi Cadangan SHU Asset TAHUN 2002 26.745.000 26.745.000 12.000.000 16.471.067 380.513.358 3.791.426.009 2003 26.445.000 3.749.187.902 52.000.000 16.471.067 418.811.855 4.493.409.149 2004 34.550.000 3.278.128.674 52.000.000 14.971.067 438.963.336 5.212.422.916

54 orang. Berarti modal pertama organisasi tercatat Rp 54.000. Sedangkan usaha yang dilaksanakan, sebatas pemberian pinjaman bagi anggota yang membutuhkan. Melihat perkembangan tersebut dan atas kesepakatan anggota, mulailah simpanan wajib ditingkatkan dari Rp 10 menjadi Rp 25. Setelah berkumpul modal organisasi yang agak besar, pada tahun 1972 organisasi Rukun Istri mengajukan permohonan Badan Hukum koperasi ke Direktorat Koperasi. Maka tanggal 31 Mei 1972 disetujui Badan Hukum Nomor 5251/BH/DK/10/13 dengan nama Koperasi Perbaikan Masyarakat Wanita disingkat Koperasi Permata. Penandatangan ‘akte pendirian’ pada penerbitan SK berbadan hukum tersebut adalah Ny Hj Kartinah Susangka (Alm), Ny Arningsih Utardja (Alm) dan Ny Eni Rohaeni BA. Sedangkan yang menandatangani akte pendirian yang baru melalui No 5251/BH/PAD/ KWK-10/IV/1996 tertanggal 22 April 1996 yaitu Ny Hj Entin Sutini dan kawan-kawan.

Perkembangan SHU Koperasi Permata, 2002-2004
438.963.336 418.811.855

380.513.358 2002 2003 2004

MEMBANGUN SARANG MADU
Menyusul perolehan status badan hukum, semua anggota semakin giat dan bersemangat mengembangkan organisasi. Termasuk memperkuat semangat kebersamaan, kemartabatan serta kegotongroyongan. Seiring perkembangan waktu dan organisasi serta semakin kompleknya kebutuhan, maka anggota berupaya untuk meningkatkan permodalan. Secara bertahap, dimulai awal 1972 simpanan wajib anggota sebesar Rp 10 hingga meningkat mencapai Rp 20 ribu per bulan pada tahun 2005. Akumulasi simpanan wajib saja selama 30 tahun lebih, modal koperasi sampai tahun 2005 mencapai Rp 5,2 miliar (lihat tabel: Kinerja Koperasi Permata). Begitu juga Simpanan Pokok, mengalami kenaikan nominal dari Rp 100 pada tahun 1972 menjadi Rp 10 ribu pada tahun 2005. Termasuk Simpanan Harkop dari Rp 100 pada tahun 1972 berobah menjadi Rp 5.000 pada tahun 2005. Secara alamiah, sangat jelas Koperasi Permata memupuk permodalan

117

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Unit Wartel menjadi pilihan anggota dan masyarakat memenuhi kebutuhan komunikasi.

Agus Sunyoto

dari yang kecil sampai menjadi besar. Tak lain, keberhasilan ini sematamata karena kesabaran, keuletan dan berkomitmen para anggota mengamalkan motto “Saeutik Mahi Loba Nyesa”. Menurut penuturan para pengurus Koperasi Permata, hal ini tak ubahnya ibarat lebah membangun susah payah sarang dan akhirnya banyak mengandung madu juga.

USP DAN DIVERSIFIKASI
Sampai saat ini, Unit Simpan Pinjam masih menjadi unggulan untuk melayani kebutuhan anggota. Berikut catatan garis besar statistik keragaan USP Koperasi Permata selama sepuluh tahun terakhir. Sekali lagi, terutama dengan pertimbangan mengikuti roda perkembangan jaman, Koperasi Permata mulai merambah unit usaha yabng dibutuhkan anggota maupun warga masyarakat. Secara kronologis, pembukaan bisnis baru ini sebagai berikut. Pertama, pada tahun 1981 mendirikan kantor untuk operasional koperasi sendiri maupun untuk disewakan kepada pihak lain. Termasuk sarana waserda demi memenuhi kebutuhan anggota dan masyarakat. Kedua, tepatnya pada 9 Juli 1984 Koperasi Permata membangun Gedung Aspirasi. Semula dimaksudkan untuk asrama putri bagi anak anggota koperasi yang bersekolah di Kabupaten Kuningan. Tapi sehubungan SPG berakhir dan SMA sudah ada di kecamatan-kecamatan, maka gedung tersebut beralih fungsi menjadi Gedung Wisma Permata. Berkapasitas 24 kamar tidur dan dua buah aula untuk keperluan rapatrapat, penataran serta di lengkapi dengan fasilitas penunjang. Ketiga, membangun lapangan tenis pada tahun 1985. Tujuannya, menyalurkan bakat olah raga bagi para anggota dan masyarakat pada umumnya. Termasuk menunjang program pemerintah waktu itu, yaitu memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat. Keempat, mendirikan bisnis wartel pada tahun 1994. Unit ini, tak

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

118

lain juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan anggota di bidang telekomunikasi. Saat ini, koperasi memiliki 4 kamar bicara umum (KBU) di dekat kantor koperasi dan satu KBU berlokasi di Gedung Wisma Aspirasi.

PRESTASI DAN PARTISIPASI ANGGOTA
Kalau pun menyusul perjalanan usahanya, Koperasi Permata kemudian meraih sejumlah penghargaan memang tak terhindarkan. Namun perlu dicatat, buah pertama pengakuan yang datang dari instansi terkait terjadi setelah 10 tahun koperasi membanting tulang. Persisnya, pada 1982 koperasi ini menyabet prestasi sebagai Koperasi Harapan Tingkat Nasional dari Menteri Perdagangan dan Koperasi. Berturut-turut di tahun kemudian, koperasi ini juga meraih berbagai kategori koperasi terbaik. Dari kategori koperasi wanita, penabung, jasa teladan sampai Koperasi Berprestasi dari Gubernur Jawa Barat. Sebagian besar pencapaian ini, uniknya seringkali bersifat lokal. Yang pasti, Koperasi Permata yang didirikan sejak 1972 ini telah mengarungi pasang surut dan terpaan badai berbagai krisis. Namun kenyataannya tetap eksis dan jumlah anggota terus meningkat. Ini jelas menandakan adanya kepercayaan dari masyarakat dan partisipasi yang tinggi dari para anggota. Semangat tidak kenal lelah dalam kebersamaan, kemartabatan dan kegotong-royongan dipikul bersama dengan komitmen tinggi. Tegasnya, hal ini menjamin koperasi benar-benar menjadi sense of belonging bagi para anggota.
TH 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 JML ANGGOTA 3.881 3.751 3.725 3.652 3.657 3.675 3.624 3.566 3.526 3.455 AMPRAHAN 1.901.295.000 1.978.570.000 2.447.125.000 3.219.930.000 3.915.200.000 4.741.540.000 5.451.300.000 5.654.750.000 5.920.200.000 6.531.200.000 PINJAMAN 1.627.335.000 1.892.847.265 2.281.795.000 2.733.600.000 3.278.455.000 3.985.965.000 4.686.425.000 4.888.555.000 5.278.857.500 6.073.950.000 PIUTANG 754.053.060 819.566.385 1.034.862.000 1.225.535.100 1.453.176.000 1.771.243.285 2.030.093.000 2.133.095.230 2.301.465.180 2.564.489.650 SIMPANAN 887.557.344 1.038.473.532 1.186.987.660 1.302.120.467 1.500.904.168 1.812.368.008 2.145.178.312 2.452.298.039 2.858.830.902 3.415.266.174 SHU 125.502.634 135.000.000 150.000.000 180.000.000 250.644.649 280.194.936 350.055.671 380.513.358 418.811.855 438.963.336

Pendekatan partisipatif para anggota, tampaknya menjadi inspirasi pengelola koperasi untuk mengembangkan usaha seperti waserda, asrama, penyewaan lapangan tennis, usaha rental. Demikian juga penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, merupakan langkah-langkah manajerial demi mengembangkan kualitas manajemen Koperasi Permata.

119

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Sebagai koperasi andalan di Kabupaten Kuningan dan sudah berkiprah selama 33 tahun, keberadaan Koperasi Permata sungguh dirasakan manfaatnya bagi para anggota dan masyarakat sekitarnya.

ASET DAERAH
Inilah kalau sekilas melihat kondisi Koperasi Permata Kabupaten Kuningan, yang notabene dibidani oleh kaum perempuan. Secara obyektif, ternyata tidak kalah bersaing dibandingkan dengan pengelolaan koperasi oleh kaum laki-laki. Ini dibuktikan dari prestasi-prestasi yang dicapai baik di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Koperasi ini terus-menerus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Ini dibuktikan dengan peningkatan permodalan, aset, keanggotaan, serta SHU. Dan yang tak kalah penting, sudah berbuat memberikan yang terbaik kepada anggota khususnya dan masyarakat umumnya. Sejumlah pengurus Koperasi Permata mengungkapkan, pihaknya selalu berusaha dengan segala kemampuan untuk tetap mempertahankan eksistensi koperasinya. Argumentasinya, sejauh ini koperasi ini sudah dianggap sebagai aset daerah Kabupaten Kuningan. Sejalan dengan ini— juga seirama dengan era otonomi daerah saat ini—mereka mendesak pemerintah lebih memberikan perhatian kepada koperasi. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

120

SUMATERA UTARA

Koperasi Pengangkutan Umum Medan

MENGGELINDING

DENGAN RODA ARMADA
121
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

Peran pemerintah mendukung KPUM memenuhi kebutuhan kendaraan angkutan.

Dokumentasi

S

ebagai kota besar ketiga, setelah Jakarta dan Surabaya, Medan merupakan kota bisnis dengan tingkat kesibukan manusia yang tinggi. Masalah transportasi di dalam kota dan antarkota, misalnya, menjadi kebutuhan kota yang penting. Peluang bisnis yang baik ini, khususnya membantu kelancaran mobilitas masyarakat, mengusik benak lima tokoh setempat. Mereka adalah Baharudin Nur, Radi Suharto, Abdul Aziz Tanjung, Abdul Jalil dan Saidi Pangaribuan. Kelimanya bersepakat membentuk koperasi dengan nama Koperasi Pengangkutan Umum Medan (KPUM). Koperasi ini berlokasi di Jalan Rupat No. 3032, di tengah ibu kota Sumatera Utara, Medan. KPUM memperoleh status badan hukum pada 14 Mei 1974 dengan No. 2381.B/BH/III (UU12/67). Di awal pendirian, KPUM hanya memiliki angkutan umum bemo. Armada KPUM terus berkembang sampai sekarang seperti ditunjukkan Tabel 1. Upaya KPUM mengembangkan

Tabel 1. Perkembangan Armada KPUM
Uraian Jenis Daihatsu: 1. Hijet 55 (1979-1982) 2. Hijet 1000 (1983-1986) 3. Zebra (1987-1990) 4. Jumbo (1991-1995) 5. Espass (1996-2004) Jumlah Daihatsu Jenis Panther: 1. Isuzu Panther (1991-1992) Sub Total Bus Besar Luar Kota 1. Bus MRE 2. MPUMRT Taksi Matra 2001 2002 2003 2004 2005 unit 322 1.039 997 1.679 1.730 5.767 6.049 139 125 200 1.200 7.713 8.354 278 250 427 1.200 10.609 Pengemudi

532 1.156 1.089 1.600 1.008 5.385 8 5.393

437 1.147 1.064 1.724 1.371 5.743 6 5.749

333 1.089 1.040 1.752 1.557 5.771 6 5.777

322 1.040 1.019 1.767 1.734 5.882 5.882

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

122

Betor (Becak Bermotor) Jumlah Total

Tabel 2. Perkembangan Anggota & Karyawan KPUM
Anggota Tahun Anggota Penuh 4.675 4.819 4.856 4.885 4.992 Calon Anggota 173 187 133 155 152 Total 4.844 5.006 4.989 5.040 5.144 Karyawan Tetap 113 134 146 152 134 Karyawan Karyawan Tidak Tetap 370 441 378 401 395 Total 483 575 524 553 529

2001 2002 2003 2004 2005

diri terus berlanjut, dengan melakukan diversifikasi usaha vertikal dan horisontal yang sifatnya saling melengkapi. Penganekaan ini menghasilkan efek rembesan ke bawah (trickle down efect) baik bagi para pelaku bisnis maupun bagi masyarakat umum. Selain itu, juga memiliki daya serap tenaga kerja yang cukup berarti untuk membantu memecahkan masalah pengangguran dan kemiskinan. Sampai dengan tahun 2005, unit-unit usaha dimaksud meliputi: Medan Raya Tour (Angkutan Eksekutif Luar Kota), Bus Medan Raya Express (Angkutan Luar Kota & Dalam Kota), SPBU, USP, Bengkel Fajar Raya, Beca Bermotor, Perumahan dan Taksi Matra. Andalan unit usaha KPUM yang memberi sumbangan besar terhadap pendapatan KPUM adalah unit jasa angkutan dan USP. Baik jumlah anggota maupun karyawan koperasi ini dari tahun ke tahun tumbuh mengesankan seperti terlihat pada Tabel 2. Jumlah anggota dan calon anggota berkembang dari 4.844 orang pada tahun 2001 menjadi 5.144 orang pada tahun 2005 (tumbuh 6,19%). Begitu pula jumlah karyawan, berkembang dari 483 orang pada tahun 2001 menjadi 529 orang pada tahun 2005 (tumbuh 9,52%). Jumlah pengurus koperasi hingga 2005 terdiri dari T. Ferdinand (Ketua Umum); bersama S.L. Hutagalung, D. Sembiring dan H. Asril Muas Tanjung (masing-masing Ketua I, II dan III); Thahir Ritonga, BBA dan Rifai Saragih, SH (Sekretaris I dan II); dan Parlaungan Purba (Bendahara). Di jajaran pengawas yang beranggotakan tiga orang dengan ketua St. M. C.H. Simatupang (Ketua) dan Zulkarnain dan Ir. Maringan Siregar (Anggota). Tabel 3. Perkembangan Alokasi Koperasi ini Dana Pendidikan & Sosial KPUM juga menyisihkan sejumlah Jenis Dana (Rp.) 2003 2004 2005 dana dari alokasi Dana Sosial 30.020.358 37.702.358 40.878.550 pembagian SHU Dana Pendidikan 76.115.893 88.301.295 120.354.676 untuk keperluan sosial dan pendidikan. Tabel 3 menujukkan bentuk perwujudan dan komitmen KPUM terhadap dua prinsip koperasi. Yaitu kepedulian terhadap lingkungan dan orientasi pendidikan serta pelatihan.

123

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Kekompakkan mendasari kesuksesan KPUM.

Dokumentasi

PEREMAJAAN ARMADA
Potensi bisnis bidang transportasi memang menarik, khususnya mengingat laju pertumbuhan jumlah penduduk di kota besar. Perjalanan koperasi sektor angkutan yang lumayan panjang ini mau tak mau berhadapan dengan masalah peremajaan angkutan, yang untuk itu memerlukan investasi sangat besar. Masalah lainnya adalah dampak kenaikan harga BBM dan masalah efisiensi perusahaan yang cukup mengganggu perkembangan usaha koperasi ini. Pengelola harus dapat mengkaji secara akurat untuk mengupayakan pemecahannya. Terlebih di jalur jasa angkutan ini koperasi menghadapi persaingan yang makin ketat. Sehingga, partisipasi aktif dan ide-ide cerdas dari segenap jajaran personel koperasi (Pengurus, Pengawas, karyawan, pengemudi) di samping kerja sama dari seluruh stakeholder akan menjadi jawaban penting bagi keberlanjutan KPUM. Secara obyektif, beratnya koperasi meremajakan segenap armadanya sangat jelas bila kita mencermati Tabel 4. Total modal luar koperasi, misalnya, sudah lebih besar dari modal sendiri. Aset koperasi pun semakin menurun. Ditinjau dari sisi rasio keuangan, semakin jelas bahwa solusi jitu haruslah benar-benar ditemukan. Hal ini bisa dicermati dari Tabel 5. Aspek likuiditas mencerminkan kemampuan koperasi memenuhi kewajiban atau hutang jangka pendeknya. Likuiditas KPUM pada tahun 2003, 2004 dan 2005 seluruhnya berada di atas standar umum, yaitu 200%. Ini berarti posisi likuiditas KPUM cukup baik dan aman. Namun bisa juga berarti bahwa piutang pinjaman anggota terlalu besar hingga diperlukan sistem penagihan yang lebih efektif. Aspek solvabilitas memberikan informasi tentang kemampuan koperasi dalam menutup seluruh hutang (jangka pendek dan jangka pan-

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

124

Tabel 4. Perkembangan Kinerja Usaha KPUM
Uraian (Rp) SHU Modal Luar Modal Sendiri Assets Pendapatan Kotor Pengeluaran Kotor Hutang Lancar Harta Lancar Volume Usaha 2001 353.949.000 14.696.894.078 7.255.241.597 22.998.116.438 295.550.317 16.997.180.856 4.814.533.000 2002 542.643.000 14.452.483.719 6.715.376.608 21.483.098.327 5.969.107.178 14.958.095.527 31.918.558.000 2003 833.067.170 10.239.724.680 6.403.240.018 18.281.031.867 19.050.892.698 18.217.825.528 3.311.346.661 11.408.475.991,8 54.985.102.000 2004 599.509.058 38.566.549.945 7.315.837.483 42.129.100.025 12.733.743.843 12.134.234.785 8.012.196.966,2 38.295.823.972,9 40.594.641.000 2005 548.123.180 42.759.340.335 8.152.598.962 52.145.896.015 11.685.156.959 11.137.033.779 12.188.143.806,6 42.847.697.398,2 38.376.123.000

jang). Rasio solvabilitas Tabel 5. Rasio Keuangan KPUM KPUM pada periode tahun 2003, 2004 dan 2005 meUraian 2001 nunjukkan angka yang terus 1. Likuiditas (%) Harta Lancar menurun, yaitu sebesar Current Ration= Kewajiban Lancar 178,53%, 122,2% dan 2. Solvabilitas (%) 121,95%. Artinya, kemamAsset Total Total Asset = puan koperasi memenuhi to Total Debt Modal Luar kewajiban seluruh hutang3. Rentabilitas (%) SHU nya semakin melemah. DeReturn On = Asset (ROA) Total Asset ngan kata lain, nilai modal sendiri semakin kecil sementara modal luarnya (total hutang) semakin besar. Dalam kasus ini pengurus tentunya mempunyai PR khusus untuk memperbesar modal sendiri hingga dapat mempermudah dalam mengakses ke perbankan atau kreditur lainnya. Rentabilitas menunjukkan kemampuan koperasi dalam meningkatkan SHU. Rentabilitas semakin tinggi berarti semakin baik. Rasio rentabilitas KPUM pada periode tahun 2003, 2004 dan 2005 juga semakin menurun. Hal ini tentunya memberikan sinyal kepada KPUM yang harus meningkatkan volume usaha dan pangsa pasar dengan memangkas inefisiensi di bidang organisasi ataupun bidang usaha.

2002 -

2003 344,53

2004 335,68

2005 351,55

-

178,53

122,2

121,95

-

4,56

1,27

1,05

PENGEMBANGAN ORGANISASI
Dalam mengelola koperasi, pengurus selalu berupaya menyusun kiatkiat praktis yang mudah diterapkan. Antara lain mengedepankan prinsip tujuan kebersamaan internal dan eksternal (dinas pemerintah yang berkompeten dan para stakeholder usaha KPUM). Koperasi berupaya berorientasi kepada kebutuhan anggota dan konsumen lainnya. Misalnya, upaya terus mencari sumber pendanaan untuk kebutuhan peremajaan angkutan. Upaya kemitraan untuk memperoleh akses modal menghasilkan pinjaman PNM sebesar Rp 4,5 miliar dan pinjaman Bank Mandiri sebesar Rp 8 miliar. Dengan mencanangkan moto “Tiada hari tanpa prestasi”, koperasi

125

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Selain angkutan, KPUM juga merambah bisnis perumahan.

Dokumentasi

berusaha memotivasi dan memacu semangat kerja SDM. Tradisi pemilihan pengemudi terbaik, dan pemberian hadiah untuk memotivasi pengemudi bekerja dengan prima, dilanjutkan. Terkait dengan ini, koperasi membentuk Serikat Tolong Menolong (STM) bagi pengemudi KPUM. Serikat ini bertujuan menciptakan kebersamaan melalui pemberian berbagai jenis santunan meninggal, sakit, menikah, THR dan insentif. Kiat-kiat praktis tersebut dilaksanakan secara konsisten oleh KPUM dan secara lentur dapat diubah sesuai dengan perubahan situasi, kebutuhan anggota dan kebutuhan konsumen. Cukup menarik membandingkan tren kinerja usaha KPUM dan rasio keuangannya serta pertumbuhan permintaan masyarakat terhadap jasa transportasi yang terus meningkat. Ambil contoh berdasarkan model analisa BCG matrik, posisi bisnis koperasi ini cenderung berada dalam kondisi tanda tanya. Artinya, KPUM memiliki pangsa pasar relatif rendah, sementara pertumbuhan permintaan jasa transportasi terus meningkat. Karenanya, KPUM perlu melakukan terobosan pasar yang lebih agresif. Antara lain melalui peningkatan kualitas seluruh SDM koperasi. Termasuk pengemudi, pelayanan prima terhadap konsumen, peningkatan efisiensi usaha, pembenahan administrasi keuangan dan akuntansi. Tidak kalah penting, pemahaman dan penerapan prinsip dan nilai-nilai koperasi secara lebih nyata. Mengapa demikian? Sebab, itulah basis mengelola usaha dan organisasi secara lebih profesional.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

126

JAWA TENGAH

Kopinkra Sutra Ayu Pekalongan

KEPERCAYAAN
NYAWA KEBERHASILAN
127
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

S

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

128

iapa tidak kenal dengan Pekalongan, salah satu kota di pantai utara (Pantura) Jawa Tengah. Tidak lain, daerah tersebut memiliki potensi yang dapat diandalkan untuk mengangkat derajat ekonomi masyarakat. Salah satunya, adalah kerajinan batik dan tenun. Berkat banyaknya industri pertekstil dan kelompok pembatikan, maka kota Pekalongan termashur dengan sebutan kota batik. Untuk itu, khasanah budaya bangsa ini wajib dipelihara dan dilestarikan agar terus tampil dengan ciri khasnya. Potensi lain yang terkenal dan banyak tumbuh adalah koperasi, baik koperasi jasa maupun koperasi batik Salah satu koperasi yang digeluti kaum ibu ini juga sebagaian besar anggotanya mempunyai usaha di bidang pertekstilan. Bahkan koperasi dari para perajin ini telah berkembang. Kinerjanya bukan hanya terkenal di seputar Pekalongan tetapi hingga ke lingkup nasional. Keberhasilan ini, selain ulet dan kemampuan pengurus dalam memobilisasi anggota, juga selektif dalam merekrut anggota. Sehingga anggota yang tergabung betul-betul memandang koperasi sebagai wadah untuk menunjang kegiatan ekonomi. Melihat antusias dan tingginya partisipasi anggota, maka pengurus pun sangat menjunjung tinggi nilai kepercayaan itu. Salah satu bentuk komitmen anggota itu, yaitu setiap meminjam pengembaliannya selalu tepat waktu. Serta menjaga hubungan baik dengan mitra, relasi dan sesama anggota. Sehingga Koperasi Pengrajin Industri Rakyat (Kopinkra) bernama Sutra Ayu ini tetap mendapat simpati masyarakat dan pihak-pihak terkait. Nah, untuk menjaga imej dan komitmen tersebut, koperasi yang berlokasi di Pekajangan, Pekalongan Jawa tengah ini sangat selektif dalam merekrut atau menerima keanggotaan baru. Menurut Meutia Farida Rusminto, ketua, hal itu dilakukan agar mendapatkan anggota yang berdisiplin, sehingga koperasi ini akan tetap sehat. Terbentuknya koperasi yang dipimpinya itu memang untuk menjadi koperasi yang baik. Tujuanya, agar menghasilkan wanita-wanita pengusaha yang tangguh. Menjadikan mereka sebagai pemain bisnis yang handal dan ulet. Untuk poin itu tutur bu hajah ini, sudah terbuktikan. Di antaranya, saat krismon menggerogoti perekonomian bangsa kita, wanita-wanita anggota koperasi di kota batik ini kondisinya tetap bugar. Roda-roda ekonomi para ibu bahkan berputar makin kencang. Salah satunya, karena produk tekstil yang mereka kerjakan berbahan baku lokal. dan tetap banyak tersedia jadi sehingga tidak sampai telat untuk memperolehnya. Artinya, harga beli tetap dengan rupiah dan bahan bakunya tersedia. Mereka pun menikmati untung yang lumayan. Karena, harga jual melonjak. Namun, suasana seperti itu diakui pengurus tidak bertahan lama. Kenyataanya, harga-harga lalu melangit lagi. Kelebihan lain, mereka telah membangun jaringan pasar. Sehingga, hasil kerajinan tangan mereka tidak kuatir basi. Bahkan pasarnya telah terbentang luas dari Sabang hingga Merauke, pemasaran sudah hampir merambah seluruh Indonesia. Alhasil, koperasi yang berdiri pada 28 Pebruari 1992 dan memperoleh status Badan Hukum dengan Nomor: 11859/BH/VI/1992, kini telah

menikmati keberhasilannya. Namun, hasil yang telah di genggaman itu, diakuinya tidak mudah untuk mendapatkannya. Melainkan, memerlukan ketekunan dan kesabaran. Terbentuknya Kopinkra tersebut adalah bermula dari kelompok usaha bersama (KUB) bordir dengan anggota 18 orang pada 1987. Kemudian setiap tahun anggotanya bertambah. Mengingat keseriusan pengurus dalam mengembangkan usaha, maka lembaga donor bernama UNDP (United Nation Development Program) pun kepincut untuk melakukan pembinaan. Realisasinya, KUB yang beranggotakan para ibu dan remaja putri ini mendapatkan bantuan. Bentuknya berupa bahan baku sifon sebanyak 4.000 yard, 10 unit mesin jahit dan dua unit mesin bordir. Ternyata, dengan adanya perhatian dari pendonor asing itu cukup memompa semangat kelompok usaha tersebut. Terbukti niat berusaha yang permanen pun terus berkobar, hingga terealisasilah lembaga usaha yang berbadan hukum koperasi. Langkah selanjutnya mereka menggalang modal berupa simpanan pokok dan simpanan wajib. Dengan modal tersebut, mereka gunakan untuk membeli bahan dalam jumlah lumayan besar. Mengingat, jika dengan dua komponen modal itu akan sangat sulit untuk meningkatkan permodalan. Lalu, terpikirlah oleh mereka untuk menggalang dana dari anggota. Dengan bertambahnya modal dari simpanan suka rela dan simpanan lain digunakan untuk meningkatkan volume usaha. Untuk meningkatkan kecakapan dan wawasan, anggota mendapatkan pendidikan dan pelatihan, seperti pelatihan manajemen, keuangan, pemasaran, perpajakan dan desain. Instansi yang ikut membumbui keterampilan mereka di antaranya Deperindag, Depkop dan Dekopinda. Agar ide-ide kreatif terus tersalurkan, mereka mempunyai agenda pertemuan mingguan dan bulanan. Ajang tersebut sekaligus sebagai tempat tukar informasi maupun evaluasi sesama anggota. Atas keberhasilan pengurus menanamkan budaya “Kepercayaan adalah nyawa”, Kopinkra Sutra Ayu ini kerap memperoleh kredit-kredit berbunga lunak. Sebut saja mereka yang urun bantuan modal seperti PT Bapindo, BRI, BNI, Bank Eksim, PT Krakatau Steel dan program Modal Awal Padanan (MAP), kompensasi BBM dari Kantor Menegkop-UKM. Pada pada buku 2001, Kopinkra Sutra Ayu ini mampu menunjukan jati dirinya sebagai koperasi sejati. Tempat untuk mengendalikan segala kegiatan usaha yang representataif telah dimilikinya. Yaitu sebuah kantor berlantai dua di atas tanah seluas 170 meter persegi. Kantor yang multi
Slamet AW

Kegiatan jual beli di counter milik Kopinkra Sutra Ayu.

129

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

fungsi baik untuk pusat administrasi maupun show room hasil kreasi anggota, diresmikan Menegkop dan UKM, Alimarwan Hanan pada 30 Maret 2002. Sekitar empat tahun menemKinerja Kopinkra Sutra Ayu pati kantor sendiri, koperasi berper 31 Desember 2005 angotakan 266 orang ini dinobatkan sebagai Koperasi Terbaik Nasional, Aktiva Rp 1,247 miliar pada puncak peringatan Hari Koperasi Ke-58, 12 Juli 2005 di Volume usaha Rp 2,1 miliar Bandung. Penghargaan tersebut SHU Rp 220 juta merupakan bentuk perhatian pemerintah atas kinerja yang solid. Kopinkra Sutra Ayu per 31 Desember 2005 membukukan total aktiva sebesar Rp 1,247 miliar. Dari volume usaha sebesar Rp 2,1 miliar, koperasi membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU) sekitar Rp 220 juta.

MANFAAT BAGI ANGGOTA
Kopinkra Sutra Ayu merupakan koperasi produsen yang telah membuktikan eksistensinya. Keberadaanya membawa manfaat bagi anggota. Terutama bagi anggota yang membutuhkan bantuan modal. Mengingat akses permodalan dari perbankan selain memerlukan agunan juga memakan waktu. Sementara, bagi anggota koperasi yang pengusaha mikro sektor tekstil ini memerlukan kecepatan dan ketepatan. Cepat mendapat modal akan tepat memperoleh barang yang diinginkannya. Banyak angota yang meminjam dengan jangka waktu dua tahun tetapi dalam tiga bulan saja sudah melunasi. Manfaatnya ganda, bagi koperasi mendapatkan jasa dan anggota lain memiliki kesempatan meminjam. Perihal manfaat dengan menjadi koperasi diakui Choliqoh, selain mendapat teman banyak sehingga mudah mendapatkan berbagai informasi yang berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga. Dia mengakui perbedaan yang mencolok, padahal ibu tiga anak itu telah menjadi pengrajin sejak masih SLTA tetapi usahanya tidak berkembang. Baru pada 1989 ketika bergabung dengan Kopinkra Sutra Ayu, usahanya grafiknya mulai naik. Berbekal modal satu unit mesin bordir seharga Rp 6,5 juta, pada tahun buku 2004 sudah mempunyai delapan unit. Mesin jahit enam unit dan mesin bordir dua unit. Produk kerajinan yang dihasilkan di antaranya mukena, busana muslim, kebaya, longdres dan baju koko. Kemampuan memproduksi per hari untuk mukena per mesin bisa 16 buah kalau daster atau longdres per mesin per hari mampu 7–9 buah. Cucu tiga cucu itu mengaku manfaat koperasi sangat besar, dari hanya sebagai kuli mampu meningkat menjadi membayar kuli. Soal pemasaran, imbuh pengusaha mikro yang sejak SLTA sudah mempunyai karyawan empat orang ini, cukup lancar. Selain menjual di pasar lokal juga ke pasar Klewer, Solo dan pasar Tanah Abang Jakarta serta melayani pesanan yang terus mengalir.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

130

JAWA TENGAH

Koperasi Pengusaha Batik Setono Pekalongan

MERAJUT
EKONOMI PEMBATIK
131
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

K

ota Pekalongan, Jawa Tengah yang terdiri dari empat kecamatan, 46 kelurahan dan berpenduduk 246.932 jiwa (sensus 2004), merupakan lahan subur bagi tumbuhnya koperasi batik. Acuannya, dari 40 unit primer koperasi batik di tanah air yang menjadi anggota Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), tujuh di antaranya berada di Pekalongan. Sedang di kota-kota lain hanya satu-dua saja, kecuali di Yogyakarta terdapat lima unit koperasi batik. Hal ini sekaligus mencerminkan, anggota perorangan GKBI mayoritas berada di kota Pekalongan. Dari sekitar 8.000 anggota perorangan GKBI, sekitar 3.000 orang berada di kota ini. Namun, masa kejayaannya sudah berlalu. Pada dekade tahun lima hingga tujuhpulahan berada pada puncak keemasan. Begitu pula pasca kehancurannya tahun delapan puluhan, sudah menjadi cerita usang seiring makin meredupnya kegiatan anggota para pengrajin/pengusaha batik tulis dan batik cap. Kebangkrutan itu lantaran tak mampu bersaing dengan munculnya produk-produk batik printing. Lantas, bagaimana kondisi dari koperasi itu di era 2006? Dari segi aset sebenarnya masih lumayan kaya, nilainya masih mencapai miliaran rupiah, tetapi dari segi bisnis nampak mengendur. Demikian juga secara kelembagaan tetap eksis, namun secara usaha mati suri terutama dalam pengelolaan pabrik Cambrics yang memproduksi kain mori. Bahkan pabriknya ada yang telah dijual dan sebagian dibiarkan menjadi bangunan tua yang tidak terawat. Menurut M. Rofiqur Rusdi, Sekteraris Koperasi Batik PPIP (Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan), koperasi ini memiliki pabrik berukuran besar jumlahnya tujuh unit. Bukti secara kelembagaan masih eksis, setiap tahun selalu menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Keanggotaanya juga tetap lestari, meski banyak di antara mereka tidak lagi berbisnis batik. Berkat berlakunya tradisi unik yang jarang dimiliki koperasi di daerah lain. Yakni, walau si anggota telah meninggal dunia, asalkan belum pernah mengundurkan diri, keanggotaannya akan diwariskan kepada salah seorang anak atau cucunya. Tergantung kesepakatan keluarga siapa yang mewakilinya. Jadi, tidak usah heran imbuh sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, kalau anggotanya sebagian besar tidak lagi mereka yang dulu aktif membatik, karena sudah tergantikan oleh keturunannya. Ia sendiri pewaris orang tuanya yang telah tiada. Kebijakan seperti ini menurut Rusdi juga berlaku bagi koperasi batik lainnya di Pekalongan.

SISA KEJAYAAN
Bila menoleh kebelakang, koperasi batik di Pekalongan ini di era 1960-an memiliki peran cukup besar, sehingga mengundang decak kagum bagi yang melihatnya. Dari tujuh koperasi batik itu, semuanya mempunyai pabrik Cambrics yang memproduksi kain mori untuk bahan baku batik. Bangunan pabriknya rata-rata berukuran besar dan mampu menampung ratusan unit mesin tekstil dari jenis ATM (Alat Tenun Mesin). Termasuk yang juga dimiliki oleh Koperasi Batik Setono, beberapa bangunan pabrik

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

132

miliknya mampu menampung sekitar 200-an unit mesin ATM. Sayangnya, sebagian besar bangunan tua yang mereka miliki sudah tampak kumuh dan tidak lagi berfungsi. Kalau toh dapat menghasilkan uang, tak lebih dari hasil sewa-kontrak dengan pihak lain. Koperasikoperasi batik yang pernah memiliki pabrik-pabrik besar, selain koperasi Batik Setono adalah PPIP, Koperasi Batik Pekajangan, Koperasi Batik Buwaran, Koperasi Batik Kopindo di Wiradesa, Koperasi Batik Wonopringgo di Kedungwuni dan Koperasi Batik Persaudaraan di ComalPemalang. Menurut Mirza Luthfi Mufthi, Ketua Koperasi Pengusaha Batik Setono (KPBS), koperasi yang dipimpinnya masih mempunyai harta sekitar Rp 15 miliar. Sebagian besar berbentuk tanah dan bangunan di beberapa tempat. Pabrik Cambrics yang dulu dimilikinya masih utuh, sebab yang dijual hanya mesinnya saja. Sedang bangunannya telah beralih fungsi menjadi toko, serta pasar grosir tekstil yang lumayan ramai di Pekalongan.

KOPERASI TERTUA
KBPS dan Pekajangan merupakan yang tertua, didirikan jauh sebelum negeri ini merdeka, yakni pada 1939. Izin operasional pun masih berdasarkan UU Koperasi No 91/1927 bikinan kolonial. Kemudian, secara berturut-turut menyusul koperasi batik lain seperti Buwaran, PPIP, Wonopringgo, Kopindo dan Persaudaraan. Selanjutnya, Pekalongan kala itu pun tumbuh menjadi kota industri batik yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat mengais rezeki, terutama para perajin batik. Sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya koperasi, dikarenakan sistem perdagangan bahan baku batik, baik kain mori maupun obat-obatan sulit diperoleh. Jika ada, barang dagangan tersebut telah dikuasai oleh pedagang etnis Tionghoa, yang seenaknya menentukan harga. Sehingga, tutur Achsan Syukur, sekertaris KPBS, untuk mengatasinya para pengrajin batik sepakat membentuk koperasi. Selanjutnya, menjadi pemasok bahan baku kepada anggotanya.

INOVASI
Yang menarik dan perlu ditiru adalah inovasi yang dilakukan oleh pengelola KPBS Setono. Betapa tidak, disaat yang lain belum memulai membuka bisnis grosir secara besar. Dia telah menyulap bekas pabrik Cambrics-nya di Jl Raya Pekalongan Timur berserta lahannya menjadi pasar grosir tekstil. Untuk ukuran Pekalongan, pasar grosir ini tergolong besar. Menurut Achsan yang juga pendiri KPBS mengungkapkan ketika pasar Tanah Abang Jakarta terbakar beberapa waktu lampau, pedagang kain dari sana datang ke pasar grosir Setono Pekalongan memborong tekstil. Ada dua komplek pertokoan dibekas lahan pabrik seluas lima hektar ini. Sebanyak 70 unit toko baru dibangun kerja sama dengan pihak ketiga dengan sistim BOT. Setelah sepuluh tahun kemudian, bangunannya resmi menjadi milik Koperasi Setono. Sedang lainnya bekas ruangan pabrik dan gudang direnovasi menjadi kios yang jumlahnya mencapai ratusan

133

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

unit. Di pasar grosir ini, khususnya bangunan kios pengelolaanya besama dengan PT Pasar Grosir dengan pola bagi hasil, 60% untuk koperasi dan 40% untuk investor. KPBS Setono ini memang kaya pengalaman karena usia. Sehingga, koperasi dengan anggota per 31 Desember 2005 sebanyak 291 orang ini berani melakukan beberapa terobosan bisnis. Hal tersebut dapat dilihat dalam RAT tahun buku 2005 yang mencantumkan beberapa unit usaha. Baik penyertaan (investasi) maupun jasa. Ada 10 item usaha dengan maksud terus memberi kontribusi kesejahteraan bagi anggota. Apalagi koperasi ini ingin terus hidup sepanjang masa. Karena ada regenerasi keanggotaan yang secara turun-temurun.

AKTIVITAS USAHA
Bentuk usaha yag berbentuk investasi di antaranya pada GKBI, bidang usaha koperasi besar simpanan sekitar Rp 440 juta. Di GKBI Investment yang bergerak dalam usaha ekspor tekstil, perdagangan, swalayan dan penukaran uang asing (money changer) menanamkan modalnya sebesar sekitar Rp 1,269 miliar, terdiri saham istimewa Rp 407,5 juta dan saham biasa Rp 861 juta lebih. Membeli saham 20 ribu lembar senilai Rp 423 juta kepada PT Apac Inti Corpora, yang bergerak pada industri tekstil dan komoditi ekspor. Menyertakan modal pada Pasar Grosir Setono Rp 42 juta, perdagangan sapi, jasa kesehatan (rumah sakit dan pelayanan kesehatan, pengolahan pupuk organik dan toko swalayan.

Tabel 1. Perkembangan Modal dan SHU, 2002-2005
Uraian 1. Modal 2. SHU 2002 1.675.275.508,84 86.279.262,03 2003 1.745.356.999,22 34.689.017,48 2004 1.759.905.125,02 36.590.438,02 2005 1.822.158.270,77 40.947.411,82

Sedang usaha simpan pinjam yang telah otonom, yakni Baitul Maal wat Tamwil (BMT KPBS) dengan modal sekitar Rp 550 juta berasal dari IKSP dan dari pemerintah berupa dana MAP Rp 350 juta. Selain itu menyewakan lahan untuk pusat grosir dengan pengelolaan sistem BOT dengan nilai sewa sekitar Rp 100 juta per tahun. Setelah 10 tahun, bangunan tersebut menjadi milik koperasi. Hasil dari semua unit usaha koperasi yang mengantongi badan hukum terakhir pada 1997 dengan No 5983b/BH/PAD/KWK.11/1/1997, tertanggal 31 Januari 1997 ini membukukan aktiva di luar gedung dan tanah pabrik sebesar Rp 3,080 miliar pada tahun buku 2005. Jumlah tersebut lebih besar dari tahun buku sebelumnya yang sekitar Rp 2,494 miliar.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

134

JAWA TENGAH

KPRI Daspin Pekalongan

KESEJAHTERAAN
135
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

MENGUTAMAKAN

Dokumentasi

T

ergerak untuk meningkatkan peringkat kesejahteraan guru-guru dan karyawan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Kotamadya Pekalongan, Goenawan Ashari yang saat itu menjabat Kepala Binsarpralub memprakarsai berdirinya organisasi yang menjadi wadah kesejahteraan guru TK, SD, dan karyawan. Pada 1 Mei 1974 didirikanlah sebuah paguyuban bernama Daspin. Paguyuban ini selanjutnya dikenal dengan nama Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Daspin Pekalongan. Daspin adalah singkatan dari “Dengan anggota sejahtera perlu ingat keluarga”, semacam ekspresi khas Pekalongan bernada kelakar-serius. Paguyuban Daspin tumbuh dan menorehkan riwayatnya dengan falsafah “Rukun bala rukun bandha”. Dari tahun ke tahun, berkat sosialisasi dan pelayanan pengurus yang cepat, baik dan tepat waktu, serta dukung anggota; paguyuban Daspin eksis mengikuti perubahan seiring dengan perkembangan zaman sekaligus menyesuaikan dengan kondisi perekonomian. Agar mereka ternaungi secara hukum, lewat RAT 1979

Pengurus dan pengawas siap menerima kunjungan tamu sejawat dari Jawa Timur.

Dokumentasi

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

136

paguyuban Daspin diubah menjadi organisasi berbadan hukum koperasi fungsional sebagai wadah kesejahteraan PNS dengan nama yang panjang: “Koperasi Pegawai Negeri Daspin Guru SD, TK dan karyawan Depdikbud dan Dinas P dan K, Kota Pekalongan” dengan badan hukum Nomor: 9423/BH/VI tanggal 5 Jalanuari 1981. Koperasi itu mempopulerkan diri dengan sebutan KPN Daspin. Berdasarkan keputusan Rapat Anggota Khusus tahun 1989 tentang Perubahan Anggaran Dasar Koperasi, KPN Daspin memperoleh pengesahan Perubahan Akta Badan Hukum Nomor: 9423 a./BH/VI tanggal 4 Juni 1990. Dan guna menyesuaikan dengan UU Nomor 25 Tahun

1992 tentang Perkoperasian, istilah KPN Daspin berubah menjadi Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Daspin dengan Badan Hukum Nomor: 9423 b./BH/ PAD.KWK.11/XII/96 tanggal 31 Desember 1996. Keanggotaan KPRI Daspin mengalami perubahan setiap tahunnya. Hal ini terjadi adanya anggota yang telah pensiun, pindah mukim ke luar daerah, dan penerimaan pegawai baru di lingkungan Pemda Kota Pekalongan. Selama periode 2003-2005 telah tercapai penabung anggota yang cukup banyak. Jumlah itu pada tahun 2000 sebanyak 587 orang tetapi menurun menjadi 572 orang setahun kemudian, atau menyusut sebanyak 15 orang. Tahun 2002 jumlah itu menurun lagi menjadi 552 orang. Jumlah itu pada tahun 2003 menyusut lagi menjadi 518 orang terjadi penurunan sebanyak 34 orang, tahun 2004 sebanyak 514 orang terjadi penurunan sebanyak empat orang. Anggota koperasi per 31 Desember 2005 tercatat sebanyak 514 orang.

KEORGANISASIAN, MANAJEMEN & USAHA
Komposisi kepengurusan KPRI Daspin periode 2004–2006 tetap berpegangan pada keputusan RAT tahun 2003. Ketua terpilih Drs. Martono Saptoputro dan Wakil Ketua H Alwi, S.Ag, Sekretaris masih dipercayakan kepada Rusyanto, S.Ag, dan Usada, S.Pd sebagai Bendahara yang dibantu Hj. Sri Suharyati, S.Pd. sebagai Wakil Bendahara. Adapun pembagian tugas, Pengurus dan karyawan untuk masing-masing bidang dilaksanakan sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan. Rapat Pengurus dilakukan secara rutin sebulan sekali dan rapat gabungan antara Pengurus dan pengawas dilaksanakan tiga bulan sekali. Rapat lain juga demi kepentingan dan kemajuan koperasi bisa saja dilaksanakan untuk hal-hal yang sifatnya sangat mendesak. Pola dan sistem manajemen dilaksanakan oleh Pengurus beserta karyawan yang setiap hari secara teknis melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, pembinaan dan koordinasi terhadap para karyawan dilaksanakan pengurus setiap saat, sesuai dengan kapasitas tugas dan tanggung jawabnya dan pengawasan oleh Pengawas secara administratif, maupun fisik dilakukan setiap tiga bulan sekali atau setiap saat. Peningkatan dan penyempurnaan administrasi umum dan keuangan terus diupayakan demi terwujudnya koperasi yang sehat, baik sehat organisasi, mental maupun sehat. Rapat Anggota Tahunan dilakukan secara rutin dan dilaksanakan tepat waktu. Laporan keuangan/pembukuan dilakukan dengan menggunakan sistim akuntansi. Laporan yang diperiksa kebenarannya oleh pengawas dan diaudit oleh akuntan publik ini disajikan pengurus koperasi pada Laporan Tahunan di dalam RAT. Sebagai dapur kegiatan organisasi, KPRI Daspin telah memiliki sebuah gedung permanen yang berdiri di atas tanah bersertifikat seluas 375 m², berlokasi di Jl. Manunggal No. 99 Kelurahan Kraton Lor, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Dari penilaian Koperasi dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, mulai tahun buku 2000 sampai 2005, KPRI Daspin selalu menuai klasifikasi A.

137

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Saat pelantikan pengurus dan pengawasKPRI Daspin

Dokumentasi

Unit bisnis KPRI Daspin meliputi pelbagai bidang usaha. Diantaranya USP, jasa perbankan dari bunga tabungan. Kepercayaan anggota menjadikan koperasi mampu melebarkan usaha ke unit pertokoan dan unit aneka usaha. Modal koperasi sejauh ini bersumber dari simpanan anggota, yang terdiri dari simpanan pokok sebesar Rp 50.000, simpanan wajib sebesar Rp 20.000/bulan, simpanan Hari Raya sebesar Rp 50.000/ anggota, simpanan bea siswa sesuai kemampuan anggota dan deposito anggota sesuai kemampuan anggota. Perkembangan permodalan koperasi yang meningkat dari tahun ke tahun adalah berkat kepercayaan anggota terhadap koperasi.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

138

JAWA TENGAH

Koperasi Wanita Patra (Kopatra) Cilacap

MAU BELAJAR
KOPERASI MEKAR
139
Penyusunan Berbagai Koperasi di Tengah Model dan Potret Koperasi Percontohan Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

S

etiap pemerintah kabupaten/kota (Pemkab/Pemkot) menjadikan sektor koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) sebagai pilar ekonomi, tak terkecuali Pemkab Cilacap. Bukan lantaran kepepet akibat sektor riil belum bergerak, tetapi kekuatan KUMKM telah terbukti. Tenaga kerja pun banyak terserap. Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar, terutama sektor kelautan dan industri minyak-gas (migas). Selain memiliki pelabuhan perikanan terpenting di kawasan Samudera Indonesia, di Cilacap juga terdapat fasilitas pengolahan bahan bakar minyak (BBM) salah satu yang terbesar di Indonesia. Cilacap menyimpan pula potensi pariwisata alam dan sejarah. Pulau Nusakambangan, misalnya, berpotensi untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata, selain tetap menjadi lokasi penjara kelas satu. Pulau dengan panjang 36 kilometer dan lebar enam kilometer ini mudah dijangkau dari Pelabuhan Lomanis, Cilacap. Nusakambangan kelak bisa ‘dijual’ kepada pelancong, seperti Al Catras di Amerika Serikat (AS). Objek wisata yang saat ini terkenal di antaranya adalah Benteng Pendem, Pelabuhan Tanjung Intan dan Pantai Teluk Penyu. Benteng Pendem yang mulai dikembangkan pada akhir 1980-an, mencakup areal seluas sekitar 6,5 hektare (ha). Benteng yang dikelilingi parit-parit dan dibangun semasa penjajahan Belanda selama 18 tahun (1861–1879) ini sangat ramai dikunjungi wisatawan, terutama di akhir pekan atau hari libur. Di Cilacap, juga berdiri pabrik semen Cibinong, yang sebelumnya bernama Semen Nusantara, pabrik pengolahan tepung terigu, pupuk kantong, industri jamu tradisional, serta sedang di bangun pusat listrik tenaga uap (PLTU) terbesar di Indonesia. Sedangkan untuk mendukung mobilitas para pekerja industri, ekspatriat, dan wisatawan sudah tersedia Bandar Udara Tunggul Wulung di Desa Tritih Kulon, Kecamatan Jeruklegi. Saat ini bandara dengan panjang landasan 1.400 meter ini baru bisa didarati pesawat kecil, dengan rute Jakarta–Cilacap (pp) dua kali dalam seminggu. Ke depan, panjang landasan akan ditingkatkan menjadi 3.000 meter, agar bisa didarati pesawat berbadan lebar terutama jenis Focker 28 dan Focker 100. Di sektor agribisnis dan perikanan laut masih bisa digenjot. Kabupaten terluas di Jateng ini memiliki persawahan seluas 63.452 ha (dan 150.397 ha lahan kebun). Hasil pertanian utama dari 23 kecamatan adalah padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan kedelai.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Kabupaten berpenduduk sekitar 1,605 juta jiwa (sensus 2000) juga giat mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat di sektor KUMKM. Terbukti, dari jumlah koperasi 388 unit yang tidak aktif hanya sekitar 6%. Perhatian Pemkab dan DPRD Cilacap pada sektor itu menurut Yusuf Effendi, kepala Bidang Koperasi dan UKM Dinas Perindagkop, cukup baik.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

140

Tahun 2005 Pemkab mengalokasikan APBD sebesar Rp 250 juta untuk modal perkuatan koperasi. Ada sembilan koperasi masing-masing mendapat Rp 25 juta. Bantuan lainnya adalah biaya klasifikasi 200 koperasi. Selain itu, Pemkab dan DPRD juga telah mencanangkan sektor koperasi dan UKM sebagai andalan peningkatan per kapita daerah. Sektor tersebut dapat dijadikan sebagai pilar pertumbuhan ekonomi rakyat. Sedang sektor UKM yang dikembangkan meliputi, sentra kerajinan patung Asmat di Kecamatan Jeruklegi. Malah produk tersebut sudah ekspor melalui Bali. Sentra industri makanan Steak Sukun di Cilacap Tengah, Kerupuk Tengiri di Lomanis, industri kemasan ikan asin di Cilacap Selatan, Sale Pisang di Sidareja, kerajinan kesed di Kroya, sentra kerajinan bambu di Nusawungu, dan sentra industri batu bata di kecamatan Adipala. Salah satu bukti keseriusan Pemkab membina koperasi, Kabupaten di pesisir pantai selatan Jawa ini pun terdapat beberapa koperasi primer berprestasi tingkat nasional. Seperti, primer koperasi perajin tahu dan tempe (Primkopti), Koperasi Wanita Patra (Kopatra), Koperasi simpan pinjam (KSP) Sejahtera Cimanggu dan Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyo. Khusus Primkopti dan Kopatra yang beraset lebih dari Rp 4 miliar tambah Yusuf, malah tidak mempunyai hutang. Koperasi lain yang asetnya Rp 4 miliar adalah KSP Sejahtera Cimanggu.

KOPATRA YANG SEJAHTERA
Dari beberapa koperasi berprestasi itu yang menarik untuk ditelusuri kinerjanya adalah Kopatra. Tidak lain, koperasi kaum hawa ini selain berkembang dalam usaha juga pemupukan modal hanya dari anggota. Kopatra juga tumbuh atas dampak positif menyuburnya emansipasi wanita. Dimana dalam era in banyak melahirkan wanita kreatif di berbagai lini. Urusan mensejahterakan keluarga bukan lagi monopoli kaum pria. Mereka saling berbagi dan memberi kesempatan untuk mengembangkan karier dan kemampuan sesuai keahlian yang dimiliki. Namun, mereka tetap menyadari kodratnya sebagai sosok yang lemah lembut dan keibuan. Bukti kreativitas itu, mereka akan terus belajar dan mencari untuk menemukan keinginannya. Mereka pun senang berorganisasi dan bergabung dalam darma wanita bagi para istri pegawai negeri sipil (PNS) atau menjadi anggota PKK dalam lingkungan tempat tinggal dengan tujuan menambah wawasan. Bagi mereka yang memiliki wawasan bisnis pun akan bergabung dalam kelompok-kelompok usaha maupun menjadi anggota koperasi. Bahkan, khusus koperasi yang dikelola kaum wanita sudah banyak yang berhasil. Ternyata selain ulet dan terampil, mereka mungkin telah memahami sebuah budaya atau falsafah yang santun. Bahwa, wanita atau wanito yang dalam Bahasa Jawa berarti wani ditoto atau patuh untuk diatur terutama oleh suami. Pada zaman sekarang saat arus globalisasi dan informasi makin cepat, belum sepenuhnya melunturkan makna tersebut.

141

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Bahkan, kepatuhan seorang wanita (istri) pada sang suami akan menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga. Kepatuhan sebagian kaum hawa dalam berorganisasi juga terbukti membuahkan hasil positif. Misalnya, dalam dunia perkoperasian. Kontribusi mereka melalui koperasi terutama Kopwan pun cukup menggembirakan. Contohnya Di Jawa Timur, bendera Kopwan telah berkibar berkat keberhasilan pola tanggung renteng. Dengan berkembangnya tradisi itu, koperasi telah menuai manfaat yang sangat besar. Anggota menjadi disiplin dan bertanggungjawab terhadap pinjaman, sehingga kredit macetnya nol persen. Titik Winarti, pengusaha kerajinan yang juga anggota Kopwan Setia Bakti Wanita (SBW) Surabaya adalah contoh wanita yang berhasil mengembangkan usahanya. Atas prestasinya, wanita berjilbab itu tahun 2005 diundang ke markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, untuk mempresentasikan tentang kegiatan berkoperasi dan usaha kerajinan dengan pengrajin rata-rata penyandang cacat. Nampaknya di Jawa Tengah, Kopwan pun banyak bermunculan. Salah satunya yang telah berkinerja cukup baik adalah Kopatra Cilacap. Keberhasilan itu berkat terjadinya sinergi antaranggota yang dikelola dengan baik oleh pengurus dan dikontrol secara periodik oleh badan pengawas.

MENANAMKAN KEPERCAYAAN ANGGOTA
Keberhasilan koperasi tersebut, merupakan andil besar para pengurus dan pengawas. Minimalnya, mereka telah berhasil menyadarkan anggota akan makna koperasi. Walau menjalankan pekerjaan itu tidak gampang tetapi diakui pengurus juga tidak terlalu sulit. Kuncinya, asal mau belajar dan tidak bosan mempraktikkan hasil dari belajarnya. Pengurus mengakui, awalnya sangat kebingungan mau diapakan dan dibawa kemana koperasi. Namun, setelah mereka giat belajar ke sana ke mari tentang perkoperasian, hasilnya, ternyata berkoperasi itu sangat menyenangkan. Pengakuan polos itu meluncur dari mimik Apriani Rusdamin, Sekretaris Kopatra. Menurutnya, kini semua unit usaha yang dikelola telah mengalami perkembangan yang lumayan, berkat keseriusan para pengurus dalam mengelola usaha dan kontrol pengawas yang rutin. Namun, power yang utama imbuh Apriani dukungan anggota. Sebab, berkat kepercayaan anggota pula, roda organisasi berjalan mulus. Anggota selalu datang tepat waktu mengangsur pinjaman dan tidak terjadi kredit macet alias tunggakan nol persen. Bagi anggota yang membayar paling cepat akan mendapat apresiasi yang nilainya telah ditentukan. Anggota yang menunggak hingga dua kali akan dikenai denda dan langsung diadakan pemotongan gaji suaminya. Untuk memotivasi anggota, Pengurus mempunyai cara dengan memberi perhatian khusus. Bagi anggota yang berulang tahun, baik kelahiran, perkawinan atau di hari-hari besar keagamaan mendapatkan bingkisan dan ucapan dari koperasi.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

142

Slamet AW

Pusat pelayanan Kopatra untuk memenuhi keperluan anggota.

Demi berkembangnya kreativitas dan inovasi Manajer Koperasi, Pengurus memberikan mandat yang leluasa untuk mengembankan usaha. Untuk memutuskan besarnya jumlah pinjaman pun memiliki kewenangan dengan besaran Rp 10 juta ke bawah. Sedang pinjaman yang lebih dari Rp 10 juta harus ada persetujuan pengurus. Tidak heran jika koperasi yang berdiri pada 1 Maret 1984 dengan anggota 3.803 ini tumbuh sebagai koperasi sehat. Bahkan, menjadi satusatunya koperasi tidak memiliki utang, khususnya di Kabupaten Cilacap.

KINERJA
Ada tiga unit usaha yang menjadi pilar pelayanan anggota, yakni, unit simpan pinjam, kredit barang-barang dan biro perjalanan wisata (BPW). Khusus usaha kredit barang sangat beragam, dari alat keperluan rumah tangga, perhiasan, elektronik, motor dan alat-alat olah raga sesuai keperluan anggota. Ada 13 unit toko yang telah bekerja sama dengan Kopatra. Sedang unit BPW, menyediakan paket perjalanan wisata sesuai permintaan konsumen. Melayani pesanan bus pariwiasata, reservasi hotel, ticketing, dan pencualan voucher telepon seluler. Total volume usaha tahun buku 2005 sebesar Rp 17,7 miliar dan menghasilkan SHU bersih sebesar Rp 120 juta. Yang membuat pengurus bangga adalah semua modal yang diputar adalah milik sendiri, yakni sebesar Rp 4,906 miliar. Erry Musaffar, Ketua I Kopatra, mengakui, sejak tahun buku 2004 Koperasi Wanita ini tidak memiliki utang dengan pihak ketiga.

PATUT MENJADI TELADAN
Kalangan praktisi koperasi Indonesia boleh meniru trik pengurus Koperasi Wanita Patra (Kopatra) Cilacap, Jawa Tengah. Dari segi aset

143

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

KINERJA KOPATRA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. PENDAPATAN PENGELUARAN SHU RENTABILITAS LIKUIDITAS MODAL LUAR MODAL SENDIRI SOLVABILITAS SIMPANAN POKOK SIMPANAN WAJIB SIMPANAN SUKARELA ASSETS JUMLAH KARYAWAN JUMLAH PENGURUS JUMLAH PENGAWAS JUMLAH ANGGOTA RAPAT ANGGOTA TAHUNAN RAPAT KELOMPOK RAPAT PENGURUS PELATIHAN DALAM JUMLAH VOLUME USAHA JUMLAH OUTLET POS PENAMPUNGAN MANAJER

2001

2002

2003

2004 4.039.552.010,00 2.100.698.585,41 109.735.000,00 3,81% 142,96% 3.808.985.000,00 156,45% 46.125.000,00 1.245.064.000,00 1.519.289.000,00 3.808.985.000,00 16 orang 5 orang 3 orang 3.717 orang 19/02/2005 24 kali 1 kali 15.581.4000.000,00 1 1 1 orang

2005 6.388.876.830,00 2.871.241.831,10 119.495.000,00 3,65% 144,85% 4.906.581.000,00 149,20% 163.900.000,00 1.440.317.000,00 2.070.289.000,00 4.906.581.000,00 16 orang 5 orang 3 orang 3.803 orang 22/02/2006 27 kali 1 kali 17.704.580.000,00 1 1 1 orang

55.408.000,00

69.863.000,00

77.363.000,00

103.750.000,00 1.126.729.000,00 51.175.000,00 469.273.000,00 320.391.000,00 1.230.479.000,00 12 orang 7 orang 3 orang 3.354 orang 13/02/2002 36 kali 4 kali 3.582.990.000,00 1 1 1 orang

76.028.000,00 1.953.544.000,00 48.300.000,00 728.117.000,00 582.718.000,00 2.029.572.000,00 13 orang 5 orang 3 orang 3.578 orang 13/02/2003 28 kali 3 kali 6.162.990.000,00 1 1 1 orang

23.034.000,00 2.520.468.000,00 47.600.000,00 898.580.000,00 835.719.000,00 2.543.502.000,00 15 orang 5 orang 3 orang 3.651 orang 14/02/2004 20 kali 1 kali 10.184.181.000,00 1 1 1 orang

memang masih relatif kecil tetapi modal yang dimiliki semua berasal dari partisipasi anggota. Prinsip dari ke dan untuk anggota telah dipraktikkan dengan mantap. Selain memodali anggota juga memanfaatkan jasa dan produk usaha koperasi. Artinya, koperasi bisa berkembang karena peran anggota sebagai pemilik sekaligus pangsa pasar. Anggota selalu mendukung program kerja yang disusun pengurus dan pengawas. Selain kecakapan pengurus meyakinkan anggota, pihak manajemen perusahaan juga sangat mendukung keberadaan koperasi. Koperasi diakui telah menuai perannya dengan baik, yakni ikut berpartisipasi menyejahterakan anggota yang notabene karyawan Unit Produksi (UP-IV) PT Pertamina Cilacap. Muchson Haryadi, sang general manager pun mengakui, Kopatra merupakan bagian integral dari kegiatan perusahaan walau secara legal berbadan hukum koperasi. Untuk itu pimpinan UP-IV Pertamina Cilacap yang juga pelindung Kopatra ini mengharapkan agar koperasi terus meningkatkan peranannya sehingga kesejahteraan yang telah dinikmati akan terus bertambah. Kinerja Kopatra juga mendapat pengakuan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Cilacap selaku Pembina Koperasi. Yusuf Effendi, Kepala Bidang Koperasi Dinas Perindagkop Cilacap, menegaskan, koperasi para istri pegawai Pertamina itu mampu menghimpun modal lewat berbagai bentuk simpanan anggota. Aset koperasi saat ini mencapai sekitar Rp 5 miliar adalah murni milik anggota.***
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

144

JAWA TENGAH

KSP Artha Prima Ambarawa

PENGGERAK RODA EKONOMI PEDESAAN

Zaenal Wafa

145

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

LATAR BELAKANG

D

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

146

ulu kalau membicarakan nama Ambarawa orang langsung tertuju pada sebuah telaga luas bernama Rawa Pening, Palagan Ambarawa atau Musium Kereta Api plus lokomotif veteran sebagai objek wisata menikmati pemandangan alam antara stasiun Ambarawa hingga stasiun Tuntang. Kini, boleh bertambah satu lagi yakni Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Artha Prima. Mungkin berlebihan, tapi setidaknya koperasi ini pun memiliki debit pelayanan yang cepat dan frekuensi peminat yang tinggi, walau tidak setinggi debit air waduk Rawapening yang mencapai 65 juta meter kubik. Selain itu, koperasi yang terletak di Jalan Jendral Sudirman Ambarawa ini telah berperan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi pedesaan bahkan pegunungan. Mengingat anggotanya itu para pelaku usaha mikro dan petani yang tiggal di desa dan lereng-lereng gunung. Sama halnya Rawapening yang menggerakan turbin PLTA di Jelok dan Timlo dengan daya 33 kilo watt. Manfaat lain, waduk juga menghasilkan ikan basah mencapai 700 ton per tahun. Dan, di antara petaninya itu telah menjadi binaan koperasi tersebut. Perihal jangkauan air waduk yang mampu mengairi sawah hingga puluhan ribu hektar tersebar di enam kabupaten/kota, KSP ini justru telah merambah 12 kabupaten/kota dan kemungkinan akan terus meluas setiap tahun. Itulah KSP Artha Prima, dari segi usia masih sangat belia tetapi lebih dari 30 ribu pengusaha mikro dan kecil yang tersebar di provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta terlayani. Koperasi ini lahir berkat rasa keprihatinan mendalam terhadap wong cilik yang menjadi objek lintah darat. Yakni, berawal maraknya praktek rente di pasar Bandungan dan Sumowono, Ambarawa. Bunga mencapai 30% yang dikenakan oleh para renten itu akhirnya memanggil kepedulian seseorang untuk mencegahnya. Berbekal nyali kuat dan taji yang tajam, praktek riba itu berhasil diredam. Faktanya, dalam usia yang baru satu pelita, ribuan orang mampu terlepaskan dari belitan rentenir dan belasan ribu wong cilik lainnya kecipratan manfaatnya. Tepatnya, KSP Artha Prima berdiri pada 20 Mei 2000, dengan Badan Hukum Nomor: 212/BH/KDK.11.1/V/2000, sebagai koperasi serba usaha (KSU). Untuk lebih memfokuskan sebagai koperasi yang khusus melayani usaha mikro, setahun kemudian (2002) koperasi ini hanya bergerak dalam simpan pinjam (KSP) dengan Badan Hukum Nomor : 030/BH/PAD/ KDK/.11.1/188.4/VIII/2002. Sesuai perkembangan usaha dan pelayanan anggota, koperasi ini terus melakukan perubahan-perubahan. Dari pelayanan tingkat kabupaten meningkat ke wilayah provinsi pada 2004 dengan regristasi pada 23 Maret 2004, bernomor : 07/BH/PAD/KDK.11/III/2004. Setahun kemudian, kepak sayapnya melebar menjadi koperasi primer nasional. Legalitas dari Kementerian Koperasi dan UKM pun dikantongi. Tepatnya, pada 19 April 2005 Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah telah mengeluarkan Surat Keputusan dengan bernomor: 62/ PAD/MENEG.I/IV/2005, KSP Artha Prima bisa membuka cabang dan melayani anggotanya di seluruh Indonesia.

MENGGANTI RIBA DENGAN LABA
Pasti melonjaknya perkembangan KSP tersebut diakui pengelola bukan bermaksud meniru kesaktian Ki Baru Klinting yang berhasil menemukan air bah melalui cabutan lidi dalam legenda Rawapening. Muhammad Nur Zubaedi, sang ketua hanyalah kebanyakan pemuda yang kebetulan bertumpah darah Ambarawa, sebuah kecamatan di Kabupaten Semarang. Ia juga mengaku bukan berasal dari golongan darah biru maupun keturunan si pembuat legenda di rawa seluas 2.670 hektar itu. Namun, pria berperawakan ramping itu mungkin termasuk sosok kawula muda berilmu, sekaligus mau mempraktekan kebisaanya untuk sesama. Kisahnya bermula, ketika menyaksikan betapa maraknya praktek rentenir dengan bunga lumayan tinggi yang diberikan para bakul di pasar Bandungan dan Sumowono. Praktek itu terus menyubur dan nasabahnya tidak mempedulikan soal bunga. Mereka tahunya menerima pinjaman itu sebagai uluran yang bisa membantu mengatasi usaha jual beli di pagi buta. Mengingat, pasar pasar induk agribisnis itu berkegiatan sepanjang malam hingga pagi. Mereka tetap menganggap para rentenir itu sebagai dewa penolong. Persyaratan yang mudah, sistem jemput bola dan prosesnya cepat menjadi sebuah kelebihan. Toh, para bakulan itu tetap mendapatkan keuntungan dari kegiatan jual beli itu. “Setelah saya mengamati sekaligus pelaku dalam komunitas di pasar itu, saya berpikir untuk membantu mencarikan solusi bagi mereka dengan cara yang lebih bijak. Singkat kata, kami membentuk semacam arisan harian, bagi si penerima dapat sebagai modal tanpa bunga,” ujar alumnus Fakultas Teknik Universitas Wangsa Manggala ini berkisah. Atas kerja keras dan kelihaian pengurus, usahanya kini telah membawa hasil. Keberadaan koperasi tersebut mulai diperhitungkan dalam percaturan perkoperasian di Jawa Tengah khususnya. Sekadar menelisik, pada periode 2005 menurut hasil survei Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit), KSP Artha Prima menempati rangking 32 dari 224 kopdit di Indonesia kategori kopdit beraset lebih Rp 1 miliar. Rangking pertama adalah Kopdit Pancur Kasih, di Provinsi Kalimantan Barat. Aset KSP Artha Prima saat itu (2005) sebesar Rp 9,078 miliar dan (2006) sekitar Rp 11 miliar. Intinya, arisan itu berkembang menjadi sebuah koperasi serba usaha (KSU) dan terus menyesuaikan dengan kepentingan anggota. Pada 2000, KSU itu berubah menjadi koperasi simpan pinjam (KSP) yang khusus melayani kegiatan Usaha Simpan Pinjam untuk usaha mikro. Setiap bulan tidak kurang melayani anggota sebanyak 2.500 orang. Ini sesuai visi kSP yang telah memiliki bangunan permanen tiga lantai di ruas SemarangJogja yang mengkhususkan melayani usaha kecil ke bawah. Anggotanya 90% adalah pelaku usaha mikro. Atau segmen eceran dengan plafond pinjaman berkisar Rp 100 ribu-Rp 1 juta. Walau kecil imbuh Nur, penyaluran pinjaman per bulan rata-rata Rp 2 miliar, atau sekitar Rp 20 miliar per tahun. Tidak heran kalau koperasi ini terus tumbuh menjadi yang favorit bagi pengusuha mikro. Jumlah

Muhammad Nur Zubaedi Ketua KSP Artha Prima

147

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Sla

me

tA W

anggota dan calon anggota yang dibina lebih 30 ribu orang. “Semua anggota dan calon anggota kami adalah mempunyai usaha sehingga mereka lancar mengangsur dan menunaikan kewajibannya sebagai anggota koperasi,” tukas mantan kondektur angkutan SemarangAmbarawa ini. Bukti kinerja baik, KSP yang sebagian besar anggota berusaha dalam bidang agribisnis, pada 2004 mendapat kepercayaan dari Kementerian Koperasi dan UKM untuk menyalurkan kredit bergulir khusus agribisnis sebesar Rp 1 miliar. Dana tersebut tutur alumni Magister Manajemen Stikubank Semarang itu dialokasikan untuk para petani keramba di danau Rawapening. Yang berhak memperoleh kucuran dana yang bersumber dari APBN itu, mereka yang telah memperoleh rekomendasi dari ketua kelompok tani. Setiap satu keramba akan menerima modal kerja sebesar Rp 1,5 juta. Untuk usaha ini, koperasi tidak membidik keuntungan sematamata tetapi tolong menolong. Sebab, para petani keramba itu akan membayar utangnya setelah panen atau sekitar enam bulan alias bayar panen (yarnen). KSP Artha Prima ini mematok jasa sebesar 2 persen bagi anggota dan 2,5 persen bagi nonanggota. Untuk memudahkan pelayanan, tenaga pemasar direkrut dari desa atau wilayah tempat usaha mikro itu berada. Tujuannya agar mudah mengetahui karakter pelanggan, sehingga kejadian kredit macet bisa diminimalisir. Bagi peminjam wajib mencicil harian atau mingguan sesuai kesepakatan. Bagi anggota atau peminjam yang meninggal dunia dibebaskan dari kewajiban alias dianggap lunas. Untuk proteksi tersebut koperasi memberlakuan pemotongan dana 0,05 persen sebagai asuransi. Semua in berkat misi yang telah dijalankan yaitu menumbuhkembangkan lembaga keuangan dengan menciptakan produk dan pelayanan berkualitas sesuai kebutuhan anggota.

KINERJA
Atas keberhasilan pengurus membangun kepercayaan anggota untuk mencintai koperasi, kini KSP Artha Prima tumbuh dan berkembang. Kendati jarang mendapat suntikan dana dari luar, mampu mencetak kinerja gemilang. Permintaan menjadi anggota dari berbagai kelompok masyarakat pun terus mengalir. Untuk merespon keinginan tersebut, pengurus terus berusaha memperbanyak membuka kantor cabang setiap kabupaten. Artinya, jika dalam wilayah tersebut ada beberapa kelompok usaha yang dilayani hanya dibuka kantor kas. Dengan kinerjanya yang bagus, KSP Artha Prima terus kebanjiran calon anggota. Inilah hasil kinerja itu tahun buku 2005, total aktiva Rp 8,932 miliar; simpanan pokok Rp 202 juta; simpanan wajib Rp 330 juta, cadangan Rp 214,3 juta, simpanan lain-lain Rp 605 juta, simpanan berjangka Rp 3,783 miliar dan pinjaman yang dikeluarkan Rp 17,6 miliar. Untuk memperlancar jalannya pelayanan kepada anggota, KSP Artha Prima membuka 12 kantor cabang dan tenaga marketing yang siap melayani 24 jam serta kantor kas yang tersebar di beberapa kecamatan dan desa yang terdapat sentra usaha mikro dan kecil. Kini menginjak

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

148

tahun ke enam KSP Artha Prima melayani anggota yang hampir 40 ribu anggota dan calon anggota di layani beberapa cabangnya, yaitu di Salatiga, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Klaten, Boyolali, Kota Semarang, Purwokerto, Banjarnegara, Purworejo, Bantul dan Sleman.

KIAT DAN STRATEGI
Setiap KSP Artha Prima hendak membuka cabang di daerah tertentu, diawali dengan membuka kantor kas yang dipimpin seorang marketing. Tugasnya mensurvei target, mengenali pasar dan menjaring anggota. Setelah warga setempat banyak yang memanfaatkan jasa koperasi dan menjadi anggota aktif, lalu kantor tersebut diresmikan menjadi kantor cabang. Pemasarannya menyerap anggota dari bawah (bottom up). Pola lain yang diterapkan adalah melayani langsung ke rumah atau ke tempat kerja. “Cara seperti itu ternyata berhasil membawa KSP Artha Prima menjadi favorit warga sekitar kantor cabang. Tidak pernah kurang dari 1.000 orang menyatakan keinginannya menjadi anggota saat kantor cabang diresmikan,” tegas Nur Zubaedi bangga. Keunikan lain soal rekrutmen karyawan KSP Artha Prima, terlebih bagian marketing atau manager cabang, mereka tidak pernah direkrut melalui iklan lowongan kerja. Melainkan melalui pendekatan adat (survey anthropologis). Caranya, Pengurus terlebih dulu sowan kepada tokoh masyarakat tempat akan dibukanya kantor cabang. Seraya memohon doa restu dan petuah, agar ada anak atau kerabatnya diijinkan menjadi karyawan koperasi yang hendak melayani warga sekitar. Kesopanan ala filasafat Jawa yang menurut Emile Durkheim sang pakar sosiologi dunia, sebagai “pagar mangkok”. Ternyata metode ini membuahkan hasil yang baik berganda. Selain memperoleh karyawan berkualitas yang teritory basic minded, juga mendapatkan “jaminan keamanan” dari sang tokoh yang berpengaruh tersebut plus bonus dukungan sosial yang kuat. Bagi karyawan yang mengundurkan diri pun tidak sembarangan digantikan. Penggantinya harus yang direkomendasikan oleh karyawan yang keluar itu. Atau yang ‘dibawa” oleh karyawan lawas yang bersedia menjamin integritas kepribadian juniornya. “Kami mencoba belajar dari pengalaman gagal atau hancurnya koperasi karena faktor manusia. Entah karena akhlak yang buruk atau ketidakmampuan menghadapi masyarakat. “tandas ayah tiga anak ini.

BELAJAR DARI PENGALAMAN
Menurutnya bila koperasi menganut cara industri juga mudah gagal. Semisal, praktek menarik dana masyarakat tetapi tidak menyalurkan kembali ke masyarakat, malah digunakan untuk membiayai proyeknya sendiri. Atau koperasi berlaku selayaknya pedagang yang menjual jasa kepada setiap orang yang membutuhkan uang. Sejatinya, imbuh Nur Zubaedi dia adalah orang kaya yang menjual uang tetapi mempergunakan wadah bernama koperasi simpan pinjam. Pola usaha yang diaplikasikan selama ini di KSP Artha Prima diakui

149

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

tidak berasal dari ilmu atau kemampuan akedemik. Basis Sarjana Pertanian dan tidak mengenal manajemen keuangan, apalagi akuntasi. Pengurus dan manajemen KSP Artha Prima murni mendapatkan ilmu dari belajar dan praktek menghadapi tantangan di lapangan. Kini dengan dukungan 187 karyawan yang dipimpin seorang manager telah eksis. Falsafah hidup yang ditekankan pada para pengurus dan karyawan adalah meniru ilmu padi. Semakin berisi makin merunduk atawa tidak sombong. Setidaknya, telah dibuktikan melalui pengabdiannya di koperasi. Walau mengaku dibesarkan oleh keluarga tentara tidak membuat egonya terlalu keras. Faktanya, walau kuliah tetap bertani dengan mengolah lahan pertanian milik orang tuanya. Bentuk kemandirian lain ditempuhnya sebagai seorang kenek otobis jurusan Semarang-Ambarawa, hasilnya untuk meringankan beban orang tua saat menempuh bangku Kuliah di Jogja. Ketika menyandang gelar insinyur pun tidak lari ke tengah keramaian kota mengamalkan ilmu yang sesuai. Justru kembali ke desa menjalani profesi sebagai pedagang hasil bumi dan bergaul dengan para bakul.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

150

JAWA TENGAH

KPRI Bhakti Praja Semarang

KOMITMEN KUAT
HASIL BERLIPAT
151
Penyusunan Berbagai Koperasi di Tengah Model dan Potret Koperasi Percontohan Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

Penataan aneka barang yang menarik, menggugah minat anggota berbelanja.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

152

engelola koperasi membutuhkan komitemen yang kuat, jika tidak kendala akan berlipat dan kemajuan pun terhambat. Demikian, ungkapan hati Prihanto Budirahardjo, sekertaris Koperasi Pegawai RI (KPRI) Bhakti Praja, Semarang, Jawa Tengah. Membuka dialog dengan tim peneliti koperasi berprestasi di kantornya. Menurutnya, mengurus koperasi bukan sekadar pintar mencari permodalan untuk mengembangkan unit-unit usaha. Terpenting, secara kinerja juga harus mantap. Menuju ke tahapan tersebut, diakuinya bukan hal mudah sehingga perlu dimanaj dengan benar. Hanya orang-orang yang cakap dan mau menekuninya dengan serius yang dapat menentukan. Asal ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak sempat melaksanakan sendiri pun dapat mendelegasikan pada yang ahli. Semisal, mengangkat manajer jika pengurus tidak mempunyai waktu cukup. Sebab, perlu juga gebrakan-gebrakan agar dapat mencapai hasil yang gemilang. Manajer kita tuntut supaya bekerja maksimal dan harus berani merambah bisnis yang sesuai tuntutan jaman. Memahami ungkapan hati pria yang telah puluhan tahun mengabdi sebagai PNS di lingkungan Kantor Gubernur ini, tentu perlu sambutan. Sebagai anggota koperasi yang merasakan betapa susahnya koperasi mewujudkan misinya menyejahterakan anggota. Wajar, saat mendapat kepercayaan menjadi pengurus ia dan pengurus lain berusaha menyemangatkan lesunya KPRI di tempatnya bekerja. Memang cita-cita itu masih normatif, namun tidak semua orang mampu mewujudkannya. Walau teori menyebutkan, mengurus koperasi fungsional itu lebih mudah ketimbang mengurusi koperasi yang tumbuh di lingkungan masyarakat (kopmas). Paling tidak, koperasi fungsional memiliki anggota berpenghasilan tetap dan berada dalam satu lingkungan. Pengurus atau pengelola akan terbantu terutama dalam pemotongan gaji untuk mencicil pinjaman. Kemudahan lain, pengurus maupun anggota berada dalam satu tempat sehingga mudah berinteraksi. Maka sangat wajar, jika ada yang mempertanyakan koperasi fungsional itu usahanya mandek, lesu darah dan bahkan bangkrut. Kemungkinan ada yang tidak beres dengan kerja pengelolanya. Pengalaman tersebut menurut Prihanto juga pernah dialami KPRI Bhakti Praja. Namun, ketidakberesan koperasi di lingkungan kantor Gubernuran Jateng itu bukan persoalan penggelapan atau indikasi KKN. Melainkan, hanya ketidakmampuan dan keterbatasan waktu pengurus. Layaknya lembaga usaha, sangatlah memerlukan orang-orang kreatif dan inovatif untuk menjalankan kegiatan usaha. Minimal, mereka harus mempunyai wawasan bisnis. Koperasi memiliki watak sosial yang kental itu benar, tetapi juga tidak haram jika kegiatan usaha yang dijalankannya berorientasi mencari keuntungan. Artinya, akan lebih baik seandainya
Slamet AW

M

panji koperasi tetap berkibar dan kalau bisa setara dengan lembaga bisnis lainnya. Berdasarkan atas kelemahan-kelemahan tersebut, ujar Prihanto yang didampingi Guntur Guritno, manajer, tidak heran kalau kinerja KPRI yang sejak 2002 turut diawakinya dalam kurun waktu tertentu mengalami kondisi stagnasi.

ENERGI BARU
Beruntung koperasi segera mendapatkan energi baru yang mampu memacu dan menggali potensi yang terpendam. Kenyataanya, setelah KPRI Bhakti Praja dikendalikan orang-orang yang mempunyai minat dan kemauan memberdayakan koperasi, terbukti mampu bangkit. Peluangpeluang bisnis berhasil ditangkap dan memanfaatkannya. Unit-unit kegiatan usaha yang dimiliki menunjukan perkemabangan yang berarti. Tidak lain, pengurus segera menyadari akan keterbatasan waktu yang juga dituntut untuk tugas-tugas kedinasan. Sehingga untuk mengendalikan semua kegiatan itu Kinerja KPRI Bhakti Praja, 2003-2005 pengurus mendeUraian 2003 2004 legasikannya pada seorang manajer. Pendapatan 2.480.506.000,00 1.519.109.650,43 Hasilnya, dePengeluaran 2.262.165.000,00 1.297.250.317,08 nyut nadi kegiatan SHU Kotor 192.881.000,00 221.859.333,35 Rentabilitas 2,88% 1,95% usaha makin teraLikuiditas 232,48% 322,97% sakan faedahnya Modal Luar 952.906.479,00 4.238.862.147,00 bagi anggota. Modal Sendiri 2.608.292.000,00 3.022.218.000,00 KPRI Bhakti Praja Solvabilitas 175,97% 141,43% pun tinggal seSimpanan Pokok 174.403.000,00 174.623.000,00 langkah lagi menSimpanan Wajib 1.502.596.200,00 1.835.294.600,00 jadi salah satu koSimpanan Sukarela 525.701.460,00 778.993.191,00 perasi di Indonesia Aset 6.041.705.547,60 10.317.107.551,36 yang mampu memJumlah Karyawan 22 Orang 23 Orang buktikan kesukJumlah Pengurus 6 6 sesan. Geliat ini Jumlah Pengawas 3 3 terasa sejak kepeJumlah Anggota 4.474 Orang 4.480 Orang ngurusan orde reformasi wabil khusus pengurus periode 2002-2006. dimotori Utami Handayani sebagai Ketua, begitu menerima mandat dari anggota segera berbuat. Rapat-rapat koordinasi sering dilakukan untuk memperbaiki kenerja. Maksudnya, agar amanah yang dipercayakan melalui RAT tahun buku 2002 dapat dijalankan dengan baik. Alhasil, kinerja koperasi terus menunjukan grafik peningkatan yang tajam. Memasuki tahun keempat atau akhir periode (2002-2006), setidaknya pengurus telah berhasil menerapkan visi dan misi sebagai koperasi yang bertujuan menyejahterakan anggota.

2005 2.055.262.474,87 1.810.024.262,24 245.238.212,63 1,70% 339,21% 5.596.731.785,00 3.409.777.000,00 138% 179.023.000,00 2.135.285.300,00 770.633.578,00 12.383.854.000,00 23 Orang 6 3 4.544 Orang

HASIL MENINGKAT
Koperasi yang beranggotakan sebanyak 4.554 orang per 31 Desember 2005 ini, setiap unit usaha yang dijalani mengalami peningkatan. Dari

153

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Unis usaha foto copy pun mendongkrak pendapatan KPRI Bhakti Praja.

Unit simpan pinjam (USP), pertokoan, foto copy, kantin dan unit angkutan. Namun yang dinilai strategis dan dominan dalam peningkatan pelayanan anggota adalah USP. Pinjaman yang tersalurkan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun buku 2004 sebesar Rp 11,838 miliar menjadi Rp 13,297 miliar per 31 Desember 2005. Unit ini menyumbang pendapatan sekitar 38,30% tahun buku 2005, yakni dari Rp 1,077 miliar menjadi Rp 1,490 miliar. Unit pertokoan dan foto copy juga menjadi incaran anggota, terbukti prosentase volume penjualan mencapai 41,50% dari tahun buku sebelumnya. Dari Rp 1,697 miliar menjadi Rp 2,401 miliar per 31 Desember 2005. Adanya peningkatan omset ini tidak lain karena makin beragamnya barang-banrang yang disediakan koperasi dan harga sangat bersaing. Kemudahan lain, pembayaran dengan kredit dan memperoleh voucer menarik bagi pelanggan. Unit foto copy menyumbang pendapatan dari Rp 28,613 juta menjadi Rp 30,417 juta. Sedang unit jasa angkutan urun pendapatan dari Rp 28,732 juta per 31 Desember 2004 menjadi Rp 37,625 juta. Unit yang mengalami penurunan pendapatan adalah kantin darp Rp 3,9 juta menjadi Rp 3,7 juta. Unit usaha lain yang juga favorit bagi anggota adalah arisan sepeda motor. Bahkan untuk usaha ini telah mengundang investor terlibat di dalamnya yakni PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah. Keikutsertaan pemodal ini dalam jangka pendek dapat meningkatkan nilai inmaterial dan jangka panjangnya cukup menjanjikan bagi koperasi.

Slamet AW

APRESIASI ANGGOTA
Bukti yang apik itu datang dari pantauan badan pengawas yang rutin mengadakan pengawasan secara periodik. Laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus setiap tahun buku mendapat predikat sehat. Segi modal dan perputarannya seperti likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas selalu menunjukan angka-angka positif. Pengurus dinilai telah melaksanakan rencana kerja dan anggaran setiap tahun buku selama periode kepengurusan dengan hasil yang cukup baik. Semisal, unit-unit usaha yang dijalankan kecuali unit kantin pendapatannya selalu naik. Atas kemampuan pengurus mengelola koperasi telah mendapat apresiasi anggota. Tingkat kepercayaan mereka terhadap koperasi meningkat. Anggota rajin memanfaatkan jasa dan berbelanja kebutuhan yang disediakan koperasi. Singkatnya partisipasi aktif anggota telah menjadi pemandangan rutin setiap hari. Seiring meningkatnya kesadaran dan jumlah anggota ini berpengaruh juga terhadap kenaikan modal koperasi. Baik simpanan pokok, simpanan wajib maupun suka rela sehingga kekayaan bersih koperasi bertambah. Dari Rp 3,022 miliar pada tahun buku 2004 menjadi Rp 3,410 miliar per 31 desember 2005. Atas kinerja tersebut koperasi berhasil membukukan sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp 221,3 juta atau naik sekitar Rp 20,4 juta dibanding tahun buku 2004 yang sebesar Rp 200,9 juta.***
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

154

JAWA TENGAH

KSP Karya Niaga Demak

KERJA KERAS

BAWA BERKAH
155
Penyusunan Berbagai Koperasi di Tengah Model dan Potret Koperasi Percontohan Lingkungan yang Berubah

Jahoras

K

Pelayanan maksimal kunci sukses KSP Karya Niaga.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

156

operasi Simpan Pinjam (KSP) Karya Niaga ini awalnya merupakan unit simpan pinjam (USP) Arto Barokah yang di dirikan pada 1997. kemudian pada 2001 berubah menjadi KSP dan memiliki tiga cabang yaitu, Koppas Lestari Trengguli, Koppas Karya Usaha Mintreng dan Koppas Bintoro di Demak. Kantor pusat terletak di Desa Ngaloran, Karangannyar, Demak berjarak sekitar 40 kilo meter dari kota Semarang. Sejak berubah menjadi KSP, cakupan pelayanannya semakin meluas. Mitra usaha atau pengguna jasa kredit pada umumnya para pedagang kecil (bakul), pengusaha kecil produsen krupuk, tahu tempe tidak hanya di Demak, tetapi menembus wilayah kabupaten sekitarnya seperti kabupaten Kudus, Jepara dan Semarang. Terjadinya ekspansi wilayah pelayanan ini menuntut manajemen menyiapkan petugas lapangan yang handal dan kreatif. Sebagai badan usaha berbentuk koperasi, struktur kelembagaannya diatur sesuai dengan Peraturan Perundangan Perkoperasian. Struktur kelembagaan ini terdiri dari Rapat anggota Tahunan (RAT), Pengurus dan Pengawas. Pengisian struktur kepengurusan dan pengawas dengan masa jabatan lima tahun ditetapkan dalam RAT, sebagai lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan. Untuk mempercepat perkembangan usaha KSP, para pengurus sepakat mengangkat tenaga profesional untuk mengelolanya. Awal 2005 pengangkatan seorang manajer pun dilakukan. Sosok yang menjadi pilihan mereka dan diyakini mempunyai kecakapan dan kemampuan adalah Yuli Purwaningsih. Ternyata pilihan pengurus tidak sia-sia berkat kesigapan manajer dengan dibantu 26 orang karyawan telah menunjukan perkembangan yang berarti. Kinerja KSP Karya Niaga yang terus menggeliat akhirnya mendapat perhatian dari masyarakat luas. Hal ini dibuktikan dengan jumlah anggota KSP yang terus meningkat. Pada tahun buku 2004 tercatat 459 orang anggota dan sebanyak 1.041 orang calon anggota. Tahun berikutnya jumlahnya naik lagi menjadi 616 orang anggota dan calon anggota 884 orang. Para anggota merasa mendapat manfaat menjadi anggota KSP Karya Niaga. Sebagaimana dituturkan salah satu anggotanya bernama Khaerul Anwar, dengan menjadi anggota KSP dirinya mendapat banyak manfaat, semisal saat sedang membutuhkan dana, baik itu untuk modal kerja maupun untuk kebutuhan konsumtif dapat dengan mudah diperoleh dari
Jahoras

koperasi. Nilai tambah lain, mendapat wawasan baru dan ilmu pengetahuan. Sebab, dirinya sering diikutkan dalam pelatihan–pelatihan. Atas kecakapannya itu setiap mengikuti RAT pun selalu aktif memberikan masukan kepada pengurus. Namun dari semua itu yang paling menyenangkan saat menerima pembagian SHU.

MEMBANGUN ETOS KERJA
Perjalanan KSP Karya Niaga yang terus menanjak ini tentu tidak lepas dari sentuhan Yuli Puwaningsih. Wanita lulusan Universitas Islam Malang ini, mampu mengembangkan pengalaman yang ditimba saat bekerja di sebuah lembaga keuangan. Gagasan-gagasannya ikut mewarnai dalam mengembangkan KSP. Langkah pertama ia lakukan dengan membenahi sistem administrasi dan manajemen. Semua brosur, buku tabungan, kop surat dan bahan penunjang seperti formulir pengajuan kredit ia cetak dalam format selayaknya bank. Kemudian, memacu semangat kerja karyawan dengan memberikan penghargaan atas prestasi yang dicapai berupa bonus-bonus tertentu sebagai tambahan penghasilan. Kepada petugas lapangan/marketing memberlakukan sistem target dalam menyalurkan kredit maupun tabungan yang harus dicapai tiap bulannya. Bagi marketing yang memenuhi target akan memperoleh bonus satu persen. Disamping itu, untuk marketing yang rutin mencapai target akan dipromosikan menjadi supervisor. Dengan sistem penghargaan ini menurutnya akan sangat memacu etos kerja yang maksimal. Pola manajemen yang diterapkan manajer ini ternyata membuahkan hasil. Penyaluran kredit dan jumlah tabungan grafiknya terus naik. Tahun buku 2006 KSP Karya Niaga telah menyalurkan kredit setiap bulan ratarata Rp 500 juta. Sedangkan tabungan rata-rata mencapai Rp 50 juta setiap bulan.

Yuli Puwaningsih, Manajer KSP Karya Niaga

PELAYANAN
Pelayanan yang diberikan KSP kepada anggota dan masyarakat yaitu simpanan dan pinjaman. Bentuk simpanan berupa simpanan berNO ASPEK PENILAIAN DES 2004 jangka, tabungan umum dan ta1. KEUANGAN bungan Ziarah Walisongo. Kepada Modal Sendiri 227.875.853 para penabung diberikan bunga Asset 1.415.433.367 SHU 59.435.650 menarik. Untuk bunga tabungan berjangka berkisar 1,5%-2% per 2. ADMINISTRASI/MANAJEMEN bulan atau tergantung jangka waktu Jumlah Anggota 459 simpanan. Sedang tabungan umum Jumlah Karyawan 20 bunganya satu persen per bulan. Pengelola Usaha Pengurus Khusus bagi tabungan Ziarah 3. LEGALITAS USAHA Lengkap Walisongo ketentuannya minimal (SIUP, TDP, NPWP, BH) Rp 50.000 tiap bulan selama dua tahun. Pengaturan dan pemanfaatannya sistem arisan dengan peserta 150 orang. Setiap bulan pada Jum’at pertama dilakukan undian. Peserta yang
DES 2005 324.384.353
1.766.258.417 91.055.500

Jaho

ras

% 42,4
24,8 53,2

616 26 Manajer Lengkap

34,2 30,0

157

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Kinerja KSP Karya Niaga Des 2004 - Des 2005 1.415 (dalam juta rupiah)
227,9 324,4

Modal Sendiri

ASSET

mendapat nomor berhak atas uang sebesar Rp 1,2 juta. Bagi peserta yang secara teratur menyetor tabungan arisannya mendapat bonus Ziarah Walisogo gratis, semua biaya ditanggung koperasi. Pola lain yang menarik dan perlu diapresiasikan adalah pemeloporan gerakan menabung para pelajar disekitar wilayah kerja. KSP menjalin kerja sama dengan para pendidik untuk memobilisasi pelajar agar gemar menabung. Manfaat lain dengan keberadaan KSP adalah membantu mengatasi kesulitan-kesulitan keuangan. Mereka yang membutuhkan dana cukup datang ke kantor pelayanan KSP. Setelah menyampaikan rencana penggunaan uang disertai dengan berkas identitas diri dan agunan yang umumnya menggunakan BPKB 1.766 Des. 2004 kendaraan bermotor, pinjaman yang diinginkan Des. 2005 segera diperoleh. Pelayanan yang cepat dan prosedur sederhana yang terapkan manajemen menjadi pemikat tersendiri bagi pengguna jasa kredit. Besaran flapon pinjaman 59 91 yang diberikan minimal Rp 250 ribu dan maksimalnya tidak melebihi dari 2/3 nilai jual agunan yang SHU diberikan. Walau begitu bukan tanpa perhitungan matang. Semua kredit yang disalurkan telah melalui analisa kelayakan bagi peminjam. Pengembalian pinjaman dilakukan dengan cara mengangsur bulanan atau musiman dengan bunga berkisar 3- 5% per bulan. Keterlambatan pembayaran angsuran dikenakan denda sebesar 5% dari jumlah angsuran.

KEPERCAYAAN MENOREH PENGHARGAAN
Komitmen pengurus dan manajemen yang sungguh-sungguh di dalam mengembangkan usaha telah mendapat perhatian dari masyarakat luas dan pemerintah. Indikator itu dapat terlihat misalnya dari besarnya minat masyakarat untuk menjadi anggota. Demikian juga minat masyarakat menempatkan uangnya dalam bentuk tabungan. Pada 2004 tercatat jumlah tabungan di KSP ini sebesar Rp 922 juta. Tahun buku 2005 naik menjadi Rp 941 juta. Disamping itu dalam rangka memperkuat permodalan, KSP tidak mengalami kesulitan memperoleh kredit dari sektor perbankan. Pemerintah sebagai institusi pembina dalam hal ini Kementerian Koperasi pada 2005 pun memberikan dana bergulir program pemberdayaan usaha kecil sebesar Rp 1 miliar. Sebelumnya KSP ini juga pernah mendapat kepercayaan untuk menyalurkan dana kompensasi BBM. Program tersebut juga dapat dilaksanakan dengan baik. Semua prestasi yang dicapai tidak membuat pengurus dan manajemen berpuas diri. Upaya peningkatan prestasi dan kepercayaan masyarakat tetap menjadi komitmen pengurus. Mereka bertekad akan terus meningkatkan prestasi hingga kepercayaan masyarakat dan pemerintah tetap terjaga, demikian tegas Tukiman, ketua KSP Karya Niaga.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

158

JAWA TIMUR

KPRI Harapan Mojokerto

MAJU TERUS
PANTANG MUNDUR
159
Penyusunan Berbagai Koperasi di Tengah Model dan Potret Koperasi Percontohan Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

H

arapan selalu tidak terwujud dalam impian seseorang tapi koperasi dapat memberi pemecahan konkrit. Termasuk koperasi pegawai Republik Indonesia Harapan yang tidak sekedar memberi harapan tapi memberikan kekuatan ekonomi bagi anggotanya. Koperasi KPRI Harapan didirikan pada tahun 1967 telah memperoleh badan hukum pada dengan nomor 10494/BH/II/12-67. Berdirinya koperasi ini masih terkait dengan keberadaan salah satu lembaga pendidikan negeri yang berada di kota Mojokerto, Kab. Mojokerto, Prov. Jawa Timur. Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Harapan tergolong koperasi yang eksis selama 39 tahun (tahun 1967-2006), sejak era orde lama, era orde baru, dan era orde reformasi. Hal ini menunjukkan bahwa koperasi sebagai organisasi ekonomi benar-benar tidak terpengaruh dengan adanya berbagai gejolak politik. Pada tahun 2005 jumlah anggota mencapai 631 orang yang meliputi para guru-guru SD, pensiunan dan karyawan serta simpatisan-simpatisan dari instansi lain. Wilayah kerja koperasi ini meliputi sekota Mojokerto. Kegiatan koperasi pada mulanya diawali dengan kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang jasa simpan pinjam di lingkungan pegawai dan pengajar. Dalam perkembangannya, atas dasar memenuhi kebutuhan para anggotanya dan peluang usaha yang memiliki prospek yang baik, maka koperasi melakukan kegiatan diversifikasi usaha dalam bidang lain yaitu perdagangan umum khususnya sembako dan jasa pengetikan komputer. Sedang untuk saat ini sedang diupayakan penggalangan dana guna pendirian SPBU.

ORGANISASI
Dalam rangka menjalankan usahanya, koperasi dikelola tujuh orang pengurus dan empat orang karyawan. Sedang dewan pengawas terdiri dari tiga orang. Masing-masing bekerja sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan. Koperasi ini termasuk koperasi yang tertib, dalam pengertian mampu menyelenggarakan RAT secara konsisten dalam tiga tahun terakhir setiap bulan Januari, yaitu setelah tutup buku. Dalam melakukan koordinasi, pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan maka antara pengurus, pengawas dan karyawan telah melakukan pertemuan sebanyak 35 kali. Dalam hal pelaporan pertanggung jawaban Pengurus Koperasi lebih banyak memberikan laporan kegiatan yang telah dilaksanakan yang bersifat kuantitatif. Uraian yang bersifat hasil analisis kegiatan baik terkait dengan tentang musabab kegagalan atau keberhasilan program tidak diangkat kepermukaan, sehingga para anggota tidak mengetahui proses apa yang terjadi di dalam pengurus menjalankan tugasnya. Sarana

Tabel 1. Perkembangan Anggota
Uraian 1. Anggota Penuh 2001 688 2002 688 2003 670 2004 662 1 2005 631

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

160

2. Calon Anggota

perangkat kerja adminitrasi yang dimiliki organisasi terkait dengan aturan dan mekanisme kerja didalam menjalankan organisasi cukup lengkap, tercatat secara keseluruhan sebanyak 28 buku. Jumlah anggota yang terdaftar dan perkembangannya sampai dengan tahun 2005 sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Sebagai upaya peningkatan SDM khususnya para anggota, maka pihak koperasi telah melakukan kegiatan pembinaan dalam bentuk pelatihan dengan materi pengenalan koperasi, pengelolaan akutansi dan manajemen, kewirausahaan/bisnis eceran, dan pengenalan komputer.

SISTEM INSENTIF
Dalam rangka pengembangan usaha khususnya yang terkait dengan penggalian sumber dana, pengurus telah merumuskan beberapa kiat dan strategi, antara lain; membuka Simpanan Manasuka Berjangka (SIMAKA) & Hari Raya, memberikan jasa 1,10 % tiap bulan, pihak koperasi telah mampu menarik dana dari anggota dengan nilai uang yang cukup besar dan pada tahun terakhir menunjukan peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Beberapa kegiatan disamping memberikan

Tabel 2. Komposisi Permodalan Usaha KPRI Harapan
URAIAN 1. MODAL SENDIRI a. Simpanan Pokok b. Simpanan Wajib c. Dana Cadangan - Koperasi - Pembangunan - Resiko - Khusus Jumlah dana cadangan d. SHU belum dibagi Jumlah 2. MODAL LUAR a. Simpan Berjangka/Simaka b. Modal Jangka Pendek c. Modal Jangka Panjang Jumlah 3. TOTAL MODAL USAHA 2003 6.620.000 784.414.215 2004 6.700.000 890.052.760 2005 6.310.000 1.002.618.865

316.498.827 3.785.300 5.920.526 1.285.300 327.489.953 125.180.167 1.243.704.335

354.052.877 3.785.300 5.920.526 1.285.300 365.044.003 134.061.779 1.395.858.542

394.271.411 3.785.300 10.920.526 1.285.300 410.262.537 167.813.839 1.587.005.241

658.763.948 239.425.000 77.700.599 975.889.547 2.219.593.882

980.240.948 322.350.685 82.278.199 1.384.869.832 2.780.728.374

1.515.873.000 694.058.281 85.486.999 2.295.418.280 3.882.423.521

Tabel 3. Komposisi Kegiatan Simpan Pinjam KPRI Harapan
2004 Uraian A. Anggota a. Simpanan Pokok b. Simpanan Wajib c. Simpanan Sukarela d. Simpanan Wajib Pinj. B. Dana SIMAKA Jml. Anggota 662 662 Besar Simpanan 6.620.000 890.022.760 4.500.540 30.940.765 980.240.948 Jml. Anggota 631 631 2005 Besar Simpanan 6.310.000 1.002.618.865 2.880.540 30.940.765 1.515.873.000

161

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 4. Perkembangan Volume Usaha
VOLUME USAHA (Perjenis Usaha) 1. Usaha Simpan Pinjam 1 2. Pertokoan 3. Siaga 4. Usaha Simpan Pinjam 2 5. SIMAKA Total Volume Usaha 2004 1.985.674.216 22.133.329 322.350.685 92.900.915 980.240.948 3.403.300.093 2005 2.112.493.990 43.365.760 99.875.100 261.319.200 830.903.690 3.308.957.690

pinjaman kepada anggotanya, maka dalam kaitannya dengan kesejateraan anggotanya pihak koperasi telah memberikan hadiah pada anak didik yang berprestasi dan bea siswa kepada putra-putri anggota yang memiliki prestasi lulusan SMP dan SMA serta memberikan bingkasan pada hari Raya Natal dan Idul Fitri. Koperasi menyediakan kebutuhan sembilan bahan pokok maupun keperluan rumah tangga lainnya bagi anggota dengan prosedur seperti USP.

PENGEMBANGAN SIMPANAN
Untuk mengetahui sejauh mana kinerja koperasi dan prestasi yang telah dicapainya, maka hal tersebut dapat dilihat pada indikator sebagai mana digambarkan pada Tabel 4. Dari Tabel 4 menunjukan adanya kenaikan perolehan sisa hasil usaha setiap tahunnya. Dibukanya Simpanan Manasuka Berjangka/SIMAKA telah mampu menarik dana para anggotanya untuk disimpan dan diputar kembali sebagaimana ditunjukan pada Tabel 2 serta menunjukan peningkatan dana SIMAKA yang cukup signifikan terhadap peningkatan modal usaha. Untuk mengetahui perkembangan volume usaha dapat dilihat pada Tabel 4. Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha koperasi dapat melihat besaran parameter yang terdapat pada Tabel 3. Koperasi mempunyai kinerja yang madai dengan kemampuan membayar hutang dengan segera.

Tabel 5. Komposisi Rasio Kinerja KPRI Harapan
RASIO Liquidity - Current Ratio= Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar - Current Riability to Net worth=Kewajiban Lancar : Modal sendiri Total Debt to Equity = Jumlah Kewajiban : Modal sendiri - Total Aset Turnover = Pendapatan Netto : Jumlah Aktiva - Net Operting Profit Margin = SHU seb.Pajak : Pendapatan Penjualan 2003 2,22 0,76 0,77 0,26 0,22 2004 2,80 0,94 0,96 0,23 0,21 2005 2,50 1,22 1,23 0,17 0,28

Leverage Activity

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

162

Dengan demikian harapan anggota pegawai negeri untuk mengandalkan koperasi dapat dipenuhi oleh KPRI Harapan. KPRI Harapan mencoba meluaskan usaha dimana kemungkinan dapat memberikan pendapatan bagi koperasi yang pada akhirnya mensejahterakan anggota koperasi.***

NUSA TENGGARA TIMUR

Kopdit Swasti Sari Kupang

CALON ANGGOTA
SKALA PRIORITAS
163
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Subroto

K

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

164

ota Kupang memiliki wilayah seluas 229,97 Km2, termasuk Bandar Udara El Tari seluas 19,69 Km2. Seluruh wilayah tersebut secara administratif terbagi dalam empat wilayah kecamatan yang meliputi 45 kelurahan. Keempat kecamatan itu, masing-masaing Kecamatan Alak, Maulafa, Oebobo dan Kecamatan Kelapa Lima. Berdasarkan hasil registrasi penduduk tahun 2001, jumlah penduduk Kupang berjumlah 241.370 jiwa. Dilihat dari struktur penduduk berdasarkan mata pencaharian, sumber usaha yang banyak digeluti oleh masyarakat meliputi: Sektor pertanian atau primer berjumlah 5.952 jiwa, sektor sekunder 11.292 jiwa, sektor tersier 26.100 jiwa dan sektor lainnya sebesar 28.728 jiwa. Jumlah angkatan kerja meliputi penduduk yang bekerja sekitar 72.072 jiwa, angkatan kerja 79.272 jiwa, mencari kerja 7.200 jiwa, sekolah 55.764 jiwa, mengurus rumah tangga 39.756 jiwa dan lainnya 17.772 jiwa. Di kota ini, terdapat 5.561 unit usaha kecil yang menyerap tenaga kerja 11 ribu orang. Unit usaha tersebut terdiri dari sektor perdagangan, jasa, industri kecil, kerajinan dan pertanian serta peternakan. Jumlah koperasi yang ada di kota ini, sebanyak 285 koperasi. Rinciannya, 202 merupakan koperasi aktif, 83 koperasi tidak aktif dan koperasi yang baru terbentuk sebesar 28 koperasi. Jumlah anggota koperasi sebanyak 42.601 orang. Dari jumlah 285 koperasi yang ada, dua koperasi merupakan Koperasi Unit Desa, sedangkan 283 non Koperasi Unit Desa. Jumlah anggota KUD sebanyak 5.266 orang. Jumlah anggota koperasi non KUD sebanyak 37.335 orang. Dilihat dari sumberdaya manusia yang mengelola koperasi, terdapat 45 orang sebagai manajemen dengan karyawan sebanyak 301 orang. Audit internal dan eksternal yang telah dilakukan terhadap 161 koperasi. Ditinjau dari sisi permodalan koperasi, maka modal sendiri sebanyak Rp 10, 810 miliar dan modal luar sebanyak Rp 5,941 miliar. Sedangkan volume usaha koperasi sebesar Rp 12,555 miliar dan sisa hasil usaha rata-rata Rp 780.615. Sementara aset koperasi sebesar Rp 16.751.775. Dari 283 koperasi non KUD, salah satunya bernama Koperasi kredit (kopdit) Swasti Sari yang terletak di Kota Kupang. Koperasi berdiri sejak 1 Februari 1988 yang saat itu diawali dengan nama Credit Union Swasti Sari. Pada awalnya anggotanya hanya terdiri dari guru dan pegawai Yayasan Swasti Sari Keuskupan Agung Kupang (YASWARI KAK) serta anggota keluarga. Kemudian dalam perjalanan tepat tahun 1997 mengalami perubahan anggaran dasar dengan Nomor : 10/PAD/ KWK/24/IV/1997, pada saat itu mulai membuka diri untuk menerima anggota dari berbagai golongan khususnya di wilayah kota dan kabupaten. Kopdit Swasti Sari adalah lembaga ekonomi usaha keuangan yang dimiliki oleh anggota, dikembangkan oleh anggota serta dimanfaatkan oleh anggota untuk meningkatkan kesejahteraan anggota itu sendiri serta masyarakat sekitarnya. Kopdit Swasti Sari pengertiannya sebagaimana Koperasi di Indonesia

pada umumnya yang berasal dari kredit berasal dari kata credere yang artinya kepercayaan. Sedangkan swasti sari artinya inti kebenaran ilmu pengetahuan. Jadi arti dari Kopdit Swasti Sari adalah kebenaran ilmu pengetahuan tentang perkoperasian yang mengatur tentang pendidikan anggota, struktur dan manajemen usaha, sistem administrasi yang berlaku dan kebenaran akan informasi teknologi. Dengan adanya kebenaran tersebut, maka diharapkan Kopdit Swasti Sari akan semakin dipercaya anggota dan masyarakat. Mereka juga diharapkan mempercayai itikad baik dari kepengurusan/pengelola, percaya pada itikad baik pengelolaan administrasi yang profesional serta percaya pada sistem manajemen yang terbuka (open manajemen). Dengan adanya suasana saling percaya, diharapkan koperasi dapat berkembang seirama dengan meningkatkan kesejahteraan keluarga para anggota khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

TENANG DAN AMAN
Tujuan utama adalah meningkatkan kesejahteraan anggota keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat umumnya melalui pemanfaatan koperasi secara maksimal. Dengan demikian Kopdit Swasti Sari dapat melayani pinjaman anggota secara mudah, berdaya guna dan profesional yang didukung oleh partisipasi dari semua anggota. Ambil contoh, Kopdit memiliki berbagai macam simpanan saham. Rinciannya, ada simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan kapitalisasi dan simpanan sukarela. Sedangkan simpanan non saham yaitu terdiri dari SISUKA (Simpanan Sukarela Berjangka), SIBUHARI (Simpanan Bunga Harian), SIPANDIK (Simpanan pendidikan) dan TAMAPAN (Tabungan Masa depan) Sementara pinjaman produktif untuk modal usaha atau modal kerja, koperasi menyediakan: pinjaman perumahan, pinjaman pendidikan, pinjaman investasi, pinjaman micrifinance, pinjaman kesejahteraan dan pinjaman darurat. Nilai tambah dari Kopdit ini yang kemungkinan tidak dimiliki oleh koperasi-koperasi lain yakni anggota akan menjadi tenang dan aman. Mengapa? Karena setiap simpanan dan pinjaman yang tercatat dalam koperasi ini selalu dilindungi oleh Daperma atau Dana Perlindungan Bersama. Untuk memperbesar simpanan, anggota sudah dilindungi sampai dengan Rp 20 juta. Sedangkan terkait pinjaman, anggota juga sudah dilindungi sampai dengan Rp 35 juta. Apabila ada anggota kopdit ini yang meninggal dunia atau ditimpa kecelakaan sampai cacat total, maka seluruh pinjaman akan dibayar/ dilunasi oleh Daperma. Selanjutnya, ahli waris dari dari anggota yang meninggal akan mendapat santunan sebesar simpanannya. Bahkan simpanan dibayar dua kali lipat. Dengan demikian keluarga sebagai ahli waris tidak menanggung warisan hutang dan pinjaman koperasi. Semantara itu calon anggota baru yang diprioritaskan adalah staf atau karyawan. Baik karyawan instansi pemerintah maupun swasta, pengusaha,

165

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

wiraswasta kecil sampai menengah di Kota Kupang dan sekitarnya. Obsesi ini tidaklah muluk-muluk, karena Kopdit Swasti Sari termasuk salah satu kopdit model, tersehat dan terbesar asset kekayaannya di tingkat Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Timor serta mempunyai pelayanan sistem print out (sistem komputerisasi) yang baku. Kopdit ini memiliki komitmen seperti ini: Bagi Anda di Kota Kupang dan sekitarnya sebagai staf dan karyawan baik negeri maupun swasta serta pengusaha/wiraswasta, pedagang kaki lima maupun masyarakat umum yang ingin membutuhkan modal/dana cepat untuk menambah modal usaha, perumahan, pendidikan serta kesejahteraan yang prosesnya cepat tanpa berbelit-belit. Silahkan Anda menjadi anggota sesuai dengan persyaratan yang ada. Koperasi kami siap menerima Anda tanpa membedakan suku, agama, dan ras. Tujuannya, agar kopdit Swasti Sari tumbuh dan berkembang menjadi besar di Kota Kupang dan sekitarnya.

MENERAPKAN PRINSIP KOPERASI
Loyalitas pengurus membangun kepercayaan untuk mencintai koperasi, membuat kopdit ini tumbuh dan berkembang selama 18 tahun. Kendati jarang mendapat suntikan dana luar, tetapi koperasi tersebut koperasi ini mencetak kinerja gemilang. Harapan yang dapat diperoleh dari tema yang letih lesu dikuatkan, yang memikul beban berat diringankan, sehingga hidup mempunyai makna.

Tabel Perkembangan Prestasi Kerja, 2004 – 2005
Uraian 1. Anggota ( orang ) 2. Simpanan Saham a. Simpanan Pokok b. Simpanan Wajib c. Simpanan Kapitalisasi 3. Simpanan Non Saham a. Simpanan Sukarela b. Sibuhari c. Sipandik d. Sisuka 4. Pinjaman beredar 5. Dana Cadangan 6. Pendapatan 7. Biaya 8. Sisa Hasil Usaha 9. Asset/Kekayaan 2002 391 (Rp) 9.765.000 83.665.500 34.269.200 562.877.550 28.142.822 38.640.691 84.500.000 1.072.381.450 105.728.011 243.334.595 211.140.298 32.194.297 1.369.710.656 2003 444 (Rp) 22.137.500 127.802.500 68.291.000 757.472.200 350.463.133 77.690.943 87.927.375 1.414.753.800 137.450.253 434.680.552 354.102.018 77.328.534 2.012.986.484 2004 579 ( Rp. ) 28.950.000 183.622.000 137.533.600 1.047.546.675 350.463.133 126.996.693 71.000.000 2.203.571.150 214.249.253 617.223.706 518.214.632 99.009.074 2.906.255.912 2005 738 ( Rp. ) 55.350.000 253.862.000 218.983.800 1.399.194.625 513.765.008 153.466.868 130.000.000 3.197.253.600 313.807.260 840.817.623 710.253.178 117.377.445 3.986.165.862

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

166

Dari pemikiran itulah, sehingga RAT tahun 2005 mengambil tema: Dengan RAT Kita Berdayakan Ekonomi Kerakyatan Melalui Program yang Sudah Digariskan. Di samping mengidealkan sebuah harapan, pengurus koperasi menyadari bahwa kiprah mereka selama periode tersebut relatif menuai hasil yang maksimal. Termasuk ada kegagalan dan

kesuksesan yang tidak terhitung banyaknya. Keduanya membaur dalam realitas kerja koperasi. Tahun 1990 Kopdit ini sudah menjadi anggota Daperma serta menjadi anggota silang pinjam daerah Puskopdit Bekatigade Timor. Kopdit merasa dituntut meningkatkan kinerja lewat program pengembangan anggota dan peningkatan modal. Sekaligus meningkatkan dana cadangan lewat peningkatan sisa hasil usaha untuk tahun yang akan datang. Koperasi ini posisi akhir Agustus 2006 memiliki asset/kekayaan sebesar Rp 5.734 miliar. Lalu jumlah anggota sebanyak 1.014 orang. Sedangkan total pinjaman yang telah dicairkan sebesar Rp 14.816 miliar kepada 9.280 orang. Diharapkan pertumbuhan seperti ini terus terjadi untuk masa yang akan datang. Sehingga pelayanan kepada anggota dapat lebih meningkat lagi, baik kuantitas maupun kualitas. Sebagai perbandingan terlihat tabel yang mencatat kinerja keuangan koperasi hingga 2005. Untuk meningkatkan kinerja dalam mendukung kepercayaan anggota terhadap koperasi, dan transparansi administrasi koperasi, pengurus melakukan audit terhadap seluruh kegiatan- kegiatan yang dilakukan oleh pengurus koperasi. Berdasarkan hasil audit dari Tim Auditor Puskopdit Bekatigade Timor yang berlangsung dari tanggal 27 sampai tanggal 30 Desember 2005, Kopdit Swasti Sari Kupang dinyatakan sehat dengan nilai 88,12. Untuk memperlancar tugas-tugas pelayanan dan meningkatkan kinerja koperasi atas dasar pemilihan pengurus dan pengelola/karyawan, maka kepengurusan kopdit selalu menyelenggarakan pendidikan penjenjangan karir baik untuk pengurus maupun karyawan. Ada pun kepegurusan dan karyawan pada periode tahun 2006-2008 adalah sebagai berikut. Pengurus kopdit diketuai oleh Blasius Naben, S.Pd. Sedangkan sekretaris dipegang oleh Coirnelis Kuma Opun, S.Ag dan bendahara dipercayakan kepada Drs. Chris Pollo. Segenap jajaran pengurus, pengawas maupun anggota kopdit mempunyai visi mewujudkan Koperasi Kredit Swasti Sari Kupang yang tangguh, mandiri dan terpercaya. Seiring visi ini, koperasi juga memiliki lima misi sebagai pedoman kerja. Pertama, meningkatkan jumlah simpanan dan memberikan balas jasa simpanan. Kedua, memberikan pelayanan pinjaman yang mudah, murah dan cepat. Ketiga, mengembangkan rasa setia kawan dan kesadaran berkoperasi. Keempat, menerapkan sistem manajemen yang terbuka. Dan kelima, meningkatkan kualitas sumber daya insan koperasi kredit. Selain visi dan misi tersebut, koperasi ini mempunyai motto: Berasaskan pada Pancasila dan UUD RI koperasi senantiasa menghayati pelaksanaan tiga pilar, yaitu pendidikan, setia kawan dan keswadayaan. Maksudnya, melalui pendidikan Kopdit dapat dikembangkan dan dikontrol. Karena itu setiap anggota atau calon anggota harus diterima melalui pendidikan dasar Kopdit agar dapat mengetahui hak dan kewajibannya, serta mengetahui dan memahami atau dapat membaca laporan tentang perkembangan koperasinya.

167

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Wujud nyata setia kawan dari kopdit yaitu selalu memperhatikan kebutuhan sesama anggota. Karena itu kewajiban sebagai anggota selalu diperhatikan dengan cara menyetor simpanan wajib dengan tertib, mengembalikan pinjaman dengan teratur agar anggota yang lain mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pelayanan pinjaman. Kopdit ini juga memiliki prinsip mandiri atau dapat membiayai dirinya sendiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Karena itu koperasi selalu menyisihkan sebagian penghasilannya berupa cadangan setiap tahun untuk memperkuat permodalan sendiri. Untuk meningkatkan permodalan diperlukan usaha mobilisasi dana dari dalam atau anggota dengan cara membuka berbagai macam produk, tabungan, simpanan untuk anggota. Di samping memiliki visi, misi dan motto koperasi, lembaga usaha ini juga berusaha keras menjunjung tinggi dan menerapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi secara universal. Sekedar mengingatkan, nilainilai koperasi adalah: Menolong diri sendiri, swadaya dan tanggung jawab, demokrasi, persamaan, keadilan, kesetiakawanan dan kejujuran. Sementara prinsip-prinsip koperasi tersebut terdiri dari: Keanggotaan terbuka dan sukarela, pengendalian oleh anggota secara demokrasi, partisipasi ekonomi anggota, otonomi dan kemerdekaan, pendidikan, pelatihan dan informasi, kerjasama antara koperasi dan kepedulian terhadap lingkungan.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

168

NUSA TENGGARA TIMUR

KSU Wanita Cendana Kupang

SIAP MENYONGSONG

PEMBARUAN
169
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Subroto

K

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

170

operasi Serba Usaha (KSU) “Wanita Cendana” selanjutnya Kopwan Cendana, merupakan salah satu koperasi yang cukup tua di Kota Kupang. Koperasi ini dibentuk tahun 1982 yang lalu, dengan sponsor Ibu Gubernur Dr. Ny Nafsiah Mboi. Para pendiri yang lain adalah anggota Dharma Wanita Provinsi Nusa Tenggara Timur. Koperasi ini dikembangkan memakai pendekatan kelompok anggota. Juga menerapkan Konsep Tanggung Renteng, meski tidak sepenuhnya karena belum memberlakukan sanksi. Mereka memberi nama kelompok dengan nama bunga dan buah-buahan. Jumlah anggotanya berkembang cukup pesat dari tahun ke tahun. Kalau pada awal kegiatan hanya ada anggota sebanyak 35 orang atau satu kelompok. Maka dalam sepuluh tahun pertama, jumlahnya telah meningkat menjadi 517 orang atau 29 kelompok. Puncaknya tercapai pada tahun 1993 dan 1994, dengan jumlah anggota 584 orang dan 592 orang. Kemudian jumlah anggota menurun. Pada dasawarsa kedua (2001), tercatat anggota koperasi menjadi 530 orang. Hingga 2005, jumlah anggota tercatat 576 orang atau 31 kelompok. Peta perubahan jumlah anggota memberikan indikasi, pertambahan anggota koperasi tidak cukup besar. Koperasi ini tumbuh dengan tingkat yang relatif stabil, tetapi memang membuatnya solid sehingga tidak mampu bergerak cepat. Syukurlah ketertiban administrasi dan disiplin organisasi cukup kuat. Di sisi lain, pelayanan anggota dilengkapi dengan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan anggota. Misalnya dalam bentuk program penggerak koperasi, keterampilan kerja karyawan, serta program bagi calon anggota. Itulah ciri khas Kopwan Cendana, yang dalam banyak hal sudah ditinggalkan oleh sebagian besar koperasi. Kopwan ini juga konsisten melaksanakan kegiatan RAT relatif tepat waktu (Januari-Maret). Sehingga melalui laporan administrastif dan perkembangan organisasi mudah diikuti. Forum pertemuan RAT, menurut ketua III dan sekretaris koperasi, seringkali menjadi ajang diskusi dan pengembangan wawasan di antara para anggota yang mewakili kelompok masing-masing. Pemilihan Pengurus dilakukan setiap lima tahun sekali. Hingga Desember 2006, kepengurusan Kopwan ini masih dalam periode kepemimpinan kurun waktu 2004-2008. Umumnya jumlah Pengurus berkisar antar 7 – 12 orang. Saat ini jumlah anggota Pengurus ada tujuh orang dan disertai tiga orang anggota Pengawas. Apa yang menjadi aspek kritis dari potret keragaan koperasi ini? Yang jelas, koperasi setia menjaga kegiatan awalnya, yaitu melayani kebutuhan ibu-ibu dalam kaitan upaya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Hal itu menyebabkan dinamika kegiatan organisasinya dirasakan tidak cukup dinamis. Itu sebabnya, secara khusus Pengurus Kopwan berharap dapat

melayani para anggota bukan hanya melalui unit usaha simpan pinjam. Tapi juga melalui unit usaha konsumsi, dengan membuka toko di lokasi kantor koperasi. Sekadar info, status gedung tempat koperasi berkantor ini adalah milik kopwan yang telah diserahkan dari Pemerintah Kota Kupang. Penting dicatat, perilaku serta wawasan pimpinan kopwan selama ini dapat dicontoh oleh para anggota. Mengapa? Karena para pengurus terbukti mampu memberikan waktu dan perhatian penuh pada organisasi ini. Aspek kelembagaan yang dominan dalam kehidupan KSU Wanita Cendana adalah unsur keanggotaan. Organisasi ini dengan konsisten mengutamakan pelayanan anggota sebagai fokus usahanya. Cara koperasi memperoleh anggota baru, prosesnya terjadi berdasar minat calon anggota baru. Biasanya, mereka mengetahui informasi tentang koperasi dari anggota lama yang tergabung dalam masing-masing kelompok anggota. Jadi secara alami kelompok anggota menjadi sarana promosi dan juru bicara koperasinya. Tidak ada usaha khusus untuk menyebarkan informasi secara formal. Kelompok anggota juga menjadi selektor. Perkembangan keanggotaaan Kopwan, tercantum dalam tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Keanggotaan
Tahun 2002 2003 2004 2005 Jumlah Kelompok 30 30 30 31 Jumlah dan Mutasi Anggota Jml. Anggota 570 567 543 576 Masuk 34 20 09 42 Keluar 17 23 33 09

Kalau diperhatikan besarnya mutasi jumlah anggota dalam koperasi ini, nampak prosesnya cukup seimbang. Sehingga sementara dapat dinyatakan, bahwa pergantian anggota rata-rata per tahun yang terjadi di bawah angka 10% dari total anggota merupakan hal yang wajar. Ini menjadi indikasi penting tentang bagaimana sebenarnya kondisi dan pola pelayanan mereka umumnya kepada anggotanya di KSU Wanita Cendana ini. Eksistensi keanggotaan menjadi kritis bagi perkembangan kopwan ini. Mengapa? Karena hal itu sangat erat kaitannya dengan pemupukan modal dan dorongan pengembangan kegiatan usaha lain yang lebih dapat melayani dan memberdayakan anggota. Peran kelompok anggota harus ditingkatkan. Pimpinan kelompok dapat dikembangkan menjadi titik-titik strategi. Utamanya untuk memberikan dan menyalurkan informasi wawasan dan pemahaman tentang berkoperasi secara efektif. Di samping itu peran Pengurus, hendaknya juga mampu dengan jeli

171

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

menetapkan pemberian kredit, yang seharusnya sudah dapat diputuskan melalui kelompok. Maksudnya, kelompok dapat menjadi pengganti sebagian besar fungsi penetapan pinjaman. Karena toh dia menjadi selektor dan sekaligus pengarah penggunaan pinjaman dari anggotanya. Selama pinjaman tersebut untuk kegiatan produktif atau investasi bidang pendidikan atau kesehatan keluarga. Komposi kepengurusan koperasi ini cukup unik. Karena menempatkan seorang anggota Pengurus, yang bertanggung jawab dalam pemberian kredit yaitu sebagai Ketua Unit Penanggung Jawab Pertimbangan dan Pemberian Kredit (UPJP2K). Tugasnya, menilai permohonan kredit anggota. Komposisi Pengurus KSU Wanita Cendana (2004-2008) adalah sebagai berikut. Ketua diamanatkan kepada Ny R Didoek, Sekretaris dipegang oleh Ny. W. Fanggi Tasik. Sedangkan posisi Bendahara dipercayakan kepada Ny. M. Chandra Hasyim. Selanjutnya susunan Pengawas, diketuai oleh Ny Lies A Fandoe dengan anggota Ny SA Mella dan Ny Ance Djami Giri. Sementatra komposisi Tim PJP2K pada koperasi ini, Ketuanya oleh Ny J Therik dan anggota Ny Afia Raga Teku. Dalam proses pengelolaan kegiatan koperasi, proses manajerisasi dibentuk untuk membantu pengurus melancarkan pengelolaan kegiatan teknis sehari-harinya. Manajer koperasi di posisi akhir Desember 2006 dipegang oleh B Anne Marlyn yang diangkat sejak tahun 1996 yang lalu. Artinya ia telah bekerja hampir 10 tahun untuk KSU ini. Demikian juga umumnya para karyawan lainnya tergolong orang lama. Misalnya ada yang sudah 21 tahun bekerja sebagai penata buku. Kita bisa menangkap makna di balik potret proses manajerisasi dan pemanfaatan karyawan koperasi selama ini, jelas ada kesetiaan. Dengan demikian ciri perubahan dalam organisasi ini adalah perubahan yang lembut (soft changes) yang lebih mendasarkan pada perubahan karena tuntutan kondisi. Maksudnya, bukan perubahan yang dikembangkan sebagai unit strategi (hard changes) berdasar konsep modern untuk bertahan dalam kondisi persaingan yang ketat. Karena itu pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah posisi dan berbagai langkah yang telah dilakukan itu dapat menjamin mereka selamat dari pengaruh perubahan demi perubahan yang akan terjadi secara lebih cepat lagi di masa mendatang?

KINERJA KEUANGAN
Kinerja Kopwan ini dapat diperhatikan dari unit usaha simpan pinjam dan unit usaha konsumsi, dua unit kebanggaan mereka. Kegiatan simpan pinjam dapat dikaji dari komponen permodalan yang berhasil dimiliki dan diusahakan oleh koperasi. Komposisi permodalan

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

172

Tabel 2. Komponen Permodalan
Komponen 1. MODAL SENDIRI a. Simpanan Pokok b. Simpanan Wajib c. Cadangan d. Donasi Total 2. MODAL LUAR a. Simpanan Sukarela b. Dana Bergulir (Dinas Kop Prov.) c. Dana Pihak Ketiga (PT.PLN) Total 3. DANA ABADI Hasil Penjualan Saham PT Gudang Garam TOTAL 2003 2004 2005

12.257.000 40.721.000 180.124.455 58.225.295 291.327.750,79

11.922.000 51.673.500 185.543.834 58.225.295 307.364.629

22.762.000 69.700.500 371.729.441 58.225.295 522.417.236,80

166.219.262 58.491.218 224.710.480

184.137.704 30.000.000 214.137.704

188.420.712 30.000.000 44.999.900 263.420.612

200.000.000 716.038.230

200.000.000 721.502.333

200.000.000 985.837.848

koperasi ini tercantum dalam tabel 2. Kalau diperhatikan jumlah kemampuan menghimpun modal dari dalam masih belum cukup efektif. Terutama dalam kaitan membangun kekuatan dalam organisasi. Kesan tersebut juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Kupang dalam pembukaan RAT tahun 2005. Ia mempertanyakan mengapa modal sendiri masih tetap sebesar Rp 400 juta. Sementara koperasi yang ‘lebih muda’ di Kupang mampu meraih angka lebih besar. Hal tersebut tampaknya erat kaitannya dengan kondisi bisnis mereka. Kalau kedua kegiatan itu dipertahankan dan dikembangkan, maka besarnya modal sendiri harus menjadi acuan utama. Apa yang tercatat dari fakta operasional menunjukkan, belum tersedia strategi terobosan untuk meningkatkan hal ini. Apa yang ada baru mengubah simpanan wajib dari Rp 1000 (sampai tahun 2003) menjadi Rp 2.500 (hingga 2004) yang kemudian disetujui RAT untuk ditingkatkan menjadi Rp 5.000 pada pertengahan 2005. Sementara simpanan pokok telah ditingkatkan menjadi Rp 50 ribu mulai tahun 2005 dari nominal angka Rp 25 ribu pada 2004. Berdasar hal itu, simpanan pokok pada tahun 2003 dan 2004 berada di sekitar angka Rp 11 juta dapat naik menjadi Rp 25 juta. Dengan asumsi koperasi dapat menarik dana dari 576 anggota. Atau minimum dapat memperoleh Rp 20 juta, kalau dihitung dari jumlah anggota aktif sebanyak 65%. Di sisi kegiatan pinjaman koperasi, dilakukan melalui dua jenis pinjaman. Masing-masing pinjaman biasa dan pinjaman ekonomis secara selektif. Komposisi pinjaman tercantum pada tabel 3. Dari tabel 3 tersebut dapat diperhatikan, cukup besarnya tingkat

173

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 3. Komposisi Pinjaman dan Tingkat Pengembalian
Komponen 1. PINJAMAN BIASA Sub Komponen Jumlah Anggota Jumlah Kelompok Besar Pinjaman 2. PINJAMAN EKS BBM Jumlah Anggota/Non Jumlah Kelompok Besar Pinjaman 3. PIUTANG PINJM. BIASA Pokok Pinjaman % atas pinjaman Bunga 4. TUNGGAKAN Pokok Pinjaman Bunga 2003 216 26/31 455.450.000 58/9 16 64.550.000 264.125.375 57,9 1.960.675 14.315.575 1.960.675 2004 197 26/31 430.500.000 64/12 14 76.000.000 284.528.450 66.1% 3.209.250 18.168.850 3.209.250 2005 219 27/33 595.200.000 45/9 16 44.055.000 354.180.250 59,5% 1.149.000 13.556.500 1.149.000

Tabel 4. Komposisi Kredit Konsumsi dan Tingkat Pembayaran
Komponen 1. PENJUALAN KREDIT Sub Komponen Jumlah Anggota Jumlah Non Anggota Besar Kredit 2. PIUTANG Jumlah Anggota Besar Piutang % dari pinjaman 3. TUNGGAKAN Jumlah Anggota Pokok Kredit Bunga Kredit 2003 301/567 29 393.450.170 180 72.796.950 18,5% 31 5.537.750 152.850 2004 298/543 5 342.440.010 162 74.086.600 21,6% 25 6.374.950 212.500 2005 303/576 29 239.051.150 156 68.839.150 28,7% 40 10.275.300 1.490.558

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

174

piutang dan tunggakan yang ada. Ternyata faktanya kegiatan ini masih tetap dapat berjalan. Ada kecenderungan meningkatnya rata-rata piutang per tahun dari 57,9% (2003); 66,1% (2004); 59,5% (2005). Masih beruntung, indikasi tunggakan (bad debt) menurun nilainya. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari para pengurus koperasi. Bagaimana kegiatan usaha konsumsi yang ditawarkan juga oleh koperasi ini? Informasi tentang dinamika dan respon anggota atas kegiatan usaha ini tercantum dalam tabel 4. Ternyata kredit unit usaha konsumsi ini memiliki piutang lebih kecil, yaitu antara 18,5%-28,7% dibanding dengan tunggakan usaha simpan pinjam. Namun perlu kewaspadaan untuk unit ini, mengingat nilai prosentase tunggakan meningkat dari tahun ke tahun. Mengantisipasi semua potensi persoalan tersebut, hal ini erat kaitannya dengan masalah perawatan sikap dan tanggung jawab anggota, yang tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pengurus. Sudah waktunya ada semacam Pembina dan Penyuluh Lapangan (PPL). Tugasnya, langsung membina

Tabel 5. Hasil Analisi Kinerja Kopwan Cendana
Komponen 1. PENJUALAN KREDIT Sub Komponen Jumlah Anggota Jumlah Non Anggota Besar Kredit 2. USAHA SIMPAN PINJAM : BIASA Harta Lancar Kewajiban Lancar Total Kewajiban SHU (total) Total Harta LIKUIDITAS SOLVABILITAS RENTABILITAS 3. USAHA SIMPAN PINJAM: EKS BBM Harta Lancar Kewajiban Lancar Total Kewajiban SHU (total) Total Harta LIKUIDITAS SOLVABILITAS RENTABILITAS 4. USAHA KONSUMSI Harta Lancar Kewajiban Lancar Total Kewajiban SHU (total) Total Harta LIKUIDITAS SOLVABILITAS RENTABILITAS 2003 301/567 29 393.450.170 306.805.296,78 196.872.650,81 196.872.650,81 10.682.322,18 408.272.562,18 155,84 207,38 2,62 85.325.203,56 67.831.471,31 67.831.471,31 4.797.4888,08 85.325.203,56 125,79 125,79 5,62 177.243.194,38 4.440.907,92 4.440.907,92 16.247.902,76 298.602.428,11 3.991,15 6.723,90 5,44 2004 298/543 5 342.440.010 331.495.480,00 209.704.843,33 209.704.843,33 12.025.554,30 435.055.795,40 158,07 207,43 2,76 74.285.200,49 55.888.896,86 55.888.896,86 3.959.066,86 74.285.200,49 132,91 132,91 5,32 189.609.779,59 33.962.484,30 33.962.484,30 10.401.377,86 324.015.858,32 558,29 954,04 3,21 2005 303/576 29 239.051.150 369.979.699,00 254.866.218,13 254.866.218,13 11.877.301,88 511.190.014,40 155,76 200,57 2,32 78.454.866,00 59.449.633,78 59.449.633,78 2.800.716,00 78.584.866,00 131,96 132,18 3,56 173.905.328,32 32.252,872,23 32.252,872,23 4.372.497,74 313.548.382,05 539,19 972,15 1,39

kelompok anggota sebulan sekali saat mereka bertemu. PPL perlu memiliki keterampilan untuk membina dan membangun dinamika kelompok yang efektif, di samping memberi wawasan dan menyampaikan informasi dari pengurus. Mereka harus bermotivasi tinggi, agar anggota relatif dapat terkendali. Bisa jadi anggota tidak kenal siapa pengurus koperasinya, tetapi harus hapal dan dekat dengan PPL-nya, yang juga berperan mengadvokasi (pembelaan) anggota binaannya.

DINAMIKA KEGIATAN
Integrasi dari kinerja dan posisi hasil neraca menunjukkan gambaran tentang dinamika kegiatan koperasi melalui proses analisis sebagaimana tercantum pada tabel 5. Kalau diperhatikan, kondisi koperasi untuk memenuhi kewajibannya cukup baik. Sementara kegiatannya juga memberikan tingkat hasil yang lumayan. Informasi dalam tabel 5 tersebut menjadi rangkuman gambaran relatif stagnannya bisnis kopwan ini. Namun demikian, kegiatan usahanya sendiri

175

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

cukup mantap, tertib, serta disiplin. Kehati-hatian nampak dalam potret kinerja seperti itu, sehingga dinamika bisnisnya menjadi rutin. Hal itu tidak salah tetapi sulit untuk dapat menjaga loyalitas anggota. Karena hampir tidak dirasakan ada tantangan atau dorongan motivasi agar tetap bertahan. Hal itu misalnya dapat ditilik dari mutasi dana simpanan anggota (wajib dan sukarela). Besarnya jumlah simpanan sukarela tahun 2005 mencapai Rp 108 juta. Namun jumlah penarikan simpanan sukarela pada tahun yang sama mencapai Rp 104 juta. Dana tersisa diperoleh dari masuknya simpanan wajib sebesar RP 21 juta. Sementara penarikan dana oleh anggota karena keluar atau meninggal sebesar Rp 3 juta. Demikian pula kalau diperhatikan kegiatan unit konsumsi nampak sudah out of date dalam pelayanan maupun penyusunan tokonya. Kegiatan ini memerlukan strategi pemasaran yang jitu, dengan menggunakan prinsip pengendalian barang memakai manajemen modern. Semua itu menjadi tantangan bagi koperasi tradisional pola kegiatannya. Padahal wawasan dan pemikiran para Pengurus, sebenarnya banyak berorientasi untuk membuat terobosan.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

176

NUSA TENGGARA TIMUR

KSU Karya Ando Kupang

MEMBERI PERHATIAN

SEPENUH HATI
177
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Subroto

P

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

178

emicu berdirinya koperasi satu ini berbeda dengan yang lain. Mengapa demikian? Karena munculnya Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Ando banyak dipengaruhi keberadan sentra tenun ikat Ina Ndao maupun businesse development service (BDS) Ina Ndao. Koperasi yang mulai dibangun tahun 2001 yang lalu dan baru memperoleh status badan hukum pada Juni 2003. Koperasi ini, sekali lagi tidak lepas dari bagaimana sentra Ina Ndao telah dikembangkan sebelumnya, termasuk apa alasan dan kepentingan membangun sentra tersebut. Sebelum menjadi sentra kerajinan, mulanya adalah usaha atau bisnis keluarga. Boleh jadi hal ini juga dipengaruhi oleh upaya pelestarian budaya dari Kabupaten Rote terutama dalam ekspresi kerajinan tenun ikatnya. Kegiatan sentra tersebut saat ini telah dilengkapi dengan BDS Ina Ndao (2003). Keterkaitan antara sentra, BDS dan Koperasi Karya Ando cukup erat. Foto di samping memperlihatkan Yustinus Lussi (kaos putih) dan isterinya Salam Dorce Lussi, yang menjadi sekretaris Koperasi Karya Ando. Di sampingnya adalah para pejabat dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT. Ringkasnya, sentra yang dibangun tahun 1991 dan bertumpu pada usaha bersama di bidang produksi tenun ikat. Awalnya hanya memanfaatkan tiga orang tenaga kerja dari keluarga. Sekarang pelaku kerajinan ini telah berkembang. Kegiatan sentra Ina Ndao yang dimulai dari Desa Ndau Nuse sebetulnya melalui proses perkembangan yang unik. Baik ditinjau dari sisi perkembangan bisnis maupun dari sisi pengembangan instusi koperasinya. Sentra dengan BDS-nya saat ini telah membantu dalam mengorganisasikan kegiatan produksi serta pengembangan teknologi. Di sisi lain, juga membantu memberi pengarahan pada koperasi simpan pinjam dalam upaya mendanai kegiatan para pengusaha di sentra dengan dana yang disediakan pemerintah sebagai bantuan perkuatan. Posisi sentra ini ternyata mampu menghasilkan produk berkualitas. Hal ini menyebabkan mereka memperoleh perhatian lebih. Khususnya dalam bentuk pemberian bantuan dalam wujud program pembinaan. Banyak program seminar, pelatihan maupun bantuan perkuatan datang dari pihak pemerintah maupun pihak lembaga internasional. Konsekuensinya, muncul kebutuhan sejumlah tenaga terampil untuk menenun. Bukan saja terampil secara teknis, melainkan juga kreatif menghasilkan produk tenunnya. Kebutuhan akan keterampilan inilah yang mendorong dilakukannya upaya program pelatihan. Program ini sifatnya periodik formal di kelas dalam jangka pendek. Ada juga program yang penyelenggaraannya berdasar kegiatan magang atau mondok dalam jangka menengah selama tiga bulan. Biaya magang per orang mencapai sebesar Rp 85 juta. Faktanya, pembiayaan sebesar itu diberikan sendiri oleh keluarga Yustinus Lussi dari berbagai keuntungan yang diperoleh dalam bisnis tenun ikat ini. Sebagai contoh, melalui tahapan wawancara lolos 16 orang peserta yang terseleksi. Nanti setelah selesai mondok, mereka akan kembali ke daerahnya. Mereka juga dilengkapi dengan sarana dasar yang diperlukan untuk menghasilkan produk tenun ikat. Aturan mainnya, produk alumni program mondok harus menjual kepada sentra yang telah mengasuhnya.

Program itu mulai tahun 1994 dan secara bertahap sekarang menjadi program formal yang juga ditangani oleh BDS Ndao. Saat ini terdapat 75 unit sentra UKM tenun ikat dengan jumlah pelaku pengusaha kecil sebanyak 229 orang. Mereka tersebar di kabupaten-kabupaten/kota seperti, misalnya Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Alor, Lembat, Ende, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara. Luasnya wilayah sentra itu mendorong mereka tidak hanya memproduksi tenun ikat dengan motif Rote, tetapi juga motif-motif dari etnis lain di NTT. Dengan membangun sentra, budaya daerah dapat dilestarikan dan kegiatannya juga dapat ditempatkan sebagai kegiatan dalam kaitan upaya memperoleh nilai tambah. Kegiatan ini diubah menjadi kegiatan produktif dan berkualitas. Harapannya, agar dapat menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan kesejahteraan keluarganya. Kegiatan promosi produk tenun ikat ini kemudian dikaitkan dengan berbagai program lokal, nasional maupun internasional. Sementara itu perluasan desain produk dari model dari motif Rote sebagai awal pengembangan sentra telah dilakukan dan diikuti dengan pengembangan desain produk guna memperkaya keragaman produk tenun ikat. Demikian pula jenis produk tenun ikat juga telah diperluas. Yang jelas, bukan sekedar menghasilkan sarung tenun ikat. Melainkan juga bahan jas, safari, selimut, selempang, selendang, syal atau bentuk kain pajangan lainnya. Sesuai dengan macam proses produksinya, rata-rata produksi sentra ini per bulan hanya menghasilkan 2.300 lembar saja. Dalam tahun-tahun selanjutnya sentra berhubungan dengan LSM dan pihak pembina (instansi pemerintah terkait) sampai pada lembaga internasional. Termasuk dengan pemerintah Jepang (2004). Perkembangan usaha sentra ini juga telah menyeret sentra tenun ikat ke arena internasional, di mana pihak World Bank maupun ILO akhirnya ikut memberi perhatian. Mereka merasa bahwa program-program yang dilakukan dapat ditingkatkan intensitasnya. Kegiatan mereka itu kemudian dikaitkan dengan upaya pengembangan lapangan kerja, serta peningkatan kualitas produk. Berbagai program telah diberikan dalam bentuk pelatihan komputer serta program teknis lain. Sejauh ini kegiatan BDS, dianggap berhasil membantu pengusaha kecil dalam sentra. Perkembangan kegiatan sentra ternyata juga mendorong masyarakat di sekitar rumah mereka, bahkan dari berbagai kabupaten banyak yang ikut terlibat dalam pengembangan sentra dengan usaha produksi tenun ikatnya. Untuk itu kegiatan BDS Ndao yang dibentuk 2003 menjadi aktif sesuai dengan fungsinya membantu manajemen sentra dalam proses mengembangkan berbagai program pelatihan. Sementara mengikuti perkembangan kegiatan usaha koperasi ini, muncul masalah kebutuhan permodalan. Bantuan diperlukan, karena secara internal para pendiri sentra tidak lagi mampu menyediakan
Subroto

Produk batik khas NTT menjadi andalan koperasi Karya Ando.

179

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

kebutuhan modal dari hasil pendapatan usahanya. Secara bertahap, hal itu akan terus tumbuh selaras dengan meningkatnya jumlah para pengusaha kecil penghasil tenun ikat. Sementara di sisi lain ada beberapa masalah yang telah dihadapi dalam pengembangan sentra. Pertama, berkisar pada sikap para penenun yang kurang tekun. Kedua, terbatasnya peralatan tenun tradisional yang standar dan berkualitas. Dan ketiga, terbatasnya desain produk yang menarik dan mudah diproduksi. Kondisi itu ternyata malah mendorong 20 orang, yang terlibat dalam kegiatan sentra khususnya untuk membentuk koperasi. Koperasi yang dibentuk adalah KSU, yang memiliki kegiatan awal berupa unit simpan pinjam dan unit pengadaan kebutuhan input kegiatan produksi tenun. Kemudian koperasi ini dikelola sambil mengusahakan badan hukumnya. Peluang menjadi anggota telah diberikan kepada 229 orang dari sentra UKM tenun ikat yang tersebar di berbagai kabupaten. Koperasi ini kemudian bekerja sama dengan LSM setempat untuk membina mereka. Kemudian dilakukan pembentukan BDS (2003) secara resmi. BDS berkembang karena dimanfaatkan oleh lembaga internasional untuk mendukung program pengentasan kemiskinan. Sehingga BDS ini juga menangani kegiatan di sektor pertanian, pembinaan manajemen dan kerajinan dari sabut kelapa. Dalam pengembangannya BDS Ndao ini memiliki pusdiklat, bengkel maupun artshop sendiri. Hal itu yang dimanfaatkan oleh para anggota sentra untuk menumbuhkan kemampuan produksinya.

KELEMBAGAAN
Koperasi ini berlokasi usaha di Kota Kupang. Berbagai kegiatan dilakukan di gedung KSU ini. Sementara itu fondasi bagi pengembangan kegiatan ini, selain dimaksud untuk melestarikan budaya lokal, juga untuk membantu ekonomi keluarga. Sehingga dapat menciptakan motivasi kerja di antara para pengusaha kecil anggota Koperasi Karya Ando. Kegiatan mereka secara langsung juga membuka lapangan kerja serta kesempatan belajar bagi anak-anak mereka, sehingga kelak menjadi tenaga kerja terdidik. Sementara itu pengalaman masa lalu para pendiri sentra menunjukkan, pada saat belum dikenal upaya yang dapat dilakukan adalah menghasilkan produk yang berkualitas. Untuk menjadikan dikenal, perlu dilakukan promosi secara intensif, dengan mencari semua jalur yang memungkinkan untuk digunakan. Hasil pendekatan dan promosi membuat ada instansi yang tertarik (BUMN dan juga lembaga internasional). Mereka memberikan bantuan yang diperlukan, dengan berposisi sebagai bapak angkat. Kemudian pemerintah melalui Deperindag memberikan bantuan sebagai penjamin dan dana sebesar Rp 2,5 juta untuk pinjaman bagi pengusaha kecil dan harus lunas dalam waktu 1,5 tahun. Komponen pengurus Koperasi Karya Ando, praktis dalam tiga tahun terakhir ini tidak mengalami perubahan. Pengurus dipilih untuk masa kerja 2002 – 2005 sehingga tidak terjadi perubahan. Khusus untuk posisi manajer terjadi pergantian personil. Kalau tahun 2004 masih berada di tangan Filadelfia sebagai Plt Manajer, maka pada tahun 2005 telah ditetapkan seorang manajer yaitu Dra Heni Febri A.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

180

Komposisi anggota tetap dari koperasi ini terdiri 20 orang. Sementara para penenun lain, yaitu para pengusaha kecil di sentra, yang telah dilayani melalui kegiatan simpan pinjam dalam posisi sebagai komponen kelompok binaan (UKM) sebanyak 65 unit dan melibatkan 92 orang pengusaha kecil (2004). Sebelumnya yang dilayani hanya 40 orang saja (2003). Sementara itu di tahun 2005 tercatat peningkatan pelayanan menjadi 172 orang. Nampak bahwa anggota koperasi ini sampai saat ini masih tetap 20 orang saja. Proses pembinaan kepada kelompok UKM dilakukan dengan manajemen kekeluargaan, di mana orang yang bekerja diperlakukan sebagai mitra dan bukan sebagai sumber eksploitasi. Dengan cara ini mereka dapat dirawat untuk setia pada koperasi. Hal ini menjadi bagian dasar dari pembentukan hubungan kerja kemitraan inti-plasma. Proses pelatihan mengubah keterampilan dan pemakaian teknologi tradisional sehingga pekerjaan memerlukan 2–3 minggu berdasar metode lama menjadi 1,5 hari saja, dengan disertai kualitas yang lebih terjaga karena pemakaian alat yang lebih terstandarisasi. Sementara itu BDS yang bekerja untuk itu telah menerima pula bantuan perkuatan sebesar Rp 50 juta sebagai modal mendukung kegiatan pembinaan dan konsultasi.

KELOMPOK USAHA KECIL
Kinerja kegiatan KSU Karya Ando pada dasarnya masih berada pada taraf awal. Dan nampaknya memang belum dibenahi secara terarah sebagaimana mestinya aplikasi dari prinsip dan nilai koperasinya. Hal ini jelas mempengaruhi kinerja dan prestasi koperasinya. Gambaran tentang dinamika kegiatan usaha koperasinya seolah-olah tidak nampak tertangani, karena fokus dari para pengurus masih terkendala oleh kegiatan menangani hal-hal yang telah dilakukan sebelumnya. Karena umumnya mereka selalu berangkat dari suasana kelompok pengusaha kecil, yaitu para produsen tenun ikat disertai dengan berbagai macam hasil dan desain produk yang beragam, maka perbedaan dalam memahami kebutuhan selalu menjadi faktor kritis. Kegiatan simpan pinjam adalah andalan bagi koperasi Karya Ando

Tabel 1. Komponen Permodalan
Komponen 1. MODAL SENDIRI a. Simpanan Pokok b. Simpanan Wajib c. Cadangan Modal d. SHU 2. MODAL LUAR a. Simpanan Sukarela b. Simpanan Wajib Pinjam c. Dana-Dana SHU d. Dana Bergulir e. Penyisihan Biaya RAT f Dana Pihak Ketiga Total 2003 2004 2005

4.000.000 1.200.000 3.200.000

4.000.000 2.400.000 11.460.850

4.000.000 2.400.000 5.000.000 4.682.884

7.000.000

1.625.000 17.025.000

150.000 11.937.500 2.500.000 170.000.000 600.000 202.904.350

150.000 10.330.000 2.500.000 164.500.000 1.600.000 205.012.884

181

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

walaupun jumlah simpanan relatif agar terbatas. Namun koperasi dapat memperoleh bantuan perkuatan dari pemerintah. Komposisi permodalan bagi kegiatan koperasi ini tercantum dalam tabel 1.

Tabel 2. Komposisi Pinjaman dan Tingkat Pengembalian Anggota
Komponen 1. PINJAMAN Sub Komponen Jumlah Anggota Jumlah UKM Jumlah Dana 2. PENGEMBALIAN PINJM. Pokok Pinjmaman Bunga 3. PIUTANG PINJAMAN 2003 20 45 25.200.000 14.200.000 5.600.000 11.000.000 2004 20 65(92) 240.400.000 104.165.200 37.966.750 198.519.222 2005 192 68 (192) 197.100.000 147.967.201 35.348.759 194.970.700

Sementara saat ini posisi pinjaman dan kredit konsumsi tercantum pada tabel 2. Kalau diperhatikan maka tingkat pengembalian pinjaman ternyata mengalami posisi yang berfluktuasi, di mana tercapai angka sebesar 56,35% (2003); 43.33% (2004); 75,07% (2005). Namun kalau diperhatikan pada jumlah pihak yang dilayani, maka untuk 2005 pasti ditemukan terjadinya penurunan besaran pinjaman. Dalam pada itu besarnya pendapatan pada unit usaha simpan pinjam tercatat sebagai berikut: Untuk tahun 2003 sebesar Rp 6.200.000,- di susul tahun 2004 mencapai Rp 38.503.405,- dan tahun 2005 mencapai Rp 56.530.034. Peningkatan pendapatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan koperasi khususnya dalam memenuhi tuntutan pelayanan anggota.

Tabel 3. Indikator Kinerja KSU Karya Ando
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 9. Indikator Nilai pinjaman bagi anggota (Rp.) Jumlah Anggota yang dilayani (orang) Pendapatan Kotor (Rp) Biaya Operasional (Rp) Pendapatan Bersih (Rp) SHU setelah pajak(Rp) Modal Sendiri (Rp) Modal Luar (Rp) 2003 25.200.000 45 6.200.000 3.500.000 2.700.000 2.295.000 8.400.000 8.625.000 2004 240.400.000 92 38.503.405 34.982.405 3.521.000 2.992.850 17.860.850 185.187.000 2005 197.100.000 192 56.530.034 36.747.150 19.782.884 16.815.451 16.082.884 170.080.000

Catatan : *) Termasuk modal inventasi sebesar Rp 1.695.512.230,**) Termasuk modal investasi yang meningkat menjadi Rp 2.392.163.205,***) Termasuk modal investasi sebesar Rp 8.782.913.205

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

182

Berbagai indikator kinerja dari KSU tersebut menggambarkan hasil langkah tindakan setiap tahunnya. Tabel 3 masih mungkin diolah lebih lanjut melalui analisis yang lebih mendalam, karena kumpulan informasinya masih perlu diselaraskan.***

NUSA TENGGARA TIMUR

KPN Maju Kupang

TEPAT DAN

KONSISTEN
183
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Subroto

S

Keberadaan waserda menjadi pilihan anggota.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

184

eperti galibnya koperasi pegawai negeri di mana-mana. Anggota koperasi ini adalah pegawai negeri dari berbagai instansi dalam lingkungan pemerintah Kota Kupang. Koperasi ini, dibangun sejak 1992 dan mengalami pertumbuhan cukup baik selama dua tahun terakhir ini. Hal itu ditunjukkan dari meningkatnya nilai aktiva. Besarnya aktiva tetap menjadi andalan koperasi ini dalam proses pelayanan anggota. Fanatisme pengurus, khususnya Ketua KPRI untuk melayani anggota, menjadikan mereka berupaya mengakumulasi modal. Dengan demikian koperasi ini sebetulnya dapat memiliki sumber dana untuk melayani anggota. Koperasi ini termasuk koperasi serba usaha yang menekankan pelayanan anggota melalui berbagai usaha. Misalnya kegiatan simpan pinjam dan kegiatan layanan pertokoan. Mereka juga melakukan kegiatan kerja sama dengan pihak ketiga. Semangat usaha Ketua Umum Koperasi sangat mewarnai dinamika koperasi ini. Walaupun cukup intensif namun kegiatan masih cenderung rutin sifatnya, sementara inovasi dan pemikiran kreatif masih banyak dihasilkan oleh ketua mumnya, yaitu Jefta Bengu S.Sos. Ia berharap rekan-rekan pengurus lain mampu mengimbangi kapasitasnya, dalam mendorong dan mengembangkan koperasi ini. Sesuai kompetensinya, anggota Pengurus nampak tertinggal dalam memberikan sumbangan pemikiran bagi koperasi ini. Apalagi Ketua Umum tersebut hingga Desember 2006 berstatus sebagai Kepala Bagian Umum pada Pemerintah Kota Kupang. Pengelolaan berbagai bidang usaha koperasi masih dapat ditangani. Namun dari sisi kelembagaan agak terlambat. Profil umum dinamika koperasi didominasi oleh kegiatan usaha dan layanan bisnisnya. Gambaran seperti itu merupakan indikasi ciri dari tahap awal pertumbuhan satu koperasi. Sekadar informasi, koperasi sempat merasakan citra kurang baik sekitar 4-5 tahun yang lalu. Gambaran berikut menunjukkan berbagai upaya membangun kembali kepercayaan dan keyakinan tentang manfaat berkoperasi dari para anggota maupun masyarakat pada umumnya. Apakah hal tersebut juga menjadi potret umum bagi sebagian koperasi pegawai negeri saat ini di Indonesia, jawabnya dapat dibaca pada uraian selanjutnya. Informasi dari Ketua Umum koperasi pegawai ini menunjukkan, secara finansial koperasi cukup solvable dan juga memiliki cadangan yang likuid. Sedangkan pola intensitas interaksi antara anggota koperasi dengan koperasinya sedang mengalami proses pertumbuhan. Dengan demikian secara menyeluruh, koperasi ini dapat dinyatakan belum sepenuhnya menggembirakan. Karena itu pernyataan awal ketua umum menggambarkan adanya harapan, agar menggarap motivasi para anggotanya memanfaatkan layanan yang tersedia dalam koperasi ini. Posisi koperasi ini memiliki kesulitan tersendiri, mengingat keanggotaan yang relatif terbatas lingkupnya, dan cukup khas kebutuhannya. Karena itu tidak mudah bagi pengurus untuk menetapkan dengan tepat dan konsisten macam layanannya. Jumlah anggota koperasi yang terbatas, ikut mempersulit kemampuan pemupukan modal bagi usahanya. Akibatnya koperasi ini hampir tidak mampu menarik simpanan sukarela, yang dapat menjadi modal usaha bersama.

Subroto

Dengan kepengurusan yang sebagian besar relatif sama, paling tidak dalam empat tahun terakhir ini keberhasilan mulai dapat diraih. Maksudnya, koperasi bersangkutan mulai dapat dipercaya dan juga dapat perhatian, sehingga meningkat pula kepercayaan masyarakat umum. Mengapa itu terjadi? Kekurang-berhasilan koperasi sebelum ini dalam melayani melalui usaha simpan pinjam, menyebabkan koperasi ini pernah mengalami masa vakum, dalam pengertian ada kegiatan tetapi tidak memberi manfaat cukup. Dalam dua tahun terakhir ini telah terjadi perubahan konkrit sehingga citra koperasinya mulai nampak kembali, sementara berbagai kegiatan usahanya juga mulai memberikan hasil. Dengan demikian ketidakberhasilan mewujudkan upaya pelayanan anggota di masa lalu telah mulai berhasil ditebus. Saat kajian ini dilakukan (Desember 2006) KPRI ini baru berada
Pengurus dan pengawas KPN Maju selalu mendiskusikan perihal perkembangan koperasi.

dalam proses pembenahan diri yang intensif. Di antaranya dengan membuka toko serba ada (self service) di lokasi lain, meningkatkan kualitas pelayanan simpan pinjam dan layanan pengadaan motor bagi para anggota melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Karena itu potret keragaan koperasinya akan menggambarkan ciriciri growing cooperative organization. Sekaligus mengindikasikan ketidakseimbangan antara dinamika faktor usaha dengan dinamika faktor kelembagaan, sebagai hal yang kritis untuk dipertimbangkan serta perlu dikendalikan dalam pengelolaan koperasi ini. Keberhasilan koperasi melakukan pengendalian dapat diukur melalui intensitas maupun keragaman jenis pelayanan anggota (result). Selanjutnya tingkat kepuasan atas proses pelayanan yang diperoleh para anggotanya (effect). Yang jelas, hal ini bisa mendorong tumbuhnya sikap anggota selalu berusaha menjaga dan mengembangkan koperasi melalui kesediaan menyimpan dana dalam bentuk simpanan sukarela (impact). Semua ini mengilhami jajaran pengurus meningkatkan pelayanan kepada para anggota. Masalah kritis yang menjadi penentu bagi kemajuan KPRI Maju,

Rusdin Tambunan

185

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

berkaitan erat dengan masalah pengembangan partisipasi aktif secara luas dan aktif dari anggota. Hal ini ditentukan pula oleh intensitas pemahaman dan kesadaran setiap anggota terhadap eksistensi organisasi koperasinya. Proses ini memang memerlukan waktu, sehingga keberhasilannya dapat diwujudkan secara bertahap. Dalam kaitan itu penambahan jumlah anggota—saat ini anggota KPRI baru mencapai 42% dari total pegawai di Kota Kupang—masih belum dapat diterobos. Mengapa? Karena Pengurus masih mengalami kesulitan mempromosikan lembaganya. Selanjutnya dalam kaitan penyuluhan dan sosialisasi, perlu dibuat segmentasi dari pasar yang dilayani. Dengan demikian akan dapat dirumuskan apa kebutuhan pokok layanan yang diperlukan. Sekarang ini, walaupun pelayanan pada anggota nampak mulai dirasakan manfaatnya oleh sebagian anggota, namun manfaat itu belum dapat menciptakan gambaran buat mendorong pegawai negeri lain masuk jadi anggota koperasi. Masalah ini masih menjadi ganjalan bagi kepengurusan KPRI saat ini. Pengurus berharap dukungan moral dari Pemerintah Kota Kupang agar dapat ikut memotivasi mereka menjadi anggota.

KELEMBAGAAN
Koperasi ini berlokasi usaha di Kota Kupang, dan kegiatannya dilakukan di lokasi gedung lama. Kesibukan kegiatan dari kantor koperasi dan beberapa kegiatan usaha lain nampak di lokasi itu. Seperti kegiatan wartel dan foto copy di samping toko sederhana. Kegiatan itu menjadi petunjuk kegiatan awal koperasi betapa pengembangan usaha merupakan strategi membangun kembali citra eksistensi koperasi. Pengurus mengembangkan gedung toko swalayan baru dan gudang di lokasi lain untuk mewujudkan pengembangan layanan kepada anggota. Demi mendukung peningkatan kualitas koperasi, Ketua Umum KPRI Maju, Jefta Bengu selalu memberikan briefing secara rutin kepada anggota pengurus lain, termasuk pimpinan karyawan di lapangan. Langkah itu dilakukan paling tidak dua minggu sekali, di samping melakukan sidak ke lapangan sebagai wujud pembinaan langsung. Diakui bahwa perubahan dalam susunan kepengurusan mempunyai pengaruh pada peningkatan citra maupun kinerja KPRI Maju. Dengan cara seperti itu diharapkan akan ada pemikiran baru yang lebih segar di samping semangat baru untuk membenahi koperasi ini. Orientasi peningkatan kesejahteran anggota menjadi ikrar pengurus, yang memerlukan pemahaman tentang anggota koperasi sebagai konsumennya. Golongan mana yang akan menjadi fokus pelayanan kegiatan harus ditetapkan. Berbagai perubahan kondisi lingkungan dan sistem serta nilai di wilayah bersangkutan, akan menuntut perubahan perilaku para anggotanya. Untuk itu dilakukan kegiatan promosi keanggotaan serta layanan pada anggota koperasi dengan memakai sistem door to door. Ini menjadi terobosan untuk mengakomodasi kembali perhatian, kepercayaan dan keterlibatan aktif para anggota.

Selain melayani anggota dan masyarakat, unit usaha foto copy juga mendukung kelancaran tugas kantor Pemkot Kupang.
Subroto

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

186

Proses manajerisasi dilakukan setelah ada kebutuhan, di antaranya meningkatnya jumlah karyawan dari tujuh orang pada tahun buku 2003 menjadi 16 orang dan pada 2005 telah berjumlah 26 orang, serta bertambahnya unit pelayanan anggota. Pengangkatan Jeskiel Kolly sebagai manajer koperasi dilakukan melalui SK Ketua No. 60/KPN.M/VII/2005). Sebelumnya ia berposisi sebagai wakil ketua dalam kepengurusan koperasi ini. Manajer bertugas mengatur kegiatan operasional, semacam excecutive director atas sejumlah usaha yang dikembangkan kopeasi selam tiga tahun terakhir ini, sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Perkembangan Unit Usaha Layanan Anggota
Tahap Tahap th 1 2003 Konsumsi, Pertokoan, Simpan Pinjam, Percetakan, Fotocopy, Pengadaan Kendaraan Bermotor 2004 Konsumsi, Pertokoan, Simpan Pinjam, Percetakan, Fotocopy, Pengadaan Kendaraan Bermotor Wartel, Jasa Angkutan, Penyewaan Tenda dan Kursi 2005 Konsumsi, Pertokoan, Simpan Pinjam, Percetakan, Fotocopy, Pengadaan Kendaraan Bermotor Wartel, Jasa Angkutan, Penyewaan Tenda dan Kursi Toko Swalayan

Tahap th 2

Tahap th 3

Kegiatan Toko Swalayan baru dibuka pada tahun 2006. Faktanya, ini menjadi daya tarik tersendiri. Memang hasilnya relatif belum optimal, tetapi dampaknya sudah dapat dirasakan. Maksudnya, sudah banyak anggota yang memanfaatkan berbelanja di toko ini. Diharapkan hal itu akan dapat menjadi pemicu bagi bertambahnya anggota baru. Fakta menunjukkan, pertumbuhan anggota koperasi hanya meningkat dengan prosentase pertumbuhan biasa saja. Lihat saja, jumlah anggota tercatat sejumlah 939 orang pada tahun 2002. Lalu menjadi 1.141 orang (2003) dan 1.316 orang pada 2004 sera mencapai 1.408 orang sampai posisi akhir 2005.

UNJUK KERJA UNIT
Kegiatan simpan pinjam merupakan program andalan koperasi. Walaupun kemampuan menyimpan dari anggota masih memprihatinkan. Cukup sulit meyakinkan anggota agar bersedia menyimpan kelebihan dananya di koperasi ini. Menurut ketua umum koperasi ini, kondisi tingkat pendapatan anggota sebagai sebab pertama. Kemudian sebab kedua adalah belum dipahaminya sikap dan perilaku berkoperasi. Sebab ketiga, ada trauma masa lalu yang benar-benar membuat mereka jera sehingga sekarang ini mereka hanya memanfaatkan koperasi kalau benar-benar mereka memperoleh manfaat. Untuk itu strategi yang ditempuh pengurus adalah mencari sumber dana yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan mereka. Dengan modal sebesar Rp 2,5 miliar pada akhir Oktober 2006, koperasi ini berharap dapat melayani potensi permintaan sebesar Rp 10 miliar. Ratarata pinjaman per anggota koperasi ini mencapai Rp 1 juta – Rp 3 juta

187

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Keberadaan komplek unit usaha KPN Maju menjadi daya tarik tersendiri.

untuk satu tahun. Baik yang dilperoleh dalam bentuk kredit sembilan bahan pokok (biasanya bulanan) maupun kendaraan motor sebesar Rp 140 juta untuk tiga tahun (rata-rata 60 bulan). Terkait pelayanan kredit sembilan bahan pokok, dapat diperkirakan potensi pelayanan sebagai berikut. Kalau dapat dilayani sebanyak 3.000 anggota (dua kali dari jumlah anggota saat ini) dengan rata-rata pinjaman sebesar Rp 500 ribu per bulan, maka modal yang dibutuhkan akan mencapai Rp 1,5 miliar (sekaligus sebagai omzet per bulan). Sampai saat ini posisi pinjaman dan kredit konsumsi tercantum pada Tabel 2. Tingkat pengembalian kredit konsumsi sifatnya tergantung pada besar kecilnya pinjaman. Misalnya untuk pinjaman sebesar Rp 250 Tabel 2. Komposisi Pinjaman danTingkat Kredit Konsumsi Anggota ribu cukup diangsur 1 kali (1 Komponen 2003 2004 2005 bulan). Sedangkan untuk pin1. a. Pinjaman 458.414.000 537.989.350 597.064.000 jaman mencapai Rp 1 juta maka b. Peminjam 482 orang 419 orang 417 orang cicilan dapat dilakukan 3 kali (3 bulan). Ada pelayanan antar ke 2. a. Kredit Konsumsi 81.165.500 165.069.250 70.140.300 b. Pengguna Jasa Kredit 236 orang 272 orang 202 orang rumah (door to door services). Langkah tersebut dikaitkan dengan program potong langsung dari slip gaji dan program jemput bola. Kalau dilihat dari sisi besarnya kredit konsumsi maka jumlah anggota juga mengalami penurunan dan tercatat angka rata-rata kebutuhan konsumsi (sebagai pinjaman per tahun) sebagai berikut: Rp 343.921 (2003); Rp. 606.872 (2004); Rp. 347.229 (2005). Kalau dilihat sisa pinjamannya tercatat rata-rata per anggota : Rp. 153.795 (2003); Rp. 397.643 (2004); Rp. 290.921 (2005). Ada hal yang menarik dan memerlukan pengkajian dengan melihat kemampuan membayar pinjaman tersebut di muka. Kalau dari sisi pinjaman, ternyata kemampuan membayar para anggotanya rata-rata mencapai 57,98% (2003); 52,79% (2004) dan 36,52% (2005). Sementara itu dari sisi kedit konsumsi, tingkat pengembaliannya relatif meningkat, yaitu dari 44,72% (2003) disusul dengan 65,52% (2004) dan 83,78% (2005). Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah 188 Selanjutnya untuk mendorong tumbuhnya keinginan pada anggota

Subroto

Tabel 3. Indikator Kinerja KPRI Maju
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Indikator Nilai pinjaman bagi anggota (Rp.) Jumlah Anggota yang dilayani (orang) Nilai kredit konsumsi (Rp) Jumlah Anggota yang dilayani (orang) Nilai pendapatan usaha jasa lain Pendapatan Kotor (Rp) Biaya Operasional (Rp) Pendapatan Bersih (Rp) SHU setelah pajak(Rp) Modal Sendiri (Rp) Modal Luar (Rp) 2003 458.414.000 482 81.165.500 236 92.028.250 499.757.213 410.007.213 89.007.213 75.656.131 2.509.830.380*) 71.144.602 2004 537.989.350 419 165.069.250 272 38.837.950 817.003.206 670.852.900 146.151.306 124.228.610 3.366.332.661**) 71.144.602 2005 597.064.000 417 70.140.300 202 3.330.421.010 8.569.162.499 8.480.622.362 88.540.137 75.259.116 10.282.239.884***) 2.006.949.819

Catatan: *) Termasuk modal inventasi sebesar Rp. 1.695.512.230,**) Termasuk modal investasi yang meningkat menjadi Rp.2.392.163.205,***) Termasuk modal investasi sebesar Rp. 8.782.913.205

agar mau menyimpan, dilakukan strategi menerapkan sistem manajemen pengelola yang terbuka atas dana simpan pinjam (sesuai dengan jati diri koperasi). Juga dilakukan penyuluhan dan sosialisasi atas pengertian manfaat berkoperasi, serta kesediaan melunasi simpanan pokok yang nilainya tidak terlalu besar. Mengingat tingkat kehidupan dan pendapatan anggota, diperlukan bantuan pemerintah daerah untuk menghimbau mereka, melunasi besarnya simpanan pokok Rp 10.000. Kemudian juga mewajibkan pegawai melakukan simpanan, dengan berbagai cara seperti penyelenggaraan bulan simpanan dan sebagainya. Hal ini akan memberi manfaat bagi mereka sendiri. Dukungan semacam himbauan diperlukan agar dapat mengakumulasi modal yang diperlukan koperasi. Memperhatikan kondisi dari unit usaha lainnya seperti toko alat tulis kantor, dan berbagai usaha jasa yang ada, seperti : percetakan dan fotocopy, wartel, angkutan, sewa tenda dan kursi maupun jasa usaha kredit motor, tercantum dalam tabel 4. Nampak bahwa perkembangan usaha secara riil baru terjadi pada tahun 2005 setelah dua tahun sebelumnya hanya kegiatan terbatas saja. Indikasinya dapat dilihat dari macam kegiatan yang dikembangkan pada tahun 2005 di mana hasilnya mulai dirasakan tahun 2006 ini. Komposisi dari neraca koperasi ini menunjukkan, akumulasi besarnya aktiva tetap yang ditempatkan sebagai sumber penerimaan dana yang dipakai untuk melayani anggota. Namun dari prestasi yang cukup mengagumkan itu perlu diwaspadai pula agar keragaan kinerja tetap berjalan dinamis disertai dengan peningkatan pengendalian atas kemungkinan terjadinya penyimpangan. Semakin dini masalah dapat diidentifikasi, semakin kokoh pertumbuhan koperasi ini. Hal itu perlu ditempatkan menjadi perhatian, apalagi kalau diperhatikan komponen permodalan usaha yang praktis hampir tergantung pada dunia atau pihak ketiga.

189

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 4. Tingkat Perkembangan Usaha Jasa lainnya
Unit Jasa Usaha 1. Alat Tulis/Kantor*) 2. Percetakan/fotocopy 3. Wartel 4. Jasa Angkutan 5. Sewa Tenda/Kursi 6. Kredit Motor (dengan pihak ke III)**) 2003 27.028.250 65.000.000 2004 22.237.950 16.500.000 2005 31.941.975 14.520.000 7.435.835 28.000.000 48.000.000 643.558.800 694.617.000 1.907.347.400

Catatan: *)

2004 :Nilai Stock sebesar Rp 21.110.500,2005: Nilai Stock sebesar Rp 10.225.000,**) Kegiatan ini menjadi andalan kegiatan tahun 2006 ini.

BELI HOTEL
Potret keragaan KPRI Maju telah diungkapkan cukup panjang lebar. Boleh disimpulkan sementara, relatif menggambarkan berbagai keberhasilan. Termasuk masalah yang perlu diperhatikan sehubungan dengan keberhasilannya. Kalau mau diringkas, dinamika kegiatan KPRI Maju memperoleh pendapatan dari berbagai sumber pendanaan. Mungkin ini yang harus didukung oleh koperasi sejenis, kalau ingin membantu para anggotanya. KPRI Maju memiliki asset yang cukup besar. Antara lain seperti rumah dan toko (ruko) dengan investasi Rp 3,5 miliar dan memberi pendapatan sewa Rp 250 juta per tahun. Yang cukup menarik, koperasi juga baru saja melakukan pembelian hotel berkapaitas 30 kamar atau tipe melati tiga. Hotel ini juga dilengkapi dengan ruang rapat dan restoran serta kegiatan tour. Investasi yang dibenamkan di sektor ini sekitar Rp 4,5 miliar dengan proyeksi pendapatan Rp 2,4 miliar per tahun. Pihak koperasi meyakini, investasi ini selaras perkembangan Kota Kupang yang memiliki potensi pariwisata cukup besar. Selain itu, koperasi juga sudah bekerjasama dengan Pemda dan pihak Bukopin. Bentuknya, penjualan sepeda motor sejumlah 1400 unit dengan omset Rp 3,9 miliar. Dalam konteks ini, koperasi menjadi penjamin dan memperoleh fee penjualan. Semua itu merupakan langkah awal konkrit lebih memperkuat kelembagaan koperasi. Karena itu Pengurus juga menyadari perlunya untuk menggiatkan partisipasi anggota. Ini menjadi tantangan tersendiri. Terutama terkait memperkuat kelembagaan koperasi, menyehatkan kegiatan usaha dan melayani anggota secara lebih baik.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

190

KALIMANTAN BARAT

KPRI Tut Wuri Handayani Pontianak

MENITI JANJI

MENUAI PRESTASI
191
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

Selain USP, waserda juga mengalami perkembangan.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

192

engelola koperasi fungsional sebenarnya lebih mudah dibanding koperasi yang tumbuh di lingkungan masyarakat (kopmas). Demikian ungkapan Suparman, Bendahara salah satu koperasi fungsional di Jalan Adi Sucipto Sungai Raya Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Menurut analisisnya, koperasi tersebut memiliki anggota berpenghasilan tetap. Bagi pengurus atau pengelola juga mudah cara menagih utang-utang anggota dengan memotong gaji, sehingga kecil kemungkinan terjadi kredit macet. Kelebihan lain, anggota rata-rata mempunyai wawasan luas dan mudah berinteraksi. Menurutnya, perlu dipertanyakan kalau ada koperasi fungsional itu mengalami stagnasi, lesu darah atau bahkan bangkrut, pasti ada yang tidak beres dalam pengelolaannya. Minimalnya, kondisi ini diakui pernah menimpa Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) KITA di kecamatan Sungai Raya Pontianak. Pergolakan antara keinginan untuk maju dan pengelolaan apa adanya turut mewarnai koperasi milik para guru TK, Madrasah Ibtidaiyah dan pegawai Dinas Pendidikan Dasar di kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang ini. Berdiri sudah bertahun-tahun namun tidak memperlihatkan perkembangan. Tidak terjadi pemupukkan modal maupun penambahan aset, usaha yang dikelola semua mandeg. Akibatnya anggota menjadi pasif mengingat kesejahteraan yang didengungkan saat pembentukan ternyata tidak pernah terwujudkan. Melihat kondisi koperasi yang mentok ini membuat sebagian anggota ingin berusaha mendorong untuk melaju kembali. Namun, perahu yang sarat penumpang batu dan penuh kepasrahan ini sulit juga bergerak. Maka, penumpang yang berakal sehat segera mencari perahu pengganti alias mendirikan koperasi baru untuk mewujudkan visi dan misinya. Koperasi tersebut adalah KPRI Tut Wuri Handayani (TWH) yang menghimpun anggota para guru PNS TK, SD, Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan staf dinas pendidikan kecamatan Sungai Raya. Singkatnya, setelah koperasi ini memisahkan diri dengan KPRI KITA, kondisinya terus membaik. Suparman menambahkan, sejak 1994 perjalanan kegiatan usaha terus mengalami kemajuan. Artinya, imbuh guru berdarah Jawa Timur ini, keberadaanya sudah layak disebut sebagai koperasi yang bisa melayani anggota. Terutama bagi yang memerlukan bantuan dana, baik untuk keperluan konsumtif maupun produktif. Kontribusi terhadap kesejahteraan walau masih taraf minimal telah dicapainya. Partisipasi anggota juga tumbuh baik. Paling tidak, pinjaman yang diberikan pada anggota dananya berasal dari beberapa simpanan dan modal dari luar atas prakarsa pengurus yang selalu ingin mencukupi kebutuhan dan meringankan beban anggota mengakses dana. Intinya, koperasi yang terbentuk pada 29 Maret 1995 ini ingin tampil sebagai lembaga bisnis yang profesional. Itu sebabnya, semua legalitas yang mungkin diperlukan untuk akes ke luar, baik dalam bermitra dengan pihak-pihak lain atau persyaratan lain yang ditentukan tidak terkendala. Syarat legalitas tersebut, selain badan hukum yang dikantongi beselang tiga bulan dari pembentukan No. 1504/BH/X, tertanggal 29 Juni 1994, berturut-turut memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Ijin

M

Slamet AW

Tempat Usaha (SITU), Tanda Daftar Usaha Perusahaan, Tanda Daftar Perusahaan dan Rekening Giro pada Bank Kalbar. Atas semangatnya pengurus mengelola koperasi, mendapat sambutan penuh anggota maupun simpati guru-guru yang belum menjadi anggota segera bergabung. Dampaknya grafik keanggotaan terus naik. Per 31 Desember 2005 KPRI TWH ini telah membukukan anggota sebanyak 879 orang. Dari jumlah tersebut tersebar pada 82 unit kerja di wilayah kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Pontianank. Untuk mengendalikan organisasi dan potensi yang dimiliki koperasi sekaligus untuk mengoptimalkan pelayanan. Rapat anggota mengangkat lima pengurus, yakni ketua, wakil ketua, sekertaris I dan II serta bendahara dan pengawas masing-masing satu ketua dan dua anggota. Untuk mengikat interaksi antar anggota, pengurus, pengawas, karyawan dan masyarakat umum. Koperasi membuka unit-unit usaha yang terdiri, Unit Simpan Pinjam (USP), Waserda, kredit barang elektronik dan otomotif (sepeda motor) dan jasa. Serta kerja sama dengan pihak ketiga lainnya dengan tujuan meningkatkan dan mengembangkan modal koperasi demi tercapainya kesejahteraan anggota. Bentuk kesejahteraan yang diberikan kepada anggota diantaranya anggota dapat mengakses pinjaman baik untuk usaha maupun kebutuhan lain seperti biaya sekolah dengan plafon sebesar Rp 10 juta. Pinjaman darurat untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak semisal biaya pengobatan/rumah sakit dan sekolah. Bea siswa bagi putra-putri anggota yang berprestasi SD/MI- SLTA, pembagian SHU, bantuan rawat inap, santunan duka cita, membebaskan beban hutang bagi anggota yang meninggal dunia. Bagi anggota yang berbelanja minimal Rp 1,5 juta akan mendapatkan perangsang 2,5% dari jumlah belanja. Memberi diskon belanja 5%-10% THR dan hadiah lain. KPRI ini juga menaati aturan yang ada seperti anggaran dasar (AD) semisal yang boleh menjadi anggota hanya PNS guru TK,SD/MI dan staf dinas pendidikan kecamatan yang masih aktif. Artinya, bagi anggota yang memasuki pensiun keanggotaanya secara otomatis akan habis. Hal ini dilakukan agar kinerja koperasi selalu maksimal, sebab selain masih energik pengurusnya penghasilannya juga masih bagus. Sehingga mau bekerja paruh waktu tanpa memperhitungkan besar honor. Bagi pensiunan pembayarannya juga tidak lagi di bendahara kecamatan sehingga dapat mengganggu penagihan. Berkaitan dengan prinsip pendidikan anggota yang menempati posisi sangat penting. Yakni, dengan pendidikan, anggota akan lebih memahami dunia perkoperasian sehingga timbal baliknya menjadi sangat solid dalam ikatan koperasi. Terlebih pengurus, akan bijaksana seandainya mau memahami perkembangan arus informasi dan teknologi yang pesat. Demi kemajuan organisasi yang dipimpinnya, perlu mengadopsi sekaligus mengaplikasikannya. Catatan selama periode 2005 pengurus telah mengikuti pelatihan akuntansi komputer yang diselenggarakan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Pontianak. Kerja keras pengurus dalam membangun koperasi tidak butuh waktu

193

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

terlalu lama. Terbukti, hanya selang dua tahun dari pembentukannya mampu menyedot perhatian pihak lain memberikan apresiasi. Klasifikasi A (sangat mantap) diberikan Kepala Departemen Koperasi dan PKM Kabupaten Pontianak pada tahun 1996. Tidak hanya itu, malah pemerintah provinsi Kalbar menganugerahi piagam sebagai koperasi terbaik. Prestasi itu terus bertahan dengan pengakuan sebagai koperasi berprestasi tingkat kabupaten Pontianak. Kegiatan lain yang juga menorehkan prestasi adalah kerja praktek lapangan tentang USP pada 1996 pemberi apresiasi terebut adalah Balatkopwil Kalbar. Hingga tahun 2002 KPRI TWH tetap menjadi yang terbaik di kabupaten Pontianak. Seberapa jauh penilaian para pembina perkoperasian di Bumi Khatulistiwa itu, ada baiknya kita analisa laporan keuangan tiga tahun terakhir, yakni tahun buku 2002- 2005. Jumlah aktiva tetap pada tahun buku 2002 sebesar Rp 1,824 miliar, tahun buku 2003 sebesar Rp 2,446 miliar, pada 2004 naik menjadi Rp 3,105 miliar dan pada 31 Desember 2005 sebesar Rp 4,500 miliar. Pendapatan dan jumlah Sisa Hasil Usaha (SHU) juga mengalami kenaikan Tabel 1. Perkembangan Aset dan SHU, 2004-2005 walau belum signifikan. Dari Rp 1,043 Uraian 2005 2004 miliar pada tahun buku 2004 menjadi Rp 1. Aset 4.499.719.795 3.104.603.276 1,326 miliar per 31 Desember 2005. Unit usaha yang banyak menyumbang pen2. SHU 476.992.400 441.038.850 dapatan adalah USP dari Rp 687 juta pada tahun 2004 menjadi Rp 891 juta tahun buku 4,5 miliar 2005. Penjualan barang dan jasa sekitar Rp 356, 3 juta pada 2004 naik menjadi Rp 435 3,1 miliar juta tahun buku 2005. Sehingga SHU yang diperoleh sebesar Rp 477 juta per 31 Desember 2005 naik dari Rp 441 juta dari tahun buku sebelumnya. Hasil tersebut merupakan pengurangan akumulasi dari 0,44 miliar pendapatan dikurangi beban-beban biaya, yakni dari jumlah total pendapatan tahun buku 2005 sebesar Rp 1,326 miliar diku0,48 miliar rangi 927 juta. Sesuai hasil rekapitulasi kegiatan usaha yang tersaji dalam buku Rapat anggota Tahunan (RAT). Diantaranya rasio likuiditas sebesar 4,43. Rasio rentabilitas 0,31 dan rasio solvabilitas sebesar 1,51.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

194

BALI

KSU Kuta Mimba Legian Kuta

DALAM SOPP

TERDEPAN
195
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Zaenal Wafa

L

egian, Kuta, Bali pagi itu terlihat lenggang, hanya beberapa kendaraan roda empat yang melewati kawasan itu. Tampak begitu sepi tak seperti yang dibayangkan sebelumnya, sebuah kawasan wisata yang ramai dikunjungi turis mancanegara. Legian, Kuta, siapa yang tak kenal? Rasa-rasanya hampir semua orang mengenalnya, pemberitaan demi pemberitaan atas kasus bom Bali II menjadikan Kuta tak hanya dikenal sebagai daerah wisata yang tersohor tapi juga daerah yang rawan aksi teror. Berjalan-jalan di Legian, Kuta tak lengkap rasanya jika tidak melongok sedikit ke jalan Sriwijaya, tampak sebuah gedung khas Bali bertingkat dua diantara deretan pernak pernik kerajinan Bali. Tulisan besar terpampang ”KSU Kuta Mimba”, sebuah nama yang mudah diingat. Terlihat bagian depan aktivitas sebuah waserda yang merupakan salah satu unit usaha KSU Kuta Mimba. ”Nama Kuta Mimba untuk KSU ini kami ambil untuk mengenang masa lalu desa ini yang konon pada jaman Majapahit desa ini bernama Kuta Mimba” ujar Manajer KSU Kuta Mimba Bapak I Nyoman Santun, SE di ruangannya saat kami tanyakan asal-usul Kuta Mimba. Hal yang menarik dari KSU Kuta Mimba selain merupakan koperasi terbaik, baik tingkat daerah maupun nasional adalah adanya pelayanan SOPP (System Online Payment Point) bagi pelanggan PT. Telkom. Bagaimana tidak, bukan hal yang mudah bagi sebuah koperasi bisa mendapatkan kesempatan kerjasama seperti ini bukan? I Nyoman Santun, dengan santun menjelaskan latar belakang terjadinya kerjasama ini. ”Memanfaatkan momen, saat itu Tahun 1997 dicanangkan sebagai ”TAHUN PEMANTAPAN KOPERASI DAN TELEKOMUNIKASI”. Gayung pun bersambut, Subiyakto Tjakrawerdaya Menteri Koperasi dan UKM saat itu berkunjung ke Bali, celah ini kami manfaatkan untuk menjalin kerjasama dengan PT. Telkom. Tujuannya agar anggota KSU Kuta Mimba dan masyarakat sekitarnya

Loket pembayaran telepon dan listrik sangat membantu kemudahan anggota membayar tagihan.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

196

Burhanuddin R

yang umumnya sibuk dapat membayar rekening teleponnya melalui koperasi. Akhirnya pada tanggal 16 Pebruari 1998 terwujudlah kerjasama tersebut, ujarnya sambil tersenyum bangga. Layaknya koperasi pada umumnya, KSU Kuta Mimba selalu berusaha meningkatkan volume usaha, salah satunya pelayanan rekening telepon maka dijalinlah kerjasama/kemitraan. Lembaga yang pertama kali dilirik adalah LPD (Lembaga Perkreditan Desa), yang memang mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian masyarakat Bali. Kerja sama atau kemitraan ini berupa pembayaran rekening telepon melalui KSU Kuta Mimba dengan fee Rp 1.500 per rekening. Beberapa LPD dan koperasi yang bekerjasama diantaranya adalah KSU Kencana, Kopkar Ht. Putri Bali, KSU Pemogan, LPD Kerobokan, LPD Seminyak, LPD Legian, LPD Kuta, LPD Tuban, LPD Kedonganan, LPD Kelan, LPD Tengkulung, LPD Pecatu. Tak hanya itu, dalam pelayanannya KSU Kuta Mimba menerima pesanan/permintaan, membayarkan rekeningnya, mengantarkan prima nota ke rumah pelanggan, menerima pembayaran rekening, mengantarkan rekening. Di samping itu unit biro jasa ini melayani pembayaran rekening listrik, PAM, juga melayani anggota koperasi dan masyarakat dalam hal pengurusan SAMSAT kendaraan dan berbagai macam SIM serta mengelola usaha jasa photo copy. Seperti pada gambar disamping terlihat anggota dan bahkan turis sekalipun dapat menggunakan layanan Unit Biro Jasa ini. Unit Biro Jasa ini mengalami perkembangan yang cukup baik, seperti terlihat dari volume usaha tahun 2004 sebesar Rp 46.988.142.168,mengalami peningkatan pada tahun 2005 sebesar Rp 57.380.212.083,-

SEKILAS
Berawal dari Tim Lomba Desa Terpadu tahun 1983, dimana salah satu kriterianya adalah koperasi. Saat itu, desa Kuta belum mempunyai koperasi, maka atas prakarsa tokoh-tokoh masyarakat di Kuta dibentuklah koperasi primer yang beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat, pegawai negeri dan swasta, serta pengusaha yang ada di wilayah Kelurahan Kuta (Kuta, Legian, Seminyak) dan sekitarnya. Jumlah anggota pada saat itu 89 orang. Unit simpan pinjam (USP) adalah unit usaha yang pertama kali dikelola KSU Kuta Mimba. Pengelolaan USP awalnya sangat lambat, karena masyarakat trauma terhadap koperasi sebelumnya yang mempunyai citra kurang baik (sudah tidak beroperasi lagi), dikelola secara sambilan dan tidak mempunyai tempat sendiri (menumpang di Kelurahan Kuta). Untuk membenahi KSU pada pertengahan tahun 1987, melalui rapatrapat pengurus menyetujui untuk mengangkat I Nyoman Santun sebagai manajer.

LIBATKAN TOKOH MASYARAKAT
Terobosan pun dimulai, untuk mensukseskan usaha koperasi para tokoh masyarakat, Kepala Lingkungan dilibatkan sebagai Pengurus yang diberikan tugas untuk memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang usaha

197

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

koperasi kepada masyarakat. Dengan cara ini KSU Kuta Mimba mulai menunjukkan kemajuan. Pada tahun 1990, mulai membuka unit usaha baru yaitu unit usaha angkutan Sampah. Unit usaha ini tidak semata-mata mencari sisa hasil usaha (SHU) tetapi lebih mengutamakan pengabdian kepada masyarakat. Perjuangan keras pun mulai dirasakan, pada tahun ini Manajer KSU Kuta Mimba I Nyoman Santun mendapat penghargaan dari Pemerintah RI melalui Menteri Pemuda dan Olahraga sebagai Pemuda Pelopor dalam bidang Perkoperasian dan pada HUT Koperasi ke-43 tahun 1990 KSU Kuta Mimba menjadi Juara I Koperasi Fungsional tingkat Kabupaten Badung. Semangat memajukan KSU Kuta Mimba terus bergelora, pada tahun 1991 unit usaha baru pun dibuka, usaha foto copy dan waserda menjadi pilihan. Pada tahun ini juga KSU Kuta Mimba menjadi Juara II Koperasi Fungsional Serba Usaha Provinsi Bali. Berikutnya pada tahun 1992 kembali menjadi Koperasi Terbaik I Provinsi Bali dan Koperasi Terbaik IV Tingkat Nasional. Tahun 1993 sebagai Koperasi Teladan Tingkat Nasional. Tahun 1994 Koperasi Teladan Tingkat Nasional dan Koperasi Inti Provinsi Bali.

PEMBINAAN
Sumberdaya manusia (SDM) sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi. KSU Kuta Mimba menjalin kerja sama dengan Universitas Udayana untuk mendapatkan tenaga kerja yang profesional. Demi kemajuan bersama, manajemen melengkapi pengelolaan SDM dengan menetapkan Peraturan Perusahaan (PP), Sistem Pengendalian Intern (SPI), struktur organisasi, pembagian dan uraian tugas (job description) yang jelas. Sistem penggajian karyawan bekerja di KSU Kuta Mimba seperti sistem penggajian dan kepangkatan di PNS, dimana setiap empat tahun mengalami kenaikan pangkat. Pendidikan anggota setiap tahun dilaksanakan pada bulan Nopember – Desember. Salah satu wujud nyata mensejahterakan anggota, selain pembagian SHU yang sesuai dengan partisipasi, anggota KSU Kuta Mimba juga diikutsertakan dalam Program Dana Tanggungan Bersama Eka Warsa untuk kecelakaan dan pengobatan yang setiap anggota dibayar oleh koperasi sebesar Rp 2.000,-. Anggota yang meninggal mendapatkan uang duka dan tunjangan asuransi.

SIMPAN PINJAM
Unit usaha simpan pinjam sudah dikelola sejak berdirinya KSU Kuta Mimba pada tahun 1983. Mulai tahun 1987 USP dikembangkan dengan strategi melibatkan tokoh-tokoh masyarakat untuk sosialisasi, mengangkat karyawan, membenahi manajemen, meningkatkan pelayanan dengan sistem door to door. Perjuangan keras dan dukungan serta kerjasama semua pihak, KSU Kuta Mimba mendapat simpati anggota dan masyarakat. Walaupun persaingan begitu ketat dari lembaga perbankan dan LPD.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

198

Unit simpan pinjam mengelola tabungan sukarela koperasi (TASUKOP), simpanan sukarela berjangka koperasi (SIBERKOP) dan memberikan bermacam-macam pinjaman/kredit. Volume usaha USP mengalami peningkatan setiap tahunnya, sebagai contoh pada tahun 2004 sebesar Rp 32.997.793.188 meningkat menjadi Rp 21.168.240.000 pada tahun 2005. Sebagai lembaga keuangan, KSU Kuta Mimba tentunya dihadapkan pada persaingan yang sangat ketat dan mau tidak mau harus mengikuti mekanisme pasar yang sangat kompetitif. Lantas, apa kiat KSU Kuta Mimba dalam mengelola unit simpan pinjam? Seperti diketahui, bahwa koperasi pada dasarnya milik anggota, maka yang pertama kali diutamakan adalah anggota, dengan mengutamakan kepuasan pelanggan melalui pelayanan yang cepat, aman, murah dan akurat didukung dengan teknologi yang memadai maka diharapkan anggota memiliki trust yang tinggi terhadap koperasi. Bahkan, pelayanan jemput bola melalui Petugas Kredit dan Tabungan (PKT) yang disiagakan dilakukan. Kantor Kas Pembantu di Jl. Kubu Anyar, Kuta dibuka. Peminjam pun tak perlu khawatir, kredit pun diasuransikan sesuai dengan kesepakatan peminjam. Kredit investasi diberikan grace period selama tiga bulan, artinya diberikan keringanan untuk tidak membayar pokok pinjaman selama tiga bulan.

WASERDA
I Wayan Sarna (46 tahun) seorang wirausaha di Kuta menyatakan bangga menjadi anggota KSU Kuta Mimba dengan alasan mengikuti perkembangan jaman dan manfaat lainnya adanya diskon di Waserda dan pelayanannya lebih mudah. Hal senada juga dilontarkan I Nyoman Kertu (40 tahun) yang mempunyai usaha di kantin sekolah merasa sangat senang ikut menjadi anggota koperasi karena dapat membeli barang-barang
Siti Aedah

Diskon menjadi daya tarik anggota dan masyarakat berbelanja.

199

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Data Perkembangan Anggota, Pengelola, Aset, Modal Sendiri dan SHU Tahun 1995-2005
Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Anggota 3136 3378 3652 3752 3753 3745 3754 3761 3790 3817 3829 Pegawai 96 101 102 100 99 87 93 92 91 94 92 Asset 7.888.502.046 8.593.633.793 9.634.054.065 11.845.217.374 13.652.274.540 16.982.444.605 18.038.781.111 18.490.835.247 19.627.784.962 27.599.754.507 29.552.287.893 Modal Sendiri 1.231.356.899 1.912.370.727 2.157.201.181 3.269.315.664 3.554.897.747 3.750.992.564 4.189.938.465 4.386.661.956 4.280.477.799 4.799.091.214 5.280.312.483 SHU 551.634.203 509.251.927 441.948.100 1.131.859.187 821.714.655 716.098.656 806.823.561 723.201.327 401.220.498 613.798.629 717.304.469

kebutuhan sehari-hari dan dapat dengan mudah mendapatkan simpan pinjam untuk pengembangan usahanya. Unit Waserda KSU Kuta Mimba bergerak dalam penjualan barang, melayani kebutuhan barang-barang konsumsi para anggota koperasi dan masyarakat sekitarnya terfokus kepada penjualan barang-barang lancar. Harga selalu bersaing dengan pasar bahkan diusahakan lebih murah dan minimal sama. Penjualan bisa secara eceran maupun grosir. Memiliki dua toko tempat pelayanan di Jl. Sriwijaya Legian dan Jl. Kubu Anyar Kuta. Bahkan, berbelanja dalam jumlah tertentu mendapatkan harga istimewa yang langsung diproses lewat komputer. Poin belanja anggota diakumulasi melalui data komputer dalam satu tahun dievaluasi partisipasi anggota dan sebagai dasar pembagian SHU. Hasilnya pun terbilang cukup memuaskan volume penjualan tahun 2005 sebesar Rp 1.834.357.447,-.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

200

BALI

KSP Citra Mandiri Denpasar

MEMBERIKAN MODAL

TANPA AGUNAN
201
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Burhanuddin R

P

Kantor KSP Citra Mandiri.

roses pembentukan koperasi simpan pinjam (KSP) ini, termasuk agak langka. Mengapa? Karena pendiriannya diawali sekelompok masyarakat dalam suatu banjar (setingkat rukun warga di Bali) yang bersepakat mendirikan KSP. Begitulah, warga masyarakat di lingkungan Banjar Panti-Intaran, Kota Denpasar, mengadakan musyawarah untuk mendirikan lembaga koperasi. Disebut agak langka, karena biasanya pembentukan koperasi dipicu ada iming-iming atau keinginan memanfaatkan fasilitas atau agar dapat kecipratan rejeki. Kejadian seperti ini sudah dianggap biasa. Padahal pada akhirnya bentuk-bentuk ‘koperasi merpati’ tersebut umumnya hanya seumur jagung. Tepatnya, KSP Citra Mandiri didirikan pada tanggal 14 Januari 2000. Kala itu berbekal tekad dari 202 orang dan modal awal sebesar Rp 20 juta. Nominal ini cukup signifikan untuk sekelompok masyarakat dalam suatu banjar dengan membentuk KSP. Visi awal yang ditanamkan adalah memberikan nilai lebih kepada anggota maupun masyarakat umum. Visi ini kemudian diterjemahkan menjadi misi koperasi, yang pada intinya memberikan kemudahan dalam hal kebutuhan dana atau modal kerja kepada anggota koperasi dan masyarakat setempat. Sejak awal pembentukannya, KSP Citra Mandiri telah dipersiapkan secara matang meski untuk sementara menempati sebagian ruangan dalam banjar. Struktur organisasi pengurus ditetapkan terdiri dari lima orang. Sedangkan jajaran pengawas tiga orang. Mereka merancang administrasi pembukuan secara cermat melalui penggunaan komputer (computerized system) dan terintegrasi (fully integrated). Manfaatnya, setiap saat informasi dan data yang diperlukan dapat segera diperoleh atau diakses. Kondisi tersebut sangat menarik bagi anggota dan calon anggota koperasi. Artinya, meskipun pengurus tidak berada di tempat dan sepanjang terdapat karyawan yang diberi otorisasi, informasi dan data yang dibutuhkan dapat disediakan dengan cermat dan akurat.

Burhanuddin R

KARYAWAN PROFESIONAL
Eksistensi KSP Citra Mandiri, seakan menepis hipotesis sementara kalangan bahwa koperasi yang didirikan setelah tahun 1998 banyak yang tidak aktif lagi alias layu sebelum berkembang. Maklum di era tersebut, tak sedikit muncul koperasi aji mumpung atau koperasi pedati yang hanya bisa maju bila diberi dorongan. Manakala bahan bakar pendorong habis menguap, lalu tamatlah riwayat koperasi itu. Tinggallah para anggota menanggung rindu kapan simpanan atau modal mereka dapat diterima kembali. Umumnya bak burung pungguk merindukan bulan. Sampai sekarang belum pernah terdengar informasi, ada koperasi yang bangkrut atau dinyatakan pailit tetapi modal anggotanya terselamatkan. Bahkan pihak birokrasi pun lebih aman cuci tangan.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

202

Terkait keberadaan KSP dengan persaingan yang makin keras, mengharuskan para karyawan koperasi ini yang berjumlah enam mengikuti perkembangan pasar uang secara cermat. Pengurus menggariskan karyawan bekerja profesional, untuk menghindari salah kelola. Hal tersebut tercermin dari kewajiban karyawan untuk mengetahui fluktuasi suku bunga Bank Indonesia seperti SBI yang menjadi pedoman seluruh lembaga keuangan. Profesionalisme dalam menata pembukuan ditunjukkan dari adanya penyusunan rencana dan evaluasi target secara bulanan. KSP Citra Mandiri secara garis besar menerapkan dua sistem pinjaman atau kredit. Yakni Kredit Bulanan (mayoritas, 81 persen) dan Kredit Harian (kurang lebih 19 persen). Berdasarkan catatan laporan rapat anggota tahunan (RAT), ditemukan bahwa pertumbuhan Kredit Bulanan meningkat sekitar 46 persen pada tahun 2005 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ada pun Kredit Harian mengalami penurunan sekitar 16 persen. Hal ini karena sedang dalam proses pengalihan menjadi Kredit Bulanan sehingga agak dibatasi. Total portofolio kredit hingga akhir tahun buku 2005 tercatat mendekati nilai enam miliar (Rp 5,918 miliar). Kalau mengingat koperasi baru memasuki usia keenam, pencapaian itu sebenarnya merupakan prestasi tersendiri. Dengan kata lain, koperasi relatif bersifat ekspansif.

PENGURUS
Berikut ini beberapa catatan penting dari laporan RAT mengenai prestasi KSP Citra Mandiri dengan menggunakan data komparasi tahun 2004 dan 2005. Dana pihak petiga/DPK yang berupa Simpanan Sukarela, Simpanan Berjangka dan Pundi Citra meningkat 83 persen menjadi Rp 7,643 miliar. Sedangkan outstanding credit alias kredit yang sudah diberikan yang terdiri dari Kredit Bulanan, Kredit Harian dan Rekening Koran Mandiri berkembang 41 persen menjadi Rp 5,918 miliar. Sementara itu deposito koperasi pada Bank, meningkat 19 persen Tabel 1. Perkembangan SHU menjadi Rp 1,675 miliar. Khusus menyangkut sisa hasil usaha (SHU) Target SHU Realisasi SHU Deviasi Tahun koperasi, berkembang proporsional sebesar 0,57 persen (Rp) (Rp) (%) menjadi Rp 470 juta. Perkembangan lengkap per2001 40.750.000 129.169.641 216.98 olehan SHU koperasi ini dari 2001-2005 dapat dilihat 2002 174.975.000 250.892.034 43.38 pada Tabel 1 samping ini. 2003 299.010.000 315.166.214 5.40 Dapat ditambahkan, koperasi ini melaksanakan 2004 350.235.000 401.525.100 14.64 RAT selalu tepat waktu. Dalam arti sebelum batas 2005 426.950.319 470.071.626 “ 10,10 waktu akhir yang ditetapkan dalam Undang-Undang Perkoperasian, RAT sudah terlaksana. Selain itu, skor penilaian kesehatan koperasi menurut tahun buku 2005 berpredikat Sehat (84,65). Dengan rincian skor : permodalan = 12,63; aset = 25,74; manajemen = 23,50; rentabilitas = 12,77; dan likuiditas = 10. Kemajuan suatu koperasi memang harus ditilik dari beberapa komponen yang menjadi tolok ukur keberhasilannya. Dengan demikian besar kecilnya komponen SHU, tidak serta merta menunjukkan kemajuan atau tidak berkembangnya koperasi. Sebab unsur pelayanan kepada anggota, nilai tambah yang dinikmati anggota perlu pula dicermati. Koperasi di Tengah 203 Lingkungan yang Berubah Apabila disimak dari angka-angka yang relatif fantatis yang disajikan

Tabel 2. Perkembangan Anggota KSP Citra Mandiri
Tahun Jumlah (orang)

KSP Citra Mandiri, diharapkan perkembangan DPK dan outstanding credit berdampak positif terhadap usaha atau kesejahteraan anggota. Masa depan koperasi ini sangat tergantung kepada kapabilitas pengurus dan karyawan koperasi untuk memelihara dan mengamankan kepercayaan anggota. Salah satu hal yang belum termuat dalam laporan RAT adalah seberapa besar multiplier effect dari penyaluran kredit tersebut kepada para anggotanya. Maksudnya, siapa saja penerima kredit, apa bidang usaha anggota yang memanfaatkan kredit, seberapa besar tunggakan kredit anggota yang terjadi, dan lain-lain. Kerikil-kerikil kecil namun relatif rawan ini, patut menjadi ajang kewaspadaan pengurus KSP Citra Mandiri di masa depan agar prestasi yang sudah dicapai mampu dipertahankan. Sekaligus hal ini untuk menghindari hapusnya image baik koperasi. Jangan sampai bagaikan hujan di gurun pasir, tiada bekas karena hilangnya kepercayaan anggota. KSP Citra Mandiri sudah mulai menerapkan semboyan good corporate governance dan nampak berhasil. Selebihnya adalah bagaimana agar berlaku secara berkesinambungan (sustainability). Prinsip no pain no gain patut menjadi cambuk menuju masa depan yang lebih cerah.

FILOSOFI

Pertumbuhan keanggotaan KSP juga, boleh dibilang alamiah. Lambat tapi pasti, menunjukkan perkembangan secara wajar. Lebih jelas mengenai 2001 222 keanggotaan ini, bisa dicermati pada Tabel 2. 2002 232 Sebetulnya, pendiri inti KSP Citra Mandiri sebanyak 71 orang. Pendiri 2003 241 ini bukan dari tokoh, tetapi sekumpulan orang dengan visi yang sama. 2004 248 Mereka bertekad meringankan beban hidup keseharaian warga masya2005 250 rakat. Targetnya, warga dapat berpikir secara jernih. Hidup boleh susah, namun kita harus berbuat sesuatu secara bersama-sama. Kelemahan utama kita, sesungguhnya bisa bekerja bersama-sama, namun tidak bisa bekerja sama (terutama di bidang ekonomi). Tahun 2001 Fakta inilah sering mengusik warga banjar Panti Intaran, Denpasar. Tahun 2005 250 222 Lalu seseorang ditugaskan membuat konsep koperasi berbasis banjar. Singkat kata, tepat jam 16.00 Wita tanggal 248 232 14 Januari 2000, sistem siap diuji coba. Apa lacur, semua Tahun 2004 sistem sempat tak berjalan. Itu kenangan yang tidak bisa 241 mereka lupakan. Sistem dikoreksi dan dicoba lagi. Rupanya kesungguhan mereka membuahkan hasil. Warga Banjar puas dengan demo awal. Inilah awal Tahun 2003 dukungan. Kesungguhan adalah yang utama, hasil tinggal menunggu waktu. Akhirnya berdirilah KSP Cira Mandiri Tahun 2002 yang mereka perjuangkan bersama. Hingga posisi September 2006, ketaatan anggota koperasi memenuhi kewajiban seperti mengangsur pinjaman masih baik. Buktinya, non performing loan, NPL atau kredit macet anggota dan non anggota tidak lebih dari 5 %. Perlu dikritisi, terkait NPL masih sangat beda penafsiran antara praktisi perbankan dengan praktisi koperasi. Karena di koperasi saat ini belum diketahui secara jelas kriteria kredit lancar, kurang lancar, diragukan Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah 204 atau macet. Karena itu perlu dibuat secara standar yang berlaku di koperasi.

Kalau pun ada kredit macet anggota dan non anggota, Pengurus koperasi punya standar penanganan baku, terutama bila anggota sangat terkait dengan awig-awig (UU milik banjar/house rule banjar). Sedangkan kalau membandel, koperasi melakukan pendekatan kekeluargaan. Bila tidak bisa, baru dilakukan penjualan jaminan kalau ada. Tetapi kalau warga banjar, biasanya saat dikunjungi saja sudah ada reaksi. Kebiasaan tersebut termasuk khas di Bali. Ini tak lain karena adanya interaksi budaya dan agama dalam mengelola koperasi. Sesungguhnya ini juga terkait dengan konsep Tri Hita Karana. Hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain. Tujuannya, menuju suatu harmoni. Meningkatkan hubungan dengan Tuhan dan menyisihkan sepertiga dari apa yang kita terima itu wajib adanya. Tri bagang ikang artha : bagi tigalah harta itu. Rinciannya, untuk beribadah kepada Tuhan, tujuan sosial dan untuk kebutuhan pribadi. Sedangkan untuk non anggota, sejak tahap permohonan pinjaman pengurus sudah melakukan seleksi lebih ketat. Sehingga tidak menimbulkan potensi kerugian kepada koperasi. Rata-rata pinjaman anggota di koperasi ini, bervariasi antara Rp 1 juta hingga Rp 300 juta. Sedangkan kalau kredit yang cukup besar, akan di back-up jaminan cash di KSP Citra Mandiri yang disebut dengan back to back loan. Sementara itu nilai pinjaman non anggota, maksimal Rp 5 juta. Kecuali ia memiliki dana penempatan khusus di koperasi. Suku bunga simpanan berjangka saat ini (SBI 10.75), penerapannya adalah antara 6 8 % per tahun. Simpanan sukarela 4 % per tahun dan Pundi Citra 10 % per tahun dengan jangka waktu minimal 1 tahun. Sedangkan Kredit Harian 2 % per bulan minimal 30 hari. Sementara Kredit Bulanan bervariasi antara 1,5–2,25 % tergantung jaminan serta Rekening Koran (Rekor Mandiri) antara 1,8–2 % dari baki debet.
Burhanuddin R

Tempat pelayanan kegiatan simpan pinjam.

INOVASI
Contoh debitur yang berhasil berkat kredit dari KSP Citra Mandiri. Antara lain Modes Kartini milik Ibu Renny dengan usaha yang beliau geluti adalah konveksi. Volume usaha sebelum ada kucuran kredit berkisar puluhan juta saja. Kemudian ia menandatangani perjanjian kerja dengan Mr. Joger—yang produsen kaos dan tas merek Joger yang sangat terkenal di Bali. Padahal sebagian produksi tersebut, dijahit Modes Kartini yang notabene pembiayaannya dari KSP Citra Mandiri. Di samping itu industri Kaos Jangkrik juga menjahit kaosnya di situ. KSP ini juga memberikan beberapa saran terhadap beberapa rencana investasi, baik pengembangan maupun investasi baru. Mana sektor jenuh dan mana sektor berisiko misalnya.

205

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Masih terkait melayani anggota secara cerdas, pertengahan Desember 2006 KSP Citra Mandiri akan meluncurkan produk jasa keuangan bernama Proteksi Mandiri. Ini merupakan simpanan berjangka dan berhadiah langsung asuransi kecelakaan diri, perawatan RS akibat kecelakaan. Contoh anngota menyimpan sebesar Rp 10 juta dengan asumsi bunga 12 %/th. Berarti bunga yang diterima oleh nasabah adalah Rp 100 ribu per bulan atau Rp 1,2 juta setahun. Namun dengan Proteksi Mandiri ini, bunga yang dipasang adalah 10% per tahun. Artinya nasabah akan menerima Rp 83.333 per bulan atau Rp 1 juta atau berarti ada selisih Rp 200 ribu untuk jangka waktu 1 tahun. Dengan memadukan teknik marketing serta acara perkenalan yang dibuat sedikit gebyar, maka premi Rp 98 ribu per tahun dengan Uang Pertanggungan Rp 14 juta akan menjadi sangat menarik. Sesungguhnya premi tersebut dibayar nasabah itu sendiri. Nasabah setor Rp 100 juta tetap bayar preminya segitu (Rp 98 ribu kecuali menginginkan UP yang lebih. KSP Citra Mandiri seperti ingin di garis depan dalam hal ini. Hanya perlu sedikit usaha maka penghimpunan dana murah dari anggota sudah dapat dilakukan. Terlepas dari inovasi yang agakspekulatif tersebut, yang jelas jajaran pengurus selalu berupaya mencoba kiat-kiat keberhasilan. Tujuannya, mempertahankan atau meningkatkan prestasi yang sudah dicapai. Pertahankan yang sudah berjalan baik bahkan tingkatkan, dan laksanakan prinsip kehati-hatian. Sebagai ilustrasi, pernah KSP menjadi obyek penelitian mengenai pengaruh manajemen terhadap kemajuan koperasi. Hasilnya sungguh mengejutkan. Ternyata, manajemen tidak terlalu banyak berpengaruh dalam kemajuan sebuah koperasi. Pengaruh utama adalah sensitifitas dalam melaksanakan AD/ART maupun house rule lainnya. Sungguh diluar dugaan. Seorang responden di KSP Citra Mandiri menyatakan, ia sendiri tidak tahu apakah adanya figur kuat yang menyebabkan koperasi menjadi seperti sekarang. Yang jelas, kepercayaan anggota kepada kinerja koperasi sangat tebal. Di sisi lain, koperasi ini juga tidak mengenal istilah Pengurus abadi. Perbandingannya, hampir 75% koperasi yang bermasalah umumnya karena kurang solidnya pengurus. Apalagi ketentuan AD/ART yang mengatur masa kepengurusan di KSP Citra Mandiri juga sangat jelas: tiga tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

206

BALI

Kopti Makmur Denpasar

BERSAING
DENGAN PEMAIN LAIN
207
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Zaenal Wafa

P

Kehadiran anggota dalam forum diskusi sangat penting demi kemajuan koperasi.

agi itu, matahari di Bali baru naik sepenggalah. Kendati begitu, di gudang sebelah kantor koperasi sudah terjadi aktifitas kerja fisik yang berat. Lihat saja, tiga orang menurunkan puluhan karung ukuran 50 kilogram dari sebuah truk besar berdaya angkut sekitar 15 ton. Komoditi apa yang dibongkar-turunkan itu? Kedelai. Semua kedelai ini adalah milik Koperasi Pengusaha Tempe Indonesia (Kopti) Makmur, Desa Robokan, Denpasar Barat, Bali. Sekadar mengingatkan, dulu Kopti merupakan singkatan dari Koperasi Perajin Tahu dan Tempe Indonesia. Perbedaan yang tampak sepele ini, bagi Kopti Makmur mengandung sarat makna. Sekretaris Kopti Makmur H Sutrisno menjelaskan, koperasi didirikan oleh 40 orang perajin tahu dan tempe yang prihatin. Utamanya terkait tingkat fluktuasi harga kedelai yang tajam dan seperti tak terkendali di pasaran. Sementara Kopti lama tak bisa diharapkan perannya, karena para pengurus juga tidak peduli. Dilandasi motivasi utama menstabilkan harga kedelai demi kepentingan para perajin tempe, awal 1999 lahirlah Kopti baru. Dengan semangat kebersamaan baru pula, secara pasti dan bertahap harga kedelai mulai dapat ‘terjinakkan’. Bahkan harga kedelai yang ditetapkan para anggota koperasi ini, mampu mempengaruhi harga di pasaran. “Saat ini alhamdulillah harga kedelai kami dapat menjadi barometer bagi pedagang kedelai di Denpasar ini. Padahal kami saat itu benar-benar memulai dari nol,” tandas Sutrisno. Ia meyakini, hasil ini bisa dicapai lantaran semua anggota mempraktikkan prinsip koperasi sebagai sarana perjuangan bersama dari anggota untuk anggota. Maksudnya, dari sisi pelayanan koperasi bahkan selalu mempraktikkan layanan antar kepada para anggota sesuai pesanan dan tingkat produksi masing-masing. Hal ini dilakukan, karena di antara para Pengurus dan Pengawas koperasi intensif menggelar pertemuan mingguan. Di sisi lain, para anggota dan pengurus koperasi juga selalu melakukan pertemuan bulanan. Saat ini koperasi beranggotakan 116 orang dan 25 orang calon anggota. Hingga sekarang, koperasi mampu mengolah kedelai sekitar 150 ton per bulan menjadi tempe dan tahu. Maksudnya, dalam sehari seluruh anggota koperasi bisa mengolah kedelai rata-rata 14 ton. Sekadar gambaran, 1 ton kedelai bisa diolah menjadi sekitar 10.500 keping tempe.

Zaenal Wafa

RAPAT-RAPAT INTENSIF
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

208

Dari keseluruhan anggota koperasi, mayoritas atau 75 orang anggota merupakan lulusan SD. Selebihnya atau 52 orang anggota tercatat lulusan

SMA dan 14 orang anggota adalah lulusan SMP. Sedangkan jajaran pengurus, terdiri dari empat orang lulusan SMA dan satu orang lulusan SMP. Sementara pengawas koperasi, terdiri dari dua orang lulusan SMA dan satu orang lulusan SMP. Jalannya organisasi kelembagaan koperasi, hingga saat ini dikendalikan oleh pengurus dibantu para karyawan yang berjumlah tujuh orang. Artinya, koperasi belum merasa perlu mengangkat seorang manajer. Yang jelas, sejak koperasi didirikan hingga sekarang selalu melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) secara konsisten. Setiap tahun, jajaran Pengurus mampu menggelar rapat mingguan sekitar 40 kali pertemuan. Selain itu, serangkaian pelatihan juga selalu digelar. Baik ditujukan bagi jajaran anggota, pengurus, pengawas maupun karyawan koperasi. Rinciannya, frekuensi pelatihan bagi anggota biasanya dua kali setahun. Lalu pelatihan buat pengurus tiga kali setahun dan untuk pengawas satu kali tiap tahun. Selanjutnya pelatihan buat karyawan koperasi juga satu dalam setahun. Khusus pengurus koperasi, diagendakan mengikuti seminar di luar bisa dua atau tiga kali dalam setahun.

MURNI MODAL SENDIRI
Sejak didirikan hingga sekarang, aktifitas utama koperasi adalah perdagangan kedelai serta produksi tempe dan tahu termasuk distribusi atau pemasarannya. Meskipun sebetulnya koperasi memiliki unit usaha simpan pinjam, tetapi kinerjanya masih bersifat penjajakan atau uji coba. Tujuannya, agar kegiatan utama koperasi tetap terkonsentrasi dan berkembang. Hal ini tak lain terkait jenis koperasi yang disandang sebagai koperasi produksi. Mencermati permodalan Kopti Makmur, secara obyektif ternyata sangat menarik dan perlu dijadikan contoh buat koperasi lain. Mengapa demikian? Sebab, ketika didirikan pada awal 1999 koperasi benar-benar mengamalkan prinsip berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Konkritnya, tidak serupiah pun mendapat bantuan dari pihak mana pun. Juga tidak dari lembaga keuangan perbankan. Caranya, koperasi menghimpun pinjaman dari sekitar 40 calon anggota yang terdiri dari para perajin tempe sebagai modal awal kerja. Kala itu terkumpul dana sekitar Rp 190 juta. Lebih kurang tiga tahun kemudian, pinjaman tersebut dapat dikembalikan atau istilahnya sudah break event point. Melewati tahapan kelahiran lembaga secara sehat dan lancar tersebut, baru kemudian koperasi menerapkan ‘langkah konvensional’ seperti koperasi pada umumnya. Hingga akhir 2005, simpanan pokok anggota tercatat sebesar Rp 5,800 juta, simpanan wajib Rp 6,910 juta dan simpanan khusus atau sukarela senilai Rp 47 juta. Selain itu, koperasi memiliki penyisihan modal sejumlah Rp 17,407 juta. Sedangkan untuk cadangan modal, lembaga usaha ini mempunyai dana sebesar Rp 78, 450 juta. Total jumlah modal sendiri koperasi, sampai posisi Desember 2005 mencapai Rp 205,156 juta. Sementara modal dari luar koperasi, tercatat senilai Rp 576 juta. Keseluruhan permodalan dengan

209

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

demikian mencapai Rp 782 juta. Volume usaha koperasi, terutama dari kegiatan penjualan kedelai selama tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ambil contoh pada 2003, volume penjualan kedelai mencapai Rp 4, 692 miliar. Kemudian pada 2004 nilai penjualannya menjadi Rp 5,751 miliar. Dan pada 2005 nilainya sebesar Rp 6,369 miliar. Khusus mengenai nilai SHU, pencapaian oleh koperasi ini bersifat fluktuatif. Buktinya, kalau pada 2003 tercatat nilainya sekitar Rp 70 juta, tapi pada 2004 nilainya menjadi sekitar Rp 74 juta. Sedangkan pada 2005 SHU koperasi menjadi sebesar Rp 55 juta. Terlepas dari nominal SHU, yang jelas prosentase peruntukkannya sangat transparan. Fakta berdasar jawaban kuesioner menunjukkan, 50 persen dari dana SHU diperuntukkan bagi kepentingan dana anggota. Kemudian 25 persen lagi dialokasikan buat dana cadangan koperasi. Selanjutnya untuk dana pendidikan koperasi mendapat jatah 5 persen. Sisanya atau masing-masing 10 persen untuk dana pegawai dan pengurus.

PELAYANAN
Inilah pendapat pengurus dan sejumlah anggota Kopti Makmur, berdasarkan isian dari kuesioner yang mereka kembalikan. Tak dimungkiri, mereka rata-rata memberuikan jawaban yang tegas, percaya diri dan terus-terang. Sekretaris Kopti Makmur H Sutrisno menyatakan, pihak Pengurus koperasi bertekad mengembangkan lembaga usaha ini dengan cara memberikan pelayanan terbaik kepada para anggota. Caranya, koperasi senantiasa melakukan berbagai pendekatan simpatik kepada para anggota. Terutama difokuskan pada sentra-sentra produsen tahu dan tempe di seluruh Bali. Seperti sudah disinggung, koperasi mengkonsentrasikan diri pada kegiatan memproduksi tahu dan tempe. Menjawab kalau pun ingin mengembangkan koperasi, pihaknya berencana memantapkan kinerja unit simpan pinjam dan penjualan minyak goreng. Menurut Heri Wahyu (36) anggota koperasi ini mengatakan, ia sangat sering melakukan transaksi dengan institusinya. Menjawab pertanyaan mengapa Anda menjadi anggota koperasi, ia menjawab banyak alasan untuk berkoperasi. Antara lain, kepastian memperoleh bahan baku kedele buat memproduksi tahu dan tempe. Alasan kedua, ia bisa mendapatkan harga bahan baku secara mudah dan murah. Argumentasi ketiga, mendapatkan rasa kebersamaan secara nyata dalam berbagai kegiatan bisnis di koperasi. Dalam konteks pertanyaan apakah jenis usaha yang dilakukan koperasi berkaitan dengan usaha dia, Heri menyatakan dengan tegas, ya. Sebab, untuk memproduksi tahu dan tempe, ia mendapatkan bahan baku dari koperasi. Selain itu, dia mendapatkan modal kerja selama proses produksi dari USP koperasi. “Saya juga merasa mendapat pengayoman dari kopti,” tulisnya seperti pada jawaban kuesioner. Kecuali di sisi pemasaran hasil akhir produksi tahu dan tempe, ia memasarkannya sendiri.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

210

Menanggapi bagaimana sebenarnya kinerja koperasi, ia menjawab singkat cukup baik. Ia memberikan alasan, karena koperasi sudah berupaya memberikan pelayanan secara maksimal. Baik kepada para anggota maupun calon anggota koperasi. Khusus mengenai tingkat perkembangan usaha koperasi, ia mengingatkan sebenarnya banyak pesaing yang bermain di lapangan. Namun demikian ia menulis lugas: Kopti Makmur dapat bertahan. Yang pasti, sebagai anggota koperasi ia bukan hanya aktif mengikuti RAT. Termasuk dalam setiap pengambilan keputusan, dia juga seringkali memberi masukan terutama mendorong sisi pelayanan petugas kopti. Masukan lain, ia juga selalu menginformasikan perbandingan harga kedele mutakhir di pasaran. Bukan hanya itu. Ia misalnya menyarankan, penanganan limbah tahu dan tempe agar dikoordinir oleh Kopti. Selain sebagai anggota, Heri Wahyu juga berkapasitas selaku salah satu Pengawas Kopti Makmur. Itu sebabnya, menjawab pertanyaan kadang-kadang mengikuti pelatihan yang digelar koperasi. Antara lain pelatihan terkait pentingnya pengawasan untuk koperasi.
Pemilihan bahan baku berkualitas sangat mendukung produk tahu dan tempe digemari konsumen.

Dia pun menulis di jawaban kuesioner, pernah mewakili koperasi mengikuti pendidikan dan pelatihan mengenai manajemen usaha-usaha strategis. Juga pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak swasta maupun BUMN. Persisnya pelatihan tentang perlunya disain mutu produk akhir. Menurut hemat dia, sebuah koperasi dianggap berhasil jika memenuhi tiga kunci sukses ini. Pertama, koperasi harus mampu melakukan langkah-langkah koordinatif dengan sejumlah pihak. Kedua, selalu melakukan aktifitas bisnisnya secara transparan. Ketiga, berupaya melaksanakan beberapa pendekatan secara benar, simpatik dan maksimal. Menegaskan manfaat menjadi anggota koperasi, Heri Wahyu meringkasnya menjadi dua hal. Pertama, mengamalkan rasa kebersamaan. Dan kedua, memperoleh pelayanan yang baik dari koperasi.

Zaenal Wafa

211

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

BERSAING DENGAN PENDATANG
Suwaji (37) yang juga anggota Kopti Makmur menyatakan, frekuensi ia bertransaksi dengan lembaganya termasuk sangat sering. Ia menambahkan, menjadi anggota koperasi karena ikatan rasa kebersamaan sebagai sesama perajin tahu dan tempe. Selain itu, bila koperasi mendapatkan keuntungan—maksudnya tentu saja sisa hasil usaha—juga selalu dibagikan kepada anggota. Dia yang tinggal di Kelurahan Pedungan, Denpasar ini berpendapat, kinerja koperasi bagus. Karena usaha yang dijalankan koperasi lancar dan angsuran yang harus dibayar anggota yang membeli-meminjam kedele tidak memberatkan. Berkaitan dengan kinerja tersebut, menurut hematnya perkembangan usaha koperasi juga dinilai baik. Mengapa demikian? Sebab, ternyata lembaga koperasinya mampu bersaing dengan para pedagang keturunan Tionghoa di Bali. Bahkan tingkat harga kedele yang ditetapkan Kopti Makmur menjadi ukuran atau barometer harga kedele di pasaran Bali. Itu sebabnya, selaku anggota ia seringkali memberikan pendapat mengenai perkembangan informasi harga kedelai di pasaran. Selain itu, ia mengaku kadangkala mengikuti sejumlah pelatihan. Terutama yang diselenggarakan koperasi bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Perindustrian maupun Dinas Koperasi dan UKM. Tema pelatihan yang diikutinya, antara lain mengenai manajemen mutu dan teknologi pengolahan. ***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

212

BALI

KPN Kamadhuk RSUP Sanglah Denpasar

BIDIK PELUANG

CERDAS
213
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Burhanuddin R

T

erletak di pusat kota Denpasar, di bawah rimbunan pohon yang rindang terlihat aktivitas rumah sakit yang ramai. Jejeran mobil terparkir dengan rapi, sarana yang lengkap begitu terasa saat pertama kali menginjakkan kaki di pelataran parkir RSUP Sanglah Denpasar, Bali. Lengkap, itulah kata pertama yang pantas diucapkan. Betapa tidak, setiap kali melihat unit usaha, di atasnya tertulis nama Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Kamadhuk, dari areal parkir, apotek, wartel, pertokoan, unit simpan pinjam (USP), hingga ambulance. Rupanya, koperasi ini sangat berperan di RSUP Sanglah. Kamadhuk sendiri diambil dari mitologi hindu yang berarti “Lembu, Kendaraan Batara Indra”. Lembu diilustrasikan sebagai koperasi dengan unit-unit usahanya. Pengurus dan karyawan diilustrasikan sebagai penggembala lembu, sedangkan pemiliknya adalah seluruh anggota KPN Kamadhuk. Apabila pemilik selalu memberikan makan dengan teratur kepada lembunya dan pengembala selalu memelihara lembu itu dengan baik, maka lembu tersebut tumbuh sehat dan subur serta banyak menghasilkan susu yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Filosofi tersebut ternyata benar adanya. Koperasi yang diketuai Putu Putra Wisada, SH, MM, bekerja saling bahu membahu antara pemilik, pengurus, karyawan dan anggota untuk memajukan KPN Kamadhuk, dengan tujuan mensejahterakan anggota. Hal ini terlihat dari keseriusan pengurus dan karyawan dalam mengelola koperasi milik PNS ini. Bahkan untuk memperlancar kegiatan pelayanan kepada anggota, pengurus mengangkat karyawan penuh dan paruh waktu. Soal bimbingan dan pembinaan pengurus terhadap karyawan terus dilakukan setiap minggu. Rapat pengurus dan karyawan pun diadakan setiap minggu sekali dan Badan Pengawas melakukan tugasnya setiap tiga bulan sekali. Hasil laporan pun diberikan setiap tiga bulan kepada pembina dari Dinas Koperasi dan Direktur RSUP Sanglah. Tak heran, jika KPN Kamadhuk yang mempunyai misi kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, kepuasan pemilik, kepuasan masyarakat, kepuasan pemerintah ini sering mendapatkan gelar juara, baik tingkat daerah maupun nasional. Diantaranya juara I Tingkat Kota Denpasar, berturut-turut sejak 1995 -1990, juara I Tingkat Propinsi juga berturutturut dari 1990 -2005, juara Harapan Tingkat Nasional 1993 - 1994, juara I Unit Wartel dalam rangka HUT Parpostel se-Bali tahun 1997. Penghargaan lainnya sebagai Koperasi Inti di Kodya Denpasar dan juara I Koperasi Konsumen Berprestasi pada 2003 dari Dinas Koperasi Kota Denpasar.

KUNCI KEBERHASILAN
Rumah sakit, sebuah wilayah yang selalu ramai dikunjungi orang, membuka mata dan pikiran pengurus KPN Kamadhuk untuk mengembangkan berbagai unit usaha yang melayani kebutuhan pengunjung. Dengan prinsip melayani dan dorongan kuat untuk mensejahterakan anggota yang notabene pegawai RSUP Sanglah serta dukungan dan

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

214

kepercayaan pemerintah yang kuat kepada KPN Kamadhuk, maka dikembangkan unit pertokoan, apotik, wartel, ambulance, parkir, foto copy. Bahkan guest house dan lapangan tenis pun koperasi yang mengelolanya. Sehingga anggota KPN Kamadhuk, anggota keluarga pasien yang dirawat akan mudah mendapatkan pelayanan yang prima dari rumah sakit. Tidak berhenti sampai disitu, semangat untuk membidik peluang usaha terus dilakukan. Unit pertokoan mini market diperluas ke Paviliun Amerta dan dilengkapi sarana jasa ticketing. Peluang selanjutnya dibuka menjadi unit usaha baru yaitu USG Digital Color ¾ Dimensi. Kecerdasan membidik peluang usaha itu ditunjukkan dari banyaknya unit usaha yang dikelola dan kontribusinya terhadap pendapatan KPN Kamadhuk. Pendapatan KPN Kamadhuk dari seluruh unit usaha mencapai Rp 6,090 miliar pada tahun buku 2004. Jumlah ini sedikit mengalami penurunan pada tahun buku 2005 yakni menjadi Rp 5,911 miliar (lihat tabel 1). USP mempunyai kontribusi yang paling besar, disusul pengelolaan apotik dan mini market. Hal ini tidak mengherankan, seperti diketahui secara umum anggota memanfaatkan koperasi untuk memudahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mudah dalam meminjam dana segar. Sedangkan pelayanan apotek banyak digunakan oleh pasien rumah sakit, terlebih sistem pengelolaannya dengan komputerisasi.

Tabel 1. Pendapatan Unit Usaha KPN Kamadhuk
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Unit Usaha Pertokoan Mini Market USP Parkir Foto copy Pengelolaan Lapangan tenis Pengelolaan alat orthopedi Wartel Ambulancde Guest House Ekstra bed Apotik Jumlah 2004 840.145.109 3.045.282.280 28.413.133 75.004.088 10.253.250 123.352.768 74.086.107 12.911.547 29.650.375 64.139.600 1.787.124.094 6.090.362.351 2005 902.515.722 2.737.976.898 59.894.430 65.970.814 9.014.750 132.784.495 37.886.987 18.255.594 24.113.875 72.945.890 1.850.000.000 5.911.359.455

Keberhasilan membimbing dan membina koperasi serta mengelola kegiatan usaha ditentukan dengan adanya dedikasi, motivasi, keterampilan serta loyalitas yang tinggi dari seluruh pengelola koperasi. Namun semua itu bakal terwujud jika hal tersebut juga didukung oleh permodalan. Modal sendiri pada tahun buku 2005 tercatat sebesar Rp 19,1 miliar. Seperti pada grafik, jumlah modal KPN Kamadhuk mengalami peningkatan setiap tahun.

215

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

SEKILAS KPN KAMADHUK
KPN Kamadhuk didirikan pada 8 Juni 1963 dengan jumlah anggota awal 350 orang. Mendapatkan Badan Hukum (BH) Koperasi Nomor 492/BH/VIII/1964, tertanggal 2 April 1964. Koperasi ini sesuai perkembangan jaman telah mengalami beberapa kali perubahan Anggaran Dasar, seperti pada 17 Desember 1968 dengan BH No 492/ BH/VII/12/1967. Pada 26 Januari 1990 diadakan Rapat Khusus di Aula Poliklinik RSUP Denpasar yang dihadiri 285 orang anggota kemudian mendapatkan Badan Hukum dari Kantor Wilayah Departemen Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil dan Menengah Propinsi Bali Nomor : 130/ BH/PAD/KWK.22/III/1996, tertanggal 26 Maret 1996. Jenis usaha pada KPN Kamadhuk dibedakan menjadi dua yaitu usaha pokok dan usaha penunjang. Usaha pokok terdiri USP, pertokoan, wartel dan apotik. Sedang usaha penunjang meliputi pengelolaan ambulance, foto copy, areal parkir, penyewaan lapangan tenis, pengelolaan alat orthopedi (bedah tulang), guest house dan pengelolaan extra bed. Untuk memperlancar jalannya kegiatan pelayanan anggota dan pelaksanaan tugas-tugas administrasi, pengurus mengangkat sejumlah karyawan penuh dan paruh waktu sebagai pelaksana kegiatan sehari-hari. Khususnya kegiatan operasional pertokoan ditunjuk satu orang sebagai koordinator dan satu orang sebagai supervisor. Tiap unit usaha dipimpin oleh seorang kepala unit usaha yang bertugas membuat laporan berkala yang disampaikan kepada pengurus. Dari segi sosial, KPN Kamadhuk ini juga membantu pemerintah mengatasi pengangguran. Jumlah tenaga kerja yang direkrut sebanyak 81 orang. Mereka tersebar di berbagai unit usaha, seperti bagian pembukuan dua orang, kasir tujuh orang, unit pertokoan mempekerjakan 16 orang, USP dua orang, wartel enam orang, ambulance tiga orang, foto copy tiga orang, parkir 15 orang, apotek 24 orang dan bagian gudang tiga orang.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

216

SIMPANAN BERVARIASI
Jumlah anggota pada tahun buku 2005 sebanyak 1.610 orang relatif tidak mengalami perkembangan yang cepat, karena sesuai dengan jumlah pegawai negeri yang ada di RSUP Sanglah. Sesuai kesepakatan yang diputuskan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) 1993, jumlah simpanan wajib bervariasi, tergantung golongannya. Untuk golongan IV Rp 10 ribu, golongan III Rp 5.000 dan golongan II Rp 2.500. Sesuai perkembangan jaman jumlah simpanan wajib sesuai keputusan RAT tahun buku 2003 pun dinaikkan menjadi Rp 50 ribu untuk golongan IV, Rp 10.000 untuk golongan III dan Rp 5.000 golongan II. Sedangkan simpanan pokok setiap anggota Rp 10 ribu. Perkembangan jumlah anggota dapat disimak pada tabel berikut.

Tabel 2. Perkembangan Anggota dan Simpanan Anggota
Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Jumlah anggota (orang) 1.624 1.638 1.616 1.588 1.610 Simpanan Pokok (Rp.) 11.178.000 11.918.000 12.186.000 12.741.000 14.417.000 Simpanan Wajib (Rp.) 592.636.500 652.254.700 785.146.490 943.913.730 1.102.084.800 Simpanan Khusus (Rp.) 459.380.332 761.881.554 990.239.669 1.263.548.798 1.533.954.884

Unit pertokoan selalu ramai dikerumuni oleh pembeli. Selain anggota sebagian besar konsumen pertokoan adalah para pengunjung rumah sakit. Koperasi sangat beruntung memiliki unit ini mengingat RSUP Sanglah, Denpasar ini sebagai rumah sakit terbesar di Bali yang selalu menjadi rujukan kebanyakan pasien dan masyarakat Bali. Unit usaha pertokoan berbentuk mini market ini menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan
Burhanuddin R

Keberadaan waserda KPN Kamadhuk cukup strategis.

217

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

harga bersaing. Unit ini berkontribusi terhadap pendapatan koperasi pada tahun buku 2005 sekitar Rp 903 juta. Ni Luh Putu Suruatuasih (40 tahun) sangat mensyukuri keberadaan mini market ini dalam sebuah kuesioner yang diajukan kepada salah satu anggota menyatakan keberadaan mini market sangat memudahkan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

KIAT 4P
Sebuah keberhasilan tentu ditunjang oleh beberapa faktor. Jika kita lihat, persaingan mini market atau pasar swalayan di Bali ini sangat ketat. Hampir di setiap kecamatan terdapat mini market, begitu pula di Denpasar ibukota provinsi Bali. Persaingan yang ketat tidak menjadikan pengurus KPN Kamadhuk berkecil hati dalam mengelola pertokoan mini market. Dengan menerapkan rumus 4 P diharapkan dapat meningkatkan omset penjualan. 4P adalah Product, KPN Kamadhuk senantiasa memperhatikan kuantitas dan kualitas produk yang dijual di koperasi. Price Policy, agar mempunyai bargaining yang kuat, terlebih menghadapi persaingan yang ketat antar swalayan di sekitarnya. KPN Kamadhuk menerapkan kebijaksanaan harga selalu mengacu harga pasar sekeliling KPN Kamadhuk. Promotion, selalu mengupayakan memberikan pelayanan yang terbaik dan mengutamakan kepuasan pelanggan dan Place, sampai saat ini tetap mengkonsentrasikan lokasi pertokoan mini market di areal RSUP Sanglah. Demi mendukung kelancaran administrasi keuangan KPN Kamadhuk menggunakan sistem akuntansi penuh sejak tahun 1993. Transaksi keuangan dicatat secara kronologis ke dalam buku-buku harian atau jurnal. Penggolongan setiap rekening diposting dari buku besar secara benar dan tepat. Laporan keuangan disajikan setiap triwulan meliputi neraca lajur, neraca singkat (komparatif), perhitungan rugi/laba.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

218

SULAWESI UTARA

KPRI Pendidikan Diknas Sulut

BANGUN DAN

BERKEMBANG
219
Penyusunan Berbagai Koperasi di Tengah Model dan Potret Koperasi Percontohan Lingkungan yang Berubah

Burhanuddin R

E

Pengelolaan secara profesional dan keterbukaan terhadap anggota menjadi modal penting koperasi berkembang.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

220

tos kerja pengurus koperasi mungkin tidak kalah dibandingkan dengan perilaku pengusaha yang gigih. Terutama dalam konteks apapun yang terjadi, roda kegiatan usaha atau bisnis harus terus berjalan. Mencermati kinerja Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia (KPRI) ‘Pendidikan’ di Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara, bisa menjadi bukti lembaga usaha ini sudah berupaya membuktikan prinsip tersebut. Kisahnya bisa berawal dari kasus penggelapan oleh segelintir pengurus koperasi ini pada tahun 1989. Suatu siang, datang seseorang mengaku orang dekat presiden dari Istana Presiden di Jakarta. Intinya, dia menawarkan dan ‘memaksa’ agar koperasi membeli ratusan pasang sepatu merek tertentu buat anak-anak sekolah SD di Sulawesi Utara. Singkat cerita, kala itu sebagian pengurus koperasi menjadi ‘gemetaran’. Maksudnya, koperasi kemudian terpaksa membeli lunas ratusan sepatu itu. Celakanya atau syukurlah, sebagian besar anggota koperasi yang juga orang tua murid tidak mau membeli sepatu-sepatu tersebut. Mengapa? Karena barang itu berkualitas rendah dan harganya mahal. Apa boleh buat, koperasi pun praktis mengalami kerugian besar untuk tidak mengatakan bangkrut. Bangkit dari keterpurukan, tentu saja bukan pekerjaan gampang. Perlahan koperasi tetap berjalan secara ekstra hati-hati. Misalnya, dengan cara Unit Simpan Pinjam (USP) sebagai kegiatan pokok koperasi tetap memberikan jasa atau bunga kepada anggota. Secara perlahan, neraca keuangan mulai membaik. Pada kurun ini atau tahun 2000-2002 keuangan koperasi diaudit oleh Dinas Koperasi dan PKM Provinsi Manado. Lagi-lagi di tengah koperasi kembali menggeliat, lembaga ini kembali dilanda ujian. Yakni, penggelapan uang oleh bendaharawan gaji dinas yang berimbas pada pemberhentian Manajer KPRI ‘Pendidikan’ ini pada Mei 2002. Syukurlah, meski tak memiliki manajer sejak 2003, koperasi dari tahun ke tahun semakin aktif dan kondisi usahanya relatif sehat. Terhitung mulai periode 2003 hingga 2005, koperasi sudah diaudit oleh Koperasi Jasa Audit di Manado. Anggota koperasi bernama Drs Sanusi Arsyad (46) yang menjadi responden pertengahan Oktober 2006 memberikan kesaksian, semula koperasi pegawai negeri ini sudah mengalami kemandekan aktivitas usaha. Namun kenyataannya sekarang, koperasi yang beranggotakan mayoritas guru-guru SD di Sulawesi Utara ini sudah maju cukup pesat. Indikasinya, antara lain sebagian anggota koperasi pegawai negeri ini juga cukup memadai. Hasil ini didapat, antara lain karena para pengurus koperasi melakukan pengelolaan lembaga usaha dengan cara yang profesional. Anggota lain koperasi yaitu Octaviany Syane Pusung (44) menyatakan, KPRI ‘Pendidikan’ senantiasa memberikan pelayanan berbentuk pinjaman
Burhanuddin R

uang kepada dia sebagai anggota koperasi dengan sebaik-baiknya. Sehingga kebutuhan keuangan dalam keluarganya, terutama untuk biaya menyekolahkan anak-anak dapat terpenuhi. Yang juga menggembirakan, menurut dia setiap tahun koperasi memberikan Tunjangan Hari Raya kepada dirinya sebagai anggota koperasi.

PERMODALAN
Dilihat dari sisi keuangan, koperasi ini secara garis besar menunjukkan kinerja yang boleh dicontoh. Seperti sudah terpaparkan, kehidupan koperasi pernah dilanda beberapa masalah keuangan. Itu sebabnya di sisi pendapatan, koperasi mengalami fluktuasi yang tajam. Ambil contoh pada 2001 pendapatan koperasi mencapai Rp 470 juta. Tapi di tahun berikut atau 2002, pendapatannya merosot menjadi Rp 346 juta. Bahkan lebih menurun pada 2004 tercatat hanya Rp 299 juta. Syukurlah sampai posisi akhir 2005, tingkat pendapatan koperasi sudah mencapai nilai Rp 567 juta. Ini angka wajar, karena koperasi meraih pendapatan tertinggi pada tahun 2003 yang mencapai angka Rp 634 juta. Tak berbeda jauh, sisi pengeluaran koperasi juga mengalami fluktuasi cukup tajam. Namun demikian, koperasi terbukti masih mampu melakukan efisiensi di sana-sini. Buktinya, total pengeluaran koperasi masih dapat ditekan dan hingga akhir 2005 angkanya tercatat Rp 514 juta. Pencapaian yang juga menggembirakan, terlihat pada sisi likuiditas koperasi yang prosentasenya makin meningkat. Lihat saja, pada 2001 likuiditas keuangan koperasi hanya mencapai 88 persen. Lalu pada tahun 2002 naik sedikit menjadi 89 persen. Baru mulai tahun 2003, likuiditas koperasi mencapai angka 105 persen. Selanjutnya meningkat menjadi 138 persen pada 2004. Kemudian pada akhir 2005, likuiditas koperasi mencapai 242 persen. Sementara itu di sisi pertumbuhan modal sendiri koperasi dan aset, lembaga ini pun mampu menunjukkan kemajuan yang konsisten. Sebab berdasar dokumen RAT koperasi ini 2001-2005 menunjukkan pada 2001 modal sendiri koperasi tercatat senilai Rp 963 juta. Lalu di tahun 2002, perolehannya meningkat menjadi Rp 1,051 miliar dan pada 2003 naik lagi menjadi senilai Rp 1,192 miliar. Selanjutnya pada 2003, modal sendiri koperasi berkembang mencapai Rp 1,384 miliar. Kemudian sampai posisi akhir 2005, modal sendiri koperasi senilai Rp 1,520 miliar.

SANGAT BANGGA
Saat ini total keanggotaan koperasi berjumlah 357 orang anggota. Sebagian besar atau sejumlah 217 orang anggota merupakan lulusan SMA. Sisanya, sebanyak 30 orang anggota adalah berpendidikan strata 1 serta empat orang merupakan lulusan diploma tiga. Sedangkan komposisi pengurus, dari tiga orang pengurus dua orang merupakan lulusan strata 1 dan satu orang lulusan SMA. Sementara di kalangan karyawan, hingga akhir 2006 koperasi memiliki 6 orang karyawan. Mereka terbagi bekerja di unit simpan pinjam dan foto copy. Kenyataan sebagian besar anggota koperasi berprofesi guru, lingkungan kedinasan yang relatif terpelajar serta kemauan segenap anggota dan pengurus memajukan koperasi, tampaknya menjadi faktor signifikan koperasi ini

221

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

lekas sembuh dari keterpurukan. Di sisi lain, koperasi juga tak segan belajar menimba ilmu dari koperasi sejenis yang dinilai lebih maju. Ambil contoh, pada Maret 2004 jajaran pengurus dan pengawas koperasi melakukan studi banding ke Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ). Selain itu pengurus koperasi intensif menyelenggarakan rapat secara internal. Bersamaan dengan ini para pengurus diwajibkan mengikuti serangkaian pelatihan dibidang manajemen hingga pelayanan kepada anggota. Semua faktor ini tak dipungkiri cukup menyumbang perkembangan koperasi. Secara singkat dan menurut seorang anggota koperasi ini: Koperasi berjalan baik, pengelolaan transparan serta para pengurus sekarang bijak dan

Maraknya telepon sululer belum menggusur unit usaha wartel KPRI Pendidikan.

penuh tanggung jawab. Bagaimana para anggota menanggapi keberadaan koperasi ini? Seorang anggota koperasi sekaligus responden penelitian ini menyatakan, ia menjadi anggota koperasi untuk meringankan beban ekonomi di keluarga yang semakin berat. Ia menegaskan, masuk menjadi anggota koperasi betul-betul sangat membantu diri dan keluarganya. Terutama di saat kesulitan menghadapi kebutuhan membiayai anak-anak sekolah. Ia yang mengaku hanya mengandalkan dari mengajar di SD, menekankan sangat bangga menjadi anggota koperasi. Alasannya, sekali lagi di saat ada keperluan yang bersifat mendesak di dalam keluarganya, koperasi selalu dapat melayani dengan baik. Anggota koperasi lain yang beralamat di Perumahan Singkil Blok E 3, Kelurahan Singkil Dua, Manado menyatakan senada, sebagai usaha bersama koperasi terbukti mampu membantu memenuhi kebutuhan para anggota. Khususnya untuk kelanjutan pendidikan anak-anak para anggota. Di samping itu, kebutuhan sehari-hari dan rumah tangga anggota juga dapat terpenuhi. Sedangkan anggota koperasi bernama Juliana Sondakh (46) mengatakan terus terang, koperasi merupakan wadah ekonomi yang sangat membantu dia di saat dalam kesempitan. Menurut pengalamannya, terbukti koperasi dengan mudah bisa meminjamkan uang kepadanya sebagai modal kerja untuk usaha ternak babi. Sebaliknya, saat ditanya bagaimana cara dia ikut serta mengembangkan koperasinya, ia menjawab dengan cara rajin menabung dan meminjam dana ke koperasi. Sekali lagi ia menandaskan, keberadaan koperasi sangat membantu untuk mengembangkan usaha ternak babinya. Akhirnya ada satu keunikan atau ciri khas yang dimiliki koperasi ini. Terutama menyangkut persoalan SHU. Sejumlah anggota koperasi menyatakan, SHU akan diberikan kepada anggota nanti di saat anggota memasuki masa pensiun. Argumentasinya, kalau dibagikan di setiap RAT seringkali ada yang mendapat bagian yang tidak seberapa.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

222

Burhanuddin R

SUMATERA BARAT

Kopkar Mercury Padang

SIGAP MENANGKAP

PELUANG

Dokumentasi

223

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

B

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

224

ila pegawai Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sektor Kota Padang tergerak hatinya membentuk koperasi sudah benar. Mengingat pekerjaan mereka adalah soal kelistrikan, terutama listrik untuk penerangan. Dari cahaya lampu itu membuat terang benderang sebuah kegelapan. Atas dasar filosofi demikian barangkali, sehingga para pegawai PLN ini berminat membuat hidup lebih cerah dengan cahaya koperasi. Bermula dari keinginan untuk meningkatkan kesejateraan karyawan khususnya di PT PLN Sektor Padang. Diprakarsai oleh tiga orang tokoh kemudian mengundang para karyawan lain untuk menghadiri pertemuan yang membahas tentang pembentukan sebuah koperasi. Rapat yang berlangsung pada 14 Pebruari 1985 dan dihadiri oleh 26 karyawan pun sepakat mendeklarasikan berdirinya koperasi karyawan (Kopkar) dengan nama Mercury. Setelah dua tahun berjalan, tepatnya pada 17 Februari 1987 koperasi ini telah memperoleh Badan Hukum dengan Nomor 1699/ BH-XVII. Ternyata keberadaan koperasi ini sangat membawa prospek bagi pengembangan usahanya. Apalagi peluang-peluang usaha dari perusahaan mendapat lampu kuning untuk ikut ambil bagian. Benar saja kopkar di lingkungan BUMN itu selanjutnya dilibatkan dalam pengadaan barang dan jasa oleh manajemen. Kesempatan yang diberikan itu tentu bukan merupakan hadiah atau karena memiliki hubungan sosial. Namun, berkat kesungguhan pengurus serta kecakapan manajer yang meyakinkan manajemen soal kemampuannya untuk menerima tantangan. Artinya, pendekatan yang dilakukan tetap mengedepankan profesionalisme. Bahkan PLN untuk mengikat kerja sama dengan koperasi di lingkungan kerjanya menggunakan jasa akuntan publik untuk menilai kelayakan kopkar tersebut. Hasilnya, sang akuntan merekomendasikan tentang kemampuan koperasi ikut terlibat dalam kelancaran kegiatan tugas PLN. Selanjutnya, Kopkar pun menerima kontrak kerja dengan induk semangnya. Alhasil Kopkar Mercury per 31 Desember 2005 memperoleh nilai volume penjualan sebesar Rp 10,892 miliar lebih atau mengalami kenaikan sekitar Rp 4 miliar dibanding tahun buku sebelumnya. Dalam usia yang ke sepuluh pada tahun 1997 Kopkar Mercury yang berlokasi di Jalan Benteng Pauh Limo, Kota Padang ini pun dinobatkan sebagai koperasi berprestasi dengan memperoleh sebagai Koperasi Terbaik I Tingkat Kota Padang. Tahun berikutnya bahkan penghargaan yang lebih tinggi mampu diraihnya. Pada 1998 koperasi ini memperoleh prestasi sebagai Koperasi Mandiri dari kantor Kementerian Koperasi dan UKM. Tahun berikutnya prestasi itu bukan saja hanya bertahan tetapi gemilang sehingga penghargaan sebagai Koperasi Harapan Terbaik I Tingkat Nasional khusus bidang Jasa dicapai pada 1999. Berkat kepiawaian pengurus pengawas dan pengelola, pada 2002 kembali kopkar ini menyabet penghargaan sebagai Koperasi Berprestasi se-Sumatra Barat dan sang manajer mendapat penilaian sebagai manajer terbaik untuk Kota Padang. Puncak prestasi juga diperoleh pada tahun 2003, sebab gelar sebagai koperasi berprestasi yakni sebagai koperasi

terbaik dari tingkat kota, provinsi hingga nasional. Bahkan sang Manajer H Nasrul Lai juga kembali dinobatkan sebagai manajer terbaik tingkat Sumatera Barat.

UNIT-UNIT USAHA
Kopkar Mercury ini mengoperasikan sedikitnya tiga unit usaha, yaitu Unit Simpan Pinjam (USP), jasa dan pertokoan. Khusus USP menjadi pilihan utama bagi anggota. Selain untuk meminjam juga menyimpan. Pinjaman yang disalurkan kepada anggota terdiri dari pinjaman biasa dan pinjaman khusus. Untuk penyaluran pinjaman biasa, anggota dikenakan biaya administrasi sebesar 0,25 persen dari total nilai pinjaman dengan bunga maksimal 1,3 persen per bulan. Bunga pinjaman khusus sebesar 2 persen per bulan dan biaya administrasi satu persen. Semakin cepat mengansur maka semakin kecil bunga yang dibebankannya. Sedang bunga pinjaman khusus sebesar dua persen per bulan dan biaya adminitrasi Tabel 1. Kekayaan Bersih satu persen dari realisasi pinjaman. URAIAN 2004 Dari kegiatan usaha yang dikelola 1. Simpanan Pokok 7.145.000 koperasi Mercury berhasil membu2. Simpanan Wajib 316.990.500 kukan SHU pada tahun buku 2005 4. Hibah/donasi 2.705.500 sebesar Rp 254 juta. Jumlah tersebut 5. Cadangan 156.162.952 meningkat dibanding tahun buku 2004 6. SHU 220.196.824 sebesar Rp 220 juta. Koperasi ini Jumlah 703.700.775 memiliki kekayaan bersih sebesar Rp 843 juta. (lihat tabel 1) Sedang unit yang meliputi jasa transportasi, sewa komputer, tenaga pengaman (satpam), jasa pekerjaan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), cleaning service, foto copi, pembayaran rekening listrik, pekerjaan umum dan jasa sewa mess. Adapun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anggota bisa memanfaatkan waserda, selain itu koperasi juga telah mengoperasikan unit pertokoan. Pola penjualan dilakukan secara tunai dan kredit. Fasilitas kredit yang diberikan kepada anggota, pembayarannya dilakukan melalui pemotongan gaji setiap bulan.

2005 7.425.000 356.751.000 2.705.500 222.221.998 254.340.795 843.444.293

KADERISASI
Prestasi yang diraih koperasi ini, secara berkelanjutan adalah berkat diberlakukannya sistem regenerasi dan kaderisasi. Semisal proses pemilihan kepengurusan selalu dilakukan setiap akhir periode. Dalam usia koperasi yang telah mencapai 20 tahun, selalu melakukan perubahan susunan pengurus. Sedikitnya sejak koperasi berdiri sudah tujuh kali melakukan pergantian pengurus yang disetujui dalam forum RAT. Istilahnya tidak ada ketua koperasi abadi. Yang ada adalah prestasi abadi dan kinerja yang terus meningkat. Pada RAT periode 2001, pengurus menganggap perlu mengangkat manajer. Pengurus berkeyakinan dengan adanya tenaga khusus yang menangani bidang usaha koperasi akan mendatangkan nilai tambah signifikan. Dampaknya kesejahteraan anggota dapat terwujudkan. Dengan

225

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

adanya manajer, Pengurus akan lebih fokus merumuskan kebijakan. Ternyata, keputusan Pengurus mengangkat manajer tidak sia-sia. Karena tenaga profesional tersebut benar-benar cakap mengelola usaha yang dipercayakannya. Kehadiran manajer membawa perubahan di bidang administrasi dan pembukuan lebih rapi dan transparan. Sehingga Pengurus, Pengawas maupun anggota dapat mengetahui langsung kondisi koperasi. Kopkar Mercury yang beranggotakan sebanyak 371 orang per 31 Desember 2005 ini, sejatinya tidak ada kaitan langsung dengan PLN. Atas kebaikan manajemen PLN, koperasi yang notabene milik karyawan PLN diberikan kesempatan mengerjakan tugas-tugas perusahaan. Kepercayaan ini membuat kopkar tidak perlu bersusah payah mencari peluang usaha lain. Cukup menjaga kepercayaan dan profesionalisme. Segala aktivitas yang akan dilakukan PLN menjadi peluang bagi koperasi. Celah inilah yang harus dipantau oleh H Nasrul Lai sebagai manajer Kopkar Mercury. Strategi pemasaran jemput bola merupakan salah satu langkah yang tepat bagi pengembangan usaha koperasi. Beberapa kiat dan strategi yang dipergunakan di antaranya membangun kepercayaan lebih optimal. Pemberian insentif bagi anggota yang rajin dan memiliki dedikasi terhadap koperasi. Memberikan bingkisan lebaran berupa sirup, terigu, gula pasir, sarung dsbnya. Memberikan hadiah bagi anggota yang berbelanja paling banyak di toko koperasi, serta kerja sama dengan pihak lain dalam pengadaan kebutuhan peralatan rumah tangga dengan harga yang lebih murah.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

226

SUMATERA BARAT

KSU Kenanga Padang

SUKSES DENGAN

SIMPAN PINJAM
227
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Slamet AW

ebagian penduduk perkotaan di Indonesia mungkin mengenal nama Padang. Minimalnya ada dua ciri khas yang melekat dengan nama tersebut. Pertama, mengenal melalui warung-warung makan Padang dan yang kedua para pedagang asal ranah minang itu lebih suka menyebut berasal dari Padang. Kota yang memiliki jam Gadang itu memang terkenal dengan karakter penduduknya pintar berdagang. Itu sebabnya, ada istilah orang Padang selangkah lebih maju dari pada orang etnis Tionghoa. Yang dimaksud mereka hanya menggelar dagangannya selangkah maju di depan toko/kios miliknya. Terpenting kejelian dan kreativitas mereka dalam berdagang pantas ditiru. Namun bukan cuma mahir berdagang berkoperasi juga senang. Terbukti di ibu kota provinsi Sumatera Barat ini banyak tumbuh koperasi. Salah satunya adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) Kenanga. Koperasi yang didirikan pada 3 Desember 1986 oleh sekitar 40 pedagang kecil ini, bertujuan untuk memperbaiki nasib usaha mereka terutama agar mudah mencari permodalan. Modal awal KSU pimpinan Hj Elly ini sebesar Rp 760 ribu. Besar simpanan pokok Rp 1.000 dan simpanan wajib Rp 500. Dengan modal sebesar itu, sesuai kesepakatan anggota melakukan kegiatan Usaha Simpan Pinjam (USP). Dana tersebut terserap oleh anggota yang ratarata mempunyai usaha produktif.

S

KERJA KERAS
Setelah melawati perjalanan sekitar 19 tahun, kerja keras mereka telah terbayarkan. Keberhasilan yang telah dicapai tak lepas dari tingginya partisipasi anggota. Per 31 Desember 2005, koperasi telah membukukan modal sendiri sebesar Rp 483 juta dan besarnya volume mencapai sekitar Rp 1,2 miliar. Koperasi yang terletak di jalan Jati VII Padang Timur ini telah mampu meningkatkan pelayanan dengan memberikan pinjaman kepada anggota rata-rata 16 – 20 orang per bulan, dengan plafon pinjaman maksimal 15 juta rupiah dan bunga 1,25% per bulan. Dari kegiatan usaha yang dikelola koperasi Kenanga berhasil membukukan SHU pada tahun buku 2005 sebesar Rp 141 juta. Jumlah tersebut menurun dibanding tahun buku 2004 sebesar Rp 146 juta. Koperasi ini memiliki kekayaan bersih sebesar Rp 483 juta per 31 Desember 2005. (lihat tabel 1) Pada awal berdirinya, kantor operasional masih menumpang di rumah sang ketua. Mengingat jumlah perkembangan anggota yang cukup banyak, akhirnya disepakati untuk menempati bangunan milik kelurahan dengan pembiayaan renovasi bangunan ditanggung oleh koperasi. Berkat kerja keras yang dilakukan pengurus, mampu membuktikan sebagai koperasi yang berprestasi. Diantaranya mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat Kota Padang hingga Nasional. Penghargaan tersebut diperoleh sejak 1999 dengan kategori koperasi berpredikat “Sehat” tingkat Kota Padang, dan predikat itu kembali diberikan pada tahun 2002 dan tahun 2003. Pada tahun buku 2000 mendapat penghargaan dari Walikota Padang sebagai Koperasi terbaik II. Tahun berikutnya piagam

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

228

Tabel 1. Kekayaan Bersih
URAIAN 1 Simpanan Pokok 2 Simpanan Wajib 3 Donasi 4 Cadangan Umum 5 Cadangan Resiko 6 Cadangan Likwiditas 7 SHU Tahun berjalan Jumlah 2003 2.000.000 107.695.500 700.000 83.973.567 13.068.250 10.000.000 117.217.103 334,654,420 2004 1.850.000 119.941.730 700.000 124.998.857 18.264.470 10.000.000 146.424.444 422,179,501 2005 1.770.000 131.356.500 700.000 176.247.414 22.256.750 10.000.000 141.045.269 483.375.933

penghargaan Koperasi Berprestasi Tingkat Kota Padang. Dalam tahun yang sama KSU Kenanga ini juga dikukuhkan sebagai Koperasi Berprestasi tahun 2001 oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Dan penghargaan serupa diterima kembali pada puncak Harkop ke 57 di Jakarta. Sementara sang ketua Elly J juga sempat dikukuhkan sebagai tokoh Wirausaha Koperasi Tangguh periode 2002-2003.

PERKEMBANGAN USAHA
Unit-unit usaha yang ditekuni KSU Kenanga selain USP adalah waserda. Namun usaha satu ini cenderung tidak dibesarkan. Pertimbangannya adalah agar tidak dianggap menyaingi anggota. Kemudian, untuk lebih meningkatkan kinerja sesuai kesepakatan anggota, pengurus membagi kegiatan per wilayah kerja. Dengan demikian peran koperasi semakin efisien karena lebih mendekatkan pelayanan pada anggota. Pelayanan andalannya tetap pada USP, mengingat anggota yang sebagian pedagang sangat membutuhkan modal kerja untuk memajukan usahanya. Ada beberapa persyaratan pelayanan pinjaman yang harus ditaati anggota. Besarnya pinjaman yang diberikan tiga kali jumlah simpanan dengan jasa 1.25% per bulan. Bunga sebesar itu masih di bawah standar dengan bunga bank konvensional. Yang berhak mendapatkan pinjaman adalah anggota yang tidak mempunyai utang. Bagi yang masih mempunyai pinjaman harus dilunasi semua tidak boleh dipotong dengan pinjaman baru. Jangka waktu pinjaman dengan plafon Rp 1- Rp 15 juta diangsur sepuluh kali. Pembayaran pinjaman paling lambat tanggal 6 bulan berjalan, jika terlambat akan dijemput dan didenda sebesar bunga (1,25%). Bagi anggota yang tinggal di luar wilayah Kelurahan Jati Selatan harus ada penjamin, kalau tidak dibayar tepat waktu, peminjam harus membayarkannya terlebih dulu. Susunan pengurus dan pengawas periode 2001-2006 sebanyak enam orang. Khusus ketua sejak koperasi berdiri hingga periode 2006 tetap dipegang Elly J. sekretaris Lisnawati, bendahara Chasiah. Pengawas diketuai Firmansyah dan dibantu anggota Jasmidar Azis dan Ny Akmal Usman. Sesuai hasil pemeriksaan badan pengawas, baik dari kelengkapan administrasi keuangan yang meliputi pembukuan, kas, tabungan anggota,

229

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

rekap pinjaman, tabungan keluarga, semua dikelola cukup rapi dan transparan sehingga setiap saat dapat diketahui pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu kunci keberhasilan KSU Kenanga adalah penerapan pola manajemen yang ketat dan taat. Dan itu identik dengan tokoh Elly. Ketegasan dan kedisiplinan menjadikannya figur yang disegani. Tanpa memandang apakah anggota tersebut berasal dari kerabat keluarga atau teman dekat. wajib mengikuti aturan main yang telah ditetapkan. Sikap memegang amanah terhadap tugas dan pekerjaan menjadi modal dasar untuk memperoleh kepercayaan dari anggota. Ada beberapa kiat yang menjadi pijakan untuk menentukan kebijakan koperasi. Untuk memotivasi para anggota yang membutuhkan dukungan dana, koperasi memberikan insentif berbentuk pemberian jasa lebih rendah dari ukuran standar bank umum dan tidak menggunakan agunan.

ANGGOTA
Menyadari kekuatan koperasi berada ditangan jumlah anggota, semakin besar jumlah anggotanya semakin besar pula simpanan yang akan diperolehnya sehingga dapat dipergunakan sebagai modal pinjaman bagi anggota yang membutuhkan. Namun disisi lain upaya pengembangan jumlah anggota terbatas pada wilayah kerja KSU Kelurahan Jati Selatan. Berangkat dari pemikiran tersebut maka disepakati untuk mengembangkan anggota di luar wilayah Kelurahan Jati Selatan. Bagi mereka yang berdomisi di luar Kelurahan Jati Selatan dapat menjadi anggota keperasi melalui kelompok yang dibentuk, ada individu (anggota yang berdomisi di Kelurahan Jati Selatan) yang bertanggung jawab terhadap kelompok tersebut. Berangkat dari perubahan anggaran telah memberikan peningkatan jumlah anggota. Pada tahun 1986 jumlah anggota sebanyak 40 orang, tahun 2005 berkembang menjadi 177 orang.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

230

SUMATERA BARAT

KPRI Pemkot Padang

TINGKATKAN
EKONOMI PEGAWAI
231
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

K

operasi mampu menjadi solusi dalam mengatasi kebutuhan yang mendesak. Mereka yang sempat merasakan manfaat koperasi niscaya akan mempunyai jalinan emosional tertentu, rasa sayang, bahkan mungkin mencintainya. Koperasi akan diperlakukan sebagaimana miliknya. Kelahiran Koperasi Karyawan Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, merupakan salah satu buktinya. Koperasi ini terbentuk dari kesepakatan di lingkungan pegawai kantor Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat. Gagasan itu bertolak dari hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil (PNS) Kota Padang, pada 1993. Setahun setelah terbentuk, koperasi yang berlokasi di Jl. Prof. M. Yamin No. 70, Kota Padang, ini memperoleh pengesahan badan hukum pada 17 Juni 1994. Per 31 Desember 2005, para PNS di lingkungan Pemkot Padang yang berhimpun di dalam wadah ekonomi gotong royong ini tercatat 3.230 orang. Koperasi karyawan ini bergiat dalam berbagai kegiatan usaha. Berbekal komitmen kuat para pendiri dan anggota untuk membesarkan koperasi, perjalanan koperasi tidak banyak mengalami kendala. Tingkat partisipasi dan antusiasme mereka, baik sebagai pemilik maupun pengguna, sama-sama bersemangat membesarkan koperasi. Kekayaan kopkar yang saat ini sebesar Rp 4,215 miliar membuktikan hal itu (lihat tabel 1). Animo menggunakan jasa-jasa koperasi tampak jelas dari peningkatan usaha dari tahun ke tahun. Pada tahun buku 2005, Kopkar Pemkot Padang ini mencatat volume usaha sebesar Rp 7,505 miliar. Kinerja bagus koperasi ini membuahkan penghargaan dari Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kota Padang sebagai salah satu koperasi terbaik di Kota Padang.

Tabel 1. Kekayaan Akhir
Tahun 2002 2003 2004 2005 Jumlah 2.641.857.471 2.959.149.417 3.937.455.604 4.215.308.279 2002 2003 2004 2005 4.000 3.000 2.000 1.000

USAHA PENYANGGA
Sampai akhir tahun 2005, koperasi jenis serba usaha ini (KSU) mengoperasikan enam unit usaha, seperti USP (usaha simpan pinjam), waserda (warung serba ada), wartel (warung telekomunikasi), ATK (alat tulis kantor) dan angkutan. Unit USP merupakan unit dengan peminat paling banyak. Selain persyaratan yang mudah dan cepat, bunga yang diterapkan pun cukup terjangkau. Itu sebabnya koperasi ini juga tidak mengalami kredit macet. Secara praktis, semua beban hutang langsung dicicil melalui pemotongan gaji. Bunga yang diberlakukan maksimal 1,5% per bulan atau 18% per tahun. Angka itu memang masih sebesar bunga bank, tetapi koperasi memiliki kelebihan yaitu prosesnya mudah dan cepat dan tanpa

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

232

agunan. Penyaluran pinjaman pada tahun buku 2005 melampaui target. Dari rencana alokasi pinjaman sebesar Rp 4,080 miliar meningkat 29% menjadi Rp 6,418 miliar. Dana tersebut tersalurkan kepada 185 orang. Rata-rata per bulan dana tersalur sebesar Rp 535 juta. Koperasi tersebut per 31 Desember 2005 membukukan modal bersih sebesar Rp 2,172 miliar. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun buku sebelumnya Rp 2,234 miliar (lihat tabel 2).

Tabel 2. Modal Sendiri
URAIAN 1. Simpanan Pokok 2. Simpanan Wajib 3. Cadangan 4. Modal donasi Jumlah 2003 64.348.000 1.017.459.000 688.522.084 109.500.000 1.879.829.084 2004 66.609.000 1.235.412.500 822.385.929 109.500.000 2.233.907.429 2005 68.199.000 1.444.807.500 549.681.580 109.500.000 2.172.188.080

Unit Waserda yang menyediakan berbagai macam kebutuhan rumah tangga terutama sembako selalu diserbu anggota. Unit usaha ini pada tahun buku 2005 memberi kontribusi terhadap sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp 80 juta. Sedangkan unit ATK ini bertujuan untuk melayani kebutuhan kantor dan anggota akan ATK. Pembayaran dalam unit ini dilakukan secara tunai dan kredit. Unit usaha ini juga menyediakan jasa penyaluran barang konsinyasi. Hasil penjualan ATK dan barang-barang elekronika selama tahun buku 2005 sebesar Rp 708 juta. Unit usaha ini menyumbang pendapatan sebesar Rp 73 juta. Pada tahun buku 2004, kontribusi unit ini tercatat Rp 63 juta. Jasa operasional wartel pada tahun buku 2005 menyumbang Rp 603 ribu. Jumlah yang tergolong kecil ini diakui pengurus belum memenuhi target yang diharapkan. Dari pengoperasian satu unit bus Kokopaman, koperasi menerima pendapatan sebesar Rp 39 juta.

TANPA AGUNAN
Koperasi di lingkungan Pemerintah Kota Padang ini juga mendapat perhatian dari Wali Kota. Terbukti untuk pengurus maupun pengawas yang mendapat prioritas untuk mengelola koperasi lebih maksimal. Pengurus yang berjumlah lima orang dan pengawas tiga orang itu memiliki status lewat Surat Keputusan Wali Kota untuk mengelola dan mengawasi jalannya usaha koperasi. Pengurus yang bekerja secara kolektif dan merangkap posisi manajer untuk mengoperasikan beberapa unit usaha dibantu 14 karyawan. Bahwa koperasi ini baik tercermin dari adminitrasi pembukuan, catatan arus kas, tabungan anggota dan rekap pinjaman yang dikelola dengan rapi dan transparan. Selain auditor lokal yakni pengawas, setiap tahun hasil kerja koperasi diperiksa oleh akuntan publik. Seluruh kegiatan dalam organisasi koperasi dan usaha dinyatakan laporan keuangan di atas disajikan secara wajar, dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku

233

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

umum di Indonesia. Agar koperasi ini terus eksis dan tumbuh, pengurus menerapkan strategi peningkatan volume usaha. Unit simpan pinjam yang menjadi andalan mendapat perhatian khusus, mengingat unit ini berinteraksi sangat aktif dengan anggota. Pelayanan di unit ini harus maksimal dengan suasana senyaman mungkin. Pelayanan yang lebih baik berarti memberikan apresiasi yang lebih besar kepada anggota. Bila anggota percaya dan cinta kepada koperasi, mereka juga menjadi rajin berbelanja di waserda milik koperasi. Anggota yang berbelanja di waserda akan memperoleh bonus yang diperhitungan dalam pembagian SHU akhir tahun. Anggota yang berbelanja makin banyak, juga penabung, akan makin besar pula menerima SHU. Dalam upaya memotivasi rasa kepemilikan yang tinggi pada anggota terhadap koperasi, pengurus memberi perhatian terutama soal kesejahteraan anggota. Seperti pemberian tunjangan Idul Fitri, santunan duka cita, tunjangan sakit dan memberikan bea siswa kepada putra-putri anggota yang berprestasi serta memberikan sumbangan sosial lainnya. Jasa bunga yang diberikan adalah1,5% per bulan atau 18% per tahun. Jika dibandingkan dengan jasa bunga bank umum relatif sama. Yang membedakan hanyalah pada kemudahan pelayanan dan tanpa agunan.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

234

SUMATERA BARAT

Koppas AIPT Padang Panjang

MEMBANGUN

PERSAINGAN BISNIS
235
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Irsyad Muchtar

udah banyak yang membuktikan dengan berkoperasi dapat memberi solusi mengatasi kesulitan. Bukan sekarang tetapi sejak dulu, contohnya adalah para pedagang di Pasar Padang Panjang, Sumatera Barat. Merasa sangat sulit mencari pinjaman untuk memperbesar modal usahanya. Mereka kemudian sepakat untuk mendirikan koperasi. Bertepatan dengan hari Pahlawan, 10 Nopember 1959 koperasi di lingkungan pasar itu didirikan. Untuk melengkapi persyaratan yang legal sebagai badan usaha, kemudian mengajukan permohonan badan hukum. Berselang sekitar satu setengah tahun, akhirnya regristasi pun didapatkan tepat pada 14 April 1961. Bermodalkan legalitas tersebut, koperasi mulai melakukan konsolidasi dari berbagai unsur, baik calon mitra, pembina dan anggota. Ditunjang pengelolaan yang serius dan dukungan segenap anggota, koperasi perlahan-lahan menunjukan perkembangannya. Seiring dengan arus kemajuan ekonomi, koperasi disyahkan sebagai Koperasi Simpan Pinjam Abuan Ikatan Penyewa Tetap (KSP AIPT) makin banyak menghimpun modal dari anggota. Selanjutnya, dana tersebut digulirkan kembali ke anggota yang membutuhkan permodalan. Karena pengembalian utang yang lancar opeh para anggota operasional koperasi tambah makin cerah. Seiring dengan perkembangan wilayah dan tuntutan lingkungan, koperasi ini pun menyesuaikan dengan peraturan pemerintah setempat. Pada tanggal 31 Maret 1980 KSP berubah menjadi koperasi pasar (Koppas) AIPT Padang Panjang. Keberadaan koperasi yang terletak ditengah-tengah pasar tradisional dengan segala jenis komoditas yang diusahakan para anggota. Merupakan pangsa pasar koperasi menyalurkan pinjaman untuk anggotanya. Di sini terjadi simbiosis mutualisme, anggota makin mudah mengakses modal dan bisa meningkatkan volume usahanya. Bagi koperasi makin tinggi dalam pemupukan modal. Dari segi ini terdapat perbedaan yang mencolok kedudukan antara koperasi dengan lembaga sejenis. Yakni, para peminjam dan penyimpan di koperasi sama-sama memiliki benefit dan keuntungan.

S

USAHA MENINGKAT
Pendapatan yang dihimpun koperasi selama setahun akan dialokasikan kepada anggota sebagai sisa hasil usaha (SHU) yang besarnya bervariasi tergantung besar kecil partisipasi anggota terhadap koperasi. Sementara, jika kita menggunakan permodalan di luar koperasi keuntungan yang diperoleh nasabah tidak pernah dibagi. Hanya segelintir orang yang bisa mendapat hadiah dari promosi lembaga tersebut untuk menarik simpatik. Melihat dinamika usaha anggota serta makin ramainya pasar dikunjungi masyarakat. Pengaruhnya sangat positif bagi keberadaan Koppas, baik omset maupun aset sama-sama meningkat. Tahun buku

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

236

Dokumentasi

Kegiatan keseharian di salah satu anggota Koppas AIPT Padang Panjang.

2005 koperasi beranggotakan 297 orang ini berhasil membukukan omset mencapai Rp 13,404 miliar dan aset sekitar Rp 4 miliar. Besarnya volume usaha tersebut merupakan akumulasi dari total unit-unit usaha yang dikembangkan koperasi, seperti USP, KCK, USP BBM, Wartel, Jasa pembayaran rekening listrik dan PAM dan penyewaan alat-alat pesta. Dari seluruh unit usaha yang dominan membukukan pendapatan terbesar adalah USP. Selama tahun buku 2005 volume simpan pinjam mencapai nilai nominal sekitar Rp 8,6 miliar dengan menyisihkan pendapatan kotor sekitar Rp 460 juta. Unit kredit candak kulak (KCK) yang modal awalnya dari bantuan pemerintah setempat sebesar Rp 2,5 juta, per 31 Desember membukukan pendapatan sebesar Rp 155,3 juta dengan volume usaha mencapai Rp 2,8 miliar. Unit simpan pinjam yang dananya berasal dari bantuan Subsidi BBM pada 2000 sebesar Rp 100 juta, mencatatkan pendapatan sebesar Rp 105 juta dengan jumlah volume usaha sekitar Rp 1,991 miliar. Unit jasa rekening listrik dan air memperoleh pendapatan sekitar Rp 3,5 juta, unit penyewaan alat pesta menyumbang pendapatan sekitar Rp 2 juta dan Wartel memberikan kontribusi sekitar Rp 142 juta. Dari kegiatan usaha yang dikelola KSP AIPT berhasil membukukan SHU pada tahun buku 2005 sebesar Rp 187,3 juta. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun buku 2004 sebesar Rp 167,4 juta. Koperasi ini memiliki kekayaan bersih sebesar Rp 1,129 miliar. (lihat tabel 1)

Tabel 1. Kekayaan Bersih
No 1. 2. 3. 4. Uraian Modal Anggota Modal Donasi Cadangan SHU belum dibagi Jumlah 2003 105.055.576 2.042.500 582.756.949 202.823.261 892.68.286 2004 191.952.076 2.042.500 653.745.090 167.421.696 1.015.161.362 2005 227.436.621 2.042.500 712.342.684 187.353.827 1.129.175.632

237

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

KESEJAHTERAAN ANGGOTA
Mendirikan sebuah lembaga usaha lebih mudah ketimbang mempertahankan. Koppas AIPTini telah berhasil melewati masa-masa sulit sekalipun. Dalam usia mencapai 45 tahun masih eksis. Penunjang keberhasilan terasebut tidak dipungkiri atas dukungan SDM yang prima. Terdiri atas pengurus dan pengawas 8 orang manajer, satu orang dan 22 karyawan. Selain itu dukungan anggota yang tinggi sangat menjadikan koperasi ini dapat membantu memberikan kesejahteraan. Sebuah perusahaan atau koperasi bisa bertahan dan berkembang selalu mempunyai kiat atau strategi. Demikian juga Koppas AIPT Padang Panjang ini, salah satunya dengan meningkatkan pelayanan anggota. Bagi anggota yang sangat rajin dan tepat waktu dan yang mempunyai simpanan tertinggi akan mendapatkan insentif. Pemberian itu kadang langsung atau diakumulasi dengan pembagian SHU. Untuk lebih memotivasi anggota, pengurus juga berusaha agar beberapa poin bentuk kesejahteraan anggota mampu diwujudkan. Di antaranya dengan memberikan bantuan hari raya (THR), uang duka, biaya rumah sakit dan bea siswa bagi putra-putri anggota yang berprestasi.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

238

JAWA TIMUR

Kopkar Putra Rajawali Gresik

SEMANGAT BETON
MEMPERJUANGKAN ANGGOTA
239
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Fatah Hidayat

K

aryawan suatu perusahaan dimanapun mempunyai kehendak yang tidak terlalu tergantung pada perusahaan. Salah satunya dengan membentuk usaha bersama dalam wadah koperasi. Tujuannya, agar dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tekad tersebut baru dapat diwujudkan pada 1997 atas sponsor lima orang karyawan PT Telkom. Koperasi pegawai tersebut bernama Kopkar Putra Rajawali dan berkedudukan di Gresik. Dalam perjalanan kopkar menunjukan kinerja bagus. Sehingga dukungan dari manajemen PT Telkom pun mengalir. Bentuk dukungan tersebut perusahaan memberikan fasilitas berupa kantor di jalan Raya Sukomulyo Bagia Kav 13-14 Manyar Gresik. Kopkar dengan nomor 381/ BH/KWK.13/VI/1997. Kehadirian koperasi karyawan juga merupakan keuntungkan bagi PT Telkom. Setidaknya, dengan peningkatan kesejahteraan melalui peran koperasi dapat meningkatkan motivasi dan produktivitas karyawan di salah satu BUMN ini. Dengan berdirinya Kopkar ini, menjadikan dinamika perkoperasian di Kabupaten Gresik dengan luas wilayah 1.191,25 kilometer persegi ini makin beragam. Hampir sepertiga bagian dari wilayah Kabupaten Gresik merupakan daerah pesisir pantai, yaitu sepanjang Kecamatan Kebomas, sebagian Kecamatan Gresik, Kecamatan Manyar, Kecamatan Bungah dan Kecamatan Ujungpangkah, Sidayu dan Panceng. Serta Kecamatan Tambak dan Kecamatan Sangkapura yang berada di Pulau Bawean.

PERBAIKAN MANAJEMEN
Kopkar Putra Rajawali didirikan untuk memenuhi kepentingan anggota koperasi. Salah satu kepentingan karyawan adalah kebutuhan uang tunai untuk pelbagai kebutuhan dengan bunga yang tidak terlalu tinggi. Anggota yang berasal dari karyawan sendiri pada awal berdirinya, tidak merupakan halangan Kopkar Putra Rajawali untuk berkembang. Koperasi melakukan perbaikan terus menerus terhadap manajemen, terutama berkaitan dengan cara peminjam dan penyimpan yang saling menguntungkan. Anggota koperasi setelah masuk koperasi tidak serta merta dapat meminjam dana dari koperasi tapi melalui tenggat waktu tertentu. Cara ini termasuk efektif untuk menjaring dana keuangan yang mengendap pada koperasi, sehingga dapat memenuhi plafon kredit anggota koperasi. Anggota koperasi dapat meminjam sesuai keperluan sehingga memberikan rasa aman ketika bekerja dan pada akhirnya mendukung kinerja karyawan di PT Telkom. Kekuatan Kopkar Putra Rajawali adalah tertib administrasi mulai dari seleksi anggota sampai RAT yang berjalan baik. Seleksi karyawan dilakukan dengan teliti agar kepuasan anggota koperasi dapat berjalan baik. Karyawan melayani anggota koperasi dengan prinsip kehati-hatian dengan menerapkan proses pelayanan keuangan yang prosedural. Prosedur pelayanan yang diciptakan oleh koperasi dilaksanakan karyawan, anggota, pengurus sebagai dasar operasional koperasi. Dengan demikian semua masalah dapat diperkirakan dengan panduan yang jelas bagi semua pihak yang berkepentingan.

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

240

Simpanan sukarela agak besar sehingga peredaran uang dapat berjalan baik di koperasi. Simpanan sukarela dapat memperbesar kemungkinan intermediasi kepentingan dunia riil dengan dunia uang. Anggota koperasi dapat meminjam untuk usaha yang bermanfaat karena adanya dana koperasi yang tersedia mencukupi. Selain itu koperasi berusaha tidak hanya bergerak di usaha simpan pinjam tapi juga melakukan kerja sama saling menguntungkan dengan PT Telkom. Koperasi mengusahakan juga mendapat kontrak dari PT Telkom untuk pembuatan dan penjagaan sistem pencatatan dan pembayaran pelanggan telkom. Kontrak yang diusahakan tersebut cukup membantu pemasukan koperasi. Inovasi pengurus koperasi tidak hanya berhenti di software tapi juga mendapatkan pekerjaan yang di outsourcing dari PT Telkom. PT Telkom tidak rugi karena tidak perlu menarik pegawai tetap, tapi cukup memberikan pekerjaan pada koperasi sehingga semua tanggung jawab pekerjaan dan penggajian personalia diurus oleh koperasi. Hasil kerja sama saling menguntungkan dengan PT Telkom tidak saja membuat kopkar makin subur mendulang untung, implikasinya juga berdampak positif pada upaya pemenuhan kebutuhan anggota. Kiat outsourcing ini merupakan langkah jitu pengurus di samping memang adanya perhatian yang besar dari pihak perusahaan terhadap perkembangan koperasi.

PARTISIPASI ANGGOTA
Pengurus koperasi menerapkan manajemen terbuka terutama berkaitan dengan perbaikan manajerial. Prosedur yang lengkap di koperasi memudahkan pengendalian dana masuk dan keluar. Pengurus koperasi selalu melakukan sosialisasi perubahan dan kebijakan, seiring dengan masukan dari anggota koperasi. Mereka dapat memberikan masukan langsung kepada pengurus atau dengan cara tertulis. Hal seperti ini cukup memudahkan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi koperasi, sekaligus melancarkan interaksi dengan pengurus maupun sesama anggota. Mengenai keanggotaan, Kopkar Rajawali mengalami penurunan. Pada 1997 anggota yang pernah terdaftar sebanyak 120 orang. Pada tahun buku 2005 anggota tinggal 55 orang. Kondisi ini terjadi karena adanya perpindahan karyawan PT Telkom ke daerah lain atau pensiun.

PERMODALAN
Kopkar Putra Rajawali mempunyai perbandingan modal luar dan dalam lebih tinggi, modal sendiri terlihat pada tabel 1. Hal tersebut menunjukkan koperasi mempunyai sumber sumber yang berasal dari dalam koperasi untuk memenuhi kegiatan usaha.

Tabel 1. Perbandingan Modal
Uraian Modal Luar Modal Sendiri 2002 1.664.540 641.750.000 2003 2.664.520 1.010.000.000 2004 2.622.760 807.280.000 2005 2.518.500 922.773.000

241

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Grafik 1. Perbandingan Simpanan
800.000.000 700.000.000 600.000.000 500.000.000 400.000.000 300.000.000 200.000.000 100.000.000 2002 Simpanan Wajib 2003 2004 2005 Simpanan Sukarela

Grafik 2. SHU Kopkar Putra Rajawali
300.000.000 200.000.000 100.000.000 0 2001 2002 2003 2004 2005

Perbandingan modal menunjukkan, modal sendiri lebih besar dibanding modal luar. Koperasi dapat memenuhi kebutuhan sendiri tanpa terlalu tergantung pada biaya modal luar yang cukup besar. Dari Grafik 1 terlihat bahwa simpanan wajib tahun 2005 ada peningkatan. Hal ini menunjukkan partisipasi anggota meningkat. Sedangkan simpanan sukarela tahun 2005 relatif sama dengan tahun 2004, menunjukkan tingkat kepercayaan anggota terhadap koperasi posisinya tetap. Sisa Hasil Usaha Kopkar Putra Rajawali tiap tahun mengalami peningkatan terlihat pada Grafik 2. Peningkatan sisa hasil usaha menunjukkan pengelolaan dana simpan pinjam sudah baik. Dengan demikian tujuan koperasi karyawan untuk membuat karyawan merasa nyaman dengan menjadi salah satu sumber ekonomi tercapai, meskipun demikian tantangan untuk meluaskan kemitraan dapat menjadi peluang di masa mendatang.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

242

JAWA TIMUR

Kopegtel Mojokerto

MEMBANGUN SEMANGAT

KEBERSAMAAN
243
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Dokumentasi

K

operasi Pegawai Telkom (Kopegtel) pada hakekatnya adalah koperasi karyawan/koperasi fungsional yang bertujuan memperjuangkan dan memajukan kesejahteraan karyawan dilingkungan PT. Telkom. PT. Telkom sebagai perusahaan dilingkungan Departemen Perhubungan, pada umumnya memiliki pegawai tetap dan honorer yang jumlahnya ratusan orang dan memiliki kepentingan bersama yaitu kebutuhan sehari-hari (kebutuhan pokok) dan kebutuhan konsumtif sehari-hari. Atas dasar kesamaan kepentingan tersebut, para karyawan sepakat untuk menghimpun dalam organisasi koperasi pegawai, dengan harapan dapat memenuhi kepentingan anggota dan meningkatkan kesejahteraan pegawai. Melalui usaha jasa seperti simpan pinjam, pertokoan dan jasa lainnya, diharapkan dalam era reformasi ini Kopegtel mampu memberikan pelayanan prima. Sebagai lembaga ekonomi/Koperasi yang bergerak dalam kegiatan simpan pinjam serta pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan Dinas PT. TELKOM, telah memperoleh Badan Hukum dengan nomor : 3975 A/BH/II/12/67 pada tanggal 23 Juni 1992. Dalam perkembangannya, PT.TELKOM selaku mitra kerja usaha Kopegtel merupakan kontributor terbesar dari bidang usaha yang ditangani oleh Kopegtel Mojokerto. Secara garis besar bidang usaha yang dilakukan oleh Kopegtel adalah : bidang Jasa (penarikan rekening telpon, pemasangan kabel serta penyewaan mobil dan pengadaan barang serta penyediaan tenaga kerja), membuka Unit Usaha Pertokoan dan Wartel, dan bergerak di bidang simpan pinjam.

TERTIB ORGANISASI
Struktur Organisasi. Dengan semakin berkembangnya kegiatan usaha yang telah dilakukan koperasi maka susunan struktur organisasi berkembang. Dalam melaksanakan usahanya, koperasi dikelola oleh team kerja dengan tiga orang pengurus, dua orang sebagai pengawas, tiga orang manajer serta lima orang sebagai kepala seksi. Organisasi Perkantoran. Dari laporan pertanggung jawaban, diperoleh gambaran penyusunan administrasi perkantoran yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Administrasi Organisasi (16 buku), Administrasi Pembukuan (12 buku), Pertemuan, Koordinasi dan Pelaporan. Koperasi ini termasuk koperasi yang tertib, dalam pengertian mampu menyelenggarakan rapatrapat dan mengadakan RAT secara konsisten dalam 3 tahun terakhir setiap bulan Januari, yaitu setelah tutup buku. Bentuk dan isi laporan pertanggung jawaban koperasi cukup baik. Namun demikian, isi laporan lebih banyak bersifat kuantitatif. Uraian yang bersifat hasil analisis kegiatan, baik terkait dengan musabab kegagalan atau keberhasilan program tidak diangkat kepermukaan. Sehingga upaya penyusunan perencanaan yang lebih baik berangkat dari pengalaman yang telah terjadi sulit untuk diwujudkan.

KEANGGOTAAN
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

244

Jumlah anggota yang terdaftar dan perkembangannya sampai dengan tahun 2005 sebagaimana disajikan pada tabel terlampir.

Tabel 1. Perkembangan Anggota
Uraian 1 2 Anggota Penuh Calon Anggota 2001 164 2002 157 2003 137 2004 137 2005 124 -

Dari tabel di atas menunjukkan adanya penurunan jumlah anggota. Sebagai upaya peningkatan SDM khususnya para anggota maupun pengurus, maka pihak koperasi telah melakukan kegiatan pembinaan dalam bentuk pelatihan dengan materi; mengadakan studi banding baik dilakukan sendiri maupun DEPKOP/PKP-RI, aktif dalam kegiatan program koperasi pusat (RAT, RA-RK), bersama TELKOM mengadaan pembinaan terhadap TKM, akutansi manajemen, dan perkoperasian.

SISTEM INSENTIF
Dalam rangka pengembangan usaha koperasi, pengurus telah merumuskan beberapa kiat dan strategi, antara lain: Memberikan Jasa dan Bonus Bagi Penabung. Dalam rangka memberikan pelayanan kepada anggota dan peningkatan modal sendiri, maka Unit Simpan Pinjam meningkatkan pelayanan dalam hal pinjaman dalam bentuk Pinjaman Jangka Panjang, Jangka Pendek dan Rutin serta memberikan hadiah bagi penabung. Meningkatkan Kesejahteraan Anggota. Dalam rangka menimbulkan dan memotivasi rasa kepemilikan anggota terhadap koperasi maka koperasi juga ikut memperhatikan kesejahteraan anggotanya dalam bentuk memberikan uang THR bagi anggota yang aktif, memberikan pinjaman barang, dana rekreasi dan sumbangan kematian, memberikan hadiah bagi putraputri anggota yang memiliki prestasi dalam pendidikan. Peningkatan Pelayanan Jasa & Barang. Untuk meningkatkan pendapatan koperasi maka pihak pengurus telah melakukan upaya peningkatan pelayanan terhadap kegiatan jasa yang diberikan pada pihak lain maupun kualitas barang yang diperdagangkan.

MANAJEMEN USAHA
Untuk mengetahui sejauh mana kinerja koperasi dan prestasi yang telah dicapainya, maka hal tersebut dapat dilihat pada indikator sebagai mana digambarkan pada tabel 1. Dari tabel 2 dan 3 menunjukkan adanya korelasi yang positif antara peningkatan modal kerja dengan penerimaan Sisa Hasil Usaha dan Omset hasil pendapatan koperasi. Sedang modal sendiri yang berasal dari simpanan anggota tidak banyak mengalami peningkatan, bahkan simpanan pokok mengalami penurunan seiring dengan menurunnya jumlah anggota.

CORE BUSINESS
Dari tabel 2 dan tabel 3 terlihat bahwa kegiatan SP lebih menonjol, modal pinjaman meningkat dari Rp 2,046 miliar (tahun 2003), Rp 3,2 miliar (2001) dan meningkat menjadi Rp 3,6 miliar (2005), demikian juga

245

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Tabel 2. Indikator Kinerja Kopegtel Mojokerto
Indikator 1. Pendapatan Operasional 2. Biaya Operasinal 3. Laba/Rugi sebelum pajak 4. Modal Pinjaman 5. Modal sendiri 6. Omset 2003 2.046.807.455 1.874.135.969 172.671.486 430.416.670 1.053.120.542 2.046.807.455 2004 3.235.541.586 2.976.485.403 259.056.183 1.023.844.446 1.215.673.896 3.235.541.586 2005 3.661.633.650 3.376.445.913 285.187.737 1.258.344.407 1.341.600.649 3.661.633.650

Tabel 3. Komposisi Permodalan Usaha Kopegtel Mojokerto
URAIAN 1. MODAL SENDIRI a. Simpanan Pokok b. Simpanan Wajib c. Dana Cadangan d. Donasi d. SHU belum dibagi Jumlah 2. MODAL PINJAMAN a. Hutang Bank 3. TOTAL MODAL USAHA 2003 7.850.000 307.571.049 478.953.304 86.074.703 172.671.486 1.053.120.542 2004 6.550.000 341.186.489 520.464.316 88.416.908 259.056.183 1.215.673.896 2005 6.200.000 381.604.889 580.116.115 88.491.908 285.187.737 1.341.600.649

430.416.670 1.483.537.212

1.023.844.446 2.239.518.342

1.258.344.407 2.599.945.056

Tabel 4. Komposisi Rasio Kinerja Kopegtel Mojokerto
RASIO Liquidity - Current Ratio= Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar - Current Kiability to Net worth=Kewajiban Lancar : Modal sendiri Total Debt to Equity = Jumlah Kewajiban : Modal sendiri - Total Aset Turnover = Pendapatan Netto : Jumlah Aktiva - Net Operting Profit Margin = SHU seb.Pajak : Pendapatan Penjualan 2003 0,19 0,92 1,90 0,21 0,08 2004 1,90 0,92 1,84 0,08 0,08 2005 2,10 0,89 1,78 0,08 0,08

Leverage Activity

pendapatan operasional, biaya operasional dan omsetnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap laba/rugi yang akan diperoleh. Total modal usahanya juga meningkat secara signifikan, yaitu Rp 1,463 miliar (tahun 2003), Rp 2,239 miliar (tahun 2004) dan Rp 2,599 miliar (tahun 2005). Selain itu melihat perkembangan kondisi keuangan Kopegtel di atas, manajemen Kopegtel perlu mempertimbangkan strategi pengembangan usaha terhadap strategy focus, artinya usaha simpan pinjam perlu dikembangkan sebagai core business.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

246

JAWA TIMUR

Koperasi Wanita Citra Lestari Malang

DARI WANTA
UNTUK KELUARGA
247
Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Armein Rifai

L

ingkaran setan (vicious circle) kemiskinan membelenggu tidak hanya masyarakat umum. Para pedagang kecil di pasar tradisional pun tak luput dari kungkungan itu. Di pasar, mereka setengah mati memberdayakan diri. Kecilnya modal, keterbatasan skala usaha, tingginya persaingan merupakan beberapa penyebab yang sangat umum. Lebih buruk dari itu, tak sedikit di antaranya terjerat dalam perangkap tengkulak. Lintah darat ini secara progresif menghisap darah dan sumsum hingga pedagang kecil mustahil beranjak dari status mereka sebagai pelaku ekonomi kelas gurem. Di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jatim, mereka terselamatkan setelah Koperasi Citra Lestari aktif berkiprah.

BANGKITNYA SEMANGAT PEDAGANG
Resmi berdiri tanggal 18 Desember 1989, Koperasi Citra Lestari merupakan kelanjutan dari Proyek Percontohan Puskowanjati bertajuk KWPP (Koperasi Wanita Pedagang Pasar). Pada waktu itu, anggota yang dilayani khusus para pedagang pasar di wilayah Kecamatan Lawang yang berjualan sayur, tempe, warung nasi, perancangan, dan lain-lain. Mereka cuma membutuhkan dana kecil untuk berdagang dengan bunga tidak besar dan tidak birokratis. Untuk itu, koperasi membantu mereka dengan memberikan pinjaman harian. Namun, dengan model pinjaman harian ini, aliran dana ternyata tidak begitu tampak. Biaya dana pinjaman menjadi mahal, bahkan pihak koperasi sempat merugi sebesar Rp 4.217.000, antara tahun 1989 hingga 1991. Pelajaran dari pengalaman ini: pola harian terbukti tidak cocok. Kerugian koperasi menimbulkan reaksi pedagang kecil pasar sebagai anggota koperasi. Mereka pun ikut rugi kalau koperasi tidak berjalan baik. Mempertimbangkan masukan anggota dan pemikiran pengurus, pada 10 Mei 1992 dibentuklah sebuah unit baru, yaitu unit simpan pinjam bulanan. Manajemen perputaran dana model tanggung renteng ternyata manjur. Kios kecil sebagai tempat koperasi sudah beralih, koperasi dapat menyewa tempat yang lebih besar untuk memenuhi kegiatan koperasi. Koperasi akhirnya memiliki ruang sendiri di Jalan Cipto No. 22-24 Lawang, Kabupaten Malang. Tampil sebagai perintis di sini adalah sebuah kelompok di daerah Madukoro Lawang, dengan anggota 10 orang. Kelompok tersebut menggunakan sistem tanggung renteng. Dalam tahun pertama penerapan sistem ini, jumlah kelompok berkembang menjadi enam kelompok.

SISTEM TANGGUNG RENTENG
Sistem tanggung renteng telah lebih dulu dipraktikkan di Kopwan Setia Bhakti Wanita. Sistem ini merupakan mekanisme penjaminan agar kredit yang dipinjam anggota dapat dilunasi dengan lancar. Pelunasan kredit dapat berjalan baik karena adanya kontrol kelompok terhadap anggota, sehingga rasa kebersamaan dan tanggung jawab berjalan secara berdampingan. Anggota harus meminta persetujuan kelompok. Kelom-

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

248

Armein Rifai

Lokasi Kopwan Citra Lestari cukup strategis di lingkungan anggota.

poklah yang memutuskan menyetujui/menolak plafon kredit anggota yang diajukan kepada koperasi. Kepercayaan koperasi terhadap kelompok bergantung pada ketaatan pelunasan kredit anggota. Cara ini mendorong kelompok dan anggota bekerja keras untuk memenuhi pelunasan sesuai dengan jadual. Dengan sistem tanggung renteng ini, koperasi mendidik anggota sekaligus mendorong masyarakat menjadi anggota koperasi. Itu sebabnya, dalam selang waktu empat tahun, jumlah anggota yang 2.339 orang pada 2001 naik menjadi 4.349 orang pada 2005. Kelompok sebagai basis utama koperasi membutuhkan pembinaan manajerial dan jalinan kedekatan antar-anggota. Koperasi menjembatani kepentingan kelompok dengan membentuk PPL (Petugas Pendamping Lapangan). Pendampingan anggota ini penting agar partisipasi anggota dan komunikasi kelompok dengan koperasi terjalin lancar. Membesarnya jumlah kelompok juga merupakan alasan pengangkatan kader anggota koperasi menjadi PPL (Petugas Pendamping Lapangan). Tenaga PPL ini bertugas membina keanggotaan, menyampaikan informasi dari koperasi dan menyampaikan hasil pembinaan dan aspirasi anggota koperasi kepada pengurus. Karenanya, PPL dibekali melalui ajang pelatihan dan pertemuan rutin.

MANAJEMEN KELOMPOK
Nama tiga serangkai—yaitu Ny. Khulsum Hidayati, Ny. Unu Muriyani dan Dra. Martiwi—memiliki arti khusus di balik pencapaian Koperasi Citra Lestari saat ini. Mereka inilah yang mengadaptasi sistem tanggung renteng, di samping melakukan inovasi dengan menyusun indikator penilaian kinerja kelompok. Penilaian kinerja kelompok semacam ini membuahkan persaingan sehat antar-kelompok dalam koperasi.

249

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Selain KSP, juga memiliki unit waserda.

Armein Rifai

Terlebih setelah diperkenalkan hadiah bagi anggota koperasi. Hadiah tersebut berupa pujian sehingga merangsang kelompok dan anggota untuk disiplin melakukan pertemuan dan pelunasan kredit dengan berlombalomba mencapai indikator kinerja yang diperkenalkan. Selain menyediakan kredit bunga rendah, Koperasi Citra Lestari juga menyediakan barang keperluan sehari-hari bagi anggota melalui waserda. Keuntungan waserda memang tidak besar tetapi dari situ terbina keterikatan anggota dengan koperasi. Semakin banyak anggota membeli barang, omset di waserda dengan sendirinya semakin tinggi, meski waserda ini belum tergolong mandiri secara pembiayaan. Yang jelas, masyarakat mengenal koperasi melalui pelayanan waserda. Kehadiran waserda sedikit banyak menumbuhkan ketertarikan untuk bergabung menjadi anggota koperasi. Kenyataan bahwa koperasi telah memiliki gedung sendiri, perlahan-lahan menumbuhkan peenilaian positif di kalangan masyarakat bahwa koperasi sudah dapat dipercaya. Koperasi ini tidak mungkin mempunyai gedung sendiri jika melihat kondisi dana yang tersedia. Atas masukan anggota, dengan mengundang perwakilan atau penanggung jawab kelompok, Koperasi Citra Lestari menggelar RAT membahas persoalan ini. Berangkat dari tekad kuat sejak awal, RAT dengan cukup mudah menghasilkan keputusan bahwa anggota membayar iuran sebesar Rp 1.000,- selama 20 bulan, sehingga dana yang terkumpul dapat digunakan untuk memiliki gedung.

MODIFIKASI ARISAN
Pihak pengurus melakukan antisipasi dengan membuat program tabungan beberapa bulan sebelum puasa/Ramadhan dan dicairkan dalam bentuk pemberian bahan pokok menjelang Hari Haya Idul Fitri, sesuai dengan jumlah tabungan anggota. Budaya tersebut berasal dari kebiasaan

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

250

arisan bahan pokok di kalangan ibu-ibu untuk menghadapi hari raya. Anggota yang nota bene adalah mayoritas kaum perempuan merasakan pelayanan koperasi di hari raya meringankan secara ekonomi karena biasanya kalau bulan puasa barang-barang naik dan kadang barangnya tidak ada. Koperasi dapat membeli barang dalam jumlah banyak sehingga mendapat keringanan pembayaran dibanding kalau mereka membeli sendiri-sendiri. Kesibukan koperasi Citra Lestari bertambah manakala pada 2003 menerima bantuan dana bergulir dari Kementerian Koperasi dan UKM sebesar Rp 1 miliar. Dana tersebut harus dikelola secara otonom. Dan, hanya didistribusikan untuk para pelaku usaha mikro dan kecil bidang agribisnis. Berkaitan dengan program tersebut, koperasi Citra Lestari pun memenuhinya dengan membuka KSP Mandiri Lestari. dana tersebut juga telah digulirkan kepada yang berhak dan membutuhkan. Konon, menurut anggota dengan nama baru tersebut sering membingungkan. Mengingat nama koperasi Citra Lestari sudah dikenal anggota dan masyarakat. Meski demikian koperasi Citra Lestari dapat berjalan dengan baik. Makin bertambahnya usaha kewajiban yang ditanggung juga makin besar. Misalnya, kewajiban membayar bunga kepada pihak ketiga dalam jumlah besar. Koperasi harus dapat meningkatkan modal sendiri. Dengan menerapkan biaya bunga yang lebih kecil, keuntungan bisa didapatkan melalui peningkatan modal sendiri dan pengecilan modal luar. Jumlah modal sendiri tahun 2005 tercatat sebesar Rp 2,037 miliar, sedangkan modal luar sejumlah Rp 2,474 miliar. Hal tersebut akan memberikan

Tabel 1. Perbandingan Struktur Permodalan, Omset Tahun 2005 dan Tahun 2004
URAIAN I. PERMODALAN 1. MODAL SENDIRI - Simpanan Pokok Anggota - Simpanan Wajib Anggota - Cadangan - Donasi - Swadaya Anggota - Wajib Tabungan Anggota - S H U tahun berjalan Jumlah Modal Sendiri 2. MODAL LUAR - Simpanan Manasuka Anggota - Pinjaman dari Pihak III - Kewajiban lain Jumlah Modal Luar JUMLAH MODAL II. OMSET 1. OMSET SIMPAN PINJAM 2005 2004

378.755.000,00 799.694.534,12 214.780.149,38 160.280.080,00 106.152.075,00 167.185.500,00 209.880.215,91 2.036.727.554,41

77.045.000,00 579.376.814,00 163.822.026,00 136.780.080,00 83.985.075,00 86.780.500,00 172.481.537,00 1.300.271.032,00

549.462.175,04 1.810.318.650,00 114.166.729,44 2.473.947.554,48 4.510.675.108.89

343.981.293,00 1.258.610.865,00 78.523.546,00 1.681.115.704,00 2.981.386.736,00

6.653.000.000.

4.404.575.000

251

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

Grafik 1. Perkembangan Sisa Hasil Usaha
Rp. juta

250 200 150 100 50 0 2001 2002 2003 2004 2005

Grafik 2. Pertumbuhan Jumlah Anggota Koperasi Citra Lestari
5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 2001 2002 2003 2004 2005

kesempatan koperasi untuk terus melakukan inovasi dan menjaga keeratan anggota dan pengurus dalam menghadapi masa depan koperasi. Dari tahun ke tahun, SHU Koperasi Citra Lestari menunjukkan peningkatan seperti terlihat pada grafik 1. Kebangkitan Koperasi Wanita Citra Lestari yang berawal dari pedagang di pasar menimbulkan semangat tinggi. Anggota dan pengurus koperasi percaya bahwa lingkaran setan kemiskinan dapat dipecahkan dengan keuletan, kepercayaan dan kebersamaan. Semakin tingginya kepercayaan atas pengelolaan koperasi oleh pihak ketiga, termasuk pemerintah, menuntut seluruh komponen di koperasi untuk bekerja dengan lebih kreatif.***

Koperasi di Tengah Lingkungan yang Berubah

252

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->