P. 1
Modul PLPG Bahasa Indonesia

Modul PLPG Bahasa Indonesia

|Views: 387|Likes:
Published by sentra71

More info:

Published by: sentra71 on Jun 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

Satu Untuk UNM

PENDALAMAN MATERI I. MENULIS A. Pendahuluan Sebagaimana kita ketahui bahwa mengarang pada hakikatnya adalah mengungkapkan atau menyampaikan gagasan, informasi, atau pengalaman melalui bahasa tulis. Pengungkapan atau penyampaian gagasan ini dapat diwujudkan melalui berbagai unsur bahasa. Gagasan dapat diungkapkan melalui kata atau kalimat. Ada gagasan diungkapkan dengan paragraf. Bahkan, gagasan yang lengkap diwujudkan melalui karangan utuh. Seperti dikemukakan di atas, gagasan dapat diungkapkan melalui bentuk paragraf atau karangan utuh. Penyampaian gagasan melalui karangan dapat dibedakan atas berbagai macam berdasarkan tujuan yang hendak dicapai penulisnya. Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai oleh penulisnya, kita mengenal karangan di antaranya argumentasi dan persuasi. Jenis karangan argumentasi dan persuasi tentu sudah pernah Anda dengar. Paling tidak, istilah ini tidak asing bagi Anda. Agar kedua jenis karangan ini dapat Anda pahami secara benar dan utuh, modul ini akan menyajikan beberapa informasi dan contoh mengenai jenis karangan ini. Informasi-informasi tersebut meliputi karakteristik, langkah-langkah penyusunan, dan contoh jenis karangan argumentasi dan persuasi. Selain itu, modul ini memuat contoh kasus pembelajaran dan latihan penyusunan karangan argumentasi dan persuasi. Urutan mampu materi tersebut menggambarkan urutan kegiatan pengalaman belajar yang akan Anda ikuti. Setelah menyelesaikan modul ini, pikiran, informasi, dan pengalaman Anda diharapkan mengungkapkan dalam berbagai wacana/teks tulis. Lebih khusus,

Anda diharapkan menyampaikan gagasan dan hasil observasi dalam berbagai bentuk paragraf. Secara lebih rinci , Anda diharapkan mampu: 1. Menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk paragraf argumentasi atau generalisasi. 2. Menulis gagasan untuk meyakinkan atau mengajak pembaca bersikap atau melakukan sesuatu dalam bentuk paragraf persuasif. Kenyataan Anda telah memiliki pengetahuan mengenai karangan argumentasi dan persuasi, setidaknya Anda telah membaca contoh kedua jenis karangan tersebut. Apa yang tersaji dalam modul ini hanya menjadi upaya sistematis untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan menulis dan memantapkan penguasaan pembelajaran mengarang, terutama jenis karangan argumentasi dan persuasi.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 1

Satu Untuk UNM
B. Kegiatan Pembelajaran 1. Kegiatan Belajar 1 a. Judul: Menulis Karangan Argumentasi b. Indikator Sasaran Anda mengkaji bagian modul ini adalah agar Anda memperoleh pengalaman belajar tentang menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk paragraf argumentasi atau generalisasi. Secara khusus tujuan ini dijabarkan sebagai berikut: 1. Dengan memahami karakteristik dan langkah-langkah penyusunan karangan argumentasi Anda diharapkan mampu menyusun kerangka karangan ilmiah yang akan dibuat; 2. Dengan menguasai pengertian dan ciri-ciri paragraf argumentasi Anda diharapkan mampu menyusun gagasan dalam bentuk paragraf argumentasi dengan cara-cara yang benar. c. Strategi Pembelajaran Semua kemampuan yang tertera pada indikator tersebut memerlukan contoh dan latihan yang mantap untuk menguasainya. Oleh karena itu, agar berhasil menguasai kemampuan tersebut , bacalah dengan cermat uraian dan contoh, serta kerjakan latihan yang ada. d. Uraian Materi dan Contoh 1) Karakteristik karangan argumentasi Pada kegiatan pembelajaran ini kita akan mengkaji jenis karangan argumentasi. Makna kata argumentasi ialah alasan. Jadi, argumentasi itu bermakna pemberian kebenaran pendapat sehingga orang lain mempercayainya, alasan yang kuat dan meyakinkan. Alasan itu, kita kemukakan untuk mendukung atau memperkuat menyetujuinya, dan membenarkan pendapat, gagasan, sikap , dan keyakinan kita. Dalam konteks sidang pengadilan misalnya, terdakwa atau tergugat menyampaikan argumen-argumennya untuk menolak dakwaan atau gugatan sehingga hakim mempercayainya. Untuk memperkuat alasan yang mendasari gagasan atau pendapat , kita menyajikan argumentasi dengan melengkapi contoh, bukti, fakta, angka, peta, grafik, organigram, dan lain-lain. Jadi, apakah yang dimaksud karangan argumentasi itu? Yang dimaksud karangan argumentasi ialah karangan yang terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Karangan argumentasi ditulis dengan maksud untuk memberikan alasan, untuk memperkuat atau menolak
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 2

Satu Untuk UNM
suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Corak karangan ini termasuk karangan yang paling sulit bila dibandingkan dengan corak karangan yang lain. Dalam hal ini tidak berarti bahwa karangan argumentasi lebih penting atau lebih berharga daripada jenis karangan-karangan yang lainnya, tetapi kesulitan tersebut muncul karena perlu adanya alasan dan atau bukti yang dapat meyakinkan, sehingga pembaca terpengaruh dan membenarkan gagasan, pendapat, sikap, dan keyakinan kita. Jadi, pada setiap karangan argumentasi selalu kita dapati alasan ataupun bantahan yang memperkuat ataupun menolak sesuatu secara sedemikian rupa guna mempengaruhi keyakinan pembaca sehingga berpihak kepada atau sependapat dengan penulis. Bentuk-bentuk karangan ilmiah seperti: makalah paper (seminar, simposium, dan lokakarya), esai, skripsi, tesis, disertasi, dan naskah-naskah: tuntutan pengadilan, pembelaan, pertanggungjawaban, ataupun surat keputusan, adalah paparan yang bercorak argumentasi. Pada setiap karya ilmiah, biasanya argumen digunakan untuk memperhatikan atau meyakinkan kebenaran pendapat, ide, atau konsep mengenai suatu masalah kepada pembaca berdasarkan data, fenomena, atau fakta yang dikemukakan. Untuk memberikan penjelasan mengenai karakteristik argumentasi ini, kita membandingkan dengan jenis karangan yang lain yaitu karangan eksposisi. Antara karangan argumentasi dengan karangan eksposisi memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaannya dapat dilihat pada uraian berikut: Persamaan: 1. Argumetasi dan eskposisi sama-sama menjelaskan pendapat dan keyakinan kita. 2. Argumentasi dan eksposisi sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat atau diperjelas dengan angka, peta, statistic, grafik, organigram, gambar, dan lain-lain. 3. Argumentasi dan eksposisi sama-sama memerlukan analisis waktu mengupas sesuatu. 4. Argumentasi dan paparan sama-sama menggali sumber ide dari pengalaman, pengamatan dan penelitian, serta sikap dan keyakinan. Daya khayal sebagai sumber ide kurang digunakan dan kurang akurat. Perbedaan: 1. Argumentasi bertujuan untuk mempengaruhi pembaca, sehingga pembaca akhirnya menyetujui bahwa pendapat, sikap, dan keyakinan kita benar. Tujuan eksposisi hanya menjelaskan dan menerangkan sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. dan sintesis pada

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

3

Satu Untuk UNM
2. Argumentasi menggunakan contoh, grafik, statistik, dan lain-lain untuk

membuktikan bahwa apa yangn kita kemukakan itu benar. Eksposisi menggunakan contoh, grafik, statistik, dan lain-lainnya untuk menjelaskan apa yang kita kemukakan. 3. Penutup pada akhir argumentasi biasanya menyimpulkan apa yang telah diuraikan sebelumnya. Penutup pada akhir eksposisi biasanya menegaskan lagi apa yang telah diuraikan sebelumnya. Kita telah melihat secara jelas persamaan dan perbedaan antara argumentasi dengan eksposisi. Dengan uraian itu kita telah menempatkan posisi kedua jenis karangan tersebut. Selanjutnya, dalam karangan argumentasi kita memunculkan atau menggunakan argumen. Argumen inilah yang membangun rangkaian argumentasi yang kita susun. Nah, sekarang apa yang disebut argumen itu? Secara sederhana setiap argumen selalu menjelaskan suatu pertalian antara dua pernyataan atau asersi (assertion) yang biasanya diurutkan. Asersi pertama merupakan alasan (reason) bagi asersi kedua. Misalnya, jika kita berkata ―Biasanya tes mata kuliah sintaksis sangat sulit, karena itu saya harus belajar sungguh-sungguh dalam minggu ini‖, sesungguhnya kita telah membuat argumen. Kalimat kita itu terdiri atas dua pernyataan: pernyataan kedua (Karena itu saya harus belajar sungguh-sungguh minggu ini) merupakan simpulan yang didasarkan atas pernyataan yang pertama (Biasanya tes mata kuliah sintaksis sangat sulit). Sekarang baiklah kita melihat contoh topik berikut ini yang akan dikembangkan melalui karangan argumentasi agar lebih jelas bagi kita arah uraian karangan argumentasi tersebut.

Contoh
Topik ―Pasar ― dapat dikembangkan menjadi karangan argumentasi, misalnya dengan mengemukakan alasan, contoh , dan bukti yang meyakinkan, bahwa pasar memang harus segera dirombak. Alasannya, kurang memenuhi syarat kesehatan, sukar diatur karena terlalu sesak, keamanan kurang terjamin, tempat parker kendaraan yang kurang luas, pasar tidak sesuai lagi dengan kota dan masyarakat modern. Tiap-tiap alasan di atas kita sertakan contoh dan bukti yang mendukung alasan tersebut. Kita kemukakan pula bagaimana seharusnya pasar dibangun dan dikelola secara efektif, sehingga menjadi pusat perbenjaan tradisonal yang kondusif. Bagaimana mengelola sarana penunjang, seperti tempat parkir kendaraan, tempat ibadah, kebersihan lingkungan, dan sarana umum lainnya secara secara modern. Semua pikiran dan gagasan kita ditunjang oleh data, fakta, dan bukti yang cukup
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 4

Satu Untuk UNM
dengan harapan pembaca akan menyetujui dan meyakini bahwa kita benar. Dengan demikian, semua akan sepakat bahwa pasar memang harus dirombak, dan perlu dibangun pasar yang lebih representatif, lebih baik, dan lebih nyaman. 2) Langkah-langkah Penyusunan Argumentasi Pada dasarnya penyusunan karangan argumentasi tidak jauh berbeda dengan eksposisi. Pertama, kita tentukan lebih dahulu topik argumentasi kita, misalnya ―Pentingnya Swasembada Bahan Makanan untuk Kepentingan Ketahanan dan Pertahanan Negara‖. Kemudian kita tentukan tujuan kita berargumentasi dalam penulisan itu, misalnya sebagai berikut. Meyakinkan pembaca bahwa swasembada pangan merupakan sarana yang ampuh untuk memperkuat ketahanan dan pertahanan negara. Agar pembaca dapat meyakini uraian seperti di atas, kita perlu mencari bahan yang cukup. Untuk itu, kita menginventarisasi pokok-pokok pikiran yang dapat dikembangkan dari topik tersebut di atas. Banyak pokok pikiran yang dapat kita kemukakan, misalnya (a) Bahan makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia; (b) Penduduk negara kita jumlahnya besar sekali, sementara persediaan bahan makanan terbatas; (c) Terbatasnya bahan makanan dapat menimbulkan kerawanan; (d) Kerawanan berpengaruh besar terhadap ketahanan dan pertahanan negara; (e) Perlu kita galakkan berbagai usaha untuk dapat berswasembada pangan atau bahan makanan. Sesudah tujuan penulisan kita rumuskan, langkah berikutnya adalah menyusun kerangka karangan berdasarkan topik dan tujuan yang telah kita tentukan. Menyusun kerangka berarti menguraikan topik ke dalam subtopik, bahkan ke dalam sub-subtopik. Kita kenal dua bentuk kerangka karangan, yakni kerangka topik dan kerangka kalimat. Kerangka topik yakni rincian topik berupa frase, bukan kalimat. Jika Anda menyusun setiap rincian topik berupa rangkaian kalimat-kalimat, kerangka tulisan ini merupakan kerangka kalimat. Kerangka karangan dapat bermanfaat untuk mengarahkan penulis menyusun karangan secara teratur, menciptakan klimaks, dan menghindarkan pebahasan materi berulang. Pola organisasi kerangka tulisan disusun berdasarkan arah pembicaraan dan detail pembahasannya. Kita kenal tiga pola organisasi kerangka yakni pola ilustratif, analitis, dan argumentatif. Pola ilustratif tersusun dari gagasan umum kepada gagasan khusus. Pembahasan dimulai dari hal umum kepada hal-hal yang lebih khusus. Pola analitis uraian bermula dari pokok pembicaraan kepada bagianbagiannya, seterusnya diuraikan kepada sub-subbagian. Ada tiga tipe analitis yakni
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

5

Satu Untuk UNM
klasifikasi, proses, dan sebab-akibat. Pola argumentasi, uraian dari evidensi sebagai premis menuju kesimpulan. Contoh Kasus 1 Sebagai seorang guru bahasa Indonesia, Anda meminta siswa menyusun sebuah karangan. Anda menyediakan tiga topik yang dapat mereka pilih salah satunya untuk dijadikan topik karangannya. Selain itu, Anda menetapkan panjang karangan yang akan disusun oleh siswa itu, yakni minimal 6 paragraf. Setelah hasil mengarang siswa Anda periksa, ternyata ada dua siswa menyusun gagasan agak teratur dan sistematis. Hanya satu siswa yang pengembangan gagasannya terarah, logis, dan mudah dipahami. Siswa-siswa yang lainnya menyusun karangan yang kacau urutan dan tidak dapat dipahami ujung pangkal gagasannya, serta banyak gagasan yang dibicarakan lebih dari satu kali. Instruksi: Susunlah materi pembelajaran menulis yang tepat sesuai dengan karakteristik masalah yang dihadapi oleh siswa Anda di atas. Langkah penulisan selanjutnya, barulah kita mengumpulkan bahan penulisan. Bahan penulisan yang kita kumpulkan berupa fakta, data, informasi, dan kesaksian yang dapat dipercaya. Caranya ialah kita mengumpulkan fakta, data, informasi, dan kesaksian dari orang yang mempunyai kredibilitas tinggi karena keahliannya dalam bidang itu serta mempunyai otoritas. Selain itu, kita dapat pula melakukan penelitian dan pengamatan langsung dengan jalan: (1) mengadakan penelitian lapangan berulang-ulang sehingga kita memperoleh data yang mantap dan tidak meragukan, (2) melakukan wawancara dengan berbagai narasumber dan responden, dan (3) membaca buku-buku yang berisi fakta dan informasi yang kita perlukan. Setelah fakta dan bukti terkumpul, tentu kita teliti dan kita nilai fakta, data, dan informasi yang betul-betul menunjang topik dan tujuan argumentasi. Tentu saja dalam hal ini diperlukan pikiran yang kritis dan logis. Tujuannya adalah kita dapat mengupas, menganalisis, membanding-bandingkan, dan menghubung-hubungkan fakta, data, dan informasi tersebut menjadi rangkaian pembuktian yang kuat dan sukar terbantahkan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam meneliti fakta, data, dan informasi, serta kesaksian diperlukan kemahiran dan ketajaman pikiran kita, sehingga kita dapat memilih bahan penulisan yang betul-betul memperkuat argumentasi agar tidak dapat dibantah oleh siapa pun.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

6

Satu Untuk UNM
Langkah selanjutnya adalah kita mengembangkan kerangka argumentasi menjadi karangan argumentasi. Mengembangkan kerangka argumentasi menjadi karangan argumentasi sama dengan kita mengembangkan kerangka eksposisi menjadi karangan eksposisi. Pada fase pengembangan karangan ini kita bisa menyajikannya dengan teknik argumentasi yang sesuai. Untuk itu, marilah kita ikuti uraian bagaimana teknik pengembangan karangan argumentasi berikut ini. 3) Teknik Pengembangan Paragraf Argumentasi Karangan argumentasi sering dikembangkan dari pemaparan hal-hal yang khusus untuk mencapai suatu generalisasi, dan kadang-kadang juga dibangun mulai dari pemaparan yang general (umum) ke pemaparan hal-hal yang khusus. Oleh karena itu, kita mengenal dua teknik pengembangan argumentasi yang dapat kita pilih, yaitu: (1) teknik induktif, dan (2) teknik deduktif. Teknik induksi ada tiga macam, yaitu (a) generalisasi, (b) analogi, dan (c) hubungan sebab-akibat. Contoh Kasus 2 Pak Ahmad guru Bahasa Indonesia pada salah satu sekolah di daerah pedesaan. Desa tempatnya mengabdi itu terbilang cukup damai dan indah. Hutan lindung yang ada di desa itu masih terjaga kelestariannya, tanpa dirusak oleh tangan-tangan warga yang tidak bertanggung jawab. Sawah ladang milik petani tetap terjamin kebutuhan pengairannya, sehingga produksi pertanian mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Warga desa secara berkala membersihkan lingkungan, terutama di sekitar tempat tiggalnya masing-masing agar terlihat tetap bersih dan nyaman. Sehingga, dapat dikatakan bahwa warga desa tersebut hidup sehat dan sejahtera. Pak Ahmad akan menyajikan materi pembelajaran menulis kepada siswanya. Susunlah materi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan ilustrasi di atas. e. Rangkuman Karangan argumentasi ditulis dengan maksud untuk memberikan alasan, untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Jadi, pada setiap karangan argumentasi selalu terdapat alasan (argumen) ataupun bantahan yang memperkuat ataupun menolak sesuatu secara sedemikian rupa guna mempengaruhi keyakinan pembaca. Penyusunan argumentasi diawali dengan menentukan topik, merumuskan tujuan, kemudian mencari bahan penulisan. Selanjutnya, penulis membuat kerangka karangan (isi) berdasarkan bahan yang telah terkumpul. Karangan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

7

Satu Untuk UNM
argumentasi dikembangkan dengan dua teknik, yaitu: (1) teknik induktif, dan (2) teknik deduktif. Pengembangan argumentasi dengan teknik induktif adalah penyusunan argumentasi yang dilakukan dengan mengemukakan lebih dahulu buktibukti kemudian diambil kesimpulan yang bersifat umum. Adapun pengembangan argumentasi dengan teknik deduktif dimulai dengan suatu kesimpulan umum yang kemudian disusul uraian mengenai hal-hal yang khusus. Alasan-alasan atau bukti-bukti yang terdapat dalam argumentasi deduktif ini disebut premis. f. Latihan Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1. Sebelum kita membuat sebuah karangan salah satu hal yang perlu kita lakukan adalah menyusun kerangka karangan. Sebuah kerangka karangan haruslah menggambarkan organisasi isi karangan, yakni cakupannya meliputi topik, subtopik, dan rincian-rinciannya. Anda membuat kerangka karangan dari topik ―Usaha Pelestarian Kebudayaan Daerah untuk Memperkuat Ketahanan Nasional di Bidang Kebudayaan‖ 2. Susunlah paragraf argumentasi utama berikut: a. Kenaikan TDL yang mencapai 30 % mengagetkan seluruh komponen masyarakat. b. Demokrasi kita masih transisi, sehingga banyak sekali menimbulkan persoalan. c. Lembaga sensor film harus bekerja dengan pertimbangan multiperspektif. Selamat bekerja. dengan mengembangkan kalimat utama-kalimat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

8

Satu Untuk UNM
2. Kegiatan Belajar 2 a. Karangan Persuasi b. Indikator Sasaran Anda mengkaji bagian modul ini adalah agar Anda memperoleh pengalaman belajar tentang menulis gagasan untuk meyakinkan atau mengajak pembaca bersikap atau melakukan sesuatu dalam bentuk paragraf persuasif. Secara khusus tujuan ini dijabarkan berikut ini. Dengan memahami karakteristik dan alat pengembangan persuasif Anda diharapkan mampu menyusun fakta dan data untuk mengajak atau meyakinkan pembaca. c. Strategi Pembelajaran Kemampuan yang tertera pada indikator tersebut memerlukan contoh dan latihan yang mantap untuk menguasainya. Oleh karena itu, agar berhasil menguasai kemampuan tersebut , bacalah dengan cermat uraian dan contoh, serta kerjakan latihan yang ada. d. Uraian Materi dan Contoh 1) Karakteristik Persuasi Dalam berkomunikasi sehari-hari kita mempunyai bermacam-macam tujuan. Salah satu tujuan kita berkomunikasi adalah menyampaikan pendapat atau agasan dengan tujuan mempengaruhi mitra wicara kita. Dengan kata lain, kita ingin mempengaruhi orang lain lewat komunikasi yang kita laksanakan. Bentuk komunikasi atau tuturan dapat dilaksanakan melalui kegiatan berbicara atau menulis. Komunikasi atau tuturan yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain inilah yang disebut persuasi. Persuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Jadi, karangan persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya-bujuk, berdaya-ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan keterguran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan oleh penulis. Dengan pengertian persuasi tersebut, kita sudah bisa membedakan antara persuasi dengan argumentasi. Hal lain yang membedakan antara persuasi dengan argumentasi adalah logika atau fakta. Logika atau fakta merupakan unsur penting dalam argumentasi. Sebaliknya, dalam karangan persuasi, di samping logika, perasaan juga memegang peranan penting. Di samping itu, karangan argumentasi memiliki ciri khas ialah karangan yang berupaya membuktikan suatu kebenaran sebagai digariskan dalam proses penalaran penulis. Sebaliknya, persuasi berusaha mencapai suatu persetujuan atau penyesuaian
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 9

Satu Untuk UNM
kehendak penulis dengan pembacanya; ia merupakan proses untuk meyakinkan pembaca supaya pembaca mau menerima apa yang diinginkan penulis. Pelaksanaan kedua jenis karangan ini sedikit berbeda. Karangan argumentasi biasanya dipakai pada karya ilmiah, pembuktian hiotesis, pemberian tanggapan dan saran. Sebaliknya, Karangan persuasi ini biasanya dipakai dalam dunia politik, pendidikan, advertensi, dan dunia propaganda. Untuk dapat menyusun karangan persuasi yang efektif diperlukan kemampuan menciptakan persuasi, yaitu kemampuan memanfaatkan alat-alat persuasi sebagai berikut: (1) bahasa, (2) nada, (3) detail, (4) pengaturan (organisasi), dan (5) kewenangan, menurut Akhmadi dalam (Suparno, 2008) Inilah alat-alat persuasi yang dapat kita dipakai untuk mengembangkan sebuah karangan persuasi. Studi Kasus 3 Pagi itu Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) sekolah tempat Anda mengajarkan Bahasa Indonesia mengundang Pembina KIR sekolah tetangga untuk menyampaikan salah satu fakta yang berkenaan dengan pelestarian alam. Semua siswa kelas 9 ikut menghadiri penyampaian Pembina KIR tersebut. Anda meminta mereka untuk mencatat detail fakta dan data dari penyampaian tersebut. Selanjutnya, fakta dan data yang siswa catat dikembangkan menjadi karangan persuasi. Keesokan harinya, Anda mengumpulkan catatan dan karangan siswa yang ada. Hasil pengamatan Anda menunjukkan bahwa umumnya catatan dan karangan siswa belum tepat, sehingga perlu penjelasan materi lebih lanjut. Susunlah materi pembelajaran menulis yang tepat dan sesuai dengan karakteristik masalah siswa Anda. e. Rangkuman Karangan persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya bujuk, berdaya-ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan oleh penulis. Untuk dapat menyusun karangan persuasi yang efektif diperlukan kemampuan menciptakan persuasi, yaitu kemampuan memanfaatkan alat-alat persuasi yang berupa: (1) bahasa, (2) nada, (3) detail, (4) pengaturan (organisasi), dan (5) kewenangan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

10

Satu Untuk UNM
f. Latihan Dengan memahami karakteristik persuasi susunlah fakta dan data yang berkenaan dengan bacaan di bawah ini. Fakta dapat berupa benda, peristiwa, atau sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi. Jika benda, peristiwa, atau kejadian itu hanya ada dalam angan-angan saja, itu adalah opini. Hati-hati terhadap Pengaruh Kebudayaan Asing Pengaruh kebudayaan asing melanda masyarakat Indonesia sejak dulu sampai kini baik di bidang sastra, musik, tari, sport, mode, film, dan gaya hidup. Dalam dunia sastra kita mengenai novel pop atau cerita detektif. Musik klasik, musik Hawaian sampai dengan hard rock Lama menguasai pencinta musik kita. Tari balet, breakdance sudah tidak asing lagi bagi kita. Jenis olahraga waitankung, joging, golf, tenis banyak dilakukan masyarakat. Mode pakaian maksi, midi, sampai mini silih berganti melanda muda-mudi kita. Gaya hidup memakai blue jeans, makan sosis, minum bir, dan pergi ke salon seakan-akan merupakan simbol modernitas yang setiap orang diajak menggapainya. Keadaan di atas merupakan kenyataan bahwa masuknya kebudayaan asing menimbulkan perubahan sikap mental yang justru hanya terbatas pada pola atau gaya hidup yang konsumtif. Pola berpikir produktif atau cara berpikir baru yang dituntut dalam kehidupan masyarakat modern yang sedang membangun hanya sedikit sekati menyentuhnya. Jika cara hidup kita bagi dalam tiga gotongan besar: cara berpikir, cara bekerja, dan cara hidup, maka akibat pengaruh budaya asing, cara hidup seorang Lebih cepat berubah daripada cara berpikir atau cara bekerjanya. Ironis sekati bila dalam masa pembangunan ini seseorang Lebih dahulu mengubah konsumsinya, sebelum ia mengubah apa yang dihasilkan atau bahkan sebelum ia mengetahui cara baru untuk menghasilkannya. Bagaimanakah sikap kita dalam menerima pengaruh kebudayaan asing? Kita tidak apriori menentang usaha-usaha untuk memperkaya kebudayaan kita selama sesuai dengan unsur-unsur dan norma-norma kesusilaan kita. Dalam mempertimbangkan unsur-unsur mana yang dapat memperkaya ataupun merusak kebudayaan kita, maka Pancasila merupakan alat seleksi setajam-tajamnya. Aktivitas kebudayaan nasional kita, baik dalam bidang kesusastraan maupun dalam cabang kesenian Lain bahkan gaya hidup, harus selalu mencerminkan jiwa dan watak nasional dan bersumber pada amanat keluhuran budi nenek moyang kita serta
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

11

Satu Untuk UNM
sesuai dengan tuntutan bangsa yang sedang membangun. Seluruh aktivitas kebudayaan nasional harus bernada teleskopi. Artinya, melihat ke jarak jauh, sambil memupuk jiwa percaya kepada kekuatan diri sendiri serta tetap berakar pada Pancasila. Oleh karena itu, hati-hatilah terhadap pengaruh kebudayaan asing, jangan sampai membuat kita tercerabut dari akar kebudayaan bangsa sendiri. 2. Kembangkanlah kembali fakta dan data yang telah Anda susun di atas menjadi karangan persuasi.

DAFTAR BACAAN Akhadiah, Sabarti. 1997

Materi Pokok 5: Pengembangan Paragraf. Jakarta:

Universitas Terbuka. Keraf, Gorys. 1997. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah. --------- 1987. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia. Suparno dan Muhammad Yunus. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. Syafi‘ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta : P2LPTK, Dirjen Dikti, Depdikbud. Syafi‘e, Imam dan Imam Subana. 1996. Terampil Berbahasa Indonesia 1 untuk

Sekolah Menengah Umum Kelas 1. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

12

Satu Untuk UNM
II. KEBAHASAAN A. Pendahuluan Kompetensi profesional bahasa Indonesia secara garis besarnya memuat tiga kompetensi utama, yakni kompetensi menulis, kompetensi kebahasaan, dan kompetensi kesastraan. Modul ini difokuskan pada salah satu dari tiga kompetensi profesional tersebut, yakni kompetensi kebahasaan. Kompetensi kebahasaan dalam modul ini disusun untuk menganalisis berbagai komponen kebahasaan dalam berbagai bentuk tulisan. Komponen kebahasaan tersebut meliputi sajian materi: ejaan, kata, frasa, kalimat, dan paragraf. Keseluruhan komponen kebahasaan tersebut diarahkan pada satu indikator esensial yakni menganalisis ragam bahasa baku. Berdasarkan pemetaan tersebut, modul ini diperuntukkan untuk menganalisis ragam bahasa baku dalam tataran kebahasaan: ejaan, kata, frasa, kalimat, dan paragraf. B. Kegiatan Belajar 1. Kegiatan Belajar 1 a. Judul Menganalisis bahasa baku berdasarkan ejaan yang disempurnakan (EYD) b. Indikator 1) Menganalisis ragam bahasa baku dalam ejaan; 2) Menganalisis ragam bahasa baku dalam penulisan kata. c. Uraian Materi dan Contoh Sebagian kalangan menganggap bahwa penggunaan bahasa Indonesia baku kurang komunikatif, kurang bergengsi, dan tidak sesuai dengan era globalisasi untuk digunakan di semua lini kehidupan masyarakat. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar sebab bahasa Indonesia baku hanya salah satu dari beberapa ragam bahasa yang digunakan dalam beraneka macam situasi kemasyarakatan. Namun, dalam situasi formal, penggunaan bahasa Indonesia mutlak digunakan. Semua yang terlibat dalam aktivitas pembelajaran di sekolah pun hendaknya menyadari hal ini sehingga pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung di dalam koridor yang sesuai dengan hakikat bahasa Indonesia dan tujuan pembelajarannya. Selain bahasa Indonesia baku, ada bahasa Indonesia tidak baku yang dapat dikelompokkan ke dalam berbagai jenis, seperti dialek, jargon, slang. Akan tetapi, kalangan yang berkecimpung di dalam lingkungan sekolah khususnya kelas ada saatnya dituntut mengikuti tata tertib berbahasa Indonesia baku dengan cara menyeleksi unsur-unsur yang tidak diperlukan. Situasi ini menimbulkan masalah tersendiri karena kenyataannya bahasa baku dan tidak baku tersebut digunakan secara bersilang satu sama lain, bahkan campur
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 13

Satu Untuk UNM
baur dan saling melengkapi atau sebaliknya saling menggantikan. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia baku menuntut kemampuan akademik tersendiri sebab tidak secara otomatis setiap yang dapat berbahasa Indonesia juga mampu berbahasa baku. Bagi guru bahasa Indonesia, bahasa Indonesia baku harus benar-benar mereka pahami karakteristiknya sebelum mereka ajarkan dan gunakan sekaligus. Wujud bahasa Indonesia baku dapat dikenali secara jelas, tetapi tidak mungkin untuk diidentifikasi khasanahnya satu per satu dari fonem sampai kalimatnya. Selain dapat dikenali bentuknya, bahasa Indonesia baku, seperti halnya bahasa baku pada umumnya diisyaratkan memiliki sifat kemantapan dinamis dan kecerdekiaan (Moeliono, 1978) serta penyeragaman (Alwi, dkk. 1993). Sifat kemantapan dinamis adalah adanya aturan yang tetap yang tidak dapat berubah setiap saat. Sifat kecendekiaan artinya perwujudan dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Selanjutnya, penyeragaman yang dimaksud adalah proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyeragaman variasi bahasa. Kridalaksana (2001:25) mengemukakan bahwa bahasa baku atau standar adalah ragam bahasa atau dialek yang diterima untuk dipakai dalam situasi resmi yang dianggap paling baik, seperti dalam perundang-undangan, surat menyurat resmi, berbicara di depan umum dan sebagainya. Bahasa bahasa baku atau satndar dapat juga berarti bahasa persatuan dalam masyarakat bahasa yang mempunyai banyak bahasa. Bahasa baku memiliki empat fungsi utama. Pertama, fungsi pemersatu artinya bahasa baku mampu mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa dan meningkatkan proses identifikasi setiap seorang dengan seluruh masyarakat itu. Kedua, fungsi memberi kekhasan artinya bahasa baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa yang bersangkutan. Ketiga, fungsi membawa kewibawaan atinya usaha sesorang mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi lewat pemerolehan bahasa baku sendiri. Keempat, fungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa dengan adanya norma dan kaidah (yang dikodifikasi yang jelas). Norma dan kaidah itu menjadi tolok ukur bagi betul tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau golongan. Dengan demikian, penyimpangan norma dan kaidah dapat dinilai. Bahasa baku juga menjadi kerangka acuan bagi fungsi estetika bahasa yang tidak saja terbatas pada bidang susastra, tetapi juga mencakup segala jenis pemakaian bahasa yang menarik perhatian karena bentuknya yang khas, seperti di dalam pemakaian kata, iklan, dan tajuk berita. Agar dapat menggunakan bahasa Indonesia baku dengan tepat, kita perlu memahami ciri-cirinya. Adapun ciri-ciri bahasa Indonesia baku adalah: (1) pemakaian prefiks
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 14

Satu Untuk UNM
me- dan ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten; (2) pemakaian fungsi gramatikal (subjek, predikat, dan sebagainya) secara eksplisit dan konsisten; (3) pemakaian konjungsi

bahwa dan karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten; (4) pemakaian pola frasa verbal
aspek + agen + verba (bila ada) secara konsisten; (5) pemakaian konstruksi sintesis: (6) pemakaian pertikel –kah dan pun (bila ada) secara konsisten; (7) pemakaian unsur-unsur leksikal atau kata-kata secara baku; (8) menghindari pemakaian unsur gramatikal dialek regional atau unsur gramatikal bahasa dareah; (9) pemakaian Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dalam penulisan huruf, angka, tanda baca, dan penulisan kata; dan (10) penggunaan kalimat efektif. Analisis ragam bahasa baku dalam tataran ejaan meliputi: penulisan huruf, penggunaan tanda baca, dan penulisan angka serta lambang bilangan. Penulisan huruf meliputi dua kaidah utama, yakni (1) huruf besar atau huruf kapital; dan (2) huruf miring. Penulisan angka dan lambang bilangan mengikuti beberapa kaidah antara lain: (1) angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab dan angka Romawi. (2) Angka digunakan untuk menyatakan ukuran, panjang, berat, isi, satuan waktu, dan nilai uang; (3) Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat; (4) angka digunakan untuk menomori karangan atau bagiannya; (5) penulisan lambang bilangan, meliputi bilangan utuh, bilangan pecahan, bilangan tingkat, bilangan yang mendapat akhiran –an; (6) lambang bilangan yang dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan seperti dalam pemerincian dan pemaparan; (7) lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu susunan kalimatnya diubah sehingga bilangan, yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat; (8) angka yang menunjukkan bilangan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca; (9) kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta atau kwitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks; dan (10) kalau bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Tanda titik digunakan untuk: (1) mengakhiri kalimat berita atau pernyataan; (2) akhir singkatan, gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan; (3) akhir singkatan nama orang; (4) memisahkan angka jam, menit, dan detik; dan (5) memisahkan nama penulis, tahun penerbitan, dan judul buku dalam penulisan daftar pustaka. Tanda koma digunakan untuk: (1) memisahkan unsur-unsur dalam suatu perincian; (2) memisahkan kalimat setara, yang ditandai dengan kata penghubung tetapi, melainkan, dan sedangkan; (3) memisahkan anak kalimat dari induknya jika anak kalimat itu
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 15

Satu Untuk UNM
mendahului induk kalimatnya; (4) menandati penghubung antarkalimat; (5) memisahkan kata seru; (6) memisahkan bagian-bagian kalimat yang ditulis ke samping; dan (7) mengapit keterangan tambahan. Analisis ragam bahasa baku dalam tataran kata meliputi penulisan kata dasar, penulisan kata turunan, penulisan kata ulang, penulisan gabungan kata, penulisan kata depan, penulisan kata sing dan sang, penulisan kata ganti –ku, -mu, dan –nya, dan penulisan partikel. Kekeliruan yang kadang dialami dalam penulisan kata meliputi dua bentuk utama. Pertama, menuliskan kata secara terpisah yang seharusnya ditulis serangkai. Kedua, menuliskan kata secara serangkai yang seharusnya ditulis terpisah. Contoh pasca sarjana bertepuktangan

seharusnya seharusnya

pasacasarjana mempertanggungjawabkan bertepuk tangan

mempertanggung jawabkan seharusnya

Dalam proses pembelajaran, kesalahan pengajaran bahasa baku, khususnya aspek ejaan dan penulisan kata terletak pada pendekatan yang digunakan. Pengajaran ejaan jarang diintegrasikan dalam berbagai materi pembelajaran bahasa Indonesia. Akibatnya, ketika seorang guru bahasa Indonesia mengajarkan tentang paragraf, misalnya, guru kadang melupakan penggunaan ejaan. d. Latihan 1) Dalam era globalisasi dewasa ini, sering kali siswa enggan menggunakan bahasa Indonesia baku. Mereka lebih senang menggunakan bahasa Indonesia ragam gaul atau bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh dialek daerah. Kebiasaan tersebut sering pula terbawa ketika mereka berada dalam forum resmi, atau ketika mereka berkomunikasi dengan orang-orang semestinya mereka hargai, seperti guru. Bagaimana sikap Anda sebagai seorang guru bahasa Indonesia menghadapi kenyataan tersebut? ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

16

Satu Untuk UNM
2) Pak Ahmad seorang guru bahasa Indonesia. Pada saat ia mengajarkan materi tentang penulisan karya ilmiah, salah satu bagian yang dijelaskan adalah penulisan kata pengantar. Untuk memperjelas penjelasannya, ia memberikan sebuah contoh kata pengantar. Karena terfokus pada substansi tulisan, Pak Ahmad tidak memperhatikan penggunaan bahasa baku pada kata pengantar itu. Berikut ini disajikan kutipan kata pengantar tersebut. KATA PENGANTAR Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada tuhan yang maha esa atas segala rahmat yang telah dilimpahkannya. sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas I mts sunan kalijogo malang melalui strategi pemetaan pikiran. Tesis ini merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia yang penulis tempuh pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini, penulis senantiasa mendapat dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas segala dukungan dan bimbingan yang telah diberikan. Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada bapak Prof, Dr. H. Syukur ibrahim M.PD. selaku pembimbing ke-I. ….. a) Bagaimanakah pendapat Anda tentang sikap Pak Ahmad dalam memberikan contoh pada bagian kata pengantar tersebut? ………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………… b) Analisislah penggunaan bahasa baku dalam kutipan tersebut dengan melengkapi kolom berikut ini! No Kesalahan Ejaan Seharusnya Alasan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

17

Satu Untuk UNM
3) Bu Ani mengajarkan materi fakta dan opini dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Untuk membedakan kalimat fakta dan opini, ia mengambil contoh wacana dari koran Harian Fajar, tepatnya dari kolom tajuk. Tajuk tersebut selanjutnya ditulis ulang oleh Bu Ani untuk ditayangkan melalui LCD. Karena terfokus pada penataan kalimat fakta dan opini, Bu Ani mengabaikan penulisan bahasa baku, khususnya penulisan kata. Akibatnya, wacana yang ditayangkan Bu Ani mengandung banyak kesalahan penulisan kata. Wacana tersebut disajikan sebagai berikut. MUNGKIN sebagian besar dari pendidik atau semua pendidik ber pendapat bahwa karakter peserta didik dapat di bentuk melalui proses belajar mengajar (learning proses) formal disekolah. Sama halnya, barangkali tak ada yang berkebaratan kalau pendidikan ber karakter terhadap peserta didik dapat di lakukan diluar jalur formal sekolah. Dengan kata lain, pendidikan karakter peserta didik seharusnya di cakup oleh pendidikan formal sekolah dan non formal diluar sekolah. Selain pendidikan agama saja atau pendidikan budipekerti saja, secara simultan pendidikan agama dan budipekerti dapat di lekatkan (built-in process) pada pendidikan karakter melalui semua mata pelajaran. Pendidikan kejujuran dapat di bangun melalui pelajaran matematika. Peserta didik harus jujur sebagai mana kebenaran yang di berikan dalam matematika. Pendidikan untuk bersikap sebagai orang beriman dapat di lakukan melalui pelajaran fisika, biologi, geografi, dan sastra. Peserta didik dapat menerima pemahaman kesadaran dan sikap untuk memuliakan sangpencipta-nya yang telah menganugrahkan umat manusia, aneka isi alam yang dapat di teliti melalui ilmu ilmu yang bersangkutan. Tanpa alam dengan segala isinya yang dapat di pelajari, umat manusia mustahil dapat hidup dan bertahan hidup. Oleh karena itu, peserta didik harus berusaha menyebar luaskan ilmu yang diperolehnya sebagai wujud pertanggungan jawab mereka kepada sangpencipta. ….

Fajar (Tajuk), 17 April 2010 (Disadur dan dimodifikasi untuk keperluan PLPG)

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

18

Satu Untuk UNM
a) Analisislah kesalahan pembentukan/penulisan kata yang terdapat dalam kutipan tajuk tersebut! No Kesalahan penulisan kata Seharusnya Alasan

b) Tampillah secara bergiliran untuk membacakan hasil pekerjaan Anda! c) Peserta yang lain menyimak dan memberikan tanggapan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

19

Satu Untuk UNM
2. Kegiatan Belajar 2 a. Judul b. Indikator 1) Menganalisis ragam bahasa baku dalam pembentukan frasa 2) Menganalisis ragam bahasa baku dalam penyusunan kalimat 3) Menganalisis ragam bahasa baku dalam penyusunan paragraf c. Uraian Materi dan Contoh 1) Menganalisis Ragam Bahasa Baku dalam Frasa Analisis ragam bahasa baku dalam tataran frasa pada dasarnya melingkupi tiga persoalan utama, yakni batasan frasa, jenis-jenis frasa, dan penggunaan frasa dalam kalimat. Frasa lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sifatnya nonpredikatif. Berdasarkan definisi tersebut, frasa dapat dikenali berdasarkan dua ciri utama, yakni: (1) wujudnya berupa gabungan kata, dan (2) sifatnya nonpredikatif. Penekanan gabungan kata mengisyaratkan bahwa sebuah frasa itu pasti terdiri atas lebih dari satu kata. Sedangkan sifat nonpredikatif mengisyaratkan bahwa frasa hanya mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam sebuah kalimat. Jenis frasa dapat ditinjau dari dua segi, yakni (1) hubungan antarunsur pembentuknya dan (2) kategori inti frasa. Berdasarkan hubungan antarunsurnya, dikenal istilah: (a) frasa eksosenteris; (b) frasa endosentris; (c) frasa koordinatif; dan (d) frasa apositif. Berdasarkan kategori inti frasanya, dikenal istilah: (a) frasa verbal; (b) frasa nominal; (c) frasa pronominal, dan (d) frasa numeralia. Dalam uraiannya, ada kalanya kedua dasar penjenisan ini saling melengkapi. Kesulitan yang sering dihadapi guru dalam mengajarkan materi frasa pada umumnya berkisar pada kesulitan membedakan jenis-jenis frasa berdasarkan kategori inti frasanya. Sebuah frasa nomina, kadangkala dikategorikan serbagai frasa adjektiva, atau frasa pronominal. Hal tersebut seringkali berdampak pada kesulitan menentukan pola kalimat dalam suatu paragraf. 2) Menganalisis Ragam Bahasa Baku dalam Kalimat Analisis ragam bahasa baku dalam tataran kalimat meliputi: pola dasar kalimat, jenisjenis kalimat, dan kalimat efektif. Pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia terdiri atas: (1) S-P, (2) S-P–O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-Ket, (5) S-P-O-Pel, dan (6) S-P-O-Ket. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut. : Menganalisis Bahasa Baku Berdasarkan Unsur-unsur Kebahasaan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

20

Satu Untuk UNM

Contoh Fungsi Tipe S-P S-P –O S-P-Pel S-P-Ket S-P-O-Pel S-P-O-Ket Subjek
Farhan Kehidupannya Orang itu Kami Ibu Ibu Ainun

Predikat
Belajar dilindungi Bertubuh akan pergi Membelikan Melayani

Objek
pemerintah adik kami

Pelengkap Keterangan
raksasa boneka -

besok pagi dengan baik

Dalam kaitannya dengan analisis pola kalimat, perlu pula dipahami analisis kategori , fungsi, dan peran setiap unsur yang terdapat dalam setiap kalimat. Bentuk, kategori, fungsi, dan peran dalam kalimat adalah aspek yang berbeda satu sama lain. Fungsi merupakan ―tempat‖ dalam struktur kalimat dengan unsur pengisi berupa bentuk (bahasa) yang tergolong dalam kategori tertentu dan mempunyai peran semantik tertentu pula. Bentuk Kategori kata Kategori frasa Fungsi Peran Contoh Kakak tidak menjahit Celana baru N FN Subjek pelaku Adv FV Predikat Perbuatan V N FN Objek Sasaran Adj untuk kami Prep FPrep Pelengkap Peruntung N minggu N FN Keterangan Waktu lalu V

Analisis selanjutnya, diarahkan pada kemampuan membedakan berbagai jenis kalimat. Dalam bahasa Indonesia, ada berbagai jenis kalimat antara lain: (1) kalimat ambigu, (2) kalimat logis, (3) kalimat pasif dan aktif, (4) kalimat langsung dan taklangsung, (5) kalimat mayor dan minor, (6) kalimat majemuk, (7) kalimat tanya, dan (8) kalimat inversi. Kalimat dapat disebut efektif jika memenuhi kriteria: (1) unsur-unsurnya lengkap; (2) informasinya jelas; (3) bentuk dan maknanya sejajar; (4) pilihan katanya cermat; dan (5) polanya variatif. Kalimat yang efektif harus memiliki unsur-unsur yang lengkap dan unsur-unsur tersebut dinyatakan secara eksplisit. Untuk itu, kalimat yang efektif sekurang-kurangnya harus memiliki unsur subjek dan predikat. Agar kelengkapan itu terpenuhi, subjek pada awal kalimat hendaknya tidak didahului kata depan, predikat kalimatnya jelas, dan tidak terdapat pemenggalan bagian kalimat. Di samping itu, ungkapan penghubung dalam kalimat mejemuk juga harus dinyatakan secara eksplisit. Sebagai catatan akhir pada bagian ini perlu dikemukakan bahwa dalam proses penyusun kalimat, pemakai bahasa tidak hanya dituntut untuk mampu menguasai kaidah tata bahasa, tetapi dituntut pula untuk mampu memilih kata-kata secara tepat, cermat, dan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 21

Satu Untuk UNM
serasi. Dengan menguasai kaidah dan kemampuan memilih kata secara tepat, pemakai bahasa diharapkan dapat menyusun kalimat secara lebih tepat dan efektif. 3) Menganalisis Ragam Bahasa Baku dalam Paragraf Paragraf merupakan rangkaian beberapa kalimat yang mengandung satu kesatuan gagasan. Analisis ragam bahasa baku dalam tataran paragraf meliputi: kriteria paragraf yang baik, dan teknik pengembangan paragraf. Dalam penulisan bahan ajar, paragraf dapat dikategorikan sebagai paragraf yang baik jika memenuhi lima kriteria. Kelima kriteria yang dimaksud adalah: (1) adanya satu kesatuan gagasan; (2) adanya kepaduan hubungan antarkalimat; (3) adanya ketuntasan informasi; (4) adanya konsistensi sudut pandang; dan (5) adanya keruntutan penyajian. Selain penguasaan penyusunan paragraf sesuai dengan criteria paragraph yang baik, seorang guru bahasa Indonesia juga dituntut untuk mampu mengembangkan paragraf dengan berbagai teknik pengembangan paragraph secara bervariasi. Dengan kompetensi ini, diharapkan guru dapat membimbing siswa untuk mengembangkan keterampilan menulis mereka secara kreatif melalui penguasaan berbagai jenis pengembangan paragraf. Adapun teknik pengembangan paragraf yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia, antara lain meliputi pengembangang paragraf secara: (1) deduktif, (2) induktif, (3) klasifikasi, (4) definisi, (5) analogi, (6) pemberian contoh, dan (7) penyajian fakta. d. Latihan 1) Bacalah dengan cermat penggalan wacana berikut! Tiga minggu yang lalu sekolah kami mendapat jatah seorang guru bahasa Indonesia. Guru kami yang baru itu sangat disiplin. Jika ada siswa yang datang terlambat, ia tidak mengizinkan siswa tersebut mengikuti mata pelajaran yang diajarkannya. Suatu hari seorang siswa yang memang dikenal malas itu tidak mengerjakan PR yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. Tanpa banyak komentar guru yang disiplin itu langsung menyuruh siswa tersebut meninggalkan kelas. a) Carilah frasa yang menggunakan pola: [nomina + persona + yang + adjektiva + penunjuk] dalam penggalan wacana tersebut! b) Susunlah sebuah frasa yang sepola dengan frasa yang terdapat pada bagian a.! c) Gunakanlah frasa yang telah Anda susun dalam kalimat dengan fungsi: (1) subjek (2) objek (3) keterangan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

22

Satu Untuk UNM
…………………………………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… 2) Seorang guru bahasa Indonesia sedang mengajarkan materi mengenai jenis-jenis paragraf. Untuk menguji pemahaman siswa tentang kemampuannya membedakan jenis paragraf deduktif dengan iduktif, ia lalu menguliskan sebuah paragraf di papan tulis. Tanpa disadari ternyata paragraf tersebut memuat beberapa kalimat yang tidak efektif. Berikut penggalan paragraf yang ditulis oleh guru tersebut. (1) Siswa yang akan mengikuti Olimpiade Fisika di tingkat nasional misalnya siswa yang telah lulus seleksi tingkat provinsi. (2) Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa siswa yang tidak disaring melalui seleksi tingkat provinsi biasanya tidak dapat diandalkan di tingkat nasional. (3) Penentuan siswa peserta olimpiade harus dilakukan secara ketat melalui seleksi. (4) Sehingga tidak memerlukan banyak waktu untuk membina dan mengembangkan bakatnya. (5) Menurut ketua panitia Olimpiade tingkat nasional mengatakan bahwa setiap peserta harus mendapat persetujuan dari kepala sekolah dan dinyatakan lulus seleksi tingkat provinsi. (6) Oleh karena itu, sebelum peserta tersebut dikirim, peserta tersebut sudah harus dinayatakan lulus seleksi dan mendapat persetujuan dari kepala sekolah. (7) Hal tersebut adalah merupakan salah satu langkah nyata meningkatkan mutu pendidikan. a) Tentukan jenis-jenis ketidakefektifan yang terdapat dalam kalimat-kalimat tersebut! b) Susunlah kembali kalimat-kalimat tersebut sehingga menjadi kalimat yang efektif! c) Tentukan pola kalimat yang telah Anda susun tersebut! Jawab ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

23

Satu Untuk UNM
3) Lengkapilah kolom berikut untuk meningkatkan pemahaman Anda tentang penyusunan, pola, dan jenis kalimat! Pola Kalimat S-P S-P –O S-P-Pel S-P-Ket S-P-O-Pel S-P-O-Ket 4) Susunlah masing-masing sebuah paragraf dengan tema Pendidikan dan Latihan Profesi Guru sesuai dengan teknik pengembangan paragraf berikut! a. pengembangn deduktif b. pengembangan induktif c. pengembangan dengan klasifikasi d. pengembangan analogi e. pengembangan dengan contoh ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………… Contoh Kalimat Jenis Kalimat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

24

Satu Untuk UNM
DAFTAR ISTILAH Frasa : gabungan kata yang sifatnya nonpredikatif yang hanya mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam sebuah kalimat. Frasa apositif: frasa koordinatif yang kedua unsurnya saling merujuk sesamanya, sehingga komponennya dapat saling dipertukarkan. Frasa eksosentris adalah jenis frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya, sehingga tidak dapat saling menggantikan. Frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Frasa koordinatif: frasa yang unsur-unsurnya pembentuknya terdiri atas dua unsur atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik … maupun …, makin … makin …. Kalimat ambigu: kalimat yang mempunyai makna/penafsiran ganda sehingga menimbulkan kerancuan atau kekacauan. Kalimat efektif: kalimat yang jelas, mudah dipahami, dan tersusun secara sistematis sesuai dengan kaidah yang berlaku. Kalimat inversi: kalimat yang predikatnya mendahului subjek. Kalimat logis: yaitu kalimat terpadu, kohesi (merujuk pada perpautan bentuk) dan koherensi (merujuk pada perpautan makna). Paragraf deduktif: paragraf yang kalimat utama atau ide pokok diletakkan pada awal paragraf. Paragraf induktif: paragraf yang kalimat utama atau ide pokok diletakkan pada akhir paragraf.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

25

Satu Untuk UNM
DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah. Kosasih. 2004. Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia. Kridalaksana, Harimurti. 2003. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Nurdin, Ade dkk. 2002. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Setia Pustaka. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1975. Pedoman Umum Ejaan Bahasa

Indonesia

Yang

Disempurnakan.

Jakarta:

Departemen

Pendidikan

dan

Kebudayaan. Pusat Penilaian Pendidikan. 2004. Bahasa Indonesia. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasional. Tim Dosen Bahasa dan Sastra Inodesia UNM. 2008. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian

Bahasa Indonesia. Makassar: Badan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia
dan Daerah UNM. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Verhaar, J.W.M. 2008. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

26

Satu Untuk UNM
III. KESASTRAAN A. PENDAHULUAN 1. Deskrispi Singkat Para peserta PLPG, selamat bergabung kembali dengan kami dalam materi pembelajaran Kesastraan. Materi ini merupakan lanjutan dari materi sebelumnya, yakni Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Menulis, dan Kebahasaan yang telah anda pelajari sebelumnya. Penyajian materi ini dimaksudkan untuk mengajak peserta agar bisa melakukan apresiasi berbagai jenis karya sastra, yakni cerpen atau novel dan puisi. Dalam modul ini tidak diuraikan materi lengkap yang berkaitan dengan kesastraan. Oleh karena itu, Anda diharapkan mencari, membaca, dan memahami lebih jauh mengenai apresiasi berbagai jenis karya sastra, terutama teori-teori apresiasi cerpen atau novel dan puisi. Pada bagian ini Anda akan mempelajari analisis unsur-unsur cerpen atau novel dan puisi. Dari materi ini, peserta akan melakukan analisis terhadap cerpen atau novel dan mere-kreasi bentuk-bentuk puisi. Materi ini akan sangat bermanfaat bagi peserta sebagai bekal pengetahuan mengajar kelak di sekolah-sekolah. Materi ini sangat relevan untuk dikenali dan dipahami oleh anakanak yang di sekolah, terutama dalam pengajaran sastra. Sebelum mempelajari materi ini, sebaiknya Anda mempelajari rambu-rambu yang tertuang dalam materi ini. Hal ini diharapkan agar Anda tidak kehilangan arah dalam mempelajari materi yang diuraikan nanti. Materi ini diharapkan akan sangat bermanfaat bagi pengembangan teori, keterampilan dan pembelajaran apresiasi sastra. Dengan mempelajari materi ini, Anda diharapkan memperoleh: (1) pengetahuan bagi peningkatan profesionalisme yang terus berkembang, (2) pengembangan wawasan yang berbasis kompetensi, dan (3) pemahaman yang mendalam tentang teori, keterampilan, dan pembelajaran sastra di sekolah-sekolah. Di samping itu, materi ini juga sangat relevan sebagai bekal pengetahuan untuk mengajarkan sastra di sekolah-sekolah. Oleh karena itu, melalui materi ini Anda diharapkan memiliki kemampuan untuk mengembangkan kompetensi yang meliputi pengetahuan dan keterampilan untuk mengapresiasi karya sastra. Hal ini sejalan dengan tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tentang pengajaran sastra. 2. Standar Kompetensi dan Subkompetensi Standar Kompetensi : menapresiasi berbagai jenis karya sastra Subkompetensi : 1. menganalisis unsur-unsur cerpen atau novel 2. mere-kreasi bentuk puisi

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

27

Satu Untuk UNM
B. KEGIATAN BELAJAR 1. Kegiatan Belajar 1 a. Judul b. Indikator : Unsur-unsur cerpen : Menganalisis unsur-unsur cerpen

c. Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran yang digunakan dalam PLPG ini diorientasikan pada strategi kontekstual. Strategi kontekstual ini dijabarkan dalam tujuh elemen utama, yakni: 2) Inkuiri (inquiry) 3) Pertanyaan (questioning) 4) Konstruktivistik (contructivism) 5) Pemodelan (modeling) 6) Masyarakat belajar (learning community) 7) Penilaian autentik (authentic assessment) 8) Refleksi (relection) d. Uraian Materi dan Contoh 1) Pembahasan Cerpen Silahkan Anda membaca cerpen berikut. Cerpen berjudul Si Kakek dan Burung Dara karya Mohammad Fudoli diterbitkan Horison, Th. I No. 1, Juli 1966. Silakan Anda membaca dengan seksama. Si Kakek dan Burung Dara

Mohammad Fudoli

Si kakek berdiri di ambang pintu. Ia sedang menunggu menantunya datang dan pasar membeli kembang. Sudah dari tadi ia berdiri di situ dan menantunya belum juga datang-datang. Sekarang hari Jum‘at, pagi sekira jam delapan dan si kakek akan pergi ke kuburan. Di sebelah utara itu di atas kaki sebuah bukit, di situ istrinya terbaring di dalam bumi. Itu satu setengah bulan yang lalu sebagai satu permulaan, dan permulaan itu tak akan berakhir hingga Tuhan membangkitkan kembali manusia-manusia dari liang kubur. Si Kakek memang percaya pada Tuhan, sebab ia yakin bahwa ialah yang menghidupkan dan mematikan segenap makhluk yang ada di alam ini. Sebab itu ia harus tidak menyesali atau setidak-tidaknya harus tidak teramat sedih atas kematian istrinya. Kehilangan adalah sesuatu yang memang mesti terjadi, dan setiap manusia memang harus benar-benar menyadarinya. Si kakek memandang ke Timur. Matanya kini melampaui pagar halaman, melintasi ladang jagung, dan melalui sela-sela rumpun bambu ia menampak seorang perempuan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

28

Satu Untuk UNM
berjalan tergesa-gesa. Itu dia sudah datang, pikir si kakek. Kembang yang dibelinya tentulah kembang yang harum, dan biar cuma sedikit ia akan menaburkannya di atas pusara istrinya. Si kakek mengelus-elus jenggot pendeknya yang sudah putih, lalu masuk sebentar ke dalam dan kemudian kembali berdiri lagi di ambang pintu itu. Perempuan yang sedang berjalan di pematang ladang itu adalah menantunya. Perempuan itu adalah istri anak kandungnya. Adalah sesuatu yang memang merawankan hati, bahwa anaknya yang cuma satu itu telah pergi mendahuluinya. Setahun yang lalu perempuan itu harus menjadi seorang janda. Setahun yang lalu si kakek mesti mencatat dalam hatinya sebuah kehilangan yang sudah tidak dapat dielakkannya lagi. Anaknya yang laki-laki itu telah meningggal dalam suatu perlombaan karapan sapi, dan sekarang istrinya pun telah menyusulnya pula. Si Kakek masih berdiri di ambang pintu, lalu melangkah ke halaman dan tatkala dilihatnya perempuan itu muncul di situ, ia segera menyapanya. Kenapa lama? – Penjualnya belum datang — sahut si perempuan. Perempuan itu membawa sebuah bungkusan daun, di dalamnya terdapat beraneka macam kembang dan bungkusan itu diberikannya kepada Si Kakek. - Si buyung ke mana? — tanya si kakek. Si buyung adalah cucunya yang laki-laki, anak perempuan itu. Mungkin sedang pergi mengaji —jawab Si perempuan. - Sekarang hari Jum‘at. Anak-anak tidak mengaji. Mungkin sedang bermain Perempuan itu masuk ke dalam rumah dan si kakek memanggil-manggil: -Buyung! Buyung! Tapi tak seorangpun yang ada menyahuti panggilannya itu. Si kakek merasa amat kesal. Pada hari Jum‘at seperti ini ia biasa membawa cucunya itu ikut bersama dia berjiarah ke kuburan. Tiba-tiba dari arah samping rumah muncul seorang anak kecil sambil tertawa-tawa. Si kakek membalikkan tubuhnya. Dari mana sejak tadi? - tanyanya. Dari ladang — jawab anak kecil itu. Ladang mana? – Anak itu mengacungkan tangannya dan memperlihatkan beberapa tongkol buah jagung. - Dapat mana? — tanya si kakek. -PakGopar Engkau minta? – Aku diberi –
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 29

Satu Untuk UNM
- Awas, jangan engkau minta-minta Anak itu mendekat sambil mengupas jagungnya sebuah, dan kulitnya dilemparkannya di pinggir halaman itu. Buat apa? — tanya Si Kakek. Buat makan burung dara -jawab anak itu. Nanti saja. Sekarang kita ke kuburan – Tadi sudah kuberi makan semua – Sambil tersenyum-senyum dipegangnya bahu anak itu, lain Si Kakek mengajaknya ke luar halaman. Anak itu berbalik. Aku ingin memberi makan burung dara itu dulu — katanya. Burung itu tidak lapar - tukas Si Kakek. Tapi si kelabu harus kuat. Harus bisa cepat terbang dan menukik. Nanti sore kakek akan rnengadunya – - Tidak nanti sore, tapi besok – Anak itu rupanya merasa agak tidak puas sebab kakeknya baru akan mengadu si kelabu — burung dara kesayangannya itu — besok. Padahal sudah beberapa hari burung itu tidak pernah-pernah diadu. Namun anak itu cuma diam saja. Dan ketika si kakek menyuruh ia menaruh jagungnya dulu di dalam, ia pun segera lari dan tak seberapa lama kemudian muncul lagi dengan wajah yang bersinar-sinar. -Ketepilmu jangan lupa‘ — seru Si Kakek. Tidak!Anak itu menunjukkan ketepilnya. Mereka berjalan ke luar halaman, melewati pematang ladang jagung, lain membelok ke utara. Matabari sudab muiai meninggi. Langit cerah dan angin bertiup dan arah timur. Sekarang mereka melewati dua petak ladang jagung dan si kakek menoleh pada cucunya. Kita sudah akan memetik, buyung — katanya. PakGopar sudah-kata anak itu. Ia menanam duluan – Anak itu beijalan di samping kakeknya, tangan kanannya memegang ketepil dan tangan kirinya berpegangan pada lengan Si Kakek. Tiba-tiba ia menyendal lengan kakeknya sedikit. - Aku ingin memetik jagung itu — katanya. Untuk apa — tanya Si Kakek. Aku ingin jagung bakar – Tiap hari engkau rninta jagung bakar – Jagung itu enak dan manis –
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 30

Satu Untuk UNM
Dilihatnya Si Kakek tersenyum-senyum sambil memandang ke arah ladangnya. - Ya kakek? – Si kakek mengangguk, dan anak itu jadi kegirangan. - Sekarang? tanyanya. - Nanti saja pulangnya, Mereka terus berjalan ke utara, Di dekat sebatang pohon jambu anak itu melihat seekor burung kepodang. Segera ia mencari sebuah batu kecil, lain cepat-cepat membidiknya. Tapi sebelum batu itu terlepas, dilihatnya burung kepodang itu sudah terbang dan anak itu merasa amat kecewa. - Burung itu mengerti! — gerutunya. - Engkau terlalu tergesa-gesa — kata Si Kakek. Burung itu licik! – Si kakek tersenyum lagi, lalu dielus-elusnya kepala anak itu dan katanya mengalih: Besok kita pergi mengadu burung dara – Anak itu menoleh dan seketika kekecewannya seperti hilang. - Si kelabu pasti menang — katanya. — Si kelabu pintar tebang cepat dan menukik. Pasti yang lain kalah semua – Kepunyaan Pak Carik? – Pasti kalah juga. Tempo hari dengan si kelabu kan sudah pernah dicoba? -Memang si kelabu — burung dara kesayangan Si kakek — memang tidak ada yang bisa menandinginya di desa ini. Meskipun kepunyaan Pak Carik sekalipun yang sudah terkenal cepat terbangnya itu. - Tapi kenapa kakek tidak pernah bertaruh? - anak itu memegangi lengan kakeknya. - Bertaruh? —Si Kakek tersenyum. - Ya. Si kelabu selalu menang, dan uang kakek nanti tentu banyak – - Bertaruh tidak baik, buyung – - Kenapa? Merusak dan uangnya tidak halal – - Aku tidak mengerti – - Tanyakan pada Kyai Mahmud. Tentu ia akan menerangkannya – Rupanya anak itu masih belum mengerti. Ia tertunduk dan mengerutkan dahinya beberapa lama. - Apa kakek diberitahu kyai Mahmud? - tanyanya kemudian.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

31

Satu Untuk UNM
- Ya. Dulu kakek tidak tahu. Dulu kakek masih muda, kakek biasa juga bertaruh. Tapi sekarang tidak. Kyai Mahmud bilang, bertaruh dan pekerjaanpekeijaan merusak lainnya, adalah dilarang Tuhan – - Tapi banyak orang-orang yang suka bertaruh – - Apa Kyai Mahmud tidak bilang begitu padamu? - tanya si kakek, - Tidak — jawab anak itu. - Kapan-kapan tentu ia bilang. Tanya gurumu – - Tak pernah rnemecutku dengan lidi – - Karena engkau selalu salah jika mengaji. Engkau harus rajin dan sungguh-sungguh supaya engkau lekas pintar – Sekarang anak itu sudah berumur enam tahun. Tahun depan ia mesti sudah memasuki sekolah Ia harus betul-betul rajin bersekolah, pikir si kakek, supaya kelak bisa menjadi seorang yang pandai. Ia pun harus pula rajin mengaji dan juga bekerja. Si kakek ingin agar cucunya tidak seperti dia sendiri yang telah banyak menyia-nyiakan masa mudanya. Cucunya harus menjadi seorang yang dapat ia banggakan sebelurn ia menutup matanya yang penghabisan. Ia telah gagal dengan anaknya sendiri, dan sekarang anaknya sudah tidak ada. Si kakek melirik pada anak itu dan katanya: Ajianmu sekarang sudah sampai dimana Bismillah — jawab anak itu. Alhamdu belum? – belum Coba bacakan yang sudah Anak itu membacakan keras-keras sambil memandang ke arah langit. Dan ketika sudah selesai berpaling sejurus pada kakeknya. - Usin sudah hampir hatam — katanya. — Sebentar lagi akan mengadakan selamatan di rumahnya dan akan menyembelih ayam – Engkau juga harus begitu – - Usin besar, aku masih kecil – Mereka sudah dekat pada sebuah kali yang sudah hampir kering airnya. Di musim hujan air kali ini cukup banyak dan malah sering juga meluap. Di situ ada sebuah jembatan bambu, dan si kakek serta cucunya pelan-pelan lewat di atasnya. Tak seberapa jauh dan jembatan Si kakek menoleh dan dilihatnya cucunya tidak ada. Ia bingung. - Buyung‘ Engkau ada di mana? — serunya. Tak ada sahutan dan ia tambah bingung. - Buyung! Engkau di mana? — serunya lagi tarnbah keras. - Di sini! — anak itu menyahut dan balik rumput jagung.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

32

Satu Untuk UNM
Si kakek melihat rumpun jagung tak jauh dari tempatnya bergerak-gerak. Ia merasa lega. Sedang apa engkau disitu? – Kencing? — sahut anak itu. Tiba-tiba si kakek tersenyum lebar sendirian. Setan belang! — gerutunya. — Lekas – Anak itu muncul dan balik rumpun jagung sambil tertawa-tawa, lalu berlari-lari ke arah kakeknya. Di sebelah utara adalah sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Mereka sudah hampir sampai di sana. Tiga petak ladang lagi kaki bukit akan sudah mereka injaki. Si kakek memandang ke bukit itu. Jika ia memandang bukit itu dan jarak yang dekat, dekatnya terasa ada bergoncangan. Sekarang ia mulai menunduk. Ia tahu, di bukit itu terkubur anak Ielakinya yang cuma satu-satunya ia miliki. Di bukit itu pula terkubur seorang perempuan yang telah mengisi seluruh hatinya. Marliah nama perempuan itu Nama yang begitu merdu dan begitu nikmat jika ia menyebut-nyebutnya. terlebih-lebih dimasa mudahnya dulu, Perempuan itu membantu ibunya menjual kembang di pasar. Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi jika ia mengenang sekarang, ia merasa bahwa itu baru saja kemarin sore. Ia berumur dua puluh tahun. Ketika suatu kali ia pergi kepasar, di situ dengan tak tersangkasangka ia beradu pandang dengan perempuan itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu lembut, agak pemalu dan ayu. Ia ingat semua sifat-sifat perempuan itu biar sekarang. Sejak itu ia sering pergi ke pasar, walau tak ada keperluan apapun. Ia datang ke situ cuma karena ingin bertemu pandang dengan perempuan itu, kemudian untuk melihat dia tertunduk kemalu-maluan. Sekali pernah juga ia memberanikan dia pura-pura membeli kembang, dan dilihatnya perempuan itu gugup. Ia sendiri merasa sekujur badannya bergetar dan ia hampir tak dapat bersuara. Alangkah lucunya itu dan alangkah tololnya ia dulu. Ia ingat juga tatkala suatu kali dengan resmi ia telah betunangan dengan perempuan itu. Tatkala malam-malam ia tak dapat memejamkan mata karena selalu terkenang padanya. Juga ia ingat kepada lelaki yang tinggi besar itu yang sering mengganggu perempuanperempuan, termasuk juga istri orang lain, tetapi tak ada seorang pun yang berani padanya di desa. Kepada lelaki itu ia memang ada menaruh dendam di dalam dadanya. Sejak ia tahu bahwa lelaki itulah yang pernah menghina dan menganiaya bapaknya. Lalu suatu hari dilihatnya lelaki itu mengganggu pula tunanganya ketika sedang berjualan di pasar. Bukan main panas hatinya kala itu. Dengan darah mudanya yang mendidih ia pulang, lalu mengambil pisaunya dan mengasahnya tajam-tajam. Ditungguinya
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 33

Satu Untuk UNM
lelaki itu di bawah pohon di sebuah jalan yang menanjak tak jauh dari kereta api. Biasanya jika pulang lelaki itu lewat di jalan ini, jalan yang sepi di antara ladang-ladang jagung. Lelaki itu datang dari jauh. Ia melihat, sebab waktu itu matanya masih muda dan tajam dan memang ia mengenal gaya lelaki itu berjalan. Ia tahu, badan lelaki itu jauh Iebih tinggi dan badannya sendiri, dan ia berpikir-pikir bagaimana caranya menikam nanti. Kepalanya belum mencapai bahu lelaki itu. Tapi ia sama sekali tidak gentar. Ia tunggu lelaki itu sampai dekat. Lalu ia melompat dan secepat itu ia menikam lelaki itu pada lambung kirinya. Lelaki itu tidak sempat mengelak dan ia rubuh melintang jalan. Waktu itu tengah hari. Ketika ia melihat lelaki itu rubuh ia merasa amat puas, sebab dendamnya telah tertumpah. Lalu pelan-pelan ia pulang dan pisaunya dibiarkannya di situ terletak di tanah. Kemudian waktu alat-alat negara mencari siapa yang menikam lelaki itu, iapun datang dan mengatakan dialah yang menikamnya. Dikatakannya juga tentang sebabsebab mengapa ia menikam lelaki itu, dan ia sama sekali tidak takut akan hukuman yang pasti akan ditimpakan padanya. Seluruh desa menjadi gempar dan orang sangat kagum akan keberaniannya. Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi perempuan itu memang setia. Ya, perempuan itu memang setia padanya. Meskipun beberapa tahun ia harus meringkuk di dalam penjara, namun akhirya ia kawin juga dengan perempuan itu. Lama-lama ia dikaruniai seorang anak perempuan, tapi meninggal waktu masih kecil. Lalu lahir pula seorang anak lelaki, anaknya yang kedua dan juga anaknya yang penghabisan. Sekarang ia sudah tua. Dan dalam ketuaannya ini ia merasa amat menyesal atas segala perbuatannya yang duludulu Ia merasa banyak berdosa dan ia akan selalu tobat kepada Tuhan. - Kita sudah sampai! — kata anak itu. Si kakek seperti terpental dan memandang ke muka. Jalanan mulai mendaki dan dimukanya nampak sekelompok kuburan. - Ya, kita sudah sampai — kata si kakek Kakek mau berdoa? — tanya si anak. Tentu saja, buyung – Jika pula. Sekarang aku datang kepadamu Marliah, bisik Si kakek dalam hatinya. Aku datang padamu sekarang. Lain ia komat-kamit membaca sesuatu, lain mengangkat kedua belah tangannya dan ia mencoba mendoa sebisa-bisanya. Di situ dikenangnya perempuan itu. Di situ dikenangnya anak lelakinya, penunggang sapi yang jatuh di dalam gelanggang. Waktu itu tiga pasang sapi sedang berlomba dalam babak terakhir, dan anaknya terpotong ditengah mau berdoa jangan panjang-panjang, biar kita lekas pulang Si kakek tersenyun sebentar, lalu menjongkok dan anak itupun turut menjongkok

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

34

Satu Untuk UNM
oleh sapi lawannya, lain ia lepas terseret dan tertindas oleh sapi yang satunya lagi Ya, di situ ia mengenang segala-galanya. Selesai mendoa perlahan ia bangkit, dan kembang yang dibawanya tadi ditaburkannya di situ. Mula-mula di atas pusara istrinya. Ditaburkannya kembang kenanga dan ia berbisik dalam hatinya: inilah kembang kesayanganmu dulu, Marliah. Lain ditaburkannya melati: inilah kembang kecintaanmu, wahai perempuan yang pemalu. Dan matanya sekarang mulai nampak berkilat-kilat, berkaca-kaca oleh air mata yang tergenang. Cepat-cepat ia menaburkan sisa kembang itu pada kuburan anaknya, berdiri sebentar menundukkan kepala, lalu bergegas pergi menuruni bukit itu. Tiba di ladang yang tadi, dibiarkannya cucunya memetik beberapa tongkol buah jagung. Pulangnya itu mereka hampir saja bercakap-cakap. Sudah biasa jika pulang dan kuburan si kakek nampak murung dan anak itu rupanya mengerti. Hari itu lepas asar si kakek memberi makan burting daranya di halaman. Sepasang burung itu amat disayanginya, dielus-elusnya setiap han. Burung dara itu satu-satunya penghibur kakek dan dia, terlebih-lebih pada hari-hari murung belakang ini. Besok si kakek hendak mengadunya dan burung itu tentu tak akan terkalahkan. Tapi betapa renyah hati si kakek tatkala esoknya selesai bersubuh ia pergi ke halaman menengok burung kesayangannya itu. Dilihatnya pintu rumah-rumahan burung dara itu telah terbuka dan di dalamnya cuma tinggal seekor dan yang betinanya pula. Di bawah situ dilihatnya bulu-bulu binatang itu — ya, bulu-bulu binatang jantannya — teriak terserak-serak Bulu-bulu itu juga berceceran satu dua sampai di luar halaman. Musang! — gerutu si kakek. Tidak mungkin binatang itu bisa membuka pintu empat burung dara, pikirnya. Kemarin aku teiah menutupnya baik-baik. Si Kakek merasa gemas, lain ia berseru-seru memanggii menantunya. Perempuan itu datang terburu-buru dan tatkala ia melihat apa yang teiah terjadi, iapun jadi tertegun. Siapa yang membuka pintu itu? — tanya Si Kakek Mungkin si buyung - kata perempuan itu agak gugup. – Kemarin hampir tenggelarn matahari saya lihat dia memberi makan burung dara. Mungkin ia lupa menutup pintu itu kembali. Dipanggilnya si buyung dan anak itu datang, lalu tercengang melihat bulu-bulu berserakan dan akhirnya ia tertunduk. Engkau yang memberi makan burung-dara itu kemarin? — tanya si kakek. Ya — jawab anak itu hampir tak terdengar. - Kenapa tidak kau tutup kembali piatunya?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

35

Satu Untuk UNM
-Lupa Hah engkau buyung, bisik si kakek dalam hatinya. Sekiranya engkau bukan cucuku Sekiranya engkau bukan cucuku ........! Lalu dicobanya untuk melunakkan kegemasannya sendiri, didekatinya anak itu dan katanya tidak lagi keras: Ya sudahlah. Pergilah mengaji

Anak itu masih saja tertunduk ketika ia berjalan mengambil kitab sucinya. Juga ketika

ía melangkah ke luar halaman dan berjalan ke arah selatan. Tidak, aku tidak rnarah padanya, pikir si kakek. Aku tidak harus marah padanya, Lalu pelan ía menjongkok. Diambilnya selembar bulu hurungdara kesayangannya itu, lalu perlahan ia melangkah masuk ke dalam. Wajahnya kelihatan sedih dan murung. Di dalam ia duduk termangu di atas balaibalai. Horison, Th. I No. 1, Juli 1966 Pernahkan Anda membaca cerpen yang berjudul Si Kakek dan Burung Dara? Bagaimanakah kesan Anda setelah membaca cerpen di atas? Coba ceritakan pengalaman Anda dengan kawan-kawan setelah membaca cerpen di atas! Adakah manfaat yang bisa didapatkan dari membaca cerpen yang berjudul Si Kakek dan Burung Dara? Para peserta yang berbahagia, sebagaimana telah Anda ketahui bahwa yang dimaksud cerpen atau cerita pendek adalah cerita fiksi bentuk prosa yang singkat padat, yang unsur ceritanya berpusat pada satu peristiwa pokok sehingga jumlah tokoh dan pengembangan perilakunya terbatas dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal. Menurut Rosidi (dalam Badrun, 1983), cerpen merupakan cerita yang pendek dan merupakan suatu kebulatan ide. Kriteria cerita yang pendek menarik disimak pernyataan Jassin (1985). Tentang pendek ini, kata Jassin, orang boleh bertengkar, tapi cerita yang seratus halaman panjangnya sudah tentu tidak bisa disebut cerita pendek dan memang tidak ada cerita pendek yang demikian panjangnya. Cerita yang panjangnya sepuluh atau dua puluh halaman masih bisa disebut cerita pendek. Akan tetapi, ada juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu halaman, bahkan Sudjiman Ed. (1984) membatasi jumlah kata dalam cerpen ini. Menurutnys, cerita pendek ialah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan kesan tunggal yang dominan; cerita pendek memusatkan diri pada suatu tokoh dalam satu situasi, pada satu ketika. Sementera itu, Esten (1990) lebih melihat cerpen merupakan pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Dari suatu fragmen kehidupan manusia, tidak dituntut terjadinya suatu perubahan nasib dari pelaku-pelakunya. Hanya suatu lintasan dari secercah kehidupan manusia yang terjadi pada suatu kesatuan waktu. Hal ini sejalan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 36

Satu Untuk UNM
dengan apa yang dikemukakan Ambo (1984) yang menyatakan cerpen ialah jenis cerkan yang melukiskan sebagian kecil kehidupan pelakunya. Contohnya: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar. Jika demikian kenyataannya, ciri-ciri cerita berikut: (1) pendek dapat ditampakkan sebagai Jumlah kata cerita pendek kurang dan 10.000 kata; (2) Cerita pendek hanya

menyajikan satu kesan tunggal yang dominan; (3) Cerita pendek memusatkan diri pada seseorang pelaku utama; (4) Cerita pendek mengisahkan suatu peristiwa hanya dari satu segi saja; (5) Cerita pendek mengandung satu konsepsi pengarang tentang kehidupan masyarakat; (6) Persoalan yang dikemukakan harus singkat, padat, dan hangat; dan (7) Cerita pendek hanya mengandung satu ketegangan atau puncak peristiwa. Perbedaan cerpen dengan novel juga dikemukakan oleh Semi (1988) bahwa sebuah cerpen pada dasarnya menuntut adanya perwatakan jelas pada tokoh cerita. Sang tokoh merupakan ide sentral dari cerita; cerita bermula dari sang tokoh dan berakhir pula pada ―nasib‖ yang menimpa sang tokoh itu. Membaca sebuah cerita pendek berarti kita berusaha memahami manusia bukan sekedar ingin mengetahui bagaimana jalan ceritanya, melainkan juga ingin mengetahui sifat dan perbuatannya. Berbeda dengan sebuah novel, yaitu kedudukan perwatakan dan jalan cerita berada dalam satu keseimbangan, ibarat dua sisi dari satu mata uang. Setiap cerita tentu ada temanya. Semakin baik bentuk cerita, semakin jelas temanya. Tema adalah makna karya sastra secara keseluruhan. Tema disebut juga sebagai ide sentral atau makna sentral suatu cerita. Tema merupakan jiwa cerita. Secara sederhana, alur dapat didefinisikan sebagai sebuah rangkaian cerita dalam cerita rekaan yang menunjukkan hubungan sebab akibat. Jadi, rangkaian cerita itu merupakan suatu susunan yang membentuk kesatuan yang utuh. Keutuhan itu juga menyangkut masalah logis atau tidaknya suatu peristiwa. Peristiwa-pergaiistiwa yang ada, tetapi yang tidak disusun berdasarkan hukum sebab akibat, tidak dapat disebut alur, melainkan cerita (story) (Pradopo, dkk., 1985: 17). Berdasarkan bentuknya, alur dapat dibedakan menjadi alur lurus dan alur sorot balik. Alur lurus berarti suatu peristiwa yang disusun dengan model pembesaran awal-tengah-akhir, yang diwujudkan dengan ekspresi – komplikasi – kimaks – peleraian – penyelesaian. Pelaku dalam suatu cerita rekaan mempunyai tugas untuk melaksanakan atau membawa tema cerita ke sasaran tertentu. Oleh karena itu, bila ada cerita yang tidak ada pelakunya kian sulit menggiring masalah ke tujuan yang akan dicapai. Ada dua jenis pemilihan tokoh, yaitu tokoh utama atau tokoh sentral dan tokoh bawahan. Menurut Stanton (dalam Pradopo, 1985: 190), tokoh utama senantiasa relevan dalam setiap peristiwadi dalam
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 37

Satu Untuk UNM
suatu cerita. Dengan istilah lain, tokoh utama itu disebut protagonis, sedangkan tokoh bawahan disebut juga tokoh antagonis. Kalau dilihat dari wujudnya, pelaku dalam cerita rekaan itu dapat berupa manusia atau binatang. Sebenarnya pelaku binatang pun merupakan simbolisasi manusia. Umumnya pengarang lebih banyak memilih manusia sebagai pelaku cerita karena manusia memiliki kemungkinan perkembangan watak dengan berbagai aspeknya. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya ialah motivasi yang mendasari semua sikap dan perbuatan tokoh tidak boleh bertentangan dengan sifat dasar pelaku. Perlu diingat, bahwa cerita rekaan yang berbobot tidak semata-mata ditentukan oleh alur saja, melainkan juga dapat ditentukan oleh perwujudan penokohannya. Ada dua metode yang dapat melukiskan perwatakan pelaku dalam sebuah cerita rekaan, yaitu analitik dan dramatik. Maksud penampilan tokoh secara analitik adalah pengarang secara langsung menganalisa watak pelaku dan sekaligus memberikan pemerian secara langsung (termasuk cara ini adalah pemerian bentuk jasmani pelaku (phisycal description) dan analisis pengarang secara langsung terhadap pelaku (direct outhor analysis). Maksud penampilan tokoh secara dramatik adalah pengarang membiarkan para pelakunya bergerak sendiri secara dinamis. Dengan cara demikian, pembacalah yang harus menafsirkan perwatakan pelaku yang dihadapi atas dasar cakapan para tokoh, lukisan situasi sekitar pelaku, reaksi tokoh terhadap tokoh utama, dan reaksi tokoh terhadap peristiwa yang dihadapi. Dalam sebuah cerita rekaan, latar dapat dikategorikan ke dalam latar sosial, latar geografis atau tempat, dan latar waktu atau historis. Dalam hubungan ini Hudson membagi latar menjadi latar sosial dan material. Yang dimaksud latar sosial yaitu latar yang menyangkut status seorang tokoh dalam kehidupan sosial. Kedudukan tokoh itu bisa saja menduduki posisi sebagai pegawai, pedagang, petani, priyayi, agamawan, pelajar, guru, buruh, pembantu, pengangur, pencopet, penjudi, dan lain-lain. Kemudian, apabila status dan pekerjaan semacam itu digolong-golongkan lagi menurut tingkatannya menjadi: a. tokoh dengan latar sosial rendah;b. tokoh dengan latar sosial menengah; dan c. tokoh dengan latar sosial tinggi. Yang dimaksud latar tempat atau geografis, yaitu latar yang berhubungan dengan masalah tempat suatu cerita terjadi. Wujud latar ini secara kongkrit dapat menunjuk: (a) latar pedesaan, (b) latar kota, dan (c) latar pantai; tepi sungai, sawah, asrama, warung dan rumah makan. Yang dimaksud latar waktu atau historis, yaitu latar yang selalu berkaitan dengan saat berlangsungnya suatu cerita; bisa pada (a) pagi, siang, sore, senja, atau malam hari, (b) hari dan tanggal tertentu, (c) bulan dan tahun tertentu, dan (d) latar waktu yang tidak jelas (dengan kata-kata: pada suatu saat, pada suatu ketika, di suatu tempat, dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

38

Satu Untuk UNM
sebagainya). Latar waktu ini begitu penting di dalam suatu cerita rekaan karena tidak mungkin ada suatu rentetan peristiwa tanpa hadirnya sang waktu. e. Rangkuman Carpen, singkatan dari carita pendek. Cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Ukuran pendek di sini diartikan sebagai bacaan dapat dibaca sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam. Dikatakan pendek juga karena genre ini hanya mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks. Selanjutnya dijelaskan bahwa cerita pendek masih dapat dibagi pula dalam tiga kelompok, yaitu cerita pendek, cerita pendek yang panjang, dan cerita pendek yang pendek. Pada umumnya cerita pendek yang pajang diistilahkan long short-story dan cerita pendek yang pendek diistilahkan short-short-story. f. Latihan Para peserta, baru saja Anda telah mempelajari carpen. Selanjutnya, sebelum Anda membaca materi selanjutnya, terlebih dahulu kerjakanlah latihan di bawah ini! Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Jelaskan tema cerita yang terdapat dalam Cerpen Si Kakek dan Burung Dara karya Muhammad Fudoli? 2. Bagaimanakah karakter tokoh kakek dalam Cerpen Si Kakek dan Burung Dara karya Muhammad Fudoli? 3. Bagaimanakah alur cerita dalam Cerpen Si Kakek dan Burung Dara karya Muhammad Fudoli? 4. Dimanakah setting atau latar cerita Cerpen Si Kakek dan Burung Dara karya Muhammad Fudoli? 5. Apakah hubungan antara Si Kakek dan Burung Dara dalam Carpen Si Kakek dan Burung

Dara karya Muhammad Fudoli!
6. Konfilik apakah yang terjadi antara Si Kakek dan cucunya dalam Carpen Si Kakek dan

Burung Dara karya Muhammad Fudoli? Bagaimana tanggapan Anda?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

39

Satu Untuk UNM
2. Kegiatan Belajar 2 a. Judul b. Indikator : Merekreasi Bentuk Puisi : Mengubah bentuk puisi

c. Uraian Materi dan Contoh Para peserta yang berbahagia, berikut ini disajikan sebuah puisi yang Berrjudul Surat dari Ibu karya Asrul Sani. Selamat membaca! Doa

Kepada Pemeluk Teguh
(Chairil Anwar) Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu Biar susah sungguh mengingat kau penuh seluruh caya-Mu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Surat dari Ibu (Asrul Sani) Pergi ke dunia luas, anakku sayang Pergi ke hidup bebas! Selama angin masih angin buritan dan matahari pagi masih menyinari daun daunan dalam rimba dan padang hijau Pergi ke laut lepas anakku saying Pergi kea lam bebas Selama hari belum petang Dan warna senja belum ke merah-merahan Menutup pintu waktu lampau Jika baying telah pudar Dan elang laut pulang ke sarang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 40

Satu Untuk UNM
Angin bertiup ke benua Tiang-tiang akan kering sendiri Dan nakhoda sudah tahu pedoman Boleh engkau datang padaku Kembali pulang, anakku sayang Kembali ke balik malam Jika kapalmu telah rapat ke tepi Kita akan bercerita ―tentang cinta dan hidupmu pagi hari‖

Tanah Kelahiran (Ramadhan K.H.) (Adalah) seruling di pasir tipis, merdu (di) antara gundukan pohonan pinang (.) (dan) tembang (pun) menggema di dua kaki. (antara) Burangrang (dan) Tangkubangparahu (Adalah) (juga) jamrut di pucuk-pucuk. (dan) Membeli tangga di tanah merah (yang) dikenal (oleh) gadis-gadis dari bukit (yang) nyanyikan kentang sudah digali. (dan) (yang) kenakan kebaya merah pewayangan. (Demikianlah) jamrut (itu) di pucuk-pucuk (dan) Jamrut (itu) di hati gadis menurun. Pemberian penanda pertalian tersebut tidak mutlak senangtiasa dilakukan. Mere-

kreasi atau memparafrasekan sebuah puisi dapat dilakukan tanpa pembubuhan penanda. Dalam hal ini, yang penting harus diingat adalah bahwa paraphrase itu tidak boleh menyimpang dari makna puisi yang diparafrasekan.

Para peserta yang berbahagia, bagaimana kesan Anda setelah membaca puisi di atas? Apa yang Anda rasakan setelah membaca sajak di atas? Senangkah Anda membacanya?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

41

Satu Untuk UNM
Kita tentunya telah sering mendengar kata puisi, tetapi setiap kali diminta untuk menjelaskan pengertian puisi sering kali menjumpai kesulitan karena begitu banyaknya ragam puisi. Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ―membuat‟ atau poeisis ―pembuatan‟, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan ―membuat‟ dan ―pembuatan‖ karena lewat puisi pada tahun 1980-an dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah. Dengan mengutip pendapat Mc Caulay, Hudson mengungkapkan bahwa puisi atau adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Rumusan pengertian puisi di atas, sementara ini dapatlah kita terima karena kita sering kali diajuk oleh suatu ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca puisi. d. Rangkuman Puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan makna kias dan makna lambang (majas). Dibandingkan dengan bentuk karya sastra yang lain, puisi yang lebih bersifat konotatif. Bahasanya lebih banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan terjadinya pengkonsentrsian dan pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi juga padat, keduanya bersenyawa secara padu. e. Latihan 1. Analisislah puisi berikut berdasarkan unsur-unsur instrinsiknya! Kwatrin Tentang Sebuah Poci Pada keramik tanpa nama itu Kulihat kembali jiwamu Mataku belum tolol, ternyata untuk suatu yang tak ada Apa yang berharga pada tanah liat ini Selain separuh ilusi Sesuatu yang kelak retak Dan kita membikinnya abadi
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 42

Satu Untuk UNM
2. Parafrsekanlah puisi berikut ini! Surat dari Ibu (Asrul Sani) Pergi ke dunia luas, anakku sayang Pergi ke hidup bebas! Selama angin masih angin buritan dan matahari pagi masih menyinari daun daunan dalam rimba dan padang hijau Pergi ke laut lepas anakku saying Pergi kea lam bebas Selama hari belum petang Dan warna senja belum ke merah-merahan Menutup pintu waktu lampau Jika baying telah pudar Dan elang laut pulang ke sarang Angin bertiup ke benua Tiang-tiang akan kering sendiri Dan nakhoda sudah tahu pedoman Boleh engkau datang padaku Kembali pulang, anakku sayang Kembali ke balik malam Jika kapalmu telah rapat ke tepi Kita akan bercerita ―tentang cinta dan hidupmu pagi hari‖

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

43

Satu Untuk UNM
DAFTAR PUSTAKA Enre, Ambo, Fachruddin. 1984. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Makassar. IKIP Ujungpandang. Pradopo, Rahmat Djoko. 1999. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Semi, Atar. 1994. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa. Sudjiman, Panuti (ed). 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Jambatan. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

44

Satu Untuk UNM
MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA IV. MERANCANG PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA A. Pendahuluan Selamat bergabung dengan kami dalam Pendidikan dan Pelatihan Profesionalisme Guru (PLPG) Bahasa Indonesia. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kompetensi Anda sebagai guru bahasa Indonesia khususnya dalam mengajarkan keterampilan mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis yang meliputi: penguasaan latihan pembelajaran keterampilan berbahasa (teknik, langkah-langkah media, dan penilaian), penguasaan konsep-konsep atau pengetahuan dan wawasan pengembangan profesi. Apakah keterampilan berbahasa perlu diajarkan? Pertanyaan ini sering muncul dalam benak para guru bahasa Indonesia. Rasanya keterampilan berbahasa selalu terkait dengan keterampilan lainnya, Bagaimana dengan pendapat Anda? Perlu disadari bersama bahwa keterampilan berbahasa sangat memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat maupun di sekolah karena hampir sebagian waktu yang ada digunakan untuk kegiatan berbahasa. Hal ini berarti bahwa kemampuan berbahasa pun secara langsung berpengaruh terhadap keberhasilan dalam pembelajaran. Kemampuan berbahasa pun secara langsung akan memengaruhi hasil belajar yang akan dicapai siswa. Keberhasilan atau kegagalan kemampuan berbahasa tidak terlepas dari peran guru dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru bahasa Indonesia harus dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik. Agar proses belajar mengajarkan keterampilan berbahasa berhasil dengan baik, maka dalam bahan pendidikan dan pelatihan ini narasumber mencoba membahas beberapa contoh dan latihan keterampilan berbahasa serta strategi pembelajarannya. Oleh sebab itu, setelah peserta PLPG mempelajari dan memahami bahan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyimak. Deskripsi Singkat Sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dan dikembangkan oleh guru bahasa Indonesia, maka bahan latihan ini bertujuan agar Anda memiliki kompetensi mengajarkan keterampilan berbahasa ddan mengintegrasikannya dengan aspek kebahasaan dan kesastraan menguasai strategi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dan Daerah. Setelah mempelajari bahan pelatihan ini, diharapkan Anda memperoleh manfaat sebagai berikut:
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 45

serta

Satu Untuk UNM
a. Memperoleh wawasan baru tentang konsep pembelajaran menyimak dari berbagai bahan simakan; b. Mengembangkan pengetahuan yang dapat meningkatkan profesionalisme Anda sebagai guru bahasa Indonesia yang harus kreatif; c. Menerapkan berbagai strategi pembelajaran menyimak yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. B. Kegiatan Belajar 1. Kegiatan Belajar 1 a. Judul: Merencanakan Pembelajaran Mendengarkan (Menyimak) b. Indikator: 1) Mampu melakukan latihan-latihan keterampilan menyimak dari berbagai bahan simakan; 2) Mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan 3) Mampu c. Strategi: Workshop d. Uraian Materi dan Contoh Menyimak dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting karena dengan menyimak seseorang dapat memperoleh informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Begitu pula di sekolah, menyimak mempunyai peranan penting karena dengan menyimak siswa dapat menambah ilmu, menerima dan menghargai pendapat orang lain. Oleh karena itu, dalam pembelajaran menyimak diperlukan latihan yang intensif. Sebagai seorang guru yang menjadi fasilitator bagi siswa dalam pembelajaran menyimak, Anda seharusnya menguasai keterampilan itu dan dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa. Paling tidak, keterampilan Anda sebagai seorang guru lebih tinggi dibandingkan siswa supaya dapat melatihkan keterampilan menyimak seperti yang diharapkan dalam pencapaian standar isi kurikulum standar kompetensi (KTSP). Berdasarkan kompetensi dasar dalam standar kompetensi mendengarkan yang terdapat dalam standar isi KTSP mata pelajaran Bahasa Indonesia, ada beberapa materi yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan mendengarkan (menyimak), antara lain: 1) menyimak wawancara 2) menyimak pidato
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

berbagai

model

pembelajaran model

yang

sesuai

dengan

karakteristik peserta didik; mempraktikkan berbagai pembelajaran menyimak berdasarkan KTSP.

46

Satu Untuk UNM
3) menyimak laporan perjalanan 4) menyimak dialog, 5) menyimak pembacaan puisi 6) menyimak pembacaan dongeng, dan 7) menyimak membacaar cerita pengalaman Berikut ini disajikan contoh materi pembelajaran tersebut dengan teknik pembelajarannya. 1) Menyimak Wawancara Menyimak wawancara merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk melatih kepekaan siswa dalam menerima dan mencari informasi. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung keterampilan berbahasa lainnya, seperti berbicara dan menulis. Pembelajaran menyimak wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara dan teknik penyajian. Misalnya, menyimak langsung atau tidak langsung yaitu menyimak rekaman dari kaset atau video. Berikut ini disajikan salah satu teknik penyajian pembelajaran menyimak wawancara dengan kegiatan berikut. a) Menyimak Wawancara dan Mencatat Hal Penting dan Menarik Topik yang dibicarakan dalam wawancara tentu selalu berbeda. Hal tersebut bergantung pada apa yang dibutuhkan oleh si pewawancara dan si pendengarnya. Wawancara akan menarik apabila sipendengar merasa bahwa topic yang dibicarakan itu baru/aktual dan dibutuhkan. Berikut ini akan diperdengarkan sebuah wawancara. Simaklah dengan baik wawancara tersebut. Sambil menyimak, silakan Anda mencatat informasi penting dan menarik yang terdapat dalam wawancara. Untuk itu, gunakanlah format berikut ini!

(1) Tema/Topik (2) Narasumber (3) Pewawancara (4) Isi wawancara (a) Pembuka (b) Isi (c) Penutup
Setelah Anda

: : : : : : :
informasi penting dan menarik, silakan Anda

b) Melaporkan Hal Penting dan Menarik menemukan mengelompok dan mendiskusikan hal-hal penting dan menarik yang terdapat dalam
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 47

Satu Untuk UNM
wawancara tadi. Perhatikan hal penting dan menarik mulai dari permulaan wawancara sampai berakhirnya wawancara. Setelah selesai, masing-masing wakil dari setiap kelompok melaporkan hasilnya, kelompok lain memberikan tanggapan. Berdasarkan tanggapan tersebut, Anda dapat memperbaiki hasil kerja kelompok. c) Menyimpulkan Hasil Wawancara Anda telah menemukan informasi penting dan menarik bukan? Silakan Anda membuat kesimpulan dari hasil wawancara tadi. Cara yang dapat Anda lakukan untuk menyimpulkan hasil wawancara adalah mengembangkan hal-hal penting yang telah Anda catat dengan menggunakan tanda penghubung yang tepat. Setelah selesai, tukarkanlah pekerjaan Anda dengan pekerjaan teman Anda dengan memperhatikan kesesuaian isi, penggunaan kalimat, tanda baca dan ejaan, serta ketepatan pembuatan kesimpulan. Kemudian laporkanlah hasil hasil koreksian Anda tersebut dan tanggapi. Berdasarkan koreksian teman Anda, perbaikilah hasil kesimpulan Anda dan tulis dalam format berikut. Kesimpulan Isi Wawancara ………………………………………………………………. ………………………………………………………………. ………………………………………………………………. ……………………………………………………………..... d) Penilaian Menyimak Wawancara Format yang dapat digunakan untuk mengukur keterampilan menyimak wawancara adalah sebagai berikut: Format Penilaian Pembelajaran Menyimak Wawancara Nama siswa Kelas Kegiatan No 1. Aspek/ indiKator Aspek kebahasaan a. Pemahaman isi b. Ketepatan penangkapan isi c. Ketahanan konsentrasi Aspek pelaksanaan dan sikap a. Menghormati b. Menghargai c. Kritis : : : Mencatat hal-hal penting Nilai/ Skor 2 3 4 Keterangan

1

5

2.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

48

Satu Untuk UNM
Keterangan : Bobot skor 1-5 1 2 3 = sangat kurang = kurang = cukup Nama siswa Kelas Kegiatan : : : Menyimpulkan isi wawancara Nilai/ Skor 1 2 3 4 5 4 5 = baik = sangat baik

Format Penilaian Pembelajaran Menyimak Wawancara

No 1. 2. 3. 4.

Aspek/ Indikator Kualitas isi Tata bahasa (struktur) Kosakata (diksi) Ejaan dan tanda baca : Bobot skor 1-5 1 2 3

Keterangan

Keterangan

= sangat kurang = kurang = cukup

4 = baik 5 = sangat baik

e. Kasus-Kasus Kasus 1 Ibu Ani adalah guru Bahasa Indonesia. Pada saat memasuki kelas beliau disambut dengan baik oleh siswanya. Ibu Ani pun menyapa dengan penuh keakraban kepada siswanya. Siswa dengan tulus menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan. Siswanya pun diperhatikan lalu diabsen. Setelah Ibu Ani menyampaikan tujuan pembelajaran, beliau pun mengadakan apersepsi dengan menanyakan tugas menyimak berita melalui televisi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Ibu Ani mengelompokkan siswa berdasarkan tema berita yang disimak. Nama kelompok disesuaikan dengan tema berita yang disimak. Siswa mendiskusikan tugas dalam kelompoknya, yaitu menuliskan pokok-pokok berita yang disimak dengan ejaan yang benar, membacakan pokok-pokok berita yang disimak dengan lafal dan intonasi yang tepat, menanggapi pembacaan pokok-pokok berita, dan merangkai pokok-pokok berita menjadi sebuah teks berita yang memenuhi syarat-syarat berita yang baik. Ibu Ani memberikan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

49

Satu Untuk UNM
kesempatan kepada siswanya untuk menilai temannya dengan jujur. Setelah itu, Ibu Ani memberikan penilaian dan penghargaan terhadap kreativitas siswanya. Pada akhir pembelajaran, siswa menyimpulkan materi pembelajaran dan memberikan refleksi terhadap model pembelajaran yang diterapkan oleh Ibu Ani dalam pembelajaran menyimak berita. Guru pun memberikan motivasi dan pengayaan yang ada kaitannya dengan materi yang akan diajarkan pada pertemua berikutnya. Akhirnya, guru dan siswa mengakhiri pembelajaran dengan berdoa besama. Sungguh bahagia Ibu Ani pada saat itu karena dia merasa bahwa model pembelajaran yang diterapkan relevan dengan kebutuhan siswanya. Kasus 2 Pak Amir guru Bahasa Indonesia yang sudah tergolong guru senior di sekolahnya. Pada saat beliau memasuki kelas, semua siswa diam dan melipat tangan. Pak Amir segera mengabsen siswanya. Setelah itu, Pak Amir mengambil Koran lalu menunjuk salah seorang siswa untuk membacakan salah satu berita yang ada di dalam Koran. Siswa yang lain diam karene tidak memahami tugas yang akan diberikan. Siswa yang ditunujuk segera membacaksan berita. Di sela-sela pembacaan, guru pun mengatakan, ―Simak berita yang dibacakan oleh temanmu karena sebentar ada pertanyaan!‖. Siswa melanjutkan pembacaan berita. Setelah pembacaan berita, guru pun memberikan pertanyaan berdasarkan berita yang disimak. Siswa yang membacakan berita bingung karena dia tidak menyimak. Akhirnya, pekerjaan siswa pun dibawa ke rumah dan hasilnya tidak disampaikan kepada siswa. Pada akhir pembelajaran, Pak Amir memberikan tugas yang tidak jelas. Akhirnya, siswa pun merasa bosan menoton. f. Latihan 1. 2. 3. 4. Bagaimana tanggapan Anda terhadap kasus di atas, apakah model pembelajaran yang diterapkan oleh Ibu Ani atau Pak Amir mirip dengan model yang Anda terapkan? Berdasarkan kasus di atas, pendekatan dan metode pembelajaran apakah yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan menyimak berita? Rumuskanlah tujuan pembelajaran menyimak berita dengan memperhatikan syaratsyarat tujuan pembelajaran yang baik! Kembangkanlah materi pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang telah dirumuskan! karena model pembelajaran yang diterapkan oleh gurunya

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

50

Satu Untuk UNM
5. 6. Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran (awal, inti, dan penutup) berdasarkan metode yang dipilih Buatlah alat penilaian yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan!

2. Kegiatan Belajar 2 a. Judul b. Indikator : Merencanakan Pembelajaran Berbicara : bahan atau sumber; 2) Mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik; 3) Mampu c. Strategi mempraktikkan berbagai model pembelajaran berbicara berdasarkan KTSP. : Workshop d. Uraian Materi dan Contoh Sebagai seorang guru yang menjadi fasilitator bagi siswa dalam pembelajaran berbicara, Anda seharusnya menguasai keterampilan itu dan dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa. Paling tidak, keterampilan Anda sebagai seorang guru lebih tinggi dibandingkan siswa supaya dapat melatihkan keterampilan berbicara seperti yang diharapkan dalam pencapaian standar isi kurikulum standar kompetensi (KTSP). Berdasarkan kompetensi dasar dalam standar kompetensi mendengarkan yang terdapat dalam standar isi KTSP mata pelajaran Bahasa Indonesia, ada beberapa materi yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, antara lain: 1) menceritakan pengalaman 2) menyampaikan isi pengumuman 3) bertelepon dengan baik 4) berwawancara 5) berpidato 6) menceritakan tokoh 7) berdongeng 8) berbalas pantun 9) menyampaikan laporan 1) Mampu melakukan latihan-latihan keterampilan berbicara dari berbagai

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

51

Satu Untuk UNM
Berikut ini disajikan contoh materi pokok dalam standar kompetensi berbicara yang seharusnya dikuasai oleh guru. Materi yang disajikan disertai dengan contoh keterampilan berbicaranya. 1) Menceritakan Pengalaman Sampai saat ini Anda tentu mempunyai pengalaman yang mengesankan, baik berupa pengalaman yang menyedihkan ataupun yang menyenangkan. Sebagai wahana pelatihan, lakukanlah langkah-langkah berikut: a) Bentuklah kelompok kooperatif yang beranggotakan sekitar lima orang! b) Secara individu, identifikasilah/ daftarlah sekitar tiga pengalaman yang mengesankan dalam kehidupan ini! c) Secara individu, tentukanlah salah satu pengalaman yang menurut Anda paling mengesankan! d) Sebelum Anda menceritakan pengalaman itu kepada teman-teman dalam kelompok Anda, tentukan tujuan Anda bercerita! e) Komunikasikanlah tujuan Anda dan berceritalah kepada teman-teman Anda secara bergiliran! f) Apakah tujuan yang berbeda akan berpengaruh terhadap penceritaan Anda? Diskusikanlah hal itu dengan teman-teman dalam kelompok Anda! Contoh Cerita …. a) Struktur Cerita Pengalaman Beberapa surat kabar atau koran menyediakan sebuah kolom untuk menampung tulisan yang mencaritakan pengalaman. Hanya saja, dari berbagai jenis pengalaman tidak semua pengalaman dipaparkan melalui kolom surat kabar. Sepengetahuan penulis, cerita yang banyak ditampung adalah cerita lucu atau cerita aneh. Dalam konteks ini, struktur cerita yang dikemukakan hanyalah dua jenis cerita yang banyak muncul di surat kabar. Cerita pengalaman lucu dan aneh pada umumnya menggunakan alur maju. Diawali dari pengenalan, konflik, klimaks, dan pengakhiran. Jarang sekali orang menceritakan pengalamannya dengan alur mundur. Yang khusus dari dua cerita ini adalah penataan klimaksnya. Karena cerita ini memancing perilaku tertawa dan takut bagi pendengar atau pembacanya, klimaksnya ditata berhimpitan dengan pengakhiran. Bahkan, ada beberapa cerita yang menampilkan cerita dengan pengakhiran yang menonjolkan klimaks dan meminimkan unsure pengakhiran. Berikut ini ditampilkan contoh berita yang bersumber dari pengalaman nyata.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

52

Satu Untuk UNM
Evaluasi Pembelajaran Berbicara Berdasarkan fakta bahwa kegiatan berbicara cenderung dapat diamati dalam kontes nyata saat siswa berbicara, maka dalam kegiatan berbicara dapat dikembangkan penilaian kinerja yang bertujuan menguji kemampuan siswa dalam mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilannya (apa yang mereka ketahui dan dapat mereka lakukan) pada berbagai situasi nyata dan konteks tertentu (cf. Johnson and Johnson, 2002). Penilaian kinerja mempunyai dua karakteristik dasar, yaitu (1) siswa diminta untuk mendemonnstrasikan kemampuannya dalam mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas (perbuatan), misalnya berpidato, (2) produk dari penilaian kinerja lebih penting daripada kinerja (performance)-nya. Salah satu model blangko penilaian dalam pidato beserta contoh pengisiannya (bobot nilai dapat diubah sesuai dengan keperluan yang ada). Keterangan penyerta, seperti keterangan pembicara/siswa dan keterangan penyertanya juga dapat diubah sesuai dengan keperluan. Anda dapat memodifikasikan model penilaian ini, khususnya jika Anda menginginkan adanya bobot tertentu dalam masing-masing butir penilaian. Nama Siswa Kelas, Cawu Tanggal No 1 2 3 4 5 6 : : : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor

Butir Penilaian Keakuratan informasi Hubungan antar informasi Ketepatan struktur dan kosakata Kelancaran Kewajaran urutan wacana Gaya pengucapan Jumlah Nilai = jumlah skor : 6 (Nilai tertinggi 10, terendah 1)

…….

Selain itu, alat penilaian dalam berbicara (khususnya dalam wawancara) dapat berwujud penilaian yang terdiri atas komponen-komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman. Penilaian ini disusun dalam skala 1 s.d. 6; 1 berarti sangat kurang dan berarti sangat baik. Berikut ini adalah deskripsi masing-masing komponen (Nurgiyantoro, 1988:260).
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 53

Satu Untuk UNM
a) Tekanan (1) Ucapan sering tidak dapat dipahami (2) sering terjadi kesalahan besar dan aksen kuat yang menyulitkan pemahaman, menghendaki untuk selalu diulang; (3) pengaruh ucapan yang asing (daerah) yang mengganggu dan menimbulkan salah ucap yang dapat menyebabkan kesalahpahaman; (4) pengaruh ucapan asing (daerah) dan kesalahan ucapan yang tidak menyebabkan kesalahpahaman; (5) tidak ada salah ucap yang menolak, mendekati ucapan standar, dan (6) ucapan sudah standar. b) Tata Bahasa (1) Penggunaan tata bahasa hampir selalu tidak tepat; (2) ada kesalahan dalam penggunaan pola-pola pokok secara tetap yang selalu mengganggu komunikasi; (3) sering terjadi kesalahan dalam pola tertentu karena kurang cermat yang dapat mengganggu komunikasi; (4) kadang-kadang terjadi kesalahan dalam penggunaan pola tertentu, tetapi tidak mengganggu komunikasi; (5) sedikit terjadi kesalahan, tetapi bukan pada penggunaan pola, (6) tidak lebih dari dua kesalahan selama berlangsungnya kegiatan wawancara. c) Kosakata (1) Penggunaan kosakata tidak tepat dalam percakapan yang paling sederhana sekalipun; (2) penguasaan kosakata sering sangat terbatas pada keperluan dasar personal ( waktu, makanan, transporasi, keluar); (3) pemilihan kosa kata sering tidak tepat dan keterbatasan penggunaannya menghambat kelancaran koomunikasi dalam masalah sosial dan professional; (4) penggunaan kosakata teksis tepat dalam pembicaraan tentang masalah tertentu, tetapi penggunaan kosakata umum terasa berlebihan; (5) peggunaan kosakata teknis lebih luas dan cermat, kosakata umum tepat digunakan sesuai dengan situasi social, dan (6) penggunaan kosakata teknis dan umum terkesan luas dan tepat sekali.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

54

Satu Untuk UNM
d) Kelancaran (1) Pembicaraan selalu berhenti dan terputus-putus; (2) pembicaraan sangat lambat dan tidak ajeg sehingga kecuali untuk kalimat dan rutin; (3) pembicaraan sering nampak ragu, kalimat tidak lengkap; (4) pembicaraan kadang-kadang masih ragu, pengelompokan kata kadangkadang tidak tepat; (5) pembicaraan halus dan lancar, tetapi sekali-kali masih kurang ajeg. (6) pembicaraan dalam segala hal lancar dan halus. e) Pemahaman (1) Memahami secara sekilas isi percakapan yang paling sedehana; (2) memahami dengan lambat percakapan sederhana, perlu penjelasan dan pengulangan; (3) memahami percakapan sederhana dengan baik, dalam hal tertentu masih perlu penjelasan dan pengulangan; (4) memahami percakapan normal dengan lebih baik, kadang-kadang masih perlu pengulangan dan penjelasan; (5) memahami segala sesuatu dalam percakapan normal kecuali yang bersifat koloqial, dan (6) memahami segala sesuatu dalam percakapan normal dan koloqial. Berikut ini adalah contoh lembar penilaian berdasarkan komponen-komponen itu. Nama Siswa Kelas, Cawu Tanggal No 1 2 3 4 5 : : : Butir Penilaian Tekanan Tata bahasa Kosakata Kelancaran Pemahaman Jumlah Skor Nilai = jumlah skor: 5 (Nilai tertinggi 6, terendah 1)
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 55

1

2

3

4

5

6

Skor

Satu Untuk UNM
Dalam hal ini, dapat dilakukan pembobotan nilai dengan berdasarkan pada tujuan atau fokus penilaian. Anda dapat melakukan modifikasi berbagai butir penilaian sesuai dengan tujuan, situasi, dan kondisi yang melatari Anda. Materi pembelajaran berbicara dapat juga diintegrasikan ke dalam materi kebahasaan dan kesastraan. Metode pembelajaran berbicara yang dapat diterapkan, antara lain: ulang-ucap, lihatungkapkan, memberikan, menjawab pertanyaan, bertanya, pertanyaan menggali, melanjutkan cerita, menceritakan kembali, percakapan, parafprase, reka cerita gambar, bercerita, melaporkan, bermain peran, diskusi, bertelepon, dan dramatisasi. Media pembelajaran yang dapat digunakan, antara lain: telepon, pengeras suara, bahan bacaan, gambar, radio, tape recorder, program televisi. Penilaian berbicara dapat dikembangkan dengan penilaian kinerja. Penilaian pidato dan cerita dapat ditekankan pada hal-hal sebagai berikut: keakuratan informasi, hubungan antarinformasi, ketepatan struktur dan kosakata, kelancaran, kewajaran urutan wacana, dan gaya pengucapan. Selain itu, penilaian juga dapat ditujukan pada komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman. e. Kasus-kasus Kasus 3 Ibu Fatimah adalah guru Bahasa Indonesia yang kreatif. Pada waktu memasuki kelas, siswanya pun menyambutnya dengan senang hati. Beliau menyapa siswanya dengan ramah dan keibuan dan memperhatikan kondisi ruangan. Ibu Guru mengabsen siswanya lalu menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah itu, Ibu Guru mengadakan apersepsi dengan menceritakan pengalaman menarik yang pernah dialami ketija masih bersekolah. Siswa pun asyik memperhatikan suara dan gaya gurunya ketika bercerita. Setelah Ibu guru selesai bercerita, beliau memberikan kesempatan untuk memilih cerita pengalaman yang akan diceritakan di depan kelas. Siswa dikoelompokkan berdasarkan jensis cerita yang dipilih (lucu, sedih, menggembirakan, menakutkan, dll.). Siswa latihan bercerita did al kelompoknya. Setiap kelompok menunjuk salah seorang teman untuk mewakili kelompoknya. Siswa menilai lafal, intonasi, dan gestur pada saat temannya bercerita. Semua siswa menuliskan cerita pengalaman yang telah diceritakan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Guru pun diberi kesempatan untuk bertanya. Setelah semua tugas kelompok dan tugas individu dikerjakan dengan baik, Ibu Guru pun memberikan penghargaan terhadap kreativitas siswanya Pada akhir pembelajaran, Ibu Guru menunjuk siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran dan siswa yang lain memberikan refleksi terhadap model pembelajaran yang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 56

Satu Untuk UNM
diterapkan dalam pembelajaran ―Menceritakan Pengalaman yang Mengesankan‖. Guru memberikan nasihat dan motivasi serta pengayaan. Setelah itu, Siswa dan guru berdoa bersama. Akhirnya, siswa pun merasa puas dan sangat tertarik terhadap model pembelajaran yang diterapkan oleh gurunya. Kasus 4 Pak Kadir guru Bahasa Indonesia yang masih yunior. Pada waktu memasuki kelas, siswanya masih rebut dan berkeliaran. Pak guru hanya diam melihat sikap siswanya yang belum siap menerima pelajaran. Pak guru pun jarang mengabsen siswanya. Pak Kadir sudah terbiasa dengan keadaan siswanya, belia pun memulai pembelajaran meskipun siswanya masih ada yang belum siap. Pak Kadir memulai pembelajaran dengan cara berceramah pada saat menjelaskan materi pembelajaran ―berpidato‖. Siswa pun banyak yang mengantuk. Setelah menjelaskan pengertian berbidato,dan jenis-jenis pidato, Pak guru pun member tugas menulis naskah pidato, kemudian berpidato di depan kelas. Pada saat siswa berpidato, guru kurang serius menilai karena guru tidak memiliki format penilaian pidato. Siswa pun tidak mengetahui prestasi belajarnya Setelah jam pembelajaran berakhir, guru segera meninggalkan kelas tanpa memberikan kesimpulan materi, refleksi, motivasi, dan pengayaan. Akhirnya, siswa tidak termotivasi untuk belajar bahasa Indonesia. f. Latihan 1. Bagaimana tanggapan Anda terhadap kasus di atas, apakah model pembelajaran yang diterapkan oleh Ibu Fatimah atau Pak Kadir mirip dengan model yang Anda terapkan? Kemukakanlah tanggapan Anda dengan jujur! 2. Berdasarkan kasus di atas, pendekatan dan metode pembelajaran apakah yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan berbicara ( menceritakan pengalaman dan berpidato? 3. 4. 5. 6. Rumuskanlah tujuan pembelajaran menceritakan pengalaman atau berpidato dengan memperhatikan syarat-syarat tujuan pembelajaran yang baik! Kembangkanlah materi pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang telah dirumuskan! Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran (awal, inti, dan penutup) berdasarkan metode yang dipilih! Buatlah alat penilaian yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan!
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 57

Satu Untuk UNM
3. Kegiatan Belajar 3 a. Judul : Merencanakan Pembelajaran Membaca 1) Mampu melakukan latihan-latihan keterampilan membaca dari berbagai bahan bacaan; 2) Mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik; 3) Mampu c. Strategi : Workshop d. Uraian Materi dan Contoh Sebagai seorang guru yang menjadi fasilitator bagi siswa dalam pembelajaran membaca, Anda seharusnya menguasai keterampilan itu dan dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa. Paling tidak, keterampilan Anda sebagai seorang guru lebih tinggi dibandingkan siswa supaya dapat melatihkan keterampilan membeca seperti yang diharapkan dalam pencapaian standar isi kurikulum standar kompetensi (KTSP). Berdasarkan kompetensi dasar dalam standar kompetensi membaca yang terdapat dalam standar isi KTSP mata pelajaran Bahasa Indonesia, ada beberapa materi yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, antara lain: 1) membaca cepat 2) membacakan teks berita 3) membacakan teks pengumuman dan teks perangkat upacara 4) membacakan laporan 5) membacakan puisi Berikut ini disajikan contoh penyajian materi pembelajaran membaca. 1) Membacakan Teks Berita a) Mengenal Ragam dan Teks Berita Sebagai kegiatan pendahuluan, sebelum melakukan aktivitas inti, yaitu membacakan teks berita, lakukanlah kegiatan pendahuluan berikut untuk mengenali ragam dan teks berita. Berbagilah menjadi beberapa kelompok! Namailah kelompok Anda dengan salah satu acara berita di televisi! Setiap kelompok beradu cepat dan tepat menemukan acara-acara mempraktikkan berbagai model pembelajaran menyimak berdasarkan KTSP. b. Indikator:

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

58

Satu Untuk UNM
dari berbagai stasiun televisi yang dapat dikategorikan sebagai acara berita dan menunjukkan isi berita dari acara-acara tersebut! Nama Kelompok : Nama Acara No. ……………..… Isi Tepat Tidak Stasiun TV

Temuan tiap-tiap kelompok ditempelkan di papan tempel yang telah disediakan. Kelompok yang paling cepat, tepat, dan paling banyak temuannya adalah kelompok pemenang. Alat untuk melaksanakan kegiatan adu cepat adalah kolom ACARA HARI INI. Dalam melaksanakan analisis tersebut, Anda diajak menemukan atau memikirkan apa karakteristik sebuah acara dapat dikategorikan sebagai sebuah berita Mengapa acara sergap (RCTI) dan Cek dan Ricek (RCTI) dikategorikan sebagai acara berita? Sebagai acuan jawaban dapat Anda baca definisi berita yang terdapat dalam KBBI (Balai Pustaka, 1989) berikut. Berita adalah laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang

hangat.
Unsur-unsur apa yang terdapat dalam berita? Unsur-unsur yang

lazim terdapat

dalam berita dikenal sebagai 5 W dan 1 H, yaitu: (1) What (apa yang terjadi)? (2) When (kapan terjadinya)? (3) Where ( di mana terjadinya)? (4) Why (mengapa terjadi)? (5) Who (siapa yang terlibat dalam peristiwa itu)? (6) How (Bagaimana terjadinya peristiwa itu)?
Setelah Anda melakukan kegiatan di atas, maka selanjutnya Anda dapat menyebutkan ragam berita berdasarkan isinya. Tulislah temuan Anda pada kolom berikut. (1) berita kriminal (2) berita politik (3) berita ekonomi (4) berita olah raga (5) …. (6) .…

Latihan mengenali ragam dan jenis teks berita dimaksudkan untuk mengajak Anda berpikir kritis dan memiliki pemahaman yang luas dan ahandal tentang keragaman teks berita.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 59

Satu Untuk UNM
b) Memahami Isi Berita dan Menandai Pemenggalan Berita yang akan Dibacakan Langkah-langkah yang dapat dilakukan, yaitu: (1) Bacalah dalam hati teks berita, kemudian pahamilah isinya! (2) Naskah berita yang akan dibacakan diberi tanda jeda, yaitu: (a) (b) (c) tepat! (4) Cocokkanlah cara membaca Anda dengan rekaman! c) Latihan Membacakan Berita Berpasangan Bacalah berita yang sudah Anda tandai tersebut secara berpasangan. Ketika pasangan Anda membaca, Anda sebaiknya menyimak dengan baik. Sebelum Anda berlatih membacakan naskah berita, lafalkanlah kata-kata atau istilah asing yang terdapat dalam naskah yang dibacakan. d) Mengomentari Pembacaan Berita Berpasangan e) Merekam Hasil Pembacaan Rekamlah kegiatan pembacaan teks berita yang Anda lakukan dalam kaset CD atau kaset rekaman tape recorder! Lakukanlah penilaian terhadap hasil rekaman Anda. Aspekaspek pembacaan yang belum bagus dapat diperbaiki dan direkam ulang agar hasilnya lebih baik. Penilaian Pembelajaran Membaca Rubrik penilaian Teman Sejawat Kompetensi: Membacakan Teks Berita No. 1 Aspek Jeda Indikator apakah pembacaan dilakukan persatuan makna bukan per kata? apakah pengaturan jeda menjadikan berita yang baca dipahami pendengar? apakah setiap kata dilafalkan dengan jelas? apakah tinggi rendahnya nada, keras lunaknya suara, dan cepat lambatnya pembaca sudah diatur dalam isi dalam teks berita? Ya Tidak Tanda satu garis miring (/) digunakan untuk mengambil nafas sejenak Tanda dua garis miring (//) digunakan untuk berhenti sejenak Tanda panah ke atas ( ) intonasi naik

(3) Bacalah teks yang sudah ditandai dengan intonasi dan pemenggalan yang

 

2 3

Lafal/Vokal Intonasi

 

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

60

Satu Untuk UNM

4 5

Mimik Pernafasan

 apakah ekspresi wajah wajar dan sesuai dengan isi dan raganm berita yang dibacakan?  apakah pembaca dapat mengatur nagfasnya dengan baik, tidak kelihatan terengah-engah

Penilaian Proses Selama pelatihan membacakan teks berita ini berlangsung, fasilitator melakukan penilaian proses. Aspek yang dinilai dalam penilaian proses adalah sebagai berikut: No. 1 2 3 Aktivitas Kerja sama dengan teman Kesediaan menerima pendapat dan kritik dari orang lain Kesediaan melakukan latihan sampai tuntas Kurang Kriteria Cukup Sangat

Penilaian Hasil Fasilitator akan menilai kompetensi kinerja/performansi Anda dalam membacakan teks berita dari rekaman kaset yang telah Anda buat. Rubrik Penilaian Produk Membacakan Teks Berita No. Aspek 1 Jeda 2 3 Lafal/Vokal Intonasi Indikator Apakah pembacaan dilakukan per satuan makna bukan per kata? Apakah setiap kata dilafalkan dengan jelas Apakah tinggi rendahnya nada, keras lunaknya suara, dan cepat lambatnya pembacaan, sudah diatur sesuai dengan isi kalimat dalam teks berita? Apakah ekspresi wajah wajar dan sesuai dengan isi dan ragam berita yang dibacakan? Apakah pembaca dapat mengatur nafasnya dengan baik, tidak terengah-engah? Ya Tidak

4 5

Mimik Pernafasan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

61

Satu Untuk UNM
Kriteria Penilaian No. 1 2 3 4 Tingkatan Wow, hebat! Hem, lumayan! Jangan mau ketinggalan Coba lagi, dong! Indikator Jika seluruh indikator terpenuhi (ada 5 jawaban ya) Jika 3-4 indikstor terpenuhi (ada 3-4 jawaban ya) Jika 2 indikator terpenuhi (ada 2 jawaban ya Jika 1 atau tidak ada indicator terpenuhi (ada 1 atau tidak ada jawaban ya) e. Kasus-kasus Kasus 5 Ibu Lastri adalah guru Bahasa Indonesia yang kreatif. Siswanya selalu menyambut kedatangannya di kelas dengan gembira. Pada waktu memasuki ruangan, Ibu Lastri menyapa siswanya dengan ramah. Kondisi ruangan selalu diperhatikan lalu menanyakan keadaan siswa. Guru selalu menyampaikan tujuan pembelajaran dengan jelas. Setelah itu, guru mengadakan apersepsi dengan memperdengarkan sebuah lagu yang ada kaitannya dengan tema puisi yang akan dibacakan. Siswa pun asyik dan gembira mengikuti syair lagu yang diperdengarkan. Setelah lantunan syair lagu selesai, guru pun menanyakan tema lagu yang diperdengarkan. Setelah itu, guru menampilkan model pembacaan puisi; siswa memberikan tanda jedah pada larik puisi; siswa meniru pembacaan puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat; guru memperbaiki pelafalan, intonasi dan ekspresi yang kurang tepat; siswa bergiliran membacakan puisi; siswa menilai pembacaan puisi berdasarkan format penilaian yang telah disiapkan oleh guru; siswa melaporkan hasil penilaian; guru mengumumkan siswa yang mendapat juara dalam pembacaan puisi; akhirnya siswa dan guru merayakan kemenangan. Pada akhir pembelajaran, siswa diminta menyimpulkan materi dan memberikan refleksi tentang model pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran ―Membacakan Puisi‖. Setelah itu, guru memberikan motivasi dan pengayaan lalu mereka berdoa bersama. Akhirnya, siswa pun menilai bahwa pembelajaran yang mereka peroleh mengasikkan, menyenangkan, dan bermakna.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

62

Satu Untuk UNM
Kasus 6 Pak Udin adalah guru Bahasa Indonesia yang rajin. Dia tidak pernah absen mengajar. Pada waktu memasuki kelas, siswa segera duduk di bangkunya. Pak Udin sangat peduli dengan kebersihan kelas dan selalu disiplin dalam mengabsen. Setelah itu, Pak Udin menyuruh siswanya untuk membuka wacana yang terdapat dalam buku pelajaran. Pak Udin memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca dalam hati sebuah wacana; lalu siswa disuruh mencari kata-kata sulit dan menjawab pertanyaan bacaan. Pada saat siswa mengerjakan tugas, guru pun membaca koran. Setelah lonceng berbunyi, siswa segera mengumpulkan tugas yanhg diberikan dan tidak terjadi umpan balik. Pada akhir pembelajaran, siswa menyiapkan kelas dan berdoa bersama. Ketika guru sudah meninggalkan kelas, siswa pun ada yang berkata ― bosan de begitu-begitu terus model guru kita dalam mengajarkan membaca‖. f. Latihan 1. Bagaimana tanggapan Anda terhadap kasus di atas, apakah model pembelajaran yang diterapkan oleh Ibu Lastri atau Pak Udin mirip dengan model yang Anda terapkan? Kemukakan tanggapan Anda dengan jujur! 2. Berdasarkan kasus di atas, pendekatan dan metode pembelajaran apakah yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan membaca ( membacakan puisi dan membaca pemahaman? 3. 4. 5. 6. Rumuskanlah tujuan pembelajaran menceritakan pengalaman atau berpidato dengan memperhatikan syarat-syarat tujuan pembelajaran yang baik! Kembangkanlah materi pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang telah dirumuskan! Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran (awal, inti, dan penutup) berdasarkan metode yang dipilih Buatlah alat penilaian yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

63

Satu Untuk UNM
4. Kegiatan Belajar 4 a. Judul b. Indikator : Merencanakan Pembelajaran Menulis : 1) Mampu melakukan latihan-latihan keterampilan menulis dari berbagai bahan bacaan; 2) Mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik; 3) Mampu mempraktikkan berbagai model pembelajaran berdasarkan KTSP. c. Strategi : Workshop d. Uraian Materi dan Contoh Sebagai seorang guru yang menjadi fasilitaor bagi siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis, Anda seharusnya menguasai keterampilan itu dan dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa. Oleh karena itu, guru diharapkan memiliki kompetensi yang baik dalam mengajarkan aspek keterampilan menulis. 1) Menulis Poster Anda tentu sering melihat poster. Di majalah-majalah, koran, atau papan-papan reklame yang banyak berdiri di pinggir-pinggir jalan, pastilah sering Anda jumpai posterposter, mulai dari yang bentuknya mewah \sampai yang paling sederhana, misalnya poster seminar, Dengan melihat informasi yang diberikan, tampaklah bahwa poster tersebut memang bertujuan untuk mengumumkan kepada masyarakat akan adanya kegiatan seminar. Dengan melihat hal-hal yang berkaitan dengan seminar, orang tidak perlu lagi bertanya kepada panitia penyelenggara karena sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Harapan selanjutnya dengan munculnya poster tersebut adalah adanya masyarakat, baik yang membaca secara langsung maupun tidak, tetapi tertarik untuk mengikuti seminar tersebut. Contoh poster tersebut dilihat dari isinya bertujuan untuk mengumumkan atau memberitahukan akan adanya kegiatan seminar. Oleh karena itu, tujuannya untuk mengumumkan, maka poster jenis ini disebut ―Poster pengumuman‖. Poster pengumuman lain yang dapat Anda baca berupa pengumuman peneriamaan siswa atau mahasiswa baru. Poster semacam itu tentu askan dengan mudah Anda jumpai di tempat-tempat tertentu, seperti di pusat keramaian, di pinggir jalan, atau di kantor-kantor. menulis

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

64

Satu Untuk UNM
Setelah melihat poster pengumuman seperti tersebut di atas, langkah selanjutnya cobalah anda perhatikan jenis poster yang lain, yang dilihat dari isinya bertujuan untuk menawarkan sesuatu, shingga disebut poster iklan. Untuk memudahkan perbedaan antara poster pengumuman dan poster iklan, gunakan lembar pengamatan berikut ini. No. Unsur 1. Apakah tulisan yang digunakan sangat ditonjolkan? 2. Apakah gambar yang digunakan sangat ditonjolkan? 3. Apakah poster tersebut bertujuan untuk memberitahukan sesuatu? 4. Apakah poster tersebut bertujuan untuk menawarkan sesuatu? 5. Apakah informasi yang disampaikan lengkap? Contoh (1) Contoh (2)

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memperlihatkan perbedaan antara poster pengumuman dan poster iklan. Dengan demikian, akan semakin jelas perbedaan antara kedua jenis poster tersebut. No. 1. 2. 3. 4. 5. Unsur Tulisan Gambar Tujuan Kelengkapan Isi Poster Pengumuman Poster Iklan

Oleh karena antara poster pengumuman dan poster iklan pada dasarnya berbeda, langkah-langkah pembuatannya pun berbeda. Untuk melihat perbedaan langkah tersebut sekaligus untuk melatih menulis poster, cobalah Anda buat contoh untuk kedua jenis poster tersebut. Untuk memudahkan pembuatan contoh tersebut, ikutilah langkah-langkah berikut. Langkah pertama dalam bahan pelatihan ini adalah langkah pembuatan poster pengumuman. (1) Tentukan kegiatan yang akan Anda umumkan, kegiatan tersebut dapat berupa seminar, lomba, atau pertunjukan. (2) Tentukan unsur-unsur yang akan Anda umumkan! Perbedaan kegiatan akan membedakan unsur-unsur yang dimaksud. Unsur-unsur yang dimaksud adalah:

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

65

Satu Untuk UNM

No. 1

Kegiatan Seminar 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4.

2

Lomba

3

Pementasan

Unsur Tema Pembicaraan Tempat dan waktu Undangan Jenis lomba Syarat peserta Pendaftaran Tempat dan waktu Hadiah Jenis pementasan Tempat dan Waktu tiket Pihak pelaksana

(3) Tuliskan unsur-unsur tersebut dengan memerhatikan letak dan setting (jenis dan ukuran huruf, tata letak)! (4) Lengkapi poster Anda dengan gambar! Gambar di sini tidak harus buatan sendiri, tetapi dapat diambilkan dari gambar yang sudah jadi untuk ditempelkan. Jika Anda sudah selesai membuat poster pengumuman, berikutnya buatlah poster iklan dengan mengikuti langkah-langkah yang sama dengan langkah-langkah pembuatan poster pengumuman, yaitu: (1) Tentukan barang atau jasa yang akan diiklankan! Barang tersebut dapat berupa apa saja, seperti kendaraan, obat, atau makanan; sedangkan jasa, antara lain: jasa kesehatan, pengobatan, atau perbaikan. (2) Pilihlah kata-kata sesingkat mungkin untuk menawarkan barang atau jasa yang dimaksud! Jika Anda menggunakan kata-kata yang cukup banyak, hal ini juga dimungkinkan, maka porsi gambar harus dikurangi. Untuk mencari kata-kata yang indah dan mudah dikenal oleh masyarakat, Anda dapat menggunakan slogan. (3) Carilah gambar atau buatlah gambar untuk mendukung poster Anda tersebut!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

66

Satu Untuk UNM
Penilaian Pembelajaran Menulis No 1. 2. 3. Indikator Mampu menunjukkan jenisjenis slogan/poster Mampu menulis slogan/poster sesuai dengan konteks Mampu menyunting slogan/poster Teknik Tes tertulis Tes tertulis Tes tertulis Bentuk Instrumen Instrumen Tes uraian Tunjukkanlah jenis-jenis slogan/poster ! Tes uraian Tulislah slogan/poster dengan pilihan kata, kalimat yang menarik dan persuasif ! Tes uraian Suntinglah slogan/poster karya temanmu !

a. Penilaian Hasil
1. Tunjukkan jenis-jenis slogan/poster Pedoman Penskoran No 1. 2. 3. 4. Kegiatan Siswa dapat menunjukkan 3 jenis poster/slogan Siswa dapat menunjukkan 2 jenis slogan Siswa dapat menunjukkan 1 jenis slogan Siswa tidak dapat menunjukkan jenis slogan Skor 3 2 1 0 3

Skor maksimal

2. Tulislah poster/slogan dengan pilihan kata, kalimat yang menarik, dan persuasif ! Pedoman Penskoran No 1. Aspek Kalimat Deskriptor  Ringkas, jelas, tepat sasaran, dan menarik  Kurang ringkas, jelas, tepat sasaran, dan menarik  Tidak ringkas, jelas, tepat sasaran, dan menarik 2. Gambar/logo  Sesuai dengan maksud slogan/poster  Kurang sesuai dengan maksud logan/poster  Tidak sesuai dengan maksud slogan/poster 3. Amanat/isi  Sesuai dengan tujuan pembuatan  Kurang sesuai dengan maksud pembuatan  Tidak sesuai dengan tujuan pembuatan 3 2 1 3 2 1 1 Skor 3 2

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

67

Satu Untuk UNM
3. Suntinglah poster / slogan karya temanmu ! Pedoman Penskoran No 1. Isi Aspek    2. Logo    3. Bentuk tulisan    4. Kalimat    5. Informasi    Skor maksimal Deskriptor Isi sesuai dengan konteks Isi kurang sesuai dengan konteks Isi tidak sesuai dengan konteks Sesuai dan menarik Kurang menarik Tidak menarik Ringkas, jelas, menarik Kurang ringkas, jelas, dan menarik Tidak ringkas, jelas, dan menarik Jelas, tepat sasaran, padat Kurang jelas, tepat sasaran, padat Tidak jelas, tepat sasaran, padat Mudah diterima dan bermakna Kurang bisa diterima dan bermakna Tidak bias diterima dan bermakna Skor 3 2 1 3 2 1 3 2 1 3 2 1 3 2 1 15

b. Penilaian Proses
Komponen Penilaian Ketekunan A B Motivasi B B Kerjasama B B

No 1. 2. 3.

Nama Zhafira Zalzabilah ...... Keterangan : A = Sangat baik B = Baik C = Sedang D = Kurang E = Sangat kurang

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

68

Satu Untuk UNM
e. Kasus-kasus Kasus 7 Pak Farid adalah guru Bahasa Indonesia yang diidolakan. Gaya mengajarnya sangat menarik sehingga jam mengajarnya selalu dinantikan oleh siswanya. Pada waktu memasuki kelas, siswanya menyambutnya dengan senang hati. Beliau pun membalasnya dengan sapaan yang baik. Pak Farid selalu menanamkan kedisiplinan dan membiasakan hidup sehat dan bersih kepada siswanya. Beliau selalu menyiapkan media pembelajaran yang menarik. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran, guru mengadakan apersepsi dengan cara memperdengarkan lagu yang ada hubungannya dengan tema cerpen yang akan ditulis. Siswa pun mengikuti lantunan syair lagu dengan gembira. Sambil bernyanyi, siswa mencatat hal-hal penting dalam syair lagu; siswa menyesuaikan syair lagu dengan kondisi yang dialami; siswa memilih diksi yang sesuai dengan bahasa cerpen; siswa mengubah syair lagu menjadi cerpen dengan bahasa yang estetis; siswa berlomba memajang cerpen yang telah ditulis; siswa memberikan penilaian berdasarkan format penilaian cerpen; guru menghargai kreativitas siswa dan memberikan hadiah kepada penulis cerpen terbaik; guru dan siswa merayakan kemenangan. Pada akhir pembelajaran, siswa diminta menyimpulkan materi dan merefleksi model pembelajaran menulis cerpen yang diterapkan oleh guru. Setelah itu, guru selalu memberikan nasihat, motivasi, dan pengayaan. Akhirnya guru mengakhiri pembelajaran dengan berdoa bersama. Siswa pun mengatakan ―Kami Indonesia‖. Kasus 8 Ibu Aminah guru Bahasa Indonesia yang penampilannya sederhana. Beliau kreatif sehingga materi yang disajikan tidak pernah membosankan. Pada suatu hari, Ibu Aminah tidak mengajar di kelas karena kelasnya akan digunakan untuk kegiatan tertentu. Meskipun kelasnya akan dipakai, mengikuti pelajaran. Ibu Aminah menyuruh siswanya berkumpul di halaman yang sejuk lalu berdoa bersama. Ibu Aminah tetap mengabsen dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah itu, guru mengadakan apersepsi dengan bersama-sama melantunkan syair lagu daerah yang ada hubungannya dengan puisi yang akan ditulis. Perhatian tertuju kepada mereka. Ibu Aminah membagi kelompok berdasarkan objek yang akan diamati. Siswa pun memberikan nama kelompoknya berdasarkan objek yang diamati; siswa mengamati objek yang akan diamati. Secara berkelompok, siswa medeskripsikan bagian-bagian objek yang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 69

sangat senang belajar bahasa

beliau tetap mengajar karena siswanya merasa rugi jika tidak

Satu Untuk UNM
diamati; siswa berlatih merangkai kata menjadi larik-larik puisi; siswa merangkai larik-larik puisi menjadi bait, dan merangkai bai puisi menjadi sebuah puisi yang utuh. Siswa mengedit puisi yang ditulisnya lalu membacakan di depan teman-temannya. Siswa berlomba memajang puisinya pada tempat yang disediakan. Siswa dan guru menilai puisi berdasarkan format penilaian puisi. Puisi terbaik akan di pajang di majalah dinding dan penulisnya diberi penghargaan. Pada akhir pembelajaran, siswa disuruh membentuk lingkaran lalu diberi nasihat, motivasi, dan pengayaan. Setelah itu, mereka menyanyikan sebuah lagu lalu berdoa bersama. ―Alangkah menyenangkannya pembelajaran hari ini! f. Latihan 1. Bagaimana tanggapan Anda terhadap kasus di atas, apakah model pembelajaran yang diterapkan oleh Pak Farid atau Ibu Aminah mirip dengan model yang Anda terapkan? Kemukakan tanggapan Anda dengan jujur! 2. 3. 4. 5. 6. Berdasarkan kasus di atas, pendekatan dan metode pembelajaran apakah yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan menulis cepen dan menulis puisi? Rumuskanlah tujuan pembelajaran menceritakan pengalaman atau berpidato dengan memperhatikan syarat-syarat tujuan pembelajaran yang baik! Kembangkanlah materi pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang telah dirumuskan! Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran (awal, inti, dan penutup) berdasarkan metode yang dipilih Buatlah alat penilaian yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

70

Satu Untuk UNM
V. STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA A. Pendahuluan PLPG dilakukan untuk mendukung Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama dalam meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Untuk mencapai tujuan itu, Pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya sangat penting untuk dilakukan sebab melalui pelatihan, guru dapat mengembangkan kompetensinya. Pemilikian kompetensi menjadi suatu keharusan bagi seseorang guru untuk dapat menyesuaikan diri dan manajemen pembelajarannya dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk keperluan pelatihan tersebut dikembangkanlah salah satu bagian dari ―Modelmodel Pembelajaran‖ yaitu strategi pembelajaran. Bagian ini terdiri atas empat indicator yaitu: (1) menjelaskan pengertian strategi pembelajaran; (2) menguraikan prinsip umum pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran; (3) menjelaskan jenis strategi pembelajaran bahasa Indonesia; (4) penyusunan langkah-langkah (skenario) pembelajaran. B. Kegiatan Belajar a. Judul: Pemilihan Strategi dan Penyusunan Skenario Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan KTSP a. Indikator Indikator keberhasilan peserta PLPG dalam mengikuti kegiatan 2 adalah sebagai berikut: 1) menjelaskan pengertian strategi pembelajaran; 2) menguraikan prinsip umum pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran; 3) menjelaskan jenis strategi pembelajaran bahasa Indonesia ; 4) penyusunan langkah-langkah (skenario) pembelajaran. c. Strategi Pembelajaran Untuk mencapai tujuan pelatihan, kegiatan 2 disetting dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: Aplikasi 1 Fasilitator meminta peserta kembali bergabung dengan kelompok besar semula. Fasilitator lalu memberi energizer terkait dengan teknik menyampaikan informasi. Akan ditunjukkan bahwa sebuah informasi dapat mengalami perubahan jika disampaikan dengan cara lisan saja. Dalam pembelajaran, informasi atau konsep yang disampaikan satu arah, yaitu dari guru kepada siswa, melalui ceramah sering diterima siswa dengan cara berbeda.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

71

Satu Untuk UNM
Akibatnya informasi atau konsep yang disampaikan itu berbeda dengan apa yang dimaksud guru. Catatan untuk Fasilitator Siapkan sebuah gambar sederhana lalu mintalah salah satu peserta yang paling berpengalaman dalam mengajar dengan cara ceramah. Tugasnya adalah menerangkan gambar tersebut dengan hanya menggunakan kata-kata saja sedemikian rupa sehingga peserta mencoba melukiskan gambar yang dimaksud. Pada kegiatan ini peserta tidak boleh bertanya dan gambar aslinya tidak boleh ditunjukkan pada peserta. Setelah selesai cocokkan antara gambar asli dan gambar yang dibuat berdasarkan informasi lisan. Diskusikan mengapa antara gambar asli dan gambar yang dibuat peserta bisa berbeda. Fasilitator sebagai model menyajikan contoh pembelajaran kooperatif model Jigsaw. (Model jigsaw perlu dimodelkan karena pengelolaan kelasnya lebih menantang daripada yang lain). Peserta dibagi dalam kelompok-kelompok. Kelompok siswa dan kelompok pengamat. Kelompok siswa terdiri atas beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri atas empat orang. Tiap anggota kelompok diberi nama A, B, C, D. Pada tahap ini kelompok disebut kelompok asal / induk (home group). Fasilitator menginformasikan bahwa tiap anggota kelompok akan mendapat tugas mendalami bagian-bagian tertentu dari bacaan karena mereka harus menjadi ahli dalam bagian / topik tersebut: A dasar pemikiran pengajaran sastra (bagian A) B kondisi pengajaran sastra sekarang (bagian B) C kondisi pengajaran sastra yang diharapkan (bagian C) D upaya dan strategi pengembangan pengajaran sastra (bagian D) Dengan demikian, di dalam setiap kelompok induk (home group) terdapat beberapa ahli, yaitu A ahli tentang dasar pemikiran pengajaran sastra, B ahli tentang kondisi

pengajaran sastra sekarang, C ahli tentang kondisi pengajaran sastra yang diharapkan, dan
D ahli tentang upaya dan strategi pengembangan pengajaran sastra. Kelompok Pengamat, yang dibentuk dari peserta yang tidak bergabung dalam kelompok siswa. Kelompok ini bertugas mengamati perilaku para peserta yang berperan menjadi siswa dengan menggunakan handout 1. (Kelompok ini hanya dibutuhkan untuk kepentingan pelatihan. Pada penerapan yang sebenarnya di sekolah kelompok ini tidak dibutuhkan).
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 72

Satu Untuk UNM
Fasilitator meminta peserta membaca handout 2: bacaan tentang Pengajaran Sastra, Seluk-beluk dan Permasalahannya pada setiap kelompok sesuai dengan bagian topik masingmasing. (Kelompok Pengamat bisa mendapatkan teks lengkap). Fasilitator membagi peserta ke dalam kelompok berikutnya (kelompok ahli.) Mintalah A berkumpul dengan A, B berkumpul bersama B, C dengan C, D dengan D, Pada tahap ini kelompok tersebut disebut kelompok ahli (expert group). Setelah berkumpul dalam kelompok ahli, tiap kelompok membaca dan mendiskusikan bagiannya. Fasilitator memberi tugas pada masing-masing kelompok ahli untuk membahas dan membuat ringkasan tentang topik masing-masing antara lain dapat dalam bentuk diagram/bagan alir (flow chart) yang bisa menjelaskan isi topik masing-masing dengan jelas pada orang lain. Tiap anggota harus aktif karena dalam kelompok ini mereka harus menjadi ahli dalam menjawab pertanyaan tentang topiknya. Setelah tugas kelompok ahli selesai dilaksanakan, fasilitator meminta peserta berkumpul lagi ke kelompok asal (home group). Fasilitator meminta setiap anggota kelompok asal untuk saling bertukar hasil bacaannya kemudian menyiapkan presentasi tentang pemanasan global dengan menggunakan diagram alur atau cara lain yang dianggap lebih komunikatif. Ringkasan yang telah dibuat tiap anggota ketika berada di kelompok ahli dimanfaatkan setelah dimodifikasi sesuai kesepakatan dalam kelompok asal. Fasilitator meminta kelompok asal memajangkan hasil kerjanya. Fasilitator memberi kesempatan kepada pengamat untuk menyampaikan hasil pengamatannya, baik tentang kelancaran penerapan jigsaw maupun potensi jigsaw dalam mengembangkan kecakapan personal dan sosial siswa. Aplikasi 2 Peserta diminta untuk duduk kembali dalam kelompok seperti pada kegiatan 1. Fasilitator menyatakan bahwa terdapat banyak strategi pembelajaran yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan tujuan pembelajaran. Fasilitator meminta peserta untuk membaca uraian materi kegiatan 2 dan mendiskusikan secara singkat tingkat kemungkinannya untuk digunakan di kelas dengan menggunakan panduan handout 3. Setiap kelompok dibagi lagi dalam kelompok kecil (terdiri atas 2–3 orang). Setiap kelompok kecil memilih strategi pembelajaran yang cocok dengan kompetensi dasar yang dipilih serta indikator dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Handout 4), lalu mengembangkan langkah-langkah (skenario) pembelajaran. dengan menggunakan Handout 5. Pengembangan Langkah-Langkah Pembelajaran.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

73

Satu Untuk UNM
Hasil kerja tiap kelompok kecil lalu dipertukarkan dalam kelompok untuk dikritisi (karya kunjung). d. Uraian Materi dan Contoh Pokok-pokok materi yang disajikan dalam kegiatan 2 meliputi: 1) pengertian strategi pembelajaran; 2) pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran; 3) jenis-jenis strategi pembelajaran bahasa Indonesia; 4) penyusunan langkah-langkah (skenario) pembelajaran. 1) Pengertian Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan kegiatan terencana dengan mempertimbangkan dan memanfaatkan berbagai sumber daya (termasuk kondisi siswa, waktu, media dan sumber belajar lainnya) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Strategi pembelajaran berbeda dengan pendekatan (approach) dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Strategi pembelajaran yang digunakan dapat bersumber dari pendekatan tertentu. Roy Killen (1998) mengemukakan dua pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approach). Pendekatan yang berpusat pada guru misalnya menurunkan strategi pembelajaran ekspositori atau pembelajaran langsung (direct

instruction). Sedangkan, pendekatan yang berpusat pada siswa antara lain menurunkan
strategi discovery dan inquiry. 2) Pemilihan dan Penggunaan Strategi Pembelajaran Prinsip umum pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Menurut Sanjaya (2006) ada empat prinsip utama penggunaan strategi pembelajaran, yakni; a) berorientasi pada tujuan, b) aktivitas, c) individualitas, dan d)

integritas.
Selanjutnya, Bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah Tahun 2005 menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,

menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan pengembangan fisik, serta psikologis peserta didik.
Terdapat banyak strategi pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru dalam merancang dan melaksanakan program pembelajaran bahasa Indonesia. Semua strategi
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

74

Satu Untuk UNM
pembelajaran tersebut didesain untuk mengoptimalkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dan untuk membantu siswa secara kreatif merekonstruksi sendiri pemahamannya terhadap topik-topik pembelajaran. Di samping itu, masing-masing strategi mengandung elemen-elemen strategi interaksi pembelajaran yang diharapkan dapat menunjang penguatan aspek kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa yang diharapkan dapat menjadi dampak pengiring (nurturant effects) pembelajaran. 3) Jenis-jenis Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Strategi pembelajaran pokok yang bersesuaian dengan mata pelajaran bahasa Indonesia antara lain diuraikan berikut ini.

Strategi Tata Bahasa/Terjemahan
Strategi tata bahasa/terjemahan sering juga disebut dengan strategi tradisional. Hal itu tidak berarti strategi tata bahasa merupakan strategi yang sangat tua. Strategi tata bahasa sangat kuat berpegang pada disiplin mental dan pengembangan intelektual. Ciri-ciri strategi tata bahasa adalah (1) penghafalan kaidah-kaidah dan fakta-fakta tentang tata bahasa agar dapat dipahami dan diterapkan pada morfologi dan kalimat yang digunakan siswa; (2) penekanannya pada membaca, mengarang, dan terjemahan sedangkan berbicara dan menyimak diabaikan; (3) seleksi kosakata berdasarkan teks bacaan yang dipakai; dan (4) bahasa daerah digunakan sebagai pengantar dalam terjemahan, keterangan, perbandingan, dan penghafalan kaidah bahasa.

Strategi Membaca
Strategi membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan yang diperlukan dalam belajar mereka. Berikut langkah-langkah strategi membaca: (1) Pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal itu diberikan dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat. (2) Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca dengan diam selama 10-15 menit. Untuk mempercepat waktu, bacaan dapat diberikan sehari sebelumnya. (3) Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab. (4) Pembicaraan tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika dipandang perlu oleh guru. (5) Pembicaraan kosakata yang relevan. (6) Pemberian tugas seperti mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat denah, skema, diagram, ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan dengan isi bacaan.

Strategi Audiolingual
Strategi audiolingual sangat mengutamakan drill (pengulangan). Dalam audiolingual yang berdasarkan pendekatan struktural, bahasa yang diajarkan dicurahkan pada lafal kata, dan pelatihan berkali-kali secara intensif pola-pola kalimat. Guru dapat memaksa siswa untuk
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

75

Satu Untuk UNM
mengulang sampai tanpa kesalahan. Langkah-langkah yang biasanya dilakukan adalah (1) penyajian dialog atau teks pendek yang dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks yang dibaca, (2) peniruan dan penghafalan teks itu setiap kalimat secara serentak dan siswa menghafalkannya, (3) penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan, (4) dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan kelas, dan (5) pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan.

Strategi Reseptif dan Produktif
Strategi reseptif adalah strategi yang proses penerimaan isi bacaan baik yang tersurat, tersirat, maupun yang tersorot. Strategi tersebut sangat cocok diterapkan kepada siswa yang dianggap telah banyak menguasai kosakata, frase, maupun kalimat. Yang dipentingkan bagi siswa dalam suasana reseptif adalah bagaimana isi bacaan diserap dengan bagus. Menurut strategi reseptif, pembaca dilarang bersuara, berkomat-kamit, dan bergerakgerak dalam membaca dan menyimak. Strategi reseptif membutuhkan konsentrasi tinggi dalam menerima makna bacaan dan ajaran. Oleh karena itu, dalam penyiapan bacaan, aspek kondisi siswa jangan sampai dilupakan. Begitu pula, aspek pemilihan bacaan. Sebaliknya, strategi produktif diarahkan pada berbicara atau menuangkan gagasannya.

Strategi Langsung
Strategi langsung berasumsi bahwa belajar bahasa yang baik adalah belajar yang langsung menggunakan bahasa dan secara intensif dalam komunikasi. Tujuan strategi tersebut adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara alamiah. Penggunaannya di kelas harus seperti penutur asli. Siswa diberi latihan-latihan untuk mengasosiasikan kalimat dengan artinya melalui demonstrasi, peragaan, gerakan, serta mimik secara langsung. Nama-nama strategi itu adalah strategi baru, strategi

perbaikan, strategi alamiah, dan strategi lisan.
Langkah-langkahnya adalah (1) pembelajaran dimulai dengan dialog atau humor yang pendek dalam bahasa Indonesia dengan gaya bahasa santai dan nonformal; (2) materi mula-mula disajikan secara lisan dengan gerakan atau isyarat tertentu, dramatisasi, dan gambar-gambar; (3) tanya jawab berdasarkan bahasa yang dipelajari dengan memberikan contoh yang merangsang siswa; (4) tata bahasa diajarkan secara induktif; (5) kata-kata digunakan dalam percakapan-percakapan; (6) siswa yang sudah maju diberi bacaan sastra untuk pemahaman dan kenikmatan tetapi bahasa dalam bacaan tidak dianalisis secara struktural atau sistematis; dan (7) budaya yang relevan diajarkan secara induktif. Pada hakikatnya, pengajaran langsung memerlukan kaidah yang mengatur bagaimana siswa berbicara, prosedur untuk menjamin tempo pembelajaran yang baik, strategi khusus untuk mengatur giliran keterlibatan siswa, dan untuk menanggulangi tingkah
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 76

Satu Untuk UNM
laku siswa yang menyimpang. Untuk itu, dalam pelaksanaannya, guru perlu melakukan halhal: (1) menangani siswa yang suka bicara; (2) mengatur tempo pembelajaran; (3) menangani penyimpangan tingkah laku.

Strategi Integratif
Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sebaliknya, antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya, antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi.

Strategi Tematik
Dalam strategi tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa tema bukanlah tujuan, tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, konkret dan konseptual. Tema yang telah ditentukan haruslah diolah dengan perkembangan lingkungan siswa yang terjadi saat ini. Budaya, sosial, dan religius mereka menjadi perhatian. Begitu pula, isi tema disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara konkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Konsep-konsep dasar tidak terlepas. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.

Strategi Kuantum Quantum Learning (QL) merupakan strategi pendekatan belajar yang bertumpu dari
strategi Freire dan Lozanov. QL mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Dalam QL, yang dipentingkan adalah pemercepatan belajar, fasilitasi, dan konteks dengan prinsip segalanya
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 77

Satu Untuk UNM
berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman sebelum menemukan, akui setiap usaha pembelajar, dan jika layak dipelajari berarti layak untuk dirayakan. QL mengutamakan konteks dan isi. Konteks berisi tentang (1) suasana yang memberdayakan; (2) landasan yang kukuh; (3) lingkungan yang mendukung; dan (4) rancangan belajar yang dinamis. Kemudian, isi terdiri atas (1) penyajian yang prima; (2) fasilitas yang luwes; (3) keterampilan belajar untuk belajar; dan (4) keterampilan hidup. Strategi pendidikan dirancang dengan sistem induktif, moving action, multi pendekatan, partisipatori, dan pelibatan diri secara sadar dan tidak sadar. Kemudian, tahapannya diatur melalui persepsi, identifikasi diri, aktualisasi diri, penguatan diri, pengukuhan diri dan refleksi. Alam digunakan sebagai sarana dasar dalam mengenal diri sendiri. Kemudian, strategi penemuan konsep dilakukan.

Strategi Konstruktif
Asumsi sentral strategi konstruktivistik adalah bahwa belajar itu menemukan. Meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Strategi konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, strategi bertanya, inkuiri atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar). Dalam konstruktivistik, siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistis. Kemudian, mereka diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya proyek, simulasi, penyelidikan di masyarakat, menulis untuk dipresentasikan ke pendengar sesungguhnya, dan tugas-tugas autentik lainnya (diambil dari kehidupan nyata). Pembelajaran yang bernaung dalam strategi konstruktivistik adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok (4 orang dalam satu kelompok) untuk saling membantu memecahakan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Dalam kooperatif, terdapat berbagai strategi sebagai berikut.

Student Teams-Achievement Divisions (STAD), yang menggunakan satu langkah
pengajaran di kelas dengan menempatkan siswa ke dalam tim campuran berdasarkan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 78

Satu Untuk UNM
prestasi, jenis kelamin, dan suku. Akhirnya, seluruh siswa dikenai problem (kuis) berkaitan dengan materi dan sesama anggota tim, saat mengerjakan kuis, siswa tidak boleh saling membantu.

Team-Assisted Individualization (TAI) yang lebih menekankan pengajaran individual
meskipun tetap menggunakan pola kooperatif.

Gooperative Integrated Reading and Composition (GIRC) adalah bagian strategi
kooperatif yang komprehensif atau luas dan lengkap untuk pembelajaran membaca dan menulis kelas tinggi. Dalam CIRC, siswa dikelompokkan berdasarkan perbedaan masingmasing sebanyak empat orang. Mereka terlibat ke dalam rangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan yang lainnya, menulis tanggapan terhadap cerita, saling membuatkan ikhtisar, berlatih pengejaan, serta perbendaharaan kata.

Jigsaw; Dalam jigsaw, siswa dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan enam orang
yang mempelajari materi akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab. Misalnya, dari enam orang anggota kelompok saat mempelajari tema tokoh besar, masingmasing mempelajari riwayat hidup, prestasi awal, kemunduran yang dialami, dampak dan kiprahnya. Kemudian, para siswa kembali ke timnya dan bergantian menceritakan hasilnya. Belajar bersama (learning together); strategi ini melibatkan siswa yang bekerja dalam kelompok beranggotakan empat atau lima siswa heterogen untuk menangani tugas tertentu. Kemudian, mereka melaporkan tugas itu. Strategi belajar bersama lebih mengarah pada pembinaan kerjasama dan keberhasilannya. Penelitian Kelompok (Group Investigation) merupakan rencana organisasi kelas umum. Siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif yang bercirikan penemuan), diskusi kelompok, dan perencanaan, serta proyek kooperatif.

Strategi Partisipatori
Strategi pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator. Berkaitan dengan penyikapan guru kepada siswa, partisipatori beranggapan bahwa: (1) setiap siswa adalah unik. Siswa mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar dapat lebih berkembang. (2) anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Jalan pikir anak tidak selalu sama dengan jalan pikir orang dewasa. Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berpikir
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 79

Satu Untuk UNM
anak-anak. (3) dunia anak adalah dunia bermain. (4) usia anak merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia. Dalam Strategi partisipatori, siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai mediator, dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama. Strategi pendidikan partisipatori mempunyai ciri-ciri pokok, yaitu: belajar dari realitas atau pengalaman, tidak menggurui, dialogis, dan panduan prosesnya disusun dengan sistem daur belajar dari pengalaman yang distrukturkan saat itu (structural experiences Iearning

cycle). Proses tersebut sudah teruji sebagai suatu proses yang memenuhi tuntutan
pendidikan partisipatori. Ada dua rangkaian proses tersebut, yaitu: pertama, rangkai ulang – ungkapan – kaji urai – kesimpulan – tindakan; kedua, persepsi - identifikasi diri – aplikasi diri – penguatan diri – pengukuhan diri – refleksi diri. Semua strategi tersebut tentunya memperhatikan tujuan yang akan dicapai, bentuk pendidikannya, proses yang akan dilakukan, materi yang akan disajikan, media atau sarana yang perlu disiapkan, dan peran fasilitator/pemandu.

Strategi Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau

CTL) menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam belajar lebih
bermakna dan menyenangkan. Strategi yang ditawarkan dalam CTL ini diharapkan dapat membantu siswa aktif dan kreatif. Untuk itu, dalam menjalankan strategi ini, guru dituntut lebih kreatif pula. Dalam strategi ini ada tujuh elemen penting, yaitu: inkuiri (inquiry), pertanyaan

(questioning), konstru ktivistik (constructivism), pemodelan (modeling),

Masyarakat Belajar (learning community), penilaian autentik (authentic assessment), dan refleksi (reflection). Diharapkan ke tujuh unsur ini dapat diaplikasikan dalam keseluruhan proses pembelajaran. 4) Mengembangkan Langkah-langkah Kegiatan (Skenario) Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 80

Satu Untuk UNM
Pengalaman belajar dimaksud dapat terwujud melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, yaitu: a) memberikan bantuan kepada guru agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara professional; b) memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar; c) penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran; d) rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik yaitu kegiatan siswa dan materi; e) kegiatan diklasifikasikan atas kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir; f) mencerminkan strategi pembelajaran, media, sumber belajar, dan penilaian yang digunakan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran, guru dapat mengembangankan model pembelajaran kontekstual yang bernuansa PAKEM. Beberapa prinsip dalam pembelajaran kontekstual antara lain: a) mendorong anak belajar secara aktif (learning by doing); b) mendorong anak berkreasi dengan menggunakan pikirannya sendiri, tidak sekedar meniru pikiran guru atau teman; c) mendorong anak melakukan inkuiri dan mempertanyakan (questioning) terhadap informasi yang dibutuhkan; d) mendorong anak belajar secara bersama-sama dalam masyarakat belajar; e) mendorong digunakannya asesmen yang otentik; f) mendorong anak untuk selalu melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar yang telah dilakukan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

81

Satu Untuk UNM
e. Rangkuman Strategi pembelajaran merupakan kegiatan terencana dengan mempertimbangkan dan memanfaatkan berbagai sumber daya (termasuk kondisi siswa, waktu, media dan sumber belajar lainnya) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Prinsip umum pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Ada empat prinsip utama penggunaan strategi pembelajaran, yakni; (1) berorientasi pada tujuan, (2) aktivitas, (3) individualitas, dan (4) integritas. Strategi pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat digunakan di Sekolah Menegah Pertama,yaitu: (1) strategi tata bahasa/terjemahan, (2) strategi membaca, (3) strategi audiolingual, (4) strategi reseptif dan produktif, (5) strategi langsung, (6) strategi integratif, (7) strategi tematik, (8) strategi kuantum, (9) strategi konstruktif, (10) strategi partisipatori, dan (11) strategi kontekstual. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi. e. Latihan 1) Pilihlah 5 strategi pembelajaran, lalu tentukan kompetensi yang dapat dibelajarkan dengan strategi tersebut! 2) Susunlah langkah-langkah pembelajaran telah kalian tetapkan! 3) Untuk memnatapkan penguasaan Anda, selesaikanlah Handout berikut ini! dengan mengembangkan kompetensi yang

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

82

Satu Untuk UNM
Handout 1
Lembar Pengamatan untuk Penerapan Jigsaw Petunjuk: 1. Amatilah tindakan siswa (peserta) dalam kelompoknya. 2. Baca dan tambahkan tindakan yang dilakukan siswa pada kolom 1. 3. Berikan centang pada kolom 2 sesuai dengan tindakan yang teramati. 4. Tuliskan nomor butir-butir kecakapan sosial (lihat daftar) yang mungkin berkembang karena tindakan-tindakan tersebut. 1 Tindakan yang dilakukan siswa 1. Mendengarkan dengan perhatian 2. Menyampaikan gagasan dengan jelas 3. Menyela dengan santun 4. Membuat kesepakatan 5. Meyakinkan orang lain 6. Memimpin diskusi 7. Membuat aturan main 8. Mengatur pembagian tugas 9. 10. 11. 12. 13. 14. YA 2 TIDAK

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

83

Satu Untuk UNM
Handout 2
Pengajaran Sastra: Seluk- Beluk dan Permasalahannya Ahli A A. Dasar Pemikiran Pengajaran Sastra Masyarakat dunia telah berada di pintu gerbang milenium ketiga yang bercirikan era globalisasi serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Globalisasi diibaratkan sebagai kompresif ruang dan waktu, bukan hanya secara fisik, melainkan terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang tidak memiliki batas ruang dan waktu akibat berkembangnya suatu sistem komunikasi supermodern. Perkembangan teknologi internet telah mewujudkan ruang maya yang memungkinkan terbentuknya sistem komunikasi global yang melibatkan masyarakat dari berbagai negara dengan multibudayanya. Salah satu faktor kuat yang mendorong globalisasi adalah perkembangan iptek dan implementasinya dalam berbagai kehidupan manusia. Tak dapat disangkal bahwa globalisasi yang mengarah pada era pasar bebas tersebut memberikan imbas yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, khususnya Sumber Daya Manusia. Dalam menghadapi kekuatan besar dan berjalan dengan cepat tersebut, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri; bukan saja untuk tetap sintas dalam kehidupan global yang penuh dengan persaingan, melainkan juga untuk mengembangkan jati diri bangsa Indonesia agar eksis sebagai bangsa yang sejajar dengan bangsa lain di dunia. Karena itu, manusia Indonesia dituntut untuk berpikir maju, mampu berkomposisi dengan ilmu dan teknologi, beretos kerja yang tinggi, dan harus mampu merambah dunia luar agar tak tertindas oleh arus persaingan bebas yang superketat. Akan tetapi, seriring dengan itu kehidupan manusia Indonesia sudah banyak mengalami dekadensi moral akibat keterpurukan ajaran mental, terutama ajaran agama, dan terkikisnya nilai-nilai budaya dasar/setempat yang mengandung petuah atau ajaran yang luhur. Kiprah manusia Indonesia yang berpacu mengajar obsesi menjadi manusia yang supermodern, membuat mereka mengalami keterasingan (terisolasi) dari kepribadian dan budaya dasarnya. Birokratisasi telah melahirkan budaya keterasingan. Lebih dari semuanya, anggota-anggota masyarakat kapitalis telah terasing dari kekuatan sosial yang mengatur dan menentukan kehidupan mereka sehari-hari. Hubungan antara manusia menjadi hubungan antara dua abstraksi, antara dua mesin yang hidup, dan yang saling menggunakan satu sama lain. Demikian pula hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Orang merasa bahwa dirinya itu sudah komoditi yang harus dilemparkan ke pasar. Manusia telah kehilangan rasa kemuliaannya (kemanusiaan), yang bahkan manusia primitif pun memilikinya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 84

Satu Untuk UNM
Keadaan seperti itu tidak dapat dibiarkan. Kita harus segera melakukan terobosanterobosan untuk mencegah rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, tergelincir ke dalam keterasingan yang menyebabkan mereka menjadi manusia yang berhati robot. Salah satu jalan untuk mencegah keterpurukan moral dan nilai kemanusiaan adalah penghayatan terhadap karya sastra, karena karya sastra dapat memperkaya batin kita, kemudian mendorong kita untuk lebih mencintai dan membina kehidupan secara lebih baik dalam masyarakat (Ali, 1975 : 5). Singkatnya, selain berfungsi sebagai hiburan dan pengisi waktu luang, sastra dapat menjadikan manusia lebih beradap dan berbudaya, halus perasaannya, luas pandangannya, dan bagus bahasanya. Dengan mempertimbangkan manfaat yang disuguhkan oleh sastra, sangat beralasanlah jika sastra diajarkan pada generasi muda baik secara formal maupun informal, khususnya sastra daerah. Ahli B B. Kondisi Pengajaran Sastra Sekarang Dewasa ini, sepintas dapat dikatakan bahwa kegiatan bersastra di tengah masyarakat umum sangat sedikit dan bersifat insidentil, kalau juga dapat disebut masih ada. Dalam bidang pengajaran sastra, sudah sejak lama terdengar kecaman yang ditujukan kepada pelaksanaan pengajaran sastra di sekolah yang dianggap tidak berhasil menumbuhkan minat para pelajar tentang karya sastra. Pengajaran lebih mengutamakan pengetahuan tentang sastra dan kurang sekali memperkenalkan karya sastra itu sendiri. Pengajaran bersifat verbalistis dengan jalan menyodorkan sejarah kesusastraan, bentuk-bentuk sastra dan komponen-komponen strukturnya secara terpisah. Jika karya sastra itu pun dibicarakan, biasanya hanya terbatas pada ringkasan cerita yang bersifat hafalan yang kering dan membosankan sehingga jauh dari harapan dapat menumbuhkan minat, apalagi daya imajinasi pelajar. Pengajaran sastra tidak memberikan peluang kepada pelajar untuk memperkaya pengalaman batin mereka. Sejumlah penelitian mengenai pengajaran apresiasi sastra di sekolah menunjukkan hasil yang memperkuat alasan tuduhan tersebut. Penelitian-penelitian yang ada menunjukkan bahwa minat baca dan daya apresiasi sastra siswa masih rendah. Adapun sebab-sebab rendahnya minat baca dan apresiasi sastra siswa menurut hasil penelitian-penelitian tersebut, adalah : 1. Kurikulum selama ini dianggap tidak menyediakan alokasi waktu yang memadai untuk bidang studi dan kegiatan bersastra, bahkan cenderung tidak ada perhatian pada pengembangan sastra daerah.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 85

Satu Untuk UNM
2. Pengajaran sastra pada umumnya, sastra daerah khususnya, tidak dilaksanakan dengan intensif, materi pelajaran lebih bersifat teori dan sejarah, sehingga kurang memberikan pengalaman sastra. Suasana pengajaran terasa kering dan membosankan, tidak menciptakan suasana sastra dan kurang merangsang kreativitas sastra. 3. Guru kurang memberikan apresiasi sastra kepada siswa. Mungkin disebabkan oleh kurangnya tenaga pengajar yang berdedikasi yang tinggi terhadap sastra, apalagi sastra daerah. 4. Kurangnya buku sastra milik siswa dan perpustakaan sekolah miskin akan koleksi bukubuku sastra yang baik (dari periode ke periode), baik itu sastra Indonesia maupun sastra daerah. 5. Strategi belajar-mengajar sastra tidak diprogram secara cermat. 6. Kegiatan ekstra dan kokurikuler kurang dimanfaatkan untuk menunjang pengajaran sastra, terutama sastra daerah. 7. Kegiatan apresiasi sastra bersifat insidentil dan tidak berdasarkan program yang komprehensif, frekuensinya sangat kurang. 8. Kegiatan sastra tidak ditunjang oleh dana yang tersedia. Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, sebaiknya kita melihat masalah ini dari semua komponen pengajaran yang secara bersama-sama menentukan tingkat hasil proses mengajar, yaitu kurikulum, bahkan metode, media, dan penilaian. Masalahnya sekarang adalah seorang guru bahasa Indonesia dituntut sekaligus sebagai guru apresiasi sastra. Jika guru tersebut tidak memiliki dedikasi yang tinggi terhadap sastra, maka ada kemungkinan mereka bermasa bodoh untuk mengembangkan bahan ajaran kesastraan. Bahkan ada kemungkinan mereka hanya memiliki materi sastra yang mereka suka saja, sehingga hanya sebagian kecil ranah tujuan yang ditargetkan dalam kurikulum yang dapat tercapai. Ahli C C. Kondisi Pengajaran Sastra yang Diharapkan Pada zaman dahulu, hampir pada setiap helat atau kenduri yang menghabiskan waktu yang cukup lama dan menghimpun banyak orang pasti ada kegiatan selingan yang tidak hanya berupa nyanyian, tetapi juga pertunjukan seni yang lain atau pembacaan sastra. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian tetap dengan menjadi juru cerita (Fachruddin, 1994 : 3). Mungkin tidak banyak karya sastra yang diciptakan pada waktu tersebut, tetapi yang sedikit itu menggema di hati sanubari rakyat banyak.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 86

Satu Untuk UNM
Kegiatan seperti di atas memang tidak sewajarnya diharapkan terulang pada dasawarsa sekarang ini karena keadaannya memang sudah sangat jauh berbeda. Akan tetapi, hendaknya dipikirkan varian penggantinya yang sesuai dengan tingkat kemajuan dewasa ini. Pengenalan masyarakat terhadap sastra haruslah diintensifkan, agar sastra itu dapat berurat berakar dalam budaya masyarakat. Dengan demikian, sastra itu akan mempunyai andil dalam mempengaruhi aktivitas dan kreativitas masyarakat. Hal seperti ini memang tidak mudah diwujudkan, harus melalui proses pembelajaran dan pembudayaan yang lama dan berkesinambungan. Penguasaan sastra harus diawali dengan pembiasaan yang teratur dan berkesinambungan terhadap berbagai bentuk dan ragam sastra yang ada. Dari pembiasaan seperti itu diharapkan ditumbuhkan kompotensi sastra, yakni pengenalan berbagai aturan dan konvensi yang berlaku dalam lingkungan sastra bersangkutan. Dengan modal kompetensi itu diharapkan dapat dibangkitkan pemahaman dan pengharapan terhadap karya sastra dan syukurlah pula apabila apresiasi itu dapat ditingkatkan menjadi kemampuan kreatif produktif (Fachruddin, 1994 : 2). Pihak sekolah (pendidikan formal) harus meramu sedemikian rupa sistem pendidikan dan pengajaran sastra agar dapat memberikan rangsangan kognitif, afektif, dan psikomotor pada diri anak didik (dengan tetap memperhatikan perbedaan karakter anak didik). Dengan demikian, pengajaran sastra tidak hanya berorientasi untuk memberikan pengetahuan tentang sastra, tetapi lebih jauh lagi dapat memupuk daya apresiasi dan daya cipta anak. Kecintaan anak pada sastra akan membuat mereka menjadikan sastra sebagai bahagian mutlak dari kehidupan, meskipun mungkin hanya bahagian kecil. Akhirnya mereka bersastra karena memang butuh, tidak sekehendak hati, dan bukan hanya sekedar hobi. Ahli D D. Upaya dan Strategi Pengembangan Pengajaran Sastra Applebee (1978) mengatakan bahwa kita selalu kurang akurat mendefinisikan sastra, sehingga kita kurang memahami apa yang hendak diajarkan. Lebih lanjur ia menegaskan bahwa guru-guru sastra tak pernah berhasil menolak tekanan-tekanan untuk menjabarkannya sebagai kerangka ilmu yang harus diimbaskan. Dalam konsep seperti ini sastra hanya merupakan informasi yang diperoleh tentang cipta sastra dan penulispenulisnya. Sebab itu, Applebee menawarkan formulasi lain yang lebih relevan dan menjawab tuntutan kebutuhan siswa, yakni keterikatan pembaca (siswa) pada wacananya, bagaimana pandangan dan prasangkanya dalam mengelola bacaan dan membentuk persepsi siswa tentang realitas kehidupan. Jadi, ia mengimbau untuk mengkaji bagaimana sastra itu
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 87

Satu Untuk UNM
dikenal dan dicipta ‗Horison ekspektasi budaya‘ dan refleksinya pada fungsi formatif sosial sastra (konteks kultural dalam bacaan). Konsep yang senada dengan itu dikemukakan oleh Rosemblatt, bahwa sangat penting ditegaskan hubungan antara pembaca dan wacana dalam menggali makna. Implikasi visi Rosemblatt ini terletak pada empat prinsip : 1. siswa harus diberi kebebasan untuk melahirkan reaksinya sendiri, 2. siswa harus diberi kesempatan untuk membentuk kristalisasi rasa personalnya terhadap wacana sastra yang dihadapinya, karena itu sangatlah efektif jika mereka bersentuhan dengan fenomena daerahnya, 3. guru harus berusaha menemukan butir-butir persamaan di antara pendapat-pendapat siswa, dan 4. pengaruh guru haruslah berupa suatu elaborasi dari pengaruh-pengaruh utama yang inheren di dalam sastra itu sendiri. Apakah implikasi prinsip ini di dalam proses belajar-mengajar sastra ? Hendaknya selalu diingat bahwa makna sastra harus ditentukan oleh siswa. Guru, kritikus, siswa lain dapat membantu, tidak boleh membuat makna untuk siswa yang bersangkutan. Jika posisi siswa makin membaik bersamaan dengan berkembangnya pemikiran yang lebih lues dan realistis, maka proses yang diinginkan tergantung dan objektif. Alasannya, cipta sastra ditulis bukan untuk diberi skala bobot, melainkan untuk dibaca, untuk diintegrasikan dengan nurani kemanusiaan yang unik, mandiri, dan khas pribadi. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa tujuan pengajaran tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman sastra sehingga sasaran akhir pembinaan apresiasi sastra dapat tercapai. Pengalaman sastra ini merupakan bentuk sintesis dari apa yang diketahui dan dirasakan oleh pembaca dengan sesuatu yang ditawarkan oleh karya sastra itu sendiri : sensasi, emosi, dan gagasan yang terpola dari seorang sastrawan yang berupaya mengkomunikasikan tilikan hidupnya. Karena itu, perhatian hendaknya terus diharapkan pada interaksi yang dinamik antara karya seni dengan kepribadiaan pembaca karya sastra tersebut. Tujuannya tidak lain adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk mengembangkan pemahaman bacaan yang utuh dan memperlebar dimensi kontak emosi dan gagasan pribadi yang memungkinkan terjadinya respon yang akrab. Pemekaran apresiasi sastra selalu tergantung pada suatu proses resiprokal :pembebasan pengertian siswa tentang hidup dan kemanusiaan, yang akan menggiringnya pada sensivitas estetik. Harapan ini dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap keadaan pengajaran sastra yang ada sekarang. Beberapa jalan keluar dapat dilakukan, antara lain :
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 88

Satu Untuk UNM
1. mengintensifkan pelaksanaan program kesenian dan sastra di sekolah, khususnya sastra daerah, baik sebagai program kurikuler maupun ekstrakurikuler dengan menyempurnakan kurikulum, menambah tenaga pembina, memperluas kegiatan perpustakaan dan fasilitas lainnya, 2. meningkatkan pelaksanaan program pembinaan apresiasi sastra di sekolah-sekolah kejuruan, terutama melalui kegiatan ekstrakurikuler 3. mengadakan lokakarya dan pelatihan bagi para guru bahasa dan sastra Indonesia dan daerah untuk membantu dan mengarahkan mereka mengembangkan keterampilan dan wawasan kesastraan termasuk sastra daerah, 4. mengintensifkan pelaksanaan program pengajaran sastra di fakultas sastra dengan menyempurnakan kurikulum, metode mengajar, materi pengajaran, dan lingkungan belajar, sehingga dapat dihasilkan bukan saja sarjana sastra yang tahu banyak tentang sastra, melainkan pecinta-pecinta sastra yang mau melibatkan diri ke dalam kehidupan sastra bangsanya, 5. meningkatkan pelaksanaan pendidikan bahasa dan sastra di FBS UNM, khususnya kependidikan, mengajarkan sehingga dapat bahasa, tapi dihasilkan guru-guru yang tidak pecinta-pecinta sastra yang hanya mampu menularkan juga mau

kecintaannya kepada siswa-siswanya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

89

Satu Untuk UNM
Handout 3
Relevansi Strategi Pembelajaran dengan Kompetensi Dasar Pilihlah lima strategi pembelajaran yang ada, lalu tentukan kompetensi dasar apa saja yang dapat diajarkan dengan strategi tersebut. No. Strategi KD yang dapat Dibelajarkan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

90

Satu Untuk UNM
Handout 4
Ide Kegiatan Pembelajaran Mata Pelajaran Standar Kompetensi Konteks/Tema/Teks/Unit KD : : : Tujuan Strategi Pembelajaran

Indikator

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

91

Satu Untuk UNM
DAFTAR PUSTAKA Cheng, Y. C. 1993. Profiles of organizational culture and effective schools. School

Effectiveness and School Improvement, 4(2):85-110.
Departemen Pendidikan Nasional.2005. Empat Strategi Dasar Kebijakan Pendidikan Nasional. Seri Kebijaksanaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ewell, P. T. dan Lisensky, R. P. 1988. Assessing Institutional Effectiveness: Redirecting the

Self-Study Process. Washington, DC: Consortium for the Advancement of Private
Higher Education. Frymier, J., Combleth, C., Donmoyer, R., Gansneder, B. M., Jeter, J. T., Klein, M. F., Schwab, M., dan Alexander, W. M. 1984. One Hundred Good School: A Report of the Good

School Project. Indiana: Kappa Delta Pi.
Fuller, B. 1987. What school factor raise achievement in the third world? Review of

Educational Research, 57(3):255-292.
Heck, R. H., Marcoulides, G. A. dan Lang, P. 1991. Principal instructional leadership and school achievement: the Application of discriminant tehcniques. School Effectiveness

and School Improvement, 2(2): 115-135.
Louis, K. S. dan Miles, M. B. 1991. Managing reform: lesson from urban high schools. School

Effectiveness and School Improvement, (2):75-96.
DBE 3. 2008-2009. ‖Modul Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2 & 3 (Better Teaching and Learning 3)‖. USAID: DBE3. Mortimore, P. 1993. School effectiveness and the management of effective learning and teaching. School Effectiveness and School Improvement; 4(4):290-310. Mudini, 2000. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Berbasis

Kompetensi. Makalah Diklat Instruktur Guru Bahasa Indonesia SMP, 14 April s.d. 4
Mei 2004 di PPPG Bahasa, Jakarta. Muhammad, Hamid . 2005.Materi Pelatihan terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Postman, N. dan Weingartner, C. 1973. The School Book: For People who Want to Know what All the Hollering is about. New York: Delacorte Press. Purwo, Bambang Kaswanti. 1997. Pokok-pokok Pengajaran Bahasa dan Kurikulum 1994 :

Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

92

Satu Untuk UNM
Reynolds, D. 1990. Research on school/organizational effectiveness: The end of the beginning? dalam Rene Saran dan Vernon Trafford (1990). Research in Educational

Management and Policy: Retrospect and Prospect. London: The Farmer Press.
Slater, R.O. dan Teddlie, C. 1992. Toward a theory of school effectiveness and leadership.

School Effectiveness and School Improvement, 3(4):242-257.
Stoll, L. dan Fink, D. 1992. Effecting school change: the halton approach. School Effective-

ness and School Improvement, 3(1):19-41.
Taylor, B. O. dan Levine, D. V. 1991. Effective school project and school-based management.

Phi Delta Kappan, Januari. 394-397.
Townsend, T. J994. Effecting Schooling For the CommUllity. London and New York:, Routledge. Virgilio, I., Teddlie, C., dan Oescher, I. 1991. Variance and context differences in teaching at differentialli effective schools. School Effectiveness and School Improvement, 2(2):152-168. Wayson, W. W., Mitchell, B. M., Piruiel, G. S., dan Landis, D. 1988. Up From Excellence:

Impact of the Excellence Movement on Schools. Bloomington, Indiana: Phi Delta
Kappa Educational Foundation. Witte, J. F. dan Walsh, D. J. 1990, A systematic test of the effective school model.

Educational Evaluation and Policy Analysis, 12(2):188-212

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

93

Satu Untuk UNM
LAMPIRAN B-1 (Contoh RPP Membaca)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran Kelas/ Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator : Bahasa Indonesia : VII/ 1 Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat Menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit  Mampu membaca cepat 200 kata per menit  Mampu menjawab pertanyaan dengan benar 75% dari jumlah pertanyaan yang disediakan  Mampu menyimpulkan isi bacaan Alokasi Waktu A. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti pembelajaran dan latihan membaca cepat siswa dapat: a. Membaca cepat 200 kata per menit b. Menjawab pertanyaan dengan benar minimal 75% pertanyaan bacaan; c. menyimpulkan isi bacan dengan tepat. B. Materi Pokok Membaca Cepat Membaca cepat adalah salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting. Dengan membaca cepat kita mampu mengakses informasi dengan cepat pula. Perkembangan informasi yang kian hari kian pesat menuntut keterampilan membaca cepat yang memadai pula. Namun, harus dipahami, kemampuan membaca cepat juga harus dibarengi dengan pemahaman yang baik terhadap bacaan yang dibaca. Kecepatan membaca yang diikuti dengan pemahaman membaca disebut membaca efektif. Satuan kemampuan membaca cepat biasanya disingkat kpm (kata permenit) artinya, jumlah kata yang dapat dibaca dan dipahami dalam satu menit. Untuk membaca dengan efektif, (memadukan kecepatan membaca dan tingkat penguasaan isi bacaan) diperlukan berbagai strategi dan teknik yang baik. Selain teknik juga diharapkan meninggalkan kebiasaan membaca yang tidak efektif.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 94

2 x 40 menit

Satu Untuk UNM
Tampubolon (1986:11) mengidentifikasi kebiasaan membaca yang tidak efektif sebagai berikut: Membaca dengan suara terdengar Membaca dengan suara berbisik. Membaca dengan bibir bergerak Memabca dengan kepala bergerak mengikuti baris bacaan. Membaca dengan menunjuk baris bacaan Membaca kata-demi kata Kebiasaan-kebiasan buruk tersebut di atas merupakan faktor pemghambat kemampuan membaca cepat seseorang. Untuk memperoleh peningkatan kemampuan membaca cepat dan efekif maka kebiasaan tersebut harus dihindari. Mengapa kita dituntut untuk menjadi pembaca yang cepat dan efektif? Ada dua alasan pokok. Pertama, yang perlu diingat ialah bahwa membaca itu adala sebuah proses yang kompleks dan rumit. Kompleks artinya dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan eksternal pembaca. Faktor internal, dapat berupa intelegensi, minat, sikap, bakat. Selain hal tersebut di atas, membaca cepat dan efektif sangat penting karena tuntutan realitas kehidupan sehari-hari. Berapa juta eksamplar surat kabar yang terbit setiap hari di seluruh dunia? Berapa eksamplar majalah dan berbagai macam tabloid bulanan dan mingguan. Semua menyajikan informasi dan pengetahuan, fakta, liputan, peristiwa, dan sebagainya. Jika kita tidak mau dikatakan masyarakat yang paling terkebelakang, maka ada semacam kewajiban atau kebutuhan untuk membaca, membaca dan membaca seri-seri cetakan dan bahan bacaan tersebut. Untuk memenuhi keutuhan tersebut seseorang dituntut memiliki keterampilan membca cepat dan efektif yang memadai. Kemampuan membaca cepat dan efektif ialah perpaduan antara kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan. Untuk menentukan nilai kemampuan/kecepatan membaca adalah jumlah kata yang dibaca per menit dkalikan dengan presentase pemahaman isi bacaa. Misalnya, jika yang dapat dibaca permenit adalah 200 kata, dan jawababn yangbenar adalah 60, maka kemampuan/kecepatan membca efektif nya adalah 200 X 60% = 120 kpm. Ada berbagai kegunaan yang terkandung dari kemampuan membaca cepat, diantaranya adalah (1) membaca cepat menghemat waktu, (2) membaca cepat menciptakan efesiensi,
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 95

Satu Untuk UNM
(3) semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk melakukan hal-hal rutin, maka semakin banyak waktu yang tersediauntuk mengerjakan hal penting lainnya, (4) membaca cepat memiliki nilai yang menyenangkan/ menghibur, (5) membaca cepat memperluas cakrawala mental, (6) membaca cepat membantu berbicara secara efektif, (7) membaca cepat meningkatkan pemahaman, (8) membaca cepat menjamin untuk selalu mutakhir Setelah membaca dengan cepat diharapkan pembaca dapat menyimpulkan dengan tepat. Simpulan bacaan adalah rangkuman inti teks bacaan. C. Metode/Model Pembelajaran Modifikasi Group Investigation, cerdas-cermat, pos baca dan kartu control D. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal 1. Guru mengondisikan siswa untuk mengikuti pelajaran dengan bercerita mengenai kegiatan yang ada kaitannya dengan membaca cepat, seperti pewarta dan orangorang sukses karena kegemaran kemampuan membaca cepat yang amat baik. 2. Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai pelajaran yang akan berlangsung. 3. Siswa mencermati segala instruksi guru mengenai langkah pembelajaran. 4. Guru dan siswa bertanya jawab mengenai proses belajar yang akan dilaksanakan. 5. Siswa membentuk kelompok dengan cara berhitung. Kegiatan Inti 1. Siswa mendiskusikan materi membac cepat dan teknik membaca yang dibagikan guru. 2. Siswa mengadakan tanya jawab yang berkaitan dengan materi yang didiskusikan atas bimbingan guru 3. Siswa mencermati teks yang diberikan oleh guru, berupa daftar alamat dan nomor telepon, daftar menu makanan, iklan, teks wacana dan sebangainya. 4. Siswa melaksanakan kegiatan cerdas-cermat dengan cara membaca cepat teks yang dibaca dan menjawab pertanyaan secara lisan yang yang diberikan guru. Pertanyaan diselipkan guru dalam teks dalam bentuk cerita. 5. Guru membagikan kartu kontrol setiap kelompok.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

96

Satu Untuk UNM
6. Siswa mencermati kartu kontrol dan membaca seluruh instruksi yang terdapat pada kartu I 7. Siswa mendiskusikan instruksi yang terdapat pada kartu. Selanjutnya mulai bergerak ke pos baca yang telah ditentukan pada kartu control. 8. Setiap kelompok telah siap pada pos bacanya masing-masing, dan mengerjakan tugas pada pos baca tersebut. Siswa mendiskusikan kembali hasil kerjanya, kemudian bergegas ke pos berikutnya yang ditunjuk pada kartu control. 9. Setiap kelompok menjawab pertanyaan dengan cepat sesuai kartu yang diperolehnya dan mengerjakan tugas tersebut pada pos yang ditentukan. 10. Demikian seterusnya sampai seluruh tugas selesai dikerjakan. siswa menempelkan hasil pekerjaanya di depan kelas. 11. Setiap kelompok mempresentasikan hasi kerja masing-masing. Materi yang presentasikan adalah hasil penelusuran jawaban dari tiap kartu pada semua pos yang dilalui. 12. Siswa mengerjakan tes kemampuan membaca cepat denagn berpasangan. Satu orang siswa membaca dan seorang lagi mencatat waktu. Setelah selesai, siswa bergantian melakukan tugas tersebut. 13. Siswa menghitung kecepatan membaca mereka sesuai rumus yang telah diberikan. Kegiatan Akhir 1. Setiap kelompok mengumpulkan hasil diskusi 2. Guru dan siswa merefleksi hasil belajar 3. Pembeberian tugas E. Sumber Belajar Buku teks Koran, majalah, brosur F. Penilaian Teknik : Tes tertulis Bentuk : Uraian Instrumen: Terlampir pada Bahan ajar 1. Soal pada kegiatan 1 satu soal memiliki bobot 10. (bobot keseluruhan 30%) 2. Pada kegiatan ke dua bobot 70%. Setelah selesai

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

97

Satu Untuk UNM
Siswa memiliki kem 200 ke atas = 100 190-199 180-189 170 -179 160 – 169 150 – 159 140-149 Dibawah 140 Penentuan nilai Kegiatan 1X 30% + kegiatan 2 X 70% = Nilai akhir Mengetahui: Kepala Sekolah, Makassar, Juli 2010 Guru Mata Pelajaran, = 90 = 85 = 80 = 75 = 70 =65 =60

……………………… NIP

…………………… NIP

Latihan Membaca Cepat Bahan Ajar Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat Menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata permenit  Mampu membaca cepat 200 kata permenit  Mampu menjawab pertanyaan dengan benar 75% dari jumlah pertanyaan yang disediakan  Mampu menyimpulkan isi bacaan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

98

Satu Untuk UNM
Ayo Gemar Membaca Kompetensi Dasar Menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata permenit

Indikator  Mampu membaca cepat 200 kata permenit  Mampu menjawab pertanyaan dengan benar 75% dari jumlah pertanyaan yang disediakan  Mampu menyimpulkan isi bacaan

Kegiatan 1 Membaca dan Memahami Isi Bacaan Membaca cepat adalah salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting. Dengan membaca cepat kita mampu mengakses informasi dengan cepat pula. Perkembangan informasi yang kian hari kian pesat menuntut keterampilan membaca cepat yang memadai pula. Namun, harus dipahami, kemampuan membaca cepat juga harus dibarengi dengan pemahaman yang baik terhadap bacaan yang dibaca. Kecepatan membaca yang diikuti dengan pemahaman membaca disebut membaca efektif. Satuan kemampuan membaca cepat biasanya disingkat kpm (kata permenit) artinya, jumlah kata yang dapat dibaca dan dipahami dalam satu menit. Pada pelatihan berikut, kalian akan berlatih mengembangkan kemampuan membaca cepat kalian dengan berbagai variasi latihan. Berlatihlah dengan senang!

Kegiatan Pembelajaran Membaca Cepat dan Mengukur Kecepatan Membaca (200 Kata permenit) A. Setelah berlatih meningkatkan kemampuan membaca, kali ini kalian akan mengukur kecepatan membaca masing-masing. Ikutilah langkah pembelajaran berikut! 1. Lakukanlah kegiatan ini secara berpasangan dengan teman sebangkumu. 2. Tentukan siapa yang menjadi pembaca pertama dan kedua. 3. Bacalah bacaan berjudul Tom and Jerry yang Selalu Kejar-Kejaran di bawah. Catatlah berapa lama waktu yang dibutuhkan tersebut! untuk meyelesaikan teks bacaan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

99

Satu Untuk UNM
4. Setelah seluruhnya selesai membaca, gurumu akan memberikan 10 buah pertanyaan. Jawablah pertanyaan tersebut dengan tepat. 5. Ukurlah kecepatan membaca temanmu dengan rumus: Jumlah kata yang dibaca X 100 = ……..kpm Jumlah waktu

Tom and Jerry yang Selalu Kejar-Kejaran
Kita sudah sering menyaksikan film kartun Tom and

Jerry. Film tentang kejar-kejaran kucing dan tikus ini
memang selalu membuat kita tertawa. Film kartun yang diproduksi sejak tahun 1947 sampai 1993 pernah meraih piala oscars sebagai film kartun terbaik. Tokoh pada film kartun ini diperankan oleh Tom seekor kucing dan Jerry seekor tikus. Kenapa sih Tom sering memburu Jerry. Yang pasti karena Tom adalah seekor kucing dan Jerry adalah seekor tikus. Biasa dong kucing mengejar tikus. Selain itu, dia juga mendapat tugas dari pemilik rumah untuk mengusir tikus. Tom menganggap Jerry sebagai tikus yang enak dimakan. Tom termasuk jenis kucing kampung yang biasa kita temui. Hanya saja warna bulunya abu-abu belang putih. Ahli kucing berpendapat, Tom mirip kucing yang ada di Rusia. Biasanya keributan antara tom dan Jerry dimulai karena perebutan makanan dan salah paham. Walaupun keduanya sering bermusuhan, tapi mereka sering juga tolongmenolong. Contohnya, waktu Jerry kedinginan, Tom pun menolongnya. Soalnya Tom takut kehilangan Jerry. Kalau tidak ada Jerry siapa yang akan dikejar-kejar Tom. Selain itu, Tom pernah curhat kepada Jerry. Tokoh kedua adalah Jerry. Tikus kecil berwarna cokelat ini termasuk tikus yang biasa kita lihat di sekitar rumah. Tubuhnya mirip dengan Micky Mouse, cerdiknya pun sama dengan Micky Mouse, hanya warna bulunya saja yang berbeda. Sebenarnya Jerry bukan lawan yang seimbang bagi Tom. Tubuh Tom puluhan kali lipat lebih besar dari tubuh Jerry. Namun, Jerry selalu mengalahkan Tom, karena Jerry lebih cerdik dan lebih cekatan daripada Tom. Makanan kesukaan Jerry adalah keju. Air liurnya pasti menetes kalau melihat keju berwarna kuning, meskipun keju itu dijaga oleh Tom. Jerry pasti nekat mengambil keju itu.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 100

Satu Untuk UNM
Selain Tom dan Jerry, tokoh lain dalam film ini adalah Butch, kucing liar saingan Tom yang selalu menginginkan Jerry. Juga ada Spike, anjing bulldog yang selalu menjaga Jerry dari kejaran Tom. Lalu Tike, anak Spike yang bersahabat dengan Jerry. Jerry juga punya keponakan perempuan bernama Nibblees. Nibblees ini selalu membuat repot Jerry. Soalnya ia selalu kelaparan dan mengganggu Tom. Kalau sudah begini, Tom dan Nibblees pasti dikejar-kejar Tom. Akibatnya, isi rumah pun berantakan.

Dikutip dari Majalah Bobo Edisi Mei 2006 dengan perubahan seperlunya
Jumlah kata 420 kata B. Setelah membaca bacaan tersebut di atas, tutuplah bukumu kemudian dengarkan pertanyaan yang akan diajukan oleh gurumu. Jawablah pertanyaan tersebut dengan benar! Selanjutnya hitunglah kemampuan membaca kalian berdasarkan rumus di atas! Waktu tempuh baca :.............. detik Nama :......................... Nis : .......................... 1. Sejak kapankah film tom and Jerry diproduksi? a. 1947 b. 1977 b. Tom dan Jerry c. Tomy dan Jenny 3. Tom adalah seekor….. a. Anjing b. Tikus 4. Jerry adalah seekor? a. Anjing b. Tikus 5. Makanan apakah kesukaan Tom? a. Ikan b. Kacang c. Keju d. Kue c. Kucing d. Kelinci c. Kucing d. Kelinci c.1975 d. 1999 c. Tom dan Kerry d. Tommy dan Jenny Pilihlah jawaban yang paling tepat berdasarkan wacana di atas!

2. Siapakah tokoh dalam film tom and jerry?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

101

Satu Untuk UNM
6. Jerry adalah tokoh kartun yang serupa dengan… a. Micky mouse b. Deasy 7. Apa warna bulu Jerry? a. Hitam b. Coklat 8. Tom mirip kucing dari….. a. Indonesia b. Inggris a. Makanan dan kesalahpahaman a. Rusia d. Amerika c.Makanan dan minuman c. Kuning d. Putih c. Donald duck d. Trio Kwekwek

9. Keributan anatar Tom dan jerry dimulai karena….? b. Minuman dan kesalah pahaman d. Saling Jago-jagoan 10. Mengapa Jerry selalu mengalahkan Tom? a. Karena Jerry lebih besar b. Karena Jerry lebih kecil c. Karena Jerry lebih cerdik d. Karena Jerry lebih kuat

Jawaban benar Nilai

: …… : ……

Teks untuk Bahan Remedial Raja yang Sulit Tidur Suatu saat di istana Kerajaan Jayanala, baginda Raja yang bernama Sri Rama tengah mengalami kesulitan. Sudah beberapa hari belakangan ini, Raja Sri Rama sulit tidur dengan nyenyak. Sehingga beliau sering naik darah dan tidak dapat berkonsentrasi dalam memimpin kerajaannya. Atas saran para menteri kerajaan, baginda Raja pun mengadakan sayembara kepada para tabib. Tabib siapa pun yang dapat membuat baginda Raja tertidur akan dihadiahi sekantong emas. Tapi, hasilnya nihil. Tiada seorang tabib pun yang mampu membuat Raja tertidur lelap. Sehingga Raja menjadi murka dan membatalkan sayembara tersebut. Karena beliau belum juga dapat tertidur , akhirnya Raja memutuskan untuk pergi berburu binatang di hutan belantara sebagai pelarian atas rasa kecewanya. Dengan menaiki kuda kebanggannya dan disertai para prajurit dan beberapa menteri kerajaan, Raja memulai perburuannya ke hutan.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 102

Satu Untuk UNM
Baginda Raja tersesat di dalam hutan. Beliau pun menjadi sangat panik. Sampai beliau akhirnya mendapati seorang lelaki separuh baya tengah tertidur pulas di bawah pohon. Baginda Raja turun dari kudanya, melepaskan mahkotanya dan menyamar sebagai rakyat biasa, lalu mendekat kepada lelaki tua itu dan berkata ― Permisi tuan‖, dengan suara yang lembut. Lelaki itu terkejut dan terbangun kemudian bertanya ―Ada apa anak muda?‖. ―Tidak tuan saya melihat anda begitu lelap tertidur . Jika boleh saya tahu apa rahasia anda sehingga dapat tidur lelap seperti tadi‖, tanya baginda Raja. Kepada lelaki itu baginda Raja menceritakan permasalahan kesulitan tidurnya. Setelah mendengarkan cerita Raja, lelaki itu langsung memberikan sebuah kapak kepada Raja lalu mengatakan ―Tebanglah pohon-pohon tua sebanyak-banyaknya di hutan ini‖. ―Untuk apa tuan?‖ tanya baginda Raja. ―Lakukanlah dulu perintahku!‖ kata Lelaki tua. Akhirnya baginda Raja pun memulai pekerjaannya menebang pohon-pohon tua di hutan sementara itu lelaki tua itu malah duduk bersantai di bawah pohon sambil melihat baginda Raja bekerja. Hingga beberapa jam berlalu, Raja sudah merasa sangat lelah, lapar dan kulit telapak tangannya pun mulai terkelupas, sementara Pak tua itu masih duduk di tempatnya. Raja sangat dongkol. ‖Mari anak muda kemari‖ panggil pak Tua. Dengan hatinya dongkol baginda Raja mendekat dan Pak tua pun segera mengeluarkan bungkusan daun pisang yang berisi ubi rebus lalu berkata, ―Kamu pasti sudah sangat lelah dan lapar, ini bapak hanya punya makanan ubi rebus. Mari kita makan sama-sama‖. Raja terdiam dan segera mengambil ubi rebus kemudian memakannya dengan lahap. Setelah kenyang memakan ubi rebus, baginda Raja pun menyandarkan dirinya di sebuah batang pohon. Karena merasa sangat lelah akhirnya tak beberapa lama kemudian Raja tertidur dengan lelap dan Pak tua itu duduk disampingnya dan menjaganya hingga ia terbangun. Beberapa jam tertidur, Raja pun terbangun. ―Bagaimana nyenyakkan?‖ tanya pak Tua. ―Iya pak, terima kasih banyak karena Bapak sekarang saya bisa tidur dengan nyenyak‖, kata baginda Raja. ―Segala sesuatunya kita harus bersusah-susah dahulu dan bersenangsenang kemudian walaupun itu hanya untuk tidur sekali pun‖. Raja sangat berterima asih, dan pak beliau. Jumlah kata: 450 Waktu tempuh baca :......................detik tua itu mendapatkan sekantong emas dari baginda Raja atas jasanya kepada

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

103

Satu Untuk UNM
Nama :……………………… Nis : …………………….

Jawablah pertanyaan berikut ini berdasarkan cerita di atas!
1. Siapakah nama baginda raja dalam tokoh di atas? …………………………………………………………………………… 2. Apakah yang dialaminya? …………………………………………………………………………… 3. Apa yang dilakukannya untuk mengatasi masalahnya? …………………………………………………………………………… 4. Setelah upayanya untuk tidur yenyak gagal, apa yang dilakukan baginda raja selanjutnya? …………………………………………………………………………… 5. Raja menemukan seorang lelaki paru baya yang sedang…….. …………………………………………………………………………… 6. Apa yang perintahkan oleh pak Tua kepada raja? …………………………………………………………………………… 7. Apa yang dimaka sang raja setelah lapar dan lelah? …………………………………………………………………………… 8. Megapa raja dapat tertidur dengan nyenyak? …………………………………………………………………………… 9. Apa amanat cerita tersebut? …………………………………………………………………………… 10. Apakah hadiah yang diperolah pak tua dari baginda raja atas jasanya? …………………………………………………………………………… Jawaban benar Nilai : …....... : ………..

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

104

Satu Untuk UNM
LAMPIRAN B-2 (Contoh RPP Menulis) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semster Standar kompetensi : SMP Negeri 1 Makassar : Bahasa Indonesia : VIII/2 : Menulis 12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman, teks berita,slogan/poster Kompetensi Dasar Indikator Alokasi Waktu : Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat (12.3) : 1. Siswa mampu menulis slogan/poster dengan diksi yang tepat. 2. Siswa mampu mahami makna slogan/poster yang telah ditulis : 2 X 40 Menit

A. Tujuan Pembelajaran Setelah mengamati beberapa contoh slogan/poster, siswa dapat: 1. mengidentifikasi jenis-jenis slogan/poster; 2. menjelaskan syarat-syarat penulisan slogan/poster: 3. menulis slogan/poster secara kreatif dengan menggunakan pilihan kata, kalimat yang menarik dan persuasif; 4. mengungkapkan makna slogan/poster yang telah ditulis; 5. mengubah slogan/poster menjadi paragraf persuasif. 2. Materi Penulisan Slogan/Poster a. Pengertian Slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk memberitahukan sesuatu. Isi slogan menggambarkan visi, tujuan, dan harapan dari sebuah kegiatan/ organisasi/ perusahaan. Poster adalah gambar yang berisi tulisan secukupnya yang bersifat sugestif. Tujuan pemasangan poster adalah agar informasi dalam poster itu diketahui umum sehingga menarik masyarakat untuk membeli, memakai, atau mengikuti isi poster tersebut. Iklan adalah beria pesanan untuk mendorong atau membujuk orang-orang agar tertarik pada barang atau jasa yang ditawarkan.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 105

Satu Untuk UNM
b. Jenis-jenis Slogan/Poster Slogan atau poster memiliki beberapa jenis yang dapat dilihat sebagai berikut : 1) Pengumunan; tujuannya memberikan informasi kepada masyarakat, misalnya slogan/ poster kerja bakti. 2) Iklan; tujuannya menawarkan barang atau jasa, misalnya slogan/ poster penawaran sabun mandi. c. Menulis slogan/ poster sesuai dengan konteks Dalam menulis slogan/ poster, si penulis diharapkan dapat mengembangkan ide kreatif yang ada di dalam dirinya. Sebenarnya, slogan/ poster tidak membatasi diri dalam berkreativitas. Pembuatan poster tetap memperhatikan sikap yang bertanggung jawab, misalnya tidak menjiplak, tidak menyinggung SARA, dan sebagainya. Karakteristik Slogan; bahasanya singkat, padat, menarik, mudah diingat sesuai tujuan dan memiliki keaslian ide. Langkah-langkah penyusunan poster: 1) Menentukan tema 2) Tujuan 3) Memilih kata-kata yang menarik 4) Padat dan bersifat persuasif 3. Metode a. Learning Community b. Inkuiri c. Penugasan d. Diskusi 4. Langkah –Langkah Kegiatan Pembelajaran a. Kegiatan Awal ( 10 menit) 1) Ketua kelas menyiapkan kelas dan berdoa bersama 2) Siswa dan guru mempersiapkan media pembelajaran 3) Guru mengadakan apersepsi 4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 5) Guru menunjukkan contoh slogan/poster. 6) Informasi tentang manfaat topik bagi siswa. 7) Pengungkapan terhadap materi yang akan dibahas oleh siswa.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

106

Satu Untuk UNM
b. Kegiatan Inti ( 60 menit) 1) Siswa membentuk kelompok antara 3-4 orang. 2) Sswa secara berkelompok mengamati slogan/poster yng telah dibagikan 3) Siswa mendiskusikan isi, visi/misi dari suatu perusahaan/organisasi, dan bahasa serta penataan gambar dalam slogan/poster. 4) Setiap kelompok mendiskusikan ciri-ciri slogan/poster dan langkah menyusun slogan/poster. 5) Setiap kelompok memasang slogan/poster yang telah dibuat di papan pajang kelas. 6) Salah seorang anggota kelompok menjelaskan makna slogan/poster yang telah ditulis 7) Setiap kelompok menyunting slogan/poster hasil kerja kelompok lain 8) Setiap kelompok menyempurnakan hasil kerja kelompoknya berdasarkan koreksi dan saran dari kelompok lain. 9) Siswa berlatih mengubah slogan/poster menjadi paragraf persuasif. 10) Guru memberikan penghargaan dan penguatan. c. Kegiatan Akhir ( 10 menit) 1) Siswa menyimpulkan materi pembelajaran 2) Siswa bersama guru mengadakan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telahi dilakasanakan. 3) Guru meberikan motivasi dan pengayaan. 4) Guru mengakhiri pembelajaran denga berdoa bersama 5. Media/Sumber Pembelajaran a. Media Contoh slogan perusahaan, organisasi. Contoh poster dari berbagai kegiatan Macam-macam slogan  Slogan Himbauan  Jangan Merokok di Sini !  Dilarang Melintasi Jalan Ini !  Hati – hati, Rawan Kecelekaan !  Slogan Iklan    Relaxa, ‖Permen Wangi, Ya relaxa ! Pepsodent, ‖ Senyum Indonesia, Senyum Pepsodent ! Bodrex, ― Sakit Kepala Hilang Rejeki Datang !
107

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

Satu Untuk UNM
 Slogan 

Kebersihan Sebagian Dari Iman

Macam-macam Poster  Poster Kegiatan Penerimaan Siswa Baru PENERIMAAN SISWA BARU SMP NEGERI 1 MAKASSAR TAHUN AJARAN 2010/2011 Di era globalisasi, semakin dituntut adanya peningkatan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, daftarkan diri anda pada sekolah favorit anda, yaitu SMP Negeri 1 Makassar Fasilitas belajar yang lengkap Guru berpengalaman Sarana yang lengkap Ayo ! ! ! Segera daftarkan diri kamu ! ! ! Pendaftaran dibuka mulai tanggal 5 – 9 Juli 2010 b. Sumber pembelajaran a. Buku teks bahasa dan sastra Indonesia b. Buku sumber yang relevan c. Seri pendalaman materi Bahasa Indonesia oleh Esis 6. Penilaian No 1. 2. 3. Indikator Mampu menunjukkan jenis-jenis slogan/poster Mampu menulis slogan/poster sesuai dengan konteks Mampu menyunting slogan/poster Teknik Tes tertulis Tes tertulis Tes tertulis Bentuk Instrumen Instrumen Tes uraian Tunjukkanlah jenis-jenis slogan/poster ! Tes uraian Tulislah slogan/poster dengan pilihan kata, kalimat yang menarik dan persuasif! Tes uraian Suntinglah slogan/poster karya temanmu !

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

108

Satu Untuk UNM
c. Penilaian hasil
4. Tunjukkan jenis-jenis slogan/poster! Pedoman penskoran No 1. 2. 3. 4. Skor Kegiatan Siswa dapat menunjukkan 3 jenis poster/slogan Siswa dapat menunjukkan 2 jenis slogan Siswa dapat menunjukkan 1 jenis slogan Siswa tidak dapat menunjukkan jenis slogan maksimal Skor 3 2 1 0 3

5. Tulislah poster/slogan dengan pilihan kata, kalimat yang menarik dan persuasif ! Pedoman Penskoran No 1. Aspek Kalimat Deskriptor  Ringkas, jelas, tepat sasaran, dan menarik  Kurang ringkas, jelas, tepat sasaran, dan menarik  Tidak ringkas, jelas, tepat sasaran, dan menarik  Sesuai dengan maksud slogan/poster Kurang sesuai dengan maksud slogan/poster  Tidak sesuai dengan maksud slogan/poster  Sesuai dengan tujuan pembuatan  Kurang sesuai dengan maksud pembuatan  Tidak sesuai dengan tujuan pembuatan Skor 3 2 1 3 2 1 3 2 1

2. 3.

Gambar/logo  Amanat/isi

6. Suntinglah poster/ slogan karya temanmu ! Pedoman penskoran No 1. 2. 3. 4. 5. Aspek Isi Logo Bentuk tulisan Kalimat Informasi                Deskriptor Isi sesuai dengan konteks Isi kurang sesuai dengan konteks Isi tidak sesuai dengan konteks Sesuai dan menarik Kurang menarik Tidak menarik Ringkas, jelas, menarik Kurang ringkas, jelas, dan menarik Tidak ringkas, jelas, dan menarik Jelas, tepat sasaran, padat Kurang jelas, tepat sasaran, padat Tidak jelas, tepat sasaran, padat Mudah diterima dan bermakna Kurang bisa diterima dan bermakna Tidak bias diterima dan bermakna Skor 3 2 1 3 2 1 3 2 1 3 2 1 3 2 1 15

Skor maksimal
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

109

Satu Untuk UNM
d. Penilaian proses
No 1. 2. 3. Nama Zhafira Zalzabilah ...... A = Sangat baik B = Baik C = Sedang D = Kurang E = Sangat kurang Skor perolehan Nilai akhir = Skor maksimal X Skor ideal (100) Komponen Penilaian Ketekunan A B Motivasi B B Kerjasama B B

Keterangan :

Mengetahui Kepala SMP Negeri ..............,

Makassar, ................ Guru Mata Pelajaran,

............................................. NIP

................................. NIP

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

110

Satu Untuk UNM
Bahan Ajar Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester : : : SMP Negeri 1 Makassar Bahasa dan Sastra Indonesia VIII / 2 ( Genap ) rangkuman, teks keperluan dengan berita, slogan / poster Kompetensi Dasar Indikator : 12.3 Menulis slogan/poster untuk berbagai pilihan kata dan kalimat yang bervariasi serta persuasif : 1. Mampu menunjukkan jenis-jenis slogan dan poster 2. Mampu menulis slogan / poster sesuai dengan konteks 3. Mampu menyunting slogan / poster Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

Standar Kompetensi : 12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk

Setelah menulis slogan/poster siswa diharapkan :  Menunjukkan jenis-jenis slogan dan poster.  Menulis slogan/ poster sesuai dengan konteks.  Menyunting slogan/ poster.

Materi Pembelajaran A. Menulis Slogan dan Poster Kalian tentu sering melihat slogan dan poster yang terpampang di berbagai tempat umum, misalnya pinggir jalan raya. Slogan dan poster merupakan salah satu bentuk penyampaian informasi yang memiliki ciri-ciri tersendiri dibandingkan dengan jenis penyampaian informasi lainnya. Agar sebuah slogan dan poster dapat meyakinkan pembacanya, slogan dan poster harus dibuat semenarik mungkin, baik secara isi maupun penampilan, dengan kreativitas kalian. Hal yang membedakan antara slogan dengan poster adalah berikut. 1. Isi atau muatan slogan berupa penjelasan mengenai tujuan ideologi suatu organisasi, golongan, dan sebagainya. 2. Isi atau muatan poster dapat berupa imbauan, ajakan, protes, penawaran produk, upaya pendidikan, dan penyaluran aspirasi tertentu. Slogan dan poster biasanya dituangkan dalam bentuk plakat, stiker, spanduk, baliho, dan sebagainya. Sebagai media informasi visual dan bersifat luar ruangan (outdoor), terutama poster, penggunaan format bahasa, bentuk tulisan, penyertaan gambar, dan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 111

Satu Untuk UNM
komposisi warna akan sangat berpengaruh terhadap minat seseorang untuk membacanya. Maka dari itu, pemasangan media tersebut biasanya dipilih tempat-tempat strategis yang mudah dilihat oleh khalayak umum. Perhatikanlah beberapa contoh slogan berikut! Slogan

Saatnya WANITA Tampil di Depan

PKK Fajar Mandiri Hidup Bersosialisasi
Berkreativitas dan Berprestasi

Ayo ! Bersihkan Lingkungan

Poster

Keluarga Bahagia Dengan Emansipasi

Buang Sampah Sembarang = Tidak CINTA Lingkungan

Keberhasilan Membangun Karier Bukan Berarti Meninggalkan Urusan Rumah Tangga

Poster adalah plakat yang dipasang di tempat umum dengan bahasa persuasif (pengumuman/ iklan). Pemasangan poster biasanya dilakukan dengan cara ditempel pada papan pengumuman yang telah tersedia. Slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk memberitahukan sesuatu. Isi slogan menggambarkan visi, tujuan, dan harapan dari sebuah kegiatan/ organisasi/ perusahaan. Poster adalah gambar yang berisi tulisan secukupnya yang bersifat sugestif. Tujuan pemasangan poster adalah agar informasi dalam poster itu diketahui umum sehingga menarik masyarakat untuk membeli, memakai, atau mengikuti isi poster tersebut. Iklan adalah beria pesanan untuk mendorong atau membujuk orang-orang agar tertarik pada barang atau jasa yang ditawarkan. Jenis-jenis Slogan/Poster Slogan atau poster memiliki beberapa jenis yang dapat dilihat sebagai berikut : 1) Pengumunan; tujuannya memberikan informasi kepada masyarakat, misalnya slogan/ poster kerja bakti. 2) Iklan ; tujuannya menawarkan barang atau jasa, misalnya slogan/ poster penawaran sabun mandi.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

112

Satu Untuk UNM
Menulis Slogan/Poster sesuai dengan Konteks Dalam menulis slogan/ poster, si penulis diharapkan dapat mengembangkan ide kreatif yang ada di dalam dirinya. Sebenarnya, slogan/ poster tidak membatasi diri dalam berkreativitas. Pembuatan poster tetap memperhatikan sikap yang bertanggung jawab, misalnya tidak menjiplak, tidak menyinggung SARA, dan sebagainya. Poster ada dua macam, yaitu pengumuman dan iklan. Poster pengumuman adalah poster yang berisi pemberitahuan tentang adanya kegiatan tertentu, seperti: penerimaan murid baru, pertunjukkan musik, teater, atau seni yanglain. Selanjutnya, poster iklan adalah poster yang berisi tentang tawaran/jasa tertentu. Oleh karena itu, prinsip penulisan iklan berlaku dalam pembuatan poster. Unsur ambar lebih menonjol dibanding poster pengumuman. Slogan adalah perkataan/ kalimat pendek yang menarik/ mencolok dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan sesuatu. Slogan dapat digunakan sebagai ciri khas sebuah lembaga, atau instansi, slogan juga digunakan oleh berbagai kalangan dan untuk berbagai keperluan. Selain itu slogan dapat pula digunakan pada poster. Tujuan pembuatan slogan adalah untuk pemberitahuan atau menjelaskan sesuatu. Misalnya :

” Alamku, Alammu, Alam Kita Semua ”
Karakteristik Slogan, yairu bahasanya singkat, padat, menarik, mudah diingat sesuai tujuan dan memiliki keaslian ide. Langkah-langkah penyusunan slogan : 1. Menentukan tema 2. Tujuan 3. Memilih kata-kata menarik 4. Padat dan bersifat persuasif Dalam menyusun slogan sebaiknya dengan memilih kata/kalimat yang menarik dan persuasif sehingga menyakinkan pembaca, hal ini dilakukan sesuai dengan langkahlangkah menyusun slogan. Contoh Lain Slogan :

” Matikan rokok, sebelum rokok mematikanmu” ” Banyak baca banyak tahu ” ” Kecap ABC ....... nyata enaknya ”

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

113

Satu Untuk UNM
Pada dasarnya slogan dan poster mempunyai kesamaan, karena sama-sama menggunakan kata / istilah yang terpilih, untuk mempengaruhi pembaca / pendengar dan sama-sama bisa menggunakan unsur gambar sebagai penunjang . Berbagai Jenis Slogan  Slogan organisasi dan slogan perusahaan  Slogan Produk

Gulaku.... Murni.. 100 % Gula Tebu Alami
POND ‖ S White Beauty Shahe & Clean

Kulit Bersih, Segar, Tampak Putih berseri
Vita Jelly Drink

Segernya Kemana - mana
Macam-macam Poster  Poster Kegiatan Penerimaan Siswa Baru

PENERIMAAN SISWA BARU SMP NEGERI 1 MAKASSAR TAHUN AJARAN 2010 / 2011 Di era globalisasi, semakin dituntut adanya peningkatan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, daftarkan diri anda pada sekolah favorit anda, yaitu SMP Negeri 1 Makassar Fasilitas belajar yang lengkap Guru berpengalaman Sarana yang lengkap Ayo ! ! ! Segera daftarkan diri kamu ! ! ! Pendaftaran dibuka mulai tanggal 5 – 9 Juli 2010
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 114

Satu Untuk UNM
Setelah memerhatikan contoh slogan dan poster di atas, dapat disimpulkan bahwa slogan dan poster merupakan bentuk penyampaian informasi atau pemberitahuan yang berupa kalimat pendek, singkat, sarat pesan, mudah diingat, dan menarik. Latihan Kerjakan soal-soal berikut dengan cermat dan tepat! 1. Perhatikan wacana berikut! Pada awal Semester 2 tahun ini, kelasmu terpilih menjadi kelas ―favorit‖ yang paling berprestasi di sekolahmu. Gelar favorit ini didasarkan atas rata-rata nilai prestasi kelas selama satu semester. 2. Buatlah beberapa slogan untuk kelasmu sebagai upaya memotivasi semangat belajar dan mempertahankan prestasi tersebut! 3. Buatlah beberapa poster berkaitan dengan wacana tersebut yang bertujuan untuk mengajak kelas lain saling berlomba dalam meningkatkan prestasi! 4. Buatlah slogan dan poster tersebut dengan penampilan yang menarik di buku tugas!

Tagihan Tulislah slogan dan poster dengan tema emansipasi! Buatlah di kertas gambar dan warnailah! Lembar Kegiatan LEMBAR KEGIATAN SISWA Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Kompetensi Dasar Nama Kelompok Anggota : SMP Negeri 1 Makassar : Bahasa Indonesia : VIII /Genap : Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang menarik dan persuasif. : …………………….. : …………………….. …………………….. …………………….. ……………..............

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

115

Satu Untuk UNM
Amatilah slogan/ poster di bawah ini! 1. Tentukanlah jenis slogan/poster yang terdapat di bawah ini! A. LINDUNGI TERUMBU KARANGKU!

B.

TELKOMSEL BEGITU DEKAT BEGITU NYATA

C.

IKUTI MALAM PENTAS SENI MENAMPILKAN TARIAN DAN PEMENTASAN DRAMA KARYA ANAK BANGSA HARI/TANGGAL : SENIN, 27 Juli 2010 PUKUL : 10.00 WITA –SELESAI TEMPAT : AULA SMP NEGERI 1 M AKASSAR DAPATKAN TIKET PADA SEKRETARIAT OSIS SMP NEGERI 1 MAKASSAR

2. Tulislah masing-masing satu slogan dan poster dengan pilihan kata dan kalimat menarik! 3. Suntinglah kalimat slogan dan poster yang telah dibuat temanmu!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

116

Satu Untuk UNM
LEMBAR PENILAIAN HASIL BELAJAR Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester : : SMP Negeri 1 Makassar Bahasa Indonesia : VIII 3 / Genap

Kompetensi Dasar: Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang menarik serta persuasif. Nama Kelompok : ........................................ Anggota Jawaban 1. a................................................................................................................................ b................................................................................................................................ c................................................................................................................................. 2. Kalimat slogan .......................................................................................................... ........................................................................................................................ Kalimat poster ...................................................................................................... ................................................................................................................. Menyunting slogan / poster
………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………….

: ........................................ ........................................

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

117

Satu Untuk UNM
LAMPIRAN 3 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

118

Satu Untuk UNM

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

119

Satu Untuk UNM

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

120

Satu Untuk UNM

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

121

Satu Untuk UNM

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

122

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->