P. 1
makalah etos kerja

makalah etos kerja

|Views: 629|Likes:
Published by Anik Lestari

More info:

Published by: Anik Lestari on Jun 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

June 17, 2009

Kesalehan, Etos Kerja, dan Tingkah Laku Ekonomi (Studi Kasus)
Filed under: Agama dan Masyarakat — admin @ 3:04 am Studi kasus sektor informal di Ciater Ribca Yuneri Atalaka, Joksan Simanjuntak, Martin Krisanto Nugroho, Rony Chandra Tujuan: Memahami hubungan antara agama dan realitas sosial budaya dengan menelaah atau membahas “pengaruh” agama terhadap masyarakat dan “pengaruh” masyarakat terhadap agama. IKHTISAR: Membaca dan mempelajari apa yang dikemukakan oleh Moh. Sobary dalam penelitiannya penulis bertitik tolak dari “akibat”. Akibat yang dimaksud adalah terjadinya perubahan dari basis ekonomi pertanian ke berbagai usaha komersial pada struktur masyarakat di Ciater. Metoda penelitian yaitu menafsir arti suatu gejala melalui dialog (negotiate meaning), informan dipilih melalui dua tahap; typical group & individu “acak”. Gejala yang diinterprestasikan dapat dipahami; Islam = pembebasan, dinamis, kesalehan terletak dalam praksis, tidak dalam doa dan ajaran dapat memberi inner drive (semacam etika Protestan). 1. Pendahuluan: a. Masalah penelitian; Bahasa kekuasaan “Menjaga stabilitas” mengakibatkan dominasi pemerintah dalam menggulirkan roda-roda ekonomi dalam memaksakan rakyat semakin lemah untuk dapat diatur dengan menekan potensi perlawanan. Bahkan pemerintah daerah dan desapun menjadi tangan pemerintah yang berkuasa untuk membodohkan, tidak lagi mengerti politik, membuat rencana. Sehingga sangat menguntungkan pihak elit. Kepentingan rakyat tidak prioritas lagi. Rakyat dipasifkan untuk masalah yang jatuh untuk kepentingan elit. Contoh: Program Revolusi Hijau; menyuburkan kelas kapitalis pertanian dan petani terbuang dari lahannya sendiri. Si miskin menjadi makin sulit, tersingkir di desanya sendiri dan lari mencari pekerjaan ke kota-kota. Kota-kota diperluas, industri disuburkan makin menekan secara fisik maupun kultural. Lahan kering sebagai alasan membangun proyek yang mendatangkan kapital seperti real estate, walau lahan suburpun pada akhirnya terlahap juga. Transformasi ini terjadi juga di Ciater, membawa suasana paruh desa. Kegiatan pertanian hanya sebagai simbol keberadaan kegiatan agraris dalam bentuk lampau. b. Tujuan penelitian; Analisis pola perubahan dari basis ekonomi pertanian kepada kegiatan komersial. Gejala yang dipakai melalui dua jalur, yaitu peranan “islam” menjadi pertanyaan mengapa mereka bersemangat, gairah, gigih, tekun dikarenakan tidak ada pilihan ataukah pandangan yang luhur / tugas suci / panggilan beribadah. Adakah tindakan sosial berhubungan dengan kesadaran agama. Atau cara lain; kaitan etos kerja dengan kesalehan dan tingkah laku ekonomi.

c. Metodologi; data pertama: pemahaman, makna bagi kehidupan spiritual, ruang gerak pada “Wilayah” nilai budaya. Data kedua: rahasia dapur keluarga; penghasilan, pertimbangan pengeluaran, pandangan & sikap terhadap uang, pandangan hemat/boros, upaya dari desakan ekonomi, dsb dalam antropologi ekonomi. (karena sensitif maka tidak dengan survai) Pendekatan dengan , partisipasi observasi. Informan: Pedagang kecil, tukang ojek, tukang bengkel., dsb. Waktu enam bulan, dengan membaur, bersama tukang bakso, tukang mi goring, untuk masuk dalam dialogical interpretation (menangkap secara objektif & subjektif). Disebut juga actor oriented. 2. CIATER, 1989. Ke-Khasan, apabila sungai Angke banjir maka ikan datang. Pada mulanya bertani buah-buahan, namun menjadi 50:50 oleh pembangunan kota mandiri. Jumlah 5440 orang, betawi Ora. Penghuninya islam dan budha, betawi dan cina (182 orang). Simbol keutuhannya yaitu Bah Pungut yang “energetic” (cina terkaya di Serpong) mengawini banyak orang setempat serta mewarisi tradisi islam. Konsep pri dan nonpri yang peka tidak dikenal. Yang ada antara “betawi” kurang pendidikan dan orang kompleks yang kantoran. Hadirnya kekristenan mengusik karena rasa rendah diri dan tersinggung merasa ditipu (rumah jadi gereja). Orang kampung dan kompleks terjadi ketersalingan. Masjid sebagai tempat memperoleh ajaran, warung sebagai tempat cita ideal ajaran pada hidup keseharian ditambah membantu factor ekonomi (info bisnis). 3. Islam di Ciater, kesalehan terletak dalam praksis. Kualitas hidup di dunia menentukan kualitas hidup di akhirat. Walau nilai sama namun orang betawi memahami bahwa yang pertama sebagai kunci. Jadi harus bekerja keras, hemat, tidak boros tapi tidak kikir, rasional terhadap perubahan. Salat khusyuk bisa terjadi bila sudah bekerja keras, doa seimbang dengan karya, “Untung lebi, pergi ke haji”, ziarah agar arwah menjadi perantara (tawasul), agama mendorong aktivitas komersial. 4. Saleh berarti giat dan tekun. Informan yang origin diambil di Ciater, sebagai gambaran dari proses keluar dari Ciater untuk mencari nafkah, namun kembali ke Ciater untuk segera menyusul keberhasilan rekan informan di Ciater. Digambarkan proses sosial-ekonomi yang menyaring mereka untuk tidak bertahan di kehidupan diluar komunitas asal. Peristiwa keluarnya mereka dari Ciater menjadi motivator yang mantab dan menambah wawasan ekonomis mereka ditambah pandangan “ jangan hanya akan memperkaya Cina (majikan) “. Masyarakat cenderung pasrah dan bertahan hidup dengan etos bekerja keras yang dipahami sebagai bagian dari kehidupan beragama atau kesalehan itu. 5. Catatan akhir; Doktrin telah menjadi citra ideal dalam bertindak. Keselamatan dicapai dengan keselamatan didunia, bukan panggilan (dalam etika Kristen) tetapi usaha kesalehan yang menyeimbangkan. Sehingga mengapa yang jadi kapitalis bukan islam, penulis menekankan tentang peranan proses rasionalisasi dunia yang merasuki struktur sosial yang terjadi pada etika Protestan sebetulnya terjadi di Ciater dalam etika Islam. Mereka mempunyai spirit yang sama seperti umat Protestan dalam studi Weber, namun perbedaannya adalah keadaan struktur/status sosial informan penelitian Sobary yang cenderung dibawah marginal, sedangkan Weber cenderung diatas marginal. SUBTEMA I. Uraian Sobary mengenai agama memaparkan khususnya pada Islam dalam prespektif kesalehan, cenderung pada lapisan masyarakat marginal. Dan agama ini membentuk filosofi hidup bagi masyarakat Ciater yang tidak lepas dari keberadaan tokoh masyarakat

yang memegang peranan di dalam komunitas mereka. Semangat yang timbul dari pemahaman pendahulu mereka mengilhami pola bertahan, pelopor dan mekanisme ekonomi (kapitalisme). Keberadaan agama lain tidak dibahas, hanya memberi gambaran di permukaan. Menangkap gairah hidup keagamaan di Ciater tidak memerlukan suatu keahlian, kelompok hari pengajian selalu ada. Masjid dan warung merupakan dua institusi penting, bila bukan kunci dalam struktur sosial. Masjid sebagai simbol tempat ajaran dan warung sebagai simbol kegiatan komersial yang tidak terpisahkan. Islam dipahami dari aspek dinamisnya (kebebasan) dan tidak dimengerti sebagai slamet. Dapat ditegaskan bahwa kegiatan yang bersifat ritual pada mulanya bisa dimanipulasi untuk kepentingan dunia nyata. Doa sebagai permohonan untuk memberikan keuntungan, ziarah yang dilakukan juga untuk memohon berkah berupa keuntungan materi dan bulan suci Ramadhan menjadi hidup. Ternyata bukan surga yang mereka tuju melainkan agar dapat keuntungan materi yang lebih. SUBTEMA II. Uraian Sobary yang berbasis dampak/akibat yang terjadi yaitu semangat kapitalisme sangat kuat menggambarkan bagaimana kondisi sosial-ekonomi import yang dibawa dari Jakarta atau luar desa Ciater menjadi faktor interfensi yang dominan terhadap perubahan pola ekonominya, namun tidak dijelaskan bagaimana hal ini membawa dampak pada pola agamis yang berlaku di dalamnya. Unsur budaya persaingan sehat justru terjadi dan berkesan lebih subur membantu pembentukan struktur. KOMENTAR KRITIS. 1. Penyunting sepertinya hanya ingin mengadopsi tulisan Moh. Sobary ini sebagai tambahan bahwa agama juga mendapat tempat dalam peranannya membangun martabat manusia. Peranan pendekatan “sejarah” tidak lengkap dipakai untuk menjelaskan tulisan, seperti: status penulis, pribadi penulis, kepada siapakah tulisan ditujukan, kepentingan penulis dan status penulis dalam keagamaannya. 2. Data yang dipakai penulis berkecenderungan dipilih berdasarkan minat subjektif yang diingini penulis atas dasar prasangka. Sehingga masalah lain, seperti adat, budaya secara holistik yang berpotensi membentuk semangat kapitalisme di Ciater tidak dikaji. Ajaran / doktrin Islam yang berlaku juga tidak mendapatkan kajian yang lebih jelas seperti tesis Weber, hal ini dimungkinkan karena dasar tujuan penelitian berangkat dari “Akibat”, hal ini bertentangan dengan Weber sehingga informan tidak mendapat kesempatan menceritakan pola spiritual mereka yang berbasis doktrin. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi ambiensi antara Agama atau adat / tradisi (“Banjir saja membawa ikan”) yang mendominasi potensi transformasi, jadi ada kesan bahwa penulis terlalu arogan terhadap pendapatnya bahwa apa yang dia teliti ini dapat mengoncang penelitian Weber. 3. Prinsip keagamaan yang dikemukakan penulis dengan istilah “inner drive” bersifat subyektif dan sangat individual, hal ini nampak dengan pernyataan ada ‘ketersinggungan’ atau istilah ‘terusik’ ketika muncul dan hadirnya kegiatan rohani non-Islam. Disamping

juga membuka ruang dendam histories terhadap ‘penguasa’ dan antipati etnis tertentu. 4. Berbeda dengan Weber yang cukup menjelaskan “Calvinisme Puritan”, Sobary tidak menjelaskan doktrin manapun. Pendapat “Kong Haji” lebih dalam pengaruh kearah Cultus Individu saja. Dasar pemahaman “Pembebasan” memang berkesan memkontribusi semangat wiraswasta. Secara struktur masyarakat Ciater tidak ber afinitas/sesuai dengan paham “pembebasan” buktinya mereka tetap berusaha untuk urban. Yang terjadi disini lebih kuat terasa sebagai sebab akibat, karena tidak adanya pilihan bagi mereka diluar struktur mereka yang lemah. Bekal mereka tidak cukup sehingga harus kembali dalam komunitasnya, peranan agama secara parallel terjadi dan penulis tidak membuka kemungkinan pembahasan pendekatan lain. Hal ini bisa jadi apabila penulis diilhami terlebih dahulu dengan karya Weber. 5. Penulis menganggap dan memandang tesis Weber sebagai ‘Etika Protestan’ dalam arti dogma Protestan, padahal tesis itu adalam interpretasi responden terhadap doktrin. 6. Dalam masyarakat Ciater terjadi salah tafsir terhadap dogma sehingga terjadi manipulasi terhadap agama/ritual sebagai sumber keuntungan materi. Kebutuhan ekonomi lebih bernilai dan agama menjadi penunjang. Tidak ada pemikiran untuk mengkontribusi ke dalam agama itu. Jadi ada aspek dan pemahaman ajaran Islam yang ditinggalkan (yang diambil aspek dinamisnya) 7. Kesamaan dengan tesis Weber yaitu komentarnya terhadap agama lain tidak didasari pemahaman dan data yang cukup, namun Sobary lebih berkesan hati-hati tanpa kejelasan latar belakang sikapnya itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->