P. 1
teori

teori

|Views: 497|Likes:

More info:

Published by: Agung Prakoso Wibowo on Jun 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2014

pdf

text

original

RETORIKA 1.

Tokoh Teori retorika berpusat pada pemikiran mengenai retorika, yang disebut Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia. Maksudnya, seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk khalayknya harus mempertimbangkan tiga bukti retoris: logika (logos), emosi (pathos) dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak merupakan kunci dari persuasi yang efektif, dan silogisme retoris, yang memandang khalayak untuk menemukan sendiri potongan-potongan yang hilang dari suatu pidato, digunakan dalam persuasi. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah presentasi atau pidato persuasive yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia. 2. ASUMSI Asumsi-asumsi Retorika 1. Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan khlayak mereka. Asumsi ini menekankan bahwa hubungan antara pembicara – khlayak harus dipertimbangkan. Para pembicara tidak boleh menyusun atau menyampaikan pidato mereka tanpa mempertimbangkan khalayaknya, tetapi mereka harus berpusat pada khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap sebagai sekelompok besar orang yang memiliki motivasi, keputusan, dan pilihan dan bukannya sebagai sekelompok besar orang yang homogeny dan serupa. Asumsi ini menggarisbawahi definisi komunikasi sebagai sebuah proses transaksional. Agar suatu pidato efektif harus dilakukan analisis khalayak (audience analysis), yang merupakan proses mengevaluasi suatu khalayak dan latar belakangnya dan menyusun pidatonya sedemikian rupa sehingga para pendengar memberikan respon sebagaimana yang diharapkan pembicara. 2. Pembicara yang efektif menggunakan beberapa bukti dalam presentasi mereka. Asumsi ini berkaitan dengan apa yang dilakukan pembicara dalam persiapan pidato mereka dan dalam pembuatan pidato tersebut. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk pada cara-cara persuasi yaitu: ethos, pathos dan logos. Ethos adalah karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara. Logos adalah bukti logis atau penggunaan argument dan bukti dalam sebuah pidato. Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para anggota khalayak. 3. KRITIK Heurisme Teori ini telah mencakup beberapa subarea dalam komunikasi, seperti ketakutan dalam berkomunikasi dan telah mendorong penelitian yang bersifat emp[iris maupun praktis.Konsistensi LogisTidak konsistenKurang terorganisasiPendefinisian yang kurang tepat Para pengkritik terhadap teori retorika Aristoteles ini mengatakan bahwa kesalahan terbesar di sini adalah audiens atau khalayak dianggap pasif. Orator menurut Aristoteles dianggap akan selalu mampu menyampaikan apa-apa yang dimaksudkannya kepada khalayak sejauh mereka mengikuti anjurananjuran Aristoteles tersebut. Ada faktor yang penting yang terlupa oleh Aristoteles, yaitu situasi. Padahal faktor ini adalah salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam praktek retorika itu sendiri. Di luar itu semua, teori retorika ini memang banyak dinilai memadai jika dilihat sebagai landasan dalam studi dan praktek retorika. Tentunya seiring masa perlu dilakukan beragai macam penyesuaian dan semacamnya. Akan tetapi yang terpenting dari itu semua bahwa retorika atau komunikasi secama umum pada dasarnya adalah seni, sehingga tidak akan mampu untuk terbakukan dalam bentuk-bentuk aturan apapun. Seringnya, semuanya berpulang kepada manusia itu sendiri. 4. CONTOH STANDPOINT THEORY

1. Tokoh Dalam teori ini, Harding dan Wood menggagas bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui bagaimana keadaan dunia kita, yaitu dengan memulai penyelidikan kita dari standpoint kaum wanita dan kelompok-kelompok marginal lain. A standpoint adalah sebuah tempat di mana kita memandang dunia di sekitar kita. Apapun tempat yang menguntungkan itu, lokasinya cenderung memfokuskan perhatian kita pada beberapa fitur dalam bentangan alam dan sosial dengan mengaburkan fitur-fitur lainnya. A standpoint bermakna sama dengan istilah viewpoint, perspective, outlook, atau position. Dengan catatan bahwa istilah-istilah ini digunakan dalam tempat dan waktu khusus, tetapi semuanya berhubungan dengan perilaku dan nilai-nilai. Standpoint kita mempengaruhi worldview kita. Menurut Harding, ketika orang berbicara dari pihak oposisi dalam hubungan kekuasaan (power relations), perspektif dari kehidupan orang-orang yang tidak memiliki power, menyediakan pendangan yang lebih objektif daripada pandangan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Yang menjadi fokus bahasannya adalah standpoint kaum wanita yang selama ini termarginalisasi. 2. ASUMSI 3. KRITIK Beberapa kritik bagi teori ini adalah sebagai berikut:  Meskipun standpoint theory pada awalnya dibangun untuk mengapresiasi nilai dari pespektif wanita, teori ini kemudian diaplikasikan pula pada kelompok-kelompok marginal lainnya. Karena pembahasannya menjadi semakin spesifik, maka konsep solidaritas kelompok yang menjadi inti teori ini patut dipertanyakan. Hekman dan Hirschmann menyatakan bahwa tidak ada sebuah ekspresi lewat kata-katapun yang bebas dari nilai, termasuk wanita dan kelompok-kelompok marginal lainnya,  Konsep strong objectivity sebenarnya kontradiktoris. Jika ditinjau dari postmodern, standpoint theory menyatakan bahwa standpoint itu sifatnya relatif dan tidak dapat dievaluasi dengan kriteria mutlak. Di sisi lain, Sandra dan Wood menekankan bahwa perspektif wanita ini lebih bebas bias dan lebih netral daripada perspektif kelompok yang lebih terhormat. 4. CONTOH Ada contoh di bawah ini yang mampu menggambarkan sebuah model penelitian komunikasi yang berawal dari kehidupan wanita. Julia Wood mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seorang wanita kulit putih, heteroseksual, wanita profesional, yang memikul tanggung jawab untuk mengurus kedua orangtuanya hingga keduanya meninggal. Wood lantas melihat bahwa praktik-praktik gendered communication merefleksikan sekaligus memaksakan societal expectation kita bahwa caregiving adalah pekerjaan wanita. Ia mendengar kata-kata bahwa dirinya memang sudah seharusnya mampu mengurus orangtua dan keluarga, dari ayah dan koleganya. Wood percaya bahwa kebudayaan itu sendiri harus direformasi dengan cara menjauhkan istilah caring terhadap afiliasi historisnya dengan wanita dan hubungan pribadi dan mendefinisikannya kembali sebagai hal yang penting dan merupakan bagian integral dari kehidupan publik kolektif kita. Contoh lain tentang studi komunikasi yang berawal dari standpoint wanita adalah konsep invitational rhetoric yang diajukan oleh Sonja Foss dan Cindy Griffin. Foss dan Griffin mengajukan konsep offering sebagai pendekatan alternatif terhadap rhetoric yang merefleksikan kehidupan wanita. Invitational rhetoric adalah sebuah undangan untuk mengerti sebagai cara untuk menciptakan suatu hubungan yagn berakar pada persamaan, nilai yang tetap ada, dan self-determinism. Dalam offering, orator mengatakan apa yang mereka ketahui dan mengerti. Mereka menghadirkan penglihatan mereka akan dunia dan menunjukkan bagaimana dunia terlihat dan bagaimana dunia mempengaruhi mereka. Kasus Dina dan Wawan memiliki masalah dengan pekerjaan mereka, karena bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Wawan bercita- cita menjadi seorang wartawan, kini hanya bekerja

di belakang meja sebagai tenaga riset di sebuah media massa, sedangkan Dina yang bercita-cita ingin menjadi creative director ternyata bekerja sebagai staf promosi di sebuah media massa cetak. Keduanya bertem dan terjalinlah percakapan di antara mereka.

Kemandirian Wawan membicarakan tentang ketidakpuasanya dalam bekerja karena tidak sesuai dengan apa yang di cita-citakan. Baginya status pekerjaannya sekarang tidak sesuai dengan kemampuannya, karena ia merasa mampu untuk melakukan pekerjaan sebagai wartawan yang baik. Dalam pikirannya sebagai wartawan ia dapat bekerja lebih independen di bandingkan hanya menjadi tim riset. Keakraban Dina walaupun mengalami keadaan yang sama ( tidak sesuai dengan apa yang diinginkan ) namun lebih mengarah pada pola hubungan yang terbina dengan para kliennya. Ia merasa pada saat ini adalah yang terpenting membangun jaringan dengan berbagai pihak sehingga kelak dapat memudahkan dirinya untuk bekerja. Strong Objectivity Obyektifitas antara Wawan dan Dina walaupun mengalami masalah yang sama namun mereka mengungkapkan dengan cara yang berbeda di satu sisi Wawan mempermasalahkan kemandirian yang menurutnya dengan tercapainya keinginan sebagai wartawan maka nilai kemandirian dapat terlihat dibandingkan hanya sebagai tim riset. Sedangkan Dinam memiliki tingkat ketidakpuasan yang sama namun mempertimbangkan aspek jaringan yang ada dalam lingkungan kerjanya sekarang. Face Negotiation Teori ini meneliti cross cultural communication yang dilakukan personal oleh para negosiator. Teori ini menjelaskan bahwa tipe budaya akan menuntut pemeliharaan wajah (citra diri di depan publik ) yang berkaitan dengan harga diri dan rasa malu. Teori ini menjelaskan adanya perbedaan kultur untuk mengatasi masalah, karena setiap bangsa memiliki budaya yang berbeda sehingga pemeliharaan wajah yang berbeda.

Contoh kasus : Tuan Fuji menjadi penengah ketika ada acara perselisihan antara ibu Reni dari Indonesia dengan tuan Emmo Italiandeer dari Italia. Tuan Emmo beberapa kali salah dalam melakukan penggambilan gambar di off shore dan melupakan code of conduct perusahaan ibu Reni dalam hal keselamatan kerja. Tuan Emmo, memotret pekerja tanpa menggunakan helm dan jaket pelindung sesuai dengan peraturan yang ada. Tuan Emmo, merasa kalau yang ia lakukan sesuai dengan peraturan,dan mengalami keterabatasan waktu. Sementara ibu Reni merasa sudah membayar tuan Emmo dengan harga yang sepantasnya untuk kualitas yang baik. Tuan Fuji, mencoba untuk mengakomodasi permasalahan tersebut dengan menawarkan fasilitas transportasi yang cepat untuk tuan Emmo untuk mengambil gambar ulang di lokasi off-shore.Ibu Reni akhirnya menyetujui dan mengkompromikan solusi yang ditawarkan oleh tuan Emmo dengan memberikan tegat waktu di luar kesepakatan awal, guna memperoleh hasil yang sesuai . Speech Code Theory Philipsen membaca sebuah artikel yang di keluarkan oleh ahli antropologi dan bahasa Virginia Dell Hymes, “The Ethnography of Speaking”. Dengan kode bicara, Philipsen mengacu pada pengaruh “latar belakang, konstruksi sistem sosialm arti, pendapat, dan peraturanm yang berhubungan dengan aturan komunikatif”.

Contoh kasus : Windy yang berasal dari Padang memilii gaya bicara yang berbeda dengan Nana yang berasal dari Yogyakarta. Hal yang membedakan kode bicara : 1. Proposisi I : Dimanapun ada perbedaan budayam maka akan ditemukan perbedaan kode bicara. Windy yang berasal dari suku Minangkabau selalu berbicara dengan keterbukaan sedangkan Nana selalu bicara dengan menggunakan hati –hati dan disesuaikan dengan status lawan bicaranya. Tata krama dalam budaya Jawa berbicara dengan ‘unggah-ungguh’ yang biasanya tidak berbicara dengan terus terang menggenai hal yang kurang berkenan dengan lawan bicaranya. 2. Proposisi 2 : Subtansi kode bicara Kode bicara di pengaruhi oleh perbedaan psikologis sosiologi dan gaya bicara dalam kulutural budaya. Hal ini dapat diilustrasikan dengan tiga fungsi dalam kehidupan sosial. - Psikologis Windy saat komunikasi berlangsung dalam lingkungan keluarga, ia tidak ragu dalam mengungkapkan pendapatnya. Karena dalam budaya Minangkabau, menganut sistem Matriarkhi yang memungkin perempuan untuk mengutarakan pendapatnya. Sedangkan dalam budaya Jawa, menganut budaya patriarki yang membuatnya tidak berani dalam mengutarakan pendapatnya. - Sosiologis Menunjukkan suatu hubungan antara kita dengan orang lain. Budaya Minangkabau cenderung lebih terbuka dalam berkomunikasi bahkan tidak jarang untuk memberikan komentar terhadap tindakan orang tuanya secara terbuka. Budaya Jawa, dalam berkomunikasi terkadang cenderung lebih tertutup terutama dalam melakukan koreksi terhadap kesalahan oranng lain. - Retorik Nana : membicarakan tentang perempuan yang merefleksikan hubungannya dengan laki-laki Windy : Membicarakan perempuan sebagai sosok ang individual. Proposisi III Makna dari pembicara tergatung dari kode bicara yang digunakan oleh komunikator dan komunikan untuk menginpretasikan komunikasi mereka. Budaya Minangkabau menggunakan kode sebagai pengakuan diri meski mereka juga menjunjung tinggi kebersamaan mereka. Bagi budaya Jawa, penggunaan bahasa memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan status sosial mereka di masyarakat. Proposisi IV : Budaya Minangkabau terbuka dan melihat seseorang tidak berdasarkan asal, ras maupun kasta, hal ini juga berpengaruh dari pola kebiasaan masyarakat Minang yang terbiasa merantau sehingga dengan mudah mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka. Sedangkan budaya Jawa, memiliki idion “mangan ora mangan sing penting ngumpul” di mana sistem komunikasi mereka cenderung berdasarkan sistem yang sudah mereka ciptakan untuk kalangan mereka sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan untuk membuka diri, namun mereka memiliki sistem komunikasi tersendiri yang melihat seseorang berdasarkan asal –usul mereka. Proposisi V: Kegunaan kode bicara merupakan kondisi yang utama untuk memperkirakan, menerangkan dan mengkontrol bentuk intelegentibiltas, kebijakasanaan dan tata moral komunikasi.Kode bicara Sumatera Barat sering kali menggunakan bahasa kiasan atau menggunakan bahasa pantun sedangkan budaya Jawa memiliki tingkat bahasa yang tergantung situasi dan kondisi komunikasi tersebut dilakukan.

STRUKTURAL ADAPTIF 1. Tokoh Adalah Marshall Scott Poole yang mengembangkan Teori Strukturasi adaptif (Adaptive Structuration Theory). Profesor komunikasi pada Texas A&M University itu dikenal sebagai pakar di bidang komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi, terutama pada sisi metodologi penelitian dan perkembangan teori. Poole mengembangkan teori ini bersama rekan-rekannya, yaitu Robert McPhee dari Arizona State University dan David Seibold dari The University California. Gagasan Poole berangkat dari teori strukturasi yang dikemukakan Anthony Giddens. Dalam penelitiannya, Gidden mendeskripsikan bagaimana institusi sosial—kelompok dan organisasi, misalnya—diproduksi, direproduksi, dan ditransformasi melalui penggunaan aturan-aturan sosial. Aturan itu dibuat sebagai panduan perilaku anggotanya, sebagaimana cetak biru yang digunakan untuk mengarahkan seorang kontraktor dalam membangun struktur bangunan (West & Turner, 2007:296). Kunci dari memahami komunikasi yang terjadi dalam sebuah kelompok atau organisasi, menurut Gidden, adalah dengan mempelajari struktur yang menjadi fondasi mereka. Gidden membedakan pengertian sistem dan struktur. Sistem adalah kelompok itu sendiri, termasuk juga perilaku yang dilaksanakannya, Sementara struktur adalah aturan-aturan yang mereka sepakati. Dalam contoh di atas, sistem adalah kelompok Rukun Tangga (RT), sedangkan aturan berupa tata tertib warga adalah strukturnya. Teori ini mengambil nama ‘Strukturasi Adaptif’, karena anggota kelompok secara sengaja meyesuaikan aturan dan sumberdaya untuk mencapai tujuan. Selain itu, strukturasi adalah sesuatu yang lebih kompleks daripada model urutan tunggal. Poole percaya bahwa nilai dari pembuatan teori keputusan kelompok bergantung pada seberapa baik ia mengalamatkan kekomplekskan interaksi yang ada dalam sebuah kelompok. 2. ASUMSI Poole menekankan pentingnya memahami bahwa individu menciptakan dan membentuk kelompok sebagaimana mereka berperilaku di dalamnya. Perilaku anggota kelompok, seperti dikatakan Giddens, dipengaruhi oleh tiga elemen tindakan yaitu interpretasi, moralitas, dan kekuasaan. Interpretasi dilakukan melalui bahasa, moralitas didirikan melalui norma kelompok, dan kekuasaan diraih melalui struktur kekuasaan interpersonal yang timbul dalam kelompok. Menurut Poole, interaksi selalu menyangkut ketiga hal tersebut. Poole mengasumsikan bahwa anggota kelompok adalah aktor yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang secara refleksif mengontrol aktivitas mereka. Moralitas, interpretasi, dan kekuasan selalu dikombinasikan dalam setiap tindakan kelompok. Konstribusi tiga elemen tindakan tersebut sangat menarik sebagai awal bagi kita memahami proses yag dilalui oleh kelompok saat mereka membuat suatu keputusan. Berdasarkan pernyataan Poole dan rekan-rekan megenai teori ini dapat dikatakan bahwa esensi teori ini adalah : kelompok-kelompok dapat mengikuti rangkaian atau urutan yang bervariasi dalam perkembangan keputusan, bergantung pada kemungkinan-

kemungkinan yang mereka hadapi. 3. KRITIK 4. CONTOH Ferdy dan istrinya, Emy, mengawali hari-hari awal hidup barunya di sebuah perumahan, di pinggir kota. Seminggu sudah mereka menempati rumah tipe 36, dengan tanah seluas 90 m2 itu. Ferdy merasa belum sepenuhnya menjadi warga di perumahan itu, karenanya dia segera menghubungi Ketua RT setempat. Ferdy ingin segera melaporkan kepindahan mereka di perumahan tersebut. “Saya mohon bimbingannya Pak, mungkin ada tata tertib yang perlu saya ketahui,” kata Ferdy, suatu malam di tempat Pak RT. “Secara umum tata tertibnya standar, sebagaima berlaku di daerah lainnya, misalnya kalau ada yang menginap harap melaporkan ke RT, dan Portal akan ditutup pukul sebelas malam. Dan jangan lupa, sekali dalam sebulan kita ketemu dalam rapat RT,” Pak RT memberikan penjelasan. Kini Ferdy merasa lebih lega. Bersama istrinya, dia berusaha menjadi warga yang baik. Dia selalu mengingatkan istrinya untuk tidak lupa menaruh uang recehan di kaleng jimpitan pada pagar depan. Ferdy pun berusaha untuk tidak melewatkan kesempatan untuk bertemu warga lainnya dalam rapat RT tiap bulan. TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI 1. Tokoh 2. ASUMSI Sosiolog Amitai Etzioni menyatakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat organisasi. Kita dilahirkan dalam sebuah organisasi dan dididik dalam suatu organisasi serta sebagian besar dari kita menghabiskan mayoritas hidupnya dengan bekerja untuk organisasi. Komunikasi organisasi akan selalu dibutuhkan pada era sekarang ini. Alasannya karena kini, makin banyak lembaga baik di bidang bisnis ataupun industri, organisasi-organisasi sosial, ataupun institusi pendidikan yang harus mengetahui bagaimana prinsip mengenai komunikasi yang baik dalam suatu organisasi untuk suatu pencapaian bersama. Dalam komunikasi organisasi berkaitan erat dengan arus komunikasi. Ada tiga pendekatan untuk melihat komunikasi yang terjadi di dalam organisasi, yaitu : 1. Pendekatan Makro : Pendekatan makro melihat organisasi sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Organisasi melakukan aktivitas-aktivitasnya untuk berinteraksi dengan lingkungannya. 1. Pendekatan Mikro : Pendekatan ini terutama menfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan sub-unit pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah komunikasi antara anggota kelompok 1. Pendekatan Individual : Pendekatan Individual menitik beratkan pada tingkah laku komunikasi individual dalam organisasi.

Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada dua pendekatan sebelumnya diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. 3. KRITIK 4. CONTOH ORGANIZATIONAL CULTURE 1. Tokoh 2. ASUMSI 3. KRITIK 4. CONTOH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->