P. 1
Laporan Study Lapangan Program Ips

Laporan Study Lapangan Program Ips

|Views: 44|Likes:
Published by Dhlka Rlyana

More info:

Published by: Dhlka Rlyana on Jun 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

LAPORAN STUDY LAPANGAN PROGRAM IPS KE KECAMATAN KAJOE ARO, KERINCI TAHUN AJARAN 2011/2012

KATAPENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada guru pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis angat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga sengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.

Pijoan, 4 Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Katapengantar Daftar isi BAB I. Pendahuluan 1.1. Latar belakang 1.2. Tujuan 1.3. Manfaat BAB II. ISI 2.1. Sejarah 2.2. Sosial Budaya 2.3. Agama 2.4. Geografis 2.5. Ekonomi BAB III. Penutup 3.1. Kesimpulan 3.2. Saran i ii 1 1 1 2 2 2 3 4 5 5

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jambi, Indonesia. Kerinci ditetapkan sebagai Kabupaten sejak awal berdirinya Propinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak. Kabupaten Kerinci memiliki luas 4.200 km² terdiri atas 11 kecamatan.

Wilayah Kabupaten Kerinci terletak dibagian barat Pulau Sumatera tepatnya diantara 0141' sampai 0226' lintang selatan dan 10108' sampai 10140' bujur timur. Kabupaten ini berjarak sekitar 418 km dari Kota Jambi.
1.2 Tujuan Tujuan dalam penulisan laporan ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua. Manfaat Siswa-siswi dapoat nengetahui lebih dalam tentang kerinci terutama di Kecamatan Kajoe Aro. Dan juga memperluas pengetahuan pembaca.

1.3

BAB II ISI
2.1. Sejarah Perkebunan teh Kajoe Aro dirintis antara tahun 1925 hingga 1928 oleh perusahaan Belanda, Namblodse Venotschaaf Handle Vereniging Amsterdam (NV HVA). Perkebunan teh ini tercatat sebagai perkebunan teh tertua di Indonesia. Perkebunan Teh Kajoe Aro seluas 3.020 hektar adalah perkebunan teh dalam satu hamparan terluas di dunia, berada pada ketinggian 1.400-1.600 meter dpl yang merupakan perkebunan teh tertinggi ke dua di dunia setelah perkebunan teh Darjeling di kaki Gunung Himalaya (4.000 m dpl). Pengawasan kualitas yang tinggi, mulai dari perawatan dan pemeliharaan tanaman, pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, hingga pengemasan dan pengiriman, teh produksi PT Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI) ini menyandang nama harum sebagai teh dengan kualitas terbaik di dunia. Dengan aroma yang khas serta kualitas prima, lebih dari separuh dari produksi teh Kajoe Aro diekspor ke Eropa dan Amerika. Bahkan Ratu Belanda telah menjadikan Teh Kajoe Aro sebagai hidangan minuman istimewa sejak perkebunan teh ini dibuka oleh Hindia Belanda. 2.2. Sosial budaya Kata Kerinci berasal dari bahasa Tamil Kurinji yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India Selatan pada ketinggian di atas 1800m. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan. Suku Kerinci sebagaimana juga halnya dengan suku-suku lain di Sumatera adalah penutur bahasa Austronesia. Berdasarkan bahasa dan adat-istiadat suku Kerinci termasuk dalam kategori Melayu, dan paling dekat dengan Minangkabau dan MelayuJambi. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antar satu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi). Suku Kerinci memiliki aksara yang disebut surat incung yang merupakan salah satu variasi surat ulu. Sebagian penulis seperti Van Vollenhoven memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatera Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau. Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal. Sebagaimana diketahui dari Naskah Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua yang ditemukan di Kerinci, pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja maka ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar. 2.3. Agama

Masyarakat Kabupaten Kerinci merupakan masyarakat religius yang masih memegang teguh nilai-nilai agama islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini

mengingat bagian terbesar penduduk setempat memeluk agama islam. Para pemeluk agama selain islam umumnya pendatang dari berbagai daerah lainnya atau kelompok etnis tertentu. Pada tahun 2002 penganut agama di kabupaten kerinci sebanyak 310.805 orang, yang beragama Islam sebanyak 309.920 orang atau 99,7 %, Katolik 401 orang atau 0,13 %, Kristen Protestan 187 orang atau 0,06 % , Hindu 32 orang atau 0,01 %, dan Budha 265 orang atau 0,09 %. Sarana ibadah terdiri dari Masjid 294 buah, Mushala 125 buah, Langgar 319 buah, Taman Pendidikan Al-qur'an (TPA) 341 buah, Gereja 1 buah. Sedangkan penyuluh agama Islam kategori madya 63 orang, kategori muda 193 orang, ulama 345 orang, khotib 1.754 orang, hafid 22 orang dan hafidzah 126 orang. Kerukunan kehidupan intern umat dan antar umat beragama di Kabupaten Kerinci dalam kondisi aman dan terkendali. Untuk memudahkan umat beragama melaksanakan ibadahnya, di Kabupaten Kerinci terdapat sarana ibadah yang terdiri dari masjid 294 buah, mushola 125 buah, langgar 319 buah dan gereja 1 buah Taman Pendidikan Al qur'an (TPA) 341 buah. Pemerintah daerah bersama dengan tokoh tokoh masyarakat berupaya dalam berbagai kegiatan untuk mendukung pembangunan agama dalam bentuk pembinaan kadar keimanan dan ketaqwaan kepada tuhan yang maha esa, pengajian bulanan, safari jum'at serta mengadakan penyuluhan narkoba dan kenakalan remaja. Program pembangunan agama telah dilaksanakan melalui pembinaan lembaga sosial keagamaan untuk meningkatkan pelayanan keagamaan dalam upaya melakukan pembinaan masyarakat terhadap pemahaman nilai nilai agama yang dianutnya. 2.4. Geografis Wilayah Kabupaten Kerinci terletak dibagian barat Pulau Sumatera tepatnya diantara 0141' sampai 0226' lintang selatan dan 10108' sampai 10140' bujur timur. Kabupaten ini berjarak sekitar 418 km dari Kota Jambi, dengan batas-batas sebagai berikut :  Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat.  Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Merangin.  Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bungo dan Kabupaten Merangin.  Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat.
Kebun Kayu Aro terletak di Desa Bedeng VIII Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi, dengan jarak : 1. Dari Ibu Kota Kabupaten (Sungai Penuh) ± 37 km.

2. Dari Ibu Kota Propinsi (Jambi) ± 452 km. 3. Dari Pelabuan terdekat, Teluk Bayur Padang :  Via Pesisir Selatan ± 325 km.  Via Muara Labuh ± 237 km. Secara geogarfis, Kebun Kayu Aro terletak pada elevasi/tinggi dari permukaan laut antara lain : 1. Posisi/letak kebun : 1046, 9780 LS s/d. 1010 16, 8560 BT 2. Elevasi Pabrik : 1.430 m. Dpl 3. Elevasi Kebun Terendah : 1.401 m. Dpl 4. Elevasi Kebun Tertinggi : 1.715 m. Dpl Di daerah kebun kayu aro, kondisi iklim/cuaca yang terjadi dalam 1 tahun sebagai berikut:  Curah hujan setahun rata-rata : 2.000 mm  Hari hujan setahun rata-rata : 200 Hari  Sinar Matahari setahun rata-rata : 6 Jam/Hari 0 0 0  Suhu Udara antara 17 - 23 dan suhu minimum 5 C  Kelembaban Nisbi/RH antara 70 - 95% Jenis tanah yang dominan di daerah kayu aro adalah memiliki jenis tanah Andosol. 2.5. Ekonomi Mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah bertani di ladang dan di sawah. Selain padi, hasil pertaniannya adalah kentang, sayur-sayuran dan tembakau. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mengembangkan mata pencaharian ladang berpindah, dengan mendirikan rumah-rumah ladang di hutan untuk ditinggali selama musim bertanam. Pertanian ladang dengan membuka hutan ini menghasilkan kopi, kulit manis/kayu manis, dan cengkeh. Hasil hutan yang utama adalah rotan dan damar. Sebagian masyarakat, terutama yang menetap di sekitar Danau kerinci dan beberapa danau kecil lainnya, hidup di bidang perikanan. Suku ini tergolong cukup makmur karena daerahnya yang subur. Saat ini mereka membutuhkan peningkatan dalam teknologi pertanian dan pengolahan hasil hutan. Selain itu, daerah Danau Kerinci dengan pemandangannya yang indah sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata.

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan Bahasa mereka adalah bahasa Kerinci yang termasuk rumpun bahasa Melayu. Setiap desa di Kerinci memiliki dialek yang berbeda-beda satu sama lain. Pada masa lalu di daerah ini berkembang suatu jenis tulisan kuno yang sering disebut tulisan Rencong atau tulisan Paku, yang pola penulisannya hampir sama dengan tulisan jawa kuno.
Suku ini tergolong cukup makmur karena daerahnya yang subur. Saat ini mereka membutuhkan peningkatan dalam teknologi pertanian dan pengolahan hasil hutan. Selain itu, daerah Danau Kerinci dengan pemandangannya yang indah sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata.

Islam merupakan agama utama mereka, walaupun mereka masih mempertahankan kepercayaan animisme, khususnya dalam hal penyembuhan dan upacara-upacara yang berhubungan dengan bidang pertanian. Wilayah Kabupaten Kerinci terletak dibagian barat Pulau Sumatera tepatnya diantara 0141' sampai 0226' lintang selatan dan 10108' sampai 10140' bujur timur. Kabupaten ini berjarak sekitar 418 km dari Kota Jambi

3.2. Saran

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->