P. 1
KTI JIWA

KTI JIWA

|Views: 437|Likes:
Published by Yudha Isnaeni

More info:

Published by: Yudha Isnaeni on Jun 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2014

pdf

text

original

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 Identitas Pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal 9-05-2011 di ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara, dengan diagnosa medik : skizofrenia tak terinci. Pasien bernama Tn. S, umur 32 tahun, jenis kelamin laki-laki, pendidikan pasien SMP dan pasien dibawa ke RSJ oleh ibunya, Ny. E pada tanggal 03 April 2011.

3.2 Riwayat keperawatan
3.2.1 Alasan masuk
Pasien dibawa ke RSJ karena dirumah, mengamuk, memukul orang dan bicara kasar.

3.2.2 Faktor predisposisi
Pasien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalunya lebih kurang 2 tahun yang lalu di RSJ Provinsi Sumatera utara dan akhirnya sembuh. Akan tetapi kurang berhasil dikarenakan Pasien jarang control dan minum obat karena pasien mengatakan malas dan jenuh dengan obat. Masalah Keperawatan : Regimen Teurapetik in efektif, Koping keluarga Pada keluarga pasien tidak ada satupun yang mengalami sakit seperti yang diderita pasien. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan Klien pada masa lalu pernah mengalami kebangkrutan pada usahanya sehingga pasien merasa seperti tidak berguna bagi keluarga, dan juga karena meninggalnya sang ayah menyebabkan pasien semakin merasa terbebani. Masalah Keperawatan : Harga diri rendah

3.2.3 Tanda vital
Tekana darah : 110/70 mmHg, nadi : 80 kali/menit, tinggi badan : 168 cm, berat badan : 70 kg. Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

3.3 Psikososial
3.3.1 Genogram
Keterangan : : Laki-laki : Perempuan

: Pasien : Meninggal ——– : Satu rumah Pasien merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, pasien mempunyai 2 Adik perempuan masih siswa SMA dan SD. Pasien di rumah dididik secara baik oleh orang tuanya.

3.3.2 Konsep Diri
Gambaran Diri Pasien Pasien mengatakan dirinya sangat menyukai terhadap tubuhnya karena menganggap dirinya tidak ada kekurangan yang berarti Identitas Diri pasien adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan telah menempuh sekolah sampai dengan SMP saja

Peran Diri Klien dalam keluarga memiliki peran sebagai pencari nafkah menggantikan ayahnya nya yang telah tiada Masalah Keperawatan: Gangguan Konsp Diri;Harga Diri Rendah

Ideal Diri Pasien mengatakan ingin bias pulang dari rumah sakit jiwa, serta bisa berguna bagi keluarganya, pasien pun ingin sukses agar bisa membuat bangga orang tua. Harga Diri Pasien mengatakan tidak lagi bisa membantu orang tua merasa tidak layak sebagai kakak dan sungkan untuk berkumpul dengan masyarakat. Pasien mengatakan menyesal tidak bisa membantu orang tua tapi malah menjadi beban mereka. Masalah Keperawatan: Harga Diri Rendah

3.3.3 Hubungan Sosial
Pasien jika ada masalah sering cerita dengan ibu dan adik pertamanya. Di masyarakat pasien jarang punya teman karena pasien jarang kumpul dengan warga. Di Rumah Sakit lebih banyak memisahkan diri karena merasa tidak kenal dan malu menceritakan tentang masalahnya. Masalah keperawatan : Isolasi Sosial : Menarik diri

3.3.4 Spiritual

Pasien yakin terhadap Tuhan yang telah menciptakannya akan tetapi klien tidak pernah mengikuti kegiatan ibadah yang dianutnya Masalah keperawatan : Defisit spiritual

3.4 Status Mental
1. 1. Penampilan Penampilan pasien tidak rapi, baju kotor, kuku kotor, resliting terbuka/tidak dikunci dan bau badan. Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan DirI 1. 2. Pembicaraan

Klien berbicara cepat, keras dan klien menjawab pertanyaan sesuai yang ditanyakan dan klien mampu memulai pembicaraan Masalah Keperawatan : tidak ada. 1. 3. Aktivitas Motorik

Klien masih dapat beraktivitas diruangan dengan baik dan pada saat melaksanakan aktivitas klien tidak banyak bicara Masalah Keperawatan : Tidak ada 1. 4. Alam Perasaan

Klien mengatakan merasa sedih dan putus asa, sejak klien bercerai dengan suaminya, sehingga klien merasa tidak berarti lagi di lingkungan keluarga dan tempat tinggalnya Masalah Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah 1. 5. Afek

Afek klien labil, emosi klien berubah-ubah, mudah tersinggung dan cepat marah Masalah keperawatan : Prilaku kekerasaan 1. 6. Interaksi Selama Wawancara

Selama wawancara dilaksanakan Kontak mata ada, wajah tegang, pasien kooperatif menjawab pertanyaan namun tiba-tiba bicara pasien sedikit kasar ketika menuju ke arah permasalahan. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah 1. 7. Persepsi

Tidak dijumpai pada klien adanya perubahan persepsi : halusinasi Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah 1. 8. Proses Fikir

Tidak ada ditemukan pada klien proses pikir yang disebutkan diatas Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 1. 9. Isi Fikir

Tidak ada ditemukan pada klien isi pikir waham Masalah Keperawatan : Tidak ada 1. 10. Tingkat Kesadaran Orientasi pasien baik Masalh keperawatan : tidak ada masalah 1. 11. Memori Pasien dapat mengingat kejadian pada masa lalunya. Masalah keperawatan : tidak ada masalah 1. 12. Tingkat konsentrasi berhitung Pasien dapat berkonsentrasi terhadap pertanyaan yang diajukan pasien mampu berhitung “1,2,3,4,5,6,7,8,9,10. pasien mengatakan umurnya 32 th. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 1. 13. Kemampuan Penilaian Ketika perawat menanyakan perbuatan jahat dan baik, klien mampu membandingkannya dan klien mampu menetukan pilihan ketika diberi pilihan, seperti duluan mana mandi atau makan, klien menjawab mandi dulu karena kalau mandi badan terasa segar setelah itu baru makan. Masalah Keperawatan : Tidak ada. 1. 14. Daya Tilik Diri Klien tahu dan menyadari kalau dirinya mengalami gangguan jiwa dan dirawat di RSJ. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

3.5 Kebutuhan persiapan pulang
1. Makan Dirumah pasien mau makan tanpa disuruh, di SRJ pasien makan teratur. 1. BAK / BAB Dirumah pasien BAK/BAB pada tempatnya, di RSJ pasien juga selalu BAK/ BAB di tempatnya. 1. Mandi

Pasien mengatakan dirumah mandi 2x sehari, dirumah sakit mandi tanpa disuruh. 1. Berpakaian Selama dirumah tidak pernah memperdulikan cara berpakaian/ penampilan, cara berpakaian tidak rapi, di RSJ pasien juga tidak perduli dengan penampilannya. 1. Kebersihan Diri Pasien mandi rutin tapi Kalau tidak diingatkan gosok gigi pasien tidak mau gosok gigi di Rumah Sakit juga. 1. Istirahat dan Tidur Dirumah pasien jarang bisa tidur lebih suka melamun, dirumah sakit pasien bisa tidur malam saja jam 22.00 s/d 05.30 WIB. 1. Penggunaan Obat Setelah pasien pulang dari RSJ pasien suka kontrol, tapi pasien mengatakan jenuh dan malas dengan obat. Pasien mengatakan ± 2 bulan tidak lagi mengkonsumsi obat. Di RSJ harus dipaksa dulu minum obat.

3.6 Mekanisme Koping
Pasien untuk menyelasaikaan masalahnya dia dengan cara yang adaptif diantaranya mencoba berbicara dengan orang lain serta mencari solusi untuk menyelasaikan masalahnya. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

3.7 Masalah Psikososial dan Lingkungan
Pasien mengatakan setiap ada masalah tidak pernah bercerita dengan orang lain kecuali ibu dan adiknya / ayah pasien. Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

3.8 Penatalaksanaan
1. Diagnosa : Prilaku Kekerasan 2. Therapy Medik : – Holoperidol 2×5 mg Cpz 2×2 mg Trihexiphenidil THP 2×2 mg Diazepam 1 Amp

3.9 Analisa Data
No Data Masalah 1. DS : klien mengatakan sewaktu dirumah suka Resiko tinggi mencederai diri melukai diri sediri dan orang lain dan marah tanpa sendiri dan orang lain

sebab.DO : – Klien mudah tersinggung dan cepat marah - Kontak mata klien tajam DS :Klien mengatakan suka marah-marah, suka melukai diri sendiri dan orang lain dan memecahkan barang barang yang ada di rumah DO :
• • • •

2.

Perilaku kekerasan

Emosi klien cepat berubah ubah-ubah Klien mudah tersinggung dan cepat marah Kontak mata klien tajam

3.

4.

Nada suara klien keras dan cepat DS : Klien mengatakan sudah bercerai dengan Harga diri rendah suaminya, sejak bercerai klien merasa malu dan tidak berarti lagi ditempat lingkungan tempat tinggalnya.DO : klien tampak sedih dan putus asa DS :Klien mengatakan pernah mengalami Regiment terapeutik/ koping gangguan jiwa dan berobat ke Psikiater di Tarutung keluarga in efektif tetapi klien tidak minum obat secara rutin dan tidak kontrol ulang ke psikiater lagi sehingga kambuh kembali dan keluarga yang membawa ke RSJ ini. DO : klien dirawat sejak tanggal 2 April 2011 sampai sekarang dan keluarga tidak pernah mengujungi klien selama dirawat. Ds: Klien mengatakan malu bergaul di lingkungannyaDo: Klien tamBu menyendiri Ds : Klien mengatakan malas mandiDo : -kuku klien kotor

5. 6.

Isolasi Sosial Defisit Perawatan diri

-Klien bau,Buaian bau Resiko Tinggi Mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

3.10 Pohon Masalah
1. Daftar Masalah Keperawatan 1. Resiko tinggi mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan 2. Perilaku Kekerasan 3. Harga diri Rendah 4. Isolasi Sosial 5. Regiment terapeutik in efektif 6. Koping keluarga in efektif

3.11 Diagnosa
1. Perilaku kekerasan berhubungan dengan ketidakmampuan mengungkapkan marah secara asertif 2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah, berhubungan dengan ketidaksesuaian peran

3. Regiment Rerapeutik inefektif 3.12 RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Keperawatan 1 Perilaku Kekerasan TUM:Klien dapat melanjutkan hubungan peran sesuai dengan tanggung jawab. TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya TUK 2: Klien dapat mengidentifikasi penyebab PK

Kriteria Hasil
• • • • •

Intervensi
• • • •

Klien mau balas salam Klien mau menjabat tangan Klien mau menyebut nama Klien mau tersenyum Klien mau mengetahui nama perawat

Beri salam / pang Sebutkan nama p jabat tangan Jelaskan maksud interaksi Beri rasa aman da empati

Klien dapat mengungkapkan perasaannya Klien dapat mengungakpkan penyebab perasaan kesal/marah (dari diri sendiri, dari lingkungan, orang lain) Klien dapat mengungkapkan perasaan marah Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda kesal/marah yang dialami Anjurkan klien klien mengungkapkan yang dialami saat marah/kesal Observasi tanda PK pada klien Simpulkan bersama klien tandatanda marah/kesal yang dialami klien Untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasakan saat kesal Untuk mengetahui tanda-tanda klien marah/kesal Menarik kesimpulan bersama klien supaya klien secara garis besar tahu tanda-tanda marah/kesal Klien dapat mengungkapkan PK yang biasa dilakukan Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan Klien dapat mengetahui cara yang biasa dapat menyelesaikan masalah atau tidak Anjurkan klien untuk mengungkapkan PK yang biasa

Lakukan kontak s sering Bantu klien untuk mengungkapkan

Bantu klien untuk mengungkapkan kesal/marah

TUK 3:Klien dapat mengidentifikasi tandatanda PK

• •

• •

• •

TUK 4:Klien dapat mengidentifikasi PK yang biasa dilakukan

• •

dilakukan klien Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang dilakukan klien lakukan masalahnya selesai. Mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku kekerasan yang biasa dilakukan Untuk mengetahui perilaku kekerasan yang biasa dilakukan dengan bantuan perawat bisa membedakan perilaku kontruktif dan deduktif. Dapat membantu klien dalam menemukan cara yang dapat menyelesaikan masalahnya. Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien

TUK 5:Klien dapat mengidentifikasi akibat PK

Bicarakan akibat dari cara yang dil

Bersama klien me akibat cara yang d oleh klien.

TUK 6:Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam merespon terhadap kemarahan

Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secara konstruktif.

Tanyakan pada k ingin mempelajar yang sehat? Tanyakan pada k ingin mempelajar yang sehat? Berikan pujian jik mengetahui cara sehat. Diskusikan denga yang sehat:

1. Secara fisik tarik jika sedang kesal kasur atau bantal 2. Secara verbal kat anda sedang kesa (saya kesal anda b seperti itu, saya m ibu tidak memenu saya).

3. Secara spiritual: a sholat, berdoa/iba mengadu pada Tu kekesalannya

TUK 7:Klien dapat Klien dapat mendemonstrasikan cara mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. mengontrol perilaku kekerasan. • Fisik: tarik nafas dalam dan memukul kasur/bantal • Verbal: mengatakan secara langsung dengan tidak menyakiti (meminta dengan baik, mengungkapkan rasa kesal) • Spiritual: shalat, berdoa atau ibadah lain. • Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien • Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih • Bantu klien untuk menstimulasi cara tersebut. • Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut • Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah/kesal. • Memberikan stimulasi kepada klien untuk menilai respon perilaku kekerasan secara tepat • Membantu klien dalam membuat keputusan terhadap cara yang telah dipilihnya dengan melihat manfaatnya. • Agar klien mengetahui cara marah yang konstruktif. • Pujian dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien.

TUK 8:Klien dapat menggunakan obat-obat yang diminum dan kegunaannya (jenis, waktu, dosis, dan efeknya)

Agar klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilihnya jika ia sedang marah Klien dapat menyebutkan obatobat yang diminum dan kegunaannya (jenis, waktu, dosis dan efeknya). Klien dapat minum obat sesuai program pengobatan.

• •

Jelaskan jenis-jen diminum klien Diskusikan manfa obat dan kerugian minum obat tanpa dokter. Jelaskan prinsip b obat (baca nama y pada tempat obat

• •

waktu dan cara m Ajarkan klien min minum tepat wak Anjurkan klien m pada perawat jika efek yang tidak m

Berikan pujian jik minum obat deng

2. Gangguan Konsep TUM:klien dapat Diri : Harga Diri berinteraksi dengan baik. Rendah TUK 1 : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki.

Klien dapat menyebutkan kegiatan yang dimilikinya. Klien dapat menyebutkan keberhasilan yang pernah dialami. Kegiatan yang sudah dilatih dapat dilakukan klien dengan baik. Klien dapat menetapkan aktivitas mana yang dapat dilakukan setiap hari.

Diskusikan bahw memiliki sejumla dan aspek positif kegiatan klien di Beri pujian yang dan hindarkan set bertemu dengan k negatif.

• •

• •

Klien dapat bertanggung jawab dan melaksanakan kegiatan yang telah dilatih

TUK 2 : Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. TUK 3 : Klien dapat memilih/menetapkan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan.

Beritahukan klien kekurangan dapat dengan kelabihan dimilikinya. Diskusikan denga dirinya dan ada h Bantu klien meng antara keinginan kemampuan yang

Diskusikan denga beberapa aktivita dilakukan dan dip kegiatan yang aka lakukan sehari – Bantu klien mene aktivitas mana ya klien lakukan sec

Beri kesempatan untuk mencoba k

TUK 4 : Latih kegiatan yang sudah dipilih klien sesuai kemampuan dan menyusun rencana kegiatan. Regiment TUM:Klien mampu terapeutik in ifektif melaksanakan /mengikuti pencobaan secara langsung TUK 1 : Melakukan fungsi kesehatan individu TUK 2 :Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat klien dirumah sakit jiwa

telah dilatih. Beri pujian atas a dapat dilakukan k

Berikan kesempa mengungkapkan setelah melakuka

3

klien mengindentifikasi masalah yang dihadapi klien

terima klien apa a dengar keluhan k empati

keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat klien dirumah sakit jiwa medan keluarga dapat mengidentifikaasikan masalah yang dihadapi klien Diskusikan dengan keluarga peranan dan tangent jawab keluarga klien Keluarga dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi klien Bina hubungan saling percaya dengan keluarga yang lain Terima anggota klien apa adanya Dengarkan keluhan keluarga dengan sifat empati Hindari sifat mengkritik saat keluarga mengungkapkan keluhan hubungan saling percaya dengan keluarga lain merupakan bagian dari interaksi selanjutnya keluarga mampu merawat klien dirumah bina hubungan saling percaya dan mengungkapkan salam perkenalan diri dan jelaskan tujuan dari intervensi buat kontak pertemuan dengan klien dan keluarga diskusikan dengan keluarga bagaimana masalah

Memberi motivas untuk lebih sering mengunjunginya

TUK 3 :Keluarga mampu menangani masalah kesehatan jiwa yang dialami pasien

• • • • •

TUK 4 :Keluarga mampu merawat klien dirumah

• •

TUK 5 :Keluarga mampu menerima keadaan klien

Keluarga mampu menerima klien o jelaskan pada keluarga klien bahwa perhatian yang besar dapat membantu proses penyembuhan
o

Memberikan perhatian yang lebih,maka klien tidak merasa dikucilkan

3.14 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Tgl Diagnosa Implementasi 10-05Diagnosa 1TUK 1 :- mengucap salam2011jam:09 memperkenalkan diri .30. wib Pasien dapat Membina - menanyakan nama dan Hubungan saling panggilan yang disukai percaya - menjelaskan tujuan

Evaluasi S: pasien menjawab : nama saya N, mbak mau kita ngomong soal apa?- Pasien mengatakan : saya marah karena kepikiran dagangan yang bangkrut, utang yang menumpuk dan ditambah biaya Rumah Sakit ini.

Paraf

- Pasien mengatakan saat marah pikiran saya panas, bingung, jengkel, saya ingin - memberi kesempatan pasien berteriak/memukul yang ada disekitar saya, dengan begitu saya lega. bicara - menanyakan penyebab jengkel/marah pasien. O: wajah pasien memerah, pandangan mata tajam, nada suara tinggi.

- Menanyakan perasaan yang - pasien kooperatif menjawab pertanyaan. dialami pasien saat A: Masalah Teratasi sebagian jengkel.marah P: Intervensi dilanjutkan - Memberikan kesempatan S : Pasien mengungkap semua perasaan yang TUK 2 asien untuk Mengungkapkan semua menyebabkan kemarahan dan ingin memukul dapat timbulO : Wajah pasien masih memerah dan mengidentifikasi perasaannya.- Membantu penyebab Prilaku pasien untuk mengungkapkan tangannya mengepal ketika mengungkapkan perasaan marah atau perasaan marahnya tersebut Kekerasan jengkelnya A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan Menganjurkan pasien S : Pasien mengatakan masih susah untuk TUK 3 asien untuk mengungkapkan menghilangkan perasaan marahnyaO : Klien masih dapat mengidentifikasi perasaan saat marah /jengkel tampak belum bisa mengatur marahnya. tanda marah dan dengan memukul bantalMengobservasi tanda perilaku A : Masalah belum teratasi ingin memukul kekerasan pada pasien P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa 2TUK 1 :Mendiskusikan kepada S : Klien mengatakan tidak memiliki kemampuan klien tentang sejumlah apa-apa hanya bisa melaksanakan sedikit pekerjaan kemampuan dan aspek positif rumah tangga yaitu menyapuO : klien sudah Klien dapat mengerti terhadap tugas yang akan dikerjakannya mengidentifikasi seperti kegiatan klien di Memberikan setiap kamar mulai tampak kotor kemampuan dan Rumahpujian dengan realistik/nyata aspek positif yang dan menghindarkan klien masih dimiliki A : Masalah teratasi untuk melakukan kegiatan yang negative P : interrvensi di hentikan TUK 2 :Klien Memberitahukan S : Klien mengatakan sudah mengerti mana dapat menilai kepada klien terhadap kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya serta kemampuan yang kekurangan dan kelebihan mencoba untuk memperbaiki kekurangannya dan dapat digunakan yang dimilikinyajuga klien menyatakan ingin sekali berkumpul Mendiskusikan harapan klien dengan keluargaO : Klien tampak mulai mengerti dan ideal diri klien terhadap keadaan dirinya, raut wajah sedih A : Masalah teratasi Sebagian P : intervensi di lanjutkan TUK 3 :Klien Mendiskusikan S : Klien mengatakan memilih kegiatanya yaitu dapat memilih dan beberapa aktivitas yang dapat mengambil nasi setiap hariO : klien tampak sudah menetapkan dilakukan dan dipilih oleh mengerti tentang kegiatan kesehariannya dan juga kegiatan yang pasien untuk kegiatan sehari- melaksanakan kegiatan yang telah dipilihnya sesuai dengan harinya.Membantu kemampuannya klien menetapkan aktivitas A : Masalah teratasi sebagian mana yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien P : intervensi di lanjutkan Diagnosa 3TUK 1 :Mangajarkan klien S : klien mengatakan sudah mengerti dan tahu untuk menerima apa adanya, tentang bagaimana keadaannya sekarang.O : klien tampak lebih semangat untuk menjaga Melakukan fungsi dan mendengarkan klien kesehatan Individu mengeluh tentang keadaanya kesehatanya. sekarang A : Masalah teratasi P : intervensi di hentikan

3.13 EVALUASI
Pada Diagnosa pertama yaitu Prilaku Kekerasan telah di lakukan evaluasi pada tanggal 10 Mei 2011 dengan melakukan intervensi dari diagnose 2 klien dapat memparcayai orang disekitarnya dan juga pasien pun sudah mulai berani untuk mengungkapkan setiap perasaanya. Pada diagnosa Kedua yaitu risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan dilakukan evaluasi pada tanggal 10 Mei 2011 dengan melakukan Intervensi dari diagnose ke 2 klien dapat dukungan dari keluarga. Data subyektif yang di dapat keluarga mau mengajarkan pasien bagaimana cara marah yang sehat dengan menanyakan apa yang mengakibatkan marahnya, dan keluarga juga mengatakan saat pasien marah tidak akan mendiamkan dan memarahi tetapi akan mengajarkan bagaimana marh yang sehat . keluarga mengatakan senang bisa bertemu dengan pasien dan lega sudah mengerti masalah yang dihadapi pasien Data obyektif yang di dapat keluarga kooperatif dan tersenyum, keluarga mau mengerti kondisi pasien. Sedangkan evaluasi yang di dapat pada pasien yaitu pasien tenang, bicara dengan nada rendah tidak agresif, kontak mata ada. pasien mengungkapkan masalah yang membuatnya marah. Pada TUK 2 diagnosa yang ke 2 yaitu klien dapat minum obat dengan benar sudah dilakukan rada tanggal 10 Mei 2011. Pada diagnose ke 3 yaitu regiment terapeutik inefektif, pada evaluasi tanggal 10 Mei 2011 menunjukkan klien mulai bisa menjaga kesehatan dirinya dan berusaha untuk cepat sembuh Dan pada TUK 2 klien mulai tampak lebih mengetahui dan rutin minum obat setelah mengetahui apa fungsi obat

tersebut untuk dirinya

STRATEGI PELAKSANAAN
4.1 STRATEGI PELAKSANAAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah Pertemuan : Perilaku kekerasan : Ke 1 (satu)

TINDAKAN

A. Proses Keperawatan
1. 1. Kondisi :

Klien datang ke rumah sakit diantar keluarga karena di rumah marah-marah dan memecahkan piring dan gelas. 1. 2. Diagnosa :

Resiko merusak lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan. 1. 3. TUK :

-

Membina hubungan saling percaya Mengidentifikasi penyebab marah

B. Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)
1. 1. Orientasi Salam terapeutik Selamat pagi, nama saya Sujatna. Panggil saya Sujatna. Namanya siapa, senang dipanggil apa? Saya akan merawat Tn. S Evaluasi/ validasi Ada apa di rumah sampai dibawa kemari? 1. 2. Kontrak Topik Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang hal-hal yang menyebabkan Bapak marah

Tempat Waktu Mau berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit 1. 3. Kerja Apa yang membuat Tn. S membanting piring dan gelas? Apakah ada yang membuat Tn. S kesal? Apakah sebelumnya Tn. S pernah marah? Apa penyebabnya? Sama dengan yang sekarang? Baiklah, jadi ada ……. (misalnya 3) penyebab Tn. S marah-marah. 1. 4. Terminasi Evaluasi Subyektif Bagaimana perasaan Tn. S setelah kita bercakap-cakap? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di kamar perawat?

Evaluasi Obyektif Coba sebutkan 3 penyebab Tn. S marah. Bagus sekali.

Rencana Tindak Lanjut Baiklah, waktu kita sudah habis. Nanti coba Tn. S ingat lagi, penyebab Tn. S marah yang belum kita bicarakan. Kontrak

Topik Nanti akan kita bicarakan perasaan Tn. S pada saat marah dan cara marah yang biasa Tn. S lakukan. Tempat Waktu Kira-kira 30 menit lagi ya. Sampai nanti. Mau dimana kita bicara? Bagaimana kalau kita disini?

4.2 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah: Perilaku kekerasan Pertemuan: Ke 2 (dua)

A. Proses Keperawatan
1. 1. Kondisi Klien dapat menyebutkan penyebab marah. 1. 1. Diagnosa 2 Resiko merusak lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan. TUK : Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan klien

B. Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)
1. 1. Orientasi Salam terapeutik : Selamat siang Tn. S

Evaluasi/ validasi : Bagaimana perasaan Tn. S saat ini? Apakah masih ada penyebab kemarahan Tn. S yang lain? 1. 2. Kontrak Topik :

-

Baiklah kita akan membicarakan perasaan Tn. S saat sedang marah :

Tempat -

Mau di mana? Bagaimana kalau dikamar perawat? :

Waktu -

Mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit saja? 1. 3. Kerja

-

Tn. S pada saat dimarahi Ibu (salah satu penyebab marah), apa yang Tn. S rasakan? Apakah ada perasaan kesal, tegang, mengepalkan tangan, mondar-mandir? Lalu apa biasanya yang Tn. S lakukan? Apakah sampai memukul? Atau marah-marah?

Tn. S, coba dipraktekkan cara marah Tn. S pada mantri Budi. Anggap mantri budi adalah Ibu yang membuat Tn. S jengkel. Wah bagus sekali. Nah, bagaimana perasaan Tn. S setelah memukul meja? Apakah masalahnya selesai? Apa akibat perilaku Tn. S?

Betul, tangan jadi sakit, meja bisa rusak, masalah tidak selesai dan akhirnya dibawa ke rumah sakit Bagaimana Tn. S, maukah belajar cara mengungkapkan marah yang benar dan sehat? Baiklah, waktu kita sudah habis. 1. 4. Terminasi 2. a. Evaluasi Subyektif Bagaimana perasaan Tn. S setelah kita bercakap-cakap?

b. Evaluasi Obyektif Apa saja yang kita bicarakan? Benar, perasaan marah. Apa saja tadi? Ya betul, lagi, lagi, oke. Lalu cara marh yang lama, apa saja tadi? Ya betul, lagi, oke. Dan akibat marah apa saja? Ya betul, sampai dibawa ke rumah sakit. 1. c. Rencana Tindak Lanjut Baiklah, sudah banyak yang kita bicarakan. Nanti coba diingat-ingat lagi perasaan Tn. S sewaktu marah, dan cara Tn. S marah serta akibat yang terjadi. Kalau di runah sakit ada yang membuat Tn. S marah, langsung beritahu mantri.

1. d. Kontrak Waktu Besok kita bertemu lagi jam 09.00, bagaimana cocok?

Tempat Topik Besok kita mulai latihan cara marah yang baik dan sehat. Sampai besok. Bagaimana kalau disini lagi?

BAB IV PEMBAHASAN
Setelah kelompok melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan utama perilaku kekerasan di ruang Pusuk Buhit RSJ Daerah Provsu, maka penulis pada bab ini akan membahas beberapa kesenjangan antara teoritis dengan tinjauan kasus. Pembahasan dimulai tahapan proses keperawatan yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 5.1.Pengkajian Dalam melakukan pengkajian penulis tidak banyak menemukan kesulitan karena klien kooperatif dalam memberikan keterangan – keterangan yang perawat butuhkan. Penulis memperoleh data langsung dari klien dengan teknik komunikasi dengan klien, selain itu juga untuk mendukung data tersebut penulis melihat data klien yang ada diruangan. Secara umum pengkajian yang terdapat di dalam teori dengan pengkajian yang terdapat dalam tinjauan kasus terdapat banyak kesamaan, namun ada beberapa perbedaan yang timbul antara landasan teoritis dengan tinjaun kasus, khususnya yang terdapat pada landasan teoritis tetapi tidak terdapat pada tinjauan kasus, dimana secara teoritis ditemukan tanda dan gejala berupa muka merah dan tegang, mengatupkan rahang dengan kuat, mengepalkan tangan, jalan mondar – mandir, mengancam secara verbal atau fisik. Pada tinjauan kasus penulis tidak menemukan gejala muka merah dan tegang karena pada saat dilakukan pengkajian tidak ditemukan adanya muka klien merah, aktivitas motorik klien tidak tampak tegang. Klien tidak mengatupkan rahang dengan kuat karena aktivitas motorik klien tidak ada ditemukan tanda tik yaitu gerak – gerak kecil pada otot muka yang tidak terkontrol, tidak adanya ditemukan mengepalkan tangan pada tinjauan kasus karena klien tidak ada tanda – tanda mau melakukan tindakan kekerasan, kontak mata baik dan mau menatap lawan bicara, tidak ditemukan jalan mondar – mandir pada tinjauan kasus karena klien tidak terlihat gelisah. Klien

tidak mengancam secara verbal atau fisik karena interaksi selama wawancara dengan klien, tidak menunjukan adanya permusuhan, klien tampak kooperatif, dan klien mau menatap lawan bicara. 5.2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang terdapat dalam teoritis adalah : 1. Perilaku Kekerasan 2. Gangguan harga diri : HDR 3. Regiment therapetik inefektif Dalam tahap ini penulis menemukan adanya perbedaan didalam perumusan diagnosa keperawatan antara landasan teoritis dan kasus, yaitu : 1. Ganguan harga diri rendah diagnosa ini tidak ada pada landasan teoritis, tetapi ditemukan pada tinjauan kasus karena klien merasa tidak berarti dan dihargai di keluarga semenjak usahanya bangkrut. 1. Regiment therapetik inefektif Diagnosa ini juga tidak ditemukan dalam landasan teoritis, tetapi ditemukan dalam tinjauan kasus karena kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit klien sehingga klien tidak terkontrol, dan akhirnya klien dibawa ke Rumah Sakit Jiwa untuk diadakan rawatan intensif. 5.3.Perencanaan Pada tahap intervensi penulis tidak menemukan adanya kesulitan karena kegiatan pada tahap ini adalah suatu usaha untuk merencanakan sesuatu yang akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya dan perencanaan pada tinjauan teoritis sesuai dengan penemuan yang kelompok lakukan pada tinjaun kasus. 5.4.Pelaksanaan Dalam melakukan tindakan keperawatan, penulis hanya membuat 2 tindakan diagnosa keperawatan yaitu perilaku kekerasan dan gangguan konsep diri harga diri rendah. Penulis mendapatkan kesulitan pada tindakan diagnosa regiment terapeutik inefektif berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat klien, namun pada kasus, perawat tidak bisa melakukan tindakan keperawatan sesuai diagnosa tersebut karena keluarga belum pernah mengunjungi klien di Rumah Sakit Jiwa, sehingga perawat tidak melanjutkan tindakan keperawatan pada diagnosa tersebut. 5.5.Evaluasi Tahap evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan dimana telah melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditulis, maka penulis melakukan penilaian terhadap klien dengan melihat hal – hal dari tindakan keperawatan yang dilakukan. Setelah melakukan asuhan keperawan pada klien selama 3 hari ditemukan 3 diagnosa yang didapat melalui pengkajian pada klien. Dari 3 diagnosa tersebut masalah yang telah teratasi ada 1 diagnosa, sedangkan yang belum teratasi adalah regiment teraupetik inefektif, hal ini disebabkan keluarga klien tidak pernah mengunjungi klien sehingga perawat tidak melakukan tindakan keperawatan pada masalah yang belum teratasi, maka penulis mendelegasikan kepada pegawai Ruangan Pusuk Buhit agar tindakan keperawatan dapat dilakukan dan diteruskan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->