P. 1
Metodologi Tafsir Al Tibyan Fi Aqsam Al Quran TIRMIDZI

Metodologi Tafsir Al Tibyan Fi Aqsam Al Quran TIRMIDZI

|Views: 159|Likes:
Published by Tirmidzi

More info:

Published by: Tirmidzi on Jun 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2013

pdf

text

original

Revisi Makalah METODOLOGI TAFSI>R AL-TIBYA>N FI> AQSA>M ALQUR'A>N KARYA IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH Makalah Diajukan

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Metode Para Mufassir”

Oleh: Tirmidzi NIM: FO7411275

Dosen Pengampu: Prof Dr. H. M. Ridlwan Nasir, MA.

PROGRAM PASCA SARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2012

2

METODOLOGI TAFSI>R AL-TIBYA>N FI> AQSA>M ALQUR'A>N A. Pendahuluan Tidak salah jika Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa mengungkap makna-makna yang terkandung dalam al-Quran dibutuhkan seperangkat metodologi dan keilmuan yang cukup. Hal itu disebabkan karena al-Quran adalah sumber mutiara hikmah yang tidak pernah habis walau ditinjau dari berbagai aspek. Perbedaan perangkat dan pendekatan dapat semakin dalam ‘menelanjangi’ kemukjizatannya, al-Quran bahkan tidak sebaliknya, meruntuhkan membuktikan

bahwa al-Quran adalah kitab yang s}a>lihun li kulli zama>nin wa maka>nin dan multi disiplin. Dalam tafsir misalnya, tiap-tiap mufasir memiliki perangkat metodologis yang berbeda. Dimana, perbedaan tersebut juga berimplikasi pada produk penafsirannya. Jika al-Zamakhshari> dengan metodenya melahirkan al-Kashsha>f, maka Ibnu Qayyim dengan metodenya sendiri melahirkan ‘al-Tibya>n fi Ayman alQura>n’ atau yang sekarang lebih dikenal dengan al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n. Selain itu, masih banyak ulama-ulama (mufasir) lain yang memiliki karya tafsir dengan pola dan metode yang berbeda-beda. Makalah ini akan membahas metodologi tafsir Ibnu Qayyim al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n. Pembahasan ini menjadi menarik karena tafsir ini hanya fokus pada pembahasan sumpah dalam al-Quran, dimana sampai saat ini, secara kuantitas, masih jarang ditemukan mufasir yang secara independen membahas satu tema khusus dalam al-Quran, di samping juga karena metode yang digunakan oleh beliau berbeda sama sekali dengan para mufasir lainnya.

3

B. Pembahasan 1. Riwayat Singkat Ibn al-Qayyim Nama lengkapnya adalah Abu> ‘Abdulla>h Shamsuddi>n Muh}ammad Abu> Bakr bin Ayyu>b alDamshiqi> dan dikenal dengan nama Ibnu Qayyim alJauziyah. Dia dilahirkan pada tahun 691 H,1 Dia tumbuh dewasa dalam suasana ilmiah yang kondusif. Ayahnya adalah kepala sekolah al-Jauziyah di Dimasyq (Damaskus) selama beberapa tahun. Karena itulah, sang ayah digelari Qayyim al-Jauziyah. Sebab itu pula sang anak dikenal di kalangan ulama dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyah.2 Dia memiliki keinginan yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Tekad luar biasa dalam mengkaji dan menelaah sejak masih muda belia. Allah mengkaruniainya bakat melimpah yang ditopang dengan daya akal luas, pikiran cemerlang, daya hafal mengagumkan, dan energi yang luar biasa. Dalam sebuah riwayat, dia bisa menghafal al-A’ra>f hanya dalam dua hari.3 Karena itu, tidak mengherankan jika dia ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai lingkaran ilmiah para guru dengan semangat keras dan jiwa energis yang luar biasa.
1Muh}ammad bin Ah}mad bin ’Uthma>n bin Qa>yima>s al-Dhahabi>, alMu’jam al-Mukhtas}}s} bi al-Muh}addithi>n (T{a>'if: Maktabah al-S{adi>q, 1408 H, I), 269. 2Mula>h}iq Tara>jim al-Fuqaha>' al-Mawsu>’ah al-Fiqhiyyah (Wiza>rah alAwqa>f wa al-Shu'u>n al-Isla>miyyah, t.t, I), 4. 3Ibn H{ajar al-’Asqala>ni>, al-Durar al-Ka>minah fi> A’ya>n al-Mi'ah alTha>minah (Mawqi’ al-Wira>q, t.t, I), 284.

4

Dia menimba ilmu dari setiap ulama spesialis sehingga dia menjadi ahli dalam ilmu-ilmu Islam dan mempunyai andil besar dalam berbagai bahwa Ibnu disiplin ilmu. Hasan bin Ali mengatakan al-Quran.4 2. Guru-gurunya Ibnu Qayyim telah berguru dan pada sejumlah ulama terkenal. Mereka inilah yang memiliki pengaruh dalam pembentukan Bakr bin pemikiran kematangan yang ilmiahnya. memiliki Sebagian dari mereka adalah Ayahnya sendiri, yakni Abu> Ayyu>b (Qayyim al-Jauziyah) keilmuan mendalam tentang fara>'id}. Dari ayahnya Ibnu Qayyim mempelajari ilmu faraid.5 Selanjutnya ia melanjutkan berguru pada al-S{afi> al-Hindi>, darinya Ibnu Qayyim belajar ’Ilm al-Us}u>l.6 Salah satu guru Ibnu Qayyim yang juga tidak sedikit pengaruhnya adalah Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah Ahmad bin al-Halim bin Abdussalam an-Numairi. Ibnu Qayyim menyertainya selama tujuh belas tahun, sejak dia menginjakkan kakinya di Dimasyq hingga wafat. Ibnu Qayyim mengikuti dan membela pendapat Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya penyiksaan yang menyakitkan dari orang-orang fanatik dan taklid kepada keduanya, sampai-sampai dia dan Ibnu Taimiyyah dimasukkan ke dalam penjara dan tidak dibebaskan kecuali setelah kematian Ibnu Taimiyyah.7 Selain dari tiga orang ini, beliau banyak menimba ilmu dari para
4 Hasan bin Ali, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001), 1 5Muh}ammad bin ’Ali> al-Shauka>ni>, al-Badr al-T{a>li’ bi Maha}sin Man ba’da al-Qarn al-Sa>bi’ (t.p:t.t, II), 137. 6Ibid. 138 7Ibid. 139

Qayyim

menguasai

berbagai

macam ilmu utamanya hadis, tafsir, akidah, fikih, dan ilmu

5

ulama yang mempunyai keahlian dalam bidangnya. 3. Murid-muridnya Banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari ilmu Ibnu Qayyim. Karena itu, dia memiliki beberapa murid yang menjadi ulama terkenal. Di antaranya adalah sebagai berikut.8 a. Al-Burhan Ibnu Qayyim. Dia adalah putra Burhanuddin Ibrahim, seorang ulama nahwu dan fikih yang mumpuni. Dia belajar dari ayahnya. Dia telah berfatwa, mengajar, dan namanya dikenal. Metodenya sama dengan sang ayah. Dia memiliki keahlian dalam bidang tatabahasa Arab. Karena itu, dia menulis komentar atas kitab Alfiyah Ibni Malik. Kitab komentar (sharh) itu dia namakan Irsha>d al-Sa>lik ila Halli Alfiya Ibni Malik. b. Ibnu Katsir. Dia adalah Ismail ‘Imaduddin Abu al-Fida’ bin ‘Umar bin Katsir ad- Dimasyqi asy-Syafi’i, seorang imam hafizh yang terkenal. c. Ibnu Rajab. Dia adalah Abdurrahman Zainuddin Abu alFaraj bin Ahmad bin Abdurrahman yang biasa digelar dengan Rajab al-Hanbali. Dia memiliki beberapa karangan yang variatif. d. Syarafuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia adalah putra Abdullah Shadriyah. e. As-Subki. Dia adalah Ali Abdulkafi bin Ali bin Tammam asSubki Taqiyuddin Abu al-Hasan. f. Al-Dhahabi>. Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Usman bin Qayimaz al- Dhahabi> at-Turkmani al-Syafi’i. Dia adalah seorang imam, ha>fiz} yang memiliki banyak
8Ibid. 140.

bin

Muhammad.

Dia

sangat

brilian.

Dia

mengambil alih pengajaran setelah ayahnya wafat di ash-

6

karangan dalam hadits dan Iain-lain. 4. Karya-karyanya Ibnu Qayyim adalah orang yang sangat banyak mengarang buku. Hal inilah yang menyebabkan inventarisasi karya-karyanya secara teliti menjadi sulit. Inilah daftar bukubuku karangannya yang diberikan para ulama.9 a. Asma>’ Muallafa>t Ibnu Taimiyyah. Sebuah disertasi yang diterbitkan atas tahkik Shalahuddin al-Minjid. b. A’la>m al-Muaqqi‘i>n ‘an Rabb al-A>lami>n. Telah dicetak berulang kali dalam empat jilid. c. Amtha>l al-Qura>n. Telah tercetak. d. Tahdhi>b Mukhtas}ar Sunan Abi> Da>ud. Telah dicetak bersama dengan kitab Mukhtas}ar al-Mundhiri> dan syarahnya Ma ‘alim as-Sunan oleh al-Khatthabi dalam delapan jilid. e. Al-Ja>mi’ baina al-Sunan wa al-Atha>r. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Bada>i’u al-Fawa>id. f. Al-da>’ wa al-Dawa>’. Telah dicetak berkali-kali dan dinamakan juga dengan al- Jawa>b al-Ka>fi li man Saala ‘an al-Dawa>’ al-Sya>fi>. g. Dawa>’ al-Qalb. ‘Abdullah al-Jabburi menyebutkannya dalam Fihris Maktabat Awuqaf Baghdad (11/369). Ada juga naskah dengan tulisan tangan oleh al-Jabburi dengan nomor 4732. Kemungkinan besar naskah ini adalah naskah kitab al-Da>‘ wa al-Dawa>’. Meskipun demikian, lebih baik kita menahan diri dalam mengambil kesimpulan sebelum membaca transkrip naskah tersebut. h. Al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n, yang menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini.

9Khairudin al-Zirikli, al-A’la>m Qamu>s Tara>jim, (Bairut: Da>r al-Ilmi, 2002, VI), 56.

7

5. Tentang

Tafsir

al-Tibya>n

fi>

Aqsa>m al-Qura>n Sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai orang yang berilmu, Ibnu Qayyim menulis berbagai macam disiplin ilmu, termasuk salah satunya al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n. Terkait dengan karyanya tersebut, tidak ada penjelasan secara rinci dari penulisnya kapan ditulis, namun pentahqiq kitab ini ‘menerka’ bahwa tafsir ini ditulis setelah penulisan kitabnya I’la>m al-Muwaqqi’i>n, dan sebelum karyanya yang lain al-Da>’ wa al-Dawa>’. Pada awalnya, kitab ini dikenal dengan tafsir al-Tibya>n fi Ayma>n al-Qura>n, karena dalam pengantarnya Ibnu Qayyim mengatakan: wa sammaytuhu kita>b al-Tibya>n fi Ayma>n al-Qura>n. Begitu juga dalam kitabnya I’la>m dijelaskan bahwa dia telah menulis tafsir tentang ayma>n fi al-Qura>n. Di samping itu, beberapa muridnya seperti Ibnu Rajab, al-Diwadi, Ibnu Ima>d fi> dan Ibnu D}auya>n al-Qur'an.10 menyebutnya al-Tibya>n Ayma>n

Menguatkan pendapat ini, bahwa Ibnu T}u>lu>n telah meringkas tafsir Ibnu Qayyim dengan judul khula>s}ah alTibya>n fi Ayma>n al-Qura>n. Akan tetapi pada cetakan akhir, kitab ini lebih dikenal dengan sebutan al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n, yang kemudian diikuti oleh cetakan sesudahnya dan sampai sekarang. Saat ini, nama ini seakan telah menjadi nama resmi dari kitab Ibnu Qayyim tersebut. Penamaan tersebut dinilai oleh pentahqiqnya sebagai ‘la ba’sa bih’ karena kata yang digunakan oleh Allah untuk bersumpah dalam al-Quran juga menggunakan kata Qasama. Di samping juga memang ada ulama yang memberikan nama al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qur'an, seperti dalam kitab kashfu al-z}unun, hadiya
10 Lihat dalam tahqiq al-Tibya>n fi Ayma>ni al-Qura>n, 32-39

8

al-‘A>rifi>n, dan dalam kitab al-A’la>m.11 6. Penulisan Al-Tibya>n fi> Ayma>n al-Qura>n Secara umum, sebagaimana dikatakan oleh pentahqiq kitab Ibnu Qayyim, metode penulisan kitab ini dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, pertama, kajian teori (naz}ari>) dan kedua, aplikasi (tat}bi>qi>). Untuk bagian pertama, Ibnu Qayyim menjelaskan kaidah-kaidah atau teori yang berkaitan dengan qasam, mulai dari sejarah ‘sumpah’ di kalangan arab, qasam dalam al-Quran, pembagian qasam Allah, ada>t al-qasam, dan hal lainnya.12 Setelah Ibnu Qayyim menjelaskan kaidah-kaidah qasam, beliau kemudian memberikan contoh aplikatif dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan mengelompokkan ayatayat qasam yang ada di dalam al-Quran. Dalam kaitan ini, setidaknya terdapat 151 fas}l yang semuanya membahas tentang ayat-ayat sumpah. Dalam setiap fas}l, beliau menjelaskan ayat terlebih dahulu dari segi bahasanya merujuk pada kitab-kitab mu’jam maupun tafsir ulama. Ketika terdapat perbedaan bacaan pada satu kalimat, beliau menjelaskan secara detail dan kemudian mentarjih antara satu dengan bacaan yang lainnya untuk mengambil bacaan yang dianggap paling ra>jih. Terkait dengan bahasa, beliau juga terkadang menjelaskan kalimat dari segi nahwushorofnya, qiraatnya, bahkan sisi balaghahnya. Setelah penafsiran secara bahasa selesai, baru kemudian beliau menafisrkan ayat dimaksud dengan merujuk pada kaidah yang ditulis sebelumnya. 7. Metode
11 Ibid, hal 41 12 Ibid, hal 45

Tafsir

al-Tibya>n

fi>

9

Aqsa>m al-Qura>n a. Sumber Penafsiran Dilihat dari sumber penafsirannya, karya Ibnu Qayyim ini dapat diklasifikasikan pada tafsir bi al-Iqtira>n atau campuran antara riwaya>t dan ra’yi. Hal itu terlihat ketika beliau menafsirkan ayat dengan menghadirkan ayat, hadis, atau penafsiran ulama sebelumnya, sekaligus memberikan porsi pada akalnya untuk ikut andil dalam penafsirannya, toh walaupun secara kuantitas lebih minim. Misalnya ketika Ibnu Qayyim menafsirkan surat al-Qiyamat ayat 1-2:

(2) ‫ل أقسم بيوم القيامة )1( ول أقسم بالنفس اللوامة‬ ِ َ ّ ّ ِ ّْ ِ ُِ ُْ َ َ ِ َ َِ ْ ِ ْ َِ ُ ِ ْ ُ َ
Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).13 Dalam penafsiran ayat tersebut, belaiu mengajukan pertanyaan, mengapa Allah harus bersumpah dengan hari kiamat, padahal belum terjadi?. Di sinilah kemudian, beliau menganalisa seraya mengatakan bahwa sumpah Allah dalam ayat tersebut bertujuan untuk menegaskan kepada hambanya harus bahwa Toh hari pembalasan, dalam tempat ayat itu kembali hanya (ma’a>d}) dan kerasulan Muhammad adalah benar dan diimani. walaupun disebutkan tentang qiyamat, akan tetapi keimana pada hari kiamat meniscayakan adanya keimanan kepada Allah, Rasulullah, dan al-Quran. Kepercayaan terhadap tiga hal tersebut menurut Ibn Qayyim diungkap dengan bentuk sumpah karena Allah swt. memandang penting hingga Dia menguatkan dengan sumpah, juga sebagai kebutuhan manusia agar mengetahui dan mengimaninya, serta memerintahkan Nabi-Nya agar juga ikut bersumpah tentang kebenaran adanya hari
13 Maksudnya: Bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.

10

pembalasan tersebut. Untuk memperkuat penafsirannya tersebut, kemudian beliau mengutip firman Allah:

‫زعم الذين كفروا أن لن يبعثوا قل بلى وربي لتبعثن ثم لتنبؤن بممما عملتمم وذلمك علممى الم‬ ِ ّ ََ َ َِ َ ْ ُ ْ ِ َ َ ِ ّ ُ ّ َ ُ َ ّ ُ ّ ُ َ ْ ُ َ ّ َ َ ََ ْ ُ ُ َ ْ ُ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِ ّ َ َ َ ٌ َِ ‫يسير‬
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekalikali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (al-Tagha>bun: 7). Di samping ayat tersebut, Ibnu Qayyim juga mengutip pendapat Ibnu Abbas, al-Hasan, dan Shaikhana,14 terkait dengan kata al-nafs al-lawwa>mah. Dalam menafsirkan ayat qasam lainnya, beliau juga tidak jarang menukil riwayat-riwayat dari kitab sunan Abi Daud, S}ahih Mislim, Musnad Imam Ahmad, Muwatt}a’ Imam Malik, dan kitab lainnya yang tidak dapat disebutkan seluruhnya dalam tulisan ini.15 b. Cara dan Keluasan Penjelasan Setelah membaca dan meneliti tafsir ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa tafsir ini dilihat dari segi cara penjelasannya dapat dikategorikan pada muqa>rin yaitu penggabungan antara akal dan riwayat-riwayat baik yang bersumber pada hadis Nabi, perkataan sahabat, penjelasan tabiin, para ulama tafsir sebelumnya, bahkan para pemikir seperti Arestoteles, Ibnu Taymiyah dan yang lainnya. Sedangkan dari segi keluasan penjelsannya, Ibnu Qayyim dalam tafsir al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n lebih menjelaskan ayat-ayat qasm secara detail dan terperinci (tafs}i>li>), utamanya terkait dengan kaidah-kaidah qasmnya. Hal itu dapat ditemukan hampir di semua ayat
14 Shaikhana yang dimaksud dalam hal ini adalah Ibnu Taymiyah yang merupakan guru Ibnu Qayyim 15 Diringkas dari kitab Ibnu Qayyim, al-Tibya>n fi Aqsa>m al-Qura>n, (Kairo: Maktabah al-Mutanabbi, t.t), 13-16

11

fas}l

yang

memuat

hanya

2-3

ayat

akan

tetapi

penjelasannya begitu panjang dan detail. Misalnya dalam menafsirkan ayat 1-3 surat al-T}i>n, beliau menelanjangi secara bahasa, mengungkap rahasia mengapa Allah dan bersumpah dengan buah Tin dan Zaitun, faidah

keistimewaan Tin dan Zaitun, belum lagi pembahasannya tentang ada>t al-qasm, al-muqsam bih, al-muqsam ‘alaih, dan jawa>b al-qasm. c. Konsep Penafsiran (tertib ayat yang ditafsirkan) Sebagaimana nama kitab tafsir yang dikarang oleh Ibn Qayyim ini (al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n), sudah sangat terlihat jelas bahwa konsep penafsiran atau tertib ayat yang ditafsirkan adalah maud}u>’i> (tematik). Dalam tafsir ini, yang menjadi titik fokus pembahasan hanyalah ayat-ayat yang berbentuk sumpah Tuhan.

d. Kecenderungan Penafsiran Berbicara kecenderungan dalam tafsir tidak bisa lepas dari latar belakang keilmuan, kondisi sosial-budaya, sekaligus dialektika keilmuan pada masa itu, toh walaupun tidak harus semua sebab tersebut dapat mempengaruhi kecenderungan dimaksud. Tafsir al-Tibya>n fi> Aqsa>m alQura>n lebih cenderung pada tafsir lughawi atau bahasa, karena hampir semua ayat qasm yang dihimpunnya dibahasa secara detail dan mendalam terkait dengan kebahasaannya. Pengungkapan makna kalimat, menurut beliau, adalah langkah awal untuk bisa memahami kalam Tuhan secara sempurna. Beberapa contoh berikut merupakan kata yang dibahas secara detail kebahasaannya, al-kabad, al-kunu>d, al-hubuk, di samping juga beliau membedakan antara kata al-sa’yu dengan al-‘amal, al-

12

nisya>n dengan al-sahwu dan contoh lainnya. Penjelasan akan I’ra>b dan I’la>l di beberapa ayat turut memperkuat pendapat ini. e. Penilaian Penulis pada Tafsir al-Tibya>n Dalam kaitan ini, penulis tidak memaparkan penilaian ulama terhadap karya tafsir Ibnu Qayyim, dengan alasan bahwa penulis melihat bahwa mereka (ulama) sepakat dan memberikan apresiasi positif pada karyanya. Belum penulis dapatkan tersebut. Menurut penulis ada beberapa hal yang menjadi keistimewaan tafsir ini. Pertama, kefokusan tema yaitu tentang sumpah Tuhan dalam al-Quran. Sampai saat ini, penulis melihat masih sangat minim ulama yang membahas secara independen tema-tema al-Quran. Kedua, secara bahasa juga tidak terlalu ribet untuk difahami karena Ibnu Qayyim menggunakan bahasa yaumiyah dengan tujuan dapat difahami oleh semua fihak. Ketiga, hal penting lainnya yaitu konsistensi Ibnu Qayyim dalam menafsirkan ayat sumpah. Beliau secara konsisten tetap berpegang teguh dan merujuk pada kaidah yang sudah dibuatnya sendiri pada bab sebelumnya, sehingga produk tafsirnya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Keempat, kehati-hatian beliau dalam mengutip riwayat. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa beliau dalam menafsirkan ayat sumpah juga mengutip riwayat dan memilih riwayat yang lebih sahih. Ketika ada perbedaan pendapat, beliau mendtangkan keseluruhannya dan memilih yang dianggp paling ra>jih. Kelima, pengungkapan hikmah di balik sumpah Tuhan. Keenam, karya tafsir tematik ini setidaknya dapat merangsang para ulama setelahnya untuk mengikuti jejak Ibnu Qayyim dalam menafsirkan tema-tema al-Quran yang kritikan atau catatan terhadap karya tafsir

13

sangat banyak dan komplit sekaligus untuk membuktikan bahwa al-Quran adalah kitab yang akan selalu sesuai dengan ruang dan waktu. Di samping itu, penulis juga memiliki catatan tentang kitab tafsir karya Ibnu Qayyim. Pertama, tidak ada penjelasan tentang sebab turunnya ayat yang dibahas, karena bagaimanapun ayat al-Quran tidak bisa lepas dari latar belakang yang melingkupinya. Kedua, terdapat beberapa ayat yang penjelasan bahasanya terlalu luas, sehingga penafsiran lainnya kurang mendapatkan porsi yang semestinya. Bahkan, tentang sumpahnya tidak dibahas secara mendalam. Simpulan Ibn Qayyim adalah salah satu ulama terkemuka yang memiliki keistimewaannya sendiri. Di samping beliau dikenal sebagai orang yang cerdas, beliau juga adalah sosok yang multidisipliner, dalam artian luas wawasan dan keilmuannya. Hal itu terlihat dari karya-karya beliau yang sangat variatif, mulai dari ilmu al-Quran, tafsir, hadis, bahasa, balaghah, dan yang lainnya. al-Tibya>n fi> Aqsa>m al-Qura>n adalah salah satu karya beliau yang mendapatkan Bahkan apresiasi ada dari beberapa bahwa ulama tafsir terkemuka. penilaian karya tersebut

merupakan karya tafsir pertama yang secara fokus membahas satu tema dalam al-Quran. Secara metodologis, tafsir ini dapat diklasifikasikan pada tafsir yang bersumber pada ra’yi dan riwaya>t, (lugha>wi). tafs}i>li dan cenderung pada tafsir kebahasaan

14

Daftar Pustaka Ali , Hasan bin, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim, Jakarta: Pustaka alKautsar, 2001. Asqala>ni> (al), Ibn H{ajar>, al-Durar al-Ka>minah fi> A’ya>n alMi'ah al-Tha>minah, Mawqi’ al-Wira>q, t.t, I. Bata>t}i> (al), Abdullah Sa>lim, Tahqiq al-Tibya>n fi Ayma>ni alQura>n, Makkah: Dar ‘A>lam al-Fawa>id, 1997. Dhahabi> (al), Husain, al-Mu’jam al-Mukhtas}}s} bi Muh}addithi>n, T{a>'if: Maktabah al-S{adi>q, 1408 H,. al-

Mula>h}iq Tara>jim al-Fuqaha>' al-Mawsu>’ah al-Fiqhiyyah, Wiza>rah al-Awqa>f wa al-Shu'u>n al-Isla>miyyah, t.t, I. Qayyim, Ibnu, al-Tibya>n fi Aqsa>m al-Qura>n, (Kairo: Maktabah al-Mutanabbi, t.t. Shauka>ni> (al), Muh}ammad bin ’Ali, al-Badr al-T{a>li’ bi Maha}sin Man ba’da al-Qarn al-Sa>bi’ (t.p:t.t, II. Zirikli (al), Khairudin, al-A’la>m Qamu>s Tara>jim, Bairut: Da>r al-Ilmi, 2002, VI.

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->