P. 1
Instrumentasi Penelitian

Instrumentasi Penelitian

|Views: 106|Likes:
Published by Fadhila El Husna

More info:

Published by: Fadhila El Husna on Jun 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Instrumen Penelitian

A. Jenis-jenis Alat Pengumpul Data
Instrumentasi penelitian artinya peralatan yang dibutuhkan dalam
penelitian. Secara fungsional, kegunaan instrumen penelitian adalah untuk
memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti suda menginjak langkah
pengumpulan informasi di lapangan. Peralatan yang dibutuhkan dalam
penelitian pendidikan berbeda dengan penelitian non kependidikan. Instrumen
dalam bidang pendidikan biasanya berupa tes, kuesioner, format wawancara,
format observasi, dan sebagainya, yang dibuat oleh peneliti sendiri atau oleh
peneliti sebelumnya yang sudah distandardisasi (sudah diuji validitas dan
reliabilitasnya). Pada penelitian nonkependidikan, instrumen biasanya sudah
siap pakai, yang dibuat oleh perusahaan.
Istilah instrumentasi sering digunakan dalam penelitian bidang
pendidikan yang pengertiannya mencakup instrumen dan pengembangannya
(uji validitas, reliabilitas, dan sebagainya), sedangkan dalam bidang non
kependidikan sering digunakan kata alat dan bahan penelitian.
Macam-macam instrumen alam bidang pendidikan yaitu:
1. Tes
Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinya
piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian
pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang
dimiliki oleh sesesorang atau kelompok. Tes dapat didefinisikan sebagai
suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk
memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau spikologik
yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau
ketentuan yang dianggap benar (Zainul dan Nasoetion, 1993). Dari
pengertian tersebut, maka setiap tes menuntut keharusan adanya respon dari
subyek (orang yang dites) yang dapat disimpulkan sebagai suatu trait yang
dimiliki oleh subyek yang sedang dicari informasinya. Dilihat dari wujud
fisik, tes merupakan sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab dan/atau
tugas yang harus dikerjakan yang nantinya akan memberikan informasi
mengenai aspek psikologis tertentu berdasarkan jawaban tertentu terhadap
pertanyaan-pertanyaanatau cara dan hasil subjek dalam melakukan tugas-
tugas tersebut (Azwar, 1996).
Tes sebagai alat penilaian dapat diartikan sebagai pertanyaan-
pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa
dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam
bentuk perbuatan (tes tindakan). Pada umumnya tes digunakan untuk
mengukur dan menilai hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif
yang berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan
pendidikan dan pengajaran (Sudjana, 1989).
Berdasarkan beberapa pengertian tes maka dapat diambil beberapa
kesimpulan mengenai tes yaitu sebagai berikut (Azwar, 1996).
1. Tes adalah prosedur yang sistematik, maksudnya item-item dalam tes
disusun menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi tes dan
pemberian angka terhadap hasilnya harus jelas dan dispesifikasi secara
terperinci, dan setiap orang yang mengambil tes harus mendapat item-
item yang sama dalam kondisi yang sebanding.
2. Tes berisi sampel prilaku, maksudnya seluruh item dalam tes tidak akan
mencakup seluruh materi isi yang mungkin ditanyakan sehingga harus
dipilih beberapa item yang akan ditanyakan, dan kelayakan suatu tes
tergantung pada sejumlah item-item dalam tes tersebut yang mewakili
secara representatif kawasan prilaku yang diukur.
3. Tes mengukur prilaku, item-item dalam tes hendaknya menunjukan apa
yang diketahui atau apa yang dipelajari subjek dengan cara menjawab
pertanyaan-pertanyaan atau mengerjakan tugas-tugas di dalam tes
tersebut.
a. Fungsi Tes
Fungsi tes ada 2 nacam yaitu:
1. Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hal ini test
berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah
dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses
pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2. Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, karena
melalui test tersebut dapat diketahui seberapa jauh tujuan
pembelajaran telah dicapai.
b. Jenis dan Bentuk Tes
Ditinjau dari segi kegunaannya tes dibedakan atas tiga macam:
1. Tes diagnostik Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk
mengetahui kelemahan-kelemahan siswa dimana kelemahan-
kelemahan tersebut digunakan untuk memberikan perlakuan yang
tepat pada siswa yang bersangkutan. Selain itu tes diagnostik juga
digunakan untuk menentukan karakteristik pembelajaran dari siswa
secara individu, seperti kepemilikan kemampuan prasyarat,
penguasaan objek atau konsep, dan sebab utama kesulitan belajar
siswa.
2. Tes formatif
Tes formatif disebut juga dengan ulangan harian. Penilaian formatif
digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi
pembelajaran, baik dari sisi konten (isi materi) maupun performans
(unjuk kerja). Penilaian yang dilakukan adalah penilaian formatif
karena dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
penguasaan hasil belajar dan unjuk kerja peserta didik tidak hanya
ditunjukkan melalui penguasaan isi (konten), akan tetapi harus juga
performan.
3. Tes Sumatif
Tes ini dilaksanakan setelah berakhirnya tugas pemberian sekelompok
program atau sebuah program yang lebih besar. Disekolah tes ini
disamakan dengan ulangan umum yang biasa dilaksanakan pada tiap
pertengahan semester atau akhir semester. Penilaian Sumatif
digunakan setelah siswa menyelesaikan pembelajaran topik/unit
tertentu dan dimanfaatkan untuk menerangkan hasil belajar siswa,
memutuskan tingkat efektivitas pembelajaran, menilai
metode/pendekatan pembelajaran dan kurikulum yang dibelajarkan.
Untuk menilai kemajuan siswa dalam hal pencapaian tujuan
pembelajaran disekolah diguanakan teknik tes buatan guru (teacher
made tes). Biasanya guru menggunakan dua bentuk tes yaitu tes
objektif dan subjektif.
Ditinjau dari bentuknya tes terbagi dua ::
1. Tes subjektif
Tes ini pada umumnya berbentuk uraian (essay). Tes bentuk
essay adalah sejenis tes yang memerlukan jawaban bersifat
pembahasan atau uraian kata-kata. Biasanya pertayaan dimulai dengan
kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan,
simpulkan dan lain sebagainya. Soal-soal essay ini menuntut
kemampuan siswa untuk dapat mengorganisir, menginterpretasi
menghubungkan pengertian-pengertian yang telah dimiliki dan dapat
dikatakan bahwa tes essay menuntut siswa untuk mengingat kembali
dan mengenal kembali, dimana siswa harus mempunyai daya
kreatifitas yang tinggi.
Tes uraian merupakan suatu bentuk soal yang harus dijawab
atau dipecahkan oleh testi dengan cara mengemukan pendapat secara
terurai. Dalam tes ini memungkinkan timbulnya variasi dalam
jawaban yang diberikan oleh testi (siswa) karena jawaban yang
diberikan bersifat subjektif. Tes uraian biasanya digunakan untuk
mengukur kemampuan kognitif yang relative tinggi dan kompleks.
Tes uraian (essay test), yang juga sering dikenal dengan istilah
tes subyektif (subjective test), adalah salah satu jenis tes hasil belajar
yang memiliki karakteristik sebagaimana dikemukakan berikut ini :
1. Tes tersebut berbentuk pertanyaan atau perintah yang menghendaki
jawaban berupa uraian atau paparan kalimat yang pada umumnya
cukup panjang.
2. Bentuk-bentuk pertanyaan atau perintah itu menuntut kepada testee
untuk memberikan penjelasan, komentar, penafsiran,
membandingkan, membedakan dan sebagainya.
3. Jumlah butir soalnya umumnya terbatas, yaitu berkisar antara lima
sampai dengan sepuluh butir.
4. Pada umumnya butir-butir soal tes uraian itu diawali dengankata-
kata: "Jelaskan......", "Terangkan......", "Uraikan ......", "Mengapa
......", "Bagaimana ......" atau kata-kata lain yang serupa dengan itu.
Sebagai salah satu jenis tes hasil belajar, tes uraian dapat
dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: tes uraian bentuk bebas atau
terbuka dan tes uraian bentuk terbatas. Pada tes uraian bentuk terbuka,
jawaban yang dikehendaki muncul dari testee sepenuhnya diserahkan
kepada testee itu sendiri. Artinya, testee mempunyai kebebasan yang
seluas-luasnya dalam merumuskan, mengorganisasikan dan
menyajikan jawabannya dalam bentuk uraian. Adapun pada tes uraian
bentuk terbatas, jawaban yang dikehendaki muncul dari testee adalah
jawaban yang sifatnya sudah lebih terarah (dibatasi).
Tes hasil belajar bentuk uraian sebagai salah satu alat pengukur
hasil belajar, tepat dipergunakan apabila pembuat soal (guru, dosen,
panitia ujian dan lain-lain) disamping ingin mengungkap daya ingat
dan pemahaman testee terhadap materi pelajaran yang ditanyakan
dalam tes, juga dikehendaki untuk mengungkap kemampuan testee
dalam memahami berbagai macam konsep berikut aplikasinya.
Kecuali itu, tes subyektif ini lebih tepat dipergunakan apabila jumlah
testee terbatas.
Di antara keunggulan yang dimiliki oleh tes uraian adalah,
bahwa:
1. Tes uraian adalah merupakan jenis tes hasil belajar yang
pembuatannya dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.
2. Dengan menggunakan tes uraian, dapat dicegah kemungkinan
timbulnya permainan spekulasi di kalangan testee.
3. Melalui butir-butir soal tes uraian, penyusun soal akan dapat
mengetahui seberapa jauh tingkat kedalaman dan tingkat
penguasaan testee dalam memahami materi yang ditanyakan dalam
tes tersebut.
4. Dengan menggunakan tes uraian, testee akan terdorong dan
terbiasa untuk berani mengemukakan pendapat dengan
menggunakan susunan kalimat dan gaya bahasa yang merupakan
hasil olahannya sendiri.
Adapun kelemahan-kelemahan yang disandang oleh tes
subyektif antara lain adalah, bahwa:
1. Tes uraian pada umumnya kurang dapat menampung atau
mencakup dan mewakili isi dan luasnya materi atau bahan
pelajaran yang telah diberikan kepada tes¬tee, yang seharusnya
diujikan dalam tes hasil belajar.
2. Cara mengoreksi jawaban soal tes uraian cukup sulit.
3. Dalam pemberian skor hasil tes uraian, terdapat kecenderungan
bahwa tester lebih banyak bersifat subyektif.
4. Pekerjaan koreksi terhadap lembar-lembar jawaban hasil tes uraian
sulit untuk diserahkan kepada orang lain.
5. Daya ketepatan mengukur (validitas) dan daya keajegan mengukur
(reliabilitas) yang dimiliki oleh tes uraian pada umumnya rendah
sehingga kurang dapat diandalkan sebagai alat pengukur hasil
belajar yang baik.
Bertitik tolak dari keunggulan-keunggulan dan kelemahan-
kelemahan yang dimiliki oleh tes hasil belajar bentuk uraian seperti
telah dikemukakan di atas, maka beberapa petunjuk operasional
berikut ini akan dapat dijadikan pedoman dalam menyusun butir-butir
soal tes uraian.
Pertama, dalam menyusun butir-butir soal tes uraian, sejauh
mungkin harus dapat diusahakan agar butir-butir soal tersebut dapat
mencakup ide-ide pokok dari materi pelajaran yang telah diajarkan,
atau telah diperintahkan kepada testee untuk mempelajarinya.
Kedua, untuk menghindari timbulnya perbuatan curang oleh
testee (misalnya: menyontek atau bertanya kepa¬da testee lainnya),
hendaknya diusahakan agar susunan kalimat soal dibuat berlainan
dengan susunan kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran atau
bahan lain yang diminta untuk mempelajarinya.
Ketiga, sesaat setelah butir-butir soal tes uraian dibuat,
hendaknya segera disusun dan dirumuskan secara tegas, bagaimana
atau seperti apakah seharusnya jawaban yang dikehendaki oleh tester
sebagai jawaban yang betul.
Keempat, dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya
diusahakan agar pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintahnya
jangan dibuat seragam, melainkan dibuat secara bervariasi.
Kelima, kalimat soal hendaknya disusun secara ringkas, padat
dan jelas.
Keenam, suatu hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh
tester ialah, agar dalam menyusun butir-butir soal yang harus dijawab
atau dikerjakan oleh testee, hendaknya dikemukakan pedoman tentang
cara mengerjakan atau menjawab butir-butir soal tersebut.
2. Tes Objektif
Berbeda dengan tes uraian, tugas-tugas dan persoalan-pesoalan
dalam tes objektif sudah terstruktur, sehingga jawaban terhadap soal-
soal tersebut sudah dapat ditentukan secara pasti.
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaanya dilakukan
secara obyektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-
kelemahan dari tes essay. Soal tes objektif jauh lebih banyak dari pada
tes essay. Kadang-kadang untuk selama 60 menit diberikan 30 sampai
40 soal.
Kebaikan-kebaikannya
1. Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih
representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat
dihindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi
siswa maupun segi guru yang memeriksa.
2. Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat
menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
3. Pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain.
4. Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subjektif yang mem-
pengaruhi.
Kelemahan-kelemahannya
1. Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes esai
karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari
kelemahan-kelemahan yang lain.
2. Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya
pengenalan kembali saja, dan sukar untuk mengukur proses mental
yang tinggi.
3. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
4. "Kerja sama" antarsiswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih
terbuka.
Macam-Macam Tes Objektif
1. Tes benar-salah (true-false)
Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Statement
tersebut ada yang benar dan ada yang salah.
a. Kebaikan tes benar-salah
1) Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan
tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat
saja.
2) Mudah menyusunnya.
3) Dapat digunakan berkali-kali.
4) Dapat dilihat secara cepat dan objektif.
5) Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti
b. Keburukannya
1) Sering membingungkan.
2) Mudah ditebak/diduga.
3) Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan
dua kemungkinan benar atau salah.
4) Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan
kembali.
c. Petunjuk penyusunan
1) Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item
dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan
menilai (scoring).
2) Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama
dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini
hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur misalnya: B-S-
B. S- B-S atau SS-BB-SS-BB-SS.
3) Hindari item yang masih bisa diperdebatkan:
4) Contoh: B-S. Kekayaan lebih penting daripada kepandaian.
5) Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang persis dengan buku.
6) Hindarilah kata-kata yang menunjukkan kecenderungan
mem¬beri saran seperti yang dikehendaki oleh item yang
bersangkutan, misalnya: semuanya, tidak selalu, tidak
pernah,dan sebagainya.
2. Tes pilihan ganda (multiple choice test)
Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau
pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan
untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa
kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Atau multiple choice
test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan
jawaban atau alternatif (options). Kemungkinan jawaban (option)
terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan
beberapa pengecoh (distractor).
a) Penggunaan tes pilihan gandaTes bentuk pilihan ganda (PG) ini
merupakan bentuk tes objektif yang paling banyak digunakan
karena banyak sekali materi yang dapat dicakup.Petunjuk
penyusunan. Pada dasarnya, soal bentuk pilihan ganda ini adalah
soal bentuk benar-salah juga, tetapi dalam bentuk jamak.
Tercoba (testee) diminta membenarkan atau menyalahkan setiap
stem dengan tiap pilihan jawaban. Kemungkinan jawaban itu
biasanya sebanyak tiga atau empat buah, tetapi adakalanya dapat
juga lebih banyak.
b) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda
1) Instruksi pengerjaannya harus jelas, dan bila dipandang
perlu baik disertai contoh mengerjakannya.
2) Dalam multiple choice test hanya ada "satu" jawaban yang
benar. Kalimat pokoknya hendaknya mencakup dan sesuai
dengan rangkaian mana pun yang dapat dipilih.
3) Kalimat pada tiap butir soal hendaknya sesingkat mungkin.
4) Usahakan menghindarkan penggunaan bentuk negatif dalam
kalimat pokoknya.
5) Kalimat pokok dalam setiap butir soal, hendaknya tidak
tergantung pada butir-butir soal lain.
6) Gunakan kata-kata: "manakah jawaban paling baik",
"pilihlah satu yang pasti lebih baik dari yang lain", bilamana
terdapat lebih dari satu jawaban yang benar.
7) Jangan membuang bagian pertama dari suatu kalimat.
8) Dilihat dari segi bahasanya, butir-butir soal jangan terlalu
sukar.
9) Tiap butir soal hendaknya hanya mengandung satu ide.
Meskipun ide tersebut dapat kompleks.
10) Bila dapat disusun urutan logis antar pilihan-pilihan,
urutkanlah (misalnya: urutan tahun, urutan alfabet, dan
sebagainya).
11) Susunlah agar jawaban mana pun mempunyai kesesuaian
tata bahasa dengan kalimat pokoknya.
12) Alternatif yang disajikan hendaknya agak seragam dalam
panjangnya, sifat uraiannya maupun taraf teknis.
13) Alternatif-alternatif yang disajikan hendaknya agak bersifat
homogen mengenai isinya dan bentuknya.
14) Buatlah jumlah alternatif pilihan ganda sebanyak empat.
Bilamana terdapat kesukaran, buatlah pilihan-pilihan
tambahan untuk mencapai jumlah empat tersebut. Pilihan-
pilihan tam¬bahan hendaknya jangan terlalu gampang
diterka karena bentuknya atau isi.
15) Hindarkan pengulangan suara atau pengulangan kata pada
kalimat pokok di alternatif-alternatifnya.
16) Hindarkan menggunakan susunan kalimat dalam buku
pelajaran.
17) Alternatif-alternatif hendaknya jangan tumpang-suh, jangan
inklusif, dan jangan sinonim.
18) Jangan gunakan kata-kata indikator seperti selalu, kadang-
kadang, pada umumnya.
3. Menjodohkan (matching test)
a) Pengertian
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan,
mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test
terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban.
b) Petunjuk penyusunan
Petunjuk-petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes
bentuk matching ialah:
i. Seri pertanyaan-pertanyaan dalam matching test hendaknya
tidak lebih dari sepuluh soal (item).
ii. Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak
daripada jumlah soalnya (lebih kurang 1 1/2 kali).
iii. Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching
test harus merupakan pengertian-pengertian yang benar-benar
homogen.
4. Tes isian (completion test)
a) Pengertian
Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes
menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri
atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang
dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh
murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari
murid.
b) Petunjuk penyusunan
Saran-saran dalam menyusun tes bentuk isian ini adalah sebagai
berikut.
1) Perlu selalu diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan
lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis.
2) Jangan mengutip kalimat/pernyataan yang tertera pada buku/
catatan.
3) Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang.
4) Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai
lebih dari satu tempat kosong.
5) Jangan mulai dengan tempat kosong.
Tes objektif tepat digunakan bila:
1. Kelompok yang akan dites banyak dan tesnya akan digunakan lagi
berkali-kali.
2. Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya (mem-
punyai reliabilitas yang tinggi).
3. Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif daripada tes
bentuk esai (uraian).
4. Hanya mempunyai waktu sedikit untuk koreksi dibandingkan
dengan waktu yang digunakan untuk menyusun tes.
Pada umumnya, guru seyogyanya menggunakan dua macam
bentuk tes ini dalam perbandingan 3:1, yaitu 3 bagian untuk tes
objektif, dan 1 bagian untuk tes uraian.
Petunjuk operasional penyusunan tes obyektif yaitu:
1. Untuk dapat menyusun butir-butir soal tes obyektif yang bermutu
tinggi, pembuat soal tes (dalam hal ini guru, dosen dan lain-lain)
harus membiasakan diri dan sering berlatih, sehingga dari waktu ke
waktu ia akan dapat merancang dan menyusun butir-butir soal tes
obyektif dengan lebih baik dan lebih sempurna.
2. Setiap kali alat pengukur hasil belajar berupa tes obyektif itu
selesai dipergunakan, hendaknya dilakukan penganalisisan item,
dengan tujuan dapat mengidentifikasi butir-butir item mana yang
sudah termasuk dalam kategori “baik” dan butir-butir item mana
yang masih termasuk dalam kategori “kurang baik” dan “tidak
baik”.
3. Dalam rangka mencegah timbulnya permainan spekulasi dan
kerjasama yang tidak sehat di kalangan testee, perlu disiapkan
terlebih dahulu suatu norma yang memperhitungkan faktor tebakan.
4. Agar tes obyektif di samping mengungkap aspek ingatan atau
hafalan juga dapat mengungkap aspek-aspek berpikir yang lebih
dalam, maka dalam merancang dan menyusun butir-butir item tes
obyektif hendaknya tester menggunakan alat bantu berupa Tabel
Spesifikasi Soal yang sering dikenal dengan istilah kisi-kisi soal
atau blue print.
5. Dalam menyusun kalimat soal-soal obyektif, bahasa atau istilah-
istilah yang dipergunakan hendaknya cukup sederhana, ringkas,
jelas dan mudah dipahami oleh testee.
6. Untuk mencegah terjadinya silang pendapat atau perdebatan antara
testee dengan tester, dalam menyusun butir-butir soal tes obyektif
hendaknya diusahakan sungguh-sungguh agar tidak ada butir-butir
yang dapat menghasilkan penafsiran ganda atau kerancuan dalam
pemberian jawabannya.
7. Cara memenggal atau memutus kalimat, membubuhkan tanda-
tanda baca seperti titik, koma dan sebagainya, penulisan tanda-
tanda aljabar seperti kuadrat, akar dan sebagainya, hendaknya
ditulis secara benar, usahakan agar tidak terjadi kesalahan ketik
atau kesalahan cetak, sehingga tidak mengganggu konsentrasi
testee dalam memberikan jawaban soal.
8. Dengan cara bagaimanakah testee seharusnya memberikan jawaban
terhadap butir-butir soal yang diajukan dalam tes, hendaknya
diberikan pedoman atau petunjuknya secara jelas dan tegas.
Adapun keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan tes
objektif adalah:
Keunggulan :
- Waktu yang dibutuhkan relative lebih singkat
- Panjang pendeknya suatu tes (banyak sedikitnya butir soal) bisa
berpengaruh terhadap kadar reliabilitas
- Proses pensekoran dapat dilakukan secara mudah karena kunci
jawaban dapat dibuat secara pasti
- Proses penilaian dapat dilakukan secara objektif karena kunci
jawaban sudah dapat ditentukan secara pasti.
Kelemahan :
- Terdapat kemungkinan untuk dapat menebak jawaban dengan
tepat. Tidak dapat mengetahui jalan pikiran testi dalam menjawab
suatu pesoalan.
- Membatasi kreativitas siswa dalam menyusun jawaban sendiri.
- Bahan ajar yang diungkap dengan ts objektif, pada umumnya lebih
terbatas pada hal-hal yang faktual.
c. Ciri-ciri Tes Yang Baik
Setidak-tidaknya ada empat ciri atau karakteristik yang harus
dimiliki oleh tes hasil belajar, sehingga tes tersebut dapat dinyatakan
sebagai tes yang baik, yaitu: (1) valid (shahih), (2) reliabel, (3) obyektif,
dan (4) praktis.
Ciri Pertama: valid atau validitas yang sering diartikan dengan
ketetapan, kebenaran, keshahihan atau keabsahan. Maka sebuah tes
dikatakan valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar,
secara shahih atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya
diukur.
Ciri kedua: reliabel yang sering diterjemahkan dengan keajegan
(=stability) atau kemantapan (=consystence). Maka sebuah tes dapat
dikatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran yang digunakan dengan
menggunakan tes tersebut secara berulangkali terhadap obyek yang sama,
senantiasa menunjukkan hasil yang tetap sama atau sifatnya ajeg dan
stabil. Guna mengetahui, apakah sebuah tes hasil belajar telah memiliki
reliabilitas yang tinggi ataukah rendah, dapat digunakan tiga jenis
pendekatan, yaitu: (1) pendekatan single test atau single trial, (2)
pendekatan test retest, dan (3) pendekatan alternate forms.
Ciri ketiga: obyektif yang dapat diartikan dengan “menurut apa
adanya”. Ditinjau dari isi atau materi tesnya, tes diambilkan atau
bersumber dari materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan sesuai
atau sejalan dengan kompetensinya. Dan ditinjau dari segi pemberian
skor dan penentuan nilai hasil tesnya, maka pemberian skor dan
penentuan nilainya terhidar dari unsur-unsur subyektivitas.
Ciri keempat: praktis yang mengandung pengertian bahwa tes hasil
belajar tersebut dapat dilakukan dengan mudah, karena ada dua alasan:
1. Bersifat sederhana, tidak memerlukan peralatan yang banyak atau
peralajan yang sulit pengadaannya.
2. Lengkap, tes tersebut telah dilengkapi dengan petunjuk mengenai
bagaimana cara mengerjakannya, kunci jawabannya dan pedoman
scoring serta penentuan nilainya.
a) Prinsip-prinsip Dasar Dalam Penyusunan Tes Hasil Belajar
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam
menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut dapat mengukur tujuan
pembelajaran yang telah diajarkan, sebagaimana yang dikemukakan
oleh Anas Sudijono yang dapat dipaparkan singkat, yaitu:
1. Tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar
(learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
2. Butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang
representatif dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan,
sehingga dapat dianggap mewakili seluruh performance yang telah
diperoleh.
3. Bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat
bervariasi, sehingga betul-betul cocok untuk mengukur hasil belajar
yang diinginkan sesuai dengan tujuan tes itu sendiri.
4. Tes hasil belajar harus didesain sesuai dengan kegunaannya untuk
memperoleh hasil yang diinginkan. Pernyataan tersebut
mengandung makna, bahwa desain tes hasil belajar harus disusun
relevan dengan kegunaan yang dimiliki oleh masing-masing jenis
tes. Desain dari placement test - (yaitu tes yang digunakan untuk
penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis
program pendidikan tertentu). Sudah barang tentu akan berbeda
dengan desain dari formative test - (yaitu tes yang digunakan untuk
mencari umpan balik guna memperbaiki proses pembelajaran, baik
bagi guru maupun bagi siswa) - dan summative test - (yaitu tes
yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai dimana
pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan
dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan
siswa yang bersangkutan). Demikian pula desain dari diagnostic
test - (yaitu tes yang digunakan dengan tujuan untuk mencari
sebab-sebab kesulitan belajar siswa.
5. Tes hasil belajar harus memiliki reliabelitas yang dapat diandalkan.
6. Tes hasil belajar di samping harus dapat dijadikan alat pengukur
keberhasilan belajar siswa, juga harus dapat dijadikan alat untuk
mencari informasi yang berguna untuk perbaikan cara belajar siswa
dan cara mengajar guru itu sendiri.
b) Teknik Pelaksanaan Tes Hasil Belajar
Dalam praktek, pelaksanaan tes hasil belajar dapat
diselenggarakan secara tertulis (tes tertulis), dengan secara lisan (tes
lisan) dan dengan tes perbuatan.
1) Teknik Pelaksanaan Tes Tertulis
Dalam melaksanakan tes tertulis ada beberapa hal yang perlu
mendapat perhatian, yaitu sebagaimana dikemuka¬kan berikut ini.
1. Agar dalam mengerjakan soal tes para peserta tes mendapat
ketenangan, seyogyanya ruang tempat berlangsungnya tes
dipilihkan yang jauh dari keramaian, kebisingan, suara hiruk
pikuk dan lalu lalangnya orang.
2. Ruangan tes harus cukup longgar, tidak berdesak-desakan,
tempat duduk diatur dengan jarak tertentu yang
memungkinkan tercegahnya kerja sama yang tidak sehat di
antara testee.
3. Ruangan tes sebaiknya memiliki system pencahayaan dan
pertukaran udara yang baik.
4. Jika dalam ruangan tes tidak tersedia meja tulis atau kursi yang
memiliki alas tempat penulis, maka sebelum tes dilaksanakan
hendaknya sudah disiapkan alat berupa alat tulis yang terbuat
dari triplex, hardboard atau bahan lainnya.
5. Agar testee dapat memulai mengerjakan soal tes secara
bersamaan, hendaknya lembar soal-soal tes diletak¬kan secara
terbalik.
6. Dalam mengawasi jalannya tes, pengawas hendaknya berlaku
wajar.
7. Sebelum berlangsungnya tes, hendaknya su¬dah ditentukan
lebih dahulu sanksi yang dapat dikenakan kepada testee yang
berbuat curang.
8. Sebagai bukti mengikuti tes, harus disiapkan daftar hadir yang
harus ditandatangani oleh seluruh peserta tes.
9. Jika waktu yang ditentukan telah habis, hendaknya testee
diminta untuk menghentikan pekerjaannya dan secepatnya
meninggalkan ruangan tes.
10. Untuk mencegah timbulnya berbagai kesulitan di kemudian
hari, pada Berita Acara Pelaksanaan Tes harus dituliskan
secara lengkap, berapa orang testee yang hadir dan siapa yang
tidak hadir, dengan menuliskan identitasnya (nomor urut,
nomor induk, nomor ujian, nama dan sebagainya), dan apabila
terjadi penyimpangan-penyimpangan atau kelainan-kelainan
harus dicatat dalam berita acara pelaksanaan tes tersebut.
2) Teknik Pelaksanaan Tes Lisan

Beberapa petunjuk praktis berikut ini kiranya akan dapat
dipergunakan sebagai pegangan dalam pelaksanaan tes lisan.
1. Sebelum tes lisan dilaksanakan, seyogyanya tester sudah
melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan
kepada testee dalam tes lisan tersebut.
2. Setiap butir soal yang telah ditetapkan untuk diajukan dalam tes
lisan itu, juga harus disiapkan sekaligus pedoman atau ancar-
ancar jawaban betulnya.
3. Jangan sekali-kali menentukan skor atau nilai hasil tes lisan
setelah seluruh testee menjalani tes lisan. Skor atau nilai hasil
tes lisan harus sudah dapat ditentukan di saat masing-masing
testee selesai dites.
4. Tes hasil belajar yang dilaksanakan secara lisan hendaknya
jangan sampai menyimpang atau berubah arah dari evaluasi
menjadi diskusi.
5. Dalam rangka menegakkan prinsip obyektivitas dan prinsip
keadilan, dalam tes yang dilaksanakan secara lisan itu, tester
hendaknya jangan sekali-kali "memberikan angin segar" atau
"memancing-mancing" dengan kata-kata, kalimat-kalimat atau
kode-kode tertentu yang sifatnya menolong testee tertentu alasan
"kasihan" atau karena tester menaruh "rasa simpati" kepada
testee yang ada dihadapinya itu.
6. Tes lisan harus berlangsung secara wajar.
7. Sekalipun acapkali sulit untuk dapat diwujudkan, namun
sebaiknya tester mempunyai pedoman atau ancar-ancar yang
pasti.
8. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam tes lisan hendaknya
dibuat bervariasi.
9. Sejauh mungkin dapat diusahakan agar tes lisan itu berlangsung
secara individual (satu demi satu).
3) Teknik Pelaksanaan Tes Perbuatan
Tes perbuatan pada umumnya digunakan untuk mengukur
taraf kompetensi yang bersifat keterampilan (psiko-motorik), di
mana penilaiannya dilakukan terhadap proses penyelesaian tugas
dan hasil akhir yang dicapai oleh testee setelah melaksanakan tugas
tersebut.
Dalam melaksanakan tes perbuatan itu, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan oleh tester.
1. Tester harus mengamati dengan secara teliti, cara yang ditempuh
oleh testee dalam menyelesaikan tugas yang telah ditentukan.
2. Agar dapat dicapai kadar obyektivitas setinggi mungkin,
hendaknya tester jangan berbicara atau berbuat sesuatu yang
dapat mempengaruhi testee yang sedang mengerjakan tugas
tersebut.
3. Dalam mengamati testee yang sedang melaksa¬nakan tugas itu,
hendaknya tester telah menyiapkan instrumen berupa lembar
penilaian yang di dalamnya telah diten¬tukan hal-hal apa
sajakah yang harus diamati dan diberikan penilaian.
2. Kuesioner
Kuesioner biasanya dalam bentuk kalimat tanya atau kalimat
pernyataan. Aspek yang ditanyakan dalam kuesioner dapat berupa fakta,
opini (persepsi, minat, dan sikap), informasi, dan keterampilan. Ada
beberapa bentuk pertanyaan dari kuesioner yaitu:
a. Pertanyaan tertutup
Pada kuesioner pertanyaan tertutup, kemungkinan jawabannya sudah
ditentukan terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan untuk
memberi jawaban lain.
Contoh:
- Kuesioner dalam bentuk penilaian dengan caradua garis kontinum
yang berlawanan letaknya
- Kuesioner menurut skala Likert
Kalau kita mengukur tingkatan persepsi, minat, dan sikap responden
terhadap suatu hal maka pilihannya dibuat bertingkat (ada gradasi).
Misalnya:
A. Sangat setuju (SS), dengan bobot (5)
B. Stuju (S), dengan bobot (4)
C. Ragu-ragu, dengan bobot (3)
D. Tidak setuju (TS), dengan bobot (2)
E. Sangat tidak setuju (STS), dengan bobot (1)
b. Pertanyaan Semi terbuka
Pada pertanyaan semi terbuka, jawabannya sudah tersusun tetapi masih
ada kemungkinan tambahan jawaban. Contohnya kuesioner dengan
pertanyaan muli dimensional ceklis, dimana di antara jawaban-jawaban
yang disediakan ada perbedaan sifat dan maksud, sehingga tidak ada
tingkatan (gradasi) dalam susunan atau tata urutannya. Dengan demikian
tidak dapat pula diadakan sesuatu pengukuran dengan menggunakan
sistem angka atau penyekoran. Dalam penyusunan kuesioner multi
dimensional ceklis perlu dijaga agar tiap hal yang dimasukkan dalam
alternatif jawaban mempunyai ari terpisah satu sama lainnya, sehingga
hanya satu jawaban yang dipilih responden.
c. Pertanyaan Terbuka
Pada pertanyaan terbuka, kemungkinan jawabannya tidak ditentukan
terlebih dahulu dan responden bebas memberikan jawaban. Contoh:
- Bagaimana pendapat Anda tentang dampak seringnya terjadi
perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia?
d. Kombinasi tertutup dan terbuka
Pada kombinasi pertanyaan tertutup dan terbuka, jawabannya sudah
ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyan terbuka. Contoh:
- Apakah Anda pernah mendengar tentang model-model pembelajaran
kooperatif?
1. Pernah 2. Tidak pernah
(Jika pernah) Model pembelajaran kooperatif mana yang Anda
senangi?
Keunggulan kuesioner:
1) Dapat mengungkapkan pendapat atau tanggapan seseorang baik secara
individu maupun kelompok terhadap permasalahan.
2) Dapat disebarkan untuk responden yang berjumlah besar dengan waktu
yang relatif singkat.
3) Tetap terjaganya objektivittas responden yang berjumlah besar dengan
waktu yang relatif singkat.
4) Tetap terjaganya kerahasiaan responden untuk menjawb sesuai dengan
pendapat pribadi.
5) Karena diformat dalam bentuk surat maka biayanya lebih murah.
6) Penggunaan waktu yang fleksibel sesuai dengan waktu yang telah
diberikan peneliti
7) Dapat menjaring informasi dengan skaa luas dengan waktu cepat
Kelemahan kuesioner:
a) Peneliti tidak dapat melihat reaksi responden ketika memberikan
informasi melalui isian kuesioner
b) Responden tidak memberikan jawaban dalam waktu yang telah
ditentukan
c) Responden memberikan jawaban secara asal-asalan
d) Kembalinya kuesioner bergantung pada kesadaran responden dalam
menjawab dan mengantar lewat kantor pos
Agar memperoleh tingkat pengembalian kuesioner yang tinggi,
peneliti hendaknya merencanakan strategi yang tepat untuk meningkatkan
pengembalian kuesioner. Cara meningkatkan tingkatpengembalian ini ada
bermacam-macam, di antaranya termasuk:
1) Mengatur pengiriman kembali segera setelah permohonan selesai dijwab,
sebelum waktu berakhir.
2) Menggunakan jasa asisten dalam mendistribusikan dan mengambil
jawaban kuesioner.
3) Menggunakan kiat yang menarik dan menguntungkan bagi para
responden yang telah mengembalikan kuesioner jawaban.
Syarat meembuat kuesioner yang baik:
a) Setiap item harus dibuat dengan menggunakan bahasa yang jelas dan
tidak mempunyai arti yang meragukan
b) Penenliti hendaknya menghidari pertanyaan atau pernyataan ganda dala
satu item
c) Item pertanyaan atau pernyataan berkaitan dengan permasalahan yang
akan dipecahkan dalam penelitian
d) Bahasa yang digunakan hendaknya enggunakan bahasa yang baku
e) Penenliti hendaknya tidak terlalu mudah menggunakan item-item negatif
atau item yang menjebak responden
f) Penenliti hendaknya membangun item kuesioner yang terarah dalam kisi-
kisi kerja atau framework permasalahan.
3. Pedoman Observasi
Observasi sebagai alat pengumpul data haruslah sistematis, artinya
observasi dan pencatatannya harus dilakukan menurut prosedur dan aturan-
aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti lain. Hasil
observasi harus memberi kemungkinan untuk menafsirkannya secara ilmiah.
Dalam observasi diusahakan mengamati keadaan yang wajar atau alami
tanpa ada usaha yang disengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau
memanipulasi. Dalam melakukan observasi diperlukan pedoman observasi.
Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang perilaku manusia
yang terjadi secara alami. Dengan observasi, kita dapat memperoleh
gambaran yang lebih jelas tentang perilaku yang sukar diperoleh dengan
metode lain. Observasi juga dilakukan bila belum banyak informasi yang
dimiliki tentang masalah yang kita teliti. Di samping itu, observasi juga
diperlukan untuk menjajaki atau berfungsi sebagai eksplorasi.
Secara garis besar, observasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Dengan partisipasi, pengamat berlaku sebagai partisipan.
Observasi dengan partisipan artinya bahwa pengamat merupakan bagian
dari kelompok yang ditelitinya.
b. Tanpa partisipasi, pengamat berlaku sebagai nonpartisipan.
Observasi dengan non partisipan artinya pengamat bukan bagian dari
kelompok yang ditelitinya.
4. Pedoman Wawancara
Wawancara atau interview merupakan suatu bentuk komunikasi
verbal atau semacam percakapan yang bertujuan untk memperoleh
informasi tertentu. Wawancara tidak sekedar percakapan biasa, tetapi
percakapan yang memerlukan kemampuan pewawancara mengajukan
pertanyaan yang dirumuskan secara tajam, halus, dan tepat, dan kemampuan
untuk menangkap buah pikiran orang lain dengan tepat dan cepat. Bila
pertanyaan salah ditafsirkan, pewawancara harus mampu untuk
merumuskan segera dengan kata-kata lain atau mengajakan pertanyaan lain
agar dapat dipahami oleh responden. Pewawancara harus dengan tajam
meneliti kesesuaian suatu keterangan dengan keterangan lain, jadi harus
cepat mendeteksi kepincangan-kepincangan yang ada.
Keberhasilan pengumpulan data dalam wawancara sangat tergantung
pada hal-hal sebagai berikut.
a. Kemampuan pewawancara menciptakan hubungan baik dengan
responden sehingga wawancara dapat berjalan dengan lancar.
b. Kemampuan pewawancara menyampaikan semua pertanyaan yang telah
disiapkan kepada responden
c. Kemampuan pewawancara untuk merekam semua jawaban lisan dari
responden dengan teliti dan akurat
d. Kemampuan pewawancara untuk menggali informasi lebih dalam
(probing) dengan pertanyaan yang tepat dan netral.
Pada umumnya, wawancara dapat dibedakan atas dua macam yaitu:
1) Wawancara berstruktur
Wawancara berstruktur dilakukan berdasarkan daftar pertanyaan yang
telah disusun secara sistematis dengan maksud dapat mengontrol dan
mengatur berbagai dimensi wawancara itu.Pada wawancara berstruktur,
semua pertanyaan telah dirumuskan dengan cermat, biasanya secara
tertulis. Jawaban atas pertanyaan dapat juga ditentukan lebih dahulu
secara pilihan berganda.
Menurut Nasution (1987:154), wawancara berstruktur mempunyai
beberapa keuntungan antara lain:
a) Tujuan wawancara lebih jelas dan terpusat pada hal-hal yang telah
ditentukan sebelumnya sehingga tidak ada bahay bahwa percakapan
akan menyimpang dari tujuan
b) Jawaban-jawabaan mudah dicatat atau diberi kode
c) Data lebih mudah diolah dan saling dibandingkan
Kelemahan wawancara berstruktur ini adalah responden terpengaruh oleh
jawaban yang telah tersedia yang telah dimasuki oleh bias dari peneliti.
2) Wawancara tidak berstruktur
Pada wawancara tidak berstruktur tidak dipersiapkan daftar pertanyaan
sebelumnya. Pewawancara hanya mengkaji suatu masalah secara umum.
Pewawancara boleh menanyakan apa saja yang dianggapnya perlu dalam
situasi wawancara itu. Pertanyaan tidak perlu diajukan dalam urutan yang
sistematis, bahkan pertanyaan tidak perlu sama dengan yang telah
direncanakan atau boleh saja berubah asalkan dengan konteks yang sama.
Namun ada baiknya pewawancara mencatat pokok-pokok penting
sebagai egangan yang akan ditanyakan sesuai dengan tujuan wawancara.
Responden boleh menjawab secara bebas. Lama wawancara juga tidak
ditentukan dan diakhiri menurut kondisi dan keperluan pewawancara.
Kelebihan wawancara tidak berstruktur adalah mengandung kebebasan
sehingga responden secara spontan dapat mengeluarkan segala sesuatu
yang dirasakan atau dipikirkan untuk dikemukakannya. Denan demikian
pewawancara memperoleh gambaran yang lebih luas tentang masalah
yang diteliti. Namun wawancara berstruktur juga mempunyai beberapa
kelemahan yaitu data yang diperoleh secara bebas itu sukar diberi kode,
sehingga sukar diolah untuk saling diperbandingkan. Akibatnya peneliti
dapat membatasi kebebasan itu dengan mengadakan struktur dalam
pertanyaan sehingga data yang diperoleh dapat disusun menurut
sistematika tertentu. Kelemahan lain adalah wawancara tidak selalu
mengungkapkan hal-hal yang baru sehingga merupakan ulangan dari
wawancara sebelumnya, yang berarti pemborosan waktu dan tenaga.
Beberapa keunggulan wawancara:
a) Penelitian memperoleh rerata jawaban yang relatif tinggi dari responden
b) Peneliti dapat membantu menjelaskan lebih jika ternyata responden
mengalami kesulitan menjawab yang diakibatkan oleh ketidakjelasan
pertanyaan
c) Peneliti dapat mengontrol jawaban responden secara lebih teliti dengan
mengamati reaksi atau tingkah laku yang diakibatkan oleh pertanyaan
dalam proses wawancara.
d) Peneliti dapat memperoleh informasi yang tidak dapat diungkapkan
dengan cara kuesioner ataupun observasi
Yang perlu diperhatikan dalam wawancara:
1) Peneliti hendaknya berpakaian rapi
2) Peneliti harus dapat bersikap ramah, sopan, dan dapat beradaptasi dengan
cepat terhadap kondisi responden
3) Peneliti hendaknya menguasai materi wawancara dan familiar terhadap
petunjuk wawancara yang berisi item-item pertanyaan yang harus
diajukan kepada responden
4) Peneliti hendaknya dapat mengikuti skenario atau petunjuk wawaancara
secara fleksibel dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi responden
5) Peneliti hendaknya mampu mencatat jawaban semua responden secara
tepat dan cepat dengan tanpa mengurangi kelancaran dan kewajaran
proses wawancara
6) Peneliti hendaknya mampu mengulang dan menjelaskan pertanyaan yang
diajukan responden apabila responden belum jelas atau tertarik dengan
pertnyaan yang diajukan sebelumnya
7) Peneliti harus dalam kondisi sehat dan menjiwai terhadap situasi
wawancara
B. Pemilihan Alat Pengumpul Data
C. Kualitas Alat Pengumpul Data
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu
alat ukur itu dapat mengukur apa yang hendak diukur. Suatu instrumen
dapat dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa
yang diinginkan secara tepat.
Ada 2 jenis validitas, yaitu:
a. Validitas logis
Validitas logis artinya apabila secara analisis akal, instrumen sudah
sesuai dengan isi dan aspek yang ingin diungkapkan. Validitas logis juga
terbagi atas 2 macam, yaitu:
1) Validitas isi (instrumen yang sudah sesuai dengan isi)
2) Validitas konstruk (instrumen yang sudah sesui dengan aspek yang
diukur)
Untuk mendapatkan validitas logis (validitas isi dan konstruk) adalah
dengan menyusun instrumen berdasarkan kisi-kisi. Apabila pada waktu
menyusun instrumen, peneliti sudah melewati prosedur membuat kisi-
kisi dan instrumen dibuat berdasarkan kisi-kisi tersebut, maka instrumen
yang dibuat itu telah dapat dianggap mempunyai validitas logis. Peneliti
perlu mencantumkan langkah-langkah yang dilakukan untuk
mendapatkan instrumen yang mempunyai validitas logis ini.
Menurut Arikunto (1990:178), langkah-langkah yang ditempuh dalam
menyusun instrumen adalah:
1) Mengidentifikasi variabel yang terdapat dalam rumusan judul
penelitian
2) Menjabarkan variabel menjadi subvariabel
3) Mencari indikator setiap subvariabel
4) Menurunkan deskriptor dari setiap indikator
5) Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen
6) Melengkapi instrumen dengan pengantar dan pedoman pengisian
instrumen
b. Validitas empiris
Validitas empiris adalah validitas instrumen berdasarkan pengalaman,
yaitu melalui langkah-langkah uji coba instrumen. Menurut Lufri
(2007:116) ada 2 macam validitas empiris yaitu:
1) Validitas eksternal
Validitas eksternal adalah apabila data yang diperoleh melalui suatu
instrumen sesuai dengan data atau informasi lain tentang variabl
penelitian tersebut. Contohnya cara mendapatkan validitas eksternal
ini adalah mengkorelasikan hasil uji coba dengan nilai sumatif atau
nilai rapor dengan menggunakan rumuus korelasi Product Moment.
Apabila nilai r hitung lebih besar daripada r tabel, maka instrumen
sudah dapat dianggap mempunyai validitas eksternal.
2) Validitas internal
Validitas internal adalah apabila terdapat kesesuaian antara bagian-
bagian isi instrumen dengan instrumen secara keseluruhan. Yang
dimaksud dengan bagian-bagian instrumen adalah butir-butir
pertanyaan, atau dapat pula berupa kumpulan butir-butir pertanyaan
yang mencerminkan suatu faktor. Oleh karena itu, ada dua bentuk
validitas empiris yaitu validitas butir dan validitas faktor.
Menurut Arikunto (2008:66-69), ada dua macam validitas empiris yaitu:
a. Validitas ”ada sekarang” (concurrent validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai
dengan pengalaman. Dalam hal ini, hasil tes dipasangkan dengan hasil
pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau
sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (concurrent).
b. Validitas prediksi (predictive validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai
kemampuan untuk meramalkan apa yang terjadi di masa yang akan
datang.
Validitas Butir Soal atau validitas item:
Validitas item adalah sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai
dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor
total menjadi tinggi atau rendah. Sebuah item memiliki validitas yang tinggi
jika skor pada item mempunyai kesejajaran dengan skor total.
Untuk soal-soal objektif, item biasanya diberikan dengan 1 (bagi item
yang dijawab benar) dan 0 (item yang dijawab salah), sedangkan skor total
merupakan jumlah dari skor untuk semua item yang membangun soal
tersebut.
Untuk mengukur validitas item dapat digunakan rumus korelasi yang
dikemukakan oleh Pearson, yang dikenal dengan rumus korelasi product
moment sebagai berikut.
Rumus 1: Dengan nilai simpangan


√(∑

)(∑

)

dengan pengertian

̅


̅

X = Skor rata-rata dari X
Y = Skor rata-rata dari Y
Rumus 2: Dengan angka kasar

∑ (∑)(∑)
√*∑

(∑)

+*∑

(∑)

+

Keterangan:
XY
r = Koefisien korelasi product moment antara variabel X dan variabel Y
N = Jumlah responden
X = Skor item angket (variable bebas)
Y = Skor total (variable terikat)
Suatu item dikatakan valid jika r
hitung
> r
tabel
pada derajat bebas yang
sudah ditentukan.
Kriteria:
Antara 0,80 sampai dengan 1,0 = sangat tinggi
Antara 0,60 sampai dengan 0,80 = tinggi
Antara 0,40 sampai dengan 0,60 = cukup
Antara 0,20 sampai dengan 0,40 = rendah
Antara 0,00 sampai dengan 0,20 = sangat rendah
2. Reliabilitas
Reliabilitas mengacu pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen
dapat dipercaya untuk digunakan sebagaoi alat ukur atau alat pengumpul
data. Suatu instrumen dapat dikatakan reliabel atau dapat dipercaya bbila
instrumen tersebut memiliki konsistensi di dalam mengukur gejala yang
sama.
Menurur Singarimbu dan Effendi (1995:141), setiap hasil pengukuran
gejala sosial selalu merupakan kombinasi antara hasil pengukuran yang
sesungguhnya ditambah dengan kesalahan pengukuran. Secara rumusan
matematika, keadaan tersebut dapat digambarkan dengan persamaan
berikut.
x
o
= x
t
+ x
e

dengan, x
o
= angka yang diperoleh
x
t
= angka yang sebenarnya
x
e
= kesalahan pengukuran
Makin kecil kesalahan pengukuran, makin reliabel alat pengukuran,
dan sebaliknya, semakin besar kesalahan pengukuran, makin tidak reliabel
alat ukur tersebut. Besar kecilnya kesalahan pengukuran dapat diketahui
antara lain dari indeks korelasi antara hasil pengukuran pertama dan kedua.
Bila angka koefisien korelasi (r) dikuadratkan, hasil kuadrat ini disebut
dengan koefisien determinasi yang merupakan petunjuk besarnya hasil
pengukuran yang sebenarnya. Makin tinggi angka korelasi, makin rendah
kesalahan pengukuran. Angka koefisien korelasi berkisar antara 0 sampai 1.
Secara garis besar ada dua jenis yaitu:
a. Reliabilitas eksternal
Reliabilitas eksternal maksudnya jika ukuran atau riterianya berada di
luar instrumen. Ada tiga teknik untuk menentukan reliabilitas eksternal
ini.
1) Teknik paralel
Caranya adalah menyusun 2 set instrumen, sama-sama diujicobakan
kepada sekelompok responden (responden mengerjakan dua kali
instrumen yang berbeda). Kemudian kedua hasil uji coba itu
dikorelasikan dengan teknik korelasi di product moment. Tinggi
rendahnya indeks korelasi inilah yang menunjukkan tinggi rendahnya
reliabilitas instrumen.
2) Teknik ulang
Caranya adalah menyusun 1 set soal dan dilaksanakan uji coba dua
kali. Satu set tes diujicobakan dua kali terhadap responden yang sama,
tetapi dengan waktu yang berbeda. Kedua hasil uji coba itu
dikorelasikan (satu sebagai variabel X dan satu sebagai variabel Y).
3) Teknik belah dua (genap dan ganjil, separoh atas dan bawah)
Syarat teknik ini adalah jumlah butir genap, butir harus seimbang.
Skor belahan pertama dikorelasikan dengan skor belahan kedua.
b. Reliabilitas internal
Reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu
kali hasil pengetesan. Pemilihan suatu teknik didasarkan atas bentuk
instrumen dan selera peneliti. Kadangkala penggunaan teknik yang
berbeda menghasilkan indeks reliabilitas yang berbeda pula, karena
kadangkala dipengaruhi oleh sifat atau karakteristik datanya, sehingga
dalam perhitungan diperoleh angka yang berbeda sebagai akibat
pembulatan angka. Namun untuk beberapa teknik diperlukan beberapa
syarat tertentu sehingga peneliti tidak dapat begitu saja memilih teknik-
teknik tersebut.
Beberapa teknik mencari reliabilitas internal yaitu:
1) Rumus Spearman-Brown
Dalam menghitung reliabilitas dengan teknik ini, peneliti harus
melalui langkah membuat tabel analisis butir soal atau butir
pertanyaan. Dari analisis ini skor-skor dikelompokkan menjadi dua
berdasarkan belahan bagian soal. Ada 2 cara membelah yaitu belah
ganjil-genap dan belah awal-akhir. Oleh karena inilah maka teknik
Spearman-Brown dalam mencari reliabilitas juga disebut teknik belah
dua.
Dengan teknik belah dua ganjil-genap peneliti mengelompokkan
skor butir bernomor ganjil sebagai belahan pertama dan kelompok
skor butir bernomor genap sebagai belahan kedua. Langkah
selanjutnya adalah mengkorelasikan skor belahan pertama dengan
skor belahan kedua, dan akan diperoleh harga

. Oleh karena indeks
korelasi yang diperoleh baru menunjukkan hubungan antara dua
belahan instrumen, maka untuk memperoleh indeks reliabilitas soal
masih harus menggunakan rumus Spearman Brown yaitu:


(


)

dengan


2) Rumus Flanagan
Untuk mencari reliabilitas instrumen dengan menggunakan
rumus Flanagan, kita juga harus melakukan analisis butir dahulu dan
menggunakan teknik belah dua ganjil-genap. Rumusnya adalah:

(

)
dengan

(varians skor butir-butir ganjil)

( )

Untuk semua varians rumusnya adalah:

(∑)

Kadang-kadang V ditulis dengan

karena varians adalah standar
deviasi kuadrat.
3) Rumus Rulon
Untuk menguji reliabilitas instrumen dengan rumus Rulon, kita
juga harus melalui langkah analisis butir. Rumusnya adalah:

dengan

selisih

4) Rumus K-R 20
Apabila peneliti memiliki instrumen dengan jumlah butir
pertanyaan ganjil, maka peneliti tersebut tidak mungkin menggunakan
teknik belah dua untuk pengujian reabilitasnya. Untuk itu kita
menggunakan rumus K-R 20 yaitu:

(

) (

)
Dengan keterangan;

Reliabilitas instrumen
k = Bayaknya butir pertanyaan

= Varians total
p = Proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi yang
mendapat skor 1)

q =
q = 1-p
5) Rumus K-R 21
K-R adalah singkatan dari Kuder dan Richardson, dua orang
ahli matematika dan statistika. Rumus K-R 21 yaitu:

(

) (
( )

)
Dengan keterangan :

= reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir soal atau butir pertanyaan
m = skor rata-rata

= varians total
6) Rumus Hoyt
Untuk instrumen yang penyekorannya 1 dan 0 masih ada lagi
cara lain untuk mengetahui reliabilitasnya yaitu dengan rumus Hyot.
Rumusnya ada dua macam yaitu:

atau

Dengan keterangan:
11
r = Reliabilitas instrumen
r
V

= Varians responden
s
V

= Varians sisa
7) Rumus Alpha
Enam jenis teknik untuk mencari reliabilitas yang sudah
dibicarakan hanya dapat digunakan untuk mencari reliabilitas
instrument yang skornya 1 dan 0. Jika dihubungkan dengan pengertian
variabel, hanya untuk skor variabel diskrit. Banyak pertanyaan yang
diajukan oleh peneliti pemula bagaimana cara mencari reliabilitas
instrumen yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai
(misalnya 0-10 atau 0-100) atau yang berbentuk skala 1-3, 1-5, atau 1-
7 dan seterusnya. Beberapa peneliti mengambil langkah pintas yakni
mengubah skor bukan 1 dan 0 menjadi 1 dan 0 misalnya jika skornya
antara 1 sampai dengan 5, asal skor lebih dari, diberi baru 1 dan kalau
kurang dari diberi skor 0.
Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen
yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian.
Rumus Alpha:

( )
( )
|
|
.
|

\
|
÷
÷
=
¿
2
2
11
1
1
t
b
k
k
r
o
o

(∑)

Dengan
11
r = Reliabilitas instrumen
k = Banyaknya butir pernyataan atau banyaknya soal
¿
2
b
o = Jumlah varians butir
2
1
o = Varians total
N = Jumlah responden
Kriteria:
Jika 0,80 <
11
r ≤ 1,00 maka reliabilitas dikatakan sangat tinggi
Jika 0,60 <
11
r ≤ 0,80 maka reliabilitas dikatakan tinggi
Jika 0,40 <
11
r ≤ 0,60 maka reliabilitas dikatakan sedang
Jika 0,20 <
11
r ≤ 0,40 maka reliabilitas dikatakan rendah
Jika 0,00 <
11
r ≤ 0,20 maka reliabilitas dikatakan sangat rendah
8) Melalui Pengamatan (Observasi)
Jika pengamatnya lebih dari dua orang, perlu diadakan
penyamaan antar pengamat sehingga dicapai persamaan persepsi dari
semua pengamat yang akan bekerja mengumpulkan data. Untuk
menentukan toleransi perbedaan hasil pengamatan digunakan teknik
pengetesan reliabilitas pengamatan. Rumus yang paling banyak
digunakan dikemukakan oleh H.J.X. Fernandes (1984:40) yang
dimodifikasi oleh Arikunto (1992:71) seperti berikut.

Keterangan:
KK = Koefisien kesepakatan
S = Sepakat, jumlah kode yang untuk objek yang sama
N
1
= Jumlah kode yang dibuat oleh pengamat I
N
2
= Jumlah kode yang dibuat oleh pengamat II
3. Objektivitas

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->