P. 1
Irigasi

Irigasi

|Views: 229|Likes:
Published by FaisalAziz
eksplanation of Irigation
eksplanation of Irigation

More info:

Published by: FaisalAziz on Jun 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 PENGERTIAN IRGASI Irigasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian atau suatu system yang dibangun dengan tujuan untuk mendatangkan air guna mengairi suatu areal pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, irigasi tidak saja membicarakan dan menjelaskan metode-metode dan usaha yang berhubungan dengan pengambilan air dari bermacammacam sumber, menampungnya dalam suatu waduk atau menaikan elevasi permukaannya, dengan menyalurkan serta membagi-bagikannya kebidang-bidang tanah yang akan diolah, tapi juga mencakup masalah-masalah pengendalian banjir sungai dan segala usaha yang berhubungan dengan pemeliharaan dan pengmanan sungai untuk keperluan pertanian. 1.2 KEADAAN-KEADAAN DIMANA IRIGASI DIPERLUKAN Tidak semua daerah terdapat usaha-usaha pertanian atau perkebunan memerlukan irigasi. Irigasi biasanya diperlukan pada daerah-daerah pertanian dimana terdapat satu atau kombinasi dari keadaan-keadaan berikut:  tanaman akan air.  sepanjang tahun.  Terdapat keperluan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian yang dapat dicapai melalui irigasi secara layak dilaksanakan baik ditinjau dari segi teknis, ekonomis maupun sosial. 1.3 TUJUAN IRIGASI Tujuan irigasi secara langsung maupun tidak langsung untuk pertanian adalah sebagai Meskipun hujan cukup, tetapi tidak terdistribbusi secara baik Curah hujan total tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan

berikut: 1. Membasahi tanah Dengan pembahasan tanah yang dimaksudkan diatas agar: a. Tanah menjadi lunak sehingga mudah diolah. b. c. Zat-zat makanan dalam tanah yang diperlukan tanaman dapat larut Mencukupi lengas lapang dari tanah agar tetap dalam prosentase yang sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. diperlukan tanaman untuk tumbuh terutama pada musim kering. 2. Merabuk atau menambah kesuburan tanah 3. Mengatur suhu tanah 4. Memberantas hama 5. Membersihkan tanah 6. Mempertinggi muka air tanah 7. Kolmatasi, yaitu peninggian muka tanah dengan mengendapkan lumpur dari air irigasi sehingga dengan demikian diperoleh suatu lapisan permukaan tanah yang subur. 1.4 TINGKAT-TINGKAT JARINGAN IRIGASI Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas, jaringan irigasi dapat dibedakan dalam 3 tingkatan yaitu: 1. Jaringan irigasi sederhana 2. Jaringan irigasi semi teknis 3.Jaringan irigasi teknis Dalam konteks standarisasi ini, hanya jaringan irigasi teknis saja yang ditinjau. Bentuk irigasi yang lebih maju ini cocok dipraktikkan disebagian proyek irigasi di Indonesia. Dalam suatu jaringan irigasi dapat dibedakan adanya 4 unsur fungsional pokok, yaitu:  Bangunan-bangunan utama dimana air diambil dari sumbernya, umumnya dari sungai atau waduk.  Jaringan pembawa berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak-petak tersier.

Petak-petak tersier dengan sistem pembagian air dan sistem

pembuangan kolektif, air irigasi dibagi-bagi dan dialirkan ke sawah-sawah dan kelebihan air di tampung didalam suatu sistem pembuangan dalam petak tersier.  Sistem pembuangan yang ada diluar daerah irigasi untuk membuang kelebihan air ke sungai atau saluran-saluran alamiah. Ad. 1. Jaringan Irigasi Sederhana Di dalam proyek-proyek sederhana, pembagian air tidak diukur atau diatur, air kelebihan akan mengalir keselokan pembuang. Para pemakai air tergabung dalam suatu kelompok sosial yang sama dan tidak diperlukan keterlibatan pemerintah dalam organisasi jaringan irigasi semacam ini. Persediaan air biasanya melimpah dan kemiringan berkisar antara sedang sampai curam. Oleh karena itu hampir tidak diperlukan teknik yang sulit untuk pembagian air. Jaringan irigasi yang masih sederhana ini mudah diorganisir tapi memiliki kelemahan yang serius. Pertama-tama ada pemborosan air, dan karena pada umumnya jaringan irigasi itu terletak di daerah yang tinggi, air yang terbuang tidak selalu dapat mencapai daerah rendah yang subur. Kedua, terdapat banyak penyadapan yang memerlukan banyak biaya dari penduduk karena setiap desa membuat jaringan dan pengambilan sendiri-sendiri. Karena bangunan pengelaknya bukan bangunan tetap atau permanen, maka umurnya mungkin pendek. Ad. 2. Jaringan irigasi Semi-Teknis Dalam kebanyakan hal, Perbedaan satu-satunya antara jaringan irigasi sederhana dengan jaringan semi-teknis ialah bahwa yang belakangan ini bendungnya terletak di tepi sungai lengkap dengan pengambilan dan bangunan pengukur dibagian hilirnya. Mungkin juga dibangun beberapa bangunan permanen dijaringan sederhana. Adalah mungkin bahwa pengaliran dipakai untuk melayani daerah yang lebih luas dari pada daerah layanan jaringan sederhana. Oleh karena itu biayanya ditanggung oleh

lebih banyak daerah layanan. Organisasinya lebih rumit dan jika bangunan tetapnnya berupa pengambilan dari sungai, maka diperlukan lebih banyak keterlibatan dari pemeritah, dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum.

Ad. 3. Jaringan Irigasi Teknis Salah satu prinsip dalam perencanaan jaringan irigasi teknis adalah pemisahan antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang. Hal ini berarti bahwa baik saluran irigasi maupun saluran pembuang bekerja tetap sesuai dengan fungsinya masing-masing, dari pangkal hingga ujung. Saluran air irigasi mengalirkan air lebih dari sawah-sawah ke selokan-selokan pembuang alamiah yang kemudian akan membuangnya ke laut. Petak tersier menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah petak tersier teerdiri dari sejumlak sawah dengan luas keseluruhan berkisar 50-100 ha, kadang-kadang sampai 150 ha. Petak tersier menerima air dari sutu tempat dalam jumlah yang sudah diukur dari suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Dinas Pengairan. Pembagian air dalam petak tersier diserahkan kepada petani. Jaringan saluran tersier dan kuater mengalirkan air ke sawah. Kelebihan air ditampung dalam suatu jaringan pembuang tersier dan kuarter selanjutnya dialirkan ke saluaran pembuang primer. Jaringan irigasi teknis yang didasarkan pada prinsip di atas adalah cara pembagian air yang paling efisien dengan mempertimbangkan waktu merosotnya persediaan air serta kebutuhan-kebutuhan pertanian. Jaringan irigasi teknis memungkinkan dilakukannya pengukuran aliran, pembagian air irigasi dan pembuangan air lebih secara efisien. Jika petak tersier hanya memperoleh air pada salah satu tempat saja pada jaringan utama, hal ini akan memerlukan jumlah bangunan yang lebih sedikit di saluran primer, eksploitasi yang lebih baik dan pemeliharaan yang lebih murah dibandingkan dengan apabila setiap petani diizinkan untuk mengambil sendiri air dari jaringan pembawa. Kesalahan dalam pengelolaan air petak-petak tersier juga tidak akan mempengaruhi pembagian air di jaringan utama.Dalam hal ini khusus dibuat sistem gabungan (fungsi saluran irigasi dan pembuang digabung). Walaupun jaringan ini

memiliki keuntungan-keuntungan tersendiri, kelemahannya jjuga amat serius sehingga sistem ini umumnya tidak akan diterapkan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari jaringan ini adalah pemanfaatan air yang lebih ekonomis dan biaya pembuatan saluran lebih rendah, karena saluran penbawa dapat dibuat lebih pendek dengan kapasitas yang lebih kecil. Kelemahannya adalah jaringan-jaringan semacam ini sulit diatur dan dieksploitasi, lebih cepat rusak dan menampakkan pembagian air yang tidak merata. Bangunan-banguna tertentu di dalam jaringan tersebut akan memiliki sifat-sifat seperti bendung dan relatif mahal. 1.5. PETA PETAK Pada peta irigasi terlebih dahulu dibuat peta petak yang merupakan dasar menentukan ukuran berbagai pekerjaan yang diperlukan. Dari petak terlihat seluruh daerah yang akan dialiri, batas dan luasan petak, petak sekunder, tersier dan saluran pembuang. Lokasi pengambilan air pada irigasi, baik berupa bangunan bebas maupun bangunan bendung juga terlihat. Dalm perencanan jaringan, saluran pembawa harus diletakkan pada daerah tnggi, dapat merupakan saluran garis tinggi atau saluran garis punggung sedangkan saluran pembuang berada di lembah-lembah. Pada pembuatan peta petak digunakan peta mozaik sebagai peta situasi dan peta garis tinggi (contour) dengan skala 1: 5000 dimana lukisan tinggi atau trances yang berinterval 0,5 m. Setelah peta tersebut dipelajari dengan seksama dan telah mendapatkan kesan dan informasi kemiringan lapangan maka dapat diambil ketentuan tanah tinggi yang akan dialiri dan tempat pengambilan di sungai. Bila bangunan pengambilan di sungai merupakan bangunan bebas(free intake) maka perlu dicarikan tempat dimana aliran sungai tidak berpindah. Sedangkan apabila bangunan pengambilan dilengkapi dengan bendung, maka harus dicari lokasi yang agak lurus lalu tentukan ketinggian saluran induk di hilir bangunan pengambilan. 1.6. SALURAN Pada jaringan irigasi, saluran pembawa dapat dibagi:  Saluran induk (primer)

Adalah saluran yang dimulai dari pintu pemasukan atau pengambilan bebas sampai ke bangunan bagi.  Saluran sekunder Adalah saluran yang mengairi satu atau lebih petak tersier dan menerima air dari saluran induk atau saluran tersier sebelumnya.  Saluran tersier Adalah saluran yang mengairi satau petak tersier dan menerima air dari saluran sekunder. Luas petak tersier 50-150 ha.  Saluran kuarter Adalah saluran yang mengairi satu petak sawah dan menerima air dari saluran tersier. Luas petak kuarter 8-15 ha.  Saluran pembuang Adalah saluran yang dipakai untuk membuang air yang telah dipakai pada petakpetak petanni dan mengaliri daerah garis tinggi atau tegak lurus diatasnya dan terletak pada daerah rendah atau lembah-lembah. 1.7. BANGUNAN-BANGGUNAN YANG ADA Pada jaringan irgasi juga terdapat beberapa bangunan, yang terdiri dari:  Banguna bagi Adalah bangunan yang membagi air dari saluran induk maupun sekunder sesuai jumlah air yang dibutuhkan dalm setiap petak sekunder.  Bangunan bagi sadap Adalah bangunan yang membagi air dari dari saluran-saluran sekunder dan saluran induk,dimana terdapat bangunan sadap untuk satu atau lebih petak tersier. Bangunan sadap

Adalah bangunan yang membagi air dari saluran sekunder ke saluran tersier sesuai jumlah air yang dibutuhkan. 1.8. SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM PERENCANAAN A. Saluran Kuarter:

 syarat: -

Petak kurter mandapat air dari box tersier melalui saluran kuarter dengan

Panjang saluran kuarter 500 m Panjang antara saluran kuarter ke saluran pembuang 350 m  B. Petak Tersier  Harus sedapat mungkin kelihatan bebas dan jarak sawah yang terjauh Luas petak tersier tergantung dari bentuk lapangan yang berskisar 50Batas-batas petak tersier sedapat mungkin nyata kelihatan nyata Jalan raya/jalan desa Saluran induk/saluran sekunder Saluran pembawa/saluran pembuang Batas kabupaten/kecamatan/desa Sungai dari bangunan sadap 3 km, agar dapat memudahkan dalam pembagian air.  150 ha  kelihatan, misalnya ditentukan menurut: Petak tersier harus mendapat air hanya dari satu bangunan sadap ke saluran induk maupun sekunder.

A. PERHITUNGAN LUAS PETAK Untuk menghitung luas petak denag tepat, biasanya digunakan alat plannimeter. Namun dengan cara pendekatan,petak sawah dapat dibagi atas segitiga, trpesium, empat persegi panjang dan sebagainya. Kemudian dikali dengan skala pada peta, maka luas sesungguhnya diperoleh.

B. PEMBERIAN NAMA PADA PETA IRIGASI 1. Sistem supply Saluran-saluran dan bangunan-bangunan dalam suatu jaringan irigasi diberi nama, dan pemberian nama tersebut dengan prinsip bahwa nama-nama harus logis sederhana tapi mampu memberikan gambaran cukup luas mengenai irigasi yang bersangkutan. Nama harus cukup pendek dan memberikan petunjuk terhadap letak

bangunan, saluran pemberi, saluran drainase maupun petak-petak sawah dalm suatu daerah irigasi. Pemberian nama harus memperhatikan kemungkinan adanya tambahan bangunan-bangunan dikemudian hari, sehingga dengan adanya bangunan-banguan baru tersebut sistem pemberian nama tidak perlu diubah. Salah satu contoh pemberian nama adalah sebagai berikut:  Saluran Primer diberi nama menurut nama sungai tempat mengambil air, tetapi diberi nama dengan cara lain misalnya menuraut nama daerah yang dilayani. Misalnya suatu saluran mengambil air dari sungai Dengkeng dan melayani daerh Soka, saluran dapt diberi nama saluran Dengkeng, juga dapat diberi nama saluran Soka.  Saluran Sekunder diberi nama menurut nama desa yang dekat dengan permulaan saluran. Misalnya saluran sekunder Tugu, berarti saluran sekunder tersebut permulaannya dekat dengan desa Tugu.  dengan Bs2.  Bangunan pembagi diberi nama seperti pembagian nama pada suatu ruas, tapi huruf R yang artinya ruas, diganti denagn huruf B yang berarti bangunan. Dalam hal ini bangunan pembagi. Misalnya Bs1 bararti bangunan pembagi pada akhir ruas Rs1.  Nama bangunan-bangunan antara banguanan pembagi di beeri nama sesuai dengan nama pembagi disebelah hilirnya, kemudian ditambah huruf kecil berturut-turut dari hulu ke hilir. Misalnya Bs1a, Bs1b, Bs1c ; dan seterusnya.  Saluran Tersier diberi nama menurut bangunan bagi dimana saluran dihilangkan dan diberi tambahan indikasi yangmemperjelas posisi saluran. Misal untuk menunjuk arah kanan diberi indikasi ka, tengah ta, kiri ki. Contoh adalah saluran tersier s2ka (arah aliran pada saluran tersier itu menerima air dari saluran Bs2 dan arah aliran pada saluran tersier itu kesebelah sisi kanan saluran besar pada Bs2).  Nama saluran suatu unit tersier misalnya: Suatu saluran dibgi menjadi bagian-bagian atau ruas-ruas. Misalnya sutau ruas mempunnyai nama Rs2 berarti ruas itu terletak antara Bs1

90 Artinya adalah:

SIKI 120

- Unit tersier ini dilayani saluran siki - Luas unit tersier adalah 90 ha - Kebutuhan air pada saat rendaman penuh 120 l/dt 2. Saluran Pembuang Saluran pembuang pada umumnya berupa sungai atau anak sungai yang lebih kecil. Beberapa diantarnya sudah mempunyai nama yang tetap bisa dipakai, jika tidak sungai/anak sungau tersebut akan ditunjukan dengan sebuah huruf bersama-sama dengan nomor seri. Nama-nama ini akan diawali dengan huruf d (d=drinase). C. RUMUS-RUMUS YANG DIGUNAKAN 1. Debit Rencana Bedasarkan luas petak-petak yang dialiri, maka debit rencana sebuah saluran dapat dihitung dengan rumus: Q= Dimana: Q c A e NFR = debit rencana (m3/dt) = koefisien lengkung kapasitas tegal/rotasi 1 untuk 1 < 10.000 ha = luas daerah yang akan diairi (ha) = efisien=0,8 untuk saluran tersieer dan 0,9 untuk saluran primer dan sekunder = kebutuhan air normal / netto untuk tanaman padi = 1,2 – 1,5 l/dt / ha, = 1 mm / hr = 1/ 8,64 l/dt/hr 2. Koefisien kekasarn strickler Tabel 1.1 Harga-harga kekasaran strickler untuk saluran irigasi tanah Debit rencana (m3/dt) Q>10 5<Q<10 1<Q<5 Q<1 dan saluran tersier K (m1/3dtk) 45 42,5 40 35 A × NFR × c (sumber : Kp-03, hal 4) e

Sumber : Kp-03, hal 18 3. Dimensi Saluran Prosedur pehitungan: a. b. Vo=k Andaikan kedalaman air h = ho (m) Menentukan kecepatan yang sesuai (Vo) (m/dt)  ho( m + n )   2  n + 2 1+ m 3 1  I2  
2

Dimana : k = Koefisien kekasaran Strikler M = Kemiringan talud saluran n = Perbandingan lebar dasar saluran dengan tinggi air I = Kemiringan saluran memanjang c. Menentukan luas basah yang diperlukan (Ao) (m2) Ao= Q Vo

d.Menentukan kedalaman air sebenarnya (h1) (m) h1= Ao n+m

e. Kontrol h1 − ho ≤ 0,005 (gunakan h1 sebagai kedalaman air yang sebenarnya) h1 − ho ≥ 0,005 (ulangi prosedur 1 atau revis ho)

f. Menghitung lebar dasar saluran (b) (m) b = n . h rencana g.Menghitung tinggi jagaan (w) (m) h.Menghitung lebar atas saluran (B) (m) B = b + 2 . (h + w) . m 4. Kapasitas Saluran Pembuang Kapasitas rencana jaringan pembuang intern untuk sawah dihitung dengan rumus: Q = 1,62 * Dm * A0,92 Dimana:

Q A

= debit saluran pembuang rencana (m3/dt) (m3/dt*ha) (ha) = luas

Dm = modulus pembuang

Untuk modulus pembuang rencana (Dm), dipilih cirah hujan 3 hari dengan priode ulang 5 tahun, dengan rumus: Dm = D (n) / (n . 8,9) Dimana: Dm = modulus pembuang rencana D(n) = limpasan pembuang permukaan selama n hari n = jumlah hari berturut-turut Limpasan pembuang permukaan untuk petak D(n) dinyatakan dengan rumus: D(n) = R(n)T + n(I-ET-P)-ΔS Dimana: R(n)T = curah hujan dalam n hari berturut-turut dengan priode ulung T tahun (mm) I ET P Δ = pemberian air irigasi (mm/hari) = evapotranspirasi (mm/hari) = perkolasi (mm/hari) = tambungan tambahan (mm)

5. Tinggi Muka Air Tinggi muka air yang diperlukan dalam jaringan utama didasarkan pada tinggi muka air yang diperlukan oleh sawah yang akan diairi. Prosedurnya adalah menghitung tinggi muka air yang diperlukan dibangunan sadap yang mangairi petak tersier. Ketinggian ini ditambah lagi dengan kehilangan tinggi energi bangunan sadap tersier lantaran variasi muka air akibat eksploitasi jaringan utama pada ketinggian muka air partial. P Dimana: P A a = muka air di salurkan sekunder atau primer = elevasi tertinggi di sawah = lapisan / genangan air di sawah (= 10 cm) =A+a+b+c+d+e+f+g+H+z

b c d e f g H Z

= kehilangan tinggi energi disalurkan kuarter ke sawah (= 5 cm) = kehilangan energi di box kuarter (= 5 cm / box) = kehilangan energi selama pengalliran disalurkan irigasi (= kemiringan x panjang saluran = Ix L) = kehilangan tinggi r=energi di box bagi tersier (= 10 cm) = kehilangan tinggi energi di bangunan pelengkap = kehilangan tinggi energi di bangunan bagi sadp = variasi tinggi muka air (= 0, 18h) = kehilangan energi di bangunan tersier yang lain

D. TATA WARNA PETA JARINGAN IRIGASI Warna-warna standart digunakan untuk menunjukkan berbagai tampakan irigasi pada peta. Warna-warna yang dipakai adalah: • Biru untuk jaringan irigasi, garis penuh untuk jaringan pembawa yang ada, dan garis putus-putus untuk jaringan yang sedang direncanakan. • Merah untuk sungai dan jaringan pembuang, garis penuh untuk jaringan yang sedang sirrencanakan. • Cokelat untuk jaringan jalan • Kuning untuk daerah yang tidak diairi, misalnya dataran tinggi atau rawa-rawa. • Hijau untuk perbatasan kabupaten, kecamatan, desa dan kampung. • Merah untuk tata nama bangunan. • Hitam untuk jalan kereta api • Warna bayangan akan dipakai untuk batas-batas petak sekunder, petak tersier, akan diarsir dengan warna yang lebih muda dari warna yang sama.

BAB II BANGUNAN PENGUKUR DEBIT DAN BANGUNAN PENGATUR TINGGI MUKA AIR

2.1.BANGUNAN PENGUKUR DEBIT Agar pengelolaan air irigasi menjadi efektif, maka debit harus diukur pada hulu saluran primer, pada cabang saluran dan pada bangunan sadap tersier. Berbagai macam bangunan dan peralatan telah dikembangkan untuk maksud ini, namun demikian untuk menyederhanakan pengelolaan jaringan irigasi hanya beberapa jenis bangunan saja yang dapat dipergunakan daerah irigasi. Rekomendasi penggunaan bangunan tertentu didasarkan pada beberapa faktor penting, a.1:      petani. 2.1.1. Alat Ukur Pintu Romijin Pintu romijin adalah alat ukur ambang lebar yang biasa digerakkan untuk mengatur dan mengukur debit didalam jaringan saluran irigasi. Agar dapat bergerak Kecocokan bangunan untuk keperluan pengukuran debit. Bangunan yang kokoh, sederhana dan ekonokis. Rumus debit sederhana dan teliti. Eksploitasi dan pembacaan papan duga mudah. Cocok dengan kondisi setempat dan dapat diterima oleh para

mercunya dibuat dari pelat baja dan dipasang di atas pintu sorong. Pintu ini dihubungkan dengan alat penggerak. A. Tipe-tipe Alat Ukur Romijin Sejak pengenalan pada tahun 1952, pintu Romijin telah dibuat dengan tiga bentuk yaitu: 1. Bentuk mercu datar dan lingkaran dengan gabungan untuk peralihan penyempit. 2. Bentuk mercu miring ke atas 1:25 dan lingkaran tunggal sebagai pengalihan penyempitan. 3. Bentuk mercu datar dan lingkaran tunggal sebagai peralihan penyempitan. Ad.1. Mercu Horisontal dan Lingkaran Gabungan Di pandang dari segi hidrolis, ini merupakan perencanaan yang baik. Tetapi pembuatan lingkaran gabungan sulit, padahal tanpa lingkaran-lingkaran itu pengarahan air di atas mercu pintu bisa saja dilakukan tanpa pemisahan aliran. Ad.1. Mercu dengan Kemiringan 1:25 dan Lingkaran Tunggal Mercu dengan kemiringan 1:25 dan lingkaran tunggal Vlugter (1941) menganjurkan penggunaan pintu romijin dengan kemiringan mercu 1:25. Hasil penyelidikan model hidrolis di laboratorium yang mendasari rekomendasinya itu tidak dapat direproduksi kembali. Tetapi didalam program riset terakhir mengenai mercu kemiringan 1:25, kekurangan-kekurangan mercu ini menjadi jelas, kekurangan-kekuran tersebut antara lain: o Bagian pengontrol tidak berada di atas mercu, melainkan di tepi tajam hilirnya, dimana garis-garis aliran benar-benar melengkung. Kerusakan pada tepi ini menimbulkan perubahan pada debit alat ukur. o Karena garis-garis aliran ini, batas moduler menjadi 0,25 bukan 0,67 seperti anggapan umumnya, pada aliran tenggelam h2 : h1 = 0,67 pengurangan dari aliran berkisar dari 3 % untuk aliran rendah sampai 10 % untuk aliran tinggi (rencana). Karena mercu berkemiringan 1 : 25 juga lebih rumit pembuatannya dibandingkan dengan mercu datar, maka mercu pada kemiringan itu tidak dianjurkan. Ad.3. Mercu Horizontal dan lingkaran Tunggal

Ini adalah kombinasi yang bagus antara dimensi hidrolis yang benar dengan perencanaan konstruksi. Jika dilaksanakan pintu romijin, maka sangat dianjurkan untuk menggunakan mercu ini. B. Perencanaan Hidrolis Dilihat dari segi hidrolis, pintu romijin dengan mercu horizontal dan peralihan penyempitan lingkaran tunggal adalah serupa dengan alat ukur ambang lebar yang telah dibicarakan. Persamaan tinggi debitnya adalah sebagai berikut: Q Dimana: Q Cd = debit, m3/dt = koefisien debit Cd adalah 0,93 + 0,1 H1/L H1 adalah tinggi energi hulu, m L adalah panjang mercu, m Cv G bc h1 = koefisien kecepatan datang = percepatan gravitasi, m / dt2 = lebar mercu, m = kedalaman air hulu terhadap ambang bangun ukur, m = CdCv 2/3 (2/3 g)1/2 bc h11,50 (sumber : Kp-04, hal 17)

C. Dimensi dan tabel debit standar Lebar standar untuk alat ukur Romijin adalah 0,50, 0,75, 1,00, 1,25, dan 1,50 m Tabel 2.1 Besaran debit yang dianjurkan untuk alat ukur Romijin standar Lebar,m 0,50 0,50 0,75 1,00 1,25 H1,m 0,33 0,50 0,50 0,50 0,50 Q,m3/dtk 0-0,160 0,030-0,300 0,040-0,450 0,050-0,600 0,070-0,750 0,080-0,900

1,50 0,50 Sumber : Kp-04, hal 22

Tabel 2.2 Standar alat ukur gerak Romijin h1 (m) 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 0,10 0,11 0,12 0,13 0,14 0,15 0,16 0,17 0,18 0,19 0,20 0,21 0,22 0,23 0,24 0,25 0,26 0,27 0,28 0,29 0,30 0,31 0,32 0,33 0,34 0,35 0,36 0,37 0,38 0,39 0,40 0,41 0,42 0,43 0,44 0,45 0,46 0,47 0,50 0,009 0,012 0,016 0,019 0,023 0,027 0,031 0,035 0,040 0,044 0,049 0,054 0,060 0,065 0,071 0,076 0,082 0,088 0,094 0,101 0,107 0,114 0,121 0,128 0,135 0,142 0,149 0,157 0,164 0,172 0,180 0,188 0,196 0,205 0,213 0,222 0,231 0,240 0,249 0,258 0,268 0,277 0,287 Standar lebar alat ukur, bc (m) 0,75 1,00 1,25 0,014 0,018 0,023 0,018 0,024 0,030 0,023 0,031 0,039 0,029 0,038 0,048 0,034 0,045 0,056 0,040 0,053 0,066 0,046 0,061 0,076 0,053 0,070 0,088 0,059 0,079 0,099 0,066 0,088 0,110 0,074 0,098 0,123 0,081 0,108 0,135 0,089 0,119 0,149 0,098 0,130 0,163 0,106 0,141 0,176 0,114 0,152 0,190 0,123 0,164 0,205 0,132 0,176 0,220 0,141 0,188 0,235 0,151 0,201 0,251 0,161 0,214 0,268 0,170 0,227 0,284 0,181 0,241 0,301 0,191 0,255 0,319 0,202 0,269 0,336 0,212 0,283 0,354 0,224 0,298 0,373 0,235 0,313 0,391 0,246 0,328 0,410 0,258 0,344 0,430 0,270 0,360 0,450 0,282 0,376 0,470 0,294 0,392 0,490 0,307 0,409 0,511 0,320 0,426 0,533 0,333 0,444 0,555 0,346 0,461 0,576 0,359 0,479 0,599 0,373 0,497 0,621 0,387 0,516 0,645 0,401 0,535 0,669 0,416 0,554 0,693 0,431 0,574 0,718 1,50 0,027 0,036 0,047 0,057 0,068 0,080 0,092 0,105 0,119 0,132 0,147 0,162 0,179 0,195 0,212 0,228 0,246 0,264 0,282 0,302 0,321 0,341 0,362 0,383 0,404 0,425 0,447 0,470 0,492 0,516 0,540 0,564 0,588 0,614 0,639 0,666 0,692 0,719 0,746 0,774 0,803 0,813 0,861

0,48 0,297 ΔH 0,11 Sumber : Kp-04,hal 210 D. Papan Duga

0,445 0,11

0,593 0,11

0,741 0,11

0,890 0,11

Untuk pengukuran debit sederhana, ada tiga papan duga yang harus dipasang, yaitu: o Papan duga muka air disalurkan o Skala sentimeter yang dipasang pada kerangka bangunan o Skala liter yang ikut bergerak pada meja pintu romijin skala sentimeter dan liter dipasang pada posisi sedemikian rupa sehingga pada waktu bagian atas meja berada pada ketinggian yang sama dengan muka air disalurkan (dan oleh karena itu debit di atas meja nol), titik pada skala liter memberikan pada bacaan skala sentimeter yang sesuai dengan bacaan muka air pada papan duga disalurkan. E. Karateristik Alat Ukur Romijin o Alat ukur romijin dibuat dengan mercu datar dengan peralihan penyempitan sesuai dengan gambar terlampir, tabel debitnya sudah ada dengan kesalahan kurang dari 3%. o Debit yang masuk dapat diukur dan diatur dengan satu bangunan. o Kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk aliran moduler adalah di bawah 33% dari tinggi energi hulu dengan mercu sebagai acuannya yang relatif kecil. o Karena alat ukur romijin dapat disebut ”barambang lebar” maka sudah ada teori hidrolika untuk merencanakan bangunan tersebut. o Alat ukur romijin dengan pintu di bawah bisa dieksploitasi dengan orang yang tidak berwewenang, yaitu melewatkan air yang lebih banyak dari yang diizinkan dengan cara mengangkat pintu bawah lebih tinggi lagi. F. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh alat ukur romijin Bangunan itu bisa mengukur dan mengatur sekaligus. Dapat membilas endapan sendimen halus. Ketelitian baik.

  

Eksploitasi mudah.

G. Kekurangan-kekurangan alat ukur romjin     bawah.  pengarahan. 2.2 BANGUNAN PENGATUR TINGGI MUKA AIR Banyak jaringan saluran irigasi diekploitasi sedemikian rupa sehingga muka air disalaurkan primer dan saluran cabang dapat diatur pada batas-batas tertentu oleh bangunan pengatur yang dapat bergerak. Dalam keadaan eksploitasi demikian, muka air dalam hubungannya dengan bangunan sadap tersier tetap konstan 2.2.1. Pintu Sorong A. Perencanaan Hidrolis Rumus debit yang dapat dipakai untuk pintu sorong adalah : Q Dimana : Q K μ a b g h1 = debit, m3/dt = faktor aliran tenggelam koefisien debit = koefisien debit = bukaan pintu, m = lebar pintu, m = percepatan gravitasi, m/dt2 = kedalaman air di depan pintu di atas ambang, m = K μ a b (2 g h1)1/2 (sumber : Kp-04, hal 34) Bangunan itu peka terhadap fluktuasi muka air saluran Pembuatannya rumit dan mahal. Bangunan itu menggunakan muka air yang tinggi saluran. Biaya pemeliharaan bangunan itu lebih mahal. Bangunan itu dapat disalahkan dengan cara membuka pintu

B. Kelebihan-kelebihan Pintu Sorong o Tinggi muka air hulu dapat dikontrol dengan tepat.

o Pintu bilas kuat dan sederhana. o Sedimen yang diangkut oleh aliran hulu dapat melewati bilas. C. Kelemahan-kelemahan Pintu Sorong o Kebanyakan benda-benda hanyut bisa tersangkut di pintu. o Kecepatan aliran dan muka air hulu dapat dikontrol dengan baik jika aliran moduler. D. Penggunaan Bangunan Pengatur Tinggi Muka Air Pintu scot balk dan pintu sorong adalah bangunan-bangunan yang cocok untuk mengatur tinggi air disalurkan. Pintu harganya mahal tapi bisa lebih ekonomis ketelitian berfungsinya bangunan ini. Kelebihan lain adalah bahwa pintu lebih mudah dieksploitasi, mengontrol muka air lebih baik dan dapat dikunci ditempat agar stelannya tida dirubah oleh orang-orang yang tidak berwewenag. Kelebihan utama yang dimiliki oleh pintu sorong pintu ini kurang peka terhadap perubahan-perubahan tinggi muka air dan jika dipakai bersama-sama dengan bangunan pelimpah, bangunan ini memimeliki kepekaan yang sam terhadap perubahan muka air. Jika dikombinasikan demikian, bangunan ini sering memerlukan penyesuaian. Sebagai bangunan pengatur, tipe bangunan ini dianjurkan pemakaiannya dan dieksploitasinya mudah, walaupun punya kelemahan-kelemahan seperti yang disebutkan tadi. Bangunan pengontrol ini dibutuhkan ditempat-tempat dimana muka air saluran dipengaruhi oleh bangunan terjun atau got miring. Bangunan pengontrol, misalnya mercu tetap atau celah trapesium, akan mencegah naik turunnya tinggi muka air disalurkan untuk berbagai besaran debit. Bangunan pengontrol tidak memberikan kemungkinan unutuk mengatur muka air lepas dari debit. Penggunaan celah trapesium lebih disukai apabila pintu sadap akan dikombinasikan dengan pengontrol, maka bangunan pengatur tetap lebih disukai, karena diding vertikal bangunan ini dapat dengan mudah dikombinasi dengan pintu sadap. 2.3. BANGUNAN BAGI DAN SADAP

2.3.1. Bangunan Bagi

Apabila air dibagi dari saluran primer, sekunder, maka akan dibuat bangunan bagi. Bangunan bagi terdiri dari pintu-pintu yang dengan teliti mengukur dan mengatur muka air yang mengalir keberbagai saluran. Salah satu dari pintu-pintu bangunan bagi berfungsi sebagi pintu pengatur muka air, sedangkan pintu-pintu sadp lainnya hanya mengukur debit. Adalah biasa untuk memasang pintu pengatur disalurkan terbesar dan membut alat-alat pengukur dan pengatur di bangunan-bangunan sadap yang lebih kecil. 2.3.2. Bangunan Pengatur Bangunan pengatur akan mengatur muka air saluran ditempat-tempat dimana teletak bangunan sadap dan bagi. Khususnya disaluran-saluran yang kelihatan tinggi energinya harus kecil, bangunan pengatur harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak banyak rintangan sewaktu terjadi debit rencana. Misalnya pintu sorong harus dapat diangkat sepenuhnya dari dalam air selama terjadi debit rencana, kehilangan energi harus kecil pada pintu scot balk jika semua balok dipindahkan. Disaluran-saluran sekunder dimana kehilangan tinggi energi tidak merupakan hambatan, bangunan pengatur dapat dirancang tanpa menggunakan pertimbangan-pertimbangan di atas. 2.3.2. Bangunan sadap A. Bangunan Sadap Sekunder Bangunan sadap sekunder akan memeberikan air ke saluran sekunder dan oleh sebaab itu melayani lebih dari satu petak tersier. Kapasitas bangunan-bangunan sadp ini lebih dari sekitar 0,20 cm/dt. Ada 3 tipe bangunan yang dapat dipakai untuk bangunan sadap sekunder, yaitu :    Alat ukur romijin Alat ukur Crump de Gruyter Pintu aliran bawah dengan alat ukur ambang lebar

Tipe mana yang akan dipilih berdasarkan pada ukuran saluran sekunder yang akan diberi air serta besarnya kehilangan tinggi energi yang di izinkan.

Kehilangan tinggi energi untuk kehilangan tinggi kecil alat ukur romijin dapat dipakai sehingga debit sebesar 2 m3/dt. Untuk debit-debit yang lebih besar, harus pintu sorong yang dilengkapi dengan alat ukur yang terpisah, yakni alat ukur ambang lebar. Bila tersedia kehilangan tinggi energi yang memadai, maka alat ukur Crump de Gruyter merupakan bangunan yang bagus. Bangunan ini dapat dirancang dengan pintu tunggal atau banyak pintu debit sampai sebesar 0,9 m3/dt setiap pintu. B. Bangunan Sadap Tersier Bangunan sadap tersier akan memberi air pada petak-petak tersier. Kapasitas bangunan sadap ini berkisar antara 50 L/dt sampai dengan 250 L/dt. Bangunan sadap yang paling cocok adalah alat ukur romijin, jika muka air hulu diatur dengan bangunan pengatur dan jika kehilangan tinggi energi tidak menjadi masalah. Bila kehilangan tinggi energi tidak menjadi masalah dan muka air banyak mengalami fluktuasi, maka dapat dipilih alat ukur Crump de Gruyter. Di saluran irigasi yang harus tetap memberikan air selama debit sangat rendah, alat ukur Crump de Gruyter lebih cocok karena elevasi pengambilannya lebih rendah dari pada elevasi pengambialan pintu romijin. Sebagai saluran umum, pemakain beberapa tipe bangunan sadap tersier sekaligus di suatu daerah irigasi tidak disarankan penggunaannya satu tipe bangunan akan lebih mempermudah eksploitasi. 2.4. BANGUNAN PELENGKAP

2.4.1. Bangunan terjun Bangunan terjun atau got miring diperlukan jika kemiringan maksimum telah lebih curam dari kemiringan maksimum saluran yang diizinkan. Bangunan semacam ini mempunyai empat bagian fungsional yang masing-masing memiliki sifat perencanaan yang khas.  Bangunan hulu pengontrol, yaitu bagian Bagian dimana air dialirkan ke elevasi yang dimana saluaran menjadi superkritis.  lebih rendah.

Bagian tepat disebelah hilir potongan U yaitu Bagian peralihan saluran memerlukan

tempat dimana energi direndam.  lindungan untuk mencegah erosi. Perencanaan hidrolis bangunan dipengaruhi oleh besaran-besaran berikut: H1
ΔH q g = tinggi energi di muka ambang (m) = perubahan tinggi energi hilir pada kolam olak (m) = debit persatuan lebar ambang (m/det) = percepatan gravitasi (m/det2

)

n

= tinggi ambang pada ujung kolamm olak (m)

Besaran-besaran ini dapat digabung untuk membuat perkiraan awal tinggi bangunan terjun. ΔZ = (ΔH + Hd) - Hi Untuk perkiraan awal Hd, boleh diandaikan bahwa : Hd = 1,67 H1 Kemudian kecepatan aliran pada potongan U dapat diperkirakan dengan : Vu = 2 . g . ΔZ Dan selanjutnya : Yu = q / Vu Aliran pada potongan U kemudian dapat dibedakan sifatnya dengan bilangan Froude tak bedimensi : Fru = Vu / 2 . g . ΔZ

Tabel A.26 Perbandingan tak berdimensi untuk Loncat air (dari Bos, Replogle and Clemens), 1984
ΔΗ — H1 0. 2446 yd — yu 3. 00 yu — H1 0. 3669 vu2 — 2gH1 1. 1006 Hu — H1

0. 2688 0. 2939 0. 3198 0. 3465 0. 3740 0. 4022 0. 4312 0. 4609 0. 4912 0. 5222 0. 5861 0. 6525 0. 7211 0. 7920 0. 8651 0. 9400 1. 0169 1. 0957 1. 1763

3. 10 3. 20 3. 30 3. 40 3. 50 3. 60 3. 70 3. 80 3. 90 4. 00 4. 20 4. 40 4. 60 4. 80 5. 00 5. 20 5. 40 5. 60 5. 80

0. 3599 0. 3533 0. 3469 0. 3409 0. 3351 0. 3299 0. 3242 0. 3191 0. 3142 0. 3094 0. 3005 0. 2922 0. 2844 0. 2771 0. 2703 0. 2639 0. 2579 0. 2521 0. 2467

1. 1436 1. 1870 1 2308 1. 2749 1. 3194 1. 3643 1. 4095 1. 4551 1. 5009 1. 5472 1. 6407 1. 7355 1. 8315 1. 9289 2. 0274 2. 1271 2. 2279 2. 3299 2. 4331

Catatan : • • • • ujung. • Bila 2,5 < Fru < 4,5 ; digunakan kolam USBR tipe III, kolam Vlugter atau kolam dengan ambang ujung. Bila perubahan tinggi energi di atas bangunan < 1,50 m, Bila perubahan tinggi energi (tinggi jatuh) > 1,50 m, Untuk Fru < 1.7 ; tidak diperlukan kolam olak. Bila 1,7 < Fru < 2,5 ; digunakan terjunan dengan ambang digunakan banggunan terjun tegak. digunakan banguanan terjun miring.

2.4.2. Siphon Siphon adalah bangunan yang membawa air melewati bawah saluran (biasanya pembuang) atau jalan. Pada shipon air mengalir karena tekanan. Perencanaan hidrolis shipon harus mempertimbangkan kecepatan aliran, kehilangan pada peralihan masuk, kehilangan pada bagian siku shipon, serta kehilangan pada peralihan kelur. Diameter minimum shipon adalah 0,60 m, untuk memungkinkan pembersihan dan inspeksi. Disaluran-saluran yang lebih besar, shipon dibuat dengan pipa rangkap (double barrels) guna menghidari kehilangan yang besar didalam shipon, jika banggunan itu tidak mengalirkan air pada debit rencana. Pipa rangkap juga menguntungkan dari segi pemeliharaan dan menguragi biaya pelaksanaan pembanggunan. Shipon yang panjangnya lebih dari 100 m harus dipasang dengan lubang periksa (man hole) dan pintu pembuang, jika situasi memungkinkan khususnya untuk jembatan shipon. Kecepatan aliran Untuk mencegah sendimentasi, kecepatan aliran dalam shipon harus tinggi. Tetapi kecepatan yang tinggi menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi energi Olehsebab itu keseimbangan antara kecepatan aliran dan kehilangan tinggi yang diijinkan harus tetap terjaga. Kecepatan aliran dalam shipon harus dua kali lebih tinggi dari kecepatan normal aliran dalam salurann. Kecepatan yang dianjurkan adalah 1,5 – 3,0 m/det.

BAB II PERHITUNGAN
3.1. DATA DASAR Tabel 3.1. Luas petak kuarter dan petak tersier Nama Nama No. petak tersier petak Kuarter PKB 1 ka 1 PKB 1 ka 2 PKB 1 ka 3 1. PTB 1 ka PKB 1 ka 4 PKB 1 ka 5 PKB 1 ka 6 PKB 1 ki 1 PKB 1 ki 2 PKB 1 ki 3 PKB 1 ki 4 PKB 1 ki 5 PKB 1 ki 6 2. PTB 1 ki PKB 1 ki 7 PKB 1 ki 8 PKB 1 ki 9 PKB 1 ki 10 PKB 1 ki 11 PKB 2 ka 1 PKB 2 ka 2 PKB 2 ka 3 PKB 2 ka 4 PKB 2 ka 5 3. PTB 2 ka PKB 2 ka 6 PKB 2 ka 7 PKB 2 ka 8 PKB 2 ka 9 PKB 2 ka 10 PKB 2 ki 1 PKB 2 ki 2 PKB 2 ki 3 PKB 2 ki 4 PKB 2 ki 5 4. PTB 2 ki PKB 2 ki 6 PKB 2 ki 7 PKB 2 ki 8 PKB 2 ki 9 PKB 2 ki 10 PKB 3 ka 1 PKB 3 ka 2 PKB 3 ka 3

Luas (A) ha 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 13.25 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 9.88 11.00 14.00 14.00 8.13

Laus Total (A) ha

90.03

151.03

140.03

130.03

6.

PTB 3 ki

7.

PTB 4

PKB 3 ka PKB 3 ka PKB 3 ka PKB 3 ka PKB 3 ka PKB 3 ka PKB 3 ka PKB 3 ki PKB 3 ki PKB 3 ki PKB 3 ki PKB 3 ki PKB 3 ki PKB 3 ki PKB 4 PKB 4 PKB 4 PKB 4 PKB 4 PKB 4 PKB 4 PKB 4

4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 8

14.00 14.00 14.00 14.00 8.84 14.00 9.19 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 14.00 13.13 10.50 14.88 14.00 12.69 14.88 13.13 10.50

87.03

107.03

Tabel 3.2. Saluran sekunder Nama No. Saluran Skunder 1. SS 1 B 2. 3. 4. SS 2 B SS 3 B SS 4 B

Nama Petak Tersier PTB 1 ka PTB 1 ki PTB 2 ka PTB 2 ki PTB 3 ka PTB 3 ki PTB 4

Luas Petak (A) ha 90,03 151,03 140,03 130,03 126,03 87,03 107,03

Luas Total (A) ha 241,06 270,06 213,06 107,03

Tabel 3.3. Saluran primer Nama Nama Saluran Primer Saluran Sekunder SS 1 B SS 2 B SPB SS 3 B SS 4 B

Luas petak (A) ha 241,06 270,06 213,06 107,03

Luas Total (A) ha 831,21

Tabel 3.4. Kemiringan saluran pembawa Nama Panjang Elevasi (m) No Saluran (m) Awal Akhir 1 SPB 250 +24.00 +21.70 2 SS 1 B 900 +21.70 +20.85 3 SS 2 B 1000 +21.80 +21.40 4 SS 3 B 1750 +21.40 +17.50 5 SS 4 B 2550 +17.50 +13.40 6 STB 1 ka 2000 +20.70 +15.40

Kemiringan 0.00920 0.00094 0.00040 0.00223 0.00161 0.00265

7 8 9 10 11 12

STB 1 ki STB 2 ka STB 2 ki STB 3 ka STB 3 ki STB 4

2000 1950 1950 2300 1200 2375

+20.85 +21.38 +21.30 +17.48 +17.40 +13.35

+15.40 +17.00 +16.80 +14.65 +14.70 +12.10

0.00273 0.00225 0.00231 0.00123 0.00225 0.00053

Tabel 3.5. Saluran pembuang Panjang No Nama (m) 1 2 3 4 5 6 7 SPB 1 ka SPB 1 ki SPB 2 ka SPB 2 ki SPB 3 ka SPB 3 ki SPB 4 50 50 75 25 50 25 40

Luas A (ha) 90.03 151.03 140.03 130.03 126.03 87.03 107.03

Elevasi (m) Kemiringan Awal +11.20 +12.30 +15.65 +15.60 +13.62 +12.80 +9.85 Akhir +11.00 +11.95 +15.50 +15.55 +13.60 +12.75 +9.80 0.0040 0.0070 0.0020 0.0020 0.0004 0.0019 0.0012

3.2. PERHITUNGAN DEBIT 3.2.1. Perhitungan Debit Saluran Tersier Rumus : Q

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->