P. 1
Lingkungan Hunian Berimbang. Media Komunikasi Komunitas Perumahan 'INFORUM' Edisi 2 Tahun 2011

Lingkungan Hunian Berimbang. Media Komunikasi Komunitas Perumahan 'INFORUM' Edisi 2 Tahun 2011

|Views: 146|Likes:
Published by Oswar Mungkasa
Majalah ini diterbitkan oleh Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat. terbit setiap 4 bulan
Majalah ini diterbitkan oleh Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat. terbit setiap 4 bulan

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

EDISI II TAHUN 2011

Lingkungan Hunian Berimbang

2011 Kemenpera Raih Opini WTP BPK ke-5
Hari Perumahan Nasional 2011:

Menpera: “Kinerja Kemenpera harus lebih baik”

‘Dengan Sinergi Pusat, Daerah dan Mitra Kita Wujudkan Rumah Murah Bagi Rakyat’
1

Pelindung Menteri Negara Perumahan Rakyat Penasehat Redaksi Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat Deputi Bidang Pembiayaan Perumahan Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Deputi Bidang Perumahan Swadaya Deputi Bidang Perumahan Formal Pemimpin Redaksi Oswar Mungkasa Dewan Redaksi Rifaid M. Nur Hardi Simamora Eko D. Heripoerwanto Lukman Hakim Redaksi Pelaksana Moch. Yusuf Hariagung Eko Suhendratma David Agus Sagita Penyunting dan Penyelaras Naskah Jeffry Tri Pudji Astuti Arief Karyawan Hotman Sahat Gayus Reporter Ristyan Mega Putra Akbar Pandu Pratamalistya Desain dan Produksi Aris Karnadhi Rossi Dwi Apriawan Agus Sumarno Bagian Administrasi Angga Dwijayanti Bagian Distribusi Saiful Anwar Ruby Marchelinus Sri Rahmi Purnamasari Pustika Chandra Kasih Jadima Lumban R Kontributor Lusia Nini Purwajati Ridho Fauzy Koresponden R. Budiono Subambang Toni Rusmarsidik B. Ekoputro Cut Lisa Bambang Sucipto Yuwono Alamat Redaksi Inforum: Bagian Humas dan Protokol Kementerian Perumahan Rakyat Jln. Raden Patah I No. 1 Lantai 3 Wing 3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp / Fax : (021) 724687 Email : majalah.inforum@gmail.com Website : www.kemenpera.go.id Redaksi menerima artikel, berita, karikatur yang terkait bidang perumahan rakyat dari pembaca. Lampirkan gambar/foto dan identitas penulis ke alamat email redaksi. Naskah ditulis maksimal 5 halaman A4, Arial 12. Redaksi juga menerima saran maupun tanggapan terkait bidang perumahan rakyat ke email: majalah.inforum@gmail.com atau saran dan pengaduan di www.kemenpera.go.id
Desain cover: Agus Sumarno Foto cover depan: Istimewa

K

ehadiran kami telah berlangsung secara rutin, na­ mun tetap saja saat­saat Inforum sampai ke tangan pembaca selalu menjadi momen paling bahagia bagi kami. Kebahagian ini semakin membuncah karena kehadiran Inforum bertepatan dengan momen Idul Fitri. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini dengan segala kerendahan hati, kami menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir batin. Semoga keberkahan ramadhan mengawal langkah kita selanjutnya. Rumah sebagai kebutuhan dasar bahkan hak asasi manusia telah menjadi pemahaman kita semua. Namun bagaimana membumikannya masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ kita semua, tidak hanya pada skala Indonesia bahkan global. Sampai saat ini di Indonesia masih tercatat setidaknya 8 juta kepala keluarga belum menempati rumah layak huni. Salah satu upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rumah khususnya bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR) di Indonesia adalah melalui konsep hunian berimbang. Konsep ini diperkenalkan dengan kesadaran bahwa tanpa campur tangan pemerintah, MBR akan kesulitan memperoleh akses terhadap rumah layak huni. Selain juga untuk memastikan tidak terjadinya segregasi sosial dalam pembangunan kawasan permukiman. Menjadi menarik kemudian untuk melihat seberapa jauh kita berhasil atau bahkan ‘seberapa gagal’ kita menerapkan konsep ini. Jawaban terhadap pertanyaan yang kritis ini menjadi semakin bermakna dengan diterbitkannya Undang­Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Bagaimana kemudian peluang kehadiran undang­undang ini dapat menjadi pendorong konsep hunian berimbang agar lebih mumpuni. Tentu saja masih banyak lagi pertanyaan di kepala kita tentang implementasi dari konsep ini. Edisi Inforum kali ini menggunakan momen kehadiran Undang­Undang Nomor 1 Tahun 2011 untuk melihat kem­ bali keberadaan konsep hunian berimbang ini. Baik dari aspek teoritis, maupun praktisnya. Selain itu masa depan kota kembali dipertanyakan, akankah ada kehidupan pasca­kota, jika perkembangan perkotaan di Indonesia tidak terarah dan memiliki sebuah cetak biru perencanaan kota yang terintegrasi dengan baik. Semoga sajian kami dapat lebih menambah pemahaman kita semua terhadap kondisi pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Indonesia. Selamat membaca.

2

Edisi 2 Tahun 2011

PENGGEMAR BARU Redaksi Inforum Yth. Waktu saya berkunjung ke perpustakaan daerah saya secara tidak sengaja menemukan Majalah INFORUM Edisi I Tahun 2011. Setelah saya baca ternyata isinya cukup menarik dan lumayan berbobot, tetapi waktu saya tanyakan adakah edisi sebelumnya, ternyata perpustakaan daerah tempat saya membaca tidak memiliki koleksi Majalah INFORUM edisi sebelumnya. Dimanakah saya bisa memperoleh Majalah INFORUM edisi sebelumnya, apakah saya bisa berlangganan? Haris – Malang Yth. Sdr. Haris di Malang Terima kasih atas ketertarikan anda kepada Majalah INFORUM. Saat ini memang distribusi Majalah INFORUM belum merata ke seluruh perpustakaan-perpustakaan daerah tapi dalam waktu dekat Majalah INFORUM dapat didistribusikan ke daerah dengan merata. Jika anda ingin membaca Majalah INFORUM edisi 2010 anda dapat mengunduhnya secara gratis melalui situs www.kemenpera.go.id, demikian juga untuk edisiedisi ke depan.

KEGIATAN HARI HABITAT DUNIA 2011 Yth. Majalah Inforum, Hampir 1 tahun yang lalu saya pernah membaca tentang rangkaian kegiatan Hari Habitat Dunia 2010 di Majalah INFORUM terutama pada keterlibatan kaum muda dalam kegiatan tersebut. Apakah saya dapat mengetahui agenda acara untuk rangkaian acara peringatan Hari Habitat Dunia 2011, dan bagaimana saya dapat ikut serta dalam kegiatan tersebut? Nauval (Mahasiswa) – Denpasar Yth. Sdr. Nauval Rangkaian kegiatan Hari Habitat Dunia 2011 sedang dikompilasi karena masih menunggu masukan dari berbagai instansi/ lembaga. Kami berharap Kalender Kegiatan dalam rangka Peringatan Hari Habitat Dunia akan diumumkan pada akhir Agustus atau awal September 2011. Silahkan buka website: www.habitat-indonesia.or.id untuk posting informasi terkini. Keterlibatan anak muda dalam Hari Habitat Dunia sangat diharapkan. Tahun ini Kementerian Perumahan Rakyat bekerja sama dengan Seknas Habitat akan menyelenggarakan Lomba Esai bagi pelajar SMA dan Mahasiswa dengan tema ‘Perumahan dan Kawasan Permukiman Ramah Lingkungan’.

DEKONSENTRASI 2011 Yth. Dewan Redaksi, Dalam edisi 1 yang lalu tahun 2011, INFORUM membahas tentang program kegiatan Dekonsentrasi 2011 lingkup kementerian Perumahan Rakyat. Saya berharap inforum tetap meng-update setiap kegiatan Dekonsentrasi 2011, agar kami dapat mengetahui perkembangan dari seluruh kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan Dekonsentrasi 2011. Salam - Rozak Yth. Sdr. Rozak Terima kasih atas saran dan masukannya. Redaksi Inforum akan terus memberikan info seluruh kegiatan yang dilaksanakan dalam Dekonsentrasi 2011 Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat. Info tersebut juga dapat diakses melalui situs BPA Kemenpera (www.bpa.kemenpera.go.id)

PENULISAN ARTIKEL Yth. Redaksi Inforum, Saya tertarik untuk mengirimkan tulisan untuk Majalah INFORUM, akan tetapi saya masih mahasiswa dan takut topik yang saya sajikan tidak begitu dalam. Apakah ada halaman khusus yang ditujukan untuk mahasiswa yang tertarik menulis seperti saya? Salam – Rizkya (Tenggarong) Yth. Sdr. Rizkya Terima kasih atas ketertarikan anda untuk menyumbangkan tulisan ke INFORUM jangan takut untuk menulis jika tulisan anda memang menarik pasti akan dimuat di INFORUM. Saat ini kami belum memiliki rubrik yang khusus ditujukan untuk kaum muda, tetapi masukan anda akan menjadi pertimbangan kami dalam mengembangkan INFORUM ke depan.

3

Kebijakan ini Bertujuan untuk Mewujudkan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Sehat, Aman, Serasi dan Teratur
Pelaksanaan konsep Lingkungan Hunian Berimbang (LHB) berjalan tanpa adanya payung yang jelas sehingga kemudian hari konsep tersebut sepertinya sangat sulit untuk diimplementasikan. Inforum berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Dr. Hazaddin T. S. Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Kementerian Perumahan Rakyat , tentang keberlanjutan dari konsep LHB pasca lahirnya UU Nomor 1 Tahun 2011.

Wawancara Khusus

Dari Redaksi Surat Pembaca Daftar Isi Laporan Utama Wawancara Khusus Wacana Liputan Kata Pemangku Kepentingan Tanya Jawab Intermezzo Pengelolaan Pengetahuan

02 03 04 06 10 12 30 40 41 42 44 49 50 52 53 55

10
Laporan Utama
Lebih Jelas tentang Lingkungan Hunian Berimbang
Pengertian berimbang lebih menekankan yang bertempat tinggal atau yang bermukim adalah berbagai kelompok masyarakat yang majemuk, tidak membentuk eksklusifitas dari kelompok tertentu saja.

6

Fakta Praktek Unggulan Galeri Foto Agenda Jelang

Intermezzo

42

Wacana

12

Liputan
“End of Cities” Pertemuan Forum Perencana Muda Internasional

32
SETUBABAKAN

Fenomena Pemekaran Perkotaan yang Tidak Teratur
Urban sprawl merupakan sebuah fenomena perembetan fisik perkotaan ke wilayah sub urban yang tidak terencana dengan baik. Hal ini mengakibatkan sulitnya membedakan antara urban dengan sub urban-nya.

(International Young Planners Forum) ke-2

Kota menjadi sebuah ajang pertempuran untuk menentukan kalah atau menang kepada generasi masa depan. Banyak dari kota-kota besar dan mega-kota (megacities) di dunia mengalami kejatuhan.

Menguatkan Eksistensi Masyarakat Betawi Melalui Perkampungan Budaya Betawi
Jakarta kini sudah bukan milik masyarakat Betawi saja tapi merupakan kebanggaan dan milik seluruh masyarakat Indonesia yang ingin hidup di Ibu kota. Apakah mereka termarjinalkan oleh para pendatang baru yang memiliki modal yang kuat untuk memiliki dan membangun Jakarta?

4

Edisi 3 Tahun 2010

44 Resensi Buku
Perubahan-perubahan sosial yang dipelajari dari sudut ruang perkotaan secara umum, dan penyediaan perumahan pada khususnya. Fokus buku ini terletak pada masalah yang ada di perumahan sehari-hari, dan kombinasinya pada tingkat analisis lokal, serta memberikan wawasan segar tentang bagaimana pengalaman orangorang pada zaman dekolonisasi.

46 Info Situs
MUKIMITS http://www.mukimits.com
Situs ini dikelola oleh Laboratoruim Perumahan dan Permukiman, Jurusan Arsitektur ITS, dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang Perumahan dan Permukiman.

50 Praktek Unggulan

Desa Sukunan (Yogyakarta) dari Sampah Menjadi Emas
Tahun 2000, areal sawah yang dimiliki oleh masyarakat desa Sukunan sering tertimbun oleh sampah plastik dan lainnya yang terbawa melalui saluran irigasi dan mulai mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut. Sebuah sistem manajemen berbasis rumah tangga dengan menggunakan teknologi pemilahan sederhana dan pengomposan serta adanya sebuah sistem kolektif pengelolaan sampah diterapkan.

45 Info CD
Film Animasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 (DVD) Film Animasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 guna mempermudah masyarakat dalam memahami kandungan dari isi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

48 Info Pustaka
Tahapan Pelaksanaan Program Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Melalui Lembaga Keuangan Mikro/Lembaga Keuangan Non Bank (LKM/LKNB)

58 Jelang

Tema Hari Habitat Dunia 2011: Kota dan Perubahan Iklim
49
Pada era ini, pada umumnya masyarakat tinggal di perkotaan, dan yang menjadi perhatian kita saat ini adalah dampak bencana terbesar sebagai akibat perubahan iklim diawali dan diakhiri di kota. Kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan iklim.

Fakta Rumah Susun dalam Sinema Indonesia
Pemerintah sejak beberapa dekade lalu telah mulai menggalakkan rumah susun di berbagai lokasi di Indonesia. Munculnya rumah susun sebagai latar sinema Indonesia menunjukkan rumah susun mulai mendapat tempat di masyarakat. Meski, potret rumah susun dalam ketiga film tersebut lebih dikaitkan dengan kemiskinan ataupun kriminalitas.

5

Laporan Utama

S

Hunian Berimbang: Bukan Suatu yang Mustahil
lam pembangunan perumahan. Men­ jadi menarik kemudian mengetahui lebih jauh seperti apa konsepnya, ba­ gaimana konsep ini bekerja, kemudi­ an kendala yang dihadapi, serta pros­ peknya ke depan. Inforum mencoba menyajikannya. Sejarah Hunian Berimbang Konsep hunian berimbang su­ dah sejak lama dikenal di Indonesia. Setidaknya dimulai pada zaman Orde Baru, ketika 3 (tiga) menteri terkait yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Negara Perumahan Rakyat menerbitkan Surat Keputusan Bersama Nomor 648­384 dorong terjadinya kerawanan sosial. Selain itu, disebutkan pula tentang perlunya kesetiakawanan diantara ber­ bagai kelompok masyarakat, sehingga dimungkinkan kelompok masyarakat mampu membantu masyarakat yang kurang mampu. Pada saat itu, konsep hunian berimbang diterjemahkan sebagai pembangunan rumah dalam satu kompleks hunian dengan komposisi 1:3:6 yaitu pembangunan rumah 1 (satu) unit rumah mewah selalu di­ sertai dengan pembangunan 3 (tiga) unit rumah menengah dan 6 (enam) unit rumah sederhana. Selain itu juga ditetapkan kriteria luasan dan biaya pembangunan rumah. Kendala Penerapan Konsep Hunian Berimbang Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah aturan dalam SKB tersebut dijalankan? Dalam prakteknya sangat sulit ditemui kompleks perumahan yang terdiri dari 3 (tiga) jenis rumah tersebut. Lebih banyak ditemukan pe­ rumahan mewah bertebaran dimana­mana tanpa adanya pembaur­ an dengan rumah sederhana bahkan rumah menengah sekalipun. Dimana letak kegagalannya? Per­ tama, tentunya penerapan hukum yang tidak tegas. Kedua, tidak terse­ dia insentif bagi pengembang yang mematuhi aturan hunian berimbang. Ketiga, kondisi setiap daerah beragam,

udah sering kita mendengar pernyataan rumah merupa­ kan kebutuhan dasar dan bahkan hak asasi manusia. Ini bukan tanpa dasar. Su­ dah sejak awal kemerdekaan, prinsip rumah sebagai hak dasar dan hak asasi manusia dapat ditemukan dalam ber­ bagai aturan dan regulasi. Mulai dari UUD 1945 yang awal sampai UUD 1945 Amandemen, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Ma­ nusia pasal 40, sampai kemudian regulasi terbaru yaitu UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman pasal 129. Na­ mun bagaimana kenyataannya? Ke­ mampuan Negara yang diwakili oleh pemerintah sampai saat ini belum da­ pat memenuhi ketentuan yang tercantum dalam Undang Undang terse­ but. Akibatnya tercatat masih sekitar 8,2 juta ke­ luarga Indonesia belum menempati rumah yang layak huni. Tentu saja telah ba­ nyak program, kegiatan dan upaya yang dilakukan semua pihak termasuk pemerintah, namun hasilnya belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu upaya pemerintah se­ lama ini berupa penerapan konsep hunian berimbang, yaitu prinsip pem­ bangunan rumah mewah, menengah dan sederhana secara berimbang, da­

Tahun 1992, Nomor 739/KPTS/1992 dan Nomor 09/KPTS/1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian yang Berimbang. Latar bela­ kang diterbitkannya SKB ini adalah untuk menghindari terciptanya ling­ kungan perumahan dengan penge­ lompokan hunian yang dapat men­

6

Edisi 2 Tahun 2011

terutama ketersediaan lahan, semen­ tara pengaturannya bersifat seragam. Perspektif Undang Undang Nomor 1 Tahun 2011 Kegagalan penerapan SKB terda­ hulu mendorong pemerintah untuk mempunyai payung hukum yang le­ bih lengkap. Untuk itu, di dalam Un­ dang Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Per­ mukiman telah dicantumkan peng­ aturan tentang hunian berimbang ini. Secara jelas diamanatkan bahwa hunian berimbang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan ren­ dah (MBR). Selanjutnya, substansi hunian berimbang diatur dalam pasal 34 sampai 37. Prinsip utama yang diatur ada­ lah (i) badan hukum yang melaku­ kan pembangunan perumahan wajib mewujudkan perumahan dengan hunian berimbang; (ii) pembangunan perumahan skala besar yang dilaku­ kan oleh badan hukum wajib mewu­ judkan hunian berimbang dalam satu hamparan. Hal yang menarik bahwa dalam hal pembangunan perumahan dengan hunian berimbang tidak da­ lam satu hamparan, pembangunan harus dilaksanakan dalam satu daerah kabupaten/kota oleh badan hukum yang sama; (iii) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat memberikan insentif kepada badan hukum untuk mendorong pembangunan perumah­ an dengan hunian berimbang. Kategori hunian berimbang sen­ diri masih tetap sama yaitu meliputi rumah sederhana, rumah menengah, dan rumah mewah. Namun disadari sepenuhnya bahwa pengaturan dalam undang­undang masih perlu ditindak­ lanjuti dengan pengaturan lebih rinci sehingga ditetapkan bahwa ketentuan mengenai hunian berimbang diatur dengan Peraturan Menteri.

Revitalisasi Konsep Hunian nian berimbang, sekaligus juga bagi Berimbang pengurangan ‘backlog’ perumahan. Kenyataan bahwa penerapan kon­ Untuk menjaga momentum ini, dibu­ sep hunian berimbang kurang ber­ tuhkan segera acuan yang jelas dalam hasil selama ini mendorong perlunya bentuk Peraturan Menteri sebagaimana dilakukan revitalisasi terhadap konsep diamanatkan dalam undang­undang itu sendiri. Belajar dari pengalaman tersebut. Namun tentunya dibutuhkan selama ini, beberapa hal perlu menda­ peraturan yang membumi agar dapat pat perhatian. Pertama, kondisi daerah dilaksanakan oleh semua pihak yang beragam sehingga dibutuhkan flek­ berkepentingan, sehingga keterlibatan sibilitas dalam pengaturannya. Hal ini semua pihak dalam proses penyusun­ sebaiknya tercermin dalam perda yang annya menjadi suatu keniscayaan. Un­ akan dibuat oleh masing­masing pe­ tuk selanjutnya, ditindaklanjuti oleh merintah daerah. Kedua, rumah susun penetapan Peraturan daerah oleh ma­ bisa menjadi salah satu pilihan dalam sing­masing pemerintah daerah. Kita penerapan konsep hunian berimbang. menyadari bahwa ini bukan pekerjaan Ketiga, pengaturan tidak hanya ber­ mudah namun dengan semangat ke­ gantung pada aspek penegakan hukum bersamaan diantara semua ‘stakehold­ tetapi juga sebaiknya mengedepankan ers’, tidak ada yang muskil maupun penyediaan insentif yang memadai. mustahil. Kita tunggu (OM). Keempat, konsep hunian berimbang tidak terlepas dari ke­ beradaan aturan tata Pasal 33 Pemerintah perizinan ruang di masing­ma­ (1) badan hukumdaerah wajib memberikan kemudahanperumahanbagi yang mengajukan rencana pembangunan untuk MBR. sing daerah. Kelima, (2) Pemerintah daerah berwenang mencabut izin pembangunan perumahan hunian berimbang juga terhadap badan hukum yang tidak memenuhi kewajibannya. Ketentuan lebih lanjut dan terkait dengan aspek (3) tata cara pencabutan izinmengenai bentuk kemudahan perizinanpada pembangunan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. sosial sehingga dampak pembauran hunian ju­ Pasal 34 Badan ga perlu mendapat (1) judkan hukum yang melakukan pembangunan perumahan wajib mewuperumahan dengan hunian berimbang. yang dilakukan oleh badan perhatian. Keenam, (2) Pembangunan perumahan skala besar dalam satu hamparan. hukum wajib mewujudkan hunian berimbang mitos komposisi huni­ (3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk badan hukum yang membangun perumahan yang seluruhnya ditujukan an berimbang 1:3:6 untuk pemenuhan kebutuhan rumah umum. perumahan sebagaimana perlu ditinjau kembali. (4) Dalam hal pembangunan pemerintah daerah dapat dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan/atau memberikan insentif kepada badan hukum untuk mendorong pembangunan perumahan Apakah komposisi ini dengan hunian berimbang. mutlak adanya? Ketu­ Pasal 35 juh, penerapan good go­ (1) Pembangunan perumahan skala besar dengan hunian berimbang meliputi rumah sederhana, rumah menengah, dan rumah mewah. vernance harus menjadi (2) Ketentuan mengenai hunian berimbang diatur dengan Peraturan Menbagian dari penerapan teri. hunian berimbang, Pasal 36 sehingga keterbukaan (1) Dalam hal pembangunan perumahan dengan hunian berimbang tidak dalam satu hamparan, pembangunan rumah umum harus dilaksanakan harus dikedepankan. dalam satu daerah kabupaten/kota. Agenda Kedepan Lahirnya Undang­ Undang 1 Tahun 2011 merupakan momen­ tum penting bagi pe­ nerapan konsep hu­
(2) Pembangunan rumah umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempunyai akses menuju pusat pelayanan atau tempat kerja. (3) Kemudahan akses sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan daerah. (4) Pembangunan perumahan dengan hunian berimbang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh badan hukum yang sama.

Pasal 37 Ketentuan lebih lanjut mengenai perumahan skala besar dan kriteria hunian berimbang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, Pasal 35, dan Pasal 36 diatur dengan Peraturan Menteri.
Sumber: UU Nomor 1 Tahun 2011, tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

7

Laporan Utama

sumber foto: istimewa

Lebih Jelas tentang Lingkungan Hunian Berimbang
Yusuf Yuniarto*

P

engertian Lingkungan Hunian dalam Undang­Undang No­ mor 1 Tahun 2011, merupakan bagian dari kawasan permukiman, yang dapat berupa kawasan perkotaan dan atau kawasan perdesaan, yang berfungsi sebagai tempat tinggal (ber­ mukim). Jadi tekanan dari fungsi ling­ kungan hunian adalah tempat tinggal atau bermukim. Tempat tinggal atau bermukiman tersebut dapat berupa, perumahan atau permukiman tergan­ tung dari besar atau jumlah tempat tinggal yang menjadi satu kesatuan komunitas dan pelayanannya. Penger­ tian berimbang lebih menekankan yang bertempat tinggal atau yang bermukim adalah berbagai kelom­ pok masyarakat yang majemuk, tidak membentuk eksklusifitas dari kelom­ pok tertentu saja. Tujuan utama ketentuan lingkung­ an hunian yang berimbang disebutkan di dalam Surat Keputusan Bersama 3

menteri tahun 1992 sebagai berikut: ‘Bahwa untuk mencapai tujuan pembangunan perumahan dan per­ mukiman yang serasi tersebut di atas, perlu diwujudkan lingkungan permu­ kiman yang penghuninya terdiri dari berbagai profesi, tingkat ekonomi dan status sosial yang saling membu­ tuhkan dengan dilandasi rasa keke­ luargaan, kebersamaan dan kegotong royongan, serta menghindari tercip­ tanya lingkungan perumahan dengan pengelompokan hunian yang dapat mendorong terjadinya kerawanan so­ sial’. (Konsideran Menimbang huruf b. SKB 3 Menteri, tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Per­ mukiman dengan Lingkungan Huni­ an yang Berimbang 1992) Dari konsideran SKB 3 Men­ teri huruf b tersebut nampak bahwa hunian berimbang ditekankan suatu kesetia­kawanan sosial dari berbagai lapisan masyarakat, baik profesi, sta­

tus sosial serta tingkat ekonomi yang berbeda, mencegah terjadinya kerawa­ nan sosial. Pelaksanaan Lingkungan Hunian Berimbang Masa Lalu Ketentuan lingkungan hunian berimbang sebenarnya sudah berjalan jauh sebelum peraturan 3 menteri ini diterbitkan. Perumahan baru diba­ ngun pada awal 1980­an sampai de­ ngan awal 1990­an dapat menerapkan lingkungan hunian berimbang de­ ngan baik sampai dengan awal tahun 1990­an. Perumahan yang dibangun oleh instansi pemerintah atau oleh perusahaan swasta juga menerapkan lingkungan hunian berimbang yang diperuntukkan bagi eksekutif utama, tenaga eksekutif madya dan tenaga kerja di bawah tingkat tersebut de­ ngan komposisi rumah tertentu. Perkembangan selanjutnya, rumah dan perumahan bukan lagi dibangun

8

Edisi 2 Tahun 2011

dan dijual sebagai pemenuhan ke­ butuhan dasar saja tetapi sudah me­ lekat dengan nilai prestise/pencitraan diri secara sosial (social prestige). De­ ngan tambahan nilai pencitraan diri atas kebutuhan dasar tersebut harga jual rumah menjadi berlipat dan sa­ ngat menguntungkan bagi pemba­ ngunnya. Ternyata masyarakat juga mengikuti pancingan pasar sehingga, pasar rumah dan perumahan dengan tambahan nilai prestise tersebut laris manis. Rumah dan perumahan yang dibangun tanpa menambahkan nilai pencitraan diri ditinggalkan, bukan karena tidak menguntungkan yang membangun, tetapi akan lebih un­ tung jika menjual rumah dengan diberikan tambahan pencitraan diri (social prestige). Oleh sebab itu, rumah seder­ hana yang dibangun sekedar untuk pemenuhan kebutuhan dasar, tidak diminati oleh pembangun rumah dan perumahan, karena akan lebih menguntungkan membangun ru­ mah dan perumahan yang mem­ punyai tambahan pencitraan diri. Ukuran rumah dapat sama, misalnya tipe 36 m2 dengan ukuran kavling tanah yang sama dengan rumah dan perumahan sederhana, tetapi de­ ngan tambahan nilai pencitraan diri lebih tinggi, harga jual rumah dan perumahannya dapat mencapai 3 atau bahkan 5 kali lebih mahal dari rumah dan perumahan sederhana. Pelaksanaan Lingkungan Hunian Berimbang Masa Depan Ketentuan lingkungan hunian berimbang yang mengharuskan diba­ ngunnya rumah sederhana disamping rumah menengah dan mewah tidak sepenuhnya dijalankan. Profit men­ jadi motivasi utama para pembangun permukiman. Hanya pembangun permukiman yang mempunyai ideal­ isme mewujudkan jiwa kenasionalan

tinggi, jiwa Bhineka Tunggal Ika dan gotong royong, tetap membangun ru­ mah sederhana. Maka terjadi segregasi lokasi yang tajam antara rumah seder­ hana dan rumah yang lainnya. Dengan Undang­Undang Nomor 1 Tahun 2001, yang salah satunya berasaskan Kenasionalan, Lingkung­ an Hunian Berimbang lebih terkait dengan jiwa Bhineka Tunggal Ika. Lebih sempit lagi semangat kegotong­ royongan pada masyarakat yang ber­ asal dari berbagai kelompok dapat

tercipta dalam suatu permukiman, sebagai salah satu pelaksanaan dari asas tersebut. Oleh sebab itu, pem­ bangunan permukiman wajib melak­ sanakan pembangunan lingkungan hunian yang berimbang sebagai suatu perwujudan jiwa nasionalisme dan jiwa Persatuan Indonesia dari Pancasi­ la. Kesengajaan tidak melaksanakan pembangunan permukiman dengan lingkungan hunian berimbang, apa­ pun dalihnya, merupakan penging­ karan asas kenasionalan dari Undang­ Undang. Pelaksanaan pembangunan per­ mukiman dengan lingkungan huni­

an dengan pola 1:3:6 perlu ditinjau ulang, apakah perbandingan itu su­ dah merupakan cerminan komposisi masyarakat dari salah satu wilayah, atau dengan komposisi tersebut jiwa kenasionalan dapat terwujud? Keten­ tuan ini sebaiknya mengikuti kom­ posisi masyarakat setiap wilayah, dan penelitian yang mendalam apakah dengan perbandingan tersebut benar­ benar dapat membangun jiwa kena­ sionalan lebih baik dan lebih cepat. Pengertian rumah sederhana apa­ kah berdasar ukuran kavling tanah­ nya (ketentuan UU 1/2011, ukuran rumah minimal adalah 36 m2), atau harga jualnya. Ketentuan yang lalu rumah sederhana berdasarkan pada harga pembangunannya yang se­ nilai 75% dari pembangunan rumah negara tipe C. Hal­hal tersebut perlu dikaji ulang dalam pelaksanaan ke­ tentuan lingkungan hunian berim­ bang pada Undang­undang Nomor 1 Tahun 2011, sesuai dengan jiwa yang melandasi. Momentum sekarang adalah ke­ sempatan yang sangat baik untuk dapat merumuskan ketentuan pelak­ sanaan lingkungan hunian berim­ bang berasaskan kenasionalan yang melandasi ketentuan dalam batang tubuh Undang­Undang tersebut. Pelaksanaan jiwa kenasionalan hen­ daknya juga dipahami oleh perumus Rencana Peraturan Pemerintah dalam merumuskan aturan tentang penggu­ naan nama perumahan atau kelompok rumah (klaster) yang mencerminkan kenasionalan untuk tidak memper­ panjang penyakit sosial kita, inferior complex, pada lingkup penyelengga­ ran perumahan dan kawasan permu­ kiman, yang selama ini lebih bangga dengan menggunakan bentuk bangu­ nan, bahasa dan nama asing. *Staf Ahli Menteri Negara Perumahan Rakyat Bidang Tata Ruang, Pertanahan dan Permukiman

9

Wawancara Khusus

Kebijakan ini Bertujuan untuk Mewujudkan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Sehat, Aman, Serasi dan Teratur
Topik tentang Lingkungan Hunian Berimbang (LHB) sebenarnya sudah dimulai sejak lahirnya SKB tiga menteri pada tahun 1992 yang kemudian lebih dikenal khalayak ramai sebagai konsep 1, 3, 6. Pelaksanaan konsep ini berjalan tanpa adanya payung yang jelas sehingga kemudian hari konsep tersebut sepertinya sangat sulit untuk diimplementasikan. Inforum berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Dr. Hazaddin T. S. Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Kementerian Perumahan Rakyat, tentang kelanjutan dari konsep LHB pasca lahirnya UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman disela-sela kesibukannya.

S

elama ini kebijakan tentang Lingkungan Hunian Ber­ imbang hanya dinaungi oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri pada tahun 1992, dengan harapan terwujudnya sebuah lingkungan perumahan dan kawasan permukiman yang serasi, bagaimana Bapak memandang kebi­ jakan ini di masa lalu? Sebagaimana dimaklumi kebijakan tentang Hunian Berimbang pada waktu yang lalu adalah melalui SKB Men­ teri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 648­384 Tahun 1992, Nomor 739/KPTS/1992, Nomor 09/KPTS/1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman de­ ngan Lingkungan Hunian Berimbang atau yang lebih dike­ nal dengan pola 1:3:6. Kebijakan Lingkungan Berimbang dimasa lalu dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain. Pertama, dari aspek tujuan, kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman yang sehat, aman, serasi dan teratur dengan berbagai kelom­ pok masyarakat dari berbagai profesi, tingkat ekonomi dan status sosial, berbasis rasa kekeluargaan, kebersamaan dan kegotong­royongan serta menghindari terciptanya lingkung­ an perumahan eksklusif, yang dapat mendorong terjadinya kerawanan dan kecemburuan sosial melalui pola 1:3:6 (1 rumah mewah : 3 rumah menengah : 6 rumah sederhana). Kedua, dari aspek pelaksanaannya kebijakan ini harus diakui banyak menghadapi kendala dalam operasionalisasi­ nya. Kendala tersebut antara lain, harga tanah di perkotaan mahal dan terbatas; image/citra lingkungan perumahan yang dibangun cenderung menurun kalau ada rumah sederhana, dalam SKB LHB tidak diatur secara jelas dan tegas tentang insentif dan disinsentif (sanksi); persoalan kompensasi yang tidak jelas dan sebagainya Ketiga, dari aspek yuridis SKB tidak punya legitimasi yang kuat karena tidak dipayungi oleh aturan yang lebih tinggi (undang­undang) sebagaimana yang sedang disiapkan ini.

Ruh dari SKB tersebut kemudian dicoba untuk diangkat kembali dalam Undang­Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Menurut pandangan Bapak apakah sejumlah pasal yang membahas tentang Ling­ kungan Hunian Berimbang dalam UU tersebut yaitu pasal 34, 35, 36 dan 37, telah dianggap memadai? Kebijakan Hunian Berimbang yang baru sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 34 sampai 37 Undang­Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Per­ mukiman, tentu saja belum memadai. Oleh karena itu perlu dijabarkan lebih lanjut (rinci) yang selanjutnya dituangkan dalam Peraturan Menteri tentang Hunian Berimbang, sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 1 Tahun 2011 dan saat ini proses penyusunan rancangannya masih dalam pembahasan tentang insentif. Sebenarnya apa yang menjadi kendala utama pelaksanaan aturan hunian berimbang selama ini? Apakah pengaturan yang ada saat ini sudah bisa menangani kendala tersebut? Apakah dengan nantinya masih dianggap perlu dibuatkan pengaturan lebih lanjut sebagai kelanjutan dari pengaturan dalam UU? (Jika ya, apa bentuknya dan kapan rencananya) Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya beberapa kendala utama pelaksanaan LHB antara lain, kewajiban membangun rumah sederhana dalam satu hamparan dinilai mengurangi keuntungan pengembang; harga tanah mahal sehingga sulit dibangun rumah sederhana untuk mewujud­ kan LHB sesuai ketentuan; image/citra lingkungan perumah­ an yang dinilai akan turun; kelompok yang lebih mampu (mewah) tidak ingin hidup berdampingan dengan MBR; belum ada insentif dan disinsentif yang jelas untuk menjadi daya tarik pembangunan dengan Hunian Berimbang, dan lain­lain. Apakah konsep Lingkungan Hunian Berimbang hanya

10

Edisi 2 Tahun 2011

terpaku pada konsep 1 Rumah Mewah, 3 Rumah Menengah, dan 6 Rumah Sederhana? Sebelumnya memang konsep komposisi LHB sesuai dengan yang termaktub dalam SKB tersebut, tapi saat ini kita (Kemenpera­Red) sedang mencoba mengembangkan menjadi lebih luas termasuk menyangkut hal rumah tapak dan rumah susun juga kemungkinan perubahan komposisi, misalnya menjadi 1:2:3 termasuk insentif dan diinsentif. Harapannya bisa diimplementasikan di daerah. Beberapa rumor beredar bahwa sebenarnya konsep 1, 3, 6 ini terlalu dipaksakan untuk diwujudkan, padahal sebenarnya pihak penyelenggara perumahan kurang bisa memperoleh keun­ tungan, bagaimana Bapak melihat persoalan ini? Rumor tersebut ada benarnya, tapi saat ini kita sudah berdasarkan amanat undang­undang karena itu saat ini kita (Kemenpera­Red.) mencoba memperbaiki aturannya melalui Permenpera tentang Hunian Berimbang yang sedang di­ susun. Dalam prosesnya kita mengadakan semacam ‘dengar pendapat’ untuk menjaring masukan atau keinginan dari para pemangku kepentingan penye­ lenggara dan pelaksana pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.

Apakah insentif yang bisa diberikan oleh pemerintah (baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah) kepada pengem­ bang jika telah membangun kawasan perumahan dan permu­ kiman dengan konsep hunian berimbang? Berbagai insentif memang perlu dipikirkan. Beberapa in­ sentif yang sedang diusulkan dalam Rancangan Permenpera tentang Hunian Berimbang saat ini antara lain; pemberian stimulan PSU (Prasarana, Sarana dan Utilitas – Red.) untuk rumah sederhana; pemberian stimulan DAK bidang peru­ mahan dan permukiman; pemberian program­program Ke­ menpera (RP3KP, Rencana Rinci, DED), pemberian peng­ hargaan di bidang perumahan; serta dari Pemda memberikan pembebasan restribusi dan perijinan dan juga pemberian kemudahan lainnya. Intinya kita akan berusaha memberikan insentif yang lebih, bukan pas dengan modal, karena harus kita hargai pengorbanan yang mereka (pengembang – Red.) lakukan untuk mewujudkan ini.

Apakah yang telah dilakukan selama ini dalam upaya “memberikan pemahaman” kepada para pengembang agar melaksanakan konsep Lingkungan Hunian Berimbang? Dalam rangka menyiapkan Permenpera Hunian Berimbang, seperti di awal telah di­ ...nantinya Bagaimana peran pemerintah daerah terangkan kita sudah melakukan diskusi­dis­ Permenpera dalam hal ini? kusi di Pusat dan Daerah sekaligus menginfor­ ini dapat Peran Pemda masih terbatas dan masikan dengan mengundang para pemangku kurang memahami benar atas tujuan kepentingan di bidang perumahan seperti dari mewadahi Hunian Berimbang, padahal Hunian Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian berbagai Berimbang sangat terkait dengan macam aspirasi... Dalam Negeri, REI, APERSI, PERUMNAS, kepentingan Pemda sendiri dalam KOPERASI, Pemerintah Provinsi/Kota/Kabu­ penyediaan rumah bagi semua kelom­ paten, kalangan civitas akademika dari pergu­ pok masyarakat termasuk bagi MBR di ruan tinggi, pengamat perumahan dan lainnya daerahnya serta menjadi tanggung jawab untuk menyampaikan pendapat, masukan, Pemda dalam penyediaan rumah sebagaimana diatur dalam saran, bahkan uneg­uneg­nya tentang Hunian Berimbang. PP Nomor 38 Tahun 2007. Dengan demikian nantinya Permenpera ini dapat mewadahi berbagai macam aspirasi dan keinginan serta ide­ide baru Sejauh ini implementasi hunian berimbang yang sudah yang segar. dilakukan dan berhasil ada di daerah mana saja? Beberapa contoh pelaksanaan pembangunan perumahan Selama ini konsep Lingkungan Hunian Berimbang selalu dengan konsep Hunian Berimbang sampai saat ini antara diterapkan pada ‘Rumah Tapak’, apakah bisa konsep ini dite­ lain; Perumahan Telaga Kahuripan di kabupaten Bogor rapkan pada ‘Rumah Susun’? Mohon penjelasan Bapak. dengan luas lokasi lebih kurang 750 Ha, Perumahan Bukit Konsep pembangunan perumahan dengan hunian ber­ Semarang Baru di kabupaten Semarang dengan luas lokasi imbang pada prinsipnya dapat juga diterapkan pada pem­ lebih kurang 1.250 Ha, Perumahan Bukit Baruga di kota bangunan Rumah Susun Milik (RUSUNAMI). Hal tersebut Makassar dengan luas lokasi lebih kurang 1.000 Ha, Peru­ sedang dicoba untuk dikembangkan misalnya dalam satu mahan Driyorejo di kabupaten Gresik dengan luas lokasi kawasan dibangun apartemen mewah, apartemen menengah lebih kurang 1.000 Ha dan Perumahan Kurnia Jaya di kota dan disampingnya dapat dibangun Rusunami. Atau untuk Batam dengan luas lokasi lebih kurang 100 Ha. Diharapkan rumah tapak misalnya jika memiliki lahan sempit maka un­ ke depan akan banyak lagi pengembang yang akan melak­ tuk rumah sederhananya dapat dikonversi menjadi rusunami sanakan konsep Hunian Berimbang ini. sehingga Hunian Berimbang dapat diwujudkan.

11

Wacana

Fenomena Pemekaran Perkotaan yang Tidak Teratur
sumber foto: googleearth

Eko Suhendratma*

T

ahun 1970 Jakarta hanya berpenduduk 4,5 juta jiwa dan pada tahun 2010 angka ini melonjak menjadi 9,6 juta jiwa di malam hari. Pertanyaan besarnya kemudian adalah berapa penduduk Jakarta di siang hari? Ternyata pada siang hari Jakarta dihuni oleh 15 juta penduduk, ini berarti ada sekitar 5,4 juta jiwa penduduk yang komuter masuk dan keluar Jakarta setiap harinya. Pertanyaan kedua adalah kemanakah 5,4 juta orang tersebut pergi? Jawaban dari pertanyaan di atas pasti ke daerah­ daerah penyangga di sekitaran Jakarta seperti Tangerang, Depok, Bogor dan Bekasi. Datang pagi hari dan kembali ke rumah pada sore hingga malam hari. Jika kita perhatikan dengan seksama maka kita dapat menemukan sebuah fenomena dimana tidak ada laginya perbedaan atau batasan yang jelas antara Jakarta dengan ‘kota’ penyangganya. Wujud yang dapat kita jumpai selalu akan sama yaitu façade (tampak muka) bangunan rumah atau ruko (rumah toko). Fenomena ini dikenal dengan urban sprawl atau dapat disebut juga dengan perembetan fisik perkotaan ke wilayah sub urban yang tidak terencana dengan baik secara sporadis. Hal ini mengakibatkan sulitnya membedakan antara urban dengan sub urban­nya. Djaljoeni 1988, mendefinisikan kota sebagai sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan

tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi yang heterogen serta coraknya materialis. Sedangkan sub urban dapat didefinisikan sebagai sebuah wilayah peralihan yang memiliki karakteristik antara wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan, biasanya disebut dengan pinggiran kota (urban periphery). Jadi sub urban merupakan suatu wilayah yang berada di antara urban (kota) dan rural (desa). Jika hal ini dilihat sebagai suatu bentuk komunitas, maka sub urban merupakan komunitas yang memiliki sifat­sifat urban yang berada di tengah­tengah rural (Kuswitoyo, 2000). Urban sprawl ditandai juga dengan terjadinya alih fungsi lahan­lahan pertanian menjadi sesuatu yang bukan pertanian. Data terakhir mencatat di Jakarta telah terjadi konversi lahan pertanian dengan rata­rata 12,03 persen per tahun. Lahan­lahan pertanian inilah yang sebenarnya dapat dikatakan sebagai batas tegas antara wilayah urban dengan sub urban­nya. Contoh mengenai hal ini masih dapat kita jumpai di beberapa negara maju, ketika kita keluar dari kota maka yang akan ditemui adalah hamparan lahan pertanian atau perkebunan yang sangat luas tanpa permukiman. Antara kota yang satu dengan lainnya dipisahkan dengan zonasi yang jelas. Dengan terjadinya fenomena ini, maka muncullah pusat­pusat pertumbuhan baru di kawasan Tangerang­ Depok­Bogor­Bekasi. Hal ini terjadi karena pemerintah

12

Edisi 2 Tahun 2011

juga mendorong munculnya pusat­pusat permukiman dengan gaya ‘kota’ di wilayah­wilayah tersebut. Tidak hanya permukiman yang muncul, kawasan industri pun bergeser sehingga secara ekonomi hal ini ikut mempengaruhi struktur ekonomi Jakarta. Sektor industri di wilayah sekitar Jakarta ini memberikan kontribusi yang meningkat pada daerahnya masing­masing, Bekasi 60,9 persen (1993) menjadi 81,7 persen (2009), Bogor 49,4 persen (1993) menjadi 68,8 persen (2009) dan Tangerang 59,3 persen (1993) menjadi 71,7 persen (2009). Perubahan struktur ekonomi ini juga yang ikut memicu tumbuhnya pusat­pusat permukiman baru. Tak bisa dipungkiri, kota adalah magnet yang menjadi daya­tarik manusia untuk ditempati. Kota ibarat sebuah peradaban yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik dari daerah asal (perdesaan). Itulah yang selalu terpatri di benak para angkatan kerja, baik yang telah dibekali skill dan kompetensi melalui pendidikan formal, ataupun masyarakat informal yang hanya mengandalkan tenaga dan daya juangnya untuk melangsungkan kehidupan. Dengan kata lain kondisi kota dipandang mampu menyediakan kesempatan kerja yang lebih berkualitas sehingga menjadi faktor penarik Walaupun muncul pusat­ pusat kegiatan perekonomian baru, konsentrasi kegiatan di Jakarta belum sepenuhnya berhasil di transfer ke wilayah luar Jakarta. Masih terpusatnya kegiatan ekonomi di Jakarta mengakibatkan orang tetap memilih untuk bekerja di Jakarta. Namun dikarenakan ketersediaan lahan di Jakarta yang semakin terbatas dan mahal, orang lebih memilih untuk bergerak ke pinggiran kota atau sub urban dan bermukim di kota­kota baru tersebut. Hal ini mengakibatkan terjadinya mobilitas yang tinggi antara ‘kota inti’ dan ‘kota penyangga’. “Pembiaran” mobilisasi penduduk ini akan menimbulkan masalah dalam pemanfaatan tata ruang wilayah, sehingga kepadatan kawasan pemukiman akan bergeser meluas keluar laksana fringer area atau seperti jari tangan. Pertambahan kawasan permukiman ke luar kawasan perkotaan menimbulkan

berbagai interaksi baik ke dalam atau keluar dan menimbulkan dampak ketidakteraturan. Pencampuran kegiatan dan interaksi ini akan mengakibatkan batas antara kawasan perkotaan dan pinggiran menjadi tidak jelas lagi. Hal ini akan tentunya tidak menguntungkan dan sangat terasa di berbagai sektor, utamanya penggunaan moda transportasi akibat mobilitas penduduk dari daerah pinggir ke lokasi bisnis di pusat perniagaan perkotaan memerlukan waktu tempuh yang panjang. Ketidakmampuan ‘kota inti’ menangani perpindahan warganya dari dan menuju ‘kota penyangga’ akhirnya akan membawa persoalan baru dimana kemacetan lalu lintas akan bertambah parah. Seyogyanya, untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu diimbangi dengan penegakan regulasi (peraturan) bagi pengelola kota sehingga pemekaran kota akan sejalan dengan rencana tata ruang dan wilayah yang disusun. Dan mungkin sebaiknya antara Jakarta dan kawasan sekitarnya seharusnya memerlukan “satu regulasi” atau bahkan mungkin “satu penanganan”. Keberadaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) seharusnya segera disusun dan diimplementasikan dalam mencapai tata ruang yang pro lingkungan dan mendukung pemerataan ekonomi. Pemerintah daerah juga perlu sumber foto: istimewa segera membuat panduan pelaksanaan pembangunan untuk menjaga konsistensi perkembangan kawasan perkotaan. Dalam jangka panjang, perlu segera menciptakan keserasian perkembangan kota dengan wilayah sekitarnya, serta menciptakan keterpaduan pembangunan sektoral dengan wilayah sekitarnya. Mengimplementasikan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan perkotaan, dan upaya­upaya pengelolaan kawasan fungsional, yang akan menjadi tugas utama dalam pengendalian pembangunan kawasan perkotaan. Hal inilah yang akan mengurangi pemekaran wilayah kota yang tak teratur, sehingga dampak negatif dari urban sprawl dapat diminimalisir. *memperoleh gelar Master Urban Management dari Institutte for Housing and Development Studies, Erasmus University, Rotrerdam

13

Wacana

Menimbang Kembali Kebijakan Hunian Berimbang

I

stilah hunian berimbang telah muncul dalam undang-undang perumahan dan kawasan permukiman. Pasal 34 sampai pasal 37, UU Nomor 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, memuat ketentuan tentang pembangunan perumahan dengan hunian berimbang. Dengan demikian kebijakan hunian berimbang yang semula hanya merupakan prakarsa dan kesepakatan bersama tiga menteri, kini merupakan pengaturan yang kehadirannya diwajibkan oleh undang-undang. Sejauh dapat dimengerti, undangundang ini tidak begitu saja mengadopsi kebijakan hunian berimbang seperti yang tertera dalam surat keputusan bersama (SKB) Menteri PU, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perumahan Rakyat Tahun 1992 itu. Karena meski hunian berimbang dianggap penting, tetapi ada pengetahuan empirik tentang pelaksanaan SKB tersebut dan ada hal baru yang akan tercipta oleh UU Nomor 1/2011 ini yang harus menjadi pertimbangan. Hal baru tersebut belum ada dalam pemikiran perumusan SKB, tidak tercantum dalam UU perumahan lama dan bahkan belum dijumpai dalam kondisi nyata. Hal baru tersebut harus dipertimbangkan dan harus menjiwai konsep hunian berimbang yang masih ditunggu kelahirannya. Paling tidak ada empat hal baru itu yang harus dipertimbangkan secara mendalam, dalam pengembangan konsep dan kebijakan pembangunan perumahan dengan hunian berimbang. Pertama, UU Nomor 1/2011 telah menentukan adanya pengategorian rumah komersial, rumah umum,

Oleh Tjuk Kuswartojo
sumber foto: google earth

Upaya mewujudkan blok hunian berimbang: Tergolong rumah sederhanakah yang berada di jalan yang lebih kecil.

rumah swadaya, rumah khusus dan rumah negara. Selanjutnya, UU ini mengatur bahwa badan hukum yang membangun rumah komersial atau campuran antara rumahan komersial dan rumah umum skala besar yang wajib mewujudkan hunian berimbang. Rumah komersial menurut UU tersebut diselenggarakan untuk tujuan mendapatkan keuntungan, sedang rumah umum diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah. Secara implisit UU ini menganggap bahwa pembangunan rumah umum tidak bisa mendapatkan keuntungan karena itulah pembangunan rumah umum ini dibantu subsidi atau fasilitas dari pemerintah. Mungkin dapat dipertimbangkan pula adanya imbalan (fee) jasa penyelenggaraan perumahan yang transparan dan bukan keuntungan yang cara memperolehnya tersembunyi. Kedua, pembangunan perumahan dengan hunian berimbang hanya dike-

nakan pada pembangunan perumahan komersial atau campuran komersial umum skala besar. Apakah skala besar ini akan merupakan angka mutlak atau angka relatif yang disesuaikan dengan kondisi setempat, masih harus dipertegas. Undang-undang ini sendiri memberikan ketentuan yang mendua, di satu sisi skala besar tersebut diharuskan berupa satu hamparan (pasal 34 ayat 2), tetapi pada sisi lain boleh tidak satu hamparan asal dalam satu daerah kabupaten/kota (pasal 36 ayat 1). Ketiga, bahwa untuk mewujudkan pembangunan perumahan dengan hunian berimbang, pemerintah dan atau pemerintah daerah dapat memberikan insentif, apa bentuk insentif yang paling merangsang bangkitnya nafsu mewujudkan hunian berimbang masih harus dicari. Keempat, bahwa Menteri Perumahan Rakyat mendapatkan mandat UU untuk menindak lanjuti dan mengatur lebih lanjut ketentuan tentang hunian berimbang tersebut. Ada dua pasal (pasal 35 dan pasal 37) yang mengamanatkan bahwa hunian berimbang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Dengan demikian, Kementerian Perumahan Rakyat akan selalu dapat melakukan perbaikan, penyempurnaan dan penyesuaian dengan perkembangan tanpa harus bernegosiasi dengan kementerian lain. Sebelum hadirnya UU Nomor 1/2011 tersebut sesungguhnya telah ada upaya unit kerja di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat untuk meninjau kembali SKB tiga menteri tersebut. Walaupun demikian sejauh yang dapat diamati, peninjauan SKB tersebut masih dibelenggu oleh

14

Edisi 2 Tahun 2011
sumber foto: google earth

pemikiran bahwa hunian berimbang adalah proporsi satu rumah mewah, tiga rumah sedang dan enam rumah sederhana. Walapun angkanya dicoba diotak-atik kembali tetapi konsep proporsi tipe rumah tersebut tetap dipertahankan. Konsep yang dicetuskan sekitar duapuluh tahun yang lalu itu hampir menjadi mitos untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan perumahan. Suatu upaya agar pembangunan perumahan (oleh pengembang) tidak didominasi oleh rumah mewah saja. SKB Hunian Berimbang: Kebijakan Muskil, Implementasi Mustahil Apabila disimak pertimbangan yang mendasari SKB hunian berimbang tahun 1992 tersebut, akan diperoleh kesan bahwa rumusannya memang sederhana. SKB ini hanya mengenai proporsi jumlah rumah yang dibangun, tetapi dibalik itu sesungguhnya ada tujuan muskil yang hendak dicapai. Bagaimana tidak, kebijakan hunian berimbang yang mematok pembangunan perumahan dengan formula 1 mewah: 3 sedang: 6 sederhana harus diterapkan di seluruh Indonesia yang beragam. Dibalik formula sederhana itu, sesungguhnya ada tujuan memang mulia, muluk dan juga muskil. Pembangunan perumahan digunakan untuk merekayasa terwujudnya suatu satuan sosial multistrata yang harmonis. Kebijakan hunian berimbang adalah upaya untuk mewujudkan komunitas yang meski terdiri dari berbagai lapisan masyarakat tetapi tetap serasi. Kehadiran eksklusifitas tempat tinggal dapat dicegah dan kesetia-kawanan sosial bisa terwujud. Pemanfaatan prasarana dan fasilitas dapat dilakukan secara adil dan subsidi silangpun dapat dilaksanakan. Pokoknya perumahan dengan komposisi 1:3:6 tersebut diharapkan akan mewujudkan suatu komunitas serasi meskipun

Tatanan Belanda (1920an): Rumah untuk masyarakat lapisan atas yang disetarakan dengan Belanda menghadap jalan besar, rumah pribumi pegawai rendahan di belakangnya dengan MCK umum. Kini semua rumah telah menjadi rumah gedongan dan dihuni lapisan atas.

terdiri dari aneka status sosial, aneka profesi, aneka asal usul dan semuanya mendapatkan pelayanan serta fasilitas publik secara adil. Apakah selama ini kebijakan tersebut dapat diwujudkan. Rasanya belum pernah terdengar adanya evaluasi yang serius atas implementasi kebijakan ini. Karena itu sebetulnya belum diketahui secara persis berapa banyak pembangunan perumahan yang benar-benar menaati kebijakan ini. Kenyataannya tidak mudah untuk menemukan perumahan yang dibangun sejak 1993 yang menaati SKB tersebut dalam satu hamparan. Ternyata eksklusifitas dan dominasi penggunaan prasarana umum terus bermunculan tanpa ada tindak apapun untuk mengatasinya. Agaknya para pemberi izin dan pelaksana kebijakan tersebut memahami bahwa formula 1:3:6 adalah kebijakan yang mustahil untuk diwujudkan, apalagi dalam kaitannya dengan pembangunan perumahan komersial. Kehadiran angka enam dalam hamparan perumahan komersial justru

dianggap bisa membawa sial. Mana mau orang kaya hidup berdampingan dengan orang sederhana. Karena itu ada pemerintah daerah yang terangterangan menolak formula ini. Ada pula pemerintah daerah secara kreatif memelintir kebijakan ini dengan menyilahkan pembangunan rumah mewah saja, asalkan dana pembangunan untuk rumah sederhana diserahkan pada suatu organisasi yang dibentuk untuk mengurusi jenis rumah ini. Formula 1:3:6 tetap dapat dipenuhi, tetapi tentu saja jauh dari niat untuk mewujudkan komunitas multistrata yang harmonis, walaupun mungkin subsidi silang memang bisa dilakukan. Meski tidak banyak, tetapi ada badan usaha yang menyelenggarakan pembangunan perumahan dengan konsep hunian berimbang tersebut. Pembangunan rumah mewah, sedang dan sederhana ditata dalam satu blok dengan mengadopsi apa yang dikonsepkan dan pernah diwujudkan oleh perencana zaman kolonial Belanda (Thomas Karsten) sekitar

15

Wacana
tahun 1920an. Rencana tersebut menempatkan rumah gedongan menghadap jalan besar dan satu blok dengan rumah kampung sederhana yang menghadap gang kecil dibelakangnya. Rumah gedongan diperuntukkan golongan yang berkedudukan sosial serta penghasilan yang lebih tinggi daripada penghuni rumah kampung di belakangnya, “orang kampung” tersebut bisa mendapatkan penghidupannya dari penghuni gedongan dan sebaliknya orang gedongan bisa mendapatkan jasa orang kampung. Wujud konsep peninggalan perencana Belanda ini masih bisa ditemukan antara lain di Semarang, tetapi tentu realitanya tentu tidak seperti yang diteorikan. Apakah adopsi konsep Belanda tersebut berhasil mewujudkan komunitas multi strata yang harmonis, ternyata tidak. Rumah sederhana yang ditempatkan di belakang rumah sedang, ternyata tidak dibeli oleh orang sederhana. Bahkan banyak yang hanya untuk investasi dan tidak untuk ditempati. Karena itu bisa terjadi dua tiga rumah di tangan satu pemilik. Sedang para penghuninya, jangankan membentuk komunitas, saling kenal pun juga tidak. Juga ada yang menggagas untuk mengadopsi konsep komunitas multi strata seperti sistem ngindung dan magersari bangsawan Jawa. Atas kebaikan hati sang bangsawan, di halaman belakang rumah besarnya (dalem ageng) dibangun rumah untuk para kawula yang sederhana dengan status ngindung (nebeng) atau magersari (semacam rumah dinas) disekitarnya. Tentu saja konsep semacam ini mustahil diterapkan, karena dalam sistem ngindung perumahan adalah produk sistem sosial, sedang konsep hunian berimbang merupakan proses sebaliknya yaitu perumahan untuk membangun sistem sosial. Lagi pula dalam kehidupan yang mengota dan modern, tidak mungkin dapat dijumpai bangsawan baik hati dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah para kawula. Implementasi kebijakan hunian berimbang dengan formula 1:3:6 bukan hanya buruk, tetapi juga mustahil untuk dapat diwujudkan. SKB hunian berimbang tersebut diberlakukan di seluruh Indonesia, tanpa petunjuk bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi daerah. Padahal daerah di Indonesia memunyai perkembangan dan kondisi yang sangat beraneka ragam, sehingga tidak mungkin ada satu kebijakan pembangunan perumahan yang dapat diberlakukan dengan cara yang sama untuk seluruh daerah. Meskipun semua daerah perlu mewujudkan keserasian dan keadilan, tetapi oleh stratifikasi dan kondisi lingkungan yang berbeda, cara untuk mencapainyapun perlu dibedakan. Bahkan ada kemungkinan suatu daerah tidak membutuhkan adanya kebijakan hunian berimbang, karena memang tidak ada perumahan mewah yang dibangun. Sebaliknya mungkin saja suatu daerah mempunyai begitu banyak lapisan masyarakat sehingga tidak cukup untuk ditampung hanya dalam tiga tipe rumah. Mungkin harus diciptakan tipe rumah sangat sederhana, hampir sederhana, sederhana, agak menengah, menengah, menengah plus, hampir mewah, mewah, sangat mewah dan sebagainya. Skala pembangunan juga tidak dipertimbangkan secara mendalam dalam SKB hunian berimbang ini. Tampaknya tidak diperhitungkan, berapa luas hamparan atau berapa jumlah rumah yang dibangun agar dapat memenuhi formula hunian berimbang untuk mewujudkan komunitas harmonis dan subsidi silang. Skala ini juga menentukan jangka waktu pembangunan yang menentukan proses pembentukan dan perkembangan komunitas. Pasti ada bedanya pembangunan yang dimulai dengan rumah sederhana dulu, mewah dulu atau dilakukan bersamaan. Malaysia mengsumber foto: google earth

Satu hamparan perumah campuran: perumahan komersial mewah, sedang, sederhana dan perumahan swadaya sederhana. Apakah juga merupakan suatu satuan komunitas.

16

Edisi 2 Tahun 2011

atur agar rumah sederhana dulu yang harus dibangun sebagai syarat untuk mendapatkan izin membangun rumah mewah. Sejak SKB tiga menteri sesungguhnya puluhan perumahan skala besar telah hadir terutama di Jakarta dan sekitarnya, yang semuanya pasti mencoba menyiasati pelaksanaan SKB hunian berimbang tersebut. Apa yang telah terjadi ini perlu dipelajari dengan seksama agar dapat diperoleh gambaran nyata bagaimana sesungguhnya pembentukan komunitas terjadi. Mungkin ada pandangan bahwa SKB hunian berimbang tersebut merupakan pedoman umum, yang operasionalisasinya harus ditindak lanjuti oleh Gubernur, Bupati/Walikota. Sehingga merekalah yang bertanggung jawab menyukseskan SKB tersebut. Hal yang demikian itu memang terjadi dan karena itu juga dianggap sah saja apabila ada kepala daerah tidak melaksanakannya atau menerjemahkannya dengan konsepnya sendiri. Benarkah begitu. Kalau memang boleh demikian mengapa harus ada pedoman yang ditetapkan dengan surat keputusan bersama. Kebijakan Hunian Berimbang dalam Perspektif Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 1/2011 memberi perspektif dan kerangka baru tentang hunian berimbang. Kini kebijakan hunian berimbang menjadi wewenang dan tanggung jawab Kementerian Perumahan Rakyat. Sebagai pelaksanaaan undang-undang, dengan sendirinya substansi pengaturan harus dikembangkan dari apa yang menjiwai dan ditetapkan UU secara menyeluruh. Karena itu mestinya peraturan menteri tersebut tidak terpaku hanya pada pasal yang mengamanatkan adanya peraturan hunian berimbang saja. Ketentuan dalam UU Nomor 1/2011 yang perlu digunakan sebagai dasar merumuskan peraturan tentang hunian berimbang paling tidak dapat

dicatat sebagai berikut: (1).Kebijakan hunian berimbang hanya diberlakukan untuk pembangunan skala besar. Berapa jumlah unit rumah atau berapa luas hamparan yang akan dibangun masih harus ditetapkan. Skala ini perlu disesuaikan dengan kondisi dan perkiraan perkembangan daerah yang akan menampung pembangunan perumahan skala besar tersebut. (2).Kebijakan hunian berimbang harus bertolak dari adanya pengategorian rumah komersial dan rumah umum. Karena badan hukum yang membangun rumah komersial atau campuran antara rumah komersial dan rumah umum berskala besar yang wajib mewujudkan hunian berimbang. (3).Pemerintah dan atau pemerintah daerah dapat memberikan insentif. Tentang insentif ini perlu dipadukan dengan insentif/disinsentif sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan kawasan permukiman (pasal 85). (4).Rumah sederhana, menengah dan mewah seperti yang dimaksud pasal 3, UU Nomor 1/2011 perlu dipahami secara lebih imajinatif dan kreatif. Di Indonesia pernah ada kebijakan yang menetapkan adanya: rumah inti, rumah sangat sederhana dan rumah sederhana dalam kaitannya dengan fasilitasi pembiayaan. Kini undang-undang telah mematok angka minimum luas rumah 36 m2 tanpa dikaitkan dengan jumlah penghuni dan kualitas rumahnya. Istilah rumah sederhanapun mulai tidak disukai tanpa alasan yang bisa dimengerti. Sejauh apa yang dapat dipahami dari UU Nomor 1/2011, upaya untuk meninjau dan menyusun kembali kebijakan hunian berimbang perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1).Kebijakan hunian berimbang adalah tindak lanjut dari kebijakan

pembangunan perumahan skala besar. Oleh karena itu, rencana pembangunan kawasan permukiman harus menjadi dasar menyusun kebijakan hunian berimbang. Di daerah mana perumahan skala besar (permukiman, lingkungan hunian, kawasan permukiman) akan dikembangkan harus ditetapkan dulu dan baru kemudian ditetapkan kebijakan hunian berimbang. (2).Kebijakan hunian berimbang, tidak hanya mengenai proporsi rumah sederhana, menengah dan mewah, tetapi yang perlu ditetapkan proporsi berapa rumah komersial dan berapa rumah umum. (3).Kebijan hunian berimbang yang akan datang harus bisa lebih berkekuatan, karena meskipun tidak ada sanksi tetapi ada insentif yang dapat dijadikan alat pemaksa (forcing instrument) diterapkannya kebijakan tersebut. (4).Kebijakan hunian berimbang, perlu dikaitkan dengan berbagai kebijakan lain yang juga diamanatkan oleh undang-undang, seperti penyelenggaraan perumahan dan penyelenggaraan kawasan. (5).Kebijakan hunian berimbang sebagai instrumen rekayasa sosial hanya dapat dilakukan secara selektif. Pada umumnya perkembangan permukiman di Indonesia terlanjur acak, apalagi sekitar kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lainnya, sehingga rekayasa sosial yang dilakukan hanya dalam satu hamparan efeknya akan sangat terbatas dan menjadi upaya yang sia-sia. Demikian, mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi bahan renungan dan pemikiran dalam upaya meninjau dan menimbang kembali kebijakan hunian berimbang. Bandung, 5 Agustus 2011
Penulis adalah Pemerhati masalah permukiman, perkotaan dan lingkungan hidup.

17

Wacana

“Sisi Lain” Hunian Berimbang dalam Satu Hamparan

U

*Retno Hastijanti

ntuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan implementasi konsep permukiman yang berkeadilan, Kementerian Perumahan Rakyat menegaskan kembali pola pembangunan hunian berimbang. Peraturan ini ditujukan bagi pengembang untuk membangun rumah sejahtera tapak bagi kebutuhan masyarakat kecil. Pola hunian berimbang ini diatur dalam Undang-undang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), utamanya pada Pasal 34, 35 dan 36. Pada Pasal 34 ayat (2) dijelaskan bahwa pembangunan perumahan skala besar yang dilakukan oleh badan hukum wajib mewujudkan hunian berimbang dalam satu hamparan. Sedangkan Pasal 35 (1) menjelaskan bahwa pembangunan perumahan skala besar dengan hunian berimbang meliputi rumah sederhana, rumah menengah, dan rumah mewah. Dapat dipastikan bahwa, masingmasing kelompok rumah, akan membentuk komunitas sendiri-sendiri berdasarkan segregasi sosial ekonomi masing-masing penghuninya. Walaupun belum dipastikan komposisi yang akan diterapkan pada masing-masing kelompok rumah, menyatukan mereka

dalam satu hamparan, akan menimbulkan “sisi lain” yang perlu diwaspadai. Terdapat potensi untuk menghasilkan “ruang konflik” diantara kelompokkelompok rumah tersebut. Sedangkan perumahan skala besar tersebut akan menghasilkan masyarakat plural baru di wilayah perkotaan. Fenomena Ruang Konflik pada Permukiman Masyarakat Plural Kota, sebagai pusat berkumpulnya populasi pluralis terbesar, merupakan gabungan dari area-area milik berbagai kelompok yang berbeda, ia adalah a set of areas of different group. Kelompok-

kelompok tersebut melakukan suatu proses untuk membuat suatu bentuk ruang yang sesuai bagi mereka. Proses tersebut di kenal sebagai clustering process. Hasilnya berupa kantong (enclave) yang menggambarkan dialog antara kelompok-kelompok tersebut. Proses ini kemudian membagi kelompok-kelompok tersebut dalam sebutan “kita” dan “mereka”. Sehingga terjadi proses inklusi dan eksklusi yang menyebabkan timbulnya batas-batas area milik masing-masing kelompok. Ini diikuti dengan penekanan tanda dan simbol masing-masing kelompok untuk menandai kehadiran mereka di

Gambar 1

18

Edisi 2 Tahun 2011

area tersebut. Dengan demikian kota akan dibagi-bagi berdasarkan pada keberadaan kelompok homogen yang bermacam-macam. Dan kedua kekuatan tersebut, selalu ada, walau terkadang kekuatan salah satu mendominasi yang lain. Proses pengelompokan yang terjadi, pada akhirnya menghasilkan suatu tatanan yang didasarkan pada perilaku penghuninya. Tatanan ini diatur oleh berbagai macam tanda yang diketahui dan dipatuhi oleh penghuninya. Mereka mempunyai kesamaan budaya dan menjalankan bersama aturan-aturan yang tak tertulis. Mereka adalah kelompok yang homogen. Dalam kondisi seperti itu, kelompok homogen tersebut memiliki privacy, yang didefinisikan sebagai kontrol akses diri yang selektif. Dengan privacy, kelompok tersebut dapat mengontrol keterbukaan dan ketertutupan mereka dalam bersosialisasi dengan kelompok lain. Privacy dapat berupa suatu proses dialog dua arah untuk mengontrol batasbatas yang disepakati. Dengan bergabung dalam suatu kelompok, dan mempunyai privacy kelompok, maka individu akan merasa lebih aman. Disini mereka melakukan privatism, suatu pencarian kestabilan dalam dunia yang tidak stabil dan menakutkan. Contoh dampak privatisasi, adalah tumbuhnya gated communities, suatu hunian yang jalan masuknya dijaga dan diawasi serta terpisah dari lingkungan sekitarnya, biasanya dipisah oleh pagar tinggi. Dan ini adalah awal perubahan ruang menjadi tempat yang mencerminkan proses eksklusi dan tempat yang mencerminkan proses inklusi. Atau dengan kata lain, akibat terjadinya proses privatisasi ini, kita dapatkan ruang eksklusif dan ruang inklusif. Blakely dan Snyder menyebut ruang eksklusif yang berpotensi konflik sebagai - the gated, walled, private community- dan merupakan bentuk baru dalam diskriminasi. Dengan cara ini, maka suatu ruang publik diprivati-

Ruang ekslusif juga menyimbolkan identitas sosial dan perbedaan penghuninya.
sasi sehingga menjadi milik kelompok tertentu. Bentuk ini membuat fragmentasi atau merusak apa yang disebut civitas, yang mengatur hidup komunitas. Ada 3 (tiga) hal utama yang menyebabkan terjadinya lingkungan ini, berdasarkan motivasi dari penghuninya, yaitu komunitas dengan gaya hidup tertentu; komunitas elit; atau kebutuhan untuk membentuk zona keamanan. Makin berkembangnya ruang-ruang eksklusif di perumahan saat ini, seiring dengan makin berkembangnya konsep perumahan yang ada. Konsep-konsep perumahan seperti konsep regency, thematic cluster, ataupun strata title, merupakan konsep dengan

potensi terbentuknya ruang eksklusif. Itu membuat ruang-ruang permukiman kota menjadi terpetak-petak. Terbentuknya ruang eksklusif dan inklusif, pada dasarnya juga mencerminkan adanya pembagian kekuasaan (power) dalam masyarakat. Ruang eksklusif merupakan salah satu bentuk contoh bagi “kekuasaan lebih” suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat yang lain. Ia juga merupakan perantara wujud kekuasaan pada arsitektur, dan mempunyai dimensi yang spesifik. Antara lain, dimensi yang menekankan adanya pembagian ruang berdasarkan hak istimewa suatu kelompok terhadap kelompok lain. Selain itu, juga menekankan adanya ‘batas’ ruang yang memisahkan kelompok masyarakat berdasarkan status, gender, ras, budaya, kelas dan umur, serta menciptakan ruang istimewa bagi kenyamanan kelompok tertentu. Ruang eksklusif juga menyimbolkan identitas sosial dan perbedaan penghuninya. Dengan penyelesaian batas ruang dan tempat yang tegas, suatu komunitas kemudian mendapat hak istimewa terhadap kelompok lain. Dan dampak negatif dari hal ini lebih besar dari dampak positifnya.

Gambar 2

19

Wacana
Pada akhirnya, ruang eksklusif inilah yang memiliki potensi sebagai ruang yang rawan konflik. Rawan konflik artinya bisa menimbulkan konflik, antara penghuninya dengan penghuni ruang lain disekitarnya. Konflik itu bisa berupa konflik sosial, psikologi bahkan fisik. Ruang Konflik pada Konsep Hunian Berimbang dalam Satu Hamparan Permukiman dengan konsep hunian berimbang utamanya dalam satu hamparan, cenderung menjadi permukiman yang pluralis. Dengan kondisi seperti itu, kemungkinan munculnya proses pengelompokan komunitaskomunitas tertentu sangatlah besar. Pada masa tertentu, ternyata hal itu tidak menjadi masalah. Dalam arti antara kelompok yang satu dengan yang lain, mampu menjalankan hubungan sosial dengan baik, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai. Tetapi pada saat yang lain, terlihat adanya dampak-dampak negatif dari pengelompokan ini. Pada dasarnya, setiap ruang memiliki keseimbangan. Demikian pula dengan permukiman masyarakat plural. Keseimbangan suatu lingkungan, itu secara ‘konstan berubah’. Adanya berbagai proses yang terjadi dan melibatkan individu serta lingkungan berakibat pada perubahan keseimbangan lingkungan. Di satu sisi terjadi keseimbangan ruang yang menyebabkan konflik yang melibatkan antarkelompok-kelompok pemilik ruang-ruang tersebut. Di sini, keseimbangan ruang itu kemudian berpihak pada salah satu kelompok. Di sisi lain, para pemilik ruang mampu membangun suatu sistim yang menjaga keseimbangan ruang sedemikian hingga tidak terjadi dampak negatif dari perubahannya. Dengan demikian kita melihat bahwa keseimbangan ruang ini sangat penting untuk menjaga keutuhan, baik ‘ruang’ terbangun itu sendiri (dalam hal ini ruang permukiman) maupun ‘manusia’ sebagai penghuninya (dalam hal ini ‘kelompok masyarakat’), utamanya bila ruang tersebut merupakan ‘milik’ beberapa kelompok masyarakat yang berlainan (plural). Yang dimaksud dengan ruang di sini bila dihubungkan dengan perilaku sosial (berhubungan dengan kelompok masyarakat), maka erat keterkaitannya dengan ruang publik. Ruang publik inilah yang dianggap mampu menjadi ruang negosiasi dan mampu mengeliminir potensi konflik yang ada. Konsep perencanaan dan peran-

Pada dasarnya, setiap ruang memiliki keseimbangan.
cangan ruang publik yang baik dan benar, mampu membuatnya menjadi ruang yang menyatukan komunitaskomunitas yang berbeda. Dengan meletakkan ruang terbuka hijau yang cantik sebagai ruang komunal (gambar 1), maka diharapkan terjadi keseimbangan yang harmonis antara komunitas kelas menengah (kelompok rumah menengah) dan komunitas kelas atas (kelompok rumah mewah). Dan bila terpaksa, dengan meletakkan tembok dekoratif serta sekaligus membagi penerangan umum kompleks permukiman, diharapkan terjadi keseimbangan yang harmonis antara komunitas kelas menengah (kelompok rumah menengah) serta atas (kelompok rumah mewah) dengan komunitas kelas bawah (kelompok rumah sederhana), seperti pada gambar 2. Bila masih dimungkinkan, maka ruang komunal atau jalan pembagi lebih diutamakan pada kasus ini. Pembangunan fasilitas sosial, merupakan hal yang perlu dipertimbangkan untuk menjaga keharmonisan keseimbangan lingkungan antara komunitas kelas bawah (kelompok rumah sederhana) dengan komunitas kelas bawah lainnya (kelompok rumah sederhana), seperti terlihat pada gambar 3. Dengan adanya pengelolaan yang baik, utamanya terhadap ruang-ruang publik, maka keseimbangan ruang dalam permukiman dapat menjadi alat ukur bagi keutuhan masyarakat di kawasan hunian berimbang, utamanya dalam satu hamparan.
* Memperoleh gelar Doktor di bidang Arsitektur dengan program kekhususan Perumahan dan Permukiman dari ITS Surabaya. Peneliti Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Staf Pengajar di Jurusan Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Gambar 3

20

Edisi 2 Tahun 2011

Eco Village
Agung Bhakti Utama, ST Staf Asdep Kerjasama Antar Lembaga, Deputi Bidang Pengembangan Kawasan, Kementerian Perumahan Rakyat
sumber foto-foto: gen.ecovillage.org

Suasana lingkungan di sebuah eco village.

B

ayangkan ketika kita terbangun di suatu pagi, kita tidak perlu tergesa-gesa untuk segera berangkat kerja ke kantor. Tempat kita bekerja tidak jauh dari rumah. Ya, kita bekerja di kampung kita sendiri, sehingga pagi hari kita dapat diisi dengan kegiatan yang berkualitas seperti olah raga, membaca buku, menyiapkan serta menikmati sarapan bersama keluarga kita, bahkan bersama tetangga. Kita bersama keluarga tinggal di dalam sebuah rumah yang nyaman karena sirkulasi udaranya benar-benar diperhitungkan oleh arsitek lokal, yang memberikan rancangannya secara gratis atau kalaupun harus membayar harganya terjangkau. Kita

tidak perlu pusing memikirkan operasional serta pemeliharaannya karena rumah tersebut memang dirancang menggunakan pencahayaan alami di siang hari, serta menggunakan sumber energi alternatif yang dibangun secara lokal di kampung kita.

Suasana makan bersama di rumah bersama (common house).

Seusai sarapan, kita dapat memulai aktivitas sehari-hari yang berarti terhadap diri dan lingkungan kita. Tentu saja aktivitas ini jauh dari kegiatan dalam rangka membela profit perusahaan tempat kita bernaung, bukan dalam rangka berkompetisi dengan orang lain dari perusahaan lain, bukan pula menyuap pihak otoritas untuk mendapatkan proyek, atau menggolkan kebijakan yang kita atau perusahaan inginkan. Kegiatan sehari-hari akan sangat berarti bagi diri kita sendiri, keluarga, serta lingkungan. Kita hadir di muka bumi tidak dalam rangka merusak manusia dan lingkungan. Kita hidup dalam keseimbangan baik antar sesama manusia maupun dengan lingkungan. Output dari kegiatan kita sangat jelas, sejelas toilet yang bersih setelah dibersihkan oleh para penjaga kebersihan toilet. Ya, kita keluar rumah untuk bergabung dengan orang lain dalam rangka membangun rumah bagi salah satu atau beberapa warga. Kemewahan kehidupan di atas tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Kemewahan tersebut larut dalam berimbangnya kehidupan antar manusia serta manusia terhadap alam, sangat larut, sehingga kita akan sulit membedakan apakah sebuah rumah itu tergolong dalam rumah yang proporsinya 1, 3, atau 6 (dalam UU Nomor 1 Tahun 2011, proporsi rumah mewah : menengah : sederhana adalah 1 : 3 : 6). Seorang arsitek atau ahli ba-

21

Wacana

Tim Pembangun Perumahan dan Tim Pertanian.

ngunan menjadi pemimpin bagi warga yang berprofesi sebagai pembangun perumahan. Seorang ahli pangan dan gizi berbaur dengan masyarakat yang memilih mendedikasikan hidupnya

untuk memasak. Seorang ahli pertanian menjadi pemimpin para petani makmur yang bercocok tanam dan berternak untuk memenuhi kebutuhan kampungnya. Tidak ada yang

kurang kesejahteraannya selama seseorang tersebut bekerja. Sementara anak-anak mereka hidup dalam berkelimpahan waktu orang tua serta fasilitas pendidikan yang memadai yang

Dimensi Keberlanjutan dalam Sebuah Eco Village
1. Dimensi Sosial/Komunitas Sebuah komunitas eco village terdiri atas orang-orang yang merasa didukung serta sekaligus bertanggungjawab terhadap orang-orang sekelilingnya. Mereka memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap kelompoknya. Komunitas tersebut cukup kecil sehingga setiap setiap orang merasa aman, diberi wewenang, terlihat, serta didengarkan aspirasinya. Orang-orang tersebut dapat ikut serta dalam pembuatan keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan mereka sendiri melalui proses-proses yang transparan.
sumber foto-foto: gen.ecovillage.org

Komunitas berarti : • Mengenali dan terhubung dengan yang lainnya; • Membagi sumberdaya milik bersama serta menyediakan bantuan yang saling menguntungkan; • Menekankan pada praktek kesehatan yang preventif dan menyeluruh; • Mengintegrasikan kelompok-kelompok marginal; • Mempromosikan pendidikan yang tidak pernah berakhir (unending education); • Menggalakkan kesatuan melalui sikap hormat-menghormati terhadap perbedaan; • Memberikan tempat untuk ekspresi budaya. 2. Dimensi Ekologis Eco village memungkinkan setiap orang mengalami hubungan pribadinya dengan bumi yang hidup. Masyarakat menikmati interaksi sehari-hari dengan tanah, air, angin, tumbuh-tumbuhan, serta hewan. Mereka menyediakan

kebutuhan sehari-hari mereka seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, dengan tetap menghormati siklus alam.

Ekologis berarti : • Menyediakan makanan sebanyak mungkin dalam komunitas pada satu wilayah; • Mendukung produksi makanan organik; • Membuat perumahan dari bahanbahan yang disesuaikan dengan keadaan lokal; • Menggunakan sistem energi terbarui yang terintegrasi;

22

Edisi 2 Tahun 2011

dapat membantu mereka menguak misteri alam serta mengolahnya menjadi teknologi yang berguna untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Seorang remaja berkembang imajinasi dan kreativitasnya karena tidak pernah ditakut-takuti akan jenjang karir di masa depan, jauh dari didikan untuk berebut suplai uang yang beredar dalam sistem perekonomian, karena ia hidup dalam sebuah lingkungan dimana kesejahteraan terjamin selama ia berkarya. Kita semua memimpikan orangorang dan komunitas dapat hidup secara sehat, kooperatif, secara alami merasakan kebahagiaan yang sejati karena menjalani gaya hidup yang berarti (meaningful). Pancaran harapan
• Menjaga keragaman biologi (biodiversity); • Memberi tempat untuk prinsipprinsip bisnis ekologis; • Menetapkan siklus hidup dari seluruh produk dalam kacamata sosial, spritiual, dan ekologi, dimana produk yang dibuat sebaiknya dari bahan-bahan terbaik sehingga tahan lama untuk menghindari siklus konsumsi yang cepat terhadap alam, hal ini tentunya perlu didukung oleh teknologi; • Menjaga kebersihan tanah, air, dan udara melalui manajemen energi dan limbah yang benar. 3. Dimensi Budaya/Spiritual Kebanyakan eco village tidak menempatkan penekanan praktek spritiual, namun dengan cara mereka sendiri eco village menghormati serta mendukung – Bumi dan semua makhluk hidup di atasnya; budaya dan pengayaan seni serta ekspresi, dan keragaman spiritual. Spiritual berarti : • Membagi kreativitas, ekspresi seni, aktivitas budaya, ritual, dan

yang akan membantu kita semua dalam transisi menuju masa depan yang berkelanjutan di atas bumi ini. Hal ini dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan perumahan dalam suatu lingkungan yang sehat, aman, serasi, teratur, terencana, terpadu, dan berkelanjutan, yaitu melalui penerapan konsep eco village, yang di dalamnya terjadi keseimbangan baik antar masyarakat maupun terhadap kondisi alam. Dalam eco village, keadaan saling menghormati, saling berbagi, serta niat yang baik benar-benar mendapat tempat. Eco Village Eco villages adalah komunitas masyarakat baik perkotaan maupun pedeperayaan; • Rasa kesatuan komunitas dan dukungan yang bersifat timbal balik; • Penghormatan dan dukungan terhadap manifestasi spiritual; • Fleksibilitas dan sikap responsif terhadap kesulitan yang dihadapi; • Perwujudan dunia yang damai, penuh cinta, serta berkelanjutan.

saan yang berjuang untuk mengintegrasikan sebuah lingkungan sosial yang mendukung dengan cara hidup yang tidak banyak mempengaruhi/ merusak lingkungan. Untuk mencapainya, mereka menggabungkan berbagai aspek seperti: desain ramah lingkungan, permaculture, bangunan ramah lingkungan, produksi secara alamiah, energi alternatif, pembangunan komunitas, dan lain sebagainya. Motivasi untuk melakukan eco villages didasari atas komitmen untuk mengembalikan struktur sosial/budaya yang secara perlahan terdisintegrasi serta sebagai desakan terhadap praktek-praktek perusakan lingkungan di atas planet bumi ini.

3. Dimensi Ekonomi Seiring dengan grup lokal dan komunitas menciptakan sendiri mata uang dan sistem pertukaran mereka, mereka belajar tentang rahasia terdalam dari ekonomi: uang dan informasi itu seimbang -- dan tidak ada satupun yang langka! (Hazel Henderson)

Ekonomi berarti : • Menjaga uang tetap berada dalam komunitas; • Memutarnya ke sebanyak mungkin orang; • Mencari, membelanjakan, serta menginvestasikan uang dalam bisnis yang dimiliki anggota komunitas; • Menyimpannya dalam institusi keuangan lokal (home-grown financial institution).

Sumber tulisan: http://gen.ecovillage.org/ecovillages.html

23

Wacana

“Penilaian Studi Kelayakan sebagai Bahan Pengambilan Keputusan terhadap Perencanaan Kawasan Perumahan”

S

Pengambilan Keputusan Investasi Pembangunan Kawasan Perumahan Untuk pengambilan keputusan investasi tersebut dilaku­ kan langkah­langkah kajian sebagai berikut: 1. Kajian Aspek Lingkungan - Data tentang kualitas udara, kualitas air dan sistem pem­ buangan lingkungan kawasan; - Hasil analisis dampak yang ditimbulkan selama proses proyek pembangunan ; l Pra konstruksi (pembebasan lahan, lingkungan sekitar, sosial, tenaga kerja), Alur Aspek Kajian Studi Kelayakan l Konstruksi (gangguan suara, penempatan material, penempatan pekerja, aksesbilitas dari PENETAPAN LOKASI dan menuju proyek), l Pasacakonstruksi (pengelolaan dan pengamanan PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI lingkungan serta integrasi sistem pengelolaan ASPEK ASPEK ASPEK ASPEK ASPEK ASPEK ASPEK limbah terhadap lingkungan sekitar) LINGKUNGAN LEGAL PASAR TEKNIS FINANSIAL EKONOMI SOSIAL Aspek lingkungan, walaupun merupakan aspek sekunder, namun saat ini pendekatan utama investasi harus dilakukan dengan keberlanjutan sesuai kondisi DOKUMEN STUDI KELAYAKAN INVESTASI lingkungan ekternal. Bila seluruh kajian aspek ling­ Investasi Pembangunan Perumahan kungan sudah dinyatakan layak, maka dapat dilanjutkan de­ Investasi pembangunan perumahan merupakan bentuk ngan kajian aspek berikutnya yaitu aspek legal. investasi barang modal atau investasi proyek, dengan kon­ 2. Kajian Aspek Legal sekuensi menyerap dan mengikat dana dalam persentase yang - Kejelasan Pemrakarsa Pekerjaan (Investor/Lembaga) dibuk­ cukup besar jumlahnya serta dengan jangka waktu ikatan tikan dengan kepemilikan akta perusahaan; dana yang cukup lama. Kesalahan dalam perencanaan atau - Kejelasan kepemilikan lahan rencana pembangunan dibuk­ evaluasi kelayakan rencana investasi menimbulkan dampak tikan dengan kepemilikan Sertipikat Hak Milik; negatif yang berlangsung lama atau kerugian yang sangat be­ - Kejelasan jenis usaha yang dimiliki oleh investor/lembaga sar. Pertimbangan utama dalam menentukan pembangunan dibuktikan dengan kepemilikan Surat Ijin Usaha (SIUJK/ kawasan perumahan adalah penetapan lokasi perumahan. TDR/NPWP/PKP/Ijin HO); Ciri investasi suatu proyek tidak terkecuali pembangunan - Kejelasan Struktur Organisasi Pemrakarsa dibuktikan de­ kawasan perumahan memberikan manfaat atau keuntungan ngan Organisasi Tata Laksana (OTK) investor/lembaga; baru dapat dinikmati beberapa bulan atau tahun setelah in­ - Kejelasan tentang Izin Prinsip Kepala Daerah, dibuktikan

tudi kelayakan merupakan hal ter­ Moch.Yusuf pokok agar bisa memperoleh gam­ baran sejak awal mengenai aspek­ aspek yang dipikirkan dalam proses pembangunan. Produk studi kelayakan merupakan suatu produk yang dihasilkan dari suatu studi kelayakan secara menyeluruh sebagai dasar pengambilan keputusan dalam investasi dan kebutuhan un­ tuk para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam studi tersebut. Aspek­aspek yang dikaji dalam studi kelayakan terangkum dalam 7 kelompok aspek kajian: aspek lingkung­ an, aspek legal, aspek pasar, aspek teknis, aspek finansial, as­ pek ekonomi, aspek sosial. Ketujuh kelompok aspek kajian tersebut dianalisis secara hirarkis dan sekuensial. Bila aspek awal sudah layak dilanjutkan aspek berikutnya, sampai semua aspek dinyatakan layak sehingga bisa dinyatakan pembangun­ an kawasan perumahan dinyatakan layak. Tahapan dalam ka­ jian studi kelayakan digambarkan sebagai berikut:

Hariagung *)

vestasi dilakukan dan memiliki resiko yang cukup besar, tidak hanya karena besarnya jumlah dana yang terikat, me­ lainkan juga karena jangka waktu yang panjang yang diper­ lukan untuk memetik keuntungan. Keputusan investasi yang keliru tidak dapat direvisi.

24

Edisi 2 Tahun 2011

dengan Surat Izin Prinsip Walikota tentang Pembangunan; - Surat­Surat Keputusan Menteri tentang Pembangunan; - Pedoman Teknis Pembangunan. - Kejelasan tentang Zonasi Kawasan sesuai peruntukan dibuktikan dengan RTRW/RRTR Kabupaten/Kota ter­ hadap kawasan dengan peruntukannya; - Kejelasan tentang Peruntukan lahan/tata guna lahan (land use) sesuai fungsi kawasan terbangun yang dibuktikan de­ ngan RTRW/RRTR Kabupaten/Kota; - Kejelasan tentang KDB, KLB dan RTH pada lahan rencana pembangunan kawasan perumahan dibuktikan dengan RTRW/RRTR yang telah disyahkan oleh DPRD Kabu­ paten/Kota; - Kejelasan tentang jaringan utilitas dibuktikan dengan pe­ nyediaan utilitas (listrik, air bersih, Tlp, gas) pada kawasan (data dari PLN, PDAM dan Telkom serta Dinas Pertam­ bangan dan Energi sebagai penyedia). Bila seluruh persyaratan aspek legal sudah dipenuhi dan dinyatakan layak, maka dapat dilanjutkan pada kajian aspek pasar. 3. Aspek Pasar - Data tentang pangsa pasar (market share) ketertarikan calon penghuni terhadap proyek kawasan perumahan di Kabu­ paten/Kota; - Data tentang sasaran pasar (target market); - Data pembanding (competitor) sekurang­kurangnya yang sudah dibangun Kabupaten/Kota. Bila seluruh persyaratan aspek pasar sudah direspon positif dan dinyatakan layak, maka dapat dilanjutkan pada kajian as­ pek teknik. 4. Kajian Aspek Teknik - Data lokasi proyek, luas lahan, status proyek sebagai bahan dalam melakukan desain bangunan dan fasilitasnya; - Data mengenai peta garis untuk menentukan lokasi lahan terhadap lingkungan sekitar; - Analisis konsep zonasi; - Analisis kebutuhan ruang dan fasilitas; - Data tentang Harga Satuan Bahan dan Upah tahun terakhir sebagai dasar dalam menentukan biaya bangunan; - Hasil analisis sistem dan kebutuhan M/E/P sebagai dasar rancangan MEP serta perhitungan biaya; - Hasil analisis kebutuhan furniture dan peralatan sebagai dasar menentukan biaya (bila model turn key); - Biaya­biaya teknis yang harus ditanggung (Informasi dari Pemkab/Pemkot tentang biaya IMB, AMDAL/AMDALA­ LIN, Ijin HO, Biaya FS, Biaya Perencanaan dan Biaya MK /Rujukan dari Dirjen Cipta Karya); - Gambar rancangan Pradesain arsitektur. Bila seluruh persyaratan aspek teknik sudah didesain dan dinyatakan layak, maka dapat dilanjutkan pada kajian aspek ekonomi.

5. Kajian Aspek Ekonomi - Data tentang tingkat inflasi Kabupaten/Kota tahun berjalan sebagai bahan kajian perhitungan Present Value; - Data tentang suku bunga Sertipikat Bank Indonesia tahun berjalan sebagai bahan perhitungan Present Value; - Data tentang suku bunga komersial yang berlaku pada pasar sebagai pembanding untuk menentukan Discount Factor (DF) sebagai dasar menentukan Present Value; Bila seluruh persyaratan aspek ekonomi sudah memiliki manfaat dan efek multiplier dan dinyatakan layak, maka da­ pat dilanjutkan pada kajian aspek finansial. 6. Kajian Aspek Finansial Semua perhitungan biaya teknis sebagai nilai yang diper­ hitungkan dalam biaya investasi langsung; - Semua perhitungan biaya pengelolaan selama 1 tahun yang diperhitungkan dalam biaya modal (termasuk depresiasi bangunan, biaya bunga, asuransi kebakaran); - Proyeksi­proyeksi penerimaan dari semua pendapatan yang diproyeksi sekurang­kurangnya 10 tahun atau lebih dise­ suaikan dengan masa pinjaman (10 tahun/15 tahun/20 tahun/25 tahun atau terlama 30 tahun); - Proyeksi Rugi Laba selama masa proyeksi­proyeksi peneri­ maan; - Perhitungan Net Cash Inflow dan Net Cash outflow dengan memperhatikan DF (dasar suku bunga) sebagai proyeksi nilai uang masa yang akan datang; - Perhitungan Net Present Value (NPV) dan Benefit and Cost Ratio (B/C) untuk menentukan tingkat kelayakan; - Perhitungan IRR untuk membandingkan tingkat keun­ tungan terhadap suku bunga komersial, apakah proyek tersebut layak atau tidak dikemudian hari; - Perhitungan Payback Period guna mengetahui waktu terce­ pat pengembalian investasi. Bila seluruh persyaratan aspek finansial sudah memiliki proyeksi keuntungan investasi di masa yang akan datang dan dinyatakan layak, maka dapat dilanjutkan pada kajian aspek sosial 7. Aspek Sosial Merupakan aspek akhir dari seluruh hirarki dari kajian seluruh studi kelayakan. Suatu proyek investasi harus memi­ liki kohesif dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya dan tidak menimbulkan inklusif. Sehingga investasi tersebut tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat, khususnya masyarakat sekitar kawasan perumahan. Dinilai layak investasi dan dapat diambil suatu keputusan investasi setelah mempertimbangkan seluruh aspek kajian se­ cara hirarki dan proyek dapat dinyatakan GO. *)Kepala Bagian Data dan Pelaporan Biro Perencanaan dan Anggaran Kemenpera

25

Wacana

Hunian Berimbang, Antara Teori dan Realita

U

ndang­undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman mengamanatkan pembangunan lingkungan hunian berimbang (LHB). Hal ini tertera dalam pasal 54 ayat 1 sampai 5. Ketentuan ini dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dalam pasal tersebut juga disebutkan sanksi yang sum ber il l.: isti bisa dikenakan kepada pengembang yang mew a tidak melaksanakan ketentuan tersebut. Ketentuan hunian berimbang ini mengulang sejarah era Orde Baru. Pada November 1992, tiga orang menteri yaitu Menteri Dalam Negeri Rudini, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Muhtar, dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo, menandatangani surat keputusan bersama (SKB) tentang hunian berimbang. Ketiga menteri sepakat untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah bagi MBR lewat ketentuan tersebut. Dalam SKB tersebut ditetapkan konsep 1:3:6. Ini berarti pengembang yang membangun 1 unit rumah mewah, maka harus membangun 3 unit rumah menengah dan 6 unit rumah sederhana. Secara logika, jika aturan ini diterapkan maka pembangunan rumah bagi MBR akan melaju kencang. Alhasil masalah backlog pun tidak akan terjadi. Namun sayangnya, dalam praktiknya ketentuan tersebut tidak bisa diaplikasikan dengan baik. Bahkan cenderung diabaikan oleh para pengembang. Hal ini antara lain karena tidak sinkronnya dengan aturan yang dikeluarkan pemerintah daerah (Pemda). Ada sebagian Pemda yang justru mengeluarkan aturan yang kontradiktif dengan SKB tiga menteri. Akibatnya, pelaksanaannya jauh panggang dari api. Sekarang kita tentu berharap aturan hunian berimbang yang diamanatkan UU PKP tidak mengalami nasib yang sama. Untuk itu perlu perhatian semua

stakeholder perumahan untuk mengawal dan mengawasi pelaksanaannya. Pemerintah, dituntut untuk konsisten dan konsekuen terhadap aturan yang ditetapkan. Tentu saja harus memperhatikan suara dan aspirasi dari para pengembang yang memikul kewajiban melaksanakan aturan tersebut. Selain memberikan sanksi, pemerintah juga diminta memberikan insentif bagi para pengembang yang mentaati aturan tersebut dengan baik dan benar. Insentifnya seperti apa, bisa dikaji bersama. Misalnya insentif pajak atau dalam bentuk lain. Sebaliknya, para pengembang juga harus jujur dan konsisten dalam melaksanakan aturan tersebut. Jujur dalam arti tidak memanipulasi data jumlah rumah yang telah dibangunnya sehingga bisa diketahui berapa banyak rumah menengah dan sederhana yang harus dibangun. Hal ini penting karena kesuksesan pelaksanaan aturan hunian berimbang antara lain berada di pundak pengembang. Harus diakui, sampai saat ini memang masih muncul sejumlah persoalan. Antara lain lokasi pembangunan hunian berimbang, apakah berada dalam satu

26

Edisi 2 Tahun 2011

hamparan atau bisa di lokasi lain. Ini terutama menyangkut lahan yang terbatas dan harganya yang mahal. Tentu tidak mungkin jika ada pengembang yang membangun rumah mewah di Jakarta terus diharuskan membangun rumah menengah dan sederhana di lokasi yang sama karena harga tanahnya yang mahal. Selain itu, juga muncul perdebatan tentang komposisi idealnya, apakah tetap 1:3:6 atau menggunakan aturan lain yang sesuai dengan perkembangan saat ini. Hal itulah yang harus diakomodir oleh Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Permenpera) tentang hunian berimbang yang akan segera diterbitkan. Ini penting demi menjamin efektivitas pelaksanaannya nanti. Dalam berbagai kesempatan, Menpera Suharso Monoarfa mengatakan, pihaknya memastikan awal semester kedua tahun ini peraturan tentang hunian berimbang akan segera diterbitkan. “Kami akan dorong agar pola hunian berimbang ini dapat diberlakukan kembali. Itulah amanah UU PKP yang baru disahkan DPR di penghujung tahun lalu”. Menurutnya, dalam UU PKP pengembang wajib menyediakan sekian persen lahan untuk perumahan bagi MBR.Namun pihaknya belum bisa menjelaskan berapa persentasenya. Saat ini pihaknya bersama asosiasi pengembang sudah mulai melakukan penda­ taan mengenai perusahaan properti milik pengembang perumahan berikut anak perusahaannya, termasuk jenis proyek yang sedang dikerjakan. Data ini penting agar dapat diketahui berapa unit rumah sederhana yang wajib dibangun pengembang bersangkutan, perbandingan total rumah menengah atas yang dibangun grup pengembang tersebut. Tentu kita berharap aturan tentang hunian berimbang ini bisa tersosialisasi dan terlaksana dengan baik. Sebab pada dasarnya konsep hunian berimbang mengandung prinsip­prinsip pro poor, pro green dan pro growth. Tentunya, terpenting program infrastruktur

di berbagai sektor terutama di bidang perumahan, permukiman, dan perhubungan, perlu dipadukan untuk mewujudkan kawasan yang asri dan menjamin kualitas kehidupan penduduknya. Demikian juga fasilitas pendidikan dan perdagangan perlu dipadukan. Hanya keterpaduan pembangunan fasilitas inilah yang akan menghasilkan kawasan permukiman yang diminati masyarakat dari semua golongan. Inilah yang dijalankan Housing Development Board (HDB) di Singapura, KNHC di Korea Selatan, dan URA di Jepang. Tidak kalah pentingnya adalah kontribusi Pemerintah Daerah. Caranya dengan memberikan kemudahan dalam perizinan bagi para pengembang untuk membangun rumah. Biaya siluman yang selama ini banyak dikeluhkan pengembang harus segera dihilangkan. Jika ini terjadi, pembangunan perumahan bagi MBR akan lebih cepat berjalan. Kita boleh berharap tinggi akan kesuksesan pelaksanaan pembangunan hunian berimbang demi meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat khususnya MBR. Tapi jika tidak ada sinergi, kejujuran, dan komitmen semua pihak terkait, tentu harapan itu hanya angan­angan belaka. Sebagai salah satu anak bangsa, saya akan sangat bersedih jika hal itu ternyata menjadi kenyataan. Anjar Fahmiarto (Forwapera)
sumber foto: istimewa

27

Wacana

Governing Council ke-23 UN-Habitat
11-15 April 2011
sumber foto: Delegasi RI

S

idang Governing Council ke­23 (GC­23) United Nations Human Settlements Programme (UN­ Habitat) dengan tema ‘Sustainable Urban De­ velopment through Expanding Equitable Access to Land, Housing, Basic Services and Infrastructure’ telah diselengga­ rakan pada tanggal 11­15 April 2011 di Nairobi. Sidang dihadiri negara­negara anggota, badan­badan PBB, dan Mitra Agenda Habitat yang terdiri dari pemerintah daerah, organisasi non­pemerintah, lembaga donor, or­ ganisasi masyarakat madani, dan organisasi internasional/ swasta lainnya. GC23 UN­Habitat dibuka secara resmi oleh Presiden Kenya, Mwai Kibaki, dan diisi dengan sambutan dari Mr. Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP, Sekjen PBB Ban Ki­moon yang dibacakan Wakil Direktur UN­Ha­ bitat Mrs. Inga Bjork­Klevby, dan dr. Joan Clos, Direk­ tur Eksekutif UN­Habitat. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam sesi pembukaan adalah: a. Peningkatan urbanisasi global yang tinggi (saat ini sudah lebih dari separuh dan diperkirakan tahun 2050 mencapai 70%) dihadapkan pada berbagai tantangan termasuk kemiskinan, transportasi, kurangnya la­ pangan pekerjaan, tumbuhnya permukiman kumuh dan informal serta perubahan iklim. b. Perlunya inovasi kebijakan dan program yang pro rakyat miskin serta berbagi pengalaman antarnegara dalam menangani masalah urbanisasi. c. Hasil pembahasan GC23 UN­Habitat merupakan peluang penting agar agenda pembangunan perkotaan yang berkelanjutan sebagai tema utama pertemuan dapat terefleksikan di dalam konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan (Rio +20) yang akan digelar tahun 2012 di Rio de Janeiro, Brasil. d. Perlunya mengembalikan penanganan perkotaan

melalui perencanaan bagi pemenuhan kebutuhan dasar perkotaan (basic urban planning), yaitu dengan menekankan kepada pentingnya penataan pola dan jaringan jalan, pencadangan lahan untuk kepenting­ an umum (land as common goods), dan penyediaan pelayanan dasar perkotaan (urban services); menyi­ apkan kelembagaan dan tata penyelenggaraan kota; serta mendorong tumbuhnya ekonomi perkotaan, khususnya penciptaan lapangan pekerjaan. Pena­ nganan perkotaan yang baik harus mampu mencegah terjadinya urban sprawl (perkembangan kota secara sporadis), yang menyebabkan hilangnya potensi ekonomi urbanisasi dan aglomerasi. Sidang juga telah memilih Mr. Vincent Karega, Menteri Infrastruktur Rwanda, sebagai Presiden Govern­ ing Council 2011­2013 dengan dibantu oleh 3 wakil presiden dan 1 Rapporteur dari Chili (mewakili Amerika Latin), Cina (mewakilil Asia), Rusia (mewakili Eropa Timur) dan Finlandia. High-Level Segment Sesi High­level Segment telah membahas mengenai tema utama pertemuan yaitu pembangunan perkotaan yang berkelanjutan melalui perluasan akses kepada lahan, perumahan, dan pelayanan serta infrastruktur dasar. Pada sesi ini, Menteri Perumahan Rakyat RI menyampaikan pernyataan, baik dalam kapasitas sebagai Ketua Delri maupun sebagai Ketua Asia Pacific Ministerial Confer­ ence on Housing and Urban Development (APMCHUD). Pokok­pokok pernyataan Ketua Delri sebagai berikut: • Rencana Implementasi Solo yang dihasilkan dalam APMCHUD ke­3 memberikan kerangka kerja untuk pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi tan­ tangan regional melalui kerjasama dan pertukaran

28

Edisi 2 Tahun 2011

praktek unggulan (best practices). Perlunya mobilisasi dana yang inovatif dan tidak ber­ gantung pada dana publik, dengan memberdayakan dana swasta dan masyarakat untuk rehabilitasi dan pencegahan bencana. Perlunya perkuatan jejaring kerja antarpemerintah, swasta dan masyarakat untuk menjawab tantangan meningkatnya kemiskinan, kesenjangan sosial ekono­ mi dan sektor informal. Ajakan kerjasama UN­Habitat dan mitra Agenda Habitat untuk mendukung Regional Center for Com­ munity Empowerment in Housing and Urban Develop­ ment (RC­CEHUD) menjadi center of excellence di kawasan Asia­Pasifik. Komitmen Indonesia untuk persiapan konferensi Habitat III tahun 2016.

Sesi dialog Pembahasan sesi pagi bertopik “Sustainable Urban Development Through Equitable Access to Basic Services And Infrastructure” menampilkan beberapa panelis yaitu dari unsur Pemerintah (Menteri Perumahan Maroko); Mitra Agenda Habitat (Global Parliamentarians for Habitat dan Shack/Slum Dwellers International); serta akademisi (Delft University of Technology, Belanda). Hal­hal pokok yang mengemuka selama sesi ini yaitu: • Terdapat kesepakatan bahwa lahan merupakan komponen kritis untuk perumahan, infrastruktur dan pelayanan, terutama bagi masyarakat berpeng­ hasilan rendah dan rentan. Mengingat jumlahnya yang terbatas, diperlukan kebijakan, undang­undang ataupun sistem yang menjamin kepemilikan lahan. Hasil studi negara­negara dunia menunjukkan bahwa dukungan kebijakan yang inovatif dalam kerangka tata­kelola pertanahan yang baik dapat meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah (low income communities) ke tanah dan perumahan. • Terdapat pandangan bahwa perumahan memainkan peran sentral dalam pengembangan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan promosi praktik pembangunan rumah yang berkesinambungan dan ramah lingkungan. Statistik menunjukkan bahwa sektor perumahan menyum­ bangkan hampir 20 persen pembentukan modal dalam Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. • Untuk kawasan kumuh, program slum upgrading and prevention dapat menjadi alat Pemerintah dalam mengembangkan akses terhadap perumahan berbiaya rendah dan mengendalikan jejak kaki (footprint) perko­

taan dan pada akhirnya merupakan kontribusi kota terhadap upaya pencapaian sustainable development. Dialog pada sesi sore yang membahas Equitable Access to Basic Services and Infrastructure, menghadirkan panelis unsur Pemerintah (Menteri Infrastruktur Rwanda dan pejabat senior Kementerian Perumahan Sri Lanka); peme­ rintah daerah (Walikota Harare, Zimbabwe); dan Mitra Agenda Habitat (World Business Council for Sustainable Development). Hal­hal yang mengemuka antara lain: • Perencanaan dan penyediaan layanan dasar merupakan bagian penting bagi pengembangan kota berkelan­ jutan, termasuk diantaranya energi, transportasi, air dan sanitasi. Akses terhadap jasa­jasa ini adalah faktor penentu lokasi berkumpulnya populasi dan mempe­ ngaruhi pertumbuhan serta pengembangan mereka. • Terdapat kesamaan pandangan bahwa diperlukan kolaborasi erat antara berbagai sektor pemerintahan, pihak swasta dan masyarakat madani, serta pening­ katan dan penguatan kerangka peraturan. • Kesetaraan akses terhadap layanan dasar membutuh­ kan investasi dalam jumlah yang tidak kecil. Namun demikian, disadari bahwa akses ini memiliki potensi jangka panjang menuju green growth melalui pen­ ciptaan lapangan kerja, terutama untuk kaum miskin. Pada kedua sesi, mayoritas peserta sependapat bahwa pemerintah, organisasi internasional, dan mitra Agenda Habitat (institusi keuangan, kelompok masyarakat, organisasi profesi, dan lain­lain) memainkan peran kunci dan harus bekerjasama dalam peningkatan akses terhadap tanah, perumahan, pelayanan dasar dan infrastruktur. Catatan Akhir Pertemuan GC UN­Habitat ke­23 kali ini meru­ pakan pertemuan yang dipandang strategis mengingat isu­isu terkait perumahan dan pembangunan kota yang berkelanjutan telah menghadapi berbagai tantangan baru. Isu­isu baru seperti perubahan iklim, dan green economy memberikan tantangan tersendiri bagi upaya pencapai­ an program pembangunan kota yang berkelanjutan dan akses terhadap perumahan. Dalam konteks ini dan men­ jelang pertemuan Rio+20 di Brazil, pelaksanaan GC ke­ 23 UN­Habitat diharapkan dapat memberikan kontribusi penting bagi pertemuan Rio+20, terutama dalam kaitan dengan isu­isu pembangunan berkelanjutan. Disepakati bahwa GC UN­Habitat tidak secara spesifik membahas substansi green economy namun hanya mencatat pentingnya kontribusi UN­Habitat terhadap pertemuan Rio+20 terutama dalam kaitan dengan pem­ bangunan kota yang berkelanjutan. (LW/Delegasi RI)

29

Liputan

Pembenahan Kawasan Kumuh Kota Batam Melalui PLP2K-BK

sumber: Asisten Deputi Perencanaan Pengembangan Kawasan

K

ota yang merupakan pusat kegiatan ekonomi menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga menyebabkan pula tingginya arus urbanisasi. Kondisi di Indonesia sebagai negara berkembang tidak jauh berbeda, tingginya angka pertambahan penduduk di perkotaan masih menjadi masalah. Pesatnya perkem­ bangan penduduk diperkotaan tidak selalu dapat diim­ bangi oleh kemampuan pelayanan kota sehingga meng­ akibatkan munculnya permukiman­permukiman kumuh. Di Indonesia sendiri luas permukiman kumuh cenderung bertambah dari 54 ribu hektar pada tahun 2004 menjadi 58 ribu hektar pada tahun 2009. Bertambahnya permu­ kiman kumuh di kawasan perkotaan ini harus segera di­ tangani secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan di wilayah perkotaan itu sendiri, sehingga diharapkan terwujud suatu lingkungan yang sehat, aman serasi dan teratur Kota Batam merupakan kota dengan populasi terbesar ke tiga di wilayah Sumatera setelah Medan dan Palem­ bang, dengan jumlah penduduk mencapai 1.081.527 jiwa dan memiliki laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Dalam kurun waktu tahun 2001 hingga 2011 angka pertumbuhan penduduk rata­rata lebih dari 8 persen per tahun. Secara geografis Batam memiliki posisi strategis karena berada di jalur pelayaran internasional serta dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ketika dibangun pada awal 1970­an kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk, dalam waktu 40 tahun penduduk Batam tumbuh hingga 170 kali lipat. Pesatnya pertumbuhan penduduk di Kota Batam memunculkan banyak permukiman kumuh, dian­ taranya terletak di kampung Bagan, kelurahan Tanjung Piayu, kota Batam Awalnya, kampung yang sebagian besar penduduknya adalah pedagang dan buruh dengan rata­rata penghasil­ an Rp. 800 ribu per bulan ini merupakan salah satu pintu masuk ke pulau Batam, namun seiring berjalannya waktu, Kampung Bagan berkembang menjadi kawasan permukiman kumuh yang huniannya sebagian besar merupakan bangunan semi permanen yang tidak layak huni. Hal ini diperburuk dengan tidak adanya sanitasi dan sumber air bersih.

PLP2K-BK di Kampung Bagan.

Penataan Kampung Bagan dengan PLP2K-BK Pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat sejak tahun 2010 berupaya memberikan stimulan untuk membenahi kampung Bagan dengan pendekatan pro­ gram Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permu­ kiman Kumuh Berbasis Kawasan (PLP2K­BK). Program ini merupakan suatu upaya untuk menata dan mening­ katkan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman kumuh secara berkelanjutan melalui pendekatan Tridaya, yaitu perbaikan dan pembangunan perumahan, penyedia­ an PSU yang memadai sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dengan mengintegrasikan konsep penanganannya melalui pemanfaatan potensi wilayah disekitarnya. Stimulan melalui program PLP2K­BK diberikan dalam bentuk pemberian komponen fisik berupa pem­ buatan gorong­gorong, jalan steger, saluran precast, dan penerangan jalan. Hal ini diharapkan dapat mengemba­ likan fungsi kampung Bagan sesuai dengan rencana tata ruang wilayahnya sebagai kawasan kampung tua yang diarahkan sebagai cagar budaya dan kawasan wisata laut yang dikelilingi hutan mangrove. Program PLP2K­BK di kampung Bagan maupun di beberapa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia diharapkan dapat menjadi stimulan bagi penanganan permukiman kumuh di Indonesia yang cenderung ber­ tambah. PLP2K­BK ini diharapkan menjadi skenario pe­ nanganan yang diimplementasikan secara konsisten oleh para stakeholder terkait, khususnya pemerintah daerah dan masyarakat dalam rangka mewujudkan lingkungan hunian yang layak, aman, nyaman dan sejahtera.

30

Edisi 2 Tahun 2011

Kegiatan Dekonsentrasi
Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2011

S

esuai dengan pelaksanaan misi ke­5 Kementerian Perumahan Rakyat yaitu “Meningkatkan Peran Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan Lainnya dalam Pembangunan Perumahan dan Permukim­ an”, Kementerian Perumahan Rakyat melaksanakan kegiatan Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2011. Tujuan dari pelaksanaan Dekonsen­ trasi Tahun 2011 adalah peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam pembangunan perumahan dan permukiman, sedangkan sasarannya adalah meningkatnya pemahaman dan kesadaran pemerintah daerah terhadap pembangun­ an perumahan di daerah dan meningkatnya kapasitas pemerintah daerah dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan serta evaluasi pembangunan perumahan. Pada tahun 2011 ini, kegiatan utama Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat terdiri dari dua kegiatan utama yaitu Sosialisasi Kebijakan dan Peningkatan Kapasi­ tas Daerah. Kegiatan Sosialisasi Kebijakan Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman telah dilaksanakan pada 33 provinsi dalam waktu 2 (dua) bulan. Kegiatan sosialisasi ini dilaksa­ nakan untuk mengenalkan kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan Rakyat, sasarannya yaitu aparat pemerintah provinsi dan kabupa­ ten/kota serta stakeholders terkaitperumahan, agar mereka mengetahui arah kebijakan dan program yang dilaksana­ kan oleh Kementerian Perumahan Rakyat. Kegiatan ini melibatkan semua unsur di unit Kedeputian di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat yang bertindak sebagai nara sumber, mulai dari tingkat eselon IV sampai dengan tingkat eselon I yang bertugas menyampaikan segala infor­ masi yang dibutuhkan Pemerintah Daerah terkait kebi­ jakan bidang perumahan dan kawasan permukiman. Contoh hasil pelaksanaan Sosialisasi Kebijakan bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman adalah Sosialisasi di Provinsi Jawa Timur. Persoalan perijinan dalam pemba­ ngunan rumah adalah salah satu rintangan yang dihadapi masyarakat Jawa Timur dalam pemenuhan kebutuhan perumahan diutarakan pada kegiatan Sosialiasasi Kebi­ jakan Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman di JawaTimur. Sementara itu pada acara Kegiatan Sosialisasi Kebijakan Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman di Sumatera Selatan yang dihadiri oleh Sekretaris Kementerian Peru­

sumber foto: Bagian Data dan Pelaporan, BPA

mahan Rakyat ­ Dr. Iskandar Saleh, menyampaikan bahwa masih sulitnya membangun perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), ditengarai karena komit­ men yang tidak dimiliki Pemerintah Daerah. Beliau mengatakan bahwa dalam Undang­Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor 1 Tahun 2011 Pasal 105, disebutkan tanggung jawab ketersediaan lahan dan rencana tata ruang berada di pundak Pemda. Dalam kesempatan itu pula, disampaikan program pembangunan rumah murah bagi keluarga miskin dan ber­ penghasilan rendah. Pada tahun anggaran 2011 Kemen­ pera menargetkan 100.000 unit rumah murah. Saat ini baru Kota Malang (Jawa Timur) yang menangkap peluang ini dengan meminta 10.000 unit rumah. Ditegaskan bahwa hal ini bergantung pada inisiatif dari walikota/bupatinya. Bersedia atau tidak menyediakan ru­ mah murah bagi warganya. Beliau juga mengatakan, syarat yang diperlukan untuk pengajuan program ini hanya satu yaitu Pemda menyediakan tanah. Untuk urusan infrastruktur dan prasarana Kementerian Perumahan Rakyat akan menyediakan, termasuk keterse­ diaan fasilitas umum, sosial, mikrodrainase, saluran air dan listrik. Itu artinya, rumah tersebut siap huni dengan nilai bangunan yang dikreditkan senilai 20 juta sampai dengan 25 juta dengan cicilan sekitar Rp. 200.000 per bulan, untuk tipe 36. Sesuai amanat Undang­Undang Nomor 1 Tahun 2011, maka keluarga miskin dan berpenghasil­ an rendah berhak atas rumah murah, dan hak ini harus dipenuhi oleh Pemda. (Ochi)

31

Liputan

Pertemuan Forum Perencana Muda Internasional (International Young Planners Forum) ke-2
Yogyakarta 13-15 Juli 2011
sumber foto: David A. Sagita/INFORUM

“End of Cities”

Pemukulan gong oleh Ir. Joessair Lubis, C.E.S. (Direktur Perkotaan, Direktorat Jenderal Penataan Ruang).

E

nd of Cities, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Akhir Kota’ adalah sebuah tema jenius yang diangkat pada Pertemuan Forum Perencana Muda Internasional (International Young Planners Forum – IYPF) ke­2 pada pertengahan Juli kemarin di Yogyakarta. Alasan dipilihnya tema tersebut dikarenakan pada saat ini kita telah memasuki milenium perkotaan. Tahun 2007 tercatat sebagai tahun bersejarah bagi umat manusia dengan ditandainya terjadi pergeseran demografis besar penduduk dunia, penduduk perkotaan lebih tinggi dari pada penduduk perdesaan untuk pertama kalinya. Pada 2011, populasi dunia diperkirakan mencapai 7 miliar jiwa, sebagian besar dari mereka hidup di kawasan Asia. Tahun 2015 akan ada 358 kota dengan penduduk lebih dari 1 juta di seluruh dunia dan 153 kota tersebut ada di Asia. Kencenderungan populasi

yang mengkhawatirkan tersebut memberikan peringatan kepada kita bahwa kota menjadi sebuah ajang pertempuran untuk menentukan kalah atau menang kepada generasi masa depan. Banyak dari kota­kota besar dan mega­kota (megacities) di dunia mengalami kejatuhan. Makin memburuknya kemacetan, polusi yang semakin meningkat, bertambahnya ukuran dan jumlah kemiskinan serta permukiman kumuh dan liar dengan sanitasi buruk dan rendah pasokan air, adalah beberapa contoh bagaimana kita akan kehilangan tanah yang kita miliki. Terlebih lagi kita di Asia Pasifik tinggal dalam sebuah jalur api (ring of fire) yang membuat kota­kota kita sangat rentan terhadap bencana. Yogyakarta pada tahun 2006 dan 2010 serta Jepang 2011 adalah sebagian contoh kecil bagaimana bencana datang tanpa pemberitahuan dan kota­kota tersebut hancur. Hal ini diperburuk lagi dengan makin meningginya suhu di dunia, membuat kota­kota besar kita tidak nyaman lagi sebagai tempat tinggal. Hal ini kemudian menjadi perhatian utama dari 150 peserta yang hadir, 45 peserta diantaranya dari mancanegara Malaysia, Australia, Singapura dan India. Pemilihan kota Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan IYPF kali ini bukan tanpa alasan. Dari sisi sejarah, kota Yogyakarta pernah menjadi ‘kota raja’ kerajaan Mataram Islam sekitar abad 15 sampai abad 16 tepatnya di kawasan Kota Gede. Sekitar abad 17 adanya Kasultanan Yogyakarta berdiri dengan pusat pemerintahan Keraton Yogyakarta berada di Desa Beringharjo. Pada masa awal berdirinya Republik Indonesia, Yogyakarta sempat menjadi ibukota negara pada kurun tahun 1945­1949. Pada tahun 1950 Yogyakarta mendapatkan status sebagai Daerah Istimewa setingkat Provinsi. Awal tahun 2006, kota Yogyakarta diguncang oleh gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter dan tahun 2010 bencana kembali terjadi dengan

32

Edisi 2 Tahun 2011

meletusnya Gunung Merapi pada bulan Oktober. Selain Menteri Pekerjaan Umum yang dibacakan oleh Direktur bencana, Yogyakarta juga memiliki salah satu contoh Perkotaan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Ir. Joessair praktek unggulan dalam penanganan permukiman Lubis, C.E.S.. Dalam sambutannya Menteri Pekerjaan kumuh yaitu penanganan kawasan permukiman di Umum menekankan bahwa pembangunan perkotaan di bantaran sungai Code oleh arsitek Indonesia Y. B. Indonesia harus mulai direncanakan dengan baik. Mangunwijaya atau yang biasa dikenal Selanjutnya sambutan Menteri Negara dengan Romo Mangun. Perumahan Rakyat yang dibacakan oleh Staf Dalam pertemuan ini ada 3 sub tema Khusus Menteri Negara Perumahan Rakyat nasib yang dibahas untuk mendukung tema bidang Peran Serta Masyarakat Ir. Qoyum masa depan A. J., M.Si. menyampaikan tanggapan atas tersebut yakni; 1. Identifikasi Sistem kota kita Perencanaan di setiap negara peserta tema“End of Cities” dengan prespektif ‘PPP’ (Identifying Planning Systems in each Perumahan, Perkotaan dan Peradaban. ada members countries), 2. Konsep dari Kota di tangan Rumah membentuk kota dan kota berujung Masa Depan (the Concept of Future Cities), peradaban kaum muda pada akan tamat sebuah bangsa. Jika kota­ 3. Penyusunan roadmap pembangunan kota riwayatnya, kenapa itu bisa Kota Masa Depan (Roadmap of the Future terjadi dan kalau benar terjadi maka seperti Cities). Selain itu, pertemuan ini bertujuan apa bentuk kehidupan pasca­kota? Menteri untuk memperbaharui deklarasi IYPF dan mendorong Negara Perumahan Rakyat juga menekankan bahwa terbentuknya Forum Perencana Muda tingkat Asia nasib masa depan kota kita ada di tangan kaum muda, Pasifik. sehingga diharapkan pertemuan­pertemuan seperti Pertemuan ini dibuka oleh Ketua Umum Ikatan IYPF tidak hanya menghasilkan sebuah kesepakatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia yang diwakili yang ditanda­tangani oleh orang banyak tetapi juga oleh Sekretaris Jenderal IAP Indonesia Ir. Bernardus menghasilkan sebuah program yang nyata serta dapat R. Djonoputro. Dalam sambutannya Bernadus diimplementasikan di Indonesia. menyampaikan pentingnya membuat jejaring kerja sama Pada kesempatan ini juga diluncurkan 2 buah buku di bidang perencanaan kota dan mengharapkan IYPF yaitu “the State of Asian Cities 2010/11” yang diterbitkan menjadi salah satu jejaring yang mampu mewujudkan itu. oleh UN­Habitat dan“State of Indonesian Cities 2010” Kemudian acara dilanjutkan oleh pembacaan sambutan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Penataan
sumber foto: istimewa

33

Liputan
Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Masing­masing buku tersebut diserahkan kepada pemangku kepentingan di bidang perkotaan yang diwakili oleh perwakilan lembaga akademis, pemerintah kota Yogyakarta, Yayasan Yogya Kota Kita, perwakilan YUF Indonesia, Ketua IAP Yogyakarta dan perwakilan peserta. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi pertama dengan topik diskusi ‘Apakah kita memiliki sistem perencanaan yang tepat dalam menjawab tantangan perencanaan saat ini?’ (Do we have the right planning system to address planning challenge today?). Untuk sesi kedua topik yang diangkat adalah ‘Apa yang kita mau dari kota kita di masa depan? (What do we want our future cities to be?). Kedua sesi ini menghadirkan 4 pembicara dari Malaysia, Singapura, Australia dan Indonesia dengan moderator Noorliza Hasyim, mantan Ketua Malaysia Institute of Planning. Malam harinya para peserta diundang untuk menghadiri jamuan makan malam dari Walikota Yogyakarta. Pada kesempatan ini para peserta berkesempatan untuk melakukan diskusi ringan tentang bagaimana Walikota Yogyakarta menghadapi bencana yang terjadi di kota Yogyakarta. Pada hari kedua para perencana muda ini mengadakan sebuah pertemuan pararel dengan agenda khusus untuk membahas isi dari draft deklarasi IYPF Yogyakarta yang telah dirumuskan oleh tim perumus dari Indonesia dan Malaysia. Di lain kesempatan, Direktur Eksekutif IAP Indonesia mengemukakan “Forum ini dimaksudkan sebagai wadah tukar informasi antar perencana muda di wilayah Asia Pasifik mengenai permasalahan yang dihadapi kota­kota di regional. Kami berharap suara para perencana muda Asia­Pasifik dapat menggugah para pemimpin kota untuk menaruh perhatian lebih besar pada aspek keberlanjutan pembangunan kota”. (DVD)
sumber foto: David A. Sagita/INFORUM

Forum Perencana Muda International 13-15 Juli 2011 Yogyakarta, Indonesia

Mempromosikan pertukaran pengetahuan tentang perencanaan kota berkelanjutan

DEKLARASI RENCANA AKSI YOGYAKARTA

S

etelah deklarasi yang dibuat di Kuala Lumpur Forum Perencana Muda Internasional perdana pada 18 Oktober 2010, kami, para perencana muda dari Indonesia, Malaysia, Australia, dan Singapura telah berkumpul di Yogyakarta, Indonesia dari 13 ke-15 Juni 2011 untuk membangun kerjasama berdasarkan kebersamaan visi menuju kota layak huni dan berkomitmen untuk lebih meningkatkan masa kualitas kota-kota kita di masa depan dengan mencontoh dan menerapkan praktek perencanaan yang baik. Membuat rencana aksi sebagai berikut: IYPF mendesak peserta: (a) untuk belajar dari praktek perencanaan kota terbaik dan terburuk antara satu sama lain, (b) untuk mendukung agenda pemerintah dalam perencanaan kota berkelanjutan, (c) untuk secara aktif membantu Pemerintah untuk memecahkan berbagai masalah perkotaan dengan menelurkan ide-ide dan solusi, (d) untuk membentuk kemitraan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan dalam melakukan penelitian dan dalam menerapkan rencana aksi pada perencanaan kota yang berkelanjutan. Kami juga akan mendorong peluang-peluang: 1. Memperluas jejaring IYPF ke negara lain di wilayah Asia-Pasifik; 2. Melakukan pertukaran perencana internasional; 3. Membangun sebuah situs yang diperbarui secara teratur untuk praktek perencanaan terbaik di setiap negara; 4. Menyelenggarakan pertemuan Forum Perencana Muda Internasional pada 2013 untuk mengevaluasi pencapaian rencana aksi ini dan mencari lokasi yang tepat.

34

Edisi 2 Tahun 2011

2011 Kemenpera Raih Opini WTP BPK ke-5
sumber foto: Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

K

Menpera: Kinerja Kemenpera Harus Lebih Baik
akumulasi angka kekurangan rumah) yang ada di Indonesia. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk 2010 lalu, diketahui angka backlog perumahan di Indonesia mencapai angka lebih dari 13 juta unit. “Kami berharap Pemerintah Daerah (Pemda) setempat bisa ikut memberikan perhatian khusus terhadap sektor atau bidang perumahan di daerahnya masingmasing. Kementerian Perumahan Rakyat dalam hal ini akan terus mendorong serta memberi stimulan baik melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) serta Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) agar daya beli masyarakat terhadap perumahan bisa lebih ditingkatkan”, tandasnya. LHP atas Laporan Keuangan Kemenpera Tahun 2010 tersebut terdiri dari LHP yang memuat opini atas kewajaran laporan keuangan, LHP atas Sistem Pengendalian Intern (SPI), dan LHP atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan Sementara itu, Ketua BPK Hadi Purnomo mengatakan Jumlah Kementerian/Lembaga yang laporan keuangannya memperoleh opini WTP meningkat pada 2011. Dari 33 Lembaga Negara/Kementerian Negara/ Lembaga Non Kementerian yang diperiksa oleh Auditoriat Keuangan Negara III, 70 persen WTP dan 30 persen Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Hadi Purnomo menambahkan pada tahun 2008, Kementerian/Lembaga yang memperoleh opini WTP sebanyak 15 institusi sementara pada 2011 mencapai 22 institusi.

ementerian Perumahan Rakyat kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2010. Opini WTP dari BPK ini merupakan yang kelima secara berturut-turut setelahsebelumnya Kementerian Perumahan Rakyat memperoleh WTP dari hasil audit BPK atas laporan keuangan Tahun Anggaran 2006-2009. Opini WTP dari hasil audit BPK ini diterima langsung oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa yang diserahkan oleh Ketua BPK Hadi Purnomo pada acara Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan di lingkungan Auditorat Keuangan Negara III Atas Laporan Keuangan Tahun 2010 di ruang Auditorium Kantor Pusat BPK, Jumat (24/6) kemarin. Menteri Negara Perumahan Rakyat menyatakan, prestasi Kementerian Perumahan Rakyat yang berhasil mempertahankan opini WTP BPK ini harus bisa memacu semangat kerja para karyawan di lingkungan Kemenpera. Salah satunya adalah dengan membuat kebijakan perumahan yang pro rakyat. “Adanya prestasi ini (opini WTP BPK-red) harus bisa meningkatkan kinerja seluruh karyawan Kemenpera ke depan,” ujar Suharso Monoarfa kepada sejumlah wartawan. Kementerian Perumahan Rakyat, ujar Suharso Monoarfa, terus berupaya untuk mengatasi backlog (jumlah

35

Liputan

Kemenpera Sosialisasikan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011
sumber foto: Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

K

ementerian Perumahan Rakyat melakukan kegiatan sosialisasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sosialisasi UndangUndang Nomor 1 Tahun 2011 ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Kementerian/Lembaga dan seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan untuk memahami dalam pengambilan kebijakan yang terkait bidang perumahan dan kawasan permukiman. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Yoseph Umar Hadi dan Staf Ahli Menpera Bidang Tata Ruang, Pertanahan dan Permukiman, Yusuf Yuniarto

dan Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo. Kegiatan yang dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Kemenpera, Hazaddin TS yang mewakili Sesmenpera Iskandar Saleh ini diikuti lebih dari 100 peserta yang berasal dari seluruh Deputi dan unit kerja lingkup Kemenpera, perwakilan Kementerian dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Pemerintah Daerah, asosiasi pengembang dan kalangan perbankan serta perguruan tinggi. Menurut Yoseph Umar Hadi, dengan adanya Undang-Undang ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman untuk mewujudkan kualitas kehidupan yang lebih baik, setidaknya ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam program pembangunan perumahan

dan kawasan permukiman di Indonesia. “Beberapa permasalahan itu antara lain keterbatasan lahan untuk perumahan, terutama di kota besar, harga tanah yang sangat mahal, Pemerintah Daerah tidak memiliki konsep penyediaan tanah untuk perumahan, konsep tata-ruang yang tidak jelas dan alih fungsi lahan”, tandasnya. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011, imbuhnya, juga terdapat beberapa hal pokok yang menunjukkan adanya perhatian khusus dari pemerintah terhadap penyediaan perumahan bagi masyarakat. Hal-hal pokok itu yakni negara bertanggung jawab dalam menyediakan rumah, pemerintah harus lebih berperan terutama terhadap pemenuhan rumah bagi MBR, peningkatan kapasitas

36

Edisi 2 Tahun 2011

kelembagaan yaitu, peningkatan status Menteri yang membidangi Perumahan dan Kawasan Permukiman dari kategori C menjadi B, adanya kewajiban negara yang di delegasikan secara merata dari Pusat sampai ke daerah, alokasi anggaran perumahan tidak hanya harus ada di APBN, tapi juga APBD, Revisi Tata Ruang, Konsolidasi Tanah dalam bentuk bank tanah, Kasiba dan Lisiba, alokasi anggaran untuk MBR, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman. Perkuat Peran Pemerintah Daerah Hal senada juga disampaikan Staf Ahli Menpera Bidang Tata Ruang, Pertanahan dan Permukiman, Yusuf Yuniarto. Dirinya mengungkapkan, Undang-Undang ini sebenarnya juga memperkuat peranan pemerintah daerah karena perumahan merupakan urusan wajib daerah. “Grand design perumahan ingin menempatkan perumahan dalam suatu kawasan, Pembukaan UUD 1945 menyebutkan cita-cita untuk memajukan kesejahteraan umum, dan salah satu indikator kesejahteraan umum adalah perumahan,” terangnya. Kepala Biro Hukum dan Kepegawaian Kemenpera, Agus Sumargiarto menyatakan, sosialisasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 yang dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan Rakyat merupakan salah satu bentuk penyebarluasan kebijakan sektor perumahan dan kawasan permukiman. “Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 juga menjadi pengganti Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,” ujarnya. Menurut Agus Sumargiarto,

salah satu indikator kesejahteraan umum adalah perumahan
pemerintah ke depan terus berupaya membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam pemenuhan kebutuhan rumah. Oleh karena itu, Kementerian Perumahan Rakyat yang bertanggungjawab sebagai sektor yang menangani bidang perumahan dan kawasan permukiman dirasa perlu melakukan sosialisasi Undang-Undang baru ini. “Sosialisasi ini dilakukan dalam rangka mengintegrasikan kebijakan di sektor perumahan dari pusat sampai daerah. Selain itu juga untuk menjawab berbagai permasalahanpermasalahan yang ada dalam program pembangunan perumahan dan kawasan permukiman,” katanya. Agus berharap, melalui sosialisasi ini akan muncul sinergi positif dalam pengambilan kebijakan dalam bidang perumahan dan kawasan permukiman di masa mendatang. Apalagi rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat serta menjadi aset bangsa dan tolok ukur kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo menyatakan, pihaknya sangat menyambut baik adanya UndangUndang ini. Sudaryatmo melihat kelahiran Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman sekurang-kurangnya dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, Undang-Undang ini merupakan jawaban solusi atas berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat dalam pengadaan perumahan, baik yang dibangun

oleh pemerintah maupun oleh pengembang swasta. “Salah satu batu uji keberhasilan Undang-Undang ini adalah apakah Undang-Undang ini bisa menekan sengketa/masalah yang mucul di masyarakat dalam pembangunan perumahan di masa yang akan datang”, harapnya. Sedangkan perspektif yang kedua, katanya, Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman dapat menjadi alat rekayasa sosial (social engineering) dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di masa yang akan datang. Dengan demikian, melalui Undang-Undang perumahan dan kawasan permukiman ini kita semua dapat membayangkan situasi seperti apa kondisi perumahan dan kawasan permukiman lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman menegaskan bahwa rumah berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga yang mendukung perikehidupan dan penghidupan juga mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya dan penyiapan generasi muda. Kebutuhan rumah bagi masyarakat dapat dilakukan dengan kepemilikan dengan cara sewa maupun cara lain sesuai peraturan perundang-undangan. Meskipun pada dasarnya pemenuhan kebutuhan rumah merupakan tanggung jawab masyarakat secara mandiri, namun dukungan pencapaiannya membutuhkan pelibatan pemerintah, pemerintah daerah baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta para pemangku kepentingan bidang perumahan dalam merealisasikannya.

37

Liputan

Rapat Koordinasi Dekonsentrasi
Lingkup Kemenpera Tahun 2011 Jakarta 20-22 Juli 2011

R

apat Koordinasi Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2011 telah dilaksanakan pada tanggal 20­22 Juli 2011 di Hotel Ambara, Jakarta. Acara Rapat Koordinasi ini dihadiri oleh peserta sebanyak 105 orang, yang terdiri dari 72 orang utusan SKPD (KPA, PPK, dan Bendahara Pengeluaran) dan 33 orang TAPP dari 33 Provinsi. Selain itu Rapat Koordinasi dihadiri juga oleh para pejabat di lingkungan kedeputian Kementerian Perumahan Rakyat dan 2 orang narasumber dari Kementerian Keuangan, yaitu Direktur Pelaksana Anggaran, Ditjen Perbendaharaan (drs. Tri Buwono Tunggal) dan Kepala Seksi Subdit Pelaksana Anggaran Direktorat Perbendaharaan (drs. Burhani, M.M.). Pelaksanaan kegiatan Rapat Koordinasi menampilkan pemaparan materi terkait pelaksanaan Dekonsentrasi Tahun 2011 dan disampaikan oleh para narasumber baik dari Kemenpera maupun dari Kemenkeu. Sistem yang digunakan adalah diskusi interaktif dan tanya jawab yang dibagi dalam 3 kelompok, masing­masing Kelompok Perencanaan, Kelompok Pelaksanaan dan Kelompok Pelaporan. Kegiatan Dekonsentrasi Tahun 2011 telah dimulai pada bulan Maret 2011 dan telah menyelesaikan

sumber foto: Sekretariat Dekonsentrasi Kemenpera

Suasana Kelas B (Peserta SKPD) pada hari kedua (21 Juli 2011) tentang Pemaparan Tata Cara Pencairan Revisi DIPA Dekonsentrasi.

beberapa rangkaian kegiatan antara lain sosialisasi kebijakan bidang perumahan dan kawasan permukiman provinsi dan sebahagian kegiatan peningkatan kapasitas daerah dalam hal perencanaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman. Rapat Kerja bertujuan untuk meningkatkan sinergitas dan efektivitas pelaksanaan Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011 serta dalam rangka penyiapan kegiatan Dekonsentrasi Tahun 2012. Disamping itu juga sebagai upaya peningkatan kapasitas Tenaga Ahli

Perumahan Provinsi (TAPP) dan SKPD terkait. Rencana tindak lanjut kegiatan Rapat Koordinasi Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011 antara lain bahwa Kementerian Perumahan Rakyat akan mengirimkan surat kepada setiap SKPD Provinsi terkait tingkat penyerapan alokasi dana/ anggaran yang rendah dalam rangka meningkatkan kinerja provinsi, serta melakukan koordinasi penyusunan anggaran kegiatan Dekonsentrasi Tahun 2012 antara Kemenpera dan SKPD Provinsi.

38

Edisi 2 Tahun 2011

Peringati Hapernas,

Kemenpera Adakan Workshop dan Pameran

K

Kerjasama Kemitraan Pemangku Kepentingan Dalam Penyelenggaraan Rumah Murah
kerjasama dan kemitraan Pemerintah, Badan Usaha dan Badan Nirlaba tentang kerjasama dan kemitraan untuk rumah murah. Seperti yang kita ketahui bersama Pemerintah beberapa waktu lalu meluncurkan program pro­rakyat salah satunya adalah penyediaan rumah murah bagi MBR. Rumah murah ini diperuntukkan bagi masyarakat berpendapatan antara Rp 1,2 juta hingga Rp 2,5 juta dengan harga sebesar Rp 20­25 juta per unit. Rumah murah merupakan program pro­rakyat yang diwujudkan dengan sinergitas pemerintah, melalui dukungan penyediaan PSU, pembebasan harga tanah, dan biaya perizinan dalam membangun perumahan. Selain terjangkau oleh masyarakat, dan juga rumahnya tersedia di pasaran, bagaimana pun
sumber foto: Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

ementerian Perumahan Rakyat dalam rangka Per­ ingatan Hari Perumahan Nasional (HAPERNAS) menyeleng­ garakan Workshop “Kerjasama Kemi­ traan Pemangku Kepentingan dalam Penyelenggaraan Rumah Murah” di Hotel Bidakara Jakarta. Workshop ini diharapkan dapat menjadi upaya dan usaha untuk mencari dan merumus­ kan langkah­langkah kebersamaan para mitra dalam mewujudkan rumah murah untuk rakyat Salah satu tujuan workshop ini adalah sebagai sarana sosialisasi dan pendalaman pemahaman kebijakan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman termasuk penyelenggaraan rumah murah. Hapernas sendiri diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 Agustus, dan tahun ini mengambil tema “Dengan Sinergi Pusat, Daerah dan Mitra, Kita Wujudkan Rumah Murah untuk Rakyat”. Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa dan dihadiri sekitar 500 peserta dari Pemerintah, Pemda, Perbankan, Badan Usaha (BUMD, BUMD, Mitra Swasta, Koperasi), Badan Nirlaba (Asosiasi perusahaan dan profesi, Yayasan, Perhimpunan), serta media massa. Bertindak sebagai pembicara dalam workshop ini antara lain Iskandar Saleh (Sesmenpera), Yosef Umar Hadi (DPR­RI), Michel Sudarskis (Secretary General INTA), dan Effendi Gazali (Dosen UI). Dalam kesempatan ini juga ditandatangani sebuah MOU (Memorandum of Understanding)

rumah tersebut harus layak huni, yaitu handal, memenuhi kecukupan luas minimum, dan menjamin kesehatan bagi penghuninya, dan berada pada lingkungan perumahan yang sehat dan aman, serta dibangun sesuai RTRW, ada kepastian Hak Atas Tanah dan IMB, serta dukungan infrastrukturnya memadai. Hasil workshop ini mencakup program atau rencana aksi guna mempercepat perwujudan rumah murah bagi masyarakat Indonesia. Dalam kesempatan ini juga dilakukan Deklarasi pemangku kepentingan industri perumahan dan kawasan permukiman dalam mendukung program penyelenggaraan rumah murah yang ditandatangani oleh para stakeholder perumahan diantaranya Perum Perumnas, DPP Apersi, DPP REI, Asbanda, IAI, IAPPI, MP3I dan IAP. *AP

39

Kata Pemangku Kepentingan

Perumnas Garda Depan Penyedia Hunian Berimbang
Himawan Arief Sugoto, Direktur Utama Perumnas

T

idak dapat dipungkiri, akhir­akhir ini khususnya di kota­kota besar marak berkembang kawasan perumahan elit dengan pola klaster (cluster). Pola ini akhirnya membentuk kelompok eksklusif pada area perumahan dan permukiman yang berpotensi memicu timbulnya berbagai masalah yang terkait dengan tata ruang maupun problem sosial. Sinyal permasalahan ini sebenarnya telah diantisipasi oleh pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat dengan mencanangkan program hunian berimbang (LHB) 1:3:6 sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 4/KPTS/BKP4N/1995 yang merupakan ketentuan lanjutan dari Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 648­384 tahun 1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian Ber­ imbang. Dalam Undang­Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 diamanatkan kembali tentang konsep hu­ nian berimbang yang menekankan pada pembangunan perumahan dengan konsep pemenuhan 1 Rumah mewah 3 rumah menengah dan 6 Rumah Sederhana Sehat. Konsep ini diharapkan dapat menciptakan harmonisasi lingkungan perumahan yang apabila dikembangkan dalam skala besar akan mendukung dan menciptakan tingkat hunian yang nyaman di perkotaan. Lalu bagaimana dengan kesiapan para pengembang dalam menyukseskan program ini? Ditengarai apabila diterapkan akan banyak pengembang yang enggan melak­ sanakan konsep hunian tersebut, apalagi di perkotaan yang harga tanahnya sudah melambung tinggi. Bagi Perumnas konsep hunian berimbang 1:3:6 bukan meru­ pakan hal baru mengembangkan kawasan perumahan dan permukiman skala besar. Namun seiring dengan mahalnya harga tanah khususnya di perkotaan, konsep ini mejadi su­ lit untuk diterapkan oleh Perumnas maupun pengembang yang lain. Menyikapi hal ini Perumnas bersama dengan pe­ ngembang lain membutuhkan insentif, misalnya berupa keringanan pembayaran PBB serta peran pemerintah daerah dalam penyediaan lokasi dan pengendalian harga tanah. Prinsip Perumnas sebagai satu satunya BUMN pengembang dengan tugas pokok serta fungsi sebagai

penyedia perumahan bagi MBR, siap bersinergi dengan pengembang swasta yang dirasa kesulitan mengembang­ kan rumah sejahtera tapak. Untuk itu, Perumnas membutuhkan penunjukan khusus sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam melaksanakan proyek tersebut. Perumnas yang telah 37 tahun berkiprah dalam pengembangan perumahan dan permukiman skala besar sangat mengapresiasi adanya konsep hunian berimbang 1:3:6 ini, namun dirasa masih ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan Perumnas dalam melaksanakan program ini diantaranya adalah masalah pendanaan serta masalah penyediaan lahan. Masalah pengadaan lahan yang selama ini menjadi benturan bagi para pengembang tidak terkecuali Perum­ nas harus menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah. Dalam hal ini Perumnas membutuhkan land bank yang cukup untuk dapat menjalankan progam kerjanya dan untuk memaksimalkan progam tersebut. Pemerintah dapat memberikan lahan non produktif yang lokasinya sudah tidak tepat untuk industri atau perkebunan, se­ hingga memungkinkan untuk melakukan implementasi konsep hunian berimbang. Dengan adanya pengelolaan land banking maka harga tanah dapat dikendalikan. Akan sangat sulit apabila di satu sisi harga tanah melambung tinggi namun di sisi lain para pengembang diwajibkan untuk membangun Rumah Murah atau Rumah Seder­ hana Tapak/Susun. Hal ini merupakan anomali yang berdampak pada kalkulasi biaya yang mempengaruhi keuntungan para pengembang. Sehingga program ini kurang diminati tidak terkecuali Perumnas. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah ke depan agar program ini dapat berjalan sesuai dengan harapan. Program hunian berimbang 1:3:6 memang dapat dijadikan koridor awal dalam mengawal kesejahteraan rakyat khususnya untuk kecukupan kebutuhan peru­ mahan dan permukiman namun tetap mengedepankan aspek tata ruang dan sosial dimana diharapkan mampu menciptakan lingkungan hunian yang harmonis, teratur dan tentunya dapat meminimalisir gejolak­gejolak sosial yang diakibatkan oleh penataan konsep premukiman yang kurang baik. Maka tidak terlalu berlebihan apa­ bila Perumnas Siap menjadi garda depan pembangunan perumahan dan permukiman dengan konsep hunian berimbang di Indonesia.

40

Tanya Jawab Perumahan

Edisi 2 Tahun 2011

sumber foto: istimewa

Tanya:

-

Program Rumah Murah dan FLPP Dengan hormat, yang ingin saya tanyakan : 1) Bank mana yang dapat saya hubungi untuk mendapatkan informasi tentang FLPP atau Program Rumah Murah? 2) Dinasapa di Kabupaten Bandung yang menangani program di atas? SofianSauri

-

Jawab:

Saudara Sofian, terima kasih atas pertanyaannnya, berikut jawaban kami:

Bank yang dapat dihubungi tentang program FLPP KPR Sejahtera adalah BTN dan Bukopin, sedangkan untuk Bank Pembangunan Daerah adalah BPD NTT, BPD Sumatera Utara Konvensional dan Syariah, BPD Kalimantan Timur, BPD Papua, BPD Sumatera Selatan Bangka Belitung, BPD Riau Kepri Konvensional dan Syariah. Peraturan untuk menunjang Program Rumah Murah masih dalam persiapan karena memerlukan pembahasan lebih lanjut tentang perijinan dan penyediaan tanah. Di Bandung, silahkan hubungi BTN, BNI ’46 dan Bukopin untuk mendapatkan keterangan lebih rinci tentang Program KPR Sejahtera FLPP. Dinas Perumahan tidak menangani program FLPP KPR.

Tanya:

Lokasi perumahan yang ikut program KPR bersubsidi PNS Salam, saya sudah coba hubungi nomor telepon BLU Pusat Pembiayaan Perumahan tapi tidak diangkat padahal masih jam kerja, boleh saya minta informasi dimana saja lokasi perumahan yang ikut program KPR Bersubsidi PNS. Aditya

-

Jawab:
-

Terima kasih Saudara Adhitya. Nomor telepon BLU Pusat Pembiayaan Perumahan Kemenpera adalah 021-7220050 Program KPR Bersubsidi tidak ada dan telah diganti dengan KPR Sejahtera dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR Sejahtera FLPP) untuk masyarakat

-

berpenghasilan rendah, yaitu KPR dengan bunga satu digit sepanjang masa tenor. Persyaratan KPR Sejahtera FLPP adalah : - Belum pernah memiliki rumah/hunian - Belum pernah menerima subsidi perumahan - Mempunyai penghasilan max Rp 2,5 juta/bulan - Memiliki NPWP dan SPT Tahunan Pph Orang Pribadi Bunga kredit melalui FLPP sebesar 8,15-8,50% untuk rumah sejahtera tapak dengan uang muka minimal 10%. Adapun suku bunga FLPP yang ditetapkan untuk rumah sejahtera susun antara 9,25% hingga 9,95% dengan uang muka minimal 12,5%. Tentang lokasi perumahan yang dapat dibeli melalui KPR Sejahtera FLPP lebih jelasnya silahkan ditanyakan kepada Bank Pelaksana Penerbitan KPR Sejahtera FLPP. Mereka mempunyai daftar pengembang yang membangun rumah sejahtera.

41

Intermezzo
SETUBABAKAN

Menguatkan Eksistensi Masyarakat Betawi Melalui

Perkampungan Budaya Betawi
tanahnya, pendatang tidak bisa ke sini. Jakarta tidak bisa dibangun. Jadi, tumbuhnya Jakarta karena kesadaran mereka”, tutur Imron. Pernyataan Imron tersebut sekaligus menjawab latar belakang dibangunnya Perkampungan Budaya Betawi. Lebih jauh lagi Imron menuturkan bahwa dengan adanya perkampungan Budaya Betawi ini dapat dijadikan sebagai wadah sosialisasi nilai-nilai budaya Betawi. “Orang supaya cinta terhadap budaya Betawi perlu ditanamkan rasa memiliki, rasa cinta,dan harus tumbuh berkembang. Karena ada falsafahnya seni akan berkembang pada masyarakat yang masyarakatnya itu sendiri cinta terhadap seni”, ujar Imron. Sementara yang menjadi alasan
sumber foto: Sri/INFORUM

akarta, Ibu kota yang menjadi harapan besar bagi setiap pendatang dari penjuru daerah untuk mengais rezeki. Banyak pendatang baru yang mencoba mencari peruntungan di Jakarta. Ada yang hanya bermodal nekad saja. Jakarta kini sudah bukan milik masyarakat Betawi saja tapi merupakan kebanggaan dan milik seluruh masyarakat Indonesia yang ingin hidup di Ibu kota. Pertanyaannya adalah, bagaimana keadaan masyarakat Betawi itu saat ini? Apakah mereka termarjinalkan oleh para pendatang baru yang memiliki modal yang kuat untuk memiliki dan membangun Jakarta? Menguatkan Eksistensi Melalui Perkampungan Budaya Betawi Jawabannya Tentu tidak. Masyarakat Betawi asli kian menguatkan eksistensinya melalui Perkampungan Budaya Betawi. Salah seorang tokoh masyarakat Betawi yang dijumpai INFORUM, Imron, yang juga menjabat sebagai Kasi Pemberdayaan Masyarakat di Suku Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Selatan, mengatakan bahwa mereka tidak merasa termarjinalkan, oleh para pendatang. “Melihat latar belakang bahwa komunitas Betawi itu semakin berkurang dan karena kebesaran hatinya untuk pembangunan kota Jakarta, orang Betawi dengan suka rela mau melepaskan tanahnya dan pindah ke wilayah lebih pinggir, bukan termajinalkan. Dia dengan sadar, kalau dia tidak mau melepas

mengapa Setu Babakan dijadikan pilihan untuk pembangunan Perkampungan Budaya Betawi adalah karena letaknya lebih asri dan aset pemda ada di sini yaitu Setu Babakan dan Setu Manga Bolong, kata Imron. Perkampungan Budaya Betawi Khusus untuk Masyarakat Betawi Asli Perkampungan Budaya Betawi yang dibangun di kawasan seluas ± 289 Ha ini dikhususkan untuk Masyarakat Betawi Asli dalam rangka melestarikan Budaya Betawi dan ditetapkan lewat Perda Nomor 3 Tahun 2005 tentang Kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Lalu, bagaimana dengan pendatang yang ingin tinggal di Perkampungan Budaya Betawi? Imron tentu memiliki jawaban sendiri untuk hal

Gerbang Masuk Perkampungan Budaya Betawi.

42

Edisi 2 Tahun 2011

ini.

memiliki tempat rekreasi yang menarik, yang tertuang dalam Peraturan Daerah. “Pendatang seharusnya mengerti dan tentunya terbuka untuk semua orang yang Hal senada dituturkan oleh Imron bahwa paham. Bahwa ini kepentingan budaya, ingin berkunjung dan menikmati hiburan aturan yang ditetapkan untuk Masyarakat karena pembinaan harkat martabat yang ada. Areal Situs Perkampungan Betawi yang tinggal di kawasan ini adalah generasi muda hanya bisa dilakukan Budaya Betawi yang merupakan ciri atau berupa Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun melalui perekat budaya. Orang kalau sudah pembeda Perkampungan Budaya Betawi 2005 seperti yang telah diulas pada bagian bicara perekat persatuan dan kesatuan dengan Perkampungan lainnya menjadi awal. melalui ekonomi dan politik akan pecah”, pilihan rekreasi murah dan biasanya “Aturan yang mengikat masyarakat tutur Imron. digunakan sebagai sarana pementasan Betawi yang tinggal di kawasan ini adalah Dari pernyataan tersebut tersirat Budaya Betawi. Perda. Di dalam kawasan itu kita minta bahwa perkampungan Budaya Betawi masyarakat Betawi maupun non Betawi ini tertutup bagi pendatang. Dalam Masyarakat Betawi Terikat Aturan Perda untuk menyesuaikan diri, membina, artian, hanya diperuntukkan bagi Bagi Masyarakat Betawi yang tinggal melestarikan dan mengembangkan budaya masyarakat Betawi Asli untuk tinggal di di kawasan Perkampungan Budaya Betawi, Betawi. Kita tidak memaksa mereka.Itu wilayah tersebut. Akan tetapi INFORUM mereka terikat dengan aturan melalui kesadaran masyarakat menemukan ada Kepala untuk membangun Keluarga yang berasal dari budayanya”, terang Imron. daya Betawi? wasan Areal Situs Bu ya ada di luar tinggal di Kawasan Dalam perjalanannya Apa saja-foto:ng INFORUM dalam Ka Sri/ sumber foto ini. Salah seorang petugas Perkampungan Budaya penjaga keamanan yang Betawi dikawal oleh Satgas dijumpai INFORUM Perkampungan Budaya mengatakan bahwa Kepala Betawi (Satuan Gerakan keluarga itu sudah lama Sosial Perkampungan mendiami wilayah tersebut Budaya Betawi) yang jauh sebelum Perkampungan tentu saja tujuan Budaya Betawi dibangun. utamanya adalah untuk Adapun batas fisik dari mengawal terbangunnya perkampungan Budaya Perkampungan Budaya Betawi adalah sebelah Barat Betawi. Selain itu, ada Jl. Mochamad Kahfi. Sebelah juga Lembaga Pengelola Timur Jl. Desa Putera, dan Perkampungan Budaya tokoh di Sebelah Selatan sampai Betawi yang bertugas elola maupun Informasi. Para peng r Kantor Pengelola Pusat gan Budaya Betawi bisa ditemui di kanto batas tanah baru Jawa Barat. dalam mengelola dan un masyarakat Perkamp Demikian tutur Imron. Untuk melakukan pembinaan ini. mencapai Perkampungan di dalam kawasan ini. Budaya Betawi ini kita bisa Lembaga ini diketuai menggunakan Kopaja 616 dari oleh Abdul Syukur dan arah Blok M menuju ke Cipedak. beranggotakan 14 orang dari masyarakat Areal Situs Membedakan yang dipilih melalui Perkampungan Budaya Betawi proses pemilihan dan dari Pekampungan Lainnya pencalonan sekaligus MeskipunPerkampungan sebagai mitra kerja Budaya Betawi ini dikhususkan pemerintah. Sri untuk masyarakat Betawi asli bukan berarti masyarakat luar tidak bisa masuk ke kawasan Perkampungan Budaya Betawi. berfungsi daya Betawi. Galeri ini ri rumah tangga, Sebagai salah satu kawasan yang leri Perkampungan Bu indust Ga rkan hasil
memame sebagai gedung untukpakaian adat. t musik, prototipe ala

43

Pengelolaan Pengetahuan

Resensi

P

engarusutamaan Gender (PUG) dalam Perumahan dan Kawasan Permukiman (Buku Panduan pembangunan adalah strategi yang digunakan PPRG bidang PKP). untuk mengurangi kesenjangan antara penduduk Panduan tersebut berisi arahan mengenai tata laki-laki dan perempuan Indonesia dalam mengakses cara pengintegrasian isu gender ke dalam sistem dan mendapatkan manfaat pembangunan, serta perencanaan dan penganggaran di Kementerian meningkatkan partisipasi dan mengontrol proses Perumahan Rakyat, dimana penerapan tersebut pembangunan. Hal tersebut sejalan dengan, dilakukan melalui pendekatan Alur Kerja Analisis Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun Gender (Gender Analysis Pathway) dan Anggaran 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Responsif Gender (Gender Budget (PUG) dalam Pembangunan Nasional, Statement). mengamanatkan kepada semua Dengan terbitnya Buku Panduan Kementerian/Lembaga termasuk Perencanan dan Penganggaran yang didalamnya Kementerian Perumahan Responsif Gender bidang Perumahan Rakyat untuk mengintegrasikan PUG dan Kawsan Permukiman, diharapkan pada saat menetapkan kebijakan, seluruh perencana, pelaksana serta penentu menyusun program dan kegiatan kebijakan di lingkungan Kementerian masing-masing. Perumahan Rakyat dapat menggunakannya Dalam rangka menjalankan amanat sebagai acuan dalam menyusun Judul: tersebut, Kementerian Perumahan Rakyat perencanaan dan penganggaran yang Panduan Perencanaan dan bekerja sama dengan Kementerian efisien, efektif, dan berkeadilan bagi Penganggaran yang Resposif Gender: Bidang Perumahan dan perempuan, laki-laki, lansia dan anak Pemberdayaan Perempuan dan Kawasan Permukiman Perlidungan Anak telah menyusun Buku serta orang dengan kebutuhan khusus Penerbit: Kementerian Perumahan Rakyat Panduan Perencanaan dan Penganggaran (disable) di bidang Perumahan dan Tahun: 2011 yang Responsif Gender Bidang Kawasan Permukiman.

B

uku ini membahas perubahan sosial di kotasebaliknya bahwa dalam masyarakat perkotaan kota Indonesia selama proses dekolonisasi. kolonial sudah terbentuk garis pemisah perbedaan Gejolak politik pendudukan kelas yang dominan. Bagian kedua buku ini Jepang dan revolusi Indonesia, dan berfokus pada pergeseran keseimbangan langkah-langkah pertama untuk kekuasaan antara agen-agen utama dalam membangun bangsa yang berdaulat arena perkotaan. yang memiliki dampak besar bagi Beberapa topik khusus yang disajikan masyarakat perkotaan. Perubahandalam buku ini adalah: ketegangan antara perubahan sosial yang dipelajari dari otoritas sipil dan militer; kebencian sudut ruang perkotaan secara umum, yang berkembang di antara penduduk dan penyediaan perumahan pada kota tentang persyaratan ijin tinggal, khususnya. Fokus buku ini terletak program bangunan publik, korupsi, polisi pada masalah yang ada di perumahan pamong praja; permainan kucing dan sehari-hari, dan kombinasinya pada tikus diantara penduduk kampung dan tingkat analisis lokal, serta memberikan perkotaan administrasi; dan pergeseran wawasan segar tentang bagaimana keseimbangan kekuasaan antara tuan pengalaman orang-orang pada zaman tanah dan penyewa. Judul: dekolonisasi. Melalui penggunaan sumber-sumber Under Construction: the Politics Pada paruh pertama buku, penulis sejarah yang sampai sekarang tidak of Urban Space and Housing During the Decolonialization of terpakai, buku ini menyajikan kekayaan mencoba mempertanyakan kembali Indonesia, 1930-1960 tentang gagasan dari pergeseran data baru tentang kota Indonesia dan Penulis: Freek Colombijn perbedaan etnis dan kelas dan proses dekolonisasi selama dekade tahun Penerbit: KITLV Press perubahan sosial yang terjadi selama 1940-an dan 1950 Tahun: 2010 dekolonisasi dan berpendapat

44

Info CD
Film Animasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 (DVD)
Dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman pada tanggal 12 Januari 2011, maka perlu ditindaklanjuti dengan sosialisasi serta penyebarluasan Undang-Undang dimaksud.

Edisi 2 Tahun 2011

Salah satu cara penyebarluasan Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman, maka dibuatlah Film Animasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 guna mempermudah masyarakat dalam memahami kandungan dari isi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Film animasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 bertemakan “Warung Pak Roem” yang memiliki 4 (empat) buah judul, yaitu: Animasi pertama dengan judul “Jangan Asal Bangun”; Animasi Kedua dengan judul “Obral Tanah Air”; Animasi Ketiga dengan judul “Calo”; dan Animasi keempat dengan judul “Pahlawan Kesiangan”. Film animasi ini dicopy dalam bentuk DVD dan disediakan dengan berbagai format file, yaitu format flv, format mp4, dan format mpg.

Kursus Pelatihan tentang Hak Tanah, Properti dan Perumahan di Dunia Islam (CD)
Kursus Pelatihan tentang Hak Tanah, Properti dan Perumahan di Dunia Islam diadakan oleh Global Land Tool Network (GLTN) yang merupakan bagian dari jejaring aktivis Islam dalam bidang pertanahan. Di negara-negara yang menerapkan hukum Islam, teori dan praktek merupakan hal penting yang memiliki kontribusi penting terhadap akses penyediaan lahan. Karena itu GLTN bertujuan untuk salah satunya melakukan identifikasi dan mengembangkan instrumen pertanahan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam serta studi kasus melalui proses silang-budaya, interdisipliner dan bersifat global, tidak hanya yang dimiliki oleh umat Islam tetapi masyarakat sipil dan mitra pembangunan lainnya. Kursus pelatihan ini dirancang sebagai pengantar ke lapangan dan dibagi menjadi delapan modul yang mandiri serta bertujuan agar dapat digunakan di lingkungan masyarakat Islam secara luas. Secara umum modul ini disusun untuk mendorong partisipasi masyarakat lokal dalam melengkapi modul ini ke depan. Sebagai tambahan, modul juga dilengkapi dengan panduan untuk fasilitator dan lampiranlampiran yang diambil dari proses yang berjalan selama pelatihan. Kelompok sasaran untuk pelatihan ini adalah para pengambil kebijakan, peserta pemula atau sarjana strata satu tanpa pengetahuan tentang Hukum Pertanahan Islam tetapi memiliki pengalaman dasar dengan masalah pertanahan di dunia Islam.

45

Pengelolaan Pengetahuan

Info Situs

MUKIMITS

http://www.mukimits.com

US. Department of Housing and Urban Development
http://Portal.hud.gov/portal/ page/portal/HUD
Merupakan situs resmi pemerintah Amerikas Serikat yang menangani bidang perumahan rakyat. Situs ini memberikan kemudahan bagi para pengunjungnya dalam pencarian informasi bidang perumahan yang dibutuhkan. Para pengunjung situs ini dapat pula mencari informasi dan membeli rumah melalui pilihan-pilihan yang ada pada aplikasi “I want to”. Situs ini dapat menjadi panduan yang bermanfaat bagi pengunjung atau masyarakat yang memerlukan informasi perumahan.

Situs ini dikelola oleh Laboratoruim Perumahan dan Permukiman, Jurusan Arsitektur ITS, dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang Perumahan dan Permukiman. Pada situs ini kita dapat menemukan beberapa publikasi yang ditulis oleh beberapa peneliti senior di bidang perumahan dan permukiman seperti Prof. Ir. Johan Silas dan Prof. Dr. Happy Ratna, S, M.Sc.. Situs ini juga memuat penelitian terkini yang sedang dilakukan oleh para anggota labotariumnya, sehingga situs ini sangat menarik untuk menjadi rujukan berbagai pihak yang tertarik dengan bidang perumahan dan pemukiman.

Habitat Indonesia

HRC

http://www.hrcjogja.org/index.php

http://www.habitatindonesia.org/ index.php/home

Habitat for Humanity Indonesia merupakan bagian dari organisasi non-profit Habitat for Humanity International. Berkantor pusat di Jakarta, didirikan pada 1997 sebagai sebuah yayasan nasional. Sejak kiprahnya di Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia telah melayani 19.850 keluarga agar memiliki rumah yang layak huni di 13 provinsi. Saat ini, Habitat for Humanity Indonesia telah bermitra dengan lebih dari 40 organisasi internasional dan LSM nasional, lembaga-lembaga keuangan mikro, koperasi, serta lembaga-lembaga keagamaan. Bermitra dengan lebih dari 250 Perusahaan, Yayasan, Organisasi PBB serta pemerintah lokal. Hingga saat ini, Habitat for Humanity Indonesia telah memobilisasi 2.600 sukarelawan lokal dan 3.200 relawan asing.

Housing Resource Center (HRC) pada awalnya diinisiasi oleh Kementerian Perumahan Rakyat dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai sebuah program untuk mendukung penguatan bantuan teknis pemerintah daerah dalam melayani publik di DIY dan sekitarnya. HRC merupakan lembaga madani bergerak pada bidang perumahan dan perkotaan, berperan sebagai perantara integratif antar-stakehoders perumahan dan perkotaan untuk meningkatkan sinergi sumberdaya pada pemerintah, dunia usaha, kalangan profesi, akademisi, dan masyarakat dalam upaya bersama menyediakan perumahan dan perkotaan yang sehat, layak huni, dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, HRC menyelenggarakan pelatihan, workshop dan seminar di bidang perumahan dan pengembangan perkotaan, yang dilakukan sepanjang tahun.

46

Regulasi

Edisi 2 Tahun 2011

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 14/PERMEN/M/2006 tentang Penyelenggaraan Perumahan Kawasan Khusus

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 32/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 15/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Kawasan Nelayan

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 33/PERMEN/M/2006 tentang Pedoman Tatacara Penunjukkan Badan Pengelola Kawasan Siap Bangun dan Penyelenggara Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 16/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Perumahan Kawasan Industri

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 34/PERMEN/M/2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 09/KPTS/M/IX/1999 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Daerah (RP4D)

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 17/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Perumahan Kawasan Perbatasan

Peraturan Menteri Negara erumahan Rakyat Nomor 31/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri

Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor: 648-384 Tahun 1992 Nomor: 739/KPTS/1992 Nomor : 09/KPTS/1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian yang Berimbang

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 06 Tahun 2010 tentang Pola Klasifikasi Arsip Kementerian Perumahan Rakyat

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 07 Tahun 2010 tentang Tata Naskah Dinas Kementerian Perumahan Rakyat

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 08 Tahun 2010 tentang Tata Kearsipan Kementerian Perumahan Rakyat

47

Pengelolaan Pengetahuan

Info Pustaka Laporan
KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Buku:
Indonesian Houses: Tradition and Transformtion in Vernacular Architecture Penerbit: KITLV Press (2004)

Laporan Kinerja Kemenpera 2010

Indonesian Houses, Volume 2: Survey of Vernacular Architecture in Western Indonesia Penerbit: KITLV Press (2009)

Majalah/ Jurnal
Buletin Tata Ruang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional Mei-Juni 2011

Leflet
Pelaksanaan Integrasi Kegiatan Peningkatan Kualitas Kampung Deputi Bidang Perumahan Swadaya Kementerian Perumahan Rakyat

Tahapan Pelaksanaan Program Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Melalui Lembaga Keuangan Mikro/Lembaga Keuangan Non Bank (LKM/LKNB)

Deputi Bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat

48

Fakta

Edisi 2 Tahun 2011

P

Rumah Susun dalam Sinema Indonesia
sudah benar-benar diterima di masyarakat? Mungkin belum, tapi ternyata rumah susun telah muncul sebagai latar dalam beberapa film di Indonesia. Munculnya rumah susun sebagai latar sinema Indonesia menunjukkan rumah susun mulai mendapat tempat di masyarakat. Meski, potret rumah susun dalam ketiga film tersebut lebih dikaitkan dengan kemiskinan ataupun kriminalitas. Semoga potret tersebut hanya ada di ranah fiksi semata. Berikut ini beberapa film Indonesia yang mengangkat rumah susun sebagai latar belakang.

erkembangan kota yang semakin pesat menuntut manusia untuk kembali beradaptasi antara lain dengan tinggal di hunian vertikal. Sebagai bentuk antisipasi, Pemerintah sejak beberapa dekade lalu telah mulai menggalakkan rumah susun di berbagai lokasi di Indonesia. Rusun-rusun yang pertama tersebut antara lain adalah Rusun Tanah Abang, Kebon Kacang, dan Klender di Jakarta yang mulai dihuni pada dekade 1980-an Kini, sudah sekitar tiga dekade berlalu, kondisi lingkungan dan fenomena urbanisasi semakin menuntut pentingnya hunian vertikal. Namun, apakah hunian vertikal atau rumah susun ini

Cintaku di Rumah Susun (1987)

Mengejar Matahari (2004)

Fiksi (2008)

Tahun: 1987 Genre: Komedi Sutradara: Nya Abbas Akub Pemain: Deddy Mizwar, Eva Arnaz, Asmuni, Rima Melati Penulis Naskah: Nya Abbas Akub Cintaku di Rumah Susun adalah sebuah film komedi besutan Nya Abbas Akub dan bercerita tentang kehidupan dari penghuni yang beragam di sebuah rumah susun sederhana. Film ini dibuat ketika rumah susun mulai diperkenalkan di Indonesia di dekade 1980-an. Tokoh utamanya adalah Somad (Deddy Mizwar) yang walau sudah cukup umur namun belum juga memiliki istri. Ada juga Badrun (Doyok Sudarmadji) lalu Zuleha (Eva Arnaz), si simpanan Gandun (Galeb Husein), yang sering menganggu Somad. Galub sendiri punya anak yaitu Enka (Meta Armys) yang ditaksir oleh Somad dan juga ada pula Asmuni sang ketua RT dan Mastun (Rima Melati) yang sering menunggak sewa. Interaksi antara penghuni rumah susun inilah yang mengurai jalannya cerita Cintaku di Rumah Susun.

Tahun: 2004 Genre: Drama Sutradara: Rudi Soedjarwo Pemain: Winky Wiryawan, Udjo, Fauzi Baadila, Fedi Nuril, Agni Prathista Penulis Naskah: Titien Wattimena, Rudi Soedjarwo Kisah dalam film ini menceritakan persahabatan 4 orang yaitu Ardi (Winky Wiryawan), Nino (Fedi Nuril), Apin (Udjo), dan Damar (Fauzi Baadila) yang tinggal di kompleks rumah susun. Mereka bersahabat sejak kecil dan memiliki ritual saling berlomba berlari mengelilingi kompleks tempat mereka tinggal. Empat sahabat ini menjadi saksi pembunuhan yang dilakukan oleh Obet, preman setempat. Persahabatan mereka lalu mulai terguncang ketika Rara (Agni Prathista) muncul, seorang gadis penghuni baru yang sama-sama memikat Ardi dan Damar. Obet yang kembali dari penjara dan berhasrat untuk membalas dendam pun membuat permasalahan semakin pelik. Film ini mengambil gambar di rumah susun Kebon Kacang Jakarta, Jalan Sabang, dan Stasiun Tanah Abang. Penghargaan yang diraih oleh film ini antara lain adalah Tata Sinematografi terbaik pada FFI 2004 serta Film Terpuji pada Festival Film Bandung Tahun 2005.

Tahun: 2008 Genre: Thriller Sutradara: Mouly Surya Pemain: Ladya Cheryl, Donny Almsayah, Kinar Yosih Penulis Naskah: Joko Anwar, Mouly Surya Film ini bergenre thriller dan mengangkat kisah Alisha yang merasa kosong dan hampa tinggal di sebuah rumah besar. Hingga, Alisha pun mulai mengenal cinta sejak mendengar siulan Bari (Donny Alamsyah) yang sedang membersihkan kolam di rumahnya. Ini membawa Alisha untuk tinggal di rumah susun, bersebelahan dengan kamar Bari dan kekasihnya, Renta (Kinar Yosih). Hidup Alisha yang kosong pun mulai berwarna, namun, obsesinya terhadap Bari membuat Alisha menggunakan segala cara untuk mendekati pujaannya. Mulai dari menipu, menjebak, bahkan hingga membunuh. Sudut pandang rumah susun yang kelam tampak dalam film ini dan sejalan dengan alur cerita film ini. Film yang mengambil latar belakang rumah susun Bendungan Hilir 2 di Jakarta ini meraih banyak penghargaan pada FFI 2008 termasuk untuk Film Terbaik dan Penyutradaraan Terbaik. (LNP, dari berbagai sumber)

49

Praktek Unggulan

Desa Sukunan (Yogyakarta) dari

Sampah Menjadi Emas

D

esa Sukunan adalah sebuah desa kecil dengan penduduk lebih kurang 800 warga (sekitar 250 rumah tangga) yang terletak di pinggiran wilayah Yogyakarta. Sebagian besar penduduk desa adalah buruh tingkat rendah yang bekerja di sektor pertanian dan dalam pelayanan umum kota, sementara sebagian kecil bekerja di sektor formal. Ini merupakan salah satu ciri khas desa­desa di pinggiran sebuah kota besar di Indonesia. Tahun 2000, areal sawah yang dimiliki oleh masyarakat desa Sukunan sering tertimbun oleh sampah plastik dan lainnya yang terbawa melalui saluran irigasi dan mulai mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut. Adalah Iswanto (dosen Politeknik Kesehatan) dan Suharto (tokoh masyarakat) yang berupaya mengawali percarian solusi tehadap masalah tersebut dengan mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan peduli desa yang berbasis pada sistem manajemen pengelolaan sampah mandiri. Sebuah sistem manajemen berbasis rumah tangga dengan menggunakan teknologi pemilahan sederhana dan pengomposan serta adanya sebuah sistem kolektif pengelolaan sampah yang memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang didaur ulang. Pada tahun 2003 Iswanto melakukan sebuah eksperimen sederhana tentang sistem manajemen pengelolaan limbah dengan menggunakan rumah miliknya sendiri sebagai studi kasus. Belajar dari bagaimana pemulung bekerja untuk mengumpulkan dan kemudian menjual beberapa jenis sampah seperti plastik, logam, kaca, dan kertas, Iswanto menerapkan hal tersebut di rumahnya. Dia juga mengembangkan teknik sederhana menggunakan pot tanah liat untuk membuat kompos dari sampah organik. Plastik dari kemasan sachet diubah menjadi barang kerajinan tangan seperti tas dan dompet. Tahun 2004, bekerja sama dengan pemimpin lokal, organisasi masyarakat bernama Paguyuban Sukunan Bersemi didirikan dan salah satu fungsinya adalah untuk menyebarkan ide tersebut kepada orang­orang. Sebuah tim inti kemudian dibentuk untuk

melakukan sosialisasi dan menerapkan sistem pengelolaan limbah sedangkan bantuan keuangan diberikan oleh ACICIS, sebuah konsorsium universitas Australia yang bekerja di Yogyakarta. Para pemuda di paguyuban berkontribusi dengan membuat tempat sampah untuk pemisahan sampah di tingkat rumah tangga. Banyaknya respon eksternal terhadap program ini kemudian memicu pengembangan sistem pengelolaan limbah. Setelah program ini berjalan, beberapa workshop daur ulang sampah diadakan antara lain workshop membuat pot dan batu bata dari styrofoam, workshop membuat dan memasarkan kompos, workshop membuat berbagai macam kerajinan berbasis sampah dan cara memasarkannya, serta mendirikan pusat pelatihan untuk sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Awalnya program ini tidak didukung oleh tokoh masyarakat karena mereka khawatir terhadap kelangsungan dari program. Hal ini disebabkan juga oleh tidak mudahnya mengubah perilaku dari masyarakat. Apalagi pada awalnya program tersebut tidak melibatkan masyarakat secara aktif. Setelah melakukan diskusi beberapa kali dengan tokoh masyarakat, konsep dari program tersebut diubah total dengan membangun sebuah sistem berbasis komunitas dari bawah ke atas. Pada Januari 2004, sebuah tim manajemen pengelolaan limbah yang terdiri dari beberapa anggota masyarakat
foto: Daniel Suharta

50

Kantor Bank Sampah “Gemah Ripah”

sumber foto: istimewa

Edisi 2 Tahun 2011

Hasil pengolahan limbah styrofoam menjadi pot-pot bunga.

dibentuk dan mendapatkan dukungan penuh dari seluruh tokoh masyarakat. Tim ini kemudian bekerja mengadakan pertemuan rutin komunitas dimana setiap orang dapat bertukar ide dan pengalaman dalam suatu proses partisipatif. Selain itu, tim tersebut merancang sebuah program sosialisasi untuk kelompok­kelompok kecil yang terdiri dari 10 keluarga tentang konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Tim ini juga menginisiasi sebuah kompetisi kecil pemilihan sampah antarkeluarga. Sebuah workshop tentang pembuatan barang­barang kerajinan dari sampah ditujukan untuk para wanita terutama ibu rumah tangga. Para pemuda diberikan pelatihan pembuatan tempat sampah yang diletakkan di 22 lokasi di desa Sukunan serta gantungan baju dari barang­barang bekas. Anak­anak diberikan pengetahuan melalui sebuah modul­modul permainan yang mendidik terutama di bidang pengelolaan sampah di lingkungan rumah. Dengan metode demikian, diharapkan anak­ anak mampu menyerap dan mempraktekkan pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan rumah masing­ masing. Tim ini juga mendorong pemilahan sampah disetiap rumah tinggal dengan memberikan tempat­tempat sampah yang dibuat oleh para pemuda yang sebelumnya sudah dilukis atau diberi slogan­slogan yang menarik sesuai dengan bahan yang akan dipilah misalnya plastik, kertas, logam/kaca. Selain itu, tim juga membagikan 360 pot tanah liat yang digunakan untuk melakukan proses pengomposan sampah dapur ke tiap­tiap rumah. Setiap 1 rumah mendapatkan 2 pot. Kompos yang dibuat di rumah­rumah tersebut kemudian dikumpulkan dan disimpan untuk kemudian dijual. Setiap bulan desa

akan mampu menjual beberapa produk hasil pemilahan sampah mereka seperti kompos dan hasil kerajinan. Hasil dari penjualan tersebut digunakan untuk membayar kolektor sampah dan mengisi kas desa. Keberhasilan desa Sukunan menerapkan sistem manajamen pengelolaan sampah ini mendorong desa­ desa lain di sekitar untuk ikut mengadopsinya. Sekarang tim manajemen pengelolaan limbah tersebut membantu untuk mengadakan workshop serupa di desa­desa sekitar desa Sukunan, bahkan Pemerintah Daerah membantu dengan menyediakan barang­barang yang dihasilkan saat workshop untuk desa­desa lain yang tertarik mengadopsi sistem tersebut. Keberlanjutan sistem manajemen pengelolaan sampah di Sukunan tergantung pada seberapa baik masyarakat menyerap nilai­nilai dan perilaku yang membentuk sistem. Partisipasi dari semua segmen masyarakat: tokoh masyarakat, laki­laki dan perempuan anggota masyarakat, dan pemuda. Manfaat ekonomi berlaku untuk semua rumah tangga dan masyarakat secara keseluruhan dalam hal pendapatan tambahan bagi anggota aktif berpartisipasi (dalam kerajinan tangan dan produksi kompos, dan kegiatan pelatihan) dan pendapatan bagi kas desa yang dapat digunakan untuk membeli fasilitas masyarakat umum serta paling tidak alat yang digunakan dalam sistem pengelolaan sampah diberikan secara gratis. Desa Sukunan telah juga mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia dalam hal pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Hal ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri masyarakat desa. Saat ini desa Sukunan juga telah menjadi tempat tujuan wisata para wisatawan yang datang ke Yogyakarta.(DVD) sumber tulisan: http://www.unhabitat.org/ bestpractices/2010/mainview.asp?BPID=2464

Skema Sosialisasi Pengelolaan Sampah Terpadu di Desa Sukunan. sumber: KKN Universitas Gajah Mada Hargobinangun 2008.

51

Galeri Foto
Ristyan Mega Putra/Inforum

Akbar Pandu P/Inforum

Rumah TNI.

san dari Direktur h (tengah) mendapat penjela Sesmenpera Iskandar Sale tiwi, H Jamri terkait program pembangunan Utama PT Graha Nusa PerMulawarman di daerah Sepinggan, Balikpapan rumah bagi TNI Kodam VI/ beberapa waktu lalu.

Kunjungan Kadin Malaysia.

Menpera Suharso Monoarfa (kanan) memberikan cinderamata kepada Presiden Associated Chinese Chambers of Commerce and Industry of Malaysia (ACCCIM) dan Chinese Chambers of Commerce and Industry of Kuala Lumpur and Selangor (KLSCCCI) Tan Sri William Cheng Heng Jem (kiri) di sela-sela kunjungan bisnis delegasi Kadin Malaysia di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (30/5).

Akbar Pandu P/Inforum

Akbar Pa

forum ndu P/In

Pa era Suhars ngihutan Ma perumaha ari Menp han Formal Pa tan pameran emperingati H a ma am kegia erap
MoU Bapertarum.
Menpera Suharso Monoarfa (tengah) menyaksikan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Tambahan Bantuan Uang Muka dan Tambahan Bantuan Sebagian Biaya Membangun antara Bapertarum PNS dengan Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Bukopin di Ruang Prambanan, Kantor Kemenpera, Jakarta, Rabu (24/8).

rnas. Deputi a Hape ampingi e umahMnnoarfa didung melihat makrtta er o rpa meran P o n se

b gk la Peru karta be i sela-se alam ran rumah d p perumahan d apernas) di Ja (H o worksh han Nasional Peruma lu (26/7). waktu la

Ristyan Mega Putra/Inforum

Ruby Marcheli

nnus/Inforum

Buka Puasa Bersama, Gontor.

Menpera Suharso Monoarfa memberikan sambutan pada kegiatan Buka Puasa Bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo dalam rangka Silaturahmi Ramadhan 1432 H di Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

epok. Kapolri Jenderal Timur Pradopo a Mako ako Brimob, D ngan Rusunawa Mo Monoarfa bersama dekasi pembangunan Rusunaw hars lo
Menpera Su ninjauan lapangan ke tu lalu. melakukan pe Dua Depok beberapa wak Brimob Kelapa

52

Agenda

Edisi 2 Tahun 2011

Tujuh Milyar Manusia: Bersama-sama Bertanggung Jawab dan Peduli
Hari Kependudukan Dunia –11 Juli 2011
“This year’s World Population Day falls during a milestone year, when we anticipate the birth of the Earth’s seven billionth inhabitant. This is an opportunity to celebrate our common humanity and our diversity. It is also a reminder of our shared responsibility to care for each other and our planet”.
Secretary-General Ban Ki-moon, Message for World Population Day, 11 July 201

T

anpa ada penanganan khusus, jumlah penduduk dunia pada tahun 2050 diprediksi bisa membengkak mencapai 10 miliar jiwa. Sementara itu, tepat pada Oktober 2011 nanti, penduduk Bumi bakal mencapai 7 miliar orang. Jika dihitung, jumlah ini lebih banyak sekitar 1 milyar jiwa dibanding 12­13 tahun yang lalu. Meningkatnya penduduk dunia ini dipicu oleh semakin pesatnya laju pertambahan penduduk dunia pada abad ini dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. Yang perlu diperhatikan, 82% penduduk dunia tersebut tinggal di negara berkembang yang umumnya miskin. Rata­rata pertumbuhan

penduduk di negara maju sendiri umumnya kurang dari 0,3%. Sedangkan, di negara berkembang, rata­rata pertumbuhan penduduk mencapai 1,4­1,55 dan negara tertinggal mencapai sekitar 2%. Sementara itu, untuk laju pertumbuhan penduduk Indonesia, berada di angka 1,49%, angka yang cukup tinggi untuk pertumbuhan penduduk. Untuk memusatkan perhatian dunia pada urgensi dan pentingnya masalah penduduk dalam konteks rencana dan program­program pembangunan secara keseluruhan untuk mencari solusi dari masalah kependudukan tersebut, sejak tahun 1989, dalam Decision 89/46, the Governing Council of

Aksi 7 Milyar
7 Milyar adalah sebuah tantangan Saat ini, masalah manusia yang paling mendesak adalah masalah transnasional, ketika kita berbagi dalam hal ras, agama dan kebangsaan. Dengan semakin banyaknya manusia, tantangan baru akan muncul dan memecahkan tantangan yang ada akan menjadi semakin lebih mendesak. 7 Milyar adalah sebuah kesempatan Ada masalah yang dapat dan harus dipecahkan. Sebagai individu, kita memainkan peran kunci dalam menciptakan dunia yang berkelanjutan yang dicirikan oleh keseimbangan dan kedamaian untuk semua. Kita adalah bagian dari komunitas besar yang saling berhubungan dengan tindakan yang diambil dalam satu negara atau wilayah dapat memiliki dampak langsung pada bagianbagian lain dunia. Kita memiliki kapasitas yang baru dan belum pernah terjadi sebelumnya, baik secara individual maupun secara kolektif, untuk mengakses dan mengevaluasi informasi, membuat koneksi dan mengejar ide-ide, serta menghubungkan dan melibatkan masyarakat untuk memecahkan masalah yang belum pernah sebelumnya. 7 Milyar adalah panggilan untuk bertindak Ada banyak masalah yang berbeda yang disebabkan oleh jumlah yang semakin banyaknya manusia dalam dunia yang berukuran terbatas. Berbagai masalah ini dapat diatasi dan solusi baru akan muncul dari waktu ke waktu. Mengurangi kesenjangan dan menemukan cara untuk menjamin kesejahteraan orang yang hidup hari ini serta generasi yang datang akan membutuhkan cara-cara berpikir baru dan kerja sama global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat untuk bertindak adalah sekarang.

53

Agenda

sumber foto: istimewa

the United Nations Development Programme (UNDP) merekomendasikan bahwa11 Juli perlu diperingati masyarakat internasional sebagai Hari Kependudukan Dunia (World Population Day). 7 Milyar Manusia Berbeda dengan peringatan hari internasional lainnya seperti Hari Bumi atau Hari Lingkungan Hidup yang sudah marak terdengar gaungnya, peringatan Hari Kependudukan Dunia atau World Population Day memang relatif belum familiar di masyarakat. Padahal, tantangan populasi dunia makin besar setiap tahunnya. Untuk tahun 2011, peringatan ini mengambil tema “Seven billion people counting each other”. Menghadapi 7 milyar manusia tersebut, terdapat gerakan “Aksi 7 Milyar” yang diluncurkan oleh UNFPA (United Nations Population Fund). Lahir dari sebuah pertemuan unik yang diikuti oleh pemimpin dari media, perusahaan, LSM, universitas, dan organisasi akar rumput, “Aksi 7 Miliar”adalah gerakan global yang terbuka untuk setiap organisasi dan individu berkomitmen untuk mengatasi masalah yang paling menantang saat ini. Gerakan ini bertujuan untuk mewujudkan dunia yang lebih adil dan

berkelanjutan. Dalam dunia dengan 7 milyar manusia, penduduk dunia bersama dan bergantung satu sama lain. Dengan bekerja bersama­sama, aksi ini akan dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Urbanisasi: Perencanaan untuk Pertumbuhan Meningkatnya penduduk menjadi 7 milyar manu­ sia pada tahun 2011 ini tentu menimbulkan berbagai dampak yang perlu diantisipasi. Aksi 7 Milyar menggaris­ bawahi pada 7 tantangan kunci dengan salah satu tan­ tangan diantaranya adalah Urbanisasi: Perencanaan untuk Pertumbuhan (Urbanization: Planning for Growth). Walaupun kota­kota adalah tempat konsentra­ si kemiskinan, kota juga adalah menyediakan tempat ter­ baik untuk melepaskan diri dari kemiskinan. Sejak dulu, kota­kota selalu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, daerah dengan kepadatan yang lebih tinggi cenderung lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan daerah yang tumbuh menyebar (sprawling communities) sekaligus memungkinkan untuk penyediaan jasa yang lebih efisien. Perencanaan yang baik dan dilakukan sejak awal adalah kunci antisipasi. (Dari berbagai sumber/unfpa.org/7billionsaction.org/LNP)
sumber foto: istimewa

54

Jelang

Edisi 2 Tahun 2011

Peringatan Hari Perumahan Nasional Tahun 2011

Dengan Sinergi Pusat, Daerah, dan Mitra, Kita Wujudkan Rumah Murah untuk Rakyat

66

tahun sudah bangsa ini merdeka, dan bu­ kanlah hal yang mudah untuk memenuhi kebutuhan rumah yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat. Salah satu hak dasar yang diamanat­ kan dalam konstitusi dan tercantum dalam Undang­ Undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat 1 bahwa ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Rumah merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia dalam meningkatkan mutu kehidupan serta pencerminan diri dalam upaya peningkatan peradaban bangsa. Rumah juga merupakan pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, penyiapan generasi muda, serta menjadi roda penggerak pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan perumahan telah berlangsung sejak pra kemerdekaan. Setelah Kemerdekaan pada tahun 1947 dibentuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perhubung­ an yang antara lain menangani perumahan rakyat pada tingkat “Balai Perumahan”, karena pada saat itu sebagian unsur Kementerian penanganannya pada tingkat Balai dan Jawatan. Kemudian pada tanggal 25–30 Agustus 1950 diselenggarakanlah Kongres Perumahan Rakyat, dengan menghasilkan pokok­pokok keputusan, diantaranya adalah mengusulkan didirikannya per­ usahaan pembangunan peru­ mahan di daerah­daerah, meng­ usulkan penetapan syarat­syarat minimal bagi pembangunan peru­ mahan rakyat; dan mengusulkan pembentukan badan/lembaga yang menangani perumahan. Beberapa tahun kemudian dibentuklah Djawatan Perumahan Rakyat yang bertugas membangun perumah­ an dengan harga di bawah harga pasaran, khususnya untuk golongan

menengah ke bawah. Dalam pidatonya pada kongres tersebut, Wakil Presiden RI pertama Moh. Hatta menggaris bawahi bahwa permasalahan perumahan merupakan permasa­ lahan nasional yang dipandang sangat kompleks dan terus menerus harus diusahakan, Upaya pemerintah dalam menangani masalah pe­ rumahan terus berlanjut hingga saat ini. Hal ini ter­ cermin dalam kelembagaan yang menangani masalah perumahan dan permukiman dari masa ke masa. Dalam rangka melaksanakan berbagai kebijakan perumahan dan kawasan permukiman, telah dibentuk dan disesuaikan lembaga yang menangani perumahan diantaranya: 1. Orde Baru tahun 1978–1984 Menteri Muda Urus­ an Perumahan Rakyat, tahun 1984–1998 Menteri Negara Perumahan Rakyat, tahun 1998–1999 Men­ teri Negara Perumahan dan Permukiman; 2. Orde Reformasi tahun 2000­ 2004, Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman, bagian dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah; dan 3. Sejak Tahun 2004, Menteri Negara Perumahan Rak­ yat. Salah satu momentum bersejarah­ nya adalah pada tanggal 10 Juli 2008, para stakeholder bidang perumahan sepakat melakukan deklarasi mengusulkan kepada Pemerin­ tah untuk menetapkan Hari Perumahan Nasional, yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Mente­ ri Negara Perumahan Rakyat Nomor 46/KPTS/ M/2008 tanggal 6 Agustus 2008 yang menyatakan bahwa tanggal 25 Agustus sebagai Hari Perumahan Nasional (HAPERNAS).

55

Jelang
Hapernas dan Tantangan Pembangunan nya. Kebijakan harus mampu partisipatif dan transparan, perumahan saat ini serta mampu memberdayakan masyarakat sebagai pelaku Peringatan Hari Perumahan Nasional yang tahun ini utama pembangunan. Untuk pelaksanaan di daerah, pen­ diperingati untuk ketiga kalinya seharusnya tidak hanya jabaran kebijakan dan produk pengaturan telah disesuai­ sebatas peringatan seremonial semata. Hapernas tahun kan dengan kondisi di daerah sehingga perlu ditindaklan­ ini semestinya bisa digunakan sebagai momentum dalam juti dengan Peraturan Daerah (Perda). Hal tersebut bisa upaya peningkatan pemenuhan kebutuhan masyarakat dilakukan dengan membentuk kelembagaan yang diberi akan hunian layak, terlebih mengingat lingkungan strate­ tugas menangani masalah perumahan dari perencanaan gis pembangunan perumahan dan kawasan permukiman sampai ke pengawasan pembangunan. Juga menetapkan yang semakin berat. Hal ini terlihat dari kondisi saat ini, zonasi kawasan perumahan serta memiliki peraturan dengan meningkatnya jumlah kekurangan rumah (back­ daerah yang mengatur tentang tata ruang. Untuk itu, log) dari 5,8 juta unit pada tahun 2004 menjadi 7,4 juta diperlukan kerja sama atau sinergi antara pemerintah unit pada akhir tahun 2009 dengan pertambahan sebesar pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku pembangunan 710 ribu unit per tahunnya, termasuk kecenderungan perumahan. permukiman kumuh yang semakin meluas, pada tahun 2009 luas permukiman kumuh diperkirakan mencapai Adiupaya Puritama 2011 57.800 Ha dari kondisi sebelumnya yakni 54.000 Ha Pemerintah pusat sebenarnya telah melakukan bebe­ pada akhir tahun 2004. Oleh karenanya dibutuhkan sua­ rapa cara untuk terus mendorong stakeholder terutama tu terobosan yang mumpuni untuk mewujudkan hunian pemerintah daerah untuk meningkatkan pembangunan layak terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah perumahan, salah satunya adalah dengan pemberian kebawah. penghargaan Adiupaya Puritama yang diselenggarakan Pemerintah pusat terus melakukan setiap tahunnya bertepatan dengan upaya­upaya meningkatkan pemenuhan Hari Perumahan Nasional. Peng­ Pemberian kebutuhan rumah layak huni terutama hargaan ini adalah bentuk apresiasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah kepada Pemerintah Daerah yang telah penghargaan (MBR), salah satunya adalah bersama Adiupaya Puritama melaksanakan program pembangunan DPR dalam membentuk Undang­ penghargaan ini diharapkan dapat perumahan. Pemberianini ditujukan Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Adiupaya Puritama IV mendorong dan Perumahan dan Kawasan Permukiman kepada Pemerintah Kabupaten/Kota memotivasi (UU PKP). Dalam UU PKP ini salah yang dinilai berhasil dalam melaksa­ satunya mengamanatkan perumahan pemerintah kota dan nakan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman diselenggara­ dan kawasan permukiman di daerah­ kabupaten kan dengan tujuan antara lain untuk nya masing­masing. Selain itu, memberdayakan para pemangku ke­ penghargaan ini juga akan diberikan pentingan bidang pembangunan perumahan dan kawasan kepada Pemerintah Provinsi pada lokasi Kabupaten dan permukiman. Hal ini dapat diartikan pemerintah pusat Kota penerima penghargaan, sebagai bentuk apresiasi bertugas memberdayakan pemangku kepentingan dalam terhadap upaya pembinaan yang telah dilakukan. Pem­ bidang perumahan dan kawasan permukiman pada skala berian penghargaan Adiupaya Puritama ini diharapkan nasional, begitu pula halnya pemerintah provinsi dan dapat mendorong dan memotivasi pemerintah kota dan kabupaten kota pada lintas dan skala kabupaten/kota. kabupaten untuk senantiasa meningkatkan upaya pe­ Sesuai ketetapan di dalam UU PKP tersebut, maka nyelenggaraan pengembangan program perumahan dan kebijakan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman di daerahnya masing­masing. permukiman harus mampu mendukung upaya pember­ Pada tahun 2011 ini ada 8 aspek bidang penyeleng­ dayaan dan peningkatan kapasitas dan peran masyarakat/ garaan perumahan dan kawasan permukiman yang akan badan nirlaba, badan usaha, dan Pemerintah serta Pemda menjadi kriteria penilaian, yaitu; 1) Kriteria Rencana sesuai dengan tuntutan otonomi daerah. Kebijakan Strategis Daerah, 2) Kriteria Realisasi Pengembangan dimaksud diharapkan dapat memantau pengendalian pe­ Perumahan, 3) Kriteria Pembiayaan Pengembangan manfaatan ruang perumahan dan kawasan permukiman Perumahan, 4) Kriteria Kelembagaan Pengembangan sesuai dengan rancangan awal dan pemanfaatan ruang­ Perumahan, 5) Kriteria Penilaian oleh Asosiasi, 6) Kriteria

56

Edisi 2 Tahun 2011

Pemberdayaan/Kemitraan Masyarakat dan Pengembang, 7) Kriteria Lingkungan, serta 8) Kriteria Terobosan dan Inovasi. Keseluruhan aspek ini mengacu kepada prinsip­ prinsip pembangunan berkelanjutan, yaitu memperhati­ kan aspek lingkungan, aspek sosial, dan aspek ekonomi, yang merupakan suatu sistem dalam tata kelola penye­ lenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang baik, dengan pemberian penghargaan ini diharapkan keseriusan pemangku kepentingan di bidang perumahan dalam mewujudkan hunian murah bagi masyarakat ber­ penghasilan rendah dapat terus diupayakan Butuh Peran Semua Pihak untuk Wujudkan Rumah Murah Pemerintah sangat peduli dengan pengadaan rumah murah bagi MBR ini, hal ini terbukti dengan beberapa waktu lalu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan 6 (enam) program pro rakyat dan perlin­ dungan sosial. Salah satu program pro rakyat tersebut adalah program rumah sangat murah dan rumah murah untuk rakyat dengan kisaran harga 20­25 juta rupiah Suksesnya program rumah murah dan rumah sangat murah ini tidak lepas dari dukungan pemda karena sesuai amanat PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota mengamanatkan bahwa pembangunan perumahan merupakan urusan wajib pemerintah daerah

Agenda Kegiatan Peringatan Hari Perumahan Nasional 2011
Lokakarya (21 Juli 2011)
Tema: “Percepatan Pembangunan Rumah Murah” Tema: “Rumah Murah dan Kota Baru” Tempat: Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong

Peran pemerintah daerah dalam memastikan per­ ijinan serta penyediaan lahan untuk lokasi pembangunan rumah murah bagi masyarakat sangatlah dibutuhkan, karena Pemda lah yang mengetahui jumlah kebutuhan rumah masyarakatnya. Pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) juga terus mendo­ rong pemda dalam menyukseskan pembangunan rumah murah ini melalui pemberian stimulan fasilitasi pemba­ ngunan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) perumahan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Diharapkan Dana Dekonsentrasi dan DAK merupakan pendorong program pembangunan perumahan untuk masyarakat di daerah. Selain itu tidak kalah penting adalah peran swasta sangat dibutuhkan untuk mewujudkan rumah murah melalui pengembangan teknologi rumah murah yang ramah lingkungan dan berkearifan lokal sehingga dapat menekan biaya produksi rumah. Oleh karenanya dengan semangat Hapernas Tahun 2011 yang mengambil tema “Dengan Sinergi Pusat, Daerah Dan Mitra, Kita Wujudkan Rumah Murah Untuk Rakyat” hendaknya dapat menciptakan sebuah sinergi Public Private Partnership (PPP) yang memper­ temukan program Pemerintah mewakili kepentingan publik dengan kemampuan fiskal pihak swasta, sehingga program penyediaan rumah bagi MBR dapat ditingkat­ kan dan bermuara pada berkurangnya backlog, sehingga pada akhirnya diharapkan setiap keluarga Indonesia dapat menempati rumah yang layak huni seperti yang dicita­ citakan para pejuang kemerdekaan 66 tahun yang lalu untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik. (Akbar Pandu Pratamalistya)

Seminar, Bedah Buku dan Kuliah Umum (21-23 Juli 2011) Lokakarya dan Pameran (26 Juli 2011)

Tema: Kerjasama Kemitraan Pemangku Kepentingan Dalam Penyelenggaraan Rumah Murah” Keynote Speaker: Menteri Negara Perumahan Rakyat Tempat: Biwara Room – Hotel Bidakara, Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta

Tasyakuran (18 Agustus 2011) Bazaar (18 Agustus 2011)

Tempat: Ruang Rapat Prambanan, Kantor Kemenpera Lt. 2 Wing I Narasumber: Muhammad Syafii Antonio Tempat: Halaman parkir gedung kantor Kemenpera

Kebijakan Tabungan Perumahan

si Edi an p De

Fun Bike (18 September 2011)

Rute: Kantor Kemenpera-Bundaran HI-Kantor Kemenpera

Redaksi menerima artikel, berita, karikatur yang terkait bidang perumahan rakyat dari pembaca. Lampirkan gambar/foto dan identitas penulis ke alamat email redaksi. Naskah ditulis maksimal 5 halaman A4, Arial 12, spasi 1,5. Redaksi juga menerima saran maupun tanggapan terkait bidang perumahan rakyat ke email majalah.inforum@ gmail.com atau saran dan pengaduan di www.kemenpera. go.id

Donor Darah (19 September 2011) Upacara Bendera (22 September 2011) Resepsi (22 September 2011)

Tempat: Halaman parkir gedung kantor Kemenpera Tempat: Hotel Bidakara, Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta

57

Jelang
Tema Hari Habitat Dunia 2011:

Kota dan Perubahan Iklim

P

erayaan Hari Habitat Dunia tahun ini akan diselenggarakan di Meksiko dengan tema “Cities and Climate Change” atau “Kota dan Perubahan Iklim”. Tahun lalu Meksiko juga telah menjadi tuan rumah untuk acara Perbincangan tentang Perubahan Iklim PBB di Cancun. Sekjen PBB Ban Ki Moon mengingatkan bahwa hasil dari pertemuan Cancun harus dapat menjadi alat untuk memperkuat upaya kita dalam bertindak sejalan dengan pemikiran ilmiah. Tema Cities and Climate Change dipilih karena perubahan iklim yang berlangsung sangat cepat menjadi tantangan pembangunan paling utama, di abad 21. Tidak ada yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi terhadap sebuah kota dalam kurun waktu 10-20 dan 30 tahun. Pada era ini, pada umumnya masyarakat tinggal di perkotaan, dan yang menjadi perhatian kita saat ini adalah dampak bencana terbesar sebagai akibat perubahan iklim diawali dan diakhiri di kota. Kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan iklim. Kondisi ini memunculkan banyak peluang, karena kota beserta masyarakatnya, industri, pendidikan, budaya dan infrastruktur dapat memberikan solusi terbaik dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan mekanisme penanganan dan mengurangi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Pencegahan dapat ditingkatkan melalui perencanaan tata guna lahan dan peraturan bangunan yang lebih baik sehingga kota dapat mengurangi jejak tapak ekologis (ecological footprint) serta memastikan warganya, terutama warga miskin, terlindungi dari bencana perubahan iklim, seperti kekeringan, banjir ataupun bencana lainnya. Dalam menghadapi kemiskinan perkotaan dan perubahan iklim, kita harus berpikir secara global dan juga lokal. Kita perlu memahami cara paling cepat untuk mitigasi
sumber foto: istimewa

perubahan iklim adalah mengurangi kemiskinan perkotaan serta menghemat penggunaan energi. Bukan suatu kebetulan bahwa perubahan iklim secara global sudah menjadi isu internasional, terutama pada saat yang bersamaan dengan dunia yang menjadi semakin mengota (urbanized). Alasan ini menjadikan UN Habitat 2011 Global Report on Human Settlements memokuskan pada kota dan perubahan iklim. Hasil yang mengejutkan dalam laporan tersebut adalah bahwa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh kota memberikan kontribusi 70% dari polusi dunia – sebagian besar berasal dari konsumsi bahan bakar fosil untuk listrik, transportasi, penggunaan energi pada gedunggedung komersial dan perumahan, industri serta sampah. Hal ini juga memperlihatkan meningkatnya bukti-bukti terhadap resiko perubahan iklim di kawasan perkotaan dan peningkatan populasi yang berdampak pada ketersediaan air, infrastruktur fisik, transportasi, ekosistem barang dan pelayanan, penyediaan energi, produksi industri dan ekonomi. Laporan tersebut berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dalam pembangunan perkotaan dan perubahan iklim termasuk kontribusi kota-kota terhadap perubahan iklim dan dampaknya terhadap kota. Yang terutama, pengetahuan ini dapat digunakan dalam mengidentifikasi mitigasi dan pengukuran adaptasi untuk mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan tangguh. Kerjasamaantara UN Habitat dengan Meksiko semakin meningkat setelah pada tahun 2004, Meksiko menjadi tuan rumah kantor nasional UN Habitat. Program kerjanya menunjukkan komitmen Meksiko dalam mengurangi permukiman kumuh, yang sejalan dengan MDGs. Saat ini kegiatan-kegiatan yang didukung oleh UN Habitat Meksiko memfokuskan pada sektor air dan sanitasi, perencanaan perkotaan serta promosi keamanan perkotaan dan kenyamanan di ruang publik. Harapan penyelenggaran Hari Habitat Dunia 2011 pada tanggal 3 Oktober adalah untuk meningkatkan kepedulian yang lebih besar terhadap dimensi perkotaan terutama, perubahan iklim. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan bumi dengan melakukan aksi-aksi baru untuk membantu mengurangi krisis perubahan iklim. Tahun ini peringatan puncak Hari Habitat Dunia 2011 diselenggarakan di kota Makassar. Rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Habitat Dunia dapat dicatatkan ke Sekretariat Nasional Habitat Indonesia untuk dimasukkan dalam Kalender Acara Hari Habitat Dunia. Sekretariat Nasional Habitat Indonesia Jalan Wijaya I No. 68, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Telp. 021-7226530, Email: info@habitat-indonesia.or.id.

58

KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

HARI PERUMAHAN NASIONAL

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->