P. 1
lemari asam

lemari asam

|Views: 1,666|Likes:

More info:

Published by: Uchi Cahyandani Alami on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2015

pdf

text

original

TUGAS K3 BAHAN KIMIA DALAM LEMARI ASAM

UCI CAHYANDANI ALAMI P07134011078 POLTEKKES KEMENKES MATARAM ANALIS KESEHATAN 2012

Bahan-bahan kimia di dalam labolatorium yang berbahaya a. Bahan-bahan kimia yang menguap dan beracun 1. Uap H2S 2. Uap SO2 dari asam belerang pekat atau hasil pemanasan asam sulfat (H2SO4) 3. Uap brom yang warnanya coklat 4. Uap klor 5. Uap nitroneus dari asam nitrit dan nitrat 6. Uap dari zat-zat kimia yang mudah menguap seperti methanol, etanol, eter, dan acetin 7. Uap formadehid 8. Uap karbon monoksida (CO2) Uap-uap zat tersebut sangat mengganggu pernafasan jika terhirup Jika kena mata → Menyebabkan iritasi pada mata, kalau zatnya sangat pekat dapat Menyebabkan kebutaan Cara mengatasinya : 1. Apabila mulai terasa sakit sedikit saja di paru-paru atau sesak napas karena menghirup uap kimia, cepat-cepatlah menjauh dan duduk istirahat sambil menghisap udara yang segar. Bernafaslah mula-mula perlahan kemudian cepat. Minum susu → cara yang paling baik untuk menghilangkan pengaruh zatzat kimia 2. Apabila berkerja dengan bahan-bahan kimia yang mengeluarkan banyak uap beracun, bukalah ventilasi sehingga sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik atau melakukan percobaan di dalam lemari asam. Jika dalam praktikum harus melakukan penciuman, cara penciuman yang benar → hanya melewatkan zat dekat hidung dan melakukan sebentar saja. b. Bahan-bahan yang mudah terbakar Ex. Alcohol, methanol, aseton eter, akali, nitro selulosa. Bahan-bahan yang mempunyai sifat mudah terbakar : Harus diletakkan di tempat yang lembab Jauhkan dari api. Jangan sekali-kali menggunakan pemanas api, tetapi gunakan pemanas listrik, karena uap bahan yang mudah terbakar dapat menjilat api sehingga menimbulkan kebakaran

c. Bahan-bahan asam dan basa keras Umumnya merusak badan, pakaian, lantai dan barang-barang lainnya Dapat mengeluarkan uap yang beracun. Beberapa bahan bersifat eksoterm → menimbulkan panas jika diencerkan atau diberi perlakuan (dicampur) dengan bahan lain. Ex. Asam sulfat Asam sulfat ketika diencerkan akan menimbulakan panas yang cukup besar karenanya, pengenceran dilakukan dengan cara menambahkan asam sulfat sedikit demi sedikit ke dalam air. Jangan melakukan sebaliknya, → karena jika air yang ditambahkan ke dalam asam sulfat, maka dapat mendidihkan air yang baru dimaksukkan, akibatnya akan timbul percikan asam sulfat. Pemindahan cairan asam dan basa keras harus dulakukan dengan menggunakan corong jangan memakai pipet tetes, karena→ uapnya keras→ bahaya sekali kalau terhisap ke dalam mulut atau terpercik ke muka atau mata. Jika menggunakan sendok, pakailah sendok dari bahan porselen atau gelas jangan menggunakan sendok atau pengaduk dari bahan logam→ karena asam atau basa keras akan bereaksi dengan bahan dari logam (sendok atau pengaduk akan rusak) Keracunan Bahan Kimia Keracunan zat-zat kimia pada tubuh manusia dapat membahayakan kelangsungan hidup. Bahan kimia beracun tersebut akan merusak jaringan tubuh terpenting sehingga menggangu atau bahkan menghentikan fungsinya. Beberapa jaringan tubuh yang rentan terhadap keracunan diantaranya kulit, susunan syaraf, sumsum tulang, ginjal, hati, dan alat-alat pencernaan. Jika organ tersebut terganggu, terjadilah penurunan tingkat kesehatan yang akan membahayakan jiwa manusia, terutama bila pertolongan terlambat diberikan. Berikut ini beberapa jenis bahan kimia yang harus diperhatikan karena berbahaya : BAHAN NO KIMIA POTENSI KESEHATAN BAHAYA

1 2

AgNO3 HCl

PENJELASAN Senyawa ini beracun dan korosif. Simpanlah dalam botol berwarna Dapat menyebabkan luka bakar dan dan ruang yang gelap kulit melepuh. Gas/uapnya juga serta jauhkan dari bahan- menebabkan hal yang sama. bahan yang mudah terbakar. Senyawa ini beracun dan Dapat menyebabkan luka bakar dan bersifat korosif terutama kulit melepuh. Gas/uapnya juga

dengan kepekatan tinggi. menebabkan hal yang sama. Menghirup bahan ini dapat menyebabkan pingsan, gangguan Senyawa ini mudah pernafasan, bahkan kematian. terbakar dan beracun Gunakan ruang asam untuk proses pengenceran dan hidupkan kipas penghisapnya. Jangan menghirup Senyawa ini sangat uap asam sulfat pekat karena dapat korosif, higroskopis, menyebabkan kerusakan paru-paru, bersifat membakar bahan kontak dengan kulit menyebabkan organik dan dapat dermatitis, sedangkan kontak merusak jaringan tubuh dengan mata menyebabkan kebutaan. Senyawa ini bersifat higroskopis dan Dapat merusak jaringan tubuh. menyerap gas CO2. Menghirup senyawa ini pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pembengkakan saluran pernafasan dan sesak nafas. Terkena amonia pada konsentrasi 0.5% (v/v) selama 30 menit dapat Senyawa ini mempunyai menyebabkan kebutaan. bau yang khas. Senyawa ini sangat Jangan menghirup gas ini karena beracun. dapat menyebabkan pingsan dan Hindarkan kematian. kontak dengan kulit. Gas/uap maupun Dapat menyebabkan iritasi kulit, larutannya sangat mata, dan saluran pernafasan. beracun. Dapat menyebabkan luka bakar, menghirup uapnya dapat Senyawa ini bersifat menyebabkan kematian. korosif.

3

H2S

4

H2SO4 (BJ : 1,84 )

5

NaOH

6

NH3

7

HCN

8

HF

9

HNO3

A. Asam sulfat Berat Molekul : 98.01 SIFAT-SIFAT FISIK

     

Cairan kental, bening kekuningan Titik leleh : 10 oC Titik didih : 330 oC Larut dalam air dalam segala perbandingan Tekanan uap : 1 mmHg (146oC) Berat jenis : 1.84 (100%) Berat jenis uap : 3.4 (udara = 1)

SIFAT-SIFAT BAHAYA a) KESEHATAN:  Efek Jangka Pendek (Akut) Menghirup uap asam menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan serta mengganggu paru-paru. Cairan asam dapat menimbulkan luka yang parah dan dapat menimbulkan kebutaan jika terkena mata.  Efek Jangka Panjang (Kronis) Menghirup uap asam pada jangka panjang mengakibatkan iritasi pada hidung, tenggorokan dan paru-paru. Nilai Ambang Batas : 1 mg/m3 (ACGIH 1987-88) Toksisitas : LD50 = 2.14 g/kg (tikus) LC50 = 510 mg/m3 (tikus) IDLH : 80 mg/m3 b) KEBAKARAN : Tidak terbakar, bersifat oksidator dan dapat terbakar jika kontak dengan zat organik seperti gula, selulosa dan lain-lain. Amat reaktif dengan bubuk zat organik. c) REAKTIVITAS : Mengalami penguraian bila kena panas, mengeluarkan gas SO2. Asam encer bereaksi dengan logam menghasilkan gas hidrogen yang eksplosif bila kena api atau panas dan bereaksi hebat jika kena air. d) PENANGANAN DAN PENYIMPANAN Hindari kontak langsung dengan asam, menghirup uap atau kabut. Bekerja dalam lemari asam atau dengan ventilasi yang baik. Pengenceran dilakukan dengan menambah asam sedikit demi sedikit ke dalam air dan bukan sebaliknya karena sangat eksotermik. Simpan asam dalam wadah yang kuat di tempat berventilasi dan dingin, jauhkan dari air, zat organik mudah terbakar dan logam. e) TUMPAHAN DAN BOCORAN

Jangan sentuh tumpahan asam karena dapat merusak kulit atau pakaian. Dapat merusak lantai. Netralkan tumpahan dengan larutan soda atau kapur, sebelum disiram dengan air. Hati-hati terhadap tempat rendah karena uap lebih berat dari udara. Gunakan alat pelindung diri dalam menangani tumpahan asam. ALAT PELINDUNG DIRI Paru-paru Mata Kulit : Filter penyerap asam atau respirator udara : Safety goggles dan pelindung muka : Gloves (CPE, neoprene, PE), pakaian kerja

PERTOLONGAN PERTAMA Terhirup : Bawa korban ke tempat segar, segera lakukan pengobatan.

Terkena mata : Cuci dengan air bersih (hangat) dan mengalir selama 20 menit dan segera bawa ke dokter. Terkena kulit : Cuci dengan air bersih dan mengalir selama 20 menit dan segera diobati. Tertelan : Bila sadar, beri minum 1-2 gelas air, bawa ke dokter.

PEMADAM API Kebakaran dapat dipadamkan dengan bubuk kimia atau CO2. Kebakaran besar dipadamkan dengan air tetapi harus hati-hati karena dapat menimbulkan panas (pemadaman dari jarak jauh). INFORMASI LINGKUNGAN Asam dalam air limbah dapat mengganggu kehidupan tanaman dan hewan baik di darat maupun di dalam air sehingga ekosistem pada lingkungan dapat terganggu. Penetralan menggunakan soda atau air kapur harus dilakukan untuk menjaga pH 6-9 sebelum dibuang ke lingkungan. Residu netralisasi dapat dicampur dengan tanah atau pasir. B. Hidrogen klorida (HCl) Adalah asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Dalam larutan asam klorida, H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida, Cl−. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida, seperti natrium klorida. Asam klorida adalah asam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air. Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam, Ka, yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. Untuk asam kuat seperti HCl, nilai Ka cukup

besar. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl.[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl, ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. Untuk larutan asam klorida yang kuat, asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik, dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna. Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia, asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Walaupun asam, ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. Oleh karena alasan inilah, asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20,2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif, walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat. Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampelsampel analisis. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida, menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa. SIFAT-SIFAT FISIKA Ciri-ciri fisika asam klorida, seperti titik didih, titik leleh, massa jenis, dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut. Sifatsifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20,2% HCl dan 108,6 °C (227 °F). Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan, berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl), HCl·2H2O (51% HCl), HCl·3H2O (41% HCl), HCl·6H2O (25% HCl), dan es (0% HCl). Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24,8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O. Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh, dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan, mata, kulit, dan usus. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya, seperti natrium hipoklorit

(pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4), gas beracun klorin akan terbentuk. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet, pelindung mata, dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa berdasarkan NO berat Klasifikasi Frasa R 1 10–25% Iritan (Xi) R36/37/38 Korosif 2 > 25% (C) R34 R37 C. NaOH Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas. Nama IUPAC Nama lain[sembunyikan] Identifikasi Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas : Natrium Hidroksida : Soda kaustik : Nomor CAS [1310-73-2] : NaOH : 39,9971 g/mol : zat padat putih : 2,1 g/cm³, padat

Titik lebur Titik didih Kelarutan dalam air Kebasaan (pKb) Titik nyala

: 318 °C (591 K) : 1390 °C (1663 K) : 111 g/100 ml (20 °C) : -2,43 : Tidak mudah terbakar.

D. Kloroform Adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap. Bahan-bahan kimia diatas, jika kita amati adalah bahan-bahan kimia yang umumnya kita gunakan dalam laboratorium. Ternyata bahan-bahan kimia tersebut menyimpan potensi untuk meracuni tubuh. Keracunan bahan kimia diatas, dapat terjadi melalui beberapa cara, sesuai dengan sifatnya. Keracunan dapat terjadi akibat tertelannya bahan kimia dalam saluran pencernaan. Untuk bahan kimia berupa gas, saluran pernafasan merupakan jalan masuk utama ke dalam tubuh seseorang. Bahan beracun dapat pula diserap melalui kulit atau langsung merusak jaringan kulit apabila terjadi persinggungan dengannya. Selaput lendir (mukosa) mata juga dapat menjadi salah satu tempat masuknya bahan kimia yang kemudian meracuni jaringan setempat. Pertolongan pada Korban Keracunan Pada umumnya, tata cara pertolongan akibat keracunan biasanya mengikuti satu pedoman umum, kecuali pada beberapa kasus keracunan khusus seperti sianida, yang memerlukan pertolongan secara khusus. Pedoman utama dalam memberikan pertolongan adalah dengan cara menghilangkan atau membuang bahan beracun dari korban. Umumnya pertolongan pertama yang diberikan kepada korban yang tidak sadar atau hampir pingsan adalah dengan menelungkupkannya dengan kepala menghadap ke samping dan lidah dikeluarkan untuk mencegah tersedak karena ludah. Jagalah korban agar tetap pada posisi berbaring dan tetap hangat suhu badannya, dan jika diperlukan berilah bantuan pernafasan buatan. Ingat : jangan memberi minuman beralkohol karena dapat mempercepat penyerapan beberapa jenis racun oleh tubuh. Dan terakhir segeralah meminta pertolongan dari petugas kesehatan. Secara khusus, perlakuan lanjutan yang harus dilakukan pada setiap jenis keracunan bahan kimia yang berbeda adalah sebagai berikut :

1. Keracunan melalui Mulut/Pencernaan Perlakuan yang dapat diberikan kepada korban adalah dengan memberikan air minum/susu sebanyak 2-4 gelas, Apabila korban pingsan jangan berikan sesuatu melalui mulut. Usahakan supaya muntah segera dengan memasukkan jari tangan ke pangkal lidah atau dengan memberikan air garam hangat (satu sendok makan garam dalam satu gelas air hangat). Ulangi sampai pemuntahan cairan jernih. Pemuntahan jangan dilakukan apabila tertelan minyak tanah, bensin, asam atau alkali kuat, atau apabila korban tidak sadar. Berilah antidote yang cocok, bila tidak diketahui bahan beracunnya, berilah satu sendok antidote umum dalam segelas air hangat umum. Bubuk antidote umum terbuat dari dua bagian arang aktif (roti yang gosong), satu bagian magnesium oksida (milk of magnesia), dan satu bagian asam tannat (teh kering). Jangan berikan minyak atau alkohol kecuali untuk racun tertentu. Berikut adalah beberapa alternatif obat yang dapat anda gunakan untuk pertolongan pertama terhadap korban keracunan bahan kimia : NO BAHAN KIMIA PENANGANAN Bila tertelan berilah bubur aluminium hidroksida atau milk of magnesia diikuti dengan susu atau putih Asam-asam korosif seperti asam sulfat (H2SO4), telur yang dikocok dengan fluoroboric acid, hydrobromic acid 62%, air.Jangan diberi dengan hydrochloric acid 32%, hydrochloric acid fuming karbonat atau soda kue. 37%, sulfur dioksida, dan lain-lain. Bila tertelan berilah asam asetat encer (1%), cuka (1:4), asam sitrat (1%), atau air jeruk. Lanjutkan dengan Alkali (basa) seperti amonia (NH3), amonium memberi susu atau putih hidroksida (NH4OH), Kalium hidroksida (KOH), telur. Kalsium oksida (CaO), soda abu, dan lain-lain. Berikan antidote umum, susu, minum air kelapa, norit, suntikan BAL, atau Kation Logam seperti Pb, Hg, Cd, Bi, Sn, dan putih telur. lain-lain Minum air kelapa, susu, vegeta, norit, suntikan Pestisida PAM Garam Arsen Bila tertelan usahakan

1

2

3

4 5

pemuntahan dan berikan milk of magnesia.

2. Keracunan melalui Pernafasan Jika racun yang masuk dalam tubuh terhirup oleh saluran pernafasan, gunakan masker khusus atau kalau terpaksa sama sekali tidak ada, tahanlah nafas saat memberikan pertolongan di tempat beracun. Bawalah korban ke tempat yang berudara sesegera mungkin dan berikan pernafasan buatan secepatnya, apabila korban mengalami kesulitan bernafas. Lakukan hal tersebut berulang-ulang sampai petugas kesehatan datang. 3. Keracunan melalui Kulit Jika racun masuk ke dalam tubuh melalui kulit, jika memungkinkan tentukan lebih dulu jenis bahan kimia beracun yang masuk dan usahakan agar tidak tersentuh, siramlah bagian tubuh korban yang terkena bahan racun dengan air bersih paling sedikit 15 menit. Langkah selanjutnya, lepaskan pakaian yang dikenakan, berikut sepatu, perhiasan dan benda-benda lain yang terkena racun. Jangan mengoleskan minyak, mentega atau pasta natrium bikarbonat pada kulit yang terkena racun, kecuali diperintahkan oleh petugas kesehatan yang hadir di situ. 4. Keracunan melalui Mata Jika racun yang masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir di mata, segeralah melakukan pencucian pada kedua mata korban dengan air bersih dalam jumlah banyak (disini anda dapat mengunakan air hangat-hangat kuku). Buka kelopak mata atas dan bawah, tarik bulu matanya supaya kelopak mata tidak menyentuh bola mata. Posisi ini memungkinkan masuknya air bersih dan dapat mencuci seluruh permukaan bola mata dan kelopaknya. Teruskan pekerjaan ini sampai paling sedikit 15 menit. E. Eter Adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus R—O—R', dengan R dapat berupa alkil maupun aril.[1] Contoh senyawa eter yang paling umum adalah pelarut dan anestetik dietil eter (etoksietana, CH3-CH2-O-CH2-CH3). Eter sangat umum ditemukan dalam kimia organik dan biokimia, karena gugus ini merupakan gugus penghubung pada senyawa karbohidrat dan lignin. Sifat-sifat fisika Molekul-molekul eter tidak dapat berikatan hidrogen dengan sesamanya, sehingga mengakibatkan senyawa eter memiliki titik didih yang relatif rendah dibandingkan dengan alkohol.

Eter bersifat sedikit polar karena sudut ikat C-O-C eter adalah 110 derajat, sehingga dipol C-O tidak dapat meniadakan satu sama lainnya. Eter lebih polar daripada alkena, namun tidak sepolar alkohol, ester, ataupun amida. walau demikian, keberadaan dua pasangan elektron menyendiri pada atom oksigen eter, memungkinkan eter berikatan hidrogen dengan molekul air.Eter dapat dipisahkan secara sempurna melalui destilasi. Eter siklik seperti tetrahidrofuran dan 1,4-dioksana sangat larut dalam air karena atom oksigennya lebih terpapar ikatan hidrogen dibandingkan dengan eter-eter alifatik lainnya. Beberapa alkil eter Eter Dimetil eter Dietil eter Struktur CH3-O-CH3 CH3CH2-OCH2CH3 Titik lebur (°C) -138,5 -116,3 -108,4 11,8 Titidk Kelarutan dalam 1 Momen didih (°C) L H2O dipol (D) -23,0 34,4 66,0 101,3 70 g 69 g 1,30 1,14

Tetrahidrofuran O(CH2)4 Dioksana Reaksi O(C2H4)2O

Larut pada semua 1,74 perbandingan Larut pada semua 0,45 perbandingan

Eter secara umumnya memiliki reaktivitas kimia yang rendah, walaupun ia lebih reaktif daripada alkana. Beberapa contoh reaksi penting eter adalah sebagai berikut. Pembelahan eter Walaupun eter tahan terhadap hidrolisis, ia dapat dibelah oleh asam-asam mineral seperi asam bromat dan asam iodat. Asam klorida hanya membelah eter dengan sangat lambat. Metil eter umumnya akan menghasilkan metil halida: ROCH3 + HBr → CH3Br + ROH Reaksi ini berjalan via zat antara onium, yaitu [RO(H)CH3]+Br-. Beberapa jenis eter dapat terbelah dengan cepat menggunakan boron tribomida (dalam beberapa kasus aluminium klorida juga dapat digunakan) dan menghasilkan alkil bromida.[3] Berganting pada substituennya, beberapa eter dapat dibelah menggunakan berbagai jenis reagen seperti basa kuat.

Pembentukan peroksida Eter primer dan sekunder dengan gugus CH di sebelah oksigen eter, dapat membentuk peroksida, misalnya dietil eter peroksida. Reaksi ini memerlukan oksigen (ataupun udaara), dan dipercepat oleh cahaya, katalis logam, dan aldehida. Peroksida yang dihasilkan dapat meledak. Oleh karena ini, diisopropil eter dan tetrahidrofuran jarang digunakan sebagai pelarut. F. Larutan penyangga larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat. Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi di antara kedua komponen penyusun ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi. Komponen Larutan Penyangga Secara umum, larutan penyangga digambarkan sebagai campuran yang terdiri dari:
 

Asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (ion A-), campuran ini menghasilkan larutan bersifat asam. Basa lemah (B) dan asam konjugasinya (BH+), campuran ini menghasilkan larutan bersifat basa.

Komponen larutan penyangga terbagi menjadi:

Larutan penyangga yang bersifat asam

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natriumNa), kalium, barium, kalsium, dan lain-lain.

Larutan penyangga yang bersifat basa

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih. Cara kerja larutan penyangga Larutan penyangga mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan basa konjugasinya, sehingga dapat mengikatbaik ion H+ maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat tidak mengubah pH-nya secara signifikan. Berikut ini cara kerja larutan penyangga: Larutan penyangga asam Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung CH3COOH dan CH3COO- yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:

Pada penambahan asam

Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Dimana ion H+ yang ditambahkan akan bereaksi dengan ion CH3COO- membentuk molekul CH3COOH. CH3COO-(aq) + H+(aq) → CH3COOH(aq)

Pada penambahan basa

Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OH- dari basa itu akan bereaksi dengan ion H+ membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa menyebabkan berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa yang ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH membentuk ion CH3COO- dan air. CH3COOH(aq) + OH-(aq) → CH3COO-(aq) + H2O(l) Larutan penyangga basa Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+ yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:

Pada penambahan asam

Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH-. Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion OHdapat dipertahankan. Disamping itu penambahan ini menyebabkan berkurangnya komponen basa (NH3), bukannya ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa NH3 membentuk ion NH4+. NH3 (aq) + H+(aq) → NH4+ (aq)

Pada penambahan basa

Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka kesetimbangan bergeser ke kiri, sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Basa yang ditambahkan itu bereaksi dengan komponen asam (NH4+), membentuk komponen basa (NH3) dan air. NH4+ (aq) + OH-(aq) → NH3 (aq) + H2O(l) Fungsi Larutan Penyangga Adanya larutan penyangga ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti pada obat-obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna. Selain aplikasi tersebut, terdapat fungsi penerapan konsep larutan penyangga ini dalam tubuh manusia seperti pada cairan tubuh. Cairan tubuh ini bisa dalam cairan intrasel maupun cairan ekstrasel. Dimana sistem penyangga utama dalam cairan intraselnya seperti H2PO4- dan HPO42- yang dapat bereaksi dengan suatu asam dan basa. Adapun sistem penyangga tersebut, dapat menjaga pH darah yang hampir konstan yaitu sekitar 7,4. Selain itu penerapan larutan penyangga ini dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti pada obat tetes mata. Pada obat tetes mata mempunyai pH yang sama dengan cairan tubuh kita, agar tidak menimbulkan efek samping. G. Heksana Adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 (isomer utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3). Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Seluruh isomer heksana amat tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai pelarut organik yang inert. Heksana juga umum terdapat pada bensin dan lem sepatu, kulit dan tekstil. Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PRAKTIKUM DI LABORATORIUM KIMIA A. TEKNIK PREPARASI

KETIKA

MELAKUKAN

Preparasi merupakan teknik laboratorium yang sangat penting dikuasai oleh setiap kimiawan. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadahi dalam teknik preparasi ini, maka akan sangat sulit untuk menjalankan eksperimen/percobaan kimia secara baik dan benar di laboratorium. Menjalankan eksperimen dengan baik dan benar juga menyangkut efisiensi dan tidak membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain baik yang ada disekitarnya maupun yang berada di tempat lain. Bagai mahasiswa pemula agar mereka kelak dapat melakukan eksperimen kimia secara baik dan benar maka perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan teknik preparasi. Tulisan ini akan memaparkan beberapa penegetahuan penting yang harus dikuasai oleh para pemula dalam disiplin ilmu kimia. 1. Konsentrasi Larutan. Beberapa jenis konsentrasi yang perlu diketahui dan yang sering digunakan di laboratorium antara lain: 1. Molaritas (M). Molaritas menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat di dalam satu liter larutan. Misal akan di buat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL. Diketahui bahwa Mr NaOH = 40 Maka ini berarti bahwa 1 mol NaOH massanya adalah 40 g. Sehingga untuk 0,1 mol NaOH massanya adalah 4 g. Untuk membuat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL, maka sebanyak 4 gram kristal NaOH dilarutkan ke dalam akuades sedemikian rupa sehingga volume larutannya adalam 1000 mL atau 1 L. 2. Normalitas (N). Normalitas menyatakan banyaknya gram ekuivaleen (grek) zat terlarut yang terdapat dalam satu liter larutan. 3. Molalitas (m). Molalitas adalah menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat dalam satu kilogram pelarut. 4. Fraksi mol (X). Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dalam larutan terhadap jumlah mol total zat-zat yang ada dalam larutan (pelarut dan zat terlarut).. 5. Persen (%). Ada beberapa macam penyataan persentase yang sering digunakan di laboratorium, antara lain:

a. persen volume/volume (v/v), menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan mL per 100 mL larutan. b. Persen berat/volume (b/v), menyatakan banyaknya spesien kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan berat (gram) per 100 gram larutan. c. Persen berat/berat, menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan atau campuran/padatan yang dinyatakan dalam satuan gram per 100 gram larutan atau campuran atau padatan. 2. Penyiapan Alat. Alat yang akan digunakan dalam eksperimen atau percobaan kimia harus disesuaikan dengan jenis dari bahan yang akan ditangani. Bahan-bahan tersebut dapat berupa cairan, padatan, atau gas. a. Bahan-bahan berupa cairan. Untuk menangani bahan berupa cairan diperlukan alat-alat gelas seperti Gelas Ukur, Pipet Gondok, Labu Takar, Erlenmeyer, Corong, dan lainlainnya. b. Bahan-bahan berupa padatan. Untuk menangani bahan berupa padatan, terutama padatan dalam bentuk serbuk dibutuhkan alat-alat sebagai berikut: Alat Timbang, Gelas Arloji, Spatula/Sendok Sungu, Corong, dan Erlenmeyer. c. Bahan-bahan berupa gas. Untuk menangani bahan-bahan berupa gas diperlukan alat-alat dengan spesifikasi standar yang telah ditentukan untuk setiap jenis gas. Hal ini dikarenakan setiap jenis gas mempuynyai karakteristik dan resiko yang dihadapi oleh pengguna lebih tinggi daripada bila menangani bahan-bahan cair maupun padatan. B. PENYIMPANAN BAHAN KIMIA Bahan kimia harus disimpan dalam kemasan asli dari produsen, jika memungkinkan, mengingat label kemasan memberikan informasi yang berharga terkait dengan simbol bahaya dan frase R & S. Jika wadah lain digunakan, maka haruslah digunakan pelabelan yang sama. Upaya melindungi label dari pengaruh bahan kimia dan menjaga supaya melekat baik maka haruslah dilapisi dengan lembaran plastik transparan. Label ini harus terlihat jelas dan ditulis dengan pencil atau tinta yang permanen. Wadah dan botol untuk penyimpanan bahan kimia harus dibuat dari bahan yang kuat. Wadah plastik atau gelas sering digunakan untuk keperluan ini. Untuk penyimpanan bahan kimia yang sangat sensitif seperti dietil eter yang cenderung berubah membentuk peroksida yang berbahaya maka gelas berwarna gelap harus

digunakan. Jika botol plastik digunakan harus diperkirakan bahwa bahan sangat mungkin akan rusak akibat pengaruh cahaya matahari dan dapat pecah. Botol seperti ini harus berulang kali dicek dan bahan kimia dipindahkan pada wadah yang lain, jika diperlukan. Perhatian khusus harus dilakukan pada kemungkinan perpindahan pelarut organil melalui dinding botol plastik. Pembuangan stock bahan kimia yang sudah tidak terpakai perlu dilakukan secara berulang. Semua bahan kimia dalam laboratorium harus diperiksa pada periode tertentu, minimal satu kali setahun. Bahan kimia yang mungkin melepaskan racun, bersifat korosif atau gas-gas yang mudah terbakar, atau debu perlu dicadangkan hanya dalam jumlah kecil di lemari asam. C. PEMINDAHAN DAN TRANSFER BAHAN KIMIA KE WADAH LAIN Selama pemindahan bahan kimia, perhatian perlu ditekankan untuk menghindari wadah jatuh atau kehilangan bahan. Wadah gelas yang terisi penuh biasanya merupakan hal yang sangat mudah pecah. Wadah seperti ini tidak boleh dibawa dengan memegang leher wadah, tetapi harus dipindahkan dengan menggunakan kantong, rak, perangkat bergerak atau keranjang. Pemindahan bahan kimia dari satu wadah ke wadah lain selalu memperhitungkan risiko tercecer dan dengan demikian sangat mungkin terjadi kontak dengan kulit dan terkontaminasi pada baju. Sebagai tambahan, gas dan debu dapat terhirup. Debu juga dapat menyebabkan api jika tidak penanganan tidak diambil terhadap peralatan elektrostatik. Supaya menurunkan risiko yang mungkin terjadi, suatu kain alas untuk cairan atau bubuk harus selalu digunakan, bahkan untuk pengguna yang memiliki kemampuan cukup untuk menangani bahan kimia tanpa peralatan umum. Selama pengisian cairan, baik bahan yang toksik atau korosif, pengisian ke dalam tangki seperti ini harus digunakan. Hal yang sama harus dikerjakan pada pengisian padatan atau serbuk, lembar alas seperti kertas haruslah digunakan. Pada kondisi tidak ada pengaruh lain, tidak diijinkan untuk memipet cairan dengan menghisap menggunakan mulut karena diketahui banyak kecelakaan kerja terjadi karena hal ini termasuk kasus keracunan dan kerusakan jaringan mulut. Kebiasaan ini juga akan diikuti pada kasus cairan yang berbahaya untuk menghindari budaya yang salah dalam aktivitas kerja harian di laboratorium. Untuk pengisian cairan di pipet dapat dibantu menggunakan pipet bola. D. ASPEK PENTING PENGERJAAN EKSPERIMEN YANG AMAN Kami meminta penurunan eksperimen-eksperimen laboratorium yang berisiko untuk dikaji ulang dan diatur dengan baik. Untuk keperluan ini, petunjuk kerja

sangatlah berguna. Petunjuk ini tidak hanya berisikan spesifikasi reaksi tetapi juga memberi label dari setiap senyawa yang digunakan. Informasi penting lebih lanjut dibutuhkan berupa risiko yang mungkin terjadi bagi orang dan lingkungan, taksiran perlindungan diri dan instruksi tentang pertolongan pertama pada kasus darurat, dan informasi tentang taksiran pemusnahan dari limbah yang dihasilkan. Sebelum memulai eksperimen, perlu diperiksa apakah tersedia cukup waktu untuk menyusun eksperimen sesuai alokasi waktu. Jika tidak maka perlu diputuskan jika suatu eksperimen dapat dihentikan dengan aman pada selang waktu tertentu tanpa memberikan kerugian yang berpengaruh. Semua bahan kimia dan peralatan yang dibutuhkan untuk suatu unjuk kerja yang aman harus diperhatikan dari awal. Beberapa hal perlu dianjurkan bekerja dengan bahan kimia di lemari asam. Eksperimen harus dilaksanakan di lemari asam jika melibatkan bahan-bahan yang bersifat toksik atau korosif dan / atau gas, uap atau aerosol yang mungkin terlepas dalam konsentrasi yang membahayakan. Sebagai contoh untuk hal ini adalah penguapan atau pemanasan senyawa menggunakan pemanas minyak terbuka. Untuk memastikan unjuk kerja lemari asam tetap baik maka pintu depan dan jendela samping harus ditutup selama melakukan eksperimen. Tenaga maksimum hanya dimungkinkan jika aliran udara tidak terganggu. Yang terbaik hal ini dapat dicapai dengan jalan memindahkan semua tabung dan gelas dari tempat kerja di lemari asam jika barang-barang tersebut tidak diperlukan. Gangguan aliran dapat juga meningkat akibat sumber panas. Biasanya nyala api terbuka seperti kompor Bunsen memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap unjuk kerja lemari asam dan hal ini jelas harus dihindari. Mengingat bahan-bahan kimi biasanya bersifat berbahaya maka bahan ini tidak boleh terjadi kontak dengan kulit selama penanganan. Bahan-bahan yang berbahaya harus ditangani hanya dalam jumlah yang kecil dan peralatan pelindung yang nyaman harus dikenakan. Pada praktikum laboratorium untuk mahasiswa, bahan-bahan karsinogenik, mutagenik dan teratogenik dilarang diterapkan. Bahan-bahan seperti ini secara prinsip dapat digantikan dengan bahan lain yang efeknya lebih rendah jika tujuan pembelajaran dapat dicapai melalui pendekatan didaktik, metodologi dan saintifik. Perkecualian untuk pergantian fungsi bahan ini hanya dapat dibuat jika eksperimen sangat penting berpengaruh sangat besar pada aspek harian dari ilmu yang terkait. Pada praktikum laboratorium dasar untuk mahasiswa tingkat sarjana, eksperimen seperti ini akan diselenggarkan pada akhir praktikum jika mahasiswa telah memiliki keterampilan kerja yang memadai dan praktikum secara umum telah dikenalkan terlebih dahulu. Selama pemanasan bahan cairan tertentu, perhatian harus dijaga supaya tidak terjadi prose mendidih yang berlebihan dan terjadi percikan keluar dari wadah dengan

menggunakan batu pendidih atau pengaduk magnet. Saat pemanasan cairan dalam tabung reaksi, tabung harus digoyang secara terus-menerus supaya menghindari pendidihan yang mendadak yang dapat memungkinkan seluruh cairan keluar dari tabung reaksi. Untuk alasan keamanan, tabung yang terbuka tidak boleh dihadapkan pada diri sendiri atau orang lain yang di dekatnya. Jika diperlukan bahan yang terpercik harus segera dibersihkan misal pertama kali dengan jalan netralisasi asam atau basa dan kemudian cairan dilap dengan menggunakan sarung tangan pelindung. PENUTUP Perlindungan diri terhadap bahaya kesehatan dari keracunan bahan-bahan kimia di Indonesia, sangat rendah sekali. Hal ini dimungkinkan karena laboratoriumlaboratorium kimia di Indonesia sering mengabaikan standar minimal operasional terutama dalam ketidaksediaan lemari asam. Hal ini juga diperparah oleh para pengunanya yang lalai terhadap perlindungan diri. Banyak terjadi kasus keracunan bahan kimia yang disebabkan oleh kecerobohan dan ketidaktahuan para penguna mengenai potensi bahaya dari suatu bahan kimia. Untuk mencegah terjadinya keracunan selama bekerja di laboratorium, berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan penguna :        Mempunyai pengetahuan akan bahaya dari setiap bahan kimia sebelum melakukan analisis. Simpanlah semua bahan kimia pada wadahnya dalam keadaan tertutup dengan label yang sesuai dan peringatan bahayanya. Jangan menyimpan bahan kimia berbahaya dalam wadah bekas makanan/minuman, gunakanlah botol reagen. Jangan makan/minum atau merokok di laboratorium. Gunakan lemari asam untuk bahan-bahan yang mudah menguap dan beracun. Gunakan atau pakailah jas laboratorium selama bekerja di laboratorium. Mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan bila terjadi keracunan bahan kimia di laboratorium.

SUMBER REFRENSI : http://Wikipedia-lemari asam 0bebas.htm http://Wikipedi kimia-dalam lemari asam dan penanganannyabahan

TUGAS K3 BAHAN KIMIA DALAM LEMARI ASAM

NI MADE NITA SARI DEWI P07134011069

POLTEKKES KEMENKES MATARAM ANALIS KESEHATAN 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->