P. 1
Kausalitas dalam sejarah

Kausalitas dalam sejarah

|Views: 3,164|Likes:
Published by YoannYoussuff

More info:

Published by: YoannYoussuff on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2013

pdf

text

original

Kausalitas dalam sejarah

Sebab langsung atau lantaran Sejarawan cenderung untuk bicara mengenai sebab langsung atau sebabtak langsung dari pada peristiwa-peristiwa sejarah. Sebab langsung bagi perang dunia 1 adalah pembunuhan di sarayevo, dan sebab langsung bagi perang dunia 2 adalah invasi terhadap polandia oleh kaum nazi. Adapun sebab tidak langsung dalam kedua peristiwa itu meliputi politik kekuasaan, anarki dunia, persaingan komersial, aspirasi-aspirasi nasional, saling takut-menakutidan ambisi-ambisi territorial. Adalah relative mudah untuk memperoleh persetujuan mengenai sebab-sebab langsung. Namun masih juga terdapat perbedaan pendapat di antara sejarawan mengenai titik-tolak dari banyaknya gerakan besar. "Lantaran" sebagai suatu kebetulan penggerak. Sebab langsung atau lantaran sering mempunyai sifat suatu kebetulan. Andaikata anak henry VIII bukannya mary melainkan seorang putra, henry mungkain tidak ingin menceraikan katherina dari aragondengan demikian reformasi inggris munkin tidak terjadi,andai kata sopir Ferdinand tidak mundur untuk membetulkan belokan yang salah di sarayevo, maka putra mahkota mungkin tidak akan menjadi sasaran yang baik bagi pembunuhan dan perang dunia I mungkin dapat di hindarkan. Akan tetapi "sebab langsung" bukanlah suatu sebab yang sungguh-sungguh, sebab langsung hanyalah merupakan suatu titik dalam suatu rantai peristiwa, tren, pengaruh, dan kekuatan-kekuatan yang pada titik itu akibatnya mulai tampak.peristiwa itu adalah penggerak yang berfungsi sebagai jatuhnya korek api yang menyala ke dalam bahan bakar.dalam fungsi itu sebab langsung merupakan petunjuk yang baik untuk menemukan anteseden-anteseden yang lebih tepat di beri sebutan sebab. ,mazhab pluralistis mengenai kausalitas sejarah Mazhab lain kalangan sejarawan yang bereaksi terhadap filosof abad ke-19 yang masing-masing menganggap dirinya telah menemukan keterangan betul satusatunya mengenai perubahan sejarah, dapat disebut ''kaum pluralisme' ['.setidaktidak`nya sejak zaman Voltaire sebagai reaksi terhadap macam sejarah yang hanya mencacat peristiwa-peristiwa besar dan perbuatan orang-orang terkemuka telah terdapat mereka yang menganjurkan sesuatu ''sejarah baru'' yang akan meliputi perkembanganperkembangan sosial, budaya, politik dan ekonomi yang merupakan pola beragam umat manusia, perkembangan peradaban yang perbanyak segi ''. Didalam konsepsi

mengenai keseluruhan masa lampau manusia ini tersirat anggapan bahwa ada terdapat beberapa pengatruran merupakan salah satu macam yang merupakan satusatrunya yang betul. sejarah cenderung untuk memberikan interprestrasi yang pluralis mengenai sebab. Memang keterangan morfologis mengenai pertumbuhan dan kemunduran.bahwa yang menganut interprestasi epistemologis yaitu yakni suatu yang mengurutkan budaya yang berbeda-beda sesuai dengan pengetahuann yang lebih tinggi yang menjadi sumbernya minus kepercayan kepada kemajuan yang tidak terbatas. kemunduran budaya-budaya yang tidak memiliki yang tidak memiliki iman yang menyelamatkan karena beranggapan bahwa akal membawa benih kehancuran begitu kehancuran bagi proses hidup hidup beradab dan arena mencari suatu kepercayaan yang tidak sepenuhnya didukung akal.tetapi didalam rangka filsafat morfologis mererka meliputi segalanya itu, mereka memberi tempat bagi satu rangkain sebab-sebab yang lebih kecil. Perlunya suatu teori sebab musabab di dalam sejarah. Harus di akui bahwa masalah sebab-musabab sejarah pada pokoknya masih belum di pecahkan: dan dalam taraf perkembangan sekarang dalam pengetahuan kita, suatu pertimbangan mengenai benar atau salah, cerdas atu tidak cerdas, mencukupi atau tidak mencukupi baik atu buruk, besar atau kerdilnya filsafat-filsafat sejarah, niscayalah di dasarkan atas criteria yang masih di perdebatkan. Banyak sejarawan masih mengambil sikap nihilities mengenai filsafat-filsafat di dalam sejarah : semuanya itu buruk ;baiklah kita tolak semuanya. Tetapi nihilitisme semacam itu berbahaya, bahayanya tidak hanya terletak pada ketiadaan bentuk dari pada apa yang mereka tulis (karena nihilitisme tidak mengajukan criteria apapun untuk seleksi , penyusunan dan tekanan )melainkan juga bahaya ketiadaan arti (karma data yang di tempatkan sematamata dalam urut-urutan kronologis dan alfabetis yang merupakan satu-satunya susunan yang mungkin, tanpa sesuatu filsafat akan cenderung hanya merupakan penyataan mengenai apa, tanpa keterangan mengenai mengapa, bagaimana, dan untuk apa baik atau buruk). Tetapi jika sejarawan-sejarawansemacam itu kebingungan, maka sebagian dari pada kesalahan terletak pada para sarjana ilmu-ilmu sosial dan para filsuf. Sejarah sebagai geschichtswissenschaft (yakni sebagai cabang pengetahuan yang mengenai peristiwa-peristiwa lampau) tidak merumuskan prinsip-prinsip umum.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->