FAKTOR-FAKTOR VERTIKAL SEBAGAI POTENSI KONFLIK MASYARAKAT MAJEMUK

I. PENDAHULUAN Pluralitas masyarakat Indonesia adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri karena sudah memiliki akar historis yang panjang. Masyarakat majemuk adalah merupakan masyarakat yang terbagi-bagi kedalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri-sendiri, dalam mana masing-masing sub sistem terikat kedalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial. Furnivall sendiri sudah mensinyalir bahwa konflik pada masyarakat majemuk Indonesia menemukan sifatnya yang sangat tajam, karena di samping berbeda secara horisontal, kelompok-kelompok itu juga berbeda secara vertikal, menunjukkan adanya polarisasi. Artinya bahwa disamping terdiferensiasi secara kelompok etnik agama dan ras juga ada ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan sarana produksi dan kekayaan. Tetapi, dalam pembahasan ini, penulis hanya menyinggung masalah konflik masyarakat majemuk dari faktor-faktor vertikal. Lebih lanjutnya, akan dibahas pada bagian kedua makalah ini. Istilah konflik berasal dari bahasa Latin, “Com” yang berarti “bersama” dan “Fligere” yang berarti melanggar, menabrak, menemukan, membentur. Dengan demikian, konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain, karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, “pertikaian” menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu, yang diekspresikan, diingat dan dialami (Pace & Faules, 1994:249). Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984). Konflik senantiasa berpusat pada beberapa sebab utama: tujuan yang ingin dicapat, alokasi sumber-sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers, 1982:234-237; Kreps, 1986:185;Stewart, 1993:341). Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam, yaitu: 1. konflik antara atau dalam peran social (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi, 2. konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank), 3. konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa), dan 4. konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara). II. PEMBAHASAN 1. KONFLIK PENGHASILAN Masalah keuangan dalam keluarga bisa menjadi konflik. Pemicunya tak sekadar penghasilan yang kurang. Perkara asal-usul penghasilan bisa mendatangkan persoalan besar juga. Pada zaman sekarang ini masalah keuangan dalam keluarga bukan monopoli suami. Dalam satu keluarga, suami-istri sama-sama mencari nafkah untuk menutupi kebutuhan rumah sudah lumrah. Artinya, suami dan istri bisa sama-sama memiliki penghasilan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, adakalanya penghasilan istri lebih tinggi dari penghasilan suaminya. Persoalannya, benarkah jika penghasilan istri lebih tinggi ketimbang suami akan selalu membuahkan konflik? Sebut saja Diana, 36 tahun, manajer sebuah perusahaan farmasi terkenal di Medan. Penghasilannya jauh lebih besar dibanding suaminya yang bekerja seprofesi. Mulai dari cicilan rumah, mobil hingga keperluan rumah tangga dibayar oleh Diana. Sedangkan uang suami untuk belanja sehari-hari. "Hampir semua kebutuhan rumah tangga, pakai uang saya, makanya saya nggak punya tabungan. Tapi harus bagaimana lagi, karena mengharapkan gaji suami tidak cukup,'' ungkapnya. Kalau mengikuti kata hati, begitu perempuan lulusan S2 Farmasi ini melanjutkan komentarnya, ia

mengaku sangat kesal dengan keadaan ini. ''Bayangkan saja, saya berangkat kantor jam enam pagi, menyetir sendiri, pulang jam sembilan malam. Tapi gaji saya habis untuk kebutuhan di rumah. Kalau bukan karena keimanan, saya mungkin sudah tidak kuat dengan kondisi rumah tangga seperti ini,'' papar Diana yang sudah menikah selama lima tahun. Diana cuma sekadar mengomel. Pada beberapa kasus sering kita temukan, suami-isteri bercerai hanya karena isteri merasa jadi 'sapi perah' akibat gaji sang suami lebih kecil. Menurut Henny E Wirawan, seorang psikolog dari Universitas Tarumanegara, karier dan penghasilan istri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi. Menurut Henny E Wirawan, seorang psikolog dari Universitas Tarumanegara, karier dan penghasilan istri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi, yaitu: Pertama, ubah pola pikir. Selama ini pola pikir dalam masyarakat cenderung menempatkan wanita dalam wilayah domestik yang bertanggung jawab terhadap urusan pengasuhan anak dan dapur. Sementara lelaki berperan sebagai pencari nafkah dan tulang punggung keluarga. Nah, konflik akan muncul bila yang terjadi justru sebaliknya. Oleh sebab itu, suami jangan langsung merasa tertekan saat mengetahui istrinya membawa lebih banyak uang ke rumah. Sebaliknya, syukuri keadaan ini sebagai sebuah berkah. Sebab, pemasukan yang lebih besar berarti kualitas hidup pun jadi lebih baik. Kedua, pandai menempatkan diri. Pengertian yang dicapai akan membuat segalanya lebih mudah. Selain itu, suami-istri harus bisa menempatkan dirinya dengan baik. Semisal, di luar rumah istri berprofesi sebagai seorang Direktur. Tapi, ketika kembali ke rumah ia harus ingat perannya sebagai seorang istri. "Ini yang seringkali terlupakan. Seorang istri jangan sampai membawa kebiasaannya di kantor ke rumah. Ketika kembali ke rumah, ia harus kembali pula pada perannya sebagai pendamping suami," ungkap Henny. Ketiga, berbagi tanggung jawab. Karier istri semakin cemerlang dengan promosi yang baru didapatkannya tahun ini. Ini juga berarti tuntutan tanggung jawab yang lebih besar di kantornya. Konsekuensinya, waktu untuk keluarga pun jadi berkurang. Lalu, siapa yang bertugas mengurus rumah dan anak-anak? Untuk masalah satu ini, pasangan suami-istri harus memutuskannya berdasarkan apa yang terbaik untuk anak-anak. Lupakan dulu ego masing-masing! Hilangkan pemikiran bahwa tinggal di rumah sama dengan tidak bekerja. "Hilangkan konsep masa lalu bahwa stay at home berarti tidak melakukan apa-apa. Jangan pernah menganggap remeh pekerjaan rumah tangga. Sebab itu adalah pekerjaan yang sangat berat, semuanya dilakukan sejak matahari terbit hingga tenggelam. Pekerjaan rumah tangga itu sangat bernilai tinggi. Tak ada salahnya dengan menjadi bapak rumah tangga, kok." ujar Henny. Keempat, pengaturan finansial. Saat posisi pekerjaan berada dalam satu level, pengaturan masalah keuangan mungkin tak ada masalah. Tapi, kadangkala konflik muncul ketika gaji istri lebih besar. Tak jarang istri yang merasa penghasilannya lebih besar merasa punya kuasa lebih dalam mengatur keuangan. Nah, hal inilah yang biasanya membuat suami mudah tersinggung. Untuk mengatasi masalah ini, Henny menyarankan agar masing-masing pasangan membuat pengaturan finansial yang lebih fleksibel. Artinya, aturan ini merupakan hasil kesepakatan bersama. Misalnya, penghasilan keduanya disatukan baru kemudian dibagi sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang telah ditentukan. Kelima, abaikan saja. Karier istri yang lebih cemerlang dari suami, tak jarang menimbulkan suara sumbang dari lingkungan. Lingkungan di sini bisa berarti lingkungan keluarga maupun lingkungan pekerjaan. Apalagi bila suami ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Di mata Konsultan Perencanaan Keuangan, Safir Senduk, tidak ada masalah jika penghasilan suami lebih rendah dari istri. Justru mereka bisa saling membantu meringankan biaya rumah tangga. Para suami jangan minder, sebaliknya para istri pun jangan mentang-mentang. Semuanya “low profile” saja. Karena kalau istri mulai semena-mena, sikap itu salah dan bisa menjadi masalah. ''Ingat, status kaya atau tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh penghasilan, gaji atau kekayaan. Tapi bagaimana mereka bisa menyimpan (menabung) dari penghasilannya,'' kata penulis buku Seri Perencanaan Keuangan Keluarga ini. 2. KONFLIK PENDIDIKAN Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Dengan pengembangan model pendidikan berbasis multikultural diharapkan mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik. Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman

etnis, agama, ras, dan antargolongan. Dengan perintisan model pengajaran multikultural yang dikembangkan oleh Pusat kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, diharapkan siswa akan lebih mengetahui pluralitas dan menghargai keberagaman tersebut. Hapus Diskriminasi. Sikap menghargai keberagaman, juga harus ditanamkan di sekolah. Sebenarnya, sekolah adalah tempat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan membuat siswa terkotak-kotak. Sekolah harus bebas diskriminasi. Untuk menghindari konflik seperti kasus yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sudah saatnya dicarikan solusi preventif yang tepat dan efektif. Salah satunya adalah melalui pendidikan multikultural. Pada model pendidikan ini, pengenalan dan sosialisasi program pengembangan model pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan menggunakan film semi dokumenter. Mengapa? Karena pembelajaran ini menawarkan metodologi dan pendekatan yang berbeda dari model-model pembelajaran konvensional yang selama ini dicekoki ke siswa. Beberapa pencapaian indikator pembelajaran. Di antaranya, adanya pemahaman dan afeksi siswa tentang nilai-nilai multikultural yang dikembangkan. Misalnya; toleransi, solidaritas, musyawarah, dan pengungkapan diri. Selain itu, melalui model pembelajaran berbasis multikultural, siswa diperkenalkan dan diajak mengembangkan nilai-nilai dan sikap toleransi, solidaritas, empati, musyawarah, dan egaliter. Dan ini bisa menghambat terjadinya konflik. Model pembelajaran multikultural ini bisa berhasil, jika kepala sekolah mendukung program ini. Selain itu, para pengajar juga mau menerima pembaruan dan sekolah sudah terbiasa mengembangkan kurikulum sendiri di samping kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional. Sementara, alat lain yang mendukung adalah adanya audio-visual karena ini menjadi penting untuk menyaksikan film-film bertema multikultural. 3. KONFLIK PEMUKIMAN Menilik kasus-kasus konflik etnis di Kalimantan Barat, ini bukanlah kasus perselisihan warga berbuah kekerasan komunal etnis yang pertama. Jika melihat kebelakang kasus-kasus konflik etnis di Kalbar, kita akan melihat pola kasus etnis yang serupa dan berulang. Meskipun dengan variasi keterlibatan etnis yang berbeda. Tercatat misalnya pada masa Hindia-Belanda ada beberapa kasus konflik yang melibatkan etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Kemudian pada masa setelah kemerdekaan pada tahun 1950’an yang melibatkan etnis Tionghoa dan Melayu. Dan puncaknya memang kasus konflik etnis tahun 1997-1999 yang melibatkan etnis Madura, Melayu, dan Dayak. Konflik etnis yang menelan jiwa hingga ribuan nyawa melayang dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan hartanya. Sedikit banyak fakta ini menunjukkan bahwa Kalbar memang rawan terhadap potensi-potensi konflik yang bersifat keetnisan. Dalam konteks Kalbar, pemerintah menganggap konflik telah selesai ketika para pengungsi akibat konflik telah dipindah lokasi pemukiman baru Tebang Kacang. Mereka tidak melihat bahwa perasaan-perasaan curiga, stereotype, dan prasangka antara etnis masih berkembang ditingkat masyarakat Kalbar. Masih adanya penolakan oleh kelompok etnis tertentu kepada kelompok etnis yang lain di Kalbar untuk kembali ke asalnya hingga kini masih terjadi. Permasalahan-permasalahan kejelasan hak para pengungsi dan korban konflik etnis, terutama bagi etnis yang kalah, hingga kini masih buram. Pemerintah daerah tidak mau secara terbuka membicarakan kasus-kasus tersebut secara terbuka. Dilain sisi muncul dugaan bahwa pemerintah daerah mencoba untuk membatasi ruang dialog antar etnis pada isu-isu tertentu karena alasan sensitivitas isu yang ditakutkan akan menganggu stabilitas keamanan. Salah satu dampak yang timbul ditingkat publik adalah adanya penolakan-penolakan dan keengganan sebagian masyarakat di Kalbar untuk membicarakan isu-isu etnis secara terbuka untuk mencari penyelesaiannya. Atau misalnya penolakan masyarakat Melayu di Sambas yang hingga kini menolak kembalinya masyarakat Madura di wilayah Sambas. Oleh pemerintah sendiri kasus konflik antar sukubangsa ini dinyatakan telah selesai dengan dipindahkannya para pengungsi ke tempat pemukiman baru (Tebang Kacang). Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu. Banyak persoalan dilapangan yang belum terselesaikan hingga saat ini. Seperti misalnya bagaimana hak-hak milik para pengungsi di daerah asal (Sambas) yang telah ditinggalkan dan pemulihan kehidupan mereka dilokasi pengungsian yang menurut mereka lebih menyerupai lokasi pengucilan dari kelompok masyarakat lainnya. Salah satu kunci membina perdamaian yang berkesinambungan adalah bagaimana membangun kepercayaan yang ada ditingkat grassroot. Dengan membangun kepercayaan yang ada ditingkat grassroot, permasalahan-permasalahan sepele akan dapat segera diselesaikan ditingkat lokal tanpa melibatkan pihak yang diatasnya, masyarakat dapat segera mandiri dapat menyelesaikan konfliknya

dengan cara-cara yang tentu saja menjadi kesepakatan umum dan hukum. Kemandirian warga dalam menyelesaikan konfliknya tak lepas dari seberapa berdayanya kekuatan institusi-institusi lokal yang ada di masyarakat lokal dan aliran hukum dapat berfungsi dengan baik. Membina kepercayaan ditingkat grassroot bukanlah pekerjaan yang mudah, harus mesti dimulai dari hal-hal atau kegiatan yang sederhana, namun dapat menjangkau kelompok etnis yang bersangkutan. Disinilah sesungguhnya harapan yang besar kepada pemerintah untuk bekerja bersama dengan berbagai komponen masyarakat dalam menyelesaikan agenda-agenda perdamaian. Penuntasan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang sempat tertunda adalah salah satu upaya untuk memperkuat kepercayaan masyarakat atas niat baik pemerintah pusat untuk mambantu menyelesaikan konflik komunal secara tuntas. Langkah berikutnya adalah dengan bagaimana visi menjaga perdamaian agar dapat berkesinambungan menjadi mainstream program pembangunan di Kalbar, yang diterjemahkan dalam kebijakan dan operasional program yang sifatnya integrative dan komprehensif. Harus ada ukuran-ukuran yang jelas dan kompeten untuk menunjukkan perdamaian di Kalbar. Sampai dalam tahapan mana perubahan-perubahan telah terjadi. Seperti apa yang disarankan oleh John Paul Lederach(2003) dalam konsepnya tentang Transformasi Konflik (Conflict Transformation) dimana setiap proses untuk mencapai perdamaian yang berkesinambungan sebaiknya dapat menyentuh 4 dimensi perubahan yang signifikan, yaitu dimensi perubahan yang ada tingkat personal, relasional, struktural, dan yang paling ideasional adalah tingkatan kultural, atau perubahan yang ada ditingkat pengetahuan budaya yang menjadi acuan bagi kelompok dalam bertindak. Jadi, tidak mudah memang karena tidak ada jalan singkat dan instant untuk membangun perdamaian. Perlu kesabaran dan upaya terus-menerus dari kesemua pihak. Semoga insiden Pontianak baru-baru ini menyadarkan kita kembali bahwa perjalanan kita untuk mencapai perdamaian yang berkesinambungan masih jauh dari akhir. 4. KONFLIK PEKERJAAN Ketika rasa frustasi yang berat membayangi kita, kualitas pekerjaan kita dan keakraban hubungan kita dengan orang lain akan terpengaruh. Kesehatan kita secara fisik maupun emosional juga dapat terganggu. Mungkin kita akan berhenti berolahraga atau menarik diri dari teman-teman dan gereja pada saat kita merasa semakin frustasi atau tertimpa kesedihan. Kerinduan saya karena saya juga pernah mengalaminya adalah memberi wawasan dan pengharapan bagi Anda yang mengalami konflik seperti ini. Saya ingin Anda tahu bahwa penyelesaian akan masalah pekerjaan ini berkisar pada beberapa hal penting di bawah ini: - Identifikasi masalah (Apakah ini masalahku atau masalah mereka?), - Segera menghadapi masalah (Kalau tidak, masalah itu akan semakin buruk), - Mengandalkan Allah, - Tanggung Jawab (Belajar bersikap terbuka, jujur, dan tekun berdoa bersama orang lain), dan - Antisipasi (Mengharapkan Allah menolong dan mengarahkan Anda dalam setiap situasi). Kita biasanya menganggap bahwa konflik disebabkan oleh seseorang atau sesuatu di luar diri kita. Namun, sering kali kita juga frustasi karena konflik-konflik internal. Sebagai contoh, kita ambil kisah Luke. Eksternal. Luke mempunyai masalah dalam hubungan dengan rekan sekerja dan bosnya. Saya harus menentukan apakah memang mereka yang salah atau apakah Luke memiliki kelemahan tak disadari yang turut memicu masalah. Kami menemukan kesalahan pada kedua pihak. Luke memiliki beberapa kebiasaan yang sangat menjengkelkan, dan bosnya perlu "pencangkokan kepribadian"! Konflik berkepanjangan dengan orang lain merupakan sumber utama konflik eksternal. Internal. Luke tidak sanggup memutuskan meninggalkan pekerjaannya. Jadi, ia tetap mendua hati, berada di antara dua pilihan: rasa aman (disertai kebosanan) dan risiko (disertai kegairahan). Kondisi ini merupakan sumber konflik yang sangat besar, dan sikapnya terus memburuk selama beberapa tahun ini. Luke telah membuat komitmen untuk mengikuti Kristus dan hidup sebagai orang Kristen sejak kecil, namun secara perlahan ia menjadi orang Kristen "Minggu-an". Ia merasa terpisah dari Allah karena ia juga semakin dalam terlibat perselingkuhan dengan seorang rekan kerjanya yang sudah menikah, dan ini menambah kekacauan yang sudah ada. Dalam hidup ini, saya terbiasa menggunakan reaksi "sentakan lutut" (terlalu cepat bereaksi) dan pendekatan "kepala di dalam pasir" (bersembunyi dari masalah) untuk memecahkan konflik dalam pekerjaan. Berharap bahwa jika Anda mengabaikan masalah maka masalah itu akan berlalu adalah hal yang mudah. Reaksi manusiawi semacam ini jarang berhasil. Jarang sekali masalah lenyap dengan sendirinya. Dan, Anda juga tidak dapat mengandalkan orang lain untuk memecahkan

masalah Anda. Ketegangan Luke mulai mencair ketika ia menyadari bahwa dirinya bukanlah korban. Selama itu ia justru telah memusatkan diri pada banyak hal yang ia anggap merupakan kesalahan atau tanggung jawab orang lain. Ketika ia mampu menyadari bahwa dirinya punya masalah dalam berkomunikasi dan mulai mengambil langkah-langkah perubahan, ia terkejut menemukan orang lain tiba-tiba lebih mudah bekerja sama dengan dirinya. Tidak, ia tidak dapat menjadi sahabat terbaik untuk bosnya yang sulit itu. Namun, ia mampu menjalin hubungan kerja yang tulus dalam sisa waktunya bekerja di tempat tersebut. Kita bukanlah pion yang dapat dimanfaatkan oleh situasi atau orang lain. Ada sesuatu yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki situasi kerja Anda yang buruk, meskipun Anda bukan penyebabnya. Dan, sebagai orang Kristen, saya dapat meyakinkan Anda bahwa Allah menghargai orang-orang yang mencari Dia dan menantikan pertolongan-Nya dalam setiap situasi, juga orangorang yang bersedia melakukan tugas yang harus dikerjakan karena adanya perubahan. Banyak di antara kita berada dalam jurang penderitaan. Kita terpaksa bertahan dalam konflik karena perubahan terlalu berisiko. Keluar dari jurang itu membutuhkan penyelesaian konflik dan peralihan ke tahap pertumbuhan berikutnya. Itu artinya melepaskan cara berpikir dan bertindak yang lama, dan bertanggung jawab atas kedewasaan diri dan kebutuhan kerja kita. Saya tidak akan mengatakan bahwa satu jawaban "cocok untuk semuanya". Itu mustahil karena Allah merancang kita secara unik dan kita memiliki pola alamiah yang berbeda dalam menangani konflik, perubahan dan komunikasi. Intinya adalah mempelajari keterampilan baru yang Anda perlukan untuk menolong diri Anda membuat perubahan yang tepat dalam hidup Anda. 5. KONFLIK KEDUDUKAN SOSIO-POLITIK Secara kuantitatif, Etnik Cina merupakan minoritas di tengah kemajemukan etnik Indonesia . Dari segi tempat tinggal mereka, ada perbedaan pola sebaran antar berbagai pulau di Indonesia . Khusus untuk Jawa dan Madura, persentase terbesar (78,4%) bertempat tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan sisanya (21,6%) bertempat tinggal di pedesaan (Coppel, 1983:7). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar Etnik Cina di Jawa dan Madura berkegiatan ekonomi pada sektor perdagangan dan industri perkotaan. Walaupun demikian, secara kualitatif, persoalan yang dianggap telah ditimbulkan oleh keberadaan Etnik Cina ini tidak bisa disebut kecil. Walaupun telah dikecam karena tidak didasarkan pada temuan penelitian empirik (Wibowo, 2000:XV), beredar pendapat bahwa minoritas Etnik Cina di Indonesia telah menguasai 70 sampai 80 persen perekonomian Indonesia . Begitu dianggap penting persoalan Etnik Cina di Indonesia, sehingga memunculkan suatu isu khusus, yaitu: “Masalah Cina”. “Masalah Cina” merupakan isu yang hangat dibicarakan dalam masyarakat Indonesia , dan tanpa bisa dihindari, persoalan ini memunculkan sejumlah pertanyaan. Apakah Cina Indonesia harus mempertahankan jati diri kebudayaan mereka sendiri atau harus berintegrasi atau berasimilasi ke dalam kebudayaan Indonesia . Adanya beberapa bentuk pola hubungan antar etnik. Menurut Persell (1990:235-238), secara teoretik, antagonisme etnik akan mengakibatkan salah satu dari enam jenis hubungan terpola. Masing-masing adalah: asimilasi, pluralisme, perlindungan hukum minoritas, eksklusif atau perpindahan penduduk, penaklukan, atau genocide . Antagonisme etnik sendiri, dihipotesiskan akan terjadi bila ada sejumlah prasyarat, yaitu: (1) adanya dua kelompok etnik yang berbeda, (2) adanya perbedaan praktek budaya dan ciri-ciri fisik kelompok yang bisa dikenali, (3) adanya persaingan antar kedua kelompok untuk mendapatkan barang-barang atau sumbersumber yang terbatas, dan (4) adanya ketimpangan distribusi kekuasaan dan sumberdaya pada kedua kelompok yang bersaing. Terlepas dari apakah keempat kondisi prasyarat tersebut semuanya terpenuhi atau tidak, kerusuhan antar etnik termasuk terhadap Etnik Cina di Indonesia seolah-olah terus mengikuti dinamika sejarah Indonesia . Tidak bisa disangkal bahwa kajian tentang etnik Cina di Indonesia sudah banyak dilakukan. Bahkan tak sedikit dari kajian itu yang diterbitkan. Ini menunjukkan bahwa fenomena etnik Cina di Indonesia telah merangsang begitu banyak kajian, baik kajian lapangan maupun kepustakaan. Sementara itu, usaha untuk menentukan letak Etnik Cina dalam masyarakat Jawa selama abad ke dua puluh, dilakukan oleh Rush (1991). Kajian sejarah ini menggunakan sejumlah bahan dokumenter yang relevan untuk mencermati bagaimana para tokoh masyarakat Etnik Cina memerankan diri dalam perubahan-perubahan besar di Jawa. Seperti melanjutkan kajian ini, secara lintas disiplin Witanto (2000) memadukan pendekatan analisis ruang dan perkembangan sejarah masyarakat Cina dan posisi mereka dalam masyarakat Indonesia. Salah satu faktor mendorong munculnya konflik dan kekerasan tersebut adalah morfologi fisik pemukiman. Pola pemukiman yang berubah menjadi model sosio ekonomi yang eksklusif telah menumbuhkan citra negatif sebuah kelompok bermodal. Di lain

pihak, kondisi perkotaan yang semakin parah telah memberikan tekanan tersendiri bagi warga kota secara umum. Akibatnya, sentimen etnik terhadap kelompok bermodal yang selama ini tersembunyi, menjadi mengemuka karena kelompok bermodal dianggap tidak terkena dampak krisis ekonomi. Adanya dua kecenderungan penjelasan terhadap kedudukan Etnik Cina dalam kehidupan ekonomi Indonesia, yaitu: (1) pendekatan struktural dan kelas, dalam kaitannya dengan penguasa Orba dan militer, dan (2) pendekatan etnik dan kultural yang memberikan penekanan pada keunggulan motivasi dan ketrampilan usaha Etnik Cina. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Walaupun diakui, tidak cukup mewakili, karena hanya mengkaji dua kasus individu seperti Oei Tiong Ham dan Liem Sioe Liong. Mely G. Tan (1991) juga mengemukakan bahwa minat kajian terhadap dimensi sosial dan kultural Etnik Cina juga mendapatkan cukup perhatian. Ini terjadi karena selama Orba , Indonesia menerapkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan pembauran. Dari sebelas faktor yang berpengaruh terhadap interaksi Cina dan Pribumi, dipadatkan oleh Musianto (1997) menjadi enam faktor, yaitu: nenek moyang atau keturunan, kepribadian atau mentalitas, pendidikan, status, sosial ekonomi dan keagamaan. Terakhir, ada dua kajian yang menganalisis kasus-kasus kekerasan dan kerusuhan terhadap Etnik Cina. Pertama , karya Abdul Baqir Zein (2000) yang melakukan rekonstruksi dan analisis dampak kerusuhan berdasar sejumlah berita dan pendapat banyak orang sebagaimana dimuat dalam surat kabar dan majalah. Kedua , analisis terhadap kasus kerusuhan 13-15 Mei 1998 oleh Pattiradjawane (2000:213). Kasus yang oleh penulisnya disebut sebagai titik terendah sejarah orang Etnik Cina di Indonesia ini, ternyata masih menimbulkan silang pendapat. Ada yang berpendapat bahwa kerusuhan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan gerakan anti Cina. Di sisi lain, ada yang meragukan bahwa kerusuhan tersebut sama sekali tidak mengandung sentimen rasial. Sebab, walaupun tidak ada fakta yang independen mengenai apa yang menimpa orang-orang keturunan Cina, banyaknya orang keturunan Cina yang dijadikan sasaran perusakan, pembakaran, penjarahan dan perkosaan, cukup menjadi bukti adanya suatu bentuk diskriminasi rasial untuk menjadikan orang-orang keturunan Cina traumatik. Dalam kerusuhan itu, seseorang diperkosa bukan karena dia perempuan, tapi karena dia adalah orang keturunan Cina. Telah dikemukakan, bahwa bagian terbesar Etnik Cina, khususnya di Jawa dan Madura, tinggal di wilayah perkotaan. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah ketegangan sosial yang melibatkan etnik keturunan Cina hanya terjadi di perkotaan? Bagaimana dampak sosialnya bila persaingan ekonomi yang melibatkan etnik keturunan cina berlangsung di pedesaan? Bagaimana pula pola hubungan antara etnik keturunan Cina Etnik Jawa di pedesaan? Kalau setiap pertikaian selalu melibatkan persaingan, maka tidak semua kasus persaingan melibatkan pertikaian. Walaupun tidak jarang diliputi oleh ketegangan sosial, pola interaksi persaingan memberikan kecakapan khususnya dalam meningkatkan daya saing. Daya saing ini dicapai melaluli peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk pertanian yang mereka hasilkan. Dinamika hubungan antar etnik ini dipandang menyerupai model dialektika Simmel, karena setiap pola hubungan baru merupakan akibat dialektika interaksi satu pihak dengan pihak lain. Dialektika itu sendiri, membentuk pola hubungan yang berubah dari pola penguasaan, menjadi kerjasama, persaingan, dan akhirnya pertikaian. Sekaligus tampak pula, bahwa hubungan antar etnik memiliki akibat lebih fungsional bila berlangsung mengikuti pola kerjasama dan persaingan. Sedangkan pola hubungan penguasaan dan persaingan cenderung disfungsional terhadap sistem sosial ekonomi. Akan halnya kepentingan sejati di balik konflik agama dan etnik, sebenarnya mengikuti pemikiran Marxian, yaitu: materi. Dalam rangka mengurangi konflik yang terus terjadi antara etnis Cina dan lainnya diperlukan kebijakan Negara yang lebih melindungi warga minoritas. Walaupun telah banyak berbagai macam kebijakan politik dan hukum, namun kenyataannya konflik ini terus terjadi. Situasi yang demikian akan mengurangi minat kelompok etnis Cina untuk melakukan kegiatan bisnis, padahal mereka merupakan potensi yang selama ini belum bisa diganti. Disamping itu, apapun yang terjadi pada kelompok minoritas Cina di Indonesia, pemerintah RRC tidak akan tinggal diam dan hal ini sangat mengancam stabilitas Negara Indonesia yang sudah sangat terpuruk ini. III. PENUTUP Negara-bangsa yang majemuk memang akan dihadapkan pada instabilitas, bahkan kecenderungan disintegrasi, tetapi bila perbedaan vertikal itu sekaligus pula diikuti dengan akses, kontrol, dan distribusi sumber daya ekonomi yang timpang serta sektor politik yang tidak partisipatif bagi semua kelompok. Dalam situasi yang senjang secara ekonomi dan politik bisa saja orang-orang yang melihat jalan kehidupannya relatif tertutup, untuk meraih kedudukan

yang diinginkan mereka berusaha mengerahkan kelompoknya. Untuk keperluan mobilisasi tersebut mereka cenderung memanfaatkan loyalitas tradisionalnya, yaitu melalui ikatan primordialnya. Demikian pula, kelompok yang diuntungkan oleh situasi yang timpang berupaya mengerahkan loyalitas tradisionalnya untuk mempertahankan kedudukan mereka. Namun demikian, potensi konflik itu tidak akan manifes bila prasyarat-prasyarat tertentu dipenuhi. Pertama, negara Indonesia demokratis, yang artinya semua kelompok etnik, agama, ras, mayoritas maupun minoritas memiliki perwakilan dalam institusi politik yang bisa menyalurkan aspirasi dan kepentingan mereka. Kedua, hubungan-hubungan di antara kelompok-kelompok yang berbeda tersebut dikendalikan melalui prinsip-prinsip hukum yang obyektif. Dengan perkataan lain, tegaknya supremasi hukum dan hukum tidak memihak pada kelompok tertentu, tetapi mengatasi semua kelompok tanpa kecuali. Ketiga, adanya distribusi pendapatan yang relatif merata antar kelompok, artinya ketimpangan sosial-ekonomi tidak begitu senjang antar kelompok dan daerah. Masyarakat Belgia, Swiss, dan Kanada termasuk dalam kategori masyarakat majemuk, tetapi heterogenitas masyarakat ini tidak menjadi persoalan besar dalam proses integrasi nasional. Tidak terjadi konflik terbuka antar kelompok masyarakat dan negara selalu dalam keadaan stabil. Itu dimungkinkan karena, di ketiga negara bersangkutan sistem demokrasi, supremasi hukum, dan distribusi pendapatan yang relatif merata berjalan dengan baik. Mungkin kita bisa belajar kepada mereka, bagaimana mengelola masyarakat majemuk dengan tetap menjaga kemajemukan itu sendiri.

Konflik Horizontal dan Peran Negara

Jauh hari, indikasi kekerasan di Pandeglang dan Temanggung telah diketahui aparat. Namun, aparat seolah membiarkannya. Kedua peristiwa tersebut, oleh sebagian kalangan, hanya dianggap sebagai upaya pengalihan isu. Bagaimana menilai peran pemerintah dalam berurusan dengan konflik horizontal dewasa ini? Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama, ras maupun golongan. Dalam hal agama, setidaknya ada lima agama besar yang diakui keberadaannya oleh negara. Selain agama, masyarakat Indonesia juga mengenal beberapa aliran kepercayaan. Warga negara Indonesia memiliki kebebasan dalam menentukan agama dan beribadah, juga menganut kepercayaan yang diyakininya. Hal ini dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28E ayat 1 dan 2. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya. Setiap orang berhak atas kebebasan menyakini kepercayaan. Artinya, negara menjamin dan memberi perlindungan pada warganya dalam menjalankan ibadah, menurut agama dan kepercayaannya. Di dalam masing-masing agama itu sendiri, juga penuh ragam golongan. Hal ini menandaskan bahwa kemajemukan merupakan suatu kenyataan yang harus diterima oleh semua pihak, kapan pun dan dimana pun. Akan tetapi dalam kemajemukan terkadang timbul potensi-potensi konflik yang disebabkan oleh faktor-faktor kondisional maupun struktural, bersifat aktual sesuai dinamika perkembangan masyarakat beragama. Di sinilah kemudian muncul istilah untuk menjaga kerukunan umat beragama. Kerukunan Umat Beragama

Kata „rukun‟ berasal dari bahasa Arab, dari kosakata ruknun, yang secara harfiah berarti asas atau dasar. Sedangkan dalam arti adjektif, adalah baik atau damai. Dengan demikian, kerukunan umat beragama berarti hidup dalam suasana damai. Damai di sini bukan berarti diam membisu. Akan tetapi, semua bisa dilakukan dan diselesaikan dengan baik, sehingga hidup menjadi damai. Apabila terdapat konflik dan perselisihan bisa diselesaikan dengan baik-baik; tidak menggunakan otot maupun kekerasan. Karena pada prinsipnya, baik akan membawa kedamaian, yang merupakan prasayarat dalam hidup bersama di tengah-tengah masyarakat majemuk. Baik dan damai tersebut menjadi prinsip hidup bersama, baik antar umat beragama, misalnya antara Kristen dan Islam, maupun antar internal umat itu sendiri, misalnya di kalangan umat Islam, ada kelompok Sunni dan Syi‟ah. Kedua hal tersebut menjadi landasan utama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Kerukunan tersebut akan dapat tercipta bila ada toleransi (tasamuh), yakni suatu sikap untuk saling pengertian dan menghargai, tanpa ada diskriminasi dalam hal apa pun, khususnya dalam masalah agama. Toleransi harus dapat didefinisikan lebih dari sekadar saling mengerti dan memahami, akan tetapi juga dipraktikkan dalam hidup keseharian, di mana setiap individu terus-menerus berinteraksi dan bekerja sama dalam masyarakat, tanpa berburuk sangka. Dalam Islam, toleransi tersebut akan terwujud bila proses silaturahmi saling dijaga. Tentu saja atas prinsip baik dan damai tadi; bukan prasangka buruk, saling curiga, atau saling tidak percaya. Silaturahmi ini menjadi ujung tombak terbesar dan terdepan dalam menjaga toleransi, dengan fungsi utamanya, menghilangkan prasangka buruk dan saling curiga, sehingga timbul kepercayaan untuk saling hidup bersama; bantu-membantu. Setelah itu, baru membangun hubungan-hubungan yang lebih terarah untuk memperkokoh tali kekerabatan sesama warga negara, warga masyarakat, maupun sesama umat dengan membuat jalan (baca: sistem) yang lebih baik dan memiliki kemanfaatan bagi semuanya. Semisal, menjalin (baca: membuat sistem) perdagangan atau perniagaan yang merata dan adil. Sebagaimana dinyatakan dalam konstitusi yang menjamin dan memberi perlindungan pada warga dalam menjalankan ibadahnya menurut agama dan kepercayaannya, maka setiap pemeluk agama maupun kepercayaan wajib mendapat perlindungan dari negara dalam menjalankan ibadahnya, tanpa rasa takut maupun cemas. Pemaksaan ajaran agama atau kepercayaan kepada seorang atau kelompok pada dasarnya tidak dibenarkan oleh ajaran agama mana pun, terlebih Islam. Tugas manusia hanyalah menyampaikan untuk saling menasihati serta mengajak kebaikan dan kebenaran. Itu pun harus dilakukan dengan sabar. Sabar itu berarti tanpa pemaksaan, apalagi kekerasan. Peran Negara Apabila ada sekelompok orang yang berkeinginan untuk memaksakan kehendaknya, ajaran atau kepercayaan terhadap kelompok lain—apalagi dengan kekerasan—maka negara wajib mencegahnya, serta melindung mereka yang akan dianiaya; biasanya, mereka berasal dari kelompok minoritas. Akan tetapi, karena Indonesia bukan negara yang berdasarkan agama, maka kalau kemudian terjadi perselisihan antar umat beragama atau secara internal umat beragama, seyogianya diselesaikan secara mandiri, dengan damai dan baik. Penyerahan penyelesaian kepada negara, justru akan memudahkan negara dalam memetakan konflik-konflik yang bersifat keagamaan.

Dalam sejarahnya, terkadang hal ini kemudian senantiasa dimanfaatkan oleh tangan-tangan yang tak terlihat untuk memperebutkan atau mempertahankan kekuasaan yang korup. Sehingga kekerasan atas nama agama sering terjadi dan aparat keamanan senantiasa terlambat mengatasinya. Terlepas dari semua itu maka hal terpentingnya adalah bagaimana sesama anak bangsa mampu mengatur diri sendiri dalam kehidupan bermasyarakat, juga menyelaraskan hak dan kewajiban, serta kepentingan pribadi dan bersama (social), pun konflik dan konsensus. Sebab, pada dasarnya, masyarakat atau seorang yang beragama dan beriman akan sangat menjunjung moral, etika, dan tata krama, dalam pergaulan masyarakat yang plural. Moral, etika, dan tata karma tersebut akan teraktualisasikan dalam berbagai bentuk perilaku yang harus didorong negara dan masyarakat untuk diwujudkan. Pertama, meningkatkan jalinan tali silaturahmi, baik secara internal maupun antar kelompok beragama, hingga terwujudnya sikap dan perilaku keberagaman yang toleran. Kedua, mendorong masyarakat beragama dalam menyampaikan aspirasinya dengan cara-cara legalkonstitusional. Ketiga, mensinergikan lembaga-lembaga terkait untuk menangani isu terkait dengan konflik keagamaan. (DJ Respati)

Tujuan atau sasaran dari suatu "sistem sosial", paling jelas dapat dilihat dari fungsi sistem-sistem itu sendiri. Misalnya, keturunan merupakan fungsi dari keluarga, pendidikan merupakan fungsi dari lembaga persekolahan dan sebagainya. Tujuan pada dasarnya juga merupakan cita-cita yang harus dicapai melalui proses perubahan atau dengan jalan mempertahankan sesuatu. (Sumber: Soleman B. Taneko, SH).

Tujuan mempunyai beberapa fungsi, antara lain: a. Sebagai pedoman. Tujuan berfungsi sebagai pedoman atau arah terhadap apa yang ingin dicapai oleh suatu "sistem sosial". Sebagai pedoman, suatu tujuan harus jelas, realistis, terukur dan memperhatikan dimensi waktu.

ANALISIS STUDI ETNOGRAFI
01 March 2012 - dalam Multikulturalisme dan Kesukubangsaan Oleh trijokoantro-fisip ANALISIS STUDI ETNOGRAFI DALAM PEMBANGUNAN INTEGRASI NASIONAL TRI JOKO SRI HARYONO

1.

1.

PENDAHULUAN

Kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sering dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan. Kita sering bangga akan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, yang melambangkan sifat aneka warna bangsa kita tetapi tetap satu. Hidred Geertz (1981) misalnya mengatakan bahwa ciri khas struktural Indonesia yang paling penting justru terletak pada perbedaan nilai, pandangan, dan kemampuan bentuk-bentuk sosialnya untuk menyesuaikan diri. Faktort-faktor ini pulalah yang memberikan kepada masyarakat itu sebagai keseluruhan kekuatan dan ketahanan yang besar.

Namun demikian masyarakat yang majemuk, baik dari segi agama, etnis, budaya maupun adat-istiadat, secara alamiah juga mengandung benih-benih pertikaian. Kemajemukan sosial merupakan faktor potensial dalam membangkitkan konflik di tengah masyarakat. Konflik-konflik sosial yang bersumber dari agama misalnya, seringkali mewarnai kehidupan masyarakat, tetapi sebenarnya bukan semata-mata karena agama itu sendiri. Konflik dapat terjadi karena adanya kepentingan golongan tertentu. Selain itu tentunya ada berbagai faktor lain yang bisa menjadi pemicu terjadinya konflik, termasuk konflik berkaitan dengan kepentingan politik, yang makin marak terjadi belakangan ini. Sebagaimana diketahui, beberapa tahun belakangan ini kehidupan perpolitikan nasional banyak mewarnai kehidupan masyarakat kita dalam berbangsa dan bernegara. Perselisihan dan pertentangan di antara para elit politik nasional juga mempengaruhi konstelasi politik dan sosial budaya di daerah-daerah. Bahkan seringkali mereka menggunakan faktor-faktor kemajemukan, seperti keragaman agama, budaya, ras dan golongan yang ada di masyarakat untuk mencapai tujuan politiknya. Tulisan ini bermaksud untuk melakukan analisis studi etnografi berkenaan dengan kemajemukan bangsa dan kebudayaan Indonesia, khususnya dalam konteks untuk membangun integrasi nasional

2. ETNOGRAFI Etnografi merupakan salah satu kajian dalam studi antropologi yang berusaha mendeskripsikan kebudayaan suatu suku bangsa secara holistik. Koentjaraningrat (1983: 10) mengartikan etnografi sebagai “pelukisan tentang bangsa-bangsa”. Dalam sejarahnya, pada masa lalu istilah ini dipakai umum di Eropa Barat untuk menyebut bahan keterangan yang termaktub dalam karangan-karangan tentang masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa, serta segala metode untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan itu. Namun demikian, istilah itu hingga kini masih lazim dipakai untuk menyebut bagian dari ilmu antropologi yang bersifat deskriptif. Namun demikian karena ada suku bangsa yang kecil, dalam arti jumlah penduduk pendukung kebudayaannya relatif sedikit, sementara ada suku bangsa dengan jumlah penduduk yang mendukung kebudayaan relatif besar, maka bagi seorang ahli antropologi yang membuat deskripsi etnografi perlu menyesuaikan diri dengan kondisi suku bangsa yang dideskripsikannya. Misalnya, etnografi suku bangsa Badui di daerah Banten, barangkali seorang ahli etnografi dapat mendeskripsikan secara keseluruhan penduduk suku bangsa tersebut, karena jumlah penduduknya relatif sedikit. Sebaliknya dalam membuat etnografi mengenai suku bangsa Jawa, dengan jumlah penduduk yang besar, tidak perlu dideskripsikan secara keseluruhan, melainkan perlu membatasinya pada lokasi tertentu saja. Mengingat dewasa ini ini amat sulit menemukan suku bangsa yang relatif kecil dengan penduduk yang sedikit dan masih “murni”, maka diperlukan metode untuk menentukan secara konkrit batas-batas suatu suku bangsa yang menjadi pokok deskripsi etnografinya. Sehubungan dengan itu Naroll (1964: 285) pernah menyusun suatu daftar prinsip-prinsip yang biasanya digunakan oleh para ahli antropologi untuk menentukan batas-batas masyarakat bagian dari suatu suku bangsa yang menjadi pokok dan lokasi yang dideskripsikan, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh garis batas suatu daerah politikal administratif kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografi yang merupakan kesatuan daerah fisik

6. 7. 8. 9.

kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mengalami satu pengalaman sejarah yang sama kesatuan masyarakat dengan penduduk yang frekuensi interaksinya satu dengan yang lain merata kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam.

Dengan prinsip-prinsip di atas dalam kajian etnografi tidak perlu selalu merupakan deskripsi tentang kebudayaan suatu suku bangsa, melainkan lebih merupakan deskripsi tentang kebudayaan suatu masyarakat (sebagai bagian dari suatu suku bangsa). Sebagai suatu deskripsi tentang kebudayaan suatu masyarakat yang bersifat holistik, maka bahan kajian yang dideskripsikan dala etnografi adalah ke tujuh unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat tersebut, yaitu: (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) sistem perekonomian, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) kesenian, dan (7) sistem religi. Meskipun ketujuh unsur kebudayaan di atas dideskrepsikan semua, tetapi dalam karya etnografi biasanya ada fokus perhatian pada salah satu unsur atau bahkan sub unsur budaya tertentu saja sebagai pokok perhatiannya, dengan tanpa mengabikan deskripsi tentang unsur-unsur budaya lain yang terkait. Dalam tulisan ini, dengan mengacu pada definisi yang pernah dibuat para ahli, kebudayaan diartikan sebagai sistem ide atau sistem gagasan yang dimiliki oleh suatu masyarakat lewat proses belajar, dan yang dijadikan acuan bagi tingkah laku dalam kehidupan sosial dari masyarakat yang bersangkutan (Melalatoa, 1997a: 4). Lebih jauh konsep kebudayaan dapat dikembangkan dalam suatu rincian untuk mendapatkan pemahaman dan tujuan yang lebih operasional. Rincian itu terdiri atas unsur-unsur gagasan yang terkait dalam satu sistem, yang dikenal sebagai konsep sistem budaya (cultural system).

3. ETNOGRAFI INDONESIA Kajian tentang manusia, kebudayaan dan masyarakat Indonesia telah mulai ada sejak abad 16, yaitu sejak adanya kolonialisme. Karya-karya etinografi yang ditulis oleh orang-orang Eropa pada masa-masa itu umumnya masih mengandung banyak kelemahan, biasanya bersifat dangkal, kurang teliti, kebanyakan mengkhusus pada unsur-unsur yang di mata mereka tampak aneh saja. Hal ini dapat dimaklumi karena karya tulis tersebut dibuat oleh orang-orang yang tidak memiliki keahlian dalam penulisan etnografi (Koentjaraningrat, 1980: 4). Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri karya-karya tersebut mempunyai peranan penting dalam perkembangan antropologi. Namun demikian, ada juga beberapa penulis yang menghasilkan karya etnografi cukup baik, dan karyanya dianggap cukup penting dalam menjelaskan kehidupan suatu suku bangsa. Misalnya, Snouck Hurgronye yang menghasilkan karya etnografi tentang suku bangsa Aceh dan orang Gayo, dan Niewenhuis menghasilkan karya etnografi tentang orang Dayak, serta A.C. Kruyt menulis tentang orang Toraja di Sulawesi (Melalatoa, 1997a: 3). Ilmu tentang Indonesia secara sistematis telah dimulai dengan terbitnya karya-karya dari J.J de Hollander dan P.J. Veth yang disebut dengan ilmu tentang Daerah van Netherlandsch-India. Mereka telah berhasil mengintegrasikan semua data geografi maupun etnografi yang telah dikumpulkan para pelancong ke Indonesia pada masa silam ke dalam suatu buku teks yang berjudul Inleiding bij de Beoefening de Land – en Volkenkunde van Nederlandsch Oos – Indiel (Buku teks untuk penelitian tentang Geografi dan Etnografi India Belanda) (Danandjaja, 1986: 2). Tokoh lain dalam perkembangan etnografi Indonesia pada abad 19 adalah G.A. Wilken. Wilken telah berhasil memisahkan etnologi Indonesia dari ilmu induknya, Land en Volkenkunde van Nederlandsch – Indie, dengan jalan memberi dasar teori yang dilandasi oleh pemikiran evolusi unilineal. Karena itu Wilken sering mengutip pendapat para pengarang aliran evolusionisme seperti McLennan, JJ Bachoffen, J. Lubbock, dan G. Teulon.

Berhubung masa itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, maka penelitian antropologi kebanyakan bersifat terapan, karena dikembangkan untuk memberi bahan penting bagi pemerintah kolonial untuk kepentingan politik penjajahan Belanda. Setelah Perang Dunia II, karena Indonesia telah merdeka, para ahli Indologi Belanda tidak lagi mendapat kesempatan berada dekat dengan penduduk Indonesia. Bahkan pada tahun 1957-1958 berhubung buruknya hubungan politik Indonesia dan Belanda dalam masalah Irian Jaya, kebanyakan sarjana Belanda meninggalkan Indonesia. Kekosongan ini memaksa timbulnya sarjana-sarjana ilmu sosial dari Indonesia sendiri. Mereka itu sebagian telah memperoleh pendidikan di Belanda, dan sebagian lagi di Amerika Serikat. Mereka itu telah dipacu untuk mengajar, mengadakan penelitian serta mengembangkan kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekosongan juga diisi oleh para sarjana Amerika Serikat. Minat terhadap Indonesia merupakan sebagian perhatian sarjana AS terhadap keadaan negara-negara Asia Tenggara setelah PD II. Misalnya, di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang mempunyai tujuan untuk mempelajari masalah Internasional setelah PD II, dilihat dari aspek-aspek kebudayaan, ekonomi, dan politik. Di Indonesia proyek yang paling terkenal adalah kajian tentang Mojokuto, nama samaran untuk kota Pare, Jawa Timur. Mereka itu adalah Cliffort Geertz menulis tentang religi, Hildred Geertz menulis tentang kekerabatan, E.L. Ryan menulis tentang orientasi nilai budaya orang Indonesia keturunan Cina, A.C. Dewey menulis tentang ekonomi pasar, dan R.R. Jay menulis tentang politik lokal. Selain itu di Cornel University juga mempunyai program Asia Tenggara yang merupakan bagian dari jurusan kajian Timur Jauh. Sebagai bagian terpenting dari program tersebut adalahModern Indonesian Project. Perkembangan antropologi di Indonesia selanjutnya tidak dapat dilepaskan dari peranan Koentjaraningrat sebagai tokoh utamanya. Parsudi Suparlan (1993: 191) mengemukakan bahwa Koentjaraningrat telah merintis perkembangan bagi arah antropologi di Indonesia. Corak perkembangan antropologi yang dikembangkannya sesuai dengan antropologi dalam jamannya. Melalui karya-karya dan kegiatan-kegiatannya antropologi dikenal sebagai salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang utuh di antara disiplin-disiplin ilmu sosial lain di Indonesia. Begitu juga sumbangan tentang konsep-konsep dan teori-teorinya tidak hanya dikenal dan digunakan oleh dan dalam disiplin ilmu sosial tetapi juga digunakan oleh umum. Istilah-istilah seperti kebudayaan, sikap mental, dan nilai budaya merupakan konsep-konsep antropologi yang dikembangkan Koentjaraningrat kemudian telah digunakan oleh umum. Pada masa-masa berikutnya, perkembangan karya etnografi khususnya, dan antropologi umumnya di Indonesia lebih banyak dilakukan dan ditentukan oleh para sarjana Indonesia sendiri, meskipun tentu masih ada sarjana asing yang melakukan penelitian tentang Indonesia. Tidak mudah untuk mengetahui berapa jumlah yang pasti karya etnografi mengenai Indonesia hingga saat ini, tetapi dari banyaknya bibliografi yang pernah disusun para ahli setidaknya mengidikasikan bahwa barangkali telah ada ribuan karya etografi yang pernah dibuat mengenai Indonesia sejak abad 16, dan ini juga menunjukkan bahwa Indonesia yang wilayahnya sedemikian luas dengan kebhinekaannya merupakan lahan yang potensial untuk digarap dalam hal penulisan karya etnografi. Indonesia merupakan sebuah negara besar, bila dilihat dari jumlah penduduk dan luas wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Sebagai sebuah negara yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, Indonesia juga merupakan negara majemuk. Kemajemukan ini telah digolong-golongkan ke sejumlah kategori dengan kriteria tertentu oleh para ahli. Macam-macam kategori itu didasarkan, misalnya pada besar kecilnya populasi pendukung budaya suku bangsa itu (Suparlan, 1979); kategori adat atau 19 lingkaran hukum adat (Vollenhoven, 1918); kategori penutur bahasa termasuk dialeknya (Masinambow, 1987; Silzer, 1991); kategori masyarakat yang ada di pulau Jawa dan di luar Jawa (Geertz, 1971); kategori berdasarkan tipe-tipe sosial budaya, yang

menyangkut adaptasi ekologis, sistem dasar kemasyarakatan, dan gelombang pengaruh luar (Geertz, 1967; Koentjaraningrat, 1983), dan lain-lain (lihat Melalatoa, 1997: 250). Klasifikasi lain tentang kemajemukan secara lebih mendasar dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu secara horisontal dan secara vertikal. Secara horisontal, negara Indonesia terdiri dari sekitar 300 suku bangsa, aneka ragam agama dan kepercayaan, bahasa, serta keragaman dalam ras. Sedangkan secara vertikal, terlihat adanya pelapisan-pelapisan sosial dalam masyarakat yang didasarkan atas berbagai faktor misalnya, misalnya pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, dan sebagainya (Geertz, 1994: 75-102). Faktor kemajemukan horisontal merupakan faktor yang diterima seseorang (sebagian besar) sebagai warisan (ascribed factors). Sedangkan faktor-faktor kemajemukan vertikal lebih banyak diperoleh dari hasil usahanya sendiri (achievement factors) (Pelly, 1997). Sementara itu Geertz (1963) berdasarkan tipologi ekosistemnya mencoba menyederhanakan aneka ragam kebudayaan yang berkembang di Indonesia ke dalam dua tipe, yaitu kebudayaan yang berkembang di “Indonesia dalam” (Jawa dan Bali) dan kebudayaan yang berkembang di “Indonesia Luar”, yaitu pulau-pulau luar Jawa dan Bali. Kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sering dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan. Kita sering bangga akan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, yang melambangkan sifat aneka warna bangsa kita tetapi tetap satu. Hidred Geertz (1981) misalnya mengatakan bahwa ciri khas struktural Indonesia yang paling penting justru terletak pada perbedaan nilai, pandangan, dan kemampuan bentuk-bentuk sosialnya untuk menyesuaikan diri. Faktort-faktor ini pulalah yang memberikan kepada masyarakat itu sebagai keseluruhan kekuatan dan ketahanan yang besar. Namun demikian masyarakat yang majemuk, baik dari segi agama, etnis, budaya maupun adat-istiadat, secara alamiah juga mengandung benih-benih pertikaian. Kemajemukan sosial merupakan faktor potensial dalam membangkitkan konflik di tengah masyarakat. Konflik-konflik sosial yang bersumber dari agama misalnya, seringkali mewarnai kehidupan masyarakat, tetapi sebenarnya bukan semata-mata karena agama itu sendiri. Konflik dapat terjadi karena adanya kepentingan golongan tertentu. Selain itu tentunya ada berbagai faktor lain yang bisa menjadi pemicu terjadinya konflik, termasuk konflik berkaitan dengan kepentingan politik, yang makin marak terjadi belakangan ini. Sebagaimana diketahui, beberapa tahun belakangan ini kehidupan perpolitikan nasional banyak mewarnai kehidupan masyarakat kita dalam berbangsa dan bernegara. Perselisihan dan pertentangan di antara para elit politik nasional juga mempengaruhi konstelasi politik dan sosial budaya di daerah-daerah. Bahkan seringkali mereka menggunakan faktor-faktor kemajemukan, seperti keragaman agama, budaya, ras dan golongan yang ada di masyarakat untuk mencapai tujuan politiknya. Koentjaraningrat (1982: 345) mengemukakan usaha untuk mempersatukan penduduk Indonesia yang majemuk paling sedikit menyangkut empat masalah yang masing-masing mempunyai dasar serta lokasi berbeda dan karena itu memerlukan kebijaksanaan yang berbeda pula. Keempat masalah tersebut adalah: (1) masalah mempersatukan aneka warna suku bangsa, (2) masalah hubungan antar umat beragama, (3) masalah hubungan mayoritas-minoritas, (4) masalah integrasi kebudayaan Papua dengan kebudayaan Indonesia lainnya. Lebih jauh Koentjaraningrat (1995: 384) menegaskan adanya lima masalah sumber konflik antar sukusuku bangsa atau golongan-golongan yang pada umumnya dapat dijumpai di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Kelima macam sumber konflik tersebut adalah: 1. konflik bisa terjadi kalau warga dari dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup yang sama;

2. 3.

konflik juga busa terjadi kalau warga dari satu suku bangsa mencoba memaksaan unsur-unsur dari kebudayaannya kepada warga dari suatu suku bangsa lain; konflik yang sama pada dasarnya, tetapi lebih fanatik dalam wujudnya, biasa terjadi kalau warga dari satu suku bangsa mencoba memaksakan konsep-konsep agamanya terhadap warga dari suku bangsa lain yang berbeda agama;

4. 5.

konflik akan terjadi kalau satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa lain secara politis; potensi konflik terpendam ada dalam hubungan antara suku-suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat.

Sebaliknya potensi bersatu atau paling sedikit untuk bekerjasama juga ada dalam setiap hubungan antara suku bangsa dan golongan. Koentjaraningrat (1995: 385) menyebut adanya dua potensi penting, yaitu: 1. warga dari dua suku bangsa yang berbeda dapat saling bekerjasama secara sosial ekonomi, kalau mereka bisa mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup yang berbeda-beda dan saling melengkapi. Dalam keadaan saling membutuhkan itu akan berkembang suatu hubungan simbiotik. Sikap para warga dari suatu suku bangsa terhadap yang lain dijiwai oleh suasana toleransi. 2. warga dari dua suku bangsa yang berbeda juga dapat hidup berdampingan tanpa konflik, kalau ada orientasi ke arah satu golongan ketiga yang dapat menetralisasi hubungan antara kedua suku bangsa tadi.

4. ESENSI STUDI ETNOGRAFI DALAM PEMBANGUNAN INTEGRASI
Antropologi sebagai disiplin yang mempelajari kebudayaan manusia dapat berperan dalam penelitianpenelitian diakronik dan sinkronik mengenai interaksi antar suku bangsa yang bersifat kualitatif, dengan metode-metode observasi dan wawancara mendalam, maupun metode kuantitatif untuk mengukur naik turunnya sikap toleransi antar suku bangsa di beberapa daerah (Koentjaraningrat, 1993: 186). Dengan demikian antropologi digunakan untuk kepentingan praktis. Dalam sejarahnya memang antropologi seringkali digunakan untuk tujuan-tujuan praktis. Pada masa kolonial misalnya, antropologi banyak digunakan untuk mengenal dan mendapatkan pengertian tentang masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna keperluan pemerintah jajahan. Di samping itu, antropologi pada masa itu juga digunakan untuk mempermudah penyiaran agama Nasrani. Akhir abad 19 antropologi juga dugunakan oleh pemerintah kolonial untuk tujuan yang positif, yaitu dalam rangka mengambil kebijakan yang ditujukan untuk lebih banyak memeprhatikan kesejahteraan, kesehatan, serta pendidikan rakyat yang dikenal dengan etiche politiek. Di AS yang bukan negara penjajah, namun memiliki penduduk pribumi, yaitu orang-orang Indian yang hidupnya sangat menderita karena dpusatkan di daerah reservasi yang terbatas, antropolog juga digunakan untuk membantu dalam perlindungan terhadap hak-hak mereka, dan memperbaiki sistem pendidikan (Koentajaraningrat, 1993: 168). Di Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang terdapat sikap umum bahwa antropologi lebih penting sebagai ilmu terapan dari pada ilmu dasar. Proses transisi sosial budaya dan peradaban agraris yang tradisional ke peradaban industri juga diusahakan dengan sengaja aar bisa dipercepat berlangsungnya. Peranan antropologi terapan sebagai salah satu ilmu sosial dalam rangka usaha pembangunan nasional adalah penelitian terhadap sejumlah masalah sosial budaya tertentu dengan metodologi pendekatan khusus. Metodologi

pendekatan yang khusus itu adalah: (1) pendekatan masalah secara holistik, (2) pendekatan masalah secara mikro, dan (3) pendekatan masalah dengan metode komparatif. Etnografi sebagai salah satu kajian dalam studi antropologi sangat berperan dalam penerapan untuk pembangunan. Sebagai suatu deskripsi tentang kebudayaan masyarakat, pemahaman tentang esensi kebudayaan sangatlah penting. Kebudayaan tidak hanya dilihat dari aspek fisik atau yang tampak dipermukaan, tetapi dicoba untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, dalam arti mencari makna dan akar budaya masyarakat yang dideskripsikannya. Pemahaman terhadap kebudayaan diartikan sebagai pemahaman atas esensi kebudayaan atau yang disebut sebagai sistem budaya (cultural system). Sistem budaya adalah perangkat pengetahuan yang meliputi pandangan hidup, keyakinan, nilai, norma, aturan, hukum yang menjadi milik suatu masyarakat melalui proses belajar, yang diacu untuk menata, menilai, dan mengitrepretasi sejumlah benda dan peristiwa dalam beragam aspek kehidupannya. Nilai budaya adalah suatu konsepsi abstrak yang dianggap baik dan amat bernilai dalam hidup, yang menjadi pedoman tertinggi bagi kelakuan dalam kehidupan suatu masyarakat. Setiap masyarakat memiliki dan mempedomani sejumlah nilai, dan nilai itu masih bisa digolongkan menjadi nilai pengetahuan, nilai religi, nilai sosial, nilai seni dan nilai ekonomi (Melalatoa, 1997b: 5).

Pendahuluan Ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnivall (1940) adalah orang yang hidup berdampingan secara fisik, tetapi karena perbedaan sosial mereka terpisah-pisah dan tidak bergabung dalam sebuah unit politik. Sebagai seorang sarjana yang untuk pertama kali menemukan istilah ini, Furnivall menunjuk masyarakat Indonesia di zaman kolonial sebagai contoh yang klasik. Masyarakat Hindia Belanda waktu itu terpisah-pisah, tidak saja antara kelompok yang memerintah dan yang diperintah dipisahkan oleh ras yang berbeda, tetapi secara fungsional masyarakatnya terbelah dalam unitunit ekonomi, antara pedagang Cina, Arab, dan India (Foreign Asiatic) dengan kelompok petani Bumi Putera. Menurut Furnivall masyarakat dalam unit-unit ekonomi ini hidup menyendiri (exclusive) pada lokasi-lokasi pemukiman tertentu dengan sistem sosialnya masing-masing. Pemisahan kelompok-kelompok masyarakat ini dapat juga disebabkan karena perbedaan agama (seperti di Ireland), dan kasta (di India). Sebab utama dari pemisahan ini, ialah kepentingan untuk monopoli sumber-sumber ekonomi (economic resources). Dengan kata lain, kepentingan ekonomi dilanggengkan oleh ras, agama, suku, bangsa, hukum, politik, bahkan nasionalisme. Kasus kajian Furnivall mengenai masyarakat Indonesia 60 tahun yang lalu di zaman kolonial yang melahirkan teori masyarakat majemuk ini, tentu saja akan

berubah apabila ia kembali melihat bangsa Indonesia dewasa ini. PENGUKURAN INTENSITAS KONFLIK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Usman Pelly Guru Besar Antropologi-Universitas Negeri Medan Abstrak Masyarakat majemuk seperti Indonesia memiliki potensi konflik, baik karena faktor-faktor kemajemukan horizontal maupun faktor kemajemukan vertikal. Kondisi ke arah terjadinya konflik, potensial terjadi apabila faktor kemajemukan horizontal bersatu dengan faktor kemajemukan vertikal. Tulisan ini memberikan panduan bagaimana mengukur intensitas konflik, yang berguna bagi pengambil kebijakan dalam proses-proses penciptaan keserasian sosial dalam lingkungan masyarakat majemuk. Kata kunci: masyarakat majemuk, intensitas konflik, faktor horizontal, faktor vertikal.

Sementara itu, kajian mengenai masyarakat majemuk mendapat perhatian yang luas di kalangan ahli-ahli ilmu sosial, dengan berbagai hasil penelitian yang menarik, umpamanya, oleh Lewis (Urbanization Without Breakdown, 1952), Glazer & Moynihan (Beyond The Melting Pot, 1963), Edward Bruner (The Symbolic of Urban Migration, 1966), Barth (Ethnic Group and Boundaries, 1969), Cohen (Custom and Conflict in Urban Africa, 1971), Evers (Ethnic and Social Conflict in Urban Southeast Asia, 1980). Setidaknya, dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari berbagai hasil penelitian di atas: (1) konsep ?kancah pembauran? (melting pot), dan (2) konsep ?pluralisme kebudayaan? (cultural pluralism). Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukimanindustri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen, salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut, menyatakan bahwa Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI?Vol. 1?No.2?Oktober 2005 kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah

pembauran hanyalah suatu mitos. Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat. Urbanisasi dan industrialisasi Indonesia, seperti dibuktikan dalam sejarah, tidak dengan sendirinya mengikis unsur-unsur kemajemukan masyarakatnya, malah dalam berbagai studi menunjukkan kecenderungan penguatan aspekaspek primordialisme (suku, agama, dan sistem simbolik lainnya) dalam kehidupan masyarakat kota. Ironisnya, kemajemukan primordialisme ini berkembang bersama proses transformasi masyarakat kota itu sendiri dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, sehingga kemajemukan dalam aspek kehidupan tersebut menjadi berganda. Masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralisme kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita, bahkan di samping hal itu dijamin oleh UUD 45, tetapi juga memerlukan pluralisme itu dalam pembangunan nasional. Masalahnya ialah bagaimana mengelola pluralisme itu dan menjauhkan dampak negatifnya dalam ?National Building?. Kemajemukan masyarakat Indonesia dewasa ini, seperti juga pada masyarakat di belahan bumi lainnya tampak terutama di kotakota besar sebagai wujud daripada proses urbanisasi yang tidak dapat dibendung. Dalam lima tahun terakhir ini penduduk kota di Indonesia, menurut hasil Sensus Nasional (1990) bertambah 20%. Kota-kota besar di Indonesia merupakan contoh masyarakat majemuk yang utama, sedang kota-kota kecil yang mekar di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, untuk Jakarta juga memperlihatkan ciri kemajemukan yang serupa. Konflik dan Persesuaian Apabila faktor-faktor kemajemukan masyarakat kota dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, horizontal dan vertikal, maka faktor-faktor tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Faktor Horizontal a. Etnis b. Bahasa daerah c. Adat-istiadat/perilaku d. Agama, dan e. Pakaian/makanan (budaya material) 2. Faktor Vertikal a. Penghasilan (income) b. Pendidikan c. Pemukiman d. Pekerjaan, dan e. Kedudukan Politis

Faktor kemajemukan horizontal merupakan faktor-faktor yang diterima seseorang sebagai warisan (ascribed-factors), sedang faktor-faktor kemajemukan vertikal lebih banyak diperolehnya dari usahanya sendiri (achievement-factors). Kemajemukan akan menjurus ke arah konflik yang sangat potensial apabila faktor kemajemukan horizontal bersatu dengan faktor kemajemukan vertikal. Dengan kata lain, apabila suatu kelompok etnis tertentu tidak hanya dibedakan dengan kelompok etnis lainnya karena faktor-faktor ?ascribed? lainnya seperti bahasa daerah, agama, dan lain-lain, tetapi juga karena perbedaan faktor ?achievement? seperti ekonomi, pemukiman dan kedudukan politis, maka intensitas konflik akan dapat menjurus kepada suasana permusuhan. Sebaliknya, apabila kemajemukan faktor-faktor horizontal tidak diperkuat oleh faktor-faktor vertikal, maka intensitas konflik sangat kecil dan mudah untuk dijuruskan kepada persesuaian atau harmoni. Intensitas konflik antarkelompok dapat digambarkan pada diagram berikut ini. Lima faktor horizontal kemajemukan suatu kelompok dapat ditempatkan secara kumulatif pada sumbu y, sedangkan lima faktor kemajemukan vertikal ditempatkan secara kumulatif pada sumbu x. Dengan cara ini kita dapat ?mengukur? tingkat intensitas potensi konflik, umpamanya antara kelompok etnis A, B, dan C. Faktor-faktor horizontal dan vertikal Angka Kumulatif Kelompok A dan B = 5 x 5 = 25 Kelompok A dan C = 4 x 3 = 12 Kelompok B dan C = 2 x 2 = 4 54 Usman Pelly Pengukuran Intensitas Konflik dalam Masyarakat Majemuk 55 1. Apakah perbedaan setiap kategori horizontal mencapai angka mutlak 1 (satu) atau 100% atau kurang dari 100% seperti antara kelompok suku Madura dan Jawa dalam bahasa daerah keduanya tidak berbeda benar jika dibandingkan dengan antara Ambon dan Aceh. Kelompok A dan B hampir berbeda dalam kelima faktor, baik horizontal maupun vertikal

(5x5), A dan C berbeda 4 faktor horizontal dan 3 faktor vertikal (4x3), sedang B dan C berbeda hanya dalam faktor horizontal 2 dan faktor vertikal 2 (2x2). Dari perhitungan kasar ini kita mendapat gambaran bahwa intensitas potensi konflik yang lebih tinggi adalah antara kelompok A dan B, sedang yang paling rendah adalah antara B dan C. Perhitungan di atas hanyalah merupakan langkah pertama untuk memberikan kepada kita semacam ?peringatan? (warning) bahwa beberapa kelompok etnis tertentu memiliki potensi konflik yang lebih tinggi dari yang lain. Apabila kita ingin mengelola keserasian sosial antarkelompokkelompok tersebut, maka perhitungan kasar tersebut, dapat diperhalus lagi sebagai berikut: 2. Apakah perbedaan setiap faktor vertikal mencapai angka mutlak satu (100%), seperti antara pemukiman elit dan kumuh, atau pemukiman semi elit dan elit. 3. Bobot perbedaan setiap faktor horizontal dan vertikal akan menghasilkan angka kumulatif tertentu pada sumbu x dan y. Dengan demikian perkalian setiap angka tersebut akan menunjukkan intensitas yang lebih ril antara individu kelompok yang satu dengan yang lain. 1 2 3 x 5 10 20 A5 4 3 2 1 25 20 15 10

4 15

5 y ?

1 ? A-C ? 9 ? 4 B-C 1

Fungsi Pengukuran Intensitas Potensi Konflik Pengukuran di atas diperlukan bagi setiap pemimpin atau pengelola pembangunan yang ingin mengembangkan partisipasi masyarakat dalam menciptakan keserasian sosial dalam sebuah komunitas majemuk. Oleh karena itu suatu komunitas yang majemuk diperlukan suatu bentuk pengelolaan yang sering disebut sebagai ?management of conflict and disagreement?. Seperti diutarakan sebelumnya, pengukuran ini akan memberikan gambaran atau isyarat (warning) seberapa jauh perbedaan kemajemukan horizontal dan vertikal komunitas yang dihadapi mengandung potensi konflik. Secara praktis cara pengukuran ini setidaknya akan memudahkan kita dalam: (1) merekrut tokoh/kader lokal untuk memimpin berbagai kelompok, dan (2) membuat program dan perencanaan usaha-usaha pencegahan konflik dan pembinaan ke arah keserasian sosial. Usaha ke arah perbaikan kehidupan fisik dan nonfisik seperti: perbaikan pemukiman, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, lapangan kerja, akan sangat bermanfaat untuk mengurangi intensitas konflik faktor-faktor vertikal. Dengan kata lain, pemerataan Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI?Vol. 1?No.2?Oktober 2005 pembangunan akan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk saling meningkatkan interaksi sosial dalam berbagai lembaga kehidupan ekonomi yang pada gilirannya tidak

hanya akan menghilangkan sikap negatif/prasangka prejudice, tetapi juga akan memberi peluang yang lebih besar untuk saling memahami sistem makna dan simbolik budaya masing-masing kelompok dalam sebuah komunitas majemuk. Dengan demikian, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta peningkatan kualitas kehidupan demokratisasi akan memperkecil intensitas potensi konflik dan masyarakat majemuk. Dalam keadaan itu pula usaha-usaha kerjasama akan lebih berfungsi ke arah keserasian sosial. Daftar Pustaka Barth, Frederick. 1969. Ethnic Group and Boundaries: Social Organization of Cultural Differences. Boston: Little Brown. Bruner, Edwar M.1982. ?The Symbolics of Urban Migration.? Dalam The Prospects for Plural Societies. David Maybury-Lewis (ed). Cohen, Abner. 1971. Customs and Politics in Urban Africa. London: Routledge & Keegan. Glazer, Nathaniel dan Daniel Patrick Mcynihan 1963. Beyond The Melting Pot: The Negroes, Puerto Ricans, Jews, Italians, and Irish of New York City. Boston: MIT Press.

Materi: Masyarakat Majemuk dan Multikultural
Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural Materi: • Kelompok sosial • Masyarakat majemuk • Konsep masyarakat multikultural • Integrasi dan disintegrasi Ringkasan A. KELOMPOK SOSIAL Organisasi Sosial Organisasi sosial adalah cara-cara perlaku masyarakat yang terorganisasi secara sosial. Dengan demikian organisasi sosial merupakan jaringan hubungan antar warga-warga masyarakat yang bersangkutan di dalam suau tempat dan dalam waktu yang relatif lama. Di dalam organisasi sosial terdapat unsur-unsur seperti keompok-kelompok sosial dan perkumpulan, lembaga-lembaga sosial, peranan-peranan sosial dan kelas-kelas sosialk Kelompok Dan Perkumpulan Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Hasil dari interaksi melahirkan kelompok sosial, organisasi, lembaga sosial, status

dan peran. Macam kelompok sosial menurut Bierstedt, a. kelompok statis, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis, misalnya kelompok usia penduduk b. kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompok memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial anggotanya c. kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan hubungan satu dengan yang lain tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi, misalnya kelompok pertemuan, kekerabatan d. kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan persamaan kepentingan, misalnya sekolah, negara Faktor pembentuk kelompok sosial adalah kedekatan dan kesamaan Kelompok Sosial Yang teratur 1. In- group dan Out- group In- group adalah kelompok sosial dimana individu mengidentifikasi dirinya dalam kelompok tersebut, biasanya didasarkan pada faktor simpati dan kedekatan. Out-group adalah kelompok yang diartikan oleh individu sebagai lawan in- groupnya 2. Kelompok primer dan kelompok sekunder Menurut Cooley, kelompok primer adalah kelompok kecil yang anggota-anggotanya memiliki hubungan dekat, personal dan langgeng, misalnya keluarga. Kelompok sekunder adalah kelompok besar, bersifat sementara, dibentuk untuk tujuan tertentu, hubungan bersifat impersonal 3. Paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (geselschaft) Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama yang anggota-anggotanya terikat hubungan batin murni, bersifat alamiah serta kekal atas dasar cinta dan rasa kesatuan batin yang telah ditakdirkan. Menurut Ferdinand Tonnies terdapat tiga tipe paguyuban - karena ikatan darah - karena tempat - karena pikiran atau persamaan ideologi Patembayan adalah ikatan lahir bersifat pokok dan biasanya hanya jangka pendek. 4. Group formal dan in –formal Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesamanya Informal group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur yang pasti 5. Membership dan Reference group Membership group adalah suatu kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggotanya. Reference group adalah kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang untuk membentuk kepribadiannya Kelompok Sosial yang Tidak Teratur 1. Kerumunan (crowd) adalah individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di stau tempat dan pada waktu yang bersamaan 2. Publik adalah orang-orang yang berkumpul yang mempunyai kesamaan kepentingan

Suku bangsa Suku bangsa atau etnisitas yaitu suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku bangsa pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis yang sama Kebudayaan Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari „buddhi” (budi atau akal). Kebudayaan diartikan sebagai hal –hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Sedang dalam bahasa Inggris, kebudayaan dikenal dengan istilah culture yang berasal dari bahasa Latin “colere”, yaitu mengolah , mengerjakan tanah , membalik tanah atau diartikan bertani. Definisi kebudayaan menurut beberapa ahli:

Ralph Linton Kebudayaan adalah konfigurasi dan hasil dari tingkah laku yang dipelajari, yang unsur-unsur penentunya dimiliki bersama dan dilanjutkan oleh anggota masyarakat tertentu E.B Taylor Kebudayaan merupakan keseluruhan yang komplek, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan – kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat William H. Haviland Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh anggotanya melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua anggota masyarakat Koentjoroningrat Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi Kebudayaan merupakan sarana hasil karya , rasa dan cipta masyarakat Kebudaan bersifat superorganik yaitu sebagai sesuatu yang turun temurun dari generasi ke generasi atau sesuatu yang bisa diwariskan ( Herskovits). Sementara itu Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri (cultural determinisme) Wujud Kebudayaan Apabila kita memperhatikan definisi kebudayaan menurut Koentjoroningrat, perwujudan budaya adalah 1. sistem gagasan, budaya yang bersifat abstrak tapi menentukan sifat, cara berfikir serta tingkah laku masyarakat pendukung budaya tersebut. 2. sistem tindakan atau sistem sosial meliputi perilaku dan bahasa, wujud budaya ini bersifat konkrit 3. hasil karya manusia, yaitu wujud konkrit dapat dilihat, diraba dan difoto, misalnya pakaian, alat produksi dan alat transportasi Wujud budaya tersebut sejalan dengan wujud budaya menurut Hoxley yaitu mentifact, sosiofact dan artefact Klasifikasi unsur budaya dari yang terkecil adalah 1. items, unsur budaya yang paling kecil 2. trait, merupakan gabungan dari beberapa unsur terkecil 3. trait kompleks, gabungan dari beberapa item dan trait 4. cultural activity, atau aktivitas budaya merupakan gabungan dari beberapa komplek budaya Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan unsur-unsur budaya yang menyeluruh atau cultural universal. Karakteristik Budaya Budaya memiliki sifat universal, artinya terdapat sifat-sifat umum yang melekat pada setiap budaya, kapan pun dan dimanapun budaya itu berada. Adapun sifat itu adalah 1. kebudayaan adalah milik bersama 2. kebudayaan merupakan hasil belajar 3. kebudayaan didasarkan pada lambang 4. kebudayaan terintegrasi 5. kebudayaan dapat disesuaikan 6. kebudayaan selalu berubah 7. kebudayaan bersifat nisbi (relatif) Dalam kebudayaan juga terdapat pola-pola perilaku (pattern of behavior) yang merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut. Adapun subtansi atau isi utama budaya adalah: 1. sistem pengetahuan, berisi pengetahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna sekitar tempat tinggal, zat-zat bahan mentah dan benda-benda dalam lingkungannya, tubuh manusia, sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia serta ruang dan waktu. 2. sistem nilai budaya, adalah sesuatu yang dianggap bernilai dalam hidup 3. kepercayaan, inti kepercayaan itu adalah usaha untuk tetap memelihara hubungan dengan mereka

yang sudah meninggal 4. persepsi, yaitu cara pandang dari individu atau kelompok masyarakat tentang suatu permasalahan 5. pandangan hidup, yaitu nilai-nilai yang dipilih secara selektif oleh masyarakat. Pandangan hidup dapat berasal dari norma agama (dogma), ideologi negara atau renungan atau falsafah hidup individu 6. etos budaya, yaitu watak khas dari suatu budaya yang tampak dari luar Budaya Lokal Budaya lokal merupakan adat istiadat, kebudayaan yang sudah berkembang (maju) atau sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah yang terdapat disuatu daerah tertentu. Budaya lokal umumnya bersifat tradisional yang masih dipertahankan. Menurut Fischer, kebudayaan – kebudayaan yang ada di suatu wilayah berkembang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain lingkungan geografis, induk bangsa dan kontak antarbangsa. Dari pendapat tersebut dapatlah kita kaitkan dengan kebudayaan daerah yang ada di Indonesia yang memiliki ciri-ciri khusus antarwilayah sehingga beraneka ragam. Van Volenholen membagi masyarakat Indonesia ke dalam 19 lingkungan hukum adat yang oleh Koentjoroningrat disebut culture area. Setiap suku memilih mempertahankan pola-pola hidup yang sudah lama disesuaikan dengan penduduk sekitar mereka. Lingkungan geografis yang berbeda ada yang di gunung maupun dataran rendah dan tepi pantai, faktor ilkim dan adanya hubungan dengan suku luar menyebabkan perkembangan kebudayaan yang beraneka macam. Contoh budaya lokal yang bersifat abstrak misalnya Kepercayaan Kaharingan (Dayak), Surogalogi (Makasar), Adat Pikukuh (Badui). Budaya lokal yang bersifat perilaku misalnya tari Tor-tor, tarian Pakarena, upacara Kasadha (Masyarakat Tengger), upacara ruwatan dengan menggelar wayang kulit berlakon “Murwokolo” (Masyarakat Jawa), orang Badui dalam berpakaian putih dan Badui luar berpakaian biru, Bahasa Batak dan lain-lain . Budaya lokal yang bersifat artefak misalnya rumah Gadang (Sumatera Barat), tiang mbis ( Suku Asmat), alat musik gamelan (Jawa)

Potensi Keberagaman Kebudayaan Walaupun Indonesia menurut Van Volenholen terdiri dari 19 hukum adat, tetapi pada dasarnya Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang bermukim di wilayah yang tersebar dalam ratusan pulau yang ada di Inonesia. Tiap suku bangsa ini memiliki ciri fisik, bahasa, kesenian, adat istiadat dan agama yang berbeda. Dengan demikian dapat dikatakan bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya. Beberapa aspek keberagaman budaya Indonesia antara lain suku, bahasa, agama dan kepercayaan, serta kesenian. Kekayaan budaya ini merupakan daya tarik tersendiri dan potensi yang besar untuk pariwisata serta bahan kajian bagi banyak ilmuwan untuk memperluas pengetahuan dan wawasan. Hal yang utama dari kekayaan budaya yang kita miliki adalah adanya kesadaran akan adanya bangga akan kebudayaan yang kita miliki serta bagaimana dapat memperkuat budaya nasional sehingga “kesatuan kesadaran “ atau nation bahwa kebudayaan yang berkembang adalah budaya yang berkembang dalam sebuah NKRI sehingga memperkuat integrasi. Disatu sisi bangsa Indonesia juga mempunyai permasalahan berkaitan dengan keberagaman budaya yaitu adanya konflik yang berlatar belakang perbedaan suku dan agama. Banyak pakar menilai akar masalah konflik ialah kemajemukan masyarakat, atau adanya dominasi budaya masyarakat yang memilki potensi tinggi dalam kehidupan serta adanya ikatan primordialisme baik secara vertikal dan horisontal. Disamping itu kesenjangan antara dua kelompok masyarakat dalam bidang ekonomi, kesempatan memperoleh pendidikan atau mata pencaharian yang mengakibatkan kecemburuan sosial, terlebih adanya perbedaan dalam mengakses fasilitas pemerintah juga berbeda (pelayanan kesehatan, pembuatan KTP, SIM atau sertifikat serta hukum). Semua perbedaan tersebut menimbulkan prasangka atau kontravensi hingga dapat berakhir dengan konflik. B. MASYARAKAT MAJEMUK Masyarakat majemuk sering diidentikan oleh orang awan sebagai masyarakat multikultural. Uraian dari Parsudi Suparlan dapat menjelaskan perbedaan tersebut. Masyarakat majemuk terbentuk dari dipersatukannya masyarakat-masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional yang biasa dilakukan secara paksa (coercy by force) menjadi sebuah bangsa dalam wadah nasional. Setelah PD II contoh masyarakat majemuk antara lain, Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan dan Suriname. Ciri yang mencolok dan kritikal majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintahan nasional dengan masyarakat suku bangsa dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang dipersatukan oleh sistem nasional. Sementara itu Dr. Nasikun mengemukakan masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat dalam mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang

menjadi bagian-bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar untuk memahami satu sama lain Menurut Pierre L. Van den Berghe mengemukakan karakteristik masyarakat majemuk: 1. terjadi segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok subkebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain 2. memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer 3. kurang mengembangkan konsensus diantara para anggota-anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar 4. secara relatif seringkali mengalami konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain 5. secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi 6. adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lain Disini Parsudi Suparlan melihat adanya dua kelompok dalam perspektif dominan-minoritas, tetapi sulit memahami mengapa golongan minoritas didiskriminasi, karena besar populasinya belum tentu besar kekuatannya. Konsep diskriminasi sebenarnya hanya digunakan untuk mengacu pada tindakan-tindakan perlakuan yang berbeda dan merugikan terhadap mereka yang berbeda secara askripsi oleh golongan yang dominan. Yang termasuk golongan askripsi adalah suku bangsa (termasuk ras, kebudayaan sukubangsa, dan keyakinan beragama), gender , dan umur. Sementara itu Furnival mengemukakan bahwa masyarakat majemuk merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas (kelompok) yang secara kultural dan ekonomi terpisah –pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda satu sama lainnya. Menurut Furnival berdasarkan konfigurasi (susunannya) dan komunitas etniknya, masyarakat majemuk dibedakan menjadi empat kategori sebagai berikut: 8. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang 9. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan 10. Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan 11. Masyarakat majemuk dengan fragmentas Masyarakat majemuk dengan fragmentasi merupakan masyarakat yang terdiri atas sejumlah kelompok etnik tetapi semuanya dalam jumlah kecil sehingga tidak satupun kelompok yang mempunyai posisi politik dan ekonomi yang dominan. Masyarakat demikian ini biasanya sangat stabil tapi masih punya potensi konflik karena rendahnya kemampuan coalition building. Terdapat tiga faktor utama yang mendorong terbentuknya kemajemukan bangsa Indonesia adalah 1. Latar belakang historis Adanya perbedaan waktu dan jalur perjalanan ketika nenek moyang bangsa Indonesia berpindah (migrasi) dari Yunan (Cina Selatan) ke pulau-pulau di Nusantara 2. Kondisi geografis Perbedaan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau dengan relief beranekaragam dan satu dengan lainnya dihubungkan oleh laut dangkal, melahirkan suku bangsa yang beranekaragam pula, terutama pola kegiatan ekonomi dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan untuk mendukung kegiatan ekonomi tersebut 3. Keterbukaan terhadap kebudayaan luar Bangsa Indonesia adalah contoh bangsa yang terbuka. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh asing dalam membentuk keanekaragaman masyaarkat di seluruh wilayah Indonesia yaitu antara lain pengaruh kebudayaan India, Cina, Arab dan Eropa

Dalam menganalisis hubungan antar suku bangsa dan golongan menurut Koentjoroningrat ada beberapa hal yang harus diperhatikan: 1. sumber-sumber konflik 2. potensi untuk toleransi 3. sikap dan pandangan dari suku bangsa atau golongan terhadap sesama suku bangsa 4. hubungan pergaulan antar suku – bangsa atau golongan tadi berlangsung

Adapun sumber konflik antar suku bangsa dalam negara berkembang seperti Indonesia, paling sedikit ada lima macam yakni: 1. jika dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup yang sama 2. jika warga suatu suku bangsa mencoba memasukkan unsur-unsur dari kebudayaan kepada warga dari suatu suku bangsa lain 3. jika warga satu suku bangsa mencoba memaksakan konsep-konsep agamanya terhadap warga dari suku bangsa lain yang berbeda agama 4. jika warga satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa secara politis 5. potensi konflik terpendam dalam hubungan antar suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat C. MASYARAKAT MULTIKULTURAL Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan kebudayaan. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan, baik secara individu maupun secara kelompok dan terutama ditujukan terhadap golongan sosial askripsi yaitu suku bangsa (dan ras) , gender dan umur. Ideologi multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses demokratisasi, yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempat. Jadi tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi demikian pula sebaliknya. H. Masalah yang Timbul Akibat Keanekaragaman dan Perubahan Kebudayaan 1. Konflik Merupakan suatu proses disosiatif yang memecah kesatuan di dalam masyarakat. Meskipun demikian konflik tidak selamanya negatif, adakalanya dapat menguatkan ikatan dan integrasi 2. Integrasi Adalah dibangunnya interdependensi yang lebih rapat dan erat antara bagian-bagian dari organisme hidup atau antara anggota-anggota di dalam masyarakat sehingga menjadi penyatuan hubungan yang diangap harmonis Faktor-faktor yang mendukung integrasi sosial di Indonesia: f. adanya penggunaan bahasa Indonesia g. adanya semangat persatuan dan kesatuan dalam satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air h. adanya kepribadian dan pandangan hidup kebangsaan yang sama, yaitu Pancasila i. adanya jiwa dan semangat gotong royong yang kuat serta rasa solidaritas dan toleransi keagamaan yang tinggi j. adanya rasa senasib sepenanggungan akibat penjajahan yang lama diderita oleh seluruh bangsa di Indonesia 3. Disintegrasi Disebut pula disorganisasi, merupakan suatu keadaan dimana tidak ada keserasian pada bagianbagian dari suatu kesatuan. Agar masyarakat dapat berfungsi sebagai organisasi harus ada keserasian antar bagian-bagian 4. Reintegrasi Disebut juga reorganisasi, dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai baru telas melembaga (institutionalized) dalam diri warga masyarakat. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat keanekaragaman dan perubahan kebudayaan, yaitu melalui berbagai pola hubungan yang terdapat dalam masyarakat majemuk 1. asimilasi 2. self-segretion 3. integrasi 4. pluralisme

Membangun Sikap Kritis, Toleransi dan Empati dalam Masyarakat Multikultural Dalam mengatasi masyarakat majemuk , Parsudi Suparlan menawari sebuah menyebaran konsep multikulturalisme melalui LSM, dan pendidikan dari SD hingga PT. Alternatif penyelesaian masalah akibat keanekaragaman budaya adalah dengan melakukan strategi kebudayaan dimana memungkinkan tumbuh kembangnya keberagaman budaya yang menuju integrasi bangsa dengan

tetap memperhatikan kesederajatan budaya-budaya yang berkembang. Untuk itu komunikasi antar budaya perlu dibangun disertai dengan sikap kritis, toleransi dan empati.

Makalah Sosial: “Kemajemukan Masyarakat Indonesia”
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernahkah anda perhatikan keadaan masyarakat Indonesia ? Bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke ini, terdiri dari bermacam suku bangsa, budaya, ras dan agama. Disebut juga masyarakat majemuk atau multikultur. Kondisi masyarakat seperti ini jika berjalan serasi dan harmonis akan menciptakan integrasi sosial. Jika tidak, terjadilah disintegrasi sosial atau konflik sosial. Pengaruh kemajemukan masyarakat yang perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan konflik sosial adalah munculnya sikap primordial (primordialisme) yang berlebihan dan stereotip etnik. Indonesia dikenal dengan kemajemukan masyarakat, baik dari sisi etnisitas maupun budaya serta agama dan kepercayaannya. Kemajemukan juga menjangkau pada tingkat kesejahteraan ekonomi, pandangan politik serta kewilayahan, yang semua itu sesungguhnya memiliki arti dan peran strategis bagi masyarakat Indonesia. Meski demikian, secara bersamaan kemajemukan masyarakat itu juga bersifat dilematis dalam kerangka penggalian, pengelo1aan, serta pengembangan potensi bagi bangsa Indonesia untuk menapaki jenjang masa depannya. Kemajemukan masyarakat Indonesia dapat berpotensi membantu bangsa Indonesia untuk maju dan berkembang bersama. Sebaliknya, jika kemajemukan masyarakat tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menyuburkan berbagai prasangka negatif (negative stereotyping) antar individu dan kelompok masyarakat yang akhirnya dapat merenggangkan ikatan solidaritas sosial. 1.2 Rumusan Masalah Berawal dari latar belakang tersebut, Kami mencoba menyampaikan permasalahan antara lain: 1. Bagaimana kemajemukan masyarakat di Indonesia ? 2. Bagaimana pengaruh kemajemukan masyarakat di Indonesia ? 3. Bagaimana ketergantungan Indonesia pada negara asing? 1.3 Tujuan Tujuan pembuatan Makalah ini adalah Untuk Memenuhi salah Satu Tugas Mata kuliah Perspektif Sosial Budaya serta untuk wawasan dan ilmu kami tentang pengaruh kemajemukan masyarakat Indonesia. 1.4 Metode dan Prosedur Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai buku dan browsing di internet. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kemajemukan Masyarakat Indonesia Istilah Masyarakat Indonesia Majemuk pertama kali diperkenalkan oleh Furnivall dalam bukunya Netherlands India: A Study of Plural Economy (1967), untuk menggambarkan kenyataan masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras dan etnis sehingga sulit bersatu dalam satu kesatuan sosial politik. Kemajemukan masyarakat Indonesia ditunjukkan oleh struktur masyarakatnya yang unik, karena beranekaragam dalam berbagai hal. Faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut: a. Keadaan geografi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari lima pulau besar dan lebih dari 13.000 pulau kecil sehingga hal tersebut menyebabkan penduduk yang menempati satu pulau atau sebagian dari satu pulau tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa, dimana setiap suku bangsa memandang dirinya sebagai suku jenis tersendiri. b. Letak Indonesia diantara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik serta diantara Benua Asia dan Australia, maka Indonesia berada di tengah-tengah lalu lintas perdagangan. Hal ini mempengaruhi terciptanya pluralitas/kemajemujkan agama. c. Iklim yang berbeda serta struktur tanah di berbagai daerah kepulauan Nusantara ini merupakan faktor yang menciptakan

kemajemukan regional. Seperti yang telah dijelaskan bahwa kemajemukan Indonesia tampak pada perbedaan warga maryarakat secara horizontal yang terdiri atas berbagai ras, suku bangsa, agama, adat dan perbedaan-berbedaan kedaerahan. Menurut Robertson (1977), ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri warna kulit dan fisik tubuh tertentu yang diturunkan secara turun temurun.Untuk itu ras yang hidup di Indonesia antara lain Ras Melayu Mongoloid, Weddoid dan sebagainya. Sedangkan untuk suku bangsa / etnis yang tersebar di Indonesia sangatlah beraneragam dan menurut Hildred Geertz di Indonesia terdapat lebih dari 300 suku bangsa, dimana masing-masing memiliki bahasa dan identitas kebudayaan yang berbeda. Dalam kemajemukan agama di Indonesia secara umum agama yang berkembang di Indonesia adalah Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha. Selain itu terdapat agama-agama lain seperti Kong Hu Chu, Kaharingan di Kalimantan, Sunda Kawitan (suku Baduy) serta aliran kepercayaan. Dengan demikian keanekaragaman tersebut merupakan suatu warna dalam kehidupan, dan warna-warna tersebut akan menjadi serasi, indah apabila ada kesadaran untuk senantiasa menciptakan dan menyukai keselarasan dalam hidup melalui persatuan yang indah yang diwujudkan melalui integrasi. Ciri-ciri masyarakat majemuk menurut Vandenberg : a. Segmentasi ke dalam kelompok-kelompok. b. Kurang mengembangkan konsensus. c. Sering mengalami konflik. d. Integrasi sosial atas paksaan. e. dominasi suatu kelompok atas kelompok lain 2.2 Pengaruh Kemajemukan Masyarakat Indonesia Pengaruh kemajemukan masyarakat Indonesia berdasarkan suku bangsa,ras dan agama dapat dibagi atas pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positifnya adalah terdapat keanekaragaman budaya yang terjalin serasi dan harmonis sehingga terwujud integrasi bangsa. Pengaruh negatifnya antara lain : a. Primordial Karena adanya sikap primordial kebudayaan daerah, agama dan kebiasaan di masa lalu tetap bertahan sampai kini. Sikap primordial yang berlebihan disebut etnosentris. Jika sikap ini mewarnai interaksi di masyarakat maka akan timbul konflik, karena setiap anggota masyarakat akan mengukur keadaan atau situasi berdasarkan nilai dan norma kelompoknya. Sikap ini menghambat tejadinya integrasi sosial atau integrasi bangsa. Primordialisme harus diimbangi tenggang rasa dan toleransi. b. Stereotip Etnik Interaksi sosial dalam masyarakat majemuk sering diwarnai dengan stereotip etnik yaitu pandangan (image) umum suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis lain (Horton & Hunt). Cara pandang stereotip diterapkan tanpa pandang bulu terhadap semua anggota kelompok etnis yang distereotipkan, tanpa memperhatikan adanya perbedaan yang bersifat individual. Stereotip etnis disalah tafsirkan dengan menguniversalkan beberapa ciri khusus dari beberapa anggota kelompok etnis kepada ciri khusus seluruh anggota etnis. Dengan adanya beberapa orang dari sukubangsa A yang tidak berpendidikan formal atau berpendidikan formal rendah, orang dari suku lain (B) menganggap semua orang dari sukubangsa A berpendidikan rendah. Orang dari luar suku A menganggap suku bangsanya yang paling baik dengan berpendidikan tinggi. Padahal anggapan itu bisa saja keliru karena tidak semua orang dari sukubangsa di luar sukubangsa A berpendidikan tinggi, banyak orang dari luar sukubangsa A yang berpendidikan rendah. Jika interaksi sosial diwarnai stereotip negatip, akan terjadi disintegrasi sosial. Orang akan memberlakukan anggota kelompok etnis lain berdasarkan gambaran stereotip tersebut. Agar integrasi sosial tidak rusak, setiap anggota masyarakat harus menyadari bahwa selain sukubangsa ada faktor lain yang mempengaruhi sikap seseorang, yaitu pendidikan, pengalaman, pergaulan dengan kelompok lain, wilayah tempat tinggal, usia dan kedewasaan jiwa. c. Potensi Konflik Ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnifall (1940) adalah kehidupan masyarakatnya berkelompokkelompok yang berdampingan secara fisik, tetapi mereka (secara essensi) terpisahkan oleh perbedaan-perbedaan identitas sosial yang melekat pada diri mereka masing-masing serta tidak tergabungnya mereka dalam satu unit politik tertentu. Mungkin pendekatan yang relevan untuk melihat persoalan masyarakat majemuk ini adalah bahwa perbedaan kebudayaan atau agama memang potensial untuk mendestabilkan negara-bangsa. Karena memang terdapat perbedaan dalam orientasi dan cara memandang kehidupan ini, sistem nilai yang tidak sama, dan agama yang dianut masing-masing juga berlainan. Perbedaan di dalam dirinya melekat (inherent) potensi pertentangan, suatu konflik yang tersembunyi (covert conflict). Namun demikian, potensi itu tidak akan manifes untuk menjadi konflik terbuka bila faktor-faktor lain tidak ikut memicunya.

Dan dalam konteks persoalan itu nampaknya faktor ekonomi dan politik sangat signifikan dalam mendorong termanifestasinya konflik yang tadinya tersembunyi menjadi terbuka. Furnivall sendiri sudah mensinyalir bahwa konflik pada masyarakat majemuk Indonesia menemukan sifatnya yang sangat tajam, karena di samping berbeda secara horisontal, kelompok-kelompok itu juga berbeda secara vertikal, menunjukkan adanya polarisasi. Artinya bahwa disamping terdiferensiasi secara kelompok etnik agama dan ras juga ada ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan sarana produksi dan kekayaan. Ada ras, etnik, atau penganut agama tertentu yang akses dan kontrolnya pada sumber-sumber daya ekonomi lebih besar, sementara kelompok yang lainnya sangat kurang. Kemudian juga, akses dan kontrol pada sektor politik yang bisa dijadikan instrumen untuk pemilikan dan penguasaan sumber-sumber daya ekonomi, juga tidak menunjukkan adanya kesamaan bagi semua kelompok. Di Kalimantan Barat dan Tengah para perantau Madura yang beragama Islam setahap demi setahap bisa menguasai jaringan produksi dan distribusi ekonomi. Demikian pula dengan orang-orang Bugis-Makassar dan Buton yang umumnya beragama Islam di kawasan Timur Indonesia telah membuat jaringan yang cukup luas dalam sektor ekonomi ini. Termasuk dalam kasus ini adalah orang-orang Cina yang sebagian besar beragama non-Islam yang menguasai sebagian besar sarana dan aset produksi serta jaringan distribusi di kota-kota besar dan menengah Indonesia. Ketika Orde Baru memegang tampuk pemerintahan tampaknya ketimpangan ekonomi dan politik antar kelompok etnik dan ras ini tidak secara sungguh-sungguh dicoba untuk dihapuskan. Malah pemihakan pada kelompok tertentu sangat kentara, sementara kelompok yang lain mengalami proses marjinalisasi. Di sinilah polarisasi antar kelompok masyarakat yang berbeda secara kultural dan agama itu menjadi semakin tajam. Di samping itu, pemerintah dan masyarakat di daerah secara politik betul-betul lemah, tidak memiliki saluran institusional yang memungkinkan kepentingan dan kebutuhan mereka dapat diakomodasi. Di sini sentralisme adalah ciri utama sistem politik negara Orde Baru. Memang selama rezim Orde Baru berkuasa konflik itu tidak banyak muncul, kalaupun terjadi ledakannya tidak besar dan akan segera diredam secara represif. Namun pendekatan keamanan itu tidak menghilangkan potensi konflik tersebut, karena akar persoalannya tidak dipecahkan. Hubungan antar kelompok tetap dalam situasi ketegangan, menunggu momen untuk meledak. Karena itu, ketika rezim Orde Baru mulai kehilangan legitimasi dan kemudian jatuh, konflik yang tadinya laten menjadi terbuka. Hal ini dikarenakan, bahwa pengkotakan masyarakat hanya mampu menekan eskalasi konflik dan disharmoni sosial dalam masyarakat, namun ia tidak mampu menghilangkan poensi-potensi konflik yang telah lama dan masih terpendam dalam masyarakat. Konflik dan disharmoni sosial dapat muncul karena mereka, kelompok-kelompok sosial tersebut tetap hidup berdampingan secara fisik dalam suatu komunitas masyarakat. Pembenaran atas ketidaksamaan, pada hakekatnya adalah juga sebentuk pembenaran terhadap adanya potensi potensi konflik dalam masyarakat yang pluralis. 2.3 Ketergantunagn Indonesia Pada Bantuan Luar Negeri Pada dekade tahun 50-an setelah merdeka, Indonesia memasuki era konsolidasi dan pembangunan. Namun setelah perjuangan panjang merebut kemerdekaan dan juga perjuanagan fisik sesudah kemerdekaan, tidaklah mudah melaksanakan pembangunan dengan kondisi rakyat yang masih menderita apalagi situasi ekonomi pun masih morat-marit sehingga pembangunan pun tersendat. Pada tahun di mulainya orde lama, yaitu tahun 1957-1965 menurut Roxborough, masyarakat dunia ketiga (Indonesia) telah gagal berkembang karena terlalu miskin. Ditambah lagi keadaan masyarakat yang masih memprihantinkan. Pada masa orde lama, Indonesia mulai mencari dan menerima bantuan luar negri karena pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan untuk mulai membangun dan diperlukan pengerahan dana yang sangat besar. Awal kebangkitan orde baru ditandai dengan awal ketregatugam Indonesiaterhadap negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, Jerman dan lain-lain. Dalam hal ini yang perlu digaris bawahi adalah pinjaman yang diterima pemerintah orde baru adalah dari dunia barat bertolak belakang dengan kebijakan luar negeri pada masa orde lama. Pembangunan Indonesia yang bergantung pada pinjaman luar negeri tidak terlepas dari sejara politik luar negeri Indonesia itu sendiri. Menurut Arief Budiman, tiap negara mempunyai keunikan permasalahannya yang berbeda karena latar belakang sejarah yang berbeda pula. Begitu pula dengan Indonesia, dimana Indonesia ikut berperan aktif melaksanakan perdamaian dunia sehingga kedekatan hubungan dengan negara lain-lian terutama negara-negara barat.Bantuan luar negeri yang mejadi andalan utama indonesia dalam upaya mendapatkan dana secara muda ternyata sangat mengikat baik dalam bidang ekonomi bahkan politik yang saling berhubungan. Menurut Gunadi bantuan luar negeri tidak ada yang murni bersifat ekonomi atau bersifat politik saja. Pemberi pinjaman dan penerima pun selalu dilandasi kepentingan ekonomi dan politik. Mereka juga memperhitungkan manfaat yang diperoleh naik oleh sipemberi maupun oleh si penerima sesuai dengan sifat pemerintahannya masing-masing.

Sebagai negara yang memiliki ketergantungan ekonomi pada negara-negara industri maju, Indonesia mempunyai kewajiban untuk membeli produk dari negara-negara pemberi pinjaman tersebut, sehingga Indonesia menjadi negara yang ketergantungan. Ketergantungan Indonesia pada pinjaman luar negeri secara tidak langsung memberi dua dampak yaitu:  Dampak positif : 1. membuka lapangan pekerjaan 2. menambah devis 3. perekonamian bertumbuh pesat  Dampak negatif : 1. Produk dalan negeri kurang laku dipasaran karena kualitas produknya dibawah kualitas produk luar negeri. 2. SDA rusak dan dimanfaatkan oleh orang lain. Sedagkan menurut Goldthorpe ( 1992 : 242 ) akibat dari menjamurnya PMA yang merupakan dampak dari adanya bantuan luar negeri adalah : - Meningkatnya urbanisasi karena di desa tanah garapannya menjadi hilang atau berubah fungsi - Banyaknya gelandangan di kota, karena kaum urban tidak memiliki modal ataupun pengetahuan sebagai bekal untuk hidup di kota. - Pedesaan semakin dikuasai oarang orang kota sehigga tanpa disadari menyebabkan ekspansi ekonomi Masuknya unsur-unsur asing kapitalis selain berpengaruh pada perekonomian indonesia juga berpengaruh pada sistem politik indonesia. Bermunculnya para konglomerat merupakan pengaruh dari sistem kapitalis yang secara tidak langsung adalah dampak dari adanya bantuan luar negeri. Akibatnya sebagai negara penghasil bahan baku untuk negara-negara industri yang sekaligus sebagai pengimpaor dan pasar hasil industri. Untuk mengatasi masalah masalah tersebut, yang paling penting adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Melalui pendidikan sekolah semua itu bisa dicapai. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Istilah Masyarakat Indonesia Majemuk pertama kali diperkenalkan oleh Furnivall dalam bukunya Netherlands India: A Study of Plural Economy (1967), untuk menggambarkan kenyataan masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras dan etnis sehingga sulit bersatu dalam satu kesatuan sosial politik. Kemajemukan masyarakat Indonesia ditunjukkan oleh struktur masyarakatnya yang unik, karena beranekaragam dalam berbagai hal. Faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut: a. Keadaan geografi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan b. Letak Indonesia diantara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik serta diantara Benua Asia dan Australia, maka Indonesia berada di tengah-tengah lalu lintas perdagangan. c. Iklim yang berbeda serta struktur tanah di berbagai daerah kepulauan Nusantara ini merupakan faktor yang menciptakan kemajemukan regional. Pengaruh kemajemukan masyarakat Indonesia berdasarkan suku bangsa,ras dan agama dapat dibagi atas pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positifnya adalah terdapat keanekaragaman budaya yang terjalin serasi dan harmonis sehingga terwujud integrasi bangsa. Pengaruh negatif, munculnya sikap primordial (primordialisme) yang berlebihan yang mewarnai interaksi sosial sehingga muncul disintegrasi atau konflik sosial

Resume Hasil Perkulihan Hubungan Antar Suku Bangsa Mengenai Masyarakat Majemuk dan Konflik Dalam Masyarakat Majemuk.
diposting oleh yudha-p-p-fisip08 pada 10 January 2012 di Umum - 0 komentar

MASYARAKAT MAJEMUK Masyarakat plural atau yang disebut masyarakat majemuk, mempunyai pengertian bahwa di dalamnya terdapat lebih dari satu kelompok baik etnik maupun sosial yang menganut sistem kebudayaan (subkultur) berbeda satu dengan yang lain. Sebagai suatu masyarakat majemuk, Furnivall menyebut Indonesia ketika itu sebagai suatu tipe masyarakat tropis di mana mereka yang berkuasa dan mereka yang memiliki perbedaan ras. Di dalam kehidupan politik, pertanda paling jelas dari masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk itu adalah tidak adanya kehendak bersama (common will). Masyarakat Indonesia sebagai keseluruhan terdiri atas elemen-elemen yang terpisah satu sama lain oleh karena perbedaan ras, masing-masing lebih merupakan kumpulan individuindividu daripada sebagai suatu kesuluruhan yang organis. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa pluralitas masyarakat Indonesia yang demikian itu terjadi. Yang pertama, keadaan geografik wilayah Indonesia yang terdiri atas kurang lebih tiga ribu pulau yang terserak di sepanjang equator kurang lebih tiga ribu mil dari timur ke barat, dan seribu mil dari utara selatan, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap terjadinya pluralitas sukubangsa di Indonesia. Faktor kedua yang menyebabkan pluralitas masayarakat Indonesia adalah kenyataan bahwa Indonesia terletak di antara Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik. Keadaan ini menjadikan Indonesia menjadi lalu lintas perdagangan, sehingga sangat mempengaruhi terciptanya pluralitas agama di dalam masyarakat Indonesia. Masyarakat majemuk, menurut Van den Berghe, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Terjadinya segmentasi kedalam bentuk kelompok-kelompok yang memiliki kebudayaan (sub kebudayaan yang berbeda-beda) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifatnon komplementer Kurang mengembangkan konsensus diantara anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar Secara relatif seringkali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain Secara relatif integrasi sosial tumbuh diatas paksanaan (coercion) dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.

Masyarakat majemuk yang ada di berbagai belahan dunia dapat dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu: 1. 2. 3. 4. masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang; masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan; masyarakat majemuk dengan minoritas dominan; masyarakat majemuk dengan fragmentasi.

Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang merupakan masyarakat yang terdiri dari beberapa kommunitas atau etnik yang mempunyai kekuatan kompetitif seimbang. Dalam hal ini "federasi" antar komunitas ini dapat membentuk suatu pemerintahan yang mantap. Masyarakat mejemuk dengan mayoritas atau minoritas dominan merupakan masyarakat yang terdiri atas beberapa komunitas yang kuat dan kompetitifnya tidak seimbang. Dalam hal ini satu atau lebih komunitas akan mendominasi komunitas lainnya. Sedangkan masyarakat mejemuk dengan fragmentasi merupakan masyarakat yang terdiri atas banyak kelompok kecil sehingga tidak ada satupun yang mampu kompetitif maupun dominan. Karena kekuatannya kecil, maka pengaruh dari luarlah yang dominan sehingga masyarakat demikian ini labil. Menyimak adanya ketegori tersebut maka masyarakat majemuk yang ada dalam bangsa Indonesia pada saat ini merupakan suatu masyarakat yang menyangkut hampir seluruh kategori, karena keanekaragaman negara yang berada pada pertemuan flora, fauna dan budaya. Di dalam masyarakat kita sistem nilai yang dianut oleh masing-masing komunitas bersifat loyal namun juga semu sehingga kadang-kadang tidak memahami ciri komunitasnya sendiri, apalagi memahami satu sama lain. Keloyalan masa lampau ternyata lebih kuat, karena sanggup membentuk beberapa komunitas intern yang saling menghargai. Pendatang yang kemudian menjadi bagian dari penduduk membentuk masyarakat yang saling beralkulturasi dan berasimilasi dengan tetap mempunyai jati diri yang kuat, sehingga budaya asli daerah tetap lestari dari jaman ke jaman.

KONFLIK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Pertentangan, pertikaian atau konflik sebagai proses masyarakat merupakan proses yang tidak kita inginkan karena terjadi perpecahan. Bila kita amati, terjadinya konflik disebabkan oleh: 1. adanya perbedaan individu, baik dalam perasaan maupun gagasan; 2. adanya perbedaan budaya dalam masing-masing komunitas masyarakat yang mungkin menimbulkan prasangka; 3. adanya kepentingan intern komunitas,baik secara ekonomi maupun politik; 4. adanya perubahan tata nilai sosial dalam intern maupun extern masing-masing komunitas sehingga yang semula serasi jadi tidak serasi. Konflik Sosial adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-hara/kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu. Indonesia sebagai negara kesatuan pada dasarnya dapat mengandung potensi kerawanan akibat keanekaragaman suku bangsa, bahasa, agama, ras dan etnis golongan. Hal tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik. Dengan semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu pertanda menurunnya rasa nasionalisme di dalam masyarakat. Kondisi seperti ini dapat terlihat dengan meningkatnya konflik yang bernuansa SARA, serta munculya gerakan-gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI akibat dari ketidakpuasan dan perbedaan kepentingan. Apabila kondisi ini tidak dikelola dengan baik akhirnya akan berdampak pada disintegrasi bangsa. Permasalahan ini sangat kompleks sebagai akibat akumulasi permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan yang saling tumpang tindih, apabila tidak cepat dilakukan tindakan-tindakan bijaksana untuk menanggulangi sampai pada akar permasalahannya maka akan menjadi problem yang berkepanjangan.

Penyebab timbulnya disintegrasi bangsa juga dapat terjadi karena perlakuan yang tidak adil dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah khususnya pada daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya/kekayaan alamnya berlimpah/ berlebih, sehingga daerah tersebut mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Selain itu disintegrasi bangsa juga dipengaruhi oleh perkembangan politik dewasa ini. Dalam kehidupan politik sangat terasa adanya pengaruh dari statemen politik para elit maupun pimpinan nasional, yang sering mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bangsa, sebagai akibat masih kentalnya bentuk-bentuk primodialisme sempit dari kelompok, golongan, kedaerahan bahkan agama. Hal ini menunjukkan bahwa para elit politik secara sadar maupun tidak sadar telah memprovokasi masyarakat. Keterbatasan tingkat intelektual sebagian besar masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan para elitnya sehingga dengan mudah terpicu untuk bertindak yang menjurus ke arah terjadinya kerusuhan maupun konflik antar kelompok atau golongan. Secara umum, kompleksitas masyarakat majemuk tidak hanya ditandai oleh perbedaanperbedaan horisontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras, bahasa, adat-istiadat, dan agama. Namun, juga terdapat perbedaan vertikal, berupa capaian yang diperoleh melalui prestasi (achievement). Indikasi perbedaan-perbedaan tersebut tampak dalam strata sosial ekonomi, posisi politik, tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan dan kondisi permukiman. Sedangkan perbedaan horisontal diterima sebagai warisan, yang diketahui kemudian bukan faktor utama dalam insiden kerusuhan sosial yang melibatkan antarsuku. Suku tertentu bukan dilahirkan untuk memusuhi suku lainnya. Bahkan tidak pernah terungkap dalam doktrin ajaran mana pun di Indonesia yang secara absolut menanamkan permusuhan etnik. Sementara itu, dari perbedaan-perbedaan vertikal, terdapat beberapa hal yang berpotensi sebagai sumber konflik, antara lain perebutan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi lainnya. Selain itu juga benturan-benturan kepentingan kekuasaan, politik dan ideologi, serta perluasan batasbatas identitas sosial budaya dari sekelompok etnik. Berbeda dengan perbedaan horisontal, perbedaan vertikal diasumsikan sebagai faktor yang menentukan tercetusnya konflik sosial. Karena status sosial dan ekonomi serta kedudukan politik signifikan dalam setiap interaksi sosial antara kelompok-kelompok etnik. Apakah interaksi sosial tersebut akan bersifat positif atau negatif, sangat ditentukan oleh kadar perbedaan-perbedaan vertikal di antara kelompok-kelompok etnik. Dan bukan dari perbedaan-perbedaan horisontal, sebagaimana yang banyak diyakini selama ini. Semakin tinggi posisi politik dan peran dominatif suatu kelompok etnik, akan semakin kuat menimbulkan prasangka (stereotipe negatif) yang menjadi sumber ketegangan dan konflik antarkelompok etnik. Apalagi kalau mengacu konsep dominatif yang lebih menekankan pada aspek kualitatif daripada aspek kuantitatifnya. Di mana suatu kelompok etnik minoritas juga berpeluang memiliki peran dominatif, jika kelompok tersebut secara substansial menguasai struktur politik atau ekonomi di daerah (negara) tertentu. Sehingga dari pola interaksi sosial yang demikian itu bisa mengimplikasikan perbedaan-perbedaan yang semakin kompleks, baik secara horisontal maupun vertikal. Yang selanjutnya, sangat efektif sebagai sumber ketegangan. Dalam mengatasi konflik sosial dalam masyarakat majemuk, jangan terpaku hanya pada perbedaan-perbedaan horisontal yang ada. Artinya dalam menghindari atau meminimalkan konflik tidak hanya dengan mengatasi masalah perbedaan aspek-aspek sosial budayanya, akan tetapi hendaknya menaruh perhatian yang lebih pada pemecahan masalah-masalah persaingan dalam memperebutkan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi-politik. Jadi dapat disimpulkan bahwa sumber konflik sosial antara berbagai etnik atau golongan bukan didominasi oleh perbedaan

horisontal. Tetapi yang lebih menonjol disebabkan oleh faktor perbedaan-perbedaan vertikal. Karena interaksi dalam perbedaan vertikal antaretnik (suku) dan golongan lebih berdimensi kalah-menang, bermuara pada munculnya kekuatan yang mendominasi dan yang didominasi. Kemudian terjadi ketidakseimbangan, prasangka dan ketegangan. Dan apabila tidak segera diantisipasi, maka kondisi itu sangat rentan dimanfaatkan oleh mereka yang tak bertanggung jawab untuk memicu konflik sosial dan kerusuhan massal.

05
Konflik Vertikal
PKnAdd comments

KONFLIK VERTIKAL Menurut Nardjana (1994) Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu. Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4) Daniel Webster mendefinisikan konflik sebagai : 1. Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain. 2. Keadaan atau perilaku yang bertentangan (Pickering, 2001). Secara umum konflik vertikal dapat didefinisaikan sebagai perselisihan kelompok masyarakat atau wilayah tertentu dengan Negara atau pemerintah. Konflik vertikal dapat juga diartikan sebagai ketidaksetujuan antara dua atau lebih anggota organisasi atau kelompok-kelompok dalam organisasi yang timbul karena mereka harus menggunakan sumber daya yang langka secara bersama-sama atau menjalankan kegiatan bersama-sama dan atau karena mereka mempunyai status, tujuan, nilai-nilai dan persepsi yang berbeda. Anggota-anggota organisasi yang mengalami ketidaksepakatan tersebut biasanya mencoba menjelaskan duduk persoalannya dari pandangan mereka, 1. A. SEBAB-SEBAB TERJADINYA KONFLIK VERTIKAL

Ditinjau dari penyebab utama terjadinya konflik, ada 4 faktor: 1. A. Faktor politik Penyebab konflik karena adaanya diskriminasi politik dan eklusifisme ideologi nasional.

1.

B. Faktor struktural Adalah faktor-faktor penyebab konflik yang terjadi olehkarena Negara atau pemerintah lemah, masalah dan pengaturan keamanan dalam Negara lemah serta benturan kepentingan etnik

1.

C. Faktor sosial-ekonomi Fator penyebab konflik karena adanya problematika ekonomi yang tidak teratasi. Diskrimiasi sistem ekonomi serta modernisasi dan pembangunan ekonomi yang tidak adil.

1.

D. Faktor kultural dan persepsi Adalah faktor penyebab konflik karena adanya diskriminasi atau perasaan diskriminatif terhaadap minoritas dan benturan antatr kelompok dalam masyarakat.

1. 2.

B. a.

CONTOH KONFLIK VERTIKAL Negara Nasional Indonesia (NII)

Negara Islam Indonesia (disingkat NII juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah “Rumah Islam” adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong,Tasikmalaya, Jawa Barat. Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru sajadiproklamasikan kemerdekaannya dan ada di masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”, lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits“. Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari‟at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur‟an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan “hukum kafir“, sesuai dalam Qur‟aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50 Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan dan Aceh. Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia. Negara Islam Indonesia merupakan suatu fenomena masalah sosial yang dapat menghancurkan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ketika dibiarkan membesar. Perkembangan jemaah yang begitu banyak, apalagi sebagian besar tinggal di ibukota negara, menimbulkan kesan seakan ada pembiaran membesarnya pergerakan aksi makar ini. Selain itu kurang seriusnya pemerintah secara represif dalam mengatasi ancaman makar dari pergerakan bernama NII ini. Konsep „makar‟, secara interpretasi sistematis dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), diartikan sebagai kejahatan terhadap keamanan negara, kepala negara, dan wakil kepala negara sahabat, menjadi matamata musuh, perlawanan terhadap pegawai pemerintah dan berbagai tindakan lain yang merugikan kepentingan negara. Adapun motif dari aksi makar ini dapat dilakukan dengan cara, merampas kemerdekaan, menggulingkan

pemerintahan, mengubah sistem pemerintahan dengan cara yang tidak sah, merusak kedaulatan negara dengan menaklukan atau memisahkan sebagian negara untuk diserahkan kepada pemerintahan lain atau dijadikan negara yang berdiri sendiri. Sehingga, ketika gerakan NII yang ingin mengganti prinsip negara kesatuan dengan memegang prinsip kebhinekaan serta tindakan yang memberikan doktrin kepada setiap pengikutnya bahwa negara NKRI tidak sah dan kafir maka aktivitas tersebut dapat dikategorikan aksi kejahatan terhadap keamanan negara serta tindakan kejahatan terhadap ketertiban umum. Bila dilihat dari perspektif konstitusional, Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Dasar NRI 1945, menentukan “negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik.” Karenanya selain aksi makar, aktivitas NII tersebut merupakan tindakan inkonstitusional, yang ingin menghancurkan NKRI sebagaimana yang telah dijamin secara mendasar oleh konstitusi. Mengingat telah berlangsung lama gerakan ini, menjadi sebuah bukti bahwa kurang seriusnya tindakan negara dalam melakukan upaya pemberantasan. Sebab jika ini dibiarkan berkembang maka cita-cita negara kesatuan republik Indonesia sebagaimana diinginkan para founding fathers akan sirna. Sebab rasa persatuan dari seluruh elemen masyarakat Indonesia dari perbedaan suku, agama, ras, dan budaya yang teraktualisasi dalam prinsip bhineka tunggal ika, akan terabaikan. Tentu sangat disedihkan ketika kesatuan negara ini yang telah diperjuangkan dengan pertumpahan darah menuju kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam tergerus oleh tindakan para pemberontak yang ingin menghancurkan satunya bangsa ini. Karenanya tindakan represif oleh pemerintah harus segera dilakukan terhadap pergerakan NII yang sangat mengancam kedaulatan negara. Hal ini agar tidak menimbulkan kesan perbedaan sikap negara terhadap aksi-aksi makar yang dilakukan oleh gerakan lainnya di Indonesia dan tentunya, sangat ironis ketika pergerakan NII dapat berkembang pesat di daerah dekat ibukota negara. Tindakan NII yang bertentangan dengan falsafah negara Indonesia yakni Pancasila, haruslah ditindak tegas. Dari perspektif ketatanegaraan dalam ilmu perundang-undangan, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara, hal ini tercantum dalam Pasal 2 Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Karenanya ketika ada keinginan sebuah gerakan untuk mengganti sendi-sendi filosofi negara Indonesia ini, maka tindakan represif oleh pemerintah harus segera dilakukan. Dapat diilustrasikan sebuah penyakit kanker yang jika dibiarkan dan tidak diberantas maka manusia akan mati, hal ini sama seperti Negara.

1.

b.

Konflik Aceh

Aceh memiliki sejarah militansi memerangi orang-orang Portugis di tahun 1520-an dan menantang penjajah Belanda dari 1873 sampai 1913, dan melancarkan perlawanan Islam terhadap Republik Indonesia di tahun 1953. Perlawanan itu, pemberontakan, disebut Darul Islam, bertujuan mendirikan sebuah Republik Islam atas seluruh wilayah Indonesia, hal yang juga menjadi tujuan kelompok-kelompok Islam militan di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pemberontakan ini berakhir 1962, ketika, Pemerintahan Soekarno memberi jaminan bahwa Aceh akan diberi status sebagai sebuah daerah istimewa dengan otonomi luas di bidang agama, hukum adat dan pendidikan. Tetapi, selama bertahun-tahun, janji ini secara umum tidak terpenuhi.

Pemberontakan separatis di Aceh dewasa ini dimulai 4 Desember 1976, ketika Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh. Di Tiro dan para pengikut setianya telah terlibat adalah pemberontakan Darul Islam 1953, tetapi kali ini pemberontakan mereka yang diberi nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) secara jelas berniat memisahkan diri dari Republik Indonesia. Tidak lama setelah deklarasi kemerdekaan tersebut, kekuatan bersenjata GAM mulai menyerang pasukan pemerintah, hal yang mengundang kembali operasi penumpasan pemberontakan oleh pemerintah. Pada tahun 1983, kekuatan GAM sudah dikalahkan di lapangan dan Di Tiro lari keluar negeri. Ia bersama beberapa pengikutnya akhirnya menjadi warganegara Swedia. Dalam sebagian besar dekade 1980-an, GAM menguat lagi, merasionalisasi status politiknya dan memperkuat sayap militer Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM). Dalam periode ini, sebagian dari 400 kader Aceh dilaporkan dikirim ke Libya untuk latihan militer. Tahun 1989, GAM merasa cukup kuat untuk sekali lagi menjajal pemerintah Indonesia, menyerang pasukan pemerintah, warga sipil dan orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata. Pemerintah membalas dengan operasi militer dan tindak penumpasan berskala besar. Pada tahun 1992, tampak bahwa Pemerintah mengendalikan situasi sepenuhnya. Tetapi, operasi militer yang ditandai dengan pelanggaran hak-hak asasi manusia dalam skala, memicu keberatan publik terhadap Pemerintah di Jakarta. Pelanggaran hak asasi manusia di Aceh menjadi sorotan publik tidak lama setelah Presiden Soeharto melengser dari kekuasaan dalam kerusuhan politik Mei 1998. Ditekan oleh teriakan publik di seluruh Indonesia atas penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia di Aceh, Pangab Jenderal Wiranto meminta maaf atas ekses-ekses militer dari 1989 sampai 1998 dan mencabut status Aceh sebagai sebuah daerah operasi militer (DOM), menjanjikan penarikan sejumlah besar tentara dari provinsi itu. Meski demikian, perdamaian tak kunjung datang, karena GAM memanfaatkan demoralisasi militer, melancarkan serangan besar-besaran. Konfrontasi bersenjata dimulai lagi. Pertengahan 1994, organisasi GAM pecah ketika para pejabat GAM yang berbasis di Kuala Lumpur membelot dari kepemimpinan GAM yang berbasis di Swedia, termasufk Hasan di Tiro. Tampaknya perbedaan utama antara dua faksi GAM ini ialah mengenai bentuk pemerintahan Aceh setelah kemerdekaan. Di Tiro lebih suka sebuah monarki dengan dirinya sebagai Sultannya, sedangkan kelompok Kuala Lumpur menghendaki sebuah republik Islam modern. Di Tiro yang mengklaim diri sebagai keturunan Sultan Aceh mendapatkan dukungan dari sebagian terbesar kekuatan GAM yang beroperasi di provinsi itu. Selama pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, terdapat sebuah jendela peluang bagi perdamaian di Aceh yang bisa diraih bersama kedua pihak, setidaknya untuk sementara waktu. Tawaran dialog dari pemerintahan Wahid diterima secara positif oleh faksi GAM pimpinan Hasan di Tiro. Mei 2000, wakil dari Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani di Jenewa sebuah dokumen yang disebut “Saling Pengertian bagi Jeda Kemanusiaan untuk Aceh”. Tujuannya, memberi kesempatan bagi penyaluran bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan rakyat Aceh. Hal ini dicapai melalui serangkaian perundingan rahasia yang dimediasi Henri Dunant Center, sebuah LSM internasional. Saling pengertian yang ditandai tangani itu merupakan langkah membangun rasa saling percaya (Confidence Building Measures/CBM) yang menciptakan landasan bersama bagi kedua pihak untuk melanjutkan dialog. 1. c. Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka. Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998 MPR saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan. Demonstrasi digulirkan sejak sebelum Sidang Umum MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang serta saat diselenggarakan Sidang Umum MPR 1998 demonstrasi mahasiswa semakin menjadi-jadi di banyak kota di Indonesia termasuk Jakarta, sampai akhirnya berlanjut terus hingga bulan Mei 1998. Insiden besar pertama kali adalah pada tanggal 2 Mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun Jakarta karena mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor karena mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB sehingga bentrok dengan aparat. Saat itu demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tingi di Jakarta merencanakan untuk secara serentak melakukan demonstrasi turun ke jalan di beberapa lokasi sekitar Jabotabek.Namun yang berhasil mencapai ke jalan hanya di Rawamangun dan di Bogor sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit. Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa apalagi sejak mereka berani turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presinden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997. Mahasiswa bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi. Dihadang oleh aparat kepolisian mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakan itu berlansung sepanjang sore hari dan mengakibatkan 4 mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat masuk rumah sakit karena terluka. Sepanjang malam tanggal 12 Mei 1998 hingga pagi hari, masyarakat mengamuk dan melakukan perusakan di daerah Grogol dan terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta. Mereka kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa. Jakarta geger dan mencekam.

1.

C.

UPAYA PENANGANAN KONFLIK

Dari kajian dalam menangani berbagai macam konflik di Indonesia, dapat dicuplik indikasi yang menyebabkan gagalnya penanganan konflik, yaitu : 1. Kelemahan deteksi Kelemahan fungsi intelegen yang tidak mampu mendeteksi sumber potensi konflik, sehingga tidak sempat dilakukan adanya pembinaan, penanggulangan atau pencegahan

  
1.

Kelemahan peran para tokoh penggerak masing-masing pihak yang berkonflik untuk melakukan tindakan pencegahan dini. Kegagalan upaya penggalangan : meredam isu, peran komunikasi/humas, sense of krisis. Kelemahan memperkirakan perkembangan situasi (pembuatan perkiraan cepat) Kegagalan upaya pencegahan Kelemahan pihak aparat melakukan tindakan pencegahan pada saat belum terjadinya peristiwa yang dapat memicu konflik atau pada awal terjadinya konflik Penyiapan tindakan preventif yang tidak memadai, seperti jumlah personil yang kurang memadai, kurangnya persiapan petugas, dan kurangnya persiapan. Keterlambatan menghadirkan back up penanganan, sehingga menimbulkan kecenderungan tindakan anarki massa

  

1.

Kekeliruan penindakan oleh petugas lapangan : Keraguan bertindak karena HAM Tidak berani mengambil resiko Tidak berani bertindak tegas Tindakan yang eksesif dan diskriminatif Tindakan tidak profesional atau melanggar HAM Keterbatasan sarana dan prasarana Dari pengalaman keberhasilan penanganan konflik dapat diambil butir-butir pembelajaran, diantaranya :

     

1.

Potensi konflik dapat diredam sebelum terjadi melalui : Deteksi tajam sehingga dapat meminimalisasi potensi konflik Penggalangan yang berhasil, sehingga dapat meredam konflik Upaya optimalisasi melalui barikade atau pemindahan lokasi Upaya pencegahan yang seimbang dan akurat Upaya melokalisir kejadian sehingga tidak meluas Upaya pencegahan dengan upaya yang berimbang Pengerahan petugas yang jumlahnya berimbang dengan massa Intensitas upaya meredam isu yang berimbang antara provokasi/ agitasi dengan antisipasi Upaya melokalisasi isu/kejadian Upaya maksimal untuk meminimalisasi dampak akibat konflik Pencegahan terhadap arus bantuan massa dari pihak yang berkonflik Meredam adanya isu-isu yang dapat memperkeruh situasi D. a. STUDI KASUS Negara Nasional Indonesia (NII)

    
1.

 
1.

  
1. 2.

Sumber konflik vertikal NII ini meliputi isu ideologi. Penyelesaian masalah NII ini sampai saat ini masih diusahakan oleh pemerintah untuk mengusut kasus ini agar tidak berlarut-larut sehingga dapat membahayakan ideologi kita, Pancasila. 1. b. Koflik Aceh

Sumber potensi konflik yang sangat kompleks, meliputi : isu separatisme, ideologi, teritorial, ekonomi, etnis, dan kecemburuan sosial. Penyelesaian konflik Aceh diantaranya adalah :

   
1.

Pemenuhan hak-hak otonomi khusus Pemberian peluang lebih sebesar-besarnya pada warga/ otoritas lokal Peran pihak ketiga dalam rangka mencari solusi damai Kebijakan politik yang demokratis c. Tragedi Trisakti

Tragedi ini bermula dari krisis ekonomi yang berkelanjutan melanda bangsa Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. DPR tengah berusaha menyelesaikan kasus tragedi Trisakti yang hingga kini masih terkatung-katung. Dalam usahanya tersebut, pemerintah telah membentuk tim untuk meneliti kembali kasus tragedi Trisakti ini yang telah merenggut nyawa keempat mahasiswa tersebut. DPR juga mengakui saat ini belum secara intensif membahas kasus ini. DPR masih harus melaporkan persoalan ini kembali kepada pimpinan DPR. Karena sebelumnya hasil pansus kasus Trisakti yang dibentuk beberapa tahun lalu menyimpulkan, tidak ada pelanggaran HAM berat dalam peristiwa Trisakti.

Incoming search terms for the article:
         
akibat konflik vertikal dalam organisasi konflik nilai nii faktor-faktor timbulnya konflik politik penyebab konflik vertikal penyebab konflik jawa dan aceh KONFLIK SOSIAL VERTIKAL fator dan penyebab konflik di aceh faktor2 penyebab terjadinya kasus trisakti faktor penyebab terjadinya konflik politik faktor penyebab konflik ekonomi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful