P. 1
Makalah Tentang Iman Kepada Kitab

Makalah Tentang Iman Kepada Kitab

|Views: 1,508|Likes:
Published by Ria Wardani

More info:

Published by: Ria Wardani on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

makalah tentang iman kepada kitab-kitab Allah SWT

Posted on Oktober 8, 2011 by raff193 MAKALAH IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI (BANJARMASIN) Disusun oleh : Rafi‘e 11.63.0426 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga makalah yang berjudul ―iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt‖ dapat tersusun dengan baik dan dapat disajikan dengan baik. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan maupun pengkajiannya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatsifatnya membangun sangat penulis harapkan, demi untuk perbaikan di masa yang akan datang. Demi kelancarannya mengerjakan tugas ini saya ucapkan terima kasih kepada Kedua orang tua saya yang telah memberikan motivasi dan semua teman – teman yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, dan akhirnya mudah-mudahan makalah ini walaupun sederhana dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Amiin ya robbal ‗alamin. Banjarmasin oktober 2011 Penyusun DAFTAR ISI Hal JILID i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN 1

A. Alasan Memilih Judul 1 B. Rumusan Masalah 1 C. Tujuan Pembuatan Makalah 1 D. Metode Penulisan 2 E. Sistematika Pembahasan 2 BAB II IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT 3 A. Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT 3 B. Macam-macam Kitab Allah 4 C. Kitab dan Suhuf 5 D. Fungsi Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt E. Perilaku orang yang beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt F. Cara beriman kepada Kitab-Kitab Allah BAB III PENUTUP 10 A. Kesimpulan 10 B. Saran 10 BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Memilih Judul Makalah ini berjudul ―Iman Kepada KitabKitab Allah Swt‖. Adapun yang menjadi masalah penulis dalam memilih judul ini adalah sudah ditentukan oleh Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. B. Rumusan Masalah Sebagaimana kita ketahui, Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt berarti menyakini adanya kitabkitab yang diturunkan kepada Rasul dan Nabi untuk disampaikan kepada Umat Manusia. Maka dari itu kita harus wajib berpedoman kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Swt kepada nabi dan rasul-Nya supaya untuk mendapatakan kebahagiaan di dunia maupun diakhirat. Oleh karena itu di dalam pembahasan Makalah ini penulis hanya akan membahas masalah ―Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt‖. C. Tujuan Pembuatan Makalah Adapun yang menjadi tujuan dari pada pembuatan makalah yaitu sebagai berikut : 1. Sebagai bahan bukti bahwa kita wajib percaya kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi dan Rasulnya untuk umatnya di dunia. 2. Untuk menambah wawasan dan mengetahui betapa wajibnya kita percaya kepada kitab-kitab Allah. D. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah melalui pendekatan keperpustakaan sebagai upaya pemantapan naskah penulis makalah. E. Sistematika Penulisan Adapun sistematika yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah : Kata Pengantar Yang memuat ucapan terima kasih kepada pihak yang telah memberi motivasi

Daftar isi Yang meliputi rangkuman pokok bahasan yang diuraikan dalam makalah ini. Bab I Pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, tujuan pembuatan makalah, pembahasan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan Bab II Studi tentang Iman kepada Kitab-kitab Allah Swt yang meliputi : Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT, Macam-macam Kitab Allah, Kitab dan Suhuf, Fungsi Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt, Perilaku orang yang beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt, dan Cara beriman kepada Kitab-Kitab Allah. Bab III Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran. BAB II IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT. Iman kepada kitab-kitab Allah SWT. Adalah mengakui, mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab kepada para nabi dan Rasul-Nya yang berisi ajaran Allah SWT. Untuk di sampaikan kepada umatnya masing-masing. Mengimani kitab Allah SWT, wajib hukumnya. Mengingkari salah satu kitab Allah SWT sama saja mengingkari seluruh kitab-kitab Allah SWT dan mengingkari para Rasul-Nya, malaikat dan mengingkari Allah SWT sendiri. A. Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT Pengertian iman menurut bahasa adalah percaya dan membenarkan.Iman menurut istilah adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati,diucapkan dengan lisan,dan diamalkan dengan perbuatan. Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa kitabkitab Allah itu benar-benar wahyu yang diturunkan-Nya kepada para Rasul, tidak diragukan kebenarannya isinya agar menjadi pedoman hidup bagi umatnya. Iman kepada kitab-kitab Allah termasuk dalam rukun iman yang ke tiga.Dengan demikian orang yang tidak mengimani kitab-kitab Allah tidak dapat dikatakan sebagai orang yang beriman, bahkan bisa dikatakan murtad. Firman Allah swt : Artinya : ―Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.‖ (QS. Al-Baqarah : 213) Ayat di atas mengandung penjelasan sebagai berikut : 1. Allah telah benar-benar menurunkan kitab-kitab kepada para nabi. 2. Dengan kitab-kitab itu Allah memberi kabar gembira dan peringatan 3. Tujuan diturunkannya kitab-kitab agar menjadi petunjuk dan pedoman hidup. B. Macam-macam Kitab Allah Menurut bahasa, kata kitab memiliki dua pengertian, pertama berarti perintah. Kedua berarti tulisan di atas kertas. Yang dimaksud kitab Allah adalah wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan rasul berisi pedoman hidup bagi umatnya dan telah dibukukan. Kitab-kitab Allah yang wajib kita imani ada empat, yaitu :

1. Kitab taurat, diturunkan kepada Nabi Musa As sebagai pedoman dan petunjuk bagi Bani Israil. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt : Artinya : ―Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (dengan firman): ―Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,‖ (QS. Al-Israa‘ : 2) 2. Kitab Zabur, diturunkan kepada Nabi Daud As untuk disampaikan dan dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umat Yahudi. Firman Allah : Artinya : ―…. dan Kami berikan Zabur kepada Nabi Daud‖ (QS> Al-Israa‘ : 55) 3. Kitab Injil, diturunkan kepada Nabi Isa As sebagai petunjuk dan tuntunan bagi Bani Israil. Allah berfirman : Artinya : ―Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orangorang yang bertakwa.‖ (Qs. Al-Maidah : 46) 4. Kitab Al-Qur‘an, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bangsa Arab. Allah berfirman : Artinya : ―Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur‘an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.‖ (Qs. Yusuf : 2) Al-Qur‘an sebagai kitab suci terakhir isinya meliputi seluruh kitab-kitab terdahulu dan melengkapi aturan-aturan yang belum ada. Pada dasarnya kitab-kitab Allah itu mengandung ajaran-ajaran yang sama, yaitu tentang tauhid atau mengesakan Allah. C. Kitab dan Suhuf Yang dimaksud kitab ialah kumulan firman Allah Swt yang diwahyukan kepada rasul-Nya. Wahyu itu dicatat dalam lembaran-lebaran kertas. Lembaran-lembaran itu kemudian disatukan menjado ancaman buku besar dan disusun secara sistematis sesuai petunjuk rasul sendiri. Kumpulan lembaran-lembaran ang sudah berwujud buku itu lazimnya disebut sebagai kitab. Kitab yang diturunkan Allah Swt ada empat. Keempat kitab Allah Swt itu adalah Taurat, zabur, injil dan Al-Qur‘an. Kitab-kitab itu memiliki kesamaan dan perbedaan. Persamaannya ialah semua kitab itu menganjurkan keesaan Allah Swt. Sehingga agama-agama sebelum islam lahir dikenal dengan sebutan agama tauhid, yakni agama yang mengajarkan tentang keesaan Allah Swt. Perbedaannya terletak pada sifatnya. Kitab-kitab sebelum al-qur‘an bersifat local dan ajaran-ajarannya sederhana, sedangkan Al-Qur‘an bersifat universal dan abadi sepanjang masa serta lebih luas ajarannya. Adapun yang dimaksud suhuf adalah lembaran-lembaran yang berisi kumpulan wahyu Allah Swt. Yang diberikan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia. Dengan

demikian, juga kita bandingkan dengan kitab, suhuf relatif lebih sedikit dari pada kitab. Beberapa suhuf dikumpulkan sehingga menjadio sebuah kitab. Allah Swt berfirman sebagai berikut : Artinya : ―Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.‖ (QS. Al-A‘laa : 18-19) D. Fungsi Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt. Fungsi iman kepada Kitab-kitab Allah Swt adalah sebagai petunjuk hidup. Manusia hidup di dunia memerlukan petunjuk agar hidupnya terarah. Petunjuk yang diperlukan harus mempunyai kualitas yang tinggi melebihi petunjuk yang dapat membimbing manusia kearah tujuan hidup hanyalah kitab suci yang telah diwahyukan Allah Swt kepada para rasul-Nya. Di dalam Surat Az-Zirat ayat 56 ditegaskan bahwa jin dan manusia diciptakan oleh Allah Swt tidak lain hanyalah agar menghambakan diri kepada-Nya. Sementara itu, di dalam Surat AlBaqarah ayat 30 dinyatakan oleh Allah Swt bahwa manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di dunia dalam rangka menghambakan diri kepada-Nya. Kehidupan manusia di bumi tidak lepas dari permasalahan yang sulit dipecahkan. Permasalahan hidup kian bertambah banyak sehingga manusia sering lupa dari tugas hidupnya sebagai hamba Allah Swt. Yang harus selalu menghambakan diri kepada-Nya. E. Perilaku orang yang beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt. Perilaku orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah Swt adalah sebagai berikut : 1. Memiliki rasa hormat dan menghargai kitab suci sebagai kitab yang memiliki kedudukan di atas segala kitab yang lain. 2. Berusaha menjaga kesucian kitab suci dan membelanya apabila ada pihak lain yang meremehkannya. 3. Mau mempelajari dengan sungguh-sungguh petunjuk yang ada di dalam, baik dengan membaca sendiri maupun menhadiri majlis taklim. 4. Berusaha untuk mengamalkan petunjuk-petunjuknya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 5. Berusaha untuk menyebarluaskan petunjuk-petunjuknya kepada orang lain, baik di lingkungan keluarga sendirimaupun masyarakat 6. Berusaha untuk memperbaiki bacaannya dengan mempelajari ilmu tajwid. 7. Tunduk kepada hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menyelesaikan suatu permasalahan. F. Cara beriman kepada Kitab-Kitab Allah Beriman kepada kitab-kitab Allah ada dua cara, yaitu : 1. Beriman kepada kitab-kitab sebelum Al-Qur‘an a. Meyakini bahwa kitab-kitab itu benar-benar wahyu Allah, bukan karangan para rasul b. Meyakini kebenaran isinya 2. Beriman kepada Al-Qur‘an a. Meyakini bahwa Al-Qur‘an itu benar-benar wahyu Allah bukan karangan Nabi Muhammad Saw b. Meyakini bahwa isi Al-Qur‘an dijamin kebenarannya, tanpa ada keraguan sedikitpun

c. Mempelajari, memahami, dan menghayati isi kandungan Al-Qur‘an d. Mengamalkan ajaran Al-Qur‘an dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan cara beriman kepada kitab-kitab Allah selain Al-Qur‘an dan kepada Al-Qur‘an sendiri disebabkan : 1. Masa berlakunya kitab-kitab sebelum Al-Qur‘an sudah selesai 2. Kitab-kitab sebelum Al-Qur‘an terlalu terbatas pada satu umat saja 3. Kandungan pokok dari kitab-kitab sebelum Al-Quran telah termuat dalam Al-Qur‘an BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut : 1. Kebersihan dan kesucian dari najis kita sucikan dengan mandi, wudhu dan bertayamum 2. Dengan mandi dapat menghilangkan kotoran – kotoran yang melekat pada tubuh manusia 3. Bersuci mendidik menusia berakhlak, sebab kebiasaan hidup akan mendorong seseorang menjauhi hal-hal yang menimbulkan perbuatan kotor. B. Saran Dari sumber yang diperoleh akhirnya penulis ingin menyampaikan saran kepada pembaca bila akan menyampaikan : 1. Kita harus memahami sumber terlebih dahulu agar saat menyampaikan tidak akan keliru 2. Saat menyampaikan kita harus tahu banyak tentang bersuci dalam ajaran islam. DAFTAR PUSTAKA  Departemen Agama RI. 2000. Fiqih. Jakarta.

Malaikat adalah makhluk yang hidup di alam ghaib dan senantiasa beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta‘ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah sedikit pun. Diciptakan dari cahaya dan diberikan kekuatan untuk mentaati dan melaksanakan perintah dengan sempurna. Rasulullah Shallahu‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

‖Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan adam ‘Alaihissalam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.‖i Allah Subhanahu wa ta‘ala berfirman, ‖Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisiNya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.”iicccc Beriman kepada malaikat mengandung empat unsur: 1. Mengimani wujud mereka, bahwa mereka benar-benar ada bukan hanya khayalan, halusinasi, imajinasi, tokoh fiksi, atau dongeng belaka. Dan mereka jumlahnya sangat banyak, dan tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah. Seperti dalam kisah mi‘raj-nya Nabi Muhammad Shallahu‘alaihi wa sallam, bahwa ketika itu Nabi Shallahu‘alaihi wa sallam diangkat ke Baitul Ma‟mur di langit, tempat para malaikat shalat setiap hari, jumlah mereka tidak kurang dari 70.000 malaikat. Setiap selesai shalat mereka keluar dan tidak kembali lagi.iii 2. Mengimani nama-nama malaikat yang kita kenali, misalnya Jibril, Mikail, Israfil, Mautiv. Adapun yang tidak diketahui namanya, kita mengimani keberadaan mereka secara global. Dan penamaan ini harus sesuai dengan dalil dari al-Quran dan Hadist Rasulullah Shallahu‘alaihi wa sallamyang shahih. 3. Mengimani sifat-sifat malaikat yang kita kenali, misalnya: Memiliki sayap, ada yang dua, tiga atau empat. Dan juga khususnya Malaikat Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat oleh Nabi Shallahu‘alaihi wa sallamyang mempunyai 600 sayap yang menutupi seluruh ufuk semesta alam.v Allah berfirman, ‖Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusanutusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.‖vi

Malaikat bisa menjelma menjadi seorang laki-laki, seperti saat diutus oleh Allah kepada Maryam, Nabi Ibrahim, Nabi Luth. Juga saat diutusnya Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallahu‘alaihi wa sallam ketika beliau berkumpul dengan para sahabat dalam satu mejelis untuk mengajarkan agama kepada para sahabat Nabi Shallahu‘alaihi wa sallam.vii Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti membaca tasbih dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla siang dan malam tanpa merasa lelah.
viii

Sebagian mereka ada yang memiliki tugas khusus. Sebagai contoh, Malaikat Jibril bertugas untuk menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul. Dan ini bukanlah satu-satunya tugas Malaikat Jibril, sehingga ada anggapan bahwa telah selesai tugas Malaikat Jibril dan nganggur setelah selesainya wahyu yang disampaikan kepada rasul terakhir Nabi Muhammad Shallahu‘alaihi wa sallam. Padahal selain tugas utama tersebut Malaikat Jibril juga mempunyai tugas lain, seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallahu‘alaihi wa sallam: ‖Jika Allah mencintai seorang hamba-Nya, maka dipanggillah Jibril, ‟Sesungguhnya Aku telah mencintai fulan, maka cintailah dia!‟ Lalu Jibril mencintainya, kemudian Jibril menyeru penghuni langit, ‟sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia!‟ Lalu seluruh penghuni langit mencintainya, kemudian djadikan dirinya dapat di terima di muka bumi.”ix Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan dan meunmbuhkan tumbuh-tumbuhan. Malaikat Isrofil yang diserahi tugas meniup sangkakala tatkala terjadi peristiwa hari kiamat dan manusia dibangkitkan dari alam kubur. Malaikat Maut yang diserahi tugas untuk mencabut nyawa seseorang.x Malaikat Ridwan dan Malik yang diserahi tugas menjaga Surga dan Neraka. Malaikat yang ditugaskan meniupkan ruh pada janin dalam rahim, yaitu ketika janin telah mencapai usia 4 bulan di dalam rahim, maka Allah Azza wa Jalla mengutus malaikat untuk menuliskan rizki, ajal, amal, celaka, dan bahagianya, lalu meniupkan ruh padanya.xi Para malaikat (dg sifat Rokib dan ’Atid) yang diserahi menjaga dan menulis semua perbuatan manusia. Setiap orang yang dijaga oleh dua malaikat, yang satu pada sisi kanan dan yang satunya lagi pada sisi kiri. Allah Azza wa Jalla berfirman: ‖(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.”xii

Para Malaikat Mungkar dan Nakir yang diserahi tugas menanyai mayit, yaitu apabila mayit telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan datanglah dua malaikat yang bertanya kepadanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Malaikat yang mencatat amal orang yang hadir paling awal saat shalat Jum’at. Rasulullah Shallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

‖Tatkala hari jum‘at tiba, malaikat berada di setiap pintu masjid mencatat amal orang yang hadir paling awal, lalu yang datang kemudian, jika imam naik ke mimbar di tutuplah buku catatan tersebut. Lalu mereka masuk mendengarkan nasihar (dzikir).‖xiii Buah Iman Kepada Malaikat Allah Beriman kepada Malaikat membuahkan pengaruh yang mulia diantaranya: Mengetahui dengan benar keagungan, kebesaran, kekuasaan malaikat, dan kebesaran makhluk menjadi bukti atas kebesaran Penciptanya. Bersyukur kepada Allah atas perhatianNya yang diberikan kepada anak Adam dengan menugaskan beberapa malaikat yang menjaga, mencatat amal mereka dan tugas-tugas lainnya dalam kemaslahatan hidup manusia. Kecintaan kita kepada para malaikat atas tugas-tugas yang mereka tunaikan dalam rangka mengabdi dan taat kepada Allah.

BAB VIII : MENINGKATKAN KEIMANAN KEPADA MALAIKAT I. Pendahuluan Seorang muslim di samping meyakinidan mengimani adanya Allah swt, maka wajib, pula mengimani akan adanya Malaikat Allah Swt Walaupun manusia paling sempurna dalam wujudnya, bahkan sampai malaikat itu diperintahkan Allah Swt untuk bersujud kepada Adam, namun Malaikat juga sangat istimewa dibanding makhluk lainnya, karena sangat patuh terhadap Allah (QS. At Tahrim: 6, An Nahl : 49-50). Iman kepada malaikat menjadi bagian dari rukun iman, tidak sempurna iman seorang muslim kecuali jika ia beriman dengan wujud mereka, nama-namanya, sifat-sifat mereka yang kita kenali dan mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka.

II. Uraian Materi

A. Pengertian Iman kepada Malaikat Iman kepada malaikat ialah percaya dan yakin akan adanya makhluk Allah Swt yang tercipta dari cahaya (nur),dan makhluk itu mempunyai sifat-sifat yang tak pernah berbuat maksiat kepada Allah Swt, namun mereka selalu bertasbih, bertahmid, dan bersujud. Dalam sejarah, diperoleh gambaran bahwa sejak zaman purbakala sudah ad a kepercayaan manusia yang gaib. Misalnya bangsa Greek (Yunani) mempercayai dewa Ares sebagai dewa peperangan, suku Kan'an dengan dewa Ba'ai, penduduk Meksiko dengan Dewa Matahari, bahkan ada yang mempercayai bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Tuhan. Untuk meluruskan kepercayaan yang salah tersebut, Allah menurunkan Islam dengan ajaran Tauhidnya. Melalui paham ini jelaslah bahwa pengabdian hanya semata -mata kepada Allah, Zat Yang Maha Esa, bukan kepada benda tertentu sebagaimana kepercayaan yang dianu t orang-orang terdahulu.

B. Asal Kejadian Manusia diciptakan oleh Allah dari tanah (QS. Al Hijr: 28, Shaad: 71). Jin diciptakan dari "Nar" (api) yang panas (QS. Hijr: 27, Ar Rahman: 15). Malaikat diciptakan dari "Nur" (cahaya) berdasarkan hadits Rasulullah Swt, yang berasal dari Aisyah: "Malaikat itu diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari nyala api, sedang Adam dari apa pang telah diterangkan kepada kamu sekalian. " (HR. Muslim) Al Qur'an dan hadits telah memberikan gambaran bahwa malaikat -malaikat Allah jumlahnya sangat banyak, tak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah (QS. Al Mudatstsir: 31). Dalam Hadits Bukhari - Muslim diriwayatkan dari Anas r.a. tentang kisah Isra' Mi'raj bahwa Allah memperlihatkan "Al Baitul Ma'mur" di langit kepada Nabi Muhammad Saw, di dalamnya terdapat 70.000 malaikat yang tiap hari melakukan shalat. Siapapun yang keluar dari tempat itu tidak kembali lagi. Adapun tugas-tugas malaikat yang dijelaskah di dalam Al Qur'an dan Hadits antara lain: 1. Menyampaikan wahyu adalah tugas malaikat Jibril (QS. An Najm: 6-10, banyak nama atau gelar yang dimilikinya). 2. Mendoakan kebaikan dan menjadi kawan atau penjaga orang-orang beriman (QS. Al Mukmin: 7, Fushilat: 31). 3. Melaksanakan hukuman Allah kepada manusia dan menyiksa orang-orang kafir (QS. A1 Anfal: 50, Muhammad: 27, Az Zukhruf: 47). 4. Memohon ampun bagi manusia (QS. Asy Syura: 5, Al Mukmin: 7-9). 5. Mencatat amal perbuatan manusia (QS. Al Infithaar: 10 - 12, Qaaf: 17-18, Ar Ra'du: 10 -11). 6. Mengatur dan menjaga perjalanan alam semesta, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik (QS. As Sajadah: 11). 7. Mencabut nyawa manusia dan makhluk lainnya bila telah datang waktunya (QS. Az Zumar: 11). 8. Meniup sangkakala (terompet) saat hari kiamat dan hari "Ba'ats" (QS. Yaasiin: 51, Al Kahfi: 99).

9. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada manusia di alam kubur (QS. Yaasiin: 51) di antara pertanyaan yang diajukan ialah siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, ke mana arah kiblatmu, dan apa yang engkau jadikan pedoman hidup. Terjawabnya pertanyaan yang diajukan sangat dipengaruhi oleh jalan yang ditempuh di dunia. Bagi muslim yang taat merasa mudah menjawabnya, sebagaimana hadits Nabi: "Seorang muslim bila ditanya di alam kubur (dengan mudah memberi) kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Itulah maksud firman Allah : "Allah menegakkan iman orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat (QS. Ibrahim: 27). " (HR. Bukhari Muslim). 10. Memberi kedamaian dan kenikmatan sebagai balasan bagi manusia yang menempuh jalan kebaikan tatkala hidup di dunia (QS. Az Zumar: 73).

C. Sifat dan Ciri Malaikat Sebagai makhluk ghaib (immateri), malaikat dikenal dengan ciri, di antaranya: 1. Makhluk yang selalu patuh karena suci dari keinginan dan nafsu (QS. An Nahl: 50, Al Anbiya: 27, At Tahrim:6) 2. Bisa bercakap-cakap dan menjelma menjadi manusia (QS. Maryam: 17-21). 3. Makhluk yang mulia dan mempunyai kedudukan tertentu (QS. Al Anbiya: 26-28, Ash Shaffat: 164-166). 4. Makhluk yang tidak pernah melakukan dosa dan maksiat (QS. At Tahrim: 6). 5. Makhluk yang tidak sombong dan selalu bertasbih kepada Allah `(QS. Al A'raf: 206).

D. Fungsi Iman kepada Malaikat dalam Kehidupan Sehari-hari Tidak akan berfungsi pengakuan iman tanpa dibuktikan dengan amAllah sehari -hari. Artinya keberadaan iman mengantar manusia mengendalikan perilakunya dari jalan yang tidak semestinya dilakukan. Demikian pula iman kepada malaikat harus berfungsi dalam kehidupan manusia. Adapun fungsi iman kepada malaikat adalah: 1. Meningkatkan martabat manusia. Dengan beriman kepada yang ghaib termasuk malaikat, pengetahuannya bisa meningkat.

2. Terhindar dari penyakit tahayyul dan khurafat dan bersamaan de ngan itu untuk memperkukuh jiwa tauhid. 3. Hidup ini dijalani dengan penuh harapan dan optimisme, meskipun berbagai cobaan siap menghadang (QS. Ar Ra'du: 11, Fushshilat: 30, Al Infithar: 10 -14 ).

E. Kedudukan Manusia dan Malaikat 1. Bila ditempuh jalan ketakwaan, kedudukan manusia menempati posisi paling mulia di sisi Allah dibanding dengan malaikat. Itulah salah satu sebab manusia diberi peran khalifah di muka bumi (QS. A1 Baqarah: 31-34). Sebaliknya, posisi manusia jatuh tersungkur di bawah, derajat binatang, bila daya tarik nafsu mengalahkan daya tarik Ilahi (At Tiin: 5 -6) 2. Dalam rangka memerankan fungsi khalifah manusia diawasi malaikat-malaikat Allah. Dengan demikian, di satu sisi malaikat berperan sebagai pengawas pengemban khalifahdan sisi lain menjalankan aturan yang telah digariskan Allah agar perjalanan alam semesta berjalan dengan baikdan teratur.

F. Tanda-tanda Penghayatan terhadap Fungsi Iman kepada Malaikat dalam Perilaku Seharihari 1. Dapat mengetahui keagungan Allah swt, kekuatan-Nya dan kekuasaan-Nya Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah keagungan Sang Pencipta. 2. Selalu bersyukur kepada Allah Swt atas perhatian-Nya terhadap manusia, sehingga menugasi malaikat memelihara, mencatat amal-amal dan kemashlahatanya yang lain. 3. Selalu cinta kepada malaikat karena ibadah yang mereka lakukan kepada Allah Swt, dan menjadikannya sebagai ibrah dalam kehidupan kita. G. Perilaku yang Mencerminkan Beriman kepada Malaikat 1. Berperilaku baik dan jujur, karena merasa selalu diawasi malaikat. 2. Ta'at melaksanakan perintah Allah, sebagaimana dicontohkan malaikat dalam pengabdian-nya kepada Allah.

3. Penuh optimis dalam menghadapi bentuk kehidupan irti, karena yakin ada pelindungdan penolong.

Iman Kepada Malaikat
Kategori: Aqidah 6 Komentar // 13 September 2011 Iman kepada Malaikat merupakan salah satu landasan agama Islam. AllahTa`ala berfirman yang artinya: ―Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya….‖ (QS. Al-Baqarah: 285) Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab: ―(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.‖ (Muttafaq `alaih) Barangsiapa yang ingkar dengan keberadaan malaikat, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: ―Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.‖ (QS. An-Nisa`: 136) Batasan Minimal Iman kepada Malaikat Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan: ―Batas minimal (iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi.‖ (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh) Bertambah Iman Seiring dengan Bertambahnya Ilmu Setelah itu, setiap kali bertambah ilmu seseorang tentang rincian hal tersebut (malaikat), wajib baginya mengimaninya. Dengan begitu, maka imannya akan bertambah. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: ―Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: „Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?‟ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.‖ (QS. At-Taubah: 124) Hakikat malaikat Syaikh DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil mengatakan, ―Dalil-dalil dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan ijma` (kesepakatan) kaum muslimin (tentang malaikat) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.

  

Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata. Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara. Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya, baik perintah yang yang bersifat kauniyyah, maupun syar`iyyah.

Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan mereka berkata: „Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak‟, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: „Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah‟, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29) (Lihat Mu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin hal. 15) Asal Penciptaan Malaikat Allah Ta`ala menciptakan malaikat dari cahaya. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: ―Malaikat diciptakan dari cahaya.‖ (HR. Muslim) Jumlah Malaikat Jumlah mereka sangat banyak. Hanya Allah saja yang tahu berapa banyak jumlah mereka. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: ―Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.‖ (QS. Al-Muddatstsir: 31) Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallammelakukan Isra` Mi`raj, berkata Jibril `alaihis salam kepada beliau: ―Ini adalah Baitul Ma`mur. Setiap hari shalat di dalamnya 70 ribu malaikat. Jika mereka telah keluar, maka mereka tidak kembali lagi…. ‖ (Muttafaqun `alaihi) Sifat Fisik Malaikat Berikut ini kami sampaikan sebagian sifat fisik malaikat:

Kuatnya fisik mereka Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka (yang artinya), “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahrim: 6) Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan mereka.Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia menawarkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan dua gunung kepada sebuah kaum

yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) Mempunyai sayap Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathiir: 1) Tidak membutuhkan makan dan minum Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikatmalaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” (QS. Huud: 69 – 70)As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”

Ke-ma`shum-an Malaikat Allah Ta`ala telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana mereka tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta`alaberfirman: “Dan mereka berkata: „Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak‟, Maha Suci Allah….” (lihat QS. AlAnbiyaa`: 26 – 29 di atas) Buah Iman kepada Malaikat Diantara buah dari beriman kepada malaikat adalah:
 

Mengetahui keagungan Allah Ta`ala yang telah menciptakan makhluk-makhluk yang mulia, yaitu malaikat. Kecintaan kepada malaikat karena ibadah-ibadah yang mereka lakukan. (lihat Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh `Utsaimin)

Demikialah sedikit bahasan tentang malaikat. Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih rinci tentang Malaikat, silahkan merujuk ke kitabMu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin karya DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil. Wallahu Ta`ala a`lam.

_______

Thursday, November 15, 2007
019 - BERIMAN KEPADA MALAIKAT

BERIMAN KEPADA MALAIKAT
I. DEFINISI MALAIKAT Menurut bahasa ‫ مالئ كة‬bentuk jama‟ dari ‫ .م لك‬Dikatakan ia berasal dan kata (risalah), dan ada yang menyatakan dan (mengutus), dan ada pula yang berpendapat selain dan keduanya. Adapun menurut istilah, ia adalah salah satu jenis makhluk Allah yang Ia ciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepadaNya serta mengerjakan semua tugas-tugas-Nya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisiNya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) mereka letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20). “Dan mereka berkata, „Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak‟, Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikatmalaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tiada mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintahperintahNya.” (Al-Anbiya‟: 26-27). II. KEPERCAYAAN MANUSIA TENTANG MALAIKAT SEBELUM ISLAM Wujud malaikat diakui dan tidak diperselisihkan oleh umat manusia sejak dahulu kala. Sebagaimana tidak seorang jahiliyah pun diketahui mengingkarinya, meskipun cara penetapannya berbeda-beda antara pengikut para nabi dengan yang lainnya. Orang-orang musyrik menyangka para malaikat itu anakanak perempuan Allah Subhanallah (Mahasuci Allah). Allah telah membantah mereka dan menjelaskan tentang ketidaktahuan mereka dalam firman-Nya, “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka men yaksikan penciptaan malaikatmalaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Az-Zukhruf: 19). “Atau apakah kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benarbenar mengatakan, „Allah beranak‟. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash-Shaffat: 150-152).

III. BERIMAN KEPADA MALAIKAT Iman kepada malaikat adalah rukun iman yang kedua. Maksudnya yaitu meyakini secara pasti bahwa Allah mempunyai para malaikat yang diciptakan dan nur, tidak pernah mendurhakai apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Allah titahkan kepada mereka. Dalil-dalil yang mewajibkan beriman kepada malaikat: 1. Firman Allah dalam surat al-Baqarah, “Rasul telah beriman kepada al-Qur‟an yang diturunkan kepadanya dan Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya dan rasul-rasulNya...” (Al-Baqarah: 285). Allah menjadikan iman mi sebagai akidah seorang mukmin. 2. Firman Allah pada ayat lainnya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan nabi-nabi...” (Al-Baqarah: 177). Allah mewajibkan percaya kepada hal-hal tersebut di atas dan mengafirkan orang-orang yang mengingkarinya. Allah berfirman, dan barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Han Kemudian, maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa‟: 136). 3. Sabda Rasulullah ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang iman, “Iaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan Hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik mahu pun yang buruk.” (HR. Muslim, 1/37 dan al-Bukhari, 1/19-20). Rasulullah menjadikan iman itu adalah dengan mempercayai semua yang disebut tadi. Sedangkan iman kepada malaikat adalah sebagian dari iman tersebut. Keberadaan malaikat ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang pasti (qath„iy), sehingga mengingkarinya adalah kufur berdasarkan ijma‟ umat Islam, karena ingkar kepada mereka bererti menyalahi kebenaran alQuran dan as-Sunnah. IV. MACAM-MACAM MALAIKAT DAN TUGASNYA Malaikat adalah hamba Allah yang dimuliakan dan utusan Allah yang dipercaya. Allah menciptakan mereka khusus untuk beribadah kepada-Nya. Mereka bukanlah putera-puteri

Allah dan bukan pula putera-puteri selain Allah. Mereka membawa risalah Tuhannya, dan menunaikan tugas masing-masing di alam ini. Mereka juga bermacam-macam, dan masingmasing mempunyai tugas-tugas khusus. Di antara mereka adalah: 1 - Malaikat yang ditugaskan menyampaikan (membawa) wahyu Allah kepada para rasul-Nya, Ia adalah ar-Ruh al-Amin atau Jibril. Allah berfirman, “Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syuara: 193194). Allah menyifati Jibril dalam tugasnya menyampaikan al-Qur‟an dengan sifat-sifat yang penuh pujian dan sanjungan, “Sesungguhnya al-Qur‟an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai „Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (At-Takwir: 19-21). 2 - Malaikat yang diserahi urusan hujan dan pembagiannya menurut kehendak Allah. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah dan Nabi s.a.w. beliau bersabda, “Tatkala seorang laki-laki bërada di tanah 4lapang (gurun) dia mendengar suara di awan, „Siramilah kebunfulan,‟ maka menjauhlah awan tersebut kemudian menumpahkan air di suatu tanah yang berbatu hitam, maka saluran air di situ dan saluransaluran yang ada telah memuat air seluruhnya...” (HR. Muslim, 4/2288). mi menunjukkan bahwa curah hujan yang dilakukan malaikat sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. 3 - Malaikat yang diberikan trompet, iaitu Israfil, Ia meniupnya sesuai dengan perintah Allah dengan tiga kali tiupan: tiupan faza‟ (ketakutan), tiupan sha‟aq (kematian) dan tiupan ba‟ts (kebangkitan). Begitulah yang disebut Ibnu Jarir dan mufassir lainnya ketika menafsirkan firman Allah, “...di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anam: 73). Dan firman Allah, “...kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (Al-Kahfi: 99), Dan ayat-ayat lainnya yang ada sebutan, “an-nafkhu fishshur” (meniup terompet).

4 - Malaikat yang ditugasi mencabut ruh, yakni malaikat maut dan rakan-rakannya. Tentang tugas malaikat ini Allah berfirman, “Katakanlah, „Malaikat maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah: 11). “...sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban.” (AlAnam: 61). 5 - Para malaikat penjaga syurga. Allah mengabarkan mereka ketika menjelaskan perjalanan orang-orang bertakwa dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombong (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, „Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal didalamnya‟.” (AzZumar:73). 6 - Para malaikat penjaga Neraka Jahanam, mereka itu adalah Zabaniyah. Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah Malik. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ketika menyifati Neraka Saqar, “Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan malaikat.” (AlMuddatstsir: 27-30). Dan Allah bercerita tentang penduduk neraka, “Mereka berseru, „Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.‟ Dia menjawab, „Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)‟.” (Az-Zukhruf: 77). 7 - Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala urusan-nya. Mereka adalah Mu‟aqqibat, sebagaimana yang diberitakan Allah dalam firman-Nya, “Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan uca pan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam han dan yang berjalan (menampakkan din) di siang han. Bagi manusia ada malaikatmalaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Rad:10-11). Dan firman Allah,

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga...” (A1-An‟am: 61). 8 - Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, amal yang baik mahupun amal yang buruk. Mereka adalah al-Kiram al-Katibun (para pencatat yang mulia). Mereka masuk dalam golongan Hafazhah (para penjaga), sebagaimana firman Allah, “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80). “(Iaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17-18). “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12). Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang menyebut tentang mereka banyak sekali. V. HUBUNGAN MALAIKAT DENGAN MANUSIA Allah mewakilkan kepada malaikat urusan semua makhluk termasuk urusan manusia. Jadi mereka mempunyai hubungan yang erat dengan manusia semenjak ia berupa sperma. Hubungan ini disebutkan Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Ighatsatul Lahfan‟, beliau berkata, Mereka diserahi urusan penciptaan manusia dan satu fasa ke fasa yang lain, pembentukannya, penjagaannya dalam tiga lapis kegelapan, penulisan rezeki, amal, ajal, nasib celaka dan bahagianya, menyertainya dalam segala urusan-nya, penghitungan ucapan dan perbuatannya, penjagaannya dalam hidupnya, pencabutan ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika untuk diperlihatkan kepada Penciptanya. Merekalah yang ditugasi mengurus adzab dan nikmat dalam alam barzakh dan sesudah kebangkitan. Mereka yang ditugasi membuat alat-alat kenikmatan dan adzab, Mereka yang meneguhkan (iman) bagi hamba yang mukmin dengan izin Allah, yang mengajarkan baginya apa yang bermanfaat, yang berperang membelanya. Merekalah para walinya (penolongnya) di dunia dan di akhirat. Mereka yang menjanjikannya kebaikan dan mengajak kepadanya, melarang kejahatan serta memperingatkannya. Maka mereka adalah para wali dan ansharnya, penjaga dan mu „allim (pengajar)nya, penasihat yang berdoa dan beristighfar untuknya, yang selalu bershalawat atasnya Selama ia mengajarkan kebaikan untuk manusia. Mereka yang memberi khabar gembira dengan karamah Allah ketika tidur, mati dan ketika dibangkitkan. Merekalah yang membuatnya zuhud di dunia dan menjadikannya cinta kepada akhiratnya. Mereka yang mengingatkan ketika ia lupa, yang menggiatkannya ketika ia malas, dan

menenangkannya ketika ia panik. Mereka yang mengupayakan kebaikan dunia dan akhiratnya. Merekalah para utusan Allah dalam mencipta dan mengurusnya. Mereka adalah safir (duta) penghubung antara Allah dan hamba-Nya. Turun dengan perintah dari sisi-Nya di seluruh penjuru alam, dan naik kepada-Nya dengan perintah (membawa urusan).”

Iman kepada Malaikat
Pengertian Malaikat bentuk jama‘ dari kata: ma-la-kun (satu malaikat). Sedangkan kata; ma-la-kun sendiri diambil dari kata ma‘-la-kun (‫ – )مأل ك‬uluukah (‫ ,)أل وك ة‬yang artinya ‗risalah (pengutusan)‘. (Al Mu‟jam Al Wasith, madah: a-la-ka). Malaikat adalah alam gaib, makhluk, dan hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan ketaatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu. Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman, yang artinya, ―Para malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.‖ (QS. Al Anbiyaa: 19 – 20) Malaikat jumlahnya sangat banyak, dan tidak ada yang mampu menghitungnya kecuali Allah. Dalam hadits Al Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Anas Radhiyallahu ‗Anhu tentang kisah mi‘raj bahwa Allah telah memperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam Al Baitul Ma‘mur di langit. Di dalamnya terdapat 70.000 malaikat yang setiap hari melakukan shalat. Siapa pun yang keluar dari tempat itu, tidak kembali lagi.
Iman kepada malaikat mengandung empat unsur

Pertama, Mengimani wujud mereka. Kedua, Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya, seperti Jibril, dan juga terhadap nama-nama malaikat yang tidak kita kenal. Ketiga, Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam yang mempunyai 600 sayap yang menutup ufuk. Malaikat bisa saja menjelma berwujud seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada malaikat Jibril, tatkala Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam, sewaktu beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda perjalanannya, dan tidak seorang sahabatpun yang mengenalinya. Jibril duduk dekat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. Ia bertanya kepada Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya.

Demikian halnya dengan para malaikat yang diutus kepada nabi Ibrahim dan Luth. Mereka menjelma bentuk menjadi lelaki. Keempat, Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti bacaan tasbih, dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta‘ala siang-malam tanpa merasa lelah.
Sifat-sifat malaikat

1. Mereka diciptakan dari cahaya Dari Aisyah radhiallahu „anha, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, ―Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari nyala api ….‖ (HR. Muslim no. 60) 2. Makhluk yang selalu taat dan tidak pernah maksiat Allah berfirman, yang artinya, ―Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.‖ (QS. At Tahrim: 6) 3. Malaikat memiliki sayap Allah berfirman, yang artinya, ―Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.‖ (QS. Fathir: 1) Dari Ibnu Mas‘ud radhiallahu ‗anhu, beliau mengatakan, ―Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Beliau (Jibril) memiliki 600 sayap. Satu sayap bisa menutupi ufuk.‖ (Al Bidayah Ibnu katsir, 1/47. Sanadnya baik) 4. Makhluk yang sangat besar Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‗anhu, Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam bersabda, ―Saya diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat pemikul Arsy. Jarak antara daun telinga dengan pundaknya sejauh 700 tahun perjalanan.‖ (HR. Abu Daud no. 4729 dan dinilai sahih oleh Al Albani) 5. Keindahan malaikat Allah berfirman, yang artinya, ―Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Makhluk yang mempunyai paras yang indah; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.‖ (QS. An Najm: 5 – 6) Demikian pula perkataan wanita mesir ketika melihat Nabi Yusuf ‗alaihi salam, ―Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata, ‗Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.‘‖ (QS. Yusuf: 31)

6. Mereka berbeda-beda, bentuk dan kedudukannya Allah berfirman, yang artinya, ―Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.‖ (QS. Fathir: 1) Jumlah sayap mereka berbeda-beda sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Allah berfirman tentang Jibril, yang artinya, ―Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‗Arsy.‖ (QS. At Takwir: 19 – 20) Allah menyebutkan bahwa Jibril memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Artinya ada malaikat yang kedudukannya di bawah Jibril. 7. Bukan pria, bukan wanita Satu hal yang penting untuk diperhatikan bahwa sesuatu yang ghaib tidak bisa dianalogikan dengan sesuatu yang nampak dan bisa dijangkau indera manusia dari semua sisi. Allah mencela sikap orang musyrikin yang menganggap malaikat sebagai makhluk dengan jenis kelamin perempuan. Padahal mereka tidak pernah menyaksikan proses penciptaan malaikat. Allah berfirman, yang artinya, ―Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah), ‗Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki. Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?‖ (QS. Ash Shaffat: 149 – 150) 8. Mereka tidak makan dan tidak minum Ketika utusan Allah di kalangan malaikat mendatangi Nabi Ibrahim, mereka disuguhi daging sapi. Setelah dipersilahkan mereka tidak mau makan. Maka Ibrahim sadar bahwa tamunya bukan manusia tapi malaikat. Allah berfirman, yang artinya, ―Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‗Salaamun.‘ Ibrahim menjawab, ‗Salaamun (kamu) adalah orangorang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, ‗Silakan makan.‘ (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, ‗Janganlah kamu takut,‘ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (yaitu Ishaq).‖ (QS. Adz Dzariyat: 24 – 28) 9. Tidak pernah bosan beribadah dan melaksanakan ketaatan Allah berfirman, yang artinya, ―Mereka (para Malaikat) selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.‖ (QS. Al Anbiya‘: 20) Allah juga berfirman, yang artinya, ―Jika mereka (orang kafir) menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.‖ (QS. Fushshilat: 38)

10. Malaikat tinggal di langit Banyak dalil yang menunjukkan bahwa malaikat naik-turun menemui hamba-hamba Allah yang ada di bumi. Demikian juga, banyak ayat yang menunjukkan bahwa mereka berada di dekat Allah ta‘ala. Ini semua mengisyaratkan bahwa tempat asal mereka berada di langit. Di antaranya, firman Allah tentang lailatul qadar, yang artinya, ―Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.‖ (QS. Al Qadar: 4)
Tugas-tugas malaikat

Di antara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas tertentu, sebagai berikut:
1. 2. 3. 4. 5. 6. Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rasul. Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan dan tumbuh-tumbuhan. Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup sangkakala di hari kiamat dan kebangkitan makhluk. Malaikat maut (malakul maut) yang diserahi tugas mencabut nyawa manusia. Malaikat Malik diserahi tugas menjaga neraka. Ada malaikat yang diserahi tugan mengurusi janin dalam rahim. Ketika janin sudah mencapai empat bulan di dalam kandungan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh dan menulis takdir rizkinya, ajalnya, amalnya, derita, dan bahagianya. 7. Ada juga malaikat yang diserahi menjaga dan menulis semua perbuatan manusia. Setiap orang dijaga oleh dua malaikat, yang satu pada sisi dari kanan dan yang satunya lagi pada sisi dari kiri. 8. Ada juga malaikat yang diserahi tugas menanyai orang yang meninggal. Bila mayit sudah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan datanglah dua malaikat yang bertanya kepadanya tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya. Manfaat iman kepada malaikat

Pertama, mengetahui keagungan Allah, kekuatan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah dari keagungan sang Pencipta. Kedua, syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala atas perhatian-Nya terhadap manusia dengan mengutus malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai kemashlahatannya yang lain. Ketiga, cinta kepada para malaikat karena ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Pendapat keliru tentang malaikat Pertama, orang yang memuja akal dan beraliran liberal mengingkari keberadaan malaikat. Mereka mengatakan bahwa malaikat adalah sesuatu yang abstrak untuk mengungkapkan ‖kekuatan kebaikan‖ yang tersimpan dalam diri para makhluk. Keyakinan ini jelas bertolak-belakang dengan Kitabullah, sunnah Rasul-Nya, dan ijma‘ (konsensus) umat Islam. Karena semua dalil menunjukkan bahwa malaikat adalah sesuatu yang kongkret dan berwujud, memiliki zat dan berjasad. Hanya saja mereka berada di alam ghaib, yang tidak bisa dilihat manusia.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa mereka makhluk yang berjasad adalah beberapa ayat berikut: Allah berfirman, yang artinya, ―Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.‖ (Faathir:1) Keterangan: Allah sebut malaikat memiliki sayap. Tidak mungkin sesuatu yang memiliki sayap tidak memiliki zat (baca: berjasad) Allah juga berfirman, yang artinya, ―Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul dari depan dan belakang mereka (dan berkata), ‗Rasakanlah siksa neraka yang membakar,, (tentulah kamu akan merasa ngeri).‖ (QS. Al Anfaal: 50) Keterangan: Allah sebut malaikat bisa memukul. Sedangkan benda abstrak tidak bisa memukul. Allah juga berfirman, yang artinya, ―Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), ‗Salamun „alaikum bima shabartum (salam sejahtera kepadamu dengan kesabaranmu).‘ Maka alangkah baiknya tempat balasan itu.‖ (QS. Ar Ra‘d: 23 – 24) Keterangan: Allah menceritakan malaikat bisa memberi salam. Artinya mereka bisa berbicara. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk yang memiliki anggota badan untuk berbicara. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‗anhu, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: ―Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Ia memberi tahu Jibril bahwa Allah Subhanahu wa Ta‟ala mencintai Fulan, dan menyuruh Jibril untuk mencintainya, maka Jibril pun mencintainya. Jibril lalu memberi tahu penghuni langit bahwa Allah Subhanahu wa Ta‟ala mencintai Fulan dan menyuruh mereka juga untuk mencintainya, maka penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ia diterima di kalangan masyarakat bumi.‖ (HR. Al Bukhari no. 3037) Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu „anhu, bahwa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: ―Setiap hari Jumat, di setiap pintu masjid, para malaikat mencatat satu demi satu orang yang datang. Bila imam sudah duduk (di atas mimbar) mereka menutup buku-bukunya dan datang untuk mendengarkan zikir (khotbah).‖ Dari nash-nash ini tampak jelas bahwa para malaikat itu benar-benar ada, dan satu hal yang konkrit. Bukan kekuatan abstrak yang terdapat dalam diri manusia, seperti yang diyakini sebagian orang liberal. Kedua, ada sebagian orang yang membatasi jumlah malaikat hanya 10 malaikat. Ini adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil Al Qur‘an dan As-Sunnah, yang menunjukkan

banyaknya jumlah malaikat. Di antaranya firman Allah, yang artinya, ―Tidak ada yang mengetahui jumlah tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.‖ (QS. Al Muddatsir: 31) Ketiga, sebagian kaum muslimin memberi nama malaikat yang tidak ada dalilnya dari Alquran dan As-Sunnah. Diantaranya adalah nama Izarail. Banyak orang yang menggunakan nama ini untuk menyebut malaikat pencabut nyawa. Syaikh Al Albani mengatakan: Nama ini tidak ada dalilnya. Ini berasal dari berita israiliyat. (Takhrij Ath Thahawiyah, 1:72)

Iman Kepada Malaikat
Kategori: Aqidah 6 Komentar // 13 September 2011 Iman kepada Malaikat merupakan salah satu landasan agama Islam. AllahTa`ala berfirman yang artinya: ―Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya….‖ (QS. Al-Baqarah: 285) Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab: ―(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.‖ (Muttafaq `alaih) Barangsiapa yang ingkar dengan keberadaan malaikat, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: ―Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.‖ (QS. An-Nisa`: 136) Batasan Minimal Iman kepada Malaikat Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan: ―Batas minimal (iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi.‖ (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh) Bertambah Iman Seiring dengan Bertambahnya Ilmu Setelah itu, setiap kali bertambah ilmu seseorang tentang rincian hal tersebut (malaikat), wajib baginya mengimaninya. Dengan begitu, maka imannya akan bertambah. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: ―Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: „Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?‟ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.‖ (QS. At-Taubah: 124) Hakikat malaikat Syaikh DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil mengatakan, ―Dalil-dalil dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan ijma` (kesepakatan) kaum muslimin (tentang malaikat) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.

  

Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata. Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara. Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya, baik perintah yang yang bersifat kauniyyah, maupun syar`iyyah.

Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan mereka berkata: „Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak‟, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: „Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah‟, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29) (Lihat Mu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin hal. 15) Asal Penciptaan Malaikat Allah Ta`ala menciptakan malaikat dari cahaya. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: ―Malaikat diciptakan dari cahaya.‖ (HR. Muslim) Jumlah Malaikat Jumlah mereka sangat banyak. Hanya Allah saja yang tahu berapa banyak jumlah mereka. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: ―Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.‖ (QS. Al-Muddatstsir: 31) Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallammelakukan Isra` Mi`raj, berkata Jibril `alaihis salam kepada beliau: ―Ini adalah Baitul Ma`mur. Setiap hari shalat di dalamnya 70 ribu malaikat. Jika mereka telah keluar, maka mereka tidak kembali lagi…. ‖ (Muttafaqun `alaihi) Sifat Fisik Malaikat Berikut ini kami sampaikan sebagian sifat fisik malaikat:

Kuatnya fisik mereka Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka (yang artinya), “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahrim: 6) Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan mereka.Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia menawarkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan dua gunung kepada sebuah kaum

yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) Mempunyai sayap Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathiir: 1) Tidak membutuhkan makan dan minum Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikatmalaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” (QS. Huud: 69 – 70)As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”

Ke-ma`shum-an Malaikat Allah Ta`ala telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana mereka tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta`alaberfirman: “Dan mereka berkata: „Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak‟, Maha Suci Allah….” (lihat QS. AlAnbiyaa`: 26 – 29 di atas) Buah Iman kepada Malaikat Diantara buah dari beriman kepada malaikat adalah:
 

Mengetahui keagungan Allah Ta`ala yang telah menciptakan makhluk-makhluk yang mulia, yaitu malaikat. Kecintaan kepada malaikat karena ibadah-ibadah yang mereka lakukan. (lihat Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh `Utsaimin)

Demikialah sedikit bahasan tentang malaikat. Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih rinci tentang Malaikat, silahkan merujuk ke kitabMu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin karya DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil. Wallahu Ta`ala a`lam. Dari artikel Iman Kepada Malaikat — Muslim.Or.Id by null

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->