P. 1
APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 01 PANDEAN KOTA MADIUN

APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 01 PANDEAN KOTA MADIUN

|Views: 132|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 28, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM

MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 01 PANDEAN
KOTA MADIUN

SKRIPSI

Oleh:
EKA YULIANA RAHMAWATI
05110099




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK
IBRAHIM MALANG
APRIL, 2009


i
APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 01 PANDEAN
KOTA MADIUN
Diajukan Kepada:

Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pdi)

Oleh:
EKA YULIANA RAHMAWATI
05110099

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK
IBRAHIM MALANG
APRIL, 2009


ii
SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.









Malang, April 2009




Eka Yuliana Rahmawati




















iii
DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran 1: Struktur Organisasi

Lampiran 2: Tanda Bukti Telah Melakukan Penelitian

Lampiran 3: Pedoman Interview

Lampiran 4: Data Siswa

Lampiran 5: Data Guru


































iv
MOTTO





“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka
dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S. Ali Imron: 159 )


Rasulullah SAW Bersabda:

“Bagi segala sesuatu itu ada metodenya, dan metode masuk surga itu adalah
ilmu”. (HR. Dailami)


, |· - , · = | ¸ · - - , ·|·· , - , - ¸|· ¸
“ Ajarkanlah anak-anakmu berenang dan memanah”.
















v
ABSTRAK

Eka Yuliana Rahmawati,2009, Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam
Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di
SDN 01 Pandean kota Madiun. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam,
Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Drs. H. A. Fatah
Yasin, M. Ag

Fokus Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan ”Aplikasi Metode
Demonstrasi dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi
Pendidikan Agama Islam ”. Salah satu cara agar tercapainya tujuan pembelajaran
adalah penggunaan metode yang tepat, sehingga dapat memberikan pengaruh
positif terhadap proses kegiatan belajar mengajar. Selama ini banyak para
pendidik yang masih menerapkan metode yang sifatnya monoton seperti ceramah,
dan hal tersebut kurang efektif dalam mengaktifkan siswa ketika mengikuti
kegiatan belajar mengajar. Hal yang lebih penting lagi adalah siswa kurang
bergairah, merasa tertekan terhadap pembelajaran, dan kurang bisa memahami
penjelasan yang telah disampaikan oleh bapak ibu guru. Sedangkan Pendidikan
Agama Islam (PAI) di sekolah atau di madrasah, dalam pelaksanaannya masih
menunjukkan berbagai permasalahan yang kurang menyenangkan. Seperti halnya
proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah saat ini masih
sebatas sebagai proses penyampaian “pengetahuan tentang Agama Islam.”
Metode demonstrasi merupakan salah satu metode mengajar yang tidak pernah
lepas pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya pada materi-
materi yang berkenaan dengan ibadah seperti sholat, wudhu, tayamum, haji dan
akhlak. Dimana penerapan metode demonstrasi ini melibatkan antara pendidik
(guru) dan siswa serta bertujuan untuk meningkatkan kualitas intelektual peserta
didik baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Berangkat dari latar
belakang itulah penulis penulis kemudian ingin membahasnya dalam skripsi dan
mengambil judul Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan
Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi PAI di SDN 01 Pandean kota Madiun.
Untuk mendapatkan kepastian maka diambil rumusan masalah bagaimana
aplikasi metode demonstrasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
SDN 01 Pandean Madiun, bagaimana pemahaman siswa pada bidang studi PAI
setelah diterapkannya metode demonstrasi di SDN 01 Pandean kota Madiun,
faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan metode demonstrasi Pada
Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SDN 01 Pandean Kota Madiun. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang aplikasi metode demonstrasi
dalam Pembelajaran PAI, untuk mendeskripsikan tentang pemahaman siswa
setelah diterapkannya metode demonstrasi di SDN 01 Pandean kota Madiun dan
faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan metode demonstrasi Pada
Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SDN 01 Pandean Kota Madiun
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif
kualitatif yaitu peneliti mengamati dan berinteraksi dengan guru, kepala sekolah,
dan para siswa di SDN 01 Pandean kota Madiun dengan interview dan mencari
data dengan meminta dokumentasinya.

vi
Akhir dari penelitian ini, peneliti memperoleh kesimpulan bahwa:
1. Aplikasi metode demonstrasi pada bidang studi PAI di SDN 01 Pandean kota
Madiun berjalan sangat efektif karena siswa diajak mengalami atau terlibat
secara langsung dan aktif dilingkungan belajarnya. Dari situ peserta didik
diberi kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengekspresikan diri akan
membangun pemahaman pengetahuan dengan cara mendengar, melihat, dan
melakukan serta melibatkan lebih banyak indera yang dimilikinya. Adapun
langkah dalam aplikasi metode demonstrasi adalah sebagai berikut:
a. Menyebutkan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga tugas-
tugas yang harus dilakukan oleh siswa
b. Menjelaskan materi sejelas-jelasnya terlebih dahulu mengenai landasan
teori sebelum melaksanakan demonstrasi
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya bagi yang belum
paham.
d. Menyuruh siswa untuk mempraktekkan satu persatu di depan guru dan
teman-temannya dan jika masih ada yang belum benar, guru langsung
membetulkannya
e. Guru juga dapat membentuk atau membagi siswa menjadi beberapa
kelompok agar dapat dibandingkan dengan kelompok yang telah dibentuk
oleh guru tadi sehingga memudahkan dalam penilaian setelah diterapkan
metode demonstrasi.
2. Pemahaman siswa pada bidang Studi Pendidikan Agama Islam setelah
diterapkannya metode demonstrasi di SDN Pandean kota Madiun adalah
sangat baik dan sangat meningkat. yang ditandai dengan kemampuan
siswa untuk mencerna secara cermat dan tepat dalam memahami dan
melaksanakan materi ibadah yang disampaikan oleh bapak ibu guru.
Indikasi tingkat kepahaman siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dengan metode demonstrasi dapat diukur dengan:
a. Siswa bisa menangkap materi yang telah disampaikan oleh bapak ibu
guru
b. Siswa sudah bisa melafalkan niat, bacaan-bacaan, bisa melafalkan
dengan benar serta bisa melaksanakan atau mempraktekkan tata
caranya dengan baik dan benar sesuai urutan.
3. Faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode
demonstrasi untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam proses belajar
mengajar Pendidikan Agama Islam dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor itu bisa berasal dari siswa, guru, maupun yang lain. Faktor
pendukung; Sedangkan faktor pendukung itu diantaranya, kedisiplinan
guru datang tepat waktu, tersedianya media di sekolah, kemampuan guru
dalam menguasai dan menyampaikan materi kepada siswa. Sedangkan
untuk faktor penghambat; keterbatasan sarana prasarana, keterbatasan
waktu, kondisi psikologis siswa, dan faktor lingkungan

Kata kunci: Metode Demonstrasi, Pemahaman, Pendidikan Agama Islam.



vii
KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat,
taufiq, hidayah serta inayah-Nya kepada kita, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan Islam dengan judul “Aplikasi Metode Metode Demonstrasi dalam
Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Di
SDN 01 Pandean kota Madiun.”
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Baginda Rasulullah
Muhammad Saw yang telah mengangkat kita dari jurang kenistaan menuju
samudera yang terang benderang yakni agama Islam.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Berhasilnya proses penyusunan skripsi ini juga tak lepas dari tanggung jawab,
bimbingan, motivasi dan segala macam bantuan dari mereka baik moril maupun
materiil, terutama kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H.Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Bapak Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony selaku Dekan Fakultas Tarbiyah yang
telah mngorbankan waktunya untuk, mengarahkan, dan memberikan masukan
hingga terselesainya skripsi ini.




viii
3. Bapak Drs. M. Padil, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. Bapak Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag selaku dosen pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktunya untuk membimbing, mengarahkan,
memberikan masukan dan motivasi hingga terselesainya skripsi ini.
5. Bapak Subandi, S.Ag selaku kepala SDN 01 Pandean kota Madiun yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian skripsi di SDN
01 Pandean kota Madiun
6. Para bapak ibu guru khususnya guru PAI bapak Abdul Rokhim dan ibu Ali
Sugi Mulyati serta staf TU yang telah membantu penulis dalam memberikan
keterangan tentang SDN 01 Pandean kota Madiun
7. Kedua orang tua dan semua keluarga penulis yang senantiasa mendoakan,
memberikan motivasi dan kasih sayang kepada penulis.
8. Semua siswa SDN 01 Pandean kota Madiun khususnya kelas VA yang dalam
hal ini selalu mendukung kegiatan penulis.
9. Semua teman-temanku yang selalu memberikan motivasi.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan
ini kami ucapkan terimakasih, semoga Allah memberikan imbalan atas segala
kebaikannya dan dicatat sebagai amal yang sholeh Amin.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
kekurangan, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif
demi kesempurnaan skripsi ini.



ix
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat,
khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.




Malang, April 2009


Penulis















x
Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Eka Yuliana Rahmawati Malang, April 2009
Lamp : 4 (Empat) Eksemplar

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Di
Malang

Bismillahirrohmaanirrohiim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut
dibawah ini:
Nama : Eka Yuliana Rahmawati
NIM : 05110099
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi :


Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan
Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi Pendidkan
Agama Islam di SDN 01 Pandean kota Madiun

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah
layak diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Pembimbing,



Drs. H. A. Fatah Yasin, M. Ag
NIP. 150 287 892


xi
APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN
PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
DI SDN 01 PANDEAN KOTA MADIUN

SKRIPSI


Oleh:
EKA YULIANA RAHMAWATI
NIM: 05110099


Dosen Pembimbing,




Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag
NIP. 150 287 892



Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. M. Padil, M. Pdi
NIP. 150 252 758









xii
PERSEMBAHAN


Segala puji hanya bagi Allah SWT.....
Skripsi ini tidak akan selesai jika tidak ada yang membantu... saya ingin
mengucapkan 9999X terimakasih kepada:
1. Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat, taufik, serta hidayah-Nya
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.... I believe in God
2. Ayah Bundaku tercinta serta semua keluargaku yang selalu memberikan
motivasi, kasih sayang yang begitu tulus serta mendoakan kesuksesanku dan
saya tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Tak ada yang lebih indah
dari kasih sayangmu...
3. Semua guru-guru yang mengajariku membaca, menulis, dan berhitung. Doaku
semoga anda masuk surga beriring amal sholehmu amien...
4. Bpak Drs. H. A. Fatah Yasin yang telah memberikan bimbingan, pengarahan
dan semangat dalam penyusunan skripsi ini... Semoga Allah SWT membalas
kebaikan Bapak dan keluarga Amien...
5. Buat MasQ tersayang terimakasih atas segala pengorbananmu, jarak bukanlah
pemisah tapi merupakan anugerah yang patut kita syukuri.
6. Teman-teman seperjuanganku (TK Aisyiah I, MI Al-Islam Jetis, MTsN
Sewulan, MAN 2 di Madiun, Fakultas Tarbiyah (PAI) UIN Malang 2005) dan
tak lupa buat bapak ibu kostku yang selalu memberikan kasih sayang dan
menjagaku selama di malang. Teman-teman kost 7 (Kichan, Lely, Binta,
Riska, Putri, Dina), beribu-ribu ku ucapkan terimakasih atas perjuangan yang
tak’kan pernah terlupakan baik suka ataupun duka yang telah kita jalani
bersama, semoga bermanfaat fi- dunya wal akhirat Amin... Jangan engkau
berputus di tengah jalan selagi kau masih dapat bernafas dan berdo’a...
7. Keponakanku yang lucu ‘n imoet “Ilham”, “Danang” & “Diah”... Canda
tawamu membuat hidupku lebih indah...


xiii
8. Teman-teman PKL SMP NU Bululawang. Keep ‘n rollin
9. Sahabat baikku Kak Ko2, Mbk Rinda, Mas Arik, Mas Narko, Mas Azis, Dila,
Eki, Mbenot yang lucu ‘n gemesin, Ika, Sari, Sri Wahyuni, Rike, Robet, Oky,
Ade’Q Shinta, Hasan. Walaupun kita tidak bisa bersatu tapi hatiku akan
selalu dekat... Sengsara Bagi mereka yang putus asa, mengakhiri hidupnya
dengan cara gila... Ojo ditiru geh mbak/mas?he..he..
10. Smua staf dan karyawan UIN Malang. Tetep senyum ‘n yang sabar ya dalam
memberikan pelayanan n ikhlas karena Allah SWT?he..he..
11. Semua orang yang memberiku inspirasi. Mator Thank you...


“Tidak Ada Yang Berharga Dalam Hidup ini Selain Kesabaran dan
Kejujuran Hati”
“TIDAK ADA YANG LEBIH BAIK SELAIN BERBUAT BAIK”
***













xiv
APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN
PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DI SDN 01 PANDEAN KOTA MADIUN

SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh
Eka Yuliana Rahmawati (05110099)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal
11 April 2009 dengan nilai A
Dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam
(S. Pdi)
Pada tanggal: 11 April 2009
Panitia Ujian

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,


Drs. H. A. Fatah Yasin, M. Ag Drs. H. Asmaun Sahlan, M. Ag
NIP. 150 287 892 NIP. 150 215 372


Penguji Utama, Pembimbing,


Drs. H. M. Padil, M.Pd.I Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag
NIP. 150 267 235 NIP. 150 287 892


Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang




Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031


xv
DAFTAR ISI

“APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN
PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DI SDN 01 PANDEAN KOTA MADIUN”


HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN MOTTO……………………………………………………. i
HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………… ii
KATA PENGANTAR……………………………………………………. iii
ABSTRAK………………………………………………………………… iv
DAFTAR ISI……………………………………………………………… xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………... viii

BAB I: PENDAHULUAN………………………………………………...
A. Latar Belakang Masalah…………………………………........
B. Rumusan Masalah………………………………………..........
C. Tujuan Penelitian………………………………………….......
D. Kegunaan Penelitian…………………………………………..
E. Batasan Masalah……………………………………………….
F. Penegasan Istilah……………………………………………....
1
1
8
8
9
10
10


xvi
BAB II: KAJIAN PUSTAKA…………………………………………….
A. Metode Demonstrasi ……………………………………..
1. Definisi Metode Demonstrasi……………………........
2. Tujuan Metode Demonstrasi ……………………….....
3. Prinsip-prinsip Penerapan Metode Demonstrasi……....
4. Langkah-langkah Dalam Pelaksanaan metode
Demonstrasi...………………………………………....
5. Kebaikan dan kelemahan Metode Demonstrasi……....
B. Pemahaman Siswa Terhadap PAI……………………..
1. Definisi Pendidikan Agama Islam…………………….
2. Kurikulum PAI di Sekolah Dasar……………………..
3. Dasar dan Tujuan PAI………………………………...
a. Dasar Pendidikan Agama Islam……………………
b. Tujuan PendidikanAgama Islam…………………...
4. Pemahaman Siswa Terhadap PAI……………………..
a. Pengertian Pemahaman Siswa……………………..
b. Pemahaman Siswa Terhadap PAI Melalui Metode
Demonstrasi………………………………………..
12
12
12
15
17
18
21
26
26
31
35
35
39
40
40
40

41
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN……………………………...
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian…………………………...
B. Kehadiran Peneliti…………………………………………
C. Lokasi Penelitian…………………………………………..
D. Sumber Data……………………………………………….
E. Tehnik Pengumpulan Data…………………………………
F. Analisis Data………………………………………………
G. Pengecekan Keabsahan Data………………………………
H. Tahap-tahap Penelitian……………………………………
44
44
46
46
47
49
51
52
53
BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN…………………..……....
A. Latar Belakang Objek Penelitian……………………….
1. Letak Geografis SDN O1 Pandean ………………......
2. Sejarah berdirinya SDN 01 Pandean………………….
56
56
56
56

xvii
3. Identitas SDN 01 Pandean…………………………….
4. Visi Misi SDN 01 Pandean……………………………
5. Struktur Organisasi SDN 01 Pandean…………………
6. Keadaan guru, karyawan dan Siswa…………………
7. Keadan Sarana dan Prasarana…………………………
8. Keadaan Keagamaan Siswa SDN 01 Pandean………..
9. Kegiatan Ekstra……………………………………….
B. Paparan Data……………………………………………..
1. Aplikasi Metode Demonstrasi pada bidang studi PAI
di SDN 01 Pandean kota Madiun……………………...
2. Pemahaman Siswa pada Bidang Studi PAI Setelah
Diterapkan Metode Demonstrasi di SDN 01 Pandean
kota Madiun …………………………………………...
3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam
Pelaksanaan Metode Demonstrasi di SDN 01 Pandean
Kota Madiun…...…………………………………........
57
58
60
60
63
64
65
65

65


82

87
BAB V PEMBAHASAN………………………………………………….
A. Aplikasi Metode Demonstrasi pada bidang studi PAI di SDN
01 Pandean……………………………………………...........
B. Pemahaman Siswa pada Bidang Studi PAI Setelah
Diterapkan Metode Demonstrasi di SDN 01 Pandean kota
Madiun…………………………………………….................
C. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pelaksanaan
Metode Demonstrasi di SDN 01 Pandean Kota Madiun..........
90


90



95


97
BAB VI PENUTUP……………………………………………………......
A. KESIMPULAN…………………………………………......
B. SARAN………………………………………………….......
101
101
103
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. xv
DAFTAR LAMPIRAN



1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi
Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah
konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar (learning)
dan pembelajaran (intruction). Konsep belajar berakar pada pihak peserta
didik dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik. Dalam proses
belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik dan
pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai
pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah
seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan
belajar mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
1

Dalam belajar mengajar terkandung dua kegiatan pokok, yaitu kegiatan
guru dalam mengajar dan kegiatan murid dalam belajar-mengajar pada
umumnya diartikan sebagai usaha guru untuk menciptakan kondisi atau
mengatur lingkungan sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi antara murid
dengan lingkungannya, termasuk guru, alat pelajaran, kurikulum, dan
instrumen pendidikan lainnya yang disebut proses belajar sehingga tercapai
tujuan pelajaran yang telah ditetapkan.
2


1
Nana Sudjana, Dasar-dasar Belajar Mengajar, (Bandung; Sinar Baru
Algensindo,1984), hal.43
2
Zuhairini, Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
(Malang,UM Press, 2004), hal.60


2
Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu
peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode
mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan prilaku
dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan
belajar mengajar, seperti: perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam
tingkah laku (over behaviour) yang dapat diamati melalui alat indera oleh
orang lain baik tutur katanya, motorik dan gaya hidupnya. Tujuan
pembelajaran yang diinginkan tentu yang optimal, untuk itu ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu diantaranya yang menurut
penulis penting adalah metodologi mengajar.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari
pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara
keduanya
3
. Sedangkan kesuksesan belajar siswa tidak hanya tergantung pada
intelegensi anak saja, akan tetapi juga tergantung pada bagaimana pendidik
menggunakan metode yang tepat dan memberinya motivasi.
Apabila guru terus mendominasi proses Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM), anak akan menjadi pasif. Kalau pun anak melakukan kegiatan, tentu
atas instruksi dan perintah guru (sistem komando). Selain itu anak lebih
banyak mendengar ceramah yang bersifat lisan-verbal dalam kegiatan Belajar
Mengajar. Maka apa yang terjadi? Menurut filsuf Cina Konfisius ”Apa yang
saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, dan apa yang saya
lakukan saya paham”.

3
Siti Inganah, Belajar dan Pembelajar, (Malang, UMM Press, 2004), hal.45


3
Di dalam kegiatan Belajar Mengajar tercakup peran guru, aktivitas
anak, penggunaan sumber-metode-media belajar, dan aktivitas lain yang
merupakan kegiatan belajar. Keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar selama
ini lebih ditentukan oleh peran dan kreativitas guru. Guru dituntut untuk
mencapai target-target yang sudah ditentukan lewat petunjuk pelaksanaan dan
petunjuk teknis.
4

Sedangkan metodologi pengajaran tidak akan ada artinya kalau tidak
dilaksanakan dalam praktek pendidikan. Perlu disadari bahwa sangat sulit
untuk menyebutkan metode mengajar mana yang baik, yang paling sesuai atau
efektif. Sebab suatu metode mengajar menjadi metode yang baik sekali pada
seorang guru, sebaliknya pada guru yang lain pemakaian menjadi jelek. Begitu
pula metode yang umumnya dikatakan baik, gagal pada guru yang tidak
menguasainya. Kemampuan melaksanakan metode dalam kegiatan belajar
mengajar membutuhkan ketekunan dan latihan yang terus menerus. Apakah
siswa akan terangsang atau tertarik dan ikut serta diaktifkan dalam kegiatan
belajar, sangat tergantung pada metode yang dipakai. Aktifnya siswa dalam
kegiatan belajar berarti makin melekatnya hasil belajar itu dalam ingatan
5
.
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh
pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung
pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa,
maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan,

4
Sri Joko Yunanto, Sumber Belajar Anak Cerdas, (Jakarta, PT. Grasindo, 2005), hal. 2-3
5
Zuhairini, dkk, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo: Ramadhani, 1993), hal.67


4
sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik
tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya.
Metodologi mengajar banyak ragamnya, kita sebagai pendidik tentu
harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses
belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus
divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta
situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah
dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud atau tercapai. Dalam Q.S. Ali Imran
[3] ayat 159 Allah SWT berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah engkau bersikap lemah lembut
terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras niscaya
mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan libatkanlah pendapat
(musyawarah) mereka dalam segala urusan...”.

Sebagaimana halnya ayat di atas secara redaksional ayat ini ditujukan
kepada Nabi Muhammad SAW supaya memusyawarahkan perosoalan-
persoalan tertentu dengan para sahabat atau anggota masyarakatnya.
Dari pernyataan tersebut kita mengerti bahwa dalam kegiatan belajar
mengajar, untuk mencapai hasil dan tujuan yang diinginkan maka seorang
guru harus bertanggung jawab bagaimana mengatur, mengelola kelas, dan


5
memilih metode yang relevan dengan materi. Sehingga siswa mampu
memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pula, penggunaan satu jenis metode mengajar untuk segala
macam tujuan belajar tentunya tidak efektif. Berbeda tujuan akan berbeda pula
cara penyampaiannya. Misalnya, dalam hal-hal tertentu dan khusus, metode
ceramah sangat tepat dan serasi, namun dalam hal yang lainnya mungkin lebih
tepat jika menggunakan metode Problem Solving, atau demonstrasi, modul
atau yang lainnya. Kemungkinan yang lain lagi adalah menggunakan berbagai
macam metode untuk satu tujuan tertentu (metode campuran).
6

Banyak sekali metode dalam belajar-mengajar yang telah dikenal oleh
guru. Akan tetapi, bagaimana menggunakan suatu metode dengan pendekatan
keterampilan agar dapat menunjang siswa belajar lebih aktif masih menjadi
problem. Hal ini akan menjadi titik toalak uraian dalam peninjauan diagram
yang menggambarkan hubungan antara beberapa metode yang dianggap
cukup penting dalam pengaturan cara belajar.
Metode dalam pembelajaran memiliki peranan penting sebab
merupakan jembatan yang menghubungkan antara pendidik dengan anak
didiknya menuju kepada tujuan pendidikan Islam yaitu terbentuknya
kepribadian muslim. Berhasil tidaknya pendidikan Islam ini dipengaruhi oleh
seluruh faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan Islam ini. Apabila
timbul permasalahan di dalam pendidikan Islam, maka kita harus dapat
mengklasifikasikan masalah yang kita hadapi itu ke dalam faktor-faktor yang

6
Op. Cit., Hal.61


6
ada. Apabila seluruh faktor telah dipandang baik terkecuali faktor metode,
maka kitapun harus pandai merinci dan mengklasifikasikannya. Karena begitu
pentingnya masalah metode ini, Rasulullah Saw menganjurkan kemampuan
dan perkembangan anak didik. Rasulullah Saw bersabda:
,,·«- _=| _·- ,,«·´·¸ ,»¸- ¸··|· ,¸·· .· ··¸-| ··,,·v· ¸=·-- ¸- , .,=-· (
Artinya: ”Kami para Nabi, diperintahkan untuk menempatkan seseorang pada
posisinya, berbicara sesuai kemampuan akalnya.” (Al-Hadits)

Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendidik
dalam menyampaikan materi dan bahan pendidikan Islam kepada anak
didiknya harus benar-benar disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan anak
didik. Kita tidak boleh mementingkan materi atau bahan dengan
mengorbankan anak didik. Sebaliknya kita harus mengusahakan dengan jalan
menyusun materi tersebut sedemikian rupa sesuai dengan taraf kemampuan
anak, tetapi dengan cara serta gaya yang menarik.
7

Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) banyak terdapat berbagai
macam metode yang digunakan khususnya pada bidang Studi Pendidikan
Agama Islam. Salah satu diantaranya adalah penerapan metode demonstrasi.
8

Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah atau di
madrasah, dalam pelaksanaannya masih menunjukkan berbagai permasalahan
yang kurang menyenangkan. Seperti halnya proses pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) di sekolah saat ini masih sebatas sebagai proses

7
Nur Uhbiyati,1998, Ilmu Pendidikan Islam 1, (Bandung; CV. Pustaka Setia), Hal.124
8
Zakiah Darajat,dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Bumi Aksara,
Jakarta;1995), hal. 288


7
penyampaian “pengetahuan tentang Agama Islam.” Hanya sedikit yang
arahnya pada proses internalisasi nilai-nilai Islam pada diri siswa. Hal ini
dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru masih dominan
ceramah. Proses internalisasi tidak secara otomatis terjadi ketika nilai-nilai
tertentu sudah dipahami oleh siswa. Artinya, metode ceramah yang digunakan
guru ketika mengajar PAI berpeluang besar gagalnya proses internalisasi nilai-
nilai agama Islam pada diri siswa, hal ini disebabkan siswa kurang termotivasi
untuk belajar materi PAI.
Metode demonstrasi merupakan salah satu metode mengajar yang
tidak pernah lepas pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam
khususnya pada materi-materi yang berkenaan dengan ibadah seperti sholat,
wudhu, tayamum, haji dan akhlak. Namun penerapan metode demonstrasi ada
tidak dapat digunakan pada materi akidah (keimanan kepada Allah Swt,
Malaikat, Surga Neraka, Siksa kubur dan lain sebagainya). Bagi siswa
Sekolah Dasar penerapan metode demonstrasi sangat penting, karena anak
Sekolah Dasar belum sempurna kekuatan akalnya untuk menerima materiyang
disampaikan secara lisan sehingga diperlukan latihan atau demonstrasi.
Dimana penerapan metode demonstrasi khususnya materi ibadah, melibatkan
antara pendidik (guru) dan siswa serta bertujuan untuk meningkatkan kualitas
intelektual peserta didik baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.




8
Dengan metode demonstrasi siswa diajak terlibat langsung sehingga
mendapat pengalaman baru. Karena begitu pentingnya metode mengajar
dalam pembelajaran khususnya bagi anak Sekolah Dasar, maka penulis
tergugah untuk menulis dan menguraikannya sehingga penelitian ini penulis
beri judul “APLIKASI METODE DEMONSTRASI DALAM
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 01 PANDEAN KOTA
MADIUN”.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SDN 01 Pandean Kota Madiun ?
2. Bagaimana Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi Pendidikan Agama
Islam Setelah Diterapkan Metode Demonstrasi di SDN 01 Pandean Kota
Madiun?
3. Apa Saja Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Pelaksanaan Metode
Demonstrasi Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SDN 01
Pandean Kota Madiun?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mendeskripsikan Bagaimana Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 01 Pandean Kota Madiun
2. Mendeskripsikan Bagaimana Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi
Pendidikan Agama Islam Setelah Diterapkan Metode Demonstrasi di SDN
01 Pandean Kota Madiun


9
3. Mendeskripsikan Apa Saja Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam
Pelaksanaan Metode Demonstrasi Pada Bidang Studi Pendidikan Agama
Islam di SDN 01 Pandean Kota Madiun
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi:
1. Lembaga Pendidikan
Menambah wacana pendidikan tentang metode pengajaran dan sebagai
sumbangan pemikiran dan bahan masukan dalam rangka meningkatkan
kualitas pembelajaran PAI
2. Bagi Guru PAI
Sebagai masukan bagi guru-guru PAI dalam meningkatkan pemahaman
siswa pada bidang studi PAI serta sebagai bahan rujukan dalam mengatasi
problematika pengajaran PAI
3. Bagi siswa
Meningkatkan Pemahaman siswa terhadap bidang studi PAI
4. Bagi Penulis
Memberikan wawasan dan pengalaman praktis di bidang penelitian. Selain
itu hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bekal untuk menjadi
tenaga pendidik yang profesional






10
E. BATASAN MASALAH
Pembatasan masalah dimaksudkan untuk mempermudah dan memperjelas
pemahaman dari penelitian agar lebih terarah, jelas, dan tidak menyimpang
dari permasalahan yang ada, maka penulis membatasi masalah pada :
1. Memberikan gambaran tentang pelaksanaan metode demonstrasi pada
bidang studi Pendidikan Agama Islam khususnya pada materi ibadah di
SDN 01 Pandean Kota Madiun.
2. Objek penelitian adalah siswa SDN 01 Pandean Kota Madiun
3. Pencarian informasi tentang berhasil tidaknya pelaksanaan metode
demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SDN 01 Pandean Kota Madiun.
F. PENEGASAN ISTILAH
Untuk memperjelas judul skripsi ini, maka perlu adanya penegasan istilah
sebagaimana dibawah ini :
1. Metode adalah cara atau langkah yang digunakan dalam proses belajar
mengajar.
2. Metode Demonstrasi adalah suatu cara mengajar/teknik mengajar dengan
mengkombinasikan lisan dengan suatu perbuatan dengan cara
memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melalui suatu kegiatan
baik secara langsung maupun menggunakan media yang relevan dengan
pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
3. Pemahaman berarti proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan
sesuatu hal atau perbuatan.


11
4. Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar membimbing peserta didik
agar mengetahui, memahami, dan menyakini nilai-nilai ajaran Islam

























12
BAB II
KAJIAN TEORI
A. METODE DEMONSTRASI
1. Definisi Metode Demonstrasi
Metodologi bersal dari dua kata “metoda dan logos”. Metoda
dalam bahasa Yunani berasal dari kata “meta” yang berarti “melalui” dan
“hodos” yang berarti “jalan atau cara”, sedangkan “logos” mempunyai arti
“ilmu”. Jadi kata “metodologi” jika dijelaskan adalah ilmu pengetahuan
yang membecirakan tentang cara atau jalan yang harus dilalui untuk
mencapai tujuan.
9

Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk
menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan
verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian peralatan barang atau
benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba
terlebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang
mendemonstrasikan (guru, murid, atau orang luar) mempertunjukkan
sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan.
10
Dalam
metode tersebut antara lain dapat dikembangkan keterampilan/kemapuan
mengamati, mengklasifikasikan, menarik kesimpulan, menerapkan,
mengkomunikasiakan. Demonstrasi dapat dilakukan oleh guru atau siswa
secara berkelompok.

9
A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (UIN-Malang, Malang, 2008), hal.
130
10
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Kalam Mulia, Jakarta, 1990), Hal.
150


13
Dalam sumber lain disebutkan bahwa metode demonstrasi adalah
suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang sengaja
diminta atau murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas tentang
suatu proses atau suatu kaifiah melakukan sesuatu. Misalnya, cara
mengambil wudhu, cara mengerjakan sholat jenazah, cara melaksanakan
thowaf haji atau umrah, dan sebagainya.
11

Sedangkan Drs. Imansyah Alipandie dalam bukunya didaktik
metodik pendidikan umum menjalaskan metode demonstrasi adalah suatu
metode mengajar yang dilakukan oleh guru atau seseorang lainnya dengan
memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu cara
melakukan sesuatu.
12

Hasan Ali dalam bukunya A. Fatah Yasin mengemukakan bahwa
dalam mendidik murid-muridnya, Al-Qabisi menggunakan metode hafalan
dan latihan-latihan atau demonstrasi. Kedua metode ini menurutnya
dianggap efektif untuk menumbuhkan semangat siswa dalam menuntut
ilmu atau belajar. Namun demikian kedua metode tersebut cocok untuk
anak-anak yang belum berfungsi atau belum tumbuh kekuatan akalnya
atau berfikirnya, sehingga perlu dipelajari dengan cara menghafal dan
latihan atau demonstras
13
.



11
Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran PAI, (UM Press,Malang, 2004),
hal. 67
12
I.L. Pasaribu, dkk, Didaktik dan Metodik, (Bandung: Tarsito, 1986)
13
A. Fatah Yasin, Op. Cit.,), hal. 143


14
Dalam mengajarkan praktek-praktek agama, Nabi Muhammad saw
sebagai pendidik agung banyak banyak mempergunakan metode ini.
Seperti dalam mengajarkan wudhu’, shalat haji, dan sebagainya. Seluruh
cara-cara ini dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW kemudian barulah
dikerjakan oleh umatnya. Dalam suatu hadits Rasulullah SAW pernah
menerangkan kepada umatnya, sabda beliau: “ sembahyanglah kamu
sebagaimana kamu lihat aku sembahyang. (H.R. Bukhori).
Bila kita perhatikan hadits tersebut, nyatalah bahwa cara-cara
sembahyang tersebut pernah dipraktekkan dan didemonstrasikan oleh Nabi
Muhammad saw. Rasulullah saw bersabda:
“Dari Jabir, katanya: ”Saya melihat Nabi besar Muhammad SAW
melontarkan jumrah di atas kendaraan beliau pada Hari Raya Haji, lalu
beliau berkata: “Hendaklah kamu turut cara-cara ibadat sebagaimana
yang aku kerjakan ini, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui apakah
aku akan dapat mengerjakan haji lagi sesudah ini”.
14

Dalam pendidikan agama, tidak semua masalah atau materi agama
dapat di demonstrasikan, misalnya masalah akidah, keimanan kepada
Allah, malaikat, surga dan neraka, adanya siksa kubur, dan lain
sebagainya. Tentunya tidak mungkin untuk menggunakan metode
demonstrasi. Sebagai metode edukatif, metode ini banyak digunakan
dalam bidang ibadah dan akidah. Metode demonstrasi ada dalam batas
kewajaran pengguanaannya dalam hal:

14
Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN, Metodik Khusus Pengajaran
Agama Islam, (Jakarta, 1984/1985) hal.124-125


15
1) Apabila proses belajar mengajar dimaksudkan untuk memberi
keterampilam tertentu;
2) Untuk mempermudah berbagai jenis penjelasan karena penggunaan
bahas lisan dalam ini lebih terbatas;
3) Untuk menghindari proses belajar mengajar yang yang bersifat
verbalistik;
4) Untuk membantu murid memahami dengan jelas jalannya suatu proses
dengan penuh perhatian, sebab lebih menarik
15
.
2. Tujuan Metode Demonstrasi
Setiap kegiatan yang dilakukan pasti mempunyai tujuan. Begitu
juga dengan metode demonstrasi yang berkaitan dengan pendidikan atau
pengajaran. Adapun tujuan metode demonstrasi dalam proses belajar
mengajar adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan
memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu
16
.
Menurut Nana Sudjana tujuan dari metode demonstrasi adalah untuk
memperagakan atau mempertunjukkan suatu keterampilan yang akan
dipelajari siswa.
17






15
Ibid,. hal.67
16
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Remaja Rosda
Karya, Bandung;2000), hal.208
17
Nana Sudjana, Op. cit. Hal: 217


16
Pendapat tersebut sejalan dengan dengan Roestiyah NK. Yang
menyebutkan bahwa tujuan metode demonstrasi adalah untuk
memperlihatkan terhadap anak didik bagaimana sesuatu harus terjadi
dengan cara yang paling baik.
18

Dari berbagai uraian diatas maka dapat diambil suatu benang
merahnya bahwasanya tujuan dari metode demonstrasi adalah untuk
menghilangkan verbalisme dalam materi pelajaran, sehingga siswa akan
semakin mengerti, memahami dan mampu mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari terhadap materi yang telah dipelajarinya. Sedangkan
ditinjau dari sudut tujuan penggunaanya dapat dikatakan bahwa metode
demonstrasi bukan merupakan metode yang dapat diimplementasikan
dalam proses belajar mengajar secara independen, karena metode
demonstrasi merupakan alat bantu untuk memperjelas apa-apa yang
diuraikan, baik secara verbal maupun secara tekstual.
Jadi metode demonstrasi lebih berfungsi sebagai strategi mengajar
yang digunakan untuk menjalankan metode mengajar tertentu seperti
metode ceramah. Dalam Pendidikan Agama tidak semua masalah agama
dapat didemonstrasikan, misalnya masalah akidah (keimanan kepada Allah
Swt, Malaikat, Surga, Neraka, adanya siksa kubur, dan sebagainya). Akan
tetapi metode demonstrasi ini banyak dipergunakan dalam bidang Ibadah
dan Akhlak, misalnya bagaimana cara wudhu dan cara sholat yang benar,
dan lain-lain.

18
Roestiyah, Didaktik/Metodik,( Bina Aksara, Jakarta, 1982), ha.76


17
3. Prinsip-Prinsip Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pembelajaran
PAI
Dengan demonstrasi berarti kita menyampaikan sesuatu dan
berkomunikasi dengan orang lain sehingga orang lain mengerti dan
memahami. Oleh karena itu diperlukan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Menciptakan hubungan yang baik dan menarik perhatian murid
b) Usahakan lebih jelas bagi orang yang sebelumnya tidak memahaminya
c) Pikirkan pokok-pokok inti dari demonstrasi itu agar murid benar-benar
memahaminya.
Senada dengan hal diatas, Suprihadi Saputra memberikan prinsip-
prinsip sebagai berikut:
a. Mengusahakan agar siswa memahami apa yang didemonstrasikan
b. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan
dilakukan.
c. Menyiapkan alat yang sesuai dan dapat diamati dengan jelas oleh
anak didik.
Dari uraian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
prinsip-prinsip dalam penerapan metode demonstrasi dalam
pembelajaran PAI adalah memuat analisis materi pendidikan yang
dalam skala lebih luas adalah melakukan analisis terhadap
kurikulum yang ada secara operasional.
19



19
Nasrulloh Dzinni’am, 1999, Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN Malang, hal.43


18
4. Langkah-Langkah Dalam Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi.
Dalam melaksanakan demonstrasi tidak serta merta dilakukan,
karena ketika demonstrasi dilakukan dengan serta merta maka tidak akan
bisa mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu diperlukan langkah-langkah
pelaksanaannya dengan harapan demonstrasi yang akan dilakukan bisa
mencapai hasil yang optimal dan maksimal sesuai dengan tujuan
demonstrasi tersebut. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan
demonstrasi tersebut adalah sebagai berikut:
I. Perencanaan
Adapun hal yang harus dilakukan dalam melakukan metode
demonstrasi adalah:
1. Merumuskan tujuan yang jelas, baik dari sudut kecakapan atau
kegiatan yang diharapkan dapat tercapai setelah metode
demonstrasi berakhir.
a. Mempertimbangkan apakah metode itu wajar dipergunakan dan
merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan
yang teleh direncanakan.
b. Apakah alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi itu bisa
diperoleh dengan mudah dan apakah alat-alat itu sudah dicoba
terlebih dahulu agar sewaktu melakukan demonstrasi tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


19
2. Menerapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang
akan dilaksanakan. Dan sebaliknya, sebelum melakukan
demonstrasi hendaknya melakukan percobaan terlebih dahulu agar
sesuatu yang tidak diinginkan tidak akan terjadi saat demonstrasi
berlangsung.
3. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan. Apakah tersedia waktu
untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan
beberapa hal dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.
Menyiapkan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk merangsang
observasi.
4. Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya
instropeksi diri apakah keterangan-keterangannya dapat di dengar
dengan jelas oleh siswa. Semua media yang dipergunakan telah
ditempatkan pada posisi yang baik, sehingga setiap siswa dapat
melihatnya dengan jelas. Siswa disarankan untuk membuat catatan
yang dianggap perlu.
5. Menetapkan rencana penilaian terhadap\kemampuan anak didik.
Namun sebaliknya, terlebih dahulu mengadakan diskusi dan siswa
mencoba melakukan demonstrasi kembali agar mereka
memperoleh kecakapan-kecakapan yang paling baik.





20
II. Pelaksanaan
Adapun hal-hal yang perlu dan harus dilakukan dalam melaksanakan
metode demonstrasi adalah:
1. Memeriksa hal-hal tersebut diatas untuk kesekian kalinya.
2. Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
3. Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar
demonstrasi mencapai sasaran.
4. Memperhatikan keadaan siswa, apakah semuanya mengikuti
demonstrasi dengan baik.
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif memikirkan
lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarkan dalam bentuk
mengajukan pertanyaan, membandingkannya dengan yang lain,
dan mencoba melakukannya sendiri tanpa bantuan guru.
6. Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu
menciptakan suasana yang harmonis.
III. Evaluasi
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi seiring dengan
kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa
pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan,
mengadakan latihan lebih lanjut, apakah disekolah atau dirumah.
Selain itu, guru dan siswa mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi
yang telah dilakukan, apakah berjalan efektif sesuai dengan tujuan
yang diharapkan, ataukah ada kelemahan-kelemahan tertentu beserta


21
faktor penyebabnya. Evaluasi dapat dilakukan pada semua aspek yang
terlibat dalam demonstrasi tersebut, baik yang menyangkut
perencanaan, pelaksanaan, maupun tindak lanjutnya.
20

Dengan demikian, ketika seorang guru akan melaksanakan
demonstrasi maka harus memperhatikan beberapa hal diatas`dengan
tujuan agar metode ini dapat berjalan dengan yang diharapkan.
5. Kebaikan dan Kelemahan Metode Demonstrasi.
a. Kebaikan Metode Demonstrasi
1. Keaktifan murid akan bertambah, lebih-lebih kalau murid diikut
sertakan.
2. Pengalaman murid bertambah karena murid-murid turut membantu
pelaksanaan suatu demonstrasi sehingga ia menerima pengalaman
yang bisa mengembangkan kecakapnnya.
3. Pelajaran yang diberikan lebih tahan lama. Dalam suatu
demonstrasi, murid-murid bukan saja mendengar suatu uraian yang
diberikan oleh guru tetapi juga memperhatikannya bahkan turut
serta dalam pelaksanaan suatu demonstrasi.
4. Pengertian lebih cepat dicapai. Murid dalam menaggapi suatu
proses adalah dengan mempergunakan alat pendengar, penglihatan,
dan bahkan dengan perbuatannya sehingga memudahkan
pemahaman murid dan menghilangkan sifat verbalisme dalam
belajar.

20
Log.Cit.,hal. 44-45


22
5. Perhatian anak-anak dapat dipusatkan dan titik yang dianggap
penting oleh guru dapat diamati oleh anak-anak seperlunya.
Sewaktu demonstrasi perhatian anak-anak hanya tertuju kepada
sesuatu yang didemonstrasikan sebab murid-murid lebih banyak
diajak mengamati proses yang sedang berlangsung dari pada hanya
semata-mata mendengar saja.
6. Melalui metode ini, masalah-masalah yang mungkin timbul dalam
pikiran murid langsung dapat terjawab.
7. Bersifat praktis sebab memberi pengalaman praktis yang dapat
membentuk perasaan dan kemauan
8. Bersifat psychologis dalam arti menarik minat anak, sebab pada
dasarnya semua manusia ingin mengalami, merasakan sesuatu
yang diketahuinya.
9. Bersifat didaktis dalam arti dapat langsung dipelajari dan diajarkan.
10. Bersifat paedagogis dalam arti dengan mudah menaikkan
pengertian, sikap, serta keperigelan murid dalam melaksanakan
sesuatu
21

11. Mengurangi kesalahan-kesalahan.
Penjelasan secara lisan banyak menimbulkan salah paham atau
salah tafsir dari murid-murid apalagi kalau penjelasan tentang

21
Yusuf, Maftuhah dkk, Metodologi Da’wah Kepada Anak-anak, (Proyek Penerangan
Bimbingan dan Da’wah Agama Islam Pusat Depag, Malang, 1979/1980), hal.34



23
suatu proses. Tetapi dalam demonstrasi, disamping penjelasan
dengan lisan juga dapat memberikan gambaran konkrit.
Sebagai metode interaksi edukatif, metode tersebut perlu
dipadukan dengan metode-metode lainnya, terutama untuk
menghindari dan memperkecil kekurangannya.
b. Diantara Kekurangan Metode Ini Adalah:
1. Dalam pelaksanaannya, biasanya memerlukan waktu yang relatif
banyak atau panjang
2. Apabila tidak ditunjang dengan peralatan dan perlengkapan yang
memadai atau tidak sesuai dengan kebutuhan maka metode
tersebut kurang efektif.
3. Banyak hal yang tidak dapat didemonstrasikan dalam kelas
Untuk itu perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ini:
a) Hendaknya dilakukan atau diterapkan dalam hal-hal yang
bersifat praktis dan urgen dalam kehidupan masyarakat
b) Hendaknya diarahkan agar murid dapat memperoleh pengertian
dan pemahaman yang lebih jelas, pembentukan sikap serta
kecakapan praktis
c) Hendaknya diusahakan agar semua murid dapat mengikuti
semua kegiatan dengan jelas, dengan pengaturan ruang dan
tempat duduk murid


24
d) Dalam mengawali metode tersebut, hendaknya diberikan
pengertian sejelas-jelasnya terlebih dahulu mengenai landasan
teori dari apa yang akan didmonstrasikan
22
.
Anak usia dini khususnya, umumnya berperilaku
dengan mencontoh atau meniru model orang dewasa yang
dilihatnya. Dengan melihat keteladanan yang dicontohkan oleh
orang tuanya, misalnya keteladanan dalam hal bersahur,
berpuasa dan berbuka puasa, anak akan meniru melakukan apa
yang dilakukan oleh orang tuanya. Orang tua, hendaknya
memberi contoh teladan beribadah disertai dengan ajakan untuk
bersama-sama melakukannya. Orang tua dapat menciptakan
suasana yang menyenangkan bagi anak, diantaranya dengan
mengajaknya bersama-sama memilih menu makanan untuk
sahur, membeli makanan untuk berbuka puasa dan pemberian
pujian dan reward bila anak ikut berpuasa dan melakukan
aktivitas ibadah lainnya. Anak dapat mulai berpuasa dimana
pengerjaannya pun dapat dilakukan secara bertahap, misalnya
hanya sebatas setengah hari. Pembiasaan tersebut dapat
diperkuat dengan pemberian reward di akhir bulan, sehingga
mereka termotivasi untuk melakukannya sampai selesai.
Pengenalan agama sedini mungkin penting dilakukan agar pada
saat dia menginjak akil baligh, anak tidak akan canggung lagi

22
Ibid,. hal. 68


25
dan merasa terpaksa melakukannya, namun telah terbiasa dan
tahu bagaimana melakukannya. Pemaksaan maupun ancaman
sangat tidak dianjurkan, Pemberian nasihat, pengawasan dan
pemberian hukuman (bukan hukuman fisik), dapat dilakukan
untuk mengontrol perilaku anak apabila ada yang tidak sesuai
dengan ajaran agama. Dengan menegurnya apabila melakukan
sesuatu yang salah, akan membuat anak paham bahwa apa yang
dilakukannya itu tidak baik dan tidak boleh diulangi lagi.
Namun, anak juga harus diberikan pujian apabila ia dapat
melakukan semua kegiatan itu dengan baik. Memujinya ketika
melakukan perbuatan yang terpuji meskipun sedikit,
memaafkan kesalahan yang ia lakukan, tidak menganggap
bodoh kata-kata dan perbuatannya, dan tidak membebaninya
pekerjaan yang diluar batas kemampuannya adalah perbuatan
bijak yang seharusnya dilakukan orang tua kepada anaknya
Masih banyak lagi contoh ibadah-ibadah yang dapat kita
kerjakan untuk mencari rahmat Allah SWT sambil
mengenalkan ajaran agama pada anak sebagai bekal
kehidupannya di masa yang akan datang.
Dalam Islam, anak-anak adalah amanah, generasi
penerus dan agen perubah di masa yang akan datang dan
sebagai amanah Allah SWT. Anak-anak haruslah dijaga dengan
benar-benar mendidiknya secara Islami, dimana pengaruh dan


26
cara mendidik anak akan sangat mendominasi gaya hidup si
anak jika ia dewasa kelak.
B. Pemahaman Siswa Terhadap Pendidikan Agama Islam
1. Definisi Pendidikan Agama Islam
Dalam literatur kependidikan Islam, istilah pendidikan biasanya
mengandung pengetian ta'lim, tarbiyah, irsyad, tadris, ta'dib, tazkiyah, dan
tilawah. Kata "Ta'lim" berasal dari kata 'ilm yang berarti menangkap
hakikat sesuatu; kata "tarbiyah" berarti pendidikan; kata "irsyad" biasa
digunakan untuk pengajaran dalam thariqah (tasawuf); kata "tadris"
berasal dari akar kata "darasa-yadrusu-darsan wa durusan wa dirasatan",
yang berarti: terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadikan usang,
melatih, mempelajari. Kata "ta'dib" berasal dari kata adab, yang berarti
moral, etika dan adab atau kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir dan
batin; kata "tazkiyah" berasal dari kata zaka', yang berati tumbuh atau
berkembang; sedangkan kata "tilawah" berarti mengikuti membaca atau
meninggalkan.
23

Setiap manusia membutuhkan pendidikan meskipun lingkungan
umum dan alam sekitar yang tidak diorganisir dapat mendidik manusia
namun sangat membutuhkan pendidikan formal melalui sekolah sebab
hanya pendidikan formal yang mempunyai tujuan yang jelas.



23
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafiondo Persada, 2006),
hlm. 7-1


27
Prof. H. M. Arifin mengatakan bahwa pendidikan Agama Islam
adalah “usaha orang dewasa Muslim yang bertakwa secara sadar
mengrahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah
(kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal
pertumbuhan dan perkembangan”.
24

Mata pelajaran PAI merupakan salah satu mata pelajaran pokok
dari sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa, yang
bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik
serta memiliki akhlak mulia dalam kehidupannya sehari-hari. Sejauh ini
para guru berpandangan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang harus
dihapal, sehingga pelajaran PAI cukup disampaikan dengan ceramah
sehingga pembelajaran di kelas selalu berpusat pada guru. Dengan
pendekatan kontekstual diharapkan siswa bukan sekedar objek akan tetapi
mampu berperan sebagai subjek, dengan dorongan dari guru mereka
diharapkan mampu mengkonstruksi pelajaran dalam benak mereka sendiri,
jadi siswa tidak hanya sekedar menghapalkan fakta-fakta, akan tetapi
mereka dituntut untuk mengalami dan akhirnya menjadi tertarik untuk
menerapkannya
25

Sedangkan pengertian pendidikan agama Islam secara formal
dalam kurikulum berbasis kompetensi dikatakan bahwa:
“Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga
mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran

24
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara,1996),cet.ke-4,hal.10
25
www. Indoskripsi. Com., hal. 2


28
agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan hadits,
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan
pengalaman. Dibarengi tuntutan untuk menghormati penganut agama lain
dalam masyarakat hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa”.
26


Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan
siswa agar memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan ajaran
Islam (doing), dan melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
(being). Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah
untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan melakukan, dan
pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
27

Menurut Zakiah Darajat dalam bukunya Abdul Majid
mendefinisikan Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha sadar untuk
membina dan dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang
pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai
pandangan hidup.
Munculnya anggapan-anggapan yang kurang menyenangkan
tentang Pendidikan Agama Islam seperti; Islam diajarkan lebih pada
hafalan (padahal Islam penuh dengan nilai-nilai) yang harus dipraktekkan.
Pendidikan agama Islam lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara
hamba dengan Tuhan-Nya; penghayatan nilai-nilai Islam kurang mendapat
penekanan dan masih terdapat sederet respon kritis terhadap pendidikan
agama. Hal ini disebabkan penilaian kelulusan siswa dalam pelajaran

26
Abdul Majid dan Dian Andayani, 2004, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya), hal.130
27
www.citraedukasi.com,. 16 November 2006


29
agama hanya diukur dengan berapa banyak hafalan dan mengerjakan ujian
tertulis dikelas. Sedangkan mata pelajaran PAI itu secara keseluruhan
dalam lingkup Al-Qur’an dan al-Hadits, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah,
dan sejarah
28

Pendidikan Agama Islam juga bisa diartikan sebagai upaya sadar
dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak
mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya
kitab suci Al Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran,latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan
untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan
kerukunan antar ummat beragama dalam masyarakat hingga
terwujudkesatuan dan persatuan bangsa.
29

Tujuan utama pendidikan agama Islam di sekolah adalah
keberagamaan, yaitu menjadi muslim yang sebenarnya. Keberagamaan
inilah yang selama ini kurang di perhatikan. Cara Mencapai Tujuan itu.
Tujuan itu, secara sederhana, dapat dicapai dengan pengajaran kognitif
(untuk pemahaman), latihan melakukan (untuk keterampilan melakukan)
dan usaha internalisasi (untuk keberagamaan). Upaya memberagamakan
akan lebih mudah dilakukan di sekolah bila pendidikan agama itu
dijadikan core sistem pendidikan.

28
Abdul Majid dan Dian Andayani, Op. cit., hal.130
29
www.Sutrisno Muslimin.blogspot.com,. 23 Maret 2009


30
Tantangan yang dihadapi dalam Pendidikan Agama khususnya
Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagaimana
mengimplementasikan pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan
pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan peserta
didik agar memiliki kualitas iman, taqwa dan akhlak mulia. Dengan
demikian materi pendidikan agama bukan hanya mengajarkan
pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk
kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan
kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun
mereka berada, dan dalam posisi apapun mereka bekerja.
30

Maka saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang
harus dilakukan oleh para guru Pendidikan Agama Islam untuk
mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas
pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran agamanya, mendorong
mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk akhlak
dan kepribadiannya.
31

Pendidikan Islam berhasil manakala kegiatannya dilakukan melalui
banyak cara, baik yang dilakukan melalui kegiatan yang direncanakan atau
didisain konsepnya, maupun yang tidak direncanakan melalui seringnya
bertemu, bertanya, dan bergaul dengan orang atau siapa saja yang
dianggap lebih mengetahui, lebih baik dan lebih berhasil. Dalam
pandangan Islam, orang yang tidak banyak mengetahui tentang sesuatu

30
Indoskripsi,. Log., Cit. hal. 2
31
Irhamshohiby , 2008, www.One.Indoskripsi.com


31
dianjurkan untuk bertanya kepada orang (ahli) yang dianggap lebih
mengetahui, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki
yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang
yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui tentang hal
itu.” (Qs. An-Nahl:43)

Proses bertanya sebagai awal dari proses pengumpulan
pengetahuan merupakan modal dasar dalam kegiatan pandidikan Islam,
dan ini bisa dilakukan melalui kegiatan formal dalam lembaga pendidikan
Islam, maupun dalam kegiatan interaksi sosial dengan siapa saja dalam
kehidupan ini. Inilah pentingnya dunia pendidikan jalur kegiatan formal
sekolah maupun luar sekolah/pendidikan keagamaan dalam kehidupan
individu, keluarga, dan masyarakat.
32

Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan
kehidupan manusia modern. Dengan demikian, pendidikan Islam harus
diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern.
2. Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar
Kurikulum adalah seperangkat rencana pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Tujuan tertentu ini adalah tujuan pendidikan nasional yang

32
A. Fatah Yasin,. Op. cit. hal.29-30


32
dijabarkan dalam tujuan-tujuan atau standar yang lebih operasional, serta
kesesuaiannya dengan kekhasan, kondisi daerah, sosial budaya
masyarakat, kebutuhan dan potensi sekolah dan peserta didik. Sedangkan
keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di SD/MI dinyatakan tercapai
apabila kegiatan belajar mampu membentuk pola tingkah laku peserta
didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui
pengukuran dengan menggunakan tes dan nontes.
Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui
persiapan yang cukup dan terencana dengan baik agar dapat diterima
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global,
mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia
global, dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau mengembangkan
keterampilan untuk hidup mandiri.
33
Tujuan pendidikan dasar yang
tertuang dalam Peraturan Pemerintah no.19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan pada Bab V PASAL 26, dan dalam buku panduan
menyusun KTSP dan BSNP, bahwa “Pendidikan dasar bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia,
serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih
lanjut”.
34


33
Muhaimin, Sutiah, Sugeng Listyo Prabowo, 2008, Pengembangan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) pada sekolah&Madrasah, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada),
hal.166-167
34
Ibid,. hal. 168


33
Sedangkan kurikulum yang digunakan di Sekolah Dasar pada
umumnya sekarang mengacu pada KTSP yang sesuai dengan Peraturan
Pemerintah nomer 25 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional. Berdasarkan
peraturan menteri Pendidikan, bahan materi Pendidikan Agama Islam di
Sekolah Dasar meliputi beberapa pokok yaitu:
1. Keimanan yang meliputi rukun iman
2. Ibadah yaitu tentang sholat lima waktu
3. al-Qur’an yaitu tentang membaca dan menulis al-Qur’an dengan baik
dan benar
4. Tarikh yaitu sejarah tentang perkembangan Islam
5. Akhlaq yaitu menerangkan tentang budi pekerti dan tingkah laku
manusia yang baik mapun yang buruk.
35

Sedangkan standar kompetensi mata pelajaran PAI di sekolah
dasar berisi sekumpulan kemampuan minimal yang harus dikuasai
siswa selama menempuh pendidikan di SD. Kemampuan berorientasi
pada perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan
kognitif dalam rangka memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada
Allah SWT. Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam
kemampuan dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar
umum yang harus dicapai di SD yaitu:

35
Pedoman Pelaksanaan PAI di Sekolah Dasar, 2005


34
1. Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain dengan
mengetahui fungsi serta terefleksi dalam sikap, perilaku, dan
akhlak peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal.
2. dapat membaca al-Qur’an surat-surat pilihan dengan benar,
menyalin dan mengartikannya.
3. mampu beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan
syari’at Islam terutama ibadah mahdhah.
4. dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah SAW
serta Khulafaur Rasyidin.
36

Kurikulum adalah circle of instruction, dalam kurikulum itu
tergambar secara jelas dan terencana bagaimana dan apa saja yang
harus terjadi dalam proses belajar mengajar. Kurikulum yang baik
adalah kurikulum yang berfungsi seperti laboratorium-rentetan
kontinue suatu eksperimen, dan semua pelakunya ialah guru
bersama muridnya, yang dalam beberapa aspek melakukan fungsi
ilmiawan__experience curriculum. Kurikulum pendidikan agama
tidak hanya berhenti pada apa yang harus dipelajari di dalam kelas
tetapi kurikulum itu juga harus mencakup pembelajaran di luar
kelas. Karakteristik PAI menuntut ke arah sana, karena teori-teori

36
Abdul Majid dan Dian Andayani, Op. cit., hal.144-145


35
keagamaan itu akan dipraktekan dalam laboratorium yang bernama
“masyarakat”.
37

3. Dasar-Dasar dan Tujuan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
a. Dasar Pelaksanaan PAI
Dasar adalah pangkal tolak dari suatu aktivitas atau landasan
tempat berpijak atas tegaknya sesuatu. Dasar pelaksanaan pendidikan
agama di Indonesia memiliki status yang cukup kuat, dasar tersebut
dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
1. Dasar dari Segi Yuridis/Hukum
Dasar-dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari
peraturan perundang-undangan. Adapun dasar dari segi yuridis
formal tersebut ada 3 macam, yaitu:
a. Dasar ideal, yaitu dasar dari falsafah negara, pancasila (sila
pertama Pancasila) yaitu Ketuhanan yang Maha Esa.
b. Dasar struktural/konstitusional, yaitu dasar dari UUD 1945
dalam bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:
1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut
agama dan kepercayaannya itu.
38



37
Op.cit., Sutrisno Muslimin.blogspot.com
38
Uman, Cholil, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam, (Surabaya: 1995), hal. 9


36
2. Dasar Religius
Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar-dasar yang
bersumber dari Agama Islam yang tertera dalam ayat Al-Qur'an
maupun Hadist nabi. Menurut ajaran Islam, melaksanakan Pendidikan
Agama Islam merupakan perintah dari tuhan dan merupakan ibadah
kepada-Nya.
a) Al-Qur’an
Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang menunjukkan adanya perintah
tersebut, antara lain dibawah ini:
a. Dalam surat An-Nahl ayat 125, yang berbunyi:

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk..

b. Dalam surat Ali-Imron ayat 104, yang berbunyi:



37
Artinya: Hendaklah ada diantra kamu segolongan umat yang mengajak
kepada kebaikan, menyuruh berbuat baik dan mencegah dari
perbuatan yang munkar.

c. Dalam surat At-Tahrim ayat 6, yang berbunyi:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.
39


b) Sunnah
Selain ayat-ayat tersebut, juga disebutkan dalam hadist antara lain
sebagai berikut:
·,,, ¸· ,·, , ¸_- ·,_ ,
Artinya: Sampaikanlah ajaranku kepada orang lain walupun hanya
sedikit (HR. Bukhori)

·-·, ·,., ·,,· ·,= _· ,, ·,,· ¸¯
Artinya: Setiap anak yang ditakdirkan itu telah membawa fitrah
beragama (perasaan percaya kepada Allah) maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi,
Nasrani, atau Majusi (HR. Baihaki)


39
Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta, DEPAG RI, 2004)


38
c) Yang dimaksud ijtihad dengan kaitannya sebagai dasar pendidikan
Islam adalah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh ulama’
Islam dalam memahami nash al-Qur’an dan sunnah Nabi yang
berhubungan dengan penjelasan dan dalil tentang dasar pendidikan
Islam, sistem dan arah pendidikan Islam.
Beberapa contoh hasil ijtihad yang dapat dijadikan sebagai dasar
pendidikan Islam antara lain:
1. Ketetapan para ulama’ tentang diperbolehkannya seorang guru
menerima upah, adab guru dan murid, dalam proses
pendidikan, keharusan untuk mulai belajar al-Qur’an, dan
sebagainya.
2. ketetapan para ulam’ tentang tempat pendidikan Islam dari
rumah ke masjid, ke madrasah, ke universitas, dan sebagainya.
3. ketetapan para ulama’ terhadap materi pendidikan Islam dari
materi al-Qur’an, hadits, dan ilmu agama lainnya boleh
ditambah dengan materi lain seperti ilmu bahasa, ilmu falaq,
ilmu, hayat, ilmu kedokteran dan sebagainya.
40

3. Dasar dari Segi Sosial Psikologis
Semua manusia hidup memerlukan pegangan hidup yaitu
agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan
yang mengakui adanya zat yang maha kuasa, tempat mereka
berlindung dan minta pertolongan.

40
Uman, Cholil, Op. cit., hal.10


39
Hal semacam itu terjadi pada masyarakat yang masih primitif
maupun pada mayarakat yang modern. Mereka akan merasa tenang
dan tentram hatinya kalau mereka dapat mendekatkan, mengabdi
kepada Zat Yang Maha Kuasa. Hal semacam itu memang sesuai
dengan firman Allah Surat Ar-Ra'ad ayat 28, yang berbunyi:

Artinya: ketahuilah, bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan
menjadi tenteram.

Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan, manusia akan selalu
mendekatkan diri pada Tuhan, meskipun dengan cara yang berbeda
sesuai dengan agama yang mereka anut. Bagi orang-orang Muslim
diperlukan adanya Pendidikan Agama Islam agar dapat mengarahkan
fitrah mereka ke arah yang benar.
41

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan
pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman
peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi amnusia muslim
yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa

41
Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(UNM: Malang,2004), hlm. 9-12


40
dan bernegara, serta untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang
lebih tinggi.
42

4. Pemahaman Siswa Terhadap PAI
a. Pengertian Pemahaman Siswa
Pemahaman berasal dari kata paham yang mendapat imbuhan pe dan
akhiran an dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti:
(1) Pandangan, pengertian, pandapat, pikiran: haluan, mengerti benar; tahu
benar,
(2) Pandai dan mengerti benar tentang sesuatu hal (ks),
(3) Memahami (kk); mengerti benar akan..., mengetahui benar/menguasai
benar.
(4) Jadi pemahaman (kb) berarti proses, perbuatan, cara memahami
sesuatu
43
.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan pemahaman di sini
adalah mampu memahami dan mampu melaksanakan dengan cara
mempraktekkan salah satu materi yang telah disampaikan oleh guru
khususnya pada materi yang berkenaan dengan ibadah. Jadi
pemahaman bisa juga diartikan dengan keberhasilannya dalam
menguasai materi.




42
Abdul Majid dan Dian Andayani, Op. cit., hal.135
43
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Terbaru, Gita Media Press (Tim Primapena)


41
b. Pemahaman Siswa Terhadap PAI Melalui Metode Demonstrasi
Sebagaimana telah penulis jelaskan pada pada uraian sebelumnya
bahwa Pendidikan Agama Islam yang diberikan kepada anak didik bukan
semata-mata untuk mengisi otak anak didik dengan berbagai pengetahuan
agama yang belum diketahuinya, melainkan lebih dari itu yakni agar
pendidikan agama Islam dapat dipahami dengan baik yang selanjutnya
diamalkan dan dijadikan sebagai dasar atau pegangan dan pedoman
hidupnya.
Adanya pemahaman terhadap pendidikan Islam penting sekali
artinya dan tak dapat diabaikan oleh anak didik, sebab hal yang demikian
itu akan mengantar seorang anak didik yang berkaitan pada pelaksanaan
kemampuan praktek ibadah yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan
syariat Islam. Misalnya anak didik yang memiliki pemahaman tentang
sholat, baik cara membaca maupun cara mengerjakannya, maka akan
menjadikan ibadah sholatnya tersebut menjadi baik pula, demikian pula
dengan ibadah-ibadah yang lainnya.
Seperti diketahui bahwa baik dan sempurnanya ibadah seseorang
pada umumnya dan khususnya anak didik, itu semua merupakan
manifestasi dari pemahaman pendidikan agama Islam maka kemungkinan
yang akan terjadi adalah baik pulalah kemampuan praktek ibadah anak
tersebut. Jadi ibadah seseorang akan menjadi baik dan sempurna, hal itu
tidak terlepas dari pendalaman pengetahuan agama Islam yang dipahami
dengan baik oleh anak didik.


42
Istilah demonstrasi dalam pengajaran berarti adalah suatu metode
mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta atau
murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu proses atau
suatu kaifiah melakukan sesuatu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan metode
demonstrasi pada pembelajaran PAI dapat mempengaruhi terhadap
pemahaman siswa terhadap materi PAI di sekolah. Karena dengan metode
demonstrasi pemahaman siswa menjadi lebih luas dibandingkan dengan
hanya menggunakan metode ceramah atau yang lainnya. Dengan metode
demonstrasi siswa diajak terlibat secara langsung dalam proses
pembelajaran sehingga lebih membekas dan bisa langsung diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah melaksanakan pembelajaran PAI dengan menggunakan
metode demonstrasi kemudian guru memberikan penilaian pada saat
berlangsungnya metode demonstrasi. Penilaian yang dilakukan guru
merupakan kegiatan yang tak terpisahkan dalam memberikan pengalaman
belajar dengan metode demonstrasi serta untuk mengetahui seberapa
tingkat pemahaman siswa terhadap materi PAI khususnya yang meliputi
wudhu, sholat, haji setelah diterapkannya metode demonstrasi. Sedangkan
indikasi-indikasi bhwa siswa sudah paham adalah:




43
a. Siswa bisa menangkap materi yang telah disampaikan oleh bapak ibu
guru
b. Siswa sudah bisa melafalkan niat, bacaan-bacaan wudhu, tayamum,
dan sholat, dan bisa melafalkan bacaan al-Qur’an dengan benar serta
bisa melaksanakan atau mempraktekkan tata caranya dengan baik dan
benar sesuai urutan.




















44
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan dengan judul yang penulis ambil, jenis penelitian ini
termasuk dalam jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan
mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga/gejala tertentu. Ditinjau dari
wilayahnya, maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subyek
yang sangat sempit tetapi dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih
mendalam
44
. Robert Bodgan dan Steven J. Taylor dalam bukunya,
“Introduction to Qualitative Research Methods” yang diterjemahkan oleh
Arif Furqon: Penelitian kualitatif adalah penelitian yang akan
menghasilkan data deskriptif, baik ucapan maupun tulisan dan perilaku
yang akan di ambil dari orang itu sendiri
45
.
Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller dalam Moleong
mendefinisikan bahwa ”penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam
ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada
pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan
dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam
peristilahannya."
46


44
Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Rineka
Cipta, Jakarta, hal. 120
45
Robert Bodgan dan Steven J Taylor, 1992, Introduction to Qualitative Research
Methods, Terjemahan Arif Furqon, Usaha Nasional, Surabaya, hal. 21-22.
46
Lexy. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif , (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2002), hlm 3


45
Selain definisi dari penelitian kualitatif, dibawah ini juga terdapat
definisi dari metode deskriptif, yaitu: secara harfiah, metode deskriptif
adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau
kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data
dasar belaka.
Metode deskriptif juga dapat didefinisikan sebagai suatu metode
dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi,
suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang.
47

Dari beberapa definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan pendekatan
deskriptif kualitatif yaitu suatu metode penelitian untuk membuat
gambaran mengenai objek yang diteliti dengan mengumpulkan data
berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka.
Pemilihan metode ini didasarkan atas beberapa pertimbangan.
Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan
dengan kenyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung
hakikat hubungan antara peneliti dengan responden; ketiga, metode ini
lebih peka dan lebih bisa menyesuaikan diri dengan banyak penajaman
pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
48





47
Nazir, Metode Penelitian (Jakarta:Ghalia Indonesia, 2003), hlm. 53

48
Lexy. J. Moleong, op. cit., hlm 5


46
Jadi dalam penelitian ini, penulis berusaha memaparkan tentang
aplikasi metode demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada
bidang studi PAI di SDN 01 Pandean Kota Madiun.
B. Kehadiran Peneliti
Kedudukan peneliti sebagai instrument dalam penelitian kualitatif
memiliki peran ganda. Peneliti merupakan perencana, pelaksana
pengumpulan data, analisis, penafsiran data dan akhirnya menjadi pelapor
hasil penelitian.
49
Dalam penelitian ini peneliti juga hadir untuk
menemukan data yang diperlukan dalam hubungannya dengan penggunaan
media pembelajaran, dimana dalam penelitian ini peneliti menentukan hari
penelitian untuk bisa terlibat langsung dalam proses belajar mengajar
khususnya materi Pendidikan Agama Islam.
Sebagai penunjang dalam rangka mengumpulkan data peneliti juga
menggunakan alat instrument lain sebagai pendukung sesuai dengan
metode pengumpulan data.
C. Lokasi Penelitian
Peneliti sengaja memilih SDN 01 Pandean Kota Madiun yang terletak di
Jalan Cokroaminoto No.152 Madiun sebagai salah satu lembaga
Pendidikan yang telah menggunakan metode demonstrasi untuk
meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran PAI.



49
ibid., hlm. 121


47
D. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek
darimana data diperoleh.
50

Sedangkan menurut Suharsini Arikunto, yang dimaksud denga sumber
data adalah subyek darimana data-data diperoleh
51
. Berdasarkan pengertian
tersebut dapatlah dimengerti bahwa yang dimaksud dengan sumber data
adalah darimana peneliti akan mendapatkan dan menggali informasi, yang
berupa data-data yang diperlukan. Menurut Loflanf dan Lofland (1948:
47) Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan
tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
52

Adapun sumber data dalam hal ini adalah :
a) Sumber data primer.
Sumber data primer merupakan data yang dikumpulkan oleh dan
disajikan oleh peneliti dari sumber utama. Dalam penelitian ini yang
menjadi sumber data utama yaitu kepala sekolah, para guru, waka
kurikulum, dan para siswa.
b) Sumber data sekunder.
Sumber data skunder merupakan sumber data pelengkap yang
berfungsi melengkapi data-data yang diperlukan oleh primer. Adapun
sumber data skunder yang diperlukan yaitu dokumen-dokumen yang
berhubungan dengan sekolah yang diteliti yakni di SDN Pandean 1

50
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), hlm 207
51
Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal. 106
52
lexy. J. Moleong, op. cit, hlm 112



48
Kota Madiun, Al-Qur’an, artikel, buku, koran, majalah, maupun
tulisan lepas.
Berkaitan dengan sumber data yang dihasilkan dalam penelitian
kualitatif, maka jenis data dibagi dalam kata-kata dan tindakan, sumber
data tertulis, foto.
1. Kata-kata dan Tindakan
Kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai
merupakan sumber data utama. Sumber data yang dihasilkan dari
jenis data ini disebut responden yaitu orang yang direspon atau
menjawab pertanyaan dari peneliti melalui catatan tertulis atau
melalui rekaman video/audio, pengambilan foto, atau film.
2. Sumber Tertulis
Dilihat dari segi sumber data, bahan tambahan yang berasal dari
sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku, sumber dari arsip,
dokumen pribadi.
3. Foto
Foto menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering
digunakan untuk menelaah segi-segi subjektif dan hasilnya sering
dianalisis secara induktif..
53

Adapun yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah
kepala sekolah dan guru pengajar Pendidikan Agama Islam di SDN
01 Pandean Kota Madiun.

53
ibid., hlm. 113-115


49
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan masalah dan obyek yang
diteliti, peneliti menggunakan beberapa metode antara lain:
a) Metode observasi.
Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan
sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki
54
. Metode ini dilakukan
dengan jalan terjun langsung kedalam lingkungan dimana penelitian
itu dilakukan disertai dengan pencatatan terhadap hal-hal yang muncul
terkait dengan informasi data yang dibutuhkan. Metode ini oleh
peneliti digunakan untuk mengetahui lokasi penelitian, dan untuk
mengumpulkan semua data yang berkaitan dengan persepsi guru
tentang kesabaran mengajar dalam menghadapi anak didik. Penulis
menggunakan metode ini untuk mengamati secara langsung data yang
ada dilapangan, terutama data tentang yang ada SDN 01 Pandean kota
Madiun
b) Metode wawancara (interview)
Metode wawancara (interview) adalah sebuah proses tanya jawab
lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang
satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga
sendiri suaranya, tampaknya merupakan pengumpulan informasi yang


54
Sutrisno Hadi, Method Research II, 1997, (Gajah Mada Press, Yogyakarta), hal. 136


50
langsung tentang beberapa jenis data sosial, baik ang terpendam
(latent) maupun yang memanifes
55
.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data atau informasi
dari beberapa sumber data yang bersangkutan yaitu, kepala sekolah
dan guru pengajar Pendidikan Agama Islam mengenai penerapan
metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama
Islam.
Interview ditinjau dari segi pelaksanaannya, maka dibedakan atas :
a. Interview bebas (inguided interview) dimana pewancara bebas
menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang
akan dikumpulkan.
b. Interview terpimpin (guided interview) yaitu interview yang
dilakukan oleh pewancara dengan membawa sederetan pertanyaan
lengkap dan terperinci seperti, yang dimaksud dalam interview
terstruktur.
c. Interview bebas terpimpin yaitu kombinasi antara interview bebas
dan interview terpimpin
56
.
c) Metode Dokumentasi.
Metode Dokumentasi adalah suatu cara mencari data terhadap hal-hal
seluk beluk penelitian baik berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
prasasti, majalah, agenda dan lain sebagainya
57
.


55
Ibid, hal. 192
56
Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal. 132
57
Ibid, hal. 236


51
F. Tehnik Analisis Data
Dalam penelitian ini tehnik analisa data yang peneliti gunakan
yaitu tehnik analisa deskriptif kualitatif (berupa kata-kata). Untuk
menganalisa data kualitatif maka digunakan teknik deskriptif yaitu
penelitian yang dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh
dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan untuk kategori sehingga
diperoleh suatu kesimpulan.
Menurut Moleong, analisa data adalah proses mengorganisasikan dan
mengurutkan data karena dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar
sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
spirit yang disarankan oleh data.
Analisi data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu:
a. Analisis data selama di lapangan
Analisis data selama dilapangan dalam penelitian ini tidak dikerjakan
setelah pengumpulan data selesai, tetapi selama pengumpulan data
berlangsung dan dikerjakan terus menerus hingga penyusunan laporan
selesai. Kegiatan analisis data ini melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1) Penetapan fokus penelitian
2) Penyusunan temuan-temuan sementara berdasarkan data yang telah
terkumpul.
3) Pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya berdasarkan
temuan-temuan pengumpulan data sebelumnya.


52
4) Pengembangan pertanyaan-pertanyaan analitik dalam rangka
pengumpulan data berikutnya.
5) Penetapan sasaran-sasaran pengumpulan data (informan, situasi,
dokumen) berikutnya.
b. Analisis data satelah pengumpulannya
Analisis data saetelah pengumpulannya meliputi mengembangkan data
yang telah terkumpul, penyortiran data, dan penarikan kesimpulan.
G. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan data, maka diperlukan tehnik
pemeriksaan. Pelaksanaan pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria
tertentu, ada beberapa tehnik yang digunakan dalam pengecekan
keabsahan temuan, diantaranya:
1. Perpanjangan Keikutsertaan
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai instrument.
Perpenjangan keikutsertaan juga menuntut peneliti agar tejun kedalam
lokasi.
2. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan dalam pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan
unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan persoalan/ isu yang
sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut
secara rinci.




53
3. Triangulasi
Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding dari data itu.
4. Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi
Tehnik ini dilakukan dengan cara mengeksplor hasil sementara atau
hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-
rekan sejawat.
Maksud dari tehnik ini adalah, untuk membuat agar peneliti tetap
mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran.
5. Tehnik Analisis Kasus
Tehnik analisis kasus dilakukan dengan jelas mengumpulkan contoh
dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecendrungan
informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan
pembanding.
58

H. Tahap-tahap Penelitian
1. Tahap Pra Lapangan
a. Menyusun rancangan penelitian
Pada tahap ini peneliti membuat latar belakang masalah penelitian
dan alasan pelaksanaan penelitian.
b. Memilih lapangan penelitian

58
Lexy. J. Moleong, op. cit. , hlm 175-180


54
Pada tahap ini peneliti memilih lokasi penelitian yang sesuai
dengan judul yang peneliti ambil.
c. Mengurus perizinan
Setelah mendapatkan lokasi penelitian, peneliti mengurus surat izin
yang disetujui oleh Dekan Fakultas Tarbiyah.
d. Menjajagi dan menilai kedaan lapangan
Pada tahap ini peneliti mulai berinteraksi dengan fenomena yang
ada di lapangan dan mempelajari keadaan lapangan yang akan
diteliti
e. Menyiapkan perlengkapan penelitian
Untuk menunjang kevalidan pengumpulan data, maka peneliti
menyiapkan alat pengumpul data seperti foto dan tape recorder.
f. Persoalan etika penelitian
Selama berinteraksi dengan orang-orang dilapangan, peneliti tetap
berusaha menjaga etika dalam proses pengumpulan data sesuai
kode etik penelitian
Tahap pekerjaan lapangan
1. Memahami latar penelitian dan persiapan diri
Memahami latar penelitian adalah hal yang harus diperhatikan
agar apa yang ingin dicari peneliti di lapangan sesuai dengan
keadaan yang terjadi di lapangan
2. Memasuki lapangan


55
Setelah semuanya siap maka peneliti memulai memasuki dan
berinteraksi dengan lapangan guna mencari data yang
dibutuhkan untuk penyusunan skripsi.
3. Berperanserta sambil mengumpulkan data
Sebagai instrument penelitian peneliti bukan hanya sebagai
perencana, tetapi peneliti juga berperan serta dan beerinteerksi
langsung dengan keadan di lapangan.
59



















59
Ibid., hlm 84-99

56
BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. LATAR BELAKANG OBJEK PENELITIAN
1. Letak Geografis SDN 01 Pandean Kecamatan Taman Kota Madiun
Letak geografis SDN 01 Pandean kecamatan Taman Kota Madiun
cukup strategis, yakni berada di puasat kota Madiun, tepatnya terletak di
tepi jalan raya yaitu Jalan Cokroaminoto No. 152 kota Madiun, sehingga
mudah dijangkau dari berbagai daerah oleh peserta didik. Selain itu,
SDN 01 Pandean juga berada di pusat kota Madiun dan terletak diantara
dua kecamatan yaitu sebelah utara Kecamatan Mangunharjo, sebelah
barat kecamatan Karto Harjo. Selain itu lingkungan sekitarnya sangat
mendukung dalam pembinaan pendidikan Agama Islam karena berada di
sebelah utara masjid al-Fatah yaitu masjid besar Sleko Madiun.
60

2. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan SDN 01 Pandean Kota
Madiun
Berawal dari sejarah berdirinya SDN 01 Pandean kota Madiun dan
merupakan jenjang pendidikan sekolah dasar yang berdiri pertama kali
di kota Madiun yang telah dirintis oleh para tokoh masyarakat yang
berada di kota Madiun yakni tepatnya pada tahun 1818 dan berada di
kecamatan Taman kota Madiun. Dalam rangka mewujudkan pendidikan
dasar sesuai dengan yang diharapkan maka segenap Pengurus Yayasan
dan didukung oleh masyarakat setempat berusaha semaksimal mungkin

60
Hasil Observasi tanggal 4 Maret 2009


57
untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pendidikan SDN 01
Pandean kota Madiun.
Kepemimpinan SDN 01 Pandean kota Madiun sudah berganti
sebanyak Tujuh kali sampai sekarang.
1. Kepala Sekolah pertama dijabat oleh Ibu Widijati
2. Kepala Sekolah kedua dijabat oleh Bpk. Siswoko
3. Kepala Sekolah ketiga dijabat oleh Bpk. Istadi
4. Kepala Sekolah keempat dijabat oleh Bpk. Saimin
5. Kepala Sekolah kelima dijabat oleh Bpk. Syaim Pribadi
6. Kepala Sekolah keenam dijabat oleh Ibu Endang Setyowati B.A
7. Kepala Sekolah ketujuh dijabat oleh Bpk. Subandi, S. Ag sampai
sekarang
Itulah sejarah singkat perjuangan pembangunan SDN 01 Pandean
kota Madiun sebagai salah satu lembaga pendidikan di kota Madiun.
61

3. Identitas SDN 01 Pandean Kota Madiun
Nama Sekolah : SDN 01 Pandean Kecamatan Taman
Kota Madiun
Status : Terakreditasi
Alamat : JL. Cokroaminoto No. 152
Kecamatan : Taman
Kabupaten : Madiun
Alamat Website (Jika ada) : -

61
Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dan bapak ibu guru di SDN 01 Pandean


58
Email (jika ada) : -
Tahun Berdiri : 1818
Waktu Belajar : 06.45
Penelitian ini merupakan suatu aktivitas ilmiah yang direncanakan dan
dilakukan secara sistematik, logis, rasional, dan terarah untuk menjawab
rasa ingin tahu berdasarkan data yang dikumpulkan secara metodologis.
4. VISI MISI SDN 01 PANDEAN KOTA MADIUN
a. VISI SEKOLAH

Unggul dalam mutu, mampu bersaing secara global, beriman dan
bertakwa. Dengan indikator sebagai berikut:
1. Terwujudnya pengembangan Kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang standar nasional
2. Terwujudnya proses belajar mengajar yang standar nasional
3. Terwujudnya taraf kompetensi lulusan yang standar nasional
4. Terpenuhinya fasilitas pendidikan yang standar nasional
5. Tersedianya tenaga pendidik dan kependidikan yang memiliki
kompetensi dan kualifikasi untuk mengelola sekolah satndar
nasional
6. Terwujudnya Manajemen sekolah yang standar nasional
7. Tercapainya pembiayaan untuk memenuhi taraf biaya sekolah
standar nasional
8. Terwujudnya system penilaian pendidikan yang berstandar
nasional


59
b. MISI SEKOLAH
Menciptakan anak didik yang beriman dan bertaqwa dengan dibekali
ilmu pengetahuan, ketrampilan dan tekhnologi serta terwujudnya
proses belajar mengajar yang standar nasional. Untuk mewujudkan
visi yang telah dirumuskan, maka misi yang harus dilakukan oleh
sekolah adalah:
1) Menetapkan berbagai model pembelajaran
2) Menetapkan berbagai strategi pembelajaran bertaraf internasional
berbasis ICT.
3) Menyusun berbagai program untuk mendukun keterlaksanaan
PBM
4) Mewujudkan fasilitas pokok sekolah yang standar nasional
5) Peningkatan kemampuan komputer dan internet bagi semua
warga sekolah.
6) Peningkatan kemampuan guru dalam bidang studinya sesuai latar
belakang.
7) Menjalin kerjasama dengan sekolah sederajat
8) Tersedianya tenaga pendidik dan kependidikan yang memiliki
kompetensi dan kualifikasi untuk mengelola sekolah satndar
nasional




60
5. Struktur Organisasi SDN 01 Pandean Kota Madiun Tahun
Pelajaran 2008/2009
Struktur organisasi di SDN 01 Pandean kota Madiun cukup
baik dengan posisi personalia yang cakap dibidangnya masing-
masing. Hal ini menunjukkan bahwa SDN 01 Pandean kota Madiun
cukup baik dan teratur. Adapun struktur organisasinya dapat dilhat
pada lampiran:
6. Keadaan Guru dan Siswa
Dari hasil observasi diperoleh data mengenai jumlah tenaga
guru SDN 01 Pandean kota Madiun adalah 13 orang beserta
penjaganya dengan latar belakang pendidikan rata-rata cukup
memadai, yaitu pada umumnya berlatar belakang pendidikan IKIP
atau IAIN. Berikut ini akan dijabarkan mengenai data guru di SDN
01 Pandean Kota Madiun.
Adapun data mengenai pembagian tugas guru dalam proses
belajar mengajar di SDN 01 Pandean kota Madiun adalah sebagai
berikut:








61
TABEL I
No. Nama Tugas Mengajar (Mata
Pelajaran)
1. Subandi, S.Ag. (Kepsek) PAI, IPA

2. Suharmi, BA.

B. Indonesia, KTK, B. Jawa
3. Drs. Mudjiana Efendi PKN, B. Indonesia, Matematika,
IPA, IPS, KTK.
4. TH. Sri Nurani, A.Ma.Pd.

Matematika, KTK, PKN, B. Jawa
5. Sri Suwarti, A.Ma.Pd. PKN, B. Indonesia, Matematika,
IPA, IPS, B. Jawa
6. Sundari, A.Ma.Pd. B. Indonesia, Matematika, IPA,
IPS, PKN, B. Jawa
7. Sri Purwati, S.Pd.

PKN, IPS, KTK.
8. Juli Harweni, A.Ma.Pd.

Matematika, IPS, KTK.
9. Wiwik Susilowati, S.pd PKN, B. Indonesia, Matematika,
IPA, IPS, B. Jawa, KTK
10. Abdul Rochim, S.Pdi

PAI, PKN
11. Budiwati, S.Pd

PKN, IPA, KTK, B. Jawa
12. Sri Tri Mulyaningsih, S.Pd PKN, B. Indonesia, Matematika,
IPA, IPS, B. Jawa, KTK
13. Wahutomo, A.Ma.Pd.

KTK, Matematika, IPA
14. Hery Fadjarwati, S.Pd B. Indonesia, Matematika, B.
Jawa
15. Ali Sugi Mulyati, S.Pdi

PAI, PKN
16. Mundi Dresih Tinrami, S.Pd

PAK, Seni Suara
17. Wisnu Sutopo, S.Pd

Penjaskes
18. Neni Sariningtyas, A.Ma.Pd

IPA, B. Jawa, KTK
19. Pamudji, S.pd

Penjaskes
20. Dyah Eni Riyanti, S.pd

B. Jawa, IPA
21. Sukirno, S.Pd B. Indonesia, Mulok


62

22. Sugiono, S.Pd

KTK, Mulok, IPA
23. Wahyuningrum, S.Pd

B. Inggris
24. Sri Arumtini, S.Pd B. Indonesia, Matematika, IPA,
IPS, B. Jawa, PKN

Sedangkan banyaknya siswa di SDN 01 Pandean kota Madiun pada tahun
ajaran 2008-2009 adalah 448 siswa yang meliputi kelas I AB, II AB, III
AB, IV AB, VAB, VIAB adalah sebagai berikut
62
:
TABEL II
Jenis Kelamin No. Kelas
L P
Jumlah per-
kelas
Jumlah
Seluruhnya
1. IA 20 12 32
IB 21 11 32

64
2. IIA 17 18 35
IIB 13 19 32

67
3. IIIA 23 20 43
IIIB 23 19 42

85
4. IVA 16 23 39
IVB 14 21 35

74
5. VA 26 19 45
VB 20 20 40

85
6. VIA 16 22 38
VIB 17 18 35

73
Jumlah 12 226 222 448 448

Dari data tentang jumlah siswa di SDN 01 Pandean kota Madiun.
Menunjukkan bahwa SDN 01 Pandean kota Madiun diminati masyarakat
di kecamatan Taman dan sekitarnya, bahkan merupakan sekolah favorit
di kota Madiun.


62
Hasil observasi dan dokumentasi pada tanggal 4 Maret 2009


63
7. Sarana Prasarana di SDN 01 Pandean Kota Madiun
Guna menunjang proses belajar mengajar, SDN 01 Pandean
kota Madiun dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang berupa
sarana dan prasarana. Sarana yang ada di SDN Pandean 01 kota
Madiun terdiri dari ruang kepala sekolah 1 ruang, ruang guru 1
ruang, perpustakaan 1 ruang, mushola, dan sarana prasarana untuk
proses kegiatan belajar mengajar masing-masing terdiri dari 1 ruang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:
TABEL III
No. Nama Barang

Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Ruang kepala sekolah
Ruang Guru
Perpustakaan
Mushola
Ruang Komputer
Kelas I
Kelas II
Kelas III
Kelas IV
Kelas V
Kelas VI
UKS
Gudang
1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1



64
14.

15.

16.

17

18.

19.

20.



Kamar Mandi Siswa Putra 1
Kamar Mandi Siswa Putri 1
Kamar Mandi Guru dan
Karyawan
Parkir Sepeda Siswa
Parkir Kendaraan Guru
Kantin Sekolah
Lapangan Olah Raga (Basket)
2

2

2

1

1

2

1




8. Keadaan Keagamaan Keluarga Siswa SDN 01 Pandean Kota
Madiun
Kondisi keagamaan dari orang tua/wali siswa SDN 01
Pandean kota Madiun berbeda-beda. Sebagian besar banyak
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan faktor ekonomi yang
berbeda-beda.
a. Dengan adanya perbedaan kondisi baik lingkungan maupun
ekonomi maka berbeda pula situasi yang ada pada keluarganya,
berbeda dalam hal pembentukan kepribadian anak maupun
pembentukan kedisiplinan anak dalam melaksanakan ibadah baik
sholat lima waktu, puasa sunah, puasa wajib, membaca al-
Qur’an, maupun dalam hal pembinaan Pendidikan Agama Islam
lainnya.
63


63
Hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru PAI pada tanggal 6 Maret 2009


65
9. Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan ekstra kurikuler adalah salah satu bentuk wadah
untuk menggali potensi siswa dan menampung kreatifitas siswa yang
bertujuan menumbuhkan minat dan bakat siswa di sekolah. Beberapa
kegiatan ekstra kurikuler yang di kembangkan di SDN 01 Pandean
kota Madiun, adalah sebagai berikut:
a. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA)
b. Kaligrafi
c. Drum Band
d. Pramuka
e. Sholawat / hadroh
f. Teater
g. Basket.
64

B. PAPARAN DATA
1. Aplikasi Metode Demonstrasi Pada Bidang Studi Pendidikan
Agama Islam di SDN 01 Pandean kota Madiun.
Dalam era globalisasi dan pasar bebas, kita dihadapkan pada
perubahan-perubahan yang tidak menentu. Dalam kaitannya dengan
pendidikan, berbagai analisis menunjukkan bahwa pendidikan nasional
dewasa ini sedang dihadapkan pada berbagai krisis yang perlu mendapat
penanganan secepatnya, diantaranya berkaitan dengan kesesuaian
pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam kerangka inilah maka

64
Hasil wawancara dengan kepala sekolah tanggal 6 Maret 2009


66
pemerintah menggagas KTSP. Oleh karena itu, untuk menghadapi
perkembangan zaman dan persaingan, maka SDN 01 Pandean sebagai
jenjang pendidikan dasar juga menggunakan KTSP. Hal tersebut bisa
dilihat dari proses belajar mengajar yang telah menggunakan metode
atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan KTSP, salah
satunya adalah dengan menerapkan metode demonstrasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim, S.Pdi
dan Ibu Ali Sugi Mulyati, S.Pdi selaku guru PAI, tentang usaha-usaha
yang dilakukan dalam meningkatkan pemahaman siswa dalam
pembelajaran PAI di SDN 01 Pandean kota Madiun, beliau mengatakan
bahwa:
“Dalam meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran PAI
yakni dengan menggunakan metode dan media yang bervariasi yang
disesuaikan dengan materi yang akan dibahas serta disesuaikan dengan
situasi dan kondisi siswa dan sekolah. Karena materi PAI di sekolah
dasar dibingkai menjadi satu yakni meliputi al-Qur’an, aqidah akhlak,
fiqih, dan sejarah Islam. Oleh karena itu, maka beberapa jenis metode
yang biasa kami pakai diantaranya yaitu ceramah, tanya jawab, diskusi,
demonstrasi, card short. Sedangkan media yang digunakan sebagai
sumber belajar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tentu saja
disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan diajarkan dan juga
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Misalnya, untuk materi sholat
jenis media yang sering digunakan adalah jenis Media Cetak seperti


67
Buku Paket dan LKS, Guru, Mushola, dan siswa sendiri. Jenis media
Audio Visual seperti penggunaan CD Player dengan memutar beberapa
kaset tentang tata cara wudhu, sholat yang benar, atau dengan
menempel gambar di papan tulis.”
65


Wawacara juga dilakukan dengan Bapak Subandi, S.Ag selaku
guru PAI yakni mengenai jenis media yang sering digunakan dalam proses
pembelajaran PAI terutama tentang materi-materi khususnya ibadah,
beliau menyatakan bahwa:
“Adanya metode dan media pembelajaran sangat penting sekali
dalam proses pembelajaran Pendidikan Agam Islam terutama pada materi
Fiqih (ibadah). Karena dalam pembelajaran Fiqih siswa sebisa mungkin
dituntut melakukan simulasi atau praktek. Oleh karena itu kehadiran
metode dan media sangat diperlukan sekali. Ada beberapa jenis metode
yang diapaki yakni ceramah, tanya jawab, demonstrasi. Sedangkan media
yang digunakan dalam proses pembelajaran Fiqih (ibadah), hal itu
disesuaikan dengan materi yang akan dibahas. Selama ini media yang
sering digunakan adalah Media Cetak seperti Buku Paket dan LKS
sebagai media tetap yang harus ada, guru, siswa, gambar, media Audio
Visual seperti CD Player, Media Lingkungan sebagai tempat praktek atau
ketika materinya berhubungan dengan haji atau dari Bapak ibu guru
sendiri. Usaha ini di lakukan agar siswa lebih mudah memahami materi

65
Wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim dan Ibu Ali Sugi Mulyati, Guru PAI tanggal
11 Maret 2009


68
yang sedang dibahas karena mereka sudah terlibat langsung dari pada
hanya mendengarkan cerita.”
66

Dari hasil interview yang dilakukan oleh penulis dengan guru PAI
(Bapak Abdul Rokhim dan Ibu Ali Sugi Mulyati) yang menyatakan bahwa
ketika mengajar materi PAI yang berkenaan dengan pokok bahasan
tertentu, dalam hal ini adalah wudhu, tayamum, sholat, dan al-Qur’an,
selain disampaikan dengan metode ceramah dan tanya jawab yang penting
lagi adalah dengan menggunakan metode demonstrasi. Karena dengan
metode demonstrasi siswa lebih bisa mengerti, memahami, melihat secara
langsung tentang suatu kaifiah proses jalannya suatu kegiatan dalam hal
ini adalah wudhu, sholat dan baca al-Qur’an sehingga siswa bisa langsung
mempraktekkan dan bisa langsung dievaluasi kemudian di aplikasikan
dalam kehidupan dimasyarakat sehingga siswa akan lebih terkesan
terhadap materi yang diajarkan sebagai pengalaman belajar
67
.
Dalam waktu yang sama peneliti juga menanyakan kepada Bapak
Abdul Rokhim selaku guru PAI mengenai langkah-langkah apa sajakah
yang bapak persiapkan dalam melaksanakan metode demonstrasi:
“Sebelum memulai demonstrasi maka langkah-langkah yang
kami persiapkan agar siswa siap dalam menerima materi yang
disampaikan sebelum melaksanakan metode demonstrasi adalah yang
pertama, mempelajari silabus yang telah di susun oleh Departemen
agama, membuat skenario pembelajaran, menyiapkan materi yang akan

66
Wawancara dengan Bapak Subandi selaku guru PAI tanggal 13 Maret 2009
67
Wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim dan Ibu Ali Sugi Mulyati, Guru PAI tanggal
9 Maret 2009


69
di sampaikan, memberi penjelasan terlebih dahulu tentang materi yang
akan didemonstrasikan, menyiapkan sarana prasarana atau media yang
akan dipakai dalam menyampaiakan materi kepada siswa sebelum
dilaksanakan demonstrasi, kemudian siswa diajak untuk
mendemonstrasikan setelah itu guru langsung mengevaluasi guna
mengetahui sejauh mana siswa mampu menangkap dan memahami
materi yang telah disampaikan.”
68

Peneliti juga menanyakan kepada Ibu Ali Sugi Mulyati tentang
pelaksanaan demonstrasi apakah disesuaikan dengan kondisi kelas dan
kesiapan siswa;
“Iya, supaya dalam Psoses Belajar Mengajar berjalan dengan
lancar dan siswa bisa menerima materi yang disampaikan dengan baik.
Sebagai buktinya, ketika guru menunjuk beberapa siswa secara
bergantian untuk mendemonstrasikan materi yang berkenaan dengan
ibadah seperti wudhu, tayamum, sholat, membaca al-Qur’an. Siswa
sudah siap dan mapu melaksanakan sesuai dengan baik dan tertib mulai
dari niat, bacaan sampai pada gerakannya. Kemudian dari situ guru
langsung mengevaluasi jalannya demonstrasi.”
69

Selain dengan guru PAI, peneliti juga melakukan wawancara
dengan beberapa siswa. Respon para siswa terhadap aplikasi metode
demonstrasi pada bidang studi PAI pada materi-materi tertentu cukup
baik dan beragam, namun demikian kebanyakan siswa senang dan

68
Wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim selaku guru PAI tanggal 13 Maret 2009
69
Wawancara dengan Ibu Ali Sugi Mulyati selaku guru PAI tanggal 13 Maret 2009


70
antusias dengan aplikasi metode tersebut. Berikut ini akan diuraikan dari
hasil wawancara dengan beberapa siswa di SDN 01 Pandean khususnya
kelas VA mengenai perasaan mereka setelah bapak ibu guru mengajak
mereka praktek.
Misalnya, Aprilia Ekaningtyas mengemukakan “bahwa ia sangat
senang dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran ketika bapak ibu
guru melaksanakan metode demonstrasi, sebab ia bisa melihat secara
langsung tentang jalannya suatu proses seperti wudhu, sholat dan baca
al-qur’an seperti yang telah di contohkan oleh bapak ibu guru,
kemudian setelah itu ia diajak praktek langsung sehingga ia bisa
bergerak dan berfikir untuk melakukan langsung materi-materi yang
telah bapak ibu guru sampaiakan karena diajak praktek langsung.”
70

Rifky Yandika Pratama tidak jauh berbeda dengan Rifki, “dia juga
merasa senang dengan aplikasi metode demonstrasi pada pokok bahasan
tertentu, terutama pada materi tentang wudhu, karena sebelum sholat
harus berwudhu/bersuci terlebih dahulu. Maka ia menjadi lebih antusias
mengikuti pelajaran supaya ia bisa mempraktekkannya.”
71

Menurut Kharisma Moneriza bahwa “aplikasi metode demonstrasi
(praktek) sangat bagus, apalagi metode ini membuatnya tidak mengantuk
dan tidak jenuh saat pelajaran berlansung.” Pendapat Risma tersebut
didukung oleh Bintang Tiar Dinastika yang setuju dengan pendapat

70
Wawancara dengan Aprilia Ekaningtyas, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
71
Wawancara dengan Rifky Yandika Pratama, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal
13 Maret 2009


71
Risma
72
. Sedangkan menurut Nadila Verawati bahwa “aplikasi metode
demonstrasi (praktek) sangat membantunya memahami dan mengingat
materi yang telah diajarkan melalui penglamannya secara langsung
dalam menyelesaikan tugasnya
73

Sedangkan menurut Hafidh Permana, “dia senang dengan metode
demonstrasi karena dia lebih paham dan bisa melihat langsung tentang
materi yang diajarkan oleh guru”.
74


Sebagaiman yang dikemukakan oleh April, Rifki, Hafidh,
Kharisma dan Nadila, hal senada juga disampaikan oleh Nizar Mahendra
“menurutnya dengan praktek dapat menghilangkan kejenuhan dan tidak
hanya mendengarkan guru menerangkan saja sehingga kita bisa lebih
paham karena bisa langsung mengamati apa yang telah dicontohkan oleh
bapak ibu guru kemudian langsung diajak praktek. Kalau hanya dengan
ceramah saja kami akan bosan dan kurang paham apalagi materinya
tentang sholat”
75

Menurut Ilmi Setiawan, “dia sangat senang dengan metode
demonstrasi karena dia bisa mempraktekkan materi secara langsung dan
jika dia belum sempurna, maka guru akan memberikan contoh yang

72
Wawancara dengan Kharisma Moneriza dan Bintang Tiar Dinastika , siswi kelas VA
SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret 2009
73
Wawancara dengan Nadila Verawati, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
74
Wawancara dengan Hafidh Permana, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
75
Wawancara dengan Nizar Mahendra, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009


72
benar.”
76

Deni Setiawan juga sependapat dengan Ilmi, Nizar, April, Hafidh,
Risma dan Nadila, “saya senang ketika guru mengajak demonstrasi
(praktek) karena kita tidak hanya belajar di dalam kelas saja tetapi juga
di tempat lain misalnya di musholasehingga kita tidak bosan dan
mengantuk ketika diterangkan oleh bapak ibu guru”.
77

Berbeda dengan Nizar, April, Ilmi, Hafidh, Risma dan Nadila,
maka Ida Bagus Putu Eka justru merasa kurang senang dengan
diterapkannya metode demonstrasi (praktek), alasannya: “dia merasa malu
dan kurang pede ketika disuruh bapak ibu guru praktek di depan teman-
teman saya karena belum bisa sholat. Selain itu orang tuanya juga kurang
memperhatikan keadaan keagamaannya”
78

Sebagaimana diungkapkan oleh Ida Bagus putu Eka, Novita Slara
Rafita juga mengungkan bahwa: dia merasa kurang senang dengan
diterapkannya metode demonstrasi. Karena dia takut ditertawakan oleh
teman-temannya ketika belum bisa praktek (ketika masih salah).”
79


76
Wawancara dengan Ilmi Setiawan, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret
2009
77
Wawancara dengan Deni Setiawan, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret
2009
78
Wawancara dengan Ida Bagus Putu Eka, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
79
Wawancara dengan Novita Slara Rafita, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009


73
Ongki Dewa juga sependapat dengan Ida Bagus dan Novita, “saya
tidak terlalu senang dengan metode demonstrasi karena dia terlalu capek
untuk mengikuti gerakan gurunya ketika mempraktekkan materi”.
80

Sedangkan menurut Agustina Nur Aini, “dia senang dengan
metode demonstrasi karena bisa mencontoh gerakan yang dilakukan oleh
guru maupun temannya.”
81

Selain masalah diatas, peneliti juga menanyakan tentang materi
yang disampaikan oleh bapak ibu guru sebelum melakukan metode
demonstrasi (praktek)
Menurut Agustina Nur Aini, “sebelum melaksanakan metode
demonstrasi guru menjelaskan materi sebelum melakukan metode
demonstrasi dan diselingin dengan mengajukan pertanyaan kepada kami
jika ada yang belum paham”.
82

Hal senada juga diungkapkan oleh Dias Ilmi Friana, “bahwa
bapak ibu guru selalu menjelaskan materi yang akan dibahas
sebelum melakukan metode demonstrasi walaupun hanya sebentar
supaya kita lebih paham terhadap materi yang disampaikan.”
83

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Nur Aini dan
Friana diatas, Rendy Wahyu dan Bagus Dwi juga sependapat

80
Wawancara dengan Ongki Dewa siswa kelas VA SDN 01 Pandean kota Madiun,
tanggal 12 Maret 2009
81
Wawancara dengan Agustina Nur Aini siswi kelas VA SDN 01 Pandean kota Madiun,
tanggal 12 Maret 2009
82
Wawancara dengan Agustina Nur Aini, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
83
Wawancara dengan Dias Ilmi Friana, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009


74
“bahwa bapak ibu guru selalu menjelaskan materi terlebih dahulu
sebelum melaksanakan metode demonstrasi walaupun penjelasannya
hanya sedikit tetapi itu sangat membantu kami dalam memahami
materi yang akan disampaikan dengan metode demonstrasi.”
84

Hal senada juga diungkapkan oleh Ongki Dewa, “bahwa
bapak ibu guru selalu mengulang materi terlebih dahulu dahulu
sebelum kami diajak melaksanakan praktek supaya kita ingat materi
yang telah dipelajari dan kemudian baru kami praktekkan biar tidak
lupa”
85
.
Berbeda dengan Agustina, Dias, Nur Aini, dan Friana maka
Alvin justru mengemukakan“bahwa bapak guru terkadang tidak
menjelaskan materi terlebih dahulu tetapi langsung mengajak
praktek karena waktunya sangat terbatas”.
86

Menurut Kharisma Moneriza, “bahwa bapak ibu guru
menerangkan materi terlebih dahulu sebelum melaksanakan praktek
supaya ketika kami praktek kami lebih paham”.
87

Ongki Dewa juga sependapat dengan Kharisma, “bahwa
bapak ibu guru menerangkan materi terlebih dahulu sebelum
melaksanakan praktek supaya ketika kami praktek kami lebih

84
Wawancara dengan Rendy Wahyu dan Bagus Dwi, siswa kelas VA SDN 01 Pandean
tanggal 13 Maret 2009
85
Wawancara dengan Ongky, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret 2009
86
Wawancara dengan Alvin, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret 2009
87
Wawancara dengan Kharisma Moneriza, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009


75
paham”.
88

Peneliti juga menanyakan kepada siswa mengenai alat
peraga/media yang digunakan oleh bapak ibu guru dalam
melaksanakan metode demonstrasi
Menurut Agustina Nur Aini, “bahwa bapak ibu guru
menggunakan alat peraga dalam melakukan metode demonstrasi
berupa gambar yang ditempel di papan tulis.”
89

Hal senada juga diungkapkan oleh Dias Ilmi Friana dan Nur
Aini, “bahwa bapak ibu guru selalu membawa alat peraga berupa
gambar yang ditempel dipapan tulis dan terkadang memakai VCD
dan diputarkan film tentang cara sholat dan wudhu sebelum
melakukan praktek”.
90

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Dias Ilmi Friana
dan Nur Aini, menurut Rendy Wahyu dan Bagus Dwi, “bahwa
bapak ibu guru membawa alat peraga sesuai materi yang diajarkan
ketika mmperagakn materi yang dibahas di depan kelas.”
91

Berbeda dengan Agustina, Dias, Nur Aini, dan Friana maka
Alvin justru mengemukakan“bahwa bapak ibu guru terkadang tidak
membawa alat peraga ketika menerangkan materi-materi ibadah
tetapi bapak ibu guru langsung memberikan contoh karena

88
Wawancara dengan Ongky, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret 2009
89
Wawancara dengan Agustina Nur Aini, siswi kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
90
Wawancara dengan Dias Ilmi Friana dan Nur Aini , siswi kelas VA SDN 01 Pandean
tanggal 13 Maret 2009
91
Wawancara dengan Rendy Wahyu dan Bagus Dwi, siswi kelas VA SDN 01 Pandean
tanggal 13 Maret 2009


76
waktunya sangat terbatas”.
92

Sedangkan menurut Ongki Dewa, “bahwa bapak ibu guru
memakai alat bantu berupa gambar, VCD dan terkadang dengan
menunjuk salah satu siswa untuk memberikan contoh dengan
dituntun oleh bapak ibu guru”.
93

Peneliti juga menyakan mengenai waktu yang dipakai oleh
bapak ibu guru dalam melaksanakan metode demonstrasi.
Menurut Kharisma Moneriza, “bahwa bapak ibu guru kami
melakukan metode demonstrasi selama 60 menit ketika beliau selesai
memberi sedikit penjelasan tentang materi yang akan diajarkan”.
94

Sedangkan menurut Dias Ilmi Friana, “bahwa bapak ibu guru
kami terkadang dalam melaksanakan praktek selama 30 menit dan 30
menit untuk menunjuk siswa lain untuk mempraktekkan di depan
kelas”.
95

Hal senada juga diungkapkan oleh Agustina Nur Aini,
“bahwa bapak ibu guru kami melakukan metode demonstrasi selama
30 menit dan 30 menit untuk menunjuk siswa lain untuk
mempraktekkan di depan teman-temannya kemudian kalau masih ada
yang kurang benar bapak ibu guru langsung membetulkan”.


92
Wawancara dengan Alvin, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret 2009
93
Wawancara dengan Ongky, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret 2009
94
Wawancara dengan Kharisma Moneriza, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
95
Wawancara dengan Agustina Nur Aini, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009


77
Menurut Ongki Dewa, “bahwa bapak ibu guru kami
melakukan metode demonstrasi selama 60 menit setelah selesai
praktek kemudian baru memberi sedikit penjelasan tentang materi
yang akan dibahas”.
96

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ongki Dewa, Ida
Bagus putu Eka, “bahwa bapak ibu guru kami melakukan metode
demonstrasi selama 60 menit setelah memberikan penjelsan tentang
materi yang akan dijelaskan dengan metode demonstrasi”.
97

Menurut Alvin, “bahwa bapak ibu guru ketika
melaksanakan praktek selama 60 menit sudah termasuk menunjuk
siswa untuk mempraktekkan di depan bapak ibu guru dan teman-
teman dan biasanya kami langsung di ajak ke mushola”.
Menurut Rendy Wahyu dan Bagus Dwi, “bahwa bapak ibu
guru kami melakukan metode demonstrasi selama 60 menit, pertama
kami diajak mengulang materi yang telah disampaikan kemarin
dengan membaca surat-surat pendek, Asma’ul Husna, baru
dilanjutkan dengan bacaan dan gerakan sholat. Kemudian kami
ditunjuk satu persatu untuk mempraktekkan di depan bapak ibu guru
dan teman-teman seteah itu dilanjutkan dengan sholat dhuhur
berjamaah yang dipimpin oleh bapak Adbul Rokhim”.
98


96
Wawancara dengan Ongki Dewa , siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13 Maret
2009
97
Wawancara dengan Ida Bagus putu Eka, siswa kelas VA SDN 01 Pandean tanggal 13
Maret 2009
98
Wawancara dengan Rendy Wahyu dan Bagus Dwi , siswa kelas VA SDN 01 Pandean
tanggal 13 Maret 2009


78
Dari hasil wawancara tersebut peneliti dapat mengetahui
beberapa jenis metode yang digunakan oleh guru Di SDN 01 Pandean
untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam proses belajar mengajar
Pendidikan Agama Islam salah satunya adalah dengan metode
demonstrasi khususnya materi ibadah karena hal itu merupakan hal
yang sangat penting sebagai dasar pembentukan kepribadian anak dan
juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas intelektual peserta didik
baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Sebagaimana
disebutkan dalam hadits Nabi Saw:
· ,,· ,·,,,., ¸ _ ·:. , ,¯ ,' ,,· , _.- .' ¸ ,,,, ,·,·, ¸ , ·
.,=, :· ·_- ,' ·· ,¯-' _´' ¸ ·.,¯_ ¸ ·, ¸· ¸'· ..· ·_,· ¸· _, ¸
·_,· ¸·
“Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat
bila menginjak usia tujuh tahun dan pukullah mereka karena
meninggalkannya karena telah berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah
mereka ditempat tidurnya masing-masing. Apabila seseorang diantara
kalian menikahkan budaknya atau pelayannya, janganlah ia melihat
sesuatu dari auratnya, karena sesungguhnya bagian di bawah pusar
sampai lututnya termasuk auratnya.” (HR. Abu Daud dan dalam kitab
Ahmad 6467)
99


Selain dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, guru
bidang studi, dan siswa, peneliti juga melakukan observasi di kelas VA
pada saat guru mengajak siswanya untuk praktek wudhu dan
dilanjutkan dengan sholat berjamaah di mushola. Sebelum bapak ibu

99
kitab Mawaqitush Shalaf 418


79
guru mengajak praktek langsung, bapak ibu mempersiapkan terlebih
dahulu peralatan dan perlengkapan yang dipakai ketika praktek. Selain
dari bapak ibu guru, siswa juga disuruh untuk membawa perlengkapan
yang akan dipakai pada saat praktek, seperti al-Qur’an, mukena dan
lain sebagainya. Dari hasil pengamatan peneliti, siswa terlihat siswa
lebih aktif mengamati dan tertarik untuk mencobanya sendiri. Sebelum
memulai praktek guru mengulas sedikit materi tentang definisi sholat,
niat, syarat wajib sholat, syarat sah sholat, rukun sholat, bacaan-bacaan
sholat dan gerakan-gerakan sholat. Kemudian guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk bertanya bagi yang belum paham
sebelum guru memberikan contoh. Setelah guru memberikan contoh
kemudian guru menunjuk beberapa siswa secara bergantian untuk
mempraktekkan didepan guru dan teman-temannya, sekaligus guru
langsung mengevaluasi jalannya praktek yang dilakukan oleh
siswanya. Misalnya, bapak Subandi menunjuk salah satu siswa yang
bernama Hafid Permana untuk mengumandangkan adzan dan iqomah
kemudian teman-temannya disuruh ikut mengevaluasi. Selain itu
bapak Abdul Rokhim juga menunjuk siswa secara acak dan bergantian
untuk mempraktekkan sholat mulai dari niat, gerakan sampai bacaan-
bacaannya. Sedangkan teman-teman yang lain mengevaluasi mulai
dari bacaan sampai pada gerakannya. Selanjutnya diteruskan sholat
dhuhur secara berjamaah dan guru menunjuk salah satu siswa untuk
adzan dan iqomah. Dari hasil pengamatan peneliti dan hasil evaluasi


80
dari guru PAI yakni bapak Abdul Rokhim dan Ibu Ali Sugi Mulyati
bahwa siswa lebih paham dan bisa mempraktekkan dengan baik.”
100

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti selama
dilapangan, bahwa pelaksanaan metode demonstrasi sudah berjalan
sangat efektif. Hal itu terlihat dari respon yang diberikan oleh siswa
pada saat peneliti melakukan wawancara dengan beberapa siswa.
Dengan diterapkannya metode demonstrasi dalam pembelajaran PAI di
SDN 01 Pandean, para siswa terlihat sangat antusias dalam mengikuti
dan mempelajari materi yang disampaikan dengan metode
demonstrasi. Mereka lebih semangat dalam belajar agama dan menjadi
lebih paham karena selain siswa bisa langsung mengamati jalannya
proses melaksanakan sesuatu dalam hal ini wudhu, sholat, dan baca al-
Qur’an, mereka juga di ajak terlibat secara langsung untuk
mempraktekkan secara bersama-sama. Metode demonstrasi
mempunyai banyak variasi dalam aplikasi langkah-langkah
penyampaiannya atau proses pembelajaran di kelas, hal ini tergantung
pada kreatifitas guru dalam merencanakan dan membuat media dan
alat-alat penunjang berlangsungnya pembelajaran yang efektif dan
menyenangkan. Adapun langkah-langkah aplikasi metode demonstrasi
adalah sebagai berikut:



100
Observasi di kelas VA, tanggal 13 Maret 2009


81
A. Kegiatan persiapan
1. Merumuskan tujuan pembelajaran
2. Menyusun materi yang akan diajarkan
3. Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang
akan dilakukan
4. Melakukan latihan demonstrasi termasuk mempersiapkan alat-
alat yang dipakai pada saat demonstasi (praktek).
5. Pengaturan tempat duduk disesuaikan materi dalam
pembelajaran
B. Kegiatan pelaksanaan metode demonstrasi
1. Kegiatan pembukaan
a) Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan
juga tugas-tugas yang harus dilakukan oleh siswa
b) Menjelaskan materi sejelas-jelasnya terlebih dahulu
mengenai landasan teori sebelum melaksanakan
demonstrasi
c) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya bagi
yang belum paham.
2. Kegiatan inti pembelajaran
a) Melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan
b) Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang
menegangkan


82
c) Berikan kesempatan pada siswa untuk aktif dan kritis
mengikuti proses demonstrasi.
3. Mengevaluasi
a) Siswa disuruh merangkum pokok-pokok kegiatan
b) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya bagi yang belum
paham sebelum disuruh praktek satu persatu
c) Menyuruh siswa untuk mempraktekkan satu persatu di
depan guru dan teman-temannya dan jika masih ada yang
belum benar, guru langsung membetulkannya
2. Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi PAI Setelah Diterapkan
Metode Demonstrasi di SDN 01 Pandean
Sebagai salah satu alat yang digunakan untuk membantu dan
menunjang Proses Belajar Mengajar, maka dalam penggunaan metode
harus disesuaikan dengan kondisi siswa, kesiapan siswa, dan harus
dipersiapkan secara benar agar tujuan dari proses pembelajaran dapat
tercapai. Menyangkut tentang masalah pemahaman siswa dalam
pembelajaran PAI dengan metode demonstrasi, pada saat yang sama
peneliti juga melakukan wawancara dengan kepala sekolah dan guru
bidang studi.
Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar tergantung
pada guru dan metode yang digunakannya dalam menyampaian materi
pada siswanya. Sebab metode yang tepat dalam penggunaanyya tidak
hanya semata membuat siswa aktif tetapi juga membekas dalam


83
ingatannya atau siswa faham terhadap materi tersebut. Jika metode yang
digunakan tidak relefan dengan materi yang disampaikan, maka
hasilnyapun tidak akan maksimal atau ajuah dari harapan dan tujuan
pendidikan.
Pada dasarnya semua strategi atau metode itu memiliki kelebihan
dan kekurangan sendiri-sendiri. Sebab tidak ada strategi atau metode yang
cocok selamanya untuk semua materi pelajaran ataupun bidang studi.
Karena itu, guru bidang studi harus kreatif pintar dalam memilih dan
menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
Menurut hasil wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim, S. Pdi
dan Ibu Ali Sugi Mulyati, S. Pdi. Yang mengatakan bahwa:
“Respon yang diberikan oleh siswa juga sangat bagus setelah guru
memakai metode demonstrasi. Apalagi sebagai objeknya adalah siswa
sekolah dasar yang belum tumbuh kekuatan akalnya sehingga lebih
mudah menerima apabila mereka diajak terlibat secara langsung atau
mempraktekkan materi yang disampaikan oleh guru. Dengan harapan
setelah selesai anak mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-
hari dan lebih giat dalam melaksanakan sholat lima waktu. Sedangkan
indikasi-indikasi siswa sudah paham adalah pertama siswa sudah
mengerti materi yang disampaiakan, kedua siswa sudah bisa melafalkan
niat dan bacaan-bacaan wudhu, tayamum, al-Qur’an dan sholat dengan
benar serta bisa melaksanakan tata cara wudhu, tayamum, al-Qur’an dan
sholat sesuai urutan dengan baik dan benar. Kemudian guru langsung


84
mengevaluasinya. Meskipun dalam pelaksanaannya terlalu serius tapi
siswa bisa lebih santai dan kelihatan senang dalam menerima materi.
Hasil yang mereka dapatkan juga dapat dikatakan baik.”
101

Beberapa pendapat siswa mengenai pemahamannya terkait setelah
diterapkan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran PAI. Berikut
ini beberapa pendapat siswa tentang pemahaman setelah diterapkannya
metode demonstrasi.
Menurut Kharisma Moneriza dan Aprilia Ekaningtyas, “Ya kami
lebih paham ketika diajak praktek, kalau hanya diterangkan materi terus
akan jenuh dan tidak paham tetapi kalau langsung praktek bisa lebih
detail selain guru langsung memberikan contoh dan guru bisa memakai
gambar tentang tata cara wudhu, tayamum, dan sholat. Setelah itu saya
bisa langsung mempraktekkan dan ketika ada yang salah bisa langsung
dibetulkan. Selain itu kami juga punya pengalaman karena pernah
mengalami sendiri.”
102

Sedangkan menurut Dias Ilmi Friana, “saya lebih senang dan lebih
paham dengan materi yang disampaikan dengan demonstrasi (praktek)
karena gurunya langsung memberi contoh”.
103

Hal senada juga diungkapkan oleh Ongky Dewa, “saya lebih
paham dengan materi yang diajarkan oleh gurunya dengan praktek
karena saya diajak terlibat secara langsung dan sangat menyenangkan

101
Wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim dan Ibu Ali Sugi Mulyati selaku guru PAI
tanggal 14 Maret 2009
102
Wawancara dengan Kharisma Moneriza dan Aprilia Ekaningtyas tanggal 13 Maret
2009
103
Wawancara dengan Dias Ilmi Friana tanggal 13 Maret 2009


85
karena dilakukan bersama-sama dengan teman-teman dan dia akan
mengulanginya lagi di rumah supaya lebih paham”.
104

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ongky, Ilmi, dan
Kharisma, Agustin Nuraini juga menyatakan bahwa, “saya lebih paham
dengan materi yang diajarkan oleh bapak ibu guru dengan praktek dari
pada hanya diterangkan saja karena dia melihat langsung gurunya
mempraktekkan materi yang diajarkan karena kami bisa langsung
mempraktekkan dan ketika masih salah bisa langsung dibetulkan”.
105

Sedangkan menurut Ida Bagus Putu Eka, dia kurang paham
dengan meteri yang diajarkan oleh gurunya karena sewaktu memberi
contoh siswa lainnya sedang gaduh dan saya malu ketika ditunjuk oleh
bapak ibu guru untuk praktek di depan teman-teman. Saya lebih senang
mencatat atau mendengarkan ceramah dari bapak ibu guru dari pada
disuruh praktek”.
106

Berbeda dengan Ida Bagus Putu Eka, menurut Alvin justu, “saya
justru lebih paham ketika diajak praktek langsung karena bapak ibu guru
memberikan contoh terlebih dahulu di depan murid-murid dan saya
pernah mengalami sendiri dan bisa langsung dipraktekkan dirumah”.
107

Peneliti juga menanyakan tentang bukti-bukti pemahaman yang
telah diperoleh siswa terhadap materi yang bapak ibu guru sampaikan
dengan metode demonstrasi (praktek)

104
Wawancara dengan Ongky Dewa tanggal 13 Maret 2009
105
Wawancara dengan Agustin Nuraini tanggal 13 Maret 2009
106
Wawancara dengan Ida Bagus Putu Ekan tanggal 13 Maret 2009
107
Wawancara dengan Alvin tanggal 13 Maret 2009


86
Menurut Kharisma Moneriza dan Aprilia Dyah Ekaningtyas,
“bahwa kami bisa mengulangi materi yang telah diajarkan oleh gurunya
dan sesuai dengan urutannya”.
108

Sedangkan menurut Ongky, “dia menguasai karena ketika dia
ditunjuk maju untuk mempraktekkan di depan bapak ibu guru dan teman-
teman dia bisa melaksanakan dengan lancar dan tidak lupa karena pernah
mengalami sendiri”.
109

Hal senada juga diungkapkan oleh Alvin dan Nizar Mahendra,
“bahwa ketika kami ditunjuk maju untuk mengulang kembali materi yang
telah diajarkan oleh bapak ibu guru, kami bisa lancar mempraktekkannya
dan sudah sesuai dengan urutannya”.
110

Menurut Agustina Nur Aini, “buktinya dia sudah paham tentang
materi yang diajarkan oleh gurunya adalah saya sudah bisa
melaksanakan dengan baik seperti apa yang telah diajarkan oleh bapak
ibu guru dan ketika ditunjuk maju di depan teman-teman saya sudah bisa,
tetapi kalau hanya diterangkan tanpa dipraktekkan kami justru tidak
paham”.
111

Dari hasil wawancara dan observasi, maka peneliti dapat
mengetahui bahwa dengan diaplikasikannya metode demonstrasi di SDN
01 Pandean ternyata siswa lebih semangat dan lebih paham dalam
menerima materi PAI karena mereka diajak mempraktekkan secara

108
Wawancara dengan Kharisma dan Aprilia Dyah Ekaningtyas tanggal 13 Maret 2009
109
Wawancara dengan Ongky tanggal 13 Maret 2009
110
Wawancara dengan Alvin dan Nizar Mahendra tanggal 13 Maret 2009
111
Wawancara dengan Agustin Nur Aini tanggal 13 Maret 2009


87
langsung. Sedangkan indikasi-indikasi bahwa siswa sudah paham terhadap
materi PAI dalam hal ini wudhu, tayamum, sholat, dan al-Qur’an menurut
guru PAI adalah siswa memperhatikan Proses Belajar Mengajar dari awal
sampai akhir, ketika guru menunjuk salah satu siswa untuk
mempraktekkan didepan guru dan teman-temannya sudah benar mulai dari
niat, bacaan sampai pada gerakannya secara berurutan.
3. Faktor-Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Pelaksanaan
Metode Demonstrasi Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di
SDN 01 Pandean kota Madiun
Dalam pelaksanaan metode pada Proses Belajar Mengajar untuk
meningkatkan pemahaman siswa pada bidang studi Pendidikan Agama
Islam juga terdapat faktor pendukung dan penghambat yang juga akan
mempengaruhi proses pembelajaran.
Dari hasil wawancara dengan Ibu Ali Sugi Mulyati, S. Pdi. terdapat
beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan metode
demonstrasi di SDN 01 Pandean kota Madiun, diantaranya adalah:
Faktor Pendukung itu diantaranya, tersedianya media di sekolah,
waktu yang cukup untuk menggunakan media, dan respon siswa terhadap
media yang di gunakan Faktor Penghambat itu diantaranya, siswa yang
datang terlambat, siswa yang kurang memahami isi materi sebelumnya,
dan siswa yang tidak membawa alat sholat".
112


Sedangkan hasil wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim, S. Pdi
ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan
metode demonstrasi di SDN 01 Pandean kota Madiun serta usaha-usaha

112
Wawancara dengan Ibu Ali Sugi Mulyati, S. Pdi pada tanggal 14 Maret 2009


88
yang dilakukan untuk mengatasai faktor penghambat dalam
pelaksanaannya yaitu:
Faktor Pendukung itu dianataranya, tersedianya media di sekolah,
waktu yang tersedia, dan minat siswa terhadap materi yang diajarkan.
Faktor Penghambat itu diantaranya, siswa yang terlambat masuk, suasana
kelas yang ramai, faktor psikologis siswa, keadaan lingkungan sekolah
yang dekat dengan jalan raya". Sedangkan usaha-usaha yang dilakukan
untuk mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan Pendidikan Agama
Islam dengan metode demonstrasi adalah salah satunya dengan
menekankan kepada siswa untuk kedisiplinan dalam pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam terutama dalam pelaksanaan sholat jamaah
sebagai sarana pelatihan dengan memberi absensi setiap melaksanakan
sholat berjamaah dhuhur berjamaah di sekolah.
113

Wawancara juga dilakukan dengan Bapak Subandi selaku guru
PAI SDN 01 Pandean kota Madiun tentang faktor pendukung dan
penghambat dalam penggunaan media pembelajaran, diantaranya:

Faktor pendukung itu diantaranya, kedisiplinan guru datang tepat
waktu, tersedianya media di sekolah, kemampuan guru dalam menguasai
dan menyampaikan materi kepada siswa, faktor penghambat itu
diantaranya , terbatasnya waktu"
114


Dari hasil wawancara peneliti dapat mengetahui dan memahami
bahwa adanya faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan

113
Wawancara dengan Bapak Abdul Rokhim, S. Pdi pada tanggal 14 Maret 2009
114
Wawancara dengan Bapak Subandi, S. Ag selaku guru PAI SDN 01 Pandean kota
Madiun, tanggal 14 Maret 2009


89
metode demonstrasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN
Pandean 01 kota Madiun. Faktor penghambatnya adalah keterbatasan
waktu, kondisi psikologis siswa, dan faktor lingkungan. Sedangkan faktor
pendukung itu diantaranya, kedisiplinan guru datang tepat waktu,
tersedianya media di sekolah, kemampuan guru dalam menguasai dan
menyampaikan materi kepada siswa. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
dengan metode demonstrasi adalah salah satunya dengan menekankan
kepada siswa untuk kedisiplinan dalam pelaksanaan Pendidikan Agama
Islam terutama dalam pelaksanaan sholat jamaah sebagai sarana pelatihan
dengan memberi absensi setiap melaksanakan sholat berjamaah dhuhur
berjamaah di sekolah.



















90
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Setelah peneliti mengumpulkan data dari hasil penelitian, yang
diperoleh dari wawancara (interview), observasi, dan data dokumentasi
maka selanjutnya peneliti akan melakukan analisa data untuk menjelaskan
lebih lanjut hasil dari penelitian. Sesuai dengan teknik analisa data yang
dipilih oleh peneliti yaitu peneliti menggunakan analisis kualitatif
deskriptif (pemaparan) dengan menganalisa data yang telah peneliti
kumpulkan dari hasil wawancara, observasi, dan data dokumentasi selama
peneliti mengadakan penelitian dengan lembaga terkait.
Data yang telah di peroleh dan dipaparkan oleh peneliti akan
dianaliasa oleh peneliti sesuai dengan hasil penelitian yang mengacu pada
beberapa rumusan masalah di atas. Di bawah ini adalah hasil dari analisa
peneliti tentang Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan
Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SDN
01 Pandean Kota Madiun.
A. Aplikasi Pembelajaran PAI Melalui Metode Demonstrasi
Dalam proses belajar mengajar tentunya harus senantiasa
memperhatikan berbagai hal demi meningkatkan mutu dari pendidikan
itu sendiri. Karenanya banyak hal atau cara untuk meningkatkan mutu
pendidikan yang di lakukan oleh lembaga sekolah diantaranya adalah
mengenai metode mengajar. Namun demikian tidak semata-mata
upaya peningkatan mutu pendidikan itu kemudian kurang


91
memperhatikan cara yang harus digunakan agar peserta didik tidak
merasa bosan dan ia cepat dalam menyerap setiap pelajaran yang
diberikan oleh guru
Seorang guru yang profesional akan menuntut adanya suatu
hubungan yang integral antara keselarasan materi dengan metode yang
dipakai disertai penjelasan yang gamblang kepada anak didiknya. Guru
akan mengetahui sejauh mana para anak didik dalam memahami dan
mencerna pelajaran dan sejauh mana bisa mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Metode demonstrasi digunakan guru untuk memperagakan atau
untuk menunjukkan suatu prosedur yang harus dilakukan siswa yang
tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Metode demonstrasi diartikan
sebagai cara penyajian pelajaran dengan dengan memperagakan atau
mempertunjukkan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Adapun
tujuan penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran adalah
mengkongkritkan informasi kepada siswa serta mengembangkan
kemampuan pengamatan, pendengaran serta penglihatan siswa secara
bersama-sama. Metode demonstrasi sifat dan tujuan materi
pembelajaran menuntut siswa untuk melakukan peragaan jadi tepat
digunakan untuk siswa di SD-MI. Kekuatan dari metode demonstrasi
membuat pembelajaran lebih jelas dan lebih konkrit sehingga tidak
terjadi verbalisme, disanping itu siswa lebih aktif mengamati dan
tertarik untuk mencobanya sendiri.


92
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti
dengan kepala sekolah, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam
dan para siswa di SDN 01 Pandean kota Madiun bahwa dalam
pelaksanaan pembelajaran disekolah ketika mengajar materi PAI
yang berkenaan dengan pokok bahasan tertentu, dalam hal ini materi
ibadah misalnya wudhu, tayamum, sholat dan mebaca al-Qur’an
selain disampaikan dengan metode ceramah dan tanya jawab yang
terpenting lagi adalah dengan menggunakan metode demonstrasi.
Karena dengan metode demonstrasi siswa lebih bisa mengerti,
memahami, dan bisa langsung dievaluasi kemudian di aplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa akan lebih terkesan
terhadap materi yang diajarkan sebagai pengalaman belajar.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, dalam pelaksanaannya pada
bidang studi PAI di SDN 01 Pandean kota Madiun terbukti bahwa
pelaksanaan metode demonstrasi sangat berjalan efektif karena siswa
mengalami atau terlibat secara langsung dan aktif dilingkungan
belajarnya. Dari situ peserta didik diberi kesempatan yang luas bagi
siswa untuk mengekspresikan diri akan membangun pemahaman
pengetahuan dengan cara mendengar, melihat, dan melakukan serta
melibatkan lebih banyak indera yang dimilikinya.
Kesesuaian metode yang akan dipakai dengan karakteristik
materi yang akan disampaikan juga dapat memudahkan siswa
memahami isi yang terkandung dari materi yang dipelajari. Maka


93
dari itu, dengan melakukan pemilihan jenis metode yang tepat yang
akan dipakai dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama
Islam sangat membantu tercapainya tujuan dari pembelajaran. Hal ini
dapat diketahui dari hasil yang cukup maksimal dan juga respon
yang diberikan siswa selama kegiatan belajar.
Penerapan demonstrasi sebagai metode yang berdiri sendiri
dalam suatu proses belajar mengajar dapat dijalankan dengan
mengikuti langkah-langkah pelaksanaan sebagai berikut:
C. Kegiatan persiapan
1. Merumuskan tujuan pembelajaran
2. Menyusun materi yang akan diajarkan
3. Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan
dilakukan
4. Melakukan latihan demonstrasi termasuk mempersiapkan alat-alat
yang dipakai pada saat demonstasi (praktek).
5. Pengaturan tempat duduk disesuaikan materi dalam pembelajaran
D. Kegiatan pelaksanaan metode demonstrasi
2. Kegiatan pembukaan
a) Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga
tugas-tugas yang harus dilakukan oleh siswa
b) Menjelaskan materi sejelas-jelasnya terlebih dahulu mengenai
landasan teori sebelum melaksanakan demonstrasi
c) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya bagi yang
belum paham.


94
2. Kegiatan inti pembelajaran
a) Melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan
b) Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang
menegangkan
c) Berikan kesempatan pada siswa untuk aktif dan kritis
mengikuti proses demonstrasi.
4. Mengevaluasi
d) Siswa disuruh merangkum pokok-pokok kegiatan
e) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya bagi yang belum
paham sebelum disuruh praktek satu persatu
f) Menyuruh siswa untuk mempraktekkan satu persatu di depan
guru dan teman-temannya dan jika masih ada yang belum
benar, guru langsung membetulkannya
Secara umum demonstrasi dalam proses pembelajaran
dimaksudkan untuk meningkatkan keefektifan tercapainya
tujuan pengajaran. Demonstrasi dapat disajikan di awal
pelajaran, dengan tujuan untuk menyajikan fenomena,
menggali pengetahuan awal siswa, dan memberi pemahaman
bagi siswa. Maka dari itu, guru perlu menguasai kecakapan dan
keterampilan berdemonstrasi.





95

B. Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam
Melalui Metode Demonstrasi di SDN Pandean kota Madiun
Metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar sangat
mutlak digunakan terutama pada materi ibadah ibadah seperti sholat,
wudhu, tayamum, haji dan akhlak. Karena melaui metode demonstrasi
siswa diajak terlibat secara langsung (mengalami secara lansung)
sehingga akan menambah pengalaman anak (siswa). Selain itu dalam
proses belajar mengajar, seorang guru tidak cukup hanya
mengandalkan transformasi ilmu pengetahuan semata tanpa
disesuaikan dengan kurikulum dan karakteristik peserta didik. Apalagi
dalam penelitian ini peneliti mengambil objek siswa sekolah dasar
yang belum matang baik dari aspek pola pikirnya maupun secara
jasmani. Oleh karena itu untuk menumbuhkan semangat siswa dalam
menuntut ilmu atau belajar diperlukan suatu metode yang dapat
merangsang kejiwaannya. Namun demikian metode tersebut cocok
untuk anak-anak yang belum berfungsi atau belum tumbuh kekuatan
akalnya atau berfikirnya, sehingga perlu dipelajari dengan cara
menghafal dan latihan atau demonstrasi.
Dengan di terapkannya metode demonstrasi ini di harapkan agar
pemahaman siswa dapat meningkat dan di ikuti dengn meningkatnya
mutu pendidikan itu sendiri.



96
Indikasi tingkat kepahaman siswa dalam proses pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dengan metode demonstrasi dapat diukur
dengan:
a. Kecermatan
b. Ketepatan
c. Kesesuaian dengan prosedur
d. Kualitas hasil akhir
Seorang guru yang profesional akan menuntut adanya suatu
hubungan yang integral antara keselarasan materi dengan metode
yang dipakai disertai penjelasan yang gamblang kepada anak
didiknya. Guru akan mengetahui sejauh mana para anak didik
dalam memahami dan mencerna pelajaran dan sejauh mana bisa
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti
selama dilapangan maka diperoleh gambaran bahwa terjadi
peningkatan pemahaman siswa terhadap bidang studi PAI di SDN
01 Pandean Kota Madiun, yang ditandai dengan kemampuan siswa
untuk mencerna secara cermat dan tepat, memahami dan
melaksanakan, materi ibadah yang telah disampaikan oleh bapak
ibu guru dengan metode demonstrasi. Sedangkan indikasi-indikasi
siswa sudah paham sebagaimana yang telah diungkapkan oleh
bapak ibu guru PAI di SDN 01 Pandean kota Madiun adalah:


97
c. Siswa bisa menangkap materi yang telah disampaikan oleh bapak
ibu guru
d. Siswa sudah bisa melafalkan niat, bacaan-bacaan, bisa melafalkan
dengan benar serta bisa melaksanakan atau mempraktekkan tata
caranya dengan baik dan benar sesuai urutan.
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Pelaksanaan Metode
Demonstrasi Pada Bidang Studi PAI di SDN 01 Pandean Kota
Madiun
Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran
yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat
digunakan bersamasama dengan metode lain dalam suatu kombinasi
multi metode.
Sebagai alat yang dirancang khusus untuk memperlancar
kegiatan belajar mengajar dalam penggunaanya pelaksanaan suatu
metode juga dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung dan
penghambat. faktor-faktor itu berasal dari semua aspek.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, beberapa faktor
pendukung dan penghambat itu diantaranya;
a. Faktor Pendukung
1. Tersedianya media di sekolah
Dengan ketersediaan media di sekolah maka sangat
memungkinkan bagi guru untuk menyajikan materi kepada
siswa dengan menggunakan atau memanfaatkan media yang
ada.


98

2. Minat dan respon siswa
Timbulnya minat dan respon yang ditunjukan siswa adalah
tujuan dari penggunaan media, oleh karena itu minat dan
respon yang diberiakn siswa dapat mengukur tepat tidaknya
media yang digunakan pada saat kegiatan belajar mengajar.
3. Kemampuan guru dalam menguasai materi yang akan di
demonstrasikan
Keterampilan dan kemampuan guru dalam menyampaikan
materi dengan metode demonstrasi juga mempengaruhi
proses pembelajaran. Selain menyajikan, guru dituntut untuk
bisa menjelaskan dan memberikan contoh secara konkrit
terhadap apa yang di demonstasikannya agar nantinya siswa
dapat memperoleh pengalaman konkrit dan bisa
mengaplikasikan dalam kehidupannya.
b. Faktor Penghambat
Selain faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam
penggunaan media pembelajaran,diantaranya;
1. Siswa yang terlambat
Kedisiplinan siswa pada saat kegiatan belajar mengajar akan
mempengaruhi kelancaran dalam penyampaian materi. Dengan
adanya siswa yang terlambat maka akan mengganggu
konsentrasi siswa lain dan hal ini akan menghambat jalanya
kegiatan belajar mengajar dan akan memungkinkan terjadi
pengulangan dalam penyampaian materi.


99
2. Suasana kelas yang ramai
Sebelum pelajaran dimulai adalah tugas guru untuk
mengkondisikan siswa terlebih dahulu. Dalam pelaksanaan
metode demonstrasi pada suasana kelas yang ramai tidak akan
mencapai hasil yang cukup maksimal. Karena konsentrasi
siswa sudah tidak terfokus pada materi yang disampikan.
3. Keterbatasan waktu
Adanya keterbatasan waktu juga sangat menghambat dalam
proses belajar mengajar, terutama dalam penyampaian materi
dengan menggunakan metode demonstrasi. Karena materinya
sangat banyak sedangkan waktunya sanagt terbatas.
Faktor yang menjadi penghambat dalam dunia pendidikan
antara lain:
1. Faktor dari dalam
Faktor dari dalam menyangkut kemampuan intelektual
siswa, faktor afeksi seperti: kurangnya minat, motivasi, atau
belum matangnya untuk belajar.
2. Faktor dari luar
Faktor dari luar meliputi semua kondisi belajar mengajar,
seperti keadaan guru, kualitas KBM, serta lingkungan
seperti teman sekelas, keluarga dan lain-lain.
Jadi berdasarkan kedua hal tersebut diatas maka
dapat disimpulkan bahwa hambatan-hambatan dalam usaha


100
meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran antara
lain:
a. Rendahnya kemampuan intelektual siswa
b. Gangguan-gangguan perasaan seperti perasaan malu,
cemas, kurang motivasi, dll.
c. Faktor lingkungan yang kurang mendukung
d. Kebiasaan belajar yang kurang baik
e. Kemampuan mengingat yang lemah
f. Sarana prasarana yang kurang memadai
Sedangkan cara untuk mengatasi hambatan
dalam pelaksanaan metode demonstrasi pada
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 01
Pandean kota Madiun adalah:
1. Membuat peraturan-peraturan yang mewajibkan
siswa melaaksanakan perintah-perintah agama
2. Memberi motivasi kepada siswa dan memberi
bimbingan dalam melaksanakan pembelajaran PAI
3. Melengkapi sarana prasarana sebagai penunjang
PBM
4. Memberikan evaluasi dan mengawasi kegiatan
siswa selama disekolah dan dirumah.
5. Menambah jam pelajaran agama yang mulanya
hanya dua jam pelajaran menjadi tiga jam pelajaran.

101
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan yang diperoleh dari
observasi, wawancara, dan data dokumentasi maka dapat disimpulkan
sebagai berikut;
4. Aplikasi metode demonstrasi pada bidang studi PAI di SDN 01
Pandean kota Madiun berjalan sangat efektif karena siswa diajak
mengalami atau terlibat secara langsung dan aktif dilingkungan
belajarnya. Dari situ peserta didik diberi kesempatan yang luas bagi
siswa untuk mengekspresikan diri akan membangun pemahaman
pengetahuan dengan cara mendengar, melihat, dan melakukan serta
melibatkan lebih banyak indera yang dimilikinya. Adapun langkah
dalam aplikasi metode demonstrasi adalah sebagai berikut:
a. Menyebutkan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga
tugas-tugas yang harus dilakukan oleh siswa
b. Menjelaskan materi sejelas-jelasnya terlebih dahulu mengenai
landasan teori sebelum melaksanakan demonstrasi
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya bagi yang
belum paham.
d. Menyuruh siswa untuk mempraktekkan satu persatu di depan guru
dan teman-temannya dan jika masih ada yang belum benar, guru
langsung membetulkannya


102
e. Guru juga dapat membentuk atau membagi siswa menjadi
beberapa kelompok agar dapat dibandingkan dengan kelompok
yang telah dibentuk oleh guru tadi sehingga memudahkan dalam
penilaian setelah diterapkan metode demonstrasi.
5. Pemahaman siswa pada bidang Studi Pendidikan Agama Islam setelah
diterapkannya metode demonstrasi di SDN Pandean kota Madiun
adalah sangat baik dan sangat meningkat. yang ditandai dengan
kemampuan siswa untuk mencerna secara cermat dan tepat dalam
memahami dan melaksanakan materi ibadah yang disampaikan oleh
bapak ibu guru. Indikasi tingkat kepahaman siswa dalam proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan metode demonstrasi
dapat diukur dengan:
a. Siswa bisa menangkap materi yang telah disampaikan oleh bapak
ibu guru
b. Siswa sudah bisa melafalkan niat, bacaan-bacaan, bisa melafalkan
dengan benar serta bisa melaksanakan atau mempraktekkan tata
caranya dengan baik dan benar sesuai urutan.
6. Faktor-faktor pendukung dan penghambat penggunaan media
pembelajaran oleh guru untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam
proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor itu bisa berasal dari siswa, guru, maupun yang
lain. Faktor pendukung; Sedangkan faktor pendukung itu diantaranya,
kedisiplinan guru datang tepat waktu, tersedianya media di sekolah,


103
kemampuan guru dalam menguasai dan menyampaikan materi kepada
siswa. Sedangkan untuk faktor penghambat; keterbatasan sarana
prasarana, keterbatasan waktu, kondisi psikologis siswa, dan faktor
lingkungan
B. Saran
1. Bagi Kepala Sekolah
Sehubungan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan,
hendaknya kepala sekolah mengirim bapak ibu guru khususnya guru
PAI untuk mengikuti seminar atau pun pelatihan-pelatihan serta
senantiasa membuat inovasi-inovasi dalam Proses Belajar Mengajar.
2. Bagi Siswa
Hendaknya siswa lebih meningkatkan kedisiplinan pada saat proses
belajar mengajar belum dimulai, memperhatikan penjelasan bapak ibu
guru pada waktu mengikuti pelajaran agar natinya prses belajar belajar
mengajar dapat berjalan dengan lancar dan bisa memahami apa yang
disampaikan oleh bapak ibu guru.
3. Bagi Guru
Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan Proses
Belajar Mengajar khususnya pada pemilihan metode pembelajaran
pada bidang studi PAI agar siswa tidak jenuh dalam mengikuti
pelajaran tersebut sehingga bisa lebih mudah dalam memahami materi
yang disampaikan.



104
4. Bagi Peneti Selanjutnya
Dalam melakukan penelitian yang sejenis, hendaknya lebih difokuskan
pada bagaimana mengaktualisasi nilai-nilai pendidikan Agama Islam
di sekolah atau madrasah






































105
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya, 2004, Jakarta, DEPAG RI
Ahmadi, Abu, 1986, Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA),
Bandung, CV. Armico.

Arifin, M. 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Arikunto, Suharsini, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Cholil, Uman, 1995, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya, Duta
Aksara
Darajat, Zakiah, 2001, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta:
PT. Bumi Aksara.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 1998, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Balai Pustaka.

Dzinni’am, Nasrulloh, 1999, Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Hadi, Sutrisno, 1997, Method Research II, Yogyakarta: Gajah Mada Press
Irhamshohiby, www.One.Indoskripsi.com, 2008.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Terbaru, 2005, Gita Media Press
Majid, Abdul dan Dian Andayani, 2004, Pendidikan Agama Islam
Berbasis Kompetensi, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Moleong, Lexy,2006, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT.
Remadja Rosdakarya

Muhaimin, 2004, Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan
Pendidikan Agama di Sekolah, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.

Muhaimin, Sutiah, Sugeng Listyo Prabowo, 2008, Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada sekolah&Madrasah, Jakarta:
PT. Rajagrafindo Persada

Nazir,2003, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia.


106


Pasaribu, IL. Dkk, Didaktik dan Metodik, Bandung, CV. Rajawali

Diknas, Pedoman Pelaksanaan PAI di Sekolah Dasar, 2005

Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, 1994, Kamus Ilmiah Populer,
Surabaya: Arkola

Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN, 1985, Metodik
Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Depag RI.

Ramayulis, 1990, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Kalam
Mulia.
Robert Bodgan dan Steven J Taylor, 1992, Introduction to Qualitative
Research, Terjemahan Arif Furqon, Surabaya: Usaha Nasional.

Roestiyah, 1982, Didaktik/Metodik, Jakarta, Bina Aksara
Sudjana, Nana, 2004, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung,
Sinar Baru Al Gesindo

Syah, Muhibbin, 2000, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,
Bandung, Remaja Rosda Karya.

Yusuf, Maftuhah dkk, 1980, Metodologi Da’wah Kepada Anak-anak,
Malang: Proyek Penerangan Bimbingan dan Da’wah Agama Islam Pusat Depag.

Zuhairini dan Abdul Ghofir, 2004, Metodologi Pembelajaran PAI,
Malang: UM Press.

Sholeh, Abdul Rohman, 2005, Pendidikan Agama dan Pembangunan
Watak Bangsa, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

www. Indoskripsi. Com
www. citraedukasi. com. 16 November 2006
www. Sutrisno Muslimin.Blogspot. Com,. 23 Maret 2009
Yasin, A. Fatah, 2008, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, Malang: UIN-
Malang Pess.



PEDOMAN INTERVIEW
Responden : Guru PAI
Sekolah :SDN 01 Pandean Kota Madiun
1. Apa usaha-usaha yang bapak ibu lakukan dalam meningkatkan pemahaman
siswa dalam pembelajaran PAI?
2. Apa tujuan bapak/ibu menggunakan metode demonstrasi dalam pembelajaran
PAI?
3. Pokok bahasan PAI apa sajakah yang bapai/ibu sampaikan dengan metode
demonstrasi?
4. Media/alat bantu apa sajakah yang bapak/ibu gunakan dalam melaksanakan
metode demonstrasi?
5. Langkah-langkah apa saja yang bapak/ibu persiapkan dalam melaksanakan
metode demonstrasi?
6. Faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan dan penghambat dalam
melaksanakan metode demonstrasi?
7. Apakah dalam melaksanakan metode demonstrasi disesuaikan dengan materi
pelajaran, kondisi kelas, kesiapan siswa? Mengapa?
8. Apakah dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa?
Alasannya?
9. Apakah setelah melakukan metode demonstrasi bapak/ibu selalu mengadakah
evaluasi? Mengapa?
10. Dalam bentuk apa evaluasi yang bapak/ibu berikan?









PEDOMAN INTERVIEW
Responden : Siswa
Sekolah :SDN Pandean 1 Kota Madiun
A. Pertanyaan mengenai pelaksanaan metode demonstrasi dalam pembelajaran
PAI di SDN Pandean 1 kota Madiun
1. Apakah kalian senang ketika bapak ibu guru mengajak kalian praktek?
Alasannya?
2. Apakah guru menjelaskan materi terlebih dahulu sebelum melaksanakan
demonstrasi?
3. Berapa lama waktu yang dipakai oleh bapak ibu guru ketika melaksanakan
demonstrasi?
4. Apakah bapak ibu guru kalian memakai alat bantu ketika melaksanakan
demonstrasi?
B. Pertanyaan tentang pemahaman siswa setelah menggunakan metode
demonstrasi
1. Apakah setelah diajak praktek anak-anak sudah paham materi ibadah
misalnya wudhu, tayamum, membaca al-Qur’an dan sholat?
2. Apa buktinya bahwa kalian sudah paham terhadap materi yang bapak ibu
guru sampaikan dengan metode demonstrasi?
3. Apakah bapak ibu guru selalu melakukan evaluasi setelah melaksanakan
metode demonstrasi?
4. Dalam bentuk apa evaluasi yang diberikan oleh bapak ibu guru setelah
melaksanakan metode demonstrasi?


LAMPIRAN I
STRUKTUR ORGANISASI SDN 01 PANDEAN KOTA
MADIUN
TAHUN PELAJARAN 2008-2009






































DIKNAS

KOMITE
SEKOLAH
KEPALA

Subandi, S.Ag
WAKASEK

Drs. Mudjiana Efendi
TU

Dyah Eni
Riyanti, S.pd
SARANA/PRA
SARANA

Sukirno, S.pd
KURIKULUM

Sugiono, S.pd
KESISWAAN

Pamudji, S.pd
HUMAS

Wahutomo, S.pd

GURU

WALI KELAS
SISWA



PEMERINTAH KOTA MADIUN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SEKOLAH DASAR NEGERI 01 PANDEAN
JL. Cokroaminoto No. 2 Tlp. (0351) 469211
KECAMATAN TAMAN

63133

SURAT KETERANGAN
Nomor: 422/532/401.104.03.04/2009

Yang bertanda tangan di bawah ini kami Kepala Sekolah SDN 01 Pandean
Kecamatan Taman Kota Madiun:

Nama : Subandi, S.Ag
NIP : 130 622 553
Pangkat, Golongan, ruang : Pembina Tk.I, IV/B
Jabatan : Kepala Sekolah
Unit Kerja : SDN 01 Pandean

Dengan ini menerangkan bahwa saudara yang tersebut di bawah ini:

Nama : Eka Yuliana Rahmawati
NIM : 05110099
Status : Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang

Telah melakukan penelitian tentang Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam
Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Bidang Studi PAI di SDN 01
Pandean Kecamatan Taman Kota Madiun sejak bulan Februari sampai
dengan Maret 2009 sebagai bahan untuk menyelesaikan skripsinya.

Atas terlaksananya kegiatan penelitian ini kami selaku Kepala sekolah
menyampaikan terima kasih kepada Rektor UIN Malang.

Demikian surat keterangan ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana
mestinya.

Madiun, 31 Maret 2009
Kepala SDN 01 Pandean


SUBANDI, S.Ag
NIP. 130 622 553


DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Gajayana 50 Malang Telp (0341) 551354 Fax (0341) 572533


Nomor : Un. 3. 1/TL. 00/105/2009 09 Februari 2009
Lampiran : I (satu) berkas
Perihal : PENELITIAN

Kepada
Yth. Kepala SDN 01 Pandean Kota Madiun
di
Madiun

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswi
tersebut di bawah ini :
Nama : Eka Yuliana Rahmawati
NIM : 05110099
Jurusan/fakultas : Pendidikan Agama Islam/Tarbiyah
Semester/Tahun Ak : VIII/2009
Judul Skripsi :Aplikasi Metode Demonstrasi dalam
Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada
Bidang Studi PAI di SDN 01 Pandean
kota Madiun

dalam rangka menyelesikan tugas akhir studi/menyusun skripsinya,
yang bersangkutan diberikan izin/kesempatan untuk mengadakan
penelitian dilembaga/instansi/ yang menjadi wewenang Bapak/Ibu.
Demikian atas perkenaan dan kerja samanya disampaikan
terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dekan,


Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031




BIODATA MAHASISWA



Nama : Eka Yuliana Rahmawati
NIM : 05110099
Tempat Tanggal
Lahir
: Madiun, 17 Juli 1986
Fak./Jur./Prog. Studi : Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam/Program
Studi Pendidikan Agama Islam
Tahun Masuk : 2005/2006
Alamat Rumah : Ds. Banjarsari Kulon, RT: 06
Kec.Dagangan
Kabupaten Madiun
No. Tlp : 08125952229


Malang, April 2009
Mahasiswa

(Eka Yuliana Rahmawati)

























Gambar 1.3
Guru Menunjuk salah satu siswa untuk mempraktekkan sholat di
depan guru dan teman-temannya

















Gambar 1.4
Suasana ketika seluruh siswa mempraktekkan sholat berjamaah
dipimpin oleh bapak rokhim dan ibu Ali mengevaluasi

























Gambar 1.5
Suasana siswa ketika Bapak Abdul Rokhim menyampaikan
materi sebelum siswa di ajak praktek
















Gambar 1.6
Peneliti bersama Guru PAI Ibu Ali Sugi Mulyati dan perwakilan
dari beberapa siswa SDN 01 Pandean setelah melakukan penelitian












DAFTAR GAMBAR















Gambar 1.1
Suasana ketika siswi kelas VA di ajak praktek wudhu secara
bergantian di depan guru dan teman-temannya














Gambar 1.2
Suasana ketika siswa kelas VA di ajak praktek wudhu secara
bergantian di depan guru dan teman-temannya








You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->