P. 1
PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG

PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG

|Views: 381|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 28, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG

SKRIPSI

Oleh: Wahyu Nafilatul Azizah (05110130)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2009

PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG
SKRIPSI Diajukan kepada: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pdi) Program Strata Satu (S1)

Oleh: Wahyu Nafilatul Azizah (05110130)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2009

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG

SKRIPSI

Oleh: Wahyu Nafilatul Azizah (05110130)

Telah Disetujui Tanggal: 28 Mei 2009

Dosen Pembimbing,

Muhammad Walid, MA NIP. 150310896

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 150 267 235

iii

HALAMAN PENGESAHAN PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG SKRIPSI dipersiapkan dan disusun oleh Wahyu Nafilatul Azizah (05110130) telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 04 Agustus 2009 dengan nilai A dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada tanggal 12 Agustus 2009

Panitia Ujian

Tanda Tangan

Ketua Sidang
Muhammad Walid, MA NIP. 150 310 896 :

Sekretaris Sidang
Drs. Moh. Padil, M.Pdi NIP. 150 267 235 Pembimbing Muhammad Walid, MA NIP. 150 310 896 :

:

Penguji Utama
Drs. Moh. Padil, M.Pdi NIP. 150 267 235 :

Mengesahkan Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dr. M. Zainuddin, MA. NIP 150 275 502

iv

HALAMAN MOTTO

tûïÏe$!$# ãNä3s9 4’s"sÜô¹$# ©!$# ¨bÎ) ¢ÓÍ_t6»tƒ Ü>qà)÷ètƒur Ïm‹Ï^t/ ÞO¿Ïdºt•ö/Î) !$pkÍ5 4Óœ»urur
ÇÊÌËÈ tbqßJÎ=ó¡•B

OçFRr&ur žwÎ) £`è?qßJs? Ÿxsù

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. Al-Baqarah: 132)1

1

Alqur’an dan terjemahnya (Bandung: CV. Penerbit Jumaratul Ali-Art, 2005), hlm. 21

v

HALAMAN PERSEMBAHAN Ketenangan hati, ketentraman jiwa, pikiran jernih semua kudapat dengan mendekatkan diri kepada MU Teriring Doa dan diriku penuh harap kepada MU ya Rabb……. Yang selalu mengiringi dalam setiap langkahku Atas nama cinta yang tulus kupersembahkan karya ilmiah ini teruntuk: Sepasang mutiara hati dan pelita hidupku Abah H.Hidayatullah & Ibu Hj.Khususyiah Yang selalu memancarkan sinar kasih dan sayangnya dari buaian hingga mengerti akan arti sebuah ilmu dengan belaian sesejuk embun dan doa suci di malam hari Dan dalam tiap jengkal waktu yang kalian hayati terdapat begitu banyak makna kehidupan yang terpadu pada garis-garis keihlasan yang tulus untukku Alam raya kan tersenyum seiring dengan hembusan nafasku yang turut mengikuti ceriaku hingga pelangi turut mewarnai bias-bias doa yang tak kunjung padam untuk kalian

vi

Muhammad Walid, MA Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Wahyu Nafilatul Azizah Lamp. : 6 (Enam) Eksemplar Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di Malang Assalamu'alaikum Wr. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama NIM Jurusan Judul Skripsi : Wahyu Nafilatul Azizah : 05110130 : Pendidikan Agama Islam : Penanaman Nilai Agama Pada Anak di Taman Kanak-Kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang Malang, 28 Mei 2009

maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembimbing,

Muhammad Walid, MA NIP. 150 310 896

vii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Penanaman Nilai Agama Pada Anak di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU (Nahdlatul Ulama) 31 Sumbersari Malang” sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Strata Satu Pendidikan Islam (S.Pdi) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang . Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda Rosululloh SAW, begitu juga kepada keluarga dan para sahabat beliau. Skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar tidak terlepas dari peran serta dan dukungan aktif dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Ayah dan Ibu tercinta, yang selalu senantiasa mendo’akan dan mencurahkan kasih sayangnya serta tak henti-hentinya memberikan dukungan berupa moril, materiil maupun spirituilnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. 2. Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 3. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 4. Bapak Drs. Moh. Padil, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 5. Bapak Muhammad Walid, MA selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikiran serta berkenan memberikan arahan dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Ibu Dra. Ruliati, selaku Kepala TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang yang telah mengizinkan peneliti untuk mengadakan penelitian di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang tersebut. 7. Dewan Guru TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang yang telah membantu dalam perolehan data untuk menyusun laporan skripsi ini.

viii

8. Semua pihak yang telah membantu penulis yang telah banyak memberikan dorongan dan semangat selama penulis mengikuti studi hingga terselesaikannya skripsi ini. Penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih masih jauh dari kesempurnaan dan semua itu tidak lain karena kemampuan dan pengetahuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat digunakan sebagai bahan kajian bagi penelitian lain yang serupa. Amin. Malang, 28 Mei 2009

Penulis

ix

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang, 29 April 2009

Wahyu Nafilatul Azizah

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................i HALAMAN PENGAJUAN ...........................................................................ii HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................iii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................iv NOTA DINAS PEMBIMBING ....................................................................v SURAT PERNYATAAN ...............................................................................vi HALAMAN MOTTO ....................................................................................vii HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................viii KATA PENGANTAR ...................................................................................ix DAFTAR ISI ..................................................................................................xi DAFTAR TABEL ..........................................................................................xii ABSTRAK ......................................................................................................vii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah ...............................................................1 B. Rumusan masalah .........................................................................4 C. Tujuan dan manfaat penelitian .....................................................5 D. Definisi Operasional ....................................................................6 BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Nilai Agama ................................................................................9 1. Pengertian Nilai Agama ……… .......................................... 9 2. Penanaman Nilai Agama ......................................................13 3. Metode Penanaman Nilai Agama.........................................17

xi

1. Metode Bermain ..............................................................21 2. Metode Pembiasaan .........................................................23 3. Metode Cerita ...................................................................24 4. Metode Karya Wisata ......................................................28 5. Metode Keteladanan.........................................................30 6. Metode Demonstrasi.........................................................32 7. Metode Tanya Jawab........................................................35 B. PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK............................36 1. Pengertian Taman Kanak-kanak...........................................36 2. Dasar dan Tujuan Taman Kanak-kanak ...............................42 3. Kurikulum Taman Kanak-kanak ..........................................48 BAB III : METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. Pendekatn dan Jenis Penelitian.................................................50 Kehadiran Peneliti ....................................................................51 Lokasi Penelitian ......................................................................51 Sumber Data ............................................................................52 Metode Pengumpulan Data ......................................................54 1. Metode Observasi .................................................................54 2. Metode Wawancara ..............................................................55 3. Metode Dokumentasi............................................................57 F. G. H. Analisis Data ............................................................................58 Pengecekan keabsahan Data .....................................................60 Tahap-Tahap Penelitian............................................................60

BAB IV : HASIL PENELITIAN

xii

A. LATAR BELAKANG OBYEK ..............................................63 1. Sejarah Berdirinya Taman Kanak-kanak Muslimat NU 31 Sumbersari Malang..................................................................................64 2. Visi Misi dan Tujuan Taman Kanak-kanak Muslimat NU 31 Sumbersari Malang...............................................................65 3. Lokasi Taman Kanak-kanak Muslimat NU 31 Sumbersari Malang ..............................................................................................65 4. Struktur Organisasi ..............................................................66 5. Keadaan Guru (Pendidik) .....................................................67 6. Keadaan Siswa (Anak Didik) ..............................................69 7. Keadaan Sarana dan Prasarana ............................................70 B. PAPARAN DATA.....................................................................71 1. Materi Yang Diajarkan Dalam menankan Nilai Agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang ..............................................................72 2. Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama Pada Anak di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang....................................................74 1. Metode Pembiasaan .........................................................74 2. Metode Keteladanan.........................................................75 3. Metode Demonstrasi.........................................................76 4. Metode Tanya Jawab .......................................................76 5. Metode Bermain ...............................................................77 6. Metode Cerita ...................................................................78 7. Metode Sosiodrama ..........................................................79 BAB V: PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

xiii

A. ........................................................................................... Materi yang Diajarkan Dalam Menanamkan Nilai Agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang.....................................................................81 B. ........................................................................................... Metode Penanaman Nilai-nilai Agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang ....................................................................................................88 1. Metode Pembiasaan ...................................................................90 2. Metode Keteladanan ...................................................................91 3. Metode Demonstrasi...................................................................92 4. Metode Tanya Jawab .................................................................93 5. Metode Bermain .........................................................................94 6. Metode Cerita .............................................................................95 7. Metode Sosiodrama ....................................................................96 BAB VI: PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................................98 B. Saran ............................................................................................................99 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

xiv

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR I

: STRUKTUR WEWENANG PENGURUS TK MUSLIMAT NU 31 SUMBERSARI MALANG

xv

DAFTAR TABEL

TABEL I TABEL II

: DATA GURU/KARYAWAN : DATA JUMLAH SISWA TK (A dan B)

xvi

ABSTRAK Azizah, Nafilatul, Wahyu, Penanaman Nilai Agama Pada Anak di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Muhammad Walid, MA. Kata Kunci: Penanaman, Nilai Keagamaan, Anak TK Pendidikan sangat penting bagi manusia, karena manusia menjadi manusia hanya lewat pendidikan yang akan membentuk manusia di masa depan karena pendidikan tidak hanya ditempuh ketika dewasa saja melainkan ketika anak masih dalam kandungan. Pendidikan anak merupakan modal terbesar yang dimiliki bangsa untuk mewujudkan cita-cita bangsa kelak. Berhasil atau tidaknya langkah yang sudah rintis sangat bergantung pada generasi selanjutnya. Pentingnya pendidikan pada anak usia dini ditanamkan agar anak ketika besar dapat mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam. Anak usia 4-6 tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentangan usia lahir sampai 6 tahun, pada usia ini secara terminologi disebut sebagai anak pra sekolah, tidak hanya ilmu umum saja yang penting bagi anak usia prasekolah, tetapi agama juga penting bagi mereka. Tingkat keberagamaan anak harus dilalui secara bertahap. Peran orang tua dalam menanamkan rasa kesadaran keberagamaan bisa dilakukan semenjak anak dalam kandungan kemudian dilanjutkan pada lingkungan keluarga. Rasa keberagamaan bisa dilakukan dengan memberikan contoh perilaku yang baik. Seorang anak jika pada masa kecil sudah dibiasakan untuk menanamkan akhlak yang dapat menanamkan perilaku baik pada dirinya, diharapkan nantinya akan menjadi manusia yang beragama. Pemberian materi pada anak TK tidak harus selalu diberikan materi saja, tetapi dengan menggunakan berbagai metode yang dapat mendukung tercapainya program penanaman nilai agama diharapkan anak TK akan lebih cepat tertanam dalam hatinya jiwa keagamaan. Anak usia prasekolah di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang sudah terbiasa menghafal doa sehari-hari, membaca dengan fasih pembelajaran iqra’, dan menghafal surat-surat pendek dalam alquran serta di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai dalam proses pembelajaran yang menjadikan TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang banyak meraih prestasi bidang akademik dan berhasil mendapatkan akreditasi A dari pemerintah. Taman kanak-kanak adalah salah satu lembaga pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Masalah pokok yang ditulis dalam skripsi ini adalah: 1) apa saja materi yang diajarkan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang?, 2) bagaimana metode penanaman nilai-nilai keagamaan di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang ?. Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, dokumentasi dan interview kepada kepala sekolah dan guru di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang, sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan Triangulasi jenis sumber. Maka dapat diketahui bahwa: 1) materi yang

xvii

diajarkan di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang mengenai keimanan, ibadah, dan Akhlak. 2) dalam menanamkan nilai agama pada anak usia dini, guru di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang telah terprogram dalam program pembentukan perilaku melalui metode pembiasaan, demonstrasi, keteladanan, sosiodrama, cerita, bermain, Tanya jawab. Dalam proses pengajaran tidak ada jadwal khusus untuk bidang keagamaan tetapi tema tentang keimanan, ibadah, akhlak dan materi yang diajarkan selalu dikaitkan dengan agama Islam.

xviii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antar keluarga, sekolah, dan masyarakat, bahkan menjadi tanggungjawab seluruh bangsa Indonesia. Karena dengan pendidikan seseorang itu akan mempunyai pengetahuan pendidikan. Berdasarkan UUSPN tahun 2003 pasal 4 (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional) pengertian pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dalam rangka mencapai keberhasilan pembentukan kepribadian anak agar mampu terwarnai dengan nilai-nilai agama, maka perlu didukung oleh unsur keteladanan dari orang tua dan guru. Untuk tujuan tersebut dalam pelaksanaannya guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara bertahap dan menyusun program kegiatan seperti program kegiatan rutinitas, program kegiatan terintegrasi dan program kegiatan khusus. Dengan demikian, pendidikan anak itu merupakan modal terbesar yang dimiliki bangsa untuk mewujudkan cita-cita bangsa kelak. Berhasil atau tidaknya langkah yang sudah kita rintis ini sangat bergantung pada generasi penerus kita nanti. Oleh karena itu, tentang suatu wawasan

xix

kita seharusnya sedapat mungkin mengupayakan agar si penerus ini tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, sehingga mereka kelak akan mampu mewujudkan apa yang diinginkan bangsa dengan tepat bahkan lebih dari apa yang kita harapkan, dan karena itulah anak sejak kecil sudah harus diberikan pendidikan. Pendidikan agama Islam merupakan segala usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak setelah pendidikannya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya serta menjadikannya sebagai way of life (jalan kehidupan) sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial kemasyarakatan. Sangatlah tepat apabila usaha penanaman nilai-nilai keagamaan selain dari keluarga juga diberikan pada pendidikan prasekolah. Pendidikan nilai disini tidak mudah dengan pendidikan ketrampilan (skill), karena pendidikan itu sendiri mempunyai syarat-syarat yang berlainan dengan pendidikan ketrampilan dan faktafakta. Oleh karena itu, guru di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang telah memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak usia dini melalui metode-metode pembelajaran yang berganti-ganti sesuai dengan tema pembelajaran. Lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang sudah berdiri sejak tahun 1976 mempunyai sarana dan prasarana yang telah menunjang keberhasilan program penanaman nilai-nilai keagamaan yang dilaksanakan setiap harinya setiap awal pembelajaran dan diakhir pembelajaran, karena Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang yang dilatar belakangi ingin menanamkan pendidikan sejak dini, maka Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari

xx

Malang menyiapkan generasi islam yang berkualitas dan bertujuan menyeimbangkan IMTAQ dan IPTEK. Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang telah menerapkan metode-metode pembelajaran yang dapat menunjang keberhasilan program pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan dalam proses penyampaian materi pelajaran kepada siswa, sehingga siswa tidak disuruh diam selama kegiatan belajar. Metode-metode yang diterapkan diharapkan akan mampu

mempersiapkan anak didik yang dapat menumbuhkan kehidupan religius dalam kehidupan sehari-hari. Metode-metode yang di terapkan di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang dapat cepat diserap oleh siswa karena metode yang diterapkan untuk menarik siswa agar siswa antusias dalam proses pembelajaran di kelas. Anak usia pra sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang baik TK A maupun TK B sudah diberikan materi menghafal doa sehari hari dan mengahafal surat-surat pendek dalam alquran serta membaca iqra’ dengan fasih. Dari pemberian materi tersebut anak usia pra sekolah di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang sudah bisa membaca iqra’ dengan lancar dan hafal surat-surat pendek dalam alquran serta terbiasa membaca doa dalam kehidupan sehari hari. Dari sarana dan prasarana yang ada juga sangat menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang. Dari situlah Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang bisa meraih prestasin dan mendapat akreditasi ”A”.

xxi

Melihat realita yang ada penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang menanamkan nilai-nilai agama pada anak usia dini serta bagaimana penerapan metodenya dalam memberikan nilai-nilai agama pada anak didik berpengaruh pada perilaku dan kebiasaan seorang anak, sedangkan penanaman keagamaan pada peserta didik merupakan pengembangan kurikulum di Taman Kanakkanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang. Berlatar belakang tersebut diatas dan dengan kenyataan yang ada, maka penulis terdorong untuk mengadakan penelitian yang berjudul ”PENANAMAN NILAI AGAMA PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA (NU) 31 SUMBERSARI MALANG”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1. Apa saja materi yang diajarkan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 2. Apa metode yang digunakan dalam penanaman nilai-nilai keagamaan di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Berangkat dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

xxii

1. Mendeskripsikan materi yang diajarkan di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Malang. 2. Mengetahui metode yang digunakan dalam penanaman nilai-nilai keagamaan di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang. Sedangkan manfaat dari penelitian ini sendiri adalah sebagai berikut: 1. Bagi perkembangan ilmu Pengetahuan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan wahana dan masukan baru bagi perkembangan dan konsep pendidikan, terutama ilmu pengetahuan tentang perlunya lembaga pendidikan TK dan meningkatkan kualitas TK, yang dalam hal ini perlu adanya langkahlangkah konkrit yang harus dilakukan TK dan yang lebih penting hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagi wawasan dan kekayaan khasanah keilmuan, khususnya bidang PAI. 2. Bagi peneliti, sebagai perkembangan wawasan pengetahuan tentang pendidikan agama Islam pada anak usia dini di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang, serta dapat dijadikan pijakan sebagai calon sarjana yang dituntut siap terjun dalam dunia pendidikan. a. Bagi lembaga: 1) UIN: menjadi kajian akademis untuk menambah bantuan dan referensi ilmu kepustakaan dan administrasi, khususnya konsentrasi kebijakan publik memberika gambaran empiris pada pendidikan selanjutnya yang sejenis khususnya yang berkaitan dengan program di TK tersebut.

xxiii

2) TK: sebagai bahan masukan bagi sekolah mengenai kelebihan dan kekurangan dalam kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang. b. Bagi Peneliti lain, sebagai bahan dokumentasi untuk melaksanakan penelitian selanjutnya. D. Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghindari kesalah pahaman dalam memaham pembahasan-pembahasan yang diuraikan dalam penelitian ini sehingga kalimatnya mudah dipahami, diantaranya: 1. Penanaman :Penanaman berasal dari kata ”tanam” yang artinya menaruh, menaburkan (paham, ajaran dan sebagainya), memasukkan, membangkitkan atau memelihara (perasaan, cinta kasih, semangat dan sebagainya). Sedangkan penanaman itu sendiri berarti proses/caranya, perbuatan menanam (kan)2 2. Nilai :Suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pikiran, perasaan, keterkaitan maupun perilaku.3 3. Agama :Agama (Ad-Din) mempunyai makna menyembah,

menundukkan diri atau memuja. Sedangkan Ad-Din dalam bahasa kita adalah agama. Agama buah atau hasil kepercayaan dalam hati, yaitu ibadah yang terbit lantaran ada I’dal lebih dahulu, dan patuh karena iman.4

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), hlm. 690 3 Zakiyah Darajad, Dasar-dasar Agama Islam (Jakarta:Bulan Bintang, 1984), hlm. 260 4 Hamka, Tasawuf Modern ( Jakarta:Pustaka Panjimas,1998), hlm. 11

2

xxiv

4.

Nilai Agama

:Konsep

mengenai

penghargaan

tinggi

yang

diberikan

masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam kehidupan keagamaan yang bersifat suci menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat.5 5. Anak TK :Mereka yang berusia antara 4-6 tahun, yang mana mereka mengikuti program Taman Kanak-kanak.6 Jadi yang dimaksud dengan penanaman nilai Agama pada Taman kanak-kanak adalah proses atau perbuatan menanamkan beberapa masalah pokok kehidupan keagamaan yang menjadi pedoman tingkah laku keagamaan yang mana hal itu diberikan pada mereka yang berusia antara 4-6 tahun yang mengikuti program Taman Kanak-kanak. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai-nilai agama khususnya TK adalah tugas utama menjadikan anak yang mempunyai budi pekerti yang baik sesuai dengan syari’at dan ajaran-ajaran Islam serta moral-moral masyarakat. Untuk menyingkat kata pada BAB berikutnya penulis mempersingkat kata Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) 31 Sumbersari Malang dengan TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang.

5 6

Pusat Pembinaan Pengembangan bahasa, Op.cit., hlm. 690 Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Usia Prasekolah (Jakarta:Rieneka cipta, 2000), hlm. 59

xxv

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Nilai Agama Penanaman nilai-nilai agama sangat erat kaitannya dengan penanaman akhlak kepada anak yang dimulai sejak masa balita, bahkan semenjak anak dalam kandungan terutama bagi kedua orang tua. Nilai-nilai agama merupakan bagian dari nilai material yang terwujud dalam kenyataan pengalaman rohani dan jasmani. Nilai-nilai agama (religi) merupakan tingkatan integritas kepribadian yang mencapai tingkat budi (insan kamil). Nilai-nilai agama sifatnya mutlak kebenaran dan kebaikan agama mengatasi rasio, perasaan, keinginan, nafsu-nafsu manusiawi dan mampu melampaui subyektifitas golongan, ras, bangsa, dan stratifikasi sosial. 1. Pengertian Nilai Agama Nilai adalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai identitas memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterkaitan maupun perilaku.7 Nilai adalah suatu pola normative yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu sistem yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi-fungsi bagian-bagianya.8 Adapun sumber nilai dalam kehidupan manusia dibagi menjadi dua Pertama, nilai yang berbentuk taqwa, iman dan adil yang di abadikan dalam wahyu
7 8

Zakiah Daradjat, Dasar-dasar Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 260 H.M Arifin, Filsafat Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 141

xxvi

ilahi yang disampaikan melalui perantara Rosulullah. Kedua, nilai isani yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradapan manusia (ijma’, Qiyas).9 Bagi umat Islam sumber nilai insani hanya digunakan sepanjang tidak menyimpang atau menunjang nilai yang bersumber dari ilahi, yaitu Al-qur’an dan As-Sunnah. Sebagimana firman Allah dalam surat Al-An’am: 153, sebagai berikut:

öNä3Ï9ºsŒ 4 ¾Ï&Î#‹Î7y™ `tã öNä3Î/ s-§•xÿtGsù Ÿ@ç6•¡9$# (#qãèÎ7-Fs? Ÿwur ( çnqãèÎ7¨?$$sù $VJŠÉ)tGó¡ãB ‘ÏÛºuŽÅÀ #x‹»yd ¨br&ur ÇÊÎÌÈ tbqà)-Gs? öNà6¯=yès9 ¾ÏmÎ/ Nä38¢¹ur
Artinya: Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa. Dari uraian di atas jelaslah bahwa nilai merupakan suatu konsep yang mengandung tata aturan yang dinyatakan benar oleh masyarakat karena mengandung sifat kemanusiaan yang pada gilirannya merupakan perasaan umum, identitas umum yang oleh karenanya menjadi syari’at umum dan akan tercermin dalam tingkah laku manusia. Berdasarkan GBPKB TK pengembangan nilai-nilai agama untuk anak Taman Kanak-kanak berkisar pada kegiatan kehidupan sehari-hari. Secara khusus penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak Taman Kanak-kanak adalah

Abu Ahmadi dan Noor salimi, MKDU Dasar-dasar Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hlm. 203.

9

xxvii

meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian atau budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai dengan kemampuan anak.10 Pengertian agama dalam pengertian bahasa Indonesia secara umum dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sangsengkerta yang artinya ”peraturan” dalam bahasa Indonesia juga menyatakan kalimat agama terdiri dari dua suku kata ”a” yang berarti tidak ”gama” yang berarti kacau, jadi manakala disatukan suku kata a dan gama maka mempunyai arti ”tidak kacau” dalam artian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Kata "agama" berasal dari bahasa Sangsekerta āgama yang berarti "tradisi", sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa latin kata kerja religio dan berakar pada re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.11 Addin berarti peraturan, undang-undang, pedoman agama, tata cara dan adat istiadat. Seperti dalam firman Allah surat Al Kafirun ayat 6:

ÇÏÈ ÈûïÏŠ u’Í<ur ö/ä3ãYƒÏŠ ö/ä3s9

Artinya: Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.12 Secara historis, agama Islam adalah terakhir diantara agama-agama di dunia yang ada sekarang ini. Firman Allah SWT surat Al-Maidah ayat 3 sebagai berikut:

http://massofa.wordpress.com/2008/01/25/ruang-lingkup-pengembangan-nilai-nilai-agama-bagianak-taman-kanak-kanak/ (diakses pada tanggal 10 januari 2009). 11 Sabilun dkk, Pokok-pokok Pendidikan Agama Islam (Surabaya: Al Ikhas, 2003), hlm. 68 12 http://hajisunaryo.multiply.com/journal/item/34/34 (diakses tgl 9 maret 2009)

10

xxviii

$yg•ƒr'¯»tƒšúïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qèù÷rr&ÏŠqà)ãèø9$$Î/4ôM¯=Ïmé&Nä3s9èpyJŠÍku5ÉO»yè÷RF{$#žwÎ)$tB4‘n=÷FãƒöNä3ø‹n=tæuŽö•xî’Ìj?ÏtèCωøŠ¢ Á9$#öNçFRr&urîPã•ãm3¨bÎ)©!$#ãNä3øts†$tB߉ƒÌ•ãƒÇÊÈ
Artinya: Pada hari itu telah kami sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. Maka baran siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam bahasa Arab, agama berasal dari kata ad-din yang artinya sejumlah aturan yang disyari’atkan Allah SWT bagi hamba-Nya yang menyembah kepadaNYA, baik aturan-aturan yang menyangkut kehidupan duniawi dan berkenaan dengan ukhrowi.13 Agama memiliki peran yang sangat penting bagi tata kehidupan pribadi manusia maupun masyarakat, maka dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya haruslah bertumpu diatas landasan keagamaan yang kokoh. Agama yang berdimensi dalam kehidupan manusia yang berbentuk daya tahan untuk menghadapi sikap dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan ucap batinnya. Agama sebagai sistem sosial maksudnya bahwa agama adalah suatu fenomena sosial, suatu peristiwa kemasyarakatan, suatu sistem sosial yang dapat dianalisis karena terdiri atas suatu kompleks kaidah dan peraturan yang dibuat saling berkaitan dan terarah dari tujuan tertentu. Sedangkan agama berporos pada kekuatan-kekuatan non empiris, berarti bahwa agama itu berurusan dengan

13

Abdul Jabbar Adlan, Dirasat Islamiyah ( Jakarta: Aneka Bahagia, 1993), hlm. 11

xxix

kekuatan-kekuatan dari luar yang dihuni oleh kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada kekuatan manusia dan dipercayai sebagi arwah, roh dan roh tertinggi.14 2. Penanaman Nilai Agama Penanaman berasal dari kata ”tanam” yang artinya menaruh, menaburkan, memasukkan, memasukkan atau memelihara (perasaan, cinta kasih). Sedangkan penanaman itu sendiri berarti proses atau caranya, perbuatan menanam (kan).15 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia nilai agama atau religi adalah Konsep mengenai pengahrgaan tinggi yang diberikan masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam kehidupan keagamaanyang bersifat suci menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat.16 Penanaman nilai-nilai agama adalah proses atau caranya, perbuatan menanam (kan) konsep mengenai penghargaan tertinggi yang diberikan masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam kehidupan keragaman yang bersifat suci menjadi pedoman tingkah laku keagamaan masyarakat. Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam menetapkan tujuan penanaman nilai-nilai keagamaan kepada anak Taman Kanak-kanak, yaitu aspek usia, aspek fisik, dan aspek psikis anak. Rasa keagamaan dan nilai-nilai keagamaan akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psikis maupun fisik anak. Perhatian anak terhadap nilai-nilai dan pemahaman agama akan muncul manakala mereka sering melihat dan terlibat dalam upacaraupacara keagamaan, dekorasi dan keindahan rumah ibadah, rutinitas, ritual orang tua dan lingkungan sekitar ketika menjalankan peribadatan.

Hendro Puspito, Sosiologi Agama (Jakarta: Kanisius, 2003), hlm. 34 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka), hlm. 690 16 DEPDIKBUD, Kamus Besar Bahasa Indoneia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 615
15

14

xxx

Penanaman nilai-nilai agama sangat erat kaitannya dengan penanaman akhlak kepada anak yang sejak masa balita, bahkan semasa anak dalam kandungan terutama bagi kedua orang tua. Nilai-nilai agama merupakan bagian dari nilai material yang terwujud dalam kenyataan pengalaman rohani dan jasmani. Nilainilai agama (religi) merupakan tingkatan integritas kepribadian yang mencapai tingkat bid’u (insan kamil). Nilai-nilai agama sifatnya mutlak kebenarannya, universal dan suci. Kebenaran dan kebaikan agama mengatasi resiko, perasaan, keinginan, nafsu-nafsu manusiawi dan mampu melampaui subjektif golongan, ras, bangsa dan stratifikasi sosial. Ditinjau dari segi normatif nilai-nilai dalam Islam mengandung dua ketegori yaitu: pertimbangan baik dan buruk, salah dan benar, hak dan batal, diridloi dan dimurkai oleh Allah. Sedangkan jika dilihat dari segi operatif nilai tersebut mengandung lima pengertian yang menjadi prinsip standarisasi perilaku yaitu: 1. Wajib atau fardhu, yaitu orang akan mendapatkan pahala, dan bila ditinggalkan orang akan mendapat siksa Allah. 2. Sunnah atau mustahab, yaitu apabila dikerjakan orang akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan orang tidak akan disiksa. 3. Mubah atau jaiz, yaitu apabila dikerjakan orang tidak akan disiksa. Demikian pula sebaliknya, tidak akan disiksa oleh Allah. 4. Makruh, yaitu bila dikerjakan orang tidak akan disiksa hanya tidak disukai oleh Allah, dan bila ditinggalkan orang akan mendapat pahala. 5. Haram, yaitu apabila dikerjakan orang akan mendapat siksa dan bila ditinggalkan orang akan memperoleh pahala.17

17

H.M. Arifin, Op.cit, hlm. 140

xxxi

Nilai-nilai agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan sosial, bahkan tanpa nilai tersebut manusia akan turun ketingkat kehidupan hewan yang amat rendah karena agama mengandung unsur kuratif terhadap penyakit sosial. Nilai itu bersumber dari: 1. Nilai Ilahi, yaitu nilai yang dititahkan Tuhan melalui para Rosul-Nya yang berbentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu ilahi.18 Alqur’an dan sunnah merupakan sumber nilai ilahi, sehingga bersifat statis dan mutlak. Sebagimana firman Allah-Nya dalam Alqur’an antara lain: 1. Surat Al-An’am ayat 115:

ÇÊÊÎÈ ÞOŠÎ=yèø9$# ßìŠÏJ¡¡9$# uqèdur 4 ¾ÏmÏG»yJÎ=s3Ï9 tAÏd‰t6ãB žw 4 Zwô‰tãur $]%ô‰Ï¹ y7În/u‘ àMyJÎ=x. ôM£Js?ur

Artinya:

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

2. Surat Albaqarah ayat 2:

y7Ï9ºsŒÜ=»tGÅ6ø9$#Ÿw|=÷ƒu‘¡Ïm‹Ïù¡“W‰èdz`ŠÉ)-FßJù=Ïj9ÇËÈ
Artinya: Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

18

Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 185

xxxii

2. Nilai Insani atau duniawi, yaitu nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembanag dari peradapan manusia.19 Modal mondial yang pertama bersumber dari ra’yu atau pikiran yaitu memberikan penafsiran dan penjelasan terhadap Alqur’an dan sunnah, hal yang berhubungan dengan

kemasyarakatan yang tidak diatur dalam Alqur’an dan Sunnah. Yang kedua bersumber pada adat istiadat seperti tata cara berkomunikasi, interaksi antar sesama manusia dan sebaginya. Yang ketiga bersumber dari pada kenyataan alam seperti tata cara makan dan sebagainya. Dari sumber nilai keagamaan tersebut, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahkan setiap tingkah laku manusia haruslah mengandung nilai-nilai Islami yang pada dasarnya bersumber dari Alqur’an dan Sunnah yang harus senantianya dicerminkan oleh setiap manusia dalam tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian tersebut dapat diambil pengertian bahwa nilai agama Islam adalah sejumlah tata aturan yang terjadi pedoman manusia agar dalam setiap tingkah lakunya sesuai dengan ajaran agama Islam sehingga dalam kehidupannya dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin dunia dan akhirat. 3. Metode Penanaman Nilai Agama Metode secara etimologi berasal dari dua kata yaitu meta dan Bodos berarti ”melalui” dan bodos berarti ”jalan” atau cara.20 Metode merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidak selamanya berfungsi secara memadai oleh karena itu dalam memilih suatu metode yang akan
19 20

Ibid.111 H.M Arifin, Op.Cit., hlm. 61

xxxiii

dipergunakan dalam program kegiatan anak guru perlu mempunyai alasan yang kuat dan faktor-faktor yang mendukung pemilihan metode tersebut, seperti: karakteristik tujuan kegiatan dan karakteristik anak yang diajar.21 Yang dimaksud karakteristik tujuan adalah pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik, dan pengembangan nilai serta pengembangan sikap dan nilai. Untuk mengembangkan kognisi anak dapat dipergunakan metode-metode yang mampu menarik kesimpulan, dan membuat generalisasi. Caranya adalah dengan memahami lingkungan di sekitarnya, mengenal orang dan benda-benda yang ada, memahami tubuh dan perasaan mereka sendiri, melatih anak menggunakan bahasa untuk berhubungan dengan orang lain, melakukan apa yang dianggap benar berdasar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode dipilih berdasarkan strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara, yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Setiap guru akan menggunakan metode sesuai gaya melaksanakan kegiatan. Namun yang harus diingat taman kanak-kanak mempunyai cara yang khas. Oleh karena itu ada metode-metode yang lebih sesuai dengan anak TK dibandingkan dengan metode-metode lain. Misalnya guru jarang sekali menggunakan metode ceramah tidak berdaya guna bagi anak TK. Metode-metode yang memungkinkan anak satu dengan anak yang lain berhubungan akan lebih memenuhi kebutuhan dan minat anak. Melalui kedekatan hubungan guru dan anak, guru akan dapat mengembangkan kekuatan pendidik yang sangat penting.
21

Muhammad Said Mursi, Melahirkan Ilmu Pendidikan Anak Masya Allah, (Jakarta: Cendekia, 2001) hlm. 19

xxxiv

Dalam tingkah laku melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan anak sehari-hari dimaksudkan untuk mempersiapkan anak sedini mugkin untuk mengembangkan sikap dan perilaku yang didasari nilai pancasia dan agama tentu tidak cocok penggunaan metode ceramah. Ceramah dapat digantikan dengan memberikan informasi singkat yang dapat ditampilkan dalam bentuk uraian singkat atau cerita singkat. Guru mengembangkan kreativitas anak, metode-metode yang dipilih adalah metode yang dapat menggerakkan anak untuk meningkatkan motivasi rasa ingin tahu dan mengembangkan imajinasi. Dalam mengembangkan kreativitas anak metode yang dipergunakan mampu mendorong anak mencari dan menemukan jawabannya, membuat pertanyaan dan membantu memecahkan, memikirkan kembali dan menemukan hubungan-hubungan baru. Guru mengembangkan kemampuan bahasa anak dengan menggunakan metode yang dapat meningkatkan perkembangan kemampuan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Guru memberi kesempatan anak memperoleh pengalaman yang luas dalam

mendengarkan dan berbicara. Guru mengembangkan emosi anak dengan menggunakan metode-metode yang menggerakkan anak untuk mengekspresikan perasaan yang mnyenangkan secara verbal dan tepat. Guru mengembangkan kemampuan motorik anak dapat dipergunakan metode-metode yang menjamin anak tidak mengalami cidera. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan lingkungan yang aman dan menantang, bahan dan alat dalam keadaan baik, tidak menimbulkan perasaan takut dan cemas dalam menggunakannya. Berbagai bahan dan alat yang dipergunakan juga menantang anak untuk melakukan berbagai aktivitas motorik.

xxxv

Kegiatan karakteristik anak juga ikut menentukan pemilihan metode. Perlu diingat oleh guru bahwa anak TK pada umumnya adalah anak yang selalu

bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan menguji imajinasi, dan senang berbicara.22 Metode merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan di samping komponen lainnya seperti, pendidik, anak didik, materi/bahan, tujuan, bentuk dan lain-lain. Masing-masing komponen diatas tidak dapat berdiri sendiri namun secara bersama-sama saling mempengaruhi dalam proses pendidikan. Dalam dunia pendidikan, metode berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyajikan materi pendidikan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Walaupun disini banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penggunaan suatu metode.23 Seorang guru atau pendidik anak prasekolah yang bijaksana dan kreatif, sudah barang tentu akan terus mencari metode alternatif yang lebih efektif dengan menerapkan dasar-dasar pendidikan dasar yang berpengaruh dalam mempersiapkan anak secara mental, moral, spiritual, intelektual dan sosial. Sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna dengan kepribadian yang integral. Oleh karena itu seseorang pendidik harus berusaha semaksimal mungkin agar dirinya mampu mendidik dengan benar-benar mendidik. Setiap guru akan menggunakan metode sesuai gaya melaksanakan kegiatan. Namun yang harus diingat Taman Kanak-kanak mempunyai cara yang khas. Oleh karena itu ada metode-metode yang lebih sesuai bagi anak TK dibandingkan dengan metode-metode lain. Misalnya guru TK jarang sekali menggunakan metode
22

Moeslichatoen R. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak (Jakarta: Rieneka Cipta, 2004), hlm. Sri Harini dan Aba Firdausi Al-Halwani, Op.Cit., hlm. 118

9-10
23

xxxvi

ceramah. Orang akan segera menyadari bahwa metode ceramah tidak berdaya guna lagi bagi anak TK. Metode-metode yang memunginkan anak satu dengan yang lain berhubungan akan lebih memenuhi kebutuhan dan minat anak. Melalui kedekatan hubungan guru, guru akan dapat mengembangkan kekuatan pendidik yang sangat penting. Adapun metode-metode yang dapat memacu kegiatan penanaman nilai-nilai agama pada anak TK adalah: a. Metode Bermain Metode bermain adalah metode pengajaran yang dilakukan melalui permainan yang dapat membangkitkan siswa dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan bermain anak dapat berlatih menggunakan kemampuan kognitifnya untuk memecahkan berbagai masalah dan mengembangkan kreativitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang mengandung kelenturan, memanfaatkan imajinasi atau ekspresi diri, kegiatan-kegiatan pemecahan masalah, mencari cara bau dan sebagainya. 24 Nabi SAW memberi kebebasan dan ketetapan kepada anak kecil untuk bermain dengan mainannya, karena sesungguhnya anak kecil itu ingin mngembangkan daya pikirnya, meluaskan keingin tahuannya dan menyyibukkan panca inderanya. Karenanya, dengan memperbanyak mainan yang bermanfaat bagi anak dapat membantunya menghilangkan pengahalang pada dirinya, mematuhi orang tua, berbuat baik, dan terpenuhinya dorongan dan keinginannya, sehingga anak itu akan tumbuh menjadi anak yang ideal dan lurus. 25

Moeslichatoen R.OpCit., hlm. 32 Jamal Abdurrahman, Pendidikan ala Kanjeng Nabi 120 Cara Rasulullah SAW Mendidik Anak, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), Cet II. hlm 79-80.
25

24

xxxvii

Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alamiah anak untuk menemukan lingkungan orang lain dan dirinya sendiri. Pada prinsipnya, bermain mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses daripada hasil akhir.26 Dalam penyediaan ruang dan tempat bermain perlu memperhatikan tempat kegiatan bermain yang dapat membantu pengembangan dimensi perkembangan anak taman kanak-kanak secara seimbang. Taman kanak-kanak memerlukan ruang dan tempat untuk kegiatan kesenian, pengembangan kemampuan ilmu pengetahuan alam, pengembangan bahasa, bermain musik, bermain drama, membangun atau menyusun balok-balok, bermain dengan alat-alat permainan dan game, bermain pertukangan dan pasir.27 b. Metode Pembiasaan Yang dimaksud pembiasaan adalah segi praktek nyata dalam proses pembentukan dan persiapannya. Periode anak ini hendaknya lebih banyak mendapatkan pengajaran dan pembiasaan ketimbang pada usia dan periode lainnya. Suatu kemestian bagi para pendidik (orang tua dan para guru) dengan menekankan pembiasaan anak sejak dini untuk melakukan kebaikan. Pembiasaan merupakan salah satu langkah memberikan pendidikan bagi anak didik yang merupakan kesiapan bagi pendidikan selanjutnya. Pembiasaan ini dilakukan dengan jalan memberikan penjelasan-penjelasan seperlunya makna gerakan-gerakan, perbuatan-perbuatan, dan ucapan-ucapan dengan memperhatikan taraf kematangan anak didik
26

Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 133Ibid, hlm. 47-48.

134
27

xxxviii

Untuk membiasakan timbulnya sifat-sifat terpuji tidaklah mungkin dengan adanya penjelasan saja tentang pengertian, tetapi perlu pembiasaan untuk melakukan yang baik, yang diharapkan nantinya dapat mempunyai sifat-sifat itu, dan menjauhi yang tidak baik. Oleh karena itu pembiasaan sangat cocok pada masa anak-anak. Dalam menanamkan nilai-nilai agama pada anak TK hendaknya semakin banyak semakin banyak diberikan latihan pembiasaan nilai-nilai keagamaan yang dilakukan oleh anak dan semakin bertambah usia anak, hendaklah semakin banyak pula penjelasan dan pengertian tentang nilai-nilai agama itu sesuai dengan perkembangan kecerdasan anak. Karena pembiasaan agama itu akan memasukkan usur-unsur yang positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman agama maka semakin anak membiasakan diri dalam kehidupan yang dijalani sehari-hari. Pembiasaan yang telah dilakukan sejak kecil akan melekat kuat di ingatan dan menjadi kebiasaan yang tidak dapat dirubah dengan mudah. Dengan demikian metode pembiasaan sangat baik dalam rangka mendidik akhlak anak.28 c. Metode Cerita Metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak terlepas dari tujuan pendidikan bagi anak TK. Ketika anak duduk di bangku sekolah dasar tahun pertama atu ketika ia duduk di Taman Kanak-kanak, dalam usia tersebut ia masih belum mampu untuk
28

http://riwayat.wordpress.com/2008/01/25/metode-mendidik-akhlak-anak/

xxxix

membaca dan mencerna pelajaran. Maka dalam hal ini, seorang guru dapat mempresentasikan sebuah cerita pada anak didiknya sebagi ganti dari usahanya agar membuat anak bisa membaca.29 Firman Allah tentang penggunaan metode cerita yang tersebut dalam Surat yusuf ayat 111:

t,ƒÏ‰óÁs? `Å6»s9ur 2”uŽtIøÿム$ZVƒÏ‰tn tb%x. $tB 3 É=»t6ø9F{$# ’Í<'rT[{ ×ouŽö9Ïã öNÎhÅÁ|Ás% ’Îû šc%x. ô‰s)s9 ÇÊÊ È tbqãZÏB÷sム5Qöqs)Ïj9 ZpuH÷qu‘ur “Y‰èdur &äóÓx« Èe@à2 Ÿ@‹ÅÁøÿs?ur Ïm÷ƒy‰tƒ tû÷üt/ “Ï%©!$#
Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orangorang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Apabila isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan anak TK, maka mereka akan mendengarkannya dengan penuh perhatian, dengan mudah dapat menangkap isi cerita. Dunia kehidupan anak penuh suka cita, maka kegiatan bercerita harus diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan. Ada beberapa teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain dapat membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku, gambar, menggunakan papan flanel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita. a. Membaca Langsung Dari Buku Cerita Teknik bercerita dengan membacakan langsung itu sangat bagus bila guru mempunyai puisi atau prosa itu di bacakan kepada anak TK. Ukuran kebagusan puisi

Syarif Hade Masyah, Dkk, Mendidik Anak Lewat Cerita Dilengkapi 30 Kisah, (Jakarta: Mustaqiim, 2003) Edisi Revisi, hlm. 17.

29

xl

atau prosa itu terutama ditekankan pada pesan-pesan yang disampaikan yang dapat ditangkap anak: memahami perbuatan itu salah dan perbuatan ini benar, atau hal ini bagus dan hal itu jelek, atau kejadian itu lucu, kejadian itu menarik, dan sebagainya. b. Bercerita dengan Menggunakan Ilustrasi Gambar dari Buku Bila cerita yang disampaikan kepada anak TK selalu panjanng dan terinci dengan menambahkan ilustrasi gambar dari buku yang dapat menarik perhatian anak,maka teknik bercerita ini akan berfunngsi dengan baik. Mendengarkan cerita tanpa ilustrasi gambar menuntut pemusatan perhatian yang lebih besar dibandingkan bila anak mendengarkan cerita dari buku bergambar. Untuk menjadi seorang yang dapat bercerita dengan baik guru TK memerlukan persiapan dan latihan. Penggunaan ilustrasi gambar dalam bercerita dimaksudkan untuk memperjelas pesan-pesan yang dituturkan, juga untuk mengikat perhatian anak pada jalannya cerita. c. Menceritakan Dongeng Cerita dongeng merupakan bentuk kesenian yang paling lama. Mendongeng merupakan cara meneruskan warisan budaya dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Dongeng dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kebajikan kepada anak. Oleh karena itu, seni dongeng perlu dipertahankan dari kehidupan anak. Banyak buku-buku dongeng yang bagus dapat dibeli di pasaran, tetapi guru TK yang kreatif dapat mencipta dongeng dari negara Antah Beratah yang sarat dengan nilai-nilai kebajikan. d. Bercerita Dengan Menggunakan Papan Flanel Guru dapat membuat papan flanel dengan melapisi seluas papan dengan kain flanel yang berwarna netral, misalnya warna abu-abu. Gambar tokoh-tokoh yang mewakili perwatakan dalam ceritanya digunting polanya pada kertas yang

xli

dibelakangnya dilapis dengan kertas goso yang paling halus untuk menempelkan pada papan flanel supaya dapat melekat. Gambar foto-foti itu dapat dibeli di pasaran atau di kreasi oleh guru, sesuai dengan tema dan pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui bercerita. e. Bercerita dengan Menggunakan Media Boneka Pemilihan bercerita dengan menggunakan boneka akan tergantung pada usia dan pengalaman anak. Biasanya boneka itu terdiri dari ayah, ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, nenek, kakek dan bisa ditambahkan anggota keluarga yang lain. Boneka yang dibuat itu masing-masing menjukkan perwatakan pemegang peran tertentu. Misalnya, ayah yang penyabar, ibu yang cerewet, anak laki-laki yang pemberani, anak perempuan yang manja, dan sebagainya. f. Dramatisasi Suatu Cerita Guru dalam bercerita memainkan perwatakan tokoh-tokoh dalam suatu cerita yang disukai anak dan merupakan daya tarik yang bbersifat universal. Cerita anakanak yang disukai seperti Timun Mas, si Kancil mencuri ketimun, dan sebaginya. g. Bercerita Sambil Memainkan Jari-jari Tangan Bercerita sambil memainkan jari tangan seperti dengan menggunakan sepuluh jari tangan, tangan tersembunyi, mengatupkan jari tangan yang satu dengan yang lain, mengangkat jari tangan, menurunkan jari tangan, menyilangkan jari tangan dan lain-lain.30 Kelebihan dari menyampaikan pelajaran dengan metode cerita adalah dapat menumbuh kembangkan gaya bicara (ta’biir) yang baik. Apabila dibumbui dengan

30

Moeslichatoen, Op.Cit., hlm. 157-166

xlii

cerita akan dapat meningkatkan daya hafalannya, dimana di dalamnya terdapat penggambaran hidup yang baru, lebih-lebih ditambah nilai seni dalam pembawaannya, menghayatinya.31 d. Metode Karya Wisata Karya wisata merupakan salah satu metode melaksanakan kegiatan pengajaran di taman kanak-kanak dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataanya yang ada secara langsung yang meliputi manusia, hewan, tumbuhtumbuhan, dan benda-benda lainnya. Dengan mengamati secara langsung anak memperoleh kesan yang sesuai dengan penagmatannya. Dan pengamatan ini diperoleh melalui panca indera yakni mata, telinga, lidah, hidung, atau penglihatan, pendengaran, pengecap, pembauan, dan perabaan. Karya wisata merupakan salah satu metode melaksanakan kegiatan pengajaran di lembaga pendidikan anak usia dini dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung yang meliputi manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda lainnya. Dengan mengamati secara langsung anak memperoleh kesan yang sesuai dengan pengamatannya. Karya wisata bagi anak TK dapat dipergunakan merangsang minat anak TK terhadap sesuatu. Semakin banyak perbendaharaan pengetahuan anak tentang duni nyata semakin cepat berkembang kognisi mereka terutama dalam kemampuan membuat penilaian. Berfikir konvergen merupakan kemampuan kognisi anak untuk sehingga seorang pendengar merasa menikmati dan

menggunakan informasi yang diperoleh sebagai dasar untuk memecahkan masalah.

31

Syarif Hade Masyah, Op.Cit.,hlm. 17

xliii

Semakin banyak pengalaman diperoleh dari dunia nyata, semakin mantap pula cara anak memecahkan masalah. Semakin banyak pengalaman anak memperoleh

informasi langsung dari dunia nyata bukana hanya kemampuan berfikir konvergen yang meningkat tetapi kemampuan berfikir divergen juga demikian. Kemampuan divergen adalah kemampuan berfikir yang berangkat dari berbagai macam informasi yang diperoleh anak dalam rangka mencari cara-cara baru bagi pemecahan masalah, yaitu cara yang berbeda dengan cara yang sudah diketahui.32 Dalam penerapan metode karya wisata guru hendaknya merumuskan terlebih dahulu tujuan pelajaran dengan jelas, sehingga kelihatan wajar tidaknya metode ini digunakan dan juga hendaknya guru menyelidiki terlebih dahulu obyek yang akan ditinjau dengan memperhatikan hal-hal yang sekiranya akan menjadi kesulitan. Selain itu perlu juga dijelaskan terlebih dahulu tujuan karya wisata dan disiapkan pertanyaan-pertanyaan yang harus mereka jawab.33 Penerapan metode karya wisata sangat baik digunakan untuk menanamkan jiwa keagamaan pada anak, karena dengan karya wisata anak didik akan mengetahui dan melihat secara langsung banyaknya dan indahnya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, selain itu pengalaman langsung dapat membuat setiap anak didik lebih tertarik kepada pelajaran yang disajikan sehingga anak didik lebih ingin mendalami ikhwal yang diminati dengan mencari informasi dari buku-buku sumber lainnya serta menumbuhkan rasa cinta kepada alam sekitar sebagi ciptaan Tuhan.

32 33

ibid.,hlm. 72-73 Zuhairini,Abdul Ghafir, Slamet As. Yusuf, Op.Cit., hlm. 104-105

xliv

Metode karya wisata berfungsi pula memberikan hiburan kepada anak didik dan rekreatif.34 e. Metode Keteladanan Metode keteladanan adalah metode pembelajaran dengan cara

memperlihatkan keteladanan, baik yang berlangsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, prilaku pendidik dan tenaga pendidik lain yang mencerminkan akhlak terpuji maupun tidak secara langsung melalui sejumlah ilustrasi kisah-kisah keteladanan.35 Pada masa Rosulullah dakwah yang beliau gunakan juga menggunakan metode contoh atau tingkah laku atau perbuatan yang baik. Sedangkan Rasulullah sendiri merupakan contoh tauladan yang baik menjadi kiblat dari segala perbuatan pengikutnya. Hal ni telah disebutkan dala alqur’an surat Al-ahzab ayat 21 yang berbuyi:

©!$# t•x.sŒur t•ÅzFy$# tPöqu‹ø9$#ur ©!$# (#qã_ö•tƒ tb%x. `yJÏj9 ×puZ|¡ym îouqó™é& «!$# ÉAqß™u‘ ’Îû öNä3s9 tb%x. ô‰s)©9 ÇËÊÈ #ZŽ•ÏVx.

Artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2000), hlm. 202 35 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002) Cet 3, hlm. 154

34

xlv

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa pengaruh metode pengajaran dengan memberikan contoh-contoh perbuatan (teladan) sebagaimana dilakukan Rosulullah akan lebih kuat bersemayam di dalam hati dan memudahkan pemahaman serta ingatan. Disamping itu metode tersebut juga akan sangat membantu guru dalam upaya mengajar dan mendidik para siswa daripada model pengajaran melalui

ceramah-ceramah dan kata-kata. Metode pengajaran semacam itu sangat sesuai dengan fitrah pengajaran itu sendiri.36 Anak-anak pada usia TK suka meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Apa yang dilakukan orang tua atau guru akan ditiru dan diikuti oleh anak. Oleh karena itu keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Mengingat pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak yang tindak tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak akan ditiru oleh mereka bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak tanduknya akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak. Oleh karena itu faktor keteladanan menjadi faktor yang penting dalam menentukan baik dan buruknya anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebliknya jika pendidik adalah pembohong, penghianat, durhaka, kikir, penakut dan hina maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut dan hina.
36

Abd Al-Fattah Abu Ghuddah, 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), hlm. 59-60

xlvi

Dengan demikian jelaslah bahwa penanaman nilai-nilai keagamaan melalui keteladanan sangat sesuai dengan apa yang dialami anak untuk ditiru, denga kata lain tingkah laku oleh anak didiknya. Seperti contoh guru mnegucapkan salam apabila bertemu dengan orang lain, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, membuang sampah pada tempatnya, membantu teman yang mendapatkan musibah dan lain-lain, maka anak didik akan meniru apa yang dilakukan oleh guru tersebut. f. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi adalah proeses belajar mengajar yang dilakukan guru atau orang lain yang khusus diminta atau murid itu sendiri memperlihatkan suatu proses pada sejumlah murid di dalam kelas. Misalnya, bagaimana proses pengambilan wudlu sebelum shalat, proses jalannya shalat dan sebagainya.37 Metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan sesuatu kegiatan, baik secaralangsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.38 Metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain sengaja diminta atau murid memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu kaifiyah melakukan sesuatu.39 Metode demonstrasi merupakan metode interaksi edukatif yang sangat efektif dalam membantu murid mengetahui proses pelaksanan sesuatu, apa unsur

Proyek Pembinaan Prasarana dan Perguruan Tinggi Agama IAIN, Metodologi Pengajaran Pendidikan Agama Islam,(Jakarta: 1984) hlm. 68-69 38 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda Karya, 2000) hlm. 203 39 Zuhairini dan Abdul Ghofir, Op.Cit.,hlm. 82

37

xlvii

yang terkandung didalamnya, dan cara mana yang paling tepat dan sesuai melalui pengamatan edukatif. Dalam menggunakan metode demontrasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: 1. Metode demonstrasi dilakukan apabila akan memberikan keterampilan tertentu. 2. Untuk memudahkan berbagai penjelasan, sebab penggunaan bahasa dapat lebih terbatas. 3. Untuk menghindari verbalisme 4. Untuk membantu anak memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian sebab akan menarik. Segi positif yang dimiliki oleh metode demonstrasi adalah: 1. Perhatikan akan terpusat kepada apa yang akan didemonstrasikan, dan memberikan kemungkinan akan berfikir lebih kritis. 2. Memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk perasan dan kemauan anak. 3. Akan mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan, karena anak mengamati langsung terhadap suatu proses. Segi negatif yang dimiliki oleh metode demonstrasi adalah: 1. Dalam melaksanakan metode demonstrasi biasanya memrlukan waktu yang banyak. 2. Metode ini sukar dilaksanakan apabila anak belum bisa untuk melaksanakannya. 3. Banyak alat-alat yang tidak dapat didemonstrasikan dalam kelas karena besarnya atau harus dibantu dengan alat-alat lain.

xlviii

Dengan demikian metode demonstrasi sangat sesuai apabila digunakan untuk mengajarkan materi akhlak dan ibadah dalam menanamkan nilai-nilai agama pada anak dalam memperjelas cara mengerjakan suatu proses pelaksanaan akhlak dan ibadah. g. Metode Tanya Jawab Metode Tanya jawab adalah cara penyampaian pelajaran oleh seorang guru dengan jalan mengajukan pertanyaan kepada murid atau anak didik menjawab, yang diharapkan terjadi dialog antara guru dan murid.40 Tanya jawab yaitu semua bentuk pertanyaan antara murid dan guru maupun sebaliknya, baik itu diwal, ditengah maupun diakhir pelajaran. Tanya jawab mencakup semua materi ajar bab, sub bab ataupun lainnya yang telah diberikan maupun yang sedang berlangsung. Tanya jawab diberikan untuk melihat seberapa jauh pemahaman murid tanggap terhadap materi yang telah diberikan.41 Metode Tanya jawab bermaksud memotivasi anak didik untuk bertanya selama proses belajar mengajar, atau guru yang bertanya selama proses belajar mengajar, atu guru yang bertanya (mengajukan pertanyaan) dan anak didik menjawabnya. Isi pertanyaan tidak mesti harus mengenai pelajaran yang sedang diajarkan, tetapi bisa mengenai pertanyaan lebih luas yang berkaitan dengan pelajaran.42 a. Kelebihan Metode Tanya Jawab 1. Lebih mengaktifkan anak didik dibandingkan dengan metode ceramah.

40

41

Ibid, 63 http://fikrinatuna.blogspot.com/2009/01/mertode-metode-mengajar-pre-test.html (di akses 1 april Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit., hlm. 203

2009)
42

xlix

2. Anak akan lebih mengerti, karena memberi kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti sehingga guru dapat menjelaskan kembali. 3. Mengetahui perbedaan pendapat antara anak didik dan guru, dan akan membawa ke arah suatu diskusi. 4. Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian anak didik. b. Kekurangan Metode Tanya Jawab 1. Mudah menyimpang dari pokok persoalan. 2. Dapat menimbulkan beberapa masalah baru. 3. Anak didik terkadang merasa takut memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. 4. Sukar membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan pemahaman anak.43 Metode ini dimaksudkan untuk meninjau pelajaran yang lalu yang sudah diterangkan, agar anak didik mengingat kembali apa yang disampaikan guru untuk meyakinkan apa yang diperoleh anak didik, dan guru dapat melanjutkan pelajaran berikutnya. Metode ini dapat digunakan pula sebagai evaluasi. B. Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) 1. Pengertian Taman Kanak-kanak (TK) Taman Kanak-kanak (TK) adalah suatu bentuk pendidikan pra sekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia 4-6 tahun sampai memasuki pendidikan dasar.44

43 44

Ibid, hlm. 203 Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah (Jakarta: Rieneka Cipta, 2003), hlm. 59

l

Taman kanak-kanak adalah lembaga pendidikan yang menampung anak usia prasekolah, yaitu pada umur antara 3-6 tahun, pada masa ini anak mengalami perkembangan. Hal ini sesuai dengan pemikiran John Piaget yang membedakan kognitif pada anak dalam tahap periode operasional (5-6 tahun). Anak usia ini memiliki perkembangan yang menonjol pada bidang bahasa, rasa, insan kamil, fantasi, dan bermain-main.45 Taman Kanak-kanak (TK) merupakan lembaga pendidikan formal yang pertama setelah pendidikan di lingkungan keluarga sekaligus merupakan jembatan antar pendidikan pendidikan di lingkungan keluarga dan di lingkungan SD. Sebagaimana terdapat dalam Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak. Kegiatan belajar anak TK adalah untuk membantu

meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta pengembangan selanjutnya. Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar meliputi: pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan, dan jasmani.46 Usia 4-6 tahun, merupakan masa peka bagi anak. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk
Zulkifli. Psikologi Perkembangan, Bagian Perkembangan dalam Masa kanak-kanak (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 33-37 46 Moeslichatoen. Op.Cit., hlm. 3
45

li

meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilainilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Peran pendidik (orang tua, guru, dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi anak 4-6 tahun. Upaya pengembangan

tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Selain itu bermain membantu anak mengenal dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Atas dasar tersebut, maka kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan tahap perkembangan anak untuk mengembangakan seluruh potensi anak. 47 Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa pendidikan secara berencana dan sistematis mulai diberikan sejak TK yang disesuaikan dengan usia dan tingkat kematangan anak. Dalam hal ini keadaan rumah tangga yang baik dan serasi tetap tercermin dan dipertahankan sehingga akan memberikan perasaan aman dan nyaman sekaligus dapat memberi daya cipta, kreatifitas anak itu sendiri. Pada hakikatnya TK sebagai pendidikan pra sekolah tetap mempertahankan azasnya yaitu bahwa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Dengan demikian Taman kanak-kanak adalah input atau lembaga yang lebih banyak

memberikan pendidikan melalui belajar dan bermain atau sebaliknya. Sebagaimana

Departemen Pendidikan nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal (Jakarta: Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hlm. 5-6

47

lii

telah dijelaskan di atas bahwa program kegiatan belajar di TK adalah sebagaimana pendekatan ”bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain”. Jelaslah bahwa ada unsur bermain di TK dan itu merupakan satu prinsip yang tidak dapat dipisahkan. Dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan anak TK adalah mereka yang berusia 4-6 tahun yang mana mereka mengikuti program Taman Kanak-kanak. Setiap periode perkembangan anak memiliki ciri-ciri yang khas tertentu yang dapat membedakanya dengan periode-periode dalam rentang kehidupannya. Anak usia taman kanak-kanak (umur 4-6 tahun) adalah anak-anak yang sedang tumbuh baik secara motorik maupun emosi, mengalami kepekaan perkembangan moral dan bahasa, serta menjalani kehidupan sosial yang menuntut penyesuaian.48 Lama masa belajar TK biasanya tergantung pada tingkat kecerdasan anak yang dinilai dari raport per semester. Namun secara umum untuk lulus dari tingkat TK adalah 2 (tahun), yaitu: 1. TK 0 (nol) kecil selama 1(satu) tahun 2. TK 0 (nol) Besar selama 1 (satu) tahun Umur rata-rata minimal anak mulai dapat disekilahkan ke sebuah taman kanakkanak adalah 4-5 tahun. Sedangkan umur rata-rata uuntuk lulus dari TK adalah 6-7 tahun. Setelah lulus dari TK, atau pendidikan formal dan pendidikan non formal lainnya yang sederajad, siswa kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi diatasnya yaitu sekolah dasar (SD) atau yang sederajad.49

48 49

Hurlock.EB. Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1999), hlm. 110. Wikipedia Indonesia, Pendidikan (http:www.google.com, diakses 5 februari 2009).

liii

Adapun ciri-ciri perkembangan pada masa prasekolah TK menurut Singgih D. Gunarsah dan NY.Y singgih D. Gunarsah, yaitu:50 a. Perkembangan Motorik Proses bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf-otot (neuro-moskuler) memungkinkan anak-anak usia ini lebih lincah dan aktif bergerak. Dengan bertambahnya usia akan tampak perubahan dari gerakan kasar mengarah ke gerakan yang lebih halus dimana memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang halus serta koordinasi. Keterampilan dan koordinasi gerakan harus dilatih dalam hal kecepatannya, ketepatannya dan keluwesannya. Untuk membantu memperkembangkan aspek motorik dapat digunakan beberapa permainan dan alat bermain sederhana seperti kertas koran, kubus,-kubus, bola, balok titian dan tongkat. Beberapa keterampilan motorik yang perlu dilatih dalam keluwesan, kecepatan dan ketepatannya antara lain keterampilan koordinasi anggota gerak tubuh seperti berjalan, berlari, melompat, keterampilan tangan, jari jemari, dalam hal makan, mandi, berpakaian, melempar, menangkap, merangkai dan lain-lain.

Keterampilan kaki misalnya meniti, menendang, berjingkat, menari dan lainlain. b. Perkembangan Bahasa Dan Berfikir Sebagai alat komunikasi dan mengerti dunianya, kemampuan berbahasa lisan pada anak akan berkembang karena terjadi oleh pematangan dari organorgan bicara dan fungsi berfikir, juga karena lingkungan ikut membantu

Singgih D. Gunarsah dan Ny.Y. Singgih D.Gunarsah. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 11

50

liv

mengembangkannya.

Ada

empat

tugas

yang

perlu

diperhatikan

pengembangannya yaitu: 1. Mengerti pembicaraan orang lain 2. Menyusun dan menambah pembendaharaan kata 3. Menggabungkan kata menjadi kalimat 4. Mengucapkan yang baik dan benar Di dalam segi berfikir anak berada pada tahap pra operasional dan egosentris. Dengan bertambahnya usia anak egosentrismenya akan berkurang dan ditambah dengan kefasihan berbicara dan kemampuan mulai mengunakan simbol-simbol. Kemampuan ini diperlukan karena pada usia ini anak mulai di perkenalkan dengan dunia baru yakni dunia pendidikan formal. Anak harus belajar menyesuaikan diri dengan peraturan dan disiplin sekolah serta program-program dalam bidang pengembangan. c. Perkembangan Sosial Dunia pergaulan anak menjadi bertambah luas, keterampilan dan penguasaan dalam bidang fisik, motorik, mental, dan emosi sudahh lebih meningkat. Anak mungkin ingin melakukan bermacam-macam kegiatan. Pada masa ini anak di hadapkan pada tuntutan sosial dan susunan emosi baru. Bila orang tua atau lingkungan memberi cukup kebebasan dan kesempatan untuk melakukan kegiatan, mereka mau menjawab pertanyaan anak dan tidak menghambat fantasi dan kreasi dalam bermaian, maka dalam diri anak akan berkembang inisiatif. Sebaliknya, karena pada masa ini mulai uga terpupuk kata hati, maka bila ajaran moral dan disiplin ditanamkan terlalu keras dan kaku, pada anak akan timbul perasaan bersalah.

lv

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa anak usia TK adalah anak-anak yang sedang berkembang secara motorik, emosi, moral dan bahasa, yang memerlukan bimbingan dan kependidikan kecerdasan emosi agar dapat memerlukan bimbingan dan pendidikan kecerdasan emosi agar dapat menjadi manusia dewasa yang bertangungjawab, peduli pada orang lain dan produktif, serta dapat menjadi manusia yang matang dan mandiri sesuai dengan nilai agama dan norma-norma yang dianut oleh masyarakat. 2. Dasar dan Tujuan Taman Kanak-kanak (TK) Dalam upaya untuk mencapai pendidikan nasional perlu adanya peningkatan dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan untuk kecerdasan kehidupan bangsa dengan meningkatkan kualitas manusia menjadi masyarakat yang maju dan, adil, makmur dan sejahtera. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.51 Dasar dan tujuan pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting kerena mempunyai pengaruh yang besar terhadap masa depan suatu bangsa. Hal ini sesuai dengan pendapat Amir Daien Indra Kusuma sebagai berikut: ”mengingat sangat urgennya pendidikan itu bagi kehidupan suatu bangsa dan negara, maka hampir seluruh warga negara di dunia ini menangani secara langsung masalah kebijakan. Dalam hal ini masing-masing negara menentukan sendiri dasar dan tujuan pendidikan di negaranya”. 52

Undang-undang RI No 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 3 52 Amir Daien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hlm. 44

51

lvi

Oleh karena itu dalam menentukan suatu dasar dan tujuan pendidikan harus disesuaikan dengan cita-cita dan pandangan hidup suatu bangsa. Dasar dan tujuan pendidikan di Indonesia adalah sesuai dengan UU RI No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 2 dan 3 yang menyebutkan bahwa: Pasal 2 ”Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Repubblik Indonesia Tahun 1945”. Pasal 3 ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangungjawab.53 Dasar dan tujuan umum pendidikan merupakan suatu masalah yang sangat fondamentil dalam pelaksanaan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Dari tujuan pendidikan akan menentukan ke arah mana anak didik itu dibawa. Masalah pendidikan sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga maupun dalam kehidupan bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan negara itu.54 Azas yang hendak dituju oleh setiap penyelenggara pendidikan di Indonesia, termasuk di dalam penyelenggaraan pendidikan prasekolah (Taman Kanak-kanak). Maka dari itu tujuan pendidikan TK mengacu pada tujuan pendidikan Nasional.
53 54

UU RI No 20 Tahun 2003.Op.Cit., hlm. 7 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rieneka Cipta, 2003), hlm. 98

lvii

Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah, maka dalam buku penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasioanal, dijelaskan bahwa: ”Pendidikan prasekolah (Taman Kanak-kanak ) bertujuan untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang di peroleh anak didik dalam penyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.55 Tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan, jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.56 Pendidikan religius bertujuan membawa manusia kepada pengenalan nilainilai spiritual dan trasendental supaya hidup manusia bahagia di dunia dan akhirat nanti dan juga menuntut manusia agar bertingkah laku susila, berbudi luhur, dan mau menapak di jalan Tuhan.57 Pada hakikatnya tujuan pendidikan tidak terlepas dari pendidikan yang berada dalam konteks kehidupan masyarakat. Pendidikan adalah produk suatu masyarakat tertentu. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan tidak bisa dipisahkan

dengan masyarakat yang memilikinya. Dengan kata lain, tujuan atau visi pendidikan adalah kongruen dengan visi masyarakat dimana pendidikan itu berada.58

55 56

Abdul Rajak Husain, Penyelenggaraan Sitem Pendidikan Nasional (Jakarta: Aneka,1995), hlm. 23 Soemiarti Patmonodewo, Op.Cit., hlm. 67 57 Kartini Kartono, Tujuan Pendidikan Nasional (Jakarta: PT.Pradnya Paramita, 1997), hlm. 64 58 Abdul Latif, Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan (Bandung: PT.Refika Aditama), hlm. 11

lviii

Dalam buku Garis-garis besar Program Kegiatan Belajar di Taman Kanakkanak di jelaskan bahwa: ”Pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta pengembangan kemampuan

bermasyarakat, serta pengembangan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan dan jasmani.59 Tujuan TK adalah membentuk manusia sejati, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang cakap, sehat, terampil, serta bertanggungjawab terhadap Tuhan, masyarakat dan negara. Sedangkan tujuan khususnya adalah: 1. Memberi kesempatan kepada anak untuk memenuhi kebutuuha-kebutuhan fisik maupun psikologinya dan mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya secara optimal ssebgai individu yang unik. 2. Memberi bimbingan yang seksama agar anak memiliki sifat dan kebiasaan yang baik, sehingga mereka dapaat diterima oleh masyarakatnya. 3. Mencapai kematangan mental dan fisik yang dibutuhkan agar dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.60 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan penyelenggaran pendidikan prasekolah (Taman Kanak-kanak) itu mengacu kepada tujuan pendidikan Nasional, yang pada prinsipnya adalah sebagi berikut:

59 60

Moeslichatoen R. Op.Cit., hlm. 3 Soemiarti Patmonodewo, Op.Cit., hlm. 59

lix

1. Meletakkan dasar kearah perkembangan, keterampilan, pengetahuan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta pengembangan selanjutnya 2. Memberikan bekal kemampuan dasar bagi perkembangan anak secara utuh. 3. Memberi bekal untuk kemampuan diri, sesuai dengan azas pendidikan seumur hidup. Searah dengan tujuan tersebut, maka Taman Kanak-kanak dimaksudkan merupakan suatu tempat bagi anak untuk mendapatkan kesempatan bimbingan yang terarah bagi perkembangan proses sosial bagi anak melalui cara yang sesuai dengan sifat-sifat alami yang dimilikinya. Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai sehingga dapat terwujud dengan baik untuk mencapai tujuan tersebut secra efektif dan optimal, maka penyelenggaraan pendidikan perlu disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan masyarakat yang sedang membangun serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan TK yang terpenting adalah membantu anak didik mengembangakan potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.61 Adapun fungsi pendidikan Taman Kanak-kanak adalah: a. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. b. Mengenalkan anak dengan dunia sekitar. c. Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.
Departemen Pendidikan nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal (Jakarta: Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hlm. 7
61

lx

d. Mengembangkan keterampilan, kreatifitas dan kempuan yang dimiliki anak. e. Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar. 3. Kurikulum Taman Kanak-Kanak (TK) Untuk dapat memberikan pendidikan yang dapat di tanggungjawabkan, maka sekolah perlu mempunyai sebuah renccana pendidikan yang sistematis yang disebut kurikulum yang tercantum segala sesuatu yang dilakukan untuk mendidik anak yang berhubungan erat pendidikan tersebut, misalnya: tujuan pendidikan , mata pelajaran/ kegiatan di sekolah, bahan pelajaran dan rinciannya untuk setiap tingkatan, cara pelaksaan dsb. Ada beberapa batasan kurikulum yang sesuai dengan kurikulum pendidiakn Taman Kanak-kanak. Kurikulum adalah seluruh usaha atau kegiatan sekolah untuk merangsanng anak supaya belajar, baik di dalam seluruh aspek seseorang dijangkau dalam kurikulum ini, baik aspek fisik, intelektual, sosial maupun emosional.62 Pada Taman Kanak-kanak, kurikulum itu disebut dengan istilah Program Kegiatan Belajar (PKB). 63 Kurikulum adalah seperangakat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum berkenaan dengan filosofi pendidikan anak, program, dan suasana belajar di dalam kelas maupun di luar kelas, strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, media, sarana dan prasarana, evaluasi dan asesmen serta kerjasama antara para guru, orang tua dan masyarakat sekitar sekolah.64

Soemiarti Padmonodewo, Op.Cit., hlm. 56 Ibrahim Bafadal, Dasar-dasar manajemen dan supervisi Taman Kanak-kanak (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 6 64 Departemen Agama, Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal (Jakarta: Direktoral Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2005), hlm. 4
63

62

lxi

Kurikulum adalah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus merupakan pedoman dalam melaksanakan pengajaran pada semua jenis dan tingkat sekolah. Sebelum membicarakan kurikulum lebih dahulu kita bicarakan tentang pengertian dari kurikulum itu sendiri. Istilah kurikulum awal mulanya digunakan dalam dunia olahraga pada

zaman Yunani Kuno. Curriculum alam bahasa Yunani berasal dari kata curir yang artinya pelari dan curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan ”jarak” yangt harus ”ditempuh” oleh pelari. Mengambil makna yang terkandung dari rumusan di atas, kurikulum dalam pendidikan diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah.65 Sedangkan yang dimaksud kurikulum dalam undang-undang RI No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Harold B. Alberty dan Elsie J. Alberty, dalam bukunya ”Reorganizing The High School Curriculum”, memberikan definisi kurikulum sebagai berikut: ”All of the activities that are provided for student by the shcool constitute its curriculum”. Artinya ”Semua aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh murid sesuai dengan peraturan-peraturan sekolah itu disebut dengan kurikulum”.66 Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dilakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah (Bandung: Sinar Baru, 1991), hlm. 4 66 Zuhairini Dkk, Op.Cit., hlm. 52
65

lxii

dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosialemosional, kiognitif, bahsa, fisik/motorik, kemandirian, dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Dari pengertian ini segala pengalaman yang dialami anak atau pendidik adalah termasuk kurikulum. Kurikulum tidak hanya terbatas padan pengalaman dan pengetahuan anak didik dalam kelas atau pelajaran-pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran berlangsung. Kurikulum meliputi sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam lingkungan tanggungjawab sekolah guna mendidik anak. Dari penjelasan di atas adalah pengertian kurikulum secara umum, sedangkan yang dimaksud kurikulum pendidikan agama adalah ”Bahan-bahan pendidikan agama berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman serta nilai-nilai atau norma-norma dan sikap yang dengan sengaja dan sisitematis yang diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama”.67 Mengenai kurikulum ini pada Undang-undang RI No 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 dijelaskan bahwa: Ayat 1 : ”Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar

nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional” Ayat 2 : ”Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidian dikembangkan

dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik”.

67

Ibid, hlm. 54

lxiii

Ayat 3

: ”Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka

Negara Kesatuan Republik indonesia dengan memperhatikan: a. Peningkatan iman dan taqwa b. Peningkatan akhlak mulia c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik d. Keragaman potensi daerah dan nasional e. Tuntutan dunia kerja f. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni g. Agama h. Dinamika perkembangan global, dan i. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.68 Teknologi serta budaya yang mempengaryhi pendidikan. Disamping kurikulum pada Taman Kanak-kanak juga harus secara terus menerus disempurnakan dengan mempertimbangkan hyasil pemantauan dan evaluasi kurikulum sebelumnya. Penyempurnaan kurikulum Taman Kanak-kanak 1976 dilaksanakan secara bertahap sejak tahun 1986/1987. Untuk memudahkan dan memberi kejelasan bagi para guru di lapangan dalam rangka melaksanakan kurikulum Taman kanak-kanak yang disempurnakan, perlu diketahui bahwa: 1. Buku kurikulum TK yang disempurnakan telah memperoleh gambaran tentang landasan, tujuan, lingkup program, pokok-pokok pelaksanaan kurikulum serta pengembangannya. 2. Di dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran kurikulum TK telah tertuang struktur program, tujuan kurikulum, tujuan instruksional umum, bahan

68

UU RI No.20 Tahun 2003, Op.Cit., hlm. 24

lxiv

pengembangan, program, metode atau teknik, sarana dan sumber bahan, serta penilaian. 3. Telah disusun buku petunjuk, antara lain: a. Petunjuk proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak. b. Petunjuk evaluasi pendidikan Taman kanak-kanak. c. Petunjuk penggunaan alat peraga Taman Kanak-kanak. d. Petunjuk pembinaan profesional guru Taman Kanak-kanak. e. Pedoman guru bidang pengembangan.69 Lingkup Program Kurikulum TK 1. Tujuan pendidikan TK mengacu kepada tujuan nasional seperti yang dijelaskan sebelumnya. 2. Lama Pendidikan Taman Kanak-Kanak Pada mulanya, TK memiliki tingkat A, Tingkat B, dan Tingkat C. Tingkat A untuk usia 3 sampai 4 tahun, tingkat B untuk 4 sampai 5 tahun. Tingkat C untuk anak usia 5 sampai 6 tahun. Untuk meningkatkan daya tampung TK disediakan bentuk TK 1 tahun, yang diutamakan bagi yang baru, tingkat A untuk anak usia 4-5 tahun, sedangkan tingkat B untuk usia 5-6 tahun. 3. Organisasi Program Pendidikan Untuk mewujudkan program pendidikan nasional, meningkatkan kualitas

manusia Indonesia yang kreatif dan inovatif serta memiliki kemampuan dasar sebagai bekal untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, maka kurikulum TK secara keseluruhan berbentuk program yang mendukung pengembangan

Ahmad Zamrodji dan Supriyanta, Organisasi dan Pengolahan Taman Kanak-kanak (Malang: Debdikbud Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi dan Perawatan fasilitas, Malang), hlm. 3

69

lxv

semua aspek perkembangan anak didik. Dengan dasar pertimbangan tersebut, maka program pendidikan TK mencakup bidang-bidang pengembangan, yaitu: a. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan 1. pengembangan moral dan nilai-nilai agama 2. pengembangan sosial, emosional dan kemandirian b. Pengembangan kemampuan dasar 1. Pengembangan kemampuan berbahasa 2. Pengembangan kemampuan kognitif 3. Pengembangan kemampuan fisik/motorik 4. Pengembangan kemampuan kesenian.70 Semua bidang pengembangan wajib diberikan pada semua jenis TK. Sedangkan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, pengembangan pengembangan. Pendidikan moral pancasila diarahkan untuk menumbuhkan moral pancasila terwujudnya manusia yang berbudi pekerti luhur dan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan Pancasila dan UUD ’45. Kemampuan berbahasa Indonesia diarahkan kepada pengembangan kemampuan berfikir logis, sistematis dan analitis, peningkatan pemahaman struktur bahasa Indonesia yang sederhana, peningktan kemapuan untyuuk meningkatkan pikiran yang melalui bahasa yang sederhana secara tepat, pengembangan kemampuan berkomunikasi secara efektif, pembangkitan untuk kehidupan beragama harus melandasi semua bidang

Yuke Indrati, Kurikulum Berbasis Kompetensi Anak Usia Dini (Depdiknas: Pusat Kurikulum Badan dan Pengembangan), hlm. 2

70

lxvi

berbahasa Indonesia serta pengembangan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan, sikap, ataupun pendapat. Bidang pengembangan perasaan, kemasyarakatan dan kesadaran lingkungan diarahkan kepada terciptanya hubungan yang baik dengan orang tua, keluarga, teman sebaya, guru dan sesama manusia lainnya. Juga diarahkan kepada pengembangan motivasi untuk berprestasi, penumbuhan rasa ingin tahu, pengenalan lingkungan, kesadaran sebagai bagian dari lingkungan, control diri serta rasa estetik dan etik. Bidang pengembangan daya cipta diarahkan kepada pengembangan kemapuan mengelolah perolehannya dan menemukan bermacam-macam alternative pemecahan masalah serta pengembangan nilai imajinasi. Bidang pengembangan ini seperti hanya bidang pengembangan perasaan,

kemasyarakatan dan kesadaran liingkungan hidup, dimaksudkan untuk mendekatkan anak didik dengan pengalaman seharik-hari. Bidang pengembangan pengetahuan mencakup pengembangan logika matematis serta pengetahuan akan ruang dan waktu, pengembanagn kemampuan memilah-milah dan mengelompokkan serta persiapan pengembangan kebiasaan berfikir teliti. Bidang pengembangan jasmani dan kesehatan, memperkenalkan dan melatih gerakan kasar dan halus serta cara hidup sehat anak untuk menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat dan terampil. 4. Proses Belajar Mengajar dan Penilaian Proses belajar mengajar dilakukan dengan lebih diarahkan kepada bagaimana anak belajar, serta mengacu pada kejadian pembangunan aktual.

lxvii

Proses tersebut dilaksanakan dalam satu kelompok yang memungkinkan anak untuk belajar sambil berbuat dan mampu mengelola perolehannya. Sistem kemampuan yang digunakan di TK adalah pendekatan integratif bidang-bidang pengembangan. Rumusan tentang tujuan dan bahan dapat diambil dari GBPP bidang pengembangan. Kegiatan penilaian yang terutama diarahkan kepada upaya untuk menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan serta proses dan hasil belajar mengajar yang diinginkan telah terwujud. Penilaian dilakukan secara berkesinambungan dan menyeluruh untuk keperluan peningkatan proses dan hasil belajar serta pengeloalaan belajar.71 Penilaian berfungsi sebagai umpan balik guru, sehingga guru dapat

memperbaiki kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan untuk dapat menempatkan murid pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan kemampuan, minat, dan usia lebih tepat sesuai dengan kemampuan dan usia. Penilaian yang dilakukan di TK diarahkan untuk memperoleh gambaran kemajuan pertumbuhan dan perkembangan serta keinginan yang dicapai oleh anak. Hasil penilaian ini tidak untuk menetapkan jenjang pendidikan seperti SD.

71

Ahmad Zamrodji, Supriyanta, Op.Cit., hlm. 12

lxviii

BAB III METODE PENELITIAN

1. Pendekatan dan jenis Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang penulis kemukakan di muka, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan prilaku yang dapat diamati dari orang-orang (obyek itu sendiri).72 Pada penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan umumnya berbentuk kata-kata, gambarangambaran, dan kebanyakan bukan berbentuk angka-angka. Peneliti mengadakan pengamatan atau wawancara langsung terhadap obyek atau subyek penelitian, oleh karena itu peneliti terjun langsung ke lapangan dan terlibat langsung. Tujuan menggunakan pendekatan deskristif kualitatif pada penelitian adalah untuk mendeskripsikan materi yang diajarkan dalam penanaman nilai-nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang dan metode apa yang digunakan dalam strategi penanaman agama tersebut. Peneliti berusaha mengkaji secara mendalam dan terperinci dari satu konteks, penelitian ini dilakukan untuk meneliti penanaman nilai-nilai agama pada anak TK di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang.

2. Kehadiran Peneliti

72

Arif Furhan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif (Surabaya: Usaha Nasional, 1992), hlm. 21

lxix

Dalam penelitian ini peran peneliti adalah sebagai pengamat yang tidak terlibat secara langsung dan subyek penelitian dalm menjalankan proses pendidikan, hal ini dilakukan karena sebagai upaya obyektifitas hasil penelitian. Untuk melaksanakan penelitian ini terlebih dahulu peneliti mengajukan surat perizinan penelitian sebagai salah satu persyaratan. Dalam perizinan peneliti dilakukan secara formal dengan menyerahkan surat izin penelitian dari pihak kampus kepada pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah yang berwewenang mengambil keputusan atas proses perizinan tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan hubungan secara emosional antara kepala sekolah serta guru dan memberikan penejelasan tentang tujuan kehadiran peneliti sebagai langkah awal dan setelah itu peneliti mulai dilakukan sesuai dengan yang dikehendaki. Dengan begitu proses penelitian tersebut dapat berjalan dengan lancar dan baik. 3. Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini, penulis memilih TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang sebagai obyek penelitian sekolah yang didasarkan atas: 1) Kualitas lokasi yang merupakan salah satu TK yang punya sarana dan prasarana yang memadai. 2) TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang merupakan salah satu pendidikan pra sekolah yang sangat memperhatikan perkembangan pengetahuan agama pada peserta didiknya. 3) Penanaman nilai keagamaan pada peserta didik merupakan salah satu

pengembangan kurikulum di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 4) Peneliti ingin mengetahui bagaimana TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang menerapkan metode untuk menanamkan nilai-nilai agama terhadap anak didik.

lxx

4. Sumber Data Sumber data dalam penelitian adalah subyek darimana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.73 Sumber data dari penelitian ini adalah subyek dari data dapat diperoleh dan digali dalam penelitian ini yang terdiri dari sumber data utama yang berupa kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan data utama yang berupa kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan data statistik. Sehingga beberapa data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi: 1. Sumber data utama (primer), yaitu data yang diambil peneliti melalui wawancara dan observasi sumber data tersebut meliputi: a. Kepala sekolah TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. b. Guru TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. c. Sumber-sumber lain yang memungkinkan bisa memberikan informasi serta data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang ada. 2. Sumber data tambahan (sekunder), yaitu data yang diperoleh dari lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data yang telah tersedia.74 Dokumentasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini terdiri atas dokumen-dokumen yang meliputi: a. Sejarah berdirinya TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rieneka Cipta, 2006), hlm. 129 74 Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 91

73

lxxi

b. Buku-buku tentang Penanaman nilai-nilai Agama dan pendidikan Anak Usia Dini. c. Struktur organisasi TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. d. Data guru, karyawan dan siswa. e. Keadaan sarana dan prasarana Jadi penelitian ini akan mengeksplorasi data kualitatif yang berkaitan dengan masing-masing fokus penelitian yang diamati, dan apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumentasi atau catatan yang menjadi sumber data. Dari keterangan diatas maka sumber data utama yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini adalah Kepala sekolah, siswa-siswi TK yang nantinya akan memberikan pengarahan kepada peneliti dalam mengambil sumber data dan memberikan rekomendasi kepada informan lainnya seperti: Orang tua, guru, sehingga semua data-data yang diperlukan peneliti terkumpul sesuai dengan kebutuhan peneliti. 5. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode. Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode antara lain:

1. Metode Observasi Metode observasi adalah suatu pengamatan dan pencatatan secara sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.75 Metode ilmiah yang diartikan sebagai pengamatan dan mencatat secara sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.76

75 76

Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach II, (Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM, 1994), hlm. 136 Syaifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 91

lxxii

Dalam pengertian psikologi, observasi yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan penemuan terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Yang diobservasi dalam penelitian kualitatif lazimnya suatu situasi sosial

tertentu yang setidaknya mempunyai tiga elemen utama yaitu: 1. Lokasi tempat situasi sosial itu berlangsung. 2. Manusia-manusia perilaku atau aktor yang menduduki status atau posisi tertentu dan menanamkan penanaman tertentu. Sedangkan yang diobservasi di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang adalah: 1. Lokasi TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 2. Keadaan guru dan peserta didik. 3. Keadaan sarana dan prasarana. 4. Proses pembelajaran yang berlangsung di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang dalam menanamkan nilai agama.

2. Metode Wawancara (Interview) Metode wawancara atau interview adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.77

77

Lexy J, Maleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi., hlm. 186

lxxiii

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face), maupun dengan menggunakan telepon.78 Menurut Mulyana metode wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dari petanyaan-pertanyaan pada para responden berdasarkan tujuan tertentu.79 Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Biasanya komunikasi ini juga dilaksanakan melalui telepon. Sering interview dilakukan dua orang tetapi dapat juga sekaligus diinterview dua orang atau lebih. Hubungan antara interview dengan yang diinterview bersifat sementara, yaitu berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan kemudian diakhiri. Hubungan dalam interview biasaanya seperti orang asing yang tak berkenalan, namun pewawancara harus mampu mendekati responden, sehingga ia rela memberikan keterangan yang kita inginkan. Bila responden bersikap defensif, maka tidak akan diberikannya semua keterangan dimilikinya. Dalam interview peneliti menerima informasi yang diberikan oleh informan tanpa membantah, mengecam, menyetujuai atau tidak menyetujui. Dengan interview bagi peneliti bertujuan untuk memperoleh data yang dapat diolah untuk memperoleh generalisasi atau hal-hal yang bersifat umum yang menunjuukan situasi-situasi yang lain. Sekalipun keterangan yang diberikan oleh informan bersifat

78

Sugiyono, Metode PenelitianKuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2007), hlm. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling (Jakarta: Rieneka Cipta, 1989), hlm. 110

138
79

lxxiv

pribadi dan subyektif, tujuan bagi peneliti adalah menemukan prinsip yang lebih obyektif.80 Informan yang akan menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah kepala sekolah TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang, guru-guru TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang, siswa TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. Metode observasi digunakan untuk mengetahui materi yang diajarkan dalam menanamkan nilai-nilai agama dan metode-metode yang digunakan dalam menanamkan nilai-nilai agama dalam pembelajaran di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 3. Metode Dokumentasi Yang dimaksud metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkib buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, agenda dan sebagainya.81 Dokumentasi dari penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai jenis informasi, dapat juga diperoleh melalui dokumentasi, seperti surat-surat resmi, catatan rapat, laporan-laporan artikel, media, kliping, proposal, agenda, memorandum, laporan perkembangan yang dipandang relevan dengan penelitian yang dikerjakan. Sebagai dibidang pendidikan ini dapat berupa buku induk, rapat, studi kasus, model status pelajaran guru,dsb. Data-data yang penulis peroleh dari dokumen-dokumen yang ada adalah mengenai: 1. Sejarah berdirinya TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 2. Struktur organisasi TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 3. Jumlah anak didik yang ada di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang.
S.Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah) (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 113-114 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rieneka Cipta, 2002), hlm. 206
81 80

lxxv

4. Data guru di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 5. Sarana prasarana di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 6. Foto-foto di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 6. Analisis Data Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Adapun teknik analisis data yang penulis gunakan adalah teknik analisis diskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan/fenomena yang ada di lapangan (hasil risearch) dengan dipilah-pilah secara sistematis menurut kategorinya dengan menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat umum.82 Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil, observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang apa yang diteliti dan menyajikan sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan menurut Nana Sudjana analisis data adalah penyusunan, pengaturan, pengelolaan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalakan hipotesis.83 Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Untuk peneliti yang tidak merumuskan hipotesis langkah terakhir tidak dilakukan.84 Sesuai dengan jenis datanya, maka peneliti mengunakan anlisis deskriptif, yaitu pengelolaan dengan langkah-langkah sebagi berikut: setelah data terkumpul selanjutnya diidentifikasi serta dikatagorikan kemudian digambarkan berdasarkan logika dengan

82 83

Lexy J. Moleong, Op.Cit., hlm. 178. Nana Sudjana, Tuntutan Penulisan Karya Ilmiah (Jakarta: Sinar Baru Algensindo, 1987), hlm. Sugiyono, Op.Cit., hlm. 147

76
84

lxxvi

tidak melupakan hasil dari pengamatan, wawancara dan mengambil keputusan. Adapun tahap-yahap analisis data tersebut adalah sebagai berikut: 1. Analisis selama pengumpulan data Dalam analisis data ini, peneliti mengunakan teknik sebagi berikut: a) Pembatasan mengenai jenis kajian yang diperoleh b) Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan c) Merencanakan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan memperhatikan hasil pengematan sebelumnya d) Menulis catatan bagi diri sendiri mengenai hal yang dikaji 2. Analisis setelah pengumpulan data Adapun untuk membatasi data yang telah terkumpul adalah bahwa data yang diperoleh tidak direalisasikan dalam bentuk angka, tetapi dalam bentuk uraian atau gambaran tentang kondisi obyek penelitian yang berkenaan dengan tema yang dikaji dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan data yang lebih relevan dan urgen terhadapa data yang telah terkumpul, maka peneliti menggunakan beberapa teknik, yaitu: mengadakan observasi secara terus-menerus (presistent observation) terhadap objek yang diteliti guna memahami gejala yang lebih mendalam terhadap penanaman nilai-nilai agama pada anak TK. 7. Pengecekan Keabsahan Data Pengecekan keabsahan data atau validitas data merupakan pembuktian bahwa apa yang telah diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada di dunia nyata.

lxxvii

Untuk mendapatkan data yang relevan terhadap data yang terkumpul, maka penulis menggunakan teknik Triangulasi yaitu, teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu, tekniknya dengan pemeriksaan sumber lainnya.85 Triangulasi merupakan cara untuk melihat fenomena dari berbagai sumber informasi dan teknik-teknik. Misalnya, hasil observasi dapat di cek dengan hasil wawancara atau membaca laporan, serta melihat yang lebih tajam hubungan antara beberapa data. Teknik tringulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan sumber lainnya, adapun pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan triangulasi sumber, yaitu yang berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.86 8. Tahap-Tahap Penelitian Untuk memudahkan peneliti, maka peneliti hendaknya melalui tahapan-tahapan penelitian sesuai dengan model penerapan Moleong, yaitu: 1. Tahap Pra Lapangan Menyusun Proposal penelitian: Proposal penelitian ini digunakan untuk meminta izin kepada lembaga yang terkait sesuai dengan sumber data yang dibutuhkan. Tahapan ini meliputi kegiatan mencari permasalahan penelitian melalui bahanbahan tertulis (kajian pustaka) dan menentukan fokus penelitian kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti, sebagai berikut:
85 86

Nasution, Metodologi Penelitian naturalistik Kualitatif (Bandung: Grasindo, 1996), hlm. 116 Lexy J. Moleong, Op.Cit., hlm. 179

lxxviii

1) Menyusun rancangan penelitian. 2) Pemilihan lapangan penelitian, maksudnya peneliti memilih lapangan penelitian yang merupakan keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu, biaya, dan tenaga. 3) Mengurus perizinan, tahap ini dilakukan agar pengumpulan data tidak mengalami kesulitan atau gangguan. 4) Memilih dan memanfaatkan informasi, adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi. 5) Menyiapkan perlengkapan penelitian. Dalam hal ini peneliti menyiapkan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk digunakan dalam penelitian 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian Tahap pelaksanaan penelitian adalah tahap waktu peneliti berada di lapangan dengan aktifitas memahami latar penelitian, berperan serta sambil mengumpulkan data, diantaranya: 1) Memahami latar penelitian dan persiapan diri. 2) Memasuki lapangan. 3) Berperan sambil mengumpulkan data. 3. Mengidentifikasi Data Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara dan observasi diidentifikasi agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan. 4. Tahap Penulisan Laporan Kegiatan ini merupakan teknik dan strategi penelitian laporan dilakukan setelah mengadakan penelitian di lapangan.

lxxix

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Setelah peneliti mengumpulkan data dari hasil penelitian yang diperoleh dari observasi, dokumentasi dan wawancara, maka selanjutnya pada bab ini peneliti akan mencoba mendeskripsikan data-data yang telah peneliti temukan berdasarkan logika dan diperkuat dengan teori-teori yang sudah yang kemudian diharapkan bisa menemukan sesuatu yang baru. Sesuai dengan teknik analisa yang sudak peneliti kemukakan pada bab III yaitu, bahwasannya peneliti menggunakan teknik analisisnya dengan deskriptif kualitatif untuk menjelaskan temuan yang sudah ada, baik itu dari hasil observasi, dokumentasi maupun wawancara. Adapun pembahasannya juga berdasarkan rumusan masalah yang sudah peneliti paparkan. A. Materi yang diajarkan dalam menanamkan nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang Materi Pendidikan Agama Islam adalah bahan-bahan pelajaran yang akan di berikan kepada anak didik, oleh karena itu agar pendidik dapat berhasil dengan baik sesuai dengan harapan pendidikan maka, materi yang disampaikan haruslah disusun sedemikian rupa sehingga materi itu akan mudah di terima anak. Menurut direktorat pembinaan sekolah materi pembelajaran adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai

lxxx

sasaran, dan materi yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi atau bidang yang dikembangkan dalam Program Kegiatan Belajar (PKB) di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang adalah: 1. Keimanan Dasar-dasar pengetahuan tentang rukun iman/pendidikan akidah. A. 1. Mengenal Allah Melalui Ciptaannya 1) Ciptaan Allah dari jenis manusia 2) Ciptaan Allah dari jenis binatang 3) Ciptaan Allah dari jenis tumbuh-tumbuhan 4) Cipataan Allah dari jenis benda alam 2. Mengenal adanya Allah melalui sifat-sifatnya 1) Allah Maha Pandai 2) Allah Maha Pengasih dan Penyayang 3) Allah Maha Melihat 4) Allah Maha Mendengar 5) Allah Maha Esa B. Mengenalkan beberapa malaikat utusan Allah serta tugas-tugasnya 1) Malaikat Jibril 2) Malaikat Mikail 3) Malaikat Rokib dan Atid 4) Malaikat Ridwan C. Mengenal Rosul utusan Allah serta sifat-sifatnya

lxxxi

1) Kota kelahiran Nabi Muhammad SAW 2) Keluarga dekat Nabi Muhammad SAW 3) Sifat-sifat Nabi Muhammad SAW a. Jujur b. Pandai c. Berbudi luhur D. Mengenal Alquran kitab suci dan cara mengamalkannya 1) Membaca surat-surat pendek 2) Isi ajaran alquran 3) Sejarah turunnya alquran mengenalkan huruf alquran (huruf hijaiyah) E. Mengenal adanya kehidupan akhirat gambaran kehidupan di surga F. Mengenal dasar pengetahuan tenntang takdir sebagai ketetapan Allah 1) Hidup a. Kelahiran bayi b. Hidup kaya c. Hidup miskin 2) Meninggal a. Meninggal karena sakit b. Meninggal karena kecelakaan c. Meninggal karena usia 2. Ibadah Dasar-dasar pengetahuan rukun islam yang tercermin dalam sikap perbuatannya. A. Mengenal bacaan dua kalimat syahadat dan artinya 1. Latihan mengucapkan bacaan

lxxxii

2. Laihan mengucapkan artinya B. a. Mengenal cara mengerjakan ibadah sholat 1. Gerakan sholat 2. Bacaan sholat 3. Tempat sholat 4. Waktu sholat 5. Perlengkapaan sholat b. Macam-macam sholat 1. Sholat jumat 2. Sholat Idul fitri 3. Sholat Idul adha C. Mengenal cara ibaah puasa 1. Cara sahur 2. Menahan lapar disiang hari sesuai dengan kemampuaanya 3. Paraktik berbuka puasa D. Mengenal cara membayar zakat 1. Zakat Fitrah a. Barang yang di zakatkan b. Yang berhak menerima zakat c. Waktu memberikaan zakat 2. Zakat Maal (harta) Dengan l;atihan memberikan sebagian yang dimilikinya atau disenanginya 3. Akhlak Dasar-dasar pengetahuan tentang ihsan /akhlak dan pengamalannya

lxxxiii

A. Mengenal akhlak terhadap Allah Bersikap baik waktu sedang ibadah 1. Sikap waktu sholat (tenang, khusuk, tuma’ninah) 2. Sikap waktu berdoa 3. Sikap waktu orang sholat dan berdoa 4. Sikap waktu mendengar adzan B. Mengenal akhlak terhadap sesama manusia 1. Patuh dan hormat terhadap orang tua 2. Membantu orang tua 3. Mendoakan orang tua 4. Soapan santun terhadap orang yang lebih tua (kakak, bibi, paman dll) PEMBINAAN MEMBACA MENULIS ALQURAN 1. Mengenal dan mengucapkan huruf hijaiyah dengan fasih. 2. Membaca huruf yang telah diberi syakal, yang terdiri dari huruf: Membaca huruf yang telah dirangkai menjadi kata, kalimat, dan huruf mati yang terdiri dari huruf 3. Membaca dan menulis huruf alquran PEMBINAAN ASWAJA 4. Mengenal gambar tokoh dan sejarah perjuangan secara sederhana 1. KH. Hasyim Asyari 2. KH. Abdul Wahab Hasbullah 3. KH. Bisri Sansuri 4. KH. Wahid Hasyim 5. KH. Ridwan Abdullah

lxxxiv

6. KH. Mas Alwi 7. KH. Idham Kholid 8. KH. Ali Maksum 9. KH. Asad Syamsul Arifin 10. KH. Abdulrahman Wahid 5. Mengenal lambang NU dan pencetusnyas 6. Mengenal sejarah perjuangan walisongo dan para alim ulama 7. Mengenal pesentren dan majelis pengajian 8. gemar berjamaah, membaca sholawat dan dzikir Di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang sudah peneliti anggap sebagai TK yang dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anak dengan baik. Dilihat dari materi-materi yang diajarkan kepada siswanya dan dalam keseharian siswanya yang mencerminkan memiliki sikap yang agamis seperti mengucap salam bila bertemu guru, membaca doa dalam memulai setiap kegiatan. Senada dengan paparan tersebut, Zakiyah Darajat mengemukakan bahwa pendidikan agama disekolah, merupakan dasar bagi pembinaan sikap positif terhadap agama yang berhasil membentuk pribadi dan akhlak anak, maka dalam kaitannya dengan hal itu, pemberian materi agama di sekolah disamping mengembangkan pemahaman agama juga harus memberikan latihan atau pembiasaan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti: sholat dan berdoa sehingga anak tidak hanya paham akan agama tetapi juga melaksanakan ajaranajarannya.25

25

Syamsu Yusuf, Op. Cit, Hal 162-178.

lxxxv

TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang yang didukung oleh sarana prasarana yang lengkap mulai dari ruang kelas, dasan peralatan sholat yang lengkap sehingga mempermudah guru dan siswa untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Tetapi perlu diingat bahwa keberhasilan secara keseluruhan dalam proses belajar mengajar tergantung pada keberhasilan guru merancang meteri

pembelajaran. Materi pembelajaran pada hakikatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membentuk peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna, dituntut memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur pengembangan materi serta mengukur efektifitas persiapan tersebut. Penanaman nilai agama hanya dapat dicapai melalui pendekatan (terintegrasi) dan menyeluruh (komprohensif). Terpadu artinya bahwa seluruh unsur yang bertanggungjawab terhadap pendidikan (yaitu, orang tua, pemerintah dan masyarakat) secara bersama-sama melakukan tindakan aktif untuk

meningkatkan mutu pendidikan. Komprehensif dalam arti bahwa meningkatkan kualitas pendidikan dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan, peningkatan, atau perbaikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Peran Serta Masyarakat (PSM), dan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan ( PAKEM).87

Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2007), hlm. 243-244

87

lxxxvi

B. Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang Dalam penanaman jiwa keagamaan kita harus memulai dari anak ketika masih dalam kandungan, menurut Zakiyah Darajat dalam bukunya ilmu jiwa agama menyatakan bahwa anak mulai mengenal Tuhan sejak dari umur 3 atau 4 tahun, melalui bahasa. Mereka mulai mengenal apa yang ada di alam sekitarnya kemudian sering bertanya tentang siapa yang membuat matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Menurut Abu Aqil Al-Atsary Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan. Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tinjauan psikologi agama membuktikan bahwa anak sejak kecil telah membawa benih atau potensi untuk beragama. Potensi tersebut kemudian akan berkembang sesuai dengan pedidikan yang diterimanya, dan sesuai pula dengan pengaruh dari lingkungannya. Metode adalah rencana menyeluruh yang berkenaan dengan penyajian bahan/materi pelajaran secara sistematis dan metodologis serta didasarkan atas

lxxxvii

suatu pendekatan, sehingga perbedaan pendekatan mengakibatkan perbedaan penggunaan metode. Jika metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan tingkah laku sehingga terlihat dalam pribadi subjek dan obyek pendidikan, yaitu pribadi Islami. Selain itu, metode dapat membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam penanaman keagamaan pada TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang telah terpogram dalam kegiatan mengembangkan kemampuan dasar dengan menerapkan metode-metode penanaman nilai-nilai agama pada anak. Metode pendidikan Islam adalah berbagai cara yang digunakan oleh pendidik muslim, sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan tingkah laku, sehingga nilai-nilai Islami dapat terlihat dalam pribadi peserta didik (subjek dan obyek pendidikan). Diantara metode-metode yang digunakan dalam penanaman nilai-nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang adalah: 1. Metode Pembiasaan Kebiasaan sebenarnya berintikan pengalaman. Uraian tentang pembiasaan sejalan dengan uraian tentang perlunya mengamalkan kebaikan yang telah diketahui. Inti pembiasaan adalah pengulangan. Dalam pembinaan sikap, metode pembiasaan sebenarnya cukup efektif dan sebagai salah satu upaya dalam pembentukan manusia dewasa. Pembiasaan ini tidak hanya perlu bagi anak-anak, bahkan sampai tua pun manusia tetap memerlukan pembiasaan.88

88

http://www.blogger.com/feeds/8929506564700341856/posts/default

(di akses tanggal 23

maret 2009)

lxxxviii

Begitu juga di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang yang menanamkan pada anak sejak dini untuk membiasakan akhlak terpuji karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk menerima kebaikan atau keburukan. Allah juga telah menjelaskan bahwa jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 2. Metode Keteladanan Firman Allah SWT dalam Alquran (QS. Al Ahzab ayat 21) disebutkan:

©!$# t•x.sŒur t•ÅzFy$# tPöqu‹ø9$#ur ©!$# (#qã_ö•tƒ tb%x. `yJÏj9 ×puZ|¡ym îouqó™é& «!$# ÉAqß™u‘ ’Îû öNä3s9 tb%x. ô‰s)©9 ÇËÊÈ #ZŽ•ÏVx.
Artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.89

Berdasarkan ayat di atas keteladanan menjadi penting dalam pendidikan, keteladanan akan menjadi metode yang ampuh dalam membina perkembangan anak didik. Keteladanan sempurna, adalah keteladanan Rasulullah SAW, yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, sehingga diharapkan anak didik mempunyai figur pendidik yang dapat dijadikan panutan. Menanamkan nilai-nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang adalah dengan mencontohkan perilaku dan sikap yang baik yang dimiliki oleh
Alqur’an dan Terjemahnya (Departemen Agama Republik Indonesia: CV. Penerbit J-ART, 2005), hlm. 421
89

lxxxix

pendidik sebagai orang yang memberikan arahan dan bimbingan pada anak didik dalam perkembangan jiwa maupun sikapnya dengan berpakaian yang sopan, berkata dengan perkataan yang sopan, mengucap salam dan menjawab salam serta memberikan contoh sikap yang penolong, sehingga anak didik mencontoh apa yang dilakukan pendidik karena keteladanan sempurna adalah keteladanan Rosulullah yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, sehingga dengan keteladanan, anak didik mempunyai figur yang baik. 3. Metode Demonstrasi Untuk mengajarkan suatu materi pelajaran sering kali tidak cukup kalau guru TK hanya menjelaskan secara lisan saja. Terutama dalam mengajarkan penguasaan keterampilan terhadap anak TK, akan lebih mudah mempelajarinya dengan cara menirukan apa yang dilakukan gurunya. Metode demonstrasi dapat dipergunakan untuk memenuhi dua fungsi yaitu dapat diperguunakan untuk memberikan ilustrasi dalam menjelaskan informasi kepada anak dan demonstrasi dapat membantu meningkatkan daya pikir anak TK terutama daya pikir dalam kemampuan mengenal, mengingat, berfikir konvergen dan berfikir evaluatif.90 Penerapan metode Demonstrasi di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang menunjukkan Perhatian anak didik akan lebih terpusat pada apa yang di demonstrasikan, jadi proses anak didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak didik kepada masalah lain, dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar dan dapat menambah pengalaman anak didik. Metode demontrasi yang terlaksana dengan baik dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar, dapat menambah pengalaman anak

90

Moeslichatoen R, Op.Cit., hlm. 113-114

xc

didik, bisa membantu siswa ingat lebih lama tentang materi yang di sampaikan dan dapat mengurangi kesalah pahaman karna pengajaran lebih jelas dan kongkrit. Menurut peneliti metode demonstrasi sangat tepat digunakan dalam penanaman nilai agama pada anak. Karena anak dapat mempraktikkan secara langsung materi yang sudah didapat. Dengan praktik tersebut anak-anak akan merasa tertarik untuk mempraktikkannya. Sebab, pada hakikatnya manusia ingin mengalami sesuatu yang baru didapatnya. Disamping itu, metode demonstrasi juga mampu mengurangi kesalah pahaman dalam mengambil kesimpulan dan pengertian. Oleh karena itu, guru hendaknya memberikan penjelasan atau pengertian dasar tentang hakikat sholat atau wudlu yang akan di praktikkan. Dengan demikian, peserta didik akan mengerti betul hakikat sesuatu yang akan di praktikkan. 4. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab dapat dinilai sebagi metode yang cukup wajar dan tepat apabila penerapannya dipergunakan untuk merangsang anak agar perhatiannya terarah kepada masalah atau materi pelajaran yang dibicarakan, mengarahkan proses berfikir dan pengamatan murid, meninjau atau melihat penguasaan murid terhadap materi atau bahan yang telah diajarkan sebagai pertimbangan untuk melanjutkan penyajian bahan atau materi pelajaran berikutnya, melaksanakan ulangan, evaluasi dan memberikan selingan dalam ceramah atau penyajian pelajaran dengan lisan sehingga perhatian murid tetap terpusat pada pembicaraan yang sedang berlangsung.91

91

Zuhairini dan Abdul Ghofir, Op.Cit., hlm. 63

xci

Begitu juga halnya metode tanya jawab yang terlaksana di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang dilakukan secara spontan kepada siswa sebagai evaluasi dari materi yang telah disampaikan kepada siswa dan menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa. Evaluasi memang perlu dilakukan kepada anak didik, karena dengan evaluasi seorang guru dapat mengetahui perkembangan anak didiknya dalam proses pembelajaran. 5. Metode Bermain Bermain adalah metode pengajaran yang dilakukan melalui permainan yang dapat membangkitkan siswa dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan bermain anak dapat berlatih menggunakan kemampuan kognitifnya untuk memecahkan berbagai masalah dan mengembangkan kreativitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang mengandung kelenturan, memanfaatkan imajinasi atau ekspresi diri, kegiatankegiatan pemecahan masalah, mencari cara bau dan sebagainya. Fungsi bermain sendiri tidak saja meningkatkan perkembangan kognitif dan sosial, tetapi juga perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral, kreativitas, dan

perkembangan fisik anak.92 Frobel berpendapat, bahwa permainan bisa memberikan pada anak kesempatan untuk memuaskan dorongan dan melaksanakan/ merealisasikan fantasinya. Oleh karena itu Frobel mementingkan unsur-unsur fantasi, kegembiraan dan kebebasan, untuk waktu “sekarang” di dalam setiap permainan.93 Berdasarkan analisis di atas, dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukainya, bereksperimen dengan bermacam

92 93

Moeslichatoen R, Op.Cit., hlm. 32 Kartini Kartono, Psikologi Anak (Bandung: P.T Mandar Maju, 1995), hlm. 124

xcii

bahan dan alat, berimajinasi dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan serta bermanfaat dalam mengembangkan kreatifitas anak. Metode bermain di Taman Kanak-kanak Muslimat NU 31 Sumbersari Malang menggunakan permainan yang dapat merangsang kreatifitas anak dan menyenangkan, sehingga anak-anak dapat menyerap isi pelajaran yang terkandung dalam permainan. Apapun batasan yang diberikan tentang pengertian bermain dapat membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan, dan memungkinkan anak berhayal tentang sesuatu.

6. Metode Cerita Dunia kehidupan anak penuh dengan suka cita, maka kegiatan bercerita harus diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu dan mengasyikkan. Cerita tidak harus kisah nyata, tetapi juga bisa dengan dongeng-dongeng yang dapat membangkitkan antusias anak untuk dapat mendengarkan cerita yang telah disampaikan. Metode bercerita merupakan salah satu metode yang memberikan pengalaman belajar bagi anak TK, dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan, cerita yang disampaikan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan anak TK.94 Melalui cerita, guru-guru di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang menyampaikan penuturan yang disampaikan lewat cerita yang sarat informasi atau nilai-nilai itu dihayati anak dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena

94

Ibid., hlm. 157

xciii

cerita merupakan penuturan atau pesan yang disampaikan, oleh karena itu kegiatan bercerita harus memberikan perasaan yang gembira, menarik, dan mengasikkan agar pendengar bisa menyerap pesan yang disampaikan melalui cerita yang disampaikan. 7. Metode Sosiodrama (bermain peran) Metode sosiodrama adalah metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Sedangkan, bermain peran menekankan kenyataan dimana para murid diikut sertakan dalam memainkan peran, dan metode sosiodrama merupakan metode mengajar dengan cara

mempertunjukkan kepada siswa tentang masalah-masalah hubungan sosial, untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Masalah hubungan sosial tersebut di dramatisasikan oleh siswa dibawah pimpinan guru. TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang metode sosiodrama yang diterapkan seperti memainkan peran menjadi orang lain seperti memerankan dirinya sebagi ayah, ibu, adik dll. Dengan metode sosiodarama anak akan tahu bagaimana sosok ayah, ibu dan adik. Peneliti menganggap bahwa penerapan metode sosiodrama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang sudah cukup baik karena melalui metode ini guru mengajarkan cara-cara bertingkah laku dalam hubungan antara sesama manusia.

xciv

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil lapangan yang sesuai dengan rumusan masalah, maka peneliti dapat memberikan kesimpulan deskriptif yang peneliti uraikan di beberapa bab dan dari informasi atau data yang penulis peroleh maka dapat peneliti peroleh maka dapat peneliti simpulkan sebagai berikut: 1. Materi yang diberikan kepada anak didik harus disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual anak dan materi yang diajarkan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang berganti-ganti dalam setiap hari sesuai dengan Program Semester I-II Pendidikan Agama Islam TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 2. Metode yang dipakai dalam menanamkan nilai agama di Taman Kanak-kanak Sumbersari Malang adalah: 1. Metode bermain 2. Metode pembiasaan 3. Metode cerita 4. Metode keteladanan 5. Metode demonstrasi 6. Metode tanya jawab. 7. Metode Dramatisasi

xcv

Dari beberapa metode di atas diharapkan akan mempermudah pengajaran dalam menanamkan nilai agama pada anak didik di Taman Kanak-kanak Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. B. Saran Setelah meneliti dan memperhatikan tentang upaya guru dalam menanamkan nilai-nilai agama dengan metode bermain, metode pembiasaan, metode cerita, metode keteladanan, metode demonstrasi, metode tanya jawab dan sosiodrama. Maka penulis memberikan saran-saran yang di harapkan dapat menjadi masukan bagi guru-guru di Taman Kanak-kanak Muslimat NU 31 Sumbersari Malang dan calon guru agama pada umumnya. 1. Penanaman nilai-nilai keagamaan yang dilaksanakan di TK sudah cukup baik, dan guru dalam mendidik anak haruslah tegas agar anak mau menjalankan apa yang diperintahkan guru. 2. Dalam penggunaan metode di sesuaikan dengan kemampuan pribadi anak, agar anak lebih mudah dalam menerima materi yang disampaikan dan guru lebih mudah mengembangkan motorik anak. 3. Materi pembelajaran menempati posisi penting dari keseluruhan kurikulum, maka materi yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. 4. Perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana seperti perpustakaan dengan buku-buku yang menunjang keagamaan beserta medianya karena hal itu sangat menunjang dalam keberhasilan belajar mengajar. 5. Lebih meningkatkan kerja sama dengan dengan orang tua murid dan mengawasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

xcvi

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Latif. 2004. Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: PT.Refika Aditama. Abdurrahman, Jamal. Cet II 2004. Pendidikan ala Kanjeng Nabi 120 Cara Rasulullah SAW Mendidik Anak. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Adlan, Abdul jabbar. Dcirasat Islamiyah. 1993. Jakarta: Aneka Bahagia. Ahmadi, Abu.1998. MKDU Dasar-dasar Pendidikan Islam. Jakarta:Bumi Aksara. Ahmadi, Abu dan Uhbiyati, Nur. 2003. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rieneka Cipta. Alquran dan Terjemahnya. 1998. Semarang: Toha Putra Arifin, H.M. Filsafat Pendidikan Agama Islam. 1993. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rieneka Cipta. Azwar, Saifuddin. 1997. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bafadal, Ibrahim. 2005. Dasar-dasar manajemen dan supervisi Taman Kanak-kanak. Jakarta: Bumi Aksara. Darajad, Zakiyah. 1992. Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta:Bulan Bintang. Departemen Agama. 2005. Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal Jakarta: Direktoral Jendral Kelembagaan Agama Islam. Departemen Pendidikan nasional. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. Jakarta:Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. DEPDIKBUD. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1989. Jakarta: Balai Pustaka.

xcvii

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rieneka. Furhan, Arif. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional. Ghuddah, Abu dan Al-Fattah, Abd. 2005. 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah, Yogyakarta: Tiara Wacana. Gunarsah, Singgih D. dan Gunarsah, Singgih D, Ny. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hamka. 1998. Tasawuf Modern. Jakarta:Pustaka Panjimas. http://hajisunaryo.multiply.com/journal/item/34/34. http://massofa.wordpress.com/2008/01/25/ruang-lingkup-pengembangan-nilai-nilai agama-bagi-anak-taman-kanak-kanak/. http:www.google.com. Wikipedia Indonesia, Pendidikan. Hurlock.EB. Perkembangan Anak. 1999. Jakarta: Erlangga. Husain, Abdul Rajak. 1995. Penyelenggaraan Sitem Pendidikan Nasional. Jakarta: Aneka. Indra Kusuma, Amir Daien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Indrati, Yuke. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Anak Usia Dini. Depdiknas: Pusat Kurikulum Badan dan Pengembangan. Ishomuddin. 1996. Sosiologi Agama. Malang: UMM Press. Kartono. 1997. Tujuan Pendidikan nasional. Jakarta: PT.Pradnya Paramita. Ketut Sukardi, Dewa. 1989. Pengantar Teori Konseling . Jakarta: Rieneka Cipta. Mansur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

xcviii

Masyah, Syarif Hade Dkk. Mendidik Anak Lewat Cerita Dilengkapi 30 Kisah. 2003. Jakarta: Mustaqiim. Moeslichatoen R. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Rieneka Cipta. Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: Remaja Rosda Karya. Muslim dkk, 1993. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: CV.Alfabeta. Nasution. 1996. Metodologi Penelitian naturalistik Kualitatif. Bandung: Grasindo. Nasution, Prof.Dr.S.,MA. 2007. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara. Patmonodewo, Soemiarti. Pendidikan Anak Usia Prasekolah. 2000. Jakarta:Rieneka cipta. Proyek Pembinaan Prasarana dan Perguruan Tinggi Agama IAIN. 1984. Metodologi Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka. Puspito, Hendro. Sosiologi Agama. 2003. Jakarta: Kanisius. Ramayulis. Cet 3 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. Sabilun dkk. 2003.Pokok-pokok Pendidikan Agama Islam. Surabaya: Al Ikhas. Sagala Syaiful, 2007. Manajemen Strategik dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta Said Mursi, Muhammad. 2001. Melahirkan Ilmu Pendidikan Anak Masya Allah. Jakarta:Cendekia.

xcix

Sudjana, Nana. 1991. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru. Sudjana, Nana. 1987. Tuntutan Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Sinar Baru Algensindo. Sugiyono. Metode PenelitianKuantitatif Kualitatif dan R&D. 2007. Bandung: Alfabeta. Sulaiman, Ahmad dan Amr, Abu. Cet III 2002. Metode Pendidikan Anak Muslim. Jakarta: Darul Haq. Supriyanta, Ahmad Zamrodji. 2003. Organisasi dan Pengolahan Taman Kanak-kanak. Malang: Debdikbud Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi dan Perawatan fasilitas, Malang. Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda Karya. Undang-undang RI No 20 Tahun 2003. 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara. Zainal, Amirudin. 2004. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo. Zuhairini dan Abdul Ghafir. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Malang: UM Press. Zulkifli. 1992. Psikologi Perkembangan, bagian Perkembangan dalam masa kanakkanak. Bandung:Remaja Rosda Karya.

c

PEDOMAN OBSERVASI DAN DOKUMENTASI PENANAMAN NILAI-NILAI AGAMA PADA ANAK DI TK MUSLIMAT NU 31 SUMBERSARI MALANG Pedoman Observasi 1. Keadaan fisik a. Situasi lingkungan TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. b. Ruang kelas dan fasilitas kelas. c. Sarana dan prasarana yang menunjang penanaman nilai keagamaan. 2. Kegiatan guru dalam menanamkan keagamaan a. Aktifitas kegiatan guru dalam penanaman nilai keagamaan. b. Cara penyampaian guru kepada siswa dalam pembelajaran agama. Pedoman Dokumentasi 1. Sejarah berdirinya TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 2. Visi dan Misi TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 3. Keadaan guru TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 4. Keadaan siswa TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 5. Keadaan sarana dan prasarana TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 6. Program Kegiatan Belajar TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang. 7. Foto-foto saat proses pembelajaraan.

ci

PEDOMAN INTERVIEW

Responden Kepala sekolah 1. Bagaimana sejarah berdirinya TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 2. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 3. Apa yang melatar belakangi berdirinya TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 4. Apa yang menjadi dasar dan tujuan TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 5. Apa saja prestasi yang pernah diraih TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? Responden Guru 1. Bagaimana pelaksanaan penanaman nilai-nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 2. Apa usaha yang dilakukan dalam penanaman nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 3. Bagaimana proses monitoring dan pengawasan dalam proses pembelajaran di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 4. Apa saja metode yang telah digunakan dalam menanamkan nilai-nilai agama di TK Muslimat NU 31 Sumbersari Malang? 5. Apakah dalam melaksanakan metode yang sudah digunakan sesuai dengan perencanaan program yang telah disusun?

cii

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->