P. 1
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA

|Views: 450|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 28, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

06/29/2013

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA



SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas TarbiyahUniversitas Islam Negeri Malang
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)




Oleh:
Dodit Widanarko
05110142


















PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
April, 2009
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA





SKRIPSI



Oleh:
DODIT WIDANARKO
05110142






Telah disetujui
Pada Tanggal: 03 April 2009
Oleh:
Dosen Pembimbing




Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag
NIP. 150 267 254




Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. Moh. Padil, M.Pd.I
NIP. 150 267 235

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA


SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh
Dodit Widanarko (05110142)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji
Pada tanggal 14 April 2009 dengan nilai B+
Dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Pada tanggal 14 April 2009


Ketua Sidang,




Dr. Samsul Hady, M. Ag.
NIP. 150 267 254


Pembimbing,




Dr. Samsul Hady, M. Ag.
NIP. 150 267 254
Panitia Ujian
Sekretaris Sidang,




M. Asrori Alfa, M.Ag
NIP. 150 302 235


Penguji Utama,



Dra. Siti Annijat Maimunah, M.Pd
NIP. 131 121 923


Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah






Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031





Halaman Persembahan


Syukur Alhamdulillah teruntai dari sanubari atas karunia rahmad-Nya
sehingga hamba dapat menyelesaikan skripsi dan memberikan ucapan
terima kasih untuk insan yang memberikan kisah kasih tentang makna
hidup serta langkah bijak dalam meniti liku-liku kehidupan…

Karya ini Kupersembahkan kepada:
Ayahanda Nyarko dan Ibunda tercinta Farida yang telah mengayomi dan
mengasihiku dengan kasih sayang yang sesuci do’a, setulus hati dan
segenap pengorbanan. Yang selalu menjadi api semangat dan pelita
dalam hidupku sehingga aku dapat menapaki kehidupan yang penuh
dengan misteri ini.

Untuk kakanda Bustoni yang selalu menjadi penasehat dan motivator
dalam hidupku.

Guru dan ustadz-ku yang selama ini mendidikku, penghargaan yang
setinggi-tinggi bagi engkau

Kawan-kawanku yang ada di bangku kuliah terimakasih, telah sudi
menjadi teman berbagi untukku dalam melewati hari-hari di bangku
kuliah.

Kawan-kawan di green community (HMI) Koms. Tarbiyah (hay,
ayik,Anif, Irul, Agus) dan seluruh Kader HMI, Yakin Usaha Sampai.
Lanjutkan perjuangan kalian.














MOTTO

.1l ¿l´ ¯¡>l _¸· ¸_¡.´¸ ¸<¦ :´¡`.¦ «´. .> _.¸l ¿l´ ¦¡`>¯¸, ´<¦ ¸¯¡´,l¦´¸
¸¸>¸¦ ¸´:´¸ ´<¦ ¦¸,¸:´ ¸_¸¸
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut
Allah.”
(Q.S al-Ahzab: 21)































Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Dodit Widanarko Tanggal 02 April 2009
Lampiran : 4 (empat) eksemplar

Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di
Malang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun teknik
penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini:

Nama : Dodit Widanarko
NIM : 05110142
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Pendidikan Budi Pekerti Perspektif Ki Hadjar
Dewantara

maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diuji.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing,



Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag
NIP. 150 267 254













SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.



Malang, 02 April 2009

Dodit Widanarko




















KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat
dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis
memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kekuatan, kesehatan, kecerdasan serta ridha-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi berjudul ” Konsep Pendidikan Budi Pekerti Perspektif Ki
Hadjar Dewantara” ini dengan baik dan lancar.
Penulis menyadari bahwa tugas penulisan ini tidak akan terwujud tanpa
adanya bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, semoga amal baik
tersebut dibalas oleh Allah SWT. Untuk itu penulis menghaturkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ayah dan Ibu tercinta, serta segenap keluarga yang telah memberikan
dukungan moril dan materil serta motivasi kepada penulis untuk
menyelesaikan studi di UIN Malang.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Malang.
3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang.
4. Bapak Drs. Moh. Padil M.Pd.I, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam Universitas Islam Negeri Malang.
5. Bapak Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan masukan dan bimbingannya sampai skripsi ini selesai.
6. Semua kawan-kawanku di HMI yang telah memberikan motivasi dan
membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas do’a,
motivasi, bantuan serta perhatianya yang tulus ikhlas. Semoga Allah SWT
membalasnya dengan balasan yang setimpal.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini belum sepenuhnya
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak
sangat penulis harapkan untuk perbaikan skripsi ini. Penulis berharap semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, sehingga dapat membuka
cakrawala berpikir serta memberikan setitik khazanah pengetahuan untuk terus
memajukan dunia pendidikan. Semoga Allah SWT. Senantiasa mendengarkan dan
mengabulkan permohonan kita. Amin.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Malang, 02 April 2009

Penulis















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN......................................................................... ii
HALAMANPENGESAHAN........................................................................... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN....................................................................... iv
HALAMAN MOTTO...................................................................................... v
HALAMAN NOTA DINAS............................................................................. vi
HALAMAN PERNYATAAN.......................................................................... vii
KATA PENGANTAR..................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................................... x
ABSTRAK...................................................................................................... xiii
BAB I: PENDAHULUAN................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 10
C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 10
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 10
E. Ruang Lingkup Pembahasan ............................................................ 11
F. Penegasan Istilah ............................................................................. 11
G. Sistematika Pembahasan................................................................... 12
BAB II: KONSEP PENDIDIKAN BUDI PEKERTI ..................................... 14
A. Teori Moral .................................................................................... 14
1. Budi Pekerti, Akhlak, Moral dan Etika...................................... 14
2. Perkembangan Moral ................................................................ 17
3. Konvensi Moralitas................................................................... 20
4. Moralitas Agama ...................................................................... 23
B. Pendidikan Budi Pekerti ................................................................ 25
1. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti .......................................... 25
2. Tujuan dan Landasan Pendidikan Budi Pekerti ......................... 32
3. Materi Pendidikan Budi Pekerti ............................................... 36
4. Metode Pendidikan Budi Pekerti ............................................. 45
5. Lingkungan Pendidikan ........................................................... 51
BAB III: METODE PENELITIAN ................................................................ 56
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ................................................... 56
B. Instrumen Penelitian .................................................................... 57
C. Sumber Data ................................................................................ 58
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 59
E. Teknik Analisis Data ................................................................... 59
BAB IV: PENDIDIKAN BUDI PEKERTI PERSPEKTIF KI HADJAR
DEWANTARA................................................................................. 62
A. Biografi Ki Hadjar Dewantara ...................................................... 63
1. Riwayat Hidup Ki Hadjar Dewantara .......................................... 63
2. Setting Sosial-Politik dan Pengaruhnya bagi Pemikiran Ki
Hadjar Dewantara ....................................................................... 67
3. Karya-karya Ki Hadjar Dewantara .............................................. 78
B. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti .............................................. 81
C. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti.................................................... 93
D. Landasan atau Dasar Pendidikan Budi Pekerti .............................. 96
E. Materi Pendidikan Budi Pekerti ................................................. 115
F. Metode Pendidikan Budi Pekerti ................................................ 124
G. Linkungan Pendidikan ............................................................... 131
BAB V: PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 137
B. Saran ........................................................................................... 138
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

































ABSTRAK
Widanarko, Dodit. Pendidikan Budi Pekerti Perspektif Ki Hadjar Dewantara.
Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam
Negeri (UIN) Malang. Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag

Dewasa ini manusia dibawa dalam suatu jaman yaitu jaman kemajuan
teknologi dan informasi. Hal ini ditandai oleh beberapa hal yang dapat mejadi
tolak ukur kemajuan semua negara. Seperti halnya kemajuan teknologi dan
informasi serta adanya sebuah Era yang menuntut pada persaingan bebas yaitu era
globalisasi. Telah kita lihat gelombang globalisasi yang melanda seluruh dunia.
Melihat realita yang ada dalam kehidupan mansyarakat, globalisasi selain
membawa dampak positif bagi kehidupan juga membawa dampak negatif, dari
fenomena yang berkembang dalam masyarakat dapat diambil contoh bahwa
dampak positif dari globalisasi adalah munculnnya daya saing yang kuat yang
menuntut manusia untuk terbuka dan manusia mempunyai peluang yang besar
dalam persaingan tersebut sehingga terwujudlah kompetisi. Adapun dampak
negatif dari globalisasi ialah Globalisasi memunculkan satu kebiasaan baru dalam
masyarakat dan konsumerisme Dan globalisasi akan dapat mengancam moral
(akhlak) bangsa. Budaya global akan muncul dan dapat mematikan budaya lokal.
Hal ini sangat berbahaya oleh sebab hancurnya budaya lokal berarti lunturnya
identitas dan moral bangsa.
Dengan demikian manusia dengan mudah terjerumus keberbagai
penyelewengan dan kerusakan akhlak dengan melakukan perampasan hak orang
lain, pelecehan seksual, pembunuhan dan timbulah persaingan tidak sehat demi
untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam rangmka mengantisipasi hal
tersebut seorang tokoh pendidikan Nasional yaitu Ki Hadjar Dewantara yang
mempunyai gagasan tentang konsep pendidikan budi-pekerti
Berpijak dari latar belakang di atas, maka permasalahan yang ingin
dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep pendidikan budi pekerti
menurut Ki Hadjar Dewantara. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah
untuk mengetahui konsep konsep pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar
Dewantara.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian
library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif analisis
kritis. Dan agar hasil penelitian berjalan dengan baik, maka dalam pengumpulan
datanya, penulis menggunakan metode dokumentasi. Sedangkan untuk
menganalisisnya, penulis menggunakan teknik analisis isi (content analysis).
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, dapat disampaikan di sini
bahwa konsep pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara dalam
menanamkan moral pada anak didik terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
Maksud dan tujuan pendidikan budi pekerti adalah berusaha memberikan nasehat-
nasehat, materi-materi, anjuran-anjuran yang dapat mengarahkan anak pada
keinsyafan dan kesadaran akan perbuatan baik yang sesuai dengan tingkat
perkembangan anak, mulai dari masa kecilnya sampai pada masa dewasanya agar
terbentuk watak dan kepribadian yang baik untuk mencapai kebahagiaan lahir dan
batin.Dalam proses pendidikan tersebut harus ada pendidik dan anak didik.
berdasarkan pada asas pancadharma, yang terdiri dari kodrat alam, kemerdekaan,
kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan. menggunakan metode yang
disesuaikan urutan-urutan pengambilan keputusan berbuat, yaitu metode ngerti,
ngrasa dan nglakoni. Materi pendidikan budi pekerti dapat diambil dari cerita
rakyat, lakon, babad dan sejarah, buku karangan pada pujangga, kitab suci agama
dan adat istiadat. Lingkungan pendidikan budi pekerti yaitu: keluarga, sekolah dan
masyarakat.
Bertolak dari kesimpulan yang telah diuraikan di atas, perlu kiranya
penulis memberikan sumbangan pemikiran berupa saran-saran antara lain,
Pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara memiliki maksud dan
tujuan yang bagus, serta tetap relevan hingga saat ini, di tengah dekadensi moral
yang melanda bangsa ini. konsep pendidikan budi pekerti tersebut perlu
diterapkan dalam usaha penanaman moral negerasi muda saat ini. Sebagai seorang
guru hendaknya dapat menjadi tauladan yang baik bagi anak didiknya, sehingga
seorang guru harus dapat “digugu dan ditiru” oleh anak didiknya



Kata Kunci: Pendidikan, Budi Pekerti, Ki Hadjar Dewantara.























BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini manusia dibawa dalam suatu jaman yaitu jaman kemajuan
teknologi dan informasi. Hal ini ditandai oleh beberapa hal yang dapat mejadi
tolak ukur kemajuan semua negara. Seperti halnya kemajuan teknologi dan
informasi serta adanya sebuah Era yang menuntut pada persaingan bebas yaitu era
globalisasi. Telah kita lihat gelombang globalisasi yang melanda seluruh dunia.
Pada era ini manusia dituntut untuk dapat memenuhi segala macam kebutuhan,
baik kebutuhan pokok (primer) ataupun kebutuhan yang memang tidak dianggap
perlu dalam rangka untuk persaingan global. Sehingga melahirkan sebuah gaya
hidup yang baru (a new life style). Tanpa harus memikirkan prioritas dari
kebutuhan yang mendasar (basic need).
Seperti telah dikatakan oleh Firedman maupun Kenich Ohmae, globalisasi
telah merubah cara hidup individu demikian pula negara dan masyarakat, tidak
ada seorangpun lagi yang dapat keluar dari arus globalisasi dewasa ini. Setiap
orang hanya ada dua pilihan yaitu dia memilih dan menempatkan dirinya di dalam
arus perubahan globalisasi, atau dia hanyut dibawa arus gelombang globalisasi
yang anonim.
1
Gelombang tersebut mempunyai aspek-aspeknya, baik yang
positif, maupun yang negatif. Nilai-nilai yang positif dari globalisasi antara lain
adalah terbentuknya satu dunia yang baru. Kini setiap orang mulai merasakan
perlunya tanggungjawab setiap anggota masyarakat dunia didalam menjaga
kelestarian planet bumi ini. Proses pemanasan global (global warming),
pengerusakan lingkunagan (illegalloging) dengan menghilangnya hutan tropis

1
H.A.R.Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional; Suatu Tinjaun Kritis, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta.2006), hlm.143
1
yang ada di Indonesia, polusi udara, laut dan di daratan sedang menghantui
kelanjutan hidup umat manusia. Seluruh penghuni bumi menginginkan untuk
bersatu dalam rangka mengatasi masalah-masalah global ini. Hal ini dapat dilihat
misalnya terdapat peringatan hari se-dunia, hari lingkungan hidup. Hal ini telah
telah membangkitkan rasa kesatuan umat manusia. Nilai-nilai positif rasa
persatuan umat manusia dapat kita lihat ketika terjadi bencana Tsunami di Aceh
berbagai negara datang dan membawa misi kemanusiaan dan mengumpulkan dana
untuk membantu masyarakat Aceh.
HM. Arifin berpendapat bahwa dampak-dampak negatif dari teknologi
modern telah menampakkan diri di depan mata kita, yang pada prinsipnya
berkekuatan melemahkan daya mental-spiritual yang sedang tumbuh dan
berkembang dalam berbagai bentuk dan penampilannya. Kondisi inilah salah
satunya yang mengakibatkan terjadinya berbagai penyimpangan para remaja.
2

Adapun dampak negatif yang lain dari globalisasi adalah globalisasi dapat
mengancam budaya dan moral bangsa. Budaya global akan muncul dan dapat
mematikan moral budaya lokal. Hal ini sangat berbahaya oleh sebab hancurnya
budaya lokal berarti lunturnya identitas bangsa. Budaya globalisasi bukanlah
suatu budaya yang homogen tetapi justru budaya hitrogen yang memunculkan
identitas dari bangsa-bangsa yang bermoral. Akan tetapi identitas moral dari
bangsa ini sedikit demi sedikit mulai luntur karena berbagai peristiwa asusila yang
terjadi di dalam dunia pendidikan kita. Hal ini diungkapkan oleh Risnawaty
Sinulingga, tidak terlihat indikasi terjadinya perubahan yang signifikan antara

2
HM. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan(Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi
Aksara,1995), hlm. 8
pengetahuan yang tinggi, tingkat kedewasaan menurut usianya dan pengaruhnya
pada perkembangan moralnya.
Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi,
manusia makin bersikap individualis. Mereka “gandrung teknologi”, asyik dan
terpesona dengan penemuan-penemuan/barang-barang baru dalam bidang IPTEK
yang serba canggih, sehingga cenderung melupakan kesejahteraan dirinya sendiri
sebagai pribadi manusia dan semakin melupakan aspek sosialitas dirinya.
Bahkan, kenyataan secara faktual banyak mahasiswa memiliki masalah-
masalah moral, antara lain terjerumus dalam VCD porno mahasiswa di Bandung
dan aksi tawuran. Selain itu, tindak kriminalitas yang tinggi (seperti pembunuhan
yang dilakukan mahasiswa terhadap pacarnya yang sedang hamil). Dari dua juta
pecandu narkoba dan obat-obatan berbahaya, 90 persen adalah generasi muda,
termasuk di antaranya 25.000 mahasiswa.
3
Dengan demikian manusia dengan
mudah terjerumus keberbagai penyelewengan dan kerusakan akhlak dengan
melakukan perampasan hak orang lain, pelecehan seksual, pembunuhan dan
timbulah persaingan tidak sehat demi untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Secara historis kita mengenal Nabi Muhammad SAW memiliki sebutan al-Amin
yang berarti dapat dipercaya. Orang pertama kali mengenal Nabi bukan karena
ibadahnya semata, tetapi karena kepribadiannya, perilakunya, akhlaknya,
tabiatnya yang baik dan jujur.
Karena itu adalah sangat tepat, bahwa terutusnya nabi Muhammad SAW.
Juga membawa missi moral untuk membawa umat manusia kepada akhlakul

3
Era Global Sarat Dengan Masalah Moral dalam Berita Sore Medan 17 Nopember
2008. http://beritasore.com/2008/11/17/era-global-sarat-dengan-masalah-moral.
karimah atau budi pekerti yang mulia. Beliau bersabda dalam haditsnya
Bahwasanya aku diutus Allah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak (budi
pekerti). Dari hadist tersebut dapatlah diketahui bahwa terutusnya nabi
Muhammad SAW. Sebagai rasul Tuhan ke muka bumi ini, dengan seluruh jihad
dan perjuangan yang dilakukannya, tujuan dan sasarannya dapat disimpulkan
dalam perkataan yang pendek yaitu: menyempurnakan akhlak yang mulia.
Penduduk Arab yang waktu itu terkenal Jahiliyah. Mereka dikenal jahiliyah bukan
hanya karena bodoh tetapi mereka juga mempunyai tabiat atau kebiasaan yang
tidak baik. Akhir-akhir ini jika di lihat lebih jeli lagi dalam kehidupan sehari-hari,
terutama setelah adanya istilah reformasi, maka akan terasa sekali adanya gejala-
gejala kemerosotan moral dengan mulai mengaburkan nilai-nilai budi pekerti di
dalam masyarakat kota terutama, dan kini telah nyata merambah ke desa.
Misalnya kejahatan ekonomi seperti penipuan, korupsi yang tidak hanya
dilakukan oleh pejabat tinggi tetapi sudah membudaya ke tingkat bawah,
pergaulan bebas, pelecehan seksual, perkosaan, kenakalan remaja, tawuran dan
sebagainya.
Peristiwa di atas dapat kita pahami bahwa pendidikan agama selama ini
dapat dianggap gagal karena pendidikan agama hanya dapat di pahami hanya
sebatas ritual seperti sholat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya tetapi belum
memahami nilai-nilai yang ada dalam pendidikan agama seperti pendidikan akhak
yang secara luas telah di bahas dalam pendidikan agama.
Sebenarnya pendidikan agama itu harus mencakup keseluruhan hidup
yang menjadi pengendali bagi tindakan. Orang yang tidak pernah mendapatkan
pendidikan agama, tidak akan mengetahui nilai moral yang perlu dipatuhi dengan
sukarela dan mungkin tidak akan merasakan apa pentingnya mematuhi nilai moral
yang pasti dan dipatuhi dengan ikhlas.
Apabila agama masuk dalam pembinaan pribadi seseorang maka dengan
sendirinya segala sikap, tindakan, perbuatan dan perkataannya akan dikendalikan
oleh pribadi, yang terbina didalamnya nilai agama, yang akan menjadi pengendali
bagi moralnya.
4
Ungkapan-ungkapan di atas betapa urgensinya pendidikan agama
bagi pengendali pribadi.
Sepaham dengan pendidikan agama, maka kepentingan pendidikan budi
pekerti yang dipelopori oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendidikan
nasional, juga mempunyai andil yang selaras. Dalam membentuk kepribadian
manusia. Hal ini masih tetap abadi untuk disimak kembali sebagaimana yang telah
diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pengajaran budi pekerti tidak lain
adalah:
“Menyokong perkembangan hidup anak-anak lahir dan batin, dari sifat
kodratinya menuju ke arah peradaban dalam sifatnya yang umum.
Pengajaran ini berlangsung sejak anak-anak hingga dewasa dengan
memperhatikan tingkatan perkembangan jiwanya.
5

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab I
pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

4
Zakiah Drajat, Membina Nilai-Nilai Moral Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1971),
hlm. 49
5
KI Hadjar Dewantara,Karya Bagian I Pendidikan, (yogyakarta:MLPTS, 1962), hlm.
485
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
6


Rumusan di atas dapat dipahami bahwa salah-satu dari tujuan pendidikan
adalah membina akhlak mulia (budi pekerti luhur), sehingga dapat dipahami
bahwa pendidikan tidak hanya mencetak intelektual peserta didik saja melainkan
juga membina budi pekerti luhur (Akhlakul Karimah). Dalam Islam budi pekerti
sering disebut dengan akhlak. Karena secara etimologi arti kata budi pekerti
7
dan
akhlak
8
itu sama, keduanya hanya berbeda sumber bahasanya saja. Kata akhlak
berasal dari bahasa arab, sedangkan budi pekerti berasal dari bahasa Indonesia.
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khulk yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku atau tabiat.
9
Dalam ensiklopedi pendidikan dikatakan
bahwa akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral)
yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap
kholiknya dan sesama manusia.
10

Menurut A. Tafsir, Ada tiga kata yang dapat berarti akhlak. Pertama budi
pekerti. Ini yang netral. Kedua etika, yaitu budi pekerti berdasarkan akal. Ketiga
akhlak, yaitu budi pekerti berdasarkan agama. Yang cocok untuk orang Indonesia
ialah budi pekerti dalam arti akhlak.
11


6
Undang-Undang Republik Indonesia NO.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), Hlm. 4
7
Budi pekerti artinya tingkah laku, perangai,akhlak,. Tim penyusun kamus pusat
bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (cet I,Jakarta:Balai Pustaka,2001),hlm.170
8
Akhlak artinya budi pekerti, kelakuan. Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan
pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,edisi2,(Jakarta:Balai Pustaka,t.th),Hlm.17
9
Asmaran,As, Pengantar Studi Akhlak, (jakarata:PT Grafindo Persada, 2002, cet III),
hlm. 1
10
Ibid. Hlm. 2
11
www.aatafsir.blogspot.com diakses pada tanggal 11 Februari 2009 pukul 22.00 WIB
Jadi pada hakikatnya khulk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi
atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ
timbulah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa
dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran.
12
Apabila dari kondisi timbul
kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran,
maka ia dinamakan budi pekerti mulia dan sebaliknya.
Menurut ajaran Islam, kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia itu
mencapai tempat yang sangat penting, baik sebagai makhluk individu maupun
sebagai makhluk sosial. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya sejahtera
rusaknya bangsa atau masyarakat tergantung bagaimana akhlaknya. Apabila
akhlaknya baik akan sejahteralah lahir batinnya. Akan tetapi apabila akhlaknya
buruk, rusaklah lahir dan batinnya.
Di dalam pembangunan yang dipentingkan adalah keikhlasan, kejujuran,
jiwa kemanusiaan yang tinggi, sesuainya kata dengan perbuatan, prestasi kerja,
kedisplinan, jiwa dedikasi dan selalu berorientasi kepada hari depan dan
pembaharuan.
13
Pembinaan akhlak mulia harus ditanamkan kepada seluruh
lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai ke lapisan
bawah. Dari lapisan atas itulah yang pertama wajib memberikan tauladan yang
baik pada masyarakat dan rakyatnya. Tetapi manakala para pemimpin
memberikan contoh yang buruk, maka akan berlaku pepatah : “kalau guru kencing
berdiri, murid akan kencing berlari. Andaikata guru kencing berdiri, niscaya

12
Ibid.
13
Nasrudin Razak, Dienul Islam, (Bandung: PT.Alma’arif, 1973), Hlm. 48
murid akan kencing menari-nari”.
14
Orang pintar yang tak berakhlak (budi pekerti
yang luhur) akan berbahaya namun orang yang berbudi pekerti luhur tetapi tidak
pintar juga kurang berguna. Itulah manusia yang akan menyelamatkan dirinya,
keluarga, bangsa, dan negaranya.
Namun untuk mencapai yang demikian, tidak bisa dibiarkan tumbuh
sesukanya. Ia perlu tuntunan yang disebut sebagai pendidikan. Ki Hadjar
Dewantara mengibaratkan pendidikan itu sebagai pemeliharaan bagi tumbuh
berkembangnya tanaman.
15
Apa yang diuraikan Ki Hadjar Dewantara tentang
pendidikan itu tampaknya tetap relevan hingga sekarang. Di tengah dekadensi
moral yang melanda bangsa ini. Banyaknya orang pintar yang menyalahgunakan
kepintarannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Di tengah orang yang
mementingkan material daripada moral. Dalam hal ini pendidikan Islam sangat
berperan dalam membangun manusia seutuhnya, baik jasmani maupun rohani,
dengan memperbaiki budi pekerti yang rusak serta meningkatkan derajat
kemanusiaan. Banyak para ahli memberikan pengertian tentang pendidikan Islam,
mulai dari leteratur yang berbahasa arab sampai yang berbahasa indonesia.
Mereka berbicara berdasarkan disiplin ilmu yang digelutinya.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal di mana ilmu yang
diajarkan mengandung kelezatan-kelezatan rohani untuk dapat sampai kepada
hakekat ilmiah dan akhlak terpuji. Mencapai suatu akhlak yang sempurna bukan
berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani, tetapi artinya ialah
bahwa kita memperhatikan segi-segi akhlak seperti segi-segi lainnya. Anak-anak

14
Ibid.
15
Ki Hadjar Dewantara, Op. Cit., Hlm. 21
membutuhkan kekuatan jasmani, akal, ilmu dan anak-anak juga membutuhkan
pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa dan kepribadian.
16

Menurut konsepsi ilmu pendidikan Islam, manusia dengan aspek-aspek
kepribadiannya yang berkembang sejak dini dapat dipengaruhi oleh para pendidik
(formal atau non-formal dan informal) dengan corak dan bentuk idealitas yang
diinginkan mereka dalam batas-batas fitrahnya.
17
Sesuai dengan pembahasan budi
pekerti menurut ki Hadjar Dewantara, maka pendidikan Islampun ditekankan pada
aspek akhlaknya tanpa meninggalkan aspek lainnya.
Menurut Athiyah al-Abrasyi dalam mengomentari tentang pendidikan
akhlak, bahwa pendidikan akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam. Dan
tujuan dari pendidikan akhlak adalah untuk membentuk orang-orang yang
bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan perbuatan mulia dalam
tingkah laku dan perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab,
ikhlas, jujur dan suci.
18

Dengan pendidikan budi pekerti diharapkan seorang anak memiliki
kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Ibnu Sina juga
menyatakan bahwa tujuan pendidikan secara universal di arahkan kepada
pendidikan secara universal diarahkan kepada terbentuknya manusia yang
sempurna, yaitu terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan

16
M.Athiyah Al Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
Cet 5, 2000), hlm. 147
17
H.M.Arifin, M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, Cet 5, 2000), hlm.
147
18
Ibid. hlm. 104
menyeluruh.
19
Berdasarkan latar belakang di atas, yakni begitu urgennya fungsi
dan kedudukan budi pekerti (akhlak) dan untuk mengetahui bagaimana konsep
pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan
kaitannya dalam pendidikan Islam, yang meliputi tujuan, materi pendidikan dan
metode pendidikannya, maka penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan
penulisan skripsi yang berjudul “Pendidikan Budi Pekerti Perspektif Ki Hadjar
Dewantara”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat ditarik
permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana konsep
pendidikan budi pekerti perspektif Ki Hajar Dewantara?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk Mendeskripsikan
Konsep pendidikan budi pekerti perspektif Ki Hadjar Dewantara.
D. Manfaat Penelitian
1. Untuk memberikan pemahaman tentang pendidikan budi pekerti pada
masyarakat terutama bagi kalangan muda sebagaimana yang diharapkan
oleh Ki Hadjar Dewantara maupun agama, khususnya agama Islam.
2. Dapat memberikan kontribusi pemikiran dan memperkaya hasanah
keilmuan di bidang pendidikan budi pekerti dan pendidikan Islam.
3. Memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat luas, berupa
informasi secara teoritik-historis tentang perkembangan pendidikan dan

19
Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarata: PT Grafindo
Persada, cet2, 2001), hlm. 67-68
pembaharuannya dalam upaya menjawab tantangan masa depan umat
manusia.
E. Ruang Lingkup Peneltian
Berdasarkan judul yang penulis angkat, maka penelitian ini difokuskan
pada obyek kajian tentang pendidikan budi pekerti perspektif Ki Hadjar
Dewantara.
F. Penegasan Istilah
Untuk memperjelas dan mempertegas istilah serta menghindari
kesalahpahaman terhadap judul yang penulis bahas maka perlu adanya penegasan
istilah dengan arti atau pengertian masing-masing kata agar mudah dipahami.
Masing-masing istilah dalam judul skripsi di atas adalah:
1. Pendidikan, pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.
2. Budi Pekerti, Istilah budi pekerti berasal dari kata “budi” dan “pekerti”,
“Budi” berarti paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.
Adapun kata “pekerti” berarti perangai, tingkah laku, akhlak.
20

3. Perspektif, Penggunaan istilah “perspektif” yang dimaksud dalam skripsi ini
adalah sebagai berikut, “perspektif Ki Hajar Dewantara” yaitu menurut sudut
pandang Ki Hajar Dewantara. Jadi dalam skripsi ini akan membahas tentang
pendidikan Budi Pekerti menurut sudut pandang Ki Hajar Dewantara, dan

20
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahsa Indonesia, Cet.I (Jakarta:
Balai Pustaka, 2001), hlm. 170
maksud dari judul skripsi Pendidikan Budi Pekerti yaitu sebuah konsep
pendidikan etika atau akhlak dalam sudut bpandang Ki Hdjar Dewantara.
G. Sistematika Pembahasan
Skripsi ini terdiri atas tiga bagian yaitu :
1. Bagian Muka (Preliminaris)
Pada bagian ini terdapat halaman judul, nota pembimbing, pengesahan,
motto, persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
2. Bagian Isi (batang tubuh)
Agar diperoleh pemahaman yang komprehensif skripsi ini disusun dalam
lima Bab. Adapun isinya sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Merupakan pendahuluan skripsi ini, di mana bab ini memuat landasan
umum yang diperlukan dalam proses penelitian, pembahasan, dan penelitian.
Landasan tersebut dituangkan dalam latar belakang masalah, alasan pemilihan
judul, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, metodologi
penyusunan skripsi kajian pustaka dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II :
Kajian pustaka, dalam bab ini penulis akan membahas tentang konsep
pendidikan secara umum, yang meliputi defenisi, fungsi dan tujuan pendidikan.
Kemudian penulis membahas tentang pendidikan budi pekerti secara umum dan
terakhir biografi Ki Hajar Dewantara, riwayat hidup Ki Hajar Dewantara, seting
sosial politik pada masa hidup Ki Hajar Dewantara.

Bab III :
Methodologi Penelitian, dalam bab ini penulis akan membahas membahas
tentang metode penelitian yang terdiri dari: pendekatan dan jenis penelitian,
instrumen penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa
data.
Bab IV :
Dalam bab ini penulis akan memaparkan konsep pendidikan budi pekerti
perspektif Ki Hajar Dewantara. Yang berisikan: Pengertian pendidikan budi
pekerti perspektif Ki Hajar Dewantara, dasar pendidikan budi pekerti Ki Hjar
Dewantara, dan tujuan pendidikan budi pekerti perspektif Ki Hajar Dewantara.
Bab V :
Merupakan bab terakhir atau penutup yang membahas mengenai
kesimpulan dan saran-saran.










BAB II
KONSEP PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

A. Teori Moral
1. Budi Pekerti, Akhlak, Moral dan Etika
Definisi mengenai budi pekerti memang cukup beragam sesuai dengan
versi dan sudut pandang keilmuan tertentu. Budi pekerti merupakan dua kata yang
tidak dapat dipisahkan, kedua kata tersebut adalah bagian integral yang saling
terkait. Budi pekerti berasal dari kata “budi” dan “pekerti”. Budi berarti paduan
akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Pekerti berarti perangai,
tingkah laku, akhlak.
21
Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata akhlak biasanya
diterjemahkan dengan budi pekerti atau sopan santun atau kesusilaan. Dalam
bahasa Inggris, kata “akhlak” disamakan dengan “moral” atau “ethic”, yang
berasal dari bahasa Yunani, yang berarti adat kebiasaan.
22
Akhlak berasal dari
bahasa Arab yakni bentuk jamak dari kata khulk yang berarti budi pekerti,
perangai tingkah laku atau tabiat.
23

Menurut Rachmat Djatnika, bahwa pengertian akhlak dilihat dari segi
etimilogi berasal dari bahasa Arab yaitu jamak dari mufradnya khuluk yang
berarti “budi pekerti” yang mempunyai sinonim dengan akhlak (etika). Akhlak
(etika) berasal dari bahasa latin, etos yang berarti “kebiasaan”. Sedangkan dari
teminologi, budi pekerti berarti merupakan perpaduan dari dan rasa yang

21
Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I (Jakarta: Balai
Pustaka, 2001), hlm. 170
22
Tamyiz Burhanudin, Akhlak Pesantren, (Yogyakarta: PT. Bayu Indra Grafika,
2001,Cet. I), hlm. 39
23
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. 2, 1997), hlm.3
14
bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.
24
Akhlak identik dengan
moral karena memiliki makna yang sama dan hanya sumber bahasanya yang
berbeda. Keduanya memiliki wacana yang sama, yakni tentang baik dan buruknya
perbuatan manusia. Jadi istilah budi pekerti, akhlak, moral dan etika memiliki
makna etimologis yang sama, yakni adat kebiasaan, perangai dan watak. Hanya
saja keempat istilah tersebut berasal dari bahasa yang berbeda. Budi pekerti
berasal dari bahasa Indonesia. Akhlak berasal dari bahasa Arab. Sedangkan kata
moral berasal dari bahasa Latin, dan etika berasal dari bahasa Yunani.
Akhlak adalah istilah yang tepat dalam bahasa Arab untuk arti moral dan
etika.
25
Seperti halnya akhlak, secara etimologis etika juga memiliki makna yang
sama dengan moral. Menurut Hadi Wardoyo menyatakan bahwa moral
menyangkut kebaikan.
26
Orang yang tidak baik juga disebut sebagai orang yang
tidak bermoral, atau sekurang-kurangnya sebagai orang yang kurang bermoral.
Maka, secara sederhana moral disamakan dengan kebaikan orang atau kebaikan
manusiawi. Hal senada juga diungkapkan oleh Burhanuddin Salam mengatakan
bahwa moral berasal dari bahasa Latin “mores”, berasal dari kata “mos” yang
berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral dengan demikian dapat diartikan
ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan.
Dari beberapa keterangan tersebut dapat dipahami bahwa moral
mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan, memuat ajaran tentang baik
buruknya perbuatan. Jadi, perbuatan itu dinilai sebagai perbuatan yang baik atau

24
Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islam(Akhlak Mulia), (Jakarta: Pustaka Panjimas,
1992), hlm. 26
25
Tafsir, dkk, Moralitas al-Qur'an dan Tantangan Modernitas, (Yogyakarta: Gama
Media Offset, Cet. I, 2002), hlm. 11
26
Hadiwardoyo, P., Moral dan Masalahnya, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 35.
perbuatan yang buruk. Penilaian itu menyangkut perbuatan yang dilakukan
dengan sengaja.
Etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan
yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju
oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk
melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
27
Moral dalam arti istilah adalah suatu
istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai,
kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar,
salah, baik dan buruk.
28

Dilihat dari sumber, baik nilai ataupun moral dapat diambil dari wahyu
Illahi ataupun budaya, sementara etika lebih merupakan kesepakatan masyarakat
pada watku dan tempat tertentu.
Anak-anak membutuhkan kekuatan dalam jasmani, akal, ilmu dan anak-
anak juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa
dan kepribadian.
29
Para ahli dan praktisi pendidikan tampaknya sepakat bahwa
pendidikan budi pekerti atau moralitas sangat penting dan mesti segera terwujud.
Praktek etika atau budi pekerti tidak akan cukup hanya diberikan sebagai
pelajaran yang konsekuensinya hafalan atau lulus dalam ujian tertulis. Tetapi
alangkah baiknya mata pelajaran ini diorientasikan pada pemberian waktu untuk

27
Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), terj. Farid Ma’ruf, Judul Asli Al-Akhlak,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1995), cet. 8, hlm. 3
28
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm.3
29
Moh. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bulan
Bintang, 1984), hlm. 1
mengajak anak didik mendiskusikan topik-topik atau bagian-bagian dari apa yang
disebut moral.
30

Moralitas, etika, budi pekerti adalah wujud dalam perilaku kehidupan
bukan hanya dalam ucapan atau tulisan. Oleh karena itu, penilaiannya pun tidak
cukup hanya dengan hafalan atau ujian tertulis di kelas, tetapi penilaiannya
menggunakan pengukuran yang khusus untuk menilai moralitas. Salah satu
contohnya dengan melakukan penilaian setiap hari/waktu oleh semua guru bidang
studi. Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan secara sadar
oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju
terbentuknya kepribadian utama. Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat
dipahami bahwa pendidikan budi pekerti adalah bimbingan, pengajaran secara
sadar dilakukan oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak
didik agar memiliki budi pekerti yang luhur.
2. Perkembangan Moral
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang
terdapat dalam sekolompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan
manusia sebagai manusia. Norma moral adalah memandang bagaimana manusia
harus hidup agar menjadi baik sebagai manusia.
31
Moral berkaitan dengan
moralitas. Moralitas adalah segala hal yang berhubungan dengan sopan santun,
segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket. Moralitas bisa berasal dari

30
A. Qadri A. Azizy, Pendidikan (Agama) untuk Membangun Etika Sosial, (Mendidik
Anak Sukses Masa Depan: Pandai dan Bermanfaat), (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), hlm. 107-
108
31
Ibid, hlm. 34
sumber tradisi ataupun adat, agama ataupun ideology, atau gabungan dari
beberapa sumber.
Perkembangan moral sebenarnya melibatkan tiga komponen dasar.
Kohlberg
32
menyebutkan ketiga komponen itu ialah moral behavior (yaitu
bagaimana seseorang bertingkah laku), moral emotion (yaitu apa yang dirasakan
oleh seseorang setelah melakukan sesuatu), moral judgement (alasan yang dipakai
orang dalam mengambil keputusan).
Kohlberg membagi perkembangan moral seseorang dalam tiga tingkat,
yaitu tingkat prakonvesional, tingkat konvesional, dan tingkat pasca konvesional.
Dari ketiga tingkat tersebut Kohlberg membagi menjadi enam tahap yaitu sebagai
berikut
33
:
a. Orientasi pada hukuman dan ketaatan (Punishment-obedience orientation)
Tahap ini penekananya pada akibat fisik suatu perbuatan menentukan baik
dan buruknya, tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat
tersebut. Anak menghindari hukuman lebih dikarenakan rasa takut, bukan
karena rasa hormat.
b. Tahap orientasi hedonis (Instrumental-relativist orientation)
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang memuaskan kebutuhan
individu sendiri, tetapi juga kadang mulai memperhatikan kebutuhan
orang lain. Hubungan lebih menekankan unsur timbal balik dan kewajaran.
c. Orientas anak manis (Interpersonal concordance orientation)

32
Hadiwardoyo, Op Cit. hlm. 39..
33
Nurul Zuriah,Pendidikan Moral dan Budi Pkerti dalam Perspektif Perubahan(Jakarta: PT.Bumi
Aksara,cet.I, 2007),hlm. 35
Pada tahap ini anak memenuhi harapan keluarga dan lingkungan sosialnya
yang dianggap bernilai pada dirinya sendiri, sudah ada loyalitas. Unsur
pujian menjadi penting dalam tahap ini karena yang ditangkap anak adalah
orang dipuji karena berlaku baik. Perilaku yang baik adalah perilaku yang
menyenangkan atau membantu orang lain, dan yang disetujui oleh mereka.
d. Orientasi terhadap hukum dan ketertiban (Law and Order orientation/
Social-order Maintaining).
Menjalankan tugas dan rasa hormat terhadap otoritas adalah tindakan yang
benar. Orang mendapatkan rasa hormat dengan berperilaku menurut
kewajiban.
e. Orientasi kontrak sosial legalitas (Social contract orientation)
Tindakan yang benar pada tahap ini cenderung di tafsirkan sebagai
tindakan yang sesuai dengan kesepakatan umum. Dengan demikian, orang
ini menyadari relativitas nilai-nilai pribadi dan pendapat-pendapat pribadi.
f. Orientasi suara hati (Universal ethical principle orientation)
Pada tahap ini orang tidak hanya memandang dirinya sebagai subyek
hukum, tetapi juga sebagai pribadi yang harus dihormat. Respect for
person adalah nilai pada tahap ini. Tindakan yang benar adalah tindakan
yang berdasarkan keputusan yang sesuai dengan suara hati dan prinsip
moral universal.
Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg berkaitan dengan
penalaran (moral thinking) bukan tindakan (moral action). Orang yang
mempunyai penalaran moral tingkat tinggi belum tentu berperilaku demikian pula,
sehingga korelasi yang sempurna dari penalaran moral dan tingkah laku moral
tidak dapat diharapkan.
Hasil penelitian Kohlberg menemukan bahwa faktor intelegensi, status
sosial ekonomi, kelompok sosial dan faktor pribadi dianggap sebagai hal-hal yang
mempengaruhi perkembangan moral. Di samping itu faktor situasi, motivasi, dan
emosi juga dianggap mempengaruhi perilaku individu, sehingga sering terjadi
ketidaksesuaian antara moral judgement dan moral behavior. Kohlberg kemudian
menyimpulkan bahwa hubungan antara moral judgement dengan moral behavior
tidak dapat dipastikan. Moral judgement hanya merupakan salah satu syarat moral
behavior (necessary but not sufficient). Moral judgement bukan satu-satunya
faktor pembentuk perilaku.
34

3. Konvensi Moralitas
Moralitas dapat obyektif atau subyektif.
35
Moralitas obyektif memandang
perbuatan semata sebagai suatu perbuatan yang telah dikerjakan, bebas lepas dari
pengaruh-pengaruh sukarela pihak pelaku. Moralitas subyektif adalah moralitas
yang memandang perbuatan sebagai perbuatan yang dipengaruhi, dikondisikan
oleh latar belakangnya, pendidikannya, kemantapan emosinya, dan sifat-sifat
pribadi lain. Moralitas juga dapat intrinsik dan ekstrinsik. Moralitas intrinsik
memandang suatu perbuatan menurut hakikatnya bebas lepas dari setiap bentuk
hukum positif. Yang dipandang adalah apakah perbuatan baik atau buruk pada
hakikatnya, bukan apakah seseorang telah memerintahkannya atau telah
melarangnya. Moral ekstrinsik adalah moralitas yang memandang perbuatan

34
Ibid, hlm. 77.
35
Poespoprodjo, Op. Cit., hlm. 119.
sebagai sesuatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang berkuasa
atau oleh hukum positif, baik dari manusia asalnya maupun dari Tuhan.
Ada tiga sumber konvensi tentang moralitas. Teori ini mengatakan bahwa
semua bentuk moralitas itu ditentukan oleh konvensi. Menurut teori ini, perbuatan
dianggap benar atau salah berdasarkan: 1). Kebiasaan manusia, 2). Hukum-hukum
negara, 3). Pemilihan bebas Tuhan.
36

1) Kebiasaan manusia
Teori yang mengatakan bahwa semua moralitas itu sekadar
kebiasaan saja, sudah lama tersebar, yakni sejak zaman Yunani purba,
dimana moralitas adalah sesuatu yang dipaksakan oleh orang-orang pandai
dan berpengaruh untuk menundukkan rakyat biasa. Terhadap tekanan,
pendapat umum, dan tradisi, orang biasa menerima hukum moral dan mau
memakai rantai belenggu yang telah dibuatkan untuknya. Hanya beberapa
pemberani yang berani berjuang dan dapat merdeka.
Pendapat tersebut dipegang oleh para filsuf seperti Friedrich
Nietszche yang berpendapat bahwa pada awalnya tidak ada hal yang baik
dan hal yang buruk. Yang ada hanya yang kuat dan yang lemah. Yang
lemah takut kepada yang kuat. Masing-masing golongan memuja sifatnya
masing-masing dan menghukum golongan lain. Muncullah perbedaan
antara moralitas bendoro dan moralitas budak. Auguste Comte,
memandang etika sebagai bagian sosiologi yang dianggap sebagai ilmu
tertinggi. Kebiasaan moral itu muncul dari kebiasaan sosial dan terus

36
Ibid, hlm. 130.
berubah bersama perbuatan-perbuatan yang terdapat dalam masyarakat.
Freiderich Paulsen menegaskan bahwa pada konkretnya tidak terdapat
moralitas yang universal sifatnya. Hukum moral (moral code) ini berbeda
bagi setiap orang. Setiap filsafat moral itu hanya sah bagi suasana
peradaban di mana filsafat moral tadi muncul.
2) Moralitas bersumber pada hukum-hukum negara atau masyarakat politik.
Teori ini menyatakan bahwa moralitas bersumber pada negara atau
masyarakat politik. Orang-orang yang mengajarkan teori tersebut adalah
Thomas Hobbes dan Jean Jacques Rousseau. Kedua tokoh ini
mengemukakan bahwa sebelum manusia mengorganisasi ke dalam
masyarakat politik, tidak ada hal yang baik dan buruk. Negara merupakan
hasil dari social contract, persetujuan yang sama sekali konvensional,
yang dengan itu manusia mengorbankan sebagian hak-hak kodratnya
untuk menyelamatkan hak-hak kodrat lainnya. Pada saat masyarakat sipil
terbentuk, masyarakat ini memerintahkan dan melarang perbuatan-
perbuatan tertentu guna tercapainya common good. Dan inilah saat
munculnya hal yang baik dan hal yang buruk. Jadi, tidak ada perbuatan
yang baik dan buruk menurut hakikatnya, tetapi hanya karena
diperintahkan atau dilarang oleh negara. Sehingga teori ini menyamakan
moralitas dengan civil legality.
3) Pemilihan bebas Tuhan
Bila moralitas itu bukan hasil konvensi manusia, sumbernya harus
terdapat pada Tuhan. John Duns Scotus berpendapat bahwa semua
keharusan (obligation) datangnya dari kehendak Tuhan yang mutlak
merdeka, dan bahwa perbuatan seseorang dan pembunuhan pada
hakikatnya buruk bagi manusia sebagai sesuatu yang berlawanan dengan
kodratnya. Ia percaya akan adanya kebaikan atau keburukan intrinsik,
tetapi tidak percaya kepada kebenaran atau kesalahan intrinsik (intrinsic
rightness or wrongness).
Samuel Pufendorf, menyatakan bahwa semua bentuk moralitas itu
bergantung pada kehendak bebas Tuhan. Tuhan bisa menciptakan
sembarang makhluk yang Dia kehendaki. Tetapi Dia kemudian menuntut
ciptaan-Nya menyesuaikan perbuatannya dengan hakikatnya.
Benar bahwa moralitas itu bergantung kepada Tuhan dan bahwa
kehendak Tuhan adalah bebas tetapi Tuhan adalah ada yang berada
menurut hakikat–Nya. Maka Tuhan tidak dapat memerintahkan perbuatan-
perbuatan tercela, kepada manusia. Perbuatan-perbuatan tersebut tidaklah
buruk karena Tuhan telah melarangnya. Tetapi Tuhan wajib melarangnya
karena perbuatan-perbuatan tersebut buruk pada hakikatnya.
4. Moralitas Agama
Hadi Wardoyo mengatakan bahwa moral sebenarnya memuat dua segi
yang berbeda, yakni segi batiniyah dan segi lahiriah.
37
Orang yang baik adalah
orang yang memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan-perbuatan
yang baik pula. Sikap batin itu seringkali juga disebut hati. Orang yang baik

37
Hadi Wardoyo, (1990), hlm. 98.
mempunyai hati yang baik. Akan tetapi sikap batin yang baik baru dapat dilihat
oleh orang lain setelah terwujud dalam perbuatan lahiriyah yang baik pula.
Abdullah, A.,
38
mengatakan bahwa “Al-Qur’an adalah pedoman untuk
Hablun min al-Allah dan Hablun min an-Nas, tidak lain tidak bukan adalah kode
etik tata pergaulan antara manusia sebagai makhluk dengan sang pencipta (al-
Khaliq) serta etika pergaulan antara sesama manusia, termasuk etika hubungan
antar umat beragama”.
Begitu juga Fazlur Rahman dan M. Iqbal mengingatkan bahwa al-Qur’an
sendari semula adalah kitab suci yang dipenuhi dengan wawasan acuan dasar-
dasar etika.
39
Al-Qur’an sendiri semula tidak hanya didominasi oleh ajaran-ajaran
teologis maupun legal-formal (hukum) sebagaimana yang selama ini dihayati oleh
banyak orang.
Boisard, A. M mengatakan bahwa Islam di samping iman dan aturan
(hukum), Islam juga mengandung segi moral yang jelas.
40
Bukankah Muhammad
sendiri telah berkata: “Aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang
luhur”. Moral Islam merupakan bagian yang tak terpisah dari agama. Menurut
tradisi, moral adalah cara untuk bertindak terhadap orang lain. Dalam kehidupan
moral, orang mukmin harus mematuhi ajaran-ajaran hukum Tuhan. Dasar
kehidupan moral terdapat dalam iman dan taqwa yang merupakan rasa transenden
dan dinamis. Akan tetapi orang tidak dapat memahami moral Islam tanpa
menyadari bahwa al-Qur’an itu tidak hanya merupakan hukum, akan tetapi

38
A. Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisasi, (Yogyakarta: Puataka Pelajar,
1999), hlm. 70.
39
Fazlur Rahman dan M. Iqbal dalam Abdullah, A, (1999), hlm. 23.
40
Boisard, A. M., (1980), hlm. 41.
merupakan daya penjabar dari fikiran-fikiran yang mengarahkan kelakuan
mukmin dalam rangka tujuan manusia yaitu: tunduk kepada kemauan Tuhan.
Dalam ibadat, iman kepada Tuhan diungkapkan dan dinyatakan. Dalam
hidup moral, hubungan dengan Tuhan diwujudkan dalam bentuk nyata. Dalam
ibadat, hubungan dengan Tuhan dikenang dan dihidupkan. Dalam hidup moral,
hubungan dengan Tuhan dihayati sebagai keterlibatan dan ketaatan. Hidup moral
membuat ibadat dihayati secara mendalam dan makin menjadi berarti dan
dibutuhkan. Bagi orang beragama, agar kebaikan yang dilakukan bernilai moral,
religius haruslah berdasarkan iman dan kebaikan itu haruslah dilakukan
berdasarkan dorongan iman sendiri.
41

Perbuatan moral dilakukan sebaiknya bukan pertama-tama untuk
mendapatkan pahala di dunia ataupun di surga. Kita perlu yakin bahwa Tuhan itu
Maha baik. Bila kita melaksanakan perbuatan moral, perintah agama, hanya demi
pahalanya, hidup moral kita akan bersifat moralistis dan menjadi moralisme.
Moralisme adalah paham yang berpendapat bahwa dengan melaksanakan
kebaikan manusia mendapat keselamatan abadi di surga, lepas dari rahmat Tuhan.
Kehidupan moral adalah jawaban manusia terhadap panggilan Tuhan untuk
berbuat baik dalam hidup nyata. Kehidupan moral merupakan cara manusia
beragama ikut serta dengan Tuhan dalam melanjutkan karya ciptaan dan karya
perbuatan baik Tuhan. Dalam rangka ini, kita perlu menghindari sikap
konformistis, konformisme dan sikap melaksanakan hukum atau perintah moral
hanya sebatas yang nampak, lahiriyah, atau identifikasi kulit saja.

41
Hardjana, A.M. Penghayatan Agama: yang Otentik dan Tidak Otentik, (Yogyakarta:
Kanisius, 1999), hlm. 99
B. Pendidikan Budi Pekerti
1. Pengertian
Untuk dapat memahami hakikat pendidikan terlebih dahulu kita
memahami makna pendidikan, secara etimologi pendidikan berasal dari bahasa
yunani “pedagogiek” yang dalam bahasa inggris diterjemahkan education yang
mempunyai arti ilmu yang membicarakan bagaimana memberikan bimbingna
kepada anak. Sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut pendidikan yang berarti
proses mendidik.
42
Menurut Muhammad Ali dalam kamusnya, pendidikan bearti
pemeliharaan, latihan , ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan
pikiran.
43
Pendapat tersebut seirama dengan pengertian pendidikan yang terdapat
dalam kamus besar bahasa Indonesia,” pendidikan ialah proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam suatu usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran itu sendiri”.
44

Sedangkan dalam undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional pasal I, menyebutkan bahwa. “pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

42
Madyo Ekosusilo, Kasihadi. R. B, Dasar-Dasar Pendidikan, (Semarang: effhar
offset, 1988), hlm. 12
43
Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta: Pustaka
Amani), hlm. 82
44
Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, edisi kedua, 1991), hlm.
232
mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.
45

Berikut ini beberapa definisi pendidikan menurut beberapa tokoh
pendidikan, diantaranya :
a. S. A. Brata, dkk, pendidikan ialah usaha yang sengaja yang diadakan
baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk membantu anak
dalam perkembangannya mencapai kedewsaannya.
b. J. J. Rousseau, pendidikan adalah memberi kita pembekalan yang tidak
ada pada anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu
dewasa.
46

c. Pengertian pendidikan sebagaimana dikemukakan Ki Hajar Dewantara
adalah
”pendidikan, umumnja berarti daja upaja untuk mewudjudkan
bertumbuhnja budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran
(intellect) dan tumbuh anak; dalam taman siswa tidak boleh dipisah-
pisahkan bagian-bagian itu, agar supaja kita dapat memadjukan
kesempurnaan hidup, jakni kehidupan dan penghidupan anak-anak
jang kita didik selaras dengan dunianja”
47


d. Selanjutnya, menurut Poerbakawatja dan Harahap pendidikan adalah;
“Usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya
meningkatkan si anak ke-kedewasaan yang selalu diartikan mampu
menimbulkan tanggungjawab moril dari segala perbuatannya. Orang
dewasa itu adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas

45
Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan pelaksanaanya,
(Yogyakarta: CV. Tamima Utama, 2004), hlm. 4
46
Zahara Idris, Dasar-Dasar Pendidikan, (Angkasa Raya, 1981), hlm. 9
47
Ki Hajar Dewantara, Karya Bagian pertama; Pendidikan, (Yogyakrta: MLTM,
1962), hlm. 14
dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya
guru sekolah, pendeta atau kiai dalam lingkungan keagamaan, kepala-
kepala asrama, dan sebagainya.”
48

Dari beberapa pendapat di atas dapat dipahami bahwa pendidikan adalah
usaha sadar yang berupa bimbingan untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang
melalui pengajaran itu sendiri. Sehingga yang menjadi kesimpulan utamanya
adalah pendidikan menyangkut persoalan yang luas serta komplek. Pendidikan
bukan hanya sifat pengajaran yang hanya mewariskan kemampuan kognitif saja
akan tetapi adalah usaha pengerahan seluruh potensi manusia -yang fitrah- dalam
kehidupan bermasyarakat, sehingga pendidikan nantinya berfungsi sangat erat
dengan tingkat kebutuhan masyarakat dan sekaligus sebagai proses penyadaran
sosial yang signifikan.
Mengenai pengertian pendidikan budi pekerti seperti yang dirumuskan
oleh badan Pertimbangan Pendidikan Nasional diartikan sebagai sikap dan
perilaku sehari-hari baik individu, keluarga, maupun masyarakat, bangsa yang
mengandung nilai-nilai yang berlaku yang dianut dalam bentuk jati diri, nilai
persatuan dan kesatuan, integritas, dan kesinambungan masa depan dalam suatu
sistem moral, dan yang menjadi pedoman perilaku manusia Indonesia untuk
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan bersumber pada falsafah
pancasila dan diilhami oleh ajaran agama serta budaya Indonesia.
49

Menurut Nurul Zuriah, pendidikan budi pekerti merupakan progam
pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa

48
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 11
49
Tim Dosen Fakultas Tarbiyah, Op. Cit.,hlm.41
dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan
moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerjasama
yang menekankan rana afektif (perasaan dan sikap) tanpa meninggalkan ranah
kognitif (berpikir rasional) dan rana Skill/ psikomotorik (ketrampilan, terampil
mengelola data, mengungkapkan pendapat, dan kerjasama).
50

Sementara itu, pengertian pendidikan budi prekerti menurut draft
kurikulum berbasis kompetensi dapat ditinjau secara konsepsional dan
operasional.
51

1. Pengertian pendidikan budi pekerti secara Konsepsional mencangkup hal-hal
sebagai berikut:
a. Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya
yang berbudi pekerti luhur dalam segenap peranannya sekarang dan
masa yang akan datang.
b. Upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan dan
perilaku peserta didik agar mereka mampu melaksanakan tugas-tugas
hidupnya secara selaras, serasi seimbang (lahir batin, material spiritual,
dan individual sosial).
c. Upaya pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi
seutuhnya yang berbudi pekerti luhur melalui kegiatan bimbingan,
pembiasaan, pengajaran dan latihan serta keteladanan.
2. Pengertian pendidikan budi pekerti secara Operasional adalah upaya untuk
membekali peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan selama

50
Nurul Zuriah, Op. Cit., hlm. 19-20
51
Ibid. hlm. 20
pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai bekal masa depanya, agar
memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan
dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan sesama makhluk.
Dengan demikian, terbentuklah pribadi seutuhnya yang tercermin padea
perilaku berupa ucapan, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja dan hasil
karya berdasarkan nilai-nilai agama serta norma dan moral luhur bangsa.
Dalam konteks agama Islam, budi pekerti digunakan untuk menyatakan
akhlak, tabiat, tingkah laku seseorang.
52
Secara umum gabungan dari beberapa
pengertian diatas, seperti yang dirumuskan dalam Ensiklopedia Pendidikan: budi
pekerti diartikan sebagai kesusilaan yang mencangkup segi-segi kejiwaan dan
perbuatan manusia; sedangkan manusia susila adalah manusia yang sikap
lahiriyah dan bathiniyah-nya sesuai dengan norma etik dan moral.
53

Pengertian yang telah diungkapkan diatas, menandakan bahwa pendidikan
budi pekerti mengacu pada sikap dan perilaku seseorang maupun masyarakat yang
mengedepankan norma dan etika.
Menurut Pusbangkirandik, Badan penelitian dan pengembangan
pendidikan dan kebudayaan pendidikan budi pekerti dikategorikan menjadi tiga
komponen yaitu:
1. Keberagamaan, terdiri dari nila-nilai;(a) kekhusukan hubungan dengan
Tuhan,(b) kepatuhan kepada agama, (c) niat baik dan keikhlasan, (d)
perbuatan baik (e) pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.

52
H.A. Mustofa, Akhlak Taswuf, (Bandung: CV. Pustaka setia, 1999), hlm. 11
53
Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedia Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1976),
hlm. 9
2. Kemandirian, terdiri dari nilai-nilai; (a) harga diri, (b) disiplin, (c) etos
kerja (kemauan untuk berubah, hasrat mengejar kemajuan, cinta ilmu,
teknologi dan seni), (d) rasa tanggung jawab, (e) keberanian dan
semangat,(f) keterbukaan,(g) pengendalian diri.
3. Kesusilaan, terdiri dari nilai-nilai; (a) cinta dan kasih sayang,
(b)kebersamaan, (c) kesetiakawanan, (d) tolong-menolong,(e) tenggang
rasa, (f) hormat menghormati, (g) kelayakan (kepatuhan), (h) rasa malu, (i)
kejujuran, dan (j) pernyataan terima kasih, permintaan maaf, (rasa tahu
diri).
54

Pada dasarnya ada tiga ranah nyang populer dikalangan dunia pendidikan
yang menjadi lapangan garapan pembentukan kepribadian peserta didik yaitu:
1. Kognitif, mengisi otak, mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada
tahap-tahap berikutnya dapat membudayakan akal pikiran, sehingga dia
dapat berfungsi akalnya menjadi kecerdasan intelegensia.
2. Afektif, yang berkenaan dengan perasaan, emosional, pembentukan sikap
didalam diri pribadi seseorang dengan terbentuknya sikap, simpati, antipati,
mencintai, membenci, dan lain sebagainya. Sikap ini semua dapat
digolongkan sebagai kecerdasan emosional.
3. Psikomotorik, dalah berkenaan dengan action, perbuatan, perilaku, dan
seterusnya.
55


54
Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, Pedoman Pengajaran Budi
Pekerti ,(Jakarta: Badan penelitian dan pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, departemen
pendidikan dan kebudayaan, 1997).
55
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di
Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, cet.I, 2004), hlm. 222
Dari beberapa aspek di atas dapat di pahami bahwa ketiga ranah tersebut
dapat disimulkan bahwa dari memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kemudian
memiliki sikap tentang hal tersebut kemudian berperilaku sesuai dengan apa yang
diketahuinya dan apa yang disikapinya.
Sepaham dengan hal di atas pendidikan budi pekerti juga meliputi ketiga
aspek tersebut. Seseorang mesti mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk.
Selanjutnya bagaimana kemudian seseorang memiliki sikap terhadap yang baik
dan yang buruk, dimana seseorang sampai ketingkat mencintai kebaikan dan
memberi keburukan. Pada tingkat berikutnya bertindak, berperilaku sersuai
dengan nilai-nilai kebaikan, sehingga muncullah akhlak dan budi pekerti mulia.
2. Tujuan dan Landasan
a. Tujuan
Tujuan merupakan suasana ideal yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan
pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir ( ultimate aims of
education). Tujuan akhir biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti
terbentuknya kepribadian muslim,
56
kematangan dan integritas pribadi.
57
Tujuan
adalah sesuatu yang dituju atau sesuatu yang akan dicapai, ia merupakan “dunia
cita”, yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan.
58
Suatu kegiatan harus
memiliki tujuan agar yang akan dicapai dari kegiatan itu dapat diketahui. Karena,
kegiatan tanpa tujuan akan berjalan tanpa arah.

56
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’arif,
1989), hlm. 49
57
Muhaimin , dkk., Kontroversi Pemikiran Fazlur Rahman, Studi Kritis Pembaharuan
Pendidikan Islam, (Cirebon, Pustaka Dinamika, 1999), hlm. 9-10
58
Zuhairini,dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, cet-V, 1995), hlm.
159
Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan baik tujuan
kurikuler maupun tujuan intruksional menggunakan klasifikasi belajar dari
Benyamin Bloom yang secara garis besar di bagi tiga ranah, yaitu ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar
intelektual, ranah afektif berkenaan dengan sikap dan ranah psikomotorik
berkenaan dengan keterampilan dan kemapuan untuk bertindak.
59

Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pendidikan budi
pekerti yang terintregasi dalam sejumlah mata pelajaran yang relevan dan tatanan
serta iklim kehidupan sosia-kultural dunia persekolahan secara umum bertujuan
untuk memfasilitasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuan, mengkaji dan
menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai, mengembangkan keterampilan
sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia dalam diri
siswa serta mewujudkannya dalam perilaku sehari-hari, dalam berbagai konteks
sosial budaya yang berbhineka sepanjang hayat.
60

Kemudian menurut Cahyoto, tujuan pendidikan budi pekerti dapat
dikembalikan kepada harapan masyarakat terhadap sekolah yang menghendaki
siswa memiliki kemampuan dan kecakapan berpikir, menjadi anggota masyarakat
yang bermafaat, dan memiliki kemampuan yang terpuji sebagai anggota
masyarakat.
61
Menurut Jarolimek dan Foster seperti yang dikutip Nurul Zuriah
bahwa ada beberapa cara untuk merumuskan tujuan, antara lain adalah pencapaian
yang umum dan yang khusus. Cara ini kemudian melahirkan tujuan pembelajaran

59
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengaja , (Bandung: Rosda Karya, 1993),
hlm. 22
60
Nurul Zuriah, Op. Cit., hlm. 64-65
61
Cahyoto, Budi Pekerti dalam Perspektif Pendidikan, (Malang: Depdiknas-Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah-Pusat Penataran Guru IPS dan PMP Malang), hlm.9-13
umum dan tujuan pembelajaran khusus yang keduanya menekankan pada tujuan
perilaku.
62
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran khusus bersifat
spesifik, nyata, dan dapat diukur pencapaiannya untuk mengetahui kualitas belajar
dan pembelajaran. Penggunaan istilah tujuan pembelajaran “perilaku”
menimbulkan kesan seakan-akan didasarkan paham behaviorism (paham atau
aliran perilaku) yang menekankan aspek perilaku yang dapat diamati, sementara
banyak aspek pembelajaran perilaku siswa yang tidak dapat diamati.
63

Melihat dari permasalahan diatas kemudian munculah paham humanisme
yang lebih kongkrit yang menggunakan istilah pembelajaran afektif atau
nonbehavioral sehingga pembelajaran juga mencangkup aspek perasaan atau sikap
yang tidak dapat diamati. Rumusan tujuan pembelajaran afektif yang di anut
aliran non-behavioral isinya bersifat umum dan mengutamakan rumusan yang
menekankan harapan yang dipelajari oleh siswa.
64
Dari kondisi di atas, maka
tampaklah bahwa proses berpikir tidak dapat berlansung tanpa proses Feelings
(perasaan).
Sedangkan menurut haidar Putra Daulay, mengatakan bahwa tujuan
pendidikan budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap dan perilaku
siswa yang memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur.
65
Dengan kata lain
dalam pendidikan budi pekerti, nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai
akhlak yang mulia. Yaitu tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia kedalam diri
peserta didik yang kemudian terwujud dalam tingkah lakunya.

62
Nurul Zuriah, Op.Cit.hlm.65
63
Ibid.
64
Ibid.hlm.65-66
65
Haidar Putra Daulay,Op.Cit., hlm.220
Berdasakan dari kerangka pemikiran di atas, maka tujuan pendidikan budi
pekerti dapat dipahami, bahwa pendidikan budi pekerti hendak menjadikan
peserta didik menjadi manusia yang berbudi luhur atau ber-akhlaqul karimah,
baik dalam berinteraksi dengan Tuhan maupun sesama manusia dan alam
lingkungan.
b. Landasan
Landasan merupakan dasar dalam melaksanakan sebuah tidakan tindakan
tanpa dasar akan mengalami ketidakjelasan. Dalam artian arah serta target tidak
akan terpenuhi. Dan pada akhirnya tujuan dari tindakan tersebut tidak terlaksana
juga. Singkat kata landasan atau dasar memiliki peran penting dalam dunia
pendidikan. Ada beberapa hal yang menjadi dasar dari pendidikan akhlak (etika),
yaitu:
1) Dasar Segi Hukum
Dasar dari sisi ini berasal dari peraturan-peraturan perundang-
undangan, baik secara langsung maupun tidak lansung dapat dijadikan
pedoman/dasar dalam pelaksanaan pendidikan dan pembinaan akhlak.
Adapun dasar yuridhis pendidikan akhlak (etika) ini adalah dasar yang
bersifat operasional, yaitu dasar yang secara langsung mengatur tentang
pelaksanaan pendidikan termasuk pendidikan akhlak adalah UUSPN bab II
pasal 4 dinyatakan bahwa : Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu
manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi
pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani
dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
66

2) Dasar Segi Religius
Keberhasilan dalam proses belajar dan pembelajaran tidak hanya
dilihat dari kecerdasan intelektual saja melainkan juga siswa juga diharapkan
memiliki tingkah laku yang baik. Hal itu akan tercapai ketika dalam proses
tersebut di lengkapi transfer nilai (transfer of value). Nilai yang mencangkup
tentang norma tersebut terdapat dalam agama, sehingga agama mempunyai
peranan penting dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti. Hal tersebut
dikarenakan budi pekerti atau akhlak merupakan etika yang mengatur
interaksi suatu individu dengan Tuhan, manusia, lingkungan dan dengan
dirinya sendiri.
3) Dasar Segi Psikologis
Semua manusia normal akan merasakan dirinya pada perasaan percaya
dan mengakui adanya kekuatan dari luar dirinya. Ia adalah zat yang Maha
Kuasa, tempat berlindung dan memohon pertolongan . Hal ini nampak terlihat
di dalam sikap dan tingkah laku seseorang maupun mekanisme yang bekerja
pada diri seseorang. Ini disebabkan karena cara berpikir, bersikap, berkreasi
serta tingkah laku seseorang tidak dapat dipisahkan dengan keyakinan yang
dimiliki. Di sinilah letaknya keberadaan moral, bahwasanya kehidupan moral
tidak dapat dipisahkan dari keyakinan agama.
67

3. Materi Pendidikan

66
Nursalim, dkk., Metodologi Pendidikan Agama Islam , Buku Kedua, (Jakarta:
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2002), hlm.5
67
Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm.155
Materi pelajaran merupakan bagian kurikulum yang digunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang
dianggap perlu untuk dimiliki anak didik. Bahan-bahan tersebut harus dikuasai,
dipahami, dan dimengerti dengan sungguh-sungguh oleh pendidik. Sebab jika
bahan tersebut tidak dikuasainya akan menimbulkan kesulitan dalam proses
belajar mengajar.
68

Menurut Milan Rianto sperti yang dikutip oleh Nurul Zuriah dalam
bukunya, ruang lingkup materi budi pekerti secara garis besar dapat di
kelompokkan dalam tiga hal nilai akhlak yaitu sebagai berikut.
69

1. Akhlak terhadap Tuhan Yang Maha Esa
a. Mengenal Tuhan
1) Tuhan sebagai Pencipta
Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan semua benda yang ada di
sekeliling kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Kita
harus percaya kepada Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini,
artinya kita wajib mengakui dan meyakini bahwa Tuhan yang Maha Esa
itu memang ada. Kita harus beriman kita harus beriman dan bertaqwa
kepada-Nya dengan yakin dan patuh serta taat dalam menjalankan segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semua agama
mempunyai pengertian tentang ketaqwaan, secara umum taqwa berarti taat
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, kita harus
ingat dan waspada serta hati-hati jangan sampai melanggar perintah-Nya.

68
Erwati Aziz, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, cet. 1,2003),hlm.173
69
Nurul Zuriah, Op.Cit.hlm.27-30
2) Tuhan Sebagai Pemberi (pengasih, penyayang)
Tuhan yang Maha Esa adalah maha pemberi, pengasih, dan penyayang.
Asalkan kita meyakini akan keberadaan-Nya dan akan kekuasaan dan
kebesarannya maka Tuhan akan memberikan apapun yang kita minta.
Dalam ajaran agama disebutkan “mintahlah kepada-Ku, niscaya Aku akan
memberinya”. Oleh karena itu, janganlah kita merasa bosan untuk berdo’a
dan memohon, jangan pula menyerah, tetapi harus tetap berusaha dengan
sekuat tenaga. Setiap akan melakukan sesuatu pekerjaan jangan lupa
membaca kalimat Tuhan “Bismillahirahmanirahhim” agar mendapat hasil
yang baik dan memuaskan serta selamat. Setelah selesai sampaikan rasa
syukur kita, misalnya dengan mengucapkan “Alhamdulillahirobbil
‘alamiin”.
3) Tuhan sebagai pemberi balasan (baik dan buruk)
Selain Tuhan maha pemberi, juga akan memberi balasan terhadap apa
yang kita kerjakan di manapun dan kapanpun. Jika kita berbuat baik, pasti
Tuhan akan membalas dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda;
tetapi sebaliknya jika kita berbuat buruk/jahat, Tuhan pun akan
membalasnya dengan siksa dan dosa.
Menurut norma agama, jika kita melanggar perintah Tuhan maka kita akan
mendapatkan hukuman dari Tuhan karena kita berdosa. Oleh karena itu,
marilah kita berbuat baik dan beribadah sesuai dengan ajaran kita masing-
masing. Sikap ini sangat baik bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Keadaan kehidupan bermasyarakat akan lebih baik apabila
semua umat beragama melaksanakan ajaran agamanya dengan penuh
kesadaran, ketakwaan dan keikhlasan.
b. Hubungan akhlak kepada Tuhan Yang Maha Esa
1) Ibadah/Menyembah
a. Umum
Kita mengenal pencipta dan yang diciptakan (al-Khalik dan makhluk).
Manusia sebagai ciptaan Tuhan mempunyai kewajiban terhadap sang
pencipta dan kewajiban terhadap manusia. Kewajiban terhadap Tuhan
ialah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Perbuatan yang dilakukan karena perintah-Nya disebut ibadah. Semua
perbuatan baik yang kita lakukan merupakan ibadah, tentu saja yang
berada dalam bingkai perintah-Nya. Perintah dan larangan-Nya ada
dalam kitab suci yang diturunkan-Nya, selain itu juga contoh perbuatan
yang diberikan oleh para nabi dan rasul. Banyak perbuatan baik yang
merupakan ibadah yang bersifat umum yang diajarkan oleh agama yang
ada di dunia ini, seperti tolong-menolong dalam kebaikan, kasih
sayang, bersikap ramah dan sopan, bekerja keras dalam mencari
nafkah, dan tolong-menolong dalam kebaikan.
b. Khusus
Selain dari ibadah umum, ada juga ibadah yang bersifat khusus. Ibadah
yang bersifat khusus adalah ibadah yang pelaksanaanya mempunyai
tata cara tertentu. Dalam ajaran Islam, misalnya ajaran yang bersifat
khusus antara lain:
2) Meminta Tolong kepada Tuhan
a. Usaha atau upaya
Tuhan tidak akan menurunkan sesuatu kepada manusia, seperti ibu
yang memberikan makanan kepada anaknya. Tuhan tidak akan
menjatuhkan uang berkarung-karung dari langit karena kita dituntut
berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Ajaran agama menyebutkan
Tuhan tidak merubah nasib sebuah kaum kalau kaum itu tidak
mengubahnya. Ini menunjukkan bahwa kita harus berusaha untuk
memperbaiki keadaan kita. Jika bangsa Indonesia ingin sejahtera, adil
dan makmur maka bangsa Indonesia sendirilah yang harus
mengubahnya. Melaksanakan perubahan harus sesuai dengan cara-cara
yang benar, tidak korup, jujur, ikhlas dalam bekerja, serta berdoa
dengan keras.
b. Doa
Dalam kitab suci al-Quran, Tuhan mengajarkan “Mintalah pada-Ku”,
maka Aku akan kabulkan. Ingatlah pada-Ku maka Aku ingat padamu”.
Jadi, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah ibadah sehingga
dikatakan bahwa orang yang tidak pernah berdoa kepada Tuhan adalah
orang sombong. Oleh karena itu jangan malas berdoa. Segala yang kita
lakukan tidak ada jaminan akan terlaksana dengan baik. Karena itu,
maka memohon kepada Tuhan agar kita diberi kekuatan untuk biasa
melakukan sesuatu perbuatan yang baik.

2. Akhlak terhadap Sesama Manusia
a. Terhadap diri sendiri
Setiap manusia harus mempunyai jati diri. Dengan jati diri, seseorang
mampu mengghargai dirinya sendiri; mengetahui kemampuanya,
kelebihan dan kekurangannya; serta dapat menjawab beberapa
pertanyaan: siapakah saya ini? Apakah saya berguna atau tidak bagi
orang lain? Mengapa saya harus berbuat lebih baik? Bagaimana
caranya dapat berguna bagi diri sendiri atau orang lain dan masyarakat
serta bangsa dan negara? Dimana saya berbuat baik, dan sebagainya.
Jika dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut dengan baik dan
benar, kita akan mempunyai konsep diri yang positif. Kita harus
berkelakuan dan berbuat baik setiap hari di mana saja. Kita pun harus
berkarya demi keguanaan kita sendiri, keluarga dan masyarakat
bahkan bangsa dan negara. Jangan kita bertanya, Apa yang telah
bangsa kita berikan kepada kita? Akan tetapi, kita justru harus
bertanya: Seberapa jauh pengorbanan dan pengabdian yang sudah kita
berikan dan sumbangkan kepada Negara?.
Jika sampai saat ini kita masih banyak kekurangannya maka mulailah
dari sekarang mencoba memperbaiki kekurangan itu, berbuatlah yang
terbaik bagi kita sendiri, masyarakat, bangsa dan negara, serta agama.
b. Terhadap orang tua
Orang tua adalah pribadi yang di tugasi Tuhan untuk melahirkan,
membesarkan, memeliharara dan mendidik kita, maka sudah
sepatutnya seseorang anak menghormati dan mencintai orang tua serta
taat dan patuh kepadanya. Beberapa sikap yang perlu kita perhatikan
dan lakukan kepada orang tua adalah sebagai berikut:
1) Memohon izin, memberi salam pada waktu mau pergi dan pulang
dari sekolah, lebih baik lagi jika mencium tangannya.
2) Memberitahukan jika kita mau pergi kemana dan berapa lamanya.
3) Gunakan dan peliharalah perabot atau barang-barang yang ada di
rumah kita yang menjadi milik orang tua kita.
4) Tidak meminta uang yang berlebihan dan jangan bersifat boros.
5) Harus membantu pekerjaan yang ada di rumah, misalnya
membersihkan rumah, memasak dan mengurus tanaman.
6) Kalau ada pembantu di rumah, kita harus memperlakukanya sebagai
sesama manusia yang sederajat dengan kita. Dari segi martabat
kemanusiaan pembantu perlu diperlakukan dan di pandang sebagai
bagian anggota keluarga yang perlu di jamin hak asasi manusianya.
Dalam ajaran agama dikatakan bahwa, “surga itu di telapak kaki
ibu”. Oleh karena itu, berbaktilah, hormatlah, taat, dan setialah
kepada ibu, begitupun kepada ayah demikian pula.
c. Terhadap orang yang lebih tua
Bersikaplah hormat, menghargai, dan mintalah saran, pendapat,
petunjuk, dan bimbingannya. Karena orang yang lebih tua dari kita,
pengetahuannya, pengalamannya, dan kemampuanya lebih dari kita.
Dimanapun kita berjumpa berikan salam dan datanglah ke tempat
orang yang lebih tua dari kita. Jika kita mempunyai saran atau
pendapat maka sampaikanlah dengan tenang, tertib, dan tidak
menyinggung perasaanya. Lebih baik kita merendah daripada
sombong.
d. Terhadap sesama
Melakukan tatakrama dengan teman sebaya memang agak sulit
karena mereka merupakan teman sederajat dan sehari-hari
berjumpa dengan kita sering lupa memperlakukan mereka menurut
tata cara dan sopan santun yang baik. Sikap yang perlu di-
perhatikan antara lain sebagai berikut: menyapa jika bertemu, tidak
mengolok-ngolok sampai melewati batas, tidak berprasangka
buruk, tidak menyinggung perasaanya, Tidak menfitnah tanpa
bukti, selalu menjaga nama baiknya, menolongnya jika mendapat
kesulitan. Selain itu, kita harus bergaul dengan semua teman tanpa
memandang asal-usul keturunan, suku bangsa, agama maupun
status sosial. Janganlah membentuk kelompok the beauties yang
terdiri dari orang-orang yang merasa dirinya cantik atau kelompok
the handsome yang terdiri atas orang-orang yang merasa dirinya
tampan atau ganteng atau kelompok anak-anak pejabat.
e. Terhadap orang yang lebih muda
Janganlah karena lebih tua kemudian kita seenaknya saja
memperlakukan teman kita yang lebih muda. Justru kita yang lebih tua
seharusnya melindungi, menjaga, dan membimbingnya. Berilah
mereka petunjuk, nasihat atau saran/pendapat yang lebih baik sehingga
akan berguna bagi kehidupanya yang akan datang. Perangai kita buruk
atau jelek janganlah diperlihatkan kepada orang yang lebih muda dari
kita sebab khawatir mereka mencontoh dan mengikutinya.
3. Akhlak terhadap Lingkungan
a. Alam
1) Flora
Manusia tidak mungkin tidak mungkin bertahan hidup tanpa adanya
dukungan lingkungan alam yang sesuai, serasi seperti yang dibutuhkan.
Untuk itulah kita harus mematuhi aturan dan norma demi menjaga kelestarian
dan keserasian hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya. Tumbuh-
tumbuhan (flora) sangat berguna bagi kehidupan manusia, misalnya sayuran,
buah-buahan, dan padi. Bahkan tidak sedikit tumbuh-tumbuhan yang dapat
digunakan untuk obat. Hutan harus dapat dilestarikan sebab dari hutan pun
banyak hasil yang didapatkan misalnya kayu, rotan dan lain-lain. Tidak
sedikit pula perkebunan menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan
penduduk, misalnya perkebunan teh, kopi, kelapa sawit, cokelat dan lain-lain.
Oleh karena itu, jagalah dan peliharalah lingkungan kita dengan baik.
2) Fauna
Bumi Indonesia dikaruniai Tuhan berbagai fauna. Hal ini memperkaya
keindahan dan kemakmuran penduduk. Hewan-hewan ada yang dipelihara,
diternakkan, ada juga yang masih liar. Peternakan yang banyak menghasilkan
dan menguntungkan misalnya sapi, kerbau, kambing, sedangkan yang
dipelihara untuk kunjungan wisata misalnya harimau, banteng, buaya, gajah
dan sebagainya.
Flora dan fauna adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, wajib kita lestarikan.
Bersyukurlah karena Indonesia diberi kekayaan flora dan fauna yang
berlimpah ruah sehingga dapat memakmurkan rakyatnya.
b. Sosial-Masyarakat-Kelompok
Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang
lain. Bagaimanapun keadaanya atau kemampuanya pasti memerlukan
bantuan, misalnya peristiwa melahirkan, khitanan, perkawinan dan kematian.
Hubungan antara manusia dengan manusia dalam masyarakat ataupun
kelompok harus selaras, serasi, dan seimbang. Kita harus saling
menghormati, menghargai, dan tolong menolong untuk mencapai kebaikan.
Jika mampu bantulah orang miskin dan yatim piatu sesuai dengan ajaran
agama kita. Jika masyarakat membangun rumah ibadah atau saran umum
yang lainya, kita perlu membantu dengan gotong-royong dan rasa ikhlas.
4. Metode Pendidikan
Pendidikan akhlak (budi pekerti) hakikatnya menjadi sebuah komitmen
mengenai langkah-langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pendidik
untuk mengarahkan generasi muda kepada pemahaman dan internalisasi nilai-nilai
(values) dan kebajikan (virtues) yang akan membentuknya menjadi manusia yang
baik. Secara teoritis pendidikan akhlak (budi pekerti) yang dilaksanakan secara
intens di lembaga pendidikan akan menjadikan peserta didik memiliki kapasitas
intelektual (in-tellectual resources) yang memungkinkan dirinya membuat
keputusan secara bertanggung jawab (informed and responsible judgement)
terhadap berbagai permasalahan atau kejadian rumit yang dihadapinya dalam
kehidupan. Pendek kata, mereka akan memiliki kematangan moral (morally
mature). Kematangan moral ini di asumsikan akan menghantarkannya menjadi
manusia yang mampu menentukan sikap terhadap subtansi nilai dan norma baru
yang muncul dalam proses perubahan.
Sebelum masuk pada pembahasan metode pendidikan budi pekerti,
terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian metode. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia disebutkan bahwa metode adalah cara kerja yang besistem untuk
memudahkan pelaksana kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
70

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Metode merupakan suatu cara yang
ditempuh untuk mencapai suatu tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Demikian
pula halnya dalam pendidikan akhlakpun harus ada metode-metode spesifik untuk
diaplikasikan. Dalam tugas pendidikan, diperlukan pengetahuan untuk
mensukseskan tugas kewajibannya. Pengetahuan tersebut adalah masalah
metodologi pengajaran dengan segala rangkaiannya. Kaitannya dengan
pendidikan Islam, metode adalah jalan untuk menanamkan agama pada diri
seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi Islami.
71

Metode menyangkut cara pendekatan dan penyampaian nilai-nilai hidup
yang akan ditawarkan dan ditanamkann dalam diri anak. Menurut Paul Suparno
seperti yang kutip oleh Nurul Zuriah menyebutkan, ada beberapa metode yang

70
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, cet.IV, 1995), hlm. 652
71
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm.
91-92
dapat ditawarkan atau digunakan untuk pendidikan budi pekerti ini, antara lain
sebagai berikut:
a. Metode Demokratis
Metode demokratis menekankan pencarian secara bebas dan penghayatan
nilai-nilai hidup dengan lansung melibatkan anak untuk menemukan nila-nilai
tersebut dalam pendampingan dan pengarahan guru. Anak diberi kesempatan
untuk memberikan tanggapan, pendapat, penilaian terhadap nilai-nilai yang
ditemukan.
72
Guru tidak bersikap sebagai pemberi informasi satu-satunya dalam
menemukan nilai-nilai hidup yang dihayatinya. Guru berperan sebagai penjaga
garis atau koridor dalam penemuan nilai hidup tersebut.
Metode ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai diantanya
keterbukaan, kejujuran, penghargaan pada pendapat orang lain, sportivitas,
kerendahan hati dan toleransi. Melalui pendekatan ini anak diajak untuk mulai
berani mengungkapkan gagasan, pendapat, maupun perasaanya. Tahap demi tahap
anak diarahkan untuk menata jalan pikiran, cara berbicara, dan sikap hidupnya.
Dengan cara ini anak diajak untuk belajar menentukan nilai hidup secara benar
dan jujur.
73

b. Metode Pencarian Bersama
Metode ini menekankan pada pencarian bersama yang melibatkan siswa
dan guru. Pencarian bersama ini lebih berorientasi pada diskusi atas soal-soal
yang aktual dalam masyarakat, di mana proses ini diharapkan menumbuhkan
sikap berpikir logis, analitis, sitematis, argumentatif untuk dapat mengambil nilai-

72
Nurul Zuriah, Op.Cit., hlm. 91
73
Ibid.,hlm.92
nilai hidup dari masalah yang diolah bersama. Melalui metode ini siswa diajak
aktif mencari dan menemukan tema yang sedang berkembang dan menjadi
perhatian bersama. Dengan menemukan permasalahan, mengkritisi dan
mengelolanya, anak diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang ada dan
menerapkanya dalam kehidupannya mereka. Dengan demikian, anak aktif sejak
dalam proses pencarian tema atau permasalahan yang muncul dalam
pendampingan guru.
Selain menemukan nilai-nilai dari permaslahan yang diolah, anak juga
diajak untuk secara kritis dan analitis mengolah sebab akibat dari permasalahan
yang muncul tersebut. Anak diajak untuk tidak cepat menyimpulkan apalagi
mengambil sikap, namun dengan cermat dan hati-hati melihat duduk
permasalahan untuk sampai pengambilan sikap. Anak diajak untuk melihat realita
tidak hanya hitam-putih, tetapi lebih luas lagi yaitu adanya kemungkinan realita
abu-abu.
c. Metode Siswa Aktif
Metode siswa aktif menekankan pada proses yang melibatkan anak sejak
awal pembelajaran. Guru memberikan pokok bahasan dan anak dalam kelompok
mencari dan mengembangkan proses selanjutnya. Anak membuat pengamatan,
pembahasan analisis sampai pada proses penyimpulan atas kegiatan mereka.
Metode ini ingin mendorong anak untuk mempunyai kreativitas, ketelitian,
kecintaan, terhadap ilmu pengetahuan, kerjasama, kejujuran, dan daya juang.


d. Metode Keteladan
Ada pepatah yang mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing
berlari”. Apa yang dilakukan oleh guru atau orang tua akan ditiru oleh anak-anak.
Tingkah laku orang muda dimulai dengan meniru (imitation), dan ini berlaku
sejak anak masih kecil. Apa yang dikatakan orang yang lebih tua akan terekam
dan dimunculkan kembali oleh anak. Anak belajar dari lingkungan terdekat dan
mempunyai intensitas rasional yang tinggi.
Demikian juga dalam dunia pendidikan. Apa yang terjadi dan tertangkap
oleh anak, bisa jadi tanpa disaring akan lansung dilakukan. Proses pembentukan
pekerti pada anak akan dimulai dengan melihat orang yang akan diteladani. Guru
dapat menjadi tokoh idola dan panutan bagi anak. Dengan keteladanan guru dapat
membimbing anak untuk membentuk sikap yang kokoh. Keselarasan antara kata
dan tindakan dari guru akan amat berarti bagi seorang anak, demikian pula apabila
tidak terjadi ketidakcocokan antara kata tindakan guru maka perilaku anak juga
akan tidak benar. Oleh karena itu, dituntut ketulusan, keteguhan, kekonsistenan
hidup seorang guru. Budi pekerti adalah sikap hidup yang disadari, diyakini, dan
dihayati, dalam tingkah laku kehidupan. Kesatuan antara pikiran, perkataan dan
perbuatan.
e. Metode Live In
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang
terbaik”. Ungkapan ini kiranya tepat, terlebih apabila pengalaman ini sungguh
menyentuh hati dapat mengubah sikap dan pandangan hidup secara mendalam.
Pengalaman yang mendalam lebih sulit terlupakan dalam hidup manusia.
Metode Live In, dimaksudkan agar anak mempunyai pengalaman hidup
bersama orang lain langsung dalam situasi yang sangat berbeda dari kehidupan
sehari-harinya. Dengan pengalaman langsung anak dapat mengenal lingkungan
hidup yang berbeda dalam cara berpikir, tantangan, permasalahan, termasuk
tentang nilai-nilai hidupnya. Live In tidak harus berhari-hari secara berturut-turut
dilaksanakan. Kegiatan ini dapat juga dilaksanakan. Kegiatan ini dapat juga
dilaksanakan secra periodik. Misalnya anak diajak berkunjung dan membantu di
suatu panti asuhan anak-anak cacat. Anak diajak terlibat untuk melaksanakan
tugas-tugas harian yang mungkin dijalankannya, tidak membutuhkan keahlihan
khusus, dan tidak berbahaya bagi kedua pihak. Membantu dan melayani anggota
panti asuhan yang tergantung pada orang lain akan memberi pengalaman yang
tidak hanya sekedar lewat.
Dengan cara ini anak diajak untuk mensyukuri hidupnya yang lebih baik
dari orang yang dilayani. Lebih baik dari segi fisik maupun kemampuan sehingga
tumbuh sikap toleran dan sosial yang lebih tinggi pada kehidupan bersama. Anak
perlu mendapatkan bimbingan untuk merefleksikkan pengalaman tersebut, baik
secara rasional intelektual maupun dari segi batin rohaninya. Hal ini perlu dijaga
jangan sampai anak menanggapi pengalaman ini berlebihan, tetapi haruslah secara
wajar dan seimbang.
f. Metode Penjernian Nilai
Latar belakang sosial kehidupan, pendidikan, pengalaman dapat membawa
perbedaan pemahaman dan penerapan nilai-nilai hidup. Adanya berbagai
pandangan hidup dalam masyarakat membuat bingung seorang anak. Apabila
kebingungan ini tidak dapat terungkap dengan baik dan tidak mendapat
pendampingan yang baik, ia akan mengalami pembelokan nilai hidup. Oleh
karena itu, dibutuhkan proses penjernihan nilai dengan dialog afektif dalam
bentuk bentuk sharing atau diskusi yang mendalam dan intensif.
5. Lingkungan pendidikan
Jika kita menginginkan anak-anak dan generasi yang akan datang tumbuh
ke arah hidup yang bahagia dan membahagiakan, tolong-menolong, jujur, adil dan
benar, maka mau tidak mau kita harus menanamkan pendidikan agama sejak dini.
Karena kepribadian yang terdiri dari unsur-unsur agama akan dapat
mengendalikan kelakuan, tindakan dan sikap hidup, karena hasil dari pendidikan
agama itulah yang akan menjadi pengawas dalam segala sikap dan tingkah laku
manusia. Tugas penyelamatan dan pembangunan generasi yang sekarang dan
yang akan datang itu tidak ringan, semua kalangan harus ikut memperhatikan,
terutama keluarga, sekolah (lembaga-lembaga pendidikan), pimpinan dan orang
yang berwenang dalam masyarakat, khususnya pemerintah.
74

Lingkungan pendidikan disini merupakan lingkungan yang yang
mempunyai tanggung jawab dalam proses pelaksanaan pendidikan budi pekerti.
Pelaksanaan pendidikan budi pekerti memiliki kesamaan dengan pelaksanaan
pendidikan agama karena yang menjadi landasan adalah nilai-nilai kehidupan.
Oleh karena itu, lingkungan pendidikan budi pekerti terpusat pada tiga komponen
utama yaitu yang dikenal dengan istilah tri pusat pendidikan, yaitu:


74
Zakiah Darajat, Membangun Mental dengan Pendidikan Agama, cet. IV,(Jakarta:
Bulan Bintang, 1982), hlm. 44-45
a. Pendidikan Budi Pekerti dalam Keluarga
Semakin merosotnya akhlak warga negara telah menjadi salah satu
keprihatinan kita semua, kemerosotan akhlak (budi pekerti) itu agaknya terjadi
pada semua lapisan masyarakat. Sebagai akibatnya banyak keluarga yang
kehilangaan kebahagiaan dan ketentraman, bahkan banyak para pejabat yang tak
berakhlak dan berhati nurani. Untuk itu dalam Islam dianjurkan bahwa sebuah
keluaraga itu haruslah dijaga dengan sebaik-baiknya karena anak adalah titipan
dari Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6;
!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´ , ¦¡· ¯_>.±.¦ ¯_>,¸l>¦´¸ ¦´¸! . ! >:¡·´¸ '_!.l¦ :´¸!>¸>'¦´¸
!¸¯,l. «>¸¸.l. 1¸¸s :¦.¸: ¸ ¿¡´.-, ´<¦ !. ¯¡>¸.¦ ¿¡l-±,´¸ !. ¿¸'¸.¡`,
¸_¸
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka
danselalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Globalisasi kebudayaan sering dianggap sebagai salah satu penyebab
kemerosotan akhlak (budi pekerti). Memang globalisasi membawa kemajuan
dalam filsafat, sains, dan teknologi namun dalam proses itu berdampak pada aspek
moral bangsa dan negara. Sementara itu, kita tidak dapat menghindari atau
meniadakan globalisasi kebudayaan tersebut. Mau tidak mau kita harus menjalani
kehidupan kita di zaman globalisasi kebudayaan ini, namun kita harus mempunyai
sensor kebudayaan agar moral tetap terjaga.
Sensor tersebut berupa keimanan kita yang itu harus ditanamkan sejak dini
dan keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling fundamental. Namun
masih banyak pula keluarga yang mempercayakan pendidikan anaknya secara
seratus persen kepada sekolah, karena di sekolah juga ada pendidikan agama. Para
orang tua percaya bahwa usaha yang dilakukannya sudah mencukupi.
Namun secara substantif, inti dari pendidikan agama adalah iman dan inti
dari keberagamaan adalah keberimanan. Keberimanan itu tidak dapat diajarkan di
sekolah, di pesantren, ataupun dengan cara mengundang guru agama di rumah. Di
sekolah dan di pesantren diajarkan pengetahuan tentang iman, keimanan,
keberimanan. Pengajaran itu bersifat kognitif saja, hanya berupa penyampaian
pengetahuan. Karena iman itu di dalam hati, bukan dikepala, maka iman itu tidak
dapat diajarkan.
75

Meskipun begitu penyampaian materi keimanan tetap harus dilakukan.
Pendidikan budi pekerti di keluarga misalnya, dilakukan sejak anak usia dini,
pendidikan ini dilakukan lewat tingkah laku keluarganya.
Dan di saat anak sudah mulai bisa meniru maka budi pekerti dilakukan
dengan memberi contoh atau keteladanan. Pendidikan agama yang nantinya akan
menjadi pengendali dalam kehidupan si anak, maka penanamannya hendaklah
sesuai dengan perkembangan dan cita-cita khas usia anak.
76
Orang tua harus
memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya, karena pendidikan yang

75
Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama dalam Keluarga, (Bandung: PR.Remaja
Rosdakarya, cet.III, 2000), hlm. 4-5
76
Zakiah Darajat, Op. Cit., hlm. 47
diberikan oleh orang tua-lah yang nantinya akan menjadi dasar dari pembinaan
kepribadian anak dimasa yang akan datang.
b. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah
Sekolah di samping menjadi tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
juga tempat mendapatkan pendidikan agama bagi anak didik. Dengan kata lain,
sekolah sebagai tempat bersosialisasi anak dimana pertumbuhan kepribadian,
moral, dan sosial dan segala aspek kepribadian dapat berkembang. Sebaiknya
segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran di sekolah
dapat membawa anak-anak didik kepada moral yang baik dan jiwa serta
pengembangan bakat yang ada pada diri anak didik.
Sekolah sebaiknya mempunyai tenaga pendidik atau semua yang terlibat
dalam sekolah orang yang baik moralnya dan mempunyai keyakinan terhadapan
agama. Karena para pendidiklah yang nantinya akan ditiru oleh anak didiknya.
Pergaulan anak-anak didik, hendaklah mendapat perhatian dan bimbingan dari
guru-guru supaya pendidikan agama yang telah diberikan tidaklah sia-sia. Sekolah
harus dapat memberikan bimbingan dalam pengisian waktu luang anak-anak, dan
pengisian waktu luang tersebut haruslah berupa aktivitas-aktivitas yang
menyenangkan dan dapat menarik minat anak-anak namun tidak bertentangan
dengan norma-norma agama.
77

c. Pendidikan Budi Pekerti di Masyarakat
Pendidikan agama yang diperoleh anak dari keluarga dan sekolah,
selanjutnya akan dibawa dan dikembangkan dalam masyarakat. Namun anak juga

77
Ibid., hlm. 49
akan terpengaruh oleh keadaan masyarakat yang ada di sekitarnya atau tempat dia
bersosialisasi dan berinteraksi. Masyarakat yang telah rusak moralnya bisa
berpengaruh dalam pembinaan moral pada anak-anak. Namun pengaruh negatif
dari masyarakat bisa netralisir dengan memberikan pendidikan agama atau
penanaman agama yang kuat dalam keluarga dan orang terdekat kita.
Memberi pendampingan dalam pertumbuhan anak dan dalam pergaulan
ataupun bahan bacaan anak. Dan hendaklah dalam masyarakat itu ada lembaga-
lembaga kajian keagamaan, dan memberikan bimbingan dan penyuluhan
keagamaan. Sehingga usaha yang telah dilakukan sejak lama tidak akan sia-sia,
yang dikarenakan pengaruh dari lingkungan yang yang memiliki nilai moral yang
negatif itu.












BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang penulis guanakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis kritis. Bogdan dan Taylor,
sebagaimana dikutip oleh Moleong, mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
78

Menurut Imron Arifin, penelitian kualitatif pada hakekatnya mengamati
orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha
memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.
79

Adapun pengertian penelitian deskriptif adalah penelitian yang
menggambarkan sifat-sifat atau karakteristik individu, keadaan, gejala, atau
kelompok tertentu.
80
Jadi, penelitian diskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji
hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “apa adanya” tentang suatu
variabel, gejala atau keadaan.
81


78
Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitiaan Kualitatif (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1989), hlm. 3.
79
Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan
(Malang: Kalimasahada, 1996), hlm. 22.
80
Mudji Santoso, Hakekat, Peranan, dan Jemis-jenis Penelitian pada Pembangunan
Lima Tahun Ke VI, dalam Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan
Keagamaan (Malang: Kalimasahada, 1996), hlm. 13.
81
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993), hlm.
310.
56
Setelah gejala, keadaan, variabel, gagasan, dideskripsikan, kemudian
penulis menganalisis secara kritis dengan upaya melakukan studi perbandingan
atau hubungan yang relevan dengan permasalahan yang penulis kaji.
Pendekatan ini digunakan oleh penulis karena pengumpulan data dalam
skripsi ini bersifat kualitatif dan juga dalam penelitian ini tidak bermaksud untuk
menguji hipotesis, dalam arti hanya menggambarkan dan menganalisis secara
kritis terhadap suatu permasalahan yang dikaji oleh penulis yaitu tentang
Pendidikan Budi Pekerti perspektif Ki Hajar Dewantara dan Implementasinya
dalam Pendidikan Islam.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini
library research atau penelitian kepustakaan. Dengan demikian, pembahasan
dalam skripsi ini dilakukan berdasarkan telaah pustaka. yang mengkaji secara
khusus tentang pendidikan Budi Pekerti serta beberapa tulisan yang ada
relevansinya dengan objek kajian.
B. Instrumen Penelitian
Salah satu dari sekian banyak karakteristik penelitian kualitatif adalah
manusia sebagai instrumen atau alat. Moleong mengatakan bahwa kedudukan
peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan
perencana, pelaksana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, dan
pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.
82

Imron Arifin mengatakan bahwa manusia sebagai instrumen berarti
peneliti merupakan instrumen kunci (key instrument) guna menangkap makna,

82
Lexi J. Moleong, Op. Cit. hlm. 121.
interaksi nilai, dan nilai lokal yang berbeda, di mana hal ini tidak mungkin
diungkapkan lewat kuesioner.
83
Namun demikian, instrumen penelitian kualitatif
selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung
tugas peneliti instrumen.
84

Untuk itu dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai perencana,
pelaksana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, yang terdapat dalam
Buku Bagian Pertama Pendidikan, dan pada akhirnya, menjadi pelapor hasil
penelitian ini.
C. Sumber Data
Dalam setiap penelitian, sumber data merupakan komponen yang sangat
penting. Sebab tanpa adanya sumber data maka penelitian tidak akan berjalan.
Sumber data adalah subjek dari mana data itu bisa diperoleh. Untuk itu, dalam
penelitian ini penulis menggunakan personal document sebagai sumber data
dalam penelitian kualitatif ini. Personal document adalah dokumen pribadi di sini
adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis mengenai tindakan,
pengalaman dan kepercayaannya.
85

Personal bacaan sebagai sumber dasar utama atau data primer dalam
penelitian ini adalah buku Karja Ki Hadjar Dewantara Bagian pertama
Pendidikan. yang terkait dengan pendidika Budi Pekerti, dan juga buku masalah
Budi Pekerti yang terkait dengan permasalahan yang penulis bahas.

83
Imron Arifin (ed.), Op. Cit., hlm. 5.
84
Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Pedoman Penulisan Skripsi
(tk: t.p., 2006), hlm. 59.
85
Ahmad Sonhaji, Teknik Pengumpulan dan Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif,
dalam Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan (Malang:
Kalimasahada, 1996), hlm. 82.
Sedangkan bahan pustaka yang berupa karya-karya para tokoh yang ada
relevansinya dengan objek kajian, pendidikan kebudayaan dalam buku Karja Ki
Hadjar Dewantara bagian pertama Pendidikan, menjadi sumber data skunder.
Seperti, Pendidikan Moral dan Budi Pekert dalam Perspektif Perubahan karya
Dra. Nurul Zuriah, MSi, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah
Indonesia Modern karya Abdurachman Surjomihardjo.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini maka
teknik pengumpulan data yang tepat dalam penelitian library research adalah
dengan mengumpulkan buku-buku, makalah, artikel, majalah, jurnal, dan lain
sebagainya. Langkah ini biasanya dikenal dengan metode dokumentasi.
Suharsimi berpendapat bahwa metode dokumentasi adalah mencari data
menganai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya.
86

Teknik ini digunakan oleh penulis dalam rangka mengumpulkan data yang
terdapat dalam buku Karja Ki Hadjar Dewantara bagian pertama Pendidikan dan
sumber lain yang ada relevansinya dengan objek kajian.
E. Teknik Analisa Data
Sesuai dengan jenis dan sifat data yang diperoleh dari penelitian ini, maka
teknik analisa yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah analisis isi
(content analysis). Weber, sebagaimana dikutip oleh Soejono dan Abdurrahman,
mengatakan bahwa analisis isi adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan

86
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hlm.206.
seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau
dokumen.
87

Mengutip Barelson, M Zainuddin mengatakan bahwa teknik analisis isi
adalah teknik analisis untuk mendiskripsikan data secara obyektif, sistematis dan
isi komunikasi yang tampak.
88
Artinya, data kualitatif tekstual yang yang
diperoleh dikategorikan dengan memilih data sejenis kemudian data tersebut
dianalisa secara kritis untuk mendapatkan suatu informasi.
Analisis isi (content analysis) dipergunakan dalam rangka untuk menarik
kesimpulan yang sahih dari sebuah buku Karja Ki Hadjar Dewantara bagian
pertama Pendidikan. Adapun langkah-langkahnya adalah dengan menseleksi teks
yang akan diselidiki, menyusun item-item yang spesifik, melaksanakan penelitian,
dan mengetengahkan kesimpulan.
89

Selain itu, untuk mempermudah penelitian ini, maka penulis menggunakan
beberapa metode yang dianggap perlu yaitu:
1. Metode Deduksi
Metode ini merupakan akar pembahasan yang berangkat dari
realitas yang bersifat umum kepada sebuah pemaknaan yang bersifat
khusus.
90
Metode ini digunakan untuk menguraikan data dari suatu
pendapat yang bersifat umum kemudian diuraikan manjadi hal-hal
yang bersifat khusus.

87
Sojono dan Abdurrahman, Metode Penelitian: Suatu Pemikiran dan penerapan (PT.
Rineka Cipta, 1999), hlm. 13.
88
M. Zainuddin, Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (Yogyakarta: Pustaka
Pesantren, 2004), hlm. 11-12.
89
Sujono dan Abdurrahman, Op. Cit., hlm. 16-17.
90
Sutrisno Hadi, Metode Research I (Yogyakarta: Andi Offset, 1987), hlm. 42.
2. Metode Induksi
Metode ini merupakan alur pembahasan yang berangkat dari
realita-realita yang bersifat khusus atau peristiwa-peristiwa yang
konkret kemudian dari realita-realita yang konkret itu ditarik secara
general yang bersifat umum.
91

3. Metode Komparasi
Dengan metode ini dimaksudkan untuk menarik sebuah konklusi
dengan cara membandingkan ide-ide, pendapat-pendapat dan
pengertian agar mengetahui persamaan dari beberapa ide dan sekaligus
mengetahui lainnya kemudian dapat ditarik konklusi.













91
Ibid.
BAB IV
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI PERSPEKTIF KI HADJAR
DEWANTARA

Bangsa Indonesia pastinya tidak asing terhadap penokohan dari Ki Hajar
dewantara yaitu sosok yang selalu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, sebagai
tokoh yang mempunyai jiwa pejuang yang tidak kenal kata menyerah, sebagai
seorang pemimpin yang dapat menuntun anak buahnya, sebagai seorang yang
kritis terhadap dunia pendidikan, yang telah menghasillkan berbagai gagasan yang
meliputi masalah politik dan budaya, sehingga beliau dikenal sebagai seorang
pejuang, pendidik sejati dan sekaligus menjadi budayawan Indonesia.
Sebagaimana yang diwasiatkan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa
pendidikan budiu pekerti sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
manusia. Perkembangan yang tidak hanya dilihat dari jasmaninya, karena
perkembangan jasmani tanpa diimbangi dengan budi pekerti dapat berdampak
buruk terhadap perkembangan manusia, yang pada akhirnya akan melahirkan
manusia yang sombong dan durjana.
Secara mendalam Ki Hadjar Dewantara tidak sepakat dengan sistem
pendidikan yang diwariskan oleh kolonial belanda, orientasi pada pendidikan
warisan tersebut hanya pada segi kognitf (penalaran) tanpa melihat dari segi yang
lain, yaitu pendidikan budi pekerti (akhlak) sehingga produk yang di hasilkan oleh
sistem pendidikan tersebut adalah lahirnya manusia yang sombong, tidak
62
mempunyai perangai yang baik dan pembentukan moral yang baik merupakan
tugas dari pendidikan budi pekerti.
Dengan pendidikan budi pekerti, anak didik diharapkan mampu menjadi
manusia yang luhur dan berguna bagi masyarakat luas. Kecerdasan otak bukanlah
hal yang utama dalam pendidikan akan tetapi bagaimana peserta didik memilki
budi pekerti yang mulia merupakan tujuan utama dalam pendidikan.Sehingga
peserta didik yang nantinya menjadi orang yang cerdas dan tidak akan
menyalahgunakan kecerdasanya untuk menipu orang lain. Untuk menumbuhkan
perasaan dan kehalusan budi pekerti, Ki Hadjar Dewantara mempunyai konsep
tentang pendidikan budi pekerti yang kemudian di kembangkan dalam Perguruan
Taman Siswa. Konsep tersebut adalah sebagai berikut,

A. Biografi Ki Hadjar Dewantara
6. Riwayat Hidup Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.
92

Beliau adalah putra kelima dari Soeryaningrat putra dari Paku Alam III. Pada
waktu dilahirkan diberi nama Soewardi Soeryaningrat, karena beliau masih
keturunan bangsawan maka mendapat gelar Raden Mas (RM) yang kemudian
nama lengkapnya menjadi Raden Mas Soewardi Soeryaningrat.
93
Alasan utama
pergantian nama itu adalah keinginan Ki Hadjar Dewantara untuk lebih merakyat
atau mendekati rakyat. Dengan pergantian nama tersebut, akhirnya dapat leluasa

92
Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 4 (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, cet. I, 1989), hlm.
330
93
Darsiti Soeratman, Ki Hadjar Dewantara, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1983/1984), hlm. 8-9
bergaul dengan rakyat kebanyakan. Sehingga dengan demikian perjuangannya
menjadi lebih mudah diterima oleh rakyat pada masa itu. Menurut silsilah susunan
Bambang Sokawati Dewantara, Ki Hadjar Dewantara masih mempunyai alur
keturunan dengan Sunan Kalijaga.
94
Jadi Ki Hadjar Dewantara adalah keturunan
bangsawan dan juga keturunan ulama, karena merupakan keturunan dari Sunan
Kalijaga. Sebagaimana seorang keturunan bangsawan dan ulama, Ki Hadjar
Dewantara dididik dan dibesarkan dalam lingkungan sosio kultural dan religius
yang tinggi serta kondusif. Pendidikan yang diperoleh Ki Hadjar Dewantara
dilingkungan keluarga sudah mengarah dan terarah ke penghayatan nilai-nilai
kultural sesuai dengan lingkungannya. Pendidikan keluarga yang tersalur melalui
pendidikan kesenian, adat sopan santun, dan pendidikan agama turut mengukir
jiwa kepribadiannya.
Pada tanggal 4 November 1907 dilangsungkan “Nikah Gantung” antara
R.M. Soewardi Soeryaningrat dengan R.A. Soetartinah. Keduanya adalah cucu
dari Sri Paku Alam III. Pada akhir Agustus 1913 beberapa hari sebelum berangkat
ke tempat pengasingan di negeri Belanda. Pernikahannya diresmikan secara adat
dan sederhana di Puri Suryaningratan Yogyakarta.
95
Jadi Ki Hadjar Dewantara
dan Nyi Hadjar Dewantara adalah sama-sama cucu dari Paku Alam III atau satu
garis keturunan.
Sebagai tokoh Nasional yang disegani dan dihormati baik oleh kawan
maupun lawan, Ki Hadjar Dewantara sangat kreatif, dinamis, jujur, sederhana,
konsisten, konsekuen dan berani. Wawasan beliau sangat luas dan tidak berhenti

94
Ibid, hlm. 171
95
Hah. Harahap dan Bambang Sokawati Dewantara, Ki Hadjar Dewantara dan Kawan-
kawan, Ditangkap, Dipenjara, dan Diasingkan, (Jakarta: Gunung Aguna, 1980), hlm. 12
berjuang untuk bangsanya hingga akhir hayat. Perjuangan beliau dilandasi dengan
rasa ikhlas yang mendalam, disertai rasa pengabdian dan pengorbanan yang tinggi
dalam mengantar bangsanya ke alam merdeka.
96

Karena pengabdiannya terhadap bangsa dan negara, pada tanggal 28
November 1959, Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai “Pahlawan Nasional”.
Dan pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan tanggal lahir Ki
Hadjar Dewantara tanggal 2 Mei sebagai “Hari Pendidikan Nasional” berdasarkan
keputusan Presiden RI Nomor: 316 tahun 1959.
97

Tanggal 26 April 1959, Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di
rumahnya Mujamuju Yogyakarta.
98
Dan pada tanggal 29 April, jenazah Ki Hadjar
Dewantara dipindahkan ke pendopo Taman Siswa. Dari pendopo Taman Siswa,
kemudian diserahkan kepada Majlis Luhur Taman Siswa.Dari pendopo Taman
Siswa, jenazah diberangkatkan ke makam Wijaya Brata Yogyakarta. Dalam
upacara pemakaman Ki Hadjar Dewantara dipimpin oleh Panglima Kodam
Diponegoro Kolonel Soeharto.
Dalam lingkungan budaya dan religius yang kondusif demikianlah Ki
Hadjar Dewantara dibesarkan dan dididik menjadi seorang muslim khas jawa
yang lebih menekankan aspek hakikat daripada syari’at. Dalam hal ini Pangeran

96
Ki Hariyadi, Ki Hadjar Dewantara sebagai Pendidik, Budayawan, Pemimpin Rakyat,
dalam Buku Ki Hadjar Dewantara dalam Pandangan Para Cantrik dan Mentriknya, (Yogyakarta:
MLTS, 1989), hlm. 39
97
Ki Hadjar Dewantara, Karya Bagian I: Pendidikan, (Yogyakarta: MLPTS, cet.
II,1962), hlm. XIII
98
Ibid, hlm. 137
Soeryaningrat pernah mendapat pesan dari ayahnya: “syari’at tanpa hakikat adalah
kosong, hakikat tanpa syari’at batal”.
99

Selain mendapat pendidikan formal di lingkungan Istana Paku Alam
tersebut. Ki Hadjar Dewantara juga mendapat pendidikan formal antara lain:
1. ELS (Europeesche Legere School). Sekolah Dasar Belanda III.
2. Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta.
3. STOVIA (School Tot Opvoeding Van Indische Artsen) yaitu sekolah
kedokteran yang berada di Jakarta. Pendidikan di STOVIA ini tak
dapat diselesaikannya, karena Ki Hadjar Dewantara sakit.
100

4. Europeesche Akte, Belanda 1914.
Selain itu Ki Hajar Dewantara memiliki karir dalam dunia jurnalistik,
politik dan juga sebagai pendidik sebagai berikut, diantaranya:
a. Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,
Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara
101

b. Pendiri National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional
Tamansiswa) pada 3 Juli 1922
102

c. Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.
d. Boedi Oetomo 1908
e. Syarekat Islam cabang Bandung 1912

99
Darsini Soeratman, op.cit. hlm. 16
100
Gunawan, Berjuang Tanpa Henti dan Tak Kenal Lelah Dalam Buku Peringatan 70
Tahun Taman Siswa, (yogyakarta; MLPTS, 1992), hlm. 302-303
101
Bambang Sokawati Dewantara, Mereka yang Selalu Hidup Ki Hajar Dewantara dan
Nyi Hajar Dewantara, (Jakarta; Roda Pengetahuan, 1981), hlm. 48
102
Ibid, Op. Cit, hlm. 66
f. Pendiri Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran
nasionalisme Indonesia) 25 Desember 1912
Penghargaan:
a. Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari
Pendidikan Nasional Pahlawan Pergerakan Nasional (surat keputusan
Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)
b. Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957
7. Setting Sosial–Politik dan Pengaruhnya bagi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Memahami pemikiran seorang tokoh sekaliber Ki Hajar Dewantara
(Soewardi Soeryaningrat) tanpa terlebih dahulu memahami dan
mempertimbangkan kondisi sosio-kultural dan politik masa hidupnya yang
melingkari pertumbuhan ataupun mobilitas pemikirannya, boleh jadi akan
memberikan citra kurang baik, sebab pada dasarnya ia merupakan produk sejarah
masanya. Oleh karena itu situasi dan kondisi yang berkembang ikut menentukan
perkembangan dan corak pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga kerajaan Paku Alaman
merupakan keturunan bangsawan, lahir di Yogyakarta pada hari kamis legi
tanggal 2 Puasa 1818 atau 2 Mei 1889 dengan nama R.M. Suwardi Surjaningrat.
Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Harjo Surjaningrat, putra dari Kanjeng
Gustipangeran Hadipati Harjo Surjosasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam III.
Ki Hajar Dewantara merupakan keturunan dari Paku Alam III. Beliau
mendapat pendidikan agama dari ayahnya dengan berpegang pada ajaran yang
berbunyi “syariat tanpa hakikat adalah kosong, hakikat tanpa syariat adalah
batal.”
103
Beliau juga mendapat pelajaran falsafah Hindu yang tersirat dari ceritra
wayang dan juga satra jawa, gending.
Di lingkungan keluarga sendiri, Ki Hajar Dewantara banyak bersentuhan
dengan iklim keluarga yang penuh dengan nuansa kerajaan yang feodal.
Walaupun ayahnya seorang keturunan dari peku alam III, namun demikian, ia
seorang yang sangat dekat dengan rakyat, karena pada masa kecilnya ia suka
bergaul dengan anak-anak kebanyakan di kampung-kampung, sekitar puri tempat
tinggalnya. Ia menolak adat foedal yang berkembang di lingkungan kerajaan. Hal
ini dirasakan olehnya bahwa adat yang demikian menganggu kebebasan
pergaulannya.
104
Ia juga cinta terhadap ilmu pengetahuan dan agama.
Pada masa itu pendidikan sangatlah langka, hanya orang-orang dari
kalangan Belanda, Tiong Hoa, dan para pembesar daerah saja yang dapat
mengenyam jenjang pendidikan yang diberikan oleh pemerintahan Belanda. Ki
Hajar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat) kecil mendapat pendidikan formal
pertama kali pada tahun 1896, akan tetapi ia kurang senang karena teman
sepermainannya tidak dapat bersekolah bersama karena hanya seorang anak dari
rakyat biasa. Hal ini yang kemudian mengilhami dan memberikan kesan yang
sangat mendalam di dalam hati nuraninya, dalam melakukan perjuangannya baik
dalam dunia politik sampai dengan pendidikan. Ia juga menentang kolonialisme
dan foedalisme yang menurutnya sangat bertentangan dengan rasa kemanusiaan,

103
Darsini Soeratman, Ki Hajar Dewantara, (Jakarta; Departemen Pendidkan Indonesia,
1985), hlm. 9
104
Bambang S Dewantara, Op. Cit., hlm. 15-16
kemerdekaan dan tidak memajukan hidup dan penghidupan manusia secara adil
dan merata.
105

a. Ki Hadjar Dewantara sebagai Pejuang Bangsa
Kekurang berhasilannya dalam menempuh pendidikan tidaklah menjadi
hambatan untuk berkarya dan berjuang. Akhirnya perhatiannya dalam bidang
jurnalistik inilah yang menyebabkan Soewardi Soeryaningrat diberhentikan oleh
Rathkamp, kemudian pindah ke Bandung untuk membantu Douwes Dekker dalam
mengelola harian De Expres. Melalui De Expres inilah Soewardi Soeryaningrat
mengasah ketajaman penanya mengalirkan pemikirannya yang progesif dan
mencerminkan kekentalan semangat kebangsaannya. Tulisan demi tulisan terus
mengalir dari pena Soewardi Soeryaningrat dan puncaknya adalah Sirkuler yang
mengemparkan pemerintah Belanda yaitu “Als Ik Eens Nederlander Was” !
Andaikan aku seorang Belanda ! tulisan ini pula yang mengantar Soewardi
Soeryaningrat ke pintu penjara pemerintah Kolonial Belanda, untuk kemudian
bersama-sama dengan Cipto Mangun Kusumo dan Douwes Dekker di asingkan ke
negeri Belanda.
106
Tulisan tersebut sebagai reaksi terhadap rencana pemerintah
Belanda untuk mengadakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari
penindasan Perancis yang akan dirayakan pada tanggal 15 November 1913,
dengan memungut biaya secara paksa kepada rakyat Indonesia.
Dengan tersebarnya tulisan tersebut, pemerintah Belanda menjadi marah.
Kemudian Belanda memanggil panitia De Expres untuk diperiksa. Dalam suasana
seperti itu, Cipto Mangun Kusumo menulis dalam harian De Expres 26 Juli 1913

105
Ibit, hlm. 19-20
106
Gunawan, “Berjuang Tanpa Henti dan Tak Kenal Lelah” Peringatan 70 Tahun
Taman Siswa, (Yogyakarta: MLPTS, 1992), hlm. 303
untuk menyerang Belanda, yang berjudul “Kracht of Vress” (Kekuatan atau
ketakutan). Selanjutnya Soewardi Soeryaningrat kembali menulis dalam harian De
Expres tanggal 28 Juli 1913 yang berjudul “Een Voor Allen, Maar Ook Allen Voor
Een.” (Satu buat semua, tetapi juga semua buat satu)”.
107

Pada tanggal 30 juli 1913 Soewardi Soeryaningrat dan Cipto
Mangunkusumo ditangkap, seakan-akan keduanya orang yang paling berbahaya di
wilayah Hindia Belanda. Setelah diadakan pemeriksaan singkat keduanya secara
resmi dikenakan tahanan sementara dalam sel yang tepisah dengan seorang
pengawal di depan pintu.
Douwes Dekker yang baru datang dari Belanda, menulis pembelaannya
terhadap kedua temannya melalui harian De Expres, 5 Agustus 1913 yang
berjudul “Onze Heiden: Tjipto Mangoenkoesoemo En R.M. Soewardi
Soeryaningrat” (Dia pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan R.M.
Soewardi Soeryaningrat).
108
Untuk memuji keberanian dan kepahlawanan mereka
berdua.
Atas putusan pemerintah Hindia Belanda tanggal 18 Agustus 1913 Nomor:
2, a, ketiga orang tersebut diinternir. Ki Hadjar Dewantara ke Bangka, Cipto
Mangunkusuma ke Banda, dan Douwes Dekker ke Timur Kupang. Namun
ketiganya menolak dan mengajukan dieksternir ke Belanda meski dengan biaya
perjalanan sendiri. Dalam perjalanan menuju pengasingan Ki Hadjar Dewantara
menulis pesan untuk saudara dan kawan seperjuangan yang ditinggalkan dengan
judul: “Vrijheidsherdenking end Vrijheidsberoowing.” (Peringatan kemerdekaan

107
Moch. Tauhid, Perjuangan dan ajaran Hidup Ki Hajar Dewantara, (Yogyakarta,
MLPTS, 1963), hlm 21
108
Gunawan, Op. Cit., hlm. 299
dan perampasan kemerdekaan). Tulisan tersebut dikirim melalui kapal “Bullow”
tanggal 14 September 1913 dari teluk Benggala.
109

Di Belanda Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusuma, Douwes Dekker
langsung aktif dalam kegiatan politik. Di Denhaag Ki Hadjar Dewantara
mendirikan “Indonesische Persbureau” (IPB), yang merupakan badan pemusatan
penerangan dan propaganda pergerakan nasional Indonesia.
Sekembalinya dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara tetap aktif dalam
berjuang. Oleh partainya Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai sekretaris
kemudian sebagai pengurus besar NIP (National Indische Partij) di Semarang. Ki
Hadjar Dewantara juga menjadi redaktur “De Beweging”, majalah partainya yang
berbahasa Belanda, dan “Persatuan Hindia” dalam bahasa Indonesia. Kemudian
juga memegang pimpinan harian De Expres yang diterbitkan kembali. Karena
ketajaman pembicaraan dan tulisannya yang mengecam kekuasaan Belanda
selama di Semarang, Ki Hadjar Dewantara dua kali masuk penjara.
110

Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari
pengasingan di negeri Belanda. Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan
Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Melalui bidang
pendidikan inilah Ki Hadjar Dewantara berjuang melawan penjajah kolonial
Belanda. Namun pihak kolonial Belanda juga mengadakan usaha bagaimana cara
melemahkan perjuangan gerakan politik yang dipelopori oleh Taman Siswa.
Tindakan Kolonial tersebut adalah “Onderwijs Ordonantie 1932” (Ordinansi
Sekolah Liar) yang dicanangkan oleh Gubernur Jendral tanggal 17 September

109
Moh. Tauchid. Op. Cit., hlm. 21
110
Ibid, hlm. 22-23
1932. pada tanggal 15-16 Oktober 1932 MLPTS mengadakan Sidang Istimewa di
Tosari Jawa Timur untuk merundingkan Ordinansi tersebut.
Hampir seluruh Mass Media Indonesia ikut menentang ordonansi tersebut.
Antara lain: Harian Perwata Deli, Harian Suara Surabaya, Harian Suara Umum
dan berbagai Organisasi Politik (PBI, Pengurus Besar Muhamadiyyah,
Perserikatan Ulama, Perserikatan Himpunan Istri Indonesia, PI, PSII dan
sebagainya. Dengan adanya aksi tersebut, maka Gubernur Jendral pada tanggal 13
Februari 1933 mengeluarkan ordonansi baru yaitu membatalkan “OO” 32 dan
berlaku mulai tanggal 21 Februari 1933.
111

Menjelang kemerdekaan RI, yakni pada pendudukan Jepang (1942-1945)
Ki Hadjar Dewantara duduk sebagai anggota “Empat Serangkai” yang terdiri dari
Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan Kyai Mansur. Pada bulan
Maret 1943, Empat Serangakai tersebut mendirikan Pusat Tenaga Rakyat
(PUTERA) yang bertujuan untuk memusatkan tenaga untuk menyiapkan
kemerdekaan RI. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia
dapat diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Pada hari minggu pon
tanggal 17 Agustus 1945, pemerintah RI terbentuk dengan Ir. Soekarno sebagai
Presiden RI dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden. Disamping itu juga
mengangkat Menteri-Menterinya. Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan.
112
Pada tahun 1946 Ki Hadjar Dewantara menjabat
sebagai Ketua Panitia Penyelidikan Pendidikan dan Pengajaran RI, ketua

111
Sugiyono, Ki HajarDewantara Berani dan Menentang OO; Dalam Buku Ki Hajar
Dewantara dalam pendangan Cantrik dan Mantriknya, (Yogyakarta; MLPTS, 1989). hlm, 112-
113
112
Bambang S Dewantara, Ki hajar Dewantara, Ayahku. (Jakarta; pustaka Harapan,
1989), cet. I, hlm. 111
pembantu pembentukan undang-undang pokok pengajaran dan menjadi Mahaguru
di Akademi Kepolisian. Tahun 1947, Ki Hadjar Dewantara menjadi Dosen
Akademi Pertanian. Tanggal 23 Maret 1947, Ki Hadjar Dewantara diangkat
menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI dan menjadi anggota Majlis
Pertimbangan Pengajaran Agama Islam di Sekolah Rakyat.
113

Pada tahun 1948, Ki Hadjar Dewantara dipilih sebagai ketua peringatan 40
tahun Peringatan Kebangkitan Nasional, pada kesempatan itu Beliau bersama
partai-partai mencetuskan pernyataan untuk menghadapi Belanda. Pada
peringatan 20 tahun ikrar pemuda (28 Oktober 1948), Ki Hadjar Dewantara
ditunjuk sebagai ketua pelaksana peringatan Ikrar Pemuda. Setelah pengakuan
kedaulatan di negeri Belanda Desember 1949 Ki Hadjar Dewantara menjabat
sebagai anggota DPR RIS yang selanjutnya berubah menjadi DPR RI. Pada tahun
1950, Ki Hadjar Dewantara mengundurkan diri dari keanggotaan DPR RI dan
kembali ke Yogyakarta untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Taman Siswa
sampai akhir hayatnya.
b. Ki Hadjar Dewantara sebagai Pendidik
Kepeloporan Ki Hadjar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
yang tetap berpijak pada budaya bangsanya diakui oleh bangsa Indonesia.
Perannya dalam mendobrak tatanan pendidikan kolonial yang mendasarkan pada
budaya asing untuk diganti dengan sistem pendidikan nasional menempatkan Ki
Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional yang kemudian dikenal
sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

113
Bambang S. Dewantara, 100 Tahun Ki Hajar Dewantara, (Jakarta; Pustaka Kartini,
1989), cet. I, hlm. 119
Sistem pendidikan kolonial yang ada dan berdasarkan pada budaya barat,
jelas-jelas tidak sesuai dengan kodrat alam bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Ki
Hadjar Dewantara memberikan alternatif lain yaitu kembali ke jalan Nasional.
Pendidikan untuk rakyat Indonesia harus berdasarkan pada budaya bangsanya
sendiri. Sistem pendidikan kolonial yang menggunakan cara paksaan dan
ancaman hukuman harus diganti dengan jalan kemerdekaan yang seluas-luasnya
kepada anak didik dengan tetap memperhatikan tertib damainya hidup bersama.
114

Reorientasi perjuangan Ki Hadjar Dewantara dari dunia politik ke dunia
pendidikan mulai disadari sejak berada dalam pengasingan di negeri Belanda. Ki
Hadjar Dewantara mulai tertarik pada masalah pendidikan, terutama terhadap
aliran yang dikembangkan oleh Maria Montessori dan Robindranat Tagore. Kedua
tokoh tersebut merupakan pembongkar dunia pendidikan lama dan pembangunan
dunia baru. Selain itu juga tertarik pada ahli pendidikan yang bernama Freidrich
Frobel. Frobel adalah seorang pendidik dari Jerman. Ia mendirikan perguruan
untuk anak-anak yang bernama Kindergarten (Taman Kanak-kanak). Oleh Frobel
diajarkan menyanyi, bermain, dan melaksanakan pekerjaan anak-anak. Bagi
Frobel anak yang sehat badan dan jiwanya selalu bergerak. Maka ia menyediakan
alat-alat dengan maksud untuk menarik anak-anak kecil bermain dan berfantasi.
Berfantasi mengandung arti mendidik angan anak atau mempelajari anak-anak
berfikir.
115

Ki Hadjar Dewantara juga menaruh perhatian pada metode Montessori. Ia
adalah sarjana wanita dari Italia, yang mendirikan taman kanak-kanak dengan

114
Ki Hariyadi, Ki Hajar dewantara Sebagai Pendidik…Op. Cit., hlm. 42
115
Darsini Soeratman, Log. Cit., hlm. 69
nama “Case De Bambini”. Dalam pendidikannya ia mementingkan hidup jasmani
anak-anak dan mengarahkannya pada kecerdasan budi. Dasar utama dari
pendidikan menurut dia adalah adanya kebebasan dan spontanitas untuk
mendapatkan kemerdekaan hidup yang seluas-luasnya. Ini berarti bahwa anak-
anak itu sebenarnya dapat mendidik dirinya sendiri menurut lingkungan masing-
masing. Kewajiban pendidik hanya mengarahkan saja. Lain pula dengan pendapat
Tagore, seorang ahli ilmu jiwa dari India. Pendidikan menurut Tagore adalah
semata-mata hanya merupakan alat dan syarat untuk memperkokoh hidup
kemanusiaan dalam arti yang sedalamdalamnya, yaitu menyangkut keagamaan.
Kita harus bebas dan merdeka. Bebas dari ikatan apapun kecuali terikat pada alam
serta zaman, dan merdeka untuk mewujudkan suatu ciptaan.
Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa kemerdekaan nusa dan bangsa
untuk mengejar keselamatan dan kesejahteraan rakyat tidak hanya dicapai melalui
jalan politik, tetapi juga melalui pendidikan. Oleh karenanya timbullah gagasan
untuk mendirikan sekolah sendiri yang akan dibina sesuai dengan cita-citanya.
Untuk merealisasikan tujuannya, Ki Hadjar Dewantara mendirikan
perguruan Taman Siswa. Cita-cita perguruan tersebut adalah “Saka” (“saka”
adalah singkatan dari “Paguyuban Selasa Kliwonan” di Yogyakarta, dibawah
pimpinan Ki Ageng Sutatmo Suryokusumo. Paguyuban ini merupakan cikal bakal
perguruan taman siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara di
Yogyakarta.
116
Yakni: mengayu-ayu sarira (membahagiakan diri), mengayu-ayu
bangsa (membahagiakan bangsa) dan mengayu-ayu manungsa (membahagiakan

116
Darsiti Soeratman, Ki Hajar Dewantara, (Jakarta; Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1985), hlm.
manusia). Untuk mewujudkan gagasannya tentang pendidikan yang dicitacitakan
tersebut. Ki Hadjar Dewantara menggunakan metode “Among” yaitu “Tutwuri
Handayani”. (“Among” berarti asuhan dan pemeliharaan dengan suka cita, dengan
memberi kebebasan anak asuh bergerak menurut kemauannya, berkembang
menurut kemampuannya. “Tutwuri Handayani” berarti pemimpin mengikuti dari
belakang, memberi kebebasan dan keleluasaan bergerak yang dipimpinnya. Tetapi
ia adalah “handayani”, mempengaruhi dengan daya kekuatannya dengan pengaruh
dan wibawanya.
117
Metode Among merupakan metode pendidikan yang berjiwa
kekeluargaan dan dilandasi dua dasar, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan.
118

Metode among menempatkan anak didik sebagai subyek dan sebagai obyek
sekaligus dalam proses pendidikan. Metode among mengandung pengertian
bahwa seorang pamong/guru dalam mendidik harus memiliki rasa cinta kasih
terhadap anak didiknya dengan memperhatikan bakat, minat, dan kemampuan
anak didik dan menumbuhkan daya inisiatif serta kreatifitas anak didiknya.
Pamong tidak dibenarkan bersifat otoriter terhadap anak didiknya dan bersikap
Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani.
119

c. Ki Hadjar Dewantara sebagai Pemimpin Rakyat
Sebagai seorang pemimpin, Ki Hadjar Dewantara tidak diragukan lagi.
Dalam memimpin rakyat, Ki Hadjar Dewantara menggunakan teori
kepemimpinan yang dikenal dengan “Trilogi Kepemimpinan” yang telah
berkembang dalam masyarakat. Trilogi kepemimpinan tersebut adalah Ing

117
Ki Priyo Dwiarso, Sistem Among Mendidik Sikap Merdeka Lahir dan Batin,
(www.tamansiswa.org, akses 7 Juni 2008, 07.00)
118
I. Djumhur dan H. Danasuparta, Sejarah Pendidikan, (Bandung: CV. Ilmu, 1976),
hlm. 89
119
Ki Priyo Dwiarso, Log. Cit.,
Ngharsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani: Di depan
seorang pemimpin harus dapat menjadi teladan dan contoh bagi anak buahnya,
ditengah (dalam masyarakatnya) seorang pemimpin harus mampu membangkitkan
semangat dan tekad anak buah. Dan dibelakang harus mampu memberikan
dorongan dan gairah anak buah.
Ki Hadjar Dewantara adalah seorang demokrat yang sejati, tidak senang
pada kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin yang mengandalkan pada
kekuasannya tanpa dilandasi oleh rasa cinta kasih. Dalam hal ini, kita merasakan
betapa demokratis dan manusiawinya Ki Hadjar Dewantara memperlakukan orang
lain.
Ki Hadjar Dewantara selalu bersikap menghargai dan menghormati orang
lain sesuai dengan harkat dan martabatnya. Dengan sikap yang arif beliau
menerima segala kekurangan dan kelebihan orang lain, untuk saling mengisi,
memberi dan menerima demi sebuah keharmonisan dari lembaga yang
dipimpinnya.
d. Ki Hadjar Dewantara sebagai Budayawan
Teori pendidikan taman siswa yang dikembangkan oleh Ki Hadjar
Dewantara sangat memperhatikan dimensi-dimensi kebudayaan serta nilai-nilai
yang terkandung dan digali dari masyarakat dilingkungannya. Dengan teori
“Trikon”nya Ki Hadjar Dewantara, berpendapat:
“Bahwa dalam mengembangkan dan membina kebudayaan nasional,
harus merupakan kelanjutan dari budaya sendiri (kontuinitas) menuju
kearah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap terus
mempunyai sifat kepribadian dalam lingkungan kemanusian sedunia
(konsentrisitas). Dengan demikian jelas bagi kita bahwa terhadap
pengaruh budaya asing, kita harus terbuka, disertai sikap selektif adaptif
dengan pancasila sebagai tolak ukurnya.
120


Selektif adaptif berarti dalam mengambil nilai-nilai tersebut harus memilih
yang baik dalam rangka usaha memperkaya kebudayaan sendiri, kemudian
disesuikan dengan situasi dan kondisi bangsa dengan menggunakan pancasila
sebagai tolak ukurnya. Semua nilai budaya asing perlu diamati secara selektif.
Manakala ada unsur kebudayaan yang bisa memperindah, memperhalus, dan
meningkatkan kualitas kehidupan hendaknya diambil, tetapi jika unsur budaya
asing tersebut berpengaruh sebaliknya, sebaiknya ditolak. Nilai kebudayaan yang
sudah kita terima kemudian perlu disesuaikan dengan kondisi dan psikologi rakyat
kita, agar masuknya unsur kebudayaan asing tersebut dapat menjadi penyambung
bagi kebudayaan nasional kita.
Demikian luas dan intensnya Ki Hadjar Dewantara dalam
memperjuangkan dan mengembangkan kebudayaan bangsanya, sehingga karena
jasanya itu, M Sarjito Rektor Universitas Gajah Mada menganugerahkan gelar
Doctor Honoris Causa (DR-Hc) dalam ilmu kebudayaan kepada Ki Hadjar
Dewantara pada saat Dies Natalis yang ketujuh tanggal 19 Desember 1956.
121

Pengukuhan tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Soekarno.
8. Karya-karya Ki Hadjar Dewantara
Karya-karya ki hajar dewantara sangatlah banyak sekali diantaranya :
1) Ki Hadjar Dewantara, buku bagian pertama: tentang Pendidikan Buku
ini khusus membicarakan gagasan dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara

120
Ibid, Op. Cit.,hlm. 44
121
Bambang Sokawati Dewantara, Op. Cit.,hlm. 76
dalam bidang pendidikan di antaranya tentang hal ihwal Pendidikan
Nasional. Tri Pusat Pendidikan, Pendidikan Kanak-Kanak, Pendidikan
Sistem Pondok, Adab dan Etika, Pendidikan dan Kesusilaan.
2) Ki Hadjar Dewantara, buku bagian kedua: tentang Kebudayaan Dalam
buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai kebudayaan dan kesenian di
antaranya: Asosiasi Antara Barat dan Timur, Pembangunan
Kebudayaan Nasional, Perkembangan Kebudayaan di Jaman Merdeka,
Kebudayaan nasional, Kebudayaan Sifat Pribadi Bangsa, Kesenian
Daerah dalam Persatuan Indonesia, Islam dan Kebudayaan, Ajaran
Pancasila dan lain-lain.
3) Ki Hadjar Dewantara, buku bagian ketiga: tentang Politik dan
Kemasyarakatan. Dalam buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai
politik antara tahun 1913-1922 yang menggegerkan dunia imperialis
Belanda, dan tulisan-tulisan mengenai wanita, pemuda dan
perjuangannya.
4) Ki Hadjar Dewantara, buku bagian keempat: tentang Riwayat dan
Perjuangan Hidup Penulis: Ki Hadjar Dewantara Dalam buku ini
melukiskan kisah kehidupan dan perjuangan hidup perintis dan
pahlawan kemerdekaan Ki Hadjar Dewantara.
5) Tahun 1912 mendirikan Surat Kabar Harian “De Ekspres” (Bandung),
Harian Sedya Tama (Yogyakarta) Midden Java (Yogyakarta), Kaum
Muda (Bandung), Utusan Hindia (Surabaya), Cahya Timur
(Malang).
122

6) Monumen Nasional “Taman Siswa” yang didirikan pada tanggal 3 Juli
1922.
123

7) Pada tahun 1913 mendirikan Komite Bumi Putra bersama Cipto
Mangunkusumo, untuk memprotes rencana perayaan 100 tahun
kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis yang akan
dilaksanakan pada tanggal 15 November 1913 secara besar-besaran di
Indonesia.
124

8) Mendirikan IP (Indice Partij)tanggal 16 September 1912 bersama
Dauwes Dekker dan Cjipto Mangunkusumo.
125

9) Tahun 1918 mendirikan Kantor Berita Indonesische Persbureau di
Nederland.
10) Tahun 1944 diangkat menjadi anggota Naimo Bun Kyiok Yoku Sanyo
(Kantor Urusan Pengajaran dan Pendidikan).
126

11) Pada tanggal 8 Maret 1955 ditetapkan pemerintah sebagai perintis
Kemerdekaan Nasional Indonesia.
12) Pada tanggal 19 Desember 1956 mendapat gelar kehormatan Honoris
Causa dalam ilmu kebudayaan dari Universitas Negeri Gajah Mada.

122
Ensiklopedi Nasonal Indonesia, op.cit, hlm. 330
123
Ibid, hlm. 331
124
Bambang Dewantara, 100 Tahun Ki Hajar Dewantara,(Jakarta; Pustaka Kartini, Cet.
I, 1989), hlm. 118.
125
Ensiklopedi Nasional Indonesia, Op. Cit. hlm. 330
126
Bambang S. Dewantara, Op. Cit. hlm. 76
13) Pada tanggal 17 Agustus dianugerahi oleh Presiden/Panglima
Tertinggi Angkatan Perang RI bintang maha putera tinggat I
14) Pada tanggal 20 Mei 1961 menerima tanda kehormatan Satya Lantjana
Kemerdekaan.
127

B. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti
Peranan pendidikan bagi manusia sangatlah penting karena manusia telah
menyadari tentang arti sebuah kehidupan sehingga pendidikan menjadi perhatian
tersendiri dalam rangka mencari eksistensi dirinya. Sebelum masuk pada
pembahasan definisi dari pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara,
penulis akan membahas tentang definisi pendidikan secara umum menurut Ki
Hadjar Dewantara.
Ki Hadjar Dewantara mengemukan beberapa definisi tentang pendidikan.
Ki Hadjar Dewantara m enyebutkan bahwa pendidikan adalah “menuntun segala
kekuatan kodrat jang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan
sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya”.
128

Lebih jelas lagi Ki Hadjar dewantara mengjungkapkan pengertian
pendidikan adalah
”pendidikan, umumnja berarti daja upaja untuk mewudjudkan
bertumbuhnja budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran
(intellect) dan tumbuh anak; dalam taman siswa tidak boleh dipisah-
pisahkan bagian-bagian itu, agar supaja kita dapat memadjukan

127
Irna, H.N. Hadi Soewito, Soewardi Soeryaningrat dalam Pengasingan, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1985), hlm. 132
128
Ki Hajar Dewantara, Bagian pertama; Pendidikan, (Yogyakrta: MLTM, 1962),
hlm.20
kesempurnaan hidup, jakni kehidupan dan penghidupan anak-anak
jang kita didik selaras dengan dunianja”
129

Definisi pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara
memiliki kesamaan dengan konsep pendidikan dalam Islam yaitu yang dikenal
dengan tiga Term (istilah) pendidikan dalam islam yaitu; Tarbiyah, Ta’lim dan
Ta’dib. Dari ketiga istilah tersebut dapat dijelaskan;
Pertama, Pendidikan menurut menurut Ki Hadjar Dewantara adalah
pendidikan merupakan usaha untuk membina budi pekerti (Akhlak), pengertian
tersebut memiliki kesamaan dengan definisi Ta’dib yang lazimnya diterjemahkan
dengan pendidikan sopan-santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral,
dan etika.
130
Menurut Al-Naquib al-attas seperti yang dikutip oleh abdulmujib,
ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-ansur ditanamkan
kepada manusia tentang temtpat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam
tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan
kekuatan dan keagungan Tuhan. Pengertian ini didasarkan firman AllahSWT.
Dalam surat Al-Azhab ayat 21:
.1l ¿l´ ¯¡>l _¸· ¸_¡.´¸ ¸<¦ :´¡`.¦ «´. .> _.¸l ¿l´ ¦¡`>¯¸, ´<¦ ¸¯¡´,l¦´¸
¸¸>¸¦ ¸´:´¸ ´<¦ ¦¸,¸:´ ¸_¸¸

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-
Ahzab: 21)

129
Ibid., hlm. 14
130
Abdul Mujib,et al. Ilmu Pendidikan Islam ,(Jakarta: Kencana,2006),hlm. 20
Dalam adab akan tercermin keadilan dan kearifan, yang meliputi material
dan spiritual. Karena adab menunjukkan pengenalan dan pengakuan akan kondisi
kehidupan, kedudukan dan tempat yang tepat lagi layak, serta disiplin diri ketika
berpartisipasi aktif dan sukarela dalam menjalankan peranannya. Penekanan adab
mencangkup amal dan ilmu sehingga mengkombinasikan ilmu dan amal serta
adab secara harmonis. Pendidikan dalam kenyataannya adalah al-ta’dib, karena
sebagaimana didefinisikan mencakup ilmu dan amal sekaligus.
131

Ta’dib, sebagai upaya dalam pembentukan adab (tata krama atau budi
pekerti), terbagi atas empat macam:
132
(1). ta’dib adab al-Haqq, pendidikan tata-
krama spiritual dalam kebenaran, yang memerlukan pengetahuan tentang wujud
kebenaran, yang didalamnya segala yang ada memiliki kebenaran tersendiri dan
yang dengannya segala sesuatu diciptakan. (2). Ta’dib adab al-Khidmah,
pendidikan tatakrama spiritual dalam pengabdian. Sebagai seorang hamba,
manusia harus mengabdi kepada sang raja (malik) dengan menempu tatakrama
yang pantas; (3). Ta’dib adab as-Syaria’h, pendidikan tatakrama spiritual dalam
syariah, yang tata caranya telah digariskan oleh Tuhan melalui wahyu. Segala
pemenuhan syariah Tuhan akan berimplikasi pada tata krama yang mulia; (4).
Ta’dib adab as-Suhbah, pendidikan tatakrama spiritual dalam persahabatan,
berupa saling menghormati dan berperilaku, mulia diantara sesama.
Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa istilah ta’dib merupakan salah
satu konsep yang merujuk kepada hakikat dari inti makna pendidikan yang berasal

131
Khoiron Rosyadi, pendidikan profetik, (Yogyakarta: Pustaka Relajar, 2004)., hlm. 138.
132
Abdul Mujib,et al. Op. Cit.,hlm. 20-21
dari kata adab, yang berarti memberi pendidikan adab, mendidik dengan
mengedepankan pembinaan moral.
Kedua, pendidikan menurut KI Hadjar Dewantara merupakan proses
penumbuhan pikiran (intelek) yang dalam istilah pendidikan Islam di kenal
dengan istilah Ta’lim, ta’lim merupakan kata benda buatan (mashdar) yang
berasal dari akar kata ’allama. Sebagian para ahli menerjemahkan istilah tarbiyah
dengan pendidikan, sedangkan ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran. Kalimat
allamahu al-’ilm memiliki arti mengajarkan ilmu kepadanya. Pendidikan
(tarbiyah) tidak saja tertumpuh pada domain kognitif, tetapi juga afektif dan
psikomotorik, sementara pengajaran (ta’lim) lebih mengarah pada aspek
kognitif.
133

Muhammad Rasyid Ridho mengartikan ta’lim dengan: ” proses trasnmisi
berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan
ketentuan tertentu”. Pengertian ini didasarkan pada firman Allah SWT. Dalam
surat Al-baqarah ayat 31;
´¡l.´¸ ¸:¦´, ´,!.-¸¦ !¸l´ ¯¡. ¯¡·¸.´¸. _ls ¸«>¸¸.l.l¦ _!1· _¸.¡:¸,.¦ ¸,! .`.!¸,
¸,¸¡.> ¿¸| ¯¡..´ _,¸·¸... ¸_¸¸

Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. al-Baqarah ayat: 31)

Pendapat diatas berbeda dengan apa yang diungkapkan Darajat, Abdul
Fatah Jalal yang berpendapat, proses ta’lim justeru lebih universal dibandingkan

133
Ibid.,hlm.18-19
dengan proses tarbiyah, karena ta’lim tidak berhenti pada pengetahuan yang
lahiriyah, juga tidak sampai pada pengetahuan taklid. Akan tetapi ta’lim
mencakup pula pengetahuan teoritis, mengulang kaji secara lisan dan menyuruh
melaksanakan pengetahuan itu. Menurutnya, ta’lim mencakup pula aspek-aspek
keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan serta pedoman berprilaku.
134

Ketiga, pendidikan, umumnja berarti daja upaja untuk mewudjudkan
bertumbuhnja budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan
tumbuh anak; dalam taman siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian
itu.....
135
Hal ini dapat disamakan dengan term al-tarbiyah. Istilah tarbiyah
berakar dari tiga kata, yakni rabba-yarbu yang berarti bertambah dan tumbuh,
kata rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai, dan memimpin,
menjaga dan memelihara. Kata al-rabb juga berasal dari kata tarbiyah,
sebagaimana pendapatnya Imam al-Baidhawi dan al-Raghib al-Asfahani, yaitu
menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit sehingga mengantarkannya kepada
kesempurnaan.
136

Tarbiyah dapat juga diartikan dengan ”proses transformasi ilmu
pengetahuan dari pendidik (rabbani) kepada peserta didik, agar ia memilki sikap
dan semangat yang tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya,
sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti, dan kepribadian yang luhur.”
137
Hal
ini sesuai dengan pengertian pendidikan yang disampaikan oleh Muhaimin yang
menyebutkan pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu

134
QS. al-Baqarah/2: 30-34 dan 151, Yunus/10: 5, lihat Khoiron Rosyadi, op. cit.,hlm.
142-146
135
Ki Hajar Dewantara, Log. Cit., hlm. 14
136
Khoiron Rosyadi, Op. Cit., hlm. 147-148.
137
Abdul Mujib, Op. Cit., hlm12-13
pengetahuan dan nilai-nilai pada anak didik melalui penumbuhan dan
pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan
hidup dalam segala aspeknya.
138

Definisi pendidikan yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara,
menunjukkan bahwa Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai suatu
yang proses yang dinamis dan berkesinambungan. Disini tersirat pula wawasan
kemajuan, karena sebagai proses pendidikan harus mampu menyesuaikan diri
dengan tuntunan kemajuan zaman. Keseimbangan unsur cipta, rasa dan karsa
yang tidak dapat dipisah-pisahkan pun memperlihatkan bahwa Ki Hajar
Dewantara tidak memandang pendidikan hanya sebagai proses penulasan atau
transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowladge) saja. Hal ini sesuai dengan
kondisi yang dihadapi oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan pada masa itu
(kolonial Belanda) penuh dengan semangat keduniawian (materialism), penalaran
(intellektualism) serta individualism.
139
Jadi secara simultan menurutnya
pendidikan juga merupakan proses penularan nilai dan norma serta penularan
keahlian dan ketrampilan.
Pendapat Ki Hadjar Dewantara di atas dapat diambil kesimpulan
sementara yaitu pendidikan merupakan usaha secara sadar dalam rangka
menumbuh kembangkan segala potensi yang terdapat pada peserta didik. Hal ini
sejalan dengan pendapat Langeveld seperti yang dikutip Zahara Idris dalam
bukunya, bahwa pendidikan merupakan proses mempengaruhi anak dalam usaha

138
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan
Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigen Karya, 1993). hlm. 136.
139
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit, hlm. 139
membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing merupakan usaha
yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja.
140

Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara
juga mengembangkan pendidikan budi pekerti sebagai salah satu pendukung
utama dalam melaksanakan tujuan pendidikan nasional. Menurut Ki Hadjar
Dewantara, budi pekerti berarti pikiran, perasaan, kenauan. Sedangkan pekerti
berarti tenaga. Budi pekerti itu sifatnya jiwa manusia, mulai angan-angan sampai
terjelma sebagai tenaga. Jadi yang dimaksud budi pekerti menurut Ki Hadjar
Dewantara adalah bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan
yang akhirnya menimbulkan tenaga.
141
Hal senada juga diungkapkan oleh
Burhanuddin Salam mengatakan bahwa moral berasal dari bahasa Latin “mores”,
berasal dari kata “mos” yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral
dengan demikian dapat diartikan ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai
kesusilaan.
Menurut Hadi Wardoyo menyatakan bahwa moral menyangkut
kebaikan.
142
Orang yang tidak baik juga disebut sebagai orang yang tidak
bermoral, atau sekurang-kurangnya sebagai orang yang kurang bermoral. Maka,
secara sederhana moral disamakan dengan kebaikan orang atau kebaikan
manusiawi.
Beberapa keterangan tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa moral
mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan, memuat ajaran tentang baik

140
Zahara Idris dan Lisma Jamal, Pengantar pendidikan
I,(Jakarta:PT.Gasindo,1992),hlm.3
141
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit., hlm. 25
142
Hadiwardoyo, P., Moral dan Masalahnya, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 35.
buruknya perbuatan. Jadi, perbuatan itu dinilai sebagai perbuatan yang baik atau
perbuatan yang buruk. Penilaian itu menyangkut perbuatan yang dilakukan
dengan sengaja.
Seperti pada pembahasan pada bab sebelumnya penulis mempunyai
pendapat bahwa budi pekerti memiliki kasamaan arti dengan moral atau etika dan
dalam Islam dikenal dengan istilah akhlak. Menurut etimologi kata akhlak berasal
dari bahasa Arab bentuk jamak dari mufradnya khuluq yang berarti budi pekerti,
sinonimnya etika dan moral.
143

Sedangkan menurut terminologi dapat dikaji sebagaimana pendapat para
ahli sebagai berikut :
1) Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab ihya-nya seperti yang dikutip
Asmaran menyatakan bahwa Akhlak adalah sifat yang tertanam dalm
jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang
dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”
144


2) Menurut Ahmad Amin, yang dikutip oleh Rachmat Djatmika,
mengatakan akhlak adalah membiasakan kehendak.
145
Yang
dimaksudkan di sini adalah kehendak itu bila dibiasakan, maka
kebiasaan itu disebut akhlak.
Pendapat al-Ghozali di atas dapat dijelaskan bahwa hakikat dari khulk
(budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam

143
Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islam (Akhlak Mulia), (Surabaya: Pustaka Islam,
1985), hlm. 26
144
Asmarn As, pengantar studi akhlak,(Jakarta: PT.Raja Gafika,2002),hlm.2
145
Rachmat Djatnika, op. cit., hlm. 27
jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situlah timbulah berbagai macam
perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa
memerlukan pemikiran.
146
Pandangan al-Ghazali tentang pendidikn akhlak yang
pada prinsipnya bahwa pendidikan akhlak adalah untuk membina akhlak menjadi
mulia. Hal ini selaras dengan perintah rosulullah untuk menghiasi akhlak manusia
dengan akhlak yang mulia. Selaras dengan statmen tersebut, pendidikan akhlak
pada anak merupakan suatu tuntunan yang esensial, untuk membina dan
membimbing anak mempunyai akhlak yang mulia.
Tingkah laku (moral) dikontrol oleh konsep-konsep moral, peraturan-
peraturan tindakan (tingkah laku) dan anggota dari kebiasaan dan menentukan
pola-pola tingkah laku yang diharapkan dari anggota suatu kelompok. Dari
beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan, akhlak adalah
kehendak yang terlahir dari jiwa seseorang, tanpa dipikirkannya secara panjang
dan menjadi suatu kebiasaan.
Pada dasarnya, akhlak mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya
berhubungan dengan Tuhan Penciptanya, sekaligus bagaimana seseorang harus
berhubungan dengan sesama manusia. Istilah “sesama manusia” dalam konsep
akhlak adalah bersifat universal, bebas dari batas-batas kebangsaan maupun
perbedaan yang lainnya. Penataan hubungan sesama manusia itu ditekankan pada
bagaimana seharusnya kelompok muda memberikan rasa hormat kepada yang tua,
dan bagaimana yang tua memberikan kasih sayang kepada yang muda. Perlakuan
hubungan dan interaksi sesama manusia dilakukan dengan mengikuti petunjuk

146
Asmaran, Op.Cit.,hlm.3
dan pedoman yang terdapat pada ajaran agama Islam. Inti pada ajaran akhlak
adalah berlandaskan pada niat ataupun I’tikad untuk berbuat ataupun tidak berbuat
sesuatu sesuai dan mencari ridho Allah, Tuhan semesta alam.
147

Selanjutnya, istilah budi pekerti, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan
akhlak adalah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki kedekatan
dengan istilah tata krama. Inti ajaran tata krama ini sama dengan inti ajaran budi
pekerti.
148

Ki Hadjar Dewantara meringkaskan tentang pengertian pendidikan budi
pekerti adalah Segala usaha dari orang tua terhadap anak-anak dengan maksud
menyokong kemajuan hidupnya, dalam arti memperbaiki bertumbuhnya segala
kekuatan rohani dan jasmani yang ada pada anak-anak karena kodrat irodatnya
sendiri.
149

Pendapat di atas sejalan dengan pendapat Ahmad D. Marimba yang
menyatakan bahwa pendidikan akhlak (budi pekerti) adalah bimbingan secara
sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik
menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
150
Hal tersebut hal-nya dengan
pendapat Machbub Masduqi dalam bukunya bahwa, Pendidikan akhlak (budi
pekerti) yakni mendidik anak didik menjadi manusia yang berpikir dan

147
Syarkawi,Pembentukan Kepribadian Anak, Peran Moral, Intelektual, Emosional dan
Social sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2006), Hlm. 32
148
Ibid hlm. 32
149
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit., hlm.471
150
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan,(Bandung: Al-
Ma’arif,1989),hlm.19
berkelakuan secara susila.
151
Yang dimaksud di sini adalah pendidikan kesusilaan,
pengajaran yang membentuk watak kepribadian dibiasakan.
Sedangkan menurut M. Athiyah al-Abrosyi, mengatakan bahwa
pendidikan budi pekerti/akhlak adalah jiwa dari pendidikan Islam. Dan Islam telah
menyimpulkan pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.
Mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan yang sebenarnya pendidikan
Islam.
152
Hal itu senada Nurul Zuriah, bahwa pendidikan budi pekerti merupakan
progam pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat
siswa dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai
kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan
kerjasama yang menekankan rana afektif (perasaan dan sikap) tanpa
meninggalkan ranah kognitif (berpikir rasional) dan rana Skill atau psikomotorik
(ketrampilan, terampil mengelola data, mengungkapkan pendapat, dan
kerjasama).
153

Boisard, A. M mengatakan bahwa Islam di samping iman dan aturan
(hukum), Islam juga mengandung segi moral yang jelas.
154
Bukankah Muhammad
sendiri telah berkata: “Aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang
luhur”. Moral Islam merupakan bagian yang tak terpisah dari agama. Menurut
tradisi, moral adalah cara untuk bertindak terhadap orang lain. Dalam kehidupan
moral, orang mukmin harus mematuhi ajaran-ajaran hukum Tuhan. Dasar

151
Machbub Masduqi, Tahdzibul Akhlaq, Diktat, (Semarang: Fakultas Tarbiyah, IAIN
Walisongo, 1983), hlm. 7
152
Athiyah al-abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam,(Jakarta: Bulan Bintang,
1993), hlm.1
153
Nurul Zuriah,Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara,cet.I, 2007)19-20
154
Boisard, A. M., (1980), hlm. 41.
kehidupan moral terdapat dalam iman dan taqwa yang merupakan rasa transenden
dan dinamis. Akan tetapi orang tidak dapat memahami moral Islam tanpa
menyadari bahwa al-Qur’an itu tidak hanya merupakan hukum, akan tetapi
merupakan daya penjabar dari fikiran-fikiran yang mengarahkan kelakuan
mukmin dalam rangka tujuan manusia yaitu: tunduk kepada kemauan Tuhan.
Orang tua (pendidik) sangat mempengaruhi perkembangan baik jasmani
ataupun rohani. Dengan sendirinya mendidik anak tidak hanya diberi pengetahuan
saja, namun harus pula diperkenalkan nilai-nilai yang ada pada masyarakat
maupun agama. Karena pendidikan akhlak lebih utama dibandingkan apapun juga.
Sebagaimana hadits Nabi :

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra berkata : Rasulullah saw bersabda;
muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti
yang baik. (HR Imam Ibnu Majah).
155


Pendidikan akhlak merupakan pendidikan yang hendak membentuk
pribadi seorang anak agar berakhlak baik, di samping mendapatkan pengetahuan
yang diperlukan bagi dirinya. Pembentukan tingkah laku yang sesuai dengan
ajaran Islam merupakan pendidikan yang digali dari sumber primordial Islam itu
sendiri (Al-Qur’an dan Hadits). Pendidikan akhlak merupakan upaya dalam
membentuk pribadi yang berakhlak mulia, sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan
pendidikan budi pekerti adalah usaha sadar penanaman/internalisasi nilai-nilai

155
Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Semarang: Toha Putra, tt), hlm. 1211
moral/akhlak dalam sikap dan perilaku manusia peserta didik agar memilki sikap
dan perilaku yang luhur (akhlaqul karimah) dalam keseharian baik berinteraksi
dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan.
156

Berkaitan dengan pendidikan budi pekerti dalam ruang lingkup
pembahasan skripsi ini penulis mengambil kesimpulan awal bahwa pendidikan
akhlak adalah pendidikan untuk merubah tingkah laku ( bukan pengetahuan ”dari
belum atau tidak tahu menjadi tahu” ) yang di mulai dari rumah hati atau pangkal
perasan menjadi suatu kebiasaan.
C. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan merupakan sebuah proses sehingga pengukuran dari proses
pendidikan tersebut adalah bagaimana tujuan pendidikan itu tercapai. Tujuan
yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah
perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam diri pribadi manusia.
Terbentuknya nilai-nilai tersebnut dapat diaplikasikan dalam perencanaan
kurikulum pendidikan sebagai landasan dasar operasionalpelaksanaan itu sendiri.
Menurut Ki Hadjar Dewantara tujuan pendidikan dapat dijelaskan sebagai
berikut:
“pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnja anak-anak.
Adapun maksudnja pendidikan jaitu menuntun segala kekuatan kodrat
jang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masjarakat dapatlah mentjapai keselamatan dan kebahagiaan
jang setinggi-tingginya.”
157


Jika dilihat dari tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara di atas
dapat diketahui bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan

156
Tim Dosen Fakultas Tarbiyah, Laporan Penelitian Pendidikan Budi Pekerti Pada
Sekolah Model,(Jakarta: IAIN Syarif Hidayahtullah Jakarta,2000),hlm.41
157
Ibid., Op. Cit, hlm. 20
manusia yang mempunyai fungsi untuk membantu perkembangan manusia untuk
mencapai manusia yang seutuhnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Zahara Idris,
bahwa tujuan pendidikan adalah memberikan bantuan terhadap perkembangan
anak seutuhnya. Dalam arti, supaya dapat mengembangkan potensi fisik, emosi,
sikap, moral, pengetahuan dan keterampilan semaksimal mungkin agar menjadi
manusia dewasa.
158

Sedangkan menurut J.Ledesma, tujuan pendidikan adalah untuk membantu
seseorang agar dapat menggarap hidupnya sendiri, supaya akal budinya
berkembang, supaya dapat terlibat dalam tata kemasyarakatan dan dengan
demikian dapat semakin mudah mencapai tujuan hidup, yaitu bersatu dengan
Tuhan.
159
Paulo Freire juga menambahkan bahwa, tujuan pendidikan yang
humanis adalah untuk mencari ilmu pengetahuan guna memenuhi hasrat dan
keinginan peserta didik dan guru dengan kesadaran untuk menciptakan ilmu
pengetahuan baru.
160

Sejalan dengan tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara, Undang-undang
No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan pendidikan
nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.

158
Zahara Idris dan Lisma Jamal, Op. Cit., hlm.29
159
Martyn Sardy, Pendidikan Manusia, (Bandung: Penerbit Alumni, 1985), hlm.18.
160
Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas,terjm. Tim redaksi asosiasi pemandu latihan,
(Yogyakarta: LP3ES,1972), hlm. 190.
Pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara
dijelaskan bahwa Tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk menyokong
perkembangan hidup anak-anak lahir dan batin dari sifat kodrati menuju
keperadapan sifatnya yang lebih umum.
161

Berangkat dari tujuan pendidikan budi pekerti Ki Hadjar Dewantara,
dalam pendidikan akhlak mempunyai kesamaan arti yaitu pendapat yang
dijelaskan oleh at-Thiyah al-Abrasy, tujuan pendidikan akhlak dalam Islam bukan
sekedar memberikan ilmu pengetahuan kepada murid, tetapi bertujuan mendidik
akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan fisik dan mental, perasaan dan
praktek serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat. Sedang
tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk orang-orang yang beramal baik,
keras kemauan, sopan bicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku dan
perangai, bersifat bijaksana, sopan dan beradab, khlas, jujur dan suci.
162

Sedang menurut Al Ghulayani pendidikan akhlak bertujuan membentuk
jiwa anak didik menjadi bermoral, berjiwa bersih, berkemauan keras, bercita-cita
besar, tahu akan arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak orang
lain, tahu membedakan mana yang baik dan buruk, memilih keutamaan karena
cinta keutamaan, menghindari suatu perbuatan yang tercela karena memang hal
itu tercela dan selalu ingat kepada Allah setiap melakukan pekerjaan.
163
Menurut
haidar Putra Daulay, mengatakan bahwa tujuan pendidikan budi pekerti adalah
untuk mengembangkan nilai, sikap dan perilaku siswa yang memancarkan akhlak

161
Ki Hadjar Dewantara, Op. Cit., hlm.485
162
M. Athiyah al Abrrosy, Dasar - Dasar Pokok Pendidikan Islam, ( Jakarta : Bulan
Bintang, 1993 ), terj. Bustain Al Ghani, dkk., hlm. 104
163
Abdul Kholiq, dkk., Pemikiran Pendidikan Islam, ( Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 1999
),hlm. 121
mulia/budi pekerti luhur.
164
Dengan kata lain dalam pendidikan budi pekerti, nilai-
nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia. Yaitu tertanamnya
nilai-nilai akhlak yang mulia kedalam diri peserta didik yang kemudian terwujud
dalam tingkah lakunya.
Berbagai pendapat di atas penulis dapat memberikuan kesimpulan
sementara bahwa tujuan pendidikan budi pekerti memiliki kesamaan atau
kesesuaian dengan tujuan pendidikan Islam yang sama-sama didasarkan pada
tujuan hidup manusia secara umum, yaitu mencapai kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat dapat tercapai dengan mematuhi aturan-
aturan yang terdapat dalam ajaran agama Islam.
D. Landasan atau Dasar Pendidikan Budi Pekerti
Dalam menjalankan pendidikannya Ki Hadjar Dewantara menggunakan
azas atau dasar yang dicetuskan beliau pada juli 1922 sebagai berikut :
”1. Hak seseorang akan mengatur dirinja sendiri (zelfbeschikkingsrecht)
dengan mengikuti tertibnja persatuan dalam perikehidupan umum
(maatschappelijk saamhoorigheid), itulah azas kita jang pertama. Tertib
dan damai (tata lan tentrem, orde en vrede) itulah tudjuan kita jang
setinggi-tingginja. Tidak adalah ”ketertiban” terdapat, kalau tak
bersandar pada ”perdamaian”. Sebaliknja tak akan ada orang hidup
damai, djika ia dirintangi dalam segala sjarat kehidupannja. Bertumbuh
menurut kodrat (natuurlijke groi) itulah perlu sekali untuk segala
kemadjuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluasnja. Maka dari itu
pendidikan jang beralaskan sjarat ”paksaan-hukuman-ketertiban”
(”regering-tucht en orde”, ini perkataan dalam ilmu pendidikan) kita
anggap memperkosa hidup kebatinan anak. Jang kita pakai sebagai alat
pendidikan ialah pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat
tumbuhnja hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnja sedikit. Inilah
kita namakan ”Among methode”; 2. dalam systeem ini maka pengajaran
berarti mendidik anak akan menjadi manusia merdeka batinnja, merdeka
fikirannja dan merdeka tenaganja. Guru djangan hanja memberi

164
Haidar Putra Daulay,Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di
Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2004,cet.I).,hlm.220
pengetahuan jang perlu dan baik sadja, akan tetapi harus djuga mendidik
si murid akan dapat mentjari sendiri pengetahuan itu dan memakainya
guna amal keperluan umum. Pengetahuan jang baik dan perlu jaitu jang
manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama; 3. tentang
zaman jang akan datang, maka rakjat kita ada didalam kebingungan.
Seringkali kita tertipu oleh keadaan, jang kita pandang perlu dan harus
untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing, jang sukar
didapatnja dengan alat penghidupan kita sendiri. Demikianlah atjapkali
kita merusak sendiri kedamaian hidup kita; 4. oleh karena pengajdaran
jang hanja terdapat oleh sebagian ketjil dari pada rakjat kita itu tidak
berfaedah untuk bangsa, maka haruslah golongan rakjat jang terbesar
dapat pengadjaran setjukupnja. Kekuatan bangsa dan negeri itu
djumlahnya kekuatan orang-orangnja. Maka dari itu lebih baik
memadjukan pengajaran untuk rakjat umum dari pada mempertinggi
pengadjaran kalau usaha mempertinggi ini seolah-olah mengurangi
tersebarnya pengadjaran; 5. untuk dapat berusaha menurut azas dengan
bebas dan laluasa, maka kita harus bekerdja menurut kekuatan sendiri.
Walaupun kita tidak menolak bantuan dari orang lain, akan tetapi kalau
bantuan itu akan mengurangi kemerdekaan kita lahir atau batin haruslah
ditolak. Itulah djalannja orang jang tak mau terikat atau terperintah pada
kekuasan, karena berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri; 6.
oleh karena kita bersandar pada kekuatan kita sendiri, maka haruslah
segala belandja dari usaha kita itu di pikul sendiri dengan uang
pendapatan biasa. Inilah jang kita namakan ”zalfbedruipingsysteem”,
jang djadi alatnja semua perusahaan jang hendak hidup tetap dengan
berdiri sendiri; dan 7. dengan tidak terikat lahir atau batin, serta
kesutjian hati, berniatlah kita berdekatan dengan sang anak. Kita tidak
meminta hak, akan tetapi menjerahkan diri untuk berhamba kepada sang
anak.”
165


apa yang telah dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara tentang azas
pendidikannya pada tahun 1947
166
diadakan perbaikan yang tidak jauh berbeda
dari rumusan awal. Azas tersebut yang meliputi :
a) Kodrat Alam
Dasar pendidikan budi pekerti yang pertama yaitu azaz kodrat alam yaitu
azaz yang dimanfaatkan untuk dapt mengembangkan segenap bakat, potensi dan
kemungkinan yang terdapat dalam diri manusia secara kodrati. Menurut azas

165
Ibid, hlm. 48-49
166
Abdurrachman Surjomihardjo, Op. Cit., hlm. 125
kodrat alam manusia itu terlahir sama dan merdeka. Jadi Ki Hadjar Dewantara
selalu menganggap bahwa semua orang itu sama dan merdeka. Ki Hajar
Dewantara tidak setuju dan menentang sikap rasis dan foedalisme walaupun
beliau adalah keturunan bangsawan. Sesuai dengan kodrat alam semua orang
dilahirkan sama. Tidak ada yang tinngi dan tidak ada yang lebih rendah.
Menurut Ki Hadjar Dewantara harga atau nilai seseorang bukan karena
bangsawan, bukan pula karena ia seorang yang kaya raya, nilai atau harga
sesorang ditentukan oleh jasa dan perbuatannya terhadap masyarakat. Mulia
tidaknya sesorang tergantung pada perbuatannya. Hal ini sesuai dengan firman
Allah dalam surat QS. al-Hujarat/49:13 :

!¸¸!., '_!.l¦ !.¸| _>..1l> _¸. ¸¸´: _..¦´ ¸ ¯¡>..l->´¸ !,¡`-: _¸¸! ,·´ ¸ ¦¡·´¸!-.¸l
¿¸| ¯_>.¸é¦ ..¸s ¸<¦ ¯¡>.1.¦ ¿¸| ´<¦ ,¸¸ls ¸,¸,> ¸¸_¸
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang
paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi
Maha Mengenal”.

Islam mempunyai konsep kodrat alam dapat diartikan dengan fitrah.
Pemaknaan fitrah berarti ciptaan, kodrat jiwa, dan budi nurani; fitrah berarti
mengakui keesaan Allah (al-tauhid);
167
fitrah berarti ikhlas;
168
dan fitrah yang

167
Imaduddin Ibnu Fida’ Ismail Ibnu Katsir, tt., Tafsir Ibnu Katsir, III, Dar al-Qalam al-
‘Araby, hlm. 53-54.
berarti potensi dasar manusia.
169
Hal ini didasarkan pada surat QS. al-Rum/30: 30
:
`¸¸·! · ,¸>´ ¸ ¸_¸¸.¦¸l !±,¸.> , ¸L¸· ¸<¦ _¸.l¦ ¸L· ´_!.l¦ !¸¯,l. ¸ _,¸.¯, . ¸_l>¸l
¸<¦ .¸l: _¸¸.]¦ `¸¸¯,1l¦ _¸>.l´¸ ´¸.é¦ ¸_!.l¦ ¸ ¿¡.l-, ¸_¸¸
Artinya: Pemaknaan terhadap istilah fitrah tersebut “Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah.
170
(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.

Ayat lain menyebutkan tentang kodrat sebagai potensi manusia yang
diberikan sejak lahir dalam Al-Qur’an QS. Thaahaa/20:50 :
_!· !´.,´¸ _¸.]¦ _Ls¦ _´ ¸,`_: .«1l> ¯¡. _.> ¸_¸¸
Artinya: Musa berkata: "Tuhan Kami ialah (tuhan) yang telah
memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian
memberinya petunjuk.
171


Sedangkan menurut al-Ghazali, makna fitrah adalah dasar manusia sejak
lahir. Fitrah menurutnya mempunyai keistimewaan-keistimewaan, yaitu: (a)
beriman kepada Allah; (b) mampu dan bersedia menerima kebaikan dan

168
Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarid al-Thabari, tt., Tafsir al-Thabari, al-Musamma
Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, X, Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyahlm. hlm. 182-185.
169
Ibnu Abdillah Muhammad bin Ahmad Anshor al-Qurthubi, tt., Tafsir al-Qurthubi, al-
Jami’ Liahkam al-Qur’an,VI, Kairo: Daarus Sa’ab, hlm. 5108
170
Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah, manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah
wajar, mereka yang tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. Lihat Al-
Qur'an dan Terjemahannya, Solo: CV. Pustaka Mantiq
171
Petunjuk maksudnya memberikan akal, instink (naluri) dan kodrat alamiyah untuk
kelanjutan hidup masing-masing. Lihat Al-Qur’an dan terjemah. Solo; Pustaka Mantiq
keturunan (dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran); (c)
dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang berwujud daya untuk
berfikir; (d) dorongan-dorongan biologis berupa syahwat, ghadlab, dan tabiat
(instinct); dan (e) kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat manusia yang dapat
dikembangkan dan dapat disempurnakan.
172

Berkaitan dengan fitrah manusia, Muthahhari menyatakan:
“…fitrah manusia merupakan bawaan alami. Artinya, ia merupakan suatu
yang melekat dalam diri manusia (bawaan), bukan sesuatu yang diperoleh
melalui usaha (muktasabah). Fitri mirip dengan kesadaran. Sebab
manusia menyadari bahwa dirinya mengetahuai apa yang dia ketahui.
Artinya, dalam diri manusia terdapat sekumpulan hal yang bersifat fitrah
dan dia tahu betul tentang hal itu”.
173


Muthahhari membedakan antara naluri dan fitrah. Naluri berkaitan dengan
hal-hal yang bersifat fisik, sedangkan fitrah berkaitan dengan masalah-masalah
yang disebut dangan urusan kemanusiaan. Dalam diri manusia terdapat
kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan yang bersifat pilihan dan
berdasarkan kesadaran, dan yang disebut “perikemanusiaan” sesungguhnya tak
lain adalah kecenderungan-kecenderungan tersebut. Muthahhari menyusun
kecenderungan-kecenderungan tersebut menjadi lima bagian,
174
yaitu:
Pertama, mencari kebenaran. Mencari kebenaran adalah sesuatu yang
biasa disebut dengan istilah pengetahuan. Dorongan ini terdapat dalam diri
manusia, yaitu dorongan untuk menemukan berbagai hakikat seperti apa adanya.

172
Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif, Menimbang Konsep Fitrah dan
Progresivisme John Dewey, (Yogyakarta; Safiria Insania Press, 2004) hlm. 23-24.
173
Murtadho Muththahhari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama,
(Bandung: Mizan, 1992),hlm. 20.
174
Ibid, hlm. 51-66.
Artinya, manusia ingin memperoleh pengetahuan-pengetahuan tentang alam dan
wujud benda-benda dalam keadaan yang sesungguhnya.
Kebenaran adalah sesuatu yang dimaksud dengan istilah hikmah atau
falsafah. Manusia tidak cenderung pada filsafat kecuali karena adanya
kecenderungan dan dorongan untuk mengetahui dan menalar hakikat berbagai
benda, sehingga dapat disebut dengan kesadaran filosofis atau pencarian
kebenaran.
Kedua, moral (akhlak). Berpegang pada nilai-nilai moral tergolong pada
kategori nilai-nilai utama yang disebut dengan akhlak yang baik. Manusia
mempunyai kecenderungan terhadap banyak hal, diantaranya adalah yang bisa
memberi manfaat secara fisik kepadanya. Lebih luas, manusia mempunyai
kecenderungan itu bukan hanya kerena hal-hal itu bermanfaat baginya, tetapi
karena hal-hal itu merupakan suatu keutamaan dan kebajikan, dalam arti ia
tergolong sebagai kegiatan spiritual. Manfaat adalah kebaikan materil, sedangkan
keutamaan adalah kebaikan spiritual. Manusia menyukai kejujuran karena ia baik,
dan membenci kebohongan karena ia bertentangan dengan kejujuran.
Ketergantungan terhadap kejujuran, amanah, ketaqwaan, dan kesucian termasuk
ketergantungan terhadap keutamaan.
Ketiga, estetika. Manusia tertarik secara total pada keindahan, baik
keindahan dalam ahklak maupun dalam bentuk. Karena itu, manusia selalu
berusaha menampilkan keindahan dalam hidupnya
Keempat, kreasi dan penciptaan. Manusia selalu terdorong untuk
membuat sesuatu yang belum ada dan belum dibuat orang. Kreatifitas dan daya
pikirnya diaktualisasikan dalam bentuk yang berbeda, dalam memenuhi
kebutuhan pribadi atau masyarakat.
Kelima, kerinduan dan ibadah. Kategori ini memberikan penjelasan
bahwa kerinduan mampu memusatkan perhatian seseorang pada titik yang
menjadi pusat perasaan yaitu sesuatu yang dirindukan. Dengan kerinduan tersebut,
seseorang dapat memperoleh kondisi “menyatu” dengan orang yang dirindukan.
Kerinduan dapat mengantarkan seseorang pada suatu tingkat yang disitu dia ingin
menjadikan ma’syuq (yang dirindukan) sebagai Tuhan (sesuatu yang dipuja) dan
dirinya sebagai hamba-Nya. Dengan demikian, dia melihat ma’syuq-nya dengan
al-wujud, yakni al-wujud al-mutlaq (yang mutlak ada).
Senada dengan di atas, dalam penjelasan Muhaimin, fitrah adalah faktor
kemampuan dasar perkembangan manusia yang dibawa sejak lahir dan berpusat
pada potensi dasar untuk berkembang. Potensi dasar itu berkembang secara
menyeluruh dan menggerakkan seluruh aspek menuju ke arah tujuan tertentu.
Aspek-aspek fitrah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsif
terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pendidikan. Adapun komponen-
komponen dasar tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut: pertama, bakat, yaitu
kemampuan pembawaan yang potensial mengacu pada perkembangan
kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profesional) dalam berbagai bidang
kehidupan
Kedua, insting (gharizah), suatu kemampuan berbuat tanpa melalui proses
belajar mengajar (dalam psikologi pendidikan disebut kapabilitas). Ketiga, nafsu
dan dorongan-dorongannya, yaitu nafsu lawwamah yang mendorong ke arah
perbuatan tercela dan merendahkan orang lain, nafsu amarah yang mendorong ke
arah perbuatan yang merusak, nafsu birahi yang mendorong perbuatan seksual
dan nafsu muthmainnah (religius) yang mendorong ke arah ketaatan kepada
Tuhan.
Keempat, karakter atau tabiat. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku
moral, sosial serta etis seseorang yang terbentuk dari dalam diri manusia. Kelima,
heriditas atau keturunan, merupakan faktor menerima kemampuan dasar yang
mengandung ciri-ciri psikologis dan filosofis yang diwariskan orang tuanya, baik
dalam garis yang dekat maupun dari garis yang telah jauh. Keenam, intuisi,
kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi ini
menggerakkan hati manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam
situasi khusus di luar kesadaran manusia, namun mengandung makna yang
konstruktif.
175
Filosof Perancis Bergson, memandang intuisi sebagai elemen élan
vital (kekuatan pokok) yang mendorong manusia berfikir dan berbuat.
176

Jelaslah bahwa faktor kemampuan memilih yang terdapat di dalam fitrah
manusia (human nature) berpusat pada kemampuan berpikir sehat (berakal sehat),
karena akal sehat mampu membedakan hal-hal yang benar dari yang salah.
Sedangkan seseorang yang mampu menjatuhkan pilihan yang benar secara tepat
hanyalah orang yang berpendidikan sehat.
Dari konsep yang di atas dan apa yang telah dicetuskan oleh Ki Hadjar
Dewantara pada azas kodrat alam ini dapat dipahami bahwa secara kodrati semua
manusia terlahir sama dan memiliki potensi, tinggal bagaimana manusia itu akan

175
Muhaimin dan Abdul Mujib, op. cit.,hlm. 23-25.
176
Muis Sad Iman, op. cit., hlm. 26.
mengembangkan dan melakukan hal-hal yang dapat menaikkan derajatnya dimata
orang lain dan Tuhannya.
Sebagaimana diketahui bahwa secara eksplisit Ki Hadjar Dewantara
adalah alur keturunan bangsawan dan ulama. Ki Hadjar Dewantara dididik dan
dibesarkan dalam lingkungan sosiokultural dan religius yang tinggi serta kondusif.
Dia dididik dan dibesarkan menjadi seorang muslim yang lebih menekankan
aspek hakekat dari pada syari’at.
Dengan azasnya kodrat alam, penulis dapat memahami bahwa
sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara juga mengakui adanya kekuasaan Tuhan
karena yang dimaksud kodrat alam adalah kekuasaan Tuhan. Meskipun beliau
seorang yang agamis, tetapi beliau lebih suka menggunakan bahasa-bahasa
budaya untuk mencurahkan pemikiran-pemikirannya dari pada bahasa-bahasa
Islami. Tetapi itu semua tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
b) Azas Kemerdekaan
Kemerdekaan merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan
Yang Maha Esa kepada setiap makhluknya, termasuk juga manusia, setiap
manusia mempunyai hak unruk merdeka dan bebas mengatur dirinya. Dalam
mencapai kebahagiaan hidupnya, setiap orang mempunyai kebebasan untuk
berpikir dan berbuat. Semua orang berhak hidup bahagia. Akan tetapi kebebasan
di sini bukan berarti kebebasan berbuat semaunya. Sunguhpun setiap orang bebas
berpikir dan berbuat, namun ia harus memperhatikan ketertiban masyarakat.
Kebebasan seseorang janagan sampai mengganggu dan merusak ketertiban
masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara menjunjung tinggi kemerdekaan. Ia menolak
penjajahan. Bahkan ia juga menolak bantuan subsidi yang ditawarkan oleh
pemerintah Hindia-Belanda kepada Taman Siswa. Dapat dikatakan azas
kemerdekaan dapat dimaknai dengan independensi dari seseorang atau organisasi.
Tidak adanya keterikatan dengan apapun yang dapat mengurangi rasa
kemerdekaan yang ada pada tiap-tiap individu maupun masyarakat, akan tetapi
dalam kebebesan ada nilai-nilai yang mengatur.
Didalam prinsip sistem among yang dikembangkan oleh Ki Hadjar
Dewantara, kemerdekaan merupakan syarat untuk menghidupkan dan
menggerakkan kekuatan lahir dan batin sehingga bisa hidup merdeka, tidak berada
dalam kekuasaan golongan apapun. Kemerdekaan ini diinternalisasi dengan
sedemikian rupa dalam kehidupan praksis anak didik sehingga mereka merasa
sudah berada dalam kehidupannya, bukan kehidupan yang lain yang diupayakan
masuk dalam kehidupannya.
177
Hal tersebut merupakan Cita-cita pendidikan Ki
Hajar Dewantara lewat Taman Siswanya yaitu denagan cara membina manusia
yang merdeka lahir dan batin. Ki Hajar Dewantara, mendidik orang agar berpikir
merdeka dan bertenaga merdeka. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara manusia
merdeka ialah manusia yang tidak terikat lahir dan batinnya, orang yang merdeka
ialah orang yang tidak tergantung pada orang lain (mandiri).
Kemerdekaan manusia dibatasi oleh potensi yang ada pada dirinya.
Kemerdekaan manusia ada 3 macam: berdiri sendiri (zelfstanding), tidak

177
Moh. Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar Dari Paulo Freire Dan Ki
Hajar Dewantara, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media,2009),hlm174
tergantung kepada orang lain (anafhankelijk) dan dapat mengatur dirinya sendiri
(zelfsbeschikking).
178

Dari uraiaan di atas dapat dipemahami bahwa kemerdekaan yang sejati
tidak hanya dalam arti kebebasan, akan tetapi keharusan memelihara tertib
damainya diri dan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama,
berdasarkan harmonisasi kehidupan secara individuil dan masyarakat.
c) Azas Kebudayaan
Azas kebudayaan merupakan landasan yang memiliki peran penting dalam
kemajuan pendidikan budi pekerti. Azas ini digunakan untuk membimbing anak
agar tetap mennghargai serta mengembangkan kebudayaan sendiri. Hal ini
bertujuan untuk menjaga keaslihan budaya lokal, sehingga Ki Hadjar Dewantara
mempunyai konsentrasi tersendiri dalam mengembangkan pendidikan nasional
yang berlandaskan atas kebudayaan murni indonesia. Azas kebudayaan. Perlunya
memlihara, mengembangakan dan melestarikan nilai-nilai dan bentuk kebudayaan
nasional. Pada bab terdahulu telah dijelaskan mengenai kebudayaan nasional.
Menurut Ki Hajar Dewantara kebudayaan Indonesia harus berpangkal pada
kebudayaan sendiri. Namun Ki Hadjar Dewantara selalu bersikap terbuka dan
tidak menolak unsur-unsur kebudayaan dari luar yang dapat mengembangkan
khazanah kebudayaan Indonesia.
Beliau berpendapat bahwa untuk memajukan kebudayaan Indonesia kita
harus berhubungan dengan bangsa-bangsa lain dan mengenal pula kebudayaan
asing.
179
Dalam pengembangannya tidak lepas dari teori ”trikon”
180
. Trikon

178
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit.,,, hlm. 4
179
Ki Hajar Dewantara, Masalah Kebudayaan, (Yogyakarta: MLPTS, 1963), hlm. 28
artinya tiga kon yakni: Kontinu, konpergen dan konsentris. Hal ini berbeda
dengan apa yang diungkapkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana yang menyebutkan
bahwa kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang tidak terikat oleh
kebudayaan warisan nenek moyang atau masa lalu. Kebudayaan nasional haruslah
berorientasi kemasa depan ialah kebudayaan yang didukung oleh kemajuan ilmu
dan teknologi khususnya yang berasal dari barat
181
.
Menurut Ki Hajar Dewantara kebudayan Indonesia merupakan segala
puncak dari sari kebudayaan bernilai di seluruh kepulauan Indonesia. Puncak-
puncak kebudayaan dari suatu suku bangsa merupakan usur-unsur budaya lokal
yang dapat memperkuat solidaritas nasioanl.
182
Jadi, menurut Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan nasional Indonesia didukung oleh kebudayan-kebudayaan daerah
yang tinggi mutunya, baik yang lama maupun yang ciptaan baru. Kebudayaan
nasional Indonesia bersumber pada kebudayaan kita sendiri. Kebudayaan
Indonseia harus bersambungan (kontuinitas) dengan kebudayaan lama.
Kebudayaan nasional Indonesia harus mengumpul menuju ke arah kebudayaan
universal ((konvergensi) degan memiliki kepribadian nasional sendiri
(konsentrisitas). Tujuan semua ini adalah untuk mengenal budaya dan jati diri
tanpa harus meniru dan menjiplak budaya asing yang dapat merusak kebudayaan
sendiri.
d) Azas Kebangsaan

180
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit., hlm. 67
181
Tilaar, Op. Cit., hlm. 90
182
h.A.R. Tilaar, Mengindonesia Etnitas dan Identiras Bangsa Indonesia, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2007), hlm. 90
Azas kebangsaan menurut Ki Hajar Dewatara harus pula menghargai
kebangsaan orang lain. Azas kebangsaan yang dicita-citakan oleh Ki Hajar
Dewantara kebangsaan yang menghargai dan menghormati kebangsaan oranglain.
Hal ini sesuai dengan dalam al-Qur’an Qs. al-Hujurat/49:13 :
!¸¸!., '_!.l¦ !.¸| _>..1l> _¸. ¸¸´: _..¦´¸ ¯¡>..l->´¸ !,¡`-: _¸¸! , ·´¸ ¦¡·´ ¸!-.¸l
¿¸| ¯_>.¸é¦ ..¸s ¸<¦ ¯¡>.1.¦ ¿¸| ´<¦ ,¸¸ls ¸,¸,> ¸¸_¸
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs. al-Hujurat/49:13).

Ayat diatas dijadikan dasar pendidikan budi pekerti yang dikembangkan
oleh Ki Hadjar Dewantara, dengan maksud bahwa pendidikan budi pekerti dapat
di berikan dengan cara memberikan pengertian-pengertian dan nasihat-nasihat
bagaimana sikap seorang mukmin dengan orang mukmin lainnya dan sikap
dengan orang selain Islam. Sehingga harapan beliau dapat tercapai yaitu
terciptanya masyarakat yang mempunyai jiwa toleransi yang tinggi, dan memiliki
keagungan akhlak.
Azas kebangsaan ini, tidak berarti bahwa bangsa Indonesia harus
mengasingkan diri dari pergaulan internasional (dengan bangsa-bangsa lain). Ki
Hajar Dewantara menganjurkan jika hendak maju bangsa Indonesia tidak boleh
mengucilkan diri, bahkan harus bergaul dan menjalin hubungan dengan bangsa
lain dan tidak boleh membenci bangsa-bangsa yang lain.
183
Azas kebangsaan ini
tidak boleh bertentangan dengan azas kemanusiaan.
Azas kebangsaan dan azas kemerdekaan yang dianut oleh Ki Hajar
Dewantara memberi nyala api perjuangan rakyat Indonesia. Azas kebangsaan
memberi kepercayan pada diri sendiri untuk secara sadar memiliki jiwa
kebangsaannya.
e) Azas Kemanusiaan
Azas kemanusiaan dapat dilihat pada adanya rasa cinta kasih terhadap
sesama manusia dan terhadap sesama makhluk Tuhan. Azas ini menimbulkan rasa
cinta kasih dan menghindarkan orang untuk berbuat kejam terhadap sesamanya
dan sesama makhluk Tuhan.
Muhaimin membagi manusia ke dalam tiga kategori,
184
yaitu: pertama,
manusia sebagai makhluk biologis (al-basyar) pada hakekatnya tidak berbeda
dengan makhluk biotik lainnya walaupun struktur organnya berbeda,
185

:¸|´¸ _!· ,¯,´¸ ¸«>¸¸.l.l¸l _¸.¸| ´_¸l.> ¦¸ :, _¸. ¸_. .l. _¸. ¸|.> ¸¿¡`.`.. ¸__¸

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,
(QS. al-Hijr/15: 28)
karena struktur organ manusia memang lebih sempurna dibandingkan
makhluk-makhluk lain.
186


183
Sagimun M.D., Mengenal Pahlawan-Pahlawan Nasional Kita, Ki Hajar Dewantara.
(Jakarta: Bhratara karya Aksara, Cet. Ke-II, 1983), hlm. 37
184
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofik dan
Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigen Karya, 1993), hlm. 11-12.
185
QS. al-Hijr/15: 28
.1l !´.1l> ´_..·¸¸¦ _¸· ¸_.>¦ ¸¸,¸¡1. ¸_¸
Artinya: Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya .( QS. al-Thin/95: 4)

Kedua, manusia sebagai makhluk psikis (al-insan) mempunyai potensi
rohani seperti fitrah,
187

`¸¸·! · ,¸>´¸ ¸_¸¸.¦¸l !±,¸. > , ¸L¸· ¸<¦ _¸.l¦ ¸L · ´_!.l¦ !¸¯,l. ¸ _,¸.¯, .
¸_l>¸l ¸<¦ .¸l: _¸¸.]¦ `¸¸¯,1l¦ _¸>.l´¸ ´¸.é ¦ ¸_!.l¦ ¸ ¿¡.l-, ¸_¸¸

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. al-Ruum/30:30)
qalb,
188

`¸l·¦ ¦¸¸,¸.¸ _¸· ¸_¯¸¸¦ ¿¡>.· ¯¡> ',¡l· ¿¡l¸1-, ! ¸¸, ¸¦ ¿¦:¦´ , ¿¡`-.`.¸ !¸¸,
!¸.¸| · ¸ _.-. `¸..¯,¸¦ _¸>.l´¸ _.-. ´,¡l1l¦ _¸.l¦ _¸· ¸¸¸.¯.l¦ ¸__¸
Artinya: Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka
mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau
mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati
yang di dalam dada.( QS. al-Hajj/22: 46)
dan aql.
189


186
QS. al-Thin/95: 4
187
QS. al-Ruum/30: 30 (fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah
mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka
hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
188
QS. al-Hajj/22: 46
´_¸| _¸· ¸_l> ¸,´¡..´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ¸¸.l¸.>¦´¸ ¸_,l¦ ¸¸!¸.l¦´ ¸ ¸¸.,¸ _¸|`¸¸¸¸
¸¸.,l¸¦ ¸¸_¸¸ _¸¸.]¦ ¿¸`¸´., ´<¦ !..´,¸· ¦´:¡`-·´ ¸ _ls´¸ ¯¡¸¸¸,¡`.`> ¿¸`¸÷±.,´¸
_¸· ¸_l> ¸,´¡.´,´.l¦ ¸_¯¸¸¦´ ¸ !´.`,´¸ !. ¸1l> ¦.. > ¸¸L., ,..>¯,. !.¸1·
´,¦.s ¸¸!.l¦ ¸¸_¸¸
Arinya: (190). Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal, (191). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci
Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi
martabatnya
190

¤ .1l´¸ !..¯¸´ _¸., ¸:¦´, ¯¡¸..l´.-´¸ _¸· ¸¯¸¸l¦ ¸¸`> ,l¦´¸ ¡¸..· ¸´¸´ ¸ _¸. ¸¸. ,¸¯,Ll¦
`¸¸.´.l. ·´¸ _ls ¸¸,¸:é _´.¸. !.1l> ¸,¸.±. ¸_¸¸
Artinya: Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang
baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna
atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.( QS. al-Isra’/17: 70)

yang berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya artinya apabila potensi
psikis tersebut tidak digunakan manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan
lebih hina.
191


189
QS. Ali Imran/3: 190-191
190
QS. al-Isra’/17: 70
191
QS. al-A’raf/7: 179 dan al-Furqan/25: 44
.1l´¸ !.¦´¸: ´¸.¸>¸l ¦¸,¸.é _¸. ¸´_¸>'¦ ¸_.¸¸¦´¸ ¯¡> ',¡l· ¸
_¡¸1±, !¸¸, ¯¡>´¸ _`,s¦ ¸ ¿¸¸¸.¯,`, !¸¸, ¯¡>´¸ ¿¦:¦´, ¸ ¿¡`-´,`.¸ !¸¸,
,¸¸.l`¸¦ ¸¸.-.¸l´ ¯_, ¯¡> ´_.¦ ,¸¸.l`¸¦ `¡> _¡l¸±.-l¦ ¸¸__¸
Artinya: Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-
tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-
orang yang lalai. (QS. al-A’raf/7: 179)

Sedangkan bentuk insaniyahnya (humanism) terletak pada iman dan
akalnya.
192

¸¸| _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´ , ¦¡l¸.-´¸ ¸¸.>¸l.¯.l¦ `¸¸l· '¸>¦ ¸¯,s ¸¿¡`..· ¸_¸
Artinya: Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. al-
Thin/95: 6)

Ketiga, manusia sebagai makhluk sosial mempunyai tugas dan tanggung
jawab sosial terhadap alam semesta. Karena manusia berfungsi tidak hanya
sebagai abdullah tetapi juga sebagi khalifatullah
193

!.´¸ ¸1l> ´_¸>'¦ ´_.¸¸¦´ ¸ ¸¸| ¸¿¸.,-´,¸l ¸__¸
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.( QS. al-Dzariyyat/51: 56)


192
QS. al-Thin/95: 6
193
QS. al-Dzariyyat/51: 56 dan al-Baqarah/2: 30
:¸|´¸ _!· .¯,´¸ ¸«>¸¸.l.l¸l _¸.¸| _¸sl> _¸· ¸_¯¸¸¦ «±,¸l> ¦¡l! · `_->´¦ !¸,¸·
_. .¸.±`, !¸,¸· ,¸±`.¸´¸ ´,!.¸.]¦ _>´´¸ _¸,.. ì¸.. >´ '_¸´.1.´¸ , l _!·
_¸.¸| `¡ls¦ !. ¸ ¿¡.l-. ¸_¸¸
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. al-Baqarah/2: 30)

untuk mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia
dan akhirat.
194
,
¤ _|¸|´¸ :¡.. ¯¡>l>¦ !´>¸l.. _!· ¸,¯¡1., ¦¸.,s¦ ´<¦ !. _>l _¸. ¸«.l¸| .:¸¯,s
´¡> ¡´!:.¦ ´_¸. ¸_¯¸¸¦ `¸´ ¸.-.`.¦´¸ !¸,¸· :¸`¸¸±-.`.! · ¯¸. ¦¡,¡. ¸«,l¸| ¿¸|
_¸¸´¸ '¸,¸¸· '¸,¸>: ¸_¸¸
Artinya: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu
Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
menjadikan kamu pemakmurnya, Karena itu mohonlah ampunan-Nya,
Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat
(rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS. Hud/11: 61)
_¸l`.`, ¯¡>l ¯_>l..s¦ ¯¸¸±-,´¸ ¯¡>l ¯¡>,¡.: _.´¸ ¸_¸L`, ´<¦ .`«]¡.´ ¸´¸ .1· ¸! ·
¦´¸¯¡ · !.,¸Ls ¸_¸¸
Artinya: Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan

194
QS. Hud/11: 61, al-Ahzab/33: 71, dan al-Qashash/28: 77
Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia Telah mendapat kemenangan yang
besar. (Q.S. al-Ahzab/33: 71)

¸_.¯,¦´ ¸ !.,¸· ...¦´ , ´<¦ ´¸¦.]¦ :¸¸>¸¦ ¸´¸ _. . ,,,¸.. _¸.
!´,.´.l¦ _¸.>¦´¸ !.é ´_.>¦ ´<¦ .,l¸| ¸´¸ ¸_¯, . :!.±l¦ _¸· ¸_¯¸¸¦
¿¸| ´<¦ ¸ ´¸¸>´ _¸¸.¸.±.l¦ ¸__¸
Artinya: Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. al-
Qashash/28: 77)

Manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik dan mulia yang ada di muka
bumi,
195
disamping itu sekaligus berfungsi untuk mengemban amanat,
mengisyaratkan bahwa manusia adalah mahkluk terhormat dan fungsional.
Artinya, bukan hanya sebagai “barang hiasan” di bumi, tetapi memiliki peran dan
tanggung jawab untuk melestarikan bumi.
Muhammad Naquib al-Attas dengan lebih sederhana merumuskan manusia
sebagai makhluk yang mempunyai dua dimensi (has a dual nature), yaitu jasad
dan ruh.
196
Unsur jasad dan ruh dapat membentuk seorang manusia yang
diciptakan dengan tujuan tertentu. Konsep ini lebih merupakan konsep mono-
duality tentang manusia karena sesungguhnya manusia, merupakan satu hakikat
atau esensi yang mempunyai dua dimensi tersebut

195
QS. al-Thin/95: 4 dan al-Isra’/17: 70
196
Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, (Pekanbaru: Infinite Press,
2004), hlm.84.
Dari uraiaan di atas dapat dipahami bahwa azas kemanusiaan merupakan
sebagai satu pengertian dari tugas dan fungsi manusia sebagai makhluk yang
memiliki amanah dimata Tuhan bahwa ia adalah makhluk yang harus memberikan
kasih sayang kepada sesama dan juga kepada makhluk Tuhan yang lainya serta
menjaga seluruh alam dan lingkungannya. Hal ini didasarkan atas firman Allah
SWT., dalam al-Quran surat al-Anbiya:107
!.´¸ ...l.¯¸¦ ¸¸| «.-¸ _,¸.l.-l¸l ¸¸¸_¸
Artinya: Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.( Q.S. al-Anbiya:107)

E. Materi Pendidikan (Laku dan Isi Pengajaran)
Materi pendidikan merupakan perencanaan yang dihubungkan dengan
kegiatan pendidikan ( belajar mengajar ) untuk mencapai sejumlah tujuan.
197
Oleh
karena itu materi pendidikan budi pekerti harus mengacu pada tujuan yang telah
ditetapkan sehingga materi pendidikan budi pekerti tidak boleh berdiri sendiri dan
terlepas dari kontrol tujuannya. Di samping itu materi pendidikan budi pekerti
harus terorganisir secara rapi dan sistematis, sehingga dapat memudahkan tujuan
yang dicitacitakan.
Dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara
haruslah sesuai dengan tingkatan umur para peserta didik. Hal ini dikarenakan
seorang guru harus memahami tentang kondisi psikis dari peserta didik dengan
tujuan bahwa ketika materi pendidikan disampaikan harus dapat dipahami dan

197
M. Ahmad, dkk., Pengembangan Kurikulum, ( Bandung : Pustaka Setia, 1998 ), hal.
10
dicerna secara utuh. Sehingga Ki Hadjar membagi empat tingkatan dalam
pengajaran pendidikan budi pekerti, adapun materi pendidikan tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Taman Indria dan Taman Anak (5-8 tahun)
Pada tingkatan ini materi atau isi pendidikan budi pekerti berupa
pengajaran pembiasaan yang bersifat global dan spontan atau
occasional.
198
Artinya materi yang disampaikan bukan teori yang
berhubungan dengan kebaikan dan keburukan melaikan. Bagaiamana
peserta didik dapat mengetahui kebaiakan dan keburukan melalui tingkah-
laku dari peserta didik itu sendiri. materi pengajaran budi pekerti bagi
anak yang masih di sekolah ini berupa, latihan mengarah pada kebaikan
yang memenuhi syarat bebas yaitu sesuai kodrat hidup anak. Materi ini
dapat dilaksanakan melaui peran pendidik dalam membimbing, membina
dan mengoreksi tingkah-laku dari masing-masing peserta didiknya.
Sebagai contoh dalam pengajaran budi pekerti tersebut, yaitu berupa
anjuran atau perintah antara lain: ayo, duduk yang baik; jangan ramai-
ramai; dengarkan suaraku;bersihkan tempatku; jangan mengganggu
temanmu, dan sebagainya, yang terpenting dalam penyampaiannya harus
diberikan secara tiba-tiba pada saat-saat yang diperlukan.
199

b. Taman Muda (umur 9-12 tahun)
Menurut Ki Hadjar Dewantara pada anak-anak usia 9-12 tahun sudah
masuk pada periode hakikat, yakni anak-anak sudah dapat mengetahui

198
Ki Hajar Dewantara, Bagian I Pendidikan,, hlm. 487
199
Ibid.
tentang hal baik dan buruk. Sehingga pengajaran budi pekerti dapat di
ajarkan melalui pemberian penertian tentang segala tingkah-laku kebaikan
dalam hidupnya sehari-hari.
200
Didalam penyampainnya masih
menggunakan metode occasional yaitu melalui pembiasaan dan
divariasikan dengan metode hakikat dalam artian setiap anjuran atau
per4intah perelu di jelaskan mengenai maksud dan tujuan pendidikan
budi pekerti, yang pokok tujuannnya adalah mencapai rasa damai dalam
hidup batinya, baik yang yang mengenai hidup dirinya sendiri maupun
hidup masyarakatnya. Yang perlu diperhatikan dalam pengajaran ini
menurut Ki Hadjar Dewantara bahwa anak-anak dalam periode hakikat
masih juga perlu melakukan pembiasaan seperti dalam periode syariat.
201

c. Taman Dewasa (umur 14-16 tahun)
Periode ini merupakan awal dimulainya materi yang lebih berat karena
pada priode inilah anak-anak isamping meneruskan pencarian pengertian,
mulai melatih diri terhadap segala laku yang sukar dan berat dengan niat
yang disengaja.
202
Pada priode ini juga, anak telah masuk pada periode
“tarekat”
203
yang dapat di wujudkan melalui kegiatan sosial, seperti
pemberantasan buta huruf, pengumpulan uang, pakaian, makanan, baca-
bacaan dan sebagainya untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin
atau orang-orang korban bencana alam dan sebagainya. Dan ketika

200
Ibid.hlm488
201
Periode syariat dapat diartikan periode anak kecil yaqng masih menggunakan metode
pembiasaan dalam setiap pengajaran(Lihat Ki Hajar Dewantara, Bagian I Pendidikan,, hlm. 485).
202
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit., hlm. 488
203
Tarekat disini merupakan tingkatan ketiga dalam system pemberian pengajaran yang
mempunyai arti Laku yakni perbjuatan yang dengan sengaja kita lakukan dengan maksud supaya
kita melatih diri pribadi (lihat dalam Ki Hajar Dewantara, Bagian I Pendidikan,, hlm. 486)
pendidikan ini dilaksanakan di lingkungan perguruan muda (sekolah
menengah atas) maka dapat dilaksanakan melalui pendidikan kesenian dan
olah raga. Dan inti dari pengajaran pendidikan pada periode ini adalah
semua laku (tidakan) yang disengaja yang memerlukan kekuatan
kehendak (usaha) dan kekuatan tenaga (aplikasi).
204

d. Taman Madya dan Taman Guru (umur 17-20)
Yaitu tempat pendidikan bagi anak-anak yang sudah benar-benar dewasa,
pada periode inilah anank-anak telah memasuki periode ma’rifat yang
artinya mereka telah dalam tingatan pemahaman. Yaitu biasa melakukan
kebaikan, meninsyafi (menyadari) apa yang menjadi maksud dan
tujuan.
205
Pengajaran budi pekerti yang harus diberikan pada periode ini
adalah berupa ilmu atau pengetahuan yang agak mendalam dan halus.
Yaitu materi yang bekaitan dengan ethik dan hukum kesusilaan. Jadi
bukan hanya berkenaan dengan kesusilaan saja melainkan juga tentang
dasar-dasar kebangsaan, kemanusiaan, keagamaan, kebudayaan, adat
istiadat dan sebagainya.

Melihat dari meteri pendidikan budi pekerti di atas dapat kita dipahami
bahwa Ki Hadjar Dewantara menghendaki bahwa dalam penyampaian pendidikan
budi pekerti haruslah disesuaikan dengan umur si peserta didik. Tahapan tersebut
disesuaikan dengan tingkatan psikologis methodis yang dikembangkan oleh Ki
Hadjar Dewantara. Menurut penulis dari materi pendidikan budi pekerti di atas

204
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit., hlm. 489
205
Ibid., hlm. 489
merupakan materi pendidikan operasional. Dengan kata lain materi tersebut
merupakan cara untuk meninternalisasikan nilai-nilai budi pekerti. materi yang
sesungguhnya masih membutuhkan materi yang yang bersentuhan lansung dengan
peserta didik. Berikut penulis paparkan beberapa pendapat tentang materi
pendidikan budi pekerti:
Menurut Hamzah Ya'kub dan Barnawi Umary, materi – materi pendidikan
akhlak (budi pekerti) di bagi dua kategori : pertama, materi akhlak mahmudah,
yang meliputi : dapat dipercaya (Al amanah), benar / jujur (Ash sidqah), menepati
janji (Al wafa'), adil (Al adalah), memelihara kesucian hati (Al iffah), Al haya'
(malu)
206
, Al ihlas (tulus), Ash shabru (sabar), Ar rahmah (kasih sayang), Al afwu
(pemaaf), Al iqtisshad (sederhana), Al khusu', As sakha (memberi), At tawadhu'
(rendah hati), Asy-syukur (syukur), Al-tawakal (berserah diri), Al-sajaah
(pemberani)
207

Materi-materi tersebut di atas apabila sukses tersosialisasikan oleh
pendidik kepada anak didik, maka sinyalemen al ghazali yang mengatakan materi
pendidikan akhlak hendaknya dapat menuju pada tujuan pendidikan yaittu
mendekatkan diri kepada Tuhan akan tercapai. Kedua, materi pendidikan akhlak
madzmumah (tercela) meliputi : khianat, dusta, melanggar janji, zalim, bertutur
kata yang kotor, mengadu domba, hasud, tamak, pemarah, riya', kikir, takabur,
keluh kesah, kufur ni'mat, menggunjing, mengumpat, mencela, pemboros,
menyakiti tetangga, berlebih -lebihan, membunuh.
208


206
Hamzah ya'qub, Op. Cit, hlm. 98 - 100
207
Barnawie Umary, Materi Akhlak, ( Solo : Ramadhani, 1996 ) hlm. 44 - 45
208
Ibid, hlm. 56 - 58
Titik tekan pada penulisan skripsi ini adalah pada etika Islam (akhlak).
Batasan-batasan baik dan buruk mengenai tingkah laku manusia dilihat dari sudut
pandang Islam yang berdasar pada al- Qur’an dan al-Hadis. Islam bukan hanya
agama dalam pengertian umum melainkan juga merupakan suatu sistem
kehidupan (bukan hanya sistem sosial) yang bulat dan terpadu, yang ajarannya
demikian intens dan luas meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk akhlak.
209

Di samping itu dalam akhlak bukan saja mengemukakan pedoman-pedoman yang
dikehendaki untuk berlaku sebagaimana dalam akhlak normatif, melainkan juga
mengandung ajaran moral dan bahkan juga sebagai art of life. Beberapa dimensi
akhlak yang dapat ditulis dalam skripsi ini meliputi beberapa hal, yaitu:
1) Akhlak terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran
bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji.
210
Beberapa
butir akhlak terhadap Allah diantaranya:
a) Bertuhankan kepada Allah harus didasarkan atas tauhid. Allah maha
esa, tempat memohon, tidak berputra dan berputrakan dan tidak ada
sesuatu apapun yang menyamainya.
b) Islam berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah: sholatnya,
ibadahya, hidupnya, matinya dan semua hal diperuntukkan kepada
Allah, Tuhan semesta alam.
c) Allah merupakan sumber hukum dan sumber moral, melalui al-Qur’an
dan al-Hadis.

209
Tohari Musnamar, Etika dan Prinsip Pendidikan Islam, Sumbangannya Terhadap
Pendidikan Islam, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 35.
210
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an., (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 264.
d) Setiap perbuatan hendaknya didasarkan atas mencari ridha Allah,
lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah semata.
211

2) Akhlak terhadap sesama manusia
Akhlak terhadap sesama manusia termasuk terhadap diri sendiri
Banyak sekali rincian yang dikemukakan al-Qur’an berkaitan dengan
perlakuan terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya
dalam bentuk larangan melainkan hal-hal negatif seperti membunuh,
menyakiti badan atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, melainkan
juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib seseorang
dibelakang.
212
Beberapa butir akhlak terhadap sesama manusia maupun
kepada diri sendiri antara lain:
a) Al-Qur’an menekankan perlunya privasi (kekuasaan atau kebebasan
pribadi ) seperti tersebut dalam surat an-Nur: 27, yaitu:
!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´ , ¸ ¦¡l>.. !´.¡`,, ´¸¯,s ¯¡÷¸.¡`,, _.> ¦¡´.¸·!.`.·
¦¡.¸l.·´ ¸ ´_ls !¸¸l>¦ ¯¡>¸l: ¸¯,> ¯¡>l ¯¡>l-l _¸`¸´.. ¸__¸

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki
rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi
salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu,
agar kamu (selalu) ingat. (QS. An-Nur: 27)

b) Salam yang diucapkan itu wajib dijawab dengan salam yang serupa
bahkan juga dianjurkan agar dijawab dengan salam yang lebih baik.
(QS. An-Nisa: 86)

211
Tohari Musnamar, op. cit., hlm. 88-91.
212
M. Quraish Shihab, op. cit., hlm. 266-267.
¦:¸|´¸ ,.,¸¯,`> ¸«,¸>.¸, ¦¡,> · ´_.>!¸, !¸.¸. ¸¦ !>¸:'¸ ¿¸| ´<¦ ¿l´ _ls ¸_´
¸,`_: !´,,¸.> ¸__¸
artinya: Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih
baik dari padanya, atu balaslah penghormatan itu(dengan yang serupa)
. . . . (QS. An-Nisa: 86)

c) Setiap ucapan haruslah ucapan yang baik. (QS. Al- Baqoroh: 83)
:¸|´¸ !..> ¦ _.:,¸. _¸., _,¸,´¸`.¸| ¸ ¿¸.,-. ¸¸| ´<¦ ¸_¸.¸]´¡l!¸,´ ¸ !.! .>¸|
_¸:´¸ _¸¯¸1l¦ _...´,l¦´ ¸ ¸_,¸÷. .´ ,l¦´ ¸ ¦¡l¡·´¸ ¸_!.l¸l !´.`.`> ¦¡.,¸·¦´ ¸
:¡l¯.l¦ ¦¡.¦´,´ ¸ :¡é¸l¦ ¯¡. `¸.,l´¡. ¸¸| ¸,¸l· ¯¡÷.¸. ¸..¦´¸
_¡.¸¸-¯. ¸__¸
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil
(yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat
kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan
orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada
manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak
memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu
selalu berpaling.

d) Bila kita berbicara harus sesuai dengan keadaan dan kedudukan mitra
bicara serta harus berisi perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab: 70)
!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´ , ¦¡1.¦ ´<¦ ¦¡l¡·´¸ ¸¯¡· ¦´.,¸. . ¸_¸¸
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada
Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab: 70)

e) Tidak wajar seseorang mengucilkan seseorang atau kelompok lain, tidak
wajar pula berprasangka buruk tanpa alasan, atau menceritakan
keburukan seseorang dan menyapa atau memanggilnya dengan sebutan
buruk (QS. Al-Hujurat: 11-12)
f) Hendaklah selalu menjadi orang yang pemaaf (QS. An-Nur: 22)
3) Akhlak terhadap lingkungan
Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di
sekitar manusia, baik binatang, tumbuhan maupun benda tak bernyawa. Pada
dasarnya, akhlak yang diajarkan al-.Qur’an kepada lingkungan bersumber dari
fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara
manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam.
Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan serta
pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
213
Dalam
pandangan Islam seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang
atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berati tidak memberi
kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
214
Binatang,
tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah SWT.
Karena itu dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 38 ditegaskan bahwa binatang
melata dan burung-burungpun adalah umat seperti manusia juga, sehingga
semuanya tidak boleh diperlakukan secara aniaya. Dalam QS. Al-Hasyr : 5
disebutkan bahwa semua hal adalah milik Allah termasuk tumbuh-tumbuhan,
sehingga semua perlakuan hendaknya dilakukan atas izin Allah karena manusia
akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua nikmat yang diperoleh. Alam raya
kelak ditundukkan Allah untuk manusia. Manusia dapat memanfaatkannya dengan

213
M. Quraish Shihab, op. cit., hlm. 270.
214
Ibid.
sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak boleh tunduk dan
merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah ditundukkan Allah untuknya.
Ia tidak boleh diperbodoh oleh benda-benda itu sehingga mengorbankan
kepentingan sendiri.
215

F. Metode Pendidikan
Dalam pendidikan telah dikenal beberapa aspek yang penting dsan
berpengaruh terhadap kesuksesan dalam mewujudkan tujuan pendidikan, salah
satunya adalah aspek metode pengajaran. Hal ini dikarenakan metode pengajaran
terkait dengan proses interaksi dan komunikasi antara pendidik dengan peserta
didik. Menurut Ki Hadjar Dewantara secara umum metode pendidikan dan
pengajaran telah terangkum dalam satu sistem yang dikenal dengan “among
methode” atau sistem among. Among memilki arti menjaga, membina, dan
mendidik,anak dengan kasih sayang.
216
Hal ini dapat ditemukan dalam 7 azas
taman siswa yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922
217
dan
menurut kondisi saat itu yang berisikan:
”sang anak harus tumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu
sekali untuk segala kemadjuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluas-
luasnja. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban
(regeering-tuch en orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang
anak. Jang kita pakai sebagai alat pendidikan jaitu pemeliharaan dengan
sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnja hidup anak, lahir dan batin
menurut kodratnja sendiri. Itulah yang kita namakan ”among methode”
Selandjutnja dalam butir kedua berbunji ”peladjaran berarti mendidik
anak-anak akan mendjadi manusia jang merdeka batinnja, merdeka
fikirannja dan merdeka tenaganja.”


215
Ibid., hlm. 272
216
Ki Priyo Dwiarso, sistem among mendidik sikap merdeka lahir dan
batin,www.tamansiswa.com, akses 7 juni 2008,jam 07.00 WIB
217
Ki Hajar Dewantara, Op. Cit., hlm. 48
”Among methode” adalah Pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk
mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri.
218

Sistem among mengemukkan dua dasar
219
:
1. Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan
kekuatan lahir dan batin, hingga dapat hidup merdeka (dapat berdiri
sendiri).
2. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai
kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.
Dalam lingkup pendidikan budi pekerti Ki Hadjar Dewantara memilki
metode pengajaran dan pendidikan tersendiri yang terdiri atas tiga macam metode
yang didasrkan pada urutan pengambilan keputusan berbuat, yang artinya ketika
kita bertindak haruslah melihat dan mencermati urutan-urutan yang benar
sehingga tidak terdapat penyesalan di kemudian hari. Metode tersebut antara lain
adalah: ngerti (mengerti), ngrasa (merasakan)dan ngelakoni (melaksanakan).
220

Dari tiga macam metode pengajaran budi pekerti yang dikembangkan oleh
Ki Hadjar Dewantara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Metode Ngerti
Metode Ngerti dalam pendidikan budi pekerti yang dikembangkan
oleh Ki Hadjar Dewantara, mempunyai maksud memberikan pengertian
yang sebanyak-banyaknya kepada anak. Didalam pendidikan budi pekerti
anak diberikan pengertian tentang baik dan buruk. Berkaitan dengan budi

218
Ki Hajar Dewantara, Log. Cit., hlm. 48
219
I. Djumhur dan H. Danasupatra, Sejarah Pendidikan, (Bandung: CV. Ilmu, 1976),
hlm. 174
220
Muhammad Tauchid, Perjuangan Hidup Ki Hadjar Dewantara,
(Yogyakarta:MLPTS,1963), hlm.57
pekerti ini seorang pamong (guru) ataupun orang tua harus berusaha
menanamkan pengetahuan tentang tingkah-laku yang baik, sopan-santun
dan tata krama yang baik kepada peserta didiknya. Dengan harapan peserta
didik akan mengetahui tentang nilai-nilai kebaikan dan dapat memahami
apa yang dimaksud dengan tingkah- laku yang buruk yang dapat
merugikan mereka dan membawa penyesalan pada akhirnya. Selain itu
pamong juga memiliki tugas untuk mengajarkan tentang hakikat hidup
bermasyarakat, berbangsa dsan bernegara serta beragama. Dengan tujuan
akhir peserta didik dirahkan untuk mampu menjadi manusia yang merdeka
dan memahami pengetahuan tentang perilaku baik dan buruk serta
memliki budi pekerti (akhlak) yang luhur (mulia).
2. Metode Ngrasa
Metode yang kedua adalah metode Ngrasa yang merupakan kelanjutan
dari metode Ngerti, metode pendidikan budi pekerti merupakan metode
yang bertahap yang merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lainnya.yang dimaksud dengan metode Ngrasa
adalah berusaha semaksimal mungkin memahami dan merasakan tentang
pengetahuan yang diperolehnya. Dalam hal ini peserta didik akan dididik
untuk dapt memperhitungkan dan membedakan antara yang benar dan
yang salah.
3. Metode Nglakoni
Metode Nglakoni merupakan tahapan terakhir dalam metode pengajaran
budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yang
dimaksud dengan metode Ngelakoni adalah mengerjakan setiap tindakan,
tanggung jawab telah dipikirkan akibatnya berdasarkan pengetahuan yang
telah didapatnya. Jika tindakan telah dirasakan mempunyai tanggungg
jawab, tidak mengganggu hak orang lain, tidak menyakiti orang lain maka
dia harus melakukan tindakan tersebut.
Dari metode pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hadjar
Dewantara tersebut di atas menurut penulis merupakan metode pengajaran yang
menekankan kepada penyadaran diri dari masing-masing peserta didik. Hal ini
dapat dilihat dari tahapan-tahapan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara
yang melihatkan pentingnya sebuah tindakan.
Dari macam-macam metode diatas penulis akan memaparkan beberapa
pendapat tentang metode pendidikan budi pekerti (akhlak). Dalam pendidikan
akhlak terdapat metode-metode spesifik untuk diterapkan. Dalam konteks ini al-
Qur’an telah menegaskan dalam QS. Al-Maidah ayat 35, yang berbunyi
!¸¯,!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´ , ¦¡1.¦ ´<¦ ¦¡-.¯,¦´¸ ¸«,l¸| «¦,¸.´¡l¦ ¦¸.¸¸.>´ ¸ _¸·
.¸«¸¦,¸,. ¯¡÷l-l _¡>¸l±. ¸__¸
Artinya:Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Menurut Athiyah al-Ibrasyi, metode yang praktis dan efektif bagi
pendidikan akhlak antara lain:
1) Pendidikan secara langsung, dengan cara memberi petunjuk ataU nasehat,
menjelaskan manfaat dan bahaya, menuntun pada amalamal baik,
mendorong mereka berbudi pekerti tinggi, dan menghindari hal-hal
tercela.
2) Pendidikan secara tidak langsung, dengan jalan seperti mendiktekan sajak-
sajak, syair-syair, kata-kata hikmah dan nasehat-nasehat.
3) Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak didik dalam
rangka mendidik akhlak, contohnya kesenangan anak meniru sesuatu,
maka guru seyogyanya menghias diri dengan akhlak mulia.
221
Menurut
Abdurrahman an-Nahlawi, metode pendidikan meliputi: metode hiwar,
metode kisah, metode amtsal (perumpamaan), metode teladan, metode
pembiasaan diri dan pengalaman, metode pengambilan pelajaran dan
peringatan, metode targhib dan tarhid (janji dan ancaman).
222
Sedangkan
Muhammad Quthb berpendapat bahwa metode yang digunakan adalah
metode teladan, metode nasehat, metode hukuman, metode cerita, metode
kebiasaan, metode penyaluran kekuatan, metode mengisi kekosongan, dan
metode hikmah suatu peristiwa.
223

Dari berbagai pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa metode
yang dapat digunakan dalam pendidikan akhlak adalah:
1) Metode Teladan
Pendidikan dengan teladan berarti pendidikan dengan memberi
contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berfikir, dan sebagainya.
dalam hal belajar, anak didik umumnya lebih mudah menangkap yang

221
M.Athiyah al-Ibrasyi, Op.Cit.,hlm.106-108
222
Djasuri,Pengajaran Akhlak, dalam Chabib Thoha,dkk.(eds), Metodologi Pengajaran
Agama, (Yogyakarta: IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar,1999),hlm.123-125
223
Ibid.,hlm.126
kongkrit daripada yang abstrak. Keteladanan dalam pendidikan merupakan
bagian dari sejmlah metode yang efektif dalam mempersiapkan dan
membentuk anak didik secara spiritual, moral dan sosial, sebab seorang
pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak. Al-Qur’an
menunjukkan pentingnya keteladanan dalam pendidikan. Al-Qur’an
menggambarkan pribadi rasulullah SAW. Sebagai figur teladan, seperti
tersebut dalam Al-Qur’an surat al- Ahzab ayat 21, yang berbunyi:
.1l ¿l´ ¯¡>l _¸· ¸_¡.´¸ ¸<¦ :´¡`.¦ «´. .> _.¸l ¿l´ ¦¡`>¯¸, ´<¦ ¸¯¡´,l¦´¸
¸¸>¸¦ ¸´:´¸ ´<¦ ¦¸,¸:´ ¸_¸¸
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)





2) Metode Kisah
Dengan menggunakan metode kisah, dalam interaksi belajar
mengajar mampu mempengaruhi seseorang yang membacanya atau
mendengarnya, sehingga dengan itu dia tergerak hatinya untuk melakukan
kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan
kisah-kisah tentang pendidikan akhlak seperti tersebut dalam Al-Qur’an
surat Yusuf ayat 111 yang berbunyi:
.1l _l´ _¸· ¯¡¸¸¸..· :´¸¯¸¸s _¸|`¸¸¸¸ ¸¸.,l¸¦
Artinya: Sesungguhnya dalam cerita mereka itu ada pelajaran
bagi orang-orang yang berakal . . . . (QS. Yusuf: 111)

3) Metode Nasehat
Al-Qur’an penuh dengan muatan-muatan dan untaian nasehat,
bahkan al-Qur’an sendiri menyebutkan bahwa kedatangannya itu sebagai
nasehat bagi manusia, sebagaimana tesebut dalam firman Allah QS. Yunus
: 57 yang berbunyi:
!¸¸!., '_!.l¦ .· ¡>.´ ,!> « L¸s¯¡. _¸. ¯¡÷¸,¯¸ ",! ±¸:´¸ !.¸l _¸· ¸¸¸.¯.l¦
_´.>´ ¸ «´.-´¸´ ¸ _,¸.¸.¡.l¸l ¸__¸
Artinya: Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit
yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahnat bagi
orangorang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

4) Metode Targhib dan Tarhid
Yaitu metode yang dapat membuat senang dan membuat takut.
Dengan metode ini kebaikan dan keburukan yang disampaikan kepada
seseorang dapat mempengaruhi dirinya agar terdorong untuk berbuat
baik.
224

G. Lingkungan Pendidikan
Sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dibahas diatas yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seuthnya. Dalam hal ini, manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan
Ynag Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan

224
Djasuri, “Pengajaran Akhlak”, dalam Chabib Thoha, dkk. (eds), Metodologi
Pengajaran Agama, (Yogyakarta: IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 1999), hlm.
126
keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan
mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.
225
Dalam
rangka mewujudkan tujuan pendidikan tersebut sekiranya terdapat beberapa unsur
yang terlibat didalam yang berfungsi sebagai transformator dari tujuan pendidikan
tersebut. Hal ini dikenal dengan istilah lingkungan pendidikan. Lingkungan
pendidikan ini dibatasi oleh lingkungan sosial anak, lingkungan sosial adalah
lingkungan di mana anak itu tinggal. Terdapat tiga lingkungan pendidikan, yaitu
keluarga sekolah dan masyarakat. Dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti
bukan hanya tanggung jawab sekolah saja, melainkan juga keluarga dan
masyarakat di sekitar peserta didik itu tinggal.hal ini didukung oleh pendapatnya
KI Hadjar Dewantara yang menyebutkan bahwa lingkungan pendidikan terdapata
tiga unsure yaitu yang dikenal dengan istilah “tripusat pendidikan” atau “tri sentra
pendidikan” yang terdiri dari alam keluarga, alam paguron (sekolah) dan alam
pemuda (masyarakat).
226
Berikut akan di jelaskan dari masing-masing lingkungan
pendidikan budi pekerti:
1. Keluarga
Keluarga terdiri atas dua kata yaitu kawula dan warga. Didalam bahasa
jawa kuno, kawula berarti hamba. Maksudnya, orang yang menghambakan diri.
Warga artinya anggota. Maksudnya, seseorang yang dalam lingkungannya
mempunyai hak dan kewajibanatas terselenggaranya sesuatu yang baik bagi
lingkungannya. Jadi, keluarga ialah suatu kesatuan (kelompok), dimana anggota-

225
Zahara Idris dan Lisma Jamal, Op. Cit., hlm.70
226
Ki Hajar Dewantara Op. Cit., hlm.70
anggotanya mengabdikan diri kepada kepentingan dan tujuan kelompok
tersebut.
227

Menurut Ki Hadjar Dewantara Keluarga merupakan pusat pendidikan
yang pertama dan utama,
228
dikatakan demikian karena keluarga merupakan
tempat pendidikan pertama kali yang dialami oleh anak. Yang memberikan dasar-
dasar pendidikan, sikap dan keteramopilan dasar seperti pendidikan agama.
Pendidikan dalam keluarga atau rumah tangga termasuk pendidikan luar sekolah
yang tidak dilembagakan. Maksudnya, frekuensi pendidikan pada anak sangat
besar dalam keluarga karena pendidikan disekolah terbatasi oleh ruang dan waktu.
Dalam hal ini Sigmund freud menjelaskan pada dasarnya kepribadian seseorang
telah terbentuk pada akhir tahun kelima dari umur orang itu.
229
Sehingga peran
dari keluarga untuk membimbing dan membina kepribadian anaknya sangat
diperlukan. Adapun tugas utama dari orang tua dalam pendidikan ini adalah
sebagai peletak dasar pendidikan budi pekerti, akhlak dan pandangan hidup yang
akan dipegang erat oleh anak.
230

2. Sekolah
Pendidikan di sekolah ialah pendidikan formal, yang dilaksanakan secara
teratur, sistematis, berjenjang, dan dibagi dalam waktu-waktu tertentu yang
berlansung dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
231
Dalam pendidikan
Islam sekolah dikenal dengan nama madrasah yang memilki arti tempat untuk
belajar. Istilah madrasah kini telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan

227
Zahara Idris dan Lisma Jamal, Op. Cit., hlm.84
228
Ki Hajar Dewantara, Op.Cit., hlm.70
229
Ibid.hlm. 85
230
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos,1997),hlm.86-87
231
Zahara Idris dan Lisma Jamal, Op. Cit., hlm.90
(terutama perguruan Islam). Di sekolah atau madrasah anak akan menerima
berbagai ilmu yang belum diterima dalam keluarga, seperti Matematika, IPS, IPA,
Bahasa, Sejarah, dan lain sebagainya.
Menurut Zahara Idris sebaiknya kegiatan-kegiatan di sekolah dapat
diarahkan seperti berikut:
232

a. Kebiasaan belajar yang keras dengan pemupukan sikap peserta didik.
Dalam hal ini, sikap rajin, disiplin, dan tekun belaja; gairah menulis
secara analitis; gemar,biasa, dan butuh membaca; suka meneliti;
terampil dan cekatan; mampu menerapkan teknologi secara memadai;
senag terhadap pekerjaan fisik dan intelektual.
b. Pendidikan mansia yang berbudi luhur dengan pembentukan peserta
didik yang bertakwa ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa; bermoral
pancasila dalam arti mampu menghayati dan mengamalkan,
kepribadian dengan memperhatikan sopan santun; bersikap dan
bertngkah laku dengan baik.
c. Pengembangan estetika dengan pembentukan peserta didik supaya
senantiasa memperhatikan kebersihan, ketertiban, keamanan,
keindahan dan rasa kekeluargaan yang di kenal dengan istilah (5K).
Sedangkan menurut al-Nahwali, seperti yang di kutip oleh abdul Mujib
dalam bukunya tugas-tugas yang diemban oleh madrasah (sekolah) setidaknya

232
Ibid.,hlm.90-91
mencerminkan sebagi lembaga pendidikan Islam yang lain. Tugas lembaga
madrasah sebagi lembaga pendidikan islam adalah:
233

1. Merealissasikan pendidikan Islam yang didasarkan atas prinsip piker,
akidah, dan tasyri’ yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan.
itu ialah agar peseta didik beribadah, mentauhidkan Allah SWT.,
tunduk dan patuh atas perintah-Nya serta syriat-Nya.
2. Memelihara fitrah anak didik sebagai insane yang mulia, agar ia tidak
menyimpag dari tujuan Alklah menciptakanya.
3. Memberikan kepada anak didik dengan seperangkat peradapan dan
kebudayaan Islami, dengan cara mengintregrasikan antara ilmu-ilmu
alam, ilmu sosial, ilmu esakta, yang dilandaskan atas ilmu-ilmu agama,
sehingga anak didik mampu melibatkan dirinya kepada perkembangan
Iptek.
4. Membersihkan pikiran dan jiwa dari pengaruh subyektivitas (emosi),
karena pengaruh zaman dewasa ini lebih mengarah kepada
penyimpangan fitrah manusiawi. Dalam hal ini, lembaga pendidikan
madrasah berpengaruh sebagi benteng yang menjaga kebersihan dan
kesalamatan fitrah manusia tersebut.
5. Memberikan wawasan nilai dan moral, serta peradapan manusia yag
membawa khazanah pemikiran anak didik menjadi berkembang.
6. Menciptakan suasana kesatuan dan kesamaan antar anak didik.
7. Tugas mengordinasi dan memnbenahi kegiatan pendidikan

233
Abdul Mujib,et al. Op. Cit., hlm.243
8. Menyempurnakan tugas-tugas lembaga pendidikan keluarga, masjid
dan pesantren.
3. Masyarakat
Setiap masyarakat mempunyai nilai-nlai sosial budaya dan peraturan-
peraturan yang dijunjung tinggi, dihayati, dan diamalkan. Nilai-nilai dan
peraturan-peraturan tersebut selalu berubah dan berkembang sesuai dengan
keadaan lingkungan pada waktu itu.
234
Sehingga pendidikan diharapkan mampu
untuk mengikuti perubahan tersebut dalam rangka untuk mencapai tujuan
pendidikan.
Masyarakat juga memliki pengaruh yang besar terhadap pendidikan
anak,terutama para pemimpin dan penguasa di dalamnya. Berkaitan dengan
pendidikan akhlak, moral atau etik, masyarakat berfungsi sebagai control sosial
yang baik, yaitu mampu untuk menjaga nilai-nilai luhur yang selama ini dipgang
dan dilaksanakan melalui tradisi masyarakat. Tugas yang tertpenting dari
masyarakat adalah bagaimanalingkungan masyarakt dapat membentuk
sekelompok masyarakat yang mempunyai kesadaran terhadap pentingnya
pendidikan, hal ini dapat dilaksanakan melalui pembentukan masyarakat belajar
(learning comunity).
Dari beberapa pendapat di atas dapat dipahami bahwa pendidikan budi
pekerti tidak hanya merupakan tanggung jawab sekolah, melainkan semua unsur
atau lingkungan yang ada. Sehingga menurut Jackon sperti yang dikutip oleh
Nurul Zuriah bahwa melihat pendidikan moral yang sangat luassehingga tidak

234
Zahara Idris dan Lisma Jamal, Op. Cit., hlm.99
mungkin pendidikan moral hanya menjadi tanggung jawab guru atau sekolah.
Oleh karena itu, timbul sebuah gagasan tentang pentingnya kurikulum
tersembunyi (hidden curriculum).
235
Dengan perkataan lain, pandangan ini
menuntut adanya tanggung jawab kolektif dari semua pihak terhadap keberhasilan
pendidikan budi pekerti.










BAB V
P E N U T U P
Pada bagian akhir dari pembahasan ini, penulis mengambil sebuah
konklusi atau kesimulan yang diperoleh berdasarkan analisis yang disesuaikan
dengan tujuan pembahasan skripsi ini. Penulis juga memberikan saran-saran yang
dirasa relevan dan perlu, dengan harapan dapat menjadi sebuah kontribusi pikiran
yang berharga bagi pendidikan umumnya, dan atau pendidikan Islam khususnya.

235
Nurul Zuriah Op. Cit., hlm. 25
A. Kesimpulan
Dari apa yang telah diuraikan tersebut di atas, penulis dapat
menyimpulkan sebagai berikut:
Konsep pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara dalam
menanamkan moral pada anak didik terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
Pertama, maksud dan tujuan pendidikan budi pekerti adalah berusaha
memberikan nasehat-nasehat, materi-materi, anjuran-anjuran yang dapat
mengarahkan anak pada keinsyafan dan kesadaran akan perbuatan baik yang
sesuai dengan tingkat perkembangan anak, mulai dari masa kecilnya sampai pada
masa dewasanya agar terbentuk watak dan kepribadian yang baik untuk mencapai
kebahagiaan lahir dan batin.Dalam proses pendidikan tersebut harus ada pendidik
dan anak didik. Kedua, pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki
Hadjar Dewantara berdasarkan pada asas pancadharma, yang terdiri dari kodrat
alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Ketiga, Dalam
penyampaian pendidikan budi pekerti, Ki Hadjar Dewantara menggunakan
metode yang disesuaikan urutan-urutan pengambilan keputusan berbuat, yaitu
metode ngerti, ngrasa dan nglakoni. Keempat, materi pendidikan budi pekerti
dapat diambil dari cerita rakyat, lakon, babad dan sejarah, buku karangan pada
pujangga, kitab suci agama dan adat istiadat. Kelima, Lingkungan pendidikan
budi pekerti yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat.
.B. Saran-saran
Dari hasil kesimpulan di atas, perlu kiranya penulis memberikan saran
konstruktif bagi dunia pendidikan, baik bagi pendidik maupun instansi yang
137
menangani pendidikan. Petama, Pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar
Dewantara memiliki maksud dan tujuan yang bagus, serta tetap relevan hingga
saat ini, di tengah dekadensi moral yang melanda bangsa ini. Di tengah orang-
orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk kepentingan pribadi dan
kelompok, di tengah orang-orang yang mementingkan material dari pada moral,
konsep pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara
perlu diterapkan dalam usaha penanaman moral negerasi muda saat ini.
Kedua, Sebagai seorang guru hendaknya dapat menjadi tauladan yang baik
bagi anak didiknya, sehingga seorang guru harus dapat “digugu dan ditiru” oleh
anak didiknya. Ketiga, perlunya sosialisasi terhadap para pendidik ataupun
masyarakat luas bahwa kekerasan, penindasan, serta penekanan-penekanan
terhadap peserta didik dalam proses belajar akan berimplikasi terhadap kondisi
perkembangan psikisnya dan hanya akan melahirkan pribadi-pribadi yang tidak
percaya diri, keras dan kasar, yang menyebabkan semakin jauh dari nilai-nilai
luhur agama (Islam) yang sangat mengagungkan rasa cinta dan kasih sayang
sebagai cerminan akhlak yang mulia.






































DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. 1999. Studi Agama Normativitas atau Historisasi. Yogyakarta:
Puataka Pelajar

Abrasyi, M. Athiyah Al, 2000. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Cet 5
Jakarta:Bumi Aksara

Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarid al-Thabari, tt., Tafsir al-Thabari, al-Musamma
Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, X, Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyahlm

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-
Qur’an Depag RI

Amin, Ahmad. 1995. Etika (Ilmu Akhlak), terj. Farid Ma’ruf, Judul Asli Al-
Akhlak. Jakarta: Bulan Bintang

Arifin, HM. 1995. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Jakarta: Bumi
Aksara,

________,2000. Ilmu Pendidikan Islam. Cet 5. Jakarta: Bumi Aksara

Arifin, Imron (ed.), 1996. Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan
Keagamaan. Malang: Kalimasahada

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta

________,1993. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta


AS, Asmaran. 2002. cet.III. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada

Azizy, A. Qadri. 2003. Pendidikan (Agama) untuk Membangun Etika Sosial,
(Mendidik Anak Sukses Masa Depan: Pandai dan Bermanfaat).
Semarang: Aneka Ilmu

Aziz, Erwati. 2003.Prinsip-prinsip Pendidikan Islam. cet. 1. Solo: Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri

Burhanudin, Tamyiz. 2001. Akhlak Pesantren, Cet. I Yogyakarta: PT. Bayu Indra
Grafika

Cahyoto. Budi Pekerti dalam Perspektif Pendidikan.Malang: Depdiknas-Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah-Pusat Penataran Guru IPS dan PMP
Malang

Chabib Thoha, dkk.(eds). 1999. Metodologi Pengajaran Agama. Yogyakarta:
IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar

Drajat, Zakiah. 1971. Membina Nilai-Nilai Moral Indonesia. Jakarta: Bulan
Bintang

Dewantara, KI Hadjar, 1962. Karya Bagian I Pendidikan. Yogyakarta: Majelis
Luhur Perguruan Taman Siswa

________,1963. Masalah Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Perguruan
Taman Siswa

Dewantara, Bambang S 1989. Ki hajar Dewantara, Ayahku. cet. I . Jakarta:
pustaka Harapan

Dewantara, Bambang S. 1989. 100 Tahun Ki Hajar Dewantara. Jakarta: Pustaka
Kartini

Dewantara, Bambang Sokawati. 1981. Mereka yang Selalu Hidup Ki Hajar
Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara. Jakarta; Roda Pengetahuan

Djatnika, Rachmat. 1992. Sistem Etika Islam (Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka
Panjimas

Darsini Soeratman, 1985. Ki Hajar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidkan
Indonesia

Daradjat, Zakiah. 1979. dkk. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang

________,1982. Membangun Mental dengan Pendidikan Agama, cet. IV. Jakarta:
Bulan Bintang

Dwiarso, Ki Priyo sistem among mendidik sikap merdeka lahir dan batin,
www.tamansiswa.com, akses 7 juni 2008,jam 07.00 WIB

Daulay, Haidar Putra. 2004. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional
di Indonesia. cet.I. karta: Prenada Media

Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989. Jilid 4. cet. I. Jakarta: Cipta Adi Pustaka

Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Pedoman Penulisan
Skripsi
Freire, Paulo. 1972. Pendidikan Kaum Tertindas,terjm. Tim redaksi asosiasi
pemandu latihan. Yogyakarta: LP3ES

Gunawan, 1992. Berjuang Tanpa Henti dan Tak Kenal Lelah Dalam Buku
Peringatan 70 Tahun Taman Siswa. Yogyakarta: Majelis Luhur
Perguruan Taman Siswa

Hadi, Sutrisno 1987. Metode Research I . Yogyakarta: Andi Offset
http: // beritasore.com/2008/11/17/era-global-sarat-dengan-masalah-moral.

Hadiwardoyo, P., Moral dan Masalahnya, (Yogyakarta: Kanisius, 1990)

Hah. Harahap dan Bambang Sokawati Dewantara. 1980. Ki Hadjar Dewantara
dan Kawan-kawan, Ditangkap, Dipenjara, dan Diasingkan. Jakarta:
Gunung Aguna

Hardjana, A.M. 1999. Penghayatan Agama: yang Otentik dan Tidak Otentik,.
Yogyakarta: Kanisius

Hitami, Munzir. 2004Mengonsep Kembali Pendidikan Islam. Pekanbaru: Infinite
Press

Idris, Zahara. 1981. Dasar-Dasar Pendidikan. Angkasa Raya

Idris, Zahara, dan Lisma Jamal, 1992. Pengantar pendidikan I. Jakarta:
PT.Gasindo

Imam Ibnu Majah. tt. Sunan Ibnu Majah. Semarang: Toha Putra

Ibnu Abdillah Muhammad bin Ahmad Anshor al-Qurthubi, tt., Tafsir al-Qurthubi,
al-Jami’ Liahkam al-Qur’an,VI, Kairo: Daarus Sa’ab

Iman, Muis Sad. 2004. Pendidikan Partisipatif. Menimbang Konsep Fitrah dan
Progresivisme John Dewey. Yogyakarta: Safiria Insania Press

I. Djumhur dan H. Danasupatra. 1976. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV. Ilmu

Imaduddin Ibnu Fida’ Ismail Ibnu Katsir, tt., Tafsir Ibnu Katsir, III, Dar al-Qalam
al-‘Araby

Kasihadi, Madyo Ekosusilo. R. B, 1988. Dasar-Dasar Pendidikan, (Semarang:
effhar offset

Ki Hariyadi. 1989. Ki Hadjar Dewantara sebagai Pendidik, Budayawan,
Pemimpin Rakyat, dalam Buku Ki Hadjar Dewantara dalam Pandangan
Para Cantrik dan Mentriknya. Yogyakarta: Majelis Luhur Perguruan
Taman Siswa

M. Ahmad, dkk., 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Pustaka Setia
Marimba, Ahmad D. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: al-
Ma’arif

Masduqi, Machbub 1983Tahdzibul Akhlaq, Diktat. Semarang: Fakultas Tarbiyah,
IAIN Walisongo

Muhaimin, dkk. 1999. Kontroversi Pemikiran Fazlur Rahman, Studi Kritis
Pembaharuan Pendidikan Islam. Cirebon: Pustaka Dinamika

Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993. Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis
dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigen Karya

Mujib, Abdul et al. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana

Mustofa, H.A. 1999. Akhlak Taswuf. Bandung: CV. Pustaka setia

Moleong, Lexi J. 1989. Metodologi Penelitiaan Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

Muththahhari, Murtadho. 1992. Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan
Agama. Bandung: Mizan

Nata, Abuddin 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. cet2. Jakarata: PT
grafindo persada

________, Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1997), hlm.
91-92

________, 1997. Akhlak Tasawuf. Cet. 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Nursalim, dkk. 2002. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Buku Kedua. Jakarta:
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam

Poerwadarminta, WJS. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka

Poerbakawatja, Soegarda. 1976. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung
Agung

Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1997. Pedoman
Pengajaran Budi Pekerti. Jakarta: Badan penelitian dan pengembangan
Pendidikan dan Kebudayaan, departemen pendidikan dan kebudayaan

Rosyadi, Khoiron. 2004. pendidikan profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ramayulis. 1997. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: Logos
Razak, Nasrudin. 1973. Dienul Islam.Bandung: PT.Alma’arif

Shihab, M. Quraish. 2000. Wawasan al-Qur’an. Bandung: Mizan

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya

Sudjana, Nana. 1993. Penilaian Hasil Belajar Mengajar.Bandung: Rosda Karya

Sojono dan Abdurrahman, 1999. Metode Penelitian: Suatu Pemikiran dan
penerapan. PT. Rineka Cipta

Syarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak, Peran Moral, Intelektual,
Emosional dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri.
Jakarta, PT. Bumi Aksara

Sardy, Martyn. 1985. Pendidikan Manusia. Bandung: Penerbit Alumni

Sagimun M.D. 1983. Mengenal Pahlawan-Pahlawan Nasional Kita, Ki Hajar
Dewantara. , Cet. Ke-II. Jakarta: Bhratara karya Aksara

Soeratman, Darsiti. 1983/1984. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan

Soewito, Irna H.N. Hadi 1985. Soewardi Soeryaningrat dalam Pengasingan,
Jakarta: Balai Pustaka

Sugiyono, 1989. Ki HajarDewantara Berani dan Menentang OO; Dalam Buku Ki
Hajar Dewantara dalam pendangan Cantrik dan Mantriknya,
Yogyakarta; Majelis Luhur Perguruan Taman Siswa)

Tauhid, Moch. 1963. Perjuangan dan ajaran Hidup Ki Hajar Dewantara.
Yogyakarta: Majelis Luhur Perguruan Taman Siswa

Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional; Suatu Tinjaun Kritis.
Jakarta: PT. Rineka Cipta

Tilaar, H.A.R. 2007. Mengindonesia Etnitas dan Identiras Bangsa Indonesia.
Jakarta: Rineka Cipta

Tim penyusun kamus pusat bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. cet I.
Jakarta: Balai Pustaka

Tatapangarsa, Humaidi. 1984. Pengantar Kuliah Akhlak. cet. IV. Surabaya: PT.
Bina Ilmu

Turmudzi, t.th .At. Al Jam’ As-Shahih. juz 3, Semarang: Toha Putra
Tafsir, ahmad. dkk, 2002. Moralitas al-Qur'an dan Tantangan Modernitas. Cet. I
Yogyakarta: Gama Media Offset

________, Ahmad. 2000. Pendidikan Agama dalam Keluarga.cet.III. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya

Tohari Musnamar, 1986. Etika dan Prinsip Pendidikan Islam, Sumbangannya
Terhadap Pendidikan Islam. Jakarta: CV. Rajawali

Tauchid, Muhammad. 1963. Perjuangan Hidup Ki Hadjar Dewantara.
Yogyakarta: Majelis Luhur Perguruan Taman Siswa

Undang-Undang Republik Indonesia NO.20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional, 2003. Semarang: Aneka Ilmu

Undang-undang tentang SISDIKNAS dan Peraturan pelaksanaanya, 2004.
Yogyakarta: CV. Tamima Utama

Umary, Barnawie. 1996. Materi Akhlak. Solo: Ramadhani

www.aatafsir.blogspot.com diakses pada tanggal 11 Februari 2009 pukul
22.00WIB

Yamin, Moh. 2009. Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar Dari Paulo Freire
Dan Ki Hajar Dewantara. Jogjakarta: Ar-ruzz Media

Zainuddin, M. 2004. Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Yogyakarta:
Pustaka Pesantren

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pkerti dalam Perspektif
Perubahan. cet.I Jakarta: PT.Bumi Aksara

Zuhairini, dkk. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. cet-V. Jakarta: Bumi Aksara







DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI
Nama : Dodit Widanarko
NIM/Jurusan : 05110142/Pendidikan Agama Islam
Dosen Pembimbing : Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag
Judul Skripsi : Pendidikan Budi Pekerti Perspektif Ki Hadjar Dewantara


No Tanggal Hal yang Dikonsultasikan Tanda Tangan
1 05 Februari 2009 Revisi Proposal
2 09 Februari 2009 ACC Proposal
3 12 Februari 2009 Pengajuan Bab I, II, III
4 15 Februari 2009 Revisi Bab I, II, III
5 17 Februari 2009 Pengajuan Bab IV, V
6 20 Maret 2009 Revisi Bab IV, V
7 25 Maret 2009 Pengajuan Seluruh Bab
8 02 April 2009 ACC Keseluruhan


Malang, 03 April 2009
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang


Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031





BIODATA PENULIS
Nama : Dodit Widanarko
TTL : Mojokerto, 11 Februari 1987
Alamat : Candiharjo, Ngoro, Mojokerto
Phone : 085648610480
E-mail : elwiedo@yahoo.co.id



Pendidikan Formal
 SD. Negeri Candiharjo (1999) di Mojokerto
 MTs. Negeri Mojosari (2002) di Mojokerto
 MA. Negeri Mojosari (2005) di Mojokerto
 Universitas Islam Negeri (UIN) Malang (2009) di Malang

Pendidikan Non Formal :
 Basic Training (LK-I) HMI (2005) di Malang
 Short Course of Research (2006) di Malang
 School of movement (2007) di Malang
 Diklat Jurnalistik (2007) di Malang
 Training To Trainer (2008) di Malang

Pengalaman Organisasi :
 Ketua Osis MA. Negeri Mojosari (2003)
 Ketua Ambalan P. Diponegoro MA. Negeri Mojosari (2003)
 Departemen P3A Koms. Tarbiyah UIN Malang (2006-2007)
 Sekretaris Bidang PTKP HMI Koms. Tarbiyah UIN Malang (2007-2008)
 Skretaris Bidang Pengembangan Kurikulum dan Instruktur BPL
Malang (2008-Sekarang)

Motto :
”LIFE IS MOVEMENT”



You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->