P. 1
PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)

|Views: 353|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 28, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

Sections

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN

PENDIDIKAN ISLAM
(STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)





SKRIPSI






diajukan oleh:
Nurul Lahir Sari Ifa
NIM: 05110095









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

April, 2009

ii

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN ISLAM
(STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)



SKRIPSI



Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)




diajukan oleh:
Nurul Lahir Sari Ifa
NIM: 05110095







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

April, 2009
iii



Kupersembahkan Skripsi Ini Teruntuk:
Allah Swt & Rasulullah Saw
Ya Allah Engkaulah Dzat yang telah menciptakanKu, memberikan karunia nikmat yang tak
terhingga, melindungiku, membimbingku dan mengajariku dalam kehidupanku, Serta Wahai Engkau
ya Rasulullah ya habiballah yang telah memberikanku pengetahuan akan ajaran Tuhanku dan
membawaku dari jurang kejahilan menuju kehidupan yang
terang benderang.

Ayah dan Ibu Tercinta
Yang telah berjuang dengan penuh keikhlasan, yang telah menorehkan segala kasih dan sayangnya
dengan penuh rasa ketulusan yang tak kenal lelah dan batas waktu. Special FoR My Mam Engkaulah
Inspirasiku di saat aku rapuh & ketika semangatku memudar.

Bapak Trio Supriyatno, M. Ag
Yang telah membimbing penulis sehingga dapat terselesaikan rangkaian skripsi ini dan semua dewan
guru / dosen UIN Malang yang telah mengajari penulis dengan setiap jiwa yang dengan ilmunya
penulis menjadi tahu.
Andrea Hirata
Yang dengan karyanya telah memberikan ispirasi ku untuk berkarya khususnya dalam pembuatan
skripsi ini. Wahai karya sastra “novel laskar pelangi” wujudmu bagaikan dewa penolongku, tanpamu
matilah imajinasiku, jiwaku haus untuk membacamu mesti larut menemaniku, namun ini tiada beban
bagiku untuk mewududkan harapanku.

Saudara-saudaraku Tercinta
Muhammad Nasihin (Kakak kandungku), Irawati, ida, Novi Erna Nofitasari, Nur Jannah, Ana Azkiya
Nabila, Pak Agus & Mbak Rohmah, Nurus Saadah, Kak Ruri (yang setia dalam sebuah penantian),
Keluarga Besar Bani Tasyim, Dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Teman-teman Seperjuangan:
Genk’s Ardisia (Aminatus Saidah, Maria Ulfa, Nur Fitria, Iin Aisyah) dalam rangkuman persahabatan
ini, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada
terkirakan. Me2y & Ruro dua si joli dari Madura yang selalu dekat di hati sekalipun jauh hakikatnya
kalian emang koncoku yang tokcer abis. Konco-konco Kertorejo 15 A (Al Fitriyah, Mbak Titin, Nida,
Lulu, Icha, & yayik), Keluarga Besar HMJ, PMII Condro D, IMADE, HIMALAYA dan UKM
Pramuka , Serta semua Sahabat - sahabat yang telah dengan rela membantu hingga skripsi ini selesai,
Thank’s For All…?!!
Dari Nama-nama yang dimaksud di atas
Mudah - mudahan amal baktinya diterima oleh Allah SWT, Amin amin…!!!
iv
MOTTO


¸ , · ,- · ¸ - ¸ ¸ - | ¸ = ¸ - |· , ¸ - | ¸ , « -| · = -
Artinya:
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah
orang mengerjakan yang ma’ruf, serta
berpalinglah dari pada orang-orang yang
bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)

(Diambil dari : Al Quran Dan Terjemahannya, Depag RI, 1974)




















v
Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Nurul Lahir Sari Ifa Malang, 10 Maret 2009
Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di
Malang


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Nurul Lahir Sari Ifa
NIM : 05110095
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
(Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Pembimbing,





Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
NIP. 150 311 702



vi
HALAMAN PERSETUJUAN

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
(STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)

SKRIPSI

Oleh:

Nurul Lahir Sari Ifa
Nim: 05110095


Telah Disetujui
Pada Tanggal 10 Maret 2009

Oleh:
Dosen Pembimbing:




Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
NIP. 150 311 702



Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam





Drs. H. Moh. Padil, M. Pd
NIP. 150 267 235
vii
SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.


Malang, 10 Maret 2009


Nurul Lahir Sari Ifa

viii
HALAMAN PENGESAHAN

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
(STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)


SKRIPSI
Dipersiapkan dan Disusun Oleh
Nurul Lahir Sari Ifa ( 05110095 )
Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal
13 April 2009 dengan nilai A
dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan
untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Pada Tanggal: 13 April 2009


Panitia Ujian


Ketua Sidang, Sekretaris Sidang /
Pembimbing,




Muhammad Walid, MA M. Amin Nur, MA
NIP. 150 310 896 NIP. 150 327 263


Pembimbing Penguji Utama



Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag Dr. H. Baharuddin, M. Pd. I
NIP. 150 311 702 NIP. 150 215 385

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang



Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031
ix
KATA PENGANTAR

«.l÷,,, =l««·,, «÷,l· «".ll «.l÷,,, =l««·,, «÷,l· «".ll «.l÷,,, =l««·,, «÷,l· «".ll «.l÷,,, =l««·,, «÷,l· «".ll

Segala syukur penulis panjatkan kepada Rabbul Izzati yang telah mengatur
roda kehidupan pada porosnya dengan keteraturannya, dan semoga hanya kepada-
Nyalah kita menundukkan hati dengan mengokohkan keimanan dan Izzah kita
dalam keridhoan-Nya. Karena berkat Rahman dan Rahim-Nya pula skripsi yang
berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi
Analisis Novel Laskar Pelangi” dapat terselesaikan dengan baik.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sang pejuang
sejati kita, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, karena atas perjuangan beliau kita
dapat merasakan kehidupan yang lebih bermartabat dengan kemajuan ilmu
pengetahuan yang didasarkan pada iman dan Islam.
Dengan penuh ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar–besarnya dan teriring do’a kepada semua pihak yang telah
membantu demi kelancaran penulisan skripsi ini. Secara khusus penulis
sampaikan kepada yang terhormat:
1. Ayahanda dan Ibunda (Slamet Ahadun (Alm), Muhammad Suwono & Siti
Julaikha) tercinta yang dengan sabar telah membimbing, mendo’akan,
mengarahkan, memberi kepercayaan, kerja keras, dan keagungan doa serta
pengorbanan materi maupun spiritual demi keberhasilan penulis dalam
menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang beserta stafnya yang telah memberikan fasilitas selama proses
belajar mengajar
3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony selaku Dekan fakultas Tarbiyah
x
4. Bapak Drs. H. Moh. Padil M. Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam beserta stafnya atas bantuan yang selama ini diberikan kepada penulis
dan kerja kerasnya dalam mengemban amanah.
5. Bapak Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag selaku dosen pembimbing skripsi atas
kesabaran, ketelitian, motivasi, masukan, dan keikhlasan dalam meluangkan
waktu, tenaga dan pikiran guna membimbing dan mengarahkan penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini dengan baik melalui media e-mail.
6. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini baik secara
spiritual, moril, maupun materiil.
Semoga segala bantuan yang diberikan kepada penulis tercatat sebagai
amal shalih yang diterima oleh Allah SWT.
Ada pepatah yang mengatakan tiada gading yang tak retak, begitu juga
dengan karya tulis ini, tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi
kesempurnaan skripsi ini dan guna perbaikan penulis selanjutnya.
Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan manfaat bagi penulis dan bagi
siapapun yang membacanya. Amin Ya Robbal’Alamin....


Malang, 10 Maret 2009
Penulis,


Nurul Lahir Sari Ifa





xi
DAFTAR TRANSLITERASI

Dalam naskah skripsi ini dijumpai nama dan istilah teknis yang berasal
dari bahasa Arab ditulis dengan huruf latin. Pedoman transliterasi yang
dipergunakan untuk penulisan tersebut adalah sebagai berikut :
A. Konsonan
ا = tidak dilambangkan ض = dl
ب = b ط = th
ت = t ظ = dh
ث = ts ع = ‘ (koma menghadap keatas)
ج = j غ = gh
ح = h ف = f
خ = kh ق = q
د = d ك = k
ذ = dz ل = l
ر = r م = m
ز = z ن = n
س = s و = w
ش = sy ئ = h
ص = sh ي = y

xii
Hamzah ( ء ) yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletak
diawal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan,
namun apabila terletak ditengah atau akhir kata maka dilambangkan dengan tanda
koma diatas ( ’ ), berbalik dengan koma ( ‘ ), untuk penganti lambang “ ع ”.
B. Vokal, panjang dan diftong
Setiap penulisan bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vocal fathah
ditulis dengan “a”, kasrah dengan “i”, dlommah dengan “u”, sedangkan
bacaan panjang masing-masing ditulis dengan cara berikut ;
Vocal (a) panjang = a^
Vocal (i) panjang = i^
Vocal (u) panjang = u^
Khusus untuk bacaan ya’ nisbat, maka tidak boleh digantikan dengan
“i”, melainkan tetap ditulis dengan “iy” agar dapat menggambarkan ya’ nisbat
diakhirnya. Begitu juga suara diftong, wawu dan ya’ setelah fathah ditulis
dengan “aw” dan “ay”. Misalnya Qawlun dan khayrun.
C. Ta’marbuthah ( ة )
Ta’marbuthah ditransliterasikan dengan “t” jika berada ditengah-
tengah kalimat, akan tetapi apabila Ta’marbuthah tersebut berada diakhir
kalimat, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya al-risalat
li al-mudarrisah, atau apabila berada ditengah-tengah kalimat yang terdiri dari
susunan mudlaf dan mudlaf ilayh, maka ditransliterasikan dengan
xiii
menggunakan "t" yang disambungkan dengan kalimat berikutnya, misalnya fi
rahmatillah.
D. Kata Sandang dan lafdh al-Jalalah
Kata sandang berupa “al” ( ل ا ) ditulis dengan huruf kecil, kecuali
terletak diawal kalimat, sedangkan “al” dalam lafdh jalalah yang berada
ditengah-tengah kalimat yang disandarkan (idhafah) maka dihilangkan.
Misalnya Al-Imam al-Bukhariy
E. Nama dan Kata Arab Terindonesiakan
Pada prinsipnya setiap kata yang berasal dari bahasa Arab harus ditulis
dengan menggunakan system Transliterasi ini, akan tetapi apabila kata
tersebut merupakan nama Arab dari orang Indonesia atau bahasa Arab yang
sudah terindonesiakan, maka tidak perlu ditulis dengan menggunakan system
translitersi ini. Contoh: Abdurrahman Wahid, Salat, Nikah

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel I : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Novel Laskar
Pelangi…………………………………………………………...84
Tabel II : Paparan Data Metode Pengajaran Nilai Yang Terkandung Dalam
Novel Laskar Pelangi…………………………………………...103
Tabel III : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Dapat Dikembangkan Dalam
Pendidikan Islam……………………………………………….106





























xv
DAFTAR GAMBAR



Gambar I : Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal,
Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan
Syahdan).
Gambar II : Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus.
Gambar III : Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam
novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal.
Gambar IV : Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan)

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Bukti Konsultasi
Lampiran 2 : Bukti Konsultasi Via E-mail
Lampiran 3 : Profile Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi)
Lampiran 4 : Sinopsi Novel Laskar Pelangi
Lampiran 5 : Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata
Lampiran 6 : Daftar Riwayat Hidup
xvii
DAFTAR ISI


HALAMAN SAMPUL......................................................................................i
HALAMAN JUDUL.........................................................................................ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................iii
HALAMAN MOTTO......................................................................................iv
HALAMAN NOTA DINAS.............................................................................. v
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................vi
HALAMAN PERNYATAAN.........................................................................vii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................viii
KATA PENGANTAR......................................................................................ix
HALAMAN TRANSLITERASI ....................................................................xi
DAFTAR TABEL ..........................................................................................xiv
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................xvi
DAFTAR ISI..................................................................................................xvii
HALAMAN ABSTRAK................................................................................xxi

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Balakang................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 5
C. Tujuan Penelitian.............................................................................. 5
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 6
E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ 7
xviii
F. Definisi Operasional ......................................................................... 8
G. Sistematika Pembahasan.................................................................. 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA.......................................................................... 11
A. Novel .............................................................................................. 11
1. Pengertian Novel ........................................................................ 11
2. Karakteristik Novel .................................................................... 12
3. Ciri-ciri Novel ............................................................................ 14
4. Unsur-unsur Novel ..................................................................... 16
5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel .................................................... 23
6. Peran Novel ................................................................................ 26
B. Konsep Dasar Pendidikan Nilai ..................................................... 27
1. Definisi Dan Orientasi Pendidikan Nilai.................................... 27
2. Landasan Pendidikan Nilai ........................................................ 32
3. Klasifikasi Pendidikan Nilai ...................................................... 51
C. Pengembangan Pendidikan Islam................................................... 56
1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam............................ 56
2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam.............................. 59
D. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam........... 61
1. Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam................... 61
2. Pendidikan Nilai Dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai
Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam................................. 63
3. Kontribusi Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan
Pendidikan Islam....................................................................... 65
xix
BAB III METODE PENELITIAN................................................................ 67
A. Pendekatan Penelitian.................................................................. 67
B. Data Dan Sumber Data ................................................................ 68
C. Teknik Pengumpulan Data........................................................... 69
D. Instrumen Penelitian .................................................................... 70
E. Analisis Data................................................................................ 71
F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan data .......................................... 74

BAB IV HASIL PENELITIAN...................................................................... 76
A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi ............................. 76
B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar
Pelangi ......................................................................................... 83
C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam
Novel Laskar Pelangi................................................................. 102
D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan
Islam........................................................................................... 105

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN....................................... 114
A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel
Laskar Pelangi............................................................................ 114
B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang
Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.................................. 138
C. Pembahasan Hasil Analisis nilai-nilai yang dapat dikembangkan
dalam pendidikan Islam............................................................. 141
xx
D. Pembahasan Hasil Analisis kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel
Laskar Pelangi terhadap Pengembangan Pendidikan Islam ...... 158

BAB VI PENUTUP...................................................................................... 162
A. Kesimpulan ............................................................................... 162
B. Saran .......................................................................................... 165

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xxi
ABSTRAK
Ifa, Nurul, Lahir Sari. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
(Studi Analisis Novel Laskar Pelangi). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam,
Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing Drs. Triyo
Supriyatno, M. Ag.


Rendahnya mutu Pendidikan Nasional disebabkan oleh kelemahan
pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih
dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai
secara bermakna. Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku
siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga
mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran
adegan porno yang diperankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidak
akan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai-
nilai yang berlaku di masyarakat.
Novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel yang isi pesannya
mengandung unsur pendidikan nilai. Disinilah, penulis tergugah ingin meneliti
dan menganalisis novel ini. Adapun judul penelitian ini adalah Pendidikan Nilai
Dalam Pengembangan Pedidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi).
Sedangkan rumusan masalahnya yaitu nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam
novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, bagaimana metode pengajaran nilai
yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, nilai-nilai apa saja terkandung
dalam novel Laskar Pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam,
dan apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap
pengembangan pendidikan Islam.
Dalam prakteknya, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang
berupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian
akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan
tersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan
dalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman
makna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks. Dari pemahaman
makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yang
terkandung dalam novel Laskar Pelangi.
Penggumpulan data penelitian ini menggunakan metode dengan
menggunakan analisis konten (Content Analysis). Maka kegiatan yang dilakukan
adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yang
mengemban gagasan tentang Nilai-nilai yang terkandung dalam novel Laskar
Pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-paragraf yang mengandung gagasan
tentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, (3)
paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat
dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang
mengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar
Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis
xxii
tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi.
Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan
pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai,
nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan
nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam novel
Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi yaitu nilai
personal, nilai sosial, dan nilai estetika. Sedangkan metode pengajaran nilai yang
terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah.
Kemudian nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang
terdapat dalam novel Laskar Pelangi adalah nilai aqidah, nilai syariah dan nilai
akahlak atau budi peketi. Dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar
Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi
berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai
Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan
kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas,
yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang
dibangun oleh seluruh sinergi positif.
Oleh karena itu, menurut hemat penulis, nilai-nilai yang terdapat novel
Laskar Pelangi baik nilai personal, nilai sosial, nilai seni, nilai aqidah, nilai
syariah, nilai akahlak (budi pekerti) merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkan
atau diajarkan di setiap lembaga pendidikan. Namun secara khusus untuk nilai
aqidah, syariah, dan akahlak (budi pekerti) lebih sesuai jika dikembangkan pada
Pendidikan Islam, karena ketiga nilai tersebut merupakan pokok ajaran dalam
Islam. Maka dari itu, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam
mengembangkan nilai-nilai tersebut, sebagai upaya untuk memanifestasikan atau
mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai
kemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik
pendidikan Islam. Dan hal ini akan dapat membantu pengembangan pendidikan
Islam untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.


Kata kunci: Novel Laskar Pelangi, Pendidikan Nilai, Pengembangan
Pendidikan Islam






1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Novel laskar pelangi merupakan sebuah produk karya sastra yang
mencakup nilai-nilai karya cipta kreasi yang mengandung nilai-nilai
keindahan. Nilai-nilai karya sastra tersebut bersumber dari kenyataan-
kenyataan yang hidup dan selalu berkembang di masyarakat sebagai bentuk
realitas yang objektif. Novel karya sastra yang ditulis oleh Andrea Hirata ini
mengandung esensi yang didalamnya banyak memberikan representasi
tentang pendidikan nilai. Dari representasi inilah, maka penulis merasa ingin
melakukan penyelidikan (analisis) terhadap novel laskar pelangi. Adapun
bagian isi novel yang menunjukkan hal itu adalah;
Pak Harfan memberikan pelajaran pertama kepada sepuluh muridnya
tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat
untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan sepuluh muridnya bahwa
hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan
keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau juga menyampaikan
sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dada serta
memberikan arah bagi murid-muridnya hingga dewasa, yaitu bahwa
hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima
sebanyak-banyaknya
1


Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan
sekarang aku menemukan kenyataan yang mempesona dalam sosiologi
lingkungan kami yang ironis. Disini ada sekolahku yang sederhana,
para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada
orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah
rimpah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu
adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap
hari
2


1
Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005), hlm. 24
2
Ibid., hlm. 84



2
Kutipan cerita di atas merupakan sekelumit representasi dari novel
lasakar pelangi yang patut diteladani bagi manusia khususnya para tenaga
pendidik dalam dunia pendidikan. Kutipan cerita di atas mengisyaratkan
bahwa seorang guru dalam proses pembelajaran memiliki peran dan fungsi
bukan hanya sebagai mentranformasikan knowledge, tetapi sekaligus juga
membimbing dan mengajarkan kepada peserta didik agar menyadari nilai
kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang
tepat dan pembiasaan yang bertindak konsisten. Bimbingan dan pengajaran
nilai-nilai inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai.
3

Pendidikan nilai secara bermakna sangat penting dalam menunjang
mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya
disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan
akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah
penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Mengapa
pendidikan nilai sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan.
Adapun masalah yang dihadapi oleh pendidikan saat ini, betapa sekolah
umum atau lainnya telah merebaknya kasus VCD purno yang dilakukan
oknum mahasiswa Itenas Bandung menambah panjang daftar asusila yang
dilakukan peserta didik, lalu muncul kasus yang serupa yang dilakukan para
yunior mereka di tingkat SMP dan SMU. Di Jawa Barat ada beberapa siswa
dan siswi SMU Negeri yang berbuat tidak senonoh di dalam kelas dengan

3
Rokhmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2004),
hlm. 119



3
masih menggunakan seragam sekolah. Dalam kasus lain seorang anak SMP
tega membunuh orang tuanya sendiri, di tempat lain seorang anak madrasah
ibtidaiyah bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP, bahkan
ada anak madrasah yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak
bisa dipakai karena basah terkena hujan.
4

Dalam kasus selanjutnya adalah praktik pendidikan sering dikesankan
sebagai sederetan instruksi guru dan murid-muridnya. Apalagi dengan istilah
yang sekarang sering digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan yaitu
sebagai pendidikan yang menciptakan manusia ”siap pakai”. Kata ini berarti
menghasilakan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan
persaingan bidang industri dan tegnologi. Memerhatikan secara kritis masalah
ini, tampak bahwa manusia dipandang layaknya material atau komponen
pendukung industri. Lembaga pendidikan sekedar mampu menjadi lembaga
produksi penghasil material atau komponen dengan kualitas tertentu yang di
tuntut pasar. Ironisnya, kenyataannya ini justru disambut antusias oleh banyak
lembaga pendidikan.
5

Saat sekarang ini, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa
membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga
mengkonsumsi minuman keras dan narkotika.
6


4
Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak,
Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm.
29
5
Ibid., hlm. 31
6
Tatik Rejeki, Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan (http:www.yahoo.com,
diakses 26 Februari 2008)



4
Disinilah proses penanaman pendidikan nilai sangat dibutuhkan di
lembaga pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik agar
memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya
secara integral dalam kehidupan.
Pendidikan nilai sangat erat hubungannya dengan pendidikan Islam.
Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengimplementasikan
pendidikan nilai sebagai suatu tindakan pendidikan. Value Education
(pendidikan nilai) dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam
memilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar.
Melalui pendidikan nilai, guru dapat mengevaluasi siswa, demikian pula
sebaliknya, siswa dapat mengukur kadar nilai yang disajikan guru dalam
proses pembelajaran. Singkat kata, dalam bentuk persepsi, sikap, keyakinan,
dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu disertakan. Bahkan
melaui nilai itulah manusia dapat bersikap kritis terhadap dampak-dampak
yang ditimbulkan pendidikan. Untuk itu, selain diposisikan sebagai muatan
pendidikan, nilai juga dapat dijadikan sebagai media kritik bagi setiap orang
yang berkepentingan dengan pendidikan dalam mengevaluasi proses dan hasil
pendidikan. Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa dengan adanya
penanaman pendidikan nilai dalam lembaga Pendidikan Islam, maka akan
dapat membantu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam proses
dan tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat skripsi yang
berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam



5
(Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)”, dengan harapan novel ini mampu
menjawab keterpurukan pendidikan Islam saat sekarang dan membawa
pendidikan Islam kelevel yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi
dalam pengembangan pendidikan Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas penulis formulasikan dalam rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya
Andrea Hirata ?
2. Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar
pelangi?
3. Nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat
dikembangkan dalam pendidikan Islam ?
4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap
pengembangan pendidikan Islam?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak
dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang
diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya.
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka
penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendiskripsikan nilai-nilai dalam novel laskar pelangi karya Andrea
Hirata,



6
2. Mendiskripsikan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel
laskar pelangi,
3. Mendiskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi
yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan
4. Mendiskripsikan kontribusi pendidikan nilai dalam novel ”laskar pelangi”
tehadap Pengembangan Pendidikan Islam.
D. Manfaat Penelitian
Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi
peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan ilmiah yang dilakukan secara
logis dan sistematis, agar penulisan ini harapkan bermanfaat:
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui nilai-nilai
yang terkandung dalam novel laskar pelangi, metode pengajaran nilai yang
terkandung dalam laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan
dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel
laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam.
2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi:
a. Pendidikan Islam, diharapkan pendidikan nilai menjadi bahan rujukan
dalam praktik sebagai pendukung dalam proses dan tujuan
pengembangan pendidikan Islam.
b. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), diharapkan guru dapat
merealisasikan penanaman pendidikan nilai semisal guru bertugas
bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang di
pundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa



7
yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.
Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya dapat mengembalikan
filosofi dasar pendidikan Indonesia, namun juga karena Indonesia
sebagai negara Pancasila, dapat kembali menumbuhkan nilai-nilai
luhur yang menjadi ciri kepribadian bangsa kita, seperti
keramahtamahan, kesopanan, gotong royong, tepa selira, dan lain-lain.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya menyediakan manusia
berintelektual tinggi, namun juga manusia yang merasa (peka)
terhadap kondisi sekitarnya dan mampu mengatasi situasi krisis yang
rumit sekali pun.
c. Peserta didik, pendidikan nilai untuk membekali individu menjadi
manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, dan
menjadi seseorang yang bertanggung jawab.
d. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan yang
terkait dengan nilai dan sebagai bekal peneliti apabila sudah terjun di
lapangan agar dapat membantu lembaga pendidikan Islam yang erat
kaitannya dengan praktik pendidikan nilai.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Pendidikan nilai merupakan masalah yang mendasar dan urgen dalam
proses dan tujuan pembelajaran di dunia pendidikan, pembahasan masalah
pendidikan nilai sangat kompleks sekali, maka dari itu untuk lebih
mensistematiskan pembahasan masalah ini tidak melebar terlalu jauh dari



8
sasaran sehingga akan memudahkan pembahasan dan penyusunan laporan
penelitian ini. Adapun ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini adalah
(1) Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya
Andrea Hirata? (2) Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung
dalam novel laskar pelangi? (3) Nilai-Nilai apa saja yang dapat
dikembangkan dalam pendidikan Islam dalam novel laskar pelangi? dan (4)
Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap
pengembangan pendidikan Islam? Adapun dalam pembahasan apabila ada
permasalahan diluar tersebut di atas maka sifatnya hanyalah sebagai
penyempurna sehingga pembahasan ini sampai pada sasaran yang dituju.
E. Definisi Oprasional
Agar pembahasan lebih fokus, maka perlu dicantumkan penjelasan
istilah dari skripsi berjudul: Pendidikan Nilai dalam Pengembangan
Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi), yakni:
1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan,
perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya
atau Kegiatan mengenali, mengidentifikasi, memberikan tanda-penanda
dan sebagainya berdasarkan pemikiran yang mendalam pada sebuah teks
atau keadaan,
2. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita
kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dan menonjolkan sifat
dan watak setiap pelaku,



9
3. Pendidikan Nilai adalah sebagai usaha untuk membimbing peserta didik
dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah,
kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada
pandangan agama tertentu atau penanaman dan pengembangan nilai-nilai
dalam diri seseorang, dan
4. Pengembangan Pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau
perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai-
nilai religi, estetika, sosial dan personal dengan tujuan untuk mewujudkan
perubahan tingkah laku peserta didik yang Islami, terampil, kreatif,
berjiwa sosial, dan mandiri dengan bekal nilai personal.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, penulis
memperinci dalam sistematika pembahasan sebagai berikut:
• BAB I : Pendahuluan, penulis membahas pokok-pokok pikiran untuk
memberikan gambaran terhadap inti pembahasan, pokok
pikiran tersebut masih bersifat global. Pada bab ini terdiri dari
latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, penegasan istilah;
• BAB II : Memaparkan tentang landasan teoritis yang berkaitan dengan
novel, pendidikan nilai, dan pengembangan pendidikan Islam;
• BAB III : Memaparkan tentang metode penelitian, yang meliputi tentang
rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik
pengumpulan data, instrument penelitian dan analisis data;



10
• BAB VI : Paparan data penelitian novel laskar pelangi yang meliputi;
deskripsi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel
laskar pelangi karya Andrea Hirata, deskripsi metode
pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi,
deskripsi nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam
pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel
laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam;
• BAB V : Pembahasan hasil analisis penelitian yang meliputi nilai-nilai
apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya
Andrea Hirata, metode pengajaran nilai yang terkandung
dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat
dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi
pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap
pengembangan pendidikan Islam;
• BAB VI : Penutup, pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari
pembahasan dan saran.

11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Novel
1. Pengertian Novel
Novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella, yang secara harfiah
berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita
pendek dalam bentuk prosa. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa
novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para
tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur
atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut.
7

Sumardjo memberikan pengertian novel sebagai cerita berbentuk
prosa dalam ukuran yang luas, di sini berkaitan dengan fisik novel maupun
unsur yang ada dalam novel tersebut, misalnya saja plot yang kompleks,
keaneka ragaman karakter dan cerita yang beragam. Sedangkan menurut
Husnan, novel adalah suatu karangan atau karya sastra yang lebih panjang
daripada cerpen atau lebih pendek daripada roman dan kejadian-kejadian
yang digambarkan melahirkan suatu konflik jiwa dan mengakibatkan suatu
perubahan nasib.
8

Viginia Woff mengatakan bahwa, suatu prosa atau novel adalah
sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan, merenungkan dan

7
Rini Wiediastutik S, Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri
Karya NH. Dini, Skripsi, (FKIP UMM, 2005), hlm. 9
8
Ibid..



12
melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan hasil, kehancuran,
atau tercapainya gerak gerik manusia.
9

Novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar
merupakan serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika di baca, tetapi
merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu.
10

Novel adalah sebuah cerita fiksi yang jumlah halamannya mencapai
berpuluh-puluh, ratusan, atau beratus-ratus, seperti: serial Harry Potter,
Load of The Ring, Eragon atau Ranggamorfosa Sang Penakhluk Istana.
11

Novel merupakan menceritakan suatu peristiwa pada rentang waktu
yang cukup panjang dengan beragam karakter yang diperankan oleh tokoh.
12

Dari beberapa pengertian novel di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa novel adalah suatu cerita panjang dengan berbagai karakter yang
mengisahkan kehidupan manusia, mulai dari konflik-konflik dan
permasalahannya secara rinci, detail, dan kompleks dengan proses berfikir
yang terstruktur.
2. Karakteristik Novel
Menurut Watson, karakteristik novel Indonesia adalah novel-novel
yang dimulai tahun 1920, yaitu novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Menurutnya novel Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui

9
Hardjana, Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hlm.
13
10
Sugihastuti dan Suhartono, Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 43
11
Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 287
12
Ameliawati, Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya
Ahmad Tohari, Skripsi, (FKIP UMM, 2006), hlm. 16



13
proses panjang yang terjadi sebelumnya, yaitu sejak perkembangan
komunikasi di Jawa dan Sumatera di pertengahan abad XIX.
13

Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman,
novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya
kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman
biasanya mengikuti aliran romantik. Sedangkan novel berdasarkan realisme,
dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari
hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya.
14
Berbeda dengan
cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atau
keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan.
Karakteristik novel Indonesia meliputi empat periode: (1) Angkatan
Balai Pustaka, (2) Angkatan Pujangga Baru, (3) Angkatan 45, dan (4)
Angkatan Sesudah 45.
1. Angkatan Balai Pustaka, pujangga yang termasuk angkatan Balai Pustaka
beserta karangannya: Marah Rusli dengan salah satu karyanya yang
berjudul Siti Nurbaya, keinginan Marah Rusli terhadap novel ini adalah
ia ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai
pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.
15

2. Angkatan Pujangga Baru, tokoh pujangga baru dan karyanya: Sutan
Takdir Alisjahbana dengan salah satu karyanya yang berjudul Layar

13
Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 87.
14
Yandianto, Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia (Bandung: M2S, 2004),
hlm. 160.
15
Ibid., hlm. 17.



14
Terkembang, keinginan Sutan Takdir Alisjahbana terhadap novel ini
adalah mendambakan pembaharuan pada corak kebudayaan bangsanya.
3. Angkatan 45, sastrawan dalam angkatan 45 dan karyanya yakni: Idrus
dengan salah satu karyanya yang berjudul Aki, keinginan Idrus terhadap
novelnya adalah ia berusaha menampilkan topik lain yang lebih luas dan
mendasar daripada hanya soal cinta, usaha yang disertai keyakinan penuh
akan menghasilkan apa yang dicita-citakan.
4. Angkatan Sesudah 45, setelah memulai proses yang cukup rumit
akhirnya didapatkan satu nama sastrawan yang termasuk kelompok
Angkatan Sesudah 45 atau Angkatan 66 ini yakni Montingo Busye
dengan salah satu karyanya yang berjudul Hari Ini Tak Ada Cinta,
keinginan pengarang terhadap novel ini adalah hendaknya kita
bertanggung jawab akan merugikan orang lain.
3. Ciri-ciri Novel
Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas
tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Dari segi jumlah
kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat
sehingga dalam proses pemaknaannya relative jauh lebih mudah daripada
memaknai sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias.
Berkaitan dengan masalah tersebut, Sumardjo memberikan ciri-ciri
novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah novel berbentuk tubuh cerita,
dirangkai dengan plot-plot kecil yang lain, karena struktur bentuk yang luas
ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan yang luas, (2)



15
Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan pendukung, sehingga
novel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi karakter, dalam novel
terdapat penggambaran karakter yang beragam dari tokoh-tokoh hingga
terjalin sebuah cerita yang menarik.
16

Adapun menurut Tarigan ciri-ciri novel diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Jumlah kata, novel jumlah katanya mencapai 35.000 buah;
b. Jumlah halaman, novel mencapai maksimal 100 halaman kuarto;
c. Jumlah waktu, waktu rata-rata yang digunakan untuk membaca novel
paling pendek diperlukan sekitar 2 jam (120 menit);
d. Novel bergantung pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku;
e. Novel menyajikan lebih dari satu impresi (kesan);
f. Novel menyajikan lebih dari satu efek;
g. Novel meyajikan lebih dari satu emosi;
h. Novel memiliki skala yang lebih luas;
i. Seleksi pada novel lebih ketat;
j. Kelajuan dalam novel lebih lambat;
k. Dalam novel unsur-unsur kepadatan dan intensitas tidak begitu
diutamakan.
17

Selain mempunyai ciri-ciri, novel juga mempunyai beberapa nilai
yang terkandung di dalamnya, antara lain:
1) Nilai moral yaitu nilai baik dan buruk yang terkandung dalam novel;

16
Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 10
17
Ibid., hlm. 10-11



16
2) Nilai religius yaitu nilai yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan
tokoh novel;
3) Nilai kemanusiaan yaitu nilai tentang tindakan tokoh dan kesesuaiannya
dengan hak asasi manusia;
4) Nilai kultural yaitu nilai yang berkaitan dengan budaya dalam novel.
18

4. Unsur-unsur Novel
Unsur-unsur novel meliputi beberapa hal yaitu: (a) tokoh, (b) latar, (c)
alur atau plot, dan (d) tema.
a) Tokoh dan Penokohan
1) Tokoh
Tokoh merupakan para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi.
Tokoh dalam fiksi ialah ciptaan pengarang, meskipun dapat juga
merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh
karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara
ilmiah. Dalam arti tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri
“hidup” atau memiliki derajat lifelikeness.
19

Dalam buku “Pengantar Apresiasi Karya Sastra”, tokoh
didefinisikan orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau
drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan
kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan
apa yang dilakukan dalam tindakan. Karena peristiwa dalam karya
sastra (novel) seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari,

18
Nurdjanah Kafrawi, dkk, Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3 (Jakarta: PT
Grasindo, 2002), hlm. 46
19
Wiyatmi, Pengantar Kajian Sastra (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hlm. 30



17
selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Para tokoh
yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda.
Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita
disebut dengan tokoh utama. Sedangkan tokoh yang tidak memiliki
peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi saja atau
sebagai pendukung pelaku utama disebut tokoh pembantu.
20

Seorang tokoh dalam karya sastra merupakan imaji penulis
dalam membentuk personalitas tertentu dalam cerita. Berhasil tidaknya
suatu penokohan akan mempengaruhi cerita si pembaca. Sebuah
penokohan atau perwatakan harus menampilkan tokoh dengan karakter
berkelakuan seperti dalam kehidupan sebenarnya.
2) Penokohan
Penokohan sangat erat hubungannya dengan seorang tokoh
dalam karya sastra. Penyajian watak dan penciptaan citra tokoh ini
disebut penokohan. Cara paling sederhana dalam penampilan tokoh
adalah pemberian nama. Setiap nama memiliki daya yang
menghidupkan, menjiwai, dan mengindividualisasikan seorang tokoh.
Aminuddin mengemukakan bahwa pengetahuan tentang teknik
penampilan tokoh dalam sebuah proses fiksi berguna sebagai bekal
menganalisis tokoh. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita, yaitu melalui (1) tuturan
pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang

20
Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo.
2002), hlm. 80



18
diberikan pengarang terhadap lingkungan kehidupan pelaku maupun
cara berpakaian, (3) cara berbicara tokoh tentang diri sendiri, (4)
pelaku tokoh, (5) jalan pikiran tokoh, (6) bagaimana tokoh-tokoh lain
membicarakannya, (7) bagaimana cara tokoh lain mereaksi tokoh, dan
(8) bagaiamana cara tokoh mereaksi tokoh lain.
21

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam
mengenali penokohan dalam suatu cerita pada karya sastra dapat
dilakukan lewat pengenalan karakteristik tokoh, tingkah laku tokoh,
jalan pikiran tokoh, maupun dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah
karya sastra (novel).
b) Latar
Karya fiksi pada hakekatnya berhadapan dengan sebuah dunia yang
sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya, sebagai
halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah
dunia, di samping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga perlu latar,
karena latar disebut juga sebagai landas tumpu, yang tertuju pada
pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Leo Haliman
dan Frederick menjelaskan bahwa setting dalam karya sastra (novel)
bukan hanya tempat, waktu, peristiwa, suasana benda-benda dalam
lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang
berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup

21
Ameliawati, op.cit., hlm. 19-20



19
suatu masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan tertentu.
22

Adapun hubungan latar dengan penokohan, misalnya pengarang mau
menampilkan tokoh seorang petani yang sederhana dan buta huruf, maka
tidak mungkin petani itu diberi setting kota Jakarta, perkantoran atau
restoran, begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim
tidak mungkin diberi setting kamar yang penuh dengan gambar botol
minuman keras.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, latar juga mampu
menuansakan suasana-suasana tertentu. Suasana tertentu akibat penataan
setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan
suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Latar dalam prosa
atau fiksi dibedakan menjadi empat, yaitu:
1) Latar alam (geographic setting) adalah latar yang melukiskan tempat
atau lokasi terjadinya peristiwa dalam alam mini, misalnya: di desa, di
kota, di pegunungan, dll;
2) Latar waktu (temporal setting) adalah latar yang melukiskan kapan
peristiwa itu terjadi, misalnya: tahun berapa, pada musim apa, senja
hari, dan akhir bulan;
3) Latar sosial (social setting) adalah latar yang melukiskan dalam
lingkungan mana peristiwa itu terjadi, misalnya: lingkungan
pelayaran, lingkungan buruh pabrik, dll;

22
Ibid., hlm. 17



20
4) Latar ruang yaitu latar yang melukiskan dalam ruang yang bagaimana
peristiwa itu berlangsung, misalnya: dalam kamar, aula, toko, dan
lain-lain.
23

Berdasarkan pada pengertian latar di atas, tokoh dan setting
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal itu
disebabkan karena tokoh dan latar dapat menentukan kelogisan dan
diterimanya cerita oleh pembaca. Penataan setting yang tepat dan sesuai
dengan kepribadian tokoh dan juga cerita disajikan akan menimbulkan
kesan bahwa karya sastra tersebut adalah karya yang logis.
c) Alur atau Plot
Istilah alur sama dengan istilah plot atau struktur cerita. Alur atau
plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk
kesatuan cerita.
24
Aminuddin mengatakan bahwa alur adalah rangkaian
cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin
suatu cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Menurut
Adiwardoyo, alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal (sebab-
akibat) dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya alur dibagi menjadi tiga,
yaitu:
1) Alur urutan (episodik), dikatakan alur urutan apabila peristiwa-
peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab-akibat,
kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat, dan hierarkis
(berurut-urut);

23
Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 14-15
24
Dawud, dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X (Jakarta:
Erlangga, 2004), hlm. 245



21
2) Alur mundur (flashback), sebuah cerita dikatakan beralur mundur
apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat-
sebab, waktu kini ke waktu lampau;
3) Alur campuran, dikatakan sebuah cerita ber-alurkan campuran apabila
peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab
akibat waktu kini ke waktu lampau atau waktu lampau ke waktu
kini.
25

Berdasarkan kondisinya, alur dibedakan menjadi empat, yaitu:
1) Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi
mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya;
2) Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi
yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak;
3) Alur puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai klimaks
dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu;
4) Alur tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi
yang mulai bergerak kea rah penyelesaian atau pemecahan dari
kondisi klimaks.
26

d) Tema
Tema merupakan ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang
melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi
kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra
bisa sangat beragam. Tema bisa berupa moral, etika, agama, nilai, social

25
Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 13
26
Ibid., hlm. 14



22
budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masyarakat kehidupan.
Namun, tema bisa berupa pandangan pengarang, ide atau keinginan
pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.
27

Tema juga merupakan gagasan pokok pikiran yang digunakan
pengarang untuk mengembangkan cerita. Tema berkaitan dengan makna
dan tujuan pemaparan karya fiksi oleh pengarangnya. Adiwardoyo
mengatakan tema adalah gagasan sentral pengarang yang mendasari
penyusunan suatu cerita dan sekaligus menjadi sasaran dari cerita itu.
28

Menurut Nurgiyantoro, tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu tema
utama yang disebut tema mayor, yang artinya makna pokok yang
menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Tema mayor
ditentukan dengan cara menentukan persoalan yang paling menonjol,
yang paling banyak konflik dan waktu penceritaannya. Sedangkan tema
tambahan disebut tema minor, merupakan tema yang kedua yaitu makna
yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dan
diidentifikasikan sebagai makna bagian atau makna tambahan.
29

Oleh sebab itu, dalam menentukan sebuah tema harus memahami
terlebih dahulu bagian-bagian yang mendukung sebuah cerita, baik latar,
tokoh dan penokohan, alur atau persoalan yang dibicarakan. Apabila
pembaca karya sastra telah dapat menentukan dan menemukan tema dari

27
Zainuddin Fananie, Telaah Sastra (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000),
hlm. 84
28
Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 15
29
Ibid..



23
sebuah karya sastra, maka pembaca tersebut telah mengetahui tujuan
pengarang dalam sebuah cerita yang telah dibuatnya.
5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel
Ada banyak bentuk-bentuk tulisan dalam sebuah cerita. Salah satunya
dapat dilihat berdasarkan penggolongan dalam cara penyajian dan tujuan
penyampaiannya. Dan bentuk tulisan sendiri meliputi, deskripsi, eksposisi,
narasi, persuasi dan argumentasi.
a. Deskripsi
Deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas
pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat
objek yang sebenarnya. Dalam tulisan deskripsi, penulis tidak boleh
mencampuradukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya
sendiri.
b. Eksposisi
Di tinjau dari asal katanya, eksposisi berarti membuka dan
memulai. Bahkan ada yang mengatakan eksposition means explanation
(eksposisi adalah penjelasan). Ini berarti tulisan eksposisi berusaha untuk
memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu.
Pada dasarnya eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau
proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan
gagasan, menerangkan bagan atau table, atau mengulas sesuatu.
Biasanya, tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan
bentuk tulisan deskripsi. Seorang yang menulis eksposisi berusaha



24
memberitahukan pembacanya agar pembaca semakin luas
pengetahuannya tentang suatu hal.
c. Narasi
Narasi merupakan bentuk tulisan yang berusaha menciptakan,
mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam
sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu
kesatuan waktu tertentu.
Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Namun
demikian, narasi yang ditulis juga bisa ditulis berdasarkan pengalaman
pribadi penulis, pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya
merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu
atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang
terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa yang diceritakan. Meskipun
berdasarkan fakta imajinasi penulis dalam bercerita tetap terkesan kuat
sekali.
Melalui narasi, seorang penulis memberitahukan orang lain dengan
sebuah cerita. Sebab, narasi sering diartikan juga dengan cerita. Sebuah
cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai karakter, setting, waktu,
masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan memberi solusi dari
masalah itu.
d. Argumentasi
Tulisan argumentasi biasanya bertujuan untuk meyakinkan
pembaca, termasuk membuktikan pendapat atau pendirian dirinya bisa



25
juga membujuk pembaca agar pendapat penulis bisa diterima. Bentuk
argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-
fakta yang tepat terhadap apa yang dikemukakan yang sangat dibutuhkan
dalam tulisan argumentatif adalah data penunjang yang cukup, logika
yang baik dalam penulisan dan uaraian yang runtut.
Berikut ini adalah tugas dari penulis argumentatif:
1. Harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan
orang mengenai topik yang akan diargumentasikan;
2. Berusaha untuk menghindari setiap istilah yang menimbulkan
prasangka tertentu;
3. Penulis argumentatif berusaha untuk menghilangkan
ketidaksepakatan;
4. Menetapkan secara tepat titik ketidaksamaan yang di
argumentasikan.
30

e. Persuasi
Pesuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Goris Keraf pernah
mengatakan, persuasi bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan
sesuatu yang dikehendaki penulis. Mereka yang menerima persuasi harus
dapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan
keputusan yang benar, bijaksana dan dilakukan tanpa paksa.
Melalui persuasi, seorang penulis mencoba mengubah pandangan
pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis

30
Nurudin, Dasar-dasar Penulisan (Malang : UMM Press, 2007), hlm. 79



26
mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya
untuk mengerti menggapai sesuatu itu adalah benar, salah atau diantara
keduanya.
Di samping itu, penulis persuasi harus bisa menampilkan fakta-
fakta agar apa yang diinginkannya diyakini pembaca, dan pembaca mau
melakukan sesuai maksud penulis. Persuasi biasanya akan memberikan
penekanan pada pemilihan kata yang berpengaruh kuat terhadap emosi
atau perasaan orang lain.
5. Peran Novel
Setidak-tidaknya sudah seribu tahun sastra menduduki fungsinya yang
penting dalam masyarakat Indonesia. Sastra dibaca oleh para raja dan
bangsawan, serta kaum terpelajar pada zamannya. Sejak dahulu sastra
menduduki fungsi intelektual dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya
kedudukan sastra dalam masyarakat Indonesia lama, disebabkan oleh
fokus budaya mereka pada unsur agama dan seni. Sastra Jawa Kuno malah
menduduki fungsi religio-magis, pada zaman Islam, sastra digunakan para
raja untuk memberikan ajaran rohani kepada rakyatnya.
31
Jadi, pada zaman
dahulu sastra mempunyai fungsi yang sangat penting dalam masyarakat
Indonesia. Akan tetapi, fungsi ini mulai tergeser dengan masuknya
kebudayaan barat ke Indonesia.
32

Beberapa fungsi sastra di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa peran
novel dalam masyarakat juga sangat penting, karena novel bukan saja

31
Jakob Sumardjo, Sastra dan Masa (Bandung: ITB, 1995), hlm. 6
32
Ibid..



27
menampilkan sebuah wacana kepada masyarakat, akan tetapi novel juga
sangat berperan terhadap perkembangan masyarakat, terlihat pada pesan
dari seorang penulis atau sastrawan dapat dikatakan sebagai pejuang moral
karena mereka berupaya agar pembaca dapat mengetahui dan memahami
apa yang ada dalam alur cerita novel tersebut sehingga dapat menggugah
perasaan si pembaca.
B. Konsep Pendidikan Nilai
1. Pengertian Definisi dan Orientasi Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai dapat dimulai dari pemahaman tentang definisi dan
tujuannya. Definisi dapat memberikan petunjuk pada pemaknaan istilah
pendidikan nilai, sedangkan tujuan dapat memberikan kejelasan tentang
cita-cita dan arah yang dituju oleh pendidikan nilai.
a. Definisi Pendidikan Nilai
Pada dasarnya, pendidikan nilai dirumuskan dari dua pengertian
dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan istilah nilai. Ketika
kedua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi
pendidikan nilai. Namun karena arti pendidikan dan arti nilai dapat
dimaknai berbeda, definisi nilai pun dapat beragam, tergantung pada
tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu.
Seperti dikemukakan oleh Sastrapratedja (Kaswardi, 1993), yang
dimaksud dengan pendidikan nilai adalah penanaman dan
pengembangan pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir
sama Mardiatmadja (1986) mendefinisikan pendidikan nilai
sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan
mengalami niali-nilai serta menempatkannya secara integral dalam
keseluruhan hidupnya. Dua ahli Pendidikan nilai itu memiliki
pendangan yang sama bahwa pendidikan nilai tidak hanya



28
merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata
pelajaran, tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan
33


Dan dalam pengertian lain, pendidikan nilai ialah penanaman dan
pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai
tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus, seperti
pelajaran menggambar atau bahasa inggris, tetapi lebih merupakan
suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan
34


Sementara itu, dalam laporan Nasional Recource Center For Value
Education, pendidikan nilai di negara India didefinisikan sebagai
usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami,
mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan
dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan
agama tertentu (NRCVE, 2003). Dalam pengertian yang lebih
oprasional David Aspin (2000) membuat definisi pendidikan nilai
sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan
kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat
melembagakan kerangka tindakan manusia
35


Sedangkan dalam buku dengan judul ”memanusiakan manusia
muda tinjauan pendidikan humaniora”, menjelaskan bahwa
pendidikan nilai adalah suati pandangan dasar seseorang terhadap
alam, sesama manusia dan Tuhannya (yang akhir ini terjabar secara
lebih terperinci dalam pandangan-pandangan keagamaannya)
36


Dari definisi di atas dapat ditarik suatu definisi pendidikan nilai
yang mencakup keseluruhan aspek sebagai pengajaran atau bimbingan
kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan
keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan
bertindak yang konsisten. Definisi pendidikan nilai ini perlu dibedakan
dari arti pendidikan nilai yang dimaknai secara fungsional dan
situasional.

33
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119
34
Kaswardi, E.M K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000 (Jakarta: PT Grasindo,
1993), hlm. 3
35
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119
36
Dick Hartono, Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora (Jakarta:
Kanisius, 1985), hlm. 33



29
b. Orientasi Pendidikan Nilai
Secara Umum, pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu
peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta
mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Untuk
sampai pada tujuan yang dimaksud, tindakan-tindakan pendidikan yang
mengarah pada perilaku baik dan benar perlu diperkenalkan oleh para
pendidik.
Dalam proses pendidikan nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang
lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus.
Seperti dikemukakan Komite APEID (Asia and the Pasific Programme
of Educational Innovation for Defelopment), pendidikan nilai ditujukan
secara khusus untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak, (b)
menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan
(c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut.
Dengan demikian tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik
yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada
perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).
37

Selain itu, tujuan pendidikan nilai disesuaikan pada konsep awal
pendidikan nilai yang menyentuh filosofi tujuan pendidikan yaitu
memanusiakan manusia, membangun manusia paripurna dan membentuk
insan kamil atau manusia seutuhnya. Dari konsep awal pendidikan nilai
yang menyentuh pada tujuan pendidikan inilah, maka muncul pertanyaan

37
Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 119-120




30
mendasar apa yang membuat manusia berkembang menjadi manusia
seutuhnya? Jawabannya menurut N. Diyarkara adalah pengakuan dan
penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pengakuan dan penghargaan
akan nilai-nilai kemanusiaan itu hanya akan timbul manakala ranah
afektif dalam diri seseorang dihidupkan. Hal itu berarti proses belajar
mengajar perkembangan prilaku anak dan pemahamannya mengenai
nilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, rasa tanggung jawab serta
kepedulian terhadap orang lain merupakan elemen yang tidak dapat
dipisahkan dari unsur pendidikan.
Kesadaran anak akan nilai humanitas pertama-tama muncul bukan
melalui teori atau konsep, melainkan melalui pengalaman konkrit yang
langsung dirasakannya di sekolah. Pengalaman itu meliputi sikap dan
perilaku guru yang baik, penilaian adil yang diterapkan, pergaulan yang
menyenangkan serta lingkungan yang sehat dengan penekanan sikap
psitif seperti penghargaan terhadap keunikan serta perbedaan.
Pengalaman seperti inilah bereperan membentuk emosi anak berkembang
dengan baik.
Selanjutnya Driyarkara mengindikasikan bahwa kesadaran moral
mengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang
atas perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari baik di sekolah maupun
di masyarakat. Mark dan Terence mengatakan:
Morality Is directed and constructed to perform a large range of
independent funtions to prohibit destruction and harm, to promote
harmony and stability, to develop what is best in us. It promotes the
social and economoc conditions that sustain mutually benefisial



31
truth and cooperation, articulates ideals and excel lences, sets
priorities among the activities that constitute our live
38


Kymlicka menegaskan bahwa relevansi penanaman kesadaran
moral pendidikan yaitu membentuk warga negara yang mempunyai
rasa keadilan, kamampuan membedakan mana yang baik dan mana
yang buruk, mempunyai penghargaan akan hak-haka asasi
manusia, bersikap toleran, dan memiliki rasa solider serta loyalitas
terhadap yang lain
39


Benang merah yang dapat ditarik dari konsep Driyarkara adalah
perlunya keseimbangan antara dimensi kognitif dan afektif dalam proses
pendidikan. Artinya untuk membentuk manusia seutuhnya tidak cukup
hanya dengan mengembangkan kecerdasan berfikir atau IQ anak didik
melalui segudang ilmu pengetahuan, melainkan juga harus dibarengi
dengan pengembangan perilaku dan kesadaran moral. Karena dengan
kombinasi seperti itulah peserta didik akan mampu menghargai nilai-nilai
humanistik di dalam dirinya dan orang lain. Disinilah hakikat pendidikan
nilai yang sebenarnya.
Disisi lain pendidikan nilai bisa berarti educare yang berarti
membimbing, menuntun, dan pemimpin. Filosofi pendidikan sebagai
educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak
pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik dan harus
dikuasai. Proses pendidikan educare lebih merupakan aktivitas hidup
untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, memampukan
peserta didik sehingga tumbuh berkembang sampai pada tujuan
pendidikan yang dicita-citakan.

38
Zaim Elmubarok, op cit., hlm. 13
39
Ibid..



32
Di sini atmosfer pendidikan mendapat tekanan dan peserta didik di
beri keleluasaan untuk mengesplorasi diri dan dunianya sehingga
berkembang kreativitas, ide dan ketrampilan diri sebagai bagian dari
masyarakatnya. Minat dan bakat peserta didik diperlukan sebagai sentral
dan hal yang amat berharga. Peran pendidik melebihi dari posisi sebagai
narasumber, pendorong, pemberi motivasi dan fasilitator bagi peserta
didik.
Karena itu, suatu usulan rumusan komprehensif menyeluruh yang
terbuka kiranya jauh lebih menguntungkan untuk menyiapkan generasi
masa depan. Usulan rumusan tersebut adalah pendidikan nilai bertujuan
mendampingi dan mengantar peserta didik kepada kemandirian,
kedewasaan, kecerdasan, agar menjadi manusia profesional (artinya
memiliki ketrampilan (sklill), komitmen pada nilai-nilai dan semangat
dasar pengabdian/pengorbanan) yang beriman dan bertanggungjawab
akan kesejahteraan dan kemakmuran warga masyarakat, nusa dan bangsa
Indonesia.
40

2. Landasan Pendidikan Nilai
Landasan pendidikan nilai yang akan diketengahkan terdiri atas enam
bagian, yaitu: landasan filosofis, landasan spikologis, landasan sosiologis,
landasan estetik, landasan yuridis dan landasan religi. Landasan filosofis
mengetengahkan akar pemikiran tentang hakikat manusia dari perspektif
filasat. Landasan psikologis menjelaskan aspek-aspek psikis manusia

40
Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 13-14



33
sebagai individu. Landasan sosiologis meliputi prinsip-prinsip
pengembangan manusia sebagai anggota masyarakat. Landasan estetik
menguraikan kemampuan manusia dalam mempersepsi nilai keindahan.
Adapun penjelasan landasan-landasan tersebut adalah sebagai berikut:
a) Landasan Filosofis
Pemahaman tentang hakikat manusia telah melahirkan beragam
tafsiran yang mengkristal pada sejumlah aliran filsafat pendidikan dan
disiplin ilmu. Banyak peneliti yang tertarik pada eksplorasi tentang
hakikat manusia, tetapi tidak seorang pun dapat memonopoli
pengetahuan tentang hakikat manusia. Perdebatan panjang yang cukup
melelahkan tentang silang pendapat mengenai hakikat manusia telah
berlangsung sejak zaman yunani kuno, namun manusia hingga kini
tetap sebagai enigma (teka-teki) yang tak pernah tuntas atau dalam
bahasa Alexis Carrel (Syari’ati, 1996) disebut I’homme cet iconnu
(makhluk tak dikenal). Karena itu, pencarian alasan dalam
memperdebatkan perbedaan sudut pandangan tentang hakikat manusia
terkadang tidak lebih penting dari upaya pemanfaatan pandangan
tersebut bagi upaya pendidikan.
Sebagian besar filosof beranggapan bahwa hakikat manusia
adalah hewan yang dapat dididik (animal educantum). Hakikat manusia
ini didukung oleh hakikat lainnya yang dikenal dalam sejarah pemikiran
Eropa Barat sebagai: homo sapies (manusia yang mengetahui dan
dibekali dengan akal), homo ludens (manusia yang bermain-main),



34
homo recens (manusia yang membuat sejarah), homo faber (manusia
teknis yang menggunakan alat-alat), homo simbolicum (manusia yang
mengenal simbol-simbol bahasa), homo concors (manusia yang hidup
seimbang antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar),
homo economicus (manusia sebagai makhluk ekonomi), dan animal
rational (hewan yang rasional) (kartono, 1992). Selin itu, ada pula
pihak yang beranggapan bahwa hakikat manusia justru terletak pada
semangat spiritualnya dalam menjalin hubungan dengan Tuhan.
Menurut pandangan ini manusia yang paling hakiki adalah manusia
yang beragama.
Untuk mengetahui perbedaan pandangan tadi, kita dapat
memimjam kerangka analisis Phenix (1964) dalam bukunya Realms of
Meaning. Ia menempuh dua langkah penting dalam mengungkapkan
hakikat manusia, yaitu: Pertama, ia mengidentifikasi interpretasi
wilayah kajian ilmu Kimia, Fisika, Biologi, Psikilogi, Sosiologi,
Ekonomi, Politik, Antropologi, Linguistik, Seni, Moral, Sejarah Dan
Teologi dalam menjelaskan hakikat manusia. Kedua, ia melakukan
rekonstruksi pengertian tentang hakikat manusia berdasarkan sejumlah
tafsiran yang diajukan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir
analisisnya, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa hakikat manusia
terletak dalam dunia kehidupan makna.
41


41
Krech, D. dan Crutchfield, R., Individual In Society (Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha,
1962), hlm. 279



35
Dengan asumsi bahwa makna memiliki kesejajaran arti dengan
nilai, maka landasan filosofis pendidikan nilai yang dapat ditegakkan
pada dua kemungkinan posisi, yaitu: 1) filsafat pendidikan nilai pada
dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat
manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran, karena nilai adalah
esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. 2)
filsafat pendidikan berlaku selektif terhadap kebenaran hakikat manusia
juga menyangkut substansi kebenarannya yang dapat berlaku
kontektual dan situasional.
b) Landasan Psikologis
Kehasan psikologi dalam menelaah manusia terletak pada
pandangannya bahwa sebagai individu selalu tampil unik keunikan
mansia dilihat dari sisi mental dan tingkah lakunya berimplikasi pada
asumsi psikologis berikutnya bahwa pada hakikatnya tidak ada seorang
pun anak manusia dengan anak manusia yang sama persis dengan anak
manusia lainnya. Asumsi seperti ini memang dapat dikesani ekstrem
karena dapat menfikan kebenaran generalisasi atau teori perkembangan
dunia psikologis manusia.
Walaupun demikian, psikologi mencoba untuk menarik batas
kemiripan melalui kaedah-kaedah perkembangan mental manusia
beserta ciri-ciri perilakunya. Keutuhan manusia sebagai organisme
dijelaskan melalui aspek-aspek psikis yang berkembang secara dinamis.
Demikian pula bebedaan individu ditarik pada prinsip-prinsip dasar



36
yang mewakili setiap fase pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah umum Psikologi seperti itu,
landasan pendidikan nilai dapat dijelaskan.
1. Motivasi
Setiap orang memiliki motivasi untuk bertindak sesuai dengan
keinginan, minat dan kebutuhannya. Motivasi merupakan suatu
usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang
agar ia tergerak hatinya untuk bertidak melakukan sesuatu sehingga
mencapai hasil atau tujuan tertentu. Karena itu dalam kajian
psikologi, motivasi sering dipertimbangakan sebagai sutu tindakan
diri seseorang.
42

Apabila dikaitkan dengan pendidikan nilai sebagai suatu upaya
penyadaran nilai pada peserta didik, maka motivasi menjadi aspek
penting yang perlu dipertimbangkan. Dari sejumlah kajian tentang
motivasi menunjukkan bahwa dorongan-dorongan psikologis
manusia bergerak secara dinamis dalam suatu kontinum yang
menempatkan nilai pada ujung pertimbangan psikologis. Dalam teori
sikap dari Newcomb misalnya, nilai ditempatkan di atas sikap dan
keyakinan seseorang, demikian pula dalam teori kebutuhan dari
Murray, nilai ditempatkan di atas kebutuhan psikogenetik
individu”
43


42
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002),
hlm. 71
43
Hall, C.S dan Linzey, G., Introduction to Personality Theory (New York: John Wiley
dan Sons, 1985), hlm. 316-318



37
Hal tersebut berimplikasi bahwa pendidikan nilai harus mampu
membangkitkan motivasi peserta didik ke arah tindakan yang
didasarkan pada pilihan kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Tindakan yang positif itu harus senantiasa dijaga ketahanannya agar
berlangsung lama dan terinternalisasi pada diri peserta didik.
2. Perbedaan Individu
Pebedaan individu merupakan aspek lain yang menjadi
landasan pengembangan pendidikan nilai secara psikologis. Seperti
telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, pebedaan individu
mencerinkan adanya keunikan pada peserta didik. Tidak mungkin
seorang siswa memiliki minat, keinginan, sifat, keyakinan dan nilai
dalam frekuensi dan intensitas yang sama dengan apa yang dimiliki
siswa lain. Demikian pula, secara fisik ia tidak mungkin memiliki
bentuk fisik yang sama, meski dilahirkan sebagai saudara kembar.
Perbedaan yang dimiliki individu baik secara fisik maupun
mental dapat menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Dalam
fenomena pendidikan, misalnya ada siswa yang cerdas, rajin, tekun,
shaleh atau gemuk, tetapi sebaliknya ada pula yang bodoh, malas,
nakal, atau kurus. Satu atau lebih ciri berbedaan itu mungkin melekat
pada diri seseorang dan menjadi kekuatan atau kelemahan pada
dirinya.
Perbedaan individu berimplikasi pada kurikulum pendidikan
nilai dalam membimbing dang mengajarakan peserta didik ke arah



38
pilhan nilai kehidupan yang tepat, fungsional, kontektual, serta
sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka. Seperti yang dihadapi
pendidikan pada umumnya, masalah krusial pendidikan nilai terletak
bagaimana pendidikan nilai dapat dilakukan secara adil. Adil dalam
arti nilai diajarkan dengan tidak mengabaikan perkembangan nilai
subjektif yang lahir secara perorangan dan juga tidak melupakan
nilai objektif kelompok. Dengan kata lain, nilai subjektif dan nilai
objektif keduanya harus dikembangkan secara seimbang.
Persoalan ini memang tidak sederhana, karena konsep keadilan
dalam belajar nilai pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan
tentang apa materinya dan bagaimana metodenya. Karena itu, untuk
mengatasi kompleksitasperbedaan individu dalam belajar nilai
pendidik sebaiknya memilih materi secara elektik sesuai dengan
topik pembelajaran, kebutuahan siswa, dan kontek kehidupan.
44

Pilihan secara eklektik jiga dapat dilakukan dalam menentukan
metode atas dasar pertimbangan konteks pengembangan nilai secara
mandiri pada peserta didik dan peran-peran penguatan secara
imperatif artinya sifat pembelajaran yang menekankan atau
mengharuskan peserta didik memiliki nilai atau moral yang baik.
45




44
Power, E.J., Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and Educational
Policies (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1982), hlm. 91
45
Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995),
hlm. 45-48



39
3. Tahapan Belajar Nilai
Dalam memahami nilai, anak tumbuh dan berkembang sesuai
dengan pengalamannya. Hal ini tidak berarti semua pengalaman
anak berlangsung dalam suatu kejadian dan kesatuan yang utuh.
Pengalaman pada diri anak pada umumnya merupakan petunjuk
kearah perkembangan persepsi dan tindakan yang pada gilirannnya
menuntut proses belajar untuk membangun pengalaman itu. Karena
itu, strategi dasar yang harus dikembangkan oleh guru meliputi: (1)
identifikasi nilai dan tujuan yang hendak dicapai oleh anak, (2)
menyusun pengalaman kehidupan yang matang terhadap
pengembangan nilai, dan (3) menyediakan sejumlah pengalaman
yang memperluas kemampuan anak dalam membangun nilai secara
mandiri.
Untuk itu, pendidikan nilai pada anak perlu disesuaikan
dengan tahap perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap
nilai. Egan (UNESCO, 1991) menjelaskan bahwa perkembangan
minat dan kepedulian anak terhadap nilai berlangsung dalam empat
tahapan, yaitu: tahapan mitos, romantis, filosofis dan ironis. Keepat
tahap perkembangan itu berlangsung seiring dengan pertumbuhan
fisik anak yang semakin lama semakin dewasa. Secara rinci empat
tahapan perkembangan itu dijelaskan pada bagan berikut ini.
46




46
Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 129-130



40
Tahapan /Usia Jenis Karakteristik Perkembangan
Tahap Mitos
(5-10 tahun)
Anak belajar melalui cara
bermain dan berceritera. Mereka
bahagia bermain dengan objek
mainan yang melibatkan
perasaan mereka. Pada tahap ini
nilai-moral merupakan perhatian
utama yang dibedakan secara
hitap putih seperti baik dan jelek,
sayang dan benci, suka dan tidak
suka, dan sebagainya.
Tahap Romantis
(8-15 tahun)
Pada rentang usia ini, anak
berharap terhadap informasi
yang dapat memberikan uraian
tentang manusia, semangat
hidup, petualangan,
pengembangan teknologi, olah
raga, sampai pada persoalan
yang asing bagi dirinya.
Tahap Filosofis
(14-20 tahun)
Tahap ini didominasi oleh
keinginan remaja untuk
menyederhanakan urutan
pengalaman melalui
pengambilan kesimpulan yang
dibuat sendiri tau melalui tatanan
hukum dan peraturan yang sudah
baku. Pada tahap ini pula
biasanya anak merasa frustasi
apabila ada perlakuan-perlakuan
khusus atau ada pertentangan
dalam penegakan hukum.
Tahap Ironis
(20 tahun ke atas)
Pada tahap ini, remaja akhir atau
orang dewasa mencoba untuk
mencari kesimpulan yang jelas
berdasarkan pengetahuan dan
pengalaman yang dimilikinya.
Tetapi penarikan kesimpulan dan
penjelasan, termasuk pada hal-
hal yang kontradiktif dan
membingungkan, tidak saja
dihargainya tetapi juga
disenanginya. Pada tahap ini
anak remaja akhir dan orang
dewasa tidak lagi merasa frustasi
dengan adanya sesuatu yang
bertentangan atau berlawanan.



41
Selain model perkembangan di atas, masih ada model
perkembangan lainnya yang dapat dirujuk sebagai dasar penyadaran
nilai pada peserta didik. Tahap perkembangan moral tersebut adalah
sebagai berikut: Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahap
perkembangan moral yaitu: ”pra oprasional, konkret oprasional,
formal oprasional”.
47
Dan menurut Jean Piaget atau tiga tingkat
pertimbangan moral (prakonvensional, moralitas konvesional,
moralitas konvesional”.
48

Tahapan-tahapan perkembangan minat dan kepedulian anak
terhadap nilai sebagaimana dikemukakan di atas memiliki implikasi
luas bagi ”pendidikan nilai”.
c) Landasan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup
sendiri tanpa adanya keterlibatan orang lain atau tanpa melibatkan diri
dengan orang lain. Hubungan saling membutuhkan antar individu
menandakan bahwa manusia tidak dapat hidup terisolasi dari dunia
sekitar. Itulah sebabnya, manusia dalam sejarah pemikiran Eropa Barat
disebut homo concors; yakni makhluk yang dituntut untuk hidup secara
harmonis dalam lingkungan masyarakatnya. Adalah tidak mungkin bagi
manusia untuk secara mutlak mementingkan dirinya sendiri (Absolute
egoism), demikian pula manusia tidak akan mampu hidup sepenuhnya

47
Spilka, B., The Psychology of Religion; An Empirical Approch (New Jersey: Prentice-
Hall, 1985), hlm. 62-72
48
Syah, M., Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: PT Rosdakarya,
2000), hlm. 77-78



42
hanya untuk mementingkan orang lain (absolute altruism). Menurut
Durkheim, kedua karakteristik perilaku ekstrem tersebut merupakan
batas ideal yang tidak pernah dicapai dalam realitas kehidupan manusia.
Eksistensi sosial manusia berada di antara dua kutub tersebut.
Manusia memiliki keyakinan, sikap, dan tindakan sosial yang lahir
karena adanya kebebasan. Tetapi, pilihannya tidak dapat dilepaskan
sepenuhnya dari pengaruh-pengaruh dan kepentingan orang lain. Setiap
tindakan sosial memiliki tindakan sosial memiliki tujuan dan cara
mencapai tujuan itu dilakukan melalui belajar dari pengalaman (trial
and eror) dalam suatu proses sosial. Proses seperti ini dialami oleh
setiap orang, dan semakin lama semakin mencapai kematangan.
Sebagai jalinan kompleks, proses sosial melibatkan sentimen
moral yang berkadar kebaikan kepada orang lain dan sentimen yang
mengarah pada pemenuhan keinginan pribadi. Sentimen moral dapat
menimbulkan aturan-aturan sosial yang mengarahkan kepentingan diri,
mengendalikan sikap egois dan mendorong hati yang alamiah, sehingga
memungkinkan terwujudnya sebuah kehidupan sosial atas konsesus
bersama. Prinsip moralitas sosial didasarkan pada asumsi bahwa
manusia mengakui tindakan dan sikap orang lain apabila ia
membayangkan dirinya sendiri berada dalam situasi orang lain. Dengan
kata lain ia mampu bersikap simpatik atau empatik pada orang lain.
Keterikatan antara kebutuhan pribadi dengan kepentingan orang
lain, berada dalam pola-pola tanggapan hubungan interpersonal. Pola



43
itu meliputi: pergerakan mendekati orang, menentang orang dan
pergerakan menghindari orang. Kecendrungan mendekatkan diri pada
orang lain mencerminkan bahwa manusia memilki kebutuhan hubungan
akrab, kerelaan untuk menjalin persahabatan, pertimbangan suka-tidak
suka orang lain terhadap dirinya. Kecendrungan menentang orang lain
berarti keinginan untuk mengetahui kemampuan orang lain dan
memperhitungkan andil orang lain bagi dirinya. Sedangkan
menghindari orang lain menunjukkan adanya anggapan bahwa orang
lain akan mengganggu dirinya. Pola-pola hubungan interpersonal
seperti itu dalam psikologi-sosial, dirumuskan ke dalam sejumlah
indikator yang lebih terinci, sehingga kecendrungan sosiometrik
seseoarang dapat diidentivikasi dengan jelas.
Teori psikologi sosial menjelaskan bahwa ikatan sosial
diwujudkan dalam kontek hubungan interpersonal yang melibatkan
stimulus, respon, dan tafsiran antar pribadi dalam pola-pola interaksi
sosial. Hubungan menjadi bermakna karena didalamnya melibatkan
sikap, keyakinan dan tindakan.
49
Malim menjelaskan bahwa tindakan
sosial individu merefleksikan sikap dan keyakinan seseorang terhadap
objek sosial. Karena itu kognisi, perasaan, dan tindakan merupakan
aspek-aspek yang saling berkaitan satu sama lainnya dan membentuk
suatu sistem sikap, keyakinan dan nilai. Konteks hubungan sosial

49
Hall, C.S dan Linzey, G., op.cit., hlm. 598



44
dibentuk dalam pola ikatan tertentu dengan menyertakan aspek-aspek
psikologis individu dan kelompok.
Pandangan-pandangan di atas memiliki implikasi penting bagi
pengembangan pengembangan nilai. Sebagai proses penyadaran nilai
pada peserta didik, pendidikan nilai perlu dirancang dengan
mengangkat nilai-nilai kehidupan sosial yang aktual dan kontektual.
Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk memeriksa,
mempertimbangkan, dan membuat keputusan atas isu-isu sosial serta
bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.
Target utama pendidikan nilai secara sosial adalah membangun
kesadaran-kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta didik
dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis
dengan orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggungjawab,
dan menghargai perbedaan pendapat. Semua sikap dan perilaku itu
dapat membantu peserta didik untuk hidup secara sehat dan harmonis
dalam lingkungan sosial yang dihuninya.
d) Landasan Estetik
Manusia adalah makhluk yang memiliki cinta rasa keindahan.
Cita rasa keindahan (estetik) berkembang sesuai dengan potensi setiap
individu dalam menilai obyek-obyek yang bernilai seni. Pada tingkatan
tertentu cita rasa keindahan berkembang secara subyektif, dalam arti
setiap orang dapat mengespresikan kualitas dan intensitas keindahan
yang berbeda. Namun pada tingkatan yang lebih tinggi, cita rasa



45
keindahan dapat sampai pada penemuan makna keindahan yang hakiki,
sehingga ia berada pada wilayah yang obyektif, yakni suatu kebenaran
dan kebaikan estetik yang bernilai universal.
Dalam proses perkembangannya, cita rasa keindahan melibatkan
semua domain yang ada pada diri seseorang, meski yang paling domain
adalah aspek perasaan. Proses ini berbeda dari verifikasi empirik dalam
menguji kebenaran ilmu pengetahuan. Nilai-nilai estetik berkembang
dan dibangun berdasarkan pada keindahan yang terdapat dalam obyek
seni. Karena itu, seseorang yang hendak mengembangkan intuisi
estetiknya, ia harus mampu mengelompokkan, menimbang, dan menilai
fakta-fakta keindahan atau menciptakan bentuk-bentuk karaya seni.
Cita rasa keindahan juga berkembang karena manusia memiliki
indra. Manusia dapat memperoleh keindahan melalui penglihatan dan
pendengaran. Dalam teori estetika, cita rasa keindahan yang diperoleh
melalui dua indra tersebut disebut pengalaman estetika tingkat tinggi,
sedangkan cita rasa keindahan yang masuk melalui indra lain (hidung,
kulit, lidah) merupakan pengalaman estetik tingkat rendah. Hirarki
estetik ini dibedakan oleh para ahli berdasarkan jarak antara nilai
keindahan dengan fungsi indra secara fisik.
Maxine Grenee mengupas detail mengenai komponen estetika
beserta implikasinya terhadap pendidikan. Pada salah stu bagian
pembahasannya ia menyatakan bahwa nilai estetika perlu dibelajarkan
kepada peserta didik agar mereka mengetahui bagaimana cara belajar



46
yang bermakna. Dalam pendidikan nilai ini baik guru maupun siswa
melibatkan proses pemahaman rasa, pilihan pribadi, dan tatanan bentuk
yang erat kaitannya dengan karakteristik estetika.
50

e) Landasan Yuridis
Penyelenggaraan pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan
Nasional sebenarnya memilki landasan hukum yang kuat. Ideologi
negara, undang-undang, dan GBHN merupakan ketentuan yuridis yang
banyak mengandung pesan nilai. Karena itu, pendidikan nilai memiliki
posisi yang sangat strategis dalam pendidikan nasional, walaupun
istilah pendidikan nilai belum terdefinisikan secara tegas dalam
kurikilum pendidikan formal.
Kalau dilacak lebih jauh, landasan-landasan yuridis yang dapat
dijadikan pijakan dalam mengembangkan pendidikan nilai meliputi
empat landasan utama, yaitu:
Pertama, pancasila sebagai landasan ideal bangsa. Sebagai
kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila kaya dengan pesan nilai,
moral dan etika asli bangsa. Sebab itu, landasan ideal berbangsa dan
bernegara ini dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyelenggaraan
pendidikan nilai di sekolah, keluarga atau masyarakat. Secara hierarkis
sila-sila yang terdapat dalam Pancasila dengan jelas menempatkan nilai
ketuhanan sebagai bagian terpenting, yang kemudian diikuti oleh nilai
kodrat kemanusiaan, dan kemudian nilai etis-filosofis persatuan,

50
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 134-135



47
kerakyatan, dan keadilan sosial. Semua nilai yang terkandung dalam
pancasila itu tentunya bukan sekedar simbol-simbol retorik saja, tetapi
merupakan filsafat atau ideologi bangsa yang harus benar-benar
direalisasikan dalam kehidupan berbangsa, berbangsa dan beragama.
Kedua, Undang-undang Dasar tahun 1945 (UUD ’45) sebagai
landasan konstitusional bangsa. Sebagaimana Pancasila, UUD ’45
memiliki pesan nilai, moral dan norma bangsa. Pesan nilai itu tercermin
baik dalam bagian pembukaan maupun dalam batang tubuhnya. Nilai
ketuhanan, kodrat kemanusiaan, etis-filosofis bangsa tampak dalam
bagian pembukaan, sedangkan pengoganisasian nilai yang terdapat
dalam prinsip-prinsip filsafat, polotik, ekonomi etika dan agama bangsa
dapat ditemukan dalam batang tubuh UUD ’45. Karena itu, suatu upaya
pendidikan nilai memiliki dasar konstitusional yang jelas dan kuat
dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan bangsa.
Ketiga, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993
sebagai landasan oprasional bangsa. Sebagai penjabaran dari norma-
norma hukum yang terdapat dalam UUD ’45, GBHN dapat dijadikan
rujukan yang jelas tentang tujuan pendidikan, utamannya pendidikan
nilai. Rumusan tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam GBHN
1993 dengan jelas mengungkapkan lima dari tujuh karakter manusia
Indonesia yang bersifat aktif, yaitu: ketakwaan, budi pekerti,
kepribadian, semangat bangsa, dan cinta tanah air. Pengembangan lima



48
aspek itu merupakan garapan utama pendidikan nilai, disamping
membantu bangsa agar menjadi cerdas dan terampil.
Keempat, Undang-undang Sistem Nasional (UUSPN) Nomor 20
tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggaraan Pendidikan
Nasional. Dengan ditetapkannnya UUSPN ini sebagai pengganti
UUSPN Nomor 2 tahun 1989, maka status dan peran pendidikan nilai
semakin kuat. Pengembangan aspek-aspek afektif dalam pendidikan
formal yang semakin dituntut seimbang dengan dua aspek lainnya, yaitu
kognitif dan psikomotorik, sekaligus memperkuat posisi Pendidikan
Nilai dalam kontek pendidikan Nasional. Demikian pula, revitalisasi
pendidikan agama disekolah mengandung arti bahwa Pendidikan Nilai
yang diselenggarakan atas dasar keyakinan beragama perlu
ditumbuhkan secara optimal dan unik sesuai dengan potensi-potensi
umat beragama. Dengan demikian pendidikan nilai dalam misisnya
sebagai penyadaran nilai-nilai humanistik maupun nilai-nilai religius
berapa pada posisi yang kuat dan peranan yang tidak kalah pentingnya
dari pada pendidikan akademis.
51

f) Landasan Religi
Walaupun Indonesia bukan negara agama, bangsa Indonesia
adalah bangsa yang beragama. Setiap pribadi bangsa memiliki
keyakinan bahwa nilai ketuhanan adalah nilai tertinggi. Perwujudan

51
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 152-153



49
atas keyakinan yang dianut dicerminkan dalam beragam bentuk
ritualitas peribadatan yang dilakukan oleh setiap komunitas beragama.
Adanya perbedaan agama yang dianut bangsa Indonesia menuntut
kehati-hatian dalam menafsirkan istilah iman dan taqwa. Iman dan
taqwa yang digunakan sebagai indikator keyakinan beragama dalam
Pancasila, UUD 1945, GBHN 1993, dan UUSPN 2003 menunjukkan
makna tunggal ika, sedangkan pemberian isi yang berbeda dalam kedua
istilah itu berarti bhineka. Dengan kata lain, secara literal terminologi
iman dan takwa berlaku umum untuk semua agama, tetapi secara
subtansial hal itu dapat dimaknai berbeda. Pada pemaknaan seperti ini,
penulis hendak mendudukan landasan religi pendidikan nilai dalam
skripsi ini sebagai landasan agama yang dilihat dari perspektif
pandangan Islam agar lebih fokus.
Sebagai cara hidup (way of life), Islam telah mengajarkan
berbagai aspek kehidupan kepada manusia agar hidup selamat dan
akhirat. Pemeliharaan dan pengembangan aspek-aspek kehidupa itu
ditempuh melalui proses pendidikan di sekolah, keluarga dan
masyarakat.
Dalam terminologi Islam, pendidikan memiliki padanan kata
bahasa arab yang beragam. Ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib merupakan tiga
istilah yang mengandung kesetaraan arti dengan pendidikan. Namun,
kalau dikaji lebih jauh tiga istilah tadi memiliki tekanan pemaknaan
pendidikan yang berbeda. Ahli pendidikan Islam tampaknya sepakat



50
kalau ta’lim memiliki kesetaraan arti dengan pengajaran, tetapi ketika
berbicara tentang tarbiyah dan ta’dib, kedua istilah ini sering
ditafsirkan agak berbeda. Sebagai misal, untuk mewakili istilah
pendidikan an-Nahlawi memilih kata tarbiyah, sedangkan Langgulung
memikih kata ta’dib. Keduanya memang memiliki alasan yang rasional.
Terlepas dari perbedaan itu, pembelajaran nilai-nilai agama
memiliki landasan yang mendasar dalam Islam. Bahkan dapat
dikatakan, landasan pendidikan nilai dalam perspektif Islam yang
mengandung pesan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diperlukan
oleh umat manusia. Dengan demikian, dapat diasumsikan pula bahwa
secara umum pendidikan nilai dalam perspektif Islam adalah
pendidikan Islam itu sendiri. Adapun hal yang agak membedakannya
hanya terletak pada hubungan fungsional antara keduanya. Pendidikan
nilai lebih berkarakter aktif dan berkeinginan untuk mengkonstruksi
cara-cara pembelajaran yang lebih bermakna bagi terciptanya praktik-
praktik pendidikan Islam yang lebih bermutu.
Selain itu landasan religi, yang menguatkan pentingnya
pendidikan nilai dalam perspektif Islam dapat dilihat dari hakikat fithah
sebagai potensi dasar yang positif. Fitrah adalah kekuatan inti
pencerahan batin manusia yang secar signifikan berbeda dari konsep
tabularasa. Namun, pada diri manusia terdapat fakultas akal, nafsu, dan
hati yang saling mengalahkan, potensi dasar ini bisa saja tidak
berkembang, ia ditutup oleh nafsu yang melakukan pembangkangan



51
terhadap eksistensinya, sehingga ketajaman intuisi ketauhidan yang
melekat pada dirinya menjadi tumpul dan kurang berkembang.
Karenanya, dinamika ruhaniyah yang terjadi pada diri manusia perlu
dibimbing ke arah kesadaran nilai dan tindakan yang bernilai melalui
suatu upaya pendidikan nilai yang berbasis pada pendidikan moral
beragama.
52

3. Klasifikasi Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai merupakan penanaman dan pengembangan nilai-nilai
pada diri seseorang. Untuk itu dalam skripsi ini akan menjelaskan klasifikasi
nilai yang harus dikembangkan pada seseorang. Adapun klasifikasi
pendidikan nilai tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Nilai Sosial
Pendidikan nilai sosial adalah penanaman nilai-nilai yang
mengandung unsur-unsur sosial. dalam dimensi ini terkait dengan
interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan,
kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia.
Misalnya: Gotong Royong, toleransi, kerjasama, ramah tamah,
solidaritas, kasih sayang antar sesama, perasaan simpatik dan empatik
terhadap orang lain, bersahabat dan sebagainya.
2. Pendidikan Nilai Religi
Pendidikan nilai agama (religi) adalah penanaman nilai-nilai yang
mengandung aspek agama. Nilai-nilai yang mengandung aspek agama di

52
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 153-155



52
sini dimaksudkan sebagai nilai-nilai yang mengandung unsur keislaman.
Oleh karena itu, kajian penanaman nilai-nilai Islami di sini tidak
mengupas aspek-aspek tersebut secara terperinci, namun dibatasi pada
nilai-nilai pokok ajaran Islam. Nilai pokok ajaran Islam tersebut meliputi
aqidah, syariah dan akhlaq. Berikut ini akan dibahas ketiga komponen
pokok tersebut adalah sebagai berikut:
a) Aqidah
Aqidah adalah dimensi ideologi atau keyakinan dalam Islam.
Ia merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim
terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok
keimanan Islam.
53

Dalam hal ini, penanaman nilai-nilai mengenai pokok
keimanan Islam, ketaqwaan, melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya. Contoh pendidikan nilai dalam ranah ini
adalah kewajiban manusia untuk senantiasa bertaqwa pada Allah dan
bersyukur yang termuat dalam Surat Lukman ayat 12-13:
‰) 9´ρ $؏?#´™ ´≈ϑ)9 πϑ3¸t:# ¸β& ¯3©# ¸! Β´ρ ¯6±ƒ $ϑΡ¸*ù `3±„
¸µ¸¡´Ζ¸9 Β´ρ . β¸*ù ´!# ¯©¸_ î ‰‹¸ϑm ∩⊇⊄∪ Œ¸)´ρ Α$% ≈ϑ)9
¸µ¸Ζ¯/¸ω ´θδ´ρ …µ´à¸è ƒ ¯©_6≈ ƒ Ÿω 8¸Ž³@ ¸!$¸/ ´χ¸) 8Ž¸³9# 'Ο=´à9 'ΟŠ¸à ã
∩⊇⊂∪



53
Mawardi Lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral Keagamaan
Mahasiswa PTAIN (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2008), hlm. 24



53
Artinya:
12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,
Yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur
(kepada Allah), Maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya
sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 13. Dan (ingatlah) ketika
Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar.
54


Adapun target pendidikan nilai hubungannya dengan term
aqidah adalah membangun keyakinan interpersonal yang mendalam
terhadap kebenaran Islam dan pokok ajarannya.
b) Syariah
Syariah merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT
tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses
ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman
makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam
sekitar. Atau menurut Imam Idris As-Sayafi’i mengemukakan bahwa
syariat adalah peraturan-peraturan lahir bagi umat Islam yang
bersumber pada wahyu Allah dan kesimpulan-kesimpulan
(deducation) yang dapat ditarik dari wahyu Allah dan sebagainya.
Peraturan lahir itu mengenai cara bagaimana manusia berhubungan
dengan Allah dan sesama makhluk lain selain Allah.
Disinilah fungsi penanaman nilai-nilai syariah bagi seseorang.
Dengan penanaman nilai-nilai syariah sesorang dapat mengetahui
cara bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan dan cara-cara

54
Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Menara Kudus, 1990), hlm. 412



54
beribadah (ittiqaddiyah) dan mengatur cara bagaimana manusia
menyelenggarakan makhluk, yaitu antara manusia dengan manusia
dan manusia dengan makhluk lain selain manusia.
55

c) Akhlak
Akhlak adalah bentuk plural dari khuluq yang artinya tabiat,
budi pekerti, kebiasaan.
56
Sedangkan Imam Al-Ghazali
mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:
¸'='ا ةر'-= ¸= ª-,ه ¸· ¸--'ا ª=-ار '+-= -- ر- ل'··`ا ª',+--
¸-,و ¸- ¸,= ª='= _'إ ¸´· و ª,ور

Artinya:
“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang
daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah,
dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih
dahulu)”.
57


Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa akhlak adalah
kebiasaan dan kehendak. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu
diulang-ulang sehingga mudah untuk melaksanakannya, sedangkan
kehendak adalah menangnya keinginan manusia setelah mengalami
bimbingan.
Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa akhlak
merupakan suatu bentuk nilai yang harus ditanamkan pada diri
seseorang. Tujuan dari penanaman nilai akhlak pada diri seseorang
yaitu agar seseorang dapat mengetahui batas mana yang baik dan

55
Mohd. Idris Ramulyo, Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan
BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia (Jakarta: Sinar
Grafika, 2004), hlm. 8
56
Mawardi Lubis, op.cit., hlm. 26.
57
Mustofa, Akhlak Tasawuf (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), hlm. 12



55
batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai
dengan tempatnya.
3. Pendidikan Nilai Estetik
Nilai estetik adalah nilai yang lebih menghasilkan pada
penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai
estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah.
Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki
jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dan nilai estetik ini biasanya
banyak dimiliki oleh para seniman, seperti musisi, pelukis atau perancang
model.
Penanaman nilai-nilai yang mengandung unsur-unsur keindahan
dan keragaman inilah disebut dengan pendidikan nilai estetik. Pendidikan
nilai estetik ini mengarahkan bakat dan membekali seseorang menjadi
orang yang ahli sesuai dengan keahliannya.
58

4. Pendidikan Nilai Personal
Nilai personal adalah nilai-nilai yang bersifat personal terjadi dan
terkait secara pribadi atas dasar dorongan-dorongan yang lahir secara
psikologi dalam diri seseorang. Misalnya nilai tanggungjawab, daya
juang, bekerja keras, percaya diri, berprestasi, rajin, rendah hati, pandai.
Selain itu dalam al-Qur’an, banyak dijelaskan contoh pendidikan nilai
dalam ranah ini, yaitu: berlaku adil dan tidak mengumbar kebencian.


58
Diane Tillman, Living Value: An Educational Program “Living Value Activities For
Children Ages 8-14” ( Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), hlm. 13



56
Dalam surat Al-Maaidah ayat 8 diterangkan:
$κš‰ '≈ƒ š¸%!# #θ`ΨΒ#´ ™ #θΡθ. š¸Β≡¯θ% ¸! ´™# ‰κ− ¸Ý`¡¸)9$¸/ Ÿω´ρ
¯Ν6Ζ Β¸fƒ `β$↔Ψ © ¸Θ¯θ% ´’? ã ω& #θ9¸‰è? #θ9¸‰ã# ´θδ ´>%& “´θ)−G=¸9
#θ)?#´ρ ´!# ´χ¸) ´!# ´Ž¸6z $ϑ¸/ šχθ=ϑè? ∩∇∪
Artinya:
8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu
kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah,
karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
59


Nilai-nilai di atas perlu ditanamkan pada diri seseorang agar
membangun pribadi-pribadi yang mandiri, tidak mudah goyah dan
professional.
60

C. Pengembangan Pendidikan Islam
1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam
Pengembangan dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai
proses, cara, perbuatan mengembangkan.
61
Pengembangan dalam
pendidikan sangat luas cakupannya. Pada kajian skripsi ini hanya
difokuskan pada pengembangan pendidikan Islam melalui penanaman
nilai-nilai (pendidikan nilai).
Tentunya agar penanaman nilai ini lebih dapat dicapainya, maka
pendidikan sebenarnya merupakan sebuah proses tingkah laku peserta didik.

59
Al-Qur’an dan Terjemahannya, op.cit., hlm. 108
60
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 30
61
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai
Pustaka, 1989), hlm. 414



57
Dinyatakan pengertian pendidikan dalam Undang-Undang Republik
Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah
sebagai berikut:
Pendidikan adalah usaha agar manusia dapat mengembangkan
dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau … Undang-Undang
Dasar Negara Republika Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1)
menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan
pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan
nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur
dengan undang-undang.
62


Batasan ini dengan sangat nyata bahwa pendidikan Islam memiliki
peranan penting dalam menyelenggarakan sistem pendidikan nasional.
Pendidikan Islam yang menurut Ahmad D. Marimba bermaksud untuk
membimbing jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam
menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran
Islam.
63
Sedangkan Zuhairini, dkk, Pendidikan Agama berarti usaha-usaha
secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya
mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.
64

Dan dalam buku “Wacana Pengembangan Pendidikan Islam”
dijelaskan bahwa Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didirikan dan
diselenggarakan atas dasar hasrat, motivasi, dan semangat untuk
memanifestasikan atau mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-

62
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 117
63
Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989), hlm.
23
64
Zuhairini, dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Malang: Biro Ilmiah Fakultas
Tarbiyah, 1983), hlm. 27



58
nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan, melalui kegiatan
pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik pendidikan Islam.
65

Disinilah pendidikan Islam memiliki perananan penting sebagai
sebuah proses perubahan tingkah laku dalam menanamkan nilai-nilai
luhur Islam. Penanaman nilai-nilai Islam ini juga membutuhkan peranan
guru sebagai seorang pengajar. Guru bertanggungjawab untuk
mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai ajara-ajaran pokok Islam yang
meliputi tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah, syariah dan akhlah, kemudian
membina peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.,
serta memiliki akhlak mulia.
Penanaman nilai-nilai Islam pada peserta didik inilah yang disebut
sebagai pendidikan nilai. Dan implementasi pendidikan nilai ini dapat
mewujudkan suatu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam
pengembangan moral, karakter, sikap peserta didik yang
mengejawantahkan nilai luhur Islam yang sesuai dengan visi, misi dan
tujuan Pendidikan Islam.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu definisi bahwa
pengembangan pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau
perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai-
nilai Islami dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku
seseorang yang mengejawantahkan nilai-nilai Islam.

65
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: Pusat Studi Agama,
Politik dan Masyarakat (PSAMP), 2003), hlm. 6



59
2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja didirikan
dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh-
sungguh) untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam,
sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi, tujuan program
kegiatan maupun pada praktik pelaksanaan kependidikannya.
Pengembangan pendidikan nilai merupakan salah satu perwujudan dari
pengembangan pendidikan Islam.
Aktivitas-aktivitas berdasarkan nilai-nilai dalam proses
pembelajaran yang biasa disebut dengan value education ini dalam
pengembangan pendidikan Islam berorientasi untuk:
1. Mengembangkan manusia yang setuhnya, yaitu manusia yang beriman
dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengembangan iman itu
dapat ditempuh melalui pengasahan dan pengasuhan jiwa seseorang,
pikiran diarahkan untuk menemukan argument baru yang menyangkut
objek keimanan seseorang sampai menemukan ketenangan dan
ketentraman, sambil beribadah kepada-Nya. Sikap seseorang terhadap
Allah ini diaktualisasikan dalam wujud amal shaleh yakni menjalin
hubungan dengan Allah dan sesama makhluknya. Aktualisasi dari iman
itu menentukan derajat dan tingkat ketaqwaan seseorang;
66

2. Dapat mengubah sikap, prilaku yang mengejawantahkan nilai Islami
dan motivasi dalam belajar mengajar;

66
Ibid., hlm. 157



60
3. Memperkuat landasan etika moral. Landasan etika moral harus
ditumbuh kembangkan sejak awal, dengan melakukan peningkatan
kemampuan dalam pertimbangan moral terhadap setiap perilaku yang
akan dipilih;
4. Mengembangkan komitmen seluruh SDM terlibat. Parameter
komitmen adalah: jujur peduli, tanggung jawab dan lain-lain;
67

5. Memotivasi murid dan mengajak mereka untuk memikirkan diri
sendiri, orang lain, dan dunianya berdasarkan nilai-nilai keislaman;
6. Dalam prosesnya akan berkembang keterampilan pribadi, keterampilan
komunikasi sosial yang positif, dan emosional, sejalan dengan
keterampilan sosial yang damai dan penuh kerjasama dengan orang
lain;
7. Mengajarkan penghargaan dan kehormatan tiap-tiap manusia. Belajar
menikmati nilai ini menguatkan kesejahteraan tiap individu;
8. Setiap murid benar-benar memperhatikan nilai-nilai yang sesuai
dengan pokok ajaran Islam dan mampu menciptakan dan belajar yang
positif;
9. Murid-murid berjuang dalam suasana berdasarkan nilai keislaman
dalam lingkungan yang positif, aman dengan sikap saling menghargai
dan kasih sayang.
68


67
A. Malik Fajar, dkk., Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon
Dinamika Masyarakat Global (Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan
UIN Press, 2004), hlm. 10-11
68
Diane Tillman, op.cit., hlm. 13-14



61
Dari uraian tentang orientasi pengembangan pendidikan Islam di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya penanaman nilai-nilai
Islam akan membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, mandiri, cakap dan menjadi seseorang yang bertanggung
jawab.
D. Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam
1. Pendidikan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dimaknai dari dua sisi: yaitu
Pertama, ia dipandang sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum
sekolah umum (SD, SMP, SMA). Kedua, ia berlaku sebagai rumpun
pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah, Akhlaq, Fiqh, Qur’an-
Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab seperti yang
diajarkan di madrasah (MI, MTs, dan MA). Pada bagian ini pendidikan
nilai melalui PAI dimaksudkan pada pemaknaan yang pertama, walaupun
dalam kerangka umum dapat mencakup keduannya.
Sebagai mata pelajaran, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki
peranan penting dalam menyadarkan nilai-nilai agama Islam kepada
peserta didik. Muatan pelajaran yang mengandung nilai, moral dan etika
agama menempatkan PAI pada posisi terdepan dalam pengembangan
moral beragama siswa. Hal itu sekaligus berimplikasi pada tugas-tugas
guru PAI yang kemudian dituntut lebih banyak perannya dalam
penyadaran nilai-nilai keagamaan.



62
Beberapa karakter PAI sebagai mata pelajaran diungkapkan dalam
buku pedoman khusus PAI (Depdiknas, 2002), sebagai berikut:
1. PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran
pokok agama Islam,
2. PAI bertujuan membentuk peserta didik agar beriman dan bertakwa
kepada Allah Swt., serta memiliki akhlak mulia, dan
3. PAI mencakup tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah syariah dan akhlaq.
Berdasarkan karakter di atas, PAI jelas berbeda dengan pelajaran
lainnya. Muatan inti PAI adalah nilai-nilai kebenaran dan kebaikan (juga
keindahan) yang berasal dari wahyu. Nilai-nilai itu tercakup dalam
kerangka dasar PAI yang harus dikuasai oleh peserta didik.
Apabila hal itu dikaitkan dengan pendidikan nilai, maka persoalan
utama yang menjadi tanggungjawab guru PAI adalah bagaimana agar
pengetahuan tentang tiga kerangka dasar itu menyatu dengan kesadaran
yang optimal terhadap nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Walaupun
mudah diprediksi bahwa belajar al-Qur’an dan as-Sunnah secara inherent
melibatkan nilai, perlu dipikirkan cara-cara terbaik agar peserta didik,
selain hafal dan mengerti, juga ia memiliki kesadaran yang tinggi untuk
melakukannya. Oleh karenanya, kebiasaan mengajar yang terjadi selama
ini memerlukan cara yang lebih eksploratif baik deduktif maupun
induktif.
69


69
Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 198-199



63
2. Pendidikan Nilai dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk
Pengembangan Pendidikan Islam
Cerita atau kisah merupakan suatu metode mengajar dengan bentuk
bercerita atau berkisah.
70
Kegiatan cerita atau kisah merupakan salah satu
cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak
memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan. Melalui cerita atau
kisah diharapkan anak dapat menyerap pesan-pesan yang dituturkan
melalui kegiatan bercerita.
71

Pengenalan cerita dan kisah yang baik terhadap anak didik
sebenarnya sudah sangat dikenal, baik oleh orang tua maupun kalangan
pendidik. Akan tetapi dalam kenyataannya, masih saja ada bolong-bolong
atau bahkan terdapat keteledoran.
Cerita atau kisah, bagaimanapun lebih mudah untuk dipahami
dibandingkan dengan wacana yang sering kali kaku dan keras untuk
dicerna. Proses identifikasi antara seseorang dan tokoh tertentu sebenarnya
bersifat alamiah karena setiap orang butuh untuk dituntun dalam
mengarungi kehidupan dan menjalani dirinya sendiri. Bagaimanapun
pembentukan karakter melalui tokoh yang baik sangat penting. Misalnya
dalam guru PAI memberikan cerita atau tentang seorang tokoh Islam yaitu
Nabi Muhammmad, atau Usman Bin Affan dan lain-lain. Oleh karena
itulah, cerita atau kisah harusnya selalu ada, diciptakan dan dinikmati.

70
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2000), hlm. 205
71
Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2004), hlm. 170



64
Akan tetapi tentu saja sangat mengenaskan ketika di negeri ini cerita atau
kisah yang layak konsumsi tidak terlalu diperhatikan dengan baik.
Cerita atau kisah hubungannya dengan pendidikan nilai yaitu sesuai
dengan misi pendidikan nilai adalah memuncakkan domain afektif dalam
rangka memanusiakan manusia, maka cerita atau kisah yang ditampilkan
mewakili kisi-kisi tentang kemanusiaan dan menjadi manusia. Diantara
kisi-kisi itu adalah: menolong sesama, kebermanfaatan, empati, kejujuran,
saling berbagi, kesejatian, hikmah (pelajaran berharga), kegigihan dan
keuletan, toleransi, menghargai sesama, kesabaran, mengedepankan
kebaikan dari pada keburukan, bahaya keburukan, dan kualitas amal.
Di sini tidak akan dibahas tentang kebenaran dan alur cerita atau
kisah, karena pembahasan yang sebenarnya adalah mengupas kulit,
mengambil inti. Bagi sebagian orang, cerita mungkin tidak penting karena
hanyalah bingkai untuk memperlihatkan isi yang sebenarnya, yaitu pesan
dan nilai yang ada dalam cerita atau kisah. Namun sebagian yang lain
cerita atau kisah itu sangat penting karena didalamnya dianggap sebagai
frame yang membungkus nilai moral yang diembannya.
72

Dari uraian di atas jelaslah bahwa cerita atau kisah sangat membantu
dalam menanamkan pesan-pesan atau nilai pada peserta didik. Melalui
metode mengajar cerita atau kisah ini, pendidikan nilai telah dimainkan
peranannya. Pendidikan nilai dalam bingkai cerita dan kisah ini, sangat
membantu perkembangan prilaku atau tingkah laku peserta didik baik

72
Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 142-144



65
dalam ranah religi sosial, personal, maupun estetika. Aktivitas tersebut,
jika dikaitkan dengan pendidikan Islam akan dapat membantu dalam
proses pembelajaran yang nantinya dapat mewujudkan suatu
pengembangan dalam pendidikan Islam. Disinilah peranan pendidikan
nilai dalam bingkai cerita dan kisah dalam pengembangan pendidikan
Islam.
3. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam
Secara perspektif Islam pendidikan nilai diklasifikasikan ke dalam
tiga komponen yaitu nilai aqidah, syariah dan akhlak. Nilai-nilai ini di
dalam lembaga pendidikan Islam telah diakomodasikan dengan
mengintegrasikan pendidikan nilai-nilai tersebut ke dalam pendidikan
agama Islam. Sebagai realisasinya, tiga komponen tersebut merupakan
materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan.
Kegiatan pendidikan nilai yang direalisasikan pada peserta didik
merupakan suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran berarti
memberikan para siswa secara terkondisi, mereka belajar dengan
mendengar, menyimak, melihat, meniru apa-apa yang diinformasikan oleh
guru atau fasilitator di depan kelas, dengan belajar seperti ini mereka
memiliki perilaku sesuai dengan tujuan yang telah dirancang guru
sebelumnya.
73
Tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan
keberhasilan pembelajaran. Apabila pengajaran nilai-nilai tersebut dapat
merubah perilaku, sikap atau tindakan siswa, ini berarti proses

73
Martinis Yamin, Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2007), hlm. 72



66
pembelajaran yang dilakukan telah berhasil.
74
Dan keberhasilan
pembelajaran ini akan mempengarui terhadap mutu atau kualitas sumber
daya manusia (SDM) yaitu peserta didik.
Keberhasilan proses pembelajaran dan kualitas sumber daya manusia
(SDM) ini sangat mempengaruhi terhadap pengembangan pendidikan.
Pendidikan di sini dikhususkan pada pendidikan Islam. Perihal aktivitas
pendidikan nilai yang dilakukan sebagai proses pembelajaran di lembaga
pendidikan Islam dapat mempengaruhi serta mengembangkan kepribadian
peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia, baik, memiliki
pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran Islam, mandiri, menerapkan ilmu
atau nilai yang telah diperolehnya. Ini berarti proses pendidikan nilai telah
memberikan kontribusi yang berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam
terhadap pengembangan pendidikan Islam.
Kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam
ini yang akan menjadi acuan pembenaran atas sikap dan prilaku dalam
menjalankan fungsi pelayanan pendidikan Islam. Sebagai konstruksi
idelogi, nilai-nilai yang dibangun dalam meningkatkan kualitas layanan
pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan
kompetensi ungul dibangun oleh seluruh sinergi positif.
75





74
Ibid., hlm. 79
75
Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal, Kian Berat Tantangan
Pendidikan Formal (http: www.pnfi.depdiknas.go.id, diakses 14 Februari 2009)

67
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata
tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi
kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut.
Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan dalam
bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman makna
yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks dan juga unsur
pengembangan karya sastra seperti alur, tokoh, setting dan tema. Dari
pemahaman makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan
pengkategorian data yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi. Dan
selanjutnya data-data tersebut dianalisis berdasarkan pengkategoriannya.
Karakteristik penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif
memiliki beberapa ciri, yaitu: latar ilmiah, manusia sebagai alat instrumen,
metode kualitatif, analisis data secara induktif, grounded theory dan
deskriptif.
76
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua ciri, yaitu:
manusia sebagai alat atau instrumen, maksudnya peneliti sendiri atau dengan
bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama dan ciri kedua,
deskriptif, yakni data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Berdasarkan kedua

76
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kuaitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2002), hlm. 4



68
ciri tersebut analisis pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi sebagai
pengembangan pendidikan Islam perlu dilakukan pembacaan dan telaah secara
mendalam tentang makna kata-kata yang terdapat dalam dialog dan narasi
cerita. Peneliti terlibat secara penuh dan aktif dalam mengapresiasi isi novel
dan menemukan data-data utama yang menunjukkan pada permasalahan
sesuai dengan rumusan masalah.
B. Data dan Sumber Data
Hubberman menegaskan data kualitatif merupakan sumber dari
deskripsi yang luas dan berlandasan kokoh serta memuat penjelasan tentang
proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan demikian, data
verbal dapat difahami baik melalui alur peristiwa secara kronologis, narasi,
maupun dialog yang dituangkan Andrea Hirata dalam novelnya Laskar
Pelangi harus disikapi sebagai kesatuan tutur yang lebih lengkap berupa kata,
kalimat, serta paragraf sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.
77

Sumber data utama dalam penelitian ini adalah naskah novel karya
Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi Karya ini memiliki latar belakang
nilai pendidikan yang kuat pun juga penanaman pendidikan nilai yang
direpresentasikan dalam novel ini memberikan suatu motivasi dan kontribusi
yang luas biasa. Perolehan data tersebut dilakukan peneliti dengan cara
mengidentifikasi data sesuai dengan arah permasalahan yang terurai dalam
bab IV yakni hasil penelitian.

77
Michael Hubberman, A. Miles, Mattew B, Analisis Data Kualitatif ( Jakarta: Universitas
Indonesia, 1992), hlm. 1



69
C. Teknik Pengumpulan Data
Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
adalah sebagai berikut: (1) teknik observasi, (2) teknik komunikasi, (3) teknik
pengukuran, (4) tekinik wawancara, dan (5) teknik telaah dokumen. Dari
kelima teknik pengumpulan data tersebut, peneliti menggunakan teknik telaah
dokumen atau biasa disebut dengan studi dokumentasi. Dokumentasi berasal
dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Keuntungan telaah
dokumen ini ialah bahwa bahan itu telah ada, telah tersedia dan siap pakai.
Menggunakan bahan ini tidak memerlukan biaya, hanya memerlukan waktu
untuk mempelajarinya. Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari bahan itu
bila dianalisis dengan cermat yang berguna bagi penelitian yang dijalankan.
78

Dalam melaksanakan studi dokumentasi ini peneliti memilih novel laskar
pelangi sebagai bahan dalam pengumpulan data tersebut.
Langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data
penelitian adalah sebagai berikut:
1. peneliti membaca secara komprehensif dan kritis yang dilanjutkan dengan
mengamati, nilai-nilai dalam novel laskar pelangi, kemudian metode
pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai
apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi
pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan
pendidikan Islam. Dan dari kegiatan ini peneliti mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang sesuai dengan rumusan masalah,

78
Rochajat Harun, Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan (Bandung: Mandar Maju,
2007), hlm. 70



70
2. peneliti mencatat paparan bahasa yang terdapat dalam dialog-dialog tokoh,
prilaku tokoh, tuturan ekspresif maupun deskriptif dari peristiwa yang
tersaji dalam novel, dan
3. peneliti mengidentifikasi, mengklasifikasi dan menganalisis novel sesuai
dengan rumusan masalah.
Dari langkah-langkah di atas diperoleh data verbal sebagai berikut: (1)
data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai-nilai yang terkandung
dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) data berupa paparan
bahasa yang mengemban metode pengajaran nilai yang terkandung dalam
novel laskar pelangi (3) data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai-
nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) data
berupa paparan bahasa yang mengemban kontribusi pendidikan nilai dalam
novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam.
D. Instrumen Penelitian
Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai
instrumen. Instrumen penelitian di sini dimaksudkan sebagai alat pengumpul
data harus benar-benar dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga
menghasilkan data sebagaimana adanya.
79
Di sini kedudukan peneliti sebagai
isntrumen penelitian artinya dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang
melakukan penafsiran makna dan menemukan nilai-nilai tersebut. Peneliti

79
Margono, Metode Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hlm. 155



71
juga merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir
data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian.
80

Kegiatan yang dilakukan peneliti sehubungan dengan pengambilan data
yaitu, kegiatan membaca teks novel laskar pelangi dan peneliti bertindak
sebagai pembaca yang aktif membaca, mengenali, mengidentifikasi satuan-
satuan tutur yang merupakan penanda dalam satuan-satuan peristiwa yang di
dalamnya terdapat gagasan-gagasan dan pokok pikiran hingga menjadi sebuah
keutuhan makna.
E. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1)
mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya
Andrea Hirata, (2) mengidentifikasi metode pengajaran nilai yang terkandung
dalam novel laskar pelangi, (3) mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat
dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) mengidentifikasi kontribusi
pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan
pendidikan Islam.
Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis
konten. Analisis konten merupakan model kajian sastra yang tergolong baru.
Analisis konten digunakan apabila si peneliti hendak mengungkap, memahami
dan mengungkap pesan karya sastra.
81
Dalam buku Content Analysis dan
Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial bahwa Content Analysis
adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru

80
Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 168
81
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Widyatama,
2003), hlm. 160



72
(replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi
berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi.
82

Content analysis dalam sastra mendasarkan pada tiga asumsi penting
karya sastra adalah fenomena komunikasi pesan yang terselubung, didalamnya
memuat isi yang berharga bagi pembaca. Kajian sastra semacam ini, secara
epistemologis merupakan penelitian yang banyak menggunakan paham
positifistik. Analisis harus mendasarkan pada prinsip obyektivitas, sistematis
dan generalisasi. Objektivitas ditempuh melalui bangunan teoritik. Sistematis
karena memanfaatkan langkah-langkah yang jelas. Generalisasi berdasarkan
konteks karya secara menyeluruh untuk memperoleh inferensi.
Komponen penting dalam analisis konten adalah adanya masalah yang
dikonsultasikan lewat teori. Itulah sebabnya, karya sastra yang akan dibedah
lewat content analysis harus memenuhi syarat-syarat: memuat nilai-nilai dan
pesan yang jelas. Misalnya saja: memuat pesan pendidikan nilai sosial, religi
dan budi pekerti dan sebagainya.
Prosedur analisis konten dalam bidang sastra hendaknya memenuhi
syarat-syarat: (a) teks sastra perlu diproses secara sistematis, menggunakan
teori yang telah dirancang sebelumnya, (b) teks tersebut dicari unit-unit
analisis dan dikategorikan sesuai acuan teori, (c) proses analisis harus mampu
menyumbangkan ke pemahaman teori, (d) proses analisis mendasarkan pada
deskripsi, dan (e) analisis dilakukan secara kualitatif.
83


82
Burhan Bungin, Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 172
83
Suwardi Endraswara, op.cit., hlm. 162



73
Menurut Noeng Muhadjir, secara teknis content analisis mencakup
upaya:
a. klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi,
b. menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi, dan
c. menggunakan teknik analisis tertentu sebagai membuat prediksi.
Kemudian para ahli mengemukakan beberapa syarat content analisis,
yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.
84

Menurut Patton, dalam metodologi penelitian kualitatif, istilah analisis
menyangkut kegiatan (1) pengurutan data sesuai dengan tahap permasalahan
yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalitas tertentu sesuai
dengan urutan pilihan dan pengkategorian yang akan dihasilkan, dan (3)
penafsiran makna sesuai dengan masalah yang harus dijawab.
85

Sesuai dengan masalah yang digarap dalam penelitian ini, maka
kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa
(1) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang
terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-
paragraf yang mengandung gagasan tentang metode pengajaran nilai yang
terkandung dalam novel laskar pelangi, (3) paragraf-paragraf yang
mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam
pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang
kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap

84
Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan ( Jakarta:
Rineka Cipta, 1999), hlm. 14-15
85
Ibid., hlm. 103.



74
pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis tersebut dilakukan
melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi. Dalam
melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan
pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan
nilai, nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi
pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori.
F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Sebagai upaya untuk memeriksa keabsahan data peneliti menggunakan
beberapa teknik antara lain:
1. Teknik ketekunan pengamat, yakni peneliti secara tekun memusatkan diri
pada latar penelitian untuk menemukan ciri-ciri dan unsur yang relevan
dengan persoalan yang diteliti. Peneliti mengamati secara mendalam pada
novel agar data yang ditemukan dapat dikelompokkan sesuai dengan
kategori yang telah dibuat dengan tepat;
86

2. Teknik berdiskusi dengan teman sejawat yang mengambil jurusan bahasa
dan sastra;
87

3. Berdiskusi dengan para pakar sastra, pakar pendidikan nilai dan pakar
pendidikan Islam.
Selain itu dalam pengumpulan data peneliti dipandu rambu-rambu
yang berisi ketentuan studi dokumentasi tentang pendidikan nilai. Perolehan
tersebut dilakukan peneliti dengan identifikasi data sesuai dengan arah
permasalahan dalam penelitian. Adapun rambu-rambu tersebut antara lain:

86
Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 329-330
87
Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang,
2004), hlm. 82



75
1. Dengan bekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan yang
dimiliki, peneliti membaca sumber data secara kritis cermat dan teliti.
Peneliti membaca berulang-ulang untuk menghayati dan memahami secara
kritis dan utuh terhadap sumber data;
2. Dengan berbekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan
peneliti melakukan pembacaan sumber data secara berulang-ulang dan
terus menerus secara berkesinambungan. Langkah ini diikuti kegiatan
penandaan, pencatatan, dan pemberian kode (coding);
3. Peneliti membaca dan menandai bagian dokumen, catatan, dan transkripsi
data yang akan dianalisis lebih lanjut. Langkah ini dipandu dengan
rumusan masalah dan tujuan penelitian.


76
BAB IV
PAPARAN DATA

A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi
Unsur-unsur yang terdapat dalam novel laskar pelangi meliputi
beberapa hal: (1) tokoh atau penokohan, (2) latar, (3) alut atau plot, dan (4)
tema.
1. Tokoh atau Penokohan yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi
Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang
diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita
tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan
SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh
dengan keterbatasan. Mereka adalah:
1. Ikal
2. Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
3. Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani
Fadillah
4. Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
5. A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur
Zaman
6. Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
7. Kucai; Mukharam Kucai Khairani
8. Borek aka Samson



77
9. Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
10. Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan
Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1
SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai Laskar
Pelangi. Adapun tokoh-tokoh lainnya adalah sebagai berikut:
1. Bu Muslimah : Bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti
K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi.
Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan
merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.
2. Pak Harfan : Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A.
Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia
adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid
awalnya takut melihatnya.
3. Flo : Bernama asli adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal
dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN
yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian
dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat
membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani
sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya
dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.



78
4. A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong.
A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena
harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.
2. Latar yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi
Awal penulis tertarik membaca novel yang berlatar belakang
kehidupan anak-anak pada sebuah komunitas Melayu Belitong ini karena
maraknya pembahasan novel ini di media massa.
Novel ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak-anak yang
tinggal di daerah pesisir pulau Belitong selama menempuh pendidikan
dasar di sekolah Muhammadiyah. Pada awal-awal novel, Andrea Hirata
mencoba menggambarkan realita sosial yang terjadi pada masyarakat asli
di sana, terutama komunitas Melayu Belitong yang kontradiktif dengan
kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tampaknya isi cerita ini
memberikan kesan yang menyentuh hati bagaimana sebelas anak-anak
yang menjuluki diri mereka sebagai laskar pelangi ini memiliki motivasi
tinggi berjuang memperbaiki nasib masyarakat Melayu Belitong yang
masih jauh tertinggal. Mereka berjuang dengan cara mereka masing-
masing. Terlihat dari keunikan masing-masing anak dibahas oleh Andrea
Hirata setiap bab di novel ini. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan
penulis terkesan ilmiah sekali dengan banyaknya istilah-istilah ilmu eksak
yang ditemukan setiap alur cerita. Namun hal ini tidak mengurangi sisi
keindahan sebuah karya sastra yang digemari masyarakat awam ini, malah



79
menurut saya justru memperkaya khazanah berpikir sambil berimajinasi
dalam membayangkan isi fiksi ini.
Menurut penulis, setting latar cerita, sangat identik dengan tahun
80-an selain itu juga menggambarkan latar kehidupan salah satu komunitas
di pulau Belitong dan sepatutnya kita dapat menangkap esensi dari cerita
ini yang hendak disampaikan oleh Andrea Hirata. Memang tidak mudah
menceritakan kejadian-kejadian yang dialami oleh seorang anak kecil
apalagi masa-masa kecil kita dahulu yang penuh dengan idealisme untuk
dijadikan sebuah pemacu semangat bagi orang-orang dewasa yang
terlampau berpikir pragmatis dalam menilai hidup ini. Sampai umur
berapa pun, setiap orang dapat mewujudkan cita-cita masa kecilnya dahulu
yang masih tersimpan di memori. Oleh karena itulah, Andrea Hirata
membuktikan hal tersebut dalam novelnya Laskar Pelangi ini. Oleh
karena itu, saya cukup terkesan dalam membaca novel ini. Saya juga
menyarankan novel ini sangat baik dibaca oleh berbagai kalangan yang
peduli akan pendidikan di Indonesia. Sehingga suatu saat akan
bermunculan generasi laskar pelangi yang memberikan perubahan
terhadap nasib bangsa kita, Indonesia.
3. Alur atau Plot yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi
Salah satu buku sastra paling populer beberapa tahun belakangan
ini adalah novel Laskar Pelangi karya penulis Andrea Hirata. Ini
merupakan buku pertama dari tetralogi di samping Sang Pemimpi, Edensor
dan Maryamah Karpov. Penulis tidak akan membahas keempat buku



80
tersebut secara bersamaan, karena pada tulisan ini penulis akan lebih
banyak mengungkap tentang buku best seller (sebenarnya rata-rata
keempatnya merupakan best seller) yakni Laskar Pelangi.
Selain laris manis dalam bentuk buku (terbukti dari cetak ulang
yang berkali-kali), Laskar Pelangi juga telah ditampilkan dalam bentuk
layar lebar. Kisahnya menjadi lebih dramatis karena pembaca dapat bisa
secara langsung melihat dengan jelas visualisasi dari novel tersebut. Selain
menyajikan pemandangan alam Belitung yang indah (yang masih belum
banyak terjamah tangan manusia). Membaca novel ini, sadar atau tidak,
pembaca akan terhanyut pada kisah sederhana yang mengharu biru ini.
Semua rasa menjadi satu, ada sedih, senang, suka, duka, lucu, penuh warna
seperti goresan pelangi.
Buku Laskar Pelangi, sebenarnya bukan “murni” novel. Seperti
yang dijelaskan sendiri oleh penulisnya kalau Laskar Pelangi sebenarnya
merupakan sebuah memoar sebagian kisah hidup penulis beserta teman-
temannya semasa kecil yang mereka namakan sebagai Laskar Pelangi.
Namun, memoar tersebut disajikan alur (plot) bercerita, sehingga bolehlah
kita sebut novel. Novel Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yang
terinspirasi dari kisah nyata (true story) penulisnya. Selain memiliki alur
yang jelas, penggambaran tokoh dan setting disajikan oleh Andrea dengan
sangat baik. Selain itu, banyak juga pengetahuan-pengetahuan baru yang
bisa diserap sewaktu membaca buku ini.




81
3. Tema yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi
Sebuah tema yang sudah jarang diangkat. Pentingnya arti menuntut
ilmu, adalah makna sentral novel Laskar Pelangi. Ketika dihadapkan pada
sebuah kondisi yang membuat miris, kita dikejutkan berkali-kali dengan
gejolak muda para tokoh dalam cerita ini. Dihiasi dengan eksplorasi
mendetail akan pulau bangka belitung (Belitong kala itu), semuanya
disajikan dengan gaya bertutur yang menghibur.
Adalah Ikal, tokoh sentral dalam novel ini. Kisah berjalan melalui
sudut pandangnya dalam mencermati realita kehidupan. Saat ia
menyaksikan satu persatu benturan-benturan ketimpangan hidup ini.
Sebuah jalinan kisah suka dan duka, perputaran yang membuat pembaca
mengalami gejolak perasaan naik dan turun, rasa miris akan ironi, gelak
tawa akan kekonyolan para tokohnya, juga golakan perasaan pada saat
sorak kemenangan.
Laskar pelangi adalah 10 orang anak pulau Belitong yang disatukan
saat hari pertama mereka masuk sekolah, di sekolah Muhammadiyah yang
dilukiskan laksana gudang kopra. Mereka sangat miskin, tidak mampu
bersekolah di sekolah negeri atau sekolah PN Timah (yang diceritakan
sebagai sekolah elit khusus anak pegawai kelas tinggi PN Timah). Temui
Lintang sang jenius, anak nelayan pedalaman yang mampu memcahkan
soal-soal fisika yang rumit hanya dalam hitungan detik, Mahar yang
seniman dengan bakat alam yang kerap membuat orang tercengang,
Trapani yang tampan namun cinta ibu, Sahara, muslimah yang galak



82
gemar mencakar, kucai yang merepresentasikan sosok politikus sejak lahir,
A kiong yang polos namun figur sobat sejati, Samson yang perkasa, Harun
yang 15 tahun lebih tua karena terbelakang, dan syahdan yang tidak
menonjol namun kelak paling sukses diantara mereka. Juga Flo,
perempuan tomboi yang meninggalkan sekolah elitnya untuk bergabung
dengan laskar pelangi.
Lembaran demi lembaran membawa kita melintasi 9 tahun mereka
berpetualang di sekolah itu hingga menjadi apa mereka disaat dewasa
kelak. Kadang membuat kita berdecak kagum melihat rentetan peristiwa
yang dialami anak-anak ini. Mahar dalam usianya yang belia telah mampu
menjadi arranger sebuah komposisi musik yang rumit perpaduan antara
tabla, sitar dan electone yang menghasilkan penyajian menggugah lagu
owner of the lonely heart-nya yess dan light my fire-nya the doors. Mahar
juga mampu membuat koreografi kontemporer ala suku Masai afrika pada
saat karnaval sekolah. Kemudian lintang, bocah ini adalah sosok jenius
yang menonjol dalam segala mata pelajaran. Ia mampu menguasai
kalkulus sewaktu SD, dan teori fisika optik di bangku kelas dua SMP,
mampu menyelesaikan hitung-hitungan matematika yang paling rumit
dalam hitungan detik tanpa membuat coret-coretan. Dan sosok laskar
pelangi lainnya dengan keunikannya masing-masing.
Sebuah renungan dalam memandang pendidikan masyarakat kita di
usia dini. Penulis menyajikan cerita ini dengan meluapkan kritik dan
kegundahannya pada setiap kejadian yang dialami para tokoh. Juga



83
disertakan kekuatan referensinya dalam membedah setiap detail keindahan
pulau belitong. Meskipun dibeberapa bagian masih tampak berlebihan dan
dipaksakan, namun pembaca menjadi jelas akan perbedaan kelas,
ketimpangan sosial, dan kehidupan kalangan miskin di belitong kala itu.
Juga pembaca akan tersenyum simpul dalam beberapa cerita, seperti cinta
antar etnis sang tokoh dengan aling, bocah perempuan cina yang masih
sensitif kala itu. Atau pertemuan dengan Tuk bayan tulla yang dukun
misterius, atau dengan Bodenga sang pemuja Buaya yang dilukiskan
seperti Bushman dalam film God Must Be Crazy.

B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi
Pada bab empat ini, penulis akan mendeskripsikan nilai-nilai yang
terdapat dalam novel laskar pelangi. Deskripsi nilai-nilai tersebut adalah hasil
analisis penelitian penulis dengan menggunakan teori yang telah dirancang
sebelumnya.
Adapun nilai-nilai yang akan penulis deskripsikan yaitu mengenai nilai-
nilai yang bersifat global, bukan nilai yang bersifat Islami. Nilai-nilai itu
meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai estetika.
Nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan
dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai personal yang telah
penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi meliputi: nilai tanggung
jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk
mencapai cita-cita, nilai dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai
kecerdasan, nilai percaya diri, nilai keikhlasan, nilai kebahagiaan, nilai



84
disiplin, nilai perjuangan menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah,
nilai rendah hati, nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai
iba, dan nilai tekad untuk lebih baik.
Nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan.
Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia
mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam
produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam
novel Laskar Pelangi antara lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong,
nilai keharmonisan, nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai
sportifitas, nilai dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban,
nilai persahabatan.
Dan nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian
pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada
kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki
jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif.
Dalam hal ini, nilai-nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi
adalah sebagai berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai
seni sastra, dan nilai kreatif atau originalitas.

Table 1 Paparan Data Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar
Pelangi Karya Andrea Hirata

No Deskripsi Nilai-nilai Teks Dalam Novel Laskar Pelangi
1. Nilai tanggung jawab ”Pak Harfan tampak amat bahagia



85
menghadapi murid, tipikal guru
yang sesungguhnya, seperti dalam
lingua asalnya, india, yaitu orang
yang tak hanya mentransfer sebuah
pelajaran, tapi juga yang secara
pribadi menjadi sahabat dan
pembimbing spiritual bagi
muridnya” (hlm. 23).
2. Nilai perjuangan “Pak Harfan menceritakan semua
itu dengan semangat perang Badar
sekaligus setengah embusan angin
pagi. Kami terpesona pada setiap
pilihan kata dan gerak lakunya yang
memikat. Ada semacam pengaruh
yang lembut dan baik terpancar
darinya. Ia mengesankan sebagai
pria yang kenyang akan pahit getir
perjuangan dan kesusahan hidup
berpengetahuan seluas samudra,
bijak berani, mengambil resiko, dan
menikmati daya tarik dalam
mencari-cari bagaimana cara
menjelaskan sesuatu agar setiap
orang mengerti” (hlm. 23).
3. Nilai keteguhan pendirian,
ketekunan, keinginan kuat
untuk mencapai cita-cita, dan
dermawan.

“Pak Harfan memberi kami
pelajaran pertama tentang
keteguhan pendirian, tentang
ketekunan, tentang keinginan kuat
untuk mencapai cita-cita. Beliau
meyakinkan kami bahwa hidup bisa



86
demikian bahagia dalam
keterbatasan jika dimaknai dengan
keikhlasan berkorban untuk sesama.
Lalu beliau menyampaikan sebuah
prinsip yang diam-diam menyelinap
jauh ke dalam dadaku serta
memberi arah bagiku hingga
dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk
memberi sebanyak-banyaknya,
bukan untuk menerima sebanyak-
banyaknya” (hlm. 24).
4. Nilai multikultural

“Jumlah orang Tionghoa di
kampong kami sekitar sepertiga dari
total populasi. Ada orang kek, ada
orang Hokian, ada orang Tongsan,
dan ada yang tak tahu asal usulnya”
(hlm. 35).
5. Nilai keindahan “Gedung-gedung sekolah PN
didesain dengan arsitektur yang tak
kalah indahnya dengan rumah
bergaya Victoria disekitarnya.
Ruangan kelasnya dicat warna-
warni dengan tempelan gambar
yang educative, poster operasi dasar
matematika, table pemetaan unsur
kimia, peta dunia, jam dinding,
thermometer, foto para ilmuwan dan
penjelajahan yang member inspirasi,
dan ada kastok topi. Di setiap kelas
ada patung anatomi tubuh yang



87
lengkap, globe yang besar, white
board, dan alat peraga konstelasi
planet-planet” (hlm 57-58).
6. Nilai kompetisi “Di dalam kelas-kelas itu puluhan
siswa PN brilian bersaing ketat
dalam standar mutu yang sangat
tinggi” (hlm. 58).
7. Nilai pertolongan “Di setiap kelas ada kotak P3K
berisi obat-obat pertolongan
pertama. Kalau ada siswanya yang
sakit maka ia akan langsung
mendapatkan pertolongan cepat
secara professional atau segera
dijemput oleh mobil ambulans yang
meraung-raung” (hlm. 58).
8. Nilai keharmonisan “Demikian harmonisnya ekosistem
yang terpusat pada sebatang pohon
filicium anggota familia acacia ini.
Seperti para guru yang mengabdi
dibawahnya, pohon ini tak henti-
hentinya menyokong kehidupan
sekian banyak spesies. Pada musim
hujan ia semakin semarak. Puluhan
jenis kupu-kupu, belalang sembah,
bunglon, lintah, jamur telur beracun,
kumbang capung, ulat bulu dan ular
daun saling berebutan tempat” (hlm.
66).
9. Nilai seni ketrampilan “Aku mau ikut ke pasar, Cai,”
Syahdan memohon kepada Kucai,



88
ketika kami dibagi kelompok dalam
pelajaran pekerjaan tangan dan
harus membeli kertas kajang di
pasar” (hlm. 66).
10. Nilai kebahagiaan dan
persahabatan.
“Sembilan teman sekelasku
memberiku hari-hari yang lebih dari
cukup untuk suatu ketika di masa
depan nanti kuceritakan pada setiap
orang bahwa masa kecilku amat
bahagia. Kebahagiaan yang spesifik
karena kami hidup dengan persepsi
tentang kesenangan sekolah dan
persahabatan yang kami
terjemahkan sendiri” (hlm. 85).
11. Nilai disiplin “Tapi lebih dari setengah perjalanan
sudah, aku tak kan kembali pulang
gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada
kata bolos dalam kamusku, dan hari
ini ada tarikh Islam, mata pelajaran
yang menarik. Ingin kudebatkan
kisah ayat-ayat suci yang
memastikan kemenangan
Byzantium tujuh tahun sebelum
kejadian. Sudah siang, aku maju
sedikit, aku pasti terlambat tiba di
sekolah” (hlm. 88).
12. Nilai perjuangan dalam
menuntut ilmu
“Aku hanya sendirian. Jika ada
orang lain aku berani lebih frontal.
Tahukah hewan ini pentingnya
pendidikan? Aku tak berani lebih



89
dekat. Ia menganga dan bersuara
rendah, suara dari perut yang
menggetarkan seperti sendawa
seekor singa atau seperti suara
orang menggeser sebuah lemari
yang sangat besar. Aku diam
menunggu. Tak ada jalur alternatif
dan kekuatan jelas tak berimbang.
Aku mulai frustasi. Suasana sunyi
senyap. Yang ada hanya aku, seekor
buaya ganas yang egois, dan intaian
maut” (hlm. 88)
13. Nilai pentingnya mencari ilmu
dan sigap menghadapi
masalah
“Lintang hanya dapat belajar setelah
agak larut karena rumahnya gaduh,
sulit menemukan tempat kosong,
dan karena harus berebut lampu
minyak. Namun sekali ia memegang
buku, terbanglah ia meninggalkan
gubuk doyong berdinding kulit itu.
Belajar adalah hiburan yang
membuatnya lupa pada seluruh
penat dan kesulitan hidup. Buku
baginya adalah obat dan sumur
kehidupan yang airnya selalu
memberi kekuatan baru agar ia
mampu mengayuh sepeda
menantang angin setiap hari. Jika
berhadapan dengan buku ia akan
terisap oleh setiap kalimat ilmu
yang dibacanya, ia tergoda oleh
sayap-sayap kata yang diucapkan



90
oleh para cerdik cendekia, ia melirik
maksud tersembunyi dari sebuah
rumus, sesuatu yang mungkin tak
kasat mata bagi orang lain” (hlm.
100-101).
14. Nilai Rendah Hati “Jika kami kesulitan, ia mengajari
kami dengan sabar dan selalu
membesarkan hati kami.
Keunggulannya tidak menimbulkan
perasaan terancam bagi sekitarnya,
kecemerlangannya tidak
menerbitkan iri dengki, dan
kehebatannya tidak sedikit pun
mengisyaratkan sifat-sifat angkuh.
Kami bangga dan jatuh hati padanya
sebagai seorang sahabat dan sebagai
seorang murid yang cerdas luar
biasa. Lintang yang miskin duafa
adalah mutiara, galena, kuarsa, dan
topas yang paling berharga bagi
kelas kami” (hlm. 109).
15. Nilai keingintahuan “Lintang selalu terobsesi dengan
hal-hal baru, setiap informasi adalah
sumbu ilmu yang dapat meledakkan
rasa ingin tahunya kapan saja.
Kejadian ini terjadi ketika kami
kelas lima, pada hari ketika ia
diselamatkan oleh Bodenga” (109).
16. Nilai kecerdasan dalam
geometri multidimensional
“Namun, sahabatku Lintang
memiliki hampir semua dimensi



91
kecerdasan. Dia seperti toko serba
ada kepandaian. Yang paling
menonjol adalah kecerdasan
spasialnya, sehingga ia sangat
unggul dalam geometri
multidimensional. Ia dengan cepat
dapat membayangkan wajah sebuah
konstruksi suatu fungsi jika digerak-
gerakkan dalam variabel derajat. Ia
mampu memecahkan kasus-kasus
dekomposisi modern yang runyam
dan mengajari kami teknik
menghitung luas poligon dengan
cara membongkar sisi-sisinya sesuai
Dalil Geometri Euclidian. Ingin
kukatakan bahwa ini sama sekali
bukan perkara mudah” (hlm. 113-
114).
17. Nilai kecerdasan secara
experiential
“Lintang juga cerdas secara
experiential yang membuatnya
piawai menghubungkan setiap
informasi dengan konteks yang
lebih luas. Dalam kaitan ini, ia
memiliki kapasitas metadiscourse
selayaknya orang-orang yang
memang dilahirkan sebagai seorang
genius. Artinya adalah jika dalam
pelajaran biologi kami baru
mempelajari fungsi-fungsi otot
sebagai subkomponen yang
membentuk sistem mekanik parsial



92
sepotong kaki maka Lintang telah
memahami sistem mekanika seluruh
tubuh dan ia mampu menjelaskan
peran sepotong kaki itu dalam
keseluruhan mekanika persendian
dan otot-otot yang terintegrasi”
(hlm. 114-115)
18. Nilai kecerdasan lingustik “Kecerdasannya yang lain adalah
kecerdasan linguistik. Ia mudah
memahami bahasa, efektif dalam
berkomunikasi, memiliki nalar
verbal dan logika kualitatif. Ia juga
mempunyai descriptive power,
yakni suatu kemampuan
menggambarkan sesuatu dan
mengambil contoh yang tepat.
Pengalamanku dengan pelajaran
bahasa Inggris di hari-hari pertama
kelas 2 SMP nanti membuktikan hal
itu” (hlm. 115).
19. Nilai seni suara “Dan di siang yang panas
menggelegak ini, ketika pelajaran
seni suara, di salah satu sudut
kumuh perguran miskin
Muhammadiyah, kami menjadi
saksi bagaimana nasib menemukan
bakat Mahar. Mulanya Bu Mus
meminta A Kiong maju ke depan
kelas untuk menyanyikan sebuah
lagu, dan seperti diduga hal ini



93
sudah delapan belas kali terjadi ia
akan membawakan lagu yang sama
yaitu Berkibarlah Benderaku karya
Ibu Sud.
“…berkiballah bendelaku….”
“…lambang suci gagah pelwila ….”
(hlm. 129).
20. Nilai Imajinatif “Mahar sangat imajinatif dan tak
logis seseorang dengan bakat seni
yang sangat besar. Sesuatu yang
berasal dari Mahar selalu
menerbitkan inspirasi, aneh, lucu,
janggal, ganjil, dan menggoda
keyakinan. Namun, mungkin karena
otak sebelah kanannya benar-benar
aktif maka ia menjadi pengkhayal
luar biasa. Di sisi lain ia adalah
magnet, simply irresistible!” (hlm.
143).
21. Nilai seni drama “Mahar pula yang membentuk
sekaligus menyutradarai grup teater
kecil SD Muhammadiyah.
Penapilan favorit kami adalah cerita
perang Uhud dalam episode Siti
Hindun. Dikisahkan bahwa wanita
pemarah ini mengupah seorang
budak untuk membunuh Hamzah
sebagai balas dendam atas kematian
suaminya. Setelah Hamzah mati
wanita itu membelah dadanya dan



94
memakan hati panglima besar itu. A
Kiong memerankan Hamzah, dan
Sahara sangat menikmati perannya
sebagai Siti Hindun. Juga karena
inisiatif Mahar, akhirnya kami
membentuk sebuah grup band. Alat-
alat musik kami adalah electone
yang dimainkan Sahara, standing
bass yang dibetot tanpa ampun oleh
Samson, sebuah drum, tiga buah
tabla, serta dua buah rebana yang
dipinjam dari badan amil Masjid Al-
Hikmah” (hlm. 146).
22. Nilai seni sastra/puisi “Aku Bermimpi Melihat Surga.
Sungguh, malam ketiga di
Pangkalan Punai aku mimpi melihat
surge Ternyata surga tidak megah,
hanya sebuah istana kecil di tengah
hutan tidak ada bidadari seperti
disebut di kitab-kitab suci aku
meniti jembatan kecil Seorang
wanita berwajah jernih
menyambutku “inilah surga”
katanya. Ia tersenyum, kerling
matanya mengajakku menengadah.
Seketika aku terkesiap oleh pantulan
sinar matahari senja. Menyirami
kubah-kubah istana Mengapa sinar
matahari berwarna perak, jingga,
dan biru? Sebuah keindahan yang
asing. Di istana surge dahan-dahan



95
pohon ara menjalar ke dalam
kamar-kamar sunyi yang bertingkat-
tingkat. Gelas-gelas kristal
berdenting dialiri air zamzam.
Menebarkan rasa kesejukan. Bunga
petunia ditanam di dalam pot-pot
kayu. Pot-pot itu digantungkan pada
kosen-kosen jendela tua berwarna
biru. Di beranda, lampu-lampu kecil
disembunyikan di balik tilam, indah
sekali. Sinarnya memancarkan
kedamaian. Tembus membelah
perdu-perdu di halaman Surga
begitu sepi, tapi aku ingin tetap di
sini karena kuingat janjimu, Tuhan
kalau aku datang dengan berjalan
engkau akan menjemputku dengan
berlari-lari” (hlm. 181-182).
23. Nilai kompetisi

“Karnaval 17 Agustus sangat
potensial untuk meningkatkan
gengsi sekolah, sebab ada penilaian
serius di sana. Ada kategori busana
terbaik, parade paling megah,
peserta paling serasi, dan yang
paling bergengsi: penampil seni
terbaik. Gengsi ini juga tak terlepas
dari integritas para juri yang
dipimpin oleh seorang seniman
senior yang sudah kondang, Mbah
Suro namanya. Mbah Suro adalah
orang Jawa, ia seniman Yogyakarta



96
yang hijrah ke Belitong karena
idealisme berkeseniannya. Karena
sangat idealis maka tentu saja Mbah
Suro juga sangat melarat” (hlm.
215-216).
“Kembali kami berada dalam
sebuah situasi yang
mempertahurkan reputasi. Lomba
kecerdasan. Dan kami berkecil hati
melihat murid-murid negeri dan
sekolah PN membawa buku-buku
teks yang belum pernah kami lihat.
Tebal berkilat-kilat dengan sampul
berwarna-warni, pasti buku-buku
mahal. Sebagian manusia berteriak-
teriak keras menghafalkan kantor
berita” (hlm. 363).
24. Nilai partisipatif “Kita harus karnaval! Apa pun yang
terjadi! Dan biarlah tahun ini para
guru tidak ikut campur, mari kita
beri kesempatan kepada orang-
orang muda berbakat seperti Mahar
untuk menunjukkan kreativitasnya,
tahukah kalian...dia adalah seniman
yang genius!” (hlm. 222)
25. Nilai dukungan “Tabahkan hati kalian, keluarkan
seluruh kemampuan!” ledak Bu
Mus memberi semangat kepada
kami, para mamalia. Pak Harfan
sudah tidak bisa bicara apa-apa.



97
Tangannya membekap dada seperti
orang berdoa” (hlm. 239-240).
26. Nilai sportifitas “Sekolah Muhammadiyah telah
menciptakan daripada suatu arwah
baru dalam karnaval ini. Maka dari
itu mereka telah mencanangkan
suatu daripada standar baru yang
semakin kompetitif dari pada mutu
festival seni ini. Mereka mendobrak
dengan ide kreatif, tampil all out,
dan berhasil menginterpretasikan
dengan sempurna daripada sebuah
tarian dan musik dari negeri yang
jauh. Para penarinya tampil penuh
penghayatan, dengan spontanitas
dan totalitas yang mengagumkan
sebagai suatu manifestasi daripada
penghargaan daripada mereka
terhadap seni pertunjukan itu
sendiri.Penampilan Muhammadiyah
tahun ini adalah daripada suatu
puncak pencapaian seni yang gilang
gemilang dan oleh karena itu dewan
juri tak punya daripada pilihan lain
selian daripada menganugerahkan
penghargaan daripada penampila
seni terbaik tahun ini kepada
sekolah Muhammadiyah!” (hlm.
246-247).
27. Nilai kreatif/originalitas “Buah-buah aren itu sungguh



98
merupakan sebuah rancangan
kalung etnik properti adi busana
koreografi yang bernilai seni, hasil
perenungan Mahar berjam-jam
sambil memandangi langit di bawah
pohon filicium. Itulah sebuah
perenungan tingkat tinggi yang
membuat hatinya bergejolak
sepanjang malam karena girang
akan memberi kami pelajaran,
sebuah perenungan pembalasan
dendam yang telah ia rencanakan
dengan rapi selama bertahun-tahun”
(hlm. 248).
28. Nilai berkeinginan keras “Syahdan vulgar dan sok tahu. Aku
segera teringat pada A Kiong.
Beberapa hari ini ia belajar di kelas
sambil berdiri karena lima biji bisul
padi bermunculan dipantatnya
sehingga ia tak bisa duduk. Tapi ia
berkeras ingin tetap sekolah” (hlm.
254).
29. Nilai empati “Tabahlah, kawan, ambil semua
resiko, begitulah hidup,” demikian
barangkali maksudnya. Aku
membalas dengan senyum kecut
karena aku gelisah. Aku gelisah
membayangkan apa yang ada di
pikiran seorang wanita muda
Tionghoa tentang laki-laki Melayu



99
kampung seperti aku. Dan berada di
tengah lingkungan mereka membuat
aku semakin ragu. Apa aku pulang
saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku
telanjur berdarah-darah” (hlm. 265)
30. Nilai mutualisme “Pembimbingnya menuntut Eryn
menulis sesuatu yang baru, berbeda
dan mampu membuat terobosan
ilmiah karena ia adalah mahasiswa
cerdas pemenang award. Aku setuju
dengan pandangan itu. Erny
sebenarnya telah memiliki konsep
tentang sesuatu yang berbeda itu.
Dari pembicaraannya yang meluap-
luap aku menangkap bahwa ia telah
mempelajari suatu gejala psikologi
di mana seorang individu demikian
tergantung pada individu lain
sehingga tak bisa melakukan apapun
tanpa pasangannya itu. Kemudian ia
mengajukan tema tersebut,
pembimbingnya setuju” (hlm. 444).
31. Nilai percaya diri “Persoalan klasiknya adalah
kepercayaan diri. Inilah problem
utama jika berasal dari lingkungan
marginal dan mencoba bersaing.
Kami telah dipersiapkan dengan
baik oleh Bu Mus. Beliau memang
menaruh harapan besar pada lomba
ini lebih dari beliau berharap waktu



100
karnaval dulu” (hlm. 364).
32. Nilai ketangkasan “Lintang kembali menyambar
tombol secepat kilat dan
jawabannya serta merta memecah
ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x
minus x kali dx, hasilnya dua belas
koma lima!” (hlm. 370).
33. Nilai rendah hati “Maafkan Bapak Guru Muda, atas
nama dewan juri saya terpaksa
mengatakan bahwa pengetahuan
kami agaknya belum sampai
kesana” (hlm. 379).
34. Nilai pemberani “Bantahannya yang terakhir itu
adalah pelecehan. Lintang tersengat
harga dirinya, wajahnya merah
padam, sorot matanya tak lagi
jenaka. Lintang, yang baru sekali ini
menginjak Tanjung Pandang, berdiri
dengan gagah berani menghadapi
guru PN yang arogan jebolan
perguruan tinggi terkemuka itu”
(hlm. 380-381).
35. Nilai keadilan “Nilai Flo adalah yang paling parah.
Matematika, Bahasa Inggris dan
IPA hanya mendapat angka 2.
Meskipun Bapaknya telah
menyumbang papan tulis baru,
lonceng, jam dinding dan pompa air
untuk Muhammadiyah namun Bu
Mus tak peduli, beliau tak



101
sedikitpunsungkan menganugrahkan
angka-angka bebek berenang itu di
rapor Flo karena memang itulah
nilai anak Gedong itu” (hlm. 402)
36. Nilai sopan santun “Nama saya Flo, Floriana,” kata Flo
sambil berusaha menyalami Bu
Frischa. Pria flamboyant itu
menganguk santun dan
melemparkan senyum termanisnya
untuk Flo” (hlm. 403).
37. Nilai pemberani “Nasib baik memihak para
pemberani!” (hlm. 422)
38. Nilai pendidikan “Inilah pesan Tuk Bayan Tula untuk
kalian berdua, jika ingin lulus ujian:
buka buku, belajar!!” (hlm. 424).
39. Nilai kerinduan “Sekarang hari kamis, sudah empat
hari Lintang tak muncul juga. Aku
melamun memandangi tempat
duduk disebelahku yang kosong.
Aku sedih melihat dahan fisilium
tempat ia bertengger jika kami
memandangi pelangi. Ia tak ada di
sana. Kami sangat kehilangan dan
cemas. Aku rindu pada Lintang”
(hlm. 429).
40. Nilai tekad untuk lebih baik “Aku benar-benar bertekad
mendapatkan beasiswa itu karena
bagiku ia adalah tiket untuk
meninggalkan hidupku yang
terpuruk” (hlm. 460).



102
41. Nilai iba “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat
jelas ia kelelahan melawan nasib.
Lengannya kaku seperti besi karena
kerja rodi tapi tubuhnya kurus dan
ringkih. Binar mata dan kepintaran
dan senyum manis yang jenaka itu
tak pernah hilang walaupun
sekarang kulitnya kering berkilat
dimakan minyak. Rambutnya merah
awut-awutan. Lintang dan
keseluruhan bangunan ini
menimbulkan rasa iba, iba karena
kecerdasan yang sia-sia terbuang”
(hlm. 468).
42. Nilai kepedulian “Bagaimana kabarnya si Ikal itu,
ibunda?” Tanya Mahar kepada ibu
Ikal” (hlm. 492).
43. Nilai keakraban “Terakhir ia mengirimku sepucuk
surat dan diselipkannya selembar
foto dalam suratnya itu” (hlm. 493).


C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar
Pelangi
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode
pengajaran nilai berarti suatu cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan penanaman nilai-nilai guna mencapai tujuan yang
ditentukan. Dalam novel laskar pelangi metode pengajaran nilai yang



103
digunakan adalah metode bercerita atau berkisah, dan metode menampilkan
gambar kemudian menceritakan hakikat makna yang tersirat pada gambar
tersebut.
Tabel 2 Paparan Data Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam
Novel Laskar Pelangi

No Deskripsi Metode Pengajaran
Nilai
Teks Dalam Novel Laskar Pelangi
“Bapak yang jahitan kerah
kemejanya telah lepas itu bercerita
tentang perahu Nabi Nuh serta
pasangan-pasangan binatang yang
selamat dari banjir bandang”.
“Mereka yang ingkar telah
diingatkan bahwa air bah akan
datang…,” demikian ceritanya
dengan wajah penuh penghayatan”.
“Namun, kesombongan
membutakan mata dan menulikan
telinga mereka, hingga mereka
musnah dilamun ombak….” (hlm.
22).
1. Metode pengajaran nilai dengan
bercerita
“Cerita selanjutnya sangat
memukau. Sebuah cerita
peperangan besar zaman Rasulullah
di mana kekuatan dibentuk oleh
iman bukan oleh jumlah tentara:
perang Badar! Tiga ratus tiga belas
tentara Islam mengalahkan ribuan



104
tentara Quraisy yang kalap dan
bersenjata lengkap” (hlm. 22).
“Ketahuilah wahai keluarga
Ghudar, berangkatlah kalian ke
tempat-tempat kematian kalian
dalam masa tiga hari!” Demikian
Pak Harfan berteriak lantang sambil
menatap langit melalui jendela
kelas kami. Beliau memekikkan
firasat mimpi seorang penduduk
Mekkah, firasat kehancuran
Quraisy dalam kehebatan perang
Badar. Mendengar teriakan itu
rasanya aku ingin melonjak dari
tempat duduk. Kami ternganga
karena suara Pak Harfan yang berat
menggetarkan benang-benang halus
dalam kalbu kami. Kami menanti
liku demi liku cerita dalam detik-
detik menegangkan dengan dada
berkobar-kobar ingin membela
perjuangan para penegak Islam”
(hlm. 22-23).
2. Metode pengajaran nilai dengan
berkisah
“Lalu Pak Harfan mendinginkan
suasana dengan berkisah tentang
penderitaan dan tekanan yang
dialami seorang pria bernama
Zubair bin Awam. Dulu nun di
tahun 1929 tokoh ini bersusah
payah, seperti kesulitan Rasulullah
ketika pertama tiba di Madinah,



105
mendirikan sekolah dari jerjak kayu
bulat seperti kandang. Itulah
sekolah pertama di Belitong.
Kemudian muncul para tokoh
seperti K.A. Abdul Hamid dan
Ibrahim bin Zaidin yang berkorban
habis-habisan melanjutkan sekolah
kandang itu menjadi sekolah
Muhammadiyah. Sekolah ini adalah
sekolah Islam pertama di Belitong,
bahkan mungkin di Sumatra
Selatan” (hlm. 23).
3. Metode pengajaran nilai dengan
menampilkan gambar kemudian
menceritakannya.
“Beliau tak menanggapi keluhan itu
tapi mengeluarkan sebuah buku
berbahasa Belanda dan
memerplihatkan sebuah gambar.
Gambar itu adalah sebuah ruangan
yang sempit, dikelilingi tembok
tebal yang suram, tinggi, gelap, dan
berjeruji. Kesan di dalamnya begitu
pengap, angker, penuh kekerasan
dan kesedihan”. “Inilah sel Pak
Karno di sebuah penjara di
Bandung, di sini beliau menjalani
hukuman dan setiap hari belajar,
setiap waktu membaca buku.
Beliau adalah salah satu orang
tercerdas yang pernah dimiliki
bangsa ini.” (hlm. 31).

D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam



106
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat
dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat Islami yang
meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan nilai akhlaq (nilai budi
pekerti atau nilai moral). Nilai-nilai ini sangat penting untuk ditanamkan atau
dikembangkan dalam pendidikan Islam guna mendukung proses pencapaian
tujuan yang diinginkan.

Tabel 3 Paparan Data Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam
Pendidikan Islam

No Deskripsi Nilai-Nilai Teks Dalam Novel Laskar Pelangi
1. Nilai menebarkan salam “Pak Harfan berdiri di depan para
orangtua, wajahnya muram. Beliau
bersiap-siap memberikan pidato
terakhir. Wajahnya tampak putus
asa. Namun ketika beliau akan
mengucapkan kata pertama
Assalamu’alaikum seluruh hadirin
terperanjat karena Tripani
berteriak sambil menunjuk ke
pinggir lapangan rumput luas
halaman sekolah itu” (hlm. 6).
2. Nilai akhlak tentang amar
ma’ruf nahi mungkar
”Lalu persis di bawah mathari tadi
tertera huruf-huruf arab gundul
yang nanti setelah kelas dua,
setelah aku pandai membaca huruf
arab, aku tahu bahwa tulisan itu
berbunyi amar makruf nahi



107
mungkar artinya: menyuruh
kepada yang makruf dan
mencegah dari yang mungkar”.
Itulah pedoman utama warga
Muhammadiyah. Kata-kata itu
melekat dalam kalbu kami sampai
dewasa nanti. Kata-kata yang
begitu kami kenal seperti kami
mengenal bau alami ibu-ibu kami”
(hlm. 19).
3. Nilai keikhlasan “Pengetahuan terbesar terutama
kudapat dari sekolahku, karena
perguruan Muhammadiyah
bukanlah center of excellence, tapi
ia merupakan pusat marginalitas
sehingga ia adalah sebuah
universitas kehidupan. Di sekolah
ini aku memahami arti keikhlasan,
perjuangan, dan integritas. Lebih
dari itu, perintis peruguran ini
mewariskan pelajaran yang amat
berharga tentang ide-ide besar
Islam yang mulia, keberanian
untuk merealisasi ide itu meskipun
tak putus-putus dirundung
kesulitan, dan konsep menjalani
hidup dengan gagasan memberi
manfaat sebesar-besarnya untuk
orang lain melalui pengorbanan
tanpa pamrih” (hlm. 84).
“Pak Harfan telah puluhan tahun



108
mengabdi di sekolah
Muhammadiyah nyaris tanpa
imbalan apa pun demi motif syiar
Islam. Beliau menghidupi keluarga
dari sebidang kebun palawija di
pekarangan rumahnya” (hlm. 21).
4. Nilai syariah/ibadah “Shalatlah tepat waktu, biar dapat
pahala lebih banyak,” demikian
Bu Mus selalu menasihati kami”
(hlm. 31).
5. Nilai budi pekerti “Bu Mus adalah seorang guru
yang pandai, karismatik, dan
memiliki pandangan jauh ke
depan. Beliau menyusun sendiri
silabus pelajaran Budi Pekerti dan
mengajarkan kepada kami sejak
dini pandangan-pandangan dasar
moral, demokrasi, hukum,
keadilan, dan hak-hak asasi jauh
hari sebelum orang-orang
sekarang meributkan soal
materialisme versus pembangunan
spiritual dalam pendidikan. Dasar-
dasar moral itu menuntun kami
membuat konstruksi imajiner
nilai-nilai integritas pribadi dalam
konteks Islam. Kami diajarkan
menggali nilai luhur di dalam diri
sendiri agar berperilaku baik
karena kesadaran pribadi. Materi



109
pelajaran Budi Pekerti yang hanya
diajarkan di sekolah
Muhammadiyah sama sekali tidak
seperti kode perilaku formal yang
ada dalam konteks legalitas
institusional seperti sapta prasetya
atau pedoman-pedoman
pengalaman lainnya” (hlm. 30).
6. Nilai akhlak tentang berbakti
pada orang tua
“Trapani sangat berbakti kepada
orangtua, khususnya ibunya.
Sebaliknya, ia juga diperhatikan
ibunya layaknya anak emas.
Mungkin karena ia satu-satunya
laki-laki diantara lima saudara
perempuan lainnya. Ayahnya
adalah seorang operator vessel
board di kantor telepon PN
sekaligus tukang sirine. Meskipun
rumahnya dekat dengan sekolah
tapi sampai kelas tiga ia masih
diantar jemput ibunya. Ibu adalah
pusat gravitasi hidupnya” (hlm.
74).
7. Nilai Kesabaran “Sebentar lagi Anakku, sebentar
lagi…,” jawab Bu Mus sabar,
berulang-ulang, puluhan kali,
sepanjang tahun, lalu Harun pun
bertepuk tangan” (hlm. 77).
8. Nilai Jujur “Ketika ibuku bertanya tentang
tanda itu aku tak berkutik, karena



110
pelajaran Budi Pekerti
Kemuhammadiyahan setiap Jumat
pagi tak membolehkan aku
membohongi orangtua, apalagi
ibu. Maka dengan amat sangat
terpaksa kutelanjangi
kebodohanku sendiri. Abang-
abang dan ayahku tertawa sampai
menggigil dan saat itulah untuk
pertama kalinya aku mendengar
teori canggih ibuku tentang
penyakit gila” (hlm. 82)
9. Nilai Syukur. “Maka sejak waktu virtual tercipta
dalam definisi hipotesis manusia
tatkala nebula mengeras dalam
teori lubang hitam, di antara titik-
titik kurunnya yang merentang
panjang tak tahu akan berhenti
sampai kapan, aku pada titik ini, di
tempat ini, merasa bersyukur
menjadi orang Melayu Belitong
yang sempat menjadi murid
Muhammadiyah” (hlm. 85).
10. Nilai tauhid tentang zat-zat
Tuhan
“Tempat di atas langit ketujuh,
tempat kebodohan bersemanyam,
adalah metaphor dari suatu tempat
di mana manusia tak bisa
mempertanyakan zat-zat Allah.
Setiap usaha mempertanyakannya
hanya akan berujung dengan



111
kesimpulan yang
mempertontonkan kemahatololan
sang penanya sendiri. Maka semua
jangkauan akal telah berakhir di
langit ketujuh tadi. Di tempat
asing tersebut, barangkali Arasy,
di sana kembali metaphor
kagungan Tuhan bertakhta. Di
bawah takhta-Nya tergelar Lauhul
Mahfuzh, muara dari segala
cabang anak-anak sungai ilmu dan
kebijakan, kitab yang telah
mencatat setiap lembar daun yang
akan jatuh. Ia juga menyimpan
rahasia ke mana nasib akan
membawa sepuluh siswa baru
perguruan Muhammadiyah tahun
ini. Karena takdir dan nasib
termasuk dalam zat-Nya” (hlm.
105).
11. Nilai syariah tentang menjaga
aurat
“Kucai mengangkangi dahan
tertinggi, sedangkan Sahara, satu-
satunya betina dalam kawanan itu,
bersilang kaki di atas dahan
terendah. Pengaturan semacam itu
tentu bukan karena budaya
patriarki begitu kental dalam
komunitas Melayu, tapi semata-
mata karena pakaian Sahara tidak
memungkinkan ia berada di atas
kami. Ia adalah muslimah yang



112
menjaga aurat rapat-rapat” (hlm.
159).
12. Nilai Aqidah tentang Larangan
Syirik
”Disambung berita penting:
”Klenik, ilmu ghaib, tahayul,
paranormal, semuanya sangat
dekat dengan pemberhalaan.
Syirik adalah larangan tertinggi
dalam Islam. Ke mana semua
kebijakan dari pelajaran aqidah
setiap selasa? Ke mana semua
hikmah dari pengalaman jahiliyah
masa lampau dalam pelajaran
tarikh Islam? Ke mana etika
kemuhammadiyahan?” (hlm. 350-
351).
13. Nilai Taqwa ”Para anggota Societeit adalah
orang-orang biasa, miskin dan
kebanyakan, namun mereka kaya
raya akan pengalaman batin dan
petualangan penuh mara bahaya
untuk mencari kebenaran hakiki.
Mereka memastikan setiap
kesangsian, membuktikan
prasangka dan mitos-mitos, serta
mengalami sendiri apa yang hanya
bisa diduga-duga orang. Mereka
memuaskan sifat dasar
keingintahuan manusia sampai
batas akhir yang menguji
keyakinan. Mereka adalah orang-



113
orang yang menjeput hidayah dan
tidak duduk termangu-mangu
menunggunya. Kini mereka
menjadi orang-oarang Islam yang
taat yang menjauhkan diri dari
syrik” (hlm. 474).
14. Nilai Silaturrahmi ”Setelah acara peluncuran buku,
aku, Nur Zaman, Mahar, dan
Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk
bersilaturrahmi sekalian
menanyakan kabar anaknya
dirantau orang” (hlm. 491).


114
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar
Pelangi
Pada bab lima ini, penulis akan menafsirkan temuan nilai-nilai yang
terdapat dalam novel laskar pelangi, kemudian pengintegrasian temuan
penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dilakukan dengan
jalan menjelaskan temuan-temuan dalam konteks khasanah yang lebih luas.
Adapaun nilai-nilai yang telah penulis deskripsikan pada bab empat di
atas yaitu mengenai nilai-nilai yang bersifat global bukan nilai yang bersifat
Islami. Nilai-nilai itu meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai
seni.
Pertama, nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel
Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:
a. Nilai Tanggungjawab
Nilai tanggungjawab, paragraf yang mengandung nilai tersebut
dalam novel laskar pelangi yaitu:
”Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal guru
yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, india, yaitu
orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang
secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi
muridnya” (hlm. 23).

Deskripsi penafsiran nilai tanggung jawab pada teks di atas adalah
sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,



115
yang seharusnya ia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan
(alam, sosial), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini,
bahwasanya pak Harfan adalah tipe seorang yang memiliki sikap dan
prilaku untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai guru kepada
muridnya untuk selalu membimbing dan mengarahkan muridnya baik
dalam hal pengetahuan maupun spiritual.
b. Nilai Perjuangan
Nilai perjuangan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah
“Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar
sekaligus setengah embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap
pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh
yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria
yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup
berpengetahuan seluas samudra, bijak berani, mengambil resiko, dan
menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan
sesuatu agar setiap orang mengerti” (hlm. 23).

Deskripsi penafsiran nilai perjuangan pada teks di atas adalah
sikap dan prilaku seseorang besunguh-sungguh berjuang dengan segenap
jiwa dan raganya. Perjuangan pak Harfan terhadap dunia pendidikan
begitu sangat besar, sekalipun hanya dengan sepuluh murid, beliau tetap
berjuang untuk mencerdaskan atau memahamkan murid-muridnya dengan
semangat, daya tarik sehingga dapat memikat perhatian muridnya. pak
Harfan adalah tipikal guru yang patut diteladani oleh para pendidik
lainnya. Saat ini, kebanyakan para pendidik memposisikan kedudukannya
hanya sebagai profesi, akan tetapi tanggung jawab terhadap pekejaannya
masih perlu dipertanyaan, apakah mereka sudah benar-benar berjuang



116
untuk mencerdaskan peserta didiknya untuk mencetak dan memelihara
aset (generasi) yang lebih berkuatlitas dengan bekal pengetahuan dan
psiritual yang tinggi? Tugas guru sabagai pengajar merupakan pekerjaan
berat, mereka memeraskan otak, mental, dan fisik untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dan hal tersebut, telah dilaksanakan oleh pak Harfani
dalam membimbing, melatih dan mengajar sepuluh muridnya di sekolah
Muhammadiyah.
c. Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk
mencapai cita-cita, dan nilai dermawan
Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk
mencapai cita-cita, dan nilai dermawan paragraf yang mengandung nilai
tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan
pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk
mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa
demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan
keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan
sebuah prinsip prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam
dadaku serta member arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa
hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk
menerima sebanyak-banyaknya” (hlm. 24).

Deskripsi penafsiran nilai teguh pendirian yaitu sikap atau perilaku
kokoh dan tidak mudah terombang-ambing. Seseorang yang memiliki
sikap ini cenderung memiliki prinsip yang kuat serta tidak mudah goyah
dalam segala hal. Sedangkan nilai ketekunan adalah sikap tidak menyerah
pada rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau
tujuan. Kemudian nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita dapat



117
ditafsirkan sebagai sikap atau perilaku seseorang yang bersungguh-
sungguh dengan motivasi yang tinggi serta usaha yang tiada tara untuk
mewujudkan harapan atau cita-cita. Dan adapun nilai dermawan
merupakan tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga
menyumbangkan waktu uang dan tenaganya. Jika nilai-nilai tersebut
diajarkan, maka akan dijadikan bekal seseorang dalam menjalani
kehidupan dengan prinsip-prinsip yang teguh (tidak mudah ikut-ikutan),
tekun, bersemangat untuk mengejar cita-cita dan selalu dermawan pada
sesama manusia.
d. Nilai Kompetisi
Nilai kompetisi paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa PN brilian bersaing ketat
dalam standar mutu yang sangat tinggi” (hlm. 58).

Deskripsi penafsiran nilai kompetisi adalah sikap atau perilaku
seseorang yang selalu ingin bersaing positif untuk merebutkan kejuaraan
dalam lingkup dabungan perkumpulan. ”Fastabiqul Khairat” yang artinya
berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ini berarti Islam juga memberikan
anjuran kepada manusia untuk selalu berkompetisi dalam hal-hal yang
baik. Maka dari itu, nilai kompetisi ini perlu ditanamkan pada diri
seseorang. Dengan adanya kompetisi akan membangun jiwa yang
memiliki daya saing yang tinggi untuk terus maju.





118
e. Nilai Kecerdasan
Nilai kecerdasan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi
kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling
menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul
dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat
membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak-
gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-
kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami
teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar
sisisisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa
ini sama sekali bukan perkara mudah” (hlm. 113-114).

“Lintang juga cerdas secara experiential yang membuyatnya piawai
menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas.
Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya
orang-orang yang memang dilharikan sebagai seorang genius.
Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari
fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem
mekanik parsial sepotong kaki maka Liontang telah memahami
sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran
sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan
otot-otot yang terintegrasi” (hlm. 114-115)

“Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah
memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar
verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power,
yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil
contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris
di harihari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu” (hlm.
115).

Deskripsi penafsiran nilai kecerdasan yaitu kemampuan yang
dimiliki seseorang yang diberikan oleh Tuhannya. Kemampuan itu akan
terus berkembang, manakala orang tersebut selalu berusaha untuk terus
mengembangkan kemampuannya dengan baik. Sebagaimana sosok
Lintang, ia adalah anak yang cerdas, akan tetapi dengan kecerdasannya itu,



119
ia tetap untuk rajin membaca atau selalu haus untuk menuntut ilmu. Maka
dari itu, Lintang menjadi anak yang multitalenta, sebagaimana yang
terdapat dalam teks di atas Lintang memiliki kecerdasan spesial,
experiental dan lingual.
f. Nilai Percaya Diri
Nilai percaya diri, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem
utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing.
Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang
menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap
waktu karnaval dulu” (hlm. 364).

Deskripsi penafsiran nilai percaya diri adalah sikap atau tingkah
laku seseorang yang optimis dalam menghadapi sesuatu. Dengan adanya
sikap percaya diri seseorang tidak mudah minder dalam segala hal.
Percaya diri merupakan kunci kesuksesan “al-i’timadu alannafsi
asasunnajah”.
g. Nilai Disiplin
Nilai disiplin, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak ‘kan kembali
pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam
kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang
menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan
kemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah
siang, aku maju sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah” (hlm.
88).





120
Deskripsi nilai disiplin adalah sikap dan perilaku seseorang yang
berniat untuk menaati dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Berkaitan dengan teks di atas, konteks disiplin telah diterapkan oleh
Lintang. Sekalipun dalam suatu perjalan ada halangan yang dapat
mengancam nyawanya, namun Lintang tetap tidak ingin terlambat. Ini
berarti, Lintang memiliki sikap atau prilaku yang berniat untuk menaati
dan mengikuti peraturan yang ada di sekolah Muhammadiyah.
h. Nilai Perjuangan Menuntut Ilmu
Nilai perjuangan menuntut ilmu, paragraf yang mengandung nilai
tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain aku berani lebih frontal.
Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih
dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang
menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara
orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam
menunggu. Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak
berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada
hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut” (hlm.
88).

Deskripsi penafsiran nilai perjuangan menuntut ilmu adalah sikap
dan tingkah laku seseorang dalam berjuang dengan sungguh-sungguh
dalam mencari ilmu demi bekal hidupnya. Ilmu adalah petunjuk bagi
manusia, ilmu juga sebagai alat pengotrol manusia. Berjuang dalam
menuntut ilmu akan dirasakannya setelah seseorang benar-benar
menjalankan ilmu yang telah diperolehnya. Lintang adalah tokoh yang
sangat peduli terhadap pendidikan. Perjuangannya dalam menuntut ilmu
penuh dengan pengorbanan. Daya juang dan semangatnya begitu tinggi.



121
Sebagai generasi penerus banggsa, maka kita harus meniru sosok Lintang
dalam memperjuangkan pendidikan.
i. Nilai Sigap Menghadapi Masalah
Nilai sigap menghadapi masalah, paragraf yang mengandung nilai
tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya
gaduh, sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut
lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia
meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah
hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan
hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya
selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda
menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan buku ia akan
terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh
sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia
melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang
mungkin tak kasat mata bagi orang lain” (hlm. 100-101).

Deskripsi penafsiran nilai sigap menghadapi masalah adalah sikap
tegas dan tegar dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Pribadi
yang tegas dan tegar dalam menghadapi masalah ini berarti segala urusan
akan mudah terselesaikan. Seperti halnya Lintang, ia hanya menyempatkan
diri belajar pada waktu malam hari, karena rumahnya gaduh dan ia sulit
menemukan tempat kosong. Begitu hebatnya Lintang, ia tidak pernah
mengeluh pada orang tuanya. Oleh karenanya, sebagai manusia yang telah
diberikan nikmat yang lebih baik seharusnya kita juga harus bersikap
seperti halnya Lintang. Belajar dan selalu haus membaca demi
mendapatkan pengetahuan.





122
j. Nilai Rendah Hati
Nilai rendah hati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Jika kami kesulitan, Lintang mengajari kami dengan sabar dan
selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan
perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak
menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun
mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati
padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang
cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara,
galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami”
(hlm. 109).

Deskripsi nilai rendah hati adalah sikap atau prilaku tidak sombong
dengan apa yang dimiliki, serta tidak angkuh dengan apa yang
diperbutanya. Rendah hati termasuk suatu cara untuk mendapatkan
kemuliaan. Orang yang rendah hati seperti jurang yang didalamnya
berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang
sombong seperti bukit yang tidak menetap didalanya air hujan dan air
hujan yang lain. Di sinilah sosok lintang yang selalu rendah hati, tidak
pernah sombong sekalipun ia menjadi manusia super cerdas.
k. Nilai Ketangkasan
Nilai ketangkasan paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawabannya
serta merta memecah ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x minus x
kali dx, hasilnya dua belas koma lima!” (hlm. 370).

Deskripsi penafsiran nilai ketangkasan adalah sikap atau prilaku
cekatan dalam menjalankan sesuatu. Tangkas di sini bukanlah sikap atau



123
prilaku terburu-buru. Ketangkasan yang dimaksudkan ini yaitu
ketangkasan yang memiliki stategi dalam mengambil tindakan. Misalnya
saja dalam suatu perlombaan yang diikuti oleh Lintang, Ikal dan Mahar
adalah perlombaan yang amat berat, karena mereka menghadapi lawan
yang tngguh. Namun ketika perlombaan dimulai dan pertanyaan telah
dibacakan oleh juri Lintang, Ikal dan Mahar mencoba tenang, bersikap
percaya diri dan menjawab pertanyaan dengan penuh strategi yang matang.
l. Nilai Gagah Berani
Nilai gagah berani, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang tersengat
harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi
jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjung Pandang,
berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan
jebolan perguruan tinggi terkemuka itu” (hlm. 380-381).

Deskripsi penafsiran gagah berani yaitu sikap atau prilaku tangguh
dan berani dalam membela kebenaran. Sikap atau prilaku berani karena
benar ini disebut al-jurah. Seseorang yang memiliki sikap al-jurah atau
berani karena benar, tidak akan perna lekang dengan kebenaran dan tidak
mudah ditundukkan. Hal ini begitu menonjol pada pribadi Lintang seorang
murid Muhammadiyah yang mana ia begitu gagah berani dalam
menyangkal jawaban guru PN yang jawabannya memang benar-benar
salah. Di sinilah Lintang mulai menjelaskan jawabannya dengan sangat
rasional dan sikap yang bijak. Ia berani demi kebenaran, ia tidak peduli



124
siapa yang dihadapinya, yang terpenting ia telah mempertahankan suatu
kebenaran dengan sikap yang baik.
m. Nilai Kerinduan
Nilai kerinduan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Sekarang hari kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga.
Aku melamun memandangi tempat duduk disebelahku yang
kososng. Aku sedih melihat dahan fisilium tempat ia bertengger
jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat
kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang” (hlm. 429).

Deskripsi penafsiran nilai kerinduan merupakan sikap atau prilaku
yang dirasakan seseorang karena rindu atau kangen pada orang lain.
Kerinduan ini berasal dari kata ash-shabwah bermakna condong,
sebagaimana dikatakan as-shaba ila kadza maksudnya ia condong kepada
sesuatu. Kaitan nilai kerinduan dengan teks di atas yaitu perasaan yang
penuh kerinduan dan condong pada seseorang yang selama ini tidak
pernah hadir dan tampak secara kasat mata. Ia adalah Lintang yang kini
harus berhenti sekolah demi menghidupi keluarganya sebagai pengganti
ayahnya yang telah meninggal dunia. Seluruh kawan-kawan lintang
merasakan kerinduan yang mendalam pada Lintang karena orang yang
dianggap super cerdas kini harus putus sekolah.
n. Nilai Iba
Nilai iba, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel
laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan
nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya



125
kurus dan ringkih. Binar mata dan kepintaran dan senyum manis
yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya
kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya merah awut-awutan.
Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba
karena kecerdasan yang sia-sia terbuang” (hlm. 468).

Deskripsi penafsiran nilai iba adalah sikap atau prilaku seseorang
yang yang merasakan kepedihan yang sedang dihadapi orang lain, akan
tetapi kepekaan rasa itu tidak dapat membantu bebannya hanya dapat
memberikan solusi nasehat atau pesan. Rasa iba ini dirasakan oleh para
murid Muhammadiyah yang telah kehilangan Lintang, mereka merasakan
iba karena kecerdasan Lintang yang terbuang sia-sia.
o. Dan Nilai Tekad Untuk Lebih Baik
Nilai tekad untuk lebih baik, paragraf yang mengandung nilai
tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena
bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk”
(hlm. 460).

Deskripsi penafsiran nilai tekad untuk lebih baik yaitu kekuatan
jiwa yang tinggi untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik. Individu
yang memiliki sikap atau prilaku demikian berarti ia memiliki harapan di
masa depan. Dengan sikap tekad, maka individu akan terus berusaha
dengan sekuat tenaga dan dengan kesungguhan untuk mewujudkan
kehidupan yang lebih baik. Hal ini dialami oleh Ikal yang ia benar-benar
bertekad mendapatkan beasiswa, karena baginya itu merupakan tiket untuk
menggalkan kehidupan yang terpuruk.



126
Kedua, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan
kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama
manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala
macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat
dalam novel Laskar Pelangi antara lain:
a. Nilai Multikultural
Nilai multikultural, paragraf yang mengandung nilai tersebut
dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Jumlah orang Tionghoa di kampong kami sekitar sepertiga dari
total populasi. Ada orang kek, ada orang Hokian, ada orang
Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya” (hlm. 35).

Deskripsi penafsiran nilai multicultural adalah pandangan dunia
yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan
yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang
plural dan multicultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. Nilai
multicultural ini telah ditanamkan pada masyarakat Belitong, namun
sekalipun mereka hidup berdampingan dengan suku atau agama yang
berbeda namun kerukunan dan keharmonisan tetap terjalin romantis.
b. Nilai Pertolongan
Nilai pertolongan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan
pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung
mendapatkan pertolongan cepat secara professional atau segera
dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung” (hlm. 58).




127
Deskripsi penafsiran nilai pertolongan adalah sikap dan prilaku
seseorang yang mencerminkan adanya kesadaran dan kemauan untuk
saling membantu atau menolong tanpa pamrih. Nilai pertolongan ini telah
diajarkan dan dipraktikan oleh sekolah PN, ini terbukti dengan
diadakannya kotak P3K berisikan obat-obat pertolongan pertama. Dengan
adanya P3K murid-murid PN belajar untuk memahami makna
pertolongan.
c. Nilai Keharmonisan
Nilai keharmonisan, paragraf yang mengandung nilai tersebut
dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang
pohon filicium anggota familia acacia ini. Seperti para guru yang
mengabdi dibawahnya, pohon ini tak henti-hentinya menyokong
kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin
semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon,
lintah, jamur telur beracun, kumbang capung, ulat bulu dan ular
daun saling berebutan tempat” (hlm. 66).

Deskripsi penafsiran nilai keharmonisan merupakan sikap atau
prilaku seseorang yang mencerminkan keserasian, keselarasan baik dengan
sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Selanjutnya nilai
keharmonisan ini terjalin begitu harmonisnya antara anak-anak sekolah
Muhammadiyah dengan makhluk hidup lainnya. Mereka tidak pernah
merusak atau mengganggu makhluk lainnya, mereka juga melaksanakan
prose pembelajaran kadangkala dibawah pohon filicium deangan ditemani
puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah dan lain-lain.




128
d. Nilai Empati
Nilai empati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel
laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Tabahlah, kawan, ambil semua resiko, begitulah hidup,” demikian
barangkali maksudnya. Aku membalas dengan senyum kecut
karena aku gelisah. Aku gelisah membayangkan apa yang ada di
pikiran seorang wanita muda Tionghoa tentang laki-laki Melayu
kampung seperti aku. Dan berada di tengah lingkungan mereka
membuat aku semakin ragu. Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu.
Dan rinduku telanjur berdarah-darah” (hlm. 265).

Deskripsi penafsiran nilai empati adalah kemampuan individu
dalam membaca psikologis dan emosi orang lain. Empati mencerminkan
seberapa individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi
orang lain. Individu yang berempati mampu mendengarkan dan
memahami orang lain sehingga ia pun mendatangkan reaksi positif dengan
lingkungan. Rasa empati ini dirasakan oleh A Kiong, yang mana ia
merasakan kegundahan, kerinduan Ikal pada A Ling, A kiong merasakan
bahwa Ikal juga takut bahwa ragu akan perbedaan kepercayaan antara Ikal
dan A Ling. Dengan berempati itulah, akhirnya A Kiong membantu Ikal
untuk mempertemukannya dengan A Ling. Inilah nilai empati yang
diekspresikan oleh A King.
e. Nilai Mutualisme
Nilai Mutualisme, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru,
berbeda dan mampu membuat terobosan ilmiah karena ia adalah
mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan
itu. Erny sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang



129
berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap-luap aku
menangkap bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di
mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain
sehingga tak bisa melakukan apapun tanpa pasangannya itu.
Kemudian ia mengajukan tema tersebut, pembimbingnya setuju”
(hlm. 444).

Deskripsi penafsiran nilai mutualisme adalah sikap atau prilaku
seseorang yang mencerminkan adanya unsur sosial, di mana seorang
individu demikian tergantung pada individu lain. Nilai ini harus difahami
oleh setiap individu, karena dengan kesadaran bahwa individu merupakan
makhluk sosial, maka akan memiliki pribadi atau sikap yang tinggi
terhadap kepentingan umum.
f. Nilai Sopan Santun
Nilai sopan santun, paragraf yang mengandung nilai tersebut
dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Nama saya Flo, Floriana,”kata Flo sambil berusaha menyalami Bu
Frischa. Pria flamboyant itu menganguk santun dan melemparkan
senyum termanisnya untuk Flo” (hlm. 403).

Deskripsi penafsiran nilai sopan santun merupakan sikap dan
prilaku sopan santun dalam bertindak dan bertutur kata terhadap orang
tanpa menyinggung atau menyakiti serta menghargai tata cara yang
berlaku sesuai dengan norma, budaya, dan adat istiadat.
g. Nilai Partisipatif
Nilai partisipatif, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini
para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada
orang-orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan



130
kreativitasnya, tahukah kalian ... dia adalah seniman yang genius!”
(hlm. 222).

Deskripsi penafsiran nilai partisipasi adalah sikap atau prikalu
seseorang yang mengikutsertakan diri bergabung dengan pihak lain.
Dalam peningkatan partisipasi tersebut setidaknya dapat dan harus mampu
meningkatkan rasa harga diri dan ikut memiliki. Selain itu, peningkatan
partisipasi lebih ditekankan pada segi psikologis dari pada materi, di mana
dengan melibatkan seseorang didalamnya, maka orang tersebut akan
merasa ikut bertanggung jawab. Nilai partisipasi ini dicerminkan oleh
seluruh komponen warga Muhammadiyah yang ikut serta dalam karnaval
dalam memperingati 17 agustus.
h. Nilai Dukungan Pada Seseorang
Nilai dukungan pada seseorang, paragraf yang mengandung nilai
mtersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu
Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan
sudah tidak bisa bicara apa-apa. Tangannya membekap dada seperti
orang berdoa”.

Deskripsi penafsiran nilai dukungan pada seseorang adalah sikap
atau prilaku seseorang yang memberikan motivasi atau dukungan pada
orang lain untuk lebih optimis, produktif dalam segala hal. Seperti halnya
bu Muslimah yang memberikan dukungan pada Lintang, Ikal dan Mahar
ketika mengikuti perlombaan cerdas-cermat. Bu Muslimah begitu tulus
memberikan dukungan agar muridnya tetap optimis untuk bersaing dalam
kebaikan.



131
i. Nilai Kepedulian
Nilai kepedulian, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang.
Anak Bengal penduduk Gedung itu memisahkan diri rombongan
teman-teman kelasnya ketika hiking di Gunung Selumar. Polisi, tim
SAR, anjing pelacak, anjing kampong, kelompok pecinta alam,
para pendaki professional dan amatir, para petualang, para
penduduk yang berpengalaman di hutan, para pengangguran yang
bosan tak melakukan apa-apa, dan ratusan orang kampong tumpah
ruah mencarinya ditengah hutan lebat ribuan hectare yang
melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk didalamnya”
(hlm. 308-309).

Deskripsi penafsiran nilai kepedulian adalah sikap atau prilaku
seseorang yang peka dan proaktif untuk mewujudkan rasa solidaritas
dengan membantu orang lain. Teks di atas mendeskripsikan tentang
kepedulian semua orang pada Flo yang hilang. Dan rasa kepedulian itu,
mereka wujudkan dalam bentuk tindakan yaitu mencari Flo di tengah
hutan belantara. Rasa solidaritas pada Flo inilah yang dinamakan nilai
kepedulian.
j. Nilai Keakraban
Nilai keakraban, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Terakhir ia mengirimku sepucuk surat dan diselipkannya selembar
foto dalam suratnya itu” (hlm. 493).

Deskripsi penafsiran nilai keakraban adalah sikap atau prilaku yang
mencerminkan sikap atau prilaku seseorang mampu bersosialisasi dengan
orang lain dengan baik, ceria, tidak mau menang sendiri, mau menerima



132
saran serta kritik dari orang lain dan tidak mau memutuskan hubungan
persaudaraan. Dan adapun yang dimaksud pada teks di atas tentang
perealisasian nilai keakraban adalah Ikal, di mana ia adalah sosok orang
yang tidak mau memutuskan hubungan persaudaraan atau persahabatan
dengan teman-temannya, terbukti sekalipun ia jauh, Ikal tetap
mengirimkan surat pada Mahar, dengan maksud ia tetap menjalin
keakraban dengan teman-temannya walaupun jauh di mata, akan tetapi
harus tetap dekat dihati.
k. Nilai Persahabatan
Nilai persahabatan, paragraf yang mengandung nilai tersebut
dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
”Kami menuju ke sebuah gubuk pencuri timah di wilayah maut
pinggiran Sungai Buta hanya untuk menemani Mahar, menemani ia
memuaskan egonya, membuktikan padanya bahwa insting tidak
harus selalu benar, dan melindunginya dari ketololannya sendiri.
Walaupun kami benci pada kefanatikannya tapi ia tetap teman
kami, anggota laskar pelangi, kami tak ingi kehilangan dia, kadang-
kadang persahabatansangat menuntut dan menyebalkan” (hlm.
326).

Deskripsi penafsiran nilai persahabatan adalah menggambarkan
prilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas
sosial atau suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan
dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Nilai yang
terdapat dalam persahabatan secara konsisten cenderung untuk
menginginkan apa yang terbaik antara satu sama lain, kemudian, simpati-
empati, saling pengertian dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut tergambar pada
teks di atas.



133
Ketiga, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian
pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada
kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki
jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif.
Dalam hal ini, nilai-nilai seni yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah
sebagai berikut:
a. Nilai Keindahan
Nilai keindahan, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel
lascar pelangi adalah sebagai berikut:
“Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak
kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria disekitarnya.
Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar
yang educative, poster operasi dasar matematika, table pemetaan
unsure kimia, peta dunia, jam dinding, thermometer, foto para
ilmuwan dan penjelajahan yang member inspirasi, dan ada kastok
topi. Disetiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe
yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet”
(hlm 57-58).

Deskripsi penafsiran nilai keindahan yaitu suatu pikiran yang
timbul dari rasa individu. Keindahan ketika dikaitkan dengan seni
mengundang suatu persoalan pemikiran yang membedakan keindahan
sebagai rasa (sense) dan keindahan sebagai fenomena (kecantikan,
keserasian, kondisi liris) yang menimbulkan suatu rasa. Seperti halnya
pada teks di atas penulis menganggap bahwa teks di atas mengandung
unsur nilai keindahan karena ini adalah persoalan rasa, penulis rasa suatu
gedung sekolah PN yang didesain dengan arsitektur yang indah, kemudian
ruangan dicat warna-warni dengan tempelan gambar, poster dan



134
sebagainya, ini akan menciptakan suatu keindahan. Inilah persoalan rasa
yang memiliki perbedaan bagi masing-masing individu dalam memaknai
suatu keindahan.
b. Nilai Imajinatif
Nilai imajinatif, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel
lascar pelangi adalah sebagai berikut:
“Mahar sangat imajinatif dan tak logis—seseorang dengan bakat
seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu
menerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda
keyakinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar-
benar aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia
adalah magnet, simply irresistible!” (hlm. 143).

Deskripsi penafsiran nilai imajinatif adalah sebuah proses
menghayal dan berangan-angan tentang sesuatu. Imajinasi sangat
diperlukan dalam berbagai hal guna memunculkan ide-ide baru. Setiap
individu bebas untuk berimajinasi, seperti sosok Mahar, ia adalah seorang
tokoh cilik yang patut diberi penghargaan, Mahar berhasil menciptakan
ide-ide baru yang tidak dapat dijangkau oleh manusia lainnya. Imajinasi
ini yang menghasilkan penemuan baru ini bisa berbentuk benda, berbentuk
konsep, ide atau model. Dan Mahar adalah orang yang dapat menciptakan
penemuan baru melalui imajinasinya dalam bentuk benda, konsep atau ide
seperti mengkonsep tarian dengan buah aren pada kegiatan 17 Agustusan.
c. Nilai Seni Suara
Nilai seni suara, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel
lascar pelangi adalah sebagai berikut:



135
“Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni
suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah,
kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar.
Mulanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk
menyanyikan sebuah lagu, dan seperti diduga, hal ini sudah
delapan belas kali terjadi ia akan membawakan lagu yang sama
yaitu Berkibarlah Benderaku karya Ibu Sud. “…berkiballah
bendelaku….”, “…lambang suci gagah pelwila ….”, “… bergelak-
bergelak! Selentak … selentak …!” (hlm. 129).

Deskripsi penafsiran nilai seni suara adalah penjelmaan rasa indah
yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat
komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengar.
Pada pelajaran seni suara ini, bu Muslimah mengetahui siapa yang
berbakat pada bidang seni suara. Diantara sepuluh muridnya tersebut,
ternyata Maharlah yang berbakat dalam bidang seni suara ini. Mahar
begitu menghanyati ketika menyanikan lagu “….I was dancing with my
darling to the tennesse waltz…” (hlm. 136). Berbeda dengan teman-teman
lainnya seperti A Kiong yang diperintah oleh bu Muslimah untuk
menyayikan lagu “berkibarlah benderaku”, ia menyanyi tanpa ada
penghayatan sama sekali. Inilah tugas para pendidik untuk mengetahui
bakat masing-masing muridnya serta mengembakan bakat mereka sesuai
dengan kemampuannya.
d. Nilai Seni Drama
Nilai seni drama, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel
lascar pelangi adalah sebagai berikut:
“Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup teater
kecil SD Muhammadiyah. Penampilan favorit kami adalah cerita
perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita
pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah



136
sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah
mati wanita itu membelah dadanya dan memakan hati panglima
besar itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat
menikmati perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif
Mahar, akhirnya kami membentuk sebuah grup band. Alat-alat
music kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass
yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah
tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid
Al-Hikmah” (hlm. 146).

Deskripsi penafsiran seni drama yaitu jenis karangan yang
ditunjukkan dalam bentuk tingkah laku, mimik dan perbuatan. Cerita
perang Uhud dalam episode Siti Hindun yang diperankan oleh A Kiong
dan Sahara merupakan seni drama yang dirangkai begitu indah oleh
Mahar. Mahar adalah sutradara cilik yang penuh daya imajinatif yang
sangat tinggi.
e. Nilai Seni Sastra
Nilai seni sastra, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel
lascar pelangi adalah sebagai berikut:
“Aku Bermimpi Melihat Surga. Sungguh, malam ketiga di
Pangkalan Punai aku mimpi melihat surge Ternyata surga tidak
megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan Tidak ada
bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci Aku meniti jembatan
kecil Seorang wanita berwajah jernih menyambutku “Inilah surga”
katanya. Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah.
Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja
Menyirami kubah-kubah istana Mengapa sinar matahari berwarna
perak, jingga, dan biru? Sebuah keindahan yang asing Di istana
surge. Dahan-dahan pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar
sunyi yang bertingkattingkat. Gelas-gelas kristal berdenting dialiri
air zamzam. Menebarkan rasa kesejukan. Bunga petunia ditanam di
dalam pot-pot kayu. Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen
jendela tua berwarna biru Di beranda, lampu-lampu kecil
disembunyikan di balik tilam, indah sekali Sinarnya memancarkan
kedamaian Tembus membelah perdu-perdu di halaman Surga
begitu sepi Tapi aku ingin tetap di sini Karena kuingat janjimu



137
Tuhan. Kalau aku datang dengan berjalan engkau akan
menjemputku dengan berlari-lari” (hlm. 181-182).

Deskripsi penafsiran seni sastra merupakan karangan atau tulisan
yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang
indah. Tulisan pada teks di atas merupakan sebuah tulisan atau karya yang
mengandung suatu nilai keindahan. Nilai keindahan yang tertulis dalam
sebuah karangan ini mengandung suatu nilai seni sastra.
f. Nilai Kreatif atau Originalitas
Nilai kreatif atau originalitas. paragraf yang mengandung tersebut
dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Buah-buah aren itu sungguh merupakan sebuah rancangan kalung
etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil
perenungan Mahar berjamjam sambil memandangi langit di bawah
pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang
membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan
memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam
yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun-tahun” (hlm.
248).

“Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah
baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan
suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada
mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif,
tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna
daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para
penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan
totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada
penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri.
Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu
puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu
dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada
menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik
tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!” (hlm. 246-247).

Deskripsi penafsiran nilai kreatif adalah kemampuan atau
kecakapan yang ada pada diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan



138
bakat. Kreatifitas yang diciptakan oleh Mahar menghasilkan suatu yang
gemilang hingga sekolah Muhammadiyah mendapatkan suatu
penghargaan. Penghargaan itu dapat mengharumkan nama baik sekolah
Muhammadiyah. Inilah suatu kreativitas yang harus selalu dikembangkan
agar selalu lebih inovatif.
Nilai-nilai di atas merupakan nilai-nilai yang terdapat dalam novel
laskar pelangi, apabila nilai-nilai tersebut benar-benar diwujudkan dan
diterapkan oleh semua lembaga pendidikan serta elemen anggota masyarakat
di kehidupan nyata, maka akan tercipta suasana dunia pendidikan dan
lingkungan yang harmonis, damai, aman, tentram dan sejahtera.
B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung
dalam Novel Laskar Pelangi
Dalam proses pembelajaran metode sangat penting guna untuk
membantu tercapainya tujuan. Metode digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata. Keberhasilan implementasi
kegiatan pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode
pembelajaran. Masing-masing guru memiliki cara yang berbeda-beda dalam
menggunakan metode pembelajaran. Seperti halnya dalam novel laskar pelangi
metode yang digunakan dalam mengajar nilai pada murid-muridnya yaitu
menggunakan metode cerita dan kisah. Seperti dalam narasi berikut:
a. Metode Pengajaran Nilai dengan Bercerita
“Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang
perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari
banjir bandang”. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah
akan datang…,” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan”.



139
“Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga
mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak…” (hlm. 22).

“Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar
zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh
jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam
mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap dan bersenjata lengkap.
(hlm. 22).

“Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-
tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan
berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami.
Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat
kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. Mendengar
teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami
ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-
benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita
dalam detik-detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin
membela perjuangan para penegak Islam” (hlm. 22-23).

b. Metode Pengajaran Nilai dengan Berkisah
“Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana dengan berkisah tentang
penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin
Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti
kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan
sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama
di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid
dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan
sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini
adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra
Selatan” (hlm. 23).

c. Metode Pengajaran Nilai dengan menampilkan gambar kemudian
menceritakannya.
“Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku
berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu
adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang
suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap,
angker, penuh kekerasan dan kesedihan” . “Inilah sel Pak Karno di
sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan
setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah
satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” (hlm. 31).




140
Cerita atau kisah dijadikan metode oleh para tenaga pengajar sekolah
Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu Muslimah sebagai alat untuk
membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu masalah.
Cerita dan Kisah yang berasal dari Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan
tokoh-tokoh lainnya, selalu lengkap karena mengandung sekian banyak
manfaat dan terkait sekian masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau
menerangkan ketauhidan yaitu orang-orang yang ingkar pada Allah maka
Allah akan memberikan cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan
menegakkan Islam, lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan
sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang
menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku.
Secara pedagogis, para guru dan pendidik harus yakin bahwa
kemampuan bercerita atau berkisah menjadi sebuah keniscayaan dalam setiap
proses belajar mengajar. Kemampuan seorang guru dalam menarasikan setiap
bahan ajar dengan proses bercerita yang menarik pasti akan mendapat respon
yang positif dari setiap siswa. Unsur-unsur virus pengganggu untuk
berprestasi sebagaimana disinggung tadi sangat mungkin terjadi, karena
dongeng atau cerita merupakan salah satu alternatif media belajar di tengah
hiruk pikuknya ragam tayangan dan games (permainan) yang membuat anak-
anak terbius dan terpesona. Cerita atau kisah yang baik juga akan mampu
menyampaikan pesan atau nilai secara langsung kepada seorang anak, selain
alur ceritanya dapat membantu mengasah kemampuan emosional dan nalar
anak-anak sekaligus. Belum lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata



141
anak dalam berbahasa juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau
cerita yang baik.
Bahkan sebagai sebuah metode pembelajaran yang efektif, bercerita,
mendongeng, atau story telling juga memiliki peran yang siginifikan bagi
proses perekrutan guru. Dalam sebuah micro-teaching process, kemampuan
bercerita atau mendongeng seorang guru merupakan indikator utama dari
beberapa indikator kelulusan lainnya. Karena itu amatlah wajar jika otoritas
pendidikan kita dapat mempertimbangkan kemampuan bercerita atau berkisah
(story telling skills) sebagai salah satu syarat kelulusan seseorang untuk
menjadi guru. Bahkan jika perlu kemampuan mendongeng ini juga dilatihkan
kepada setiap guru pada masing-masing level, baik SD, SMP dan SMA yang
ada sekarang ini.
C. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam
Pendidikan Islam
Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang
terdapat dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat
Islami meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan (3) nilai akhlaq (nilai
budi pekerti atau nilai moral). Adapun nilai tersebut antara lain sebagai
berikut:
Pertama, nilai aqidah yang telah penulis temukan dalam teks novel
Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:





142
a. Nilai Ketauhidan tentang Zat Tuhan
Nilai ketauhidan tentang Zat Tuhan, paragraf yang mengandung
tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam,
adalah metaphor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa
mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya
hanya akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan
kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal
telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut,
barangkali Arasy, di sana kembali metaphor kagungan Tuhan
bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara
dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab
yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga
menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa
baru perguruan Muhammadiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib
termasuk dalam zat-Nya” (hlm. 105).

Deskripsi penafsiran, teks di atas menjelaskan tentang nilai
ketauhidan khususnya mengenai Zat Allah. Kalau dikaji lebih dalam
sesungguhnya Allah adalah nama zat dari Tuhan SWT yang diperkenalkan
sendiri oleh-Nya. Selain sebagai nama bagi zat Tuhan swt, “Allah“ adalah
juga tempat terkumpulnya atau terhimpunnya seluruh sifat yang dikandung
zat-Nya, sehingga “Allah“ sebagai sebutan yang utama untuk Tuhan sudah
meliputi Tuhan secara keseluruhan yang terdiri dari zat dan sifat-Nya.
Adapun kaitan dengan teks di atas bahwa zat Allah ini tidak mungkin
dapat dijangkau, direnungkan atau dipertanyakan, akan tetapi yang harus
dijangkau, direnungkan dan dipertanyakan yaitu mengenai ciptaan-
ciptaan-Nya. Nilai ini juga patut untuk diketahui bagi siapa saja, sebagai
bekal keimanan kepada Tuhannya.




143
b. Nilai Aqidah tentang Larangan Syirik
Syirik merupakan suatu perbuatan yang dilarang, karena syirik
merupakan perbuatan menyekutukan Allah. Melakukan syirik termasuk
dosa besar yang tidak akan pernah diampuni dosanya oleh Allah.
sebagaimana dicontohkan dalam narasi dibawah ini:
”Disambung berita penting: ”Klenik, ilmu ghaib, tahayul,
paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik
adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebijakan
dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari
pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam?
Ke mana etika kemuhammadiyahan?” (hlm. 350-351).

Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa
Mahar dan Flo termasuk murid Muhammadiyah yang berani melakukan
perbuatan yang amat dibenci oleh Allah yaitu syirik. Kedua anak tersebut
amat percaya pada klenik, ilmu ghaib, tahayul dan paranolmal. Melihat
tindakan Mahar dan Flo yang semakin kelewatan, Ibu Muslimah akhirnya
mengambil tindakan dan kebijakan untuk menasehati keduanya. Beliau
memberikan pengarahan bahwa syirik itu termasuk larangan tertinggi
dalam Islam. Ibu muslimahpun menanyakan pada Mahar dan Flo kemana
semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua
hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh
Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan? Dari sini dapat diambil
kesimpulan bahwa sekolah Muhammadiayah juga menanamkan dan
mengajarkan nilai aqidah. Nilai ini sangat perlu ditanamkan agar seorang
siswa memahami tentang hakikat pengetahuan tentang hal-hal yang
menyangkut masalah pokok keimanan Islam yaitu keimanan, ketaqwaan,



144
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah manfaat
penanaman nilai aqidah yang diterapkan pada sekolah.
c. Nilai Ketaqwaan
Ketaqwaan merupakan modal dasar dan paling besar yang harus
dimiliki semua manusia. Kadar ketaqwaan bisa berkurang dan bertambah
(yazid wa yankush) oleh karena itulah harus ada upaya-upaya untuk
senantiasa meningkatkan ketaqwaan. Sebagaimana yang tertuang dalam
narasi ini:
”Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin dan
kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan
petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki.
Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka
dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa
diduga-duga orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan
manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka
adalah orang-orang yang menjeput hidayah dan tidak duduk
termangu-mangu menunggunya. Kini mereka menjadi orang-orang
Islam yang taat yang menjauhkan diri dari syrik.

Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menunjukkan bahwa
dalam rangka meningkatkan ketaqwaan diperlukan suatu pengalaman.
Sebagaimana para anggota Sicieteit bahwasanya mereka adalah orang-
orang yang mencari kebenaran hakiki, karena sebelum menjadi orang-
orang taat pada Allah, mereka telah berpetualang menantang bahaya
karena ingin meminta bantuan kepada Tuk Bayan Tula yang dianggap
sebagai dukun. Karena usaha mereka tidak berhasil, mulai itulah mereka
menyadari bahwa kekuatan Allah tidak ada yang membandinginya,
Allahlah yang tepat untuk meminta. Namun dengan pengalaman itulah
yang membuat ketakwaan mereka semakin tinggi dang kuat. Karean dari



145
kejadian itu mereka mendapatkan pengalaman batin dan memastikan
setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta
mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Dari
penjelasan di atas bahwa pengalaman itu merupakan salah satu pendukung
dalam meningkatkan ketakwaan atau ketaatan seseorang.
Nilai-nilai tersebut merupakan nilai aqidah yang harus dikembangkan
pada pendidikan Islam, dengan tujuan memberikan bekal peserta didik dalam
konteks aqidah yaitu keimanan kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Qoda’
Qadar, dan Hari Akhir. Selain itu, dengan nilai aqidah peserta didik akan
mengerti dan memahami tentang larangan keesaan Allah, larangan berbuat
syirik, kewajiban melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,
dan lain sebagainya.
Kedua, nilai syariah yang telah penulis temukan dalam teks novel
Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:
a. Nilai Syariah tentang Menjaga Aurat
Nilai syariah tentang menjaga aurat. paragraf yang mengandung
nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-
satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan
terendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya
patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata-mata
karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami.
Ia adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat” (hlm. 159).

Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa
sahara termasuk wanita muslimah yang selalu menjaga aurat. Dalam ajaran
Islam menyarankan bahwa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada



146
Muslimah agar mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya,
kecuali wajah dan telapak tangan. Cara berpakaian yang diajarkan Islam
merupakan salah satu bentuk dari peradaban tinggi yang perlu diajarkan
kepada seluruh ummat manusia. Karena di dalamnya terdapat solusi dari
banyak permasalahan yang muncul belakangan ini, baik di bidang
kesehatan maupun moral kemasyarakatan. Di sinilah pentingnya
pengajaran nilai syariah tentang masalah menjaga aurat wanita.
b. Nilai Syariah Masalah Shalat Tepat Waktu
Nilai Syariah masalah Shalat, paragraf yang mengandung tersebut
dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian
Bu Mus selalu menasihati kami” (hlm. 31).

Deskripsi penafsiran, dalam teks di atas menggambarkan suatu
pesan tentang menjaga shalat tepat waktu. Shalat merupakan suatu ibadah
yang harus dikerjakan bagi setiap muslim. Shalat merupakan suatu
kewajiban yang harus dlakukan oleh setiap muslim. Shalat merupakan
bentuk upaya setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah. Dan bagi setiap muslim yang melaksanakan shalat, apalagi
selalu tetapat waktu maka ia termasuk muslim yang sudah menjalankan
tanggungjawabnya kepada Allah. Shalat tepat waktu itu termasuk suatu
perbuatan seseorang yang menjaga shalat dengan baik. Menjaga shalat itu
juga dijelaskan dalam al-qur’an surat Al Baqoroh ayat 238 yakni:
#θ´à¸≈m ’? ã ¸N≡´ θ=¯Á9# ¸οθ=¯Á9#´ρ ‘Ü`™'θ9# #θ`Βθ%´ρ ¸! ¸F¸Ψ≈% ∩⊄⊂∇∪



147
Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat
wusthaa
88
. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.”

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa menutup aurat
dan shalat tepat waktu merupakan term syariah. Sebenarnya klasifikasi nilai
syariah bukan hanya nilai yang telah penulis jelaskan di atas, akan tetapi
masih banyak lagi. Namun dengan keterbatasan penulis, maka penulis hanya
dapat menyebutkan dua nilai tersebut. Nilai menutup aurat dan shalat tepat
waktu dikatakan nilai syariah, karena merupakan peraturan-peraturan lahir
bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah. Nilai-nilai ini pun juga
seharusnya dikembangkan oleh pendidikan Islam agar peserta didik dapat
mengetahui cara bagaimana mereka berhubungan dengan Tuhan dan cara-
cara bagaimana beribadah dan mengatur cara bagaimana mereka
menyelenggarakan makhluk, baik antara manusia dengan manusia dan
manusia dengan selain manusia.
Ketiga, nilai akhlak yang telah penulis temukan dalam teks novel
Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:
a. Nilai Menebarkan Salam
Menebarkan salam merupakan sebuah etika yang didefinisikan
dengan jelas, yang diperintahkan oleh AllahYang Maha Kuasa dalam
kitab-Nya, dan tata cara serta peraturan mengenai salam ini diatur dalam
sejumlah hadits. Allah juga memerintahkan setiap Muslim untuk saling

88
Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang
berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut
kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-
baiknya.



148
memberi salam dengan jelas dan orang yang mendengarkan salam
berkewajiban membalas salam tersebut. Seperti yang terdapat dalam narasi
di bawah ini:
“Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram.
Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak
putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama
Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani
berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas
halaman sekolah itu” (hlm. 6).

Deskripsi penafsiran, menebarkan salam sangat dianjurkan oleh
agama Islam, kepada setiap muslim dianjurkan untuk memberi salam
kepada mereka yang dikenal maupun mereka yang belum kenal. Karena
salam merupakan salah satu dari tujuh hal yang Nabi SAW perintahkan
kepada shahabat dan umat muslim setelah mereka untuk mengikutinya.
Sebagaimana hadits Nabi di bawah ini yang dicatat oleh Al-Bara’ ibn Azib
(ra):
“Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada kita untuk melakukan
tujuh hal; untuk menjenguk orang sakit, menghadiri pemakaman,
mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menyebarkan
salam dan membantu orang yang memenuhi janjinya”. (Muttafaqun
‘alaih)
Allah sendiri memerintahkan setiap muslim untuk saling memberi
salam dengan jelas. Sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nur ayat 27:
$κš‰'≈ƒ ¸%!# #θ`ΖΒ#´™ Ÿω #θ=z‰? $´?θ`‹/ ´Ž¯ î ¯Ν6¸?θ`‹/ _L m #θ´¡¸Σ' G`¡@
#θϑ¸=¡@´ρ ´’? ã $γ¸=δ& ¯Ν3¸9≡Œ Ž¯z ¯Ν39 ¯Ν3=è 9 šχρ`.‹? ∩⊄∠∪
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan



149
memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu,
agar kamu (selalu) ingat”.
Dan Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk membalas
salam dengan sesuatu yang serupa atau sesuatu yang lebih baik, sehingga
hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi orang yang mendengar salam
untuk membalasnya dan tidak mengabaikannya. Sebagaimana yang
terdapat dalam Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 86:
#Œ¸)´ρ ΛŠ¸¯‹`m ¸πŠ¸sF¸/ #θ–Š sù ´¡m'¸/ $κ]¸Β ρ& $δρ–Š'‘ β¸) ´!# β%. ’?ã ¸≅. ¸™`© «
$´7Š¸¡m ∩∇∉∪
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu
penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik
dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)
89
.
Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”.

b. Nilai Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan kadang ia tidak
atau belum menyadari kesalahannya. Karena itu, ia butuh saran dan kritik
dari orang lain. Dan banyak orang belum mengetahui mana yang salah
dan mana yang benar, mana yang patut dan tidak untuk dilakukan, karena
itu ia butuh bimbingan, anjuran, mauidhoh hasanah terlebih uswatun
hasanah. Kedua jenis kegiatan dalam rangka menyuruh kepada kebaikan
dan mencegah dari kemungkaran inilah yang dikenal dengan istilah amar
ma’ruf nahi munkar.
Narasi di bawah ini akan memberikan gambaran yang lebih gamblang.

89
penghormatan dalam Islam ialah: dengan mengucapkan Assalamu'alaikum



150
”Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul
yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf
arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi
mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan mencegah
dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga
Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai
dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal seperti kami
mengenal bau alami ibu-ibu kami” (hlm. 19).

Deskripsi penafsiran, yang dimaksud amar ma’ruf nahi munkar
yakni menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Narasi di
atas menunjukkan bahwa dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar
diperlukan metode yang tepat. Dalam narasi di atas menggambarkan
pendidikan Islam Muhammadiyah berpedoman pada amar ma’ruf nahi
munkar.
Allah SWT berfirman dalam surat Surat Luqman ayat 17:
¯©_6≈ ƒ ¸Ο¸%& οθ=¯Á9# ¯`Β&´ρ ¸∃ρ`èϑ9$¸/ µΡ#´ρ ¸ã ¸3Ζϑ9# Ž¸9¹#´ρ ’ ? ã $Β
7/$¹& β¸) 7¸9≡Œ ¸Β ¸Π“ ã ¸‘θ`Β{# ∩⊇∠∪
Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh
Allah)”.

c. Nilai kesabaran
Nilai kesabaran, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam
novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:
“Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar, berulang-
ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan”,
(hlm. 77).



151
Deskripsi penafsiran nilai kesabaran adalah sikap tabah menerima
cobaan atau ujian yang dihadapinya disertai usaha untuk mengubah atau
memperbaikinya. Namun konteks sabar yang terdapat dalam novel laskar
pelangi bukan demikian, akan tetapi sabar diartikan sebagai sikap atau
tindakan seseorang dalam menahan dirinya untuk tetap sabar dalam
membimbing dan menghadapi murid-muridnya. Dalam teks di atas bu
Muslimah terlihat sabar menghadapi lintang yang tampak antusias dalam
menanyakan mata pelajaran yang diikutinya. Kesabaran dalam
membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran sangat penting
demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
d. Nilai Jujur
Sikap jujur kepada orang lain akan membuat orang lain merasa
nyaman. Karenanya, ini termasuk nilai yang mendidik dan sepatutnya
dimiliki semua orang. Tanpanya, antara satu orang dan orang lainnya akan
sangat berjarak, bahkan bisa menimbulkan permusuhan. Teks di bawah ini
merupakan salah satu pesan yang mengandung nilai jujur, yaitu:
“Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena
pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak
membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka dengan
amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. Abang-
abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk
pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit
gila” (hlm. 82).

Deskripsi penafsiran nilai jujur yaitu sikap dan prilaku untuk
bertindak dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak berbohong, tidak
dibuat-buat, tidak ditambah, tidak dikurangi, serta tidak menyembunyikan



152
kejujuran. Tokoh yang berperan dalam menjalankan kejujuran pada teks di
atas adalah ikal. Ikal adalah murid yang patut dicontoh, ia benar-benar
melaksanakan pelajaran budi pekerti yang telah diajarkan oleh gurunya. Ini
terbukti bahwa ia berkata jujur pada ibunya sekalipun abang dan ayahnya
menertawakannya, hal itu tidak diperdulikannya.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Anfaal ayat 58:
$Β¸)´ρ ∅ù$ ƒB ¸Β ¸Θ¯θ% πΡ$´Š¸z ‹¸7Ρ$ù `Ο¸γ‹9¸) ’? ã ¸™#´θ™ β¸) ´!# Ÿω ´=¸t†
¸Ψ¸←$ƒ:# ∩∈∇∪
Artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari
suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka
dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang berkhianat”.

e. Nilai Syukur
Bersyukur merupakan sikap yang harus dilakukan oleh setiap
manusia. Karena dengan bersyukur berarti kita mengakui bahwa Allah itu
maha kuasa dan kepadaNyalah kembalinya segala urusan, sebagaimana
dicontohkan dalam narasi dibawah ini :
“Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia
tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik-titik
kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti sampai
kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur menjadi
orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah.
Dan sembilan teman sekelasku memberiku hari-hari yang lebih dari
cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti kuceritakan pada
setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Kebahagiaan yang
spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan
sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri” (hlm. 85).




153
Deskripsi penafsiran Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai
cara, baik syukur dengan hati yaitu kepuasan batin atas anugrah-Nya,
syukur dengan lidah yaitu dengan mengakui dan memuji anugrah-Nya, dan
syukur dengan perbuatan yaitu dengan memanfaatkan anugrah yang
diperoleh sesuai dengan penganugrahannya, syukur dengan melaksanakan
perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun aku yang dimaksud
pada teks di atas adalah Ikal, ia amat bahagia dan sangat bersyukur Tuhan
telah memberikan lingkungan dan mempertemuka sahabat dan orang yang
dapat memberikan pengalaman, pelajaran, dan makna kehidupan yang baik
bagi dirinya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an surat Al Luqman
ayat 12:
‰) 9´ρ $؏?#´™ ´≈ϑ)9 πϑ3¸t:# ¸β& ¯3©# ¸! Β´ρ ¯6±ƒ $ϑΡ¸*ù `3±„
¸µ¸¡´Ζ¸9 Β´ρ . β¸*ù ´!# ¯©¸_ î ‰‹¸ϑm ∩⊇⊄∪
Artinya: “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman,
yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur
(kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;
dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha
Kaya lagi Maha Terpuji”.

f. Nilai Berbakti Pada Orang Tua
Diantara kewajiban terpenting yang harus diindahkan oleh pendidik
ialah memperkenalkan anak akan hak-hak kedua orang tu mereka, yaitu
antara lain berbakti, taat, berbuat ikhlas, memelihara keduanya,
memelihara pada masa tua, tidak boleh bersua apalagi menghardik



154
mereka, mendiakan mereka setelah wafat, dan sebagainya termasuk sopan
santuk terhadap orang tua. Paragraf di bawah ini menunjukkan nilai anak
yang berbakti pada orang tua, yaitu:
“Trapani sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya.
Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas.
Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki diantara lima saudara
perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board
di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya
dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput
ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya” (hlm. 74).

Deskripsi penafsiran Teks di atas mendeskripsikan bahwa Trapani
adalah sosok anak yang patut dicontoh, karena ia adalah anak yang selalu
patuh dan taat pada kedua orang tuannya. Sebagai seorang anak, Trapani
adalah seseorang yang telah menjalankan kewajibannya pada orang
tuanya. Al-quranpun menganjurkan pada semua manusia untuk selalu
berbuat baik kepada bapak dan ibu dengan sebaik-baiknya. Dalam surat Al
Isro’ ayat 23 disebutkan:
©Ó%´ρ 7•/´‘ ω& #ρ‰7è? ω¸) ν$−ƒ¸) ¸$¸!≡´θ9$¸/´ρ $´Ζ≈ ¡m¸) $Β¸) ´ó=¯7 ƒ 8‰Ψ¸ã
´Ž9¸69# $ϑδ‰n& ρ& $ϑδŸξ¸. Ÿξù ≅)? $ϑλ; ¸∃& Ÿω´ρ $ϑδ¯κ]? ≅%´ρ $ ϑγ9
ω¯θ % $ϑƒ¸Ÿ2 ∩⊄⊂∪ Ù¸z#´ρ $ϑγ9 y$´ Ζ_ ¸Α—%!# ´¸Β ¸πϑm¯9# ≅%´ρ ¸>¯‘
$ϑγΗq¯‘# $ϑ. ’¸Τ$´ ‹−/´‘ #Ž¸ó¹ ∩⊄⊆∪
Artinya: 23. ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya
atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia”.




155
g. Nilai Silaturahmi
Hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi dengan saudara, kerabat,
teman-teman serta sahabat orang tua haruslah tetap dijaga dengan baik.
Paragraf yang menjelaskan tentang nilai silaturrahmi pada novel laskar
pelangi adalah sebagai berikut:
”Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan
Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturrahmi sekalian
menanyakan kabar anaknya dirantau orang” (hlm. 491).

Deskripsi penafsiran, dari teks di atas menjelaskan bahwa Nur
Zaman, Mahar, dan Kucai merupakan seseorang tidak mau memutuskan
hubungan kekerabatan, sekalipun mereka sudah tidak ladi bersama mereka
tetap saja untuk tetap menyambung silaturrahmi ke rumah ibu Ikal,
sekalipun Ikal tidak ada keberadaannya. Ini menunjukkan bahwa merekan
telah menanamkan nilai silaturrahmi, bagi seseorang yang selalu
memelihara dengan baik hubungan kekerabatannya akan memberikan
manfaat yaitu menunjukkan rasa cinta kepada mereka yang terkait dalam
keluarga, memudahkan jala mencari rizki, sehingga dengan mudah bisa
mengembangkan usahanya, dan tetap akan diingat oleh keluarga yang
ditinggalkannya bila yang meninggal berlaku terhadap para kerabatnya.
Rasulullah dalam hadistnya bersabda:
”Ajarkan nasab-nasab (silsilah) kamu yang dapat dipergunakan
untuk menyambung kekeluargaanmu. Karena hubungan
kekeluargaan adalah suatu hal yang dicintai dalam keluraga,
memperkembangkan harta dan memperpanjang jejak
(persaudaraan)” (HR. Ahmad, Hakim dan Tirmizi).






156
h. Nilai Keikhlasan
Nilai keikhlasan adalah sikap ketulusan hati, bersih dari mengharap
selain Allah. Maksudnya aktivitas apapun yang dilakukan manusia itu
adalah semata-mata karena Allah. Melaksanakan sesuatu atas dasar
keikhlasan maka akan diterima dan diberkahi Allah. Oleh Karena itu,
berupayalah untuk selalu menjaga keihlasan dalam menjalankan sesuatu,
supaya amal perbuatan itu, diterima dan diberkahi Allah. Adapun paragraf
yang menjelaskan tentang nilai keikhlasan adalah sebagai berikut:
“Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena
perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia
merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah
universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti
keikhlasan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini
mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar
Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun
tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup
dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang
lain melalui pengorbanan tanpa pamrih” (hlm. 84).

“Pak Harfan telah puluhan tahun mengabdi di sekolah
Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apapun demi motif syiar
Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di
pekaranagan rumahnya” (hlm. 21).

Deskripsi penafsiran, teks ini menunjukkan bahwa sekolah
Muhammadiayah selalu menanamkan nilai keikhlasan dan integritas.
Seperti halnya Bapak guru (Pak Harfan) dalam karakternya beliau
mempunyai hidup sederhana, boleh dibilang serba kekurangan. Namun
pada kenyataannya beliau selalu mencoba untuk mengabdikan diri pada
pendidikan, selalu melakukan sesuatu nyaris tanpa minta imbalan apaun.
Perlu diketahui lagi, sekalipun hidup dalam lingkaran kekurangan Bapak



157
Harfan tidak pernah sibuk mengurus sertifikasi, apalagi melakukan aksi
untuk menuntut dijadikan PNS, yang merupakan kepentingan dirinya
sendiri seperti yang terjadi akhir-akhir ini, beliau selalu berfikir bagaimana
murid-muridnya bisa belajar. Di sinilah konteks keikhlasan yang
ditanamkan oleh Bapak Harfan seharusnya dijadikan barometer bagi
tenaga pengajar lainnya.
i. Nilai Budi Pekerti (Akhlak)
Pendidikan budi pekerti adalah suatu proses pembentukan
perilaku atau watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang
baik dan yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan.
Pendidikan budi pekerti pada hakikatnya merupakan konsekuensi
tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban. Di bawah
ini adalah narasi tentang nilai budi pekerti atau akhlak, yaitu:
“Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan
memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri
silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak
dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum,
keadilan, dan hak-hak asasi jauh hari sebelum orang-orang
sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan
spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami
membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam
konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri
sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi
pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah
Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal
yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya
atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya” (hlm. 30).

Deskripsi penafsiran, pelaksanaan Budi pekerti yang disusun oleh
Bu Muslimah merupakan suatu bentuk mata pelajaran yang dapat
dijadikan dasar moral Bagi peserta didik. Dalam teks di atas dinyatakan



158
bahwa Pendidikan budi peketi yang ditanamkan oleh sekolah
Muhammadiyah dapat membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas
pribadi peserta didik dalam konteks Islam. Pendidikan budi peketi yang
direalisasikan sekolah Muhammadiyah dilihat dalam konteks pendidikan
Islam ini dapat disamakan dengan akhlak. Dan akhlak merupakan bagian
integral dari materi PAI yang memiliki peran sentral dalam rangka
pembinaan moral anak didik. Muatan-muatan akhlak dalam PAI jika
diterapkan melalui pembelajaran yang tepat, akan dapat menjadi sarana
pendidikan budi pekerti.
Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa nilai aqidah,
syariah, dan akhlak merupakan nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam
pendidikan Islam. Karena ketiga nilai tersebut merupakan tiga kerangkan
dasar pendidikan Islam yang harus dikejawantahkan untuk meningkatkan
tujuan yang dicita-citakan.
D. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi Terhadap
Pengembangan Pendidikan Islam
Pada novel Laskar Pelangi penulis menemukan sebuah teks yang
berbunyi sebagai berikut:
Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa
yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan
guru spiritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara gamblang
implikasi amar makruf nahi mungkar sebagai pegangan moral kami
sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumah-rumahan dari
perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami
cara mengambil wudu, melongok ke dalam sarung kami ketika kami
disunat, mengajari kami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda
kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal” (hlm.
32).



159

Maka tak lama kemudian aku telah menjadi mahasiswa. Meskipun
hanya langkah kecil aku merasa telah membuat sebuah kemajuan dan
sekarang aku dapat menilai hidupku dari perspektif yang sama sekali
berbeda. Aku lega terutama karena aku telah membayar utangku pada
sekolah Muhammadiyah, Bu Mus, Pak Harfan, Lintang, Laskar Pelang,
A Ling, Bahkan Herriot dan Edensor. Setiap titik yang aku singgahi
dalam hidupku selalu memberikan pelajaran berharga. Sekolah
Muhammadiyah dan persahabatan Laskar Pelangi telah membentuk
karakterku. A Ling, Herriot dan Edensor telah mengajariku optimism
dan menunjukkan bahwa jalinan nasib dapat menjadi begitu
menakjubkan, (hlm. 462-463).
.
Dari teks di atas, membuktikan bahwa sekolah Muhammadiyah telah
menjalankan proses pembelajaran nilai pada murid-muridnya. Proses
pembelajaran pendidikan nilai yang diajarkan oleh pak Harfan dan bu Mus
sangat memiliki arti penting bagi pembentukan karakter muridnya.
Pembentukan karakter tersebut telah dirasakan oleh Ikal yang telah
menjadi mahasiswa sukses. Hal ini membuktikan bahwa proses pembelajaran
pendidikan nilai tersebut telah mencapai prilaku yang dikehendaki. Dan
tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan keberhasilan pembelajaran.
Dan dari pengajaran pendidikan nilai tersebut ternyata telah menghasilkan
lulusan yang diharapkankan. Di sini jelaslah bahwa, proses pendidikan nilai
yang direpresentasikan oleh novel laskar pelangi memberikan konstruksi
ideologi nilai-nilai Islam. Dengan adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam
tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas
layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang
berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang
dibangun oleh seluruh sinergi positif.



160
Kontribusi kontruksi ideologi nilai-nilai Islam terhadap pengembangan
pendidikan Islam ini telah dibuktikan oleh salah satu murid sekolah
Muhammadiyah yaitu Andrea Hirata yang berperan sebagai Ikal cilik dalam
penokohan novel Laskar Pelangi, kini ia menjadi mahasiswa yang sukses
sebagai penulis yang handal. Adapun salah satu karyanya yang telah banyak
diminati oleh masyarakat Indonesia pada khususnya yaitu novel Laskar Pelangi
dan masih bayak karya lainnya. Novel laskar pelangi merupakan novel
pendidikan Islam yang dapat membangun citra pendidikan Islam, terbukti
dengan adanya teks, paragraf dan dialog novel Laskar Pelangi yang
medeskripsikan pesan pengajaran yang bukan hanya mentransfer pengetahuan
saja tetapi juga memberikan pesan nilai-nilai Islam yang berupa nilai syariah,
aqidah, dan akhlak atau budi pekerti sebagai bekal atau pegangan moral
muridnya di masa depan.
Dengan adanya pesan-pesan tentang nilai-nilai tersebut maka hal ini
dapat memberikan sumbangsi dan kontribusi bagi pendidikan Islam lainnya
untuk terus melakukan dan mengaplikasikan kontruksi ideologi nilai-nilai
Islam yang telah dipaparkan oleh Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi
yaitu nilai syariah, nilai aqidah dan nilai akhlak atau budi pekerti. Selain itu,
novel ini juga sangat memberikan pesan bagi tenaga pendidik agar dalam
dunia pendidikan menjadi guru yang profesional yaitu dapat menjadi guru
mentor, penjaga, sahabat, pengajar, fasilitator, dan guru spiritual. Begitupula
memberikan kemanfaatan bagi peserta didik agar mereka meniru terhadap
semangat murid-murid Muhammadiayah dalam mengenyam pendidikan.



161
Mereka bukanlah murid yang malas tetapi mereka adalah murid-murid yang
memiliki daya juang yang tinggi dalam menuntut ilmu.
Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pesan-pesan tentang
pendidikan nilai yang terdapat pada novel Laskar Pelangi karaya Andrea
Hirata, yang telah ditanamkan atau diajarkan oleh pak Harfan dan bu Muslimah
pada murid-muridnya baik berupa nilai aqidah, syariah, dan akhlak atau budi
pekerti telah memberikan kontribusi terhadap pendidikan Islam, pendidik,
peserta didik berupa kontruksi ideologi dengan harapan agar pendidikan Islam
dapat menghasilkan lulusan yang bekualitas dan berkompetisi unggul.



162
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah pembahasan dan analisis pada bab-bab sebelumnya, maka dapat
ditarik kesimpulan, yakni:
1. Nilai-nilai yang terdapat dalam novel ”Laskar Pelang” karya Andrea
Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi antara lain:
(a) Nilai personal, nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu
ditanamkan dan dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai
personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi
meliputi: nilai tanggung jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai
ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, nilai
dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai kecerdasan, nilai
percaya diri, nilai kebahagiaan, nilai disiplin, nilai perjuangan
menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah, nilai rendah hati,
nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai iba, dan
nilai tekad untuk lebih baik.
(b) Nilai sosial, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan
kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi
sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan,
kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan
manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi antara



163
lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong, nilai keharmonisan,
nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai sportifitas, nilai
dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban, nilai
persahabatan.
(c) Dan nilai estetika, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan
pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu
nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah.
Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya
memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dalam hal ini, nilai-
nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah sebagai
berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai seni
sastra, dan nilai kreatif atau originalitas.
2. Metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi
adalah metode bercerita dan kisah. Cerita atau kisah dijadikan metode oleh
para tenaga pengajar sekolah Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu
Muslimah sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan
mengungkapkan suatu masalah. Cerita dan Kisah yang berasal dari
Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan tokoh-tokoh lainnya, selalu
lengkap karena mengandung sekian banyak manfaat dan terkait sekian
masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau menerangkan ketauhidan yaitu
orang-orang yang ingkar pada Allah maka Allah akan memberikan
cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan menegakkan Islam,
lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan sekolah dari



164
jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang menjalani
hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Cerita atau
kisah yang baik akan mampu menyampaikan pesan atau nilai secara
langsung kepada seorang anak, selain alur ceritanya dapat membantu
mengasah kemampuan emosional dan nalar anak-anak sekaligus. Belum
lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata anak dalam berbahasa
juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau cerita yang baik.
3. Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang
terdapat dalam novel Laskar Pelangi terdiri dari 3 kalsifikasi, yakni:
(a) Nilai aqidah, adalah dimensi ideology atau keyakinan dalam Islam. Ia
merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim
terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok
keimanan Islam. Adapun nilai aqidah yang terdapat dalam novel
Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai ketauhidan tentan zat-zat Allah, (2)
nilai larangan syirik, dan (3) nilai ketakwaan atau ketaantan.
(b) Nilai syariah, merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT
tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses
ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman
makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam
sekitar. Adapun nilai syariah yang terdapat dalam novel Laskar
Pelangi yaitu: (1) nilai menjaga shalat tepat waktu, dan (2) nilai
menjaga aurat wanita.



165
(c) Nilai akhlak (budi pekerti), suatu proses pembentukan perilaku atau
watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang baik dan
yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pendidikan
budi pekerti (akhlak) pada hakikatnya merupakan konsekuensi
tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban.
Adapun nilai budi pekerti (akhlak) yang terdapat dalam novel Laskar
Pelangi yaitu: (1) nilai menebarkan salam, (2) nilai amar ma’ruf nahi
mungkar, (3) nilai keikhlasan, (4) nilai kesabaran, (5) nilai kejujuran,
(6) nilai syukur, dan (7) nilai berbakti pada orang tua.
4. Kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap
pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi berupa
konsruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai
Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan
kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang
berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan
kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif.
B. Saran
Berdasarkan hasil analisis terhadap pendidikan nilai dalam
pengembangan pendidikan Islam, pada bagian ini penulis ingin ikut serta
memberikan kontribusi berupa saran sebagai berikut:
1. Terkait dengan eksistensi novel, sudah sepatutnya novel maupun karya
sastra lainnya, mempertimbangkan sisi edukatif yang bisa disumbangkan
kepada masyarakat luas dan bukan hanya mempertimbangkan selera pasar,



166
trend, ataupun profit oriented. Karena, akhir-akhir ini banyak bermunculan
karya sastra yang jauh dari unsur mendidik, mengeksplorasi seks tanpa
tedeng aling-aling misalnya. Sebab bagaimanapun, karya sastra terutama
novel adalah yang paling banyak diminati masyarakat di segala lapisan.
2. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan oleh semua guru untuk dijadikan
sebuah pengajaran nilai Islami dalam proses belajar mengajar di lembaga
Pendidikan Islam, karena pada zaman sekarang buku yang berbau ilmiah
kurang diminati untuk dibaca oleh anak didik, dan sebaliknya buku yang
berbau sastra, seperti novel banyak diminati oleh peserta didik.








DAFTAR PUSTAKA

Ameliawati. 2006. Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng
Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari. Skripsi. FKIP UMM.

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. (Bandung: PT. Sinar
Baru Algensindo.

Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1990 . Semarang: Menara Kudus.

Burhan Bungin. 2003. Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam
Penelitian Sosial. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X,
Jakarta : Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Balai Pustaka.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif.
Jakarta: PT Rineka Cipta.

Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal. 2009. Kian Berat
Tantangan Pendidikan Formal. Internet: (http:
www.pnfi.depdiknas.go.id

Endraswara Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Widyatama.

Elmubarok Zaim. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang
Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang
Tercerai. Bandung: Alfabeta.

Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastr. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fananie Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah
University Press.

Fajar, A. Malik, dkk. 2004. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam:
Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global. Yogyakarta: Aditya
Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan UIN Press.
Hirata Andrea. 2005. Novel Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT Bentang
Pustaka.




Hardjana. 2006. Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak. Jakarta: PT
Grasindo.

Hartono Dick. 1985. Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan
Humaniora . Jakarta: Kanisius.
Hall, C.S dan Linzey, G. 1985. Introduction to Personality Theory. New
York: John Wiley dan Sons.

Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.

Idris Ramulyo, Mohd. 2004. Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan
BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di
Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Jakob Sumardjo. 1995. Sastra dan Masa. Bandung: ITB.

Kafrawi Nurdjanah, dkk. 2002. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra
Indonesia 3. Jakarta: PT Grasindo.

Kaswardi, E.M K. 1993. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta:
PT Grasindo.

Krech, D. dan Crutchfield, R. 1962. Individual In Society. Tokyo: Mc Graw-
Hill Kogakusha.

Lubis Mawardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral
Keagamaan Mahasiswa PTAIN. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Mulyana Rokhmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung:
Alfabeta.

Marimba, Ahmad D. 1989. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Al-
Ma’arif.

Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat
Studi Agama, Politik dan Masyarakat (PSAMP).

Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf . Bandung: CV. Pustaka Setia.


Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kuaitatif. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Moeslichatoen R. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.




Michael, Hubberman A. Miles. Mattew B. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: Universitas Indonesia.

Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nurgiantoro Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurudin. 2007. Dasar-dasar Penulisan. Malang: UMM Press

Purwanto Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Power, E.J. 1982. Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling,
and Educational Policies. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Rejeki Tatik. diakses 26 Februari 2008. Konsep Pendidikan Nilai yang
Menyenangkan. http:www.yahoo.com.

Rochajat Harun. 2007. Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan
Bandung: Mandar Maju.

Sisdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Sugihastuti dan Suhartono. 2002. Kritik sastra Feminis Teori dan
Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Spilka, B. 1985. The Psychology of Religion; An Empirical Approch. New
Jersey: Prentice-Hall

Syah, M. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT
Rosdakarya.

Soejono dan Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan
Penerapan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tafsir. 1995. Ilmu Pendidikan Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Tillman Diane. 2004. Living Value: An Educational Program “Living Value
Activities For Children Ages 8-14. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
Indonesia.

Wiediastutik, Rini S. 2005. Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam
Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini. Skripsi. FKIP UMM.



Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Yandianto. 2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia, Bandung:
M2S.

Yamin Martinis. 2007. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP.
Jakarta: Gaung Persada Press

Zuhairini, dkk. 1983. Methodik Khusus Pendidikan Agama, Malang: Biro
Ilmiah Fakultas Tarbiyah.

















DEPARTEMEN AGAMA RI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Gajayana 50 Malang. Telp. (0341) 551354. Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI
Nama : Nurul Lahir Sari Ifa
NIM : 05110095
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Pembimbing : Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
Judul : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan
Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)

No Hari/tanggal Materi Konsultasi Paraf
01 Sabtu, 07-02-2009 Konsultasi BAB I
02 Rabu, 11-02-2009 Revisi Rumusan Masalah
03 Sabtu, 28-02-2009 Konsultasi BAB I, II, III, IV
04 Kamis, 28-02-2009 Revisi BAB I, II, III, IV
05 Selasa, 03-03-2009 BAB IV, V, VI dan Abstrak
06 Kamis, 05-03-2009 Revisi BAB IV, V
07 Sabtu, 07-03-2009 Revisi BAB VI, Abstrak Dan Lampiran
08 Selasa, 10-03-2009 ACC BAB I, II, III, IV, V, VI dan Abstrak


Malang, 10 Maret 2009
Dekan Fakultas Tarbiyah


Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031

Lampiran-lampiran



Re: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
Selasa, 10 Maret, 2009 21:48

Dari:
"triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com>
Kepada:
"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
ok acc u ntuk ujian.
selamat.
tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya.

--- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote:
From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id>
Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
To: trios70@yahoo.com
Cc: ifho_afi@yahoo.co.id
Date: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM

--- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IV
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PM
Assalam.................

Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2
bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4.

OK.
Selamat mengerjakan????????????????
Wassalam.............


Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!




Lampiran-lampiran



Dari dosenmu yang jauh tapi dekat
Rabu, 11 Februari, 2009 18:14

Dari:
"triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com>
Kepada:
ifho_afi@yahoo.co.id

Ass.

Rumusan masalah kamu perlu dirubah.tadinya seperti ini ya...
Berdasarkan uraian diatas penulis formulasikan dalam rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa saja Pendidikan nilai yang terkandung Dalam Novel ”Laskar
Pelangi” karya Andrea Hirata ?
2. Bagaimana Pendidikan Nilai Novel ”Laskar Pelangi” Dalam Proses
dan Tujuan Pembelajaran Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam?
3. Apa kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel ”Laskar Pelangi”
Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam?
Untuk
1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dlm novel................?
2. Bagaimana metodologi pengajaran nilai yang terkandung dalam novel ......?
3.Nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan ndalam Pendidikan Islam...........?
4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel terhadap Pengembangan PI?

Ya, teruskan. coba lihat skripsi punya munif ya. terus ketemu saya sampai bab
terakhir. outline ok.... selamat mengerjakan.
Wass





Lampiran-lampiran



Konsultasi Kamis, 19 Maret, 2009 17:41
Dari:
"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Kepada:
trios70@yahoo.com
Cc:
ifho_afi@yahoo.co.id
Assalamu'alaikum........
Bapak Mohon doanya ge...moga ujian kompre dan skripsi saya lancar dan saya
bisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji. Dan saya
doakan semoga bapak juga sukses ujiannya. Amien.....!!!!!!! Dan masalah dosen
penguji masih belum pasti pak, tapi seandainya nanti ada pengumuman, akan
napak akan saya beritahukan.

wa'alaikum..............

--- Pada Sel, 17/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: ujian skripsi
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Selasa, 17 Maret, 2009, 3:16 PM
Assalam............

Tolong ke rumah untuk minta tanda tangan saya, biar istri saya yang tanda
tangan. saya usahakan bisa pulang. kalau tidak bisa, tolong beritahu pengujinya
siapa ke saya. nanti saya kontak dari sini. karena paspor saya belum jadi, dan
saya bulan april juga ujian.
Hadapi saja, tidak usah takut. bukti konsultasi dengan saya tunjukkan jika
ditanyakan.
semoga sukses.
Wassalam...........



Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!




Lampiran-lampiran



ujian skripsi
Selasa, 17 Maret, 2009 14:19
Dari:
"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Kepada:
trios70@yahoo.com
Cc:
ifho_afi@yahoo.co.id

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


(1) Bapak ujian skripsi telah diinformasikan bahwa ujian dilaksanakan pada
tangga 10 April 2009. Pak kami sangat mengharapkan kehadiran bapak untuk
mendampinngi kami dalam ujian skripsi. Kami memohon dengan sangat!!!!
Selain itu, tanda tangan bapak sebagai bukti konsultasi juga kami butuhkan.
Bapak datang ge pak.....biar ada yang membantu kalau ujian sripsi.

(2) Bapak kami minta solusi bagaimana seharusnya nanti ketika kami
menghadapi ujian sripsi agar kami dapat meyakinkan dosen penguji kami??
Kemudian bagaimana agara skripsi yang kami buat ini dapat menghasilkan hasil
yang terbaik?? Terima kasih Pak,,,,

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

--- Pada Sel, 10/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Selasa, 10 Maret, 2009, 9:48 PM
ok acc u ntuk ujian.
selamat.
tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya.


--- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote:
From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id>
Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
Lampiran-lampiran


To: trios70@yahoo.com
Cc: ifho_afi@yahoo.co.id
Date: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM


--- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IV
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PM
Assalam.................

Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2
bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4.

OK.
Selamat mengerjakan????????????????
Wassalam.............

Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!



Pemanasan global? Apa sih itu?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!





Daftar Gambar

Keterangan Gambar: Sepuluh Murid-murid Sekolah
Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara,
Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan)
Keterangan Gambar: Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus
DAFTAR GAMBAR

































.
Daftar Gambar

Keterangan Gambar: Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar
Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal.
Keterangan Gambar: Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan
Edisi Baru (Kanan)



Lampiran-lampiran


PROFILE ANDREA HIRATA
(Penulis Novel Laskar Pelangi)

Gender: male

Place of Birth Indonesia

Website http://sastrabelitong.multiply.com

Genre: Literature & Fiction, Biographies & Memoirs

Nama Andrea Hirata Seman Said Harun, atau yang lebih sering dikenal
dengan Andrea Hirata. Andrea Hirata lahir di Belitong. Andrea Hirata, yang dalam
buku itu dikisahkan sebagai Ikal, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya,
Seman Said Harun Hirata (75), adalah pensiunan pegawai rendahan di PN Timah,
sementara ibunya, Masturah (72), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satu
adiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong. Meskipun
studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi,
astronomi--dan tentu saja sastra.
Buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov
merupakan karya Andea Hirata Seman yang mencengangkan banyak orang di negeri
ini. Tiga buku, minus Maryamah Karpov, meledak di pasaran. Selain di Indonesia,
Laskar Pelangi juga diterbitkan di Malaysia, Singapura, Spanyol, dan beberapa
negara Eropa lainnya.
Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan
backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye
Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari
Lampiran-lampiran


Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science
di Universite' de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United
Kingdom.
Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari
kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam
bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang
ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah.
Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT
Telkom. Hobinya naik komidi putar.
Itulah sekilas tentang profile Andrea Hirata yang penulis dapat dari media
internet. Penulis berharap profile Andrea Hirata di atas, dapat dijadikan inspirasi
pemicu semangat bagi manusia untuk terus berkarya, berpendidikan dan bertekad
tinggi untuk menggapai cita-cita.
http://www.bukabuku.com/authorscorner/detail/1950/andrea-hirata.html

Lampiran-lampiran


SINOPSIS NOVEL LASKAR PELANGI
*KARYA ANDREA HIRATA*

Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur.
Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud
Sumsel jikalau jumlah siswa baru tidak sampai 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang
menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala
sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk
mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.
Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat
duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di
mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru
mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas
yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar,
pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh
sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!
Mereka, Laskar Pelangi nama yang diberikan Bu Muslimah karena
kesenangan mereka terhadap pelangi sempat mengharumkan nama sekolah dengan
berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-
kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan
manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang
dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal,
dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari
Lampiran-lampiran


menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir
dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan
sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana
Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya.
Demikianlah cerita singkakat (sinopsis) novel Laskar Pelangi yang dapat
penulis ceritakan. Menurut penulis alur cerita Laskar Pelangi memang sangat
inspiratif, novel ini mampu mengobarkan semangat mereka yang selalu dirudung
kesulitan dalam menjalani blantika pendidikan di mana tokoh-tokoh didalamnya
adalah manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, tawakal dan takwa
yang dituturkan secara indah. Dalam kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka,
indahnya petualangan mereka yang telah diceritakan dalam novel ini dapat membuat
tertawa, menangis dan terseduh ketika penulis membaca setiap lembar bukunya.
Ketika membacanya seolah menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai Gogal atau
Alan Lighman ia seperti trance menulis “Laskar Pelangi” dengan kadar emosi
demikian kental, bertabur metafora penuh pesona, deskripsi yang kuat, filmis ketika
memotret lanskep dan budaya yang dikerjakan dalam kurun waktu tiga pekan.
Lampiran-lampiran


DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama : Nurul Lahir Sari Ifa
TTL : Lumajang, 21 Januari 1987
Jenis Kelamin : Female
Agama : Islam
Alamat Rumah : Pantai Purnama Banjar Babakan
Sukawati Gianyar-Bali
E-mail : E-mail ifho_afi@yahoo.co.id
HP : 085735194691


PENDIDIKAN FORMAL
1993-1999 : SDN No. 7 Sukawati
1999-2002 : MTs Nurul Jadid Probolinggo
2002-2005 : MAN Nurul Jadid Probolinggo
2005 : UIN Malang

PENGALAMAN ORGANISASI
2005-2006 : Pimpinan Redaksi Buletin Afsyana Ma’had Ibnu Sina
2005 : Anggota JDFI Defisi Qiroah
2005 : Anggota Jam’iyah Qura Wal Hufadz (JQH)
2006-2007 : Kordinator Bidang Keagamaan Rayon Chondrodimuko PMII UIN
Malang
2006-2007 : Kordinator Bidang Penalaran Himpunan Mahasiswa Lumajang
Jaya (HIMALAYA)
2007 : Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Universitas Brawijaya
Malang
2007-2008 : Pengurus Bidang Penerbitan HMJ PI UIN Malang
2007-2008 : Pengurus Badan Pengaduan Ikatan Mahasiswa Pulau Dewata
IMADE
2008 : Anggota UKM Pramuka UIN Malang


PENGALAMAN LAIN-LAIN
2004 : The First Winner Has Followed The Activity “Scientific Room
Contents”
2007 : Peserta Lomba Pentas Cerpen Islami (PENCIL) di forkom FIA
Universitas Brawijaya Malang
2008 : Juara I Lomba Memasak antar Rayon PMII UIN Malang
2008 : Penerima Beasiswa DIPA
2005-2008 : Artikel dan Karya Seni Puisi Tersebar Di Buletin Kampus dan
Oraganisasi Ekstra

ABBILITY
Computer :Windows. MS Office

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->