P. 1
Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Panduan.

Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Panduan.

|Views: 1,141|Likes:
Published by Oswar Mungkasa

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA

Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

PANDUAN

2
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

TIM PENYUSUN
Konsultan Yusuf Supiandi Fransisca Sari Nara Sumber Kementerian Perumahan Rakyat • Sekretaris Kementerian • Kepala Biro Perencanaan dan KLN Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak • Hertomo Heroe • Sunarti Kontributor Kementerian Perumahan Rakyat • Deputi I • Deputi II • Deputi IV • Deputi V Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak • Zamzam Muchtarom • Endah Prihatiningtiyastuti Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak • Sri Lestari • Nani Dwi Wahyuni • Dwi Supriyanto • Bayu Harie Nugroho Editor Deputi Bidang Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA

3

Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

PANDUAN

SAMBUTAN
SEKRETARIS KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT
4
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat T uhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA Permukiman dapat tersusun dengan baik, sebagai salah satu wujud akuntabilitas dan transparansi penyelenggaraan pemerintahan bidang perumahan dan kawasan permukiman. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 T ahun 2000 tentang Pengarusu-

PANDUAN

Perencanaan dan Penganggaran Nasional, yang merupakan salah satu tamaan Gender Dalam Pembangunan upaya Gender yang Responsif pencarian keadilan atas hak azasi manusia tanpa mengotak-ngotakkan
Bidang Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kementerian/Lembaga untuk melakmenjadi tugas dan tanggung jawab bagi
gender (laki-laki dan perempuan), usia, kebiasaan, dan lainnya, maka telah sanakan berbagai kegiatan yang responsif gender, mulai dari perencanaan, penyusunan program, penganggaran, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pelaporan. Pengembangan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perumahan di Indonesia, khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), memiliki karakteristk yang cenderung netral gender, tanpa membedakan kelompok sasaran pemanfaatnya. Akan tetapi dalam serangkaian input, proses dan outputnya seringkali terdapat kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya kesenjangan gender. Salah satu upaya untuk mengurangi kesenjangan gender serta mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender adalah melalui proses perencanaan program dan penyusunan anggaran yang responsif gender.

Kendala yang dihadapi dalam perencanaan program dan penyusunan anggaran yang responsif gender di Kementerian Perumahan Rakyat, diakibatkan oleh karakteristik beberapa jenis infrastruktur bidang perumahan dan kawasan permukiman yang netral gender. Perubahan pola pikir para perencana program dan anggaran sangatlah diharapkan, sehingga dapat terwujud pembangunan infrastruktur bidang perumahan dan kawasan permukiman yang responsif gender. Kami berharap panduan ini dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan program dan penyusunan anggaran bidang perumahan dan kawasan permukiman, untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat. Kami menyadari bahwa Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman ini masih belum sempurna, untuk itu kami mengharapkan masukan dan saran dalam rangka perbaikan. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kontribusi pemikiran sehingga panduan ini dapat diselesaikan dengan baik.

5

Jakarta, September 2011 Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat

Dr. Iskandar Saleh

SAMBUTAN
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 T ahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional, mengamanatkan semua Kementerian/Lembaga termasuk didalamnya Kementerian Perumahan Rakyat KEMENTERIAN KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA untuk mengintegrasikan PUG dalam menetapkan kebijakan, menyusun program dan kegiatan masing-masing. Mandat tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) T ahun 2011, yang kemudian diperbaharui dengan PMK No.93/PMK.02/2011. Dalam PMK tersebut disebutkan bahwa setiap Kementerian/Lembaga yang pernah didampingi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dalam Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran yang Bidang Perumahan dan Kawasan Responsif Gender (PPRG) wajib mengintegrasikan isu gender kedalam pogram Pemukiman dan kegiatan mulai dari perencanaan sampai penganggaran yang dituangkan di RKA-K/L nya.

6

Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender

Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender

Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Kementerian Perumahan Rakyat dalam menindaklanjuti PMK tersebut, pada tahun 2011 telah bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang didampingi oleh konsultan untuk menyusun Pedoman Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Diharapkan pedoman tersebut dapat digunakan sebagai acuan para komponen perencana dalam menyusun program dan kegiatan yang responsif gender.

Pedoman ini disusun melalui serangkaian Focus Group Discussion, beberapa kali workshop, dan konsultasi ke masing-masing unit kerja eselon I dilingkungan Kementerian Perumahan Rakyat . Kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada Tim Penyusun, yang terdiri dari pimpinan dan staf Kementerian Perumahan Rakyat , dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta pihak-pihak yang terlibat atas keikhlasannya telah menyempatkan waktu untuk menyumbangkan pikiran, berdiskusi dan membahas pedoman ini. Semoga pedoman ini dapat memberikan manfaat bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun program dan kegiatan yang responsif gender guna mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender di Kementerian Perumahan Rakyat.

7

Jakarta, Agustus 2011 Deputi Bidang Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi

Dr. Ir. Hertomo Heroe, MM

DAFTAR ISI

8
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

2 4

KATA PENGANTAR Kementerian Perumahan Rakyat SAMBUTAN Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DAFTAR ISI DAFTAR Gambar, Diagram, Tabel dan Lampiran Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan Penyusunan Pedoman PPRG 1.2.1 Maksud 1.2.2 Tujuan 1.3 Sasaran 1.4 Ruang Lingkup 1.5 Landasan Hukum 1.6 Hasil Akhir (Output dan Outcome)

8 10 13 13 16 16 16 16 17 18 19 21 21 23 25 28 28 29 29 29 31

Bab 2 ISU GENDER BIDANG PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN 2.1 Pengertian Gender 2.2 Pengarusutamaan Gender (PUG 2.3 Gender dalam Bidang Perumahan dan Permukiman: 2.4 Isu Gender di Kementerian Perumahan Rakyat 2.4.1 Isu Kebijakan 2.4.2 Isu Perencanaan 2.4.3 Isu Pembangunan 2.4.4 Isu Monitoring dan Evaluasi Bab 3 PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG PERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN

31 32 37 39 43 43 43 45 46 50 55 55 57 58 58 59 61 61 63 65 66 70

3.1 3.2 3.3 3.4

Proses Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran Penganggaran Berbasis Kinerja Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Pengintegrasian Aspek Gender Dalam Perencanaan Program dan Penganggaran

9

Bab 4 PENYUSUNAN DAN TAHAP-TAHAP PERENCANAAN PROGRAM DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER DAN IMPLEMENTASINYA DI BIDANG PERUMAHAN 4.1. Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender 4.1.1 Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) 4.1.2 Pemilihan Program/Kegiatan/Output 4.1.3 Analisis gender 4.2 Penyusunan Gender Budget Statement (GBS): Bab 5 MONITORING DAN EV ALUASI 5.1 Pengertian Monitoring dan Evaluasi 5.2 Indikator Keberhasilan dan Data Terpilah 5.3 Tahap- tahap Monitoring dan Evaluasi 5.3.1 Tahap Persiapan 5.3.2 Tahap Monitoring 5.3.3 Tahap Evaluasi 5.3.4 Tahap Pelaporan

Bab 6 PENUTUP DAFTAR PUSTAKA DAFTAR ISTILAH LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR, DIAGRAM, TABEL, LAMPIRAN

10
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

10 18 28 40 52 60 25 29 31 33 34 39 42 45 49 50 51 58

DAFTAR Gambar Gambar 1.1 Rumahku dan lingkunganku penuh kekeluargaan Gambar 1.2 Aku mimpi rumah Bali masa lalu Gambar 1.3 Halamanku yang Indah Gambar 1.4 Lingkunganku yang nyaman Gambar 1.5 Rumah Impianku, diantara suaka alam Gambar 1.6 Lautku Rumahku DAFTAR Diagram Diagram 2.1 Transformasi Isu Proses dan Produk Pembangunan Perumahan dan Permukiman dari Layak Teknis ke Layak Teknis & Gender Diagram 3.1 Siklus Perencanaan dan Anggaran Nasional Diagram 3.2 Proses Perencanaan, Penganggaran dan Evaluasi Terpadu Diagram 3.3 Konsep Kerangka Kinerja Diagram 3.4 Struktur Anggaran Diagram 3.5 Mekanisme Perencanaan & Pelaksanaan Kegiatan responsif Gender Diagram 4.1 Langkah-langkah PPRG dalam Penyusunan RKA-K/L Diagram 4.2 Gender Analysis Pathway (GAP) DAFTAR Tabel Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 5. Gender Budget Statement Format TOR TOR Daftar Pertanyaan Pemantauan, Perencanaan Program dan Penganggaran Responsif Gender Unit Eselon

70 71 72 73 74 75

DAFTAR Lampiran Lampiran 1, Contoh GAP, GBS dan KAK Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat Lampiran 2, Contoh GAP, GBS dan KAK Deputi Bidang Pembiayaan Lampiran 3, Contoh GAP, GBS dan KAK Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Lampiran 4, Contoh GAP, GBS dan KAK Deputi Bidang Perumahan Formal Lampiran 5, Contoh GAP, GBS dan KAK Deputi Bidang Perumahan Swadaya

11

Gambar 1.1 “Rumahku dan lingkunganku penuh kekeluargaan” Pemenang Nominasi (SMP) Anisha Sefina Priatna (14th) Tasikmalaya

12
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Bab 1

PENDAHULUAN

13
1.1.

Latar Belakang

(1) Pendahuluan

Perumahan dan kawasan permukiman merupakan hak dasar bagi setiap Warga Negara Indonesia, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 H ayat (1), yaitu bahwa: setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya dalam pembukaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman dinyatakan bahwa: “Rumah mempunyai peran strategis dalam pembentukkan watak dan kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia berjati diri, madani, dan produktif. Sebagai hak dasar yang fundamental sifatnya, dan sekaligus menjadi prasyarat bagi setiap orang untuk bertahan hidup dan menikmati kehidupan yang bermartabat, damai, aman, dan nyaman, maka penyediaan perumahan dan kawasan permukiman yang memenuhi prinsip-prinsip layak dan terjangkau bagi semua orang telah menjadi komitmen global sebagaimana dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs). Untuk itu, Pemerintah bertanggungjawab membantu masyarakat agar dapat

bertempat tinggal serta melindungi dan meningkatkan kualitas permukiman serta lingkungannya. Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dalam kenyataan sangat berpengaruh besar terhadap perekonomian nasional, mengingat seluruh aspek kehidupan berawal dari rumah yang sehat dan layak huni. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman harus senantiasa berdampak penting terhadap perekonomian nasional maupun pada tatanan perekonomian global. Selain ekonomi, kontribusi pembangunan perumahan dan kawasan permukiman juga harus dapat dirasakan untuk berbagai kepentingan sosial, budaya, lingkungan dan lainnya, di antaranya adalah untuk kesetaraan gender. Pengarusutamaan gender (PUG) sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan nasional, menjadi komitmen Kementerian Perumahan Rakyat, yang akan diterapkan dalam setiap penyusunan kebijakan, perencanaan dan penganggaran, serta implementasinya melalui program dan kegiatan. Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014 diamanatkan bahwa PUG merupakan salah satu lintas bidang di dalam pembangunan, sehingga konsep kesetaraan gender harus benar-benar menjadi pegangan dalam setiap tahapan kegiatan pembangunan bidang perumahan dan kawasan permukiman. Perencanaan responsif gender telah diamanahkan dalam Instruksi Presiden tersebut di atas, yang memerintahkan seluruh Kementerian/Lembaga serta Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan PUG ke dalam siklus manajemen, yakni perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi atas kebijakan dan program yang berperspektif gender pada semua aspek pembangunan. Selain itu, Peraturan

14
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 telah mengamanatkan bahwa dalam penyusunan perencanaan perlu didahului dengan melakukan analisis dampak dan analisis gender. Hal tersebut diperkuat lagi dengan Permenkeu Nomor 105/PMK.02/2008, yang juga mengamanahkan agar penyusunan RKA-KL Tahun 2009 dilakukan dengan berbasis kinerja serta didahului oleh analisis dampak dan analisis gender. Dalam rangka lebih mengoperasionalkan PUG ke dalam berbagai program, kegiatan dan penganggarannya pada masing-masing Kementerian/Lembaga, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Nomor 119/PMK.02/2009, dan Nomor 104/ PMK.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun Anggaran 2010 dan 2011, yang telah diperbaharui dengan PMK Nomor 93/PMK.02/2011. Peraturan Menteri tersebut memerintahkan Kementerian atau Lembaga Non Kementerian (K/L) untuk menyusun kegiatan yang responsif gender dalam RKA-K/L yang ditunjukkan dengan adanya Gender Budget Statement (GBS). Dalam konteks tersebut di atas, untuk memudahkan para perencana di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat dalam menyusun perencanaan dan penganggaran responsif gender maka disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

15
(1) Pendahuluan

1.2

Maksud dan Tujuan Panduan PPRG Bidang PKP

1.2.1 Maksud Panduan PPRG Bidang PKP merupakan acuan bagi para perencana, pelaksana serta penentu kebijakan di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat, dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang efisien, efektif, dan berkeadilan bagi perempuan,

16
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

laki-laki, lansia dan anak serta orang dengan kebutuhan khusus (difable). 1.2.2 Tujuan Panduan PPRG Bidang PKP ini bertujuan untuk: 1. Menyamakan persepsi para penentu kebijakan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender; 2. Memberikan pengarahan tentang tata cara pengintegrasian isu gender kedalam sistem perencanaan dan penganggaran di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat; 3. Memberikan arahan dalam penyusunan perencanaan program melalui pendekatan Gender Anaysis Pathway (GAP) dan penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG) melalui pendekatan Gender Budget Statement (GBS). 4. Mendorong akuntabilitas pemerintah dalam menjalankan komitmennya untuk mewujudkan kesetaraan gender di bidang perumahan dan kawasan permukiman.

1.3

Sasaran

Sasaran pengguna Panduan PPRG Bidang PKP adalah para perencana program dan

penganggaran di Lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat yaitu unit organisasi yang mempunyai tugas dan fungsi penyusunan perencanaan dan penganggaran kegiatan di seluruh jajaran Eselon 1.

Sedangkan sasaran yang diharapkan dari penerapan PPRG ini adalah: 1. Tersusunnya perencanaan dan penganggaran program dan kegiatan yang responsif gender di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat. 2. Diterapkannya ARG dalam program dan kegiatan dengan melampirkan GBS dan KAK yang responsif gender; 3. Meningkatnya perspektif gender dalam pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat.

17
(1) Pendahuluan

1.4

Ruang Lingkup

Ruang lingkup panduan ini adalah upaya-upaya terkait dengan pengintegrasian isu gender mulai dari perencanaan dan penganggaran sampai penyusunan Gender Budget Statement (GBS) sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL. Ruang Lingkup panduan secara rinci meliputi: 1. Perencanaan dan penganggaran yang responsif gender di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 2. Isu gender dan data dukung gender (GBS dan KAK) bidang perumahan dan kawasan permukiman; 3. Langkah-langkah perencanaan dan penganggaran yang responsif gender bidang perumahan dan kawasan permukiman; 4. Monitoring dan evaluasi perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang perumahan dan kawasan permukiman.

1.5

Landasan Hukum

Panduan PPRG Bidang PKP ini disusun berlandaskan pada peraturan perundangan: 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW): 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

18
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Nasional, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 4. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga; 6. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Mengengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014; 7. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional; 8. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Keuangan tentang Pedoman Reformasi Perencanaan dan Penganggaran Nomor 0142/M.PPN/06/2009-SE 1848/ MK/2009 tertanggal 19 Juni 2009; 9. Peraturan Menteri Keuangan PMK Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL.

1.6

Hasil Akhir

Keluaran dan manfaat Panduan PPRG Bidang PKP adalah sebagai berikut: 1. Keluaran: tersusunnya dokumen perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. 2. Manfaat: diterapkannya program/kegiatan yang responsif gender, serta meningkatnya pemahaman dan persamaan persepsi dalam pengintegrasian gender di bidang perumahan dan kawasan permukiman.
(1) Pendahuluan

19

Gambar 1.2 “Aku mimpi rumah Bali masa lalu” Juara III (SD) I Gede Dalem Erlangga (13th) Gianyar-Bali

20
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Bab 2

ISU GENDER BIDANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
21
2.1

Pengertian Gender

Pengertian gender sama sekali berbeda dengan pengertian jenis kelamin, yang lazim dibedakan atas perempuan dan laki-laki. Gender tercipta melalui proses sosial budaya yang panjang dalam satu lingkup masyarakat tertentu, dan mempunyai pengertian sebagai, “Pembedaan peran, kedudukan, tanggung jawab dan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat”. Pembedaan gender dimulai dari rumah tangga, sebagai contoh, sejak dini anak laki-laki dikonstruksikan harus kuat, keras, dan tegas, sedangkan anak perempuan harus halus, tenang, dan lembut. Ketika di sekolah, pelajaran yang menjadi ranah perempuan ditetapkan misalnya menjahit dan memasak, sedangkan bagi laki-laki antara lain pertukangan dan elektronika. Demikian pula, media dan masyarakat makin menegaskan peran tersebut. Sebagai contoh, dalam media masa, perempuan ideal selalu dikonstruksikan sebagai seseorang yang melayani, lemah lembut dan selalu mengalah, sedangkan laki-laki adalah seseorang yang kuat dan dominan. Dengan konstruksi sifat seperti tersebut di atas, maka laki-laki umumnya ditempatkan sebagai pemegang pekerjaan produktif, yang dinilai menghasilkan, dan dipandang

(2) Isu Gender Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

mempunyai kedudukan lebih dominan. Sedangkan. perempuan ditempatkan sebagai pemegang peran pekerjaan domestik, yang dinilai tidak menghasilkan, dan karena itu berkedudukan sub-ordinat. Padahal pekerjaan domestik diperlukan untuk memelihara dan menjaga agar pelaku pekerja produktif, yaitu kaum laki-laki, tetap mampu melakukan pekerjaan produktifnya. Perempuan pun seringkali harus berperan ganda, sebagai pekerja produktif sambil tetap memegang pekerjaan domestiknya.

22
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Penetapan kebutuhan ruang dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, selama ini umumnya diturunkan dari kebutuhan laki-laki sebagai pekerja produktif, dan mengabaikan adanya perbedaan kebutuhan spesifik perempuan, karena sifat dan pekerjaannya yang tidak sama dengan laki-laki. Perumahan misalnya, dipandang sebagai tempat istirahat, yang merefleksikan kebutuhan laki-laki yang perlu istirahat setelah melakukan pekerjaan produktif di tempat lain. Padahal bagi perempuan, perumahan tidak hanya merupakan tempat istirahat, melainkan juga merupakan tempat bekerja. Sedangkan di tempat kerja, tidak disediakan ruang untuk kebutuhan khusus perempuan yang berperan ganda, sebagai pekerja dan juga sebagai seorang ibu yang tetap harus dapat mengasuh dan mengawasi anakanaknya, khususnya yang berusia balita. Ini berarti bahwa permukiman selama ini direncanakan dan dirancang sesuai dengan karakter pekerjaan laki-laki yang mengenal pemisahan ruang dan waktu. Perempuan, baik yang berperan ganda maupun yang hanya memegang pekerjaan domestik saja, tidak sepenuhnya memerlukan pemisahan ruang dan waktu. Pekerjaan domestik, seperti misalnya memasak, mengasuh anak dan mencuci piring, seringkali harus dilakukan pada saat bersamaan, yang berarti bahwa pekerjaan domestik cenderung kurang memerlukan pemisahan ruang. Peran, fungsi, tanggung jawab, dan perilaku dalam relasi gender merupakan bentukan masyarakat yang sesungguhnya dapat dipertukarkan antara perempuan dan laki-

laki. Peran gender dapat berbeda antar daerah, dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman, sedangkan perbedaan jenis kelamin adalah perbedaan biologis, merupakan kodrat yang menetap tidak dapat berubah sepanjang zaman. Perbedaan gender tidak akan menjadi permasalahan sepanjang tidak menimbulkan kesenjangan, ketidak-adilan atau diskriminasi pada perempuan atau laki-laki. Akan tetapi kenyataannya, pembedaan tersebut seringkali menimbulkan permasalahan. Dengan perbedaan gender dapat terjadi marginalisasi, sub-ordinasi, stereo-type dan bahkan terjadi adanya kekerasan dan beban ganda yang sering dialami oleh perempuan di sektor publik. Adanya peminggiran terhadap perempuan atau laki-laki dalam pembangunan mengakibatkan kesenjangan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat bagi perempuan dan laki-laki, termasuk difable, dalam mendapatkan peluang atau kesempatan yang adil dalam proses pembangunan.

23
(2) Isu Gender Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

2.2

Pengarusutamaan Gender (PUG)

Pengarusutamaan gender adalah strategi dalam mengintegrasikan berbagai pengalaman, aspirasi laki-laki dan perempuan ke dalam kebijakan dan program pembangunan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Pengarusutamaan gender bertujuan untuk terselenggaranya perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional yang berperspektif gender, dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pengarusutamaan gender dilaksanakan melalui: 1. Analisis gender yaitu cara mengidentifikasi dan memahami ada atau tidak adanya dan sebab – sebab terjadinya ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender, termasuk pemecahan permasalahannya, 2. Upaya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang pengarusutamaan gender pada instansi dan lembaga pemerintah di tingkat Pusat dan Daerah.

24
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Ketidakadilan gender dalam pembangunan dapat terjadi karena tidak samanya akses dan kontrol terhadap sumberdaya pembangunan, Partisipasi terhadap pengambilan keputusan dan kegiatan, dan manfaat kebijakan serta program pembangunan bagi perempuan dan laki-laki, termasuk difable. Melalui Pengarusutamaan Gender dapat dihasilkan kebijakan dan program pembangunan yang responsif gender, yang dapat membuka peluang sama bagi laki-laki dan perempuan serta difable dalam beroleh akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat pembangunan. PUG sebagai suatu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, harus dapat membuktikan bahwa aspek gender benar-benar tercermin dan terpadu dalam empat fungsi utama manajemen program setiap instansi, lembaga maupun organisasi, yaitu : a. Perencanaan: menyusun pernyataan atau tujuan yang jelas bagi perempuan dan laki-laki. b. Pelaksanaan: memastikan bahwa strategi yang dijelaskan mempunyai dampak pada perempuan dan laki-laki. c. Pemantauan: mengukur kemajuan dalam pelaksanaan program dalam hal partisipasi dan manfaat bagi perempuan dan laki-laki. d. Penilaian (evaluasi): memastikan bahwa status perempuan maupun laki-laki sudah menjadi lebih setara/seimbang sebagai hasil prakarsa tersebut.

Sedangkan tujuan Pengarusutamaan Gender (PUG) secara umum sebagaimana tercantum dalam panduan pelaksanaan Impres Nomor 9 tahun 2000, tujuan PUG adalah: a. Membentuk mekanisme untuk formulasi kebijakan dan program yang responsif gender. b. Memberikan perhatian khusus pada kelompok-kelompok yang mengalami marjinalisasi, sebagai dampak dari bias gender. c. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran semua pihak baik pemerintah maupun non pemerintah sehingga mau melakukan tindakan yang sensitif gender di bidang masing-masing.

25
(2) Isu Gender Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

2.3

Gender dalam Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Isu secara umum dapat diartikan sebagai berbagai hal, perhatian, pertanyaan, topik, proposisi atau situasi yang perlu direspon oleh suatu tindakan. Dalam kaitannya dengan bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman, maka isu berarti berbagai hal, situasi atau masalah yang perlu direspon oleh suatu kebijakan, program dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah, agar apa yang menjadi tanggungjawab negara sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman terlaksana. Sedangkan dalam Gender Analysis Pathway, isu gender dijabarkan sebagai adanya kesenjangan dalam faktor Akses, Partisipasi, Kontrol dan Manfaat (APKM). Dengan demikian, isu gender merupakan permasalahan atau situasi yang diakibatkan oleh adanya kesenjangan atau ketimpangan gender dalam akses, partisipasi, kontrol dan

manfaat pembangunan, dalam hal ini adalah pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, yang berimplikasi munculnya diskriminasi terhadap salah satu pihak, perempuan atau laki-laki. Padahal keadilan dan pemerataan adalah salah satu azas penyelenggaraan perumahan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor 1 Tahun 2011, Bab 2, pasal 2. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam akses dan kontrol terhadap sumberdaya pembangunan, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan, serta manfaat hasil pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, dapat terjadi pada proses dan produk perumahan dan kawasan permukiman, yang mencakup kegiatan perencanaan, pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian, termasuk di dalamnya pengembangan kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat yang terkoordinasi dan terpadu. Tetapi, tidak sepenuhnya kegiatan yang tersebut dalam ketentuan umum, pasal 1 UndangUndang Perumahan dan Kawasan Permukiman nomor 1 tahun 2011 itu, merupakan kewenangan Kementerian Perumahan Rakyat. Ini mengisyaratkan pentingnya koordinasi di antara K/ L penyelenggara perumahan dan kawasan permukiman, dalam menciptakan perumahan dan kawasan permukiman yang responsif gender. Dengan proses dan produk pembangunan perumahan dan permukiman yang responsif gender, maka kelayakan huni dan keterjangkauan tidak hanya layak menurut kebutuhan teknis dan ekonomis semata-mata, melainkan juga harus layak gender. Untuk menemu-kenali isu gender, terlebih dahulu harus tersedia data terpilah, yang menunjukkan masih adanya ketimpangan gender dalam proses dan produk kebijakan, program, kegiatan yang akan direncanakan.

26
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Transformasi isu proses dan produk pembangunan perumahan dan permukiman, dari layak teknis ke layak teknis dan gender

Diagram 1.1

proses layak teknis administratif & responsif gender isu terpilah isu gender

produk: layak huni terjangkau & layak gender isu terpilah produk: layak huni & terjangkau: teknis, ekonomis

Siklus Perencanaan dan Anggaran Nasional

proses: layak teknis & administratif

27
(2) Isu Gender Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Isu-isu gender dalam bidang perumahan dan kawasan permukiman secara umum dapat diintegrasikan, antara lain melalui: 1. Kebijakan dan program yang dapat mengatasi berbagai permasalahan perumahan dan kawasan permukiman, baik sebagai lingkungan fisik maupun sebagai pengorganisasian, yang menghasilkan proses maupun produk kebijakan serta program yang responsif gender; 2. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang dapat memandu pengguna dan pemakainya menghasilkan kegiatan dan atau produk perumahan dan kawasan permukiman lainnya yang responsif gender; 3. Peningkatan penyebaran dan penguasaan informasi mengenai isu gender dalam bidang perumahan dan kawasan permukiman melalui sosialisasi, pelatihan dan pendidikan informal lainnya, serta dalam pendidikan formal dalam subjek pengetahuan terkait, seperti untuk perencana dan perancang perumahan dan kawasan permukiman, juga para pengambil keputusan terkait di kalangan pemerintahan pusat dan daerah, dan stakeholders lainnya, termasuk masyarakat pengguna perumahan dan kawasan permukiman;

4. Skema-skema pembiayaan/pendanaan pengembangan perumahan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan kawasan permukiman yang responsif gender; 5. Peningkatan partisipasi perempuan dan laki-laki dari segala usia dan yang berkebutuhan khusus, dalam desain proyek, implementasi, monitoring dan evaluasi, agar manfaat pembangunan lebih bersifat responsif gender.

28
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

2.4

Isu Gender di Kementerian Perumahan Rakyat

Dalam bagian ini akan diangkat beberapa contoh isu-isu gender di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat, sesuai dengan kegiatan yang menjadi tugas pokok dan fungsi Kementerian, yang mencakup kebijakan, perencanaan dan perancangan, pembangunan dan pemeliharaan, serta monitoring dan evaluasi 2.4.1 Isu Kebijakan 1. Terbatasnya pemahaman pengambil keputusan, baik secara pola pikir dan atau kapasitas, dalam merumuskan kebijakan bidang perumahan dan kawasan permukiman yang berkeadilan bagi laki-laki, perempuan, anak-anak, lansia, dan disable. 2. Masih terdapatnya kesenjangan pemahaman di antara pembuat dan pelaksana kebijakan K/L dan Non-Pemerintah terkait pembiayaan perumahan terhadap peran perempuan sebagai pengelola keuangan rumah tangga. 3. Kriteria dan spesifikasi prasarana, sarana dan utilitas yang ada di perumahan dan kawasan permukiman belum mengakomodasi penggunaan oleh kaum perempuan dan disable. 4. Adanya kesenjangan laki-laki dan perempuan di dalam mengakses informasi kebijakan dan program perumahan.

2.4.2 Isu Perencanaan 1. Belum tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut gender dalam penyusunan program. 2. Kurangnya pemahaman aspek gender dalam proses penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) pengembangan perumahan dan kawasan permukiman. 3. Perencanaan dan perancangan perumahan dan kawasan permukiman belum secara memadai memperhatikan kebutuhan gender. 4. Dokumen perencanaan bidang perumahan dan kawasan permukiman masih belum berperspektif gender. 2.4.3 Isu Pembangunan 1. Keterbatasan akses masyarakat khususnya perempuan terhadap sumberdaya perumahan dan kawasan permukiman. 2. Masukan kelompok masyarakat dalam perencanaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman belum responsif gender. 3. Bahan/materi sosialisasi/ pelatihan belum responsif gender; dan narasumber, fasilitator, serta pelaksana sosialisasi belum paham gender. 2.4.4 Monitoring dan Evaluasi 1. Belum ada indikator monitoring dan evaluasi yang responsif gender dalam penyelenggaaran perumahan dan kawasan permukiman. 2. Rendahnya peran masyarakat yang peduli gender dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan perumahan. 3. Belum tersedianya komponen data terpilah atas penanganan pengaduan masyarakat di bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman; dan keikutsertaan perempuan dalam penyampaian saran pengaduan masih relatif rendah.

29
(2) Isu Gender Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Gambar 1.3 “Halamanku yang Indah” Pemenang Nominasi (SD) Mohammad Asaydana (11th) Batu-Malang, Jatim

30
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Bab 3

PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG PERUMAHAN RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN
31
3.1

Proses Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran

Sistem perencanaan dan penganggaran yang berlaku di Kementerian Lembaga, telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

(3) Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

siklus perencanaan dan anggaran nasional

RPJP

RPJMN

RKP

RAP

APBN

pusat

Renstra K/L

Renja K/L

RKA K/L

Rincian APBN
Diagram 3.1

UU 25/2004 tentang SPPN

UU 17/2003 tentang Keuangan Negara

Siklus Perencanaan dan Anggaran Nasional

sumber: panduan PPRG KPP

Diagram 3.1 memperlihatkan sinkronisasi sistem perencanaan dan penganggaran yang berlaku di Kementerian dan Lembaga. Rencana Kerja (Renja) Kementerian Perumahan Rakyat, dengan mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Setelah ditelaah dan ditetapkan oleh Kementerian PPN/Bappenas dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, disusunlah Rencana Kerja Anggaran (RKA), yang nantinya akan menjadi Rincian APBN (Pasal 2 Ayat (1) PP Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan RKA-KL).

32
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Siklus perencanaan dan penganggaran di Indonesia, menurut Pasal 4 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, dimulai pada tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang sama, seperti yang terlihat pada Diagram 3.2. Diagram 3.2 ini memperlihatkan bahwa Renja K/L harus sudah dibuat selambat-lambatnya di bulan April, dengan mengacu pada Renstra K/L dan pagu indikatif. Pada bulan berikutnya, setelah semua Renja K/L dikumpulkan oleh Bappenas, dan seluruh anggarannya dibahas bersama DPR RI, maka ditetapkanlah RKP yang telah memuat pagu sementara. Selanjutnya, RKP ini digunakan sebagai landasan dalam menyusun RKA K/L. Kemudian kumpulan dari semua RKA K/L dijadikan bahan lampiran RAPBN. Setelah RAPBN dibahas dan disahkan menjadi APBN, maka ditetapkanlah pagu definitif, dan selanjutnya RKA K/L menjadi DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) K/L. (Panduan PPRG Kementerian Keuangan).

3.2

Penganggaran Berbasis Kinerja

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara telah memuat azasazas umum pengelolaan keuangan Negara dalam kaitan dengan penyelenggaraan Good Governance. Melalui UU tersebut telah ditetapkan azas akuntabilitas berorientasi hasil (Result Oriented Accountability), atau yang umumnya dikenal

Diagram 3.2 Proses Perencanaan, Penganggaran dan Evaluasi Terpadu

diagram proses perencanaan, penganggaran dan evaluasi terpadu
Januari-April Kementerian Perencanaan SEB prioritas program dan indikasi pagu Mei-Agustus Penelaahan konsisten dengan RKP September-Desember

33

Kementerian Keuangan

SE pagu sementara Rancangan KepPres tentang rincian APBN

Lampiran RAPBN (himpunan RKA-KL)

Penelaahan konsisten dengan prioritas anggaran

pagu

pengesahan

Kementerian Negara/Lembaga Rentra KL Rancangan Renja KL RKP RKA-KL

konsep dokumen pengesahan anggaran

dokumen pelaksanaan anggaran

Proses perencanaan, penganggaran, dan evaluasi terpadu

Tahap III pertemuan koordinasi

Tahap I penyusunan konsep kerangka kerja Tahap II penyusunan rencana kegiatan dan anggaran

Tahap IV penyusunan RKP, RKA-KL DIPA

dengan istilah akuntabilitas kinerja (Performance Accountability). Hal ini artinya ada perubahan mendasar pada sistim penganggaran, yang tadinya Line-Item Budgeting menjadi Performance Based Budgeting (Penganggaran Berbasis Kinerja). Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) merupakan suatu pendekatan dalam sistem penganggaran yang memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran (output) dan hasil akhir (outcome) yang diharapkan, serta memperhatikan efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. Indikator kinerja yang digunakan dalam penerapan PBK dapat dibagi dalam: 1. Input indikator, yaitu indikator untuk melaporkan jumlah sumber daya yang digunakan untuk menjalankan suatu kegiatan atau program; 2. Output indikator, dimaksudkan untuk melaporkan unit barang/jasa yang dihasilkan suatu kegiatan atau program; 3. Outcome/effectiveness indikator, dimaksudkan untuk melaporkan hasil (termasuk kualitas pelayanan). Dalam struktur penganggaran yang berbasis kinerja, harus terdapat keterkaitan yang jelas antara kebijakan perencanaan sesuai dengan hirarki struktur organisasi pemerintahan, dengan alokasi anggaran untuk menghasilkan output, yang dilaksanakan oleh unit pengeluaran (spending unit) pada tingkat satuan kerja. Dalam hal ini, perumusan indikator kinerja yang menggambarkan tanda-tanda keberhasilan suatu program/kegiatan yang telah dilaksanakan, beserta output dan outcome yang dihasilkan, menjadi sangat penting. Indikator ini akan dijadikan alat ukur keberhasilan suatu program/kegiatan.

34
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Diagram 3.3 Konsep Kerangka Kinerja

konsep kerangka kinerja

35
(3) Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

dampak

Hasil pembangunan yang diperoleh dari pencapaian outcome

Apa yang ingin diubah

metode penyusunan

hasil/ outcome

Apa yang ingin dicapai

keluaran/ output

produk/barang/jasa yang dihasilkan

Apa yang dihasilkan (Barang) atau dilayani (jasa) Apa yang dikerjakan

kegiatan

proses menggunakan input yang menghasilkan output yang diinginkan

input

sumberdaya yang menghasilkan kontribusi dalam menghasilkan input

Apa yang digunakan dalam bekerja

metode pelaksanaan

Diagram 3.4 Struktur Anggaran

Penerapan PBK tersebut akan mempengaruhi struktur anggaran yang digunakan oleh

K/L. Diagram 3.4 menunjukkan struktur anggaran yang baru dalam penerapan PBK. Struktur anggaran tersebut memperlihatkan keterkaitan antara perencanaan dan penganggaran, yang merefleksikan keselarasan antara formulasi kebijakan dengan pelaksanaan kebijakan tersebut. Suatu kegiatan dapat menghasilkan lebih dari satu output, sementara untuk pencapaian setiap output, perlu dirinci komponen input secara berjenjang. Selanjutnya dapat dihitung kebutuhan belanja dari masing-masing tahapan.

36
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

struktur anggaran

program

outcome

Indikator kinerja utama

kegiatan kegiatan

output

output

Indikator kinerja kegiatan

sub output

komponen

sub komponen

proses pencapaian output

detil belanja

3.3

Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender

Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan instrumen untuk mengatasi adanya kesenjangan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam pelaksanaan pembangunan bagi perempuan dan laki-laki, sebagai akibat dari konstruksi sosial dan budaya, dengan tujuan mewujudkan perencanaan dan penganggaran yang lebih berkeadilan. Perencanaan dan penganggaran responsif gender, bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada, dan bukan pula penyusunan rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. Penyusunan perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah tujuan akhir, melainkan merupakan sebuah kerangka kerja atau alat analisis untuk mewujudkan keadilan dalam penerimaan manfaat pembangunan. Perencanaan dan penganggaran yang responsif gender adalah kegiatan dalam menterjemahkan kebijakan pembangunan dalam bentuk penggunaan dana dan kegiatan, untuk memastikan bahwa proses ini telah menjalankan prinsip-prinsip keadilan, termasuk di dalamnya keadilan dalam perspektif gender. Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) adalah proses yang tepat untuk menjamin terlaksananya prinsip keadilan tersebut. Mekanisme perencanaan dan penganggaran yang responsif gender mengikuti proses sistem perencanaan dan penganggaran nasional sebagai mana dijelaskan diatas (diagram 3.1 diatas). Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan dua proses yang saling terkait dan terintegrasi. Berikut beberapa konsep tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender:
(3) Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

37

1. Perencanaan responsif gender merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menyusun program, proyek ataupun kegiatan yang akan dilaksanakan di masa mendatang, untuk menjawab isu-isu atau permasalahan gender di masingmasing sektor; 2. Perencanaan responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya. Khusus tentang anggaran resposif gender, berdasarkan PMK Nomor 93 Tahun 2011, dijelaskan sebagai berikut: 1. Anggaran Responsif Gender (ARG) adalah anggaran yang mengakomodasi keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, manfaat, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan mengontrol sumber-sumber daya, serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam menikmati hasil pembangunan, dan bukan merupakan anggaran yang yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan; 2. Prinsip-prinsip Dasar ARG: a. ARG bukan fokus pada penyediaan anggaran pengarusutamaan gender, tapi bagaimana memberikan manfaat pada laki-laki dan perempuan secara adil; b. Anggaran Responsif Gender bukanlah anggaran yang yang terpisah untuk lakilaki dan perempuan; c. Pola anggaran yang akan menjembatani kesenjangan peran dan tanggung jawab laki-laki, perempuan serta kelompok lain; d. Tidak berlaku sebagai dasar untuk meminta tambahan alokasi anggaran; e. ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki - 50% perempuan untuk setiap kegiatan;

38
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

f

Adanya anggaran responsif gender tidak berarti adanya penambahan dana yang dikhususkan untuk program ini;

g. Bukan berarti bahwa alokasi anggaran responsif gender berada dalam program khusus pemberdayaan perempuan; h. Tidak harus semua program/kegiatan perlu mendapat koreksi agar menjadi responsif gender à ada juga program/kegiatan yang sudah netral gender. 3. Kategori Anggaran Responsif Gender (ARG) dapat dibagi kedalam: a. Anggaran khusus target gender, adalah alokasi anggaran yang diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan dasar khusus perempuan atau kebutuhan dasar khusus laki-laki berdasarkan hasil analisis gender; b. Anggaran kesetaraan gender, adalah alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan gender. Berdasarkan analisis gender dapat diketahui adanya kesenjangan dalam relasi antara perempuan dan laki-laki dalam akses, partisipasi, manfaat dan kontrol terhadap sumberdaya; c. Anggaran pelembagaan kesetaraan gender, adalah alokasi anggaran untuk penguatan pelembagaan pengarusutamaan gender, baik dalam hal pendataan maupun peningkatan kapasitas sumberdaya manusia.

39
(3) Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

3.4

Pengintegrasian Aspek Gender Dalam Perencanaan Program dan Penganggaran

Pengintegrasian aspek gender ke dalam perencanaan dan penganggaran merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sedapat mungkin analisis gender dilakukan pada setiap tahapan penyusunan kebijakan strategis dan kebijakan operasional. Dokumen kebijakan strategis yang meliputi RPJP, RPJM, Renstra K/L, RKP, Renja K/L dan Pagu Indikatif/Pagu Sementara, sedangkan dokumen kebijakan operasional

meliputi dokumen APBN, RKA K/L dan DIPA. Dokumen kebijakan strategis yang telah mengintegrasikan aspek gender, menjadi dasar penyusunan program/kegiatan/ subkegiatan yang responsif gender. Operasionalisasi pengintegrasian aspek gender dalam perencanaan dan penganggaran dilakukan melalui penyusunan dokumen Renja Kementerian Perumahan Rakyat. Dokumen Renja ini menggunakan analisis gender sebagai masukan untuk memastikan program/kegiatan/subkegiatan yang responsif gender. Pengintegrasian isu gender dilakukan mulai dari tahap perencanaan sampai penganggaran, yang akan menghasilkan anggaran responsif gender. Anggaran responsif gender adalah anggaran yang tanggap terhadap kebutuhan, permasalahan, aspirasi, dan pengalaman perempuan dan laki-laki serta memberi manfaat yang adil kepada perempuan dan laki-laki. Aspek gender bisa diintegrasikan di dalam setiap tahapan perencanaan dalam berbagai bentuk. Dalam diagram 3.5 terlihat aspek terintegrasi dalam bentuk: 1. Pada tahap identifikasi potensi dan kebutuhan, aspek gender masuk dalam bentuk analisis situasi/analisis gender; 2. Pada perencanaan anggaran, maka formulasi kebijakan dilakukan dengan memperlihatkan gender; 3. Implementasi anggaran dilaksanakan dengan memperhatikan partisipasi laki-laki dan perempuan; 4. Kegiatan monitoring dan evaluasi menggunakan berbagai indikator yang peka gender.

40
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

mekanisme perencanaan dan pelaksanaan kegiatan responsif gender
analisis situasi/analisis gender

Diagram 3.5 Mekanisme Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan Responsif Gender

potensi dan kebutuhan berbagai indikator sensitif gender program/ kegiatan formulasi tujuan dengan memperhatikan dimensi gender

41
perencanaan program

monitoring dan evaluasi program

pelaksanaan program

(3) Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

partisipasi laki-laki dan perempuan sesuai kemauan, kemampuan, kebutuhan, pengalaman, dan aspirasinya

Dari diagram 3.5 tersebut terlihat bahwa analisis gender dilakukan pada penyusunan kebijakan strategis yaitu Renstra dan Kebijakan Operasional yaitu Penyusunan Rancangan Renja K/L dan RKA K/L. Renstra yang responsif gender akan menjadi acuan dalam penyusunan rancangan Renja K/L dan RKA K/L sebagai indikator program dan anggaran responsif gender atau belum responsif gender. Pengintegrasian gender dalam dokumen-dokumen di atas, pada dasarnya dilakukan dengan cara membuat analisis gender. Penting untuk diketahui, apakah dokumen Renstra, Renja dan RKA KL sudah responsif gender atau belum. Jika belum, maka pada tingkat operasional dalam kegiatan/output kegiatan yang tercantum dalam Renja dan RKA K/L diformulasikan kembali agar menjadi responsif gender.

Gambar 1.4 “Lingkunganku yang Nyaman” Pemenang Nominasi (SD) Kamilia Qonita (11th) Batu-Malang, Jatim

42
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Bab 4

PENYUSUNAN DAN TAHAP-TAHAP PPRG DAN IMPLEMENTASINYA DI BIDANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
4.1

43
(4) Penyusunan Dan Tahaptahap PPRG Dan Implementasinya Di Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Penyusunan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender

Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) merupakan suatu pendekatan analisis kebijakan, program dan kegiatan untuk mengetahui perbedaan kondisi, permasalahan, aspirasi dan kebutuhan perempuan dan laki-laki. Penyusunan PPRG diawali dengan pengintegrasian isu gender ke dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran, serta merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Analisis situasi/analisi gender harus dilakukan pada setiap tahapan penyusunan kebijakan strategis dan kebijakan operasional. Dokumen kebijakan strategis meliputi RPJP, RPJMN, Renstra K/L, RKP, Renja K/L dan Pagu Indikatif/pagu sementara. Sedangkan kebijakan strategis menjadi dasar penyusunan program dan kegiatan yang responsif gender. Operasionalisasi pengintegrasian isu gender dalam perencanaan dan penganggaran dilakukan melalui penyusunan dokumen Renja K/L. Penyusunan Dokumen Renja menggunakan analisis gender. Analisis gender/analisis situasi dimaksud, mengandung muatan sebagai berikut: 1. Gambaran kesenjangan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam semua kegiatan pembangunan;

2. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (organisasi pemerintah) dan atau eksternal lembaga masyarakat; 3. Indikator outcome yang dapat dihubungkan dengan tujuan kegiatan/sub-kegiatan; 4. Indikator input atau output yang dapat dihubungkan dengan bagian pelaksanaan kegiatan/sub-kegiatan. Salah satu alat analisis gender yang telah diterapkan di Indonesia berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional adalah Gender Analysis Pathway atau Alur Kerja Analisis Gender (GAP). Proses Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender dalam Penyusunan Program Kerja, perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 4.1.1 Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) Untuk menyusun RKA/KL perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
Diagram 4.1 Langkah-langkah PPRG dalam Penyusunan RKA-K/L

44
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

langkah-langkah PPRG dalam penyusunan RKA-K/L

Pemilihan Program/Kegiatan

1. Pilih Program yang Strategis 2. Pilih Program yang Mendukung Pencapaian MDG’s 3. Pilih Program yang Melibatkan Masyarakat

Analisis Gender
Gunakan Gender Analysis Pathway (GAP)

Gender Budget Statement

Term Of Reference (TOR)

4.1.2 Pemilihan Program/Kegiatan/Output Struktur penganggaran terdiri dari program, kegiatan dan output/sub-output serta komponen input sebagai bentuk langkah-langkah kegiatan untuk mencapai output/ sub-output. Program/kegiatan/output/sub-output yang dipilih untuk dilakukan analisis gendernya dan dimuat gender budget statements-nya, adalah program yang strategis dan memiliki dimensi luas, baik dalam hal dampak dan pelibatan masyarakat maupun dalam mendukung pencapaian MDG’s. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RKA-KL ini. Untuk mempermudah pelaksanaannya, berikut ini adalah kisi-kisi mengenai hal tersebut, yaitu: 1. Penerapan ARG pada penganggaran Tahun 2011 diletakkan pada output. Relevansi komponen input dengan output yang akan dihasilkan harus jelas. 2. Kriteria kegiatan dan output yang menjadi fokus ARG. 3. Pada tahun 2011, ARG akan diterapkan pada K/L yang menghasilkan output kegiatan: a. Dalam rangka penugasan prioritas pembangunan nasional; b. Dalam rangka pelayanan kepada masyarakat (delivery service); dan/atau c. Dalam rangka pelembagaan pengarusutamaan gender/PUG (termasuk didalamnya capacity building, advokasi gender, kajian, sosialisasi, diseminasi dan/atau pengumpulan data terpilah). Pemilihan program/kegiatan sebagaimana disebutkan dalam PMK Nomor 93/ PMK.02/2011 adalah: 1. Program yang Strategis; 2. Program yang Mendukung Pencapaian MDG’s; 3. Program yang Melibatkan Masyarakat.

45
(4) Penyusunan Dan Tahaptahap PPRG Dan Implementasinya Di Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Dengan kriteria sebagaimana disebutkan di atas, maka tidak semua kegiatan/output/ sub-output dibuat gender budget statement-nya. Namun pemilihan output yang akan dijadikan titik tolak Gender Budget Statement, harus dapat memenuhi kriteria tersebut di atas dan menjadi daya pengungkit responsif gender bagian kegiatan dan program 4.1.3 Analisis Gender

46
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Analisis gender adalah kegiatan untuk mengidentifikasi kesenjangan dan permasalahan gender serta faktor penyebabnya, sehingga dapat dirumuskan alternatif solusinya secara tepat, dengan menggunakan metode Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway/GAP). (Lihat Analisis GAP Diagram 4.2 ) Salah satu alat analisis gender yang telah diterapkan di Indonesia berdasarkan amanat Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional adalah Gender Analysis Pathway (GAP) atau alur kerja analisis gender sebagaimana tergambar dalam diagram 4.2. Analisis gender/analisis situasi tersebut di atas mengandung muatan sebagai berikut 1. Gambaran kesenjangan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam semua kegiatan pembangunan; 2. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (Organisasi Pemerintah) dan atau eksternal lembaga masyarakat; 3. Indikator outcome yang dapat dihubungan dengan tujuan kegiatan/sub kegiatan; 4. Indikator input atau output yang dapat dihubungkan dengan bagian pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan.

Diagram 4.2 Gender Analysis Pathway (GAP)

Gender Analysis Pathway (GAP)

Analisis kebijakan gender

Gender Analysis Pathway (GAP)

47

Tujuan kebijakan saat ini

formulasi kebijakan gender

rencana program gender

data pembuka wawasan (terpilah menurut jenis kelamin) - kuantitatif - kualitatif Faktor GAP - Akses - Partisipasi - Kontrol - Manfaat

tujuan kebijakan gender bagaimana mengecilkan/ menutup kesenjangan?

kegiatan

pelaksanaan

monitoring dan evaluasi

indikator gender

sasaran

isu-isu gender dan mengapa ada Gap?

Langkah-langkah melakukan GAP terhadap program dan kegiatan Kementerian Perumahan Rakyat adalah sebagai berikut: 1. Langkah ke-1 dimulai dari pemilihan program dan kegiatan Kementerian Perumahan Rakyat yang akan menjadi isu utama untuk dibahas dalam konteks gender. Perlu dicatat bahwa tidak semua anggaran bisa menjadi isu gender. Pemilhan kegiatan adalah kegiatan yang strategis, mempunyai daya ungkit yang besar dalam pencapaian MDG’s, dan berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. Kemudian jelaskan sasaran dan tujuan yang spesifik, terukur, akurat, dan relevan. Program, kegiatan dan tujuan adalah sebagaimana telah dituliskan dalam Renstra Kementerian Perumahan Rakyat 2. Langkah ke-2 adalah dengan memasukkan data yang membuka wawasan, untuk memperlihatkan adanya permasalahan-permasalahan yang bisa secara langsung fokus pada data pilah (laki-laki perempuan), atau dimulai secara umum terlebih dahulu. Data terpilah bisa berupa data primer dan data sekunder yang bisa didapat melalui survei lapangan; FGD; Need Assessment, pengukuran sampel; identifikasi; pengumpulan data terpilah menurut jenis kelamin lainnya langsung dilakukan pada kelompok sasaran. Pada Langkah kedua ini dibuat kesimpulan, yang menjadi fokus isu sebagai pembuka wawasan. 3. Langkah ke-3 Identifikasi kesenjangan berdasarkan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat. Kesenjangan yang ditampilkan dalam langkah ke-3 berhubungan dengan masalah yang lebih umum di masyarakat, tetapi yang berkait dengan program dan kegiatan yang direncanakan. Pada prinsipnya adalah semakin memfokuskan analisis, untuk melihat perbedaan ketidakadilan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan secara umum.

48
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

4. Langkah ke-4 adalah analisis dengan menguraikan faktor kesenjangan yang diperoleh dari sisi internal Kementerian Perumahan Rakyat. Kajian disini akan lebih banyak membedah dalam konteks manajerial sehingga bisa dibagi dalam permasalahan input dan proses. Dari sisi input bisa dibedah kembali dari sisi SDM, sarana dll. Dari sisi proses bisa dikaji dari tradisi budaya kerja, kebijakan dan lain sebagainya. Dalam bagian ini data-data yang diungkapkan sebaiknya evidence based. 5. Langkah ke-5 adalah analisis dengan menguraikan faktor kesenjangan yang diambil dari sisi eksternal lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat. Sisi eksternal ini bisa berarti dari masyarakat, lintas sektoral, swasta, dll. 6. Langkah ke-6 adalah melakukan reformulasi tujuan dengan melihat tujuan sebagaimana telah diuraikan pada langkah pertama. Reformulasi tujuan ini untuk menyempurnakan arah tujuan menjadi lebih responsif gender dengan dasar pertimbangan dari analisis yang telah dilakukan. 7. Langkah ke-7 menyusun Rencana Aksi dengan merujuk faktor-faktor penyebab kesenjangan baik internal maupun eksternal sebagaimana diidentifikasi pada langkah ke-4 dan langkah ke-5. Uraian rencana aksi ini akan menjadi penting untuk menunjukkan langkah-langkah konkrit agar kegiatan/output itu responsif gender. 8. Langkah ke-8 adalah menetapkan data awal (base-Line) sebelum intervensi dari rencana aksi dilaksanakan yang akan menjadi data pembanding dengan data paska intervensi (data indikator gender langkah 9). 9. Langkah ke-9 adalah menetapkan indikator gender sebagai hasil intervensi untuk menjadi acuan penetapakan indikator gender yang akan menjadi outcome sebagai suatu perubahan dari suatu kegiatan/output yang dianalisis.

49
(4) Penyusunan Dan Tahaptahap PPRG Dan Implementasinya Di Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Format Gender Analysis Pathway (GAP)
langkah 1 Pilih kebijakan/ program/kegiatan yang akan dianalisis Identifikasi dan tuliskan tujuan dan kebijakan/ program/kegiatan langkah 2 Data pembuka wawasan

Dibawah ini adalah Format Gender Analysis Pathway (GAP) yang dapat di gunakan dalam melakukan Analisis Gender pada kegiatan di Kementerian Perumahan Rakyat
langkah 4 langkah 5 langkah 6 langkah 7 langkah 8 Pengukuran hasil langkah 9 Kebijakan dan rencana ke depan

langkah 3 Isu Gender

Faktor kesenjangan

Sebab kesenjangan internal Temukenali isu gender di internal lembaga dan/atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya isu gender

Sebab kesenjangan eksternal Temukenali isu gender di eksternal lembaga pada proses pelaksanaan

Reformulasi tujuan

Rencana aksi

Data dasar (base-line)

Indikator gender

50

Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender

Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Sajikan data pembuka wawasan, yang terpilah menurut jenis kelamin: - kuantitatif - kualitatif

Temukenali isu gender di proses perencanaan dengan memperhatikan 4 (empat) faktor kesenjangan, yaitu: akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat

Rumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan sehingga menjadi responsif gender

tetapkan rencana aksi yang responsif gender

Tetapkan baseline

Tetapkan indikator gender

4.2

Penyusunan Gender Budget Statement (GBS)

Hasil analisis gender kemudian dituangkan ke dalam Gender Budget Statement (GBS). GBS adalah dokumen yang menginformasikan suatu output kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada, dan/atau suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender. Penyusunan dokumen GBS telah melalui analisis gender dengan menggunakan alat antara lain Gender Analysis Pathway (GAP). Penyusunan GBS pada tingkat output telah melalui analisis gender dengan menggunakan alat analisis gender (antara lain Gender Analisys Pathway atau GAP). Struktur GBS yang mengikuti pola struktur anggaran yang berlaku ini merupakan beberapa perubahan GBS yang telah disesuaikan dan ditetapkan melalui PMK Nomor 93/PMK.02/2011.

Format dan Penyusunan Gender Budget Statement (GBS) dapat dilihat dalam tabel 4.1 dibawah ini:

Tabel 4.1 Gender Budget Statement

Nama Unit Organisasi Satker No 1 2 3 4 Aspek Program Kegiatan

: (Nama Kementerian/Lembaga) : (Nama Unit Eselon 1 sebagai KPA) : (Nama Unit Eselon II di Kantor Pusat yang bukan sebagai Satker /Nama Satker baik di Pusat atau Daerah) Uraian Nama Program yang ada pada K/L (sesuai langkah 1 GAP) Nama Kegiatan sebagai penjabaran program (sesuai langkah 1 GAP). Jenis output, volume dan satuan output hasil kegiatan yang berupa target kegiatan yang akan dicapai. (sesuai langkah 1 GAP). Uraian mengenai tujuan adanya output kegiatan setelah dilaksanakan analisis gender. Jika penyusun GBS menggunakan Gender Analisis Pathway (GAP), maka dapat menggunakan hasil jawaban kolom 6 pada format GAP. Uraian ringkas yang menggambarkan persoalan yang akan ditangani/dilaksanakan oleh kegiatan, dengan menekankan uraian pada aspek gender dari persoalan tersebut. (sesuai langkah 2,3,4,5 GAP). Komponen input 1 Memuat informasi mengenai: Berisikan bagian atau tahapan pencapaian suatu output/Kegiatan yang diharapka dapat menangani persoalan gender yang telah terindentifikasi dalam analisis situasi. (sesuai langkah 7 GAP). Idem (4) Penyusunan Dan Tahaptahap PPRG Dan Implementasinya Di Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

51

Output kegiatan Tujuan

5

Analisa situasi

6

Rencana aksi

Komponen input 2 7 8 Alokasi anggaran output kegiatan Dampak/hasil output kegiatan

Tulis jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mencapai suatu output kegiatan. Dampak/hasil dari output kegiatan yang dihasilkan (dikaitkan dengan isu gender serta upaya perbaikan ke arah kesetaraan gender yang telah diidentifikasi pada analisis situasi). Sesuai dengan langkah 9 GAP.

Penyusunan T erm Of Reference (Kerangka Acuan Kerja) Sesuai dengan PMK Nomor 93/PMK.02/201, ada beberapa perubahan yang disesuaikan dengan struktur anggaran 2011, termasuk di dalamnya adalah bentuk kerangka acuan kegiatan atau TOR yang akan dibuat. Bentuk TOR adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Format TOR

KAK/TOR per Keluaran Kegiatan
Kementerian/Lembaga Unit Eselon I Program Hasil Unit Eselon I Kegiatan Indikator kinerja kegiatan Jenis dan Satuan Ukur Keluaran Volume Keluaran A. : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : …………………………………

52
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

B. C.

D. E.

Latar Belakang 1. Dasar Hukum Tugas FungsiKebijakan 2. Gambaran Umum Penerima Manfaat Strategi Pencapaian Keluaran 1. Metode Pelaksanaan 2. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Waktu Pencapaian Keluaran Biaya yang Diperlukan

Kesenjangan gender yang diperoleh dari analisis gender (dengan GAP), dimasukkan dalam format TOR atau KAK pada bagian: 1. Latar Belakang, merupakan Gambaran Umum, yang memperlihatkan indentifikasi persoalan kesenjangan gender dan menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi; 2. Penerima Manfaat kegiatan, menjelaskan siapa penerima manfaat dari kegiatan ini, perempuan dan laki-laki (besar prosentasenya atau jumlahnya); 3. Strategi pencapaian keluaran serta metode pelaksanaan, menjelaskan bagaimana strategi yang dilaksanakan untuk mencapai output kegiatan yang telah dianalisa.

Untuk menyusun TOR, harus mengacu kepada GBS yang telah disusun dan menginformasikan suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang dihadapi, dan apakah telah dialokasikan dana pada kegiatan bersangkutan untuk menangani permasalahan gender tersebut. Pembuatan TOR bisa dilakukan dengan susunan sebagai berikut:
Term Of Reference (TOR) Nama KL Unit Organisasi Program Kegiatan 1. : .............................................................. : .............................................................. : ................................. (Langkah 1 GAP) : ................................. (Langkah 1 GAP)

Tabel 4.3 TOR

53
(4) Penyusunan Dan Tahaptahap PPRG Dan Implementasinya Di Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Latar belakang Berisi analisis situasi yang terkait dengan program atau kegiatan. Merupakan penjelasan secara singkat (why) aktivitas dilaksanakan dan alasan penting aktivitas tersebut dilaksanakan serta keterkaitan aktivitas dengan output. (Penjabaran langkah 2,3,4,5 GAP) Dasar Hukum Berisi landasan hukum yang mendasari pelaksanaan program atau kegiatan yang berupa UU, PP, Inpres, Keputusan Menteri, dan Instruksi Menteri. Penerima Manfaat Menjelaskan penerima manfaat baik internal maupun ekternal K/L dan target group dari program/ kegiatan (Penjabaran langkah 8,9 GAP) Strategi Pencapaian Berisi metode pelaksanaan dan tahapan pelaksanaan (Penjabaran langkah 6,7 GAP) Metode Palaksanaan Berisi bentuk kegiatan berkaitan dengan sistem pelaksanaan program atau kegiatan Waktu Pencapaian Berisi berapa lama program atau kegiatan ditargetkan selesai dikerjakan Biaya Berisi total biaya aktivitas sebesar nilai nominal tertentu yang dirinci dalam RAB sebagai lampiran TOR

2.

3.

4. 5. 6. 7.

Gambar 1.5 “Rumah Impianku, diantara suaka alam” Juara III (SMP) Yulia Kodrato Shafta Radiantini (13th) Madiun-Jatim

54
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Bab 5

MONITORING DAN EV ALUASI

55
5.1

Pengertian Monitoring dan Evaluasi

(5) Monitoring Dan Evaluasi

Monitoring atau pemantauan adalah suatu proses pengumpulan dan analisis informasi secara sistematis dan terus-menerus, untuk menilai pelaksanaan suatu rencana kegiatan atau kebijakan pembangunan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul, sehingga dapat dilakukan tindakan koreksi untuk penyempurnaan rencana kegiatan/kebijakan selanjutnya sedini mungkin.

Evaluasi adalah proses yang dilakukan secara sistematis dan seobjektif mungkin untuk menilai hasil dari keluaran (output) dan hasil (outcome), dibandingkan dengan rencana awalnya. Kegiatan ini merupakan alat pembelajaran manajemen dan proses organisasi, untuk memperbaiki baik aktivitas maupun perencanaan, program dan pengambil keputusan yang sedang berlangsung maupun yang akan datang. Karena itu, Monitoring dan Evaluasi merupakan aspek yang bersifat mendasar dalam pengelolaan program pada semua tingkatan: nasional, regional, dan lokal. Evaluasi menghasilkan suatu penilaian atas relevansi, efektivitas, efisiensi, dan dampak dari suatu kegiatan/program, dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas program/kebijakan.

Monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengintegrasian isu gender dalam perencanaan dan pengganggaran di bidang pembangunan dilakukan untuk menilai pencapaian sasaran sumber daya yang digunakan, serta indikator dan sasaran kinerja keluaran (output) untuk masing-masing kegiatan, apakah sudah responsif gender atau belum, sebagai umpan balik bagi pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian proyek selanjutnya.

56
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Para pelaksana monitoring dan evaluasi ini harus sudah memahami isu gender serta dilengkapi dengan instrumen khusus yang dapat secara tepat menemukan adanya kesenjangan gender, dan dapat memperlihatkan capaian perencanaan dan penganggaran yang menurunkan atau menghapuskan kesenjangan gender. Dalam melakukan pemantauan perencanaan program dan penganggaran perlu memastikan adanya dokumen yang menjadi unsur monitoring dan evaluasi. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu: 1. Memastikan terkumpulnya dokumen GBS dan TOR dari masing-masing unit organisasi/Eselon 1; 2. Memastikan terkumpulnya dokumen RKA dari masing-masing unit organisasi/ Eselon 3. Memastikan dokumen GBS, TOR dan RKA telah ditelaah oleh Pokja Pelaksana Pemantau Responsif Gender; 4. Memastikan dokumen GBS, TOR dan RKA telah dinilai oleh Pokja Pelaksana Pemantau Responsif Gender; 5. Memastikan bahwa kegiatan/output/sub-output yang ada dalam RKA sudah responsif gender dari Pokja Pelaksana Pemantau Responsif Gender; 6. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).

5.2

Indikator Keberhasilan dan Data Terpilah

Indikator adalah sifat atau variabel terukur, yang mencerminkan kemajuan kegiatan. Indikator digunakan untuk memantau perkembangan capaian suatu tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, serta output/outcome yang diharapkan dari suatu program dan kegiatan. Indikator keberhasilan dalam PPRG di bidang perumahan dan kawasan permukiman adalah suatu besaran atau ukuran yang dapat digambarkan antara lain sebagai berikut: 1. Meningkatnya peluang yang dimiliki oleh staf/ pegawai laki-laki dan perempuan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pelatihan, perencanaan, perancangan, penyusunan kegiatan/program/kebijakan, aktif dalam pengambilan keputusan, melakukan kontrol dan menerima manfaat yang sama dan setara dari kegiatan yang diikutinya; 2. Tersedianya fasilitas kantor yang responsif gender, sehingga pegawai / staf perempuan dapat menjalankan tugas dan kewajiban kerjanya dan memenuhi peran sosial sebagai perempuan / ibu selama berada di kantor, misalnya tempat penitipan anak, tempat pemberian ASI; 3. Semua penerima manfaat kegiatan sosialisasi, fasilitasi dan stimulan, baik lakilaki dan perempuan, dari berbagai usia, dan yang berkebutuhan khusus (disable) mendapat peningkatan peluang yang setara dan adil untuk mendapatkan akses dari program dan kegiatan pembangunan, berupa sumberdaya: teknologi, informasi, bantuan/ stimulan dana, kredit, sertifikasi tanah, dan lain sebagainya; 4. Tersusunnya kebijakan atau peraturan yang dapat membantu terciptanya kesetaraan gender di kalangan masyarakat, khususnya di lingkungan masyarakat penerima manfaat, yang anggota masyarakat perempuannya termarginalisasi dari berbagai peluang untuk beroleh sumberdaya perumahan dan kawasan permukiman,
(5) Monitoring Dan Evaluasi

57

berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, sehingga dengan adanya kegiatan pembangunan dapat beroleh manfaat yang sama dengan anggota masyarakat yang laki-laki; 5. Adanya Data Terpilah menurut jenis kelamin, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, untuk dapat mengetahui ada tidaknya ketimpangan gender dalam suatu subjek terkait kegiatan perumahan dan kawasan permukiman. Data menurut jenis kelamin tersebut antara lain tentang: a. Data penerima bantuan stimulan, peserta sosialisasi, kredit, sertifikasi, dan lain sebagainya; b. Aktivitas ekonomi, sosial dan politik; c. Masalah dan kebutuhan berdasarkan jenis kelamin. 6. Data terpilah juga diperlukan menurut usia dan kebutuhan khusus (difable), karena pada dasarnya perumahan dan kawasan permukiman harus responsif gender dan bersifat inklusif.

58
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

5.3 5.3.1

Tahap-tahap Monitoring dan Evaluasi
Tahap Persiapan

Dalam rangka mengawali pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi PPRG perlu dipastikan: 1. Dibentuknya kelompok kerja atau tim yang akan melaksanakan monitoring dan evaluasi; 2. Tersedianya instrument sebagai alat untuk pengumpulan data baik dalam bentuk kuisioner atau checklist. (contoh checklist sebagaimana dalam tabel 5.1);

Tabel 5.1 Daftar Pertanyaan Pemantauan

Perencanaan Program dan Penganggaran Responsif Gender Unit Eselon 1 Diisi oleh1): 1) Sekretariat Kementerian; 2) Deputi Bidang Pembiayaan, 3) Deputi Bidang Perumahan Formal, 4) Deputi Bidang Pengembangan Kawasan; 5) Deputi Bidang Perumahan Swadaya
Unsur Pemantauan GBS Pertanyaan 1 2 3 4 Apakah dokumen GBS disusun dengan menggunakan analisis situasi/analisis gender? Apakah data terpilah gender dimasukkan dalan analisa situasi/analisis gender dalam dokumen GBS? Apakah isu kesenjangan gender yang di uraikan dalam analisis situasi tercermin dalam GBS? Apakah rencana kegiatan/sub kegiatan grup-grup akun dalam GBS dapat menjawab isu-isu gender yang di uraikan dalam analisis situasi?
Monitoring Dan Evaluasi

Jawab2)

59

TOR

1 2 3 4 5

Apakah latar belakang TOR/KAK menggambarkan kesenjangan akses, kontrol, partisipasi dan manfaat antara perempuan dan laki-laki ? Apakah analisis situasi dalam TOR/KAK menggambarkan faktor penghambat internal atau ekternal dalam penyusunan kegiatan/sub kegiatan? Apakah tujuan kegiatan dalam TOR mencerminkan pengurangan kesenjangan gender?

Apakah tujuan TOR/KAK menjelaskan tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaran baik lakilaki maupun perempuan? Apakah grup-grup akun dalam GBS menjadi tahapan kegiatan dalam TOR/ KAK? Apakah kegiatan/sub kegiatan yang ada dalam dokumen RKA memuat kegiatan/sub kegiatan yang ada dalam GBS? Apakah rincian grup-grup akun (tahapan kegiatan) dalam GBS dituangkan dalam RKA? Apakah jumlah anggaran kegiatan/sub kegiatan RKA sesuai dengan jumlah anggaran dalam dokumen GBS ? Apakah rincian alokasi anggaran dalam RKA dapat mengurangi kesenjangan gender yang telah diidentifikasi? Apakah indikator outcome (hasil) dalam RKA berkaitan dengan tujuan kegiatan dalam TOR/KAK? Apakah input (masukkan) dan output (keluaran) dalam RKA berhubungan dengan tahapan kegiatan dalam TOR/KAK?

RKA

1 2 3 4 5 6

Keterangan: 1) Diisi dengan memberi tanda lingkaran pada nomor yang sesuai; 2) Diisi dengan Tanda (√) jika sudah dilaksanakan dan tanda (x) jika belum dilaksanakan.

3. Kelompok kerja atau Tim Pemantau Monitoring dan Evaluasi, yang telah memahami isu gender baik secara umum maupun secara khusus bidang perumahan rakyat dan permukiman; 4. Tersedianya jadwal pelaksanaan monitoring dan evaluasi. 5.3.2 Tahap Monitoring

60
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Monitoring adalah kegiatan pengumpulan data/informasi dan pelaporan pelaksanaan rencana program/kegiatan yang bersumber dari Rencana Kerja Anggaran (RKA). Dalam melakukan monitoring perencanaan program dan penganggaran yang responsif gender, perlu dipastikan semua dokumen dari masing-masing unit organisasi/Eselon 1 (Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat, dan Deputi Bidang), yaitu yang mencakup dokumen GBS, TOR dan RKA, yang menjadi unsur monitoring dan evalusi terkumpul, termasuk daftar pertanyaan yang sudah diisi (Tabel 5.1). Jawaban Daftar Pertanyaan (tabel 5.1) yang diisi oleh perencana program pada unit organisasi akan menjadi bahan pertimbangan bagi tim pemantau monitoring untuk menyimpulkan bahwa kegiatan/ sub kegiatan yang ada dalam dokumen RKA sudah responsif gender atau belum. Tim Pemantau Monitoring dan Evaluasi kemudian memastikan bahwa seluruh dokumen tersebut kemudian ditelaah dan dinilai, untuk dapat memastikan bahwa semua kegiatan/sub kegiatan yang ada dalam RKA sudah responsif gender atau belum. 5.3.3 Tahap Evaluasi

Dalam tahap ini yang akan dievaluasi difokuskan kepada saat pelaksanaan RKA dan Evaluasi Paska pelaksanaan RKA yang responsif gender. Hasil evaluasi menjadi bahan rekomendasi bagi penyempurnaan penyusunan program yang responsif gender pada tahun anggaran berjalan dan bahan pertimbangan tahun berikutnya.

5.3.4 Tahap Pelaporan Kegiatan dan hasil monitoring dan evaluasi disusun dalam sebuah Laporan Monitoring dan Evaluasi, yang disampaikan kepada masing-masing unit Eselon 1 untuk hasil monitoring dan evaluasi pada unit satuan kerja, kepada Menteri Negera Perumahan Rakyat untuk hasil monitoring dan evaluasi pada lingkungan masing-masing unit Eselon 1. Laporan hasil monitoring dan evaluasi dari masing-masing unit Eselon 1 akan dijadikan laporan Kementerian Perumahan Rakyat tentang Pelaksanaaan Perencanaan dan Pengganggaran yang Responsfif Gender. Laporan tersebut selanjutnya disampaikan kepada Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA).

61
(5) Monitoring Dan Evaluasi

Gambar 1.6 “Rumahku yang Bersih dan Asri” Pemenang Nominasi (SD) Dewi Jasmine (12th) Malang-Jatim

62
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Bab 6

PENUTUP

63
Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender mutlak diperlukan untuk menjamin aspirasi dan kebutuhan perempuan serta laki-laki termasuk difable, dalam pengambilan keputusan pembangunan bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman dapat terpenuhi secara adil dan seimbang. Implementasi kebijakan yang harus dikeluarkan dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman dalam mekanisme perencanaan dan penganggarannya mengadopsi Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) tersebut. Untuk mempermudah melakukan analisis gender dalam perencanaan dan penganggaran, maka dibuatlah Panduan PPRG Bidang PKP. Panduan Pengintegrasian Aspek Gender dalam perencanaan dan penganggaran ini, merupakan buku panduan bagi para penentu kebijakan dan khususnya para perencana program di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat. Dengan adanya buku panduan ini diharapkan pelaksanaan penerapan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender dapat dipermudah dan diperlancar. Semoga panduan ini bermanfaat bagi para perencana dan lainnya yang berupaya untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pembangunan nasional, khususnya di Kementerian Perumahan Rakyat. Panduan ini masih kurang dari sempurna, oleh karena itu masukan-masukan positif demi penyempurnaan panduan tetap diperlukan.
(6) Penutup

DAFTAR PUSTAKA

64
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

1. 2.

Bastian, Indra. Ph.D, M.B.A, Akt. 2006, Sistim Perencanaan Dan Penganggaran Daerah Di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta. Budlender, Debbie, 2008, “Performance budgeting and indicators: how do we make them gender-sensitive?”, handout pada Advanced Gender Budget T raining, International Budget Partnership-BIGS. Endriana Noerdin Dkk, 2005, “Modul Latihan Analysis Gender & Anggaran berkeadilan gender”, Women Research Institute (WRI), Jakarta. Eva K. Soundari Dkk, 2006, “Modul Latihan Advokasi Penganggaran berbasis Kinerja Responsif Gender”, Pattiro & The Asia Foundation, Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2011, Modul Pelatihan Fasilitator untuk Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG)”, KPP&PA, GIZ, Jakarta. Kementerian Keuangan, 2010, Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Dilingkungan Kementerian Keuangan, Jakarta. Kementerian Perumahan Rakyat, 2010, Renstra Kempera Tahun2010-2014, Kempera, Jakarta. KPP & PA, UNFPA & BKKBN 2005, “Bunga rampai PUG: Bahan Pembelajaran Pengarusutamaan Gender”, MOWE, Jakarta. MOWE, IASTP III, & Austraning Internasional. Th 2008, “Key Performance Indicators for Measuring Gender Mainstreaming in Indonesia”, MOWE, Jakarta.

3.

4.

5.

6.

7. 8. 9.

10. 11.

MOWE, 2008, Panduan Perencanaan dan Penganggaran yang Responsive Gender (PPRG), MOWE, Jakarta. Syahrudin, Rosul, DR.SH, 2003, Pengintegrasian Sistim Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran dalam Perspektif UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, PNRI, Jakarta. Sharp, Ronda (2003), “Budgeting For Equity: Gender Budget Initiatives within a Framework of Performance Oriented Budgeting”, UNIFEM. Suryadi, Asep. (2007), Persyaratan dan unsur-unsur Evaluasi yang baik. Materi presentasi dalam acara” Program Pengembangan KIapasitas Perencanaan Kebijakan, Monitoring dan Evaluasi Program-Program yang berpihak kepada kaum miskin” Bogor, Mei 2007. Unifem & UNFPA Year 2006, “Gender Responsive Budget in Practice: T raining manual”, Unifem, Jakarta. World Bank (2004), Monitoring and Evaluation: some tool, methods, and Approaches. The world Bank, Washington D.C. UNDP & MOWE.2007, “Modul Pengarusutamaan Gender dalam pembangunan di Indonesia”, NDP, Jakarta.

65
Daftar Pustaka

12.

13.

14. 15. 16.

DAFTAR ISTILAH

66
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

1 2

Anggaran Responsif Gender Anilisis Gender

Anggaran yang responsif terhadap kebutuhan dan memberi manfaat kepada perempuan & laki-laki Analisis untuk mengidentifikasi dan memahami pembagian kerja/peran laki-laki dan perempuan, akses kontrol terhadap sumber-sumber daya perempuan, akses kontrol terhadap sumber-sumber daya pembangunan, partisipasi dalam proses pembangunan, dan manfaat yang mereka nikmati, pola hubungan antara laki-laki dan perempuan, yang di dalam pelaksanaannya memperhatikan faktor lainnya seperti kelas sosial, ras, dan suku bangsa Pandangan atau visi yang menyimpang tentang gender Ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi, lingkungan/ kepentingan umum adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar ( PP39/2006) Pandangan masyarakat tentang perbedaan peran fungsi, dan tanggung jawab antara perempuan-dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri (KPP, 2000) Satu alat analisis gender yang dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan lain pada tahun 2000 dan direkomendasikan penggunaannya dalam beberapa kebijakan Segala sesuatu yg dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan & program dapat berjalan : sumber daya manusia, dana, perlengkapan, waktu, dan sebagainya Suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan laki-laki dan perempuan atau ketimpangan gender, yaitu adanya kesenjangan antara kondisi sebagaimana yang dicita-citakan (kondisi normatif) dengan kondisi gender sebagaimana adanya (kondisi obyektif)

3 4 5

Bias Gender Dampak Evaluasi

6

Gender

7

Gender Analysis Pathways

8

Input

9

Isu gender

10

Kawasan permukiman

Bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan Sebidang tanah yang fisiknya serta prasarana, sarana, dan utilitas umumnya telah dipersiapkan untuk pembangunan lingkungan hunian skala besar sesuai dengan rencana tata ruang Merupakan proses yang adil terhadap perempuan atau laki-laki Kerangka Acuan Kegiatan berfungsi sebagai pijakan atau kerangka acuan dalam sebuah program/kegiatan Keadaan di mana perempuan dan laki-laki memiliki status dan kondisi yang sama dalam pemenuhan hak-haknya sebagai manusia serta peran aktifnya dalam pembangunan Pandangan, sikap, perilaku dan proses yang tidak adil terhadap perempuan atau laki-laki Kondisi/situasi yang berbeda yang diterima oleh perempuan atau laki-laki dari proses pembangunan maupun kehidupan. Keluaran/hasi dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan mencapai dan kualitas yang terukur Sebidang tanah yang fisiknya serta prasarana, sarana, dan utilitas umumnya telah dipersiapkan untuk pembangunan perumahan dengan batas-batas kaveling yang jelas dan merupakan bagian dari kawasan siap bangun sesuai dengan rencana rinci tata ruang Kegunaan suatu keluaran (outputs) yang dirasakan langsung masyarakat. Contoh : tersedianya fasilitas umum Segala sesuatu yg mencerminkan berfungsinya keluaran (outputs) kegiatan pada jangka menengah. Outcomes merupakan ukuran seberapa jauh setiap produk/jasa dapat memenuhi kebutuhan/ harapan masyarakat

67
Daftar Istilah

11

Kawasan siap bangun (Kasiba)

12 13

Keadilan gender Kerangka Acuan Kegiatan (T erm of Reference) Kesetaraan Gender

14

15 16 17

Ketidak Adilan Gender Ketimpangan/ kesenjangan gender Kinerja

18

Lingkungan siap bangun (Lisiba)

19 20

Manfaat Outcome

68
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

21 22

Output Pemantauan

Segala sesuatu yg berupa produk/jasa sebagai hasil langsung dari kegiatan & program : fisik/non fisik Sebagai kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin Strategi untuk mengintegrasikan berbagai pengalaman, kebutuhan, dan aspirasi laki-laki dan perempuan dalam kebijakan, program dan kegiatan dalam tahap-tahap pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi Serangkaian cara dan pendekatan untuk mengintergrasian gender di dalam proses perencanaan dan penganggaran. Perencanaan yang responsif gender adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, yang dilakukan melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki. Sementara anggaran yang responsif gender adalah penggunaan atau pemanfaatan anggaran yang berasal dari berbagai sumber pendanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender Bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan Pemukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat Pernyataan Anggaran Gender adalah dokumen yang menginformasikan suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada, dan apakah telah dialokasikan dana pada kegiatan bersangkutan untuk menangani permasalahan gender tersebut Bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni

23

Pengarusutamaan Gender

24

Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender

25

Permukiman

26

Permukiman kumuh

27

Pernyataan Anggaran Gender (Gender Budget Statement) Perumahan adalah kumpulan rumah

28

29

Perumahan dan kawasan permukiman

Satu kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat Perumahan yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat hunian Kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman Perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaanperbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat dengan suatu pandangan yang ditujukan kepada keterbatasanketerbatasan dari keadilan Bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya. Rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus Rumah yang diselenggarakan dengan tujuan mendapatkan keuntungan Rumah yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri Rumah yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat Rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah F asilitas dalam lingkungan hunian yang berfungsi untuk mendukung penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi Adalah kelengkapan penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian

69
Daftar Istilah

30 31

Perumahan kumuh Prasarana

32

Responsif Gender

33

Rumah

34 35 36

Rumah khusus Rumah komersial Rumah Negara

37 38 39

Rumah swadaya Rumah umum Sarana

40

Utilitas

LAMPIRAN 1.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) SEKRETARIAT KEMENTERIAN PERUMAHAN

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Data Pembuka Wawasan

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Belum tersosialisasinya pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman pada masyarakat luas; 2. Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga akses untuk memanfaatkan layanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman masih terbatas. 3. Kesempatan bagi perempuan untuk menyampaikan pengaduannya masih terbatas karena sebagian besar waktunya dipergunakan untuk mengurus keluarga dan keperluan lain serta perempuan merasa lebih puas bilamana dapat menyampaikan pengaduannya secara langsung.

70
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Fasilitasi Pelaksanaan Kotak Pos Pengaduan Masyarakat Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Output/Indikator Kinerja Kunci: Tersusunnya Laporan Pengaduan Masyarakat Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Tujuan Kegiatan: Tercapainya pemberdayaan pelayanan bantuan hukum bidang perumahan dan kawasan permukiman dalam rangka pelayanan publik.

1. Pengaduan baik langsung maupun tidak langsung yang disampaikan oleh masyarakat pengadu laki-laki dan masyarakat pengadu perempuan; 2. Fasilitasi berupa klarifikasi dan koordinasi dengan instansi lain terkait pengaduan.

Partisipasi Dalam turut serta menyampaikan pendapat ataupun pengaduannya, baik perempuan maupun laki-laki, masih terlihat bahwa masalah perumahan dan kawasan permukiman merupakan domain laki-laki, sehingga peran perempuan belum terlalu menonjol. Manfaat Dari segi manfaat yang diterima, masih lebih besar jumlah pengaduan dari laki-laki yaitu sebanyak 60% sedangkan jumlah pengadu perempuan 40% sehingga hanya sebagai penerima manfaat yang lebih sedikit. Kontrol Keterbatasan dalam informasi dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat juga pengaduan di bidang perumahan dan kawasan permukiman, secara tidak langsung berpengaruh terhadap kontrol masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan atas pelayanan publik oleh Pemerintah.

1. Jumlah SDM pengelola yang terbatas; 2. Kapasitas SDM yang belum memadai; 3. Belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai; 4. Belum adanya koordinasi di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat dalam menangani pengaduan masyarakat di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 5. Belum adanya forum koordinasi dalam penanganan pengaduan; 6. Belum tersusunnya SOP atas pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman, sehingga pelayanan yang diberikan pun belum maksimal, keberadaan tim pelaksana yang ada saat ini pun belum efektif; 7. Belum adanya data terpilah antara pengaduan yang datangnya dari masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan, sehingga belum terlihat akses dan partisipasi perempuan di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 8. Belum optimalnya publikasi layanan pengaduan.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Rencana Aksi

Indikator Gender

Tercapainya pemberdayaan pelayanan bantuan hukum bidang perumahan dan kawasan permukiman dalam rangka pelayanan publik.

1. Penyusunan dan Penerapan SOP Layanan Pengaduan; 2. Publikasi layanan pengaduan 3. Penyusunan laporan layanan pengaduan secara terpilah berdasarkan jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, dan waktu; 4. Peningkatan Kapasitas SDM pengelola; 5. Pembentukan Jaringan Koordinasi Pengaduan Layanan; 6. Pengadaan Sarana dan prasarana layanan pengaduan masyarakat bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

1. Belum terusunnya dan diterapkannya Standar operasional prosedur Layanan Pengaduan; 2. Belum tersedia media Publikasi layanan pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman; 3. Penyusunan laporan layanan pengaduan belum terpilah berdasarkan jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, dan waktu; 4. Kapasitas SDM pengelola layanan pengaduan masyarakat belum optimal; 5. Belum Terbentuk Jaringan Koordinasi Layanan Pengaduan; 6. Ketersediaan Sarana dan prasarana layanan pengaduan yang belum optimal.

Laporan peningkatan layanan pengaduan secara terpilah berdasarkan jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, dan waktu

71
Lampiran

LAMPIRAN 1.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) SEKRETARIAT KEMENTERIAN PERUMAHAN

72
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Tujuan Kegiatan Analisis Situasi

Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Fasilitasi Pelaksanaan Kotak Pos Pengaduan Masyarakat Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Jumlah Fasilitasi Pelayanan Bantuan Hukum bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Laporan Kegiatan dan Pembinaan Pelayanan Bantuan Hukum Tercapainya pemberdayaan pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman dalam rangka pelayanan publik. Unit Pelayanan pengaduan masyarakat berada dibawah unit Bagian Bantuan Hukum dan Perjanjian pada Biro Hukum dan Kepegawaian, Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat. Unit ini memiliki tugas pelaksanaan pelayanan bantuan hukum antara lain penerimaan pengaduan melalui kotak pos pengaduan dan pengaduan masyarakat yang datang secara langsung dan pelaksanaan penyiapan administrasi tindak lanjut pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman. Pelayanan kotak pos pengaduan masyarakat merupakan sarana bagi masyarakat untuk mengawasi pelaksanaan tugas pemerintah dalam pelayanan publik. Dalam pelaksanaan tugas pelayanan sehari-hari masih ditemui adanya kendala-kendala, yang mengakibatkan tidak optimalnya pelaksanaan pelayanan pengaduan, antara lain: 1. Belum tersusunnya SOP atas pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman, sehingga pelayanan yang diberikan pun belum maksimal, keberadaan tim pelaksana yang ada saat ini pun belum efektif; 2. Belum optimalnya publikasi layanan pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman 3. Jumlah SDM pengelola yang terbatas; 4. kapasitas SDM yang belum memadai; 5. Belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai; 6. Belum adanya koordinasi di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat dalam menangani layanan pengaduan masyarakat di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 7. Belum adanya forum koordinasi dalam penanganan pengaduan; 8. Laporan layanan pengaduan belum memilah datanya menurut jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, waktu sehingga laporan tersebiut belum dapat menguraikan secara detil permasalahan di bidang perumahan dan kawasan pemukiman, utamanya yang terkait pengaduan masyarakat (masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan, sehingga belum terlihat adanya kesenjangan akses dan partisipasi laki-laki dan perempuan, di wilayah tertentu dan kurun waktu tertentu yang menghadapi permasalahan di bidang perumahan dan kawasan permukiman;

Secara umum isu gender yang ada terkait layanan pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman a. Partisipasi Dalam turut serta menyampaikan pendapat ataupun pengaduannya, baik perempuan maupun laki-laki, masih terlihat bahwa masalah perumahan dan kawasan permukiman merupakan domain laki-laki, sehingga peran perempuan belum terlalu menonjol. b. Manfaat Dari segi manfaat yang diterima, masih lebih besar jumlah pengaduan dari laki-laki yaitu sebanyak 60% sedangkan jumlah pengadu perempuan 40% sehingga hanya sebagai penerima manfaat yang lebih sedikit jumlahnya. c. Kontrol Keterbatasan dalam informasi dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat juga pengaduan di bidang perumahan dan kawasan permukiman, secara tidak langsung berpengaruh terhadap kontrol masyarakat atas pelayanan publik oleh Pemerintah. Untuk itu melalui kegiatan ini perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat memberikan dampak positif yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat selaku pengguna layanan pengaduan dengan melakukan serangkaian aktivitas dalam rencana aksi. Rencana Aksi Komponen 1. Penyusunan SOP atas pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 2. Sosialisasi atas eksistensi pelayanan bantuan hukum bidang perumahan dan kawasan permukiman di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) 1. Terakomodirnya aspirasi dan keluhan masyarakat baik masyarakat perempuan maupun masyarakat laki-laki terutama bagi pihak yang merasa dirugikan; 2. Terselenggaranya kepastian hukum bagi masyarakat, baik masyarakat perempuan maupun masyarakat laki-laki dalam memperoleh jawaban atas pengaduan-pengaduan khususnya bidang perumahan dan kawasan permukiman.

73
Lampiran

Anggaran Dampak/Hasil Output Kegiatan

LAMPIRAN 2.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2 Data Pembuka Wawasan

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Para pengambil keputusan belum mempertimbangkan isu gender dalam membuat kebijakan; 2. Belum tersedianya materi-materi sosialisasi pembiayaan perumahan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 3. Perencanaan kegiatan sosialisasi belum mempertimbangkan isu gender; 4. Belum tersedianya data terpilih tentang isu gender; 5. Belum tersedianya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

Sebab Kesenjangan Eksternal

74
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Perencanaan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Output/Indikator Kinerja Kunci: Laporan koordinasi, fasilitasi dan sosialisasi rumusan kebijakan, program dan anggaran pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman Tujuan Kegiatan: Meningkatkan kapasitas peran para pelaku pembiayaan perumahan sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyaluran bantuan pembiayaan perumahan.

1. Kaum perempuan belum memiliki akses yang cukup terhadap informasi terkait bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman; 2. Wakil dari lembaga intermediasi (LKB/LKNB/ Pengembang) penyalur bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki yang belum berwawasan gender; 3. Penerima manfaat langsung (MBR) bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki yang belum berwawasan gender; 4. Pemahaman mengenai peran dan potensi perempuan dalam pembiayaan masih rendah;

1. Akses untuk mendapat informasi bantuan pembiyaaan perumahan antara kelompok perempuan dan laki-laki belum proporsional. Akses informasi lebih banyak diperoleh kaum lakilaki; 2. Partisipasi perempuan untuk menghadiri acara sosialisasi masih rendah; 3. Fungsi kontrol perempuan dalam pengambilan keputusan masih rendah; 4. Penerima manfaat kegiatan sosialisasi selama ini masih didominasi oleh lakilaki.

1. Para pengambil keputusan baik yang berasal dari lembaga intermediasi (LKB/ LKNB/pegembang) maupun kelompok masyarakat/ asosiasi pekerja belum mempertimbangkan isu gender dalam mengirim wakilnya pada acara sosialisasi yg diadakan Kemenpera; 2. Adanya kesenjangan fungsi kontrol/pengambilan keputusan oleh perempuan di dalam rumah tangga terkait kegiatan pembiayaan perumahan (misalnya untuk berpartisipasi dalam berbagai pertemuan, seperti mengikuti pameran, forum diskusi, seminar, sosialisasi dll, perempuan harus mendapat ijin suami sedangkan laki-laki dapat memutuskan sendiri untuk berpartisipasi dalam acara tersebut); 3. Adanya kesenjangan pemahaman dalam pengelolaan keuangan rumah tangga bagi keperluan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman oleh kaum perempuan (seperti untuk kebutuhan uang muka atau angsuran KPR); 4. Adanya Kesenjangan kepercayaan dari Lembaga Keuangan Bank (LKB) terhadap perempuan dalam pengajuan KPR. 5. Secara umum tingkat pendidikan laki-laki lebih baik dari perempuan; 6. Secara budaya menyediakan rumah untuk keluarga adalah kewajiban laki-laki. Padahal peran penyediaan rumah antara perempuan dan laki-laki mestinya sama;

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Rencana Aksi

Indikator Gender

Meningkatkan kapasitas peran para pelaku pembiayaan perumahan baik laki-laki maupun perempuan dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyaluran bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

1. Sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender; 2. Penyusunan materimateri sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 3. Penyusunan data terpilah terkait kebutuhan informasi tentang kebijakan bantuan pembiayaan perumahan; 4. Penyusunan SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

1. Para pemangku kepentingan yang paham mengenai isu pengarusutamaan gender masih sekitar 10%; 2. Wakil dari lembaga intermediasi penyalur bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki (90% lebih laki-laki); 3. Penerima manfaat langsung (MBR) bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki (90% lebih laki-laki) 4. Belum tersedianya materi-materi sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 5. Belum adanya data terpilah terkait kebutuhan informasi tentang kebijakan bantuan pembiayaan perumahan; 6. Belum adanya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender

1. Para pemangku kepentingan yang memahami isu gender meningkat. Diharapkan meningkat dari 10% menjadi 30%; 2. Peserta sosialisasi yang memahami isu gender dari lembaga intermediasi pembiayaan (LKB/ LKNB/pengembang) meningkat. Diharapkan kehadiran perempuat meningkat dari 10% menjadi 30%; 3. Peserta sosialisasi yang memahami isu gender dari penerima langsung manfaat (end-user) meningkat. Diharapkan kehadiran peserta sosialisasi yang memahami isu gender meningkat dari 10% menjadi minimal 30; 4. Tersedianya 1 modul sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 5. Tersedianya data terpilah terkait kebutuhan informasi tentang kebijakan bantuan pembiayaan perumahan; 6. Tersusunnya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

75
Lampiran

LAMPIRAN 2.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN

76
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Tujuan Kegiatan

Program Pengembangan Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Perencanaan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Tersedianya Laporan Koordinasi, Fasilitasi dan Sosialisasi Rumusan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman. Laporan Koordinasi, Fasilitasi dan Sosialisasi Rumusan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman. Meningkatkan kapasitas peran para pelaku pembiayaan perumahan baik laki-laki maupun perempuan dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyaluran bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender. Berikut ini beberapa faktor yang menjadi pertimbangan perlunya lebih banyak pelibatan peserta perempuan dalam kegiatan sosialisasi di bidang pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman, yaitu: 1. Kegiatan sosialisasi kebijakan pembiayaan perumahan perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan program bantuan pembiayaan perumahan. Sosialisasi tersebut selain dilakukan melalui seminar atau FGD yang melibatkan stakeholders penyelenggara bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman (seperti Lembaga Keuangan Bank, Lembaga Keuangan Non-Bank, REI, Apersi, Dinas terkait Perumahan dan Permukiman, perwakilan penerima manfaat (KORPRI dan Jamsostek), juga dilakukan melalui pameran-pameran dan media elektronik meskipun frekuensinya masih kurang apabila dibandingkan dengan luasnya wilayah dan besarnya MBR yang belum menerima bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman; 2. Para pengambil keputusan baik yang berasal dari lembaga intermediasi (LKB/LKNB/ pengembang) maupun kelompok masyarakat/asosiasi pekerja belum mempertimbangkan isu gender dalam mengirim wakilnya pada acara sosialisasi yg diadakan Kemenpera; 3. Sejauh ini, baik dari wakil dari lembaga intermediasi penyalur bantuan pembiayaan perumahan maupun penerima manfaat langsung (MBR) bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki (lebih dari 90 %). Hal itu secara langsung menyebabkan kurangnya informasi yang diperoleh kaum perempuan dan secara tidak langsung berdampak pada berkurangnya akses terhadap sumberdaya pembiayaan perumahan. Hal lain yang menjadi penghambat kesenjangan dalam memperoleh bantuan pembiayaan perumahan adalah karena tingkat pendidikan laki-laki umumnya lebih baik dari perempuan dan secara budaya, penyediaan rumah untuk keluarga adalah kewajiban laki-laki. Sehingga baik secara sadar maupun tidak sadar peran perempuan dalam perkara ini terpinggirkan;

Analisis Situasi

4. Adanya kesenjangan fungsi kontrol/pengambilan keputusan oleh perempuan di dalam rumah tangga terkait kegiatan pembiayaan perumahan (misalnya untuk berpartisipasi dalam berbagai pertemuan, seperti mengikuti pameran, forum diskusi, seminar, sosialisasi dll, perempuan harus mendapat ijin suami sedangkan laki-laki dapat memutuskan sendiri untuk berpartisipasi dalam acara tersebut); 5. Adanya kesenjangan pemahaman dalam pengelolaan keuangan rumah tangga bagi keperluan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman oleh kaum perempuan (seperti untuk kebutuhan uang muka atau angsuran KPR); 6. Adanya Kesenjangan kepercayaan dari Lembaga Keuangan Bank (LKB) terhadap perempuan dalam pengajuan KPR; 7. Belum adanya materi-materi sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 8. Belum adanya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender. Rencana Aksi Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Total Anggaran Komponen 1, 2, dan 3 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/Hasil Output Kegiatan Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Perumahan Wilayah Barat Rp. 700.000.000,Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Perumahan Wilayah Tengah Rp. 700.000.000,Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Perumahan Wilayah Timur Rp. 800.000.000,Rp. 2.200.000.000 (dua miliar dua ratus juta rupiah)

77
Lampiran

Rp. 14.503.400.000 (empat belas miliar lima ratus tiga juta empat ratus ribu rupiah). 1. Jumlah peserta perempuan yang hadir dalam acara sosialisasi minimal 30%; 2. Meningkatnya jumlah MBR yang memiliki pengetahuan dan akses terhadap sistem pembiayaan perumahan yang dilaksanakan oleh Kemenpera; 3. Meningkatnya jumlah perempuan yang dapat mengakses bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman.

LAMPIRAN 3.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KAWASAN

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Data Pembuka Wawasan

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Pemahaman pengambil keputusan terhadap isu gender lingkungan kumuh masih kurang; 2. Kebijakan dalam penataan lingkungan kumuh belum berdasarkan partisipatif masyarakat, terutama perempuan; 3. Belum ada indikator tingkat partisipasi aktif laki-laki dan perempuan.

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Anggapan masyarakat bahwa penataan lingkungan perumahan merupakan urusan laki-laki; 2. Kesehatan dan perkembangan perempuan dan anak kurang mendapat prioritas penataan; 3. Tingkat perekonomian masyarakat di lokasi lingkungan kumuh masih rendah; 4. Perbedaan kebutuhan dan pola ruang antara laki-laki dan perempuan; 5. Perbedaan pemahaman bagi laki-laki dan perempuan dalam penataan lingkungan kumuh (CAP).

78
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Perencanaan Pemrograman dan Anggaran, Pendataan serta Sosialisasi Pengembangan Kawasan Komponen Kegiatan: Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan di 55 Lokasi Tujuan Kegiatan: Terwujudnya Rencana Aksi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 Lokasi di Indonesia, yang sudah menangkap aspirasi masyarakat melalui Community Action Plan (CAP) serta menciptakan sinergitas tindak antar seluruh stakeholder yang terkait

1. Kegiatan perencanaan penataan lingkungan hunian belum melibatkan peran masyarakat, terutama perempuan (15%); 2. Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) berdasarkan data Tim Kegiatan PLP2KBK Tahun 2010, jumlah anggota Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) terdiri dari: Perempuan 6 orang (15%): laki-laki: 36 orang (85%)

Akses: Akses informasi yang terkait dengan penataan lingkungan kumuh masih didominasi oleh kaum laki-laki. Kontrol: Kurangnya peran perempuan dalam pengambilan keputusan penataan lingkungan permukiman kumuh. Partisipasi: Pelibatan perempuan dalam mengikuti proses perencanaan penataan lingkungan kumuh masih kurang. Manfaat: Manfaat yang diperoleh kaum perempuan dan anak sangat kurang.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Tujuan Kegiatan: Terwujudnya Rencana Aksi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 Lokasi di Indonesia, yang sudah menangkap aspirasi masyarakat (laki-laki dan perempuan) melalui Community Action Plan (CAP) serta menciptakan sinergitas tindak antar seluruh stakeholder yang terkait Rencana Aksi

Indikator Gender

1. Sosialisasi rencana penataan lingkungan kumuh terhadap masyarakat setempat; 2. Pendampingan kepada masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan dalam proses perencanaan penataan lingkungan kumuh; 3. Penyusunan Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Masyarakat (laki-laki dan perempuan); 4. Penyusunan indikator tingkat partisipasi aktif laki-laki dan perempuan

1. Masyarakat di 55 lokasi belum mendapatkan informasi tentang rencana penataan lingkungan kumuh; 2. Belum tersusunnya Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh yang melibatkan Masyarakat terutama perempuan (20%) 3. Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) berdasarkan data Tim Kegiatan PLP2KBK Tahun 2010, jumlah Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) terdiri dari: Perempuan 6 orang (15%): laki-laki: 36 orang (85%) 4. Kondisi kesehatan fisik dan mental masyarakat, terutama perempuan dan anak di lingkungan kumuh masih rentan.

1. Masyarakat di 55 lokasi mendapatkan informasi tentang rencanan penataan lingkungan kumuh; 2. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif perempuan dalam proses perencanaan (20%); 3. Meningkatnya Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) dalam proses penataan lingkungan; (25:75) 4. Tersusunnya Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Masyarakat (laki-laki dan perempuan) di 55 lokasi;

79
Lampiran

LAMPIRAN 3.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KAWASAN

80
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Tujuan Kegiatan

Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Perencanaan, Pemograman dan Anggaran, Pendataan serta Sosialisasi Pengembangan Kawasan Tersusunnya Dokumen Perencaanaan Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 lokasi. Tersusunnya Perencanaan Strategis, Pemograman, Penganggaran, Pengelolaan Data dan Sosialisasi Kebijakan Pengembangan Kawasan. Terwujudnya Rencana Aksi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 Lokasi di Indonesia, yang sudah menangkap aspirasi masyarakat melalui Community Action Plan (CAP) serta menciptakan sinergitas tindak antar seluruh stakeholder yang terkait. Perencanaan berbasis kawasan dalam penataan lingkungan permukiman kumuh adalah suatu proses perencanaan yang mengintegrasikan kawasan permukiman kumuh yang akan ditangani dengan kegiatan lingkungan di sekitarnya (sistem kota) baik aktivitas ekonomi, lingkungan fisik, maupun lingkungan sosial. Dengan perencanaan ini, kawasan kumuh akan berkembang secara berkelanjutan sesuai dengan potensi-potensi pengembangannya di sekitarnya. Termasuk dalam perencanaan ini adalah mensinergikan seluruh kegiatan stakeholder dalam penataan lingkungan kumuh. Data luasan permukiman kumuh pada tahun 2004 adalah 54.000 meningkat tahun 2009 menjadi 57.800 Ha peningkatan diperkirakan 1,37% pertahun (sumber Bappenas). Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh tidak menguntungkan bagi kesehatan, terutama kesehatan reproduksi perempuan, dan juga tidak menguntungkan bagi perkembangan anak, untuk itu perlu penataan lingkungan kumuh yang melibatkan masyarakat secara menyeluruh agar supaya kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan kaum perempuan akan lebih baik sekaligus dapat memperbaiki perkembangan mental dan fisik anak. Namun pelibatan perempuan masih rendah, hal ini disebabkan akses informasi terhadap perempuan sangat terbatas, demikian juga kaum perempuan kurang berpartisipasi dalam proses penataan lingkungan kumuh, berdasarkan data Tim Kegiatan PLP2KBK Tahun 2010, Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM), jumlah anggota Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) terdiri dari: Perempuan 6 orang (15%): laki-laki: (36) orang (85%), akibatnya perempuan juga kurang ikut dalam pengambilan keputusan dalam penataan lingkungan kumuh sehingga perempuan kurang mendapat manfaat dalam kegiatan tersebut. Disamping hal tersebut pemahaman pengambil keputusan pada permasalahan gender masih rendah, budaya masyarakat bahwa penataan lingkungan hunian merupakan urusan laki-laki, kesehatan dan perkembangan perempuan dan anak belum prioritas utama, tingkat perekonomian masyarakat di lokasi lingkungan kumuh rendah, menyebabkan kesenjangan dalam penataan lingkungan kumuh.

Analisis Situasi

Rencana Aksi

Komponen 1

1. Sosialisasi rencana penataan lingkungan kumuh terhadap masyarakat setempat; 2. Penyusunan Community Action Plan (CAP) --- (Pendampingan kepada masyarakat, baik lakilaki maupun perempuan dalam proses perencanaan penataan lingkungan kumuh); 3. Penyusunan Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Masyarakat . Rp. 12.375.000.000 (dua belas miliar tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah)

81
Lampiran

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Outcome

Rp. 44.530.000.000 (empat puluh empat miliar limaratus tiga puluh juta rupiah) 1. Berkurangnya lingkungan kumuh seluas 655 Ha (sampai tahun 2014) melalui penataan lingkungan kumuh berbasis masyarakat; 2. Meningkatkan peran serta kaum perempuan dalam proses perencanaan 3. Meningkatnya prosentase Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) dalam proses penataan lingkungan yang responsif gender; (25:75) 4. Berkurangnya penyakit menular akibat lingkungan kumuh pada perempuan dan anak; 5. Meningkatnya hunian yang layak huni bagi setiap keluarga.

LAMPIRAN 4.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2 Data Pembuka Wawasan

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN FORMAL

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Belum ada SOP dan Petunjuk Teknis yang berwawasan gender; 2. Kurangnya pemahaman Aparatur, Perencana dan Pelaksana tentang isu gender; 3. Belum adanya data terpilah; 4. Belum adanya kriteria teknis terkait dengan sasaran target pemanfaat penghuni.

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Belum adanya sistem informasi dan komunikasi efektif. 2. Belum optimalnya program peningkatan kapasitas stakeholder dalam perumahan formal.

82
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman; Kegiatan: Penyusunan Standarisasi Perumahan Formal; Komponen Kegiatan: Tersusunnya Standar Desain dan Kriteria Perumahan Formal beserta PSU-nya Tujuan Kegiatan: Tersusunnya Standarisasi Perumahan Formal dan PSU-nya

Kondisi umum pelaksanaan pekerjaan jasa konsultan di lingkungan Perumahan Formal, adalah sebagai berikut: 1. Kerangka Acuan belum mensyaratkan isu gender sebagai salah satu kriteria di dalam perencanaan; 2. Dalam proses perencanaan belum sepenuhnya menjaring masukan masyarakat khususnya keterwakilan perempuan didalam memberikan masukan teknis perencanaan yang memperhatikan pengarusutamaan gender (PUG) (kesenjangan laki-laki dan perempuan, difable, lansia, penyandang cacat, ibu hamil dan anak-anak) kurang dari 20%; 3. Dalam pelaksanaan penyusunan standarisasi perumahan formal dan PSUnya, pihak-pihak yang terlibat mulai dari tim pelaksana (konsultan), tim teknis internal, dan stakeholder masih didominasi oleh laki-laki. Data yang ada dari 143 pekerjaan jasa konsultan antara tahun 2006-2010: Team Leader 107 laki-laki (75%); 36 perempuan (25%). Ketua Tim Teknis 113 laki-laki (79%) dan 30 perempuan (21%); 4. Standar desain Perumahan Formal dan PSU-nya belum responsive gender, sehingga hasil dari pelaksanaan pembangunan perumahan formal masih ditemukan adanya kesenjangan gender;

Akses: Belum ada standar desain dan kriteria Perumahan Formal dan PSU-nya yang berbasis PUG. Kontrol: Belum ada SOP dan juknis terkait dengan pemantauan dan evaluasi perencanaan standarisasi perumahan formal dan PSU-nya yang berbasis PUG. Partisipasi: Rendahnya peran serta perempuan dalam proses perencanaan. Manfaat: Perencana belum memiliki instrumen perencanaan yang sensitif gender sehingga masyarakat (laki-laki, perempuan dan difable) belum mendapatkan manfaat secara optimal.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Rencana Aksi

Indikator Gender

Komponen Kegiatan: Penyusunan SOP dan Petunjuk Teknis tentang Rancang-bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG; Tujuan Komponen Kegiatan: Tersusunnya SOP rancangbangun rumah dan perumahan yang layak huni dan terjangkau, beserta PSU-nya yang berbasis PUG.

1. Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan rancangbangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG; 2. Identifikasi dan menyediakan data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 3. Sosialisasi dan pendampingan terkait dengan rancangbangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis PUG.

1. Belum adanya SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan perumahan beserta PSU-nya berbasis PUG; 2. Belum adanya Identifikasi dan data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, standar desain rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 3. Belum adanya pemahaman perencana kegiatan jasa konsultan tentang SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG; 4. Para pemangku kepentingan belum memahami tentang rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG.

1. Tersedianya SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis PUG; 2. Tersedianya data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 3. Meningkatnya pemahaman perencana kegiatan jasa konsultan tentang SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan perumahan beserta PSU-nya dan berbasis PUG dari 0% menjadi 10%; 4. Meningkatnya pemahaman para pemangku kepentingan belum memahami tentang rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG dari 0% menjadi 10%; 5. Dilakukan sosialisasi kepada perencana kegiatan jasa konsultan tentang isu gender; 6. Tersusunnya Standar dan kriteria rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berwawasan gender.

83
Lampiran

LAMPIRAN 4.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN FORMAL

84
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan

Pengembangan Perumahan dan Permukiman Penyusunan Standarisasi Perumahan Formal Tersusunnya Standar Desain dan Kriteria Perumahan Formal 1. Tersedianya data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, Rancang Bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 2. Tersedianya SOP dan Juknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis Pengarusutamaan Gender (PUG) Tersusunnya SOP dan Juknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya sehingga proses perencanaan lebih partisipatif dan didasarkan pada PUG, yang berkeadilan bagi perempuan, laki-laki dan difable (lansia, penyandang cacat, ibu hamil dan anak-anak). 1. Perencanaan rancang-bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG belum terlaksana dengan baik; 2. Dalam RPJMN Tahun 2010-2014, disebutkan bahwa kualitas hidup dan peran perempuan masih relatif rendah, yang antara lain disebabkan oleh: a. Adanya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat, dan partisipasi dalam pembangunan, serta penguasaan terhadap sumber daya, terutama di tatanan antar provinsi dan antar kabupaten/kota; b. Rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan-jabatan publik, dan di bidang ekonomi; c. Rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial, serta terjadinya penyakit. 3. Secara Umum, kondisi rumah dan perumahan beserta PSU-nya sekarang belum memadai dalam pengertian lain belum dapat memenuhi aspek ketersedian dan kebutuhan ruang yang dapat mengakomodir kebutuhan perempuan dan difable, hal ini disebabkan karena belum adanya data pendukung terpilah terkait dengan (laki-laki, Perempuan, dan difable) serta belum tersedianya SOP dan Juknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berawawasan gender; 4. Sebagai upaya untuk pemecahan masalah tersebut diatas terkait dengan tugas dan fungsi Kedeputian Perumahan Formal maka dipandang perlu untuk melakukan penyusunan SOP dan Petunjuk Teknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG agar masyarakat (laki-laki, perempuan, difable) pada akhirnya sebagai penerima manfaat akan mendapatkan hasil rancangan rumah yang secara kualitas lebih baik dan layak huni.

Tujuan Kegiatan

Analisis Situasi

Rencana Aksi

Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Alokasi Anggaran Komponen 1, 2, dan 3

Teridentifikasinya data pendukung terpilah (Laki-laki, Perempuan dan difable) pekerjaan jasa konsultan, standard desain rumah dan perumahan beserta PSU-nya. Penyusunan dan penetapan Standard Operasional dan Prosedur (SOP) Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG. Penyusunan Standard dan Kriteria Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berwawasan gender. Rp. 700.000.000 (tujuh ratus juta rupiah) Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis PUG

85
Lampiran

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/Hasil Output Kegiatan

Rp. 6.800.000.000 (enam miliar delapan ratus juta rupiah) 1. Meningkatnya kualitas Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang dapat diakses baik oleh Perempuan, Difable sehingga mampu meningkatkan dan memperlancar aktifitas masyarakat khususnya Perempuan dan Difable didalam Rumah;Tercapainya Pembangunan Rumah dan Perumahan yang layak huni dan terjangkau yang berbasis PUG. 2. Tercapainya Pembangunan Rumah dan Perumahan yang layak huni dan terjangkau yang dilengkapi dengan PSU-nya yang berbasis PUG.

LAMPIRAN 5.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Data Pembuka Wawasan

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Pemahaman pengambil keputusan terhadap PUG dalam pembinaan komunitas perumahan masih rendah; 2. Terbatasnya data komunitas perempuan yang menangani perumahan swadaya; 3. Belum maksimalnya kajian tentang kapasitas komunitas baik laki-laki maupun perempuan terkait tentang pembangunan perumahan swadaya.

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Adanya anggapan masyarakat bahwa pembangunan rumah adalah urusan laki-laki; 2. Kesadaran dan kemauan perempuan untuk terlibat dalam berorganisasi khususnya terkait perumahan masih terbatas.

86
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Kemitraan dan Keswadayaan dalam penyelenggaraan perumahan swadaya Komponen Kegiatan: Jumlah Forum Kemitraan Perumahan Swadaya Tujuan: Menjalin kemitraan antar Komunitas dalam mendukung penyelenggaraan PS

1. Belum adanya data komunitas yang berbasis pada perempuan dan lakilaki. 2. Kurang lebih 30% dari komunitas penerima bantuan stimulan perumahan swadaya, adalah komunitas perempuan; 3. Materi pemberdayaan masyarakat masih netral gender.

1. Partisipasi perempuan yang tergabung dalam komunitas perumahan rendah; 2. Manfaat yang diterima oleh masyarakat (laki-laki dan perempuan) mengenai pembangunan perumahan belum maksimal; 3. Kurangnya akses perempuan terhadap informasi pembangunan perumahan.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Menjalin kemitraan antar komunitas dalam mendukung penyelenggaraan perumahan swadaya secara berkeadilan Rencana Aksi

Indikator Gender

Fasilitasi Forum Kemitraan Komunitas Perumahan Swadaya: 1. FGD penyusunan materi pendampingan kepada pemda dalam pemberdayaan komunitas perempuan yang menangani perumahan; 2. Koordinasi dengan Pemda untuk pendataan lembaga komunitas (baik berbasis perempuan maupun laki-laki); 3. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan fasilitasi kepada lembaga komunitas perempuan bidang perumahan swadaya.

1. Materi pemberdayaan masyarakat masih netral gender; 2. Belum adanya data lembaga komunitas yang berbasis pada perempuan dan lakilaki; 3. Belum adanya indikator pemantauan dan evaluasi kegiatan yang berbasis pada gender; 4. Kurang lebih 30% dari komunitas penerima bantuan stimulan perumahan swadaya, adalah komunitas perempuan.

1. Tersedianya paket materi pemberdayaan yang responsif gender; 2. Tersedianya data komunitas perempuan dalam menangani perumahan; 3. Tersedianya indikator pemantauan dan evaluasi kegiatan yang berbasis gender.

87
Lampiran

LAMPIRAN 5.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

88
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Output Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Tujuan Analisis Situasi

Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kemitraan dan Keswadayaan Perumahan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya Tersusunnya rumusan kebijakan, terlaksananya kemitraan, dan meningkatnya keswadayaan dalam penyelenggaraan perumahan Jumlah Forum Kemitraan Perumahan Swadaya Menjalin Kemitraan antar komunitas dalam mendukung penyelenggaraan perumahan swadaya secara berkeadilan Perumahan swadaya adalah rumah dan perumahan yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat secara sendiri dan berkelompok. Pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan adalah masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, seharusnya setiap individu tersebut dilibatkan dalam setiap proses pembangunan perumahan swadaya. Dalam hal masyarakat tidak mampu, pembangunan perumahan swadaya dapat dilakukan secara berkelompok, dan komunitas merupakan salah satu diantaranya. Agar keswadayaan masyarakat dapat tumbuh dan berkembang, pemerintah dapat memberikan stimulan sebagai pengungkit. Berdasarkan data penerima stimulan perumahan swadaya kurang lebih 30% adalah komunitas perempuan. Keterbatasan ini disebabkan oleh rendahnya partisipasi perempuan dalam komunitas perumahan dan kurangnya akses komunitas perempuan tersebut terhadap informasi stimulan pembangunan perumahan. Kondisi di atas merupakan akibat dari kurangnya pemahaman pengambil keputusan terhadap PUG dan data tentang komunitas perempuan yang tersedia, sebagai faktor internal. Disamping itu ada anggapan bahwa pembangunan rumah menjadi urusan laki-laki saja, stigma inilah yang menyebabkan kesenjangan peran perempuan dalam penyelenggaraan perumahan swadaya.

Rencana Aksi

Komponen 1

Fasilitasi Forum Komunitas Perumahan Swadaya: 1. FGD penyusunan materi pendampingan kepada pemda dalam pemberdayaan komunitas baik laki-laki dan perempuan yang menangani perumahan; 2. Koordinasi dengan Pemda untuk pendataan komunitas (baik berbasis perempuan maupun laki-laki); 3. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan fasilitasi komunitas perumahan swadaya. Rp. 700.000.000 (tujuh ratus juta rupiah)

89
Lampiran

Total Anggaran Komponen 1 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/Hasil Output Kegiatan

Rp. 4.600.000.000 (empat miliar enam ratus juta rupiah) Dampak Komunitas perumahan swadaya dapat berperan aktif dalam mendukung penyelenggaraan perumahan swadaya secara optimal.

LAMPIRAN 1.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) SEKRETARIAT KEMENTERIAN PERUMAHAN

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Data Pembuka Wawasan

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Belum tersosialisasinya pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman pada masyarakat luas; 2. Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga akses untuk memanfaatkan layanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman masih terbatas. 3. Kesempatan bagi perempuan untuk menyampaikan pengaduannya masih terbatas karena sebagian besar waktunya dipergunakan untuk mengurus keluarga dan keperluan lain serta perempuan merasa lebih puas bilamana dapat menyampaikan pengaduannya secara langsung.

70
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Fasilitasi Pelaksanaan Kotak Pos Pengaduan Masyarakat Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Output/Indikator Kinerja Kunci: Tersusunnya Laporan Pengaduan Masyarakat Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Tujuan Kegiatan: Tercapainya pemberdayaan pelayanan bantuan hukum bidang perumahan dan kawasan permukiman dalam rangka pelayanan publik.

1. Pengaduan baik langsung maupun tidak langsung yang disampaikan oleh masyarakat pengadu laki-laki dan masyarakat pengadu perempuan; 2. Fasilitasi berupa klarifikasi dan koordinasi dengan instansi lain terkait pengaduan.

Partisipasi Dalam turut serta menyampaikan pendapat ataupun pengaduannya, baik perempuan maupun laki-laki, masih terlihat bahwa masalah perumahan dan kawasan permukiman merupakan domain laki-laki, sehingga peran perempuan belum terlalu menonjol. Manfaat Dari segi manfaat yang diterima, masih lebih besar jumlah pengaduan dari laki-laki yaitu sebanyak 60% sedangkan jumlah pengadu perempuan 40% sehingga hanya sebagai penerima manfaat yang lebih sedikit. Kontrol Keterbatasan dalam informasi dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat juga pengaduan di bidang perumahan dan kawasan permukiman, secara tidak langsung berpengaruh terhadap kontrol masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan atas pelayanan publik oleh Pemerintah.

1. Jumlah SDM pengelola yang terbatas; 2. Kapasitas SDM yang belum memadai; 3. Belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai; 4. Belum adanya koordinasi di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat dalam menangani pengaduan masyarakat di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 5. Belum adanya forum koordinasi dalam penanganan pengaduan; 6. Belum tersusunnya SOP atas pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman, sehingga pelayanan yang diberikan pun belum maksimal, keberadaan tim pelaksana yang ada saat ini pun belum efektif; 7. Belum adanya data terpilah antara pengaduan yang datangnya dari masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan, sehingga belum terlihat akses dan partisipasi perempuan di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 8. Belum optimalnya publikasi layanan pengaduan.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Rencana Aksi

Indikator Gender

Tercapainya pemberdayaan pelayanan bantuan hukum bidang perumahan dan kawasan permukiman dalam rangka pelayanan publik.

1. Penyusunan dan Penerapan SOP Layanan Pengaduan; 2. Publikasi layanan pengaduan 3. Penyusunan laporan layanan pengaduan secara terpilah berdasarkan jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, dan waktu; 4. Peningkatan Kapasitas SDM pengelola; 5. Pembentukan Jaringan Koordinasi Pengaduan Layanan; 6. Pengadaan Sarana dan prasarana layanan pengaduan masyarakat bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

1. Belum terusunnya dan diterapkannya Standar operasional prosedur Layanan Pengaduan; 2. Belum tersedia media Publikasi layanan pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman; 3. Penyusunan laporan layanan pengaduan belum terpilah berdasarkan jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, dan waktu; 4. Kapasitas SDM pengelola layanan pengaduan masyarakat belum optimal; 5. Belum Terbentuk Jaringan Koordinasi Layanan Pengaduan; 6. Ketersediaan Sarana dan prasarana layanan pengaduan yang belum optimal.

Laporan peningkatan layanan pengaduan secara terpilah berdasarkan jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, dan waktu

71
Lampiran

LAMPIRAN 1.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) SEKRETARIAT KEMENTERIAN PERUMAHAN

72
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Tujuan Kegiatan Analisis Situasi

Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Fasilitasi Pelaksanaan Kotak Pos Pengaduan Masyarakat Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Jumlah Fasilitasi Pelayanan Bantuan Hukum bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Laporan Kegiatan dan Pembinaan Pelayanan Bantuan Hukum Tercapainya pemberdayaan pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman dalam rangka pelayanan publik. Unit Pelayanan pengaduan masyarakat berada dibawah unit Bagian Bantuan Hukum dan Perjanjian pada Biro Hukum dan Kepegawaian, Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat. Unit ini memiliki tugas pelaksanaan pelayanan bantuan hukum antara lain penerimaan pengaduan melalui kotak pos pengaduan dan pengaduan masyarakat yang datang secara langsung dan pelaksanaan penyiapan administrasi tindak lanjut pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman. Pelayanan kotak pos pengaduan masyarakat merupakan sarana bagi masyarakat untuk mengawasi pelaksanaan tugas pemerintah dalam pelayanan publik. Dalam pelaksanaan tugas pelayanan sehari-hari masih ditemui adanya kendala-kendala, yang mengakibatkan tidak optimalnya pelaksanaan pelayanan pengaduan, antara lain: 1. Belum tersusunnya SOP atas pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman, sehingga pelayanan yang diberikan pun belum maksimal, keberadaan tim pelaksana yang ada saat ini pun belum efektif; 2. Belum optimalnya publikasi layanan pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman 3. Jumlah SDM pengelola yang terbatas; 4. kapasitas SDM yang belum memadai; 5. Belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai; 6. Belum adanya koordinasi di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat dalam menangani layanan pengaduan masyarakat di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 7. Belum adanya forum koordinasi dalam penanganan pengaduan; 8. Laporan layanan pengaduan belum memilah datanya menurut jenis kasus, jenis kelamin, wilayah, waktu sehingga laporan tersebiut belum dapat menguraikan secara detil permasalahan di bidang perumahan dan kawasan pemukiman, utamanya yang terkait pengaduan masyarakat (masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan, sehingga belum terlihat adanya kesenjangan akses dan partisipasi laki-laki dan perempuan, di wilayah tertentu dan kurun waktu tertentu yang menghadapi permasalahan di bidang perumahan dan kawasan permukiman;

Secara umum isu gender yang ada terkait layanan pengaduan masyarakat bidang perumahan dan kawasan permukiman a. Partisipasi Dalam turut serta menyampaikan pendapat ataupun pengaduannya, baik perempuan maupun laki-laki, masih terlihat bahwa masalah perumahan dan kawasan permukiman merupakan domain laki-laki, sehingga peran perempuan belum terlalu menonjol. b. Manfaat Dari segi manfaat yang diterima, masih lebih besar jumlah pengaduan dari laki-laki yaitu sebanyak 60% sedangkan jumlah pengadu perempuan 40% sehingga hanya sebagai penerima manfaat yang lebih sedikit jumlahnya. c. Kontrol Keterbatasan dalam informasi dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat juga pengaduan di bidang perumahan dan kawasan permukiman, secara tidak langsung berpengaruh terhadap kontrol masyarakat atas pelayanan publik oleh Pemerintah. Untuk itu melalui kegiatan ini perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat memberikan dampak positif yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat selaku pengguna layanan pengaduan dengan melakukan serangkaian aktivitas dalam rencana aksi. Rencana Aksi Komponen 1. Penyusunan SOP atas pelayanan bantuan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman; 2. Sosialisasi atas eksistensi pelayanan bantuan hukum bidang perumahan dan kawasan permukiman di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) 1. Terakomodirnya aspirasi dan keluhan masyarakat baik masyarakat perempuan maupun masyarakat laki-laki terutama bagi pihak yang merasa dirugikan; 2. Terselenggaranya kepastian hukum bagi masyarakat, baik masyarakat perempuan maupun masyarakat laki-laki dalam memperoleh jawaban atas pengaduan-pengaduan khususnya bidang perumahan dan kawasan permukiman.

73
Lampiran

Anggaran Dampak/Hasil Output Kegiatan

LAMPIRAN 2.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2 Data Pembuka Wawasan

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Para pengambil keputusan belum mempertimbangkan isu gender dalam membuat kebijakan; 2. Belum tersedianya materi-materi sosialisasi pembiayaan perumahan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 3. Perencanaan kegiatan sosialisasi belum mempertimbangkan isu gender; 4. Belum tersedianya data terpilih tentang isu gender; 5. Belum tersedianya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

Sebab Kesenjangan Eksternal

74
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Perencanaan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Output/Indikator Kinerja Kunci: Laporan koordinasi, fasilitasi dan sosialisasi rumusan kebijakan, program dan anggaran pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman Tujuan Kegiatan: Meningkatkan kapasitas peran para pelaku pembiayaan perumahan sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyaluran bantuan pembiayaan perumahan.

1. Kaum perempuan belum memiliki akses yang cukup terhadap informasi terkait bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman; 2. Wakil dari lembaga intermediasi (LKB/LKNB/ Pengembang) penyalur bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki yang belum berwawasan gender; 3. Penerima manfaat langsung (MBR) bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki yang belum berwawasan gender; 4. Pemahaman mengenai peran dan potensi perempuan dalam pembiayaan masih rendah;

1. Akses untuk mendapat informasi bantuan pembiyaaan perumahan antara kelompok perempuan dan laki-laki belum proporsional. Akses informasi lebih banyak diperoleh kaum lakilaki; 2. Partisipasi perempuan untuk menghadiri acara sosialisasi masih rendah; 3. Fungsi kontrol perempuan dalam pengambilan keputusan masih rendah; 4. Penerima manfaat kegiatan sosialisasi selama ini masih didominasi oleh lakilaki.

1. Para pengambil keputusan baik yang berasal dari lembaga intermediasi (LKB/ LKNB/pegembang) maupun kelompok masyarakat/ asosiasi pekerja belum mempertimbangkan isu gender dalam mengirim wakilnya pada acara sosialisasi yg diadakan Kemenpera; 2. Adanya kesenjangan fungsi kontrol/pengambilan keputusan oleh perempuan di dalam rumah tangga terkait kegiatan pembiayaan perumahan (misalnya untuk berpartisipasi dalam berbagai pertemuan, seperti mengikuti pameran, forum diskusi, seminar, sosialisasi dll, perempuan harus mendapat ijin suami sedangkan laki-laki dapat memutuskan sendiri untuk berpartisipasi dalam acara tersebut); 3. Adanya kesenjangan pemahaman dalam pengelolaan keuangan rumah tangga bagi keperluan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman oleh kaum perempuan (seperti untuk kebutuhan uang muka atau angsuran KPR); 4. Adanya Kesenjangan kepercayaan dari Lembaga Keuangan Bank (LKB) terhadap perempuan dalam pengajuan KPR. 5. Secara umum tingkat pendidikan laki-laki lebih baik dari perempuan; 6. Secara budaya menyediakan rumah untuk keluarga adalah kewajiban laki-laki. Padahal peran penyediaan rumah antara perempuan dan laki-laki mestinya sama;

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Rencana Aksi

Indikator Gender

Meningkatkan kapasitas peran para pelaku pembiayaan perumahan baik laki-laki maupun perempuan dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyaluran bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

1. Sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender; 2. Penyusunan materimateri sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 3. Penyusunan data terpilah terkait kebutuhan informasi tentang kebijakan bantuan pembiayaan perumahan; 4. Penyusunan SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

1. Para pemangku kepentingan yang paham mengenai isu pengarusutamaan gender masih sekitar 10%; 2. Wakil dari lembaga intermediasi penyalur bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki (90% lebih laki-laki); 3. Penerima manfaat langsung (MBR) bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki (90% lebih laki-laki) 4. Belum tersedianya materi-materi sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 5. Belum adanya data terpilah terkait kebutuhan informasi tentang kebijakan bantuan pembiayaan perumahan; 6. Belum adanya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender

1. Para pemangku kepentingan yang memahami isu gender meningkat. Diharapkan meningkat dari 10% menjadi 30%; 2. Peserta sosialisasi yang memahami isu gender dari lembaga intermediasi pembiayaan (LKB/ LKNB/pengembang) meningkat. Diharapkan kehadiran perempuat meningkat dari 10% menjadi 30%; 3. Peserta sosialisasi yang memahami isu gender dari penerima langsung manfaat (end-user) meningkat. Diharapkan kehadiran peserta sosialisasi yang memahami isu gender meningkat dari 10% menjadi minimal 30; 4. Tersedianya 1 modul sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 5. Tersedianya data terpilah terkait kebutuhan informasi tentang kebijakan bantuan pembiayaan perumahan; 6. Tersusunnya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender.

75
Lampiran

LAMPIRAN 2.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN

76
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Tujuan Kegiatan

Program Pengembangan Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Perencanaan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Tersedianya Laporan Koordinasi, Fasilitasi dan Sosialisasi Rumusan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman. Laporan Koordinasi, Fasilitasi dan Sosialisasi Rumusan Kebijakan, Program dan Anggaran Pembiayaan Perumahan dan Kawasan Permukiman. Meningkatkan kapasitas peran para pelaku pembiayaan perumahan baik laki-laki maupun perempuan dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyaluran bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender. Berikut ini beberapa faktor yang menjadi pertimbangan perlunya lebih banyak pelibatan peserta perempuan dalam kegiatan sosialisasi di bidang pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman, yaitu: 1. Kegiatan sosialisasi kebijakan pembiayaan perumahan perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan program bantuan pembiayaan perumahan. Sosialisasi tersebut selain dilakukan melalui seminar atau FGD yang melibatkan stakeholders penyelenggara bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman (seperti Lembaga Keuangan Bank, Lembaga Keuangan Non-Bank, REI, Apersi, Dinas terkait Perumahan dan Permukiman, perwakilan penerima manfaat (KORPRI dan Jamsostek), juga dilakukan melalui pameran-pameran dan media elektronik meskipun frekuensinya masih kurang apabila dibandingkan dengan luasnya wilayah dan besarnya MBR yang belum menerima bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman; 2. Para pengambil keputusan baik yang berasal dari lembaga intermediasi (LKB/LKNB/ pengembang) maupun kelompok masyarakat/asosiasi pekerja belum mempertimbangkan isu gender dalam mengirim wakilnya pada acara sosialisasi yg diadakan Kemenpera; 3. Sejauh ini, baik dari wakil dari lembaga intermediasi penyalur bantuan pembiayaan perumahan maupun penerima manfaat langsung (MBR) bantuan pembiayaan perumahan yang menghadiri acara sosialisasi umumnya laki-laki (lebih dari 90 %). Hal itu secara langsung menyebabkan kurangnya informasi yang diperoleh kaum perempuan dan secara tidak langsung berdampak pada berkurangnya akses terhadap sumberdaya pembiayaan perumahan. Hal lain yang menjadi penghambat kesenjangan dalam memperoleh bantuan pembiayaan perumahan adalah karena tingkat pendidikan laki-laki umumnya lebih baik dari perempuan dan secara budaya, penyediaan rumah untuk keluarga adalah kewajiban laki-laki. Sehingga baik secara sadar maupun tidak sadar peran perempuan dalam perkara ini terpinggirkan;

Analisis Situasi

4. Adanya kesenjangan fungsi kontrol/pengambilan keputusan oleh perempuan di dalam rumah tangga terkait kegiatan pembiayaan perumahan (misalnya untuk berpartisipasi dalam berbagai pertemuan, seperti mengikuti pameran, forum diskusi, seminar, sosialisasi dll, perempuan harus mendapat ijin suami sedangkan laki-laki dapat memutuskan sendiri untuk berpartisipasi dalam acara tersebut); 5. Adanya kesenjangan pemahaman dalam pengelolaan keuangan rumah tangga bagi keperluan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman oleh kaum perempuan (seperti untuk kebutuhan uang muka atau angsuran KPR); 6. Adanya Kesenjangan kepercayaan dari Lembaga Keuangan Bank (LKB) terhadap perempuan dalam pengajuan KPR; 7. Belum adanya materi-materi sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan yang memuat isu-isu pengarusutamaan gender; 8. Belum adanya SOP sosialisasi kebijakan bantuan pembiayaan perumahan yang responsif gender. Rencana Aksi Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Total Anggaran Komponen 1, 2, dan 3 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/Hasil Output Kegiatan Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Perumahan Wilayah Barat Rp. 700.000.000,Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Perumahan Wilayah Tengah Rp. 700.000.000,Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Perumahan Wilayah Timur Rp. 800.000.000,Rp. 2.200.000.000 (dua miliar dua ratus juta rupiah)

77
Lampiran

Rp. 14.503.400.000 (empat belas miliar lima ratus tiga juta empat ratus ribu rupiah). 1. Jumlah peserta perempuan yang hadir dalam acara sosialisasi minimal 30%; 2. Meningkatnya jumlah MBR yang memiliki pengetahuan dan akses terhadap sistem pembiayaan perumahan yang dilaksanakan oleh Kemenpera; 3. Meningkatnya jumlah perempuan yang dapat mengakses bantuan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman.

LAMPIRAN 3.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KAWASAN

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Data Pembuka Wawasan

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Pemahaman pengambil keputusan terhadap isu gender lingkungan kumuh masih kurang; 2. Kebijakan dalam penataan lingkungan kumuh belum berdasarkan partisipatif masyarakat, terutama perempuan; 3. Belum ada indikator tingkat partisipasi aktif laki-laki dan perempuan.

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Anggapan masyarakat bahwa penataan lingkungan perumahan merupakan urusan laki-laki; 2. Kesehatan dan perkembangan perempuan dan anak kurang mendapat prioritas penataan; 3. Tingkat perekonomian masyarakat di lokasi lingkungan kumuh masih rendah; 4. Perbedaan kebutuhan dan pola ruang antara laki-laki dan perempuan; 5. Perbedaan pemahaman bagi laki-laki dan perempuan dalam penataan lingkungan kumuh (CAP).

78
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Perencanaan Pemrograman dan Anggaran, Pendataan serta Sosialisasi Pengembangan Kawasan Komponen Kegiatan: Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan di 55 Lokasi Tujuan Kegiatan: Terwujudnya Rencana Aksi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 Lokasi di Indonesia, yang sudah menangkap aspirasi masyarakat melalui Community Action Plan (CAP) serta menciptakan sinergitas tindak antar seluruh stakeholder yang terkait

1. Kegiatan perencanaan penataan lingkungan hunian belum melibatkan peran masyarakat, terutama perempuan (15%); 2. Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) berdasarkan data Tim Kegiatan PLP2KBK Tahun 2010, jumlah anggota Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) terdiri dari: Perempuan 6 orang (15%): laki-laki: 36 orang (85%)

Akses: Akses informasi yang terkait dengan penataan lingkungan kumuh masih didominasi oleh kaum laki-laki. Kontrol: Kurangnya peran perempuan dalam pengambilan keputusan penataan lingkungan permukiman kumuh. Partisipasi: Pelibatan perempuan dalam mengikuti proses perencanaan penataan lingkungan kumuh masih kurang. Manfaat: Manfaat yang diperoleh kaum perempuan dan anak sangat kurang.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Tujuan Kegiatan: Terwujudnya Rencana Aksi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 Lokasi di Indonesia, yang sudah menangkap aspirasi masyarakat (laki-laki dan perempuan) melalui Community Action Plan (CAP) serta menciptakan sinergitas tindak antar seluruh stakeholder yang terkait Rencana Aksi

Indikator Gender

1. Sosialisasi rencana penataan lingkungan kumuh terhadap masyarakat setempat; 2. Pendampingan kepada masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan dalam proses perencanaan penataan lingkungan kumuh; 3. Penyusunan Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Masyarakat (laki-laki dan perempuan); 4. Penyusunan indikator tingkat partisipasi aktif laki-laki dan perempuan

1. Masyarakat di 55 lokasi belum mendapatkan informasi tentang rencana penataan lingkungan kumuh; 2. Belum tersusunnya Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh yang melibatkan Masyarakat terutama perempuan (20%) 3. Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) berdasarkan data Tim Kegiatan PLP2KBK Tahun 2010, jumlah Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) terdiri dari: Perempuan 6 orang (15%): laki-laki: 36 orang (85%) 4. Kondisi kesehatan fisik dan mental masyarakat, terutama perempuan dan anak di lingkungan kumuh masih rentan.

1. Masyarakat di 55 lokasi mendapatkan informasi tentang rencanan penataan lingkungan kumuh; 2. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif perempuan dalam proses perencanaan (20%); 3. Meningkatnya Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) dalam proses penataan lingkungan; (25:75) 4. Tersusunnya Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Masyarakat (laki-laki dan perempuan) di 55 lokasi;

79
Lampiran

LAMPIRAN 3.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KAWASAN

80
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Tujuan Kegiatan

Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Perencanaan, Pemograman dan Anggaran, Pendataan serta Sosialisasi Pengembangan Kawasan Tersusunnya Dokumen Perencaanaan Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 lokasi. Tersusunnya Perencanaan Strategis, Pemograman, Penganggaran, Pengelolaan Data dan Sosialisasi Kebijakan Pengembangan Kawasan. Terwujudnya Rencana Aksi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh di 55 Lokasi di Indonesia, yang sudah menangkap aspirasi masyarakat melalui Community Action Plan (CAP) serta menciptakan sinergitas tindak antar seluruh stakeholder yang terkait. Perencanaan berbasis kawasan dalam penataan lingkungan permukiman kumuh adalah suatu proses perencanaan yang mengintegrasikan kawasan permukiman kumuh yang akan ditangani dengan kegiatan lingkungan di sekitarnya (sistem kota) baik aktivitas ekonomi, lingkungan fisik, maupun lingkungan sosial. Dengan perencanaan ini, kawasan kumuh akan berkembang secara berkelanjutan sesuai dengan potensi-potensi pengembangannya di sekitarnya. Termasuk dalam perencanaan ini adalah mensinergikan seluruh kegiatan stakeholder dalam penataan lingkungan kumuh. Data luasan permukiman kumuh pada tahun 2004 adalah 54.000 meningkat tahun 2009 menjadi 57.800 Ha peningkatan diperkirakan 1,37% pertahun (sumber Bappenas). Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh tidak menguntungkan bagi kesehatan, terutama kesehatan reproduksi perempuan, dan juga tidak menguntungkan bagi perkembangan anak, untuk itu perlu penataan lingkungan kumuh yang melibatkan masyarakat secara menyeluruh agar supaya kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan kaum perempuan akan lebih baik sekaligus dapat memperbaiki perkembangan mental dan fisik anak. Namun pelibatan perempuan masih rendah, hal ini disebabkan akses informasi terhadap perempuan sangat terbatas, demikian juga kaum perempuan kurang berpartisipasi dalam proses penataan lingkungan kumuh, berdasarkan data Tim Kegiatan PLP2KBK Tahun 2010, Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM), jumlah anggota Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) terdiri dari: Perempuan 6 orang (15%): laki-laki: (36) orang (85%), akibatnya perempuan juga kurang ikut dalam pengambilan keputusan dalam penataan lingkungan kumuh sehingga perempuan kurang mendapat manfaat dalam kegiatan tersebut. Disamping hal tersebut pemahaman pengambil keputusan pada permasalahan gender masih rendah, budaya masyarakat bahwa penataan lingkungan hunian merupakan urusan laki-laki, kesehatan dan perkembangan perempuan dan anak belum prioritas utama, tingkat perekonomian masyarakat di lokasi lingkungan kumuh rendah, menyebabkan kesenjangan dalam penataan lingkungan kumuh.

Analisis Situasi

Rencana Aksi

Komponen 1

1. Sosialisasi rencana penataan lingkungan kumuh terhadap masyarakat setempat; 2. Penyusunan Community Action Plan (CAP) --- (Pendampingan kepada masyarakat, baik lakilaki maupun perempuan dalam proses perencanaan penataan lingkungan kumuh); 3. Penyusunan Dokumen Perencanaan Penataan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Masyarakat . Rp. 12.375.000.000 (dua belas miliar tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah)

81
Lampiran

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Outcome

Rp. 44.530.000.000 (empat puluh empat miliar limaratus tiga puluh juta rupiah) 1. Berkurangnya lingkungan kumuh seluas 655 Ha (sampai tahun 2014) melalui penataan lingkungan kumuh berbasis masyarakat; 2. Meningkatkan peran serta kaum perempuan dalam proses perencanaan 3. Meningkatnya prosentase Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM) dalam proses penataan lingkungan yang responsif gender; (25:75) 4. Berkurangnya penyakit menular akibat lingkungan kumuh pada perempuan dan anak; 5. Meningkatnya hunian yang layak huni bagi setiap keluarga.

LAMPIRAN 4.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2 Data Pembuka Wawasan

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN FORMAL

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Belum ada SOP dan Petunjuk Teknis yang berwawasan gender; 2. Kurangnya pemahaman Aparatur, Perencana dan Pelaksana tentang isu gender; 3. Belum adanya data terpilah; 4. Belum adanya kriteria teknis terkait dengan sasaran target pemanfaat penghuni.

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Belum adanya sistem informasi dan komunikasi efektif. 2. Belum optimalnya program peningkatan kapasitas stakeholder dalam perumahan formal.

82
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman; Kegiatan: Penyusunan Standarisasi Perumahan Formal; Komponen Kegiatan: Tersusunnya Standar Desain dan Kriteria Perumahan Formal beserta PSU-nya Tujuan Kegiatan: Tersusunnya Standarisasi Perumahan Formal dan PSU-nya

Kondisi umum pelaksanaan pekerjaan jasa konsultan di lingkungan Perumahan Formal, adalah sebagai berikut: 1. Kerangka Acuan belum mensyaratkan isu gender sebagai salah satu kriteria di dalam perencanaan; 2. Dalam proses perencanaan belum sepenuhnya menjaring masukan masyarakat khususnya keterwakilan perempuan didalam memberikan masukan teknis perencanaan yang memperhatikan pengarusutamaan gender (PUG) (kesenjangan laki-laki dan perempuan, difable, lansia, penyandang cacat, ibu hamil dan anak-anak) kurang dari 20%; 3. Dalam pelaksanaan penyusunan standarisasi perumahan formal dan PSUnya, pihak-pihak yang terlibat mulai dari tim pelaksana (konsultan), tim teknis internal, dan stakeholder masih didominasi oleh laki-laki. Data yang ada dari 143 pekerjaan jasa konsultan antara tahun 2006-2010: Team Leader 107 laki-laki (75%); 36 perempuan (25%). Ketua Tim Teknis 113 laki-laki (79%) dan 30 perempuan (21%); 4. Standar desain Perumahan Formal dan PSU-nya belum responsive gender, sehingga hasil dari pelaksanaan pembangunan perumahan formal masih ditemukan adanya kesenjangan gender;

Akses: Belum ada standar desain dan kriteria Perumahan Formal dan PSU-nya yang berbasis PUG. Kontrol: Belum ada SOP dan juknis terkait dengan pemantauan dan evaluasi perencanaan standarisasi perumahan formal dan PSU-nya yang berbasis PUG. Partisipasi: Rendahnya peran serta perempuan dalam proses perencanaan. Manfaat: Perencana belum memiliki instrumen perencanaan yang sensitif gender sehingga masyarakat (laki-laki, perempuan dan difable) belum mendapatkan manfaat secara optimal.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Rencana Aksi

Indikator Gender

Komponen Kegiatan: Penyusunan SOP dan Petunjuk Teknis tentang Rancang-bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG; Tujuan Komponen Kegiatan: Tersusunnya SOP rancangbangun rumah dan perumahan yang layak huni dan terjangkau, beserta PSU-nya yang berbasis PUG.

1. Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan rancangbangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG; 2. Identifikasi dan menyediakan data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 3. Sosialisasi dan pendampingan terkait dengan rancangbangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis PUG.

1. Belum adanya SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan perumahan beserta PSU-nya berbasis PUG; 2. Belum adanya Identifikasi dan data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, standar desain rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 3. Belum adanya pemahaman perencana kegiatan jasa konsultan tentang SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG; 4. Para pemangku kepentingan belum memahami tentang rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG.

1. Tersedianya SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis PUG; 2. Tersedianya data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 3. Meningkatnya pemahaman perencana kegiatan jasa konsultan tentang SOP dan Petunjuk Teknis tentang Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan perumahan beserta PSU-nya dan berbasis PUG dari 0% menjadi 10%; 4. Meningkatnya pemahaman para pemangku kepentingan belum memahami tentang rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG dari 0% menjadi 10%; 5. Dilakukan sosialisasi kepada perencana kegiatan jasa konsultan tentang isu gender; 6. Tersusunnya Standar dan kriteria rancang bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berwawasan gender.

83
Lampiran

LAMPIRAN 4.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN FORMAL

84
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan

Pengembangan Perumahan dan Permukiman Penyusunan Standarisasi Perumahan Formal Tersusunnya Standar Desain dan Kriteria Perumahan Formal 1. Tersedianya data pendukung terpilah (laki-laki, perempuan, dan difable) pekerjaan jasa konsultan, Rancang Bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya; 2. Tersedianya SOP dan Juknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis Pengarusutamaan Gender (PUG) Tersusunnya SOP dan Juknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya sehingga proses perencanaan lebih partisipatif dan didasarkan pada PUG, yang berkeadilan bagi perempuan, laki-laki dan difable (lansia, penyandang cacat, ibu hamil dan anak-anak). 1. Perencanaan rancang-bangun rumah dan perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG belum terlaksana dengan baik; 2. Dalam RPJMN Tahun 2010-2014, disebutkan bahwa kualitas hidup dan peran perempuan masih relatif rendah, yang antara lain disebabkan oleh: a. Adanya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat, dan partisipasi dalam pembangunan, serta penguasaan terhadap sumber daya, terutama di tatanan antar provinsi dan antar kabupaten/kota; b. Rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan-jabatan publik, dan di bidang ekonomi; c. Rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial, serta terjadinya penyakit. 3. Secara Umum, kondisi rumah dan perumahan beserta PSU-nya sekarang belum memadai dalam pengertian lain belum dapat memenuhi aspek ketersedian dan kebutuhan ruang yang dapat mengakomodir kebutuhan perempuan dan difable, hal ini disebabkan karena belum adanya data pendukung terpilah terkait dengan (laki-laki, Perempuan, dan difable) serta belum tersedianya SOP dan Juknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berawawasan gender; 4. Sebagai upaya untuk pemecahan masalah tersebut diatas terkait dengan tugas dan fungsi Kedeputian Perumahan Formal maka dipandang perlu untuk melakukan penyusunan SOP dan Petunjuk Teknis Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG agar masyarakat (laki-laki, perempuan, difable) pada akhirnya sebagai penerima manfaat akan mendapatkan hasil rancangan rumah yang secara kualitas lebih baik dan layak huni.

Tujuan Kegiatan

Analisis Situasi

Rencana Aksi

Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Alokasi Anggaran Komponen 1, 2, dan 3

Teridentifikasinya data pendukung terpilah (Laki-laki, Perempuan dan difable) pekerjaan jasa konsultan, standard desain rumah dan perumahan beserta PSU-nya. Penyusunan dan penetapan Standard Operasional dan Prosedur (SOP) Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berbasis PUG. Penyusunan Standard dan Kriteria Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang berwawasan gender. Rp. 700.000.000 (tujuh ratus juta rupiah) Penyusunan Rancang Bangun Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang Berbasis PUG

85
Lampiran

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/Hasil Output Kegiatan

Rp. 6.800.000.000 (enam miliar delapan ratus juta rupiah) 1. Meningkatnya kualitas Rumah dan Perumahan beserta PSU-nya yang dapat diakses baik oleh Perempuan, Difable sehingga mampu meningkatkan dan memperlancar aktifitas masyarakat khususnya Perempuan dan Difable didalam Rumah;Tercapainya Pembangunan Rumah dan Perumahan yang layak huni dan terjangkau yang berbasis PUG. 2. Tercapainya Pembangunan Rumah dan Perumahan yang layak huni dan terjangkau yang dilengkapi dengan PSU-nya yang berbasis PUG.

LAMPIRAN 5.1
Langkah 1 Pilih Kebijakan/ Program Kegiatan Yang Akan di Analisis Langkah 2

GENDER ANALISYS PATHWAY (GAP) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

Langkah 3

Langkah 4 Isu Gender

Langkah 5

Data Pembuka Wawasan

Faktor Kesenjangan

Sebab Kesenjangan Internal 1. Pemahaman pengambil keputusan terhadap PUG dalam pembinaan komunitas perumahan masih rendah; 2. Terbatasnya data komunitas perempuan yang menangani perumahan swadaya; 3. Belum maksimalnya kajian tentang kapasitas komunitas baik laki-laki maupun perempuan terkait tentang pembangunan perumahan swadaya.

Sebab Kesenjangan Eksternal 1. Adanya anggapan masyarakat bahwa pembangunan rumah adalah urusan laki-laki; 2. Kesadaran dan kemauan perempuan untuk terlibat dalam berorganisasi khususnya terkait perumahan masih terbatas.

86
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program: Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kegiatan: Kemitraan dan Keswadayaan dalam penyelenggaraan perumahan swadaya Komponen Kegiatan: Jumlah Forum Kemitraan Perumahan Swadaya Tujuan: Menjalin kemitraan antar Komunitas dalam mendukung penyelenggaraan PS

1. Belum adanya data komunitas yang berbasis pada perempuan dan lakilaki. 2. Kurang lebih 30% dari komunitas penerima bantuan stimulan perumahan swadaya, adalah komunitas perempuan; 3. Materi pemberdayaan masyarakat masih netral gender.

1. Partisipasi perempuan yang tergabung dalam komunitas perumahan rendah; 2. Manfaat yang diterima oleh masyarakat (laki-laki dan perempuan) mengenai pembangunan perumahan belum maksimal; 3. Kurangnya akses perempuan terhadap informasi pembangunan perumahan.

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8 Pengukuran Hasil Data Dasar (Base – line)

Langkah 9

Kebijakan dan Perencanaan Ke Depan Reformulasi Tujuan Menjalin kemitraan antar komunitas dalam mendukung penyelenggaraan perumahan swadaya secara berkeadilan Rencana Aksi

Indikator Gender

Fasilitasi Forum Kemitraan Komunitas Perumahan Swadaya: 1. FGD penyusunan materi pendampingan kepada pemda dalam pemberdayaan komunitas perempuan yang menangani perumahan; 2. Koordinasi dengan Pemda untuk pendataan lembaga komunitas (baik berbasis perempuan maupun laki-laki); 3. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan fasilitasi kepada lembaga komunitas perempuan bidang perumahan swadaya.

1. Materi pemberdayaan masyarakat masih netral gender; 2. Belum adanya data lembaga komunitas yang berbasis pada perempuan dan lakilaki; 3. Belum adanya indikator pemantauan dan evaluasi kegiatan yang berbasis pada gender; 4. Kurang lebih 30% dari komunitas penerima bantuan stimulan perumahan swadaya, adalah komunitas perempuan.

1. Tersedianya paket materi pemberdayaan yang responsif gender; 2. Tersedianya data komunitas perempuan dalam menangani perumahan; 3. Tersedianya indikator pemantauan dan evaluasi kegiatan yang berbasis gender.

87
Lampiran

LAMPIRAN 5.2

GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

88
Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender
Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Program Kegiatan Output Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Tujuan Analisis Situasi

Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kemitraan dan Keswadayaan Perumahan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya Tersusunnya rumusan kebijakan, terlaksananya kemitraan, dan meningkatnya keswadayaan dalam penyelenggaraan perumahan Jumlah Forum Kemitraan Perumahan Swadaya Menjalin Kemitraan antar komunitas dalam mendukung penyelenggaraan perumahan swadaya secara berkeadilan Perumahan swadaya adalah rumah dan perumahan yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat secara sendiri dan berkelompok. Pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan adalah masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, seharusnya setiap individu tersebut dilibatkan dalam setiap proses pembangunan perumahan swadaya. Dalam hal masyarakat tidak mampu, pembangunan perumahan swadaya dapat dilakukan secara berkelompok, dan komunitas merupakan salah satu diantaranya. Agar keswadayaan masyarakat dapat tumbuh dan berkembang, pemerintah dapat memberikan stimulan sebagai pengungkit. Berdasarkan data penerima stimulan perumahan swadaya kurang lebih 30% adalah komunitas perempuan. Keterbatasan ini disebabkan oleh rendahnya partisipasi perempuan dalam komunitas perumahan dan kurangnya akses komunitas perempuan tersebut terhadap informasi stimulan pembangunan perumahan. Kondisi di atas merupakan akibat dari kurangnya pemahaman pengambil keputusan terhadap PUG dan data tentang komunitas perempuan yang tersedia, sebagai faktor internal. Disamping itu ada anggapan bahwa pembangunan rumah menjadi urusan laki-laki saja, stigma inilah yang menyebabkan kesenjangan peran perempuan dalam penyelenggaraan perumahan swadaya.

Rencana Aksi

Komponen 1

Fasilitasi Forum Komunitas Perumahan Swadaya: 1. FGD penyusunan materi pendampingan kepada pemda dalam pemberdayaan komunitas baik laki-laki dan perempuan yang menangani perumahan; 2. Koordinasi dengan Pemda untuk pendataan komunitas (baik berbasis perempuan maupun laki-laki); 3. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan fasilitasi komunitas perumahan swadaya. Rp. 700.000.000 (tujuh ratus juta rupiah)

89
Lampiran

Total Anggaran Komponen 1 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/Hasil Output Kegiatan

Rp. 4.600.000.000 (empat miliar enam ratus juta rupiah) Dampak Komunitas perumahan swadaya dapat berperan aktif dalam mendukung penyelenggaraan perumahan swadaya secara optimal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->