P. 1
Makalah Pai Akhlaq

Makalah Pai Akhlaq

|Views: 88|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Ghany Hartanto on Jun 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) AKHLAQ “AKHLAQ KEPADA SESAMA MANUSIA”

DISUSUN OLEH : ADINDA AYU NASTITI (10060310016) FARMASI A

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012/1433 H

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah untuk Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Akhlaq. Dalam penyusunan makalah “Akhlaq kepada sesama manusia” ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan makalah ini. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi teknik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha sebisa mungkin menyelesaikan makalah meskipun tersusun sangat sederhana. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rifa’i Hasybi, Drs., M.Ag, selaku dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Akhlaq yang telah membimbing penulis serta berterima kasih atas dukungan dukungan kerabat sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.

Bandung, 14 April 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, seks, berkuasa dan rasa aman. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang diberikan dan dibekali oleh allah akal dan nafsu ditambah lagi dengan qalbu kesinambungan akal dan nafsu disertai dengan hati yang bersih menjadikan manusia mendapatkan derajat yang tinggi dari malaikat. Kerusakan moral dan akhlak secara umum akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia secara menyeluruh dan akan mempengaruhi terhadap kemajuan dan perkembangan hidup mereka. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan rusaknya akhlak pada manusia misalnya : 1. Longgarnya pegangan terhadap Agama. 2. Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan keluarga. 3. Dasarnya budaya matrealistis dan hedonis. 4. Belum ada kemauan yang sungguh sungguh dari masing masing individu Manusia adalah makhluk sosial, yang berarti tidak dapat hidup sendiri. Manusia hidup saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu hubungan antara manusia harus selalu dijaga mulai dari sikap, perbuatan dan ucapan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. 1.2. Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini, antara lain: 1. Pengertian akhlaq yang di lihat dari segi kebahasaan (Linguistik) dan segi peristilahan (Terminologi) 2. Jenis-jenis akhlak itu 3. Macam-macam akhlaq kepada sesama manusia.

1.3. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini diharapkan baik penulis maupun pembaca dapat lebih memahami dan menerapkan perihal Akhlaq dalam kehidupan sehari-hari kepada sesama manusia. Sehingga baik penulis maupun pembaca dapat menjadi contoh yang baik bagi lingkungannya. Selain itu juga ditujukan sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Akhlaq. 1.4. Metode Penulisan Dalam proses penyusunan makalah ini menggunakan motede heuristic, yaitu proses pencarian dan pengumpulan sumber-sumber dalam melakukan kegiatan penelitian. Selain itu juga penulis menggunakan metode observatif, yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan materi yang berhubungan dari berbagai literatur seperti buku, artikel, internet dan lain-lainnya sebagai teknik pendekatan dalam proses penyusunannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Pengertian Akhlaq Ada dua pendekatan untuk mendefenisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologi (peristilahan). Kata “Akhlak” berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan. Sinonim kata Akhlaq ialah tatakrama, kesusilaan, sopan santun (Bahasa Indonesia), moral, ethik (Bahasa Inggris), ethos, ethikos (Bahasa Yunani). Untuk mengetahui definisi Akhlak menurut istilah, dibawah ini terdapat beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya: 1. Ibnu Maskawaih memberikan definisi sebagai berikut:

Artinya: “Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatanperbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”. 2. Imam Al-Ghozali mengemukakan definisi Akhlak sebagai berikut:

Artinya: “Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memertrlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.

3. Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi, bahwa yang disebut akhlak “AdatulIradah” atau kehendak yang dibiasakan. Definisi ini terdapat dalam suatu tulisannya yang berbunyi:

Artinya: “Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinakamakan akhlak.” Makna kata kehendak dan kata kebiasaan dalam penyataan tersebut dapat diartikan bahwa kehendak adalah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan dari kekuatan yang besar inilah dinamakan Akhlak. Sekalipun ketiga definisi akhlak diatas berbeda kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan maksudnya, Bahkan berdekatan artinya satu dengan yang lain. Sehingga Prof. Kh. Farid Ma’ruf membuat kesimpulan tentang definisi akhlak ini sebagai berikut: “Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu”. 3.2. Jenis-jenis Akhlaq Ulama menyatakan, bahwa Akhlak yang baik merupakan sifat para Nabi dan orangorang Shiddiq, sedangkan akhlak yang buruk merupakan sifat Syaithan dan orang-orang yang tercela. Maka pada dasarnya, Akhlak itu menjadi 2 (dua) jenis, diantaranya: a. Akhlak baik atau terpuji (Al-Akhlaaqul Mahmuudah) yaitu perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama manusia, dan makhluk-makhluk yang lain. Akhlak yang baik yaitu akhlak yang diridhoi oleh Allah S.W.T., akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala

perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, mengikuti ajaran-ajaran dari Sunnah Rasulullah S.A.W., mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah”. Akhlak yang baik menurut Imam Ghazali ada 4 (empat) perkara, yaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa nafsu), dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkum sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan Negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, sabar dan ridha dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya.

Akhlak yang baik yaitu perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama manusia, dan makhlukmakhluk yang lain. Akhlak yang baik terhadap Tuhan antara lain: 1. Bertaubat (At-Taubah), yaitu suatu sikap yang menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan berusaha menjauhinya, serta melakukan perbuatan baik; 2. Bersabar (Ash-Shabru), yaitu suatu sikap yang betah atau dapat menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya. Tetapi bukan berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Maka sabar yang dimaksudkannya adalah sikap yang diawali dengan ikhtisar, lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas, bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan; 3. Bersyukur (Asy-Syukru), yaitu suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Lalu disertai dengan peningkatan pendekatan diri kepada yang member nikmat, yaitu Allah; 4. Bertawakkal (At-Tawakkal), yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berbuat semaksimal mungkin, untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Oleh karena itu, syarat utama yang harus dipenuhi bila seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang diharapkannya, ia harus lebih dahulu berupaya sekuat tenaga, lalu menyerahkan ketentuannya kepada

ALLAH. Maka dengan cara yang demikian itu, manusia dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya; 5. Ikhlas (Al-Ikhlaash), yaitu sikap menjauhkan diri dari riya (menunjuk-nunjukkan kepada orang lain) ketika mengerjakan amal baik, maka amalan seseorang dapat dikatakan jernih, bila dikerjakannya dengan ikhlas; 6. Raja (Ar-Rajaa), yaitu sikap jiwa yang sedang menunggu (mengharapkan) sesuatu yang disenangi dari Allah S.W.T., setelah melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang diharapkannya. Oleh karena itu, bila tidak mengerjakan penyebabnya, lalu menunggu sesuatu yang diharapkannya, maka hal itu disebut “tamanni”; 7. Bersikap takut (Al-Khauf), yaitu suatu sikap jiwa yang sedang menunggu sesuatu yang tidak disenangi dari Allah, maka manusia perlu berupaya agar apa yang ditakutkan itu, tidak akan terjadi.

Akhlak yang baik terhadap sesama manusia antara lain: 1. Belas kasihan atau sayang (Asy-Syafaqah), yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain; 2. Rasa persaudaraan (Al-Ikhaa), yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berhubungan baik dan bersatu dengan orang lain, karena ada keterikatan bathin dengannya; 3. Memberi nasihat (An-Nashiihah), yaitu suatu upaya untuk memberi petunjukpetunjuk yang baik kepada orang lain dengan menggunakan perkataan, baik ketika orang yang dinasihati telah melakukan hal-hal yang buruk, maupun belum. Sebab kalau dinasihati ketika ia telah melakukan perbuatan buruk, berarti diharapkan agar ia berhenti melakukannya. Tetapi kalau dinasihati ketia ia belum melakukan perbuatan itu, berarti diharapkan agar ia tidak akan melakukannya; 4. Memberi pertolongan (An-Nashru), yaitu suatu upaya untuk membantu orang lain, agar tidak mengalami suatu kesulitan; 5. Menahan amarah (Kazmul Ghaizhi), yaitu upaya menahan emosi, agar tidak dikuasai oleh perasaan marah terhadap orang lain;

6.

Sopan santun (Al-Hilmu), yaitu sikap jiwa yang lemah lembut terhadap orang lain, sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung adab kesopanan yang mulia;

7.

Suka memaafkan (Al-Afwu), yaitu sikap dan perilaku seseorang yang suka memaafkan kesalahan orang lain yang pernah diperbuat terhadapnya.

b. Akhlak buruk atau tercela (Al-Akhlaqul Madzmuumah) yaitu perbuatan buruk terhadap Tuhan, sesama manusia, dan makhluk-makhluk yang lain. Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji, seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, munafik, hasud, berprasangka buruk, dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya.

Akhlak yang buruk yaitu perbuatan buruk terhadap Tuhan, sesama manusia, dan makhluk-makhluk yang lain. Akhlak yang buruk terhadap Tuhan antara lain: 1. Takabbur (Al-Kibru), yaitu suatu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mengakui kekuasaan Allah di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah yang ada padanya; 2. Musyrik (Al-Isyraak), yaitu suatu sikap yang mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya; 3. Murtad (Ar-Riddah), yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir; 4. Munafiq (An-Nifaaq), yaitu suatu sikap yang menampilkan dirinya

bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama; 5. Riya (Ar-Riyaa), yaitu suatu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah, melainkan hanya ingin dipuji oleh sesama manusia. Jadi perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas; 6. Boros atau berpoya-poya (Al-Israaf), yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. Tuhan melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan sosial, serta merusak diri sendiri;

7.

Rakus atau tamak (Al-Itirshul atau Ath-Thama’u), yaitu suatu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (Al-Qana’ah) dan merupakan akhlak buruk terhadap Allah, karena melanggar ketentuan larangan-Nya.

Akhlak yang buruk terhadap sesama manusia antara lain: 1. Mudah marah (Al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain. Kemarahan dalam diri setiap manusia, merupakan bagian dari kejadiannya. Oleh karena itu, agama Islam memberikan tuntunan, agar sifat itu dapat terkendali dengan baik; 2. Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu), yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali; 3. Mengadu-adu (An-Namiimah), yaitu suatu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan social keduanya rusak; 4. Mengumpat (Al-Ghiibah), yaitu suatu perilaku yang suka membicarakan perkataan seseorang kepada orang lain; 5. Bersikap congkak (Al-Ash’aru), yaitu suatu sikap dan perilaku yang menampilkan kesombongan, baik dilihat dari tingkah lakunya maupun perkataannya; 6. Sikap kikir (Al-Bukhlu), yaitu suatu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain; 7. Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu), yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian materiil maupun non materiil. Dan ada juga yang mengatakan, bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain, termasuk perbuatan dzalim (menganiaya).

2.3. Macam-macam Akhlaq kepada Manusia A. Akhlak terhadap Orang tua Peranan orang tua dalam kehidupan seorang anak tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia lahir ke dunia ini adalah melalui ibu-bapak. Ibu-bapak kita benar-benar berjasa, dan jasanya tidak dapat dibeli sama sekali dan tak dapat diukur oleh apapun juga. Merekalah yang mengusahakan agar kita dapat makan dan membelikan pakaian untuk kita. Selanjutnya kita dimasukkan ke lembaga pendidikan, mulai dari sekolah pendidikan dasar sampai menengah dan mungkin sampai ke perguruan tinggi, agar kita berakhlak baik, teguh mengamalkan ajaran-ajaran agama dan mempunyai masa depan yang gemilang. Cara berbuata baik kepada ibu-bapak diantaranya: 1. Mendengarkan nasihat-nasihatnya dengan penuh perhatian, mengikuti anjurannya dan tidak melanggar larangannya; 2. Tidak boleh membentak ibu-bapak, menyakiti hatinya, apalagi memukul. Ibu dan bapak harus diurus atau dirawat dengan baik; 3. Bersikap merendahkan diri dan mendoakan agar mereka selalu dalam ampunan dan kasih sayang Allah S.W.T.; 4. Sebelum berangkat dan pulang sekolah hendaklah membantu orang tua; 5. Menjaga nama baik kedua orang tua di masyarakat; 6. Memberi nafkah, pakaian, dan membayarkan hutangnya kalau mereka tidak mampu atau sudah tua; 7. Menanamkan hubungan kasih sayang terhadap orang yang telah ada hubungan kasih sayang oleh ibu-bapaknya;

Apabila kedua orang tua itu telah meninggal misalanya, maka kita sebagai anaknya berkewajiban berbakti kepada mereka seperti: 1. Menyembahyangkan jenazahnya; 2. Memintakan ampunan kepada Allah; 3. Menyempurnakan janjinya; 4. Memuliakan sahabatnya; 5. Menghubungi anak keluarganya yang bertalian dengan keduanya.

B. Akhlak terhadap Saudara Peranan saudara dalam kehidupan kita sangatlah penting, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang senantiasa saling bantu-membantu dalam menempuh kehidupannya, terutama saudaranya yang terdekat. Hubungan antara saudara dengan saudara haruslah dipelihara dengan sebaik-baiknya, jangan sampai retak, jangan sampai timbul hal-hal yang menyebabkan tali silaturahmi terputus, apalagi kalau sampai timbul perpecahan atau permusuhan dan percekcokan satu sama lain. Cara berbuat baik kepada saudara diantaranya: 1. Menghormati dan mencintai mereka. Karena kita dengan saudara asal-mulanya dari ayah dan ibu. Mencintai mereka sama dengan kita mencintai diri sendiri; 2. Menghormati saudara yang lebih tua sebagaimana menghormati orang tua, mengindahkan nasihat-nasihatnya dan tidak menentang perintahnya; 3. Mencintai dan menyayangi yang lebih kecil dengan penuh kasih sayang sebagaimana orang tua menyayangi mereka; 4. Saling bantu-membantu sekuat tenaga, sabar terhadap mereka. Jika bersalah, berilah peringatan secara halus dan ramah-tamah.

C. Akhlak terhadap Tetangga Mereka adalah saudara kita yang paling dekat dan cepat menolong dikala kita mendapat musibah atau malapetaka. Meskipun mempunyai family sekian banyak dan terkemuka, tetapi tak mustahil tempat tinggalnya berjauhan. Oleh karena itu, dikala kita mendapat musibah seperti sakit, meninggal dunia, atau kesusahan-kesusahan lainnya, maka yang paling duluan tampil datang adalah tetangga kita. Karena itu berlakulah kepadanya secara baik menurut tuntunan agama. Cara berbuat baik kepda tetangga diantaranya: 1. Menolong dan membantunya bila membutuhkan pertolongan, walaupun mereka tidak mau membantu kita; 2. Member hutang bila meminta bantuan hutang kepada kita; 3. Ikut meringankan beban dan kesengsaraan bila tetangga itu miskin dan sengsara, sekiranya kita mempunyai kelebihan; 4. Menjenguknya bila sakit atau membantunya dengan obat;

5. Bila tetangga ada yang meninggal dunia, hendaknya ikut belasungkawa, dan mengantarkan jenazahnya ke kuburnya; 6. Bila tetangga mendapat kesenangan atau nasib baik dan menggembirakan, sebaiknya menyampaikan ucapan selamat kepadanya; 7. Ikut meringankan beban musibah tetangga yang meninggal; 8. Bila ingin membuat rumah bertingkat, sebaiknya minta izin atau sepengetahuan tetangganya, disamping minta izin kepada pemerintah; 9. Menghindari perkataan atau tindakan yang menyakitkan tetangga. Bila berkata atau bertindak salah, sebaiknya segera minta maaf; 10. Jika boleh memamerkan sesuatu yang dibeli atau yang dimiliki kepada tetangga, baik berupa makanan ataupun yang lainnya, bila kita tidak ingin memberinya; 11. Jangan menyalakan atau membunyikan radio tape recorder atau TV terlalu keras, yang dapat membisingkan tentangga.

D. Akhlak terhadap Sesama Muslim Diantara sesama muslim yang lain adalah bersaudara. Oleh sebab itu, kita harus bersikap baik terhadap sesama muslim. Mereka itu bagaikan satu anggota badan, bilamana yang satu sakit atau ditimpa musibah, maka yang lain ikut merasakannya. Cara berbuat baik terhadap sesama muslim diantaranya: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Member salam; Memenuhi undangannya, terutama hari pertama dalam walimatul uruz; Saling member nasihat; Menjenguk ketika sakit, sambil mendoakan; Mengantarkan jenazah orang islam; Tidak bermusuhan selama 3 hari; Tidak boleh bersikap sombong; Tidak melahirkan kegembiraan disaat orang Islam yang lain ditimpa kesusahan; Mau membela sesama muslim;

10. Menjunjung tinggi kehormatan, harta dan jiwa; 11. Mau mengusahakan perdamaian kalau terjadi perselisihan diantara sesama muslim; 12. Menutupi rahasianya;

13. Memberi bantuan disaat membutuhkan; 14. Menyantuni orang-orang miskin dan lemah di kalangan umat Islam; 15. Ikut membahagiakan sesama muslim.

E. Akhlak terhadap Kaum Lemah Kaum lemah adalah orang-orang yang belum memiliki kemampuan dalam segala hal atau bidang tertentu. Tidak memiliki kemampuan ini biasanya menjadi penghambat untuk mencapai keinginannya (cita-citanya). Sebagai contoh yang termasuk orang-orang lemah misalnya, orang bodoh (tak berilmu pengetahuan), orang miskin (tak berharta), dan sebagainya. Ajaran Islam telah menegaskan, bahwa siapa yang menolong orang lemah, niscaya Allah akan memberikan pertolongan. Sebaliknya mereka yang tidak mau menolong kaum lemah, niscaya Allah tidak menyukainya. Pertolongan itu tidaklah hanya dilakukan terhadap sesama pemeluk agama Islam belaka, tetapi setiap pemeluk agama Islam harus pula melakukan pertolongan kepada sesama umat manusia, sekali pun lain agama. Bukankah agama Islam memerintahkan agar kita tetap berbakti kepada orang tua, sekali pun kedua-duanya berlainan agama dengan kita, juga memerintahkan kepada kita agar tetap berbuat baik kepada tetangga, sekali pun mereka itu orang-orang yang musyrik. Demikian pula terhadap seluruh umat manusia, baik Islam maupun bukan, kita harus selalu berakhlak baik kepada mereka, harus berkata dengan perkataan yang bagus dan harus memperlakukan mereka dengan layak. Pada hakikatnya menolong manusia berarti juga menolong diri sendiri. Misalnya kita menjadi orang kaya yang sibuk dengan pekerjaannya, kemudian kita menolong beberapa orang yang menganggur dengan memberikan pekerjaan kepada mereka dalam satu perseroan terbatas yang kita pimpin. Tentu saja kerja mereka memberikan keuntungan kepada kita. Disinilah letak rahasinya, kita memperoleh rahmat Allah baik langsung maupun tidak, di dunia dan kelak di akhirat. Sewajarnyalah bagi setiap pemuda dan pemudi yang masih berusia muda belia, segar bugar, sehat jasmani dan rohaninya mempunyai rasa kasih sayang kepada orangorang lemah. Misalnya kepada orang cacat fisiknya atau mentalnya, orang yang lanjut usia, dan orang yang ditimpa kemiskinan. Generasi tua telah memberikan tauladan yang baik yang patut ditiru oleh generasi yang lahir pada periode berikutnya. Cara berbuat baik terhadap kaum lemah diantaranya adalah:

1. Menunjukkan kepada orang lain yang tersesat, dan menuntut orang buta di jalan yang ramai; 2. Memberikan tempat duduk kepada orang yang telah tua, orang buta, anak-anak dan wanita waktu berdesak-desakan kendaraan dalam bis, kereta api, dan sebagainya; 3. Memberi sedekah kepada peminta-minta dengan sikap yang baik; 4. Memberikan bantuan kepada panti asuhan yatim piatu dan rumah miskin; 5. Memberikan bantuan kepada korban bencana alam, berupa uang, pakaian, dan obat-obatan; 6. Menganggap pembantu rumah tangga sebagai anggota keluarga sendiri; 7. Suka menolong orang lain yang sangat memerlukan bantuan, diantaranya membantu orang miskin, orang cacat mental, orang cacat jasmani, dan lain-lain.

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Akhlak adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena akhlak mencakup segala pengertian tingkah laku, tabi’at, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang buruk dalam hubungannya dengan Khaliq atau dengan sesama makhluk. Akhlak ini merupakan hal yang paling penting dalam pembentukan akhlakul karimah seorang manusia. Jenis-jenis akhlaq adalah Akhlak baik atau terpuji (Al-Akhlaaqul Mahmuudah) dan Akhlak buruk atau tercela (Al-Akhlaqul Madzmuumah). Macam-macam akhlaq kepada sesama manusia adalah Akhlak terhadap Orang tua, Akhlak terhadap Saudara, Akhlak terhadap Tetangga, Akhlak terhadap Sesama Muslim, dan sesama kaum lemah.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA Darsono, T. Ibrahim. Membangun Akidah dan Akhlak, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008 Ghoni Asykur, Abdul. Kumpulan Hadits-Hadits Pilihan Bukhori Muslim. Bandung: Husaini Bandung, 1992 http://yudhim.blogspot.com/2008/01/akhlak-sesama-muslim.html diakses pada 10 April 2012, pukul 19.45 WIB Mahyuddin, 1999, Kuliah Akhlak Tasawuf, Jakarta : KALAM MULIA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->