P. 1
Sejarah Doktrin Gereja

Sejarah Doktrin Gereja

|Views: 1,236|Likes:
Published by Andry Scj

More info:

Published by: Andry Scj on Jun 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2013

pdf

text

original

“GAUDET MATER ECCLESIA!


Konsili Vatikan II: Iman Gereja demi Dunia!
For one who believes in God, for a Christian, above all for a Catholic, it seems hard to resist the conviction that a Council so convoked, so constituted, so observed, and so concerned, must have been willed and actuated by God himself for high ends of human interest. We believe in divine providence. Was not the Council itself one of those 'signs of the times' about which the Bible and the Council speak? Religion dwells and lives primarily in the hearts of individual persons: it is 'what a man does with his solitariness.' But it also finds expression in great historical phenomena and great historical institutions. If God's 'angel,' His spirit, His Christ is 'amongst them' when two or three are gathered together 'in Christ's name,' is there not some presumption that the same heavenly presence was active to guide the immensely earnest efforts of those prelates gathered together in the four years of the Council to deliberate and decide on the future of the greatest religious fellowship the world has ever known? (Bishop B.C. Butler, In the Light of the Council)

Konsili Vatikan II adalah Konsili Ekumenis ke-21 dalam sejarah Gereja. Antara tanggal 11 Oktober 1962 dan tanggal 8 Desember 1965 diadakan empat periode sidang. Jumlah Uskup yang hadir lebih banyak dan berasal dari lebih banyak negara daripada yang menghadiri Konsili-konsili sebelumnya. Tercatat ada 2549 Bapa Konsili yang hadir dalam Pembukaan serta 29 pengamat dari 17 Gereja lain, dan 8 undangan yang bukan Katolik. Jumlah tersebut belum lagi ditambah para pendengar secara langsung pria dan wanita dari pelbagai kalangan, perhatian besar media cetak dan radio, serta beragam informasi seputar Konsili bagi umat seluas dunia. Baik Paus Pius XI (1922-1939) maupuan Paus Pius XII (1939-1958) pernah berpikir tentang membuka kembali Konsili Vatikan I (1869-1870) yang terpaksa berhenti karena perang antara Perancis dan Prusia. Tetapi Paus Yohanes XXIII-lah yang mengejutkan gereja semesta dengan maklumat penuh optimisme pada 25 Januari 1959, bahwa beliau bermaksud mengundang suatu konsili baru – dan sungguh senyatanya yang baru karena tidak dimaksudkan sekadar melanjutkan Konsili Vatikan I. Konsili Vatikan II (1962-1965) adalah sebuah peristiwa religius, intelektual, dan politis yang mnenetukan dalam sejarah kontemporer Gereja Katolik. Konsili ini membawa perubahan besar atas diri Gereja dalam memandang dirinya sendiri dan dunia semesta.

1

Inovasi-inovasi pemikiran akademis dan refleksi iman dalam konsili ini dilontarkan dengan cemerlang tanpa berusaha meninggalkan tradisi dan ajaran iman yang telah lampau.1 Konsili Vatikan II tampak hendak meneguhkan kembali doktrin iman yang telah dipegang kukuh selama berabad-abad seraya pada saat yang sama juga membadankan cita-cita dan arah yang baru. Sampai hari ini, hasil-hasil Konsili Vatikan II masih terus menentukan arah dan pijakan Gereja Katolik. Sebagai ‘peristiwa’, tentu saja hasil Konsili Vatikan II ini lebih dari sekumpulan dokumen ajaran yang lalu dikodifikasi dan menjadi bahan ajar. Maka dari itu, paper ini akan berusaha menjawab pertanyaan utama: “Apa sumbangan Konsili Vatikan II bagi perkembangan doktrin Gereja dan bagaimana sumbangan itu dihasilkan?” Untuk itu, kami akan melihat Konsili Vatikan II dalam beberapa bagian pokok, antara lain: latar belakang, isi dan relevansi serta kemungkinan refleksi lebih lanjut dari hasil Konsili Vatikan II.

1. LATAR BELAKANG KONSILI VATIKAN II
KATA KUNCI: KELANJUTAN KONSILI VATIKAN I, KETOKOHAN YOHANES XXIII, AKIBAT KEKAKCAUAN REVOLUSI SOSIAL, PEMBARUAN AKAR RUMPUT (LITURGI DAN TEOLOGI), TANTANGAN PERKEMBANGAN IPTEK, AGGIORNAMENTO.

Konsili Vatikan II pada zamannya adalah sebuah gerakan besar yang menjadi semacam anti-tesis dari situasi internal Gereja yang makin tersingkir dari ‘dunia’ karena kekakuannya dan sikap kerasnya menanggapi tantangan zaman modern. Perkembangan dunia yang ‘terlalu cepat’ disikapi dengan sangat hati-hati. Pelajaran bahwa modernitas akan menghasilkan liberalisme sebagaimana terjadi dalam masa reformasi dan revolusi Perancis membuat Gereja sangat berhati-hati menentukan sikap dan mencurigai semua gerakan pembaruan. Gereja telah membayar terlalu mahal dengan hilangnya banyak previlese atas negara dan dengan jatuhnya darah korban pada masa revolusioner dan perlawanan rakyat di zaman pencerahan yang baru saja berlalu. Dalam kekhawatiran yang mencekam inilah, Gereja mengambil posisi ‘berseberangan’ dengan dunia yang sangat tidak pasti. Sebagai lawan pencarian kebenaran yang terus berkembang bersama ilmu pengetahuan dan teknologi, Gereja menyuarakan ‘semper idem’ bagi kebenaran iman Kitab Suci yang literer dan uniformitas ajaran dalam segala
1

Bdk. James C. Livingston (et al.), “Vatican II and the Aggiornamento of Roman Catholic Theology” dalam Modern Christian Thought: The Twentieth Century, Minneapolis, Fortress Press 2006, 237.

2

bidang. Sebagai lawan kondisi masyarakat yang begitu dinamis jatuh bangun setelah aneka revolusi dan dua perang dunia, Gereja memegang teguh gambaran ‘kota surgawi’ yang rapi tersusun dan terpimpin secara mutlak dalam menghayati dirinya sebagai institusi. Gereja tidak mau mengulangi lagi kesalahan dalam menghadapi banyak tantangan dunia yang berkembang terlalu cepat itu. Dan ini sebabnya, Gereja sebelum masa Konsili Vatikan II dikenal sangat reaktif dalam menghadapi dinamika zaman. Dengan mengambil putusan tegas dan jelas dari sistem komando papisme, Gereja seolah hendak menunjukkan suara profetisnya sebagai suara yang melawan dunia dan mati-matian menentang kutub kebenaran yang lain. Ternyata sikap ini tidak dapat bertahan selamanya. Doktrin haruslah menjadi bagian hidup jemaat dan menyentuh pergulatan orang banyak yang sedang berarak di zaman baru. Pembaruan di akar rumput meluas di mana-mana. Suara tuntutan bagi sebuah pembaruan mulai nyaring terdengar, walau banyak yang meramalkan bahwa pimpinan Gereja masih akan tetap kaku menimbang dunia masih dalam kondisi yang tidak baik karena efek perang dingin. Suara tuntutan akar rumput ini akhirnya ditanggapi dengan undangan Konsili yang mengejutkan dari Paus Yohanes XXIII. Orang-orang pada zaman itu masih belum dapat membayangkan seberapa besar pengaruh Konsili ini bagi Gereja Semesta dan dunia di tahun-tahun berikutnya. Tetapi kita, generasi yang mengalami buah-buah Konsili ini, dapat melihat bahwa Konsili Vatikan II adalah sebuah Konsili Gereja yang khusus berbicara tentang dirinya sendiri; sebuah Konsili Gereja dari dan bagi Gereja. Pandangan baru akan dirinya membuat Gereja kita memandang secara baru pula dunia dengan seluruh dinamikanya. Konteks besar Konsili Vatikan II adalah seluas kisah perjalanan iman Kristen itu sendiri. Kami berusaha menempatkan pertama-tama Konsili Vatikan II secara ringkas dalam dua periode millenium ziarah Kristianitas. Ringkasan sejarah penting dua millenium itu diharapkan akan memberi gambaran yang lebih utuh tentang perjalanan Gereja Katolik hingga sampai pada Konsili Vatikan II. Konteks dekat Konsili Vatikan II akan dibahas dalam empat bagian: kelanjutan Konsili Vatikan I, ketokohan Paus Yohanes XXIII, situasi sosial politik dan gerakan pembaruan yang makin marak di dalam Gereja. 1.1 Konsili Vatikan II dan Dua Millenia Ziarah Kristianitas

3

Kami mencoba membagi masa perkembangan Kristiani dalam dua millenia: milenia pertama (Zaman Gereja Perdana hingga era sekitar Konsili Konstantinopel IV (869970)), dan Milenium kedua (Abad Pertengahan – Saat ini). a. Milenium Pertama  Gereja Purba Kurun waktu yang mencakup periode Gereja Purba disebut juga dengan istilah ‘periode fomatif’. Maksudnya, inilah kurun waktu di mana nasa dasar seluruh Gereja ditata, bahkan sampai dengan saat ini hidup Gereja berada di bawah pengaruh keputusan-keputusan yang telah diambil pada kurun waktu gereja purba.2 Komunitas awal, begitu mereka disebut, adalah komunitas Kristiani yang dihasilkan dan digambarkan dalam kitab-kitab PB, yang disebut ‘Gereja Rasuli’. Gereja Rasuli atau Gereja Apostolik adalah Gereja para rasul atau generasi pertama Kristiani. Itu mencakup kurun waktu antara 30-100 tahun, antara peristiwa Pentekosta dan penulisan terakhir dari Alkitab3. Periode Kekaisaran – Periode menjelang Skisma Timur-Barat

Kurun waktu ‘kekaisaran Kristen’ berlangsung sejak ditetapkannya maklumat Milan (edik Milano) tahun 313, sampai jatuhnya kaisar Roma (Barat) yang terakhir, yakni Romulus Agustus, tahun 476.4 Periode ini juga ditandai dengan kontroversi Kristologis yang kemudian menjadi bahan perdebatan dan diskusi dalam 4 konsili Awal (Nicea I, tahun 325 – Kalsedon, tahun 451). Gereja mengakhiri periode ini dengan skisma antara Gereja konstantinopel dengan Roma, yang sering disebut ‘Skisma Timur-Barat’. Meski sempat berdamai, skisma ini sungguh-sungguh terjadi pada awal milenium II (tahun 1045). b. Milenium Kedua  Abad pertengahan Periode ini diawali dengan skisma Timur - Barat (1045). Pada masa ini terjadi Perang salib yang dimulai pada tahun 1095 dan berlangsung selama beberapa abad. Munculnya tarekat-tarekat religius baru juga turut
2 3

Eddy Kristiyanto, Visi Historis Komprehensif-sebuah Pengantar, Jogjakarta, Kanisius, 2003, 19. Thomas michel, SJ, Pokok-Pokok Iman Kristiani, Jogjakarta, Universitas Sanata Dharma, 2001, 85. 4 Eddy Kristiyanto, 20.

4

memberi warna era ini, seperti fransiskan dan Dominikan. Tarekattarekat ini cukup memberikan semangat misioner. Namun, periode akhir abad pertengahan meliputi juga saat-saat kemerosotan kekuasaan paus, yang berpuncak pada pemindahan Tahta Kepausan ke Avignon (13091377). Ada dua bahkan tiga Paus yang mengklaim sebagai pewaris sah Tahta Petrus (1378-1418).5 ‘Reconquista’ dan Reformasi Protestantisme

Dari saat jatuhnya Konstantinopel, tahun 1453, hingga akhir abad XVI terjadi dua peristiwa yang menentukan perkembangan sejarah Gereja, yaitu ‘reconquista’ atau penaklukan yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugal atas sejumlah wilayah di luar benua eropah dan reformasi protestantisme (1517). Gerakan Luther ini diikuti oleh gerakan yang serupa di Swiss, yang dipelopori Ulrich Zwingli, dan kemudian Jean Calvin, yang kemudian melahirkan Gereja-Gereja Reformed dan Presbyterian.6 Abad XVII – Konsili Vatikan II

Pada periode ini muncul banyak perang yagn meliobatkan Katholik dan Protestan, yang dibakar oleh fanatisme sempit pelbagai ortodoksiKatholik Roma, Lutheran,dan Reformed, yang kemudian juga menjadi asal-usul lahirnya daerah-daerah koloni, seperti koloni Inggris di Amerika. Pada abad XIX, yang disebut juga abad modernitas, mulai muncul sejumlah pergolakan politik yang membuka jalan bagi cita-cita demokrasi dan usaha mewujudkan kemerdekaan Amerika serikat, Revolusi Prancis, dan kemudian kemerdekaan bangsa-bangsa amerika latin. Gerakan-gerakan ini, seperti demokratis, liberalisme, berdirtinya sekolah umum, dikecam dan dianggap bidaah oleh Paus Pius IX. Selanjutnya, salah satu unsur penting di era ini adalah ekspansi misioner Gereja, khususnya ekspansi misioner Protestan ke Asia, Afrika dan Amerika Latin. Abad ini ‘berakhir’ dengan meletusnya Perang Dunia I,
5 6

Eddy Kristiyanto, 24. Eddy Kristiyanto, 25.

5

1914. Abad-abad ini kemudian bisa dikatakan sebagai periode besar yang melatari lahirnya Konsili Vatikan II, baik langsung maupun tidak langsung. 1.2 Konteks Dekat Konsili Vatikan II Adapun beberapa konteks dekat ini, antara lain: a. Konsili Vatikan I yang terkesan ‘belum selesai’ Konsili Vatikan I yang dipersiapkan sejak tahun 1864 dilatarbelakangi oleh banyak peristiwa, antara lain revolusi Perancis tahun 1789 yang mengakibatkan perombakan besar bagi Gereja, maupun revolusi industri yang yang berawal pada akhir abad 18, menimbulkan perubahan-perubahan besar pada suasana politik, sosial dan ekonomi di dunia Barat. Pencerahan pada abad ke-18, memicu tombulnya banyak tantangan intelektual pada agama kristiani, dan ini diperumit pada abad berikutnya oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang keipaan, yang menimbulkan masalah-masalah yang lebih lanjut, seperti misalnya penyelidikan Darwin.7 Situasi ini menepatkan Gereja (lembaga hirarkis) dan orang beriman kristiani dalam situasi yang serba baru: gereja dan orang kristiani mau tidak mau harus mencari orientasi dalam perkembangan sejarah dan menentukan arah. Iman kristiani mesti memperkenalkan diri dalam ‘dunia’ yang makin melepaskan diri dari pengaruh Gereja. Untuk menemukan jati diri dalam dunia sekular, Gereja perlu membenahi diri. Usaha pembenahan diri berlangsung selama abad ke-19 dan mendapat ungkapan paling tegas dalam Konsili Vatikan I.8 Pada umumnya orang melihat Konsili Vatikan I hampir melulu dari segi kemenangan bagi orang-orang konservatif, tetapi sikap ini adalah sikap yang terlalu menyederhanakan. Paus Pius IX yang mengadakan Konsili Vatikan I menginginkan agar konsili itu berbicara dengan jelas mengenai kekuasaan Gereja, teristimewa peran kepausan dan infallibilitasnya. Sri Paus yang dipilih pada tahun 1847 itu pada awalnya dikenal orang sebagai orang liberal, tetapi setelah beliau kehilangan negara kepausan ketika menghadapi angkatan
7 8

Norman P. Tanner, Sebuah Sejarah Singkat Konsili-Konsili Gereja, Kanisius, Yogyakarta 2002, 87. Bernhard Kieser, Kisah Iman Menelusuri Sejarah Ajaran Iman dalam Yesus Kristus, pro-manuscripto, Yogyakarta 2005, 118.

6

penyatuan kembali Italia, ia secara tegas mengambil langkah ke arah konservatif.9 Dalam Konsili Vatikan I dibicarakan banyak hal namun yang disahkan dan diumumkan hanya dua dekrit: konstitusi dogmatik Dei Filius mengenai iman Katolik (24 April 1870) dan konstitusi dogmatik Pastor Aeternus mengenai Gereja Kristus (18 Juli 1870). Mengingat mentalitas Katolik-Roma yang berkembang dalam Gereja sejak revolusi Perancis maka primat Paus dan infallibilitasnya sangat ditekankan sebagai jaminan kedaulatan Gereja. Karena sangat didominasi oleh primat Paus dan infallibilitasnya, maka Konsili Vatikan I merupakan konsili kontraversial di dalam Gereja Katolik dan dalam hubungannya dengan lain-lain Gereja serta dunia luas. Konsili itu menyatakan hal-hal yang tidak dapat diterima oleh banyak orang dan peristiwa ini tampaknya memperlihatkan Gereja Katolik ada pada puncak keagresifan dan keautoritariannya.10 Di samping itu, banyak hal yang dibicarakan dalam Konsili Vatikan I namun tidak tercapai kesepakatan. Salah satunya adalah pembicaraan mengenai iman dan rasio; bagaimana orang menghayati iman dalam dunia modern? Walaupun perdebatan itu telah ditanggapi oleh Paus Pius X melalui Dekrit Lamentabili dan Ensiklik Pascendi, namun persolah tidak selesai. Persoalan ini baru akan terselesaikan dalam Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Dogmatik Dei Verbum: wahyu sebagai peristiwa sejarah dan iman sebagai pengalaman manusia. b. Ketokohan Paus Yohanes XXIII Selanjutnya setelah Paus Pius XII meninggal, Kardinal Roncalli terpilih sebagai penggantinya pada tanggal 28 Oktober 1958, dengan nama Paus Yohanes XXIII. Yohanes XXIII adalah orang sederhana dari seorang petani miskin, namun ia-lah yang mengeluarkan signal pertama bagi konsili. Ia memaklumkan bahwa akan ‘dirayakan’ suatu sinode untuk keuskupan Roma dan suatu konsili ekumenik untuk seluruh Gereja. Ia memicu apa yang terbukti menjadi episode
9

10

Norman P. Tanner, Sebuah Sejarah Singkat Konsili-Konsili Gereja, 88. Norman P. Tanner, Sebuah Sejarah Singkat Konsili-Konsili Gereja, 96.

7

yang paling berkesan dalam sejarah Gereja Katolik-Roma. Dialah yang memulai pembaruan Gereja dari satu lembaga yang statis dan otoriter, yang berbicara secara monolog, menjadi Gereja yang dinamis dan bersaudara, yang menggalakkan dialog. Ia menekankan pentingnya dialog baik dengan dunia maupun di dalam Gereja sendiri. Sesungguhnya Paus Yohanes XXIII mengundang Konsili Vatikan II bukan untuk membuat banyak pernyataan melainkan supaya konsili menjadi peristiwa pembaharuan dalam Gereja-bagi Gereja11. Konsili yang diumumkan Paus Yohanes XXIII memiliki dua sasaran yang saling berkaitan erat, yakni pembaruan internal Gereja Katolik serta tujuan akhir persatuan Gereja12. Ia merindukan sebuah pembaruan rohani dalam terang Injil, penyesuaian dengan masa sekarang (aggiornamento) untuk menanggapi tantangan-tantangan zaman modern dan – sekali lagi – pemulihan persekutuan penuh antara segenap umat Kristen. c. Situasi Sosial-Politik Satu hal yang mungkin patut dicatat adalah diterbitkannya ajaran Sosial Gereja yang pertama, yaitu Ensiklik Rerum Novarum dari Paus Leo XIII pada tahun 1891. Ensiklik ini tentu saja dilatari oleh ketidakadilan yang dialami oleh kaum buruh sebagai korban kapitalisme. Situasi yang menjadi efek Revolusi Industri di Inggris (1716) ini memang mengubah banyak hal baik di bidang sosialekonomi maupun politik waktu itu. Situasi ini bisa dikatakan ‘luput’ dari perhatian Konsili Vatikan I yang dibuka kurang lebih satu setengah abd setelah revolusi Industri ini (tahun revolusi Industri secara umum dihitung sejak penemuan mesin uap oleh James Watt). Selain itu muncul kenyataan makin meningkatnya kesadaran untuk menghargai hak-hak asasi manusia. Pengakuan terhadap Hak Asasi Manusia ini mencapai puncaknya (meski pelanggaran HAM masih banyak terjadi hingga kini) pada tahun 1948 (10 Desember) ketika diumumkannya Deklarasi universal Tenang Hak-Hak Asasi manusia (Declaration of Human Rights) oleh PBB. Deklarasi ini
11 12

Bernhard Kieser, Kisah Iman Menelusuri Sejarah Ajaran Iman dalam Yesus Kristus, 162. Georg Kirchberger-John M. Prior (ed), Konsili Yohanes XXIII Berpancawindu 1962-2002, Ende, Ledalero, 2003, 35.

8

tentu saja berkaitan juga dengan perang dunia kedua yang baru saja berakhir (1942-1945) yang meninggalkan luka dalam bagi banyak negara di dunia yang menjadi korbannya. d. Gerakan-gerakan Pembaruan dalam Gereja  Gerakan Nouvelle Theologie Nouvelle Theologie (Prancis: teologi baru) adalah nama yang sering digunakan untuk merujuk pada suatu aliran pemikiran dalam teologi katholik yang muncul pada pertengahan abad ke-20, terutama di kalangan teolog Prancis dan Jerman. Tujuan para teolog ini adalah reformasi mendasar tentang bagaimana pendekatan teologi Gereja Katholik.13 Teologi ini sebenarnya adalah sebuah gerakan kembali ke sumber (ressourgement). Sebutan ini sesuai dengan orientasi gerakan ini yaitu: mengembalikan teologi katholik kepada keasliannya. Hal ini, tentu saja, setelah mereka melihat bahwa ada begitu banyak (gerakan) teologi yang menyimpang dari tradisi lama teologis Gereja katholik. Untuk mencapai hal ini (kembali ke sumber) mereka menganjurkan untuk kembali ke sumber iman Kristiani yaitu Kitab Suci. Gerakan ini juga mengisyaratkan kembali ke patristik, teologi mistis dan keterbukaan terhadap modernitas.14 Maka, gerakan ini mengembangkan minat baru dalam penafsiran Alkitab, topologi, seni, sastra dan mistik, serta keterbukaan untuk berdialog dengan dunia kontemporer tentang isu-isu teologi. Tokoh-tokoh dari Nouvelle Theologie ini antara lain: Henri de Lubac, Pierre Teilhard de Chardin, Hans Urs von Balthasar, Yves Congar, Karl Rahner, Hans Küng, Edward Schillebeeckx, Dominique Chenu, Jean Danielou, Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI), dll. Para teolog gerakan ini atau aliran pemikiran ini mempunyai pengaruh yang besar pada perubahan-perubahanyang dibawa Gereja Katholik melalui konsili Vatikan II (1962-1965). Namun, setelah konsili tokohtokoh gerakan ini terbagi menjadi dua kubu, karena perbedaan interpretasi
13 14

dan

implementasi

atas

konsili.

Rahner,

Congar,

http://en.wikipedia.org/wiki/Nouvelle-Th, diunduh pada tanggal 21 April 2010. http://www.amazon-com/Reading-Nouvelle-Th, diunduh pada tanggal 21 April 2010.

9

Schillebeegkx, Küng, Chenu, mendirikan jurnal teologis yang lebih progresif, Concilium pada tahun 1965, dan de Lubac, Balthasar, Ratzinger, dll. mendirikan jurnal teologis Communio pada tahun 1972. Pembaharuan Liturgi15 Paus Pius X mengetahui benar suasana Gereja dan suasana umat pada zamannya. Maka dengan motu proprio “Tra le sollecitudini” tentang musik Gereja pada tanggal 22 November 1903, ia mendesak perlunya ‘suatu peran serta aktif (participatio actuosa) dari umat beriman dalam misteri-misteri dan doa resmi liturgi Gereja’. Istilah participatio actuosa ditanggapi dengan amat baik oleh Lambert Beauduin (1873-1960). Beauduin memakai kata participatio actuosa sebagai program utama dari gerakan pembaharuan yang ia motori. Tujuan karya pastoralnya adalah menyadarkan umat bahwa liturgi bukan hanya urusan klerus saja, melainkan juga urusan seluruh umat dan warga Gereja. Beauduin memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan konsep pembaharuan liturginya di Keuskupan Agung Mechelen, Belgia pada tahun 1909. Sidang itu menyetujui suatu usaha penerjemahan teks misa dan ibadat sore ke dalam bahasa pribumi. Peristiwa sidang di Mechelen ini dipandang sebagai hari lahir gerakan pembaruan liturgi. Seiring dengan gerakan pembaruan liturgi, di Eropa juga muncul aneka gerakan lain seperti gerakan kembali ke sumber. Gerakan kembali ke sumber merupakan gerakan dalam hidup Gereja yang ingin mencari sumber hidupnya langsung dari sumber asli Gereja yakni Kitab Suci dan tulisan Bapa-Bapa Gereja. Maka, studi terhadap naskah-naskah kuno kembali digalakkan termasuk di dalamnya usaha menemukan kembali warisan liturgi yang telah lama dilupakan. Sasaran utama gerakan pembaruan liturgi abad XX adalah agar umat memahami liturgi yang mereka rayakan dan agar umat dapat mengambil bagian dalam liturgi secara aktif. Wujud konkrit gerakan pembaruan liturgi adalah studi terhadap sejarah dan makna liturgi dari berbagai
15

E. Martasudjita,Pr, Pengantar Liturgi Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta, Kanisius, 1999, 71-73.

10

usaha penerjemahan dan penyusunan teks liturgi. Contoh hasil gerakan ini ialah dibuatnya misa dialogata, dimana umat ikut menjawab secara lebih aktif dalam Perayaan Ekaristi. Akibat pembaruan liturgi ini maka ada kelompok yang menentang termasuk pihak Roma. Maka Paus Pius XII mengeluarkan Ensiklik Mediator Dei pada tahun 1947 yang merupakan tanggapan resmi pertama dari Roma mengenai gerakan pembaruan liturgi ini. Pada prinsipnya Mediator Dei mengakui dan menyetujui usaha gerakan pembaruan liturgi itu. Mediator Dei menyebut pembaruan liturgi sebagai suatu penyelenggaraan Ilahi bagi zaman ini. Namun, Pius XII juga memperingatkan akan segala usaha pembaruan yang berlebihan. Aksi katolik Joseph Cardijn (seorang Kardina di Belgia) adalah salah satu tokoh penting kalau berbicara mengenai Aksi Katolik di seluruh dunia. Perhatian J. Cardijn pada masalah-masalah social sendiri sebenarnya juga diinspirasi oleh sebuah organisasi di Prancis bernama Le Sillon. Organisasi ini adalah sebuah gerakan yang menekankan peran kaum muda awam Katolik dalam mewujudkan pembaharuan sosial dan demokrasi. Aksi ini muncul pertama kali di Belgia pada tahun 1917 , pada lingkungan pekerja muda Katolik. Saat itu kondisi pekerja muda di Belgia memang cukup memprihatinkan. Banyak terjadi pelecehan seksual terhadap pekerja perempuan remaja, upah yang kurang layak, perlakuan kasar dari pekerja lebih tua, serta pekerjaan yang terlampau berat bagi anak-anak /remaja, dsb. Akibatnya meluas pada kemerosotan moral dan rohani. Kaum muda banyak yang terseret arus sekularisasi (dan industrialisasi) yang cendrung menjauhkan mereka dari Gereja. Pada situasi inilah Cardijn muncul membangkitkan kembali kaum muda Belgia untuk membentuk Aksi Katolik, yang awalnya berbentuk Credit Union, dan kemudian diikuti oleh negara-negara Eropa lainnya seperti Prancis, Italia, dll. Aksi Katolik ini sejak awal menekankan pada kaum 11

muda untuk mandiri; bisa memimpin dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Tujuannya lalu berkembang tetapi tetap ada kesamaan di berbagai negara yaitu, melawan gerakan sekularisme. Dinamikanyapun sama, bergerak dari keprihatinan sosial menuju keprihatinan moral dan spiritual. Gerakan Kritik Sejarah Gerakan Kritik Sejarah adalah adalah cabang analisis sastra yang meneliti asal-usul teks kritik historis adalah seni membedakan yang fakta-fakta benar dari yang palsu tentang masa lalu. Hal ini bertujuan untuk menemukan objektifitas baik dokumen yang telah diturunkan kepada kita dan fakta-fakta itu sendiri. Kita dapat membedakan tiga jenis sumber-sumber sejarah: dokumen tertulis, bukti tertulis dan tradisi. Sebagai sarana untuk mencapai tujuan objektifitas pengetahuan tentang fakta-fakta ada tiga proses penelitian tidak langsung, yaitu: argumen negatif, dugaan, dan argumen apriori. Metode ini diterapkan juga dalam studi-studi Alkitab dengan menyelidiki atau membedah satu teks alkitab lalu membandingkannya dengan teks-teks lain yang ditulis pada saat yang sama, sebelum, atau bersamaan dengan teks tersebut. 16

2. KONSILI VATIKAN II: TERANG BAGI GEREJA DAN DUNIA MODERN
KATA KUNCI: GEREJA SEBAGAI COMMUNIO DAN UMAT ALLAH, WIBAWA KOLEGIALITAS, LITURGI PARTISIPATIF, GEREJA DALAM DUNIA, ANTROPOSENTRISME TEOLOGI , PERUTUSAN DI TENGAH DUNIA, IMAN YANG RELASIONAL, PERAN AWAM: PEMERSATU.

Hasil-hasil Konsili ini tertuang dalam 16 dokumen: 4 Konstitusi Dogmatis (tentang Liturgi, tentang Gereja, tentang Wahyu Ilahi, dan tentang Gereja dalam Dunia Modern), sembilan Dekrit (tentang Ekumenisme, Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja, Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius, Pembinaan Imam, Kerasulan Awam, Kegiatan Misioner Gereja dan tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam), dan tiga Pernyataan (tentang Pendidikan Kristen, Hubungan Gereja dengan Agama-agama Bukan Kristen, dan tentang Kebebasan Beragama). Judul-judul itu menampakkan luasnya jangkauan Konsili ini. Kami berusaha memaparkan secara tematis apa yang
16

http://www.rtforum.org/lt/lt78.html, diunduh pada tanggal 21 April 2010.

12

menjadi magisterium Konsili Vatikan II dan setelahnya kita akan melihat apa yang menjadi ciri utama ajaran Konsili Vatikan II ini serta relevansinya untuk menjawab ‘bagaimana’ Konsili ini memberi sumbangannya bagi perkembangan doktrin Kristiani.
2.1 Gereja yang Memandang Dirinya Sendiri

Perubahan pokok dalam paham Gereja baik pada konsili maupun dalam perkembangan sesudahnya adalah pergeseran titik berat dari atas ke bawah. Gereja tidak lagi bersifat piramidal, melainkan dibangun dari bawah, dari dalam umat-umat yang kecil. Kolegialitas yang mengikutsertakan secara aktif semua uskup dalam pimpinan Gereja, mempunyai pengaruh pada seluruh kehidupan Gereja. Dengan prinsip kolegialitas, ditinggalkan sentralisme Gereja. Sumber inspirasi tidak lagi terletak dalam pusat tertinggi, melainkan dalam umat-umat setempat. Kolegialitas berakar dalam communio.17 Menurut Rahner, Gereja sebagai peristiwa haruslah bersifat lokal dan merupakan jemaat lokal. Gereja adalah 'himpunan manusia yang beriman kepada Allah dalam Yesus Kristus'. Sebagai himpunan, Gereja itu inderawi dan senantiasa perlu diaktualisasikan terus menerus oleh umat yang bersangkutan dalam lingkungan yang kongkrit. Hanya dengan demikian Gereja menjadi aktualisasi iman bersama, bahwa Sabda Allah benar-benar masih selalu hadir di dunia: Menurut Rahner, Gereja menjadi penampakan historis Kehendak penyelamatan Allah yang telah 'terjadi dalam Kristus'. Atau dengan kata-kata Lumen Gentium: “Gereja menjadi sakramen persatuan antara Allah dengan manusia dan antara manusia satu dengan yang lain” (LG 1). Persatuan ini hanya real dalam ruang dan waktu yang kongkrit dan terbatas, khususnya dalam Ekaristi. Maka, Gereja sebagai peziarah, konkret hadir dalam Gereja lokal dan dalam kesatuannya sebagai Tubuh Kristus. Terjadi perubahan dalam ekklesiologi. Perubahan dalam hidup Gereja berarti perubahan dalam pandangan terhadap Gereja. Ekklesiologi Konsili berbeda dengan ekklesiologi Pius XII. Perubahan pokok dalam pandangan terhadap Gereja ini terjadi pada Konsili, dengan penggeseran dari ekklesiologi yang bercorak “Tubuh Mistik Kristus”18 ke arah Gereja sebagai “Umat Allah”. Perubahan ini berarti perubahan dari ekklesiologi yang statis-essentialistis ke arah ekklesiologi yang dinamis-historis. Yang baru bukan paham
17

Tom Jacobs, Di mana letak perubahan dalam Gereja?, Seri Pastoral No. 11, Yogyakarta, Pusat Pastoral, 1979, hlm. 14. 18 Tubuh Mistik Kritus dilihat dalam hubungannya dengan Kristus yang mendirikan dan tetap memimpin Gereja melalui hirarki dan dengan kehadiran Roh Kudus. Gereja dilihat sebagai realitas sosio-korporatif yang tersusun secara organis dan yang diidentifikasi dengan Gereja Roma-Katolik. Maka yang ditonjolkan lebih pada aspek yuridis Gereja, dan terutama fungsi hirarki.

13

Umat Allah, yang sudah terdapat dalam Kitab Suci, melainkan ekklesiologi yang berpola pada Gereja sebagai Umat Allah. Mengapa Konsili menyodorkan kembali paham Umat Allah? Gagasan baru yang diberikan Konsili ingin memperlihatkan sifat historis Gereja, yang hidup “inter tempora”; menempatkan hirarki dalam keseluruhan Gereja sebagai suatu fungsi, sehingga sifat pengabdian hirarki lebih kelihatan. Dengan demikian, lebih nampak pluriformitas Gereja bukan hanya dalam pelayanannya tetapi juga dalam aneka ragam Gereja setempat, tradisi dan kebudayaan. Maka juga dihindari soal tentang keanggotaan Gereja dan semua orang mendapat tempatnya dalam rencana keselamatan Allah. Gereja dilihat dalam sejarah keselamatannya senantiasa berkembang di bawah naungan Roh Kudus. Gereja sebagai misteri dalam perkembangannya dimulai “dari bawah”, dari kalangan umat sendiri. Hirarki jelas hanya mempunyai fungsi pelayanan. Namun tetap dipertahankan aspek sosial dan manusiawi Gereja, tapi tidak lagi ditekankan segi organisatorisnya, malah sebaliknya: lebih diutamakan aspek kharismatisnya. Gereja adalah “komunikasi iman”, di mana orang saling membantu dan saling menyokong dalam kehidupan iman. Apa yang baru dalam paham Umat Allah pada Konsili? Dalam ekklesiologi baru ini tekanan ada pada umat. Perubahan bukan soal kuasa atau pemerintahan di dalam Gereja. Yang pokok ialah bahwa keselamatan dilihat menurut aspek historisnya, dan bukan hanya secara individualistis saja. Subyek keselamatan itu adalah Gereja seluruhnya, yang menghayati dan melaksanakan imannya sebagai komunikasi. Maka, aspek sosio historis iman dan keselamatan tidak ditambahkan, melainkan masuk dalam hakikat Gereja itu sendiri. Gereja sebagai communio adalah subyek iman. Pribadipribadi “di dalam Gereja” itu berarti mengambil bagian dalam iman bersama. Namun tidak secara kolektif dan anonim. Partisipasi ini adalah keterlibatan secara pribadi. Ekklesiologi baru mau meletakkan pusat iman bukan dalam ‘aku’ yang individualistis, melainkan dalam ‘kita’ sebagai subyek panggilan Tuhan. Dengan kata lain, melalui Konsili Vatikan II, Gereja menyadari diri sebagai Umat Allah (LG bab 2). Dan yang dimaksud dengan Gereja, itu bukan hanya awam atau hanya hirarki, melainkan seluruhnya. Sedangkan Hirarki (yang dalam kurun waktu sebelumnya kerap disamakan dengan Gereja) itu baru dibicarakan dalam LG Bab 3. Artinya: Hirarki memang diperlukan sebagai pelayan Umat Allah. Sedangkan awam

14

juga dilihat dalam pengutusannya yang lebih luas bukannya menjadi 'pelengkap penyerta' (atau malah sering 'pelengkap penderita') bagi hirarki melainkan sebagai rekan Hirarki untuk mewujudkan segi sekuler Pengutusan Gereja. Bahkan juga ditegaskan bahwa dalam beberapa segi hidup, hanya awamlah yang mampu menjalankan pengutusan Gereja (LG a.33). Selain itu Konsili Vatikan II juga ingin mengungkapkan dan menjelaskan ajaran tentang para Uskup, pengganti para Rasul, yang dengan Pengganti Petrus, wakil Kristus dan Kepala lahiriah seluruh Gereja bersama-sama memimpin seluruh Gereja (LG a.18). Maksudnya, Konsili Vatikan II mau melengkapi keputusan Konsili Vatikan I perihal Primat dan Ketidak-dapat-sesatan Paus. Dalam hal itu Vatikan II menggarap kembali teologi Episkopal yang dalam perjalanan sejarah Gereja (khususnya dalam abad pertengahan) agak tersisihkan. Ditegaskan lagi kedudukan kolegialitas para Uskup, yang memang hanya mempunyai wewenang dalam kesatuan dengan Uskup Roma sebagai kepalanya serta tanpa menodai kekuasaan primat Paus di atas semua gembala dan umat beriman (LG a.22-23). Dengan prinsip kolegialitas ini Uskup mengambil bagian dalam pemeliharaan rohani Gereja-Gereja partikuler yang lain dan seluruh Gereja Semesta.19 2.2 Liturgi yang ‘Tidak Mengasingkan Umat’ Dalam Gereja sesudah Vatikan II, yang ditinggalkan bukan hanya teologi skolastik, tapi ada pula kecenderungan untuk memutuskan segala hubungan dengan tradisi. Inspirasi dari bawah lebih dipentingkan ketimbang ajaran yang diwariskan. Liturgi dalam Gereja pun mendapat wajah yang “serba baru”. Sebab Paus Paulus VI tidak hanya menghendaki supaya seruan konsili untuk membarui diri dilaksanakan sepenuhnya, tetapi bahkan supaya pembaharuan itu lebih jauh lagi dari apa yang diharapkan konsili.20 Sesudah pengantar teologis tentang peranan liturgi dan khususnya Ekaristi suci yang bagi Gereja penting sekali, Konstitusi Sacrosanctum Concilium menggariskan prinsip-prinsip pembaharuan hidup liturgis Gereja secara mendalam. Upacara-upacara perlu diperbarui sedemikian rupa, sehingga lebih jelas melambangkan misteri penyelamatan dan memungkinkan partisipasi aktif yang lebih penuh oleh semua warga Gereja.
19 20

B.S. Mardiaatmadja, Diktat Ekklesiologi, Jakarta, STF Driyarkara, hlm. 104. B. S. Mardiaatmadja, Diktat Ekklesiologi, hlm. 103.

15

Hal baru yang ditekankan dalam Konsili Vatikan perihal liturgi ialah liturgi tidak lagi dipandang sebagai ‘tindakan’ kaum klerus saja, melainkan semua umat Allah. Maka, partisipasi dan sentuhan personal dalam liturgi pun mulai diperbarui. Salah satu contoh, perubahan penggunaan bahasa. Sebelum konsili, bahasa liturgi yang digunakan adalah Latin, yang hanya diketahui oleh kaum klerus. Konsili juga menekankan kaitan atau hubungan antara liturgi dan Gereja. Dalam Konsili dijelaskan bahwa liturgi merupakan perayaan Gereja semesta. Hal ini tentunya berkaitan pula dengan konsep Gereja sebagai komunio, kesatuan Tubuh Kristus. Konsili Vatikan II menekankan bahwa subyek dari liturgi ialah umat Allah itu sendiri. Maka, perayaan ekaristi juga dilihat sebagai perayaan umat Allah. Perayaan liturgi dalam bahasa nasional memungkinkan partisipasi dari seluruh umat. Dan umat tidak hanya ikut serta, mereka harus menyumbangkan pikiran dan penghayatan dalam membentuk perayaan litugi dan kehidupan Gereja seluruhnya. Kaum beriman berpartisipasi dalam kehidupan dan persoalan Gereja dan dunia.

2.3 Gereja dalam Dunia
Dalam Konsili Vatikan II Gereja mulai membuka diri dengan dunia secara luas dan berupaya tampil dengan wajah pembaharuan yang melibatkan diri pada masalah-masalah dunia, soal-soal sosial, kemiskinan, perang dan damai. Hal ini berangkat dari keinginan para Bapa Konsili untuk memandang Gereja dalam kaitan dengan dunia saat ini. Bersamaan dengan itu ada keinginan memandang dunia mutakhir dengan kaca mata iman. Dunia modern adalah kancah iman mutakhir. Dengan bertolak pada Gaudium et Spes, Gereja menampilkan dirinya dengan cara baru: mau melayani dunia. Teologi juga berusaha untuk semakin mengolah iman dan semakin membumi terhadap kehidupan dunia yang nyata. Tentu saja hal itu terjadi tidak tanpa ketegangan. Prosesnya tetap dibebani oleh ketegangan antara ekstrim progresif atau konservatif. Bagi beberapa pihak, Gereja terlalu lambat melaksanakan keputusan Konsili. Namun, bagi kelompok lain Gereja terlalu radikal dan kurang memperhatikan ortodoksi. Gaudium et Spes dilihat sebagai ringkasan karya konsili maupun penerapan kehidupan di dalam Gereja dan di luar Gereja. Ini merupakan dekret pertama dalam sejarah konsili-konsili ekumenis dan umum yang ditujukan langsung ke dunia yang luas. 16

Gaudium et Spes mempunyai judul resmi: ”Gereja di dalam dunia dewasa ini” dan ingin memperlihatkan ”bagaimana Gereja memahami kehadiran dan usahanya di dalam dunia dewasa ini” (GS 2). Secara khusus ”konsili ingin berbicara kepada semua orang untuk menjelaskan misteri manusia dan untuk turut berusaha memecahkan masalahmasalah utama zaman kita ini (GS 10). Justru di situlah letak pokok konstitusi pastoral ini. Sebab ”Gereja…. Mempunyai tujuan keselamatan dan eskatologik, yang hanya dapat tercapai sepenuhnya di dunia yang akan datang” (GS 40, 2).21 Poros seluruh uraian dari Gaudium et Spes ini adalah manusia, dalam kesatuan dan dalam keseluruhannya, dalam tubuh dan jiwa, dengan suara hati, budi, dan kehendak” (GS 3). Manusia dengan segala integritas yang dimiliki tersebut serupa dengan Gambar dan Rupa Allah.22 Dan lebih tegas lagi diuraikan dalam GS 40, 1: “Semua yang telah kami katakan tentang martabat pribadi manusia, tentang masyarakat manusia, dan tentang arti mendalam kegiatan manusia, semua itu merupakan dasar untuk hubungan antara Gereja dan dunia.23 Dunia dalam konteks ini adalah dunia manusia, di mana seluruh keluarga manusia dengan alam semesta yang di tengahnya manusia hidup. Apa yang disebut ”hubungan antara Gereja dan dunia” adalah pertama-tama hubungan antara dua pola dalam kehidupan orang beriman sendiri, sesuai dengan paham Gereja yang sakramental. Manusia disebut ”dunia” sejauh ia sebagai subjek otonom berhadapan dengan Allah. Ia disebut ”Gereja” sejauh hubungannya dengan Allah terungkap dalam bentuk yang khusus, yang lazim disebut ”agama” (sakramen). Yang dipanggil oleh Allah, dan yang dirahmati dalam Kristus, bukan Gereja melainkan dunia. Gereja mengartikulasikan iman dunia.24 Maka, apa yang disebut dialog antara Gereja dan dunia, sebenarnya tidak lain daripada dialog antara manusia sendiri sebagai subjek otonom (GS 36) dan sebagai anggota Gereja. Titik pangkalnya bukan Gereja melainkan dunia sebagai perwujudan otonomi manusia.Berangkat dari pemahaman itu, Gereja tidak lagi menempatkan diri di samping dunia (seperti terjadi dalam eklesiologi mengenai ”Gereja dan Negara”). Gereja dan dunia adalah satu, yaitu manusia menurut dua aspek relasinya dengan Allah. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian yaitu: Bagaimana di dalam Gereja, manusia dapat hidup sebagai subjek otonom yang bertanggung jawab secara pribadi atas hidupnya sendiri, dan atas hidup sesama manusia? Dan lebih khusus lagi: sejauh mana
21 22

Dr. Tom Jacobs, SJ, Gereja menurut Vatikan II, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 33 Anthony O. Erhuech, Vatican II: Image of God in men, Roma: Urbaniana University Press, 1986, hlm. 1-2 23 Ibid. hlm 34 24 Ibid.

17

Gereja membantu orang menghayati iman sebagai realitas hidup.

2.4 Dunia sebagai Kancah Iman
Iman merupakan jawab manusia konkrit terhadap sapaan nyata Tuhan di tengah kancah sebagaimana adanya. Luk 24:48 dan Yoh 21:24 memperlihatkan betapa para Rasul meyakini bahwa pengutusan utama mereka adalah "menjadi saksi" mengenai "seluruh peristiwa Yesus Kristus". Kis 1:8 menjadi lukisan awal dari hal-hal yang dianggap sebagai titik pangkal hidup Gereja: kesaksian merupakan intisarinya juga. Kesaksian itu akan diwujudkan dalam aneka tindakan seperti ditampilkan oleh (misalnya Kis 2: 41-47) persekutuan, pelayanan sosial, pengudusan dan pewartaan. Kesaksian itu menjadi wujud dari jawab mereka atas pewartaan yang disampaikan oleh Petrus pada Kis 2: 1-40, yang pada gilirannya menjadi wujud dari tanggapan Petrus atas pesan Yesus Kristus sebagaimana misalnya terungkap dalam Mat 28: 18-20 untuk mewartakan Kabar Gembira, menguduskan umat Allah dan menggembalakan mereka. Tak terhitung jumlah awam dam rohaniwan, biarawan dan biarawati telah mencoba untuk hidup sebagaimana dituntut oleh Kabar Gembira Yesus Kristus guna menjadi saksiNya. Berkat mereka itu Yesus Kristus terasa hadir di segala lapisan masyarakat, terutama di antara rakyat terpencil dan tersisih. Di situ mereka mewartakan kabar Gembira, mendarahdagingkan cintakasih yang dituangkan oleh Roh demi peningkatan komprehensif perwujudan harkat manusia: ringkasnya menjadi saksi bahwa Injil Yesus Kristus memiliki kemampuan untuk meningkatkan dan mempermulia kemanusiaan. Meskipun begitu dengan rendah hati harus kita akui pula, bahwa ada sejumlah umat kristiani yang beragama secara egoistik, atau secara individualistik atau secara schizophrenik, dengan kurang sekali memperhatikan pesan misioner imannya bahkan tidak jarang dengan berbuat tidak adil.

2.5 Kriteria Iman
Menurut Kitab Wahyu 1:5 Kristus adalah pewarta perdana dari Kabar Gembira dan saksi setia dari keinginan Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. Ia mewartakan Kabar Gembira dengan memberi kesaksian yang taat azas mengenai apa yang telah Dia dapat dari Bapa. Ia melakukan apa yang diketahuiNya dilakukan Bapa (Yoh 5:19). Kata-kata, tindakan, wafat dan kebangkitanNya menjadi tindak kesaksian bahwa Ia telah datang dari Bapa.

18

Umat kristiani yang sejati bersatu dengan Yesus Kristus. Mereka dipanggil untuk memberikan kesaksian yang sama pada giliran mereka. Melalui aneka perbuatan mereka memberi kesaksian mengenai cintakasih Bapa bagi umat manusia, mengenai daya kekuatan ilahi yang memungkinkan Yesus menyelamatkan seluruh umat manusia dari dosa maupun akibat-akibatnya, mengenai daya cinta yang dicurahkan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam umat manusia. Cintakasih ini mampu menciptakan persatuan baru antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia satu sama lain (bdk. LG art.1). Karya umat kristiani dibimbing oleh Roh Kudus. Bentuknya diungkapkan oleh Yakobus berupa cintakasih, prsekutuan, partisipasi, solidaritas, penguasaan diri, kegembiraan, harapan, keadilan yang dicapai melalui perdamaian (bdk. Yak 3:18). Kecuali itu kesaksian itu juga kelihatan dalam kemurnian, pemberian diri tanpa menantikan imbalan dan segala yang mendekatkan kita dengan sumber kekudusan. Semuanya itu dalam tradisi disertai dengan perayaan sakramen-sakramen, doa dan penghormatan yang sehat kepada Santa Perawan Maria. Jadi, kesaksian sejati umat kristiani adalah pernyataan karya Allah yang sedang dilaksanakan di tengah umat manusia. Kesaksian itu dilakukan oleh umat manusia tidak berlandaskan pertama-tama pada kemampuan-kemampuan manusiawinya, melainkan pada kepercayaannya pada Daya Ilahi dari Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang mengubah mereka serta pada pengutusan yang diberikan Allah kepada seluruh umat. Kesaksian adalah unsur penting dalam pewartaan Injil. Kesaksian juga merupakan kondisi hakiki yang diperlukan agar pewartaan dapat berdayaguna dan berhasilguna dalam situasi nyata (bdk. Evangelii Nuntiandi/EN 21, 49, 76). Oleh sebab itu dalam hidup Gereja dan kegiatan pewartaannya, Gereja Indonesia harus menampilkan segi kesaksian. Hanya apabila sungguh meresapi segala kegiatan gerejawi, maka kesaksian iman menjadi efektif dalam konteks masyarakat setempat dan menjadi suatu tanda yang membawa rakyat untuk ingin (lebih) mengetahui Kabar Gembira dan mengakui, bahwa Allah sekarang inipun hadir di antara manusia untuk menyelamatkan. Bila mengingat situasi hidup rakyat kita, maka buah hadirNya Roh yang menjadi inti kesaksian kita memuat implikasi-implikasi tertentu bagi kita. Seluruh jemaah (rohaniwan, awam, biarawan/biarawati) haruslah hidup dalam proses terus menerus

19

untuk kritis kepada diri sendiri, dalam terang Injil, baik pada taraf perorangan, keluarga/komunitas, kelompok atau lingkungan atau wilayah atau paroki serta keuskupan dan nasional. Dengan upaya itu sedikit demi sedikit kita semua dapat memancarkan wajah Kristus. Pilihan pertama sikap pastoral kita adalah: bahwa jemaah kristiani sendiri (baik imam maupun awamnya, baik biarawan maupun biarawatinya) harus semakin bertobat kepada Injil agar dapat mewartakan Injil kepada orang lain. Lebih dari itu, kita, sebagai jemaah, perlulah memeriksa persekutuan kita dan keterlibatan kita kepada rakyat jelata yang miskin dan hina-dina. Artinya kita harus membuka mata dan telinga untuk menangkap keluh kesah mereka, menghargai mereka dan menawarkan upaya menemukan kejelasan makna hidup, usaha membesarkan hati mereka serta jalan memperbaiki situasi mereka. Kita harus mempersilahkan Tuhan untuk membimbing kita sedemikian sehingga kita dapat betul-betul menciptakan persatuan lahir-batin dengan mereka dalam satu tubuh dan satu Roh. Hal itu menuntut dari kita suatu hidup dalam doa yang lebih bersungguh-sungguh; suatu kesediaan untuk merenungkan sabda Kitab Suci dan suatu kesiagaan untuk menanggalkan hak-hak istimewa, cara berpikir, ideologi, relasi-relasi khusus dan milik-milik materiil kita (EN 76); suatu hidup yang lebih sederhana; suatu keterlibatan yang nyata terhadap tugas besar memeratakan milik; kerjasama tulus dalam masyarakat demi kepentingan umum; dan segala karya karitatif juga. Begitulah seharusnya umat beriman menjadi saksi Kristus, menjalankan 'martyria'. GS 1 memperlihatkan, bahwa Gereja menyadari bahwa dirinya ada di tengah masyarakat. Tetapi selanjutnya GS memperdalam refleksinya bahwa masalah pokok di situ bukan 'Gereja dan Masyarakat' melainkan Gereja dan Dunia. Dan Gereja di situ berarti "Paguyuban Umat manusia ini sejauh beriman kepada Allah dalam Yesus Kristus berkat Roh Kudus" (dan itu sejauh mengakui ketergantungannya kepada Allah), sedangkan 'Dunia' dipahami sebagai "Paguyuban Umat manusia ini sejauh otonom di hadapan Allah". 2.6 Peran Awam Dalam Gereja ada ”kesamaan antara semua hal martabat dan kegiatan umum sekitar

20

pembangunan Tubuh Kristus” (LG art. 32). Di sini disinggung soal imam dan awam. Memang peranan hirarki dalam membangun Tubuh Kristus dalam dunia adalah penting, namun ada hal yang khas dari Konsili Vatikan II dan sangat ditekankan peranannya, yaitu awam. Awam adalah bukan-imam dan bukan-biarawan; dengan satu kekhususan ini bahwa ”ciri khas dan istimewa kaum awam adalah sifat sekularnya”. Pernyataan konstitusi bahwa awam ”secara khusus dipanggil untuk menghadirkan, mengaktifkan dan mempersatukan Gereja di tempat-tempat dan dalam keadaan, di mana Gereja tidak bisa menjadi garam dunia selain melalui mereka” (LG art.33), masih searah dengan pikiran Pius XII yang dikutip di sini: Awam sebagai pelengkap dan penyambung kerasulan hierarki.25 Untuk tetap menghadirkan, mengaktifkan dan mempersatukan Gereja dalam dunia, ada dua macam pemersatu dalam Gereja yaitu Pemersatu Batiniah dan Pemersatu Lahiriah. 2.6.1 Pemersatu Batiniah26 Kita tahu, bahwa dalam setiap pengelompokan sosial selalu ada satu ide, satu pemersatu batin, yang membuat anggota-anggotan dapat berkata "kami" atau "kita" Gereja juga mempunyai pemersatu batiniah. Tetapi pemersatu batiniah Gereja tidak sekedar ide atau cita-cita, melainkan seorang Pribadi yaitu Roh Kudus sendiri. Dialah prinsip persatuan antara Bapa dan Putera; Dia pula yang menjadi pembentuk 'kami/kita', penghubung pribadi, yang sendiri juga pribadi. Dialah yang menjiwai Yesus Kristus, dan memadukan keilahian dan keinsanianNya. Perpaduan itu pula yang diwariskanNya kepada Gereja. Berkat Roh Kudus maka pribadi-pribadi banyak dalam Gereja mempunyai satu jiwa-pemersatu: menjadi 'kami/kita'. Dia berada dalam setiap pribadi warga Gereja. Di dalam pemikiran di atas ada pemahaman mengenai "Corporate Personality", yang merupakan gagasan sentral baik dalam PL maupun dalam PB. Berlandaskan hal itu lebih mudahlah kita dapat memahami ucapan "Paguyuban Umat Beriman sebagai Tubuh Kristus" seperti dalam Kis 9:4 dst; jemaat itu satu dalam Kristus (Gal 3:28) atau malah Jemaah-Kristus (1 Kor 1:13; 8:12; 12:12) dan Kristus beserta Gereja menjadi satu Manusia Baru (Ef 2:15) serta malah Manusia Sempurna (Ef 4:13). Dan pengikat semuanya itu adalah Roh.

25 26

Dr Tom Jakobs, hlm. 55-56 Berdasarkan Diktat Eklesiologi Rm Mardiatmadja, SJ untuk STF Driyarkara, Jakarta: STF Driyarkara, 2006.

21

Secara ringkas: Paguyuban Umat Beriman dapat disebut sebagai Kesatuan atas satunya Jiwa (Roh Kudus) dalam aneka pribadi yang beriman pada Kristus. Roh Kudus yang menghidup Sabda Yang Berinkarnasi, sekarang menghidupkan paguyuban umatNya sebagai kesatuan dalam ruang dan waktu pula. Jadi kehadiran terus menerus Yesus Kristus dalam sejarah, sebagaimana berkat Roh Kudus Kristus merupakan Sakramen Bapa, demikian pula berkat Roh Gereja merupakan Sakramen Kristus, Sang Terang Bangsa-bangsa. 2.6.2 Pemersatu Lahiriah 27 Dalam bahasa gerejani awam diistilahkan 'laicus' yang berasal dari bahasa Yunani 'laikos' (yang termasuk/dari rakyat). Dalam rangkaian pengertian teologik, awam berarti mereka yang tidak termasuk kelompok orang yang mempunyai kekuasaan dalam Gereja. Dalam Kitab Suci pemisahan ini kena dalam pembedaan antara kawanan ternak dan gembala (Kis 20:28.31; 1 Ptr 5:3), antara bangunan dan pembangun (1 Kor 3:5-9; 2 Kor 3:4 dst), yang dalam jaman para Bapa Gereja jelas dipakai oleh Klemens Alexandria, Tertullianus, Origenes dan Cyprianus. Dengan begitu tidak mau dikatakan, seakan-akan awam hanya menjadi obyek belaka atau menjadi pendukung lingkungan yang berdosa. Sebab semua warga Gereja (juga klerus) itu menerima kekuasaan, bukan pembuat atau pemiliknya. Apa lagi dalam Kitab Suci juga jelas, bahwa semua saudara dalam Kristus dipanggil untuk mendapat warisan sebutan Putera, membangun Rumah Allah yang kudus dan bangsa milik Allah yang kudus (1 Ptr 2:5.9 dst; 1 Kor 3:16 dst; Ef 2:19-22; Ibr 10:21 dst). Maka dari itu 'awam' diartikan positif: orang yang dibaptis, warga (bukan obyek) Gereja, sehingga memiliki peran aktif dan tanggung jawab dalam Gereja serta termasuk dalam Umat Suci Allah (1 Ptr 2:10), harus menjadi saksi dari rahmat Allah yang dalam Kristus merupakan penebusan. Kesaksian itu terjadi dengan seluruh hidupnya (juga dengan kata-katanya). Dengan begitu awam ikut ambil bagian dalam penugasan Gereja untuk mengangkat keterarahan intrinsik manusia dalam segala seginya (kebudayaan dan sejarah) dengan menantikan dan menyambut Kerajaan Allah; untuk ikut merayakan persembahan Gereja sebagai bagian penuh Gereja; untuk menjalankan tugas misionaris ke luar. Awam pun juga dapat menerima kharisma-kharisma khusus yang sering dipergunakan oleh Allah untuk memimpin GerejaNya, walaupun dalam hal itu awam tersebut membawahkan kharismanya dengan
27

Ibid.

22

penuh ketaatan kepada Gereja seluruhnya melalui pemimpin resmi Gereja. Apabila awam membantuk klerus dalam tugasnya, disebut 'Actio Catholica'. Apabila bantuan awam itu menjadi tugas 'fulltime' hendaknya dia dimasukkan saja dalam kalangan klerus. Sebab tugas utama awam adalah terlibat dalam dunia, tempat dia menyampaikan baktinya kepada Allah dan memberikan kesaksiannya atas Kerajaan Allah. Awam juga harus hidup sedemikian sehingga pelaksanaan tatadunia dan strukturnya terjadi secara serasi dan kristiani dan berarti bagi keselamatan dunia. Sebab dengan begitu perwujudan setiap manusia dan dunia terlaksana, yang akhirnya harus sampai kepada Allah. Begitulah seluruh jemaah mewujudkan iman bahwa Allah sungguh telah menjadi manusia.

3. BAGAIMANA KONSILI VATIKAN II MEMBARUI GEREJA?
KATA KUNCI: MISTERI GEREJA YANG PNEUMATIS, KONSILI DEMI HIDUP GEREJA, EKUMENIS SELUAS UMAT MANUSIA, KUTUB SETIA DAN KREATIF, PASTORAL: PENGHAYATAN IMAN DALAM KONTEKS HIDUP, KUTUB ‘MANUSIA’ DAN ‘ALLAH’.

Setelah melihat isi besar Konsili Vatikan II secara tematik dan umum, baiklah kita melihat bagaimana Konsili ini sungguh membarui Gereja. Konsili Vatikan II sungguh membarui Gereja justru karena ia senyatanya menjiwai makna sesungguhnya Konsili Ekumenis yang memiliki keprihatinan luar biasa dalam sisi pastoral. 3.1 Keistimewaan Konsili Vatikan II (?) Berbicara mengenai keistimewaan Konsili Vatikan II tidak bisa lepas dari Konsili Vatikan I. menurut Kieser, Konsili Vatikan I merumuskan tempat dan tugas paus dalam gereja dan khususnya infallibilitas paus dalam pengajarannya yang resmi mengenai hal iman dan moral, supaya tersedia bagi gereja suatu sarana untuk memberikan jawaban tegas dan tangkas terhadap masalah pastoral. Menurut Tom Jacob, fungsi infallibilitas Paus serupa dengan inspirasi, dicari dasar yang kokoh kuat untuk iman akan sabda Allah.28 Pada konsili vatikan II ini sedikit berbeda tekanannya jika dibandingkan dengan Konsili Vatikan I. sejak Konsili Vatikan I, selalu ada usaha untuk lebih menekankan segi misteri dan segi pneumatis Gereja. Gereja dilihat bukan pertama-tama secara horisontal menurut konstitusi historisnya, tetapi secara vertikal sebagai kehadiran Tuhan yang mulia. Gereja, sebagai misteri rahmat, dilihat dari sudut umat beriman. Dengan
28

Tom Jacobs, “Latarbelakang Dekat Konsili Vatikan II”, Spektrum 14, 1986, 63.

23

keterlibatan seluruh umat mau dihapus faham gereja yang piramidal. Namun kebanyakan bapa konsili tidak suka akan ide “Tubuh Mistik”, karena dianggap terlalu kabur. Maka istilah ini tidak ada dalam konsili vatikan I. dengan Perang Dunia I tergoncangkan kepercayaan akan organisasi dan otoritas. Maka sesudah Perang Dunia I timbul lagi banyak perhatian untuk Tubuh Mistik khususnya sebagaimana diuraikan dalam KS dan patristik. Karangan ini menekankan karya rahmat dan sering mengembangkan tema tubuh mistik sebagai dasar untuk moral dan spiritualitas. Di dalamnya pandangan spiritualistis dikawinkan dengan pandangan yuridis-institusional, sedemikian rupa sehingga kekhasan pandangan spritualitas hilang. Tubuh diartikan sebagai organisasi, badan institusional. Hanya anggota Gereja Katolik adalah anggota tubuh Kristus. Hal ini ditegaskan dalam ensklik Humani generis dari Paus Pius XII. Di dalamnya dikatakan bahwa Tubuh Mistik Kristus seluruhnya sama dengan Gereja Roma Katolik.29 Konsili Vatikan II memiliki kekhasan dalam pembaruan-pembaruan. Konsili vatikan II tidak lagi menerima pandangan konsili vatikan I mengenai “Mystici corporis”. Oleh karena itu, konsili vatikan II mengemukakan gagasan baru mengenai misteri dan umat Allah. faktor utama pembaruan adalah perkembangan hidup Gereja sendiri. Orang tidak hanya mulai sadar akan arti sakramen, khususnya ekaristi, tetapi terutama mulai sadar mengenai fungsi umat sebagai keseluruhan. Kesadaran ini mendapat rumusan resmi dalam “Mediator Dei” (1947). Dalam proses kesadaran diri sebagai Gereja Kristus dimainkan peranan yang amat penting oleh Gerakan ekumen, yang mulai di kalangan protestan tetapi lama kelamaan mempunyai pengaruh dalam Gereja Katolik. Titik awal resminya adlah “Edinburgh Missionary Conference” (1910). Namun akar-akarnya terletak dalam gerakkan misi yang mempertemukan Gereja-gereja dalam karya pewartaan.30 3.2 Jiwa sebuah ‘Konsili’ Untuk menjelaskan kata konsili, Norman P. Tanner mengkaitkan dengan sinode. Baru pada akhir-akhir ini saja mulai dibedakan antara konsili dan sinode. Perbedaannya antara konsili dan sinode demikian. Sinode mempunyai peran memberi nasehat atau konsultasi. Sedangkan konsili mempunyai kekuasaan legislatif dan eksekutif. Pembedaan ini tertera dalam kanon 342-248 KHK 1983.31 Oleh sebab itu, pembedaan
29 30

Tom Jacobs, “Latarbelakang Dekat Konsili Vatikan II”, 65. Tom Jacobs, “Latarbelakang Dekat Konsili Vatikan II”, 65. 31 Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, Kanisius, Yogyakarta 2003, 16.

24

itu merupakan sebuah pembaruan yang belum lama diadakan dan hanya berlaku untuk Gereja Katolik Roma. Hingga tahun 1960an dan oleh karenanya hampir selama masa yang akan diamati dalam buku iuni, istilah sinode dan konsili praktis merupakan sinonim. Menurut Norman, dua kata ini dapat diharapkan demikian karena dalam bahasa Inggris (dan pasangan kata serupa dalam kebanyakan bahasa eropa: synode, concile dalam bahasa Prancis, sinodo, concilio, yang berarti rapat tanpa ada muatan ciri penasihatan atau ketatalaksanaannya. Baginya, mulai dari saat ini, demi lancarnya, konsili adalah kata yang biasa digunakan karena kata itu lebih merupakan istilah yang biasa dalam bahasa Inggris.32 Menurut Kieser, konsili berasal dari kata concilium (= bahasa latin). Dengan kata concilium dimaksudkan suatu pertemuan yang sudah sekian kali sepanjang sejarah telah diadakan dalam Gereja Katolik. Di antara gereja-gereja protestan, kata concilium dipakai untuk usaha kesatuan yang berlangsung antara gereja-gereja kristen sedunia bersama dengan organisasinya, yakni World Council of Churches. Di tahun delapanpuluhan (abad 20), kata konsili bahkan dipakai untuk peristiwa-peristiwa perjumpaan antar agama. Maksud pertemuan untuk membangkitkan dan mengungkapkan keprihatinan bersama akan justice, peace and integrity creation. Dengan demikian, kata konsili mempunyai arti ekumenis, artinya menyangkut kepentingan seluruh dunia yang dihuni manusia. Maka, diharapkan setiap konsili selalu bersifat ekumenis.33 Menurut Kieser, pada tanggal 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII resmi mengumumkan akan ada Konsili Vatikan II. Bagi Paus Yohanes XXIII, konsili diadakan bukan untuk kemajuan rohani umat kristiani saja. dalam konsili, Paus mengundang semua kelompok dan golongan umat yang kini berpisah untuk mencari kesatuan yang didambakan oleh begitu banyak di bumi. Menurut Kieser, mengakui dan menerima konsili berarti mengusahakan hidup gereja dan memang konsili diadakan untuk mengusahakan hidup gereja, bukan untuk menghasilkan rumusan.34 3.3 Mengapa disebut ‘Ekumenis’? Dalam menjelaskan Konsili Vatikan II sebagai salah satu konsili ekumenis, ada masalah yang harus dihadapai sehingga konsili harus ekumenis. Adapun masalah pokok dari
32 33

Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, 17. Benhard Kieser, Diktat Kuliah Sejarah Dogtrin Gereja, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 2005, 162. 34 Benhard Kieser, Diktat Kuliah Sejarah Dogtrin Gereja, 163.

25

konsili ekumenis adalah supaya khasanah suci dari ajaran kristiani dipelihara dan dijaga serta diajarkan lebih berdampak. Ajaran itu menyangkut seluruh manusia, tubuh, dan jiwanya; dan mendorong dia yang adalah musafir dan peziarah untuk terus menerus mengarahkan pada surga. Konsili disebut ekumenis karena pada umumnya mempunyai kekuatan mengikat untuk semua orang kristiani sebagaimana dibedakan dari konsilikonsili setempat yang hanya memiliki kekuatan mengikat pada satu tempat atau untuk satu masa saja.35 Berdasarkan sejarah gereja, konsili ekumenis pernah terjadi sebelum zaman modern. Menurut Norman, ada tujuh konsili yang diakui sebagai konsili ekumenis baik oleh Gereja Timur maupun Gereja Barat karena konsili itu diadakan sebelum terjadi skisma dua Gereja pada abad 11, yakini Konsili Nicea I, Konsili Konstantinopel I, Konsili Efesus, Konsili Kalsedon, Konsili Konstantinopel II, Konsili Konstantinopel III, Konsili Nicea II.36 Lalu pada zaman modern, ada tiga konsili yang bisa dikatakan ekumenis, antara lain: Konsili Trente, Konsili Vatikan I, dan Konsili Vatikan II.37 Dari situ menjadi jelas, bagaimana hidup kita memenuhi kewajiban dan tugas kita sebagai warga bumi dan warga surga. Dengan demikian, manusia mencapai tujuan hidup yang ditetapkan Allah. maka, semua orang dipersatukan dalam masyarakat, kini wajib terus-menerus selama hidup di dunia mengarahkan diri untuk mencapai hal surgawi. Oleh karena itu perlu suatu ajaran yang berdampak di aneka bidang aktivitas manusia, pribadi, keluarga, dan masyarakat. Gereja tidak boleh meninggalkan kebenaran yakni warisan suci yang diterima bapa-bapa Gereja. Kewajiban kita bukan hanya memelihara warisan suci itu, melainkan sungguh-sungguh tanpa takut melibatkan diri pada karya dan usaha yang kini dituntut dari kita. Berdasarkan realita itu, konsili vatikan II tidak hanya memelihara warisan berharga itu. Dengan cara baru dan semangat apostolis yang kristiani katolik, Konsili Vatikan II mengharapkan suatu langkah maju, supaya kita memperdalam ajaran dan membentuk suatu kesadaran, setia dan seluruhnya sesuai dengan ajaran otentik. Lain halnya inti pokok dari suatu ajaran lama yang termasuk dalam khasanah iman adalah cara ajaran yang dikemukan. Justru yang terakhir ini membutuhkan perhatian besar.
35 36

Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, 18. Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, 27. 37 Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, 18. Namun menurut Norman, ketiga konsili di zaman modern ini dipertanyakan mengenai keekumenisannya. Atas pertanyaan itu, Norman tidak menjawab secara langsung.

26

Dengan kesabaran yang tepat, kita mesti menilai dan mengukur segala sesuatu, mewujudkan, dan membentangkan suatu magisterium yang bersifat pastoral. Tujuannya baik sebagai penggembalaan iman umat atas ajaran-ajaran yang menyesatkan. Lalu bagaimana konsili ekumenik dalam Konsili Vatikan II dijalankan? Konsili vatikan II menolak skema komisi persiapan mengenai dua sumber wahyu (kitab suci dan tradisi); kemudian pokok itu diolah kembali dan dirumuskan kembali menjadi konstitusi dogmatik dei verbum tentang wahyu ilahi. Konsili tidak mau meninggalkan agenda kontra-reformasi dan mulai bicara dengan gereja-gereja reformasi mengenai imanwahyu, mengenai kitab suci dan tradisi iman kristiani sebagai inti hidup gereja. Konsili tidak mau membicarakan pokok yang memisahkan gereja katolik dan gereja-gereja reformasi melainkan mau membicarakan pokok yang mempersatukan gereja-gereja. Yang penting dari pernyataan ekumenik adalah kutipan dari bapa gereja yang bukan hanya hiasan melainkan menandakan kesatuan tradisi yang hidup dalam semua gereja; lebih penting dari sekedar pertemuan ekumenik adalah cara konsili berpikir mengenai liturgi, yakni wujud dasar gereja kita temukan dalam paguyuban yang berkumpul dalam ekaristi. Perayaan ekaristi dan semua sakramen bersifat anametik dan epikletik. Lebih penting pneumatologi mendapat tekanan baru dalam teologi trinitas dan bahwa kristologi menjadi dasar kembali akan dimensi kosmik dan eskatologik. Dalam arti “katolik-teknik”, Konsili Vatikan II bersifat ekumenik karena dihadiri oleh uskup-uskup Gereja Katolik seluas dunia. dalam arti “eklesiologis-teologis”, konsili vatikan II bersifat ekumenik, karena konsili mempertahankan keaslian gereja RomaKatolik sebagai gereja Kristus yang apostolik (Bdk LG.8) dan sekaligus mengakui serta menghormati makna gerejani dari gereja-gereja yang bukan katolik roma. Maka kesatuan gereja tidak lagi dapat diartikan “kembali ke dalam organisasi gereja RomaKatolik. Kesatuan berarti usaha untuk tinggal dalam komunikasi. Untuk membangun komunikasi, orang lain sebagai sesama justru karna dia lain. dan waktu membicarakan hubungan gereja dengan agama-agama bukan kristiani dan terutama dalam konstitusi pastoral Gaudium et Spes kelihatan, bahwa komunikasi ekumenik tidak boleh dibatasi pada keakraban antar gereja kristiani. Ekumenik kesatuan antar semua manusia.38
38

hanya berarti kalau memajukan

Benhard Kieser, Diktat Kuliah Sejarah Dogtrin Gereja, 169.

27

3.4 Sebuah Konsili yang Pastoral Dalam dokumen Konsili Vatikan II yang disebut dengan dekret pastoral adalah Gaudium et Spes (GS). Gaudium et Spes berisi tentang Gereja di dunia dewasa ini. Dekret yang panjang ini dapat dilihat baik sebagai ringkasan konsili maupun penerapan kehidupan di dalam Gereja dan di luar Gereja. Ini adalah dekret pertama dalam sejarah konsili ekumenis dan umum yang ditujukan langsung ke dunia yang lebih luas. Konsili Vatikan II tidak hanya berhadapan dengan putra-putri Gereja yang menyerukan nama Kristus tetapi kepada semua orang. Dokumen ini berbicara langsung dengan masuk ke rincian hidup ini beserta kesulitan-kesulitannya maupun dambaan kita akan kehidupan abadi. Tentu titik tolaknya positif terhadap seluruh usaha manusia.39 Kieser menjelaskan bahwa Konsili Vatikan II bersifat pastoral. Dalam perdebatan mengenai skema tentang dua sumber wahyu, sudah muncul pemikiran mengenai arti dan maksud pastoral. Alasan dari pembela skema yang menyatakan bahwa teks memang bersifat pastoral adalah demi kegembalaan, ajaran katolik harus tegas dan tidak boleh dicairkan menjadi basa-basi ekumenik. Magisterium mewujudkan sikap pastoral terutama dengan suatu pengajaran yang tegas. Yang dimaksud Konsili Vatikan II bersifat pastoral untuk membina iman, dapat dibedakan dari ajaran doktrinal, yakni usaha untuk mengatur bahasa yang dipakai dalam lingkungan gerejani. Dalam arti ini, dokumen konsili vatikan II memuat juga sejumlah pokok doktrinal, seperti umpamanya ajaran mengenai sacramentalitas tahbisan uskup, ajaran mengenai colegialitas. Dari pernyataan doctrinal dibedakan dengan pernyataan pastoral. Pernyataan pastoral bersifat praktis, tetapi tidak boleh merupakan penyelesaian kasus-kasus semata. Pastoral bermaksud mewujudkan iman asli dalam konteks hidup yang unik dan pribadi yang sosial dan pastoral. Jika mau berbicara pastoral harus mengetahui kenyataan hidup lebih dahulu, manusia harus dibicarakan secara jujur, kita menafsirkan dengan tepat. Hal itu diusahakan dalam konsili. Disebut pastoral kalau yang dibicarakan iman dengan perhatian khusus penghayatan iman dalam konteks hidup.40 3.5 Kutub ‘Manusia’ dan ‘Allah’

39 40

Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, 132. Benhard Kieser, Diktat Kuliah Sejarah Dogtrin Gereja, 171.

28

Semua pembaruan Konsili Vatikan II yang dijabarkan ini mengasumsikan adanya pandangan tertentu yang menjiwainya. Anthony O. Erhuech dalam Vatican II: Image of God in Men, menangkap bahwa Konsili ini berjalan dengan semangat dan keprihatinan baru bagaimana doktrin harus menyentuh manusia (Kristen) dalam hidup kesehariannya dan dunianya. Anthony O. Erhuech dengan sangat baik menyebutkan 13 tesis penting yang mewarnai seluruh ajaran Konsili Vatikan II. Tesis-tesis inilah yang menjadi ciri khas Konsili ini bila dibandingkan dengan Konsili-konsili sebelumnya karena ia menjadi contoh nyata bagaimana kutub ‘Allah’ dan ‘manusia’ dihadapi secara seimbang dan selanjutnya memberi sebuah ciri ‘antisipatif’ dalam perkembangan doktrin Konsili Vatikan II di masa yang akan datang. Anthony O. Erhuech menulis dalam dua bagian besar, yaitu: a. Manusia yang otonom41 1. Manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab. Manusia berhak dan bebas untuk mengambil sikap dan keputusan terhadap ikatan dan relasi-relasi yang ada. Karena dosa, hak dan kesadaran manusia disalahgunakan menjadi kecenderungan-kecenderungan egosentrisme. 2. Pembangunan hidup bersama memberi tempat kepada manusia untuk mempraktekkan kebebasan dan tanggung jawab tersebut. 3. Manusia memang bebas. Namun sungguh tidak pernah lepas dari keterikatan. Yang menjadi soal adalah: apakah keterikatan itu menghilangkan hak dan tanggung jawabnya sebagai manusia atau tidak. Pembangunan adalah pembebasan manusia dari ikatan yang menghalanginya untuk menjadi manusia penuh. Pembangunan adalah pembaharuan bentuk-bentuk ikatan struktur kemasyarakatan dan kebudayaan. 4. Ikatan komunal selalu melingkupi manusia yang bermasyarakat. Namun ia tetap merupakan makhluk berpribadi dengan segala hak dan kewajibannya. Hidup kemasyarakatan dan hidup orang per orang harus seimbang dan saling melengkapi. Pembangunan adalah pembebasan manusia dari ikatan yang menghalanginya untuk hidup dan berkembang sebagai manusia yang bebas dan bertanggung jawab, termasuk hak dan tanggung jawabnya terhadap dan dalam ikatan-ikatan komunal di mana dia hidup. 5. Manusia juga diikat oleh alam. Sebab manusia merupakan bagian dari alam dan sekaligus harus mengatur, menguasai dan memanfaatkannya. Hal ini harus
41

Istilah ini diambil dari Anthony O. Erhuech, Vatican II: Image of God in men, hlm. 228, point-point yang dijabarkan bertolak dari Anthony O. Erhuech, Vatican II: Image of God in men, Roma: Urbaniana University Press, 1986, hlm 198-230.

29

dilaksanakan dalam kebebasan dan tanggung jawabnya terhadap Allah dan sesama. Pembangunan adalah usaha meningkatkan nilai-nilai dan martabat manusia. Berhasil tidaknya usaha itu tergantung pada kemampuan manusia untuk mengatur dan memanfaatkan alam itu secara bertanggung jawab dan tidak diperbudak oleh alam dan pandangan hidupnya mengenai alam. Justru manusia memang tidak dapat melepaskan diri dari hukum alam; untuk mengatur dan memanfaatkannya diperlukan keberanian dan kebebasan mempergunakan seluruh kemampuannya. Di sini tampak peranan ilmu dan teknologi sebagai alat di tangan manusia. 6. Historisitas manusia memainkan peranan dalam memahami pembangunan dunia.Sebab pembangunan dapat dilihat sebagai suatu proses terus menerus sampai akhir jaman. Di dalam proses itu manusia memperkembangkan diri terus menerus pula. Dengan begitu manusia harus lalu senantiasa memperbaharui diri dan rela diperbaharui serta mengambil keputusan dalam setiap situasi di mana dia terlibat. Menyerah kepada nasib tidak terdapat dalam kamus ini. Manusia harus selalu berusaha mengubah situasi tempat dia berada untuk semakin menyejahterakan hidupnya. Ini merupakan cita-cita manusia seluruhnya tanpa kecuali. Bagi orang kristiani ini merupakan panggilan iman yang berjalan bersama dengan tugas pengutusan Kristus. Maka pelaksanaannya dalam naungan Roh. 7. Kerja perlu dilihat dengan mata iman pula. Setiap usaha pembangunan adalah usaha yang penuh arti dalam terang pewartaan Kerajaan Allah. Juga setiap usaha yang kecil dan sederhan sekalipun. Asal itu dikerjakan dengan tanggung jawab sebagai pekabar Injil. Dalam pembangunan manusia dipanggil untuk memperkembangkan dan mengubah situasi untuk kesejahteraan bersama dan bukan untuk mengeksploitasikan sesama. Maka pembangunan tergantung pada kegiatan manusia sebagai pribadi dalam kesatuan dengan sesama dan lingkungannya. 8. Keluarga yang bertanggung jawab merupakan tempat orang dibina sejak dini untuk mempersiapkan peransertanya dalam penyejahteraan bersama. Setiap keluarga, demi kesejahteraan bersama, harus merencanakan pola hidupnya secara bertanggung jawab. Itu dikerjakan dalam rangka menjawab Rencana Penyelamatan Allah dalam situasi dan kondisi konkret.42
42

RT. Rev. Conrad De Vito, The Second Vatican Council at the Glance, Roma: ST. Paul Publication, 1966, hlm. 156

30

b. Manusia dalam korelasinya dengan Allah43 9. Allah menyatakan diri melalui peristiwa-peristiwa dalam sejarah umat manusia. Maka dari itu dalam setiap situasi ruang dan waktu yang tertentu kita harus mencari kehendak Allah dan rencanaNya. 10. Kehendak Allah dalam setiap situasi konkret tidak selalu nampak secara langsung. Untuk dapat menangkapnya kita dalam tanggung jawab di hadapan Allah dan sesama harus menggumuli dan mengambil sikap terhadap situasi konkret, dengan sepenuh keyakinan, kebebasan dan tanggung jawab. 11. Maka dari pembangunan yang sejati adalah usaha manusia menuju kepada manusia dengan tatarelasi baru dengan Allah, sesama dan alam di mana dia hidup. 12. Kritus datang supaya syalom dapat dinikmati oleh manusia sekarang dan kepenuhannya pada akhir jaman. Maka syalom juga berati penciptaan manusia baru dalam Kristus dan pengutusan Kristus mencakup humanisasi. 13. Setiap peningkatan nilai dan martabat manusia secara penuh (humanisasi) yang dilakukan oleh siapa pun, disadari atau tidak, adalah hasil karya Penyelamatan Kristus dalam Roh.

4. KRITIK ATAS KONSILI VATIKAN II
KATA KUNCI: KONSERVATIF, KONSILI MELAWAN HISTORITAS KRISTIANITAS, DOKTRIN MURNI, PIJAKAN BARU GEREJA.

Konsili Vatikan II telah memberi angin segar dengan menjujung ide dasar yakni “agiornamento” (pembaharuan). Konsili Vatikan II telah memberikan banyak perubahan bagi gereja. Namun demikian tidak dapat dipungkiri adanya beberapa pandangan yang muncul sebagai “kritik” terhadap terlaksananya Konsili Vatikan II. Pandangan-pandangan tersebut umumnya muncul dari para kaum konservatif yang menjunjung tinggi inti tradisi dan nilai gereja Katolik. Mereka berpendapat bahwa konsili Vatikan II telah menjauhkan Gereja Katolik dari prinsip-prinsip penting dari iman Katolik historis; termasuk44: 1. Kepercayaan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya gereja Kristiani yang dibangun oleh Yesus sendiri, dengan demikian tidak ada yang lain di luar gereja Katolik.
43 44

Bdk. Anthony O. Erhuech, hlm. 189-198 Sumber internet www. Konsili Vatiakn II. com

31

2. Kepercayaan bahwa gagasan modern akan kebebasan beragama adalah kesalahan. 3. Tekanan yang pantas untuk "Empat Hal Terakhir" (Kematian, Pengadilan, Surga, dan Neraka). 4. Kepercayaan bahwa setiap kitab dari Kitab Suci adalah sempurna. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa konsili Vatikan II adalah penyebab utama berkurangnya iman kepercayaan Katolik dan hilangnya pengaruh Gereja di dunia barat. Mereka berpendapat lebih lanjut bahwa Vatikan II mengubah fokus gereja dari menyebarkan kabar keselamatan jiwa menjadi memperbaiki situasi keduniawian umat manusia. Gereja sudah mulai masuk dalam tataran duniawi dan melupakan hal inti yang palingpenting yakni menyelamatkan jiwa-jiwa. Ada juga tanggapan lain bahwa Konsili Vatikan II pada akhirnya hanya memunculkan dokumen-dokumen yang "tidak berkelanjutan dan rapuh". Dari interpretasi ini, Paus Benediktus XVI menegaskan di depan Kuria Roma tanggal 22 Desember 2005 bahwa semua dokumen Konsili dimaksudkan untuk "menyebarkan doktrin-doktrin secara murni dan menyeluruh, tanpa pengurangan maupun penyimpangan". Dokumendokumen itu tidak akan rapuh dan terus berlanjut. Dengan demikian semua asas kebenaran tetap berlaku sepanjang zaman. “Kebenaran Tuhan tetap berlangsung selama-lamanya,” dan inilah keyakinan awal ketika konsili hendak dimulai.45 Gereja setelah konsili ataupun sebelum konsili adalah gereja Katolik yang sama, yakni gereja yang satu kudus, katolik dan apostolik. Inti gereja tidak berubah. Yang berubah adalah bagaimana Gereja memposisikan dirinya dalam dunia (bdk LG. 8).46 Konsili telah memberi bagi gereja yang terbaik bagaimana Gereja harus berpijak.

5. KONSILI VATIKAN II: MEMANDANG MASA DEPAN
KATA KUNCI: HERMENEUTIC OF DISCONTINUITY VS. HERMENEUTIC OF REFORM, INTERPRETASI MENGATASI TEKS, IMPETUS, DIALEKTIKA PENGARANG-TEKS-PENERIMA, TEGANGAN, FAITH IN PROGRESS, KONSILI YANG BERSIFAT ‘ANTISIPATIF’, LOKALITAS (TEOLOGI ASIA).

5.1 Hermeneutika: Kebenaran yang Berani Menantang Diri Sendiri

45 46

Diktat Kisah Iman Rm Kiseeser, SJ, hal 61. Matthew L. Lamb, Matthew , Vatican II, Oxford, New York, 2008, xiv.

32

Paus Benedictus XVI melihat bahwa saat ini ada trend teologi modern baru yakni hermeneutic of discontinuity yaitu keterputusan hermeneutika atas sejarah Gereja dari Gereja Pra Konsili Vatikan II dengan Gereja Pasca Konsili Vatikan II. Hermeneutic of discontinuity ini berhadapan dengan hermeneutic of reform yaitu semangat pembaharuan, perkembangan di dalam kelanjutan dari satu Gereja yang sama, Gereja sebagai subyek yaitu umat Allah yang sedang berziarah.47 Konsili harus dipahami dalam kelanjutan tradisi Gereja dan pada saat yang sama kita harus membuka diri untuk diterangi oleh doktrin yang ada dalam konsili.48 Konsili Vatikan II dituduh merupakan konsili yang sarat dengan kompromi-kompromi yang berujung pada kebulatan suara, tetapi Paus Benedictus XVI berpendapat bahwa semangat dari Konsili Vatikan II justru menjadi impetus bagi temuan-temuan baru di dalam teks hasil Konsili Vatikan II tersebut. Selanjutnya para pembaca dokumen Konsili Vatikan II diajak untuk berani melampaui apa yang tertulis dalam teks (beyond the text), mengikuti spirit dari Konsili Vatikan II dan tidak melulu memfokuskan diri pada teks Konsili Vatikan II serta menyediakan ruang bagi kebaharuan dan kedalaman. Hermeneutic reform digagas oleh Paus Yohanes XXIII untuk menanggapi hermeneutika diskontinuitas, ia berpendapat bahwa hermeneutic reform bertolak dari deposit iman yang kemudian diteruskan, dibawa, ditularkan dan dikirimkan. Integralitas dan otentisitas dari doktrin tentang ajaran hendaknya tetap dipertahankan, tanpa pengurangan atau penyimpangan, dan dari sinilah sintesa antara iman dan tuntutan zaman yang dinamis akan membuahkan hidup baru dan ispirasi. Selanjutnya Paus Paulus VI melihat kemunculan hermeneutika diskontinuitas sebagai akibat dari tematema antropologis yang menekankan dimensi kemanusiaan dan dunia kontemporer saat ini. Sedangkan Pius mengingatkan Gereja Katolik akan maraknya liberalisme liberal dan pengembangan serta pengagung-agungan ilmu pengetahuan, oleh karenanya hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan harus didefinisikan ulang. Gereja Katolik selalu diajak untuk berdialektika dengan tema-tema yang terkait dengan : metode historis kritis terhadap Kitab Suci, resourcement dan aggiornamento, perkembangan ilmu pengetahuan, isu toleransi dan kebebasan yang berhubungan
47

Pope Benedict XVI, “A Proper Hermeneutic for the Second Vatikan Council”, dalam Matthew L. Lamb and Matthew Levering, Vatikan II: Renewel Within Tradition, Oxford University, New York, 2oo8, x-xi. 48 Ormond Rush, Still Interpreting Vatikan II: Some Hermeneutical Principles, Paulist Press, New York 2004, 2-3.

33

dengan pembentukan negara modern. Hermeneutika meliputi tiga unsur yakni pengarang (author), teks (text) dan penerima (receiver, the addresse), dialektika antara unsur-unsur tersebut akan menghasilkan tegangan hermeneutika antara kontinuitas dan diskontinuitas di berbagai level ajaran Gereja dan “reception of event”.49 Sumbangan Konsili Vatikan II adalah melanjutkan apa yang sudah diusahakan dengan baik oleh Thomas Aquinas yakni menjembatani antara iman dan ilmu pengetahuan, dialog antara iman dan ilmu pengetahuan ini dikembangkan melalui dialektika yang terungkap dalam ketegangan yang kreatif antara open mindedness dan clear discerment terhadap berbagai aspek dari peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami. Dengan demikian ciri yang paling menonjol dari Konsili Vatikan II adalah sifat antisipiatifnya terhadap perkembangan iman dan hidup manusia itu sendiri. Konsili ini tidak bersikap reaktif terhadap tegangan yang dialami dunia dan Gereja – seperti yang terjadi dengan Konsili Trente dengan rumus ‘anathema sit’-nya. Konsili ini juga tidak bersikap ‘overdogmatik’ seperti Konsili Vatikan I yang terkenal dengan solusi (atau masalah baru?) ‘infallibilitas Paus’-nya. Konsili ini mulai dengan merefleksi manusia dalam hubungannya dengan sang Pencipta dan memiliki keprihatinan luas untuk menjawab masalah-masalah kontemporer. Konsili Vatikan II memberi dasar luas-kokoh dengan setia pada tradisi dan pada saat yang sama membarui pula tradisi itu berdasar masukan dari banyak pihak. Karenanya, Konsili ini berhasil menetapkan model refleksi yang dapat diterapkan untuk masa-masa yang akan datang; sebuah model refleksi yang memampukan Gereja meng-antisipasi perkembangan dunia. 5.2 Perkembangan Teologi (Berjiwa Sungguh) Asia: Hormat pada Lokalitas50 Antisipasi Gereja terhadap perkembangan dunia paling jelas ditemui dalam hormat Konsili terhadap kebenaran-kebenaran periferi ketika mengembangkan teologi. Dalam konteks ini, Konsili Vatikan II memberi warna baru dalam usaha berteologi yang sungguh berangkat dari dan bagi lokalitas. David M. Thompson dalam tulisannya, Introduction: mapping Asian Chrsitianity in the context of world Christianity,
49

“Event” adalah sejarah terjadinya KV II yang meliputi: undangan untuk mengadakan konsili oleh Paus Yohanes XXIII tahun 1959 dan masa-masa persiapan KV II, debat dan voting dari tahun 19621965, interaksi internal antara para uskup dan para teolog, kerja dari komisi-komisi khusus hingga publikasi hasil kerja komisi pada tanggal 7 Desember 1965. Reception of event berarti usaha hermeneutika yang dilakukan oleh sekelompok penafsir untuk memaknai arti umat Allah, peristiwaperistiwa, tradisi dan teks. Bdk. Ormond Rush, Still Interpretingg Vatikan II: Some Hermeneutical Principles, 2004, 2-3 50 Disarikan dari David M. Thompson, “Introduction: Mapping Asian Christianity in the Context of World Christianity” dalam Sebastian C.H. Kim, Christian Theology in Asia, Cambridge University Press, Cambridge, 2008, 3-21.

34

memaparkan adanya dua poin besar yang mewarnai perkembangan teologi. Pertama, adanya jarak yang signifikan antara teologi dalam konteks keilmuan dengan konteks (pemimpin) Gereja. Kedua, teologi bukanlah sesuatu yang ‘umum’ dan ‘sama’ saja, karena ia tumbuh dan berkembang dalam lokalitas dan temporalitas yang tertentu pula. Teologi sebagai disiplin ilmu seringkali harus mengalami tegangan dengan agenda (pemimpin) Gereja. Gereja sebagai institusi tampak lebih mendukung perkembangan teologi yang memberi dasar langsung pada perangkat tugas-tugas pelayanan Gereja, seperti: sakramen dan doktrin-doktrin justifikasi serta keselamatan. Sementara, teolog akademis memilih untuk mendalami bagaimana seharusnya Injil dimengerti dan bagaimana pergulatan iman itu dapat menemukan hubungan dengan cabang ilmu lain – seperti: filsafat dan ilmu pengetahuan lain – serta berbuah dalam praksis hidup seharihari. Eropa dan Amerika Utara memberi tempat sangat besar dalam pencarian para teolog akademis ini. Teologi diterima sebagai suatu ‘mata ajaran’ yang penting dalam universitas dan sekloah tinggi mereka dan ini sebabnya mengapa perkembangan teologi sangat berbau Eropa dan Amerika Utara. Corak Eropa dan Amerika Utara tetap saja begitu kuat mewarnai agenda teologi global.Ini sebabnya mengapa agenda Asia, Afrika atau Amerika Latin tidak begitu terdengar. Dengan keistimewaan yang dimiliki dua benua besar itu, para teolog Barat menerima semacam ‘hak’ untuk menentukan arah refleksi orang-orang beriman atas Gereja; padahal Gereja sendiri memiliki banyak wajah.51 Tentu saja kita harus mengingat pula bahwa para pemimpin Gereja Katolik pada dua benua itu juga memegang peran penting untuk mengukuhkan otoritas refleksi teologis mereka, hingga refleksi teologis barat seolah diterima sebagai kebenaran umum – apalagi dalam Abad Tengah – yang berlaku untuk semua orang Kristen. Gerakan reformasi menolak otoritas Gerejawi dalam menentukan refleksi teologis dan sepanjang berjalannya waktu, para teolog Katolik di luar dua benua itu juga mendapat inspirasi dari gerakan reformasi ini. Pada abad ke-20, pasca Konsili Vatikan II yang memberi tempat pada kekayaan lokal, para teolog Amerika Latin mulai berani mengembangkan teologi pembebasan yang berangkat dari keprihatinan setempat. Teologi pembebasan segera menjadi ‘tren’ dalam
51

Bdk. David M. Thompson, “Introduction: Mapping Asian Christianity in the Context of World Christianity,” 3-7.

35

teologi global dan menjadi contoh bahwa kiblat teologi global juga dapat ditemukan di luar benua Barat. Bagaimana sumbangan terbesar Konsili Vatikan II ini ditanggapi di Asia dalam konteks perkembangan teologi lokal? Di Asia sendiri, perkembangan teologi mendapat inspirasi sekali lagi dari gerakan reformasi. Jemaat Protestan Asia pada awal abad ke-20 telah merasakan kebutuhan untuk menjadi mandiri dan tidak lagi tergantung pada misionaris asing yang berasal dari Barat. Inilah sebabnya, mengapa teologi dalam gereja protestan di Asia dapat berjalan lebih dahulu dibanding teologi dalam gereja Katolik Roma di Asia. Perkembangan teologi di Asia ‘berhutang’ besar pada para misionaris Barat dan hal ini sedikit banyak menjadikan Kristianitas ‘asing’ bagi penduduk Asia. Gerakan teologi Asia sendiri, menurut Thompson, berawal dari India. Banyaknya teolog India yang pulang setelah belajar di Eropa dan Amerika Utara, seperti: Stanley Samartha (yang berusaha membangun Kristologi baru dalam terang perjumpaan dengan agama-agama lain), memberi atmosfer dan dorongan untuk menciptakan teologi yang khas India. Korea, dengan tradisi yang kuat dan panjang, juga memberi sumbangan berharga bagi perkembangan teologi Asia. Situasi politis yang ada selama Perang Korea, selama penjajahan Jepang, dan selama menjadi sekutu Amerika Serikat mengantar para teolog Korea untuk membentuk teologi Minjung, yang dimulai dengan sangat sederhana: dengan mengisahkan penderitaan rakyat yang ada di bawah rezim totaliter Korea Utara. Teologi ini membawa dampak politis yang revolusioner pada saat itu. Hal-hal senada juga dialami oleh jemaat beriman di Cina, di Jepang, Vietnam, Bangladesh, Indonesia dan Filipina. Perkembangan teologi Asia dimulai dengan latar belakang pergulatan politik dan perang dengan segala penderitaannya. Awal abad ke-20 dimulai dengan dua perang besar dunia di wilayah Barat dan Timur. Kemiskinan memperparah situasi Asia yang sudah hancur oleh perang. Asia menjadi korban yang jauh lebih menderita bila dibandingkan warga di Barat. Kemiskinan inilah yang menjadi titik tolak refleksi teologis kedua, setelah penderitaan perang. Inilah mengapa teologi ‘dalit’ sangat menjadi terkenal di India dan Korea. ‘Dalit’ adalah kasta terendah dalam sistem masyarakat India dan diterjemahkan harafiah sebagai ‘mereka yang tak (dapat) tersentuh’. Titik refleksi ketiga – dan sekaligus yang dapat membuat para teolog Eropa

36

dan Amerika Utara berpikir ulang tentang bangunan teologi mereka – adalah hadirnya bermacam-macam tradisi religius dan agama yang begitu kaya. Walau Kristianitas berasal asli dari wilayah Asia, ia hanya menjadi bagian kecil saja dari penduduk negaranegara Asia, kecuali: Filipina dan Korea. Orang-orang Kristen Asia telah lama memikirkan kenyataan banyaknya tradisi religius di sekitarnya sebagai sarana pewahyuan diri Allah sendiri. Tentu saja banyak pertanyaan yang akan mucul di seputar soal soteriologi dan kristologi, namun semua itu harus dibaca sebagai kesempatan untuk dengan sungguh hati mempertanggungjawabkan klaim-klaim iman Kristiani dalam semangat dialog dan pewartaan. Titik tolak refleksi teologi Asia selanjutnya adalah isu perempuan. Usaha para teolog feminis Asia layak mendapat pujian karena sungguh memberi inspirasi pada gerakan teologi global. David M. Thompson dalam tulisannya ini juga tidak lupa menggarisbawahi pentingnya peran gerakan pentakosta yang lebih ‘luwes’ dan bebas dalam liturgi, sehingga menjadi sangat populer di kalangan rakyat Asia – terutama di wilayah Korea. Hal ini seringkali membawa salah kaprah di kalangan teolog Barat yang sangat memperhatikan soal-soal hukum dan aturan. Akhirnya, dalam seluruh perkembangan teologi Asia inilah para teolog Barat terutama harus melihat bagaimana teologi berangkat sungguh dari kenyataan hidup sehari-hari dan dapat menjadi pedoman hidup masyarakatnya yang sangat beragam. Konsili Vatikan II berperan sangat besar terhadap pengakuan sumber lokal kebenaran iman Krsitiani yang direfleksikan dalam teologi. Sisi pragmatisme teologi juga dapat lebih berbicara dan menggigit kenyataan lokal Asia yang masih sarat kemiskinan, kekerasan dan ketidakadilan struktural. World Christianity dilihat oleh Konsili Vatikan II dalam bentuk penghargaan yang lebih besar bagi perkembangan teologi lokal – terutama yang lebih menyentuh bagi kita: teologi yang sungguh berjiwa Asia. 5.3 Konsili Vatikan III: Kemungkinan dari Iman yang Selalu Berkembang (?) Pada titik ini, perlulah kita menyadari pula bahwa Konsili Vatikan II adalah sebuah peristiwa yang telah 45 tahun berlalu. Dinamika pergerakan dunia terus berubah selama nyaris lima dekade terakhir dan memunculkan soal-soal baru. Soal-soal baru itulah yang banyak diangkat oleh Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya yang terbaru, Spe Salvi. Dalam terang soal-soal zaman baru inilah hasil Konsili Vatikan II masih harus

37

menemukan penyesuaiannya. Kami kutipkan sebagian artikel 16 dan artikel 17 dari Spe Salvi ini: (16) What is the basis of this new era (of modernity)? It is the new correlation of experiment and method that enables man to arrive at an interpretation of nature in conformity with its laws and thus finally to achieve ‘the triumph of art over nature’ (victoria cursus artis super naturam)... (it) lies in a new correlation between science and praxis. This is also given a theological application: the new correlation between science and praxis would mean that the dominion over creation – given to man by God and lost through the original sin – would be reestablished... (Up) to that time, the recovery of what man had lost through the explusion from Paradise was expected from faith in Jesus Christ. Here in lay ‘redemption’. Now this ‘redemption’; the restoration of the lost ‘Paradise’, is no longer expected from faith, but from the newly discovered link between science and praxis. It is not that faith is simply denied; rather it is displaced onto another level – that of purely private and other worldly affairs – and at the same time it becomes somehow irrelevant for the world. (17) ... Joy at visible advances in human potential remained a continuity confirmation of faith in progress as such! Usaha besar manusia dalam menguasai alam selama lima dekade terakhir berkembang sangat pesat dan menjadi sumber utama bergesernya ranah iman ke dalam level privat bagi orang zaman ini. Bagaimana Konsili Vatikan II masih dapat berbicara tentang dan bagi dunia dalam situasi semacam ini bila titik tolak utama Konsili adalah titik tolak kristologis – yang tidak lagi dapat menjadi dasar kuat bagi orang-orang sekular. Setelah banyak pembaruan di banyak bidang dilaksanakan dalam Gereja, apakah ia sanggup menghadapi serbuan alam post-modernitas yang justru bertendensi dekonstuktif yang mencoba meruntuhkan pusat-pusat keyakinan religius dengan penjelasan ilmiah dan saintifik. Dalam satu segi, Gereja sangat berhati-hati menanggapi aneka kemajuan yang terjadi selama ini. Dari segi lain, Gereja sendiri seolah sulit menemukan pendasaran yang berdaya guna untuk menemukan jawab atas masalah itu bila kultur masyarakat cenderung indifferent terhadap suara agamis. Menghadapi tantangan yang makin besar ini (dan yang akan lebih besar dalam tahun-tahun mendatang), masihkah Konsili Vatikan II mampu berbicara bagi hidup banyak orang? Bagaimana persisnya ‘sukacita atas kemajuan-kemajuan nyata potensi manusia itu pada waktu yang sama dapat mengukuhkan iman sebagai tanggapan yang selalu ada dalam perkembangan?’ Mungkinkah kita membutuhkan sebuah Konsili Vatikan III untuk dapat menjawabnya?

6. PENUTUP: KEBENARAN YANG BERANI MENANTANG DIRI
38

Sebagai peristiwa, Konsili Vatikan II mempunyai pengaruh yang besar sekali. Dalam kenangan Gereja, Konsili ini merupakan pengalaman pertama pelaksanaan kolegial Kewibawaan tertinggi Gerejawi. Gereja, yang samapai saat itu sering membanggakan sifatnya yang tetap dan tak ter-ubah-kan menjalani evaluasi diri yang mendalam dan bersifat kritis terhadap dirinya. Banyak sikap dan strateginya ditinjau kembali dan ditantang dalam terang Injil dan dalam konfrontasi dengan kebutuhan-kebutuhan zaman sekarang.52 Sampai saat ini, Konsili Vatikan II masih menggaungkan gemanya dan menunjukkan pada dunia bahwa Gereja sebagai Peziarah di tengah dunia juga ingin selalu menghadirkan Kristus yang diimaninya. Tentu saja perdebatan dan aneka usaha meng-aktual-kan seruan Konsili ini masih terus hangat sampai saat ini. Dalam semuanya ini, kita sungguh layak bersyukur bahwa Konsili Vatikan II pernah ada. Konsili ini adalah salah satu bentuk nyata Gereja yang secara dinamis terus berproses ‘menantang dirinya sendiri’ dalam usaha mewujudkan diri secara nyata; usaha yang sekaligus menampilkan kesungguhan dan kekuatan imannya akan Yesus Kristus yang meraja dahulu, sekarang dan sepanjang masa.

52

Bdk. Robert Hardawiryana, “Konsili Vatikan II: 1962-1965 – Sebuah Pengantar” dalam Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardiwiryana, Dokpen KWI 1993, xxii-xxiii.

39

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->