P. 1
Review Proyek Tata Ruang

Review Proyek Tata Ruang

|Views: 467|Likes:

More info:

Published by: Ainun Dita Febriyanti on Jun 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/14/2015

TUGAS IV MANAJEMEN PROYEK

Review Proyek
Penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah
Oleh : Raditya Dwi Indrawan Alifiana Hafidian R. Sisca Henlita Hesti Martadwiprani Ainun Dita Febriyanti M. Emil Widya P. Daniel Yedidia W.

3609 100 004 3609 100 012 3609 100 013 3609 100 014 3609 100 019 3609 100 021 3609 100 039

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2012

BAB I – PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sebuah proyek dapat diartikan sebagai upaya atau aktifitas yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan harapan-harapan penting dengan menggunakan anggaran dana serta sumber daya yang tersedia yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Aktifitas atau kegiatan pada proyek merupakan sebuah mata rantai, yang dimulai sejak dituangkannya ide, direncanakan kemudian dilaksanakan, sampai benar-benar memberikan hasil yang sesuai dengan perencanaannya semula. Proyek dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas baru atau kebutuhan baru yang dirasa perlu, artinya mengadakan usaha yang benarbenar baru atau merupakan kelanjutan dan usaha yang sudah ada sebelumnya yang memerlukan tambahan atau perbaikan yang diinginkan. Selain itu, proyek dibutuhkan sebagai sarana penelitian dan pengembangan dari suatu fenomena yang muncul di masyarakat, setelah itu dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Proyek umumnya bersifat sementara (dalam kurun waktu terbatas) dan dilakukan atas dasar keperluan mendesak karena adanya tuntutan pengembangan. Dalam suatu pelaksanaan proyek perlu koordinasi dan kerjasama antar organisasi maupun antara semua stakeholders secara solid dan terstruktur untuk merealisasikan tujuan yang ingin dicapai secara jelas. Masalah yang timbul dalam proyek seringkali menghambat suatu pengerjaan proyek secara keseluruhan. Seringkali dalam pengaturan sumber daya manusia, anggaran, serta waktu yang tidak tepat mengakibatkan proyek terlambat diselesaikan, bahkan proyek itu berhenti di tengah jalan. oleh karena hal tersebut, selalu dibutuhkan pengaturan, pengelolaan dan pengarahan agar tidak menyimpang dari jalan yang seharusnya. Begitu juga dengan suatu proyek, agar proyek yang dikerjakan bisa bermanfaat dan terstruktur maka dibutuhkan pengelolaan yang baik. Diperlukan adanya suatu pengaturan manajemen untuk mengorganisir atau mengelola segala sesuatu tentang proyek, dari awal pengerjaan hingga selesai, seluruh aktifitas proyek harus berorientasi pada pencapaian sasaran. Manajemen tersebut berfungsi sebagai wadah untuk menuangkan konsep serta ide-ide dalam proyek, pengelolaan apabila terjadi masalah, serta mengorganisir sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya. Jadi dapat dikatakan bahwa manajemen proyek merupakan suatu rangkaian tanggung jawab yang berhubungan erat satu sama lainnya yang berfungsi untuk mengorganisir proyek yang sedang dijalankan agar mencapai tujuan yang diinginkan.

1

1.2 Rumusan Masalah Proyek memiliki keterbatasan-keterbatasan yang memerlukan pengelolaan yang baik dan terarah agar tujuan akhir proyek bisa tercapai. Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah: Permasalahan manajemen apa yang dialami oleh CV. Singajaya Konsultan dalam melaksanakan proyek RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah serta rekomendasi apa untuk menangani permasalahan tersebut ?

1.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menguraikan permasalahan manajemen yang terjadi pada proyek penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah dan memaparkan implementasi teori manajemen proyek pada proyek tersebut. Sedangkan sasarannya yaitu: 1. Mengetahui gambaran umum proyek penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah . 2. Mengidentifikasi permasalahan yang terdapat dalam proyek penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah . 3. Menganalisa kesesuaian pelaksanaan manajemen penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah. 4. Menyusun lesson learned terkait dengan upaya untuk mengatasi persoalan manajemen proyek penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah.

1.4 Ruang Lingkup Pembahasan Adapun ruang lingkup pembahasan dalam penulisan makalah ini meliputi permasalahan manajemen proyek, implementasi teori manajemen proyek, serta lesson learned terkait dengan upaya untuk mengatasi persoalan manajemen proyek. Pada studi kasus yang diambil, yakni proyek penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah .

2

BAB II – TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Proyek Proyek didefinisikan sebagai sebuah rangkaian aktivitas unik yang saling terkait untuk mencapai suatu hasil tertentu dan dilakukan dalam periode waktu tertentu pula (Santosa, 2009 dalam Chase et al, 1998). Menurut PMBOK Guide (2004), suatu proyek memiliki karakteristik penting yaitu: a. Sementara (temporary); berarti setiap proyek memiliki jadwal yang jelas kapan proyek tersebut dimulai dan dilaksanakan. Suatu proyek dikatakan berkahir jika tujuannya tercapai atau kebutuhan terhadap proyek itu tidak ada lagi sehingga proyek tersebut dihentikan. b. Unik; artinya setiap proyek menghasilkan suatu produk, solusi, service atau output tertentu yang berbeda-beda satu dan lainnya. c. Progessive elaboration; setiap proyek terdiri dari langkah-langkah yang terus berkembang dan berlanjut sampai proyek tersebut berakhir. Setiap langkah semakin memperjelas tujuan proyek.

2.2 Definisi Manajemen Proyek Dalam Santosa (2009), manajemen proyek adalah aplikasi pengetahuan (knowledges), keterampilan (skills), alat (tools) dan teknik (techniques) dalam aktifitas-aktifitas proyek untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan proyek. Manajemen proyek dilaksanakan melalui aplikasi dan integrasi tahapan proses manajemen proyek yaitu initiating, planning, executing, monitoring, controlling, dan diakhiri dengan closing keseluruhan proses proyek tersebut. Dalam pelaksanaannya, setiap proyek selalu dibatasi oleh kendala-kendala yang sifatnya selalu mempengaruhi yaitu lingkup pekerjaan, biaya, dan waktu. Adapun faktor lain yang perlu dijaga yaitu hubungan baik dengan pelanggan (customer relation). Faktor-faktor tersebut biasa dikaitkan dalam segitiga project constraint.

3

Gambar 2.1 Pembatas dalam Pelaksanaan Proyek (Kerzner, 2003)
Customer Relation

Lingkup Pekerjaan Resources

Biaya

Waktu

Dalam gambar tersebut ditunjukkan bahwa dalam pencapaian tujuan proyek perlu diperhatikan batasan waktu, biaya, lingkup pekerjaan dengan memanfaatkan resource yang kita miliki. Dalam pelaksanaan proyek dapat terjadi tawar-menawar (trade off) antara berbagai pembatas. Jika kualitas hasil ingin dinaikkan, akan membawa konsekuensi kenaikan biaya maupun waktu. Begitupun sebaliknya, jika biaya ditekan dengan kurun waktu pelaksanaan yang tetap, maka kualitas yang didapat akan menurun.

2.3 Metode untuk Menangani Kegiatan Proyek Adapun metode yang spesifik untuk menangani kegiatan proyek diantaranya sebagai berikut: a. Merencanakan Menyusun secara cermat urutan pelaksanaan kegiatan ataupun penggunaan sumber daya bagi kegiatan tersebut agar proyek dapat diselesaikan secepatnya dengan penggunaan sumber daya sehemat mungkin. b. Mengorganisir Membuat susunan organisasi dengan menggunakan susunan organisasi matriks agar tercapai penggunaan sumber daya secara optimal. c. Memimpin Memimpin dalam bentuk koordinasi dan integrasi yang arus kerjanya vertikal dan horisontal menyilang lini.

4

d. Mengendalikan Metode pengendalian yang sensitif, yakni yang dapat mengungkapkan atau mendeteksi penyimpangan sedini mungkin dengan konsep earned value dan C/S-CSC. e. Staffing Pengadaan tenaga kerja, jumlah, maupun kualifikasi yang diperlukan bagi pelaksana kegiatan, termasuk perekrutan, pelatihan, dan penyeleksian untuk menempati posisi dalam organisasi.

2.4 Ukuran Keberhasilan Proyek Suatu proyek dianggap sukses jika bisa mencapai tujuan yang diinginkan dengan memenuhi syarat sebagai berikut: ● ● ● ● ● ● ● Dalam waktu yang dialokasikan Dalam biaya yang dianggarkan Pada performansi atau spesifikasi yang ditentukan Diterima customer Dengan perubahan lingkup pekerjaan minimum yang disetujui Tanpa mengganggu aliran pekerjaan utama organisasi Tanpa merubah budaya (positif) perusahaan

2.5 Definisi Rencana Detail Tata Ruang Menurut Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah rencana pemanfaatan ruang Wilayah Kota secara terperinci yang disusun untuk penyiapan perwujudan ruang dalam rangka pelaksanaan programprogrampembangunan Kota. Rencana Detail Tata Ruang Kota juga merupakan rencana yang menetapkan blok-blok peruntukan pada kawasan fungsional kota, sebagai penjabaran “kegiatan” ke dalam wujud ruang, dengan memperhatikan keterkaitan antar kegiatan fungsi dalam kawasan, agar tercipta lingkungan yang serasi, selaras, seimbang dan terpadu.

2.6 Work Breakdown System Sebuah proyek yang komplek agar mudah dikendalikan harus diuraikan dalam bentuk komponen-komponen individual dalam struktur hierarki atau yang lebih dikenal dengan Work Breakdown System. WBS merupakan elemen penting karena memberikan kerangka yang membantu, antara lain:

5

1.

Penggambaran program sebagai ringkasan dari bagian-bagian yang kecil

2. Pembuatan perencanaan 3. Pembuatan network dan perencanaan pengawasan 4. Pembagian tanggung jawab 5. Penggunaan WBS ini memungkinkan bagian-bagian proyek yang terdefinisi dengan jelas Gambar 2.2 Diagram Struktur WBS

6

BAB III - PEMBAHASAN
3.1 Latar Belakang Proyek Dalam pelaksanaan pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) di Kabupaten Lombok tengah secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak-dampak baik positif maupun negatif pada wilayah sekitarnya baik secara ekonomi, sosial budaya dan juga lingkungan. Dampak yang diperkirakan akan muncul sehubungan dengan adanya pembangunan Bandara Internasional Lombok adalah adanya peningkatan pergerakan transportasi di sepanjang jalan akses BIL menuju kawasan pariwisata pantai Kuta, mengingat salah satu tujuan dari adanya pembangunan bandara ini adalah untuk meningkatkan kegiatan pariwisata di Lombok. Pergerakan transportasi yang nantinya akan muncul dari Bandar Udara Internasional Lombok menuju Kawasan Pariwisata Pantai Kuta adalah berupa transportasi darat yang pada umumnya selalu berdampak pada percepatan pertumbuhan dan gerak ekonomi pada wilayah yang dilaluinya. Selain memberikan percepatan pertumbuhan ekonomi, adanya pergerakan transportasi juga berdampak dengan adanya penggunaan lahan di sepanjang jalan akses yang sering kali merupakan kegiatan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan perencanaan. Sehubungan dengan dinamika perkembangan jalan akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta, maka dibutuhkan suatu instrumen untuk mengarahkan dan mengendalikan perkembangan kegiatan dan pemanfaatan ruang yang terjadi sehingga dampak negatif dari pengembangan/pembangunan Bandar Udara Internasional Lombok dapat diminimalisasi. Berdasarkan kebutuhan tersebut maka disusunlah Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah sebagai dokumen yang bersifat menyeluruh sehingga kegiatan pemanfaatan ruang di kawasan jalan akses Bandar Udara Internasional Lombok menuju Kawasan Pariwisata Pantai Kuta dapat terkendali dan pemanfaatan sumber daya ruang yang kurang efisien dan kurang berpotensi dapat dihindari.

3.2 Maksud dan Tujuan Proyek Maksud penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah adalah untuk menata kawasan jalan akses dari Bandar Udara Internasional Lombok

7

menuju Kawasan Pariwisata Pantai Kuta sehingga penataan ruang disekitarnya dapat terkendali disamping juga mengoptimalkan potensi yang dimiliki wilayah sebagai upaya percepatan pembangunan daerah. Sedangkan tujuannya adalah untuk menciptakan pola penggunaan lahan secara detail kawasan jalan akses dari Bandar Udara Internasional Lombok menuju Kawasan Pariwisata Pantai Kuta yang lebih tegas dalam rangka upaya pengendalian, pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik secara terukur baik kualitas maupun kuantitas.

3.3 Sasaran Proyek Adapun sasaran dari penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah adalah sebagai berikut: a. Terciptanya Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi dari Jalan Akses Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta sebagai upaya untuk menciptakan keserasian dan kesimbangan fungsi dan intensitas penggunaan lahan disekitar jalan akses dari Bandar Udara Internasional Lombok menuju Kawasan Pariwisata Pantai Kuta. b. Terselenggaranya aksesibilitas dari Bandar Udara Internasional Lombok menuju Kawasan Pariwisata Pantai Kuta yang nyaman, aman dan memenuhi kapasitas kegiatan transportasi darat serta dapat mempercepat pengembangan wilayah baik secara internal maupun eksternal.

3.4 Struktur Organisasi Proyek Pihak pemegang proyek dalam penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah ini adalah CV. SIngajaya Konsultan. CV. Singajaya Konsultan merupakan perusahaan jasa konsultasi yang berkedudukan di Kota Singaraja dan merupakan anak perusahaan dari PT. Tri Angga Utama. CV. SIngajaya Konsultan didirikan sebagai upaya pengembangan dan pelembagaan gugus kerja dalam penanganan perencanaan teknik dan manajemen. Layanan jasa konsultasi yang ditawarkan dalam CV ini antara lain: 1. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan

2. Teknik Lingkungan 3. Pengembangan Kota dan Wilayah 4. Arsitektur Bangunan 5. Prasarana Keairan

8

6. Prasarana Transportasi Dalam melaksanakan proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah, CV. Singajaya Konsultan mengikuti tahapan seleksi pemilihan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Nusa Tenggara Barat hingga akhirnya proyek tersebut dapat dimenangkan. Adapun tahapan-tahapan yakni sebagai berikut: a. Mencari informasi mengenai pengadaan proyek Pihak CV. Singajaya Konsultan menghubungi dinas atau instansi yang terdapat di

pemerintah Provinsi NTB untuk mendapatkan informasi tentang pengadaan proyek. b. Melihat pengumuman Secara formal, pemerintah propinsi NTB memberikan pengumuman melalui media surat kabar yang berisi informasi mengenai pengadaan proyek berikut ketentuan yang harus dipenuhi oleh konsultan. c. Pemberian Kerangka Acuan Kerja (KAK) Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini dikeluarkan oleh pihak yang menenderkan/ memberi proyek. Dalam hal ini, pihak yang menenderkan proyek RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta adalah Dinas PU Propinsi NTB. Dalam KAK ini, pemberi proyek akan memberikan spesifikasi pekerjaan dalam proyek yang mengkaji tentang lingkup pekerjaan, subtansi, syarat-syarat yang harus ada dalam pekerjaan, dan output pekerjaan. Output pekerjaan ini meliputi metode dan analisa yang digunakan. d. Pemasukan dokumen pra kualifikasi Dokumen pra kualifikasi ini berisikan syarat-syarat yang yang harus dimiliki konsultan yang akan mengajukan pengerjaan proyek, meliputi NPWP perusahaan, tenaga ahli (memiliki sertfikasi atau tidak), pengalaman, struktur organisasi, dan permodalan. e. Anwidzing Yaitu penjelasan mengenai teknis dan administrasi proyek oleh pihak pemberi kerja. Dalam hal ini oleh Dinas PU Propinsi NTB. f. Memasukkan dokumen penawaran yang berisikan dokumen administrasi, teknis dan biaya g. Evaluasi oleh pemberi kerja untuk menetapkan calon pemenang Evaluasi untuk menetapkan calon pemenang ini dilakukan melalui proses

pengeliminasian konsultan-konsultan yang tidak memenuhi persyaratan hingga didapat 1 pemenang tender

9

h. Masa sanggah Dinas PU Propinsi NTB memberikan waktu selama satu minggu kepada pihak yang dianggap kalah dalam perolehan proyek untuk mengajukan sanggahan terhadap evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah. Jika selama satu minggu tersebut tidak ada sanggahan, maka dapat dilakukan penetapan pemenang proyek i. j. Penetapan pemenang Penyusunan Surat Perjanjian Kontrak Pekerjaan dilanjutkan dengan penerimaan Surat Perintah Melaksanakan Kerja (SPMK).

Berikut merupakan struktur organisasi proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah:

10

GAMBAR 3.1 STRUKTUR ORGANISASI PROYEK

Sumber: LKP Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah, 2010.

11

Berikut penjelasan tugas dari masing-masing tim ahli: 1. Team Leader a. Mengkaji dan mengumpulkan data/informasi awal dan literatur, sehingga dapat menghasilkan asumsi dan hipotesa mengenai keadaan wilayah perencanaan, antara lain :

● Identifikasi penggunaan lahan;
● Identifikasi aspek fisik dasar meliputi topografi/kemiringan tanah, geologi, struktur tanah dan hidrologi; ● Identifikasi kawasan-kawasan yang memiliki fungsi lindung (konservasi) dan budidaya;

● Identifikasi fungsi dan peranan wilayah perencanaan;
● Identifikasi struktur tata ruang wilayah (kedudukan wilayah dalam struktur provinsi). b. Melakukan kajian/analisis terhadap kondisi eksisting kawasan perencanaan dan hinterlandnya dan analisis kebutuhan ruang sampai akhir tahun perencanaan; c. Merumuskan rencana tata ruang kawasan atau rencana tata bangunan dan lingkungan dengan kedalaman zoning untuk setiap aspek perencanaan; d. Menyiapkan pengadaan peta dasar; e. Mengarahkan dan mempersiapkan program kerja, mulai dari survey lapangan sampai tahapan penyusunan rencana; f. Menyusun daftar informasi yang diperlukan;

g. Mengkoordinir pekerjaan masing-masing staf ahli, sehingga dapat menjaga sinkronisasi pekerjaan; h. Memimpin diskusi intern tim dan mewakili tim dalam diskusi/pembahasan dengan tim teknis atau instansi-instansi terkait.

2. Ahli Teknik Sipil/Transportasi a. Mengidentifikasi jenis-jenis sarana dan prasarana transportasi; b. Mengamati kondisi/konstruksi prasarana transportasi, yaitu jaringan jalan, terminal dan lain-lain; c. Mengidentifikasi, menganalisa dan merumuskan rencana pola pergerakan yang meliputi: ● ● Pola jaringan jalan; Pola pergerakan barang dan penumpang;

12

● ●

Pola angkutan umum dan pemberhentian kendaraan; Kecenderungan pertumbuhan sarana dan prasarana transportasi dimasa mendatang.

d. Merumuskan rencana sistem jaringan transportasi; e. Membantu merumuskan program prioritas prasarana dan sarana transportasi.

3. Ahli SIG a. Mengolah data yang diberikan ahli-ahli lainnya dan menyajikan data tersebut dalam bentuk sistem informasi secara digital; b. Menyiapkan peta-peta dasar dan peta tematik baik berupa visualisasi kondisi eksisting, hasil perumusan rencana detail dan peta zonasi.

4. Ahli Arsitektur a. Menganalisa dan perencanaan; b. Menganalisa fungsi kegiatan kawasan, fungsi peruntukan kawasan dan fungsi peruntukan bangunan di kawasan perencanaan yang menyangkut penentuan zona kawasan dan jenis penggunaannya, penggunaan lahan, kepemilikan dan status bangunan/lahan, intensitas penggunaan ruang, tata massa bangunan; c. Penyusunan hirarki atau tipologi peta kawasan (Peta Provinsi, Peta Kawasan, Peta Blok maupun Peta Sub Blok). d. Melakukan pengamatan terhadap sistem desain dan bentuk bangunan; e. Merumuskan ketentuan teknis bangunan dan lingkungan yang direncanakan; f. Menganalisa dan mengidentifikasi estetika desain bangunan dengan lingkungan di sekitarnya; g. Merencanakan fungsi kegiatan dan fungsi peruntukan bangunan yang menyangkut : jenis penggunaan bangunan, keadaan bangunan yang menyangkut kondisi dan kualitas bangunan, intensitas penggunaan ruang (KDB, KLB, KDH), tata massa bangunan (sempadan, tinggi bangunan, luas minimum persil); h. Bersama-sama dengan tenaga ahli lainnya merencanakan pengembangan sirkulasi, parkir, utilitas kawasan dan ruang terbuka hijau. mengkaji elemen-elemen perancangan kota di kawasan

13

5. Ahli Pariwisata a. Membantu Team Leader dalam merumuskan konsep pariwisata di kawasan perencanaan; b. Merumuskan dan menganalisa faktor-faktor terkait dengan pengembangan pariwisata di kawasan perencanaan; c. Merumuskan arahan rencana kegiatan pengembangan pariwisata di kawasan perencanaan.

6. Ahli Lingkungan a. Mengamati dan mengevaluasi tingkat kesehatan masyarakat dan sanitasi lingkungan; b. Mengidentifikasi kawasan-kawasan yang memiliki fungsi lindung (konservasi) dan kelestarian lingkungan alam, serta pola tata hijau; c. Menganalisis dampak lingkungan (memprediksi) dalam kaitannya dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pemanfaatan ruang wilayah; d. Menganalisis keadaan fisik dasar alamiah dan kemampuan menerima pembangunan; e. Menganalisi kemampuan daya tampung wilayah; f. Mengamati kondisi fisik dasar wilayah, antara lain keadaan tanah, air, temperatur (suhu) udara, dan lain-lain; g. Mengamati kualitas jaringan utilitas: drainase, air minum, limbah, dan sampah; h. Menganalisis kemampuan pengadaan air bersih, sistem jaringan dan sistem pembuangan.

3.5 Penjadwalan Proyek Pelaksanaan proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses dari Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah dibutuhkan waktu selama 5 bulan, melalui tahapan sebagai berikut: a. Persiapan dan Penyusunan Laporan Pendahuluan Berupa berupa mobilisasi SDM (persiapan tenaga ahli dan pendukung), studi literatur, persiapan survey awal yang dijabarkan pada teknis-teknis lebih terperinci lagi, penyusunan program kerja, serta pengerjaan laporan pendahuluan yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan kerja selama proyek berlangsung. b. Tahap Penyusunan Laporan Antara Berupa tahap pengumpulan data baik primer maupun sekunder, serta analisa terhadap segala data yang telah dihasilkan pada tahapan penyusunan laporan pendahuluan.

14

c. Tahap Penyusunan Laporan Akhir Penyempurnaan dari Laporan Antara ke Laporan Akhir yang kemudian akan dipertanggungjawabkan pada Dinas PU Propinsi NTB. d. Tahap Pelaporan Berupa dokumentasi laporan mulai dari laporan bulanan hingga laporan akhir serta penyerahan dokumentasi lain seperti banner, album foto, dan album peta. e. Kegiatan Pembahasan Hasil Pekerjaan Berupa asistensi dan seminaris secara terbuka.

Untuk lebih jelasnya mengenai jadwal pelaksanaan proyek dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

15

TABEL 3.1 PENJADWALAN PROYEK No. I 1 2 3 4 5 6 II 1 Kegiatan 1 PERSIAPAN & PENYUSUNAN LAPORAN PENDAHULUAN Mobilisasi sumberdaya Penyusunan program kerja Rencana layanan Tenaga Ahli yang digunakan dan strategi penyelesaian pekerjaan Persiapan survey awal Kajian desk study dengan menggunakan studi literatur, yang terkait, pedoman yang terkait, best practice Penajaman metodologi dan penetapan deliniasi kawasan perencanaan TAHAP PENYUSUNAN LAPORAN ANTARA Kegiatan pengumpulan data : a. Pengumpulan data sekunder pada instansi terkait b. Pengumpulan data primer dengan studi lapangan c. Koordinasi dan penyerapan aspirasi masyarakat melalui pertemuan dan koordinasi dengan instansi terkait dan masyarakat/stakeholder 2 Kegiatan analisis : a. Analisis Struktur Kawasan Perencanaan b. Analisis Peruntukan Blok c. Analisis Prasarana Transportasi d. Analisis Utilitas Umum e. Analisis Amplop Ruang f. Analisis Kelembagaan dan Peran Masyarakat Penyusunan RDTR : a. Tujuan Pengembangan b. Rencana Struktur Ruang Kawasan c. Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan d. Indikasi Program Pembangunan 2 I 3 4 1 2 II 3 4 Bulan Ke III 1 2 3 4 IV 1 2 3 4 1 2 V 3 4

3

16

e. Pembuatan Peta Rencana Detail f. Arahan Pengendalian, berupa : - Arahan Peraturan Zonasi - Arahan Perijinan - Arahan Insentif dan Disinsentif - Arahan Sanksi III TAHAP PENYUSUNAN LAPORAN AKHIR 1 Penyempurnaan Laporan Antara menjadi Laporan Akhir Rekomendasi dari seluruh kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan dan Peraturan Zonasi Kawasan 2 Jalan Akses Bandar Udara Internasional Lombok ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta IV TAHAP PELAPORAN 1 Laporan Bulanan 2 Laporan Pendahuluan 3 Laporan Antara 4 Laporan Akhir 5 Executive Summary 6 Album Peta/Foto-foto/VCD 7 CD Interaktif 8 Banner V KEGIATAN PEMBAHASAN HASIL PEKERJAAN 1 Asistensi 2 Diskusi Terbuka (Seminar) Sumber: Lapdal RDTR dan Peraturan Zonasi BIL-Kuta, 2010

17

3.6 Permasalahan Proyek Pengerjaan suatu proyek dapat dikatakan begitu kompleks. Pengerjaan proyek pun tidak terlepas akan beberapa permasalahan atau kendala yang dihadapi. Seringkali permasalahan pengerjaan proyek merupakan masalah yang rumit dan memberikan dampak pada lebih dari satu konstrain proyek. Konstrain proyek yang terhambat tersebut baik dari lingkup, biaya, mutu, waktu, dan safety proyek tersebut. Terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta, kendala tersebut antara lain : 1. Minimnya data yang diperoleh, baik data sekunder maupun primer.

2. Adanya perubahan data yang diakibatkan oleh perbedaan data primer dan sekunder yang menyebabkan proses analisa harus diulang dengan memakai data yang baru. 3. Minimnya kontribusi tenaga ahli yang terlibat dalam proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta. Pekerjaan terkesan tidak dilaksanakan oleh sebuah tim pelaksana, melainkan hanya oleh beberapa personal atau orang di dalam tim. 4. Kurangnya manajemen kegiatan tim proyek, khususnya dalam hal waktu pengerjaan proyek sehingga membuat tidak optimal dan kurang sesuainya waktu pengerjaan proyek dengan jadwal awal proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta. Selain itu, kurangnya pengaturan jadwal dalam pelaksanaan pekerjaan oleh konsultan sendiri sehingga manajemen waktu dalam pelaksanaan pekerjaan terkesan buruk. 5. Terdapat ketidakjelasan peran dari team leader dimana seorang team leader seharusnya memiliki fungsi kontroling dan bertanggung jawab atas penyelesaian seluruh pekerjaan proyek, namun faktanya team Leader seringkali lepas kontrol.

3.7 Implementasi Teori Proyek pada umumnya bersifat sementara (dalam kurun waktu terbatas) dan dilakukan atas dasar keperluan mendesak karena adanya tuntutan pengembangan. Dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota, proyek yang dikerjakan berupa proyek penyusunan laporan rencana tata ruang baik Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) sampai dengan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Dalam studi kali ini dibahas mengenai proyek RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta. Pelaksanaan suatu proyek perlu koordinasi dan kerjasama antar organisasi secara solid dan terstruktur untuk merealisasikan tujuan yang ingin dicapai secara jelas. Untuk memperoleh tujuan tersebut diperlukan sebuah manajemen proyek. Menurut definisinya sendiri manajemen proyek merupakan aplikasi pengetahuan (knowledges), keterampilan

18

(skills), alat (tools) dan teknik (techniques) dalam aktifitas-aktifitas proyek untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan proyek. Dalam pelaksanaannya, setiap proyek selalu dibatasi oleh kendala-kendala yang sifatnya selalu mempengaruhi yaitu lingkup pekerjaan, biaya, dan waktu. Dari sini dapat terlihat bahwa suatu proyek memiliki keterbatasan dalam proses pengerjaannya sehingga diperlukan struktur organisasi yang jelas untuk membagi tugas dan wewenang. Dalam proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta ini, penjelasan mengenai masing-masing pembagian tugas dan wewenang dapat dilihat pada struktur organisasi pelaksana proyek, dimana di dalam struktur hierarki tersebut terdapat team leader hingga tenaga pendukung yang terbagi sesuai dengan keahliannya masingmasing. Sedangkan tugas dari masing-masing tenaga ahli maupun tenaga pendukung dapat dilihat pada penjelasan yang menjelaskan mengenai tugas dan tanggung jawab mereka. Adanya struktur organisasi ini bertujuan untuk mempermudah koordinasi sehingga proyek dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa suatu proyek memiliki tiga elemen penting yakni lingkup pekerjaan, biaya, dan waktu. Diantara ketiga elemen tersebut waktu memiliki urgenitas yang paling penting. Jadwal pengerjaan proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta ini dikerjakan selama 5 bulan dan dibuat dalam bentuk Gantt Chart. Gant Chart sendiri dibuat untuk mengidentifikasi unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan yang terdiri dari: waktu mulai, waktu penyelesaian, dan pada saat pelaporan penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta ini. Gantt Chart tersaji dalam bentuk tabel penjadwalan pelaksanaan proyek dengan empat kegiatan utama yaitu penyusunan laporan pendahuluan, penyusunan laporan antara, penyusunan laporan akhir, dan kegiatan pembahasan hasil pekerjaan berupa seminaris. Suatu proyek tidak pernah terlepas dari dari beberapa kendala diantaranya adalah waktu pelaksanaan proyek yang tidak sesuai jadwal (molor), dimana ketidaksesuaian jadwal ini dikarenakan manajemen kegiatan tim proyek tidak optimal. Selain itu, masalah yang kerap kali terjadi yakni minimnya kontribusi tenaga ahli yang terlibat dalam suatu proyek serta teamwork yang kurang bagus. Disinilah dibutuhkan peran dari team leader sebagai koordinator bawahannya. Kemampuan seorang team leader disini merupakan hal penting guna mencapai kesuksesan suatu proyek. Seorang team leader harus mampu memimpin dan mengorganisir bawahannya dalam hal ini tim dari suatu proyek sehingga akan mempermudah kesuksesan suatu proyek. Tolak ukur keberhasilan dari suatu proyek dapat dilihat dari: ● Dalam waktu yang dialokasikan

19

● ● ● ● ● ●

Dalam biaya yang dianggarkan Pada performansi atau spesifikasi yang ditentukan Diterima customer Dengan perubahan lingkup pekerjaan minimum yang disetujui Tanpa mengganggu aliran pekerjaan utama organisasi Tanpa merubah budaya (positif) perusahaan

20

BAB IV - ANALISA
Di dalam identifikasi persoalan, salah satu yang menghambat pelaksanaan proyek maupun pekerjaan adalah minimnya kontribusi tenaga ahli yang terlibat dalam proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta sehingga seringkali terjadi dual fungsi atau tugas yang seharusnya dikerjakan oleh 2 orang, namun dikerjakan oleh 1 orang saja. Untuk meminimalisir permasalahan ini digunakan suatu konsep yaitu Work Breakdown System (WBS). Pemecahan tersebut dengan cara membagi pekerjaan/proyek ke dalam bagian yang lebih kecil (sub-kegiatan). Proyek ataupun pekerjaan tersebut dipecah dalam beberapa task yang memiliki lingkup pekerjaan dan sumber daya masingmasing, sehingga pengerjaan proyek bisa lebih fokus dan lebih mudah dikendalikan. Dengan adanya konsep WBS, sumber daya manusia dapat dialokasikan dengan baik, sehingga pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh beberapa orang, tidak hanya ditanggung oleh 1 orang saja, serta penyerahan tanggung jawab dapat lebih leluasa, sehingga pengukuran tingkat keberhasilan maupun pengendalian proyek dapat lebih maksimal. Gambar 4.1 Work Breakdown Sytem dalam Proyek
Team Leader Tenaga Pendukung Ahli Pariwisata

Proyek
Ahli Sipil Ahli SIG

Ahli Arsitektur

Ahli Lingkungan

Juru Gambar

Enumerator

Surveyor
Tenaga Pendukung

Operator Komputer

Administrasi

21

Dalam implementasinya, proyek penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Jalan Akses BIL-Kuta sudah sesuai dengan teori. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembagian tanggung jawab kepada beberapa orang sesuai dengan bidang dan keahlian masingmasing orang. Namun dalam pelaksanaannya, hal tersebut tidak sesuai karena terjadi dualisme fungsi, tokoh fiktif, dll sehingga mengakibatkan beberapa pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh beberapa orang, hanya dikerjakan oleh satu orang saja yang berdampak pada keterlambatan dalam jadwal proyek dsb.

22

BAB V - PENUTUP
5.1 Kesimpulan Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pelaksanaan sebuah proyek diperlukan suatu proses pemecahan task menggunakan WBS (Work Breakdown Structure), dimana dalam konsep WBS ini proyek-proyek tersebut akan dipecah menjadi sub task, sehingga akan mempermudah dalam pengerjaan proyek. Dalam prakteknya, konsep WBS dalam penyusunan proyek penyusunan RDTR dan Rencana Zonasi Jalan Akses Dari Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) ke Kawasan Pariwisata Pantai Kuta Kabupaten Lombok Tengah tidak berfungsi secara optimal karena adanya ketidaksesuaian pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada tenaga ahli maupun tenaga pendukung akibat kurangnya SDM.

5.2 Rekomendasi Adapun rekomendasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahn proyek yang ada diantaranya: 1. Dari pihak konsultan sebaiknya benar-benar menyediakan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dari proyek, baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung. 2. Informasi teknis pekerjaan seperti jadwal kerja dan organisasi kerja termasuk juga di dalamnya adalah pembagian peran dan fungsi yang harus dipastikan, dimengerti dan dipahami oleh semua tenaga proyek yang mana hal tersebut bisa ditempel pada tempat kerja sehingga kontroling waktu dan sumber daya manusia bisa dilakukan. 3. Pengaturan jadwal proyek, sehingga dalam prakteknya nanti tidak aka nada jadwal yang tersendat-sendat maupun tertunda.

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->