P. 1
pengukuran suhu

pengukuran suhu

|Views: 241|Likes:
Published by iastya
report
report

More info:

Published by: iastya on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/07/2015

pdf

text

original

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

BAB I PENDAHULUAN

i.

PENDAHULUAN Perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan di bidang instrumentasi kian pesat, begitu pula pada bidang Geofisika atau sering disebut instumentasi Geofisika. Instrumentasi Geofisika tersebut bermaksud untuk memahami lebih dalam tentang teori dan aplikasi instrumentasi dalam bidang Geofisika. Dengan mempelajari Instumentasi Geofisika, mahasiswa akan lebih mudah memahami cara kerja alat survey dan alat laboratorium Geofisika. Selain itu juga dapat menguasai penggunaan alat Geofisika secara baik dan benar. Salah satu contoh instrumen yang digunakan dalam Geofisika adalah alat pengukuran suhu dengan Termokopel. Alat tersebut berfungsi untuk mengkonversi suhu menjadi GGL atau gaya gerak listrik. Penggunaan termokopel harus dipahami secara benar karena merupakan dasar instrumen Geofisika.

ii.

TUJUAN Tujuan dari percobaan pengukuran suhu ini adalah : 1. Untuk mengamati watak thermometer air raksa 2. Untuk menamati watak termistor jenis NTC.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

BAB II DASAR TEORI
Pada dunia elektronika, termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 °C. Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck menemukan bahwa sebuah konduktor (semacam logam) yang diberi perbedaan panas secara gradien akan menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Untuk mengukur perubahan panas ini gabungan dua macam konduktor sekaligus sering dipakai pada ujung benda panas yang diukur. Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan mengalami perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda. Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran, yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya, ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur absolut. Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan yang dingin) dijaga sebagai temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. contoh, pada gambar di atas, hubungan dingin akan ditempatkan pada tembaga pada papan sirkuit. Sensor suhu yang lain akan mengukur suhu pada titik ini, sehingga suhu pada ujung benda yang diperiksa dapat dihitung. Termokopel dapat dihubungkan secara seri satu sama lain untuk membuat termopile, dimana tiap sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah. Dengan begitu, tegangan pada setiap termokopel menjadi naik, yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih tinggi. Dengan adanya suhu tetapan

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran di laboratorium, secara sederhana termokopel tidak mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol. Mereka menambahkan sambungan dingin tiruan ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif terhadap suhu (seperti termistor atau diode) untuk mengukur suhu sambungan input pada peralatan, dengan tujuan khusus untuk mengurangi gradiasi suhu di antara ujung-ujungnya. Di sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin yang diketahui dapat disimulasikan, dan koreksi yang baik dapat diaplikasikan. Hal ini dikenal dengan kompensasi hubungan dingin. Biasanya termokopel dihubungkan dengan alat indikasi oleh kawat yang disebut kabel ekstensi atau kompensasi. Tujuannya sudah jelas. Kabel ekstensi menggunakan kawat-kawat dengan jumlah yang sama dengan kondoktur yang dipakai pada Termokopel itu sendiri. Kabel-kabel ini lebih murah daripada kabel termokopel, walaupun tidak terlalu murah, dan biasanya diproduksi pada bentuk yang tepat untuk pengangkutan jarak jauh - umumnya sebagai kawat tertutup fleksibel atau kabel multi inti. Kabel-kabel ini biasanya memiliki spesifikasi untuk rentang suhu yang lebih besar dari kabel termokopel. Kabel ini direkomendasikan untuk keakuratan tinggi. Kabel kompensasi pada sisi lain, kurang presisi, tetapi murah. Mereka memakai perbedaan kecil, biasanya campuran material konduktor yang murah yang memiliki koefisien termoelektrik yang sama dengan termokopel (bekerja pada rentang suhu terbatas), dengan hasil yang tidak seakurat kabel ekstensi. Kombinasi ini menghasilkan output yang mirip dengan termokopel, tetapi operasi rentang suhu pada kabel kompensasi dibatasi untuk menjaga agar kesalahan yang diperoleh kecil. Kabel ekstensi atau kompensasi harus dipilih sesuai kebutuhan termokopel. Pemilihan ini menghasilkan tegangan yang proporsional terhadap beda suhu antara sambungan panas dan dingin, dan kutub harus dihubungkan dengan benar sehingga tegangan tambahan ditambahkan pada tegangan termokopel, menggantikan perbedaan suhu antara sambungan panas dan dingin. Hubungan antara perbedaan suhu dengan tegangan yang dihasilkan termokopel bukan merupakan fungsi linier melainkan fungsi interpolasi polinomial Koefisien an memiliki n antara 5 dan 9. Agar diperoleh hasil pengukuran yang akurat, persamaan biasanya diimplementasikan pada kontroler digital atau disimpan dalam sebuah tabel pengamatan. Beberapa peralatan yang lebih tua menggunakan filter analog. Tersedia beberapa jenis termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA 1. Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy)) Termokopel untuk tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu −200 °C hingga +1200 °C. 1. Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy)) Tipe E memiliki output yang besar (68 µV/°C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik. 1. Tipe J (Iron / Constantan) Rentangnya terbatas (−40 hingga +750 °C) membuatnya kurang populer dibanding tipe K Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 µV/°C 1. Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy)) Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 °C. Sensitifitasnya sekitar 39 µV/°C pada 900 °C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan tipe K Termokopel tipe B, R, dan S adalah termokopel logam mulia yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Mereka adalah termokopel yang paling stabil, tetapi karena sensitifitasnya rendah (sekitar 10 µV/°C) mereka biasanya hanya digunakan untuk mengukur temperatur tinggi (>300 °C). 1. Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh) Cocok mengukur suhu di atas 1800 °C. Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0 °C hingga 42 °C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50 °C. 1. Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. 1. Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium) Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya yang tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 °C). 1. Type T (Copper / Constantan) Cocok untuk pengukuran antara −200 to 350 °C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 µV/°C Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas, hingga 2300°C. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0--100 °C dengan keakuratan 0.1 °C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok. Contoh Penggunaan Termokopel yang umum antara lain :
   

Industri besi dan baja Pengaman pada alat-alat pemanas Untuk termopile sensor radiasi Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi termopile. Karakteristik Thermocouple Karakteristik serbaguna termokopel dikombinasikan dengan sifat mereka yang relatif murah membuat mereka ideal untuk digunakan dalam aplikasi industri, terutama pada suhu ekstrim di mana menggunakan peralatan yang lebih sensitif dapat menyebabkan merusak sensor yang lebih kompleks dan berharga. Sebuah platinum rhodium termokopel, misalnya, memiliki kapasitas untuk mengambil pembacaan jangka

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA pendek dalam suhu -58 derajat mulai dari Fahrenheitto 3092 derajat Fahrenheit, membuat ini bahkan alat praktis untuk mengukur suhu logam cair untuk keperluan analisis metalurgi. Bahkan termokopel dibangun dari bahan eksotis kurang memiliki kemampuan untuk mengambil bacaan akurat dalam lingkungan suhu yang lebih umum. Kelemahan: Termokopel tidak dapat mengukur suhu awal dari suatu termometer pada suhu awal dari suatu termometer pada umumnya karena alat ini tidak dapat dikalibrasi. Sehinnga ketika termokopel pada posisi ON, langsung muncul suhu ruangan. Kelebihan : Termokopel paling cocok digunakan untuk mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah dari -200 hingga 1800⁰C.

Termistor Thermistor adalah salah satu tipe lain dari transduser suhu yang mengukur suhu melalui perubahan resistansi bahan. Karakteristik perangkat ini sangat berbeda dengan RTD, dan tergantung pada perilaku khusus antara tahanan dengan suhu semikonduktor. Komponen dalam termistor ini dapat mengubah nilai resistansi karena adanya perubahan temperatur. Dengan demikian dapat memudahkan kita untuk mengubah energi panas menjadi energi listrik. Termistor dapat dibentuk dalam bentuk yang berbeda-beda, bergantung pada lingkunganyang akan dicatat suhunya. Lingkungan ini termasuk kelembaban udara, cairan, permukaan padatan, dan radiasi dari gambar dua dimensi. Maka, termistor bisa berada dalam alat±alat seperti disket, mesin cuci, tasbih (manik-manik), balok,dan satelit. Ukurannya kecil dibandingkan dengan termometer lain, ukurannya dalam range 0.2mm sampai 2mm. Termistor dibedakan dalam 2 jenis, yaitu termistor yang mempunyaikoefisien negatif, yang disebut NTC (Negative Temperature Coefisient), temistor yang mempunyai koefisien positif yang disebut PTC (Positive TemperatureCoefisient). Kedua jenis termistor ini mempunyai fungsinya masing masing, tetapidi pasaran, yang lebih banyak digunakan adalah termistor NTC. Karena termistor NTC material penyusunnya yaitu metal oksida, dimana harganya lebih murah darimaterial penyusun PTC yaitu Kristal tunggal.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA TIPE THERMISTOR DIBAGI 2 : 1. NTC NTC merupakan termistor yang mempunyai koefisient negatif. Dimana bahannya terbuat dari logam oksida yaitu dari serbuk yang halus kemudian dikompress dan disinter pada temperatur yang tinggi. Kebanyakan pada material penyusun termistor biasa mengandung unsur unsur seperti Mn2O3, NiO, CO2O3, Cu2O, Fe2O3, TiO2, dan U2O3. Oksida-oksida ini sebenarnya mempunyai resistansi yang sangat tinggi, tetapi dapat diubah menjadi bahan semikonduktor dengan menambahkan beberapa unsur lain yang mempunyai valensi yang berbeda disebut dengan doping dan pengaruh dari resistansinya dipengaruhi perubahan temperatur yang diberikan. Thermistor logam oksida digunakan dalam daerah 2000K sampai 7000K. Untuk digunakan pada temperatur yang sangat tinggi, thermistor dibuat dari Al2O3, BeO, MgO, Y2O3, dan Dy2O3. 2. PTC PTC merupakan termistor dengan koefisien yang positif. Termistor PTC memiliki perbedaan dengan NTC antara lain : 1. Koefisien temperatur dari thermistor PTC bernilai positif hanya dalam interfal temperatur tertentu, sehingga diluar interval tersebut akan bernilai nol atau negatif, 2. Harga mutlak dan koefisien temperatur dari termistor PTC jauh lebih besar daripada termistor NTC.

Kebanyakan termistor digunakan pada daerah temperatur dalam konsentrasi inonisasi (n atau p) yang berpengaruh terhadap fungsi temperatur. Dimana energy aktivasi Ea adalah hubungan pada energi gap dan tingkat impuritas. Dimana nilai hambatan semakin kecil ketika temperaturnya dinaikkan, ini yang biasa disebut termistor NTC Dimana R adalah hambatan pada suhu T, R0 adalah hambatan awal ketika T0 (pada temperatur ruang), B adalah Konstanta termistor dimana besarnya bergantung dari jenis bahan dan memiliki dimensi yang sama dengan suhu. Hargakonstanta termistor yang memenuhi pasar biasanya antara rentang 2000-5000 K.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA Dengan ρ=R merupakan resistivitas listrik thermistor. Selain konstanta thermistor (B), sensitivitas (α)juga menentukan karakteristik dari termistor. Nilai sensitivitas menentukan sejauh mana termistor yang dibuat dapat dengan cepat mendeteksi perubahan temperatur lingkunagan termistor. Termistor yang baik sensitifitasnya lebih besar dari -2,2%/K. Ciri khas dari harga α adalah sekitar = -5% yang mana 10 kali lebih sensitiv dari pada detektor temperatur resistansi metal. Resistansi dari termistor berada pada daerah 1 KΩ sampai 10 MΩ.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

BAB III METODE EKSPERIMEN
i. METODE YANG DIGUNAKAN Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode pengamatan langsung. Praktikan mengamati data yang diperoleh dari percobaan kemudian mencatat di laporan sementara. Setelah itu data eksperimen diolah untuk dijadikan grafik dengan metode grafik.

ii.

ALAT DAN BAHAN Peralatan dan bahan yang digunakan selama praktikum pengukuran suhu adalah: 1. Termometer air raksa 2. Thermocouple 3. Termistor NTC 4. Box logam dengan pemanas 5. Dua multimeter, satu sebagai ohmmeter dan satu lagi sebagai voltmeter 6. Kabel penghubung

iii.

SKEMA PERCOBAAN

Termometer air raksa

NTC tipe 1 NTC tipe 2

Box logam dengan pemanas

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

iv.

TATA LAKSANA PERCOBAAN Langkah-langkah percobaan adalah sebagai berikut: 1. Rangkaian dipasang sesuai dengan skema 2. Kedua multimeter dihidupkan, setting berada pada area hambatan 3. Kabel power dipasang 4. Kenaikan suhu yang terjadi diamati, nilai suhu pada thermometer dicatat pada tiap kenaikan 1°C 5. Nilai hambatan tiap kenaikan suhu dicatat 6. Kabel power dilepas 7. Penurunan suhu diamati, nilai suhu dicatat tiap turun 1°C begitu pula dengan nilai hambatan.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

BAB IV HASIL PERCOBAAN
i. DATA

Data percobaan pertama (suhu naik) No Suhu T (°Celsius) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 0.1 0.2 0.3 0.4 0.4 0.5 0.5 0.6 0.6 0.7 0.7 0.8 0.8 0.9 0.9 1 1 1.1 1.1 1.2 Tegangan (V) (volt) 6.06 5.72 5.41 5.09 4.88 4.62 4.44 4.24 4.07 3.89 3.62 3.56 3.42 3.30 3.20 3.07 2.97 2.84 2.73 2.63 Hambatan R (ohm)

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

Data percobaan saat suhu turun No Suhu T (°Celsius) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Tegangan (V) (volt) 0.1 0.2 0.2 0.3 0.3 0.4 0.4 0.4 0.5 0.5 0.5 0.6 0.6 0.7 0.7 0.7 0.8 0.8 0.9 1.0 Hambatan R (ohm) 6.07 5.81 5.60 5.40 5.22 5.02 4.83 4.63 4.47 4.31 4.15 3.99 3.87 3.71 3.58 3.44 3.30 3.15 3.04 2.93

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

ii.

GRAFIK Grafik hubungan antara suhu dengan tegangan.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

Grafik hubungan antara resistansi dengan suhu

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

iii. -

ANALISIS DATA

Termocuple Thermocouple merupakan sensor suhu yang berfungsi untuk mengkonversi suhu menjadi ggl atau tegangan berdasar efek Seebeck. Secara teori, hubungan tegangan dengan temperature adalah sebagai berikut.
V= α(T1-Tref) Dimana: V =Tegangan Ukur T1 = suhu ukur (K) Tref = suhu referensi (K) α = koefisien seebek Namun hubungan antara perbedaan suhu dengan tegangan yang dihasilkan termokopel bukan merupakan fungsi linier melainkan fungsi interpolasi polinomial. Pengolahan data dengan metode grafik dengan sumbu x diwakili oleh suhu dan sumbu y diwakili oleh tegangan memberikan hasil grafik dengan fungsi interpolasi polinomial.

-

Termistor Termistor merupakan alat sensor suhu yang memiliki sifat termal resistor, yaitu semakin tinggi suhunya maka hambatan akan semakin rendah. Menurut teori, kurva atau grafik hubungan antara resistansi terhadap suhu termistor merupakan polinomial. Persamaan resistansi dengan suhu adalah sebagai berikut, Dimana R merupakan hambatan, T merupakan suhu dan β adalah konstanta sensitivitas termistor. Setelah dilakukan pengolahan data, grafik yang dihasilkan adalah berupa polynomial walaupun ada beberapa titik data yang menyimpang.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

BAB V PEMBAHASAN
i. Pembahasan metode yang digunakan

Pada percobaan pengukuran suhu dengan menggunakan termokopel dan termistor tersebut metode yang pertama digunakan adalah metode pengamatan langsung. Metode tersebut diterapkan pada saat melakukan percobaan. Praktikan melakukan percobaan, kemudian mengamati gejala-gejala yang timbul pada eksperimen pengukuran suhu dan mencatat parameter-parameter yang dibutuhkan untuk pengolahan data. Parameterparameter tersebut adalah temperatur, tegangan dan hambatan dengan variable temperature sebagai variasi. Metode kedua yang digunakan untuk pegolahan data adalah metode grafik. Pengolahan data yang dilakukan dengan metode grafik terdapat kekurangan dan kelebihan. Kelebihan metode grafik tersebut adalah banyak informasi yang akan diperoleh dengan melihat grafik yang ada. Dari grafik tersebut dapat diketahui titik-titik pada data ke berapa mulai terjadi penyimpangan. Sedangkan kelemahan metode grafik yaitu titik – titik data yang kurang bagus akan terambil dan diikutsertakan dalam pengeplotan grafik sehingga nilai dari pembacaan grafik akan kurang begitu bagus. Grafik yang dihasilkan keduanya berbentuk polinomial. ii. Pembahasan hasil eksperimen dan perhitungan

Data hasil eksperimen pengukuran suhu yang diolah dengan metode grafik menghasilkan grafik berbentuk interpolasi polinomial (untuk hubungan tegangan dan suhu maupun hambatan dan suhu). Hal ini sesuai dengan teori bahwa grafik untuk termocouple maupun termistor adalah berbentuk polinomial. Hubungan antara suhu dan tegangan adalah berbanding lurus. Tegangan akan bernilai semakin besar apabila suhu termocouple juga semakin besar. Sedangkan hubungan antara resistansi dengan suhu adalah berbanding terbalik, semakin besar suhu maka resistansi akan semakin kecil. Hal ini juga sama dengan teori pada referensi. Termometer air raksa dapat menimbulkan GGL atau beda potensial listrik di tinjau dari sisi pergerakan atom-atom logam yang digunakan pada termokopel. Suatu

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA logam apabila dipanaskan maka akan mengalami pemuaian, baik muai panjang maupun muai luas dan volume. Pemuaian ini diakibatkan oleh pergerakan atom-atom atau elektron dari suhu tinggi menuju ke suhu yang lebih rendah. Nilai beda potensial pada voltmeter yang terbaca juga berubah-ubah. Hal ini dikarenakan ujung logam yang berada di suhu yang panas dan dingin sehingga terjadi pergerakan elektron di saat kedua termometer menujukan suhu yang sama. Sehingga semakin tinggi kenaikan pada temperatur, maka semakin besar beda potensial yang dihasilkan. Dalam operasinya termistor memanfaatkan perubahan resistivitas terhadap temperatur, dan umumnya nilai tahanannya turun terhadap temperatur secara eksponensial untuk jenis NTC. Hubungan antara suhu dan tahanan tidak linear untuk daerah ukur -100 sampai dengan 200 derajat celcius dan ini sesuai dengan grafik hasil percobaan. Termistor bersifat termal resistor dengan koefisien tahanan temperatur yang tinggi sehingga hubungan suhu dan hambatan berbanding terbalik. Kepekaan yang tinggi terhadap perubahan temperature membuat termistor sangat sesuai untuk pengukuran, pengontrolandan kompensasi temperature secara presisi. Percobaan dapat dikatakan berhasil karena terbukti bahwa sensor thermistor yang digunakan adalah jenis NTC, karena semakin bertambahnya suhu pada thermistor maka nilai resistansi akan semakin berkurang. Begitu pula pada thermocouple, semakin bertambahnya suhu maka beda potensial juga akan semakin bertambah. Adanya titik-titik data yang menyimpang sehingga grafik tidak polinomial sempurna dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :  Kekurangtelitian praktikan baik itu saat pengambilan data ataupun saat pengeplotan data pada grafik.  Peralatan eksperimen kurang bekerja dengan baik.  Pengaruh suhu ruangan.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

BAB VI KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan pengukuran suhu adalah sebagai berikut: 1. Thermocouple merupakan sensor suhu, sambungan dua macam logam yang dapat mengubah besaran suhu menjadi beda potensial atau GGL. 2. Thermistor merupakan sensor suhu, bahan semikonduktor dengan sifat tahanan yang dapat mengkonversi suhu menjadi hambatan. 3. Grafik hubungan antara beda potensial dengan suhu thermocouple adalah interpolasi polynomial. 4. Grafik hubungan antara hambatan dengan suhu termistor adalah polynomial. 5. Beda potensial berbanding lurus dengan suhu. 6. Hambatan berbanding terbalik dengan suhu.

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

REFERENSI
http://elektronika-dasar.com/komponen/sensor-tranducer/sensor-suhu-termistor/ http://echo-corner.blogspot.com/2012/03/termokopel-dalam-dunia-elektronika.html http://wikipedia.org/termokopel http://wikipedia.org/termistor

LAPORAN INSTRUMENTASI GEOFISIKA

PENGESAHAN

Laporan resmi praktikum Instrumen Geofisika “Pengukuran Suhu” telah diselesaikan pada : Hari : Senin Tanggal : 14 Mei 2012

Mengetahui, Asisten Praktikum Praktikan

(Lutfi Aziza)

(Nurti Lestari)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->