P. 1
Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru

Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru

|Views: 3,881|Likes:
Published by hakam_amrulloh

More info:

Published by: hakam_amrulloh on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru

09:40 Know How 1 comment Hasil penelitian United Nation Development Programe (UNDP) pada tahun 2007 tentang Indeks Pengembangan Manusia menyatakan Indonesia berada pada peringkat ke-107 dari 177 negara yang diteliti (http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDMOjY=, diakses 7 Desember 2008). Indonesia memperoleh indeks 0,728. Dan jika Indonesia dibanding dengan negara-negara ASEAN yang dilibatkan dalam penelitian, Indonesia berada pada peringkat ke-7 dari sembilan negara ASEAN. Salah satu unsur utama dalam penentuan komposit Indeks Pengembangan Manusia ialah tingkat pengetahuan bangsa atau pendidikan bangsa. Peringkat Indonesia yang rendah dalam kualitas sumber daya manusia ini adalah gambaran mutu pendidikan Indonesia yang rendah. Keterpurukan mutu pendidikan di Indonesia juga dinyatakan oleh United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)-Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus bidang pendidikan. Menurut Badan PBB itu, peringkat Indonesia dalam bidang pendidikan pada tahun 2007 adalah 62 di antara 130 negara di dunia. Education development index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965). Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tercermin dari daya saing di tingkat internasional. Daya saing Indonesia menurut Wordl Economic Forum, 2007-2008, berada di level 54 dari 131 negara. Jauh di bawah peringkat daya saing sesama negara ASEAN seperti Malaysia yang berada di urutan ke-21 dan Singapura pada urutan ke-7. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah komponen mutu guru. Rendahnya profesionalitas guru di Indonesia dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas, guru-guru yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta ternyata hanya 28,94%. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73%, guru SMK negeri 55,91 %, swasta 58,26 %. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan rendahnya kualitas guru ini adalah dengan mengadakan sertifikasi. Dengan adanya sertifikasi, pemerintah berharap kinerja guru akan meningkat dan pada gilirannya mutu pendidikan nasional akan meningkat pula. HAKEKAT SERTIFIKASI Ada yang berpendapat bahwa sejatinya sertifikasi adalah alat untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Bahkan yang lebih berani mengatakan bahwa sertifikasi adalah akal-akalan pemerintah untuk menaikkan gaji guru. Kata sertifikasi hanyalah kata pembungkus agar tidak menimbulkan kecemburuan profesi lain. Pemahaman seperti itu tidak terlalu salah sebab dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 16 disebutkan bahwa guru yang memiliki sertifikat pendidik, berhak mendapatkan insentif yang berupa tunjangan profesi. Besar insentif tunjangan profesi yang dijanjikan oleh UUGD adalah sebesar satu kali gaji pokok untuk setiap bulannya. Namun, persepsi seperti itu cenderung mencari-cari kesalahan suatu program pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional. Peningkatan kesejahterann guru dalam kaitannya

dengan sertifikasi harus dipahami dalam kerangka peningkatan mutu pendidikan nasional , baik dari segi proses (layanan) maupun hasil (luaran) pendidikan. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara eksplisit mengisyaratkan adanya standarisasi isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiyaan, dan penilaian pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Di samping itu, menurut Samami dkk. (2006:3), yang perlu disadari adalah bahwa guru adalah subsistem pendidikan nasional. Dengan adanya sertifikasi, diharapkan kompetensi guru sebagai agen pembelajaran akan meningkat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan kompetensi guru yang memenuhi standar minimal dan kesejahteraan yang memadai diharapkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dapat meningkat. Kualitas pembelajaran yang meningkat diharapkan akan bermuara akhir pada terjadinya peningkatan prestasi hasil belajar siswa. IMPLEMENTASI SERTIFIKASI Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik ini diberikan kepada guru yang memenuhi standar profesional guru. Standar profesioanal guru tercermin dari uji kompetensi. Uji kompetensi dilaksanakan dalam bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profeisonal guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan penghargaan yang relevan. Ternyata implementasi sertifikasi guru dalam bentuk penilaian portofolio ini kemudian menimbulkan polemik baru. Banyak para pengamat pendidikan yang menyangsikan keefektifan pelaksanaan sertifikasi dalam rangka meningkatkan kinerja guru. Bahkan ada yang berhipotesis bahwa sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio tak akan berdampak sama sekali terhadap peningkatan kinerja guru, apalagi dikaitkan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Apa yang menjadi keprihatinan banyak pihak ini dapat dimaklumi. Hal ini dikarenakan pelaksanaan sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio tidak lebih dari penilaian terhadap tumpukan kertas. Kelayakan profesi guru dinilai berdasarkan tumpukan kertas yang mampu dikumpulkan. Padahal untuk membuat tumpukan kertas itu pada zaman sekarang amatlah mudah. Tidak mengherankan jika kemudian ada beberapa kepala sekolah yang menyetting berkas portofolio guru di sekolahnya tidak mencapai batas angka kelulusan. Mereka berharap guru-guru tersebut dapat mengikuti diklat sertifikasi. Dengan mengikuti diklat sertifikasi, maka akan banyak ilmu baru yang akan didapatkan secara cuma-cuma. Dan pada gilirannya, ilmu yang mereka dapatkan di diklat sertifikasi akan diterapkan di sekolah atau di kelas. Hipotesis bahwa pelaksanaan sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio tidak akan berdampak sama sekali terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional terasa akan menjadi kenyataan bila dibandingkan dengan pelaksanaan sertifikasi di beberapa negara maju, khusunya dalam bidang pendidikan. Hasil studi Educational Testing Srvice (ETS) yang dilakukan di delapan negara menunjukkan bahwa pola-pola pembinaan profsesionalisme guru di negara-negara tersebut dilakukan dengan sangat ketat (Samami dkk., 2006:34).

Sebagai contoh, Amerika Serikat dan Inggris yang menerapkan sertifikasi secara ketat bagi calon guru yang baru lulus dari perguruan tinggi. Di kedua negara tersebut, setiap orang yang ingin menjadi guru harus mengikuti ujian untuk memperoleh lisensi mengajar. Ujian untuk memperoleh lisensi tersebut terdiri dari tiga praksis, yaitu tes keterampilan akademik yang dikenakan pada saat seseorang masuk program penyiapan guru, penilaian terhadap penguasaan materi ajar yang diterapkan pada saat yang bersangkutan mengikuti ujian lisensi, dan penilaian performance di kelas yang diterapkan pada tahun pertama mengajar.Mereka yang memiliki lisensi mengajarlah yang berhak menjadi guru. Keterpurukan mutu pendidikan Indonesia di dunia internasional memang amat memprihatinkan. Akan tetapi, keprihatinan ini jangan sampai membuat kita putus harapan. Keterpurukan ini hendaknya membuat kita sungguh-sungguh terdorong mencari jalan yang tepat, bukan dengan cara-cara instan dan mengutamakan kepentingan pribadi. Salah satu jalan yang ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi mutu pendidikan yang rendah ini adalah dengan meningkatkan kualitas gurunya melalui sertifkasi guru. Pemerintah berharap, dengan disertifkasinya guru, kinerjanya akan meningkat sehingga prestasi siswa meningkat pula. Namun dalam pelaksanaannya, sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio memberi banyak peluang pada guru untuk menempuh jalan pintas. Hal ini disebabkan profesionalisme guru diukur dari tumpukan kertas. Indikator inilah yang kemudian memunculkan hipotesis bahwa pelaksanaan sertifikasi dalam wujud penilaian portofolio tidak akan berdampak sama sekali terhadap kinerja guru, apalagi terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional. Di samping itu, berkaca pada pelaksanaan sertifikasi negara-negara maju, terutama dalam bidang pendidikan, peningkatkan mutu pendidikan hanya dapat dicapai dengan pola-pola dan proses yang tepat. Pola-pola instan hanya akan menghambur-hamburkan dana dan waktu menjadi terbuang percuma. Sedangkan apa yang menjadi substansi sama sekali tidak tersentuh. Sertifikasi tidak akan berdampak sama sekali terhadap kinerja guru, memang baru sebuah hipotesis. Hipotesis ini memang harus dibuktikan melalui sebuah penelitian. Akan tetapi, tidak ada salahnya bila kita mengatakan sertifikasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan-atau bahkan tidak memiliki pengaruh sama sekali-terhadap kinerja guru berdasarkan indikator-indikator yang tampak di depan mata. Dari hasil pantauan penulis sampai saat ini belum ada yang melakukan penelitian menyangkut pengaruh sertifikasi terhadap kinerja guru, atau mungkin sudah ada tapi belum terpublikasi. Oleh sebab itu penulis bermaksud melakukan penelitian tentang masalah diatas dalam Thesis yang berjudul “Pengaruh Sertifikasi Profesi Guru terhadap peningkatan Kinerja Guru”. Penelitian ini Insya Allah akan dilaksanakan di tempat penulis bekerja yaitu di SMA Dwiwarna Boarding School. Semoga nantinya hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem sertifikasi yang sekarang sedang dilaksanakan.

pengaruh sertifikasi terhadap kinerja guru
Posted: 23 Februari 2011 in dunia pendidikan

0 KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-NYA, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun guna memenuhi syarat untuk menyelesaikan tugas Manajemen Pendidikan. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, hal tersebut dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pemahaman, juga pengalaman dari penyusun, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan sehingga makalah ini lebih sempurna. Penyusun berharap semoga makalah ini berguna bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Yogyakarta, november 2010 Penyusun, DAFTAR ISI KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………i DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….….ii BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………1 B.Rumusan Masalah………………………………………………………………………2 C.Tujuan yang Ingin Dicapai………………………………………………………………2 BAB II ISI DAN PEMBAHASAN A.Pengertian Sertifikasi………………………………………………………………….3 B.Tujuan Sertifikasi……………………………………………………………………….3 C.Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru……………………………………………4 BAB III PENUTUP KESIMPULAN……………………………………………………………………………6 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………..7 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang masalah Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh United nation Development Programe (UNDP) pada tahun 2007 tentang Indeks Pengembangan Manusia yang salah satu penentu utamanya adalah

tingkat pendidikan bangsa,menunjukan bahwa Indonesia berada diperingkat 107 dari 177 negara.Hal tersebut sangatlah ironis karena menggambarkan bagaimana perkembangan mutu pendidikan di Indonesia. Kurangnya mutu pendidikan di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor.Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kualitas pendidik atau kualitas guru.Guru sebagai seorang pendidik sangat berpengaruh pada mutu pendidikan karena peran seorang guru adalah mengajarkan berbagai pengetahuan kepada siswanya.Selain itu,seorang guru juga harus mampu mengembangkan segala potensi dan kepribadian siswanya.Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidik,pemerintah mengadakan program sertifikasi.Dengan adanya sertifikasi bagi guru,diharapkan mampu meningkatkan kinerja guru yang lebih baik sehingga peningkatan mutu pendidikan akan berjalan kearah yang lebih baik pula.Akan tetapi dalam prakteknya, apakah dengan adanya sertifikasi akan lebih membuat kinerja guru akan semakin baik ataukah tidak ada peningkatan kinerja guru seperti sebelum adanya sertifikasi. B.Rumusan masalah a.Apakah yang dimaksud dengan sertifikasi guru? b.Apakah tujuan dari sertifikasi guru? c.Bagaimana pengaruh sertifikasi terhadap kinerja guru? C.Tujuan yang Ingin Dicapai 1.Tujuan khusus a.Untuk mengetahui hakikat sertifikasi guru. b.Untuk mengetahui tujuan dari sertifikasi guru. c.Untuk mengetahui pengaruh sertifikasi bagi kinerja guru. 2.Tujuan umum a.Untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan. b.Untuk melatih ketrampilan dalam membuat karya ilmiah. c.Untuk memperdalam pengetahuan tentang hal yang dibahas dalam karya ilmiah ini. BAB II ISI DAN PEMBAHASAN A.Pengertian Sertifikasi Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru. Sertifikasi ini diberikan kepada para guru untuk memenuhi standar professional guru.Sertifikasi bagi guru prajabatan dilakukan melalui pendidikan profesi di LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan pemerintah diakhiri dengan uji kompetensi. Sertifikasi guru dalam jabatan dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk portofolio. Penilaian portofolio ini digunakan sebagai pengakuan atas standar profesionalitas guru dalam bentuk kumpulan dokumen yang menggambarkan kualitas guru yang mengarah pada sepuluh komponen,yaitu kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang ke pendidikan dan sosial, penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. B.Tujuan sertifikasi guru

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 16 disebutkan bahwa guru yang memiliki sertifikat pendidik, berhak mendapatkan insentif yang berupa tunjangan profesi. Besar insentif tunjangan profesi yang dijanjikan oleh UUGD adalah sebesar satu kali gaji pokok untuk setiap bulannya.Dengan adanya peningkatan kesejahteraan guru diharapkan akan terjadi peningkatan mutu pendidikan nasional dari segi proses yang berupa layanan dan hasil yang berupa luaran pendidikan. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara eksplisit mengisyaratkan adanya standarisasi isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Dengan adanya sertifikasi pendidik, diharapkan kompetensi guru sebagai pengajar akan meningkat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan kompetensi guru yang memenuhi standar minimal dan kesejahteraan yang memadai diharapkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dapat meningkat.Oleh karena itu,diharapkan akan terjadinya peningkatan hasil belajar siswa.Menurut Masnur Muslich manfaat uji sertifikasi antara lain sebagai berikut: 1. Melindungi profesi guru dari praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru itu sendiri. 2. Melindungi masyarakat dari praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan professional yang akan menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di negeri ini. 3. Menjadi wahana penjamin mutu bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang bertugas mempersiapkan calon guru dan juga berfungsi sebagai kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidikan. 4. Menjaga lembaga penyelenggara pendidikan dari keinginan internal dan eksternal yang potensial dapat menyimpang dari ketentuan yang berlaku. C.Pengaruh Sertifikasi terhadap kinerja guru Dalam rangka memperoleh profsionalisme guru, hal yang diujikan dalam sertifikasi adalah kompetensi guru. Sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, kompetensi guru meliputi empat komponen yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan sosial. Namun demikian,setelah adanya sertifikasipendidik, kinerja guru masih dirasa kurang meningkat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyono dkk (2008 )di SMP Negeri 1 Lubuklinggau menunjukan bahwa dampak sertifikasi terhadap kinerja guru belum mengalami perubahan.Para pendidik di sekolahan tersebut belum mampu mengaplikasikan empat komponen tentang standar nasional pendidikan.Dampak sertifikasi pada komponen yang pertama yaitu pada kompetensi pedagogic,para guru belum mengalami perubahan yang lebih baik dalam memeberikan pembelajaran pada siswanya.Pemberian teori belajar dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik pun belum mampu sepenuhnya dilakukan oleh para guru.Komponen yang kedua yaitu pada komponen kompetensi profesionalitas guru juga belum mengalami peningkatan setelah adanya sertifikasi.Para guru belum mampu meningkatkan efektifitas belajar siswa dan juga belum ada peningkatan dalam guru untuk lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas dalam bidangnya seperti diklat,Lokakarya,dan MGMP. Komponen yang ketiga yaitu komponen kompetensi social guru,dalam komponen ini guru dituntut untuk meningkatkan rasa sosialnya seperti untuk lebih berinteraksi dengan masyarakat agar berperan serta dalam pendidikan putra-putrinya.Komponen yang keempat adalah komponen

kompetensi kepribadian guru,pada komponen ini guru juga belum mengalami peningkatan yang signifikan untuk lebih berkomitmen dalam menjalankan tugasnya sebagai guru yang professional.Selain itu,guru belum bisa bersikap wajar dalam hal berpakaian dan memakai perhiasan yang mencolok. Kinerja guru dinilai meningkat hanya saat guru-guru belum lolos sertifikasi dan setelah mendapatkan sertifikasi kinerja guru menjadi menurun seperti para guru menjadi enggan untuk mengikuti seminar atau pelatihan untuk peningkatan kualitas diri,padahal sebelum mendapat sertifikasi para guru menjadi lebih sering mengikuti pelatihan untuk peningkatan kualitas diri.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengenai dampak sertifikasi profesi guru terhadap kinerja guru menunjukan hasil yang kurang memuaskan. Setelah mengolah data 16 dari 28 provinsi yang diteliti hasilnya menunjukan bahwa peningkatan kinerja yang diharapkan dari guru yang sudah bersertifikasi, seperti perubahan pola kerja, motivasi kerja, pembelajaran, atau peningkatan diri, dinilai masih tetap sama. BAB III PENUTUP KESIMPULAN : Dengan adanya program sertifikasi guru diharapkan kinerja guru akan meningkat sehingga mutu pendidikan di Indonesia juga akan meningkat ke arah yang lebih baik.Setelah sertifikasi diharapkan guru dapat memenuhi empat komponen seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, kompetensi guru meliputi empat komponen yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan social.Namun dalam prakteknya,banyak guru yang tidak dapat memenuhi keempat komponen tersebut dan dari beberapa penelitian juga menunjukan bahwa kinerja guru tidak meningkat setelah adanya sertifikasi dan cenderung masih sama sebelum adanya sertifikasi. Untuk menjaga mutu guru yang sudah lolos sertifikasi seharusnya ada pola pembinaan dan pengawasan yang terpadu dan berkelanjutan bagi para guru. DAFTAR PUSTAKA Mulyono,dkk.2008.” Dampak Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru di SMP Negeri 1 Lubuklinggau”.www.pdfqueen.com.Diunduh pada 28 Oktober. Firman Parlindungan.2009 . “Pengaruh Negatif Sertifikasi Guru Berbasis Portofolio Terhadap Kinerja dan Kompetensi Guru “.www.infodiknas.com.Diunduh pada 28 Oktober. Rahadian,Randy.2009.”Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru” . www.randyrahadian.blog.upi.edu. Diunduh pada 3 Desember. Anonim.2009. ”Kinerja Guru Rendah Produktivitas Tinggi Saat Mengikuti Sertifikasi”. www.penapendidikan .com .Diunduh pada 3 Desember.

PENGARUH SERTIFIKASI TERHADAP KINERJA GURU
A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah[1]. Guru profesional harus memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV), menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini mestinya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih terdapat dilakukan orang di luar kependidikan.[2] Guru juga mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional tersebut dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Lebih lanjut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru tersebut mendefinisikan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Guru sebagai pendidik profesioanl mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau tauladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas[3] Keutamaan seorang pendidik (guru) disebabkan oleh tugas mulia yang diembannya. Tugas yang diemban oleh seorang guru sama dengan tugas seorang Rasul.[4] Dari pandangan itu dipahami, bahwa tugas pendidik sebagai”warasat al-anbiya” yang pada hakikatnya mengemban misi rahmat li al-`alamin, yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukumhukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat, kemudian misi ini dikembangkan oleh kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal saleh dan bermoral tinggi. Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Keberhasilan pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.[5] Dalam pengertian di atas mengajar menyampaikan pengetahuan kepada siswa atau murid, maka pengajaran dipandang sebagai upaya mempersiapkan siswa untuk hidup dimasa yang akan datang; pengajaran juga merupakan penyampaian pengetahuan dari guru kepada siswa, tujuan pengajaran adalah penguasaan pengetahuan oleh siswa; guru dianggap sebagai sumber utama belajar; murid diposisikan sebagai penerima pesan, informasi dan pengetahuan dan pengajaran hanya berlangsung di ruangan kelas.

Mengajar dipandang sebagai membimbing murid atau siswa adalah berkaitan dengan peran guru yang lebih kepada moderator dalam kegiatan belajar mengajar, dan yang dituntut aktif melakukan aktivitas belajar adalah siswa untuk melakukan kegiatan dan pengalaman belajar dan memperoleh kecakapan hidup dalam kegiatan pembelajaran dengan menggali dan mencari informasi sendiri, berdiskusi, mengunjungi sumber belajar selain guru dan sebagainya. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan pembelajaran siswa dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika siswa berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan siswa disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.[6] Siswa adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di sekolah, gurulah yang berkewajiban untuk mendidiknya. Di ruang kelas guru akan berhadapan dengan sejumlah siswa dengan latar belakang kehidupan yang berlainan. Status sosial mereka, ada berjenis kelamin lakilaki dan ada yang berjenis kelamin perempuan. Postur tubuh mereka ada yang tinggi, sedang dan ada pula yang rendah. Pendek kata, dari aspek fisik ini selalu ada perbedaan dan persamaan pada setiap siswa. Jika pada aspek biologis di atas ada persamaan dan perbedaan, maka pada aspek intelektual juga ada perbedaan. Para ahli sepakat bahwa secara intelektual, siswa selalu menunjukan perbedaan.

Hal ini terlihat dari cepatnya tanggapan siswa terhadap rangsangan yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajar, dan lambatnya tanggapan siswa terhadap rangsangan yang diberikan guru. Dari aspek psikologis sudah diakui ada juga perbedaan, di sekolah perilaku siswa selalu menunjukan perbedaan, ada yang pendiam, ada juga yang kreatif, ada yang suka bicara, ada yang tertutup (introver) ada yang terbuka (ekstrover), ada yang pemurung, ada yang periang dan sebagainya. Siapa pun tidak pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dengan penuh makna. Di dalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan kedalam ciri setiap pribadi siswa. Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan siswa. Guru yang mengajar dan siswa yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Semua orang yakin bahwa guru memilki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan siswa untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan ini muncul karena manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembanganya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir bahkan pada saat meninggal. Semua itu menunjukan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya, demikian halnya peserta didik ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal. Minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan siswa secara

individual, karena antara satu siswa dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Guru pula yang memberi dorongan agar siswa berani berbuat benar, dan membiasakan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya. Gurulah sebagai kunci keberhasilan pembelajaran di sekolah, sehingga profesionalisme. Berdasarkan deskripsi diatas sertifikasi mendorong untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengajar ditunut melakukan profesinya denga penuh penganbdia maka dengan ini penulis dituntut untuk memilki kesabaran, kreativitas dan

tertarik mengadakan penelitian dengan Judul : "PENGARUH SERTIFIKASI GURU DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PROFESIONALISME MENGAJAR "( Studi di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak). 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas, maka disusunlah beberapa perumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah sertifikasi guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak? 2. Bagaimanakah Kinerja Guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak? 3. Adakah terdapat pengaruh sertifikasi dengan kinerja guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak? 2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dapat penulis rumuskan dari beberapa masalah tersebut diatas adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui sertifikasi guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak 2. Untuk mengetahui kinerja guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak

3. Untuk mengetahui Pengaruh sertifikasi terhadap knerja guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak.

E. Kerangka Pemikiran Sertifikasi guru adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru atau dosen sebagai tenaga profesional.[7] Profesionalisme guru dalam mengajar adalah kemampuan menciptakan pembelajaran yang berkualitas karena guru memiliki peranan yang sangat sentral, baik sebagai perencana, pelaksana, maupun evaluator pembelajaran, terutama dalam memberikan kemudahan pembelajaran kepada siswa secara efektif dan efisien, sehingga membentuk kompetensi siswa sesuai dengan karakteristik individual masing-masing.[8] Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan para ahli pada bab sebelumya, maka profesionalisme guru diukur dengan instrumen yaitu sebagai perencana, pelaksana, dan evaluator pembelajaran. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan siswa untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa tidak dapat berkembang optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan guru perlu memperhatikan siswa secara individual, karena antara satu siswa dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Berkaitan dengan tanggung jawab, guru harus mengetahui serta memahami nilai, norma, moral dan sosial serta berusaha berprilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual maupun potensial. Kegiatan belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru berkomunikasi. Tujuan pengajaran tentu saja saja akan dapat tercapai jika siswa berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan siswa disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga segi kejiwaan. Jika guru dalam mengajar di madrasah / sekolah efektif, maka : a. Siswa harus memperoleh pemahaman keilmuan yang optimal sesuai dengan tujuan-tujuan

pendidikan b. Pembelajaran dapat efektif c. Siswa mengenal diri mereka sebagai peserta didik yang baik

d. Terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif untuk pertumbuhan perkembangan psikologi siswa e. Bertambahnya sumberdaya manusia yang kompeten dan dapat dimanfaatkan.

Keterkaitan guru dalam mengajar mampu merealisir tujuan pendidikan dan lain sebagainya. Perkembangan psikologi siswa dalam penelitian ini adalah kejiwaan manusia yang berkaitan faktor-faktor kerohanian siswa yang pada umum nya dipandang lebih esensial kaitannya dengan pembelajaran yaitu tingkat kecerdasan/intelegensi, sikap, bakat, emosi, minat, dan motivasi . Siswa dilihat dari aspek perkembangan psikologi banyak sekali perbedaan yang ditonjolkan oleh masing-masing individu, di sekolah perilaku siswa selalu menunjukan perbedaan, ada yang

pendiam, kreatif, suka banyak bicara, ada yang tertutup (introver) dan ada yang terbuka (ekstrover), ada yang pemurung, periang dan sebagainya. E. Langkah-langkah Penelitian Dalam memaparkan skripsi ini, maka penulis menempuh beberapa langkah untuk mendapatkan data-data demi terlealisasinya pembahasan di atas: 1. Tekhnik Pengumpulan Data Untuk mencari dan mengumpulkan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan berbagai macam data dengan tekhnik dan cara yaitu: a. Observasi : mengumpulkan data dengan mengadakan peninjauan atau pengamatan langsung di lapangan/lokasi objek penelitian. b. Interview: melakukan wawancara dengan menyusun pernyataan-pernyataan dengan menyiapkan pedoman atau panduan wawancara. c. Library research: pengumpulan data dengan cara mencari data atau referensi melalui perpustakaan untuk mengadakan pengkajian yang berhubungan dengan masalah penulis yang akan dibahas. 2. Tekhnik Pengolahan Data Mengolah data berarti menyaring dan mengatur data yang telah diperoleh untuk menghasilkan susunan substansi masalah yang benar setelah terkumpul kemudian penulis menggunakan cara-cara dalam pengolahan data tersebut dan mengaplikasikan permasalahan menurut jenis batasan permasalahan itu sendiri lalu dianalisa secara kuantitatif dengan tidak menyampingkan data secara kualitatif serta merujuk kepada literatur yang berkaitan dengan obyek penelitian. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan masalah secara sistematis, faktual dan akurat yang mengenai fakta-fakta yang sering terjadi. Adapun alasan penulis menggunakan metode tersebut karena masalah yang sedang diteliti adalah masalah yang ada dan sedang berlangsung pada saat sekarang, dan juga dapat memudahkan penulis dalam menganalisa masalah. Sedangkan tekhnik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut: a. Library research (Studi Kepustakaan) : cara pengumpulan data dengan cara studi pustaka dengan mengadakan pengkajian yang berhubungan dengan masalah penulis yang akan dibahas b. Studi Lapangan Penelitian yang dilakukan di lokasi penelitian terhadap objek yang akan diteliti dan dijadikan sumber penelitian. Studi lapangan ini dapat dilakukan dengan cara: 1. Angket Angket adalah suatu set pertanyaan yang berumusan topik tunggal atau saling berkaitan, dan harus dijawab oleh subjek. [9] Angket ini diberikan kepada siswa untuk mengetahui pengaruh adanya sertifikasi guru dalam mengajar profesinalisme mengajar di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak. Angket tersebut suatu set topik yang

disusun berdasarkan permasalahan yang ditetapkan oleh indikator penelitian disertai alternatif jawabannya. 2. Observasi Observasi adalah teknik pengumpulan data dimana penelitian mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala-gejala subjek yang diteliti, baik pengamatan dilakukan dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi khusus yang diadakan.[10] Observasi diadakan di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak. 3. Wawancara Wawancara sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang ingin diteliti.[11] Wawancara pada penelitian ini dilakukan terhadap Kepala Madrasah, Guru-guru yang sudah bersertifikat pendidik profesional, dan siswa SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak. F. Sistematika Pembahasan Untuk memperoleh gambaran skripsi ini, disusun dalam lima Bab, dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan terdiri dari: Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Langkah-langkah Penelitian dan Sistematika Pembahasan. Bab II Analisis teoritis tentang sertifikasi guru yang meliputi pengertian sertifikasi guru, tujuan dan hakekat sertifikasi guru, dasar hukum pelakanaan sertifikasi guru dan hak serta kewajiban guru yang bersertifikasi. Analisis Teoritis tentang Profesionalisme guru dalam mengajar yang meliputi pengertian profesionalisme guru, komponen dasar kompetensi guru, hakikat mengajar, dan peranan serta kedudukan guru dan hubungan antara sertifikais guru dengan profesionalisme mengajar. Bab III Metedologi penelitian terdiri dari: Tempat dan Waktu Penelitian, Metode Penelitian, Variabel Penelitian, Populasi dan Sampel, Instrumen Penelitian, Tekhnis Analisis data, dan Hipotesis Penelitian. Bab IV Analisis Empiris tentang sertifikasi guru dalam pengembangan profesionalisme mengajar terdiri dari: pengaruh sertifikasi guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak, pengaruh profesionalisme mengajar di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak dan Korelasi antara sertifikasi guru dengan profesionalisme mengajar di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak

Bab V Penutup terdiri dari: Kesimpulan dan Saran-saran Dengan adanya program sertifikasi guru diharapkan kinerja guru akan meningkat sehingga mutu pendidikan di Indonesia juga akan meningkat ke arah yang lebih baik.Setelah sertifikasi diharapkan guru dapat memenuhi empat komponen seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, kompetensi guru meliputi empat komponen yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan social.Namun dalam prakteknya,banyak guru yang tidak dapat memenuhi keempat komponen tersebut dan dari beberapa penelitian juga menunjukan bahwa kinerja guru tidak meningkat setelah adanya sertifikasi dan cenderung masih sama sebelum adanya sertifikasi. Untuk menjaga mutu guru yang sudah lolos sertifikasi seharusnya ada pola pembinaan dan pengawasan yang terpadu dan berkelanjutan bagi para guru.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, dkk. Psikologi Perkembangan, Cet. Ke-2, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005. Al-Ghiffari, Abu, Remaja dan Cinta Memahami Gelora Cinta Remaja dan Menyelamatkannya dari Berhala Cinta, Cet. Ke-9, Bandung: Mujahid Press, 2005. Badan Narkotika Nasional(BNN), Modul Pelatihan Guru(SD, SMP & SMA)Sebagai Fasilitator Penyuluh Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba, Jakarta: 2007. Ashshiddiqi Hasbi, Al-Qur'an dan Terjemah, Jakarta:Departemen Agama RI, 1984.

Aqib Zainal, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Yrama Widya , 2006

Arifin, H. M, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,, 1989. __________Ilmu Pendidikan Islam, (Tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendekatan Interdisipliner), Jakarta: Bumi Aksara, 1989. Atmodiwirio Soebagio, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT. Ardadizya Jaya, 2000. Bahri Djamarahdan Syaiful Drs, dkk, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002. Departemen Agama RI. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Undang-Undang Republik Indonesi Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Depag RI Direktorat Jendral, Pendidikan Islam,2006 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006. Mulyasa E., Menjadi Guru Profesionalt, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006. _________Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik dan Implementasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004. Nasution S.. Prof. Dr. M.A, Asas- Asas kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1999. Nurkancana Wayan, Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2002. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-4, Jakarta: Kalam Mulia, 2004

Rajasa Sutan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Karya Utama, 2002. Sudjana, Metode Statistik, Bandung: PT. Tarsito, 1996. Sudjana, Nana, Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1991. Sujiono Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Gafindo Persada, 2000. Syah Muhibin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT.Logos Wacana Ilmu, 1999. Thabrani, Rusyan., dkk., Kemampuan Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda karya, 1992. Tanlain Wen, dkk, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Gramedia, 1989. Usman Uzer M, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991. Uhbiyati Nur, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka setia, 1997. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1985.

OUT LINE PENGARUH SERTIFIKASI GURU DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PROFESIONALISME MENGAJAR (Studi di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. C. D. E. F. Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Langkah-langkah Penelitian Sistematika Pembahasan GURU DALAM

BAB II ANALISIS TEORITIS TENTANG SERTIFIKASI PENGEMBANGAN PROFESINALISME MENGAJAR A. Sertifikasi Guru 1. Pengertian Sertifikasi Guru 2. Tujuan dan Hakekat Sertifikasi Guru 3. Dasar Hukum Pelaksanaan Sertifikasi Guru 4. Hak dan Kewajiban Guru yang Bersertifikasi B. Profesionalisme Guru dalam Mengajar 1. Pengertian Profesionalisme Guru 2. Komponen Dasar Kompetensi Guru 3. Hakikat Mengajar 4. Peranan dan Kedudukan Guru C. Hubungan Sertifikasi Guru Dengan Profesionalisme Mengajar BAB III METEDOLOGI PENELITIAN

A. Tempat Dan Waktu Penelitian

B. Metode Penelitian C. Populasi dan Sampel D. Instrumen Penelitian E. Teknis Analisis Data F. Hipotesis Penelitian BAB IV ANALISIS EMPIRIS TENTANG SERTIFIKASI PENGEMBANGAN PROFESIONALISME MENGAJAR A. Pengaruh Sertifikasi Guru di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak B. Pengaruh Profesionalisme Mengajar di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak C. Korelasi Antara Sertifikasi Guru Dengan Profesionalisme Mengajar di SMPN 3 Warung Gunung Kab. Lebak BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran-Saran DAFTAR PUSTAKA Departemen Agama RI, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Thaun 2005 Tentang Guru dan Dosen, h. 2. [2]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 1991), hal. 4 [3] Soetjipto, Profesi Keguruan , (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 42-43. [4] Asma Hasan Fahmi,Sejarah dan filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 165. [5] Ibid, hal. 3 [6] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, h. 44. [7] Depag RI, Op. Cit, h. 3. [8] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 14. [9] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hal.46 [10] Sugiyono, Op,Cit, hal.166 [11] Ibid, hal. 157
[1]

GURU

DALAM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->