P. 1
UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 SIDOARJO

UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 SIDOARJO

|Views: 345|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 SIDOARJO

SKRIPSI

Oleh IMROATUN KHOIRUN NISAK NIM: 05110160

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Agustus 2009

UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 SIDOARJO SKRIPSI

Oleh IMROATUN KHOIRUN NISAK NIM: 05110160

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Agustus 2009

UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 SIDOARJO
SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Agama Islam (S. Pd. I)

Oleh IMROATUN KHOIRUN NISAK NIM: 05110160

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Agustus 2009

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

JUDUL: UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 SIDOARJO

OLEH:

Imroatun Khoirun Nisak NIM: 05110160

Telah Disetujui Pada Tanggal 30 Mei 2009 Oleh Dosen Pembimbing:

Drs. H. Masduki, MA NIP. 150 288 079

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 150 267 235

Drs. H. Masduki, MA Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Imroatun Khoirun Nisak Lamp. : 4 (Empat) Eksemplar Malang, 30 Mei 2009

Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di Malang Assalamu'alaikum Wr. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama NIM Jurusan : Imroatun Khoirun Nisak : 05110160 : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : Upaya Pengembangan Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Penggunaan Media Pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembimbing,

Drs. H. Masduki, MA NIP. 150 288 079

LEMBAR PENGESAHAN UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI I SIDOARJO SKRIPSI dipersiapkan dan disusun oleh Imroatun Khoirun Nisak (05110160) telah dipertahankan di depan dewan penguji skripsi pada tanggal 05 Agustus 2009 dan dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd.I)

Pada Tanggal: 11 Agustus 2009

Panitia Ujian 1. Ketua Sidang Hj. Rahmawati Baharuddin, MA NIP. 150 318 021 2. Pembimbing/Sekretaris Sidang Drs. H. Masduki, MA NIP. 150 288 079 3. Penguji Utama Dr. Nur Ali, M. Pd NIP. 150 289 265 :

Tanda Tangan [ ]

:

[

]

:

[

]

Mengetahui: Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dr. M. Zainuddin, MA NIP. 150 275 502

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau perdapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.

Malang, 30 Mei 2009

Imroatun Khoirun Nisak

PERSEMBAHAN Karya Ini Ku Persembahkan Untuk
Bapak dan Ibuku tersayang, atas do’a dan kasih sayang serta kepercayaan yang diberikan yang tak pernah henti dengan segenap kesabaran membesarkan, mengasuh serta banyak berkorban, baik moril maupun materiil demi kesuksesanku. Buat dosen pembimbingku Bapak Drs. H. Masduki, MA di Fakultas Tarbiyah dan seluruh dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah membuatku menjadi tahu apa yang belum pernah aku tahu. Khususnya para dosen Fakultas Tarbiyah.

MOTTO

çm÷Ytã tb%x. y7Í´¯»s9'ré& ‘@ä. yŠ#xsàÿø9$#ur uŽ|Çt7ø9$#ur yìôJ¡¡9$# ¨bÎ) 4 íOù=Ïæ ¾ÏmÎ/ y7s9 }§øŠs9 $tB ß#ø)s? Ÿwur ŸZ ÇÌÏÈ Zwqä«ó¡tB
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya.1 (Q.S. AlIsraa’: 36)

1

Al-‘Aliyy. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2000), hlm. 228

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, nikmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, yang merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kehadirat junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya serta seluruh pengikutnya. Bukanlah suatu hal yang mudah bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini, karena terbatasnya pengetahuan dan sedikitnya ilmu yang dimiliki penulis. Akan tetapi berkat rahmat Allah SWT dan dukungan serta bantuan dari berbagai pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis dengan tulus menyampaikan rasa terima kasih kepada: 1. Bapak dan Ibu, yang telah membesarkan dan membimbingku sampai saat ini serta memberikan dukungan baik spiritual maupun material. 2. Prof. DR. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 3. Dr. M. Zainuddin, MA selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.........................................................................................i HALAMAN JUDUL ........................................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN ...........................................................................iii HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................iv HALAMAN NOTA DINAS................................................................................ v HALAMAN PERNYATAAN.............................................................................vi HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ vii HALAMAN MOTTO ........................................................................................viii KATA PENGANTAR.........................................................................................ix DAFTAR ISI....................................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR..........................................................................................xvi DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii ABSTRAK ........................................................................................................ xviii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1 A. Latar Belakang .......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 6 C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ............................................. 6 D. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ............................................ 8 E. Definisi Operasional ................................................................................. 9 F. Sistematika Pembahasan .......................................................................... 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA............................................................................. 11 A. Kreativitas Guru .................................................................................... 11 1. Pengertian Kreativitas Guru............................................................... 11 2. Guru Sebagai Pendorong Kreativitas ................................................. 13

3. Mengembangkan Kreativitas (Creativity Quotient) dalam Pembelajaran...................................................................................... 17 4. Guru menganjurkan Kreativitas Kepada Para Siswa ......................... 21 5. Sikap Guru terhadap Teknologi Pembelajaran Hubungannya dengan Pemanfaatan Media dalam Proses Pembelajaran............................... 24 B. Media dan Kegiatan Belajar Mengajar ............................................... 25 1. Pengertian Media Pembelajaran......................................................... 25 2. Guru dan Media Pembelajaran........................................................... 27 3. Prinsip Pemanfaatan Media Pembelajaran......................................... 29 4. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran.......................................... 31 5. Ciri-ciri atau Karakteristik Media ...................................................... 37 C. Pemilihan Media Pembelajaran ........................................................... 38 1. Pentingnya Media Pembelajaran..................................................... 38 2. Jenis-jenis Media Pembelajaran...................................................... 40 3. Kriteria PemilihanMedia................................................................. 45 4. Landasan Teoritis Penggunaan Media Pembelajaran ..................... 49 D. Media Pendidikan Agama Islam.......................................................... 52 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 57 A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ..................................................... 57 B. Kehadiran Peneliti........................................................................... 58 C. Lokasi Peneliti................................................................................. 59 D. Data dan Sumber Data .................................................................... 59 E. Prosedur Pengumpulan Data........................................................... 60 F. Analisis Data ................................................................................... 62

G. Pengecekan Keabsahan Data .......................................................... 65 H. Tahap-tahap Penelitian.................................................................... 65 BAB IV HASIL PENELITIAN......................................................................... 66 A. Latar belakang Obyek Penelitian...................................................... 66 1. Profil SMAN 1 Sidoarjo ................................................................. 66 2. Sejarah Berdirinya SMAN 1 Sidoarjo ............................................ 67 3. Visi dan Misi SMAN 1 Sidoarjo..................................................... 78 a. Visi Lembaga ........................................................................... 78 b. Misi Lembaga ........................................................................... 78 c. Tujuan SMA Negeri 1 Sidoarjo ................................................ 80 d. Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Sidoarjo ............................ 81 4. Keadaan Guru dan Siswa di SMAN 1 Sidoarjo.............................. 81 a. Keadaan Guru ........................................................................... 81 b. Keadaan Siswa .......................................................................... 81 5. Sarana dan Prasarana di SMAN 1 Sidoarjo .................................... 82 B. Paparan dan Analisis Data................................................................. 84 1. Kreativitas Guru PAI Saat Menggunakan Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajarandi SMAN 1 Sidoarjo .......................... 84 2. Upaya Guru PAI Dalam Pengembangan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo ........................................................................... 88 3. Kendala-kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo ............................................... 90

4. Solusi yang Dilakukan Guru PAI Saat Mengatasi Kendala-kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo ........................................................................... 93 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN............................................. 97 1. Kreativitas Guru PAI Dalam Penggunaan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo ........................................................................... 97 2. Upaya Guru PAI Dalam Pengembangan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidorjo ............................................................................. 99 3. Kendala-kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo ............................................... 100 4. Solusi yang Dilakukan Guru PAI Saat Mengatasi Kendala-kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo .......................................................................... 101 BAB VI PENUTUP ........................................................................................... 104 A. Kesimpulan ............................................................................................. 104 B. Saran........................................................................................................ 105 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN Daftar Riwayat Hidup

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR I

: Kerucut Pengalaman (Dale’s Cone of Experience)……………51

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I LAMPIRAN II LAMPIRAN III LAMPIRAN IV LAMPIRAN V LAMPIRAN VI
LAMPIRAN VII LAMPIRAN VIII LAMPIRAN IX

: Surat Penelitian : Bukti Konsultasi : Surat Keterangan : Instrumen Penelitian : Struktur Organisasi SMAN 1 Sidoarjo : Keadaan Guru SMAN 1 Sidoarjo
: Jumlah Mata Pelajaran per MP : Keadaan Siswa SMAN 1 Sidoarjo : Angka Mengulang Siswa (7 tahun terakhir)

LAMPIRAN X LAMPIRAN XI LAMPIRAN XII LAMPIRAN XIII

: Angka Putus Sekolah (7 tahun terakhir) : Sarana dan Prasarana SMAN 1 Sidoarjo
: Buku Perpustakaan

: Gambar Dokumentasi

ABSTRAK Imroatun Khoirun Nisak. 2009. Upaya Pegembangan Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Penggunaan Media Pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Drs. H. Masduki, MA. Kata Kunci: Pengembangan kreativitas, Guru, Media Pembelajaran Dalam dunia pendidikan, yang memegang kunci dalam pembangkitan dan pengembangan daya kreativitas anak itu adalah guru. Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan hasil yang sifatnya baru, inovatif, belum ada sebelumnya, menarik, dan berguna bagi masyarakat. Seorang guru itu perlu mengembangkan kreativitas sebagai upaya pembaharuan proses pembelajaran di sekolah. Kreativitas peserta didik dalam belajar sangat bergantung pada kreativitas guru dalam mengembangkan materi standard, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Guru dapat menggunakan berbagai pendekatan dalam meningkatkan kreativitas peserta didik. Sedangkan dalam pengembangan media pembelajaran, hendaknya guru menyesuaikan dengan karakteristik siswa, tujuan pembelajaran, bahan ajar, karakteristik media itu sendiri, dan sifat pemanfaatan media. Dalam penggunaan media pembelajaran agama, hendaknya guru dapat menyesuaikan dengan karakteristik materi yang akan disajikan dan dapat menarik perhatian siswa, dan tidak bertentangan dengan syari’at agama atau tidak melanggar etika agama. Berangkat dari permasalahan di atas, maka secara umum permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini yaitu, bagaimanakah kreativitas guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? Bagaimana upaya guru PAI dalam pengembangan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? Apa kendala-kendala atau hambatan-hambatan yang dihadapi guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam pengembangan kreativitas penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? Bagaimana solusi yang dilakukan guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam pengembangan kreativitas penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? Penelitian yang penulis lakukan di SMA Negeri 1 Sidoarjo ini adalah termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Dalam perjalanan mengumpulkan data, penulis menggunakan metode observasi, interview, dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-data yang tertulis atau lisan dari orang dan pelaku yang diamati sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan secara menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa yang dilakukan oleh penulis dapat diketahui, bahwasannya dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Sidoarjo secara manual, dalam proses pembelajaran memakai media pembelajaran. Karena disetiap kelas dikasih media LCD Prejector. Akan tetapi tergantung sesuai dengan materi pembelajarannya (kondisional). Disamping itu, guru juga memiliki kreativitas dalam menggunakan media-media pembelajaran yang ada dan menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang akan sampaikan, yaitu disesuaikan dengan materi, tujuan, metode, karakteristik siswa dikelas, hal ini dimaksudkan agar penggunaan media pembelajaran tidak melenceng dari materi, tujuan, metode, karakteristik siswa sehingga pemahaman siswa dengan penggunaan media pempelajaran dapat lebih mudah dicapai.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan, yang memegang kunci dalam pembangkitan dan pengembangan daya kreativitas anak itu adalah guru. Seorang guru yang ingin membangkitkan kreativitas pada anak-anak didiknya, harus terlebih dahulu berupaya supaya ia sendiri kreatif. Pada umumnya guru yang kreatif itu pernah didik oleh orang-orang yang kreatif dalam lingkungan yang mendukungnya. Kreativitas harus mengubah konsep lama, yang mengatakan bahwa pendidikan itu suatu sistem, dimana faktor-faktor yang telah terdahulu terkumpul, dipelihara dan disistimatisasikan. Oleh karena itu, seorang guru itu perlu mengembangkan kreativitas sebagai upaya pembaharuan proses pembelajaran di sekolah, maka seorang guru dipersyaratkan mempunyai pandangan atau pendapat yang positif terhadap bagaimana menciptakan situasi dan kondisi belajar yang diharapkan. Karena secara operasionalnya gurulah yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di sekolah. Tugas guru memang sangatlah kompleks, sehingga mereka dituntut untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan. Guru harus memiliki kemampuan profesional dalam tugasnya dengan menerapkan konsep teknologi pembelajaran dalam memecahkan masalah-masalah

pendidikan/pembelajaran.1

Nurhinda Bakkidu. Sikap Guru terhadap Teknologi Pembelajaran Hubungannya dengan Pemanfaatan Media dalam Proses Pembelajaran. http://index.php/nurhinda bakkidu, diakses 18 july 2008.

1

Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah itu berupa komponen sistem instruksional yang telah disusun dalam fungsi desain dan seleksi, dan dalam pemanfaatan dikombinasikan sehingga menjadi sistem instruksional yang lengkap. Komponen-komponen tersebut meliputi: pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar atau lingkungan. Namun dari sejumlah komponen tersebut, yang akan menjadi obyek penelitian adalah sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dan pemanfaatan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran. Karena seorang guru tentunya mempunyai pandangan tersendiri berdasarkan tanggapan, perasaan, penilaian terhadap teknologi pembelajaran, serta pemanfaatan media dalam proses pembelajaran.2 Dalam proses pembelajaran, media telah dikenal sebagai alat bantu mengajar yang seharusnya dimanfaatkan oleh pengajar, namun kerap kali terabaikan. Problematika yang dihadapi oleh guru tidak dimanfaatkannya media dalam proses pembelajaran, pada umumnya disebabkan oleh berbagai alasan, seperti waktu persiapan mengajar terbatas, sulit mencari media yang tepat, biaya tidak tersedia, atau alasan lain. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu muncul apabila pengetahuan akan ragam media, karakteristik, serta kemampuan masing-masing diketahui oleh para pengajar. Media sebagai alat bantu mengajar berkembang demikian pesatnya sesuai dengan kemajuan teknologi. Ragam dan jenis media pun cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kondisi, waktu, keuangan, maupun materi yang akan disampaikan. Setiap jenis media memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menayangkan pesan dan informasi.3

2

Ibid, http://index.php/nurhinda bakkidu, diakses 18 july 2008. Hamzah. Profesi Kependidikan. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 109

3

Dalam menyampaikan pesan pendidikan agama diperlukan media pengajaran. Media pengajaran pendidikan agama adalah perantara/pengantar pesan guru agama kepada penerima pesan yaitu siswa. Media pengajaran ini sangat diperlukan dalam merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian sehingga terjadi proses belajar mengajar serta dapat memperlancar penyampaian pendidikan agama Islam.4 Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru atau fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru atau fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.5 Salah satu upaya seorang guru untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah penggunaan media pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan pesanpesannya. Hal ini diperuntukkan bagi siswa yang belum dapat menerima pesan yang disampaikan guru, maka penggunaan media sangat dianjurkan. Dengan demikian penggunaan media untuk menyampaikan pesan pembelajaran akan lebih dihayati tanpa menimbulkan kesalapahaman bagi keduanya yaitu murid dan guru. Azar Arsyad mengemukakan bahwa pemakaian media pengajar dalam proses belajar mengajar membangkitkan kemajuan dan minat yang baru,

4 Muhaimin. Strategi Belajar(Penerapan Dalam Pembelajaran Pendidikan Islam). (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), hlm. 91 5 Ardiani Mustikasari. Mengenal Media Pembelajaran. http://edu-articles.com, diakses 08 Agustus 2008.

bangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa.6 Prinsip penggunaan media pembelajaran bahwa dalam penggunaan media siswa harus dipersiapkan dan diperlakukan sebagai peserta yang aktif serta harus ikut bertanggung jawab selama kegiatan pembelajaran, merupakan upaya dalam menimbulkan motivasi dalam bentuk menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar, mengikat perhatian siswa agar senantiasa terikat kepada kegiatan belajar mengajar. Dalam memilih strategi penggunaan media pembelajaran pendidikan agama di SMAN 1 Sidoarjo, adalah pertama, menentukan jenis media dengan tepat, artinya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan. Kedua, menetapkan atau memperhitungkan subyek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan anak didik. Ketiga, menyajikan media dengan tepat, artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu, dan sarana yang ada. Keempat, menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat, artinya kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses mengajar terus-menerus memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan media. Berdasarkan fenomena-fenomena yang peneliti dapati bahwa di SMA Negeri 1 Sidoarjo ini ada sebagian guru yang belum kreatif dalam penggunaan media pembelajaran. Misalnya guru belum mampu memanfaatkan teknologi

6

Azar Arsyad. Media Pembelajaran. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 15

pembelajaran atau belum mampu menyusun rancangan pembelajaran dengan baik, guru terbiasa dengan pola pembelajaran melalui ceramah, kurangnya pengetahuan , keterampilan dan latihan-latihan yang dapat memacu kreativitas siswa, dan lain sebagainya. Dengan melihat argumen-argumen tersebut, media pengajaran dapat membantu guru mempermudah proses memahamkan siswa terhadap materi pelajaran, serta sarana pembelajaran yang disiapkan guru untuk memfasilitasi para siswanya belajar, menjadi suatu yang sangat signifikan penyediaannya oleh para guru agar proses pembelajaran semakin efektif, dan kualitas hasil belajar akan semakin meningkat. Terkait dengan itu, guru harus kreatif dalam mempersiapkan media dan sarana pembelajaran, sehingga mampu mengantarkan para siswanya menjadi manusia-manusia cerdas, kreatif, serta memiliki integritas keberagamaan yang kuat. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis berupaya untuk mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul ”Upaya Pengembangan Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI ) Dalam Penggunaan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo” dengan harapan kajian ini dapat dipakai bahan pemikiran untuk kegiatan penggunaan media pembelajaran dalam keberhasilan penyampaian pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan tersebut.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan beberapa uraian dan latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah kreativitas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? 2. Bagaimana upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan Media Pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? 3. Apa kendala-kendala atau hambatan-hambatan yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan kreativitas dalam penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo? 4. Bagaimana solusi yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan kreativitas dalam penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo?

C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian Dari rumusan masalah diatas maka akan penulis kemukakan tujuan penelitian yaitu: 1. Untuk mengetahui upaya kreativitas guru dalam penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Sidoarjo. 2. Untuk mengetahui upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo.

3. Untuk mengetahui kendala-kendala atau hambatan-hambatan yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan kreativitas dalam penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo. 4. Untuk mengetahui solusi yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan kreativitas penggunaan dalam media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo. Adapun kegunaan penelitian ini adalah: 1. Bagi siswa Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas belajar siswa melalui berfikir secara kreatif dan kritis dan dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari. 2. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan yang berkaitan dengan masalah pengajaran yang menggunakan media pembelajaran dan agar guru lebih mudah dalam menyampaikan materi yaitu secara praktis, efektif dan efisien dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal, serta untuk menambah wawasan tentang penggunaan media pembelajaran. 3. Bagi Lembaga Penelitian ini diharapkan sebagai bahan acuan dalam rangka memecahkan problematika belajar mengajar dalam rangka meningkatkan mutu media pembelajaran disekolah. Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:

a. Dapat memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh tenaga pendidik (guru) secara umum dan sekaligus teman-teman “seprofesi guru”. b. Dapat menambah pengetahuan dan informasi bagi penyusun, tenaga pendidik, masyarakat mengenai permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan. c. Sebagai dokumentasi dan kontribusi di dalam rujukan problem solving persoalan di dunia pendidikan, khususnya pada saat guru menggunakan media pembelajaran.

D. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian Untuk memudahkan pemahaman terhadap pembahasan penulisan skripsi ini, agar tidak meluas dan dapat jelas, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasannya yang terfokus pada: 1. Upaya kreativitas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo, untuk meningkatkan belajar siswa dalam pembelajaran agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. 2. Upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo, meliputi: kemampuan

mengembangkan media pembelajaran yang sudah ada, kemampuan dalam menggunakan media pembelajaran baik media jadi maupun media rancangan, dan menggunakan metode-metode yang lainnya. 3. Kendala-kendala atau hambatan-hambatan yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam kreativitas penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo.

4. Upaya atau solusi yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam kreativitas penggunaan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo.

E. Definisi Operasional Untuk menghindari keragu-raguan dalam penafsiran yang berbeda maka penulis perlu memberikan penegasan istilah atau penegetian pada judul skripsi ini sebagai berikut: 1. Upaya adalah merupakan usaha, akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya).7 2. Pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan.8 3. Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru, atau kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.9 4. Guru PAI adalah seseorang yang memiliki usaha sadar mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam guna membentuk pribadi muslim yang seutuhnya.10 5. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimaannya dapat melakukan proses belajar secara efektif dan efisien.11

Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm. 1109 Ibid, hlm. 473 9 Syamsu Yusuf. Landasan Bimbingan dan Konseling. (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2008), hlm. 246 10 Abdul Mujab. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media,2006), hlm. 87 11 Yudhi Munadi. Media Pembelajaran. (Ciputat: Gaung Persada Press, 2008), hlm. 07
8

7

F. Sistematika Pembahasan Adapun sistematika pembahasan yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah: BAB I, Pendahuluan. Pada bab ini akan dikemukakan hal yang sifatnya sebagai pengantar untuk memahami isi skripsi ini, yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, ruang lingkup penelitian, penegasan istilah dan sistematika pembahasan. BAB II, Kajian pustaka. Pada bab ini akan diuraikan kajian pustaka yang berkaitan dengan kreativitas guru, yang meliputi: pertama, kreativitas guru. Kedua, media dan kegiatan belajar mengajar. Ketiga, pemilihan media pembelajaran, dan yang keempat, media pendidikan agama Islam. BAB III, Metode penelitian. Pada bab ini akan dibahas tentang pendekatan penelitian yang digunakan, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, metode analisis data, dan pengecekan keabsahan data. BAB IV, Hasil penelitian. Bab ini berisi laporan penelitian yang meliputi latar belakang obyek penelitian, paparan dan analisis data. BAB V, Pembahasan hasil penelitian. Pada bab ini akan dibahas dan digambarkan tentang data-data serta pembahasan dan analisa data dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis. BAB VI, Kesimpulan dan saran. Pada bab ini akan dibahas tentang penutup yang mencakup kesimpulan akhir penelitian dan saran-saran dari peneliti terhadap pihak-pihak yang terkait dengan penelitian.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kreativitas Guru 1. Pengertian Kreativitas Guru Salah satu kemampuan utama yang memegang peranan penting dalam kehidupan dan perkembangan manusia adalah kreativitas. Kemampuan ini banyak dilandasi oleh kemampuan intelektual, seperti intelegensi, bakat dan kecakapan hasil belajar, tetapi juga didukung oleh faktor-faktor afektif dan psikomotor. Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menemukan dan menciptakan sesuatu hal baru, cara-cara baru, model baru yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat. Hal baru itu tidak perlu selalu sesuatu yang sama sekali tidak pernah ada sebelumnya, unsur-unsurnya mungkin telah ada sebelumnya, tetapi individu menemukan kombinasi baru, hubungan baru, konstruk baru yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Jadi hal baru itu adalah sesuatu sifatnya inovatif. Kreativitas adalah kesanggupan untuk menemukan sesuatu yang baru dengan jalan mempergunakan daya khayal, fantasi dan imajinasi. Menurut para pandangan pendidik, kreativitas itu seperti dirumuskan dalam ”The Dictionary of Education” sebagai berikut: ”Creativity is a quality thought to be make up of associative and ideational fluency, orginality, adopty and spontaneous flexibility, and the ability to make logical evaluations”12

Balnadi Sutadipura. Aneka Problematika Keguruan. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1985), alm. 102

12

Beberapa ahli walaupun mengemukakan rumusan yang agak berbeda tetapi intinya sama. David Campbell menekankan bahwa kreativitas adalah suatu kamampuan untuk menciptakan hasil yang sifatnya baru, inovatif, belum ada sebelumnya, menarik, aneh dan berguna bagi masyarakat. Utami Munandar dalam bukunya Nana Syaodih Sukmadinata,

memberikan rumusan tentang kreativitas sebagai berikut: Kreativitas adalah kemampuan: a) untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada, b) berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kualitas, katepatgunaan dan keragaman jawaban, c) yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orsinilitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.13 Kreativitas atau perbuatan kreatif banyak berhubungan dengan intelegensi. Seorang yang tingkat intelegensinya rendah, maka kreativitasnya juga relatif kurang. Kreativitas juga berkenaan dengan kepribadian. Seorang yang kreatif adalah orang yang memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu seperti: mandiri, bertanggung jawab, bekerja keras, motivasi tinggi, optimis, punya rasa ingin tahu yang besar, percaya diri, terbuka, memiliki toleransi, kaya akan pemikiran dan lain-lain. Wallas dalam bukunya Nana Syaodih Sukmadinata ”Landasan Psikologi Proses Pendidikan” mengemukakan ada empat tahap perbuatan atau kegiatan kreatif:

Nana. Syaodih Sukmadinata. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 104

13

1. Tahap persiapan atau preparation, merupakan tahap awal berisi kegiatan pengenalan masalah, pegumpulan data-informasi yang relevan, melihat hubungan antara hipotesis dengan kaidah-kaidah yang ada. Tetapi belum sampai menemukan sesuatu, baru menjajagi kemungkinan-kemungkinan. 2. Tahap pematangan atau icubation, merupakan tahap menjelaskan, membatasi, membandingkan masalah. Dengan proses ikubasi atau pematangan ini diharapkan ada pemisahan mana hal-hal yang benar-benar penting dan mana yang tidak, mana yang relevan dan mana yang tidak. 3. Tahap pemahaman atau illumination, merupakan tahap mencari dan menemukan kunci pemecahan, menghimpun informasi dari luar untuk dianalisis dan disintesiskan, kemudian merumuskan beberapa keputusan. 4. Tahap pengetesan atau verification, merupakan tahap mentes dan membuktikan hipotesis, apakah keputusan yang diambil itu tepat atau tidak Pengembangan kreativitas dapat dilakukan melalui proses belajar diskaveri/inquiri dan belajar bermakna, dan tidak dapat dilakukan hanya dengan kegiatan belajar yang bersifat ekspositori. Karena inti dari kreativitas adalah pengembangan kemampuan berpikir divergen dan bukan berpikir konvergen. Berpikir divergen adalah proses berpikir melihat sesuatu masalah dari berbagai sudut pandangan, atau menguraikan sesuatu masalah atas beberapa kemungkinan pemecahan. Untuk mengembangkan kemampuan demikian guru perlu menciptakan situasi belajar mengajar yang banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah, melakukan beberapa percobaan, mengembangkan gagasan atau konsep-konsep siswa sendiri. Situasi demikian menuntut pula sikap yang lebih demokratis, terbuka, bersahabat, percaya kepada siswa.14

2. Guru Sebagai Pendorong Kreativitas Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut. Kreativitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia kehidupan disekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Sebagai orang yang kreatif, guru menyadari bahwa kreativitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan

14

Ibid, hlm. 105

dibangkitkan oleh kesadaran itu. Ia sendiri adalah seorang creator dan motivator, yang berada dipusat proses pendidikan. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilainya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya dan apa yang dikerjakan dimasa mendatang lebih baik dari sekarang.15 Brown merumuskan ciri-ciri seorang teacher scholar itu sebagai berikut: a. Ia mempunyai jiwa penasaran, ingin selalu menanyakan tentang segala sesuatu yang masih belum jelas difahaminya. b. Setiap hal dianalisisnya dulu, kemudian disaringnya, dikualifikasi untuk ditelah dan di mengerti untuk kemudian diendapkannya dalam “gudang pengetahuan”. c. Intuisi, kemampuan untuk di bawah sadar menghubung-hubungkan gagasan-gagasan lama guna membentuk ide-ide baru. Intuisi ini berada diatas logika oleh karena itu didalamnya tergantung penemuan juga. d. Self-discipline. Hal ini mengandung arti, bahwa teacher-scholar yang kreatif itu memiliki kemampuan untuk melakukan pertimbanganpertimbangan antara analisa dan intuisi untuk diambilnya suatu keputusan akhir. e. Tidak akan puas dengan hasil sementara. Ia tidak menerima begitu saja setiap hasil yang belum memuaskannya.
15

E. Mulyasa. Menjadi Guru Profesional. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm.

51

f. Suka melakukan introspeksi. Sifat ini mengandung kemampuan untuk menaruh kepercayaan terhadap gagasan-gagasan orang lain yang bagaimanapun juga. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa orang perorangan harus menolak pergaulan akademis antara teman-teman sejawatnya dimana terdapat diskusi-diskusi dan debat-debat tentang pendapatnya masing-masing. g. Mempunyai kepribadian yang kuat, tidak mudah diberi instruksi tanpa pemikiran.16 Untuk mendongkrak kreativitas pembelajaran. Widada mengemukakan bahwa disamping penyediaan lingkungan yang kreatif, guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut: 1) Self esteem approach. Dalam pendekatan ini guru dituntut untuk lebih mencurahkan perhatiannya pada pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri), guru tidak hanya mengarahkan peserta didik untuk mempelajari materi ilmiah saja, tetapi pengembangan sikap harus mendapat perhatian secara proporsional. 2) Creativity approach. Beberapa saran untuk pendekatan ini adalah dikembangkannya problem solving, brain storning, inquiry dan role playing. 3) Value clarivication and moral development approach. Dalam pendekatan ini pengembangan pribadi menjadi sasaran utama, pendekatan holistik dan humanistik menjadi ciri utama dalam mengembangkan potensi manusia

16

Balnadi Sutadipura. op. cit. hlm. 108

menuju self actualization. Dalam situasi yang demikian pengembangan intelektual akan mengiringi pengembangan pribadi peserta didik. 4) Multiple talent approach. Pendekatan ini mementingkan upaya

pengembangan seluruh potensi peserta didik, karena manifestasi pengembangan potensi akan membangun self concept yang menunjang kesehatan mental. 5) Inquiry approach. Melalui pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan proses mental dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah, serta meningkatkan potensi intelektualnya. 6) Pictorial riddle approach. Pendekatan ini merupakan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat peserta didik dalam diskusi kelompok kecil. Pendekatan ini sangat membantu meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif. 7) Synetics approach. Pada hakekatnya pendekatan ini memusatkan perhatian pada kompetensi peserta didik untuk mengembangkan berbagai bentuk metaphor untuk membuka intelegensinya dan mengembangkan

kreativitasnya. Kegiatan dimulai dengan kegiatan kelompok yang tidak rasional, kemudian berkembang menuju pada penemuan dan pemecahan masalah secara rasional. Memahami uraian diatas, dapat dikemukakan bahwa kreativitas peserta didik dalam belajar sangat bergantung pada kreativitas guru dalam

mengembangkan materi standard, dan menciptakan lingkungan belajar yang

kondusif. Guru dapat menggunakan berbagai pendekatan dalam meningkatkan kreativitas peserta didik.17

3. Mengembangkan Kreativitas (Creativity Quotient) dalam Pembelajaran Gordon dalam bukunya Joice and Weill, yang dikutip oleh E. Mulyasa megemukakan empat prinsip dasar sinektik yang menentang pandangan lama tentang kreativitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Gordon menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Model Gordon dirancang untuk meningkatkan kapasitas pemecahan masalah, ekspresi kreatif, empati, dan hubungan sosial. Ia juga menekankan bahwa ide-ide yang bermakna dapat ditingkatkan melalui aktivitas kreatif untuk memperkaya pemikiran. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat dideskripsikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk

meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas dipandang sebagai sesuatu yang misterius, bawaan sejak lahir, yang bisa hilang setiap saat. Gordon yakin bahwa jika memahami landasan proses kreativitas, individu dapat belajar untuk menggunakan pemahamannya guna meningkatkan kreativitas dalam kehidupan dan pekerjaan, baik secara pribadi maupun sebagai anggota kelompok. Gordon memandang bahwa kreativitas didorong oleh kesadaran yang memberi

17

E. Mulyasa. op. cit. hlm. 168

petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan disekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu penemuan kreatif ditandai oleh beberapa pross intelektual. Ide ini bertentangan dengan keyakinan umum, yang memandang kreativitas terbatas pada bidang seni, padahal ilmu dan rekayasa juga merupakan penemuan manusia. Gordon menunjukkan adanya hubungan antara perkembangan berpikir dalam seni dan ilmu yang sangat erat. Asumsi yang keempat menunjukkan bahwa berpikir kreatif lebih baik secara individu maupun kelompok, adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal. Hal ini menentang pandangan yang mengemukakan bahwa kreativitas adalah pengalaman pribadi. Proses pembelajaran pada hakikatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya seringkali kita tidak sadar, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik. Apa yang diungkapkan diatas dapat dilihat dalam proses pembelajaran dikelas yang pada umumnya lebih menekankan pada aspek kognitif, sehingga kemampuan mental yang dipelajari sebagian besar berpusat pada pemahaman bahan pengetahuan, dan ingatan. Dalam situasi yang demikian, biasanya peserta didik dituntut untuk menerima apa-apa yang dianggap penting oleh guru dan menghafalnya. Guru pada umumnya kurang menyenangi suasana pembelajaran yang para peserta didiknya banyak bertanya megenai hal-hal diluar konteks yang

dibicarakan. Dengan kondisi yang demikian, maka aktivitas dan kreativitas para peserta didik terhambat atau tidak dapat berkembang secara optimal.18 Berdasarkan berbagai penelitiannya Gibbs dalam buku E. Mulyasa, menyimpulkan bahwa kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri, dan pengawasan yang tidak terlalu ketat. Hasil penelitian tersebut dapat diterapkan atau ditransfer dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini peserta didik akan lebih kreatif jika: a. Dikembangkan rasa percaya diri pada peserta didik, dan tidak ada perasaan takut. b. Diberi kesempatan untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas dan terarah. c. Dilibatkan dalam menentukan tujuan dan evaluasi belajar. d. Diberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter; serta e. Dilibatkan secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan. Apa yang dikemukakan diatas nampaknya sulit untuk dilakukan. Namun paling tidak guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, yang mengarah pada situasi, misalnya dengan mengembangkan modul yang heuristik dan hipotetik. Kendatipun demikian, kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh aktivitas dan kreativitas guru, disamping kompetensi-kompetensi

profesionalnya.19 Beberapa hal yang dilakukan guru untuk mengembangkan kreativitas peserta didik:

18 19

E. Mulyasa. op. cit. hlm. 163-164 Ibid. hlm. 165

1. Jangan terlalu banyak membatasi ruang gerak peserta didik dalam pembelajaran dan mengembangkan pengetahuan baru. 2. Bantulah peserta didik memikirkan sesuatu yang belum lengkap, mengeksplorasi pertanyaan, dan mengemukakan gagasan yang original. 3. Bantulah peserta didik mengembangkan prinsip-prinsip tertentu kedalam situasi baru. 4. Berikan tugas-tugas secara independent. 5. Kurangi kekangan dan ciptakan kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang otak. 6. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk berfikir reflektif terhadap setiap masalah yang dihadapi. 7. Hargai perbedaan individu peserta didik, dengan melonggarkan aturan dan norma kelas. 8. Jangan memaksakan kehendak terhadap peserta didik. 9. Tunjukkan perilaku-perilaku baru dalam pembelajaran. 10. Kembangkan tugas-tugas yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas. 11. Kembangkan rasa percaya diri peserta didik, dengan membantu mereka mengembangkan kesadaran dirinya secara positif, tanpa menggurui dan mendikte mereka. 12. Kembangkan kegiatan-kegiatan yang menarik, seperti kuis dan teka-teki, dan nyanyian yang dapat memacu potensi secara optimal.

13. Libatkan peserta didik secara optimal dalam proses pembelajaran, sehingga proses metalnya bisa lebih dewasa dalam menemukan konsep dan prinsip-prinsip ilmiah.20

4. Guru menganjurkan Kreativitas Kepada Para Siswa Para guru bisa menganjurkan perilaku dan pemikiran kreatif dalam sejumlah cara. Pertama, dan mungkin yang paling nyata, para guru memberikan hadiah terhadap gagasan-gagasan dan kegiatan-kegiatan orisinil setiap kali gagasan atau kegiatan tersebut muncul. Cara tersebut terkadang lebih mudah dilakukan dibandingkan cara-cara lain. Misalnya, cara tersebut mungkin lebih mudah digunakan dalam kelas seni atau menulis indah, saat dimana para siswa akan menjadi kreatif dengan sendirinya. Sebaliknya, cara tersebut sangat mungkin sulit digunakan dalam sebuah diskusi yang terfokus: dimana para guru mencoba menyampaikan pemikiran-pemikiran tertentu kepada para siswa; sehingga, komentar bercabang dari para siswa akan lebih terkesan sebagai sebuah hal yang menyerupai interupsi ketimbang sebagai sebuah kreativitas. Akan tetapi, seiring latihan, para guru akan belajar dan terbiasa mengenali dan menganjurkan kontribusi kreatif secara konsisten, bahkan ketika mereka tidak mengharapkan hal tersebut.21 Cara lain dalam menganjurkan pemikiran bercabang adalah dalam pengilhaman. Pengilhaman terdiri dari usaha mengurutkan atau menyebutkan semua gagasan atau solusi yang relevan bagi sebuah masalah atau topik tanpa terlebih dahulu mengevaluasi semua gagasan atau solusi tersebut. Secara sadar
Ibid, hlm. 169 Kelvin Seifert, Manajemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan, terj., Yusuf Anas. (Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD, 2007), hlm. 160
21 20

memisahkan usaha menciptakan gagasan dari evaluasi terhadapnya akan merangsang kefasihan dalam menciptakan gagasan tersebut dan sebagaimana yang telah ditunjukkan diatas, kefasihan dalam berpikir akan mengarahkan seseorang pada gagasan-gagasan yang lebih orisinil. Ketika pengilhaman dilakukan dalam kelompok, hal tersebut juga akan membantu masing-masing individu untuk lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan dihadapan individu-individu lain. Biasanya, komentar evaluatif dalam sebuah diskusi cenderung akan mengendorkan semangat menciptakan gagasan, dan diskusi tersebut justru seringkali terjebak dalam perdebatan panjang tentang nilai dari hanya sebuah usulan saja. Semangat yang mengendor tersebut juga sangat mungkin muncul dalam pikiran seorang individu yang berusaha menghidupkan gagasan atau solusi bagi sebuah masalah individu yang bersangkutan bahkan sangat bertahan dalam perenungan tentang pro dan kontra dari sebuah gagasan ketimbang mencari gagasan-gagasan baru.22 Menunda evaluasi dan menganjurkan orisinalitas juga sangat mungkin lebih mudah dilakukan, jika para guru menyediakan beragam materi dan aktivitas bagi para siswa. Penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap orang-orang kreatif menunjukkan keanekaragaman sedemikian dalam latar belakang personal mereka. Disepanjang masa kecil dan masa muda mereka, mereka dihadapkan pada kesempatan yang luar biasa luas dalam mengeksplorasi gagasan, aktivitas, dan materi. Pengalaman sedemikian menyampaikan sebuah pesan, bahwa kefasihan, fleksibilitas, orisinalitas, dan keluasan dalam berpikir dan berperilaku merupakan hal yang sangat mugkin dilakukan dan sangat bermanfaat. Pada saat para guru

22

Ibid, hlm. 161

mampu menyediakan aneka ragam pengalaman dan pilihan bagi para siswa, pada saat yang sama pula para guru akan mampu menganjurkan kreativitas yang sebelumnya sudah ada pada diri masing-masing siswa.23 Sejumlah program komersial dihadirkan untuk memberanikan keragaman dalam pengajaran dan pembelajaran kreatif yang berhubungan dengannya. Sebagian besar program tersebut ditunjukkan untuk memperkuat, bukan mengganti, usaha pribadi para guru dalam menganjurkan kreativitas dalam kelas mereka. Salah satu program terdiri dari beberapa buklet untuk siswa-siswa sekolah dasar yang menyediakan instruksi-instruksi dalam membangun

kecakapan-kecakapan dalam memecahkan masalah. Sebagian besar dari kecakapan-kecakapan tersebut, meski tidak semuanya, mempromosikan kemampuan dalam melakukan pemikiran bercabang. Program lain berisikan materi-materi latihan dalam bentuk audio dan kertas-kertas tugas bagi anak-anak didik yang dirancang untuk menekankan pentingnya dan menstimulasi pemikiran kreatif. Selain itu, ada juga bahan-bahan yang diperuntukkan bagi para guru dalam bentuk buku-buku panduan, yang dimaksudkan untuk membantu mereka memilih dan menggunakan aneka latihan kreativitas. Perlu diketahui bahwa, materi-materi dan program-program itu tetap saja tidak memiliki kekuatan yang bisa menjamin masing-masing siswa akan menjadi orang yang luar biasa kreatif dalam jangka waktu yang lama. Meskipun demikian, materi-materi dan program-program tersebut sangat bermanfaat dalam membantu perkembangan kondisi yang dibutuhkan oleh perilaku kreatif dalam jangka waktu

23

Ibid, hlm. 162

yang singkat. Memang sedikit sekali siswa yang akan mampu meraih hadiah nobel hanya karena instruksi tentang kreativitas, akan tetapi ada banyak dari mereka yang mampu menyampaikan gagasan-gagasan yang kreatif.24

5. Sikap Guru terhadap Teknologi Pembelajaran Hubungannya dengan Pemanfaatan Media dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang kompleks karena kegiatan pembelajaran menyangkut proses penciptaan lingkungan, baik yang dilakukan guru maupun siswa agar terjadi proses belajar. Penciptaan lingkungan dalam belajar meliputi penataan nilai-nilai dan kepercayaan yang akan diupayakan tercapai. Upaya guru dalam menciptakan lingkungan agar terjadi proses belajar. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pengajaran adalah penciptaan lingkungan agar mempengaruhi siswa untuk aktif belajar, jadi penekanan di sini adalah aktivitas siswa untuk belajar.25 Walaupun inti dari pembelajaran adalah siswa belajar, namun guru memegang peranan sentral dalam upaya pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu guru perlu mencari terobosan baru yang bersifat inovatif sebagai upaya pembaharuan mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimana syarat-syarat kehidupan modern dalam pendidikan adalah bersifat efektif dan efisien. Semua itu ditentukan oleh sifat kreativitas seorang guru dalam melaksanakan tugasnya, terutama pada proses pembelajaran di kelas, seperti pemanfaatan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, teknologi modern, teknologi pendidikan pada umumnya dan teknologi pengajaran pada
Ibid, hlm. 163 Ida, Multimedia Sebagai Media Pembelajaran. (http://www.radarsemarang.com, diakses 27 Agustus 2008)
25 24

khususnya, serta pemanfaatan/penggunaan berbagai macam sumber belajar dan media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.26 Salah satu upaya yang paling praktis dan realitas dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar para siswa sebagai indikator kualitas pendidikan adalah perbaikan dan penyempurnaan sistem pembelajaran. Upaya tersebut diarahkan kepada kualitas pembelajaran sebagai suatu proses yang diharapkan dapat menghasilkan kualitas hasil belajar yang optimal. Teknologi pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebagai bagian dari teknologi pendidikan, maka teknologi pembelajaran juga mempunyai pandangan bahwa pendidikan dan pembelajaran itu merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang harus diatur agar mempunyai fungsi yang optimal dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran. Teknologi pembelajaran dapat membawa guru atau pendidik dan para tenaga pendidikan lainnya dalam melaksanakan tugasnya dengan caracara atau teknik yang efektif dan efisien dengan memanfaatkan media atau alat bantu mengajar dengan secara cepat.27

B. Media dan Kegiatan Belajar Mengajar 1. Pengertian Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa Latin ’medius’ yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (‫ )وﺳﺎﺋﻞ‬atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah
26 27

Ibid, http://www.radarsemarang.com, diakses 27 Agustus 2008 Ibid, http://www.radarsemarang.com, diakses 27 Agustus 2008

manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alatalat grafis, photographis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.28 Dengan demikian, kalau ada teknologi pengajaran agama misalnya, maka itu akan membahas masalah bagaimana kita memakai media dan alat bantu dalam proses belajar mengajar agama, akan membahas masalah keterampilan, sikap, perbuatan, dan strategi mengajarkan agama. Dalam kegiatan belajar mengajar, sering pula pemakaian media pengajaran atau “ ˜ “ • ˜ digantikan dengan istilah-istilah seperti alat pandang-dengar,

bahan pengajaran (instructional material), komunikasi pandang-dengar (audiovisual communication), pendidikan alat peraga pandang (visual education), teknologi pendidikan (educational technology), alat peraga • oudai™ penjelas • earn,˜g • i–nst • 29 • i–nst • dan media

Media pengajaran menurut Hamalik adalah alat, method dan tehnik yang digunakan dalam rangka mengaktifkan komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar disekolah.30 Untuk lebih jelasnya dalam

28

Azar Arsyad. Media Pembelajaran. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. Azar Arsyad, Ibid. hlm. 06 Oemar Hamalik. Media Pendidikan. (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1989), hlm. 23

03
29 30

memahami pengertian media, maka penulis mengungkapkan beberapa istilah menurut para ahli.31 a. Menurut Gange I, Wilkinson, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. b. Menurut NEA (National Education Association), media adalah segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibacakan bersama instrument yang digunakan untuk kegiatan tersebut.32 c. Menurut AECT (Association for Education Communication and Technology), media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan dalam penyampaian informasi.33 d. Menurut Wilbur Seram, media pengajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan instruksional. Menurut Rustiyah Nk, dkk, media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah.

2. Guru dan Media Pembelajaran Sistem pendidikan yang baru menuntut faktor dan kondisi yang baru pula baik yang berkenaan dengan sarana fisik maupun non-fisik. Untuk itu diperlukan tenaga pengajar yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang lebih memadai., diperlukan kinerja dan sikap yang baru, peralatan yang lebih lengkap, dan administrasi yang lebih teratur. Guru hendaknya dapat menggunakan peralatan

Sudjarwo. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar. (Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa, 1989), hlm. 166 32 Basyirudin Usman. Media Pembelajaran. (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 11 33 Azar Arsyad, op.cit. hlm. 03

31

yang lebih ekonomis, efisien, dan mampu dimiliki oleh sekolah serta tidak menolak digunakannya peralatan teknologi modern yang relevan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Permasalahan pokok dan cukup mendasar adalah sejauh manakah kesiapan guru-guru dalam menguasai penggunaan media pendidikan dan pengajaran disekolah untuk pembelajaran siswa secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.34 Semakin maju perkembangan masyarakat dan ekslarasi teknologi modern, maka semakin besar dan berat tantangan yang dihadapi guru sebagai pendidik dan pengajar disekolah. Ada lima tantangan yang dihadapi oleh guru dewasa ini, antara lain: 1. Apakah guru tersebut telah memiliki pengetahuan/pemahaman dan pengertian yang cukup tentang media pendidikan? 2. Apakah guru telah memiliki keterampilan tentang cara menggunakan media dalam proses belajar mengajar dikelas? 3. Apakah guru mampu membuat sendiri alat-alat media pendidikan yang dibutuhkan? 4. Apakah guru mampu melakukan penilaian terhadap media yang akan dan telah digunakan? 5. Apakah ia telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang administrasi media pendidikan?35 Agar seorang guru dalam menggunakan media pendidikan yang efektif, setiap guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang

34 35

Basyiruddin Usman. Media Pembelajaran. (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 17 Oemar Hamalik. Media Pendidikan, cet. VI (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1989),

hlm. 05

media pendidikan/pegajaran. Pengetahuan tersebut menurut Oemar Hamalik yang meliputi: 1. Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. 2. Media berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. 3. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar. 4. Hubungan antara metode mengajar dengan media pendidikan. 5. Nilai dan manfaat media pendidikan. 6. Memilih dan menggunakan media pendidikan. 7. Mengetahui berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan. 8. Mengetahui penggunaan media pendidikan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. 9. Melakukan usaha-usaha inovasi dalam media pendidikan. Berdasarkan hal tersebut diatas jelaslah bahwa media pendidikan sangat membantu dalam upaya mencapai keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran disekolah. Oleh karena itu, guru harus mempunyai keterampilan dalam memilih dan menggunakan media pendidikan dan pengajaran. Disamping itu perlu dilakukan latihan-latihan praktek yang kontinyu dan sistematis, baik dalam bidang pre-service maupun in-service training.36

36

Basyiruddin Usman, op.cit, hlm. 19

3. Prinsip Pemanfaatan Media Pembelajaran Media pengajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media yang antara lain: 1. Penggunaan media pengajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan hanya sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan sewaktu-waktu dibutuhkan. 2. Media pengajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. 3. Guru hendaknya benar-benar menguasai teknik-teknik dari suatu media pengajaran yang digunakan. 4. Guru seharusnya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan suatu media pengajaran. 5. Penggunaan media pengajaran harus diorganisir secara sistematis bukan sembarang menggunakan. 6. Jika sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari macam media, maka guru dapat memanfaatkan multimedia yang menguntungkan dan memperlancar proses belajar mengajar dan juga dapat merangsang siswa dalam belajar. Beberapa syarat umum yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan media pengajaran dalam PBM yaitu:

1. Media pengajaran yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 2. Media pengajaran tersebut merupakan media yang dapat dilihat atau didengar. 3. Media pengajaran yang digunakan dapat merespon siswa belajar. 4. Media pengajaran juga harus sesuai dengan kondisi individu siswa. 5. Media pengajaran tersebut merupakan perantara (medium) dalam proses pembelajaran siswa. Penggunaan media pengajaran seharusnya mempertimbangkan beberapa hal berikut ini: 1. Guru harus berusaha dapat memperagakan atau merupakan model dari suatu pesan (isi pelajaran) disampaikan. 2. Jika objek yang akan diperagakan tidak mungkin dibawa kedalam kelas, maka kelaslah yang diajak ke lokasi objek tersebut. 3. Jika kelas tidak memungkinkan dibawa ke lokasi objek tersebut, usahakan model atau tiruannya. 4. Bilamana model atau maket juga tidak didapatkan, usahakan gambar atau foto-foto dari objek yang berkenaan dengan materi (pesan) pelajaran tersebut. 5. Jika gambar atau foto juga didapatkan, maka guru berusaha membuat sendiri media sederhana yang dapat menarik perhatian belajar siswa. 6. Bilamana media sederhana tidak dapat dibuat oleh guru, gunakan papan tulis untuk mengilustrasikan obyek atau pesan tersebut melalui gambar sederhana dengan garis lingkaran.37

37

Ibid, hlm. 20

4. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.38 Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Disamping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran, data dan memadatkan informasi. Sejalan dengan uraian ini, Yunus Mahmud dalam bukunya Attarbiyatu watta’liim yang dijelaskan dalam buku Media Pembelajaran karangan Azar Arsyad,

mengungkapkan sebagai berikut:

38

Azar Arsyad, op.cit .hlm.15

.15 m –l

.15 • m –l

g a n • di pe •e

lm.15 g n ia pe d •e –

• ˜8 .15• m –l

ng a ep • di •e

• n –r a i k a t h r • pe • i

•˜

• m.–15 l •

Maksudnya: bahwasanya media pengajaran paling besar pengaruhnya bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman…..orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya. Selanjutnya, Ibrahim di dalam buku Media Pembelajaran karangan Azhar Arsyad, juga menjelaskan betapa pentingnya media pengajaran karena:

, ad • sy •r

¼ ¼• ™M ed er ts egi • R ˜n

a yn as wa• h •a

• gn • a

• p.cti . –

a • ug –j ˜ipa a ik hat er• p •i

•˜

• a,d ys ¼ r•A a sz

nya sa wa • ha • a • ug –j • ˜ipa erd et si ge • R ˜n

•˜ •

• ¼ ga u –j , da • ys •r

Maksudnya: media pengajaran membawa dan membangkitkan rasa senang dan gembira bagi murid-murid dan memperbaharui semangat mereka…..membantu memantapkanpengetahuan pada benak para siswa serta menghidupkan pelajaran. Levie dan Lentz mengemukakan empat fungsi media pembelajaran yaitu: a) Fungsi Atensi Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkosentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. b) Fungsi Afektif Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. c) Fungsi Kognitif Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar

pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. d) Fungsi Kompensatoris Fungsi kompensatoris media pengajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.39 Selain itu Supadi mengutip fungsi media dari ensiklopedia penelitian pendidikan sebagai berikut: 1. Memperbesar perhatian siswa 2. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar karena akan membuat pembelajaran menjadi mantap meletakkan dasar-dasar yang kongkrit untuk berfikir dan mengurangi verbalisme 3. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa 4. Membantu tumbuhnya pengertian dan kemampuan berbahasa 5. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta keragaman dalam belajar. Disamping itu, adapun manfaat pengguanaan media didalam kelas sangatlah jelas. Media tidak hanya populer dan menarik pada kalangan semua umur untuk

39

Azar Arsyad, op.cit, hlm. 16-17

meningkatakan minat dalam mempelajari bahasa, namun juga memunculkan variasi dalam situasi proses belajar mengajar. Dalam menggunakan media guru harus mempertimbangkan usia siswa yang akan diajar. Demikian juga tingkat intelektual, tingkat kemampuan berbahasa, dan latar belakang sosial budayanya. Isi materi pada media tersebut juga harus sesuai dan relevan dengan minat siswa. Sadiman juga mengungkapkan bahwa penggunaan media perlu memperhatikan penempatannya agar dapat diamati dengan baik oleh seluruh siswa. Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah: 1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada. 2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan. 3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif Dengan media akan terjadinya komunikasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah. 4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga

Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran. 5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik. 6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru. Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah. 7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan. 8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti

membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.40

5. Ciri-ciri atau Karakteristik Media Gerlach dan Elly mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu: a. Ciri Fiksatif (Fixative Property) Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek. Dengan ciri fiksatif ini media memungkinkan suatu rekaman kejadian atau obyek yang terjadi pada suatu waktu tertentu ditransformasikan tanpa mengenal waktu. Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau obyek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat, peristiwa yang kejadiannya hanya sekali (dalam satu dekade atau satu abad) dapat diabadikan dan disusun kembali untuk keperluan mengajar. Prosedur laboratorium yang rumit dapat direkam dan diatur untuk kemudian direproduksi berapa kali pun pada saat diperlukan. Demikian pula kegiatan siswa dapat direkam untuk kemudian dianalisis dan dikritik oleh siswa sejawat baik secara perorangan maupun secara kelompok.

b. Ciri Manipulatif (Manipulatif Property)
40

Ardiani Mustikasari. Mengenal Media Pembelajaran. (http://edu-articles.com, diakses 08 Agustus 2008).

Transformasi merupakan suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu lama dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit. Disamping dapat dipercepat suatu kejadian dapat diperlambat pada saat penayangan kembali hasil suatu rekaman video. c. Ciri Distributif (Distributif Property) Ciri distributif dari suatu media memungkinkan suatu obyek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kedalam sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Sekali transformasi direkam dalam format media apa saja ia dapat diproduksi beberapa kali dan siap digunakan berulangulang.41

C. Pemilihan Pedia Pembelajaran 1. Pentingnya Media Pembelajaran Sebagaimana telah dijelaskan bahwa pemilihan media pengajaran agama ditentukan apakah media yang akan digunakan sesuai atau cocok dengan karakteristik materi yang akan disajikan dan dapat menarik perhatian siswa. Disamping itu yang lebih penting lagi apakah media yang akan digunakan tersebut sesuai dan tidak bertentangan dengan syari’at agama atau tidak melanggar etika agama. Bilamana hal tersebut dapat terpenuhi maka tugas selanjutnya adalah meneliti lebih cermat apakah media yang akan digunakan tersebut dapat terjangkau oleh biaya dan dana yang ada dan apakah tidak ada

41

Azar Arzyad, op cit. hlm. 12

alternatif media lain yang sekiranya lebih mudah didapat disekitar lingkungan sekolah. Pertimbangan selanjutnya, apakah media tersebut telah dipertimbangkan betul-betul akan keefektifan dan keefisiennya, juga apakah bentuk media yang akan digunakan berupa media jadi (by utilazation) atau perlu dirancang (by design). Bila bentuk media tersebut perlu dirancang maka sudah barang tentu diperlukan perencanaan yang lebih matang, baik dalam pengembangannya maupun dalam pemanfaatannya. Dalam buku Media Pembelajaran karangan Basyiruddin Usman, Arief S. Sukadi mengemukakan bahwa media pengajaran ditinjau dari segi kesiapan pengadaannya dapat dikelompokkan kepada dua jenis, yaitu: a. Media jadi (by utilization), yaitu karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan terdapat dipasaran dan dijual secara bebas dan dalam keadaan siap pakai. Kelebihan media jadi adalah cepat tersedia dan tidak perlu makan waktu yang lama, disamping penghematan tenaga dan biaya. Kekurangan atau kelebihan media jadi belum tentu dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. b. Media rancangan (by design), yaitu karena perlu di desain dan dipersiapkan secara khusus untuk maksud atau tujuan pembelajaran tertentu. Untuk merancang media pengajaran secara khusus dalam rangka memenuhi tujuan tertentu akan lebih banyak menyita waktu, tenaga, pemikiran, dan biaya. Penggunaan media rancangan harus melalui tahapan uji coba terlebih dahulu apakah handal (valid) dan layak (reliable) untuk dipakai dalam pengajaran tertentu dan dalam masa tertentu. Untuk mendapatkan keandalan dan

kelayakan

suatu

media

rangsangan

diperlukan

serangkaian

validasi

propertinya.42

2. Jenis-jenis Media Pembelajaran Masih banyak orang yang memberi pengertian yang sama antara media pembelajaran dan alat pembelajaran. Pada dasarnya media dan alat pembelajaran itu berbeda sebab alat pembelajaran adalah seperangkat keras (hardware) yaitu sarana yang dapat menampilkan pesan yang terkandung dalam media. Sedangkan media adalah bahan (software) yang biasanya disajikan dengan menggunakan alat pengajaran. Para ahli membuat klasifikasi atau penggolongan beberapa jenis mediaberdasarkan suatu titik pandang tertentu. Dibawah ini penulis sajikan penggolongan media pembelajaran dan jenis-jenis yang termasuk didalamnya. Menurut Syaiful Bahri Djamarah macam-macam media dapat

dikelompokkan sebagai berikut:43 a. Dilihat dari jenisnya, media dibagi kedalam 1) Media Auditif Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja seperti radio, tape recorder, piringan hitam. Kelemahan dari media ini adalah bahwa tidak cocok digunakan untuk orang yang menderita kelainan pendengaran.

Basyiruddin Usman, op.cit., hlm. 123-124 Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 212
43

42

2) Media Visual Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slide (film bigkai). OHP, foto, gambar atau lukisan. Adapula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu. 3) Media Audio Visual Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena merupakan perpaduan dua jenis media yang pertama dan kedua. Jenis dari media ini adalah: a) Audio Visual Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (slides), film rangkai suara, cetak suara. b) Audio Visual Gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. b. Dilihat dari daya liputnya, media dibagi kedalam 1) Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak Penggunaan dari media tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama. Contoh: Radio dan Televisi

2) Media dengan Daya Liput Terbatas oleh Ruang dan Tempat Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus, seperti film, sound slide, film rangkai yang harus menggunakan ruang tertutup dan gelap. 3) Media untuk Pengajaran Individual Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri, misalnya modul berprogram, dan pengajaran melalui komputer. c. Dilihat dari bahan dan pembuatannya, media dibagi kedalam Media yang sederhana yaitu media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.44 1) Media Kompleks Media ini adalah yang bahan dasarnya sulit diperoleh dan mahal harganya, cara pembuatannya sulit dan cara penggunaannya memerlukan

keterampilan yang memadai. 2) Media Bentuk dan Jenis Alat Bantu Media ini adalah bentuk dan jenis alat bantu pendidikan sebagai pelengkap, sebagai pembantu mempermudah usaha untuk mencapai tujuan, dan sebagai tujuan. d. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya Gerlach dan P. Elly membedakan media kedalam delapan jenis. 1) Benda sebenarnya, yang meliputi orang, kejadian obyek atau benda tertentu.

44

Ibid, hlm. 213

2) Presentasi verbal, yaitu media cetak, kata-kata yang diproyeksikan melalui slide, film strip, transparansi, catatan, majalah dinding dan sebagainya. 3) Potret grafik (still picture), yakni potret dari berbagai macam obyek atau pariwisata yang mungkin dipresentasikan melalui buku, film strip, slide dan majalah dinding. 4) Presentasi grafik, yakni: grafik, peta, diagram, gambar, lukisan yang sengaja dibuat untuk mengkomunikasikan suatu ide, keterampilan atau sikap yang ditunjukkan melalui buku, slide, transparansi dan OHP. 5) Film (motion picture), video tape dan pemotretan atau shoting benda atau kejadian yang sebenarnya, namun film dari pemotretan gambar atau individu. 6) Rekaman suara dengan menggunakan bahasa verbal atau efek suara dan musik rekaman suara dapat dipakai secara klasikal kelompok atau individu. 7) Program, terkenal juga istilah pengajaran berprogram yaitu bahan dari informasi baik verbal atau audio yang sengaja dimuat untuk merangsang respon siswa. 8) Simulasi, yaitu peniruan situasi nyata yang telah dirancang menyerupai sedekat mungkin dengan peristiwa (proses) yang nyata. e. Berdasarkan ukuran serta kompleks alat dan perlengkapannya, media pendidikan dapat dibagi kedalam lima macam: 1) Media Tanpa Proyeksi Dua Dimensi, yaitu media yang

menggunakannya tanpa menggunakan proyektor dan hanya menggunakan

dua ukuran saja, yakni penjang dan lebar. Yang termasuk kedalam jenis media ini adalah gambar, bagan, grafik dan poster. 2) Media Tanpa Proyeksi Tiga Dimensi, yaitu media yang

menggunakannya tanpa menggunakan proyektor dan mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi. 3) Media Audio, yaitu media yang dapat memberikan rangsangan suara saja. Media ini penggunaannya tanpa proyektor tetapi mempunyai alat perlengkapan khusus untuk menyampaikan atau suara seperti radio, tape recorder. 4) Media dengan Proyeksi, yaitu media yang penggunaannya menggunakan proyektor seperti OHP, film strip, slide dan film. 5) Televisi dan Video, Tape Recorder (VTR), pada prinsipnya TV dan VTR sama dengan audio tape recorder, perbedaannya hanya jika radio mengirim pesan melalui suara maka VTR mengirim pesan melalui suara beserta gambar. VTR adalah alat untuk merekam, menyimpan dan menampilkan gambar dari suatu obyek sedangkan TV sebagai alat untuk melihat gambar dan mendengarkan suara dari jarak jauh. f. Ditinjau dari segi kesiapan pengadaannya, media dibedakan menjadi dua macam yaitu:45 1) Media yang Dimanfaatkan atau Media By Utillization artinya media jadi yang biasa dibuat secara komersial dan terdapat dipasaran bebas tinggal memilih dan memanfaatkannya. Kelebihan dari media ini adalah hemat, waktu, tenaga, dan biaya pengadaannya. Adapun kelemahannya
45

Asnawir, M. Basyirudin Usman. Media Pembelajaran. (Jakarta: Ciputat Pers. 2002), hlm.

124

adalah kecilnya kemungkinan untuk mendapatkan media yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pembelajaran setempat. 2) Media yang Dirancang atau Media By Design artinya media yang harus dipersiapkan dan dikembangkan sendiri. Kelebihan dari media ini adalah dapat menghasilkan media yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari pembelajaran. Sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit karena untuk memperoleh keandalan dan kesahihannya diperlukan serangkaian kegiatan validasi. Berdasarkan jenis-jenis media pembelajaran diatas, maka kita bisa melihat bahwa pengklasifikasian dari masing-masing jenis media dilakukan atas dasar pertimbangan dan kepentingan yang berbeda. Dan sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang taksonomi media yang mencakup segala aspek dan berlaku secara umum, khususnya untuk suatu sistem pembelajaran yang komprehensif.

3. Kriteria PemilihanMedia Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain: tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, ketepatgunaan, kondisi siswa, ketersediaan perangkat keras (hardware), mutu teknis dan biaya. Oleh sebab itu, beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan antara lain: 1. Media yang dipilih hendaknya selaras dan menunjang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 2. Aspek materi menjadi pertimbangan yang dianggap penting dalam memilih media. Sesuai atau tidaknya antara materi dengan media yang digunakan akan berdampak pada hasil pembelajaran siswa.

3. Kondisi audien (siswa) dari segi subjek belajar menjadi perhatian yang serius bagi guru dalam memilih media yang sesuai dengan kondisi anak. Faktor umur, intelegensi, latar belakang pendidikan, budaya, dan lingkungan anak menjadi titik perhatian dan pertimbangan dalam memilih media pengajaran. 4. Ketersediaan media disekolah atau memungkinkan bagi guru mendesain sendiri media yang akan digunakan merupakan hal yang perlu menjadi pertimbangan seorang guru. 5. Media yang dipilih seharusnya dapat menjelaskan apa yang akan disampaikan kepada audien (siswa) secara tepat dan berhasil guna, dengan kata lain tujuan yang ditetapkan dapat dicapai secara optimal. 6. Biaya yang akan dikeluarkan dalam pemanfaatan media harus seimbang dengan hasil yang akan dicapai. Pemanfaatan media yang sederhana mungkin lebih menguntungkan dari pada menggunakan media yang canggih (teknologi tinggi) bilamana hasil yang dicapai tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan.46 Menurut Azar Arsyad, ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media.47 a) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai Media dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum megacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip atau generalisasi. Media yang berbeda misalnya, film dan grafik memerlukan simbol dan kode yang
46 47

Asnawir, dkk. Media Pembelajaran. (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 16 Azar Arsyad.op.cit.hlm. 73

berbeda, dan oleh karena itu memerlukan proses dan keterampilan mental yang berbeda untuk memahaminya. b) Praktis, luwes, dan bertahan Jika tidak tersedia dana, waktu, atau sumber daya lain untuk memproduksi tidak perlu dipaksakan. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia disekitarnya serta mudah untuk dipindah dan dibawa. c) Guru terampil untuk menggunakannya Ini merupakan salah satu kriteria utama, apapun jenisnya guru dituntut untuk mampu menggunaknnya dengan baik dalam proses belajar mengajar. d) Pengelompokan sasaran Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil dan perorangan. e) Mutu teknis Mengembangkan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Sedangkan Dick dan Carey mengemukakan empat kriteria dalam memilih media pembelajaran, yakni, pertama, ketersediaan sumber setempat, artinya bila media yang bersangkutan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada maka harus dibeli atau buat sendiri. Kedua, kemampuan finansial untuk membeli dan memproduksi media, tenaga, dan fasilitasnya. Ketiga, faktor yang menyangkut

keluwesan, kepraktisan, dan ketahuan media yang digunakan untuk jangka waktu yang lama, artinya bila digunakan dimana saja dan kapan saja dengan peralatan yang ada disekitarnya serta kemudahan dibawa (fortable). Keempat, efektifitas dan efisiensi biaya dalam waktu yang cukup panjang skalipun nampaknya mahal namun mungkin lebih murah bila dibandingkan media lainnya yang hanya dapat digunakan sekali pakai. Dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya

memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut: a) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran; artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuantujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media

pengajaran. b) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat emmerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami oleh siswa. c) Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya. d) Keterampilan guru dalam menggunakannya; apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh guru pada saat

terjadinya interaksi belajar siswa dengan lingkungannya. Adanya OHP, proyektor film, komputer, dan alat-alat canggih lainnya, tidak mempunyai arti apa-apa, bila guru tidak dapat menggunakannya dalam pengajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran. e) Tersedia waktu untuk menggunaknnya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. f) Sesuai dengan taraf berfikir siswa; memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa. Dengan kriteria pemilihan media diatas, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tapi harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran. Oleh sebab itu media bukan keharusan tetapi sebagai pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas belajar dan mengajar.48

4. Landasan Teoritis Penggunaan Media Pembelajaran Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya. Menurut Bruner ada tiga tingkatan utama modus belajar yaitu:

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. Media Pengajaran. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm. 04-05

48

a. Pengalaman langsung (enative), adalah mengerjakan, misalnya arti kata simpul dipahami langsung dengan membuat simpul. b. Pegalaman piktorial/gambar (iconic), adalah pengalaman yang diperoleh melalui gambar, misalnya kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan foto, atau film meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat simpul mereka dapat mempelajari dan memahami dari gambar tersebut. c. Pengalaman abstrak (symbolic), adalah pembacaan kata simpul dan mencocokkan dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul. Ketiga tingkatan pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang baru.49 Edgar Dale mengklasifikasi pengalaman belajar anak mulai dari hal-hal yang dianggap paling abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut diikuti secara luas oleh kalangan pendidik dalam menentukan alat bantu apa seharusnya yang sesuai dengan pengalaman belajar tertentu. Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone of Experience. Klasifikasi pengalaman tersebut lebih dikenal dengan Kerucut Pengalaman.50 Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:

49 50

Azar Arsyad, op.cit., hlm.07 Basyiruddin Usman, op.cit., hlm. 21

Abstrak
Verbal Simbol Visual Radio Film Televisi Pameran Karyawisata Demonstrasi Pengalaman Dramatisasi Pengalaman Tiruan Pengalaman Langsung

Konkrit

Gambar I Dari gambar diatas terlihat bahwa kerucut pengalaman tersebut terdiri dari dua belas macam klasifikasi media pengajaran yang digunakan, yakni: a. Pengalaman langsung dan bertujuan, pengalaman ini diperoleh dengan berhubungan secara langsung dengan benda, kejadian, atau obyek yang sebenarnya. Disini siswa secara aktif bekerja sendiri, memecahkan masalah sendiri yang kesemuanya didasarkan atas tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. b. Pengalaman tiruan, pengalaman ini diperoleh melalui benda-benda atau kejadian-kejadian tiruan yang sebenarnya. c. Pengalaman melalui dramatisasi, pengalaman semacam ini diperoleh dalam bentuk drama dari berbagai gerakan. d. Demonstrasi, yaitu pengalaman melalui percontohan atau pertunjukan mengenai suatu hal atau sesuatu proses, misalnya cara membuat panganan, sabun, deterjen, dan sebagainya. e. Pengalaman melalui karya wisata, pengalaman semacam ini diperoleh dengan mengajak siswa ke obyek diluar kelas dengan maksud memperkaya dan memperluas pengalaman siswa. f. Pengalaman melalui pameran (Study Display), pengalaman ini diperoleh melalui pertunjukan hasil pekerjaan siswa perkembangan dan kemajuan sekolah. g. Pengalaman melalui televisi, pengalaman ini diperoleh melalui program pendidikan yang ditayangkan melalui televisi. h. Pengalaman melalui gambar hidup atau film, gambar hidup merupakan rangkaian gambar-gambar yang diproyeksikan kelayar dengan kecepatan

i. j.

k.

l.

tertentu, bergerak secara kontinyu sehingga benar-benar mewujudkan gerakan yang normal dari apa yang diproyeksikan. Pengalaman melalui radio, pengalaman disini diperoleh melalui siaran radio, dalam bentuk ceramah, wawancara dan sandiwara. Pengalaman melalui gambar, pengalaman disini diperoleh dari segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan pesanan dan pikiran. Pengalaman melalui lambang visual, pengalaman disini diperoleh melalui lambang-lambang visual, seperti hasil lukisan dan bentuknya lengkap atau tidak lengkap (sketsa) lengkap dengan garis-garis gambar yang dijelmakan secara logis untuk meragakan antara fakta dan ide (bagan). Pengalaman melalui lambing kata, pengalaman semacam ini diperoleh dalam buku dan bahan bacaan.

D. Media Pendidikan Agama Islam Para Nabi menyebarkan agama kepada kaumnya atau kepada umat manusia bertindak sebagai guru-guru baik sebagai pendidikan keagamaan yang agung. Usaha Nabi dalam menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, dengan menggunakan media yang tepat yakni melalui media perbuatan Nabi sendiri, dan dengan jalan memberikan contoh teladan yang baik. Sebagai contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah, Nabi selalu menunujukkan sifat-sifat yang terpuji, hal ini diungkapkan dalam AlQur’an surat al-Ahzab 21:

t•x.sŒur t•ÅzFy$# tPöqu‹ø9$#ur ©!$# (#qã_ö•tƒ tb%x. `yJÏj9 ×puZ|¡ym îouqó™é& «!$# ÉAqß™u‘ ’Îû öNä3s9 tb%x. ô‰s)©9 ÇËÊÈ #ZŽ•ÏVx. ©!$#
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu (yaitu) orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. Nabi selalu memberikan contoh tauladan atau menjadikan dirinya sebagai model dalam mendakwahkan seruan Allah. Sebagai contoh; sewaktu meletakkan Hajarul Aswad ketika membangun kembali ka’bah, disaat Nabi mendirikan

masjid Quba’ diluar Madinah, atau sewaktu membuat parit pertahanan dalam perang Tabuk, Nabi selalu memimpin langsung dan ikut serta bekerja dengan para sahabat. Contoh teladan yang baik tersebut sangat besar pengaruhnya dalam misi pendidikan Islam dan dapat menjadi faktor yang menentukan terhadap keberhasilan dan perkembangan tujuan pendidikan secara luas.51 Melalui suri teladan atau model perbuatan dan tindakan yang baik oleh seorang pendidik, maka guru agama akan dapat menumbuh-kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap anak didik. Bilamana sebaliknya, apa yang dilihat dan didengar oleh siswa atau anak didik bertolak belakang dengan kenyataan, maka hasil pendidikan tidak akan tercapai dengan baik dan dapat melumpuhkan daya didik seorang guru. Media pendidikan agama adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Semua alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai pendidikan dan pengajaran agama kepada orang lain, segala sesuatu atau benda atau dapat dipakai sebagai media pengajaran agama, seperti; 1) papan tulis, 2) buku pelajaran, 3) buletin board dan display, 4) film atau gambar hidup, 5) radio pendidikan, 6) televisi pendidikan, 7) komputer, 8) karyawisata, dan lainlain.52

51 52

Ibid. hlm. 115 Ibid, hlm. 117

Dengan contoh-contoh tersebut hendaknya dalam pemilihan media pengajaran agama selalu diperhatikan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama atau sesuatu tindakan atau perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi sendiri. Pemilihan media pengajaran agama tersebut disesuaikan dengan tujuan pengajaran agama itu sendiri, bahan/materi yang akan disampaikan, ketersediaan alat yang tersedia, pribadi guru, minat dan kemampuan siswa, dan situasi pengajaran yang akan berlangsung. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari pada itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan siswa dalam mempelajari pengajaran agama.53 Menurut Drs. Mahfudh Shalahuddin dalam bukunya Media Pendidikan Islam menyatakan ada beberapa dasar penggunaan media dalam pendidikan Islam antara lain: 1. Dasar Religius Dalam masalah penerapan media pendidikan agama, harus

memperhatikan jiwa keagamaan pada anak didik. Oleh karena faktor inilah yang justru menjadi sasaran media pendidikan agama yang sangat prinsipil. Dengan tanpa memperhatikan serta memahami perkembangan jiwa anak atau tingkat daya fikir anak didik, guru agama akan sulit diharapaknan untuk menjadi sukses. Sebagaimana firman Allah surat An-Nahl ayat 125:

53

Ibid. hlm. 121

¨bÎ) 4 ß`|¡ômr& }‘Ïd ÓÉL©9$$Î/ Oßgø9ω»y_ur ( ÏpuZ|¡ptø:$# ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ y7În/u‘ È@‹Î6y™ 4’n<Î) äí÷Š$#

ä ÇÊËÎÈ tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÞOn=ôãr& uqèdur ( ¾Ï&Î#‹Î6y™ `tã ¨@|Ê `yJÎ/ ÞOn=ôãr& uqèd y7-/u‘

Artinya: “Serulah (manusia) pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantalah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q. S. Al-Nahl:125). Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Bermacam-macam orang mengartikan kata “Hikmah” dalam arti “Bijaksana”. Adapula yang mengartikan hikmah dengan cara yang tepat dan efektif. Syekh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar (juz III) mengartikan kata hikmah dengan alasan-alasan ilmiah dengan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal. Dalam Lisanul Arab diterangkan bahwa: Hakim yaitu orang yang berhikmah, ialah orang yang paham benar tentang seluk beluk kaifiat/cara mengerjakan sesuatu dan dia mahir didalamnya. Dapat disimpulkan bahwa hikmah adalah cara yang bijaksana, tepat, efektif, dan dapat diterima dengan akal. Oleh karena itu tugas pengamatan yang pertama harus dilakukan oleh guru agama sebagai pendidik ialah pengamatan langsung kepada perkembangan keagamaan anak didik. Sebab perkembangan sikap keagamaan anak sangat erat hubungannya dengan sikap percaya kepada Tuhan, yang telah diberikan di lingkungan keluarga atau masyarakat, yang selanjutnya dapat dijadikan bahan dasar pengertian dalam

melaksanakan tugas sesuai dengan metode yang dipakai dalam proses belajar mengajar.54 2. Dasar Psikologis Pada waktu guru menyusun desain untuk media, ia harus merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan jelas, agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien, guru pula yang menentukan dan mengorganisir komponen media. Guru akan dapat mengorganisir komponen dengan tepat kalau ia mengetahui tentang proses belajar mengajar/tipe-tipe belajar. Belajar adalah suatu proses yang kompleks dan unik. Kompleks artinya mengikutsertakan segala aspek kepribadian baik jasmani maupun rohani. Sedangkan unik berarti cara belajar dari tiap orang mempunyai perbedaan, seperti dalam hal: minat, bakat, kemampuan, kecerdasan serta tipe belajar. Hakikat perbuatan belajar mengajar adalah usaha terjadinya perubahan tingkah laku kepribadian bagi orang yang belajar. Perubahan itu baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap/nilai. Guru akan dapat memilih dan menggunakan media dengan tepat dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, jika mengetahui tentang proses orang mengenal dunia dan sekitar bagaimana cara mempelajarinya.55 3. Dasar Teknologis Kemajuan dan perkembangan teknologi mempengaruhi perkembangan dan kemajuan masyarakat. Pengaruh tersebut juga memasuki dunia pendidikan, sehingga menimbulkan istilah “Teknologi Pendidikan” yang mempunyai
54

Mahfud Salahuddin. Media Pendidikan Islam. (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986), hlm. Ibid., hlm. 22

21
55

pengertian sebagai proses keseluruhan kegiatan yang melibatkan orang, prosedur, fikiran, perencanaan, organisasi dalam menganalisis masalah, melaksanakan dan menilai serta mengelola usaha pemecahan masalah dengan segala sumber yang ada.56

BAB III
56

Ibid., hlm. 42-43

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis. Pendekatan kualitatif memiliki karakteristik alami (natural serfing) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil. Analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif dan makna merupakan hal yang esensial.57 Obyek dalam penelitian kualitatif adalah obyek yang alamiah, atau natural setting, sehingga penelitian ini sering disebut sebagai metode naturalistic. Obyek yang alamiah adalah obyek yang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga kondisi pada saat peneliti memasuki obyek, setelah berada di obyek dan setelah keluar dari obyek relatif yang tidak berubah. Sebagai lawannya dari metode ini adalah metode eksperimen dimana peneliti dalam melakukan penelitian tempatnya berada di laboratorium yang merupakan kondisi buatan, dan peneliti melakukan manipulasi terhadap variabel. Dengan demikian sering terjadi bias antara hasil penelitian di laboratorium dengan keadaan di luar laboratorium atau keadaan sesungguhnya. Dalam penelitian kualitatif peneliti menjadi instrumen. Oleh Karen itu dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang
57

Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 04

atau human unstrument. Untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. Kriteria data dalam penelitian kualitatif adalah data yang pasti. Data yang pasti adalah data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna dibalik yang terlihat dan terucap tersebut.58

B. Kehadiran Peneliti Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, akan tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti instrumen. Oleh karena itu kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak dilakukan atau diperlukan dalam menguraikan data nantinya. Kehadiran peneliti di SMA Negeri 1 Sidoarjo adalah sebagai obyek peneliti atau informan. Melakukan wawancara dengan subyek penelitian, hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang mendukung terhadap penelitian ini. Peneliti disini pada waktu penelitian mengadakan pengamatan langsung dilapangan, wawancara dengan waka kurikulum, dan guru agama yang dijadikan sebagai obyek penelitian.

58

Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Penerbit CV. Alvabeta, 2008),

hlm. 02

C. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di SMAN 1 Sidoarjo, yang beralamat di Jl. Jenggolo No. 1 Desa Siwalan Panji Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo 61252. Telp/Fax. 031-8941493/Fax. 031-8946606. Peneliti memilih lokasi di SMAN 1 Sidoarjo, karena di SMA Negeri 1 Sidoarjo ini sudah memakai media pembelajaran atau disebut dengan Multimedia Projector (LCD ) khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pengajarannya dan peneliti juga ingin mengetahui bagaimana guru agama SMA Negeri 1 Sidoarjo ini mengembangkan kreativitasnya dalam penggunaan media pembelajaran selain media-media yang sudah ada.

D. Data dan Sumber Data Menurut Lofland (1984:47) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.59 Suharsimi Arikunto mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.60 Apabila peneliti meggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Adapun sumber data yang diambil oleh penulis dalam penelitian ini adalah: a. Data primer, yaitu sumber data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian. Data yang diperoleh dari sumber data primer adalah data
Ibid. hlm. 157 Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta. PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 129
60 59

empiris yang berupa perilaku siswa, guru dan kemungkinan lain yang teramati di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. b. Data sekunder, yaitu sumber data yang diperoleh tidak secara lanngsung dari objek penelitian atau data diperoleh dari dari pihak ketiga. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh literatur dokumentasi bagian administrasi di SMA Negeri 1 Sidoarjo, daftar nilai, data tentang keadaan guru dan tingkat pendidikan, data tentang jumlah siswa, struktur organisasi sekolah serta keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki.

E. Prosedur Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini akan dikumpulkan dengan tiga teknik yaitu: a. Interview (wawancara) Menurut Moleong, interview atau tehnik wawancara dilaksanakan dengan maksud untuk mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan motivasi, tuntutan, kepedulian dan kebutuhan lain-lain.61 Sedangkan menurut M. Nazir, interview

(wawancara) adalah proses memperolah keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Untuk memperoleh data yang diinginkan, peneliti menggunakan pedoman interview dengan informan sebagai berikut: waka kurikulum dan guru pembimbing pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Sidoarjo,

61

Lexy Moleong, op.cit., hlm. 186

untuk memperoleh data tentang upaya pengembangan kreativitas guru agama dalam penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar di SMAN 1 Sidoarjo. b. Observasi Teknik observasi adalah pengamatan melalui pemusatan terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera yaitu penglihatan, peraba, penciuman, pendengaran, pengecapan. Teknik ini digunakan oleh peneliti dengan maksud agar memperoleh data yang lebih akurat dengan mendatangi langsung lokasi penelitian serta menjadi partisipan di sana. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama penelitian untuk mengoptimalkan data mengenai upaya kreativitas guru pendidikan agama Islam dalam penggunaan media pembelajaran, kondisi bangunan, interaksi siswa dan guru di sekolah, dan keadaan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di SMAN 1 Sidoarjo. Pelaksanaan obsevasi dilakukan dengan tiga cara: a. Pengamatan secara langsung yaitu pengamatan yang dilakukan tanpa perantara terhadap obyek yang diteliti. b. Pengamatan tidak langsung yaitu pengamatan terhadap suatu obyek melalui perantara sesuatu alat atau cara baik dilakukan dalam situasi sebenarnya atau tiruan. c. Partisipasi yaitu pengamatan yang dilakukan dengan cara ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh obyek yang diteliti.

c. Dokumentasi Dokumen merupakan suatu teknik pengumpulan data yang merupakan merupakan sumber informasi yang kaya, secara kontekstual relevan dan mendasar dalam konteksnya. Alat pengumpul data ini terdiri dari dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi berasal dari catatan atau keterangan waka kurikulum, dan keterangan dari guru agama. Dokumen resmi berasal dari dokumen internal seperti pengumuman, memo, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat tertentu yang digunakan dalam kalangan sendiri. Dan dokumen eksternal yang dihasilkan oleh lembaga seperti majalah, artikel, buletin, pernyataan, dan berita yang disiarkan kepada media masa.62

F. Analisis Data Analisis data kualitatif (Bogdan dan Biklen. 1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain.63 Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu: a. Analisis data selama di lapangan Analisis data selama dilapangan dalam penelitian ini tidak dikerjakan setelah pengumpulan data selesai, tetapi selama pengumpulan data

62 63

Op.cit. hlm. 219 Ibid. hlm. 248

berlangsung dan dikerjakan terus menerus hingga penyusunan laporan selesai. Kegiatan analisis data ini melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Penetapan fokus penelitian 2) Penyusunan temuan-temuan sementara berdasarkan data yang telah terkumpul. 3) Pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya berdasarkan temuantemuan pengumpulan data sebelumnya. 4) Pengembangan pertanyaan-pertanyaan analitik dalam rangka

pengumpulan data berikutnya. 5) Penetapan sasaran-sasaran pengumpulan data (informan, situasi, dokumen) berikutnya. b. Analisis data selama pengumpulan data Adapun untuk membatasi data yang terkumpul adalah bahwa data yang diperoleh tidak direalisasikan dalam bentuk angka, tetapi dalam bentuk uraian atau gambaran tentang kondisi obyek penelitian yang berkenaan dengan tema yang dikaji dalam penelitian ini. G. Pengecekan Keabsahan Data Pengambilan data-data melalui tiga tahapan, diantaranya tahapan pendahuluan, tahap penyaringan dan tahap melengkapi data yang masih kurang. Pengecekan keabsahan data banyak terjadi pada tahap penyaringan data. Oleh sebab itu jika terjadi data yang tidak relevan dan kurang memadai maka akan dilakukan penyaringan data sekali lagi di lapangan, sehingga data tersebut memiliki kadar validitas yang tinggi.

Moleong menyebutkan bahwa dalam penelitian diperlukan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data. Sedangkan untuk memperoleh keabsahan temuan perlu diteliti kredibilitasnya dengan menggunakan teknik sebagai berikut: a. Presistent Observation (ketekunan pengamatan), yaitu mengadakan observasi secara terus menerus terhadap objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap berbagai aktifitas yang sedang berlangsung di lokasi penelitian. b. Triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Triangulasi penelitian ini melalui wawancara dengan guru agama dan dicocokkan dengan keterangan waka kurikulum, hasil pengamatan selama penelitian, dan juga dengan dokumen-dokumen yang peneliti dapatkan.

H. Tahap-tahap Penelitian a. Tahap Pra Lapangan Menyusun proposal penelitian Proposal penelitian ini digunakan untuk meminta izin kepada lembaga yang terkait sesuai dengan sumber data yang diperlukan.

b. Tahap Pelaksanaan Penelitian 1) Pengumpulan Data Pada tahap ini peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Wawancara dengan waka kurikulum SMAN 1 Sidoarjo b) Wawancara dengan guru atau pembina agama di SMAN 1 Sidoarjo c) Observasi langsung dan pengambilan data langsung dari lapangan. d) Menelaah teori-teori yang relevan. 2) Mengidentifikasi data Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara dan observasi diidentifikasi agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang di inginkan. c. Tahap Akhir Penelitian 1) Menyajikan data dalam bentuk deskripsi 2) Menganalisa data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Latar belakang Obyek Penelitian 1. Profil SMA Negeri 1 Sidoarjo Identitas Sekolah a. Nama Sekolah b. Alamat Sekolah : : SMA Negeri 1 Sidoarjo

Propinsi

: Jawa Timur

Kabupaten / Kota Kecamatan Desa Jalan Kode Pos No. Telepon / Fax Identitas Kepala Sekolah Nama lengkap Pendidikan Terakhir Jurusan

: Kabupaten Sidoarjo : Buduran : Siwalan Panji : Jenggolo No. 1 : 61252 : 031-8941493 Fax. 031-8946606

: Drs. Ponadi Abdullah, M.Pd :S-2 : Manajemen Pendidikan

2. Sejarah Berdirinya SMA Negeri 1 Sidoarjo Sidoarjo dilihat secara geografis, merupakan Delta-Brantas yang kaya dengan segala potensinya memiliki arti yang sangat strategis baik dari aspek Politik, Ekonomi, Sosial maupun Budaya, bahkan dengan spontanitas masyarakatnya dan kesetiakawanan yang tinggi secara kompetitif mudah digerakkan untuk kepentingan pembangunan, apalagi yang menyentuh kepentingan rakyat langsung dan bersifat monumental. Kondisi inilah kira-kira yang melatar belakangi timbulnya ide atau gagasan dari sementara tokoh masyarakat kota Sidoarjo yang sejak lama mendambakan lahirnya sebuah SMA Negeri yang representative baik tempat maupun mutunya, sehingga dapat menampung banyaknya lulusan SMA yang pada dasawarsa 60 an terpaksa harus melanjutkan pendidikan ke kota Surabaya atau daerah lain, suatu keadaan yang menambah beban bagi setiap orang tua atau wali. Gagasan yang sangat konstruktif itu perlu ditampung dan dikaji dengan menugaskan beberapa orang untuk melakukan penjajakan, sebagai langkah awal dengan berkonsultasi kebeberapa pejabat pemerintahan termasuk diantaranya para anggota MUSPIDA dan kalangan legislative, yang ternyata memperoleh tanggapan yang sangat menggembirakan. Langkah berikutnya dengan menghimpun beberapa tokoh pengusaha untuk diajak berpartisipasi secara aktif seperti: H. Moh. Iksan, H. Moh. Syakir, Goo Hong Ling, Maksum Achmadi, dll. Mereka mengajukan beberapa argumentasi sebagai masukan yang cukup berbobot, yang jelas mereka setuju dengan konsekuensi dana sebagai pendukungnya. Usaha pendekatan dilanjutkan sebagai langkah akhir dengan

mengembangkan

gagasan tersebut kepada tokoh pendidik dan para

cendekiawan termasuk Kepala Sekolah Menengah Pertama dan Kejuruan baik swasta maupun negeri di kota Sidoarjo dan sekitarnya. Ternyata “ pucuk dicinta ulam tiba”, memang sejak lama ide tersebut ditunggu-tunggu, mereka sepenuhnya akan membantu bahkan siap sebagai “pengajar” kalau perlu untuk sementara dengan system “kerja bhakti”. Dari hasil-hasil konsultasi yang ditempuh melalui tiga tahap tersebut, kemudian dilakukan evaluasi secara rinci dan inventarisasi permasalahan yang perlu segera ditangani sebagai modal dasar dengan membentuk sebuah Panitia, yang nantinya diharapkan dapat menampung, mengolah dan mewujudkan aspirasi masyarakat tersebut secara nyata dan berhasil guna. Dengan ridlo Tuhan Yang Maha Esa dan restu dari semua pihak, maka pada tanggal 12 Mei 1961 bertempat dikediaman Bapak A. Chudori Amir Jalan Diponegoro No. 137 Sidoarjo berhasil dibentuk PANITIA SMA NEGERI 1 SIDOARJO dengan diketuai olah Saudara M. Ghufron Naam, Sekretaris Saudara Hermaini Isa, Bendahara H. Moh. Iksan. Susunan

selengkapnya sebagaimana daftar terlampir yang disalin dari daftar otentik yang kini masih tersimpan dengan baik. Menurut perkiraan, dari sekian banyak jumlah anggota panitia kini hanya tinggal separuhnya saja yang masih dalam keadaan sehat, sedang selebihnya telah meninggal dunia karena dimakan usia. Mereka telah pergi dengan meninggalkan kenangan yang tak ternilai sebagai warisan untuk generasi sekarang dan generasi mendatang. Susunan Panitia yang diterima secara aklamasi tersebut sempat menjadi polemik, karena sementara golongan ingin memanfaatkan kehadiran SMA tersebut untuk

kepentingan politik tertentu (PKI) dengan memasukkan orang-orangnya dalam susunan panitia. Memang sejak semula para tokoh pendiri SMA ini tidak mengakomodasikan kekuatan golongan tertentu, tetapi menitik beratkan pada kolektivitas dengan masuknya semua unsur yang hidup di masyarakat secara professional. Pokoknya, panitia harus terdiri dari pribadi-pribadi yang tangguh, memiliki dedikasi tinggi, penuh keikhlasan, kejujuran dan sesungguhan, sebab tanpa memenuhi criteria tersebut jangan diharap panitia mendapat kepercayaan dari masyarakat luas, dan ternyata sikap tersebut mendapat tanggapan yang positif.64 Sebagai tindak lanjut, maka dalam rapatnya yang kedua bertempat dirumah Saudara Farchan Achmadi Jalan Untung Suropati Sidoarjo, Panitia berhasil merumuskan Program Kerja secara global yang meliputi : 1. Penggalian Dana a. Sebagai modal pertama diperoleh pinjaman berupa uang tunai dari beberapa tokoh pengusaha yang besarnya sangat bervariasi. Istilah “pinjaman” ini seolah-olah menimbulkan kesan “pelit”, padahal maksudnya agar Panitia mengelola uang tersebut lebih berhati-hati. b. Menyelenggarakan pertunjukan amal berupa akrobatik/ketangkasan bersepeda motor dari Korps Angkutan Angkatan Darat bertempat di alun-alun Sidoarjo, dan malam kesenian yang menampilkan tari, lagu dan lawak dari sisa-sisa grup “Bintang Soerabaya” tempoe doloe.

64

Dokumentasi, SMA Negeri 1 Sidoarjo tanggal 10 Maret 2009

c. Uang sekolah yang merupakan penerimaan rutin dari para siswa yang besarnya akan ditentukan oleh Direktur SMA Persiapan yang akan ditunjuk.

Pengelolaan dari uang tersebut seluruhnya diatur oleh Panitia, karena Panitia akan mentarget seluruh kebutuhan sekolah sesuai anggaran yang ditetapkan, sehingga Direktur dengan segenap pengasuh dapat memfokuskan perhatiannya khusus pada mutu pendidikan saja.65

2. Pengerahan Tenaga Pengajar

a. Diterima bantuan tenaga pengajar dari beberapa instansi, khususnya dari pimpinan SMP Negeri 1 Sidoarjo Bapak R. M. Saleh (embah Kung) yang bukan saja tenaga guru malahan sampai pada penggunaan gedung lengkap dengan sarananya. b. Merekrut tenaga guru dari luar dengan jalan mengumumkan melalui iklan dibeberapa media massa yang disertai persyaratan tertentu sesuai keahlian yang diperlukan. c. Dengan membanjirnya lamaran yang datang, terpaksa Panitia melakukan penerimaan secara selektif sebab guru-guru tersebut diharapkan pada saat penegeriannya SMA nanti dapat diangkat sebagai guru tetap. d. Memanfaatkan tenaga Panitia yang secara kebetulan memiliki keahlian seperti Ny. Sulichah Farchan, SH., Ir Supardan, Kasihan, BA dan

65

Ibid, Dokumentasi, SMA Negeri 1 Sidoarjo tanggal 10 Maret 2009

lain-lain untuk bersama-sama ikut mengajar sebagai stimulans yang dapat membangkitkan rasa kesetiakawanan bagi sesama pengajar.

3. Gedung dan Sarana

a. Diterima bantuan pinjaman dari Kepala SMP Negeri 1 Sidoarjo beberapa ruangan kelas dengan seluruh fasilitasnya yang dapat digunakan pada sore hari. b. Minta kepada Bupati R. H. SAMADIKUN agar gedung sekolah yang sedang dibangun oleh Pemerintah Daerah di jalan Jenggolo (SMA Negeri 1 Sidoarjo sekarang) diberikan prioritas penggunaanya kepada SMA Persiapan yang sedang dirintis sehingga nampak terjalin kerjasama antara Pemerintah dan masyarakat.

Usaha untuk menggolkan permintaan tersebut ternyata harus melalui proses “tawar menawar” yang panjang, sebab berhasil atau tidaknya perjuangan masalah gedung ini merupakan faktor penentu dari upaya Panitia memperoleh status penegerian yang selama ini dirintis dengan susah-payah.66

4. Perencanaan yang Menyangkut Bidang Teknis

a. Penyusunan daftar pelajaran sampai pada pembagian tenaga guru termasuk pengelolaan administrasi kantor diserahkan sepenuhnya kepada Ny. Sulichah Farchan, SH. Selaku Direktur SMA Persiapan,

66

Ibid, Dokumentasi, SMA Negeri 1 Sidoarjo tanggal 10 Maret 2009

Kasihan, BA sebagai Ketua Seksi Pendidikan yang dibantu oleh para penasehat yang secara kebetulan terdiri dari tokoh-pendidik.

Untuk menyesuaikan daftar/jam pelajaran dengan tenaga guru yang tersedia menurut kondisi pada waktu itu membutuhkan kelincahan tersendiri cara mengaturnya, karena jumlah guru “tidak tetap” lebih besar disbanding dengan guru “tetap”, dan komposisi semacam itu memang sengaja dibuat dengan tujuan untuk memperkecil biaya expliotasi agar Panitia tidak jatuh bangun disebabkan dana yang semakin menipis.

b. Tugas sebagai Kepala Tata Usaha sekolah dipercayakan kepada Saudara Abdul Manap yang sementara merangkap bagian Tata Usaha SMP Negeri 1 Sidoarjo, sambil menunggu ditunjuknya bagian Tata Usaha SMA Negeri yang definitif.

Begitulah isi secara garis besar rumusan Program Kerja serta pelaksanaanya yang sengaja disusun secara sederhana, namun bobot dan sasarannya harus mampu mencapai target waktu dalam satu tahun ajaran dengan perhitungan bahwa paling lambat pada pertengahan atau akhir tahun 1962 status “Negeri” sudah ditangan.

Seperti diketahui, terbentuknya Panitia Persiapan hanya sekedar mengantarkan SMA yang dirintis menjadi “Negeri”, sehingga para pendiri mengganggap kurang perlu untuk meningkatkan status “Panitia” menjadi “Yayasan”, walaupun kemungkinan jalan kearah itu terbuka luas.

Dipenghujung tahun 1961 Panitia mulai melakukan pendekatan dengan berkonsultasi kepada Kepala Inspeksi SMA Wilayah Jawa Timur yang diterima oleh Bapak Samadi di kediaman jalan Tumapel Surabaya. Setelah melalui beberapa kali pertemuan, akhirnya diperoleh beberapa petujuk yang menggariskan bahwa:

1. Untuk memperoleh status “Negeri”. Panitia diminta mengurus langsung ke Kementrian P dan K di Jakarta dengan membawa rekomendasi dari Kepala Inspeksi SMA Jawa Timur, rekomendasi dari Bupati KDH Tk. II Sidoarjo, dilengkapi dengan daftar guru “tetap” dan “tidak tetap”, daftar pelajaran, gambar dan lokasi gedung termasuk sarananya. 2. Sambil menunggu proses penegerian, untuk sementara waktu SMA Persiapan Negeri Sidoarjo menjadi vilial dari salah satu SMA Negeri di Surabaya dengan Bapak Samadi sebagai supervisornya.

Dengan penuh optimisme, oleh Panitia diputuskan bahwa Ketua Umum (M. Ghufron Naam) perlu segera berangkat ke Jakarta dengan mandat penuh, yang secara kebetulan Saudara Farchan Achmadi bersedia menjadi pendamping sekaligus bertindak selaku sponsor. Rupanya jalan menuju penegerian berlangsung secara mulus dan lancar, hampir tidak ada kesulitan sama sekali. Dalam waktu kurang dari satu minggu Ketua mendapat informasi dari Kementerian P dan K bahwa Surat Keputusan penegerian akan segera diterbitkan, namun sebelumnya oleh Pemerintah akan dilakukan pemeriksaan terakhir di Sidoarjo mengenai sejauh mana kesiapan Panitia yang menyangkut bidang tehnis, gedung, sarana dan sebagainya.

Guna menyongsong kedatangan team dari Jakarta tersebut, Ketua segera pulang kembali ke Sidoarjo dan untuk sementara tugas-tugas di Jakarta diserahkan kepada Saudara Ir. Supardan yang kebetulan waktu itu berada di Jakarta.

Dari hari kehari apa yang ditunggu ternyata tidak kunjung tiba, Kemudian Ketua menugaskan Saudara Hermaini Isa dan Drs. Agus Salim untuk segera berangkat ke Jakarta dengan tugas khusus mengambil “SK” manakala telah selesai.

Saat-saat menegangkan menunggu kehadiran team pemeriksa dari Jakarta sungguh banyak mempengaruhi kesiapan Panitia, namun ketegangan itu tidak berjalan lama karena pemeriksaan dinyatakan batal yang kemudian disusul kedatangan Saudara Hermaini Isa dengan membawa Surat Keputusan SMA Negeri 1 Sidoarjo tanpa embel-embel “Persiapan”, bernomor. 21/B/III/1962.

Berita gembira tersebut segera disampaikan kepada Bupati KDH Tk. II Sidoarjo dan anggota MUSPIDA yang lain, dari sisi lain pembangunan gedung sekolah yang ditangani Pemerintah Daerah hampir rampung, tetapi tidak dapat segera dimanfaatkan karena belum tersedianya peralatan yang sangat vital seperti meja-bangku murid, papan tulis, almari dan beberapa perlengkapan yang lain.

Untuk mengatasinya, Panitia mengambil jalan pintas langsung ke Bojonegoro memesan peralatan tersebut sementara untuk memenuhi kebutuhan

dua kelas, dengan pesan dulu bayar belakang dan ternyata panitia masih dipercaya walaupun tanpa jaminan dalam bentuk apapun.

Begitulah, setelah seluruh persiapan dianggap selesai, maka secara berangsur-angsur beberapa kelas mulai dipindah ke gedung baru dijalan Jenggolo No. 1 termasuk seluruh kegiatan administrasi sekolah, sedangkan sisa kelasnya sementara menempati gedung “Panti Asuhan Kesatria” di jalan A. Yani Sidoarjo (gedung Perum. Telepon dan Telegraf sekarang), sambil menunggu penambahan lokal pada gedung yang baru.

Diakhir tahun 1962 inilah, tugas-tugas Panitia mulai dialihkan kepada pimpinan sekolah yang baru yang dijabat oleh Bapak Satmoko sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sidoarjo yang pertama dengan predikat sebagai “penerus” dari cita-cita para perintis/pendiri yang berhasil mempersembahkan kehadiran sebuah SMA Negeri yang dapat diandalkan, yang kelas diharapkan menjadi tempat menempa kader bangsa, sebagai monument yang hidup yang tak lekang dipanas dan tak lapuk dihujan perlu dijaga kelestariannya.

Segenap masyarakat Sidoarjo patut merasa bangga, dengan keberadaan SMA Negeri yang merupakan hasil “perjuangan” tetapi bukan hasil “pemberian”, sesuai predikat yang disandang kota Sidoarjo sebagai kota perjuangan, jantung pertahanan semasa perjuangan fisik ditahun 1945.

Memang perjuangan Panitia berhasil, namun melalui proses panjang yang penuh liku-liku, tidak lepas dari hambatan, tantangan dan gangguan, dan justru tantangan itulah yang memacu keberhasilan Panitia, walaupun lambat

namun pasti. Tanpa melalui proses “hura-hura” Panitia Persiapan SMA Negeri 1 Sidoarjo membubarkan diri dengan perasaan puas bercampur bangga. Kini SMA Negeri 1 Sidoarjo berjalan dan terus berjalan sesuai dengan derap pembangunan.

Dalam memasuki usianya yang ke-29, entah sudah berapa ribu siswa hasil godokan SMA ini menyebar-luas keseluruh penjuru Tanah Air, menjadi tokoh masyarakat, pimpinan Pemerintahan, ekonom, tehnisi, cendekiawan, dan sebagainya.

Diakui atau tidak, peranan tokoh-tokoh seperti Satmoko, Imam Hanafi, Bambang Purwono, Soewono, Idris, H. Siti Masitoh, R. Moh. Agil, dan last but not least Bapak Haroen telah ikut meletakkan dasar kepemimpinan dan keberhasilan segenap lulusan SMA ini, baik sekarang maupun dimasa mendatang.

Sebagai mantan Ketua Umum Panitia Persiapan SMA Negeri Sidoarjo, kami sampaikan rasa hormat serta ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak dengan rasa ikhlas telah memberikan “uluran tangan”, khususnya kepada rekan-rekan guru yang merupakan “bibit-kawit”.

Dengan dorongan rasa ikhlas semata, mereka bersedia untuk berkorban, sebab tak ada kemenangan tanpa perjuangan, juga tak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Betapa indahnya kalau pengorbanan itu beranjak dari rasa ikhlas, karena rasa ikhlas pula orang rela mempersembahkan segala yang ia miliki seperti para pahlawan dan syuhada.

Sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan, saya menyadari sepenuhnya bahwa sejarah singkat ini mungkin disana sini terdapat kekurangan yang perlu untuk disempurnakan, sebab itu setiap koreksi akan saya terima dengan penuh lapang dada.67

3. Visi dan Misi SMAN 1 Sidoarjo a. Visi Lembaga “SMANISDA UNGGUL dalam IMTAQ, IPTEK dan BUDAYA DAMAI” Indikator Visi: 1. Unggul dalam aktivitas keagamaan dan penanaman budi pekerti luhur. 2. Unggul dalam tamatan sekolah yang terampil dan berwawasan global, siap memasuki perguruan tinggi atau dunia kerja untuk persaingan yang kompetitif di era globalisasi. 3. Unggul dalam peningkatan kualitas guru dan karyawan. 4. Unggul dalam program pembelajaran berdasarkan kurikulum sekolah yang berorientasi kecakapan hidup (life skill) yang diadaptasikan dengan kurikulum internasional. 5. Unggul dalam pelayanan terhadap pelanggan dan pengguna sekolah.

b. Misi Lembaga 1. Mengembangkan aktivitas keagamaan di lingkungan sekolah, sehingga semua warga sekolah memiliki rasa keimanan dan ketaqwaan yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

67

Ibid, Dokumentasi, SMA Negeri 1 Sidoarjo tanggal 10 Maret 2009

2.

Melaksanakan pengintegrasian pendidikan budi pekerti pada setiap mata pelajaran, sehingga terwujud budaya kearifan dalam bertindak dan etika pergaulan yang santun dan budaya disiplin yang tinggi.

3.

Meningkatkan mutu sekolah sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan IPTEK berdasarkan Kurikulum sekolah yang

diadaptasikan dengan kurikulum internasional sehingga warga sekolah mampu bersaing di era globalisasi. 4. Mengembangkan sekolah model moving class dengan menggunakan proses pembelajaran berdasarkan Kurikulum tingkat satuan

pendidikan, sehingga guru dan siswa dapat mewujudkan suasana pembelajaran yang kreatif dan inovatif. 5. Menghasilkan tamatan sekolah yang memiliki motivasi, komitmen, ketrampilan hidup, kreativitas untuk mandiri, kepekaan sosial dan kepemimpinan serta berwawasan global. 6. Menumbuh kembangkan minat seluruh warga sekolah untuk menciptakan kreativitas dan pembaharuan di bidang pendidikan. 7. Menerapkan manajemen partisipatif dalam berbagai bidang, terutama dalam pengambilan keputusan sebagai upaya meningkatkan MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). 8. Mengembangkan budaya damai, disiplin dan anti kekerasan di dalam lingkungan Sekolah.68

68

Ibid, Dokumentasi, SMA Negeri 1 Sidoarjo tanggal 10 Maret 2009

a. Tujuan Sekolah SMA Negeri 1 Sidoarjo Berdasarkan visi dan misi sekolah maka dapat dirumuskan tujuan sekolah sebagai berikut:

1. Warga sekolah memiliki rasa keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang kuat, sehingga terwujud budaya kearifan dalam bertindak. 2. Siswa memiliki budi pekerti luhur sehingga terwujud etika pergaulan yang santun dan budaya disiplin yang tinggi. 3. Tenaga kependidikan (Guru dan Karyawan) mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan orientasi program SNBI. 4. Menciptakan seluruh warga sekolah yang kreatif dan inovatif dalam bidang masing-masing, khususnya dalam menunjang pendidikan era global. 5. Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi. 6. Menjalin kerja sama dengan Perguruan Tinggi nasinal dan

internasional, Lembaga/Instansi terkait, dan masyarakat dalam upaya pengembangan program sekolah.69

b. Struktur Organisasi SMA Negeri I Sidoarjo Dalam penyusunan struktur organisasi diadakan suatu pembagian tugas yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota agar tugas yang dibebankan dilaksanakan dengan baik. Adapun Struktur
69

Ibid, Dokumentasi, SMA Negeri 1 Sidoarjo tanggal 10 Maret 2009

organisasi di SMA Negeri I Sidoarjo untuk lebih jelasnya dapat dilihat di halaman lampiran Tabel I.

2. Keadaan Guru dan Siswa di SMA Negeri 1 Sidoarjo a. Keadaan Guru Jumlah guru SMA Negeri I Sidoarjo seluruhnya adalah 96 orang. Yang sesuai dengn latar belakang pendidikan 93 orang, sedangkan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan 3 orang. Lebih jelasnya dapat dilihat dihalaman lampiran Tabel II, Jumlah mata pelajaran per MP bisa dilihat pada Tabel III. b. Keadaan Siswa Jumlah siswa di SMAN 1 Sidoarjo tahun 2008-2009 sebanyak 910 siswa yang terdiri dari 319 siswa kelas X, kelas XI terdiri dari 234 siswa dikelas IA, dan kelas XII terdiri dari 310 siswa dikelas IPA, 47 siswa dikelas IPS. Untuk lebih rincinya, data bisa dilihat di halaman lampiran Tabel IV, Angka mengulang siswa 7 tahun terakhir bisa dilihat pada Tabel V, Angka putus sekolah bisa dilihat pada Tabel VI. c. Sarana dan Prasarana di SMAN 1 Sidoarjo Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada tanggal 10 Maret 2009 diperoleh data dari dokumentasi mengenai keadaan dan perawatan sarana dan prasarana di SMAN 1 Sidoarjo sudah cukup baik dan lengkap sesuai dengan yang dibutukan. Data bias dilihat

dihalaman lampiran pada Tabel VII, dan buku perpustakaan bisa dilihat pada halaman lampiran Tabel VIII. Kelengkapan ruangan untuk proses layanan bimbingan & konseling: a) Memiliki kelengkapan dan ruangan BK permanent b) Penggunaan Ruang laboratorium rata-rata per minggu: lebih dari 10 jam c) Dukungan sekolah terhadap pengadaan kelengkapan guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar (berupa penyediaan alokasi dana untuk pengadaan kelengkapan belajar mengajar), tersedia dan cukup. d) Penanganan kedisiplinan disekolah, memiliki tim khusus dan Guru BK yang bertugas secara rutin sesuai dengan Pedoman Tata Tertib yang ada. Potensi di lingkungan sekolah yang diharapkan mendukung program sekolah: 1. Sumber Daya Manusia : a) Jumlah cukup memadai, baik guru maupun karyawan. b) Mempunyai kualifikasi pendidikan S-1 hampir mencapai 92 %. c) Pengabdian guru dan karyawan pada sekolah cukup tinggi. d) Prestasi siswa (NEM/NUN masukkan dan keluaran) cukup tinggi. e) Dukungan orang tua siswa cukup baik untuk kegiatan sekolah. f) Pemberdayaan alumni sekolah dan masyarakat cukup baik. 2. Sumber Daya Alam (lingkungan) : a) Letak geografis sekolah sangat strategis.

b) Lingkungan sekolah yang kondusif (menyenangkan). 3. Sarana dan Prasarana : a. Kondisi bangunan sekolah yang baik. b. Fasilitas sekolah sudah hampir terpenuhi. c. Lapangan olahraga yang cukup untuk berbagai kegiatan

B. Paparan dan Analisis Data 1. Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Saat Menggunakan Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajaran Berdasarkan hasil interview dengan waka kurikulum Bapak Drs. Zainul Fanani, M. Pd dan guru pendidikan agama Islam ibu Dra. Hj. Sri Sukarti, pada tanggal 06 Maret 2009 bertempat di Masjid sekolah pukul 09.00-10.00 WIB yang mengacu pada rumusan masalah dapat diperoleh data berikut ini: 1. Kreativitas guru dalam penggunaan media dalam PBM Pendidikan Agama Islam Berdasarkan hasil interview dengan guru PAI dapat diungkapkan bahwa: Secara manual, dalam proses pembelajaran saya memakai media pembelajaran. Akan tetapi tergantung sesuai dengan materi pembelajarannya (kondisional). Saya menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang akan saya sampaikan, ketika materi tersebut tentang surat atau ayat-ayat Al-Quran, maka di situ saya tekankan praktek, yang mana siswa saya tuntut untuk bisa menulis, membaca dan menghafal, dan ketika tentang akhlaq atau kisah-kisah maka disitu saya menggunakan metode ceramah. Jadi tidak semua penggunaan media pembelajaran digunakan pada semua materi. Selain pemakaian media, saya juga menggunakan atau menyiapkan potongan-potongan ayat, terjemahan, game (bermain peran), demonstrasi, dan diskusi kelompok. Dalam berbagai macam kegiatan bermain itu, anak dapat diajari untuk bertanggung jawab, tenggang rasa, mandiri, dan sebagainya.

Hal tersebut yang di ungkapkan oleh guru agama, kemudian hal tersebut ditekankan lagi oleh pihak kurikulum Bapak Drs. Zainul Fanani, M. Pd: Seperti yang sudah dijelaskan oleh Ibu Sri Sukarti tadi, bahwa memang dalam pembelajaran itu ditekankan untuk memakai media yang sudah ada. Hal ini agar siswa itu mudah memahami pelajaran yang akan akan disampaikan. Tetapi tidak semua materi atau mata pelajaran memakai media. Tergantung dengan materi yang akan diajarkannya. Selain guru yang berkreativitas, siswa juga dituntut untuk berkreativitas. Seperti menciptakan sauasana atau kondisi kelas yang nyaman, merenovasi dengan menempel gambar atau poster yang berbaur pendidikan. Tujuan ini agar memotivasi siswa dalam belajar, menarik perhatian siswa dan menciptakan lingkungan yang kondusif. 2. Persiapan sebelum menggunakan media, sebagaimana yang di katakan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Sidoarjo, pada tanggal 06 Maret 2009, bertempat di Masjid pukul 09.40. Biasanya sebelum menggunakan media, kita perlu membuat persiapan terlebih dahulu. Dan pada saat penggunaan media nanti, kita tidak akan diganggu degan hal-hal yang mengurangi kelancaran penggunaan media itu. Jika media itu digunakan secara kelompok, sebaiknya tujuan yang akan dicapai dibicarakan terlebih dahulu dengan semua anggota kelompoknya. Ini bertujuan agar perhatian dan pikiran terarah ke hal yang sama. Dan alhamdulillah saya bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena sebelumnya saya sudah memberitahukan kepada anak-anak dan ketika saya masuk kelas, anak-anak itu sudah mempersiapkan media yang akan digunakan dan kadang-kadang saya yang menyiapkannya sendiri. Dan media disini, alhamdulillah bisa dikatakan cukup baik. Artinya sudah difasilitasi semuanya. Jadi tidak perlu takut untuk mengeluarkan biaya yang cukup banyak. 3. Jenis media yang digunakan oleh guru PAI di SMA Negeri 1 Sidoarjo Ada beberapa jenis media yang digunakan di SMAN 1 Sidoarjo, diantaranya yaitu: OHP, LKS, papan tulis, buku paket, laboratorium bahasa, televisi, tape recorder, radio, dan lain sebagainya. Akan tetapi ketika peneliti melakukan wawancara dengan guru agama Ibu Sri Sukarti, bertempat di Masjid Sekolah, pukul 09. 50 beliau mengatakan:

Penggunaan media atau jenis media yang digunakan di SMA Negeri 1 Sidoarjo, yaitu yang dikenal dengan sebutan Multimedia. Disetiap ruangan atau kelas disediakan multimedia projector (LCD) sehingga memudahkan siswa untuk menggunakan media tersebut dan juga media gambar serta buku paket, buku panduan baca tulis Al-Qur'an, dan LKS. Hal tersebut juga di ungkapkan Bapak Drs. Zainul Fanani, M. Pd selaku waka kurikulum di SMA Negeri 1 Sidoarjo: Disekolahan ini memang disetiap kelas itu dikasih media dan kita menyebutnya dengan sebutan Multimedia Projector (LCD), agar mempermudah peserta didik dalam memahami dan menerima materi pelajaran. Bapak Zinul Fanani sedikit menambahkan: Oh iya, disamping itu, guru menyesuaikan jenis media dengan materi kurikulum sewaktu akan memilih jenis media yang akan dikembangkan atau diadakan, maka yang perlu diperhatikan adalah jenis materi pelajaran yang mana yang terdapat di dalam kurikulum yang dinilai perlu ditunjang oleh media pembelajaran. Kemudian, dilakukan telaah tentang jenis media apa yang dinilai tepat untuk menyajikan materi pelajaran yang dikehendaki tersebut. Dari hasil observasi yang peneliti lakukan bahwa di SMA Negeri 1 Sidoarjo memang memakai media pembelajaran. Seperti yang penulis amati disetiap ruangan itu dikasih LCD projector. Hal ini bertujuan agar siswa mudah dalam mempelajari materi yang akan disampaikan dan dapat menyelesaikan pemecahan masalah-maslalah yang ada, dan jenis media itu juga harus disesuaikan kurikulum yang telah ditetapkan disekolahan SMAN 1 Sidoarjo. Sedangkan dari data dokumentasi yang peneliti peroleh

menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran berlangsung guru menggunakan media LCD projector dan ketika itu siswa nampaknya sedang memakai multimedia presentasi. Dimana salah seorang siswa dan kelompoknya sedang mempresentasikan hasil kerjanya didepan teman-

teman yang lain. Data dokumentasi tersebut dapat dilihat pada halaman lampiran. 4. Kriteria Penggunaan Media Media merupakan salah satu sarana pendidikan untuk

meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Dimana, guru harus mempunyai keahlian atau keterampilan dalam menggunakan media tersebut. Sehingga, guru dapat mengelola proses belajar mengajar dengan baik. Ketika peneliti melakukan wawancara dengan guru agama Ibu Sri Sukarti, bertempat di Masjid sekolah, pukul 09.55 WIB, beliau mengatakan: Menurut pendapat saya kriteria media pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan materi, tujuan, metode, karakteristik siswa dikelas, biaya pengadaaan media yang disesuaikan dengan dana intern sekolah hal ini dimaksudkan agar penggunaan media pembelajaran tidak melenceng dari materi, tujuan, metode, karakteristik siswa sehingga pemahaman siswa dengan penggunaan media pembelajaran dapat lebih mudah dicapai. (wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Ibu Dra. Hj. Sri Sukarti). Hal senada juga dikatakan oleh waka kurikulum bapak Drs. Zainul Fanani, M. Pd. Hal yang harus diperhatikan dalam kriteria penggunaan media agar proses pengajaran berjalan dengan baik yaitu: ekonomis, praktis dan sedarhana, bersifat fleksibel artinya bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan dalam pembelajaran, praktis dan sederhana, komponenkomponennya disesuaikan dengan tujuan, materi, metode, kondisi peserta didik, agar pemahaman siswa lebih mudah dicapai dengan penggunaan media pembelajaran tersebut. Dari hasil wawancara, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kriteria dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya, bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya

media audio yang tepat digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat gerak dan aktivitas, maka media film dan video yang digunakan. 5. Kondisi atau sikap siswa saat guru menggunakan media pembelajaran Menurut saya, ketika saya menggunakan media pembelajaran semua siswa antusias memperhatikan pelajaran yang saya berikan dan itu pun sangat menarik. Dan alhamdulillah metode yang saya gunakan cukup berhasil menarik perhatian siswa dan proses kegiatan belajar mengajar terlaksana dengan baik.(wawancara dengan guru PAI Ibu Dra. Hj. Sri Sukarti). Menurut hasil wawancara dengan guru PAI dapat diketahui bahwa dalam KBM kondisi siswa itu juga mempengaruhi dalam proses pembelajaran. Akan tetapi guru agama di SMAN 1 Sidoarjo ini dapat menciptakan situasi dan kondisi belajar yang diharapkan, menarik perhatian siswa, dan membuat lingkungan yang kondusif.

2. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Dalam mengembangkan media pembelajaran, disamping

mengembangkan media-media yang sudah ada, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibu Sri Sukarti pada tanggal 07 Maret 2009, bertempat di Masjid sekolah Pukul 09.30-10.00 WIB: Ya itu mbak, saya mencoba menggunakan berbagai metode mengajar dan disesuaikan dengan media yang dipakai. Saya rasa hal ini akan mempermudah siswa dalam memahami dan menerima materi pelajaran, media harus dibuat semenarik mungkin, agar dapat menjadi stimulus bagi peserta didik untuk mempunyai rasa ingin tahu. Hal ini kan sama saja dalam pengembangan media pembelajaran. Karena menurut saya, media dan metode itu sama-sama suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dalam pengembangan media pembelajaran guru harus membuat persiapan dan rencana dalam menentukan program media yang mau diajarkan dan disesuaikan dengan karakteristik maupun kebutuhan siswa. Ketika peneliti mengkonfirmasikan kepada guru agama Bapak Abdul Ghofur, tanggal 07 Maret 2009 bertempat di Masjid sekolah, pukul 09.35 WIB beliau mengatakan: Di sekolahan ini karakteristik siswa itu kan berbeda-beda tho mbak. Dan karakteristik itu bisa dilihat dari latarbelakang siswa, kepribadian siswa, lingkungan hidup, dan status sosialnya juga. Jadi dalam pengembangan media, saya memilih media itu ya saya sesuaikan dengan kebutuhan siswa tersebut, agar saya bisa mengorganisasikan materi pelajaran sedemikian rupa, memilih dan menentukan metode dan media yang tepat sehingga akan terjadi proses interaksi belajar mengajar yang optimal. Dari penerapan berbagai metode dan penggunaan media dalam pengembangan media pembelajaran, guru menerapkan metode-metode yang bervariasi. Seperti yang disampaikan Ibu Sri Sukarti, bertempat di Masjid sekolah pukul 09.45 beliau mengatakan: Oh iya mbak, saya juga menambahkan, selain saya memakai metodemetode yang saya terapkan, saya juga mengguakan multimedia presentasi yang mana sebagian siswa saya bentuk dalam kelompok kecil, kemudian mereka mempresentasikan hasil kerja kelompoknya kepada semua siswa dan dilanjutkan dengan tanya-jawab. Presentasi ini biasanya menggunakan power point, dan kegiatan presentasi ini menjadi sangat mudah, dinamis dan menarik. Hal tersebut juga di ungkapkan Bapak Abdul Ghofur juga menambahkan: Selain kita mengembangkan berbagai metode-metode, multimedia presentasi seperti yang katakana oleh ibu Sri tadi, saya dan bu sri biasanya juga menggunakan video pembelajaran, sesuai dengan materi yang akan diajarkan, membimbing siswa untuk memahami materi ajar dan mengikuti kegiatan praktik sesuai dengan yang diajarkan dalam video tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tentang materi shalat, wudhu, kisah-kisah teladan para Nabi dan lain sebagainya. Dari hasil pengamatan yang peneliti dapatkan, bahwa disamping mengembangkan media-media yang sudah ada dalam pengembangan

media pembelajaran guru itu menggunakan berbagai macam metodemetode yang nantinya mampu mengantarkan peserta didik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Guru juga menekankan praktik sesuai dengan materi yang telah diajarkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti praktek shalat yang bisa dilihat pada halaman lampiran.

3. Kendala-kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran Di SMAN 1 Sidoarjo Sebagaimana pembahasan sebelumnya, bahwa guru harus kreatif dalam penggunaan media pembelajaran, selalu mengkomunikasikan kepada anak-anak didiknya, menemukan sesuatu ide-ide dalam bentuk yang baru, dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar, sehingga dalam pelaksanaannya banyak kendala yang dihadapi meningkatkan kegiatan proses belajar mengajarnya. Biasanya salah satu faktor atau alasan tidak dimanfaatkannya media pembelajaran atau media itu terabaikan pada umumnya disebabkan oleh waktu persiapan mengajar terbatas, sulit mencari media yang tepat, biaya tidak tersedia dan lain-lain. Ketika peneliti mengkonfirmasikan atau mewawancarai guru pendidikan agama Islam, beliau menegaskan bahwa: a. Faktor dominan yang menjadi kendala dalam penggunaan media pembelajaran, seperti yang telah dikatakan oleh guru pendidikan agama Islam Ibu Dra. Hj. Sri Sukarti dan Bapak H. Abdul Ghofur, tanggal 10 Maret 2009 bertempat di Masjid sekolah pukul 09.30-10.15 WIB bahwa: Ibu Sri Sukarti mengatakan: dalam rangka

Ketika dalam pembelajaran berlangsung, hal-hal atau hambatanhambatan yang dihadapi guru saat menggunakan media pembelajaran dikelas yang paling pokok biasanya lampu mati. Disamping itu watt listriknya juga pas-pasan. Hal senada diungkapkan oleh Bapak H. Abdul Ghofur, bertempat di Masjid sekolah pukul 09.30 WIB: Hal yang paling pokok ya itu, saat proses pembelajaran berlangsung ketika itu saya memakai media tiba-tiba lampunya mati ini dikarenakan watt listriknya itu terlalu kecil, dan proses pembelajaran ketika saya mengajar saat itu sedikit terhambat. b. Sulit mencari VCD yang berkaitan dengan materi pelajaran VCD juga merupakan alat untuk membantu proses belajar mengajar. Dengan adanya VCD ini siswa secara interaktif dalam mengikuti kegiatan praktik sesuai dengan yang diajarkan dalam VCD tersebut. Ketika peneliti wawancara dengan Ibu Sri Sukarti, ada beberapa faktor/kendala yang dihadapi guru saat menggunakan media tersebut. Beliau mengatakan bahwa: Disamping faktor lampu mati, kadang saya kesulitan untuk mencari VCD tentang materi yang akan diajarkan, misalnya seperti tentang materi mawaris karena terbatas. c. Faktor lain yang menjadi kendala proses kegiatan belajar mengajar saat guru menggunakan media ketika peneliti wawancara dengan bapak H. Abdul Ghofur bertempat di Masjid sekolah, pukul 09.40 WIB beliau mengatakan bahwa: Kadang ada salah seorang siswa yang telinganya ditutup atau memakai earphone sambil mendengarkan musik atau radio ketika pembelajaran berlangsung, pura-pura memperhatikan padahal pikirannya terfokuskan kepada yang lainnya atau tidak mendengarkan. d. Lingkungan yang ada di sekitar pembelajaran berperan besar terhadap berhasil dan tidaknya proses pembelajaran, dan di SMA Negeri 1

Sidoarjo, di temukan problem pada lingkungan ketika wawancara dengan Ibu Sri Sukarti dan hal senada juga dikatakan ooleh bapak H. Abdul Ghofur yaitu, pukul 09.47 WIB bahwa: Selain itu kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan ini misalnya keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya. Lingkungan sosial juga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar. Sering kali guru dan para siswa yang sedang belajar didalam kelas merasa terganggu oleh obrolan-obrolan orang yang berada diluar persis didepan kelas tersebut. Apalagi obrolan itu diiringi dengan gelak tawa yang keras dan teriakan. 4. Solusi yang Dilakukan dalam Mengatasai Kendala-Kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran Di SMAN 1 Sidoarjo a. Langkah-langkah dalam menghadapi problematika tersebut, ketika lampu mati. sebagaimana hasil wawancara dengan guru agama Ibu Sri Sukarti, tanggal 10 Maret 2009 bertempat di Masjid sekolah pukul 09.50 WIB, bahwa yang dilakukan guru agama SMAN 1 Sidoarjo ini dalam mengatasi kendala-kendala tersebut, peneliti memperoleh hasil sebagai berikut: Waktu itu saya pergunakan dengan sebaik-baiknya, dipakek untuk setoran hafalan. Setiap anak wajib menyetor 1 Juz. Dan hafalan ini sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir atau dengan kata lain istilahnya disebut dengan “Training Islam” (TI). Dengan mengikuti Training Islam ini, semua siswa akan mendapatkan sertifikat sebagai persyaratan mengikuti ujian nasional. Disamping itu, alhamdulillah sekarang watt listriknya juga ditambah sehingga tidak sering terjadi tegangan pada listrik. Selain menyetor 1 juz sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir, peneliti juga memperoleh data dari hasil pengamatan bahwa disetiap hari jum’at, siswi-siswi juga wajib merangkum khutbah

jum’at,

dan

kalau

sudah

selesai,

siswa

menyetorkan

hasil

rangkumannya kepada guru pendidikan agama Islam. Siswi bisa merangkum disetiap tempat, kelas, maupun ruangan yang sekiranya tidak jauh dari masjid yang ada di lingkungan sekolahnya.

b. Langkah-langkah dalam mengatasi kesulitan mencari VCD tentang materi pelajaran. Sarana pendidikan dalam proses mengajar merupakan faktor dominan dalam menunjang tercapainya pembelajaran. Dengan tersedianya sarana yang memadai akan mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Akan tetapi, hal yang ditemui oleh peneliti selama dilapangan ketika peneliti sedang melakukan wawancara dengan guru agama Ibu Sri Sukarti pada tanggal 10 Maret 2009, bertempat di Masjid sekolah, pikul 10.05 WIB, beliau mengemukakan: Jika saya sulit dalam mencari VCD tentang materi yang mau saya ajarkan, biasanya saya memakai cara lain atau menggunakan metode ceramah. Dimana saya menjelaskan materi itu, lalu saya menuliskan ayat-ayat yang berkaitan dengannya, atau menggunakan refrensi lain yang relevan. Kemudian apa yang siswa belum faham, bisa ditanyakan kepada saya. Atau siswa saya suruh membuka situs-situs di internet. Disamping itu, kadang siswa saya suruh membentuk menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan hal tersebut, dan perwakilan salah satu dari masing-masing kelompok itu mempresentasikan hasil diskusi dengan kelompoknya tersebut. VCD juga merupakan media pembelajaran dalam menunjang proses pembelajaran. Dengan adanya VCD ini, siswa lebih mudah memahami pelajaran dan menerapkannya dengan kehidupan seharihari mereka. Hal serupa juga ditambahkan oleh Bapak H. Abdul

Ghofur bertempat di Masjid sekolah pukul 10.10 WIB, beliau mengatakan: Langkah-langkah yang saya lakukan ketika saya kesulitan mencari VCD yang berkaitan dengan materi pelajaran, ketika itu saya melanjutkan dengan metode ceramah agar waktunya tidak terbuang sia-sia. Karena dalam pelajaran PAI waktunya cuma satu jam pelajaran. Jadi saya betul-betul menggunakan waktu dengan sebaikbaiknya. Berdasarkan pengamatan, peneliti dapat menyimpulkan langkahlangkah yang dilakukan oleh guru agama untuk mengatasi kesulitan mencari VCD yang sesuai dengan materi pelajarannya, yaitu guru sedikit memberikan arahan, guru bisa meminta para siswa untuk mencari CD yang berkaitan dengan materi pelajaran atau membuka situs tertentu yang berkaitan dengan materi ajarnya. c. Langkah-langkah dalam mengatasi kendala-kendala yang siswa itu kurang berantusias dalam proses kegiatan belajar mengajar saat guru menggunakan media. Saat peneliti mengkonfirmasi dengan Bapak H. Abdul Ghofur, bertempat di Masjid sekolah pukul 10.12 WIB, beliau mengatakan: Ketika itu siswa saya dekati, dan dia langsung mengalihkan perhatiannya dan fokus pada pelajaran. Ketika itu saya memutar VCD tentang adanya Teori Big-Bang dan itu akhirnya menarik perhatiannya untuk memahami teori big-bang tersebut dan rasa ingin tahu dengan adanya teori tersebut. Dari hasil wawancara diatas, dapat dikatakan bahwa untuk mengatasi permasalahan anak yang kurang memperhatikan media pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo, guru PAI mengadakan pendekatan pada siswa secara personal, yang dengan pendekatan tersebut diharapkan siswa mau mengatakan permasalahan yang

dihadapi sehingga nantinya guru pendidikan agama Islam dapat membantu permasalahan yang dihadapi siswa, dan guru dapat memberikan motivasi. d. Langkah-langkah dalam mengatasi kendala-kendala pada lingkungan kelas yang kurang kondusif dalam artian guru dan siswa terganggu orang-orang yang ada disekitar maupun diluar kelas. Ketika peneliti meminta hasil keterangan dari Ibu Sri Sukarti Biasanya kalau kondisi siswa kurang nyaman untuk belajar dikelas akibat kelembaban, kepengapan udara, terganggu oleh obrolan-obrolan siswa-siswa yang lain yang persis berada di depan kelas, kadang siswa saya ajak belajar diluar kelas, mencari tempat yang nyaman, suasana yang menyenangkan untuk proses belajar mengajar, dan ini bertujuan supaya siswa juga tidak bosen belajar dikelas terus. Hal tersebut peneliti juga mewawancarai bapak H. Abdul Ghofur, bertempat di Masjid sekolah, pukul 10.15 WIB beliau menambahkan bahwa: Lingkungan sebagai media dan sumber belajar para siswa dapat dioptimalkan dalam proses pengajaran untuk memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa disekolah. Dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa lingkungan juga merupakan sarana atau sumber belajar. Oleh sebab itu, lingkungan disekitarnya harus dioptimalkan kerana ini sangat membantu siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan menambah wawasan siswa dalam mewujudkan tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Penggunaan Media Pembelajaran SMAN 1 Sidoarjo Setelah apa yang telah dijabarkan dalam penyajian data hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat diketahui, bahwasannya dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Sidoarjo secara manual, dalam proses pembelajaran memakai media pembelajaran. Akan tetapi tergantung sesuai dengan materi pembelajarannya (kondisional). Disamping itu, guru juga memiliki kekreativitasan dalam menggunakan media-media pembelajaran yang ada dan menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang akan sampaikan. Ketika meteri tersebut tentang surat atau ayat-ayat Al-Quran, maka ditekankan praktek, yang mana siswa dituntut untuk bisa menulis, membaca dan menghafal, dan ketika tentang akhlaq atau kisahkisah maka disitu menggunakan metode ceramah. Jadi tidak semua penggunaan media pembelajaran digunakan pada semua materi. Selain pemakaian media, guru juga menggunakan atau menyiapkan potonganpotongan ayat, terjemahan, game (short card, roll playing, jigsaw, group resume, team quiz, demonstrasi, diskusi dan lain-lain). Dalam berbagai macam kegiatan bermain itu, anak dapat diajari untuk bertanggung jawab, tenggang rasa, mandiri, dan sebagainya. Penggunaan atau jenis media yang digunakan di SMA Negeri 1 Sidoarjo adalah multimedia projector (LCD), dimana disetiap ruangan atau kelas dikasih

multimedia tersebut. Dalam penggunaan media, guru mencoba untuk menggunakan berbagai metode mengajar dan disesuaikan dengan media yang dipakai. Kriteria dalam pemilihan media yang ada di SMA Negeri 1 Sidoarjo disesuaikan dengan materi, tujuan, metode, karakteristik siswa dikelas, biaya pengadaan media yang disesuaikan dengan dana intern sekolah, hal ini dimaksudkan agar penggunaan media pembelajaran tidak melenceng dari materi, tujuan, metode, karakteristik siswa sehingga pemahaman siswa dengan penggunaan media pembelajaran dapat lebih mudah dicapai. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pembelajaran. Pertama, guru perlu memiliki pemahaman media pembelajaran antara lain jenis dan manfaat media pembelajaran, kriteria memilih dan menggunakan media pembelajaran, menggunakan media sebagai alat Bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses belajar siswa. Kedua, guru terampil membuat media pembelajaran sederhana untuk keperluan pengajaran. Ketiga, pengetahuan dan keterampilan dalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran. Menilai keefektifan media pembelajaran penting bagi guru agar ia bisa menentukan apakah penggunaan media itu diperlukan atau tidak diperlukan dalam proses pengajaran.

B. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Pengembangan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo Dalam pengembangan media pembelajaran guru membuat persiapan dan rencana dalam menentukan program media yang mau diajarkan dan disesuaikan dengan karakteristik maupun kebutuhan siswa. Dan ketika itu, metode yang digunakan adalah multimedia presentasi yang mana sebagian siswa dibentuk dalam kelompok kecil, kemudian mereka mempresentasikan hasil kerja kelompoknya kepada semua siswa dan dilanjutkan dengan tanya-jawab. Pemanfaatan multimedia dalam presentasi ini biasanya menggunakan power point. Pemanfaatan power point dalam presentasi menyebabkan kegiatan presentasi menjadi sangat mudah, dinamis dan sangat menarik. Dan disini guru hanya sebagai fasilitator dan evaluator untuk mengarahkan jalannya diskusi tersebut. Adapun beberapa kelebihan dari multimedia presentasi ini yaitu: a. Mampu menampilkan objek-objek yang sebenarnya tidak ada secara fisik atau diistilahkan dengan imagery. Secara kognitif pembelajaran dengan menggunakan mental imagery akan meningkatkan retensi siswa dalam mengingat materi-materi pelajaran. b. Memiliki kemampuan dalam menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik. c. Mampu mengembangkan materi pembelajaran terutama membaca dan mendengar secara mudah. Selain multimedia presentasi guru juga menggunakan video

pembelajaran. Video pembelajaran ini dimanfaatkan untuk memutar CD yang

sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan membimbing peserta didik untuk memahami sebuah materi melalui visualisasi. Peserta didik secara interaktif dapat mengikuti kegiatan praktik sesuai dengan yang diajarkan dalam video tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tentang materi shalat, wudhu, kisah-kisah teladan para Nabi dan lain sebagainya. Untuk itu, guru pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Sidoarjo memiliki komitmen yang tinggi dalam pembelajaran, dimana guru agama tersebut akan selalu melakukan perbaikan-perbaikan dan pembaharuan dalam setiap pertemuan.

C. Kendala-kendala yang Dihadapi Saat Guru Menggunakan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo Sebagaimana diketahui bahwasanya berhasil dan tidaknya tujuan suatu pembelajaran, sangat dipengaruhi olah seorang guru. Ketika pada seorang guru ditemukan suatu permasalahan yang menjadi kendala dalam

pembelajaran, maka pembelajaran tidak dapat berjalan secara optimal. Di SMA Negeri 1 Sidoarjo ditemukan beberapa problem yang dihadapi oleh guru pendidikan agama Islam dalam pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut, antara lain: 1. Lampu mati 2. Sulitnya mencari VCD tentang materi-materi yang berkaitan 3. Salah seorang siswa memakai earphone sambil mendengarkan musik atau radio ketika pembelajaran berlangsung,

4. Kondisi di lingkungan sekitar yang kurang kondusif. Artinya, merasa terganggu oleh obrolan-obrolan siswa yang lainnya yang berada diluar, persis didepan kelas tersebut. Apalagi obrolan itu diiringi dengan gelak tawa yang keras dan teriakan. Disamping itu, yang menjadi faktor dalam penggunaan media disekolah-sekolah pada umumnya yaitu keterbatasan media pembelajaran yang dipakai dikelas diduga merupakan salah satu sebab lemahnya mutu pendidikan pada umumnya. Hal ini terlebih dirasakan pada mata pelajaran keagamaan. Pemanfaatan media dalam proses pembelajaran di bidang keagamaan dapat dikatakan belum optimal.

D. Solusi yang Dilakukan dalam Mengatasai Kendala-Kendala yang Dihadapi Saat Guru Mengguakan Media Pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo Dalam menghadapi problematika tersebut guru pendidikan agama Islam SMA Negeri 1 Sidoarjo menggunakan berbagai macam langkah untuk

mengatasi kendala-kendala dalam penggunaan media. a. Langkah-langkah dalam menghadapi problematika tersebut, ketika lampu mati. Waktu itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya, yaitu digunakan untuk setoran hafalan. Setiap anak wajib menghafal 1 Juz. Dan hafalan ini sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir atau dengan kata lain istilahnya disebut dengan “Training Islam” (TI).

b. Langkah-langkah dalam megatasi kesulitan mencari VCD tentang materi pelajaran. Guru memberi arahan, dan siswa di minta untuk mencari CD yang berkaitan dengan materi pelajaran atau membuka situs tertentu yang berkaitan dengan materi ajarnya, atau memakai metode lain demi kelancaran proses pembelajaran. c. Langkah-langkah dalam mengatasi kendala-kendala yang siswa itu kurang berantusias dalam proses kegiatan belajar mengajar saat guru

menggunakan media Guru mengadakan pendekatan pada siswa secara personal, dan memberikan stimulus, motivasi yang bisa membangkitkan minat siswa, dan menciptakan suasana yang lebih baik lagi agar selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan menyenangkan. d. Langkah-langkah dalam mengatasi kendala-kendala pada lingkungan kelas yang kurang kondusif dalam artian guru dan siswa terganggu orang-orang yang ada disekitar maupun diluar kelas. Guru harus bisa mengoptimalkan lingkungan kelas yang nyaman dan menyenangkan sebagai sumber belajar. Disamping itu guru harus bisa menguasai seisi ruangan kelas dalam artian bisa mengondisikan siswa agar perhatian, konsentrasi siswa itu tetap terfokus pada pelajaran. Dan kadangkadang guru mengajak siswa untuk belajar diluar kelas atau disekitar lingkungan sekolah yang suasananya cocok untuk dibuat belajar, agar siswa tidak mengalami kebosanan.

Oleh karena itu, program media yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sidoarjo dilaksanakan secara sistematis berdasarkan kebutuhan dan

karakteristik siswa serta diarahkan pada pembahasan tingkah laku siswa yang ingin dicapai. Didalam kegiatan belajar mengajar media pembelajaran secara umum mempunyai kegunaan untuk mengatasi hambatan dalam

berkomunikasi. Disamping itu media pembelajaran dapat membantu memudahkan belajar bagi siswa dan memudahkan mengajar bagi guru, memberikan pengalaman lebih nyata, menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya pelajaran tidak membosankan), lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan penulis pada penyajian dan analisis data di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil interview dengan guru PAI diungkapkan bahwa dalam upaya kreativitas guru PAI dalam penggunaan media pembelajaran, bahwasannya dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Sidoarjo secara manual, dalam proses pembelajaran memakai media pembelajaran. Akan tetapi tergantung sesuai dengan materi pembelajarannya (kondisional). Jadi tidak semua penggunaan media

pembelajaran digunakan pada semua materi pelajaran pendidikan agama Islam. Kriteria dalam pemilihan media yang ada di SMA Negeri 1 Sidoarjo disesuaikan dengan materi, tujuan, metode, karakteristik siswa dikelas, sehingga pemahaman siswa dengan penggunaan media

pembelajaran dapat lebih mudah dicapai. 2. Upaya guru agama dalam pengembangan media pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo yaitu media pembelajaran itu hendaknya disesuaikan dengan dengan karakteristik siswa, tujuan pembelajaran, kebutuhan siswa, kepribadian siswa, dan menentukan metode dan media yang tepat sehingga akan terjadi proses interaksi belajar mengajar yang optimal.

3. Kendala-kendala

yang

dihadapi

saat

guru

menggunakan

media

pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo ditemukan beberapa problem yang dihadapi oleh guru pendidikan agama Islam dalam pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut, antara lain: a. Lampu mati b. Sulitnya mencari VCD tentang materi-materi yang berkaitan c. Salah satu siswa kurang berantusias dan tidak memperhatikan media pembelajaran saat pembelajaran berlangsung d. Kondisi lingkungan sekitar yang tidak kondusif 4. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi saat guru menggunakan media pembelajaran guru harus bisa

mengoptimalkan lingkungan kelas yang nyaman dan

menyenangkan

sebagai sumber belajar. Disamping itu guru harus bisa menguasai seisi ruangan kelas dalam artian bisa mengondisikan siswa agar perhatian, konsentrasi siswa itu tetap terfokus pada pelajaran.

B. Saran - saran 1. Bagi Lembaga Seorang guru itu perlu mengembangkan kreativitas sebagai upaya pembaharuan proses pembelajaran di sekolah, maka seorang guru dipersyaratkan mempunyai pandangan atau pendapat yang positif terhadap bagaimana menciptakan situasi dan kondisi belajar yang diharapkan guru juga memiliki kreativitas dalam menggunakan media-media pembelajaran

yang ada dan menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang akan sampaikan. Keberadaan media pembelajaran yang ada perlu diperhatikan mulai dari pengadaan perlengkapan, perawatan dan pemanfaatan. Menambah perlengkapan media pembelajaran memang sangat penting, tetapi harus disertai koordinasi dan pengelolaan dengan baik karena akan menunjang keberhasilan belajar mengajar. Sebuah media pembelajaran yang dapat digunakan harus sesuai dengan kebutuhan dan harus langsung menunjang belajar siswa. Sebenarnya media pembelajaran tidak hanya menuntut kelengkapan tetapi dari segi pemanfaatannya juga harus diperhatikan. Kelengkapan media pembelajaran tidak ada artinya jika tidak berfungsi dan terselenggara secara baik, efektif dan efisien. Selain itu tidak kalah pentingnya adalah kebijakan kepala sekolah berupa kedisplinan dan penggunaan waktu sebaik mungkin. 2. Bagi Guru Walaupun jenis media pembelajaran PAI yang tersedia di SMA Negeri 1 Sidoarjo cukup baik dan memenuhi kebutuhan siswa, hendaknya guru memakai dan memanfaatkan dengan baik, efektif dan seefisien mungkin dan dalam penggunaan media pembelajaran agama pada khususnya, hendaknya disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan disajikan dan dapat menarik perhatian siswa dan tidak bertentangan dengan syari’at agama atau tidak melanggar etika agama. Akan lebih baik jika guru agama mempersiapkan sendiri media pembelajaran sebelum PBM, mengingat betapa pentingnya media

pembelajaran hal ini bertujuan agar guru lebih bervariasi dalam mendidik dan mengajar sehingga siswa tidak merasakan kejenuhan dalam belajar dan mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Arief S. Sadiman. 2003. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta. Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. B. Uno, Hamzah. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Danim, Sudarwan. 1995. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Dokumentasi SMA Negeri 1 Sidoarjo Tanggal 03-06 Maret 2009. Hamalik, Oemar. 1989. Media Pendidikan, Cetakan VI. Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Harnowo. 2007. Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Kreatif. Bandung: Mizan Media Utama. Ida. Multimedia Sebagai Media Pembelajaran. http://www.radarsemarang.com, diakses 27 Agustus 2008. Ilmi. Media Pembelajaran. http://ilmi.blogguru.net.com. Diakses 31 Januari 2009. Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyasa. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran. Ciputat: Gaung Persada Press. Mustikasari, Ardiani. Mengenal Media Pembelajaran. http://edu-articles.com, diakses 08 Agustus 2008. Radiyatam Mardiyana, Neneng. Memahami KomponenInteraksi Edukatif Dari Aspek Material dan Pengaruhnya Terhadap Belajar Anak Dikelas. http://makalah85.blogspot.com, diakses 30 Januari 2009. Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta. Sadiman, Arief, dkk. 2008. Media Pendidikan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Semiawan, Conny, dkk. 1987. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Sudjana, Nana.2007. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Sudjana, Nana. Rivai, Ahmad. 1989. Teknologi Pengajaran. Bandung: Penerbit Sinar Baru. Seifert, Kelvin. 2007. Manajemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD. Sudiyono, dkk. 2006. Strategi Pembelajaran Partisipatori di Perguruan Tinggi. Malang: Penerbit UIN-Malang Press. Sudjarwo. 1989. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar. Jakarta: Mediatama Sarana Perkasa. Sugiono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit CV. Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Sutadipura, Balnadi. 1985. Aneka Problema Keguruan. Bandung: Penerbit Angkasa. Suwarna. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana. Syaiful Bahri Djamarah. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rieneka Cipta. Yusuf L. N, Syamsu. Nurihsan, Juntika. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Malang Telp (0341) 551354 Fax (0341) 572533

Nomor Lampiran Perihal

: Un. 3. 1/TL. 00/150/2008 : I (satu) berkas : PENELITIAN Kepada Yth. Kepala SMA Negeri 1 Sidoarjo di Sidoarjo Assalamu’alaikum Wr.Wb

04 Februari 2009

Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswi tersebut di bawah ini: Nama : Imroatun Khoirun Nisak NIM : 05110160 Jurusan/Fakultas : Pendidikan Agama Islam/Tarbiyah Semester/Tahun Ak : VIII/ 2009 Judul Skripsi : Upaya Pengembangan Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Penggunaan Media Pembelajaran Di SMA Negeri 1 Sidoarjo dalam rangka menyelesikan tugas akhir studi/menyusun skripsinya, yang bersangkutan diberikan izin/kesempatan untuk mengadakan penelitian dilembaga/instansi/daerah yang bapak/ibu pimpin sesuai judul skipsinya diatas. Demikian atas perkenaan dan kerja samanya disampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Dekan,

Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031

DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 572533 Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI PEMBIMBINGAN SKRIPSI Nama NIM/Jurusan Dosen Pembimbing Judul Skripsi : Imroatun Khoirun Nisak : 05110160/Pendidikan Agama Islam : Drs. H. Masduki, MA : Upaya Pengembangan Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Penggunaan Media Pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidoarjo No 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanggal 05 Februari 2009 17 Februari 2009 17 Maret 2009 28 Maret 2009 25 Mei 2009 17 April 2009 28 Mei 2009 30 Mei 2009 Hal yang Dikonsultasikan Konsultasi Proposal Skripsi ACC Proposal Skripsi Konsultasi BAB I, II, III Revisi BAB I, II, III ACC BAB I, II, III Konsultasi BAB IV, V, VI Revisi BAB IV, V, VI & ACC BAB IV, V, VI ACC BAB I, II, III, IV, V, VI Tanda Tangan

Malang, 30 Mei 2009 Dekan,

Dr. M. Zainuddin, MA NIP. 150 275 502

LAMPIRAN IV INSTRUMEN PENELITIAN

1. PEDOMAN INTERVIEW a. Responden Guru Agama 1. Bagaimaakah kreativitas guru PAI dalam penggunaan media pembelajaran? 2. Persiapan apakah yang dilakukan guru sebelum menggunakan media? 3. Jenis-jenis media apa yang digunakan bapak/ibu dalam kegiatan belajar mengajar? 4. Apa kriteria yang bapak/ibu gunakan dalam memilih media pembelajaran? 5. Bagaimanakan kondisi siswa ketika bapak/ibu menggunakan media? 6. Selain penggunaan media, metode-metode apa yang bapak/ibu gunakan dalam KBM? 7. Bagaimana bapak/ibu dalam mengembangkan media pembelajaran yang sudah tersedia? 8. Apa kendala-kendala yang dihadapi guru saat menggunakan media pembelajaran? 9. Bagaimanakah solusi/upaya yang dilakukan bapak-ibu untuk mengatasi kendala-kendala tersebut?

b. Responden Waka Kurikulum 1. Bagaimana dengan kreativitas yang dimiliki oleh para guru dalam pengembangan media pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo? 2. Apa jenis-jenis media yang digunakan di SMAN 1 Sidoarjo? 3. Apa kriteria-kriteria yang dilakukan guru saat memilih media pembelajaran di SMAN 1 Sidoarjo? 4. Strategi apa yang bapak/ibu lakukan untuk mengembangkan media pembelajaran? 5. Media apa yang dipakai untuk menunjang pembelajaran

pendidikan agama Islam di SMAN 1 Sidoarjo? 6. Apakah dengan penerapan program tersebut, mampu

mengoptimalkan pembelajaran pendidikan agama Islam di SMAN 1Sidoarjo?

2. PEDOMAN OBSERVASI 1. Keadaan Fisik a. Situasi lingkungan kelas SMAN 1 Sidoarjo b. Ruang kelas dan fasilitas kelas c. Sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar 2. Kegiatan guru saat proses pembelajaran a. Aktivitas guru dalam proses belajar mengajar b. Cara penyampaian guru kepada siswa saat memakai media dalam pembelajaran

3. PEDOMAN DOKUMENTASI 1. Sejarah berdirinya SMAN 1 Sidoarjo 2. Visi dan Misi SMAN 1 Sidoarjo 3. Tujuan SMAN 1 Sidoarjo 4. Struktur organisasi SMAN 1 Sidoarjo 5. Keadaan guru SMAN 1 Sidoarjo 6. Keadaan siswa SMAN 1 Sidoarjo 7. Keadaan sarana dan prasarana SMAN 1 Sidoarjo 8. Foto-foto saat proses pembelajaran

LAMPIRAN V a. Struktur Organisasi SMA Negeri I Sidoarjo

TABEL I

LAMPIRAN VI

2. Keadaan Guru dan Siswa di SMA Negeri 1 Sidoarjo a. Keadaan Guru TABEL II Status Kepegawaian Ijazah Tertinggi Juml. GT S-2 S-1 D-3/SM Jumlah 1 60 7 68 5 17 22 7 7 Kurang Cukup Lebih Juml. GTT 18 6 23 1 6 7 Kurang Cukup Lebih

LAMPIRAN VII TABEL III Jumlah Personil per MP Kesesuaian dg latar belakang pendidikan Sesuai Tidak Sesuai Keterangan Tenaga Rangkap Mengajar MP

Mata No. Pelajaran

1.

Pendidikan Agama 6 a. Islam b. Katholik 1 1 6 -

c. Protestan d. Hindu 2. Kewarganegara an 3. 4. 5. Bahasa dan Sastra Indonesia Bahasa Inggris Bahasa Asing a. Bahasa Jepang b. Bahasa Jerman 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Matematika Fisika Biologi Kimia Sejarah Geografi Sosiologi Antropologi Ekonomi Akuntansi

1 1 4

1 1 4

-

-

Tata Negara

6 8

6 8

-

-

1

1

-

-

2

2

-

Sosiologi

10 8 7 8 3 3 2 3 1

10 8 7 8 3 3 1 3 1

1 -

Antropologi -

16. 17.

Pendidikan Seni Teknologi Inf dan Komunikasi

2 2

2 2

-

-

18. 19. 20. 21.

Pend. Jasmani Laboran Pustakawan Bimb. Konseling
Jumlah

3 3 2 5

3 3 5

2 -

-

96

93

3

LAMPIRAN VIII b. Keadaan Siswa TABEL IV Keadaan Siswa Tahun Pelajaran Kelas X IA Jumlah Siswa 2002/2003 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009 442 366 306 320 317 302 319 263 282 219 234 29 61 366 IS BHS 15 14 IPA 289 337 367 316 314 312 310 IPS 123 86 51 59 23 53 47 1290 1242 1128 1019 941 896 910 Kelas XI Kelas III Jumlah

Jumlah Ruang Kelas (keadaan riil)

2002/2003 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009

12 10+1 9 8 8 8 8 8 8 7 8 1 2

1 1 -

7 8 10 9 9 8 8

3 2 2 2 2 2 2

33 34 34 29 27 26 26

Jumlah Siswa mengulang

2002/2003 2003/2004 2004/2005 2006/2007 2007/2008 2008/2009

1 -

-

-

-

2 -

LAMPIRAN IX Angka mengulang siswa (7 tahun terakhir) TABEL V Tahun Pelajaran 2002/2003 2003 / 2004 Kelas I (orang) 1 Kelas II (orang) 1 Kelas III (orang) -

%

%

%

0,27

0,22

-

2004 / 2005 2006 / 2007 2007 / 2008 2008 / 2009

-

-

-

-

-

-

LAMPIRAN X Angka putus sekolah (7 tahun terakhir) TABEL VI Tahun Pelajaran 2002/2003 2003/2004 2004/2005 2005 / 2006 2006 / 2007 2007 / 2008 2008 / 2009 Kelas I (orang) Kelas II (orang) Kelas III (orang) -

%

%

%

-

-

-

LAMPIRAN XI 3. Sarana dan Prasarana di SMAN 1 Sidoarjo TABEL VII Kondisi No Jenis Ruangan Jumlah Luas (m2) Baik V Cukup V Rusak Ringan 1. 2. Kelas / Teori Laboratorium a. Lab. Fisika 1 1 1 1 2 1 90 162 144 81 88 157 V V V V V V 33 2.376 Rusak Berat -

b. Lab. Biologi c. Lab. Kimia d. Lab. Komputer e. Lab. Bahasa 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Perpustakaan Keterampilan Kesenian Olah Raga OSIS Ibadah BK

1 2 1

25 216 90

V V

V -

-

-

10. UKS 11. Media 12. Guru 13. Kepala Sekolah 14. Wakil KS 15. Tamu 16. Aula / Pertemuan 17. Koperasi 18. Rumah Dinas KS

1 1 1 1 1 1 1 1

60 72 180 32 58 405 150 150

V V V V -

V V

-

V -

LAMPIRAN XII Buku Perpustakaan TABEL VIII No. 1. 2. 3. Jenis Buku Buku Teks Buku Penunjang Buku Pegangan Jumlah Judul 32 2.875 8 Jumlah Buku 188.863 7.370 18 Rasio 1 : 15 1:6

Gedung SMA Negeri 1 Sidoarjo

Gedung Sekolah Tampak Depan

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sidoarjo Drs. H. Abdullah Ponadi, M. Pd

Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 1 Sidoarjo Dra. Hj. Sri Sukarti

Guru Pendidikan Agama Islam Saat Mengajar

Suasana Kelas Saat Poses Pembelajaran Berlangsung

Multimedia Projector (LCD) di SMA Negeri 1 Sidoarjo

Para Siswa Saat Presentasi Menggunakan Media Pembelajaran

Salah Satu Siswa Bertanya Kepada Para Pemakalis

Suasana Kelas Saat Meggunakan Media Pembelajaran

Prestasi Yang pernah diraih oleh siswa-siswi di SMAN 1 Sidoarjo

Siswa-siswi saat melaksanakan shalat dalam kehidupan sehari-hari

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama NIM Tempat Tanggal Lahir Fak/Jur/Prog. Studi Tahun Masuk Alamat Rumah No. Telp Rumah/HP
: : : : : : : Imroatun Khoirun Nisak 05110160 Lamongan, 18 Desember 1986 Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam 2005 Ds. Kreteranggon RT. 19 RW. 10 Kec. Sambeng Kab. Lamongan 62284 085646609500

Riwayat Pendidikan 1. SDN Kreteranggon II Sambeng-Lamongan. Lulus Tahun 1999 2. MTs “Roudlotun Nasyi’in” Berat Kulon-Kemlagi-Mojokerto. Lulus tahun 2002 3. MAK “Bahrul Ulum” Tambakberas-Jombang. Lulus tahun 2005

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->