P. 1
umr

umr

|Views: 1,016|Likes:
Published by randisanutraa

More info:

Published by: randisanutraa on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Kebijakan Upah Minimum Regional (UMR) diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja

(Permenaker), terakhir No. Per-01/MEN/1999. Dalam peraturan ini paling tidak terdapat

sepuluh prinsip yang harus ditaati dalam menetapkan upah minimum:

1. Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok dan

tunjangan tetap.7

2. Upah minimum wajib dibayar dengan upah bulanan kepada pekerja, atau dengan

kesepakatan pekerja dapat dibayarkan secara mingguan, atau dua mingguan.

3. Besarnya upah pekerja yang berstatus tetap, tidak tetap dan dalam masa percobaan

serendah-rendahnya sebesar upah minimum.

4. Upah minimum hanya berlaku bagi pekerja yang mempunyai masa kerja kurang dari satu

tahun.

5. Peninjauan upah dilakukan atas kesepakatan tertulis antara pekerja/serikat pekerja

dengan pengusaha.

6. Pekerja dengan sistem borongan atau berdasarkan satuan hasil yang dilaksanakan satu

bulan atau lebih, besarnya upah rata-rata sebulan serendah-rendahnya sebesar upah

minimum di perusahaan tersebut.

7. Upah pekerja harian lepas ditetapkan secara bulanan berdasarkan jumlah hari kehadiran.

Untuk perusahaan dengan sistem kerja enam hari per minggu upah bulanan dibagi 25,

dan pada sistem kerja lima hari dalam seminggu upah bulanan dibagi 21.

8. Perusahaan yang telah memberikan upah lebih tinggi dari upah minimum yang berlaku

dilarang menurunkan upah.

9. Dengan kenaikan upah minimum, para pekerja harus memelihara prestasi kerja, yang

ukurannya dirumuskan bersama oleh pengusaha dan pekerja atau serikat pekerja atau

Lembaga Kerjasama Bipartit perusahaan yang bersangkutan.

10. Pengusaha yang tidak mampu melaksanakan ketentuan upah minimum dapat

mengajukan penangguhan pelaksanaan upah minimum kepada Menteri atau Pejabat

yang ditunjuk.

Dari sepuluh prinsip diatas, berbagai SK Gubernur/Bupati/Walikota tentang penetapan UMR

ternyata hanya mencantumkan beberapa prinsip saja, terutama prinsip kelima, kedelapan dan

ke sepuluh. Akuratnya??Akibatnya??, hal ini telah menimbulkan perbedaan penafsiran dalam

praktek di lapangan, yaitu: perusahaan besar mengartikan UMR sebagai upah/gaji pokok,

7

Surat Edaran Menaker No. SE-07/MEN/1990 menyatakan bahwa yang termasuk dalam tunjangan

tetap antara lain: tunjangan istri, tunjangan anak, tunjangan perumahan, tunjangan kematian,

tunjangan daerah dan lain-lain. Pemberian tunjangan tersebut tidak boleh dikaitkan dengan

kehadiran dan diberikan secara tetap menurut satuan waktu, harian atau bulanan. Apabila diberikan

secara tidak tetap maka upah tersebut harus dianggap sebagai tunjangan tidak tetap.

Lembaga Penelitian SMERU, Maret 2003

5

sedangkan perusahaan menengah atau kecil mengartikan UMR sebagai keseluruhan upah

yang diterima oleh pekerja, termasuk tunjangan tidak tetap.

Adanya perbedaan penafsiran ini dapat merugikan kepentingan pekerja, misalnya upah

(total) yang diterima pekerja kelihatannya telah sesuai upah minimum padahal sebenarnya

masih di bawah upah minimum. Disamping itu, pekerja sulit melakukan kontrol terhadap

sistem pengupahan tersebut karena informasi lengkap tentang UMR tidak tersedia.

Kesulitan ini terutama lebih dihadapi oleh perusahaan-perusahaan yang belum mempunyai

serikat pekerja.

Lembaga Penelitian SMERU, Maret 2003

6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->