P. 1
BukuBse.belajarOnlineGratis.com-teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik 1

BukuBse.belajarOnlineGratis.com-teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik 1

|Views: 1,141|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

Sections

2.1Pendahuluan

Dari masa ke masa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan
teknologi, manusia menghendaki kehidupan yang lebih nyaman. Bagi masyarakat mod-
ern, energi listrik merupakan kebutuhan primer. Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan
sehari-hari energi listrik bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga, antara lain
penerangan lampu, pompa air, pendingin lemari es/freezer, pengkondisi udara dingin,
kompor listrik, mesin kopi panas, dispenser, setrika listrik, TV, dan sebagainya.
Hampir setiap bangunan membutuhkan energi listrik seperti sekolah/kampus,
perkantoran, rumah sakit, hotel, restoran, mall, supermarket, terminal, stasiun,
pelabuhan, bandara, stadion, industri, dan sebagainya. Namun, akibat listrik juga dapat
membahayakan manusia maupun lingkungannya seperti tersengat listrik atau kebakaran
karena listrik. Di Indonesia, penyedia energi listrik dikelola pengusaha ketenagalistrikan
(PT PLN), dan pelaksana instalasinya dikerjakan oleh instalatir.
Energi listrik dari pembangkit sampai ke pemakai/konsumen listrik disalurkan melalui
saluran transmisi dan distribusi yang disebut instalasi penyedia listrik. Sedangkan
saluran dari alat pembatas dan pengukur (APP) sampai ke beban disebut instalasi
pemanfaatan tenaga listrik.
Agar pemakai/konsumen listrik dapat memanfaatkan energi listrik dengan aman, nyaman
dan kontinyu, maka diperlukan instalasi listrik yang perencanaan maupun
pelaksanaannya memenuhi standar berdasarkan peraturan yang berlaku.
Buku ini akan membahas lebih lanjut tentang instalasi pemanfaatan tenaga listrik.

Gambar 2.1 Saluran energi listrik dari pembangkit ke pemakai

Keterangan:
G

:Generator

TT:Jaringan Tegangan Tinggi

GI:Gardu Induk

TM:Jaringan Tegangan Menengah

GH:Gardu Hubung

TR:Jaringan Tegangan Rendah

GD:Gardu Distribusi

APP:Alat Pembatas dan Pengukur

G

GI

GI

GH

GD

APP

APP

TR

TM

TT

Pemakai listrik
besar/industri

32

Sumber: www.ien.it
a.Generator Gaulard dan GibbsSumber: inventors.about.com
b.Generator Westinghouse

Sumber: peswiki.com

c.Generator secara umum

Gambar 2.2 Generator

Stator frame
Stator core

File
pole

Brushes

Rotor

Stator

Colector
rings

Stator coil

2.1.1Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik

Energi listrik adalah salah satu bentuk energi yang dapat berubah ke bentuk energi
lainnya. Sejarah tenaga listrik berawal pada Januari 1882, ketika beroperasinya pusat
tenaga listrik yang pertama di London, Inggris. Kemudian pada tahun yang sama, bulan
September juga beroperasi pusat tenaga listrik di New York, Amerika. Keduanya
menggunakan arus searah tegangan rendah, sehingga belum dapat mencukupi
kebutuhan kedua kota besar tersebut, dan dicari sistem yang lebih memadai.
Pada tahun 1885 seorang dari Prancis bernama Lucian Gauland dan John Gibbs dari
Inggris menjual hak patent generator arus bolak-balik kepada seorang pengusaha
bernama George Westinghouse. Selanjutnya dikembangkan generator arus bolak-balik
dengan tegangan tetap, pembuatan transformator dan akhirnya diperoleh sistem
jaringan arus bolak-balik sebagai transmisi dari pembangkit ke beban/pemakai.
Sejarah penyediaan tenaga listrik di Indonesia dimulai dengan selesai dibangunnya
pusat tenaga listrik di Gambir, Jakarta (Mei 1897), kemudian di Medan (1899), Surakarta
(1902), Bandung (1906), Surabaya (1912), dan Banjarmasin (1922).
Pusat-pusat tenaga listrik ini pada awalnya menggunakan tenaga thermis. Kemudian
disusul dengan pembuatan pusat-pusat listrik tenaga air : PLTA Giringan di Madiun
(1917), PLTA Tes di Bengkulu (1920), PLTA Plengan di Priangan (1922), PLTA Bengkok
dan PLTA Dago di Bandung (1923).
Sebelum perang dunia ke-2, pada umumnya pengusahaan listrik di Indonesia diolah
oleh perusahaan-perusahaan swasta, di antaranya yang terbesar adalah NIGEM
(Nederlands Indische Gas en Electriciteits Maatschappij) yang kemudian menjelma
menjadi OGEM (Overzese Gas en Electriciteits Maatschappij), ANIEM (Algemene
Nederlands Indhische Electriciteits Maatschappij), dan GEBEO (Gemeen Schappelijk
Electriciteits Bedrijk Bandung en Omsheken).

33

Sedangkan Jawatan Tenaga Air (s’Lands Waterkroct Bedrijren, disingkat LWB)
membangun dan mengusahakan sebagian besar pusat-pusat listrik tenaga air di Jawa
Barat. Pada tahun 1958 pengelolaannya dialihkan ke negara pada Perusahaan Umum
Listrik Negara.

2.1.2Peranan Tenaga Listrik

Di pusat pembangkit tenaga listrik, generator digerakkan oleh turbin dari bentuk energi
lainnya antara lain: dari air - PLTA; gas - PLTG; uap - PLTU; diesel - PLTD; panas bumi
- PLTP; nuklir - PLTN.
Energi listrik dari pusat pembangkitnya disalurkan melalui jaringan transmisi yang
jaraknya relatif jauh ke pemakai listrik/konsumen.

Konsumen listrik di Indonesia dengan sumber dari PLN atau perusahaan swasta lainnya
dapat dibedakan sebagai berikut.
1.Konsumen Rumah Tangga
Kebutuhan daya listrik untuk rumah tangga antara 450VA sampai dengan 4.400VA.
Secara umum menggunakan sistem satu fasa dengan tegangan rendah 220V/
380V dan jumlahnya sangat banyak.
2.Penerangan Jalan Umum (PJU)
Pada kota-kota besar penerangan jalan umum sangat diperlukan oleh karena
bebannya berupa lampu dengan masing-masing daya tiap lampu/tiang antara 50VA
sampai dengan 250VA bergantung pada jenis jalan yang diterangi, maka sistem
yang digunakan 1 fasa dengan tegangan rendah 220V/380V.

SUMBER

Energi

BEBAN

Pusat Pem-
bangkit Tena-
ga Listrik

Saluran
TransmisiPemakai

dan lain-lain

Penerangan

Pemanas

Gerak

Suara

Data

Gambar 2.3 Penyaluran energi listrik ke beban

34

3.Konsumen Pabrik

Jumlahnya tidak sebanyak konsumen rumah tangga, tetapi masing-masing pabrik
dayanya dalam orde kVA. Penggunaannya untuk pabrik yang kecil masih
menggunakan sistem satu fasa tegangan rendah (220V / 380V), namun untuk
pabrik-pabrik yang besar menggunakan sistem tiga fasa dan saluran masuknya
dengan jaringan tegangan menengah 20kV.
4.Konsumen Komersial
Yang dimaksud konsumen komersial antara lain stasiun, terminal, KRL (Kereta
Rel Listrik), hotel-hotel berbintang, rumah sakit besar, kampus, stadion olahraga,
mall, hypermarket, apartemen. Rata-rata menggunakan sistem tiga fasa untuk
yang kapasitasnya kecil dengan tegangan rendah, sedangkan yang berkapasitas
besar dengan tegangan menengah.

2.1.3Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

PUSAT-PUSAT TENAGA LISTRIK

Gambar 2.4 Distribusi tenaga listrik ke konsumen

Gambar 2.4 Instalasi penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik

PENYEDIA

PEMANFAATAN

APP

GD

APP

GD

TR

PENYEDIA

PEMANFAAT TR

G

G

GI

GH

TT

TM

35

Keterangan:
G

=Generator/Pembangkit Tenaga Listrik
GI=Gardu Induk
GH=Gardu Hubung
GD=Gardu Distribusi
TT=Jaringan Tegangan Tinggi
TM=Jaringan Tegangan Menengah
TR=Jaringan Tegangan Rendah
APP=Alat Pembatas/Pengukur
Instalasi dari pembangkitan sampai dengan alat pembatas/pengukur (APP) disebut
Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik.
Dari mulai APP sampai titik akhir beban disebut Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik.
Standarisasi daya tersambung yang disediakan oleh pengusaha ketenagalistrikan
(PT PLN) berupa daftar penyeragaman pembatasan dan pengukuran dengan daya
tersedia untuk tarif S-2, S-3, R-1, R-2, R-4, U-1, U-2, G-1, I-1, I-2, I-3, H-1 dan H-2 pada
jaringan distribusi tegangan rendah.
Sedangkan daya tersambung pada tegangan menengah dengan pembatas untuk tarif
S-4, SS-4, I-4, U-3, H-3 dan G-2 sebagai berikut.

Tabel 2.1 Daya Tersambung pada Tegangan Menengah

Arus

Daya Tersambung (kVA) pada Tegangan

Nominal

6 kV

12 kV

15 kV

20 kV

(Ampere)

-
-
6,3
10
16
20
25
32
40
50
63
80
100
125
160
200
250

*)
-
-
-
-
210
260
335
415
520
655
830
1.040
1.300
1.660
2.080
2.600

*)
-
-
210
335
415
520
665
830
1.040
1.310
1.660
2.880
2.600
3.325
4.155
5.195

*)
-
-
260
415
520
650
830
1.040
1.300
1.635
2.080
2.600
3.250
4.155
5.195
6.495

210**)
235***)
240
345
555
690
865
1.110
1.385
1.730
2.180
2.770
3.465
4.330
5.540
6.930
8.660

Sumber : PT PLN Jabar, 2002

36

Keterangan:
*)Secara bertahap disesuaikan menjadi 20 kV.
**)Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan
rendah dengan pembatas arus 3 × 355 ampere tegangan 220/380 volt.
***)Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan
rendah dengan pembatas arus 3 x 630 ampere tegangan 127/220 volt.
Pengguna listrik yang dilayani oleh PT. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan
yang ditunjukkan tabel berikut ini.

Tabel 2.2 Golongan Pelanggan PT. PLN

Arus Primer

Daya Tersambung

Arus Primer

Daya Tersambung

(A)

(kVA)

(A)

(kVA)

6

210

67,5

2.335

7

245

70

2.425

8

275

75

2.595

9

310

80

2.770

10

345

82,5

2.855

11

380

87,5

3.030

12

415

90

3.115

14

485

100

3.465

15

520

105

3.635

16

555

110

3.805

17,5

605

112,5

3.895

18

625

120

4.150

20

690

122,5

4.240

21

725

125

4.330

22

760

135

4.670

22,5

780

140

4.845

24

830

150

5.190

25

865

157,5

5.450

27

935

160

5.540

27,5

950

165

5.710

28

970

175

6.055

30

1.040

180

6.230

32

1.110

192,5

6.660

33

1.140

200

6.930

35

1.210

210

7.265

36

1.245

220

7.615

40

1.385

225

7.785

42

1.455

240

8.305

44

1.525

250

8.660

45

1.560

270

9.345

48

1.660

275

9.515

Sumber: PT PLN Jabar, 2002

37

Arus Primer

Daya Tersambung

Arus Primer

Daya Tersambung

(A)

(kVA)

(A)

(kVA)

50

1.730

280

9.690

52,5

1.815

300

10.380

54

1.870

315

10.900

55

1.905

330

11.420

60

2.075

350

12.110

66

2.285

385

13.320

Sumber: PT PLN Jabar, 2002

Daya yang disarankan untuk pelanggan TM 20 kV (pengukuran pada sisi TM dengan
relai sekunder).
Pelanggan TM yang dibatasi dengan pelebur TM, standarisasi dayanya seperti tabel
berikut.

Tabel 2.3 Standarisasi Daya Pelanggan TM dengan Pembatas Pelebur TM

Arus Nominal

Daya Tersambung

Arus Nominal

Daya Tersambung

TM (Ampere)

(kVA)

TM (Ampere)

(kVA)

6,3

240

50

1.730

10

345

63

2.180

16

555

80

2.770

20

690

100

3.465

25

865

125

4.330

32

1.110

160

5.540

40

1.385

200

6.930

50

1.730

250

8.660

Sumber: PT PLN Jabar, 2002

Pelanggan TM yang dibatasi dengan pelebur TR, standarisasi dayanya seperti tabel
berikut.

Tabel 2.4 Standarisasi Daya Pelanggan TM dengan Pembatas Pelebur TR

Arus Nominal

Daya Tersambung

Arus Nominal

Daya Tersambung

TR (Ampere)

(kVA)

TR (Ampere)

(kVA)

3 x 355

233

3 x 630

414

3 x 425

279

3 x 800

526

3 x 500

329

3 x 1.000

630

Sumber: PT PLN Jabar, 2002

38

Pengguna listrik yang dilayani oleh PT. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan
yang ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 2.5 Golongan Tarif

No

Golongan

Penjelasan

Sistem

Batas Daya

Tarif

Tegangan

1.

S – 1

Pemakai Sangat Kecil

TR

s/d 200 VA

2.

S – 2

Badan Sosial Kecil

TR

250 VA s/d 2.200VA

3.

S – 3

Badan Sosial Sedang

TR

2.201 VA s/d 200 kVA

4.

S – 4

Badan Sosial Besar

TM

201 kVA ke atas

5.

SS – 4

Badan Sosial Besar Dikelola

TM

201 kVA ke atas

Swasta untuk Komersial

6.

R – 1

Rumah Tangga Kecil

TR

250 VA s/d 500 VA

7.

R – 2

Rumah Tangga Sedang

TR

501 VA s/d 2.200 VA

8.

R – 3

Rumah Tangga Menengah

TR

2.201 VA s/d 6.600 VA

9.

R – 4

Rumah Tangga Besar

TR

6.601 VA ke atas

10.

U – 1

Usaha Kecil

TR

250 VA s/d 2.200 VA

11.

U – 2

Usaha Sedang

TR

2.201 VA s/d 200 kVA

12.

U – 3

Usaha Besar

TM

201 kVA ke atas

13.

U – 4

Sambungan Sementara

TR

14.

H – 1

Perhotelan Kecil

TR

250 VA s/d 99 kVA

15.

H – 2

Perhotelan Sedang

TR

100 kVA s/d 200 kVA

16.

H – 3

Perhotelan Besar

TM

201 kVA ke atas

17.

I – 1

Industri Rumah Tangga

TR

450 VA s/d 2.200 VA

18.

I – 2

Industri Kecil

TR

2201 VA s/d 13,9 kVA

19.

I – 3

Industri Sedang

TR

14 kVA s/d 200 kVA

20.

I – 4

Industri Menengah

TM

201 Kva ke atas

21.

I – 5

Industri Besar

TT

30.000 kVA ke atas

22.

G – 1

Gedung Pemerintahan

TR

250 VA s/d 200 kVA

Kecil/Sedang

23.

G – 2

Gedung Pemerintahan Besar

TM

201 Kva ke atas

24.

J

Penerangan Umum

TR

Sumber : PT. PLN Jabar, 2002

2.1.4Jaringan Listrik

Pusat tenaga listrik pada umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik
disalurkan melalui jaringan transmisi. Karena tegangan generator pembangkit umumnya
relatif rendah (6kV–24kV), maka tegangan ini dinaikkan dengan transformator daya ke
tegangan yang lebih tinggi antara 30kV–500kV. Tujuan peningkatan tegangan ini, selain
memperbesar daya hantar dari saluran (berbanding lurus dengan kuadrat tegangan),
juga untuk memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran.

39

Penurunan tegangan dari jaringan tegangan tinggi/ekstra tinggi sebelum ke konsumen
dilakukan dua kali. Yang pertama dilakukan di gardu induk (GI), menurunkan tegangan
dari 500 kV ke 150 kV atau dari 150 kV ke 70 kV. Yang kedua dilakukan pada gardu
distribusi dari 150 kV ke 20 kV, atau dari 70 kV ke 20 kV. Saluran listrik dari sumber
pembangkit tenaga listrik sampai transformator terakhir sering disebut juga sebagai
saluran transmisi, sedangkan dari transformator terakhir sampai konsumen disebut
saluran distribusi atau saluran primer.
Ada dua macam saluran transmisi/distribusi PLN yaitu saluran udara (overhed lines)
dan saluran kabel bawah tanah (undergound cable). Kedua cara penyaluran tersebut
masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Dari segi keindahan, saluran
bawah tanah lebih disukai dan juga tidak mudah terganggu oleh cuaca buruk:hujan,
petir angin dan sebagainya. Namun saluran bawah tanah jauh lebih mahal dibanding
saluran udara, tidak cocok untuk daerah banjir karena bila terjadi gangguan/kerusakan,
perbaikannya lebih sulit.

Gambar 2.6 Saluran penghantar udara untuk bangunan-bangunan kecil (mengganggu
keindahan pandangan)

Gambar 2.7 Saluran kabel bawah tanah pada
suatu perumahan mewah

40

Secara rinci keuntungan pemasangan saluran udara antara lain:
+Biaya investasi untuk membangun suatu saluran udara jauh lebih murah
dibandingkan untuk saluran di bawah tanah.
+Untuk daerah-daerah yang tanahnya banyak mengandung batu-batuan, akan lebih
mudah dengan membuat lubang untuk tiang-tiang listrik.
+Bila terjadi gangguan lebih mudah mencarinya dan lebih mudah memperbaikinya
jika dibandingkan untuk saluran bawah tanah.

Sedangkan keuntungan pemasangan saluran bawah tanah antara lain:
+Biaya pemeliharaan saluran kabel bawah tanah relatif murah.
+Sambungan bawah tanah relatif tidak terganggu oleh pengaruh-pengaruh cuaca:
hujan, angin, petir, salju, sabotase, pencurian kabel lebih sulit, gangguan layang-
layang.

+Saluran bawah tanah tidak mengganggu keindahan pandangan, tidak semrawut
seperti saluran udara.

Dari pertimbangan di atas, bahwa saluran udara lebih cocok dgunakan pada:
•saluran transmisi tegangan tinggi,
•daerah luar kota, misalnya di pegunungan atau daerah jarang penduduknya.

Sedangkan untuk saluran bawah tanah akan cocok digunakan pada:
•saluran transmisi tegangan rendah,
•kota-kota besar yang banyak penduduknya.

Akhir/ujung dari saluran transmisi adalah merupakan saluran masuk pelayanan ke dalam
suatu gedung/bangunan sebagai pengguna energi listrik. Adapun komponen/peralatan
utama kelistrikan pada gedung/bangunan tersebut terdiri dari:
1.APP:Alat Pengukur dan Pembatas (milik pengusaha ketenagalistrikan)
2.PHB:Papan Hubung Bagi
-Utama/MDP:Main Distribution Panel
-Cabang/SDP:Sub Distribution Panel
-Beban/SSDP:Sub-Sub Distribution Panel

3.Penghantar:
-Kawat Penghantar (tidak berisolasi)
-Kabel (berisolasi)

4.Beban:

-Penerangan:Lampu-Lampu Listrik
-Tenaga

:Motor-Motor Listrik

41

Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung/bangunan, berkas rancangan
instalasi listrik terdiri dari:
1.Gambar Situasi
2.Gambar Instalasi
3.Diagram Garis Tunggal
4.Gambar Rinci

1.Gambar Situasi

Yang menunjukkan gambar posisi
gedung/bangunan yang akan
dipasang instalasi listriknya ter-
hadap saluran/jaringan listrik ter-
dekat. Data yang perlu ditulis pada
gambar situasi ini adalah alamat
lengkap, jarak terhadap sumber
listrik terdekat (tiang listrik/
bangunan yang sudah berlistrik)
untuk daerah yang sudah ada
jaringan listriknya. Bila belum ada
jaringan listriknya, perlu digambar-
kan rencana pemasangan tiang-
tiang listrik.

Gambar 2.8 Situasi

Keterangan:
A:Lokasi bangunan
B:Jarak bangunan ke tiang
C:Kode tiang/transformator
U:Menunjukkan arah utara

2.Gambar Instalasi

Yang menunjukkan gambar denah bangunan (pandangan atas) dengan rencana
tata letak perlengkapan listrik dan rencana hubungan perlengkapan listriknya.
Saluran masuk langsung ke APP yang biasanya terletak di depan/bagian yang
mudah dilihat dari luar. Dari APP ke PHB utama melalui kabel toefoer yang biasanya
berjarak pendek, dan posisinya ada di dalam bangunan. Pada PHB ini energi listrik
didistribusikan ke beban menjadi beberapa grup/kelompok:
-Untuk konsumen domestik/bangunan kecil, dari PHB dibagi menjadi beberapa
grup dan langsung ke beban. Biasanya dengan sistem satu fasa.
-Untuk konsumen industri karena areanya luas, sehingga jarak ke beban jauh
dari PHB utama dibagi menjadi beberapa grup cabang/Sub Distribution Panel
baru disalurkan ke beban.

U

A

B

C

Jl. Perintis

42

Gambar 2.9 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar

2.00

2.00

4.00

1.00

3.00

4.00

2.00

Halaman belakang

Pompa

KM/
WC

K. Tidur
pembantu

Ruang
keluarga

Kamar tidur

Ruang makan

Dapur

KM/WC

Teras

Ruang
tamu

Carport

3,75

1,50

2,25

6,50

6,50

2,75

4,50

7,25

6,25

5,00

3,00

3,50

1,58

2,00

2,43

3,00

9,00

Turun

Naik

43

Gambar 2.10 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar

2.00

2.00

4.00

1.00

3.00

4.00

2.00

Halaman belakang

Pompa

KM/
WC

K. Tidur
pembantu

Ruang
keluarga

Kamar tidur

Ruang makan

Dapur

KM/WC

Teras

Ruang
tamu

Carport

3,75

1,50

2,25

6,50

6,50

2,75

4,50

7,25

6,25

5,00

3,00

3,50

1,58

2,00

2,43

3,00

9,00

Turun

Naik

44

3.Diagram Garis Tunggal

Yang menunjukkan gambar satu garis dari APP ke PHB utama yang didistribusikan
ke beberapa grup langsung ke beban (untuk bangunan berkapasitas kecil) dan
melalui panel cabang (SDP) maupun subpanel cabang (SSDP) baru ke beban.
Pada diagram garis tunggal ini selain pembagian grup pada PHB utama/cabang/
subcabang juga menginformasikan jenis beban, ukuran dan jenis penghantar, ukuran
dan jenis pengaman arusnya, dan sistem pembumian/pertanahannya.

Gambar 2.11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan/gedung tegangan rendah

SISTEM TR

APP

NYFGby
4 × 240 mm2

MDP

SSDP-P

SSDP-L

SDP

MCCB 3PH-4 Poles
600 Vr200 A/22 kA

SWITCH Bus
3 Ph/200 A

MCB 3 PH/50 A/22 kA

CADANGAN

NYY 4 × 95 mm2

+ BC 50 mm2

HYF GbY 4 × 4 mm2

+ BC 50 mm2

MCB 3 Ph.05A

MCCB 3
Ph/100 A/22 kA

MCCB 3PH-4 Poles
600 W100 A/22 kA

BC 50 mm2

CADANGAN 2 ×

NYY 4 × 4 mm2

+ BC 6 mm2

NYY 4 × 95 mm2

+ BC 95 mm2

NYY 4 × 16 mm2

+ BC 16 mm2

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10 mm2

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10 mm2

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10 mm2

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

85 KVANYY 4 × 95 mm2

G

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

45

Gambar 2.12 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan/gedung sistem tegangan
menengah dan tegangan rendah

4.Gambar Rinci

meliputi:
-ukuran fisik PHB
-cara pemasangan perlengkapan listrik
-cara pemasangan kabel/penghantar
-cara kerja rangkaian kendali
-dan lain-lain informasi/data yang diperlukan sebagai pelengkap

2.1.5Alat Pengukur dan Pembatas (APP)

Untuk mengetahui besarnya tenaga listrik yang digunakan oleh pemakai/pelanggan listrik
(untuk keperluan rumah tangga, sosial, usaha/bangunan komersial, gedung pemerintah
dan instansi), maka perlu dilakukan pengukuran dan pembatasan daya listrik.
APP merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab pengusaha ketenagalistrikan
(PT PLN), sebagai dasar dalam pembuatan rekening listrik. Pada sambungan tenaga
listrik tegangan rendah, letak penempatan APP dapat dilihat pada gambar berikut ini.

SISTEM TM

SISTEM TR

APP
TM

Jaringan
TM

Kabel TM

CADANGAN

35 A

MDP

400 kVA
20/0.4 kV
Z - 4%

G

85 KVANYY 4 × 95 mm2

SWITCH Bus
3 Ph/200 A

MCCB 3PH-4 Poles
600 W100 A/22 kA

BC 50 mm2

SDP

SSDP-L

MCCB 3PH-4 Poles
600 Vr200 A/22 kA

MCB 3 PH/50 A/22
kA

CADANGAN

NYY 4 × 95 mm2

+ BC 50 mm2

HYF GbY 4 × 4 mm2

+ BC 50 mm2

MCB 3 Ph.05A

MCCB 3
Ph/100 A/22 kA

NYY 4 × 4 mm2

+ BC 6 mm2

NYY 4 × 95 mm2

+ BC 95 mm2

NYY 4 × 16 mm2

+ BC 16 mm2

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10 mm2

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10 mm2

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10

NYY 4 × 10 mm2

+ BC 10 mm2

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA
MCCB 3Ph
/10 A/22 kA
MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA

MCCB 3Ph
/10 A/22 kA
CADANGAN 2 ×

46

Penyedia/Pengusaha Ketenagalistrikan

Pemanfaatan/Pelang-
gan Listrik

Dalam bangunan

Luar bangunan

Titik penyambungan
dari GD/TR

APP

PHB

IP

APP

SMP

SLP

Gambar 2.13 Diagram satu garis sambungan tenaga listrik tegangan menengah

Keterangan:
GD

:Gardu Distribusi

TR

:Jaringan tegangan Rendah
SLP:Sambungan Luar Pelayanan
SMP:Sambungan Masuk Pelayanan
SLTR:Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah
APP:Alat Pengukur dan Pembatas
PHB:Papan Hubung Bagi
IP

:Instalasi Pelanggan
SLTR yang menghubungkan antara listrik penyambungan pada GD/TR merupakan
penghantar di bawah atau di atas tanah.
Seperti telah dijelaskan di muka bahwa pengukuran yang dimaksud adalah untuk
menentukan besarnya pemakaian daya dan energi listrik. Adapun alat ukur/instrumen
yang digunakan adalah alat pengukur: Kwh, KVARh, KVA maksimum, arus listrik dan
tegangan listrik.

Sistem pengukurannya ada dua macam, yaitu:
•Pengukuran primer atau juga disebut pengukuran langsung, terdiri dari pengukuran
primer satu fasa untuk pelanggan dengan daya di bawah 6.600 VA pada tegangan
220 V/380 V, dan pengukuran primer tiga fasa untuk pelanggan dengan daya di
atas 6.600 V sampai dengan 33.000 VA pada tegangan 220 V/380 V.
•Pengukuran sekunder tiga fasa atau disebut juga pengukuran tak langsung
(menggunakan trafo arus) digunakan pada pelanggan dengan daya 53 kVA sampai
dengan 197 kVA.
Sedangkan yang dimaksud dengan pembatasan adalah pembatasan untuk menentukan
batas pemakaian daya sesuai dengan daya tersambung. Alat pembatas yang digunakan
adalah:

47

•Pada sistem tegangan rendah sampai dengan 100 A digunakan MCB dan di atas
100 A digunakan MCCB; pelebur tegangan rendah; NFB yang bisa disetel.
•Pada sistem tegangan menengah biasanya digunakan pelebur tegangan menengah
atau rele.
Berikut ini adalah contoh gambar alat ukur Kwh dan KVARh.

Sumber : www.indiansources.com

Gambar 2.14 Kwh meter satu fasa analog dan digital

Sumber: imsmeters.com

Gambar 2.15 Kwh meter tiga fasa analog dan digital

48

Sesuai dengan DIN 43 856 cara penyambungan alat pengukur atau penghubung daya
dinotasikan dengan kode berupa angka 4 digit yang diikuti dengan angka 2 digit yang
menunjukkan penomoran sambungan.
•Digit pertama menunjukkan macam-macam penghitung
•Digit kedua menunjukkan bagian tambahan
•Digit ketiga menunjukkan sambungan luar
•Digit keempat menunjukkan penyambungan bagian tambahan
Sedangkan 2 digit berikutnya menunjukkan penomoran sambungan untuk tarif jam atau
untuk pengendalian piringan.
Berikut ini diuraikan arti dari masing-masing angka tersebut.
1.Digit pertama menunjukkan macam-macam penghitung
1:penghitung daya nyata arus bolak-balik satu fasa
2:penghitung daya nyata arus bolak-balik dua fasa
3:penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa, tiga kawat
4:penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa, empat kawat
5:penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa, tiga kawat dengan beda
fasa 60°

Gambar 2.16 Kwh meter tiga fasa dan KVARh

49

6:penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa, tiga kawat dengan beda
fasa 90°
7:penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa, empat kawat dengan beda
fasa 90°
2.Digit kedua menunjukkan bagian tambahan
0:tanpa bagian tambahan
1:dengan bagian tambahan dobel tarif
2:dengan bagian tambahan daya maksimum
3:dengan bagian tambahan dobel tarif atau daya maksimum
4:dengan bagian tambahan daya maksimum atau sakelar reset
5:dengan bagian tambahan dobel tarif dan daya maksimum dan sakelar reset
3.Digit ketiga menunjukkan sambungan luar
0:untuk sambungan tetap
1:untuk sambungan dengan trafo arus
2:untuk sambungan dengan trafo arus dan tegangan
4.Digit keempat menunjukkan penyambungan bagian tambahan
0:tanpa bagian tambahan pada penghitung daya maksimum dengan piringan
putar
1:satu kutub/fasa sambungan dalam
2:sambungan luar
3:satu kutub/fasa sambungan dalam dengan sambungan terbuka
4:satu kutub/fasa sambungan dalam dengan sambungan hubung singkat
5:sambungan luar dengan sambungan terbuka
6:sambungan luar dengan sambungan hubung singkat
Sedangkan dua digit berikutnya adalah:
5.Penomoran sambungan untuk tarif jam
00:tanpa dengan sambungan
01:dengan sakelar harian
02:dengan sakelar maksimum
03:dengan sakelar harian dan maksimum
04:dengan sakelar harian dan mingguan
05:dengan sakelar harian, maksimum dan mingguan
06:dengan sakelar mingguan
6.Penomoran sambungan untuk pengendali piringan
11:dengan sebuah sakelar pemindah
12:dengan dua sakelar pemindah
13:dengan tiga sakelar pemindah
14:dengan empat sakelar pemindah

50

Berikut ini adalah keterangan dari huruf/simbol pada gambar cara penyambungan alat
pengukur daya.
Z:sakelar/pemutus dobel tarif
d:sakelar harian yang digerakkan oleh pemutus dobel tarif
w:sakelar mingguan
M:pemutus maksimum
ML:putaran maksimum
MR:maksimum reset
mo:pemutus maksimum dengan sambungan terbuka
mk:pemutus maksimum dengan sambungan hubung singkat
:motor penggerak
:penampang pengendali putar
Beberapa contoh kode dan cara penyambungan alat pengukur atau penghitung sebagai berikut.
Penyambungan dengan Code 1010 atau 1010-00
berarti:
(1):penghitung dengan daya nyata arus bolak-balik
satu fasa
(2):tanpa bagian tambahan
(3):untuk sambungan dengan trafo arus
(4):tanpa bagian tambahan pada penghitung daya
maksimum dengan piringan putar

Penyambungan dengan Code 2000 atau 2000-00
berarti:
(2):penghitung daya nyata arus bolak-balik
dua fasa
(0):tanpa bagian tambahan
(0):untuk sambungan tetap
(0):tanpa bagian tambahan pada peng-
hitung daya maksimum dengan piringan
putar

M
E

N

1

Gambar 2.17 Rangkaian Kwh
satu fasa dengan trafo arus

Gambar 2.18 Rangkaian Kwh dua fasa
dengan sambungan tetap

2.000

1

34

6

L1 (1)
L2 (3)

51

Gambar 2.19 Rangkaian Kwh tiga fasa dengan trafo arus dan trafo tegangan

Penyambungan dengan kode 3020 atau 3020-00 berarti:
(3):penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa
(0):tanpa bagian tambahan
(2):untuk sambungan dengan trafo arus dan trafo tegangan
(0):tanpa bagian tambahan pada penghitung daya maksimum dengan piringan putar

3020

L1
L2
L3

L1
L2
L3

KL

kl

K

L

k

l

1

u

u

u

U

U

U

X

X

X

X

X

X

U

V

U

V

U

V

U

V

23

789

5

52

Tabel 2.6 Standar Daya PLN

Langganan tegangan rendah sistem 220 V/380 V
220 volt satu fasa
380 volt tiga fasa
Daya Tersambung

Pembatas Arus

Pengukuran

(VA)

(A)

450
900
1.300
2.200
3.500
4.400
3.900
6.600
10.600
13.200
16.500
23.000
33.000
41.500
53.000
66.000
82.000
105.000
131.000
147.000
164.000
197.000
233.000
279.000
329.000
414.000
526.000
630.000

1 x 2
1 x 4
1 x 6
1 x 10
1 x 16
1 x 20
3 x 6
3 x 10
3 x 16
3 x 20
3 x 25
3 x 35
3 x 50
3 x 63
3 x 80
3 x 100
3 x 125
3 x 160
3 x 200
3 x 225
3 x 250
3 x 300
3 x 353
3 x 425
3 x 500
3 x 630
3 x 800
3 x 1.000

Alat ukur kwh meter satu fasa 220 V dua kawat

Alat ukur kwh meter tiga fasa 380 V empat kawat

Alat ukur kwh meter tiga fasa 380 V empat kawat
dengan trafo arus tegangan rendah

Tarif tegangan rendah di atas 200 kVA hanya
disediakan untuk tarif R-4

Sumber : PT PLN Jabar, 2002

2.1.6Panel Hubung Bagi (PHB)

PHB adalah panel hubung bagi/papan hubung bagi/panel berbentuk lemari (cubicle),
yang dapat dibedakan sebagai berikut.
-Panel Utama/MDP:Main Distribution Panel
-Panel Cabang/SDP:Sub Distribution Panel
-Panel Beban/SSDP:Sub-sub Distribution Panel

53

Untuk PHB sistem tegangan rendah, hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan
biasanya menggunakan NYFGBY.
Di dalam panel biasanya busbar/rel dibagi menjadi dua segmen yang saling berhubungan
dengan sakelar pemisah, yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha
ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset).
Dari kedua busbar didistribusikan ke beban secara langsung atau melalui SDP dan
atau SSDP. Tujuan busbar dibagi menjadi dua segmen adalah jika sumber listrik dari
PLN mati akibat gangguan ataupun karena pemeliharaan, maka suplai ke beban tidak
akan terganggu dengan adanya sumber listrik sendiri (genset) sebagai cadangan.

Peralatan pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri dari:
-Circuit Breaker (CB)
MCB (Miniatur Circuit Breaker)
MCCB (Mold Case Circuit Breaker)
NFB (No Fuse Circuit Breaker)
ACB (Air Circuit Breaker)
OCB (Oil Circuit Breaker)
VCB (Vacuum Circuit Breaker)
SF6CB (Sulfur Circuit Breaker)
-Sekering dan pemisah
Switch dan Disconnecting Switch (DS)
Peralatan tambahan dalam PHB antara lain:
-rele proteksi
-trafo tegangan, trafo arus
-alat-alat ukur besaran listrik: amperemeter, voltmeter, frekuensi meter, cos f meter
-lampu-lampu tanda
-dan lain-lain
Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada Gambar 2.11.
Untuk PHB sistem tegangan menengah, terdiri dari tiga cubicle yaitu satu cubicle in-
coming dan cubicle outgoing.
Hantaran masuk merupakan kabel tegangan menengah dan biasanya dengan kabel
XLPE atau NZXSBY. Saluran daya tegangan menengah ditransfer melalui trafo distribusi
ke LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel). Pengaman arus listriknya terdiri dari
sekering dan LBS (Load Break Switch).
Peralatan dan rangkaian dari busbar sampai ke beban seperti pada PHB sistem tegangan
rendah. Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 2.12.

54

Berikut ini adalah salah satu contoh cubicle yang ada di ruang praktek di POLBAN.

2.1.6.1MCB (Miniatur Circuit Breaker)

MCB adalah suatu rangkaian pengaman yang dilengkapi dengan komponen thermis
(bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai elektromagnetik untuk
pengaman hubung singkat.
MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu fasa dan tiga fasa. Keuntungan
menggunakan MCB, yaitu:
1.Dapat memutuskan rangkaian tiga fasa walaupun terjadi hubung singkat pada salah
satu fasanya.
2.Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau
beban lebih.
3.Mempunyai respon yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih.
Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis,
pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman
elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat.
Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload
yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal), pengamanan secara
thermis memiliki kelambatan, ini bergantung pada besarnya arus yang harus diamankan,
sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah kumparan yang dapat
menarik sebuah angker dari besi lunak.

Gambar 2.20 Contoh cubicle di ruang praktek POLBAN

55

MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu fasa, sedangkan untuk
pengaman tiga fasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan, sehingga
apabila terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan
ikut terputus.
Berdasarkan penggunaan dan daerah kerjanya, MCB dapat digolongkan menjadi lima
jenis ciri yaitu:
•Tipe Z (rating dan breaking capacity kecil)
Digunakan untuk pengaman rangkaian semikonduktor dan trafo-trafo yang sensitif
terhadap tegangan.
•Tipe K (rating dan breaking capacity kecil)
Digunakan untuk mengamankan alat-alat rumah tangga.
•Tipe G (rating besar) untuk pengaman motor.
•Tipe L (rating besar) untuk pengaman kabel atau jaringan.
•Tipe H untuk pengaman instalasi penerangan bangunan.

2.1.6.2MCCB (Moulded Case Circuit Breaker)

MCCB merupakan salah satu alat pengaman yang dalam proses operasinya
mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung.
Jika dilihat dari segi pengaman, maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman
gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Pada jenis tertentu, pengaman
ini mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.

Sumber: www.a-electric.net

(a) MCB 1 fasa

(b) MCB 3 fasa

Gambar 2.21 MCB (Miniatur Circuit Breaker)

56

Keterangan:
1.Bahan BMC untuk bodi dan tutup
2.Peredam busur api
3.Blok sambungan untuk pemasangan
ST dan UVT
4.Penggerak lepas-sambung
5.Kontak bergerak
6.Data kelistrikan dan pabrik pembuat
7.Unit magnetik trip

2.1.6.3ACB (Air Circuit Breaker)

ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam
busur api berupa udara. ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan
menengah. Udara pada tekanan ruang atmosfer digunakan sebagai peredam busur
api yang timbul akibat proses switching maupun gangguan.

LV-ACB:
Ue=250V dan 660V
Ie=800A-6300A
Icn=45kA-170kA
LV-ACB:
Ue=7,2kV dan 24kV
Ie=800A-7000A
Icn

=12,5kA-72kA

sumber : www.global-b2b-network.com

Gambar 2.23 ACB (Air Circuit Breaker)

Air Circuit Breaker dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah.
Rating standar Air Circuit Breaker (ACB) yang dapat dijumpai di pasaran seperti
ditunjukkan pada data di atas. Pengoperasian pada bagian mekanik ACB dapat dilakukan
dengan bantuan solenoid motor ataupun pneumatik. Perlengkapan lain yang sering
diintegrasikan dalam ACB adalah:
•Over Current Relay (OCR)
•Under Voltage Relay (UVR)

Sumber: www.global-b2b-network.com

Gambar 2.22 Moulded Case Circuit Breaker

57

2.1.6.4OCB (Oil Circuit Breaker)

Oil Circuit Breaker adalah jenis CB yang menggunakan minyak sebagai sarana
pemadam busur api yang timbul saat terjadi gangguan. Bila terjadi busur api dalam
minyak, maka minyak yang dekat busur api akan berubah menjadi uap minyak dan
busur api akan dikelilingi oleh gelembung-gelembung uap minyak dan gas.
Gas yang terbentuk tersebut mempunyai sifat thermal conductivity yang baik dengan
tegangan ionisasi tinggi sehingga baik sekali digunakan sebagai bahan media pemadam
loncatan bunga api.

Gambar 2.24 OCB (Oil Circuit Breaker)

2.1.6.5VCB (Vacuum Circuit Breaker)

Vacuum circuit breaker memiliki ruang hampa udara untuk memadamkan busur api
pada saat circuit breaker terbuka (open), sehingga dapat mengisolir hubungan setelah
bunga api terjadi, akibat gangguan atau sengaja dilepas. Salah satu tipe dari circuit
breaker adalah recloser. Recloser hampa udara dibuat untuk memutuskan dan
menyambung kembali arus bolak-balik pada rangkaian secara otomatis.

58

Pada saat melakukan pengesetan besaran waktu sebelumnya atau pada saat recloser
dalam keadaan terputus yang kesekian kalinya, maka recloser akan terkunci (lock
out), sehingga recloser harus dikembalikan pada posisi semula secara manual.

(b) tampak luar
Gambar 2.25 VCB (Vacum Circuit Breaker)

(a) tampak dalam

Sumber : www.osha.gov

59

2.1.6.6SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker)

SF6 CB adalah pemutus rangkaian yang menggunakan gas SF6 sebagai sarana
pemadam busur api. Gas SF6 merupakan gas berat yang mempunyai sifat dielektrik
dan sifat memadamkan busur api yang baik sekali.
Prinsip pemadaman busur apinya adalah gas SF6 ditiupkan sepanjang busur api. Gas
ini akan mengambil panas dari busur api tersebut dan akhirnya padam. Rating tegangan
CB adalah antara 3.6 KV–760 KV.

Sumber: www.zxgydq.com.cn

Gambar 2.26 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker)

2.1.7Penghantar

Untuk instalasi listrik, penyaluran arus listriknya dari panel ke beban maupun sebagai
pengaman (penyalur arus bocor ke tanah) digunakan penghantar listrik yang sesuai
dengan penggunaannya.
Ada dua macam penghantar listrik yaitu:
-Kawat

Penghantar tanpa isolasi (telanjang) yang dibuat dari Cu, AL sebagai contoh BC,
BCC, A2C, A3C, ACSR.

-Kabel

Penghantar yang terbungkus isolasi, ada yang berinti tunggal atau banyak, ada
yang kaku atau berserabut, ada yang dipasang di udara atau di dalam tanah, dan
masing-masing digunakan sesuai dengan kondisi pemasangannya.
Kabel instalasi yang biasa digunakan pada instalasi penerangan, jenis kabel yang
banyak digunakan dalam instalasi rumah tinggal untuk pemasangan tetap ialah
NYA dan NYM. Pada penggunaannya kabel NYA menggunakan pipa untuk
melindungi secara mekanis ataupun melindungi dari air dan kelembapan yang dapat
merusak kabel tersebut.

60

Penghantar tembaga

Isolasi PVC

Isolasi PVC

Penghantar tembaga

Lapisan pembungkus inti

Selubung PVC

Penghantar NYA

Kabel NYA hanya memiliki satu penghantar berbentuk pejal. Kabel ini pada umumnya
digunakan pada instalasi rumah tinggal.
Dalam pemakaiannya pada instalasi listrik harus menggunakan pelindung dari pipa
union atau paralon/PVC ataupun pipa fleksibel.

Gambar 2.27 Kabel NYA

Penghantar NYM

Sedangkan kabel NYM adalah kabel yang memiliki beberapa penghantar dan memiliki
isolasi luar sebagai pelindung. Konstruksi dari kabel NYM terlihat pada gambar.
Penghantar dalam pemasangan pada instalasi listrik boleh tidak menggunakan
pelindung pipa. Namun untuk memudahkan saat peggantian kabel/revisi, sebaliknya
pada pemasangan dalam dinding/beton menggunakan selongsong pipa.

Gambar 2.28 Kabel NYM

61

Penghantar NYY

Kabel tanah thermoplastik tanpa perisai seperti NYY biasanya digunakan untuk kabel
tenaga pada industri. Kabel ini juga dapat ditanam dalam tanah dengan syarat diberikan
perlindungan terhadap kemungkinan kerusakan mekanis.
Perlindungannya bisa berupa pipa atau pasir dan di atasnya diberi batu.

Gambar 2.29 Kabel NYY

Pada prinsipnya susunan NYY ini sama dengan susunan NYM. Hanya tebal isolasi dan
selubung luarnya serta jenis PVC yang digunakan berbeda. Warna selubung luarnya
hitam. Untuk kabel tegangan rendah tegangan nominalnya 0,6/1 kV maksudnya yaitu:
•0,6 kV : Tegangan nominal terhadap tanah.
•1,0 kV : Tegangan nominal antarpenghantar.
Penggunaan utama NYY sebagai kabel tenaga adalah untuk instalasi industri di dalam
gedung maupun di alam terbuka, di saluran kabel dan dalam lemari hubung bagi, apabila
diperkirakan tidak akan ada gangguan mekanis. NYY dapat juga ditanam di dalam tanah
asalkan diberi perlindungan secukupnya terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan
mekanis.

Penghantar tembaga

Isolasi PVC

Lapisan pembungkus inti

Selubung PVC

62

Penghantar tembaga

Isolasi XLPE

Lapisan pembungkus inti

Selubung PVC

Penghantar tembaga

Isolasi

Lapisan pembungkus inti

Selubung PVC

Spiral pita baja berlapis seng

Perisai kawat baja berlapis

Penghantar N2XY

Kabel tanah thermoplastik tanpa perisai yang dipakai di PT Pupuk Kujang ialah N2XY.
Kabel N2XY intinya terdiri dari penghantar tembaga dengan isolasi XLPE, berpelindung
bebat tembaga serta berselubung PVC dengan tegangan pengenal 0,6/1 kV (1,2 kV)
yang dipasang sejajar pada suatu sistem fase tiga.

Gambar 2.30 Kabel N2XY

Penghantar NYFGbY

Kabel tanah thermoplastik berperisai seperti NYFGbY, biasanya digunakan apabila ada
kemungkinan terjadi gangguan kabel secara mekanis. Kabel NYFGbY intinya terdiri
dari penghantar tembaga dengan isolasi PVC, penggabungan dua atau lebih inti
dilengkapi selubung atau pelindung yang terdiri dari karet dan perisai kawat baja bulat.
Perisai dan pembungkus diikat dengan spiral pita baja. Untuk menghindari korosi pada
pita baja, maka kabel diselubungi pelindung PVC warna hitam.

Gambar 2.31 Kabel N2XY

63

Berikut ini adalah gambar diagram satu garis untuk konsumen tegangan rendah dan
konsumen tegangan tinggi.

Gambar 2.32 Diagram transmisi dan distribusi

2.1.8Beban Listrik

Menurut sifatnya, beban listrik terdiri dari:
a.Resistor (R) yang bersifat resistif
b.Induktor (L) yang bersifat induktif
c.Capasitor (C) yang bersifat kapasitif
Beban listrik adalah piranti/peralatan yang menggunakan/mengkonsumsi energi listrik.
Jenis beban listrik yang akan di bahas secara garis besar sebagai berikut.
-Untuk penerangan dengan lampu-lampu pijar, pemanas listrik yang bersifat resistif.
-Untuk peralatan yang menggunakan motor-motor listrik (pompa air, alat pendingin/
AC/freezer/kulkas, peralatan laboratorium), penerangan dengan lampu tabung yang
menggunakan balast/trafo bersifat induktif (lampu TL, sodium, merkuri, komputer,
TV, dan lain-lain).

Pembangkit energi listrik

Jaringan distribusi

Jaringan transmisi

500 kV/ 170 kV

GI

GI

70 kV

20 kV

20 kV

Saluran
primer

Saluran
sekunder

220 V/380 V

64

R

S

T

M~

M3~

Jika beban resistif diaktifkan (dinyalakan), maka arus listrik pada beban ini segera
mengalir dengan cepatnya sampai pada nilai tertentu (sebesar nilai arus nominal beban)
dan dengan nilai yang tetap hingga tidak diaktifkan (dimatikan).
Lain halnya dengan beban induktif, misalnya pada motor listrik. Begitu motor diaktifkan
(digerakkan), maka saat awal (start) menarik arus listrik yang besar (3 sampai 5 kali
nilai arus nominal), kemudian turun kembali ke arus nominal.

Gambar 2.33 Rangkaian macam-macam beban sistem tiga fasa, 4 kawat

Jenis beban listrik dalam gedung/bangunan dapat dikelompokan menjadi:
1.Penerangan (lighting)
2.Stop kontak
3.Motor-motor listrik

2.1.8.1Penerangan (Lighting)

Penerangan gedung merupakan penggunaan yang dominan, karena dibutuhkan oleh
semua gedung dan juga waktu penggunaannya yang panjang. Jumlah lampu yang
digunakan akan mempengaruhi pembagian grup dari panel penerangan; penampang
penghantarnya dan pengamannya (sekring atau MCB) serta sakelar kendalinya.
Pada rumah tinggal, penerangan listrik digunakan untuk ruang tamu, ruang keluarga,
mushola, kamar tidur, dapur, kamar mandi/WC, garasi, gudang, teras dan taman.
Masing-masing menggunakan lampu yang cocok/sesuai.
Pada bangunan besar seperti perkantoran, sekolah, hotel, rumah sakit, pabrik, mal,
gedung, olah raga, stadion, dan sebagainya, juga memerlukan penerangan untuk ruang
kerja, kelas, laboratorium, bengkel, ruang lobi, ruang pertemuan, ruang pasien, ruang
operasi, ruang mesin pada pabrik, toko, tempat olah raga dan sebagainya.
Untuk di luar bangunan, penerangan yang diperlukan adalah PJU (Penerangan Jalan
Umum), lampu reklame, dekorasi, dan sebagainya.

65

2.1.8.2Stop Kontak

Stop kontak adalah istilah populer yang biasa digunakan sehari-hari. Dalam PUIL 2000,
stop kontak ini dinamakan KKB (Kotak Kontak Biasa) dan KKK (Kotak Kontak Khusus).
KKB adalah kotak kontak yang dipasang untuk digunakan sewaktu-waktu (tidak secara
tetap) bagi piranti listrik jenis apapun yang memerlukannya, asalkan penggunaannya
tidak melebihi batas kemampuannya.
KKK adalah kotak kontak yang dipasang khusus untuk digunakan secara tetap bagi
suatu jenis piranti listrik tertentu yang diketahui daya maupun tegangannya.
Dengan demikian, KKK mempunyai tempat/lokasi tertentu dengan beban tetap, dan
dihubungkan langsung ke panel sebagai grup tersendiri. Sedangkan KKB tersebar
diseluruh bangunan dengan beban tidak tetap, dan biasanya jadi satu dengan grup
untuk penerangan.

2.1.8.3Motor-Motor Listrik

Motor-motor listrik merupakan beban kedua terbanyak sesudah penerangan, motor
listrik digunakan untuk menggerakkan pompa, kipas angin, kompresor yang merupakan
bagian penting dari sistem pendingin udara, dan juga sebagai pengerak mesin-mesin
industri, elevator, escalator dan sebagainya. Motor dikategorikan sebagai motor
fraksional (kurang dari 1 HP), integral (di atas 1 HP), dan motor kelas medium sampai
besar (di atas 5 HP).
Motor-motor juga dapat dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan, yaitu:
a.Motor arus searah
b.Motor arus bolak-balik satu fasa
c.Motor arus bolak-balik tiga fasa
Masing-masing penggunaannya sebagian akan dibahas pada bab 5.
Berikut ini adalah gambar berbagai piranti yang menggunakan motor.

Sumber : www.a-electric.net

Gambar 2.34 Macam-macam stop kontak

66

2.1.9Perhitungan Arus Beban

a.kompresor

b.generator

c.air conditioner

d.elevator

e.lemari pendingin

f.pompa air

g.kipas angin

h.bor listrik

Gambar 2.35 Piranti-piranti menggunakan motor

67

Kwh

NYM 3 × 4 mm2

NYM 3 × 2,5 mm2

, NYA 2,5 mm2

, 1,5 mm2

(0) 5/8'; 6LP + 4 STK

NYM 3 × 2,5 mm2

, NYA 2,5 mm2

, 1,5 mm2

(0) 5/8'; 6LP + 4 STK

Cadangan

6A

6A

16A

Sebagai contoh perhitungan, mari kita lihat Gambar 2.10. Instalasi rumah tipe T-125
lantai dasar. Dari gambar perencanaan instalasi dapat dirinci sebagai berikut.
•Beban dibagi menjadi 3 grup, yaitu 2 grup untuk lantai dasar dan 1 grup sebagai
cadangan.
•Grup 1 terdiri dari 1 x 15 W; 2 x 25 W; 3 x 40 W dan 4 x 200 VA. Oleh karena beban
lampu pijar bersifat resistif, maka faktor dayanya sama dengan 1, sehingga 15 W
= 15 VA; 25 W = 25 VA dan 40 W = 40 VA.
•Grup 2 sama dengan grup 1.
•Grup 3 sebagai cadangan untuk lantai atas.
Jika beban lampu nyala semua dan semua stop kontak diberi beban penuh, maka:

•Arus nominal grup 1:(1×15)+(2×25)+(3×40)+(4×200)
220

=4,5A

•Arus nominal grup 2:(1×15)+(2×25)+(3×40)+(4×200)
220

=4,5A

•Arus utamanya

:4,5 + 4,5 = 9 A
Jika faktor pemakaiannya dimisalkan 80%, maka arus totalnya = 80% x 9 = 7,2 A.
Dengan demikian penggunaan pengaman arusnya sebagai berikut.
•I1=80% x 4,5 = 3,6 A, maka MCB yang digunakan 6A.
•I2=80% x 4,5 = 3,6 A, maka MCB yang digunakan 6A.
•I=80% x 9 = 7,2 A, maka MCB yang digunakan 10A.

Gambar 2.36 Diagram satu garis

BC 6 mm2

68

2.1.10Bahan Kebutuhan Kerja Pemasangan Instalasi LIstrik

Sebagai contoh rumah tipe T-125 gambar 2.10 halaman 2-13, dengan teknik
pemasangan pipa dalam dinding dan pembagian beban dalam 3 grup, seperti pada
tabel berikut ini.

Tabel 2.7 Daftar Bahan untuk Pemasangan Instalasi Listrik Rumah Tinggal

No.

Bahan/Komponen

Spesifikasi

Satuan

Keterangan

Jumlah

1.PHB dari PVC

1 utama/3 grup

1set

dalam dinding

2.MCB

10 A/250 V; 6 kA

1buah

3.MCB

6 A/250 V; 6 kA

2buah

4.Elektroda pentanahan

gasped Ø2,5"; 2,75 m

1set

5.BC

6 mm2

6m

6.NYM

3 x 4 mm2

4m

toefoer

7.NYM

3 x 2,5 mm2

30m

8.NYM

2 x 1,5 mm2

20m

9.NYA

2,5 mm2

30m

10.NYA

1,5 mm2

20m

11.Kabel snur

1,5 mm2

10m

lampu gantung

12.Pipa union/PVC

5/8"

10batang

13.Tule

5/8"

30buah

14.Sambungan lengkung

5/8"

20buah

15.Sock (sambungan)

5/8"

20buah

16.Kotak sambung 2 cabang

5/8"

10buah

17.Kotak sambung 3 cabang

5/8"

10buah

18.Kotak sambung 4 cabang

5/8"

10buah

19.Kotak sakelar/stop kontak

5/8"

8buah

20.Sakelar tunggal

6A/250V

9buah

21.Sakelar seri

6A/250V

1buah

22.Stop kontak

6A/250V

8buah

dengan arde

23.Fitting duduk

6A/250V

5buah

24.Fitting gantung

6A/250V

5buah

25.Fitting WD

6A/250V

2buah

26.Roset kayu

5/8"

12buah

27.Sangkang

5/8"

40buah

28.Lasdop

3 x 2,5 mm2

60buah

29.Paku

4 mm

50buah

69

2.2Peraturan Instalasi Listrik

2.2.1Sejarah Singkat

•Peraturan instalasi listrik ditulis pada tahun 1924–1937 pada zaman Belanda dangan
nama Algemene Voolschriften voor elechische sterkstroom instalaties (AVE).
•Tahun 1956 diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Peraturan Umum Instalasi
Listrik (PUIL-64) oleh Yayasan Dana Normalisasi Indonesia yang selesai tahun
1964.
•Pada tahun 1977 PUIL-64 direvisi menjadi PUIL-77.
•Sepuluh tahun kemudian direvisi lagi menjadi PUIL-87 dan diterbitkan sebagai SNI
No : 225-1987.
•Pada tahun 2000, Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL-87) diubah menjadi
Persyaratan Umum Instalasi Listrik. Disingkat PUIL-2000 yang berorientasi untuk
instalasi tegangan rendah dan menengah di dalam bangunan, serta memuat sistem
pengaman bagi keselamatam manusia secara teliti.

2.2.2Maksud dan Tujuan PUIL-2000

Agar pengusahaan instalasi listrik dapat terselenggara baik bagi keselamatan isinya
dari kebakaran akibat listrik dan perlindungan lingkungan.

2.2.3Ruang Lingkup

Untuk perencanaan, pemasangan, pemeriksaan dan pengujian, pelayanan, pemeliha-
raan, maupun pengawasan instalasi listrik tegangan arus bolak-balik sampai dengan
1.000 volt dan tegangan arus searah sampai dengan 1.500 volt terdiri dari 9 bab.

2.2.4Garis Besar Isi PUIL-2000

2.2.4.1Bab 1 Pendahuluan

•Memuat hal umum yang berhubungan dengan aspek legal, administratif nonteknis
dari PUIL.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Memuat perlindungan lingkungan (pasal 1.1)
-Berlaku juga untuk TM sampai dengan 35 kV (pasal 1.2)
-Memuat ketentuan/peraturan yang terbaru (pasal 1.3)
-Penamaan PUIL menjadi: Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (ayat 1.4.1)
-Panitia PUIL diganti menjadi panitia tetap PUIL (ayat 1.5.1.3, 1.5.2 dan pasal 1.8).
-Definisi mengacu pada: IEV, IEEE Dictionary, SA Wiring Rules, IEC MED, IEC
MDE, istilah resmi dan Kamus Bahasa Indonesia.

70

2.2.4.2 Bab 2Persyaratan Dasar

•Untuk menjamin keselamatan manusia, ternak dan keamanan harta benda dari
bahaya dan kerusakan yang timbul dari instalasi listrik seperti antara lain : arus
kejut, suhu berlebih.
•Memuat pasal antara lain: proteksi untuk keselamatan, proteksi perlengkapan dan
instalasi listrik, perancangan, pemilikan dan perlengkapan listrik, pemasangan dan
verifikasi awal instalasi listrik, pemeliharaan.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Pengelompokan ketentuan-ketentuan berbeda.
-Jumlah pasal semula 15 menjadi 6 pasal.

2.2.4.3Bab 3 Proteksi untuk Keselamatan

•Menentukan persyaratan terpenting untuk melindungi manusia, ternak dan harta

benda.

•Proteksi untuk keselamatan meliputi antara lain: proteksi kejut listrik, proteksi efek
termal, proteksi arus lebih, proteksi tegangan lebih (khusus akibat petir), proteksi
tegangan kurang, (akan dimasukkan dalam suplemen PUIL), pemisahan dan
penyaklaran (belum dijelaskan).
•Diterapkan pada seluruh atau sebagian instalasi/perlengkapan.
•Harus diambil tindakan tambahan dengan penggabungan proteksi jika sistem
proteksi tidak memuaskan dalam kondisi tertentu.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Memuat pasal baru antara lain: pendahuluan (pasal 3.1), proteksi dari kejut
listrik (pasal 3.2), proteksi dengan pemutusan suplai secara otomatis (pasal
3.7), proteksi dengan ikatan ekipotensial lokal bebas bumi, luas penampang
penghantar proteksi dan penghantar netral (pasal 3.16), rekomendasi untuk
sistem TT, TN dan IT (pasal 3.17), proteksi dari efek termal (pasal 3.23), proteksi
dari arus lebih (pasal 3.24).
-Memuat hasil perluasan dan revisi antara lain : proteksi dari sentuh langsung
maupun tak langsung (pasal 3.3), proteksi dari sentuh langsung (pasal 3.4), proteksi
dengan menggunakan perlengkapan kelas II atau dengan isolasi ekivalen (pasal
3.8), proteksi dengan lokasi tidak konduktif(pasal 3.9), sistem TN atau sistem
pembumi netral pengaman (pasal 3.13), sistem IT atau sistem penghantar
pengaman (pasal 3.14), penggunaan gawai proteksi arus sisa (pasal 3.15).

2.2.4.4Bab 4 Perancangan Instalasi Listrik

•Memuat ketentuan yang berkaitan dengan perancangan instalasi listrik, baik
administratif-legal nonteknis maupun ketentuan teknis.

71

•Terdiri atas 13 pasal antara lain : persyaratan umum, susunan umum, kendali
proteksi, cara perhitungan kebutuhan maksimum di sirkit utama konsumen dan
sirkit cabang dan sirkit akhir, penghantar netral bersama, pengendalian sirkit yang
netralnya dibumikan langsung, pengamanan sirkit yang netralnya dibumikan
langsung, pengendalian dan pengamanan sirkit yang netralnya dibumikan tidak
langsung, perlengkapan dan pengendalian api dan asap kebakaran, perlengkapan
evakuasi darurat dan lift, sakelar dan pemutus sirkit, lokasi dan pencapaian PHB.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Mengacu SA Wiring rules edisi 1995.
-Memuat pasal baru antara lain: susunan umum, kendali dan proteksi (pasal
4.2), lokasi dan pencapaian PHB (pasal 4.13).
-Sebagian besar berubah antara lain: cara perhitungan kebutuhan maksimum
disirkit utama konsumen dan sirkit cabang, jumlah titik beban dalam tiap sirkit
akhir, perlengkapan pengendalian api dan asap kebakaran, perlengkapan
evakuasi darurat dan lift.

2.2.4.5Bab 5 Perlengkapan Listrik

•Harus dirancang memenuhi pesyaratan standar, memenuhi kinerja, keselamatan
dan kesehatan serta dipasang sesuai dengan lingkungannya.
•Dalam pemasangannya disyaratkan : mudah dalam pelayanan, pemeliharaan dan
pemeriksaan, diproteksi terhadap lingkungan antara lain lembap, mudah terbakar,
pengaruh mekanis.
•Bagian perlengkapan listrik yang mengandung logam dan bertegangan di atas 50 V
harus dibumikan dan diberi pengaman tegangan sentuh.
•Bab 5 terdiri terbagi atas 17 pasal, yaitu:
-Ketentuan umum
-Pengawatan perlengkapan listrik
-Armatur penerangan, fiting lampu, lampu dan roset
-Tusuk kontak dan kotak kontak
-Motor, sirkit dan kontrol
-Generator
-Piranti rendah
-Transformator dan gardu tranformator
-Resistor dan reaktor
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Penambahan persyaratan mengenai pemanfaat dengan penggerak elektro
mekanis (pasal 5.14), proteksi terhadap tegangan lebih (ayat 5.1.6), kategori
perlengkapan I sampai denganIV (ayat 5.1.6.1. sampai dengan 5.1.6.3),
pemanfaat untuk digunakan pada manusia (ayat 15.14.1.3), pemanfaat untuk
tujuan lain (ayat 15.14.1.4).

72

-Yang hilang atau tidak ada seperti : perlengkapan listrik harus dipasang dan
seterusnya (pasal 500.A.2), perlengkapan penyearah (pasal 560.A.8.1).
-Pergantian istilah seperti : pengaman menjadi proteksi, pekawatan menjadi
pengawatan, sensor menjadi pengindera, kontak tusuk menjadi kotak kontak
dan tusuk kontak.

2.2.4.6Bab 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB)

•Mengatur persyaratan meliputi pemasangan, sirkit, ruang pelayanan dan penandaan
untuk semua perlengkapan yang termasuk kategori PHB, baik tertutup, terbuka,
pasangan dalam, maupun pasangan luar.
•PHB adalah perlengkapan yang berfungsi untuk membagi tenaga listrik dan/atau
mengendalikan dan melindungi sirkit dan pemanfaat listrik, mencakup sakelar
pemutus tenaga, papan hubung bagi tegangan rendah dan sejenisnya.
•Terdiri atas 6 pasal antara lain: ruang lingkup, ketentuan umum, perlengkapan
hubung bagi dan kendali tertutup, perlengkapan hubung bagi dan kendali terbuka,
lemari hubung bagi, komponen yang dipasang pada perlengkapan hubung bagi
dan kendali.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Terdapat penambahan persyaratan seperti : penggunaan pemutus daya mini
MCB (ayat 6.2.4.1 dan ayat 6.2.7.2), gawai pemisah (ayat 6.2.8.1 sampai
dengan ayat 6.2.8.2.4), gawai pemutus untuk pemeliharaan mekanik (ayat
6.2.8.3. sampai dengan 6.2.8.3.4). Alat ukur dan indikator (ayat 6.6.3.2 sampai
dengan 6.6.3.4).

2.2.4.7Penghantar dan Pemasangannya

•Mengatur ketentuan mengenai penghantar, pembebanan penghantar dan
proteksinya, lengkapan penghantar dan penyambungan, penghubungan dan
pemasangan penghantar.
•Terdiri atas 17 pasal, yaitu: umum, identifikasi, penghantar dengan warna,
pembebanan penghantar, pembebanan penghantar dalam keadaan khusus,
pengamanan arus lebih, pengaman penghantar terhadap kerusakan karena suhu
yang sangat tinggi, pengamanan sirkit listrik, isolator, pipa instalasi dan
lengkapannya, jalur penghantar, syarat umum pemasangan penghantar, sambungan
dan hubungan, instalasi dalam bangunan, pemasangan penghantar dalam pipa
instalasi, penghantar seret dan penghantar kontak, pemasangan kabel tanah,
pemasangan penghantar udara di sekitar bangunan, pemasangan penghantar
khusus.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Pasal 760F PUIL-87 mengenai jarak antara penghantar dan bumi pada SUTT
dan SUTET dihapus.
-Penghantar udara telanjang untuk tegangan tinggi dan jenis kabel tegangan
tinggi dihapuskan, tetapi ada penambahan jenis kabel.

73

-Ada penambahan penampang untuk penghantar bulat terdiri dari sektor-sektor
800 mm2

, 1.000 mm2

dan 1.200 mm2
.
-Pengubahan cara penulisan tegangan pengenal kabel instalasi dan beban
tegangan kerja maksimum yang diperkenankan, misalnya 0,6/1 kV (PUIL-87)
menjadi 0,6/kV (1,2 kV), tegangan dalam kurung menyatakan tegangan tertinggi
peralatan.
-Pengelompokan tegangan menjadi dua kelompok, yaitu kabel tegangan rendah
dan tegangan menengah.
-Pengkoreksian kesalahan-kesalahan dalam PUIL-87, misalnya KHA kabel, faktor
koreksi KHA dan lain-lain.

2.2.4.8Ketentuan untuk Berbagai Ruang dan Instalasi Khusus

•Memuat berbagai ketentuan untuk lokasi maupun instalasi yang penggunaannya
mempunyai sifat khusus.
•Ruang khusus adalah ruang dengan sifat dan keadaan tertentu seperti ruang
lembap, berdebu, bahaya kebakaran dan lain-lain.
•Instalasi khusus adalah instalasi dengan karakteristik tertentu sehingga
penyelenggaraannya memerlukan ketentuan tersendiri misal instalasi derek,
instalasi lampu penerangan tanda dan lain-lain.
•Terdiri atas 23 pasal, yaitu: ruang listrik, ruang dengan bahaya gas yang dapat
meledak, ruang lembap, ruang pendingin, ruang berdebu, ruang dengan gas dan
atau debu korosif, ruang radiasi, perusahaan kasar, pekerjaan dalam ketel, tangki
dan sejenisnya, pekerjaan pada galangan kapal, derek, intalasi rumah dan gedung
khusus, instalasi dalam gedung pertunjukan, pasar dan tempat umum lainnya,
instalasi rumah desa, instalasi sementara, instalasi semi permanen, instalasi dalam
pekerjaan pembangunan, instalasi generator dan penerangan darurat, instalasi
dalam kamar mandi, instalasi dalam kolam renang dan air mancur, penerangan
tanda dan bentuk, instalasi fasilitas kesehatan dan jenis ruang khusus.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
-Ruang dengan bahaya kebakaran dan ledakan, di ubah total disesuaikan dengan
publikasi IEC.
-Ditambahkan instalasi listrik pada kolam renang dan instalasi listrik di dalam
kamar mandi dengan pembagian zone seperti di IEC.

2.2.4.9 Pengusahaan Instalasi Listrik

•Berisi ketentuan-ketentuan mengenai perencanaan, pembangunan, pemasangan,
pelayanan, pemeliharaan, dan pengujian instalasi listrik serta pengamanannya.
•Setiap orang/badan perencana, pemasang, pemeriksa dan penguji instalasi listrik
harus mendapat ijin kerja dari instansi berwenang.
•Setiap instalasi listrik harus dilengkapi dengan rancana instalasi yang dibuat oleh
perencana yang mendapat ijin kerja dari instansi berwenang.

74

•Terdiri atas 13 pasal, yaitu: ruang lingkup, izin, pelaporan, proteksi pemasangan
instalasi listrik, pemasangan instalasi listrik, peraturan instalasi listrik bangunan
bertikat, pemasangan kabel tanah, pemasangan penghantar udara TR dan TM,
keselamatan dalam pekerjaan, pelayanan instalasi listrik, hal yang tidak dibenarkan
dalam pelayanan, pemeliharaan, pemeliharaan ruang.
•Perbedaan dengan PUIL-87, dalam PUIL-2000
Perubahan redaksional : izin (pasal 9.2) ditambahkan kata-kata “dibuat oleh
perencana yang mendapat izin kerja dari instansi yang berwenang” pelaporan (pasal
9.3) kata “memberitahukan” menjadi “melaporkan”, ayat 9.4.1.1 ada tambahan kata
“bila menggunakan GPAS lihat 3.15, ayat lainnya yang mengalami perubahan ayat
9.4.5.5, 9.4.6.4, 9.5.2.3, 9.5.3.1, 9.5.3.2, 9.5.3.3,9.5.4.2, 9.5.4.3, 9.5.5.1, 9.5.6.3,
9.9.3.1.b) dan c), tabel 9.9-1, ayat 9.10.5.2, 9.10.6.c), 9.10.7.a), 9.12.2, 9.13.1.a).

2.2.5Peraturan Menteri

Di samping Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL-200) yang merupakan Standar
Nasional Indonesia SNI 04-0225-2000 terbitan yayasan PUIL, ada rambu-rambu
perlistrikan lainnya yang diatur oleh menteri.
Sebagai tindak lanjut Undang-Undang No. 15 tahun 1985, tentang ketenagalistrikan
baik dengan PUIL-2000 maupun peraturan menteri (PERMEN) diharapkan dapat
melengkapi aturan dalam bidang ketenagalistrikan, terutama menyangkut segi
keselamatan dan bahaya kebakaran.
Pada tanggal 23 Maret 1978 Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik mengeluarkan
dua surat Keputusan:
1.No : 23/PRT/78 tentang Peraturan Instalasi Listrik (PIL)
2.No : 24/PRT/78 tentang Syarat-Syarat Pengembangan Listrik (SPL)
PIL ditinjau kembali dengan terbitnya Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi
No: 01/P/40M.PE/1990 tentang instalasi ketenagalistrikan yang direvisi lagi dengan
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No: 0045 tahun 2005 tentang
instalasi ketenagalistrikan serta perubahannya dengan Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No: 0046 tahun 2006.
Sedangkan SPL telah mengalami revisi dua kali yaitu Peraturan Menteri Pertambangan
dan Energi No. 02 P/400/M.PE/1984 tentang Syarat-Syarat Pengembangan Listrik, dan
yang terakhir Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No: 03P/451/M.PE/1991
tentang Persyaratan Penyambungan Tenaga Listrik.

2.2.5.1Instalasi Ketenagalistrikan

Beberapa hal penting yang ditetapkan berdasarkan PERMEN-ESDM No: 0046 tahun
2006 antara lain:
•Instalasi Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut instalasi adalah bangunan-
bangunan sipil dan elektromekanik, mesin-mesin peralatan, saluran-saluran dan
perlengkapannya yang digunakan untuk pembangkitan, konversi, transformasi,
penyaluran, distribusi dan pemanfaatan tenaga listrik.

75

•Konsumen adalah setiap orang atau badan usaha/atau badan/lembaga lainnya
yang menggunakan tenaga listrik dari instalasi milik pengusaha berdasarkan atas
hak yang sah.
•Penyediaan tenaga listrik adalah pengadaan tenaga listrik mulai dari titik
pembangkitan sampai dengan titik pemakaian.
•Pemanfaatan tenaga listrik adalah penggunaan tenaga listrik mulai dari titik
pemakaian.
•Tenaga listrik adalah salah satu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan,
ditransmisikan dan didistribusikan untuk segala macam keperluan, dan bukan listrik
yang dipakai untuk komunikasi atau isyarat.
•Perencanaan adalah suatu kegiatan membuat rancangan yang berupa suatu berkas
gambar instalasi atau uraian teknik.
•Pengamanan adalah segala kegiatan, sistem dan perlengkapannya, untuk men-
cegah bahaya terhadap keamanan instalasi, keselamatan kerja dan keselamatan
umum, baik yang diakibatkan oleh instalasi maupun oleh lingkungan.
•Pemeriksaan adalah segala kegiatan untuk mengadakan penilaian terhadap suatu
instalasi dengan cara mencocokkan terhadap persyaratan dan spesifikasi teknis
yang ditentukan.
•Pengujian adalah segala kegiatan yang bertujuan untuk mengukur dan menilai unjuk
kerja suatu instalasi.
•Pengoperasian adalah suatu kegiatan usaha untuk mengendalikan dan mengkoor-
dinasikan antarsistem pada instalasi.
•Pemeliharaan adalah segala kegiatan yang meliputi program pemeriksaan,
perawatan, perbaikan dan uji ulang, agar instalasi selalu dalam keadaan baik dan
bersih, penggunaannya aman, dan gangguan serta kerusakan mudahdiketahui,
dicegah atau diperkecil.
•Rekondisi adalah kegiatan untuk memperbaiki kemampuan instalasi penyediaan
tenaga listrik menjadi seperti kondisi semula.
•Keselamatan ketenagalistrikan adalah suatu keadaan yang terwujud apabila
terpenuhi persyaratan kondisi andal bagi instalasi dan kondisi aman bagi instalasi
dan manusia, baik pekerja maupun masyarakat umum, serta kondisi akrab
lingkungan dalam arti tidak merusak lingkungan hidup di sekitar instalasi
ketenagalistrikan serta peralatan dan pemanfaat tenaga listrik yang memenuhi
standar.

•Instalasi terdiri atas instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan
tenaga listrik.
•Tahapan pekerjaan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan
tenaga listrik terdiri atas perencanaan, pembangunan dan pemasangan,
pemeriksaan dan pengujian, pengoperasian dan pemeliharaan, serta pengamanan
sesuai standar yang berlaku.

76

•Perencanaan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga
listrik konsumen tegangan tinggi dan tegangan menengah terdiri atas:
-gambar situasi/tata letak;
-gambar instalasi;
-diagram garis tunggal instalasi;
-gambar rinci;
-perhitungan teknik;
-daftar bahan instalasi; dan
-uraian dan spesifik teknik.
•Perancangan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah terdiri

atas:
-gambar situasi/tata letak;
-diagram garis tunggal instalasi; dan
-uraian dan spesifikasi teknik.
•Instalasi penyediaan tenaga listrik yang selesai dibangun dan dipasang, direkondisi,
dilakukan perubahan kapasitas, atau direlokasi wajib dilakukan pemeriksaan dan
pengujian terhadap kesesuaian dengan ketentuan standar yang berlaku.
•Instalasi pemanfaatan tenaga listrik yang telah selesai dibangun dan dipasang wajib
dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kesesuaian dengan standar yang
berlaku.

•Pengamanan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga
listrik dilakukan berdasarkan persyaratan tehnik yang mengacu pada Standar
Nasional Indonesia di bidang ketenagalistrikan, standar internasional, atau standar
negara lain yang tidak bertentangan dengan standar ISO/IEC.

2.2.5.2Peraturan Penyambungan Tenaga Listrik

Beberapa hal penting yang ditetapkan berdasarkan PERMEN-TAMBEN No: 03P/451/
M.PE/1991 antara lain:
•Pemakai tenaga listrik adalah setiap orang atau badan usaha atau badan/lembaga
lain yang memakai tenaga listrik dari instalasi pengusaha;
•Jaringan tenaga listrik adalah sistem penyaluran/pendistribusian tenaga listrik yang
dapat dioperasikan dengan tegangan rendah, tegangan menengah, tegangan tinggi
atau tegangan ekstra tinggi;
•Sambungan tenaga listrik – selanjutnya disingkat “SL” – adalah penghantar dibawah
atau di atas tanah, termasuk peralatannya sebagai bagian instalasi pengusaha
yang merupakan sambungan antara jaringan tenaga listrik milik pengusaha dengan
instalasi pelanggan untuk menyalurkan tenaga listrik dengan tegangan rendah atau
menengah atau tegangan tinggi atau tegangan ekstra tinggi;
-Tegangan ekstra tinggi adalah tegangan sistem di atas 245.000 (dua ratus
empat puluh lima ribu) volt sesuai Standar Listrik Indonesia

77

-Tegangan tinggi adalah tegangan sistem di atas 35.000(tiga puluh lima ribu)
volt sampai dengan 245.000 (dua ratus empat puluh lima ribu) volt sesuai
Standar Listrik Indonesia;
•Tegangan menengah adalah tegangan sistem di atas 1.000 (seribu) volt sampai
dengan 35.000 (tiga puluh lima ribu) volt sesuai Standar Listrik Indonesia;
-Tegangan rendah adalah tegangan sistem di atas 100 (seratus) volt sampai
dengan 1.000 (seribu) volt sesuai Standar Listrik Indonesia;
•Alat pembatas adalah alat milik pengusaha yang merupakan pembatasan daya
atau tenaga listrik yang dipakai pelanggan;
•Alat pengukur adalah alat milik pengusaha yang merupakan bagian SL tegangan
rendah atau tegangan menengah atau tegangan tinggi atau tegangan ekstra tinggi
untuk pengukuran daya atau tegangan listrik dan energi yang digunakan pelanggan;
•Instalasi pengusaha adalah instalasi ketenagalistrikan milik atau yang dikuasai
pelanggan sesudah alat pembatas dan atau alat pengukur;
•Instalasi pelanggan adalah instalasi ketenagalistrikan milik atau yang dikuasai
pelanggan sesudah alat pembatas dan atau alat pengukur;
•Mutu tenaga listrik yang disalurkan pengusaha harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
-Tenaga listrik arus bolak-balik yang disalurkan baik fase tunggal, maupun fase
tiga dengan frekuensi 50 (lima puluh) Hertz.
-Pada jaringan tegangan rendah untuk fase tunggal dengan tegangan nominal
antara fase dengan penghantar nol adalah 230 (dua ratus tiga puluh) volt dan
untuk fase tiga tegangan antarfase adalah 400 (empat ratus) volt.
-Pada jaringan tegangan menengah dengan tegangan nominal 6.000 (enam
ribu) volt tiga fase tiga kawat 20.000 (dua puluh ribu) volt tiga fase kawat atau
empat kawat dan 35.000 (tiga puluh lima ribu) volt tiga fase tiga kawat atau
fase empat kawat antarfase.
-Variasi tegangan yang diperbolehkan maksimum 5% (lima perseratus) di atas
dan 10% (sepuluh perseratus) di bawah tegangan nominal sebagaimana
termaksud pada huruf b dan huruf c di atas;
-Pada jaringan tegangan tinggi dan tegangan ekstra tinggi, maka tegangan nomi-
nal adalah sesuai standar yang berlaku;
•Pekerjaan penyambungan dan pemasangan instalasi hanya dapat dilakukan apabila
telah dipenuhi persyaratan teknis dalam Peraturan Menteri Pertambangan dan
Energi tentang Instalasi Ketenagalistrikan dan Persyaratan Penyambungan Tenaga
Listrik dalam peraturan menteri ini.

78

2.2.6Peraturan dan Undang-Undang Lainnya

Pekerjaan instalasi listrik dalam suatu bangunan melibatkan berbagai instansi terkait,
sehingga pelaksanaannya diatur berdasarkan peraturan dan perundangan yang berlaku
di Indonesia.

2.2.6.1Peraturan dan Undang-Undang

2.2.6.1.1Peraturan mengenai bangunan gedung dan menyangkut sarana/fasilitasnya
sebagai berikut.

•Keputusan Menteri P.0 No. 441/KPTS/1998 “Persyaratan Teknis Bangunan
Gedung”.
•Keputusan Menteri P.0 No. 468/KPTS/1998 “Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada
Bangunan Umum”.
•Keputusan Menteri Negara P.U No. 10/KPTS/2000 “Ketentuan Teknis Pengamanan
terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan”.
•Peraturan Menteri Nakertrans No.03/MEN/1999 “Syarat-Syarat Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Lif untuk Pengangkutan Orang dan Barang”.
•Peraturan Menteri Nakertrans No.05/MEN/1996 “Sistem Manajemen Keselamatan

Kerja”.

•Peraturan Menteri Nakertrans No.02/MEN/1992 “Tata Cara Penunjukan Ahli K3”
•Keputusan Menteri Nakertrans No.186/MEN/1999.
•“Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat kerja”.
•Surat Direktur Utama PT PLN No: 02075/161/DIRUT/2007, tentang “Syarat
Penyambungan Listrik”.

2.2.6.1.2Perundang-undangan

•Undang-Undang RI No. 15/1985, tentang “Ketenagalistrikan”
•Undang-Undang RI No. 18/1999, tentang “Jasa Konstruksi”
•Undang-Undang RI No. 28/2002, tentang “Bangunan Gedung”
•Undang-Undang RI No. 18/1995, tentang “Ketenagalistrikan”
•Undang-Undang RI No. 8/1999, tentang “Perlindungan Konsumen”
•Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000, tentang “Standardisasi Nasional”
•Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2005 (16 Januari 2005) tentang ”Penyediaan
dan Pemanfaatan Tenaga Listrik”.
Pasal 21 ayat (1)
Setiap usaha penyediaan tenaga listrik wajib memenuhi ketentuan mengenai
keselamatan ketenagalistrikan.
Pasal 22 ayat (2)
Setiap instalasi ketenagalistrikan sebelum dioperasikan wajib memiliki sertifikat laik operasi.

79

Pasal 21 ayat (7)
Pemeriksaan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah
dilaksanakan oleh suatu lembaga inspeksi independen yang sifat usahanya nirlaba
dan ditetapkan oleh menteri.

2.2.6.2Pedoman-Pedoman dan Standar Terkait

2.2.6.2.1Mengenai proteksi kebakaran dalam bangunan gedung

1.SNI.03-3987–1995

Tata cara perencanaan dan pemasangan api ringan.

2.SNI.03-3985–2000

Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem deteksi dan
alarm kebakaran.

3.SNI.03-3989–2000

Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem springkler
otomatik.

4.SNI.03-1745–2000

Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak
dan slang.

5.SNI.03-1736–2000

Tata cara perencanaan sistem proteksi aktif untuk
pencegangan bahaya kebakaran.

6.SNI.03-1746–2000

Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar
penyelamatan terhadap bahaya kebakaran.

7.SNI.03-1735–2000

Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses
lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran.

8.SNI.03-1739–1989

Metode pengujian jalar api.

9.SNI.03-1714–1989

Metode pengujian tahan api komponen struktur bangunan.

2.2.6.2.2Mengenai : Proteksi terhadap Petir

SNI.03-3990-1995

Tata cara instalasi penangkal petir untuk bangunan.

2.2.6.2.3Mengenai : Pengkondisian udara

SNI.03-6572-2001

Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian
udara.

80

2.2.6.2.4Mengenai : Transportasi Vertikal

1.SNI.05-2189-1999

Definisi dan istilah

2.SNI.03-2190-1999

Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang yang
dijalankan dengan motor traksi.
3.SNI.03-2190.1-2000Syarat-syarat umum konstruksi lif yang dijalankan dengan
transmisi hidrolis.
4.SNI.03-2190.2-2000Syarat-syarat umum konstruksi lif pelayan (dumbwaiter)
yang dijalankan dengan tenaga listrik.
5.SNI.03-6247.1-2000Syarat-syarat umum konstruksi lif pasien.
6.SNI.03-6247.2-2000Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang khusus
untuk perumahan.

7.SNI.03-6248-2000

Syarat-syarat umum konstruksi eskalator yang dijalankan
dengan tenaga listrik.

8.SNI.03-6573-2000

Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal
dalam gedung.

9.SNI.03-7017-2004

Pemeriksaan dan pengujian pesawat lif traksi.

2.2.7Pemasangan Instalasi Listrik

Berdasarkan PUIL 2000 pekerjaan perencanaan, pemasangan dan pemeriksaan/
pengujian instalasi listrik di dalam atau di luar bangunan harus memenuhi ketentuan
yang berlaku, sehingga instalasi tersebut aman untuk digunakan sesuai dengan maksud
dan tujuan penggunaannya, mudah pelayanannya dan mudah pemeliharaannya.
Pelaksanaannya wajib memenuhi ketentuan keselamatan dan kesehatan bagi tenaga
kerjanya, sesuai dengan peraturan perundangan keselamatan dan kesehatan kerja
yang berlaku.

2.2.7.1 Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang diberi tanggung jawab atas semua pekerjaan : perancangan,
pemasangan, dan pemeriksaan/pengujian instalasi listrik harus ahli di bidang kelistrikan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, antara lain:
•Yang bersangkutan harus sehat jasmani dan rohani
•Memahami peraturan ketenagalistrikan
•Memahami ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja
•Menguasai pengetahuan dan keterampilan pekerjaannya dalam bidang instalasi listrik.
•Dan memiliki ijin bekerja dari instansi yang berwenang.

81

2.2.7.2Tempat Kerja

Untuk pekerjaan perancangan bisa dilakukan di kantor setelah mendapatkan data-data
alamat, gambar denah beserta ukuran-ukuran ruangannya. Namun untuk jenis pekerjaan
pemasangan dan pemeriksaan instalasi listrik dikerjakan di tempat bangunan yang
dipasang instalasi listrik tersebut. Tempat kerja pemasangan instalasi listrik harus
memenuhi keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan peraturan dan perundangan
yang berlaku.
Di samping itu harus tersedia perkakas kerja, perlengkapan keselamatan, perlengkapan
pemadam api, perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), rambu-
rambu kerja dan perlengkapan lainnya yang diperlukan. Bila menggunakan perlengkapan
peralatan yang dapat menimbulkan kecelakaan atau kebakaran, wajib dilakukan
pengamanan yang optimal. Di tempat kerja pemasangan instalasi listrik harus ada
pengawas yang ahli di bidang ketenagalistrikan. Untuk tempat kerja yang dapat
mengganggu ketertiban umum harus dipasang rambu bahaya dan papan pemberitahu-
an yang menyebutkan dengan jelas pekerjaan pekerjaan yang sedang berlangsung,
serta bahaya yang mungkin timbul, dan harus dilingkupi pagar dan diterangi lampu
pada tempat yang pencahayaannya kurang.

2.2.7.3Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi Listrik

Bila pekerjaan pemasangan instalasi listrik telah selesai, maka pelaksana pekerjaan
pemasangan instalasi tersebut secara tertulis melaporkan kepada instansi yang
berwenang bahwa pekerjaan telah selesai dikerjakan dengan baik. Memenuhi syarat
proteksi dengan aturan yang berlaku dan siap untuk diperiksa/diuji.
Hasil pemeriksaan dan pengujian instalasi yang telah memenuhi standar juga dibuat
secara tertulis oleh pemeriksa/penguji instalasi listrik jika hasilnya belum memenuhi
standar yang berlaku, maka dilakukan perbaikan-perbaikan sehingga sampai memenuhi
standar.
Pada waktu uji coba, semua peralatan listrik yang terpasang dan akan digunakan terus
dijalankan baik secara sendiri-sendiri ataupun serempak sesuai dengan rencananya
dan tujuan penggunaannya.

2.2.7.4Wewenang dan Tanggung Jawab

•Perancang suatu instalasi listrik bertanggung jawab terhadap ruangan instalasi
yang dibuatnya.
•Pelaksana instalasi listrik bertanggung jawab atas pemasangan instalasi listrik sesuai
dengan rancangan instalasi listrik yang telah disetujui oleh instansi yang berwenang.
•Jika terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh karena instalasi tersebut diubah atau
ditambah oleh pemakai listrik (konsumen/user), atau pemasangan instalasi lain,
maka pelaksana pemasangan instalasi listrik yang terdahulu dibebaskan dari
tanggung jawab.
•Setiap pemakai listrik bertanggung jawab atas penggunaan yang aman, sesuai
dengan maksud dan tujuan penggunaan instalasi tersebut.

82

•Instansi yang berwenang berhak memerintahkan penghentian seketika penggunaan
instalasi listrik yang dapat membahayakan keselamatan umum atau keselamatan
kerja. Perintah tersebut harus dibuat secara tertulis disertai dengan alasannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->