P. 1
hadist ahkam

hadist ahkam

|Views: 473|Likes:
Published by Hafiz El Mathor

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Hafiz El Mathor on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2014

pdf

text

original

Prinsip Kebebasan/Kemerdekaan Prinsip kebebasan dalam hukum Islam menghendaki agar agama/hukum Islam disiarkan tidak

berdasarkan paksaan, tetapi berdasarkan penjelasan, demontrasi, argumentasi. Kebebasan yang menjadi prinsip hukum Islam adalah kebebasan dl arti luasyg mencakup berbagai macamnya, baik kebebasan individu maupun kebebasan komunal. Keberagama dalam Islam dijamin berdasarkan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama (QS. Al-Baqarah : 256 dan Al-Kafirun : 5)

5. Prinsip Persamaan/Egalite Prinsip persamaan yang paling nyata terdapat dalam Konstitusi Madinah (al-Shahifah), yakni prinsip Islam menentang perbudakan dan penghisapan darah manusia atas manusia. Prinsip persamaan ini merupakan bagian penting dalam pembinaan dan pengembangan hukum Islam dalam menggerakkan dan mengontrol sosial, tapi bukan berarti tidak pula mengenal stratifikasi sosial seperti komunis Prinsip At-Ta‟awun Prinsip ini memiliki makna saling membantu antar sesama manusia yang diarahkan sesuai prinsip tauhid, terutama dalam peningkatan kebaikan dan ketakwaan. Azas-azas Hukum Islam Azas secara etimologi memiliki makna dalah dasar, alas, pondamen (Muhammad Ali, TT : 18). Adapun secara terminologinya Hasbi AshShiddiqie mengungkapkan bahwa hukum Islam sebagai hukum yang lain mempunyai azas dan tiang pokok sebagai berikut : 1. Azas Nafyul Haraji --- meniadakan kepicikan, artinya hukum Islam dibuat dan diciptakan itu berada dalam batas-batas kemampuan para mukallaf. Namun bukan berarti tidak ada kesukaran sedikitpun sehingga tidak ada tantangan, sehingga tatkala ada kesukaran yang

muncul bukan hukum Islam itu digugurkan melainkan melahirkan hukum Rukhsah. 2. Azas Qillatu Taklif --- tidak membahayakan taklifi, artinya hukum Islam itu tidak memberatkan pundak mukallaf dan tidak menyukarkan. 3. Azas Tadarruj --- bertahap (gradual), artinya pembinaan hukum Islam berjalan setahap demi setahap disesuaikan dengan tahapan perkembangan manusia. 4. Azas Kemuslihatan Manusia --- Hukum Islam seiring dengan dan mereduksi sesuatu yang ada dilingkungannya. 5. Azas Keadilan Merata --- artinya hukum Islam sama keadaannya tidak lebih melebihi bagi yang satu terhadap yang lainnya. 6. Azas Estetika --- artinya hukum Islam memperbolehkan bagi kita untuk mempergunakan/memperhatiakn segala sesuatu yang indah. 7. Azas Menetapkan Hukum Berdasar Urf yang Berkembang Dalam Masyarakat --- Hukum Islam dalam penerapannya senantiasa memperhatikan adat/kebiasaan suatu masyarakat. 8. Azas Syara Menjadi Dzatiyah Islam --- artinya Hukum yang diturunkan secara mujmal memberikan lapangan yang luas kepada para filusuf untuk berijtihad dan guna memberikan bahan penyelidikan dan pemikiran dengan bebas dan supaya hukum Islam menjadi elastis sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. syariat Islam itu sendiri dan apa yang akan dibawa hukum Islam untuk mencapau tujuannya. Hal tersebut adalah sebagai berikut : 1. Islam telah meletakkan di dalam undang-undang dasarnya, beberapa prinsip yang mantap dan kekal, seperti prinsip menghindari kesempitan dan menolak mudarat, wajib berlaku adil dan bermusyawarah dan memelihara hak, menyampaikan amanah, dan kembali kepada ulama yang ahli untuk menjelaskan pendapat yang benar dalam menghadapi peristiwa dan kasus-kasus baru, dan

sebagainya berupa dasar-dasar umum yang merupakan tujuan diturunkannya agama-agama langit, dan dijaga pula oleh hukumhukum positif dalam upaya untuk sampai kepada pengwujudan teladan tertinggi dan prinsip-prinsip akhlak yang telah ditetapkan oleh agamaagama namun hukum-hukum masih tetap menghadapi krisis keterbelakangan dari undang-undang atau hukum yang dibawa oleh agama-agama langit. 2. Dalam dasar-dasar ajarannya, Islam berpegang dengan konsisten pada perinsip mementingkan pembinaan mental individu khususnya, sehingga ia menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat, karena apabila individu telah menjadi baik maka masyarakat dengan sendirinya akan baik pula. 3. Syari‟at Islam, dalam berbagai ketentuan hukumnya, berpegang dengan konsisten pada prinsip memelihara kemaslahatan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat.

1.

MANUSIA dan KEADILAN

Pengertian Keadilan

Keadilan berasal dari bahasa arab “adl” yang artinya bersikap dan berlaku dalam keseimbangan.Keseimbangan meliputi keseimbangan antara hak dan kewajiban dan keserasian dengan sesama makhluk.Keadilan pada hakikatnya adalah memperlakukan seseorang atau orang lain sesuai haknya atas kewajiban yang telah di lakukan.Yang menjadi hak setiap orang adalah di akui dan di perlakukan sesuai harkat dan mertabatnya yang sama derajatnya di mata Tuhan YME.Hak-hak manusia adalah hak-hak yang diperlukan manusia bagi kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat. Keadilan dalam kehidupan manusia adalah sangat prinsip dan di manapun tidak mengenal waktu dan tempat selalu di perjuangkan.Keadilan adalah bagian dari hak asasi yang telah di miliki manusia sejak di lahirkan tanpa perbedaan.Manusia tidak dapat di pisahkan dari keadilan,karena dengan keadilanlah manusia dapat mempertahankan hidupnya. a) Makna Keadilan Keadilan memberikan kebenaran, ketegasan dan suatu jalan tengah dari berbagai persoalan juga tidak memihak kepada siapapun. Dan bagi yang berbuat adil merupakan orang yang bijaksana. b) Contoh Keadilan Contoh yang sering terjadi yatu masih banyak pekerja rumah tangga mendapat perlakuan tidak adil dari majikannya terrutama para TKI(Tenaga Kerja Indonesia), seorang istri yang tidak mendapat hak yang seharusnya ia dapatkan dari suaminya, seorang anak yang tidak mendapat haknya dari orang tuanya,dan hak-hak warga negara yang belum terpenuhi seperti, hak untuk hidup layak, merdeka dari kemiskinan, hak mendapatkan pendidikan dan hak untuk menyatakan pendapat. Keadilan terdiri dari berbagai macam diantaranya, yaitu: 1) Keadilan Legal atau Keadilan Moral

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang rnembuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang mcnjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasamya paling cocok baginya (Tha man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan, Sunoto menycbutnya keadilan legal. Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakt bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara balk menurut kemampuannya. 2) Keadilan Distributif Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sarna (justice is done when equals are treated equally). Sebagai contoh, Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan sesuai dengan larnanya bekerja. 3) Keadilan Komutatif Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan urnurn. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat. 4. Kejujuran a) Pengertian Kejujura adalah sikap yang diambil dari dalam nurani hati manusia, sesuatu dapat dikatakan jujur, jika orang berbicara dengan benar dan dengan fakta yang didasarkan oleh hati nurani manusia tersebut. b) Hakekat Kejujuran Pada hakekatnya jujur dilandasi oleh sikap dan kesadaran yang berdasarkan oleh pengakuan kebenaran. Dan dalam ajaran agama islam di perjelas bagi muslim untuk bersikap jujur, karena sikap jujur dapat menjadikan manusia tersebut mulia, dan dapat menjadi contoh untuk yang lainnya. 5. Kecurangan a) Pengertian Kecurangan Kecurangan ialah perbuatan yang tidak terpuji bagi manusia, dikarenakan dapat merugikan orang lain dan hanya menguntungkan dirinya sendiri. Contohnya seorang pembalap motor demi meraih kemenangan untuk mendapatkan juara, dengan sengaja mensabotase motor pembalap lainnya, dengan anggapan ia bisa menang. b) Sebab-sebab Kecurangan 1) 2) 3) 4) Dikarenakan orang tersebut ingin unggul dari orang lain. Iri Tidak suka dengan orang lain Macam- macam perhitungan atau pembalasan. Keadilan, sebuah kata yang manis di mulut dan merdu di telinga. Betapa banyak kita jumpai orang yang ingin menegakkannya. Ada yang berjuang melalui jalur hukum dengan mendirikan berbagai lembaga bantuan hukum. Ada pula yang berjuang melalui jalur politik dengan mendirikan partai. Ada pula yang berjuang melalui gerakan-gerakan massa dengan berorasi dan membongkar borok-borok sekelompok orang yang dianggap durjana. Ada pula yang berjuang melalui media massa dengan menerbitkan selebaran dan surat kabar tentangnya. Semuanya ingin meraih sebuah kebaikan, yaitu keadilan. Namun sangat disayangkan. Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya. Kalau kita mau jujur bertanya kepada diri kita masing-masing, sejauh manakah kita mengerti hakikat keadilan dan

kepada siapa saja keadilan itu harus kita terapkan. Maka mungkin saja gambaran tentang keadilan itu ternyata masih samar dan rancu di dalam benak kita. Ada perkara yang kita anggap biasa dan sepele namun ternyata itu termasuk kezaliman yang sangat besar. Sebaliknya bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai nilai keadilan yang sangat tinggi tapi ternyata masih ada keadilan lain yang lebih tinggi dan lebih berhak untuk dibela. Karena itulah di sini kami ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk kembali memandang masalah yang ada di hadapan kita dengan kacamata Al-Qur’an dan As Sunnah. Allah Memerintahkan Kita untuk Berbuat Adil ُ َ َّ َ ُ ََ َ َ َ ُ َ َ َُ ٰ ‫ِبالقسط ۖ َ َّول يجرم َّّنكم شَنـان قوم على أل تعدلوا ۚ اعدلوا هو أقرب‬ ِ ُ َّ ِ ٍ َُ ٔ ِ ِ ِ َ َ ٌ َ َ َّ َ َ ‫واتقوا الله ۚ إن الله خبير ِبما تعملون‬ ِ Di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan: َ َ َ َ ّ َ ُّ َ ٰ َ َ ُ ِ ّ َ ّٰ َ ‫يأيها الذين ءامنوا كونوا قومين لِله شهداء‬ ٰ َّ ۖ ‫ِللتقوى‬

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.” (QS. Al Maa’idah: 8) Menegakkan Hukum dan Keadilan menurut Syariat Allah SWT Keadilan Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Hal itu ditegaskan dalam al-Qur’an; “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? ” (QS. AlMaidah, 5:50) . Dalam ayat lain Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dariperbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (an-Nahl; 90) Dalam ayat lain ditegaskan agar keadilan tetap ditegakkan dengan melawan segala kecenderungan menyimpang yang disebabkan oleh kebencian atau sebab-sebab lainnya. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebendanmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidakadil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekatkepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (al-Maidah 5:8) Konsep hukum dalam urusan-urusan privat dan kemasyarakan sangat kompleks, sehingga seorang hakim harus memiliki wawasan iuas dan ilmu-ilmu yang mendukungnya dalam memberikan keputusan hukum. Seorang hakim tidak boleh hanya bertumpu kepada bukti-bukti nyata dan kondisi krusial yang terjadi. Namun lebih dari itu seorang hakim harus memutuskan sesuatu dengan pertimbangan firasat yang benar, dan tanda-tanda dan bantuan faktor-faktor lainnya sehingga kebenaran itu menjadi

nyata dan boleh jadi dia menggunakan isyarat-isyarat dalam berhukum. Seorang hakim bisa saja mengancam salah satu pihak dengan apa saja yang menurutnya berada pada pihak yang salah dan dalam posisi yang zalim, dan bertanya dengan pertanyaan yang beraneka ragam hingga kebenaran menjadi nyata. Secara umum hakim harus memiliki dua bekal fikih; ilmu fikih tentang hukum-hukum kejadian dan perkara yang umum dan ilmu pengetahuan tentang kasus tertentu dan karakter-karakter manusia. Ilmu tentang karakter-karakter orang yang sedang bersengketa sangat penting untuk membedakan antara orang-orang yang benar dengan yang salah, dan orang-orang yang jujur dengan yang dusta. Sehingga dengan demikian dia memutuskan hukuman atas kejadian dengan benardan sesuai dengan kenyataan dan tidak menempatkan keputusan hukum di luar kenyataan dan fakta yang terjadi. Dan bila seorang hakim tidak memiliki pemahaman tentang isyarat-isyarat, tanda-tanda, bukti-bukti, kaitankaitan dan hubungan-hubungan kondisi dan perkataan tertentu, dan tidak memiliki pemahaman detail dan general tentang suatu masalah, maka pasti dia memutuskan keputusan hukum yang menghilangkan hak-hak orang dan pasti diketahui bahwa hukum itu batal dan tidak mendasar. Renungkanlah bagaimana nabi Sulaiman memutuskan perkara antara dua orang wanita yang bersengketa tentang kepemilikan bayi. Pada awalnya Daud menghukumnya untuk yang besar. Maka Sulaiman berkata; ambillah pisau agar aku membelahnya bagi kalian berdua. Yang besar membolehkan hal itu, namun yang kecil berkata; “jangan anda lakukan hal itu, semoga Allah Swt. merahmatimu. la adalah anaknya”. Maka nabi Sulaiman memutuskan bahwa anak itu milik wanita yang kecil. Menegakkan keadilan merupakan salah satu misi utama dari syariah. la berfungsi untuk menetapkan kebenaran dan menghapus kebatilan. Jadi siasat yang adil merupakan bagian dari syariat dan keputusan hukumnya. Dalam banyak kasus yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, dengan mata telanjang kita menyaksikan ketidakadilan dalam penegakan hukum. Orang yang mencuri semangka, kapas dan lain-lain yang dilakukan untuk menyambung hidup dan hanya berskala kecil dihukum berat dan diproses dengan cepat di pengadilan. Namun kasus yang besar seperti korupsi pejabat publik, kasus bank Century dan lain-lain kita belum melihat keseriusan dan kesungguhan penegak hukum dalam memproses peradilannya. Inilah salah satu fenomena yang ditakutkan oleh Rasulullah saw. terjadi pada umatnya. Penegakan Hukum Harus Berdasarkan Kebenaran dan Keadilan" Penegakan supremasi hukum di negeri ini masih jauh dari harapan masyarakat. Carut marutnya penegakan hukum terlihat dari masih banyaknya aparat penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi maupun advokat yang dalam menjalankan fungsinya belum mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Masyarakat menilai masih banyak putusan hukum yang tidak berdasarkan rasa keadilan, sehingga timbullah ketidaktaatan masyarakat terhadap hukum dan aparat penegak hukum," ujar praktisi hukum Jhon SE Panggabean dalam rilisnya kepada okezone, Sabtu (21/4/2012) malam. Faktanya, maraknya perbuatan main hakim sendiri oleh masyarakat terhadap aparat penegak hukum, baik kepada hakim, polisi, jaksa maupun terhadap terdakwa, bahkan terhadap pengacara yang sudah pada taraf memprihatinkan. Marilah kita secara moral terhadap aparat penegak hukum, termasuk terhadap diri kita sendiri agar bersama-sama menegakkan hukum berdasarkan kebenaran dan keadilan," sarannya. Dia menambahkan, kepada aparat penegak hukum diharapkan tidak menyalahgunakan kewenangannya dalam menegakkan hukum. Sehingga masyarakat akan percaya terhadap hukum dan penegak hukum, supaya ada ketertiban dalam penegakan hukum. Kalau masyarakat sudah tidak lagi patuh terhadap hukum maka akan berbahaya," pungkasnya. Seperti diketahui, tindak pelanggaran hukum belakangan marak terjadi di negeri ini. Hal

tersebut bisa dilihat dari konflik horizontal yang kerap mewarnai kehidupan bermasyarakat. Aksi main hakim sendiri misalnya terakhir terjadi pada aksi penyerangan massa terhadap Masjid milik Jemaat Ahmadiyah di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Aparat kepolisian terlihat tak berdaya dalam menghalau massa, sehingga aksi pengrusakan tak terhindarkan Menegakkan Kebenaran Sikap Hidup Seorang Muslim Allah SWT memerintahkan manusia agar menegakkan kebenaran bersikap dan berprilaku jujur, berani mengatakan yang benar meskipun perkataan yang benar tersebut akan mengakibatkan dirinya dimusuhi, dikucilkan, dianiaya bahkan kehilangan nyawa. Sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan kebenaran dan penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." (QS. An Nisaa": 135). Ayat di atas memerintahkan hamba Allah SWT yang beriman benar-benar menegakkan kebenaran dan menghukum dengan seadil-adilnya meskipun yang bersalah, keluarga sendiri bahkan orangtua kandung sendiri. Jangan tebang pilih atau pandang bulu dan mengikuti kehendak hawa nafsu dalam memutuskan suatu perkara. Allah SWT memberikan mandat kepada manusia sebagai khalifah di bumi agar menjadi penegak kebenaran, tanpa ragu-ragu. Masyarakat harus didorong untuk berani menyuarakan kebenaran dan berani melawan budaya korupsi. Sebab jika budaya korupsi telah menjadi gaya hidup di negeri ini kemelaratan dan kesengsaraan harus ditanggung rakyat. Sungguh sangat memprihatinkan melihat kondisi birokrasi di negeri ini korupsi dan pungli telah menjadi tradisi. Akibat dari tindak korupsi pembangunan untuk mensejahterakan rakyat terhambat. Bila korupsi, kezaliman, kesewenangwenangan dan kebohongan tumbuh merebak di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat maka suatu bangsa akan hancur. Dalam Sebuah hadits Qudsi dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Allah SWT berfirman : Hai hambaKu sesungguhnya Aku mengharamkan terhadap diriKu berbuat zalim dan yang demikian berlaku pula untuk kamu. Maka janganlah kamu berbuat kezaliman. Kehancuran umat terdahulu adalah karena mereka berbuat zalim dan sewenang-wenang." (HR. Muslim). Korupsi merupakan perbuatan zalim terjadi akibat kolusi kekuasaan di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Apalagi jika korupsi tersebut dilakukan secara kolektif membentuk rantai yang panjang melingkar bahkan bagaikan benang kusut tidak mudah untuk diuraikan bahkan siklus korupsi di negeri ini bagaikan sebuah gurita. Sebenarnya apa yang terjadi dengan bencana nasional yang akhir-akhir ini terjadi di berbagai wilayah di negeri ini. Pernahkah kita merenung sejenak melakukan evaluasi perjalanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Jawaban dari pertanyaan tadi merupakan solusi dari bencana yang terjadi menimpa bangsa ini. Dalam berbagai kasus keributan massa misalnya para pemimpin di negeri ini tidak pernah melakukan evaluasi dan berkata benar mengungkapkan fakta yang sesungguhnya, sehingga kasus-kasus serupa kerap terulang kembali. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah ada amar ma"ruf nahi mungkar. Kalau tidak ada amar ma"ruf dan nahi mungkar

Allah akan menurunkan sebagian azabNya dan jika kamu berdoa Allah tidak akan mengabulkan doamu." (HR. Bukhari). Jika azab diturunkan Allah bukan hanya menimpa orang-orang yang berbuat dosa tapi orang beriman juga mengalaminya. Sebagai seorang muslim haruslah menjadi suri teladan dan menjadi rahmat bagi semesta alam dan senantiasa berkata benar sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas"ud dari Rasulullah SAW beliau bersabda: "Sesungguhnya kebenaran itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke syurga. Dan sesungguhnya orang yang membiasakan dirinya benar dalam segala tingkah lakunya akan dicatat Allah sebagai orang yang selalu benar. Sedangkan kedustaan itu membawa kepada penyelewengan dan penyelewengan itu membawa ke neraka dan orang-orang yang membiasakan berdusta akan dicatat Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari). Sudah saatnya bangsa ini menegakkan kebenaran di negerinya agar Allah SWT menurunkan karunia, nikmat dan rahmat dari langit dan bumi. Kehancuran suatu bangsa di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran bagi kita. Mereka itu mengingkari perintah Allah SWT berbuat zalim dan melampaui batas. Mereka yang menjadi ulil amri di negeri ini berkuasa atas kehendak Allah SWT dan mereka harus menjalankan kekuasaannya sesuai dengan kehendak si pemberi kuasa. Dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara harus menjalankan otoritas yang diberikan Allah berkata benar dan menegakkan keadilan. Mereka harus mempergunakan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar realita di tengah-tengah masyarakat. Betapa saat ini masyarakat belum sepenuhnya merasakan kebenaran dan keadilan itu ditegakkan. Masyarakat lebih sering melihat tontonan kebohongan dari elit politik di negerinya yang terjerat kasus korupsi. Putusan-putusan hakim banyak yang justru mencederai rasa keadilan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Apakah engkau hendak meminta keistimewaan dari pelaksanaan hukum-hukum Allah? Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu karena bila yang mencuri rakyat jelata mereka hukum, tetapi kalau yang mencuri orang yang berpangkat mereka biarkan saja. Demi Allah yang memelihara jiwa saya kalau Fatimah binti Muhammad mencuri saya potong tangannya." (HR. Bukhari). Dalam berbagai kasus keributan massa misalnya para pemimpin di negeri ini tidak pernah melakukan evaluasi dan berkata benar mengungkapkan fakta yang sesungguhnya, sehingga kasus-kasus serupa kerap terulang kembali. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah ada amar ma"ruf nahi mungkar. Kalau tidak ada amar ma"ruf dan nahi mungkar Allah akan menurunkan sebagian azabNya dan jika kamu berdoa Allah tidak akan mengabulkan doamu." (HR. Bukhari). Jika azab diturunkan Allah bukan hanya menimpa orang-orang yang berbuat dosa tapi orang beriman juga mengalaminya. Sebagai seorang muslim haruslah menjadi suri teladan dan menjadi rahmat bagi semesta alam dan senantiasa berkata benar sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas"ud dari Rasulullah SAW beliau bersabda: "Sesungguhnya kebenaran itu membawa

kebaikan dan kebaikan itu membawa ke syurga. Dan sesungguhnya orang yang membiasakan dirinya benar dalam segala tingkah lakunya akan dicatat Allah sebagai orang yang selalu benar. Sedangkan kedustaan itu membawa kepada penyelewengan dan penyelewengan itu membawa ke neraka dan orang-orang yang membiasakan berdusta akan dicatat Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari). Sudah saatnya bangsa ini menegakkan kebenaran di negerinya agar Allah SWT menurunkan karunia, nikmat dan rahmat dari langit dan bumi. Kehancuran suatu bangsa di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran bagi kita. Mereka itu mengingkari perintah Allah SWT berbuat zalim dan melampaui batas. Mereka yang menjadi ulil amri di negeri ini berkuasa atas kehendak Allah SWT dan mereka harus menjalankan kekuasaannya sesuai dengan kehendak si pemberi kuasa. Dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara harus menjalankan otoritas yang diberikan Allah berkata benar dan menegakkan keadilan. Mereka harus mempergunakan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar realita di tengah-tengah masyarakat. Betapa saat ini masyarakat belum sepenuhnya merasakan kebenaran dan keadilan itu ditegakkan. Masyarakat lebih sering melihat tontonan kebohongan dari elit politik di negerinya yang terjerat kasus korupsi. Putusan-putusan hakim banyak yang justru mencederai rasa keadilan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Apakah engkau hendak meminta keistimewaan dari pelaksanaan hukum-hukum Allah? Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu karena bila yang mencuri rakyat jelata mereka hukum, tetapi kalau yang mencuri orang yang berpangkat mereka biarkan saja. Demi Allah yang memelihara jiwa saya kalau Fatimah binti Muhammad mencuri saya potong tangannya." (HR. Bukhari). KEHARUSAN MENJAGA KEBENARAN DAN KEADILAN Seorang Muslim yg baik, wajib selalu menjaga kebenaran dan keadilan... Siapapun dia, hukum harus ditegakkan... Tidak peduli, apakah dia itu pejabat, orang kaya, orang miskin, muslim ataupun non muslim... Seorang Muslim, wajib adil dan tidak memihak dalam menetapkan sesuatu hukum... Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu, malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. Hal ini dilaporkan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan mereka meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi. Kendatipun mereka tahu (kerabat-kerabat Thu'mah) bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah.Nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi. Sehingga turunlah ayat ini sebagai teguran dan landasan hukum dalam bersikap untuk menegakkan kebenaran dan keadilan... Jangan mengikuti orang2 yg berkhianat, walaupun ia mengaku seorang muslim... Dan mohonlah ampun kepada Allah, karena ketidaktahuan kita dan karena kelemahan kita...

Janganlah berdebat untuk membela orang-orang yang berkhianat... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa... Menegakkan keadilan dng seadil2-nya adalah mendekati ketakwaan... Dan pemimpin yg adil akan mendapatkan naungan dihari kiamat, dimana tidak ada naungan sedikitpun pada hari itu, kecuali hamba2Nya yg dikehendaki mendapatkan naunganNya (salah satunya ialah pemimpin yg adil)... [lihat postingan yg berjudul Tujuh hamba Allah yang akan dilindungi Allah...] QS: 4.An Nisaa':105-107 ً َ َ ْ َ ُ ْ َ ّ َ ْ َ ٰ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ْ ّ ْ ُ َ َ َ ُ َّ َ َ َ َ ‫إنآ أنزلَنا إليك ٱلكتـب ِبٱلحق لِتحكم بَين ٱلّناس ِبمآ أراك ٱلله ول َّتكن للخآئِِنين ً خصيم ًا‬ ِ ِ ِ َّ ِ ِ َْ ْ َ ُ َ َ َ َ َّ َّ ‫َ وٱستغفر َّٱلله إن ٱلله كان غفورا ًرَحيم ًا‬ ِ َ َ ُّ ُ ِ َ ِ َ ِ ِ ّ َ ْ ُ َ ُ َ ُ َ ْ َ َ ّ َ َ ْ َ ُ َ َ َّ َ َ ‫ول تجـدل عن ٱلذين يختانون أنفسهم إن ٱلله ل يحب من كان خوانا أثيما‬ ِ ِ ِ ِ ِٰ ِ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat," "dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." "Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa" --------------------Diriwayatkan dari Suddi bahwa ayat 135 turun berkenaan dng perselisihan antara orang kaya dan orang miskin. Kemudian Rasulullah SAW berpihak kepada orang yg miskin. Menurut Beliau, orang miskin tidaklah mungkin menzholimi orang kaya. Ayat ini turun sebagai teguran Allah kepada Rasulullah SAW. dalam memutuskan perkara agar Beliau berbuat adil (juga umatnya), tidak berpihak baik kepada orang kaya, orang miskin, pejabat atau bahkan orang tua dan kerabat sendiri, namun benar2 harus menegakkan keadilan. QS: 4.An Nisaa':135 َ َ َ َ ُ ْ ْ َ َّ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ّ َ ُّ َ ٰۤ َ ْ َ ًّ َ ْ ُ َ َ َ ْ َْ َ ْ َ َٰ ْ َ ْ ُ ُ َ ۤ َ َ ْ َ َ ّ ‫يـأيها ٱلذين ًَءامُنوا َكونوا قوامين َِبٱلقسط ْ شهدآء لِله ولو على أنفسكم أو ٱلو ْلِدين وٱ َّلقرِبين إن يكُن غِنيا أو‬ َِ َّ َ َِ َِ ِ ْ ُ ْ َ ِْ ُ ْ َ َ ْ ُ ْ ِ َ ِ َ ٰ َ َ ِ ْ ِ ُ ّ َ َ ِ َ َ َْ ُ ً َ َ َْ َ َ ُ َ َ َ َّ ِ ‫فقيرا فٱلله أولى ِبهما فل تتبعوا ٱلهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن ٱلله كان ِبما تعملون خبيرا‬ ِ ِ ِ ِ ِ ٰ ِ "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia [orang yang tergugat atau yang terdakwa] kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. Karena itulah, Allah menyeru orang-orang beriman dengan sebutan orang-orang yang beriman, karena dengan begitu orang-orang yang benar-benar beriman merasa mendapat suatu

penghormatan dari Allah yang juga mengandung unsur pengakuan Allah terhadap iman mereka. Dengan begitu, mereka akan lebih patuh akan perintah yang akan diberikan Allah setelah seruan itu. Perintah pertama adalah menegakkan keadilan karena Allah, kedua adalah menjadi saksi juga karena Allah. Meskipun dapat berakibat buruk pada diri sendiri, selama itu merupakan kebenaran, maka kesaksian itu harus dilakukan. Bahkan, meskipun kesaksian itu akan menyebabkan orang tua atau kerabat saksi itu mendapat kesusahan atau hukuman, kesaksian itu harus tetap dilakukan karena Allah semata. Penyebutan diri sendiri, orang tua, dan kerabat dalam ayat ini mengandung makna yang sangat dalam dan tegas. Hal itu karena diri sendiri tentunya setiap orang mencintainya walaupun tidak semua tahu bagaimana mencitainya. Rasa cinta dan sayang pada diri sendiri inilah yang biasanya menghalangi seseorang mengatakan kebenaran yang jika ia katakan akan berakibat buruk baginya. Begitu juga cinta dan sayang pada orang tua dan karib kerabat, menyebabkan seseorang enggan menegakkan keadilan terhadap mereka atau bersaksi menentang mereka. Seseorang akan lebih mudah bersaksi terhadap orang lain dibanding orang tua atau keluarganya. .: Keadilan Harus Ditegakkan :.

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap diri kalian sendiri, atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabat kalian." (Q.S. An-Nisa' : 135). Arti Keadilan Secara leksikal, adil adalah bersikap tidak berat sebelah atau tidak memihak; atau berarti berpegang kepada yang benar, tidak bertindak sewenang-wenang dalam memberlakukan sesuatu. Dalam kaidah usul fiqih diformulasikan dengan ungkapan : at-tawassuth bayna alamrain (berdiri di tengah-tengah antara dua hal). Patokan ini mirip dengan teori asas keseimbangan dari Prof. Mr. Kranenburg, dan senafas dengan teori keadilan Aristoteles yang mengatakan "memberi kepada tiap-tiap orang apa yang ia berhak terima." Lawannya adalah zalim atau aniaya. Islam membimbing manusia agar senantiasa berlaku adil menurut ajaran Islam. Berlaku adil itu merupakan kewajiban setiap individu muslim, sebab keadilan itu adalah motivasi keagamaan yang sangat esensial dan menegakkannya pun diletakkan sebagai suatu sikap hidup yang sangat esensial pula (An-Nahl : 90). Perintah berlaku adil dalam Islam meliputi semua bidang dan aspek kehidupan tanpa pandang bulu, mulai dari soal-soal hubungan kemasyarakatan dan kenegaraan, sampai kepada soal pribadi dan keluarga (Al-An'am : 152). Seorang muslim diwajibkan adil dalam menegakkan hukum, adil dalam mendamaikan perselisihan, adil terhadap musuh, adil terhadap orang tua dan terhadap anak, dan adil terhadap diri sendiri. Jadi

pada dasarnya keadilan itu berarti melakukan perimbangan dengan seksama tanpa merugikan pihak mana pun. Islam, disamping memerintahkan kepada setiap pemeluknya untuk menegakkan keadilan dalam setiap bidang kehidupan, juga memerintahkan untuk menjauhi perasaan yang dapat mempengaruhi jiwanya dalam menegakkan keadilan, baik terhadap dirinya sendiri, para kerabat atau pun terhadap kedua orang tuanya sekalipun (An-Nisa' : 58). Rasulullah SAW dalam salah satu sabda beliau menegaskan bahwasannya menegakkan keadilan dalam sesaat, lebih baik daripada ibadah selama 70 tahun. Ungkapan beliau ini mengisyaratkan betapa menegakkan keadilan itu merupakan suatu hal yang berdimensi ibadah yang demikian penting. Seorang mu'min yang bertindak adil, maka perbuatan dan tindakan adilnya itu, bukan semata-mata karena memenuhi panggilan undang-undang belaka, tetapi lebih dari itu, tindakannya tadi justru didorong oleh rasa iman dan ketakwaannya yang tinggi kepada Allah SWT. Diwujudkan dalam Seluruh Aspek Kehidupan Menurut Islam, keadilan merupakan kata yang memiliki bobot sangat berat dan penting yang harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, perekonomian, kehakiman, kesaksian, pencatatan utang-piutang, dalam berbicara, dalam pemerintahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Intinya, keadilan itu harus diwujudkan dalam semua jalur tata hubungan manusia, baik hubungannya dengan Allah secara garis vertikal, dengan sesama manusia dalam masyarakat secara garis horizontal, dengan dirinya sendiri, atau pun dengan lingkungan hidupnya, yakni alam sekelilingnya. Menggarisbawahi tentang menegakkan keadilan dalam bidang pemerintahan, diakui merupakan faktor penting bahkan paling esensial untuk suksesnya sesuatu kekuasaan, baik dalam suatu negara atau pun dalam suatu organisasi kemasyarakatan. Tidak sedikit negara dan organisasi yang hancur dan runtuh akibat ketidakmampuan para pemimpin dan pengelolanya dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Faktor sahabat dekat, teman sedaerah, kroni dan kawan seorganisasi atau separtai, atau pun faktor keluarga, seiring muncul dalam tata kehidupan bernegara, berorganisasi, dan bermasyarakat, yang kadangkala dapat menyebabkan seorang pemimpin terperosok dan jatuh. Semua itu bisa terjadi karena rendahnya dan rapuhnya kualitas takwa yang dimiliki, sehingga mengakibatkan lunturnya sifat-sifat keadilan dalam dirinya, karena memang sifat keadilan itu sangat erat hubungannya dengan ketakwaan (Al-Maidah : 8). Tidak sedikit pemimpin yang karena kualitas ketakwaannya demikian tipis dan rapuh, lebih suka bersikap pilih kasih atau bertindak nepotisme, mendahulukan keluarga dan kerabatnya atau kawan separtainya, dengan menonjolkan sikap like and dislike dalam menentukan pembantu-pembantunya dalam menduduki sesuatu jabatan atau kedudukan tertentu, meskipun orang-orang itu tidak layak dan tidak mampu, bahkan track record-nya buruk karena berulangkali melakukan kesalahan dan kekeliruan. Sebaliknya orang-orang yang potensial dan cakap, takwa, jujur dan penuh amanah serta dapat dipercaya, berakhlak mulia dan luhur, justru mereka tersingkir ke pinggir, masuk kotak alias tidak dipakai, disebabkan mereka bukan koleganya atau kenalan dekatnya. Jelas ini merupakan tindakan kezaliman yang sangat tercela. 1. Terma-terma Keadilan

al-Qur’an, setidaknya menggunakan tiga terma untuk menyebut keadilan, yaitu al-‘adl, al-qisth, dan al-mîzân. al-‘Adl, berarti “sama”, memberi kesan adanya dua pihak atau lebih; karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi “persamaan”.

al-Qisth, berarti “bagian” (yang wajar dan patut). Ini tidak harus mengantarkan adanya “persamaan”. al-Qisth lebih umum dari al-‘adl. Karena itu, ketika al-Qur’ân menuntut seseorang berlaku adil terhadap dirinya, kata al-qisth yang digunakan. Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak al-qisth (keadilan), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri...(Surah al-Nisa’/4: 135). al-Mîzân, berasal dari akar kata wazn (timbangan). al-Mîzân dapat berarti “keadilan”. alQur’an menegaskan alam raya ini ditegakkan atas dasar keadilan. Allah SWT berfirman: Dan langit ditegakkan dan Dia menetapkan al-mizan (neraca kesetimbangan). (Surah al-Rahman/55: 7). 2. Makna-makna Keadilan Beberapa makna keadilan, antara lain; Pertama, adil berarti “sama”

Sama berarti tidak membedakan seseorang dengan yang lain. Persamaan yang dimaksud dalam konteks ini adalah persamaan hak. Allah SWT berfirman: “Apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia, maka hendaklah engkau memutuskannya dengan adil...” (Surah al-Nisa'/4: 58). Manusia memang tidak seharusnya dibeda-bedakan satu sama lain berdasarkan latar belakangnya. Kaya-papa, laki-puteri, pejabat-rakyat, dan sebagainya, harus diposisikan setara. Kedua, adil berarti “seimbang”

Allah SWT berfirman: Wahai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu, dan mengadilkan kamu (menjadikan susunan tubuhmu seimbang). (Surah alInfithar/82: 6-7). Seandainya ada salah satu anggota tubuh kita berlebih atau berkurang dari kadar atau syarat yang seharusnya, pasti tidak akan terjadi keseimbangan (keadilan). Ketiga, adil berarti “perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu pada setiap pemiliknya” “Adil” dalam hal ini bisa didefinisikan sebagai wadh al-syai’ fi mahallihi (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Lawannya adalah “zalim”, yaitu wadh’ al-syai’ fi ghairi mahallihi (menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya). “Sungguh merusak permainan catur, jika menempatkan gajah di tempat raja,” ujar pepatah. Pengertian keadilan seperti ini akan melahirkan keadilan sosial. Keempat, adil yang dinisbatkan pada Ilahi.

Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah SWT. Keadilan Ilahi merupakan rahmat dan kebaikan-Nya. Keadilan-Nya mengandung konsekuensi bahwa rahmat Allah SWT tidak tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya. Allah disebut qaiman bilqisth (yang menegakkan keadilan) (Surah Ali ‘Imram/3: 18). Allah

SWT berfirman: Dan Tuhanmu tidak berlaku aniaya kepada hamba-hamba-Nya (Surah Fushshilat/41: 46). 3. Perintah Berbuat Adil

Banyak sekali ayat al-Qur’an yang memerintah kita berbuat adil. Misalnya, Allah SWT berfirman: Berlaku adillah! Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Surah al-Ma-idah/5: 8). Dijelaskan ayat ini, keadilan itu sangat dekat dengan ketakwaan. Orang yang berbuat adil berarti orang yang bertakwa. Orang yang tidak berbuat adil alias zalim berarti orang yang tidak bertakwa. Dan, hanya orang adil-lah (berarti orang yang bertakwa) yang bisa mensejahterakan masyarakatnya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: Katakanlah, "Tuhanku memerintahkan menjalankan alqisth (keadilan)" (Surah al-A’raf/7: 29). Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan (kebajikan) (Surah al-Nahl/16: 90). Sesungguhnya Allah telah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil). Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-sebaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Surah al-Nisa/4: 58). Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan Keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu bapakmu dan keluargamu. Jika ia kaya ataupun miskin, Allah lebih mengetahui keadaan keduanya, maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sehingga kamu tidak berlaku adil. Jika kamu memutar balikkan, atau engggan menjadi saksi, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Surah al-Nisa’/4:135). Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Surah alHujurat/49: 9). 4. Beberapa Pertama, bidang Bidang-bidang keadilan yang wajib keadilan Keadilan ditegakkan, antara lain, hukum

Ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, itulah ayat-ayat yang memerintahkan untuk menegakkan keadilan hukum, kendati pada diri dan keluarga kita sendiri. Ketegasan tanpa pandang bulu inilah yang juga diteladankan Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan, pada masa beliau, seorang perempuan dari keluarga bangsawan Suku alMakhzumiyah bernama Fatimah al-Makhzumiyah ketahuan mencuri bokor emas. Pencurian ini membuat jajaran pembesar Suku al-Makhzumiyah gempar dan sangat malu. Apalagi, jerat hukum saat itu mustahil dihindarkan, karena Nabi Muhammad Saw sendiri yang menjadi hakim-nya.

Bayang-bayang Fatimah al-Makhzumiyah akan menerima hukum potong (Surah al-Ma’idah/5: 38) tangan terus menghantui mereka. Dan jika hukum potongan tangan ini benar-benar diterapkan, mereka akan menanggung aib maha dahsyat, karena dalam pandangan mereka seorang keluarga bangsawan tidak layak memiliki cacat fisik. Lobi-lobi politis pun digalakkan supaya hukum potong tangan itu bisa diringankan atau bahkan diloloskan sama sekali dari Fatimah al-Makhzumiyah. Uang berdinar-dinar emas dihamburkan untuk upaya itu. Puncaknya, Usamah bin Zaid, cucu Nabi Muhammad Saw dari anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah, lantas dinobatkan sebagai pelobi oleh Suku al-Makzumiyah. Kenapa Usamah? Karena Usamah adalah cucu yang sangat disayangi Nabi. Melalui orang kesayangan Nabi ini, diharapkan lobi itu akan menemui jalan mulus tanpa rintangan apapun, sehingga upaya meloloskan Fatimah dari jerat hukun bisa tercapai. Apa yang terjadi? Upaya lobi Usamah bin Zaid, orang dekatnya, itu justru mendulang dampratan keras dari Nabi Muhammad Saw, bukannya simpati. Ketegasan Nabi dalam menetapkan hukuman tak dapat ditawar sedikitpun, hatta oleh orang dekatnya. Untuk itu, Nabi lantas berkata lantang: “Rusaknya orang-orang terdahulu, itu karena ketika yang mencuri adalah orang terhormat, maka mereka melepaskannya dari jerat hukum. Tapi ketika yang mencuri orang lemah, maka mereka menjeratnya dengan hukuman. Saksikanlah! Andai Fatimah bint Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Itulah ketegasan Nabi dalam menegakkan hukum, hatta pada orang yang paling disayanginya sekalipun. Adil dalam berinteraksi dengan diri sendiri Adil pada diri sendiri menjadi begitu penting, karena tanpa keadilan ini kehidupan akan menjadi timpang dan tidak lengkap. Kehidupan manusia dilengkapi tiga kebutuhan dasar yang tidak terpisahkan, yaitu kebutuhan material, spiritual, dan intelektual. Ketiga kebutuhan tersebut mutlak terpenuhi pada kadar yang telah ditentukan. Memenuhi kebutuhan fisik dengan menelantarkan keperluan spiritual akan melahirkan sosok yang kuat namun liar. Bak kuda liar yang akan menerjang kiri kanan tanpa aturan. Sebaliknya, memenuhi kebutuhan spiritual dengan menelantarkan hajat material, juga melahirkan sosok yang "saleh" namun lemah. Kekuatan intelektual semata juga melahirkan kelicikan yang hanya membahayakan diri dan manusia di sekitarnya. Untuk itulah, Rasulullah dalam banyak hadits menganjurkan agar manusia adil dalam menyikapi dirinya sendiri. Ketika seorang sahabat beribadah secara berlebihan, beliau mengingatkan bahwa sesungguhnya mata, telinga, hidung, perut dan bawah perut, semuanya punya hak-hak untuk dipenuhi. Ketika tiga sahabat nabi bertekad untuk membagi tugas "rahbanis", yaitu satu tidak ingin tidur untuk shalat sepanjang malam, satu lagi tidak ingin makan untuk puasa sunnah secara berterusan, dan satu lagi tidak ingin nikah karena tak ingin terganggu dalam kegiatan ibadahnya kepada Allah, Rasulullah marah dan menasehati mereka untuk tidak bersikap demikian. Malah beliau menegaskan: "Barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku (bersikap adil/imbang), maka bukanlah dari kalangan umatku". Adil dalam berinteraksi dengan anggota keluarga Salah satu dilemma besar yang dihadapi oleh dunia modern saat ini adalah kezaliman terhadap kehidupan keluarga. Ironisnya, terkadang kezaliman ini dibangun justeru di atas persepsi

"membangun" keluarga bahagian/sejahtera. Sebagai misal, seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga sore. Berangkat di pagi hari di saat anak-anak masih tidur pulas, dan pulang sore di kala anak-anak telah bergegas utuk menuju tempat tidur. Komunikasi jarang terjadi, apalagi dalam konteks edukasi, atau lebih specifik lagi mengajarkan anak-anaknya akhlak yang baik. Jarangnya terjadi komunikasi antara ayah dan anak ini menjadi masalah dalam masalah, karena di sinilah seorang anak walau seluruh kebutuhan materinya terpenuhi, namun merasa ditinggalkan. Lebih celaka lagi, jika kedua suami-isteri memiliki kesibukan yang sama. Generasi Amerika dikenal sebagai "the angry and lonely generation" tidak lain karena jarangnya komunikasi antara anak-anak dan orang tua. Sepintas kerja keras seorang ayah di atas adalah untuk kebaikan keluarga itu sendiri, namun tanpa disadari sesungguhnya telah terjadi ketidak adilan dalam berinteraksi dengan anggota keluarga. Hal ini juga bisa menyentuh hubungan suami-isteri, yang terkadang masing-masing punya "schedule" dalam kesehariannya. Sehingga tanpa disadari, kemakmuran materi yang dihasilkan diselimuti oleh kegersangan "relasi" di antara anggota keluarga itu sendiri. Untuk itulah, Rasulullah secara khusus menegaskan: "Sungguh bagi keluargamu memiliki hak atas dirimu" Dalam hal pendidikan, terkadang semangat untuk melihat anak-anak kita sukses dalam dunianya, menjadikan sebagian orang tua lupa akan usaha-usaha kesuksesannya di dunia mendatang (akhirat). Menyikapi pendidikan anak yang seperti ini juga merupakan bentuk "kezaiman" yang tidak disadari. Adil terhadap sesama Muslim Dalam al Qur'an disebutkan bahwa jika ada dua kelompok Muslim bertkai, maka diupayakan perbaikan/rekonsiliasi di antara keduanya. Jika dalam prosesnya, salah satu dari keduanya berbuat zalim (baghy), maka kelompok tersebut harus diperangi dengan tujuan agar kembali ke jalan Allah (kebenaran). Jika telah sadar, dan ingin berbuat secara adil, maka sekali lagi didamaikan di antara keduanya dengan "ukuran keadilan" yang sangat dan esktra hati-hati (wa aqshituu). Al Qur'an menyinggung sejak awal existensi masyarakat Muslim sekalipun bahwa suatu hari pada suatu tempat akan terjadi "benturan-benturan" di antara kaum Muslimin (iqtataluu). Kata iqtataluu menggambarkan bahwa benturan ini memang wujudnya "ramai", berkali-kali, sering kejadiannya. Untuk itu, diperlukan pihak ketiga dari kalangan umat ini sendiri (bukan orang luar) untuk mengupayakan rekonsiliasi di antara kedua kelompok yang bertikai. Kenapa penegasannya bahwa rekonsiliator harus dari kalangan umat ini sendiri? Karena mustahil kita mengharapkan keadilan dari siapa yang tidak mengenal apa dan bagaimana keinginan orangorang Islam itu dari kalangan luar. Selain itu, mereka dalam melakukan upaya-upaya rekonsiliasi tentu punya agenda dan kepentingannya sendiri. Adil terhadap sesama manusia Sebagaimana disebutkan terdahulu, keadilan Islam tidak mengenal pembatas, kecuali pembatas kebenaran dan kebathilan. Ukuran keadilan ditegakkan di atas asas kebenaran. Kalau ternyata

dalam sebuah kasus, kebenaran adalah milik seorang non Muslim, maka Islam wajib memberikan kepadanya hak tersebut. Kisah Khalifah Ali, yang pernah menemukan baju besinya di rumah seorang yahudi. Maka Ali pun mengadukan yahudi itu kepada pengadilan. Sayangnya, Ali sendiri tidak bisa membuktikan bahwa baju besi itu adalah miliknya. Maka hakim memutuskan bahwa yang salah adalah Bapak Presiden (khalifah Islam), dan yang berhak atas baju itu adalah sang yahudi. Walau ternyata Ali benar, namun kebenaran persaksian perlu dibuktikan. Kisah ini menjadikan sang yahudi memeluk Islam, melihat kemurnian penegakan keadilan dalam agama ini. Berbagai perjanjian yang dibuat rasulullah SAW dengan non Muslim di Madinah menunjukkan bahwa Islam begitu luas meperlakukan non Muslim secara adil. Salah satunya sebagai misal, adalah delegasi Kristen Nejran yang datang dari kampung Nejran untuk melaukan dialog dengan Rasulullah dalam berbagai masalah teologi, termasuk tentang Allah dan Isa AS. Di ujung dialog mereka tetap dalam kekufurannya dan menolak kerasulan Muhammad SAW, namun Rasulullah justeru membuat perjanjian yang dikenal "'Ahd Nagran". Perjanjian tersebut, salah satunya, menegaskan jaminan keadilan kepada mereka, jika mereka menuntut keadilan itu kepada orang-orang Muslim. Kedailan dirasakan oleh seluruh non Muslim di seantero dunia di bawah kekuasaan Muslim di masa lalu. Di Spanyol kaum yahudi dan Kristen hidup secara tenteram bersama kaum Muslimin, menikmati segala fasilitas yang ada secara bersama-sama tanpa ada diskriminasi sekalipun. Ketika umat Islam terusir dari kawasan tersebut oleh penguasa Kristen, kaum yahudi yang kemudian dieksekusi secara sadis oleh penguasa Kristen Spanyol, lebih memilih melarikan diri ke negara-negara Islam di Afrika Utara dan Tukia, karena merasa mendapat perlindungan dari penguasa Muslim. Demikian pula kaum Nasrani di bawah pemerintahan Islam di Baghdad ketika itu, hidup secara damai, tenteram dan sejahtera bersama-sama dengan penduduk Islam. Bahkan ketika dominasi Kristen barat memasuki wilayah itu, banyak di antara mereka yang justeru lebih nyaman berada di bawah pemerintahan Islam ketimbang Kristen barat yang memiliki sistim keagamaan tersendiri. Adil dalam berinteraksi dengan makhluk Allah yang lain perilaku zalim yang dilakukan manusia seringkali juga dialami oleh makhluk-makhluk Allah yang lain, termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun lingkungan hidup. Kebuasan dan kerakusan dalam mengumpulkan keuntungan materi, dan atas nama kemakmuran dan kesejahteraan, justeru menimbulkan berbagai "ketidak adilan" dalam kehidupan. Banyak jenis hewan yang mengalami keterputusan jenis, hutan dan pohon diteban secara liar, polusi udara semakin menjadi-jadi, yang pada akhirnya manusia jugalah yang menanggung akibatnya. Untuk itulah, dalam Islam diajarkan berbagai metode untuk menjaga keseimbangan/keadilan di alam semesta tersebut. Pada saat berihram misalnya diajarkan agar jangan membunuh binatang atau mencabut tumbuh-tumbuhan, yang sesungguhnya merupakan pelajaran untuk menjaganya dalam kehidupan keseharian. Kisah seekor anjing yang diselamatkan oleh seseorang yang haus, kisah sarang semut yang dibakar oleh para sahabat, semua menunjukkan bahwa jauh sebelum organisasi hak-hak hewan tumbuh menjamur di bara, Islam telah memperlihatkan compassion dan cintanya yang tinggi kepada makhluk Allah yang lain. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah:

"Akankah kita mendapat pahala karena menyelamatkan semut-semut itu? Beliau menjawab: "Pada semua makhluk hidup ada pahala yang dapat diraih". Demikian uraian ringan tentang keadilan Islam, yang tidak saja menjadi keharusan bagi umatnya untuk ditegakkan tapi telah menjadi "fitrah Islam" itu sendiri. Artinya, berislam dan mengaku Muslim dan pada saat yang sama melakukan kezaliman-kezaliman, adalah sama kalau berislam secara tidak alami. Mungkin Islam itu adalah islam "kekuasaan" dan prestise semata, serta dengan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Maka tidak mengherankan, banyak penguasa mengaku beragama Islam bahkan menjalankan syariat Islam, tapi dalam menjalankan kekuasaannya jauh dari nilai-nilai keadilan. Di negara-negara yang justeru berpenduduk mayoritas Muslim, keadilan sedemikian direndahkan. Jika para elit melakukan penyelewengan maka seribu satu cara dilakukan sehingga terlepas dari jeratan hukum, sementara rakyat jelata yang terkadang karena keterpaksaan mencuri, maka tidak tanggung-tanggung ditegakkan keadilan. Dan ternyata, itu pula penyebab kehancuran bangsa tersebut. Kata Rasulullah: "Sesungguhnya kaum sebelum kamu hancur, karena jika yang melakukan kesalahan adalah yang lemah maka hukum ditegakkan, namun jika yang melakukannya adalah para elit dan yang berkuasa, maka mereka dibiarkan saja" Maka Rasulullah SAW ingin membuktikan dengan ucapannya: "Kalaulah seandainya Fathimah, putri Muhammad, mencuri maka akan kupotong tangannya". Inilah keadilan Islam, keadilan yang harus ditegakkan walau itu menyentuh langsung interest pribadi, keluarga, kerabat dan teman, serta mereka yang dianggap memiliki kelebihankelebihan status sosial. Keadilan Islam, sekali lagi, hanya mengenal satu "ukuran", yaitu ukuran kebenaran dan kesalahan. Walaupun ada rasa benci terhadap suatu kaum, itu tidak boleh dijadikan alasan bagi umat Islam untuk semenamena/tidak adil terhadap kaum tersebut. Misal, seorang hakim memutuskan sebuah perkara untuk kemenangan seorang muslim terhadap seorang non-muslim, padahal bukti-bukti menunjukkan sebaliknya, maka ini adalah bentuk pelanggaran yang besar, karena peringatannya cukup keras, "janganlah sekali-kali". Perlu diketahui bahwa, kaum muslimin diwajibkan untuk membenci karena Allah, dan mencintai karena Allah.vv TIGA GOLONGAN HAKIM Hadits

َّ َ َ َ َ َّ َ َ ْ َ َ ُ َّ ََ ْ َ ْ َ ََ َ ُ ْ َ ْ َ ‫عن بريدة فال فال رسول صلى الله عليه وسلم قال : “ القضاة ثلثة اثَنان في الّنار وواحد في الجّنة. رجل عرف الحق‬ ِ ِ ِ ِ ِ ‫فقضى به فهو في الجنة , ورجل عرف الحق فلم يقض به وجارفي الحكم فهو في النار, ورجل لم يعرف الحق‬ ‫)فقضى للناس على جهل فهو في النار )رواه الربعة وصححه الحاكم‬ Artinya: Dari Buraidah r.a. menceritakan Rasulullah SAW bersabda: ada tiga golongan hakim dua dari padanya akan masuk neraka dan yang satu akan masuk surga, ialah hakim yang mengetahui mana yang benar dan lalu ia memutuskan hukuman dengannya, maka ia akan masuk surga, hakim yang mengetahui mana yang bernar,tetapi ia tidak menjatuhkan hukuman itu atas dasar kebenaran itu, maka ia akan masuk neraka, dan hakim yang tidak mengetahui mana yang benar, lalu ia menjatuhkan hukuman atas dasar tidak tahun ya itu, maka ia akan masuk neraka pula. (H.R. Arba’ah) Dala hadis di atas kita dapat mengambil pengetahuan bahwa hakim (qadli) dibagi menjadi tiga golongan: 1. Seoarang hakim yang mengerti kebenaran yang diajarkan oleh syari’at

islam, dan memutuskan sesuai dengan pengetahuan dan kebenaran tersebut, maka seorang hakim tersebut termasuk orang yang akan selamat dan masuk surga. 2. Seorang hakim yang telah memnuhi criteria sebagai hakim, tetapi tidak mengaplikasikannya dalam sebuah keputusan yang ia hadapi, maka golongan ini termasuk hakim yang tidak edial dan masuk neraka. 3. Seorang hakim yang tidak memnuhi criteria sebagai hakim dan tidak mengetahui kebenaran islam, dan dia memutuskan suatu perkara berdasarkan kebodohan tersebut. ADA TIGA GOLONGAN HAKIM 1. Dari Buraidah r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Hakim itu ada tiga, dua orang di Neraka dan seorang lagi di Surga. Seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya, maka ia di Surga; Seorang yang tahu kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, maka ia di Neraka; seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di Neraka“. Riwayat Imam Empat Hadits Shahih menurut Hakim. 2. Dari Amar Ibnu ‘Ash r.a bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Apabila seorang Hakim menghukum dan dengan kesungguhannya ia memperoleh kebenaran, maka baginya dua pahala; apabila ia menghukum dan dengan kesungguhannya ia salah, maka baginya satu pahala “. Muttafaq Alaih. 3. Abu Bakrah r.a : Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “ Janganlah seseorang menghukum antara dua orang dalam keadaan marah”. Muttafak Alaih.

Semua perbuatan manusia akan ada pertanggungjawabannya kelak di hari Kiamat. Sekecil apa pun. Termasuk apa yang kita lakukan sehubungan dengan profesi kita masing-masing. Allah berfirman: Pada hari itu manusia kembali (yakni bangkit dengan cepat) dari kuburnya (menuju ke Padang Mahsyar) dalam keadaan yang bermacam-macam (sesuai dengan tingkat keimanan, kekufuran, serta amal-amal mereka) supaya diperlihatkan amal-amal mereka. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah sekalipun, niscayaia akan melihatnya (pula). (Q.S. AlZalzalah [99]: 6-8). Dalam ayat lain, Allah berfirman: Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada bagimu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya (tentang bagaimana pemiliknya menggunakannya). (Q.S. al-Isrâ' [17]: 36).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda mengenai pertanggungjawaban manusia atas perbuatannya kelak, seperti dalam hadis berikut: Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal. Tentang umurnya: untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya: untuk apa ia gunakan; tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; dan tentang ilmunya: untuk apa ia gunakan." Dan masih ada beberapa ayat dan hadis lain mengenai pertanggungjawaban amal perbuatan manusia kelak di hari Pembalasan. Khusus tentang hakim, memang Rasulullah saw. pernah bersabda demikian. "Ada tiga macam hakim. Satu di surga, dan dua di neraka: 1. Hakim yang akan masuk surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengan kebenaran itu. 2. Hakim yang mengetahui kebenaran tetapi berlaku tidak adil terhadap kebenaran itu. Hakim seperti itu akan masuk neraka. 3. Hakim yang memutuskan perkara orang atas dasar kebodohan (tanpa dasar pengetahuan yang cukup). Hakim seperti ini juga akan masuk neraka." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud. Sungguh sulit dan berat tanggung jawab seorang hakim, karena keputusannya ikut menentukan nasib seseorang. Dapat kita bayangkan nasib hakim yang menerima suap dari pihak yang bersalah lalu memutuskan perkara yang memenangkan orang yang bersalah. Memenangkan orang yang bersalah saja sudah dapat menjadikannya masuk neraka, apalagi kalau ditambah dengan menerima suap. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa tanggung jawab selain hakim tidak berat. Seorang saksi yang bersaksi palsu, misalnya, atau berbohong dalam kesaksiannya sehingga mengakibatkan orang yang benar dihukum salah dan sebaliknya, juga diancam masuk neraka. Rasulullah

saw. bersabda, "Seorang saksi palsu tidak akan bergeser kedua kakinya sampai ditetapkan baginya neraka." Hadis riwayat Ibnu Majah. Tanggung Jawab Hakim

Menjadi hakim tidaklah mudah dalam Islam. Dia haruslah seorang yang berilmu, jujur, berani dan istiqomah dalam kebenaran, karena dia harus memutuskan perkara dengan ilmu dan kebenaran yang hakiki. Begitu beratnya menjadi hakim, sampai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengingatkan di dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa diangkat sebagai hakim, ia telah disembelih dengan pisau." Riwayat Ahmad dan Imam Empat (Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i). Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Hadits di atas mengingatkan kepada siapapun yang menjadi hakim, bahwa tugasnya itu merupakan amamat yang sangat berat. Apabila ia mampu memikulnya dengan benar, maka ia selamat, tetapi bila ia tidak mampu, bahkan dia permainkan hukum itu dengan semena-mena dan tidak memutuskan dengan benar maka ia telah menjerumuskannya kedalam jurang api neraka. Oleh karena itu, seorang hakim dituntut dengan sungguh-sungguh untuk menghakimi dengan hukum yang benar, sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Apabila dia telah berusaha dengan sungguh-sungguh, maka dia akan memperoleh pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Dari Amar Ibnu Al-'Ash Radliyallaahu 'anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila seorang hakim menghukum dan dengan kesungguhannya ia memperoleh kebenaran, maka baginya dua pahala; apabila ia menghukum dan dengan kesungguhannya ia salah, maka baginya satu pahala." (Muttafaq Alaihi). Begitupula seorang hakim harus bijak dalam mengambil keputusan, dia harus mendengarkan setiap keterangan yang disampaikan oleh dua orang yang mengadukan permasalahannya kepadanya. Sehingga ia dapat memutuskan perkara dengan adil, dan juga ia tidak memutuskan dengan hawa nafsu, bahkan dia dilarang memberi putusan apabila dalam keadaan marah. Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada dua orang meminta keputusan hukum kepadamu, maka janganlah engkau memutuskan untuk orang yang pertama sebelum engkau mendengar keterangan orang kedua agar engkau mengetahui bagaimana harus memutuskan hukum." Ali berkata: Setelah itu aku selalu menjadi hakim yang baik. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadits hasan menurut Tirmidzi, dikuatkan oleh Ibnu al-Madiny, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

(mendengar dengan sopan dan beradab). (menjawab dengan arif dan bijaksana). (mempertimbangkan tanpa terpengaruh apapun). (memutus tidak berat sebelah). bersikap jujur, adil, penuh rasa tanggung jawab; berkepribadian, sabar, bijaksana, berilmu; HADIS TENTANG IJTIHAD HAKIM َّ َ ُ َُْ َّ َ َ ََْ ُ ُ ْ ُ َ َ َ َُ َ ُ َ ُ َ َ ْ ْ َ ْ َ َّ ُ َ َ َ ْ َ ُ َ َ َ َ َ ‫ََوعن عمرو َ بْن العاص رض َي الله عْنه أنه سمع رسو َل الله صلى الله عليه وسلم يقول : إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم‬ ِ ِْ َ َ ُ َ ْ َ ِ َِ َ ِ ِ َ َ ٌ َ َّ ُ ٌ ْ ُ َ َ َ ِْ ُ َِ َ َ َ َ َ َ ّ َ َ َ .‫أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتحد ثم أخطأ فله أجر . متفق عليه‬ َ ِْ ِ ِ Dan dari Amr bin Ash bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda: “apabila seorang hakim bersungguh-sungguh dalam memutuskan suatu perkara dan keputusan itu sesuai dengan kebenaran berarti telah mendapatkan dua pahala dan jika keliru maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). HADITS TENTANG TATA CARA MENGADILI PERKARA

1. hadis ِ ّ َ ِ ِ ْ َ َ َ ِ َ ُ َ َ ْ َ ِ َ َ َ َ ِ َ َّ َ ِ ْ َ َ ُ ‫و عن علي رضي ال عنه قل : قل رسول ال صلى ال عليه وسلم : إذا تقاضى إلي قك رجلن فل تق قض للول‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ ُ ْ َ ّ َ ِ َ ّ ِ َ ْ َ َ ُ ‫حتى تسمع كلم الخر , فسوف تدري كيف تقضي . قال علي : فما زلت قاضقيا بعقد . ) رواه أحمقد , و أبققو‬ َُ َ ُ َ ْ َ ُ َ َ ُ ْ َ ً ِ َ ُ ْ ِ َ َ ّ َِ َ َ ِ ْ َ َ ْ َ ِ ْ َ َ ْ َ َ ِ َ َ َ َ َ ْ َ َّ . ‫داود , و الترمذي و حسنه , و قواه ابن المديني , وصححه ابن حبان‬ َ ِّ ُ ْ ُ َ ّ َ َ ّ ِ ِ َ َْ ُ ْ ُ ّ ّ ّ ُ َّ َ َ ّ ِ ِ ْ ّ َ َ ُ َ “ Dan dari Ali Radhiyallahu Anhu berkata,” Rasulullah SAW bersabda,” Jika kamu sedang mengadili dua orang yang sedang bersengketa maka janganlah kamu beri keputusan kepada pihak pertama hingga kamu mendengar laporan dari pihak kedua, dengan demikian kamu akan mengetahui bagaimana cara mengambil keputusan. “Ali Radhiyallahu Anhu berkata,” Setelah itu aku tetap menjabat sebagai hakim”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi dan ia menghasankan hadits ini. Hadits ini juga dikuatkan oleh Ibnu Madini serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban). Hukum Yang Dapat Diambil 1. 2. 3. Seseorang yang masih muda tidak menjadi halangan untuk menjadi seorang hakim. Jika ada dua orang yang mengajukan perkara kepadamu maka dengarkan perkataan dari masing-masing pihak yang bersengketa. Jika 2. hadis ّ َ ََ ّ َِ َ ْ ُ ِ َ ْ َ ْ ُ ّ ِ َ ّ َ َ ِ ََ ُ ‫و عن أم سلمة رضي ال عنها قالت : قال رسول ال ص قلى ال ق عليْقه وس قلم : إنك قم تختص قمون إل قي , ولع قل‬ ّ َ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ َ ِ َ َ َ ََ ّ ُ ْ َ َ ِ ْ ِ َ ّ َ ْ ِ ُ َ ُ ْ َ َ ْ َ َ ُ ْ ِ ٌ َ ْ َ ّ ِ ٍ ْ َ َ َ ُ َ َ ِ ْ َ َ ‫َ ْ َ ُ ْ َ ْ َ ُ ْ َ َ ْ َ َ ِ ُ ّ ِ ِ ِ ْ َ ْض‬ ‫بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بع ٍ , فأقضي له على نحو مما أسمع , منه فمن قطعت لقه مقن حقق أخيقه‬ ( ‫شيئا, فإنما أقطع له قطعة من النار. )متفق عليه‬ ِ ّ َ ِ ً َ ْ ِ ُ َ ُ َ ْ َ َ ّ َِ ً ْ َ sudah mengetahui penjelasan dari masing-masing pihak maka engkau akan dapat memutuskan hukum dengan baik.

“ Dan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anhu berkata,” Rasulullah SAW bersabda,” Kalian mengangkat perselisihan kalian kepadaku dan terkadang sebagian kalian lebih pandai bicara dari pada lawannya sehingga aku memutuskan perkara tersebut untuknya sesuai dengan laporan yang aku dengar darinya. Barangsiapa yang aku berikan kepadanya sesuatu yang sebenarnya adalah hak milik saudaranya, berarti aku telah memberikan potongan api neraka kepada dirinya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hukum Yang Dapat Diambil 1. Jika hakim memberikan keputusan untuknya sesuai dengan apa yang dia dengar dan ternyata jika keputusan tersebut mengambil dari hak saudaranya maka janganlah kamu mengambil sedikitpun hak tersebut. 2. Keputusan hakim yang salah akan membawa potongan api neraka bagi yang mengambil hak saudaranya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->