P. 1
Guru Sebagai Profesi

Guru Sebagai Profesi

|Views: 80|Likes:
Published by InZhu Zain

More info:

Published by: InZhu Zain on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

GURU SEBAGAI PROFESI A.

Pendahuluan Pada bagian ini akan dibahas mengenai harkat dan martabat guru khususnya guru diindonesia, seorang guru harus bias memahami bagaimana harkat dan martabat seorang guru, dan seorang guru juga harus mempunyai kompetensi untuk menunjukkan keprofesionalnya, guru juga harus bisa memahami organisasi dan kode etik guru di Indonesia dan juga bisa memahami, menghayati dan mengenalkan sikap profesionalnya. B. Materi 1. Hakekat dan martabat guru Guru yang ideal dan profesional merupakan dambaan setiap insan pendidikan, sebab dengan guru yang profesional diharapkan pendidikan menjadi lebih berkualitas. Apabila penghargaan terhadap guru tersebut tidak memadai, Maka harapan atau idealisme di atas, bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Hal ini berkaitan erat dengan penghargaan masyarakat atau negara terhadap profesi guru. Negara-negara maju memberikan penghargaan yang lebih kepada guru dibanding dengan Indonesia 2. Kompetensi guru Inti dari pendidikan adalah interaksi antara pendidik (guru) dengan peserta didik (murid) dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan adalah komponen-komponen pendidikan yang esensial (utama). Ketiga komponen pendidikan ini membentuk suatu segitiga, yaitu jika hilang salah satu komponennya, maka akan hilang hakekat dari pendidikan itu. Sebagai pendidik, tugas guru pada dasarnya adalah mendidik, yaitu membantu anak didik mengembangkan pribadinya, memperluas pengetahuannya, dan melatih keterampilannya dalam berbagai bidang. Untuk melaksanakan tugasnya ini dengan baik (efektif), ada sejumlah kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Kemampuan yang harus dimiliki guru itulah yang dengan disebut kompetensi guru. Bermacam-macam rumusan tentang kompetensi guru telah dikemukakan oleh para ahli. Raths (1964), mengemukakan 12 kompetensi guru yang dikembangkan oleh guru, yaitu: 1. Explaining, informing, showing how 2. Instianting, directing, and administering 3. Unifying the group 4. Giving security 5. Claclarifyng attitude, beliefs 6. Diagnosing learning problem 7. Making kurikulum meterials 8. Evaluating, recording, reporting 9. Enriching community activies 10. Organizing and arranging classrum 11. Participating in school activies 12. Partisipatig in professional and civic life Rumusan lain tentang kompetensi guru juga dikemukakan oleh para ahli. Sabertian (1994), mengemukakan enam kompetensi guru yang dikembangkan oleh California Council On Teacher

Education, keenam kompetensi tersebut adalah: 1. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar siswa. 2. Membimbing siswa agar mereka mengerti diri mereka sendiri. 3. Menolong siswa mengerti dan mewujudkan nilai-nilai budhaya bangsa sendiri. 4. Berpartisipasi secara efektif dalam segala kegiatan sekolah. 5. Membantu memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat. 6. Bekerja atas dasar tingkat profesional. Selain dengan tiga kelompok kompetensi yang dikemukakan oleh Depdikbud, Syah (1999), juga mengemukakan tiga macam kelompok kompetensi yang harus dimiliki guru agar sukses dalam tugasnya. Ketiga macam kelompok kompetensi ini adalah: a. Kompetensi Kognitif (kecakapan ranah cipta) Kompetensi ranah cipta ini, menurut Syah (1999), merupakan kompetensi utama yang wajib harus dimiliki oleh setiap guru yang profesional. Keterampilan ranah cipta ini meliputi dua katagori keterampilan, yaitu : 1. Kategori pengetahuan kependidikan umum, yang meliputi ilmu pandidikan, ilmu psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan bimbingan konseling dan pengetahuan kependidikan khusus, meliputi metode mengajar, metode khusus pengajaran materi tertentu dan teknik evaluasi. 2. Kategori pengetahuan bidang studi, yaitu menguasai materi-materi dari mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswanya. Penguasaan guru akan materi-materi yang akan diajarkan mutlak diperlukan. Dan seyogyanya penguasaan materi tersebut dikaitkan langsung dengan pengetahuan khusus terutama tentang metode khusus dan praktek keguruan. b. Kompetensi Afektif (kecakapan ranah rasa) Kompetensi ranah afektif ini, menurut syah (1999), meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi seperti cinta, benci, senang, sedih, dan sikap-sikap tertantu kepada diri sendiri dan orang lain. Sikap dan perasaan diri ini meliputi : 1. Self-Concept dan self-esteem (konsep diri dan harga diri). Guru yang efektif adalah guru yang memiliki Self-Concept dan self-esteem tinggi. 2. Self-efficacy dan contextual efficacy (efikasi diri dan efikasi kontekstual guru) efikasi guru adalah keyakinan guru terhadap keefektifan kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya. Sedangkan efikasi kontekstual atau efikasi mengajar adalah keyakinan guru terhadap kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya. Sedangkan efikasi kontekstual atau efikasi mengajar adalah keyakinan guru terhadap kemampuannya sebagai pengajar profesional dalam menyajikan materi didepan kelas dan juga dalam mendayagunakan keterbatasan ruang dan waktu serta peralatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. 3. Attitude of self-accepiance and others acceplance (sikap terhadap penerimaan diri sendiri dan orang lain). Guru yang efektif adalah guru yang mempunyai sikap penerimaan atau sikap positif terhadap diri sendiri. Dengan sikap penerimaan dan sikap positif terhadap diri sendiri, maka akan mudah bagi guru untuk bersikap positif, dan bisa memahami dan bisa menerima orang lain, khususnya anak didiknya. c. Kompetensi Psikomotor (kecakapan ranah karsa) Menurut Syah (1999), kompetensi psikomotor guru meliputi segala keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang berhubungan dengan pelaksanaan tugasnya sebagai guru. Secara garis besar, kompetensi ranah karsa ini meliputi :

1. Kecakapan fisik umum, seperti : duduk, berdiri, berjalan, berjabat tangan dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan aktifitas mengajar. 2. Kecakapan fisik khusus, seperti : keterampilan ekspresi verbal (berbicara) dan non verbal (contohnya : menulis, memperagakan proses terjadinya sesuatu, dan memperagakan prosedur melakukan praktis tertentu sesuai dengan perjalanan verbal). 3. Organisasi Profesional Guru a. Fungsi Organisasi Profesional Keguruan Sebagai telah disebutkan bahwa salah satu kriteria jabatan profesional adalah jabatan profesi harus mempunyai wadah untuk mnyatukan gerak langkah untuk mengendalikan keseluruhan profesi, yakni organisasi profesi. Bagi guru-guru di negara kita, wadah ini telah ada yakni Persatuan Guru Republik Indonesia, lebih dikenal dengan singkatan PGRI. Didirikan di Surakarta tanggal 25 November 1945. Salah satu tujuan dari PGRI adalah mempertinggi kesadaran, sikap, mutu, dan kegiatan profesi guru serta meningkatkan kesejahteraan mereka (Basuni,1986) selain itu basuni juga menguraikan misi utama PGRI yaitu: 1. Misi politis,/ideologis 2. Misi persatuan/organisatoris 3. Misi profesi 4. Misi kesejahteraan b. Jenis-jenis organisasi keguruan Disamping PGRI sebagai satu-satunya organisasi guru-guru sekolah yang diakui pemerintah saat ini, ada organisasi sekolah yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yang didirikan atas anjuran pejabat-pejabat pada Departemen Pendidikan Nasional. Selain dari pada organisasi tersebut juga ada organisasi resmi di bidang pendidikan, yakni Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang saat ini mempunyai devisi-devisi, antara lain Asosiasi Bimbingan Dan Konseling Indonesia (ABKIN), Himpunan Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN), Himpunan Sarjana Bahasa Indonesia (HSPBI) dan lain-lain. 4. Kode Etik Guru a. Pengertian Kode Etik Setiap profesi mempunyai kode etik, guru sebagai jabatan profesi juga mempunyai kode etik. Sama halnya dengan kata profesi, penafsiran tentang kode etik juga belum memiliki pengertian yang sama. Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya dimasyarakat. Norma-norma tersebut memberikan petunjuk bagi anggota profesi tantang bagaimana mereka melaksanakan profesinya, dan larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka tidak saja dalam melaksanakan tugas profesi mereka, melainkan juga menyangkut tingkah laku mereka pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat b. Tujuan Kode Etik Menurut Hermawan (1989) tujuan adanya kode etik adalah sebagai berikut: 1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi. 2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya.

3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi. 4. Untuk meningkatkan mutu profesi. 5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. c. Sanksi Pelanggaran Kode Etik Sanksi yang didapat oleh sesorag yang melanggar kode adalah sanksi moral yang berupa celaan dari rekan-rekannya, dan sanksi yang dianggap terberat adalah si pelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi Kode Etik Guru Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia menyadari bahwa Pendidikan adalah merupakan suatu bidang Pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa dan Tanah Air serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan Undang –Undang Dasar 1945 . Maka Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai Guru dengan mempedomani dasar –dasar sebagai berikut : 1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangun yang berjiwa Pancasila 2. Guru memiliki kejujuran Profesional dalam menerapkan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing –masing . 3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik , tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan . 4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik –baiknya bagi kepentingan anak didik 5. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan . 6. Guru secara sendiri – sendiri dan atau bersama – sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya . 7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan maupun didalam hubungan keseluruhan . 8. Guru bersama –sama memelihara membina dan meningkatkan mutu Organisasi Guru Profesional sebagai sarana pengapdiannya. 9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang Pendidikan. 5. Sasaran Sikap Professional Guru Guru merupakan pendidik yang profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat apabila ia layak menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat sikap dan perbuatan guru itu seharihari, apakah patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya dan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bahkan bagaimana cara guru berpakaian, bergaul dengan siswa, teman-temannya, serta anggota masyarakat, serta menjadi perhatian masyarakat. Walaupun segala peilaku guru selalu diperhatikan oleh masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian ini adalah khusus prilaku guru yang berhubungan daengan profesinya. Hal ini berhubungan denga bagaimana polah tingkah laku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Yakni sikap sikap profesional keguruan

terhadap : 1. Sikap terhadap peratuan perundang-undangan Pada butir 9 kode etik guru Indonesia disebutkan bahwa: Guru melakanakan segala kebijakan pemerintuah untuk bidang pendidikan.” Kebijakan pendidikan di Negara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.denga mengeluarkan ketentuan – ketentuan dan peraturan perauran yang merupakan kebijakan yang akan dilaksanakan oleh apratnya. 2. Sikap terhadap organisasi profesi Guru bersama – sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi memerlukan pembinaan agar lebih berdaya guna dan berhasil sebagai wadah untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Maka dari itu setiap orang harus memberikan waktu sebagiannya untuk kepentingan pembinaan profesinya dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut, sehingga pemanfaatannya mnjadi efektif dan efisien 3. Sikap terhadap teman sejawat Dalam ayat 7 kode etik gutu disebutkan bahwa guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social. Itu berarti guru hendaknya kerja dan hendanya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan didalam maupun diluar sekolah. 4. Sikap terhadap anak didik Telah dijelaskan bahwa guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Tujuan pendidikan nasional dengan jelas dapat dibaca dalam UU No. 2/2989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila 5. Sikap terhadap tempat kerja Suasana yang harmonis disekolah tidak akan terjadi bila personal yang terlibat didalamnya tidak menjalin hubungan yang baik diantara sesamanya. Penciptaan suasana kerja menantang harus dilengkapi denagn terjalinnya hubungan yang baik denagn orang tua dan masyarakat sekitarnya. Ini dimaksudnya untuk membina peras serta rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan 6. Sikap terhadap pemimpin Dalam kerja sama yang dituntut pemimpin tersebut diberikan berupaya tuntutan akan kepatuhan dalam melaksanakan arahan dan petunjuk yang diberikan mereka. Kerja sama jugadapat diberikan dalam bentuk usulan dan kritis yang membangun demi pencapaian tujuan yang telah digariskan bahwa sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam mensukseskan program yang sudah disepakati, baik di sekolah maupun diluar sekolah. 7. Sikap terhadap pekerjaan Kode etik 6 dituntut guru baik secara pribadi maupun secara kelompok untuk meningkatkan mutu pribadi maupun kelompok untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Profesi guru berhubungan denagn anak didik yang mempunyai persamaan dan perbedaan yang melayaninya harus memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila berhubungan denagn peserta didik yang masih kecil.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->