P. 1
irigasi

irigasi

|Views: 246|Likes:
Published by Yank Terlupakand

More info:

Published by: Yank Terlupakand on Jul 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2014

pdf

text

original

A.

Tugas wajib bagi setiap mahasiswa

3. Cara-cara pemberian air irigasi permukaan antara lain : a. Wild flooding : air digenangkan pada suatu daerah yang luas pada waktu banjir cukup tinggi sehingga daerah akan cukup sempurna dalam pembasahannya. Cara ini hanya cocok apabila cadangan dan ketersediaan air cukup banyak. b. Free flooding: daerah yang akan diairi dibagi dalam beberapa bagian/petak. Air dialirkan dari bagian yang tinggi ke bagian yang rendah. c. Check flooding : air dari tempat pengambilan (sumber air) dimasukkan ke dalam selokan, untuk kemudian dialirkan pada petak-petak yang kecil. Keuntungan dari sistem ini adalah bahwa air tidak dialirkan pada daerah yang sudah diairi. d. Border strip method : daerah pengairan dibagi-bagi dalam luas yang kecil dengan galengan berukuran l0 x 100 m2 sampai 20 x 300 m². Air dialirkan ke dalam tiap petak melalui pintu-pintu. e. Zig-zig method: daerah pengairan dibagi dalam sejumlah petak berbentuk jajaran atau persegi panjang. Tiap petak dibagi lagi dengan bantuan galengan dan air akan mengalir melingkar sebelum mencapai lubang pengeluaran. Cara ini menjadi dasar dari pengenalan perkembangan teknik dan peralatan irigasi. f. Bazin method : cara ini biasa digunakan di perkebunan buah-buahan. Tiap bazin dibangun mengelilingi tiap pohon dan air dimasukkan ke dalamnya melalui selokan lapangan seperti pada chek flooding. g. Furrow method : cara ini digunakan pada perkebunan bawang dan kentang serta buahbuahan lainnya. Tumbuhan tersebut ditanam pada tanah gundukan yang paralel dan diairi melalui lembah di antara gundukan.

4. Cara pemberian air irigasi bawah permukaan (sub-surface irrigation) yaitu pada system ini air dialirkan dibawah permukaan melalui saluran-saluran yang ada di sisi-sisi petak sawah yang membuat air tanah pada petak sawah naik yang kemudian akan mencapai daerah penakaran secara kapiler sehingga kebutuhan air dapat terpenuhi.

6. Keuntungan pemakaian air system golongan yakni: a. Berkurangnya kebutuhan pengambilan puncak b. Kebutuhan pengambilan puncak bertambah secara berangsur-angsur pada awal waktu pemberian air irigasi (pada periode penyiapan lahan)

Kerugian pemakaian air sistem golongan yaitu: a. Timbulnya komplikasi sosial b. Eksploitasi rumit c. Kehilangan akibat eksploitasi sedikit lebih tinggi d. Jangka waktu irigasi untuk tanaman pertama lebih lama, akibatnya lebih sedikit waktu yang tersedia untuk tanaman yang kedua

9. Syarat-syarat perencanaan daerah irigasi yakni tersedianya: a. Sumber Air. b. Areal. c. Penggarap d. Harus ada keinginan. e. Harus ada inisiatif

B. Tugas Kelompok Judul buku Pengarang Penerbit : Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (Edisi Revisi) : 1. Robert J. Kodoatie, Ph.D. 2. Roestam Sjarief, Ph.D. : ANDI Yogyakarta :

Nama Kelompok

BAB 1. PENDAHULUAN (Abid Al Qadri/ 092103011) BAB 2. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR (Ryan Nusafahmi/ 072104025) BAB 3. SISTEM DAN INFRASTRUKTUR KEAIRAN (Andriani B./ 082104023) BAB 4. PENGELOLAAN SUMBER DYA AIR TERPADU (Muh. Taufik A./ 092103035) BAB 5. PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR MENURUT UU SD AIR (Riswan Rahim/ 062104011) BAB 6. OTONOMI DAERAH DAN SUMBER DAYA AIR (Rudian Saputra/ 092103023) BAB 7. KEBIJAKAN SUMBER DAYA AIR NASIONAL (Andi Sarimai/ 092103007)

BAB III SISTEM DAN INFRASTRUKTUR KEAIRAN (Halaman 87 – 204)

3.1 Batas Teknis Hidrologi Tiga wilayah/daerah teknis atau hidrologis Pengelolaan Sumber Daya Air yaitu Cekungan Air Tanah (CAT), Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS). Wilayah sungai (WS) terdiri atas beberapa Daerah aliran Sungai. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah, dimana air akan mengalir melalui sungai yang bersangkutan yang terletak di dalam wilayah DAS tersebut. Dalam Suatu DAS banyak komponen, system dan fungsi/peran terkait dengan sumber daya air. Diantaranya yaitu sungai, waduk, danau, pantai, air tanah, jaringan air bersih, PLTA, pengendalian banjir dan genangan, pengendalian erosi, pengendalian sedimentasi, pengendalian kekeringan, penanggulangan longsor, aktivitas konservasi, navigasi, system irigasi serta system drainase perkotaan.

Cekungan air tanah (CAT) atau groundwater basin terdiri atas akuifer tertekan (confined auifer) dan akuifer bebas (unconfined aquifer) . Dengan kata lain Cekungan air tanah merupakan gabungan dari beberapa akuifer. 3.2 Komponen Sumber Daya Air Sumber Daya Air tidak termasuk komponen infrastruktur, namun bagian-bagian dari pengelolaan sumber daya air dapat kita kategorikan sebagai infrastruktur keairan. Komponen sumber daya air dapat dibedakan menjadi sumber daya air alami dan sumber daya air artificial. Komponen alami sumber daya air terbentuk secara alami sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masingsecara alami ada yang sudah stabil, ada yang berubah bentuk dan ada yang hilang. Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal antara lain siklus hidrologi, kondisi geologi, kondisi wilayah dan kehidupan, baik itu hewan, tumbuh-tumbuhan dan aktifitas manusia. Komponen alami sumber daya air meliputi sungai, muara/estuary, rawa, danau, daerah retensi, pantai, air tanah, mata air, air terjun dll. Komponen artificial sumber daya air merupakan bangunan air yang dibuat oleh manusia untuk suatu tujuan tertentu. Komponen yang dimaksud yaitu waduk, embung, bending, checkdam/sabo dam, system drainase, system irigasi, jaringan air bersih, talang, siphon, tanggul pengendali banjir, saluran pintu air, system pengendali banjir, system buangan limbah cair dll. 3.3 Sistem Pengendalian Banjir Banjir dan genangan air yang terjadi di suatu lokasi dapat diklasifikasikan menjadi banjir yang disebabkan secara alami dan disebabkan oleh tindakan manusia. Berikut dijelaskam menurut skala prioritasnya Prioritas 1 Penyebab banjir Perubahan tata guna alam Alasan mengapa prioritas Debit puncak naik dari 5 sampai 35 kali karena di DAS tidak ada yang menahan maka aliran air permukaan (run off) menjadi besar, sehingga berakibat debit di sungai menjadi besar dan erosi lahan yang berakibat sedimentasi di sungai Penyebab Manusia

sehingga kapasitas sungai menjadi turun 2 Sampah Sungai/drainase tersumbat sampah, jika air Manusia

melimpah akan keluar dari sungai karena daya tamping saluran berkurang.

3

Erosi dan sedimentasi

Akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi yang berakibat sedimentasi masuk ke sungai sehingga daya tamping sungai berkurang. Penutup lahan vegetative yang rapat (missal semak-semak,

Manusia dan alam

rumput) merupakan penahan laju erosi paling tinggi 4 Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase 5 Perencanaan system pengendalian banjir tidak tepat Dapat merupakan penghambat aliran, maupun daya tamping sungai. Masalah kawasan kumuh dikenal sebagai factor penting terhadap masalah banjir daerah perkotaan System pengendalian banjir memang dapat Manusia Manusia

mengurangi kerusakan akibat banjir kecil sampai sedang, tapi mungkin dapat menambah kerusakan selama banjir yang besar. Misal bangunan tanggul sungai yang tinggi. Limpasan pada tanggul waktu banjir melebihi banjir rencana menyebabkan

keruntuhan tanggul, kecepatan air sangat besar yang melalui bobolnya tanggul sehingga menimbulkan banjir yang besar 6 Curah hujan Pada musim penghujan, curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan bilamana melebihi tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan termasuk bobolnya tanggul. Data curah hujan menunjukkan maksimum kenaikan debit puncak antara 2 sampai 3 kali 7 Pengaruh fisiografi Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk fungsi dan kemiringan daerah aliran dungai (DAS), kemiringan sungai, geometric hidrolik (bentuk penampang seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai) lokasi sungai dll 8 Kapasitas sungai Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan oleh pengendapan berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul sungai yang berlebihan dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya Manusia dan alam Alam dan manusia Alam

vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat 9 Kapasitas drainase yang tidak memadai Karena perubahan tata guna lahan serta maupun tindakan Manusia

berkurangnya

tanaman/vegetasi

manusia mengakibatkan pengurangan kapasitas saluran/sungai sesuai perencanaan yang dibuat

10

Drainase lahan

Drainase perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah bantuan banjir akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang tinggi

Manusia

11

Bendung dan bangunan air

Bendung dan bangunan lain seperti pilar jembatan dapat meningkatkan elevasi muka air banjir karena efek aliran balik (backwater)

Manusia

12

Kerusakan bangunan pengendali banjir

Pemeliharan yang kurang memadai dari bangunan pengendali banjir sehingga menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut. Waktu banjir bersamaan dengan air pasang tinggi maka tinggi genangan atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater). Hanya pada daerah pantai seperti pantura, Jakarta dan Semarang

Manusia dan alam

13

Pengaruh air pasang

Alam

Ada 4 strategi dasar untuk pengelolaan daerah banjir yang meliputi (Grigg, 1996):  Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan)  Pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya seperti penghijauan  Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknik mitigasi seperti asuransi, penghindaran banjir (flood proofing)  Modifikasi banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bangunan pengontrol (waduk) atau perbaikan sungai Pada prinsipnya ada 2 metode pengendalian banjir yaitu metode struktur dan metode non-struktur. Istilah popular yang sering dipakai adalah flood control toward flood

management

(Hadimuljono, 2005). Flood management berarti melakukan tindakan

pengelolaan yang menyeluruh yaitu gabungan antara metode non-struktur dan metode struktur sedangkan flood control lebih dominan pada pembangunan fisik (atau dikenal dengan metode struktur). Skala Prioritas I Metode Non-Struktur  Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS)  Pengaturan tata guna lahan (zoning regulation)  Law enforcement  Pengendalian erosi di DAS  Pengaturan dan pengembangan daerah banjir II Metode Struktur : Bangunan Pengendali Banjir  Bendungan (dam)  Kolam retensi  Pembuatan check dam (penangkap sedimen)  Bangunan pengurang kemiringan sungai  Groundsill  Retarding basin  Pembuatan polder III Metode Struktur : Perbaikan dan Pengaturan system sungai  Perbaikan system jaringan sungai  Pelebaran atau pengerukan sungai (river improvement  Perlindungan tanggul  Pembangunan tanggul banjir  Sudetan (by-pass)  Floodway Metode

Drainase pada prinsipnya terbagi atas 2 macam yaitu drainase untuk daerah perkotaan dan drainase untuk daerah pertanian

3.4 Sistem Drainase Fungsi dari drainase adalah:  Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat pemukiman) dari genangan air atau banjir  Apabila air dapat mengalir dengan lancar maka drainase juga berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan  Drainase juga dipakai untuk pembuangan air rumah tangga

Sistem jaringan drainase dalam wilayah kota dibagi atas 2 bagian yaitu drainase mayor dan drainase minor. Yang dimaksud dengan system drainase mayor yaitu system saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (catchment area) yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer dan sekunder, kanal-kanal atau sungai-sungai. System drainase mikro yaitu system saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan dimana sebagian besar wilayah kota. Dari segi konstruksinya system saluran/drainase mikro dapat dibedakan atas dua bagian yaitu system saluran tertutup dan sistem saluran terbuka. Bangunan-bangunan system drainase yakni bangunan-bangunan struktur dan bangunanbangunan non-struktur. Selain itu juga terdapat bangunan pelengkap saluran drainase yang diperlukan untuk melengkapi suatu system saluran untuk fungsi-fungsi tertentu. Adapun bangunan-bangunan pelengkap system drainase antara lain catch basin/watershed, inlet, manhole, headwall, gorong-gorong, bangunan terjun, siphon dan bangunan got miring.

3.5 Sistem Aliran Air Tanah Aliran air tanah atau hidrogeologi merupakan perpaduan antara ilmu geologi dan ilmu hidrolika dimana kajiannya menitikberatkan pada gerakan/aliran air di dalam tanah secara hidrolik. Prinsip-prinsip dasar hidrogeologi meliputi (Toth, 1984): hkum kekekalan yang dipakai, proses dan kejadian yang berhubungan dengan bagaimana aliran air terjadi, gerakan aliran air dalam tanah, distribusinya, unsure kimia yang ada dalam air tanah serta dampak lingkungan dari aliran dalam tanah. Air mengalir dari daerah yang lebih tinggi menuju ke daerah yang lebih rendah dan dengan akhir perjalanannya menuju ke laut. Secara spesifik daerah tangkapan didefinisikan sebagai bagian dari suatu daerah aliran (watershed/catchment area) dimana aliran air tanah

(yang saturated) menjauhi muka air tanah. Sedangkan daerah pengeluaran didefinisikan sebagai bagian dari suatu daerah aliran (watershed/catchment area) dimana aliran air tanah (yang saturated) menuju muka air tanah (Freeze dan Cherry, 1979). Biasanya di daerah tangkapan, muka air tanah daerah pengeluaran umumnya mendekati permukaan tanah, salah satu contohnya adalah pantai. Parameter aliran air tanah tentang sifat-sifat hidraulik aliran air tanah tersebut ialah (Freeze dan Cherry, 1979; Toth 1990) : tampungan spesifik So (specific Storage), Strorativitas S (Storativity), Transmivitas T (Transmissivity), Difusifitas (D), Produk Spesifik Sy (Spesific Yield). Unconfined aquifer merupakan akuifer dengan hanya dengan satu lapisan pembatas yang kedap air (di bagian bawahnya). Ketinggian hidraulik sama dengan ketinggian muka airnya. Dari system terbentuknya dan lokasinya jenis akuifer ini ada beberapa macam, yaitu : akuifer lembah (valley aquifers), perched aquifers dan alluvial aquifers.

3.6 Sistem Pengelolaan Konservasi Air Kegiatan konservasi sumber daya air pada hakekatnya ditujukan untuk (UU No.7 Tahun 2004):  Menjaga keberlanjutan air dan sumber air, termasuk potensi yang terkandung di dalamnya  Menjaga keberlanjutan kemampuan sumber daya air untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.  Menjaga keberlanjutan kemampuan air dan sumber air untuk menyerap zat, energy dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. Konservasi sumber daya air dilakukan melalui kegiatan-kegiatan (ayat (2) Pasal 20 UU Sumber Daya Air):  Perlindungan dan pelestarian sumber dayya air  Pengawetan air  Pengelolaan kualitas air  Pengendalian pencemaran air Secara garis besar metode konservasi tanah secara structural (fisik) dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (Morgan, 1986, Suripin 2002): secara agronomis, secara mekanis dan secara kimia.

3.7 Sistem Pengendalian Erosi dan Sedimentasi Untuk sungai dengan material dasar sangat kasar, kapasitas transport sedimen untuk fraksi halus dihitung dari persamaan-persamaan transport sedimen jauh lebih besar daripada suplai sedimen dari sumber-sumber di bagian hulu. Oleh karena itu untuk sungai-sungai tersebut kapasitas transport sedimennya dibatasi dengan suplai bagian hulu dari sedimen akibat erosi di daerah aliran sungai. Perkiraan sedimen dapat dianalisis dari sumber sedimen, perhitungannya menggunakan cara-cara perhitungan erosi lahan. Secara sederhana, kondisi seimbang suatu lahan apabila besarnya laju erosi sama dengan laju pembentukan tanah. Proses pembentukan tanah secara alami akan memakan waktu yang cukup lama. Untuk membentuk lapisan atas tanah sebesar 2,5 cm (25 mm) membutuhkan waktu 300 tahun. Namun dengan pengelolaan tanah yang baik maka waktu tersebut dapat diperpendek menjadi dalam 30 tahun saja (Suripin, 2002). Einstein (1964) menyatakan bahwa dua kondisi harus dipenuhi oleh setiap partikel sedimen yang melalui penampang melintang tertentu dari suatu sungai :  Partikel tersebut merupakan hasil erosi di daerah pengaliran hilir potongan melintang itu  Partikel tersebut terbawa oleh aliran dari tempat erosi terjadi menuju penampang melintang itu Oleh karena itu kajian pengendalian erosi dan sedimen juga berdasarkan kedua hal tersebut, yaitu berdasarkan kajian supply limited dari DAS atau kapasitas transport dari sungai. Dengan melihat persamaan USLE dapat diketahui bahwa untuk menekan laju erosi maka upaya-upaya yang dilakukan adalah mengurangi besarnya erosi yang ada pada suatu lokasi. Dari keenam parameter persamaan USLE maka upaya-upaya untuk pengendalian erosi dapat dijelaskan berikut ini. Factor pengelolaan penanaman memberikan andil yang paling besar dalam mengurangi laju erosi. Selain itu mengubah jenis tanah, factor topografi, factor konservasi bila dibandingkan dengan faktos pengelolaan tanaman tidak memberikan dampak positif yang besar terhadap pengurangan laju erosi variasinya berkisar antara 2 hingga 4 kali, namun semua factor tetap harus diperhitungkan. Hal ini disebabkan dalam persamaan USLE perhitungan besarnya erosi merupakan perkalian dari keenam factor tersebut.

3.8 Sistem Pengelolaan Kekeringan Kekringan merupakan problem manajemen sumber daya air yang kompleks, melibatkan banyak stakeholder dan membutuhkan tindakan individual atau kolektif terpadu

untuk mengamankan suplai air. Kekeringan juga merupakan phenomena hidrologi yang paling kompleks, perwujudan dan penambahan isu-isu berkaitan dengan iklim, tata guna lahan, norma pemakaian air serta manajemen seperti persiapan, antisipasi dan sebagainya. Konsep kekerinangan berangkat dari dua defenisi yaitu suatu periode tanpa air hujan yang cukup dan suatu periode kelangkaan air. Definisi pertama dikatakan, kekeringan secara meteorologist atau klimatologis. Defenisi kedua dapat disebut kekeringan dari berbagai aspek, antara lain kekeringan secara hidrologi, kekringan secara pertanian dan kekeringan secara social-ekonomi. Pendekatan strategis merupakan pendekatan dengan konsep keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan serta antisipasi atau menghindari ancaman dari dampak kekeringan. Dari sisi ketersediaan, sumber daya air yang ada harus terjamin keberadaannya yang berkelanjutan (sustainable) sedangkan dari sisi kebutuhan, air yang dimanfaatkan harus lebih kecil atau sama dengan ketersediaanya. Dari uraian di atas maka strategi yang perlu dilakukan adalah:  Identifikasi daerah rawan kekeringan  Pemetaan detail daerah rawan kekeringan dari berbagai aspek  Identifikasi dan pemetaan sebaran penduduk dan kebutuhan air baku  Pemetaan kebutuhan dan ketersediaan air  Sosialisasi kebutuhan dan ketersediaan air yang ada untuk berbagai instansi sesuai tugas pokok dan fungsinya secara kontinyu ke pihak produsendan konsumen air  Sosialisasi pemakaian air secara efisien dan efektif  Penyusunan rencana tindak yang komprehensif, sector dan multi sector Secara umum persiapan menghadapi musim kemarau dapat disebutkan beberapa hal, yaitu (Grigg dan Vlachos, 1990 dan 1993):  Efisiensi penggunaan (penghematan) air  Pengelolaan sumber daya air secara efektif  Pemanfaatan simpanan air embung dan waduk secara selektif dan efektif  Penyesuaian pola dan tata tanam  Kegiatan yang mendukung kelestarian alam  Analisis pengelolaan sumber daya air Hal-hal yang perlu dikaji di dalam pengelolaan masalah kekeringan adalah antara lain:  Karakteristik kekeringan: alamiah, luas, durasi, bobot/beratnya  Tindakan dan respon: tambahan suplai, reduksi kebutuhan dan minimalisasikan dampak

3.9 Sistem Irigasi Gambaran umum irigasi mulai dari sumber airnya sampai pada pemberian air ke petakpetak sawah umumnya meliputi:  Sumber air: danau, situ, embung, waduk, bendung di sungai  Pengambilan (intake)  Saluran primer: di awalnya ada kantong lumpur untuk membersihkan sedimen yang masuk dan dibuang /dialirkan (biasanya) ke sungai di hilir pengambilan secara periodic  Dari saluran primer, air dibagi dengan pintu pembagi menjadi saluran sekunder. Untuk memastikan debit ke masing-masing saluran pembagi maka disamping pintu pembagi juga dilengkapi dengan alat ukur debit  Dari saluran sekunder ke saluran tersier kemudian ke saluran kwarter atau langsung sawah  Dari sawah air dibuang melalui drainase dan kembali ke sungai. Aspek legalitas utama untuk pengeloalaan irigasi yang dipakai sebagai acuan adalah berdasarkan UU RI No.7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Aspek legalitas yang lain adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 Tentang Irigasi yang terdiri dari 16 Bab dan 88 Pasal. Pengembangan dan pengelolaan system irigasi dilaksanakan di seluruh daerah irigasi dan dilakukan oleh P3A atau oleh pemerintah, pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya untuk meningkatkan rasa memiliki, rasa tanggung jawab dan kemampuan perkumpulan petani pemakai air dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektivitas dan keberlanjutan system irigasi. Pengembangan dan pengelolaan system irigasi yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota melibatkan semua pihak yang berkepentingan (antara lain, masyarakat petani, penerima manfaat air irigasi atau penggunaan jaringan irigasi) dengan mengutamakan kepentingan dan peran serta masyarakat petani.

3.10.Sistem Air Bersih Secara umum pengelolaan dan proses infrastruktur untuk water supply system dapat dijelaskan sebagai berikut:  Pendayagunaan sumber daya air: sumber daya air permukaan (sungai, danau, waduk dll), sumber daya air tanah (sumur untuk unconfined aquifer, pompa untuk confined aquifer, dll)

 Pengolahan (water treatment plant/WTP), untuk memnuhi suatu kualitas air tertentu dan dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari air, maka air dari sumber pada umumnya harus melalui proses pengolahan (treatment ) berupa (Husain, 1981; Fair et al.m 1971): penjernihan dari partikel lain (sedimentation, coagulation, flocculation, filtration, dll), pengontrolan bacteria air (disinfection, ultra violet ray, ozone treatment, dll), komposisi kimia air (aeration, iron dan manganese removal, carbon activated, dll)  Penampungan (storage): penampungan air baku (waduk, kolam, sungai/long storage dll) dan penampungan air bersih sesudah treatment (tangki tertutup, kolam terbuka, dll)  Transmisi : truk tangki, kapal tanker dan moda lain (ada resiko kehilangan, tidak dapat menjamin : ketepatan waktu, debit konstan ataupun kualitas air baik); jaringan pipa transmisi dari primer ke sekunder; bak pelepas tekanan untuk daerah dengan perbedaan topografi yang besar dari hulu ke hilir; pompa untuk menaikkan tekanan dari wilayah rendah ke tinggi; serta pipa (minimum kehilangan, lebih dapat menjamin: ketepatan waktu, debit konstan ataupun kualitas air baik)  Jaringan distribusi ke pelanggan: system jaringan pipa, system tampungan, fittings, control, valve, pompa Sumber air dibagi atas: air permukaan (sungai, danau, rawa, situ, embung, ranu, waduk dan telaga) dan air tanah (sekungan air tanah yang bisa terdiri atas confined aquifer dan unconfined aquifer, mata air/spring. Kebutuhan air yakni kebutuhan air yang digunakan untuk menunjang segala kegiatan manusia, meliputi air bersih domestic (keperluan rumah tangga) dan non domestic (industry, pariwisata, tempat ibadah, tempat social, serta tempat-tempat komersial atau tempat umum lainnya), air irigasi baik pertanian maupun perikanan dan air untuk penggelontoran kota. Pengelolaan air bersih harus terpadu dan menyeluruh dan merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air. Identik dengan pengelolaan sumber daya air terpadu substansi pengelolaan air bersih dapat dikelompokkan dalam tiga elemen penting, yaitu: the enabling environment, peran-peran institusi dan alat-alat manajemen. Kerjasama antar daerah merupakan suatu kerangka kerjasama antara dua atau lebih pemerintah daerah yang setingkat di dalam mengenai suatu atau beberapa obyek tertentu demi tercapainya kepentingan masing-masing pihak. Oleh karena kerjasama tersebut merupakan kerjasama yang bersifat formal, maka prosedur penetapannya ke dalam suatu Persetujuan Kerjasama harus dilakukan di atas kerangka Peraturan Bersama (Pasal 4 ayar (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1975).

Pemeliharaan saluran sumber air meliputi:  Perbaikan tanggul terhadap kebocoran atau kelonggaran tanggul  Pengerukan sedimen di saluran  Perbaikan bangunan-bangunan air di sepanjang saluran, seperti : intake, kantong lumpur, jembatan, bangunan terjun, siphon, gorong-gorong, talang.  Pembersihan sampah  Pembersihan tanaman liar di dasar dan tebing saluran  Perbaikan pintu-pintu air: pintu pengambilan, pintu pembilas, pintu pembagi  Perbaikan alat-alat ukur debit aliran  Perbaikan jalan inspeksi

3.11.Sistem Air Limbah Air limbah domestic adalah air bekas yang tidak dapat dipergunakan lagi untuk yujuan semula baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau dari aktifitas dapur, kamar mandi dan cuci. Air limbah memberikan efek dan gangguan buruk baik terhadap manusia maupun lingkunangan antara lain (Sugiharto, 1987): gangguan terhadap kesehatan, keindahan dan benda. Terhadap keindahan, air limbah meninggalkan ampas dan bau yang tidak sedap dan terhadap benda, air limba bisa menimbulkan korosi (karat). Factor-faktor yang terkait dengan seberapa jauh pengaruh limbah terhadap kesehatan, antara lain:  Daya tahan tubuh  Jenis limbah dan juumlah dosis yang diterima pada tubuh  Akumulasi dosis limbah dalam tubuh  Sifat-sifat racun (toxic) dari limbah terhadap tubuh  Mudah tidaknya limbah dicerna dan dikeluarkan dari tubuh  Waktu kontak (lama tidaknya) berada dalam lingkungan limbah  Alergi (tubuh sensitive) terhadap limbah dalam bentuk tertentu seperti bau, debu atau cairan)  System pembuangan air limbah domestic terbagi menjadi 2 macam system yakni system pembuangan air limbah setempat (on site system) dan pembuangan terpusat (off site system).

Keuntungan pemakaian system pembuangan stempat adalah:  Biaya pembuatan murah  Biasanya dibuat oleh sector swasta/pribadi  Teknologi cukup sederhana  System sangat privasi karena terletak pada persilnya  Operasi dan pemeliharaan dilakukan secara pribadi masing-masing\nilai manfaat dapat dirasakan segera seperti bersih, saluran air hujan tidak algi dibuangi air limbah, terhindar dari bau busuk, timbul estetika pekarangan dan populasi nyamuk berkurang Kerugian pemakaian system pembuangan stempat adalah:  Tidak selalu cocok di semua daerah  Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan  Bila pengendalian tidak sempurna maka air limbah di buang ke saluran drainase  Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan  Resiko mencemari air tanah bila pemeliharaan tidak dilakukan dengan baik Keuntungan pemakaian system pembuangan terpusat adalah:  Pelayanan yang lebih nyaman  Menampung semua air limbah domestic  Pencemaran air tanah dan lingkungan dapat dihindari  Cocok untuk daerah dengan tingkat kepadatan tinggi  Masa/umur pemakaian relative lebih lama Kerugian pemakaian system pembuangan terpusat adalah:  Memerlukan pembiayaan yang tinggi  Memerlukan tenaga yang terampil untuk operasional dan pemeliharaan  Memerlukan perencanaan dan pelaksanaan untuk jangka panjang  Nilai manfaat akan terlihat apabila system telah berjalan dan semua penduduk yang terlayani

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->