P. 1
budidaya salak

budidaya salak

|Views: 523|Likes:
Published by Giri Ap

More info:

Published by: Giri Ap on Jul 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

STUDI BUDIDAYA DAN PENANGANAN PASCA PANEN SALAK PONDOH (Salacca zalacca Gaertner Voss.

) DI WILAYAH KABUPATEN SLEMAN

Oleh: Oktafianti Kumara Sari A34303035

PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

STUDI BUDIDAYA DAN PENANGANAN PASCA PANEN SALAK PONDOH (Salacca zalacca Gaertner Voss.) DI WILAYAH KABUPATEN SLEMAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh OKTAFIANTI KUMARA SARI A34303035

PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN

OKTAFIANTI KUMARA SARI. Studi Budidaya dan Penanganan Pasca panen Salak Pondoh (Salacca zalaca Gaertner Voss.) di Wilayah Kabupaten Sleman. Dibimbing oleh DARDA EFENDI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi budidaya salak pondoh, penanganan pasca panen dan jumlah kehilangan hasil pada setiap lembaga pemasaran salak pondoh di wilayah Kabupaten Sleman. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Turi, Pakem, Tempel, Sleman, dan Cangkringan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2007 - Juni 2007. Penarikan sampel dilakukan pada lima kelompok responden yaitu petani, pedagang pengumpul, pedagang pemasok, pedagang pengecer, dan di tingkat supermarket. Penelitian ini menggunakan metode survei. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapang dan wawancara dengan menggunakan alat bantu kuesioner yang memuat daftar pertanyaan. Data sekunder diperoleh dari data statistik Dinas Pertanian Kabupaten Sleman dan literaturliteratur ilmiah yang mendukung penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Pola usahatani salak pondoh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman pada umumnya bertujuan untuk menghasilkan buah sekaligus bibit. Teknik budidaya yang dilakukan oleh responden meliputi: persiapan lahan dan penanaman, pemeliharaan tanaman; pemupukan; penyerbukan buatan; pengairan; penggemburan; penyiangan; pengendalian hama dan penyakit tanaman; serta penjarangan buah. Kendala yang dijumpai pada kegiatan budidaya oleh petani yang menjadi responden yaitu pemupukan yang belum sesuai dengan anjuran Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, dalam hal dosis dan waktu pemupukan, serta umur tanaman. Jumlah pohon salak jantan belum sesuai dengan perbandingan yang seharusnya karena kurangnya pemahaman petani mengenai keberadaan salak jantan di areal kebun, serta petani merasa keberadaan salak jantan akan mengurangi produktivitas. Respon petani terhadap penjarangan buah masih rendah meskipun mereka telah mengetahui manfaatnya. Petani tidak melakukan penjarangan buah karena tidak ingin membuang buah yang ada, dan penjarangan buah yang dilakukan petani relatif sudah terlambat. Penanganan pasca panen terdiri atas pembersihan, sortasi, pengkelasan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, dan pemasaran. Responden yang paling banyak melakukan kegiatan penanganan pasca panen yaitu pedagang pemasok dan pedagang pengecer. Seluruh petani responden tidak melakukan sortasi dan pengkelasan karena harga jual salak yang sudah disortir dan yang belum disortir tidak jauh berbeda, sehingga petani tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan untuk penyortiran dan pengkelasan.

Rata-rata persentase kehilangan hasil terbesar terdapat di tingkat pedagang pengecer mencapai 8.1%, dan terendah berada di tingkat petani mencapai 4.1%. Kehilangan hasil di tingkat petani disebabkan karena kerusakan mekanis yang tinggi pada saat panen dan buah sudah terserang peyakit sebelum dipanen. Di tingkat pedagang disebabkan oleh kegiatan sortasi yang masih dilakukan secara visual sehingga sering tercampur antara buah yang berkualitas baik dengan buah yang kualitasnya rendah, serta pengemasan yang melebihi kapasitas.

Judul

: STUDI BUDIDAYA DAN PENANGANAN PASCA PANEN SALAK PONDOH (Salacca zalacca Gaertner Voss.) DI WILAYAH KABUPATEN SLEMAN

Nama NRP

: Oktafianti Kumara Sari : A34303035

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr Ir Darda Efendi, MSi NIP : 131841755

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr Ir Didy Sopandie, MAgr NIP : 131124019

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Klaten pada tanggal 1 Oktober 1985, anak pertama dari Bapak Sugimin dan Ibu Wahyu Haryanti. Penulis memulai pendidikan pertama di TK Infitek pada tahun 1990, pada tahun 1991 penulis melanjutkan pendidikan ke SD Negeri 3 Selong dan lulus pada tahun 1997, kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SLTP Negeri 1 Selong dan lulus pada tahun 2000. Setelah lulus penulis melanjutkan pendidikan ke SMU Muhammadiyah 1 Klaten dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun 2003 penulis diterima menjadi mahasiswa pada program studi Hortikultura, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Selama menjadi mahasiswa penulis aktif menjadi anggota Organisasi Mahasiswa KMK (Keluarga Mahasiswa Klaten).

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia– Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ``Studi Budidaya dan Penanganan Pasca Panen Salak Pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss.) Di Wilayah Kabupaten Sleman``. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. 2. 3. Ibu Wahyu Haryanti, Bapak Sugimin, Bapak Sarjito, beserta keluarga atas do`a, dukungan moril, dan materiil. Dr Ir Darda Efendi, MSi sebagai dosen pembimbing dalam pelaksanan penelitian yang telah memberikan saran, bimbingan, dan pengarahan. Prof. Dr Ir Bambang S. Purwoko, MSc dan Ir Ketty Suketi, MSi sebagai dosen 4. penguji yang telah memberikan saran dan kritik untuk menyempurnakan skripsi ini. Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, warga di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan, serta pihak Mirota Kampus Supermarket, terimakasih atas segala bantuan dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. 5. Rekan-rekan di KMK dan Hortikultura angkatan 40 yang telah memberikan bantuan, semangat, dan persahabatan yang indah selama di IPB. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. Bogor, Mei 2008 Penulis

DAFTAR ISI
Halaman PENDAHULUAN........................................................................................... 1 Latar Belakang ........................................................................................ 1 Tujuan ..................................................................................................... 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 3 Botani dan Morfologi .............................................................................. 3 Syarat Tumbuh ........................................................................................ 4 Budidaya Salak Pondoh .......................................................................... 4 Panen ....................................................................................................... 6 Pasca Panen ............................................................................................. 6 Pemasaran ............................................................................................... 8 Lembaga Pemasaran................................................................................ 9 Pola Saluran Pemasaran .......................................................................... 9 Kehilangan Hasil ..................................................................................... 9 METODOLOGI ............................................................................................. 10 Waktu dan Tempat .................................................................................. 10 Metode Penarikan Sampel....................................................................... 10 Metode Pengumpulan dan Analisis Data ................................................ 11 KONDISI UMUM LOKASI ......................................................................... 12 Kondisi Umum Kabupaten Sleman......................................................... 12 Profil Kecamatan Turi ............................................................................. 13 Profil Kecamatan Pakem ......................................................................... 13 Profil Kecamatan Tempel ....................................................................... 13 Profil Kecamatan Sleman ........................................................................ 14 Profil Kecamatan Cangkringan ............................................................... 14 HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 15 I. BUDIDAYA SALAK PONDOH ...................................................... 15 Persiapan Lahan dan Penanaman ................................................ 15 Pemeliharaan Tanaman ............................................................... 22 Penyerbukan dan Pembuahan ..................................................... 28 II. PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN ............................ Panen ........................................................................................... 33 Penanganan Pasca panen ............................................................. 37 Pemasaran ................................................................................... 46 Kehilangan Hasil ......................................................................... 49 Harga ........................................................................................... 51

KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 53 Kesimpulan .............................................................................................. 53 Saran......................................................................................................... 54 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 55 LAMPIRAN .................................................................................................... 57

DAFTAR TABEL
Nomor Teks 1. Dosis dan Jenis Pupuk pada Tanaman Salak...................................... 5 2. Kelas Mutu Salak Berdasarkan SNI 01 – 3167 – 1992 ...................... 7 3. Aktivitas Pembibitan Salak Pondoh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan .................................................... 21 4. Dosis Pupuk Kimia yang Diberikan per Tahun pada Setiap Tanaman Salak Pondoh yang berumur > 36 bulan dalam Dua Tahap Pemupukan ............................................................................ 23 5. Dosis Pupuk Kimia yang Direkomendasikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sleman ............................................................................ 24 6. Kegiatan Pengairan Petani pada Pertanaman Salak Pondoh ............ 19 7. Metode Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang Dilakukan oleh Petani .............................................................. 27 8. Persentase Jumlah Petani yang Melakukan Kegiatan Penjarangan Buah.................................................................................................. 31 9. Produktivitas Salak Pondoh di Lima Kecamatan Contoh Tahun 2006-2007 ............................................................................. 32 10. Penanganan Pasca Panen di Setiap Pelaku Pemasaran..................... 37 11. Standar Pengkelasan di Tingkat Pedagang ....................................... 39 12. Jenis Kemasan yang Digunakan di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman dan Cangkringan ..................................................... 41 13. Karakteristik 42 Petani di Lima Kecamatan Contoh ........................ 47 14. Karakteristik 19 Pedagang yang Menjadi Responden .................... 48 15. Total Kehilangan Hasil pada Masing – Masing Pola Pemasaran ..... 50 16. Rata-rata Harga Salak Pondoh pada Masing – Masing Pelaku Pemasaran Tahun 2007 .................................................................... 52 Halaman

Lampiran 1. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Turi Tahun 2006 -2007........................................................................... 58 2. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Sleman Tahun 2006 -2007........................................................................... 58 3. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Tempel Tahun 2006 -2007........................................................................... 59 4. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Pakem Tahun 2006 -2007........................................................................... 59 5. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Cangkringan Tahun 2006 -2007........................................................................... 60 6. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Super di Tingkat petani Pada Masing-Masing Pelaku Pemasaran.........................................61 7. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Hitam di Tingkat petani Pada Masing-Masing Pelaku Pemasaran........................................62 8. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh di Tingkat Pedagang Pemasok (PD. Agro Tama).............................................................63 9. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Super di Tingkat Pedagang Pengumpul Pada Pola Pemasaran I.................................64 10. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Hitam di Tingkat Pedagang Pengumpul Pada Pola Pemasaran I.................................65 11. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh di Tingkat Pedagang Pengecer Pada Masing-Masing Pola Pemasaran............................66 12. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Super di Supermarket.....67 13. Rata-rata Harga Salak Pondoh per Kg di Masing-Masing PelakuPemasaran..................................................68 14. Perkembangan Tanaman Salak Pondoh di Kabupaten Sleman Tahun 2001-2006.............................................................................69

DAFTAR GAMBAR
Nomor Teks 1. Penanaman Salak Pondoh dengan Sistem Bedengan ......................... 16 2. Pengolahan Lahan dengan Sistem Guludan ....................................... 17 3. Proses Pencangkokan Salak Pondoh .................................................. 19 4. Kebun Salak Pondoh Berumur 8-9 Tahun ......................................... 22 5. Bibit Salak Pondoh yang Siap Dipasarkan ......................................... 21 6. Bunga Betina (a) dan Bunga Jantan (b) ............................................. 29 7. Proses Penyerbukan Buatan pada Tanaman Salak Pondoh ................ 30 8. Salak Pondoh Super (a) dan Salak Pondoh Hitam (b) yang Siap Panen. ................................................................................ 33 9. Pemanenan Salak Pondoh .................................................................. 34 10. Kegiatan Sortasi dan Pengkelasan di Tingkat Pedagang ................... 40 11. Kemasan Salak untuk Tujuan Luar Provinsi DIY (a) dan Kemasan Salak untuk Tujuan Lokal (b) .......................................... 42 12. Kegiatan Pengemasan Salak Pondoh untuk Tujuan Luar Provinsi DIY ...................................................................................... 43 13. Dodol Salak (a) dan Keripik Salak (b) ............................................... 45 Halaman

PENDAHULUAN

Latar Belakang Salak (Salacca edulis) merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara yang sangat populer di Indonesia, dan mempunyai prospek yang baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Produktivitas buah salak pada tahun 2001-2005 mencapai 25-26 ton/ha/tahun (Deptan, 2007). Salak pondoh adalah salah satu jenis salak yang terus mengalami peningkatan produksi. Kabupaten Sleman merupakan salah satu daerah yang memproduksi salak pondoh. Komoditi ini sudah memiliki pasar yang stabil dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga tani khususnya di Kabupaten Sleman. Permintaan terhadap salak pondoh dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berminat pada buah salak sebagai dampak keberhasilan program penyuluhan dan program peningkatan gizi masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah; (2) tingkat harga salak di pasar yang relatif terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat; (3) tingkat harga buah-buahan lainnya; dan (4) ketersediaannya sepanjang tahun. Kelebihan salak pondoh dibandingkan salak lain yaitu rasa buahnya yang manis meskipun belum matang, memiliki kandungan air yang cukup, berbuah sepanjang tahun, masa simpan buah lebih dari 20 hari, bila dimakan dalam jumlah banyak tidak menimbulkan rasa tidak enak di perut, dan harga jual relatif lebih tinggi (Purnomo, 2001). Buah salak segar dapat dibuat manisan, dikalengkan, sebagai perlengkapan dekorasi, dan disajikan sebagai buah segar. Buah segar yang diperdagangkan biasanya masih dalam tandan atau telah dilepas. Helai daunnya dapat dijadikan atap, dan kulit tangkai daunnya dapat dijadikan anyaman atau tikar (Purnomo, 2001). Kandungan gizi dalam setiap 100 g buah salak yang dapat dimakan terdapat 77 kalori, 74 g air, 20.9 g karbohidrat, 1.8 g fosfor, 0.42 g zat besi, 0.4 protein, 0.2 g vitamin C dan 0.004 g vitamin B (Rukmana 1999).

Permasalahan yang dijumpai dalam pengembangan usahatani salak pondoh yaitu teknik budidaya yang dilakukan petani belum mampu mendukung produktivitas tanaman dan menghasilkan buah yang lebih berkualitas. Selain itu perlakuan pasca panen yang masih sederhana serta pola distribusi buah yang panjang dan tidak terorganisir sering merugikan petani dan konsumen. Pada musim panen raya dimana produksi buah yang melimpah, para petani umumnya menjual dengan harga murah untuk kelas menengah ke bawah. Agar dapat mempelajari dan menerapkan teknologi budidaya dan penanganan pasca panen pada usahatani salak pondoh, maka diperlukan identifikasi langsung masalah-masalah yang timbul di lapang. menghindari kerugian akibat kerusakan. Keadaan ini semakin membebani petani kita yang umumnya masih tergolong

Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk : 1. 2. Mengetahui budidaya dan penanganan pasca panen salak pondoh. Mengetahui jumlah kehilangan hasil pada setiap pelaku pemasaran.

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Salak pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss.) termasuk famili palmae, berduri dan bertunas banyak, tumbuh menjadi rumpun yang rapat. Tinggi tanaman mencapai 1.5-5 m, batang pokoknya berbentuk stolon di dalam tanah, berbentuk silindris dengan diameter 10-15 cm (Verheij dan Coronel, 1997). Akar tanaman merupakan akar serabut, berbentuk silindris dengan diameter 6-8 mm. Daerah penyebarannya tidak luas, dangkal dan peka terhadap kekurangan air (Purnomo, 2001). Bentuk daun menyirip, panjangnya mencapai 3-7 m. Pelepah, tangkai dan anak daun berduri banyak, bentuknya panjang, tipis, berwarna kelabu sampai kehitaman, anak daunnya berukuran (20-70) cm x (2-7.5) cm (Verheij dan Coronel, 1997). Bunga salak berbentuk majemuk, bertangkai dan tertutup oleh seludang. Panjang seludang bunga jantan hingga 50-100 cm sedangkan bunga betina 20-30 cm (Ashari, 1995). Purnomo (2001) melaporkan bahwa bunga jantan pada tanaman salak pondoh berwarna coklat kemerahan, sekelompok bunga jantan terdiri dari 4-12 malai, satu malai terdiri dari ribuan serbuk sari, panjang bunga jantan setiap malai kira-kira 4-15 cm dan bunga jantan mekar selama 1-3 hari. Bunga betina berwarna hijau kekuningan, berbintik merah dan mempunyai 3 petal. Panjang satu malai 7-10 cm dan bunga mekar selama 1-3 hari. Tanda bunga yang siap diserbuki adalah bunga berwarna merah dan mengeluarkan aroma harum. Waktu penyerbukan yang baik adalah pada hari ke -2 bunga mekar. Varietas salak pondoh yang sudah dibudidayakan di Indonesia yaitu salak pondoh hitam, salak pondoh merah, salak pondoh kuning, dan salak pondoh super. Salak pondoh hitam berbentuk bulat dan berukuran kecil, daging buah berwarna putih kapur dengan kulit buah berwarna hitam gelap dan rasanya sangat manis seperti buah lengkeng. Salak pondoh merah bentuk buahnya agak lonjong, berkulit warna merah kecokelat-cokelatan dan pada bagian ujungnya berwarna kehitam kehitaman, berukuran lebih besar dibanding salak pondoh hitam, setiap kilogram berisi 20-25 butir, bila matang beraroma buah apel. Salak pondoh kuning berbentuk bulat mirip buah salak pondoh hitam, namun ukurannya besar, tiap kilogram berisi 10-15 butir buah, kulit buah berwarna coklat kekuning-

kuningan, daging buahnya berwarna putih krem, rasa manis dan beraroma buah apel. Salak pondoh super berbentuk bulat memanjang, buahnya berukuran besar, tiap kilogram berisi 9-11 butir buah, kulit buah berwarna kekuning-kuningan, daging buahnya tebal, rasanya manis, renyah, dan masir (Hendratno, 2006).

Syarat Tumbuh Dinas Pertanian Kabupaten Sleman (1997) mengemukakan bahwa tanaman salak akan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan rata–rata mencapai 200-400 mm/bulan. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100 mm sudah tergolong dalam bulan basah. Menurut Verheij dan Coronel (1997) tipe tanah di sentra produksi antara lain podzolik dan regosol. Tanaman salak dapat tumbuh secara optimal pada suhu 20-30°C. Tanaman salak tidak menyukai sinar matahari secara langsung, tetapi hanya membutuhkan sinar matahari 50-70%, sehingga tanaman salak memerlukan pohon penaung. Tanaman salak yang tumbuh tanpa naungan daunnya akan terbakar, pertumbuhannya sangat lambat, dan produksi buahnya sedikit (Tjahjadi, 1996).

Budidaya Salak Pondoh Tahapan dalam budidaya salak yang perlu dilakukan agar salak dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal yaitu : Pengolahan Lahan Pengolahan lahan dikerjakan pada saat menjelang atau awal musim hujan, yaitu sekitar bulan Oktober-November. Pada lahan yang telah diratakan diberi patok atau ajir dengan jarak 2 m x 2 m sebagai jarak tanam lalu dibuat lubang tanam. Lubang tanam dibiarkan selama 2-3 minggu sebelum penanaman bibit (Purnomo, 2001)

Pembibitan Salak dapat dikembangkan dengan dua cara yaitu secara generatif (biji) dan vegetatif (cangkok). Pembibitan secara vegetatif dilakukan dengan cara mencangkok anakan yang tumbuh. Mencangkok tunas anakan dapat berhasil apabila memperhatikan kondisi tunas anakan, keterampilan, media tumbuh,

ukuran pot, lingkungan, dan waktu pemisahan tunas anakan dari pohon induk. Kondisi tunas anakan yang dimaksud adalah umur tunas anakan, besar kecilnya pangkal akar, dan jumlah pelepah daun (Purbiati et al., 1994). Penanaman Waktu penanaman yang paling memadai adalah pada awal musim hujan agar tersedia air secara memadai. Jumlah rumpun salak jantan yang ditanam sedikit bila dibandingkan dengan salak betina yaitu berkisar antara 2-20 % saja (Ashari, 1995). Pemupukan Pemupukan mempunyai fungsi penting bagi tanaman salak karena terdapat hubungan erat antara karakter pertumbuhan tanaman dengan beberapa macam unsur hara tertentu. Bertambah suburnya kondisi tanah ternyata diikuti oleh meningkatnya jumlah tandan, jumlah tangkai per tandan dan jumlah buah per tandan (Kusumainderawati dan Soleh, 1995). Pedoman umum pemumpukan tanaman salak dilakukan dengan memperhatikan umur tanaman disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Dosis dan Jenis Pupuk pada Tanaman Salak
Umur Tanaman Salak Pupuk Kandang Pupuk Kimia (gr/rumpun) Urea SP-36 KCL

0 -12 bulan (sebulan 1 x ) 12- 24 bulan (2 bulan 1 x) 24 -3 6 bulan (3 bulan 1 x ) Lebih dari 36 bulan (6 bulan 1 x )
Sumber : Rukmana, 1999

10 kg -

5 10 15 20

5 10 15 20

5 10 15 20

Pemangkasan Pemangkasan idealnya dilakukan setiap dua bulan sekali dengan cara membuang daun-daun tua, daun-daun yang terlalu rimbun ataupun yang terserang hama penyakit. Tujuan pemangkasan ini adalah untuk mengurangi kelembaban kebun sehingga sirkulasi udara lancar, untuk memudahkan pengendalian gulma, dan pemungutan hasil (Solihin, 2001). Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Perlindungan tanaman salak bertujuan melindungi buah salak dari gangguan penyakit. Perlindungan tanaman salak yang dianjurkan adalah mempraktekkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, yaitu perpaduan teknik pengendalian secara fisik, hayati (biologi), dan kimiawi (Rukmana, 1999). Penyerbukan Tanaman salak dapat melakukan penyerbukan secara alami dengan bantuan serangga penyerbuk dan angin. Penyerbukan buatan dilakukan dengan cara mengetuk-ngetukkan tandan bunga jantan di atas bunga betina yang sudah mekar, kemudian tutup tandan bunga betina yang sudah diserbuki dengan daun atau bahan lain agar proses penyerbukan sempurna. Pemberian tutup bertujuan agar serbuk sari yang telah menempel tidak terlepas atau tercuci air hujan. Tutup dibuka setelah 3-5 hari dari penyerbukan. Panen Tanaman salak mulai berbuah setelah berumur 2 tahun jika tanaman berasal dari cangkok dan 3-4 tahun jika tanaman berasal dari biji. Pemanenan dilakukan pada buah yang berumur 5-7 bulan setelah penyerbukan dengan cara memotong tandan buah. Salak yang telah matang kulitnya tampak bersih, mengkilat dan apabila dipegang tidak terasa kasar. Ujung kulit yang menempel pada tongkol terasa lunak jika ditekan (Purnomo,2001).

Pasca Panen Penanganan pasca panen merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan terhadap suatu jenis komoditas buah setelah selesai panen untuk mengurangi kerusakan dan mempertahankan kualitas serta umur simpan buah tersebut. Tahap penanganan pasca panen secara umum meliputi pembersihan, penyortiran dan pengkelasan, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.

Pembersihan Pembersihan buah salak dilakukan dengan menyikat buah menggunakan sikat ijuk atau plastik dengan gerakan searah susunan sisik. Kebersihan salak berpengaruh terhadap masa simpan buah salak (Siregar, 2007). Penyortiran dan pengkelasan Sortasi bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dan dipisahkan dari buah yang busuk, pecah, tergores, atau tertusuk. Selain itu juga berguna untuk membersihkan buah salak dari kotoran, sisa-sisa duri, tangkai, dan ranting (Siregar, 2007). Standar mutu salak Indonesia tercantum pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3167-1992. Salak dibagi dalam 2 (dua) kelas mutu, yaitu mutu I dan mutu II (Tabel 2). Ukuran berat dibagi atas ukuran besar untuk salak yang berbobot 61 gram atau lebih per buah, ukuran sedang berbobot 33 - 60 g/buah, dan ukuran kecil berbobot 32 g atau kurang per buah. Tabel 2. Kelas Mutu Salak Berdasarkan SNI 0- 3167-1992 Kriteria Mutu I Ketuaan Kekerasan Kerusakan kulit buah Ukuran Busuk Kotoran
Sumber: Deputi Menegristek, 2000

Kelas Mutu Mutu II Kurang seragam Keras Kurang utuh Seragam > 1% Bebas Seragam tua Keras Utuh Seragam 1% Bebas

Pengemasan Buah salak biasanya dikemas dalam keranjang bambu, peti kayu, kardus (kotak karton gelombang) atau kemasan tradisional khas sentra produksi, seperti salak sidimpuan yang dikemas dalam karung anyaman pandan. Beberapa jenis kemasan salak pondoh untuk tujuan pasar lokal yang umum digunakan yaitu keranjang dari anyaman bambu sedangkan untuk tujuan pasar swalayan dikemas dengan polyetylene atau bungkus plastik (Siregar, 2007). Penyimpanan Penyimpanan bertujuan untuk memperpanjang daya gunanya dan dalam keadaan tertentu memperbaiki mutunya, menghindarkan banjirnya produk ke pasar, meningkatkan keuntungan produsen, membantu pemasaran yang teratur, pengendalian laju transpirasi dan repirasi, serta infeksi penyakit (Pantastico, 1986).

Pengangkutan Komoditas hortikultura memiliki sifat meruah dan sulit diangkut sehingga biaya pengangkutan mahal (Harjadi, 1989). Faktor utama dalam sistem pengangkutan ialah bahwa sistem itu harus mampu mendistribusikan buah-buahan dan sayuran dalam lingkungan yang terkendali secara cepat dari daerah-daerah penghasil utamanya ke konsumen. Pemilihan kendaraan angkutan bergantung pada taksiran umur komoditi, waktu dan jarak ke pasar, nilai komoditi, biaya pengangkutan, dan tersedianya cara-cara pengangkutan itu (Pantastico, 1986). Pemasaran Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain (Kotler, 2002). Menurut Limbong dan Sitorus (1987) lembaga pemasaran yang ada di Indonesia berasal dari petani kemudian disalurkan lewat tengkulak, Koperasi Unit Desa (KUD) maupun pedagang besar dan biasanya produk-produk pertanian yang dipasarkan berasal dari banyak produsen (petani).

Kehilangan Hasil

Kehilangan pasca panen adalah perubahan kuantitas dan kualitas produk setelah panen yang mengurangi kegunaan yang diharapkan atau menurunkan nilai produk tersebut. Kehilangan pasca panen dapat disebabkan cara panen yang tidak tepat, penanganan pasca panen yang kurang baik, transportasi yang buruk, kemasan yang kurang sesuai dan patogen (Kays, 1991). Kehilangan pasca panen yang terjadi pada buah-buahan dan sayur-sayuran segar dalam pertanian di daerah tropika mencapai jumlah yang besar. Infeksi melalui luka yang terjadi selama atau sesudah pemanenan merupakan sumber kerugian utama melalui pembusukan (Pantastico, 1986). Salak pondoh mengalami kerusakan mekanis sebesar 6.5% setelah diangkut dari Yogyakarta ke Malang. Sedangkan kerusakan tingkat petani pada saat panen di mencapai 4-5%, kerusakan ini disebabkan karena buah yang sudah terserang penyakit pada saat sebelum dipanen, buah tergores alat panen dan buah busuk karena terlalu matang di pohon (Siregar, 2007).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni 2007. Lokasi penelitian yaitu: 1. Petani salak pondoh di Kecamatan Turi, Kecamatan Pakem, Kecamatan Tempel, Kecamatan Sleman, dan Kecamatan Cangkringan. Jumlah total petani yang menjadi responden yaitu 42 orang. 2. Pedagang pengumpul yang menjual salak pondoh di Pasar Turi, Pasar Balerante, dan di Pasar Tempel. Jumlah pedagang pengumpul yang menjadi responden yaitu 3 orang. 3. Pedagang pemasok di Kecamatan Turi. Jumlah pedagang pemasok yang menjadi responden 1 orang yaitu PD. Agro Tama. 4. Pedagang pengecer yang berasal dari Kecamatan Turi, Pakem, Tempel, Sleman, dan Cangkringan. Jumlah pedagang pengecer yang menjadi responden yaitu 15 orang. 5. Supermarket Mirota Kampus cabang Babarsari dan Bulak Sumur, Yogyakarta.

Metode Penarikan Sampel Penelitian dilakukan pada lima kecamatan penghasil salak pondoh terbesar. Petani yang digunakan sebagai responden dalam penelitian ini adalah petani yang menanam salak pondoh di lokasi produksi dan menggarap lahan milik pribadi. Pedagang pengumpul kecamatan yang dijadikan responden yaitu pedagang pengumpul yang menjadi pedagang salak di Pasar Balerante, Pasar Turi, dan Pasar Tempel. Pedagang pemasok supermarket yang dijadikan responden yaitu PD Agro Tama. Pedagang pengecer yang dijadikan responden yaitu pedagang pengecer yang menjual kepada konsumen di kawasan Yogyakarta. Supermarket yang dijadikan responden yaitu supermarket yang menjual salak pondoh secara kontinu setiap bulannya.

Metode Pengumpulan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode survei. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan observasi langsung di lapang dan wawancara dengan menggunakan alat bantu kuesioner yang memuat daftar pertanyaan. Data sekuder diperoleh dari data statistik Dinas Pertanian Kabupaten Sleman dan literaturliteratur ilmiah yang mendukung penelitian. Data yang telah diperoleh kemudian dikelompokkan, diolah, dan ditabulasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Data primer yang digunakan dalam penelitian yaitu: 1. Karakteristik responden 2. Aktivitas budidaya salak pondoh Meliputi pembibitan, teknik penanaman, pemupukan, pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. 3. Teknik pemanenan Pemanenan dilakukan secara manual atau menggunakan peralatan perlengkapan panen. 4. Teknik penanganan pasca panen Meliputi pembersihan, penyortiran, pengkelasan, pengemasan, penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan. 5. Kehilangan hasil Mengetahui jumlah kehilangan hasil mulai dari pemanenan sampai penanganan pasca panen sebelum sampai ke konsumen pada setiap titik pemasaran. Persentase Kehilangan Hasil (%) = Bobot Buah yang Rusak (kg) x 100% Bobot Total Buah (kg) 6. Harga jual Harga jual di setiap titik pemasaran diperoleh melalui rata-rata harga jual salak per kg/minggu di tingkat petani, pedagang, dan supermarket.

KONDISI UMUM LOKASI

Kondisi Umum Kabupaten Sleman Kabupaten Sleman adalah bagian dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di ujung utara. Kabupaten Sleman merupakan jalur utama yang menghubungkan ibukota Propinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Secara administratif, Kabupaten Sleman memiliki batas–batas sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah. : Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. : Kabupaten Bantul dan Kota Madya Yogyakarta. : Kabupaten Kulon Progo Propinsi Daerah Tengah. Luas wilayah Kabupaten Sleman 57 482 ha, terbagi dalam 17 wilayah kecamatan yaitu: Moyudan, Minggir, Seyegan, Godean, Gamping, Mlati, Depok, Berbah, Prambanan, Kalasan, Ngemplak, Ngaglik, Sleman, Tempel, Turi, Pakem dan Cangkringan. Kabupaten Sleman terdiri dari 86 desa/kelurahan dan 1 027 dusun. Kabupaten Sleman merupakan daerah agraris, sebab sebagian besar rumah tangga adalah rumah tangga tani. Jenis komoditas yang dibudidayakan petani setempat yaitu padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dan salak pondoh. Usahatani salak pondoh merupakan suatu kegiatan kedua setelah penggarapan padi dan hasil-hasil sawah lainnya di kawasan Kabupaten Sleman. Kecamatan-kecamatan yang merupakan penghasil salak pondoh yang terbesar yaitu Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Kecamatan Sleman. Jenis salak pondoh yang ditanam oleh petani pada 5 kecamatan tersebut yaitu salak pondoh hitam, salak pondoh kuning, salak pondoh super, dan salak pondoh merah. Namun sebanyak 75% petani menanam jenis salak pondoh super. Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang Propinsi Jawa

Lokasi yang digunakan untuk usahatani salak pondoh merupakan lahan pekarangan dan sawah tadah hujan. Lahan-lahan tersebut sebelumnya telah diusahakan untuk usahatani padi, palawija, dan tanaman kehutanan. Lahan telah diatur tata letaknya sehingga setiap usahatani mempunyai akses ke jalan. Jalan tersebut dapat dilalui oleh kendaraan roda empat yang biasa digunakan untuk mengangkut sarana produksi dan produk usahatani. Profil Kecamatan Turi Kecamatan Turi berada di sebelah utara dari ibukota Kabupaten Sleman. Kecamatan Turi mempunyai luas wilayah 4 309 ha. Desa di wilayah administrasi Kecamatan Turi yaitu Desa Bangunkerto, Wonokerto, Donokerto, dan Girikerto. Kecamatan Turi berada pada ketinggian 400-550 m diatas permukaan laut. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Turi adalah 32ºC dengan suhu terendah 23ºC. Kecamatan Turi merupakan penghasil salak terbesar di Kabupaten Sleman. Jumlah produksi salak pondoh pada tahun 2006 mencapai 332 675 ton. Profil Kecamatan Pakem Kecamatan Pakem berada di sebelah utara dari ibukota Kabupaten Sleman. Kecamatan Pakem mempunyai luas wilayah 4 384.04 ha. Desa di wilayah administrasi Kecamatan Pakem yaitu Desa Hargobinangun, Harjobinangun, Pakembinangun, Purwobinangun, dan Candibinangun. Kecamatan Pakem berada pada ketinggian 500-600 m diatas permukaan laut. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Pakem adalah 32ºC dengan suhu terendah 18ºC. Dari data monografi kecamatan tercatat 10 590 orang atau 32.5% penduduk Kecamatan Pakem bekerja di sektor pertanian. Profil Kecamatan Tempel Kecamatan Tempel berada di sebelah barat laut dari ibukota Kabupaten Sleman. Kecamatan Tempel mempunyai luas wilayah 4 799 ha. Desa di wilayah administrasi Kecamatan Tempel yaitu Desa Banyurejo, Lumbungrejo, Margorejo, Merdikorejo, Mororejo, Pondokrejo, Sumberejo, dan Tambakrejo. Kecamatan Tempel berada pada ketinggian 320-400 m diatas permukaan laut. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Tempel adalah 35ºC dengan suhu

terendah 22ºC. Produksi pertanian yang paling banyak di kecamatan ini adalah salak yang mencapai 59 500 ton per tahun.

Profil Kecamatan Sleman Kecamatan Sleman berada di sebelah utara dari ibukota Kabupaten Sleman. Kecamatan Sleman mempunyai luas wilayah 3 132 ha. Desa di wilayah administratif kecamatan Sleman yaitu Desa Caturharjo, Pendowoharjo, Tridadi, Triharjo, dan Trimulyo. Kecamatan Sleman berada pada ketinggian 220-243 m di atas permukaan laut. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Sleman adalah 34 ºC dengan suhu terendah 22 ºC.

Profil Kecamatan Cangkringan Kecamatan Cangkringan berada di sebelah Timur Laut dari Ibukota Kabupaten Sleman. Kecamatan Cangkringan mempunyai luas wilayah 4 799 ha. Desa di wilayah administrasi Kecamatan Cangkringan yaitu Desa Argomulyo, Glagaharjo, Kepuharjo, Wukirsari, dan Desa Umbulharjo. Kecamatan Cangkringan berada pada ketinggian 350-400 m diatas permukaan laut. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Cangkringan adalah 32ºC dengan suhu terendah 18ºC.

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. BUDIDAYA SALAK PONDOH

Jenis salak yang sebagian besar diusahakan oleh petani yang menjadi responden di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman yaitu salak pondoh super. Petani mengganti jenis salak pondoh hitam, salak pondoh kuning ataupun salak pondoh merah dengan salak pondoh super untuk memenuhi permintaan konsumen. Hal ini karena salak pondoh super memiliki kelebihankelebihan yaitu warna kulit buah yang menarik, ukuran buah lebih besar, lebih cepat matang, dan lebih produktif. Pola usahatani salak pondoh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman pada umumnya bertujuan untuk menghasilkan buah sekaligus bibit. Teknik budidaya yang dilakukan oleh responden meliputi: persiapan lahan dan penanaman, pemeliharaan tanaman, serta penyerbukan dan pembuahan. Persiapan Lahan dan Penanaman Persiapan lahan bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai bagi tanaman agar tumbuh optimal dan menghasilkan buah yang berkualitas. Usahatani salak pondoh di Kecamatan Turi sebagian besar ditanam di pekarangan dan lahan tegalan, di Kecamatan Cangkringan dan Pakem usahatani salak pondoh sebagian besar ditanam pada lahan bekas sawah, sedangkan di Kecamatan Sleman dan Tempel usahatani salak pondoh sebagian besar ditanam di lahan bekas sawah dan pekarangan.

Pengolahan Lahan Pengolahan lahan dilakukan 3-4 minggu sebelum penanaman. Pengolahan lahan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis lahan. Pengolahan lahan yang dilakukan oleh petani responden di Kecamatan Turi, Sleman, dan Tempel menggunakan sistem konvensional yaitu dengan cara dicangkul, karena pekarangan dan lahan tegalan yang digunakan untuk menanam salak pondoh sudah cukup gembur. Sedangkan petani di Kecamatan Cangkringan dan Pakem sebagian besar menggunakan lokasi bekas sawah sehingga mereka mengolah

lahan yang akan ditanami menggunakan bajak untuk menggemburkan tanah. Untuk lahan padas atau berbatu, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: tanah dihancurkan kurang lebih sedalam 80-100 cm, batu-batu yang ada dibuang, kemudian ditambah dengan tanah yang subur. Pembuatan Lubang Tanam Lahan yang telah diolah kemudian dibuat lubang tanam berbentuk persegi panjang. Lubang tanam dibuat dengan menggunakan cangkul. Pada lahan bekas pertanaman salak jawa, lubang tanam dapat dibuat dengan cara penggalian langsung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 50 cm x 50 cm x 50 cm dan jarak tanam yang umumnya dipakai yaitu 2 m x 1.75 m atau 2 m x 2 m. Masing-masing lubang tanam diberi 4-5 kg pupuk kandang dan dicampur dengan top soil kemudian ditutup dan dibiarkan selama ± 2 minggu. Pembuatan lubang tanam dengan sistem bedengan dipakai oleh petani pada lahan bekas sawah yang akan ditanami salak pondoh (Gambar 1). Pembuatan bedengan ini bertujuan agar tanaman salak pondoh tidak tergenang air. Bedengan dibuat dengan ukuran tinggi 30 cm–40 cm, lebar 200 cm, ukuran panjang disesuaikan dengan luas lahan. Jarak antar bedengan sekitar 25 cm–40 cm. Pupuk kandang dicampur dengan tanah pada saat pembuatan bedengan, dosis pupuk kandang yang digunakan sekitar 20–30 ton per ha. Setelah pemberian pupuk kandang, bedengan dibiarkan selama 2 minggu. Kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 30 cm x 30 cm x 30 cm dan jarak tanam yang umumnya dipakai yaitu 2 m x 1.75 m atau 2 m x 2 m.

Gambar 1. Penanaman Salak Pondoh dengan Sistem Bedengan

Petani responden sebagian besar (50%) membuat lubang tanam dengan sistem guludan (Gambar 2). Cara ini sekaligus dapat membuang batu-batu besar yang ada di bawah permukaan tanah. Guludan dibuat dengan cara tanah dicangkul dan ditumpuk membentuk guludan memanjang. Jarak antara satu guludan dengan guludan lain 1.5 m–2 m. Pada jalur diantara dua guludan dibuat lubang tanam dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 30 cm x 30 cm x 30 cm dan jarak tanam yang umumnya dipakai yaitu 2 m x 2 m. Guludan (tumpukan top soil) akan dipakai untuk pembumbunan setelah tanaman salak pondoh berumur 2 tahun.

Gambar 2. Pengolahan Lahan dengan Sistem Guludan Jarak tanam sangat menentukan produktivitas tanaman. Jarak tanam yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sleman yaitu 2 m x 2 m dan 2.5 m x 2.5 m. Petani yang memiliki lahan sempit tidak memperhatikan jarak tanam, sebanyak 50 % petani responden memakai jarak tanam 2 m x 1.75 m serta sisanya memakai jarak tanam 2 m x 1.5 m dan 2 m x 2 m. Tujuannya adalah untuk menambah populasi tanaman, dengan harapan dapat meningkatkan produksi per satuan luas. Jarak tanam yang terlalu rapat akan menyebabkan persaingan tanaman dalam penyerapan hara, air, dan penerimaan sinar matahari. Selain itu jarak tanam yang terlalu rapat akan menyulitkan dalam pemeliharaan serta membuat kondisi kebun semakin lembab.

Penyiapan Bibit Penyiapan bibit tanaman adalah kegiatan menyiapkan bibit salak pondoh jantan dan betina untuk menghasilkan buah yang berkualitas baik. Bibit yang ditanam oleh para petani responden berasal dari Kabupaten Sleman. Petani mendapatkan bibit dari hasil pencangkokan atau tunas-tunas yang dihasilkan tanaman induk salak pondoh. Petani menggunakan bibit yang akarnya sudah penuh, tidak terserang penyakit, dan berasal dari induk dengan produktivitas tinggi.

Pembibitan Perbanyakan salak pondoh dapat dilakukan secara generatif (berasal dari biji) dan vegetatif. Mula-mula tanaman salak pondoh diperbanyak dengan biji, namun saat ini semua petani salak pondoh memakai sistem pencangkokan tunas anakan. Perbanyakan secara generatif memiliki kelemahan yaitu, dapat terjadi perubahan sifat yang tidak menguntungkan atau lebih buruk daripada sifat pohon induk, misalnya dalam hal bentuk, ukuran, warna kulit, dan rasa buah. Perbanyakan secara generatif hanya dilakukan untuk mendapatkan salak pondoh jantan. Para petani di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman melakukan perbanyakan secara vegetatif yaitu mencangkok anakan atau tunas dari induknya. Bibit hasil cangkokan memiliki kelebihan antara lain tanaman yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan induknya dan tanaman cepat berbuah Tunas anakan yang bisa di cangkok yaitu tunas yang telah mempunyai jumlah pelepah daun antara 2-4 pelepah. Petani di Kecamatan Turi dan Tempel mulai melakukan pencangkokan saat tanamannya berumur 1 tahun dari sejak penanaman bibit, sedangkan petani di Kecamatan Cangkringan, Sleman, dan Pakem mulai melakukan pencangkokan pada saat tanamannya berumur 1-1.5 tahun dari sejak penanaman bibit. Petani yang menjadi responden melakukan pencangkokan sampai tanaman berumur 6 tahun. Pada golongan umur tanaman > 8 tahun, biasanya petani tidak melakukan pencangkokan karena pohon induk sudah tua dan hasilnya tidak akan sebaik umur tanam sebelumnya. Ciri-ciri pohon salak pondoh yang yang baik untuk dijadikan

induk diantaranya; berumur lebih dari dua tahun, pertumbuhan baik, daunnya rimbun dan tidak menguning, bebas hama dan penyakit tanaman, berproduksi tinggi dan berkualitas baik. Teknik mencangkok tunas anakan adalah sebagai berikut: botol infus atau botol air mineral dipotong menjadi dua kemudian salah satu sisinya dilubangi 3 cm dari atas (Gambar 3a). Selanjutnya anakan yang akan dicangkok dibersihkan (Gambar 3b) kemudian dimasukkan pada bagian yang telah dilubangi (Gambar 3c). Botol dipenuhi dengan campuran lapisan tanah bagian atas dan pupuk kandang (1:1) (Gambar 3d). Pemeliharaan selama pencangkokan yaitu menjaga agar media cangkok tetap lembab dengan mengadakan penyiraman. Cangkokan sudah dapat dipisahkan dari induknya setelah berumur 3-4 bulan. Ciri cirinya yaitu munculnya akar serabut dalam jumlah yang cukup banyak dan ujung-ujung akar berwarna kuning tua kemerahan (Gambar 3e). Pemotongan tunas anakan dilakukan secara hati-hati dengan memakai pahat dan agar tidak merusak akar. Botol plastik dilepas memakai gunting, kemudian bibit dipindahkan ke keranjang bambu yang telah diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang (Gambar 3f). Kemudian keranjang bambu diletakkan di tempat yang teduh.

a

b

c

d

e f Gambar 3 (a-f). Proses Pencangkokan Salak Pondoh

Keterangan a: Pembuatan lubang pada salah satu sisi botol infus atau botol air mineral. b: Pembersihan tunas anakan yang akan dicangkok. c: Meletakkan botol infus yang telah dilubangi pada tunas anakan yang akan dicangkok. d: Mengisi botol dengan campuran tanah dan pupuk kandang (1:1). e: Cangkokan yang sudah berumur 3-4 bulan, dan sudah dipisahkan dari pohon induknya. f: Bibit salak pondoh yang telah dipindahkan dalam keranjang bambu yang berisi media tanam, bibit ini telah siap ditanam dan juga siap untuk dipasarkan.

Berdasarkan pengamatan di lapang terdapat beberapa petani yang melakukan pemisahan anakan tidak tepat waktu, baik terlalu cepat maupun terlalu lambat. Pemisahan anakan yang terlalu cepat mengakibatkan jumlah akar yang terbentuk masih sedikit sehingga apabila ditanam menyebabkan tanaman kurang tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Sedangkan pemisahan anakan yang terlalu lambat mengakibatkan pertumbuhan vegetatifnya terhambat. Pembentukan akar-akar baru pada bibit yang terlalu tua berjalan relatif lebih lambat. Jumlah tunas anakan yang dicangkok dibatasi karena dapat mengurangi munculnya bunga salak, hal ini akan berpengaruh terhadap produksi buah. Bibit salak pondoh selain dimanfaatkan untuk menanami lahan milik pribadi, petani juga menjual hasil pembibitan salak pondoh ke beberapa daerah. Bibit salak yang siap ditanam dan dipasarkan ditunjukkan pada Gambar 4. Aktivitas pembibitan yang dilakukan oleh petani responden di lima kecamatan dapat dilihat pada Tabel 3.

Gambar 4. Bibit Salak Pondoh yang Siap Dipasarkan (Berumur 5-6 Bulan) Variasi harga di tingkat produsen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah permintaan, jenis bibit; bibit salak pondoh super harganya lebih mahal di banding dengan jenis salak pondoh lain, lokasi penjualan; semakin jauh lokasi pemasaran maka harga bibit lebih mahal karena tambahan biaya pengangkutan. Tabel 3. Aktivitas Pembibitan Salak Pondoh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan

Kecamatan Turi

Rata-rata Jumlah Bibit/Pohon/Th 3

Harga per Bibit (Rp) (2 000 - 3 000)

Tujuan Pemasaran Banjarnegara, Magelang, Wonosobo Magelang Semarang, Kudus Purwokerto, Solo

Tempel Pakem Sleman

4 4 3 Can 3 gkri ngan

(2 500 - 3 000) (2 000 - 2 500) ( 2 000 - 3 000) (2 Banj 000 arne - 3 gara 000)

Sumber : Data Primer

Penanaman Penanaman dilakukan setelah lubang tanam siap. Bibit salak umumnya ditanam pada awal musim hujan, yaitu antara bulan Oktober-Desember karena salak pondoh memerlukan banyak air pada fase awal pertumbuhan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar tanaman tidak mengalami stress dan transpirasi yang tinggi. Apabila penanaman dilaksanakan pada saat frekuensi hujan kurang, maka dilakukan penyiraman pada pagi dan sore hari. Bibit salak pondoh dikeluarkan dari keranjang bambu dan diusahakan tanahnya masih tetap menempel pada akar. Lubang tanam disiram air secukupnya kemudian bibit dimasukan. Bibit kemudian ditimbun dengan tanah sedikit demi sedikit dan dipadatkan. Bibit ditopang dengan ajir agar tidak roboh. Bibit salak pondoh yang ditanam oleh sebagian besar petani responden tidak seragam dalam hal tinggi tanaman dan umurnya. Bibit yang tidak seragam ini akan mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan produksinya. Kondisi ini akan mengakibatkan perbedaan waktu berproduksi dan kualitas buah yang dihasilkan. Kebun salak pondoh milik petani responden di Kecamatan Turi disajikan dalam Gambar 5.

Gambar 5. Kebun Salak Pondoh Berumur 8-9 Tahun

Pola Tanam Pola penanaman yang digunakan sebagian besar responden adalah salak jantan berada disekeliling kebun. Pola ini mempunyai dua fungsi yaitu untuk memudahkan dalam mendapatkan bunga jantan yang siap menyerbuk dan sebagai pagar pengaman kebun. Namun adapula responden yang tidak menanam salak jantan di kebun mereka dengan alasan mengurangi populasi tanaman dan lahan mereka sempit. Hal tersebut mengakibatkan perlunya penambahan biaya untuk pembelian bunga jantan. Bibit yang baru ditanam diberi naungan dengan pelepah salak yang yang tua pada dua sisi agar tidak terkena cahaya matahari secara berlebihan.

Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan yang sering dilakukan pada pertanaman salak pondoh yaitu pemupukan, pengairan, pemangkasan, penyiangan, penegendalian hama dan penyakit tanaman, serta penjarangan buah.

Pemupukan Pemupukan pada salak pondoh dibedakan atas pemupukan awal pada saat tanam dan pemupukan lanjutan. Pemupukan awal terdiri atas pupuk kandang dengan dosis 6-7 kg/tanaman, campuran Urea dan SP-36 (1:1) dengan dosis 50

g/tanaman. Pemupukan awal ini diberikan sebelum penanaman, dicampur dengan tanah dan dimasukkan ke dalam lubang tanam. Pada pemupukan lanjutan dosis pupuk yang diberikan oleh petani sesuai dengan kondisi keuangan dan tingkat pengetahuan mereka. Petani yang memiliki hewan ternak dan lahan yang sempit umumnya hanya memberikan pupuk kandang saja. Sedangkan pupuk kimia yang digunakan yaitu Urea, SP-36, dan pupuk KCl. Sumber pupuk kandang berasal dari kotoran ternak besar (sapi, kerbau, kambing) dan ternak unggas. Para petani juga memanfaatkan pelepahpelepah daun salak yang telah dipangkas sebagai sumber pupuk organik. Hal ini dilakukan dengan cara meletakkan pelepah-pelepah daun tersebut disekitar tajuk tanaman dan menimbunnya dengan tanah. Frekuensi pemupukan yang dilakukan oleh responden yaitu sebanyak 2 kali/tahun dengan tidak membedakan umur tanaman. Pemupukan dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan, namun adapula responden yang memberi pupuk setelah panen raya. Dosis pupuk kandang yang diberikan yaitu 5-6 kg/tanaman/tahun. Dosis pupuk kimia yang diberikan ditunjukkan dalam Tabel 4. Tabel 4. Dosis Pupuk Kimia yang Diberikan per Tahun pada Setiap Tanaman Salak Pondoh yang berumur > 36 bulan dalam Dua Tahap Pemupukan Kecamatan
1

Urea (g)
2

SP-36 (g)
1 2 1

KCl (g)
2

Turi Tempel Pakem Sleman Cangkringan

15 15 15 10 10

15 15 15 10 10

15 10 10 10 10

15 10 10 10 10

10 15 10 10 10

10 15 10 10 10

Sumber : Data Primer (diolah)

Dosis pupuk yang diberikan berdasarkan Tabel 4 belum sesuai dengan dosis pupuk yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sleman (Tabel 5). Pupuk kimia diberikan dalam alur mengelilingi rumpun dengan jarak 40 cm - 50 cm dari pangkal batang atau dengan ditugal sebanyak 4 lubang per rumpun kemudian ditanam dalam lubang disekitar tajuk lalu ditimbun dengan tanah.

Tabel 4.

Dosis Pupuk Kimia yang Direkomendasikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sleman
Pupuk Kandang (g/rumpun) Pupuk Kimia (g/rumpun) Urea SP-36 KCl

Umur Tanaman Salak

0 -12 bulan (sebulan 1 x ) 12- 24 bulan (2 bulan 1 x) 24 -3 6 bulan (3 bulan 1 x ) Lebih dari 36 bulan (6 bulan 1 x )

1000 1000 1000 1000

5 10 15 20

5 10 15 20

5 10 15 20

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, 2005

Pengairan Air yang digunakan untuk pengairan pada saat musim kemarau berasal dari saluran irigasi yang ada. Pada saat musim kemarau, kebun salak yang letaknya berdekatan dengan sistem irigasi, pengairan dilakukan dengan cara mengalirkan air melalui parit-parit yang telah dipersiapkan sampai tanah menjadi basah. Sementara kebun yang tidak memiliki sistem irigasi, air diperoleh melalui sumber lain seperti sumur, pengairan dilakukan dengan mengalirkan melalui selang. Irigasi dilakukan pada pagi atau sore hari. Pengairan dilakukan secara bergiliran pada masing-masing petani salak pondoh (Tabel 5). Tabel 5. Kegiatan Pengairan Petani pada Pertanaman Salak Pondoh
Keterangan Frekuensi ٠ 0 kali/tahun ٠ 1 kali/tahun ٠ 2 kali/tahun ٠ 3 kali/tahun Sumber air Kecamatan Turi Tempel Pakem Sleman Cangkringan -------------------------------------%----------------------------------------10 25 11 25 0 40 50 56 13 57 30 25 44 100 43 20 0 0 0 0 Irigasi Sungai Sungai Irigasi Sungai Bedong Putih Opak Bedong Opak

Sumber : Data Primer (diolah)

Penggemburan

Penggemburan tanah bertujuan untuk memperbaiki drainase dan mendorong pertumbuhan tanaman salak dengan baik. Penggemburan oleh petani responden dilakukan setelah panen, yaitu sebanyak 4 kali per tahun menggunakan cangkul.

Pemangkasan Pemangkasan bertujuan untuk merangsang pertumbuhan pelepah daun yang baru, membersihkan areal tanah agar peredaran udara lebih baik, dan merangsang pembungaan yang lebih teratur. Pemangkasan dilakukan pada saat musim hujan atau pada saat menjelang bunga mekar. Pada tanaman yang mulai produktif berbunga atau berbuah, pemangkasan dilakukan pada tunas atau anakan pada pangkal batang agar tidak mengurangi produktivitas pohon induknya. Setiap rumpun cukup dipelihara 1-2 anakan. Metode pemangkasan yaitu dengan cara memotong pelepah daun menggunakan gergaji kurang lebih 5 cm dari batang pohon dan disisakan 8-10 pelepah per pohon. Rata-rata frekuensi pemangkasan dilakukan sebanyak 3-4 kali per tahun. Berdasarkan hasil pengamatan di lapang sebanyak 75% petani tidak melakukan pemangkasan secara rutin. Keadaan ini menyebabkan kondisi kebun menjadi lembab. Pada rumpun salak yang tidak dipangkas akan menghambat mekarnya bunga.

Penyiangan Penyiangan adalah membuang dan membersihkan rumput-rumput atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman salak dalam memperebutkan unsur hara dan air. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan. Petani melakukan penyiangan dengan cara langsung mencabuti gulma-

gulma yang ada disekitar tanaman atau menggunakan alat seperti sabit dan cangkul. Dari hasil pengamatan di lapang, ditemukan areal pertanaman salak pondoh yang dipenuhi gulma. Penyebabnya adalah jumlah tenaga kerja yang terbatas. Gangguan yang ditimbulkan oleh gulma dapat secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu, gulma dapat bersaing dengan tanaman utama (salak pondoh) dalam memperoleh air, zat makanan, sinar matahari, dan ruang gerak. Sedangkan secara tidak langsung gulma dapat menjadi tanaman inang penyebab penyakit sehingga dapat menjadi sumber penular penyakit. Tanaman salak yang tumbuh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman sebagian besar sudah berumur lebih dari 8 tahun. Peremajaan tanaman hampir tidak pernah dilakukan oleh petani responden. Hal ini disebabkan tanaman salak setelah berumur 8 tahun masih produktif, peremajaan menyebabkan petani menunggu selama 2 tahun untuk memperoleh produksi, dan untuk menghemat biaya. Proses peremajaan yang tidak dilakukan dapat menyebabkan tanaman yang berumur lebih dari 8 tahun roboh karena terlalu tinggi. Kondisi ini menyebabkan jarak tanam tidak teratur sehingga cahaya yang diterima tidak merata.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pengendalian hama dan penyakit tanaman tidak sering dilakukan oleh petani. Petani menganggap serangan hama dan penyakit masih di bawah ambang yang merugikan secara ekonomi dan tidak banyak mempengaruhi produksi secara keseluruhan. Musim hujan dan kondisi kebun yang terlalu lembab merupakan faktor penyebab terjadinya serangan penyakit terhadap tanaman. Tindakan pengendalian hama dan penyakit tanaman meliputi pengamatan terhadap gejala yang ditunjukkan pada tanaman, waktu pemberantasan, dan metode pemberantasan. Dalam hal pengamatan terhadap hama atau penyakit tanaman, para petani biasanya mengelilingi dan mengamati tanamannya satu minggu 2-3 kali. Kegiatan ini dilakukan agar serangan hama maupun penyakit dapat segera terdeteksi dengan cepat sehingga jumlah kerusakan dalam jumlah

yang besar dapat dikurangi. Metode yang digunakan petani dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) ditunjukkan pada Tabel 6. Tabel 6. Metode Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang Dilakukan oleh Petani Metode Pengendalian - Fisik -Kimia -Musuh alami -Teknik Budidaya Turi √ √ Tempel √ √ Kecamatan Pakem Sleman √ √ √ √ Cangkringan √ √

Sumber : Data Primer ; √ = dilakukan

- = tidak dilakukan

Metode pengendalian OPT secara fisik dan teknik budidaya digunakan oleh seluruh petani yang menjadi responden di lima kecamatan. Untuk pengendalian secara fisik tindakan yang dilakukan petani yaitu memotong bagian tanaman yang sakit lalu dibakar untuk menghilangkan sumber penular. Pengendalian melalui teknik budidaya dilakukan dengan cara memberantas gulma, penggemburan tanah setiap tiga bulan, serta pemangkasan anakan dan pelepah daun yang tidak berguna. Jenis OPT yang lazim terdapat pada tanaman salak pondoh yaitu larva penggerek batang (Oryctes rhinoceros) yang dalam bahasa jawa disebut ``gendon`` dan cendawan putih. Gendon adalah ulat pemakan inti daun muda yang berada di dalam batang dimana pangkal daun muda itu terdapat. Untuk memberantas larva penggerek batang dilakukan dengan cara, petani mencari dan mengamati lubang larva kemudian memasukkan kawat sampai mengenai larva. Namun jenis hama ini tidak terlalu mengkhawatirkan petani di lokasi penelitian karena jumlahnya tidak banyak. Cendawan putih menyerang pohon dan buah salak. Buah yang terserang penyakit ini akan rontok, cepat busuk, warna kulit buah tidak menarik. Pengendalian dilakukan dengan mengurangi kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung. Jenis OPT lain yang menyerang yaitu tikus dan tupai. Tikus menyerang buah salak pondoh yang masih muda dengan cara melubangi buah, hal ini berakibat buah tidak dapat dipanen. Cara untuk mengatasi hama tikus

yaitu dengan cara memasang perangkap. Sedangkan tupai menyerang buah salak yang sudah tua. Serangannya ditandai dengan adanya bekas gigitan pada bagian ujung buah dengan sisi yang rapi (rata). Pengendalian tupai dapat dilakukan dengan cara menghalaunya dan memasang perangkap.

Penyerbukan dan Pembuahan Penyerbukan Buatan Tanaman salak pondoh merupakan tanaman berumah dua, dimana bunga jantan dan bunga betina berada pada pohon yang berbeda. Penyerbukan yang dilakukan oleh petani responden menggunakan bantuan angin dan manusia. Penyerbukan dengan bantuan angin tidak efektif, karena perbandingan antara jumlah tanaman jantan dan betina yang belum ideal. Petani cenderung menanami lahannya dengan 90% tanaman betina dan 10% tanaman salak jantan. Sebagian besar petani di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan melakukan penyerbukan dengan bantuan manusia agar lebih efektif. Peranan tenaga manusia untuk memperlancar dalam proses penyerbukan sangat besar artinya karena banyak sedikitnya hasil buah tergantung kepada berhasil atau tidaknya proses penyerbukan ini. Namun demikian penyerbukan salak pondoh juga dapat dilakukan dengan bantuan serangga (secara alami). Ciri-ciri bunga betina (Gambar 6a) yang sudah matang yaitu pecah atau terbukanya seludang pembungkus bunga, bunga berwarna merah muda dan menyebarkan aroma semerbak, sedangkan bunga jantan yang dapat digunakan untuk menyerbuki ialah seludang bunganya telah terbuka, tepung sari mudah lepas, dan berwarna coklat kekuningan (Gambar 6b). Bunga salak pondoh jantan dan betina mempunyai daya tahan 3 hari setelah mekar.

a b Gambar 6. Bunga Betina (a) dan Bunga Jantan (b) Tanaman salak dapat berbunga sepanjang tahun. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani pada setiap kecamatan, seludang bunga tanaman salak pondoh keluar antara 30-40 hari setelah buah dipanen. Namun jumlah terbanyak bunga jantan yang mekar terjadi pada bulan Oktober-November dan bulan Februari-Maret sedangkan periode mekar bunga betina pada bulan SeptemberNovember dan bulan Maret-April. Pada bulan April jumlah bunga jantan di kebun sangat sedikit, sehingga petani membeli serbuk sari awetan ataupun membeli bunga jantan pada petani lain agar penyerbukan dapat dilaksanakan. Penyerbukan dengan bantuan manusia dilakukan dengan cara memotong bunga jantan yang telah dewasa lalu serbuk sari dioleskan di atas bunga betina yang telah dewasa. Satu tongkol bunga jantan dapat dipakai untuk menyerbuki 1011 tongkol bunga betina. Bunga betina yang telah diserbuki ditutup dengan pelepah daun untuk melindungi dari air hujan. Bungkus tersebut dibuka setelah 35 hari berikutnya agar bunga dapat berkembang dengan normal (Gambar 7).

Gambar 7. Proses Penyerbukan Buatan pada Tanaman Salak Pondoh

Pembuahan dan Pemeliharaan Buah Pemeliharaan terhadap kebersihan kebun tetap dilakukan agar tanaman tidak terganggu pertumbuhannya, dan menjaga kondisi kebun agar tidak terlalu lembab. Kebun yang terlalu lembab memudahkan serangan cendawan putih terutama terhadap buah salak. Jumlah buah salak per tandan relatif banyak dan letaknya berhimpitan. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan kurang optimal, sehingga untuk mengatasinya para petani melakukan penjarangan buah. Penjarangan buah adalah mengurangi jumlah buah dalam setiap tandan dengan tujuan buah dapat berkembang secara optimal sehingga diperoleh ukuran buah yang lebih besar serta seragam dan harga jual lebih tinggi. Rata-rata jumlah buah di lokasi penelitian yang tidak dijarangkan berkisar 20-30 buah per tandan. Buah salak yang dijarangkan disisakan sebanyak 12-15 buah dalam satu tandan. Meskipun jumlanya berbeda, bobot buah dalam satu tandan yang dijarangkan dan yang tidak dijarangkan berkisar 1-1.5 kg. Buah yang dijarangkan rata-rata tergolong dalam kelas A, sedangkan buah yang tidak dijarangkan rata-rata tergolong dalam kelas B dan C. Penjarangan buah dilakukan dengan cara: 1. Penjarangan pertama, dilakukan pada saat dua bulan setelah peyerbukan (ukuran buah sebesar kelereng) dengan cara memilih buah yang abnormal, terserang penyakit, atau buah yang normal tetapi posisinya terjepit.

2. Buah yang dipilih untuk dijarangkan ditusuk, kemudian tarik dengan kawat tajam atau tusuk sate. 3. Buah hasil penjarangan dibuang ke luar kebun. 4. Penjarangan kedua, sebulan setelah penjarangan pertama dengan cara yang sama seperti penjarangan pertama. 5. Tandan buah dibungkus dengan keranjang atau anyaman bambu sehingga menutupi semua butir-butir buah. Tujuan pembungkusan buah adalah untuk memperoleh buah berpenampilan menarik, berwarna cerah, dan melindungi buah dari serangan hama. Bungkus di buka saat akan panen. Respon petani terhadap penjarangan buah masih rendah meskipun mereka telah mengetahui manfaatnya (Tabel 7). Petani tidak melakukan penjarangan buah karena mereka menganggap bahwa penjarangan buah akan menurunkan produksi salak. Selain itu penjarangan buah yang dilakukan petani relatif sudah terlambat. Penjarangan saat ukuran buah sudah agak besar tidak berpengaruh terhadap peningkatan ukuran dan peningkatan kualitas buah. Industri pengolahan makanan sederhana yang memanfaatkan buah salak hasil penjarangan masih belum berkembang. Kegiatan budidaya salak pondoh di lima kecamatan ditunjukkan dalam Tabel 8.

Tabel 7. Persentase Jumlah Petani Responden yang Melakukan Kegiatan Penjarangan Buah Lokasi Kecamatan Turi Kecamatan Tempel Kecamatan Pakem Kecamatan Sleman Kecamatan Cangkringan
Sumber : Data Primer (diolah)

Petani (%) 30 25 0 10 0

Tabel 8. Kegiatan Budidaya Salak Pondoh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan Tahun 2006-2007 Kegiatan 1 1. Persiapan lahan 2 Penyiapan Bibit 3. Penanaman 4. Pemupukan 5. Pengairan 6. Pemeliharaan 7. Pencangkokan 8. Penyerbukan Buatan 9. Penjarangan buah 10. Panen Curah hujan (mm)
327 328 297 272 212
154 157

Bulan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

154

169

217

242

252

II. PANEN DAN PASCA PANEN

Panen Kriteria Panen Buah salak termasuk buah non klimakterik sehingga hanya dapat dipanen jika benar-benar telah matang di pohon. Umur buah salak dari saat penyerbukan sampai buah siap panen adalah 24-25 minggu. Ciri-ciri buah salak pondoh yang siap panen yaitu permukaan kulit bersih mengkilap, susunan sisiknya tampak lebih renggang, bila dipegang terasa lunak dan kulitnya tidak kasar, duri-duri kecil di permukaan kulit buah sudah tidak terlihat, dan mengeluarkan aroma salak. Sebagian besar petani responden mengetahui kriteria panen buah salak pondoh dari tandan, penampilan buah, dan aroma buah (Gambar 8).

a

b

Gambar 8. Salak Pondoh Super (a) dan Salak Pondoh Hitam (b) yang Siap Panen Berdasarkan pengamatan di lapang, sebanyak 50% petani melakukan pemanenan pada saat umur buah relatif masih muda. Pertimbangan petani melakukan panen pada kondisi ini yaitu, meskipun buah masih muda tetapi rasanya tetap manis, dan secara komersial dapat diterima konsumen dan tidak menurunkan nilai jual. Seharusnya, untuk mendapatkan buah yang berkualitas baik, pemanenan dilakukan sesuai dengan kriteria panen yang telah diketahui oleh petani.

Musim Panen Tanaman salak pondoh memiliki kemampuan berbunga sepanjang tahun apabila pemeliharaan dilakukan secara intensif. Musim panen raya terjadi pada musim hujan yaitu bulan November-Januari, masa panen kecil terjadi pada bulan Februari-April dan musim panen sedang terjadi pada bulan Mei-Juli. Pada bulan Agustus-Oktober buah yang ada di kebun sangat sedikit bahkan tidak ada.

Peralatan dan Cara Panen Peralatan yang digunakan untuk memanen salak pondoh yaitu pisau, sabit, dan pahat yang tajam. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong tandan buah dengan pisau atau sabit apabila buah dalam tandan matang keseluruhan (Gambar 9). Jika buah matang hanya sebagian maka panen dilakukan dengan cara memuntir buah yang yang telah matang. Petani salak pondoh menggunakan keranjang bambu untuk menampung buah setelah panen.

Gambar 9. Pemanenan Salak Pondoh Panen dilakukan pada pagi hari (pukul 08.00-10.00) saat buah sudah tidak berembun. Jika panen dilakukan terlalu pagi dan buah masih berembun maka buah akan mudah kotor dan bila luka sangat rentan terserang penyakit. Bila panen dilakukan pada siang hari, buah akan mengalami penguapan sehingga susut lebih banyak.

Produktivitas Frekuensi panen dipengaruhi oleh jumlah buah yang ada. Pada periode panen raya, tanaman salak dapat dipanen sebanyak 3-4 kali dalam sebulan. Pada saat penelitian, sedang berlangsung musim panen kecil (Februari-April) dan panen sedang (Mei-Juli) sehingga frekuensi panen yang dilakukan oleh sebagian besar responden sebulan sekali. Namun jika permintaan cukup banyak, petani salak bisa juga melakukan pemanenan pada buah salak yang belum tua sehingga frekuensi panen tidak tentu. Produktivitas salak pondoh di lima kecamatan contoh disajikan dalam Tabel 9. Tabel 9. Produktivitas Salak Pondoh di Lima Kecamatan Contoh Tahun 2006-2007 Kecamatan Turi Tempel Pakem Sleman Cangkringan Produktivitas (kg/m2/tahun) 2.2 2.1 2.2 2.0 2.0 Produktivitas (kg/rumpun/tahun) 9.0 8.7 8.8 7.9 8.1

Sumber : Data Primer (diolah) Keterangan : Data lengkap di Tabel Lampiran 1-5

Produktivitas salak di lokasi penelitian dipengaruhi oleh keberhasilan dalam penyerbukan, kondisi tanaman, dan tingkat kerajinan petani dalam melakukan penyerbukan buatan. Penyerbukan tidak berhasil apabila tandan bunga busuk sebelum menjadi buah. Tandan bunga yang busuk dipengaruhi oleh kelembaban di sekitar tanaman. Kelembaban berkaitan dengan banyaknya curah hujan dan pemangkasan. Tanaman salak yang tidak dipangkas, khususnya pada saat musim hujan menyebabkan terjadinya busuk bunga. Tandan bunga yang mati dapat juga disebabkan tidak terjadinya pembuahan. Kemungkinan tersebut dikarenakan tidak seiringnya periode mekar bunga jantan dan periode mekar bunga betina serta tingkat kerajinan petani dalam melakukan penyerbukan. Berdasarkan hasil pengamatan, produktivitas salak pondoh per satuan luas di lima kecamatan contoh berkisar 2.0-2.2 kg/m2. Kondisi ini dipengaruhi oleh luas lahan yang dimiliki oleh petani responden tidak berbeda jauh antara petani satu dengan yang lainnya. Selain itu tingkat pemeliharaan terhadap kebun salak

oleh petani di masing-masing kecamatan contoh relatif sama sehingga produksi buah per satuan luas juga relatif sama. Faktor yang membedakan terletak pada kerajinan petani dalam melakukan penyerbukan buatan dan kegiatan pemangkasan yang rutin. Rata-rata petani responden di Kecamatan Turi dan Pakem segera melaksanakan penyerbukan buatan bila bunga betina dan bunga jantan telah mekar karena daya tahan bunga hanya 3 hari. Apabila tidak tersedia bunga jantan di kebun milik pribadi maka mereka membeli seludang bunga jantan dari kebun petani lain ataupun membeli serbuk sari awetan di toko pertanian. Produktivitas tanaman per rumpun yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Turi yaitu sebesar 9.0 kg/rumpun. Nilai produktivitas di Kecamatan Turi tidak jauh berbeda dengan 4 kecamatan contoh lainnya yang berkisar 7.5-8.8 kg/rumpun. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi kebun dan tanaman salak pondoh di masing-masing petani. Nilai produktivitas dibawah 9.0 kg/rumpun sebagian besar disebabkan oleh tandan bunga yang busuk karena kelembaban yang tinggi, umur tanaman yang lebih dari 10 tahun sehingga produksinya mulai menurun, dan tingkat kerajinan petani dalam penyerbukan.

Penanganan Pasca Panen Buah salak yang telah dipanen perlu penanganan yang baik untuk menghindari terjadinya kerusakan, sehingga kualitasnya tetap terjaga sampai ke konsumen serta tidak mengurangi pendapatan petani. Penanganan pasca panen meliputi pembersihan, sortasi, pengkelasan, pengemasan, penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan (Tabel 10). Tabel 10. Penanganan Pasca Panen di Setiap Pelaku Pemasaran Penanganan pasca panen
Pengangkutan Penyimpanan Pembersihan Pengkelasan Pengemasan

Petani Pedagang Pengumpul Pedagang pengecer PD Agro Tama Supermarket Mirota Kampus: - Bulak Sumur - Babarsari

√ √
-

Sortasi

Pelaku Pemasaran

√ √
-

-

√ √ √ √

Pengolahan

-


-

√ √ √ √

√ √ √

-

√ √

√ √

√ √

-

-

-

Sumber: Data Primer ; √ = dilakukan - = tidak dilakukan

Pembersihan Buah yang telah dipanen dibersihkan dari serasah dan sisa-sisa seludang yang masih melekat atau tangkai tandan yang terlalu panjang, serta dari sisa-sisa duri. Pembersihan dilakukan menggunakan sikat atau kuas dengan gerakan searah susunan sisik. Berdasarkan Tabel 10, seluruh petani di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman melakukan kegiatan pembersihan setelah panen. Kegiatan pembersihan ulang secara random di lakukan di tingkat pedagang pengumpul di Pasar Turi, Pasar Balerante, Pasar Tempel, dan pedagang pengecer. Kegiatan pembersihan seperti ini juga dilakukan oleh PD Agro Tama yang

mengirim produknya menuju supermarket. Buah salak harus benar-benar bersih karena pihak supermarket Mirota Kampus tidak melakukan pembersihan ulang. Sortasi Petani di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman belum seluruhnya melakukan kegiatan sortasi. Hal ini karena jumlah petani lebih banyak dibandingkan jumlah pedagang sehingga posisi tawar petani rendah. Pada umumnya petani menerima harga yang ditetapkan oleh pedagang. Selain itu harga jual salak yang sudah disortir dan yang belum tidak terlalu berbeda jauh, sehingga petani tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan untuk penyortiran. Pedagang pengumpul di Pasar Balerante, Pasar Tempel, Pasar Turi, dan pedagang pemasok yang hendak mengirim buah salak ke luar kota maupun menuju supermarket melakukan tindakan sortasi setelah membeli buah dari petani. Sortasi dilakukan cukup ketat untuk menghindari tercampurnya kualitas buah. Sortasi bertujuan untuk menghindarkan kerusakan akibat kontak atau sentuhan antara buah yang sehat dengan buah yang berpenyakit atau busuk, serta untuk memisahkan antara buah yang harus dipertahankan dalam satu tandan buah dan yang perlu dilepas dari tandan. Pedagang pengecer yang membeli salak pondoh dari petani atau pedagang pengumpul melakukan kegiatan sortasi lagi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah buah yang rusak karena produk telah mengalami proses penyimpanan dan pengangkutan oleh pelaku pemasaran sebelumnya. Kegiatan sortasi di supermarket Mirota Kampus dilakukan pada saat penerimaan barang dari PD Agro Tama dan produk yang ada dalam display. Buah yang dipesan langsung diterima oleh 2 orang petugas Quality Control (QC) supermarket Mirota Kampus. Sortasi dilakukan untuk melihat penampilan fisik (warna dan bentuk yang seragam, buah tidak tergores, pecah, dan busuk) serta untuk memisahkan buah salak yang terlalu matang. Jika produk tidak sesuai dengan standar permintaan dari supermarket Mirota Kampus maka produk akan dikembalikan. Produk yang ada dalam display dilakukan sortasi setiap hari. Produk yang mulai mengalami kerusakan (busuk dan memar) karena telah melewati toleransi umur simpan segera dibuang agar tidak mempengaruhi buah

yang masih bagus. Pengawasan mutu dilakukan setiap hari, diprioritaskan pada buah yang melewati umur simpan dan dilakukan secara random. Kegiatan sortasi oleh masing-masing pelaku pemasaran dilakukan secara visual berdasarkan ukuran dan penampakan buah. Kendala yang dialami pedagang dalam melakukan sortasi adalah belum adanya alat sortasi yang baik dan praktis. Hal ini menyebabkan dalam pelaksanaannya hasil sortasi yang didapat kurang bagus yaitu, masih sering tercampurnya antara buah yang baik dengan buah yang kualitasnya rendah, pemilihan buah yang kurang teliti sehingga buah yang seharusnya dibuang seperti buah yang luka dan masih muda ikut terbawa. Pengkelasan Tabel 10 menunjukkan bahwa petani tidak melakukan pengkelasan karena mereka menjual buah salak kepada pedagang masih dalam bentuk tandan. Apabila petani menjual dalam bentuk butiran, pengkelasan juga tidak dilakukan untuk menghemat biaya. Petani menjual salak pondoh dalam bentuk campuran baik ukuran maupun tingkat kematangannya. Kegiatan pengkelasan dilakukan untuk meningkatkan nilai jual dan mendapatkan buah yang seragam kualitasnya. Pedagang pengumpul di Pasar Tempel melakukan pemisahan buah salak pondoh super menjadi tiga kelas (Tabel 11). Tabel 11. Standar Pengkelasan di Tingkat Pedagang Jenis salak Salak Pondoh Super Salak Pondoh Kuning Salak Pondoh Hitam
Sumber: Data Primer

Kelas A berbiji 3 berjumlah 9 -11 butir / kg berbiji 3 berjumlah 10-14 butir / kg berbiji 3, berjumlah 10 -15 butir / kg

Kelas B berbiji 3 berjumlah 13-16 butir /kg berjumlah 15-18 butir / kg berjumlah 16-20 butir / kg

Kelas C berjumlah 1618 butir /kg berjumlah 1920 butir / kg berjumlah 2023 butir / kg

Supermarket Mirota Kampus hanya menjual salak pondoh super kelas A, pengkelasan yang dilakukan oleh pihak supermarket yaitu memilih buah yang seragam dalam ukuran (10-12 butir setiap kg), warna kulit coklat kekuningan, dan

bentuk yang seragam yaitu bulat memanjang. Kegiatan sortasi dan pengkelasan di tingkat pedagang ditunjukkan dalam Gambar 10.

Gambar 10. Kegiatan Sortasi dan Pengkelasan di Tingkat Pedagang Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, diketahui bahwa secara umum standar pengkelasan di setiap pelaku pemasaran berdasarkan kesepakatan antar pelaku pemasaran. Sehingga tidak ada jaminan keseragaman kualitas bagi konsumen. Pengemasan Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan, mempermudah dalam penyusunan, baik dalam pengangkutan maupun dalam gudang penyimpanan, dan untuk mempermudah perhitungan Kegiatan pengemasan dilakukan oleh seluruh pelaku pemasaran. Jenis kemasan ada dua jenis yaitu kemasan transportasi dan kemasan konsumen. Kemasan transportasi yaitu kemasan dengan kapasitas besar yang digunakan oleh pedagang selama menuju tempat penjualan. Kemasan konsumen yaitu kemasan dengan kapasitas kecil untuk pemilihan, pengemasan, dan penimbangan produk yang dibeli oleh konsumen.

Petani di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan menggunakan keranjang bambu yang berkapasitas 25-40 kg untuk mengangkut buah dari dari lokasi panen menuju tempat penyimpanan atau rumah pedagang pengumpul. Sebagian besar petani yang menjadi responden tidak melakukan pengemasan konsumen karena petani tidak berhubungan langsung dengan konsumen. Namun, adapula konsumen yang langsung membeli dari petani. Mereka adalah konsumen yang membutuhkan buah dalam jumlah banyak untuk suatu hajatan, ataupun wisatawan domestik yang memetik sendiri di kebun petani, kemasan konsumen dari petani berupa kantung plastik. Pedagang pengumpul juga menggunakan keranjang bambu untuk mengangkut salak pondoh menuju Pasar Balerante dan Pasar Turi. Para pedagang yang menjadi responden menggunakan bantalan dari jerami, daun pisang kering atau kertas pada dasar kemasan agar buah tidak saling bergesekan/berbenturan satu sama lain pada saat pengangkutan. Jenis kemasan yang digunakan bervariasi di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman, dan Cangkringan (Tabel 12). Tabel 12. Jenis Kemasan yang Digunakan di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman dan Cangkringan Jenis kemasan Keranjang bambu Manfaat Kapasitas (kg) 25-50 Pengemasan oleh petani dari kebun ke tempat pengumpulan buah Pengemasan dari petani ke pasar lokal atau lokasi yang tidak terlalu jauh (pengangkutan paling lama sehari) Pengemasan oleh pedagang 25-30 pemasok untuk tujuan luar DIY Pengemasan oleh pedagang 1-5 pengecer untuk konsumen Pemajangan buah pada etalase 20-25 toko/supermarket Pengemasan untuk tujuan luar 30-50 DIY Pengemasan untuk tujuan luar 20-25 DIY

Kotak kayu Kantong Plastik Keranjang plastik Karung Anyaman Bambu (Besek)
Sumber: Data Primer

-

Kemasan yang digunakan oleh PD Agro Tama menuju Mirota Kampus supermarket yaitu keranjang anyaman bambu (besek) yang berkapasitas 20-25 kg. Pedagang pengecer menggunakan karung untuk kemasan transportasi. Pengemasan konsumen dilakukan di Mirota Kampus Supermarket berupa kantung plastik transparan putih dan pedagang pengecer berupa kantung plastik kecil dengan kapasitas 1-4 kg. Kemasan konsumen tidak memberikan nilai tambah dalam penjualan. Pengemasan dengan keranjang bambu memiliki kelemahan yaitu anyaman bambu mudah lepas sehingga tidak cukup untuk melindungi buah, mudah berubah bentuk karena konstruksinya lemah, banyak buah memar akibat benturan sesama buah dan daya simpan buah rendah. Kelebihan dengan keranjang bambu yaitu harganya murah sekitar Rp 1 500-Rp 2 500 per keranjang dan mudah diperoleh. Jenis kemasan ini yang paling banyak digunakan oleh responden. Pengemasan dengan kotak kayu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan keranjang bambu karena konstruksi kayu yang lebih kuat. Pada saat pengangkutan kemasan dapat diatur secara bertumpuk dengan baik namun biaya pengemasan lebih mahal. Jenis kemasan ini umumnya digunakan oleh pedagang pemasok yang akan menjual salak pondoh keluar provinsi DIY. Jenis kemasan yang umum digunakan oleh para pedagang ditunjukkan dalam Gambar 11.

a b Gambar 11. Kemasan Salak untuk Tujuan Luar Provinsi DIY (a) dan Kemasan Salak untuk Tujuan Lokal (b)

Teknik pengemasan salak pondoh yang dilakukan oleh pedagang pengumpul yaitu, buah salak yang masih utuh pada tandan diletakkan di tengah dan disekelilingnya diletakkan butiran salak yang sudah lepas dari tandan. Kendala yang sering dijumpai dalam pengemasan yaitu sering terjadi pencampuran buah yang berbeda tingkat kematangannya maupun kualitasnya. Buah yang matang apabila dicampur dengan buah yang tidak terlalu matang akan mempercepat proses pematangan, karena buah yang matang menghasilkan etilen. Pengemasan di tingkat pedagang seringkali melebihi kapasitas, isi kemasan yang terlalu penuh mangakibatkan bertambahnya tekanan pada buah. Kegiatan pengemasan salak pondoh yang akan dipasarkan ke luar provinsi DIY oleh pedagang pemasok ditunjukkan dalam Gambar 12.

Gambar 12. Kegiatan Pengemasan Salak Pondoh untuk Tujuan Luar DIY

Penyimpanan Petani di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Sleman dan Cangkringan tidak melakukan kegiatan penyimpanan karena buah langsung dijual kepada pedagang yang telah menjadi pelanggan mereka. Kegiatan penyimpanan dilakukan oleh pedagang pengumpul, pedagang pemasok, dan pedagang pengecer. Produk yang telah dikemas di dalam karung atau keranjang kemudian disimpan

dalam gudang penyimpanan atau disimpan di dalam rumah karena menunggu pembeli selama 1-2 hari. Pada saat penyimpanan para pedagang sering menumpuk keranjang buah. Kondisi ini menyebabkan buah pada lapisan dasar dalam kemasan yang paling bawah dari tumpukan akan mengalami kerusakan tekan akibat penambahan tekanan dari tumpukan kemasan. Penyimpanan yang dilakukan para pedagang hanya bersifat sementara dan dilakukan di lapangan. Petani dan pedagang belum melakukan kegiatan penyimpanan yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan buah salak sebelum dipasarkan. Kegiatan penyimpanan yang dilakukan PD Agro Tama hanya bersifat sementara. PD Agro Tama belum melakukan kegiatan penyimpanan yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan buah. Pengangkutan Petani memikul sendiri buah yang sudah dipanen dan dikemas dalam keranjang bambu menuju gudang penyimpanan atau menuju tempat tinggal mereka karena jarak yang dekat dan biasanya berada pada satu lokasi. Salak pondoh yang hendak dijual ke pedagang pengumpul atau pasar tradisional diangkut menggunakan sepeda motor apabila jumlahnya mencapai ± 150 kg. Jika jumlah yang dipasarkan lebih dari 150 kg, para responden menyewa angkutan umum atau menggunakan mobil pick-up dan biaya transportasi ditanggung oleh petani. Pengangkutan buah untuk tujuan luar kota dilakukan pada pagi hari (pukul 03.00–06.00) untuk menghindari panas matahari karena selama pengangkutan menggunakan mobil pick-up produk hanya ditutup dengan terpal. Sinar matahari dapat menyebabkan kulit buah salak segar cepat mengering sehingga kulit lengket pada daging buah dan sukar dikupas serta masa simpan pendek. Pengangkutan pada sore atau malam hari menggunakan truk dilakukan apabila kondisi cuaca cerah dan menuju kota–kota besar seperti Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali.

Produk Olahan Salak Pondoh Kripik buah merupakan hasil olahan produk buah segar dalam bentuk makanan ringan (Chip) yang diolah dengan mesin penggoreng sistem hampa (Vacuum Frying). Pembuatan kripik buah merupakan peluang usaha baru di bidang agroindustri pada skala rumah tangga, karena dapat meningkatkan nilai tambah. Berdasarkan hasil survei, pengolahan salak mendapat bantuan menjadi keripik salak (Gambar 13a) hanya dilakukan oleh petani di Kecamatan Turi. Kecamatan Turi khusus yaitu Vacuum Frying yang di khususkan untuk membuat keripik buah dan sayuran tertentu. Meskipun demikian jumlah produksinya sedikit sekali dan produk diolah apabila ada pesanan dari hotel-hotel, rumah makan dan toko oleh-oleh di wilayah Kabupaten Sleman. Petani di Kecamatan Tempel membuat produk olahan berupa dodol salak (Gambar 13b) dan sebagian besar dipasarkan menuju Pasar Bringharjo Yogyakarta. Petani lebih suka menjual salak dalam produk segar karena harga minyak goreng yang semakin mahal, mesin penggorengan yang jumlahnya terbatas dan saat ini kondisinya sudah tidak terlalu baik, serta proses pembuatan yang cukup lama apabila digoreng tanpa mesin.

a

b

Gambar 13. Keripik Salak (a) dan Dodol Salak (b)

Pemasaran Usahatani salak pondoh di Kabupaten Sleman mempunyai rantai pemasaran yang mudah karena lembaga pemasaran yang terkait telah ada sebelum salak pondoh dibudidayakan oleh petani yaitu sejak petani menanam salak jawa, sehingga semua hasil mudah terjual.

Lokasi Pemasaran Lokasi pemasaran yang dijadikan pusat transaksi jual beli salak pondoh di lokasi penelitian berada di tiga pasar tradisional yaitu Pasar Balerante di Kecamatan Turi, Pasar Turi di Kecamatan Turi, dan Pasar Tempel di Kecamatan Tempel. Dari ketiga pasar tersebut tidak ada perbedaan fungsi yang tegas tetapi ada kecenderungan bahwa Pasar Balerante dan Pasar Turi merupakan tempat untuk mengumpulkan salak pondoh dari petani dan pedagang pengumpul dan sebagai tempat pengiriman salak pondoh di wilayah DIY dan Jawa Tengah, sedangkan Pasar Tempel sebagai pasar tempat untuk mengumpulkan salak pondoh dari pedagang pemasok dan sebagai tempat pengiriman salak pondoh ke luar DIY (Jakarta, Surabaya, Malang, dan Bali). Pemasaran menuju supermarket terbatas karena menurut informasi pihak masing-masing supermarket yang menjadi responden permintaan dari konsumen rendah. Hal ini karena kesukaan konsumen terhadap buah-buahan impor dibandingkan buah lokal khususnya salak pondoh. Selain itu harga salak pondoh yang jauh lebih mahal di supermarket menyebabkan konsumen lebih suka membeli salak pondoh di pasar atau di toko-toko buah. Lembaga Pemasaran a. Petani Karateristik petani responden ditunjukkan pada Tabel 13. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa petani responden masih dalam fase usia produktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani masih dalam kondisi fisik yang mendukung usaha tani salak pondoh, karena dalam pengolahan tanah, pemeliharaan dan pemanenan memerlukan fisik yang kuat.

Tabel 13. Karakteristik 42 Petani di Lima Kecamatan Contoh Kecamatan Umur (th)
Pendidikan (th) Luas lahan (m )
2

Turi 40.5 10.5 579

Tempel 38.1 10.9 540.6

Pakem 39.6 10.8 557.5

Sleman 40.1 11.1 541.4

Cangkringan

37.8 11.0 557.7

Sumber : Data Primer (diolah)

b. Pedagang pengumpul Pedagang pengumpul melakukan pembelian secara langsung kepada petani. Transaksi biasanya langsung dilakukan di rumah petani. Sebagian besar responden berfungsi sebagai perantara karena menjual kembali buah salak tersebut kepada pedagang pemasok. Pedagang pengumpul tidak mengeluarkan biaya karena semuanya ditanggung pedagang pemasok. Proses pembayaran dilakukan secara tunai atau kredit dengan jangka waktu 1-4 hari, tergantung kepercayaan dan kondisi keuangan pedagang. c. Pedagang pemasok Pedagang pemasok membeli salak pondoh langsung dari petani atau pedagang pengumpul. Pembelian dilakukan di rumah petani, rumah pedagang pemasok, atau di pasar kecamatan. Pedagang pemasok menanggung resiko penyusutan maupun kerusakan barang saat penyortiran maupun selama perjalanan. Selain itu, resiko yang ditangung oleh pedagang pemasok yaitu tidak dilunasinya barang dagangan oleh pembeli. Pedagang pemasok menjual barang dagangannya ke supermarket di wilayah Provinsi DIY, pedagang pengecer di wilayah sleman dan Provinsi DIY, menjual produk ke luar Provinsi DIY seperti Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Semarang, Kudus, dan Demak. d. Pedagang pengecer Pedagang pengecer membeli buah salak pondoh dari petani, pedagang pengumpul dan pedagang pemasok. Pedagang pengecer yang membeli buah dari petani langsung menjual barang dagangannya di sepanjang jalan utama Kabupaten

Sleman, di daerah obyek-obyek wisata, disepanjang jalan di Malioboro, Pasar Bringharjo, dan menjual sendiri di toko buah milik pribadi. Pembayaran dilakukan secara tunai maupun kredit. Sistem pembayaran tergantung pada rasa kepercayaan, dan kondisi keuangan pedagang pengecer. Waktu pelunasan yaitu 4-5 hari setelah kegiatan transaksi. Karakteristik masingmasing pedagang ditunjukkan pada Tabel 14. Tabel 14. Karakteristik 19 Pedagang yang Menjadi Responden Kecamatan Umur (th) Pendidikan (th)
Sumber : Data Primer (diolah)

Pedagang Pengumpul 40.2 11.2

Pedagang Pemasok 45 12

Pedagang Pengecer 41.7 11.5

Saluran Pemasaran Pengamatan pelaku pemasaran salak pondoh pada penelitian ini diawali dari petani sebagai produsen kemudian pada setiap pelaku pemasaran yang terlibat sesuai dengan pola pemasaran. Salak pondoh selain dipasarkan di wilayah Kabupaten Sleman dan Yogyakarta, produk juga dipasarkan ke Solo, Semarang, Banjarnegara, Porwokerto, Surabaya, Jakarta, dan Bali. Kriteria pemilihan pola pemasaran dari petani berdasarkan: a. b. c. d. e. Pola I Pola II Kemampuan petani menghasilkan salak Musim panen salak Harga jual salak Transportasi Kemampuan finansial petani Pola pemasaran yang ada di lima kecamatan terdapat 4 pola yaitu : = Petani → Pedagang Pengumpul → Konsumen = Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen Konsumen Pola IV = Petani → Pedagang Pemasok → Grosir Luar Kota → Pedagang Pengecer → Konsumen

Pola III = Petani → Pedagang Pemasok → Supermarket/Toko Buah →

Pola pemasaran yang diamati hanya pola I, pola II, dan pola III karena penelusuran distribusi salak antar provinsi tidak dilakukan selama penelitian. Petani yang menghasilkan buah salak sedikit karena luas lahan yang sempit akan menjual buah salak ke pedagang pengumpul desa. Keuntungannya yaitu petani tidak perlu menanggung biaya transportasi menuju tempat pemasaran, meskipun harga di tingkat pedagang pengumpul lebih rendah dari pedagang pengecer (pola I). Apabila petani mampu menghasilkan buah salak dalam jumlah yang besar maka akan memilih langsung menjual ke pedagang pemasok atau pedagang pengecer (pola II dan pola IV), tergantung mana yang memberikan harga jual yang lebih tinggi. Pada musim panen raya petani lebih memilih langsung menjual ke pedagang pemasok dan pedagang pengumpul karena harga salak yang rendah (pola I dan pola IV). Sedangkan pada musim panen gadu (panen kecil dan sedang) petani memilih langsung menjual ke pedagang pengecer dan langsung ke konsumen (pola II). Petani salak Pondoh di lima kecamatan (Turi, Tempel, Pakem, Sleman dan Cangkringan) umumnya menjual salak ke pedagang pengumpul desa karena adanya rasa keterikatan dan kekerabatan yang kuat antar petani dan pedagang pengumpul, selain itu lebih praktis, karena pedagang pengumpul dapat membeli langsung di lokasi pemanenan. Meskipun harga lebih rendah jika dibandingkan menjual ke pasar tetapi petani tidak direpotkan lagi dengan masalah pengangkutan. Selain itu tidak perlu mencari pembeli salak serta petani tidak menanggung resiko jika salak tidak terjual setelah pemanenan, karena salak yang tidak langsung terjual beratnya akan menyusut dan resiko buah menjadi busuk juga tinggi. Tiga alasan ini yang umumnya menyebabkan petani memilih menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul.

Kehilangan Hasil Total kehilangan hasil pada setiap lembaga pemasaran ditunjukkan dalam Tabel 15. Jumlah kehilangan hasil terendah pada pola pemasaran I terdapat di tingkat petani yaitu sebesar 4.0% sedangkan persentase kehilangan terbesar di tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 8.7%. Kehilangan hasil yang tinggi karena karena pola pemasaran ini paling panjang. Jumlah buah yang rusak sudah

cukup banyak ketika sampai ke pedagang pengecer karena adanya proses penyimpanan dan pengangkutan oleh lembaga pemasaran sebelumnya. Kegiatan pengangkutan yang tidak tepat di tingkat pedagang pengumpul seperti menumpuk keranjang buah dan menggunakan keranjang yang kondisinya kurang baik dapat menambah jumlah kerusakan. Pada pola pemasaran II persentase kehilangan hasil terbesar di tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 7.7%. Total kehilangan hasil terbesar pada masing-masing pola pemasaran terdapat di tingkat pedagang pengecer karena adanya kegiatan sortasi dan grading yang cukup ketat oleh pedagang pengecer setelah membeli dari petani. Selain itu pedagang pengecer melakukan kegiatan penyimpanan sampai stok buah habis. Apabila dilakukan dalam waktu lama karena menunggu konsumen menyebabkan buah busuk. Tabel 15. Total Kehilangan Hasil pada Masing–Masing Pelaku Pemasaran Pelaku Pemasaran Kehilangan Hasil (%) Salak Pondoh Super Pola I -Petani -Pengumpul Pasar Turi Pasar Balerante Pasar Tempel -Pengecer Pola II -Petani -Pengecer Pola III -Petani -PD Agro Tama -Mirota Kampus Supermarket cabang: Babarsari Bulak Sumur 4.2 4.5 4.7 4.9 8.4 4.3 7.5 4.2 6.5 5.7 5.9 Salak Pondoh Hitam 3.9 4.0 4.2 4.6 8.9 4.0 7.8 -

Sumber : Data Primer (diolah) Keterangan : Data lengkap ditunjukkan dalam Tabel Lampiran 6-12

Persentase kehilangan hasil terbesar pada pola pemasaran III terdapat di tingkat PD Agro Tama sebesar 6.5%. PD Agro Tama menjual salak pondoh ke luar provinsi DIY dan menjadi pedagang pemasok supermarket Mirota Kampus Kehilangan hasil yang dialami oleh PD Agro Tama karena kegiatan sortasi dilakukan cukup ketat untuk menghindari kemungkinan tercampurnya buah yang berbeda tingkat kematangannya, dan untuk menghindari tercampurnya antara buah yang busuk dan buah yang masih baik. Kehilangan hasil di supermarket Mirota Kampus cabang Babarsari dan Bulak Sumur yaitu 5.7% dan 5.9%, kehilangan hasil di tingkat supermarket lebih banyak disebabkan karena buah busuk karena melebihi masa simpan dan kegiatan sortasi yang ketat. Kehilangan hasil di tingkat petani disebabkan karena kerusakan mekanis yang tinggi pada saat panen yaitu buah tergores, tertusuk, buah terlalu matang di pohon, dan buah sudah terserang peyakit sebelum dipanen. Sedangkan kehilangan hasil di tingkat pengumpul terjadi karena adanya penyakit pada buah yang kurang teridentifkasi di tingkat petani, jumlah buah yang dikemas sering melebihi kapasitas keranjang untuk menghemat biaya pengemasan. Kondisi ini menyebabkan banyak buah yang lecet akibat gesekan dan tekanan pada saat pengangkutan. Pencampuran antara buah yang berbeda tingkat kematangannya maupun buah yang kualitasnya rendah sering terjadi karena kurang teliti pada saat sortasi dilakukan. Berdasarkan hasil survei kerusakan terbesar terjadi pada saat pegangkutan dan bongkar muat. Pengemasan buah salak menggunakan keranjang maupun kotak kayu masih banyak yang melebihi kapasitas.

Harga Harga salak pondoh yang fluktuatif dipengaruhi oleh tingkat produksi dan kualitas buah. Harga pada saat penelitian ditunjukkan dalam Tabel 16 . Pada saat musim panen raya harga salak cenderung turun, namun pada musim panen sedang (Februari-April) dan panen kecil (Mei-Juli) harga salak lebih tinggi. Harga salak pondoh bervariasi pada masing-masing pelaku pemasaran. Harga di tingkat petani paling murah sebab jumlah petani lebih banyak dibanding jumlah pedagang sehingga harga pada umumnya ditetapkan oleh pedagang.

Harga di tingkat pedagang lebih mahal karena adanya tambahan biaya pemasaran. Sedangkan kualitas buah yang baik ditunjukkan dengan ukuran buah yang besar, rasanya manis, dan segar. Buah yang berkualitas baik akan semakin tinggi harga jualnya. Tabel 16. Rata-rata Harga Salak Pondoh pada Masing-Masing Pelaku Pemasaran pada Tahun 2007
Bulan Maret Petani Rp 3 200 Pengumpul A: Rp 4 050 B: Rp 3 500 C: Rp 2 800 A: Rp 3 800 B: Rp 3 000 C: Rp 2 650 A: Rp 3 900 B: Rp 3 000 C: Rp 2 500 A: Rp 3 750 B: Rp 2 950 C: Rp 2 400 Pemasok A: Rp 4 750 B: Rp 4 200 C: Rp 3 000 A: Rp 4 500 B: Rp 3 700 C: Rp 2 900 A: Rp 4 350 B: Rp 3 550 C: Rp 2 700 A: Rp 3 900 B: Rp 3 200 C: Rp 2 800 Pengecer A: Rp 6 700 B: Rp 5 700 C: Rp 4 500 A: Rp 6 200 B: Rp 5 500 C: Rp 4 000 A: Rp 6 200 B: Rp 5 400 C: Rp 3 800 A: Rp 6 400 B: Rp 5 350 C: Rp 3 700 Supermarket A: Rp 9 225

April

Rp 3 000

A: Rp 8 975

Mei

Rp 2 800

A: Rp 8 575

juni

Rp 2 650

A: Rp 8 590

Sumber : Data Primer (diolah) Keterangan : Data lengkap ditunjukkan dalam Tabel Lampiran 13.

Petani dapat menentukan harga jual yang tinggi pada musim panen kecil karena semua pedagang mencari buah salak pondoh yang saat itu sangat sedikit jumlahnya. Pada musim panen raya posisi petani lemah sehingga harga ditentukan pedagang. Perbedaan posisi petani merupakan suatu masalah yang dihadapi setiap tahunnya. Masalah yang dihadapi oleh pedagang pengumpul yaitu tersendatnya pembayaran dari pedagang pengecer yang tidak membayar secara tunai. Fluktuasi volume dan besarnya penyusutan adalah masalah yang harus dihadapi oleh pedagang pengecer. Pada saat panen raya perlu adanya perluasan pangsa pasar sehingga semua produk dapat terjual, sedangkan pada saat musim panen susulan atau pada saat musim panen kecil perlu adanya prioritas pasar.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pola usahatani salak pondoh di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Sleman pada umumnya bertujuan untuk menghasilkan buah sekaligus bibit. Teknik budidaya yang dilakukan oleh responden meliputi: persiapan lahan dan penanaman, pemeliharaan tanaman; pemupukan; penyerbukan buatan; pengairan; penggemburan; penyiangan; pengendalian hama dan penyakit tanaman; serta penjarangan buah. Kendala yang dijumpai pada kegiatan budidaya oleh petani yang menjadi responden yaitu pemupukan yang belum sesuai dengan anjuran Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, dalam hal dosis dan waktu pemupukan, serta umur tanaman. Jumlah pohon salak jantan belum sesuai dengan perbandingan yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan kurangnya pemahaman petani mengenai keberadaan salak jantan di areal kebun dan petani merasa keberadaan salak jantan akan mengurangi produktivitas. Respon petani terhadap penjarangan buah masih rendah meskipun mereka telah mengetahui manfaatnya. Petani tidak melakukan penjarangan buah karena tidak ingin membuang buah yang ada serta penjarangan buah yang dilakukan petani relatif sudah terlambat. Penanganan pasca panen terdiri atas pembersihan, sortasi, pengkelasan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, dan pemasaran. Responden yang paling banyak melakukan kegiatan penanganan pasca panen yaitu pedagang pemasok dan pedagang pengecer. Seluruh petani responden tidak melakukan sortasi dan pengkelasan karena harga jual salak yang sudah disortir maupun yang belum disortir tidak jauh berbeda, sehingga petani tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan untuk penyortiran maupun pengkelasan. Rata-rata persentase kehilangan hasil terbesar terdapat di tingkat pedagang pengecer mencapai 8.1%, dan terendah berada di tingkat petani mencapai 4.1%. Kehilangan hasil di tingkat petani disebabkan karena kerusakan mekanis yang tinggi pada saat panen dan buah sudah terserang peyakit sebelum dipanen. Di tingkat pedagang disebabkan oleh kegiatan sortasi yang masih dilakukan secara visual sehingga sering tercampur antara buah yang berkualitas baik dengan buah yang kualitasnya rendah, serta pengemasan yang melebihi kapasitas.

Saran Penyuluhan teknik budidaya salak pondoh perlu diberikan agar menambah pengetahuan petani. Peningkatan kualitas buah melalui penjarangan buah perlu dilakukan lebih intensif. Penanganan pasca panen yang perlu diperbaiki adalah kegiatan sortasi dan penggunaan kemasan sesuai kapasitas. Kekurangan modal yang dialami oleh petani sebaiknya diatasi dengan pemberian bantuan kredit dengan bunga rendah dan disertai dengan pengawasan yang baik agar tepat sasaran.

DAFTAR PUSTAKA Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek dan Budidaya. UI Press. Jakarta. 485 hal. Departemen Pertanian. 2006. Produksi Buah-Buahan http://database.deptan.go.id/. [26 Juni 2007]. Indonesia.

Deputi Menegristek. 2000. Salak. http://www.ristek..go.id/. [10 Februari 2008]. Harjadi, S. S. 1989. Dasar – Dasar Hortikultura. Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 500 hal. Kader, A.A. 1992. Postharvest Technology of Horticultural Crops. Universuty of California. Division of Agricultural and Natural Resources. California. 296 p. Kays, S. J. 1991. Postharvest Physiology of Perishable Plant Products. Van Nostrand Reinhold. New York. 532 p. Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran. PT. Prenhallindo. Jakarta. 412 hal. Kusumainderawati, E.P., dan M. Soleh. 1995. Penentuan standar normal kebutuhan hara bagi pertumbuhan dan hasil salak. J. Hort. 5(2): 23-29. Limbong, W. H. dan P. Sitorus. 1987. Tata Niaga Pertanian. Departemen IlmuIlmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 124 hal. Pantastico, Er. B. 1986. Fisiologi Pascapanen. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 409 hal. Purbiati, T., Q. D. Ernawanto dan S. R. Soemarsono. 1994. Pengaruh komposisi media tumbuh dan ukuran pot terhadap keberhasilan dan pertumbuhan tunas anakan salak yang diperbanyak secara vegetatif. J. Hort. 6(2): 1-12. Purnomo, H. 2001. Budidaya Salak Pondoh. Aneka Ilmu. Semarang. 70 hal. Rukmana, R. 1999. Salak : Prospek Agribisnis dan Teknik Usaha Tani. Kanisius. Yogyakarta. 93 hal. Santoso, B. B. dan B. S. Purwoko. 1995. Fisiologi dan Teknologi Pasca Panen Tanaman Hortikultura. AusAID. Mataram. 185 hal. Siregar, W. L. S. 2007. Perancangan Kemasan Transportasi Buah Salak (Salacaa edulis) Berbahan Baku Pelepah Salak. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 151 hal.

Solihin. 2001. Kajian Faktor – Faktor Penentu Produktivitas Salak Pondoh. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tjahjadi, N. 1996. Bertanam Salak. Kanisius. Yogyakarta. 80 hal. Verheij, E. W. M. dan Coronel, R. E. 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2 Buah – Buahan yang Dapat Dimakan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 568 hal.

LAMPIRAN

Tabel Lampiran 1. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Turi Tahun 2006 - 2007
No. Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Rata-rata Luas (m2) 600 700 600 900 500 540 500 450 500 500 5 790 579 Umur (th) 12 10 10 11 8 8 9 10 9 9 96 9.6 Jumlah Rumpun 150 175 150 225 125 135 125 112 125 125 1 447 144.7 Produksi Setiap Musim Panen (Kg) Panen Panen Panen Panen Raya Kecil * Sedang * Susulan 450 250 200 200 500 270 450 180 400 300 250 150 700 240 450 200 500 200 350 100 420 250 340 150 450 250 300 140 520 440 200 200 450 330 500 200 400 200 340 150 4 790 2 730 3 380 1 670 479 273 338 167 Total Produksi(Kg) 1 100 1 400 1 100 1 590 1 150 1 160 1 140 1 360 1 480 1 090 12 570 1257 Produktivitas (Kg/ m2/Tahun) 1.8 2.0 1.8 1.8 2.3 2.1 2.3 3.0 2.9 2.2 22.3 2.2 Produktivitas (Kg/Rumpun /Tahun) 7.3 8.1 7.3 7.4 9.2 8.6 9.2 12.3 11.8 8.7 90 9.0

Tabel Lampiran 2. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Sleman Tahun 2006 - 2007
No. Responden 1 2 3 4 5 6 7 Total Rata-rata Luas (m2) 600 500 650 500 500 500 540 3 790 541.4 Umur (th) 10 11 14 10 12 13 10 70 10 Jumlah Rumpun 150 125 162 125 125 125 135 947 135.4 Produksi Setiap Musim Panen (Kg) Panen Panen Panen Panen Raya Kecil * Sedang * Susulan 400 278 220 120 440 240 260 200 500 280 350 200 360 180 250 190 365 280 300 150 350 275 320 100 450 200 250 120 2 865 1 733 1 950 1 080 409.3 247.6 278.6 154.3 Total Produksi(Kg) 1 018 1 140 1 330 980 1 095 1 045 1 020 7 628 1 089.7 Produktivitas (Kg/m2/Tahun) 1.7 2.3 2.1 2.0 2.2 2.1 1.9 14.2 2.0 Produktivitas (Kg/ Rumpun /Tahun) 6.9 9.2 8.3 7.9 8.9 8.9 7.7 55.3 7.9

Tabel Lampiran 3. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Tempel Tahun 2006 - 2007
No. Responden Luas (m2) Umur (th) Jumlah Rumpun Produksi Setiap Musim Panen (Kg) Panen Raya 320 280 350 320 460 250 370 250 2 600 325 Panen Kecil * 300 250 270 290 280 210 200 200 2 000 250 Panen Sedang * 260 300 250 260 380 200 240 360 2 250 281 Panen Susulan 100 120 200 150 130 150 120 145 1 115 139.4 Total Produksi(Kg) Produktivitas (Kg/m2/Tahun) Produktivitas (Kg/Rumpun /Tahun) 8.8 9.9 8.8 7.9 7.9 7.6 9.1 9.5 69.6 8.7

1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-rata

500 425 550 600 800 500 500 450 4 325 540.6

11 10 9 13 12 11 12 10 88 11

125 106 137 150 200 125 125 112 1 081 135.1

1 105 1 056 1 207 1 170 1 450 985 1 055 1 067 9 046 1130.8

2.2 2.5 2.2 2.0 1.8 1.9 2.1 2.4 17.0 2.1

Tabel Lampiran 4. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Pakem Tahun 2006 - 2007
No. Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-rata Luas (m2) 510 550 450 600 750 500 500 600 4460 557.5 Umur (th) 8 9 9 10 12 11 12 10 81 10.1 Jumlah Rumpun 128 138 112 150 188 125 125 150 1115 139 Produksi Setiap Musim Panen (Kg) Panen Panen Panen Panen Raya Kecil * Sedang * Susulan 420 200 300 100 350 275 350 150 550 150 200 175 600 220 340 100 800 290 275 200 450 300 350 150 520 200 350 100 620 350 250 150 4 310 1 985 2 415 1 125 538.7 248.1 301.9 140.6 Total Produksi(Kg) 1 020 1 125 1 075 1 260 1565 1 250 1 170 1 370 9 835 1 229.3 Produktivitas Produktivitas (Kg/m2/Tahun) (Kg/Rumpun /Tahun) 2.0 8.0 2.0 8.2 2.4 9.5 2.1 8.4 2.0 8.3 2.5 10.0 2.3 9.4 2.3 9.1 17.7 70.9 2.2 8.8

Tabel Lampiran 5. Volume Panen Salak Pondoh di Kecamatan Cangkringan Tahun 2006 - 2007
No. Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total Rata-rata Luas (m2) 400 600 520 500 600 700 800 400 500 5 020 557.7 Umur (th) Jumlah Rumpun 100 150 130 125 150 175 200 100 125 1 255 139.4 Produksi Setiap Musim Panen (Kg) Panen Raya 470 510 490 380 300 540 600 378 480 4 148 460.9 Panen Kecil * 150 200 275 250 240 200 380 150 390 2 235 248.3 Panen Sedang * 260 240 280 250 200 350 350 220 260 2 410 267.7 Panen Susulan 160 150 175 100 150 120 145 170 190 1 360 151.1 Total Produksi(Kg) 1 040 1 100 1 220 980 890 1 210 1 475 918 1 320 10 153 1128.1 Produktivitas (Kg/m2/Tahun) 2.6 1.8 2.3 1.9 1.5 1.7 1.8 2.3 2.6 18.7 2.0 Produktivitas (Kg/Rumpun /Tahun) 10.4 7.3 9.4 7.8 5.9 6.9 7.4 9.2 10.6 74.9 8.1

8 11 10 12 10 11 10 12 11 95 10.6

Keterangan: * Musim panen raya Musim panen kecil Musim panen raya sedang Musim panen susulan Kisaran jarak tanam : Data Primer : November - Januari : Februari - April : Maret - Juli : Agustus – Oktober : 2 m x 1.75 m – 2 m x 2 m

Tabel Lampiran 6. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Super di Tingkat Petani Pada Masing-Masing Pola Pemasaran Penamatan Minggu kePola I Volume Panen (Kg) Volume Kehilangan Hasil (Kg) 4.7 6.1 2.6 6.6 4.6 7.4 5.4 4.5 4.6 4.9 5.4 5.0 5.6 6.1 5.5 6.0 79.3 4.9 Volume Panen (Kg) Pola II Volume Kehilangan Hasil (Kg) 4.2 4.2 5.1 5.9 4.1 3.3 3.3 3.7 3.4 5.6 3.4 3.2 3.6 3.9 4.0 3.3 64.7 4.0 Volume Panen (Kg) Pola III Volume Kehilangan Hasil (Kg) 3.8 4.1 4.4 4.6 4.4 4.4 3.2 2.9 3.7 4.2 3.9 4.8 4.3 6.1 4.2 3.9 67.1 4.2 4.2

1 112 100 90 2 142 103 101 3 15 123 100 4 162 112 120 5 15 96 98 6 165 80 96 7 140 83 82 8 120 96 76 9 110 84 100 10 114 130 97 11 132 85 95 12 110 75 112 13 125 79 111 14 142 86 136 15 135 95 98 16 140 84 85 Jumlah 1879 1511 1597 Rata-rata 117.4 94.4 99.8 Kehilangan Hasil (%) 4.2 4.3 Keterangan : - Volume panen (kg) diperoleh dari 42 petani responden yang mengadakan kegiatan panen setiap minggunya - Pola I : Petani → Pedagang Pengumpul → Konsumen Pola II : Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen - Pola III : Petani → Pedagang Pemasok → Supermarket/Toko Buah → Konsumen

Tabel Lampiran 7. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Hitam di Tingkat Petani Pada Masing-Masing Pola Pemasaran Penamatan Minggu keVolume Panen (Kg) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 12 13 14 15 16 Jumlah Rata-rata Kehilangan Hasil (%) 68 96 80 75 70 60 65 54 55 57 56 80 69 74 70 73 1102 68.8 Pola I Volume Kehilangan Hasil (Kg) 2.4 3.7 3.0 3.1 2.8 2.6 2.6 1.9 1.8 2.1 2.0 3.1 2.5 2.5 2.9 3.0 42.6 2.6 Pola II Volume Kehilangan Hasil (Kg) 3.0 2.9 2.3 2.2 2.2 1.9 2.6 2.4 1.9 2.5 2.8 3.1 3.8 3.4 3.6 3.5 44.5 2.8 4.0

Volume Panen (Kg) 71 73 56 58 56 50 68 63 49 63 70 83 96 87 86 81 1110 69.4

3.8 Keterangan : - Volume panen (kg) diperoleh dari 42 petani responden yang mengadakan kegiatan panen setiap minggunya - Pola I : Petani → Pedagang Pengumpul → Konsumen Pola II : Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen

Tabel Lampiran 8. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh di Tingkat Pedagang Pemasok (PD. Agro Tama) Penamatan Minggu ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jumlah Rata-rata Kehilangan Hasil (%) Volume Panen (Kg) 220 150 175 160 180 163 190 201 200 189 195 210 250 225 215 200 3123 195.2 Salak Pondoh Super Volume Kehilangan Hasil (Kg) 14.5 9.6 11.7 10.4 11.5 9.9 11.6 12.8 12.8 11.7 13.6 13.8 16.2 14.8 15.2 12.4 202.3 12.6 6.5

Tabel Lampiran 9. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Super di Tingkat Pedagang Pengumpul Pada Pola Pemasaran I Pengamatan Minggu kePedagang Pengumpul di Pasar Turi Volume Volume Kehilangan Hasil Pembelian (Kg) (Kg) 283 12.4 215 9.9 206 8.8 227 10.6 293 13.5 200 8.6 204 9.6 225 9.9 200 8.6 202 9.5 208 9.1 200 9.2 180 8.4 250 11.0 200 9.2 253 10.8 3546.5 159.4 221.6 9.96 Pedagang Pengumpul di Pasar Balerante Volume Volume Pembelian (Kg) Kehilangan Hasil (Kg) 150 6.9 240 11.5 175 8.75 125 5.5 280 13.4 240 12.0 275 12.1 300 13.8 245 12.2 186 8.2 143 6.5 156 7.5 227 9.9 230 10.5 221 10.60 225 11.2 3418.0 160.9 213.6 10.1 Pedagang Pengumpul di Pasar Tempel Volume Volume Pembelian (Kg) Kehilangan Hasil (Kg) 160 7.7 227 11.3 183 8.6 240 12.2 120 6.0 115 5.4 120 6.1 225 10.8 240 11.3 299 15.2 256 12.3 330 16.5 130 6.6 145 6.9 120 6.0 125 5.8 3035 148.9 189.7 9.3 4.9

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jumlah Rata-rata Kehilangan Hasil (%) 4.5 4.7 Keterangan: - Volume pembelian (kg) diperoleh dari 3 pedagang yang melakukan transaksi jual beli setiap minggu di 3 pasar - Pola I : Petani → Pedagang Pengumpul → Konsumen

Tabel Lampiran 10. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Hitam di Tingkat Pedagang Pengumpul Pada Pola Pemasaran I Pengamatan Minggu kePedagang Pengumpul di Pasar Turi Volume Volume Kehilangan Hasil Pembelian (Kg) (Kg) 183 7,1 100 4,1 0 0 110 4,4 0 0 125 5.0 85 3,4 0 0 100 4.0 50 2.0 90 3,5 0 0 115 4,6 0 0 0 0 113 4,5 1071 42,7 66,9 2,7 Pedagang Pengumpul di Pasar Balerante Volume Volume Kehilangan Hasil Pembelian (Kg) (Kg) 50 2,35 0 0 75 3,3 120 4,8 180 7,7 120 5,3 160 6,4 180 8,4 0 0 150 6.0 100 4,7 128 5,5 118 4,7 0 0 115 4,9 200 8,8 1696 72,9 106 4,6 Pedagang Pengumpul di Pasar Tempel Volume Volume Kehilangan Hasil Pembelian (Kg) (Kg) 6,3 5,1 5,4 5.0 4,1 0 5,8 0 7.0 7,4 0 4,4 5,8 6,4 0 62,9 3,9 4.6

1 2 127 3 120 4 135 5 100 6 95 7 0 8 116 9 0 10 175 11 148 12 0 13 110 14 117 15 129 16 Jumlah 1372 Rata-rata 85,7 Kehilangan Hasil (%) 3.9 4.3 Keterangan: - Volume pembelian (kg) diperoleh dari 3 pedagang yang melakukan transaksi jual beli setiap minggu di 3 pasar - Pola I : Petani → Pedagang Pengumpul → Konsumen

Tabel Lampiran 11. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh di Tingkat Pedagang Pengecer Pada Masing-Masing Pola Pemasaran Pengamatan Minggu kePola I Salak Pondoh Super Volume Penjualan (Kg) 125 145 132 165 186 156 178 163 195 168 112 125 102 118 120 119 2309 144.3 Volume Kehilangan Hasil (Kg) 10.0 11.6 10.5 12.5 15.4 13.4 16.0 12.7 17.5 15.1 9.2 11.2 8.3 9.6 9.9 9.9 193.4 12.1 Salak Pondoh Hitam Volume Penjualan (Kg) 95 100 120 80 75 76 92 130 115 158 110 90 96 95 85 114 1631 101.9 Volume Kehilangan Hasil (Kg) 8.5 9.0 12.0 6.4 6.3 7.0 8.3 10.9 9.8 13.7 9.4 8.1 8.0 8.2 7.9 10.6 144.71 9.0 Salak Pondoh Super Volume Penjualan (Kg) 120 145 110 160 154 160 170 178 190 124 100 125 130 160 121 112 2259 141.2 Volume Kehilangan Hasil (Kg) 10.3 12.1 8.8 13.7 12.3 13.1 14.9 14.9 16.3 7.6 6.4 7.8 6.5 9.6 8.1 6.6 169.5 10.6 Pola III Salak Pondoh Hitam Volume Penjualan (Kg) 120 119 127 132 114 100 120 92 85 98 120 136 110 95 100 90 1758 109.9 8.5 Volume Kehilangan Hasil (Kg) 10.2 9.8 9.6 10.9 8.5 7.8 9.1 6.4 6.8 6.0 9.1 11.0 8.2 7.5 8.3 7.3 136.7 8.5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jumlah Rata-rata Kehilangan Hasil (%) 8.4 8.9 7.8 Keterangan : - Volume pembelian (kg) diperoleh dari 15 pedagang pengecer yang melakukan transaksi jual beli setiap minggunya - Pola I : Petani → Pedagang Pengumpul → Konsumen - Pola III : Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen

Tabel Lampiran 12. Jumlah Kehilangan Hasil Salak Pondoh Super di Supermarket Pengamatan keMirota Kampus Supermarket cabang Babarsari Volume Penjualan Volume Kehilangan Hasil (Kg) (Kg) 65 3.6 50 2.8 60 3.5 65 3.8 60 3.2 60 3.2 50 2.8 55 3.3 355 20.3 44.4 2.5 5.7 Mirota Kampus Supermarket cabang Bulaksumur Volume Penjualan Volume Kehilangan Hasil (Kg) (Kg) 70 4.1 50 2.9 55 3.3 50 3.0 65 3.9 60 3.6 70 4.0 55 3.1 345 20.4 43.1 2.5 5.9

1 2 3 4 5 6 7 8 Jumlah Rata-rata Kehilangan Hasil (%)

Keterangan : - Pola III : Petani → Pedagang Pemasok → Supermarket/Toko Buah → Konsumen - Pengamatan di tingkat supermarket dilakukan sebanyak 2 kali/bulan - Seluruh pengamatan dilakukan setiap minggu pada bulan Maret 2007 - Juni 2007

Tabel Lampiran 13. Rata-rata Harga Salak Pondoh per Kg di Masing-Masing Pelaku Pemasaran Bulan Pengamatan Harga di Tingkat Petani (Rp) 3250 3200 3150 3150 3187.5 2900 2850 2800 2650 2800 2900 2850 2800 2650 2800 2850 2700 2600 2500 2662.5 Harga di Tingkat Pedagang Pengumpul (Rp) Kelas A Maret 1 2 3 4 Rata-rata April 1 2 3 4 Rata-rata Mei 1 2 3 4 Rata-rata Juni 1 2 3 4 Rata-rata 4300 4150 3950 3800 4050 4200 4000 3750 3500 3862.5 4200 4000 3750 3500 3862.5 3900 3800 3750 3600 3762.5 Kelas B 3700 3600 3550 3400 3562.5 3200 3025 2900 2800 2981.25 3200 3025 2900 2800 2981.25 3200 3000 2850 2750 2950 Kelas C 2950 2825 2775 2575 2781.25 2750 2550 2350 2275 2481.25 2750 2550 2350 2275 2481.25 2800 2500 2350 2100 2437.5 Harga di Tingkat Pedagang Pemasok (Rp) Kelas A 5000 4800 4700 4500 4750 4650 4400 4200 4150 4350 4650 4400 4200 4150 4350 4200 4000 3800 3600 3900 Kelas B 4600 4400 4150 3700 4212.5 3900 3600 3450 3250 3550 3900 3600 3450 3250 3550 3650 3400 3100 2800 3237.5 Kelas C 3250 3025 2875 2775 2981.25 2900 2800 2600 2500 2700 2900 2800 2600 2500 2700 3000 2900 2725 2525 2787.5 Harga di Tingkat Pedagang Pengecer (Rp) Kelas A 7200 6900 6650 6200 6737.5 6900 6600 6350 5900 6200 6900 6600 6350 5900 6200 6800 6600 6300 5900 6400 Kelas B 6200 5700 5600 5300 5700 5900 5500 5200 4950 5387.5 5900 5500 5200 4950 5387.5 5700 5300 5200 5200 5350 Kelas C 4900 4700 4400 4000 4500 4250 3950 3500 3475 3793.75 4250 3950 3500 3475 3793.75 4100 3900 3600 3250 3712.5 9326 9124 9225 8650 8500 8575 8650 8500 8575 8675 8500 8587.5 Harga di Tingkat Supermarket (Rp)

Tabel Lampiran 14. Perkembangan Tanaman Salak Pondoh di Kabupaten Sleman Tahun 2001-2006 No. Kecamatan Jumlah Populasi (rumpun) 73 127 2 826 778 1 139 895 4 530 1 825 1 614 105 2 051 982 229 994 36 320 2 785 14 358 54 10 077 871 4 045 666 2001 Panen Rata-rata (Rumpun) (Kg/Rpn) 24 719 907 125 815 700 1 239 840 415 744 1 663 451 160 559 15 250 1 580 11 000 87 8 250 450 2 305 716 6.71 5.51 7.20 9.69 7.14 6.54 7.14 8.01 9.26 7.03 7.61 7.28 7.26 4.60 8.91 7.78 6.67 2002 Produksi (Kwt) 1659 50 9 79 50 81 60 33283 153984 11283 1160 115 799 4 735 35 203 386 Jumlah Populasi (rumpun) 73 768 2 826 820 1 130 995 4 640 2325 1 621 343 2 067 640 221 673 36 003 2 985 1 5320 10 102 821 406 2391 Panen (Rumpun) 35 517 2 605 310 800 965 2 248 1 018 951 033 1 712 735 183 263 24 576 2 570 13 880 8 965 458 2 940 943 Rata-rata (Kg/Rpn) 8.38 4.59 6.13 5.13 6.01 7.07 5.01 8.54 8.98 8.02 7.5 6.26 7.76 7.23 5.68 8.73 Produksi (Kwt) 2 977 119 19 41 58 159 51 8 1209 153 796 14 703 1 843 161 1 077 648 26 256 888

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Sleman Mlati Gamping Godean Moyudan Seyegan Minggir Tempel Turi Pakem Cangkringan Ngemplak Ngaglik Depok Kalasan Berbah Prambanan Kabupaten Sleman

Lanjutan

No.

Kecamatan Jumlah Populasi (rumpun) 7 4391 3 178 1 130 1 232 1 117 4 640 2 825 1 622 843 2 068 159 222 835 36 095 3 185 15 422 10 102 821 4 067 975

2003 Panen Rata-rata (Rumpun) (Kg/Rpn) 35 893 2 337 778 614 640 2 718 843 1 049 590 1 902 228 164 631 8 000 1 500 15 176 6 127 821 3 191 896 6.18 2.99 4.62 3.25 6.40 5.99 4.50 6.22 9.61 8.42 6.83 6.73 8.94 5.84 4.87 8.36

Produksi (Kwt) 2 218 70 36 20 41 163 38 65 284 182 804 13 862 546 101 1 357 358 40 266 938

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Sleman Mlati Gamping Godean Moyudan Seyegan Minggir Tempel Turi Pakem Cangkringan Ngemplak Ngaglik Depok Kalasan Berbah Prambanan Kabupaten Sleman

Jumlah Populasi (rumpun) 7 4991 3 178 1 229 1 217 1 117 4 640 1 80 1 624 193 2 087 801 227 732 36 970 4 610 14 643 10 102 975 4 095 178

2004 Panen Rata-rata (Rumpun) (Kg/Rpn) 49 674 3 443 915 1 217 877 4 548 1 730 1 612 250 2 070 228 176 847 27 521 2 675 14 563 8 702 821 3 976 011 8.87 8.34 7.54 8.05 7.41 7.30 6.82 8.87 9.77 8.51 7.88 7.25 7.67 7.87 3.17 9.30

Produksi (Kwt) 4 405 287 69 98 65 332 118 142 966 202 202 15 055 2 168 194 1 117 685 26 369 787

Lanjutan No. Kecamatan Jumlah Populasi (rumpun) 76 878 3 321 1 079 1 195 1 117 4 259 1 780 1 621 170 2 088 736 246 253 39 310 4 275 14213 10 065 521 4 114 172 2005 Panen Rata-rata (Rumpun) (Kg/Rpn) 76 241 2 448 765 1 195 877 4 173 1 268 1 619 012 2 075 336 197 565 29 020 2 590 13 952 8 740 454 4 033 636 12.39 10.09 10.07 7.11 10.95 10.93 10.96 12.04 12.64 10.89 10.85 10.23 9.55 11.16 10.79 10.71 2006 Panen Rata-rata (Rumpun) (Kg/Rpn) 81 084 2 483 715 1 195 877 4 173 1288 1 616 417 2 604 922 199 255 29 020 1 077 13 898 8 685 454 4 565 543 12.11 9.34 11.19 10.13 10.83 9.63 11.10 12.45 12.77 11.31 10.55 9.10 10.71 10.29 9.47 10.70

Produksi (Kwt) 9 447 247 77 585 96 456 139 194 936 262 333 21 523 3 148 265 1 332 975 49 495 608

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Sleman Mlati Gamping Godean Moyudan Seyegan Minggir Tempel Turi Pakem Cangkringan Ngemplak Ngaglik Depok Kalasan Berbah Prambanan Kabupaten Sleman

Jumlah Populasi (rumpun) 81 268 3 218 1 029 1 195 1 117 4 259 1 800 1 625 667 2 606 047 273 606 40 810 2762 14 159 10 010 521 4 667 468

Produksi (Kwt) 9 823 232 80 121 95 402 143 201 324 332 675 22 540 3 063 98 1 488 894 43 573 021

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->