P. 1
ISMAH

ISMAH

|Views: 64|Likes:
Published by Isma Shena

More info:

Published by: Isma Shena on Jul 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2012

pdf

text

original

PENDAHULUAN Teori maslahah-mursalah/maslahatul mursalah atau istislah sebagaimana disebutkan di atas, pertama kali diperkenalkan oleh

Imam Malik (W. 97 H.), pendiri mazhab Malik. Namun karena pengikutnya yang lebih akhir mengingkari hal tersebut, maka setelah abad ketiga hijriyah tidak ada lagi ahli usul fiqih yang menisbatkan maslahahmursalah kepada Imam Malik, sehingga tidak berlebihan jika ada pendapat yang menyatakan bahwa teori maslahah-mursalah ditemukan dan dipopulerkan oleh ulama-ulama usul fiqih dari kalangan asy-Syafi’iyah yaitu Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H.), guru Imam al-Ghazali. Dan menurut beberapa hasil penelitian ahli usul fiqih yang paling banyak membahas dan mengkaji maslahah-mursalah adalah Imam al-Ghazali yang dikenal dengan sebutan hujjatul Islam. POKOK PEMBAHASAN Pengertian maslahah mursalah Syarat-syarat maslahah mursalah Macam-macam maslahah mursalah Kehujjahan maslahah mursalah Alasan ulama menjadikan sebagai hujjah PEMBAHASAN Pengertian Maslahah Mursalah Maslahatul mursalah menurut lughat terdiri dari dua kata, yaitu maslahah dan mursalah. Kata maslahah berasal dari kata kerja bahasa arab yaitu: shalaha-yasluhusalhan-maslahatan. Yang berarti sesuatu yang mendatangkan kebaikan.1 Sedangkan kata mursalah berasal dari kata kerja yang ditafsirkan sehingga menjadi isim maf’ul, yaitu : arsala-yursilu-irsalan. Menjadi yang berarti diutus, dikirim atau dipakai (dipergunakan). Perpaduan dua kata menjadi “maslahah mursalah” yang berarti prinsip kemaslahan (kebaikan) yang dipergunakan menetapka suatu hukum islam. Suatu perbuatan yang mengandung nilai baik (bermanfaat).

Menurut istilah ulama usul ada bermacam-macam ta’rif yang diberikan diantaranya:2
1 Ahmad Munif Suratmaputra, Filsafat Hukum Islam Al-Gazali Maslahah Mursalah dan Relevansinya dengan Pembaruan Hukum Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus,2002), hlm. 98 2 Ahmad Munif Suratmaputra, Filsafat Hukum Islam Al-Gazali Maslahah Mursalah dan Relevansinya dengan Pembaruan Hukum Islam ....,hlm.105

Imam Ar-Razi mena’rifkan sebagai berikut: “Maslahah ialah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh musyarri’(Allah) kepada Hamba-Nya tentang pemeliharaan agamanya, jiwanya, akalnya, keturunan, dan harta bendanya. Imam Al-Ghazali mena’rifkan sebagai berikut : “Maslahah pada dasarnya ialah meraih manfaat dan menolak madarat”. Menurut Muhammad Hasbi As-Siddiqi, maslahah ialah: “Memelihara tujuh syara’ dengan jalan menolak segala Sesutu yang merusakkan makhluk ”. Jadi kesimpulannya, maslaha mursalah adalah kebaikan (maslahah) yang tidak disinggung syara’ untuk mengenakannya atau meninggalkannya, jika dikerjakan akan membawa manfaat atau menghindari keburukan. Syarat-Syarat Maslahah Mursalah Golongan yang mengakui kehujjahan maslahah mursalah daam pembentukkan hukum (Islam) telah mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang dipenuhi, sehingga maslahah tidak bercampur dengan hawa nafsu, tujuan, dan keinginan yang merusakkan manusia dan agama. Sehingga seseorang tidak menjadikan keinginannya sebagai ilhamnya dan menjadikan syahwatnya sebagai syari`atnya. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut :3 Hanya berlaku dalam muamalah, karena soal-soal ibadat tetap tidak berubah-berubah. Tidak berlawanan dengan maksud syariat atau salah satu dalil yang dikenal. 3. Maka maslahah-maslahah yang bersifat dugaan, sebagaimana yang dipandang sebagian orang dalam sebagian syari`at, tidaklah diperlukan, seperti dalih malsalah yang dikatakan dalam soal larangan bagi suami untuk menalak isterinya, dan memberikan hak talak tersebut kepada hakim saja dalam semua keadaan. Sesungguhnya pembentukan hukum semacam ini menurut pandangan kami tidak mengandung terdapat maslahah. Bahkan hal itu dapat mengakibatkan rusaknya rumah tangga dan masyarakat, hubungan suami dengan isterinya ditegakkan di atas suatu dasar paksaan undang-undang, tetapi bukan atas dasar keikhlasan, kasih sayang, dan cinta-mencintai. 4. Maslahah harus bersifat umum dan menyeluruh, tidak khusus untuk orang tertentu dan tidak khusus untuk beberapa orang dalam jumlah sedikit. Imam-Ghazali memberi contoh tentang maslahah yang bersifat menyeluruh ini dengan suatu contoh: orang kafir
3 Asywadie Syukur, Pengantar Ilmu fiqih dan Usul Fiqih ,(Surabaya: PT. Bina Amin, 1990), hlm. 97

telah membentengi diri dengan sejumlah orang dari kaum muslimin. Apabila kaum muslimin dilarang membunuh mereka demi memelihara kehidupan orang Islam yang membentengi mereka, maka orang kafir akan menang, dan mereka akan memusnahkan kaum muslimin seluruhnya. Dan apabila kaum muslimin memerangi orang islam yang membentengi orang kafir maka tertolaklah bahaya ini dari seluruh orang Islam yang membentengi orang kafir tersebut. Demi memlihara kemaslahatan kaum muslimin seluruhnya dengan cara melawan atau memusnahkan musuh-musuh mereka. 5. Maslahah itu harus sejalan dengan tujuan hukum-hukum yang dituju oleh syari`.Maslahah tersebut harus dari jenis maslahah yang telah didatangkan oleh Syari`.Seandainya tidak ada dalil tertentu yang mengakuinya, maka maslahah tersebut tidak sejalan dengan apa yang telah dituju oleh Islam. Bahkan tidak dapat disebut maslahah. 6. Maslahah itu bukan maslahah yang tidak benar, di mana nash yang sudah ada tidak membenarkannya, dan tidak menganggap salah. Macam-Macam maslahah Ulama ushul membagi maslahah kepada tiga tingkat, yaitu:4 1. Maslahah dharuriyah Tingkat pertama yang harus ada. Maslahah dharuriyah adalah perkara-perkara yang menjadi tempat tegaknya kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan, merajalelalah kerusakan, timbullah fitnah, dan kehancuran yang hebat. Di antara syri`at yang diwajibkan untuk memelihara agama adalah kewajiban jihad (berperang membela agama) untuk mempertahankan akidah Islmiyah. Begitu juga menghancurkan orang-orang yang suka memfitnah kaum muslimin dari agamanya. Begitu juga menyiksa orang yang keluar dari agama Islam Di antara syari`at yang diwajibkan untuk memelihara jiwa adalah kewajiban untuk berusaha memperoleh makanan, minuman, dan pakaian untuk mempertahankan hidupnya. Begitu juga kewajiban mengqshas atau mendiat orang yang berbuat pidana. Di antara syari`at yang diwajibkan untuk memelihara akal adalah kewajiban untuk meninggalkan minum khamar dan segala sesuatu yang memabukkan. Begitu juga menyiksa orang yang meminumnya. Di antara syari`at yang diwajibkan untuk memelihara keturunan adalah 4 Muin Umar, Asmuni A Rahman, dkk, Usul Fiqh I,(Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag, 1986). Hlm. 67

kewajiban untuk menghidarkan diri dari berbuat zina. Begitu juga hukuman yang dikenakan kepada pelaku zina, laki-laki atau perempuan. 2. Maslahah Hajjiah ``Maslahah hajjiyah ialah, semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar yang lain (yang ada pada maslahah dharuriyah) yang dibutuhkan oleh masyarakat tetap juga terwujud, tetapi dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan``Hajjiyah ini tidak rusak dan terancam, tetapi hanya menimbulkan kepicikan dan kesempitan, dan hajjiyah ini berlakudalam lapangan ibadah, adat, muamalat, dan dan bidang jinayat. Dalam hal ibadah misalnya, qashar shalat, berbuka puasa bagi yang musafir. Dalam adat dibolehkan berburu, memakan, dan memakai yag bak-baikbdan yang indah-indah. Dalam hal muamalat, dibolehkan jual-beli secara salam, dibolehkan talak untuk menghindarkan kemaslahatan dari suami-istri. Dalam hal uqubat/jinayat, menolak hudud lantaran adalah kesamaan-kesamaan pada perkara. Termasuk dalam hal hajjiyah ini, memelihara kemerdekaan pribadi, kemerdekaan beragama. Sebab dengan adanya kemerdekaan pribadi dan kemerdekaan beragama, luaslah gerak langkah hidup manusia. Melarang/mengharamkan rampasandan penodongan termasuk juga dalam hajjiyah. 3. Maslahah tahsiniyah ``Maslahah tasiniyah ialah mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh bagian mahasinul akhlak``. Tahsiniyah juga masuk dalam lapanganan ibadah, adat, muamalah, dan bidang uqubat. Lapangan ibadah misalnya, kewajiban bersuci dari najis, enutup aurat,memakai pakaian yang baik-baik ketika akan shalat mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah, seperti shalat sunah, puasa sunah, bersedekah dan lain-lain. Lapangan adat, seperti menjaga adat makan, minum, memilih makananmakanan yang baik-baik dari yang tiak baik/bernajis. Dalam lapangan muamalah, misalnya larangan menjual benda-benda yang bernajis, tidak memberikan sesuatu kepada orang lain melebihi dari kebutuhannya. Dalam lapangaan uqubat, misalnya dilarang berbuat curang dalam timbangan ketika berjual beli, dalam peperangan tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, pendeta, dan orang-orang yang sudah lanjut usia. Imam Abu Zahrah, menambahkan bahwa termasuk lapangan tahsiniyah, yaitu

melarang wanita-wanita muslimat keluar kejalan-jalan umum memakai pakaianpakaian yang seronok atau perhiasan yang mencolok mata. Sebab hal ini bisa menimbulkan fitnah di kalangan masyarakat banyak yang pada gilirannya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh keluarga dan terutama oleh agama. Selanjutnya dikatakan bahwa adanya larangan tersebut bagi wanita sebenarnya merupakan kemuliaan baginya untuk menjaga kehormatan dirinya agar tetap bisa menjadi wanitawanita yang baik menjadi kebanggaan. Kehujjahan Maslahah Mursalah Dalam kehujjahan maslahah mursalah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama ushul di antaranya :5 a. Maslahah mursalah tidak dapat menjadi hujjah/dalil menurut ulam-ulama syafi`iyyah, ulama hanafiyyah, dan sebagian ulama malikiyah seperti ibnu Hajib dan ahli zahir . b. Maslahah mursalah dapat menjadi hujjah/dalil menurut sebagian ulama imam maliki dan sebagian ulam syafi`i, tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh ulama-ulama ushul. Jumhur Hanafiyyah dan syafi`iyyah mensyaratkan tentang maslah ini, hendaknya dimasukkan dibawah qiyas, yaitu bila terdapat hukum ashl yang dapat diqiyaskan kepadanya dan juga terdapat illat mudhabit (tepat), sehiggga dalam hubungan hukumitu terdpat tempat untuk merealisir kemaslahatan. Berdasarkan pemahaman ini, mereka berpegang pada kemaslahatan yang dibenarkan syara`, tetapi mereka lebih leluasa dalam menganggap maslahah yang dibenarkan syara` ini, karena luasnya pengetahuan mereka dalam soal pengakuan Syari` (Allah) terhadap illat sebagai tempat bergantungnya hukum, yang merealisir kemaslahatan. Hal ini hampir tidak ada maslahah mursalah yang tidak memiliki dalil yang mengakui kebenarannya. c. Imam Al-Qarafi berkata tentang maslahah mursalah `` Sesungguhnya berhujjah dengan maslahah mursalah dilakukan oleh semua mazhab, karena mereka membedakn antara satu dengan yang lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat``. Diantara ulama yang paling banyak melakuakn atau menggunakan maslahah mursalah ialah Imam Malik dengan alasan; Allah mengutus utusan-utusannya untuk membimbing umatnya kepada kemaslahahan. Kalau memang mereka diutus demi membawa kemaslahahn manusia maka jelaslah bagi kita bahwa maslahah itu satu hal
5 Al-hanafie, Ushul Fiqh, (Jakart: Widjaya, 1989)cet II. Hlm. 56

yang dikehendaki oleh syara`/agama mengingat hukum Allah diadakan untuk kepentingan umat manusia baik dunia maupun akhirat. Alasan Ulama Menjadikannya Sebagai Hujjah Jumhur ulama berpendapat bahwa maslahah mursalah hujjah syara’ yang dipakai sebagai landasan penetapan hukum. Karma kejadian tersebut tidak hukumnya dalam nash, hadist, ijma’ dan qiyas. Maka dengan ini maslahah mursalah ditetapkan sebagai hukum yang dituntut untuk kemaslahatan umum. Alasan mereka dalam hal ini antara lain :6 1. kemaslahatan umat manusia itu selalu baru dan tidak ada habisnya, maka jika hukum tidak ditetapkan sesuai dengan kemaslahatan manusia yang baru dan sesuai dengan perkembangan mereka, maka banyak kemaslahatan manusia diberbagai zaman dan tempat menjadi tidak ada. Jadi tujuan penetapan hukum ini antara lain menerapkan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan zamannya. 2. Orang yang mau meneliti dan menetapkan hukum yang dilakukan para sahabat nabi, tabi’in, imam-imam mujtahid akan jelas, bahwa banyak sekali hokum yang mereka tetapkan demi kemaslahatan umum, bukan karena adanya saksi yang dianggap oleh syar’i.

Seperti yang dilakukan oleh abu bakar dalam mengumpulkan berkas-berkas yang tercecer menjadi suatu tulisan al-qur’an, dan memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat, lalu mengangkat umar bin khattab sebagai gantinya. Umar menetapkan jatuhnya talaq tiga dengan sekali ucapan, menetapkan kewajiban pajak, menyusun administrasi, membuat penjara dan menghentikan hukuman potong tangan terhadap pencuri dimasa krisis pangan. Semua bentuk kemaslahatn tersebut menjadi tujuan diundangkannya hukum-hukum sebagai kemaslahatan umum, karna tidak ada dalil syara’ yang menolaknya.7 KESIMPULAN Maslahah mursalah adalah kebaikan (maslahah) yang tidak disinggung syara’ untuk mengenakannya atau meninggalkannya, jika dikerjakan akan membawa manfaat atau menghindari keburukan. Syarat-syarat maslahah mursalah, diantaranya:
6 http://muchad.info/muchad/dalil-syar%E2%80%99i-bag-2-al-maslahah-al-mursalah.html

7 http://www.daniexe.co.cc/2009/06/maslahah-mursalah.html

Hanya berlaku dalam muamalah Tidak berlawanan dengan maksud syari’ah Maslahah yang bersifat dugaan tidak diperlukan Maslahah bersifat umum dan menyeluruh Maslahah harus sejalan dengan hukum yang dituju, dst. Macam-macam maslahah mursalah: Maslahah dharuriyah Maslahah hajjiah Maslahah tahsiniyah Dan diiantara ulama yang paling banyak melakuakn atau menggunakan maslahah mursalah ialah Imam Malik dengan alasan; Allah mengutus utusan-utusannya untuk membimbing umatnya kepada kemaslahahan. Kalau memang mereka diutus demi membawa kemaslahahn manusia maka jelaslah bagi kita bahwa maslahah itu satu hal yang dikehendaki oleh syara`/agama mengingat hukum Allah diadakan untuk kepentingan umat manusia baik dunia maupun akhirat.

PENUTUP Demikian, makalah yang dapat kami sampaikan. Kami menyadari banyak kekeliruan dan banyk kekurangan dalam makalh ini, baik dari segi penulisan maupun substansi isinya. Untuk itu, kami mengharap partisipasi dari pembaca sekalian untuk bisa mengkritisi makalah kami ini. Tentunya demi perbaikan pembuatan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah yang singkat ini dapat memberikan menfaat dan pengetahuan baru bagi pemakalah dan penyusun sendiri, dan bagi pembaca pada umumnya. Akhir kata, Wabillahittaufiq wal Hidayah. Wassalamu’alaikum Wr.W.b

DAFTAR PUSTAKA Al-hanafie M.A, Ushul Fiqh, Widjaya Jakarta, cet ke II, 1989

Umar, Muin, dan Asmuni A Rahman, dkk, Usul Fiqh I, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Depag 1986 Suratmaputra, Ahmad Munif, Filsafat Hukum Islam Al-Gazali,Maslahah Mursalah dan Relevansinya dengan Pembaruan Hukum Islam,Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002 Syukur, Asywadie, Pengantar Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, Surabaya: PT. Bina Amin, cet I, 1989 http://www.daniexe.co.cc/2009/06/maslahah-mursalah.html http://muchad.info/muchad/dalil-syar%E2%80%99i-bag-2-al-maslahah-al-mursalah.html

TEORI MASLAHAH DAN PERKEMBANGANNYA

Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Ushul Fiqih Dosen Pengampu : Ahwan Fanani, M.Ag

Disusun Oleh ISHMAH ILYU SINA 083111014

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011

AHMAD MUNIF SURATMAPUTRA, (2002), FISAFAT HUKUM ISLAM AL-GHAZALI; MASLAHAH-MURSALAH dan Relevansinya dengan Pembaruan Hukum Islam, Pustaka Firdaus, Jakarta, hal. 184. Ahmad Munif Suratmaputra, (2002), Op. Cit, hal. 63-64. http://muchad.info/muchad/dalil-syar%E2%80%99i-bag-2-al-maslahah-al-mursalah.html

Al-hanafie M.A, Ushul Fiqh, Widjaya Jakarta, cet ke II, 1989, hal 144 http://www.daniexe.co.cc/2009/06/maslahah-mursalah.html Al-hanafie M.A, Ushul Fiqh, Widjaya Jakarta, cet ke II, 1989, hal 144 H.M Asywadie Syukur LC. Pengantar Ilmu Fiqh & Usul Fiqh, PT. Bina Amin, cet I, Surabaya 1990. Hal 199 Drs. Muin Umar, Drs H. Asmuni A Rahman, dkk, Usul Fiqh I, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Depag 1986, hal 146-147 Drs. Muin Umar, Drs H. Asmuni A Rahman, dkk, Usul Fiqh I, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Depag 1986, hal 146-147 http://www.daniexe.co.cc/2009/06/maslahah-mursalah.html

Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqashid Syari’ah
Posted by pwkpersis under LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah ) | Tag: Syari'ah | 1 Comment
Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqâshid Syarî’ah* OLEH: AGNAN NASUTION** MUQADDIMAH SESUAI DENGAN
KARENA AJARAN KARAKTERISTIKNYA,

ISLAM

MERUPAKAN AGAMA YANG KOMPREHENSIF DAN UNIVERSAL.

LEGITIMASI

TERSEBUT LAHIR

(HUMANISM). ISLAM BUKAN MERUPAKAN AGAMA AROGAN/EGOSENTRIS YANG HANYA MENGHARUSKAN SETIAP PEMELUKNYA UNTUK MENGAGUNG -AGUNGKAN PENCIPTANYA SAJA, TETAPI LEBIH JAUH LAGI JUSTRU ISLAM HADIR UNTUK MENGANGKAT HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA. SEBAGAI STUDI KASUS, BAGAIMANA SOSIO-KULTURAL PADA ZAMAN JAHILIYAH YANG MEMPERLAKUKAN ORANGORANG ISLAM DENGAN BERBAGAI SIKSAAN KARENA TIDAK MAU MENGIKUTI AJARAN MEREKA, MEMENJARAKAN HAK-HAKNYA DAN TIDAK
MEMBERIKAN SEDIKITPUN RUANG KEPADA MEREKA UNTUK MELAKSANAKAN KEYAKINANNYA SERTA KEADILAN PADA WAKTU ITU MERUPAKAN HARGA YANG SANGAT MAHAL. TERHADAP MANUSIA, KEADAANPUN MENJADI BERBEDA KARENA ITU YANG PENUH DENGAN BERBAGAI KETIDAK ADILAN.

ISLAM

MENCAKUP BERBAGAI ASPEK, BAIK ITU ASPEK KETUHANAN

(THEOLOGY)

MAUPUN ASPEK KEMANUSIAAN

MAKA

SETELAH

ALLAH

MENGUTUS ROSULULLAH SEBAGAI PEMBERI KABAR GEMBIRA DAN PERINGATAN

ISLAM

MEMBERIKAN SOLUSI TERHADAP REALITAS EMPIRIK PADA WAKTU

Berbagai solusi itu bisa kita terjemahkan melalui syari’atnya yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, karena agama Islam merupakan agama yang mengakomodir pelbagai kebutuhan manusia serta tidak memberikan kesulitan bagi semua pengikutnya dalam melarapkan hukumdan Dia sekali-kali tidak ) ‫ وماجعل عليكم في الدين من حرج‬hukmnya sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an
menjadikan untuk kamu dalam agama kesempitan)[1] . Dengan kata lain, Islam menghendaki terciptanya kemaslahatan seluruh umat manusia tak terkecuali hanya yang membedakan mungkin dari sisi konsekuensi (balasan) dan perlakuan terhadap

.orang-orang di luar Islam Konsep maslaHAT INI MENJADI MENARIK UNTUK KITA PETAKAN KARENA BANYAK PEMAHAMAN YANG LIAR TENTANG TEORI INI
TERKAIT DENGAN PEMECAHAN SUATU HUKUM YANG TIDAK DIINTERPRETASIKAN OLEH LEPAS DARI DEBATABLE SEPUTAR KONSEP MASLAHAT INI.

AL-QUR’AN

SECARA TEKSTUAL SEHINGGA BANYAK

MENIMBULKAN PRO DAN KONTRA TIDAK HANYA DIKALANGAN PARA INTELEKTUAL KONTEMPORER SAJA NAMUN, ULAMA DULU PUN TAK

Untuk memetakan konsep maslahatul mursalah ini tentunya kita harus menggali secara rinci tentang salah satu adillah mukhtalaf ini dengan pendekatan yang persuasif banyak hal yang menjadi pertanyaan dari teori maslahatul mursalah ini. Apakah Islam mengakomodir maslahat mursalah ini sebagai mashodirut tasyri’, apa yang menjadi objek/target maslahatul mursalah, bagaimana hukumnya mengamalkan dengan menggunakan maslahatul mursalah dan banyak lagi permasalahan yang mesti kita jelaskan agar tidak terkesan maslahat itu menetapkan konteks (maqasid) dan menanggalkan teks karena itu yang sering dijadikan tameng oleh kaum privatisasi Islam yang mereduksi nash-nash Al-Quran dengan berpijak pada konsep maslahat ini. Sebelum kita membahas lebih jauh maslahatul mursalah ini, ada beberapa alasan kenapa konsep ini menjadi hal yang memerlukan perhatian yang serius diantaranya[2]; Pertama, bahwasanya kita hidup pada masa kebangkitan dunia Islam yang keluar dari

cengkraman barat. Mereka (baca:barat) selalu mengikuti dunia Islam dan arab pada umunya yang selalu meyakini akan kebenaran ilmu-ilmu dalam Islam baik dalam aspek akidah, ibadah maupun syari’at. Dan masyarakat muslim selalu mengembalikan semua permasalahan kehidupan secara umum kepada hukum dan ketetapan Allah dalam setiap gerak langkah, politik, ekonomi, kebudayaan, sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya. Kedua, sebahagian para intelektual muslim seringkali menggunakan metodologi yang salah ketika mengaplikasikan pemikiran mereka sendiri dengan menggelorakan pembaharuan dalam ushul fiqh walaupun hanya berpijak pada sumber hukum yang terbatas. Mereka menggunakan metode yang parsial dalam memahami hukum sehingga produk hukum yang dihasilkan tidak komprehensif. Pengertian Mashalihul Mursalah

Mashalihul mursalah terdiri dari dua kalimat yaitu maslahat dan mursalah. Maslahat sendiri secara etimologi didefinisikan sebagai upaya mengambil manfaat dan menghilangkan mafsadat/madharat[3]. dan (‫ )إجججابي‬Dari sini dapat dipahami, bahwa maslahat mamiliki dua terma yaitu adanya manfaat Terkadang maslahat ini ditinjau dari aspek ijab-nya saja, ini menjadi .(‫ )سلبي‬menjauhkan madharat
qorinah menghilangkan mafsadat. Seperti pendapat fuqaha bahwasanya “ menghilangkan . [mafsadat didahulukan dalam menegakan maslahat” [4 Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa maslahat merupakan inti dari setiap syari’at yang diturunkan oleh Allah kepada manusia untuk menjaga maksud syari’at[5] (ushulul khomsah[6] ). yaitu maslahat yang secara ‫ ))غيججر مقيججد‬Adapun mursalah dipahami sebagai sesuatu yang mutlak khusus tidak dijabarkan oleh nash atau tidak ada perintah maupun larangan. Dengan tidak .adanya qorinah tersebut, maka maslahat bisa menjadi acuan dalam menentukan suatu hukum Sedangkan secara terminologi terkandung dalam beberapa pendapat para ulama. Imam ‘Izudin bin Abdus Salam: (Maslahat memiliki dua bentuk; pertama tinjauan hakiki yaitu membuat tentram dan nyaman, kedua majazi yaitu sebab-sebabnya. Ini dapat kita katakan bahwa terwujudnya maslahat itu disebabkan karena adanya mafsadat. Sebagai contoh, memotong tangan pencuri hakekatnya adalah menghilangkan cara dan perbuatannya. Merajam

.1

atas perbuatan mereka. Jadi (‫ )تغريب‬orang yang berjina serta menjilidnya merupakan pengasingan intinya, semua hukuman dalam syari’at jangan dipahami sebagai mafsadat, bahkan hal itu merupakan .[maksud dari syari’at (memberikan kemaslahatan bagi manusia)[7
2. Syaikh Thohir bin ‘Asur[8] salah satu ulama kontemporer: (bahwa maslahat disandarkan pada pekerjaan yang memberikan manfaat selamanya bagi semua manusia atau dirinya sendiri)[9] 3. IBNU TAIMIYAH: (MASLAHAT DALAM PANDANGAN MUJTAHID ADALAH PERBUATAN YANG MENDATANGKAN MANFAAT YANG BENAR DAN BUKAN BERSUMBER DARI SYARI’AT YANG TIDAK BERMANFAAT)[10] SERTA AL-KHAWARIJMI MEMBERIKAN PANDANGANNYA SEPUTAR
MASLAHAT INI YAITU MENJAGA MAKSUD DARI HUKUM DENGAN MENAFIKAN SEGALA BENTUK MAFSADAT DARI PENCIPTAAN

(BACA:SYARI’AT)[11]. 4. Ar-Raisuni mengatakan hakekat maslahat adalah setiap ketentraman dan kesenangan jasmani, jiwa, akal dan rohani,. Sedangkan hakekat mafsadat adalah setiap hal yang merusak jasmani, jiwa, akal dan rohani[12]. Ar-Roji mengatakan bahwa tidak ada interpretasi lain untuk masalahat kecuali ketentraman (al-ladāh) karena hal itu merupakan akses terhadapnya (baca:maslahat). Serta tidak ada pengertian lain untuk mafsadat kecuali kerusakan sebagai bagian darinya (baca:mafsadat)[13]. DARI
PAPARAN PENGERTIAN DIATAS, BAIK DARI TINJAUAN ETIMOLOGI MAUPUN TERMINOLOGI KITA BISA MENARIK KONKLUSI BAHWA YANG DISEBUT DENGAN MASLAHAT ADALAH SUATU PERBUATAN HUKUM YANG MENGANDUNG MANFAAT DAN KETENTRAMAN BAGI SEMUA MANUSIA ATAU DIRINYA SENDIRI TERHADAP JASMANI, JIWA, AKAL SERTA ROHANI DENGAN TUJUAN UNTUK MENJAGA MAQHASID ASY-SYARI’AH.

Pembagian Maslahat Maslahat secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya[14]: PERTAMA, MASHALIH AL-MU’TABIROH. PADA POINTER INI SYARI’AT MENJELASKAN SECARA LANGSUNG (TEKSTUAL) MELALUI NASH ATAU IJMĀ’ ATAU DENGAN HUKUM YANG DISEPAKATI OLEH NASH DAN IJMĀ’ DIANTARANYA -SEPERTI PENDAPAT AL-GHAZALI- QIYAS. ELEMEN YANG MEMBENTUK MASLAHAT PADA MARHALAH INI SEPERTI MENJAGA AGAMA (KHIFDZU AL-DIN) YAITU PERINTAH UNTUK JIHAD DAN MEMERANGI ORANG-ORANG YANG MURTAD, MENJAGA JIWA (KHIFDZU AN-NAFS ) YAITU DENGAN MEMBERIKAN HUKUMAN QISHOS TERHADAP ORANG YANG MELAKUKAN PEMBUNUHAN DENGAN SENGAJA, MENJAGA AKAL (KHIFDZU AL-‘AQL) YAITU MENERAPKAN SANKSI ATAS ORANG YANG MINUM KHAMR, MENJAGA KETURUNAN (KHIFDZU AN-NASL/AL-‘IRDH) YAITU MENGHUKUM PELAKU YANG BERBUAT JINA DAN MENJAGA HARTA (KHIFDZU AL-MAL) YAITU MENGHARAMKAN PENCURIAN DAN MEMOTONG TANGAN BAGI ORANG YANG MELAKUKAN

HAL ITU. INI SEMUA DIKENAL DENGAN ISTILAH USHŪLUL KHOMSAH ATAU SIFATNYA DHORURIYAH[15].

Kedua, mashalihul mulghōh. Untuk maslahat yang berbenturan dengan nash qoth’i para ulama sepakat untuk tidak menggunakan dalam kehidupan karena sudah jelas ketidakabsahannya. Seperti persamaan (equality) perempuan dalam hak waris ini kontradiktif surat An-Nissa:11. Atau orang yang {‫ }يوصيكم ال في أولدكججم للجذكرمثل حجظ النججثيين‬dengan nash Al-Qur’an ّ ّ ّ .{‫ }وأحل ال البيع وحرم الربي‬menambah hartanya dengan cara riba, karena Allah sudah menjelaskan ّ ّ KETIGA, MASHALIHUL MURSALAH ATAU AL-MASHLAHATUL MASKUT ‘ANHA. WALAUPUN AL-QUR’AN MEMUAT KANDUNGAN HUKUM/KONSTITUSI, TETAPI TIDAK SECARA DETAIL MENGULAS ASPEK JUZ’IYYAT. TIDAK ADANYA NASH KHUSUS YANG
MEMERINTAHKAN ATAUPUN MELARANGNYA MENJADI ALASAN YANG MEMUNGKINKAN SESEORANG UNTUK MENENTUKAN HUKUM SUATU PERMASALAHAN YANG BERKEMBANG PADA SAAT SEKARANG INI DENGAN TETAP BERPEGANG PADA PRINSIP AWAL YAITU MEMBERIKAN

SEPERTI PENGUMPULAN MUSHAF AL-QUR’AN DAN MENYATUKANNYA BAKAR SERTA DIBUKUKAN MENJADI SATU OLEH PADA ZAMAN UTSMAN BIN AFFAN SEBAGAI REFENSI UTAMA. Dalil Mengamalkan Mashalihul Mursalah[16] Naqli : Al-Qu’ran SURAT AL-{‫ }ا ااااااا ا ا ااا ا ااااا ااا‬SEBAGAIMANA FIRMAN ALLAH SWT

MANFAAT DAN MENGHILANGKAN MADHARAT.

PADA MASA

ABU

HASYR

AYAT

2. ALLAH

MEMERINTAHKAN KEPADA MENUSIA UNTUK SENANTIASA MENYELAMI

HUKUM-HUKUM YANG TERKANDUNG DALAM TIDAK DISINGGUNG SECARA LITERAL . UNTUK BERIJTIHAD DENGAN MELEWATI

AL-QUR’AN

UNTUK MENENTUKAN SYARI’AT YANG

INI MENGINDIKASIKAN TENTANG KEBOLEHAN UMAT ISLAM (MUJAWAZ)TEKS SEKALIPUN ASALKAN TIDAK BERTUJUAN UNTUK .MENDEKONSTRUKSI AJARAN ISLAM ITU SENDIRI

SUNNAH Rosullullah memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk melakukan ijtihad dalam tataran makna nash Al-Qur’an yang global tatkala nash khusus tidak menyentuh wilayah tersebut. bagi Rosulullah menetapkan metodologi ini kepada umat setelahnya (baca:rosul) dan memberikan ruang seluas-luasnya untuk melakukan ijtihad selama masih dalam koridor yang sesuai. Contoh yang paling populer adalah (Ketika Rosulullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman dia bertanya (menguji) kepadanya “apa yang akan engkau perbuat jika menemukan suatu permasalahan?” Muadz menjawab “aku akan menetapkannya dengan hukum Allah” jika engkau tidak mendapatkannya? “dengan sunnah rosul” dan apabila tidak ditemukan juga. “aku akan berijtihad dengan pendapatku (ra’yu). Kemudian rosulullah menepuk dada Mua’dz dan berkata “Maha suci Allah yang telah memberikan taufiq kepadamu, dan rosul merestuinya).[17] PERBUATAN SAHABAT 1. Kesepakatan para sahabat untuk menghimpun mushaf Al-Qur’an pada masa Abu Bakar yang tidak dijelaskan secara khusus oleh dalil atas pekerjaan tersebut. 2. KESEPAKATAN PARA SAHABAT UNTUK MENGHUKUM ORANG YANG MINUM KHAMR DENGAN 80 KALI CAMBUKAN (JALDAH). SEHINGGA SAYYIDINA ALI BERKATA “ORANG YANG MABUK MENYEBABKAN TIDAK SADAR, DAN ORANG YANG TIDAK SADAR SUKA MELAKUKAN KEBOHONGAN, MAKA AKU BERPENDAPAT UNTUK MENGHUKUM BAGI PENDUSTA”.[18] 3. Khulafaur Rasyidin memutuskan untuk membayar para pekerja/pengrajin (shanā’a). 4. SAHABAT MEMUTUSKAN HUKUMAN (DIBUNUH) SEKELOMPOK ORANG OLEH SEORANG JIKA MEREKA BEKERJASAMA DALAM PEMBUNUHAN TERHADAP SATU ORANG TERSEBUT.

‘Aqli SEBAGAIMANA TELAH KITA KETAHUI BERSAMA BAHWA KONSTITUSI ISLAM TELAH MENCAPAI TITIK FINAL. SEDANGKAN BERBAGAI KEJADIAN SELALU MENGALAMI PERUBAHAN DENGAN KADAR YANG BERBEDA , DAN PERISTIWA YANG TERJADI ITU TIDAK BISA BEGITU SAJA LEPAS DARI SYARIAT KARENA ATURAN DALAM ISLAM SELALU BERSINERGI DENGAN ‫ }ااا ااااااا ااا اااا ااااا‬RUANG DAN WAKTU SEBAGAIMANA TERTUANG DALAM FIRMAN ALLAH ‫ا‬ SURAT SABA` AYAT 28. KALAU KENYATAANNYA DEMIKIAN, MAKA HARUS ADA METODE {‫اا ااا اا اااا‬ UNTUK ISTINBAT HUKUM MELALUI RUH NASH-NASH DAN KAIDAH-KAIDAH UMUM DALAM MERESPON SETIAP KEJADIAN BARU DISEBABKAN KONTINUITAS WAKTU DAN PERUBAHAN TEMPAT. DAN MASHALIHUL MURSALAH MERUPKAN .REFRESENTASI DARI METODOLOGI YANG DIBUTUHKAN KETIKA MENENTUKAN HUKUM

Sejalan dengan ini Syaikh Az-Zanjānī mengutip perkataan Iman Syāfi’i “hal tersebut (baca:mashalihul mursalah) dibutuhkan untuk menetapkan aturan atas kejadian yang khusus dengan mengambil makna dan kebenaran dari aspek finalitas syari’at tersebut. Dan sesuatu yang final tidak bisa bergeser oleh yang bukan final. Merupakan sebuah harga mati untuk mencari konsep lain yang bisa memfasilitasi agar sampai pada pengukuhan hukum. Pegangan mashalih itu disandarkan pada syari’at dan maqhasidnya yang umum (kullī) bukan yang khusus (juz`ī)”[19] SYARAT-SYARAT MASHALIHUL MURSALAH MENURUT SEBAHAGIAN ULAMA TERBAGI MENJADI BEBERAPA BAGIAN[20]. MENURUT IMAM GHAZALI DALAM KITABNYA AL-MUSTASFA (WALAUPUN MINIM SEKALI BELIAU MENGAMBIL/MENGUTIP MASHALIHUL MURSALAH INI) SEDIKITNYA ADA 3 SYARAT MASHALIHUL MURSALAH ITU BISA DIREALISASIKAN. 1. Sifatnya dharuriyah. Berkaitan dengan ushulul khomsah sebagaimana yang kita ketahui bersama dan hajiyat serta tahsinat tidak termasuk dalam realisasi maslahat ini. 2. UNIVERSAL/SYUMULI. HARUS MENCAKUP SEMUA KALANGAN UMAT ISLAM TIDAK BOLEH HANYA UNTUK KEPENTINGAN SEBAHAGIAN ORANG. 3. Ada dalil qoth’i atau mendekati dalil qoth’i tersebut (dzani). Imam Ghazali tidak menjadikan syarat ini untuk mashalihul mursalah pada umumnya kecuali dia hanya menempatkan syarat ini pada contoh kasus yang khusus. Seperti diperbolehkannya orang muslim untuk meminta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan selama hal itu bisa mendatangkan kemaslahatan bagi umat Islam. IMAM SYATIBI MEMBERIKAN 3 SYARAT YANG BERBEDA DENGAN IMAM GHAZALI. 1. RASIONAL. KETIKA MASHALIHUL MURSALAH DIHADAPKAN DENGAN AKAL, MAKA AKALPUN PERKARA-PERKARA PRINSIP (BACA:IBADAH) TIDAK MASUK KEPADA MASHLAHAT MURSALAH. 2. Sinergi dengan maqhasid syari’ah 3. MENJAGA
PRINSIP DASAR BISA MENERIMANYA .

DENGAN

SYARAT INI

(DHARURI)

UNTUK MENANGGALKAN KESULITAN

(RAF’UL

HARAJ).

Pendapat Ulama Madzhab Seputar Mashalihul Mursalah Para ulama sepakat tidak boleh menggunakan mashalihul mursalah pada aspek ibadah. Perkaraperkara ibadah tidak bisa direkonstruksi melalui ijtihad atau ra`yu karena ghoir ma’kulil ma’na (tidak bisa dicerna oleh akal). Sedangkan menambah syari’at dalam ibadah merupakan bid’ah yang notabene termasuk kategori menyesatkan. Dikalangan semua ulama madzhab hakekatnya menyetujui konsep mashalihul mursalah, hanya permasalahannya ada pada penggunaan istilah mashalihul mursalah ini sebagai mashadir tasyri’ yang mustaqil. Ulama madzhab yang secara khusus menerapkan mashalihul mursalah sebagai mashadir tasyri’ atau ushul madzhab adalah Imam Ahmad bin Hambal (Hambali) dan Imam Malik (Malikiyah). Sedangkan ulama madzhab yang tidak menyertakan mashalihul mursalah sebagai referensi adalah Imam Syafi’i (Syafi’iyyah) dan Imam Hanafi (Hanafiyah).Adapun aliran yang menolak mshalihul mursalah diantaranya aliran Syi’ah dan Dhohiriyah. Pendapat ulama yang menolak mashalihul mursalah diantaranya:[21] SESUNGGUHNYA ADANYA SYARI’AT BERTUJUAN UNTUK MEWUJUDKAN KEMASLAHATAN BAGI MANUSIA. MERUPAKAN HAL YANG MUSTAHIL JIKA SYARI’AT TIDAK MENGANDUNG UNSUR MASLAHAT. OLEH SEBAB ITU, APABILA MASHALIHUL MURSALAH DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN BERARTI ADA SEBAHAGIAN SYARI’AT YANG TIDAK MEMUAT NILAI-NILAI MASLAHAT KARENA INI BERTENTANGAN DENGAN FIRMAN .SURAT AL-QIYAMAH:36 {‫ }ااااا ااااااا اا اااا ااا‬ALLAH Adanya keraguan dalam mashalihul mursalah, antara mashalihul mu’tabarah dengan mashalihul mulghoh karena tidak bisa menggabungkan keduanya. Maka, dalil tersebut tidak bisa dipakai karena tidak ada yang tahu untuk menunjukan bahwa orang yang menggunakan mashalihul mursalah itu termasuk maslahat yang mu’tabarah bukan mulghiyyah.[22] MENGGUNAKAN MASHALIH SAMA DENGAN KEBODOHAN DALAM SYARI’AT KARENA AKAN TERJADI ASIMILASI DALAM ATURAN-ATURAN ISLAM YANG DIPENGARUHI OLEH EGOSENTRIS DAN KEKUASAAN YANG HEGEMONIK. DAN HUKUM-HUKUM TERSEBUT DILANDASI DENGAN KEPENTINGAN PRIBADI MEREKA MASING-MASING DENGAN KLAIM MASLAHAT. Beberapa alasan yang menerima mashalihul mursalah, adalah sebagai berikut: Bahwasanya syari’at tidak ditetapkan kecuali untuk kemaslahatan dan nash-nash syari’at beserta hukumnya sangat varian. Penetapan maslahat mursalah merupakan karakteristik dari syari’at itu sendiri. KEMASLAHATAN MANUSIA SELALU MENGALAMI PERUBAHAN KARENA PERBEDAAN SITUASI, KONDISI DAN WAKTU SERTA TIDAK MUNGKIN MENYESUAIKANNYA DENGAN KONDISI PADA WAKTU DULU. Sesungguhnya para mujtahid -baik dari kalangan sahabat atau setelahnya- banyak yang melarapkan ijtihad mereka dalam menjaga kemaslahatan dan tidak ada seorang pun yang

mengingkarinya. KESIMPULAN • TUJUAN
AWAL DARI PENERAPAN SYARI’AT YAITU UNTUK MEWUJUDKAN SERTA MENJAGA KEMASLAHATAN MANUSIA DALAM BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN. KARAKTERISTIK SYARI’AT.

DIMANA

HAL

TERSEBUT

BISA

TEREJAWANTAHKAN

PADA

MASHALIHUL

MURSALAH

INI

SEBAGAI

SUBORDINASI

DARI

• Mashalihul mursalah bisa kita interpretasikan sebagai upaya untuk mengambil manfaat dan menghilangkan mafsadat dengan tetap berpijak pada terma-terma umum dari nash syari’at melalui pendekatan rasio yang akan menghasilkan produk hukum untuk dijadikan undangundang dalam merespon permasalahan yang berkembang disebabkan pergeseran situasi, kondisi dan waktu. • MASLAHAT
SENDIRI TERBAGI MENJADI TIGA BAGIAN BESAR, YAITU MASHALIHUL MU’TABARAH, MASHALIHUL MULGHOH DAN MASHALIHUL MURSALAH ATAU AL-MASHLAHATUL MASKUT ‘ANHA.

• Para ulama sepakat bahwa mashalihul mursalah tidak boleh diterapkan pada aspek ibadah yang sudah final. ILLAHI ANTA MAQSUDI WA RIDHOKA MATLUBI “KEKERINGAN AIR YANG MEMBANGKITKAN SEMANGAT” Qattameya Permai, 17 Februari 2007

*) CORETAN INI DISHARINGKAN PADA SIDANG LEMBAGA BUHUTS ISLAMIYAH DIVISI SYARIAH PWK PERSIS MESIR PADA PAGI HARI YANG DINGIN ) :-P **) PENULIS
ADALAH

PADA HARI

SABTU, 17 FEBRUARI 2007

DI

RUMAH

MAHASISWA UNIVERSITAS AL-AZHAR KAIRO
AYAT

JURUSAN

SYARI’AH ISLAMIYAH

DAN PEGIAT ILMU PENGETAHUAN

[1] . SURAT AL-HAJJ

78, AL-QUR’AN

DAN

TERJEMAHNYA DEPARTEMEN AGAMA RI, SEMARANG, 1989. CV TOHA PUTRA SEMARANG.
WA

[2] . DR. MUHAMMAD AHMAD BURKAB, MASHALIHUL MURSALAH BUHUTS DIROSAT ISLAMIYAH WA IHYAUT TURATS, HAL. 13. [3]. IMAM GHAZALI, AL-MUSTASFA
MIN

ATSARUHA

FI

MARUNATIL FIQH AL-ISLAMI, DUBAI, 2002, DARUL
JILID

‘ILMI USHUL, BEIRUT, 1997. MUASSATUL RISALAH,

1

HAL.416

[4]. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal. 236 [5]. DR. YUSUF QARDHAWI, SIYASAH SYAR’IYAH HAL. 84
FI

DHOI NUSHUS ASY-SYARI’AH

WA

MAQASHIDIHA, KAIRO, 1998. MAKTABAH WAHBAH,

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali [6]. Khifdzu Al-Din, Khifdzu Al-Nafs, Khifdzu Al-‘Aql, Khifdzu An-Nasl dan Khifdzu Al-Mal [7]. SYAIKH ‘IZUDIN BIN ABDUS SALAM, QAWA’ID AL-AHKAM FI MASHALIH AL-ANAM, HAL.35. DR. MUHAMMAD AHMAD BURKAB, MASHALIH AL-MURSALAH WA ATSARUHA FI MARUNAH AL-FIQH AL-ISLAMI, DUBAI, 2002, DARUL BUHUTS DIROSAT ISLAMIYAH WA IHYAUT TURATS, HAL.26 [8]. Dia adalah Muhammad Thohir bin Muhammad bin Muhammad Thohir bin Muhammad Syadili bin ‘Asur At-Tunisi. Seorang imam yang sangat ahli dalam disiplin ilmu Islam baik itu bahasa, sastra maupun sejarah. [9]. SYAIKH THOHIR BIN ‘ASUR, MAQHASID ASY-SYARI’AH AL-ISLAMIYAH, HAL.63. DR. MUHAMMAD AHMAD BURKAB, MASHALIH ALMURSALAH WA ATSARUHA FI MARUNAH AL-FIQH AL-ISLAMI, DUBAI, 2002, DARUL BUHUTS DIROSAT ISLAMIYAH WA IHYAUT TURATS, HAL.29 [10]. Ibnu Taimiyah, Majmu’atul Fatawa, jilid 11 hal.34-343. Samih Abdul Wahab Al-Jundi, Ahmiyah AlMaqhasid fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Atsaruha fi Fahmi An-Nash wa Istinbat Al-Hukmi, Iskandariyah, 2003. Darul Iman [11]. WAHBAH ZUHAILI, USHUL FIQH AL-ISLAMI, JILID 2 HAL.757. YUSUF ‘ALAM, AL-MAQHASID AL-‘AMMAH LI ASY-SYARI’AH AL-ISLAMIYAH, HAL.135. SAMIH ABDUL WAHAB AL-JUNDI , AHMIYAH AL-MAQHASID FI ASY-SYARIAH AL-ISLAMIYAH WA ATSARUHA FI FAHMI AN-NASH WA ISTINBAT AL-HUKMI, ISKANDARIYAH, 2003. DARUL IMAN [12]. Ahmad Ar-Raisuni, Nadhoriyah Al-Maqhasid ‘inda Asy-Syatibi, hal.257. Samih Abdul Wahab Al-Jundi, Ahmiyah Al-Maqhasid fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Atsaruha fi Fahmi An-Nash wa Istinbat Al-Hukmi, Iskandariyah, 2003. Darul Iman [13]. AR-ROJI, AL-MAHSŪL, JILID 5 HAL.158. SAMIH ABDUL WAHAB AL-JUNDI, AHMIYAH AL-MAQHASID ATSARUHA FI FAHMI AN-NASH WA ISTINBAT AL-HUKMI, ISKANDARIYAH, 2003. DARUL IMAN
FI

ASY-SYARIAH AL-ISLAMIYAH

WA

[14]. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal.236

[15]. ABU ISHAQ ASY-SYATIBI, AL-MUWAFAQOT FI USHUL ASY-SYARI’AH, KAIRO, 2003. MAKTABAH TAUFIQIYAH, WAHBAH ZUHAILI, AL-WAJIZ FI USHUL AL-FIQH, DAMASKUS, 2006. DARUL FIKR SURIAH, HAL.92

JILID

2

HAL.6.

DR.

[16]. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.209 [17]. RIWAYAT ABU DAWUD DALAM KITAB AL-AQDIYAH BAB IJTIHAD AR-RA’YI FI AL-QADHA’I HADITS NO.3592 JILID 4 HAL.18. TIRMIDZI DALAM KITAB AL-AHKAM BAB MĀ JĀ’A FI AL-QĀDHI KAIFA YUQDHĀ HADITS NO.1327 JILID 3 HAL.116. DR. MUHAMMAD AHMAD BURKAB, MASHALIH AL-MURSALAH WA ATSARUHA FI MARUNAH AL-FIQH AL-ISLAMI, DUBAI, 2002, DARUL BUHUTS DIROSAT ISLAMIYAH WA IHYAUT TURATS, HAL.210 [18]. Al-Ghazali, Syifāu Al-Ghalīl, hal.212. As-Syatibi, Al-I’tisham, jilid 2 hal.108. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.213 [19]. AZ-ZANJĀNĪ, TAKHRĪJ AL-FURŪ’ ‘AN AL-USHŪL, HAL.322. DR. MUHAMMAD AHMAD BURKAB, MASHALIH AL-MURSALAH FI MARUNAH AL-FIQH AL-ISLAMI, DUBAI, 2002, DARUL BUHUTS DIROSAT ISLAMIYAH WA IHYAUT TURATS, HAL.215
WA

ATSARUHA

[20]. DR. Yusuf Qardhawi, Taisir Al-Fiqh Lil Muslim Al-Mu’ashirah fi Dhou`i Al-Qur’an wa Sunnah, Kairo,1999. Maktabah Wahbah, hal.85. DR. Yusuf Qardhawi, Siyasah Syar’iyah fi Dhoi Nushus AsySyari’ah wa Maqashidiha, Kairo, 1998. Maktabah Wahbah, hal.99 [21]. ABDUL KARIM ZAEDAN, AL-WAJIZ
FI

USHUL AL-FIQH, BEIRUT, 1996. MUASSATUL RISALAH,

HAL.238

[22]. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Amadī dalam kitab Ahkamuhu jilid 4 hal.216. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal.239

MASHLAHAT MURSALAH MASHLAHAT MURSALAH YAITU SUATU KEMASLAHATAN YANG TIDAK DISINGGUNG OLEH SYARA' DAN TIDAK PULA TERDAPAT DALIL-DALIL YANG MENYURUH UNTUK MENGERJAKAN ATAU MENINGGALKANNYA , SEDANG JIKA
DIKERJAKAN AKAN MENDATANGKAN KEBAIKAN YANG BESAR ATAU KEMASLAHATAN

1. PENGERTIAN MASHLAHAT MURSALAH YAITU SUATU KEMASLAHATAN YANG TIDAK DISINGGUNG OLEH SYARA' DAN TIDAK PULA TERDAPAT DALIL-DALIL YANG MENYURUH UNTUK MENGERJAKAN ATAU MENINGGALKANNYA , SEDANG JIKA DIKERJAKAN AKAN MENDATANGKAN KEBAIKAN YANG BESAR ATAU KEMASLAHATAN . MASHLAHAT MURSALAH DISEBUT JUGA MASHLAHAT YANG MUTLAK. KARENA TIDAK ADA DALIL YANG MENGAKUI KESAHAN ATAU KEBATALANNYA . JADI PEMBENTUK HUKUM DENGAN CARA MASHLAHAT MURSALAH SEMATA -MATA UNTUK MEWUJUDKAN KEMASLAHATAN
MANUSIA DENGAN ARTI UNTUK MENDATANGKAN MANFAAT DAN MENOLAK KEMUDHARATAN DAN KERUSAKAN BAGI MANUSIA.

KEMASLAHATAN MANUSIA ITU MEMPUNYAI TINGKAT-TINGKATAN. TINGKAT PERTAMA LEBIH UTAMA DARI TINGKAT KEDUA DAN TINGKAT YANG KEDUA LEBIH UTAMA DARI TINGKAT YANG KETIGA. TINGKAT-TINGKATAN ITU, IALAH: TINGKAT PERTAMA YAITU TINGKAT DHURARI , TINGKAT YANG HARUS ADA. TINGKAT INI TERDIRI ATAS LIMA TINGKAT PULA, TINGKAT PERTAMA LEBIH UTAMA DARI YANG KEDUA , YANG KEDUA LEBIH UTAMA DARI YANG KETIGA DAN SETERUSNYA . TINGKAT-TINGKAT ITU IALAH: MEMELIHARA AGAMA; MEMELIHARA JIWA; MEMELIHARA AKAL; MEMELIHARA KETURUNAN; DAN MEMELIHARA HARTA. TINGKAT YANG KEDUA ADALAH TINGKAT YANG DIPERLUKAN (HAJI). TINGKAT KETIGA, IALAH TINGKAT TAHSINI. DIANTARA CONTOH MASHLAHAT MURSALAH IALAH USAHA KHALIFAH ABU BAKAR MENGUMPULKAN AL-QUR'AN YANG TERKENAL DENGAN JAM'UL QUR'AN. PENGUMPULAN AL-QUR'AN INI TIDAK DISINGGUNG SEDIKITPUN OLEH SYARA', TIDAK ADA NASH YANG MEMERINTAHKAN DAN TIDAK ADA NASH YANG MELARANGNYA . SETELAH TERJADI PEPERANGAN YAMAMAH BANYAK PARA PENGHAFAL AL-QUR'AN YANG MATI SYAHID (± 70 ORANG). UMAR BIN

KHATTAB MELIHAT KEMASLAHATAN YANG SANGAT BESAR PENGUMPULAN AL-QUR'AN ITU, BAHKAN MENYANGKUT KEPENTINGAN AGAMA (DHURARI ). SEANDAINYA TIDAK DIKUMPULKAN , DIKHAWATIRKAN AI-QUR'AN AKAN HILANG DARI PERMUKAAN DUNIA NANTI. KARENA ITU KHALIFAH ABU BAKAR MENERIMA ANJURAN UMAR DAN MELAKSANAKANNYA . DEMIKIAN PULA TIDAK DISEBUT OLEH SYARA' TENTANG KEPERLUAN MENDIRIKAN RUMAH PENJARA, MENGGUNAKAN MIKROFON DI WAKTU ADZAN ATAU SHALAT JAMA'AH, MENJADIKAN TEMPAT MELEMPAR JUMRAH MENJADI DUA TINGKAT , TEMPAT SA'I DUA TINGKAT , TETAPI SEMUANYA ITU DILAKUKAN SEMATA -MATA UNTUK KEMASHLAHATAN AGAMA, MANUSIA DAN HARTA. DALAM MENGISTINBATKAN HUKUM, SERING KURANG DIBEDAKAN ANTARA QIYAS, ISTIHSAN DAN MASHLAHAT MURSALAH. PADA QIYAS ADA DUA PERISTIWA ATAU KEJADIAN , YANG PERTAMA TIDAK ADA NASHNYA, KARENA ITU BELUM DITETAPKAN HUKUMNYA, SEDANG YANG KEDUA ADA NASHNYA DAN TELAH DITETAPKAN HUKUMNYA . PADA ISTIHSAN HANYA ADA SATU PERISTIWA , TETAPI ADA DUA DALIL YANG DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI DASARNYA . DALIL YANG PERTAMA LEBIH KUAT DARI YANG KEDUA . TETAPI KARENA ADA SESUATU KEPENTINGAN DIPAKAILAH DALIL YANG KEDUA . SEDANG PADA MASHLAHAT MURSALAH HANYA ADA SATU PERISTIWA DAN TIDAK ADA DALIL YANG DAPAT DIJADIKAN DASAR UNTUK MENETAPKAN HUKUM DARI PERISTIWA ITU, TETAPI ADA SUATU KEPENTINGAN YANG SANGAT BESAR JIKA PERISTIWA ITU DITETAPKAN HUKUMNYA . KARENA ITU DITETAPKANLAH HUKUM BERDASAR KEPENTINGAN ITU. IMAM AL-GHAZALI MENGGUNAKAN ISTILAH ISTISHLAH SEBAGAI KATA YANG SAMA ARTINYA DENGAN MASHLAHAT MURSALAH. 2. DASAR HUKUM PARA ULAMA YANG MENJADIKAN MASHLAHAT MURSALAH SEBAGAI SALAH SATU DALIL SYARA', MENYATAKAN BAHWA DASAR HUKUM MASHLAHAT MURSALAH, IALAH: PERSOALAN YANG DIHADAPI MANUSIA SELALU TUMBUH DAN BERKEMBANG, DEMIKIAN PULA KEPENTINGAN DAN KEPERLUAN HIDUPNYA. KENYATAAN MENUNJUKKAN BAHWA BANYAK HAL-HAL ATAU PERSOALAN YANG TIDAK TERJADI PADA MASA RASULULLAH SAW, KEMUDIAN TIMBUL DAN TERJADI PADA MASA-MASA SESUDAHNYA , BAHKAN ADA YANG TERJADI TIDAK LAMA SETELAH RASULULLAH SAW MENINGGAL DUNIA. SEANDAINYA TIDAK ADA DALIL YANG DAPAT MEMECAHKAN HAL-HAL YANG DEMIKIAN BERARTI AKAN SEMPITLAH KEHIDUPAN MANUSIA. DALIL ITU IALAH DALIL YANG DAPAT MENETAPKAN MANA YANG MERUPAKAN KEMASLAHATAN MANUSIA DAN MANA YANG TIDAK SESUAI DENGAN DASAR-DASAR UMUM DARI AGAMA ISLAM. JIKA HAL ITU TELAH ADA, MAKA DAPAT DIREALISIR KEMASLAHATAN MANUSIA PADA SETIAP MASA, KEADAAN DAN TEMPAT . SEBENARNYA PARA SAHABAT, TABI'IN, TABI'IT TABI'IN DAN PARA ULAMA YANG DATANG SESUDAHNYA TELAH MELAKSANAKANNYA , SEHINGGA MEREKA DAPAT SEGERA MENETAPKAN HUKUM SESUAI DENGAN KEMASLAHATAN KAUM MUSLIMIN PADA MASA ITU. KHALIFAH ABU BAKAR TELAH MENGUMPULKAN AIQUR'AN, KHALIFAH UMAR TELAH MENETAPKAN TALAK YANG DIJATUHKAN TIGA KALI SEKALIGUS JATUH TIGA, PADAHAL PADA MASA RASULULLAH SAW HANYA JATUH SATU, KHALIFAH UTSMAN TELAH MEMERINTAHKAN PENULISAN AI-QUR'AN DALAM SATU MUSHAF DAN KHALIFAH ALI PUN TELAH MENGHUKUM BAKAR HIDUP GOLONGAN SYI'AH RADIDHAH YANG MEMBERONTAK , KEMUDIAN DIIKUTI OLEH PARA ULAMA YANG DATANG SESUDAHNYA . 3. OBYEK MASHLAHAT MURSALAH YANG MENJADI OBYEK MASHLAHAT MURSALAH, IALAH KEJADIAN ATAU PERISTIWA YANG PERLU DITETAPKAN HUKUMNYA , TETAPI TIDAK ADA SATUPUN NASH (AL-QUR'AN DAN HADITS) YANG DAPAT DIJADIKAN DASARNYA . PRINSIP INI DISEPAKATI OLEH KEBANYAKAN PENGIKUT MADZHAB YANG ADA DALAM FIQH, DEMIKIAN PERNYATAAN IMAM AL-QARAFI ATH-THUFI DALAM KITABNYA MASHALIHUL MURSALAH MENERANGKAN BAHWA MASHLAHAT MURSALAH ITU SEBAGAI DASAR UNTUK MENETAPKAN HUKUM DALAM BIDANG MU'AMALAH DAN SEMACAMNYA . SEDANG DALAM SOAL-SOAL IBADAH ADALAH ALLAH UNTUK MENETAPKAN HUKUMNYA, KARENA MANUSIA TIDAK SANGGUP MENGETAHUI DENGAN LENGKAP HIKMAH IBADAT ITU. OLEH SEBAB ITU HENDAKLAH KAUM MUSLIMIN BERIBADAT SESUAI DENGAN KETENTUAN -NYA YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR'AN DAN HADITS.

MENURUT IMAM AL-HARAMAIN: MENURUT PENDAPAT IMAM ASY-SYAFI'I DAN SEBAGIAN BESAR PENGIKUT MADZHAB HANAFI, MENETAPKAN HUKUM DENGAN MASHLAHAT MURSALAH HARUS DENGAN SYARAT, HARUS ADA PERSESUAIAN DENGAN MASHLAHAT YANG DIYAKINI , DIAKUI DAN DISETUJUI OLEH PARA ULAMA.

Waduk PANOHAN
POSTED BY ADMIN PADA 13/09/2010 DESA PANOHAN SEKARANG MEMPUNYAI WAHANA WISATA BARU BERUPA WADUK UKURAN SEDANG YANG PEMBANGUNANNYA DIBIAYAI DARI DANA APBN. MAKSUD UTAMA DARI DIBANGUNNYA WADUK INI YAITU UNTUK SARANA IRIGASI YANG MENGAIRI DESA-DESA DI SEKITARNYA . DENGAN HADIRNYA WADUK INI DIHARAPKAN SELAIN MENINGKATKAN SISTEM PERTANIAN DESA JUGA MAMPU MEMPERKENALKAN RESORT PANOHAN KE DAERAH LUAR. SEBENARNYA MASIH PERLU PEMBENAHAN-PEMBENAHAN LAGI AGAR DAPAT MENJADI SARANA OBYEK WISATA YANG MAMPU BERSAING DENGAN DAERAH LAIN. ADA BEBERAPA SARANA PENDUKUNG YANG BELUM ADA SEPERTI TAMAN DI SEKITAR WADUK, PERAHU WISATA AIR DAN KANTIN. APABILA SEMUANYA ITU BISA DILENGKAPI MAKA WADUK

PANOHAN INI TIDAK AKAN KALAH DENGAN OBYEK-OBYEK WISATA DAERAH LAIN. NAMUN DEMIKIAN SAAT INI WADUK PANOHAN SUDAH CUKUP BANYAK DIKUNJUNGI WISATAWAN LOKAL YANG INGIN MENIKMATI WISATA ALAM YANG MURAH MERIAH. UNTUK MASUK LOKASI HANYA DIPUNGUT BIAYA MASUK PER JENIS KENDARAAN (BUKAN PER ORANG). UNTUK SEPEDA MOTOR RP. 1.000,- SEDANGKAN MOBIL CUKUP MEMBAYAR RP. 2.000,- SAJA. DANANYA DIKELOLA OLEH KARANG TARUNA YANG KEMUDIAN DISETOR KE KAS DESA. KAWASAN WADUK MENJADI LEBIH RAMAI KETIKA SORE HARI, KEBANYAKAN YANG DATANG ADALAH ANAK-ANAK MUDA. APABILA KITA NAIK SEDIKIT DARI LOKASI WADUK MAKA AKAN KITA JUMPAI GUA LAMPING (LAMPING CAVE). APABILA KITA TURUN KEBAWAH MENYUSURI ALIRAN SUNGAI MAKA KITA AKAN JUMPAI DANAU ALAM (KEDUNG) BERNAMA KEDUNG GULING ATAU BIASA DISINGKAT DUNG GULING YANG TAK KALAH MENARIKNYA (SEE: ABAOUT PANOHAN). BERIKUT INI ADALAH GAMBAR-GAMBAR DARI WADUK PANOHAN.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->