P. 1
Implementasi Pembelajaran Akhlak

Implementasi Pembelajaran Akhlak

4.81

|Views: 11,589|Likes:
Published by Afrian Firman

More info:

Published by: Afrian Firman on Jan 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2015

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA
SISWA KELAS IX SMP PGRI 12 PONDOK LABU (Studi Penelitian
Kelas IX SMP PGRI 12 Pondok Labu) telah diujikan dalam sidang munaqasyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta pada tanggal 25 Agustus 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada jurusan Pendidikan Agama
Islam.
Jakarta, 25 Agustus 2008

Panitia Ujian Munaqasyah

Ketua Jurusan Tanggal Tanda tangan
Dr. H. A. F. Wibisono, MA ………. ………………
NIP. 150 236 009

Sekretaris Jurusan
Drs. Safiudin Sidiq, MA ………. ………………
NIP. 150 299 477

Penguji I
Prof. Dr. H. Salman Harun, MA ……….. ……………….
NIP. 150 062 568

Penguji II
Drs. Ahmad Shoddiq, MA ……….. ………………..
NIP. 150 289 321


Mengetahui:
Dekan FITK UIN Syarif Hidayatullah


Prof. Dr. Dede Rosyada, M. A.
NIP. 150 231 256
id3700250 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
i
LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Hasanuddin
Tempat/ Tgl Lahir : Kuningan, 05 Januari 1986
NIM : 104011000136
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Implementasi Pembelajaran Akhlak pada Siswa Kelas IX
SMP PGRI 12 Pondok Labu
Pembimbing : Drs. H. Achmad Gholib, M.A

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1) di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.






Ciputat, Agustus 2008
Penulis

Hasanuddin

id3728093 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
ii
ABSTRAKSI

Hasanuddin
Implementasi Pembelajaran Akhlak pada Siswa Kelas IX SMP PGRI 12
Pondok Labu
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jawaban bagaimana
pembelajaran Pendidikan Agama Islam(akhlak) di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
Penelitian ini memakai Metode deskriptif analisis yang menggunakan
instrument kuesioner dan wawancara. Dari penelitian yang telah dilakukan kepada
sejumlah siswa yang menjadi sampel, penulis melakukan analisis data yang
merupakan bagian penting dalam metode ilmiah untuk menjawab masalah
penelitain ini.
Pembelajaran akhlak pada kelas IX SMP PGRI 12 Pondok Labu dalam
pelaksanaan dan hasil terhadap anak didik di SMP tersebut, antara materi yang
disampaikan atau norma dengan sikap atau perilaku anak didik cukup sesuai dari
hasil penelitian di SMP tersebut. Dari 30 siswa yang menjawab pertanyaan-
pertanyaan berjumlah 14 item dengan jawaban (kadang-kadang) berjumlah 8,
jawaban (ya) berjumlah 4 dan jawaban (tidak) berjumlah 2, maka cukup sesuai
dengan alokasi waktu yang sangat singkat hanya 2 jam/ kelas mayoritas siswa
menjawab kadang-kadang.
Untuk mempertahankan dan meningkatkan akhlak dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (akhlak) supaya tujuan inti di dalam proses
pembelajaran siswa-siswi bisa tercapai dengan baik maka penulis menyarankan
kepada pihak sekolah untuk menjadikan akhlak sebagai orientasi utama dan
pertama didalam penilaian dengan diimbangi oleh kapasitas intelektual anak
didik, disarankan pula untuk para guru menjadi suri tauladan bagi siswa-siswinya
agar akhlak anak didik setiap hari semakin baik dalam kehidupan sehari-harinya
di sekolah khususnya, umumnya di luar sekolah.

iii
KATA PENGANTAR
ϢϴΣήϟ΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ
Puji syukur kehadirat Allah swt atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul
“IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS
IX DI SMP PGRI 12 PONDOK LABU”.
Shalawat dan salam penulis haturkan kepada baginda nabi Muhammad
saw beserta anak-anak, keluarga dan sahabatnya serata para Nabi, Wali, Syuhada,
dan orang-orang salih.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak dapat terselesaikan
tanpa adanya dukungan, bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Untuk itu
penulis menucapkan terimakasih yang mendalam kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Ketua dan Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. H. Achmad Gholib, M. A, Pembimbing Penulisan Skripsi yang
telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing
penulis.
4. Bapak Prof. Dr. Armai Arief, MA., Dosen Penasihat Akademik.
5. Bapak dan Ibu Dosen yang telah membimbing penulis selama kuliah di
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Uin
Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak Furqan dan Ibu Nida Staff Jurusan Pendidikan Agama Islam
7. Ayahanda Sukatma dan Ibu Maspidah tercinta, satu dari sekian harapan kalian
telah ananda penuhi, semoga harapan-harapan kalian yang lain dapat ananda
wujudkan. Tidak ada kata yang pantas lagi ananda ucapkan selain ucapan
terimakasih yang sedalam-dalamnya atas segala pengorbanan, kasih sayang,
dukungan dan bimbingan kalian serta kesabaran yang tak terhingga.
8. Kakandaku, Teh Nur Hasanah, Kak Saiful Ali, Teh Nur Sehah, Kak Asef
Ma’mun Sanusi, Adikku Nurul Magfirah dan seluruh keponakanku
iv
9. Ibu Dra. Sartini, MM. Kepala dan Dra. Hajarillah Wakil sekolah SMP PGRI
12 Pondok Labu beserta dewan Guru yang bersedia menerima dan membantu
penulis dalam melakukan penelitian dan penyelesaian skripsi ini.
10. Teman-teman seperjuangan di Jurusan PAI 2004, khususnya Mas Bejo, Kang
Rizal, Nur Istianah, Latifah dan Arif Maulana Akbar, serta teman-teman
mahasiswa yang tidak dapat penulis Sebutkan satu persatu, yang telah
memberikan semangat dan bantuannya selama ini.
11. Adindaku tersayang "Idah Ummu Maidah", yang membuat penulis semangat.
Akhirnya atas jasa dan bantuan semua pihak, baik berupa moril maupun
materil penulis panjatkan doa, semoga Allah swt memberikan balasan yang
berlipat ganda dan penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan berkah bagi
penulis dan pembaca. Amien.



Jakarta, Agustus 2008


Penulis












v
DAFTAR ISI

PERNYATAAN ILMIAH.................................................................................. i
ABSTRAKSI........................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
DAFTAR ISI........................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................ 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah............................................ 7
C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 8
D. Kegunaan penelitian ..................................................................... 8
E. Metode Penelitian ......................................................................... 8
F. Pedoman Penulisan ....................................................................... 11
G. Sistematika Penyusunan ............................................................... 11
BAB II LANDASAN TEORI
A. Pendidikan Agama Islam.............................................................. 12
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam....................................... 12
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam............................ 17
B. Akhlak ........................................................................................... 23
1. Pengertian Akhlak................................................................... 23
2. Pembentukan Akhlak ............................................................. 29
3. Pembinaan Akhlak .................................................................. 33
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak ....... 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian ................................................................... 41
B. Populasi dan sample penelitian..................................................... 41
vi
C. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 42
D. Pengumpulan Data ....................................................................... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Pelaksanaan Pembelajaran Akhlak di SMP PGRI 12 Jakarta....... 45
1. Pembelajaran Akhlak ............................................................. 45
2. Kurikulum............................................................................... 45
3. Materi ...................................................................................... 45
4. Keteladanaan........................................................................... 47
5. Kendala-Kendala Pembelajaran.............................................. 47
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian............................................. 48
1. Sejarah Berdirinya Dan Letak Geografisnya .......................... 48
2. Identitas Sekolah..................................................................... 49
3. Visi dan Misi SMP PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan ... 49
4. Struktur Organisasi SMP PGRI 12 Pondok Labu Jakarta
Selatan..................................................................................... 49
5. Kurikulum PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan................. 51
6. Keadaan Guru, Karyawan, Siswa dan Sarana Prasarana SMP
PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan................................... 52
C. Deskripsi Data.................................................................................. 55
D. Analisis dan Interpretasi Data .......................................................... 61
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................... 63
B. Saran.............................................................................................. 63
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 65
LAMPIRAN




vii
DAFTAR TABEL


Tabel 1 Struktur Program Kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan).............................................................................. 51
Tabel 2 Guru –Guru di SMP PGRI 12............................................................. 52
Tabel 3 Karyawan – Karyawan SMP PGRI 12................................................ 54
Tabel 4 Siswa-Siswa SMP PGRI 12 ................................................................ 54
Tabel 5 Sarana dan Prasarana SMP PGRI 12 .................................................. 55
Tabel 6 Apakah Anda Memberi Salam Ketika Bertemu Guru dan Teman ..... 55
Tabel 7 Ketika usaha anda belum berhasil dalam belajar dan lainnya
di sekolah, apakah anda bersabar ........................................................ 56
Tabel 8 Apakah anda belajar tepat waktu ........................................................ 56
Tabel 9 Apakah anda telah memahami peraturan sekolah............................... 57
Tabel 10 Setiap pembelajaran pendidikan agama Islam (akhlak), apakah
anda langsung mengerti....................................................................... 57
Tabel 11 Apakah anda mempelajari pendidikan agama Islam (Akhlak) di luar
jam pelajaran ....................................................................................... 58
Tabel 12 Apakah anda suka Cara belajar PAI (Akhlak) dengan ceramah......... 58
Tabel 13 Apakah anda selalu bersikap Tasamuh terhadap teman-teman anda
di sekolah ........................................................................................... 58
Tabel 14 Apakah anda termasuk salah seorang yang menciptakan
keadaan sekolah yang tenang.............................................................. 59
Tabel 15 Apakah anda tidak memiliki rasa benci atau dendam kepada
teman-teman di sekolah..................................................................... 59
Tabel 16 Apakah anda memiliki sifat takabur di sekolah.................................. 60
Tabel 17 Apakah anda selalu bersyukur di sekolah........................................... 60
Tabel 18 Selalu tenang....................................................................................... 60
Tabel 19 Selalu Qana’ah dengan apa yang sudah dimiliki ................................ 61


viii
DAFTAR LAMPIRAN

1. Angket Penelitian
2. Berita wawancara kepala sekolah SMP PGRI 12 Pondok Labu
3. Berita wawancara guru bidang studi PAI kelas IX
4. Lembar pengesahan judul skripsi
5. Surat keterangan bimbingan skripsi
6. Surat keterangan izin riset dari Fakultas
7. Surat keterangan penelitian dari SMP PGRI 12 Pondok Labu





1







BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di lembaga sekolah tingkat pertama sangat didominasi oleh
pelajaran umum seperti IPA dan IPS, sedangkan Pelajaran Agama Islam
(akhlak) di lembaga tersebut sangat minim, mulai dari alokasi waktu yang
diberikan hanya 2 jam di setiap kelas, guru agama Islam hanya berjumlah
beberapa orang, serta buku panduan yang diajarkan di sekolah tersebut juga
belum memadai baik dari segi isi buku maupun pengarang buku tersebut.
Melihat dari fenomena tersebut, tentunya akan sangat sulit mencapai
tujuan pendidikan keagamaan dengan baik yang ada dalam kurikulum mata
pelajaran, dengan waktu yang begitu singkat padahal si anak tidak hanya
dituntut mendapatkan materi tentang apa itu akhlak dan berbagai macamnya,
tapi justru hal yang paling utama adalah bagaimana cara pengaplikasiannya
dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Jika kita meminjam pendapat
kaum Hedonis, sebagaimana yang di kutip Ahmad Amin, dalam Bukunya
yang berjudul ”Etika (Ilmu Akhlak)”, maka alokasi waktu tersebut jauh dari
cukup, karena pelajaran akhlak menuntut adanya praktik dalam masyarakat,
mereka berpendapat, ”Pelajaran akhlak mempunyai pengaruh yang besar
dalam praktik hidup, karena teori ini membatasi tujuan hidup. Yaitu
kebahagiaan perseorangan yang menurut pendapat paham Hedonism atau
kebahagiaan masyarakat menurut pendapat paham Universalistic
Hedonisme”
1
.

1
Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1975), h. 134
id3760781 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
2
Dalam kehidupan nyata sendiri, setiap manusia akan lebih banyak
mendapatkan pendidikan akhlak melalui dunia nonformal, atau lebih pada
pemberian contoh dari kaum yang lebih tua, yang terkadang kaum tua sendiri
lebih banyak memberikan contoh yang tidak baik.
Karenanya sektor pendidikan formal (melalui sekolah) atau nonformal
(Pendidikan Pesantren) menjadi solusi yang amat diperlukan oleh masyarakat
guna pendidikan akhlak anak. Dengan harapan ketika si anak terjun
kemasyarakat ia mampu memposisikan dirinya sebagai manusia yang bisa
diterima diberbagai golongan atau usia, dan bahkan harapan yang lebih jauh ia
menjadi manusia yang terhormat. Permasalahannya sekarang adalah, apakah
dengan tenggang waktu pendidikan yang relatif sedikit atau sebentar tersebut
si anak mampu menjawab semua permasalahan yang ada di masyarakatnya
yang seiring waktu permasalahan tersebut akan berkembang atau apakah ia
mampu menjadi remaja yang diharapkan? Karena pada realita-nya masyarakat
hanya bisa menuntut hal yang baik.
Dengan mempelajari kasus yang penyimpangan norma pada saat
dahulu
2
, serta di barengi dengan melihat realita perkembangan zaman saat ini,
tentunya penanaman nilai-nilai keagamaan sangatlah dibutuhkan dalam proses
pendidikan. Apalagi jika merujuk kepada penjelasan diatas, jelas sekali, akan
tercipta peluang besar terjadi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan
oleh para siswa. Sebagai contoh kecil, mereka tidak bersikap baik terhadap
teman, guru, orang tua, dan lingkungan, apalagi terhadap Tuhan mereka yang
abstrak.
Di mulai dari kelas satu siswa naik ke kelas dua lalu naik ke kelas tiga
yang mana di masa ini siswa kelas tiga berada di masa pubertas atau masa
peralihan dari remaja menuju dewasa (umur 13-17 tahun). Hal ini yang sangat

2
Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, dalam bukunya Pengantar Studi Akhlak,
mamberikan pembahasan khusus mengenai ”Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak”. Fase itu
dimulai sejak zaman Yunani, Fase Arab pra-Islam, Fase Islam, Abad pertengahan hingga Fase
Modern, secara tidak langsung hal ini mengindikasikan pendidikan akhlak adalah hal yang paling
urgen yang menjadi perhatian tersendiri karena dengan berkembangnya zaman maka itu berarti
berkembang pula permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sosial tentunya. Zahrudin AR dan
Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h.19-35
3
dikhawatirkan seharusnya oleh semua kalangan khususnya oleh umat Islam
yang berkecimpung di dunia pendidikan. Karena di masa ini siswa akan
mencoba sesuatu yang mereka belum ketahui akan baik dan buruknya sikap
yang mereka lakukan, maka oleh karena itu pendidikan agama harus
diutamakan oleh pihak pendidik lebih khusus lagi dalam bidang moralitas atau
akhlak.
Berkaitan dengan masalah akhlak, Islam menawarkan berberapa
landasan teori yang tertuang dalam al-Quran dan Hadis, yang kesemua itu
sudah membuktikan oleh para tokoh Islam, diantaranya Ibnu Miskawaih dan
al-Ghazali, kemudian mereka pun menjadi pemerhati kehidupan manusia dan
menjadikan perkembangan akan moralitas atau akhlak manusia umumnya dan
khususnya anak remaja sebagai salah satu kajian utamanya. Adapun landasan-
landasan tersebut ialah sebagai berikut:
1. Al-Qur’an
˳Ϣ˸ϴ˶ψ˴ϋ˳ϖ˵Ϡ˵ΧϰϠ˴ό˴ϟ˴Ϛ˷˴ϧ˶˶·˴ϭ

Sesungguhnya engkau (muhammad) berada diatas budi pekerti yang
agung (Q.S. Al-Qalam : 4).
3


2. Al-Hadis
ϝ Ύϗ ϢόϠλ Ϳ΍ ϝϮγέ ϥ΍ ϪϐϠΑ Ϫϧ΍ Ϛϟ Ύϣ ΖΜόΑ ϻ ϢϤΗ ϦδΣ ϻ΍
ϼΧ ϕ
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".
4


3. Menurut ulama dan Tokoh-Tokoh Muslim
a. Abdul Hamid Yunus
ΔϴϳΩ˱ϻ΍ϥΎδϧ˳ϻ΍ΕΎϘλϲ˰ϫϕϼΧϻ΍
5

"Akhlak ialah sifat kebiasaan manusia"


3
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Bandung: CV penerbit
Jumanatul Ali, 2005), h.596
4
Imam Malik, Al-Muwatha Juz. 14, (Beirut: Daarul Fikr, 1980), h. 132
5
Abdul Hamdi Yunus, As-Sya’ab, (Kairo: Daarul Ma’arif, tt), h. 436
4
b. Imam Al-Ghazali
ϝΎόϓϷ΍ έΪμΗ ΎϬϨϋ ΔΨγ΍έ βϔϨϟ΍ ϲϓ ΔΌϴϫ Ϧϋ ΓέΎΒϋ ϖϠΨϟ΍
ϟϮϬδΑ ΔϳϭέϭήϜϓϰϟ·ΔΟΎΣήϴϏϦϣήδϳϭΔ
6

”Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripada
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan
pertimbangan pikiran (lebih dulu).”

c. Ibrahim Anis
Ϧϣήηϭ΍ήϴΧϦϣϝΎόϓ˱ϻ΍έΪμΗΎϬϨϋΔΨγ΍έβϔϨϠϟϝΎΣϖϠΨϟ΍
ΔϳϭέϭήϜϓϰϟ΍ΔΟΎΣήϴϏ
7

"akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya
lahirlah macam-macam perbuatan baik dan buruk, tanpa
membutuhkan pikiran dan pertimbangan"

Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka sejak
itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan
pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan melalui pendidikan.
Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka
memajukan kehidupan dari generasi ke generasi, sejalan dengan tuntutan
kemajuan masyarakat. Apabila ilmu pengetahuan hanya dimiliki oleh
segelintir orang, akibatnya akan terjadi pembodohan terhadap masyarakat
yang menyebabkan mudah ditindas bahkan dapat diperbudak oleh kaum yang
kuat.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan yakin menuntut
akhirat tetapi tidak melupakan kepentingan dunia, sebagimana firman Allah
dalam QS.Al-Qashash 77:
ó óu4-¯-4Ò .E©OR· ¬C¯4>-47
+.- 4O-O.- ÞE4O´=E- W
ºº4Ò ¬w4·> El4l1´4^ ¬óR`
4Ou^O³¯- W T´O^OÒ¡4Ò .E©º±
=T=O^OÒ¡ +.- ¬C^O·¯T³ W ºº4Ò
óu¯l·> E1=OE¼^¯- OT×
^·¯O·- W E¹T³ -.- ºº OUR47©
4ׯR³´O^¼÷©^¯-

6
Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Daarulyan: tp, 1987), Jilid. 2, h. 58
7
Ibrahim Anas, Al-Mu’jamul Wasith, (Mesir: Daaru; Ma’arif, 1972), h. 2002
5
”Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. AL-Qashash : 77).
8


Pandangan hidup yang materialitis atau hanya mementingkan
keuntungan dunia, mempengaruhi masyarakat yang nampak pada tingkah
lakunya dengan meninggalkan amalan-amalan ibadah serta tidak
memperdulikan lagi untuk mempelajari Al-Qur’an sebagai kitab suci dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan dunia dan untuk keselamatan di akhirat
kelak. Manusia lebih mementingkan waktu dan materi keduniaan, sehingga
melalaikan kewajiban utamanya sebagai makhluk Allah swt beribadah dan
berakhlak mulia.
Maka dalam dunia pendidikan agama tidak bisa di pisahkan, walaupun
di SMP/ SLTP banyak pelajaran-pelajaran akan tetapi setiap mata pelajaran
memiliki ciri khas dan karakteristik tertentu yang dapat membedakannya
dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran pendidikan
agama Islam, khususnya di sekolah menengah pertama (SMP). Adapun
karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah sebagai berkut:
1. Diberikannya mata pelajaran PAI, khususnya di SMP, bertujuan untuk
membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.
Berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), dan memiliki pengetahuan
yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam
lainnya sehingga dapat dijadkan bekal untuk mempelajari berbagai bidang
ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh
negative yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.
2. Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam,
yaitu akidah, syariah dan akhlak. Akidah merupakan penjabaran dari
kosep iman; syariah meupakan penjabaran dari konsep Islam, syariah
memiliki dua dimensi kajian pokok, yaitu ibadah dan muamalah, dan
akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan. Dari ketiga prinsip dasar
itulah berkembang berbagai kajian keIslaman (ilmu-ilmu agama) seperti
ilmu kalam (teologi Islam, usuluddin, ilmu tauhid) yang merupakan
pengembangan dari akidah, ilmu fikih yang merupakan pengembangan

8
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 623
6
dari syariah, dan ilmu akhlak (etika Islam, moralitas Islam) yang
merupakan pengembangan dari akhlak, termasuk kajia-kajian yang terkait
dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya yang dapat dituangkan
dalam berbagai mata pelajaran di SMP.
9


Adapun rujukan atau pedoman dalam pembelajaran pendidikan agama
Islam (akhlak) di SMP PGRI 12 untuk kelas IX ialah buku mutiara akhlak
dalam pendidikan agama Islam. Berdasarkan Permendiknas nomor 22 tahun
2006 tentang standar isi dan Permendiknas nomor 23 tanun 2006 tentang
standar kompetensi lulusan yang di karang oleh Drs. Soepardjo, S. Ag dan
Ngadiyanto, S. Ag. yang di terbitkan oleh PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
di Solo tahun 2007.
Dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam (akhlak) di SMP
PGRI 12 Pondok Labu kelas IX disesuaikan dengan silabus, standar
kompetensi, kompetensi dasar dan indicator dari Departemen Pendidikan
Nasional.
10

Anak yang berada dalam masa puber serta belum memahami agama
Islam dan fenomena tersebut terjadi di sekolahan lanjutan pertama dengan
didukungnya mata pelajaran tentang keagamaannya sangat kurang maksimal.
Anak akan mudah terjerumus pada perbuatan dosa dan perbuatan maksiat
lainnya. Keadaan semacam ini juga dapat menjadi penyebab utama
kemerosotan moral, pergaulan bebas, penggunaan obat-obat terlarang,
pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai bentuk kejahatan yang kebanyakan
dilakukan oleh generasi yang kurang pemahamannya tentang akhlak,
kurangnya pendidikan akhlak serta pembinaan akhlak pada anak.
Apabila anak telah memahami hikmah dan pentingnya mempelajari
akhlak dengan baik berarti mereka telah dibimbing untuk senantiasa
mendekatkan dirinya kepada Allah Swt, yang akan membawa kepada
ketenangan jiwa dan akan timbul perasaan takut bila hendak melakukan

9
Depdiknas, Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP), (Jakarta: Depdiknas,
2004), h. 2-3
10
Drs. Soepardjo, S.Ag dan Ngadiyanto, S.Ag, Mutiara Akhlak Dalam Pendidkan Agama
Islam Untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama, (Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,
2007), h. 35-40 dan h. 121-126.
7
perbuatan dosa karena ia telah yakin bahwa dirinya senantiasa berada dibawah
pengawasan Allah Swt.
Lembaga pendidikan lanjutan pertama sangat dibutuhkan peranannya
dalam membantu orang tua serta melanjutkan pemberian pemahaman akhlak
serta pembinaan akhlak pada anak didik (remaja awal) yang sudah mereka
dapatkan dari sekolah dasar.
Karena periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang
pesat, meskipun masa puber merupakan periode singkat yang bertumpang
tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan permulaan masa remaja Namun,
ciri utama masa ini adalah bergejolaknya dorongan seksual. Oleh karena itu,
interaksi mereka dengan kekuatan barunya ini tergolong salah satu problem
yang paling berat.
11

Melihat fenomena di atas penulis tertarik untuk meneliti dan
membahas dalam penulisan skripsi dengan judul : “IMPLEMENTASI
PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS IX SMP PGRI 12
PONDOK LABU”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas dan mempermudah pokok permasalahan dalam
penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah sebagai berikut:
Impelementasi secara sederhana adalah pelaksanaan atau
penerapan. Implementasi menurut Mclaughlin (dalam mann, 1978).
Implementasi merupakan aktivitas yang saling menyesuaikan.
Implementasi yang penulis maksud adalah bukan sekedar aktivitas tetapi
suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh
berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.
12


11
Netty Hartati, Dkk. Islam Dan Psikologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h.
39-40
12
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum, 2004), h. 40
8
Implementasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti
pelaksanaan
13
, sedangkan dalam kamus ilmiah populer yang berarti
penerapan, pelaksanaan
14
, karena luasnya masalah pendidikan agama
Islam yang meliputi: Ibadah, Akidah dan Akhlak, Al-Qur'an dan Fiqh,
maka dalam pembahasan proposal ini peneliti hanya membatasi pada
pembelajaran akhlak siswa Kelas IX dalam Pembinaan Akhlak Siswa di
SMP 12 PGRI Pondok Labu.
2. Perumusan Masalah
Setelah membatasi masalah dalam penelitian ini, penulis
memutuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana implementasi pembelajaran akhlak di SMP PGRI 12
Pondok Labu?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bentuk pembelajaran akhlak di SMP PGRI 12 Pondok
Labu.
2. Untuk mengetahui pola pembinaan akhlak di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi
orang-orang yang kosen dan bergerak dalam dunia pendidikan, khususnya
pendidikan agama Islam yang mengenai akhlak.

D. Kegunaan Penelitian
1. Untuk mengembangkan disiplin keilmuan yang penulis miliki dan
menambah wawasan penulis khususnya, serta pihak lain yang berminat
dalam masalah ini.
2. Untuk memberikan masukan bagi sekolah yang diteliti sebagai bahan
evaluasi.



13
John M. Echoles dan Hasan Sadizly, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama,1995)
14
Tim Media, Kamus Ilmiah Populer, (Media Center, 2002), h. 155
9
E. Metodologi Penelitian
Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa tekhnik
yaitu:
1. Angket
Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan angket sebgai
metode yang dipilih untk mengumpulkan data. Angket memang
mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpulan data.
15

Angket adalah alat untuk menumpulkan data yang berupa daftar
pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara
tertulis.
16

Jenis angket yang digunakan oleh peneliti adalah angket tertutup,
yaitu angket yang menghendaki jawaban pendek, atau jawabannya
diberikan dengan membubuhkan tanda tertentu. Daftar pertanyaan disusun
dengan disertai alternative jawabannya, respoden diminta untuk memilih
salah satu jawaban atau lebih dari alternative yang sudah disediakan.
17

Untuk mendapatkan data yang komprehensif, angket ini dibagikan
kepada guru-guru yang menjadi responden. Angket tersebut berisi
pertanyan seputar pembelajaran akhlak dan pembinaan akhlak siswa. Yang
ada di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
2. Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif
adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai
instrument. Format yang di susun berisi item-item tentang kejadian atau
tingkah laku yang menggambarkan akan terjadi.
18


15
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 225
16
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum, 2004), h. 41
17
Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 41
18
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 229
10
Obervasi merupakan pengumpulan data yang menggunakan
pengamatan terhadap obyek penelitian.
19

Dalam hal ini peneliti mengadakan observasi langsung yaitu
mengadakan pengamatan secara langsung ke SMP PGRI 12 Pondok Labu
untuk mengamati keadaan sekolah, guru-guru, siswa, fasilitas yang
dimiliki dan struktur organisasi yang dimiliki oleh SMP PGRI 12
3. Wawancara
Di samping memerlukan waktu yang cukup lama untuk
mengumpulkan data, dengan metode interviue peneliti harus memikirkan
tentang pelaksanaanya. Memberikan angket kepada responden dan
menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan
mengorek jawaban responden dengan tatap muka.
20

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
yang mengajukan pertanyaan dan yang mewawancarai (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
21

Wawancara dilakukan dengan berdialog dan Tanya jawab dengan
kepala sekolah, dan juga guru yang bertugas di SMP PGRI 12.
4. Dokumentasi
Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode
dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, prasasti, notulen rapat, lengger,
agenda, dan sebgainya.
Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak
begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap,
belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda
hidup tetapi benda mati.
22


19
Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 41
20
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 227
21
Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 41
22
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 231
11
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-
barang tertulis. Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data
dengan mencatat data-data yang sudah ada.
23


F. Pedoman Penulisan
Teknik penulisan dalam skripsi ini berdasarkan pada Pedoman
Penulisan Skripsi yang disusun oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2007.
24


G. Sistematika Penyusunan
Sistematika penyusunan dalam penelitian ini dibagi dalam lima (5)
bab, setiap bab dirinci ke dalam sub bab sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, pada bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang
masalah, pembahasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan dan
kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan sistematik
penyusunan.
Bab II : Landasan Teori, pada bab ini akan diuraikan mengenai pengertian
pendidikan agama Islam, dasar dan tujuan pendidikan agama Islam,
pengertian akhlak, pembentukan akhlak, pembinaan akhlak, faktor-
faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak.
Bab III : Metodologi penelitian, pada bab ini akan diuraikan mengenai
pendekatan penelitian, populasi dan sample penelitian, waktu dan
tempat penelitian, pengumpulan data yang mencakup angket,
observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Bab IV : Hasil penelitian Pelaksanaan pembelajaran akhlak di SMP PGRI 12
Jakarta pada bab ini diuraikan mengenai pembelajaran akhlak,
kurikulum, materi, keteladanan, kendala-kendala, gambaran umum
SMP PGRI 12 dan deskripsi data, analisis dan interpretasi data.
Bab V : Penutup, pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dan saran

23
Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 42
24
Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi,(Ciputat: FITK, 2007), h. 3
12







BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan
“pe” dan akhiran “an” yang mengandung arti perbuatan (hal, cara, dan
sebagainya). Istilah pendidikan merupakan terjemahan dari bahasa
Yunani, yaitu “Paedagogie”, yang berarti bimbingan kepada anak didik.
Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan istilah
“edution” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa
Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan kata Tarbiyah yang berarti
pendidikan.
1

Pendidikan berasal dari kata ”didik”, lalu kata ini mendapat awal
”me” sehingga menjadi ”mendidik”, artinya memelihara dan memberikan
latihan dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran,
tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (lihat
kamus besar bahasa Indonesia, 1991:232).
Pengertian pendidikan dalam kamus besar bahasa Indonesia ialah
proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan menusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan.

1
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), Cet. 1, h. 1
id3784093 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
13
Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata
educate (mendidik) artinya memberikan peningkatan (to elicit, to give riset
to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang
sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan
untuk memperoleh pengetahuan (mc leod, 1989).
2

Jadi yang dimaksud dengan Pendidikan ialah bimbingan atau
pertolongan secara sadar yang diberikan oleh Pendidik kepada siterdidik
dalam perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan dan
seterusnya ke arah terbentuknya kepribadian muslim. Dan, Pendidikan
dalam arti sempit, ialah bimbingan yang diberikan kepada anak didik
sampai ia dewasa.
Pendidikan dalam arti luas, ialah bimbingan yang diberikan sampai
mencapai tujuan hidupnya; bagi pendidikan Islam, sampai terbentuknya
kepribadian muslim. Jadi pendidikan Islam, berlangsung sejak anak
dilahirkan sampai mencapai kesempurnaannya atau sampai akhir
hidupnya. Sebenarnya kedua jenis pendidikan ini (arti sempit atau arti
luas) satu adanya.
3

Jika kita merujuk kamus bahasa Arab, kita akan menemukan tiga
akar kata untuk istilah Tarbiyah. Pertama, ”rabba-yarbu” yang artinya
bertambah dan berkembang. Kedua, rabiya-yarbu yang dibandingkan
dengan khafiya-yakhfa yang berarti ”tumbuh dan berkembang”. Ketiga
rabba-yarubbu yang dibandingkan dengan madda-yamuddu dan berarti
”memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan
memperhatikan”.
Dari pengertian-pengertian dasar diatas, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa:
Pertama, pendidikan merupakan kegiatan yang betul-betul
memiliki tujuan, sasaran, dan target.

2
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1997), h.256
3
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-Ma’rif
Bandung ), h. 31-32
14
Kedua, pendidik yang sejati dan mutlak adalah Allah SWT.
Ketiga, pendidikan menuntut terwujudnya program berjenjang
melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pengajaran selaras dengan
urutan sistematika menanjak yang membawa anak dari suatu
perkembangan ke perkembangan lainnya.
Keempat, peran seorang pendidik harus sesuai dengan tujuan Allah
swt menciptaknya. Artinya, pendidik harus mampu mengikuti syariat
agama Allah.
4

Menurut undang-undang sistem pendidikan nasional, pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
5

Menurut undang-undang sistem pendidikan nasional, pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
6

Azyumardi Azra dalam bukunya Esei-Esei Intelektual Muslim Dan
Pendidikan Islam, mengomentari bahwa yang dimaksud dengan
pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan
generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi
tujuan hidup secara efektif dan efisien.
7


4
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah Dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani, 1995), h. 22
5
UU Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Focus Media, 2003), h.3
6
Departemen agama RI,UU dan peraturan pemerintah RI tentang pendidikan, (Jakarta:
Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Islam, 2006), h. 5
7
Azumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos,
1998), h. 3
15
Religi berasal dari bahasa Latin, menurut satu pendapat asalnya
ialah ”Relegere” yang mengandung arti mengumpulkan, membaca. Tetapi
menurut pendapat lain kata itu berasal dari Religare yang berarti
mengikat.
8

Adapun Agama merupakan perpaduan kata yang sangat mudah
diucapkan dan mudah untuk dijelaskan maksudnya (khususnya bagi orang
awam), tetapi sangat sulit memberikan batasan (definisi) yang tepat lebih-
lebih bagi para pakar.
Menurut Jhon Locke (16323-1704) agama bersifat khusus, sangat
pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi orang lain memberi
petunjuk kepadaku jika jiwaku sendiri tidak memberitahu kepadaku.
Mahmud Saltut menyatakan bahwa agama adalah ketetapan-
ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi
pedoman hidup manusia.
Sedangkan menurut Syaikh Muhammad Abdullah Badran, dalam
bukunya Al-madkhal Ila Al-Adyan, berupaya untuk menjelaskan arti
agama dengan merujuk kepada al-Quran. Ia memulai bahasannya dengan
pendekatan kebahasaan.
Din yang biasa diterjemahkan ”agama”, menurut guru besar al-
Azhar itu, menggambarkan ”hubungan antara dua pihak dimana yang
pertama mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada yang kedua.”
Jika demikian agama adalah ”hubungan antara makhluk dan
khaliq-Nya.” hubungan ini mewujud dalam sikap batinnya serta tampak
dalam ibadah yang dilakukannya dan tercermin pula dalam sikap
keseharianya.
9

Sedangkan Islam, menurut pemakaian bahasa, berarti berserah diri
kepada Allah.
10
Hal ini dipertegas oleh firman Allah berikut ini:

8
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI-Press, 1985), h.
10

9
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1992), h. 209-210
10
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah Dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani, 1995), h. 24
16
4O¯O4¯··Ò¡ ^TCR1 *.-
¬HQ7¯¯l4C ¼N¡·.4Ò
=ªÞU¯cÒ¡ T4` OT×
Rª4QE©OO¯-
+÷¯O·-4Ò 4N¯Q·C
6-¯Oº±4Ò RO^O·¯T³4Ò
¬HQN¬E·¯ONC
”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah,
padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di
bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah
mereka dikembalikan. ”(Ali Imran: 83).
11


Kata Islam, menurut pendidikan umum yang berlaku, biasanya
mempunyai konotasi sebagai agama Allah, atau agama yang berasal dari
Allah (agama artinya jalan). Agama Allah, berarti agama atau ajaran yang
bersumber dari Allah, yang dimaksudkan jalan hidup yang ditetapkan oleh
Allah bagi manusia untuk menuju dan kembali kepada-Nya. Jadi agama
Islam sebagai agama Allah adalah jalan hidup yang ditetapkan oleh Allah
(sebagai sumber kehidupan), yang harus dilalui (ditempuh) oleh manusia,
untuk kembali atau menuju kepada-Nya.
Oleh karena itu, bila manusia yang berpredikat muslim, benar-
benar harus menjadi penganut agama yang baik, yang senantiasa mentaati
ajaran Islam dan menjaga agar Rahmat Allah tetap berada pada dirinya. Ia
harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarnya yang
didorong oleh iman sesuai dengan akidah Islam.
Adapun mengenai pengertian pendidikan Islam menurut para ahli,
berbeda-beda pula seperti yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan
Islam.
Menurut Athiyah Al-Abrasyi sebagaimana dikutip oleh Ramayulis
dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam Bahwa Pendidikan Islam (Al-
Tarbiyah Al-Islamiyah) mempersiapkan manusia supaya hidup dengan
sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna

11
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 89
17
budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam
pekerjaannya, manis tutur katanya, baik dengan lisan atau tulisan.
12

Ahmad D. Marimba juga memberikan pengertian bahwa:
“pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan
hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian
utama menurut ukuran-ukuran Islam”.
13

Berdasarkan pandangan diatas, maka pendidikan Islam merupakan
sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan kepada seseorang
untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-
nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kehidupan.

2. Dasar Dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
a. Dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar adalah tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar
sesuatu itu dapat tegak kokoh berdiri. Dimana dalam suatu bangunan
dasar adalah bagian yang sangat fundamental sebagai landasan agar
bangunan tersebut tegak kokoh berdiri. Demikian pula dasar
pendidikan dalam pendidikan Islam yaitu fundamen yang menjadi
landasan atau asas agar pendidikan dapat tegak berdiri tidak mudah
roboh karena tiupan angin kencang berupa idiologi yang muncul baik
sekarang maupun yang akan datang.
Dasar pendidikan Islam secara garis besar ada 3 (tiga) yaitu:
Al-Quran, Al-Sunnah dan Perundang-Undangan yang berlaku di
Negara kita.
1) Al-Qur’an
Al-Qur’an ialah kalam Allah yang tiada tandingannya. Dan
merupakan mu’jizat diturunkan kepada Muhammad saw, Nabi-
Nya, sebagai penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan
Malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan

12
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), Cet. 1, h. 3-4
13
Ramayulis, Ilmu ... (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), Cet. 1, h. 4
18
kepada kita secara mutawatir (oleh orang banyak), serta
mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dengan surat Al-
Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.
Keberadaan Tidak dalam ranah sosial diragukan lagi,
karena Al-Qur’an telah mempengaruhi setiap sendi sistem
pendidikan Rasulullah saw, dan Sahabat, serta diperkuat ketika
Aisyah r.a menegaskan bahwa akhlak Rasullah saw. adalah Al-
Qur’an, hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah dalam QS.
Al-Furqan: 32 :
4··~4Ò 4ׯR~-.-
W-ÒNOE¼E ºº¯Q·¯ 4·Q´O+^
RO^OÞU4N N¹-47¯O¬³^¯-
6·-u·7- LEE³RÞ4Ò ¯
ElR¯EOº± =eTOl·wNLR¯
·ROT E´E1-E·¬· W
+OE4·UE>4O4Ò 1EOR>¯O·>
“Berkatalah orang-orang yang kafir: “mengapa al-quran itu tidak
diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya
Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya kelompok
demi kelompok (QS. Al-Furqan: 32).
14


Ada dua isyarat yang bias diambil dari penjelasan ayat
diatas yang berhubungan dengan pendidikan, yaitu, pengokohan
hati dan pemantapan keimanaan dan sikap tartil dalam membaca
Al-Qur’an.
Penurunan Al-Qur’an yang dimulai dengan ayat-ayat yang
mengandung konsep pendidikan dapat menunjukan bahwa tujuan
Al-Qur’an yang terpenting adalah mendidik manusia melalui
metode yang bernalar serta sarat dengan kegiatan meneliti,
membaca, mempelajari, dan observasi ilmiah terhadap manusia
sejak manusia masih dalam bentuk segumpal darah dalam rahim
Ibu, sebagaimana firman Allah berikut ini:

14
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 564
19
·¡4O^~- ´¦¯cT
ElTÞ4O OR~-.- 4-ÞUE· ^¯÷
4-ÞUE· =T=Oee"- ^TR`
-ÞU4N ^=÷ ·¡4O^~-
El¬4O4Ò N¯4O^·- ^Q÷
OR~-.- =¦^U4×
´¦ÞU·³^¯T ^Ø÷ =¦^U4×
=T=Oee"- 4` ¯¦·¯ u®··u¬4C
^T÷

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS.al-Alaq: 1-5).
15


2) Al-Sunnah
Dalam dunia pendidikan, Rasulullah untuk menuntut ilmu
pengetahuan sebagai pengetahuan bekal dalam pendidikan dengan
sabdanya:
ϢόϠλϲΒϨϟ΍ϝΎϗ ΔπϳήϓϢϠόϟ΍ΐϠσ ϢϠδϣϞϛϰϠϋ
16

“Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban atas setiap muslim dan
muslimah”.

Mencermati hadits diatas menunjukan bahwa penguasaan ilmu
pengetahuan sangat penting untuk dijadikan sebagai bekal
dalam memasuki dunia yang penuh dengan problematika
kehidupan, bahkan untuk mempersiapkan diri memasuki
kehidupan yang lebih kekal dan abadi, yaitu kehidupan
akhirat.
17


Rasulallah saw adalah sosok pendidik yang agung dan
pemilik metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta
didik. Beliau dapat memperhatikan manusia sesuai dengan
kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan akalnya, terutama jika

15
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 1079
16
Jalaluddin Abdurrahman As-Sayuthi, Jaamil Al-Ahadits, (Beirut: Daarul Fikr, 1414), h.
136
17
Muhammad Atyhiyah Al-Abrasy, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, (Jogyakarta:
Titian Ilahi Press, 1996), h. 5
20
berbicara dengan anak-anak. Beliau sangat memahami kondisi
naluriah setiap orang sehingga beliau mampu menjadikan mereka
suka cita, baik material maupun spiritual. Beliau senantiasa
mengajak setiap orang untuk mendekati Allah dan syari’at-Nya
sehingga terperiharalah fitrah manusia melalui pembinaan diri
setahap demi setahap, penyatuan kecenderungan hati, dan
pengarahan potensi menuju derajat yang lebih tinggi.


3) Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia
a) UUD 1945, pasal 29
Ayat 1, berbunyi: “Negara berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa”
Ayat 2, berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan beribadat menurut
agamanya dan kepercayaanya ”

Pasal 29, UUD 1945 ini memberikan jaminan kepada
warga negara RI untuk memeluk agama dan beribadat sesuai
dengan agama yang dipeluknya bahkan mengadakan kegiatan
yang dapat menunjang bagi pelaksanaan ibadat. Dengan
demikian, pendidikan Islam yang searah dengan bentuk ibadat
yang diyakininya diizinkan dan di jamin oleh negara.
18

b) GBHN
Di dalam GBHN tahun 1993 bidang agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa no. 2 disebutkan:
“Bahwa kehidupan beragama dan kepercayaan
terhadap tuhan yang maha esa makin dikembangkan sehingga
terdapat kualitas keimanaan dengan ketaqwaan terhadapa
tuhan yang maha esa, kualitas kerukunaan antara dan antar
umat beragama dan penganut kepercayaan terhadap tuhan
yang maha esa dalam usaha memperkokoh persatuan dan

18
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 2
21
kesatuan bangsa serta meningkatkan keimanaan amal untuk
bersama-sama membangun masyarakat.”

c) Undang-Undang No. 2 tahun 1999 tentang Sitem Pendidikan
Nasional.
1. Pasal 11 ayat 1 disebutkan:
“Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah
terdiri atas oendidikan umum, pendidikan kejuruan,
pendidikan luar biasa, pendidikan keduniaan, pendidikan
keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan
profesional”.
2. Pasal 11 ayat 2 disebutkan
“Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang
mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan
peranaan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus
tentang ajaran agama yang bersangkutan. Di antara syarat
dan prasyarat agar peserta didik yang menjalankan
peranannya dengan baik diperlukan berpengetahuan ilu
pendidikan Islam. Mengingat Islam ini tidak hanya
menekankan kepada segi teoritis saja, tetapi juga praktis.
Ilmu pendidikan Islam termasuk ilmu praktis maka peserta
didik diharapkan dapat menguasai ilmu tersebut secara
penuh (teoritis dan praktis)”.
19


b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Berbicara tentang tujuan pendidikan, tak dapat tidak mengajak
kita berbicara tentang tujuan hidup, yaitu tujuan hidup manusia. Di
mana manusia diciptakan untuk menjadi khalifah, manusia yang
dianggap sebagai khalifah Allah tidak dapat memegang peranan
tanggung jawab sebagai khalifah kecuali kalau ia dilengkapi dengan
potensi-potensi yang membolehkan berbuat demikian.
An-Nahlawy menunjukkan 4 tujuan dalam pendidikan Islam
yaitu:
1) Pendidikan akal dan persiapan pikiran, Allah menyuruh manusia
merenungkan kejadian langit dan bumi agar beriman kepada Allah.
2) Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak-
anak. Islam adalah agama fitrah, sebab ajarannya tidak dari tabiat
asal manusia.

19
Nur Uhbiyati, Ilmu ... (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 29-30
22
3) Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan
mendidik mereka sebaik-baiknya, baik laki-laki ataupun
perempuan.
4) Berusaha untuk menyeimbangkan segala potesi-potensi dan bakat-
bakat.
Al-Jammali menyebutkan tujuan-tujuan pendidikan Islam
sebagai berikut:
1) Memperkenalkan kepada manusia akan kedudukannya di antara
makhluk-makhluk dan bertanggung jawab perseorangan dalam
hidup ini.
2) Memperkenalkan kepada manusia akan hubungan-hubungan
sosialnya dan tanggung jawabnya.
3) Memperkenalkan kepada manusia akan makhluk (alam semesta)
dan mengajaknya memahami hikmah penciptanya dalam
menciptakannya.
4) Memperkenalkan kepada manusia akan pencipta alam maya pada
ini, untuk mengenal Allah dan bertaqwa kepada-Nya
Al-Abrasy dalam kajiannya tentang pendidikan Islam
menyimpulkan lima tujuan bagi pendidikan Islam:
1) Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia
2) Persiapan untuk kehidupan dinia dan akhirat
3) Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat
4) Menyiapkan pelajar dalam menguasai profesi tertentu agar dapat
mencari rezeki dam hiodup dengan mudah diasamping memelihara
segi kerohaniaan dan keagamaan.
5) Menumbuhkan semangat ilmiah dalam jiwa pelajar itu mengkaji
bukan sekedar ilmu.
Ibnu Khaldun, sebagai seorang pemikir terakhir dari zaman
keemasan Islam yang benyak menuliskan mengenai pandidikan,
terutama pada karyanya yang terkenal, yaitu muqadimah, membagi
tujuan pendidikan itu kepada:
23
1) Mempersiapkan seseorang dari segi keagamaan yaitu
mengajarkannya syiar-syiar agama menurut Al-Qur’an dan As-
Sunnah.
2) Menyiapkan seseorang dari segi akhlak
3) Menyiapkan seseorang dari segi kemayarakatan dan sosial
4) Menyiapkan seseorang dari segi pekerjaan
5) Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran
6) Menyiapkan seseorang dari segi keseniaan yang bernuansa Islam.
20

B. Akhlak
1. Pengertian Akhlak
Sebelum sampai pada pengertian akhlak lebih dahulu perlu
diketahui bahwa kata akhlak itu bentuk jamak dari kata “Al-Khuluku”, dan
kata yang terakhir ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata “al-
Khalku” yang bermakna “kejadian”. Kedua kata tersebut berasal dari kata
kerja “Khalaka” yang mempunyai arti “menjadikan”. dari kata “Khalaka”
inilah timbul bermacam-macam kata seperti:
Al-khuluku yang mempunyai makna “Budi Pekerti”.
Al-khalku mempunyai makna ”Kejadian”.
Al-khalik bermakna “Tuhan Pencipta Alam”
Makhluk mempunyai arti “segala sesuatu yang diciptakan tuhan”.
Dalam kitab “Al-Mursyid Al-Amin Ila Mauidhah Al-Mu’minin”,
terdapat kalimat yang menjelaskan perbedaaan antara kata al-khalku
dengan kata al-khuluku sebagai berikut:
Dikatakan: “Fulan itu baik kejadiannya dan baik budi pekertinya”.
Maksudnya baik lahir dan batinnya. Yang dimaksud ”Baik Lahir” yaitu
baik rupa atau rupawan, sedang yang dimaksud “Baik Batin” yaitu sifat-
sifat kebaikan (terpuji) mengalahkan atas sifat-sifat tercela”.
Dari uraian di atas jelas bahwa “Al-khalku” mengandung arti
kejadian yang bersifat lahiriyah, seperti wajah yang bagus atau jelek.

20
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum, 2004) h. 15-17
24
Sedangkan kata” Al-khuluku” atau jamak “Akhlak” mengandung arti budi
pekerti atau pribadi yang bersifat rohaniah, seperti sifat-sifat terpuji atau
sifat-sifat yang tercela.
21

Secara etimologis akhlaq adalah jamak dari khuluq yang berartti
budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Secara terminologis ada beberapa definisi tentang akhlaq. Tiga
diantaranya:


a. Imam Al-Ghazali
“Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan.”
b. Ibrahim Anis
“Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya
lahirlah macam-macam perbutan, baik atau buruk, tanpa
membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”
c. Abdul Karim Zaidan
“Akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa,
yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai
perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan
atau meniggalkannya.”
Ketiga definisi diatas sepakat menyatakan bahwa akhlaq atau
khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia
akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan
pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan
dorongan dari luar.
22

Menurut pengertian asal katanya (menurut bahasa) kata “Akhlak”
berasal dari kata jamak bahasa arab “Akhlak”. Kata mufradnya ialah

21
H. Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Quran, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990), h. 1-2
22
Yunahar Ilyas Lc, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta:LPPI, 1999), h.1-2
25
“Khuluq” yang berarti: Sajiyyah: Perangai, Muruuah: Budi, Thab’u: tabiat,
Adaab: Adab.
Sedangkan menurut Syauqie Bei (penyair mesir, wafat tahun 1932)
“hanya saja bangsa itu kekal, selama berakhlak. Bila akhlaknya telah
lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu”.
23

Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang
menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan
dengan perkataaan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat
hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan
makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang
memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk.
Ibnu Athir menjelaskan bahwa:
“Hakikat makna khuluq itu, ialah gambaran batin manusia yang
tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang khalqu merupakan gambaran
bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendahnya tubuh dan batin
sebagainya)”.
Imam Al-Ghazali mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:
ΔϟϮϬδΑ ϝΎόϓϷ΍ έΪμΗ ΎϬϨϋ ΔΨγ΍έ βϔϨϟ΍ ϲϓ ΔΌϴϫ Ϧϋ ΓέΎΒϋ ϖϠΨϟ΍
ΔϳϭέϭήϜϓϰϟ·ΔΟΎΣήϴϏϦϣήδϳϭ
24

”Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripada timbul
perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan
pertimbangan pikiran (lebih dulu).”

Abdul Hamid Yunus mengemukakan definisi akhlak sebagai
berikut:
ϧ˳ϻ΍ΕΎϘλϲ˰ϫϕϼΧϻ΍ ΔϴϳΩ˱ϻ΍ϥΎδ
25

"Akhlak ialah sifat kebiasaan manusia"

Ibrahim Anis mengemukakan definisi akhlak adalah:

23
Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), h. 1-3
24
Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin,… h. 58
25
Abdul Hamdi Yunus, As-Sya’ab,… h. 436
26
˱ϻ΍ έ ΪμΗ ΎϬϨϋ ΔΨγ ΍έ βϔϨϠϟ ϝ ΎΣ ϖϠΨϟ΍ Ϧϣ ήη ϭ΍ ήϴΧ Ϧϣ ϝ Ύόϓ
ΔϳϭέϭήϜϓϰϟ΍ΔΟΎΣήϴϏ
26

"akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah
macam-macam perbuatan baik dan buruk, tanpa membutuhkan pikiran
dan pertimbangan"

Sekalipun ketiga definisi akhlak diatas berbeda kata-katanya, tetapi
sebenarnya tidak berjauhan maksudnya, bahkan berdekatan artinya satu
dengan yang lain. Sehingga Prof. KH. Farid Ma’ruf membuat kesimpulan
tentang definisi akhlak ini sebagai berikut:
”Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah
karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih
dahulu”.

Dalam pengertian yang hampir sama dengan kesimpulan diatas,
Dr. M. Abdullah Dirroz, mengmukakan definisi akhlak sebagai berikut:
”Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap kekuatan
dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada
pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang
jahat (dalam hal akhlak yang jahat)”.
27


Kata akhlak berasal dari kata khaluqa yang berarti lembut, halus,
dan lurus; dari kata khalaqa yang berarti “bergau dengan akhlak yang
baik”: juga dari kata takhalaqa yang berarti “watak”.Akhlak ialah
kesatriaan, kebiasaan, perangai, dan watak. Definisii akhlak ialah: kaidah-
kaidah ilmiah untuk menatadan mengatur perilaku manusia.
28

Dilihat dari sudut bahasa (etimologi), perkataan akhlak (bahasa
arab) adalah bentuk jamak dari kata khulk. Khulk di dalam kamus Al-
Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingakah laku atau tabiat. Di dalam
dairul ma’arif dikatakan: “akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik”.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-
sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan
selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik, disebut

26
Ibrahim Anas, Al-Mu’jamul Wasith,… h. 2002
27
H. A. Mustafa, Akhlak Tasawuf , (Bandung: cv. Pustaka Setia, 2005), h. 11-14
28
Khalil Al-Musawi, Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, (Jakarta: PT. Lentera
Basritama, 1998), h. 91
27
akhlak yang mulia, atau perbuatan buru, disebut akhlak yang tercela sesuai
dengan pembinaannya.
29

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan
sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari
bahasa arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan
agama), namuan kata itu tidak ditemukan dalam al-quran.Yang ditemukan
hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam
al-Quran surat al-Qalam ayat 4. ayat tersebut dinilai sebagai konsideran
pengangkatan nabi Muhammad SAW. Sebagai rasul:
El^^T³4Ò ¯OÞ>E¬·¯ -¬U7= ±¦1R¬4N
^Ø÷
“dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS.
Al-Qalam: 4).
30


Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis nabi saw., dan
salah satunya yang paling populer adalah :
ϝΎϗϢόϠλͿ΍ϝϮγέϥ΍ϪϐϠΑϪϧ΍ϚϟΎϣ ΖΜόΑ ϻ ϢϤΗ ϦδΣ ϻ΍ ϼΧ ϕ
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".
31


Bertitik tolak dari pengertian bahasa diatas, yakni akhlak sebagai
kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak atau kelakuan
manusia sangat beragam. Dan bahwa firman Allah berikut ini dapat
menjadi salah satu argumen keanekaragaman tersebut.
E¹T³ ¯7¯4Ou¬Ec ¯Ø4®4=·¯
^Ø÷
Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat beragam
(Q.S. al-lail:4).
32


Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut.
Antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk. Serta
dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu ditujukan.
33


29
Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), h. 1
30
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 960
31
Imam Malik, Al-Muwatha,… h. 132
32
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Bandung: CV penerbit
Jumanatul Ali, 2005), h.596
28
Menurut pendekatan etimologis, perkataaan “akhlak” berasal dari
bahasa arab jama’ dari bentuk mufradnya “khuluqun” yang menurut logat
diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan
perkataan ”khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan
“khaliq” yang berarti pencipta dan “makhluk” yang berarti yang
diciptakan.
34

Dari sinilah asal permusuhan ilmu akhlak yang merupakan koleksi
yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara makhluk
dengan khalik dan antara makhluk dengan makhluk.
Kata khuluqun ini juga dapat dijumpai dalam Al-Qur’an surat Al-
Qalam ayat 4 yakni dinyatakan:
El^^T³4Ò ¯OÞ>E¬·¯ -¬U7= ±¦1R¬4N
^Ø÷
“dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS.
Al-Qalam: 4).
35


Sedang didalam hadis riwayat Ahmad dan baihaqy Nabi bersabda:
ϝΎϗϢόϠλͿ΍ϝϮγέϥ΍ϪϐϠΑϪϧ΍ϚϟΎϣ ΖΜόΑ ϻ ϢϤΗ ϦδΣ ϻ΍ ϼΧ ϕ
36

“bahwa sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (budi
pekerti). (HR.Ahmad).
37



Akhlak dermawan umpamanya, semula timbul dari keinginan
berdermawan atau tidak. Dari kebimbangan ini tentu pada akhirnya
timbul, umpamanya, ketentuan memberi derma. Ketentuan ini adalah

33
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhui Atas Pelbagai Persoalan Umat,
(Bandung: Mizan,2003), h. 253-254
34
Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004) hal. 1
35
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 960

36
Imam Malik, Al-Muwatha,… h. 132
37
Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004) h. 43
29
kehendak, dan kehendak ini bila dibiasakan akan menjadi akhlak, yaitu
akhlak dermawan.
38

Lama setelah Rasulallah saw meniggal dunia, orang bertanya
kepada Aisyah: ”Bagaimana akhlak Rasulallah saw?” Aisyah berkata:
”akhlak beliau adalah Al-Quran”. Ketika orang mendesak: ”apa yang
dimaksud dengan akhlak Rasulallah itu Al-Quran?”. Aisyah memberi
contoh:”tidakkah kamu baca surat Al-Mu’minun?” mungkin dalam surat
Al-Mu’minun, karakteristik seorang mukmin secara jelas digambarkan
dengan akhlaknya.
39

Sesungguhnya moralitas di dalam kaca mata al-Quran dan sunah
yang jadi sumber utama ajaran Islam merupakan segala-galanya, baik yang
menyangkut dengan urusan agama maupun dunia.
40

2. Pembentukan Akhlak
Pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan
pendidikan, karena banyak sekali di jumpai pendapat para ahli yang
mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak.
Pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-
sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana
pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan
dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan akhlak ini
dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha
pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya.
41

Akhlak atau sistem perilaku ini terjadi melalui satu konsep atau
seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu
harus terwujud. Konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan
bagaimana sebaiknya akhlak itu disusun oleh manusia didalam sistem

38
Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004), h. 3-5
39
Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih, (Bandung: Muthahari Press,
2003), h. 139
40
Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Jakarta : Mustaqim, 2004),
h. 64
41
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 4
30
idenya. Sistem ide ini adalah hasil proses (penjabaran) daripada kaidah-
kaidah yang dihayati dan dirumuskan, (norma yang bersifat normative dan
norma yang bersifat deskriptif). Kaidah atau norma yang merupakan
ketentuan ini timbul dari satu sistem nilai yang terdapat pada Al-Qur’an
atau Sunnah yang telah dirumuskan melalui wahyu Ilahi maupun yang
disusun oleh manusia sebagai kesimpulan dari hukum-hukum yang
terdapat dalam alam semesta yang diciptakan Allah SWT.
42
Akhlak atau
sistem perilaku atau diteruskan melalui sekurang-kurangnya dua
pendekatan, yaitu:
a. Rangsangan jawaban (stimulus response) atau yang disebut proses
mengkondisi sehingga terjadi automatisasi dan dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
1) Melalui latihan
2) Melalui tanya jawab
3) Melalui mencontoh
b. Kognitif yaitu menyampaikan informasi secara teoritis yang dapat
dilakukan antara lain sebagai berikut:
1) Melalui dakwah
2) Melalui ceramah
3) Melalui diskusi dan lain-lain.
43

Karakter (khuluq) merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini
menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara
mendalam. Keadaan ini ada dua jenis. Yang pertama, alamiah dan bertolak
dari watak. Misalnya pada orang yang gampang marah karena hal yang
paling kecil atau yang menghadapi hal yang paling sepele. Yang kedua,
tercipta melalui kebiasaan atau latihan. Pada mulanya keadaan ini terjadi

42
Abu Ahmadi, Noer Salami, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 1991), h.
199
43
Abu Ahmadi dan Noer Salami, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 1991),
h. 199
31
karena dipertimbangkan dan dipikirkan, namun kemudian melalui praktik
terus-menerus, menjadi karakter (khuluq).
44

Setelah pola perilaku terbentuk maka sebagai kelanjutannya akan
lahir hasil-hasil dari pola perilaku tersebut yang terbentuk material
(artifacts) maupun non material (konsepsi/ide). Jadi akhlak yang baik itu
(akhlak al-karimah) ialah pola perilaku yang dilandaskan pada aqidah dan
syari’ah dalam memanifestasikan nilai-nilai Iman, Islam dan Ihsan.
Di dalam ajaran Islam, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan Iman.
Iman merupakan penakuan hati dan akhlak adalah pantulan Iman itu pada
perilaku, ucalan sikap. Iman adalah maknawi, sedangkam akhlak adalah
bukti keimanan dalam perbuatan, yang dilakukan dengan kesadaran dan
karena Allah semata.
45

Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang mendorong manusia untuk
beriman dan beramal saleh dengan berbagai janji diantaranya terdapat di
dalam surat Al-Baqarah ayat 25:
TO´"¯E´4Ò ¬-¯R~-.-
W-QN44`-47 W-Q¬UR©4N4Ò
ReE·TUO¯- E¹Ò¡ ¯ª+¤O±
±eE4E· OQO^¹Ò` TR` E¹R^4Ò`
NOE¹u^·- W
“dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan
berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya.. . . .(QS.al-Baqarah: 25)
46


Dalam Al-Qur’an kata-kata ihsan antara lain untuk perbuatan-
perbuatan:
a. Berinfak, menguasai kemarahan dan memaafkan manusia. Dalam al-
Qur’an karim surat Al-Imran disebutkan:
44ׯR~-.- 4¹Q¬³R¼LNC OT×
R7.-·O-O¯- R7.-·O-ׯ-4Ò

44
Abu Ali Ahmad Al-Maskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlak, (Beirut: mizan), h. 56
45
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 22
46
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 12
32
4×-R©R¬E:^¯-4Ò
E^^O4¯^¯- 4×-R·E¬^¯-4Ò
^T4N +EE4¯- ¯ +.-4Ò
OUR47© ¬--RL´O¯·÷©^¯-
^¯QØ÷
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan”. (QS. Al-Imran, 134).
47





b. Sabar sebagiamana dalam al-Qur’an surat Hud :
uO´¯^-4Ò E¹T¯·· -.- ºº ÷7O´_NC
4O^·Ò¡ 4×-RL´O¯·÷©^¯- ^¯¯T÷
“dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan
pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.(QS. Hud : 115).
48


c. Jihad, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Ankabut : 69
=TCR~-.-4Ò W-Ò÷³E¹E· 4L1R·
¯ª×&E+4CR³¯&·+·¯ 4LÞU+l÷c ¯
E¹T³4Ò -.- E7E©·¯
4×-RL´O¯·÷©^¯- ^R_÷
“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami,
benar-benar akan kami tunjukkan kepada kepada mereka jalan-jalan
kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik. (QS. al-Ankabut : 69).
49


d. Taqwa, sebagimana dalam al-Qur’an surat Yusuf : 90:
W-EQ7¯·~ El^^R7Ò¡ =e^V·
÷-÷cQNC W 4··~ ¦4^Ò¡
÷-÷cQNC .-EOE-4Ò Ø´CÒ¡ W
^³·~ ·ó4` +.- .4L^1ÞU4N W
+O^^T³ T4` ÷-+-4C uO´¯¯4C4Ò
·HT¯·· -.- ºº ÷7O´_NC 4O^·Ò¡
¬--RL´O¯·÷©^¯- ^_´÷
“mereka berkata: “apakah kamu ini benar-benar yusuf?” Yusuf
menjawab: “akulah Yusuf dan in saudarku. Sesungguhnya Allah telah

47
Departemen Agama RI, Alquran . . .h. 98
48
Departemen Agama RI, Alquran . . .h. 345
49
Departemen Agama RI, Alquran . . .h. 638
33
melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. sesungguhnya barang siapa
yang bertaqwa dan bersabar, maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-
nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 90).
50


Dilihat dari ayat-ayat serta hadis tersebut diatas, maka setiap
perbuatan yang baik yang nampak pada sikap jiwa dan perilaku yang
sesuai atau dilandaskan kepada aqidah dan syari’ah Islam disebut Ihsan.
Dengan demikian akhlak dan Ihsan adalah dua pranata yang berada
pada suatu sistem yang lebih besar yang disebut akhlak karimah. Dengan
lain perkataan akhlak adalah pranata perilaku yang mencerminkan struktur
dan pola perilaku manusia dalam segala aspek kehidupan, sedangkan Ihsan
adalah pranata nilai yang menentukan attribute kualitatif daripada pribadi
(akhlak).
51

Jadi akhlak yang berkualitas adalah akhlakul karimah. Dan orang
yang melakukan akhlakul karimah disebut Muhsin.
3. Pembinaan Akhlak
Pembinaan di dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah proses,
perbuatan, cara membina (negara dsb).
52

Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam
Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad
saw. Yang utama adalah untuk meyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam
salah satu hadisnya beliau menegaskan innamâ buitstu li utamimma
makârima al-akhlâq (H.R. Ahmad) (Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak)
Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini
dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang
harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik
inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap

50
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 638
51
Abu Ahmadi, Noer Salami, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 1991), h.
199-201
52
Perum Penerbitan dan Percetakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1998), h. 117
34
selanjutnya akan mempermudah menghasilkan dan kebahagian pada
seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.
Perhatian Islam dalam pembinaan akhlak selanjutnya dapat
dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran
Islam.
Pembinaan akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan
pelaksanaan rukun iman. Hasil analisis Muhammad al-ghazali terhadap
rukun Islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam
rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak.
53

Sebagaian besar pemikiran akhlak Ibnu Miskawih lebih bercorak
keagamaan, terutama paham sufi. Pembinaan akhlak menurutnya dititik
beratkan kepada pembersihan pribadi dari sifat-sifat yang berlawanaan
dengan tuntunan agama, seperti: takabur, pemarah dan penipu.
Dengan pembinaan akhlak ingindicapai terwujudnya manusia yang
ideal; anka yang bertakwa kepada Allah swt dan cerdas. Di dunia
pendidikan, pembinaan akhlak tersebut dititik beratkan kepada
pembentukan mental anak atau remaja agar tidak mengalami
penyimpangan.
54

Akhlak adalah implementasi dari Iman dalam segala bentuk
perilaku. Diantara contoh akhlak yang diajarkan oleh Luqman kepada
anaknya adalah:
a. Akhlak anak terhadap ibu- bapak
b. Akhlak terhadap orang lain
c. Akhlak dalam penampilan diri.
55

Sebagaimana tergambar didalam surat Al-Luqman ayat 14, 15, 18
dan 19.

53
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h.
54
Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), h.
147-148
55
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 25
35
a. Akhlak terhadap ibu-bapak, dengan berbuat baik dan berterima kasih
kepada keduanya. Dan diingatkan Allah, bagaimana susah dan
payahnya ibu mengandung dan menyusukan anak sampai umur dua
tahun:
4L^1O4Ò4Ò =T=Oee"-
ROuCE³R¯4QT +OuÞU4·EQ
+OG`+¡ Lu-4Ò ¯OÞ>4N
¯Tu-4Ò +O¬U=R·4Ò OT×
÷×u-4`~4× ÷¹Ò¡ ¯O¬:^-- Oد
EluCE³R¯4QT¯4Ò ©OÞ¯T³
+OO´E©^¯- ^¯Ø÷
“dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua
orang tuan-Nya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihkan dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-ku dan kepada kedua orang tu, hanya kepada-
kulah kembalimu. (QS.Luqman : 14).
56


Bahkan anak harus tetap hormat dan mempelakukan kedua orang
tuanya dengan baik, kendatipun mereka mempersekutukan Tuhan,
hanya yang dilarang adalah mengikuti ajakan mereka untuk
meninggalkan Iman tauhid.
¹T³4Ò ¬C-E³E¹E· -OÞ>4N ¹Ò¡
¬CØO^=¬ OT. 4` "·^1·¯ El·¯
·ROT Eª·UR× ºE··
E©÷¹u¬RC¬> W
E©÷¹¯:RO=4Ò OT×
4Ou^O³¯- +·ÒNOu¬4` W
^7TlE>-4Ò ºOT:Ec ^T4`
=·4^Ò¡ ©OÞ¯T³ ¯ O¦¬¦ ©OÞ¯T³
¯ª7¯N¬´·¯O4` ª¬:N©TO±4^+··
E©T ¯¦+L7 4¹Q¬UE©u¬·>
^¯T÷
“dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmua tentang itu, maka janganlah
kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian

56
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h.654
36
hanya kepada-kulah kembalimu, maka ku beritakan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan.(QS.Luqman: 15).
57


b. Akhlak terhadap orang lain, adalah adab, sopan santun dalam bergaul,
tidak sombong dan tidak angkuh, serta berjalan sederhana, bersuara
lembut dan akhlak dalam penampilan diri.
58

ººº4Ò ¯OR)¬=¬> ¬CO³··
+EELUR¯ ºº4Ò +^©·> OT×
^·¯O·- O4O4` W E¹T³
-.- ºº OUR47© E7 ±·4^C¬`
¯OQNC·· ^¯l÷ ^³´^~-4Ò OT×
¬CØO^=4` ^*¬_^N-4Ò TR`
ElR>¯Q= ¯ E¹T³ 4O·¯^Ò¡
Rª4Q^·- ÷ª¯Q=·¯
TOOR©O4^¯- ^¯_÷
“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. Dan sederhanlah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah
keledai. (QS. Luqman : 18-19).
59


Pendidikan akhlak di dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh
dan teladan dari orang tua. Perilaku dan sopan santun orang dalam
hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakukan orang tua
terhadap anak-anak mereka dan perlakukan orang tua terhadap orang lain
di dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, akan menjadi
teladan bagi anak-anak.
Si anak juga memperlihatkan sikap orang tua dalam menghadapi
masalah. Contohnya sederhana dapat kita perhatikan pada anak-anak umur
3-5 tahun. Ada yang berjalan dengan gaya bapaknya yang dikaguminya
atau gaya ibu yang disayanginya. Adakalanya kita melihat seorang anak

57
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h.654
58
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 26
59
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 655
37
yang tampak bangga diri, angkuh atau sombong. Dan ada pula yang
merasa dirinya kecil, penakut, suka minta dikasihani, ada yang suka
senyum dan tertawa bila ditegur. Sebaliknya ada yang langsung menangis,
menjerit ketakutan bila disapa oleh orang lain. Dan adpula yang tampak
percaya diri, ramah dan menyengkan teman-temannya dan orang lain.
Perkataan dan cara berbicara, bahkan gaya menanggapi teman-
temannya atau orang lain, sedih dan sebagainya, dipelajari pula dari orang
tuanya.
Adapun akhlak, sopan santun dan cara menghadapi orang tuanya,
banyak tergantung pada sikap orang tua terhadap anak. Apabila si anak
merasa terpenuhi semua kebutuhan pokoknya (jasmani, kejiwaan dan
sosial) maka si anak merasa terhalang pemenuhan kebutuhannya oleh
orang tua, misalnya Ia merasa tidak disayangi atau dibenci, suasana dalam
keluarga yang tidak tentram, seringkali menyebabkan takut adil dan
tertekan oleh perlakuan orang tuanya, atau orang tuanya tidak adil dalam
mendidik dan memperlakukan anak-anaknya, maka perilaku anak tersebut
boleh jadi bertentangan dengan yang diharapkan oleh orang tuanya, karena
ia tidak mau menerima keadaan yang tidak menyenangkan itu.
60


4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
Para siswa merupakan generasi muda yang merupakan sumber
insani bagi pembangunan nasional, untuk itu pula pembinaan bagi mereka
dengan mengadakan upaya-upaya pencegahan pelanggaran norma-norma
agama dan masyarakat. Dalam pembinaan akhlak siswa dipengaruhi oleh
beberapa factor diantaranya.
a. Lingkungan keluarga
Pada dasarnya, masjid itu menerima anak-anak setelah mereka
dibesarkan dalam lingkungan keluarga, dalam asuhan orang tuanya.
Dengan demikian, rumah tkeluarga muslim adalah benteng utama

60
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 28
38
tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang
dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan
aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat
Islam. Berdasarkan al-quran dan sunnah, kita dapat mengatakan bahwa
tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah hal-hal berikut:
Pertama. Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan
rumah tangga. Kedua, mewujudkan ketentraman dan ketenangan
psikologis. Ketiga, mewujudkan sunnah Rasulallah saw. Keempat,
memenuhi kebutuhan cinta-kasih anak-anak. Naluri menyayangi anak
merupakan potensi yang diciptakan bersamaan dengan penciptaaan
manusia dan binatang. Allah menjadikan naluri itu sebagai salah satu
landasan kehidupan alamiah, psikologis, dan sosial mayoritas
makhluk hidup. Keluarga, terutama orang tua, bertanggung jawab
untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Kelima,
menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-
penyimpangan.
61

Keluarga merupakan masyarakat alamiyah, disitulah
pendidikan berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan
pergaulan yang berlaku didalamnya. Keluarga merupakan persekutuan
terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak dimana keduanya (ayah
dan ibu) mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan
anak-anaknya.
Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada
disampingnya, oleh karema itu ia meniru perangai ibunya, karena
ibunyalah yang pertama dikenal oleh anaknya dan sekaligus menjadi
temannya yang pertama yang dipercayai.
Disamping ibunya, ayah juga mempunyai pengaruh yang mana
besar terhadap perkembangan akhlak anak, dimata anak, ayah
merupakan seseorang yang tertinggi dan terpandai diantara orang-

61
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah Dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani, 1995), h. 144
39
orang yang di kenal dalam lingkungan keluarga, oleh karena ayah
melakukan pekerjaan sehari-hari berpengaruh gara pekerjaan anaknya.
Dengan demikian, maka sikap dan perilaku ayah dan ibu mempunyai
pengaruh besar terhadap perkembangan akhlak anak-anaknya.
62

b. Lingkungan sekolah
Perkembangan akhlak anak yang dipengaruhi oleh lingkungan
sekolah. Disekolah ia berhadapan dengan guru-guru yang berganti-
ganti. Kasih guru kepada murid tidak mendalam seperti kasih orang
tua kepada anaknya, sebab guru dan murid tidak terkait oleh tali
kekeluargaan. Guru bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-
muridnya, ia harus memberi contoh dan teladan bagi bagi mereka,
dalam segala mata pelajaran ia berupaya menanamkan akhlak sesuai
dengan ajaran Islam. Bahkan diluar sekolah pun ia harus bertindak
sebagai seorang pendidik.
Kalau di rumah anak bebas dalam gerak-geriknya, ia boleh
makan apabila lapar, tidur apabila mengantuk dan boleh bermain,
sebaliknya di sekolah suasana bebas seperti itu tidak terdapat. Disana
ada aturan-aturan tertentu. Sekolah dimulai pada waktu yang
ditentukan, dan ia harus duduk selama waktu itu pada waktu yang
ditentukan pula. Ia tidak boleh meninggalkan atau menukar tempat,
kecuali seizin gurunya. Pendeknya ia harus menyesuaikan diri dengan
peraturan-peraturan yang ada ditetapkan. Berganti-gantinya guru
dengan kasih sayang yang kurang mendalam, contoh dari suri
tauladannya, suasana yang tidak sebebas dirumah anak-anak,
memberikan pengaruh terhadap perkembangan akhlak mereka.
63

c. Lingkungan masyarakat
Tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan anak-anak
menjelma dalam beberapa perkara dan cara yang dipandang

62
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 29-30

63
Risnayanti, Implementasi . . .h. 30
40
merupakan metode pendidikan masyarakat utama. Cara yang
terpenting adalah:
Pertama, Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh
kebaikan dan pelarang kemunkaran. Kedua, dalam masyarakat Islam,
seluruh anak-anak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya
sehingga ketika memanggil anak siapa pun dia, mereka akan
memanggil dengan “Hai anak saudaraku!” dan sebaliknya, setiap anak-
anak atau remaja akan memanggil setiap orang tua dengan panggilan,
“Hai Paman!”. Ketiga, untuk menghadapi orang-orang yang
membiasakan dirinya berbuat buruk, Islam membina mereka melalui
salah satu cara membina dan mendidik manusia. Keempat, masyarakat
pun dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikotan,
atau pemutusan hubungan kemasyarakatan. Atas izin Allah dan
Rasulullah saw. Kelima, pendidikan kemasyarakatan dapat juga
dilakukan melalui kerjasama yang utuh karena bagaimanapun,
masyarakat muslim adalah masyarakat yang padu. Keenam,
pendidikan kemasyarakatan bertumpu pada landasan afeksi
masyarakat, khususnya rasa saling mencintai.
64

Masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan
dan madyarakat juga mempengaruhi akhlak siswa atau anak.masyarat
yang berbudaya, memelihara dan menjaga norma-norma dalam
kehidupan dan menjalankan agama secara baik akan membantu
perkembangan akhlak siswa kepada arah yang baik, sebaliknya
masyarakat yang melanggar norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan dan tidak tidak menjalankan ajaran agama secara baik, juga
akan memberikan pengaruh kepada perkembangan akhlak siswa, yang
membawa mereka kepada akhlak yang baik.
Dengan demikian, ia pundak masyarakat terpikul keikutsertaan
dalam membimbing dan perkembangan akhak siswa. Tinggi dan

64
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah Dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani, 1995), h.176-181
41
rendahnya kualitas moral dan keagamaan dalam hubungan social
dengan siswa amatlah mendukung kepada perkembangan sikap dan
perilaku mereka.
65


65
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam
Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 31-32
41







BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan penelitian deskriftif sesuai dengan sifat dan karakteristik masalah
yang akan dibahas maka penelitian ini akan menerapkan metode riset
lapangan (Field Research).
Maka untuk melakukan pengumpulan data tersebut peneliti
menggunakan metode kuantitatif.

B. Populasi Dan Obyek Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang
ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga
disebut studi populasi atau studi sensus.
Di dalam encylopedi of educational evaluation tertulis:
A population is a set (or collection) of all elements prossessing one or
more attributes of interest.
1

Dalam pelaksanaan penelitian kuantitatif, dikenal istilah populasi.
Populasi atau Universe adalah keseluruhan obyek yang diteliti, baik berupa
orang, benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi.
2


1
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 130
2
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam Ralia
Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 39
id3828953 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
42
Yang dijadikan responden adalah para siswa SMP PGRI 12 Pondok
Labu berjumlah 30 orang, tentang implementasi pembelajaran akhlak pada
siswa kelas IX SMP PGRI 12 Pondok Labu yang diterapan di SMP tersebut.

C. Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian adalah lokasi yang dijadikan salah satu aspek
penelitian dimana suatu penelititan akan diadakan. Disini yang akan dijadikan
lokasi penelitian yaitu SMP PGRI 12 PONDOK LABU.
Waktu penelitian adalah tepatnya kapan suatu penelitian itu diadakan.
Penelitian ini akan dilaksanakan bulan April sampai bulan Juni 2008.

D. Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian diperlukan adanya suatu data sebagai hasil
akhir dari penelitian. Untuk pengumpulan data yang konkrit penulis
melaksanakan beberapa teknik pengumpulan data, sebagai berikut:
1. Angket
Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan angket sebgai
metode yang dipilih untk mengumpulkan data. Angket memang
mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpulan data.
3

Angket adalah alat untuk menumpulkan data yang berupa daftar
pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara
tertulis.
4

Jenis angket yang digunakan oleh peneliti adalah angket tertutup,
yaitu angket yang menghendaki jawaban pendek, atau jawabannya
diberikan dengan membubuhkan tanda tertentu. Daftar pertanyaan disusun
dengan disertai alternative jawabannya, respoden diminta untuk memilih
salah satu jawaban atau lebih dari alternative yang sudah disediakan.
5


3
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 225
4
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam Ralia
Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h.41
5
Risnayanti, Implementasi Pendi. . . h. 41
43
Untuk mendapatkan data yang komprehensif, angket ini dibagikan
kepada guru-guru yang menjadi responden. Angket tersebut berisi
pertanyan seputar pembelajaran akhlak dan pembinaan akhlak siswa. Yang
ada di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
2. Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif
adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai
instrument. Format yang di susun berisi item-item tentang kejadian atau
tingkah laku yang menggambarkan akan terjadi.
6

Obervasi merupakan pegumpulan data yang menggunakan
pengamatan terhadap obyek penelitian.
7

Dalam hal ini peneliti mengadakan observasi langsung yaitu
mengadakan pengamatan secara langsung ke SMP PGRI 12 untuk
mengamati keadaan sekolah, guru-guru, siswa, fasilitas yang dimiliki dan
struktur organisasi yang dimiliki oleh SMP PGRI 12
3. Wawancara
Di samping memerlukan waktu yang cukup lama untuk
mengumpulkan data, dengan metode interviue peneliti harus memikirkan
tentang pelaksanaanya. Memberikan angket kepada responden dan
menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan
mengorek jawaban responden dengna tatap muka.
8

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
yang mengajukan pertanyaan dan yang mewawamcarai (Interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
9


6
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 229
7
Risnayanti, Implementasi Pendi. . . h. 41
8
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 227
9
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam Ralia
Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h.41
44
Wawancara dilakukan dengan berdialog dan Tanya jawab dengan
kepala sekolah, dan juga guru yang bertugas di SMP PGRI 12.
4. Dokumentasi
Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode
dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, prasasti, notulen rapat, lengger,
agenda, dan sebgainya.
Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak
begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap,
belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda
hidup tetapi benda mati.
10

Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-
barang tertulis. Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data
dengan mencatat data-data yang sudah ada.
11

5. Penjelasan dan Analisis Data
Menganalisis data penelitian merupakan suatu langkah yang sangat
kritis, apakah menggunakan data statistic atau non statistic.
12

Dalam hal pengolahan dan analisis data ini peneliti menggunakan
rumus:
P =
N
F
x 100%

Keterangan: P = Prosentase
F = Frekuensi jawaban responden
N = Jumlah Responden

10
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 231
11
Risnayanti, Implementasi Pendi. . . h. 42
12
Risnayanti, Implementasi Pendi. . . h. 42
45







BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Pelaksanaan Pembelajaran Akhlak di SMP PGRI 12 Jakarta
1. Pembelajaran Akhlak
Dalam proses belajar mengajar di kelas seorang guru yang menjadi
center of knowlege di kelas tersebut, sehingga interaksi antara siswa
dengan guru sangat pasif dan bahkan suasana kadang-kadang tidak
kondusif, dikarenakan suara guru terbatas untuk bisa di dengar oleh siswa
apalagi siswa di kelas tersebut mencapai 40-50 siswa sehingga siswa
menjadi ngobrol atau melakukan sesuatu tanpa memperhatikan guru.
Pembelajaran akhlak di sekolah tersebut menggunakan metode
ceramah, karena keadaan kelas yang ramai atau gaduh bisa di tegur oleh
kepala sekolah agar kelas tersebut bisa tenang. Menurut kepala sekolah
tersebut keadaan kelas yang tenang itu baik, bukan yang ramai atau gaduh.
2. Kurikulum
Adapun kurikulum yang digunakan oleh sekolah SMP PGRI 12
Jakarta ialah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
3. Materi
Materi yang menjadi bahan pembelajaran akhlak diambil dari buku
pembelajaran akhlak yaitu Mutiara Akhlak dalam Pendidikan Agama
Islam, untuk kelas IX, yang dikarang oleh Drs. Soepardjo, S.Ag da
Ngadiyanto, S.Ag. yang diterbitkan oleh PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, dengan isi dari materi tersebut terdiri dari
id3852421 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
46
A. BAB I : SURAT AT-TIN
1. Membaca Surat at-Tin
2. Mengartikan Surat at-Tin
3. Kandungan Surat at-Tin
B. BAB II: HADITS TENTANG MENUNTUT ILMU
1. Membaca Hadis tentang Menuntut Ilmu
2. Mengartikan Hadis tentang Menuntut Ilmu
3. Kandungan Hadis tentang Menuntut Ilmu
C. BAB III: IMAN KEPADA HARI AKHIR
1. Pengertian Iman Kepada Hari Akhir
2. Hal-Hal yang berkaitan dengan dengan Hari Akhir
3. Kiamat Sughra dan Kubra
4. Balasan Amal Baik dan Buruk
5. Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir
D. BAB IV: PERILAKU TERPUJI
1. Qanaah
2. Tasamuh
E. BAB V: PENYEMBELIHAN HEWAN
1. Tata Cara Penyembelihan Hewan
2. Akikah
3. Kurban
F. BAB VI: HAJI dan UMRAH
1. Haji
2. Umrah
3. Hikmah Ibadah Haji dan Umrah
G. BAB VII: ISLAM DI NUSANTARA
1. Masuknya Islam di Nusantara
2. Kerajaan Islam di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi
H. BAB VIII: SURAH ALAM NASYRAH
1. Membaca Surah Alam Nasyrah
2. Mengartikan Surah Alam Nasyrah
47
3. Kandungan Surat Alam Nasyrah
I. BAB IX: HADIS TENTANG KEBERSIHAN
1. Membaca tentang Hadis Kebersihan
2. Mengartikan Hadis tentang Kebersihan
3. Kandungan Hadis tentang Kebersihan
J. BAB X: IMAN KEPADA QADA dan QADAR
1. Pengertian Iman kepada Qada dan Qadar
2. Hubungan antara Qada dan Qadar
3. Hikmah Iman kepada Qada dan Qadar
K. BAB XI: TAKABUR
1. Pengertian Takabur
2. Akibat Takabur
3. Cara Menghindari Perilaku Takabur
L. BAB XII: SALAT SUNAH
1. Salat Sunah Berjamaah
2. Salat Sunah Munfarid
M. BAB XIII: TRADISI ISLAM NUSANTARA
1. Pengertian Tradisi Islam Nusantara
2. Kesenian dan Adat Nusantara
4. Keteladanan
Keteladanan yang dicontohkan oleh para guru dan khususnya oleh
guru agama cukup baik untuk diteladani oleh seluruh siswa khususnya
oleh siswa kelas IX di SMP PGRI 12 Jakarta. Keteladan tersebut dapat
terlihat dari cara berpakaian guru yang rapih, sebelum dan sesudah belajar
membaca do’a bersama-sama, berbicara halus dan baik ketika menjelaskan
materi serta banyak lagi perilaku guru yang menjadi suri tauladan bagi
siswa kelas IX tersebut.

5. Kendala-Kendala
Kendala yang paling yang sering ditemui dalam pembelajaran
akhlak yaitu ”siswa” dan ”waktu”. Karena kedua hal tersebut merupakan
48
dua komponen yang saling berkaitan. Dari segi anak didik sendiri, bisa
ditemukan bahwa perilaku si anak sudah terbentuk sebelum mereka
memasuki dunia sekolah, baik perilaku yang buruk atau perilaku yang
mulia, karena adanya interaksi antara si anak dengan lingkungan
hidupnya, baik lingkungan keluarga atau pun lingkungan bermainnya, dan
tentunya interaksi mereka dengan dunia luar jauh lebih banyak jika
dibandingkan dengan interaksi di Sekolah, sehingga sangat tidak mungkin
dalam waktu hanya dua jam di dalam kelas atau di sekolah untuk merubah
anak didik memiliki akhlak mulia dengan cepat. oleh sebab itu alokasi
waktu sangat berpengaruh terhadap penanaman akhlak dan pembentukan
akhlak anak didik agar anak didik bisa mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari khususnya di sekolah maupun umumnya di luar
sekolah.

B. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya SMP PRGI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan
Berawal untuk membantu pemerintah dalam pendidikan tahun
1981 di cilandak oleh PGRI memulai pendidikan tersebut dengan 2 kelas
dan kegiatan pendidikan tersebut berlangsung dengan meminjam gedung
sekolah (menumpang) SD 09/10 yang bertempat di jalan Hj. Saleh PD
Labu Jaksel dari tahun 1981-1997.
Pada tahun 1998 PGRI baru mendirikan bangunan di Jl. PD Labu I
B No 29 PD Labu Jakarta Selatan. Dari tahun 1998-Sekarang dengan
jumlah kelas 20 ruangan, Peserta didik sebanyak 909 orang, dengan Guru
45 orang, serta Pegawai atau tenaga Administrasi 11 orang, di atas tanah
seluas 2720 m
2
adapun status sekolah dalam terakriditasi “A”.
SMP PGRI 12 memiliki standar sekolah permanen dengan nomor
statistik SMP (NSS/M): 204016307182 dengan luas bangunan 2. 713 M.
Dan beralamat di Jl. Pondok labu 1B No 29 kelurahan Pondok Labu
Jakarta Selatan.

49
2. Identitas Sekolah
a. Nama sekolah : SMP PGRI 12 Jakarta
b. Status : Swasta
c. Nomor NSS/NDS : 20401630782
d. Alamat sekolah : Jl. Pondok Labu 1 B No. 29 Pondok Labu
e. Kecamatan : Cilandak
f. Jenjang Akreditasi : A
g. SK Pendirian : 2673/ 1. 851-58/2007
3. Visi dan Misi SMP PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan
a. Visi
Melalui pendidikan formal, menghasilkan SDM yang
berkualitas, unggul di bidang IPTEK dan IMTAQ.
b. Misi
Menggali dan memberdayakan kompetensi dan budi pekerti
siswa dengan pengajaran, pelatihan, dan bimbingan melalui komitmen
bersama profesionalisme guru dan segenap tenaga kependidikan
sekolah.
4. Struktur Organisasi SMP PRGI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan memerlukan suatu
organisasi yang baik agar kegiatan sekolah dapat dilasanakan sesuai
dengan kemampuandan keahlian setiap organisator. Dengan demikian
tujuan pendidikan yang diemban oleh sekolah akan tercapai. Dari struktur
organisasi tersebut akan tampak tugas dan wewenang serta jabatan
masing-masing personil. Adapun struktur organisasi SMP PGRI 12 adalah
sebagai berikut:






50































51
5. Kurikulum SMP PGRI 12 Jakarta
Adapun kurikulum yang digunakan oleh sekolah SMP PGRI 12
Jakarta ialah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Struktur
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai berikut:
Tabel I
Struktur Program Kurikulum KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
NO. Mata Pelajaran Alokasi Waktu
1 PPKn/ Pend. Kewarganegaraan 2 jam
2 Pendidikan Agama 2 jam
3 Bahasa dan Sastra Indonesia 4 jam
4 Bahasa Inggris 4 jam
5 Pendidikan Jasmani 2 jam
6 Matematika 4 jam
7 IPA 4 jam
8 IPS 4 jam
9 Teknologi Informatika Komputer 2 jam
10 Seni Budaya 2 jam
11 Bimbingan dan Penyuluhan 1 jam
12 PLKJ 2 jam
13 Tata Boga 2 jam
14 Pembukuan 2 jam

Khusus pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Akhlak)
mulia, dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak
mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai
perwujudan dari pendidikan agama.

52
6. Keadaan Guru, Karyawan, Siswa, dan Sarana Prasarana SMP
PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan
a. Keadaan Guru
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan
secara keseluruhan dengan guru pemegang peranan utama, karena ia
adalah faktor yang menentukan bagi keberhasilan pengajaran karena
tanpa guru proses belajar mengajar tidak akan langsung, dengan
demikian tujuan pendidikan akan tercapai.
Saat ini semua bidang studi di SMP PGRI 12 Jakarta Selatan
dipegang oleh guru-guru yang memiliki kompetensi tinggi, mereka
adalah sarjana-sarjana dari berbagai perguruan tinggi baik negri
maupun swasta.
Adapun jumlah guru yang mengajar di SMP PGRI 12 Jakarta
Selatan berjumlah 45 orang dengan latar belakang pendidikan yang
berbeda. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 2
Guru –Guru di SMP PGRI 12

No Nama Jenis Kelamin Pendidikan
1. Hj. Hajarilah, S.Pd P S1 (B.inggris)
2. Dwi suprianto, S.Pd L S1 (Matematika)
3. M. Dahlan, S.Pd L S1 (Matematika)
4. Sutarno, S.Pd L S1 (Matematika)
5. Drs. Usmanawar L S1 (Ekonomi)
6. H. Jayadi Umar, S. Pd L S1 (Agama Islam)
7. Siti Rukoyah, S.Pd P S1 (Ekonomi)
8. Drs. A. Ramli Topan L S1 (B. Indonesia)
9. Sri Dady Riyanto,S. Pd L S1 (Fisika)
10. Endangsih N, S. Pd P S1 (Biologi)
11. Dwi Ema Kartini,S. Pd P S1 (B.Indonesia)
12. Dalmasri, S. Pd L S1 (B.Inggris)
13. Sri Kustantinah, S. Pd P S1 (Biologi)
14. Imam taufik, S. Pd L S1 (Penjaskes)
15. S. Budiningsih, S. Pd P S1 (B. Indonesia)
16. Linda Wati, S. Pd P S1 (Matematika)
17. Sudarwanarto, SE L S1 (Ekonomi)
18. Mulyadi, SE L S1 (Computer)
19. R. Krismayanti, S. Pd P S1 (Tata Boga)
53
20. Deny Suharman, SR L S1 (Matematika)
21. Syahrul Rahman, Sog L S1 (Computer)
22. Azian Indrawati, S. Pd P S1 (Sejarah)
23. Dalbini, S. Pd L S1 (B. Indonesia)
24. Novi Ziarni, SH P S1 (PPKN)
25. Agung Suprianto, ST L S1 (Matematika)
26. Atmaja, S.Ag L S1 (Agama Islam)
27. Abdul Rahim, S. Pd L S1 (B. Indonesia)
28. Budiono, ST L S1 (Matematika)
29. Heni Widodo, S. Pd P S1 (Matematika)
30. Eni Novrita, P S1 (KTK)
31. Ending Wahyuni, SAI P S1 (Matematika)
32. Sri widiastuti, S. Pd P S1 (B. Inggris)
33. Nanang Budiarso, L S1 (Seni Budaya)
34. Parul Roji, BA L S1 (Penjaskes)
35. RatnaMambarSari,S.Pd P S1 (BK)
36. Aina Nur Utami, S. Pd P S1 (BK)
37. Susianti, S. Pd P S1 (B. Inggris)
38. Sumartini, S. Pd P S1 (B. Inggris)
39. Lilik julianto L S1 (B. Inggris)
40. Jumi Hartati, S. Pd P S1 (B. Inggris)
41. Sis Karno Binjai, S. Pd L S1 (B. Arab)
42. Dian Panji Sagita L S1 (Seni Musik)
43. Sumartini P S1 (B. Inggris)
43. Kartono, S. Pd L S1 (PPKN)

b. Keadaan Karyawan
Karyawan merupakan salah satu unsur tenaga kependidikan,
tenaga kependidikan lainnya harus bekerjasama dengannya untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Dengan terjalinnya hubungan baik antara mereka, maka akan
terjalin kerjasama yang baik pula dan proses belajar mengajar akan
berjalan dengan lancar dan baik. Adapun karyawan yang membantu
jalannya proses 11 orang. Untuk lebih jelas dapat dilihat dari tabel
berikut:





54
Tabel 3
Karyawan – Karyawan SMP PGRI 12
No Nama Jabatan
Jenis
Kelamin
Pendidikan
1. Suyudi Administrasi L SMA
2. Ngali Administrasi L SMA
3. Mawih Administrasi L SD
4. Senen Administrasi L SD
5. Asep Mulyadi Administrasi L SD
6. Munadih Administrasi L SMP
7. Rahmat Administrasi L SMP
8. Sri Yuli Triastantik Administrasi P S1
9. Eva Rohana Administrasi P SMK
10. Dr. Lia Meiliyana Administrasi P S1
11. Yelmareni Administrasi P SMA

c. Keadaan Siswa
Kemajuan sekolah tidak diukur dari segi fasilitas gedung yang
mewah, melainkan didukung oleh kuantitas dan kualitas siswa, karena
mereka adalah subjek dan sekaligus objek pendidikan.
Siswa SMP PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan 2008/2009
berjumlah 909 siswa dengan keterangan sebagai berikut:

Tabel 4
Siswa-Siswa SMP PGRI 12
Jenis Kelamin
No Kelas
L P
Jumlah
1. I 157 158 315
2. II 173 155 328
3. III 123 187 300
JUMLAH 453 456 909

d. Keadaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana disekolah dapat mendukung kelancaran
proses pendidikan, kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki
akan mempengaruhi kegiatan proses belajar mengajar di sekolah dan
tentunya akan mempengaruhi kemajuan dan mutu lulusannya. Adapun
55
sarana prasarana yang dimiliki SMP PGRI 12 Pondok Labu Jakarta
Selatan tahun 2008/2009 adalah sebagai berikut:

Tabel 5
Sarana dan Prasarana SMP PGRI 12

No Sarana dan Prasarana Jumlah
1. Ruang Kelas 20
2 Laboratorium IPA 1
3 Laboratorium Computer 1
4 Ruang Perpustakaan 1
5 Ruang UKS 1
6 Ruang BP 1
7 Ruang Kepala Sekolah 1
8 Ruang Guru 1
9 Ruang Tata Usaha 1
10 Ruang Osis 1
11 Kamar Mandi Siswa 1
12 Kamar Mandi Guru 1
13 Gudang 1
14 Mushola 1
15 Ruang Wakil Kepala Sekolah 1
16 Dapur 1
17 Kantin 1

C. Deskripsi Data
Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana implementasi pembelajaran
akhlak pada siswa kelas IX di SMP PGRI 12 Pondok Labu di bawah ini
penulis menjabarkan dalam bentuk tabel-tabel hasil dari penelitian:

Tabel 6
Apakah anda memberi salam ketika bertemu guru dan teman
Alternative Jawaban F %
Ya 14 46,7
Tidak - -
Kadang-kadang 16 53,3
Jumlah 30 100

56
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 46,7 % responden yang
memberi salam, yang tidak memberi salam ada 0% dan yang kadang-kadang
memberi salam ada 53,3%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang
kadang-kadang memberi salam ketika bertemu guru atau teman dan tidak ada
siswa yang tidak memberi salam ketika bertemu guru dan teman.

Tabel 7
Ketika usaha anda belum berhasil dalam belajar dan lainnya di sekolah,
apakah anda bersabar
Alternative Jawaban F %
Ya 12 40
Tidak 4 13,3
Kadang-kadang 13 43,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 40 % responden yang
bersabar, yang tidak bersabar ada 13,3% dan yang kadang-kadang bersabar
ada 43,3%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang kadang-kadang
bersabar dan minoritas siswa yang tidak bersabar ketika usahanya belum
berhasil dalam belajar dan lainnya disekolah.
Tabel 8
Apakah anda belajar tepat waktu
Alternative Jawaban F %
Ya 6 20
Tidak 5 16,7
Kadang-kadang 19 63,3
Jumlah 30 100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 20 % responden yang
belajar tepat waktu, yang tidak tepat waktu ada 16,7% dan yang kadang-
kadang tepat waktu ada 63,3%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa
yang kadang-kadang belajar tepat waktu dan minoritas siswa yang belajar
tidak tepat waktu.

57
Tabel 9
Apakah anda telah memahami peraturan sekolah
Alternative Jawaban F %
Ya 11 36,7
Tidak 3 23,3
Kadang-kadang 16 53,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 36,7 % responden yang
memahami peraturan sekolah, yang tidak memahami ada 23,3% dan yang
kadang-kadang memahami ada 53,3%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas
siswa yang kadang-kadang telah memahami peraturan sekolah dan minoritas
siswa yang tidak memahami peraturan sekolah.



Tabel 10
Setiap pembelajaran Pendidikan Agama Islam (akhlak),
apakah anda langsung mengerti
Alternative Jawaban F %
Ya 6 20
Tidak 8 26,7
Kadang-kadang 16 53,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 20 % responden yang
langsung mengerti dalam pembelajaran PAI, yang tidak langsung mengerti
ada 26,7% dan yang kadang-kadang langsung mengerti ada 53,3%. Hal ini
menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang kadang-kadang langsung mengerti
dalam pembelajaran PAI dan minoritas yang langsung mengerti di dalam
pembelajaran PAI.



58
Tabel 11
Apakah anda mempelajari Pendidikan Agama Islam (Akhlak)
di luar jam pelajaran
Alternative jawaban F %
Ya 4 13,3
Tidak 10 33,3
Kadang-kadang 16 53,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 13,3 % responden yang
belajar PAI di luar jam pelajaran, yang tidak belajar diluar jam pelajaran ada
33,3% dan yang kadang-kadang belajar di luar jam pelajaran ada 53,3%. Hal
ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang kadang-kadang belajar PAI di
luar jam pelajaran dan minoritas siswa yang belajar PAI di luar jam pelajaran.

Tabel 12
Apakah anda suka Cara belajar PAI (Akhlak) dengan ceramah
Alternative Jawaban F %
Ya 8 26,7
Tidak 12 40
Kadang-kadang 10 33,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 26,7 % responden yang
suka cara belajar PAI dengan ceramah, yang tidak suka dengan ceramah ada
40% dan yang kadang-kadang suka dengan ceramah ada 33,3%. Hal ini
menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang tidak suka cara belajar PAI dengan
ceramah dan minoritas siswa yang suka cara belajar PAI dengan ceramah.

Tabel 13
Apakah anda selalu bersikap Tasamuh terhadap
teman-teman anda di sekolah
Alternative Jawaban F %
Ya 6 20
Tidak 10 33,3
Kadang-kadang 14 46,7
Jumlah 30 100
59
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 20 % responden yang
selalu bertasamuh kepada teman-temannya di sekolah, yang tidak selalu
bertasamuh ada 33,3% dan yang kadang-kadang selalu bertasamuh ada 46,7%.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang kadang-kadang selalu
bertasamuh dan sedikit sekali siswa yang selalu bertasamuh terhadap teman-
temannya di sekolah.
Tabel 14
Apakah anda termasuk salah seorang yang menciptakan
keadaan sekolah yang tenang
Alternative Jawaban F %
Ya 17 56,6
Tidak 3 10
Kadang-kadang 10 33,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 56,6 % responden yang
termasuk menciptakan ketenangan, yang tidak termasuk ada 10% dan yang
kadang-kadang termasuk ada 33,3%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas
siswa yang termasuk menciptakan ketenangan di sekolah dan hanya sedikit
sekali yang tidak menciptakan ketenangan disekolah.

Tabel 15
Apakah anda tidak memiliki rasa benci atau dendam
kepada teman-teman di sekolah
Alternative Jawaban F %
Ya 8 26,6
Tidak 11 36,6
Kadang-kadang 11 36,6
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 26,6 % responden yang
tidak memiliki rasa benci dan dendam , yang memiliki ada 36,6% dan yang
kadang-kadang memiliki rasa benci dan dendam ada 36,6%. Hal ini
menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang memiliki dan yang kadang-kadang
benci/dendam dan hanya sedikit siswa yang tidak memiliki rasa benci dan
dendam kepada teman-teman di sekolah.
60
Tabel 16
Apakah anda memiliki sifat takabur di sekolah
Alternative Jawaban F %
Ya 2 6,67
Tidak 19 63,3
Kadang-kadang 9 30
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 6,67 % responden yang
takabur di sekolah, yang tidak takabur ada 63,3% dan yang kadang-kadang
takabur ada 30%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang tidak
takabur dan sedikit sekali yang takabur di sekolah.

Tabel 17
Apakah anda selalu bersyukur di sekolah
Alternative Jawaban F %
Ya 13 43,3
Tidak 1 3,3
Kadang-kadang 16 53,3
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 43,3 % responden yang
selalu bersyukur di sekolah, yang tidak selalu bersyukur ada 3,3 % dan yang
kadang-kadang selalu bersyukur ada 53,3%. Hal ini menunjukkan bahwa
mayoritas siswa yang selalu bersyukur dan hanya sedikit sekali siswa yang
tidak selalu bersyukur di sekolah.

Tabel 18
Selalu tenang dalam menghadapi setiap permasalahan di sekolah
Alternative Jawaban F %
Ya 7 23,3
Tidak 11 36,7
Kadang-kadang 12 40
Jumlah 30 100
61
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 23, 3 % responden yang
selalu tenang jika ada masalah, yang tidak selalu tenang jika ada masalah 36,
7% dan yang kadang-kadang tenang jika ada masalah ada 40%. Hal ini
menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang kadang-kadang tenang dan sedikit
siswa yang selalu tenang ketika ada masalah di sekolah.

Tabel 19
Selalu Qana’ah dengan apa yang sudah di miliki
Alternative Jawaban F %
Ya 16 53,3
Tidak - -
Kadang-Kadang 14 46,7
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 53,3 % responden yang
selalu Qana’ah dengan apa yang sudah di miliknya, yang tidak selalu Qana’ah
0% dan yang kadang-kadang selalu Qana’ah ada 46,7%. Hal ini menunjukkan
bahwa mayoritas siswa yang selalu Qana’ah dan hampir tidak ada yang tidak
selalu Qana’ah dengan apa yang dimiliki.

D. Analisis Data dan Interpretasi Data
Pada bab terdahulu, peneliti telah mengemukakan bahwa tekhnik
pengumpulan data yang digunakan didalam pelaksanaan penelitian ini adalah
dengan pembagian angket kepada siswa kelas IX di SMP PGRI 12 dan
tekhnik wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah dan guru mata
pelajaran agama Islam kelas IX. Observasi, dokumentasi, tekhnik pembagian
angket dan wawancara ditujukan untuk memperoleh data atau informasi
tentang Implementasi Pembelajaran Akhlak Pada Siswa Kelas IX di SMP
PGRI 12 Pondok Labu Jakarta Selatan.
Angket disusun berdasarkan pada pokok penelitian dan indikator yang
diteliti. Angket yang dibuat oleh penulis terdiri dari 14 item pertanyaan, yang
kesemua item tersebut berkenaan dengan akhlak.
62
Sedangkan pelaksanaan wawancara dilakukan dengan pihak yang
berkaitan dengan sekolah smp tersebut diantaranya kepala sekolah, dan guru
pendidikan agama Islam adapun pertanyaan yang diajukkan adalah mengenai
gambaran umum sekolah SMP PGRI 12 tersebut serta mengenai pelaksanaan
pembelajaran pendidikan agama Islam (akhlak) di sekolah SMP PGRI 12
pondok labu Jakarta Selatan.




63







BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan-penjelasan, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa:
Implementasi pembelajaran akhlak pada siswa kelas IX SMP PGRI 12
Pondok Labu cukup baik karena materi yang di sampaikan atau norma dengan
sikap atau perilaku anak didik cukup sesuai dengan hasil penelitian di SMP
tersebut.
Dari 30 siswa yang menjawab pertanyaan-pertanyaan berjumlah 14
item dengan jawaban (kadang-kadang) berjumlah 8, jawaban (ya) berjumlah 4
dan jawaban (tidak) berjumlah 2, maka cukup sesuai dengan alokasi waktu
yang sangat singkat hanya 2 jam/ kelas mayoritas siswa menjawab kadang-
kadang.
Jadi akhlak sebagai orientasi utama dan pertama didalam penilaian
dengan diimbangi oleh kapasitas intelektual anak didik di sekolah SMP PGRI
12 cukup seimbang.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti mengajukan saran:
1. Hendaknya kepada pihak sekolah untuk menjadikan akhlak sebagai
orientasi utama dan pertama didalam penilaian dengan diimbangi oleh
kapasitas intelektual anak didik.
id3877453 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
64
2. Hendaknya kepada para guru untuk memberikan suri tauladan yang lebih
baik di sekolah.
3. Bagi para guru agama, selain memberikan suri tauladan yang baik
hendaknya dapat memberi pembinaan dan pembentukan akhlak kepada IX
serta memperhatikan perilaku mereka setiap harinya di sekolah dan
menjadikan mereka dekat dengan kita, agar kita lebih mudah membina dan
membentuk akhlak mereka dengan efektif dan efisien.
4. Bagi para siswa diharapkan berakhlak mulia terhadap teman dan guru atau
orang lain serta keterbukaan terhadap guru tentang sesuatu hal, sehingga
seorang guru dapat memberikan nasihat atau solusinya jika ada
permasalahan di sekolah atau di luar sekolah yang tidak bias diselesaikan
sendiri.
5. Kepada para orang tua diharapkan dapat membimbing anak-anaknya
dengan akhlak yang mulia, sehingga anak tersebut mencontoh akhlak
mulia orang tua atau kerluarganya dalam kehidupan sehari-hari di rumah
maupun di luar rumah.
6. Disarankan juga agar hubungan sekolah dengan para orang tua murid,
lebih ditingkatkan sehingga terjalin komunikasi yang lebih baik diantara
kedua belah pihak, dan mengetahui perkembangan akhlak anak di sekolah
bagi orang tua dan dirumah bagi pihak sekolah, sehingga anak berakhlak
mulia dikarenakan ada komunikasi yang baik antara orang tua dan
sekolah.


65
DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasy, Muhammad Atyhiyah, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam,
Jogyakarta: Titian Ilahi Press, 1996
Al-Ghazali, Syaikh Muhammad, Akhlak Seorang Muslim, Jakarta: Mustaqim,
2004
Al-Maskawaih, Abu Ali Ahmad, Menuju Kesempurnaan Akhlak, Beirut: mizan tt.
Al-Musawi, Khalil, Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Jakarta: PT. Lentera
Basritama, 1998
Amin, Ahmad, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1975
An Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah Dan
Masyarakat, Jakarta: Gema Insani, 1995
Anas, Ibrahim, Al-Mu’jamul Wasith, Mesir: Daaru; Ma’arif, 1972
Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Azra,

Azyumardi Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta:
Logos, 1998
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, Bandung: CV penerbit
Jumanatul Ali, 2005
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, Jakarta: ProyekPengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995
Departemen Agama RI, UU dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan,
Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Islam,
2006.
Depdiknas, Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP), Jakarta:
Depdiknas, 2004
Ghazali, Imam, Ihya Ulumuddin,(Daarulyan: tp, 1987, Jilid. 2
Hartati, Netty Dkk. Islam Dan Psikologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2004
IAIN, Lembaga Penelitian, Islam Dan Pendidikan Nasional, Jakarta: LPI, 1983
Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPPI, 1999
Malik, Imam, Al-Muwatha Juz. 14, Beirut: Daarul Fikr, 1980
id3971765 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com


66
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. Al-
Ma’rif Bandung
Masy’ari, Anwar, Akhlak Al-Quran, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990
Masyhur, Kahar, Membina Moral dan Akhlak, Jakarta: PT. Rineka CiPT.a, 1994
Mustafa, Ahad, Akhlak Tasawuf, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2005
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI-Press, 1985
Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996
Perum Penerbitan dan Percetakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 1998
Rakhmat, Jalaluddin, Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih, Bandung: Muthahari
Press, 2003
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1994
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak
Islam Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi Jakarta: Perpustakaan
Umum, 2004
Sadizly, Hasan, dan Echoles, John M., Kamus Inggris Indonesia, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama,1995
Salami, Noer,

dan Abu Ahmadi Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
1991
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, 1992
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhui Atas Pelbagai Persoalan
Umat, Bandung: Mizan, 2003
Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang, Jakarta: Focus Media, 2003
Soepardjo, Ngadiyanto, Mutiara Akhlak Dalam Pendidkan Agama Islam Untuk
Kelas IX Sekolah Menengah Pertama, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, 2007
Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, Jakarta: Bina Aksara, 1989
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka
Cipta, 2006
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1997
Tim Media, Kamus Ilmiah Populer, Media Center, 2002


67
Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi, Ciputat: FITK, 2007
Uhbiyati, Nur, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997
Yunus, Abdul Hamdi, As-Sya’ab, Kairo: Daarul Ma’arif, tt
Zahrudin AR dan Sinaga, Hasanudin, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2004




























68
Angket Untuk Siswa
Mengenai Implementasi Pembelajaran Akhlak Pada Siswa Kelas IX Di SMP
PGRI 12 Pondok Labu
A. Penunjuk
1. Berikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban (a, b/c) yang anda
anggap sesuai dengan keadaan dari pendapat atas pertanyaaan di bawah
ini.
2. Angket ini bertujuan ilmiah untuk penelitian kependidikan
3. Terima kasih atas bantuan dan partisipasinya dalam mengisi angket
B. Identitas Responden
1. Nama : (identitas tidak usah ditulis)
2. Kelas : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1. Apakah anda memberi salam ketika bertemu guru dan teman?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

2. Ketika usaha anda belum berhasil dalam belajar dan lainnya di sekolah,
apakah anda bersabar?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

3. Apakah anda belajar tepat waktu?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

4. Apakah anda telah memahami peraturan sekolah?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

5. Setiap pembelajaran pendidikan agama Islam (akhlak), apakah anda langsung
mengerti?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

6. Apakah anda mempelajari pendidikan agama Islam (akhlak) di luar jam
pelajaran?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

7. Apakah anda suka Cara belajar PAI (akhlak) dengan ceramah?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

8. Apakah anda selalu bersikap Tasamuh terhadap teman-teman anda di sekolah?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang



69
9. Apakah anda termasuk salah seorang yang menciptakan keadaan sekolah yang
tenang?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

10. Apakah anda tidak memiliki rasa benci atau dendam kepada teman-teman di
sekolah?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

11. Apakah anda memiliki sifat takabur di sekolah?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

12. Apakah anda selalu bersyukur di sekolah?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

13. Jika ada suatu masalah menimpa anda di sekolah, apakah anda selalu tenang?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang

14. Apakah anda di SMP PGRI 12 Pondok Labu selalu Qana’ah dengan apa yang
sudah anda miliki?
a. ya b. tidak c. kadang-kadang




You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->