P. 1
nifas

nifas

|Views: 144|Likes:
Published by AQ GhesTy

More info:

Published by: AQ GhesTy on Jul 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2015

pdf

text

original

Home > Askeb III (Nifas) > Konsep Dasar Masa Nifas

Konsep Dasar Masa Nifas
Sep 11, 2009 51 Comments by lusa

Tujuan Mahasiswa setelah mengikuti mata kuliah ini dapat : 1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan pengertian masa nifas Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas Menjelaskan peran dan tanggungjawab bidan dalam masa nifas Menjelaskan tahapan masa nifas Mengetahui kebijakan program nasional masa nifas

pembelajaran

Pengertian Masa Nifas 1. Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003). 2. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122). 3. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281). 4. Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998). Tujuan Asuhan Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk : Masa Nifas

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis. 2. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.

3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari. 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana. 5. Mendapatkan kesehatan emosi. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain : 1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas. 2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga. 3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman. 4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi. 5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan. 6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman. 7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas. 8. Memberikan asuhan secara professional. Tahapan Masa Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu : Nifas

1. Puerperium dini Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan. 2. Puerperium intermedial Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu. 3. Remote puerperium Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk : 1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi. 2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya. 3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas. 4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas: Kunjungan Waktu Asuhan Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri. Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut. Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri. I 6-8 jam post partum Pemberian ASI awal. Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir. Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi. Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik. Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan. II 6 hari post Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup. partum Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui. Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir. III 2 minggu post partum 6 minggu post partum Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum. Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas. Memberikan konseling KB secara dini.

IV

Referensi Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB. Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB. Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.

Kata Kunci
pengertian nifas, nifas, masa nifas, askeb nifas, askeb 3, kebutuhan dasar ibu pada masa nifas, pengertian masa nifas, kunjungan nifas, tujuan asuhan masa nifas, kebutuhan dasar masa nifas, tahapan masa nifas, konsep dasar masa nifas, kunjungan masa nifas, askeb nifas normal, asuhan masa nifas, askeb ibu nifas, tujuan masa nifas, kebutuhan dasar pada masa nifas, asuhan kebidanan pada ibu nifas normal, pengertian ibu nifas, asuhan ibu nifas, asuhan kebidanan pada masa nifas, asuhan kebidanan nifas, perawatan nifas, asuhan nifas

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NORMAL DENGAN KELUHAN PEGAL-PEGAL SETELAH MELAHIRAKAN DI BPS CAHAYA HATI
Diposkan oleh MaPhia BlacK di 20:11

LANDASAN TEORI

Definisi Masa nifas adalah dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan mencakup enam minggu berikutnya. Menurut Prawirohardjo, 1991, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sediakala dalam waktu 3 bulan. Menurut Syaifuddin, 2002, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas kurang lebih selama 6 minggu. Dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa persalinan alat-alat kandungan setelah melahirkan yang berlangsung kira-kira 6 minggu dan kembali seperti keadaan sebelum ada kehamilan dan memerlukan waktu selama 3 bulan. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologis, yaitu : a. Perubahan fisik b. Involusi uterus dan pengeluaran lokhea c. Laktasi dan pengeluaran ASI d. Perubahan sistem tubuh lainnya e. Perubahan psikis

Keluhan ibu dengan pegal-pegal biasanya dirasakan setelah post partum, hal ini disebabkan karena penggunaan energi atau tenaga dalam jumlah yang besar oleh tubuh saat persalinan, juga posisi tubuh

ibu saat meneran dengan mengangkat bokong. Keadaan ini merupakan perubahan fisiologis pada saat post partum. Untuk itu diperlukan penatalaksanaan dengan beristirahat yang cukup dan mobilisasi dini yang tepat, serta jelaskan kondisi ini pada ibu agar ibu tidak khawatir dengan keadaannya yang dapat meningkatkan kecemasan pada ibu nifas.

Gambaran Klinis Perubahan yang terjadi selama masa nifas : a. Sistem Vaskuler Pada persalinan pervaginam kehilangan darah 300-500 cc, bila melalui S.C kehilangan darah dapat 2 kali lipat. Perubahan yang terjadi dari volume darah dan hemotokrit dan baru stabil setelah 4-6 minggu, setelah melahirkan short akan hilang dengan tiba-tiba volume darah ibu relatif akan bertambah.

b. Sistem Reproduksi 1. Involusi Uterus Uterus atau rahim yang berbobot 60 gram sebelum hamil secara perlahan-lahan bertambah besar hingga 1 kg selama masa kehamilan, dan setelah persalinan akan kembali ke keadaan sebelum hamil. Proses involusi uterus : a. Autolysis Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine.Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula selama kehamilan. b. Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages didalam sistem vaskuler dan sistem limhatik c. Efek oksitosin (cara bekerjanya oksitosin)

Penyebab kontraksi dan retraksi otot uterine sehingga akan mengkompres pembuluh darah yang menyebabkan akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Involusi uterus dapat dijlihat dari luar dengan memeriksa fundus uterus dari luar. Segera setelah TFU 2 cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm dibawah pusat, kemudian menurun 1 cm setiap hari. Pada hari pertama sampai hari kedua setelah persalianan TFU 1 cm dibawah pusat. Pada hari 3-4 fundus uteri 2 jari dibawah pusat. Pada hari 5-7 TFU setengah pusat sympisis, hari ke-10 tidak teraba.

2. Involusi Tempat Plasenta Setelah persalinan tempat persalinan merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kirakira sebesar telapak tangan. Luka ini dengan cepat mengecil pada akhir minggu kedua hanya sebesar 3-4 cm, pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta lekas sekali sembuh tidak menimbulkan parut.

3. Perubahan Pada Perineum, Vagina, dan Vulva Berkurangnya sirkulasi progesteron mempengaruhi otot-otot pada panggul, perineum, vagina dan vulva. Proses ini membantu pemulihan kearah elastisitas normal dari ligamentum otot rahim. Ini merupakan proses bertahap yang akan berguna apabila ibu melakukan ambulasi dini, senam nifas dan mencegah timbulnya konstipasi. Progesteron juga meningkatkan pembuluh darah pada vagina dan vulva selama kehamilan dan persalinan biasanya menyebabkan timbulnya beberapa hematoma dan edema pada jaringan ini dan perineum.

4. Lochea Lochea adalah ekskresi caiaran selama masa nifas. Lochea berbau amis dan mengalami perubahan karena proses involusi. a. Locha Rubra

Lochea rubra pada hari pertama sampai keempat masa post partum. Warnanya merah yang mengandung darah dari perobekan/luka pada plasenta dan serabut dari desi dua dan chorion b. Lochea Serosa Lochea ini berwarna kecoklatan, muncul pada hari ke 5-9. Lochea ini mengandung lebih sedikit darah dan lebih banyak serum dan leukosit.

c. Lochea Alba Warnanya lebih pucat, putih kekuningan dan mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.

Apabila lochea yang dikeluarkan lebih lama kemungkinan : Tertinggalnya sisa plasenta Ibu yang tidak menyusui anaknya Infeksi jalan lahir

Perubahan pengeluaran lochea menunjukkan keadaan yang abnormal : 1. Perdarahan berkepanjangan 2. Pengeluaran lochea tertahan 3. Lochea purulenta 4. Rasa nyeri yang berlebihan 5. Dengan memperhatikan bentuk perubahan dapat diduga 6. Terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber perdarahan 7. Terjadi infeksi intrauterine

c. Laktasi Hormon progesteron dan estrogen menghambat pengeluaran prolaktin. Dengan lahirnya plasenta kadar estrogen dan progesteron menurun sehingga penekanan prolaktin meningkat dalam darah dan memegang peranan penting dalam proses pembentukan : 1. Reflek Prolaktin . Reflek ini merupakan reflek neurohormone yang mengatur produksi ASI kontinuitas. Sekresi prolaktin tergantung dari : a. Hisapan bayi b. Seringnya menyusui c. Jarak antara waktu menyusui 2. Reflek Let Down Reflek pemancaran ASI karena rangsangan pada papila dan aerola mamae waktu bayi menghisap. Reflek ini merupakan reflek psikomatik yang sangat dipengaruhi oleh emosi.

d. Sistem Perkemihan Dinding kandung kemih memperlihatkan oedem dan hyperemia. Kadang-kadang oedem tergonium. Pada hyperemia kandung kemih selama nifas kurang sensitif dan kapasitas kandung kemih juga bertambah, sehingga volume penuh atau sesudah BAK masih tertinggal urine residual. Sisa urine ini dan trauma pada kandung kemih waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi. Dilaktasi ureter dan pyelum normal kembali dalam 2 minggu.

e. Sistem Gastro Intestinal Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan. Hal ini karena alat pencernaan mendapat tekanan waktu melahirkan, dehidrasi, hemoroid dan laserasi jalan lahir. Supaya BAB kembali lancar dapat diberi

makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila masih belum bisa BAB dalam waktu 2-3 hari dapat ditolong dengan Huknah.

f. Tanda-tanda Vital : Suhu tubuh post partum meningkat + 37,50-380C, karena terjadi dehidrasi persalinan, tetapi suhu akan kembali normal. : : : Setelah melahirkan 100 x/menit karena kelelahan, perdarahan, nyeri dan infeksi Biasanya tidak berubah, kemungkinannya karena ada perdarahan Bila suhu dan denyut nadi tidak normal, pernafasan akan mengikutinya. g. Otot-otot Abdominal Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam waktu 6 minggu pada waktu esthemis, terjadi diastosis dari otot rectus abdominus untuk mengencangkan kembali otot perut maka dilakukan senam nifas.

h

h. Perubahan Psikis dan Sosial Kebanyakan wanita dalam minggu pertama setelah melahirkan menunjukkan gejala-gejala depresi dari tingkat ringan sampai berat. Faktor-faktor yang menyebabkan : 1. Ketakutan yang berlebihan dalam masa hamil 2. Riwayat psikiatri yang abnormal 3. Riwayat perkawinan yang abnormal 4. Riwayat obstetri yang abnormal 5. Riwayat kelahiran mati/cacat 6. Penyebab lain

Penatalaksanaan Kebidanan Pasca Bersalin Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. (Prawirohardjo). Kunjungan Waktu Tujuan

1

6-8 jam setelah persalinan

a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut. c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaiman mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. d. Pemberian ASI awal e. Melakukan hubungan antara Ibu dan BBL f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.

2

6 hari setelah persalinan

a. Memastikan involusi berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal

c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari

3

2 minggu setelah a. Memastikan involusi berjalan normal: uterus persalinan berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari

4

6 minggu setelah persalinan

Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu atau bayi alami dan memberikan konseling untuk KB secara dini

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN KELUHAN PEGAL-PEGAL SETELAH MEALAHIRKAN TERHADAP Ny.W DI BPS CAHAYA HATI

I.

Pengumpulan Data Dasar, Tanggal 12 November 2006

A. Identitas Nama Istri Umur Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat : Ny.Wiwit : 25 tahun : Islam : Jawa : SMA : IRT : Jl.Manggis No.199 Yukum Jaya Nama Suami Umur Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn.Sugeng : 29 tahun : Islam : Jawa : SMA : Wiraswasta : Jl.Manggis No.199 Yukum Jaya

B. Anamnesa 1. Keluhan Utama Ibu post partum hari ke-1 tanggal 12 November 2006, ibu mengatakan seluruh badannya pegal-pegal, perut mules, dan ASI belum keluar

2. Riwayat Persalinan P2A0, ibu melahirkan pada tanggal 12 November 2006 pukul 13.00 Wib. : : Lamanya 7 jam, berlangsung normal, dan mengeluarkan bloodslym Lamanya 40 menit, pukul 13.00 Wib persalinan pervaginam, jenis kelamin bayi laki-laki, BB: 2800gram, PB: 49 cm, tidak ada cacat, keadaan umum baik, jumlah perdarahan + 50 cc. : Lamanya 15 menit, pukul 13.15 Wib, plasenta lahir spontan lengkap, berat plasenta + 500gram, kotiledon lengkap, jumlah perdarahan + 100 cc

aI

a II

a III

a IV

:

Pengawasan selama 2 jam berlangsung normal, kontraksi uterus baik, jumlah perdarahan + 100 cc, tidak ada Heacting, keadaan umum baik, TD: 110/80mmHg, RR:20 x/menit, pols 78 x/menit, suhu 370C. Lama persalinan kala I s/d kala IV 9 jam 55 menit. Tidak terjadi penyulit atau komplikasi selama persalinan berlangsung. Tindakan dan pengobatan selama persalinan : diberikan oksitosin 10 unit IM, dilakukan peregangan tali pusat terkendali.

3. Riwayat Kesehatan Sekarang Ibu post partum 12 November 2006 pukul 13.00 Wib, mengatakan perutnya mules, badan terasa pegalpegal sehingga sulit untuk bergerak dan ibu takut tidak bisa menyusui bayinya karena ASI belum keluar.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Dalam keluarga tidak ada yang menderita suatu penyakit menular atau penyakit keturunan yang memerlukan perawatan khusus.

5. Pola Kebutuhan Dasar a. Nutrisi Ibu makan 3 x sehari dengan porsi sedang, 1 piring nasi, 1 mangkok sayur, lauk pauk, buah dan susu. Ibu makan dengan porsi kecil 1/2 piring nasi, 1 mangkok sayur, lauk pauk, buah dan susu. b. Eliminasi

elahirkan :

elahirkan :

melahirkan : 1-2 x/hari

melahirkan : 1 x/hari sebelum melahirkan : 5-6 x/hari

melahirkan : 2 x/hari c. Istirahat

Sebelum melahirkan Sesudah melahirkan d. Aktivitas

: Ibu tidur 7-8 jam sehari : Ibu tidur 6 jam sehari.

ahirkan

: Ibu biasa melakukan aktivitas / kegiatan rumah tangga sendiri tanpa bantuan orang lain. : Ibu masih sering ditempat tidur, karena ibu merasa badannya pegal-pegal, untuk pekerjaan ibu rumah tangga masih dibantu oleh adiknya, perawatan terhadap bayinya juga masih dibantu oleh ibunya. e. Personal Hygiene : Ibu mandi 2 x sehari, menggosok gigi 3 x sehari, Ibu mengganti pakaian setiap habis mandi : Ibu mandi 2 x sehari, menggosok gigi 3 x sehari, Ibu mengganti pakaian setiap habis mandi, Ibu mengganti softex 2 x sehari f. Keadaan psikosial a. Ibu dan keluarga merasa bahagia dengan kelahiran bayinya, tetapi ibu merasa takut bila ibu tidak bisa merawat bayinya dengan baik. b. Ibu takut tidak bisa menyusui karena ASI belum keluar c. Ibu mengatakan badannya terasa pegal-pegal

ahirkan

ahirkan

hirkan

C. Pemeriksaan Fisik Post Partum 1. Pemeriksaan umum Keadaan umum Kesadaran : Ibu tampak baik, tapi sedikit lemah : Compos mentis

2. Tanda Vital TD : 110/80 mmHg RR : 20 x/menit

Nadi : 78 x/menit

Suhu : 370C

3. Pemeriksaan fisik : : : Mudah rontok, lepek/berminyak, berketombe, keadaan kotor, warna rambut hitam, dan lurus Tidak ada oedema, dan tidak ada cloasma gravidarum. tidak ada oedema dikelopak mata, konjungtiva agak pucat, sklera agak ikterik, fungsi penglihatan baik, dan simetris : : : : : Keadaan bersih, fungsi penciuman baik, tidak ada polip Keadaan cukup bersih, gigi lengkap, tidak ada caries gigi, dan tidak ada stomatitis Keadaan bersih, fungsi pendengaran baik, dan simetris Tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tyroid Mamae simetris, puting susu menonjol,ada pembengkakan pada payudara,dan ASI belum keluar, gerakan dada saat inspirasi dan ekspirasi seirama, tidak terdengar ronchi dan whezing, suara nafas baik : : : TFU 2 jari bawah pusat, uterus teraba keras dan berkontraksi, vesika urinaria kosong Nyeri tekan pada daerah pinggang Kotor oleh bekas lendir dan darah, lochea rubra, bau amis normal, tidak ada heacting, tidak ada oedema dan varises : Fungsi pergerakan baik, tidak ada oedema dan varises, simetris kiri dan kanan, tidak ada cacat, keadaan baik Fungsi pergerakan baik, tungkai tidak ada oedema dan varises, tidak ada cacat, keadaan baik

i

as Atas

as Bawah :

II.

Interpretasi Data Dasar 1. Diagnosa Ibu P2A0 post partum hari pertama dengan keluhan badannya pegal-pegal. Dasar :

Ds

:

Ibu melahirkan tanggal 12 November 2006 pukul 13.00 Wib Ibu mengatakan badannya terasa pegal-pegal dan belum bisa beraktifitas sendiri.

Do

:

Partus spontan pukul 13.00 Wib Ibu masih kelihatan kelelahan karena badannya pegal-pegal hal ini terlihat dari ibu yang belum beraktifitas sendiri. TFU 2 jari dibawah pusat Kontraksi uterus baik Pengeluaran pervaginam berupa lochea rubra ASI belum keluar.

2. Masalah a. Keterbatasan aktifitas

Ds

:

Ibu mengatakan masih lemah bila ingin bergerak karena badannya terasa pegal dan perutnya masih terasa mulas.

Do :

Ibu post partum hari pertama. Tidak ada laserasi, tidak ada heacting perineum, dan genitalia kotor. Ibu tampak lelah dan cemas dengan keadaannya.

b. Gangguan Pemenuhan ASI. Ds : Ibu mengatakan takut tidak bisa menyusui karena ASI belum keluar. Ibu mengatakan belum tahu cara perawatan payudara Do : Ibu post partum hari pertama ASI belum keluar

3. Kebutuhan a. Early ambulation dan senam nifas Dasar : Ibu post partum hari pertama Badan masih terasa pegal-pegal b. Post Natal Breast Care Dasar : Ibu post partum hari pertama Ibu takut tidak dapat menyusui bayinya karena ASI belum keluar c. Personal Hygiene terutama didaerah genitalia Dasar : Ibu post partum hari pertama Keadaan genetalia kotor bekas lendir, darah, pengeluaran pervaginam lochea rubra

d. Istirahat Dasar : Ibu post partum hari pertama dan mengatakan badannya terasa lemah

III.

Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial Kolaborasi dengan dokter bila terjadi komplikasi post partum.

IV.

Kebutuhan Terhadap Intervensi dan Kolaborasi Lakukan kolaborasi segera dengan dokter bila terjadi masalah yang memerlukan penanganan segera.

V.

Perencanaan 1. Ibu post partum hari pertama dengan keluhan pegal-pegal a. Jelaskan kondisi ibu saat ini

b. Anjurkan ibu untuk cukup istirahat c. Anjurkan pada ibu untuk melakukan early ambulation d. Anjurkan pada ibu agar mengurangi rutinitas pekerjaan yang biasa dilakukan ibu sehari-hari,misalnya mengepel lantai,mencuci baju dan lainnya. e. Libatkan keluarga agar membantu aktivitas ibu f. Evaluasi pemahaman ibu dan keluarga terhadap penjelasan bidan.

2. Pemenuhan kebutuhan tentang post natal breast care a. Ajarkan pada ibu tekhnik menyusui yang benar b. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya ASI bagi bayinya c. Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan

d. Evaluasi pemahaman ibu dan keluarga terhadap penjelasan bidan.

3. Pemenuhan kebutuhan personal hygiene a. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri b. Anjurkan ibu untuk mengganti doek bila sudah tidak nyaman c. Evaluasi pemahaman ibu terhadap penjelasan bidan.

VI.

Implementasi 1. Ibu post partum hari pertama dengan keluhan pegal-pegal a. Menjelaskan kondisi ibu bahwa pegal-pegal yang dirasakan oleh ibu adalah fisiologis dan akan sembuh setelah ibu cukup istirahat dan dapat mengatur pergerakan secara bertahap karena ibu saat ini dalam keadaan sehat dan nifas yang normal. Rasa pegal ini disebabkan oleh penggunaan energi yang banyak saat persalinan. b. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat karena tubuh memerlukan istirahat dalam proses pemulihan tenaga yang telah digunakan selama persalinan dan istirahat akan mempengaruhi produksi ASI. c. Menganjurkan ibu untuk early ambulation seperti miring kiri dan kanan, duduk-duduk dan berjalan-jalan secara bertahap. d. Menganjurkan ibu untuk tidak melakukan rutinitas sehari-hari seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak dan lain-lain. Untuk rutinitas sehari-hari dapat dibantu oleh keluarga. e. Melibatkan keluarga untuk membantu kegiatan ibu sehari-hari dan membantu dalam melatih pergerakan ibu secara bertahap. f. Mengevaluasi pemahaman ibu dan keluarga terhadap penjelasan dari bidan yaitu pegal-pegal yang dirasakan ibu adalah fisiologis. Dan akan sembuh dengan istirahat yang cukup.

2. Pemenuhan kebutuhan post natal breast care

a.

Mengajarkan pada ibu tentang tehnik menyusui yaitu dengan membersihkan payudara sebelum dan sesudah menyusui, melakukan pemijatan pada daerah payudara, menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya, meskipun ASI belum keluar, dan menyusui bayi hendaknya mulut bayi masuk sampai areola mamae.

b.

Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya ASI bagi bayinya, bahwa ASI akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk daya tahan tubuh terhadap infeksi, jadi meskipun ASI belum keluar bayi harus tetap menyusui untuk merangsang produksi ASI

c.

Melibatkan keluarga dalam melakukan perawatan payudara dan memberikan dukungan semangat kepada ibu tetap melakukan perawatan payudara.

d. Mengevaluasi pemahaman ibu dan keluarga terhadap penjelasan petugas yaitu mengerti tentang tehnik perawatan payudara dan pentingnya ASI bagi bayinya.

3. Pemenuhan kebutuhan personal hygiene a. Menganjurkan ibu utnuk tetap menjaga kebersihan diri misalnya dengan mandi 2 kali sehari, keramas 2 hari sekali, sikat gigi, dan berganti pakaian sehabis mandi. b. Menganjurkan ibu untuk mengganti doek sehabis mandi atau bila ibu sudah merasa tidak nyaman c. Mengevaluasi pemahaman ibu tentang kebersihan diri

VII. 1.

Evaluasi Ibu mengerti tentang kondisinya bahwa pegal-pegal yang dialami oleh ibu adalah normal dan untuk memulihkan kembali keadaannya, ibu beristirahat yang cukup.

2. Ibu sudah dapat miring kekiri dan kanan, serta dan berjalan-jalan secara bertahap 3. Ibu mengerti tentang teknik menyusui yang benar dan mengerti tentang pentingnya ASI bagi bayinya. 4. Ibu sudah dapat melakukan perawatan kebersihan diri dan mengganti doek setelah mandi atau bila ibu sudah merasa tidak nyaman. 5. Keluarga sudah dapat melibatkan diri dengan memberikan bantuan kepada ibu melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, membantu berlatih pergerakan dan memberikan dukungan psikologis.

CATATAN PERKEMBANGAN Kunjungan I tanggal 13 November 2006 (2 hari post partum) S : Ibu mengatakan pegal-pegal yang dirasakan sudah sedikit berkurang Ibu mengatakan sudah beristirahat sebentar sehingga lelah berkurang Ibu mengatakan ASI belum keluar Ibu mengatakan sudah BAK 5-6 x dan BAB 1 kali

O

:

Keadaan ibu membaik sehingga ibu mulai belajar beraktifitas sendiri secara perlahan-lahan. Walaupun rasa pegal masih dirasakan oleh ibu

Involusi uterus baik dan kontraksi baik (keras) Tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat ASI belum keluar Pengeluaran pervaginam lochea rubra Eliminasi : BAK BAB Tanda-Tanda Vital : a. TD : 110/80 mmHg b. RR : 22 x/menit c. Pols : 76 x/menit d. Suhu : 36,90C : 3-4 x/sehari : 1 x BAB setelah melahirkan

A

:

Diagnosa : Dasar :

Post partum hari ke-2 dengan keluhan pegal-pegal Ibu partus tanggal 12 November 2006 pukul : 13.00 Wib Ibu masih merasakan badannya pegal-pegal Pengeluaran pervaginam lochea rubra TFU 2 jari bawah pusat Kontraksi uterus baik

Masalah :

:

Gangguan aktifitas

Dasar

Ibu sudah mulai beraktifitas sendiri secara perlahan-lahan walaupun belum maksimal karena ibu masih sedikit merasakan pegal-pegal. : Cukup istirahat, early ambulation, konseling perawatan payudara dan tehnik menyusui yang benar. Serta nutrisi yang adekuat untuk pemulihan tenaga.

ebutuhan

P

:

1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya bahwa pegal-pegal yang dirasakan ibu adalah normal. Pegalpegal ini disebabkan karena panggunaan energi yang besar selama persalinan. 2. Menganjurkan ibu untuk beristirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga. 3. Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilasi dini misalnya dengan berlatih pergerakan dengan berjalanjalan secara bertahap. 4. Anjurkan pada ibu senam nifas a. Mengajarkan ibu senam nifas b. Memberitahu ibu manfaat senam nifas yang dapat mengurangi rasa pegal. 5. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan daerah genitalia dengan mengganti doek setelah mandi atau bila ibu merasa tidak nyaman. 6. Mengobservasi proses involusi : a. TFU 2 jari dibawah pusat b. Kontraksi uterus keras/baik c. Perdarahan normal, pengeluaran pervaginam lochea rubra d. Kandung kemih kosong 7. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi dan penting sebagai pemenuhan kebutuhan dalam pemberian ASI yaitu mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. 8. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan 3 hari lagi atau pada tanggal 17 November 2006.

Kunjungan II, Tanggal 17 November 2006 (5 hari post partum) S : Ibu mengatakan pegal-pegal sudah agak tidak terasa dan tidak terlalu lemah Ibu mengatakan ASI sudah mulai keluar

O

:

Keadaan umum ibu baik dengan sedikit melakukan aktivitas sendiri, namun masih merasakan pegalpegal. TFU 1/2 simpisis pusat, kontraksi uterus baik. Lochea Rubra ASI sudah keluar Tanda-tanda vital : TD : 120/80 mmHg RR : 19 x/menit Pols : 80 x/menit

Suhu : 36,80C

Eliminasi : 3-4 x sehari BAK, dan sudah BAB 3 x setelah melahirkan.

A :

:

Diagnosa

:

Ibu 5 hari post partum

sar

Ibu masih sedikit merasa pegal-pegal dan tidak terlalu lemah dan belum melakukan aktifitas, tetapi sudah bisa berjalan, dengan menggendong bayinya, walaupun perlahan. Daerah alat genitalia bersih. Pola makan sudah teratur. Istirahat, nutrisi yang adekuat untuk pemulihan tenaga produksi ASI, tetap melakukan latihan pergerakan

butuhan :

P

:

1. Menjelaskan pada ibu bahwa keadaannya sudah lebih baik dari kemarin 2. Menganjurkan ibu untuk tetap istirahat yang cukup 3. Menganjurkan ibu agar terus latihan senam nifas dengan bimbingan 4. Berikan penyuluhan tentang gizi ibu menyusui : a. Memberitahu ibu tentang gizi yang baik untuk menyusui b. Menganjurkan ibu agar mengkonsumsi sayuran hijau

c. Menganjurkan ibu agar mengkonsumsi vitamin A dan pil zat besi selama 40 hari setelah bersalin. 5. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan bayinya a. Mengajarkan ibu bagaimana cara merawat tali pusat b. Mengajarkan ibu cara memandikan bayi c. Mengajarkan ibu teknik menyusui yang benar 6. Observasi proses involusi a. TFU pertengahan simpisis-pusat b. Lochea rubra c. Kontraksi uterus keras/baik 7. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu setelah persalinan

Kunjungan III tanggal 26 November 2006 (2 minggu post partum) S : Ibu mengatakan sudah tidak merasa pegal-pegal lagi setelah melahirkan. Ibu merasa sudah merasa segar, tidak pusing lagi, dan sudah bisa melakukan aktivitas sehari-hari walaupun masih dibantu keluarga. Ibu mengatakan ASI sudah keluar banyak dan bayi minum ASI secara adekuat.

O

:

Keadaan umum ibu sudah lebih baik. Ibu sudah berjalan-jalan sambil menggendong anaknya.

Rasa pegal-pegal sudah tidak dirasakan oleh ibu karena ibu sudah dapat melakukan rutinitas sehari-hari walaupun masih dibantu keluarga. TFU tidak teraba, kontraksi uterus baik

Lochea alba ASI sudah banyak keluar dan bayi minum ASI secara adekuat Tanda-tanda vital : TD : 120/80 mmHg RR : 18 x/menit : : Ibu dengan 2 minggu post partum Ibu sudah tidak merasa pegal-pegal lagi seperti setelah melahirkan, Ibu tampak segar dan kuat Daerah alat genitalia bersih : Senam nifas dan peningkatan gizi seimbang Pols : 80 x/menit

Suhu : 370C

osa

tuhan

P

:

1. Menjelaskan kondisi ibu saat ini sudah lebih baik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari walaupun masih dibantu 2. Mengajurkan ibu untuk tetap melakukan senam nifas dan cukup istirahat 3. Menganjurkan ibu untuk terus mengkonsumsi makanan yang bergizi 4. Mengajurkan ibu untuk memberikan ASI ekslusif 5. Berikan konseling KB dimana ibu dianjurkan ber KB setelah 6 minggu post partum a. Menjelaskan pada ibu bahwa metode ini dapat mencegah kehamilan b. Menjelaskan tentang keuntungan dan kekurangan penggunaan KB c. Menjelaskan cara menggunakan metode ini d. Memberitahu ibu kapan metode ini dapat mulai digunakan untuk wanita pasca persalinan yang menyusui 6. Mengobservasi proses involusi :

a. TFU tidak teraba b. Locha alba c. Kontraksi uterus keras/baik

DAFTAR PUSTAKA

rawirohardjo, Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawirohardjo (YBPSP)

rawirohardjo, Sarwono. 2005. Buku Acuan Nasional, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo (YBPSP)

suhan Post Partum. 2003. Pusdiknaskes / WHO / JHPIEGO

uku Pegangan Bagi Ibu Post Partum

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->