P. 1
Shalat Dalam Berbagai Keadaan

Shalat Dalam Berbagai Keadaan

|Views: 1,038|Likes:
Published by Irvandra Afren

More info:

Published by: Irvandra Afren on Jul 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2014

pdf

text

original

Shalat Dalam Keadaan Darurat Ibadah shalat merupakan ibadah yang tidak dapat ditinggalkan walau dalam keadaan

apapun. Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain seperti puasa, zakat dan haji. Jika seseorang sedang sakit pada bulan ramadhan dan tidak mampu untuk berpuasa, maka ia boleh tidak berpuasa dan harus menggantinya pada hari lain. Orang yang tidak mampu membayar zakat ia tidak wajib membayar zakat. Demikian pula halnya dengan ibadah haji, bila seseorang tidak mampu maka tidak ada kewjiban baginya. Shalat adalah ibadah yang wajib dilaksanakan bagi setiap muslim selama masih memiliki akal dan ingatannya masih normal. Kewajiban tersebut harus dilakukan tepat pada waktunya. Halangan untuk tidak mengerjakan shalat hanya ada tiga macam, yaitu hilang akal seperti gila atau tidak sadar, karena tidur dan lupa (namun demikian ada kewajiban mengqadha di waktu lain). Betapa pentingnya ibadah shalat ini, Rasulullah pernah bersabda : “Urusan yang memisahkan antara kita (orang-orang Islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Oleh sebab itu siapa yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah menjadi kafir.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Shalat Dalam Keadaan Sakit Orang yang sedang sakit harus tetap melakukan shalat lima waktu, selama akal atau ingatannya masih tetap normal. Cara melaksanakannya sesuai dengan kemampuan orang yang sakit tersebut. Jika ia tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika ia tidak mampu dengan duduk, boleh shalat dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Jika ia tidak mampu berbaring boleh shalat dengan terlentang dan isyarat. Yang termasuk dalam arti tidak mampu adalah apabila ia mendapatkan kesulitan dalam berdiri atau duduk, atau sakitnya akan bertambah apabila ia berdiri atau ia takut bahaya. Hal ini dijelaskan dalam hadits sebagai berikut : Dari Ali bin Abu Thalib ra. telah berkata Rasulullah SAW tentang shalat orang sakit : “Jika kuasa seseorang shalatlah dengan berdiri, jika tidak kuasa shalatlah sambil duduk. Jika ia tidak mampu sujud maka isyarat saja dengan kepalanya, tetapi hendaklah sujud lebih rendah daripada ruku;nya. Jika ia tidak kuasa shalat sambil duduk, shalatlah ia dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Jika tidak kuasa juga maka shalatlah dengan terlentang, kedua kakinya ke arah kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni). Shalat dalam Kendaraan Orang yang sedang berada dalam kendaraan mengalami situasi yang berbeda. Ada yang di dalam kendaraan itu bisa tenang seperti dalam kapal laut yang besar, adakalanya sesorang

tidak merasa nyaman seperti berada di dalam bis yang sempit. Untuk melakukan shalat di kendaraan ini tentunya di sesuaikan dengan jenis kendaraan yang ditumpanginya. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bagaimana cara sholat di atas perahu. Beliau bersabda : “Sholatlah di dalam perahu itu dengan berdiri kecuali kalau kamu takut tenggelam.” (HR. Ad-Daruquthni). Bila selama perjalanan (dengan kendaraan) itu masih dapat turun dari kendaraan, maka hendaknya kita melaksanakan sholat seperti dalam keadaan normal. Tetapi bila memang tidak ada kesempatan lagi untuk turun dari kendaraan seperti bila naik pesawat terbang, maka kita melakukan shalat di atas kendaraan itu. Hal ini dilakukan mengingat : 1. Shalat adalah ibadah yang wajib dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan baik secara normal atau dengan menjama‘. Sedangkan meninggalkan sholat walau dalam safar lalu mengerjakan bukan pada waktunya tidak didapati dalil/contoh dari Rasullullah. 2. Kendaraan di masa Nabi SAW adalah berupa hewan tunggangan (unta, kuda dan lainlain) yang dapat dengan mudah kita turun dan melakukan shalat. Bila dalam shalat wajib Nabi SAW tidak shalat di atas kendaraannya, maka hal itu karena Nabi melakukan shalat wajib wajib secara berjamaah yang membutuhkan shaf dalam shalat. Atau pun juga beliau ingin shalat wajib itu dilakukan dengan sempurna. 3. Sedangkan kendaraan di masa kini bukan berbentuk hewan tunggangan, tetapi bisa berbentuk kapal laut, kapal terbang, bus atau kereta api. Jenis kendaraan ini ibarat rumah yang berjalan karena besar dan sesorang bisa melakukan shalat dengan sempurna termasuk berdiri, duduk, sujud dan sebagainya. Dan meski tidak bisa dilakukan dengan sempurna, para ulama membolehkan shalat sambil duduk dan berisyarat. Selain itu kendaraan ini tidak bisa diberhentikan sembarang waktu karena merupakan angkutan massal yang telah memiliki jadwal tersendiri. 4. Tetapi bila kita naik mobil pribadi atau sepeda motor, maka sebaiknya berhenti, turun dan melakukan shalat wajib di suatu tempat agar bisa melakukannya dengan sempurna. 5. Sedangkan riwayat yang mengatakan bahwa Nabi tidak pernah shalat wajib di atas kendaraan juga diimbangi dengan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW berperang sambil shalat di atas kuda/ kendaraan. Tentunya ini bukan salat sunnah tetapi shalat wajib karena shalat wajib waktunya telah ditetapkan.

Kewajiban menegakkan shalat lima waktu berlaku di manapun dan bagaimanapun keadaannya, tidak ada rukhshah (keringanan) untuk meninggalkannya. Agama Islam pun telah menjelaskan tata cara shalat dalam berbagai kondisi darurat, seperti: 1.Dalam keadaan bahaya, seperti perang dan semisalnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Jika kalian dalam keadaan takut, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” (Al Baqarah: 239) 2.Dalam keadaan sakit. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ً َ ْ ِ ِ ْ َ َ ّ َِ ٍ َ َ ِ ْ َ َ ٍ ْ َ َ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ْ ِ َ ً ِ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ْ ِ َ ً ّ ّ َ ‫صل قائما فإن لم يستطع فقاعدا فإن لم يستطع فعلى جنب وفي رواية : وإل فأوم إيماء‬ “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu berdiri maka (shalatlah) dengan duduk, jika tidak mampu duduk maka (shalatlah) dengan berbaring.” (HR. Al Bukhari, dalam riwayat Al Baihaqi ada tambahan: “Jika tidak mampu berbaring maka cukup dengan isyarat.” ) 3.Dalam keadaan bersafar juga wajib melaksanakan shalat, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan bagi musafir (orang yang bepergian) untuk menjama’ (menggabungkan dua shalat dalam satu waktu) seperti menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ‘ashar di waktu zhuhur (jama’ taqdim) atau di waktu ‘ashar (jama’ ta’khir) dan juga seperti menjama’ shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan cara seperti semula. Dan juga diperbolehkan baginya untuk mengqashar (meringkas shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat seperti shalat isya’, zhuhur ataupun ‘ashar). 4.Dalam keadaan lupa atau tertidur. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ‫من نسي صلة أو نام عنها فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها‬ َ َ َ َ َ ِ َ َ َّ ُ ْ َ َ ُ َ ّ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ً َ َ َ ِ َ ْ َ “Barangsiapa yang lupa atau tertidur, maka kaffarahnya (tebusannya) adalah shalat pada waktu ia teringat (sadar).” (Muttafaqun ‘alaihi) 5.Tidak mendapat air untuk bersuci (wudhu’ atau mandi junub) atau secara medis tidak boleh menyentuh air, maka diberikan keringanan untuk bersuci dengan tanah/debu yang dikenal dengan tayammum. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Apabila kalian sakit atau sedang dalam bepergian (safar) atau salah seorang dari kalian kembali dari tempat buang air besar (selesai buang hajat) atau kalian menyentuh wanita (jima’) sedangkan kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah/debu yang baik (suci), (dengan cara) usapkanlah debu itu ke wajah dan tangan kalian, Allah tidak ingin memberatkan kalian, tetapi Allah ingin menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian. Semoga dengan begitu kalian mau bersyukur.” (Al Maidah: 6)

Jama’ Jama' antara dua shalat, pada waktu safar dibolehkan. Shalat yang boleh dijama' adalah shalat Dluhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan Isya. Rasulullah SAW bersabda: )447 ‫سنن أبي داود - )ج 3 / ص‬ َ ْ َ َ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ّ ْ َ َ َ ‫َ ُ َ ِ ْ ِ َ َ ٍ َ ّ َ ُ َ ّ َّ ّ ََ ْ ِ َ َّ َ َ َ ِ َ ْ َ ِ َ ُ َ إ‬ ‫عنْ معاذ بن جبل أن رسول ال صلى ال عليه وسلم كان في غزوة تبوك ِذا زاغت الشمس قبل أن يرتحل جمع بين‬ ُ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َِ ُ ْ ِ ِ ِ ْ َ ْ ِ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ْ َ ّ َ َ ْ ّ َ ّ َ ُ ْ ّ َ ِ َ ْ َ َ ْ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ّ ‫الظهر والعصر وإن يرتحل قبل أن تزيغ الشمس أخر الظهر حتى ينزل للْعصر وفي المغرب مثل ذلك إن غابت‬ ّ ُ ِ َ ِ ْ ِ َ ِ ْ َ ّ َ َ ِ ْ َ ْ َ ّ َ ُ ْ ّ َ ِ َ ْ َ َ ْ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َِ ِ َ ِ ْ َ ِ ِ ْ َ ْ َ ْ َ َ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ّ ‫الشمس قبل أن يرتحل جمع بين المغرب والعشاء وإن يرتحل قبل أن تغيب الشمس أخر المغرب حتى ينزل للعشاء ثم‬ ‫جمع بينهما‬ َ ُ َْ َ َ َ َ Artinya: Dari Muadz bin Jabal:"Bahwa Rasulullah SAW pada saat perang Tabuk, jika matahari telah condong dan belum berangkat maka menjama' shalat antara Dluhur dan Ashar. Dan jika sudah dalam perjalanan sebelum matahari condong, maka mengakhirkan shalat Dluhur sampai berhenti untuk shalat Ashar. Dan pada waktu shalat Maghrib sama juga, jika matahari telah tenggelam sebelum berangkat maka menjama' antara Maghrib dan 'Isya. Tetapi jika sudah berangkat sebelum matahari matahari tenggelam maka mengakhirkan waktu shalat Maghrib sampai berhenti untuk shalat Isya, kemudian menjama' keduanya" (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Shalat jama' terdiri dari dua macam, yaitu jama taqdiem dan jama' ta'khir. Jama' taqdiem adalah menggabungkan shalat antara shalat Dluhur dan Asar yang dilakukan pada waktu Dhuhur dan shalat Maghrib dan Isya' yang dilakukan pada waktu Maghrib. Sedangkan jama' ta'khir adalah menggabungkan shalat antara shalat Zhuhur dan Asar yang dilakukan pada waktu Ashar dan shalat Maghrib dan Isya' yang dilakukan pada waktu Isya'. Menurut Jumhur ulama’ selain Hanafiah berpendapat bahwa boleh menjama’ shalat dluhur dengan ’Ashar secara taqdiem pada waktu pertama (dluhur) dan ta’khir pada waktu yang kedua (ashar), shalat Maghrib dengan shalat Isya’ didalam safar yang panjang. Shalat Jum’at sama halnya dengan shalat Dluhur dalam jama’ taqdiem. Dan dalil-dalil yang berkaitan dengan shalat jama’ taqdim dan ta’khir, seperti hadis Mua’dz . ‫من حديث معاذ رضي ال عنه: أن النبي (ص) كان في غزوة تبوك إذا ارتحل بعد المغرب عجل العشاء فصمملها مممع‬ (‫المغرب ) رواه أحمد وأبو داود والترمذي وحسنه، والدارقطني والحاكم، والبيهقي وابن حبان وصححاه‬ Artinya; dari hadis muadz ra : Sesungguhnya Nabi saw pada perang Tabuk apabila melakukan perjalanan setelah Maghrib beliau mensegerakan shalat Isya’, lalu beliau melaksanakan shalat Isya’ bersama Maghrib. (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Daraqutni, Baihaqi, dan Ibnu Hibban dan ia menshahihkannya) Dan dalil-dalil tentang shalat jama’ ta’khir: Ada beberapa dalil yang berkaitan dengan shalat jama’ ta’khir, antara lain:

hadis Ibnu Umar. ‫ابن عمر فهو: أنه استغيث على بعض أهله، فجد به السير، فأخر المغرب حتى غاب الشفق، ثم نزل، فجمع بينهممما، ثممم‬ ّ ُ ‫أخبرهم أن رسول ال (ص ) كان يفعل ذلك إذا جد به السير) رواه الترمذي بهذا اللفممظ، ومعنمماه عنممد الجماعممة إل ابممن‬ ّ (‫ماجه‬ Artinya: dari Ibnu Umar, sesungguhnya ia dimintai pertolongan oleh salah seorang dari keluarganya, lalu ia bersungguh melakukan perjalanan, lalu ia mengakhirkan Maghrib sehingga tengelam cahaya kemerah-merahan, kemudia ia melaksanakan dan menjama’ keduanya. Kemudian ia mengkhabarkan kepada orang-orang bahwa Rasulullah melakukan itu apabila mendapati (bersungguh) melakukan perjalanan. (HR. Tirmidzi dengan lafadz ini) Safar Safar secara bahasa berarti: Melakukan perjalanan, lawan dari iqomah. Orangnya dinamakan musafir lawan dari muqim. Sedangkan secara istilah, safar adalah: Seseorang keluar dari daerahnya dengan maksud ke tempat lain yang ditempuh dalam jarak tertentu. Jadi seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu: Niat, keluar dari daerahnya dan memenuhi jarak tertentu. Jika seseorang keluar dari daerahnya tetapi tidak berniat safar maka tidak dianggap musafir. Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat musafir tetapi tidak keluar dari daerahnya maka tidak dianggap musafir. Begitu juga jarak yang ditempuh menentukan apakah seseorang dianggap musafir atau belum, karena kata safar biasanya digunakan untuk perjalanan jauh. (konsultasi syariah @syariahonline)

Rukhsoh Shalat Bagi Musafir Seorang musafir mendapatkan rukhsoh dari Allah swt dalam pelaksanaan shalat. Rukhsoh tersebut adalah: Mengqashar shalat yang bilangannya empat rakaat menjadi dua, menjama' shalat Zluhur dengan Ashar dan Maghrib dengan 'Isya, shalat di atas kendaraan, tayammum dengan debu/tanah pengganti wudhu dalam kondisi tidak mendapatkan air dll. Shalat Qashar Shalat qashar adalah shalat yang diringkas bilangan rakaatnya pada shalat fardlu yang mestinya empat rakaat dikerjakan dua rakaat saja. Shalat fardlu yang boleh diqashar hanya Dluhur, Ashar, dan ’Isya. Sedangkan Maghrib dan subuh tetap dikerjakan sebagaimana biasanya dan tidak boleh diqashar. Dalil Shalat Qashar Allah swt berfirman: ‫وإذا ضربتم في الرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلة إن خفتم أن يفتنكم ال مذين كف مروا إن الكممافرين كممانوا‬ ُ َ َ ِ ِ َ ْ ّ ِ ُ َ َ َ ِ ّ ُ ُ َ ِ ْ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ ْ ِ ِ َ ّ َ ِ ُ ُ ْ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُ ْ ََ َ ْ ََ ِ ْ َْ ِ ْ ُ ْ َ َ َ َِ (101) ‫لكم عدوا مبينا‬ ً ُِ ّ ُ َ ْ ُ َ

Artinya:"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu" (QS an-Nisaa' 101). Rasulullah SAW bersabda: ‫من حديث عائشة: ]فرضت الصلة ركعتين ركعتين، فأقرت صلة السفر، وزيد في صلة الحضر[ أخرجه الشمميخان‬ ‫في الصحيحين‬ Dari 'Aisyah ra berkata : "Awal diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar)"(Muttafaqun 'alaihi) Dari 'Aisyah ra berkata:" Diwajibkan shalat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan empat rakaat dan dibiarkan shalat safar seperti semula (2 rakaat)" (HR Bukhari) Dalam riwayat Imam Ahmad menambahkan : "Kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah shalat witir di siang hari dan shalat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut. Para ahli ilmu bersepakat untuk mengqashar shalat bagi musafir baik perjalanan yang wajib seperti haji, jihad, hijrah, dan umrah atau yang mustahab seperti mengunjungi saudara, menjenguk orang sakit, berkunjung ke salah satu dari dua mesjid; mesjid Madinah dan Aqsha’, mendatangi orang tua atau yang mubah seperti, tamasyah, pertunjukan (show), perdagangan atau yang dimakruhkan Hukum Qashar Dengan ungkapan bahwa apakah seorang musafir diharuskan menqashar secara syar’i atau hanya berupa pilihan antara qashar dan menyempurnakan (itmam), kemudian manakah yang lebih baik antara qashar dan tidak (itmam) Beragam pendapat para Fuqaha tentang hal ini, diantaranya adalah wajib, sunah, dan rukhsoh yang dipilih seorang musafir. Hanafiah berpendapat bahwa qashar adalah wajib-azimah. Diwajibkan di setiap shalat yang beraka’at empat untuk mengqashar menjadi dua raka’at, tidak boleh menambahnya dengan sengaja. ‫وحديث ابن عباس: ]فرض ال الصلة على لسان نبيكم في الحضر أربع ركعات، وفي السفر ركعممتين، وفممي الخمموف‬ ‫ركعة[ أخرجه مسلم‬ Dari Ibnu ’Abbas ra berkata : "Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian pada shalat hadhar (tidak safar) empat rakaat, dan di dalam safar dua rakaat (4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar)". (HR Muslim) Malikiyah berpendapat atas pendapat yang paling masyhur dan paling rajih; bahwa qashar itu sunah muakkad karena perbuatan Nabi, karena Nabi di dalam safar-safarnya selalu tidak menyempurnakan shalat atau mengqashar.

Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa qashar itu rukhsoh atas pilihan, artinya boleh menyempurnakan dan mengqashar, tapi mengqashar lebih baik secara mutlaq menurut Hanabilah dan syafi’iyah atas pendapat yang masyhur lebih baik menyempurnakan apabila terdapat pada dirinya kesusahan (tidak tenang) apabila qasharnya. (Fiqh Islam: 1339-1340) Hikmah Disyariatkan Qashar. Hikmah adanya shalat qashar bagi musafir adalah untuk menolak atau menghindari kesulitan yang terkadang dihadapi musafir di perjalanan. Dan sebab disyariatkannya qashar adalah karena dalam perjalanan yang panjang menurut Jumhur selain Hanafiyah. Jarak Qashar Seorang musafir dapat mengambil rukhsoh shalat dengan mengqashar dan menjama' jika telah memenuhi jarak tertentu. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: Dari Yahya bin Yazid al-Hana'i berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar ? "Anas menjawab:" Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat" (HR Muslim) Artinya: Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda:" Wahai penduduk Mekkah janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan" (HR atTabrani, ad-Daruqutni, hadis mauquf) "Dari Ibnu Syaibah dari arah yang lain berkata:" Qashar shalat dalam jarak perjalanan sehari semalam" "Adalah Ibnu Umar ra dan Ibnu Abbas ra mengqashar shalat dan buka puasa pada perjalanan menepun jarak 4 burd yaitu 16 farsakh". Ibnu Abbas menjelaskan jarak minimal dibolehkannya qashar shalat yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 M sehingga 16 Farsakh = 88,656 km. Dan begitulah yang dilaksanakan sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sedangkan hadis Ibnu Syaibah menunjukkan bahwa qashar shalat adalah perjalanan sehari semalam. Dan ini adalah perjalanan kaki normal atau perjalanan unta normal. Dan setelah diukur ternyata jaraknya adalah sekitar 4 burd atau 16 farsakh atau 88,656 km. Dan pendapat inilah yang diyakini mayoritas ulama seperti imam Malik, imam asy-Syafi'i dan imam Ahmad serta pengikut ketiga imam tadi. Kesimpulan: Jarak dibolehkannya seseorang mengqashar dan menjama' shalat, menurut jumhur ulama; yaitu pada saat seseorang menempuh perjalanan minimal 4 burd atau 16 farsakh atau sekitar 88, 656 km. (Konsultasi Stariah @syariahonline) Lama Waktu Qashar Jika seseorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan bertekad tinggal disana maka dia dapat melakukan qashar dan jama' shalat. Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafi'i adalah 4 hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah

melewati 4 hari ia harus melakukan shalat yang sempurna. Adapaun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar. Berkata Ibnul Qoyyim:" Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat". Disebutkan Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari:" Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna".

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->