P. 1
ai_edisi_19

ai_edisi_19

|Views: 154|Likes:
Published by Kitty N Fam

More info:

Published by: Kitty N Fam on Jul 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

a k u n t a n

i n d o n e s i a mitra dalam perubahan

Edisi No.19/Tahun III/Agustus 2009

Harga Rp. 20.000,- (Pulau Jawa) Rp. 22.500,- (Luar Jawa)

Globalisasi Profesi Akuntansi: Sudah Dimulai
Bagaimana Menghadapi AFTA/AFAS 2015? Peran Akuntan dalam Krisis Keuangan Merger!

desain 19_rabu.indd 1

8/10/2009 11:3:2 AM

ai
Dewan Penasehat
Drs. Zaenal Soedjais Drs. Soedarjono Prof. Dr. Zaki Baridwan, MSc. Drs. Hans Kartikahadi Prof. Dr. Wahjudi Prakarsa Drs. Ahmadi Hadibroto, MSc. Ali Darwin, Ak., MSc. Drs. Atjeng Sastrawidjaja Prof. Dr. Djoko Susanto, MSA. Dr. Ainun Na’im, MBA., Ak. Sunardji, SE., MM. Dra. Tia Adityasih Dr. Ilya Avianti, SE., MSi., Ak. Drs. Mustofa Dr. Suyatno Harun

a k u n t a n
i n d o n e s i a

mitra dalam perubahan

VISI & MISI IAI
Misi IAI a. Memelihara integritas, komitmen, dan kompetensi anggota dalam pengembangan manajemen bisnis dan publik yang berorientasi pada etika, tanggungjawab, dan lingkungan hidup; b. Mengembangkan pengetahuan dan praktek bisnis, keuangan, atestasi, nonatestasi dan akuntansi bagi masyarakat; dan c. Berpartisipasi aktif dalam mewujudkan good governance melalui upaya organisasi yang sah serta dalam perspektif nasional dan internasional.

Visi IAI Menjadi organisasi terdepan dalam pengembangan pengetahuan dan praktek akuntansi, manajemen bisnis dan publik yang berorientasi pada etika dan tanggungjawab sosial serta lingkungan hidup dalam perspektif nasional dan internasional.

Indarto Istini T. Siddharta Jhonny Darmawan Jusuf Halim Kuswono Soeseno Sandiaga S. Uno Siti Ch Fadjrijah Wahyu Karya Tumakaka

Unti Ludigdo

BPH-KUKK
Mirawati Sudjono, Ak., MSc. Bambang Utoyo, Ak. Bramantyo Rakhmat Adi Santosa Retno Wulandari Dra. Suhartati Suharso Ujiani Purnamaningsih

Drs. Nurdiono, SE., MM., Akt. Ketua Wilayah Lampung Hardy Djamaluddin Ketua Wilayah Riau Eddy Rachman Ketua Wilayah Sulawesi Selatan Drs. Herman Karamoy Ketua Wilayah Sulawesi Utara Drs. Endang Irzal, MBA., Ak. Ketua Wilayah Sumatra Barat Abdul Aziz Nazori Ketua Wilayah Sumatra Selatan Gus Irawan, SE., Ak. Ketua Wilayah Sumatra Utara

Dewan Pengurus Nasional

DSAK
Rosita Uli Sinaga Agus Edy Siregar, SE. Dr. Etty Retno Wulandari Eddy Rasyid Liau She Jin Jumadi, SE., Ak., BAP. Merliyana Syamsul Roy Iman Wirahardja Dr. Meidyah Indreswari Riza Noor Karim Budi Susanto Ferdinan D Purba Irsan Gunawan Ludovicus Sensi Wandabio Saptoto Agustomo Dr. Setiyono Miharjo

KERPPA
Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA., Ak. Dr. Hilda Rossieta Drs. Indarto Ito Warsito, Ak., MBA. Dr. Sumarno Zain, MBA., Ak

Syafri Adnan Baharuddin, Ak., MBA.

Ketua Wilayah
M. Hasbuh Aziz Ketua Wilayah Aceh Drs. Anggiat Situmorang, Ak. Ketua Wilayah Bali Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma., MBA., Ak. Ketua Wilayah Yogyakarta J. Widodo H. Mumpuni Ketua Wilayah Jakarta Drs. Johnson P. Siahaan Ketua Wilayah Irian Jaya Tanusi, SE., MM., Ak Ketua Wilayah Jambi Roebiandini Soemantri, SE., MSi., Ak. Ketua Wilayah Jawa Barat Prof. Dr. Tjiptohadi Sawarjuwono Ketua Wilayah Jawa Timur Drs. Aan Adiwisastra Ketua Wilayah Jawa Tengah Cris Kuntadi, SE., MM., BAP., Ak. Ketua Wilayah Kalimantan Barat Leo Lendra, MAk., Ak. Ketua Wilayah Kalimantan Selatan Drs. Triadi Jatmoko Ketua Wilayah Kalimantan Timur

Majelis Kehormatan
Drs. Kanaka Puradiredja Drs. Safaat Widjajabrata B. Hartono, SH., SE., Ak., MH. Supriyadi VJH. Boentaran Aep Saefuddin Rizal Drs. Eddie M. Gunadi

Dewan Konsultatif
Herwidayatmo Arif Arryman Bambang Setiawan Bambang Subianto Erry Firmansyah Henry Lumban Toruan I Gusti Agung Made Rai

Komite Etika
Agung Nugroho Soedibyo Wawat Sutanto Linus M. Setiadi Setiawan Kriswanto Wiwik Utami Sally Salamah Suyatno Harun Syarief Basir

desain 19_rabu.indd 2

8/10/2009 11:3:26 AM

Majalah Akuntan Indonesia (AI) edisi ke-19 ini terbit pada bulan Agustus 2009, bulan penuh semangat perjuangan, baik berjuang melewati krisis keuangan global maupun berjuang menghadapi globalisasi yang tidak dapat dihindari lagi. Perjalanan AI mulai edisi pertama sampai dengan edisi ke-18 bukanlah perjalanan mudah, melainkan perjalanan penuh perjuangan, dan berkat perjuangan Ellya Noorlisyati maka AI tetap eksis sampai sekarang. Kini, tongkat estafet telah bergulir, regenerasi dimulai, perjuangan harus dilanjutkan. Terima kasih kepada para pejuang terdahulu, mari dukung para pejuang berikutnya. AI edisi ke-19 adalah milestone, perjalanan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. AFTA dan AFAS 2015 sudah di depan mata, suka ataupun tidak suka, globalisasi profesi akuntansi sudah dimulai. Para akuntan Indonesia di berbagai sektor, akuntan publik, akuntan manajemen/ perusahaan, akuntan pendidik, maupun akuntan pemerintah (auditor eksternal dan/atau internal pemerintah) perlu bergabung agar dapat berkompetisi dengan akuntan asing. Semoga AI dapat menjadi pemersatu dan penyemangat para akuntan Indonesia. Bulan Agustus 2009 akan menjadi bulan perjuangan pula bagi umat Islam, yaitu perjuangan menghadapi hawa nafsu dan lapar/dahaga selama bulan Ramadhan. Mari kita awali Ramadhan dengan hati yang bersih, maafkan segala kesalahan, dan bersatu-padu kita berbuat kebaikan. Dewan Redaksi AI dan seluruh Pengurus IAI mengucapkan selamat membaca AI edisi ke-19 ini, memohon maaf apabila ada kesalahan, dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat Islam, serta sukses untuk kita semua. Salam Redaksi

ai

PENGANTAR REDAKSI
Globalisasi Profesi Akuntansi
Foto Penulis

SuSunan RedakSi
pemimpin umum & uSaha J. Widodo. h. mumpuni pemimpin RedakSi handoko tomo RedaktuR pelakSana monalisa deWan RedakSi Cris kuntadi, Sri penny S, Bagus Rumbogo, heliantono, nur iskandar, m. Yusuf John, prianto Budi, ahalik, m. Yasin mustopa, Rina Y. asmara, duma i. pasaribu, florus daeli, freddy, elly Zarni, Sri Yanto, Jan hoesada SekRetaRiS RedakSi imam Basori maRketinG Ria RepORteR M., Zubi Mahrofi SiRkulaSi Suka

alamat RedakSi kantor iai Wilayah Jakarta, Gedung Gajah Blok ae Jl. dr. Saharjo no.111 tebet, Jakarta Selatan 12810, indonesia telephOne 021 837 07344, 8353588 faximile 021 829 0324 email akuntanindonesia@yahoo.com RekeninG BCa cabang tebet Saharjo a/C no. 092.3009130 a/n iai Wilayah Jakarta

Opini yang diekspresikan dalam akuntan indOneSia tidak merepresentasikan pandangan ikatan akuntan indonesia. ikatan akuntan indonesia atau editor tidak bertanggungjawab atas ketidakakuratan dari pernyataan, opini atau saran yang terdapat dalam tulisan maupun pariwara.

desain 19_rabu.indd 3

8/10/2009 11:3:26 AM

Daftar Isi

Laporan Utama Akuntan dianggap Berperan Mengawal dan Mencegah Krisis Keuangan, Mengapa? Tokoh: Ito Warsito

KORESPONDEN

13 17

IAI Wilayah Sulawesi Utara Coco Departement Store Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 458 Tlp 0431-822009 Fax 0431-852963

ai

IAI Wilayah Kalimantan Barat KAP. Sardjono, Budi Sudarnoto Jl. Purnama No. 168 A Tlp 0561-763368 IAI Wilayah Riau Jl. Durian No. 1F Samping pemancar TVRI, Labu Baru Pekanbaru 28291 Tlp 0761-22769 Fax 0761-63268 IAI Wilayah Jawa Timur Bapak Tjiptohadi Sawarjuwono Jl. Ngabel No. 143 D Surabaya 60246 Tlp 031-5021125 IAI Wilayah Jambi BPKP Perw. Jambi Jl. HOS Cokrominoto No. 107 Jambi Tlp 0741-61682 IAI Wilayah Sumatera Barat BPKP Perw. Sumatera Barat Jl. HR. Rasuna Said No. 69 Padang 24114 Tlp 0751-33898 Fax 0751-31688 IAI Wilayah Jawa Tengah BPKP Perw. Jawa Tengah Jl. Raya Semarang, Kendal Km 12 Semarang 50138 Tlp 024-8663207 IAI Wilayah DI. Yogyakarta STIE YKPN Jl. Senturan Yogyakarta 55281 Tlp 0274-584321 Hp 0813-28379369 (Awan ) email : iaijogja@yahoo.com IAI Wilayah Jawa Barat LPAP Widyatama Jl. Cikutra No. 204 A Bandung 40125 Tlp. 022-7206713 IAI Wilayah Sumatera Utara Jl. Imam Bonjol No. 18 Medan 20152 Tlp 061-4155100 IAI Wilayah Sumatera Selatan Jl. Veteran/Vandi Angsoko I No. 324 Palembang 30125 Tlp 0711-319876 IAI Wilayah Kalimantan Selatan BPKP Perw. Kalimantan Selatan Jl. Jend. Gatot Subroto No. 22 Banjarmasin Tlp 0511-3251409 IAI Wilayah Kalimantan Timur Jl. Ir. Hr. Juanda No. 94 Rt.7 Rw.3 Kel. Air Hitam Samarinda 75124 Tlp 0541-748442 TB Gramedia TB Gunung Agung TB Kharisma

22

Kolom Pasar Modal: Efficient Market Hypnothesis vs Behavioral Finance 26 Info: Rosita Uli Sinaga sebagai Ketua DSAK yang baru Peluncuran Standar Akuntansi Syariah dan Standar Akuntansi ETAP Khas Akuntan: Menyelamatkan Hutan Indonesia dengan Pendekatan Akuntansi Pengaturan Konsesi Jasa Infrastruktur Opini: Menyimpanglah dari PSAK Konsultasi Sektor Publik Kolom Pajak Kolom IFRS International
IFAC RECOMMENDATION FOR THE G20 NATIONS

28 32

34 38

44 46 50 52 56 60

Selingan

desain 19_rabu.indd 

8/10/2009 11:3:27 AM

Apa Kata

Mereka ?

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta
“Kalau kita buat acara bertema akuntansi, majalah AI harus jadi sponsor kami ya......??”

ai : “maunya.....”

Abriandi, SE, Ak, MM Koordinator Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA)- STIE SUPRA
“IAI mesti lebih banyak melakukan sosialisasi akan keberadaan majalah AI, karena banyak para mahasiswa PPA yang belum berlangganan majalah ini, padahal isinya sangat membantu menambah wawasan di bidang akuntansi, apalagi isu yang dibahas selalu up to date........”

ai : “makasih atas sarannya”

Staff BPK
“kami juga baca”

ai : “hayoo...bacanya di perpustakaan BPK atau sudah berlangganan?”

Akuntan Indonesia
5

ai

desain 19_rabu.indd 

8/10/2009 11:3:30 AM

ai
Audiensi IAI dengan Keuangan Mengenai Accountancy Summit Menteri G-20
prinsip corporate governance OECD, 3. Perlunya pengembangan dan penyebarluasan panduan implementasi atas semua standar global yang akan diadopsi/diterapkan, 4. Perlunya dibangun suatu standar kompetensi internasional bagi pejabat keuangan senior yang menangani kepentingan entitas publik. 5. Memperbaiki 1enterprise management system dan renumerasi di perusahaan, material. Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melaksanakan audiensi dengan Dr. Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Selasa 14 Juli 2009. Pertemuan dilaksanakan dalam rangka melaporkan rencana kehadiran IAI pada G-20 Summit Accountancy yang akan dilaksanakan International Federation of Accountants (IFAC) di London pada tanggal 23-24 Juli 2009. G-20 Accountancy Summit dilaksanakan untuk membahas masukan profesi akuntansi yang akan disampaikan menjelang pertemuan G 20 September mendatang dalam rangka memperkuat sistem keuangan global. IAI sebagai anggota IFAC yang merupakan Negara anggota G-20 akan hadir menyampaikan presentasi pada acara G-20 Accountancy. G-20 atau Kelompok 20 ekonomi utama adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa. Secara resmi G-20 dinamakan The Group of Twenty (G20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Dua Puluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral. Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isuisu penting perekonomian dunia. KTT G-20 dilangsungkan pada 2-4 April di London. Tujuannya adalah membahas tindakan agar ekonomi global cepat keluar dari krisis. Dalam pertemuan di London tersebut, terdapat rekomendasi yang terkait dengan dunia akuntansi antara lain perlunya suatu standar akuntansi internasional yang berlaku secara global untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. IFAC sendiri telah menyampaikan 8 butir rekomendasi untuk merespons working Group 1 G-20 yaitu: 1. Perlunya adopsi International Standards on Auditing, 2. Mengadopsi dan mengimplementasikan

Berita
“BPK telah dapat menerima setelah Depkeu memberikan dokumen lain yang membuktikan bahwa (Notice of Payment), misalnya dari IDB yang telah cocok dengan data DJPU (Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang). Konfirmasi yang diperlukan dari kreditur lain terkait hal ini, saat ini sedang dalam proses,” paparnya. Dikatakan Rahmat, penyebab BPK memberikan opini disclaimer terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2008 bukan disebabkan oleh outstanding Utang Luar Negeri yang diragukan kebenarannya. “Ketika itu, hanya tinggal masalah rekonsiliasi internal Depkeu saja yaitu pencocokan catatan data cash flows dari utang di Ditjen Perbendaharaan dengan data outstanding utang DJPU,” jelasnya. Saat ini rekonsiliasi sedang berlangsung dan nampaknya tidak akan ada perbedaan sama sekali. “Sedangkan data bunga BA-061 tentang pembayaran bunga utang dalam LKPP 2007 dan 2008 telah WTP. Dengan demikian, outstanding utang luar negeri yang dijadikan dasar pembayaran bunga utang luar negeri sudah dinilai benar secara resmi oleh pimpinan BPK,” pungkas Rahmat. Kasubdit Litbang Pemeriksaan Keuangan dan Kinerja BPK Bachtiar Arif sebelumnya menyatakan, BPK meragukan jumlah utang luar negeri pemerintah.

risk skema

6. Melakukan advokasi pelaksanaan model tata kelola yang berkualitas tinggi untuk semua institusi internasional yang menetapkan peraturan di bidang keuangan, 7. Mengadopsi Internasional Public Sector Accounting Standards, serta Mengakui pentingnya sektor usaha kecil dan menengah.

p e r u b a h a n

Depkeu Bantah BPK Soal Pencatatan Utang Amburadul
Jakarta - Departemen Keuangan membantah pencatatan utang luar negeri tidak benar atau tidak sesuai. Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan pernyataan pencatatan utang luar negeri pemerintah diragukan dari BPK menyimpang dari keputusan Pimpinan BPK. Dalam suratnya tanggal 24 Juni, BPK menyampaikan bahwa LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) atas Laporan Keuangan BA/Bagian Anggaran 096 tentang pembayaran pokok utang luar negeri tanggal 31 Desember 2008, telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai SAP atau WTP/wajar tanpa pengecualian. “Artinya, jumlah outstanding utang luar negeri yang menjadi dasar pembayaran pokok utang luar negeri sudah benar,” tuturnya kepada wartawan di Jakarta pekan lalu. Rahmat mengatakan, memang terdapat tiga pinjaman yang masih dalam rekonsiliasi (dari 110 kreditur), yaitu IDB, Belgia, dan CIDA, yang jumlahnya tidak
AKUNTAN

m i t r a

d a l a m

Subsidi BBM dan Elpiji APBNP 2009 Disepakati Turun Rp 5,213 T
Jakarta - Besaran subsidi BBM dan elpiji dalam APBN-P 2009 disepakati turun menjadi Rp 52,392 triliun dari sebelumnya Rp 57,605 triliun di APBN 2009 atau turun Rp 5,213 triliun. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa dalam rapat kerja dengan Menteri Keuangan dan Bank Indonesia di Gedung DPR, Senayan, Jakarta pekan lalu. “Dalam subsidi BBM dan elpiji telah diperhitungkan carry over sebesar Rp 2,926

6
desain 19_rabu.indd 6

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:3:30 AM

ai
triliun ke tahun 2010,” ujarnya. Secara keseluruhan subsidi energi dalam RAPBN-P 2009 disepakati turun menjadi Rp 99,938 triliun dari Rp 103,568 triliun di APBN 2009 dengan rincian : Subsidi BBM dan elpiji turun dari Rp 57,605 triliun menjadi Rp 52,392 triliun. Subsidi listrik turun dari Rp 45,963 triliun menjadi Rp 47,546 triliun. “Dalam subsidi listrik telah diperhitungkan carry over sebesar Rp 8,36 triliun ke tahun 2010 dengan marjin yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan investasi PLN. Pembayaran subsidi energi sesuai dengan realisasi,” tuturnya.

Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah Digelar
JAKARTA - Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menggelar Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah (USAS) serentak di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Yogyakarta, serta Surabaya. USAS merupakan ujian pertama dan satu-satunya yang diselenggarakan di Indonesia untuk mengukur kemampuan atau kompetensi peserta terhadap pemahaman ilmu akuntansi syariah. “USAS merupakan suatu strategi pengembangan keilmuan dan keahlian akuntansi syariah dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia,” sebut keterangan tertulis yang dikirim IAI, Jakarta pekan lalu. Dewasa ini pertumbuhan lembaga syariah terus menunjukkan peningkatan yang pesat dan menjanjikan prospek yang cerah di masa datang. Hal itu dapat dibuktikan bahwa saat ini perbankan syariah dan produkproduknya telah beredar luas di masyarakat. Asuransi syariah serta reksadana syariah juga sudah mulai bermunculan, ditambah dengan munculnya indeks syariah. “IAI sebagai satu-satunya organisasi profesi yang memiliki mandat dan kewenangan menetapkan standar akuntansi syariah merasa sangat berkewajiban dalam mengantisipasi tuntutan perkembangan dunia usaha berbasis syariah dengan mencetak tenaga-tenaga profesional yang handal di bidang akuntansi syariah,” urai IAI. USAS dapat dijadikan alat ukur standar kualitas bagi lembaga atau institusi yang ingin mendapatkan SDM, serta dijadikan persyaratan untuk memasuki bidang profesi tertentu yang bergerak di bidang akuntansi syariah. Peserta yang berhasil lulus menempuh seluruh mata ujian USAS yaitu mulai dari tingkat elementary, intermediate, dan tingkat advance nantinya akan menyandang gelas “SAS” (Sertifikasi Akuntansi Syariah). USAS dapat diikuti oleh seseorang
AKUNTAN

yang memiliki gelar Strata 1 (sarjana)/ Diploma IV (D-IV) untuk jurusan apapun tanpa kecuali. Pada ujian kali ini, jumlah peserta tingkat elementary sebanyak 66 orang, sedangkan tingkat intermediate berjumlah 26 orang yang memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam, yaitu berasal dari kalangan perbankan, asuransi, akademisi, akuntan publik, serta praktisi lembaga keuangan syariah lainnya.

PENDIDIKAN SAHAM BAIKNYA DI PERKENALKAN SEJAK SD
Pengetahuan mengenai saham sebaiknya mulai diperkenalkan di sekolah dasar (SD) agar ada ketertarikan sehingga ketika dewasa tak asing lagi dengan dunia pasar modal. Demikian dikatakan Dirut ICapital Internasional Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, pekan lalu. “Untuk anak SD, pelajaran pasar modal mungkin masih agak sulit, tetapi tidak menutup kemungkinan karena anak zaman sekarang sudah pintar-pintar seiring perkembangan teknologi. Karena di luar negeri itu pasar modal sudah diperkenalkan sejak dini, kita contoh kesana,” katanya. Menurut dia, praktisi saham dapat menjadi guru tamu di sekolah dasar atau SMP untuk mengenalkan pasar saham, sehingga pada saat murid menjadi mahasiswa sudah dapat menganalisanya. Perkembangan pasar modal di suatu negara mencerminkan perekonomian negara tersebut. Di negara yang ekonominya sudah maju, pasti pasar saham dan pasar uangnya maju, seperti di Amerika,” tuturnya. Direktur Pengembangan Usaha BEI, Frederica Widyasari Dewi mengatakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana memberikan program pendidikan pasar modal ke dalam kurikulum pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU). Selama ini, pengenalan masyarakat terhadap pasar modal sangat minim, katanya. Frederica menambahkan, dalam rangka menggaet 2 juta investor dari ratarata penduduk Indonesia dalam tiga tahun ke

Jelang Puasa, Pemerintah Kembali Gelar Pasar Murah Sembako
Jakarta - Pemerintah akan kembali menggelar pasar murah untuk produkproduk kebutuhan pokok. Pergelaran pasar murah ini bertujuan untuk meringankan beban belanja masyarakat saat memasuki bulan puasa dan lebaran mendatang. Direktur Bina Pasar Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Jimmy Bela mengatakan pihaknya telah mendorong para dinas perindustrian dan perdagangan di daerah untuk melaksanakan pasar murah. “Yang akan melaksanakan Dinas Perindag masing-masing daerah,” kata Jimmy saat ditemui di kantor Kadin, Jakarta pekan lalu. Ia juga menegaskan, operasi pasar belum diperlukan menghadapi harga gula yang sekarang ini relatif tinggi. Yang perlu dipertimbangkan baru sebatas pasar murah yang bukan hanya mencakup gula tapi juga produk lainnya. “Kalau ada operasi pasar justru akan memancing pasar,” kilahnya. Dikatakannya masalah harga gula yang saat ini masih dianggap tinggi, sejatinya sudah turun karena harga ditingkat lelang sudah mencapai Rp 6.300 per kg, artinya jika di tingkat konsumen hanya berada di kisaran Rp 7.300 per kg.

MAJALAH

INDONESIA

7
8/10/2009 11:3:31 AM

desain 19_rabu.indd 7

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai
depan, pihak bursa efek sedang menggalang kerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. “Target awal pendidikan pasar modal ini akan dimasukan ke dalam kurikum SMU. Pertimbangan masuk ke dalam kurikum SMU agar anak didik diberi bekal dan mengenal seluk-beluk pasar modal dengan lebih baik. Dengan itu pasar modal akan semakin di kenal masyarakat bawah,” kata Frederica. pada 25 Juli mendatang. “Setelah itu, baru menunggu hasil audit untuk diumumkan ke masyarakat,” katanya. IAI Goes to Campus STEKPI IAI Wilayah Jakarta kali ini menjadi media partner acara Creative Accounting VS Tax Planning di STEKTPI, acara seminar ini dibawakan oleh Dr. Jan Hoesada dan Prianto Budi S. Yang mempresentasikan company profile IAI adalah Ahmad Ishomuddin salah satu Manajemen Eksekutif IAI.

Berita
institute, CIMA offers an internationally recognised qualification in management accountancy and has 171,000 members and students in 165 countries. CIMA’s professional qualification is highly relevant to today’s fastpaced business environment and equips its members to work anywhere in the world. CIMA also offers a Certificate in Islamic Finance, which counts HSBC Amanah as its supporting partner. It believes that this will be of particular interest as Indonesia leads in this area. Andrew Harding, CIMA Director, said, ““Indonesia is a dynamic country that is growing in prosperity and has strong economic prospects. CIMA sees Indonesia as an important economy, and as such we are delighted to be signing a Memorandum of Understanding with the Institut Akuntan Manajemen Indonesia today. “By entering into the MoU, CIMA aims to meet the needs of local employers, members and students. We further wish to offer our support to reforms in the tertiary education sector that are being led by the Director General of Higher Education under the Ministry of National Education, Indonesia. “CIMA compliments the Ministry of National Education, Indonesia, in its determination to upgrade the levels of both its vocational and tertiary education sectors to be on a par with, not only its neighbouring countries, but also with the rest of the world”. Among various educational developments being proposed, the Ministry of National Education in Indonesia is planning to reserve certain tertiary level courses for those with a master’s degree. In the United Kingdom, the CIMA qualification is recognised in both the public and private sector as equivalent to a master’s degree.

10 Akuntan Publik Ikuti Tender Untuk Audit Dana Kampanye
JAMBI - Sebanyak sepuluh kantor akuntan publik (KAP) mengikuti tender di KPUD Provinsi Jambi untuk mengaudit laporan penerimaan dan pengeluaraan dana kampanye Pilpres 2009 di Kota Jambi. Dari sepuluh KAP, hanya tiga yang akan ditunjuk. Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat KPUD Provinsi Jambi Indiarto Priadi mengatakan, ada sepuluh KAP yang telah mendaftarkan diri. Menurut rencana sepuluh KAP itu akan diseleksi menjadi tiga dan ditunjuk untuk mengaudit dana kampanye. “Siang nanti sepuluh KAP kita kumpulkan, mudahmudahan bisa langsung dipastikan,” ujarnya di kantor KPUD Provinsi Jambi. Terpisah, KPUD provinsi Jambi kemarin juga menggelar pertemuan dengan tim kampanye daerah (kamda) Provinsi Jambi. Pertemuan itu merupakan bagian dari bimbingan dan teknis yang diberikan dalam pelaporan dana kampanye ke KPUD. Pertemuan dihadiri tiga tim kampanye cawapres di Provinsi Jambi. Sesuai Peraturan KPU Nomor 50 Tahun 2009, Pokja Kampanye KPUD Provinsi Jambi Azhar Mulia mengatakan, penyampaian laporan dana kampanye diserahkan ke KPP paling lambat 14 hari setelah tanggal masa kampanye berakhir. “Masa akhir kampanye 4 Juli, berarti batas akhirnya 18 Juli,” ujarnya. Selain itu, penyampaian laporan ke kantor akuntan publik paling lambat tujuh hari setelah KPUD menerima laporan. Dengan demikian, KPUD wajib menyerahkannya

p e r u b a h a n

CIMA joins forces with IAMI in meet global business needs

Indonesia to

d a l a m

m i t r a

The prestigious international professional body CIMA (Chartered Institute of Management Accountants) will today (3 June 2009) make its presence felt in Indonesia by signing a Memorandum of Understanding (MoU) with the Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI). The signing ceremony will take place today at the Grand Melia Hotel in Jakarta, Indonesia. The signing of the MoU between these two important institutes represents a significant collaboration, coming at a time when there is an increasing need for international finance and management professionals in Indonesia and throughout the Asia-Pacific region. The partnership reflects both parties’ desire to promote management accountancy and support sustainable business and careers in Indonesia. Through their collaboration, CIMA and the IAMI will work to further develop the profession in Indonesia by providing the finance and management skills needed to help drive this important economic market forward. As the leading global professional
AKUNTAN

8
desain 19_rabu.indd 8

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:3:33 AM

desain 19_rabu.indd 9

8/10/2009 11:3:3 AM

Reuni
“Lulusan terbaik Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) UI angkatan pertama ini adalah Learning Partner di Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan, member dari Deloitte sejak tahun 2005-sekarang. Beliau berhasil lulus dalam ujian CIA dan CPA hanya dalam satu kali ujian di tahun 2004, tidak heran apabila program PPA dan Magister Akuntansi UI dan Trisakti mempercayakan beliau sebagai salah satu dosen andalannya. Pak Djoko (begitu panggilannya) juga aktif di IAI sebagai anggota Dewan Standar Profesi Akuntan Publik serta anggota Badan Review Mutu dan masih banyak lagi keikutsertaan beliau di kegiatan profesi akuntan. Harapan beliau : Agar lebih banyak lagi lulusan jurusan Akuntansi yang mengambil program pendidikan profesi dan mengikuti ujian sertifikasi profesi agar kualitas akuntan Indonesia dapat meningkat dalam menghadapi era globalisasi akuntansi dan audit”t

T h eo d o r u s D j o ko Sutrisno, SE, Ak, MM, CIA, CPA

“Biasa dipanggil pak Sinar, beliau adalah partner di Kantor Akuntan Publik Noor Salim, Nursehan & Sinarahardja dan Kantor Konsultan Pajak Sinarahardja. Bersama para rekan yang lain, selain beroperasi di Jakarta , kantor konsultan pajak beliau juga beroperasi di Cirebon guna memenuhi permintaan akan jasa perpajakan di daerah selain memang Cirebon adalah tanah kelahiran beliau. Pak Sinar juga merupakan salah satu pendiri Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) STIE SUPRA Jakarta dan beliau aktif mengajar sampai sekarang. Pak Sinar adalah alumni jurusan akuntansi universitas Gadjah Mada tahun 1988” Pesan beliau : “Program PPA dan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik jangan dianggap suatu hambatan, tetapi pandanglah sebagai suatu ujian yang akan meningkatkan mutu akuntan Indonesia”

Drs. Sinarahardja Djana, Ak, CPA. MM, BKP

ai

10
desain 19_rabu.indd 10 8/10/2009 11:3:3 AM

Reuni
Pak Eddy adalah sosok yang memiliki jiwa kewirausahaan pengusaha muda di banyak yang sangat kuat. Beliau adalah bidang, mulai dari bidang konsultan pajak dan keuangan, hotel dan apartemen, jasa otomotif, kuliner, dsb. Beliau adalah lulusan STAN di bidang spesialisasi perpajakan dan saat ini beliau sedang menempuh Magister Akuntansi di Universitas Mercu Buana. Sebelumnya beliau adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang mengajukan pengunduran resmi sejak Maret 2009 untuk lebih berkonsentrasi pada usahanya. Di dunia konsultan pajak, banyak perusahaan ternama menjadi klien pak Eddy, selain itu beliau juga aktif mengajar di IAI dalam bidang perpajakan sejak tahun 2002 sampai sekarang, dan menjadi trainer di beberapa institusi dan perguruan tinggi. Motto hidup beliau : Semuanya bisa dilakukan sepanjang mau berusaha dan siap keringatan!!

A

Eddy Faisal, SE

Ibu Ratna memulai karir di Kantor Akuntan Publik SGV Utomo dan berlanjut ke Niaga Factoring Corporation. Kemudian sejak tahun 1993 berkecimpung di dunia pendidikan di bidang akuntansi. Dunia pendidikan menjadi pilihan karena pendidikan merupakan bagian dari pembentukan diri menuju kematangan berpikir dan pembentukan sikap profesional. Hal ini tidaklah mudah, karena mendidik mahasiswa tidak hanya di dalam kelas, tetapi dibutuhkan pengalaman profesional dan konsistensi antara apa yang diajarkan dengan tindakan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Awal tahun 2008 alumnus dari Universitas Trisakti dan Magister Akuntansi Universitas Indonesia ini, bergabung dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) sebagai bagian dari Kompas Gramedia yang memiliki motto dan nilai yang sejalan dengan prinsip dan nilai yang diyakini Ratnawati Kurnia yaitu ‘Excellent Career begins with Excellent Education’. Sebagai Ketua Program Studi Akuntansi UMN, Ratnawati Kurnia bersama seluruh jajaran dosen sedang mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi Sarjana Ekonomi di bidang Akuntansi yang profesional dan mampu menguasai aplikasi ICT terkait dengan akuntansi, sekaligus mampu memanfaatkan ICT untuk solusi akuntansi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa di era ICT (Information and Communication Technology) dan multimedia, kehadiran Akuntan yang memiliki kemampuan dan memahami ICT sangat diperlukan.

ai
desain 19_rabu.indd 11

Dra. Ratnawati Kurnia, Ak, M.Si, CPA
11
8/10/2009 11:3:3 AM

FOTO

desain 19_rabu.indd 12

ai
ai
12

12
8/10/2009 11:3:37 AM

Globalisasi profesi akuntansi di mata Mustofa:

Membesarkan yang kecil, memperbanyak yang besar
Jika ada yang bertanya, siapa mantan akuntan publik yang bernama Mustofa? Mungkin banyak orang yang sudah tahu, khususnya di kalangan para akuntan publik. Namun, jika ada yang masih bertanyatanya, cobalah dilanjutkan dengan informasi bahwa sekarang yang bersangkutan menjadi anggota Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan telah aktif di IAI selama 30 tahun. Jika masih belum jelas juga, cobalah dilanjutkan bahwa yang bersangkutan adalah salah satu pendiri dan mantan managing partner KAP HTM, sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) besar di Indonesia, dan sangat terkenal selama bertahun-tahun (masuk dalam kelompok the big six yang kemudian menjadi the big four). Nah, tanpa harus menjelaskan lagi singkatan HTM maka banyak orang mengetahui bahwa huruf M dalam akronim HTM adalah Mustofa. Sekarang, Mustofa komisaris utama dan komisaris independen beberapa perusahaan publik dan penasehat keuangan group perusahaan. Menjadi anggota Badan Arbitrase Nasional Indonesia sejak 2007, anggota DPN IAI (2006-2010), dan aktif di IAI mulai ketua Cabang Jawa Timur, sekretaris umum/sekjen pengurus pusat IAI periode sebelumnya, serta aktif di kompartemen Akuntan Publik (sebelum IAPI) sebagai anggota BP2AP, dan pernah memimpin Majalah Media Akuntansi periode sebelum Majalah Akuntansi Indonesia. Mustofa sebelumnya juga aktif di dunia pendidikan sebagai dosen di Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya, dan pernah menjabat Ketua Jurusan dan Direktur Pusat Pengembangan Akuntansi Universitas Brawijaya. Meskipun sudah menjadi mantan akuntan publik, Mustofa masih peduli dengan pengembangan profesi akuntan publik. Sekitar dua bulan yang lalu IAI Wilayah Jakarta dan Majalah Akuntan Indonesia mengundang KAP-KAP untuk berdiskusi atau berbincang-bincang, berbagi pengalaman dengan Mustofa, bertempat di Graha Akuntan, Kantor Pusat IAI. Sayang, hanya sedikit KAP yang hadir, sedangkan materinya sangat menarik. Berikut ini laporan singkatnya. AFTA dan AFAS 2015 Asean Free Trade Area (AFTA) akan berlaku penuh pada tahun 2015, dan sesuai dengan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) maka tidak akan ada hambatan lagi bagi para akuntan untuk berpraktik secara lintas ASEAN. Bagaimana pandangan Mustofa terhadap hal ini? Jawabannya adalah jangan terlalu kuatir. Alasannya sebagai berikut: Pertama, partner asing yang kita pakai namanya sekarang, selama saling menguntungkan maka partner asing tersebut tidak akan mencari yang lain, meskipun ada kesempatan membuka KAP sendiri, maka tidak akan dilakukannya. Mereka juga mempunyai etika. Kedua, menuju tahun 2015, tahun ini masa krisis dan krisis masih panjang, sehingga tidak mudah bagi mereka membuka KAP di sini. Ketiga, seandainya mereka mau membuka KAP sendiri, maka ada aturan yang tidak akan mudah bagi mereka untuk membuka KAP di sini. Ayo bergabung (merger)! Dari 400-an KAP dalam buku Directory KAP, Mustofa mendapatkan KAP yang partner-nya 4 sampai 9 hanya ada 30an KAP. Sedangkan KAP yang partner-nya 10 orang atau lebih hanya ada 6 KAP. Mengapa Mustofa mengelompokkan KAP yang rekannya (partner) 4 orang atau lebih? Alasannya, dengan 4 orang partner atau lebih, maka manajemen bisa jalan lebih baik, asalkan tidak one man show. Namun, ada yang tidak mau lebih dari 4 orang, atau jika lebih dari 4 pun yang lainnya khawatir hanya dianggap sebagai “kacung”. Selanjutnya, Mustofa membagi lagi, yaitu 20-an KAP berafiliasi asing, sedangkan sisanya tidak berafiliasi asing. Betapa sulit mencari akuntan publik yang handal. Balik lagi ke KAP yang besar (the big six lalu menjadi the big four). Contohnya, ada bank terkemuka yang kesulitan mencari KAP pengganti karena yang bisa dan mau hanya satu. Sedangkan KAP lainnya meskipun bisa tetapi tidak mau, atau ada KAP yang sebenarnya tidak bisa tetapi mau. Mustofa berprinsip bahwa besar itu indah dan kaya. Jika besar maka opportunitynya besar. Jika kecil maka opportunity-nya pun kecil. Mustofa memulai kantor sendirian di Jawa Timur dengan kepemilikan 100%. Kemudian, bergabunglah Surya dan Toni, dan dalam partnership maka kepemilikan

ai

13
desain 19_rabu.indd 13 8/10/2009 11:3:39 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Mustofa 40%, Surya 30% dan Toni 30%. Selanjutnya, masuk satu orang partner lagi, dan kepemilikan 25% sama rata. Cara berpikir Mustofa Jika kepemilikan menjadi 40% dan laba bersih menjadi 4M maka haknya akan 1,6M dan bila kepemilikan 25% dan laba bersih naik lagi menjadi 10M maka haknya dengan 25% akan menjadi 2,5M. jadi apa artinya 100%, 40%, dan 25%? Kenapa tidak bisa rela jika teman bisa mendapat banyak pula? Mustofa diingatkan bahwa jika tidak mempunyai afiliasi asing maka kelasnya beda. Setelah dengan Deloitte, maka KAP HTM menjadi besar, dan kepemilikan Mustofa masih di atas 10% tetapi pendapatannya lebih besar lagi. Dalam sepuluh tahun terakhir, Mustofa kampanye untuk merger. Manusia tidak bisa super sendirian. KAP telah merger tapi dapur masingmasing

mental, dan yang tidak suka akan mental pula. Seberapa besar yang mental, maka kemudian terjadi melting. Yang harus dihindari adalah klien tergantung kepada individu. Kalau individunya pergi maka kliennya juga pergi. Klien harus tergantung kepada firm bukan kepada individu. Pandangan yang sempit adalah ini punyaku. Membuat program bersama itu sulit karena pandangannya hanya untuk kepentingan saya, bukan firm. Berpikirlah sebagai pedagang, kalau menguntungkan mengapa tidak. Harusnya, terasnya satu, dapurnya satu. Janganlah terasnya satu tetapi dapurnya banyak, sendiri-sendiri. Misal, saling menghargai dan bersepakat dalam empat tahun ke depan secara gradual dikurangi saham masingmasing untuk mencapai kesetaraan bersama, akhirnya kepemilikan masing-masing sama yaitu 25%. Yang menjadi penghambat adalah pikiran dari dulu ”aku yang paling besar”. Ukurannya dari dulu, bukan dari sekarang. Perannya masing-masing bagaimana? Seharusnya dari dulu gimana dan mulai sekarang bagaimana perannya masingmasing. Mustofa lebih suka perannya sedikit (karena dibagi-bagi perannya) tapi hasilnya banyak. Kiat-kiat membesarkan KAP Untuk membesarkan KAP, Mustofa membagi dalam beberapa elemen atau kriteria. Pertama adalah niat. Akuntan Publik yang menjadi Pemimpin KAP dan masuk ke bisnis, niatnya bagaimana. Niatnya sekedar buka praktek, seperti praktek dokter, atau niatnya bahwa firm harus di-manage secara modern dan menjadi besar. Kalau niatnya hanya berpraktek akuntan publik dan lainnya tidak, maka yang terjadi apa adanya saja, artinya hanya sekelas itu, punya pendapatan ratusan juta sampai sepuluh milyar Rupiah, tetapi tidak mungkin bisa mencapai ratusan milyar Rupiah. Yang kedua, semangatnya ada/ tidak. Tanpa semangat maka hanyalah mimpi. Contoh, pada saat Mustofa naik pesawat pada tahun 1980-an, ditanya teman, “omsetmu berapa, bisa seratus milyar tidak?” Pertanyaan tersebut menimbulkan

semangat bagi Mustofa. Yang ketiga adalah modal. Modal di sini tidak harus uang, tetapi bisa pula teman, network. Contoh, saat Mustofa memulai bisnis bersama dalam MTS dan tidak mempunyai banyak uang, maka para partner menyerahkan 4 BPKB kendaraan untuk dijadikan modal, sebagai jaminan, dan dapat menyewa kantor yang sewanya dibayar dengan pekerjaan sistem. Setelah setahun BPKB dikembalikan, tanpa pernah setor modal. Yang keempat adalah berani berinvestasi, yaitu membeli sistem, dan membayar manusia secara pantas. Yang kelima adalah mau berbagi, tetapi merger. 2 + 2 + 2 misalnya tidak harus menghasilkan 6, melainkan hasilnya harus bisa menjadi 10. Selanjutnya membangun kepercayaan. Bagaimana teman percaya kepada kita? Percaya ada beberapa unsur, yaitu: (1) percaya bahwa kita mampu, (2) kita dipakai klien adalah memberi manfaat bagi klien, tidak menjadi beban saja, (3) saling perhatian. Ada beberapa tipe klien, yaitu ada klien yang tergantung, ada apa-apa tanya, dan kita tugaskan manager yang full in charge untuknya dan tagihan kita jalan terus, tetapi ada pula tipe klien yang hanya menjadikan kita tempat bertanya tetapi tidak memberikan pekerjaan. Untuk partnership harus ada beberapa tipe orang. Jika semua sukanya di dalam atau semuanya tipe keluar, maka repot. Jika semuanya suka keluar maka manajemen di dalam bisa ketinggalan. Bagaimana me-manage-nya? Untuk menghilangkan “dapur masingmasing” maka yang paling keras pegang dapurnya sendiri harus diberi banyak klien yang lain, agar dapurnya dilepas. Bicarakan dengan target tertentu, misal dalam tiga tahun tidak boleh ada lagi dapur sendirisendiri. Jangan segan menilai keberhasilan dan kegagalan partner. Misal, targetnya naik 30%. Untuk mencapai target tersebut jalannya bagaimana? Misal, targetnya adalah klien, ini ada sekeranjang target, yang bisa kamu ambil yang mana? Contact-nya dengan

p e r u b a h a n d a l a m m i t r a

Cukup banyak akuntan publik yang bergabung (merger) tetapi masing-masing mempunyai “dapur” sendiri. Menurut Mustofa, sifat negatif paling mendasar manusia adalah egois, tidak mau sharing. Tidak ada crossing yang lebih bermanfaat terhadap tingkat ketergantungan. Ada yang namanya diganti saja tidak mau. Ada yang lebih egois lagi, tidak mau jika namanya digandeng nama orang lain. Ini menghambat kemajuannya sendiri. Pertama egonya tinggi karena merasa lebih hebat, tidak mau dibagi. Kedua, sangat yakin dengan dirinya sendiri dan tidak mau kehilangan. Pada saat berhenti dari HTM dan nama Mustofa terkenal, jika memakai nama Mustofa maka rugi sendiri, karena aturan Deloitte tidak memperbolehkan menjabat komisaris dimana pun, dan tidak boleh punya bisnis apapun. Sekarang, Mustofa tidak dicantumkan lagi namanya di KAP, tetapi Mustofa masih mendapatkan bagian, bisa menjadi komisaris, dan bisa memiliki bisnis. Pada saat bergabung (merger), “dapur” sendiri-sendiri kita bongkar, kita jadikan satu dapur. Pertama, manajer yang menangani “dapur” diganti, maka risikonya ada manajer yang tidak kuat dan akan

ai
14
desain 19_rabu.indd 1

L aporan Uta m a

8/10/2009 11:3:39 AM

yang terbaru apa saja. Diperlukan pula risk management. Risiko yang terjadi karena salah pekerjaan. Misal, dari awal terima klien adalah klien berisiko, yaitu perusahaan listed (Tbk), perbankan, dana pensiun, perusahaan sekuritas, dan tambang. Risk manager melakukan review dan sampai okay barulah mengirim proposal. Dalam proses audit di-review pula risk-nya. Gandengan risk management ini adalah quality control. Ada yang menjadikan satu ada pula yang memisahkannya. Qualty control terutama memberikan approval laporan audit bisa terbit/ keluar. Dilihat dari kepatuhan terhadap standar akuntansi, kelengkapan kertas kerja, kelayakan laporan, dan opini. Jika firm-nya masih kecil, maka review ini bisa dilakukan oleh partner lainnya. Yang penting jangan ada kecurigaan, “wah gue habis nanti sama dia.” Understanding-nya adalah kita bersama-sama mengembangkan bisnis profesi, artinya bisnisnya jalan dan profesinya jalan. Target Pengembangan Bisnis KAP Dari 400-an KAP, yang partnernya 4 sampai 9 hanya ada 30-an KAP. Yang partner-nya 10 ke atas hanya ada 6 KAP. Mustofa menyarankan IAPI mempunya target, misal pada tahap pertama, jika KAP yang partner-nya 4 sampai 9 bisa mencapai 100 KAP, dan KAP yang partner-nya di atas 10 bisa mencapai di atas 25 KAP, maka inilah kondidi ideal untuk pelayanan jasa akuntan publik secara nasional. (Handoko Tomo)

siapa? Kamu cocoknya bergaul dengan siapa (klien kelompok Jepang, oriental, dan lainlain)? Tahapan dibuat detail, yaitu berkunjung, bersedia menjadi auditor, membuat proposal, dan seterusnya. Lalu dievaluasi, dalam rapat ditanya, tahapan mu sampai di mana? Mana yang memerlukan bantuan? Selain target per partner, ada target per sektor industri, seperti sektor pertambangan, perkebunan, dan sebagainya. Target marketing, misalnya sektor industri yang berkembang apa dan siapa pemilik perusahaannya? Dicari tahu pula krediturnya siapa. Marketing diarahkan ke sana. Manager mempunyai supervisor yang tetap, misal lima supervisor. Namun, level senior auditor dan junior auditor dapat menjadi staf bersama. Selanjutnya, dilakukan pengukuran rasio, misal rasio revenue per staf, dan rasio revenue per klien rata-rata. Ini dilakukan untuk menilai agar jangan menerima klien yang terlalu murah karena rata-rata per staf dan rata-rata per klien bisa turun. Mustofa pernah menghitung, jika

terlalu murah maka jasa audit tidak lebih mahal dari jasa pijat refleksi. Selain target pendapatan, harus dibuat jadwal training tahunan, berapa banyak dilakukan internal dan berapa banyak harus dari luar. Harus ada manajer training dan jika sudah besar harus ada partner khusus training. Pekerjaan kita adalah memberikan jasa kepada klien, maka diperlukan training yang rutin. Mustofa (MTS) bergabung dengan Tuanakotta dan Hans diawali training. Semula MTS, lalu bertemu Tuanakotta dan Hans pada saat (timing-nya) profesi ini sedang booming. Awalnya, staf kita ini perlu training dan daripada masing-masing training maka ada ide bagaimana jika dilakukan training bersama. Sekali training bersama, berikutnya membuat akte gabung (merger) HTM. Selanjutnya, divisi riset, yaitu contohnya riset standar akuntansi dan riset perpajakan. Divisi ini harus memberitahukan ke dalam dan kepada klien, ada perubahanperubahan apa saja, dan ini penting agar upadating jalan sampai ke staf. Staf harus handal. Di depan klien mengetahui PSAK

ai
L aporan Uta m a

15
8/10/2009 11:3:2 AM

desain 19_rabu.indd 1

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Corporate Valuation Techniques
Pengukuran Tingkat Kematangan Sistem Informasi Perusahaan
Bisnis yang semakin maju dan opportunity yang terbuka luas untuk pengembangan usaha mensyaratkan sebuah strategi keuangan yang handal. Corporate valuation merupakan salah satu alat manajemen keuangan yang bersifat strategis Dalam keputusan-keputusan bisnis perusahaan. Business Valuation tidak hanya dimanfaatkan oleh internal perusahaan, namun juga oleh pihak eksternal. Bagi perusahaan corporate valuation digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan strategis seperti merger dan akuisisi, penjualan dan restrukturisasi sehingga diharapkan pengambilan keputusan tersebut benar-benar akan meningkatkan nilai pemegang saham. Pihak kreditur ataupun investor dalam memutuskan apakah akan menanamkan uangnya pada sebuah bisnis atau perusahaan tentunya membutuhkan informasi yang reliable baik berupa Feasibility Study, Financial & Business Valuation ataupun informasi lain. Sehingga keputusan untuk meminjamkan atau menginvestasikan dana bagi suatu bisnis atau perusahaan telah didukung oleh informasi yang memadai dan benar. Apapun alasan dalam menilai sebuah perusahaan, apakah untuk merger dan akuisisi, penjualan, restrukturisasi juga peningkatan nilai pemegang saham, kendala yang sering terjadi adalah sering terjadinya kualitas penilaian yang tidak akurat. Dengan demikian hal ini berimplikasi pada kesalahan dalam pengambilan keputusan. Pelatihan ini secara khusus didisain untuk mengembangkan kemampuan para peserta dalam melakukan penilaian perusahaan. Rp.1.000.000,- (Non Anggota) Rp.800.000,- (Anggota IAI) Disc. 10% utk 3 orang peserta atau lebih dalam satu perusahaan Waktu: 2 September 2009 Pukul: 08.30—16.00 Wib Tempat: Manhattan Hotel Jl. Prof. Dr. Satrio Casablanca Jakarta Selatan

Pelatihan memungkinkan peserta mencapai tujuan:
1. Memahami mengapa teknik corporate valuation sangat penting dalam pengambilan keputusan strategis. 2. Mengetahui pendekatan alternatif yang dapat digunakan ketika perusahaan melakukan corporate valuation. 3. Memastikan bahwa Anda membayar harga yang sesuai ketika melakukan investasi atau divestasi. . Memahami bagaimana mengaplikasikan metode terakhir terhadan berbagai situasi yang berbeda. . Mengidentifikasi manfaat potensial dari corporate valuation dan merealisasikan keuntungan-keuntungan potensial tersebut dalam bentuk keuangan. Pembicara: Sangat berkompeten dalam bidangnya sehingga akan mencapai tujuan tersebut

FREE SK ASHDI FL

Untuk Informasi dan Registrasi Hubungi: Juhanda/Ria Phone: ( 021) 8353588,8354031 Fax : ( 021) 8290324

Formulir Workshop Corporate Valuation Techniques Nama :_____________________ Instansi :___________________ Pembayaran: Nama :_____________________ Telp / Fax :__________________

Ikatan Akuntan Indonesia Wilayah Jakarta Gedung Gajah Blok AE Jl.Saharjo no.111, Tebet Jakarta 12811

Tunai

Transfer BCA A/C no. 092.3009.130 a.n. IAI Wilayah Jakarta

desain 19_rabu.indd 16

8/10/2009 11:3:2 AM

an

i

i n n

Akuntan Dianggap Berperan Mengawal dan Mencegah Krisis Keuangan, Mengapa?
Oleh: Bagus Rumbogo 1 Berbagai kalangan menganggap manakala setiap terjadi krisis ataupun kasus keuangan seperti Enron dan krisis keuangan Amerika yang berimbas pada krisis global maka akuntan ikut dipersalahkan mempunyai peran dan tanggungjawab besar sebagai salah satu penyebabnya. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia seperti kasus jebolnya Bapindo di era Orde Baru, Bank Bali, BLBI dan yang paling gress Bank Century –semua pihak menatap kinerja profesionalitas akuntan Indonesia, baik sektor akuntan publik akuntan keuangan maupun akuntan pemerintah. Posisi peran dan keberadaan akuntan Indonesia dipertanyakan. Stephen H. Penman, PhD memandang akuntan sering menjadi kambing hitam atas tindakan investor. “Contohnya dalam sejarah Amerika serikat tahun 1929, setelah crash, mereka menuduh akuntan yang mengaburkan neraca pada tahun 1920,” katanya. Pemerintah Indonesia tentu termasuk menjadi pihak yang akan ikut menanggung risiko dengan kondisi krisis ekonomi global. Kekhawatiran bayang-bayang krisis tahun 1998 kembali menghantui. Kita semua menyadari bahwa jika salah kelola maka krisis keuangan Amerika segera menerjang Indonesia dan dapat menjelma krisis ekonomi, krisis sosial bahkan menjadi krisis kemanusiaan. Sebuah prediksi yang perlu diantisipasi juga oleh semua pihak terkait, termasuk akuntan internal auditor pemerintah sebagai salah satu pilar yang berperan mengawal jalannya roda birokrasi pembangunan.
1 *) Penulis adalah Alumni FEUI dan Inspektur Utama pada Kementerian Negara PPN / BAPPENAS RI.

nting

etika

etika

erha-

akan

ai

L aporan Uta m a

17
8/10/2009 11:3:3 AM

desain 19_rabu.indd 17

m i t r a

ation sebut

Banyak pihak berpendapat krisis terjadi karena kegagalan dalam mengelola risiko (risk management). Disamping itu, krisis disebabkan kegagalan dalam membangun lingkungan pengendalian yang kuat. Dalam konteks ini, sebenarnya akuntan sebagai salah satu pilar utama sistem pengendalian mampu melakukan pencegahan.

Sangat disadari oleh para pakar manajemen bahwa kualitas SPI masingmasing institusi akan menjadi penentu

d a l a m

p e r u b a h a n

u s u . a k . n

Terkait dengan krisis global, pada kalangan auditor intern muncul beberapa pertanyaan. Bagaimana mungkin sebuah negara adidaya seperti Amerika Serikat, yang notabene memiliki SPI (Sistem Pengendalian Intern), Risk Management (RM), dan governance process yang sudah demikian maju, bisa mengalami kegagalan sedemikian rupa? Apakah kelemahan SPI menjadi penyebab timbulnya krisis? Atau ada faktor lain yang lebih dominan?

Sebagian besar menilai bahwa penyebab krisis keuangan di Amerika adalah kegagalan dalam pengembangan lingkungan pengendalian yang kondusif. Kelompok ini memandang bahwa perilaku para eksekutif perusahaan dan masyarakat Amerika yang telah melewati batas-batas kepatutan sebagai penyebab utama munculnya krisis.

kelangsungan hidup. Institusi yang memiliki kualitas SPI baik, akan memiliki recovery plan yang baik juga dalam menghadapi krisis. Sedangkan institusi yang kualitas SPI-nya rendah akan terjerembab ke lembah kehancuran. Demikian juga pada sektor publik, dimana pemerintahan dengan kualitas SPI yang baik akan lebih kuat dalam menghadapi guncangan krisis. Sebaliknya, pemerintahan dengan SPI yang rendah akan terpuruk ke dalam krisis berkelanjutan. Krisis global ini justru semakin menunjukkan pada dunia bahwa peran SPI, RM dan governance system yang baik sangat penting bagi eksistensi dan masa depan institusi. Penerapan SPI, RM dan governance process merupakan sebuah kebutuhan yang mendesak di Indonesia. Hal ini berlaku baik di sektor usaha (private) maupun sektor pemerintahan (public). Penerapan SPI, RM dan governance process yang baik dan publik akan membuat perekonomian negara baik, lebih kuat dan tahan banting dalam menghadapi gejolak perubahan yang sering terjadi. Oleh karena itu, lahirnya Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) sangat diharapkan akan dapat menciptakan internal culture yang built-in secara otomatis memperkuat diterapkan prinsip-prinsip Good Governance dan Good Coorporate Governance dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan keuangan negara serta roda

perekonomian nasional. Secara konseptual SPIP mengadopsi konsep sistem pengendalian intern yang dikembangkan oleh The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commissions (COSO). Dalam konsep COSO, sistem pengendalian intern terdiri dari 5 (lima) unsur utama, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) lingkungan pengendalian; penilaian risiko; aktivitas pengendalian; informasi dan komunikasi; dan pemantauan.

perekonomian nasional secara makro maupun mikro. Melalui hasil-hasil kerja yang berkualitas baik sebagai akuntan auditor maupun akuntan manajemen, diharapkan mampu melakukan cegah dini sekaligus memberikan kontribusi proses perbaikan terhadap perilaku menyimpang dari aparat birokrasi dan pelaku bisnis yang merugikan jalannya roda perekonomian dan prospek dunia usaha yang dapat berdampak terjadinya krisis ekonomi nasional. Namun masih terdengar adanya kritik bahwa efektifitas kinerja para akuntan selama ini belum optimal memberikan kontribusi manfaat yang signifikan menjadi salah satu “driving force” dalam mewujudkan penyelenggaraan good governance dan good coorporate governance di lingkungan birokrasi pemerintah maupun BUMN. Output (dampak) operasi auditnya kurang bersifat struktural, cenderung berwawasan mikro dan rendah daya preventifnya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi yang anggotanya tersebar di berbagai profesi sebagai akuntan publik, auditor internal dan eksternal pemerintah, akuntan manajemen maupun akuntan pendidik, dalam menghadapi era globalisasi dan transparansi ekonomi sangat diharapkan terus berperan menciptakan sistem akuntansi yang berkualitas dan terintegrasi sehingga menghasilkan pencatatan dan pelaporan secara tertib, andal dan akuntabel. Dengan adanya sistem akuntansi yang berkualitas ini, maka akan membawa bisnis menjadi efektif dan efisien karena pelaku bisnis dapat menghitung aset, aktivitas dan prospek usahanya ada kepastian terhindar dari risiko yang tidak terkendali. Hasil kerja akuntan diyakini mampu melakukan proses costing and budgeting (pengendalian biaya dan

Keberhasilan implementasi dari PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP tentunya harus dilakukan secara berhati-hati, bertahap, dan melalui evaluasi secara terus-menerus agar dapat diterapkan secara efektif. Keberadaan akuntan yang tergabung dalam Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) oleh masyarakat luas dinilai mempunyai fungsi dan peran sangat strategis dalam meningkatkan kualitas SPI dan efisiensi

m i t r a d a l a m

p e r u b a h a n

ai

18
desain 19_rabu.indd 18

L aporan Uta m a

8/10/2009 11:3: AM

penegak hukum dan kelompok masyarakat madani (social society) dalam mendorong terbentuknya semacam Pulau-Pulau Integritas (Island of Integrity) di masing-masing lingkungan organisasinya, baik pemerintah/BUMN maupun swasta. Pengalaman di masa awal reformasi hendaknya dijadikan hikmah IAI berkaitan dengan sorotan tajam masyarakat bahwa secara moral profesi para akuntan Indonesia dianggap ikut bertanggungjawab terjadinya keterpurukan ekonomi nasional. Di masa lalu, rendahnya kredibilitas akuntan Indonesia di mata dunia internasional mengakibatkan adanya keharusan penunjukan akuntan asing untuk melakukan due dilligence dalam berbagai sektor publik dan kasus-kasus perbankan/bidang ekonomi. Kasus Enron di Amerika Serikat beberapa waktu lalu yang telah mencoreng kredibilitas profesi akuntan patut menjadi perhatian IAI pula. Berkaitan dengan peran akuntan internal auditor dalam menegakkan good governance dan penindakan perilaku menyimpang etika bisnis/KKN bahwa ada tuntutan yang berkembang sekarang ini agar akuntan internal auditor dapat berperan sebagai ’whistleblower’ (orang dalam dari organisasi yang melaporkan tindak kecurangan di organisasinya kepada pihak luar). Diakui memang pelaporan adanya penyimpangan kepada penegak hukum di satu sisi dianggap positif dalam upaya membantu pemberantasan KKN dan membangun transparansi ekonomi bisnis. Namun demikian IAI dalam menyikapi ’whistleblower’ harus dengan penuh kehati-hatian dan perlu menyiapkan aturan mainnya terlebih dahulu secara jelas. Menutup tulisan ini, sebuah pelajaran penting dari krisis keuangan global adalah perlunya penegakan etika dan nilai-nilai luhur dalam menjalankan roda pemerintahan dan organisasi bisnis melalui penguatan implementasi sistem pengendalian intern yang dikawal oleh akuntan profesional dan berintegrasi tinggi.◘

penganggaran) yang mendorong efisiensi harga pokok produksi dan optimalisasi pendapatan yang pada gilirannya dapat dicapai keuntungan serta daya saing yang tinggi. Berkaitan dengan pelaksanaan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang esensinya anggaran berbasis kinerja, serta penerapan standar akuntansi pemerintahan yang telah diterapkan di seluruh lingkungan instansi pemerintah pusat maupun daerah berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) sangat memerlukan kompetensi dan keahlian para akuntan. Dalam konteks ini, keahlian akuntan yang berada di sektor publik diharapkan dari keahlian profesinya dapat memberikan kontribusi dalam

Harus dipahami bersama bahwa penegakan etika profesi dan independensi akuntan sebagai pilar pengawal good governance dan good coorporate governance saat ini menjadi suatu hal yang mendesak. Salah satu ciri khas gerakan reformasi adalah tuntutan akan pemerintah yang bersih. Akuntan dengan keunggulan profesinya harus terlibat secara proaktif menjadi garda terdepan dalam mewujudkan transparansi ekonomi dan etika bisnis yang terpuji. Para akuntan Indonesia yang tergabung dalam IAI harus berperan sebagai salah satu ”pillar of integrity” perlu membangun aliansi strategis dengan lembaga

ai
L aporan Uta m a

19
8/10/2009 11:3: AM

desain 19_rabu.indd 19

m i t r a

mewujudkan transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas pengelolaan dan pelaporan keuangan negara/daerah.

d a l a m

p e r u b a h a n

Nama Barang

Harga Jual Non Anggota Anggota 15,000 15,000 15,000 15,000 15.000 15,000 25,000 115,000 85,000 300,000 95,000 15,000 175.000 360,000 40.000 40,000 40,000 95,000 95,000 40,000 45,000 80,000 575,000 525,000 110.000 60.000 80.000 65.000 60.000 65.000 90.000 115.000 105.000 90.000 80.000 65.000 95.000 40.000 270.000 75.000 65,000 135.000 65.000 60.000 50.000 20,000 20,000 20,000 20,000 20.000 20,000 30,000 130,000 100,000 350,000 110,000 20,000 200,000 380,000 50.000 45,000 45,000 110,000 110,000 45,000 55,000 85,000 650,000 600,000 1 25.000 70.000 90.000 75.000 70.000 75.000 100.000 130.000 120.000 110.000 90.000 75.000 105.000 50.000 300.000 85.000 75.000 150.000 75.000 70.000 60.000

1 2 3 4 5 6 7 8 9

PSAK No. 14 PSAK No. 26 PSAK No.50 PSAK No.55 ISAK No. 8 Aplikasi PSAK No.46 Contoh Ilustrasi PSAK No.50 & 55 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2008 Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia 2003

Toko IAI

10 SAK Per 2008 11 Tas Ransel 12 MUG IAI 13 Soal Try-Out USAP Review (2003-2006) 14 Modul CPMA Review (paket) 15 Panduan Implemantasi PSAK no 24 16 Isu-isu Kontemporer Akuntansi Keuangan 17 Asumsi Going Concern 18 Komite Audit yang Efektif 19 Good Corporate Governance 20 Enterprise Risk Management 21 Akuntansi Aktiva Tetap 22 Balanced Scorecard 23 IFRS 2008: Willey 24 Applying IFRS, enhanced edition 25 Setengah Abad Profesi Akuntansi -Soft Cov/Tuanakotta 26 Panduan Audit Entitas Bisnis Kecil/IAPI 27 Sistem Informasi Akuntansi 1/Rama, Jones 28 Akuntansi Keuangan Daerah (ed.3)/Abdul Halim 29 Audit Kinerja pada Sektor Publik/I Gusti Agung Rai 30 Akuntansi Syariah di Indonesia/Sri Nurhayati 31 Akuntansi Biaya 1(ed.14)/Carter 32 Sistem Akuntansi/Mulyadi 33 Sistem Akuntansi Sektor Publik/Indra Bastian 34 Sistem Informasi Akuntansi 1(ed.4)/Hall 35 Sistem Informasi Akuntansi 1(ed.9)/Romney 36 Pengantar Akuntansi 1(ed.21) Edisi Khusus/Warren 37 Pengantar Akuntansi 1(ed.7)/Weygandt,Kieso 38 Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)/KSAP 39 Standar Profesional Akuntan Publik/IAI 40 Teori Akuntansi 1(ed.5)/Belkoui 41 Teori Akuntansi 2(ed.5)/Belkoui 42 Akuntansi Intermediate 1(ed.15)/Skousen, Stice 43 Auditing 1(ed.6)/Mulyadi 44 Akuntansi Internasional 1(ed.5)/Choi 45 Audit Sektor Publik (ed.2)/Indra Bastian

Sup

desain 19_rabu.indd 20

8/10/2009 11:3: AM

46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61

Akuntansi Keperilakuan/Arfan, Ikhsan Akuntansi Pemerintahan/Deddi Nordiawan Akuntansi Sektor Publik/Deddi Nordiawan Akunt: Suatu Pengantar 1(ed.5)/Soemarso Audit Internal 1 (ed.5)/Sawyer Analisis Laporan Keuangan 1 (ed.8)/Wild, Subramanyam Audit dan Assurances 1 (ed.4)/Messier Akuntansi Yayasan & Lembaga Publik/Indra Bastian Akuntansi Kesehatan/Indra Bastian Dasar - dasar Manajemen Keuangan Perusahaan/ Myers Latihan Ujian Profesi PS/ Mohamad Samsul Prinsip - prinsip Ekonomi/ Karl E. Case Operation Research/ Siswanto Akuntansi Sektor Publik/Indra Bastian Akuntansi Untuk LSM & Parpol/Indra Bastian Bundel Majalah IAI

72.000 70.000 40.000 75.000 90.000 95.000 95.000 70,000 98,000 140,000 55,000 176,000 115,000 122,000 65,000 130.000

81.000 80.000 45.000 85.000 100.000 110.000 110.000 85,000 120,000 155,000 65,000 185,000 125,000 135,000 85,000 140.000
* Harga disamping belum termasuk ongkos kirim * Harga sewaktu-waktu dapat berubah

MUG IAI Rp 15.000

*Tersedia buku - buku terbitan SALEMBA EMPAT

Informasi & Pembelian Hubungi : Imam/Ria IAI Wilayah Jakarta - Gedung Gajah - Blok AE Jl. Dr. Sahardjo 111 - Jakarta Selatan 021 8353588 8354031 Fax 8290324

Formulir Pemesanan
Nama No. kartu anggota Alamat Kota / Kode pos Telephone / HP
No.

: : : : :

………………………………………………………………………………….............................. .................................................................................................................. ………………………………………………………………………………................................. ........................................................................../...................................... ………………………………………………………Fax :………………………….......................
Nama Produk Jumlah Unit Harga

Pembayaran
( ) Transfer Bank BCA Cab. Saharjo A/C no. 092.300.9130 a.n. IAI Wilayah Jakarta Supported By : ( ) Cash at IAI wilayah Jakarta Gedung Gajah Blok AE Jl. Dr. Sahardjo No.111, Jakarta

Tanggal : .........../........../..............

Tanda Tangan & Nama Lengkap

Penerbit

Salemba Empat
8/10/2009 11:3: AM

desain 19_rabu.indd 21

aii a

Nama
Ito Warsito

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia

22
desain 19_rabu.indd 22 8/10/2009 11:3:8 AM

tokoh
Akuntan Pemimpin Puncak di PT Bursa Efek Indonesia

ai

Nama Ito Warsito sebenarnya sudah tidak asing lagi dalam percaturan pasar modal di Indonesia. Pria kelahiran 26 November 1961 ini sudah memiliki rekam jejak yang tidak bisa dianggap remeh. Sejak dulu Ito mengabdikan diri bagi perkembangan pasar ekuitas. Dia menjabat Komisaris Utama Bahana Securities dan Chief Financial Officer Bahana Pembinaan Usaha sejak tahun 2006. Dia juga pernah menjabat Direktur Bahana Securities untuk masa bakti 2001 hingga 2003 dan pada 1994 hingga 2001 sebagai Direktur Invesment Banking Danareksa Sekuritas. Pria tersebut juga sempat menjabat di jajaran Bahana Pembinaan Usaha Indonesia hampir delapan tahun bekerja di Bahana. Pengalamannya yang cukup lama malang melintang didunia pasar modal sejak lama dan kedekatannya dengan dunia usaha menjadi poin plus bagi para Anggota Bursa. Akhirnya, dengan dukungan dari para anggota bursa melalui rapat umum pemegang saham, yang digelar di Jakarta pada 24 Juni 2009 lalu, Ito telah ditempatkan menjadi orang nomor satu di PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Jabatan baru ini telah dijalaninya dan berlaku efektif pada 1 Juli 2009. Peraih MBA dari Harvard Business School Boston, Amerika Serikat, ini memiliki harapan yang begitu besar untuk terus mengembangkan pasar modal, terutama menyangkut pengembangan basis investor lokal. Didunia profesi Akuntansi, Ito Warsito bukanlah sosok yang asing bagi Ikatan Akuntan Indonesia. Saat ini beliau menjadi anggota Komite Evaluasi dan Rekomendasi Pendidikan Profesi Akuntansi (KERPPA) IAI sejak tahun 2006, serta merupakan wakil ketua di IAI Kompartemen Akuntan Manajemen. Sebelumnya beliau merupakan anggota Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntan Publik IAI selama dua periode. Ito sendiri menargetkan kapitalisasi pasar bursa meningkat 2 kali lipat pada 3 tahun mendatang dari saat ini Rp1.500-1.600 triliun. Dalam hal penambahan jumlah investor publik ditargetkan jumlah investor meningkat menjadi 2,3 juta dalam 3 tahun mendatang dari saat ini 300.000-400.000 investor. Sebagai Dirut BEI, Ito akan mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendorong jumlah investor melalui kampanye, road show ke daerah-daerah dan tentunya pertambahan investor perlu dibarengi dengan penambahan jumlah SDM yang bersertifikasi pasar modal. Rencana strategis lainnya, Ito mempersiapkan demutualisasi bursa. Nantinya, pemegang saham bursa tidak hanya Anggota Bursa (AB), tetapi juga masyarakat. Dengan kondisi itu, bursa akan menjadi badan usaha yang berorientasi pada keuntungan sehingga fungsi melayani AB menjadi berkurang. Selain itu, bursa harus bisa menjadi alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan sehingga likuiditas perdagangan harus ditingkatkan. Karena itu, dia terlebih dahulu akan mempersiapkan bursa dan AB agar memiliki sistem dan daya saing yang baik

ai
23
desain 19_rabu.indd 23 8/10/2009 11:3:9 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai
20 Rencana Strategis adalah janji untuk memajukan BEI yang ditawarkan Ito pada saat pemilihan direksi BEI periode 20092012 lalu. Berikut ke-20 rencana strategis yang dijanjikan oleh paket Ito: 1. Tugas pertama dari direksi adalah mengevaluasi semua peraturan yang sudah tidak sejalan dengan pasar modal yang dinamis. 2. Menyusun standarisasi risk management dan pedoman operasional perusahaan efek. Fungsi bursa membantu perusahaan efek untuk menyusun standar ini. 3. Meminimalisasi business disruption (suspensi sebagai pilihan terakhir), karena itu akan merugikan investor. 6. Membangun basic infrastructure online trading. 7. Penyediaan fasilitas business continuity plan AB. 8. Meningkatkan availability, reability, dan capacity Jats NextG. 9. Pengembangan produk harus sesuai kebutuhan pasar. 10. Meningkatkan likuiditas pasar melalui perluasan basis investor dan jumlah emiten yang berkualitas. 11. Penerapan risk based audit approach. 12. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM di pasar modal. 13. Bantuan hukum ke AB atas permasalahan terhadap nasabah, karena banyak nasabah yang nakal, sehingga AB terpojok. 14. Menjadikan APEI sebagai mitra utama BEI dalam pengembangan pasar modal. 15. Akan membuat skema perlindungan investor. Ini dilakukan untuk investor

tokoh
yang jujur, tapi mendapatkan perlakuan yang tidak pada tempatnya dari AB. 16. Memberikan layanan terbaik kepada AB dengan meningkatkan kecepatan dan kualitas respons serta memberikan solusi yang komperenhensif. 17. Mempersiapkan demutualisasi bursa dalam upaya meningkatkan nilai dan daya saing pemegang saham BEI. 18. Menjadikan bursa sebagai center of excellent dan competence melalui peningkatan produktifitas, pengelolaan SDM berbasis kompentensi, dan pembentukan budaya organisasi yang kondusif. 19. Revitalisasi pemanfaatan trading floor. 20. Kebijakan anggaran ditujukan untuk kepentingan industri termasuk program pengembangan AB dan APEI serta peningkatkan efektivitas pengelolaan keuangan BEI dan mengoptimalkan imbal hasil investasi.

p e r u b a h a n

4. Mempermudah akses market info kepada AB melalui pemberian datafed, web, dan mobile info. 5. Pemberian trading. jaringan koneksi remote

d a l a m

Bincang-bincang dengan Ito Warsito: Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia
Demi majalah dan pembaca Akuntan Indonesia (AI), diselasela jadual kesibukannya yang sangat padat sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito (IW) bersedia menyempatkan diri untuk diwawancarai di kantornya pada malam hari tanggal 4 Agustus 2009. Berikut ini petikan hasil wawancara yang dilakukan oleh Elly Zarni dan HAndoko Tomo (redaksi AI): AI: Sehubungan dengan Asean Free Trade Area (AFTA) akan berlaku penuh pada tahun 2015, dan sesuai dengan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS), di bidang pasar modal direncanakan ada jaringan pasar modal se-ASEAN yang dikenal dengan nama ASEAN Linkage. Apa yang dimaksud ASEAN Linkage? IW: ASEAN Linkage merupakan kerja sama antar-bursa di negaranegara ASEAN. Investor di suatu negara ASEAN bisa membeli saham di bursa negara ASEAN lainnya tanpa harus membuka rekening di negara lain. Perusahaan listing di bursa masingmasing negara, tetapi sahamnya bisa diperdagangkan lintas

negara ASEAN. Broker di Indonesia bekerja sama dengan broker di negara lain di ASEAN. Misalnya, investor di Indonesia bisa membeli saham di bursa Malaysia melalui broker di Indonesia dan tanpa perlu membuka rekening di Malaysia. AI: Kapan target terlaksananya program ASEAN Linkage? IW: Bapepam belum menetapkan time frame-nya. Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX) sedang menyiapkan sistemnya terlebih dahulu karena untuk melaksanakan ASEAN Linkage diperlukan sistem yang bisa menghubungkan secara elektronik antar-bursa di ASEAN. ASEAN Linkage diperkirakan dapat dilaksanakan paling cepat tahun 2011. AI: Bagaimana program BEI/IDX ke depan? IW: Targetnya adalah meningkatkan kapitalisasi pasar, bukan banyaknya jumlah emiten. Target tiga tahun ke depan adalah meningkatkan kapitalisasi pasar menjadi Rp3000 trilyun. Cara mencapainya antara lain BEI berharap dari BUMN Go Public. Pertama, BUMN memang membutuhkan modal karena negara sudah tidak mempunyai dana untuk menyuntikkan modal, dan kedua BUMN diharapkan lebih transparan dan terbukti bahwa BUMN yang sudah Go Public lebih transparan. Target lainnya adalah perusahaan-perusahaan tambang didorong untuk Go Public.
INDONESIA

m i t r a

EDIS

Per 1

Dua alasa       

Pertama,

PSAK PSAK PSAK PSAK Penya PSAK Penga PSAK PSAK

24
desain 19_rabu.indd 2

MAJALAH

AKUNTAN

www

8/10/2009 11:3:0 AM

tokoh

ai
IW: Sampai sekarang masih belum jelas aplikasi AFAS sampai level apa, apakah level individu (pengakuan gelar) ataukah level institusi. Jika level individu, artinya orang Malaysia bisa mengikuti ujian CPA di Indonesia, atau level individu yang lebih tinggi lagi adalah akuntan Indonesia yang bergelar CPA Indonesia bisa diterima di kantor akuntan publik (KAP) di Malaysia. Level institusi berarti KAP Indonesia bisa memberikan jasa atestasi kepada perusahaan di Malaysia. Hal ini yang masih memerlukan penegasan dari pemerintah yang melaksanakan Government to Government (G to G). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai induk organisasi akuntan harus dapat memberikan masukan kepada pemerintah. Untuk pendidikan diperlukan perubahan kurikulum. Mahasiswa sekarang perlu mempelajari standar akuntansi keuangan (SAK) sekarang dan IFRS. Berbeda halnya pada tahun 2012 nanti, mahasiswa cukup mempelajari IFRS.

AI: Apa harapan terhadap para akuntan di perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di BEI/IDX? IW: Dengan konvergensi IFRS, maka perbedaan antara SAK sekarang dan IFRS dapat menimbulkan masalah, misalnya debt equity ratio (DER). Perusahaan yang mempunyai hutang diwajibkan memelihara DER tertentu, dan ketika dilakukan konvergensi IFRS, misalnya harus diakui aset dan hutang, maka DER akan terpengaruh dan meskipun secara fundamental perusahaan tidak ada perubahan, tetapi DER berubah, dan perusahaan terancam dinyatakan default karena tidak mampu memelihara DER. Hal ini harus dipikirkan oleh para emiten dan jika perlu dibahas dalam rapat pemegang saham. AI: Apa yang perlu dilakukan/dipersiapkan untuk menghadapi AFTA/AFAS, khususnya oleh para akuntan Indonesia dan dunia pendidikan?

SE

gERA

TERbIT

Edisi Bahasa Inggris dengan Konteks Indonesia
AUDITING AND ASSURANCE SERVICES
RANDALS J. ELDER MARK S. bEASLEy ALVIN A. ARENS
Adaptor: Amir Abadi Jusuf

PRINCIPlES of ACCoUNTING
Indonesia Adaptation

Dapatkan diskon khusus untuk pemesanan melalui kantor kami, hubungi: Telp : (021) 781 8616 (sdri. Linda) Fax : (021) 781 8486 Email : s4_pemasaran@yahoo.com
EDISI REVISI
Per 1 Juli 2009
Kedua, delapan SAK Syariah dan satu Interpretasi SAK baru:  Dua alasan mengapa SAK ini perlu Anda miliki. Pertama, revisi atas tujuh SAK        PSAK No.13 tentang Properti Investasi PSAK No.16 tentang Aset Tetap PSAK No.30 tentang Sewa PSAK No.50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan PSAK No.55 tentang Instrument Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran PSAK No.14 tentang Persediaan PSAK No.26 tentang Biaya Pinjaman         PSAK No.101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah PSAK No.102 tentang Akuntansi Murabahah PSAK No.103 tentang Akuntansi Salam PSAK No.104 tentang Akuntansi Istishna’ PSAK No.105 tentang Akuntansi Mudharabah PSAK No.106 tentang Akuntansi Musyarakah PSAK No.107 tentang Akuntansi Ijarah PSAK No.108 tentang Akuntansi Transaksi Akuntansi Syariah ISAK No.8 tentang Interpretasi pernyataan standar akuntansi keuangan Penentuan apakah perjanjian mengandung suatu sewa dan pembahasan lebih lanjut ketentuan transisi PSAK No.30 (Revisi 2007)

Adaptor: Amir Abadi Jusuf
Rp 250.000,-

JAMES M. REEVE CARL S. WARREN JONATHAN E. DUCHAC
Tim Adaptor: Ersa Tri Wahyuni Gatot Soepriyanto Amir Abadi Jusuf Chaerul D. Djakman

Rp 250.000,-

INVESTmENT
Indonesia Edition

ADVANCED fINANCIAl ACCoUNTING
in Indonesia

CHARLES P. JONES
Tim Adaptor: Siddharta Utama Budi Frensidy Rachman Untung B. Irwan Adi Ekaputra

bAKER LAMbKE KINg JEffREy
Tim Adaptor: Amir Abadi Jusuf Sylvia Veronica NPS Etty Wulandari Dwi Martani

Rp 250.000,-

Rp 250.000,-

MAJALAH
www.penerbitsalemba.com

AKUNTAN

INDONESIA

Jl. Raya Lenteng Agung 101 Jagakarsa, Jakarta Selatan Telp/Faks (021) 781 8616/ (021) 781 8486 Email: s4_pemasaran@yahoo.com

25

desain 19_rabu.indd 2

8/10/2009 11:3:1 AM

m i t r a

Hanya Rp 349.900.-

d a l a m

Kantor Pusat, Jl. Raya Lenteng Agung No. 101, Jagakarsa (Depan Kantor DPP PDIP) 2 Jakarta 12610, Telp.: +62 21 7818616, Faks:+62 21 7818486  Medan: +62 61 7883211  Palembang: +62 711 516661  Bandung: 22 +62 5435002  Yogyakarta: +62 274 887302  Semarang: +62 24 6722178  Solo: +62 2717653531

p e r u b a h a n

Kolom Pasar Modal

Foto Penulis

EFFICIENT MARKET HYPOTHESIS VS BEHAVIORAL FINANCE
Nama Jabatan : Budi Frensidy : Koordinator Mata Ajar Pasar Modal & Manajemen Keuangan PPAk FEUI dan Penulis Buku Matematika Keuangan
empiris itu mempunyai permasalahan teknis, lemah secara statistik, atau salah dalam modelnya. Selain itu, bukankah adanya overreaction dan underreaction juga sesuai dengan asumsi mereka bahwa ulah investor irasional akan saling meniadakan. Tidak cukup dengan buktibukti empiris, para penentang EMH juga menyerang asumsi EMH. Transaksi para investor irasional ternyata tidak acak dan tidak saling meniadakan. Aksi arbitrageur untuk menghilangkan mispricing (ketidaksesuaian harga sekuritas dengan nilai fundamentalnya) kenyataannya ada batasnya. Akibatnya, aksi mereka menjadi cukup berisiko karena mispricing dapat saja bertahan lama tanpa ada investor lain yang menyadari hal itu sebagai mispricing. Kasus ambruknya Long Term Capital Management (LTCM) pada tahun 1998 yang dikelola dua pemenang nobel ekonomi tahun 1997 karena berusaha mengeksploitasi setiap kali terjadinya mispricing menjadi pelajaran yang paling berharga. Saat itu, LTCM harus mengalami kerugian sebesar lebih dari 4 miliar dolar AS sebelum diselamatkan pemerintah Amerika. Behavioral finance Berawal dari fakta empiris dan asumsi yang menunjukkan kegagalan paradigma hipotesa pasar efisien (EMH) dalam menjelaskan banyak fenomena keuangan di atas, berkembanglah behavioral finance (BF). Menurut pendukung BF, EMH

p e r u b a h a n

Salah satu proposisi utama dalam ilmu keuangan selama lebih dari empat puluh tahun adalah hipotesa pasar efisien atau efficient market hypothesis (EMH). Hipotesa ini dimulai dari pandangan Milton Friedman (1953) yang mengatakan, ”Prices are right, there is no free lunch.” Pendapat Friedman ini kemudian didukung Samuelson (1965) dan Mandelbrot (1966) yang membuktikan bahwa harga sekuritas bergerak secara acak (random) dan return tidak dapat diprediksi. Dalam artikel klasiknya mengenai EMH, Fama (1970) mendefinisikan pasar efisien sebagai pasar sekuritas yang harganya mencerminkan informasi yang tersedia. EMH mengatakan tidak ada investor yang mampu mengalahkan pasar secara konsisten. Asumsi EMH

untuk menetralkan mereka. Arbitrager akan menghilangkan pengaruh para investor irasional itu pada harga sekuritas di pasar. Pada periode 1960-an hingga 1990an EMH diakui mempunyai landasan asumsi yang kuat dengan sederetan bukti empiris yang mendukungnya. Universitas Chicago, tempat EMH diperkenalkan, tak ayal lagi langsung menjadi pusat studi finansial tingkat dunia. Pada tahun 1978 Michael Jensen, seorang lulusan universitas itu, bahkan sempat mendeklarasikan bahwa tidak ada proposisi dalam ilmu Ekonomi yang mempunyai bukti empiris sebanyak EMH. Tantangan EMH Sesaat setelah deklarasi Jensen, serangan terhadap EMH menjadi semakin gencar baik secara empiris maupun terhadap asumsinya. Diantara serangan yang paling melemahkan EMH adalah fenomena volatilitas saham yang jauh lebih besar daripada volatilitas dividen atau earningnya (Shiller, 1981), keberadaan noise trader yang membuat harga saham menjauhi nilai fundamentalnya (Black, 1986 dan De Long et al., 1990), terjadinya overreaction atau long-term reversal dalam jangka panjang (De Bondt & Thaler, 1985 dan 1987), dan underreaction atau momentum untuk jangka pendek (Bernard & Thomas, 1989 dan Jegadeesh & Titman, 1993). Menjawab kritikan di atas, pendukung EMH seperti Robert Merton tidak tinggal diam tetapi balik menantang dengan mengatakan kalau bukti-bukti

m i t r a

d a l a m

Tiga asumsi mendasari EMH. Pertama, investor diasumsikan rasional dan karenanya akan menilai semua sekuritas secara rasional. Investor akan menilai setiap sekuritas sesuai nilai fundamentalnya yaitu sebesar present value dari aliran kas di masa datang dengan menggunakan tingkat diskonto yang sesuai dengan risikonya. Kedua, jika ada investor yang tidak rasional, kehadiran mereka akan bersifat acak (random). Karenanya, mereka akan saling meniadakan tanpa mempengaruhi harga sekuritas di pasar. Ketiga, kalaupun para investor itu tidak mengambil posisi yang saling berlawanan tetapi bertransaksi dalam arah yang sama, para arbitrager akan beraksi

ai
26
desain 19_rabu.indd 26 8/10/2009 11:3:3 AM

l
dapat bertahan karena berlindung di bawah jargon “anomali”. Segala sesuatu yang tidak sesuai atau tidak dapat dijelaskan oleh EMH dikatakan sebagai suatu anomali seperti anomali efek Januari, efek perusahaan kecil, dan lainnya. BF berpandangan lain. Secara lengkap, inilah enam perbedaan antara EMH dan behavioral finance (BF), seperti yang diutarakan Thaler (1994) dan Jegadeesh (1995). Pertama, EMH mengasumsikan semua agen ekonomi akan memaksimumkan expected utility (kepuasan), sedangkan BF mengasumsikan individu akan meminimumkan expected regret (penyesalan). Ini persis seperti pengakuan Markowitz, pemenang nobel ekonomi untuk teori portofolionya, yang menyatakan kalau dia membagi portofolionya dalam saham dan obligasi sama besar (masingmasing 50%) karena ingin meminimumkan future regret. Kedua, EMH bersifat normatif yang mencoba untuk mempredikasi apa yang belum terjadi (ex ante) sedangkan BF adalah teori positif yang berusaha untuk menggambarkan apa yang sudah terjadi (ex post). Ketiga, EMH mengatakan manusia itu bersifat risk averse alias menghindari risiko. Sifat inilah yang menyebabkan banyak orang di seluruh dunia membeli produk asuransi dan banyak kas surplus di Indonesia tidak menyukai investasi di pasar modal. Menurut BF, investor itu sebenarnya bukan risk averse tetapi loss averse. Ini sesuai dengan teori prospeknya Daniel Kahneman (1979), psikolog pertama dan satu-satunya yang memenangkan nobel ekonomi pada tahun 2002. Menurut Kahneman, investor itu risk averse kalau sedang mengalami untung. Tapi kalau sedang rugi, investor cenderung menjadi seorang risk taker (pengambil risiko). Dengan sangat indah dan gamblangnya, Kahneman menjelaskan kecenderungan ini dalam sebuah kurva sederhana yang mendasari lahirnya teori prospek. Kelima, EMH memandang manusia sebagai pengambil keputusan yang selalu berdasarkan rational expectation. Sementara BF mengatakan pengambilan keputusan investor sering didasarkan pada ekspektasi yang naif atau normal. Jika EMH mengatakan investor akan mencari return yang optimal, BF mengesampingkan kemungkinan itu karena investor berusaha untuk mendapatkan return yang memuaskan. Itulah sebabnya banyak orang Indonesia cukup puas dengan bunga deposito yang relatif rendah itu. Terakhir, EMH mengasumsikan manusia adalah makhluk ekonomi yang rasional (homo economicus) atau rational economic man dengan profit sebagai motif utama. Sementara BF melihat banyak aspek lain yang juga mendasari keputusan seseorang seperti rasa bangga, bersalah, malu, takut, empati, atau jiwa sosial yang ada dalam diri setiap manusia. Contohnya, banyak orang melakukan donasi untuk bencana alam tanpa menyebutkan namanya. Ada juga yang bersusah payah menyelamatkan orang lain dari bangunan yang terbakar atau yang bersedia melakukan apa saja untuk menyaksikan keadilan ditegakkan. Asumsi rational economic man dalam EMH tidak dapat menjelaskan fenomena ini. Kini, setelah memahami behavioral finance, Anda masuk kelompok mana, tetap setia kepada EMH, beralih ke BF, atau belum dapat memutuskan sikap? Untuk Anda ketahui, ahli keuangan baik akademisi maupun praktisi saat ini terbagi dalam dua kubu di atas. Depok, Juli 2009

Keempat, EMH mengasumsikan manusia itu dapat melakukan prediksi yang tidak bias yaitu yang sesuai dengan teori Bayes (conditional probability). EMH memandang manusia selalu dapat memproses informasi terakhir dengan sempurna. BF mengasumsikan sebaliknya bahwa prediksi manusia itu seringnya bias (keliru) karena tidak mampu memroses informasi baru dengan semestinya akibat gagal memahami konsep probabilita bersyarat dari Bayes. Menurut BF, prediksi manusia itu jauh dari akurat.

ai
27
desain 19_rabu.indd 27 8/10/2009 11:3: AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai

Info ROSITA ULI SINAGA SEBAGAI KETUA DEWAN STANDAR YANG BARU
Ujar Ahmadi Hadibroto, Ketua DPN IAI. Rosita Uli Sinaga saat ini adalah Partner di Deloitte dan juga dosen di Universitas Indonesia. Beliau mempunyai pengalaman bekerja di kantor akuntan publik selama lebih dari 16 tahun dan telah menangani berbagai proyek yang terkait dengan penerapan PSAK dan International Financial Reporting Standard (IFRS). Rosita menamatkan S1 Akuntansi dari Universitas Indonesia dan selanjutnya menamatkan S2 (Magister Manajemen Sistem Informasi) dari Universitas Bina Nusantara. Beliau juga pernah menjadi Ketua Dewan USAP-IAI periode 2007 – 2008. Dewan Standar Akuntansi Keuangan dibentuk sejak tahun 1998 dengan tujuan untuk membuat dan mengembangkan standar akuntansi keuangan di Indonesia. Sejak tahun 1994, standar akuntansi keuangan di Indonesia ditetapkan mengacu pada standar akuntansi internasional (IFRS). Saat ini anggota DSAK terdiri dari 17 orang yang mewakili beberapa pihak diantaranya kantor akuntan publik, akademisi, juga perwakilan pemerintah seperti dari Bank Indonesia dan Bapepam. “Saya merasa terhormat mendapatkan kepercayaan memimpin DSAK sampai tiga tahun kedepan. Dewan Standar memiliki tanggungjawab besar untuk memastikan konvergensi IFRS dapat rampung pada tahun 2012. Selain konvergensi, IAI juga memiliki tugas untuk mensosialisasikan standar yang telah dikeluarkan. Hal ini tentunya bukanlah tugas yang mudah. Kami tentunya sangat mengharapkan dukungan dari semua pihak agar proses konvergensi ini dapat berjalan dengan baik.”ujar Rosita Uli Sinaga menanggapi pengangkatannya sebagai Ketua DSAK untuk periode Juli 2009-2012. (Ersa)

Ikatan Akuntan Indonesia mengangkat ketua Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) yang baru yaitu Rosita Uli Sinaga, menggantikan Jusuf Wibisana yang sudah habis masa tugasnya 20 Juli lalu. Jusuf Wibisana yang juga merupakan Chairman dari PriceWaterhouseCoopers (PWC) dan dosen Universitas Brawijaya telah menjadi ketua DSAK selama dua periode. Bersamaan dengan Jusuf Wibisana, empat anggota DSAK lainnya yang juga sudah habis masa tugasnya yaitu: Jan Husada, Dudi Kurniawan, dan Sidharta Utama. “Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras teman-teman di Dewan Standar, terutama kepada teman-teman yang telah selesai masa tugasnya pada saat ini dan Pak Jusuf Wibisana yang telah memimpin Dewan selama delapan tahun. Banyak capaian Dewan yang patut dibanggakan selama masa kepemimpinan Pak Jusuf, misalnya adalah Standar Akuntansi untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas publik dan standar syariáh.”

p e r u b a h a n

d a l a m

1.

A t

Sebelu keuang buku ti pada ja Kartika strateg dengan (yang s Report awalny US GA keuang berkat progra sehingg buku P dapat kita saa karena itu seb

m i t r a

Dua ta

28
desain 19_rabu.indd 28

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

8/10/2009 11:3:6 AM

Info INTERVIEW ROSITA ULI SINAGA

ai

Sebelum tahun 1994, standar akuntansi keuangan yang kita punya hanyalah berupa buku tipis “Prinsip Akuntansi Indonesia”. DSAK pada jaman itu yang dipimpin oleh Bapak Hans Kartikahadi, mengambil langkah yang sangat strategis dengan melakukan harmonisasi dengan International Accounting Standard (yang sekarang menjadi International Financial Reporting Standard/IFRS). Keputusan itu pada awalnya banyak ditentang karena pada jaman itu US GAAP masih merupakan standar akuntansi keuangan yang dominan di dunia. Akan tetapi berkat kegigihan DSAK saat itu, akhirnya program harmonisasi IAS berjalan dengan baik sehingga tahun 1994 kita mempunyai 2 (dua) buku PSAK merah yang berisi 35 PSAK dan dapat dikatakan standar akuntansi keuangan kita saat itu setara dengan IAS. Saya beruntung karena bisa ikut terlibat membantu DSAK saat itu sebagai tim kerja. Dua tahun lalu, pada saat International Financial

2.

RUS: Salah satu tantangan terbesar adalah sumber daya manusia. IFRS adalah sasaran yang terus bergerak. Selain mengejar kesenjangan PSAK dengan IFRS, pada saat yang sama DSAK juga harus mengikuti setiap perkembangan IFRS dan berperan secara aktif dengan memberikan saran/input untuk kepentingan Indonesia. Belum lagi peran untuk turut pula dalam sosialisasi PSAK baru dan sebagai nara sumber penyusunan berbagai pedoman akuntansi. Sementara itu jumlah manajemen purna waktu masih sangat terbatas dan status seluruh anggota DSAK adalah tenaga sukarela sehingga komitmen waktunya juga sangat terbatas.

Kualitas standar akuntansi keuangan (SAK) di suatu Negara menjadi komponen yang sangat strategis karena dapat meningkatkan kredibilitas pelaporan keuangan perusahaan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kredibilitas suatu Negara serta dapat menurunkan sovereign risk negara yang bersangkutan. Mengingat begitu pentingnya peranan standar akuntansi keuangan dan masih signifikannya kesenjangan PSAK kita dengan IFRS, saya merasa terhormat dipercaya oleh Dewan Pengurus Nasional IAI untuk memimpin DSAK selama periode persiapan kovergensi IFRS

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

29
8/10/2009 11:3:7 AM

desain 19_rabu.indd 29

m i t r a

Sebagai ketua DSAK yang baru, menurut ibu tantangan terbesar apa yang akan dihadapi oleh DSAK ke depan.

d a l a m

1.

Apa yang memotivasi ibu menerima tanggungjawab sebagai ketua DSAK?

Reporting Standard (IFRS) berkembang begitu pesat, kantor saya (Deloitte) meminta saya untuk belajar secara mendalam tentang IFRS dan memimpin penyusunan buku “IFRS and Indo GAAP: A Comparison 2007”. Pada saat proses penyusunan buku itu saya menyadari bahwa ternyata meskipun proses harmonisasi ke IAS telah dilakukan sejak tahun 1994, kesenjangan PSAK kita terhadap IFRS masih begitu besar karena perkembangan IFRS yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir ini.

tahun 2009 sampai dengan 2012.

p e r u b a h a n

ai
Tantangan lainnya adalah “buy in” dari seluruh stakeholder standar akuntansi keuangan (regulator, perusahaan, akuntan publik dan perguruan tinggi). Masih banyak stakeholder yang belum memahami pentingnya proses konvergensi IFRS. Kurangnya sosialisasi mungkin adalah penyebabnya. Disamping itu bukan tidak mungkin DSAK akan menghadapi tantangan dari berbagai pihak yang mempunyai vested interest dalam penyusunan standar tertentu.
proses konvergensi IFRS. 4. Bagaimana DSAK dalam kepemimpinan ibu akan berbeda dengan DSAK sebelumnya? Sudah terjawab dalam pertanyaan no. 3 tentang strategi. 7.

Info
akuntansi keuangan di lingkungan industri sejenis atau profesi sejenis perlu pula dibentuk agar sosialisasi PSAK dapat berjalan lebih efektif.

Mungkin banyak pembaca yang belum mengetahui benar fungsi DSAK, bisa dijelaskan bu, apakah sebenarnya fungsi dan tugas DSAK?

5. 3. Bagaimana strategi ibu untuk menjawab tantangan tersebut?

Mengenai konvergensi IFRS 2012, apakah ibu optimis hal tersebut akan dapat selesai pada waktunya?

p e r u b a h a n

Selain DSAK yang kompeten, berkomitmen dan independen, DSAK juga harus didukung oleh manajemen purna waktu yang jumlahnya memadai dan kompeten. Rencananya kami akan mengajak perguruan tinggi untuk membantu DSAK dengan melakukan berbagai penilitian dalam rangka membantu DSAK memberikan input/saran atas perkembangan IFRS.

DSAK akan segera mendefinisikan sasaran konvergensi IFRS 2012 yang kemudian dilanjutkan dengan menyusun program kerja yang rinci dan terintegrasi. Kami mohon dukungan dari seluruh pihak agar DSAK dapat menyelesaikan program kerjanya sesuai jadwal waktu yang telah ditetapkan.

DSAK mempunyai tugas utama menyusun standar akuntansi keuangan. Saat ini kita punya 3 (tiga) pilar standar akuntansi keuangan yang berada di bawah tanggung jawab DSAK yaitu: (1) Standar akuntansi keuangan untuk perusahaan dengan akuntabilitas publik (PSAK yang berbasis IFRS), (2) Standar akuntansi keuangan untuk perusahaan tanpa akuntabilitas publik (SAK ETAP) dan (3) Standar akuntansi keuangan syariah.

6. DSAK akan membangun program kerja yang terintegrasi dan mengkomunikasikan program kerja tersebut beserta progresnya secara periodik melalui berbagai media komunikasi. Dengan demikian masyarakat dapat mengikuti setiap perkembangan pembahasan DSAK dan melakukan persiapan yang diperlukan bahkan sebelum suatu standar diterbitkan. DSAK juga akan membangun komunikasi yang intensif dengan International Accounting Standard Board (IASB) sebagai badan penyusun IFRS serta turut serta secara aktif untuk memberikan input/saran yang mewakili kepentingan Indonesia dalam setiap rencana perubahan IFRS yang dilakukan oleh IASB. DSAK bekerjasama dengan Dewan Pengurus Nasional IAI serta Dewan Konsultatif SAK akan membangun jejaring dan komunikasi yang efektif dengan seluruh stakeholder (regulator, perusahaan, akuntan publik, universitas, dan lain-lain) sehingga seluruh komponen bangsa dapat saling mendukung

d a l a m

Apa yang harus dipersiapkan oleh praktisi dan perguruan tinggi dalam rangka program konvergensi ini?

m i t r a

Saya mengharapkan praktisi dan perguruan tinggi aktif mengikuti perkembangan perubahan PSAK dan IFRS serta turut berperan serta proaktif dalam memberikan input atau saran kepada DSAK. Ditengah-tengah perubahan standar akuntansi keuangan yang begitu cepat, perguruan tinggi harus secara proaktif merevisi kurikulum dan bahan ajar serta secara terus menerus membekali para pengajar dengan perubahan standar akuntansi terkini sehingga mahasiswa tetap mendapatkan pengajaran yang up to date untuk mencegah semakin dalamnya kesenjangan antara apa yang di ajar dengan dunia kerja. Perguruan tinggi juga dapat berkontribusi dengan melakukan berbagai penelitian sehingga hasilnya dapat digunakan DSAK dalam pengembangan standar akuntansi keuangan. Forum-forum diskusi mengenai standar

Sebagai standard setter, DSAK juga seharusnya berperan secara aktif memberikan input kepada IASB untuk mewakili kepentingan pelaporan keuangan di Indonesia. Saya ingin menghimbau seluruh pihak untuk dapat berpartisipasi dengan mengirimkan input atau komentar kepada DSAK tentang Eksposure Draft atau discussion paper yang diterbitkan IFRS karena standar yang dikeluarkan IASB pada akhirnya akan mempengaruhi standar akuntansi kita.

30
desain 19_rabu.indd 30

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

8/10/2009 11:3:8 AM

desain 19_rabu.indd 31

8/10/2009 11:3:9 AM

ai

Info PELUNCURAN STANDAR AKUNTANSI SYARIÁH DAN STANDAR AKUNTANSI ETAP (ENTITAS TANPA AKUNTABLITAS PUBLIK)
MALANG, 17-18 JULI 2009

p e r u b a h a n
ikatan akuntan indonesia (iai) akan meluncurkan standar akuntansi syariáh dalam tiga bahasa serta standar akuntansi etap (Sak etap) di dalam acara Seminar nasional akuntansi “tiga pilar Standar akuntansi indonesia” yang dilaksanakan oleh universitas Brawijaya dan ikatan akuntan indonesia di kota malang pada tanggal 17-18 Juli 2009. hadir di dalam seminar tersebut ketua dewan pengurus nasional (dpn) iai, ahmadi hadibroto, ketua dewan Standar akuntansi keuangan (dSak), m. Jusuf Wibisana dan anggota-anggota dSak lainnya. Bertindak sebagai keynote speaker deputi Gubernur Bank indonesia, muliaman hadad yang menyampaikan materi mengenai konvergensi International Financial Reporting Standards (ifRS) dan pengembangan Sak Syariah di indonesia, serta ketua Bapepam dan lembaga keuangan, dr. a. fuad Rahmany yang juga akan memberikan keynote speech untuk membahas strategi menempatkan indonesia dalam pusaran pasar uang dan pasar modal global melalui konvergensi ifRS. Seminar ini akan ditutup dengan peembahasan berbagai pemikiran strategis iai tentang standar akuntansi indonesia masa depan sebagai persembahan iai dalam pembangunan ekonomi berbasis transparansi dan akuntabilitas.

“Standar akuntansi untuk entitas tanpa akuntabilitas publik akan membantu perusahaan kecil menengah dalam menyediakan pelaporan keuangan yang tetap relevan dan andal dengan tanpa terjebak dalam kerumitan standar berbasis ifRS yang akan kita adopsi di dalam Standar akuntansi pSak kita. proses harmonisasi ifRS dan pSak kita harapkan akan selesai pada tahun 2012 “ demikian ungkap ketua dSak, m. Jusuf Wibisana. “Sak etap ini akan khusus digunakan untuk perusahaan tanpa akuntanbilitas publik yang signifikan. Perusahaan yang terdaftar di dalam bursa efek dan yang memiliki akuntabilitas publik signifikan tetap harus menggunakan PSAK kita yang umum. SAK ETAP ini akan mulai diberlakukan pada tahun 2011 namun penerapan lebih awal di 2010 diperbolehkan” ujar ketua dpn iai, ahmadi hadibroto. Standar akuntansi syariáh akan diluncurkan dalam tiga bahasa yakni bahasa indonesia, inggris dan bahasa arab. Standar ini diharapkan dapat mendukung industri keuangan syariáh yang semakin berkembang di indonesia. dengan diluncurkannya dua standar tersebut, maka standar akuntansi di indonesia menjadi lengkap dengan tiga pilar standar akuntansi yakni Sak( Standar akuntansi keuangan yang berlaku umum), Sak etap dan Sak Syariáh.

m i t r a

d a l a m

32
desain 19_rabu.indd 32

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

8/10/2009 11:36:01 AM

Info PERAN AKUNTAN DALAM MENATA ULANG SISTEM KEUANGAN GLOBAL PASCA KRISIS
Bandung - Sejak krisis financial kita harus mempunyai sesuatu yang di tata ulang yang akan dijadikan konvensi. Ketua Jurusan Akuntansi FE Unpad, Syaiful Rachman Soenaria, SE, MT.,Ak mengatakan, point penting pertama yaitu, system penataan goverment secara global. Kedua, bagaimana akuntan berperan secara aktif bukan saja jadi obyek tetapi jadi subyek. Ia mengatakan, sebagai tuan rumah KNA ke VI, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) trend kedepan focus untuk pemberdayaan anggota dan penyelenggaraan kegiatan organisasi. “IAI Jawa Barat ( Jabar) akan fokus kedepan untuk pemberdayaan anggota, kemudian penyelenggaraan kegiatan organisasi,” katanya. Ia menambahkan, ini bisa dijadikan bahan instropeksi seberapa jauh IAI dapat melakukan perubahan dalam diri IAI khususnya wilayah IAI Jabar. “IAI Jabar juga ingin meraih sesuatu yang baik bahwa IAI jabar menjadi IAI cabang yang terbaik di Indonesia,” kata Syaiful menegaskan. Yang dijadikan orientasi dari konferensi IAI ini, bagaimana IAI memberi arti kepada masyarakat bagi Negara dan dunia. Kedua, pemerintah baik dari praktek profesionalisme. “Jadi harapannya nanti hasil konferensi kita dapat memberi sesuatu kepada Indonesia dan kedalam kita dapat memperbaiki praktek profesionalisme kita,” katanya antusias. Ia mengharapkan, dengan itu eksistensi IAI dibutuhkan masyarakat, kalau anggota IAI banyak tentu harus ada sesuatu yang berarti kepada mereka. “Minimal anggota IAI yang sudah vakum

ai

“Tingginya toleransi masyarakat dalam memandang korupsi pada pelayanan publik berbeda terhadap setiap unit layanan. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa unit layanan tertentu sudah sangat terbiasa dan wajar dalam korupsi,” ujar Syaiful. Sementara Wakil Ketua komisi pemberantasan korupsi (KPK) Bidang Pencegahan, Dr. Haryono Umar mengatakan, pemahaman masyarakat terhadap kasus korupsi ini rupanya dianggap masih kurang. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk menanamkan perilaku anti korupsi ini sedini mungkin. Menurutnya, sejak kecil, anak-anak harus diberi pemahaman yang benar dalam berperilaku. Jangan berpikir kalau ingin cepat untuk mendapatkan sesuatu harus dengan cara yang salah, misalnya menipu, mencuri. Tanamkan bahwa sesuatu itu ada caranya, ada prosedurnya yang harus ditaati. “Jangan seperti orang yang belum cukup umur, tapi ingin memiliki SIM, akhirnya ‘nembak’ sama polisi,” jelas Dr. Haryono. Pada studium generale ini, Dr. Haryono menjelaskan bahwa menurut UndangUndang No. 31 tahun 1999 jo. UndangUndang No. 21 Tahun 2001, ada tiga puluh jenis tindakan yang bisa dikategorikan korupsi. Namun ada beberapa tindakan korupsi yang sering terjadi, antara lain, kerugian keuntungan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi. “Dari seluruh tindakan korupsi tersebut, banyak orang yang melakukannya, tapi tidak mengetahui bahwa yang dilakukannya termasuk perbuatan korupsi karena kurangnya pengetahuan tentang korupsi. Untuk itu, diharapkan mahasiswa dan media

kembali lagi aktif dalam organisasi dan yang belum menjadi anggota terpanggil hatinya untuk mengembangkan organisasi profesinya,” imbuhnya. Ia berpesan untuk menjadi akuntan dan auditor mengetahui aturan-aturan hukum yang berkaitan dengan keuangan, khususnya pembukuan. “Jangan sampai saat anda menjadi pemegang pembukuan dan mengetahui ada korupsi, tapi diam saja. Dengan demikian, anda pun dapat dianggap terlibat korupsi tersebut,” jelasnya. Ia juga menjelaskan, yang dapat dilakukan dalam pemberantasan korupsi ini ada dua hal. Pertama, penindakan, yaitu termasuk penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. Kedua, pencegahan, yaitu, pendidikan, riset dan pengembangan dan pengkajian sistem. “Yang paling mudah, jangan lakukan korupsi. Bila menemukan kasus korupsi, yang harus dilakukan adalah catat dan laporkan,” tegas Syaiful. Masyarakat Indonesia Yang Permisif Masyarakat Indonesia cenderung menjadi masyarakat yang permisif dalam menghadapi korupsi ini. Ia juga menambahkan bahwa menurut penelitian, 45 persen pengguna layanan publik memandang pemberian imbalan atau lainnya pada suatu instansi adalah hal yang wajar.

publik diakan rjebak dalam pSak ketua untuk n yang publik ETAP n lebih roto. yakni dapat ang di tandar tandar mum),

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

33
8/10/2009 11:36:03 AM

desain 19_rabu.indd 33

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai
Perbedaan SAK ETAP dengan PSAK
Oleh : Roy Iman Wirahardja (Anggota DSAK) Ersa Tri Wahyuni (Direktur Teknis IAI)

Info

Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 17 Juli lalu telah meluncurkan standar akuntansi ETAP (SAK-ETAP) bertepatan dalam acara Seminar Nasional Akuntansi “Tiga pilar Standar Akuntansi Indonesia” yang dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya dan Ikatan Akuntan Indonesia. Nama standard ini sedikit unik karena exposure draftnya diberi nama Standar Akuntansi UKM (Usaha Kecil dan Menengah), namun mengingat definisi UKM sendiri sering berubah, maka untuk menghindari kerancuan, standard ini diberi nama SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Apabila SAK-ETAP ini telah berlaku efektif, maka perusahaan kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK-ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab. Sesuai dengan ruang lingkup SAKETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit. Lebih lanjut ruang lingkup standar ini juga menjelaskan bahwa Entitas dikatakan memiliki akuntabilitas publik signifikan jika : proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator

lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi. Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan standar tersebut. Hal ini dimungkinkan apabila misalnya pihak otoritas berwenang merasa ketentuan pelaporan dengan menggunakan PSAK terlalu tinggi biayanya ataupun terlalu rumit untuk entitas yang mereka awasi. SAK-ETAP ini akan berlaku efektif per 1 January 2011 namun penerapan dini per 1 Januari 2010 diperbolehkan. Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP. Apabila perusahaan memakai SAKETAP, maka auditor yang akan melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu kepada SAK-ETAP. Mengingat kebijakan akuntansi SAKETAP di beberapa aspek lebih ringan daripada PSAK, maka ketentuan transisi dalam SAKETAP ini cukup ketat. Pada BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK ETAP, yakni 1 January 2011, Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP
AKUNTAN

ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya. Oleh sebab itu per 1 January 2011, perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau beralih menggunakan SAK-ETAP. Selanjutnya ketentuan transisi juga menjelaskan bahwa entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Hal ini misalnya ada perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011, namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan public di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali. Sebaliknya entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan. Berikut ini adalah table perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP yang dapat membantu pembaca dalam mempelajari SAK-ETAP lebih jauh. Buku SAK-ETAP dapat diperoleh di kantor pusat Ikatan Akuntan Indonesia dan kantor-kantor cabang IAI.

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

34
desain 19_rabu.indd 3

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:36:03 AM

maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Hal ini misalnya ada perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011, namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan public di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali. Sebaliknya entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.

Info
No 1 Elemen

Berikut ini adalah table perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP yang dapat membantu pembaca dalam mempelajari SAK-ETAP lebih jauh. Buku SAK-ETAP dapat diperoleh di kantor pusat Ikatan Akuntan Indonesia dan kantor-kantor cabang IAI.

Tabel Perbandingan PSAK dengan SAK ETAP

ai

PSAK Laporan posisi keuangan Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan o Pembedaan asset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang o Aset lancar o Laibilitas jangka pendek o Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan (Perubahan istilah di ED PSAK 1: Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan Kewajiban (liability) menjadi laibilitas) o

SAK ETAP Sama dengan PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang menghilangkan pos: Aset keuangan Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (ED PSAK 1) Aset biolojik yang diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar (ED PSAK 1) Kewajiban berbunga jangka panjang Aset dan kewajiban pajak tangguhan Kepentingan nonpengendalian Tidak sama dengan PSAK yang menggunakan istilah laporan laba rugi komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah laporan laba rugi.

Penyajian Laporan Keuangan

Laporan Laba Rugi

Penyajian Perubahan Ekuitas

Sama dengan PSAK, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain. Catatan atas laporan keuangan Struktur Pengungkapan kebijakan Akuntansi Sumber estimasi ketidakpastian Modal (ED PSAK 1) Pengungkapan lain Arus kas aktivitas operasi: metode langsung dan tidak langsung Arus kas aktivitas investasi Arus kas aktivitas pendanaan Arus kas mata uang asing Arus kas bunga dan dividen, pajak penghasilan, transaksi non-kas Persyaratan penyajian lapkeu konsolidasi Entitas bertujuan khusus Prosedur konsolidasi Lapkeu tersendiri Lapkeu gabungan PSAK 25 (Laba atau Rugi Bersih untuk periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi) Laba atau rugi bersih untuk Periode berjalan o Pos luar biasa o Laba atau rugi dari aktivitas normal o Operasi yang tidak dilanjutkan o Perubahan estimasi Akuntansi Kesalahan Mendasar Perubahan kebijakan Akuntansi o Penerapan suatu standar Akuntansi keuangan o Perubahan kebijakan Akuntansi yang lain Ruang lingkup: aset dan kewajiban keuangan Instrumen keuangan dasar: Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman dan pinjaman yang diberikan Impairment menggunakan incurred loss concept Derecognition Sama dengan PSAK, kecuali pengungkapan modal.

Catatan Atas Laporan Keuangan

Laporan Arus Kas

Sama dengan PSAK kecuali: Arus kas aktivitas operasi: metode tidak langsung Arus kas mata uang asing, tidak diatur. Tidak diatur (Lihat Bab 12).

Laporan keuangan konsolidasi dan terpisah

Kebijakan akuntansi, estimasi, dan kesalahan

Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi Konsistensi dan perubahan kebijakan akuntansi Perubahan Estimasi akuntansi Kesalahan. SAK ETAP sudah maju satu langkah dibandingkan PSAK (tidak ada “kesalahan mendasar” dan “laba atau rugi luar biasa”).

Instrumen Keuangan Dasar

Ruang lingkup: investasi pada efek tertentu Klasifikasi trading, held to maturity, dan available for sale. Hal tsb mengacu ke PSAK 50 (1998).

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

35
8/10/2009 11:36:0 AM

desain 19_rabu.indd 3

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Laporan laba rugi komprehensif o Informasi yang disajikan dalam laporan Laba Rugi Komprehensif o Laba rugi selama periode o Pendapatan komprehensif lain selama periode o Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan

ai
Persediaan Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak

Info
Hedging dan derivatif Pengukuran persediaan Biaya persediaan Biaya pembelian Biaya konversi Biaya lain-lain Biaya persediaan pemberian jasa Teknik pengukuran biaya Rumus biaya Nilai realisasi bersih Pengakuan sebagai beban Pengungkapan Ruang lingkup: entitas asosiasi Metode akuntansi Metode biaya Metode ekuitas Model nilai wajar (ED PSAK 15) Sama dengan PSAK

Ruang lingkup: entitas asosiasi dan entitas anak Metode akuntansi Entitas asosiasi : metode biaya Entitas anak : metode ekuitas Sama dengan PSAK kecuali metode akuntansi hanya menggunakan metode biaya.

Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak

Jointly controlled operation, asset, and entity Metode akuntansi Metode konsolidasi proporsional Metode ekuitas Model nilai wajar (ED PSAK 12 : PBA/PBO/PBE) Metode akuntansi Model nilai wajar Model biaya Menggunakan pendekatan komponenisasi Pengukuran menggunakan model biaya atau model revaluasi Pengukuran biaya perolehan Pengakuan pengeluaran selanjutnya Penyusutan Tidak perlu review nilai residu, metode penyusutan, dan umur manfaat setiap akhir periode pelaporan, tetapi jika ada indikasi perubahan saja

Property Investasi

Metode akuntansi: model biaya Sama dengan PSAK kecuali: Tidak menggunakan pendekatan komponenisasi. Revaluasi diijinkan jika dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Hal ini mengacu ke PSAK 16 (1994) Tidak perlu review nilai residu. Sama dengan PSAK, kecuali aset tidak berwujud yang diperoleh dari penggabungan usaha. Tidak diatur

Aset Tetap

p e r u b a h a n

Asset Tidak Berwujud

d a l a m

Prinsip umum untuk pengakuan Pengakuan awal, pengukuran selanjutnya Amortisasi selama umur manfaat atau 10 tahun Penurunan nilai Menggunakan metode pembelian Goodwill dimaortisasi 5 tahun atau 20 tahun dengan justifikasi manajemen Mengatur perjanjian yang mengandung sewa Klasifikasi bersifat principle based Laporan keuangan lessee dan lessor

Sewa

Tidak mengatur perjanjian yang mengandung sewa (ISAK 8) Klasifikasi sewa: kombinasi IFRS for SMEs dan SFAS 13 Laporan keuangan lessee dan lessor menggunakan PSAK 30 (1990): Akuntansi Sewa Guna Usaha

m i t r a

Ekuitas

Kewajiban diestimasi Kewajiban kontinjensi Aset kontinjensi Penjelasan Akuntasi ekuitas untuk badan usaha bukan PT Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT Reorganisasi Selisih penilaian kembali Penjualan barang Penjualan jasa Kontrak konstruksi Bunga, dividen dan royalti Lampiran kasus pengakuan pendapatan (ED PSAK 23) Komponen biaya pinjaman Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman Penurunan nilai persediaan Penurunan nilai non-persediaan Penurunan nilai goodwill

Sama dengan PSAK

Sama dengan PSAK, kecuali : Reorganisasi Selisih penilaian kembali

Pendapatan

Sama dengan PSAK.

Biaya Pinjaman

Biaya pinjaman langsung dibebankan

Penurunan Nilai Aset

36
desain 19_rabu.indd 36

MAJALAH

AK

Sama dengan PSAK, kecuali: Ruang lingkup yang meliputi U N T A N aset. I semua jenis Tidak mengatur penurunan nilai goodwill Ada tambahan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang

NDONESIA

8/10/2009 11:36:0 AM

Ekuitas

Info

Kewajiban diestimasi Kewajiban kontinjensi Aset kontinjensi Penjelasan Akuntasi ekuitas untuk badan usaha bukan PT Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT Reorganisasi Selisih penilaian kembali Penjualan barang Penjualan jasa Kontrak konstruksi Bunga, dividen dan royalti Lampiran kasus pengakuan pendapatan (ED PSAK 23) Komponen biaya pinjaman Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman Penurunan nilai persediaan Penurunan nilai non-persediaan Penurunan nilai goodwill

Sama dengan PSAK

Sama dengan PSAK, kecuali : Reorganisasi Selisih penilaian kembali

Pendapatan

Sama dengan PSAK.

ai

Biaya Pinjaman

Biaya pinjaman langsung dibebankan

Penurunan Nilai Aset

Sama dengan PSAK, kecuali: Ruang lingkup yang meliputi semua jenis aset. Tidak mengatur penurunan nilai goodwill Ada tambahan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang menggunakan PSAK 31: Akuntansi Perbankan paragraf 16 dan 17. Sama dengan PSAK, kecuali untuk manfaat pasti menggunakan PUC dan jika tidak bisa, menggunakan metode yang disederhanakan Menggunakan tax payable concept Tidak ada pengakuan dan pengukuran pajak tangguhan

Imbalan Kerja

Imbalan kerja jangka pendek Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti menggunakan PUC Imbalan jangka panjang lainnya Pesangon pemutusan kerja

Pajak Penghasilan

Mata Uang Pelaporan

Mata uang pencatatan dan pelaporan Mata uang fungsional Penentuan saldo awal Penyajian komparatif Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan

Peristiwa setelah akhir periode pelaporan

Peristiwa yang memerlukan penyesuaian Peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian Pengertian pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa Pengungkapan Akuntansi perkoperasian Akuntansi minyak dan gas bumi Akuntansi pertambangan umum Akuntansi perusahaan efek Akuntansi reksa dana Akuntansi perbankan dan asuransi

Pengungkapan pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa Aktivitas Khusus

Sama dengan PSAK 7

Tidak diatur

Ketentuan Transisi

Retrospektif atau prospektif (jika tidak praktis) yang diterapkan secara prospective catchup (dampak ke saldo laba) Perpindahan dari dan ke SAK ETAP Berlaku efektif untuk laporan keuangan yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2011, penerapan dini 1 Januari 2010

Tanggal Efektif

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

37
8/10/2009 11:36:0 AM

desain 19_rabu.indd 37

m i t r a

d a l a m

Sama dengan PSAK Mata Uang Pelaporan Mata uang fungsional Pelaporan transaksi mata uang asing dalam mata uang fungsional Perubahan mata uang fungsional (Pada prinsipnya sama) Sama dengan PSAK

p e r u b a h a n

Menggunakan deferred tax concept Pengakuan dan pengukuran pajak kini Pengakuan dan pengukuran pajak tangguhan

Khas Akuntan

Foto Penulis

MENYELAMATKAN HUTAN INDONESIA DENGAN PENDEKATAN AKUNTANSI

Disusun oleh: Cahyo Priyatno, SE, Ak, CPMA1

Di tahun 1970 pengusahaan hutan dalam bentuk HPH mulai beroperasi. Kelompok yang berkepentingan dengan hutan sebagai sumber ekonomi adalah pemegang HPH, industriawan kayu, pejabat pemerintah yang mengelola instansi perindustrian, perdagangan, pertambangan, trasmigrasi, pemukiman penduduk dan mereka yang ingin mengeksploitasi hutan demi kayu, tanah atau batu mineral di bawahnya. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Manajemen Hutan Sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH) adalah salah satu sistem pengusahaan hutan di Indonesia dengan para pemegang HPH sebagai pelaksana utama, diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 1970 dan ditujukan untuk pengusahaan hutan alam. Pada dasarnya sistem HPH merupakan bentuk antisipasi pemerintah setelah dibukanya kran penanaman modal dengan telah dikeluarkannya Undang-undang No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman modal Asing dan Undang-undang No. 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, melalui pengaturan pemberian konsesi HPH. 4 Yang perlu mendapatkan kajian lebih jauh adalah status Tanaman yang ditanam oleh Pemegang Ijin HPH pada Hutan Alam. Berdasarkan Peraturan Pemerintah

Indonesia dikenal memiliki areal hutan yang sangat luas dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Dengan areal hutan yang luas serta potensi alam yang demikian besar, dalam perjalannnya Indonesia merupakan produsen kayu tropis terbesar di dunia. Mulai tahun 1960 Pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan pendapatan negara, diantaranya mengharapkan pendapatan dari bidang kehutanan berupa devisa sebanyak US$ 52,5 juta.2 Menteri Pertanian yang membawahi urusan Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri No. 291/Kpts/Um/1970 tentang penetapan areal kerja pengusahaan hutan yang secara otomatis menjadi kawasan Hutan Produksi dalam lingkungan Kawasan Hutan Negara. Dengan dikeluarkannya surat keputusan tersebut, maka kawasankawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), dengan sendirinya menjadi Hutan Negara yang dikukuhkan sebagai Hutan Produksi.3
1 Manager Internal Audit ITCIKU dan Pengajar UNKRIS Jakarta  Sejarah Kehutanan, Konflik Sosial Kehutanan – Lisman Sumardjani  Sejarah Kehutanan, Konflik Sosial Kehutanan – Lisman Sumardjani

d a l a m

tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan, khususnya pada Pasal 82, disebutkan bahwa pada saat hapusnya (berakhirnya) izin, untuk Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dalam hutan alam, baik barang tidak bergerak maupun tanaman yang telah ditanam dalam areal kerja, seluruhnya menjadi milik negara. Dengan kata lain, berbeda dengan pada Hutan Tanaman Industri (HTI), dimana biaya penanaman dalam areal IUPHHK pada Hutan Alam dibebankan sebagai biaya produksi, sementara pada HTI dapat dikapitalisasi dan diamortisasi sehingga tanaman dipandang sebagai asset perusahaan pemegang IUPHHK. Pedoman Standar Akutansi Indonesia (PSAK) No. 32 (yang dikeluarkan pada tahun 1995) pun membedakan perlakuan akuntansi antara tanaman yang ditanam pada Hutan Alam menggunakan Sistem TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) dengan yang ditanam pada Hutan Tanaman (HTI). Perbedaan perlakuan ini karena memandang adanya perbedaan yang signifikan terkait tehnis operasional antara pengelolaan hutan dengan TPTI di hutan alam dan pengelolaan HTI. Perbedaan perlakuan akuntansi tesebut mendasarkan pada asumsi bahwa dengan sistem TPTI pada hutan alam perusahaan pemegang IUPHHKHA akan menikmati hasil terlebih dahulu karena telah tersedianya kayu yang cukup memadai untuk ditebang, proses penanaman

m i t r a

p e r u b a h a n

Nomor 6 Tahun 2007 tanggal 7 Januari 2007 
Sistem Hak Pengusahaan Hutan dan Manajemen Hutan – Budi Nugroho

ai
38
desain 19_rabu.indd 38 8/10/2009 11:36:08 AM

Khas Akuntan

sebatas pada kegiatan pengkayaan hutan sehingga kegiatan penanam diakui sebagai biaya. Sedangkan pada HTI menggunakan asumsi bahwa areal hutan yang dikelola sudah tidak tersedia kayu yang memadai, sehingga perusahaan pemegang IUPHHKHT memulai pengelolaan dengan proses penanaman terlebih dahulu yang kemudian dinikmati dikemudian hari sehingga proses penanaman diakui sebagai ASET pemegang IUPHHK-HT. Namun seiring dengan waktu, potensi Kayu di sebagian hutan alam, khususnya di Kalimantan, diperkirakan hanya sekitar 20 M3 setiap hektarnya. Penurunan potensi secara drastis ini antara lain disebabkan oleh kebakaran hutan. Menyikapi kondisi ini, pemerintah melalui Departemen Kehutanan mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) nomor 11 tanggal 9 Pebruari 2009 tentang Sistem Silvikultur dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Produksi yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas hasil hutan pada hutan produksi. Dalam Permenhut ini Pemegang IUPHHK-HA dapat menerapkan multi sistem silvikultur, antara lain dengan melakukan Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB). THPB yang semula diterapkan hanya untuk HTI merupakan sebuah teknik silvikultur yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas hasil hutan di hutan alam yang mengalami kondisi kerusakan sampai dengan taraf tertentu. Sebagai gambaran, dengan tehnik THPB ini potensi kayu yang semula 20 M3 per hektar diharapkan dapat ditingkatkan menjadi 120 M3 perhektar Dengan menggunakan teknik ini terhadap areal hutan yang rusak akan dilakukan pembersihan (land clearing)

untuk kemudian ditanami kembali dengan manajemen yang lebih baik guna meningkatkan produktifitas hasil hutan. Oleh karena itu, apakah layak dan benar jika suatu kegiatan yang secara knis operasional sama antara metode pengelolaan hutan di Hutan alam dengan menggunakan teknik THPB dan HTI, namun secara perlakuan akuntansi masih dibedakan?? Seolah mendukung terbitnya Permenhut nomor 11 tahun 2009, pada saat yang hampir bersamaan, yaitu pada tanggal 13 April 2009, melalui forum limited hearing yang diselengarakan oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), PSAK No. 32 Tentang Kehutanan diumumkan akan ditarik / tidak diberlakukan lagi efektif per 1 Januari 2010. Pencabutan PSAK 32 bertujuan agar sistem akuntansi Indonesia pada akhirnya akan sesuai dengan IFRS (International Financial Report Standard) sehingga dapat digunakan dan diperbandingkan secara Global yang pada akhirnya dapat menunjang Perkembangan Usaha (bisnis) di Indonesia. Sedangkan diantaranya5: Alasan penarikan ini

Hal ini akan menimbulkan inkonsisten pelaporan akuntansi. · Beberapa pengaturan akuntansi di PSAK 32 bertentangan dengan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dan PSAK umum Sebagai catatan, terkait dengan pelaksanaan multi sistem silvikultur, PSAK No. 32 hanya mencakup pelakuan akuntansi untuk Metode TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Sedangkan metode lainnya (THPB, THPA, TPTJ, TPTR) tidak dicover dalam PSAK 32, padahal dengan metode yang sangat berbeda tersebut semestinya ada perbedaan perlakuan akuntansinya. Dicabutnya PSAK 32 memungkinkan Perusahaan menggunakan Alternatif PSAK lain atau pedoman lain secara Principle Based asalkan tidak melanggar Pedoman Akuntansi Berterima Umum (PABU/GAAP) dan Framework Akuntansi. Sehingga apabila THPB yang diterapkan di HTI dengan yang diterapkan di (Hutan Alam) HA memiliki kesamaan dari segi teknis operasional, maka perlakuan akuntansinya pun harusnya sama (Principle Based). LANDASAN LEGAL PENGAKUAN ASET TANAMAN THPB PSAK setidaknya dilindungi oleh berbagai Undang – Undang, Peraturan Pemerintah (PP) Peraturan Menteri (Permen) dan landasan-landasan hukum lainnya yang menyebutkan bahwa pelaporan / laporan keuangan di Indonesia disusun berdasarkan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Indonesia. Sehingga PSAK mempunyai kekuatan dimata Hukum. Dengan dicabutnya PSAK 32 dan berlaku principle based, maka sebenarnya

· Pengaturan akuntansi dalam PSAK 32 ini telah diatur dalam PSAK-PSAK lainnya, · PSAK akan mengatur perlakuan akuntansi atas transaksi, bukan didasarkan pada jenis industri dan Penerapan secara Principle Based · Pengaturan akuntansi dalam PSAK 32 berdasarkan regulasi yang berlaku saat itu dan ketika regulasi berubah, maka penagturan akuntansi harus disesuaikan. 
Paparan Dewan Standar Akuntansi Ikatan Akuntan Indonesia pada Limited Hearing tanggal 13 April 2009

ai
39
desain 19_rabu.indd 39 8/10/2009 11:36:09 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Khas Akuntan

Tidak ada suatu

pembangunan hutan baik di bekas areal tebangan TPTI maupun di kawasan tidak produktif untuk tanaman dengan besaran tertentu (sebagai contoh US$ 700/ha). Hal ini mempunyai arti harfiah bahwa penanaman dapat diakui sebagai ASET. Kendala hukum diberlakukan / diakuinya THPB menjadi Aset perusahaan adalah adanya PP No 6 Tahun 2007 pasal 82 butir 4 Jo PP No 3 tahun 2008 yang menyebutkan bahwa “Pada Saat hapusnya izin, Untuk IUPHHK dalam hutan alam, baik barang tidak bergerak maupun tanaman yang ditanam dalam areal kerja, seluruhnya menjadi milik Negara” diartikan secara umum bahwa tanaman yang ditanam diareal hutan alam adalah ASET NEGARA. Namun apakah tidak dapat diartikan “bahwa selama belum hapusnya Izin, perusahaan pemegang IUPHHK dalam hutan alam dapat mengakui tanaman yang ditanam dalam areal kerja (khususnya yang menggunakan metode TPHTB) sebagai asset perusahaan pemegang IUPHHK kemudian pada saat masa hapusnya izin baru menjadi milik/Aset Negara?. Sebagai contoh Ketika perusahaan mendapatkan IUPHHK-HA dengan masa 25 tahun, 45 tahun, 55 tahun atau 60 tahun, kemudian melakukan pengelolaan Hutan menggunakan metode THPB dan menanam tanaman daur pendek (8 – 10 tahun) sehingga dengan demikian perusahaan pemegang IUPHHK-HA dapat melakukan penamanan sampai 2 – 5 kali daur selama masa Izinnya berlaku, mengapa perusahaan pemegang IUPHHK-HA tidak boleh mengakuinya sebagai asset pemegang izin? Apakah ada landasan hukum yang melarangnya secara implisit? Hal ini hampir sama prinsipnya dengan HTI.

MENGAPA ASSET dan BUKAN BIAYA? Dari sisi dunia usaha, aspek dimana Tanaman yang ditanam dengan menggunakan metode THPB dapat diakui sebagai asset perusahaan, jelas lebih favourable. Karena terkait dengan performance Keuangan Perusahaan yang akan lebih baik. Hal ini terkait dengan dana investasi yang cukup besar yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam sistem penanaman THPB tersebut. Apabila dana penanaman tersebut dibiayakan akan mengakibatkan melonjaknya Harga Pokok Produksi (HPP) yang tentu tidak akan menarik bagi dunia Usaha. Sebagai gambaran untuk melakukan penanaman dengan metode THPB agar hasilnya baik memerlukan dana sekitar Rp. 8 Juta – Rp. 10 Juta per hektar. Jika perusahaan pemegang IUPHHK akan melakukan THPB diareal 100.000 Ha saja maka dana yang diperlukan sebesar Rp. 800 Milyar – Rp. 1 Trilyun. Bisa dibayangkan jika dana tersebut dibiayakan, apakah ada pengusaha yang tertarik untuk berinvestasi di sektor kehutanan? Perusahaan pemegang IUPHHK dalam hutan alam akan terstimulus untuk mengelola areal hutannya untuk lebih produktif dan berkualitas tinggi. Sebagai gambaran, potensi kayu di areal hutan saat ini bayak yang kurang dari 20M3 per hektar, dengan Metode THPB akan ditingkatkan potensi kayu hingga bisa mencapai 120m3 / ha. Hal ini terkait dengan kepastian kepemilikan akan tanaman tersebut. Sehingga dari sisi kelestarian hutan produksi pun akan lebih baik. Apabila penanaman dibiayakan, maka tidak mustahil pemegang IUPHHK akan melakukan penanaman alakadarnya sebatas pemenuhan suatu kewajiban yang akan berdampak yang kurang baik terhadap kelestarian hutan produksi. Seiring dengan membaiknya

p e r u b a h a n d a l a m m i t r a

landasan hukum tersurat lagi yang implisit mengharuskan bahwa proses penanaman dan tanaman yang ditanam di hutan alam harus diakui sebagai biaya. Dalam Draft Buletin Teknis No 4, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyarankan proses Penanaman dan Tanaman dapat merujuk pada PSAK 16 tentang Aset Tetap, karena dalam PSAK 16 tidak mengecualikan Biological Aset. Oleh karena itu, secara khasanah Akuntansi merujuk kepada PSAK yang ada, pengakuan dalam pembukuan terhadap proses penanaman dan Tanaman dengan menggunakan metode THPB dapat diakui sebagai ASET perusahaan pemegang IUPHHK, tampa membedakan apakah itu dilaksanakan pada Hutan Alam ataukah pada HTI. Selain itu dalam SK HPH masingmasing pemegang IUPHHK-HA, disebutkan antara lain bahwa perusahaan pemegang izin wajib menanamkan modalnya dan menyisihkan sebagian dari keuntungannya untuk pembinaan, rehabilitasi, dan

ai
40
desain 19_rabu.indd 0 8/10/2009 11:36:10 AM

Khas Akuntan

Dari Sisi Devisa Negara dan Iklim Investasi, apabila sektor bisnis Kehutanan ini menjadi menarik diharapkan perusahaan pemegang IUPHHK Lokal yang semula menempatkan dananya di Luar Negeri, kembali memanamkan dananya di dalam negeri pada sektor kehutanan. Selain itu, jika peraturan perundang-undangan telah memungkinkan untuk dapat menarik investor asing untuk melakukan investasi di Indonesia di sektor kehutanan ini maka akan meningkatkan pula iklim Investasi. Sementara apabila penanaman dibiayakan peluang untuk meningkatkan Devisa Negara ini akan hilang, Dari Sisi ketenagakerjaan, dengan membaiknya iklim usaha kehutanan, maka perusahaan kehutanan akan dapat lebih bertahan sehingga mencegah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja. Sedangkan apabila penanaman ini dibiayakan bukan mustahil akan banyak perusahaan pemegang

Selain itu, terbuka peluang munculnya resiko Moral Hazard dari Pemegang Izin yang akan menebang habis tanamannya ketika izinnya akan habis. Resiko Moral hazard ini sama dengan yang terdapat pada Pemegang Izin HTI. Namun Resiko Moral Hazard ini diharapkan dapat teratasi jika Pemegang Izin mempunyai hak ekslusif pada saat perpanjangan izin (untuk saat ini terdapat perusahaan yang telah diperpanjang 3 kali) sehingga Resiko Moral hazard ini baru akan muncul sekitar 75 – 150 tahun yang akan datang. Sedangkan resiko hilangnya areal hutan / kerusakan Hutan akibat perrilaku Pemegang Izin yang tidak terlalu peduli terhadap kualitas tanamannya jauh lebih besar dan sulit dikendalikan. KESIMPULAN · Dengan dihapusnya PSAK 32, terdapat 2 Panduan Akuntansi yang mempuyai kekuatan Hukum untuk mengakui tanaman THPB sebagai Aset, yaitu PSAK khususnya PSAK 16 dan SKHPH. · Tidak ada ketentuan perundang-

Resend dari anggota oleh Ibu Elly Zarni

ai
41
desain 19_rabu.indd 1 8/10/2009 11:36:11 AM

m i t r a

d a l a m

Penentuan Standar Pelaporan Keuangan Kehutanan Yang Menetapkan Perlakuan Tanaman Sebagai Aset Atau Biaya Menjadi salah satu Penentu Nasib Hutan dan Industri Kehutanan Di Indonesia.

p e r u b a h a n

performance Keuangan perusahaan dan favourable-nya bagi dunia usaha dengan dilakukannya kapitalisasi ini, Dilihat dari sisi Keuangan Negara, maka bukan suatu hal yang mustahil pendapatan Negara akan meningkat dari sektor Pajak Penghasilan Perusahaan (PPh Badan), kenaikan dari sektor kehutanan terutama peningkatan PSDH (karena produktifitas hutan akan jauh meninkat dari potensi 20 M3 menjadi 120M3), meningkatkan rasio pertumbuhan kredit sehingga Negara akan mendapatkan tambahan dari sektor pajak bunga kredit dan Negara tidak perlu mengembalikan Dana Reboisasi untuk penanaman Hutan kembali. Selain itu, apabila hal penanaman dibiayakan peluanguntuk meningkatkan pendapatan Negara ini akan hilang, disamping kenyataan bahwa hal ini tidak favourable bagi dunia usaha.

izin yang tidak lagi sanggup menanggung biaya operasional yang sedemikian besar sehingga memutuskan untuk menutup perusahaannya yang berdampak terjadinya PHK. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa dengan pengakuan Tanaman sebagai Aset, maka kemungkinan sebagian pemegang IUPHHK untuk mendapatkan reimbursement DR menjadi hilang, meskipun reimbursement itu sendiri pun kecil kemungkinan perolehannya karena telah masuk kedalam komponen APBN.

undangan secara implisit yang melarang pengakuan Tanaman (yang ditanam dengan menggunakan metode THPB) di hutan alam dapat diakui sebagai asset perusahaan PP 6 Tahun 2007 pasal 82 butir 4 jo PP No 3 tahun 2008 kalaupun dapat dianggap sebagai hambatan, masih dapat dimultitafsirkan . · Dari tinjauan legal dan akuntansi di atas, pada prinsipnya Perusahaan pemegang IUPHHK pada hutan alam dapat mengakui tanaman yang ditanam dengan menggunakan Metode THPB dalam areal kerja sebagai asset perusahaan selama belum hapusnya Izin, tanpa harus merubah PP 6 tahun 2007 jo PP No 3 tahun 2008 tersebut, mengingat merubah suatu PP dapat memakan waktu yang lama.

Khas Akuntan

Foto Penulis

PENGATURAN KONSESI JASA INFRASTRUKTUR
Dituturkan Dr. Jan Hoesada

Pendahuluan The International Financial Reporting Interpretations Committee mengatur Tafsir 12 terkait pada pendapatan konstruksi dan pengakuan bagian hasil operasi fasilitas public yang dikelola swasta dalam IFRIC Interpretation 12-Service Concession Arrangements. IFRIC 12 terkait pada IFRIC 4 atau ISAK 8 tentang kemungkinan kandungan sewa pada perikatan apapun, terkait PSAK 34 yang mengatur dua metode pengakuan pendapatan konstruksi. Sebagian pakar akuntansi memperkirakan bahwa interpretasi tersebut memberatkan berbagai entitas seperti PLN dan Jasamarga, apabila diterapkan. Berbagai pendapat berkembang dalam DSAK menyebabkan kemungkinan diterapkan 2011 atau 2012. Pada IFRIC 12, operator melakukan konstruksi tanpa kepemilikan dari aset tersebut. Aset akan dimiliki oleh grantor atau pemerintah RI, sehingga operator harus mencatat akumulasi biaya konstruksi, akan dikonversi menjadi piutang terhadap pemerintah karena penyerahan hasil konstruksi itu. Jurnal, debit Piutang pada Pemerintah, Kredit Aset Konstruksi yang diserahkan kepada pemerintah. Pemerintah akan membayar hutangnya, misalnya basis jumlah Rupiah tertentu untuk setiap kendaraan yang melewati tol kepada Jasamarga, atau tarif per liter atau kubik air tertentu hasil penjualan PDAM diberikan Pemda kepada PDAM untuk melunasi hutang Pemda. Operator mencatat konsesi

atau hak memungut hasil dari pengguna prasarana sebagai aset nirwujud sebesar NPV ekspektasi pungutan tol selama masa konsesi (misalnya 10 tahun) Substansi IFRIC Interpretation 12 Pada umumnya pembangunan infrastruktur dibiayai APBN yang terbatas jumlahnya, sehingga pemerintah atau grantor mengundang partisipasi sektor privat sebagai investor dalam pendanaan dan pengelolaan berbagai proyek infrastruktur. Pengoperasian dilakukan pihak swasta atas nama pemerintah atau entitas-sektor-publik yang didirikan pemerintah, sehingga apabila layanan-publik tak memuaskan pemerintah terkena getahnya. · Berdasar pola Bangun-Kelola-Serah, pihak swasta membangun suatu infrastruktur, apabila selesai dibangun selanjutnya dikelola ”secara komersial” oleh pihak swasta tersebut sambil bertugas melakukan pemeliharaan dan rehabilitasi, pada akhir masa kontrak diserahkan kembali kepada pemerintah. · Mirip dengan Bangun-Kelola-Serah adalah Rehabilitas-Kelola-Serah untuk fasilitas publik yang telah dimiliki pemerintah dan diserahkan untuk direhabilitasi dan dikelola swasta. · Pemerintah juga dapat menyerahkan pengelolaan, pemeliharaan, renovasi dan peremajaan infrastruktur yang telah ada kepada swasta sebagai operator atau

kontraktor. Infrastruktur bukan aset tetap operator infrastruktur, karena operator tak mempunyai kekuasaan menentukan kebijakan penggunaan infrastruktur. Operator bertindak untuk dan atas nama grantor. Pedoman umum adalah sbb : 1. Operator adalah penyedia layanan publik (service provider). 2. Operator membangun infrastruktur untuk penyediaan layanan publik jangka tertentu. 3. Operator mengelola-mengoperasikanmemelihara infrastruktur untuk jangka waktu tertentu. Operator mengakui pendapatan dan mengukur pendapatan sesuai IAS 11/ PSAK 34 Kontrak Konstruksi. Pendapatan dan beban konstruksi bagi operator adalah: 1. Pendapatan operator berasal konstruksi dan jasa pemeliharaan dari

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

2. Beban operator berkait pada dua hal tersebut di atas. Imbalan grantor kepada operator adalah : 1. Imbalan dicatat dengan nilai wajar. 2. Aset keuangan dicatat sesuai penerimaan tunai dan aset keuangan lain. 3. Grantor mempunyai kewajiban hukum untuk membayar imbalan tertentu

ai
42
desain 19_rabu.indd 2 8/10/2009 11:36:1 AM

Khas Akuntan

kepada operator. · Suatu jumlah tertentu dan pasti · Suatu jumlah tergantung pemenuhan syarat penyerahan bangunan fisik · Suatu imbalan berbasis kinerja operasional penggunaan aset tersebut. · Imbalan dicatat sebagai aset nirwujud oleh operator sesuai estimasi berdasar basis imbalan dan ekspektasi volume kegiatan selama tahun buku tersebut. Pendapatan dicatat sesuai PSAK 23 atau IAS 18 untuk revenue recognition, pada intinya menggunakan nilai wajar. Kewajiban kontraktual operator terkait hak pengoperasian adalah sbb : · Kewajiban memelihara prasarana pada tingkat kondisi fisik tertentu sampai diserahkan kepada grantor · Termasuk didalamnya adalah restorasi/ pemulihan kerusakan dan peningkatan kondisi fisik/upgrading prasarana sesuai kontrak. · Kewajiban ditaksir dengan metode estimasi untuk memperoleh estimasi terbaik. Apabila investor menggunakan dana pinjaman, maka biaya pinjaman dikapitalisasi apabila memenuhi syarat kapitalisasi PSAK 26 apabila tidak dibebankan kepada Laba Rugi tahun berjalan. Aset keuangan terkait kepada Grantor :

1. Operator mempunyai kontrak konstruksi dengan grantor. 2. Dua metode imbalan operator adalah Imbalan atau semacam upah pengelolaaan prasarana, muncul sebagai financial instrumen, dicatat sesuai IAS 39 atau PSAK 55. Imbalan berupa konsesi pengelolaan, hak menagih langsung kepada pelanggan prasarana, dicatat sebagai aset nirwujud sebesar NPV hasil neto selama konsesi. Grantor mengendalikan dan mengatur jenis jasa operator, pengendalian berbasis kepemilikan infrastruktur. Karena operator adalah entitas usaha komersial, grantor dengan sangat waspada melindungi infrastruktur bagi kepentingan umum. Grantor mengutamakan kelestarian kondisi fisik infrastruktur, kondisi paska perjanjian dengan operator. Pengendalian berbagai cara misalnya grantor melalui

Pengendalian grantor tak harus selalu ketat dan rinci, dilakukan dengan bebagai hampiran sebagai berikut: · Pengendalian harga tak perlu rinci, cukup dengan regulasi atau kontrak berbasis capping mechanism; 1. Perjanjian mengatur substansi terpenting dan sering 2. Perjanjian tak mengatur substansi kurang penting dan jarang, seperti pengabaian cap yang hanya terjadi pada situasi tak menentu. · Desain (perencanaan) hak residual dan sisa umur infrastruktur paska perjanjian · Operator mungkin diberi keleluasaan menentukan harga bersyarat 1. Lebihan laba disetor ke grantor 2. Pulangan bagi operator ter-Cap 3. Elemen harga memenuhi syarat yang ditentukan grantor Pengendalian hak residual grantor dilakukan dengan pengaturan sebagai berikut : · Operator dilarang menjual infrastruktur · Operator dilarang meng-agun-kan

· Kontrak dengan operator · Melalui regulasi pemerintah · Pengendalian peristiwa besar seperti renovasi, replacement prasarana, misalnya lapis-atas-jalan-raya. · Pengendalian pembelian output operator 1. Output dibeli grantor 2. Output dibeli pihak lain yang ditunjuk grantor Grantor dalam sektor publik mungkin

ai
43
desain 19_rabu.indd 3 8/10/2009 11:36:1 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

dkendalikan oleh lembaga lain, yaitu lembaga atasan grantor. Grantor harus mengindahkan keinginan pemangku kepentingan yang dekat dengan grantor sebagai bagian pemerintah, misalnya GBHN tentang jalanraya dan, pekerjaan umum (PU). Grantor mensubordinasikan optimalisasi laba sektor komersial.

Khas Akuntan
infrastruktur · Hak residual adalah NPV infrastruktur pada akhir masa kontrak, sesuai estimasi kondisi fisik akhir masa kontrak dgn operator. · Operator mengoperasikan infrastruktur mewakili grantor (on behalf grantor), dengan berbagai perkecualian/ kebebasan. Renovasi strategis harus terkendali grantor, terutama dalam bentuk: · Pengendalian peristiwa besar seperti renovasi, replacement prasarana, misalnya ganti-lapis-atas-jalan-raya, modernisasi teknologi telekomunikasi, sarana deteksi dan kendali kebocoran distribusi PDAM, gas dan PLN. · Renovasi terfokus kepada nilai residual dan umur residual, pelestarian public-utility karena kebutuhan umur prasarana (kalau mungkin) “tanpa batas” bagi masyarakat (bangsa) · Grantor melakukan supervisi ketat penggantian instalasi bawah tanah. Pengendalian atas penggunaan prasarana dapat diregulasi atau tidak diregulasi adalah sebagai berikut: · Prasarana berstatus unit-penghasil-kasmandiri tak-teregulasi atau diregulasiparipurna oleh regulator. · Grantor mengawasi agar prasarananirregulasi (misalnya untuk kelas elite masyarakat) tidak mendistorsi prasaranaterregulasi ketat (misalnya untuk kepentingan rakyat banyak berdaya beli terbatas) · Dengan demikian grantor menerapkan pengawasan tanpa campur tangan pada prasarana-nirregulasi. Perjanjian prasarana utama dapat ditambah berbagai perjanjian tambahan-tak-terregulasi berbasis SEWA (Lease), harus mengikuti PSAK sewa.

Kerangka Akuntansi

Berbagai aspek perjanjian dan pihak-pihak terkait pada standar akuntansi sebagai berikut:

KATAGORI

LESSEE

PENYEDIA JASA Kontrak jasa, kontrak pemeliharaan, kontrak lain seperti penagihan piutang Grantor Grantor Grantor

PENYEDIA JASA ROT, RehabilitateOperate-Transfer

PENYEDIA JASA BOT, BulidOperate-Transfer

PEMILIK

PEMILIK

p e r u b a h a n

Kerangka akuntansi uraian tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut : Berbagai aspek perjanjian dan pihak-pihak terkait pada standar akuntansi sebagai berikut:
Kerangka Akuntansi Kerangka akuntansi uraian tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut : Apakah grantor mengendalikan/meregulasi jenis jasa operator & harga? Ya Apakah grantor mengendalikan melalui kepemilikan, maslahat kepemilikan dan kerugian kepemilikan, bagian & hak residual pada akhir kontrak? Ya Apakah infrastruktur diperoleh/ dibangun operator dari pihak ketiga utk keperluan penyediaan jasa publik? Ya Tidak Apakah infrastruktur telah ada & dimiliki grantor, dan operator hanya sebagai pelaksana operasi jasa publik ? Ya Tidak

Jenis perjanijan

Lease. Mis. Operator memperoleh aset berdasar lease dari grantor Grantor Grantor Dibagi (shared)

BOO, Bulid– Owned-Operate

100% divestasi/ 100% privatisasi /100% korporasi

Kepemilikan Aset Capital investment Risiko Permintaan Pasar (Demand Risk) Durasi Residual interest IFRS terkait

Grantor Operator Grantor dan atau operator

Grantor Operator Grantor dan atau operator

Operator Operator Operator

Operator Operator Operator

8-20 tahun Grantor IAS 17

1- tahun Grantor IAS 18

2-30 tahun Grantor IFRIC 12

2-30 tahun Grantor IFRIC 12

2-30 tahun Operator IAS 16

Tak terbatas, dibatasi lisensi Operator IAS 16

Tidak Diluar lingkup interpretasi, lihat Information Note 2

d a l a m

Ilustrasi syarat kontrak adalah sebagai berikut: 1. Operator wajib membangun jalan raya dalam 2 tahun.
IFRIC 12 MAJALAH

2. Operator berhak mengelola atau mengoperasikan jalan tersebut 8 Ilustrasi tahun, yaitu tahun ke 3 sd tahun ke 10.
Ilustrasi Grantor memberi aset keuangan kepada operator adalah sebagai berikut :

6

Tidak

m i t r a

3. Operator wajib memelihara jalan sesuai tolok ukur tersepakati.

Maka operator tidak mengakui infrastruktur sbg aset tetap atau sebagai aset sewa (leased asset)

Apakah operator memiliki hak kontraktual untuk menerima tunai atau aset keuangan lain dari grantor atau berdasar pengarahan grantor sesuai paragraph 16? Ya Operator mengakui aset keuangan berbasis hak kontraktual utk menerima kas atau aset keuangan lain sesuai paragraph 16.

Tidak

Apakah operator punya hak kontraktual untuk memungut pengguna infrastruktur sesuai paragraph 17?

Tidak

Diluar lingkup Interpretasi, lihat paragraf 27.

Ilustrasi syarat kontrak adalah sebagai berikut:wajib memperbaharui permukaan 4. Pada akhir tahun ke 8 operator 1. Operator wajib membangun jalan raya dalam 2 tahun. jalan Operator berhak mengelola atau mengoperasikan jalan tersebut 8 tahun, yaitu 2. raya. tahun ke 3 sd tahun ke 10. 5. PadaOperator wajib memelihara jalan sesuai tolok ukur tersepakati. 3. akhir tahun ke 10 kontrak berakhir. . Pada akhir tahun ke 8 operator wajib memperbaharui permukaan jalan raya. 6. Grantor akhir tahun ke 10 kontrak berakhir. . Pada membayar 200 CU (currency unit) kepada operator 6. Grantor membayar 200 CU (currency penyediaan jalan bagi publik. pertahun untuk tahun ke 3-10 untukunit) kepada operator pertahun untuk tahun ke 3-10 untuk penyediaan jalan bagi publik. Asumsi kasus, semua arus kas terjadi pada akhir tahun. Ilustrasi estimasi biaya oleh operator sbb :

Ya Operator mengakui aset nirwujud sesuai kontrak, sesuai hak penerimaan hasil seuai paragraph 17.

Asumsi kasus, semua arus kas terjadi pada akhir tahun. Ilustrasi estimasi biaya oleh operator sbb :
Tahun 1 2 3-10 8 Unit moneter 00 00 10 100

Keterangan Jasa konstruksi 

IFRIC 12 MAJALAH

Ilustrasi Ilustrasi Grantor memberi aset keuangan kepada operator adalah sebagai berikut .

Jasa operasi pertahun Pelapisan permukaan jalan

Ilustrasi pendapatan kontrak sebagai berikut : Operator mengakui pendapatan dan beban sesuai IAS 11 Construction Contracts dan IAS 18 Pendapatan. Beban tiap aktivitas, yaitu beban konstruksi, operasi dan pelapisan-permukaanjalan diakui sebagai beban sesuai tahap selesai aktivitas. Kontrak pendapatan, nilai wajar jumlah tagihan kepada grandor-diakui saat tagihan berlaku valid. Pelapisan peemukaan wajib pada akhir tahun ke 8, dan diganti biayanya oleh grandor. Kewajiban pelapisan tak diakui pada neraca & beban pada LR, akuntansi dilakukan apabila pekerjaan pelapisan dilaksanakan.
8/10/2009 11:36:1 AM

ai

44

desain 19_rabu.indd 

Ilustrasi penerimaan atau piutang sbb :

2. Operator berhak mengelola atau mengoperasikan jalan tersebut 8 tahun, yaitu tahun ke 3 sd tahun ke 10. 3. Operator wajib memelihara jalan sesuai tolok ukur tersepakati. . Pada akhir tahun ke 8 operator wajib memperbaharui permukaan jalan raya. . Pada akhir tahun ke 10 kontrak berakhir. 6. Grantor membayar 200 CU (currency unit) kepada operator pertahun untuk tahun ke 3-10 untuk penyediaan jalan bagi publik. Asumsi kasus, semua arus kas terjadi pada akhir tahun. Ilustrasi estimasi biaya oleh operator sbb :

Khas Akuntan
Unit moneter 00 00 11 10 100

Keterangan Jasa konstruksi Ilustrasi pendapatan

1 kontrak sebagai berikut :

Tahun

Asumsi ilustrasi • Pendanaan operator berdasar kredit dan saldo laba • Bunga kredit 6.7% pertahun terhadap saldo kredit. • Arus kas dan nilai wajar diasumsikan terjadi sesuai ramalan.
Ilustrasi Arus kas
Tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah

2 • Operator mengakui pendapatan 3-10 beban dan Jasa operasi pertahun Pelapisan permukaan jalan 8 Construction Contracts dan IAS 18 Pendapatan.

sesuai IAS

• Beban tiap aktivitas, yaitu beban konstruksi, operasi dan pelapisanpermukaan-jalan diakui sebagai beban sesuai tahap selesai Ilustrasi pendapatan kontrak sebagai berikut : aktivitas. • Kontrak pendapatan, nilai wajar jumlah tagihan kepada grandordan IAS 18 Pendapatan. Beban tiap aktivitas, yaitu valid. diakui saat tagihan berlakubeban konstruksi, operasi dan pelapisan-permukaan• Pelapisan peemukaan nilai wajar jumlah tagihan kepada grandor-diakui saat Kontrak pendapatan, wajib pada akhir tahun ke 8, dan diganti tagihan berlaku valid. biayanya oleh grandor. •
jalan diakui sebagai beban sesuai tahap selesai aktivitas. Operator mengakui pendapatan dan beban sesuai IAS 11 Construction Contracts

Pelapisan peemukaan wajib pada akhir tahun ke 8, dan diganti biayanya oleh Kewajiban pelapisan tak diakui pada neraca & beban pada LR, grandor. Kewajiban pelapisan tak diakui pada pelapisan dilaksanakan. akuntansi dilakukan apabila pekerjaan neraca & beban pada LR, akuntansi dilakukan apabila pekerjaan pelapisan dilaksanakan.

Penerimaan Biaya (00) (00) kontrak (sesuai tabel 1.1.) Biaya (3) pinjaman (sesuai tabel 1.6) Arus kas (00) (3) neto masuk (keluar)

200 200 200 200 200 200 200 200 (10) (10) (10) (10) (10) (10) (10) (10)

1600 (1.18)

(69) (61) (3) (3) (33) (23) (19)

(7)

(32)

121

129

137

17

17

67

171

183

78

Ilustrasi penerimaan atau sbb : Ilustrasi penerimaan atau piutangpiutang
Keterangan Jasa konstruksi Jasa layanan operasional jalan raya Pelapisan ulang permukaan jalan Tarif bunga efektif 6.18% pertahun

sbb :
Ilustrasi laba paripurna

Nilai wajar Ramalan biaya konstruksi + % Ramalan biaya konstruksi + 20% Ramalan biaya konstruksi + 10%

Tahun Pendapatan Beban kontrak Laba keuangan (tabel 1.6. X 6.18%)

1 2

2 2

3 12

4 12

5 12

6 12

7 12

8 122

9 12

10 12

Jumlah 1.26 (1.180) 3

(00) (00) (10) (10) (10) (10) (10) (10) (10) (10) 32 67 9 1 3 3 2 22 11

Sebagai contoh, Beban konstruksi IFRIC 12 MAJALAH Pendapatan (cost plus 5%) Laba
Sebagai contoh,

CU 500 CU 525 CU 25 diakui pada laba rugi.

7

Beban pinjaman (cash/debt, tabel 1.6 X 6.7%) Laba neto

-

(3)

(69) (61) (3) (3) (33) (23) (19)

(7)

(32)

2

23

-

-

-

2

3

1 

6

78

Ilustrasi aset keuangan adalah sebagai berikut :
Beban konstruksi CU 00 • Jumlah (cost plus %) tertagih kepada grandor sesuai definisi piutang IAS 39 Pendapatan CU 2 Laba CU 2 Measurement. Financial Instrumens: Recognition and diakui pada laba rugi.
Ilustrasi bagian neraca Tahun
Tagihan pada Grantor (tebel 1.. – tabel 1..) Kas/ hutang 1.) Aset neto 2 8 8 8 8 0 3 67 72 78

1 
2

2
1.082

3
961

4
832

5
69

6 
0

7
396

8
33

9
177

10
-

• Piutang pada awalnyasebagai berikut : nilai wajar. Ilustrasi aset keuangan adalah diukur dengan teramortisasi, yaitu • Piutang selanjutnya diukur dengan biayapiutang IAS 39 Financial Jumlah tertagih kepada grandor sesuai definisi Instrumens: pengakuan Recognition and Measurement. kumulatif sesuai tarif bunga awal ditambah bunga Piutang pada awalnya diukur dengan nilai wajar. efektif . selanjutnya diukur dengan biaya teramortisasi, yaitu pengakuan awal Piutang • Bila arus kas dan nilai wajar sesuai ramalan, bunga efektif sebesar 6.18% sebesar Bila arus kas dan nilai wajar sesuai ramalan, bunga efektif pertahun dan 6.18%piutang diakuidan piutang diakui pada akhir tahun 1 – 3 sbb : pertahun pada akhir tahun 1 – 3 sbb :
Pengukuran piutang tampak sebagai sebagai Pengukuran piutang tampakberikut : berikut : Keterangan Jumlah dapat ditagih akhir tahun 1 Piutang akhir tahun 1 Bunga efektif tahun ke 2 atas piutang yang timbal akhir tahun 1 (6.8% X CU 2) Jumlah dapat ditagih akhir tahun 2 Piutang akhir tahun ke 2 Bunga efektif tahun ke 3 atas piutang yang timbal akhir tahun 1 (6.8% X CU 1.082) Jumlah jatuh waktu pada operasi tahun 3 (CU 10x(1+20%)) Penerimaan kas tahun 3 Piutang akhir tahun 3 CU 2 2 32 2 1.082 67 12 (200) 961 ditambah bunga kumulatif sesuai tarif bunga efektif .

IFRIC 12 MAJALAH (tabel

9

Penutup
tafsir terkait standar tersebut secara implisit, karena Standar IFRS di Indonesia Konsekuensi logis pemberlakuan suatutafsir tak bertanggal efektif. Tafsir berpotensi membangkitkan kesadaran praktik akuntansi, meluruskan praktik akuntansi adalah salah tafsir, namun berdampak gempa bumi akuntansi tersebut secara pelaku yang pemberlakuan tafsir terkait standar tatkala diterapkan oleh implisit, akuntansi. Namun, dapatkah tafsir ditunda pemberlakuannya dengan cara menunda karena tafsir tak bertanggal efektif. Tafsir berpotensi membangkitkan penerbitan tafsir edisi bahasa Indonesia keluaran DSAK? kesadaran praktik akuntansi, meluruskan praktik akuntansi yang salah Catatan pribadi, Jakarta, 8 Juli 2009 tafsir, namun berdampak gempa bumi akuntansi tatkala diterapkan oleh pelaku akuntansi. Namun, dapatkah tafsir ditunda pemberlakuannya dengan cara menunda penerbitan tafsir edisi bahasa Indonesia keluaran DSAK? Konsekuensi logis pemberlakuan suatu Standar IFRS di Indonesia adalah pemberlakuan

Penutup

ai

Ilustrasi arus kas, laba paripurna dan posisi keuangan adalah sbb : Ilustrasi arus kas, laba paripurna dan posisi Asumsi ilustrasi sbb : Pendanaan operator berdasar kredit dan saldo laba Bunga kredit 6.7% pertahun terhadap saldo kredit. Arus kas dan nilai wajar diasumsikan terjadi sesuai ramalan.

keuangan adalah

Catatan pribadi, Jakarta, 8 Juli 2009

45
IFRIC 12 MAJALAH

desain 19_rabu.indd 
IFRIC 12 MAJALAH

10 8/10/2009 11:36:1 AM

8

m i t r a

(00)

(1.03)

(913)

(78)

(67)

(00)

(33)

(276)

(10)

78

d a l a m

p e r u b a h a n

Kolom: TIK/ICT Kolom: TIK/ICT

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau information and communication technology (ICT)

m i i tt rr a d a ll a m pp ee rr u bb a h a n m a d a a m u a h a n

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau information and communication technology (ICT) berkembang sangat pesat. Akuntan tidak bisa lagi mengabaikan hal ini, dan jangan sampai dicap gagap teknologi (gaptek). Dengan adanya globalisasi maka para akuntan harus dapat mengikuti perkembangan TIK/ICT agar dapat berkompetisi di tingkat global. Mulai edisi ini majalah Akuntan Indonesia (AI) akan membahas seputar TIK/ICT. Perangkat lunak (software) yang banyak digunakan sekarang adalah program pengolah angka (spreadsheet). Meskipun perusahaan sudah menggunakan ERP software yang paling mahal sekalipun, nyatanya masih banyak yang menggunakan spreadsheet untuk menyusun atau mengkostumisasi laporan keuangan, khususnya dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian. Mengingat kita sedang dilanda krisis keuangan global, dan sebagai akuntan hendaknya dapat memberi contoh untuk tidak menggunakan perangkat lunak bajakan, maka apabila kita tidak mempunyai cukup uang untuk membeli suatu perangkat lunak, sekarang cukup banyak tersedia perangkat lunak yang gratis dan tidak kalah fiturnya dibanding perangkat lunak yang tidak gratis.

gratis).

Pemantauan tenggat waktu Mari kita coba gunakan OpenOffice.org Calc, misalnya untuk memantau pencapaian target konvergensi IFRS per hari.

OpenOffice.org Perangkat lunak OpenOffice.org merupakan perangkat lunak perkantoran yang dapat diperoleh atau diunduh secara gratis, dan didalamnya terdapat program pengolah angka, yaitu OpenOffice.org Calc.

ai

Versi OpenOffice.org terkini (3.1) cukup menarik, dan pada gambar berikut ini kita dapat melihat tampilan antarmuka dan fitur OpenOffice. org Calc (yang gratis) dibandingkan dengan Microsoft Excel (yang tidak

Kita beri nama kolom-kolomnya adalah (a) nomor urut, (b) nomor PSAK sekarang atau exposure draft, (c) nomor IAS/IFRS, (d) target tanggal adopsi IAS/IFRS, (e) tanggal sekarang, (f ) kesenjangan (gap) antara target dan sekarang apabila proses adopsi belum selesai, (g) realisasi selesai adopsi, dan (h) hari keterlambatan dari target ke tanggal realisasi selesai adopsi. Kolom-kolom tanggal (d, e, g) diblok dan kemudian klik kanan tetikus (mouse) komputer, maka tampilah menu seperti gambar di atas. Selanjutnya dipilih format tanggal seperti gambar berikut ini. Selanjutnya coba kolom-kolomnya diisi tanggal dan rumus seperti gambar berikut ini (isi sel hanya sebagai contoh dan bukan data sebenarnya).

ai

46

desain 19_rabu.indd 6

8/10/2009 11:36:1 AM

Kolom TIK/ICT

Apabila tanggal di komputer berubah, maka isi kolom E akan berubah pula, dan demikian pula dengan isi kolom F. Perbandingan dengan Microsoft Excel Mari kita bandingkan antara OpenOffice.org Calc dan Microsoft Excel seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Penutup Ayo, melek TIK/ICT, dan optimalkan pemanfaatannya. Jika selama ini masih menggunakan software bajakan dan tidak mampu membelinya, maka mulailah mencoba software yang asli, gratis, dan tidak melanggar hukum.

ai

47

desain 19_rabu.indd 7

8/10/2009 11:36:17 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai

Opini

Menyimpanglah dari PSAK
Yakub Divisi Teknis, Ikatan Akuntan Indonesia otomatis dapat menyimpang dari PSAK dalam penyusunan laporan keuangannya. Penyimpangan tersebut dapat dilakukan jika kerangka regulasi yang berlaku mengijinkan penyimpangan tersebut atau minimal tidak melarangnya. Jika kerangka regulasi yang berlaku melarangnya, maka perusahaan tidak boleh menyimpang dari PSAK dan diharuskan untuk mengungkapnya dalam catatan atas laporan keuangan. Selain harus memperhatikan kerangka regulasi yang berlaku, penyimpangan dari PSAK hanya dapat dilakukan jika penyimpangan yang sama juga dilakukan oleh seluruh perusahaan dalam industri yang sama. Dengan kata lain, penyimpangan dari PSAK tidak dapat dilakukan jika ada satu perusahaan lain dalam industri yang sama mematuhi suatu PSAK yang dianggap bertentangan dengan tujuan laporan keuangan. Untuk memahami perlunya penyimpangan dari PSAK diatur dalam standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia dapat dilihat dari beberapa faktor berikut: • Pengertian konvergensi IFRS Pengertian konvergensi IFRS yang digunakan merupakan awal untuk memahami apakah penyimpangan dari PSAK harus diatur dalam standar akuntansi keuangan. Pendapat yang memahami konvergensi IFRS adalah full adoption menyatakan Indonesia harus mengadopsi penuh seluruh ketentuan dalam IFRS, termasuk penyimpangan dari IFRSs sebagaimana yang diatur dalam IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements paragraf 19-24. Pengertian konvergensi IFRS sebagai adopsi penuh sejalan dengan pengertian yang diinginkan oleh IASB. Tujuan akhir dari konvergensi IFRS adalah PSAK sama dengan IFRS tanpa adanya modifikasi
AKUNTAN

p e r u b a h a n

Judul di atas bukan suatu bentuk provokasi, agitasi, atau sejenisnya. Bukan pula anjuran atau ajakan untuk menyimpang dari PSAK. Namun, akan ada peluang yang resmi untuk menyimpang dari PSAK. Dan hal tersebut diatur dalam PSAK, bukan di tempat lain. Kita tidak perlu kesulitan mencari justifikasi untuk menyimpang dari PSAK, justru justifikasinya sendiri ada dalam PSAK. Dalam ED PSAK No.1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan yang beberapa waktu yang lalu dikeluarkan DSAK IAI di paragraf 17 sd 22 mengatur tentang adanya penyimpangan dari PSAK. Penyimpangan dari PSAK dapat dilakukan ketika kepatuhan atas PSAK justru akan memberikan pemahaman yang salah dan bertentangan dengan tujuan laporan keuangan sebagaimana diatur dalam kerangka dasar (KDPPLK). Namun, kemungkinan penyimpangan ini akan sangat jarang terjadi mengingat seharusnya tidak ada pertentangan antara kepatuhan terhadap PSAK dengan tujuan laporan keuangan dalam KDPPLK. Sebagaimana diatur dalam KDPPLK, salah satu tujuan KDPPLK adalah sebagai acuan bagi penyusun standar akuntansi keuangan (accounting standards setter) dalam melaksanakan tugasnya. Ketika suatu PSAK dikembangkan dari KDPPLK, maka seharusnya tidak akan ada pertentangan antara PSAK dengan sumber acuannya. Manajemen adalah pihak yang diberi tugas untuk menyimpulkan telah terjadi pertentangan antara suatu PSAK dengan tujuan laporan keuangan. Ketika manajemen telah menyimpulkan hal tersebut, tidak serta merta manajemen atau penyusun laporan keuangan secara

sedikitpun. Di sisi lain, tanpa perlu mendefinisikan konvergensi IFRS itu sendiri, berdasarkan pengalaman konvergensi beberapa IFRS yang sudah dilakukan di Indonesia tidak dilakukan secara full adoption. Misalnya, ketika IAS 17 diadopsi menjadi PSAK 30 (Revisi 2007): Sewa mengatur leasing tanah berbeda dengan IAS 17. Sistem kepengurusan perusahaan di Indonesia yang memiliki dewan direksi dan dewan komisaris (dual board system) berpengaruh terhadap penentuan kapan peristiwa setelah tanggal neraca, sebagai contoh lain dari perbedaan antara PSAK dengan IFRS. • Kerangka regulasi Adanya penyimpangan dari PSAK akan memberikan peluang kepada kerangka regulasi nasional untuk mengatur berbeda atau bertentangan dengan PSAK, dimana penyimpangan dari PSAK dapat dilakukan jika kerangka regulasi yang berlaku mengharuskan penyimpangan tersebut atau tidak melarangnya. Penyimpangan dari suatu PSAK juga merupakan justifikasi bahwa PSAK tidak sempurna. Hal ini memberikan peluang atau tidak membelenggu penyusun laporan keuangan (dengan menyimpang dari PSAK) untuk mencapai tujuan penyusunan laporan keuangan yang seharusnya sebagaimana diatur dalam KDPPLK. Namun, regulasi yang berlaku di Indonesia mengharuskan perusahaan untuk menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan, terutama PSAK yang merupakan komponen utama dari standar akuntansi keuangan. Jika dalam PSAK diijinkan untuk menyimpang dari PSAK, maka hal ini akan membingungkan perusahaan yang diharuskan menyusun

m i t r a

d a l a m

48
desain 19_rabu.indd 8

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:36:18 AM

Opini

ai
Dalam kondisi industri yang bersifat monopoli atau oligopoli hal ini akan mudah dilakukan. Bahkan, dalam industri dengan tingkat kompetisi tinggi umumnya akan mudah mencapai konsesus antar perusahaan ketika mereka menghadapi “musuh bersama”. Tentunya kita tidak menginginkan PSAK head to head dengan penyusun laporan keuangan dan regulator. Kontekstualitas penerapan • Penyimpangan dari IFRS yang diatur dalam IFRS relevan dengan konteks IFRS yang berlaku dan diterapkan secara internasional, dan memberikan ruang yang memungkinkan setiap negara yang mengadopsi IFRS secara penuh untuk menyimpang dari IFRS dalam rangka untuk mengakomodasi national regulatory framework. PSAK mempunyai konteks yang berbeda dengan IFRS, dimana PSAK hanya berlaku di Indonesia. Ketika suatu IFRS diadopsi ke suatu PSAK maka IFRS tersebut sudah mengalami proses “pembenturan” dengan kerangka regulasi nasional sehingga hal ini menjamin tidak ada lagi pengaturan dalam PSAK yang bertentangan dengan regulasi yang berlaku. Leasing tanah dan dual board system di atas merupakan contoh hasil pembenturan dimaksud. • Kebijakan negara lain Sebagai perbandingan, Singapura dan Filipina telah mengadopsi adanya penyimpangan dari standar akuntansi keuangan yang berlaku di negara tersebut. Malaysia juga telah mengadopsi tentang penyimpangan tersebut, tetapi akan menerbitkan suatu panduan atau interpretasi untuk menjamin bahwa penyimpangan tersebut hanya dapat terjadi di keadaan yang jarang terjadi, bukan sesuatu yang dapat dilakukan sewaktu-waktu. Sementara Australia tidak mengadopsinya. Apakah Anda lebih setuju penyimpangan dari IFRS atau penyimpangan dari PSAK?

Penyimpangan dari PSAK dikhawatirkan akan timbul moral hazard terkait dengan interpretasi atas kalimat “… kepatuhan terhadap ketentuan PSAK akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang disusun dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan …” (lihat ED PSAK 1 paragraf 17). Dikhawatirkan penyusun laporan keuangan atau manajemen sering menyimpulkan telah terjadi pertentangan antara tujuan laporan keuangan dengan suatu PSAK, bukan suatu keadaan yang sangat jarang terjadi sebagaimana dimaksudkan dalam ED PSAK 1 (Revisi 2009). KDPPLK versus PSAK • Tujuan penyimpangan dari PSAK untuk meningkatkan relevansi informasi yang

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

49
8/10/2009 11:36:19 AM

desain 19_rabu.indd 9

m i t r a

laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Kondisi ini akan kontradiksi atau bahkan kontraproduktif dengan penegakan regulasi yang terkait dengan pelaporan keuangan. Dilihat dari sudut pandang penyusunan suatu aturan, PSAK merupakan suatu aturan dan mungkinkah suatu aturan mengatur untuk menyimpang dari aturan tersebut. Dengan logika tersebut maka tidak mungkin suatu aturan mengatur hal yang bertentangan dengan aturan tersebut atau aturan lain yang masih merupakan satu kesatuan pengaturan.

Namun, dalam KDDPLK disebutkan bahwa jika terjadi pertentangan antara kerangka dasar dengan PSAK, maka PSAK yang harus diunggulkan. Dengan analogi yang sama, kenapa ketika manajemen berkesimpulan bahwa terjadi pertentangan antara PSAK dengan tujuan laporan keuangan dalam KDPPLK yang diunggulkan adalah KDPPLK, bukannya sebaliknya. • Persyaratan yang ketat Persyaratan untuk menyimpang dari PSAK adalah ketat. Tidak mudah bagi suatu perusahaan untuk dapat menyimpang dari suatu ketentuan dalam PSAK. Penyimpangan tersebut dapat dilakukan jika kerangka regulasi mensyaratkan atau minimal tidak melarang penyimpangan tersebut, dan hal tersebut dilakukan oleh seluruh perusahaan dalam industri yang sama tanpa terkecuali. Kedua syarat tersebut tidak mudah untuk dipenuhi.

d a l a m

dihasilkan oleh laporan keuangan dan hal ini sejalan dengan tujuan laporan keuangan dalam KDPPLK. Hal ini menyiratkan bahwa tujuan laporan keuangan dalam KDPPLK lebih unggul atau superior dibandingkan pengaturan yang ada dalam PSAK. Sehingga ketika ada pertentangan antar keduanya, maka tujuan laporan keuangan dalam KDDPLK harus mengalahkan PSAK.

p e r u b a h a n

Kolom Pasar Modal

Foto Penulis

Konsultasi Sektor Publik
oleh :

Dr. Cris Kuntadi, MM, CPA
(Redaktur Majalah Akuntan Indonesia & Sekretaris Jenderal IAI KASP)
Redaksi membuka ruang konsultasi sektor publik bagi pembaca majalah Akuntan Indonesia (AI). Pertanyaan yang dapat diajukan meliputi akuntansi, pengelolaan, pertanggungjawaban, dan pemeriksaan keuangan negara/daerah. Pertanyaan dialamatkan ke cris.kuntadi@iaiglobal. or.id atau alamat redaksi AI. Harap menyatakan nama, alamat lengkap, dan instansi.

Q 1:
Assalamu’alaikum wabarokatuhu, warohmatullahi Pak, saya mau bertanya tentang investasi pada pemerintah daerah. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan buletin teknis antara lain menyatakan bahwa investasi (dhi. Investasi dalam saham) dicatat sesuai harga perolehan. Nilai saham yang dijual di pasaran kan selalu bergerak terus harganya. Misalnya, suatu pemerintah kabupaten membeli 200 lot (@500 lembar) saham BUMN yang go public melalui PT Bahana Sekuritas pada harga Rp875 ketika initial public offering (IPO). Pemda mencatat investasi dalam saham di neraca sebesar harga perolehan yaitu Rp87.500.000 (200 lot x 500 lembar x Rp875). Menurut kami, pencatatan tersebut telah sesuai dengan standar. Akan tetapi, mengingat harga saham BUMN tersebut terus mengalami peningkatan, apakah kami sebagai auditor diperkenankan mengusulkan kepada manajemen untuk menambahkan informasi dalam catatan atas laporan keuangan (CALK)? Mohon masukan. Matur nuwun dan wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuhu, Radina Hartanti Auditor pada Perwakilan BPK Provinsi Sumatera Selatan

A 1:
Terima kasih atas pertanyaan Saudari semoga jawaban ini tidak saja bermanfaat bagi penanya tetapi juga bermanfaat bagi pengguna akuntansi pemerintahan. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) 06 tentang Akuntansi Investasi mengatur perlakuan akuntansi investasi pemerintah pusat dan daerah baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang yang meliputi saat pengakuan, klasifikasi, pengukuran, dan metode penilaian investasi, serta pengungkapannya pada laporan keuangan. Dalam PSAP 06 tersebut antara lain menyebutkan bahwa “Investasi jangka pendek dalam bentuk surat berharga, misalnya saham dan obligasi jangka pendek, dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan investasi meliputi harga transaksi investasi itu sendiri ditambah komisi perantara jual beli, jasa bank dan biaya lainnya yang timbul dalam rangka perolehan tersebut.” Apabila harga saham yang dibeli mengalami kenaikan atau penurunan maka perubahan harga tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan karena PSAP 06 menyebutkan hal-hal yang perlu diungkapkan dalam CALK antara lain: · Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang; · Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab penurunan tersebut. Dengan demikian, usulan koreksi oleh auditor terkait pengungkapan dalam CALK pada entitas yang diperiksa telah sesuai agar pengungkapan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi. Demikian jawaban kami, semoga jawaban ini bermanfaat.

p e r u b a h a n

d a l a m

Q 2:
Pak Cris yang saya hormati, ada beberapa pertanyaan tentang laporan keuangan sektor publik baik laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP), laporan keuangan kementerian negara/lembaga (LKKL), maupun laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD). Apakah laporan keuangan sektor publik yang ada saat ini sudah cukup memadai untuk memberikan informasi kepada pemilik tentang kinerja pemerintah atas sumber daya yang telah mereka gunakan? Apakah komponennya sudah tepat dan cukup? Apakah informasi yang telah disajikan dalam laporan keuangan sektor publik telah sesuai dengan informasi yang diharapkan oleh masyarakat? Apakah ada survei tentang informasi apa yang sebenarnya diharapkan masyarakat? Terimakasih atas bertanya, pak cris. kesempatan untuk

m i t r a

ai
50
desain 19_rabu.indd 0 8/10/2009 11:36:21 AM

l

Nila Eka Putri Mahasiswi Program Magister Akuntansi Sektor Publik Universitas Padjajaran Bandung

Q 3:
lama kami tidak Cukup bersilaturahmi dengan pak Kris. Kami juga berharap ini dapat menjalin silaturahmi dengan kawan-kawan akuntan. Alhamdulillah ada media penghubung di majalah AI. Yang ingin saya tanyakan adalah: 1. Sesuai ketentuan, kami Pimpinan DPRD mendapat fasilitas kendaran dinas jabatan sedangkan Anggota DPRD yang lain tidak mendapat fasilitas tersebut. Ketiadaan fasilitas kendaraan dinas jabatan/operasional tersbeut cukup mengganggu aktivitas para Anggota DPRD dalam melayani masyarakat karena sering terkendala masalah transportasi. Bolehkah Sekretariat DPRD mengadakan kendaraan dinas operasional (roda 4) yang dapat dipinjampakaikan kepada para Anggota DPRD? Kendaraan tersebut tetap dimiliki oleh Sekretariat DPRD akan tetapi sehari-hari digunakan oleh Anggota DPRD dalam pelaksanaan tugasnya? 2. Kami selaku pimpinan DPRD memerlukan ajudan dalam kegiatan kedinasan. Apakah kami diperkenankan untuk merekrut pegawai kontrak untuk menjadi ajudan pimpinan DPRD? Demikian pertanyaan kami, mohon perkenan pak Kris untuk menjawabnya. Atas jawaban Bapak, kami ucapkan terima kasih. Iklim Cahya Ketua DPRD Ogan Ilir, Sumatera Selatan

A 3:
Kami sungguh bahagia karena ternyata ada Pimpinan DPRD ikut partisipasi dalam forum ini sekaligus memanfaatkan forum di majalah AI ini untuk bersilaturahmi. Atas pertanyaan Bapak Iklim, dapat kami sampaikan sebagai berikut. 1. Menurut PP tentang Kedudukan Keuangan dan Protokoler Pimpinan dan Anggota DPRD, memang hanya Pimpinan DPRD yang berhak atas kendaraan dinas. Dengan demikian, Anggota DPRD tidak berhak mendapatkan fasilitas tersebut. Apabila Anggota DPRD difasilitasi kendaraan dinas roda 4 maka hal tersebut merupakan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan di samping penganggaran tersebut akan membebani APBD. 2. Terkait pengangkatan pegawai kontrak, hal tersebut merupakan kewenangan kepada daerah dan bukan wewenang DPRD atau Sekretariat DPRD. Apabila diperlukan ajudan, maka dapat mengajukan kepada kepala daerah dan jika diperlukan pegawai kontrak, maka harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan terkait pengangkatan pegawai kontrak. Semoga jawaban ini dapat menjadi pertimbangan agar Bapak dapat menjalankan amanah dengan aman.

A 2:
Laporan keuangan pemerintah (LKPP, LKKL, dan LKPD) disusun berdasarkan SAP. Tujuan standar tersebut adalah mengatur penyajian laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) dalam rangka meningkatkan keterbandingan laporan keuangan baik terhadap anggaran, antar periode, maupun antar entitas. Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan. Untuk mencapai tujuan tersebut, SAP menetapkan seluruh pertimbangan dalam rangka penyajian laporan keuangan, pedoman struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan. Dengan ditetapkannya SAP berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005, diharapkan kebutuhan masyarakat akan informasi keuangan sektor publik dapat terpenuhi, baik informasi maupun komponennya. Terkait survei tentang informasi yang diharapkan masyarakat terhadap laporan keuangan sektor publik, perlu dilakukan untuk memberikan masukan kepada Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) agar SAP semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Survei tersebut perlu dilakukan meskipun telah ada penelitian sebelumnya. Semoga jawaban ini memuaskan Saudari Nila di Bandung.

ai

51
desain 19_rabu.indd 1 8/10/2009 11:36:21 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai
Hibah dari negara donor luar negeri yang dikelola departemen atau lembaga pemerintah jumlahnya cukup besar. Salah satunya, aliran dana hibah untuk mendukung pelaksanaan pemilu 2009 lalu telah mencapai US$ 15 juta (sekitar Rp 140 miliar. Meski hibah diakui sebagai pendapatan yang tidak perlu dibayar kembali, secara khusus telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. Oleh karena itu, pemanfaat hibah harus tetap bisa dipertanggungjawabkan kepada publik maupun lembaga atau negara donor. Sesuai PP No. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan atau Penerimaan Hibah serta PP No. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah serta Penerusan Pinjaman dan atau Hibah Luar Negeri, mensiratkan hibah harus diadministrasi dan dibukukan secara baik. Disamping itu, dana hibah harus jelas penggunaannya. Jika tidak akan mengurangi kredibilitas pemerintah di mata negara-negara donor yang selama ini memberikan bantuan keuangan bagi Indonesia. Meski telah ada aturan yang jelas, hasil audit BPK sendiri menunjukan adanya dana hibah asing yang tidak dipertanggungjawabkan dalam APBN mencapai Rp 3,9 triliun, yang terjadi di 15 departemen/lembaga. Artinya, setidaknya, selama ini dana hibah banyak mengalir diluar tujuan yang ditentukan. Melihat kondisi seperti itu, Menteri Keuangan, Sri Mulayni Indrawati, pada 27 Februari 2009 menerbitkan PMK No. 40/PMK.05/2009 tentang Sistem Akuntansi Hibah. Tujuannya tidak lain memberikan aturan yang jelas terkait dengan perlakuan akuntansi hibah yang meliputi penetapan saat pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pelaporan hibah. Dalam PMK No. 40 tersebut diatur antara lain sistem akuntansi dan pelaporan hibah, akuntansi hibah, pernyataan tanggungjawab dan reviu. Dalam tulisan ini mengulas akuntansi hibah—meski belum ada standar akuntansinya—mengacu pada modul sistem akuntansi hibah yang dikeluarkan Departemen Keuanngan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Sementara, menurut jenisnya hibah bisa berupa bantuan teknis, proyek, kerjasama teknik, dan kerjasama keuangan. Hibah bisa berasal dari dalam atau luar negeri. Hibah memiliki banyak fungsi seperti peningkatan fungsi pemerintah, penyediaan layanan dasar umum, peningkatan SDM, pelestarian SDA (lingkungan hidup dan budaya), pengembangan riset dan teknologi, serta bantuan kemanusiaan. Akuntansi Hibah Bagaimana akuntansi untuk hibah? Meski belum ada standar secara khusus yang mengatur hibah, Sistem Akuntansi Hibah yang diterbitkan Menteri Keuangan cukup mengatur secara detail. Basis akuntansi yang digunakan mengacu pada penyusunan laporan keuangan pemerintah yaitu cash toward accrual. Basis kas digunakan untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran dan basis akrual untuk pengakuan asset, kewajiban dan ekuitas dalam neraca. Sementara basis kas digunakan untuk laporan realisasi anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di rekening kas umum negara atau oleh entitas pelapor. Sedangkan belanja diakui saat dikeluarkan dari rekening kas umum negara atau entitas pelapor. Untuk basis akrual neraca berarti aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi atau pada saat kejadian, kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas dibayar. Meski bukan hanya akuntansi hibah, PMK tersebut juga mengatur akuntansi anggaran hibah, akuntansi pendapatan hibah, akuntansi belanja hibah, serta penyajian dan pengungkapan hibah. Sistem Akuntansi Hibah yang diatur PMK tersebut, mengatur akuntansi anggaran hibah. Dimana akuntansi anggaran dapat dimanfaatkan untuk pertanggungjawaban dan pengendalian manajemen guna membantu pengelolaan pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan. Hal ini diselenggarakan sesuai dengan struktur anggaran yang terdiri dari anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Anggaran pendapatan meliputi estimasi pendapatan yang dijabarkan menjadi alokasi estimasi pendapatan. Anggaran belanja terdiri dari apropriasi yang dijabarkan menjadi otorisasi kredit anggaran. Akuntansi anggaran ini diselenggarakan pada saat anggaran disahkan dan anggaran dialokasikan. Sementara untuk akuntansi pendapatan hibah mengatur pengakuan pendapatan saat diterima pada rekening kas umum negara. Transaksi pendapatan hibah yang terjadi tanpa diterima pada kas umum negara dapat diakui pada saat dilakukan pengesahan atas transaksi pendapatan hibah. Pengembalian yang sifanya normal dan berulang atas pendapatan hibah periode penerimaan maupun pada periode
AKUNTAN

Opini

Akuntansi Hibah: Penerima Hibah Wajib Menerapkan
Dana hibah harus jelas peruntukannya, ditatausahakan, diadministrasikan, serta diakuntansikan, secara transparan dan akuntabel. Jika tidak, bisa menurunkan kredibilitas pemerintah di mata lembaga atau negara donor.
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan sebagai pengurangan pendapatan pada periode yang sama. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang ekuitas dana lancar pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut. Akuntansi pendapatan ini dilaksanakan berdasarkan asas bruto; membukukan penerimaan bruto dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasi dengan pengeluarannya). Akuntansi ini disusun untuk memenuhi kebutuhan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan dan untuk keperluan pengendalian bagi manajemen pemerintah pusat dan daerah. Lalu belanja diakui saat terjadinya pengeluaran dari rekening kas negara. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan. Belanja diklasifikasikan menurut ekonomi, organisasi dan fungsi. Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang telah ditetapkan dalam dokumen anggaran. Koreksi dan pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode yang sama. Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas pengeluaran belanja dibukukan dalam pendapatan lain-lain. Penyajian dan pengungkapan hibah Dalam penyajian dan pengungkapan hibah diatur mengenai pengembalian yang sifatnya normal dan berulang atas penerimaan pendapatan hibah pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada periode

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

52
desain 19_rabu.indd 2

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:36:22 AM

Opini
yang sama. Untuk koreksi yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang ekuitas dana lancar pada periode ditemukan koreksi dan pengembalian. Entitas pelapor menyajikan klasifikasi pendapatan menurut jenis pendapatan dalam laporan realisasi anggaran, dan rincian lebih lanjut jenis pendapatan disajikan pada catatan atas laporan keuangan. Untuk belanja penyajian diklasifikasikan menurut jenis belanja, organisasi, dan menurut fungsinya. Pelaporan Hibah Laporan hibah setidaknya mencakup laporan realisasi anggaran hibah; catatan atas laporan keuangan; dan laporan (management report). Untuk itu pendapatan hibah dalam bentuk uang disajikan dalam realisasi anggaran. Sementara pendapatan hibah dalam bentuk barang atau jasa dilaporkan dalam laporan realisasi anggaran sebagai transaksi non kas. Transaksi pendapatan hibah dan penerusnya ke daerah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Dalam hal hibah tidak termasuk dalam perencanaan pada tahun anggaran berjalan, hibah harus dilaporkan dalam tahun berjalan. Sementara, laporan relasisasi anggaran menyajikan iktisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasi dalam satu periode pelaporan. Unsur yang tercakup secara langsung oleh laporan realisasi anggaran atas hibah terdiri dari belanja dan pendapatan. Untuk itu, pelaporan hibah merupakan bagian dari laporan realisasi anggaran yang disajikan sekurang-kurangnya

sekali dalam setahun. Dalam situasi tertentu tanggal laporan sutau entitas berubah dan laporan realisasi anggaran tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang atau pendek dari satu tahun, entitas pelaporan harus mengungkapkan alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun. Selain itu, fakta bahwa jumlah komparatif dalam laporan realisasi anggaran dan catatan terkait dapat diperbandingkan. Suatu entitas pelapor menyajikan laporan realisasi anggaran selambatlambarnya enam bulan setelah berakhirnya tahun anggaran. Dengan adanya sistem akuntansi hibah ini, setidaknya departemen/lembaga pemerintah yang mendapat aliran dana hibah dapat mengakui, membukukan dan membuat laporan keuangan hibah secara transparan dan akuntabel. (HS)

ai

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

53
8/10/2009 11:36:23 AM

desain 19_rabu.indd 3

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Kolom Pasar Modal

Foto Penulis

Konsultasi Pajak
oleh : Ronsianus B. Daur, SE, BKP (Praktisi Perpajakan di Jakarta)

Q 1:

Yang Terhormat, Pengasuh Konsultasi Pajak. Dasar Hukum: Pajak penghasilan sesuai Pasal 2 ayat 1 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Pajak Pertambahan Nilai sesuai Pasal 1 angka 13 Undang Undang No 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah., juncto pasal 2 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2002. Pengertian Joint operation secara jelas dapat kita temui dalam surat penegasan dirjen pajak No. 323/PJ/.42/1989 tanggal 06 Desember 1989. Dijelaskan bahwa bentuk joint operation adalah merupakan perkumpulan dua badan atau lebih yang bergabung untuk menyelesaikan suatu proyek, penggabungan ini bersifat sementara sampai proyek itu selesai. Hal hal yang harus anda lakukan dan perhatikan adalah: 1. Segera daftarkan JO yang telah terbentuk untuk memperoleh NPWP. (Pemberian NPWP terhadap joint operation sematamata untuk keperluan pemotongan pph pasal 21, pasal 23/26, dan PPN). 2. Karena joint operation bukan subyek pajak, maka tidak diwajibkan untuk menyampaikan SPT PPh pasal 25/29. 3. Apabila Joint operation yang terbentuk dalam melakukan transaksinya dengan Pemilik Proyek (project owner) atas

p e r u b a h a n

Perkenalkan saya seorang supervisor pajak pada salah satu perusahaan di Jakarta. Dalam waktu dekat perusahaan tempat saya bekerja berencana mengerjakan proyek dari PT XYZ. Karena alasan teknis, manajemen perusahaan saya memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan rekan PT B. Bentuk kerjasama yang disepakati untuk menyelesaikan proyek tersebut adalah non administrative Joint Operation ( JO). Yang ingin kami tanyanya, ada beberapa hal yang belum kami pahami dengan tepat berkaitan dengan aspek perpajakan joint operation. Dimana perusahaan tempat saya bekerja sama dengan PT B yaitu samasama perusahaan dalam negeri (PMDN). Apa saja yang harus saya lakukan agar proyek tersebut berjalan sesuai dengan peraturan pepajakan yang berlaku? Saya benar-benar pusing memikirkan perencanaan pajak yang baik atas proyek ini. Atas bantuan pengasuh konsultasi pajak saya ucapkan terimakasih. John H. - Jakarta

nama JO maka, joint operation tersebut diwajibkan untuk dikukuhkan sebagai PKP. Sebagai PKP JO wajip memungut, menyetor dan melaporkan PPN. Mengenai bukti potong Pajak Penghasilan pasal 23 yang di potong oleh pemilik proyek project owner dapat dilakukan mekanisme pemecahan bukti potong sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-44/PJ./1994 - tentang Pemecahan Bukti potong PPh Pasal 23. Dalam SE tersebut dijelaskan JO mengajukan permohonan pemecahan bukti potong PPh pasal 23 kepada pemberi hasil (dalam hal ini project owner) dilampiri fotokopy dokumen pendirian JO., pada waktu dilakukan pemotongan PPh pasal 23 atas nama JO qq anggota (NPWP anggota) dengan jumlah pajak sebesar bagian masing-masing sesuai dengan (joint operation agreement)., bukti pemotongan PPh pasal 23 disampaikan untuk para anggota JO. Untuk lebih memahami aspek perpajakan joint operation kami menyarankan bapak untuk membandingkan beberapa penegasan dari Dirjen pajak atas masalah perpajakan joint operation yang di tanyakan oleh wajip pajak walaupun bersifat (private ruling) al: S-60/PJ.422/1994, S251/PJ.313/1998, S-199/PJ.53/2004, S-244/PJ.531/2000, S-956/PJ.53/2005, S-823/PJ.312/2002, penegasan ini sangat membantu bapak dalam melakukan perencanaan pajak yang baik, sehingga tidak berbenturan dengan peraturan Perpajakan yang berlaku di Indonesia. Demikian saran kami untuk masalah perencanaan pajak yang bapak hadapi semoga bermanfaat.

m i t r a

d a l a m

A 1:
Pak John yang baik, Kami ucapkan terima kasih atas pertanyaan yang sangat menarik ini. Berikut kami mencoba memberikan gambaran perencanaan (tax Planning) berdasarkan kesimpulan atas surat yang bapak kirimkan ke redaksi. Perencanaan pajak yang kami jelaskan disini setidaknya membuat bapak bisa memberikan masukan ke manajemen dalam memutuskan strategi bisnis yang mereka ambil.

ai

54

desain 19_rabu.indd 

8/10/2009 11:36:2 AM

l

desain 19_rabu.indd 

8/10/2009 11:36:26 AM

ai
Kolom IFRS
Instrumen Keuangan

oleh Handoko Tomo

p e r u b a h a n d a l a m

Sesuai pengantar pada edisi pertama, kolom IFRS merupakan kolom tetap pada setiap edisi majalah Akuntan Indonesia (AI) dalam rangka mengikuti proses konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) yang dilakukan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), membantu sosialisasinya, dan memantau “larinya” IFRS. Pada beberapa edisi berikutnya, kolom ini akan diisi pula dengan pertanyaan dari materi pada edisi sebelumnya, dan disediakan hadiah yang menarik bagi yang berhasil menjawab dengan tepat. Oleh karena itu, jangan sampai ada edisi yang terlewatkan. Untuk “menguliti” IFRS, penulis akan bekerja sama pula dengan Pascal Jauffret, ahli IFRS dari Mazars, Perancis.
Apakah sudah siap? pernyataan Standar akuntansi keuangan (pSak) no. 50 (Revisi 2006) tentang instrumen keuangan: penyajian dan pengungkapan, mengacu pada International Accounting Standard (iaS) 32 Financial Instruments: Disclosure and Presentation (untuk pengaturan perlakuan akuntansi mengenai penyajian/presentation instrumen keuangan telah sesuai dengan iaS 32 Revised 2005, tetapi untuk pengaturan perlakuan akuntansi mengenai pengungkapan/ disclosure masih mengacu pada iaS 32 Revised 2000 dan belum menggunakan ifRS 7 sebagai acuan). pSak no. 55 (Revisi 2006) tentang instrumen keuangan:pengakuan dan pengukuran,mengacu pada iaS 39 (Revised 2005) Financial Instruments: Recognition and Measurement. pSak no. 50 (Revisi 2006) adalah revisi dari pSak no. 50 (versi 1998) tentang akuntansi efek tertentu. pSak no. 55 (Revisi 2006) adalah revisi dari pSak no. 55 (Revisi 1999) tentang akuntansi instrumen derivatif dan aktivitas lindung nilai. pSak no. 50 (Versi 1998) dan pSak no. 55 (Revisi 1999) mengacu pada Statement of Financial Accounting Standards (SfaS) yang diterbitkan oleh Financial Accounting Standards Board (faSB) amerika Serikat, yaitu SfaS 115 Accounting for Certain Investments in Debt and Equity Securities dan SfaS 133 Accounting for Derivative Instruments and Hedging Activities. ikatan akuntan indonesia dan Bank indonesia telah membentuk tim adopsi iaS 32 dan iaS 39, dan tim ini mulai bertugas 28 april 2005, dan menghasilkan konsep Exposure Draft (ked) pSak 50 (Revisi 2006) dan ked pSak 55 (Revisi 2006). Selanjutnya pada tanggal 30 agustus 2006 dewan Standar akuntansi keuangan (dSak) telah menyetujui ked menjadi Exposure Draft (ed) untuk disebarluaskan dan ditanggapi oleh para konstituen, dan diharapkan tanggapan tertulis
AKUNTAN

m i t r a

diterima dSak paling lambat 30 november 2006. pada tanggal 16 desember 2006 pSak 50 (Revisi 2006) dan pSak 55 (Revisi 2006) disahkan, dan dinyatakan efektif berlaku untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2009 (penerapan lebih dini dianjurkan). entitas diberi waktu dua tahun untuk mempersiapkan diri dalam menerapkan pSak 50 (Revisi 2006) dan pSak 55 (Revisi 2006), tetapi banyak entitas yang belum siap, khususnya dari industri perbankan, dan akhirnya pada tanggal 23 desember 2008, saat iai merayakan ulang tahun yang ke-51,

56
desain 19_rabu.indd 6

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:36:26 AM

ai
Kolom IFRS
ketua dewan pengurus nasional (dpn) iai menyetujui bahwa pSak 50 (Revisi 2006) dan pSak 55 (Revisi 2006) yang semula berlaku efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009 diubah menjadi untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2010, dan selanjutnya hal ini diumumkan oleh ketua dSak melalui surat nomor 1705/dSak/iai/xii/2008 tanggal 30 desember 2008. Cukup banyak orang yang belum mengetahui hal ini. Sekarang, bulan agustus 2009, hanya tersisa empat bulan lagi untuk mempersiapkan diri menerapkan pSak 50 (Revisi 2006) dan pSak 55 (Revisi 2006). Sedangkan, dalam ketentuan transisi pada paragraf 93 pSak 50 (Revisi 2006) dan paragraf 106 pSak 55 (Revisi 2006) dinyatakan bahwa entitas harus menyajikan dampak penyesuaian perlakuan akuntansi intrumen keuangan yang ada pada akhir periode laporan keuangan sebelum tanggal efektif dengan ketentuan yang ada dalam pSak 55 (Revisi 2006) dalam laporan laba rugi atau ekuitas periode berjalan. dengan demikian, entitas harus mulai memperhitungkan dampaknya pada penyusunan laporan keuangan per 31 desember 2009. Sementara kita masih berkutat mempersiapkan diri untuk mengimplementasikan pSak 50 (Revisi 2006) dan pSak 55 (Revisi 2006), di pihak lain International Accounting Standards Board (iaSB) telah merevisi: iaS 32 Financial Instruments: Presentation, iaS 39 Financial Instruments: Recognition and Measurement, dan ifRS 7 Financial Instruments: Disclosures. dSak telah menerbitkan ed pSak 31 (Revisi 2009) tentang instrumen keuangan: pengungkapan, yang mengadopsi ifRS 7 (2008) Financial Instruments: Disclosure, termasuk amandemen ifRS 7 pada bulan Oktober 2008. ed telah dipublikasikan dan diharapkan tanggapan tertulis diterima dSak paling lambat 31 maret 2009. Sampai sekarang masyarakat masih menunggu pengesahan ed pSak 31 (Revisi 2009) tersebut. apakah kita sudah siap? mungkinkah kita berhenti atau menunda lagi sejenak agar ada kesempatan untuk merevisi terlebih dahulu pSak-pSak terkait instrumen keuangan, dan kita akan menerapkannya ketika benar-benar sudah siap? Apakah instrumen keuangan? terlepas dari siap atau tidak siap, the show must go on, jika tidak ada langkah pertama maka tidak ada langkah-langkah selanjutnya. mari kita lanjutkan! Sebelum kita melihat pSak atau ifRS, ada baiknya kita melihat kamus Besar Bahasa indonesia pusat Bahasa edisi keempat, edisi terkini, apa yang dimaksud dengan instrumen keuangan. menurut kamus, instrumen adalah dokumen resmi seperti akta, surat obligasi. misalnya, instrumen kredit adalah instrumen kesanggupan bayar, seperti cek, wesel. Sedangkan, keuangan adalah seluk-beluk uang, urusan uang. Berdasarkan paragraf 7 pSak 50 (Revisi 2006), instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menambah nilai aset keuangan entitas dan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas entitas lain. aset keuangan (financial asset) adalah setiap aset yang berbentuk: (a) kas, (b) instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas lain, (c) hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain, atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain, (d) kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan nonderivatif atau derivatif. kewajiban keuangan (financial liability) adalah setiap kewajiban yang berupa (a) kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain, atau
AKUNTAN

untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain, (b) kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas yang bersangkutan dan merupakan suatu non-derivatif atau derivatif. instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh kewajibannya. Berdasarkan paragraf 8 pSak 55 (Revisi 2006), derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain dengan tiga karakteristik berikut ini: (a) nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying), antara lain: suku bunga, harga instrumen keuangan, harga komoditas, nilai tukar mata uang asing, indeks harga atau indeks suku bunga, peringkat kredit atau indeks kredit, atau variabel lainnya. untuk variabel non keuangan, variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak; (b) tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar; dan (c) diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang. Nilai wajar Berdasarkan paragraf 7 pSak 50 (Revisi 2006) dan paragraf 8 pSak 55 (Revisi 2006), nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). mana yang dapat dianggap sebagai nilai wajar merupakan hal yang menarik. apakah harga di pasar a, pasar B, atau harga yang tercantum di koran? pengalaman mensosialisasikan ifRS

MAJALAH

INDONESIA

57
8/10/2009 11:36:26 AM

desain 19_rabu.indd 7

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai
ke beberapa perusahaan, selalu berhadapan dengan pertanyaan tentang nilai wajar. ada panduan untuk menetapkan nilai wajar melalui tiga hirarki, yaitu (1) harga kuotasi di pasar yang aktif, (2) teknik penilaian, (3) investasi ekuitas dikurangi penurunan nilai. untuk lebih mudahnya dapat dilihat gambar berikut ini. perhitungan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) yang diperoleh sebelumnya dan masih bersaldo pada saat penerapan awal pSak 55 (Revisi 2006) ditentukan berdasarkan arus kas masa depan yang akan diperoleh sejak penerapan awal pSak 55 (Revisi 2006) sampai dengan jatuh tempo instrumen keuangan tersebut. instrumen keuangan yang sudah dihentikan pengakuannya sebelum penerapan awal pSak 55 (Revisi 2006) tidak dievaluasi kembali berdasarkan ketentuan penghentian pengakuan dalam pSak 55 (Revisi 2006) pada saat penerapan awal. instrumen keuangan majemuk yang ada pada saat penerapan awal harus dipisahkan antara komponen kewajiban dan komponen ekuitas berdasarkan paragraf 11 pSak 50 (Revisi 2006). pemisahan tersebut ditentukan berdasarkan sifat, kondisi, persyaratan, dan hal lainnya dari instrumen keuangan tersebut pada tanggal awal penerapan pSak 50 (Revisi 2006). pada tanggal penerapan awal pSak 50 (2006) entitas harus mengklasifi kasikan instrumen keuangan sebagai kewajiban atau ekuitas sesuai dengan paragraf 11 pSak 50 (2006). pada saat awal penerapan pSak 55 (Revisi 2006), entitas menentukan penurunan nilai instrumen keuangan berdasarkan kondisi pada saat itu. Selisih antara penurunan nilai ini dengan penurunan nilai yang ditentukan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku sebelumnya diakui langsung ke saldo laba pada saat awal penerapan pSak 55 (Revisi 2006). Jika entitas menentukan penurunan nilai berdasarkan pSak 55 (Revisi 2006) tidak di awal penerapan pSak 55 (Revisi 2006), maka entitas memisahkan penurunan nilai yang berasal dari periode berjalan yang diakui dalam laporan laba rugi dan penurunan nilai yang berasal dari periode sebelumnya diakui langsung ke saldo laba. Jika entitas tidak dapat memisahkan penurunan nilai tersebut, maka penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi dan fakta tersebut diungkapkan secara memadai dalam catatan atas laporan keuangan. pSak 50 (Revisi 2006), pSak 55 (Revisi 2006), dan ed pSak 31 (Revisi 2009) bukan hal yang sederhana. Sumber acuannya, yaitu iaS 32 Financial Instruments: Presentation, iaS 39 Financial Instruments: Recognition and Measurement, dan ifRS 7 Financial Instruments: Disclosures, telah berubah (“berlari”) dan kita pun harus segera mengejarnya. kolom ifRS ini tidak membahas instrumen keuangan secara detail karena materinya cukup banyak. namun, apabila pembaca hendak bertanya lebih lanjut, maka pembaca dapat menyampaikan pertanyaan ke alamat redaksi majalah akuntan indonesia.

p e r u b a h a n m i t r a d a l a m

Ayo bersiaplah dan berlari pada tanggal 22 Juli 2009 iai telah menerbitkan Buletin teknis no. 4 tentang ketentuan transisi penerapan awal pSak 50 (Revisi 2006) dan pSak 55 (Revisi 2006). Buletin teknis (Bultek) ini membahas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masa transisi, yaitu (1) perhitungan suku bunga efektif, (2) penghentian pengakuan instrumen keuangan, (3) instrumen keuangan majemuk (compound financial instrument), (4) klasifikasi instrumen keuangan sebagai kewajiban atau ekuitas, dan (5) penurunan nilai (impairment).

Hubungan per kategori dan pengukurannya hubungan instrumen keuangan berupa aset keuangan (financial assets) atau kewajiban keuangan (financial liabilities) dan pengukurannya (measurement) per kategori masing-masing dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Financial Assets Financial assets at Fair Value through Profit & Loss (FVTPL) Loans and receivables (L&R) Held-to-maturity investments (HTM) Available-for-sale financial assets (AFS) Financial liabilities Financial liabilities at Fair Value through Profit & Loss (FVTPL) Other financial liabilities (OFL)

Measurement Fair value Amortised cost Amortised cost Fair value Measurement Fair value “Amortised cost”

Changes in carrying amount Income statement Income statement Income statement Equity Changes in carrying amount Income statement Income statement

58
desain 19_rabu.indd 8

MAJALAH

AKUNTAN

INDONESIA

8/10/2009 11:36:27 AM

MENJADI ANGGOTA IAI

Menjadi anggota iai, seorang Akuntan akan bergabung dalam
komunitas profesional dibidang Akuntansi yang dijaga kualitasnya sesuai standar internasional untuk memiliki Integritas, Etika, dan Kompetensi yang tinggi.

iai knowledge centre akan memfasilitasi peningkatan kompetensi anggota secara rutin melalui kegiatan Pendidikan Profesional Berkelanjutan yang bervariasi, dengan materi terkini, pembicara yang berkualitas, dan pendayagunaan jaringan IAI sepenuhnya termasuk bekerjasama dengan asosiasi profesi internasional. identitas
keprofesian anggota berupa kartu anggota secara esklusif dapat digunakan untuk memperoleh tarif khusus pada berbagai kegiatan seperti lokakarya, seminar, pelatihan, konvensi dan acara-acara lainnya yang diselenggarakan oleh IAI serta atas berbagai produk atau terbitan IAI.

keseMpatan

untuk MeMperluas jaringan bisnis dan pergaulan

secara profesional akan terbuka luas seiring dengan keaktifan sebagai anggota dalam setiap kegiatan profesi yang dilaksanakan oleh IAI.

MeMperoleh

prioritas keseMpatan berpartisipasi aktif dalaM dinaMika profesi. Peran anggota dalam perumusan standar

profesi terwujud melalui kegiatan public hearing Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Anggota dapat berkontribusi penuh dengan menyatakan pendapat, mengajukan usul, saran maupun pertanyaan menyangkut SAK yang akan diterbitkan.

keMudahan
fesi

dan akses inforMasi terkini perkeMbangan pro-

secara nasional dan internasional melalui media komunikasi dan informasi yang dilaksanakan oleh IAI. Anggota berhak mendapat fasilitas download berbagai materi referensi dan Majalah Akuntan Indonesia yang tersedia di website IAI:

www.iaiglobal.or.id
akuntan indonesia telah berkarya MeMberi nilai taMbah dalaM dunia bisnis. Memasuki dunia profesional di bidang akuntansi
dengan bergabung menjadi anggota IAI, langkah awal Akuntan Indonesia untuk meraih kesuksesan dibidangnya akan berarti Menjadi yang terbaik.

sebagai anggota iai, Akuntan Indonesia akan dikenal sebagai profesional terdepan dibidang akuntansi, keuangan dan bisnis global.

Kami bangga menjadi bagian dari KisaH suKses anda

desain 19_rabu.indd 9

8/10/2009 11:36:29 AM

ai

International

International Federation Of Accountants
IFAC RECOMMENDATIONS FOR THE G20 NATIONS Meeting of September 24 – 25, 2009, Pittsburgh, PA

The following recommendations represent the views of the International Federation of Accountants (IFAC) and reflect those of the accountancy organizations from the G20 countries in attendance at the IFAC G20 Accountancy Summit. They serve as a follow-up to our previous submission to the G20 Working Groups in March 2009 and are in accordance with IFAC’s mission to contribute to the development of strong international economies by promoting adherence to high quality professional standards. We encourage the G20 to continue its essential work and follow through quickly on the commitments made in its communiqué of April 2 and in the final reports of the four Working Groups. We urge the G20 groups to maintain the momentum and urgency of their work notwithstanding recent indications of possible economic recovery.
1. The G20 should encourage all governments to adopt and implement common global standards not only for accounting, but also for auditing and for auditor independence. In order to improve the ability of capital markets to work globally, allow investments to move more efficiently across borders, and to reduce risks and uncertainties in the capital markets, the G20 should encourage the early adoption and implementation of International Financial Reporting Standards (IFRS), International Standards on Auditing (ISAs) and the auditor independence requirements set out in the Code of Ethics for Professional Accountants. This will assist the G20’s goal of strengthening transparency and accountability in the context of financial and capital markets and creating a level playing field in the interpretation and exchange of financial information. Consistent financial information around the world can do much to facilitate cross-border activity and economic and financial stability. The successful adoption and implementation of these standards in each country will only be realized through several interrelated steps, each requiring the G20 Nations to work individually and collectively with institutional partners and regulators at national and international levels. These steps are:

processes in place that propose the adoption of ISAs as an integral component of the 8th Council Directive on Company Law. 2. We acknowledge progress made by the International Accounting Standards Committee Foundation (IASCF) toward reforming the governance structure of the International Accounting Standards Board (IASB); however, the G20 should take further steps to ensure that the IASB can function independently without inappropriate political interference. The G20 should ensure that the IASC Foundation completes its review of the IASB and establishes plans for high-quality governance structures and procedures that will provide the necessary confidence that the IASB will be able to engage in its standard setting processes independently, and in a manner that ensures its legitimacy. We recommend the following measures to ensure that the IASB attains this level of confidence: The G20 should call for reconsideration of the composition of the Monitoring Board to ensure that a broad range of relevant groups are represented. In order to achieve this, the Monitoring Board may require expanded membership. The G20 should emphasize that the IASB’s procedures for standard-setting should allow for ultimate political accountability through the Monitoring Board, and with regulatory input into standards direction, but without political interference in determining the content of the standards themselves. The G20 should ensure that the funding of the IASB meets criteria of adequacy, stability and independence. We believe that the IASB’s governance framework should be designed to ensure its

p e r u b a h a n

The adoption of such standards without alteration at the national level to ensure their consistent, universal application; The development of rigorous processes to ensure that standards are translated in a manner which enables consistent application across languages. Identify and provide support to organizations in order to develop and deliver high quality implementation guidance; Identify and provide support to organizations in order to develop and deliver high quality education to individuals who will be responsible for applying or monitoring these standards; and Develop national roadmaps for adoption and implementation that take into account the above factors (a – d). The G20’s support of IFRS and ISAs would be consistent with that of other international organizations with mandates in the global financial sector. These include the Financial Stability Board (FSB), which lists IFRS and ISAs in the FSB’s Compendium of twelve key standards; the International Organization for Security Exchange Commissions (IOSCO), which has recently endorsed the clarified ISAs; and the European Commission, which has
AKUNTAN

m i t r a

d a l a m

60
desain 19_rabu.indd 60

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:36:29 AM

International

ai
The adoption of IPSASs without alteration at the national level to ensure their consistent, universal application and to enable reliable cross-national financial comparisons; The development of rigorous processes to ensure that IPSASs are translated in a manner which enables consistent application across languages. Identify and provide support to organizations in order to develop and deliver high- quality implementation guidance; Develop national roadmaps for adoption and implementation of IPSASs that take into account the above factors (a – c). A corollary to action on the national adoption of IPSASs is the application of IPSASs at the state, regional and local government levels so that national governments can more easily integrate policy and fiscal management. The IMF and World Bank have a history of supporting the development of IPSASs and we encourage the G20 to call on those organizations to apply greater support to encourage governments around the world to adopt IPSASs. We encourage the IMF, World Bank and International Public Sector Accounting Standards Board (IPSASB) to continue to work in close collaboration in promoting high quality financial reporting by governments. We believe that the G20 is in a unique position to address the challenges of public finance and ensure the accountability of governments for their financial impact on this and future generations. The adoption of IPSASs would represent a significant step forward in achieving the financial transparency of national governments worldwide. 4. The G20 should call for measures to enhance corporate governance in their respective countries and in the global marketplace. The G20 should call for measures to enhance the role of corporate governance as a matter of urgency. While the following recommendations
AKUNTAN

legitimacy by being built upon principles of public oversight, accountability, independence, high performance (encompassing technical competence, responsiveness and efficiency), and transparency – all of which should operate and be seen to operate in the public interest. 3. The G20 should support the adoption and implementation of International Public Sector Accounting Standards (IPSASs) in all nations. The G20 should take action to greatly improve the transparency and accountability of public sector finance as an integral objective for crisis remediation and as a necessity in the post-crisis landscape. The financial crisis has forced many governments to assume an intervening, if not decisive, role in financial recovery through unprecedented takeovers, lending, guarantees and bailouts of major market institutions, banks and companies. These actions are likely to have long-term economic implications and result in new liabilities and contingent liabilities being assumed by governments, which will demand improved accountability for governmental financial management in order to restore public confidence in governmental fiscal stability. In addition to their obligations to taxpayers and citizens, governments must also consider the role transparency plays, through high-quality financial reporting, in evaluating investments in government debt and in generating investor confidence. IPSASs are designed to apply to the generalpurpose financial statements of all public sector entities. They are developed primarily for an accruals-based accounting context and enable assessment of the impact of fiscal and monetary policy decisions; assist external reporting by governments to electorates, taxpayers and investors; and assist in internal management decisions in resource allocation (planning and budgeting), monitoring, and accountability. The adoption and implementation of IPSASs in each country will require several steps that will likely be universal for all national governments:

should apply to all commercial enterprises, we stress the immediacy of their implementation in publically listed companies. The following measures are, to a large extent, internationally recognized and we urge the G20 to promote strongly and without delay the following actions in all countries: Adopt and implement (in letter and spirit) the Organization for Economic Cooperation and Development’s (OECD) Principles of Corporate Governance as the standard framework for corporate governance, and urge its adoption in all nations and jurisdictions. At the same time, the G20 should request that the OECD reconsider what constitutes appropriate governance in relation to the design of remuneration systems in light of current events. Systems of remuneration should provide incentives consistent with long-term growth and corporate performance. Set out competency requirements for those preparing financial statements. In recognition of our concern over the quality of financial reporting by governments (see recommendation #3) we believe that these competency requirements should apply equally to those preparing listed company and governmental financial reports. Establish fundamental ethical principles applicable to boards of directors. These principles should include integrity, objectivity, competence and due care, confidentiality, and professional behavior. Stipulate that the role of an effective director, and particularly a non-executive director, requires an investment of time commensurate with the size and complexity of the company. The role of a director is critical to sound corporate decision making and oversight of management and requires dedication, competence, professionalism and time. Support an increased role for audit and compensation committees in executing their responsibilities by ensuring that they have appropriate expertise, strengthening their authority, increasing their responsibilities, and improving their monitoring role. In particular,

MAJALAH

INDONESIA

61
8/10/2009 11:36:30 AM

desain 19_rabu.indd 61

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

ai
financial expertise among members of audit committees is essential. Mandate that Chief Executive Officers and Chief Financial Officers/Finance Directors act as formal signatories to interim and annual financial statements. with the primary objective of strengthening the accountancy profession in developing and emerging countries. This overall strategic initiative should include: a)Building sustainable capacity in the accountancy profession on a national and regional level; b)Assisting countries in compliance with standards; c)Supporting or strengthening environment; achieving full 5. The G20 should explicitly address the needs and the realities of small and medium-sized enterprises in the formulation and implementation of policies and reforms. The G20 should acknowledge that small and medium enterprises (SMEs) are the engine of the global economy. It is important to stress that this sector has been hit especially hard by the credit crisis and, moreover, in most countries and industries, it is SMEs that will be the primary source of new jobs, innovation and growth. Regulation or re-regulation in financial policies should not place unreasonable obstacles in the path of small and medium enterprises. Those establishing the regulations must explicitly take into account the costs and complexities that will impose burdens on and threaten the sustainability of the small business sector. In this respect, the G20 should acknowledge that “one size does not fit all” in respect to all regulatory reforms designed to alter financial reporting requirements for SMEs. Because financial reporting for SMEs is important for the economy, there is a need for standardization of reporting with respect to SMEs and micro entities. 6. The G20 should commit to the longterm strengthening of the accountancy profession in developing and emerging countries. The effective implementation of global standards for financial reporting, auditing, ethics and public sector accounting requires a high quality, well trained accountancy profession in all countries. The G20 should support the establishment of a global partnership between IFAC, the World Bank and the G20 nations

International

reporting of making adjustments to standards to meet the needs of prudential monitoring and supervision. The G20 should facilitate collaboration in resolving critical issues regarding financial reporting and prudential reporting, as they have different underlying objectives. The objective of financial reporting is to communicate unbiased, transparent information on business performance to investors. The objective of prudential reporting is to monitor and maintain financial stability. The importance of a single common set of accounting standards is the keystone of our recommendations in this paper. We believe that there is a widespread acknowledgement of the purpose of general purpose financial statements which is understood by investors and users around the world. The comparability of financial statements risks serious erosion if national or regional prudential regulators impose specific requirements on individual financial institutions – unless the impact of those prudential rules is transparent from a reading of the financial statements. We acknowledge the role of prudential regulators in maintaining sound financial markets. We believe they should carry out their duties without affecting the financial reporting of institutions using IFRS. 8. The G20 should support the development of new tools and metrics to achieve global sustainability. The causes of social responsibility, environmental preservation and the overall sustainability of global civilization are critical not only for today, but also for our children and grandchildren. The G20 should support global sustainability initiatives in the following ways: Support and encourage the development of non-financial reporting. Decision- makers as well as investors, analysts, and regulators are increasingly seeking non- financial information to support financial statements. Consider the benefits of linking climate

establishment and/ of an enabling legal

p e r u b a h a n

d)Strengthening monitoring and enforcement mechanisms; e)Greatly improving access to international standards; f )Supporting the provision of high quality training and curricula; g)Improving the availability of implementation guidance and practice manuals; and h) Enhancing training in ethics.

d a l a m

Some progress in strengthening the accountancy profession has been made though the IFAC Member Body Compliance Program , the Developing Nations Committee, and World Bank, regional and bilateral donors’ programs and developed professional bodies’ support. However, the present support is often sporadic, short term and fragmented, and substantially more needs to be done. Therefore, there is an urgent need to establish a strong global partnership with appropriate resourcing to build sustainable capacity in the accountancy profession in developing and emerging countries. Furthermore, G20 governments should explicitly commit to supporting the long-term development of the accountancy profession in their own countries as appropriate. 7. The G20 should facilitate a debate with prudential regulators and a broad group of users of financial statements to consider the implications for financial
AKUNTAN

m i t r a

62
desain 19_rabu.indd 62

MAJALAH

INDONESIA

8/10/2009 11:36:30 AM

International

ai
Brazil Conselho Federal de Contabilidade Instituto dos Auditores Independentes do Brasil Canada The Canadian Institute of Chartered Accountants Certified General Accountants’ Association of Canada CMA Canada China The Chinese Institute of Certified Public Accountants France Compagnie Nationale des Commissaires aux Comptes Conseil Supérieur de l’Ordre des ExpertsComptables Germany Institut der Wirtschaftsprüfer Wirtschaftsprüferkammer India The Institute of Chartered Accountants of India The Institute of Cost and Works Accountants of India Indonesia Indonesian Institute of Accountants or Ikatan Akuntan Indonesia Italy Consiglio Nazionale dei Dottori Commercialisti e Degli Esperti Contabili Japan The Japanese Institute of Certified Public Accountants Mexico Instituto Mexicano de Contadores Públicos, A.C. Russia The Institute of Professional Accountants of Russia Russian Collegium of Auditors
AKUNTAN INDONESIA

change reporting (e.g., tracking greenhouse gas emissions) into existing mainstream reporting and financial performance. Encourage the development and recognition of financial and non-financial reporting practices that facilitate corporate social responsibility. Encourage further innovation in non-financial reporting practices that facilitate accountability and measurement for the United Nations Millennium Development Goals. Support the greater social and economic responsibility of capital maintenance in the private and public sectors – we, as a society, are less and less sustaining ourselves from the interest of our capital; rather we are consuming the very capital that will be required of future generations. The accountancy profession stands ready to assist in these objectives by sharing its experience and knowledge with government in the building of global solutions. Concluding Comments: The G20 and the accountancy profession should work more closely in addressing the financial crisis, and we welcome the opportunity to contribute through this submission and through future cooperation. The accountancy profession is in a unique position to inform governments and provide a practical and technical understanding of many issues related to the crisis, and to provide assistance in their resolution. List of Professional Accountancy Institutes from G20 Nations with Membership in IFAC Argentina Federación Argentina de Consejos Profesionales de Ciencias Económicas Australia CPA Australia The Institute of Chartered Accountants in Australia National Institute of Accountants in Australia

Saudi Arabia Saudi Organization Accountants

for

Certified

Public

South Africa The South African Institute of Chartered Accountants The South African Institute of Professional Accountants South Korea Korean Institute Accountants

of

Certified

Public

United Kingdom The Association of Chartered Certified Accountants The Chartered Institute of Management Accountants The Chartered Institute of Public Finance and Accountancy The Institute of Chartered Accountants in England & Wales The Institute of Chartered Accountants of Scotland United States American Institute Accountants

of

Certified

Public

MAJALAH

63
8/10/2009 11:36:30 AM

desain 19_rabu.indd 63

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Turkey Expert Accountants’ Association of Turkey Union of Chambers of Certified Public Accountants of Turkey

Selingan

SIAP DIAUDIT & SIAP MATI
Oleh : Bagus Rumbogo
Pada umumnya, terutama para pengelola keuangan sangat tidak suka dengan istilah “diaudit” atau “diperiksa”. Bahkan dalam hati kecilnya merasa tidak nyaman apabila kedatangan tamu dari pasukan auditor. Kalau ada pilihan bisa atau boleh menolak, itu yang akan dipilih. Memang berat menyandang predikat tugas profesi auditor. Ibarat tamu dia adalah tamu yang tidak diundang dan tidak diharapkan kedatangannya. Namun, mau tidak mau atau suka tidak suka adalah wajib hukumnya bagi pengelolaan keuangan negara untuk siap diperiksa. Bahkan setiap saat, kapan saja harus siap melayani tamu auditor yang akan memeriksanya. Sesuai ketentuan perundangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang semangat anggaran berbasis kinerja, maka setiap rupiah harus jelas peruntukan dan pertanggungjawabannya. Meminjam istilah jawa “Ono Rego Ono Rupo”, artinya semakin besar pembelanjaan anggaran harus semakin besar pula kualitas hasil manfaatnya. Banyak pengalaman pernah menimpa pada beberapa orang bendahara dan pimpro yang karena dalam mengelola keuangan dan pertanggungjawabannya amburadul, giliran ada pemberitahuan akan diperiksa oleh pasukan auditor pemerintah langsung tekanan darah naik, stres bahkan ada yang masuk rumah sakit. Artinya, mereka tidak siap diperiksa. Padahal apabila mereka memegang prinsip dan acuan akuntabel dan auditabel, maka kapan dan siapa saja yang akan memeriksa selalu telah menyiapkan diri. Demikian halnya dengan “mati”, semua orang harus siap sewaktuwaktu mati. Sebaik-baiknya orang walaupun yang bersangkutan termasuk golongan yang sangat taat beribadah, iman dan taqwanya sudah kelas tinggi –apabila ada penawaran malaikat untuk mati seminggu lagi—kalau dibolehkan pasti memilih jangan dulu atau nanti saja. Ada sebuah cerita, dua orang bersahabat—satu bernama Bodong sedangkan yang lain Bolot. Kedua orang itu hobinya sangat maniak dengan sepak bola. Kapan dan dimana saja yang diobrolin masalah bola. Mereka bersepakat kalau di antara mereka mati duluan, maka diminta memberi kabar tentang keadaan alam kubur. Cerita singkat, Bolot mati duluan. Suatu malam Jum’at ketika Bodong sedang mancing di sungai didatangilah si Bolot. Dengan bisikan ke telinga Bodong dikatakan, “Dong, ini saya Bolot. Sesuai janji saya memberi kabar tentang alam kubur.” Ada dua kabar, yang satu gembira dan satunya kabar sedih. Kata Bodong, “Wah, iya lot kabar yang baik duluan apa?”. Jawab Bolot, “Ternyata Dong, di alam kubur itu ada juga pertandingan bola antar blok kuburan. Wah meriah sekali. Adapun kabar yang sedih Dong, saya dapat bocoran dari Malaikat bahwa Sabtu sore akan ada pertandingan bola, dan salah satu yang jadi kiper adalah kamu Dong.” Apa yang terjadi? Mendadak sontak Bodong langsung pingsan karena dengar kabar bahwa hari Sabtu akan mati. Kesimpulan cerita ini, hendaknya kita semua sebagai p e n g e l o l a keuangan harus memegang teguh prinsip akuntabel dan auditabel. S e d a n g k a n sebagai insan agama senantiasa melaksanakan dan menjaga kepatuhan terhadap normanorma dan nilai ajaran agama kita masing-masing. Sehingga kapan saja siap diperiksa auditor dan kapan saja siap mati dipanggil malaikat. Mbah Surip sebagai sebuah contoh yang paling aktual dijadikan renungan kita bersama. ◘

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Penulis adalah Alumni FEUI dan Inspektur Utama pada Kementerian Negara PPN / BAPPENAS RI

ai

64

desain 19_rabu.indd 6

8/10/2009 11:36:30 AM

Selingan

1001 Cara Menghipnosis Peserta Menjadi Tertidur Saat Anda Berpresentasi
peserta tertidur. Selamat pagi Guys... Apakah Anda pernah tertidur di dalam kelas.ketika sekolah/kuliah? Padahal ada guru atau dosen sedang mengajar!. atau tertidur, padahal saat itu Anda seharusnya mendengarkan orang lain berpresentasi.? Ketahuilah, mereka sebenarnya sengaja melakukan hal tersebut kepada Anda. Mereka sebenarnya bukan sedang mengajar atau bukan sedang berpresentasi, tetapi sebenarnya mereka sedang mempraktekkan ilmu hipnosis mereka untuk membuat Anda tertidur, dan ternyata berhasil. Pertanyaanya sekarang adalah apakah Anda juga ingin belajar ilmu hipnosis seperti itu ? good news, ternyata ilmu seperti itu bisa dipelajari dan mudah pula. Oleh karena itu selamat datang!! Anda tidak perlu berfikir terlalu panjang, cara di bawah ini sangat mudah dan telah terbukti sangat manjur, jadi Anda hanya tinggal mempraktekkan ”1001 cara” di bawah ini. 1. Ketika membuat slides dan/atau handout, a. Buatlah slides yang terinci. Jangan gunakan rumus 7 kali 7, itu berarti dalam setiap slides harus terdiri lebih dari 7 baris, dan setiap baris harus terdiri lebih dari 7 kata. Sekali lagi harus, kalau tidak, maka peserta jadi bisa melihat, mudah memahami, dan tertarik kepada slides Anda. Hal ini sangat menggelitik pandangan mata peserta yang mulai terkantuk. b. Buatlah slides yang hurufnya kecil, sehingga peserta yang di pojok tidak dapat membaca apa pun yang ada di slides Anda, kalau perlu ukurannya adalah 12, supaya peserta yang duduk di depan sekalipun tidak bisa membacanya sama sekali. c. Gunakan tipe huruf yang berbuntut (serif ), jangan menggunakan font type Arial Bold (sanserif ) apalagi dengan ukuran 44, nanti bisa membuat mereka yang setengah tertidur menjadi terbangun karena ingin membaca tulisan yang jelas dan terbaca itu. Jangan lakukan itu, ingat tujuan Anda berpresentasi adalah untuk membuat d. Buatlah semua font slides Anda berburuf besar (kapital), bukan campuran huruf besar dan kecil. Font berhuruf besar semua akan membuat peserta Anda kesulitan membaca dan menjadi cepat jenuh, lalu memilih tidur daripada membaca slides Anda. e. Jangan memberi warna pada slides Anda. Warna yang lain mengartikan bahwa hal itu adalah point penting yang perlu diperhatikan, sedangkan tujuan Anda adalah membuat bahwa seluruh slides Anda adalah tidak penting, karena yang terpenting sekarang adalah tidur. Jadi, buatlah slides Anda hambar-hambar saja, hitam putih saja semuanya. f. Jalan lainnya, kalau pun Anda diharuskan untuk memberi warna pada slides Anda, maka buatlah slides dengan warna-warni yang bermacam-macam bak pelangi yang jatuh di atas pelangi. Lebih bagus lagi bila ditambah dengan penggunaan type font yang bermacam macam, ini akan membuat peserta jadi bingung, mana yang penting dan mana yang tidak penting.?.. atau penting semuanya kah? dan selanjutnya daripada berfikir secara lebih dalam mereka akan lebih memilih untuk tidur. Horee, berhasil!! g. Slides jangan dibuat simpel, harus tampak sulit dan detil, hal ini akan memberi kesan bahwa Anda sangat pintar dan menguasai materi presentasi, buktinya adalah slides yang Anda buat adalah slides yang terinci bahkan perhitungannya sampai 6 digit di belakang koma, walaupun tidak perlu, tetapi kesan sulit dan detil perlu ditonjolkan sehingga dapat memberi efek jenuh dan membosankan, dan ujungnya menimbulkan efek mengantuk. h. Dalam membuat handout, buatkanlah handout yang detil dan hurufnya kecil, jadi peserta bisa tahu apa yang akan Anda akan bicarakan sekarang, nanti, dan selama presentasi Anda. Jangan membuat kesan misteri atau sesuatu yang membuat peserta Anda penasaran, berikan saja semuanya. Alangkah baiknya juga apabila selama dalam presentasi itu Anda hanya membaca handout itu saja. Anggap saja mereka anak TK yang belum lancar membaca Anda akan terdengar seperti bernyanyi merdu untuk mereka, Nina

65
desain 19_rabu.indd 6

ai

8/10/2009 11:36:31 AM

m i t r a

d a l a m

p e r u b a h a n

Selingan

bobo, ooo Nina bobo. i. Andaikata Anda diminta untuk membuat contoh atau pun penjelasan lainnya dalam handout, maka buatlah penjelasan itu bukan suatu penjelasan yang mudah dipahami. Prinsip yang harus Anda pegang adalah kalau bisa dibuat rumit, kenapa harus simpel? Anda harus dikenal sebagai seorang pakar (pandai mempersukar). j. Buatlah handout dengan menggunakan bahasa akademik atau seperti bahasa yang digunakan dalam jurnal akuntansi, atau jurnal tentang hasil penelitian, bahasa yang sulit dipahami awam, bahasa yang berulang dan berkaitan. Anda tidak perlu memperdulikan apakah peserta Anda mengerti atau tidak, karena itu bukan tugas Anda, bukan tujuan Anda.

tujuan, bukan! f. Selama berpresentasi jangan menyisipkan humor ke dalamnya, jangan menyisipkan contoh, jangan menyisipkan ilustrasi, jangan menyisipkan analogi, atau menyisipkan potongan video, atau menyisipkan puisi, atau menyisipkan apa pun yang sifatnya ”variasi”, karena hal itu lah yang akan membuat peserta Anda menjadi fokus dan hilang rasa kantuknya. Oleh karena itu, hindarilah, apalagi untuk menerangkan point yang Anda anggap penting, jangan sekalikali menyisipkan hal seperti itu !! g. Habiskanlah waktu yang diberikan dengan menceritakan tentang betapa lucunya anak atau cucu Anda, atau tentang keberhasilan anak Anda menjadi juara deklamasi pada saat acara keluarga Anda setahun yang lalu. Pendek kata, ceritakan saja suatu hal yang di luar topik pembicaraan. Selanjutnya, apabila panitia atau moderator menegur Anda, maka Anda bisa membicarakan hal yang sesuai dengan topiknya, tetapi berikanlah hal-hal yang sudah basi, hal-hal yang sudah diketahui oleh seluruh peserta, hal-hal yang membuat seluruh peserta malas untuk mendengarnya. Dijamin praktek hipnosis Anda berhasil. Ingatlah sugesti yang saya berikan. Kesuksesan Anda dalam menghipnosis peserta Anda untuk tertidur selama Anda berpresentasi sangat tergantung dari kesadaran Anda untuk mengaplikasikan caracara di atas. Sekarang Anda sudah mengetahui cara-cara untuk membuat peserta presentasi Anda tertidur. Pilihlah satu atau beberapa cara di atas, dan praktekkan dalam sebuah presentasi Anda, lalu lihat hasilnya. Ingat juga pesan saya bahwa daripada Anda membaca 10 buku terlaris dan tidak mempraktekkanya sama sekali, lebih baik Anda membaca satu artikel dan Anda mempraktekkannya selama hidup Anda. Sampai bertemu kembali. Heliantono (Assue) Ketua Forum Kantor Akuntan Publik IAPI Anggota Bidang Kelembagaan IAI Cabang Jakarta Licensed NLP Practitioner Certified Hypnotherapist

p e r u b a h a n d a l a m m i t r a

2. Ketika Anda berpresentasi, a. Minta lah presentasi Anda diatur pada jam setelah makan siang atau pada saat peserta sangat lelah. Kalau perlu minta lah peserta agar mengkonsumsi karbohidrat lebih banyak dari biasanya. Hal ini akan memudahkan Anda dalam proses meninabobokan mereka. b. Berbicara lah dengan volume pelan, agar orang yang di tengah atau di pojok sana tidak mendengar suara Anda, jangan membuat intonasi dalam berbicara, pokoknya datar saja. Tentunya Anda tidak mau mengganggu peserta yang sedang lelap bukan? c. Duduk lah di belakang meja Anda atau di belakang podium Anda sepanjang waktu presentasi, kalau bisa jangan berdiri, apalagi berjalan-jalan di sekitar peserta, itu diharamkan karena akan membuat mereka terjaga. Anda masih ingat apa yang terjadi dengan jantung Anda ketika dosen berjalan di sekitar Anda ?, maka jantung Anda akan berdegup lebih kencang karena takut untuk diminta maju ke depan kelas mengerjakan soal yang Anda tidak kuasai. Hal itu menjadi trauma bagi beberapa orang. Oleh karena itu, jangan lakukan yang demikian, kasihan peserta, mereka pun perlu beristirahat. d. Jangan sampai terdapat sebuah variasi apa pun dalam presentasi Anda, baik itu pada tingkat volume suara Anda, atau intonasinya, atau pun materi presentasi Anda. Jadi, janganlah menggunakan perasaan selama berpresentasi. Buatlah semonoton mungkin. Mereka bukan siapa-siapanya Anda. Mereka datang ke presentasi Anda hanya sekedar untuk beristirahat, Anda harus membantu mereka mencapai tujuannya. e. Jangan contoh pakXYZ yang menggunakan intonasi meninggi, volume yang keras, dan perasaan (emosi) yang mendalam saat menegur salah satu pesertanya ketika melihat peserta tersebut tertidur dalam sebuah rapat. Hal ini akan membuat rasa kantuk peserta tersebut hilang seketika, bagaikan terjatuh dari tempat tidur. Bahkan rasa kantuk peserta lain pun dapat hilang sama sekali. Akibatnya selanjutnya menjadi lebih parah lagi, hal ini ternyata telah menjadi seperti yurisprudensi, yaitu bahwa ketika pakXYZ sedang berpresentasi, maka peserta tidak boleh tertidur. Anda nantinya akan menjadi terkenal sebagai pembicara yang tidak bisa membuat peserta tertidur. Naah ini namanya menyalahi

ai

66

desain 19_rabu.indd 66

8/10/2009 11:36:31 AM

Formulir Berlangganan
Saya berminat berlangganan majalah Akuntan Indonesia :
Pulau Jawa Rp. 20.000 ,-: Paket 1 = 12 Edisi Rp. 216.000 ,- (Harga termasuk diskon 10%) Paket 2 = 6 Edisi Rp. 114.000 ,- (Harga termasuk diskon 5%) Luar Pulau Jawa Rp. 22.500,- : Paket 1 = 12 Edisi Rp. 243.000,- (Harga termasuk diskon 10%) Paket 2 = 6 Edisi Rp. 128.000,- (Harga termasuk diskon 5%)

Nama Alamat

Telp/Hp/Fax Paket yg dipilih Mulai Edisi

Pembayaran Pembayaran transfer: ke rekening IAI Wilayah Jakarta Bank Central Asia A/C No. 092.3009318

Tunai

Transfer

desain 19_rabu.indd 67

aiaiaiaiai
a k u n t a n
i n d o n e s i a
mitra dalam perubahan
Edisi No.12/Tahun II/Oktober 2008

Kirimkan formulir ini ke: Redaksi Majalah Akuntan indonesia Bagian Langganan Telp No. 83707344, 8353588, Fax No. 8290324

ai

a k u n t a n
i n d o n e s i

Edisi No.11/Tahun II/September 2008

a

mitra dalam perubahan
Harga Rp. 20.000,- (Pulau Jawa) Rp. 22.500,- (Luar Jawa)

SUKSESI KEPENGURUSAN IAI WILAYAH JAKARTA 2008

BUDGETING : CASH VS ACCRUAL BUDGETING BEYOND BUDGETING ACTIVITY BASED BUDGETING REALISASI APBN RENDAH?

ai

Harga Rp. 20.000,- (Pulau Jawa) Rp. 22.500,- (Luar Jawa)

Tanda tangan :_____________________________________

CSR
Voluntary or Mandatory ?

potong disini

8/10/2009 11:36:33 AM

Contact your nearest IAI Branch Office for more information

desain 19_rabu.indd 68

8/10/2009 11:36:39 AM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->