P. 1
Sistem Dan Lingkungan

Sistem Dan Lingkungan

|Views: 264|Likes:
Published by Komang Suardika
by komang suardika
by komang suardika

More info:

Published by: Komang Suardika on Jul 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2014

pdf

text

original

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA Sistem dan Lingkungan

1. Pengertian umum termodinamika Termodinamika berasal dari bahasa Yunani, yaitu thermos yang artinya panas dan dynamic yang artinya perubahan . Termodinamika merupakan cabang dari ilmu fisika yang mempelajari tentang proses perpindahan energy sebagai kalor dan usaha antara system dan lingkungan.. Prinsip - prinsip termodinamika dapat dirangkum menjadi 3 hukum yaitu hukum ke nol Termodinamika yang menjelaskan tentang kesetimbangan termal, hukum I Termodinamika yang merupakan pernyataan hukum kekekalan energy, dan hukum II termodinamika yang memberikan batasan tentang arah perpindahan kalor yang dapat terjadi dan prinsip peningkatan entropi. Prinsip-prinsip dan metode-metode termodinamika digunakan untuk menjelaskan kerja beberapa system, menjelaskan mengapa suatu system tertentu tidak bekerja seperti yang diinginkan, menjelaskan mengapa suatu system sama sekali tidak mungkin bekerja, serta digunakan untuk merencanakan system atau mesin-mesin, seperti motor bakar.

2. Sistem termodinamika dan lingkungan Sistem termodinamika adalah suatu batasan yang dipakai untuk menunjukkan benda kerja dalam suatu permukaan tertutup. Permukaan tertutup dapat berupa khayalan maupun berupa kenyataan. Contohnya :  Sebongkah es terapung di atas air, maka yang merupakan sistem adalah es dan air merupakan permukaan tertutup, sehingga dalam hal ini permukaan tertutup adalah keadaan khayalan.  Udara yang ditekan di dalam suatu silinder, maka yang merupakan system adalah udara yang ditekan dalam silinder, sedangkan sedangkan permukaan tertutupnya adalah permukaan yang dibatasi silinder. sehingga dalam hal ini permukaan tertutup adalah kenyataan. Sistem termodinamika mempunyai batas system, dan segala sesuatu yang berada di luar sistem disebut lingkungan. Batas antara sistem dan lingkungan ada tiga, yaitu dinding diatermik, dinding adiabatik, dan rigid. Dinding diatermik adalah batas antara sistem dan lingkungan yang memungkinkan terjadi pertukaran kalor antara sistem dengan
1

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA lingkungan. Dinding adiabatik merupakan batas antara sistem dengan lingkungan yang tidak memungkinkan terjadinya pertukaran kalor antara sistem dengan lingkungan. Dinding rigid merupakan batas antara sistem dan lingkungan yang tidak memungkinkan terjadi pertukaran kerja. Batas Sistem

Lingkungan

Sistem Termodinamika

Skema : Sistem Termodinamika Sistem termodinamika di klasifikasikan menjadi tiga yaitu : Sistem tertutup, Suatu sistem disebut tertutup apabila hanya terjadi pertukaran energi tetapi tidak terjadi pertukaran materi dengan lingkungan. Contoh nya pada balon udara yang dipanaskan, dimana energy panas akan masuk ke massa udara di dalam balon dan volumenya bisa berubah, tetapi massa udara di dalam balon. Sistem terbuka, merupakan system dimana antara system dan lingkungan memungkinkan terjadi pertukaran materi dan energi. Batas yang memperbolehkan terjadi pertukaran materi disebut batas permeable. Sistem terisolasi, adalah antara system dan lingkungan tidak terjadi pertukaran materi , dan energy( panas dan kerja) System memiliki sifat-sifat yaitu sifat ekstensif dan sifat intensif. Sifat ekstensif merupakan sifat system yang harga untuk keseluruhan system merupakan jumlah dari harga komponen-komponen individu system tersebut, Contohnya, volume total, massa total, energy total. Sedangkan sifat intensif merupakan sifat system yang bukan merupakan jumlah dari komponen-komponen individu system tersebut, contohnya sifat temperature, tekanan daan kerapatan system.

2

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA 3. Keadaan sistem (State of a system) Keadaan sistem termodinamika dapat dinyatakan dengan beberapa besaran, diantaranya tekanan (P), temperature (T), volume (V), dan kerapatan. Dalam termodinamika besaran dibedakan menjadi dua yaitu, besaran extensif dan besaran intensif. Besaran extensif adalah suatu besaran yang dipengaruhi oleh massa atau jumlah mol sistem. Contohnya adalah volume, kapasitas panas (C). Besaran intesif adalah suatu besaran yang tidak dipengaruhi oleh massa atau jumlah mol sistem. Contohnya adalah tekanan dan temperatur. Keadaan sistem sangat bergantung pada koordinat sistem.

Dalam hal ini koordinat sistem atau variabel keadaan sistem adalah suatu kwantitas yang dapat menggambarkan keadaan sistem. Keadaan sistem akan berubah jika koordinatnya berubah. Contoh: Gas dalam silinder, keadaan sistem dinyatakan dengan tekanan, volume, temperatur. yang dalam hal ini p, V, dan T merupakan koordinat termodinamika/ variabel keadan sistem. Keadaan sistem akan berubah jika p, V, dan T gas berubah (Rapi, 2009).

Gas ( p, V, dan T )

Keadaan sistem baru bisa dinyatakan dengan koordinat sistem jika sistem berada dalam kesetimbangan termodinamika. Dimana sistem dalam keadaan kesetimbangan termodinamika jika sistem berada dalam keadaan kesetimbangan mekanis, kimiawi, dan kesetimbangan termal.  Sistem berada dalam kesetimbangan mekanis, jika resultan gaya yang bekerja di bagian dalam sistem atau antara sistem dengan ingkungan sama dengan nol (Tekana diseluruh bagian sistem sama).  Sistem berada dalam keseimbangan kimiawi, jika sistem tidak mengalami perubahan spontan dari struktur internalnya. Dimana tidak terjadi reaksi-reaksi kimiawi yang dapat mengubah jumlah partikel semulanya, didalamnya tidak terjadi perpindahan zat dari bagian yang satu ke bagian yang lain(difusi) dan tidak terjadi pelarutan atau kondensasi.
3

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA  Sistem berada dalam kesetimbangan termal, jika temperatur sistem sama dengan temperatur lingkungannya, dan temperatur semua bagian sistem sama.

Sistem dikatakan berubah jika koordinat pada sistem berubah secara spontan ataupun pengaruh dari luar, bila sistem berubah biasanya terjadi interaksi sistem dengan lingkungannya (Zemansky dan Dittman, 1986). Setiap sistem dengan massa tetap melakukan tekanan hidrostatik sebagaimana pada lingkungannya, tanpa efek permukaan, gravitasi, listrik dan kemagnetan disebut sistem hidrostatik. Keadaan setimbang sistem hidrostatik dapat diperkirakan dengan bantuan tiga koordinat yaitu tekanan P, yang ditimbulkan oleh sistem pada lingkungan, volume V, dan temperature T. Tekanan diukur dalam newton per meter kuadrat (pascal) dan volume dalam meter kubik, dan skala temperatur yang digunakan adalah skala temperature gas ideal (Zemansky & Dittman, 1986). Apabila tidak ada gaya yang berimbang di bagian dalam sistem dan juga tidak antara sistem dengan lingkungan maka sistem dikatakan dalam keadaan setimbang mekanis. Jika persyaratan itu tidak dipenuhi maka sistem dan lingkungan akan mengalami perubahan keadaan dan baru berhenti jika kesetimbangan mekanisnya pulih. Apabila sistem pada keadaan setimbang mekanis tidak cenderung mengalami perubahan spontan dari struktur internalnya seperti reaksi kimia atau perpindahan materi maka sistem dikatakan dalam keadaan setimbang kimia. Jika persyaratan itu tidak dipenuhi maka sistem dan lingkungan akan mengalami perubahan keadaan dan baru berhenti jika kesetimbangan kimianya pulih. Kesetimbangan termal terjadi apabila tidak terjadi perubahan spontan dalam koordinat sistem yang ada dalam kesetimbangan mekanis dan kesetimbangan kimia bila sistem itu dipisahkan dari lingkungannya.

4. Pengertian proses Proses dalam termodinamika merupakan suatu perubahan yang terjadi pada koordinat termodinamika. Koordinat termodinamika merupakan suatu kuantitas

makroskopis yang dipakai dalam termodinamika itu sendiri. Koordinat termodinamika, misalnya volume, tekanan, temperatur dan yang lainnya. Jika koordinat termodinamika
4

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA tersebut berubah maka sistem dikatakan mengalami proses. Sistem mengalami proses karena adanya interaksi antara sistem dengan lingkungan. Terdapat tiga jenis interaksi yaitu sebagai berikut: 1. Interaksi melalui usaha luar 2. Interaksi melalui pertukaran kalor 3. Interaksi melalui usaha luar + pertukaran kalor A. Interaksi Melalui Usaha Luar Terjadinya proses melalui interaksi ini menyatakan bahwa usaha luar itu dilakukan oleh sistem. ika kalor diterapkan kepada gas yang menyebabkan perubahan volume gas, usaha luar akan dilakukan oleh gas tersebut. Usaha yang dilakukan oleh gas ketika volume berubah dari volume awal V1 menjadi volume akhir V2 pada tekanan p konstan dinyatakan sebagai hasil kali tekanan dengan perubahan volumenya. W = p∆V= p(V2 – V1) Secara umum, usaha dapat dinyatakan sebagai integral tekanan terhadap perubahan volume yang ditulis sebagai

Tekanan dan volume dapat diplot dalam grafik p – V. jika perubahan tekanan dan volume gas dinyatakan dalam bentuk grafik p – V, usaha yang dilakukan gas merupakan luas daerah di bawah grafik p – V. hal ini sesuai dengan operasi integral yang ekuivalen dengan luas daerah di bawah grafik.

5

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA

Gas dikatakan melakukan usaha apabila volume gas bertambah besar (atau mengembang) dan V2 > V1. sebaliknya, gas dikatakan menerima usaha (atau usaha dilakukan terhadap gas) apabila volume gas mengecil atau V2 < V1 dan usaha gas bernilai negatif. B. Interaksi Melalui Pertukaran Kalor Kalor dalam termodinamika dianggap sebagai energi dalam perjalanan yang melewati batas yang memisahkan sebuah sistem dengan lingkungan. Namun, berbeda dengan kerja, perpindahan kalor yang dihasilkan dari perbedaan suhu antara sistem dan lingkungannya. Interaksi ini secara garis besarnya hanya dipengaruhi oleh perpedaan suhu sistem dengan lingkungannya. C. Interaksi Melalui Usaha Luar + Pertukaran Kalor Proses juga dapat terjadi akubat adanya interaksi melaui usaha luar dan juga terjadi perpindahan kalor. Ini artinya bahwa dalam proses tersebut selain terjadi perubahan pada aspek makroskopik juga terjadi perubahan yang disebabkan karena adanya perbedaan suhu antara sistem dengan lingkungan, sehingga selain terjadi usaha luar juga terjadi pertukaran kalor.

6

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA Dalam mempelajari suatu sistem terdapat beberapa dasar umum yang harus dipelajari yaitu sebagai berikut.

1. Proses Reversibel Proses reversibel adalah suatu proses yang keadaan mula-mula dari sistem dapat dikembalikan tanpa merubah keadaan sekelilingnya. Proses reversibel juga dapat diartikan suatu proses yang berlangsung sangat lambat, sehingga setiap saat sistem selalu dalam keadaan setimbang. Proses revrsibel ini merupakan suatu hal yang idealistis dimana secara kajian alam, tidak mungkin terjadi hal tersebut. 2. Proses Ireversibel Proses ireversibel adalah suatu proses yang keadaan mula-mula dari sistem tidak dapat dikembalikan tanpa merubah keadaan disekelilingnya. Contoh: Terjadinya perpindanghan kalor dari suhu tinggi ke suhu rendah. Proses tersebut tidak dapat terjadi dalam hal kebalikannnya, yaitu kalor berpindah dari suhu rendah ke suhu tinggi. Dan perpindahan kalor yang telah terjadi dari suhu tinggi ke suhu rendah tidak dapat ditransfer kembali ke keaadan semula. 3. Proses Adiabatik Proses adiabatik adalah suatu proses yang tidak disertai dengan pertukaran kalor antara sistem dengan lingkungannya. Antara sistem dan lingkungannya hanya terjadi interaksi melalui usaha luar. Proses adiabatik terjadi, misalnya pada ekspansi uap di dalam selinder pada sebuah mesin uap, pemuaian gas yang sangat cepat pada mesin pembakaran. Demikian pula pada system pendinginan dan kompresi udara pada mesin diesel atau di dalam sebuah mesin kompresor udara. Di samping itu, kompresi dan perenggangan sebuah gelombang bunyi di dalam suatu gas adalah proses-proses adiabatik. 4. Proses Isotermis Proses isotermis adalah proses dalam suatu sistem yang suhunya dipertahankan tetap. Misalnya, kita meninjau suatu sistem dari keadaan gas ideal, jika suhunya konstan
7

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA maka kalor yang diberikan pada sistem seluruhnya dipergunakan untuk melakukan kerja. Secara matematik dirumuskan sebagai berikut. Q=W Misalkan, gas ideal mengalami ekspansi secara kuasi statik pada temperatur konstan seperti yang ditunjukkan dengan diagram PV dibawah ini.

PV untuk ekspansi isothermal gas ideal dari keadaan awal dan keadaan akhir. Kurva berbentuk parabola Untuk menghitung usaha yang dilakukan oleh gas yang berekspansi dari keadaan awal i sampai keadaan akhir f. Kerja yang dilakukan gas diberikan dengan persamaan sebagai berikut.

Karena temperatur T konstan, maka dapat dikeluarkan dari integral, sehingga diperoleh:

Secara numerik, kerja W adalah luas daerah diarsir di bawah kurva PV pada Gambar 4.1.4. Karena gas mengalami ekspansi, maka Vf > Vi, ini berarti kerja yang dilakukan oleh gas berharga positif. Sebaliknya, jika maka Vf < Vi, ini berarti kerja yang dilakukan oleh gas berharga negatif.

8

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA

5. Proses Isokorik Proses isokorik adalah proses dalam suatu sistem yang velomenya dipertahankan tetap. ini berarti dV = 0 dan dalam proses ini berlaku rumus p/T= C. Dalam proses isokorik ini penambahan kalor ke dalam sistem, seluruhnya dipergunakan untuk menaikkan energi dalam. 6. Proses Isobar Proses isobar adalah proses dalam suatu sistem yang tekanannya dipertahankan tetap. ini berarti dP = 0 dan dalam proses ini berlaku rumus: V/T = C. Jika melihat besarnya usaha yang dilakukan dalam proses ini dapat dirumuskan sebagai berikut. W=  PdV = P(Vf – Vi)
Vi Vf

Pf Luasan di bawah kurva = usaha yang dilakukan sistem Vi Vf

Pi

Proses isobarik ini dapat dijumpai pada kasus pemanasan air di dalam ketel mesin uap sampai ke titik didihnya dan diuapkan sampai air menjadi uap, kemudian uap tersebut disuperpanaskan (superheated), dengan semua proses berlangsung pada suatu tekanan konstan. Sistem tersebut adalah H2O di dalam sebuah wadah yang berbentuk selinder. Sebuah pengisap kedap udara yang tak mempunyai gesekan dibebani dengan pasir untuk menghasilkan tekanan yang diinginkan pada H2O dan untuk mempertahankan tekanan tersebut secara otomatis. Kalor dapat dipindahkan dari lingkungan ke sistem dengan menggunakan sebuah pembakar bunsen. Jika proses tersebut terus berlangsung cukup lama, maka air mendidih dan sebagian air tersebut diubah menjadi uap. Sistem tersebut bereskpansi secara kuasi statik tetapi tekanan yang dikerahkan sistem pada pengisap otomatis akan konstan.
9

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA

5. Temperatur dan Termometer 5.1 Temperatur Tinjauan Hukum ke – Nol Termodinamika Temperatur menyatakan ukuran panas atau dinginnya suatu benda. Sebelum jauh meninjau mengenai konsep dari temperatur, maka adapun suatu gambaran yang dapat dijadikan sebagai bahan dalam pembahasan ini yaitu sebagai berikut.

Sistem A X,Y

Pemisah Diabat

Sistem A X,Y Sistem B X’Y’

Pemisah Diaterm

Sistem B X’Y’

Keadaan sistem yang memiliki harga Y dan X tertentu selama kondisi eksternal tidak berubah disebut dengan keadaan setimbang. Adanya keadaan setimbang dalam suatu sistem bergantung pada sistem lain yang ada di dekatnya dan sifat dinding yang memisahkannya. Dindingnya dapat beruba dinding diabatik atau diaterm. Jika dindingnya diabat maka, untuk sistem A yang mempunyai keadaan X, Y dan sistem B yang mempunyai keadaan X’,Y’ dapat bersama-sama sebagai keadaan setimbang untuk setiap harga yang bisa dimiliki oleh keempat kuantitas itu, asal dinding itu dapat menahan koordinat itu. Yang termasuk dalam dinding diabat, misalnya kayu, beton, asbes, kain, beludru, karet busa, dan yang lainnya. Jika kedua sistem dipisahkan dengan dinding diaterm harga Y,X dan Y’,X’ akan berubah secara spontan sampai keadaan setimbang sistem gabungan ini tercapai. Dalam keadaan demikian, kedua sistem itu dalam kesetimbangan termal. Dinding diaterm yang sering dijumpai ialah lempengan logam tipis. Kesetimbangan termal adalah keadaan yang dicapai oleh dua atau lebih sistem yang dicirikan oleh keterbatasan harga koordinat sistem itu setelah sistem saling berinteraksi melalui dinding diaterm. Bayangkan

10

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA dua sistem A dan B yang dipisahkan oleh dinding adiabat, tetapi masing-masing bersentuhan dengan sistem ketiga, yaitu C melalui dinding diaterm dan ketiga sistem berada pada dinding diabatik seperti gambar berikut.

Sistem C

Sistem A

Sistem B

Jika A dan B dalam kesetimbangan dengan C Percobaan memperlihatkan bahwa kedua sistem akan mencapai kesetimbangan termal dengan sistem ketiga dan tidak akan ada perubahan lagi jika dinding adiabat yang memisahkan A dan B digantikan oleh dinding diaterm seperti gambar dibawah ini.

Sistem C

Sistem A

Sistem B

Jika A dan B dalam kesetimbangan termal satu sama lain

11

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA Jika alih-alih dibiarkan sistem A dan B mencapai kesetimbangan dengan C pada waktu yang bersamaan, mula-mula kita dapatkan kesetimbangan antara A dan C, kemudian kesetimbangan antara B dengan C. Bila A dan B dibiarkan berinteraksi melalui dinding diaterm, kedua sistem itu ternyata dalam kesetimbangan termal. Untuk menyatakan bahwa kedua sistem itu dalam keadaan sedemikian, sehingga jika kedua sistem itu berhubungan melalui dinding diaterm, maka sistem gabungannya akan tetap dalam kesetibangan termal. Berdasarkan dari pernyataan itu maka dapat dibuatkan suatu postulat yang menyatakan bahwa “Dua sistem yang ada dalam kesetimbangan termal dengan sistem ketiga, berarti dalam kesetimbangan termal satu sama lain. Postulat itu sebagai hukum ke nol termodinamika.

5.2 Konsep Termometer Thermometer merupakan alat pengukur suhu. Adapun jenis thermometer berdasarkan atas gejala dimana besaran fisis tertentu berubah apabila suhu berubah yaitu  Thermometer gas pada tekanan tetap, yaitu thermometer yang volume gasnya berubah akibat perubahan temperature dan dapat dinyatakan dengan persamaan : V = V(T)  Thermometer cairan, yaitu thermometer yang panjang cairannya akan berubah karena perubahan temperature dan dinyatakan dengan persamaan : L = L(T)  Thermometer resistor, yaitu jenis thermometer yang tahanan jenisnya akan berubah akibat perubahan temperature dan dapat dinyatakan dengan persamaan :    (T )  Pirometer , yaitu jenis thermometer yang intensitasnya berubah karena perubahan suhu, dan dapat dinyatakan dengan persamaan : I = I(T)  Termistor jenis thermometer yang kuat arusnya berubah karena perubahan suhu, dan dapat dinyatakan dengan persamaan : i = i(T)  Termokopel , jenis thermometer yang GGL nya berbuah karena perubahan suhu, dan dinyatakan dengan persamaan E = E(T)

12

KOMANG SUARDIKA ; 0913021034; PENDIDIKAN FISIKA;UNDIKSHA V , L , dan  disebut dengan thermometric property yaitu suatu sifat fisis yang berubah karena perubahan temperature. Jika thermometric property dilambangkan dengan x, maka dapat dirumuskan x = x (T), untuk kemudahan dalam membaca skala, maka x dipilih sebagai fungsi linier dari temperature, sehingga dapat dirumuskan : x = CT atau
x x x  C atau 1  2 . T1 T2 T

Maka suhu yang hendak diukur dapat dirumuskan :
T1  T2 x1 …………………………………………………………..(1) x2

Dengan, T1 = suhu yang hendak diukur T2 = suhu acuan x1 = nilai thermometric property pada suhu yang hendak diukur x2 = nilai thermometric property pada suhu acuan Titik acuan yang diambil adalah suhu tripel air murni dengan nlai T2 = 273,16 K, sehingga persamaan (1) akan menjadi,
T1  273 ,16 x1 K ………………………………………………...(2) x2

Sehingga Skala suhu pada thermometer gas pada volume tetap, dapat dirumuskan,
T  273 ,16 P K ………………………………………………...(3) P2

Jika jumlah gas yang digunakan tinggal sedikit, maka pada thermometer gas volume tetap, hubungan linier antara P dan T benar-benar terpenuhi dengan baik. Sehingga persamaannya merupakan definisi suhu gas ideal, yaitu ;
T  lim it P , P 0 273 ,16 P K ………………………………………………...(4) P2

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->