P. 1
Bahan Kimia Berkhasiat Obat

Bahan Kimia Berkhasiat Obat

|Views: 551|Likes:
Published by Sabar Sinaga

More info:

Published by: Sabar Sinaga on Jul 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2014

pdf

text

original

Bahan Kimia Berkhasiat Obat dalam Jamu Sesak Napas

Sebagian masyarakat Indonesia melakukan pengobatan sendiri dengan obat tradisional (28,7%). Ramuan yang paling disukai berupa serbuk yang disedu air matang yang masih ada rasa dan aroma ramuan asli. Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, jamu dapat dicampur kuning telur, madu, jeruk nipis, dan anggur.

Uji laboratorium oleh Badan POM menemukan bahwa ada obat tradisional yang dicampur bahan kimia berkhasiat obat (BKO) yang umumnya termasuk daftar obat keras yang memerlukan resep dokter. BKO yang ditemukan tersebut antara lain adalah fenilbutason, deksametason, CTM, allopurinol, parasetamol, ibuprofen, furosemid, piroksikam, teofilin, kafein, metiltestosteron, natrium diklofenak, dan asam mefenamat. Penggunaan BKO yang tidak tepat dan dosis yang tidak sesuai dapat menyebabkan berbagai efek samping seperti iritasi saluran cerna, kerusakan hati/ginjal, gangguan penglihatan dan ritmik irama jantung. Berdasarkan Permenkes Nomor: 246/ Menkes/ Per/ V/ 1990, obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia sintetik atau hasil isolasi yang berkhasiat obat, serta bahan yang tergolong obat keras atau narkotika. Badan POM memberikan peringatan secara keras kepada produsen dan sarana distribusi untuk menarik serta memusnahkan obat tradisional bercampur BKO tersebut. Selain itu, Badan POM membuat peringatan publik yang disebarkan oleh Dinas kesehatan kepada masyarakat untuk tidak mengonsumsi obat tradisional yang dicampur BKO. Obat tradisional bercampur BKO umumnya diproduksi industri kecil obat tradisional yang belum berijin, belum bernomor

registrasi, atau beregistrasi fiktif. Beberapa perusahaan yang mempunyai nomor registrasi ada yang telah dibatalkan. Penyalahgunaan bahan kimia berkhasiat obat ternyata tidak hanya dilakukan di tingkat industri, tapi ditengarai dilakukan juga di tingkat pengecer dan konsumen. Banyak pengecer obat tradisional yang melakukan penambahan BKO pada obat tradisional yang diramunya. Artikel penelitian “Studi Penyalahgunaan Bahan Kimia Berkhasiat Obat dalam Jamu Sesak Napas oleh Pengecer” yang ditulis oleh Suharmiati dan Lestari Handayani kami bahas dalam editorial Medika 2011, Tahun ke XXXVII, No. 8. Artikel ini menyoroti BKO sesak napas yang disebabkan oleh asma. Penelitian tersebut menemukan 11 macam sampel jamu sesak napas dengan berbagai nama, yang terbanyak adalah “sesak napas”. BKO biasanya dicampurkan pada jamu yang diracik, yang kemudian diserahkan kepada pembeli untuk diminum atau diberikan secara terpisah dalam bentuk tablet, kaplet, atau kapsul yang utuh. Pada setiap racikan ramuan tradisional tersebut dapat ditambahkan satu sampai empat macam BKO. Peneliti menemukan enam industri obat tradisional yang menambahkan satu macam BKO pada jamu yang diraciknya, yaitu aminofilin. Selain itu, dari pengamatan, ada pengecer yang menambahkan empat BKO secara terpisah, meliputi CTM, Aminofilin, dan Vitamin B kompleks serta satu tablet biru yang tidak dikenal. Pengecer kedua menambahkan tiga BKO, meliputi CTM, Prednison, dan Asma Soho yang berisi aminofilin. Pengecer ketiga menambahkan efedrin.

Aminofilin adalah garam teofilin dengan basa organik larut air yang merupakan bronkhospasmolitika kuat. Dosis diatur secara individual pada kisaran 200 – 400 mg. Efek samping teofilin antara lain gangguan sistem syaraf pusat, takhikardia, takhiaritmia, dan gangguan alat cerna. Teofilin harus diberikan secara hati-hati pada penderita epilepsi, gangguan

ritme jantung, dan penyakit hati. Efedrin tergolong simpatomimetika tidak langsung melalui pembebasan noradrenalin granula cadangan di syaraf simpatik. Pada dosis tinggi menyebabkan takhifilaksi yang menghilang setelah 1–2 minggu penghentian obat. Efek samping steroid jangka panjang sangat berbahaya sehingga harus digunakan secara ketat dan diawasi dengan cermat. Kortikosteroid menstimulasi glukoneogenesis protein dengan meningkatkan penguraian protein, kadar gula darah, dan pembentukan glikogen dalam hati. Kortikosteroid juga menurunkan fungsi jaringan limfe sehingga menyebabkan limfopenia dan pengecilan limfosit. Efek samping kortikosteroid antara lain tukak lambung. Kerja katabolik dapat menyebabkan atrofi otot, kulit, dan jaringan lemak akibat penguraian matriks tulang mesenkhim akibat kerja antagonis vitamin D yang berujung pada osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menyebabkan sindrom Cushing berupa “moon face”, obesitas, hiperkolesterolemia, sampai penurunan reaksi imun.

Pengecer jamu mungkin hanya terminal dari carut marut perjalanan BKO yang akan berujung pada efek samping dan komplikasi yang menyengsarakan. Ketika Badan POM merisaukan penggunaan BKO yang ceroboh, para pengelola program kesehatan anak tengah berjuang keras meminta kader di desa diberi wewenang memberikan kotrimoksazol pada anak penderita pneumonia. Upaya tersebut semata-mata bertujuan untuk menurunkan kematian anak balita di Indonesia. Seperti kader di desa, seharusnya produsen dan pengecer obat tradisional dapat menjadi mitra dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Apa yang harus kita lakukan agar kehadiran obat yang terjangkau dapat dinikmati sebagai anugerah yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.

(Nasrin Kodim

aspadai Bahan Kimia yang Dioplos dalam Jamu
Bila obat kimia mengobati penyakit dengan menekan gejala dan langsung membunuh biang keladinya (bakteri, virus, jamur, dll), efek jamu memakan waktu lebih lama karena lebih bersifat merangsang dan memberdayakan sistem pertahanan tubuh. Misalnya, saat kita demam karena flu; jika makan obat kimia, obat akan bekerja secara langsung menurunkan demam. Sedangkan

jamu akan membangun sistem imunitas tubuh untuk melawan infeksi. Mekanisme itulah yang secara tidak langsung akan menurunkan demam. Meskipun demikian, jamu juga dapat meredam gejala.

Beberapa jamu mengandung herba yang memiliki senyawa aktif berkhasiat tertentu. Senyawa aktif tersebut bekerja mirip obat kimia, seperti mengatasi peradangan (antiinflamasi), melancarkan air seni (diuretik), menghilangkan rasa sakit (analgesik), dan membunuh bakteri (antibakteri). Bedanya, reaksi jamu dalam meredam gejala mungkin tidak sekuat obat kimia, sehingga memerlukan waktu lebih lama dan harus dikonsumsi dengan dosis khusus. Karena waktu yang dibutuhkan oleh obat herbal jauh lebih lama untuk menghasilkan efek yang dibutuhkan, banyak produsen obat jamu menambahkan bahan kimia obat kedalam produksi jamu untuk mempercepat terjadinya efek pengobatan. Berikut ini 9 obat kimia di balik “kemanjuran” jamu palsu.

1.

Sibutramin hidroklorida

Dicampurkan dalam jamu pelangsing. Merupakan obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter, dengan dosis maksimal 15 miligram per hari. Penggunaan sibutramin hidroklorida dosis tinggi berisiko meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Tidak boleh

digunakan sembarangan oleh penderita gagal jantung, stroke, dan denyut jantung yang tak beraturan.

2.

Sildenafil sitrat

Dicampurkan dalam jamu kuat pria. Obat ini lebih dikenal dengan nama patennya, yakni Viagra. Merupakan obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter untuk mengatasi gangguan ereksi. Penggunaan yang kurang tepat dapat menyebabkan gangguan penglihatan, gangguan pencernaan, sakit kepala, reaksi hipersensitif, ereksi lebih dari 4 jam, bahkan kematian. Tidak boleh digunakan oleh penderita gangguan jantung, stroke, dan penderita tekanan darah di bawah 90/50 mmHg.

3.

Siproheptadin hidroklorida

Dicampurkan dalam jamu pelangsing; merupakan obat anti-alergi. Overdosis dapat menyebabkan depresi, mulut kering, diare, dan berkurangnya sel darah putih.

4.

Fenilbutason

Dicampurkan dalam jamu pegal linu, rematik, dan asam urat. Merupakan obat jenis kortikosteroid yang berperan mengatasi peradangan. Penggunaan yang kurang tepat dapat menyebabkan mual, muntah, ruam kulit, muka sembab (moon face), bengkak tubuh karena penumpukan cairan (edema), pendarahan lambung, hepatitis, radang ginjal, gagal ginjal, dan berkurangnya jumlah leukosit (leukopenia).

5.

Prednison

Dicampurkan dalam jamu pegal linu, rematik, asam urat, dan sesak napas. Hampir sama seperti fenilbutason, prednison juga termasuk golongan kortikosteroid untuk mengatasi peradangan. Penggunaan obat yang hanya dapat diresepkan oleh dokter ini dapat menyebabkan moon face, gangguan pencernaan, gangguan tulang dan otot, osteoporosis, gangguan hormon, depresi, insomnia, glaukoma, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

6.

Asam mefenamat

Dicampurkan dalam jamu pegal linu dan asam urat. Merupakan obat analgesik yang diresepkan oleh dokter. Menimbulkan efek samping mengantuk, diare, ruam kulit, trombositopenia (berkurangnya trombosit dalam darah), anemia hemolitik, dan kejang. Tidak boleh dikonsumsi oleh penderita tukak lambung atau usus, asma, dan gangguan ginjal.

7.

Metampiron

Dicampurkan pada jamu pegal linu dan asam urat. Termasuk jenis obat analgesik yang diserap melalui saluran pencernaan. Menimbulkan efek samping berupa mual, pendarahan lambung, rasa terbakar, gangguan sistem saraf, gangguan darah, terhambatnya pembentukan sel darah merah, gangguan ginjal, syok dan kematian.

8.

Teofilin

Dicampurkan dalam jamu sesak napas. Merupakan obat untuk melonggarkan saluran pernapasan (bronkodilator). Obat yang dulu digunakan untuk mengobati asma ini telah ditarik dari peredaran dan menjadi obat bebas terbatas karena menimbulkan efek samping yang berbahaya. Di

antaranya adalah, mual, sakit kepala, insomnia, dan denyut jantung yang sangat cepat dan tidak teratur.

9.

Parasetamol

Dicampurkan dalam jamu pegal linu dan asam urat. Nama lainnya adalah asetaminofen, obat analgesik dan antipiretik (penurun panas). Dalam dosis normal, parasetamol tidak mengganggu darah, atau ginjal. Namun penggunaan dalam waktu lama dapat merusak organ hati

Waspada Jamu Oplosan
Maret 12, 2009 @ lpm opini →

Jamu sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Selain karena jamu adalah obat asli Indonesia tetapi juga karena jamu terbuat dari bahan-bahan alami (herbal). Namun belakangan ini

terdengar kabar telah beredarnya jamu yang mengandung zat-zat kimia berbahaya bagi kesehatan tubuh. Zat-zat kimia tersebut disebut dengan BKO atau Bahan Kimia Obat.

??????????? Berdasarkan pembuktian khasiat dan keamanan dalam penggunakannya, Obat Asli Indonesia (OAI) dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu jamu, obat herba terstandar dan fitofarmaka. Obat tradisional menurut undang-undang (UU) Kesehatan Republik Indonesia (RI) No.23/1992 yang tercantum dalam pasal 1 butir 10 menyebutkan bahwa obat traditional adalah obat yang menggunakan bahan dasar yang berupa tumbuhan, bahan hewan, mineral, sari-sarian (galenik) atau campuran bahan-bahan tersebut secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Berdasarkan UU diatas, Jamu yang mengandung zat-zat kimia tidak dapat dikatakan sebagai obat traditional. ??????????? Masyarakat Indonesia harus waspada karena terdapat 54 macam jamu yang saat ini tengah beredar di Indonesia. Dan jika kandungan BKO dalam jamu tidak sesuai dengan dosis yang benar maka dapat menyebabkan kerusakan pada organ vital.? Ternyata kasus jamu ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, mereka biasa menjadikan jamu sebagai obat alternative pengganti obat-obatan dari dokter. Banyak juga yang lebih memilih jamu dari pada obat dari dokter. Dari informasi yang diperoleh dari internet (http://carakusehat.blogspot.com) ada beberapa zat kimia yang menjadi campuran pada jamu. Diantara zat kimia tersebut adalah golongan antipiretik dan analgetik. Kedua golongan tersebut berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit seperti sakit kepala, gigi, pinggang, nyeri otot, sendi, dan sakit saat haid. Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi zat tersebut adalah rasa mual, ingin muntah, diare, luka pada saluran pencernaan, anemia, dan gangguan fungsi hati. Selain itu ada campuran bahan kimia lain yaitu golongan obat steroiddan non steroid. Dan efek campuran obat kimia tersebut adalah

gangguan elektolit ciran tubuh hingga terjadi hipoglisemia, hipotensi, hipertensi, mual, muntah, dan sebagainya. ??????????? Bila anda merasakan khasiat jamu sesaat setelah menkonsumsi jamu maka anda wajib curiga. Karena jamu bukanlah zat kimia aktif jadi jamu yang tanpa BKO akan ?bekerja? secara lambat. Daftar nama? jamu yang mengandung BKO (sumber BPOM) yaitu:? 01. Pay Na Ran Sinar Laba-Laba (Cilacap) Fenilbutason Deksametason 02. Pegal Linu/Cien Sen San Jaya Asli (Cilacap) Fenilbutason Deksametason Antalgin 03. Akar Lawang Super Prima Prima Jaya (Banyumas) Antalgin Fenilbutason 04. Akar Lawang Stamina Idem 05. Serbuk Manjur Antik Manjur Jaya (Cilacap) Idem 06. Manjur Sehat Wanita Idem Fenilbutason 07. Manjur Sehat Laki-laki Idem Antalgin 08? Manjur Langsingset Idem Furosemid 09. Sir Angin Kaplet Idem Antalgin 10. Manjur Sir Angin Idem Coffein 11. Manjur Gemuk Sehat Idem Idem 12. Sesak Nafas No 7 Idem Teofilin 13. Serbuk No 1 (Gemuk) Candi Mas Purba (Cilacap) Deksametason 14. Serbuk No 2 (Rematik) Idem Fenilbutason Antalgin 15. Serbuk No 3 (Pelangsing) Idem Fenilbutason 16. Kitla Idem Antalgin Talbutamid Klorpropamid 17. Runrah Idem Antalgin

18. Sesak Nafas Idem Teofilin, Antalgin 19. Sesak Nafas Subur Sejati (Cilacap) Teofilin, Coffein 20. Tanggul Darah, Idem 21. Amrat Idem Fenilbutason,Antalgin, Coffein 22. Galian Rapet Idem Coffein 23. Karomah Sehat Idem Fenilbutason, Coffein 24. Super Rematik No 2 Ragil Santosa (Cilacap) Antalgin 25. Serbuk Pegal Linu Akar Pribumi (Banyumas) Antalgin Akar Pribumi,Fenilbutason 26. Pegal Linu Cap Liur Walet Sabuk Kuning (Banyumas) Antalgin 27. Rheumatik/Encok Jaya Guna (Cilacap) Idem 28. Pegal Linu Langgeng Langgeng Sentosa (Cilacap) Fenilbutason 29. Pegal Linu Pusaka Jaya Pusaka Jaya (Cilacap) Idem 30. Jarem (Encok) Sari Alam (Cilacap) Antalgin DeksametasonFenilbutason 31. Pegal Linu No 2 Serbuk Ratu (Cilacap) Antalgin 32. Bunga Tanjung Pamijahan (Cilacap) Antalgin 33. Tablet Obat Kuat Narpan Aneka Sari (Cilacap) Parasetamol 34. Pegal Linu Plus Rempah Inti Mujarab (Cilacap) Parasetamol 35. Gajah Mada Bintang Mahkota (Cirebon) Deksametason ? Karena itu, kepala BPOM Drs. H. Sampurno, MBA menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak membeli dan menggunakan jamu tradisional yang mengandung bahan kimia tersebut karena dapat membahayakan kesehatan, seperti sakit ginjal, kanker hati, jantung dan kelainan darah. Masyarakat sendiri hendaknya lebih peduli dengan kesehatan tubuhnya sendiri. (Icha)

Rabu, 12 Oktober 2011 02:44:50 WIB Obat Tradisional Pakai Zat Kimia JAKARTA - Sejumlah tugas besar menunggu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Yang paling mendesak adalah bocornya bahan-bahan kimia obat dan industri ke perusahaan rumahan. Setelah merambah industri rumahan makanan, kini bahan kimia ini juga ditemukan pada obat tradisonal. Tingkat kebocoran bahan kimia obat dan industri ini Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Roy Sparringa. Dia menuturkan, modus kebocoran ini sudah semakin berkembang. Di antaranya, pihak distributor mengirim langsung bahan-bahan kimia itu ke industri rumahan. "Jadi semakin sulit dipantau, jika hanya dilihat di retailer-retailer saja," tuturnya. Untuk bahan kimia berbahaya yang kerap ditemukan di makanan di antaraya pewarna tekstil, borak, dan formalin. Roy menuturkan, sebagian besar bahan kimia itu bisa ditemukan di jajanan sekolah. Bahan kimia itu berisiko memicu kanker jika dikonsumsi terus menerus. Selain itu, bahan kimia obat juga ditemukan BPOM pada obat

tradisonal. Di antaranya fenilbutason, metampiron, parasetamol, sibutramin, sildenafil, dan asam mefenamat. Roy berharap instansi pusat hingga pemerintah daerah saling membantu mengawasi peredaran bahan kimia makanan dan obat tersebut. Temuan terbaru BPOM yang dilansir akhir pekan lalu menyebutkan, ada 21 obat tradisional yang diracik dengan bahan kimia obat (OTBKO). Celakanya, 20 di antaranya tidak terdaftar di BPOM. Setelah dianalisis, terjadi memang ada perubahan tren obat tradisional yang diberi campuran bahan kimia obat. Pada kurun waktu 2001 hingga 2007, obat tradisional yang kedapatan dicampur dengan bahan kimia berjenis obat rematik dan penghilang rasa sakit. Sedangkan pada kurun waktu 2008 hingga pertengahan 2011 ini, obat tradisional yang dicampur bahan kimia obat cenderung untuk obat pelangsing dan penambah stamina atau aprodisiaka. BPOM menindaklanjuti temuan ini dengan menarik produkproduk yang sudah ada di pasaran lalu dimusnahkan. Sementara bagi obat tradisional yang terdaftar, izinnya bakal dicabut. Lebih lanjut Roy menuturkan, maraknya kebocoran bahan kimia ini disebabkan hukuman yang lemah kepada para pelaku. BPOM melansir, sejak lima tahun terakhir sudah 114 kasus kejahatan makanan dan obat yang diseret ke pengadilan. Dari seluruh kasus tersebut, rata-rata berujung vonis kurungan delapan bulan penjara. Vonis juga berujung denda antara Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. "Kita berharap ada hukuman yang berat, sehingga pelaku bisa jera," katanya. Sementara itu, ulasan tentang resiko atau bahaya mengkonsumsi obat tradisional yang dicampur bahan kimia obat diutarakan oleh dr Ari Fahrial Syam SpPD. Dokter sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) UI itu menuturkan, obat tradisional yang dicampur bahan kimia obat ini cukup berbahaya. Setelah menyimak daftar obat tradisional yang terkontaminasi bahan kimia obat dari BPOM, Ari menuturkan, tujuh obat tradisional mengandung zat kimia berupa obat anti radang non steroid (fenilbutason, piroksikam atau natrium diklofenak). Ari menjelaskan, obat tradisional yang mengandung zat kimia tersebut

memiliki efek samping yang kuat pada saluran cerna atas, terutama lambung dan usus dua belas jari. "Efeknya bisa luka permukaan, erosi, bahkan luka yang dalam pada lambung atau usus dua belas jari," katanya. Tanda-tanda efek samping ini, tutur Ari, orang akan merasa tidak nyaman di sekitar ulu hati, seperti nyeri, panas, disertai mual hingga muntah-muntah. Efek yang paling keras diantaranya, muncul pendarahan di lambung hingga kebocoran pada usus dua belas jari. Ari menuturkan, separuh dari kasus pendarahan saluran cerna atas berhubungan dengan konsumsi obat-obatan tradisional yang mengandung obat anti radang. Dalam jangka panjang, konsumsi obat-obatan tradisional ini bisa memicu kerusakan ginjal. "Dengan kemasan obat tradisional, itu hanya digunakan sebagai dalih saja," tutur Ari. Dia berharap, BPOM harus ekstra ketat memantau obat-obat tradisional yang beredar di masyarakat. Apalagi, masyarakat masih berpedoman jika seluruh obat tradisional benar-benar alami. "Intinya BPOM dan masyarakat harus waspada. Benar-benar dicek kandungan di dalam obat tradisional," pungkas Ari.(wan/nw/jpnn)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->