P. 1
Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan

Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan

|Views: 171|Likes:
Published by Nanda Dinanti

More info:

Published by: Nanda Dinanti on Jul 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2015

pdf

text

original

KELUARGA SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN

Diajukan untuk memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah : Tafsir Hadist Tarbawi Dosen : Dr. Attabiq Luthfi, M.Ag

Disusun oleh : ENOK SUGIHARTI NIM : 505920006 KONSENTRASI : PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM SEMESTER : 1

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON 2009 KELUARGA SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN A. Pendahuluan Keluarga sebagai institusi atau lembaga pendidikan (nonformal) ditunjukkan oleh hadist nabi yang menyatakan bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan anak paling awal dan yang memberikan warna domina bagi anak. Sejak anak dilahirkan, ia menerima bimbingan kebaikan dari keluarga yang memungkinkannya berjalan di jalan keutamaan sekaligus bisa berperilaku di jalan kejelekan sebagai akibat dari pendidikan keluarga yang salah. Kedua orang tuanyalah yang memiliki peran besar untuk mendidiknya agar tetap dalam jalan yang sehat dan benar. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang amat efektif dan aman. Anak kecil dapat melakukan proses pendidikan dalam keluarga dengan aman dan nyaman. Bagi anak perempuan, pendidikan di dalam rumah lebih mungkin dilakukan dalam situasi yang kurang kondusif. Pendidikan di dalam rumah juga lebih terhormat dan beribawa. Akan

tetapi, jika kondisi telah memungkinkan maka anak-anak dan perempuan juga dapat belajar di luar rumah. Berbicara tentang pendidikan keluarga berarti berbicara tentang perempuan sebagai ibu. Perempuan (ibu) adalah pendidik bangsa, sebagaimana dinyatakan oleh Hafedz ibrahim. “Ibu adalah sekolah bila kau persiapkan Engkau telah mempersiapkan rakyat yang baik lagi kuat” Sebagaimana diuraikan di depan bawha pendidikan adalah unutk semua (education for all) dan berlangsung selama hayat di kandung badan. Peran ibu sebagai pendidik tetap akan relevan, efektif, efisien, dan merata pada setiap individu bangsa. Sebab, setiap anak tidak terlepas dari peran ibunya. Untuk mengembalikan nilai kerakyatan dan kemanusiaan, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari peran ibu. Apabila perempuan terdidik dengan baik niscaya pemerataan pendidikan telah mencapai sasaran, sebab ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Minim sekali orang yang terlepas dari jangkauan ibunya. Ibu adalah pendidik dan sekaligus sekolah bagi rakyat yang mau mengajar dan mendidik tanpa lelah. Dia mencurahkan semuanya : waktu, tenaga, emosi dan ekonomi untuk mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih dan sayang. Presiden Tazania Nyerere, pernah mengatakan. “Jika Anda memdidik seorang laki-laki, berarti Anda mendidik seoran person, namun jika Anda mendidik seorang perempuan maka Anda telah mendidik seluruh anggota keluarga”. Ibu yang baik akan memberikan satu tradisi yang baik dan berguna bagi anak-anaknya. Dan, tradisi yang baik di antaranya adalah melekatkan hati sang anak dengan masyarakatnya lewat berbagai aktivitas yang berguna. B. Pembahasan 1. Kewajiban Belajar Mengajar Kewajiban belajar mengajar atau mencari ilmu pengetahuan merupakan tugas dan kewajiban setiap muslim baik bagi laki-laki maupun wanita, karena kalau kita berbicara masalah ilmu pengetahuan Islam adalah agama yang sangat cinta dan sangat menjungjung tinggi akan ilmu pengetahuan, karena Islam sangat benci kebodohan karena kebodohan dekat dengan kemiskinan dan kemiskinan sangat akan kekufuran, maka dari itu Allah SWT mewajibkan umatnya menuntut ilmu mulai dari ayunan ibunya sampai kita ke liang lahat. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Alaq 1 s.d 5 yang berbunyai : Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia dari sugumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah (3). Yang mengajar (manusia_ dengan perantara kalam (4). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”. (Q.S. Al-Alaq 1-5). Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan merupakan klamullah yang mutlak keberadaanya, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya. Namun demikian Al-Qur’an bukanlah kita suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan Al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapai manusia. Ajaran Al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global,

ringkas dan general sehingga untuk dapat memahami ajaran Al-Qur’an tentang berbagai maslaah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagaiman ayang dilakukan oleh ulama. Salah satu pokok ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah tentang kewajiban belajar mengajar yang terdapat dalam Surat An-Nahl Ayat 78 : Artinya : “Dan mengeluarkan kamu dari perut bumi dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan dia memberikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kami bersyukur. (Q.S. An-Nahl 78). 2. Dalil-dalil yang Mewajibankan Menuntut Ilmu Selain dalil-dalil yang telah dibahas di atas tentang kewajiban menuntut ilmu tercantum pula dalam beberapa surat diantaranya : Al-Baqarah ayat 78 s.d 79 Artinya : “Dan diantara mereka anda yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka Hanya menduga (78). Maka Kecalakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbutan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan (79)”. (Q.S. Al-Baraqarah : 78-79) Al-Imran ayat 79, 190 s.d 191 Artinya : Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu Penyebahku bukan penyembah Allah”, tetapi (dia berkata) “Jadilah pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya (79). Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebebasan Allah) bagi orang yang berakal (190). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau memciptakan semua ini sia-sia : Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. 3. Orang Tua sebagai Pendidik dalam Keluarga Orang tua adalah manusia yang paling berjasa pada setiap anak. Semenjak awal kelahirannya di muka bumi, setiap anak melibatkan peran penting orang tuanya, sperti peran pendidikan. Peran-peran pendidikan seperti ini tidak hanya menjadi kewajiban bagi orang tua, tetapi juga menjadi kebutuhan orang tua untuk menemukan eksistensi dirinya sebagai makhluk yang sehat secara jasmani dan rohani di hadapan Allah dan juga di hadapan sesama makhluk, terutama umat manusia. Oleh karena jasa-jasanya yang begitu banyak dan bernilai maka orang tua di dalam Islam diposisikan amat terhormat di hadapan anak-anaknya. Ayah dan ibu memiliki hak untuk dihormati oleh anak-anaknya, terlebih lagi ibu yang telah mencurahkan segalanya bagi

anak-anaknya diberi tempat tiga kali lebih terhormat dibanding ayah. Ibu telah mengandung dan menyusui mnimal dua tahun dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Kasih sayang dan kesabaran orang tua teramat penting bagi bagi perkembangan anak didik, baik perkembangan fisik maupun psikisnya, khususnya dalam keluarga. Sekali lagi, mendidik anak merupakan kewajiban setiap orang tua. Dari aspek ajaran Islam, mendidik anak merupakan kewajibanorang tua untuk mempersiapkan anak-anaknya agar memiliki masa depan gemiliang dan tidak ada lagi kekhawatiran terhadap masa depannya kelak, yakni masa depan yang baik, sehat dan berdimensi spiritual yang tinggi. Semua prestasi itu tidak mungkin diraih orang tua tanpa pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka. Secara sosial-psikologis, keterlibatan orang tua dalam mendidik anak-anaknya adalah tuntutan sosial dan kejiwaannya. Sebab, pada umumnya setiap individu berkeinginan memiliki posisi terhormat di hadapan orang lain dan setiap individu menyakini bahwa kehormatan adalah kebutuhan nurani insaniahnya. Tidak seorang pun yang akan menjatuhkan martabatnya sendiri di hadapan orang lain. Dalam konteks ini, anak adlah simbol sosial dan kebanggaan psikologis orang uta di lingkungan sosialnya. Lingkungan (yang baik) juga akan ikut berbangga hati jika terdapat anak, generasi penerus yang berkualitas mampu meninggikan martabat dan nama baik lingkungan sosial dan bangsanya. Kewajiban pendidikan anak bagi orang tua tersebut telah disadari oleh setiap orang tua bersamaan dengan kesadaran bahwa diri mereka memiliki berbagai keterbatsan unutk mendidik anak-anaknya secara baik. Keterbatasan yang dimiliki para orang tua telah mengharuskannya untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dengan lembaga pendidikan dan lingkungan sosialnya, untuk mendidik anak-anak mereka dengan baik, juga dengan masyarakat sekitarnya. Meskipun demikian, kewajiban terbesar untuk mendidik anak-anak berada di pundak orang tua. Mereka tidak boleh lepas dari tanggung jawabnya karena merekalah yang menjadi sebab kelahiran anak sehingga mereka juga harus tetap mendidiknya agar dikemudian hari anak-anaknya mampu melahirkan generasi baru yang lebih berkualitas dan mandiri. 4. Keluarga Sebagai Sarana Pendidikan Keluarga adalah sekolah pertama, Islam memandangnya senagai sebuah institusi atau lembaga yang dianjurkan untuk dibangun, diatur, dan dijadikan sebagai wadah untuk beribadah. Membangun keluarga bagian daripada ajaran agama. Keluarga menjadi pelindung dan tempat anak dibesarkan dengan tokoh intinya orang tua (ayah dan ibu). Perlindungan anak di dalam keluarga merupakan perlindungan sejati, karena anak memperoleh ketentraman jiwa yang takterbandingkan. Berkenaan dengan isntitusi keluarga tersebut dalam Al-Qur’an dinyatkan dalam surat Ar-Ruum (30) : 21. Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istriistri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar-Ruum /30:21). Danil Goloman, seorang ahli psikologi menyebutkan bahwa kehidupan keluarga adalah sekolah pertama yang ditermia anak-anak kita hingga mengantarkan mereka melewati masa sampai remaja. Dalam lingkungan keluarga, kepribadian anak tumbuh dan berkembang. Keperibadian anak sangat berpengaruh dengan kepribadian anggota keluarga terutama

keluarga inti (bapak dan ibu) dan anggota yang lain yang berada dalam lingkungan keluarga itu. Penempaan kepribadian anak dalam keluarga ini sangat menentukan, dari kerpibadian anak dalam keluarga itu. Sangat menentukan dari jumlah waktu yang dilalui anak mereka lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga. Waktu mereka diluar rumah lebih sedikit dibandingkan dengan waktu mereka di rumah. Masa pembentukan kepribadian yang paling baik adalah masa kanak-kanak. Pada masa umur 2-5 tahun dan pada masa usia ini anak masih berada dalam pembinaan dan pembentukan orang tua. Pada masa ini anak sudah mulai pandai beradaptasi dan berkomunikasi secara lisan, mereka sudah mulai memahami apa-apa yang telah dikomunikasikan oleh anggota keluarga. Mereka sudah mengerti perintah dan larangan, komunikasi dan intelegensi mereka sudah mulai berkembang. Disamping itu bisa mengadu, menerima dan menoleh terhadap hal-hal yang ia senangi. Mereka sudah punya kemampuan unutk membantah dan marah dengan simbol-simbol fisik, mereka sudah bisa merajuk dan dapat pula dibujuk. Dalam konteks lingkungan pendidikan, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama sebelum sekolah dan masyarakat. Urutan ini sangat beralasan karena secara kronologis keluarga merupakan terminal pertama tempat seorang anak dilahirkan dan secara kodrati keluarga (orang tua) memiliki tanggung jawab terhadap anak. Sekalipun anak itu memiliki potensi bakat bawaan, namun harus ditumbuh kembangkan oleh orang tua. Keberlangsungan dan pertumbuhan perkembangan anak dan pendidikan anak sangat ditentukan oleh orang tua. Selai itu dapat pula dimaklumi bahwa waktu yang memiliki keluarga (orang tua) untuk berhadapan langsung seklai. Intensitas dan kualitas pengaruh orang tua terhadap anak sangat besar sekali. Dalam banyak kesempatan anak dapat menerima apa-apa yang dilakukan oleh orang tua. Kesempatan anak untuk meniru orang tua dalam suatu keluarga sangat banyak sekali bila dibandingkan dengan masyarakat. 5. Fungsi Keluarga dalam Pendidikan Usia Dini Keluarga adalah dambaan setiap orang, keluarga tempat untuk berlindung dan mengadu serta menumpahkan semua kebahagiaan. Setiap orang mendambakan keluarga bahagia. Dalam kenyataanya semacam ini maka keluarga dapat berfungsi profektif. Keluarga bahagia dapat menyenangkan. Dalam konteks pendidikan keluarga merupakan pilar utama pendidikan keluarga merupakan sarana pendidikan yang utama. Terutama dalam penanaman dan pemahaman nilai-nilai agama. Religiusitas seseorang sangat ditentukan oleh penanaman dan pemahaman agama yang ditumbuh kembangkan dalam keluarga. Peran orang tua (ayah dan ibu) dalam keluarga yang telah diberi kewajiban dan tanggungjawab terbesar terletak dalam keluarga, pada orang tua. Pembentukan anak sangat ditentukan oleh pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga (ayah dan ibu) menjadi landasan dan sangat menentukan. Penamaan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman keagamaan yang diberikan orang tua dalam keluarga sangat besar manfaatnya dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak. Pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan yang berlandasan kasih sayang tanpa batas, karena didalam keluarga setiap anggota keluarga mengabdikan diri untuk kepentingan keluarga dan penuh rasa tanggung jawab tanpa pamrih. Disisi lain keluarga juga dipandang sebagai satu kesatuan sosial yang mewadahi proses sosialisasi setiap anggota keluarga, terutama bagi anak yang terlahirkan dalam keluarga itu, keluarga menjadi tempat atau wadah sosialisai anak.

6. Pendidikan Seumur Hidup “Belajar terus sundul langit”. Demikian pesan orang tua kepada anak-anaknya. Jika analogi pencapaian pendidikan adalah langit yang tiada berbatas maka pesan tersebut bermakna bahwa belajar tidak mengenal berhenti. Selama manusia masih bergerak maka pendidikan juga tetap harus berjalan. Potensi yang baik (fitrah) tidak akan menjdai baik jika tidak ada gerak dinamis dan dinamika itu ada pada pendidikan. Waktu pendidikan dapat dimaknai sebagai waktu di mana seseorang melaksanakan pendidikan : kapan dimulai dan kaban berakhir. Para pakar pendidikan dewasa ini tampaknya telah sampai pada kata sepakat tentang konsep pendidikan, yaitu pendidikan seumur hidup (long life education); pendidikan harus terus berlangsung dari masa kanakkanak sampai tua (minat thufulah ila suyukha). Konsep pendidikan seumur hidup maka nilai kemanusiaan seorang tercabut sebab potensi yang dimilikinya terhenti. Jika demikian yang terjadi maka martabat dan kualitasnya akan turun. Belajar-mengajar merupakan paristiwa yang wajar terjadi pada manusia secara terusmenerus dan terkadang dengan cara yang spontan. Bahkan tanpa disadari, manusia selalu belajar dari sgala hal atau peristiwa yang dialaminya. Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya dilakukan sejak dini. Bahkan pendidikan seumur hidup menetapkan batas pendidikan sejak anak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia. Dalam ajaran Islam, jiwa pendidikan seumur hidup telah dikenal sejak lama, yakni sejak munculnya Islam itu sendiri. Nabi Muhammad SAW, memerintahkah : Uthlubul-ilma minal-mahdi ila al-lahdi (Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan (ibu) sampai ke liang lahat). Saat ini, pendidikan dalam kandungan ibu dikenal dengan pendidikan pra natal (pendidikan sebulum anak dilahirkan). Sementara pendidikan pada masa kanak-kanak dikenal dengan sebutan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Menuntut ilmu sejak anak dalam ayunan (semenjak anak masih dalam kandungan ibu), sampai ia meninggal dunia merupakan suatu kebutuhan setiap muslim untuk memenuhi ajaran agamanya. Oleh karena belajar juga berdimensi teologis maka upasa muslim untuk merealisasikanya sudah barang tentu akan lebih tinggi dan bersemangat karena ada harapan pahala dan kebahagiaan akhirat. Proses keilmuan tersebut berpengaruh terus hingga dia berpulang ke hadapan Tuhan. Sebab, ilmu akan tetap berproses dan merupakan amal baik yang tidak terputus walaupun seseorang sudah meninggal dunia. Pendidikan usia dini, pendidikan di taman kanak-kanan, SD hingga di perguruan tinggi pada hakitanya merupakan rentang waktu pendidikan dalam arti rill yang memungkinkan manusia menangkap materi pendidikan secara indriawi. Sebab, pada kurun waktu irulah seperangkat indera manusia berfungsi untuk mengenal lingkungannya. Akan tetapi dalam Islam, batas waktu belajar memiliki waktu yang jauh lebih luas dan panjang, tidak terbatas sepanjang hidup manusia, tetapi sejak jauh sebelum anak dilahirkan, bahkan sejak kedua orang tuanya akan menikah hingga akhir zaman. Konsep pendidikan yang dimulai semenjak sebelum pernikahan ini dapat dipahami dari hadist nabi yang menganjurkan agar laki-laki maupun perempuan ketika hendak memilih calon pasangan suami/istri dianjurkan agar memilih pasangan yang taat beragama. Nabi menegaskan : “Sesungguhnya perempuan itu dinikahi karena 4 (empat) motivasi, yakni : karena harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama (yang kuat), niscaya kamu selamat”. (H.R. Bukhari dan Muslim) Mengapa dalam hadist tersebut Nabi SAW mengajukan agar laki-laki menikahi perempuan

dengan menekankan pada ketaatan agamanya? Salah satu pesan yang dapat ditangkap dari hadist tersebut adalah bahwa pernikahan itu memiliki nilai transendensi dan masa depan yang panjang. Ia tidak hanya menyangkut kedua pihak suami-istri, tetapi juga terkait dengan generasi penerus yang lahir sebagai akibat dari pernikahan tersebut. Kualitas generasi yang dilahirkan sebagai besar bergantung pada kualitas pasangan orang tuanya. Mengenai kapan pendidikan berakhir, Islam menetapkan bahwa pendidikan baru akan berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Secara fisik, mencari ilmu akan berakhir pada saat seseorang meninggal dunia, tetapi proses yang terkandung di dalamnya berlangsung terus sampai batas yang tak terhingga. Sebab, pendidikan dalam Islam bernilai transendental; tidah hanya berproses di dunia, tetapi tetap ada maknanya hinga di akhirat kelak. Oleh karena itu, pendidikan dalam perspektif Islam menjadi tak terbatas (no limit to study). Pendidikan Islam merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus diemban setiap muslim, terutama orang tua terhadap anaknya. Selain itu, subjek didik adalah individu yang memiliki fitrah dan berbagai potensi yang harus dikembangkan melalui pendidikan yang tepat-benar. Pendidikan yang selaras dengan fitrah dan potensi peserta didik itulah yang akan berkembang dengan baik dan mudah. 7. Belajar dari Kehidupan Hidup itu belajar. Ungkapan ini mengandung arti bahwa hidup manusia baru bermakna jika ia mau belajar. Seluruh kehidupan manusia ditandai dengan kegiatan belajar mengajar (pendidikan); manusia tidak bisa lepas dari kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian mengajar sangat penting dalam proses perkembangan seseorang. Apa pun yang dilakukan oleh manusia semuanya masuk dalam katagori pendidikan walaupun tidak mudah untuk dideteksi. Dorothy Law Nolte menyebutkan : Children learn what they life yang berarti anak belajar dari kehidupan. If a child lives with criticism, he learns to condemn If a child lives with hostility, he learns to fight If a child lives with ridicule, he learns to be shy If a child lives with shame, he learns to feel quilty If a child lives with tolerance, he learns to be patient If a child lives with encouragement, he learns to be confident If a child lives with praise, he learns appreciate If a child lives with fairness, he learns justice If a child lives with scurity, he learns to have faith If a child lives with, approval, he learns to like him selfes If a child lives with, accepatance and frienship, he learns to find love in the world. Artinya : Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan perlakuan baik, ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehiduapan. Perlakukan orang di sekitarnya akan berdampak pada si anak, baik dampai itu positif maupun negatif. Ada seorang ilmuan yang tatkala menemukan perilaku ganjil pada diri seseorang ma ia segera menengok sejarah masa lalunya, masa kecilnya, keluarga, lingkungan, dan pendidikannya. Untuk itu, pendidikan ketika hendak mengajar selayaknya mengenal terlebih dahulu sebjek didik dengan baik sehingga tida ada permaksaaan kepadanya dan tidak melakukan proses yang berakibat fatal. Sebab, pelajaran yang menarik peserta didik minimal haris memenuhi empat hal : (1) kebutuhan jasmaniah, (2) kebutuhan sosial, (3) kebutuhan intelektual dan (4) kebutuhan religius. Kebutuhan-kebutuhan ini dapat diketahui lewat memahami perjalanan sejarah peserta didik. Oleh karena lingkungan memberikan kontribusi dan saham yang besar dalam pendidikan maka desain lingkungan yang kondusif sangat penting artinya bagi proses pendidikan sehingga dapat belajar di mana saja dan kapan saja. Masyarakat merupakan partner sekaligus pendidik bagi generasi mudanya. Sementara lingkungan sosial dan alam kondusif akan dapat menciptakan peserta didik yang keratif-mandiri. Kehidupan sosial manusia yang paling dekat selain dengan keluarga adalah dengan teman atau sahabat-sahabatnya. Dari merekalah anak didik banyak belajar. Oleh karena itu, peserta didik yang baik dan berprestasi biasanya memiliki teman atau sahabat yang juga baik dan berprestasi. Sisi startegis sahabat dekat yang baik dan juga mudah dimengerti dengan memahami posisi sahabat nabi, selain berpengaruh terhadap kepribadian seseorang juga mendukung perjuangannya. Dalam literatur sering dijumpai pesan tentang sahabat dekat ini, diantaranya dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim yang populer dijaki di pesantren. DAFTAR PUSTAKA Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemahan Perkata, Bandung, Syaamil Al-Qur’an, 2007 Moh. Riqib, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta, LKIS, 2009. Imam Bernadib & Sutari Imam Baranadib, Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan, Yogyakarta, Andi Ofset, 1996. Noeng Muhajir, Kuliah Teknologi Pendidikan, Yogyakarta, P.PS. IAIN Sunan Kalijaga, 1997. Noeng Muhajir, Pendidikan Islam dalam Perspektif Ilmu Pendidikan Eksptorasi Teoritik dan Praktik, Yogyakarta, Panitia Seminar Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 1991. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta, INIS, 1994.

Jalaludi Rakhmat, Psikologi Komunikasi, Bandung,Rosda Karya, 1994. Nasution, Dedaktik Azaz-azaz mengajar, Bandung, Jemmasrs, t.t Mustofa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta, Bulan Bintang, 1997. Athiyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyah Al-Islamiyah Wa Falasifatuha, Kairo, Dal’al, 1969. Rohimin, Tafsir Tarbawi, Yogyakarta, Nusa Media & STAIN Bengkulu, 2008. Diposkan oleh enoksugiharti di 01:02 Tidak ada komentar:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->