P. 1
Nano Proposal 2

Nano Proposal 2

|Views: 67|Likes:
Published by Hijria Fathur

More info:

Published by: Hijria Fathur on Jul 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

Sections

ANALISIS PENGARUH EFISIENSI MODAL KERJA, LIKUIDITAS, DAN SOLVABILITAS TERHADAP PROFITABILITAS

(Studi Kasus Pada Industri Barang Konsumsi Di Bursa Efek Jakarta)

SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Pada Universitas Negeri Semarang

oleh Ima Hernawati 3352402131 Manajemen Keuangan

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi pada: Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Fachrurrozie, M.Si NIP. 131813667

Amir Mahmud, S.pd, M.Si NIP. 132205936

Mengetahui, Ketua Jurusan Manajemen

Drs. Sugiharto, M.Si NIP. 131286682

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : :

Penguji Skripsi

Mukhammad Khafid, S.Pd, M.Si NIP. 132243641

Anggota I

Anggota II

Drs. Fachrurrozie, M.Si NIP. 131813667

Amir Mahmud, S.Pd, M.Si NIP. 132205936

Mengetahui: Dekan Fakultas Ekonomi

Drs. Agus Wahyudin, M.Si NIP. 131658236

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Februari 2007

Ima Hernawati NIM. 3352402131

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO: 1. Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusuk (Albaqarah : 46) 2. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan (Qs Al-Insyiroh : 6)

PERSEMBAHAN: Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1. Bapak dan ibu tercinta,yang selalu mendo’akan dan telah bersusah payah untuk menjadikan penulis manusia yang berguna. 2. Kakak-kakakku tercinta Indah Setyati, Wahyu Hidayat, yang selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis untuk menjadi orang yang sukses. 3. Agus Budi yang selalu memberikan motivasi, semangat, bantuan dan hari-hari yang penuh warna. 4. Sahabat dan rekan-rekan yang pernah hadir dalam hari-hari yang telah penulis lewati. Aku bangga punya kalian.

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul

“PENGARUH STRUKTUR AKTIVA DAN PROFITABILITAS TERHADAP STRUKTUR MODAL” (Studi Kasus Pada Industri Barang Konsumsi Di Bursa Efek Jakarta). Dalam kesempatan yang baik ini, penulis dengan ketulusan dan kerendahan hati ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah dengan ikhlas memberikan masukan dan kontribusi berarti dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, antara lain: 1. Drs. Agus Wahyudin, M.Si Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang 2. Drs. Sugiharto, M.Si Ketua Jurusan Manajemen yang dengan baik hati membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Drs. Fachrurrozie, M.Si selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, dan mengarahkan penulis selama menyusun skripsi ini. 4. Amir Mahmud, S.Pd, M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, dan mengarahkan penulis selama menyusun skripsi ini.

vi

5. Muhammad Khafid, S.Pd, M.Si, selaku dosen penguji terimakasih atas bimbingan dan masukannya. 6. Seluruh dosen di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang yang telah menularkan ilmu pengetahuannya. 7. Orang Tua dan keluarga besarku yang telah memberikan segalanya. 8. Sahabat-sahabatku Dyna, Wulan, Retno, Yuli, Duma, Dwi, Farida, Bayu, Tandang yang selalu memberikan keceriaan dalam hari-hariku dan telah banyak memberikan bantuan kepada penulis. Serta teman-teman Manajemen lainnya. 9. Teman-teman ‘Bali Cost’, dan teman-teman lainnya yang dengan tulus memberikan bantuannya dan selalu menemani hari-hariku. 10. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang menjadi bagian dari setiap peristiwa yang penulis alami. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Akhir kata, semoga Allah senantiasa bersama kita dan meridhoi jalan hidup kita. Amin.

Semarang, Februari 2007

Penulis

vii

SARI
Ima Hernawati. 2007. Analisis Pengaruh Efisiensi Modal Kerja, Likuiditas dan Solvabilitas terhadap Profitabilitas (Studi Kasus pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta). Skripsi. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I. Drs. Fachrurrozie M.Si, Pembimbing II. Amir Mahmud, S.Pd, M.Si. 81 h. Kata Kunci: Efisiensi modal kerja, likuiditas, solvabilitas, profitabilitas Indikator adanya manajemen modal kerja yang baik adalah adanya efisiensi modal kerja. Makin pendek periode perputaran modal kerja, makin cepat perputarannya sehingga perputaran modal kerja makin tinggi dan perusahaan makin efisien yang pada akhirnya rentabilitas meningkat. Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, perusahaan di hadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas. Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam jumlah yang besar, kemungkinan likuiditas akan terjaga namun kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun pada akhirnya berdampak pada menurunnya profitabilitas. Selain masalah tersebut diatas perusahaan juga dihadapkan pada masalah penentuan sumber dana. Jika perusahaan menggunakan lebih banyak hutang dibanding modal sendiri maka tingkat solvabilitas akan menurun karena beban bunga yang harus di tanggung juga meningkat. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas. Permasalahan yang diungkap: adakah pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas baik secara parsial maupun simultan? Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana dan seberapa besar pengaruh efisiensi modal kerja, likuditas dan solvabilitas terhadap profitabilitas baik secara parsial maupun simultan pada perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi yang go public di BEJ tahun 20022005. Populasi dalam penelitian ini perusahaan kelompok industri barang konsumsi yang sudah go public di BEJ periode tahun 2002-2005. sampel yang diteliti sebanyak 20 perusahaan dengan cara purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi efisiensi modal kerja (WCT), likuiditas (CR), solvabilitas (DTA) sebagai variabel bebas dan profitabilitas (ROI) sebagai variabel terikat. Data diperoleh melalui data sekunder dari BEJ dan dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil analisis regresi menunjukkan efisiensi modal kerja, likuiditas dan solvabilitas berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdafatar di BEJ dari tahun 2002-2005 yaitu sebesar 87,3% terbukti dari pvalue = 0,000 < 0,05. Secara parsial efisiensi modal kerja berpengaruh positf dan signifikan terhadap profitabilitas, namun likuiditas dan solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada pihak manajemen untuk mempertahankan efisiensi modal kerjanya dan perusahaan harus mengelola likuiditas dan solvabilitasnya secara efektif dan efisien untuk menghasilkan laba usaha yang memadai.

viii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................... PENGESAHAN KELULUSAN ............................................................. PERNYATAAN...................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................................... KATA PENGANTAR ............................................................................ SARI .............................................................................................. i ii iii iv v vi viii ix xii xiii xiv 1 1 9 9 10 11 11 14 14

DAFTAR ISI........................................................................................... DAFTAR TABEL................................................................................... DAFTAR GAMBAR .............................................................................. DAFTAR LAMPIRAN........................................................................... BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 1.3 Tujuan penelitian................................................................... 1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................. BAB II LANDASAN TEORI ................................................................. 2.1 Profitabilitas Perusahaan ...................................................... 2.2 Modal Kerja .......................................................................... 2.2.1 Pengertian Modal Kerja ...............................................

ix

2.2.2 Siklus Modal Kerja ...................................................... 2.2.3 Fungsi Modal Kerja ..................................................... 2.2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Modal Kerja ....... 2.2.5 Sumber Modal Kerja .................................................... 2.3 Efisiensi Modal Kerja .......................................................... 2.4 Likuiditas Perusahaan .......................................................... 2.5 Solvabilitas Perusahaan........................................................ 2.6 Penelitian Terdahulu............................................................ 2.7 Kerangka Berfikir ................................................................ 2.8 Hipotesis............................................................................... BAB III METODE PENELITIAN ....................................................... 3.1 Populasi dan Sampel ............................................................. 3.2 Variabel Penelitian ............................................................... 3.3 Jenis dan Sumber Data .......................................................... 3.4 Metode Pengumpulan Data ................................................... 3.5 Metode Analisis Data............................................................ BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................ 4.1 Hasil Penelitian .................................................................... 4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ............................ 4.1.2 Gambaran Umum Variabel Penelitian ........................ 4.1.3 Uji Asumsi Klasik ....................................................... 4.1.4 Uji Hipotesis................................................................ 4.2 Pembahasan...........................................................................

15 16 17 19 19 23 27 29 33 36 38 38 39 43 43 43 49 49 49 51 54 58 61

x

BAB V PENUTUP.................................................................................. 5.1 Simpulan ............................................................................... 5.2 Saran...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. LAMPIRAN...........................................................................................

64 64 64 66 67

xi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 4.1 Tahun Berdiri Perusahaan pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002-2005................................ Tabel 4.2 Status Perusahaan pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2005 ............................... Tabel 4.3 Jenis Usaha pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2005 ................................ Tabel 4.4 First Issue perusahaan pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2005 ................................ Tabel 4.5 Umur Perusahaan pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2005 ................................ Tabel 4.6 Gambaran Umum efisiensi Modal Kerja ............................... Tabel 4.7 Gambaran Umum Likuiditas.................................................. Tabel 4.8 Gambaran Umum Solvabilitas ............................................... Tabel 4.9 Gambaran Umum Profitabilitas ............................................. Tabel 4.10 Uji Skewnes dan Kurtosis ..................................................... Tabel 4.11 Uji Multikolinieritas.............................................................. Tabel 4.12 Uji Hipotesis ......................................................................... Tabel 4.13 Uji Simultan (Uji F) .............................................................. 51 52 53 53 54 56 57 59 60 50 50 49 49

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Kerangka Berfikir................................................................ Gambar 4.1 P-P Plot (Pengujian Normalitas Model Regresi)................ Gambar 2.1 Scatterplot (Pengujian Heteroskedastisitas Model Regresi) 36 55 58

xiii

DAFTAR LAMPIRAN Halaman
Lampiran 1 Tabel Kondisi Efisiensi Modal Kerja pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2002-2005 ........... Lampiran 2 Tabel Kondisi Likuiditas pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002-2005 ........................... Lampiran 3 Tabel Kondisi Solvabilitas pada Industri Barang Konsumsi di BursaEfek Jakarta Tahun 2002-2005............................ Lampiran 4 Tabel Kondisi Profitabilitas pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002-2005........................... Lampiran 5 Tabel Perhitungan Working Capital Tunover (WCT)....... Lampiran 6 Tabel Perhitungan Current Ratio (CR) ............................. Lampiran 7 Tabel Perhitungan Total Debt To Total Assets (DTA) ..... Lampiran 8 Tabel Perhitungan Return On Invesment (ROI)................ Lampiran 9 Hasil Pengolahan Data dengan Program SPSS ............... Lampiran 10 Surat Ijin Penelitian .......................................................... Lampiran 11 Surat Ijin Penelitian dari Pojok Bursa Efek Jakarta Universitas Diponegoro .................................................. 81 71 72 73 74 75 76 80 70 69 68

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Modal kerja merupakan masalah pokok dan topik penting yang sering kali dihadapi oleh perusahaan, karena hampir semua perhatian untuk mengelola modal kerja dan aktiva lancar yang merupakan bagian yang cukup besar dari aktiva. Modal kerja dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk membelanjai operasinya sehari-hari, misalnya : untuk memberikan persekot pembelian bahan mentah, membiayai upah gaji pegawai, dan lain-lain, dimana uang atau dana yang dikeluarkan tersebut diharapkan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu singkat melalui hasil penjualan produksinya. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk selalu meningkatkan efisiensi kerjanya sehingga dicapai tujuan yang diharapkan oleh perusahaan yaitu mencapai laba yang optimal. Salah satu masalah kebijaksanaan keuangan yang dihadapi perusahaan adalah masalah efisiensi modal kerja. Manajemen modal kerja yang baik sangat penting dalam bidang keuangan karena kesalahan dan kekeliruan dalam mengelola modal kerja dapat mengakibatkan kegiatan usaha menjadi terhambat atau terhenti sama sekali. Sehingga, adanya analisis atas modal kerja perusahaan sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui situasi modal kerja pada saat ini, kemudian hal itu dihubungkan dengan situasi keuangan yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Dari informasi ini dapat ditentukan program apa yang harus dibuat atau langkah apa yang harus diambil untuk mengatasinya.

2

Pengelolaan modal kerja merupakan hal yang sangat penting dalam perusahaan, karena meliputi pengambilan keputusan mengenai jumlah dan komposisi aktiva lancar dan bagaimana membiayai aktiva ini. Perusahaan yang tidak dapat memperhitungkan tingkat modal kerja yang memuaskan, maka perusahaan kemungkinan mengalami insolvency (tak mampu memenuhi kewajiban jatuh tempo) dan bahkan mungkin terpaksa harus dilikuidasi. Aktiva lancar harus cukup besar untuk dapat menutup hutang lancar sedemikian rupa, sehingga menggambarkan adanya tingkat keamanan (margin safeti) yang memuaskan. Sementara itu, jika perusahaan menetapkan modal kerja yang berlebih akan menyebabkan perusahaan overlikuid sehingga menimbulkan dana mengaggur yang akan mengakibatkan inefisiensi perusahaan, dan membuang kesempatan memperoleh laba. Modal kerja memiliki sifat yang fleksibel, besar kecilnya modal kerja dapat ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan perusahaan. Menetapkan modal kerja yang terdiri dari kas, piutang, persediaan yang harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Besarnya modal kerja harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan, karena baik kelebihan atau kekurangan modal kerja sama-sama membawa dampak negatif bagi perusahaan. Modal kerja yang berlebihan terutama modal kerja dalam bentuk uang tunai dan surat berharga dapat merugikan perusahaan karena menyebabkan berkumpulnya dana yang besar tanpa penggunaan secara produktif. Dana yang mati, yaitu dana-dana yang tidak digunakan menyebabkan diadakannya investasi dalam proyek-proyek yang tidak diperlukan dan yang tidak produktif. Disamping itu kelebihan modal kerja juga akan menimbulkan inefisiensi atau pemborosan dalam operasi perusahaan. Indikator adanya manajemen modal kerja yang baik adalah adanya efisiensi modal kerja (Tunggal,1995:165). Modal kerja dapat dilihat dari perputaran modal kerja

3

(working capital turnover), perputaran piutang (receivable turnover), perputaran persediaaan (inventori turnover). Perputaran modal kerja dimulai dari saat kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode perputaran modal kerja, makin cepat perputarannya sehingga perputaran modal kerja makin tinggi dan perusahaan makin efisien yang pada akhirnya rentabilitas semakin meningkat. Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, perusahaan dihadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas (Van Horne,1997: 217). Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam jumlah yang besar, kemungkinan tingkat likuiditas akan terjaga namun kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya profitabilitas. Sebaliknya jika perusahaan ingin memaksimalkan profitabilitas, kemungkinan dapat mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan. Makin tinggi likuiditas, maka makin baiklah posisi perusahaan di mata kreditur. Oleh karena terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa perusahaan akan dapat membayar kewajibannya tepat pada waktunya. Di lain pihak ditinjau dari segi sudut pemegang saham, likuiditas yang tinggi tak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan (Tunggal,1995 : 157). Selain masalah tersebut di atas perusahaan juga dihadapkan pada masalah penentuan sumber dana. Pemenuhan kebutuhan dana suatu perusahaan dapat dipenuhi dari sumber intern perusahaan, yaitu dengan mengusahakan penarikan modal melalui penjualan saham kepada masyarakat atau laba ditahan yang tidak dibagi dan digunakan

4

kembali sebagai modal. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dapat juga dipenuhi dari sumber ekstern yaitu dengan meminjam dana kepada pihak kreditur seperti bank, lembaga keuangan bukan bank, atau dapat pula perusahaan menerbitkan obligasi untuk ditawarkan kepada masyarakat. Pembiayaan dengan utang atau leverage keuangan menurut Brigham dan Houston (2001: 84) memiliki tiga implikasi penting, yaitu: Pertama, memperoleh dana melalui utang membuat pemegang saham dapat mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang terbatas. Kedua, kreditur melihat ekuitas atau dana yang disetor pemilik untuk memberikan marjin pengaman, sehingga jika pemegang saham hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka risiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditur. Ketiga, Jika perusahaan memperoleh pengembalian yang lebih besar atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibanding pembayaran bunga, maka pengembalian atas modal pemilik akan lebih besar. Sementara itu Sawir (2001: 11) menyebutkan bahwa leverage dapat digunakan untuk meningkatkan hasil pengembalian pemegang saham, tetapi dengan risiko akan meningkatkan kerugian pada masa-masa suram. Jika perusahaan menggunakan lebih banyak hutang dibanding modal sendiri maka tingkat solvabilitas akan menurun karena beban bunga yang harus di tanggung juga meningkat. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas. Pada dasarnya, jika perusahaan meningkatkan jumlah utang sebagai sumber dananya hal tersebut dapat meningkatkan risiko keuangan. Jika perusahaan tidak dapat mengelola dana yang diperoleh dari utang secara produktif, hal tersebut dapat memberikan pengaruh negatif dan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas perusahaan. Sebaliknya jika utang tersebut dapat dikelola dengan baik dan digunakan

5

untuk proyek investasi yang produktif, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang positif dan berdampak terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan. Siwi (2005) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang go publik dibursa efek Jakarta pada tahun 1998–2002. Rasio-rasio yang digunakan adalah rasio working capital turnover (WCT), current ratio, debt to equity ratio(DTA) dan return on investment (ROI). Sampel yang digunakan sebanyak 37 perusahaan property dan real estate yang sudah listing dari tahun 1998-2002. Dalam penelitiannya Siwi (2005) menggunakan analisis regresi berganda linier yang hasilnya menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel efisiensi modal kerja (working capital turnover) dan solvabilitas (total debt to total capital assets) yang mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas (return on investment) sedangkan variabel likuiditas (current ratio) tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas (return on investment). Sedangkan secara simultan semua variabel berpengaruh terhadap profitabilitas. Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Siwi (2005) terletak pada sampel dari perusahaan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan industri barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2001-2005 dengan sampel sebanyak 34 perusahaan. Faurani (2004) malakukan penelitian tentang analisis pengaruh modal kerja terhadap profitabilitas dan rentabilitas pada Koperasi Dharma Wanita “Mandalika” Mataram Nusa Tenggara Barat. Dalam penelitian ini menggunakan rasio-rasio

profitabilitas (profit margin on sales ratio), rentabilitas (profit margin ratio), modal kerja (profit margin ratio). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode statistik deskriptif, metode statistik inferensial dan metode analisa korelasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal kerja tidak begitu

6

berpengaruh terhadap profitabilitas dan rentabilitas pada Koperasi Mandalika akan tetapi dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Dani (2003) melakukan penelitian tentang pengaruh likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas (studi kasus pada PT Modern Toolsindo Bekasi). Rasio keuangan yang digunakan adalah Current Ratio, Debt to Equyity Ratio (DER), Working Capital Turnover (WCT) dan Return On Invesment. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Menggunakan 1 sampel perusahaan dengan menganalisis neraca dan laporan laba rugi tahun 1997-2002. Dalam penelitiannya Dani (2003) menggunakan analisis regresi linier berganda yang hasilnya menunjukkan bahwa secara simultan faktor likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas PT Modern Toolsindo. Sedangkan secara parsial hanya variabel leverage yang tidak berpengaruh positif terhadap variabel profitabilitas. Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Dani (2003) terletak pada rasio-rasio yang digunakan. Dalam penelitian ini rasio-rasio yang digunakan yaitu Working Capital Turnover (WCT), Debt to Total Asset (DTA), Current Ratio dan Return On Invesment (ROI). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dani (2003) menggunakan rasio yang sama dengan penelitian ini kecuali pada variabel solvabilitas, pada variabel solvabilitas penelitian ini menggunakan rasio Debt to Earning Ratio (DER). Indri Astuti (2003) melakukan penelitian mengenai pengaruh manajemen modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan automotive and allied product yang go public di BEJ. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu likuiditas, tingkat hutang, efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas, tingkat perubahan hutang lancar dan profitabilitas. Rasio yang digunakan antara lain likuiditas menggunakan rasio current ratio, tingkat

7

hutang menggunakan rasio leverage ratio, efisiensi modal kerja menggunakan rasio working capital turnover (WCT), tingkat kecukupan kas menggunakan rasio cash ratio, tingkat perubahan hutang lancar menggunakan rasio perubahan hutang lancar. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak dibidang sektor industri automotive and allied products yang terdaftar di BEJ, yaitu sebanyak 18 perusahaan. Metode analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda. Hasilnya bahwa variabel independent likuiditas, leverage ( tingkat hutang), efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas (cash ratio), perubahan hutang lancar diduga mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu Return On Invesment (ROI) industri automotive and allied product tahun 2000-2003. Sedangkan secara simultan terbukti mempunyai pengaruh yang signifikan dan secara parsial terbukti bahwa variabel efisiensi modal kerja berpengaruh positif secara signifikan terhadap profitabilitas dan perubahan hutang lancar berpengaruh negatif secara signifikan terhadap profitabilitas (ROI). Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Indri Astuti (2003) terletak pada variable, rasio-rasio dan populasi. Indri Astuti menggunakan variabel yang lebih banyak yaitu likuiditas, tingkat hutang, efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas, tingkat perubahan hutang lancar dan profitabilitas. Sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan 4 variabel yaitu efisiensi modal kerja menggunakan rasio working capital turnover, likuiditas menggunakan rasio current ratio, solvabilitas menggunakan rasio debt to equity ratio (DTA) dan profitabilitas menggunakan rasio return on investment (ROI). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak di sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEJ yaitu sebanyak 35 perusahaan dari tahun 2001-2005.

8

Sedangkan alat analisis dalam penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri Astuti (2003). Berdasarkan studi pendahuluan pada industri barang konsumsi dapat diketahui bahwa terdapat beberapa perusahaan yang memiliki jumlah modal kerja (WCT) yang tinggi tetapi memiliki tingkat profitabilitas yang rendah dan beberapa perusahaan memiiliki modal kerja (WCT) yang rendah tetapi memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi. Kenyataan tersebut menyimpang dari teori yang ada, dimana secara teori apabila perusahaan industri barang konsumsi yang memiliki tingkat modal kerja (WCT) yang tinggi maka tingkat profitabilitasnya juga tinggi. Industri barang konsumsi menjadi industri yang penting bagi perkembangan perekonomian bangsa. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri barang konsumsi di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya dalam proses produksi barang konsumsi dibutuhkan banyak sumber daya termasuk di dalamnya sumber daya manusia. Oleh karena itu, industri barang kosumsi memiliki peranan dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan pada suatu negara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada investor dan calon investor untuk merumuskan kebijakan dalam melakukan investasi pada perusahaan dalam sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta supaya tingkat pengembalian dari penanaman investasi tersebut memperoleh hasil yang maksismum. Berdasarkan gambaran tersebut menarik untuk diteliti mengenai “PENGARUH EFISIENSI MODAL KERJA, LIKUIDITAS DAN SOLVABILITAS TERHADAP PROFITABILITAS “(Studi Kasus Pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta).

9

1.2. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang permasalahan maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Adakah pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas industri barang konsumsi di BEJ dan seberapa besar pengaruhnya ? 2. Adakah pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas industri barang konsumsi di BEJ dan seberapa besar pengaruhnya? 3. Adakah pengaruh solvabilitas terhadap profitabilitas industri barang konsumsi di BEJ dan seberapa besar pengaruhnya? 4. Adakah pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, solvabilitas terhadap profitabilitas industri barang konsumsi di BEJ dan seberapa besar pengaruhnya?

1.3. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Untuk dapat melaksanakan penelitian ini dengan baik dan mengenai sasaran, maka peneliti harus mempunyai tujuan, adapun tujuan dari penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas, baik secara simultan maupun secara parsial pada pada perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi yang go public di BEJ tahun 2002 dan 2005. b. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh efisiensi modal kerja likuiditas solvabilitas terhadap profitabilitas, baik secara simultan maupun secara parsial

10

pada pada perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi yang go public di BEJ tahun 2002 dan 2005. 2. Kegunaan Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan, antara lain: 1. Kegunaan secara teoritis a. Bagi penulis sebagai bahan pembanding antara teori yang didapat di bangku kuliah dan fakta di lapangan. b. Bagi peneliti berikutnya penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian sejenis dan sebagai pengembangan penelitian lebih lanjut. c. Bagi pembaca merupakan bahan informasi tentang pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas pada perusahaan yang tergabung dalam industri barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta. 2. Kegunaan secara praktis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi calon investor sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan investasi di Bursa Efek Jakarta.

11

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Profitabilitas Perusahaan Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri (Sartono, 1998: 130). Jumlah laba bersih kerap dibandingkan dengan ukuran kegiatan atau kondisi keuangan lainnya seperti penjualan, aktiva, ekuitas pemegang saham untuk menilai kinerja sebagai suatu persentase dari beberapa tingkat aktivitas atau investasi Perbandingan ini disebut rasio profitabilitas (profitability ratio). Berikut ini adalah beberapa rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas adalah sebagai berikut : 1. Gross Profit Margin Rasio gross profit margin atau margin keuntungan kotor berguna untuk mengetahui keuntungan kotor perusahaan dari setiap barang yang dijual. Gross profit margin sangat dipengaruhi oleh harga pokok penjualan. Apabila harga pokok penjualan meningkat maka gross profit margin akan menurun, begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien. Formulasi dari gross profit margin atau GPM adalah sebagai berikut: Penjualan – harga Pokok Penjualan GPM = Penjualan (Sawir,2001: 18) X 100%

12

2. Net Profit Margin Net Profit Margin (NPM) menggambarkan besarnya laba bersih yang diperoleh perusahaan pada setiap penjualan yang dilakukan. Dengan kata lain ratio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Formulasi dari net profit margin adalah sebagai berikut: Laba Setelah Pajak NPM = Penjualan (Sawir,2001: 18) 3. Return on Investment Return on Investment atau return on assets menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Dengan mengetahui rasio ini, akan dapat diketahui apakah perusahaan efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahaan. Rasio ini juga memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan efektifitas manajemen dalam menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan. Analisa Return On Investment (ROI) dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh/komprehensif. Analisa Return On Investment (ROI) ini sudah merupakan tehnik analisa yang lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. Return On Investment (ROI) itu sendiri adalah salah satu bentuk dari ratio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian Return On Investment (ROI) X 100%

13

menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut (Net Operating Assets). Sebutan lain untuk ROI adalah “Net Operating profit Rate Of Return” atau “Operating Earning Power” (Munawir, 1995: 89). Formulasi dari return on investment atau ROI adalah sebagai berikut: Laba Setelah Pajak ROI = Total Aktiva (Munawir,2001: 89) 4. Return on Equity Return on equity atau return on net worth mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan atau untuk mengetahui besarnya kembalian yang diberikan oleh perusahaan untuk setiap rupiah modal dari pemilik. Rasio ini dipengaruhi oleh besar kecilnya utang perusahaan, apabila proporsi utang makin besar maka rasio ini juga akan makin besar. Formulasi dari return on equity atau ROE adalah sebagai berikut: Laba Setelah Pajak ROE = Modal sendiri (Sawir,2001: 20) Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi profitabilitas : 1. Profit margin, yaitu perbandingan antara “net operating income’ dengan “Net Sales”. 2. Turnover of operating assets (tingkat perputaran aktiva usaha), yaitu kecepatan berputarnya operating assets dalam suatu periode tertentu. X 100% X 100%

14

2.2. Modal Kerja 2.2.1. Pengertian Modal Kerja Mengenai pengertian modal kerja terdapat beberapa konsep yaitu (Riyanto, 1995: 57-58): 1. Konsep Kuantitatif Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam unsurunsur aktiva lancar dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva dimulai dari yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian modal kerja dalam konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. 2. Konsep Kualitatif Dalam konsep ini pengertian modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar atau utang yang harus segera dibayar. Dengan demikian maka sebagian dari aktiva lancar itu harus disediakan untuk memenuhi kewajiban financial yang harus segera dibayar dimana bagian aktiva lancar ini tidak boleh digunakan untuk membayar operasi perusahaan untuk menjaga likuiditasnya. Oleh karena itu modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membayar operasi perusahaan mampu mengganggu likuiditasnya yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar diatas utang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja memo (non working capital) 3. Konsep Fungsional Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan. Setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam perusahaan dimaksudkan untuk

15

menghasilkan pendapatan. Pendapatan yang dimaksud adalah pendapatan dalam satu periode accounting (current income) bukan periode berikutnya (future income) Dari pengertian tersebut maka terdapat sejumlah dana yang tidak menghasilkan current income atau kalau menghasilkan tidak sesuai dengan misi perusahaan yaitu non working capital, sehingga besarnya modal kerja adalah: a. Besarnya kas b. Besarnya persediaan c. Besarnya piutang (dikurangi bersarnya laba) d. Besarnya sebagian dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap (besarnya adalah sejumlah dana yang berfungsi untuk menghasilkan current income tahun yang bersangkutan) Sedangkan bagian piutang yang merupakan keuntungan adalah tergolong dalam modal kerja potensial dan sebagian dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap yang menghasilkan future income (pendapatan tahun-tahun sesudahnya) termasuk dalam non working capital. 2.2.2. Siklus Modal Kerja Proses pemutaran modal kerja akan selalu berjalan selama perusahaan masih beroperasi, modal kerja berputar terus-menerus dalam perusahaan karena dipakai untuk membiayai operasi sehari-hari. Proses pemutaran modal kerja itu dinamakan lingkaran modal kerja, yang akan selalu berputar selama perusahaan merupakan “going concern” atau masih berjalan (Tunggal, 1995: 91) Analisis tentang lingkaran modal kerja dimulai dengan kas uang kas ditanam dalam persediaan dan berbagai alat dan jasa, disamping dibiayai dari para pemasok dengan kredit, yang kemudian memerlukan pembiayaan dengan kas. Barang perusahaan

16

dijual pada para pembeli dengan tunai atau kredit biasa atau dengan pembayaran wesel/promes dari debitor dan dari wesel/promes diterima kas (Tunggal, 1995: 91). Jadi, proses kas persediaan-piutang-uang merupakan lingkaran modal kerja dana akan berputar terus-menerus selama perusahaan itu berjalan. 2.2.3. Fungsi Modal Kerja Fungsi modal kerja adalah sebagai berikut: 1. Modal Kerja itu menampung kemungkinan akibat buruk yang ditimbulkan karena penurunan nilai aktiva lancar seperti penurunan nilai piutang yang diragukan dan yang tidak dapat ditagih atau penurunan nilai persediaan. 2. Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan untuk membayar semua utang lancarnya tepat pada waktunya dan untuk memanfaatkan potongan tunai ; dengan menggunakan potongan tunai maka jumlah yang akan dibayarkan uttuk pembelian barang menjadi berkurang. 3. Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan untuk memelihara “Credit standing” perusahaan yaitu penilaian pihak ketiga, misalnya bank dan para kreditor akan kelayakan perusahaan untuk memelihara kredit. Disamping itu modal kerja yang mencukupi memungkinkan perusahaan untuk menghadapi situasi darurat seperti dalam hal terjadi : pemogokan banjir dan kebakaran. 4. Memungkinkan perusahaan untuk memberikan syarat kredit kepada para pembeli. Kadang-kadang perusahaan harus memberikan kepada para pembelinya syarat kredit yang lebih lunak dalam usaha membantu para pembeli yang baik untuk membiayai operasinya. 5. Memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan persediaan pada suatu jumlah yang mencukupi untuk melayani kebutuhan para pembeli dengan lancar.

17

6. Memungkinkan pimpinan perusahaan untuk menyelenggarakan perusahaan lebih efisien dengan jalan menghindarkan kelambatan dalam memperoleh bahan, jasa dan alat-alat yang disebabkan karena kesulitan kredit. 7. Modal kerja yang mencukupi, memungkinkan pula perusahaan untuk menghadapi masa resesi dan depresi dengan baik. 2.2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Modal Kerja Kebutuhan perusahaan akan modal tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut (Tunggal, 1995: 96-101) : 1. Sifat atau Jenis Perusahaan Kebutuhan modal kerja tergantung pada jenis dan sifat dari usaha yang dijalankan perusahaan. 2. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi dan memperoleh barang yang akan dijual. Ada hubungan langsung antara jumlah modal kerja dan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dijual pada pembeli. Makin lama waktu yang diperlukan untuk memperoleh barang, atau makin lama waktu yang diperlukan untuk memperoleh barang dari luar negeri, jumlah modal kerja yang diperlukan makin besar. 3. Cara-cara atau syarat-syarat pembelian dan penjualan Kebutuhan modal kerja perusahaan dipengaruhi oleh syarat pembelian dan penjualan. Makin banyak diperoleh syarat kredit untuk membeli bahan dari pemasok maka lebih sedikit modal kerja yang ditanamkan dalam persediaan. Sebaliknya, semakin longgar syarat kredit yang diberikan pada pembeli maka akan lebih banyak modal kerja yang ditanamkan dalam piutang.

18

4. Perputaran persediaan Makin cepat persediaan berputar maka makin kecil modal kerja yang diperlukan. Pengendalian persediaan yang efektif diperlukan untuk memelihara jumlah, jenis, dan kualitas barang yang sesuai dan mengatur investasi dalam persediaan. Disamping itu biaya yang berhubungan dengan persediaan juga berkurang. 5. Perputaran piutang Kebutuhan modal kerja juga dipengaruhi jangka waktu penagihan piutang. Apabila penagihan piutang dilakukan secara efektif maka tingkat perputaran piutang akan tinggi sehingga modal kerja tidak akan terikat dalam waktu yang lama dan dapat segera digunakan dalam siklus usaha perusahaan. 6. Siklus Usaha (Konjungtur) Dalam masa “prosperti” (konjungtur tinggi), perusahaan akan berupaya untuk membeli barang mendahului kebutuhan untuk memperoleh harga yang rendah dan memastikan adanya persediaan yang cukup, sehingga dalam masa tersebut diperlukan modal kerja yang besar. Sebaliknya, dalam masa “depresi” (konjungtor menurun) maka volume usaha turun dan banyak perusahaan harus menukar persediaan dan piutang menjadi uang. 7. Musim Apabila perusahaan tidak dipengaruhi musim, maka penjualan tiap bulan ratarata sama. Tetapi jika pipengaruhi musim, perusahaan memerlukan sejumlah modal kerja yang maksimum untuk jangka relatif pendek. Ada 2 macam musim : a Musim dalam hal produktif hanya dilakukan dalam bulan-bulan tertentu saja sedangkan dalam bulan lain tidak ada produksi atau sedikit produksinya.

19

b

Musim dalam hal penjualan, yaitu penjualan hanya dilakukan dalam bulan-bulan tertentu saja, sedangkan dalam bulan lain penjualan tidak begitu banyak.

2.2.5. Sumber Modal Kerja Sumber modal kerja meliputi hal-hal sebagai berikut (Tunggal, 1995 : 104): 1. Operasi rutin perusahaan 2. Laba yang diperoleh dari penjualan surat-surat berharga dan penanaman sementara lainnya. 3. Penjualan aktiva tetap, penanaman jangka panjang/aktiva tak lancar dan lainlainnya. 4. Pengembalian pajak dan keuntungan luar biaya lainnya. 5. Penerimaan yang diperoleh dari penjulan obligasi dan saham dan penyetoran dana oleh para pemilik perusahaan. 6. Penerimaan pinjaman jangka panjang dan jangka pendek yang diperoleh dari Bank atau pihak lain. 7. Pinjaman yang dijamin dengan hipotek atas aktiva tetap atau aktiva tak lancar. 8. Penjualan piutang dengan jalan penjualan biasa/dengan “factoring” (penjualan dengan cara penjualan faktur, pemberian kredit, diserahkan pada lembaga keuangan).

2.3. Efisiensi Modal Kerja Manajemen atau pengelolaan modal kerja merupakan hal yang sangat penting agar kelangsungan usaha sebuah perusahaan dapat dipertahankan (Hanafi, 2005: 125). Kesalahan atau kekeliruan dalam pengelolaan modal kerja akan menyebabkan buruknya

20

kondisi keuangan perusahaan sehingga kegiatan perusahaan dapat terhambat atau terhenti sama sekali. Adanya kesalahan atau kekeliruan dalam pengelolaan modal kerja dapat menimbulkan kelebihan atau kekurangan dalam penyediaan modal kerja (Tunggal, 1995: 92). Adanya kelebihan modal kerja dalam sebuah perusahaan dapat disebabkan oleh : 1. Pengeluaran obligasi/saham dalam jumlah yang lebih dari yang diperlukan. 2. Penjualan aktiva tak lancar yang tak diganti. 3. Terjadinya laba operasi yang tidak digunakan untuk pembayaran dividen, untuk pembelian aktiva tetap atau untuk tujuan lain yang serupa. 4. Konversi atau perubahan aktiva tetap ke dalam modal kerja. Konversi perubahan bentuk yang tak disertai dengan penggantian dari aktiva tetap ke dalam modal kerja dengan jalan proses depresiasi, deplesi dan amortisasi. 5. Karena akumulasi atau penimbunan sementara dari berbagai dana yang disediakan untuk investasi-investasi dan sebagainya. Sedangkan terjadinya kekurangan modal kerja menurut Wijaya (1995: 93-96) dapat disebabkan oleh : 1. Karena kerugian usaha, antara lain diakibatkan oleh: a Volume penjualan yang tidak mencukupi, jadi terlalu kecil untuk dapat menutup biaya perusahaan. b Penurunan harga jual yang disebabkan karena persaingan tanpa adanya penurunan dalam harga pokok penjualan. c Terlalu banyak piutang yang tidak dapat ditagih.

21

d

Kenaikan biaya yang tidak diimbangi dengan bertambahnya penjualan atau pendapatan .

e

Bertambahnya biaya, sedang penjualan atau pendapatan menurun.

2. Adanya kerugian luar biasa (Extraordinary Losses). Kerugian luar biasa adalah kerugian yang tidak disebabkan karena operasi rutin perusahaan. 3. Kebijakan dividen yang kurang baik Hal ini terjadi karena perusahaan memutuskan membayarkan dividen meskipun kondisi keuangan perusahaan tidak memungkinkan untuk memberikan dividen pada para pemegang saham. 4. Penggunaan modal kerja untuk memperoleh aktiva tak lancar. Kekurangan modal kerja kadang terjadi karena dilakukannya investasi dari aktiva lancar untuk memperoleh aktiva tak lancar. Hal ini terjadi apabila suatu aktiva yang tua harus diganti dengan yang baru atau apabila dibeli aktiva tetap lain yang baru atau karena pembelian saham perusahaan lain sebagai investasi. 5. Kenaikan tingkat harga umum Kekurangan modal kerja dapat disebabkan karena kenaikan harga yang memerlukan investasi jumlah rupiah yang telah banyak untuk memelihara kuantitas persediaan dan aktiva pada tingkat fisik yang sama dan untuk membiayai penjualan kredit pada tingkat penjualan yang sama. Indikasi pengelolaan modal kerja yang baik adalah adanya efisiensi modal kerja yang dilihat dari perputaran modal kerja (Husnan, 1997: 98) yang dimulai dari aset kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin

22

pendek periode perputarannya, makin cepat perputarannya sehingga perputaran modal kerja makin tinggi dan perusahaan makin efisiens yang pada akhirnya rentabilitas semakin tinggi. Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur efisiensi modal kerja adalah : 1. Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover) Rasio ini menunjukkan banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Formulasi dari Working Capital Turnover (WCT) adalah sebagai berikut : WCT = Penjualan (Aktiva Lancar – Utang Lancar) X 100% (Sawir,2001: 16)

2. Perputaran persediaan (Inventory Turnover) Rasio ini mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisisensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manjemen mengontrol modal yang ada pada persediaan Formulasi dari Inventory Turnover adalah sebagai berikut : Harga Pokok Penjualan Inventory Turnover = Rata-Rata Persediaan (Sawir,2001: 15) 3. Perputaran Piutang (Receivable Turnover) Rasio ini menunjukkan efisiensi pengelolaan piutang perusahaan. Semakin tinggi rasio menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah. Formulasi dari receivable turnover (RT) adalah : Piutang RT = Penjualan Perhari (Sawir,2001: 16) X 100% X 100%

23

Kebijakan modal kerja yang efisien menghadapkan pihak manajemen pada keputusan yang mengakibatkan adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas (Van Horne,1997: 217). Keputusan untuk menetapkan jumlah modal kerja yang besar modal kerja memungkinkan tingkat likuiditas terjaga namun dapat menurunkan profitabilitas. Sebaliknya keputusan yang cenderung untuk memaksimalkan profitabilitas dapat mengganggu tingkat kelancaran likuiditas. 2.4.Likuiditas Perusahaan Likuiditas (Riyanto, 1995: 25) adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Jumlah alat-alat pembayaran (alat likuid) yang dimiliki oleh suatu perusahaan pada suatu saat merupakan kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi atau dengan kata lain perusahaan tersebut belum tentu memiliki kemampuan membayar. Kemampuan membayar baru terdapat pada perusahaan apabila kekuatan membyar-nya adalah demikian besarnya sehingga dapat memenuhi semua kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi. Dengan demikian maka kemampuan membayar itu dapat diketahui setelah membandingkan kekuatan membayar-nya di satu pihak dengan kewajiban-kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi di lain pihak. Suatu perusahaan yang mempunyai kekutan membayar sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi, dikatakan bahwa perusahaan tersebut adalah likuid, dan sebaliknya yang tidak mempunyai kemampuan membayar adalah illikuid.

24

Sedangkan menurut

Munawir (2001:31) likuiditas adalah menunjukkan

kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih. Sehingga dapat disimpulkan bahwa likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya yang segera harus dipenuhi. Untuk menilai likuiditas perusahaan terdapat beberapa rasio yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa dan menilai posisi likuiditas perusahaan, yaitu : 1. Current Ratio Current Ratio biasanya digunakan sebagai alat untuk mengukur keadaan likuiditas suatu perusahaan, dan juga merupakan petunjuk untuk dapat megetahui dan menduga sampai dimanakah kiranya kita, apabila memberikan kredit berjangka pendek kepada seorang nasabah, dapat merasa aman atau tidak. Dasar perbandingan tersebut dipergunakan sebagai alat petunjuk, apakah perusahaan yang mandapat kredit itu kira-kira akan mampu ataupun tidak untuk memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran kembali atau pada pelunasan pada tanggal yang sudah ditentukan. Dasar perbandingan itu menunjukan apakah jumlah aktiva lancar itu cukup melampaui besarnya kewajiban lancar, sehingga dapatlah kiranya diperkirakan bahwa, sekiranya pada suatu ketika dilakukan likuiditas dari aktiva lancar dan ternyata hasilnya dibawah nilai dari yang tercantum di neraca, namun masih tetap akan terdapat cukup kas ataupun yang dapat dikonversikan menjadi uang kas di dalam waktu singkat, sehingga dapat memenuhi kewajibannya (Tunggal, 1995: 154).

25

Current ratio yang tinggi maka makin baiklah posisi para kreditor, oleh karena terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa utang perusahaan itu akan dapat dibayar pada waktunya. Hal ini terutama berlaku bila pimpinan perusahaan menguasai pos-pos modal kerja dengan ketat/dengan semestinya. Dilain pihak ditinjau dari sudut pemegag saham suatu current ratio yang tinggi tak selalu paling menguntungkan, terutama bila terdapat saldo kas yang kelebihan dan jumlah piutang dan persediaan adalah terlalu besar. Pada umumnya suatu current ratio yang rendah lebih banyak mengandung risiko dari pada suatu current ratio yang tinggi, tetapi kadang-kadang sutau current ratio yang rendah malahan menunjukkan pimpinan perusahaan menggunakan aktiva lancar sangat efektif. Yaitu bila saldo disesuaikan dengan kebutuhan minimum saja dan perputaran piutang dari persediaan ditingkatkan sampai pada tingkat maxsimum. Jumlah kas yang diperlukan tergantung dari besarnya perusahaan dan terutama dari jumlah uang yang diperlukan untuk membayar utang lancar, berbagai biaya rutin dan pengeluaran darurat (Tunggal, 1995: 157). Munawir (2001:72) menyatakan current ratio 200% kadang sudah memuaskan bagi suatu perusahaan, tetapi jumlah modal kerja dan besarnya rasio tergantung pada beberapa faktor, suatu standar atau rasio yang umum tidak dapat ditentukan untuk seluruh perusahaan. Current ratio 200% hanya merupakan kebiasaan atau rule of thumb dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan penelitian atau analisa yang lebih lanjut. Current ratio ini menunjukkan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut. Tetapi suatu perusahaan dengan current ratio yang tinggi belum tentu

26

menjamin akan dapat dibayarnya hutang perusahaan yang sudah jatuh tempo karena proporsi atau distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan, misalnya jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan taksiran tingkat penjualan yang akan datang sehingga tingkat perputaran persediaan rendah dan menunjukkan adanya over investment dalam persediaan tersebut atau adanya saldo piutang yang besar yang mungkin sulit untuk ditagih. (Riyanto, 1995: 26) menyatakan bahwa bagi perusahaan bukan kredit, current ratio kurang dari 2:1 dianggap kurang baik, sebab apabila aktiva lancar turun misalnya sampai lebih dari 50% maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi menutup utang lancarnya. Pedoman current ratio 2 : 1, sebenarnya hanya didasarkan pada prinsip “hati-hati”. Pedoman current ratio 200% bukanlah pedoman mutlak. Apabila pedoman current ratio 2 : 1 atau 200% sudah ditetapkan sebagai ratio minimum yang akan dipertahankan oleh suatau perusahaan, maka perusahaan dalam penarikan kredit jangka pendeknya juga harus selalu didasarkan pada pedoman tersebut. Setiap saat perusahaan harus mengetahui berapa kredit jangka pendek maksimum yang boleh ditarik supaya pedoman current ratio tersebut tidak dilanggar. Batas maksimum kredit jangka pendek yang boleh diambil supaya tidak mengganggu atau melanggar pedoman current ratio tertentu ialah apa yang disebut “the line of credit” atau “maximum current indebtedness” Apabila perusahaan menetapkan bahwa current ratio yang harus dipertahankan adalah 3:1 atau 300% ini berarti bahwa setiap utang lancar sebesar Rp.1,00 harus dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp.3,00 atau dijamin dengan net working capital sebesar Rp.2,00. Dengan demikian maka ratio modal kerja

27

dengan utang lancar adalah 2:1, karena modal kerja tak lain adalah kelebihan aktiva lancar diatas utang lancar. Adapun formulasi dari current ratio (CR) adalah sebagai berikut : Current Ratio = Aktiva Lancar Hutang Lancar X 100% (Sawir,2001: 8) 2. Quick Ratio Rasio ini disebut juga sebagai acid test ratio, yaitu perbandingkan antara aktiva lancar dikurangi persediaan dengan utang lancar (Munawir 2001: 74). Rasio ini merupakan ukuran kemampuan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena menganggap persediaan memerlukan waktu lama untuk direalisir menjadi kas, walaupun pada kenyataannya mungkin persediaan lebih likuid dari piutang. Rasio ini lebih tajam dari pada current ratio karena hanya membandingkan aktiva yang sangat likuid. Jika current ratio tinggi tapi quick ratio rendah, hal ini menunjukkan adanya investasi yang sangat besar dalam persediaan. Adapun formulasi dari quick ratio adalah sebagai berikut : Aktiva Lancar – Persediaan Quick Ratio = Utang Lancar (Sawir,2001: 10) X 100%

2.5.Solvabilitas Perusahaan Solvabilitas suatu perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya apabila perusahaan sekiranya saat ini dilikuidasikan (Riyanto, 1995: 32). Pengertian solvabilitas dimaksudkan sebagai

28

kemampuan perusahaan untuk membayar semua utang-utangnya (baik jangka pendek dan jangka panjang). Sedangkan menurut Munawir (2002: 32) solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Pengertian solvabilitas dimaksudkan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar semua utang-utangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu perusahaan yang solvabel berarti bahwa perusahaan tersebut mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua utang-utangnya, tetapi tidak dengan sendirinya berarti bahwa perusahaan tersebut likuid. Sebaliknya perusahaan yang insolvabel (tidak solvabel) tidak dengan sendirinya bahwa perusahaan tersebut adalah juga likuid. Dalam hubungan antara likuiditas dan solvabilitas terdapat 4 kemungkinan yang dapat dialami perusahaan yaitu (Riyanto, 1995: 32): 1. Perusahaan yang likuid tetapi insolvable. 2. Perusahaan yang likuid dan solvable. 3. Perusahaan yang solvabel tetapi illikuid 4. Perusahaan yang insolvabel dan illikuid Baik perusahaan yang insolvabel maupun illikuid, kedua-duanya pada suatu waktu akan menghadapi kesukaran finansiil yaitu pada waktu tiba saatnya untuk memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang insolvabel tetapi likuid tidak segera dalam keadaan kesukaran finansiil, tetapi perusahaan yang illikuid akan segera dalam kesukaran karena segera menghadapi tagihan-tagihan dari krediturnya. Perusahaan yang insolvable tapi likuid masih dapat bekerja dengan baik, dan sementara itu masih mempunyai kesempatan atau

29

waktu untuk memperbaiki solvabilitasnya. Tetapi apabila usahanya tidak berhasil, maka pada akhir perusahaan tersebut akan menghadapi kesukaran juga (Riyanto, 1995: 33). Solvabilitas dapat diukur dengan rasio antara lain: 1. Debt to Equity Ratio Rasio ini menggambarkan perbandingan utang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Formulasi dari debt to equity ratio adalah sebagai berikut: Total Utang Debt Equity Ratio = Modal Sendiri (Sawir,2001: 13) X 100%

2. Debt to Total Assets Menunjukkan beberapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibelanjai dengan utang atau beberapa bagian dari aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Kreditur lebih menyukai rasio utang yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. Di sisi lain, pemegang saham akan menginginkan leverage yang lebih besar karena akan dapat meningkatkan laba yang diharapkan. Total Utang Debt to Total Assets = Total Aktiva (Sawir,2001: 13) 2.6.Penelitian Terdahulu Sebagai acuan dari penelitian ini dikemukakan hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya yaitu : X 100%

30

Siwi (2005) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang go publik dibursa efek Jakarta pada tahun 1998–2002. Rasio-rasio yang digunakan adalah rasio working capital turnover (WCT), current ratio, debt to equity ratio(DTA) dan return on investment (ROI). Sampel yang digunakan sebanyak 37 perusahaan property dan real estate yang sudah listing dari tahun 1998-2002. Dalam penelitiannya Siwi (2005) menggunakan analisis regresi berganda linier yang hasilnya menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel efisiensi modal kerja (working capital turnover) dan solvabilitas (total debt to total capital assets) yang mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas (return on investment) sedangkan variabel likuiditas (current ratio) tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas (return on investment). Sedangkan secara simultan semua variabel berpengaruh terhadap profitabilitas. Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Siwi (2005) terletak pada sampel dari perusahaan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan industri barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta tahun 2001-2005 dengan sampel sebanyak 34 perusahaan. Faurani (2004) malakukan penelitian tentang analisis pengaruh modal kerja terhadap profitabilitas dan rentabilitas pada Koperasi Dharma Wanita “Mandalika” Mataram Nusa Tenggara Barat. Dalam penelitian ini menggunakan rasio-rasio

profitabilitas (profit margin on sales ratio), rentabilitas (profit margin ratio), modal kerja (profit margin ratio). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode statistik deskriptif, metode statistik inferensial dan metode analisa korelasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal kerja tidak begitu berpengaruh terhadap profitabilitas dan rentabilitas pada Koperasi Mandalika akan tetapi dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

31

Dani (2003) melakukan penelitian tentang pengaruh likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas (studi kasus pada PT Modern Toolsindo Bekasi). Rasio keuangan yang digunakan adalah Current Ratio, Debt to Equyity Ratio (DER), Working Capital Turnover (WCT) dan Return On Invesment. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Menggunakan 1 sampel perusahaan dengan menganalisis neraca dan laporan laba rugi tahun 1997-2002. Dalam penelitiannya Dani (2003) menggunakan analisis regresi linier berganda yang hasilnya menunjukkan bahwa secara simultan faktor likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas PT Modern Toolsindo. Sedangkan secara parsial hanya variabel leverage yang tidak berpengaruh positif terhadap variabel profitabilitas. Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Dani (2003) terletak pada rasio-rasio yang digunakan. Dalam penelitian ini rasio-rasio yang digunakan yaitu Working Capital Turnover (WCT), Debt to Total Asset (DTA), Current Ratio dan Return On Invesment (ROI). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dani (2003) menggunakan rasio yang sama dengan penelitian ini kecuali pada variabel solvabilitas, pada variabel solvabilitas penelitian ini menggunakan rasio Debt to Earning Ratio (DER). Indri Astuti (2003) melakukan penelitian mengenai pengaruh manajemen modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan automotive and allied product yang go public di BEJ. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu likuiditas, tingkat hutang, efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas, tingkat perubahan hutang lancar dan profitabilitas. Rasio yang digunakan antara lain likuiditas menggunakan rasio current ratio, tingkat hutang menggunakan rasio leverage ratio, efisiensi modal kerja menggunakan rasio working capital turnover (WCT), tingkat kecukupan kas menggunakan rasio cash ratio,

32

tingkat perubahan hutang lancar menggunakan rasio perubahan hutang lancar. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak dibidang sektor industri automotive and allied products yang terdaftar di BEJ, yaitu sebanyak 18 perusahaan. Metode analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda. Hasilnya bahwa variabel independent likuiditas, leverage ( tingkat hutang), efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas (cash ratio), perubahan hutang lancar diduga mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu Return On Invesment (ROI) industri automotive and allied product tahun 2000-2003. Sedangkan secara simultan terbukti mempunyai pengaruh yang signifikan dan secara parsial terbukti bahwa variabel efisiensi modal kerja berpengaruh positif secara signifikan terhadap profitabilitas dan perubahan hutang lancar berpengaruh negatif secara signifikan terhadap profitabilitas (ROI). Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Indri Astuti (2003) terletak pada variable, rasio-rasio dan populasi. Indri Astuti menggunakan variabel yang lebih banyak yaitu likuiditas, tingkat hutang, efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas, tingkat perubahan hutang lancar dan profitabilitas. Sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan 4 variabel yaitu efisiensi modal kerja menggunakan rasio working capital turnover, likuiditas menggunakan rasio current ratio, solvabilitas menggunakan rasio debt to equity ratio (DTA) dan profitabilitas menggunakan rasio return on investment (ROI). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak di sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEJ yaitu sebanyak 35 perusahaan dari tahun 2001-2005. Sedangkan alat analisis dalam penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri Astuti (2003).

33

2.7.Kerangka Berfikir Tunggal (1995:165) menyebutkan indikasi pengelolaan modal kerja yang baik adalah adanya efisiensi modal kerja yang dapat dilihat dari perputaran modal kerja yang dimiliki dari asset kas di investasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Efisiensi modal kerja dapat dilihat dari perputaran modal kerja (working capital turnover), perputaran persediaan (inventory turnover), dan perputaran piutang (receivable turnover). Perputaran modal kerja dimulai dari saat kas dinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode peputaran modal kerja makin cepat perputarannya, sehingga modal kerja semakin tinggi dan perusahaan makin efisien yang pada akhirnya rentabilitas meningkat. Pengelolaan manajemen modal kerja yang baik dapat dilihat dari efisiensi modal kerja. Pengukuran efissiensi modal kerja umumnya diukur dengan melihat perputaran modal kerja (working capital turnover), Jika perputaran modal kerja semakin tinggi maka semakin cepat dana atau kas yang diinvestasikan dalam modal kerja kembali menjadi kas, hal itu berarti keuntungan perusahaan dapat lebih cepat diterima. Perusahaan yang tidak dapat memperhitungkan tingkat modal kerja yang memuaskan, maka perusahaan kemungkinan mengalami insolvency (tak mampu memenuhi kewajiban jatuh tempo) dan bahkan mungkin terpaksa harus dilikuidasi. Aktiva lancar harus cukup besar untuk dapat menutup hutang lancar sedemikian rupa, sehingga menggambarkan adanya tingkat keamanan (margin safeti) yang memuaskan. Sementara itu, jika perusahaan menetapkan modal kerja yang berlebih akan menyebabkan perusahaan overlikuid sehingga menimbulkan dana mengaggur yang akan mengakibatkan inefisiensi perusahaan, dan membuang kesempatan memperoleh laba.

34

Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, perusahaan dihadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas (Van Horne, 1997: 217). Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam jumlah yang besar, kemungkinan tingkat likuiditas akan terjaga namun kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya profitabilitas. Sebaliknya jika perusahaan ingin memaksimalkan profitabilitas, kemungkinan dapat mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan. Makin tinggi likuiditas, maka makin baiklah posisi perusahaan di mata kreditur. Oleh karena terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa perusahaan akan dapat membayar kewajibannya tepat pada waktunya. Di lain pihak ditinjau dari segi sudut pemegang saham, likuiditas yang tinggi tak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan (Tunggal,1995 : 157). Selain masalah tersebut di atas perusahaan juga dihadapkan pada masalah penentuan sumber dana. Jika perusahaan menggunakan lebih banyak hutang dibanding modal sendiri maka tingkat solvabilitas akan menurun karena beban bunga yang harus di tanggung juga meningkat. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas. Pada dasarnya, jika perusahaan meningkatkan jumlah utang sebagai sumber dananya hal tersebut dapat meningkatkan risiko keuangan. Jika perusahaan tidak dapat mengelola dana yang diperoleh dari utang secara produktif, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang negatif dan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas perusahaan. Sebaliknya jika utang tersebut dapat dikelola dengan baik dan digunakan

35

untuk proyek investasi yang produktif, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang positif dan berdampak terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan. Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah debt to total asset. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Kreditur lebih menyukai rasio utang yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. Di sisi lain, pemegang saham akan menginginkan leverage yang lebih besar karena akan dapat meningkatkan laba yang diharapkan. Rasio profitabilitas adalah ukuran untuk mengetahui seberapa jauh aktivitas manajemen dalam mengelola perusahaannya. Efektifititas manajemen meliputi kegiatan fungsional manajemen, seperti keuangan, pemasaran, sumber daya manusia dan operasional. Jadi banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas yang kemudian meningkatkan atau menurunkan laba. Meskipun demikian, analisis rasio keuntungan dapat memberikan gambaran keuntungan yang diperoleh perusahaan (Rangkuti, 2004: 79). Metode yang umum digunakan dalam evaluasi kinerja perusahaan adalah membandingkan seluruh sumber yang digunakan dengan laba yang diperoleh. Model pengukuran yang dipakai adalah analisis pengembalian investasi atau return on investment (ROI). Rasio ini membandingkan hasil yang dipeoleh dari operasi perusahaan dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut. Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu apabila dikaitkan dengan teori yang diungkapkan oleh Tunggal, Van Horne dan Sawir menunjukkan adanya suatu masalah

36

atau gap antara teori dengan kenyataan. Masalah tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian yang tidak konsisten. Berdasarkan masalah yang ada, maka dapat dibuat suatu kerangka berfikir dari pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas dan solvabilitas terhadap profitabilitas secara sistematis pada gambar berikut: terhadap

Efisiensi Modal Kerja Working Capital Turnover (X1)
Likuiditas Current Ratio (X2) Solvabilitas Total Debt to Total Capital Assets (X3)

Profitabilitas Return on Investment (Y)

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

2.8.Hipotesis Hipotesis pada dasarnya adalah suatu anggapan yang mungkin benar dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan, pemecahan persoalan maupun dasar penelitian lebih lanjut (J.Supranto, 2001), anggapan sebagai satu hipotesis juga merupakan data tetapi karena kemungkinan bisa salah, apabila akan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan harus diuji dahulu dengan memakai data hasil observasi. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah : Hipotesis 1 : Ada pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas secara parsial. Hipotesis 2 : Ada pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas secara parsial.

37

Hipotesis 3 : Ada pengaruh solvabilitas terhadap profitabilitas secara parsial. Hipotesis 4 : Ada pengaruh antara efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas secara simultan.

38

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan Sampel Populasi adalah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif, dari pada karakteristik tertentu mengenai sekelompok obyek yang lengkap dan jelas (Usman, 2003: 181). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan kelompok industri barang konsumsi yang sudah go public di Bursa Efek Jakarta periode waktu 2002-2005 di mana data diperoleh dari sumber data sekunder. Sumber data sekunder adalah data-data yang dikumpulkan oleh peneliti melalui pihak kedua atau tangan kedua (Usman, 2003: 20). Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan dianggap dapat menggambarkan populasinya (Soehartono, 1999: 57). Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive sampling. Teknik ini ditentukan untuk memilih anggota sampel secara khusus berdasarkan tujuan penelitian dan kesesuaian kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Adapun kriteria-kriteria dipilihnya anggota populasi menjadi sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kelompok industri barang konsumsi dan listing di Bursa Efek Jakarta, yang mencantumkan laporan keuangannya berturut-turut dari tahun 2002-2005. Berdasarkan kriteria-kriteria di atas, dari tahun 2002-2005, ternyata terdapat 43 perusahaan, namun untuk memenuhi kebutuhan analisis yaitu syarat distribusi normal maka perusahaan-perusahaan yang memiliki laporan keuangan terlalu ekstrim tidak masuk dalam sampel penelitian. Dari 43 perusahaan tersebut terdapat 17 perusahaan yang memiliki laporan keuangan yang tidak ekstrim.

39

3.2. Variabel Penelitian Variabel dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian (Suryabrata, 2003: 25). Ada dua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu variabel independen atau variabel bebas yang selanjutnya dinyatakan dengan simbol X dan variabel dependen atau variabel tidak bebas yang selanjutnya dinyatakan dengan simbol Y. 1. Variabel Bebas (X) Variabel bebas merupakan variabel yang diduga mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: a. Efisiensi Modal Kerja (X1) Modal kerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah modal kerja konsep kualitatif yaitu kelebihan aktiva lancar diatas utang lancar yang harus dibayar. Variabel efisiensi modal kerja ini diukur dengan melihat tingkat perputaran modal kerja (working capital turnover). Rasio perputaran modal kerja (working capital turnover) menunjukkan banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Indikator-indikator dari working capital turnover adalah sebagai berikut : 1). Penjualan bersih 2). Aktiva lancar Aktiva lancar adalah aktiva perusahaan yang berupa kas atau aktiva yang lain yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam satu tahun atau dalam siklus kegiatan normal perusahaan jika melampaui satu tahun. Pos-pos neraca yang masuk dalam perkiraan aktiva

40

lancar adalah kas, investasi jangka pendek, piutang wesel, piutang dagang, piutang penghasilan, persediaan, dan biaya dibayar di muka. 3). Utang lancar Utang atau kewajiban lancar adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca). Pos-pos neraca yang masuk ke dalam perkiraan utang lancar adalah utang dagang, utang wesel, utang pajak, biaya yang masih harus dibayar, utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, pendapatan diterima di muka. Untuk mengukur besarnya Working Capital Turnover (WCT) digunakan formula : Penjualan Bersih WCT = Aktiva Lancar – Hutang Lancar b. Likuiditas (X2) Variabel likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan current ratio (CR). Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Indikator-indikator dari current ratio adalah sebagai berikut : 1). Aktiva lancar Aktiva lancar adalah aktiva perusahaan yang berupa kas atau aktiva yang lain yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam satu tahun atau dalam siklus kegiatan normal perusahaan jika melampaui satu tahun. Pos-pos neraca yang masuk dalam perkiraan aktiva X 100%

41

lancar adalah kas, investasi jangka pendek, piutang wesel, piutang dagang, piutang penghasilan, persediaan, dan biaya dibayar di muka. 2). Utang lancar Utang atau kewajiban lancar adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca). Pos-pos neraca yang masuk ke dalam perkiraan utang lancar adalah utang dagang, utang wesel, utang pajak, biaya yang masih harus dibayar, utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, pendapatan diterima di muka. Untuk mengukur besarnya current ratio digunakan formula : Current Ratio = c. Solvabilitas (X3) Variabel solvabilitas dalam penelitian ini diukur dengan Total debt to total capital assets ratio. Total debt to total capital assets merupakan rasio yang menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Indikator-indikator dari Total debt to total capital assets adalah sebagai berikut: 1). Utang Lancar Utang/kewajiban lancar adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca). Pos-pos neraca yang masuk ke dalam perkiraan utang lancar adalah utang dagang, utang wesel, utang pajak, biaya Aktiva Lancar Hutang Lancar X 100%

42

yang masih harus dibayar, utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, pendapatan diterima di muka. 2). Utang Jangka Panjang Utang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya masih panjang atau lebih dari satu tahun. Utang jangka panjang meliputi utang obligasi, utang hipotik, dan pinjaman jangka panjang lainnya. 3). Total Aktiva Aktiva adalah kekayaan perusahaan yang berwujud dan tak berwujud, serta pengeluaran yang belum dialokasikan atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang. Secara umum, aktiva dibagi menjadi dua: Untuk mengukur besarnya solvabilitas digunakan formula : Total Utang Debt to Total Assets = Total Aktiva 2. Variabel Terikat (Y) Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah profitabilitas yang diwakili oleh return on investment (ROI). Return on Investment merupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan hasil usaha yang diperoleh dari operasi perusahaan (net operating income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut. (Rangkuti, 2004: 80).Indikator-indikator dari return on investment adalah sebagai berikut: a. Laba setelah pajak X 100%

43

b. Total aktiva Dengan demikian pengukuran variabel tersebut menggunakan skala rasio. Untuk mengukur besarnya ROI digunakan formulasi : Laba Setelah Pajak ROI 3.3. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipakai adalah data sekunder, berupa data-data laporan keuangan perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 20022005 yang diperoleh dari pihak kedua atau tangan kedua. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan industri barang konsumsi yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory yang diterbitkan oleh Bursa Efek Jakarta, JSX Statistics, laporan hasil penelitian ilmiah dan jurnal penelitian ilmiah. = Total Aktiva X 100%

3.4. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data ini adalah metode dokumentasi. Metode dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian (Suhartono, 1999:70). Metode ini dilakukan dengan mencatat atau mengumpulkan data-data yang tercantum pada Indonesian Capital Market Directory yang berupa data laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang tergabung di dalam industri barang konsumsi yang listing di BEJ tahun 2002-2005

3.5. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian agar dapat diinterpretasikan dan mudah dipahami adalah:

44

1. Analisis Deskriptif Penggunaan analisis deskriptif ini ditujukan untuk mengetahui gambaran kondisi efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas melalui return on investment perusahaan yang dikomparasikan secara eksternal, yaitu melibatkan satu perusahaan yang dibandingkan dengan kondisi rata-rata dari seluruh objek penelitian. 2. Analisis Regresi Berganda Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Regresi berganda berguna untuk meramalkan pengaruh dua variabel prediktor atau lebih terhadap satu variabel kriterium atau untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional antara dua buah variabel bebas (X) atau lebih dengan sebuah variabel terikat (Y) (Usman, 2003: 241). Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh working capital turnover, current assets, dan total debt to total capital assets terhadap return on investment pada industri barang konsumsi yang go publik di BEJ periode waktu 2003 dan 2004. Formulasi persamaan regresi berganda sendiri adalah sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Dimana: Y a b1 – b3 X1 X2 : Return On Investment : Bilangan Konstanta : Koefisien Regresi : Working Capital Turnover : Current Ratio

45

X3 E

: Debt to Total Assets : Variabel Pengganggu

3. Uji t atau Uji Parsial Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, yaitu pengaruh dari masing-masing variabel independen yang terdiri atas efisiensi modal kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas yang merupakan variabel dependennya. Seperti halnya dengan uji hipotesis secara simultan, pengambilan keputusan uji hipotesis secara parsial juga didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS Statistik Parametrik (Santoso 2004:168) sebagai berikut: a). Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima. b). Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Pada uji t, nilai probabilitas dapat dilihat pada hasil pengolahan dari program SPSS pada tabel coefficients kolom sig atau significance. 4. Uji F atau Uji Simultan Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersamasama terhadap variabel dependen dari suatu persamaan regresi dengan menggunakan hipotesis statistik. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS Statistik Parametrik (Santoso 2004:168) sebagai berikut: a). Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima. b). Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Nilai probabilitas dari uji F dapat dilihat pada hasil pengolahan dari program SPSS pada tabel ANOVA kolom sig atau significance

46

5. Koefisien Determinasi Koefisien determinasi (R2) dari hasil regresi berganda menunjukkan seberapa besar variabel dependen bisa dijelaskan oleh variabel-variabel bebasnya 2004:167). Dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda maka masingmasing variabel independent yaitu efisiensi modal kerja, likuiditas dan solvabilitas secara parsial dan secara simultan mempengaruhi variabel dependen yaitu profitabilitas yang dinyatakan dengan R2 untuk menyatakan koefisien determinasi atau seberapa besar pengaruh variabel efisiensi modal kerja, likuiditas, dan (Santoso

solvabilitas terhadap variabel profitabilitas. Sedangkan r2 untuk menyatakan koefisien determinasi parsial variabel independent terhadap variabel dependen. Besarnya koefisien determinasi adalah 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati nol, maka semakin kecil pula pengaruh semua variabel independent terhadap nilai variabel dependen (dengan kata lain semakin kecil kemampuan model dalam menjelaskan perubahan nilai variabel dependen). Sedangkan jika koefisien determinasi mendekati 1 maka dapat dikatakan semakin kuat model tersebut dalam menerangkan variasi variabel independent terhadap variabel terikat. Angka dari R square didapat dari pengolahan data melalui program SPSS yang bisa dilihat pada tabel model summery kolom R square. 6. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah model regresi benarbenar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representatif. Ada empat pengujian dalam uji asumsi klasik, yaitu: a. Uji Multikolinieritas

47

Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (independen) (Ghozali, 2001: 57). Apabila terjadi korelasi antara variabel bebas, maka terdapat problem multikolinieritas (multiko) pada model regresi tersebut. Deteksi adanya multikolineriaritas 1). Besaran VIF (variance inflation faktor) dan Tolerance Model regresi yang bebas multikolinearitas adalah : 1. Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1. 2. Mempunyai angka tolerance mendekati 1. 2). Besaran kolerasi antar variabel independen Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah koefisien korelasi antar variabel independent haruslah lemah di bawah 0,05. Jika korelasi kuat maka terjadi problem multiko (Santoso 2004:207). b. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas ditujukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastis dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2001: 69). Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat diketahui dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID) di mana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y

48

sesungguhnya). Dasar analisis dari uji heteroskedastis melalui grafik plot adalah sebagai berikut: 1). Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. 2). Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. c. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data akan dibandingkan dengan dengan garis diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menghubungkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Ghozali 2001:83). Deteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Menurut Santoso (2004:214), dasar pengambilan keputusan dari uji normalitas adalah: 1). Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. 2). Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian Dalam penelitian ini obyek yang diteliti merupakan perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi. Perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di BEJ yang menjadi sampel penelitian sebanyak 20 perusahaan. Dilihat dari tahun berdirinya, menunjukkan bahwa Tabel 4.1 Distribusi Tahun Berdiri Perusahaan No 1 2 3 4 Tahun berdiri 1933-1950 1951-1967 1968-1983 1984-2000 Jumlah Frekuensi 1 3 12 4 20 Persentase 5 15 60 20 100

Berdasarkan Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan industri barang konsumsi berdiri antara 1968-1983 yaitu mencapai 60%, selebihnya 20% beridiri antara tahun 1984-2000, 15% antara 1951-1967 dan 5% beridiri antara tahun 1933-1950. Status perusahaannya, sebagian besar perusahaan dalam negeri. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.2 Tabel 4.2 Status Perusahaan No. 1 2 Status Perusahaan PMDN PMA Jumlah Jumlah 15 5 20 Persentase 75 25 100

50

Berdasarkan Tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa status perusahaan yang menjadi sampel penelitian adalah PMA sebanyak 5 perusahaan atau 25% dan PMDN sebanyak 15 perusahaan atau 95%. Dengan demikian menunjukkan bahwa sebagian perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini berstatus PMDN. Jenis usaha yang dijalankan perusahaan sebagian besar bergerak di bidang makanan, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.3 Tabel 4.3 Jenis Usaha No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis usaha Minuman Makanan Industri Rokok Industri kimia Obat-obatan Industri farmasi Kosmetik Jumlah Frekuensi Persentase 3 15 6 30 2 10 1 5 2 10 3 15 3 15 20 100

Berdasarkan Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa 30% perusahaan bergerak di bidang makanan, 15% dalam bidang minuman, 15% industri farmasi, 15% industri kosmetik, 10% obat-obatan, 10% industri rokok dan 5% industri kimia. Sedangkan, gambaran tentang tahun masuk di BEJ dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.4 Distribusi First Issue Perusahaan First Issue Perusahaan 1971-1979 1980-1986 1987-1994 1995-2001 Jumlah Frekuensi 2 5 7 6 20 Persentase 10 25 35 30 100

51

Berdasarkan Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan manufaktur yang menjadi sampel penelitian ini memiliki first issue antara 1987-1994 sebanyak 7 perusahaan atau 35%, selebihnya 6 perusahaan (30%) antara tahun 19952001, sebanyak 5 perusahaan (25%) antara 1980-1986 dan 2 perusahaan (10%) antara 1971-1979. Gambaran tentang usia perusahaan sampel dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.5 Distribusi Usia Perusahaan Usia perusahaan (th) 7-24 25-41 42-57 58-74 Jumlah Frekuensi Persentase 4 20 12 60 3 15 1 5 20 100

Terlihat pada Tabel 4.5 diatas, sebanyak 12 perusahaan (60%) berumur 25-41 tahun, selebihnya 4 perusahaan (20%) antara 7-24 tahun, 3 perusahaan (15%) berumur 42-57 tahun dan hanya 1 perusahaan (5%) telah berumur antara 58-74 tahun. 4.1.2 Gambaran Umum Variabel Penelitian

4.1.2.1 Efisiensi Modal Kerja Efisiensi modal kerja dalam kajian penelitian ini diukur menggunakan perputaran modal kerja atau working capital turnover. Modal kerja yang dipakai merupakan modal kerja konsep kualitatif yaitu kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancar yang harus dibayar. Rasio perputaran modal kerja ini menunjukkan banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Working capital turnover (WCT) merupakan perbandingan penjualan bersih

52

dengan selisih aktiva lancar dan hutang lancar. Dengan kata lain dinyatakan dengan WTC = Penjualan Bersih X 100% Aktiva Lancar - Hutang Lancar

Hasil perhitungan WTC selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum pada tabel 4.6. Tabel 4.6 Gambaran Umum Efisiensi Modal Kerja
Interval 1.16 5.33 9.50 13.68 17.85 < WCT < < WCT < < WCT < < WCT < < WCT < Jumlah 5.33 9.50 13.68 17.85 22.02 Frekuensi 2003 2004 11 12 5 4 1 1 0 0 0 0 17 17 Persentase 2003 2004 64.7 70.6 29.4 23.5 5.9 5.9 0.0 0.0 0.0 0.0 100 100

2002 12 2 2 0 1 17

2005 13 3 0 0 1 17

2002 70.6 11.8 11.8 0.0 5.9 100

2005 76.5 17.6 0.0 0.0 5.9 100

Terlihat dari Tabel 4.6 diatas sebagian besar perusahaan baik dari tahun 2002 hingga 2005 memiliki WCT antara 1,16 sampai dengan 5,33. 4.1.2.2 Likuiditas Likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan current ratio (CR). Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Current Ratio ini merupakan perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar atau dinyatakan dengan CR =

Aktiva Lancar X 100% Hutang Lancar

Hasil perhitungan CR selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum pada tabel 4.7.

53

Tabel 4.7 Gambaran Umum Likuiditas
Interval 117.66 290.46 463.26 636.06 808.86 < CR < < CR < < CR < < CR < < CR < Jumlah 290.46 463.26 636.06 808.86 981.66 Frekuensi 2003 2004 7 9 4 4 4 4 1 0 1 0 17 17 Persentase 2003 2004 41.2 52.9 23.5 23.5 23.5 23.5 5.9 0.0 5.9 0.0 100 100

2002 9 5 2 1 0 17

2005 8 5 1 3 0 17

2002 52.9 29.4 11.8 5.9 0.0 100

2005 47.1 29.4 5.9 17.6 0.0 100

Terlihat dari Tabel 4.7 diatas sebagian besar perusahaan memiliki CR antara 117,66 sampai dengan 290,46 dan sebagian lagi antara 290,46 sampai dengan 463,26.
4.1.2.3 Solvabilitas

Solvabilitas dalam penelitian ini diukur dengan total debt to total assets ratio. Solvabilitas ini menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Dept to total assets ini merupakan perbandingan total hutang dengan total aktiva atau DTA =
Total Utang X 100% Total Aktiva

Hasil perhitungan solvabiltias selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum pada tabel 4.8. Tabel 4.8 Gambaran Umum Solvabilitas
Interval 10.46 22.41 34.37 46.33 58.29 < DTA < < DTA < < DTA < < DTA < < DTA < Jumlah 22.41 34.37 46.33 58.29 70.24 Frekuensi 2003 2004 7 6 1 5 6 3 2 2 1 1 17 17 Persentase 2003 2004 41.2 35.3 5.9 29.4 35.3 17.6 11.8 11.8 5.9 5.9 100 100

2002 7 2 5 1 2 17

2005 6 3 6 0 2 17

2002 41.2 11.8 29.4 5.9 11.8 100

2005 35.3 17.6 35.3 0.0 11.8 100

Terlihat dari Tabel 4.8, sebagian besar memiliki DTA pada interval 10,46 sampai dengan 22,41 dan sebagian pada interval 34,37 sampai 46,33.

54

4.1.2.4 Profitabilitas

Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan return on in investment (ROI). ROI dihitung dengan perbandingan laba setelah pajak dengan total aktiva.

ROI =

Laba setelah pajak X 100% Total aktiva Hasil perhitungan profitabilitas selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan

terangkum pada tabel 4.9. Tabel 4.9 Gambaran Umum Profitabilitas
Interval 0.01 0.08 0.16 0.24 0.32 < ROI < < ROI < < ROI < < ROI < < ROI < Jumlah 0.08 0.16 0.24 0.32 0.40 Frekuensi 2003 2004 6 5 6 6 3 3 1 2 1 1 17 17 Persentase 2003 2004 35.3 29.4 35.3 35.3 17.6 17.6 5.9 11.8 5.9 5.9 100 100

2002 5 7 4 1 0 17

2005 7 5 2 2 1 17

2002 29.4 41.2 23.5 5.9 0.0 100

2005 41.2 29.4 11.8 11.8 5.9 100

Terlihat dari Tabel 4.9 diatas, sebagian besar persuahaan memiliki profitabilitas antara 0,01 sampai dengan 0,24 yang berarti bahwa nilai ROI lebih banyak pada kisaran 1% hingga 24%.
4.1.3 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik merupakan prasyarat analisis regresi ganda. Dalam uji asumsi klasik ini meliputi uji normalitas, uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas. Apabila data tidak berdistribusi normal dan mengandung heteroskedastisitas maka perlu adanya perbaikan model regresi dengan cara mentransformasi data dalam bentuk logaritma. Data hasil transformasi tersebut selanjutnya dianalis kembali menggunakan analisis regresi. Apabila data masih mengandung multikolinieritas maka salah satu variabel bebas dihilangkan.

55

4.1.3.1 Uji Normalitas

Hasil uji normalitas dalam kajian penelitian ini menggunakan P-P plot. Apabila grafik yang diperoleh dari output SPSS ternyata titik-titik mendekati garis diagonal, dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal. Lebih jelasnya hasil uji normalitas data dapat dilihat pada grafik berikut.

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Dependent Variable: ROI
1.0

0.8

Expected Cum Prob

0.6

0.4

0.2

0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Observed Cum Prob

Gambar 5 P-P Plot pengujian normalitas model regresi Terlihat dari grafik di atas, titik-titik mendekati garis diagonal yang berarti bahwa model regresi berdistribusi normal. Di samping dari P-P plot, kenormalan model regresi dapat dilihat dari nilai skewnes dan kurtosis. Imam Ghozali (2005:28)

56

menyatakan bahwa secara statistik ada dua komponen normalitas yaitu nilai skewnes dan kurtosis. Skewnes berkaitan dengan simetri distribusi, sedangkan kurtosis berkaitan dengan puncak dari distribusi. Dengan menggunakan program SPSS akan diperoleh nilai skewnes dan kurtosis, sedangkan pengujiannya dengan rumus sebagai berikut. Z skew =
S−0 dan 6 N

Z kurt =

K−0 24 N

Apabila nilai Z skew dan Z Kurt > Z tabel dapat disimpulkan model regresi tidak berdistribusi normal. Hasil uji skewnes dan kurtosis selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.10. Tabel 4.10 Hasil Uji Skewnes dan Kurtosis
Descriptive Statistics N Statistic 68 Skewness Statistic .719 Std. Error .291 Kurtosis Statistic .165 Std. Error .574

Unstandardized Residual

Terlihat dari Tabel 4.10, diperoleh nilai skewnes sebesar 0,719 dan nilai kurtosis sebesar 0,165. Dengan kedua rumus di atas, maka diperoleh: Z skew =
0,719 = 0,988 6 68 0,165 = 0,057 24 68

Z kurt =

57

Nilai Z skewnes dan Z kurtosis tersebut < Z tabel (1,96) yang berarti bahwa model regresi tersebut berdistribusi normal.
4.1.3.2 Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah antara variabel bebas memiliki hubungan yang sempurna atau tidak. Syarat diterimanya model regresi ganda apabila antara variabel bebas tidak mengandung korelasi yang sempurna. Pengujian multikolinieritas dapat dilihat dari nilai variance inflance faktor (VIF) berdasarkan hasil output SPSS. Apabila nilai VIF < 10 dan mendekati 1 dapat disimpulkan bahwa asumsi adanya multikolinieritas ditolak. Hasil analisis multikolinieritas selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.11. Tabel 4.11. Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa Collinearity Statistics Tolerance VIF .612 1.635 .617 1.620 .728 1.373

Model 1

WCT CR DTA

a. Dependent Variable: ROI

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai VIF untuk variabel efisiensi modal kerja (WCT) sebesar 1,006, untuk likuiditas (CR) sebesar 1,620 dan untuk variabel solvabiltas (DTA) sebesar 1,373. Ketiga nilai VIF < 10 yang berarti bahwa model regresi tidak mengandung multikolinieritas.
4.1.3.3 Uji Heterokedastisitas

Secara grafis dapat dilihat dari multivariate standardized Scatterplot. Dasar pengambilannya apabila sebaran nilai residual terstandar tidak membentuk pola tertentu

58

namun tampak random dapat dikatakan bahwa model regresi bersifat homogen atau tidak mengandung heteroskedastisitas. Lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut.

Scatterplot

Dependent Variable: ROI
3

Regression Studentized Residual

2

1

0

-1

-2 -2 -1 0 1 2 3 4

Regression Standardized Predicted Value

Gambar 6 Uji Heteroskedastisitas Terlihat dari grafik 6, titik-titik tersebar di sekitar nol pada sumbu vertikal dan tidak membentuk pola tertentu atau terlihat acak, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengandung heteroskedastisitas atau bersifat homogen.
4.1.4 Uji Hipotesis

Analisis pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas dan solvabilitas terhadap profitabilitas dapat dilihat dari analisis regresi berganda yang selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum pada tabel berikut.

59

Tabel 4.12 Ringkasan Hasil Analisis Regresi
Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Error .083 .048 .008 .004 .000 .000 -.001 .001 Standardized Coefficients Beta .316 .225 -.141 Correlations Partial .249 .180 -.124

Model 1

(Constant) WCT CR DTA

t 1.744 2.055 1.468 -1.002

Sig. .086 .044 .147 .320

a. Dependent Variable: ROI

Sumber: Data Primer yang diolah Berdasarkan hasil analisis regresi seperti tertera pada ringkasan Tabel 4.12 di atas diperoleh persamaan model regresi yang distandarkan yaitu: Profitabilitas = 0,316WTC + 0,225CR - 0,141 DTA Model regresi tersebut menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikan working capital turnover (WCT) satu satuan akan diikuti kenaikan profitabilitas sebesar 0,316.
4.1.4.1 Uji Hipotesis Secara Parsial 1. Pengaruh Efisiensi Modal Kerja terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas dengan menggunakan program SPSS diperoleh thitung sebesar 2,055 dengan nilai p value 0,044. Karena nilai p value 0,044 < 0,05 dapat disimpulkan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas. Dengan meningkatnya efisiensi modal kerja diikuti dengan meningkatnya profitabilitas pada industri barang konsumsi
2. Pengaruh Likuiditas terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan program SPSS diperoleh thitung sebesar 1,468 dengan nilai signifikansi 0,147. Karena nilai p value > 0,05 dapat disimpulkan Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh likuiditas

60

terhadap profitabilitas. Dengan meningkatnya likuiditas tidak menjamin akan diikuti dengan meningkatnya profitabilitas.
3. Pengaruh Solvabilitas terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan program SPSS diperoleh thitung sebesar -1002 dengan nilai signifikansi 0,320. Karena nilai p value > 0,05 dapat disimpulkan Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh solvabilitas terhadap profitabilitas. Dengan meningkatnya solvabilitas tidak menjamin akan diikuti dengan meningkat atau menurunnya profitabilitas.
4.1.4.2 Uji Hipotesis Secara Simultan

Pengujian hipotesis yang menyatakan ada pengaruh secara simultan efisiensi modal kerja, likuiditas, solvabilitas dapat dilihat dari hasil uji F seperti pada tabel 4.12. Tabel 4.13 Uji Simultan (Uji F)
ANOVAb Model 1 Sum of Squares .044 .545 .589 df 3 64 67 Mean Square .015 .009 F 1.735 Sig. .169a

Regression Residual Total

a. Predictors: (Constant), DTA, CR, WCT b. Dependent Variable: ROI

Hasil uji F diperoleh F

hitung

= 1,735 dengan nilai p value = 0,169 > 0,05,

sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho diterima, yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan efisiensi modal kerja, likuiditas dan solvabilitas secara simultan terhadap profitabilitas.

61

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa secara parsial efisiensi modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas, terbukti dari hasil uji t dengan nilai p value = 0,044 < 0,05. Dari hasil analisis regresi diperoleh koefisien β yang bertanda positif yaitu 0,3328 yang berarti bahwa setiap terjadi kenaikan satu persen efisiensi modal kerja akan diikuti dengan kenaikan profitabilitas sebesar 0,316 Hal ini dapat terjadi karena perputaran modal kerja itu sendiri dimulai dari saat kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode perputaran modal kerja makin cepat perputarannya, sehingga modal kerja semakin tinggi dan perusahaan makin efisien yang pada akhirnya rentabilitas meningkat (Tunggal, 1995 : 165). Pengelolaan manajemen modal kerja yang baik dapat dilihat dari efisiensi modal kerja. Jika perputaran modal kerja semakin tinggi maka semakin cepat dana atau kas yang diinvestasikan dalam modal kerja kembali menjadi kas, hal itu berarti keuntungan perusahaan dapat lebih cepat diterima. Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, perusahaan dihadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas (Van Horne, 1997 : 217). Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam jumlah yang besar, kemungkinan tingkat likuiditas akan terjaga namun kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada akhirnya berdampak menurunnya profitabilitas. Sebaliknya jika perusahaan ingin memaksimalkan profitabilitas, maka makin baiklah posisi perusahaan di mata kreditur. Oleh karena terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa perusahaan akan dapat membayar kewajibannya tepat pada waktunya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Indri Astuti (2003) yang melakukan penelitian mengenai pengaruh manajemen modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan automotive and allied product yang go public di BEJ

62

yang memberikan kesimpulan bahwa efisiensi modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Berdasarkan hasil analisis regresi melalui uji parsial ternyata likuditas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini ditunjukkan dari p value = 0,147 > 0,05. Hal ini berarti pula bahwa likuiditas yang tinggi tidak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan (Van Horne,1997: 217). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil dari penelitian Siwi (2005) menunjukkan bahwa secara parsial likuiditas (current ratio) tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang go public di BEJ dari tahun 1998-2002. Dari hasil analisis regresi melaui uji parsial ternyata solvabilitas juga tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini ditunjukkan dari p value = 0,320 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan solvabilitas tidak berdampak pada perubahan profitabilitas. Dalam penentuan sumber dananya, perusahaan dapat menerapkan kebijakan leverage tinggi yaitu menggunakan lebih banyak hutang dibanding modal sendiri atau menggunakan kebijakan leverage rendah yaitu menggunakan modal sendiri dibanding hutang. Kebijakan leverage tinggi akan menyebabkan tingginya beban bunga yang harus ditanggung sehingga hal ini berpengaruh negatif terhadap profitabilitas. Sedangkan secara simultan dapat diketahui bahwa variabel independen yang digunakan yaitu variabel efisiensi modal kerja (WCT), likuiditas (CR), dan solvabilitas (DTA) tidak berpengaruh terhadap profitabilitas (ROI) perusahaan industri barang konsumsi di BEJ.

63

Hal ini dapat dilihat dari nilai F yang dihasilkan yaitu 1735 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,169 yang lebih besar dari tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 0,005. Nilai Adjusted R Square hanya sebesar 0,032 yang memiliki arti bahwa perubahan profitabilitas (ROI) perusahaan industri barang konsumsi dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu efisiensi modal kerja (WCT), likuiditas (CR), dan solvabilitas (DTA) yaitu sebesar 3,2 persen saja. Sedangkan sisanya sebesar 94,8 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model.Hal ini tidak konsisten dengan teori yang menyatakan bahwa profitabilitas (ROI) dipengaruhi oleh efisiensi modal kerja (WCT), likuiditas (CR), dan solvabilitas (DTA).

64

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan: 1. Secara parsial efisiensi modal kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdafatar di BEJ dari tahun 2002-2005. 2. Secara parsial likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdafatar di BEJ dari tahun 2002-2005. 3. Secara parsial solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdafatar di BEJ dari tahun 2002-2005. 4. Secara simultan efisiensi modal kerja, likuiditas dan solvabilitas tidak berpenagruh terhadap profitabilitas pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdafatar di BEJ dari tahun 2002-2005, karena hanya sebesar 3,2%.
5.2 Saran

1. Untuk peneliti selanjutnya, diusahakan perusahaan yang menjadi sampel penelitian bisa dibedakan dari penelitian ini. Mungkin dengan berbedanya sampel penelitian yang diambil, maka variabel likuiditas, dan solvabilitas bisa berpengaruh terhadap variabel profitabilitas. Meskipun dalam penelitian ini ternyata likuiditas dan solvabilitas tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. 2. Pihak manajemen perusahaan hendaknya mampu mempertahankan modal kerjanya secara efisien. Karena apabila modal kerja dalam perusahaan menunjukkan tingkat efisiensi yang tinggi/stabil maka profitabilitas akan meningkat. Selain itu manajemen perusahaan harus menjaga likuiditasnya secara baik, karena apabila

65

likuiditasnya terlalu tinggi justru akan menyebabkan profitabilitas menurun. Selain itu juga, manajemen perusahaan harus memperhatikan solvabilitasnya. Jika perusahaan dalam membiayai solvabilitasnya dengan menggunakan dana pinjaman/hutang dari pihak luar maka akan menyebabkan profitabilitas menurun. Untuk itu manajemen perusahaan harus menjaga modal kerja, likuiditas dan solvabilitas secara baik dan efisien agar perusahaan mampu menghasilkan profitabilitas/laba yang diharapkan perusahaan.

66

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Indri. 2003. ” Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Perusahaan Automotive and Allied Product Yang Go Publik di BEJ”. Brigham, F, Eugene, dan Houston, F, Joel. 2001. Manajemen Keuangan. Jakarta: Erlangga. Dani. 2003. ”Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Efisiensi Modal Kerja Terhadap Profitabilitas (Studi Kasus Pada PT Modern Toolsindo Bekasi)”. Faurani I Santi Singangerda. 2004. ”Analisis Pengaruh Modal Kerja Terhadap Profitabilitas dan Rentabilitas Pada Koperasi Dharma Wanita Mandalika Mataram Nusa Tengggra Barat. Jurnal manajemen keuengan, volume 2, no.1. 2004 Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariante dengan Program SPSS Edisi 2. Semarang: UNDIP. Hanafi, M, Mamduh, Dr, MBA dan Halim, Abdul, Prof, Dr, MBA., Akt. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: AMP-YKPN. Husnan, Suad. 1997. Manajemen Keuangan teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang). Yogyakarta: BPFE. Indonesian Capital Market Directory 2001-2005, Jakarta : Bursa efek Jakarta. Nurgraeni, Siwi. 2005. ”Analisis Pengaruh Efisiensi Modal Kerja, Likuiditas, dan Solvabilitas Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Property And Real Estate Yang Go Publik di Bursa Efek Jakarta”. Riyanto, Bambang, Prof, Dr. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE. Rangkuti, Freddy. 2004. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Santoso, Singgih. 2004. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Sawir, Agnes. 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sartono, Agus, R. Drs, MBA. 1998. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE.

67

Soehartono, Irawan. 1999. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Tunggal, Widjaja, Amin. 1995. Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta : Rhineka Cipta. Usman, Husaini, M.Pd. dan Akbar, Setiadi, Purnomo, S.Pd, M. Pd. 2003. Pengantar Statistika. Jakarta: PT Bumi Aksara. Van Horne, James, C dan John, M, Machowicz, Jr. 1998. Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan. Weston, J. Fred dan Thomas E. Copeland, 1997, Manajemen Keuangan, Edisi Kedelapan, Jakarta : Erlangga.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->