P. 1
Artikel Pend Fisika

Artikel Pend Fisika

|Views: 30|Likes:
Published by As Munir

More info:

Published by: As Munir on Jul 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2013

pdf

text

original

ARTIKEL

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH “OPEN-ENDED” UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN HASIL BELAJAR FISIKA DASAR I MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FPMIPA IKIP NEGERI SINGARAJA, TAHUN 2005/2006

Oleh: Drs. I Made Mariawan, M.Pd

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN NEGERI SINGARAJA Nopember 2005 1

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH “OPEN-ENDED” UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN HASIL BELAJAR FISIKA DASAR I MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FPMIPA IKIP NEGERI SINGARAJA, TAHUN 2005/2006 I Made Mariawan, Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Negeri Singaraja ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses, pemahaman konsep, dan hasil belajar Fisika Dasar I mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Negeri Singaraja Tahun 2005/2006. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan melibatkan 46 orang mahasiswa semester I. Penelitian tindakan ini terdiri dua siklus. Data dikumpulkan dengan teknik tes. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran berbasis masalah “openended” dapat meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa; (2) penerapan pembelajaran berbasis masalah “open-ended” dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan agar setiap pembelajaran fisika di LPTK ditekankan pada belajar konsep dengan penyajian masalah-masalah yang sifatnya “open-ended” Kata-Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Masalah Open-ended, Pemahaman Konsep, Hasil Belajar ABSTRACT The purposes of this study were to improve the quality process, improving comprehension concept, and improving achievement fundamental of physics I, the students’ of Physics Department in academics year 2005/2006.This study was a classroom action research, which involved 46 students’ of semester one. The action was conducted in two cycles. Using test collected the data then analyses descriptively. The results of this study indicated that (1) implementation open-ended problem base learning increment the students’ comprehension concept; (3) implementation openended problem base learning increment the students’ achievement. From this result to recommended teaching and learning physics in LPTK order to learning concept by presentation open-ended problems. Key words : Open-ended problem based learning, comprehension concept, achievement

1. Pendahuluan 2

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), telah diterapkan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD, SMP, dan SMA). Salah satu tuntutan KBK adalah adanya reorientasi terhadap proses pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar siswa. Reorientasi yang dimaksud adalah perubahan dari pembelajaran yang mekanistik ke pembelajaran yang kreatif. Pembelajaran yang kreatif merupakan pembelajaran yang berorientasi pada active learning, berdasarkan masalah contextual, student centered, mendorong siswa untuk reinvention, serta contruction pengetahuan dan pengalaman siswa secara mandiri. Dalam hal evaluasi hasil belajar, dituntut evaluasi proses, yaitu evaluasi yang dapat menilai kinerja (performance assessment) secara kontinu dan menyeluruh yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Soejadi & Sutarto Hadi, 2004). Tuntutan KBK tersebut menyentuh reorientasi pembelajaran IPA yang bercirikan pada (1) menggunakan permasalahan kontektual, yaitu permasalahan yang dekat dengan lingkungan dan kehidupan siswa atau minimal dapat dibayangkan siswa; (2) mengembangkan kemampuan problem solving, serta kemampuan berargumentasi dan berkomunikasi berdasarkan fakta/konsep; (3) memberikan kesempatan yang luas untuk menemukan kembali, dan untuk membangun konsep, prinsip, definisi, prosedur, dan rumus-rumus secara mandiri; (4) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan melalui kegiatan penyelidikan, explorasi, dan eksperimen; (5) mengembangkan kreatifitas berpikir yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan melalui pemikiran divergen, original, membuat prediksi, dan trial-and-error; (6) menggunakan modelling, dan (7) memperhatikan karakteristik individu siswa (Ibrahim dan Nur, 2004). Paradigma baru dalam pembelajaran IPA tersebut memiliki dua dimensi bagi para dosen-dosen di LPTK. Dimensi pertama, berhubungan dengan kontribusi mereka dalam melakukan penelitian-penelitian atau kerjasama yang mendukung pelaksanaan model pembelajaran IPA yang berorientasi pada 7 butir tadi. Dimensi kedua, berhubungan dengan pelaksanaan tugas perkuliahan. Artinya, dosen-dosen juga harus melakukan reorientasi terhadap proses perkuliahan selama ini, yang mengacu pada ke 7 butir dari paradigma pembelajaran tersebut. Kalau tidak melakukan reorientasi, maka imbasnya akan bermuara pada mahasiswa-mahasiswi calon guru dalam rangka 3

melaksanakan PPL, melaksanakan penelitian tugas akhir di sekolah, maupun tugastugas yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum di sekolah setelah mereka kelak menjadi guru. Penelitian ini berkaitan langsung dengan dimensi kedua yaitu reorientasi terhadap proses perkuliahan fisika dasar I selama ini. Di samping itu, juga didasarkan atas kenyataan, hasil pengamatan, dan refleksi awal atau diagnostik terhadap pengalaman peneliti dalam mengasuh mata kuliah Fisika Dasar I sebagai berikut. (1) Hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Fisika Dasar I relatif masih rendah baik kualitas maupun kuantitasnya. Rendahnya hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah ini terlihat dari relatif banyaknya persentase mahasiswa memperoleh nilai C dan D. Dalam upaya memperbaiki IPK, mereka kebanyakan mengulang pada tahun berikutnya. (2) Tingkat pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Fisika Dasar I masih rendah. Materi Fisika Dasar I sebagian besar pengulangan pelajaran Fisika Sekolah Menengah Atas yang seharusnya mereka lebih memahami konsep setelah mengikuti perkulihan tersebut. Namun, hal ini tidak terjadi, karena pemahaman mereka terhadap materi perkuliahan tahun yang lalu cendrung baru sebatas ingatan atau hafal fakta-fakta, rumus-rumus, dan algoritma-algoritma. Hal ini nampak ketika mahasiswa dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang sifatnya konseptual, mereka tidak bisa menyelesaikannya. (3) Permasalahan-permasalahan yang disajikan dalam proses pembelajaran fisika dasar I selama ini lebih banyak masalah-masalah tertutup (closed problem), yaitu permasalahan yang solusinya tunggal. Sekalipun ada permasalahan yang disajikan bisa diselesaikan dengan lebih dari satu macam solusi (open problem), namun hanya satu solusi yang ditampilkan. Hal ini menyebabkan mahasiswa tidak memperoleh pengalaman untuk memandang suatu permasalahan dari berbagai alternatif sehingga daya nalar, kreatifitas berpikir, dan kemampuan memecahkan masalah tidak berkembang. Akibatnya, tidak memperdalam pemahaman konsep dan prinsip-prinsip Fisika Dasar I yang mereka pelajari sehingga hasil belajar mahasiswa kurang memuaskan.

4

Kenyataan, hasil pengamatan, dan refleksi awal atau diagnostik terhadap pengalaman peneliti yang telah dipaparkan di atas, menunjukkan bahwa proses perkuliahan selama ini belum berhasil dalam meningkatkan kualitas proses, hasil belajar, serta pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Fisika Dasar I. Ketidakberhasilan itu lebih banyak disebabkan oleh kurang tepatnya permasalahan dan pemecahan masalah yang disajikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya perbaikan atau reorientasi strategi pembelajaran yang mengacu pada ketujuh butir ciri pembelajaran IPA yang telah disebutkan di atas. Salah satu strategi yang mengacu pada ketujuh butir ciri pembelajaran IPA adalah pembelajaran berbasis masalah “openended” (Henn dan Kaiser dalam Sudiarta, 2004). Reorientasi model pembelajaran dapat dilakukan melalui penelitian tindakan agar proses perbaikan dapat dilakukan secara siklis dan efektivitasnya dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Dalam penelitian ini reorientasi model pembelajaran dilakukan melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah “open-ended” dalam perkulihan Fisika Dasar I di Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Negeri Singaraja. Pembelajaran berbasis masalah open-ended merupakan pembelajaran yang menekankan pada penyajian masalah-masalah yang bersifat terbuka, yaitu masalah yang diformulasikan memiliki satu jawaban benar dengan beberapa cara penyelesaian, dan/atau masalah-masalah yang diformulasikan memiliki lebih dari satu jawaban benar dengan lebih dari satu cara penyelesaian (Shimada, 1997; Land, 2000). Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah di uraikan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Fisika Dasar I dan (2) meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Fisika Dasar I. Hasil dari penelitian ini akan memberikan manfaat atau kontribusi pada kontribusi pada perbaikan kualitas proses pembelajaran pembelajaran Fisika Dasar I, yang bermuara pada peningkatan pemehaman dan hasil belajar mahasiswa.

2. Metode Penelitian 5

Penelitian ini merupakan classroom action research yang dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan siklik yaitu perencanaan (plan), tindakan (act), observasi dan evaluasi (observe and evaluation), dan refleksi (reflect) diteruskan dengan perencanaan ulang (revised plan). Subjek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika yang memprogram mata kuliah Fisika Dasar I semester ganjil tahun 2005/2006. Objek penelitian adalah pemahaman konsep dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Fisika Dasar I. Instrumen dalam penelitian ini adalah (1) Lembaran Observasi, yang digunakan untuk mengumpulkan atau mendokumentasikan proses pembelajaran. Data ini semata-mata digunakan dalam melakukan refleksi pada akhir setiap tindakan; (2) Lembaran Rubrik Penskoran Kinerja (Performance), yang digunakan untuk mendapatkan data pemahaman konsep dalam memecahkan masalah open-ended dengan penskoran menggunakan skala 0(salah/tak ada respon), 1 (benar sebagian), 2 (lengkap dan benar); (3) tes hasil belajar, yang datanya diambil dari solusi masalah yang paling benar dengan skor dalam rentang (0-100). Data pemahaman konsep dan hasil belajar dianalisis secara deskriptif yang dinyatakan dengan nilai rata-rata dan jenjang kualifikasi. Berdasarkan hasil analisis data, keberhasilan tindakan ditentukan dari criteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu skor rata-rata pemahaman dan hasil belajar berada dalam kualifikasi minimal baik. Untuk melihat seberapa jauh adanya peningkatan pemahaman konsep dan hasil belajar mahasiswa, maka dilihat rentangan antara skor rata-rata siklus I dengan skor rata-rata siklus II. 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan 3.1 Hasil Penelitian Hasil analisis data pada siklus I, pemahaman konsep mahasiswa terhadap kinematika partikel, diperoleh skor rata-rata sebesar X = 71,26 dengan SD = 8,52. Berdasarkan rentang skor yang ditetapkan, maka skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi baik. Distribusi pemahaman konsep mahasiswa pada siklus I adalah 10,87% kualifikasi sangat baik, 50% kualifikasi baik, 34,78% kualifikasi cukup, 4,35% kualifikasi kurang. Skor rata-rata hasil belajar mahasiswa pada siklus I diperoleh X = 6

70,23 dengan SD = 6,58. Berdasarkan rentang skor yang ditetapkan, maka skor ratarata tersebut berada dalam kualifikasi baik. Distribusi hasil belajar mahasiswa pada siklus I adalah 8,70% kualifikasi sangat baik, 45,65% kualifikasi baik, 39,13% kualifikasi cukup, dan 6,52% kualifikasi kurang. Hasil analisis data pada siklus II, pemahaman konsep mahasiswa terhadap dinamika partikel, diperoleh skor rata-rata sebesar X = 78,77 dengan SD = 6,25. Berdasarkan rentang skor yang ditetapkan, maka skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi baik. Distribusi pemahaman konsep mahasiswa pada siklus I adalah 19,57% kualifikasi sangat baik, 56,52% kualifikasi baik, 15,22% kualifikasi cukup, 8,69% kualifikasi kurang. Skor rata-rata hasil belajar mahasiswa pada siklus II diperoleh X = 80,51 dengan SD = 6,25. Berdasarkan rentang skor yang ditetapkan, maka skor ratarata tersebut berada dalam kualifikasi baik. Distribusi hasil belajar mahasiswa pada siklus II adalah 30,44% kualifikasi sangat baik, 45,65% kualifikasi baik, 17,39% kualifikasi cukup, dan 6,52% kualifikasi kurang. 3.2 Pembahasan Hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa skor rata-rata pemahaman konsep mahasiswa pada kinematika partikel sebesar 71,26 dengan kualifikasi baik.Berdasarkan criteria yang telah ditetapkan, maka pada siklus I mahasiswa telah berhasil memahami konsep-konsep kinematika partikel. Dari distribusi skor pemahaman konsep, terlihat bahwa sebagian besar (60,87%) dari jumlah mahasiswa sudah berhasil memahami konsep-konsep kinematika partikel. Jika dibandingkan dengan pembelajaran fisika dasar I selama ini, persentase ini relatif cukup besar. Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar fisika dasar I selama ini, pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep kinematika partikel cendrung bergeser ke kualifikasi cukup, dan jumlah mahasiswa mencapai kualifikasi minimal baik berkisar 20-30%. Sekalipun demikian, pada siklus I terlihat 39,13% dari jumlah mahasiswa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Hal ini berarti sebanyak 39,13% dari jumlah mahasiswa belum berhasil memahami konsep-konsep kinematika partikel yang diajarkan. Ketidakberhasilan mereka dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, belajar konsep dan penyajian masalah “open-ended” relatif baru dikenal oleh mahasiswa. Pada pembelajaran fisika sebelumnya mereka terbiasa belajar/menghafal rumus-rumus serta 7

penerapannya. Masalah-masalah yang disajikan sebagian besar merupakan masalahmasalah akademis yang sifatnya cloced-problems. Kedua, bekal pengetahuan (pengetahuan awal) mahasiswa terhadap konsep-konsep fisika di SMA pada umumnya relatif rendah. Kebanyakan mahasiswa sudah lupa dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip fisika SMA. Ketiga, pengetahuan matematika mahasiswa seperti fungsi, trigonometri, vektor, dan kalkulus (limit, defferensial, integral) relatif lemah. Keempat, mahasiswa jarang berlatih memecahkan masalah open-ended di luar kelas, mereka hanya mengandalkan latihan-latihan yang diberikan saat responsi. Skor rata-rata pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep dinamika partikel yang diajarkan pada siklus II sebesar 78,77 dengan kualifikasi baik. Berdasarkan criteria keberhasilan yang telah ditetapkan, maka secara umum mahasiswa telah berhasil memahami konsep-konsep dinamika. Dari distribusi skor pemahaman, terlihat bahwa sebagian besar (76,09%) dari jumlah mahasiswa sudah berhasil memahami konsep-konsep dinamika partikel. Jika dibandingkan dengan siklus I, maka pada siklus II rata-rata pemahaman mahasiswa meningkat pada pembelajaran dinamika partikel. Di samping itu, pada siklus II persentase mahasiswa yang mencapai kriteria keberhasilan juga meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar mereka pada siklus I memberikan dampak positif pada pembelajaran siklus II. Mahasiswa sudah mulai terbiasa belajar konsep melalui pemecahan masalah open-ended.Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berorientasi masalah open-ended dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Sekalipun demikian, pada siklus II terdapat 23,91% dari jumlah mahasiswa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Hal ini berarti sebanyak 23,91% dari jumlah mahasiswa belum berhasil memahami konsep-konsep dinamika partikel yang diajarkan. Ketidakberhasilan mereka mungkin disebabkan oleh sulitnya mengubah cara belajar mereka melalui pemecahan masalah open-ended. Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar mahasiswa, tampaknya pemahaman konsep berdampak pada hasil belajar. Pembelajaran pokok bahasan kinematika partikel pada siklus I skor rata-rata hasil belajar mahasiswa sebesar 70,23 dengan nilai B dan kualifikasi baik. Berdasarkan criteria keberhasilan yang telah ditetapkan, maka secara umum skor rata-rata mahasiswa dalam kinematika partikel sudah mencapai kriteria 8

keberhasilan yang ditetapkan. Dari distribusi hasil belajar mahasiswa pada siklus I terlihat bahwa sebanyak 45,65% dari jumlah mahasiswa memperoleh nilai B (kualifikasi baik) dan 8,70% mahasiswa memperoleh nilai A (kualifikasi sangat baik). Dengan demikian sebagian besar (54,35) mahasiswa sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Dapat disimpulkan bahwa penyajian masalah open-ended dalam pembelajaran kinematika partikel berdampak positif terhadap hasil belajar. Sekalipun demikian, pada siklus I terdapat 39,13% mahasiswa memperoleh nilai C dan 6,52% memperoleh nilai D. Dengan demikian sebanyak 45,65% mahasiswa belum berhasil mencapai criteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Ketidakberhasilan tersebut mungkin disebabkan oleh pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari masih kurang. Hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan dinamika partikel yang diajarkan pada siklus II diperoleh skor rata-rata sebesar 80,51 dengan nilai B dan kualifikasi baik. Hal ini berarti secara kualitatif skor rata-rata mahasiswa dalam dinamika partikel sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Dari distribusi hasil belajar mahasiswa pada siklus II terlihat bahwa sebanyak 45,65% mahasiswa memperoleh nilai B (kualifikasi baik) dan 30,44% mahasiswa memperoleh nilai A (kualifikasi sangat baik). Dengan demikian sebagian besar (76,09%) mahasiswa sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa penyajian masalah open-ended dalam pembelajaran dinamika partikel berdampak positif terhadap hasil belajar mahasiswa. Jika dibandingkan dengan siklus I, maka pada siklus II rata-rata hasil belajar mahasiswa meningkat pada pembelajaran dinamika partikel. Di samping itu, pada siklus II persentase mahasiswa yang mencapai kriteria keberhasilan juga meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar mereka dalam memecahkan masalah-masalah open-ended pada siklus I memberikan dampak positif pada pembelajaran siklus II. Mahasiswa sudah mulai terbiasa memecahkan masalah-masalah open-ended. Sekalipun demikian, pada siklus II terdapat 17,39% mahasiswa memperoleh nilai C dan 6,52% memperoleh nilai D. Dengan demikian sebanyak 23,91% mahasiswa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Ketidak berhasilan tersebut disebabkan oleh penguasaan konsep mereka sangat kurang sehingga kemampuan bernalar dalam memecahkan masalah sangat rendah, yang akhirnya bermuara pada rendahnya hasil belajar mereka. 9

4.

Penutup 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. (1) Penerapan pembelajaran berbasis masalah “Open-Ended” dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Fisika Dasar I semester ganjil 2005/2006 (2) Penerapan pembelajaran berbasis masalah “Open-Ended” dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Fisika Dasar I semester ganjil 2005/2006 4.2 (1) Implikasi dan Saran Hasil penelitian ini dapat memberikan implikasi dan saran sebagai berikut. Hasil penelitian ini memberikan implikasi pada perbaikan kualitas proses pembelajaran, sehingga disarankan untuk mengadakan inovasi proses pembelajaran selama ini menuju proses pembelajaran yang inovatif dengan memaksimalkan keterlibatan aktifitas dan proses berfikir mahasiswa. (2) Hasil penelitian ini memberikan implikasi pada aktifitas dan kreatifitas berpikir mahasiswa, sehingga dalam proses pembelajaran disarankan untuk menyajikan masalah-masalah yang solusinya tidak tunggal. (3) Hasil penelitian ini memberikan implikasi pada motivasi belajar, sehingga dalam pembelajaran disarankan untuk memilih dan menyajikan masalah-masalah kontekstual open-ended yang sifatnya menantang. (4) Hasil penelitian ini memberikan implikasi pada pengalaman belajar, sehingga dalam proses pembelajaran disarankan untuk mengarahkan mahasiswa belajar konsep-konsep esensial dan lebih banyak memberikan latihan pemecahan masalah open-ended. DAFTAR PUSTAKA Anom, IB., 2002, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Makalah, Disajikan dalam seminar Lokakarya Pendidikan IKIP Negeri. Cholis, S., 2002, Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem “Open-ended” dan Kriteria Evaluasinya, Makalah, Disampaikan pada Lokakarya Evaluasi Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika IKIP Negeri Singaraja. 10

Copley, JV., (1994), Problem Solvimg for The Young Childrem, University of Houtson, Texas; Foong, P.Y., 2000, Using Short Open-Ended Mathematics Question to Promote Thinking and Understanding, NIE, Singapore. Glaser, M.,1980, Issues in Science Education: Problem Solving Creativity and Originality, International Journal of Science Education Vol. 9, No. 2. Heller,Patricia, Keith Ronald, and Anderson Scott, 1992, Teaching Problem Solving Through Cooperative Grouping, Part 1: Group versus Individual Problem Solving, dalam American Journal of Physics Vol 60. No 7. Kemmis, S.& McTaggart, R., 1996, The Action Research Planner, Geelong, Victoria, Deakin University Press. Kibbel, B.,1999, How do you approach a physics problem?, Physics Education Vol. 34. No. 2. Larson, Gary., 1991, Leraning and Instruction in Pre-College Physical Science, dalam Physiscs Today, Special Issue Pre-College Education. Mestre, K.P., 2001, Implications of Research on Learning for the Education of Prospective Science and Physics Teachers, Dalam Physics Education vol 36, No7, Maloney, D.P., 1994, Role-Governed Approaches to Physics, Newton Third Law. Physics Education Vol 19. Muslimin Ibrahim & Mohamad Nur, 2000, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, UNESA-UNIVERSITY PRESS, Surabaya. Nur, M., 2003, Pengembangan Model PBM IPA Berorientasi Masalah Kontekstual untuk Meningkatkan Daya Nalar Mahasiswa Dalam Rangka Menyongsong Masyarakat IPTEK pada Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua, Disampaikan pada Seminar Hasil-Hasil Penelitian Unggulan IKIP Surabaya. Reif, F., 1995, Milikan Lecture, 1994, Understanding and Teaching Important Scientific Thought Processes. American Journal of Physics. Vol 63, No.1. Shigeru Shimada,1997, The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics, Reston, Virginia, NCTM. Slavin, Robert, E., 1995, Educational Psychology Theory, Theory and Practice. Fourth Edition. Massaachustts, Allyn and Bacon Publisher,Boston. 11

Soedjadi, R. & Sutarto Hadi, 2004, PMRI dan KBK dalam Era Otonomi. Pendidikan Buletin PMRI, Edisi III. Sudiarta, 2004, Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Base Learning) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Hasil Belajar Matematika Mahasiswa, Tahun2004/2005, Laporan Hibah Pengajaran. IKIP Negeri Singaraja. Tao. Ping-Kee, 2001,. Confronting Student Wiyh Multiple Solutions to Qualitative Physics Problem, Physics Education Vol 37, No.2.

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->