DIEKSIS Deiksis adalah kata yang tidak memiliki referen atau acuan yang tetap.

Disitu kita tidak menemukan istilah makna. Pertanyaannya ialah apakah acuan itu sama dengan makna? Untuk menjawabnya kita harus menengok semantik leksikal. Di dalam semantik ada teori atau pendekatan yang disebut teori referensial. Teori ini mencoba menganalisis kata ketika kata itu berdiri sendiri, tidak di dalam konteks. Salah satu teori itu dikemukakan oleh Odgen dan Richards (dalam Stephen Ullmann, 1975) yang mengemukakan tentang “segitiga dasar”. Segitiga itu mengandung tiga komponen yakni, (1) lambang, (yaitu kata yang terbentuk dari bunyi-bunyi), terletak pada titik kiri bawah, (2) kata (ini melambangkan pikiran atau refernsi yang terletak pada titik puncak segitiga, (3) referensi (unsur atau peristiwa yang disebuat acuan atau referen. Paparan Orgen dan Richards itu diperjelas oleh Lyons(1968). Menurut Lyons, bentuk disamakan dengan lambing yang berarti melambnagkan, “sesuatu” dalam arti “konsep” yang diasosiasikan dengan bentuk kata didalam benak atau pikiran penutur. Makna merupakan abstraksi (pengabstrakan) dari benda atau “sesuatu” yang senyatanya. Sedangkan benda atau sesuatu yang senyatanya disebut dengan referen atau acuan.

Makna/ Konsep

Kata

Bentuk

Referen

Contoh konkret diberikan oleh Richards dkk: sebuah kata yaitu meja, mempunyai makna “meja” berwujud bayangan (disebut dengan gambaran, konsep abstrak) tentang meja. Jika diwujudkan dalam bentuk konkret, konsep abstrak tentang meja tadi menjadi benda nyata yang disebut meja.

yang dalam bahasa indonesia ialah kata “ini” dan “itu”.1 Berbagai Istilah Teknis Dieksis Di Indonesia kajian awal yang khusus membahas mengenai deiksis adalah disertasi Bambang Kaswanti Purwo yang kemudian dubukukan tahun 1984. Morris memakai istilah lain yaitu pengidentifikasi untuk tanda-tanda yang mengacu kepada lokasi ruang dan waktu dan petunjuk untuk tanda-tanda non kebahasaan. indeks adalah sebuah tanda yang suatu saat kehilangan cirinya sebagai tanda jika objeknya dipindahkan. Pada dasarnya deiksis dan indeks itu sama. yaitu sama-sama “penunjuk”. Darjowidjojo (1988). Konsep yang mirip dengan itu tetapi lebih luas cakupannya diperkenalkan oleh C. dengan istilah indeksikalitas (indexicality). Lyons sendiri kemudian memberikan pengertian indeksikal itu mirip dengan istilah ekspresi dengan pembatasan bahwa ekspresi itu mengacu kepada unsur-unsur indeksikal dari suatu ujaran yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk membangun atau mengungkapkan . Penjelasan itu bisa berupa batasan. Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani. adalah acuan atau referen. sesuai dengan konsep tentang meja atau makna dari meja.20 oleh Karl Buhler. Kalau Anda ditanya. Sedangkan apa yang anda tunjuk disebut dengan acuan. bukan makna. yang maknanya adalah sesuatu yang menunjuk atau menunjukan atau penunjuk. Deiksis kemudian diperkenalkan pada abad ke. Peirce memperkenalkan istilah tanda Indeksikal (indexical sign). Apakah meja itu? Maka anda jawab dengan penjelasan seperti “meja” adalah …………”. yaitu deiktikos yang berarti ”hal penunjukan secara langsung”. apa yang kita amati. Istilah tersebut digunakan oleh tata bahasawan Yunani dalam pengertian “kata ganti penunjuk”. Kaswanti Purwo (1989) dan Levinson (1983). Jadi menurut Lyons. Jika Anda ditanya. Selebihnya. makan (yang dilambangkan oleh kata). Lyons menjelaskan konsep Peirce tersebut yaitu. Tarigan (1986). sebagaimana nampak pada Nababan (1957).Jadi kita harus membedakan kata (yang berbentuk bunyi-bunyi). Dalam bahasa Inggris bentuk dasar kata (indexicality) ialah index. Bagaimana sih meja itu? Atau seperti apa saja meja itu? Atau mana yang disebut meja itu? Maka kemungkinan besar Anda akan segera menunjuk sebuah benda yang biasanya dinamakan meja. Hubungan antara kata dengan referennya adalah hubungan referensial. 2. yang kita “acu”. dieksis selalu tercakup dalam bahasan pragmatik.S Peirce. dan acuan (yang diacu oleh kata).

Ausdrück. Partisipan dalam peristiwa tutur ujaran-ujaran dikemukakan : kategori persona pertama yaitu gramatikalisasi dari acuan penutur terhadap dirinya sendiri. Dan bagi pendengar. prasangka. Levinson (1983) memberikan penjelasan setidak-tidaknya ada tiga jenis deiksis yang secara tradisional dibicarakan yaitu deiksis persona. ujaran itu merupakan sinyal bahwa dia harus akan melakukan sesuatu. Deiksis ini menggramatikalkan proksimal untuk tempat yang dekat dengan penutur dan nonproksimal untuk . persona kedua yaitu pengenkodean acuan penutur terhadap seorang pendengar atau lebih.3 Pendekatan Deskriptif bagi Deiksis Dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Kesimpulannya bahwa ujaran dari seseorang penutur adalah gejala dalam benak bahwa penutur mempunyai sesuatu yang akan diungkapkan. Fungsi ini merupakan alat bagi penutur untuk menyampaikan keinginan dan kemauannya kepada pendengar agar mau melaksanakan keinginan tersebut. Penjelasan lain juga diberikan Ignas Kleden (1988) yaitu : 1. 3. Yaitu. dan merupakan sinyal vokatif yang dialamatkan kepada penerima. dan pengalaman-pengalamannya. yakni memerintah atau meminta kepada lawan bicara untuk melakukan sesuatu. jadi bukan untuk berkomunikasi. kesukaan.kepribadiannya. yaitu menyampaikan informasi yang senyatanya. fungsi yang memasok informasi tentang penututr. deiksis tempat. 2. Yang kedua ada fungsi deskriptif. Umumnya tiap ujaran merupakan gejala ekspresi dari apa yang ada dalam pikiran penutur. perasaan. 2. Deiksis persona (persona deixis) berkaitan dengan pengenkodean peran (role). Buhler berbicara tentang tiga fungsi bahasa. lambang. bahasa berfungsi mengacu objek tertentu yang berada di luar diri prnutur dan lawan tuturnya. Deiksis tempat (place deixis) berkaitan dengan pengenkodean lokasi spasial (ruang) yang relatif terhadap lokasi para partisipan di dalam peristiwa tutur. dan deiksis waktu. Ujaran itu juga merupakan suatu lambang dari deskripsi suatu fakta. dan sinyal. Darstellung. Ketiga adalah fungsi vokatif yang diganti oleh Jacobson menjadi konatif disebut juga fungsi instrumental. persona ketiga yaitu pengenkodean terhadap orang atau benda yang bukan tergolong penutur atau petutur dari ujaran. salah satunya ialah fungsi ekspresif. untuk mengungkap suasana hati penutur. Hal yang mirip juga disampaikan oleh Buhler tentang gejala. Menurut Lyons. merupakan lambang deskriptif dari apa yang ditunjuk. Appel.

. Sedangkan deiksis sosial berhubungan dengan pengenkodean pembedaan sosial yang relatif terhadap peranpartisipan. dsb. besok. seperti yang dikatakan oleh Lyons (1977) : “gramatikalisasi dan leksikaliasi deiksis sebaiknya dipahami dalam hubungan dengan apa yang diistilahkan dengan situasi kanakonik ujaran : ini meliputi satu orang-satu orang. dalam bahasa Indonesia dienkodekan dengan saya. deiksis tu diorganisasikan dengan cara pandang egosentris. Pada umumnya. waktu demikian itu disebut waktu pengkodean (coding time) yang berbeda dengan waktu penerimaan (receiving time). tuan. tetapi ada suatu asumsi mendasar tentang konteks percakapan dalam tatap muka di mana semua orang memperoleh bahasanya. Anggaplah bahwa pusat deiksis ialah penutur.tempat yang dekat dengan petutur. maka titik-titik labuh yang tidak bertanda itu yang membentuk pusat deiksis (deictic centre). kelak. Deiksis waktu (time deixis) berkaitan dengan pengenkodean tonggak-tonggak dan rentang waktu yang relatif terhadap waktu ketika sebuah ujaran diucapkan. Ketiga deiksis tradisional tersebut kemudian ditambah oleh para pakar dengan deiksis wacana (discourse deixis) dan deiksis sosial (social deixis). Sistem deiksis itu dalam bahasa alami (seperti bahasa yang biasa kita pakai) tidaklah secara sewenang-wenang ditata (diorganisasikan) disekitar unsur-unsur satu dari berbagai jenis medium dan konteks di mana bahasa itu digunakan. jika kita berpikir tentang ungkapan-ungkapan deiksis sebagai berlabuhnya titik-titik khusus dalam peristiwa tutur. Sekarang => nanti. Deiksis wacana berkaitan dengan pengenkodean acuan pada bagian-bagian wacana yang ujarannya ditempatkan. saudara. terutama aspek hubungan antara penutur dan petutur atau antara penutur dengan sejumlah acuan. atau satu orang-banyak orang…”. seperti tampak dalam bagan berikut : Kamu => anda.dst. Maksudnya. Dari pusat saya ini akan terpancar titik-titik deiksis lain.

(1) Deiksis Persona Deiksis persona secara langsung diwujudkan dalam kategori gramatikal tentang persona (orang). seperti : saya. -nya. dsb. Kata ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang dekat dengan penutur. aku. (untuk orang ke-2). (2) Deiksis Penunjuk Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya demonstratif (kata ganti penunjuk). ia. . 2. kita. dan sosial. Masalah ini harus kita selesaikan segera. tempat. waktu. 3. kamu. tuan.4 Jenis Deiksis Dalam kajian pragmatic dikenal adanya lima jenis deiksis yaitu deiksis persona. ibu. (orang). kami. wacana. Saat ini saya belum bisa ngomong. “Sesuatu” itu bukan hanya benda atau barang melainkan juga keadaan. Ketika peristiwa itu terjadi. sebagai pendengar (orang ke-2). dan penunjuk. deiksis persona juga mencakupi bentuk-bentuk lain dari pronominal tersebut. di sana Begini => begitu Ini => itu 2.kemarin. peristiwa. tempat. dan itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari penutur. seperti : ku-. dan kau. dia. Selain itu. Kemudian Kaswanti Purwo menyebut adanya deiksis persona. bapak. waktu. dan “yang dibicarakan” menjadi orang ke-3. Cara yang lazim untuk mengenkodekan deiksis persona adalah dengan memakai pronominal (kata ganti orang). Berikut akan dipaparkan keenam deiksis tersebut. engkau. saya masih kecil. mereka. tadi saya Di sini => di situ. beliau. atau memakai nama diri seperti : saudara. menjadi persona 1. Apabila digabungkan jumlahnya. -ku. Berikut contoh-contohnya : 1. -mu. itu akan menjadi enam deiksis. Dalam deiksis persona yang menjadi kriteria adalah peran partisipan yaitu peran sebagai penutur (orang ke-1). persona 3 tidak berhubungan langsung dengan peran partisipan apapun dalam tiap peristiwa tutur. Berbeda dengan kedua persona pertama dan kedua. bahkan waktu. persona 2 dan persona 3.

pada bangku. Misalnya: a.500 meter di atas permukaan laut Secara deiksis keduanya dapat dispesifikasikan relatif kepada lokasi partisipan pada saat berbicara. Pentingnya spesifikasi tempat ini tampak pada kenyataan bahwa ada dua cara mendasar dalam mengacu objek. tetapi delengen manuk ning ndhuwur gentheng iku ! (3) Deiksis Tempat Deiksis tempat dan deiksis ruang berkaitan dengan spesifikasi tempat relatif ke titik labuh dalam peristiwa tutur. semua bagian kalimat yang mengacu tempat disebut juga adverbial. dan bukan bukan delengen lintang-lintang di langit iku !. yaitu yang sejajar dengan ini dan itu tadi. dan kata-kata begini biasanya didahului dengan kata di. membentuk frase depan. berbeda dengan sini dan sana. kapan pun dan dimana pun. Misalnya . yaitu dengan mendeskripsikan atau menyebut objek atau dengan menempatkannya di suatu lokasi. Lokasi itu dapat dispesifikasikan relatif kepada objek atau titik acuan ang pasti. lihatlah burung-burung di atas genting itu !. Dan ini berhubungan dengan deiksis penunjuk ini dan itu. Hanya perlu diingat bahwa kedua deiksis ini biasa didahului dengan di dn ke. Bedugul itu sama dinginnya dengan di sini Deiksis ini adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang (tempat) dipandang dari lokasi pemeran dalam peristiwa tutur. lihatlah bintang-bintang di langit itu !. dan iko dan koe untuk yang sangat jauh. seperti dalam : a. Bahas jawa mengenal iki untuk yang dekat penutur. Stasiun itu 200 meter dari sini b. Stasiun kereta api itu terletak 200 meter dari gereja katedral b. tiap bahasa mengenal “ tempat yang dekat dengan penutur “ (sini) dan “ tidak dekat adverbial. dalam kamar. Frase-frase semacam itu tampaknya tidak digolongkan ke dalam deiksis karena acuannya tetap. bangku. iku dan kuwi untuk yang tidak dekat tetapi juga yang tid k terlalu jauh. menjadi di . Bedugul terletak 1. kamar. Jika pengarang berbahasa Indonesia menulis misalnya. mempunyai acuan yang tetap . dalam atau pada. karena kata rumah. di rumah. maka pengarang berbahasa jawa akan menulis delengen lintang-lintang ing langit kae !. Di dalam menganalisis kalimat.Banyak bahasa mempunyai deiksis jenis ini hanya dua saja.

yang di dalam tata bahasa disebut adverbial atau keteangan waktu.sini dan di sana. bagaimana deksis waktu berinteraksi dengan ukuran-kultural seperti kata hari ini. Kita lihat. atau pada saat seorang penutur berujar. di sebarang tempat. lusa. saya taruh di mana pensil tadi 3. Tetapi bisa jadi kemarin mengacu kepada dua acuan yaitu (i) mengacu kepada rentang waktu yang utuh seperti pada kallimat Kemarin adalah hari Rabu. kelak. hari (dalam satu minggu dengan nama-namanya). misalnya. RT dapat diasumsikan identik dengan CT karena situasinya adalah situasi tatap muka. musim (di Indonesia ada musim hujan dan musim kemarau). sekian tahun) atau sebagai kalender untuk menempatkan peristiwa tutur dalam waktu pasti (jam ini hari ini bulan ini tahun ini). atau (ii) mengacu kepada sebagian dari rentang waktu itu: Kemarin dia . dahulu. Dalam hal deiksis waktu patut dicatat pentingnya membedakan saat ujaran (atau saat menullis) atau waktu pengenkodean (coding time = CT) dan waktu penerimaan (receiving time = RT). aitu siklus hari dan malam (dari pagi sampai malam hari). Masih bisa dipertanyakan adalah kata ke mana dan di mana. Waktu ketika ujaran terjadi diungkapkan dengan sekarang atau saat ini. Satu-satuan waktu itu dapat digunakan baik sebagai pengukur (sekian hari. Dasar untuk menghitung dan mengukur waktu dalam banyak bahasa tampak bersifat siklus alami dan nyata. Ke mana dia pergi ? 2. ketika itu. kemarin. misalnya. bahwa hari ini berarti „rentang waktu termasuk CT‟. acuannya bukan hanya “tidak tetap” tetpi bahkan “tidak jelas”. karena “tidak jelas” berarti “bisa di mana-mana”. (4) Deiksis Waktu Deiksis ini. adalah pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang dari saat suatu ujaran terjadi. sekian bulan. nanti. minggu lalu. dst. Sebagaimana sudah disinggung ketika kita berbicara tentang situasi kanonik. Untuk waktu-waktu berikutnya terdapat kata-kata besok. Jika tidak dalam situasi tatap muka. Kita dapat mengatakan. untuk waktu “sebelum” waktu terjadinya ad kita menemukan tadi. dan kemarin berarti „rentan hari sebelum rentang waktu termasuk CT/. ke sini dan ke sana. Entah. dan tahun. Saya tak tahu dia ke mana dan di mana Kata-kata tersebut tergolong keterangan tempat . Dengan pengertian acuan yang “tidak jelas” itu barangkali kata-kata ini dapat digolongkan deiksis tempat. dalam kalimat seperti : 1. kita bisa menemui kesulitan. dan tidak pasti. kemarin dan besok. bulan (berikut nama-namanya).

yang mengacu kepada referen tertentu meskipun referen itu berubah-ubah. 5. mala ini. Begitulah. yaitu lalu. maka sekarang saya ganti gomong. atau katapengukur yaitu Selasa. malam. besok…senin. dengan nama nondeiksis.depan. karena wacana itu mengungkapkan waktu. 2. Deiksis ini adalah acuan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diperkan (sebelumnya) dan atau yang sedang dikembangkan (yang akan terjadi). maka wajar saja jika kata-kata deiksis waktu dapat dipakai untuk mengacu kapada bagian-bagian wacana tersebut. yang mempunyai referen yang tidak tetap. sore nanti. 1. tahun bulan. sore. Waktu juga tidak jelas jika kita menerima “janji begini: Sampai ketemu hari Minggu ya. Semua itu merupakan gabungan antara “keterangan” deiksiis.memanggang ikan. sekarang sudah Minggu ketiga. jika mempunyai deiksis waktu seperti Minggu. dia pension. Sebagaimana batasan deiksis. deiksis waktu pun mengacu kepada rentang waktu yang dapat berubah-ubah. tidak dapat dikatakan dengan cara begitu. Deiksis di sini . 4. berikutnya. Sekarang hari Minggu. nanti ini. tahun depan. 3. Dapat dipertanyakan. Karena kamu sudah ngomong. awal tahun. bulan berikutnya. Kita juga dapat memasukkan ke dalam deiksis wacana sejumlah cara lain di mana sebuah ujaran mensinyalkan hubungan dengan teks yang mengelilinginya. jadi semua orang pun edan. Sekarang kan zaman edan. ya… sekarang. Perhatikan beberapa contoh berikut: kata sekarang mengacu kepada (1) saat penutur berbicara sampai dengan (5) waktu yang sangat panjang tetappi tidak jelas batasnya. maka untuk deiksis wacana kita dapat juga memakai . Misalnya. Janjinya Minggu kedua Januari. atau Mingguminggu lain di masa depan. Seharusnya tahun 2002. Aspek lain yang menunjukkan interaksi antara perhitungan menurut kalender dengan deiksis waktu tampak ketika kita mempertimbangkan keterangan waktu sepaerti Selasa lalu. deiksis wacana harus dirumuskan dengan lebih dahulu melihatnya di dalam wacana tertentu. Deiksis wacana berhubungan dengan penggunaan ungkapan di dalam suatu ujaran untuk mengacu kepada suatu bagian wacana yang mengandung ujaran itu (termasuk ujaran itu sendiri). misalnya. Minggu itu mengacu ke hari Minggu depan. atau deiksis teks. bulan berikut. dapat dikatakan mengacu kepada tempat yang dekat dengan penutur. (5) Deiksis Wacana Berbeda dengan keempat deiksis yang sudah disebut. Deiksis wacana.

bentuk akhir paragraph. (Hasan Alwi dkk. dalam. Contoh: 1.. demikian yang dapat mengacu kepada bagian tertentu dari wacana. Itu cerita paling lucu yang pernah saya dengar. Dua contoh pertama menunjukkan bahwa deiksis wacana mengacu kepada bagian wacana yang sudah disebut atau yang sudah ada. petani yang rajin itu memikul cangkul dsambil menjinjing bungkusan makanan dan minuman. Edisi ke-3) Contoh yang lain: A: Apa yang dilakukan si Ali? B: Dia memukul istrinya. Di sini sudah tampak keraguan penulis. Perhatikan awal paragraph ketiga. pada. bab berikut. Gadis itu sekarang duduk di sekolah menengah 2. dsb. misalnya.begini. Putri penyair itu makin besar juga. Kita juga mempunyai kata deiksis tempat yang dapat digunakan terutama demonsratif ini. dilakukan dengan menggunakan dua kata atau ungkapan yang sama maknanya. dieksis persona (dalam tata bahasa disebut pronominal) mengacu kepada Ali (dalam tata bahasa disebut anteseden). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Contoh deiksis anaphora dalam kallimat: . Di dalam pelajaran tata bahasa di sekolah dikatakan adanya hubungan kohesi antara bagian kalimat yang satu dengan yang lain dengan barbagai cara. Kohesi itu. Hubungan antara deiksis dia dengan acuan atau “sesuatu” yang sudah disebut sebelumnya itu disebut hubungan anaforis (bersifat anafora). itu. Pak hamid pagi-pagi telah berangkat ke sawahnya. Contoh: Saya percaya Anda belum pernah mendengarkan cerita ini. Dalam bahasa Indonesia kata-kata demikian biasanya didahului dengan preposisi seperti di.di situ. Dalam contoh di atas dia. sedangkan pada contoh terakhir deiksis wacana mengacu kepada bagian wacana yang ada di belakangnya. Bab berikut membahas tentang rangkum baku. awal paragraph. Contoh: Hal itu sudah dikemukakan pada akhir bab. begitu.

disebut koreferensial (co-referential).). menurut Levinson. Deiksis sosial menunjukkan perbedaan-perbedaan sosial (perbedaan yang disebabkan oleh factor-faktor social seperti jenis kelamin. pekerjaan. patik. yang merupakan kebalikan dari anaphora.3. kau. yaitu hubungan antara deiksis dengan acuan yang mengikutinya. hamba. Dan deiksis persona bagii penutur seperti saya. Anaphora dapat terjadi di dalam satu kallimat. serta Bung Karno dan –nya. Di situ. misalnya dalam penggunaan kata sapaan kamu. khusus nyaa para deiksis persona. Contohnya: 5. dsb. Namun. pen. anda. berkaitan dengan (biasanya) penggunaan pronominal untuk mengacu kepada acuan yang sama. Tuan. atau di dua kallimat seperti pada contoh (1) dan (2) dengan catatan frase yang tercetak miring diganti dengan pronominal dia). Pak Karta dan –nya. Dalam bahasa Indonesia hal itu tampak. yang ada para partisipan dalam sebuah komunikasi verbal yang nyata. Bapak. atau enggunaan nama diri. Ini jawaban saya: “Tidak!” Contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa keempat deiksis yang sudah disebut terdahulu mempunyai kesempatan untuk dapat disebut deiksis anaphora atau katafora sepanjang deiksisdeiksis tersebut merupakan bagian dari sebuah wacana. Pak Karta itu baik. Dengan gayanya yang khas. dsb. perlu diingat bahwa penggunaan deiksis dan anaphora itu tidak saling mengksklusifkan karena sebuah deiksis dapat digunakan baik secara anaforis (6) Deiksis Sosial Deiksis sosial berhubungan dengan aspek-asek kalimat yang mencerminkan kenyataankenyataan tertentu tentang situasi sosial ketika tindak tutur terjadi. atau penutur dengan topik atau acuan lainnya. (-nya adalah deiksis anafora) 4. istrinya juga. terutama yang berhubungan dengan segi hubungan peran antara penutur dan petutur. 6. Semua bohong dan kau tahu itu. Dalam bahasa yang mengenal tingkatan-tingkatan (unda usuk) . anaphora. Dapat dikatan bahwa deiksis social itu adalah deiksis yang disamping mengacu keadaan referen tertentu. pendidikan. kedudukan didalam masyarakat. (itu adalah deiksis anafora) Sebaliknya adalah hubungan kataforis (bersifat katafora). Bung Karno memukau hadirin. Ibu. saudara. usia. sebagaimana contoh kalimat (3) dan (5). yaitu mengacu kepada acuan yang sama. Levinson mengingatkan agar kita tidak mengacaukan antara deiksis wacan dan anaphora (sebenarnya juga termasuk katafora. juga mengandung konotasi social tertentu. aku.

dan paduka untuk penutur yang dihormati ( yaitu raja ). Dalam bahasa Thai ( di Thailand ) morfem krab adalah partikel santun yang hanya dapat digunakan oleh penutur pria. seperti bahasa jawa. Beberapa contih . Jadi. atau unda usuk (bahasa jawa) atau sor. yaitu relasional (relation) dan mutlak (absolute) yang relasion itu berhubungan dengan relasi-relasi antara : (a) Penutur dan acuan (misalnya honorifiks acuan) (b) Penutur dan petutur (misalnya honorifiks petutur) (c) Penutur dan pendengar/penonton yang bukan petutur (misalnya honorifiks pendengar) (d) Penutur dan latar (misalnya tingkat-tingkat formalitas) Ragam hubungan itu menjadi amat rumit dalam bahasa-bahasa yang mengenal tingkat-tingkat tutur. Dalam bahasa jepang ada bentuk khusus bagi untuk persona pertama bagi kaisar jepang. Dalam bahasa melayu dulu. Contoh (3) dan (4) berikut ini masing-masing menunjukkan hubungan social yang akrab antara penutur bahasa jawa.singgih (bahasa bali) Dalam hal informasi deiksis bersakifat sosial dapat dikatakan ada bentuk-bentuk bahasa yang dienkodekan secara mutlak bagi penutur saja atau bagi petutur saja. tetapi penggunaan ini hanya relevan bagi deiksis social yang sudah digramatikalkan. ndara “ Penggunaan saya ( dalem ) dan Tuan ( ndara ) menunjukkan hubungan social antara dua orang yang Kedudukannya tidak sejajar (tidak seemitris). ada kha bagi penutur wanita. seperti pronominal yang mengandung rasa “sopan “ dan kata sapaa. Harus ada pula diakui adanya banyak manifeestasi dari deiksisis social dienkodekan dalam banyak bahasa. hamba atau patik dipakai oleh para bawahan raja sebagai penutur. Dalam bahasa jawa bentuk sinuhun merupakan persona kedua yang hanya digunakan untuk raja sebagai penutur atau merupakan persona ketiga yang dibicarakan oleh raja. seperti hubungan antara majikan dan pembantunya. . sebenarnya ada banyak aspek pengguna bahasa yang bergantung keada hubungan sosial antara penutur-penutur itu. 1) Majikan : “ Inem “ Pembantu : “ saya Tuan “ 2) ( dalam bahasa jawa ) Majikan : “Inem “ Pembantu : “ Dalem.bahasa. perbedaan itu diwujudkaan dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

seperti : ini.nya (seperti dalam miliku. Ceramah. sebuah teks dapat terdiri dari dari satu kata misalnya. tuan hamba. dan waktu. aku. satuan yang lebih banyak diatur oleh kaidah gramatika. atau dapat sangat panjang. “BERBAHAYA “ sebagai peringatan yang tertempel pada gardu listrik. novel. dsb. 2. -ku.. yakni deiksis yang tidak berbentuk kata sebagai morfem bebas. esok pagi. perdebatan. yakni deiksis yang terdiri dari dua kata atau lebih.5.(diikuti verba). di depannya). seperti awalan atau akhiran. Penggolongan deiksis sebagaimana dikemukakan di atas bukanlah satu-satunya model penggolongan. Yang dimaksud dengan deiksis luar-tuturan adalah deiksis yang acuannya di luar teks verbal. yaknii deiksis luar-tuturan atau luar-ujaran atau luar-ujaran ( atau eksofora ) dan deiksis dalam-tuturan atau dalam ujaran ( atau endofora ). Teks adalah sepotong atau sepenggal bahasa lisan atau tertulis ( Richards dkk. bertanya. kalimat ). di kelak kemudian hari. Deiksis kata. khotbah. 3. -mu. menyuruh. Misalnya. Para penganut aliran pragmatik yang lebih “modern” mengemukakan adanya pemillihan lain. Teks-teks sebagaimana dicontohkan di atas sering disebut wacana. pada waktu itu. melainkan satuan semantik. sekarang. tempat.1985 ). hamba. klausa. Teks itu bukan merupakan satuan gramatikal ( sebagaimana morfem. melainkan berbentuk morfem terikat.2.ia. misalnya : di sini. “ masuk “ dan “ keluar “ pada pelataran parker. atau teriakan “ Api!” ketika kebakaran. sana. kelak. memandangmu. 2. ) suatu pemahaman tuntas terhadap sebuah teks sering tidak dimungkinkan tanpa melihat konteks tempat terjadinya teks itu. Dari situ dapat dilihat adanya golongan deiksis yang berikut. Deiksis Morfem. paduka tuan.. penunjuk. ku. yakni deiksis persona. yakni deiksis yang hanya terdiri dari satu kata. Deiksis frase. begitu. frase.5 Bentuk Deiksis Tentang bentuk deiksis biasanya dihubungkan dengan jumlah pendukungnya. di luar apa yang diujarkan atau dituturkan. Tuan. 1. . berada pada konteks situasi. Teks dapat dilihat dari segi strukturnya ( misalnya.1 Deiksis Luar-tuturan Deiksis ini mencakupi empat deiksis yang sudah disebut di atas. berupa kalimat atau cakapan ) dan atau fungsinya ( misalnya untuk memperingatkan.

Padanannya : mawar itu pasti bunga tetapi bunga belum tentu mawar. Deiksis ini bukan deiksis persona.6. “masalah ini diangap selesai. Kita lihat bahwa deiksis. Berbeda dengan Nababan.nya yang ada dalam ujaran ( tuturan ) mengacu kepada dia ( pak Karta ) yang juga berada di dalam ujaran atau teks yang sama. begitu putusannya” 2. jadi lusa adalah hari Rabu. 2. lusa. 2. Jadi.2 Deiksis dalam tuturan Deiksis ini acuannya berada dalam teks atau tuturan. karena masih banyak Paijo-paijo yang lainnya. yang ada dalam teks ujaran.5.Contoh anaphora : Pak karta itu orang baik. saya. dalam hal ini adalah penutur. selamat sore. salah satu unsur mancakupi acuan unsur yang lain. Deiksis waktu. juga mengacu kepada Rabu. Sebaliknya. karena itu perlu dicarikan istilah sendiri : deiksis petunjuk. “ begini saja : ambil depositomu dan bayar utangmu !” 3. waktu. yaitu yang mencakupi anaphora dan katafora. tetapi Paijo belum tentu saya. yaitu dua unsur kalimat (biasanya nomina) yang sederajat dan mempunyai acuan yang sama atau setidak-tidaknya . Deiksis anaphora mengacu kepada sesuatu yang disebut. deiksis katafora mengacu ke acuan ke sebelah kanan atau di bawahnya. “hallo. Paparan Nababan mengenai deiksis wacana. Paijo. istrinya juga Dia dan istrinya adalah orang baik semua Sekarang senin. Pembalikan Deiksis . didalam teks tertulis deiksis ini tampak mengacu ksebelah kiri atau kebagian atas. Contoh : 1. Dalam contoh di atas saya dan Paijo kedudukannya dalam kalimat tersebut sederajat dan mengacu kepada orang yang sama. deiksis dalam tuturan serupa dengan deiksis wacana. Kaswanti Purwo mengatakan bahwa deiksis dalam deiksis dalam tuturan dibagi dua yaitu anaphora dan katafora. melainkan kepada “seluruh ujaran” sebelum atau sesudahnya. Dalam hal ini kita dapat mengatakan hal seperti ini: saya Paijo. tempat. Pada contoh (3) kita berhadapan dengan apa yang di dalam gramatika disebut aposisi. boleh saya bicara dengan Asiah ?” Deiksis begitu dan begini tidak mengacu kepada satu kata yang mewakili benda atau peristiwa.

Pembalikan deiksis luar-tuturan tampak pada percakapan lewat telepon dan dalam surat (khususnya surat pribadi). sini mengacu kepada tempat yang dekat dengan penutur ketika berbicara. Jadi. ya?” : “ He-eh. di sini yang diujarkan Ade mengacu kepada tempat Ani. Ade nanya pacar Ani? Wah. nggak kepanesan. yang bukan penutur. Gimana kabarmu di sini? Udah ujan? Kalo udah. ada pula kenyataan bahwa di dalam percakapan sering terjadi pengulangan ujaran penutur. tidak bersifat egosentris. Perhatikan percakapan berikut: A : “ Jangan paksa saya membunuh. pembaca yang sepadan dengan petutur. bukan kepada penulis. titik labuh itu dibalik dari penutur ke petutur. Di samping kedua hal tersebut. sekarang mengacu kepada waktu ketika penutur berbicara. Kaswanti Purwo mengatakan hal itu sebagai pembalikan deiksis.Setakat ini kita ketahui bahwa deiksis itu bersifat egosentris. Gimana. Dalam hal seperti itu dapat terjadi pembalikan deiksis juga. Surat kedua karib ini memakai ragam santai dan akrab. petutur atau pendengar. Tidak. An?” : “Baik. ada kenyataan bahwa pengacuan atau penunjukan tersebut tidak bertitik labuh pada penutur. Gimana kamu di sini?” : “Baik juga. Ani udah di–PHK lama sekali. Cuma hujan terus. berpusat kepada “saya” yaitu penutur. Di sini hujan juga ya?” Dalam wacana telepon di atas kata di sini yang diujarkan Ani mengacu kepada tempat Ade. Sebaliknya. Namun. Pembalikan seperti ini dapat terjadi pada deiksis luar-tuturan atau dalam tuturan.yang sepadan dengan penutur. penutur. yang biasa tutur berbalik (echo utterance) atau penggunaan tutur berkutip (quotional use). Hal serupa juga terjadi pada surat berikut: (3) Ade. anget dong. melainkan petutur atau pendengar. Semua pengacuan atau penunjukan bertitik labuh kepada penutur. Perhatikan percakapan telepon berikut: (1) Ani Ade Ani Ade : “Halo……. Saya tak bias. Deiksis penunjuk ini mengacu kepada sesuatu yang dekat dengan penutur. Trims. Dalam surat tadi di sini mengacu kepada tempat penerima surat.” . bukan oleh penuturnya sendiri melainkan oleh pendengar atau petuturnya. Surat Ade udah Ani terima. Ade. itu untuk sesuatu yang jauh dari penutur. dan bukan tempat Ani.

sejajar dengan she yang mengandung kategori feminim. juga menyebut penjenisan lain. he juga deiksis taksejati karena menunggu kategori gramatika he itu di samping mengacu kepada “persona ke-3” (dapat dipandang dengan dia) juga mengandung unsure makna yang tidak mengacu. tetapi. bukan penutur. kalau kata-kata tersbut yang selalu dipakai sebagai kata pengacu.” Namun. penglihatan. Deiksis sejati adalah kata atau frase yang maknanya dapat diterangkan seluruhnya dengan konsep deiksis tanpa mengaitkannya. Deiksis taksejati adalah kata atau frase yang maknanya hanya sebagian berupa deiksis dan sebagian fungsinya adalah nondeiksis. Termasuk deiksis demikian adalah kata-kata yang tergolong deiksis persona. 3. itu. ujaran si A tadi diulang atau “dikutip” oleh B (dan di dalam tulisan pun ujarantersebut diberi tanda kutip „----„). Kata atau frase yag diakai secara kinesik dapat dipahami hanya dengan pengamatan langsung terhada gerak anggota badan (gesture). dan deiksis persona ke-1 (saya) dipakai untuk “pengganti” persona ke-2 (kamu. dsb. kata he adalah deiksis persona. bertindak sebagai pendengar. Deiksis kinesik dan simbolik dikemukakan oleh FILLMORE (1971). deiksis ini di samping mempunyai fungsi sebagai deiksis (sebagai pengacu acuan yang berubah-ubah) juga sebagai nondeiksis (mempunyai makna lain yang tidak bersifat mengacu). dan deiksis kinesik dan simbolik. lambaian tangan. dan rabaan. kau). sehingga deiksis saya yang diujarkan oleh B (penutur) sebenarnya mengacu kepada A yang pada saat ujaran itu dikutip.B : “ Apa katamu? “Saya tak bisa?”Saya tak bisa? Harus bisa!” Kita lihat deiksis saya pada A mengacu kepada dirinya sendiri. sekarang. seperti acungan jari telunjuk. yang masingmasing disebutkan gestural deictic usage (penggunaan deiksis dengan gerak anggota tubuh) dan simbolik deictic usage (penggunaan deiksis dengan lambing). antara lain Nababan. Di dalam bahasa Inggris misalnya. pada B. penunjuk. di sini. misalnya dengan kondisi social. waktu.7 Penjenisan Lain dari Deiksis Di samping penjenisan deiksis menjadi lima sebagaimana yang dikemukakan di depan. anggukan kepala. yakni deiksis sejati dan taksejati. Jadi. Juga pada bagian ujaran yang berbunyi. yaitu makna maskulin. para pakar. Misalnya. “Saya tak bisa. . ujaran B itu berbalik kepada A dalam wujud pengguna “kutipan” bagian ujaran yang utuh dan asli. dalam peristiwa berbahasa melalui pendengaran. Dapat pula dikatakan. dan tempat: saya. dia.

Dia adalah Bapak saya. Jika titik pandang kita kepada teks dan konteks. Misalnya. dan “baru bisa kita pahami jika kita melihat konteks tempat ujaran itu berlangsung”.jika eksofora itu dirumuskan sebagai deiksis yang acuannya di luar tuturan atau ujaran. Kita memang bisa mengetahui apa yang diacu kota ini kalau kita berada di kota ketika ujaran itu terucapkan. tampaknya segala sesuatu yang berhubungan deiksis kinesik dan simbolik ini serupa dengan deiksis wacana. Contoh-contoh untuk dieksis simbolik pun dapat dipakai untuk contoh deiksis luartuturan karena yang diacu oleh kota ini dan tahun ini sebenarnya tidak ada di dalam teks melainkan di luarnya. tetapi dia. tetapi kau harus tinggal di sini.” b. kinesik atau luartuturan tampaknya tergantung kepada titik pandang mana yang disasar. “Kota ini amat ramai. Artinya. “ Kau boleh pergi. Dalam contoh tadi. Demikian juga kau dalam kalimat (2). dan tahun ini jelas mengacu kepada tahun ketika ujaran itu terucapkan . khususnya deiksis eksofora. kita berbicara tentang deiksis luar-tuturan.a. deiksis pesona dia dan kau mengacu kepada personapersona di luar ujaran atau teks. Jadi. maka dua contoh untuk deiksis kinesik di atas dapat juga dipakai untuk mencontoh deiksis eksofora. Sebaliknya.” b. “Saya tidak dapat pulang tahun ini. Dalam rumusan deiksis kinesik dikatakan: “hanya dapat dipahami dengan pengamatan secara langsung” gerak anggota badan. maka kita berbicara tentang kinesik. “Bukan dia guru saya. hanya dengan pengetahuan tentang lokasi “umum” para pemeran dalam peristiwa berbahasa itu sudah cukup untuk memahami kota mana dan waktu kapan yang dimaksud dalam ujaran berikut: a.” Melihat paparan dan contoh-contoh yang diberikan Nababan. penggunaan kata secara simbolis hanya memerlukan pengetahuan tentang factor tempat dan waktu (kadang-kadang factor social juga) dari peristiwa berbahasa itu untuk dapat memahami siapa dan apa yang dimaksud dalam kalimat itu.” Dalam kalimat (1) kita akan tahu siapa yang dimaksud dengan dia jika kita melihat langsung siapa yang ditunjuk oleh penutur. Jika titik pandang kita pada pengamatan langsung dan tidak langsung pada gerak anggota badan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful