Berpakaian Sesuai Syariat Islam

Soal : Bagaimanakah aturan islam tentang berpakaian, baik bagi laki-laki ataupun perempuan ? Jawab Oleh: Muhammad al-Fakkar Publikasi 12/04/2005 hayatulislam.net A. Pengantar Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi priawanita (nizhâm al-ijtima’iyyah). Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak. Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan. Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah. Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ideide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya. Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh.

Menutup aurat.a katanya: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. tutuplah kedua pahamu itu. beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu. berdasarkan riwayat ‘Aisyah: Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya. lihat Fiqh Islam. lihat Shafwât at-Tafâsir. baik seorang budak ataupun pegawainya. sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Muhammad Ali ash-Shabuni]. Tidak terbuat dari emas atau sutera. hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya. Tidak menyerupai orang-orang kafir. Ali Raghib]. menolong orang . mendoakan orang bersin. 418 dan 3587]. Muhammad Ali ash-Shabuni]. Abu Dawud dan Ibnu Majah.” *HR. 4. lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” *HR.” *HR. Pakaian Bagi Seorang Muslim Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim haruslah memenuhi syarat tertentu. Tidak menyerupai pakaian wanita. C. Aurat Laki-Laki Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah. Sulaiman Rasyid]. lihat Ahkamush Sholat. menunaikan sumpah dengan benar. no. Abu Dawud. at-Tirmidzi dan Malik. [HR. 2. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar. mengiringi jenazah. Larangan Memakai Emas Dan Sutera Bagi Laki-Laki Larangan ini berdasarkan hadits: Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r. Dari Muhammad bin Jahsyi. yakni: 1. karena sesungguhnya kedua paha itu aurat. Baginda memerintahkan kami menziarahi orang sakit. B. 3. Ahmad dan Bukhari.Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah. Rasulullah Saw bersabda: Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar. Abu Dawud.” *HR. lihat Shafwât at-Tafâsir. Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka.

Kewajiban menutup aurat. di luar rumah. pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera. kecuali di hadapan isteri. serta mengenakan pakaian sutera. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. Larangan Menyerupai Orang Kafir Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) dilarang bagi muslim maupun muslimah. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim. Bagi seorang laki-laki pakaian yang harus dikenakan sama. Tidak tabarruj. . Tasyabbuh dapat dilakukan melalui pakaian. seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. 5. Pakaian Bagi Seorang Muslimah Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). an-Nasa’i. 2. Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuanketentuan sebagai berikut: a. Larangan Menyerupai Wanita Seorang laki-laki dilarang bertingkah laku. gaya hidup maupun pandangan hidup. Tidak tembus pandang. Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas. Menutup aurat.yang dizalimi. 6. C. at-Tirmidzi. CD Al-Bayan 1212]. apakah dia di dalam rumah. 7. memenuhi undangan dan memberi salam. hamparan sutera. sikap. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan. 3. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. Bukhari. di hadapan mahram atau bukan. minum dengan bekas minuman dari perak. Ibnu Majah dan Ahmad. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. sutera tebal dan sutera halus. khumur. Muslim. Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya. Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum. Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus. termasuk berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya seorang wanita bertingkah laku termasuk berpakaian seperti laki-laki. 2. Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan: 1.” *HR. 4.

sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah. karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. Qs. .dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang). Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT: “…. Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum). Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). D. kecantikan dan perhiasan di depan lakilaki non muhrim atau dalam kehidupan umum). Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum. yaitu: 1. c. dan janganlah menampakkan perhiasan mereka. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut. payudara. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan. Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan. Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki. kulot panjang dan lain-lain. tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. jadi menyangkut anggota badan. maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah). Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom. kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut. an-Nûr [24]: 60).b. yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh. tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah). Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim). 2. an-Nûr [24]: 31). seperti: kepala seluruhnya. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj. tempat kalung (leher). kecuali…” (Qs. Aurat Wanita Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan. 1. E.

” .” (Jami’ alBayan fi Tafsir al-Qur’an. Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah: “Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat. Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. yaitu: “…. maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya. Qs. haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra. Pakaian itu dapat menutup kulit.” *HR.” (Qs. Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka. kuning. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat. an-Nûr [24]: 31). 18. rukuh tipis dan lain-lain. tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu: 1.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. no. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya. Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul. an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. hitam dan lain-lain. Abu Dawud. juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan. Abu Dawud. No. jld. Jika pakaian itu tipis misal brokat. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat). yaitu apakah kulitnya putih. Tafsir mengenai hal ini. 3580+. 94). merah. kaos kaki tipis. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. 2. kerudung tipis. 3580+. Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya. beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” *HR. sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu.Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. hal.

Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya. Oleh karena itu celana panjang. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut: .” Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya. khumur. pasar. tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis. jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. 6. Sehingga kelihatan warna kulitnya. Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut. Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya. Tidak tembus pandang. 4. yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom. Menutup aurat. yakni: 1. Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid. maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. 5. beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. kaos kaki panjang. Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki). kulot panjang dan lain-lain. daster dan lain-lain. kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). 2. Tidak tabarruj. bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah. oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab. Pakaian Wanita di dalam Kehidupan Umum Dalam kehidupan umum. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. 7. an-Nûr [24]: 60). 3. Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya.

an-Nûr [24]: 60). atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. kecuali kepada suami mereka. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan janganlah menampakkan perhiasanyaa. Pada Qs.” (Qs. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’. an-Nûr [24]: 31). Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. karena itu mereka tidak diganggu.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.” (Qs. anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. no 1475+.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. atau wanita-wanita Islam. Berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami. Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya. atau saudara-saudara laki-laki mereka. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. dan memelihara kemaluannya. (2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj). atau putera-putera suami mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)nya. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. atau ayah suami mereka. nenek-nenek. Muslim. atau ayah mereka. al-Ahzab *33+: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu. wanita yang sedang haid.“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. atau putera-putera saudara perempuan mereka. Dan bertaubatlah kepada Allah. atau putera-putera saudara laki-laki mereka. atau putera-putera mereka.” (Qs. Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada. al-Ahzab [33]: 59). Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah.” (HR. . dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka.

an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab. bentuk tubuh. Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong- . daster. dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah. perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang. hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan. III. sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab). namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs. jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita. Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain. Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah). bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah).Memahami Pengertian Jilbab Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan. Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. kulot panjang dan lain-lain. Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah). Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung. Dari Qs. 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya. jld. mihnah dan jilbab.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. berarti tersisa mihnah. Dalam kamus arab Al-Muhith. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. hal.

Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak. bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan. kecantikan. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj.” (Qs. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki). oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda. warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan. motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki. Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT: . sepatu dan lain-lain. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. tidak boleh kurang dari itu. Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan. Memahami Pengertian Tabarruj Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu. mall. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’. berjalan di sekitar rumah. kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah).” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu. maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). an-Nûr (24): 60). dll.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal.potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki).” Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan. Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan.pasar. maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian. tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. tanpa bertabarruj.

sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). wanita yang rambutnya minta disambungkan.” Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw: “Dua golongan penghuni neraka. wanita yang mentato. hal ini sesuai dengan kaidah syara’. saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggak-lenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta. Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj. Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan. an-Nûr [24]. yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina.” Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom) . berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya. yaitu menonjolkan perhiasan.” Kata telanjang. dan wanita yang minta ditato. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain. namun bermakna menonjolkan perhiasan. Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias. Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj. keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi: “Wanita yang memakai parfum.” (Qs. Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah. maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya. maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut.“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. 31). kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim. Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj. Adapun mengenai perhiasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful