P. 1
Berpakaian Sesuai Syariat Islam

Berpakaian Sesuai Syariat Islam

|Views: 41|Likes:

More info:

Published by: Fadhlal Khaliq Surado on Jul 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2012

pdf

text

original

Berpakaian Sesuai Syariat Islam

Soal : Bagaimanakah aturan islam tentang berpakaian, baik bagi laki-laki ataupun perempuan ? Jawab Oleh: Muhammad al-Fakkar Publikasi 12/04/2005 hayatulislam.net A. Pengantar Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi priawanita (nizhâm al-ijtima’iyyah). Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak. Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan. Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah. Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ideide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya. Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh.

Abu Dawud dan Ibnu Majah. menolong orang . Muhammad Ali ash-Shabuni].Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah. yakni: 1. hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya. Ahmad dan Bukhari. lihat Shafwât at-Tafâsir. B. beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu. Tidak menyerupai orang-orang kafir. Baginda memerintahkan kami menziarahi orang sakit. Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka. Rasulullah Saw bersabda: Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. baik seorang budak ataupun pegawainya. bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah. berdasarkan riwayat ‘Aisyah: Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya. tutuplah kedua pahamu itu. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati. lihat Fiqh Islam. Sulaiman Rasyid]. ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar. Aurat Laki-Laki Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. 3. 2. Menutup aurat. Ali Raghib]. Abu Dawud. lihat Shafwât at-Tafâsir. sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. no. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar. Tidak terbuat dari emas atau sutera. lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” *HR. mengiringi jenazah. Tidak menyerupai pakaian wanita.a katanya: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara.” *HR. Muhammad Ali ash-Shabuni]. lihat Ahkamush Sholat. C. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. karena sesungguhnya kedua paha itu aurat. 4. at-Tirmidzi dan Malik.” *HR. menunaikan sumpah dengan benar. Abu Dawud.” *HR. mendoakan orang bersin. [HR. 418 dan 3587]. Pakaian Bagi Seorang Muslim Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim haruslah memenuhi syarat tertentu. Dari Muhammad bin Jahsyi. Larangan Memakai Emas Dan Sutera Bagi Laki-Laki Larangan ini berdasarkan hadits: Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.

Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan. di luar rumah. Bagi seorang laki-laki pakaian yang harus dikenakan sama. Menutup aurat. hamparan sutera. Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus. gaya hidup maupun pandangan hidup. kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim. Pakaian Bagi Seorang Muslimah Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Muslim.” *HR. at-Tirmidzi. khumur. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). Tidak tabarruj. Larangan Menyerupai Orang Kafir Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) dilarang bagi muslim maupun muslimah. 7. sutera tebal dan sutera halus. pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. Kewajiban menutup aurat. memenuhi undangan dan memberi salam. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas. termasuk berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya seorang wanita bertingkah laku termasuk berpakaian seperti laki-laki. 2. apakah dia di dalam rumah. an-Nasa’i. minum dengan bekas minuman dari perak. di hadapan mahram atau bukan. Tasyabbuh dapat dilakukan melalui pakaian. Bukhari. 3. Larangan Menyerupai Wanita Seorang laki-laki dilarang bertingkah laku. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum. Tidak tembus pandang. Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuanketentuan sebagai berikut: a. sikap. C. CD Al-Bayan 1212]. 5. kecuali di hadapan isteri. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. Ibnu Majah dan Ahmad. 4. . seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan: 1.yang dizalimi. serta mengenakan pakaian sutera. 2. 6.

Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki. 1. Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan. Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom. Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut. c. kecantikan dan perhiasan di depan lakilaki non muhrim atau dalam kehidupan umum). dan janganlah menampakkan perhiasan mereka. payudara. D. tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. yaitu: 1. . sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah. Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim). tempat kalung (leher). Aurat Wanita Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan. an-Nûr [24]: 31). an-Nûr [24]: 60). seperti: kepala seluruhnya. jadi menyangkut anggota badan. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan. di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang).b. Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT: “…. yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki. Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah).dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum). kulot panjang dan lain-lain. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh. 2. Qs. maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah). Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj. yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah). karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. E. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut. kecuali…” (Qs.

haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. yaitu apakah kulitnya putih.” *HR. 3580+. kerudung tipis. Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka. Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra. yaitu: “…. sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. Qs. no. No. hitam dan lain-lain. an-Nûr [24]: 31). Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. Abu Dawud. maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat. 18. tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu: 1. sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya. Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. Abu Dawud. kaos kaki tipis.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah: “Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul. beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” *HR. juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan. Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup.” (Jami’ alBayan fi Tafsir al-Qur’an.” (Qs. merah. 94). 3580+. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya. rukuh tipis dan lain-lain. hal. Jika pakaian itu tipis misal brokat. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat). jld. Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini.” . an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. Pakaian itu dapat menutup kulit. maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya. sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu. kuning. Tafsir mengenai hal ini. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. 2.

daster dan lain-lain. terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki). Oleh karena itu celana panjang. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. 5. Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. 6. kaos kaki panjang. bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah. tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya. kulot panjang dan lain-lain. yakni: 1. Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut. Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya.” Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). 4. pasar. an-Nûr [24]: 60). Tidak tembus pandang. Sehingga kelihatan warna kulitnya. Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. Tidak tabarruj. beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. Pakaian Wanita di dalam Kehidupan Umum Dalam kehidupan umum. jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. khumur. yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom. 7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut: . maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna. Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid. 3. 2. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab. Menutup aurat.

” (Qs.” (Qs. dan janganlah menampakkan perhiasanyaa. atau putera-putera suami mereka. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. dan memelihara kemaluannya. atau saudara-saudara laki-laki mereka. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab.” (Qs. atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. al-Ahzab *33+: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah. (2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya. terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. atau putera-putera mereka. an-Nûr [24]: 60). . atau ayah suami mereka.” (HR. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”. Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj). anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. no 1475+. wanita yang sedang haid. (3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab. al-Ahzab [33]: 59). atau putera-putera saudara laki-laki mereka. karena itu mereka tidak diganggu. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah. Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu. dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. Dan bertaubatlah kepada Allah. nenek-nenek. atau wanita-wanita Islam. Berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. an-Nûr [24]: 31).“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. atau putera-putera saudara perempuan mereka. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)nya. Pada Qs. kecuali kepada suami mereka. atau ayah mereka. Muslim. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.

bentuk tubuh. maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya. dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs. namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. jld. jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung. an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah). perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang. hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan. sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. kulot panjang dan lain-lain.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah). Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain. daster. Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong- . hal. berarti tersisa mihnah. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab). Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. Dari Qs. yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah). tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan. III. Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah. mihnah dan jilbab. Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah.Memahami Pengertian Jilbab Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits. Dalam kamus arab Al-Muhith. 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’. yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian. maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). kecantikan. warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan. motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki). bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan.potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki).” Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan. kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.” (Qs. tanpa bertabarruj. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT: . Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu.pasar. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. berjalan di sekitar rumah. maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka. sepatu dan lain-lain. Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan. an-Nûr (24): 60). Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu. Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab). tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj. mall. tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu. tidak boleh kurang dari itu. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. dll. Memahami Pengertian Tabarruj Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas.

berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya. yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj. Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. hal ini sesuai dengan kaidah syara’. 31). saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggak-lenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta. kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina. Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias. maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. wanita yang rambutnya minta disambungkan. yaitu menonjolkan perhiasan.” Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw: “Dua golongan penghuni neraka. yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut. sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). wanita yang mentato. kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim.” Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom) . Adapun mengenai perhiasan. keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi: “Wanita yang memakai parfum.” Kata telanjang.” (Qs. maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya. Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. namun bermakna menonjolkan perhiasan. Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj.“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain. Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan. dan wanita yang minta ditato. Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. an-Nûr [24]. Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->