P. 1
kritik sanad dan matan hadis

kritik sanad dan matan hadis

|Views: 510|Likes:
Published by abdulkadir_8613
silahkan di unduh, tetapi tulis nama pembuat makalah
silahkan di unduh, tetapi tulis nama pembuat makalah

More info:

Published by: abdulkadir_8613 on Jul 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2014

pdf

text

original

MAKALAH STUDI HADIS JUDUL KRITIK SANAD DAN MATAN HADIS D I S U S U N OLEh ZARKASI, S.

Ag ( RUANG B ) PROGRAM PASCASARJANA ( PPs ) STAIN SAMARINDA Alamat : Jl.K.H Abul Hasan No. 03 Telp. (0541) 742193-Fax 206172 Samarinda Homepage : http://www.ppsstain-samarinda.ac.id E-mail : pps@stain-samarinda.ac.i d

I Kata Pengantar Alhamduliilah dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas seg ala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan maka lah ini dengan judul ,“Kritik Sanad dan Matan Hadis’, Penulis menyadari bahwa didal am pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunanAllah SWT dan tidak lepas da ri bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan r asa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memban tu dalam pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan m

akalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisanny a. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahua n yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya penulis d engan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. .Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. wassalam

Penulis

Zarkasi, S.Ag

II Pendahuluan Hadis merupakan sumber hukum Islam yang pertama setelah Alquran. Dan se lain berkedudukan sebagai sumber hukum juga berfungsi sebagai penjelas, perinci dan penafsir Alquran, oleh karena itu otentisitas sumber Hadis adalah hal yang s angat penting. Untuk mengetahui otentik atau tidaknya sumber Hadis tersebut maka kita harus mengetahui dua unsur yang sangat penting yaitu sanad dan matan. Kedua unsu r tersebut mempunyai hubungan fungsional yang dapat menentukan eksistensi dan ku alitas suatu Hadis. Sehingga sangat wajar manakala para muhadditsin sangat besar perhatiannya untuk melakukan penelitian, penilaian dan penelusuran Hadis dengan tujuan untuk mengetahui kualitas Hadis yang terdapat dalam rangkaian sanad dan matan yang diteliti, sehingga Hadis tersebut dapat dipertanggungjawabkan keotent ikannya. Hal itu dilakukan oleh Muhadditsin karena mungkin ia menyadari bahwa pe rawi Hadis adalah manusia sehingga dalam dirinya terdapat keterbatasan dan kelem ahan serta kesalahan. Berdasarkan hal tersebut di atas maka makalah ini mencoba untuk memapa rkan bagaimana melakukan penelitian( kritik ) terhadap sanad dan matan Hadis.

III Latar belakang masalah Allah telah memberikan kedudukan kepada nabi Muhammad sebagai Rasulu llah dengan fungsi antara lain : menjelaskan al-Qur’an, dipatuhi oleh orang-or ang yang beriman, menjadi uswatun hasanah dan rahmat bagi sekalian alam. Berangk at dari pemahaman tersebut, maka untuk mengetahui hal-hal yang harus diteladani dan yang tidak harus diteladani dari diri nabi diperlukan penelitian. Dengan de mikian , dapat diketahui hadis nabi yang berkaitan dengan ajaran dasar Islam, pr aktek Nabi dalam mengaplikasikan petunjuk Al-Qur;an sesuai dengan tingkat budaya masyarakat yang sedang di hadapi oleh Nabi,dan sebagainya. Selanjutnya menurut sejarah, seluruh hadis tidak ditulis pada zaman nabi . Hadis yang ditulis baik secara resmi, misalnya berupa surat-surat nabi kepada para pengusaha nonmuslim dalam rangka dakwah maupun yang tidak resmi berupa cata tan- catatan yang di buat oleh para sahabat tertentu atas inisiatif mereka sendi ri, jumlahnya tidak banyak. Dalam pada itu, hadis nabi pernah mengalami pemalsua n-pemalsuan, namun pada zaman Nabi, pemalsuan hadis tersebut belum pernah terjad i. Dalam sejarah pemalsuan hadis mulai berkembang pada zaman khalifah Ali bin ab i thalib (W.40H = 661 M). Hal-hal yang berkenaan dengan hadis tersebut merupakan sebagian dan fakto r-faktor yang melatar belakangi pentingnya kritik sanad dan matan hadis sebagai hujjah Dengan dilakukan kegiatan kritik sanad dan matan hadis , maka dapat diket ahui apakah sesuatu yang dinyatakan sebagai hadis Nabi itu memang benar-benar di pertanggungjawabkan berasal dari Nabi.

IV Daftar isi Halaman Judul Kata Pengantar ---------------------------------------------------------------------- I

Pendahuluan ----------------------------------------------------------------------- II Latar Belakang Masalah ---------------------------------------------------------- III ,Daftar Isi ---------------------------------------------------------------------------- IV A. Pengertian Sanad dan Matan -------------------------------------------------- 1 a. Pengertia Sanad ----------------------------------------------------------- 1 b. --B. ----Pengertian Matan -----------------------------------------------------2 Syarat-Syarat Keshahihan Sanad ---------------------------------------3

C. Syarat-Syarat Keshahihan Matan -------------------------------------------- 4 D. ------a. ----- 7 b. ---- 8 Kritik Sanad dan Matan -----------------------------------------------5 Kritik sanad Hadis ----------------------------------------------------Kritik Matan Hadis ---------------------------------------------------PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

1 A. Pengertian Sanad dan Matan

a. Pengertian sanad Sanad menurut bahasa artinya sandaran atau sesuatu yang kita jadikan sandaran . Dikatakan demikian, karena hadis bersandar kepadanya.

Sanad atau thariq menurut istilah ialah jalan yang dapat menghubungkan matan had is kepada Nabi Muhammad saw.(1) Akan tetapi para ahli hadis berbeda pendapat tentang istilah sanad. Antara lain : 1. As-Suyuthi dalam bukunya menulis tentang sanad : adalah “ berita tentang j alan malam” 2. Mahmud at-Thahan, menulis tentang sanad : adalah “ silsilah orang-orang ya ng meriwayatkan hadis yang menyampaikan kepada matan hadis. 3. Ajjaj al-Khathib dalam buku usuhul al-Hadis, sanad adalah “ silsilah para perawi yang menukulkan hadis dari sumbernya yang pertama.(2) Sebagian ulama ada yang mendefinisikan: Sanad adalah: “Silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadits yang menyampaikannya pada matan.” Selain istilah sanad, terdapat istilah lainnya seperti al isnad, al musnad, dan al musnid. Istilah-istilah tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan i stilah sanad. Yang dimaksud dengan isnad adalah menerangkan sanadnya hadits (jalanny a hadits) atau jalan menyandarkan hadits. Yang dimaksud disini ialah: “Menyandarkan hadits kepada orang yang mengatakannya.” Musnad ialah hadits yang disandarkan atau disanadkan oleh seseorang. Musnid ialah orang yang menerangkan hadits dengan menyebutkan sanadnya . 2 b. Pengertian matan Matan atau Al-Matn menurut bahasa berarti tanah yang meninggi. Ada pula yang men gartikan kekerasan, kekuatan. (3) Matan menurut istilah ilmu hadis : Menurut Muhammad at Thahan matan adalah : Suatu kalimat tempat berakhirn ya sanad. Menurut Ajjaj al Khatib matan adalah : Lafadz hadis yang didalamnya men gandung makna-makna tertentu. Menurut Ta’rif ath Thaibi matan adalah : Lafadz hadis yang dengan lafadz i tu terbentuk makna.. Menurut Ibnu Jama’ah matan adalah : Sesuatu yang kepadanya berakhir sanad ( perkataan yang disebut untuk mengakhiri sanad ) . (4)

3 B. Syarat-Syarat Keshahihan sanad Dalam hadis, tidak semua perawi yang meriwayatkan hadis dikategorikan shahih dan periwayatannya diterima, karena mereka ada juga yang cacat.Adapun syarat sanad hadis bisa diterima, jika memenuhi syarat sebagai berikut : • Sanadnya bersambung • Periwayat bersifat adil • Periwayat bersifat dhabit • Terhindar dari syadz • Terhindar dari ‘illat (5)

4 C. Syarat-Syarat Keshahihan Matan Dalam sebuah hadis tidak mesti sanad dan matannya adalah shahih. Ada yang sanadn ya shahih tetapi matannya mengandung cacat, atau sebaliknya. Oleh karenanya dalam matan juga ada beberapa kaidah dalam menentukan kaidah kesh ahihannya secara umum yaitu : > Tidak syadz > Tidak ada ‘illat Tetapi secara terperinci mayoritas ulama mulai menguraikan kriteria keshahihan m atan hadis pada beberapa poin, yaitu : • Tidak bertentangan dengan akal sehat • Tidak bertentangan dengan hukum Al-Qur’an yang telah muhkam. • Tidak bertentangan dengan hadis mutawatir • Tidak bertentangan dengan amalan ulama yang telah menjadi kesepakatan dengan ula ma salaf. • Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti. (6)

5 D.

Kritik Sanad dan Matan Dalam hadis, kritik sanad dan matan termasuk kajian yang mendapat perhatia n lebih dari para kritikus hadis, bahkan sejak zaman Nabi, dan hal itu berjalan sampai sekarang. Pada zaman Nabi, diantaranya dengan cara Nabi menyebutkan bahwa beliau mendapatkan hadis dari Malaikat jibril AS. Contoh dari sahabat yaitu de ngan cara sahabat yang satu menanyakan kepada sahabat yang lain darimana mendapa tkan hadis tersebut. Adapun faktor-faktor yang mendorong kritik sanad dan matan diantaran ya adalah (7) : 1. Kedudukan Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Diterimanya Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam merupakan keniscayaan, karena begitu luas ruang lingkup Al-Qur’an, namun disisi lain karena keterbatasan manusia dalam memahami Al-Qur’an maka terhadap hal ini Nabi Muhammad saw. bertugas menjelaskan secara rinci dan juga mendapat legitimasi dari Allah dan umat pengi kutnya. Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan perintah tersebut antara lain : a. Q.S. Al Hasyr ayat 7 • …..apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya

bagimu maka tinggalkanlah , dan bertaqwalah kepada Allah . Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. 6 b. Q.S. Al-Imran ayat 32 • Katakanlah : “Ta’atilah Allah dan Rasulnya ; jika kamu berpaling ma ka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”, 2. Tidak seluruh hadis tertulis pada zaman Nabi saw. Hadis Nabi lebih sedikit yang ditulis dibanding dengan yang diriwayatkan secara hafalan dikalangan para sahabat dan itupun belum mendapat pengujian ( cek ulang ) dihadapan Nabi saw. sehingga Hadis Nabi, baik yang telah maupun yang belum dit uliskan pada masa Nabi saw. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap par a perawi dan periwayatnya sehingga tingkat validitasnya suatu riwayat dapat dibu ktikan 3. Munculnya pemalsuan hadis Berbagai faktor yang mendorong pemalsuan hadis menyebabkan banyak bermunculan Ha dis-hadis palsu, akhirnya umat Islam mengalami kesulitan untuk mengetahui hadis yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan yang asli berasal dari Nabi saw . Oleh karena itu mendorong kegiatan penelitian hadis semakin penting. Dalam kai tan ini ulama bekerja keras dan dengan kesungguhan menyelamatkan hadis-hadis nab i saw. yaitu berupa penyusunan beberapa kaidah dan ilmu hadis secara ilmiah untu k dapat dipergunakan penelitian hadis, sehingga sanad hadis menjadi sangat penti ng , begitu juga dengan penelitian terhadap pribadi para perawi yang telah mempe roleh suatu hadis adalah bagian terpokok dalam penelitian hadis. Oleh karena itu kegiatan penting yang dilakukan para ulama hadis, selain penghimpunan hadis ada lah juga pengkajian sejarah para perawi hadis itu sendiri. 7 4. Proses penghimpunan hadis yang cukup lama. Pengkodifikasian hadis secara resmi baru dilakukan pada masa pemerintahan Khalif ah Umar bin Abdul aziz ( 99 – 101 H. ) . Muhammad ibn Muslim ibn Syihab az Zuhri a dalah satu diantara ulama yang berhasil melaksanakan perintah Khalifah Umar bin Abdul aziz dalam penghimpunan hadis, dan hasil karyanya tersebut selanjutnya dik irim oleh Khalifah ke berbagai daerah untuk dijadikan bahan penghimpunan hadis s elanjutnya. Jarak waktu antara masa penghimpunan hadis dengan masa nabi saw. ya ng cukup lama mengakibatkan hadis-hadis yang terhimpun dalam berbagai kitab menu ntut penelitian yang seksama dari hadis yang tidak dapat dipertanggung jawabkan keshahihannya. a. Kritik sanad hadis (8) Terbunuhnya Umar bin Khatab pada tahun 24 H tidak banyak mempengaruhi perkembang an ilmu kritik hadis. Namun terbunuhnya Utsman bin affan pada tahun 36 H, begit u pula terbunuhnya al-Husein bin Ali pada tahun 61 H, yang diiringi lahirnya kel ompok-kelompok politik dalam tubuh umat Islam, sangat berpengaruh terhadap perke mbangan ilmu kritik hadis. Karena untuk memperoleh legitimasinya, masing-masing kelompok itu mencari dukungan dari hadis nabi saw. Apabila hadis yang dicarinya tidak ditemukan mereka kemudian membuat hadis palsu. Maka sejak saat itu para ulama kritikus hadis dalam menyeleksi hadis tid ak hanya mengkritiknya dari segi matan(materi)-nya, melainkan juga dengan meneli ti identitas periwayat hadis tersebut. Imam Muhammad bin Sirin ( 33-110 H ) menu turkan,” pada mulanya kaum muslimin tidak pernah menanyakan sanad ( transmisi hadi s) . Namun setelah terjadinya fitnah ( terbunuhnya Utsman bin Affan ) ,apabila m endengar hadis mereka selalu menanyakan dari siapa hadis itu diperoleh. Apabila diperoleh dari ahlus-Sunnah, hadis itu diterima sebagai dalil 8 dalam agama, dan apabila diperoleh dari orang-orang penyebar fitnah , hadis itu ditolak.”

Disinilah sebenarnya letak urgensinya sanad hadis, sebab tanpa sanad set iap orang dapat mengaku dirinya pernah bertemu dengan nabi saw. Karenanya tepat sekali ucapan Abdullah bin al-Mubarak ( w 181 H ). “Sistem sanad itu merupakan ba gian yang tak terpisahkan dari agama Islam . sebab tanpa adanya sistem sanad set iap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya”. Bahkan sistem sanad itu merup akan salah satu keistimewaan umat Islam, dimana system itu tidak dimiliki umat-u mat yang lain. Maka sejak saat itu para ulama ahli hadis membuat persyaratan-per syaratan yang sangat ketat untuk rawi-rawi yang dapat diterima hadisnya, disampi ng kriteria-kriteria teks hadis yang dapat dijadikan sebagai sumber ajaran Islam b. Kritik matan hadis (9) Dengan memahami konsep dasar kritik hadis adalah berdasarkan konsep kebenaran ka bar, maka langkah ulama hadis meneliti terlebih dahulu kebenaran sanad adalah la ngkah yang tepat . Namun demikian, ketika sebuah hadis mengandung makna yang san gat aneh, maka para ulama juga melakukan kritik matan terlebih dahulu. Memilih kritik sanad kemudian matan juga didasari konsef idiologi : Nabi saw. m a’sum ( terbebas dari kesalahan ) dan apa yang disabdakannya adalah bagian dari wa hyu. Berdasarkan konsep diatas, maka langkah ulama hadis dalam mengkritisi otent ias hadis adalah sebagai berikut : Apakah sebuah hadis mempunyai unsurnya yang lengkap ? Sanad dan Matannya ? Jika ya, maka yang dipahami /diperhatikan terlebih dahulu adalah : “Apakah isi ka ndungan hadis ( makna matan ) itu logis ? Tidak aneh mengikuti syari’at 9 Islam ?. Jika ya, maka hadis itu diasumsikan terlebih dahulu sebagai hadis palsu , baru kemudian dilakukan penelitian(kritik) sanad. Jika terlalu aneh, maka hadis itu dihukumkan palsu tanpa perlu meneliti sanad. Jika makna matan tidak mengandung keanehan, maka penelitian sanad dilakukan terl ebih dahulu untuk mempertanyakan ,” apakah ini dikatakan oleh Rasulullah saw. Catatan Penting : Tidak semua orang dapat menilai dengan benar Keanehan sebuah m atan. Yang dapat melakukan ini adalah mereka yang memiliki dasar ilmu pengetahu an agama yang kuat. Jika tidak, maka kesalahan pasti terjadi.

PENUTUP/KESIMPULAN Kualitas suatu hadis sangat ditentukan oleh kedudukan sanad dan matan ha dis. Apabila sanadnya shahih dan matannya shahih, maka hadis tersebut dapat dika tegorikan sebagai hadis shahih serta dapat dijadikan hujjah. Sebaliknya apabila sanad dan matannya tidak shahih, maka dikategorikan hadis dhaif dan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Para ulama hadis berusaha membuat metodologi untuk menganalisis keberada an suatu hadis. Hal ini dilakukan karena secara historis hadis mengalami perkemb angan yang signifikan dengan tendensi tertentu sehingga berjuang pada tercampur aduknya hadis yang memang bersumber langsung dari Rasulullah saw. dengan hadis y ang bersumber dari individu atau kelompok tertentu. Berdasarkan pertimbangan ter sebut maka diperlukan beberapa pedoman untuk menguji dan menganalisis kualitas s anad dan matan hadis / kritik sanad dan matan hadis.

DAFTAR PUSTAKA Drs. H. Ahmad Izzan, M.Ag. Ulumul Hadis : Bandung : Tafakur Humaniora, cet. 1., 2011 Ali Mustafa Yaqub : Kritik Hadis : Jakarta : Pustaka Firdaus, cet. IV.,2 004 (1) M.Ag. Ahmad Izzan.H.Drs, Ulumul Hadis ( Bandung : Tafakur Humaniora, 201 1) cet. I, h. 18. (2) Ibid (3) Ibid, h. 20 (4) Ibid (5) Islam Kaffah (6) Ibid (7) Syuhudi Ismail.M : Kaedah Keshahihan Sanad Hadis ( Jakarta : Bulan Binta ng, 1998 ), h.85 (8) Ali Mustafa Yaqub : Kritik Hadis ( Jakarta : Pustaka Firdaus, 2004 ), ce t. IV, h. 3 (9) Op cit ( Islam Kaffah )

RISUME PEMBUKAAN KULIAH PERDANA DAN ORASI ILMIAH PROGRAM PASCASARJANA ( PPs ) STAIN SAMARINDA O L E H

ZARKASI, S.Ag ( RUANG. B ) PROGRAM PASCASARJANA ( PPs ) STAIN SAMARINDA Alamat : Jl.K.H Abul Hasan No. 03 Telp. (0541) 742193-Fax 206172 Samarinda Homepage : http://www.ppsstain-samarinda.ac.id E-mail : pps@stain-samarinda.ac.i d

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->