P. 1
Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Padisawah

Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Padisawah

|Views: 458|Likes:
Published by Antasena Bima

More info:

Published by: Antasena Bima on Jul 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2014

pdf

text

original

I.

PENDAHULUAN Kebutuhan lahan yang semakin meningkat, langkanya lahan pertanian yang subur dan potensial, serta adanya persaingan penggunaan lahan antara sektor pertanian dan nonpertanian, memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya mengoptimalkan penggunaan lahan secara berkelanjutan. Untuk dapat memanfaatkan sumber daya lahan secara terarah dan efisien diperlukan tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan sifat lingkungan fisik lainnya, serta persyaratan tumbuh tanaman yang diusahakan, terutama tanaman-tanaman yang mempunyai peluang pasar dan arti ekonomi cukup baik. Data iklim, tanah, dan sifat fisik lingkungan lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta terhadap aspek manajemennya perlu diidentifikasi melalui kegiatan survei dan pemetaan sumber daya lahan. Data sumber daya lahan ini diperlukan terutama untuk kepentingan perencanaan

pembangunan dan pengembangan pertanian. Data yang dihasilkan dari kegiatan survei dan pemetaan sumber daya lahan masih sulit untuk dapat dipakai oleh pengguna (users) untuk suatu perencanaan tanpa dilakukan interpretasi bagi keperluan tertentu. Evaluasi lahan merupakan suatu pendekatan atau cara untuk menilai potensi sumber daya lahan. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan yang diperlukan, dan akhirnya nilai harapan produksi yang kemungkinan akan diperoleh. Beberapa sistem evaluasi lahan yang telah banyak dikembangkan dengan menggunakan berbagai pendekatan, yaitu ada yang dengan sistem perkalian parameter, penjumlahan, dan sistem matching atau mencocokkan antara kualitas dan sifat-sifat lahan (Land Qualities/Land Characteritics) dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang disusun berdasarkan persyaratan tumbuh komoditas pertanian yang berbasis lahan.

Sistem evaluasi lahan yang pernah digunakan dan yang sedang dikembangkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Balai Penelitian Tanah Bogor diantaranya: 1. Klasifikasi kemampuan wilayah (Soepraptohardjo, 1970) 2. Sistem pendugaan kesesuaian lahan secara parametrik (Driessen, 1971) 3. Sistem yang digunakan oleh Proyek Penelitian Pertanian Menunjang

Transmigrasi atau P3MT (Staf PPT, 1983) Sistem yang digunakan dalam Reconnaissance Land Resources Surveys 1:250.000 scale Atlas Format Procedures (CSR/FAO, 1983)

4.

5. Land Evaluation Computer System atau LECS (Wood, and Dent, 1983) 6. Automated Land Evalution System atau ALES (Rossiter D.G., and A.R. Van Wambeke, 1997)

Adanya berbagai sistem atau metode yang digunakan dalam evaluasi lahan tanpa mempertimbangkan tingkat dan skala peta dalam hubungannya dengan ketersediaan dan kehandalan (accuracy) data, dapat mengakibatkan terjadinya kerancuan dalam interpretasi dan evaluasi lahan. Sebagai contoh sistem Atlas Format (CSR/FAO, 1983) yang pada awalnya ditujukan untuk keperluan evaluasi lahan pada tingkat tinjau (reconnaissance) skala 1:250.000, sering juga digunakan untuk evaluasi lahan pada skala yang lebih besar (semi detil atau detil). Hal ini mengakibatkan informasi dan data yang begitu lengkap dari hasil pemetaan semi detil dan detil, tidak nampak peranannya dalam hasil evaluasi lahan, sehingga hasil tersebut masih sulit digunakan untuk keperluan alih teknologi dalam perencanaan pembangunan pertanian khususnya untuk skala mikro. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya suatu Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan yang dapat digunakan sesuai dengan tingkat pemetaan dan skala peta, serta tujuan dari evaluasi lahan yang akan dilakukan dalam kaitannya dengan ketersediaan dan validitas data. Petunjuk teknis ini disusun mengacu kepada “Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian Versi 3.0” (Djaenudin et al., 2000), dan dirancang untuk keperluan pemetaan tanah tingkat semi detil (skala peta 1:50.000).

II. EVALUASI LAHAN 2.1. Pengertian Dasar Dalam melaksanakan evaluasi lahan perlu terlebih dahulu memahami istilah-istilah yang digunakan, baik yang menyangkut keadaan sumber daya lahan, maupun yang berkaitan dengan kebutuhan atau persyaratan tumbuh suatu tanaman. Berikut diuraikan secara ringkas mengenai: pengertian lahan, penggunaan lahan, karakteristik lahan, kualitas lahan, dan persyaratan penggunaan lahan. 2.1.1. Lahan Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO, 1976). Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas flora, fauna dan manusia baik di masa lalu maupun saat sekarang, seperti lahan rawa dan pasang surut yang telah direklamasi atau tindakan konservasi tanah pada suatu lahan tertentu. Penggunaan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan dalam penggunaan lahan sesuai dengan karakteristik dan kualitas lahannya, bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan secara lestari dan berkesinambungan. Pada peta tanah atau peta sumber daya lahan, hal tersebut dinyatakan dalam satuan peta yang dibedakan berdasarkan perbedaan sifat-sifatnya terdiri atas: iklim, landform (termasuk litologi, topografi/relief), tanah dan/atau hidrologi. Pemisahan satuan lahan/tanah sangat penting untuk keperluan analisis dan interpretasi potensi atau kesesuaian lahan bagi suatu tipe penggunaan lahan (Land Utilization Types = LUTs). Evaluasi lahan memerlukan sifat-sifat fisik lingkungan suatu wilayah yang dirinci ke dalam kualitas lahan (land qualities), dan setiap kualitas lahan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). Beberapa karakteristik lahan umumnya mempunyai hubungan satu sama lainnya di dalam pengertian kualitas lahan dan akan berpengaruh terhadap jenis penggunaan dan/atau pertumbuhan tanaman dan komoditas lainnya yang berbasis lahan (peternakan, perikanan, kehutanan).

Dalam Juknis ini penggunaan lahan untuk keperluan evaluasi diarahkan pada: kelompok tanaman pangan (serealia. kebutuhan infrastruktur. Dalam evaluasi lahan penggunaan lahan harus dikaitkan dengan tipe penggunaan lahan (Land Utilization Type) yaitu jenis-jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detil karena menyangkut pengelolaan. pengetahuan teknologi penggunaan lahan. buah-buahan.2. daerah konservasi. . Seluruhnya ada 112 jenis komoditas pertanian yang dapat dilihat pada Lampiran 1 sampai Lampiran 6. Penggunaan lahan permanen diarahkan pada lahan yang tidak diusahakan untuk pertanian. Tipe penggunaan lahan menurut sistem dan modelnya dibedakan atas dua macam yaitu multiple dan compound. Penggunaan lahan tanaman tahunan merupakan penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya dilakukan setelah hasil tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi. orientasi pasar. sumber tenaga. seperti pada tanaman perkebunan. kelompok tanaman industri/perkebunan.1. pemilikan lahan dan tingkat pendapatan per unit produksi atau unit areal. seperti hutan. Penggunaan lahan Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas: penggunaan lahan semusim. dan pelabuhan. lapangan terbang. intensitas modal. Setiap jenis penggunaan lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. kelompok tanaman hortikultura (sayuran. kelompok tanaman hijauan pakan ternak. dan kacang-kacangan). dan perikanan air payau. umbi-umbian.2. dan permanen. Sifat-sifat penggunaan lahan mencakup data dan/atau asumsi yang berkaitan dengan aspek hasil. Tipe penggunaan lahan bukan merupakan tingkat kategori dari klasifikasi penggunaan lahan. dan tanaman hias). ukuran dan bentuk penguasaan lahan. Penggunaan lahan tanaman semusim diutamakan untuk tanaman musiman yang dalam polanya dapat dengan rotasi atau tumpang sari dan panen dilakukan setiap musim dengan periode biasanya kurang dari setahun. karena berkaitan dengan aspek masukan. perkotaan. masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. teknologi. desa dan sarananya. dan keluarannya. tahunan. tetapi mengacu kepada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya dibawah kategori penggunaan lahan secara umum. buruh. kelompok tanaman rempah dan obat.

Demikian juga yang umum dilakukan secara diversifikasi antara tanaman cengkih dengan vanili atau pisang.1. dan Driessen.. CSR/FAO. Sebagai contoh suatu perkebunan besar sebagian areal secara terpisah (satu blok/petak) digunakan untuk tanaman karet. Karakteristik lahan yang digunakan sebagai parameter dalam evaluasi lahan. 1983.3. tetapi pada areal yang berbeda pada sebidang lahan yang dikelola dalam unit organisasi yang sama. Sys et al. Compound: Tipe penggunaan lahan yang tergolong compound terdiri lebih dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan pada areal-areal dari sebidang lahan yang untuk tujuan evaluasi diberlakukan sebagai unit tunggal. 1981. 1971). serta memberikan hasil tersendiri.Multiple: Tipe penggunaan lahan yang tergolong multiple terdiri lebih dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu areal yang sama dari sebidang lahan. Sebagai gambaran Tabel 1 menunjukkan variasi dari karakteristik lahan yang digunakan sebagai parameter dalam evaluasi kesesuaian lahan oleh beberapa sumber (Staf PPT. Perbedaan jenis penggunaan bisa terjadi pada suatu sekuen atau urutan waktu. Tabel 1. Kedua komoditas ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama. Dari beberapa pustaka menunjukkan bahwa penggunaan karakteristik lahan untuk keperluan evaluasi lahan bervariasi. Sebagai contoh kelapa ditanam secara bersamaan dengan kakao atau kopi di areal yang sama pada sebidang lahan. Staf PPT (1983) Bunting (1981) Sys et al. Bunting. dalam hal ini ditanam secara rotasi atau secara serentak. Karakteristik lahan Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi. (1993) CSR/FAO (1983) Driessen (1971) Tipe hujan Periode (Oldeman et al. 1983. 2. 1993. Setiap penggunaan memerlukan masukan dan kebutuhan. dan blok/petak lainnya untuk kelapa sawit.) pertumbuhan tanaman Kelas drainase Temperatur Temperatur Lereng rerata (°C) atau rerata (°C) atau elevasi elevasi hujan Curah (mm) hujan Mikrorelief Temperatur Curah rerata pada (mm) periode pertumbuhan .

P. penghambat pengolahan tanah Pori air tersedia Penghambat pertumbuhan karena . P. dan tingkatan Macam liat Bahan induk/ cadangan mineral Kedalaman efektif P-tersedia Salinitas/DHL Kedalaman pirit Lereng (%)/mikrorelief Erosi Kerusakan karena banjir Batu dan kerikil. K) dari tanah Reaksi (pH) C-organik Aluminium Salinitas/DHL Alkalinitas Lereng Genangan Batuan permukaan CaCO3 tanah Kadar bahan organik Tebal bahan organik Tekstur Struktur. porositas. K) KTK liat oleh tanaman C-organik Pengurasan Kejenuhan basa hara (N.Sebaran besar Curah butir (lapisan tahunan atas) hujan Lamanya masa Lamanya masa Keadaan batu kering (bulan) kering (bulan) Kelembaban udara Kelas Drainase Tekstur/Struktur Bahan kasar Kedalaman tanah Kelembaban udara Kelas drainase Tekstur Bahan kasar Kedalaman tanah Ketebalan gambut Kematangan gambut KTK liat Kejenuhan basa Reaksi (pH) C-organik Aluminium Salinitas/DHL Alkalinitas di Kadar pirit Lereng tanah Kelas drainase Regim kelembaban Salinitas/ alkalinitas Kejenuhan basa Reaksi tanah (pH) Kadar pirit Kedalaman efektif Kelas drainase Ketebalan gambut Dekomposisi gambut/jenis gambut KTK Kejenuhan basa Tekstur tanah Kedalaman perakaran Reaksi (pH) tanah Salinitas/ DHL Pengambilan Reaksi tanah (pH) hara (N.

lamanya masa kering. kedalaman tanah.bahan kasar : . tekstur.drainase : . bahaya erosi.lamanya masa kering merupakan jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun : . pH H20. kelembaban udara. bahan kasar. curah hujan. kedalaman bahan sulfidik.tekstur : . drainase. lereng. C-organik. merupakan temperatur udara tahunan dan dinyatakan dalam °C merupakan curah hujan rerata tahunan dan dinyatakan dalam mm . dan singkapan batuan. salinitas. kapasitas tukar kation liat.kedalaman tanah : . genangan. kejenuhan basa. alkalinitas.kekurangan air Kesuburan tanah Permeabilitas lapisan atas Gypsum Bahaya erosi Jumlah basa total Genangan Batuan permukaan Singkapan batuan di Karakteristik lahan yang digunakan pada Juknis ini adalah: temperatur udara. kematangan gambut.curah hujan : . ketebalan gambut.kelembaban udara : dengan jumlah curah hujan kurang dari 60 mm merupakan kelembaban udara rerata tahunan dan dinyatakan dalam % merupakan pengaruh laju perkolasi air ke dalam tanah terhadap aerasi udara dalam tanah menyatakan istilah dalam distribusi partikel tanah halus dengan ukuran <2 mm menyatakan volume dalam % dan adanya bahan kasar dengan ukuran >2 mm menyatakan dalamnya lapisan tanah dalam cm yang dapat dipakai untuk perkembangan perakaran dari tanaman yang . batuan di permukaan.temperatur udara : .

bahaya erosi : lembar permukaan (sheet erosion).KTK liat : . kandungan natrium dapat ditukar bahan dalamnya bahan sulfidik diukur dari permukaan tanah sampai batas atas lapisan sulfidik. sedang pada tanah basah diukur di lapangan .ketebalan gambut : digunakan pada tanah gambut dan menyatakan tebalnya lapisan gambut dalam cm dari permukaan digunakan pada tanah gambut dan menyatakan tingkat .dievaluasi . erosi alur (reel erosion).reaksi tanah (pH) : dengan data laboratorium atau pengukuran lapangan.C-organik : .kematangan gambut : kandungan seratnya dalam bahan saprik.batuan di permukaan volume : . dan erosi parit (gully erosion). kandungan garam terlarut pada tanah yang dicerminkan oleh daya hantar listrik.lereng : . nilai pH tanah di lapangan. Pada lahan kering dinyatakan . menyatakan kemiringan lahan diukur dalam % bahaya erosi diprediksi dengan memperhatikan adanya erosi .genangan : jumlah lamanya genangan dalam bulan selama satu tahun batuan (dalam %) yang ada di permukaan sulfidik : . hemik atau fibrik. makin banyak seratnya menunjukkan belum matang/mentah (fibrik) .singkapan batuan : tanah/lapisan olah volume batuan (dalam %) yang ada dalam solum tanah .kejenuhan basa : menyatakan kapasitas tukar kation dari fraksi liat jumlah basa-basa (NH4OAc) yang ada dalam 100 g contoh tanah. atau dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) per tahun .alkalinitas : kedalaman kandungan karbon organik tanah.salinitas : .

Dalam evaluasi lahan sering kualitas lahan tidak digunakan tetapi langsung menggunakan karakteristik lahan (Driessen. Metode evaluasi yang menggunakan kualitas lahan antara lain dikemukakan pada CSR/FAO (1983). tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan (FAO. antara lain tekstur tanah dan kedalaman zone perakaran tanaman yang bersangkutan. FAO (1983). Karenanya dalam interpretasi perlu mempertimbangkan atau memperbandingkan lahan dengan penggunaannya dalam pengertian kualitas lahan. karena keduanya dianggap sama nilainya dalam evaluasi.sumber air tawar : amplitudo tersedianya air tawar untuk keperluan tambak guna mempertahankan pH dan salinitas air tertentu pasang. 1971. (1993) (lihat Tabel2)..4.perbedaan permukaan air pada waktu pasang dan surut (dalam meter) ketersediaan oksigen dalam tanah untuk keperluan surut : . 1983). Sys et al. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). .oksigen : pertumbuhan tanaman/ikan Setiap satuan peta lahan/tanah yang dihasilkan dari kegiatan survei dan/atau pemetaan sumber daya lahan. Sebagai contoh ketersediaan air sebagai kualitas lahan ditentukan dari bulan kering dan curah hujan rata-rata tahunan. seperti kondisi atau media perakaran. Staf PPT. Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluasi ada yang sifatnya tunggal dan ada yang sifatnya lebih dari satu karena mempunyai interaksi satu sama lainnya. 2. karakteristik lahan dapat dirinci dan diuraikan yang mencakup keadaan fisik lingkungan dan tanahnya. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. tetapi air yang dapat diserap tanaman tentu tergantung pula pada kualitas lahan lainnya. Kualitas lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Data tersebut digunakan untuk keperluan interpretasi dan evaluasi lahan bagi komoditas tertentu.1. 1976).

al. terrain (lereng) dan . Setiap kualitas lahan dapat berpengaruh terhadap satu atau lebih dari jenis penggunaannya. 1993 Sifat iklim Topografi Kelembaban Sifat fisik tanah Sifat tanah Salinitas/alkalinitas kesuburan Periode kering untuk pemasakan (ripening) tanaman Kualitas lahan dapat berperan positif atau negatif terhadap penggunaan lahan tergantung dari sifat-sifatnya. FAO (1983). dan Sys et al. Demikian pula satu jenis penggunaan lahan tertentu akan dipengaruhi oleh berbagai kualitas lahan.Tabel 2. 1983 Temperatur Ketersediaan air Ketersediaan oksigen Media perakaran Retensi hara Toksisitas Sodisitas Bahaya sulfidik Bahaya erosi Penyiapan lahan FAO. Kualitas lahan yang berperan positif sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan. sehingga merupakan faktor penghambat atau pembatas. Sebagai contoh bahaya erosi dipengaruhi oleh: keadaan sifat tanah. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat negatif akan merugikan (merupakan kendala) terhadap penggunaan tertentu. 1983 Kelembaban Ketersediaan hara Ketersediaan oksigen Media untuk perkembangan akar Kondisi untuk pertumbuhan Kemudahan diolah Salinitas dan alkalinitas/ toksisitas Retensi terhadap erosi Bahaya banjir Temperatur Energi radiasi dan fotoperiode Bahaya unsur iklim (angin. Kualitas lahan yang dipakai pada metode evaluasi lahan menurut CSR/FAO (1983). (1993).. CSR/FAO. kekeringan) Kelembaban udara Sys et.

ketersediaan air : kering. alkalinitas. bahaya erosi.retensi hara : . Ukuran dari unit potensial manajemen atau blok area/lahan pertanian. . dan bahan kasar (batu. dan pemasaran hasil (aspek ekonomi). Kualitas lahan yang menentukan dan berpengaruh terhadap manajemen dan masukan yang diperlukan adalah: . Dalam Juknis ini kualitas lahan yang dipilih sebagai berikut: temperatur. struktur. .Lokasi dalam hubungannya untuk penyediaan sarana produksi (input).temperatur: ditentukan oleh keadaan temperatur rerata ditentukan oleh keadaan curah hujan.Terrain berpengaruh terhadap mekanisasi dan/atau pengelolaan lahan secara praktis (teras. tanaman sela/alley cropping.bahaya keracunan ditentukan oleh salinitas. zone perakaran. toksisitas. lama masa .gambut: . kejenuhan basa. ketersediaan air. media perakaran.penyiapan lahan : pirit (FeS2) ditentukan oleh lereng dan bahaya erosi ditentukan oleh genangan ditentukan oleh batuan di permukaan dan singkapan batuan . salinitas. pH-H20. bahan kasar. dan sebagainya). dan C-organik oksigen : . ketersediaan oksigen. dan konsistensi tanah. bahan kasar dan kedalaman tanah ditentukan oleh kedalaman dan kematangan gambut ditentukan oleh KTK-liat. bahaya sulfidik.bahaya banjir : . konstruksi dan pemeliharaan jalan penghubung.ikim (curah hujan). drainase. retensi hara. atau amplitudo pasangsurut. topografi. tekstur. tergantung jenis komoditasnya ketersediaan ditentukan oleh keadaan drainase atau oksigen tergantung jenis komoditasnya ditentukan oleh keadaan tekstur. bahaya banjir. dan kedalaman sulfidik atau : . kelembaban. dan penyiapan lahan.media perakaran : . Ketersediaan air bagi kebutuhan tanaman dipengaruhi antara lain oleh: faktor iklim.bahaya erosi : . kerikil) di dalam penampang tanah. gambut. sumber air tawar.

dan hara.1. dan/atau sesuai marginal (S3). Persyaratan tumbuh atau persyaratan penggunaan lahan yang diperlukan oleh masingmasing komoditas mempunyai batas kisaran minimum. Persyaratan karakteristik lahan untuk masingmasing komoditas pertanian umumnya berbeda. 1983). Sedangkan kualitas lahan yang di bawah optimum merupakan batasan kelas kesesuaian lahan antara kelas yang cukup sesuai (S2). peternakan. Hal ini dengan pertimbangan bagaimanapun potensialnya secara fisik suatu wilayah. dan mampu menyerap unsur hara secara optimal. tetapi ada sebagian yang sama sesuai dengan persyaratan tumbuh komoditas pertanian tersebut. Persyaratan tersebut terutama terdiri atas energi radiasi. dimana pada kondisi demikian aerasi tanah cukup baik.Fasilitas yang berkaitan dengan aspek ekonomi merupakan penentu kesesuaian lahan secara ekonomi atau economy land suitability class (Rossiter. 2. Evaluasi Lahan dari aspek ekonomi tidak dibahas dalam Juknis ini. temperatur. ditentukan oleh drainase. Persyaratan lain berupa media perakaran. sehingga di dalam tanah cukup tersedia oksigen. Di luar batasan tersebut merupakan lahan-lahan yang secara fisik tergolong tidak sesuai (N). tidak akan banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan wilayah tersebut. kelembaban. persyaratan penggunaan lahan dikaitkan dengan kualitas lahan dan karakteristik lahan yang telah dibahas. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi. 1995). dengan demikian akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Persyaratan temperatur dan kelembaban umumnya digabungkan. Tetapi pada umumnya tanaman menghendaki drainase yang baik. Persyaratan penggunaan lahan Semua jenis komoditas pertanian termasuk tanaman pertanian. dan selanjutnya disebut sebagai periode pertumbuhan (FAO.6. oksigen. dan maksimum untuk masing-masing karakteristik lahan. Kisaran tersebut untuk masing-masing komoditas pertanian dapat dilihat pada Lampiran 1 . optimum. Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman atau penggunaan lahan merupakan batasan bagi kelas kesesuaian lahan yang paling sesuai (S1). . tanpa ditunjang oleh sarana ekonomi yang memadai. struktur dan konsistensi tanah. dan perikanan yang berbasis lahan untuk dapat tumbuh atau hidup dan berproduksi optimal memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. serta kedalaman efektif (tempat perakaran berkembang). tekstur. Ada tanaman yang memerlukan drainase terhambat seperti padi sawah.5.

3. Pendekatan dua tahapan Pendekatan dua tahap terdiri atas tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik. PROSEDUR EVALUASI LAHAN Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau sumber daya lahan lainnya. 1976). 1976). Cara seperti ini umumnya menguntungkan untuk suatu acuan yang spesifik . 3. maupun untuk studi pengujian potensi produksi (FAO.III.1. dan tahap kedua evaluasi lahan secara ekonomi.1.2. seperti untuk tegalan (arable land) atau sawah dan perkebunan. maka dalam evaluasi lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya lahan lainnya. Kedua pendekatan itu adalah: 1) pendekatan dua tahapan (two stage approach). Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat pemetaan tanah. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam bentuk laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera ditindak lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan sosialnya. Pendekatan Dalam evaluasi lahan ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh mulai dari tahap konsultasi awal (initial consultation) sampai kepada klasifikasi kesesuaian lahan (FAO. Konstribusi dari analisis sosial ekonomi terhadap tahap pertama terbatas hanya untuk mencek jenis penggunaan lahan yang relevan. Pendekatan parallel Dalam pendekatan paralel kegiatan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi dilakukan bersamaan (paralel). sesuai dengan tingkat dan skala pemetaannya. dan 2) pendekatan paralel (parallel approach).1. Pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam inventarisasi sumber daya lahan baik untuk tujuan perencanaan makro. melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan untuk suatu tujuan penggunaan tertentu. atau dengan kata lain analisis ekonomi dan sosial dari jenis penggunaan lahan dilakukan secara serempak bersamaan dengan pengujian faktorfaktor fisik.1. Klasifikasi kesesuaian tahap pertama didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang telah diseleksi sejak awal kegiatan survei. 3.

000. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk 112 jenis komoditas pertanian yang berbasis lahan disajikan pada Lampiran 1–6. dan kualitas data yang dihasilkan dari ketiga tingkat pemetaan tersebut bervariasi. pengelolaan dan konservasi.dalam kaitannya dengan proyek pengembangan lahan pada tingkat semi detil dan detil. sehingga penyajian hasil evaluasi lahan ditetapkan sebagai berikut: pada tingkat tinjau dinyatakan dalam ordo. Konsultasi awal ini untuk menentukan tujuan dari evaluasi yang akan dilakukan. Urutan kegiatan dalam . semi detil skala 1:25. Penyiapan Data Untuk melakukan evaluasi lahan baik dengan menggunakan pendekatan dua tahapan maupun pendekatan paralel perlu didahului dengan konsultasi awal.000 sampai 25.000 atau lebih besar. Melalui pendekatan paralel ini diharapkan dapat memberi hasil yang lebih pasti dalam waktu yang singkat.000 atau lebih kecil.2. data apa yang diperlukan dan asumsi-asumsinya yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam penilaian. Evaluasi lahan yang akan dilakukan tergantung dari tujuannya yang harus didukung oleh ketersediaan data dan informasi sumber daya lahan. dan pada tingkat detil dinyatakan dalam subkelas/subunit. yaitu: tingkat tinjau skala 1:250. jumlah. tingkat semi detil dalam kelas/subkelas. Pada proses matching hukum minimum dipakai untuk menentukan faktor pembatas yang akan menentukan kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Pelaksanaan Evaluasi lahan dibedakan ke dalam tiga tingkatan. Jenis. Dalam penilaian kesesuaian lahan perlu ditetapkan dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan potensial). 3. Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching) data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan. Petunjuk Teknis ini disarankan dipakai terutama untuk tingkat pemetaan semi detil.000 sampai 50. melaksanakan evaluasi lahan dapat dilihat pada Gambar 1. dan detil skala 10. Keadaan potensial dicapai setelah dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement = I) terhadap masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial.

Demikian pula dalam hal penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah.3. tetapi tidak demikian kalau diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana. Urutan kegiatan dalam evaluasi lahan (FAO.Reliabilitas data yang tersedia: rendah. dan (2) yang menyangkut pelaksanaan evaluasi/interpretasi serta waktu berlakunya dari hasil evaluasi lahan. Sebagai contoh penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik. 1983) 3. Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan masukan teknologi tinggi.Kependudukan tidak dipertimbangkan dalam evaluasi . tinggi .Gambar 1.Data tanah yang digunakan hanya terbatas pada informasi atau data dari satuan lahan atau satuan peta tanah. sedang. . Pada lereng lebih besar dari 8% jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah. Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan Sebelum melaksanakan evaluasi lahan. atau tinggi. Asumsi dapat dibedakan terutama atas dua hal: (1) yang menyangkut areal proyek. sedang.Infrastruktur dan aksesibilitas serta fasilitas pemerintah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi. Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana). terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang akan diterapkan.Lokasi penelitian atau daerah survey . . Beberapa contoh asumsi yang ditetapkan untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik adalah sebagai berikut: . Kasus serupa dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng. Jika lahan akan diolah secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat (mekanik).

Pemilikan tanah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi. dan banjir/genangan. Di tempat-tempat yang tidak tersedia data temperatur (stasiun iklim terbatas). 1992.(0. Tetapi menurut Wambeke et al. Estimasi temperatur berdasarkan ketinggian tempat (elevasi).6°C) Berdasarkan penelitian Braak tersebut temperatur tanah pada kedalaman 50 cm di Indonesia lebih tinggi 3-4. Hasil pendugaan temperatur dan ditambah perbedaan temperatur udara dan temperatur tanah tersebut digunakan untuk menentukan rejim temperatur tanah seperti yang ditetapkan dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff.Pemasaran hasil produksi serta harga jual tidak dipertimbangkan dalam evaluasi. dan rumus yang dapat digunakan (rumus Braak) adalah sebagai berikut: 26. Berdasarkan hasil penelitiannya di Indonesia temperatur di dataran rendah (pantai) berkisar antara 25-27ºC.5ºC. (1986) temperatur tanah lebih tinggi 2. 1998). . INFORMASI PARAMETER UNTUK EVALUASI LAHAN Bab ini mengemukakan karakteristik tanah atau lahan dan cara memprediksi data secara praktis di lapangan maupun kriteria pengelompokannya. alkalinitas. Aspek ekonomi hanya dipertimbangkan secara garis besar. (1972). . . . bahaya erosi. Pendugaan tersebut dengan menggunakan pendekatan rumus dari Braak (1928) dalam Mohr et al.Tingkat pengelolaan atau manajemen dibedakan atas 3 tingkatan yaitu rendah.5ºC dari temperatur udara. maka rerata temperatur udara ditambah sekitar 3. tekstur. dan tinggi. maka temperatur udara dapat diduga berdasarkan ketinggian tempat (elevasi) dari atas permukaan laut. Usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan dengan tingkat pengelolaannya.5ºC.3°C . sedang. kuantitatif fisik atau kuantitatif ekonomi.. IV. sehingga untuk menduga temperatur tanah pada kedalaman 50 cm. Karakteristik tanah/lahan yang dipakai sebagai parameter dalam evaluasi lahan tersebut antara lain: temperatur udara. drainase.01 x elevasi dalam meter x 0.Evaluasi lahan dilaksanakan secara kualitatif.

Drainase tanah Kelas drainase tanah dibedakan dalam 7 kelas sebagai berikut: 1. tanah basah sampai ke permukaan. Agak baik (moderately well drained). Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air rendah sampai sangat rendah. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai = 100 cm. Agak cepat (somewhat excessively drained). 2. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah dekat ke permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). 8. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 4. Cepat (excessively drained). yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai = 50 cm. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Baik (well drained). lembab. tanah basah untuk waktu yang . tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. 5. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai =25 cm. Terhambat (poorly drained). Agak terhambat (somewhat poorly drained). tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air rendah. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air rendah sampai sangat rendah. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan daya menahan air rendah. Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. 3. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman.

serta agak melekat. Sangat terhambat (very poorly drained). dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Menentukan kelas tekstur di lapangan No Tekstur 1. Pasir berlempung (LS) 3. . 5 Lempung Licin. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 7.cukup lama sampai ke permukaan. tidak membentuk bola dan gulungan. serta agak melekat. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. membentuk bola teguh. Pasir (S) Sifat Tanah Sangat kasar sekali. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. membentuk bola agak kuat tapi mudah hancur. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. membentuk bola teguh. Sangat kasar. Tekstur Tekstur adalah merupakan gabungan komposisi fraksi tanah halus (diameter =2 mm) yaitu pasir. membentuk bola yang mudah sekali hancur. tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air sangat rendah. debu dan liat. Tabel 3. Lempung berpasir (SL) 4 Lempung (L) Rasa tidak kasar dan tidak licin. dan melekat. 2. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 3. serta tidak melekat. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besi dan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. dapat sedikit digulung dengan Agak kasar.

serta agak melekat. membentuk bola agak teguh (lembab). liat. membentuk bola sempurna. dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat. serta melekat. lempung berdebu. serta agak melekat. gulungan mengkilat. Rasa berat. membentuk bola dalam keadaan kering (SC) sukar dipilin. lempung. mudah digulung. liat berdebu halus Lempung berliat. 11 Liat berdebu Rasa agak licin. Rasa licin sekali. serta agak melekat. bila kering sangat keras. mudah digulung. 8 Lempung liat berpasir membentuk gulungan tetapi mudah hancur. (SCL) 9 Lempung Rasa licin jelas. lempung liat berdebu kasar Lempung berpasir . membentuk bola teguh. membentuk bola dalam keadaan kering sukar (SiC) 12 Liat (C) dipilin. pasir berlempung Lempung berpasir sangat halus. Pengelompokan kelas tekstur yang digunakan pada Juknis ini adalah: Halus (h) Agak (ah) Sedang (s) Agak (ak) Kasar (k) Pasir. 7 Lempung berliat (CL) Rasa agak kasar. basah sangat melekat. serta melekat. membentuk gulungan tapi mudah hancur. debu Liat berpasir. (SiCL) 10 Liat berpasir Rasa licin agak kasar. serta melekat. membentuk bola teguh. liat berdebu melekat. Rasa kasar agak jelas.berdebu (SiL) 6 Debu (Si) permukaan mengkilat. lempung liat berpasir. membentuk bola agak teguh (lembab).

dibedakan menjadi: sangat dangkal dangkal sedang dalam 20 . atau batuan pada setiap lapisan tanah. dibedakan menjadi: sedikit sedang banyak sangat banyak < 15% 15 .Sangat halus (sh) Liat (tipe mineral liat 2:1) Bahan kasar Bahan kasar adalah merupakan modifier tekstur yang ditentukan oleh jumlah persentasi kerikil. kerakal.60%% > 60% Kedalaman tanah Kedalaman tanah.50 cm 50 – 75 cm > 75 cm < 20 cm .35% 35 .

erosi alur (reel erosion).Ketebalan gambut Ketebalan gambut. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A.100 cm 100 – 200 cm 200 .400 cm sangat tebal > 400 cm Saprik+. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). hemik+. dan erosi parit (gully erosion). Alkalinitas Menggunakan nilai exchangeable sodium percentage atau ESP (%) yaitu dengan perhitungan ESP = Na dapat tukar x 100 KTK tanah Nilai ESP 15% adalah sebanding dengan nilai sodium adsorption ratio atau SAR 13 Bahaya erosi Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan keadaan lapangan. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relatif mengandung bahan organik yang cukup banyak. fibrik+ = saprik/ hemik/ fibrik dengan sisisipan/ pengkayaan bahan mineral. dibedakan menjadi: tipis sedang agak tebal tebal < 60 cm 60 . . Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun.

2. < 25 cm 25 .8 1.150 cm > 150 cm.50 cm 50 . 4.Tingkat bahaya erosi tersebut disajikan dalam Tabel 4. Tingkat bahaya erosi Tingkat bahaya erosi Jumlah tanah permukaan yang hilang (cm/tahun) Sangat ringan < 0. > 6 bulan. 1 .1.8 berat > 4.8 .6 bulan 4. Tabel 4. No Kedalaman banjir (X) 1.0. < 1 bulan 2. Lamanya banjir (Y): 1. 3.15 (sr) Ringan (r) Sedang (s) Berat (b) Sangat (sb) 0. .3 bulan 3.4.15 .9 0.8 Bahaya banjir/genangan Banjir ditetapkan sebagai kombinasi pengaruh dari: kedalaman banjir (X) dan lamanya banjir (Y). Kedua data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan penduduk setempat di lapangan. 3 .9 .

Tabel 5. F2.3 F1.1. F4. F4.4.2. F3.1 F1.y) F1. y. F2.1 F1. F4.4 .y) Simbol Kelas bahaya Kelas bahaya banjir berdasarkan kombinasi kedalaman dan banjir F0 F1 F2 F3 F4 Tanpa Ringan Sedang Agak berat Berat lamanya banjir (F x. F3. dan Y adalah lamanya banjir). F3. Kelas bahaya banjir Simbol Kelas bahaya banjir Kelas bahaya banjir berdasarkan kombinasi kedalaman dan lamanya banjir (F x. F2.4.Bahaya banjir diberi simbol Fx.2.3. F2. (dimana X adalah simbol kedalaman air genangan. F4.2. Kelas bahaya banjir tersebut disajikan dalam Tabel 5.4.3.3.1. F3.2.

0 0.Tekstur tanah .Kedalaman pirit .15% 0% 0% sedang Seri Bukit Semboja 22°C 6-9 bulan 1.V.N total . CONTOH EVALUASI LAHAN 5.1. No Satuan Peta Tanah : 30 Satuan tanah : Assosiasi seri Santong dan seri Bukit Semboja Seri Santong . lahan potensial S1 S1 S1 S1 . Berikut ini adalah data tanah dan lingkungan fisik hasil dari identifikasi dan karakterisasi tingkat semi detil skala 1:50.Kejenuhan aluminium .1 0.Konsistensi .2% gumpal agak lekat 8 .550 mm/th sedang Lempung berpasir sedang (50 cm) bukan gambut 12 me/100 g (rendah) 6.Salinitas . Persyaratan penggunaan lahan/karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (°C) Kelas kesesuaian lahan Kelas kes.15% 0% 0% sedang Hasil evaluasi lahan dinyatakan dalam kondisi aktual (kesesuaian lahan aktual) dan kondisi potensial (kesesuaian lahan potensial).K2O tersedia .Singkapan batuan (rock outcrops) .kematangan .550 mm/th agak cepat Lempung liat berpasir sangat dalam (>150 cm) bukan gambut 23 me/100 g (sedang) 6.KTK tanah . Penilaian kesesuaian lahan jagung varietas Harapan pada tanah seri Santong. lahan Usaha perbaikan aktual Nilai data 22 Kelas kes.ketebalan .000 di daerah Lombok (Puslittanak.P2O5 tersedia .Bulan kering (<100 mm/bln) . seperti disajikan pada Tabel 6.Batu di permukaan .Temperatur udara rata-rata tahunan .Total bahaya erosi 22°C 6-9 bulan 1.Kemiringan lahan .pH .Drainase tanah . 1990).Gambut: .21% 20 ppm 125 ppm tidak pernah 3. yaitu untuk evaluasi lahan pada tingkat semi detil.Curah hujan tahunan .Frekuensi .Struktur . Penilaian Kesesuaian Lahan Pada bab ini diberikan contoh penilaian kesesuaian lahan menurut tingkat pemetaannya.Kedalaman efektif . Tabel 6.Periode banjir .21% 49 ppm 70 ppm tidak pernah 24% tanpa tidak lekat 8 .

kelas kesesuaian lahan naik satu tingkat Tabel 7.Ketersediaan air (wa) Curah hujan tahunan (mm) Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm). lahan potensial Nilai data Usaha perbaikan Temperatur (tc) S1 S1 . lahan aktual Kelas kes. Penilaian kesesuaian lahan jagung varietas Harapan pada tanah seri Bukit Semboja [Kembali ke daftar kriteria] Kelas kesesuaian lahan Persyaratan penggunaan lahan/karakteristik lahan Kelas kes.550 80 S2 S2 S1 S2 S1 S2 S2 S2 S2 sedang S2 S3 lempung berpasir <5 55 S3 S1 S2 S3 S1 S2 S3 S1 S1 S1 0 S1 S2 12 45 6.0 0.8 S2 S2 S1 S1 * * S1 S1 S1 S1 S1 S2 8 -15 sedang S2 S2 S2 S2 S2 S1 S1 S1 tidak pernah S1 S1 0 0 Aktual (A) S1 S1 S1 S1 Potensial (P) S1 S3 S3 Keterangan: * Usaha perbaikan dapat dilakukan. jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol (+)/kg ) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) Kelas kesesuaian lahan 1.

Temperatur rerata (°C) Ketersediaan air (wa) Curah Hujan tahunan (mm) Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur 22 S1 S1 S2 1550 80 S2 S1 S2 S1 S2 S2 agak cepat S2 S2 S2 S1 S1 S1 lempung liat berpasir <5 150 S1 Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm).1 0.8 S1 S3 S1 S1 * S1 S2 S1 S1 S2 S2 8 -15 sedang S2 S2 S2 S2 S2 S1 tidak pernah S1 S1 S1 . jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol (+)/kg ) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan S1 S1 S1 S1 S1 0 S1 S1 S1 S3 23 30 6.

terlihat bahwa usaha perbaikan untuk menaikan kelas kesesuaian lahan tidak dapat dilakukan karena faktor pembatas paling minimum adalah tekstur (lempung berpasir). kelas kesesuaian lahan naik satu tingkat Dari contoh pada Tabel 6.Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) Kelas kesesuaian lahan 0 0 Aktual S1 S1 S1 S1 S1 Potensial S1 S3 S2 Keterangan: * Usaha perbaikan dapat dilakukan. Hasil evaluasi lahan akhir adalah sebagai berikut: .

F15. F13.5 .50 kasar > 35 < 25 < 60 < 140 60 .200 140 .30 30 – 40 > 40 > 100 75 .8 <2 2-4 4-6 >6 < 20 20 .F25.5 < 0.F22.5 ≤ 16 35 . agak halus <3 > 50 terhambat.35 < 18 > 35 Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm).Padi sawah irigasi (Oryza sativa) [Kembali ke daftar kriteria] Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (°C) 24 . agak cepat agak kasar 15 .40 cepat 33 .35 25 .29 22 .32 Ketersediaan air (wa) Kelembaban (%) Media perakaran (rc) Drainase agak terhambat.5 < 35 < 4. sedang halus.140 140 .33 < 30. hemik+ hemik.2 .F24.24 29 .100 40 – 75 < 40 <3 sangat rendah 3-5 rendah 5–8 sedang >8 berat F0.5 8. F14.1.50 4.8.8 .200 200 .5 . baik sangat terhambat. > 90 18 .90 30 .F33.400 > 200 > 400 saprik+ saprik.F12.F34.2 > 1.F11.5 0. jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan sedang 3 . .22 32 .5 > 8.5.15 40 .8. fibrik+ fibrik > 16 > 50 5.

agak cepat. agakterhambat halus.650 50 .F43 F44 F35.100 400 .90 100 .50 kasar > 55 < 25 < 60 < 140 60 .650 < 30 > 90 > 650. sangat terhambat agak kasar 35 – 55 25 – 40 cepat 50 . < 50 > 650.200 200 . jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) 15 . < 50 > 650 Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm).22 32 .F42.100 400-550.F23. agak halus. hemik. hemik+ hemik. fibrik+ fibrik > 16 ≤ 16 .200 140 .35 40 .400 33 .F32 Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) <5 <5 F41.400 400 550 400 . fibrik dengan sisipan bahan mineral/ pengkayaan Padi gogo (Oryza sativa) [Kembali ke daftar kriteria] Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (°C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) bulan ke1 Curah hujan (mm) bulan ke2 Curah hujan (mm) bulan ke3 Curah hujan (mm) bulan ke4 Kelembaban (%) Media perakaran (rc) Drainase baik.400 50 .15 5 .650 550 .550 75 .24 29 .400 100 .F21.400 > 200 > 400 saprik+ saprik. hemik+. < 50 24 . sedang < 15 > 50 terhambat.35 < 18 > 35 Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N > 650.29 22 .75 550 .F45 5 .650 50 – 75 550 .15 15 – 40 15 – 25 > 40 > 25 Keterangan: saprik+.32 18 . fibrik+ = saprik. sedang.550 75 .F31.140 140 .33 550 .< 50 30 .

90 30 .9 < 0. sedang <3 > 50 agak terhambat.5 . baik agak kasar 15 . agak cepat 3 – 15 40 – 50 sedang.35 < 18 > 35 Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) kasar > 35 < 25 .0 > 7.30 30 – 40 > 40 > 75 50 .5 20 .8 .5 < 20 < 5.5 .0 .22 32 .7.24 29 .29 22 .5 7.5 > 1.9 0. sangat terhambat halus.Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) > 35 5.33 < 30 > 90 24 .40 cepat 33 .75 50 – 30 < 30 <8 sangat rendah 8 – 16 rendah– sedang 16 – 30 16 – 50 berat > 30 > 50 sangat berat - F11 F12 .5.35 5.35 25 .F13 > F13 <5 <5 5 .7. agak halus.1.15 15 – 40 15 – 25 > 40 > 25 Padi sawah lebak (Oryza sativa) [Kembali ke daftar kriteria] Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (°C) Ketersediaan air (wa) Kelembaban (%) Media perakaran (rc) Drainase terhambat.32 18 .8 <2 2-4 4–6 >6 < 20 20 .15 5 .

5 ≤ 16 20 – 35 5. hemik+ hemik.24 29 .200 140 .125 650 . F13.175 500 .F42.400 > 200 > 400 saprik+ saprik.F44 F11.8 .5 .8 < 60 < 140 60 – 140 140 .175 500 .650 650 .F25. fibrik+ fibrik Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) <5 <5 5 – 15 5 – 15 15 .750 100 . F14.F34.22 32 – 35 N < 18 > 35 .650 125 .650 125 .F12.5 < 0.8.8.F32 F41.2 .5 < 20 < 5.F33 F21.29 S2 22 .40 15 .2 > 1.25 > 40 > 25 Padi sawah tadah hujan (Oryza sativa) [Kembali ke daftar kriteria] Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (°C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) bulan ke-1 Curah hujan (mm) bulan ke-2 Curah hujan (mm) bulan ke-3 175-500 175-500 175-500 500 .Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm).32 S3 18 .F23.1.0 .F22. F35. F43.5.750 > 750 < 100 > 750 < 100 > 750 Kelas kesesuaian lahan S1 24 .200 200 . jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya banjir (fh) Genangan F31.F45 > 100 75 – 100 40 .40 > 40 <2 2–4 4–6 >6 > 16 > 35 5.75 < 40 < 20 20 – 30 30 .0 > 8. F15.5 0. F24.750 100 .5 8.125 650 .

2 .5.15 5 .5 < 0.400 > 200 > 400 saprik+ saprik.sedang.0 > 8.200 200 .0 .25 > 40 > 25 .5 < 35 < 5.500 30 . jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) kasar > 35 < 25 < 60 < 140 60 . agak terhambat halus.sedang >8 .90 300 .40 cepat Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm).1. F24.5 0.50 5.140 140 .5 – 8. F34. F22 F13.40 15 . F42 F14.40 > 40 > 100 75 .33 100 .8 <2 2-4 4-6 >6 < 20 20 . baik halus.2 > 1.200 140 .125 .600 < 30 < 30 > 90 < 100 > 600 sangat terhambat agak kasar 15 – 35 25 . F23. hemik+ hemik.15 15 .5 ≤ 16 35 .15 40 .100 40 .5 8.75 < 40 <3 sangat rendah 3-8 rendah .50 50-300 33 . F41.125 500 . agak halus. agak halus. sedang <3 > 50 agak cepat. fibrik+ fibrik > 16 > 50 5.8. F43 > F14 > F43 <5 <5 5 .25 berat > 25 sangat berat F0-F12 F21.30 30 .8 .50 30 . sedang 3 .175 Curah hujan (mm) bulan ke-4 Kelembaban (%) Media perakaran (rc) Drainase terhambat.

6 ≤ 0.2 .40 15 .100 8 .28 Kelas kesesuaian lahan S2 S3 28 .000 >7 sangat terhambat.75 140 .Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Ubi kayu (Manihot esculenta) Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (°C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Lama bulan kering (bln) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase S1 22 .55 50 .15 5 .2.16 rendahsedang 5 .000 3.5 baik. sedang Media perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm).8 > 7.400 saprik+ saprik.25 > F1 > 40 > 25 Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.7.140 140 .8 2-3 75 .0 > 0.200 200 . hemik+ ≤ 16 < 20 4.200 sangat halus 35 .100 60 .000 .30 18 – 20 30 .35 75 .000 -5. agak terhambat 600 . fibrik+ fibrik > 16 20 5. Balai Penelitian Tanah Bogor. agak kasar 15 .000 5-6 agak cepat.7. Departemen Pertanian.0 .15 hemik. sedang < 15 > 100 < 60 < 140 halus.5 .5.8 <2 > 100 <8 sangat rendah < 4.000 .1. jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) agak halus.35 500 – 600 3.8 .2 7.75 16 .3.6 3-4 40 .000 6-7 terhambat N < 18 > 35 < 500 > 5. cepat kasar > 55 < 50 > 200 > 400 1.30 berat >4 < 40 > 30 sangat berat F0 <5 <5 F1 15 .000 2. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->