P. 1
obat

obat

|Views: 1,792|Likes:
Published by Ndy ANira

More info:

Published by: Ndy ANira on Jul 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

I. SSP A. B.

EPILEPSI NYeri yang

Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan Macam Kejang Kejang parsial Obat Pilihan Utama Obat Alternatif Gabapentin Topiramat Pirimidon, fenobarbital Lamotrigin, levetrirasetam Lamotrigin, topiramat, zosinamid Lamotrigin, fenobarbital, pirimidon.

Karbamazepin Fenitoin Lamotrigin Asam Valproat Okskarbazepin Kejang Asam valproat, etoksuksinamid Umum Asam valproat, Klonazepam Absence Fenitoin, karbamazepin, Asam Myoklonik valproat Tonikklonik

berhubungan dengan adanya (actual) atau potensi kerusakan jaringan atau keadaan yang menggambarkan kerusakan tersebut. a. Obat Nonopioid : analgesic yang diberikan harus dimulai dengan analgesic yang paling efektif dengan efek samping terrendah. 1. Aspirin Indikasi : nyeri ringan sampai sedang, demam; antiplatelet. Asetosal tablet, Analagan, Aptor, Ascardia, aspilets (UNITED AMERICAN, MEDIFARMA B), Aspimec, bodrexin,cardio aspirin tablet, Contrexyn, Farmasal, Farsi flu,Fitranal, Influenza super, Inzana, Kay ye zan, Lemonin,Minigrip, Naspro,Obat pening kapala cap kapak (YAHI),Obat sakit kepala cap jet,Obat sakit kepala cap parang (IMFARMID),OSK no. 16, Poldan mig, Procardin, PSK, Puyer agansa, Remasal, Restor (SANDOZ), Rheumaphil. 2. Parasetamol : mempunyai aktivitas analgesic dan antipiretik tetapi hanya sedikit efek antiinflamasi. Juga sangat bersifat sangat hepatotoksik jika overdosis. Indikasi : nyeri ringan sampai sedang, demam Kontraindikasi : reaksi hipersensitif , dosis tinggi merusak hati Sediaan yang beredar :Paracetamol ,Anaflu Kaplet,,Parasetol Tablet ,Sanmol Suspensi. Farmadol Mixagrip,Panadol

b. Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin, misalnya. Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri paska pembedahan. a) MORFIN DAN STRUKTUR SEJENISNYA.Morfin dianggap oleh banyak klinis sebagai obat pilihan pertama untuk nyeri sedang sampai ringan. Dapat diberikan secara oral, parenteral atau rektal Indikasi : Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Sediaan yang beredar : Morfin HCl generic,Kapabloc,MST Continus. b) MEPERIDIN DAN STRUKTUR SEJENISNYA(DEMEROL)Meperidin kurang poten dan lebih singkat lama kerjanya dibandingkan dengan morfin, tidak lebih menguntungkan dibandingkan morfin Indikasi : Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada beberapa keadaan klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan

analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik, untuk menimbulkan analgesia obstetrik dibandingkan dengan morfin, meperidin kurang karena menyebabkan depresi nafas pada janin. Kontraindikasi: hipotensi, hipotiroidisme, asma (hindari selama serangan dan penurunan fungsi pernafasan, pembesaran prosta; hamil, menyusui,dapat menyebabkan koma pada gangguan hepar (turunkan dosis atau hindari c) FENTANIL (Fentanil , Durogesic ) adalah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 x morfin. Fentanil merupakan opioid sintetik dari kelompok fenilpiperedin. Lebih larut dalam lemak dan lebih mudah menembus sawar jaringan.Indikasi : Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada beberapa keadaan klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. Indikasi : Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. d) Metadon dan struktur sejenis (Dolophine, Amidone, Methadose, Physeptone, Heptadon) Suatu opioid sintetik, efektif peroral yang hampir sama potensinya dengan morfin tetapi kurang menyebabkan euphoria dan mempunyai masa kerja yang lebih panjang Indikasi : nyeri berat (biasanya kronis , walaupun efektif juga pada kondisi akut), batuk pada penyakit yang bersifat terminal, terapi tambahan untuk mengatasi ketergantungan opioid. e) Turunan opioid Agonis-Antagonis(yg beredar: NARCAN ®,NOKOBA®,PHARXIS ®, NARCAXIONE ® Antagonis opioid _Nalokson merupakan antagonis opioid murni yang terikat secara kompetitif ke reseptor opioid, tetapi tidak menghasilkan respon analgesic. Terapi digunakan untuk mengatasi efek toksik dari opioid agonis dan opioid agonis-antagonis. Indikasi : Mengatasi depresi napas yang dipicu oleh opioid Kontraindikasi : hipersensitif terhadap Nalokson f) ANALGESIC SENTRAL (Tramadol Hexapharm, Andalpha,Bellatram. Camigesik, Contram 50 ,Dolana, Dolgesik, Dolocap,Forgesic, Kamadol, Nufapotram). analgesic yang bekerja secara sentral untuk nyeri sedang sampai agak berat, terikat ke reseptor N opiate dan secara lemah menghambat ambilan kembali (reuptake) norepinefrin dan serotin .Indikasi : nyeri sedang sampai ringan. Kontraindikasi : Oral jangan diberikan pasien dengan paralytic ileus. Pasien dengan hipersensitivitas, depresi pernapasan yg parah. g) Terapi kombinasi Kombinasi analgesic oral opioid dan nonopioid sering lebih efektif dibandingkan dengan monoterapi dan memungkinkan untuk mengurangi dosis obat masing-masing. AINS ditambah dengan jadwal tertentu seringkali efektif untuk nyeri kanker tulang metastase. IBUPROFEN Indikasi : demam dan nyeri untuk anak;nyeri dan radang pada penyakit rematik (termasuk juvenile arthtris) dan gangguan otot skelet lainnya; nyeri ringan sampai berat termasuk dismenore, analgesic pasca bedah. Kontraindikasi : pasien yang mengidap tukak lambung aktif ; pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap asetosal atau AINS lainnya, termasuk mereka yang kena serangan asma, angiodema, urtikaria atau rinitisnya dipicu oleh asetosal dan AINS lainnya.

C.

PARKINSON

Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan ketidak teraturan pergerakan (movement disorder), tremor pada saat istirahat, kesulitan pada saat memulai pergerakan, dan kekakuan otot.

1) LEVODOPA (leparson, levopar , madopar, madopar HBS,madopar dispersible 125, pardoz). Indikasi: Parkinsonisme (tetapi tidak termaksud gejala ekstrpiramidal yang disebabkan oleh efek samping obat.Kontra indikasi : wanita hamil dan menyusui 2) AMANTANDIN (symmetral)

Indikasi : penyakit Parkinson ( tetapi tidak termaksud ssgejala ekspiramidal yang disebabkan oleh efek samping obat ) ; antivirus.Kontra indikasi : epilepsi , riwayat tukak lambung gangguan ginjal berat , kehamilan dan menyusui. Dosis : 200 – 300 mg/hari 3) KARBIDOPA/L-DOPA (Sinemat , dalam kombinasi 3 bahan aktif (stalevo : karbidopa 100 mg/l dopa 50 mg / entakapon 200 mg). Indikasi: Penyakit Parkinson (tetapi tidak termaksud gejala ekstrpiramidal. Yang disebabkan oleh efek samping obat ) 4) SELEGILLIN (jumex (sanofi Aventis)

Indikasi: Penyakit Parkinson, baik digunakan sendiri maupun sebagai terapi tambahan bagi ladova, 5) TALKAPON

Indikasi: Terapi tambahan untuk levadova dengan menghambat dopadekarboksilase pada penyakit Parkinson dan fluktuasi motorik diakhir dosis (end of dose) jika menghambat katekol – O – metil transferase yang lain tidak memadai ( hanya dengan pengawasan spesialis). 6) ENTAKAPON (Comtan (Novartis Indonesia) Indikasi : Terapi tambahan untuk lefodofa dengan penghambat dopadekarboksilase pada penyakit Parkinson dan fluktuasi motorik di akhir dosis (end of dose). 7) BROMOKRIPTIN (Obat golongan Agonis dopain) (Cripsa, parlodel)

Indikasi :Parkinsonisme, tetapi tidak untuk gejala ekstra pyramidal akibat efek samping obat; gangguan endokrin. 8) PRAMIPEKSOL ( Obat golongan Agonis dopain) (sifrol) Indikasi : penyakit Parkinson, digunakan sendiri atau sebagai tambahan bagi levudopa; sindrom kaki tak dapat beristirahat (restlessleg) sedang sampai berat 9) TRIHEKSIFENIDIL (Obat antikolinergik) (Arkine (Pyridam), artane (Lederle), Hexymer (mersifarma TM). Indikasi : Parkinsonisme, gejala ekstrapiramidal akibat efek samping obat (tetapi tidak untuk diskenesia Tardif tidak untuk penyakit Parkinson idiopatik karna tidak seefektif obat dopaminergikdan dapat menyebabkan gangguan komgnitif).Kontraindikasi : Obstruksi saluran cerna,myasthenia gravis. Dosis : 1-15 mg/hari

D. SAKIT KEPALA Migren adalah sakit kepala kambuhan dengan intensitas sedang sampai berat yang terkait dengan sindrom anatomis,neurologis dan saluran cerna.Pada migren dengan aura,gejala neurologis fokal yang rumit akan mendahului atau menyertai serangan sakit kepala. a. Analgesik dan Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS) Analgesik dan AINS merupakan obat yang efektif untuk mengobati serangan migren ringan sampai sedang. A. Analgesik 1. PARASETAMOL (Alphamol,Bodrex) Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang,demam

Peringatan : Berkurangnya fungsi hati dan ginjal 2. ASETOSAL (Aspilet,Aspirin) Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang ,demam,antiplatelet B. Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS) 1. ibuprofen (proris) indikasi : demam dan nyeri untuk anak;nyeri dan nyeri untuk anak ; nyeri dan radang pada penyakit rematik (termasuk juvenile arthritis) dan gangguan obat skelet lainnya;nyeri ringan sampai berat termasuk berat termasuk dismenore,analgesic pasca bedah. 2. diklofenak (kalium diklofenak (generic),aclofin,cataflam) indikasi: nyeri dan radang pada penyakit rematik (termasuk juvenile arthritis) dan gangguan otot skelet lainnya ; gout/pirai akut ;nyeri paska bedah. 3. naproksen (iflaxen,naxen,synflex) indikasi: nyeri dan radang pada rheumatoid arthritis dan gangguan otot skelet lainnya;dismenorea;gout/pirai akut 4. alkaloid ergot dan turunannya • • ergotamin tartrat dihidro ergotamin

5. agonis reseptor serotonin (golongan triptan) • sumatriptan

II. KardioVASKULAR
A.HiperTensi
Hipertensi merupakan meningkatnya tekanan darah arteri yang persisten. 1. Diuretik, merupakan menyebabkan dieresis. a) penurunan tekanan darah dengan

Furosemid Klortalidon (Diurefo®, Farsix®, Furosix®,Gralisa®

Indikasi : Sangat efektif pada keadaan udema di otak dan paru-paru yang akut. Mulai kerjanya pesat, oral dalam 0,5-1 jam bertahan 4-6 jam, intravena dalam beberapa menit, 2-5 jam lamanya b) Hidroklortiazid (HCT)

Indikasi: Diuretik hemat kalium ternyata bermanfaat untuk pengobatan pasien dengan udem. Sediaan kombinasi tetap antara amilorid 5 mg dan hidrokloritiazid 50 mg terdapat dalam bentuk tablet dengan dosis sehari antara 1-2 tablet . 2) Inhibitor Angiotensin-Convertil Enzym (ACE) ACE membentu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi tekanan darah arteri). Inhibitor ACE mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II (vasokonstriktor potensial dan stimulus sekresi aldosteron. (Kaptopril (capoten, Dexacap, Farmoten). Dosis: oral 1-2 dd 25 mg, bila perlu setelah 2-3 minggu 1-2 dd 50 mg. Indikasi :hipertensi. Terutama berguna untuk hipertensi dengan rennin tinggi. 3) Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)

Inhibitor ini menutup jalur renin-angiotensin , ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I (AT1), reseptor yang memperantarai efek angiotensin II (vasokontriksi, pelepasan aldosteron, aktifasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik, dan kontriksi alteriol eferen glomerulus. a) Losartan (Acetensia® (Fahrenheit), Insaar® (Interbat). : Hipertensi, Kontra Indikasi : Hipersensitivitas

Interaksi

Dosis awal: 50 mg/hari. Pemeliharaan 50 mg/hari; pasien dengan kegagalan fungsi hati; 25 mg/hari pasien dengan kelainan fungsi ginjal berat 4) β-Bloker (Asebutolol: Secral) Indikasi : Hipertensi, Anginapektoris, aritmia Jantung. Kontra indikasi : Henti jantung syok kardiogenik. Perhatian : Penderita asma Dosis: Hipertensi, sehari 1 tablet, dapat dijadikan menjadi 2 tablet , pagi dan amalam jika diperlukan, angina pektoris: 2 x sehari 200 mg. 5) Penghambat Saluran Calsium (CCB) Verapamil (Isoptin, Cardiover) CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan (Voltage Sensitive) sehingga mengurangi masuknya kalsium ektraseluler kedalam sel. Indikasi: pengobatan angina pektoris, takiaritmia seperti paroksimal superventrikilar takikardia, atrial fibrilasi, dengyut ventrikular prematur; isoptin:SR Hipertensi. Dosis: Isoptin 80 mg: 240-280 mg/hari dibagi dalam 2-4 dosis; penderita dengan kerusakan fungsi hati berat sebaiknya menerima 30 % dari dosis tersebut. Isoptin SR; 1 kaplet/ hari pagi hari, jika perlu setelah 2 mnggu dosis sitingkatkan 2 kaplet/hari, diberikan pagi dan sore hari dengan interval 12 jam. 6) Penghambat Reseptor α1 (Doksazosin(Cardura® (pfizer), tensidox® (Harsen) Interaksi : Antihipertensi, hiperplasia prostat ringan Dosis: awal; 1 mh/hari, dapat ditingkatkan setelah 1-2 minggu menjadi 2 mg/hari dan seterusnya dengan selang waktu yang sama menjadi 4, 8 dan sampai maksimum 16 mg. 7) Antagonis α2 (Klonidin) Indikasi: semua bentuk hipertensi kecuali bentuk peokromositomatik. Kontra indikasi: Sicksinus Syndrome. Dosis: awal: 2 xsehari ½ tablet; injeksi 1 ampul dilarutkan dalam 10 ml salin, disuntikkan IV lambat selama 10 menit atai lm , 1 dosis maksimum 1 ampul sehari; tablet; awal; tablet pada malam hari, dosis maksimum 6 tablet untuk berobat jalan dan 12 tablet untuk yang dirawat di Rumah Sakit. Metildopa: Dopamet® (alpharma). Indikasi : Hipertensi esensial yang ringan atau yang berat; hipertensi nefrogenik, hipertensi pada taraf hehamilan. Dosis: Dosis awal; sehari ½ - 1tablet; penyesuaian dosis untuk mencapai tekanan darah yang dikehendaki harus dilakukan secara bertahap, misalnya menaikkan dosis dengan ½-1 tablet selang 2-3 hari. 8) Golongan lain-lain • Reserpin (Dellasidrex) Indikasi : semua tingkat dari hipertensi esensial atau hipertensi yang disebabkan karena gangguan ginjal. Kontra indikasi: gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat. Dosis : 2-3 xsehari 1 tablet, sebaiknya dimunim sesudah makan, bila perlu bisa dinaikkan sesuai dengan kasusnya. • • Hidralazine (SER-AP-Es®) Olmetec

B. ARITMIA

Aritmia didefinisikan sebagai hilangnya ritme jantung terutama ketidakteraturan pada detak jantung. Bab ini mencakup kondisi yang disebabkan ketidaknormalan laju, keteraturan, atau urutan aktivasi jantung.  Verapamil (Cardiover®, Isoptin®, Isoptin Sr®, Vemil®) Indikasi :Takikardia supraventrikuler; ekstrasistol atrium; flutter dan fibrilasi atrium di sertai takiaritmia (kecuali pada sindrom Wolf-Parkinson-White); semua angina pectoris; hipertensi .Kontra indikasi :Insufisiensi jantung bentuk dengan :Untuk

dekompensasi; infark miokard yang baru; syok kardiogenik; Sick Sinus Syndrom; bradikardi; gangguan konduksi AV; hipotensi; blokade reseptor β. Dosis jam  Disopiramid (Disopyramide®, Norpace®,Rytmacon®,Rytmilen®) Indikasi : Mirip kinidin, profilaksis dan pengobatan ekstrasistol supraventrikuler dan ventrikuler serta takiaritmia (kecuali takiaritmia yang disebabkan Digitalis), sindrom Wolff-parkinson-White Dosis: Dosis penjenuhan 4x0,1-0,2 g p.o. dalam 24 jam; Dosis pemeliharaan: 24x0,1-0,2 g p.o. dalam 24 jam.  Lidokain (Lidocaine®, Adimidon®, Analmidon®, Aromycin®, Benodon®) Indikasi :Takikardi ventrikuler dan ekstrasistol(terutama sebagai akibat infark miokard setelah tindakan bedah pada jantung serta akibat dari intoksikasi glikosida jantung). Dosis : Sebagai antiaritmia: mula-mula 100 mg i.v, setelah itu dengan infus jangka panjang 4 mg/menit selama 3 jam, setelah itu pengurangan sampai separonya (sambil dikontrol EKG terus menerus)  Antiaritmia Kelas IA 1. KINIDIN (Kinidin sulfat (generik) 2. PROKAINAMID (Procainamide HCl (generik) Indikasi :Mirip kinidin, Digitalis) profilaksis dan pengobatan awal ekstrasistol supraventrikuler dan ventrikuler serta takiaritmia (kecuali takiaritmia yang disebabkan 3. DISOPIRAMID Disopyramide®,Norpace®,Rytmacon®,Rytmilen® Indikasi :Mirip kinidin, profilaksis dan pengobatan ekstrasistol supraventrikuler dan ventrikuler serta takiaritmia (kecuali takiaritmia yang disebabkan Digitalis), sindrom Wolff-parkinson-White  ANTIARITMIA KELAS IB 1. LIDOKAIN Adimidon®, Analmidon®, Aromycin®, Benodon® Indikasi :Takikardi ventrikuler dan ekstrasistol(terutama sebagai akibat infark miokard setelah tindakan bedah pada jantung serta akibat dari intoksikasi glikosida jantung). Dosis:Sebagai antiaritmia: mula-mula 100 mg i.v, setelah itu dengan infus jangka panjang 4 mg/menit selama 3 jam, setelah itu pengurangan sampai separonya (sambil dikontrol EKG terus menerus) 2. MEKSILETIN Mexitec® Indikasi :Mirip lidokain: Takikardi ventrikuler dan ekstrasistol. Secara umum tidak efektif pada gangguan irama atrium Dosis :Oral 3x200 mg/hari, i.v. :pada awal 250 mg/10 menit, 250 mg pada jam berikut, setelah itu 0,5-1 mg/menit sebagai infus jangka panjang  ANTIARITMIA KELAS IC 1. PROPAFENON Rytmonorm® Indikasi: Ekstrasistol supraventrikuler dan takiaritmia; fibrilasi atrium paroksismal; Sindrom Wolff-Parkinson-White; Takikardia ventrikuler awal terapi: 240-480 mg p.o., pengobatan jangka panjang: 80-240 mg p.o. setiap 6-8

Dosis :Oral 3x200 mg/hari, i.v.:pada awal 250 mg/10 menit, 250 mg pada jam berikut, setelah itu 0,5-1 mg/menit sebagai infus jangka panjang ANTIARITMIA KELAS II Bloker Reseptor β (simpatolitik β) 1. PROPANOLOL (Famadral, Inderal, Propadex) Indikasi: Hipertensi, feokromositoma, angina, aritmia, kardiomiopati, obstruktif hiertrofik, takikardi ansietas dan tirotoksikosis (tambahan), profilaksis setelah infark miokard, profilaksis migren dan tremor esensial Dosis : Hipertensi portal, dosis awal 40 mg 2 kali sehari, tingkatkan sampai 80 mg 2 kali sehari sesuai dengan frekuensi jantung; maksimal 160 mg 2 kali sehari  ANTIARITMIA KELAS III 1. AMIODARON Corbionax®, Cordaron®, Toaryt® Indikasi: Sebagai antiaritmia cadangan, jika antiaritmia lain secara medis tidak dapat digunakan; takiaritmia supraventrikular dan ventrikuler; takikardi pada sindrom Wolff-Parkinson-White Dosis : Dosis penjenuhan: 8-10 hari, 600 mg/hari; Dosis pemeliharaan: 200 mg/hari dengan istirahat pada akhir pekan 2. SOTALOL Sotacor® Indikasi: Takiaritmia supraventrikuler dan ventrikular; perlindungan terhadap pengaruh adrenergik pada hipertiroidisme; sindrom jantung hiperkinitis; angina pectoris; tekanan darah tinggi Dosis : Sebagai antiaritmia mula-mua 160 mg/hari, jika perlu dapat dinaikkan menjadi 320-480 (sambil frekuensi jntung diawasi)  ANTIARITMIA KELAS IV 1. VERAPAMIL Cardiover®, Isoptin®, Isoptin Sr®, Vemil® Indikasi :Takikardia supraventrikuler; ekstrasistol atrium; flutter dan fibrilasi atrium disertai takiaritmia (kecuali pada sindrom Wolf Parkinson-White); semua bentuk angina pectoris; hipertensi. Dosis: Untuk awal terapi: 240-480 mg p.o., pengobatan jangka panjang: 80-240 mg p.o. setiap 6-8 jam 2. DILTIAZEM Carditen®, Delbres®, Dilmen®, Diltan®, Farmabes®

Indikasi: Semua bentuk angina pektoris, hipertensi, takikardia supventrikuler, ekstrasistol atrium, flutter dan fibrilasi atrium disertai takiaritmia (kecuali pada sindrom Wolf-Parkinson-White) Dosis :180-360 mg/hari p.o.

C. GAGAL JANTUNG Gagal jantung (GJ) adalah sindrom klinis yang disebabkan oleh ketidakmampuan jantung dalam memompa darah pada jumlah yang cukup bagi kebutuhan metabolisme tubuh. Gagal jantung dapat disebabkan oleh gangguan yang menyebabkan terjadinya pengurangan pengisian ventrikel (disfungsi diastolic) dan atau kontraktilitas miokardial (disfungsi diastolic). TERAPI Obat-obat yang digunakan pada pengobatan gagal jantung, dikelompokkan menurut cara kerjanya yaitu sebagai berikut: Golongan Sub golongan Glikosida jantung Inotropik Agonis β-adrenergik Inhibitor fosfo diesterase Diuretik Diuretil loop Tiazid Sediaan Digitalis, Digoksin, Digitoksin. Dobutamin Amrinon, Milrinon. Furosemid Hidroklorotiazid, Metolazon. Bumetanid,

Vasodilator

Inhibitor ACE Relaksasi langsung otot

Kaptopril, enalapril, Fosinopril. polos Na-Nitroprusid, Minoksidil, Felodipin. Hidralazin, Amlodipin,

1) Inotropik, yang meningkatkan kekuatan kontraksi miokard, yaitu glikosida jantung, misalnya digitalis, digoksin, digitoksin, ouabain, dan inotropik lain (Agonis β-adrenergik dan Inhibitor fosfo diesterase). Dikogsin (Lanoxin). Indikasi : dekompensasi jantung dan fibrilasi serambi dengan ritme bilik pesat. Dosis : Oral : 0,75-1,5 mg, IV : 0,5-1,0 mg 2) DIURETIK Obat golongan ini meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl- melalui urine cara sekunder terjadi pengeluaraan K+ akan membahayakan penderitayang juga mendapat digitalis sebab bila terjadi hipokalemia, jantung akan rentang terhadap digitalis sehingga mudah terjadu keracunan digitalis. Dalam hal ini, perlu pemeriksaan elektrolit secara berkala. Pasien juga harus diberikan sediaan yang mengandung kalium atau banyak makan buah-biuahan. 3) Vasodilator

Kaptopril Indikasi : untuk hipertensi ringan sampai berat dan pada dekompensasi jantung. Dosis : hipeetensi : oral 1-2 dd 25 mg, bila perlu setelah 2-3 minggu 1-2 dd 50 mg; dekompensasi: 3 dd 6,25-12,5 mg, berangsur-angsur dinaikkan sampai 3 dd 25-50 mg. Setelah infark jantung: semula 6,25 mg, berangsur-angsur dinaikkan sampai 23 dd 50 mg. Enalapril Dosis : hipertensi oral sebagai maleat 1-2 dd 5-10 mg ac./p.c, pemeliharaan 20-40 mg sehari, dekompensasi: 1 dd 2,5 mg, maksimum 20 mg sehari. Untuk injeksi i.v. digunakan larutan enalaprilat 1 g/ml. Efek samping : berupa umum dan tidak menimbulkan hilangnya rasa. Lisinopril Dosis : hipertensi oral 1 dd 10 mg, maksimum 80 mg, dekompensasi; 1 dd 2,5 mg, maksimum 20 mg sehari. Relaksasi otot polos langsung Na-Nitroprusid. D. Hiperlipidemia adalah peningkatan salah satu atau lebih kolesterol, kolesterol ester, fosfolipid, atau trigliserid. Hiperlipoproteinemia adalah meningkatnya konsentrasi makromolekul lipoprotein yang membawa lipid dalam plasma. Ketidaknormalan lipid plasma dapat menyebabkan pengaruh yang buruk (predisposision) terhadap koroner, serebro vascular, dan penyakit pembuluh arteri perifer. Resin asam empedu; Cholestiramine, Colestipol Questran® (Bristol-Myers SquiBB)Kolestipol : Colestid Kolestiramin : Falterol®,

Indikasi : resin asam empedu digunakan dalam pengobatan hiperkolesterolemia primer (hiperkolesterolemia familial, familial dikombinasikan dengan hiperlipidemia, tipe IIA hiperlipoproteinemia). Juga digunakan untuk detoksifikasi keracunan digitalis Kontraindikasi : kolestiramin, kolestipol menyebabkan penyumbatan saluran empedu Dosis harian maksimum : Kolestiramin : 32 g, Kolestipol Hidroklorida : 30 g Niasin (Asam Nikotinat) Trombophob®

Indikasi : untuk hiperlipidemia campuran atau agen sekunder dalam terapi kombinasi untuk hiperkolesterolemia. Merupakan agen primer atau alternative untuk pengobatan hipertrigliserdemia dan dislipidemia diabetic. Dosis harian maksimum : Niacin : 9 g Inhibitor Hmg Coa reduktase a. Atorvastatin Indikasi : pelengkap diet untuk menurunkan kolesterol total, LDL-kolesterol, apolipoprotein B dan trigliserida pada hiperkolesterolemia, hiperlipidemia Kontraindikasi : hipersensitif, penyakit hati, wanita hamil dan menyusui b. Fluvastatin Lescol® (Sandoz)

Indikasi : menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL c. Lovastatin (Cholestra®, Belvas®, Lichorol®, Lipovas®, Lotyn®, Lovatrol®, Justin®, Vastachol®Indikasi : menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL Kontraindikasi : kehamilan, menyusui, hipertensif, penyakit hati atau peningkatan tetap serum transminase yang tidak dapat diketahui sebabnya d. Simvastatin (Detrovel®, Ethicol®, Lesvatin®, Mersivas®, Phalol® Pontizoc®) Indikasi : mengurangi peningkatan kadar LDL dan kadar kolesterol total pada penderita hiperkolesterol primer, kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterolemia e. Pravastatin (Mevachol®, Mevalotin®, Pravachol® Indikasi : hiperlipidemia, hiperkolesterolemia familial f. Rosuvastatin (Crestor® Indikasi : hiperkolesterolemia (tipe IIa termasuk heterozigus familial hiperkolesterolemia) atau campuran dislipidemia (tipe Ib) sehubung dengan diet bila respon terhadap diet dan olah raga tidak mencukupi Asam Fibrat a. Gemfibrozil : Dubrozil®, Fetinor®, Hypofil®, Kolenin®,Lapibroz®, Lipitrop®, Lifibron®, Lipidan® Lipira®. Indikasi : hiperkolesterolemia, dislipidemia campuran, hipertrigliseridemia, frederikson tipe IIa, IIb, III, IV, dan V; hiperlipidemia berhubungan dengan diabetes hiperlipidemia berhubungan dengan xantoma b. Fenofibrat (Evothil®, Felosma, Fibramed®, Hichlofen®, Hipolip®, Hyperchol®, Yosenob®, Zumafib® Indikasi : hiperkolesterolemia (tipe IIa) dan hipertrigliseridemia endogen murni (tipe IV) atau kombinasi (tipe IIa dan III) c. Klofibrat (Arterol®)  Dosis : 1 ½ - 2 g setelah makan

Indikasi : hiperlipidemia, arterosklerosis, sakit jantung koroner, retinopati diabetic eksudatif, arteriopati diabetic dan hiperlipidemia dengan atau tanpa xantomatosis d. Ezetimibe Ezetrol .Indikasi : hiperkoleserolemia primer; berikan bersama kemungkinan miopati dengan HMG-CA reduktase inhibitor (statin) atau sebagai monoterapi diindikasikan sebagai terapi tambahan terhadap diet untuk menurunkan kadar kolesterol total, LDL

E. STROKE

Stroke adalah penurunan system syaraf utama secara tiba-tiba yang berlangsung selama 24 jam dan diperkirakan berasal dari pembuluh darah. Serangan iskemia sementara atau Transient ischemic (TIAs) adalah iskemia system syaraf utama menurun selama kurang dari 24 jam dan biasanya kurang dari 30 menit. 1. Antikoagulan  Antikoagulan yang bekerja langsung Heparin (Hico, Heparin sodium, trombophob Indikasi : Profilaksis trombosis vena, emboli paru-paru dan koagulapati, infark miokard.  Antikoagulan yang bekerja tidak langsung (oral) Derivat kumarin (Warfarin eisai, simarc-2 Indikasi :Pembentukan thrombus kardial, transplantasi pembuluh darah, thrombosis, emboli 2. Penghambat Agregasi Trombosit Asam asetilsalisilat ( Procardin , ascardia, restor, astika Indikasi :Mengurangi resiko kematian dan atau serangan ulang pada pendrita dengan riwayat serangan jantung (infark miokard) dan nyeri dada (angina pectoris idak stabil), mengurangi resiko serangan ulang TIAs atau stroke. Tiklopidin (Ticlid, ticard, ticlon) Indikasi :Profilaksis sekunder terhadap infark otak dan jantung pada pasien yang tidak tahan asam asetilsalisilat atau mendapat serangan baru waktu menggunakan asam asetilsalisilat. Hambatan agregasi trombosit pada pasien dialysis dengan komplikasi shunt apabila tidak tahan asam asetilsalisilat. Klopidogrel (Clopisan, plavix, clotix ndikasi : Profilaksis sekunder terhadap infark otak dan jantung pada pasien yang tidak tahan asam asetilsalisilat atau mendapat serangan baru waktu menggunakan asam asetilsalisilat. Absiksimab dan Tirofiban AGGRASTAT Indikasi : Angina pectoris instabil, intervensi koroner perkutan 3. Fibrinolitik tPA (Aktivator plasminogen jaringan) Actilyse Indikasi : Emboli paru-paru, infark miokard akut, rombosis vena, serangan serebral embolik Streptokinase (Streptase (Dexa Medica), fimakinase (Kalbe Farma Indikasi :Emboli paru-paru, infark miokard akut, rombosis vena, serangan serebral embolik Urokinase (Urokinase, ukidan) Indikasi : Emboli paru-paru, infark miokard akut, rombosis vena, serangan serebral embolik 4. APSAC (kompleks activator Streptokinase, plasminogen

F. SYOK Syok : kondisi manifestasi perubahan hemodinamik (cth, hipotensi, takikardia, rendahnya curah jantung (cardiac output) dan oliguria) disebabkan oleh defisit volum intravaskular, gagal pompa miokardial (syok kardiogenik) atau vasodilatasi periferal (eptik, anafilatik, atau syk neurogenik). Berdasarkan masalah pada situasi ni perfusi jaringan tidak cukup sebagai hasil dari kegagalan sirkulator. 1. Dopamin (cetadop, dopamin DBL, dopamin giulini, doperba, indop, pro infark) Indikasi : syok kardiogenik & endotoksik terutama bila daya tahan perifer rendah, syok hipopolemik yang tidak dapat diobati dgn penambahan volume darah, kegagalan jantung yg parah & tdk terobati dosis: 10 mg/ml; 40 mg/ml injeksi 2. Dobutamin (Dobutamin Hameln®) dobuject, dobutamin giulini, dobutamin hameln dobutrex, inotrop indikasi: terapi untuk syok (syok septik, syok kardiogenik),

support inotropik pd curah jantung yang rendah yang berhubungan dengan infark miokardium, beah jantung terbuka. 3. Norepinefrin (n-epi, raivas) Indikasi: septic syok, Dosis: 0,02-3 mcg/kg/menit (2-20 mcg/menit) 4. Fenilefrin (prefrin, isotic frizin).Indikasi: obat agonis α1 asli dan dapat meningkatkan tekanan darah melalui vasokontriksi, meningkatkan kontraktilitas dan CO, septic syok. Dosis: dimulai dengan dosis 0,5 mcg/kg/menit dan dpt ditambahkan dengan cepat untuk memperoleh hasil yang diharapkan 6. Epinefrin (lidonef 5 %) Indikasi : untuk serangan asma yang hebat Dosis: Pd serangan asma intravena 0,3 ml dari larutan 1:1000 yang dapat diulang 2 kali setiap 20 menit.

GANGGUAN KEJIWAAN Gangguan Kecemasan (Ansietas) a. Obat-obat antikecemasan Kecemasan Umum) Antidepresan mipramin, Paroksetin Azapiron Buspiron (Tran-Q®) Difenilmetan Hidroksidin (Bestalin®) b. Obat-obat antikecemasan benzodiazepine Alprazolam (Alganax®) Klordiazepoksid (Librium®) Klonazepam (Rivotril®) Diazepam Interaksi : Sangat larut dalam lemak dan sangat mudah diserap dan terdistribusi ke system saraf pusat. Diazepam dan klorazepat mempunyai lama kerja lebih pendek dari perkiraan berdasarkan waktu paruhnya setelah pemberian dosis tunggal, karena obat tersebut sangat cepat terdistribusi ke perifer. Stesolid®(Alpharma), 2. Nama Dagang : Trazep® Komposisi : Diazepam 10 mg/ 2 mL injeksi; 2 mg/ 5 mL sirop ; 2 mg; 5 mg/tablet; 5 mg/2,5 mL; 10 mg/2,5 mL dalam tube Lorazepam (Renaquil®) Interaksi : Lorazepam dan oksazepam kurang larut lemak dan mempunyai awal mula kerja yang lebih lambat tetapi lama aksi kerjanya lebih panjang. Lorazepam dan oksazepam tidak direkomendasikan untuk mengatasi kecemasan secara cepat nonbenzodiazepin untuk GAD(Gangguan Gejala

PENYAKIT BIPOLAR Merupakan gangguan yang memiliki siklus, dimana terjadi fluktuasi yang sangat ekstrim pada suasana hati (mood), energi dan tingkah laku yang berulang. Diagnosis penyakit ini melibatkan kemunculan mania, hipomania, atau kombinasi antar episode selama perjalanan penyakit.  Antikonvulsan yang disetujui FDA Litium karbonat Valproat (Asam valproat, Natrium valproat dan Natrium divalproat) Lamotigrin  Antipsikotik atipikal yang disetujui FDA Olanzepin Aripiprazol Kuetiapin Risperidon Ziprasidon

Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB) yang abnormal.
Frekuensi dan konsistensi BAB bervariasi dalam dan antar individu. Sebagai contoh, beberapa individu devikasi tiga kali sehari, sedangkan yang lainnya hanya dua atau tiga kali seminggu. Terapi :  Antimotilitas 1. Difenoksilat

2. Loperamid 3. Paregoric 4. Tincture Opium 5. Difenoxin  Adsorben 1. Kaolin 2. Pektin 3. Polikarbofil 4. Attapulgit  Antisekresi 1. Bismuth Subsalsilat 2. Enzim (Laktase) 3. Lactobacillus  Oktreotid

GANGGUAN PERNAFASAN
Asma didefenisikan sebagai gangguan inflamasi kronik jalan udara yang melibatkan peran banyak sel dan komponennya (The National Asthma education and Prevention Program,NAEPP) 1. Agonis β2 a. Salbutamol (Albuterol) Ascolen, Asmacel, Astop, Azmacon, Bromosal (Harsen), Bronchosal (Ifars), Butasal,Buventol, Cybutol, Fartolin, Glisend, Grafalin, Salbron Indikasi : Asma bronchial, bronchitis asmatisdan emfisema pulmonum b. Terbutalin (Asmabet, Brasmatic, Forasma, Lasmalin, Lintaz, Nairet, Pulmobron Tabas, Terasma, Tismalin, Tersma ekspektoran) Indikasi: Asma bronchial emfisema, bronchitis kronik c. Formoterol (Symbicort) Indikasi: Pengobtan regular untek dewasa dan anak > 12 tahun d. Fenoterol (Berotec) Indikasi : asma bronchial, bronchitis abstruktif kronis disertai atau tidak emfisema paru, asma disebabkan suatu gerakan olah raga dan kelainan bronkopulmonari 2. Kortikosteroid Kortikosteroid hirup a. Budesonida Indikasi : Profilaksis gejala asma bronchial, pengobatan regular asma untuk dewasa dan anak > 12 tahun. b. Flutikason (Flixotide, Seretide) Indikasi : Terapi profilaksis terhadap asma ringan sampai dengan berat pada dewasa dan anak. Untuk terapi rutin penyakit penyumbatan saluran napas reversible termasuk asma, dimana penggunaan kombinasi (bronkodilator dan kortikosteroid inhalasi) mencukupi untuk terapi penyakit penyumbatan saluran napas kronik sedang-berat meliputi bronchitis dan emfisema. 3. Metilxantin a. Teofilin (asbron, asmadex, asmasolon, asmavar, Bronchophylin, Brondilat, Brondilex, Bronsolvan, bufabron, Citobron, Grafasma) Indikasi : Pencegahan dan pengobatan asma bronchial, asma bronchitis, asma kardial, emfisema paru. b. Aminofilin Indikasi : Pengobatan dan pencegahan bronkokontriksi reversible yang berhubungan dengan penyakit asma bronchial, emfisema, dan bronchitis kronik 4. Antikolinergik a. Ipatropium Bromida

Indikasi : Bronkospasmus, asma bronchial, bronchitis kronik dengan atau tanpa emfisema 5. Kromolin Natrium dan nedokromil natrium a. Kromolin Natrium (Natrium Kromoglikat) Indikasi : Pengobatan asma bronchial, termasuk pencegahan exercise Induced asthma 6. Modifikator Leukotrion a. Zafirlukast Indikasi : Pengobatan asma kronik dewasa dan anak > 12 tahun.

Glaukoma

adalah gangguan okular yang ditandai dengan perubahan pada pusat saraf optik (lempeng optik) dan kehilangan sensitivitas visual dan jarak pandang. a. Parasimpatomimetik, Agonis Kolinergik Karbakol (Pratapa Nirmala) Isotic Litrapres Indikasi : Menurunkan tekanan intraokuler. Pilokarpin (Cendo) Epikarpin, Cendokarpin Indikasi: Mengendalikan tekanan intraokuler. b. Senyawa penghambat Beta Adrenergik Betaksolol Hidroklorida (Alcon) Betoptima Indikasi : Mengurangi tekanan intraokuler glaukoma simpleks kronik. Levobunolol Hidroklorida (darya varia) Betagan Liquifilm Indikasi : Mengurangi tekanan intraokuler glaukoma simpleks kronik. Metipranolol (Combhipar) Beta Opthiole Indiksi : Mengurangi tekanan intraokuler glaukoma simpleks kronik, tetapi dalam glaukoma sudut lebar kronis dibatasi pada pasien yang alergi terhadap zat pengawet atau mereka yang memakai lensa kontak (dimana benzalkonium klorida harus dihindari). Timolol Maleat (Cendo) Timolol maleat, Ximex Opticom, Tim-Opthal, Timolol maleat Indikasi : Mengurangi tekanan intraokuler glaukoma simpleks kronik. c. Penghambat Karbonik Anhidrase Asetazolamid (Phapros) Acetazolamide, Diamox Indikasi : Pengobatan prabedah glaukoma sudut sempit. d. Agonis Prostaglandin Latanoprost (Upjohn Indonesia) xalatan TM Indikasi : Tekanan intraokuler pada glaukoma sudut lebar dan hipertensi okuler pada pasien yang tidak menunjukkan respons terhadap obat lain.

Hepatitis atau radang hati adalah suatu istilah yang digunakan
untuk semua jenis peradangan pada hati (liver) penyebabnya dapat berbagai macam mulai dari virus sampai obat-obatan, termaksud obat tradisional.
INTERFERON A Indikasi : Hepatitis B Kronik, Hepatitis C Kronik

Dosis : 1. Hepetitis B kronik, Interferon α-2a Hepatitis C kronik (Intron A, interferon α-2b vial 2 ml 3MIU, 5 MIU, 10MIU, 30MIU, Alfanative, injeksi interfero alfa 6 juta UI/ml) Gunakan beberapa ribavirin kecuali dikontraindikasikan. Kombinasi interferon a dengan ribavirin lebih efektif,

RIBAVIRIN DENGAN INTERFERON Indikasi : untuk Hepatitis C kronik pada pasien penyakit liver >18 tahun yang mengalami kegagalan monoterapi dengan Interferon α-2a dan α-2b. Kontra indikasi : wanita hamil dan suami dari ibu hamil, pasangan yang berencana memiliki anak kandung, mempunyai reaksi alergi terhadap ribavirin, penyakit jantung berat 6 bulan yang lalu, haemoglobinopati, hepatitis auto imun, sirosis hati yang tidak terkompensasi, penyakit tiroid, adanya penyakit atau riwayat kondisi psikiatrik berat, trauma depresi, keinginan atau ada upaya bunuh diri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->