P. 1
Analisis Market Share Ekspor CPO Indonesia

Analisis Market Share Ekspor CPO Indonesia

|Views: 548|Likes:
Published by Gerik Forbes
Indonesia's Crude Palm Oil (CPO) exports value is determined by the volume CPO exports and prices in international markets. Fluctuation prices in the domestic market can not be separated from the influence CPO production levels, inventory policies and levels of CPO consumption. Changes in demand for CPO international markets will affect the pricing structure,
then change the world CPO price will
affect the production and export supply
Indonesia's CPO.
Indonesia's Crude Palm Oil (CPO) exports value is determined by the volume CPO exports and prices in international markets. Fluctuation prices in the domestic market can not be separated from the influence CPO production levels, inventory policies and levels of CPO consumption. Changes in demand for CPO international markets will affect the pricing structure,
then change the world CPO price will
affect the production and export supply
Indonesia's CPO.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Gerik Forbes on Jul 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2015

pdf

text

original

TESIS ANALISIS MARKET SHARE EKSPOR CPO (Crude Palm Oil) INDONESIA

Oleh:
NAMA : HARIS SUSANTO NOMOR MAHASISWA : 07/PS/4018 PROGRAM STUDI : MANAJEMEN AGRIBISNIS

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU 2010

I. LATAR BELAKANG

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang pertumbuhannya paling pesat pada dua dekade terakhir dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya, baik dari luas areal tanam maupun dari volume ekspor komoditi tersebut. Saat ini, Indonesia merupakan produsen CPO terbesar dunia yaitu mencapai 7,904 milyar ton kemudian diikuti Malaysia dengan total 1.423,99 juta ton pada 2008. Ekspor CPO Indonesia tahun 1982 baru berkisar US$ 103 juta, namun Pada tahun 1998 nilai ekspor CPO telah mencapai US$ 1.525 milyar dan berada pada urutan pertama ekspor non-migas Indonesia (BPS, 1998). Kemudian pada tahun 2008 telah mencapai US$ 6.561 milyar atau sebesar 7.904 milyar ton, dan merupakan yang terbesar di dunia (Sumber : UN Comtrade). Dengan demikian dalam kurun waktu antara 1998-2008 terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar US$ 5,036 milyar atau sebesar 330,27 persen. Situasi pasar internasional, terutama dalam kurun waktu 1998-2000 ditandai adanya persaingan antar negara produsen yang melibatkan negara Indonesia, Malaysia, Thailand dan beberapa negara lainnya di Asia, Pasifik dan Afrika. Dalam perkembangannya, persaingan antar negara produsen CPO masih didominasi oleh Indonesia diikuti oleh Malaysia. Pasar ekspor utama CPO dunia adalah Cina, India, Netherland, Pakistan dan negara-negara Eropa Barat (Perancis, Spanyol dan Italia) dan beberapa negara lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya daya saing CPO Indonesia dalam mempertahankan market share. Hal pokok yang perlu dikaji adalah analisis tentang kedudukan CPO Indonesia di pasar internasional, ditinjau dari ekspor CPO Indonesia maupun pengaruh harga dunia dan harga domestik. Dimana besarnya pangsa ekspor CPO Indonesia ke negara-negara di dunia dan khususnya di kawasan Asia, menunjukkan adanya ketergantungan yang tinggi terhadap kawasan tersebut. Hal ini sangat rentan terhadap kelangsungan pendapatan devisa yang diperoleh dari ekspor non migas, apabila terjadi suatu resesi ekonomi di kawasan ini.

2. RUMUSAN MASALAH
Nilai ekspor CPO Indonesia ditentukan oleh volume ekspor dan harga CPO di pasar internasional. Fluktuasi harga di pasar domestik tidak terlepas dari pengaruh tingkat produksi CPO, kebijakan stok dan tingkat konsumsi CPO dunia. Perubahan permintaan CPO di pasar internasional akan mempengaruhi struktur harga, kemudian perubahan harga CPO dunia akan mempengaruhi produksi maupun penawaran ekspor CPO Indonesia. Maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : bagaimanakah perkembangan daya saing ekspor CPO Indonesia dilihat dari market share.

3. TUJUAN PENELITIAN
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk : mendiskriptifkan perkembangan daya saing ekspor CPO Indonesia di pasar dunia dilihat dari market share

4. MANFAAT PENELITIAN

1.

2. 3.

Bagi penulis untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang market share ekspor CPO Indonesia di pasar Dunia. Sebagai referensi bagi pihak-pihak yang berminat terhadap informasi pemasaran CPO di Indonesia dan Internasional. Dari hasil studi tersebut akan dapat diantisipasi perkembangan kelapa sawit Indonesia dan berguna untuk menyusun kebijakan selanjutnya.

5. RUANG LINGKUP PENELITIAN • Penelitian ini dilaksanakan dengan ruang lingkup yang memfokuskan pada market share yaitu dilihat dari efek pertumbuhan, efek komposisi produk, ukuran pasar dan efek daya saing untuk mengetahui perkembangan ekspor CPO Indonesia. Dengan menggunakan model analisis Constant Market Share (CMS) untuk mengukur kemampuan sektor-sektor merespon dorongan persaingan yang timbul akibat liberalisasi perdagangan, mengukur performan ekspor melalui perubahan pertumbuhannya dan juga dengan menggunakan analisis Revealed Comparative Advantage (RCA).

6. KAJIAN PUSTAKA
1. Kelapa Sawit
• Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) sebagai salah satu produk yang dihasilkan dari sektor pertanian memiliki arti penting bagi pembangunan khususnya perkebunan nasional. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber devisa negara. Tanaman yang mempunyai usia produktif selama 20 tahun ini sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat permintaan pasar crude palm oil (CPO) dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat ini tanaman kelapa sawit merupakan komoditas andalan baik untuk peningkatan devisa maupun pemenuhan kebutuhan dalam negeri khususnya minyak goreng. Disamping itu komoditas ini juga dapat meningkatkan pendapatan petani pekebun dan sebagai upaya efektif yang dapat digunakan untuk membuka daerah-daerah terisolir (Lubis, 2000).

2. Ekspor • Ekspor dapat diartikan sebagai kegiatan yang menyangkut produksi barang dan jasa yang diproduksi disuatu negara untuk dikonsumsikan di luar batas negara tersebut (Triyoso, 1994). Lebih jelas lagi, Deliarnov (1995) menambahkan bahwa ekspor merupakan kelebihan produksi dalam negeri yang kemudian kelebihan produksi tersebut dipasarkan di luar negeri. • Pengaruh kinerja ekspor nasional terhadap perekonomian sesungguhnya tidak bisa hanya dilihat dari sumbangan terhadap penerimaan negara, melainkan juga harus dilihat dari laju pertumbuhan dan volume ekspor, serta tingkat diversifikasinya, baik dalam artian variasi pasar maupun produk (struktur ekspor). Bahkan, menurut Tambunan (2001), Indonesia baru dapat dikatakan berhasil dalam strategi pengembangan ekspor, jika laju pertumbuhan ekspor rata-rata per tahun tinggi dan komposisi ekspornya tidak lagi hanya didominasi komoditas pertanian dan pertambangan (termasuk Migas), serta produk-produk Indonesia sudah masuk ke pasar dunia.

3. Market Share

Definisi market share Menurut Douglas W. Foster (2000) dalam Tambunan (2001) : market share adalah besarnya bagian pasar yang dikuasai oleh suatu perusahaan. yaitu penguasaan suatu produk terhadap pasar atau besarnya jumlah produk yang diminta yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan jumlah permintaan di pasar.

4. Penelitian Berkaitan dengan Market Share
• Hasil penelitian Muh. Nasir dkk (1998) tentang Constan Market Share (CMS) pada ekspor cocoa beans Malaysia menunjukkan bahwa share ekspor Malaysia ke dunia mengalami peningkatan dari 60.104 ton (8,6%) pada periode I meningkat menjadi 158.914 ton (13,1%) pada periode ke II, yang mewakili keuntungan dari 98.810 ton. Kontribusi relative pada setiap efek dalam perubahan ekspor cocoa beans malaysia adalah : • 45% untuk market share, • 59% untuk efek distribusi dan • -4% untuk efek daya saing.

Sedangkan hasil dari analisis RCA menunjukkan bahwa pada periode 1991-1993 dengan kisaran 2,9% per tahun, indikasi dari RCA yang buruk. • Sedangkan hasil pada eksport performance ratio cocoa beans menunjukkan penurunan trend pada periode 1986-1990 dan periode 1991-1993 dengan rate -2,2% dan -17,3% berturut-turut, sebaliknya pada periode 1981-1985 ratio mengalami peningkatan pada rate 17,9%. Ekspor performance ratio untuk produk cocoa mengalami peningkatan trend.

7. METODE PENELITIAN
1. Metode Penelitian • Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis data sekunder, dengan pertimbangan bahwa data yang digunakan merupakan data ekspor impor CPO Indonesia dan telah tersaji dalam data base website commodity trade (Comtrade.un.org).

2. Pengumpulan dan Sumber Data • Data yang dikumpulkan adalah data time series untuk menganalisis perkembangan ekspor-impor CPO Indonesia selama 13 tahun (1996-2008). Hal ini sesuai pendapat Munir (2008) bahwa gerakan trend yang menunjukkan arah perkembangan secara umum (kecenderungan menaik atau menurun) dan bertahan dalam jangka waktu yang digunakan sebagai ukuran adalah 10 tahun keatas, dimana selama periode tersebut dapat menggambarkan tentang trend export. • Sedangkan sumber data, merupakan data sekunder yang diperoleh dari website commodity trade (Comtrade.un.org) selected classification HS2007.

3. Konsep Operasional • Crude Palm Oil (CPO) merupakan minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah yang berwarna jingga karena mengandung karotenoida (terutama βkarotenoida), berkonsentrasi padat pada suhu kamar (konsistensi dan titik lebur banyak ditentukan oleh kadar ALB-nya). • Market share adalah besarnya bagian atau luasnya total pasar yang dapat dikuasai oleh suatu perusahaan/negara yang biasanya dinyatakan dengan persentase. • Constant market share (CMS) adalah kaedah yang sering digunakan dalam penelitian tentang prestasi eksport suatu negara yang dapat mengetahui secara umum faktor utama yang menerangkan pertambahan atau pengurangan suatu eksport negara, baik dari segi kuantiti maupun nilai uang. • Nilai RCA (Revealed Comperative Advantage) merupakan gambaran dari kinerja ekspor suatu komoditi. Nilai RCA yang lebih besar dari 1 (satu) dianggap memiliki kinerja ekspor yang cukup baik. • Indeks RCA adalah indikator yang bisa menunjukkan perubahan keunggulan komparatif atau perubahan tingkat daya saing industri suatu negara di pasar global. Indeks RCA menunjukkan keunggulan komparatif atau daya saing ekspor dari suatu negara dalam suatu komoditas terhadap dunia.

• • • • • • • • • •

Daya saing adalah kemampuan perusahaan, industri, daerah, negara, atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi persaingan internasional. Daya saing ekspor adalah gambaran tingkat daya saing produk ekspor hasil industri di pasar dunia dengan melihat besarnya pangsa pasar di dunia. Batasan yang dianggap mempunyai daya saing adalah yang pangsa di dunia lebih besar dari 1%. Ekspor dapat diartikan sebagai kegiatan yang menyangkut produksi barang dan jasa yang diproduksi disuatu negara untuk dikonsumsikan di luar batas negara tersebut. Faktor keunggulan komparatif adalah sebagai faktor yang bersifat alamiah Faktor keunggulan kempetitif adalah sebagai faktor yang bersifat acquired atau dapat dikembangkan/diciptakan. Perubahan ekspor CPO adalah perubahan volume ekspor diseluruh pasar CPO dunia. Efek pertumbuhan adalah perubahan total impor CPO dunia Efek distribusi pasar adalah perubahan distribusi pasar CPO di pasar dunia. efek komposisi komoditas adalah komposisi komoditas CPO di pasar dunia. Efek interaksi adalah interaksi distribusi pasar dan komposisi komoditas. Efek kompetitif umum adalah perubahan daya saing dari pengekspor terhadap total ekspor di pasar dunia. Efek kompetitif spesifik adalah peruabahan daya saing pengekspor untuk spesifik komoditas di pasar dunia.

4. Analisis Data 1. Analisis Market Share q1 – q0 = rq0 + (ri – r) q0 + (q1i – q0i –ri q0i) Dimana: q = Total ekspor qi = Expor CPO ke sebuah negara i (eksport to market i) r = Tingkat pertumbuhan total export CPO dunia (rate of growth of total world exports) ri = Tingkat pertumbuhan total export CPO ke negara i (rate of growth of world exports to market i) 0 = Periode awal (initial period) 1 = Periode berikut (second period)

Dimana Nilai daya saing yang negatif menggambarkan bahwa negara tersebut gagal dalam mempertahankan market share nya, dan sebaliknya untuk nilai positif, bahwa negara tersebut mampu mempertahankan market share nya.

2. Model RCA mengukur perubahan manfaat kompetisi dari negara pengeskpor dan perubahan ekspor bersih per total perdagangan dan pencapaian ratio ekspor (Balasa, 1965; UNIDO, 1982; Arif and Hill, 1985). Model RCA dapat dianalisis dengan dua indikator ratio yaitu: a. Net Export/Total Trade Ratio Ratio (nxij) ekspor bersih komoditi j (CPO) terhadap persentase dari total perdagangan dalam komoditi CPO, untuk negara i, nxij = [(Xij – Mij) / (Xij + Mij)] x 100 dimana: Xij = Export CPO Indonesia (country i’s exports of commodity CPO) Mij = Import CPO Indonesia (country i’s import of commodity CPO) • Ratio positif menunjukkan adanya keunggulan comparative (RCA, revealed comparative advantage) dan nilai negative menunjukan ketidakunggulan comparative (RCDA, revealed comparative disadvantage). Akan tetapi, kenaikan ratio kemungkinan besar bisa memperkuat dari revealed comparative advantage.

b. Export Performance Ratio Export performance ratio (epij) menyatakan market share negara i (Indonesia) dari ekpor komoditi j (CPO) dari total ekpor komodity j (CPO) dunia, dengan rumus; epij = [(Xij / Xwj) / (Xie / Xwe)] dimana; Xij= Export CPO Indonesia (country i’s exports of commodity j) Xwj = Export CPO Dunia (world exports of commodity j) Xie = Total Export Indonesia (country i’s total exports) Xwe = Total Export Dunia (world total exports) Nilai ratio yang lebih besar dari satu (>1) menunjukkan bahwa negara pengeksport tersebut memiliki keunggulan comparative dan sebaliknya.

7. Kerangka Pemikiran

Pada dasarnya, negara-negara ASEAN memproduksi dan mengkonsumsi produk pertanian yang hampir sama, tetapi jumlah produksi, jumlah konsumsi dan daya saingnya berbeda-beda. Ada negara yang surplus produksi dan daya saing produk pertaniannya tinggi dan ada pula negara yang mengalami defisit produksi dan daya saingnya rendah. Negaranegara yang selama ini mengalami defisit produksi dan daya saingnya rendah akan meningkatkan volume impornya dari negara-negara yang mengalami surplus produksi produk tersebut dan daya saingnya tinggi. Dalam hal ini akan terjadi persaingan tajam antar negara-negara pengeskpor untuk memasok negara-negara pengimpor yang sama. Namun negara-negara pengimpor akan memilih negara-negara pengekspor yang lebih sesuai ditinjau dari aspek efisiensi (paling murah untuk kualitas yang sama) dan aspek kualitas (sesuai dengan selera). Untuk dapat memenangkan persaingan sesama negara penghasil CPO, paling sedikit ada 3 faktor penting yang harus diperhatikan oleh masingmasing negara penghasil CPO (termasuk Indonesia), yaitu komposisi produk, distribusi pasar dan daya saing. Negara yang lebih mampu memilih komposisi produk yang diekspornya secara lebih tepat, lebih mampu memilih pasar (negara tujuan) yang pertumbuhan impornya tinggi dan mempunyai daya saing lebih tinggi akan lebih mampu memenangkan persaingan. Indonesia diharapkan akan menjadi pemenang dalam persaingan perdagangan CPO antar negara penghasil CPO dunia apabila mempunyai kelebihan-kelebihan tersebut.

Efek Size Market

Efek Composition Produc

Perubahan Ekspor pada Periode Tertentu

Efek Composition Market

Efek Competitiveness

Efek ukuran pasar menunjukkan bahwa bagian dari pertumbuhan ekspor suatu negara disebabkan oleh kenaikan impor pasar tujuan. Besarnya efek ini menunjukkan berpotensi meningkatkan ekspor suatu negara jika mampu mempertahankan pangsa tujuan impor. • Efek komposisi pasar menunjukkan kemampuan negara untuk berkonsentrasi relatif pada negara yang berkembang pesat. Perubahan ekspor karena distribusi pasar tergantung pada perdagangan kebijakan dan pertumbuhan pendapatan di negara-negara asing. • Efek komposisi produk menunjukkan apakah suatu negara memiliki konsentrasi pada ekspor komoditas pada pasar yang telah berkembang dengan cepat, atau pada komoditas untuk pasar yang berkembang kurang cepat. Efek ini mencerminkan endowmen faktor ekspor dan pendapatan negara dan elastisitas harga dari permintaan untuk produk yang khusus suatu negera. • Efek daya Saing didefinisikan dengan istilah sisa dari model CMS. untuk menunjukkan peningkatan atau penurunan daya saing ekspor tergantung apakah memiliki tanda positif atau negatif.

8. HASIL PENELITIAN Daya saing ekspor CPO Indonesia ditentukan oleh pengaruh • size market sebesar 132,14% (periode awal), 120,15% (periode I) dan 140,75% (periode II), • Efek distribusi sebesar -0,88% (periode awal), -0,57% (periode I) dan -40,77% (periode II) • dan efek daya saing sebesar -31,26% (periode awal), -19,58% (periode I) dan 0,01% (periode II). • Dimana pengaruh size market yang sangat signifikan sebagai sumber pertumbuhan dibandingkan dengan pengaruh distribusi pasar dan pengaruh daya saing yang bernilai negatif.

Market share ekspor CPO Indonesia mengalami peningkatan dari 3.703,99 ribu ton (72,61%) pada periode awal (periode 0) menjadi 9.363,72 ribu ton (60,80%), dengan total keuntungan sebesar 5.659,73 ribu ton. Market share Indonesia secara garis besar belum kuat yaitu dari 72,61% menjadi 53,71%, sebagian besar adalah pengaruh dari market size dibandingkan dengan pengaruh distribusi dan pengaruh daya saing. Nilai total peningkatan ekspor pada periode awal (1996-1999) mencapai 5.659,73 ribu ton. Peningkatan tersebut disebabkan oleh dorongan efek size market sebesar 7.478,59 ribu ton, sementara itu efek distribusi dan efek daya saing justru memberikan pengaruh negative, yaitu masing-masing sebesar 49.59 ribu ton dan 1.769,26 ribu ton.

100,00 90,00 80,00

Indonesia Malaysia

Market Share Ekspor (%)

70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010

Tahun

3. Nilai Export Performance Ratio CPO Indonesia pada tahun 1996 adalah 3,33, kemudian menurun menjadi 2,91 pada tahun 1997 sampai tahun 1999, tetapi kemudian meningkat lagi menjadi 2,12 pada tahun 2000. Setelah itu nilai Export Performance Ratio CPO Indonesia stabil dan pada tahun 2005 mencapai tingkat tertinggi yaitu 7,40. Tetapi pada tahun 2006 akibat diterapkan pajak ekspor yang mencapai 60% menjadi 5,96 dan terus menurun sampai tahun 2008.

Export Performance Ratio CPO Beberapa Negara Eksportir di Pasar Dunia Periode 1996-2008

Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Indonesia 3,33 2,91 2,20 1,91 2,12 1,29 1,73 1,15 1,01 7,40 5,96 4,31 3,69

Malaysia 0 1,11 3,65 10,58 7,08 20,29 16,33 19,93 13,64 15,73 17,46 16,27 13,25

Colombia 0 15,49 43,25 33,19 13,85 8,78 8,48 12,94 17,73 14,63 9,70 13,91 9,36

Ecuador Guatemala Thailand 0 0 21,44 13,56 3,57 0,29 5,57 12,03 8,32 14,42 14,35 16,83 11,07 0 13,68 39,47 39,96 26,87 22,35 31,97 39,01 31,91 17,44 31,35 21,31 25,11 0 0 0 0,83 0,54 3,49 1,04 1,43 0,04 0 1,50 2,17 2,09

Net Export/Total Trade Ratio CPO Beberpa Negara Eksportir di Pasar Internasional Tahun 19962008

Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Indonesia 0,95 0,97 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Malaysia 0 -0,28 -0,31 0,19 0,82 0,77 0,52 0,55 0,21 0,58 0,60 0,72 0,58

Colombia 1,00 0,99 1,00 0,99 0,99 1,00 1,00 0,71 0,98 1,00 1,00 1,00 1,00

Ecuador Guatemala Thailand 0,88 -1,00 1,00 0,92 1,00 0,80 0,86 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0 0,77 0,98 0,94 0,88 0,66 1,00 0,93 0,87 0,85 1,00 0,86 0,99 0 0 0 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0 1,00 1,00 0,79

Pertambahan Jumlah Negara Tujuan Ekspor
120

100
90 90

100,44 94,15 94
88

87,86

Jumlah Negara

80
75 65 67 65,85

81,57
77

75,28

68,99

60

62,70

54

56,41

50,12 49 43,83 40
36 32 31,25 39 37,54

20

Aktual Series1 Trend Series2

0 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010

Tahun

Implikasi Hasil Kajian Untuk meningkatkan daya saing CPO Indonesia;
– – – – – Mengadakan revisi dan adopsi standar mutu CPO yang berlaku di pasar internasional ke dalam standar nasional Indonesia (SNI) dan memberlakukannya secara konsisten. Memberdayakan balai-balai penelitian yang ada untuk menciptakan bibit-bibit unggul. Adanya komitmen dan kehendak politik pemerintah untuk mengurangi hambatan-hambatan produksi/perdagangan CPO, dengan menghilangkan pungutan resmi dan tidak resmi di daerahdaerah. Mempertahankan pasar CPO yang sudah ada selama ini dan memperluas pasar baru. Promosi aktif produk CPO Indonesia ke pasar tujuan ekspor dengan memasarkan keunggulankeunggulannya, untuk memperbaiki citra mutu CPO Indonesia yang dinilai sangat rendah.

• •

Indonesia sebagai negara yang memiliki areal perkebunan dan produksi CPO terbesar di dunia agar memperhatikan variabel-variabel yang berpengaruh terhadap penawaran CPO tersebut, terutama terkait harga domestik. Saat ini harga domestik CPO cenderung mengikuti pergerakan harga CPO internasional. Oleh karena itu Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan bargaining position sebagai penghasil CPO terbesar di dunia agar harga CPO domestik tidak terpengaruh bahkan menjadi patokan bagi harga CPO internasional. Untuk mempertahankan market share Maka pemerintah harus melakukan kebijakan seperti mendorong produktivitas, mutu dan produksi hilir CPO. Kemudian yang perlu dilakukan adalah diadakannya peninjauan ulang tentang kebijakan pajak ekspor, apakah kebijakan tersebut benar-benar efektif dengan melihat dampak yang timbul dengan adanya kebijakan tersebut. Untuk pengembangan industri CPO Indonesia ke depan diperlukan kebutuhan riset untuk meningkatkan daya saing Industri, kejelasan dan ketegasan strategi pemerintah, dan pengembangan industri hilir CPO. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997 menuntut agar ekspor CPO Indonesia tidak terkonsentrasi di asia, tapi harus dialihkan ke negara-negara Timur Tengah yang merupakan negara berpotensi sebagai tujuan ekspor CPO. Maka pemerintah harus lebih memfokuskan diri pada sisi produksi dengan menciptakan diferensiasi produk yang berdaya saing agar pertumbuhannya meningkat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->