P. 1
tugas KTI

tugas KTI

|Views: 120|Likes:
Published by Mitra Jordan Cia

More info:

Published by: Mitra Jordan Cia on Jul 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

1. Bagaimana cara border moulding ? ( Dr. drg. H. Edy Machmud, Sp.

Pros (K) ) Cara pembentukan tepi sendok cetak rahang atas : 1 1. Pertama-tama daerah sayap bukal dibentuk dengan kompon, dimulai dari ujung distal termasuk hamular notch ke frenulum bukalis. Lunakkan kembali kompon, masukkan ke dalam mulut dan pasien diminta untuk membuka lebar-lebar, menggerakkan rahang bawah ke kanan-kiri dan protrusi. 2. Kemudian daerah frenulum bukalis secara unilateral. Tarik pipi ke luar, ke bawah kemudian ke depan dan ke belakang. Ulangi pekerjaan ini pada sisi yang berlawanan. 3. Lunakkan kembali kompon daerah frenulum bukalis secara unilateral. 4. Daerah sayap labial dilunakkan secara unilateral. Lunakkan kompon dan tarik bibir ke luar dank e bawah atau pasien diminta untuk melakukan gerakan menghisap jari-jari kita. 5. Lunakkan kompon untuk daerah frenulum labialis serta tarik bibir atas ke depan. Cara pembentukan tepi sendok cetak rahang bawah : 1 1. Untuk rahang bawah yang pertama-tama dibentuk dengan kompon adalah tepi sayap distolingual dan area buccal shelf. Lunakkan kompon, masukkan ke dalam mulut, fiksasi sendok cetak dan minta pasien untuk membuka mulut lebar-lebar kemudian menutup mulut untuk mengaktifkan otot masseter. Ini dilakukan bilateral. 2. Kemudian daerah distolingual dan postmylohyoid dibentuk secara bilateral. Lunakkan kompon, masukkan ke dalam mulut dan anjurkan pasien untuk meletakkan lidah di distal palatum kemudian ke vestibulum bukalis kanan dan kiri.

1

rileks 2.Kes) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penetapan dimensi vertikal: 2 1. Perlu digunakan beberapa cara untuk membandingkan hasilnya. ada 2 macam: 2 1. 2. karena hasil dari masing-masing cara secara sendiri biasanya kurang sempurna.duduk tegak .kepala tegak . Iman Soedjarwo. misal penderita jantung atau penyakit yang melemahkan. Pasien yang cepat lelah. Posisi pasien : . Demikian pula untuk pasien yang cepat merasa bosan. Dimensi Vertikal Istirahat Fisiologis Adalah hubungan antara rahang atas dan rahang bawah dalam arah vertikal saat mandibula dalam kedudukan istirahat fisiologis. Pasien diminta untuk meletakkan ujung lidah pada palatum anterior kemudian membasahi bibr atas dengan ujung lidah. Bila ada gangguan neuromuskular. Daerah sayap sublingual dibentuk sekaligus.pandangan lurus ke depan .3. 2 . 4. 4. sukar dilakukan 3. mengerjakannya jangan terlalu lama. Daerah sayap labial dilakukan secara unilateral karena bila dilakukan bilateral bibir akan mempengaruhinya. Dimensi vertikal. M. Bagaimana cara menentukan dimensi vertikal ? (drg.

3) Fonetik Ajak pasien berbicara sampai lelah. Buat satu titik di ujung hidung dan satu titik di bagian yang lain di bagian dagu yang paling menonjol. sehingga jarak dari batas rambut-glabella= glabella-basis hidung=basis hidung-dagu. c.2. kemudian disuruh menutup mulut perlahan-lahan sampai bibir berkontak ringan. lalu diukur. Cara Mekanik 3 . b. Cara Penetapan Dimensi Vertikal Oklusal 2 I. Pasien disuruh mengucapkan huruf “M” dan disuruh menahan pada posisi tersebut. Metode Willis : proyeksi sudut mata – proyeksi sudut mulut = basis hidung-basis dagu. Metode Sornsen : wajah dibagi menjadi 3 bagian yang sama panjang. 2) Rasa “tactile” Pasien disuruh mebuka mulut lebar sampai otot terasa tegang kemudian disuruh relaks dan menutup mulut. kemudian pasien disuruh mengucapkan huruf “M” dan disuruh menahan pada posisi terebut lalu jarak kedua titik tersebut diukur. Cara Penetapan Dimensi Vertikal Istirahat Fisiologis :2 1) Pengukuran wajah a. lalu diukur. Dimensi Vertikal Oklusal Adalah hubungan antara rahang atas dan rahang bawah dalam arah vertikal saat gigi-geligi atau galengan gigit rahang atas dan rahang bawah dalam kedudukan oklusi sentrik.

hilangnya gigi geligi tersebut cenderung meninggalkan sisa alveolar hampir sejajar satu sama lain. 4 . Kesejajaran sisa alveolar . Jarak dari papilla incisive ke incisif mandibula .Jarak papilla incisiva ke bagian insisal insisif bawah pada model diagnostik rata-rata adalah 4 mm pada gigi asli .Karena panjang mahkota klinis gigi geligi asli anterior dan posterior hampir sama. .Papilla incisiva merupakan bagian RA yang letaknya relatif stabil setelah processus alveolaris RA mengalami resorpsi akibat kehilangan gigi . bila tidak ada perubahan abnormal dari prosesus alveolaris. .Menyejajarkan sisa alveolar RA dan RB ditambah pembukaan 5 derajat dibagian posterior sering memberikan petunjuk besarnya pembukaan rahang yang benar.Kesejajaran ini bersifat alamiah karena gigi geligi dalam keadaan oklusi normal meninggalkan sisa alveolar dibagian posterior sejajar satu sama lain.Pengukuran ini merupakan ukuran rata-rata sehingga pemakaiannya harus berhati-hati dan tidak berlaku pada pasien dengan resorpsi berat b.Tepi incisal gigi incisive central atas rata-rata 6 mm dibawha papilla incisiva . hal ini akan ideal bila ditinjau dari sudut pandang mekanikkarena gigi tiduran tidak akan cenderung bergeser ke anterior atau ke posterior.Menutupnya gigi geligi atas anterior trhadap gigi geligi lawannya di RB kira-kira 2 mm . Hubungan sisa alveolar a.Papilla incisiva dipakai dalam mengukur dimensi vertical pasien .1.

Model akan memberi petunjuk jumlah ruang yang diperlukan di antara sisa alveolar atas dan bawah untuk gigi dengan ukuran tersebut. Pengukuran dari gigi tiruan sebelumnya Pengukuran dapat dihubungkan dengan pemeriksaan-pemeriksaan wajah pasien untuk mengetahui jumlah perubahan yang diinginkan. Profil radiograf Profil radiograf dari wajah mungkin dapat dipakai. Pengukuranpengukuran ini dibuat di antara tepi-tepi gigi tiruan atas dan bawah dengan memakai alat ukur (Boley Gauge). c.Pada akhirnya gigi geligi telah hilang semuanya. 2. besar dan bentuk gigi geligi adalah dengan mempergunakan model diagnostik yang dipasang di artikulator.Kebanyakan pasien kehilangan giginya tidak dalam waktu yang bersamaan. bentuk sisa alveolar tentu tidak sejajar. Kemudian apabila pemeriksaan menunjukkan bahwa wajah pasien jaraknya terlalu pendek. Tetapi masalah-masalah penentuan dimensi vertikal istirahat dan pembesaran bayangan menyebabkan ketidakcermatan. b.pengukuran wajah 5 . Pengukuran. dalam wakut tidak terlalu lama akan sejajar. Model-model gigi geligi dalam oklusi Suatu cara sederhana mencatat hubungan penutupan vertikal. . Pencatatan-pencatatan pra pencabutan a. 3.. perubahan yang diperlukan dapat dibuat pada gigi tiruan baru. .Bila kehilangan gigi dalam jarak waktu yang tidak teratur atau menderita kehilangan tulang dalam jumlah besar karena penyakit periodontal atau resorpsi.

Galengan gigit bawah dimasukkan ke mulut pasien. misalnya: saat mengucapkan huruf S. filtrum harus tetap tampak normal. Tinggi galengan gigit atas anterior +/. Untuk menetapkan DV oklusal. yaitu: pertama. harus ada celah kira-kira 1-2mm di antara galengan gigit atas dan bawah. Bagian oklusal galengan gigit bawah harus berkontak merata dengan galengan gigit atas pada seluruh lengkung rahang. Menelan harus dapat dilakukan dengan mudah. galengan gigit bawah dikurangi 2-4mm untuk free way space. .1-2mm di bawah bibir atas untuk panjang bibir yang normal . 2. . Kedua.Dengan mencatat jarak dari dagu ke dasar hidung dengan memakai jangka sebelum gigi geligi dicabut. uji coba dengan pengucapan huruf labiodental (F. Posisi Istirahat Fisiologis . Cara Fisiologis 2 1. dan dilihat dukungannya terhadap bibir atas. .Setelah didapatkan hasil yang diinginkan. V. maka DV oklusal diuji coba dengan berbagai cara.Protrusi galengan gigit anterior dapat ditentukan dengan beberapa pedoman.Galengan gigit posterior atas harus sejajar dengan garis Camper / garis ala treagus. kemudian galengan gigit dimasukkan ke mulut pasien. ii.Setelah menentukan DV istirahat. . hubungannya dengan papilla insisivum.Galengan gigit atas dimasukkan ke mulut pasien. dan W). Fonetik dan Estetik Dilakukan dengan mendengarkan hasil suara bicara dan dengan melihat hubungan gigi geligi selama berbicara: 6 .

Sebagai petunjuk. dimensi vertical oklusal terlalu tinggi. tonus bibir dibandingkan dengan kulit bagian lain dari wajah. maka dimensi vertikal oklusal terlalu rendah.- Huruf „S‟ harus terdengar dengan jelas. Bila oklusi gigi secara terus menerus hilang pada saat menelan. Lalu aliran saliva dirangsang dengan sepotong kain. bukan seperti „SY‟ atau „SH‟. Bila gigi anterior menyinggung pada saat suara-suara tersebut diucapkan. - Estetik juga dipengaruhi oleh hubungan vertical mandibula terhadap maksila. Produksi suara desis ini hanya dapat terjadi secara jelas dan wajar apabila gigi geligi anterior atas dan bawah saling mendekat. 3. Ambang rasa menelan Berpedoman bahwa pada saat menelan. Aksi menelan saliva yang berulang-ulang secara perlahan mengurangi tinggi malam tersebut sehingga mandibula mencapai tingkat dimensi vertikal oklusal yang baik. gigi saling mendekat dan berkontak dengan sangat ringan pada permulaan siklus menelan. Kontur bibir tergantung pada struktur intrinsiknya dan dukungan yang diberikan oleh struktur di belakangnya. Caranya adalah dengan membuat malam lunak dibentuk seperti kerucut pada basis gigitiruan bawah sehingga berkontak dengan galengan gigit atas pada saat rahang membuka sangat lebar. 4. Rasa taktil dan laporan penderita mengenai kenyamanan 7 .

com/doc/76243845/MAKALAH- PEMICU-3-BLOK-10. Available from : http://www. 43-46. Accessed: 18 Juni 2012. Makalah skenario 3 Blok 10(Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 6). Jakarta : Hipokrates. 2. 1994. 8 . P.DAFTAR PUSTAKA 1. Handajani Widyana. Anonim. Desain dan teknik mencetak.scribd. Utari Rita I.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->