C. Pengertian Manajemen Layanan Khusus Manajemen layanan khusus di suatu sekolah merupakan bagian penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang efektif dan efisien. Sekolah merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dari penduduk bangsa Indonesia. Sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab dan tugas untuk mlaksanakan proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu penegetahuan dan teknologi saja, melainkan harus menjaga dan meningkatkan kesehatan baik jasmani maupun rohani peserta didik. Hal ini sesuai dengan UUSPN bab 11 Pasal 4 yang memuat tentang adanya tujuan pendidikan nasional. Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab tersebut maka sekolah memerlukan suatu manajemen layanan khusus yang dapat mengatur segala kebutuhan peserta didiknya sehingga tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai. Manajemen layanan khusus di sekolah pada dasarnya ditetapkan dan di organisasikan untuk mempermudah atau memperlancar pembelajaran, serta dapat memenuhi kebutuhan khusus siswa di sekolah. Pelayanan khusus diselenggarakan di sekolah dengan maksud untuk memperlancar pelaksanaan pengajaran dalam rangka pencapain tujuan pendidikan di sekolah. Pendidikan di sekolah antara lain juga berusaha agar peserta didik senanatiasa berada dalam keadaan baik. Baik disini menyangkut aspek jasmani maupun rohaninya. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen layanan khusus adalah suatu proses kegiatan memberikan pelayanan kebutuhan kepada peserta didik untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai secara efektif dan efisien. D. Jenis-Jenis Layanan Khusus Pelayanan khusus yang diberikan sekolah kepada peserta didik, antar sekolah satu dengan sekolah lainnya pada umumnya sama, tetapi proses pengelolan dan pemanfaatannya yang berbeda. Beberapa bentuk manajemen layanan khusus yang ada di sekolah antara lain: Beberapa bentuk manajemen layanan khusus yang ada di suatu sekolah antara lain: 1. Layanan perpustakaan peserta didik Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan kepada peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses pembelajaran di sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberi layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka. Menurut Supriyadi (1983) dalam buku Manajemen Peserta Didik oleh Ali Imron mendefinisikan perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, baik sekolah tingkat dasar maupun menengah, baik sekolah umum maupun kejuruan. Selain itu, perpustakaan sekolah adalah salah satu unit sekolah yang memberikan layanan kepada peserta didik di sekolah sebagai sentra utama, dengan maksud membantu dan menunjang proses belajar mengajar di sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberikan layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka (Imron, 1995:187). Dari definisi-definisi tersebut tampaklah jelas bahwa perpustakaan sekolah merupakan suatu unit pelayanan sekolah guna menunjang proses belajar mengajar di sekolah. 2. Layanan kesehatan peserta didik Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk sebuah wadah bernama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Usaha kesehatan sekolah adalah usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan sekolah. Menurut Jesse Ferring William pada buku Pengelolaan Layanan Khusus Di sekolah oleh Kusmintardjo (1992) mendefinisikan layanan kesehatan adalah sebuah klinik yang didirikan sebagai bagian dari Universitas atau sekolah yang berdiri sendiri yang menentukan diagnosa dan pengobatan fisik dan penyakit jiwa dan dibiayai dari biaya khusus dari semua siswa. Selain itu layanan kesehatan juga dapat diartikan sebagai usaha sekolah dalam rangka membantu (mungkin bersifat sementara ) murid-muridnya yang mengalami persoalan yang berkaitan dengan kesehatan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa layanan kesehatan peserta didik adalah suatu layanan kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah dan menjadikan peserta didik sebagai sasaran utama, dan personalia sekolah yang lainnya sebagai sasaran tambahan (Imron, 1995:154) 3. Layanan asrama peserta didik Bagi para peserta didik khususnya jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, terutama bagi mereka yang jauh dari orang tuanya diperlukan diperlukan asrama. Selain manfaat untuk peserta didik, asrama mempunyai manfaat bagi para pendidik dan petugas asrama tersebut. 4. Layanan bimbingan dan konseling Layanan bimbingan dan konseling adalah proses bantuan yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapi dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntutan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling adalah salah satu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya. 5. Layanan kafetaria peserta didik Kantin/ warung sekolah diperlukan adanya di tiap sekolah supaya makanan yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi. Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi dengan pengelola kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peran lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari makanan keluar lingkungan sekolah. Layanan kafentaria adalah layanan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh peserta didik disela-sela mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai dengan daya jangkau peserta didik. Makanan dan minuman yang tersedia di kafentaria tersebut, terjangkau dilihat dari jumlah uang saku peserta didik, tetapi juga memenuhi syarat kebersihan dan cukup kandungan gizinya. 6. Layanan laboratorium peserta didik Laboratorium diperlukan peserta didik apabila mereka akan mengadakan penelitiam yang berkaitan dengan percibaan-percobaan tentang suatu obyek tertentu. Laboratorium adalah suatu tempat baik tertutup maupun terbuka yang dipergunakan untuk melakukan penyelidikan, pecobaan, pemraktekan, pengujian, dan pengembangan. Laboratorium sekolah adalah sarana penunjang proses belajar mengajar baik tertutup maupun terbuka yang dipergunakan untuk melaksanakan praktikum, penyelidikan, percobaan, pengembangan dan bahkan pembakuan. 7. Layanan koperasi peserta didik Layanan koperasi mendidik para peserta didik untuk dapat berwirausaha. Hal ini sangat membantu peserta didik di kehidupan yang akan datang. Koperasi sekolah adalah koperasi yang dikembangkan di sekolah, baik sekolah dasar, sekolah menengah, maupun sekolah dan dalam pengelolannya melibatkan guru dan personalia sekolah. Sedangkan koperasi peserta didik atau biasa disebut disebut koperasi siswa (Kopsis) adalah koperasi yang ada di sekolah tetapi pengelolaanya adalah oleh pesera didik, kedudukan guru di dalam Kopsis adalah sebagai pembimbing saja 8. Layanan keamanan Layanan keamanan yaitu layanan yang dapat memberikan rasa aman pada siswa selama siswa belajar di sekolah misalnya adanya penjagaan oleh satpam sekolah. 1. E. Keterkaitan antara Manajemen Layanan Khusus dengan Manajemen Sarana dan Prasarana Menurut Bafadal (2003:2), sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Dalam hubungannya dengan sarana pendidikan, ada sejumlah pakar pendidikan yang mengklasifikasikan menjadi beberapa macam sarana pendidikan yang ditinjau dari berbagai macam sudut pandang. Pertama, ditinjau dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang habis pakai dan sarana pendidikan yang tahan lama. Kedua, ditinjau dari bergerak tidaknya, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang bergerak dan sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak. Ketiga, ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar ada dua jenis sarana pendidikan di sekolah, yaitu sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, dan sarana pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar. Sedangkan prasarana pendidikan di sekolah bisa diklasifikasikan menjadi dua macam. Pertama, prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik keterampilan, dan ruang laboratorium. Kedua, prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar mangajar. Beberapa contoh tentang prasarana sekolah jenis terakhir tersebut di antaranya adalah ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan. Berdasarkan uraian tentang sarana dan prasarana di atas, serta penjelasan mengenai layanan khusus di sekolah pada pembahasan sebelumnya, dapat diketahui kaitan antara pentingnya sarana dan prasarana dengan layanan khusus di sekolah. Suatu layanan khusus tanpa didukung oleh sarana dan prasarana maka pelayanan yang diberikan tidak akan maksimal karena tidak ada fasilitas yang mendukung. Sebagian besar layanan khusus memerlukan tempat dan peralatan dalam memberikan pelayanannya kepada peserta didik. Sebagai contoh pelayanan perpustakaan. Pelayanan perpustakaan ini memerlukan tempat yang berupa ruang perpustakaan serta memerlukan perabot dan peralatan seperti rak, buku, alamari dan lain-lain untuk melakukan kegiatan pelayanan kepada peserta didik. Begitu juga dengan layanan-layanan yang lainnya. Daftar Rujukan Asmani, Jamal Ma’mur. 2009. Manajemen Pengelolaan dan Kepemimpinan Profesional. Yogyakarta: Diva Press. Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Imron, Ali. 1995. Manajemen Peserta Didik Di Sekolah. Malang: IKIP Malang. Kusmintardjo. 1992. Pengelolaan Layanan Khusus di Sekolah (Jilid I). Malang: IKIP Malang. Mulyasa, E. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Rosda Karya. Pidarta, Made. 1988. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT. Bina Aksara. Pendidikan makalah bimbingan dan konseling BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yang berkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa. Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa proses pendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukan mentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alat adalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisi pendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi serta bimbingan konseling. Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalanpersoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut. Di Sekolah, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikan oleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baik tugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes) dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpa terkecuali. Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua mata pelajaran, guru juga dibebani seperangkat administrasi yang harus dikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layanan bimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namun agaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konseling juga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layanan bimbingan konseling di sekolah “asal jalan”. Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai dengan baik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya, hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untuk itu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelola kegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah.[1] 1. B. Rumusan masalah A. Bagaimana Bimbingan dan Konseling Dalam Konsep Manajemen ? B. Apa Program Layanan Bimbingan dan Konseling ? C. Apa Jenis-Jenis Layanan Bimbngan dan Konseling ? D. Bagaimana Prosedur Layanan Bimbingan dan Konseling ? E. Apa Proses Layanan dan Konseling F. Bagaimana Penanganan siswa bermasalah di sekolah ? G. Apakah Konferensi Kasus Untuk Membantu Mengatasi Masalah Siswa ? H. Bagaiman Layanan Bimbingan Karir ? BAB II PEMBAHASAN A. Bimbingan dan Konseling Dalam Konsep Manajemen Secara keseluruhan program umum bimbingan dan konseling diatur dengan konsep manajemen, yang mencakup tiga kegiatan utama, yaitu : 1. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling mengacu pada program tahunan, yang telah dijabarkan dalam Program semesteran, bulanan, serta mingguan, yang disusun dalam bentuk satlan dan satkung masing-masing meliputi: a) b) c) d) e) Sasaran layanan atau kegiatan pendukung Substansi layanan atau kegiatan pendukung Jenis layanan atau kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan Pelaksana pelayanan atau kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat Waktu dan tempat 1. Pelaksanaan kegiatan Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling dapat dilakukan didalam atau diluar jam pelajaran, yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah atau madrasah. 1. Penilaian kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dari dua jenis, yaitu : 1. Penilaian hasil, yang dilakukan melalui : a) Penilaian segera b) c) Penilaian jangka pendek Penilaian jangka panjang 1. Penilaian proses yang meliputi a) Analisis terhadap keterlibatan unsur-unnsur sebagaimana yang telah tercantum dalam SATLAN dan SATKUNG. b) Hasil penilaian kegiatan pelayanan, dicantumkan dalam LAPELPROG c) Hasil kegiatan pelayanan dilaporkan dalam satu semester[2] B. Program Layanan Bimbingan dan Konseling Program BK pada sekolah atau madrasah dikelola dengan cara melayani, mengajak, meladeni, dan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antar kelas dan antar jenjang kelas dan mensinkronisasikan program pelayanan BK dengan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisiensi pengguna fasilitas sekolah atau madrasah. Dilihat dari jenisnya, program bimbingan dan konseling terdiri lima jenis, yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) Program Tahunan Program Semesteran Program Bulanan Program Mingguan Program Harian[3] Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, dalam tulisannya “Layanan Bimbingan Dan Konseling Syarat Nilai”. Mengatakan bahwa : tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembangan keputusan tentang pendidikan, pilihan dan pemeliharaan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan hokum.[4] 1. C. Jenis-Jenis Layanan Bimbngan dan Konseling Dalam hal ini ada bebrapa jenis layanan bimbingan dan konseling. 1. Layanan Dasar Yaitu layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatan kelas atau diluar kelas yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu peserta didik untuk memahami lingkungan yang baru. 1. Layanan Responsive Yaitu layanan bantuan kepada peserta didik yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan bantuan dengan segera. 1. Layanan Perencanaan Individual Yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. 1. Layanan Dukungan Sistem Yaitu kegiatan manajemen yang bertujuan menetapkan, memlihara, dan meningkatkan program bimbingan dan konseling disekolah secara menyeluruh melalui lpengembnagan professional, hubungan mamsyarakat dan staf.[5] Selain program pelayanan BK diatas, juga terdapat bebrapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa, diantaranya : 1. Layanan Orientasi Yaitu yang bertujuan agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat. 1. Layanan Informasi Membekali siswa dengan pengetahuan tentang lingkungan dan perkembangan anak muda agar dimanfaatkan untuk keperluan kehidupannya. 1. Layanan Konten Layanan ini bertjuan agar peserta didik dapat mengembangkan kompetensi tertentu dalam kegiatan belajar. 1. Layanan Penyaluran dan Penempatan Tujuan dari layanan ini adalah agar peserta didik dapat merencanakan masa depan disekolah dan sesudah tamat sebagai bekal kelak dengan mengembangkan segenap bakat, minat, dan segenap potensi lainnya. 1. Layanan Konseling Perorangan Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapi. 1. Layanan Bimbingan Kelompok Yang bertujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan social, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. 1. Konsultasi Untuk membantu peserta didik dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan caracara yang perlu dilaksanakan dalam menanganai kondisi atau masalah peserta didik. 1. Mediasi Untuk membantu peserta didik menyelesaikan permasalahannya dan memperbaiki hubungan mereka.[6] Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan diatas, perlu dilakukan kegiatan pendukung, mencakup : a) b) c) d) e) Aplikasi instru mentasi data Himpunan data Konferensi kasus Kunjungan rumah Allih tangan kasus[7] 1. D. Prosedur Layanan Bimbingan dan Konseling Sebagai layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan dengan sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur teretentu. Agar memudahkan kita melakukan bimbingan dan konseling disekolah, hendaknya perlu diketahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam layanan bimbingan dan konseling. Secara umum terdiri dari enam tahapan, yaitu : 1. Identifikasi Kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsudin Makmun ; 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga membutuhkan layanan bimbingan dan konseling. Yakni : a) Call them approach b) c) d) e) Maintain good relationship Developing a desire for conseling Melakuka analisis terhadap hasil belajar peserta didik Melakukan analisis sisiometris 1. Identifikasi Masalah Pada langkah ini yang perlu diperhatikan guru adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu maslah yang dihadapi siswa. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang Nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya di evaluasi. Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno. dkk telah mengembangkan instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut dengan alat ungkap masalah (AUM). Instrument ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : a) b) c) d) e) f) g) Jasmani dan kesehatan Diri pribadi Hubungan social Ekonomi dan keuangan Pendidikan dan pelajaran Hubungan muda-mudi Keadaan dan hubungan keluarga 1. Diagnosis Pada langkah diagnosis yang dilakukan dalam menetapkan “masalah” berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dalam langkah ini dilakukan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatar belakangi gejala yang muncul. Diagnosis merupakan upaya menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatar belakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks, belajar mengajar. Factorfaktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa di lihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burno membangi dua factor yang dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan peserta didik yaitu : 1) 2) Faktor internal Faktor eksternal[8] 1. Pragnosis Langkah ini pembimbing menetapkan alternative tindakan bantuan yang akan diberikan. Selanjutnya melakukan perencanaan mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi individu.. Dalam menetapkan pragnosis, pembimbing perlu memperhatikan tiga hal : a) Pendekatan yang akan diberikan diakukan secara perorangan atau kelompok. b) Siapa yang memberikan bantuan, apakah guru, konselor, dokter atau individu lain yang lebih ahli. c) Kapan bantuan akan dilaksanakan, atau hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan. 1. Treatment atau pemberian bantuan Setelah guru merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan mere alisasikan langkah-langkah alternatif bentuk berdasarkan masalah dan latar belakang yang menjadi penyebabnya. Langkah pemberian bantuan ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan tekknik pemberian bantuan. Pada kasus yang dihadapi siswatelah direncanakan pemberian bantuan secara individu. 1. Evaluasi dan follow up Evaluasi dapat dilakukan selam prosses pemberian bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, seperti melalui wawancara, angket, observasi diskusi, dokumentsi dan sebagainya. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) te mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasanlah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan layanan dan konseling yaitu : 1) Berkembanganya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. 2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. 3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.[9] 1. E. Proses Layanan dan Konseling Secara umum proses konseling terdiri dari tiga tahaapan, yaitu : 1. Tahap awal Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya : a) b) c) d) Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien Memperjelas dan mendefinisikan masalah Membuat penafsiran dan penjajakan Menegosiasikan kontrak 1. Tahap inti Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya : a) b) c) Mengeksplor masalah klien lebih dalam Konselor melakukan reassessment Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terjadi jika 1) 2) 3) Klien merasa senang terlibat dalam wawancara konseling Konselor berupaya kreatif mengembanngkan teknik konseling yang bervariasi Proses konseling berjalan sesuai kontrak 1. Tahap akhir Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya : a) b) c) d) Konselor dan klien membuat kesimpulan mengenai hasil konseling Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan Mengevaluasi jalannya konseling Membuat perjanjian untuk pertemuan beriikutnya Pada tahap akhir ini ditandai bebrapa hal, yaitu : 1) 2) 3) 4) Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien kearahyang positif Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapi Adanya rencana hidup masa akan dating yang llebih baik dari klien.[10] 1. F. Penanganan siswa bermasalah di sekolah Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah dapat di lakukan melalui dua program pendekatan, yatu : 1) 2) Pendekatan disiplin Pendekatan BK Program penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Bertolak belakang dengan penanganan siswa bermasalah melaluui BK yang sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apapun tetapi lebih mengandalkan tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik dari klien. Sofya. S. willis (2004) mengungkapkan tingkatan masalah sebagai berikut : 1) Masalah ringan, seperti : membolos, malas, berkelahi dengan sesama teman sekelas, kesulitan belajar, dan lain-lain 2) Masalah sedang, seperti : berpacaran, berkelahi antar sekolah, perbuatan asusila. 3) Masalah berta, seperti : kecanduan alcohol, narkotika, siswa hamil, dan lainlain.[11] 1. G. Konferensi Kasus Untuk Membantu Mengatasi Masalah Siswa A. Konsep dasar pemikiran Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam program layanan bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan siswa dalam suatu pertemuan, yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Konferensi kasusu harus bisa menghasilkan keputusan bagaimana cara terbaik dalam menyikapi masalah siswa. 1. Tujuan dilaksanakn konferensi kasus Secara umum, tujuannya untuk mengusahakan cara yang terbaik bagi pemecahan masalah yang dialami siswa. Secara khusus, bertujuan : a) b) c) Mendapat kosistensi Mendapat consensus dari para peserta konferensi Mendapatkan pengertian, penerimaan, persetujuan dari komitmen peran. 1. Prosedur pelaksanaan konferensi kasus a) Kepsek atau coordinator BK atau konselor mengundang para peserta konferensi kasus. Baik atas inisiatif guru, wai kelas, atau konselor itu sendiri. b) Pada saat pertemuan awal konferensi kasus, kepsek atau konselor membuka acara pertemuan dengan menyampaikan maksud dan tujuan konferensi kasus dan permintaan komitmen dari para peserta. c) Guru atau konselor menampilkan atau mendiskripsikan permasalahan yang dihadapi siswa. d) Peserta lain mendiskusikan dan dimintai tanggapan, masukan, dan kontribusi persetujuan atau penerimaan tugas. e) Konferensi menyimpulkan bebrapa rekomendasi atau keputusan. 1. Bebrapa hal yag perlu diperhatikan dalam konferensi kasus a) Konferensi kasus yang akan dilaksanakan hendaknya mendapat persetujuan dari kasus atau siwa yang bersangkutan b) Tergantung permasalahan dan kondisi, siswa dihadirkan atau tidak c) Disaat mendiskripsikan dan mendiskusikan, tidak menyebutkan nama siswa yang bersangkutan, melainkan menggunakan kode yang disepakati. d) Mengutamakan kepentingan siswa. e) Peserta konferensi harus menyadari akan tugas dan peran, serta batas-batas kewenangan profesionalnya. f) Setiap proses dah hasil konferensi harus dicatat dan di administrasikan secara tertib.[12] 1. H. Layanan Bimbingan Karir A. Latar belakang munculnya bimbingan karir Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di amerika serikat pada awal abad ke-20, yang dilatari oleh berbagai kondisi objektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : a) b) c) d) Keadan ekonomi Keadaan social Keadaan ideologis Perkembangan ilmu Dalam persoalan bimbingan karir ada istilah yang disebut vocational guidanceyang dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakkan perubahan pendekatan dari model okupasional (kesesuaian antara bakat dengan tuntutan persyaratan pekerjaaan) ke model karir (menekankan pilihan pekerjaan serta menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuantujuan).[13] Hattari (1983), menyebutkan bimbingan jabatan menekankan keputusan pekerjaan tertentu, sedangkan bimbingan karir menitikberatkan pada perencanaan kehidupan sesseorang dengan linkungannya.[14] Pada pertengahan tahun 1950-an pentingnya bimbingan BK lahir di indonesia. Selanjutnya , bersamaan dengan berlakunya kurikulum 1984, bimbingan karir cukup mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan tahun 1994. Besamaan dengan perumahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam kurikulum 1994 bimbingan karir ditempatkan sebagai salah satu bidang bimbingan. 1. Pengertian bimbingan karir Bimbingan karir adalah bimbingan dalam mempesiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan profesi tertentu, serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan menyesuaikan diri denagan tuntutan-tuntutan dari lapangan yang telah dimasukinya. (William 1991). 1. Tujuan bimbingan karir a) Peserta didik dapat mengenal karakteristik diri (minat, nilai, kemampuan, dan ciri kepribadian) b) Peserta didik memperoleh pemahaman tentang berbagai hal terkait dengan dunia (karir-study)yang akan dimasukinya. c) Peserta didik mampu mengidentifikasi berbagai bidang pendidikan yang tersedia yang relevan dengan berbagai bidang pekerjaan. 1. Bentuk layanan bimbingan karir a) Layanan individual Dapat diberikan di dalam ruang bimbingan atau ruang konseling. b) Layanan secara kelompok Dilakukan didalam kelas atau diluar kelas. 1. Konferensi karir Konferensi karir dilakukan dengan mengikuti salah satu pola di bawah ini, yaitu : a) Pola pertama, menyisihkkan waktu selama satu jam atau lebih di luar hari sekolah tiap semester. b) Pola kedua, Menyediakan waktu sehari penuh atau lebih seriap semester untuk mengadakan konferensi. c) Pola ketiga, Menyediakan jadwal konferensi dengan mengadakan pertemuan sekali setiap semiinggu. d) Pola kempat, Mengadakan pecan bimbingan karir selam satu minggu terfu menerus [15] BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Dari makalah diatas dapat di ambil beberapa kesimpulan mengenai rencana program dan layanan bk. 1. Bimbingan dan konseling dalam konsep manajemen terdapat beberapa kegiatan utama, yaitu : A. Perencanaan B. Pelaksanaan kegiatan C. Penilaian kegiatan D. Program layanan bk terdiri dari : i. Rogram tahunan ii. Program sememsteran iii. Program bulanan iv. Program mingguan v. Program harian vi. Jenis layanan bimmbingan dan konseling anntara lain : a. Layanan dasar b. Layanan responsive c. d. e. f. g. h. i. j. Layanan perencanaan individual Layanan dukungan sistem Layanan orientasi Layanan nformasi Layanan konten Layanan penempatan dan penyaluran Layanan konselinglayanan bimbingan kelompok Knsultasi k. Mediasi l. Prosedur layanan dan bimbingan BK antara lain : a. Identifikasi kasus b. Identifikasi masalah c. Diagnosis d. Prognosis e. Treatmen dan pemberian bantuan f. Evaluasi dan follow up m. Proses layanan konseling meliputi : a. Tahap awal b. Tahap inti c. Tahap akhir n. Penanganan siswa bermasalah disekolah antara lain : a. Pendekatan disiplin b. Pendekatan BK o. Tujuan konferensi kasus Menguasahakan cacra terbaik pemecahan masalah bagi siswa Tujuan khusus : 1. 2. 3. 4. Mendapat kosistensi Mendapat consensus dari para peserta konferensi Mendapatkan pengertian, penerimaan, persetujuan dari komitmen peran. Latar belakangmunculyan bimbingan karir A. Keadan ekonomi B. Keadaan social C. Keadaan ideologis D. Perkembangan ilmu 2. Saran saran Hendaknya bimbingan BK disekolah dilaksanakan berdasarkan program layanan yang telah ditetapkan dan dilaksanankan sebaik mungkin agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dan bagi guru atau konselor diharapkan mampu melaksanakan sesuai prosedur yang telah ditetapkan dan perencanaan bimbingan dan konseling haruslah dilakukan dengan baik sesuai tahapan tahapan BK. DAFTAR PUSTAKA Gani, R.A., Bimbingan Karir : Jakarta, Angkasa. 1987 Hattari, Kearah Pengertian Bimbingan Karir Dengan Pengembagan Developmental : Jakarta, BP3K. 1983 Maswan, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah-Madrasah : Jepara, Karsa Manunggal, 2010 Prayitno dan Erman Anti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling : Jakarta, PT Rieneka Cipta. 2004 Syamsul, Yusuf, L.N, Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah : Bandung, CV Bani Qureys. 2005 Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah : Jakarta, PT Raja Gafindo, 2007. http//.www. konseling indonesia.com. jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling. Htm http//.Admin blogspot. Peran Guru Kelas Dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling Di Sekolah Dasar. 2009 [1] http//.Admin blogspot. Peran Guru Kelas Dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling Di Sekolah Dasar. 2009 [2] Maswan, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah-Madrasah ( Jepara, Karsa Manunggal, 2010). Hlm. 62 [3] Ibid. hlm. 64 [4] Sunaryo Kartadinata, Layanan Bimbingan Dan Konseling Syarat Nilai,(Jakarta, 2006) [5] http//.www. konseling indonesia.com. jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling. Htm [6] Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah (Jakarta : PT Raja Gafindo, 2007).hlm. 23 [7] Ibid. [8] Maswan. Op., cit. hlm 72 [9] Ibid, hlm. 73-75 [10] Prayitno dan Erman Anti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling (Jakarta : PT Rieneka Cipta. 2004). Hlm. 42 [11] Ibid. 43 [12] Syamsul, Yusuf, L.N, Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah(Bandung, CV Bani Qureys. 2005). Hlm. 30 [13] Gani, R.A., Bimbingan Karir ( Jakarta, Angkasa. 1987). Hlm. 26 [14] Hattari, Kearah Pengertian Bimbingan Karir Dengan Developmental, (Jakarta : BP3K. 1983). Hlm. 32 [15] Hattari, op., cit. hlm 43 Pengembagan Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995) Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku. Bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan peserta didik. (Naskah Akademik ABKIN, Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, 2007). Merujuk pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebutan untuk guru pembimbing dimantapkan menjadi ‟Konselor.” Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting layanan spesifik yang mengandung keunikan dan perbedaan. Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum, undang-undang atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Dalam konteks tersebut, hasil studi lapangan (2007) menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di Sekolah/Madrasah, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, serta perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen. Layanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangan peserta didik; tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah tetapi untuk seluruh peserta didik. Layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada peserta didik tertentu atau yang perlu „dipanggil‟ saja”, melainkan untuk seluruh peserta didik. ke menu utama Tujuan layanan bimbingan ialah agar siswa dapat : 1. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. 2. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik secara optimal. 3. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. 4. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk : 1. Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya. 2. Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, 3. Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut 4. Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri. 5. Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. 6. Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. 7. Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Fungsi Bimbingan dan Konseling 1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik (siswa) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, p ekerjaan, dannorma agama). Berdasarkan pemahaman ini, siswa diharapkan mampu meng embangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan s ecara dinamis dankonstruktif. 2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa me ngantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, su payatidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan ke pada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahay akan dirinya.Adapun teknik yang dapat digunakan adalah layanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para siswa dala m rangkamencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayany a minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex). 3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsifungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang k ondusif, yang memfasilitasi perkembangan siswa. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan danmel aksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya me mbantu siswa mencapai tugastugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapatdigunakan disini adalah layanan inf ormasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata. 4. Fungsi Perbaikan (Penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami mas alah,baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digun akan adalah konseling, dan remedial teaching. 5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa memilih kegiatan ekstr akurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan y angsesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciriciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama deng an pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembagapendidikan. 6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Mad rasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap lat arbelakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa (siswa). Dengan menggu nakan informasi yang memadai mengenai siswa, pembimbing/konselor dapat membantu pa ra gurudalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun mate ri Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaransesuai dengan kemampuan dan kecepatan siswa. 7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa (siswa) agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstrukti f. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. 1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. 2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (konseli) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. 3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpurapura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi sasaran layanan/kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahuu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. 4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. 5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik (konseli) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi siswa-siswa yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. 6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (konseli) dalam kondisinya sekarang. Layanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. 7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. 8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. 10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. 11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lainlain. Kegiatan Pokok Bimbingan dan Konseling Macam-macam layanan bimbingan dan konseling : 1. Layanan Orientasi Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. 2. Layanan Informasi Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). 3. Layanan Penempatan dan penyaluran Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ektrakulikuler) sesuai dengan potensi, bakat, minat erta kondisi pribadinya. 4. Layanan pembelajaran Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai meteri pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. 5. Layanan Konseling Individual Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya. 6. Layanan Bimbingan Kelompok Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (teruama dari guru pembimbing) dan/atau membahas secara bersama-ama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjanguntuk pemahaman dan kehidupannya mereka sehari-hari dan/atau untuk pengembangan kemampuan sosial, baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan/atau tindakan tertentu. 7. Layanan Konseling Kelompok Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah maalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Kegiatan Pendukung diantaranya : 1. Aplikasi Instrumentasi Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik (klien), keterangan tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas. Pengumpulan data ini dapat dilakukan denagn berbagai cara melalui instrumen baik tes maupun nontes. 2. Himpunan Data Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik (klien). Himpunan data perlu dielenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu, dan sifatnya tertutup. 3. Konferensi Kasus Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik (klien) dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan tersebut. Pertemuan ini dalam rangka konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. 4. Kunjungan Rumah Yaitu kegiatan pendukudng bimbingan dan konseling untuk memperoleh data, keteranang, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik (klien) melalui kunjungan ke rumahnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari orang tua dan anggota keluarga klien yang lainnya. 5. Alih tangan kasus Yaitu kegiatan pendukudng bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik (klien) dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang erat dan amntap antara berbagi pihak yang dapat memberikan bantuan dan atas penanganan masalah tersebut (terutama kerjasama dari ahli lain tempat kasus itu dialihtangankan). Kegiatan layanan dan pendukung bimbingan dan konseling ini, kesemuanya saling terkait dan saling menunjang baik langsung maupun tidak langsung. Saling keterkaitan dan tunjang menunjang antara layanan dan pendukung itu menyangkut pula fungsi-fungi yang diemban oleh masing-masing layanan/kegiatan pendukung . MODEL MANAJEMEN SEKOLAH BERBASIS PEMBERDAYAAN GURU BIMBINGAN KONSELING UNTUK MENGATASI KETIDAK EFEKTIFAN PENELOLAAN LAYANAN KHUSUS DI SMA NEGERI 1 KERKAP KABUPATEN BENGKULU UTARA
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful