P. 1
Kata Pengantar

Kata Pengantar

|Views: 130|Likes:

More info:

Published by: Amanda Samurti Pertiwi on Jul 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun laporan kasus ke-1 ini yang berjudul “Dokter Marwan....maafin Mawar ya” Selanjutnya, laporan ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Blok Reproduksi. Kepada dosen-dosen yang terlibat dalam Blok Reproduksi ini, kami ucapkan terima kasih atas segala pengarahannya sehingga laporan ini dapat kami susun dengan cukup baik. Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini, baik dari segi isi, bahasa, analisis, dan sebagainya. Oleh karena itu, kami ingin meminta maaf atas segala kekurangan tersebut, hal ini disebabkan karena masih terbatasnya pengetahuan, wawasan, dan keterampilan kami. Selain itu, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan, guna untuk kesempurnaan laporan ini dan perbaikan untuk kita semua. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan wawasan berupa ilmu pengetahuan untuk kita semua. Wassalammu’alaikum wr. wb.

Bandar Lampung, 3 April 2012

Tim Penulis

1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………….… 1 Daftar Isi…………………………………………………………….. 2 Skenario …………………………………………………………….. 3 Step 1………………………………………………………………... 4 Step 2………………………………………………………………... 5 Step 3………………………………………………………………... 6 Step 4…................................................................................................ 12 Step 5………………………………………………………………... 33 Step 6………………………………………………………………... 34 Step 7………………………………………………………………... 35 Kesimpulan …………………………………………………….… 81

Daftar Pustaka………………………………………………………. 82

2

Skenario
“Dokter Marwan.... maafin Mawar yaa” Ny. Mawar, usia 25 tahun, menikah enam bulan yang lalu. Sejak tiga bulan yang lalu mengalami amenore dan morning sickness dirasakan sejak dua bulan terakhir. Mawar juga merasakan perubahan baik pada bentuk tubuhnya, maupun kondisi fisiologisnya. Karena merasa hamil ia memeriksakan diri ke dokter Marwan. Ny. Mawar termasuk ibu muda yang sangat ingin tahu, dia banyak bertanya tentang anatomi panggul wanita, konsep kehamilan, dan bagaimana kondisi janin dalam rahim. Dari anamnesis didapatkan HPHT 24 januari 2012. Pada pemeriksaan didapatkan tanda tanda kehamilan dan pregnancy test positif. Dokter Marwan kemudian memberikan suplemen untuk kehamilan serta menyarankan Ny. Mawar untuk melakukan ANC secara teratur. Sebelum pulang Ny. Mawar berkata “Dokter Marwan.... maafin Mawar yaaa.. Mawar mau tanya sekali lagi, adakah obat obatan atau bahan lain dan kebiasaan yang berbahaya bagi ibu hamil?”

3

STEP 1

1. Amenore  Tidak ada atau terhentinya haid secara abnormal  Keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut turut. Umumnya primer di sebabkan oleh masalah masalah berat seperti kelainan kelainan kongenital dan kelainan kelainan genetik, sedangkan sekunder merujuk pada sebab sebab yang timbul kemudian dalam kehidupan wanita, seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor tumor, penyakit infeksi, dan lain lain. 2. Morning Sickness  Salah satu tanda mungkin hamil subyektif yang timbul pada hamil muda. 3. ANC  perawatan sebelum anak lahir, jadi perawatan dalam kehamilan dan lebih ditujukan kepada keadaan ibu.  Salah satu upaya pencegahan awal dari faktor resiko kehamilan.  Cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal

4

STEP 2

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Bagaimana anatomi sistem reproduksi wanita? Bagaimana perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi selama kehamilan? Bagaimana konsep kehamilan? Bagaimana fisiologi janin? Bagaimana penegakan diagnosis kehamilan? Apa saja obat obat dan bahan lain yang dapat membahayakan kehamilan? Bagaimana prosedural Antenatal care?

5

STEP 3

1. Anatomi sistem reproduksi wanita
Anatomi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:  Genitalia externa : terletak di perineum Mons pubis Labia mayora Labia minora Klitoris Vestibulum Perinium Kelenjar Bartholin Himen Urethra Fourchette  Genitalia interna : terletak didalam rongga pelvis Vagina Uterus Tuba fallopi Ovarium Parametrium

2. Perubahan anatomi dan fisiologi selama kehamilan
Perubahan pada system reproduksi. 1. Uterus Ukuran : untuk akomodasi pertumbuhan janin rahim membesar akibat hipertrifi otot polos rahim. Ukuran pada kehamilan cukup bulan 30x25x20 cm dengan kapasitas lebih dari 400cc.  Berat : berat uterus naik secara lar biasa, dari 30 g menjadi 1000g pada akhir kehamilan (40 pekan)  Posisi rahim dalam kehamilan o Pada permulaan kehamilan dalam letak antefleksi atau rotro fleksi o Pada 4 bulan kehamilan, rahim tetp berada dalam rongga pelvis setelah itu mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati. o Vaskularisasi : pembuluh darah balik (vena) mengembang dan bertambah o Cervik uteri : servik bertambah vaskuarisasinya dan menjadi lunak (soft) disebut tanda Godell. 2. Indung Telur (ovarium) Ovulasi berhenti Masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya cirri yang mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesterone. 3. Vagina dan Vulva 6   

Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vagina dan vulva. Akibat hiper vaskualrisasi vagina dan vulva lebih merah / kebiruan warna livid pada vagina dan portio servik disebut tanda Chadwick. 4. Dinding perut Pembesaran rahim menimbulkan peregangan & menyebabkan robeknya serabut elastis di bawah kulit sehingga timbul striae gravidarum. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya disebut linia nigra. 5. Payudara (mammae). Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang dan berat. Dapat teraba nodus- nodus akibat hipertrofi kelanjar alveoli bayangan vena-vena lebih membiru hiper pigmentasi pada putting susu dan areola payudara. b. Perubahan pada organ dan system lainnya 1. System sirkulasi darah  Volume  Protein darah  Hitung jenis dan hemoglobin  Nadi dan tekanan darah  Jantung 2. Saluran pernafasan Wanita hamil kadang-kadang mengeluh sesak dan nafas pendek. Hal ini disebabkan oleh unsur yang tertekan kea rah diafragma dapat pembesaran rahim. 3. Saluran pencernaan Salvias meningkat pada trimester pertama, mengeluh mual dan muntah tonus otot-otot saluran pencernaan melamah sehingga motilitas dan makanan akan lebih lama berada dalam saluran makanan resorbsi makanan baik, namun menimbulakan obstipasi. 4. Tulang dan gigi Persendian panggul akan terasa lebih longgar, karena ligamentlegamen melunak (softening). Apabila pemberian maknan tidak dapat memenuhi kebutuhan kalsium janin, maka kalsium maternal pada tulangtulang panjang akan memenuhi kebutuhan ini. Bila konsumsi kalsium cukup, gigi tidak akan kekurangan kalsium. 5. Kulit  Muka : cloasma gravidarum  Payudara : putting susu & areoal payudara  Perut : linia nigra dan strie  Vulva 6. Kelanjar endokrin  Kelenjar steroid : dapat membesar sedikit  Kelenjar hipofise terutama lobus anterior

: dapat membesar

7

Kelenjar adrenal

: tidak begitu berpengaruh

c. Metabolisme 1. Tingkat metabolic basal (basal metabolic rate, BMR) pada wanita hamil meninggi hingga 15%-20%, terutama pada trimester akhir. 2. Keseimbangan asam alkali (acid bace balance) sedikit mengalami perubahan. 3. Dibutuhkan protein yang banyak untuk perkembangan fetus, alat kandungan, payudara dan badan ibu, serta untuk persiapan laktasi. 4. Hindari arang, seorang wanit hamil sering merasa haus, nafsu makan kuat, sering kencing dan kadang kala dijumpai glukosa suria yang mengingatkan kita pada diabetes militus. 5. Metabolisme lemah juga terjadi. Kadar kolesterol meningkat sampai 350mg/lebih per 100 cc. 6. Metabolisme mineral  Kalsium : dibutuhkan rata-rata 1,5 g sehari  Fosfat : dibutuhkan rata-rata 2 g/hari  Zat bezi : dibutuhkan tambahan zat bezi kurang lebih 800 mg/30- 50 per hari  Air : wanita hamil cenderung mengalami ratensi air 7. Berat badan wanita hamil akan naik sekitar 6,5-16,5 kg 8. Kebutuhan kalori meningkat selama kehamilan dan laktasi 9. Wanita hamil memerlukan makanan yang bergizi dan harus mengandung banyak protein

3. Bagaimana konsep kehamilan?
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalan 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 miggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40). Proses kehamilan, setiap wanita yang subur setiap 1 bulan mengalami ovulasi (proses pelepasan ovum dari ovarium yang diperngaruhi sistem hormon yang komplek). Kemudian di tangkap oleh fimbriae dan masuk ke tuba fallopi. Waktu coitus air mani terpancar ke dalam ujung atas dari vagina sebanyak  100-200 juta tiap cc. Sperma begerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke tuba fallopi ovum yang telah dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak (oleh : silia tuba) menuju kavum uteri dan terjadilah nidasi masuknya / tertanamnya hasil konsepsi (zigot) ke dalam endometrium untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin di persiapkan ari-ari (plasenta) dan terjadilah tumbuh kembang janin sampai aterm

8

4. Bagaimana fisiologi janin?
Pertumbuhan Janin Normal Pertumbuhan janin manusia ditandai dengan pola-pola sekuensial pertumbuhan, diferensiasi, dan maturasi jaringan sera organ yang ditentukan oleh kemampuan substrat oleh ibu, transfer substrat melalui plasenta, dan potensi pertumbuhan janin yang dikendalinkan oleh genom (Cuningham dkk, 2005). Pertumbuhan janin dibagi menjadi tiga fase pertumbuhan sel yang berurutan (Lin dan Forgas, 1998). Fase awal hiperplasia terjadi selama 16 minggu pertama dan ditandai oleh peningkatan jumlah sel secara cepat. Fase kedua, yang berlangsung sampai minggu ke-32, meliputi hiperplasia dan hipertropi sel. Setelah usia gestasi 32 minggu, pertumbuhan janin berlangsung melalui hipertrofi sel dan pada fase inilah sebagian besar deposisi lemak dan glikogen terjadi. Laju pertumbuhan janin yang setara selama tiga fase pertumbuhan sel ini adalah dari 5 g/hari pada usia 15 minggu, 15-20 g/hari pada minggu ke- 24, dan 30-35 g/hari pada usia gestasi 34 minggu (Cuningham dkk, 2005). Meskipun telah banyak faktor yang diduga terlibat pada proses pertumbuhan janin, mekanisme selular dan molekular sebenarnya untuk pertumbuhan janin yang abnormal tidak diketahui dengan jelas. Pada kehidupan awal janin penentu utama pertumbuhan adalah genom janin tersebut, tetapi pada kehamilan lanjut, pengaruh lingkungan, gizi, dan hormonal menjadi semakin penting. a. Pembentukan darah janin b. Pernafasan janin c. Peredaran darah janin d. Pencernaan makanan janin Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Janin Faktor keturunan atau bawaan menentukan cepat pertumbuhan, bentuk janin, diferensiasi dan fungsi organ-organ yang dibentuk. Akan tetapi makanan yang disalurkan oleh ibunya melalui plasenta (ari-ari) mempuyai peranan yang sangat penting untuk menunjang potensi keturunan ini (Pudjiadi, 1990). Status Gizi Ibu Hamil, definisi Gizi Ibu Hamil, Brozek (1966) dalam Moersintowati, 2005, mendefinisikan status gizi adalah sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrisi. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diet. Gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui suatu proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan mengeluarkan zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat tenaga, zat pembangunan dan zat yang sesuai dengan kebutuhan gizi (Bandiyah, 2009). Selama kehamilan dianjurkan mengkonsumsi beberapa makanan segar harus dikonsumsi setiap ibu, misalnya buah-buahan yang sudah matang seperti buah persik, aprikot, pear, jeruk ceri, nanas, anggur, plum, stroberi, dan lain-lain. Mengkonsumsi teh, kopi, coklat, dan susu/kalsium memang bisa menghalangi penyerapan zat besi (gizi) dalam tubuh. Oleh karena itu, Samuel (dokter spesialis gizi klinik) menyarankan untuk memberi jarak waktu antara pemberian makanan atau suplemen zat gizi dengan konsumsi teh, kopi, cokelat, dan susu/kalsium sekitar 1,5 sampai dua jam (Ratih, 2008). 9

Gizi ibu yang kurang atau buruk pada waktu konsepsi atau sedang hamil muda dapat menyebabkan kematian atau cacat janin. Diferensiasi terjadi pada trimester pertama hidupnya janin, hingga kekurangan zat tertentu yang sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi dapat menyebabkan tidak terbentuknya suatu organ dengan sempurna, atau tidak dapat berlangsungnya kehidupan janin tersebut. Pertumbuhan cepat terjadi terutama pada trimester terakhir kehamilan ibu. Maka kekurangan makanan dalam periode tersebut dapat menghambat pertumbuhannya, hingga bayi dilahirkan dengan berat dan panjang yang kurang daripada seharusnya. Dibandingkan ibu yang tidak hamil,kebutuhan ibu hamil akan protein meningkat sampai 68%, asam folat 122%, kalsium 50%, dan zat besi 200-300%, kalori 14%, vitamin D 100%, vitamin E 25%, vitamin K 8%, vitamin C 17%, thiamin 36%, riboflavin 23%, niacin 13%, vitamin B6 27%, vitamin B12 10%, fosfor 50%, magnesium 14%, seng 25%, yodium 17%, selenium 18%.

5. Bagaimana penegakan diagnosis kehamilan?
Tanda dan gejala kehamilan. 1. Tanda-tanda presumtif. a. Amenorhea (tidak dapat haid) b. Mual dan muntah c. Mengidam d. Tidak tahan bau-bauan e. Pingsan f. Tidak ada selera makan (anoreksia) g. Lelah (fatigue) h. Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri i. Miksi sering j. Konstipasi/obstipasi k. Hiperpigmentasi l. Epulsi gusi m. Varises 2. Tanda-tanda kemungkinan hamil a. Perut membesar b. Uterus membesar c. Tanda hegar 10

d. Tanda Chadwick e. Tanda piscaseck f. Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang (Braxton hicks) g. Teraba ballottement h. Reaksi kehamilan positif 3. Tanda pasti (tanda positif). a. Gerakan janin yang dapat dilihat atau diraba b. Denyut jantung janin : stetoskop, dopler, ECG, USG. c. Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rotgent

6. Apa saja obat obat dan bahan lain yang dapat membahayakan kehamilan?
Sesungguhnya semua obat dapat melalui plasenta dalam jumlah tertentu, kecuali obatobat dengan ion organik yang besar seperti heparin dan insulin. Transfer plasenta aktif harus dipertimbangkan. Terapi obat tidak perlu dihentikan selama menyusui karena jumlah yang larut di dalam ASI tidak terlalu signifikan. Jenis obat-obatan diantaranya adalah : 1. Antibiotik dan antiinfeksi lain 2. Obat-obatan untuk saluran napas bagian atas 3. Obat-obatan untuk gangguan pencernaan 4. Analgesik (anti nyeri) 5. Obat-obat gangguan psikiatri 6. Vitamin dan mineral 7. Obat-obatan Narkotik 8. Anti kejang 9. Obat sakit kepala 10. Obat anti kanker 11. Antikoagulan (pembekuan darah) 12. Obat Anti Hipertensi

7. Bagaimana prosedural Antenatal care?
Ante Natal Care adalah cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Pelayanan antenatal atau yang sering disebut pemeriksaan kehamilan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga profesional yaitu dokter spesialisasi bidan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan. Untuk itu selama masa kehamilannya ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan asuhan antenatal. Bidan melakukan pemeriksaan klinis terhadap kondisi kehamilannya. Bidan memberi KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) kepada ibu hamil, suami dan keluarganya tentang kondisi ibu hamil dan masalahnya (Depkes RI, 2007). 11

Pelayanan Ante Natal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan Ante Natal Care (ANC). Selengkapnya mencakup banyak hal yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik baik umum dan kebidanan, perneriksaan laboratorium atas indikasi serta intervensi dasar dan khusus sesuai dengan resiko yang ada. Namun dalam penerapan operasionalnya menurut Manuaba (2001) pada dasarnya, ada 7 standar minimal dalam melakukan asuhan kehamilan (Antenatal Care) yang disebut dengan 7 T yaitu: - Timbang berat badan - Ukur (tekanan) darah - Ukur (tinggi) fundus uteri - Imunisasi (toksoid tetanus) lengkap - Pemberian (tablet) zat besi - Tes terhadap penyakit menular seksual - Temu wicara dalam persiapan rujukan Tujuan Asuhan Antenatal       Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan social ibu dan bayi. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan aatu komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal

Kunjungan Antenatal Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4x selama kehamilan a. Satu kali pada triwulan pertama b. Satu kali pada triwulan kedua c. Satu kali pada triwulan ketiga

12

STEP 4

1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita Anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu: alat reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan alat reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum. A. Alat genitalia wanita bagian luar

a. Mons veneris / Mons pubis Disebut juga gunung venus merupakan bagian yang menonjol di bagian depan simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat setelah dewasa tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga. Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea (minyak) berfungsi sebagai bantal pada waktu melakukan hubungan seks. 13

b. Bibir besar (Labia mayora) Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong, panjang labia mayora 7-8 cm, lebar 2-3 cm dan agak meruncing pada ujung bawah. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk perineum, permukaan terdiri dari:  Bagian luar Tertutup oleh rambut yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris.  Bagian dalam Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak). c. Bibir kecil (labia minora) Merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit, terletak dibagian dalam bibir besar (labia mayora) tanpa rambut yang memanjang kearah bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette, semantara bagian lateral dan anterior labia biasanya mengandung pigmen, permukaan medial labia minora sama dengan mukosa vagina yaitu merah muda dan basah. d. Klitoris Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil, dan letaknya dekat ujung superior vulva. Organ ini mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitive analog dengan penis laki-laki. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksual. e. Vestibulum Merupakan alat reproduksi bagian luar yang berbentuk seperti perahu atau lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette. Vestibulum terdiri dari muara uretra, kelenjar parauretra, vagina dan kelenjar paravagina. Permukaan vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia, panas, dan friksi. f. Perinium Merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus vagina dan anus. Perinium membentuk dasar badan perinium. g. Kelenjar Bartholin Kelenjar penting di daerah vulva dan vagina yang bersifat rapuh dan mudah robek. Pada saat hubungan seks pengeluaran lendir meningkat. h. Himen (Selaput dara) Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh dan mudah robek, himen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang di keluarkan uterus dan darah saat menstruasi. i. Fourchette Merupakan lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis, terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayoradan labia minora. Di garis tengah berada di bawah orifisium vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa navikularis terletak di antara fourchette dan himen.

14

B. Alat genitalia wanita bagian dalam

a. Vagina Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu meregang secara luas karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina. Panjang dinding anterior vagina hanya sekitar 9 cm, sedangkan panjang dinding posterior 11 cm. Vagina terletak di depan rectum dan di belakang kandung kemih. Vagina merupakan saluran muskulomembraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus levator ani oleh karena itu dapat dikendalikan. Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut rugae dan terutama di bagian bawah. Pada puncak (ujung) vagina menonjol serviks pada bagian uterus. Bagian servik yang menonjol ke dalam vagina di sebut portio. Portio uteri membagi puncak vagina menjadi empat yaitu: fornik anterior, fornik posterior, fornik dekstra, fornik sinistra. Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan PH 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi. Fungsi utama vagina yaitu sebagai saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan. 15

b. Uterus Merupakan jaringan otot yang kuat, berdinding tebal, muskular, pipih, cekung dan tampak seperti bola lampu / buah peer terbalik yang terletak di pelvis minor di antara kandung kemih dan rectum. Uterus normal memiliki bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin dan teraba padat. Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus uteri yaitu bagian corpus uteri yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi, corpus uteri merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri dan berbentuk segitiga, dan seviks uteri yang berbentuk silinder. Dinding belakang, dinding depan dan bagian atas tertutup peritoneum sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih. Untuk mempertahankan posisinya uterus disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan peritoneum. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita, pada anak-anak ukuran uterus sekitar 2-3 cm, nullipara 6-8 cm, dan multipara 8-9 cm. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu peritoneum, miometrium / lapisan otot, dan endometrium.  Peritoneum - Meliputi dinding rahim bagian luar - Menutupi bagian luar uterus - Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan - pembuluh darah limfe dan urat saraf - Meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen  Lapisan otot - Lapisan luar: seperti “Kap”melengkung dari fundus uteri menuju ligamentum - Lapisan dalam: berasal dari osteum tuba uteri sampai osteum uteri internum - Lapisan tengah: terletak di antara kedua lapisan tersebut membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan serabut otot ini membentuk angka dan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat dengan demikian perdarahan dapat terhenti.  Semakin ke arah serviks otot rahim makin berkurang dan jaringan ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri internum anatomikum yang merupakan batas dan kavum uteri dan kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut istmus. Istmus uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat persalinan.  Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot dasar panggul, ligamentum yang menyangga uterus adalah ligamentum latum, ligamentum rotundum (teres uteri) ligamentum infindibulo pelvikum (suspensorium ovarii) ligamentum kardinale machenrod, ligamentum sacro uterinum dan ligamentum uterinum. a) Ligamentum latum Merupakan lipatan peritoneum kanan dan kiri uterus meluas sampai ke dinding panggul. Ruang antara kedua lipatan berisi jaringan ikat longgar dan mengandung pembuluh darah limfe dan ureter, ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopi. mulai sedikit kaudal dari insersi tuba menuju kanalis inguinalis dan mencapai labia mayus, terdiri dari otot polos dan jaringan ikat, fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi b) Ligamentum infundibulo pelvikum Terbentang dari infundibulum dan ovarium menuju dinding panggul, menggantung uterus ke dinding panggul, antara tuba fallopi dan ovarium terdapat ligamentum ovarii proprium 16

c) Ligamentum kardinale machenrod Dari serviks setinggi osteum uteri internum menuju panggul, menghalangi pergerakan uterus ke kanan dan ke kiri, tempat masuknya pembuluh darah menuju uterus d) Ligamentum sacro uterinum Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale machenrod menuju os sacrum e) Ligamentum vesika uterinum Dari uterus menuju ke kandung kemih, merupakan jaringan ikat yang agak longgar sehingga dapat mengikuti perkembangan uterus saat hamil dan persalinan Pembuluh darah uterus  Arteri uterina asenden yang menuju corpus uteri sepanjang dinding lateral dan memberikan cabangnya menuju uterus dan di dasar endometrium membentuk arteri spinalis uteri  Di bagian atas ada arteri ovarika untuk memberikan darah pada tuba fallopi dan ovarium melalui ramus tubarius dan ramus ovarika. Susunan saraf uterus Kontraksi otot rahim bersifat otonom dan dikendalikan oleh saraf simpatis dan parasimpatis melalui ganglion servikalis fronkenhouser yang terletak pada pertemuan ligamentum sakro uterinum.

c. Tuba Fallopi Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu uterine hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum mencapai rongga uterus. terletak di tepi atas ligamentum latum berjalan ke arah lateral mulai dari osteum tubae internum pada dinding rahim. Panjang tuba fallopi 12cm diameter 38cm. Dinding tuba terdiri dari tiga lapisan yaitu serosa, muskular, serta mukosa dengan epitel bersilia. Tuba fallopi terdiri atas : - Pars interstitialis (intramularis) terletak di antara otot rahim mulai dari osteum internum tuba. - Pars istmika tubae, bagian tuba yang berada di luar uterus dan merupakan bagian yang paling sempit. - Pars ampuralis tubae, bagian tuba yang paling luas dan berbentuk “s”. - Pars infindibulo tubae, bagian akhir tubae yang memiliki lumbai yang disebut fimbriae tubae. Fungsi tuba fallopi : o Sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai kavum uteri. o Untuk menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi. o Sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi. o Tempat terjadinya konsepsi. o Tempat pertumbuahn dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap mengadakan implantasi.

d. Ovarium Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum, ovulasi, sintesis, dan sekresi hormon – hormon steroid. 17

Letak: Ovarium ke arah uterus bergantung pada ligamentum infundibulo pelvikum dan melekat pada ligamentum latum melalui mesovarium. Jenis: Ada 2 bagian dari ovarium yaitu:  Korteks ovarii Mengandung folikel primordial, berbagai fase pertumbuhan folikel menuju folikel de graff, terdapat corpus luteum dan albikantes  Medula ovarii Terdapat pembuluh darah dan limfe, terdapat serat saraf

e. parametrium suatu jaringan ikat yang terdapat di antara ke dua lembar ligamentum latum. Batasan parametrium - Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalping - Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri - Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium. - Bagian belakang terdapat ligamentum ovarii

2. Perubahan anatomi dan fisiologi selama kehamilan Perubahan Fisiologi pada Saat kehamilan Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh genitalia wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormone somatomatropin, estrogen, dan progesteron yang menyebabkan perubahan pada: a) Rahim atau uterus Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan. Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 gram dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion ratarata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 liter bahkan dapat mencapai 20 liter atau lebih dengan berat rata-rata 1100 gram (Prawirohardjo, 2008). b) Vagina (liang senggama) Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat jelas pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat bewarna keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwicks. Perubahan ini meliputi penipisan mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan ikat dan hipertrofi dari sel-sel otot polos. 18

c) Ovarium Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesterone dalam jumlah yang relative minimal (Prawirohardjo, 2008). d) Payudara Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaru hormone saat kehamilan, yaitu estrogen, progesterone, dan somatromatropin (Prawirohardjo, 2008). e) Sirkulasi darah ibu Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: - Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. - Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter. - Pengaruh hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat. Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan, yaitu: i. Volume darah Volume darah semakin meningkat di mana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada hamil 32 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah sebesar 25-30% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak sekitar umur hamil 16 minggu, sehingga pengidap penyakit jantung harus berhati-hati untuk hamil beberapa kali. Kehamilan selalu memberatkan kerja jantung sehingga wanita hamil dengan sakit jantung dapat jatuh dalam dekompensasio kordis. Pada postpartum terjadi hemokonsentrasi dengan puncak hari ketiga sampai kelima. ii. Sel darah Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat dengan mencapai jumlah sebesar 10.000/ml. Dengan hemodilusi dan anemia maka laju endap darah semakin tinggi dan dapat mencapi 4 kali dari angka normal. iii. Sistem respirasi Pada kehamilan terjadi juga perubahan sistem respirasi untuk dapat memnuhi kebutuhan O2. Disamping itu terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar pada umur hamil 32 minggu. Sebagai kompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2 yang meningkat, ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 2025% dari biasanya. iv. Sistem pencernaan Terjadi peningkatan asam lambung karena pengaruh estrogen. 19

v.

vi.

vii.

Traktus urinarius Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering kemih. Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah mulai turun ke pintu panggul, keluhan itu akan timbul kembali. Perubahan pada kulit Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan ini dikenal dengan nama striae gravidarum. Metabolisme Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI. Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg. Sebgaian besar penambahan berat badan selama kehamilan berasal dari uterus dan isinya. Kemudian payudara, volume darah, dan cairan ekstraselular. Pada kehamilan normal akan terjadi hipoglikemia puasa yang disebabkan oleh kenaikan kadar insulin, hiperglikemia postprandial dan hiperinsulinemia. Zinc (Zn) sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Beberapa peneliatian menunjukkan kekurangan zat ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. (Prawirohardjo, 2008).

3. Konsep kehamilan
Masa kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari pertama haid terakhir. Kehamilan di bagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama di mulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan ke dua dari bulan ke empat sampai bulan ke 7, triwulan ketiga dari bulan ke 7 sampai 9 bulan (Saifuddin, 2008). Kehamilan matur (cukup bulan) berlangsung kira-kira 40 minggu (280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang berlangsung antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur, sedangkan bila lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur (Mansjoer, 2001). Menurut usia kehamilan, kehamilan dibagi menjadi: a. Kehamilan trimester pertama: 0-14 minggu b. Kehamilan trimester kedua: 14-28 minggu c. Kehamilan trimester ketiga: 28-42 minggu

20

Kehamilan sebagai keadaan fisiologis dapat diikuti proses patologis yang mengancam keadaan ibu dan janin. Tenaga kesehatan harus dapat mengenal perubahan yang mungkin terjadi sehingga kelainan yang ada, dapat dikenal lebih dini. Tujuan pemeriksaan antenatal adalah menyiapkan fisik dan mental ibu serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, dan masa nifas agar sehat dan normal setelah ibu melahirkan (Mansjoer, 2001). Paritas Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari atau sama dengan 500 gram yang pernah dilahirkan, hidup maupun mati. Bila berat badan tak diketahui maka dipakai umur kehamilan, yaitu 24 minggu (Siswosudarmo, 2008). Penggolongan paritas bagi ibu yang masih hamil atau pernah hamil berdasarkan jumlahnya menurut Perdinakes-WHOJPHIEGO yaitu: a. Primigravida Adalah wanita hamil untuk pertama kalinya b. Multigravida Adalah wanita yang pernah hamil beberapa kali, di mana kehamilan tersebut tidak lebih dari 5 kali. c. Grandemultigravida Adalah wanita yang pernah hamil lebih dari 5 kali. Menurut sumber lain jenis paritas bagi ibu yang sudah partus antara lain yaitu: a. Nullipara adalah wanita yang belum pernah melahirkan bayi yang mampu hidup (Siswosudarmo, 2008). b. Primipara adalah wanita yang pernah 1 kali melahirkan bayi yang telah mencapai tahap mampu hidup (Siswosudarmo, 2008). c. Multipara adalah wanita yang telah melahirkan 2 janin viabel atau lebih (Siswosudarmo, 2008). d. Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan bayi 6 kali atau lebih (Mochtar, 1998). Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih (Padjadjaran, FK., 1983). e. Great Grandemultipara adalah seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viable 10 kali atau lebih (Wiknjosastro, 2002).

4. Fisiologi janin
Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan bahwa satu bulan berumur 28 hari. kehamilan dianggap lewat bulan bila lebih dari 42 minggu. untuk memperhitungkan waktu kelahiran di pakai rumus Neagle, yaitu tanggal haid hpertama ditambah 7 sedangkan bulannya ditambah sembilan. perkiraan persalinan 21

dapat diperhitungkan dengan mempergunakan ultrasonografi bila tanggal haid tidak diketahui. fisiologi janin terkait proses kehidupan janin intrauterin yang mencakup sistem sistem, sebagai berikut: a. b. c. d. Pembentukan darah janin Pernafasan janin Peredaran darah janin Pencernaan makanan janin

5. Bagaimana penegakan diagnosis kehamilan?
Pemeriksaan Kehamilan Pemeriksaan kehamilan adalah ibu hamil dapat memeriksakan kehamilannya pada dokter, obgin, dokter umum, bidan, perawat atau dukun terlatih dalam suatu komunikasi seperti di Indonesia da pusat-pusat kesehatan seperti Puskesmas dan BKIA di mana seorang ibu hamil dapat memeriksakan kehamilannya (Mochtar, Rustam, 1998 : 470) Cara pemeriksaan kehamilan Anamnesa meliputi : a. Identitas diri dan keluarga b. Riwayat kehamilan yang sekarang c. Riwayat obstetri yang lalu d. Riwaya penyakit yang pernah diderita ibu dan keluarga e. Riwayat sosial ekonomi Pemeriksaan kehamilan meliputi : - Pemeriksaan umum - Pemeriksaan fisik Palpasi Auskultasi Perkusi - Pemeriksaan dalam Pemeriksaan vulva Pemeriksaan dengan speculum - Pemeriksaan labolatorium Darah Urine Diagnosa atau ikhtisar pemeriksaan meliputi : 1. Hamil atau tidak hamil 2. Primi atau multi 3. Tuanya kehamilan 4. Anak hidup atau mati 5. Anak tunggal atau kembar 6. Letak atau posisi janin 7. Intra uterin atau ekstra uterin 8. Keadaan jalan lahir 9. Keadaan umum penderita Prognosa atau ramalan meliputi : 22

-

-

Setelah pemeriksaan selesai maka atas dasar pemeriksaan kita harus bisa daoat membuat prognosa kehamilan, artinya petugas berusaha meramalkan apakah persalinan di perkirakan akan berjalan dengan biasa, sulit atau berbahaya Ramalan ini perlu untuk menentukan apakah penderita harus bersalin di RSUD (persalinan ), rumah bersalin, atau dirumah saja apakah proses persalinan harus dipimpin oleh dokter ahli atau oleh seoramg bidan dan apa saja yang harus disediakan supaya persalinan dapat berlangsung dengan selamat bagi sang ibu /sang anak. (Sastrowinoto Sulaiman, 1986;153:200)

6. Apa saja obat obat dan bahan lain yang dapat membahayakan kehamilan? (LO) 7. Bagaimana prosedural Antenatal care?
Pengertian Ante Natal Care (ANC) Ante Natal Care adalah sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari faktor resiko kehamilan. Menurut WHO, Ante Natal Care untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut lekas diketahui, dan segera dapat diatasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan (Winkjosastro, 2006). Ante Natal Care adalah cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Pelayanan antenatal atau yang sering disebut pemeriksaan kehamilan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga profesional yaitu dokter spesialisasi bidan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan. Untuk itu selama masa kehamilannya ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan asuhan antenatal. Bidan melakukan pemeriksaan klinis terhadap kondisi kehamilannya. Bidan memberi KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) kepada ibu hamil, suami dan keluarganya tentang kondisi ibu hamil dan masalahnya (Depkes RI, 2007). Ketidakpatuhan dalam melakukan Ante Natal Care selama kehamilan dapat menyebabkan tidak diketahuinya berbagai komplikasi pada ibu dan janin. Apalagi ibu hamil tidak melakukan Ante Natal Care, maka tidak akan diketahui apakah kehamilannya berjalan dengan baik atau mengalami resiko tinggi dan komplikasi yang dapat membahayakan kehidupan ibu dan janinnya. Dan dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Indiarti, 2009). Pelayanan Ante Natal Care Pelayanan antenatal dilakukan oleh tenaga profesional seperti dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan, dan perawat bidan. Perawatan antenatal dapat diberikan di ruang praktek dokter, klinik di rumah sakit, atau klinik bidan swasta. Ibu hamil harus diberikan kesempatan untuk memilih fasilitas yang disukainya (Liewellyn, 2001). 23

Perawatan yang ditujukan kepada ibu hamil, bukan saja bila ibu sakit dan memerlukan perawatan saja, tetapi juga pengawasan dan penjagaan wanita hamil agar tidak terjadi kelainan sehingga mendapatkan ibu dan anak yang sehat (Mochtar, 1998). Sasaran pelayanan antenatal adalah ibu hamil, dengan perhitungan bahwa sasaran ibu hamil baru setiap tahun adalah “Crude Birth Rate” (CBR) Propinsi/Kabupaten x Jumlah Penduduk x 1,1. Sedangkan target pelayanan antenatal adalah jumlah ibu hamil yang harus dicakup, yang perhitungan setiap tahunnya ditentukan oleh daerah tingkat I dan daerah tingkat II. Standar pelayanan kehamilan yang bertujuan memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan umum dan tumbuh kembang janin, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, deteksi risiko tinggi (anemia, kurang gizi, hipertensi, penyakit menular seksual), memberikan pendidikan kesehatan serta mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin (Depkes RI, 2002). Perawatan antenatal pada ibu hamil mencakup: (a) Pengawasan kehamilan untuk melihat apakah segalanya berlangsung normal, untuk mendeteksi dan mengatasi setiap kelainan yang timbul juga antisipasinya. (b) Penyuluhan atau pendidikan mengenai kehamilan dan bagaimana cara-cara mengatasi gejalanya mengenai gaya hidupnya. (c) Persiapan, baik fisik maupun psikologis untuk persalinan nantinya. (d) Dukungan dan dorongan mental jika terdapat masalah-masalah sosial ataupun psikologis dalam kehamilan (Farrer, 2000). Kesehatan ibu dan janin sangat penting dijaga, dengan melakukan pemeriksaan ke dokter, bidan atau puskesmas. Pemeriksaan kehamilan harus dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan berlangsung, yakni pada trimester pertama, kedua dan ketiga. Namun, idealnya pemeriksaan dilakukan sebulan sekali pada bulan 1-6, dua kali pada bulan 7-8, dan seminggu sekali pada bulan ke-9 hingga bersalin (Indiarti, 2009). Ante Natal Care bertujuan untuk memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan anak, mengenal secara dini ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif dan mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. Standar Pelayanan Ante Natal Care (ANC) o Standar 1: Metode Asuhan Asuhan kebidanan dilaksanakan dengan metode manajemen kebidanan dengan langkah : Pengumpulan data dan analisa data, penentuan diagnosa perencanaan, evaluasi dan dokumentasi. o Standar 2 : Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan klien dilakukan secara sistematis berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.

24

o Standar 3: Identifikasi Ibu Hamil
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

o Standar 4: Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal
Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan resiko tinggi/kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS (Penyakit Menular Seksual) / infeksi HIV (Human Immuno Deficiency Virus); memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan rnerujuknya untuk tindakan selanjutnya.

o Standar 5: Palpasi Abdominal Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan; serta bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. o Standar 6: Pengelolaan Anemia pada Kehamilan Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. o Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsi lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya. o Standar 8 : Persiapan Persalinan Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi kadaan gawat darurat. Bidan hendaknya kunjungan rumah untuk hal ini (Sofyan, 1999). Penatalaksanaan Ante Natal Care (ANC) Pelayanan Ante Natal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan Ante Natal Care (ANC). Selengkapnya mencakup banyak hal yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik baik umum dan kebidanan, perneriksaan laboratorium atas indikasi serta 25

intervensi dasar dan khusus sesuai dengan resiko yang ada. Namun dalam penerapan operasionalnya menurut Manuaba (2001) pada dasarnya, ada 7 standar minimal dalam melakukan asuhan kehamilan (Antenatal Care) yang disebut dengan 7 T yaitu:  (Timbang) berat badan Berat badan ibu selama kehamilan haruslah bertambah. Pertambahan berat badan ibu selama hamil merupakan salah satu indikator penilaian status gizi, indikator tumbuh kembang janin. Pertambahan berat badan selama hamil rata-rata 0,3-0,5 kg per minggu. Dalam KMS ibu hamil selama trimester I kisaran pertambahan berat sebaiknya 1-2 kg (350-400gr/mg). Sementara trimester II dan III, sekitar 0,34-0,50 kg tiap minggu pertumbuhan janin, plasenta serta penambahan jumlah cairan amnion berlangsung sangat cepat selama trimester III. Berat badan janin bertambah sebesar 5 gr sehari pada minggu ke 14-15 dan menjadi 10 gr pada minggu ke 20, kecepatan tumbuh sebesar 30-35 gr sehari berlangsung pada minggu ke 32-34 dan berubah menjadi 230 gr seminggu pada minggu ke 33-36. Pada akhir kehamilan pertambahan berat badan total sebanyak 12,5 kg (Arisman, 2007). Bila terdapat kenaikan berat badan yang berlebihan, perlu dipikirkan adanya kemungkinan preeklamsi, kehamilan kembar atau hidramnion. Ukur (tekanan) darah Tekanan darah diperiksa dan dicatät setiap kunjungan. Bila lebih tinggi dari sebelumnya, perlu diteliti dan harus diberitahukan apa yang harus dilakukan oleh penderita. Tekanan darah ibu hamil yang normal tidak boleh lebih dan 30 mmHg systole dan 15 mmHg diastole. Bila lebih dan itu, hati-hati adanya preeklamsi untuk kehamilan lebih dari 20 minggu. Ukur (tinggi) fundus uteri Pengukuran tinggi fundus uteri mulai dari batas atas symsis dan disesuaikan dengan hari pertama haid terakhir. Tinggi fundus uteri diukur pada kehamilan >12 minggu karena pada usia kehamilan ini uterus dapat diraba dari dinding perut dan untuk kehamilan > 24 minggu dianjurkan mengukur dengan pita meter. Tinggi fundus uteri dapat menentukan ukuran kehamilan. Bila tinggi fundus kurang dari perhitungan umur kehamilan mungkin terdapat gangguan pertumbuhan janin, dan sebaliknya mungkin terdapat gemeli, hidramnion atau molahidatidosa (Depkes, 2007). Pengukuran tinggi fundus uteri adalah merupakan pemeriksaan palpasi abdomen, pada pemeriksaan palpasi ini ada cara menurut Leopold (yang sering) I, II, III, IV dan atau cara Kenebel, Budin dan Ahfeld (Mochtar, 1998). Biasanya bila dilakukan pemeriksaan tinggi fundus uteri dengan cara Leopold I diteruskan dengan Leopold II, III, dan IV sekaligus perabaan gerakan janin dan pemeriksaan auskultasi untuk mendengarkan denyut jantung janin. Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan janin dengan menilai besarnya tinggi fundus uteri yang tidak sesuai dengan usia kehamilan, atau penilaian terhadap janin yang tumbuh terlalu besar sehingga tinggi fundus uteri yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda (Depkes, 2007). Menurut Spiegelberd dengan jalan mengukur tinggi fundus uteri dari simfisis, maka diperoleh : - 22 – 28 minggu : 24 – 25 cm di atas simfisis. 26

- 28 minggu : 26,7 cm di atas simfisis. - 30 minggu : 29,5 – 30 cm di atas simfisis. - 32 minggu : 29,5 – 30 cm di atas simfisis. - 34 minggu : 31 cm di atas simfisis. - 36 minggu : 32 cm di atas simfisis. - 38 minggu : 33 cm di atas simfisis. - 40 minggu : 37,7 cm di atas simfisis. Menurut Sarwono (2008), pengukuran tinggi fundus uteri, kemudian hasil pengukuran dimasukkan dalam perhitungan dengan menggunakan rumus: Berat badan janin = (Tinggi Fundus Uteri – 13) x 155 gram: untuk kepala janin yang masih floating. Berat badan janin = (Tinggi Fundus Uteri – 12) x 155 gram: untuk kepala janin yang sudah memasuki pintu atas panggul. Berat badan janin = (Tinggi Fundus Uteri – 11) x 155 gram: untuk kepala janin yang sudah melewati atas panggul. Pengukuran tinggi fundus uteri juga dapat dilakukan pada posisi ibu tidur terlentang, ibu diminta untuk berkemih sehingga kandungan kemih dalam keadaan kosong. Titik 0 pada pengukurannya adalah tulang symphisis pubis. Pemeriksaan dimulai dengan pemeriksaan Leopold. Perut ibu disimetriskan, centimeter ditarik dari titik 0 sampai setinggi umbulikus, kemudian ditambahkan dari hasil pengukuran yang kembali dimulai dari umbulikus ke fundus uteri (Henretty, 2006).  Pemberian Imunisasai (Tetanus Toxoid) TT lengkap Tinjauan pemberian imunisasi TT (tetanus toxoid) adalah untuk melindungi ibu dan bayi dan infeksi tetanus neonatorum. Pemberian TT baru menimbulkan efek perlindungan bila diberikan sekurang-kurangnya 2 kali dengan variabel 4 minggu kecuali bila sebelumnya ibu telah mendapat TT 2 kali pada kehamilan yang lalu atau pada masa calon pengantin. Maka TT cukup diberikan satu kali saja (TT ulang). Bila ibu pernah mendapatkan suntikan TT 2 kali, diberikan suntikan ulang/boster 1 kali pada kunjungan antenatal yang pertama (Depkes, 2007). Interval (selang waktu minimal) Lama perlindungan Perlindungan

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi TT Antigen TT 1 TT 2 TT 3 TT 4

Pada kunjungan antenatal pertama 4 minggu setelah TT 1 1-6 bulan setelah TT 2 1 tahun setelah TT 3

3 tahun 5 tahun 10 tahun

80 95 95

27

TT 5

1 tahun setelah TT 4

25 tahun / seumur hidup

99

Keterangan :Apabila dalam waktu tiga (3) tahun WUS tersebut melahirkan maka bayi yang dilahirkan akan terlindungi dari tetanus neonatorum.

Pemberian Tablet Zat Besi Tujuan pemberian tablet zat besi adalah untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas, karena pada masa hamil volume darah ibu mengalami pengenceran hingga kira-kira 25%, sedangkan pada masa nifas terjadi banyak pendaharan sehingga membutuhkan Fe yang lebih banyak (Pusdiknakes, 2001). Kebijakan program KIA di Indonesia saat ini menetapkan, pemberian tablet Fe (320 mg sulfas ferosis dan 0,5 mg asam folat) untuk semua ibu hamil sebanyak l x 1 tablet selama 90 hari. Jumlah tersebut mencukupi kebutuhan tambahan zat besi selama hamil yaitu 1000 mg. Bila ditemukan anemia pada ibu hamil diberikan tablet zat besi (Fe) dan dilakukan pemantauan Hb 1 kali dalam bulan. Daya serap tubuh terhadap zat besi akan baik apabila dihindari mengkonsumsi tembakau, teh dan kopi untuk membantu penyerapan, dianjurkan mengkonsumsi makanan kaya protein dan vitamin C (Wastidar, 1999). Tes terhadap Penyakit Menular Seksual Tes penyakit menular seksual sangat penting karena banyak gejala asimtomatik penyakit menular seksual ini yang tidak diketahui seperti sipilis, gonorrhoe, clamidya trachomatis ataupun AIDS. Tes penyakit menular seksual dapat dilakukan mulai dari: a. Mengkaji riwayat penyakit terdahulu, riwayat obstetric, riwayat sosial dan lain-lain. b. Melakukan pemeriksaan fisik mulai dan inspeksi seperti pada alat genitalia dan mungkin juga dibutuhkan palpasi. Bila ada indikasi maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan Torch, VDRI dan juga pemeriksaan AIDS. Temu Wicara dalam Persiapan Rujukan Kebanyakan ibu tampak sehat-sehat saja sampai waktu persalinan dan melahirkan. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal, namun ada sekitar 10-15% dari mereka khususnya di Indonesia yang perlu dirujuk ke tempat pertolongan khusus seperti transfuse darah, tindakan-tindakan khusus (ekstraksi vakum, seksio secarea dan tindakan bedah obstetric). Karena itu seringkali ada suatu masalah yang muncul saat persalinan, seringkali sulit melakukan upaya rujukan dengan cepat. Penundaan dalam membuat keputusan dan pengiriman si ibu ke tempat rujukan akan menyebabkan tertundanya ibu mendapatkan penatalaksanaan yang diharapkan. Penundaan ini akan mempertinggi angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi.

Cakupan Kunjungan Ante Natal Care (ANC) Menurut Depkes RI, (2007), disebutkan kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan Ante Natal Care (ANC) sesuai standar yang ditetapkan. Istilah kunjungan di sini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke fasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik di posyandu, pondok bersalin desa, kunjungan rumah dengan ibu

28

hamil tidak memberikan pelayanan ANC sesuai dengan standar dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil sebagaimana uraian dibawah ini: A. Kunjungan ibu hamil KI Kunjungan baru ibu hamil adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Pada kunjungan pertama suatu pelayanan antenatal, dilakukan pemeriksaan sebagai berikut: o Anamesis, yaitu pencarian riwayat kehamilan dan persalinan terdahulu seperti gangguan kehamilan atau penyulit persalinan yang pernah dialami. o Pengukuran tinggi badan yang dilakukan satu kali saja dan pengukuran berat badan (yang dilakukan setiap kali ibu memeriksakan diri). Rasio tinggi dan berat badan juga dapat dipakai sebagai pedoman kasar untuk melihat kekurangan gizi pada ibu. o Pengukuran tinggi fundus uteri untuk menaksir usia kehamilan, dilakukan dengan perabaan perut. o Pemeriksaan panggul, dilakukan dengan maksud:

Mendeteksi infeksi vagina atau alat reproduksi oleh kuman Neisseria atau kuman Gonnorhoea. Ada atau tidaknya tumor atau massa massif yang bukan janin. Mengetahui posisi spina ischidiea untuk memperkirakan besar panggul. Mengadakan pemeriksaan untuk membuktikan bahwa ibu itu benar-benar hamil.
o Penghitungan detak jantung janin. o Penentuan perkiraan taksiran tanggal persalinan; dengan perhitungan paling lazim menggunakan rumus Naegele, yaitu tanggal haid terakhir dikurangi 7, bulan ditambah 3, dan tahun ditambah 1. o Pemeriksaan kesehatan secara umum, meliputi pengukuran tekanan darah dan denyut jantung ibu, dan pemeriksaan faal tubuh. o Pemeriksaan laboratorium, yang dilakukan dengan: a) Pemeriksaan darah lengkap atau pemeriksaan kadar Hb atau perhitungan hematokrit untuk mengetahui kadar Hb di darah (kehamilan cenderung menimbulkan anemia fisiologis karena volume darah menjadi lebih banyak. Kadar Hb yang ditoleransi oleh WHO pada wanita hamil adalah 1 lg% atau lebih. Di bawah nilai tersebut, wanita hamil digolongkan anemis). b) Pemeriksaan serologis untuk pendeteksian VDRL dan faktor Rhesus. c) Pemeriksaan urine untuk menentukan kadar Folticle Stimulating Hormon (FSH) sebagai indikator hamil atau tidak; pemeriksaan urine untuk memeriksa kadar albumin dan glukosa.

o Pemeriksaan radiologis yang diadakan hanya bila ada indikasi yang kuat dan dihindari jika tidak diperlukan.

29

o Penyuluhan kesehatan pada kehamilan, yang ditujukan kepada pemeliharaan kebersihan perorangan, pemeliharaan status gizi, perencanaan berkeluarga, dan persiapan pemeliharaan anak (menyusui). o Suplemen gizi dengan pemberian tablet besi, khususnya bagi negaranegara dengan prevalensi anemia ibu hamil tinggi. o Pemberian suntikan Tetanus Toksoid (TT) lengkap 2 kali untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum.

B. Kunjungan ulang Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar selama satu periode kehamilan berlangsung. Pada kunjungan ulang ini, prosedur pada kunjungan pertama dilakukan kembali. Bergantung kepada pendiagnosisan kesehatan maka frekuensi pemeriksaan dapat dipersering. Selanjutnya dapat dilakukan jenis-jenis pemeriksaan yang lebih spesifik. C. Kunjungan ibu hamil K4 Kunjungan ibu hamil K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih untuk mendapatkan pelayanan Ante Natal Care (ANC) sesuai standar yang ditetapkan dengan syarat: 1) Satu kali dalam trimester pertama (sebelum 14 minggu). 2) Satu kali dalam trimester kedua (antara minggu 14-28) 3) Dua kali dalam trimester ketiga antara minggu 28-36 dan setelah minggu ke 36 4) Pemeriksaan khusus bilä terdapat keluhan-keluhan tertentu Upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemeriksaan rutin selama kehamilan. Dalam program kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberi kode angka K yang merupakan singkatan dari kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3, dan K4. Ini berarti, minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan antenatal pada usia kehamilan di atas 36 minggu (Sarwono, 2008). Pemeriksaan kesehatan secara periodik selama periode antenatal juga perlu untuk membangun hubungan dan kepercayaan antara ibu hamil dan petugas kesehatannya, pemberian pesan-pesan sebagai promosi kesehatan secara pribadi serta untuk identifikasi dan penanganan bila ada faktor resiko dan komplikasi pada ibu. Cakupan pelayanan ANC lengkap (K4) berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 adalah 34,4% dan SKRT 1992 sebesar 38,2%, ada peningkatan namun sangat kecil dan terkesan sangat lambat, sedangkan berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesebatan Indonesia (SDKI) tahun 1991 adalah sebesar 55,54%. Faktor-faktor yang Memengaruhi Ante Natal Care (ANC) Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap objek terjadi melalui 30

panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2005). Menurut teori World Health Organization (WHO) salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri. Tingkat Pengetahuan yang tercakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu (Notoadmodjo, 2003): a) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu ”tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rencah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya. b) Memahami (Comprehension) Memahami suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan di mana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan, dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari. c) Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukumhukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. e) Sintesis (Syntesis) Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. 31

f) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Ketidakmengertian ibu dan keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan berdampak pada ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan Ekonomi Tingkat ekonomi akan berpengaruh terhadap kesehatan, tingkat ekonomi keluarga rendah tidak mampu untuk menyediakan dana bagi pemeriksaan kehamilan, masalah yang timbul pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah ibu hamil kekurangan energi dan protein (KEK) hal mi disebabkan tidak mampunya keluarga untuk menyediakan kebutuhan energi dan protein yang dibutuhkan ibu selama kehamilan. Sosial Budaya Keadaan lingkungan keluarga yang tidak mendukung akan mempengaruhi ibu dalam memeriksakan kehamilannya. Perilaku keluarga yang tidak mengijinkan seorang wanita meninggalkan rumah untuk memeriksakan kehamilannya merupakan budaya yang rnenghambat keteraturan kunjungan ibu hamil memeriksakan kehamilannya. Geografis Letak geografis sangat menentukan terhadap pelayanan kesehatan, ditempat yang terpencil ibu hamil sulit memeriksakan kehamilannya, hal ini karena transpontasi yang sulit menjangkau sampai tempat terpencil (Depkes RI, 2001).

32

STEP 5 Learning Objective
1. Regulasi hormon selama kehamilan 2. Fisiologi janin 3. Anatomi sistem reproduksi jalan lahir 4. Obat obat dan zat yang berbahaya bagi kehamilan

33

STEP 6 Belajar mandiri

34

STEP 7 1. Regulasi hormon selama kehamilan
Hormon Gonadotropin GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ). LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron. Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat. (Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di sel-sel Leydig testis). FSH (Follicle Stimulating Hormone) Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria memicu pematangan sperma di testis). Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui mekanisme feedback negatif. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta). Kadarnyamakin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml). Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsiimunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinanadanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb). Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) danLutheineizing Hormone (LH) Hipothalamus mengeluarkan GnRH dengan proses sekresinya setiap 90-120 menit melalui aliranportal hipothalamohipofisial. Setelah sampai di hipofise anterior, GnRH akan mengikat selgonadotrop dan merangsang pengeluaran FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Lutheinizing Hormone) Waktu paruh LH kurang lebih 30 menit sedangkan FSH sekitar 3 jam. FSH dan LH berikatandengan reseptor yang terdapat pada ovarium dan testis, serta mempengaruhi fungsi gonad dengan berperan dalam produksi hormon seks steroid dan gametogenesis. Pada wanita selama masa ovulasi GnRH akan merangsang LH untuk menstimulus produksi estrogen dan progesteron. Peranan LH pada siklus pertengahan (midcycle) adalah ovulasi dan merangsang korpus luteum untuk menghasilkan progesteron. FSH berperan akan merangsang perbesaran folikel 35

ovarium dan bersama-sama LH akan merangsang sekresi estrogen dan ovarium. Selama siklus menstruasi yang normal, konsentrasi FSH dan LH akan mulai meningkat padahari-hari pertama. Kadar FSH akan lebih cepat meningkatkan dibandingkan LH dan akan mencapai puncak pada fase folikular, tetapi akan menurun sampai kadar yang yang terendah pada fase preovulasi karena pengaruh peningkatan kadar estrogen lalu akan meningkat kembali pada faseovulasi. Regulasi LH selama siklus menstruasi, kadarnya akan meninggi di fase folikular dengan puncaknya pada midcycle, bertahan selama 1-3 hari, dan menurun pada fase luteal. Sekresi LH dan FSH dikontrol oleh GnRH yang merupakan pusat control untuk basal gonadotropin, masa ovulasi dan onset pubertas pada masing-masing individu. Proses sekresi basal gonadotropin ini dipengaruhi oleh beberapa macam proses: a. Episode sekresi (Episodic secretadon) Pada pria dan wanita, proses sekresi LH dan FSH bersifat periodik, dimana terjadinya secara bertahap dan pengeluarannya dikontrol oleh GnRH . b. Umpan balik positif (Positive feedback) Pada wanita selama siklus menstruasi estrogen memberikan umpan balik positif pada kadar GnRH untuk mensekresi LH dan FSH dan peningkatan kadar estrogen selama fase folikular merupakan stimulus dari LH dan FSH setelah pertengahan siklus, sehingga ovum menjadi matang dan terjadi ovulasi. Ovulasi terjadi hari ke 10-12 pada siklus ovulasi setelah puncak kadar LH dan 24-36 jam setelah puncak estradiol. Setelah hari ke-14 korpus luteurn akan mengalami involusi karena disebabkan oleh penurunan estradiol dan progesteron sehingga terjadi proses menstruasi. c.Umpan balik negatif (Negative Feedback) Proses umpan balik ini memberi dampak pada sekresi gonadotropin. Pada wanita terjadinya kegagalan pernbentukan gonad primer dan proses menopause disebabkan karena peningkatan kadar LH dan FSH yang dapat ditekan oleh terapi estrogen dalam jangka waktu yang lama.Tujuan pemeriksaan FSH dan LH adalah untuk melihat fungsi sekresi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus dan mekanisme fisiologis umpan balik dari organ target yaitu testis dan ovarium. Kadar FSH akan meningkat pada hipogonadism, pubertas prekoks, menopause, kegagalan diferensiasi testis, orchitis, seminoma, acromegalli, sidroma Turner. Serta menurun pada keadaan insufisiensi hipotalamus, disfungsi gonad, anovulasi, insufisiensi hipofise, dan tumor ovarium. Faktor yang mempengaruhi kadarnya adalah obatobatan seperti steroid, kontrasepsi oral, progesteron, estrogen, dan testoteron.

36

Gambar 1. Umpan balik positif dan negatif dalam pengaturan sekresi hormonal sistem HPO

Harga normal LH dan FSH bervariasi tergantung dari usia, jenis kelamin dan siklus ovulasi pada pasien wanita. Kadarnya akan rendah sebelum pubertas dan jika sesudahnya akan meningkat. Berikut harga normal kadar hormon FSH dan LH pada pria dan wanita berdasarkan usia dan keadaan.

Wanita (dalam rentang umur) <8 tahun 8 – 12 tahun 12 – 14 tahun 14 – 18 tahun Midcycle Kehamilan Premenopause Pasca menopause

FSH (ng/L) 0,6 - 0,8 1,2 – 2,4 1,7 – 2,8 2,2 – 3,0 2,6 - 24 Tak terdeteksi 1,1 – 5,3 11 - 66

HORMON SEKS STEROID Hormon steroid disintesis dari kolesterol yang berasal dari sintesis asetat, dari kolesterol ester pada janin dan steroidogenik, dan sumber makanan. Sekitar 80% kolesterol digunakan untuk sintesis hormon seks steroid . Pada wanita, ovum yang matang akan mensintesis dan mensekresi hormone steroid aktif. Ovarium yang normal merupakan sumber utama dari pembentukan. Pada wanita menopause dan kelainan ovarium estrogen dihasilkan dari precursor androgen pada jaringan lain. Selain itu ovariurn juga memproduksi progesterone selama fase luteal pada siklus 37

menstruasi, testoteron dan androgen dalam jumlah sedikit. Korteks adrenal juga memproduksi hormon testoteron dan androgen dalam jumlah yang sedikit yang digunakan bukan hanya untuk prekursor estrogen tetapi langsung dikeluarkan ke jaringan perifer. 1. Estrogen Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta. Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita. Pada uterus menyebabkan proliferasi endometrium. Pada serviks menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks. Pada vagina menyebabkan proliferasi epitel vagina. Pada payudara menstimulasi pertumbuhan payudara. Juga mengatur distribusi lemak tubuh. Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti. Estrogen terdiri dari tiga jenis hormon yang berbeda, yaitu estron, estradiol, dan estriol. Pada wanita normal, estrogen banyak diproduksi oleh folikel selama proses ovulasi dan korpus luteum selama keharmilan. Pada saat keluar dari sirkulasi, hormon steroid berikatan dengan protein plasma. Estradiol berikatan dengan transpor globulin yang dikenal dengan seks hormone binding globulin (SHBG) dan berikatan lemah dengan albumin, sedangkan estrone berikatan kuat dengan albumin. Sirkulasi estradiol secara cepat diubah menjadi estrone di hepar dengan bantuan 17hidroksisteroid dehidrogenase. Sebagian estrone masuk kernball ke sirkulasi, dan sebagian lagi dimetabolisme menjadi hidroksiestrone yang dikonversi menjadi estriol. Pada awal siklus ovulasi, produksi estradiol akan menurun sampai titik terendah, tetapi karena pengaruh hormon FSH estradiol akan mulai meningkat. Sebelum fase midcycle kadar estradiol dibawah 50 pg/mL, tetapi akan terus meningkat sejalan dengan pematangan ovum. Estradiol akan mencapai puncaknya sebesar 250-500 pg/mL pada hari ke 13-15 siklus ovulasi. Pada fase luteal, kadar estrogen akan menurun sampai 125 pg/mL. Progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum bersama-sama dengan estrogen akan memberikan umpan balik negatif pada hipotalamus dan hipofise antenior. Kadar dibawah 30pg/mL menunjukan keadaan oligomenore atau amenore sebagai indikasi kegagalan gonad. Hormon estradiol dipengaruhi oleh ritme sirkadian yaitu adanya variasi diurnal pada wanita pasca menopause yang diperkirakan. Karena adanya variasi pada kelenjar adrenal. Hormon estrogen yang dapat diperiksa yaitu estrone (El), estradiol (E2), dan estriol (E3). Pemeriksaan estadiol dipakal , untuk mengetahui aksis hipotalamus-hipofise-gonad (ovarium dan testis), penentuan waktu ovulasi, menopause dan monitoring pengobatan fertilitas. Waktu pengambilan sampel untuk pemeriksaan estradiol adalah pada fase folikular (preovulasi) dan fase luteal. Kadar estrogen meningkat pada keadaan ovulasi, kehamilan, pubertas prekoks, ginekomastia, atropi testis, tumor ovarium., dan tumor adrenal. Kadarnya akan menurun pada keadaan menopause, disfungsi ovarium, infertilitas, sindroma turner, amenorea akibat hipopituitari, anoreksia nervosa, keadaan stres, dan sindroma testikular ferninisasi pada wanita. Faktor interfeernsi yang meningkatkan estrogen adalah preparat estrogen, kontrasepsi oral, dan kehamilan. Serta yang menurunkan kadarnya yaitu obat clomiphene. 38

Hormone Jenis kelamin Unit konvesional Hormon Estradiol Jenis kelamin Unit konvesional Wanita (pg/mL) < 8 tahun <7 8 – 12 tahun 8 – 18 12 – 14 tahun 16 – 34 14 – 16 tahun 20 – 68 Fase folikular 20 – 100 Preovulasi 100 - 350 Fase luteal 100 – 350 Pasca menopause 10 - 30 Estriol Kehamilan (ng/mL) 30 -32 mgg 2 - 12 33 – 35 mgg 3 – 19 36 – 38 mgg 5 – 27 39 – 40 mgg 10 – 30 Tidak hamil <2 Estrone Wanita (ng/mL) Fase folikular 30 -100 Ovulasi >150 Luteal 90 - 150 (Disadur dari Greenspan dan Strewler, 1997)

2.Progesteron Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi. Progesteron bersama-sama dengan estrogen memegang peranan penting di dalam regulasi seks hormon wanita. Pada wanita, pregnenolon diubah menjadi progesteron atau 17a-hidroksi pregnenolone dan perubahan ini tergantung dari fase ovulasi dimana progesteron disekresi oleh korpus luteum dalam jumlah yang besar. Progesteron juga merupakan prekursor untuk testoteron dan estrogen, pada saat terjadi metabolisme 17α-hidroksi progesteron menjadi dehidroepiandrosteron yang dikonversi menjadi 4 androstenedion dengan bantuan enzim 17α hidroksilase pregnenolon . Pada awal menstruasi dan fase folikular kadar progesteron sekitar 1 ng/mL. Pada saatsekresi LH, konsentrasi progesteron dapat bertahan selama 4-5 hari di dalam plasma dan mencapai puncaknya yaitu sebesar 10-20 ng/mL selama fase luteal. Pengukuran progesteron di dalam plasma dapat digunakan untuk memonitor keadaan ovulasi. Jika konsentrasi progesteron lebih dari 4-5 ng/mL mungkin sudah terjadi ovulasi. Progesteron berperan di dalam organ reproduksi termasuk kelenjar mamae dan endometrium serta peningkatkan suhu tubuh manusia. Organ target 39

progesteron yang lain adalah uterus, dimana progesteron membantu implantasi ovum. Selama kehamilan progesteron mempertahankan plasenta, menghambat kontraktilitas uterus dan mempersiapkan mamae untuk proses laktasi. Pada umumnya pemeriksaan kadar progesteron dilakukan untuk pemeriksaan fungsi plasenta selama kehamilan, fungsi ovarium pada fase luteal, dan monitoring proses ovulasi. Pada pemeriksaaan ini sampel diambil satu sampai dua kali pada fase luteal. Kadamya meningkat pada kehamilan, ovulasi, kista ovarium, tumor adrenal, tumor ovarium, molahidatidosa. Dan menurun pada keadaan amonorea, aborsi mengancam, dan kematian janin. Faktor yang mempengaruhi pemeriksaan hormon progesteron adalah penggunaan steroid, progesteron, dan kontrasepsi oral. 3.Testoteron Pada wanita yang normal, ovarium akan memproduksi testoteron dalam jumlah yang sedikitya itu kurang dari 300ng selama 24 jam. Testoteron berperan dalam proses pertumbuhan rambut selama masa pubertas. Penigkatan testoteron yang berlebih akan menyebabkan amenorea, pertumbuhan rambut dan kelenjar sebasea yang berlebih . Kadar androgen meningkat pada hirsustisme, amenorea hipotalamus, dan tumor sel sertoll. Dan menurun pada andropause, sindrom klinefelter, aplasia sel leydig, dan criptorchidism. Berikut gambar yang akan menjelaskan tentang sintesis hormon steroid dan siklus ovulasi pada wanita normal.

40

Gambar Siklus ovulasi pada wanita normal

41

Hubungan umpan balik hormon gonadotropin dan hormon steroid pada wanita dapat dilihatpada gambar dibawah ini.

Gambar Hubungan umpan balik hormon hormon gonadotropin dan hormone seks steroid pada wanita

42

Gambar Regulasi steroid dan peptida gonad atas fungsi ovarium. Hypothalamus menghasilkan GnRH, yang merangsang pelepasan LH dan FSH hypofise. Peptida hypofise ini merangsang steroidogenesis dan pematangan folikel.

4. Prolaktin Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen). Fungsi laktogenik/laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi / pascapersalinan. Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan 43

pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenorhea. Prolaktin terdiri dari 199 pasang asam amino hormon polipeptida dengan berat molekul 23.000 Dalton dan disintesis serta disekresi oleh laktotrop yang terdapat pada hipofiseanterior. Sama seperti hormon hipofise anterior yang lain, prolaktin juga dikontrol oleh hypothalamic-releasin factors. Sekresi prolaktin terutama dihambat oleh dopamin yang disekresi oleh neuron dopaminergik tuberoinfundibular. Prolaktin akan merangsang pengeluaran ASI pada saat sesudah melahirkan. Selama kehamilan prolaktin akan banyak disekresi dan dipengaruhi oleh hormon lain seperti estrogen, progesteron, human placenta lactogen (HPL), dan cortisol untuk merangsang pertumbuhan mamae. Setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron akan menurun sehingga kadar prolaktin akan meningkat dan merangsang mamae untuk mengeluarkan ASI. Kadar prolaktin akan meningkat pada fetus dan bayl baru lahir terutama pada usia bulan pertama. Dalam keadaan fisiologis, prolaktinemia dapat terjadi pada saat kehamilan, ibu menyusui, tidur, stres, dan, konsumsi protein tinggi dan olah raga. Keadaan patologis yang menyebabkan hiperprolaktinemi adalah tumor pituitari, adenomapituitari, gagal ginjal, akromegali, dan anoreksia nervosa. Dan kadarnya menurun dalam keadaan osteoporosis, ginekomasti, nekrosis hipofise, dan hirsutism. Pada wanita, hiper-protaktinemia dapatmenyebabkan memendeknya fase luteal sehingga dapat menyebabkan anovulasi, amenorea,bahkan infertil. Fluktuasi prolaktin lebih nyata pada wanita premenopause dibandingkan pasca menopause. Pemeriksaan prolaktin akan memberikan fluktuasi hasil yang berbeda pada masing-masing individu. Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan 3-4 jam setelah pasien bangun tidur. Faktor interferensi yang mempengaruhi pemeriksaan prolaktin adalah penggunaan steroid, kontrasepsi oral, progesteron, metil dopa, fenotoazid, antidepresan, morfin, haloperidol, levodopa, dan ergot alkaloid. Berikut kadar prolaktin : Jenis kelamin Wanita Usia, keadaan Bayi baru lahir Bayi 1 – 5 bulan Anak-anak Dewasa Fase folikular Fase luteal Konvensional (ng/mL) < 500 6 – 14 4–8 < 20 <40 unit

2. Fisiologi janin
Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan bahwa satu bulan berumur 28 hari. kehamilan dianggap lewat bulan bila lebih dari 42 minggu. untuk memperhitungkan waktu kelahiran di pakai rumus Neagle, yaitu tanggal haid hpertama ditambah 7 sedangkan bulannya ditambah sembilan. perkiraan persalinan dapat diperhitungkan dengan mempergunakan ultrasonografi bila tanggal haid tidak

44

diketahui. fisiologi janin terkait proses kehidupan janin intrauterin yang mencakup sistem sistem, sebagai berikut: a. Pembentukan darah janin Pembentukan darah janin memerlukan persediaan Fe dalam hati, limpa, dann sumsum tulang ibu. pada permulaan, sel darah janin dibentuk oleh kantung yolk dalam bentuk megaloblas. selanjutnya darah janin dibentuk oleh hati dan sumsum tulang dalam bentuk megalosit dan makrosit. Normosit dibuat setelah aktivitas penuh sumsum tulang. Fetal hemoglobin (F) mempunyai kemampuan untuk mengikat O2 dalam konsentrasi tertentu dari darah ibu dan dengan mudah dapat melepaskan CO2 ke darah ibu. Menjelang persalinan janin membuat adult hemoglobin (A) sebagai persiapan kelahiran sehingga dapat mengisap O2 dengan pernafasan yang telah aktif. b. Pernafasan janin bacroft memantau gerakan dinding dada, sebagai bentuk pernafsan intrauterin, tetapi air ketuban tidak masuk kedalam paru-paru. Gerakan pernafasan dikendalikan oleh saturasi o2 dan bukan oleh CO2. bila saturasi O2 melebihi 50 % maka akan terjadi penghentian gerakan pernafasan. bila saturasi O2 menurun maka saturasi CO2 akan berfungsi untuk mengendalikan gerakan pernafasan. pada persalinan, paru-paru berkembang dengan sendirinya karena rangsangan mekanis saat membersihkan jalan pernafasan dan juga terdapatnya lesitin dan spingomielin yang memberikan peluang berkembangnya paru-paru.

c. Peredaran darah janin Sistem peredaran darah Janin berbeda dengan sistem peredaran darah orang dewasa karena paru-paru janin belum berkembang sehingga O2 diambil melalui perantaraan plasenta. oleh karena itu, sistem peredaran darah janin ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut : - foramen ovale antara kedua atrium - Duktus arteriosus Bothali antara hepar menuju vena kava inferior - duktus venosis arantii di dalam hepar menuju vena kava inferior - pada umbilikalis terdapat satu vena umbilikalis dan dua arteri umbilikalis Peredaran Darah Janin Berlangsung sebagai berikut : darah yang kaya dengan nutrisi dan O2 dialirkan melalui vena umbilikalis menuju hati, dimana terdapat duktus venosus arantii, langsung menuju dan masuk ke vena cava inferior lalu masuk ke atrium kanan jantung janin dari atrium kanan janin sebagian besaar darah amasuk ke atrium kiri melalui foramen ovale sebagian kecil darah dari atrium kanan masuk ke ventrikel kanan darah yang masuk ke atrium kiri akan dipompa ke ventrikel kiri dan dari ventrikel kiri dipompa masuk ke aorta dan selanjutnya dialirkan ke seluruh tubuh janin

-

45

-

-

-

cabang aorta di bagian bawah menjadi dua arteri hipogastrika interna, yang mempunya cabang arteria umbilikalis darah dari ventrikel kanan dipompa menuju paru-paru, tetapi karena paru-paru belum berkembang maka darah yang terdapat pada arteri pulmonalis dialirkan menuju aorta melalui duktus arteriosus bothali darah yang dialirkanmenuju paru-paru akan dialirkan kembali menuju jantung melalui vena pulmonalis darah yang menuju plasenta melalui arteri umbilikalis terpecah menjadi kapiler untuk mendapatkan nutrisi dan O2 untuk pertumbuhan dan perkembangan janin sisa metabolisme janin dan Co2 dilepaskan ke dalam sirkulasi retroplasenter untuk selanjutnya dibuang melalui alat pembuangan yang terdapat di tubuh ibu

peredaran darah janin berlangsung selama kehidupan intrauterin, dimana plasenta memegang peranan yang sangat penting. kegagalan fungsi plasenta dapat menimbulkan berbagai penyulit dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. bagaimna perubahan peredaran darah janin setelah kelahiran? faktor penting yang mengubah peredaran darahh janin menuju peredaran darah dewasa di tentukan : berkembangnya paru-paru janin Berkembangnya paru menyebabkan tekanan negatif dalam paru sehingga dapat menampung darah, untuk melakukan pertukaran CO2 dan O2 dari udara. dengan demikian duktus arteriosus bothali tidak berfungsi dan akan mengalami obliterasi. tekanan dalam atrium kiri makin meningkat, sehingga dapat meenutup foramen ovale. Tekanan yang tinggi pada atrium kiri disebabkan darah yang akan mengalir ke atrium kanan, kini langsung menuju paru-paru dan selanjutnya dialirkan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Dua faktor ini menyebabkan tekanan di atrium kiri meningkat terputusnya hubungan peredaran darah antara ibu dan janin dengan dipotongnya tali pusat. Pemotongan tali pusat sebaiknya dilakukan setelah bayi mennagis dengan nyaring atau tali pusat berhenti berdenyut karena dapat menambah darah dari plasenta sekitar 50 ml sampai 75 ml yang sangat berarti bagi pertumbuhan bayi Membuat adult hemoglobin ( tipe A) sehingga siap melakukan pertukaran CO2 dan O2 melalui paru-paru Menjelang persalinan disiapkan pembuatan adult hemoglobin (A) sehingga setelah lahir langsung dapat menangkap O2 dan melepaskan CO2 melalui pernafasan

d. Pencernaan makanan janin pencernaan makanan mulai tumbuh pada minggu ke - 16. secara rutin janin minum air ketuban sebanyak 450 ml dalam 24 jam . hepar yang berfungsi membentuk darah, melakukan metabolisme hemoglobin dan bilirubin dan 46

mengubahnya menjadi biliverdin. biliverdin disalurkan ke usus sebagai bahan sisa metabolisme. bila terjadi asfiksia berat menyebabkan rangsangan nervus vagus (X), peristaltik usus meningkat dan terbukanya sfingter ani, sehingga mekonium dikeluarkan. biliverdin memberikan warna kehijauan pada air ketuban bila terjadi asfiksia intrauterin.

3. Anatomi sistem reproduksi jalan lahir
Anatomi Jalan Lahir Jalan lahir dibagi menjadi bagian keras dan bagian lunak. Bagian keras terdiri dari tulang-tulanng panggul dan sendi. Sedang bagian lunak meliputi otot-otot, jaringan, dan ligamen. Tulang-tulang panggul terdiri atas os coxae (os ilium, os ischium, os pubis), os sacrum, dan os coxygeus. Antara os ilium dengan os sacrum terbentuk persendian articulatio sacroiliacum. Antara os sacrum dengan os coxygeus terbentuk persendian articulatio sacrocoxygeus. Simfisis pubis adalah persendian yang dibentuk oleh dua os pubis yang saling bertemu. Di luar kehamilan pergerakan sendi sangat sedikit. Saat kehamilan terjadi sedikit perenggangan. Pelvis terbagi menjadi 2 bagian, yaitu pelvis mayor dan pelvis minor. Pelvis mayor terletak di sebelah cranial dari aditus pelvis (di atas linea terminalis). Pelvis minor disebut pula sebagai pelvis sejati karena dindingnya dibentuk oleh tulang yang lebih sempurna, terletak di sebelah caudal aditus pelvis (di bawah linea terminalis). Bentuk pelvis minor berupa saluran dengan sumbu melengkung ke depan (sumbu Carus). Bidang atas berbentuk bulat dibatasi pintu atas panggul (pelvic inlet). Bidang bawah dibatasi pintu bawah panggul (pelvic outlet) dan di antara kedua bidang terdapat pelvic cavity. Pintu atas panggul berbentuk bulat oval, dengan dibatasi oleh promontorium, sakrum, linea inominata, ramus superior ossis pubis, dan tepi atas simfisis. Ada 3 ukuran penting yang melibatkan pintu atas panggul, yaitu conjugata vera anatomica, conjugata vera obstretica, diameter transversa, dan diameter obliqua. Conjugata vera anatomica diukur dari promontorium ke tepi atas simfisis ossis pubis, panjang normal rata-rata 11 cm. Conjugata vera obstretica diukur dari promontorium ke tempat yang paling menonjol dari facies posterior simfisis ossis pubis, panjang rata-rata 10,5 cm. Diameter transversa adalah jarak terjauh yang ditarik pada linea terminalis antara dua titik yang sama, panjang rata-rata 13,5 cm. Diameter obliqua diukur dari articulatio sacroiliaca ke pecten ossis pubis sisi yang berlawanan, panjang rata-rata 12,5 cm. Bidang tengah panggul adalah bidang dengan ukuran terkecil, terletak setinggi pinggir bawah simfisis, spina iskiadika kiri-kanan dan memotong sakrum sekitar 1-2 cm di atas ujung sakrum. Sulit pengukuran secara klinik. Kesempitan pintu bawah panggul biasanya disertai kesempitan mid-pelvic. Pintu bawah panggul terdiri atas 2 bidang segitiga dengan dasar garis yang menghubungkan kedua tuber iskiadikum kiri-kanan, dan puncak segitiga: ujung os sakrum, sisi : lig. sakrotuberosum. Segitiga depan : dibatasi oleh arkus pubis. Terdapat 3 ukuran, yaitu : conjugata diagonalis, conjugata recta, dan diameter transversa. Conjugata diagonalis diukur dengan vaginal toucher dari tepi bawah simfisis ke promontorium, panjang rata-rata 12-12,5 cm. Conjugata recta membentang dari tepi bawah simfisis samapai ujung os coxygeus, panjang 9-11,5 cm. Diameter 47

transversa adalah jarak antara kedua tepi dorsal tuber ischiadicum, panjang rata-rata 11 cm. Bidang hodge adalah bidang khayalan dalam panggul untuk menentukan berapa jauh bagian terendah janin turun ke dalam rongga panggul. Empat bidang Hodge sejajar satu sama lain : H I : sama dengan PAP, H II : melalui pinggir bawah simfisis, H III : melalui spina iskiadika, H IV : melalui ujung os koksigis (dasar panggul). Bagian lunak jalan lahir terdiri dari otot-otot dan ligamenta yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutupi panggul sebelah bawah. Yang membentuk dasar panggul : diafragma pelvis,pars muskularis (m. levator ani), dan pars membranacea (Budianto, 2005; .

Tulang panggul mencakup os koksa (yi, os ilium, os iskium, os pubis), os sakrum, dan os koksigeus. Tulang-tulang ini satu sama lain saling berhubungan. Pada bagian depan terdapat hubungan antara kedua os pubis kanan dan kiri yang disebut simfisis. Pada bagian belakang, terdapat artikulasio sakro-iliaka yang menghubungkan os sakrum dengan os ilium. Pada bagian bawah, terdapat artikulasio sakrokoksigeal yang menghubungkan os sakrum dengan os koksigeus. Di luar kehamilan, artikulasio ini memungkinkan pergeseran sedikit, namun pada saat kehamilan dan persalinan, dapat bergeser lebih jauh dan lebih longgar. Secara fungsional, panggul terdiri atas 2 bagian yang disebut pelvis mayor dan pelvis minor. Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak di atas linea terminalis disebut pula false pelvis. Pelvis minor adalah bagian pelvis yang terletak di bawah linea terminalis disebut pula true pelvis karena bagian ini mempunyai peranan penting dalam obstetrik dan harus dapat dikenal dan dinilai sebaik-baiknya untuk dapat meramalkan dapat tidaknya bayi melewatinya. Bentuk pelvis minor ini menyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan (sumbu carus). Bidang atas saluran ini normal berbentuk hampir bulat disebut pintu atas panggul (pelvic inlet). Bidang bawah saluran 48

ini merupakan suatu bidang seperti pintu atas panggul, namun terdiri atas dua bidang disebut pintu bawah panggul (pelvic outlet). Di antara kedua pintu ini terdapat ruang panggul (pelvic cavity). Ruang panggul mempunyai ukuran yang paling luas di bawah pintu atas panggul, namun menyempit di panggul tengah untuk kemudian menjadi lebih luas lagi sedikit. Penyempitan di panggul tengah ini disebabkan oleh adanya spina iskiadika yang kadangkadang menonjol ke dalam ruang panggul. Sumbu carus adalah garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera pada pintu atas panggul dengan titik-titik sejenis di Hodge II, III, dan IV. Begitu mendekati Hodge III, sumbu itu lurus, sejajar dengan sakrum yang selanjutnya melengkung ke depan sesuai dengan lengkungan sakrum.

Pintu Atas Panggul (PAP) Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang berbentuk lonjong dan berbatasan dengan promontorium, korpus vertebra sakral I, linea inominata (terminalis), ramus superior os pubis, dan pinggir atas simfisis. Jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium, disebut juga diameter antero-posterior (konjugata vera), adalah 11 cm. Hasil ini diperoleh dengan cara memasukkan jari tengah dan telunjuk ke dalam vagina untuk meraba promontorium; jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium yang disebut konjugata diagonalis adalah 13 cm. Konjugata vera merupakan jarak antara pinggir atas simfisis ke promontorium dengan ukuran lebih 11 cm, diperoleh dari pengurangan konjugata diagonalis oleh 1,5 cm.

49

Selain kedua konjugata ini, dikenal pula konjugata obstetrika, yang memiliki jarak 11,5 cm, yaitu jarak dari bagian dalam tengah simfisis ke promontorium. Sebenarnya konjugata ini paling penting, walaupun perbedaannya dengan konjugata vera sedikit sekali. Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas panggul disebut diameter transversa (13,5-14 cm). Jika ditarik garis dari artikulasio sakro-iliaka ke titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera dan diteruskan ke linea inominata disebut diameter obliqua (oblik) (12-12,5 cm). Pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah dan berupa sudut (arkus pubis). Normalnya, besarnya sudut ini 90° atau lebih sedikit. Jika kurang sekali dari 90., kepala janin akan lebih sulit dilahirkan, karena memerlukan tempat lebih banyak ke dorsal. Dalam obstetrik, dikenal empat jenis klasik panggul yang mempunyai ciri-ciri PAP sebagai berikut. Jenis ginekoid Panggul paling baik untuk wanita, bentuk PAP hampir bulat. Panjang diameter antero-posterior kira-kira sama dengan diameter transversa. Jenis ini ditemukan pada 45% wanita. Jenis android Bentuk PAP hampir segitiga. Umumnya, pria mempunyai jenis seperti ini. Panjang diameter antero-posterior hampir sama dengan diameter transversa, namun jenis ini jauh lebih mendekati sakrum. Dengan demikian, bagian belakangnya pendek dan gepeng, sedangkan bagian depannya menyempit ke muka. Jenis ini ditemukan 15% pada wanita. Jenis antropoid Bentuk PAP agak lonjong, seperti telur. Panjang diameter anteroposterior lebih panjang dibandingkan diameter transversa. Jenis ini ditemukan 35% pada wanita. Jenis platipeloid Sebenarnya jenis ini adalah jenis ginekoid yang menyempit pada arah muka belakang. Ukuran melintang jauh lebih besar 5% dibandingkan ukuran muka belakang. Jenis ini ditemukan pada wanita.

Ruang Panggul Ruang di bawah PAP mempunyai ukuran yang paling luas. Di panggul tengah, terdapat penyempitan setinggi kedua spina iskiadika. Jarak normal antara kedua spina ini (distansia spinarum) 10,5 cm. Kemungkinan kepala janin dapat lebih mudah

50

masuk ke dalam ruang panggul yang diperbesar, jika sudut antara sakrum dan lumbal yang disebut inklinasi, lebih besar.

Pintu Bawah Panggul (PBP) Pintu bawah panggul tidak merupakan suatu bidang datar, namun tersusun atas 2 bidang datar yang masing-masing berbentuk segitiga, yaitu bidang yang dibentuk oleh garis antara kedua buah tuber os iskii dengan ujung os sakrum dan segitiga lainnya yang alasnya juga garis antara kedua tuber os iskii dengan bagian bawah simfisis. Pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah dan merupakan sudut (arkus pubis). Normalnya, besar sudut ini 900 atau lebih sedikit. Jika kurang sekali dari 900, kepala janin akan lebih sulit dilahirkan, karena memerlukan tempat lebih banyak ke dorsal. Jarak antara kedua tuber os iskii (distansia tuberum), diambil dari bagian dalamnya adalah ±10,5 cm.

Bidang Hodge Bidang Hodge dipelajari untuk menentukan sampai di mana bagian terendah janin turun ke dalam panggul pada persalinan dan terdiri atas empat bidang: Bidang Hodge I: bidang yang dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas simfisis dan promontorium. Bidang Hodge II: bidang ini sejajar dengan bidang Hodge I terletak setinggi bagian bawah simfisis. Bidang Hodge III: bidang ini sejajar dengan bidang Hodge I dan II, terletak setinggi spina iskiadika kanan dan kiri. Bidang Hodge IV: bidang ini sejajar dengan bidang Hodge I, II, dan III, terletak setinggi os koksigeus.

Ukuran-Ukuran Luar Panggul

51

Ukuran-ukuran ini dipergunakan untuk menentukan secara garis besar jenis, bentuk, dan ukuran panggul jika pelvimetri ronsen sulit dilakukan. Alat-alat yang digunakan adalah jangka panggul marting, oscander, collin, boudelogue, dan lain-lain.

Aspek yang diukur adalah sebagai berikut: Distansia spinarum (24-26 cm) Jarak antara kedua spina iliaka anterior superior sinistra dan dekstra. Distansia kristarum ( 28-30 cm) Jarak terpanjang antara dua tempat yang simetris pada krista iliaka sinistra dan dekstra. Umumnya ukuran ini tidak penting, namun ukuran ini lebih kecil 2-3 cm dari angka normal sehingga dapat dicurigai adanya patologik panggul. Distansia obliqua eksterna (ukuran miring luar) Jarak antara spina iliaka posterior sinistra dan spina iliaka anterior dekstra dan dari spina iliaka posterior dekstra ke spina iliaka anterior superior sinistra. Kedua ukuran ini bersilang: jika panggul normal, kedua ukuran ini tidak banyak berbeda, narnun jika panggul itu asimetrik (miring), kedua ukuran itu jelas berbeda sekali. Distansia intertrokanterika Jarak antara kedua trokanter mayor. Konjugata eksterna (boudelogue) Jarak antara bagian atas simfisis ke prosesus spinosus lumbal V lebih kurang 18 cm. Distansia tuberum Jarak antara tuber iskii kanan dan kiri lebih kurang 10,5 cm. Untuk mengukurnya dipakai oscander. Angka yang ditunjuk jangka harus ditambah 1,5 cm karena adanya jaringan subkutis antara tulang dan ujung jangka. Jika jarak ini kurang dari normal, dengan sendirinya arkus pubis lebih kecil dari 90°.

Bagian Lunak Jalan Lahir Kala pengeluaran (kala II) ikut membentuk jalan lahir; segmen bawah uterus, serviks uteri, dan vagina. Pada akhir kehamilan lebih kurang 38 minggu, serviks lebih pendek dibandingkan waktu kehamilan 16 minggu. Ismus uteri pada kehamilan 16 minggu menjadi bagian uterus tempat janin berkembang. Umumnya serviks discbut menjadi matang jika teraba sebagai bibir, dan ini terjadi pada kehamilan 34 minggu. 52

Di samping uterus dan vagina, otot-otot, jaringan ikat, dan ligamen yang berfungsi menyokong alat-alat urogenitalis perlu diketahui karena semuanya memengaruhi jalan lahir. Panggul bagian lunak meliputi dasar panggul dan perineum. Otototot yang menahan dasar panggul di bagian luar adalah muskulus sfingter ani eksternus, muskulus bulbokavernosus yang melingkari vagina, dan muskulus perinea transversus superfisialis. Di bagian tengah, ditemukan otot-otot yang melingkari ureter (muskulus sfingter uretrae), otot-otot yang melingkari vagina bagian tengah dan anus, antara lain muskulus iliokoksigeus, muskulus iskiokoksigeus, muskulus perinea transversus profundus, dan muskulus koksigeus. Lebih ke dalam lagi, ditemukan otot-otot dalam yang paling kuat disebut diafragma pelvis, terutama muskulus levator ani yang berfungsi menahan dasar panggul. Struktur ini menutup hampir seluruh bagian belakang PBP. Muskulus levator ani berada pada bagian depan muskulus berbentuk segitiga yang disebut trigonum urogenitalis (hiatus genitalis). Di dalam trigonum ini terdapat uretra, vagina, dan rektum. Perineum merupakan bagian dari PBP yang terletak di antara komisura posterior dan anus. Pada persalinan, sering terjadi robekan perineum yang perlu dijahit dengan baik.

Fisiologi Persalinan Pada sebagian besar masa kehamilan, uterus mengalami episode periodik kontraksi lemah dan lambat yang disebut kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi ini secara progresif semakin kuat menjelang akhir kehamilan, kemudian kontraksi ini berubah secara tiba-tiba, dalam beberapa jam, menjadi kontraksi yang sangat kuat sehingga mulai meregangkan serviks dan selanjutnya mendorong bayi melalui jalan lahir, dengan demikian menyebabkan persalinan. Kontraksi persalinan mengikuti semua prinsip umpan balik positif. Sekali kekuatan kontraksi menjadi lebih besar dari nilai kritisnya, setiap 53

kontraksi akan menyebabkan kontraksi berikutnya menjadi semakin kuat sampai efek maksimum tercapai. Ada dua jenis umpan balik positif yang diketahui meningkatkan kontraksi uterus selama persalinan. Regangan serviks membuat seluruh korpus uteri berkontraksi, dan kontraksi ini lebih meregangkan serviks karena dorongan kepala bayi ke arah bawah. Regangan serviks juga menyebabkan kelenjar hipofisis mensekresikan oksitosin yang merupakan cara lain untuk meningkatkan kontraksi uterus (Guyton, 1997). Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi yang tepat hormon ini akan dilepas kedalam darah. Impuls neural yang terbentuk dari perangsangan papilla mammae merupakan stimulus primer bagi pelepasan oksitosin sedangkan distensi vagina dan uterus merupakan stimulus sekunder. Estrogen akan merangsang produksi oksitosin sedangkan progesterone sebaliknya akan menghambat produksi oksitosin. Selain di hipotalamus, oksitosin juga disintesis di kelenjar gonad, plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan seterusnya. Konsentrasi oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada malam hari. Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti, hormon ini akan menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis farmakologik untuk menginduksi persalinan. Sebelum bayi lahir pada proses persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin. Didalam uterus terdapat reseptor oksitosin 100 kali lebih banyak pada kehamilan aterm dibandingkan dengan kehamilan awal. Jumlah estrogen yang meningkat pada kehamilan aterm dapat memperbesar jumlah reseptor oksitosin. Begitu proses persalinan dimulai serviks akan berdilatasi sehinga memulai refleks neural yang menstimulasi pelepasan oksitosin dan kontraksi uterus selanjutnya. Faktor mekanik seperti jumlah regangan atau gaya yang terjadi pada otot, mungkin merupakan hal penting (Azrianti, 2009). Persalinan Normal Persalinan merupakan kejadian fisiologis yang normal. Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-40 minggu), letak memanjang atau sejajar sumbu badan ibu, dengan presentasi belakang kepala, terdapat keseimbangan antara diameter kepala bayi dan panggul ibu, lahir spontan dengan tenaga ibu sendiri dan proses kelahiran berlangsung dalam kurang lebih 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. Sebagian besar persalinan adalah persalinan normal, hanya 12-15% merupakan persalinan patologis (Abkar, 2009). Persalinan imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan berat janin antara 500-1000 gr. Persalinan prematur adalah persalinan saat kehamilan 28-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500 gr. Gejala dan Tanda Persalinan 1. Keluarnya cairan lendir bercampur darah (bloody show) melalui vagina. 2. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (minimal 2 kali dalam 10mnt) 3. Penipisan dan pembukaan serviks. Fase-Fase Persalinan 54

Proses persalinan dibagi menjadi 4 kala : Kala I Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm). Kala I dibagi menjadi fase laten dan fase aktif. Fase laten berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm, berlangsung sekitar 8 jam. Fase aktif : pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Kontraksi pada fase aktif dianggap memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selam 40 detik. Kecepatan pembukaan serviks rata-rata 1 cm per jam (nulipara) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm perjam (multipara). Fase aktif terbagi atas : fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm. Selama persalinan berlangsung dilakukan pemantauan kondisi ibu dan janin. Hasil pemantauan dicatat dalam partograf. Hal-hal yang perlu dipantau : kemajuan persalinan, keadaan ibu, dan keadaan janin. His dikontrol tiap 30 menit pada fase aktif, pemeriksaan dalam tiap 4 jam, dan pemeriksaan luar tiap 2 jam. Keadaan ibu meliputi tanda vital, status kandung kemih, dan asupan makan, dikontrol tiap 4 jam. Keadaan janin diperiksa dengan memeriksa DJJ tiap 30 menit (Kampono dan Moegni, 2008). Kala II Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap. Berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. His menjadi lebih kuat, lebih sering (4-5 kali dalam 10 menit), lebih lama (40-50 detik), sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Peristiwa penting : Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul (di Hodge III). Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam KalaIII Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. Berakhir dengan lahirnya plasenta. Kala III merupakan periode paling kritis untuk mencegah perdarahan postpartum. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.

55

KalaIV Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi. Sebelum meninggalkan wanita postpartum, harus diperhatikan beberapa hal, yaitu kontraksi uterus harus baik, tidak ada perdarahan dari vagina atau alat genital lainnya, plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap, kandung kemih harus kosong, luka-luka perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematom, bayi dan ibu dalam keadaan baik.

4. Obat obat dan zat yang berbahaya bagi kehamilan
Apapun yang seorang wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada janinnya. Seberapa banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung dari bagaimana obat tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi, metabolisme, dan ekskresi (pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat melalui saluran cerna, saluran napas, kulit, atau melalui pembuluh darah (suntikan intravena). Kehamilan sendiri mengganggu penyerapan obat karena lebih lamanya pengisian lambung yang dikarenakan peningkatan hormon progesteron. Volume distribusi juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron mengganggu aktivitas enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme obat. Ekskresi oleh ginjal juga meningkat selama kehamilan. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah seberapa banyak obat melalui plasenta (jaringan yang melekat pada rahim dan menyediakan nutrisi atau sebagai penyaring zat-zat berbahaya bagi janin). Obat yang larut dalam lemak lebih mudah melalui plasenta dibandingkan obat yang larut dalam air. Obat-obat dengan berat molekul besar lebih sulit melalui plasenta. Jumlah obat yang terikat pada plasma protein mempengaruhi jumlah obat yang dapat melalui plasenta. Selain itu spesifisitas, dosis, waktu pemberian, fisiologi ibu, embriologi, dan genetik juga dapat mempengaruhi. Spesifisitas dimaksudkan bahwa obat yang berbahaya untuk janin di satu spesies belum tentu berbahaya bagi spesies lainnya, begitu juga sebaliknya (hewan ke manusia dan sebaliknya). Dosis yang dipakai juga penting, dosis kecil mungkin tidak memiliki pengaruh apapun, dosis sedang menyebabkan kecacatan, dan dosis tinggi dapat menyebabkan kematian. Waktu pemberian berkaitan dengan kelainan organ-organ. Paparan obat teratogen (menyebabkan kecacatan) pada minggu ke 2 – 3 setelah pembuahan tidak memiliki efek atau menimbulkan abortus (all or nothing). Periode yang rentan dengan gangguan pembentukan organ berada pada minggu ke 3 – 8 setelah pembuahan atau 10 minggu dari periode menstruasi terakhir. Setelah periode ini, pertumbuhan janin ditandai dengan pembesaran organ-organ pada minggu 10 – 12. Gangguan pada periode ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan atau gangguan di sistem saraf dan alat reproduksi. Sesungguhnya semua obat dapat melalui plasenta dalam jumlah tertentu, kecuali obat-obat dengan ion organik yang besar seperti heparin dan insulin. Transfer plasenta aktif harus dipertimbangkan. Terapi obat tidak perlu dihentikan selama menyusui karena jumlah yang larut di dalam ASI tidak terlalu signifikan. Jenis obat-obatan diantaranya adalah : 1) Antibiotik dan antiinfeksi lain 2) Obat-obatan untuk saluran napas bagian atas 3) Obat-obatan untuk gangguan pencernaan 4) Analgesik (anti nyeri) 56

5) Obat-obat gangguan psikiatri 6) Vitamin dan mineral 7) Obat-obatan Narkotik 8) Anti kejang 9) Obat sakit kepala 10) Obat anti kanker 11) Antikoagulan (pembekuan darah) 12) Obat Anti Hipertensi Antibiotik dan antiinfeksi lain Keamanan antibiotik saat hamil adalah tergantung dari banyak faktor, termasuk tipe antibiotik, berapa banyak dikonsumsi, berapa lama dkonsumsi dan pada usia kehamilan berapa ketika mengonsumsi antibiotik[1]. Beberapa antibiotik secara umum aman untuk dikonsumsi ketika masa kehamilan. Termasuk penisilin, sefalosporin dan eritromisin. Antibiotik lainnya seperti streptomisin, kuinolon dan tetrasiklin, diketahui memiliki risiko bagi perkembangan janin sehingga sebaiknya dihindari. Jika hanya antibiotik yang dapat menyembuhkan, maka dokter akan meresepkan antibiotik yang paling aman dan dosis yang aman pula[1]. Jangan lupa untuk mengatakan kepada dokter ketika berkonsultasi bahwa sedang hamil, sehingga dapat disesuikan dalam perawatan. Jika ada pertanyaan mengenai mengonsumsi antibiotik atau segala hal yang berhubungan dengan tindakan medis ketika masa kehamilan, diskusikan dengan dokter. Suatu tindakan obstetrik (seperti seksio sesarea, atau pengeluaran plasenta secara manual) dapat meningkatakan resiko seorang ibu terkena infeksi. Resiko ini dapat diturunkan dengan : o Mengikuti petunjuk pencegahan infeksi yang dianjurkan o Menyediakan antibiotika profilaksis pada saat tindakan Antibiotika profilaksis diberikan untuk membantu pencegahan infeksi. Jika seorang ibu dicurigai atau didiagnosis menderita suatu infeksi, pengobatan dengan antibiotika merupakan jalan yang tepat. Pemberian antibiotika profilaksis 30 menit sebelum memulai suatu tindakan, jika memungkinkan, akan membuat kadar antibiotika dalam darah yang cukup pada saat dilakukan tindakan. Perkecualian untuk hal ini adalah operasi seksio sesarea, dimana antibiotika profilaksis sebaikanya diberikan sewaktu tali pusat dijepit setelah bayi dilahirkan. Satu kali dosis pemberian antibiotika profilaksis sudah mencukupi dan tidak kurang efektif dibandingkan tiga dosis atau pemberian antibiotika selama 24 jam dalam mencegah infeksi. Jika tindakan berlangsung lebih dari 6 jam, atau kehilangan darah mencapai 1500 ml atau lebih, berikan dosis antibiotika profilaksis yang kedua untuk menjaga kadarnya dalam darah selama tindakan berlangsung. Penggunaan istilah terapi antibiotika yang diajukan oleh Profesor Reber dari Cantonal University Clinic, Basie, Switzerland dalam World Congress on Antiseptic tahun 1976 di Limburg/Lahn, Jerman, dalam upaya Pengendalian Infeksi menyebutkan bahwa : Istilah terapi profilaksis antibiotika, dapat digunakan pada 2 keadaan, yaitu : 57

1. Antibiotika yang digunakan sebelum terjadinya atau timbulnya gejala-gejala infeksi (prevention of infection) 2. Antibiotik digunakan sebelum mikroorganisme penyebab teridentifikasi (prevention of infection complication). Identifikasi diperoleh melalui pemeriksaan apus,langsung atau biakan. Pencegahan di sini, juga mempunyai unsure terapetik, dalam arti bahwa pengobatan yang dijalankan belum bersifat definitive, tetapi untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat (septicemia atau syok septik). Terapi definitive antibiotika adalah pemberian antibiotika rasional, ditujukan langsung terhadap jenis mikroorganisme tertentu yang diidentifikasi melalui pemeriksaan apus, langsung atau biakan.

Penisilin Turunan penisilin, termasuk diantaranya amoksisilin dan ampisilin memiliki batas keamanan yang cukup luas dan toksisitas (keracunan) yang sedikit baik bagi ibu maupun janin. Penisilin adalah golongan ß-laktam yang menghambat pembentukan dinding sel bakteri. Penisilin dipakai untuk berbagai macam infeksi bakteri. Ampisilin dan amoksisilin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Sefalosporin juga aman dan digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, pielonefritis (infeksi ginjal), dan gonorea. Penisilin aman digunakan selama menyusui

Klindamisin Klindamisin adalah golongan makrolida, digunakan pada infeksi bakteri anaerob dan aman untuk wanita menyusui

Tetrasiklin Dapat mengakibatkan pewarnaan pada gigi janin.

Metronidazol Metronidazol menghambat sintesis protein bakteri. Digunakan untuk trikomonas dan bakterial vaginosis. Aman digunakan pada wanita menyusui

Aminoglikosida Aminoglikosida menghambat sintesis protein bakteri. Digunakan untuk mengatasi pielonefritis (radang pada ginjal). Bila dikonsumsi wanita hamil dapat menyebabkan ototoksisitas (gangguan pada telinga) yang berakibat gangguan pendengaran. Aman pada bayi yang disusui karena hanya sedikit jumlah obat yang melalui air susu

Trimetoprim-sulfametoksazol Kombinasi ini (Bactrim) menghambat metabolisme asam folat dan baik untuk mengobati infeksi saluran kemih. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa penggunaan bactrim pada triwulan pertama berkaitan dengan sedikit peningkatan risiko kecacatan pada janin, terutama jantung dan pembuluh darah. Selain itu, bactrim dapat menyebabkan hiperbilirubinemia (peningkatan kadar bilirubin pada tubuh) 58

sehingga berakibat kernikterus (kuning) pada bayi. Antibiotik ini aman untuk wanita menyusui

Eritromisin Eritromisin dan azitromisin menghambat sintesis protein bakteri. Dapat digunakan pada wanita menyusui

Antivirus Acylovir tidak menimbulkan kecacatan pada janin berdasarkan penelitian pada 601 wanita hamil yang mengkonsumsi acyclovir. The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan bahwa acyclovir aman digunakan pada wanita hamil yang mengalami papaparan terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus (herpes, hepatitis, varisela <cacar>). Untuk tatalaksana penyakit HIV / AIDS menggunakan NRTIs (zidovudin) dan NNRTIs aman dikonsumsi oleh wanita hamil. Sedangkan Protease Inhibitor (Pis) belum diteliti lebih lanjut.

2. Obat-obatan untuk saluran napas bagian atas Keluhan pada saluran pernapasan atas seperti rinore (hidung berair), bersin-bersin, hidung tersumbat, batuk, sakit pada tenggorok diikuti dengan lemah dan lesu adalah keluhan yang umum dimiliki oleh wanita hamil. Flu tersebut dapat disebabkan oleh rinovirus, koronavirus, influenza virus, dan banyak lagi. Apabila keluhan ini murni disebabkan oleh virus tanpa infeksi tambahan oleh bakteri maka terapi menggunakan antibiotik tidak diperlukan. Obat-obatan yang paling sering digunakan untuk mengurangi gejala yang terjadi diantaranya adalah :

Antihistamin Food and Drug Administration (FDA) menyarankan untuk adanya label pada obatobatan yang mengindikasikan apakah ada risiko jika dikonsumsi selama kehamilan. Setiap obat-obatan juga mendapatkan klasifikasi A, B, C, D dan X (lihat artikel kategori obat dalam kehamilan menurut FDA). Pengobatan terhadap alergi misal loratadin (Claritin, dan lainnya) adalah termasuk kategori obat B. Ini mengindikasika ketika diujicobakan ke hewan tidak menunjukkan ada risiko pada janin. Tetapi obatobatan belum diuji untuk kehamilan pada manusia apakah terbukti keamanannya. Sangat sedikit obat-obatan yang telah terbukti aman untuk dikonsumsi selama kehamilan. Menurut FDA, peneltian tidak dilakukan untuk wanita hamil dikarenakan dikhawatirkan akan membahayakan janin. Sehingga, dokter harus membuat keputusan menggunakan bukti ilmiah terbaik yang tersedia. Peringatan yang ada penting untuk diingat ketika berhubungan dengan penggunaan dari obat-obatan ketika masa kehamilan. Konsumen kesehatan dan doktor harus mempertimbangkan gejala alerginya dan risiko terhadap janin ketika mengonsumsi Claritin atau obat-obatan alergi lainnya.

59

Jika memungkinkan, hindari pemicu alergi yang dapat memicu gejala alergi. Ini akan mengurangi kebutuhan untuk mengonsumsi obat-obatan alergi. Juga, ingat bahwa gangguan pada hidung biasanya bisa lebih parah ketika hamil selama perubahan hormon. Ini juga terjadi pada wanita hamil yang tidak memiliki alergi. Jika ingin hamil atau sedang hamil, konsultasikan dengan dokter sebelum mengambil tindakan medis atau mengkonsumsi obat. Antihistamin atau sering dikenal sebagai antialergi aman digunakan selama kehamilan. Antihistamin yang aman termasuk diantaranya adalah klorfeniramin, klemastin, difenhidramin, dan doksilamin. Antihistamin generasi II seperti loratadin, setirizin, astemizol, dan feksofenadin baru memiliki sedikit data mengenai penggunannnya selama kehamilan

Dekongestan Dekongestan atau obat pelega sumbatan hidung adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala flu yang terjadi. Dekongestan oral (diminum) diantaranya adalah pseudoefedrin, fenilpropanolamin, dan fenilepinefrin. Pada triwulan pertama pemakaian pseudoefedrin berkaitan dengan kejadian gastroschisis karena itu sebaiknya dipikirkan alternatif penggunaaan dekongestan topikal (hanya disemprotkan di bagian tertentu tubuh, hidung) pada triwulan pertama

Pereda Batuk Kodein dan dekstrometorfan adalah obat pereda batuk yang paling umum digunakan. Kebanyakan obat flu aman dikonsumsi selama menyusui Asma merupakan penyakit saluran pernapasan atas yang kronik (jangka waktu lama) ditandai dengan peradangan pada saluran napas dan hipereaktivitas dari bronkus (lendir banyak keluar). Terapi asma dimulai dengan mengurangi paparan terhadap lingkungan yang membuat asma menjadi kambuh. Semua wanita hamil sebaiknya memperoleh vaksinasi influenza. Obat-obatan asma diantaranya adalah :
o

Glukokortikoid Inhalasi glukokortikoid (cara pemasukan obat melalui pernapasan, diuap) dilaporkan tidak menyebabkan kecacatan dan dapat digunakan selama menyusui. Glukokortikoid sistemik (diminum dengan reaksi pada seluruh tubuh) meningkatkan risiko bibir sumbing sebanyak 5 kali dari normal.

o

Teofilin Tidak menyebabkan kecacatan pada janin dan aman digunakan selama menyusui

o

Sodium Kromolin Tidak menyebabkan kecacatan pada janin dan aman digunakan selama menyusui 60

3. Obat-obatan untuk gangguan pencernaan Keluhan pada saluran cerna merupakan keluhan yang umum pada wanita hamil, termasuk diantaranya adalah mual, muntah, hiperemesis gravidarum, intrahepatik kolestasis dalam kehamilan, dan Inflammatory Bowel Disease. Terapi menggunakan obat diantaranya adalah :
  

Antihistamin. Aman dikonsumsi oleh wanita hamil Agen antidopaminergik. Beberapa obat antidopaminergik seperti proklorperazin, metoklopramid, klorpromazin, dan haloperidol aman dikonsumsi oleh wanita hamil Obat-obatan lain. Antasid, simetidin, dan ranitidin aman dikonsumsi wania hamil dan menyusui. Penghambat pompa proton tidak direkomendasikan untuk wanita hamil. Misoprostol kontraindikasi untuk kehamilan

4. Analgesik Analgesik atau dikenal dengan anti nyeri terbagi atas kategori antiinflamasi nonsteroid dan kategori opioid. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) Aspirin adalah golongan NSAIDs yang bekerja dengan menghambat enzim untuk pembuatan prostaglandin. Perhatian lebih diperlukan pada konsumsi aspirin melebihi dosis harian terendah karena obat ini dapat melalui plasenta. Pemakaian aspirin pada triwulan pertama berkaitan dengan peningkatan risiko gastroschisis. Dosis aspirin tinggi berhubungan dengan abruptio plasenta (plasenta terlepas dari rahim sebelum waktunya). The World Health Organization (WHO) memiliki perhatian lebih untuk konsumsi aspirin pada wanita menyusui. Indometasin dan ibuprofen merupakan NSAIDs yang sering digunakan. NSAIDs jenis ini dapat mengakibatkan konstriksi (penyempitan) dari arteriosus duktus fetalis (pembuluh darah janin) selama kehamilan sehingga tidak direkomendasikan setelah usia kehamilan memasuki minggu ke – 32. Penggunaan obat ini selama triwulan pertama mengakibatkan oligohidramnion (cairan ketuban berkurang) atau anhidramnion (tidak ada cairan ketuban) yang berkaitan dengan gangguan ginjal janin. Obat ini dapat digunakan selama menyusui. Asetaminofen banyak digunakan selama kehamilan. Obat ini dapat melalui plasenta namun cenderung aman apabila digunakan pada dosis biasa. Asetaminofen dapat digunakan secara rutin pada semua triwulan untuk meredakan nyeri, sakit kepala, dan demam. Dapat digunakan untuk wanita menyusui. Analgesik Opioid Analgesik opioid adalah preparat narkotik yang dapat digunakan selama kehamilan. Preparat narkotik ini dapat melalui plasenta namun tidak berkaitan dengan kecacatan pada janin selama digunakan pada dosis biasa. Apabila penggunaan obat ini dekat dengan waktu melahirkan, maka dapat menyebabkan depresi pernapasan pada janin. Narkotik yang umum digunakan adalah kodein, meperidin, dan oksikodon, semua preparat ini dapat digunakan ketika menyusui. 61

5. Obat-obat gangguan psikiatri Depresi dan skizofrenia adalah gangguan psikiatri yang dapat ditemukan selama periode reproduksi. Agen trisiklik seperti amitriptilin, desipramin, dan imipramin digunakan untuk mengatasi depresi, kecemasan berlebih, gangguan obsesifkompulsif, migrain, dan masalah lain. Tidak ada bukti jelas yang menyatakan adanya efek samping agen trisiklik pada wanita menyusui dan wanita hamil. The Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) termasuk di dalamnya fluoksetin dan fluvoksamin tidak meningkatkan risiko kecacatan pada janin. Agen lain seperti penghambat monoamin oksidase yang digunakan untuk mengatasi depresi belum diteliti lebih lanjut mengenai keamanannya pada wanita hamil. Obat untuk stabilisasi mood (mood stabilizers) seperti litium, asam valproat, dan karbamazepin dinyatakan sebagai agen teratogen (berbahaya untuk janin). Litium tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui. Asam valproat dan karbamazepin berhubungan dengan peningkatan risiko neural tube defects (gangguan pada saraf). Obat untuk mengatasi kecemasan berlebih seperti benzodiazepin dapat meningkatkan risiko bibir sumbing. Efek pada wanita menyusui belum diketahui namun perlu diperhatikan lebih lanjut. 6. Vitamin dan Mineral Konsumsi multivitamin dan mineral pada umumnya diberikan untuk wanita hamil dari tenaga kesehatan. Sudah dibuktikan berdasarkan penelitian bahwa folat dapat mengurangi kelainan saraf. Suplementasi besi dapat meningkatkan hematokrit ketika melahirkan dan 6 minggu pasca melahirkan. Vitamin yang terbukti teratogen adalah vitamin A ketika dikonsumsi lebih dari 10.000 IU/hari. Vitamin A dalam dosis ini dapat menyebabkan kelainan saraf. Apabila digunakan sebagai suplementasi tidak lebih dari 5000 IU/hari. 7. Obat-obatan narkotik Narkotik termasuk di dalamnya adalah opiat, kokain, atau kanabinoid. Efek narkotika adalah hambatan pertumbuhan janin, kematian janin dalam kandungan, dan ketergantungan pada janin. Penggunaan kokain selama kehamilan dapat meningkatkan risiko abruptio plasenta, ketuban pecah dini, dan bayi berat lahir rendah. Amfetamin, obat yang digunakan untuk mengatasi depresi, dapat meningkatkan risiko bibir sumbing. Penggunaan obat narkotik dengan suntikan bersama dapat meningkatkan risiko Hepatitis B atau HIV/AIDS, dimana janin dapat tertular oleh virus tersebut. Sebagai tambahan, nikotin yang terkandung di dalam rokok juga dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah. Nikotin mengurangi aliran darah menuju plasenta dan meningkatkan risiko kelahiran preterm, bayi berat lahir rendah, dan kematian mendadak pada janin. Alkohol pada wanita hamil dapat menyebabkan sindroma alkohol janin yang ditandai dengan perubahan kraniofasial (tulang kepala dan wajah) dan gangguan kognitif. Tidak ada batas aman untuk konsumsi alkohol selama kehamilan. 8. Anti Kejang 62

Epilepsi adalah penyakit gangguan saraf yang dapat terjadi selama kehamilan. Semua obat antiepilepsi dapat melalui plasenta dan memiliki potensi teratogen. Penelitian membuktikan bahwa obat antiepilepsi dapat menyebabkan cacat bawaan. Fenitoin (Dilantin) dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Karbamazepin dapat meningkatkan risiko spina bifida. Fenobarbital dapat mengakibatkan kelainan jantung bawaan dan sumbing orofasial (bibir dan wajah). Asam valproat memiliki risiko peningkatan 1-2% kelainan spina bifida. Obat antiepilepsi diatas dapat digunakan selama menyusui. INDEKS KEAMANAN OBAT PADA KEHAMILAN Hingga kini kita di Indonesia masih menggunakan kriteria keamanan obat bagi ibu hamil yang dilansir oleh FDA (Food and Drug Administration) sebagai pedoman dalam memberikan obat pada ibu hamil. Pada posting ini penulis hanya menampilkan garis-garis besar batasan keamanan obat bagi ibu hamil yang tersusun dalam 5 kategori (kategori A, B, C, D dan X) beserta contohcontohnya agar diketahui khalayak dengan harapan dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Kategori-kategori tersebut dibuat berdasarkan ada tidaknya (besar kecilnya) resiko terhadap sistem reproduksi, efek samping dan manfaat yag diharapkan. Obat Kategori A adalah golongan obat yang pada studi (terkontrol) pada kehamilan tidak menunjukkan resiko bagi janin pada trimester 1 dan trimester berikutnya. Obat dalam kategori ini amat kecil kemungkinannya bagi keselamatan janin. Obat Kategori B adalah golongan obat yang pada studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan tidak menunjukkan resiko bagi janin. Belum ada studi terkontrol pada wanita hamil yang menunjukkan adanya efek samping, kecuali adanya penurunan fertilitas pada kehamilan trimester pertama, sedangkan pada trimester berikutnya tidak didapatkan bukti adanya resiko. Obat Kategori C adalah golongan obat yang pada studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping bagi janin. Sedangkan pada wanita hamil belum ada study terkontrol. Obat golongan ini hanya dapat dipergunakan jika manfaatnya lebih besar ketimbang resiko yang mungkin terjadi pada janin. Obat Kategoti D adalah golongan obat yang menunjukkan adanya resiko bagi janin. Pada keadaan khusus obat ini digunakan jika manfaatnya kemungkinan lebih besar dibanding resikonya. Penggunaan obat golongan ini terutama untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa atau jika tidak ada obat lain yang lebih aman. 63

Obat Kategori X adalah golongan obat yang pada studi terhadap binatang percobaan maupun pada manusia menunjukkan bukti adanya resiko bagi janin. Obat golongan ini tidak boleh dipergunakan (kontra indikasi) untuk wanita hamil, atau kemungkinan dalam keadaan hamil. CONTOH OBAT KATEGORI A (nama generik) Ascorbic acid (vitamin C) *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Doxylamine, Ergocalciferol *masuk kategori D jika dosisnya melebihi US RDA*, Folic acid *masuk kategori C jika dosisnya melebihi 0,8 mg per hari*, Hydroxocobalamine *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Liothyronine, Nystatin vaginal sup *masuk kategori C jika digunakan per oral dan topikal*, Pantothenic acid *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Potassium chloride, Potassium citrate, Potassium gluconate, Pyridoxine (vitamin B6), Riboflavin *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Thiamine (vitamin B1) *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Thyroglobulin, Thyroid hormones, Vitamin D *masuk kategori D jika dosisnya melebihi US RDA*, Vitamin E *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*. CONTOH OBAT KATEGORI B (nama generik) Acetylcysteine, Acyclovir, Amiloride *masuk kategori D jika digunakan untuk hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan*, Ammonium chloride, Ammonium lactate *topical*, Amoxicillin, Amphotericin B, Ampicillin, Atazanavir, Azatadine, Azelaic acid, Benzylpenicillin, Bisacodyl, Budesonide *inhalasi, nasal*, Buspiron, Caffeine, Carbenicillin, Camitine, Cefaclor, Cefadroxil, Cefalexin, Cefalotin, Cefamandole, Cefapirin, Cefatrizine, Cefazolin, Cefdinir, Cefditoren, Cefepime, Cefixime, Cefmetazole, Cefonicid, Cefoperazone, Ceforanide, Cefotaxime, Cefotetan disodium, Cefoxitin, Cefpodoxime, Cefprozil, Cefradine, Ceftazidime, Ceftibuten, Ceftizoxime, Ceftriaxone, Cefuroxime, Cetirizine, Chlorhexidine *mulut dan tenggorokan*, Chlorpenamine, Chlortalidone *masuk kategori D jika digunakan untuk hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan*, Ciclacillin, Ciclipirox, Cimetidine, Clemastine, Clindamycin, Clotrimazole, Cloxacillin, Clozapine, Colestyramine. CONTOH OBAT KATEGORI C (nama generik) Acetazolamide, Acetylcholine chloride, Adenosine, Albendazole, Albumin, Alclometasone, Allopurinol, Aluminium hydrochloride, Aminophylline, Amitriptyline, Amlodipine, Antazoline, Astemizole, Atropin, Bacitracin, Beclometasone, Belladonna, Benzatropine mesilate, Benzocaine, Buclizine, Butoconazole, Calcitonin, Calcium acetate, Calcium ascorbate, Calcium carbonate, Calcium chloride, Calcium citrate, Calcium folinate, Calcium glucoheptonade, Calcium gluconate, Calcium lactate, Calcium phosphate, Calcium polystyrene sulfonate, Capreomycin, Captopril, Carbachol, Carbidopa, Carbinoxamine, Chloral hydrate, Chloramphenicol, Chloroquine, Chlorothiazide, Chlorpromazine, Choline theophyllinate, Cidofovir, Cilastatin, Cinnarizine, Cyprofloxacin, Cisapride, Clarithromycin, Clinidium bromide, Clonidine, Co-trimoxazole, Codeine, Cyanocobalamin, Deserpidine, Desonide, Desoximetasone, Dexamethasone, Dextromethorphan, Digitoxin, Digoxin, Diltiazem, Dopamine, Ephedrine, Epinephrine, Fluconazole, Fluocinolone, Fosinopril, Furosemide, Gemfibrozil, Gentamicin, Glibenclamide, Glimepiride, Glipizide, Griseofulvin, Hydralazine, Hydrocortisone, Hyoscine, Hyoscyamine, Isoniazid, Isoprenaline, Isosorbid 64

dinitrate, Ketoconazole, Ketotifen fumarate, Magaldrate, Mefenamic acid, Methyl prednisolone. CONTOH OBAT KATEGORI D (nama generik): Amikacin, Amobarbital, Atenolol, Carbamazepine, Carbimazole, Chlordizepoxide, Cilazapril, Clonazepam, Diazepam, Doxycycline, Imipramine, Kanamycin, Lorazepam, Lynestrenol, Meprobamate, Methimazole, Minocycline, Oxazepam, Oxytetracycline, Tamoxifen, Tetracycline, Uracil, Voriconazole. CONTOH OBAT KATEGORI X (nama generik): Acitretin, Alprotadil *parenteral*, Atorvastatin, Bicalutamide, Bosentan, Cerivastatin disodium, Cetrorelix, Chenodeoxycholic acid, Chlorotrianisene, Chorionic gonadotrophin, Clomifen, Coumarin, Danazol, Desogestrel, Dienestrol, Diethylstilbestrol, Dihydro ergotamin, Dutasteride, Ergometrin, Ergotamin, Estazolam, Etradiol, Estramustine, Estriol succinate, Estrone, Estropipate, Ethinyl estradiol, Etretinate, Finasteride, Fluorescein *parenteral*, Flurouracil, Fluoxymesterone, Flurazepam, Fluvastatin, Floritropin, Ganirelix, Gestodene, Goserelin, Human menopausal gonadotrophin, Iodinated glycerol, Isotretinoin, Leflunomide, Leuprorelin, Levonorgestrel, Lovastatin, Medrogestrone, Medroxyprogesterone, Menotrophin, Mestranol, Methotrexate, Methyl testosterone, Mifeprestone, Miglustat, Misoprostol, Nafarelin, nandrolone, Nicotine *po*, Norethisterone, Noretynodrel, Norgestrel, Oxandrolone,Oxymetholone, Oxytocin, Pravastatin, Quinine, Raloxifene, Ribavirin, Rosuvastatin, Simvastatin, Stanozolol, Tazarotene, Temazepam, tetosterone, Thalidomide, Triazolam, Triproretin, Urofolitropin, Warfarin. Prinsip menggunakan obat kala hamil 1) Pertimbangkan mengatasi penyakit tanpa menggunakan obat, terutama pada 3 bulan pertama kehamilan. 2) Obat hanya digunakan bila manfaat yang diperoleh ibu lebih besar dibandingkan kemungkinan resiko yang bakal terjadi pada janin. 3) Apabila harus menggunakan obat, pilihlah obat yang telah dipakai secara luas selama kehamilan. Hindarilah penggunaan obat yang baru beredar karena belum cukup waktu untuk mengetahui keamanannya. 4) Hindari penggunaan obat polifarmasi – menelan berjenis-jenis obat (4 atau 5 jenis) 5) Cari tahu apakah obat yang akan digunakan aman sesuai kategori dunia

65

Kelompok Analgetik, NSAIDS, Obat Batuk dan Pilek, Anti Alergi dan Asma, Anestesi Obat untuk Penghilang Rasa Sakit (Pain Killer) AAP Kategori Risiko Risiko Nama Obat Notes approved* Kehamilan** Menyusui** Acetaminophen (Tylenol) Approved B L1 C (1st, 2nd trim.) Aspirin Caution L3 1 D (3rd trim.) Approved Azapropazone (Rheumox) L2 Butalbital (Fioricet, Fiorinal, Bancap, Twodyne) Butorphanol (Stadol) Celecoxib (Celebrex)) Codeine (in Tylenol #3, #4) Colchicine Diclofenac (Cataflam, Voltaren) Fentanyl (Sublimaze) Flurbiprofen (Ansaid, Froben, Ocufen) Hydrocodone (Lortab, Vicodin) Hydromorphone (Dilaudid) Ibuprofen (Advil, Nuprin, Motrin, Pediaprofen) Indomethacin (Indocin) Ketorolac (Toradol, Acular) Meperidine (Demerol)

NR Approved NR Approved Approved NR Approved NR NR NR Approved Approved Approved Approved

D B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) C C D B B B (1st, 2nd trim.) C (3rd trim.) B C B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) B

L3 L3 L2 L3 L4 L2 L2 L2 L3 L3 L1 L3 L2 L2; L3 early

2

3

4 5

6 66

postpartum Methadone (Dolophine) Approved B L3 7 Morphine (Duramorph, Infumorph, Epimorph, MS Approved B L3 8 Contin) Nalbuphine (Nubain) NR B L2 Naproxen (Anaprox, L3; Naprosyn, Naproxen, Approved B L4 for chronic 9 Aleve) use Nefopam (Acupan) Approved NR Oxycodone (Tylox, Percodan,Oxycontin, NR B L3 10 Roxicet, Endocet, Roxiprin, Percocet) Pentosan polysulfate NR B L2 (Elmiron) Piroxicam (Feldene) Approved B L2 Propoxyphene (Darvocet Approved C L2 11 N, Propacet, Darvon) Rofecoxib (Vioxx) Withdrawn from the market 12 Secobarbital (Seconal) Approved D L3 13 Tolmetin (Tolectin) Approved C L3 Tramadol HCL (Ultram, NR C L3 14 Ultracet) Valdecoxib (Bextra) Withdrawn from the market more * Per the AAP Policy Statement The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk, revised September 2001.
  

Approved: (Table 6) Maternal Medication Usually Compatible With Breastfeeding Caution: (Table 5) Drugs That Have Been Associated With Significant Effects on Some Nursing Infants and Should Be Given to Nursing Mothers With Caution NR: Not Reviewed. This drug has not yet been reviewed by the AAP.

** Per Medications’ and Mothers’ Milk by Thomas Hale, PhD (2004 edition). Lactation Risk Categories  L1 (safest)  L2 (safer)  L3 (moderately safe)  L4 (possibly hazardous)  L5 (contraindicated) Pregnancy Risk Categories  A (controlled studies show no risk)  B (no evidence of risk in humans)  C (risk cannot be ruled out)  D (positive evidence of risk)  X (contraindicated in pregnancy)

NR: Not Reviewed. This drug has not yet been reviewed by Hale. 1. Aspirin use is discouraged in children and nursing mothers due to the risk of Reye’s syndrome and internal bleeding. 67

2. Fioricet (Fiorinal, Bancap, Two-dyne) contains acetaminaphen or asprin, caffeine, and butalbital. Per Hale, baby should be observed for sedation. 3. Hale suggests weakened or premature infants be observed for sedation and apnea. 4. Hale suggests newborns be observed for sedation, apnea, constipation. 5. Per Hale, use of frequent, higher dose may result in infant sedation. 6. Per Hale, Meperidine use during labor or early postpartum has been associated with sedation, poor sucking reflex, and neurobehavioral delay in infants. 7. Per Hale, observe infant for sedation, respiratory depression, addiction, withdrawal syndrome. 8. Per Hale, higher doses may result in infant sedation. 9. Per Hale, should be used with caution due to its long half-life and its effect on baby’s cardiovascular system, kidneys and GI tract; short-term, infrequent or occasional use is not necessarily incompatible with breastfeeding. 10. Roxicet, Endocet, Roxiprin, Percocet also contain acetaminophen. Per Hale, observe infant for sedation. 11. Per Hale, observe infant for sedation. 12. Per Hale, observe infant for GI cramping, distress, diarrhea. 13. Per Hale, observe infant for sedation. 14. Per Hale, observe infant for sedation.

Non-steroidal anti-inflammatory analgesics (NSAIDs) [more] AAP Kategori Risiko Risiko Nama Generik Nama Dagang approved* Kehamilan** Menyusui** Azapropazone (apazone) Rheumox Approved L2 Dipyrone (banned in the US & UK) Flufenamic acid Ibuprofen Advil, Nuprin, Motrin, Pediaprofin Indocin Approved Approved Approved B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) B B C NR NR L1

Indomethacin

Approved

L3

Ketorolac Mefenamic acid Naproxen Phenylbutazone Piroxicam Suprofen Tolmetin

Toradol, Acular Ponstan, Ponstel Anaprox, Naprosyn, Naproxen, Aleve Butazolidine Feldene Profenal Tolectin

Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved

L2 NR L3 L4 (for chronic use) NR L2 NR L3

68

Steroid Methylprednisolone [ high dosage methylprednisolone] Prednisolone Prednisone Solu-Medrol, DepoApproved Medrol, Medrol Approved Deltasone, Approved Meticorten, Orasone Obat Asma Dyphylline Terbutaline Theophylline Dilor, Lufyllin, Dyphylline Bricanyl, Brethine Aminophylline, Quibron, Theo-Dur Approved Approved Approved C B C C C C

contents L2 L2 L2

[contents] L3 L2 L3

Analgetik Narkotik Butorphanol Codeine Fentanyl Meperidine Methadone Morphine Propoxyphene Stadol Tylenol #3, #4 Sublimaze Demerol B (1st, 2nd trim.) D (3rd trim.) Approved C Approved B Approved Approved B B B C L3 L3 L2 L2 L3 (if used early postpartum) L3 L3 L2

Dolophine Approved Morphine Approved Darvocet N, Propacet, Approved Darvon

Nama Obat Codeine Dextromethorphan Guaifenesin

Obat Batuk AAP approved* Yes not reviewed not reviewed

Risiko Menyusui** L3 (moderately safe) L1 (safest) L2 (safer)

Nama Obat Phenylephrine

Dekongestan (Obat Pilek) AAP approved?* Risiko Menyusui** not reviewed L3 (moderately safe)

69

Pseudoephedrine (Sudafed, Actifed)

Yes

L3 (moderately safe) for acute use L4 (possibly hazardous) for chronic use due to potential for decreasing milk supply

* Per the AAP Policy Statement The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk, revised September 2001. ** Per Medications’ and Mothers’ Milk by Thomas Hale, PhD (2006 edition)

Nama Obat Beclomethasone (Vanceril, Beclovent, Beconase, Vancenase) Cromlyn sodium (Nasalcrom) Fluticasone (Flonase) Mometasone (Nasonex) Phenylephrine (in some forms of Sinex and NeoSynephrine) Triamcinolone Acetonide (Nasacort)

Nasal Sprays (Spray Hidung) AAP Risiko Menyusui** approved* not reviewed not reviewed not reviewed not reviewed not reviewed not reviewed L2 (safer) L1 (safest) L3 (moderately safe) L3 (moderately safe) L3 (moderately safe) L3 (moderately safe)

Nama Obat Brompheniramine Chlorpheniramine (ChlorTrimeton) CTM Cetirizine (Zyrtec) Dexbrompheniramine maleate with d-isoephedrine Diphenhydramine (Benadryl) Doxylamine Fexofenadine (Allegra) Loratadine (Claritin) Terfenadine (Seldane) Triprolidine (Actidil,

Antihistamin (Anti Alergi) AAP approved* not reviewed not reviewed not reviewed Yes not reviewed not reviewed Yes Yes Yes Yes

Risiko Menyusui** L3 (moderately safe) L3 (moderately safe) L2 (safer) not reviewed L2 (safer) L4 (possibly hazardous) L3 (moderately safe) L2 (safer) not reviewed L1 (safest) 70

Actifed)

* Per the AAP Policy Statement The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk, revised September 2001. ** Per Medications’ and Mothers’ Milk by Thomas Hale, PhD (2002 edition)

Nama Obat Articaine (Septocaine) Bupivacaine (Marcaine) Lidocaine (Xylocaine) Mepivacaine (Carbocaine, Polocaine) Procaine HCL (Novocaine)

Obat Anestesi AAP Kategori Risiko approved* Kehamilan** Local anesthetics NR NR C Approved C NR NR General anesthetics C C

Risiko Notes Menyusui** NR L2 L2 L3 L3 more

more

Halothane (Fluothane) Isoflurane (Forane) Ketamine Methohexital (Brevital) Nitrous oxide Sevoflurane (Ultane) Thiopental (Pentothal)

Approved NR NR Approved NR NR Approved

C B B C

L2 NR NR L3 L3 L3 L3

more 1 more

Other medications often used during anesthesia Sedatives Diazepam (Valium) Midazolam (Versed) Propofol (Diprivan) Triazolam (Halcion) Concern Concern NR NR Narcotic Analgesics Alfentanil (Alfenta) Fentanyl (Sublimaze) Hydromorphone (Dilaudid) Morphine NR Approved NR Approved C B C B L2 L2 L3 L3 71 D D B X L3; L4 for chronic use L3 L2 L3

Reversal Medication Flumazenil (Romazicon) Naloxone (Narcan) NR NR Steroids Decadron (Dexamethasone) NR Stimulants Epinephrine (Adrenaline) NR Anti-nausea Promethazine (Phenergan) NR C L2 * Per the AAP Policy Statement The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk, revised September 2001.
   

C C

NR NR

2 3

C

NR

C

L1

Approved: (Table 6) Maternal Medication Usually Compatible With Breastfeeding Concern: (Table 4) Drugs for Which the Effect on Nursing Infants Is Unknown but May Be of Concern Caution: (Table 5) Drugs That Have Been Associated With Significant Effects on Some Nursing Infants and Should Be Given to Nursing Mothers With Caution NR: Not Reviewed. This drug has not yet been reviewed by the AAP.

** Per Medications’ and Mothers’ Milk by Thomas Hale, PhD (2004 edition).

Lactation Risk Categories  L1 (safest)  L2 (safer)  L3 (moderately safe)  L4 (possibly hazardous)  L5 (contraindicated)

    

Pregnancy Risk Categories A (controlled studies show no risk) B (no evidence of risk in humans) C (risk cannot be ruled out) D (positive evidence of risk) X (contraindicated in pregnancy)

NR: Not Reviewed. This drug has not yet been reviewed by Hale. 1. Isoflurane (Forane) is used for c-sections and directly in newborns. Induction of and recovery from isoflurane anesthesia are rapid, so the majority of the medication is out of the body (and milk) very quickly. More here. 2. Flumazenil (Romazicon) is used directly in children aged 12 months and up. 3. Naloxone (Narcan) is used directly in newborns and children. 4. Many forms of Robitussin, Delsym and Benylin are considered compatible with breastfeeding. Always check the active ingredients, as there are many versions.

72

Kelompok Antasida, Antibiotik, Antivirus, Antijamur, Kontrasepsi, Obat jantung & Hipertensi, Vitamin, dll Kategori AAP Risiko Risiko approved* Kehamilan** Menyusui** [contents] Approved Approved Approved B C L2 L2 L1 [contents] Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved B B B B B B C B B C B B C L1 L2 L1 L1 L2 L1 L1 L1 L2 L3 L3 L1 L3 early postnatal NR L2 73

Nama Generik

Nama Dagang Antasida

Cimetidine (Antacid) Cisapride (GI tract stimulant) Domperidone (used for nausea & vomiting, stimulates lactation) [more]

Tagamet Propulsid Motilum Antibiotika

Amoxicillin Aztreonam Cefadroxil Cefazolin Cefotaxime Cefoxitin Cefprozil Ceftazidime Ceftriaxone Ciprofloxacin [more] Clindamycin Erythromycin Fleroxacin Gentamicin

Larotid, Amoxil Azactam Ultracef, Duricef Ancef, Kefzol Claforan Mefoxin Cefzil Ceftazidime, Fortaz, Taxidime Rocephin Cipro Cleocin E-Mycin, Erytab, ERYC, Ilosone Garamycin

Kebecil, Kantrex Moxalactam Moxam Nitrofurantoin Macrobid Ofloxacin Floxin Penicillin Streptomycin Streptomycin Sulbactam Gantrisin, AzoSulfisoxazole Gantrisin Achromycin, Tetracycline Sumycin, Terramycin Ticarcillin, Ticarcillin Ticar, Timentin Proloprim, Trimethoprim/sulfamethoxazole Trimpex Kanamycin Antikoagulan Bishydroxycoumarin (dicumarol) Warfarin Coumadin, Panwarfin

Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved

D B C B D C D

L2 NR L2 L2 L1 L3 NR L2 L2

Approved Approved

B C

L1 L3 [contents]

Approved Approved

D

NR L2 [contents]

Antikonvulsan (Anti kejang) Carbamazepine Ethosuximide Magnesium sulfate Phenytoin Valproic acid Tegretol, Epitol Zarontin Epsom salt Dilantin Depakene, Depakote Anti Jamur Fluconazole [more] Ketoconazole Diflucan Nizoral Shampoo, Nizoral Antivirus Acyclovir [more] Interferon-alpha [more] Zovirax Alferon N, Interferon Approved Approved C C Approved Approved C C Approved Approved Approved Approved Approved C C B D D

L2 L4 L1 L2 L2 [contents] L2 L2 [contents] L2 L2

74

Alpha Arthritis meds (see also: pain meds) Gold salts Ridaura, Myochrysine, Solganal Kontrasepsi, Hormon Estratab, Permarin, Menest Preven, Seasonale, Norinyl, Norlestin, Ortho-Novum, Ovral, Lunelle injection, Ortho-Evra patch, etc. Norplant, Mirena, Plan B Provera, DepoProvera, Cycrin Enovid Crinone, Prometrium Obat Diabetes Approved C [contents] L5 [contents] L3 (may interfere with milk production) NR

Estradiol Clogestone

Approved Approved

X -

Contraceptive pill with estrogen/progesterone

Approved

X

L3 (may interfere with milk production)

Levonorgestrel

Approved

X

L2 L1 L4 (if used first 3 days postpartum) L2 L3 [contents]

Medroxyprogesterone Norethynodrel Progesterone

Approved Approved Approved

D X -

Note: Insulin has not been reviewed by the AAP. Pregnancy risk category = B; Lactation risk category = L1. Oramide, Tolbutamide Approved D L3 Orinase Obat Diare Imodium, Pepto Diarrhea Control, Maalox Antidiarrheal Caplets, Kaopectate II Caplets, [contents]

Loperamide

Approved

B

L2

75

Immodium Advanced ** Note: Pepto-Bismol & Kaopectate (bismuth subsalicylate is the active ingredient in both) are not recommended for routine use by nursing moms, due to the association of salicylates with Reyes syndrome in children. Diuretik (Peluruh Kencing) Acetazolamide Bendroflumethiazide Chlorothiazide Chlorthalidone Hydrochlorothiazide (HCT) Spironolactone Dazamide, Diamox Naturetin Hydrodiuril Hygroton Hydrodiuril, Esidrix, Oretic Aldactone Anti Muntah Domperidone Motilum Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved C D D D D D [contents] L2 L4 (may inhibit lactation) L3 L3 L2 L2 [contents] L1 [contents]

Anti Hipertensi, Obat Jantung Anti aritmia Disopyramide Flecainide Mexiletine Procainamide Quinidine Norpace, Napamide Tambocor Mexitil Pronestyl, Procan Quinaglute, Quinidex Approved Approved Approved Approved Approved C C B C C

L2 L3 L2 L3 L2

Anti Hipertensi Captopril Capoten Cardizem Sr, Dilacor-XR, Diltiazem, Cardizem CD Vasotec Apresoline Trandate, Normodyne Approved D L3 (if used after 30 days) L3

Diltiazem/Diltiazem HCL

Approved

C C (1st trim.) D (2nd, 3rd trim.) C C

Enalapril/Enalapril Maleate Hydralazine Labetalol

Approved Approved Approved

L2 L2 L2 76

Methyldopa Metoprolol Minoxidil Nadolol Nifedipine Oxprenolol Propranolol Sotalol Timolol Verapamil

Aldomet Toprol XL, Lopressor Loniten, Minodyl, Rogaine Corgard, Nadolol Adalat, Procardia Apsolox, Slow-Trasicor, Trasicor Inderol Betapace Blocadren Calan, Isoptin, Covera-HS

Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved

C B C C C C B C C

L2 L3 L2 (topically) L3 (orally) L4 L2 NR L2 L3 L2 L2

Cardiac stimulants Digoxin Lanoxin, Lanoxicaps Approved C L2 [contents] C B L3 NR L1 L3 [contents] Approved Approved Approved Approved C C C D L3 L2 L4 L2 [contents] Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved C C B D B B NR L3 L2 L2 L2 L2 L2 [contents] 77

Laksan (Pelancar BAB) [more] Cascara/Cascara Sagrada Danthron Magnesium sulfate Senna Epsom salt Obat malaria Chloroquine Hydroxychloroquine Pyrimethamine Quinine Aralen, Novochloroquine Plaquenil Daraprim Quinamm Medical Testing Diatrizoate Fluorescein Gadopentetic (Gadolinium) Iohexol Iopanoic acid Metrizamide Metrizoate Omnipaque Telepaque Amipaque Isopaque Obat Migren Approved Approved Approved Approved

Sumatriptan

Imitrex Obat Sedativ

Approved

C

L3 [contents]

Chloral hydrate Methyprylon (withdrawn from use in US & Canada) Bromide Secobarbital

Aquachloral, Noctec Seconal Obat Tidur

Approved Approved Approved Approved

C D D

L3 NR L5 L3 [contents]

Zolpidem/Zolpidem Tartrate

Ambien

Approved

B

L3 [contents]

Obat Anti Tiroid Carbimazole Methimazole (active metabolite of carbimazole) Propylthiouracil Thiouracil Levothyroxine Tapazole PTU Synthroid, Levothroid, Thyroid, LevoT, Levoxyl Obat TBC Cycloserine Ethambutol Isoniazid Rifampin Seromycin Ethambutol, Myambutol INH, Laniazid Rifadin, Rimactane VITAMIN [more] B-1 (thiamin) B-12 (Cyanocobalamin) B-6 (pyridoxine) Calciferol, Delta-d Approved Approved Approved A A Approved Approved Approved Approved C B C C Approved Approved Approved Approved Approved D D D A

L3 L3 L2 NR L1

[contents] L3 L2 L3 L2 [contents] NR L1 L2; L4 in high doses (may inhibit lactation) L3 (do not overdose) L1 L1 78

D, vitamin Folic acid K-1, vitamin (Phytonadione)

Approved Approved Approved

A A (1st, 2nd trim.) C (3rd trim.) C

Riboflavin/B2

Lain-lain

Approved

A

L1 [contents]

Acitretin (Anti-psoriasis) Alcohol/Ethanol [more] Allopurinol Antimony Atropine (Anticholinergic, drying agent) Azapropazone/apazone (Antirheumatic) Baclofen (muscle relaxant)

Soriatane Zyloprim, Lopurin Belladonna, Atropine Rheumox

Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved Approved

D C C C B D C C C B C C D

NR L3 L2 NR L3 L2 L2 NR L2 NR NR L4 L4 L2 NR NR NR L3 L4 NR L2 L3 NR L3

Lioresal, Atrofen Barbiturate Vivarin, Caffeine [more] NoDoz, Coffee Carbetocin (Antihemorrhagic) Duratocin Chloroform Cisplatin (Anti-cancer) Platinol Avlosulfon, Dapsone (Antileprosy) DDS Hydroxychloroquine Plaquenil (Antirheumatic, lupus) Iodides Iodine Iodine (povidone-iodine, eg, in a vaginal douche) Ivermectin (Antiparasitic) Mectizan Nalidixic acid (Urinary AntiNegGram infective) Norsteroids Pyridostigmine (Muscle Mestinon, stimulant) Regonol Transderm Scopolamine (Motion sickness) Scope Sulfapyridine Dagenan Timolol (glaucoma med) Blocadren

* Per the AAP Policy Statement The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk, revised September 2001.
  

Approved: (Table 6) Maternal Medication Usually Compatible With Breastfeeding Caution: (Table 5) Drugs That Have Been Associated With Significant Effects on Some Nursing Infants and Should Be Given to Nursing Mothers With Caution NR: Not Reviewed. This drug has not yet been reviewed by the AAP.

79

** Per Medications’ and Mothers’ Milk by Thomas Hale, PhD (2004 edition).

Lactation Risk Categories  L1 (safest)  L2 (safer)  L3 (moderately safe)  L4 (possibly hazardous)  L5 (contraindicated)

    

Pregnancy Risk Categories A (controlled studies show no risk) B (no evidence of risk in humans) C (risk cannot be ruled out) D (positive evidence of risk) X (contraindicated in pregnancy)

NR: Not Reviewed. This drug has not yet been reviewed by Hale

80

KESIMPULAN

Dari hasil diskusi kelompok kami, didapatkan suatu kesimpulan bahwa ny.Mawar 25 tahun didiagnosis hamil, melihat segala keluhan dan hasil hasil tes yang di dapat, terkait dengan kehamilan tersebut ny.Mawar dianjurkan untuk melakukan Antenatal care (ANC) sesuai jadwal yang ditentukan dan harus menghindari segala obat obatan maupun bahan bahan lain yang dapat membahayakan kandungannya, tugas dokterlah, sebagai tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi terkait kehamilan tersebut

81

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, sarwono. Ilmu Kebidanan, PT. Bina Pustaka Sarwono prawirohardjo, Jakarta, 2010 2. Bag. Obstetri dan geinekologi Fakultas Kedokteran UNPAD, Obstetri Fisiologi, ELEMAN, Bandung, 1983 3. Wiknjosastro, Hanita. Ilmu Kandungan, PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2009

82

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->